BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Herman Sumadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pakar Secara umum, sistem pakar adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan menyelesaikan masalah seperti layaknya seorang pakar (Turban, 2001). Dalam penyusunannya, sistem pakar mangkombinasikan kaidah-kaidah penarikan kesimpulan atau interface rules dengan basis pengetahuan tertentu yang diberikan oleh satu atau lebih pakar dalam bidang tertentu. Kombinasi dari kedua hal tersebut disimpan dalam komputer, yang selanjutnya digunakan dalam proses pengambilan keputusan untuk penyelesaian suatu masalah tertentu. Konsep dasar sistem pakar mengandung keahlian, ahli, pengalihan keahlian, inferensi, aturan dan kemampuan menjelaskan. Keahlian adalah suatu kelebihanpenguasaan pengetahuandi bidang tertentu yang diperoleh dari pelatihan, membaca atau pengalaman. Komponen utama pada struktur sistem pakar meliputi Basis Pengetahuan / Knowledge Base, Mesin Inferensi / Inference Engine, Working Memory, dan Antarmuka Pemakai / User Interface (Durkin, 1994). Struktur sistem pakar dapat ditunjukkan pada gambar dibawah ini : Gambar 2.1 Struktur Sistem Pakar (Durkin, 1994)
2 Beberapa ahli memberikan pengertian Sistem pakar adalah sistem yang menggunakan pengetahuan manusia yang didesain dan diimplementasikan dengan bantuan bahasa pemrograman tertentu untuk dapat menyelesaikan masalah seperti yang dilakukan oleh para ahli. Sedangkan bagi para ahli, sistem ini dapat digunakan sebagai asisten yang berpengalaman. Pengetahuan dan pengalaman dari seorang ahli dalam bidang tertentu digunakan untuk membangun sistem pakar. Sistem pakar dapat membenarkan keputusan dan menjelaskan jawabannya sesuai pertanyaan yang diajukan. Ini berarti sistem pakar merupakan sistem berbasis AI (Artificial Intelligent) Konsep Dasar Sistem Pakar Konsep dasar sistem pakar mengandung keahlian, ahli, pengalihan keahlian, inferensi, aturan dan kemampuan menjelaskan. Keahlian adalah suatu kelebihan penguasaan pengetahuandi bidang tertentu yang diperoleh dari pelatihan, membaca atau pengalaman. Contoh bentuk pengetahuan yang termasuk keahlian adalah Faktafakta pada lingkup pengetahuan tertentu, teori-teori pada lingkup permasalahan tertentu, prosedur-prosedur dan aturan-aturan berkenaan dengan lingkup permasalahan tertentu, strategi-strategi global untuk menyelesaikan masalah, dan meta-knowledge (pengetahuan tentang pengetahuan). Bentuk-bentuk ini memungkinkan para ahli untuk dapat mengambil keputusan lebih cepat dan lebih baik daripada seseorang yang bukan ahli. Seorang ahli adalah seseorang yang mampu menjelaskan suatu tanggapan, mempelajari hal-hal baru seputar topic permasalahan (domain), menyusun kembali pengetahuan jika dipandang perlu, memecah aturan-aturan jika dibutuhkan, dan menentukan relevan tidaknya mereka. Pengalihan keahlian dari para ahli ke komputer untuk kemudian dialihkan lagi ke orang lain yang bukan ahli, merupakan tujuan utama dari sistem pakar. Proses ini membutuhkan 4 aktivitas yaitu : II-2
3 a. Tambahan pengetahuan (dari para ahli atau sumber-sumber lainnya). b. Representasi pengetahuan (ke komputer). c. Inferensi pengetahuan. d. Pengalihan pengetahuan ke user. Pengetahuan yang disimpan di komputer disebut dengan nama basis pengetahuan. Ada 2 tipe pengetahuan yaitu fakta dan prosedur (biasanya berupa aturan). Salah satu fitur yang harus dimiliki oleh sistem pakar adalah kemampuan untuk menalar. Jika keahlian-keahlian sudah tersimpan sebagai basis pengetahuan dan sudah tersedia program yang mampu yang mampu mengakses basisdata, maka computer harus dapat deprogram untuk membuat inferensi (inference engine). Sebagian sistem pakar komersial dibuat dalam bentuk rule-based system, yang mana pengetahuannya disimpan dalam bentuk aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut biasanya berbentuk IF-THEN. Fitur lainnya dari sistem pakar adalah kemampuan untuk merekomendasi. Kemampuan inilah yang membedakan sistem pakar dengan sistem konvesional. Terdapat tiga orang yang terlibat dalam lingkungan sistem pakar (Turban, 2004), yaitu Pakar, Knowledge Enginer dan Pemakai Struktur Sistem Pakar Sistem pakar disusun oleh dua bagian pokok, yaitu (Kusumadewi, 2003): 1. Lingkungan pengembangan (development environment) Digunakan sebagai pengembangan sistem pakar. 2. Lingkungan konsultasi (consultation environment) Digunakan oleh seseorang/pengguna yang bukan ahli untuk berkonsultasi. II-3
4 Gambar 2.2 Struktur Sistem Pakar (Sumber : Turban, 2005) Komponen Sistem Pakar Penjelasan komponen-komponen pada sistem pakar dari gambar 2.1 sebagai berikut: diatas Subsistem Akuisisi Pengetahuan Akumulasi pengetahuan adalah akumulasi, transfer, dan transformasi keahlian pemecahan masalah dari pakar atau sumber pengetahuan terdokumentasi ke program komputer, untuk membangun atau memperluas basis pengetahuan Basis Pengetahuan Basis pengetahuan berisi pengetahuan-pengetahuan dalam penyelesaian masalah tertentu. Basis pengetahuan merupakan komponen yang berisi pengetahuan yang berasal dari pakar. Berisi sekumpulan fakta dan aturan ( rule). Fakta berupa situasi masalah dan teori tentang area masalah. Aturan adalah suatu arahan yang menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah pada bidang tertentu. Ada II-4
5 dua bentuk pendekatan dalam basis pengetahuan yang sangat umum digunakan, yaitu penalaran berbasis aturan (Rule-Based Reasoning) dan Penalaran berbasis kasus (Case-Based Reasoning). Dimana pada penelitian ini penulis menggunakan aturan berbasis aturan (Rule-Based Reasoning). Dimana penalaran berbasis aturan, pengetahuan direpresentasikan dengan menggunakan aturan berbentuk : IF-THEN. Bentuk ini digunakan apabila kita memiliki sejumlah pengetahuan pakar pada suatu permasalahan tertentu, dan sipakar dapat menyelesaikan masalah tersebut secara berurutan. Disamping itu bentuk ini juga digunakan apabila dibutuhkan penjelasan tentang jejak (langkah -langkah) pencapaian solusi Motor Inferensi Motor inferensi atau mesin inferensi merupakan program komputer yang menyediakan metodologi untuk mempertimbangkan informasi dalam basis pengetahuan dan blackboard dan merumuskan kesimpulan. Mesin inferensi merupakan perangkat lunak yang melakukan tugas inferensi penalaran sistem pakar, biasanya dikatakan sebagai mesin pemikir. Pada prinsipnya mesin inferensi inilah yang akan mencari solusi dari suatu permasalahan. Proses yang dilakukan dalam mesin inferensi berfungsi dalam proses penggabungan banyak aturan berdasarkan data yang tersedia. Ada dua pendekatan yang digunakan dalam menarik kesimpulan, pendekatan forward chaining dan backward chaining. Disini penulis membatasi pembahasan hanya pendekatan yang digunakan yaitu forward chaining. Forward Chaining adalah pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis (Kusumadewi, 2003). Forward chaining disebut juga penalaran dari bawah ke atas karena penalaran dari evidence (fakta) pada level bawah menuju kunklusi pada level atas didasarkan pada fakta (Arhami, 2004). II-5
