PENDAHULUAN Latar Belakang
|
|
|
- Sonny Tedjo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1997 lalu, membawa dampak yang sangat besar terhadap hampir semua lapisan masyarakat. Angka kemiskinan dan pengangguran mengalami kenaikan secara signifikan. Tingginya tingkat pengangguran pemuda ini merupakan suatu permasalahan yang rumit yang harus dihadapi oleh pemerintah, terutama pemerintah kota. Daerah perkotaan merupakan tujuan utama bagi kebanyakan pemuda baik yang berpendidikan maupun putus sekolah untuk mencari pekerjaan di kota. Masalah pengangguran merupakan salah satu fenomena yang sejalan dengan semakin bertambah parahnya kemiskinan di negara kita. Realitas akan lonjakan jumlah pengangguran dan penduduk miskin dapat terlihat dari hasil survei BPS 2006, jumlah pengangguran sebanyak 40,1 juta jiwa atau 37 % dari 106,9 juta angkatan kerja, pengangguran terbuka 11,6 juta atau sekitar 10,84 %. Demikian juga dengan jumlah penduduk miskin mencapai 39,05 juta atau hampir 40 juta jiwa pada tahun 2007 (Suharto,2007). Bertitik tolak dari realitas sosial tersebut, maka perlu adanya upaya penanganan permasalahan pengangguran pada pemuda. Upaya penanganan permasalahan pengangguran tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan potensi yang ada pada masyarakat. Pembangunan seyogyanya merupakan wujud dari gerakan seluruh masyarakat bukan sekedar sebuah proyek pemerintah yang dijejalkan kepada masyarakat (Top Down). Pembangunan adalah proses dimana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya, dan untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai aspirasi mereka sendiri. Pembangunan akan berhasil apabila ide-ide kreatif berangkat dari cetusan dan berkembang dari masyarakat sendiri (bottom up). Termasuk di dalamnya, upaya mengenali dan mengidentifikasi permasalahan serta kebutuhan, merumuskan tujuan yang akan dicapai, keterlibatan dalam penyusunan perencanaan program aksi yang akan dilaksanakan, melaksanakan kegiatan sesuai
2 2 yang direncanakan hingga pada tahap mengevaluasi hasil kegiatan dan menentukan tindak lanjut yang akan dilaksanakan. Dengan memandang masyarakat sebagai subyek atau pelaku pembangunan yang berhak atas hasil-hasilnya, maka aspek partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan sangatlah penting. Partisipasi merupakan komponen penting dalam pembangkitan kemandirian dan proses pemberdayaan (Craig & Mayo, 1995). Pengembangan partisipasi masyarakat salah satunya dapat dilakukan dengan cara institusional development; yaitu melakukan kegiatan melalui pengembangan pranata sosial yang sudah ada dalam masyarakat. Sebab, institusi atau pranata sosial masyarakat merupakan daya tampung dan daya dukung sosial (carrying capacity). Masyarakat diikutsertakan dalam proses pembangunan sesuai kemampuan dan fungsi yang mungkin dijalankan, sejak perencanaan, proses, hingga analisis dampak sosial dan lingkungan. Hal ini dapat terjadi apabila itu dilakukan tidak semata-mata demi keuntungan ekonomi semata, namun menempatkan aspek manusia dalam masyarakat sebagai entitas yang utuh, yang hidup secara timbal balik dengan lingkungannya. Paradigma pembangunan yang digunakan saat ini condong pada paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan berbasiskan pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu upaya pemberdayaan adalah dengan melalui peningkatan peran serta kelembagaan pemuda dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga. Konsep pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari konsep pemberdayaan (empowerment) dalam pengembangan masyarakat. Konsep pemberdayaan bertujuan untuk menemukan alternatif-alternatif baru dalam pembangunan masyarakat. Hal terpenting dalam pemberdayaan adalah partisipasi aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan pada pembangunan masyarakat. Dalam konteks pengembangan masyarakat keberadaan kelembagaan pemuda, secara realitas aktualnya ternyata belum mampu optimal untuk menjadi alat pengembangan masyarakat setempat. Sesungguhnya fungsi kelembagaan pemuda tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat dengan membangun jejaring. Namun dalam kenyataannya, kelembagaan pemuda yang ada sementara ini justru saling menonjolkan kepentingan masing-masing dan
