Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
|
|
|
- Teguh Widjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X Perbedaan Tingkat Pengetahuan Tentang Jaminan Kesehatan Nasional pada Peserta dan Non Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Studi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan Tahun 2016) Difference of the Level of Knowledge about JKN between BPJS and Non BPJS Health Insurance participants. (Based on DM Type 2 Patients at Polyclinic Endocrinology Diabetic Center, RSUD Al Ihsan Tahun 2016) 1 Karin Rosalina Putri, 2 Caecielia Wagiono, 3 Hidayat Wahyu Aji 1,2,3 Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No.1 Bandung [email protected], 2 [email protected], 3 [email protected] Abstract. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) is a health insurance program organized by Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Since its establishment, there have been some problems caused by insufficient knowledge of patients. Diabetes Mellitus Type 2 patients need treatment for the rest of their life. As BPJS health insurance participants, therefore DM Type 2 patients need to know about JKN very well. This study aims to determine the difference about knowledge level of JKN between BPJS health insurance participants and non BPJS health insurance participants based on DM Type 2 patients at Polyclinic Endocrinology Diabetic Center, Al-Ihsan Regional Public Hospital (RSUD). This study was held by using cross-sectional analytic approach. The total sample for this research is 80 respondents selected by consecutive sampling. Retrieval of data using a questionnaire containing 18 questions about JKN and BPJS. Statistical analysis used in this study is chi square. The result shows that the knowledge level of JKN for BPJS health insurance participants has 5% with poor knowledge classification, 30% adequate knowledge, and 65% good knowledge. While, knowledge level of JKN for non BPJS insurance participants has 17,5% with poor knowledge classification, 10% adequate knowledge, 72,5% good knowledge. This study shows there is significant difference knowledge level between BPJS health insurance participants and non BPJS health insurance participants with p-value 0,036. The knowledge level of non BPJS health insurance participants with good knowledge classification has higher rate than BPJS health insurance participants. On the other hand, the knowledge level of non BPJS health insurance participants with poor classification has a relatively high with percentage 17,5%, therefore it needs to be socialized about JKN to the public. Keywords: BPJS Health Insurance Participants, Knowledge, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Abstrak. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sejak program ini dijalankan, masih banyak kendala dalam penyelenggaraannya yang disebabkan karena ketidaktahuan pasien. Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 membutuhkan pengobatan jangka lama seumur hidupnya. Sebagai peserta BPJS maka pasien DM Tipe 2 harus mengetahui tentang pelayanan JKN dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan tentang JKN pada peserta BPJS dan non peserta BPJS Kesehatan pada pasien DM Tipe 2 di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan.. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 80 responden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang berisi 18 pertanyaan tentang JKN dan BPJS. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah chi square. Hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan JKN pada peserta BPJS menunjukan bahwa peserta dengan klasifikasi pengetahuan kurang sebesar 5%, pengetahuan cukup 30%, dan pengetahuan baik 65%. Sedangkan pada peserta non BPJS menunjukan bahwa non peserta dengan klasifikasi pengetahuan kurang sebesar 17,5%, pengetahuan cukup 10%, pengetahuan baik 72,5%. Penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan tentang JKN antara peserta dan non peserta BPJS Kesehatan dengan p-value 0,036. Tingkat pengetahuan tentang JKN pada peserta non BPJS dengan kategori baik lebih tinggi daripada peserta BPJS. Sebaliknya 54
2 Perbedaan Tingkat Pengetahuan Tentang Jaminan Kesehatan Nasional 55 untuk kategori kelompok pengetahuan kurang pada pasien non BPJS masih relatif tinggi dengan persentase 17,5%, maka masih perlu dilakukannya sosialiasi tentang JKN kepada masyarakat. Kata Kunci: Jaminan Kesehatan Nasional, Peserta BPJS Kesehatan, Tingkat pengetahuan. A. Pendahuluan Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Negara harus menjamin agar semua penduduknya dapat hidup sehat dan produktif. Kesehatan setiap warga negara harus dijamin oleh sebuah sistem yang memungkinkan setiap penduduk terbebas dari beban biaya berobat yang mahal. 1 Kesejahteraan sosial rakyat Indonesia merupakan tanggung jawab negara khususnya dalam bidang kesehatan. Salah satu program yang dibuat oleh pemerintah untuk mensejahterakan rakyat adalah dengan diselenggarakannya sistem jaminan sosial nasional. Di Indonesia, jaminan sosial tersebut diselenggarakan dan dikelola oleh suatu badan hukum yaitu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai di implementasikan pada tanggal 1 Januari BPJS Kesehatan menargetkan semua penduduk Indonesia yang berjumlah 257,5 juta jiwa dapat terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Sosial paling lambat pada tanggal 1 Januari 2019 mendatang. 3,4 Data terbaru per 8 Agustus 2014 menyebutkan bahwa jumlah total peserta BPJS Kesehatan hanya setengah dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. 5 Masalah yang ada selain belum semua rakyat Indonesia ikut program JKN yaitu masih banyak peserta yang tidak patuh terhadap peraturan BPJS disebabkan salah satunya adalah ketidaktahuan pasien. 