6 Contoh, jika diketahui kaidah tipe JIKA...MAKA berikut: Jika A maka B Jika B maka C Jika C maka D Dalam proses forward chaining jika fakta A diketahui dan mesin inferensinya dirancang untuk mencocokkan fakta, maka fakta selanjutnya B dan C, akan dinyatakan sebagai konklusinya adalah D Antarmuka Pengguna Antarmuka merupakan mekanisme yang digunakan oleh pengguna dan sistem pakar untuk berkomunikasi. Antarmuka menerima informasi dari pemakai dan mengubahnya ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh sistem Blackboard (Tempat Kerja) Blackboard adalah area kerja memori yang disimpan sebagai database untuk deskripsi persoalan terbaru yang ditetapkan oleh data input, digunakan juga untuk perekam hipotesis dan keputusan sementara. Tiga tipe keputusan yang dapat direkam dalam blackboard, yaitu: a. Rencana : bagaimana mengatasi persoalan. b. Agenda : tindakan potensial sebelum eksekusi. c. Solusi : hipotesis kandidat dan arah tindakan alternatif yang telah dihasilkan sistem sampai dengan saat ini Subsistem Penjelasan (Justifier) Subsistem penjelas adalah komponen tambahan yang akan meningkatkan kemampuan sistem pakar. Komponen ini menggambarkan penalaran sistem kepada pemakai. II-6
7 Sistem Perbaikan Pengetahuan Pakar memiliki kemampuan untuk menganalisis dan meningkatkan kinerjanya serta kemampuan untuk belajar dari kinerjanya. Kemampuan ini penting untuk menganalisis penyebab kesuksesan dan kegagalan yang dialaminya Mengembangkan Sistem Pakar Seperti layaknya pengembangan perangkat lunak, pada pengembangan sistem pakar ini juga diperlukan beberapa tahapan seperti terlihat pada gambar 2.2 (Kusumadewi, 2003). Gambar 2.3 Tahap-tahap pengembangan sistem pakar (Kusumadewi, 2003) II-7
8 Secara garis besar pengembangan sistem pakar pada gambar diatas adalah sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan. Mengkaji situasi dan memutuskan dengan pasti tentang masalah yang akan dikomputerisasi dan apakah dengan sistem pakar bisa lebih membantu atau tidak. 2. Menentukan masalah yang cocok, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar sistem pakar dapat bekerja dengan baik, yaitu : a. Domain masalah tidak terlalu luas. b. Kompleksitasnya menengah, artinya jika masalah terlalu mudah atau masalah yang sangat kompleks seperti peramalan inflasi tidak perlu menggunakan sistem pakar. c. Tersedianya ahli (pakar). d. Menghasilkan solusi mental bukan fisik, artinya sistem pakar hanya memberikan anjuran tidak bisa melakukan aktivitas fisik seperti merasakan. e. Tidak melibatkan hal-hal yang bersifat common sense, yaitu penalaran yang diperoleh dari pengalaman, seperti adanya gravitasi membuat benda jatuh atau jika lampu lalulintas merah maka kendaraan harus berhenti. 3. Mempertimbangkan alternatif. Dalam hal ini 2 alternatif yaitu menggunakan sistem pakar atau komputer tradisional. 4. Menghitung pengembalian investasi, termasuk diantaranya biaya pembuatan sistem pakar, biaya pemeliharaan dan biaya training. 5. Memilih alat pengembangan, bisa digunakan software pembuat sistem pakar (seperti : SHELL) atau dirancang dengan bahasa pemrograman sendiri. 6. Rekayasa pengetahuan. Perlu dilakukan penyempurnaan terhadap aturan-aturan yang sesuai. 7. Merancang sistem. Bagian ini termasuk pembuatan prototype, serta menterjemahkan pengetahuan menjadi aturan-aturan. II-8
9 8. Melengkapi pengembangan, termasuk pengembangan prototype apabila sistem yang telah ada sudah sesuai dengan keinginan. 9. Menguji dan mencari kesalahan sistem Forward Chaining Operasi dari sistem forward chaining dimulai dengan memasukkan sekumpulan fakta yang diketahui ke dalam memori kerja ( working memory), kemudian menurunkan fakta baru berdasarkan aturan yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui. Proses ini dilanjutkan sampai dengan mencapai goal atau tidak ada lagi aturan yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui. Runut maju ( forward chaining) berarti menggunakan himpunan aturan kondisi-aksi. Dalam metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan mana yang akan dijalankan, kemudian aturan tersebut dijalankan. Mungkin proses menambahkan data ke memori kerja. Proses diulang sampai ditemukan suatu hasil (Wilson, 1998). Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membuat sistem forward chaining berbasis aturan, yaitu : 1. Pendefinisian Masalah. Tahap ini meliputi pemilihan domain masalah dan akusisi pengetahuan. 2. Pendefinisian Data Input. Sistem forward chaining memerlukan data awal untuk memulai inferensi. 3. Pendefinisian Struktur Pengendalian Data. Aplikasi yang kompleks memerlukan premis tambahan untuk membantu mengendalikan pengaktifan suatu aturan. 4. Penulisan Kode Awal. Tahap ini berguna untuk menentukan apakah sistem telah menangkap domain pengetahuan secara efektif dalam struktur aturan yang baik. 5. Pengujian Sistem. Pengujian sistem dilakukan dengan beberapa aturan untuk menguji sejauh mana sistem berjalan dengan benar. II-9
10 6. Perancangan Antarmuka. Antarmuka adalah salah satu komponen penting dari suatu sistem. Perancangan antarmuka dibuat bersama-sama dengan pembuatan basis pengetahuan. 7. Pengembangan Sistem. Pengembangan sistem meliputi penambahan antarmuka dan pengetahuan sesuai dengan prototipe sistem. 8. Evaluasi Sistem. Pada tahap ini dilakukan pengujian sistem dengan masalah yang sebenarnya. Jika sistem belum berjalan dengan baik maka akan dilakukan pengembangan kembali 2.2Ilmu Kedokteran Forensik Ilmu Kedokteran Forensik, juga dikenal dengan nama Legal Medicine, adalah salah satu cabang spesialistik dari Ilmu Kedokteran, yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Penyidikan bahkan dapat dilakukan terhadap korban mati yang tak dikenal, sebab seringkali korban kejahatan ditemukan di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya ataupun dalam keadaan yang sudah membusuk atau rusak, sehingga tidak ada yang mengenalinya. Penentuan identitas personal dengan tepat sangat penting dalam penyidikan, mengingat proses penyidikan akan menjadi lebih sulit jika identitas korban tidak diketahui sebelumnya. Dalam perkembangan yang lebih lanjut, ternyata ilmu kedokteran forensik tidak semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat yang lain, misalnya dalam membantu penyelesaian klaim asuransi yang adil, baik bagi pihak yang diasuransi maupun pihak yang mengasuransi, dalam membantu pemecahan masalah paternitas (penemuan ke-ayah-an), membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industri dan otomotif dengan pengumpulan data korban kecelakaan industri maupun kecelakaan lalu-lintas dan sebagainya. Untuk dapat II-10