3 3 berdiri sendiri sebagai bentuk ekspresi aktualisasi diri mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Paling jauh Aktivitas yang dilakukan oleh kelembagaan pemuda baik lembaga bentukan atas/pemerintah maupun lembaga bentukan dari bawah/masyarakat, selama ini masih sebatas pada kegiatan yang bersifat seremonial dan sementara. Salah satu contoh kegiatan yang selalu ada tiap tahunnya yaitu perayaan peringatan HUT RI dan beberapa hari besar lainnya. Program kegiatan dari pemerintah selama ini dilaksanakan oleh para pemuda dengan beragam latar belakang kelembagaan tersebut masih terkesan lebih mengarah pada mendukung kepentingan-kepentingan sepihak. Kebermanfaatan yang masih kurang dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan kelembagaan pemuda, mengakibatkan munculnya kekurangyakinan masyarakat terhadap potensi serta kemampuan yang dimiliki oleh kelembagaan pemuda. Kondisi tersebut sangat disayangkan karena untuk mengatasi masalah pengangguran dan ketenagakerjaan, peran kelembagaan lokal terutama kelembagaan pemuda cukup strategis jika digarap dengan serius dan melibatkan berbagai unsur. Secara administratif Kota Cimahi baru berusia 6 tahun, namun pembangunan di sektor perekonomian dapat dikatakan cukup meningkat di banding sebelumnya. Demikian pula dengan pertumbuhan sektor ekonomi di Kelurahan Cibabat. Namun demikian, jumlah penduduk miskin makin bertambah yang mengakibatkan pula bertambahnya jumlah pengangguran pada usia angkatan kerja/usia muda. Berdasarkan data sementara yang diperoleh dari data penerima Raskin (beras miskin) bulan Januari 2007, kurang lebih mencapai 2071 KK atau orang adalah pengangguran. Sedangkan jumlah tamatan SLTA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi mencapai orang atau 25,25 % dari total jumlah penduduk yang berjumlah (Data Potensi Kelurahan Cibabat 2006). Kelembagaan pemuda yang ada di Kelurahan Cibabat terdiri dari kelembagaan pemuda bentukan atas/pemerintah dan juga kelembagaan bentukan dari bawah/masyarakat. Terdapat belasan kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat beberapa kelembagaan pemuda tersebut menjadi salah satu alternatif bagi para remaja dan pemuda tamatan SLTA dan sejenisnya untuk mengekspresikan daya kreatifitasnya. Yang menarik dari kelembagaan pemuda tersebut adalah bahwa
4 4 mayoritas anggotanya adalah pengangguran, hanya beberapa kelembagaan pemuda saja yang anggotanya bukan pengangguran karena aktivitas utamanyanya adalah memproduksi dan mendistribusikan barang-jasa. Dengan melihat besarnya potensi sumberdaya manusia yang dimiliki oleh pemuda di daerah perkotaan, pengarahan ke arah nilai yang positif mutlak diperlukan. Kondisi persaingan yang semakin ketat, menuntut daya kreatifitas seseorang untuk dapat bertahan hidup di alam modernisasi dan era globalisasi saat ini. Potensi besar yang dimiliki pemuda sebagai bagian dari unsur keluarga dan masyarakat di Kelurahan Cibabat masih belum optimal diikutkan dalam progam-program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang lebih signifikan, misalnya program-program yang mengarah pada peningkatan kehidupan ekonomi keluarga. Selama ini program yang dilaksanakan dalam rangka pembinaan generasi muda hanya sebatas pada pemberian pelatihan dan keterampilan, namun tidak disertai dengan praktek terjun langsung ke dunia kerja atau semacam program magang di salah satu perusahaan. Potensi SDM yang dimiliki pemuda menjadi kurang terasah dan menjadi kurang berkembang dikarenakan tidak adanya ketersediaan wahana/sarana untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh menjadi sesuatu yang lebih bernilai ekonomi. Program pengembangan ekonomi keluarga dapat digarap dengan melibatkan unsur pemuda, diharapkan kehidupan ekonomi keluargapun mengalami peningkatan, dan berkurangnya jumlah keluarga miskin serta pengangguran. Sedangkan untuk jangka menengah dan panjangnya adalah terbukanya kesempatan untuk berusaha dan adanya peningkatan faktor Kewirausahaan. Berdasarkan realitas aktual tersebutlah dirasa perlu adanya suatu upaya peningkatan peran kelembagaan pemuda yang ada di Kelurahan Cibabat dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga. Titik berat pada peningkatan ekonomi dilakukan dengan maksud agar masyarakat mampu bangkit dari kemiskinan dan memiliki kondisi kehidupan dan penghidupan yang layak. Sebagai sebuah batasan, apa yang disebut sebagai kondisi kehidupan dan penghidupan yang layak diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti makanan, pakaian, perumahan, perawatan kesehatan dan pendidikan yang layak bagi kemanusiaan (Depsos, 2002). Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
5 5 dengan memanfaatkan potensi-potensi sumber daya lokal yang tersedia, hal ini tentunya harus diawali dengan pengenalan potensi diri baik individu maupun kelompok serta juga potensi wilayah atau potensi alam sekitar. Berkaitan dengan uraian di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam kajian pengembangan masyarakat adalah Bagaimana memanfaatkan kelembagaan pemuda baik kelembagaan pemuda bentukan dari atas/pemerintah atau kelembagaan pemuda bentukan dari bawah/masyarakat untuk menghasilkan kekuatan dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga. Perumusan Masalah Berkaitan dengan uraian di atas, maka fokus kajian ini adalah untuk memahami pemberdayaan kelembagaan pemuda melalui peningkatan peran kelembagaan. Proses pemberdayaan menitikberatkan pada aspek pengembangan kelembagaan pemuda, sehingga diharapkan mampu menghasilkan kekuatan dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga. Masalah ini perlu diteliti dan dikaji karena adanya kesenjangan pelaksanaan program-program pengembangan masyarakat yang digulirkan pemerintah terutama dalam menggarap kelembagaan lokal kepemudaan. Yang menjadi pokok masalah dalam kajian ini adalah adanya fakta semakin meningkatnya persoalan seputar kemiskinan dan pengangguran di wilayah Kelurahan Cibabat, di sisi lain ada potensi besar yang dimiliki berupa kelembagaan pemuda, namun potensi tersebut tidak/belum termanfaatkan, sehingga muncul pertanyaan bagaimana atau dalam bentuk apa memanfaatkan potensi tersebut dalam upaya mengatasi masalah ekonomi keluarga dan pengangguran di Kelurahan Cibabat Untuk menjawab persoalan di atas, perlu dicari jawaban dari pokokpokok permasalahan sebagai berikut : 1. Permasalahan ekonomi keluarga apa saja yang sedang dihadapi oleh anggota kelembagaan pemuda Kelurahan Cibabat? 2. Bagaimana keragaan/performance kelembagaan pemuda (bentukan dari atas dan bentukan dari bawah) yang ada di Kelurahan Cibabat?
6 6 3. Faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi perkembangan kelembagaan pemuda yang ada di Kelurahan Cibabat? 4. Bagaimana potensi sumber daya komunitas lokal dan kegiatan ekonomi yang dimiliki kelembagaan pemuda saat ini, yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga di Kelurahan Cibabat? 5. Bagaimana peran kelembagaan pemuda dalam kegiatan ekonomi produktif yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga di Kelurahan Cibabat? 6. Rencana program yang bagaimana yang dapat merealisasikan penanggulangan masalah ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat? Tujuan Kajian Berdasarkan uraian perumusan masalah maka tujuan kajian yang dapat dirumuskan adalah : 1. Menganalisa permasalahan ekonomi yang sedang dihadapi oleh para anggota kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat. 2. Menganalisa keragaan/performance kelembagaan pemuda bentukan dari atas/pemerintah dan bentukan dari bawah/masyarakat. 3. Menganalisa faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi perkembangan kelembagaan pemuda yang ada di Kelurahan Cibabat? 4. Menganalisa potensi sumber daya komunitas dan kegiatan ekonomi yang dimiliki kelembagaan pemuda saat ini, dan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga di Kelurahan Cibabat? 5. Menganalisa peran kelembagaan pemuda dalam kegiatan ekonomi produktif yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga di Kelurahan Cibabat? 6. Menyusun rencana progam Peningkatan Peran Kelembagaan pemuda dalam mengatasi masalah ekonomi di keluarga.