6 Selain itu, banyak peserta yang masih kebingungan mengenai sistem rujukan pada program JKN yang diatur oleh BPJS Kesehatan. Hal tersebut menunjukan bahwa peserta BPJS pun belum tentu paham mengenai peraturan program JKN yang seharusnya dipatuhi demi kelancaran program sistem jaminan kesehatan ini. Ini adalah polemik yang selama ini masih menjadi kendala sekaligus tantangan bagi BPJS kesehatan untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat luas. 7 Diabetes adalah penyakit kronis yang kompleks dan membutuhkan perawatan medis terus menerus dengan strategi pengurangan risiko multifaktorial diluar dari kontrol glikemik. Pasien harus diberikan edukasi tentang manajemen diri dan juga dukungan yang sangat penting untuk mencegah komplikasi akut dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. 10 Pasien penderita DM tipe 2 ini membutuhkan pengobatan jangka lama seumur hidupnya yang bertujuan untuk mempertahankan kadar glukosa dalam darahnya dan juga mencegah komplikasi yang akan ditimbulkan. Salah satu kendala dari kinerja BPJS yang masih perlu ditinjau salah satunya dari masalah sosialisasi yang mungkin masih kurang sehingga jumlah peserta yang terdaftar masih setengah dari target yang harus dicapai dan belum semua peserta memahami pelayanan JKN. Diperlukan suatu analisa terhadap tingkat pengetahuan tentang JKN. Salah satu penatalaksanaan untuk mengetahui dan mengukur tingkat pengetahuan tersebut di masyarakat yaitu dengan menggunakan beberapa pertanyaan yang diajukan mengenai Jaminan Kesehatan Nasional. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) antara pasien Diabetes Melitus tipe 2 peserta BPJS dengan non BPJS di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan Bandung?. Selanjutnya, tujuan dalam penelitian ini diuraikan dalam pokokpokok sbb. 1. Untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan tentang Jaminan Kesehatan Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik
3 56 Karin Rosalina Putri, et al. Nasional (JKN) pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 peserta BPJS di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan Bandung. 2. Untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 non BPJS di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan Bandung. 3. Untuk mencari perbedaan tingkat pengetahuan tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) antara pasien Diabetes Melitus tipe 2 peserta BPJS dan non BPJS di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan Bandung. B. Landasan Teori Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. 11 Menurut Rogers (1974) sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam orang tersebut terjadi proses berurutan, yakni: 11 a. Awareness (kesadaran); b. Interest (merasa tertarik); c. Evaluation (menimbang-nimbang); d. Trial ketika subjek mulai mencoba melakukan sesuatu seperti apa yang dikehendaki oleh stimulus; e. Adoption, adalah ketika subjek telah mengadopsi atau berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat. 11 a. Tahu (know). b. Memahami (comprehension). c. Aplikasi (application). d. Analisis (analysis). e. Sintesis (synthesis). f. Evaluasi (evaluation). Untuk mengetahui pengetahuan suatu responden kita dapat mengukurnya dengan menggunakan angket atau wawancara. Pengetahuan dipengaruhi beberapa faktor baik internal maupun eksternal seperti usia, pendidikan, pekerjaan, dan sumber informasi. 11 Pengetahuan juga memiliki pembagian berdasarkan kategori, seperti berikut: 12 a. Baik: benar 76% 100% dari seluruh petanyaan; b. Cukup: benar 56% 75% dari seluruh pertanyaan; c. Kurang: benar <56% dari seluruh pertanyaan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang dibentuk dengan Undang-Undang untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. Berdasarkan UU No 24 Tahun 2011 Tentang BPJS, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial terbagi menjadi 2 lembaga besar, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. 3 BPJS Kesehatan adalah badan hukum publik yang bertanggungjawab kepada Presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kesehatan mulai 1 Januari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Tujuan pelaksanaan program JKN adalah untuk memberikan perlindungan kesehatan dalam bentuk manfaat pemeliharaan Volume 2, No.2, Tahun 2016
4 Perbedaan Tingkat Pengetahuan Tentang Jaminan Kesehatan Nasional 57 kesehatan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang. 13 Peserta jaminan kesehatan di BPJS yaitu setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran, meliputi Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI) dan Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI). Proses pendaftaran menjadi peserta BPJS Kesehatan dapat dilakukan secara kolektif maupun perorangan 15 Proses pendaftaran menjadi peserta BPJS Kesehatan dapat dilakukan secara kolektif maupun perorangan, dengan ketentuan sebagai berikut: Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan. 2. Pemberi kerja mendaftarkan pekerjaannya atau pekerja dapat mendaftarkan diri sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan. 3. Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dn keluarganya sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan. Hak peserta BPJS Kesehatan adalah mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan, memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dan menyampaikan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke Kantor BPJS Kesehatan. Kewajiban peserta BPJS Kesehatan adalah mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian, kematian, kelahiran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I, menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak berhak, mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan. 15 Alur pelayanan kesehatan JKN yang diselenggarakan oleh BPJS adalah sebagai berikut: Gambar 1. Alur Pelayanan Kesehatan Dikutip dari: Buku Panduan Layanan Bagi Peserta BPJS Kesehatan 17 Diabetes melitus adalalah gangguan metabolisme kronis yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. DM Tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang di tandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) dan membutuhkan pengobatan serta pemantauan terapi jangka panjang untuk menghindari komplikasi yang akan Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik
5 58 Karin Rosalina Putri, et al. ditimbulkan. 16 Kota Bandung sebagai ibu kota dari Jawa Barat, penyakit Diabetes Melitus termasuk ke sepuluh terbesar penyakit. 10 Pada tahun tahun 2010, data laporan bulanan per Puskesmas Kota Bandung dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, pasien yang menjalani rawat jalan dengan diagnosa Diabetes Melitus sebanyak orang. 17 Pengetahuan masyarakat mengenai Jaminan Kesehatan Nasional masih kurang. Supaya JKN dapat berjalan dengan baik, masyarakat perlu diberikan sosialisasi agar dapat memanfaatkan JKN dengan optimal sesuai dengan hak dan kewajiban tanpa melupakan kewajiban sebagai peserta. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Perbedaan Pengetahuan Jaminan Kesehatan Nasional Berdasarkan Kepesertaan Perbedaan tingkat pengetahuan tentang Jaminan Kesehatan Nasional berdasarkan kepesertaan BPJS dan non BPJS pada pasien DM Tipe 2 di Poliklinik Endokrinologi RSUD Al-Ihsan Bandung, dapat dijelaskan dalam tabel 1. Kepesertaan BPJS Non BPJS Volume 2, No.2, Tahun 2016 Tabel 1. Perbedaan Pengetahuan tentang JKN Kurang n (%) Tingkat Pengetahuan Cukup n (%) 2 (5) 12 (30) 7 (17,5) 4 (10) Baik n (%) 26 (65) 29 (72,5) Nilai p 0,036* Data pada tabel diatas memperlihatkan perbedaan pengetahuan tentang JKN di analisis menggunakan metode uji chi square dengan nilai alpha sebesar 0,05 dengan menggunakan aplikasi SPSS 21.0, diperoleh nilai P-value sebesar 0,036. Kemudian hasil perhitungan ini dibandingkan dengan derajat atau taraf kesalahan α =5%. Setelah dilakukan analisis statistika, didapatkan bahwa p-value (0,036) lebih kecil dibandingkan taraf kekeliruan (α=0,05). Dari hasil perbandingan dalam analisis data, apabila p-value < α =5%, maka H0 ditolak atau H1 gagal ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat pengetahuan tentang Jaminan Kesehatan Nasional yang bermakna antara pasien Diabetes Melitus tipe 2 peserta BPJS dengan non BPJS di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan. Pengetahuan responden menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan mengenai JKN pasien Diabetes Melitus tipe 2 peserta BPJS dengan non BPJS di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan Bandung. Menurut Notoatmodjo terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan pada seseorang yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya yaitu umur dan pendidikan. 11 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa baik peserta BPJS Kesehatan maupun non BPJS pada tahun 2016 sudah memiliki pengetahuan yang baik mengenai JKN. Hal ini dikarenakan BPJS Kesehatan terus meningkatan sosialisasinya di tahun 2016 dalam rangka memperluas cakupan kepesertaan sekaligus sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat program JKN. 22 Masalahnya adalah mereka belum menjadi anggota BPJS padahal sudah mengetahui JKN dengan baik. Hal tersebut dikarenakan pelayanan dari BPJS yang masih dianggap kurang contohnya seperti harus mengantri lama dan pelayanan farmasi yang lama pula. 20 Sedangkan alasan pada peserta BPJS menjadi lebih rendah tingkat pengetahuannya dikarenakan rata-rata orang yang mengikuti BPJS adalah PNS
6 Perbedaan Tingkat Pengetahuan Tentang Jaminan Kesehatan Nasional 59 maupun pegawai perusahan swasta yang secara otomatis terdaftar sebagai peserta BPJS, karena setiap perusahaan wajib untuk mendaftarkan pegawainya. Sesuai dengan amanat Perpres No. 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Perpres No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, pemberi kerja atau perusahaan skala besar, menengah, kecil dan BUMN wajib mendaftarkan kepesertaan ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan paling lambat 1 Januari Pemberi kerja wajib mendaftarkan diri dan pekerjanya sebagai peserta jaminan kesehatan yang digelar BPJS Kesehatan dengan membayar iuran. Namun hal tersebut dapat menyebabkan belum tentu orang yang terdaftar menjadi peserta BPJS sudah mengetahui dengan baik tentang asuransi JKN yang diberikan oleh BPJS karena mereka hanya sekedar terdaftar sebagai anggota BPJS Kesehatan. 23 Pengetahuan seorang individu erat kaitannya dengan perilaku yang akan diambilnya, karena dengan pengetahuan tersebut ia memiliki alasan dan landasan untuk menentukan suatu pilihan. Menurut peneliti pengetahuan responden tentang JKN yang termasuk kedalam kategori baik dapat mempengaruhi tindakan responden sebagai peserta JKN dalam menggunakan pelayanan kesehatan sesuai dengan prosedur pelayanan JKN dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang termasuk kedalam program JKN. Begitu pula sebaliknya jika pengetahuan responden tentang JKN kurang, maka akan berpengaruh pada kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan yang tersedia dan kurangnya penggunaan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan prosedur pelayanan JKN, sehingga dapat menyebabkan kurang efektifnya program pelaksanaan JKN. 24 D. Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian di Poliklinik Endokrinologi Diabetic Center RSUD Al-Ihsan, maka dapat ditarik kesimpulan berikut: 1. Tingkat pengetahuan pada peserta BPJS dalam kategori baik. 2. Tingkat pengetahuan pada peserta non BPJS dalam kategori baik. 3. Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan tentang JKN antara peserta BPJS dan non BPJS, dimana tingkat pengetahuan pada peserta non BPJS lebih baik daripada tingkat pengetahuan pada peserta BPJS. E. Saran Saran Teoritis Dengan berbagai keterbatasan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan adanya penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih banyak agar dapat mengukur tingkat pengetahuan JKN secara lebih tepat, misalnya dengan membandingkan antara dua Rumah sakit atau lebih. Selain itu, diperlukan pula desain studi secara kualitatif agar mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai faktor lainnya. Saran Praktis 1. Diperlukan sosialisasi secara merata dan lebih baik lagi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia terlebih pada poin-poin dimana peserta BPJS masih banyak yang belum memahami tentang JKN sehingga diharapkan dengan pengetahuan tentang JKN yang telah mereka miliki dapat meningkatkan pemanfaatan asuransi dari JKN BPJS tersebut. 2. Kepada BPJS itu sendiri, disarankan untuk lebih meningkatkan pelayanan yang baik kepada masyarakat agar masyrakat yang sudah memiliki pengetahuan yang Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik
7 60 Karin Rosalina Putri, et al. baik mengenai JKN tetapi belum menjadi anggota BPJS akan mengikuti program tersebut karena minat mereka sendiri, bukan hanya karena kewajiban saja. 3. Untuk pasien DM Tipe 2 terutama jika pasien tersebut sudah menjadi peserta BPJS yaitu kesehatan mereka akan lebih terjamin dimasa yang akan datang dengan mengikuti program asuransi kesehatan dari JKN ini terlebih jika mereka mengetahui dan mengerti tentang JKN itu sendiri. Daftar Pustaka American Diabetes Association Standards of Medical Care In Diabetes Volume 38. Tersedia dari: Bennet, P Epidemiology of Type 2 Diabetes Mellitus In Le Roith et.al, Diabetes Mellitusa Fundamental and Clinical Text. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins. BPJS Kesehatan. Panduan Layanan Bagi peserta BPJS. BPJS Online Peserta BPJS maunya ke RS Besar. Tersedia dari: Dinas Kesehatan Kota Bandung Farisah, D Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan Makin Meningkat. Jakarta; 17 Tersedia dari: Tunggakan.Iuran.BPJS.Kesehatan.Makin.Membengkak. Kementerian Kesehatan RI Buku Saku FAQ (Frequently Asked Question) BPJS Kesehatan. Cetakan-1. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Kompas Kinerja BPJS Kesehatan Semester I Tahun Tersedia dari: 54f601a9a333116a7d8b47fd. Maabuat C. L. L, Maramis F. R. R, Sondakh R. C. et al. Hubungan Antara Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas Wawonasa Kecamatan Singkil Manado Tahun hlm 1-6. Tersedia dari: Notoatmodjo, S Ilmu Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. hlm Jakarta: PT Rineka Cipta Putri AE Seri Buku Saku-1: Paham SJSN Sistem Jaminan Sosial Nasional. Edisi ke-1. Kantor Perwakilan Indonesia: Friedrich-Ebert-Stiftung. Putri AE Seri Buku Saku-2: Paham BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Edisi ke-1. Kantor Perwakilan Indonesia: Friedrich-Ebert-Stiftung. Siaran Pers BPJS Kesehatan BPJS Kesehatan Terus Tingkatan Sosialisasi Kepada Peserta Agar Tidak Salah Prosedur. Lampung. Wahyuni, N. D Perusahaan Swasta Wajib Daftarkan Karyawan Ikut BPJS Kesehatan. Jakarta: Liputan6.com. Tersedia dari: /perusahaan-swasta-wajib-daftarkankaryawan-ikut-bpjs-kesehatan Wawan, A MD Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku. Yogyakarta: Nuha Medika. Volume 2, No.2, Tahun 2016
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 246-657X Tingkat Pengetahuan Jaminan Kesehatan Nasional Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan di Puskesmas Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 215 1 Risya
BAB I PENDAHULUAN. insulin dependent diabetes melitus atau adult onset diabetes merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes melitus (DM) tipe 2 yang dahulu dikenal dengan nama non insulin dependent diabetes melitus atau adult onset diabetes merupakan penyakit gangguan metabolik
BAB I PENDAHULUAN. insulin atau keduanya (American Diabetes Association [ADA] 2010). Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak dialami oleh penduduk di dunia. DM ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP KELUARGA MENGGUNAKAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS PAHANDUT KOTA PALANGKA RAYA
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP KELUARGA MENGGUNAKAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS PAHANDUT KOTA PALANGKA RAYA Putria Carolina*, Ady Fraditha**, Ika Paskaria*** Sekolah
BAB I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang terbesar di dunia. Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2013, didapatkan
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan survei yang dilakukan World Health Organization (WHO)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan survei yang dilakukan World Health Organization (WHO) tahun 2011 jumlah penyandang diabetes melitus di dunia 200 juta jiwa, Indonesia menempati urutan keempat
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Tingkat Pengetahuan Dosen Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tentang Jaminan Kesehatan Nasional dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. menjadi lemah ginjal, buta, menderita penyakit bagian kaki dan banyak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang berlangsung kronik progresif, dengan manifestasi gangguan metabolisme glukosa dan lipid, disertai oleh
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN DIIT DIABETES MELLITUS
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN DIIT DIABETES MELLITUS (Studi Pada Pasien Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dokter Soekardjo Tasikmalaya) Andina Dea Priatna 1) Nur Lina dan Siti Novianti
KEPATUHAN PERAWATAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2
KEPATUHAN PERAWATAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 I Made Mertha I Made Widastra I Gusti Ayu Ketut Purnamawati Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar Email: [email protected] Abstract