11 memberi bantuan yang maksimal bagi berbagai keperluan tersebut di atas, seorang dokter dituntut untuk dapat memenfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara optimal. Dalam menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta untuk membantu dalam pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaik-baiknya. Bantuan yang wajib diberikan oleh dokter apabila diminta oleh penyidik antara lain adalah melakukan pemeriksaan kedokteran forensik terhadap seseorang, baik terhadap korban hidup, korban mati maupun bagian tubuh atau benda yang diduga berasal dari tubuh manusia. Apabila dokter lalai memberikan bantuan tersebut, maka ia dapat diancam dengan pidana penjara. Dokter yang diharapkan membantu dalam proses peradilan ini berbekal pengetahuan kedokteran yang terhimpun dalam khazanah Ilmu Kedokteran Forensik. Dalam suatu perkara pidana yang menimbulkan korban, dokter diharapkan dapat menemukan kelainan yang terjadi pada tubuh korban, bagaimana kelainan tersebut timbul, apa penyebabnya serta apa akibat yang timbul terhadap kesehatan korban. Dalam hal korban meninggal, dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab kematian yang bersangkutan, bagaimana mekanisme terjadinya kematian tersebut, serta membantu dalam perkiraan saat kematian dan perkiraan cara kematian Keterangan Ahli Kewajiban dokter untuk membuat Keterangan Ahli telah diatur dalam pasal 133 KUHAP. Keterangan Ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan sidang pengadilan (pasal 184 KUHAP). Pengertian Keterangan Ahli adalah sesuai dengan pasal 1 butir 28 KUHAP : Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. II-11
12 Keterangan ahli ini dapat diberikan secara lisan di depan sidang pengadilan (pasal 186 KUHAP), dapat pula diberikan pada masa penyidikan dalam bentuk laporan penyidik (penjelasan pasal 186 KUHAP), atau dapat diberikan dalam bentuk keterangan tertulis di dalam suatu surat (pasal 187 KUHAP) Visum Et Repertum Di dalam pengertian secara hukum Visum et Repertum (VR), adalah : 1. Suatu surat keterangan dokter yang memuat kesimpulan suatu pemeriksaan yang telah dilakukannya, misalnya atas mayat seseorang untuk menentukan sebab kematian dan lain sebagainya, keterangan yang diperlukan oleh Hakim dalam suatu perkara (Prof. Subekti SH.; Tjitrosudibio, dalam kamus Hukum, 1972). 2. Laporan dari ahli untuk pengadilan, khususnya dari pemeriksaan oleh dokter, dan di dalam perkara pidana (Fockeman -Andrea dalam Rechtsgeleerd Handwoordenboek, 1977). 3. Surat keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah/janji (jabatan/khusus), tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya (Kesimpulan NY. Karlinah P.A. Soebroto SH. Dari S.1973 No. 350 pasal 1 & 2) Identifikasi Forensik Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Dokter merupakan salah satu ahli yang dapat diminta bantuannya oleh penyidik untuk menentukan identitas mayat yang tidak dikenal. Korban bisa berupa jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar, pada kecelakaan massal, bencana alam, dan korban mutilasi. Identitas korban sangat diperlukan dalam proses penyidikan, agar korban dapat diserahkan kepada keluarga. Menentukan identitas atau jati diri atas seseorang korban II-12
13 tindak pidana yang barakibat fatal, relatif lebih mudah bila dibandingaknkan dengan penentuan jati diri tersangka atau pelaku kejahatan. Tabel 2.1 Panduan Identifikasi Data Forensik (dr. Abdul Mun im Idries, 1997) Data yang ingin diketahui Organ tubuh Metode Tinggi badan / panjang tubuh Tulang fibula dan tulang Cross sectional telapak kaki Jenis Kelamin Umur Kulit / ras Identitas khusus (cacat kelainan bawaan, cacat tubuh, tattoo dan lain - lain ) Tulang panggul, tulang tengkorak, tulang dada, tulang panjang, gigi dan rahang Gigi, tulang belakang, sutura-sutura tulang tengkorak Seluruh bagian anggota tubuh maupun kerangka Seluruh bagian anggota tubuh maupun kerangka Visual, pengukuran dengan vernier kaliper Visual dan pemeriksaan dalam lanjutan Visual Visual Identifikasi personal selalu menjadi suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena apabila ada kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan. Pemeriksaan identitas seseorang memerlukan berbagai metode mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Disaster Victim Identification (DVI) menerangkan metode identifikasi yang telah distandarkan secara internasional dan diadopsi di Indonesia. Terdapat dua golongan identifikasi, yaitu primer (sidik jari, gigi) dan sekunder (pemeriksaan medik, fotografi). Dengan diketahuinya jati diri korban, pihak penyidik dapat melakukan penyidikan untuk mengungkap kasus menjadi lebih terarah, dikarenakan secara kriminologis pada umumnya ada hubungan antara pelaku dengan korbannya. Dengan II-13
14 diketahuimya jati diri korban, penyidik akan lebih mudah membuat satu daftar dari orang-orang yang patut dicurigai. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi bila diketahui saat kematian korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku kejahatan. Penentuan identitas personal dapat menggunakan berbagai macam metode yaitu identifikasi sidik jari, potongan tubuh manusia, visual, dokumen, pakaian, perhiasan, medik, gigi, dan serologik (dr. Abdul Mun im, 1997). Metode identifikasi tersebut, memerlukan beberapa data yang meliputi penampilan umum, yaitu : tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, umur, warna kulit, rambut, mata, pakaian, sidik jari, perhiasan, jaringan parut atau bekas luka, dan tato. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA. 1. Sidik Jari, metode ini membandingan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. 2. Metode Visual, dengan memperhatikan dengan cermat bagian atas korban, terutama wajahnya oleh pihak keluarga atau rekan dekatnya, maka jati diri korban dapat diketahui. Walaupun metode ini sederhana, untuk mendapat hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh, terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan yang lanjut. Selain itu perlu diperhatikan faktor psikologis, emosi serta latar belakang pendidikan, oleh karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Juga perlu diingat bahwa manusia mudah terpengaruh oleh sugesti, khususnya sugeti dari pihak penyidik. 3. Pakaian dan perhiasan, anting-anting, kalung, gelang serta cincin yang melekat pada tubuh korban, khususnya apabila ada perhiasan yang berinisial nama korban. Pencatatan yang teliti atas pakaian, bahan yang dipakai, mode II-14