7 7 Kegunaan Kajian Kegunaan dan kebermanfaatan kajian dapat berupa kegunaan yang bersifat praktis implementatif dan kegunaan yang bersifat teoritispolicy/kebijakan bagi pemerintah. Kajian ini akan berguna dan bermanfaat bagi pemegang kebijakan untuk menentukan langkah program yang efektif untuk masa yang akan datang melalui pendekatan partisipatif dan melibatkan peran aktif masyarakat dalam merumuskan kebutuhan dan permasalahannya secara rinci. Berikut ini kegunaan praktis dan teoritis dari kajian pengembangan masyarakat di Kelurahan Cibabat : Kegunaan Praktis-implementatif 1. Kelembagaan kepemudaan, sebagai bahan kajian dan pilot project dalam rangka mengatasi permasalahan ekonomi keluarga. 2. Pemuda, sebagai pengembangan peran untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. 3. Pengkaji, sebagai wahana pembelajaran dan menambah wawasan tentang teori dan praktek pengembangan masyarakat, dengan harapan dapat mengembangkan suatu model pengembangan masyarakat di daerah lain. Kegunaan teoritis-policy/kebijakan : 1. Kelurahan Cibabat dapat dijadikan sebagai pilot-project atau model percontohan pengembangan kelembagaan pemuda bagi kelurahan lainnya yang memiliki kesamaan karakteristik permasalahan dan potensi. 2. Sebagai bahan masukan bagi pembuatan policy/ kebijakan dan program tentang pemberdayaan kelembagaan pemuda dengan meningkatkan peran ekonominya. 3. Penerapan, pengujian dan pengembangan teori studi pemberdayaan kelembagaan.
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagaimana diketahui bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk
DocuCom PDF Trial. Nitro PDF Trial BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
17 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Generasi muda adalah bagian dari penduduk dunia yang sangat potensial dan memiliki sumbangan teramat besar bagi perkembangan masa depan dunia. Namun permasalahan
BAB V PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TENGAH
60 5.1. Latar Belakang Program BAB V PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TENGAH Pembangunan Sosial berbasiskan komunitas merupakan pembangunan yang menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap tahun jumlah penduduk di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ini dikarenakan angka kelahiran lebih besar daripada angka kematian. Berdasarkan
2014 PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kemiskinan merupakan masalah sosial yang saling berkaitan dengan faktor lainnya seperti ekonomi, sosial dan budaya. Kemiskinan bukan hanya menjadi masalah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemuda adalah generasi penerus perjuangan dan cita-cita bangsa, sehingga pemuda yang mempunyai potensi yang cukup besar ini perlu didukung sepenuhnya baik oleh pemerintah
EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI KELURAHAN CIBABAT KECAMATAN CIMAHI UTARA
EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI KELURAHAN CIBABAT KECAMATAN CIMAHI UTARA Kelurahan Cibabat yang secara demografis sebagai pusat pemerintahan kecamatan dan kota, hal ini telah berimbas kepada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut para ahli, kemiskinan masih menjadi permasalahan penting yang harus segera dituntaskan, karena kemiskinan merupakan persoalan multidimensional yang tidak saja
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pedesaan sebagai bagian dari pembangunan nasional memfokuskan diri pada masalah kemiskinan di pedesaan. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2006
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya pemberdayaan masyarakat lokal yang diisyaratkan oleh Undangundang. Nomor 32/2004 telah menuntut pihak praktisi pengembang masyarakat, baik itu aparat pemerintah,
BAB I PENDAHULUAN. sebagian pihak yang menjadikan kewirausahaan ini sebagai trend-trend-an. enggannya lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era globalisasi, persaingan mencari kerja semakin kompetitif sementara lapangan pekerjaan yang ditawarkan terbatas, kondisi tesebut menuntut mahasiswa dan
BAB I PENDAHULUAN. Lembaga Kursus dan Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga Kursus dan Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan nonformal seperti yang tertera dalam pasal 26 ayat (5) Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN
VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih
BAB I PENDAHULUAN. Desa Bogak merupakan wilayah pesisir yang terletak di Kecamatan Tanjung Tiram
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desa Bogak merupakan wilayah pesisir yang terletak di Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara. Sebagai desa yang berada di wilayah pesisir,
I. PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap pembangunan di suatu daerah seyogyanya perlu dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya setiap pembangunan di suatu daerah seyogyanya perlu dan harus memperhatikan segala sumber-sumber daya ekonomi sebagai potensi yang dimiliki daerahnya, seperti
BAB I PENDAHULUAN. memerlukan SDM yang optimal demi meningkatkan pembangunan. pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Hal ini di karenakan tidak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang tentunya memerlukan SDM yang optimal demi meningkatkan pembangunan. Sekarang ini, Indonesia banyak menghadapi permasalahan
BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan masa depan pembangunan bangsa mengharapkan penduduk yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Era Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat ini, pemerintah sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang yang pada hakekatnya bertujuan