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Gambaran Kepuasan Pelayanan Farmasi BPJS kepada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Peserta BPJS di Rumah Sakit Al Ihsan Bandung Tahun 2016 Description of Pharmaceutical
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Perbedaan Faktor Lingkungan, Perilaku Ibu dan Faktor Sosiodemografi Pasien Diare Anak di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Al Islam Bandung pada Peserta BPJS dan
BAB I PENDAHULUAN UKDW. kasus terbanyak yaitu 91% dari seluruh kasus DM di dunia, meliputi individu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus (DM) merupakan kelainan metabolisme dari karbohidrat, protein dan lemak yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya
BAB I PENDAHULUAN. menggunakan insulin yang diproduksi dengan efektif ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes adalah suatu penyakit kronis yang terjadi akibat kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau keadaan dimana tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengetahuan 2.1.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, yang terjadi akibat adanya pengindraan terhadap objek tertentu
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 246-657X Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien Peserta BPJS Kesehatan pada Mutu Pelayanan Kesehatan di Poli Penyakit dalam RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 27 Edi Supriadi, Dadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes adalah penyakit kronis, yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup, atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin
Adelima C. R. Simamora, Doni Simatupang, Agustina Boru Gultom Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan. Abstrak
PENGARUH BPJS TERHADAP MINAT MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN DI RSUD DOLOKSANGGUL KECAMATAN DOLOKSANGGUL KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 20 Adelima C. R. Simamora, Doni Simatupang, Agustina
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR SKRIPSI
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana Kedokteran
BAB I PENDAHULUAN. mellitus dan hanya 5% dari jumlah tersebut menderita diabetes mellitus tipe 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) adalah suatu sindroma gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia dan disebabkan oleh defisiensi absolut atau relatif dari sekresi
BAB I PENDAHULUAN. utama bagi kesehatan manusia pada abad 21. World Health. Organization (WHO) memprediksi adanya kenaikan jumlah pasien
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehatan manusia pada abad 21. World Health Organization (WHO) memprediksi adanya kenaikan jumlah pasien
PENCEGAHAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS MELALUI PROGRAM PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH DI DUKUH CANDRAN DESA SENTONO KLATEN JAWA TENGAH
Seri Pengabdian Masyarakat 2014 ISSN: 2089-3086 Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan Volume 3 No. 3, September 2014 Halaman 180-185 PENCEGAHAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS MELALUI PROGRAM PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN
Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan
Naskah Publikasi, November 008 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Hubungan Antara Sikap, Perilaku dan Partisipasi Keluarga Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe di RS PKU
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KETAATAN POLA MAKAN PENDERITA DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI BESAR BANJARBARU
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KETAATAN POLA MAKAN PENDERITA DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI BESAR BANJARBARU H. Khairir Rizani 1, Suroto 2, Akhmad Rizani 3 ABSTRAK Diabetes Melitus
BAB II METODE PENELITIAN
BAB II METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam penelitian jenis non-eksperimental dimana pengambilan data dilakukan dengan pendekatan cross sectional dan dianalisa secara analitik
ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014
ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE Evan Anggalimanto, 2015 Pembimbing 1 : Dani, dr., M.Kes Pembimbing 2 : dr Rokihyati.Sp.P.D
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang 2)
HUBUNGAN PENGETAHUAN KLIEN TENTANG PENGELOLAAN DIABETES MELLITUS DENGAN TINGKAT KOMPLIKASI DIABETES MELLITUS PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RUANG RAWAT INAP DEWASA RUMAH SAKIT PANTI WALUYA MALANG
Karya Tulis Ilmiah. Keperawatan Pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TERHADAP TINGGINYA KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WIROBRAJAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun
BAB I PENDAHULUAN. penyakit gula. DM memang tidak dapat didefinisikan secara tepat, DM lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) sering juga dikenal dengan nama kencing manis atau penyakit gula. DM memang tidak dapat didefinisikan secara tepat, DM lebih merupakan kumpulan
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik 1 Nita Ayu Toraya, 2 Miranti Kania Dewi, 3 Yuli Susanti
BAB I PENDAHULUAN. akibat insufisiensi fungsi insulin (WHO, 1999). Berdasarkan data dari WHO
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multietiologi yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah disertai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. komprehensif pada self-management, dukungan dari tim perawatan klinis,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Program terapi efektif untuk diabetes mellitus membutuhkan latihan komprehensif pada self-management, dukungan dari tim perawatan klinis, dan regimen farmakologis
DAFTAR ISI. Sampul Dalam... i. Lembar Persetujuan... ii. Penetapan Panitia Penguji... iii. Kata Pengantar... iv. Pernyataan Keaslian Penelitian...