15 serta adanya tulisan-tulisan seperti : merek pakaian, penjahit, laundry atau inisial nama, dapat memberikan informasi yang berharga, milik siapakah pakaian tersebut. Bagi korban tidak dikenal, menyimpan pakaian secara keseluruhan atau potongan-potongan dengan ukuran 10x10 cm, adalah merupakan tindakan yang tepat agar korban masih dapat dikenali walaupun tubuhnya telah dikubur. Khusus anggota ABRI, masalah identifikasi dipermudah dengan adanya nama serta NRP yang tertera pada kalung logam yang dipakainya. 4. Dokumen, kartu identifikasi seperti (KTP, SIM, Paspor, dsb) yang kebetulan dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali jenazah tersebut. 5. Medis, pemeriksaan fisik secara keseluruhan, yang meliputi bentuk tubuh, tinggi dan berat badan, warna tirai mata, adanya cacat tubuh serta kelainan bawaan, jaringan parut bekas operasi, serta adanya tattoo, dapat memastikan siapa jati diri korban. 6. Gigi, bentuk gigi dan bentuk rahang merupakan ciri khusus dari seseorang, sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan tidak ada gigi atau rahang identik pada dua orang yang berbeda, hal ini pemeriksaan gigi mempunyai nilai yang tinggi dalam hal penentuan jati diri seseorang. 7. Serologik, pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku, dan tulang. 8. Eksklusi, metode ini digunakan pada kecelakaan masal yang melibatkan sejumlah orang yang dapat diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara, kapal laut, dsb. 9. Identifikasi Potongan Tubuh Manusia (Kasus Mutilasi), Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari manusia atau II-15
16 hewan. Bila berasal dari manusia, ditentukan apakah potongan-potongan tersebut berasal dari satu tubuh. Identifikasi pada prinsipnya adalah membandingkan data antemortem dan data postmortem. Data antemortem didapatkan dari laporan orang hilang, dokumentasi, surat, perhiasan, pakaian, data pekerjaan, data polisi, data medis dokter atau dokter gigi, foto ronsen, hasil pemeriksaan laboratorium, benda peninggalan serta keterangan dari keluarga atau kerabat korban tidak menutup kemungkinan data didapat secara tidak langsung yaitu dari pemeriksaan atas orangtua atau anak-anak korban. Data postmortem diperoleh dari pemeriksaan atas mayat, bagian mayat atau kerangka. Pemeriksaan kerangka manusia dapat memberikan informasi yang penting tentang identitas seseorang. Kerangka merupakan bagian tubuh yang paling tahan diantara semua sistem organ karena dapat tetap utuh meskipun hanya tinggal potongan-potongannya. Kerangka tidak mudah dihancurkan oleh hewan, api ataupun sebab lain Identifikasi Tulang Penentuan tinggi badan seseorang individu dalam pemeriksaan forensik sangatlah penting terutama bila hanya sepotong bagian tubuh jenazah saja yang ditemukan. Identifikasi pada tulang bertujuan untuk membuktikan bahwa tulang tersebut adalah : (1) apakah tulang manusia atau hewan; (2) apakah tulang berasal dari satu individu; (3) berapakah usianya; (4) jenis kelamin; (5) tinggi badan; (6) ras; (7) berapa lama kematian; (8) adakah deformitas tulang dan (9) sebab kematian. Pengukuran tinggi badan manusia umumnya diukur dalam satuan centimeter (cm), dan alat ukur yang digunakan pada umumnya yaitu antropometer ataupun alat ukur lainnya seperti kaliper geser/sorong. II-16
17 Gambar 2.4 Vernier kaliper (langirele electric) Anatomi Fibula Fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral tungkai bawah. tulang itu adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Fibula adalah tulang lateral tungkai bawah yang langsing. Tulang ini tidak ikut berartikulasi pada artikulatio genus, tetapi dibawah, tulang ini membentuk maleolus lateralaris dari artikulatio talocruralis. Tulang ini tidak ikut menyalurkan berat badan tetapi merupakan tempat melekat otot-otot. Ujung atas atau caput fibulae ditutupi oleh processus styloideus. Bagian ini mempunyai facies articularis untuk bersendi dengan condilus lateralis tibiae. Corpus fibulae panjang dan lansing. Ciri khasnya adalah mempunyai empat margines dan empat facies. Margo lateralis atau margo interosseus memberikan tempat perlekatan untuk membrane interossea. Ujung bawah fibula membentuk malleolus lateralis yang berbentuk segitiga dan terletak subkutan. Facies medialis dari malleolus lateralis terdapat facies articulris yang berbentuk segitiga untuk bersendi dengann aspek lateralis os talus. Dibawah dan belakang facies articularis terdapat lekukan yang disebut fossa malleolaris. Gambar 2.5 Tulang Fibula II-17
18 Struktur dasar tulang pada umumnya terdiri atas epifise, metafise, dan diafise. Epifise adalah pusat kalsifikasi pada ujung ujung tulang, metafise adalah bagian diafisis yang berbatasan dengan lempeng epifiseal, dan diafise sendiri adalah pusat pertumbuhan tulang yang ditemukan pada batang tulang. Pusat kalsifikasi pada ujung ujung tulang dikenal dengan epifise line akan berakhir seiring dengan pertambahan usia. Rata-rata penutupan epifise line pada setiap tulang dapat ditemukan pada manusia sampai umur rata-rata 21 tahun (Tabel 2.2 ). Pertumbuhan interstisial tidak dapat terjadi di dalam tulang. Pertumbuhan interstisial terjadi melalui proses osifikasi endokondral pada tulang rawan artikuler dan lempeng epifisis. Tabel 2.2 Gambaran Derajat Garis Epifise (Epifise line) Jenis Tulang Proximal Fibula Distal Fibula Usia (tahun) Metode pengukuran tulang fibula yaitu dengan mengukur Tulang lateral tungkai bawah dari ujung atas atau caput fibulae sampai ujung bawah yang membentuk malleolus lateralir Anatomi Tulang Telapak Kaki Kaki merupakan bagian distal dari tungkai bawah yang berfungsi untuk menyokong berat badan dan menjadi pengungkit untuk berjalan dan berlari. Kaki mampu beradaptasi terhadap permukaan yang tidak rata karena kaki terdiri atas segmen-segmen dengan banyak sendi yang disusun oleh tulang tarsal, tulang metatarsal, dan phalanges serta jaringan yang melapisinya. II-18
19 Gambar 2.6 Penampang Telapak Kaki Tulang metatarsal pertama besar, kuat, dan berperan penting dalam menyokong berat badan. Jari kaki mempunyai tiga phalanges, kecuali ibu jari kaki yang hanya mempunyai dua phalanges Tinggi Tubuh Manusia Struktur tubuh manusia tersusun atas berbagai macam organ sedemikian rupa satu sama lainnya sehingga membentuk tubuh manusia seutuhnya sedangkan kerangka merupakan struktur keras pembentuk tinggi badan. Proses pertumbuhan dimulai sejak terjadi proses konsepsi dan terjadi terus menerus sampai dewasa, kemudian stabil dan pada usia relatif tua akan kembali berkurang. Tubuh dibangun atas struktur susunan tulang tulang yang terkait satu sama lainnya, dengan demikian maka tinggi tubuh manusia akhirnya dapat diukur. II-19