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH 5.1 VISI DAN MISI KOTA CIMAHI. Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Kemiskinan merupakan salah satu isu penting dalam pelaksanaan pembangunan, bukan hanya di Indonesia melainkan hampir di semua negara di dunia. Dalam Deklarasi Millenium Perserikatan
PENDAHULUAN. 1 http ://cianjur.go.id (diakses15 Mei 2011)
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pertanian mempunyai peranan yang strategis dalam penyerapan tenaga kerja yang ada di Indonesia, yaitu dengan tingginya penyerapan tenaga kerja sekitar 44 persen dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam suatu proses pembangunan, selain dipertimbangkan aspek pertumbuhan dan pemerataan, juga dipertimbangkan dampak aktivitas ekonomi terhadap kehidupan sosial masyarakat,
BAB I PENDAHULUAN. lapangan pekerjaan sehingga mengakibatkan sebagian orang tidak memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah pengangguran yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini diakibatkan oleh jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan keterbatasan lapangan pekerjaan sehingga
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan di Indonesia merupakan masalah pokok nasional yang penanggulangannya tidak dapat ditunda dan harus menjadi pioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN. Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang amat serius. Kemiskinan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang amat serius. Kemiskinan merupakan sebuah kondisi kehilangan terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengalaman masa lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, bahwa pembangunan yang dilaksanakan dengan pendekatan top-down dan sentralistis, belum berhasil
BAB I PENDAHULUAN. Semakin maju suatu bangsa semakin banyak orang yang terdidik, namun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semakin maju suatu bangsa semakin banyak orang yang terdidik, namun banyak pula masyarakat yang menganggur. Dengan kemampuan pemerintah yang sangat terbatas,
VII. PERUMUSAN STRATEGI DAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DESA JEBED SELATAN
VII. PERUMUSAN STRATEGI DAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DESA JEBED SELATAN Program Promosi Kesehatan adalah upaya meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. pasar belum tentu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan dinamika pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat telah menumbuhkan aspirasi dan tuntutan baru dari masyarakat untuk mewujudkan kualitas kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I 1 A. Latar Belakang PENDAHULUAN Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah rangkaian upaya pembangunan manusia yang berkesinambungan dan dilakukan secara sengaja untuk meningkatkan kualitas yang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kaum perempuan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, karena sebagai sumber daya manusia, kemampuan perempuan yang berkualitas sangat diperlukan.
BAB I PENDAHULUAN. dasar lingkungan yang memadai dengan kualitas perumahan dan permukiman
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan kemiskinan di Indonesia sudah sangat mendesak untuk ditangani. Khususnya di wilayah perkotaan, salah satu ciri umum dari kondisi fisik masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. Tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga miskin dan kemiskinan pada umumnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga miskin dan kemiskinan pada umumnya masih menjadi masalah sosial yang harus dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu,
IRRA MAYASARI F
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN VOKASIONAL DENGAN MINAT BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Disusun oleh : IRRA MAYASARI F 100 050 133
Perempuan dan Industri Rumahan
A B PEREMPUAN DAN INDUSTRI RUMAHAN PENGEMBANGAN INDUSTRI RUMAHAN DALAM SISTEM EKONOMI RUMAH TANGGA UNTUK PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN DAN ANAK C ...gender equality is critical to the development
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada perubahan lingkungan yang menyebabkan semakin ketatnya persaingan dalam dunia industri. Makin
BAB I PENDAHULUAN. Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Salah satu tujuan Nasional Republik Indonesia yang ada pada Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan umum. Namun dalam upaya mencapai
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan paradigma pembangunan pada masa orde baru, dari sistem sentralistik ke sistem desentralistik bertujuan untuk memberikan pelimpahan wewenang kepada otonomi daerah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian adalah sektor yang mempunyai peranan penting dalam memproduksi pangan demi memenuhi kebutuhan manusia untuk melangsungkan hidupnya. Indonesia sebagai negara agraris
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan yang berkontribusi sebesar 15,3 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2009. Pertimbangan lain yang menguatkan
BAB I PENDAHULUAN. penduduknya seperti Indonesia. Kemiskinan seharusnya menjadi masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan masalah lama yang pada umumnya dihadapi hampir di semua negara-negara berkembang, terutama negara yang padat penduduknya seperti Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 banyak menyebabkan munculnya masalah baru, seperti terjadinya PHK secara besar-besaran, jumlah pengangguran
BAB I PENDAHULUAN. orang tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja.