DAFTAR ISI Sampul Dalam... i Lembar Persetujuan... ii Penetapan Panitia Penguji... iii Kata Pengantar... iv Pernyataan Keaslian Penelitian... v Abstrak... vi Abstract...... vii Ringkasan.... viii Summary...
BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya prevalensi diabetes melitus (DM) akibat peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Meningkatnya prevalensi diabetes melitus (DM) akibat peningkatan kemakmuran di negara berkembang banyak disoroti. Peningkatan pendapatan perkapita dan perubahan gaya
DAFTAR ISI. LEMBAR PERSETUJUAN... ii. PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v. ABSTRAK... vi. ABSTRACT... vii. RINGKASAN... viii. SUMMARY...
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i LEMBAR PERSETUJUAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii RINGKASAN... viii SUMMARY...
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA DOKTER KELUARGA
Jurnal ISSN Farmasetis : Cetak 2252-9721 Volume 2 No 1, Hal 13-18, Mei 2013 HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA DOKTER KELUARGA Itsna Diah Kusumaningrum
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, baik secara global, regional, nasional dan lokal (Depkes, 2013).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Tidak Menular (PTM) saat ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional, nasional dan lokal (Depkes, 2013). Global Status Report
SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan. Disusun oleh : ANGGIT YATAMA EMBUN PRIBADI
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA PASIEN DENGAN KEPATUHAN PENGENDALIAN GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI WILAYAH PUSKESMAS RAKIT 2 BANJARNEGARA TAHUN 2016 SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals (MDGs) yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai masyarakat dunia berkomitmen untuk ikut merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals (MDGs) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah Sakit 1. Pengertian Rumah Sakit Berdasarkan Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit,yang dimaksud dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
I. PENDAHULUAN. Diabetes Melitus disebut juga the silent killer merupakan penyakit yang akan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Melitus disebut juga the silent killer merupakan penyakit yang akan memicu krisis kesehatan terbesar pada abad ke-21. Negara berkembang seperti Indonesia merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme kronik yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme kronik yang ditandai dengan adanya kenaikan kadar gula darah atau hiperglikemia. Penyakit DM dapat disebabkan oleh
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERATURAN PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSUD
SKRIPSI BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERATURAN PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu
ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015
ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Diabetes melitus tipe 2 didefinisikan sebagai sekumpulan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik
BAB I PENDAHULUAN. manifestasi berupa hilangnya toleransi kabohidrat (Price & Wilson, 2005).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Diabetes melitus (DM) adalah penyakit dengan gangguan metabolisme yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi kabohidrat
PENGETAHUAN, PENDIDIKAN DAN STATUS EKONOMI BERHUBUNGAN DENGAN KETAATAN KONTROL GULA DARAH PADA PENDERITA DM DI RSUP DR SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
PENGETAHUAN, PENDIDIKAN DAN STATUS EKONOMI BERHUBUNGAN DENGAN KETAATAN KONTROL GULA DARAH PADA PENDERITA DM DI RSUP DR SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN Mohamad Judha Staf pengajar Fakultas Ilmu kesehatan Universitas
BAB I PENDAHULUAN. hiperglikemi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan metabolisme
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan kerusakan metabolisme dengan ciri hiperglikemi yang berkaitan dengan ketidakseimbangan metabolisme karbohidrat, lemak serta protein yang
Prosiding Psikologi ISSN:
Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448 Studi Deskriptif Mengenai Gratitude pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 yang di Diagnosa Kurang dari 12 Bulan di Puskesmas GA Descriptive Study of Gratitude in Patients
BAB I PENDAHULUAN UKDW. insulin dan kerja dari insulin tidak optimal (WHO, 2006).
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Diabetes Melitus (DM) adalah sindrom kelainan metabolik dengan tanda terjadinya hiperglikemi yang disebabkan karena kelainan dari kerja insulin, sekresi
BAB I PENDAHULUAN. dicapai dalam kemajuan di semua bidang riset DM maupun penatalaksanaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh adanya kenaikan gula darah (hiperglikemia) kronik. Masalah DM sudah banyak dicapai dalam kemajuan
AKADEMI FARMASI ISFI BANJARMASIN (Jl. Flamboyan 3 No.