20 Gambar 2.7 Struktur Anatomi Kerangka Tubuh Manusia Tampak Depan dan Belakang Tinggi badan adalah hasil pengukuran maksimum panjang tulang tulang yang secara paralel membentuk poros tubuh yang diukur dari titik tertinggi di kepala yang disebut vertex, ke titik terendah dari tulang kalkaneus yang disebut heel. Pengukuran umumnya diukur dalam satuan centimeter. Penurunan tinggi badan dapat terjadi pada saat usia setelah 25 tahun yang akan mengakibatkan terjadinya pengurangan tinggi badan sebanyak sekitar 1 mm pertahun. Pengurangan tinggi badan sekitar 1,5 cm terjadi saat sore dan malam hari. Hal ini disebabkan karena terjadinya penurunan elastisitas dan peningkatan kekuatan otot tulang punggung belakang pada berdiri dan terlentang. Pengurangan tinggi badan dapat terjadi pada mayat akibat kekakuan. II-20
21 Perkiraan tinggi berdasarkan panjang tulang tertentu pada manusia telah diteliti oleh banyak ahli dan mereka telah membuat rumus. Beberapa formula yang digunakan dalam menentukan perkiraan tinggi badan seorang individu. 1. Formula Trotter dan Glesser (1952) Formula ini memakai subjek penelitian orang-orang Amerika kulit hitam (negro) dan kulit putih yang berusia antara tahun baik laki-laki maupun perempuan. Tabel 2.3 Formula Trotter dan Glesser pada tahun 1952 pada laki-laki kulit putih dan negro MALE Male Whites Stature = (Femur + Fibula) ± 3.63 cm Stature = Fibula ± 3.86 cm Male Negroes Stature = (femur + fibula) ± 3.63 cm FEMALE Female Whites Stature = Fibula ± 3.57 cm Female Negroes Stature = fibula ± 3.80 cm 2. Formula Trotter-Glesser (1958) TB = 2.40 FiI ± 3.2 TB = 1.22 (FI + FiI) ± 3.2 keterangan : Angka dengan tanda ± adalah nilai standard error, yang dapat dikurangi atau ditambah pada nilai yang diterima dari kalkulasi. Makin kecil SE, makin tepat taksiran menurut rumus regresi. 3. Formula Telkka Formula ini didasarkan dari pemeriksaan terhadap orang-orang Finisia. Tinggi badan (laki-laki) = 169,4 + 2,5 (fibula-36,1) Tinggi badan (perempuan) = 156,8 +2,3 (fibula-32,7) 4. Formula Parikh Formula ini didasarkan atas pemeriksaan terhadap tulang-tulang kering. II-21
22 Tinggi badan (laki-laki) = fibula x 4,46 Tinggi badan (perempuan) = fibula x 4,43 Keterangan = semua dalam satuan centimeter (cm) 5. Formula Antropologi Ragawi UGM Merupakan formula perkiraan tinggi badan untuk jenis kelamin pria orang dewasa suku Jawa. Tinggi Badan = y (fibula kanan) Tinggi Badan = y (fibula kiri) Keterangan = semua dalam satuan milimeter(mm) Perbedaan Tulang-Tulang yang Menentukan Jenis Kelamin Jenis kelamin dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang tengkorak, sternum, tulang panjang serta scapula, dan metacarpal. Berikut penjelasan atas tulang-tulang tersebut : 1. Pada panggul Indeks Isio-Pubis (panjang pubis dikali 100 dibagi panjang isium), merupakan ukuran yang paling sering digunakan. Nilai Indeks laki-laki sekitar 83,6 sedangkan wanita 99,5. Dengan tingkat ketepatan 98%. 2. Berdasarkan tulang dada pada wanita ukuran Manubrium > 50% dari Korpus tulang dada sedangkan pada pria ukuran Manubrium < 50% dari Korpus tulang dadanya. Dengan tingkat ketepatan 75-80% 3. Berdasarkan rangka pada tengkorak dengan tingkat ketepatan 90%, perbedaan ciri seks dapat dilihat dari beberapa tulang pada tabel berikut : Tabel 2.4 Ciri Seks pada Tulang Tengkorak No Tanda Pria Wanita 1 Ukuran, volume endokranial Besar Kecil 2 Arsitektur Kasar Halus 3 Tonjolan Supraorbital Sedang-Besar Kecil-Sedang 4 Prosesus Mastoideus Sedang-Besar Kecil-Sedang 5 Daerah Oksipital Linea Muskulares dan Protuberensia Tidak jelas Jelas atau menonjol 6 Eminensia Frontalis Kecil Besar II-22
23 7 Eminensia Parietalis Kecil Besar 8 Orbita Persegi, rendah relatif Bundar, tinggi relatif kecil tapi tumpul besar tapi tajam 9 Dahi Curam kurang Membundar, penuh, membundar Invantil 10 Tulang pipi Berat, arkus lebih ke Ringan, lebih lateral memusat 11 Mandibula Besar, Simfisis-nya tinggi, rumus Asendingnya lebar Kecil, dengan ukuran Korpus dan rumus lebih kecil 12 Palatum 13 Kondilius Oksipitalis Gigi-geligi (Sumber : Krongman, 1955) Besar dan Lebar cenderung seperti huruf- U Besar-besar, M1 bawah sering 5 kuspid Kecil cenderung seperti Parabola Kecil-kecil, Molar biasanya 4 kuspid 4. Tulang Panjang pria lebih panjang dan lebih masif dibandingkan dengan tulang wanita dengan perbandingan 100:90, tulang panjang pada pria lebih panjang, lebih berat, dan lebih kasar, serta impresinya lebih banyak. Tulang paha merupakan tulang yang dapat diandalkan. Dengan tingkat ketepatan 80%. 5. Gigi Geligi dan Rahang. Tabel 2.5 Ciri Seks pada Gigi-Geligi No Gigi-Geligi Pria Wanita 1 Outline gigi Relatif lebih besar Relatif lebih kecil 2 Lapisan dan dentin Relatif lebih tebal Relative lebih tipis 3 Bentuk lengkung gigi Tapered Cenderung oval 4 Ukuran Cervico incisal dan mesio distal, gigi caninus bawah Lebih besar Lebih kecil 5 Outline incivicus pertama atas Lebih persegi Lebih bulat 6 Ukuran lengkung gigi Relatif lebih besar Reletif lebih kecil (Sumber : Cotton, 1982) II-23
24 Tabel 2.6 Ciri Seks pada Tulang Rahang No Perbedaan Rahang Pria Wanita 1 Lengkung rahang atas Lebih lebar (lateral), bentuk seperti huruf U Lebih sempit, bentuk seperti huruf V 2 Lengkung rahang bawah Relatif lebih lebar Relatif lebih sempit 3 Sudut gonion / dagu samping Lebih kecil Lebih besar 4 Tinggi dan lebar ramus ascendens 5 Jarak Inter-processus koronoid 6 Tinggi tulang processus koronoid 7 Tulang menton 8 Pars basalis mandibular (secara horizontal) (Sumber : Cotton, 1982) Lebih besar Lebih besar/ lebih panjang Lebih tinggi Lebih tebal dan lebih ke anterior Jarak lebih panjang Lebih kecil Lebih kecil/ lebih pendek Lebih pendek >< Jarak lebih pendek Perbedaan Jenis Ras pada Manusia Ras korban dapat diketahui dari struktur rahang dan gigi-geliginya. Secara antropologi, ras dibagi tiga yaitu ras kaukasoid, ras negroid, dan ras mongoloid. Masing-masing ras memiliki bentuk rahang dan struktur gigi-geligi yang berbeda (Astuti, 2008) : 1. Ras Kaukasoid (Berkulit putih) 1. Permukaan lingual yang rata pada gigi incivus 2. Gigi molar pertama bawah tampak lebih panjang dan bentuknya lebih tapered 3. Ukuran buko-palatal gigi premolar kedua bawah sering ditemukan mengecil dan ukuran mesio-distal melebar 4. Lengkung rahang sempit 5. Gigi berjejal 6. Carabelli cusp pada molar pertama atas 7. Maloklusi pada gigi anterior. II-24