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Pengangguran dan kemiskinan adalah sebuah fenomena yang masih menjadi permasalahan di Indonesia. Hal ini di sebabkan karena tidak seimbangnya antara lapangan
I. PENDAHULUAN. hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi mana pun. Selain bersifat
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi mana pun. Selain bersifat laten dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Badan Keswadayaan Masyarakat ( BKM) dan fungsi BKM Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) merupakan suatu institusi/ lembaga masyarakat yang berbentuk paguyuban, dengan
I. PENDAHULUAN. lapangan kerja, pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Dalam upaya
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian yang berkelanjutan merupakan suatu kegiatan yang mutlak dilakukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan, memperluas lapangan kerja, pengentasan
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1998 telah meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia, dari 25,9 juta (17,7%) pada tahun 1993 menjadi 129,6 juta atau 66,3% dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang harus dilakukan. Salah satunya adalah bekerja. Bekerja adalah aktifitas yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dalam kelangsungan hidupnya memerlukan berbagai aktifitas yang harus dilakukan. Salah satunya adalah bekerja. Bekerja adalah aktifitas yang dilakukan dalam
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
53 KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS Kerangka Pemikiran Kemiskinan Proses pembangunan yang dilakukan sejak awal kemerdekaan sampai dengan berakhirnya era Orde Baru, diakui atau tidak, telah banyak menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Salah satu masalah pokok yang dihadapi Pemerintah Indonesia sebagai negara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu masalah pokok yang dihadapi Pemerintah Indonesia sebagai negara sedang berkembang adalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi
BAB I PENDAHULUAN. Pemberlakuan otonomi daerah pada dasarnya menuntut Pemerintah Daerah untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemberlakuan otonomi daerah pada dasarnya menuntut Pemerintah Daerah untuk melaksanakan berbagai kebijakan yang berorientasi pada upaya mempercepat terwujudnya kesejahteraan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan. Kemiskinan telah membuat pengangguran semakin bertambah banyak,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Kemiskinan telah membuat pengangguran semakin bertambah banyak, inflasi juga naik dan pertumbuhan ekonomi melambat. Kemiskinan yang terjadi dalam suatu
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Sumber Daya Manusia (SDM) seluruh kemampuan atau potensi penduduk yang berada di dalam suatu wilayah tertentu dengan semua karakteristik atau ciri demografis,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia telah merdeka hampir mencapai 69 tahun, tetapi masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia telah merdeka hampir mencapai 69 tahun, tetapi masalah kemiskinan masih tetap menjadi masalah fenomenal yang masih belum dapat terselesaikan hingga
Optimalisasi UPK Dalam Rangka Mencapai Ketahanan Pangan Nasional
Optimalisasi UPK Dalam Rangka Mencapai Ketahanan Pangan Nasional I. LATAR BELAKANG Wacana kemiskinan di Indonesia tetap menjadi wacana yang menarik untuk didiskusikan dan dicarikan solusi pemecahannya.