PENGARUH LAYANAN PESAN SINGKAT PENGINGAT TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN DIABETES MELITUS RAWAT JALAN DI RSUD Dr. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN PERIODE 10 APRIL 30 MEI 2015 Halisah 1, Riza Alfian
HUBUNGAN BIAYA OBAT TERHADAP BIAYA RIIL PADA PASIEN RAWAT INAP JAMKESMAS DIABETES MELITUS DENGAN PENYAKIT PENYERTA DI RSUD ULIN BANJARMASIN TAHUN 2013
HUBUNGAN BIAYA OBAT TERHADAP BIAYA RIIL PADA PASIEN RAWAT INAP JAMKESMAS DIABETES MELITUS DENGAN PENYAKIT PENYERTA DI RSUD ULIN BANJARMASIN TAHUN 2013 Wahyudi 1, Aditya Maulana P.P, S.Farm.M.Sc., Apt.
I. PENDAHULUAN. sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai
BAB I PENDAHULUAN. menduduki rangking ke 4 jumlah penyandang Diabetes Melitus terbanyak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Data statistik organisasi WHO tahun 2011 menyebutkan Indonesia menduduki rangking ke 4 jumlah penyandang Diabetes Melitus terbanyak setelah Amerika Serikat, China, India.
BAB I PENDAHULUAN. sebagai masalah kesehatan global terbesar di dunia. Setiap tahun semakin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan pada setiap tahunnya. Penyakit ini lebih dikenal sebagai silent
ABSTRACT ABSTRAK RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS
51 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS Arif Nurma Etika 1, Via Monalisa 2 Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Kadiri e-mail: [email protected] ABSTRACT Diabetes Mellitus
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit degeneratif merupakan transisi epidemiologis dari era penyakit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit degeneratif merupakan transisi epidemiologis dari era penyakit infeksi (communicable disease) yang sempat mendominasi di negara-negara sedang berkembang
JURNAL JURUSAN KEPERAWATAN, Volume, Nomor Tahun 2016, Halaman 1-8 Online di :
JURNAL JURUSAN KEPERAWATAN, Volume, Nomor Tahun 2016, Halaman 1-8 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/ HUBUNGAN ANTARA KEPATUHAN MENGIKUTI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) BPJS DENGAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Amanat Pasal 28-H dan Pasal 34 UUD 1945, Program Negara wajib
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Amanat Pasal 28-H dan Pasal 34 UUD 1945, Program Negara wajib memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat
BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan umat manusia pada abad ke 21. Diabetes mellitus (DM) adalah suatu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes Mellitus atau kencing manis salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad ke 21. Diabetes mellitus (DM) adalah suatu sindroma gangguan
BAB 1 : PENDAHULUAN. dikendalikan atau dicegah (diperlambat). Diabetes mellitus adalah penyakit metabolisme
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit degeratif yang menjadi perhatian utama dalam kesehatan secara global. Secara umum DM merupakan salah satu penyumbang beban
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn. S DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN DIABETES MELLITUS PADA Ny.T DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOSARI
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn. S DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN DIABETES MELLITUS PADA Ny.T DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOSARI KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar
BAB 1 PENDAHULUAN. yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes mellitus (DM) merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. DM adalah suatu kumpulan
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah berkewajiban melindungi seluruh masyarakat Indonesia dengan segenap kemampuannya, terutama melindungi hak hidup masyarakat Indonesia. Untuk mewujudkan cita-cita
Tingkat Self care Pasien Rawat Jalan Diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Kalirungkut Surabaya. Yessy Mardianti Sulistria
Tingkat Self care Pasien Rawat Jalan Diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Kalirungkut Surabaya Yessy Mardianti Sulistria Farmasi /Universitas Surabaya [email protected] Abstrak Diabetes mellitus
BAB I PENDAHULUAN. menempati peringkat kedua dengan jumlah penderita Diabetes terbanyak setelah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya tiap tahun semakin meningkat. Di Asia Pasifik, Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan
BAB I PENDAHULUAN. membahayakan jiwa dari penderita diabetes. Komplikasi yang didapat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Diabetes Mellitus yang tidak ditangani dengan baik dan tepat dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi pada organ tubuh seperti mata, jantung, ginjal, pembuluh
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi dan diperhatikan oleh pemerintah. Kesehatan juga merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat sekresi insulin yang tidak adekuat, kerja
BAB I PENDAHULUAN UKDW. insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. DM merupakan penyakit degeneratif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik kronik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
INTISARI GAMBARAN KUALITAS HIDUP DAN KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN
INTISARI GAMBARAN KUALITAS HIDUP DAN KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN Herlyanie 1, Riza Alfian 1, Luluk Purwatini 2 Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit
SELISIH LAMA RAWAT INAP PASIEN JAMKESMAS DIABETES MELLITUS TIPE 2 ANTARA RILL DAN PAKET INA-CBG
INTISARI SELISIH LAMA RAWAT INAP PASIEN JAMKESMAS DIABETES MELLITUS TIPE 2 ANTARA RILL DAN PAKET INA-CBG s SERTA HUBUNGAN BIAYA RAWAT INAP TERHADAP BIAYA RILL DI RSUD ULIN BANJARMASIN TAHUN 2013 Ary Kurniawan