25 8. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola. 9. Dagu menonjol. 2. Ras Negroid (Berkulit hitam) 1. Akar premolar yang membelah atau tiga akar 2. Sering terdapat open bit 3. Palatum berbentuk lebar 4. Protusi bimaksila 5. Gigi molar pertama bawah berbentuk segi empat dan kecil 6. Kadang-kadang ditemui molar keempat 7. Pada gigi premolar dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan 3. Ras Mongoloid (Berkulit kuning dan cokelat) 1. Gigi incisivus pertama atas berbentuk sekop 2. Gigi molar pertama bawah berbentuk bulat dan lebih besar 3. Adanya kelebihan akar distal dan accesory cusp pada permukaan mesio-bukal pada gigi molar pertama bawah 4. Permukaan seperti butiran mutiara 5. Lengkungan palatum berbentuk elips. 6. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus Perkiraan Umur dengan Gigi Geligi Umur dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan gigi geligi, diantaranya : 1. Pertumbuhan Gigi Susu 1. Postnatal tanpa gigi: berkisar antara umur 0 6 bulan, yaitu saat tumbuhnya gigi susu yang pertama. Penentuan umur secara tetap disini masih memerlukan sediaan mikroskopis dengan melihat mineralisasi. Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan terhadap tahap perkembangan gigi yang belum tumbuh atau masih di dalam tulang dengan bantuan roentgen. 2. Masa pertumbuhan gigi susu: berkisar antara umur 6 bulan 3 tahun, saat bermunculannya gigi susu ke dalam mulut. Dengan memperhatikan gigi mana II-25
26 yang sudah tumbuh dan belum tumbuh, umur dapat diperkirakan dengan kisaran yang relatif sempit. 3. Masa statis gigi susu: berkisar antara umur 3 6 tahun. Pada masa ini penentuan umur melihat tingkat keausan gigi susu dan jika diperlukan dengan bantuan roentgen untuk melihat tahap pertumbuhan gigi tetap. 4. Masa gigi-geligi campuran: berkisar antara 6 12 tahun. Pada masa ini umur dapat dilihat dari gigi susu yang tanggal dan gigi tetap yang tumbuh. 2. Penutupan foramen apicalis molar ketiga tidak terjadi sebelum usia 20 tahun 3. Banyaknya tulang yang hilang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. 4. Keausan pada gigi menunjukkan seseorang berusia di atas 50 tahun Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Badan Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tinggi badan diantaranya : 1. Usia Faktor usia perlu diperhatikan dalam memperkirakan panjang total tulang karena pada masa pertumbuhan, tulang terus berkembang sehingga panjang tulang terus berubah. Pertumbuhan akan berhenti setelah dewasa dan panjang tulang tidak mengalami penambahan lagi. 2. Jenis Kelamin Jenis kelamin juga sangat mempengaruhi tinggi badan karena perbedaan hormon yang dihasilkan oleh laki-laki dan perempuan. Percepatan pertumbuhan tulang perempuan dan laki-laki serta penghentian pertumbuhan juga berbeda. Tulang panjang pria dan wanita memang berbeda, perbedaan yang nyata terlihat yaitu tulng panjang pria lebih panjang dan masif dari pada wanita. Ratio tulang panjang pria terhadap wanita adalah 100:90. Tulang pria berukuran lebih besar dengan diameter dan ketebalan yang lebih besar. Ekspresi diformisme seksual ini mempunyai pola yang relatif sama untuk semua variasi manusia. II-26
27 3. Ras Data penelitian Krogman pada tahun 1995 menunjukkan bahwa panjang humerus dan femur orang negro lebih panjang dibanding dengan orang kaukasoid. Trotter-Glesser menyimpulkan bahwa hubungan tinggi badan dan panjang tulangnya cukup berbeda diantara tiga ras yaitu kaukasoid, negro, dan mongoloid. Ras mempunyai pengaruh berbeda dan nyata pada densitas dan ukuran tulang kerangka. 4. Generasi Panjang tulang panjang manusia cenderung mengalami perubahan sekular pada generasi yang berbeda sehingga untuk memperkirakan panjang total tulang dari fragmen-fragmennya tidak dapat digunakan sampel dari generasi yang jauh berbeda. 5. Jaringan lunak Jaringan lunak termasuk komponen yang berperan dalam pengukuran tinggi badan selain tulang dan kulit. Fully (1956) telah menyusun indek koreksi jaringan lunak untuk tinggi badan berdasarkan hasil pengurangan dari tinggi kerangka lengkap dan data tinggi badan sesungguhnya. 6. Aktifitas Faktor genetik, hormonal, dan nutrisi mempunyai pengaruh dalam metabolisme tulang, tetapi pembebanan mekanik yang diterima tulang setiap harinya juga menentukan ukuran dan bentuk tulang. Gaya atau pembebanan yang melebihi pola harian normal mengakibatkan tulang beradaptasi dengan meningkatkan pembentukan yang pada akhirnya meningkatkan massa, ukuran, dan momen inersia untuk menahan perubahan tekukan tersebut. 7. Nutrisi Faktor nutrisi yang berperan adalah energi yang berasal dari lemak, karbohidrat, protein, kalsium, mineral (zink, tembaga, dan magnesium), II-27
28 vitamin-vitamin (A, C, dan D) dan asam amino esensial. Faktor-faktor diatas menentukan pertumbuhan panjang tulang dan tinggi akhir seseorang. 2.3 Metode Cross Sectional Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat mengetahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya hubungan sebab akibatnya (Notoatmodjo, 2002). Tujuan penelitian cross sectional menurut Budiarto (2004) yaitu sebagai berikut: 1. Mencari prevalensi serta indisensi satu atau beberapa penyakit tertentu yang terdapat di masyarakat. 2. Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit tertentu dengan perubahan yang jelas. 3. Menghitung besarnya resiko tiap kelompok, resiko relatif, dan resiko atribut. Ciri-ciri penelitian cross sesctional menurut Budiarto (2004) yaitu sebagai berikut: 1. Pengumpulan data dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan subjek studi hanya dilakukan satu kali selama satu penelitian. 2. Perhitungan perkiraan besarnya sampel tanpa memperhatikan kelompok yang terpajang atau tidak. 3. Pengumpulan data dapat diarahkan sesuai dengan kriteria subjek studi. 4. Tidak terdapat kelompok kontrol dan tidak terdapat hipotesis spesifik. II-28
29 5. Hubungan sebab akibat hanya berupa perkiraan yang dapat digunakan sebagai hipotesis dalam penelitian analitik atau eksperimental. Penelitian cross sectional adalah sesuatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama. Langkah-langkah pada penelitian cross sectional adalah sebagai berikut (Notoatmodjo, 2002) : 1. Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentifikasi faktor resiko dan faktor efek. 2. Menetapkan subjek penelitian. 3. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data). 4. Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan proporsi antar kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran). berikut ini : Besar sampel dalam metode crros sectional dapat dihitung dengan rumus Keterangan : n = sampel minimum Zα = deviasi relatif yang menggambarkan derajat kepercayaan dalam pengambilan kesimpulan statistik = 1.64, α = 0.10 Zβ = deviasi relatif yang menggambarkan tingkat kekuatan tes statistik dalam menetapkan kemaknaan = 1.28, β = 0.10 r = perkiraan koefisien korelasi = 0.2 II-29
30 Tinggi badan diperkirakan berdasarkan panjang tulang fibula dan tulang telapak kaki dengan menggunakan metode cross sectional, (Yayan dan Riza, 2011). Pada penelitian tersebut ada beberapa formula regresi yang dapat digunakan untuk memperkirakan tinggi badan, diantaranya : Keterangan : 1. Berdasarkan panjang tulang fibula : Untuk jenis kelamin yang tidak diketahui TB = 66,22 + (2,61 x Fiki) ± 3,73 TB = 65,51 + (2,63 x Fika) ± 3,85 Untuk jenis kelamin laki-laki TB = 91,59 + (2,00 x Fiki) ± 2,83 TB = 90,25 + (2,04 x Fika) ± 2,88 Untuk jenis kelamin perempuan TB = 95, 46 + (1,70 x Fiki) ± 3,34 TB = 95, 83 + (1,69 x Fika) ± 3,23 2. Berdasarkan panjang tulang telapak kaki : Untuk jenis kelamin yang tidak diketahui TB = 52,64 + (4,49 x Tekka) ± 3,53 TB = 50, 67 + (4,57 x Tekki) ± 3,30 Untuk jenis kelamin laki-laki TB = 85,19 + (3,25 x Tekka) ± 3,21 TB = 78,92 + (3,49 x Tekki) ± 3,10 Untuk jenis kelamin perempuan TB = 73,22 + (3,54 x Tekka) ± 3,14 TB = 65,34 + (3,89 x Tekki) ± 2,95 TB = Tinggi Badan Fika = Fibula Kanan Fiki = Fibula Kiri Tekka = Telapak Kaki Kanan Tekki = Telapak Kaki Kiri II-30
BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN
BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN 4.1 Analisa Sistem Analisa sistem dilakukan untuk membantu proses identifikasi forensik, dimana outputnya menghasilkan suatu informasi berupa data hasil identifikasi atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dikalangan masyarakat kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. badan yang kemudian dipopulerkan oleh Hewing pada tahun Formula
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkiraan Tinggi Badan Secara sederhana Topmaid dan Rollet membuat formula perkiraan tinggi badan yang kemudian dipopulerkan oleh Hewing pada tahun 1923. Formula tersebut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Antropometri Antropometri adalah pengukuran manusia dan lebih cenderung terfokus pada dimensi tubuh manusia. Ilmu pengetahuan mengenai antropometri berkembang terutama dalam
BAB II LANDASAN TEORI. Landasan teori atau kajian pustaka yang digunakan dalam membangun
BAB II LANDASAN TEORI Landasan teori atau kajian pustaka yang digunakan dalam membangun sistem informasi ini, terdapat teori-teori ilmu terkait yang digunakan untuk membantu menyelesaikan permasalahan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkiraan Tinggi Badan. Secara sederhana Topmaid dan Rollet membuat Formula perkiraan tinggi badan yang kemudian di populerkan oleh Hewing pada tahun 1923. Formula tersebut
BAB 2 TINJAUAN TEORI. Artificial Intelligence. Jika diartikan Artificial memiliki makna buatan,
BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Kecerdasan Buatan Kecerdasan buatan adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris yaitu Artificial Intelligence. Jika diartikan Artificial memiliki makna buatan, sedangkan
Untung Subagyo, S.Kom
Untung Subagyo, S.Kom Keahlian ahli/pakar pengalihan keahlian Mengambil keputusan Aturan kemampuan menjelaskan Keahlian bersifat luas dan merupakan penguasaan pengetahuan dalam bidang khusus yang diperoleh
Sistem Pakar Dasar. Ari Fadli
Sistem Pakar Dasar Ari Fadli fadli.te.unsoed@gmail http://fadli84.wordpress.com Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. membantu penyidik dalam memenuhi permintaan visum et repertum, untuk
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Identifikasi Peranan dokter forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik dalam memenuhi permintaan visum et repertum, untuk menentukan identitas seseorang,identifikasi
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Pada kejadian bencana alam banyak korban yang tidak. dikenal hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada kejadian bencana alam banyak korban yang tidak dikenal hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam menentukan identitas mayat seseorang dalam identifikasi forensik.
SISTEM PAKAR UNTUK MENENTUKAN TIPE AUTISME PADA ANAK USIA 7-10 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING. Agam Krisna Setiaji
1 SISTEM PAKAR UNTUK MENENTUKAN TIPE AUTISME PADA ANAK USIA 7-10 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING Agam Krisna Setiaji Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkiraan Tinggi Badan Tinggi badan merupakan ukuran bagi seseorang pada saat masih hidup, sedangkan panjang badan merupakan ukuran seseorang pada saat setelah meninggal dunia.
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan komputer sekarang ini sangat pesat dan salah. satu pemanfaatan komputer adalah dalam bidang kecerdasan buatan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan komputer sekarang ini sangat pesat dan salah satu pemanfaatan komputer adalah dalam bidang kecerdasan buatan. Di dalam bidang kecerdasan buatan, termasuk
I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa lebih. Wilayah Indonesia terbentang sepanjang
MODEL HEURISTIK. Capaian Pembelajaran. N. Tri Suswanto Saptadi
1 MODEL HEURISTIK N. Tri Suswanto Saptadi 2 Capaian Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami dan mampu mengaplikasikan model Heuristik untuk menyelesaikan masalah dengan pencarian solusi terbaik. 1 3 Model
PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR DALAM MEMBANGUN SUATU APLIKASI
PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR DALAM MEMBANGUN SUATU APLIKASI Muhammad Dahria Program Studi Sistem Informasi, STMIK Triguna Dharma [email protected] ABSTRACT: Expert system is one branch of AI (Artificial
BAB 2 LANDASAN TEORI
16 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Sistem Pakar Sistem pakar adalah suatu program komputer yang mengandung pengetahuan dari satu atau lebih pakar manusia mengenai suatu bidang spesifik. Jenis program
PEMANFAATAN TEKNOLOGI KNOWLEDGE-BASED EXPERT SYSTEM UNTUK MENGIDENTIFIKASI JENIS ANGGREK DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN JAVA
Yogyakarta, 22 Juli 2009 PEMANFAATAN TEKNOLOGI KNOWLEDGE-BASED EXPERT SYSTEM UNTUK MENGIDENTIFIKASI JENIS ANGGREK DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN JAVA Ana Kurniawati, Marliza Ganefi, dan Dyah Cita
SISTEM PAKAR ANALISIS PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSIS SISTEMIK PADA IBU HAMIL MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING
SISTEM PAKAR ANALISIS PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSIS SISTEMIK PADA IBU HAMIL MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING Sry Yunarti Program Studi Sistem Informasi STMIK Profesional Makassar [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan 5 besar negara dengan populasi. penduduk terbanyak di dunia. Jumlah penduduk yang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia merupakan 5 besar negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia. Jumlah penduduk yang banyak ini tentu akan menyebabkan Indonesia memiliki perilaku dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. ANTROPOMETRI Johan Sigismund Elsholtz adalah orang pertama yang menggunakan istilah antropometri dalam pengertian sesungguhnya (tahun 1654). Ia adalah seorang ahli anatomi berkebangsaan
By: Sulindawaty, M.Kom
By: Sulindawaty, M.Kom 1 Kata Pengantar Sistem Pakar adalah mata kuliah yang mendukung untuk membuat aplikasi yang dapat memecahkan masalah dengan pengetahuan seorang pakar yang di dimasukkan dalam komputer.