BAB I PENDAHULUAN adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera lahir dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan Nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera lahir dan batin. Sebagai upaya mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN. bidang perekonomiannya. Pembangunan ekonomi negara Indonesia di. ide baru, berani berkreasi dengan produk yang dibuat, dan mampu
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dalam bidang perekonomiannya. Pembangunan ekonomi negara Indonesia di masa yang akan datang, sangatlah ditentukan
BAB I PENDAHULUAN. Tantangan pendidikan kejuruan adalah untuk menyiapkan tenaga kerja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tantangan pendidikan kejuruan adalah untuk menyiapkan tenaga kerja dalam jumlah dan mutu tertentu sesuai dengan kebutuhan berbagai sektor, khususnya sektor
MODUL 14 KEWIRAUSAHAAN. Oleh : Agus Supriyanto, SE
FAKULTAS KOMUNIKASI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA MODUL 14 KEWIRAUSAHAAN Oleh : Agus Supriyanto, SE POKOK BAHASAN Peranan Kewirausahaan dalam Meningkatkan Kesejarhteraan Masyarakat DESKRIPSI Dalam perkulihan
RANCANGAN PROGRAM RENCANA AKSI PENGEMBANGAN KBU PKBM MITRA MANDIRI
RANCANGAN PROGRAM RENCANA AKSI PENGEMBANGAN KBU PKBM MITRA MANDIRI Dalam rangka mendapatkan strategi pengembangan KBU PKBM Mitra Mandiri dalam upaya pemberdayaan masyarakat, sebagaimana tujuan dari kajian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagaimana tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, pemerintah menetapkan visi pembangunan yaitu Terwujudnya Indonesia yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sektor industri yang dipandang strategis adalah industri manufaktur.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor industri yang dipandang strategis adalah industri manufaktur. Industri manufaktur dipandang sebagai pendorong atau penggerak perekonomian daerah. Seperti umumnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar untuk kehidupan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar untuk kehidupan yang manusiawi dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini tidak saja terjadi tanpa
Rumusan Isu Strategis dalam Draft RAN Kepemudaan PUSKAMUDA
Rumusan Isu Strategis dalam Draft RAN Kepemudaan 2016 2019 PUSKAMUDA Isu Strategis dalam Kerangka Strategi Kebijakan 1. Penyadaran Pemuda Nasionalisme Bina Mental Spiritual Pelestarian Budaya Partisipasi
BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah
Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan
Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan I. PENDAHULUAN Pembangunan harus dipahami sebagai proses multidimensi yang mencakup perubahan orientasi dan organisasi sistem sosial,
BAB I PENDAHULUAN. jalan maupun di berbagai tempat umum. Padahal dalam Pasal 34 Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang tergolong dalam negara berkembang. Infrastruktur yang terus berkembang hingga sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan masyarakat
I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator ekonomi antara lain dengan mengetahui pendapatan nasional, pendapatan per kapita, tingkat
EVALUASI PENERAPAN PRINSIP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM PEMBANGUNAN DI KABUPATEN BOYOLALI
EVALUASI PENERAPAN PRINSIP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM PEMBANGUNAN DI KABUPATEN BOYOLALI Tesis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan Wahyu
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ditentukan oleh pemerintah pusat, perencanaan dan kebijakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Orde baru tumbang pada tahun 1988, karena sistem pemerintahan Orde Baru yang sentralistik dianggap tidak baik dan tidak sesuai lagi, karena rencana pembangunan ditentukan
BAB I PENDAHULUAN. yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara-negara yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebuah negara tidak akan pernah bisa lepas dari berbagai permasalahan yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara-negara yang memiliki
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
116 BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN 6.1. Kesimpulan Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan yang kompleks dibutuhkan intervensi dari semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Selain peran
BAB I PENDAHULUAN. mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang dituju harus melibatkan dan pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pembangunan nasional yang dinilai berhasil pada hakikatnya adalah yang dilakukan oleh dan untuk seluruh rakyat. Dengan demikian, dalam upaya mencapai sasaran-sasaran
BAB I PENDAHULUAN. berubah menjadi maju atau lebih berkembang dengan sangat pesat, seperti
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman, manusia ikut serta mengiringi perkembangan tersebut. Perkembangan tersebut mengakibatkan banyak hal yang berubah menjadi
BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kehidupan yang layak. Kemiskinan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kemiskinan merupakan kondisi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kehidupan yang layak. Kemiskinan memiliki ciri yang berbeda
Boleh dikutip dengan mencantumkan sumbernya
INDIKATOR KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PROVINSI ACEH 2016 Nomor Publikasi : 11522.1605 Katalog BPS : 4102004.11 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : xvii + 115 Halaman Naskah Gambar Kulit Diterbitkan
I. PENDAHULUAN. Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk. ini juga merupakan proses investasi sumberdaya manusia secara efektif dalam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan manusia, kreativitas dan keterampilan serta kemampuan orang-orang dalam masyarakat. Pengembangan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi sumber daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada semua jenjang
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan kekayaan alam yang berlimpah. Dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa dan ragam kekayaan
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Landasan berpikir penelitian ini dimulai dari pemikiran bahwa setiap insan manusia termasuk petani memiliki kemampuan dalam melaksanakan suatu tindakan/perilaku