BAB I PENDAHULUAN. padat modal dan padat teknologi, disebut demikian karena rumah sakit memanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit pada era globalisasi berkembang sebagai industri padat karya, padat modal dan padat teknologi, disebut demikian karena rumah sakit memanfaatkan Sumber Daya
Kesehatan (Depkes, 2014) mendefinisikan diabetes mellitus sebagai penyakit. cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan karena ketidakmampuan pankreas dalam memproduksi hormon insulin, atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin
BAB I PENDAHULUAN.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat kelainan sekresi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang disebabkan karena keadaan hiperglikemia (kadar gula dalam darah meningkat). Penyakit ini sendiri sering
BAB I PENDAHULUAN. investasi dan hak asasi manusia, sehingga meningkatnya derajat kesehatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan pembangunan suatu bangsa salah satunya dipengaruhi oleh status kesehatan masyarakat. Kesehatan bagi seseorang merupakan sebuah investasi dan hak asasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis gangguan metabolisme yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi nilai normal (hiperglikemia), sebagai akibat dari
SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Derajat Sarjana S-1 Keperawatan. Disusun oleh ENY SULISTYOWATI J
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TERAPI DIET TERHADAP PENGETAHUAN DAN PENGENDALIAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOROH 1 KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Untuk
*Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi Manado
HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PENDUDUK DI KELURAHAN KOLONGAN KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTA TOMOHON Fera F. Liuw*, Grace D. Kandou*, Nancy S. H Malonda*
BAB I PENDAHULUAN. pada jutaan orang di dunia (American Diabetes Association/ADA, 2004).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kronik adalah suatu kondisi dimana terjadi keterbatasan pada kemampuan fisik, psikologis atau kognitif dalam melakukan fungsi harian atau kondisi yang memerlukan
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN PASIEN MELAKUKAN KONTROL LUKA ULKUS DIABETIK DI PUSKESMAS KUTA I KABUPATEN BADUNG
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN PASIEN MELAKUKAN KONTROL LUKA ULKUS DIABETIK DI PUSKESMAS KUTA I KABUPATEN BADUNG Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan OLEH DON FRANSISKUS
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN DIET PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 CILONGOK KAB.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN DIET PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 CILONGOK KAB. BANYUMAS SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Syarat Mencapai Derajat
Pengetahuan Tentang Jaminan Kesehatan Nasional pada Mahasiswa Tingkat IV Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Pengetahuan Tentang Jaminan Kesehatan Nasional pada Mahasiswa Tingkat IV Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung 1 Alvi Revianti, 2 Titik Respati, 3 Yuliana
Pengetahuan Peserta BPJS Terhadap Alur Pelayanan Rawat Jalan Pasien BPJS Di Rumah Sakit Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang Periode Januari - Maret 2014
Pengetahuan Peserta BPJS Terhadap Alur Pelayanan Rawat Jalan Pasien BPJS Di Rumah Sakit Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang Periode Januari - Maret 214 ABSTRACT To determine the level of knowledge of the outpatient
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (lebih dari 60 tahun) diperkirakan mengalami peningkatan pada tahun 2000 hingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization (2014) menyebutkan bahwa populasi lanjut usia (lebih dari 60 tahun) diperkirakan mengalami peningkatan pada tahun 2000 hingga 2050 yaitu 11%
Kata Kunci : Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Persepsi, Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN, PENDAPATAN, PERSEPSI KEPALA KELUARGA DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIKALA BARU KOTA MANADO Riyadi Kurniawan Agus*. Ardiansa A.T Tucunan*.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal kronis, penurunan kognitif
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-bangsa
JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI Halaman JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SINGKATAN...
*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN KUALITAS JASA PELAYANAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP PESERTA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN DI RS BHAYANGKARA Tk. III MANADO Maria Queency
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran / polusi
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengaruh globalisasi disegala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat
KARYA TULIS ILMIAH PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PERAWATAN KAKI PADA DIABETES MELLITUS. Di Poli Penyakit Dalam RSUD Dr.
KARYA TULIS ILMIAH PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PERAWATAN KAKI PADA DIABETES MELLITUS Di Poli Penyakit Dalam RSUD Dr. Harjono Ponorogo Oleh: MAYA FEBRIANI NIM: 13612565 PRODI D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU
Kata Kunci :Jaminan Kesehatan Nasional, Puskesmas, Pengetahuan, sikap petugas, dan persepsi pasien Kepustakaan : 20 Buah,
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Petugas Serta Persepsi Pasien terhadap Pelayanan Rawat Jalan Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas Kabupaten Kendal Tahun 2015 Muhammad Nur Fathoni *), Agus Perry Kusuma