Sistem Pakar Untuk Mendeteksi Kerusakan Pada Sepeda Motor 4-tak Dengan Menggunakan Metode Backward Chaining
Sistem Pakar Untuk Mendeteksi Kerusakan Pada Sepeda Motor 4-tak Dengan Menggunakan Metode Backward Chaining Maria Shusanti F Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bandar Lampung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak dilahirkan hingga tumbuh dewasa manusia diciptakan dengan kecerdasan yang luar biasa, kecerdasan juga akan berkembang dengan pesat. Kecerdasan tersebut yang dapat
BAB 1 PENDAHULUAN. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mempunyai 17.504 pulau dengan jumlah penduduk mencapai 249 juta jiwa lebih dan memiliki luas wilayah 1.913.578,68 km 2. Banyaknya jumlah
BAB 1 PENDAHULUAN. Odontologi forensik adalah ilmu di kedokteran gigi yang terkait dalam
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Odontologi forensik adalah ilmu di kedokteran gigi yang terkait dalam suatu data penyidikan untuk mengetahui identitas korban bencana massal seperti kecelakaan pesawat
I. PENDAHULUAN. Pada tahun 2014 terdapat banyak kasus mutilasi yang terungkap di Indonesia.
I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada tahun 2014 terdapat banyak kasus mutilasi yang terungkap di Indonesia. Beberapa kasus tersebut antara lain kasus mutilasi di Malang dan Klaten pada bulan Februari,
Struktur Sistem Pakar
Sistem Pakar Struktur Sistem Pakar Kelas A & B Jonh Fredrik Ulysses [email protected] Definisi Sistem pakar adalah suatu program komputer yang dirancang untuk mengambil keputusan seperti keputusan
Penerapan Sistem Pakar Untuk Informasi Kebutuhan Energi Menggunakan Metode Forward Chaining
Penerapan Sistem Pakar Untuk Informasi Kebutuhan Energi Menggunakan Metode Forward Chaining Dodi Siregar Jurusan Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Teknik Harapan-Medan Email: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Maloklusi secara umum dapat diartikan sebagai deviasi yang cukup besar dari hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik maupun secara
DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE PENELUSURAN FORWARD CHAINNING-DEPTH FIRST SEARCH
DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE PENELUSURAN FORWARD CHAINNING-DEPTH FIRST SEARCH Putri Kurnia Handayani Jurusan Sistem Informasi Universitas Muria Kudus PO BOX 53 Gondangmanis Kudus e-mail : [email protected]
SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KERUSAKAN SEPEDA MOTOR NON MATIC
SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KERUSAKAN SEPEDA MOTOR NON MATIC Cholil Jamhari 1*, Agus Kiryanto 2, Sri Huning Anwariningsih 3 1,2,3 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Sahid Surakarta
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain
39 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain penelitian cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel bebas atau risiko dan
BAB V IDENTIFIKASI FORENSIK
Panduan Belajar Ilmu Ke eran F k & Me BAB V IDENTIFIKASI FORENSIK A. Tujuan pembelajaran Para mahasiswa diharapkan mampu : Memeriksa ciri khas tubuh korban. Mengumpulkan data-data ante mortem. Menentukan
BAB III TEORI DASAR SISTEM PAKAR DAN SISTEM KONTROL BERBASIS SISTEM PAKAR 20 BAB III TEORI DASAR SISTEM PAKAR DAN SISTEM KONTROL BERBASIS SISTEM PAKAR
SISTEM PAKAR 20 BAB III TEORI DASAR SISTEM PAKAR DAN SISTEM KONTROL BERBASIS SISTEM PAKAR 3.1 Sistem Pakar Sistem pakar adalah suatu program komputer cerdas yang menggunakan knowledge (pengetahuan) dan
Pengetahuan 2.Basis data 3.Mesin Inferensi 4.Antarmuka pemakai (user. (code base skill implemetation), menggunakan teknik-teknik tertentu dengan
Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Sistem Pakar Sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengapdosi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004 Visualisasi Sistem Pakar Dalam Menganalisis Tes Kepribadian Manusia (Empat Aspek Tes Kepribadian Peter Lauster) Sri Winiarti
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Rahang Tumbuh-kembang adalah suatu proses keseimbangan dinamik antara bentuk dan fungsi. Prinsip dasar tumbuh-kembang antara lain berkesinambungan,
I. PENDAHULUAN. Tinggi badan ditentukan olah kombinasi faktor genetik dan faktor. antropologis untuk menentukan perbedaan rasial (Patel, 2012).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tinggi badan ditentukan olah kombinasi faktor genetik dan faktor lingkungan. Tinggi badan merupakan penjumlahan dari panjang tulangtulang panjang dan tulang-tulang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Molar Dua Mandibula Fungsi molar dua mandibula permanen adalah melengkapi molar satu mandibula. Seluruh bagian molar dua mandibula lebih kecil sekitar 1mm daripada molar satu.
Gambar 3.1 Arsitektur Sistem Pakar (James Martin & Steve Osman, 1988, halaman 30)
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Landasan Teori 3.1.1. Konsep Dasar Sistem Pakar Sistem pakar adalah program komputer cerdas yang menggunakan pengetahuan dan prosedur-prosedur inferensi untuk menyelesaikan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah internet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang
EXPERT SYSTEM DENGAN BEBERAPA KNOWLEDGE UNTUK DIAGNOSA DINI PENYAKIT-PENYAKIT HEWAN TERNAK DAN UNGGAS
EXPERT SYSTEM DENGAN BEBERAPA KNOWLEDGE UNTUK DIAGNOSA DINI PENYAKIT-PENYAKIT HEWAN TERNAK DAN UNGGAS Agus Sasmito Aribowo Teknik Informatika. UPN Veteran Yogyakarta Jl. Babarsari no 2 Tambakbayan 55281
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ortodonsia merupakan bagian dari Ilmu Kedokteran Gigi yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ortodonsia merupakan bagian dari Ilmu Kedokteran Gigi yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan yang disebabkan oleh pergerakan gigi. Ortodonsia mencakup diagnosis,
FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA
FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA Fraktur tibia umumnya dikaitkan dengan fraktur tulang fibula, karena gaya ditransmisikan sepanjang membran interoseus fibula. Kulit dan jaringan subkutan sangat tipis pada bagian
BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan. tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada tubuh seseorang yang tidak dikenal, baik
BAB I PENDAHULUAN. tubuh. Dalam suatu serangan jantung (myocardial infarction), bagian dari otot
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit Jantung adalah sebuah otot yang memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam suatu serangan jantung (myocardial infarction), bagian dari otot jantung mati sewaktu
Visualisasi Konsep Umum Sistem Pakar Berbasis Multimedia
Riau Journal Of Computer Science Vol.3 No.1 Januari 2016 : 17-22 17 Visualisasi Konsep Umum Sistem Pakar Berbasis Multimedia B. HERAWAN HAYADI 1 1 Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pasir Pengaraian
APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK MENGIDENTIFIKASI PENYAKIT DALAM PADA MANUSIA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING
APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK MENGIDENTIFIKASI PENYAKIT DALAM PADA MANUSIA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING 1 Diah Malis Oktaviani (0089), 2 Tita Puspitasari (0365) Program Studi Teknik Informatika Universitas
IDENTIFIKASI TULANG BELULANG
LAPORAN KASUS IDENTIFIKASI TULANG BELULANG Abdul Gafar Parinduri Departemen Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Email: [email protected] Abstrak: Identifikasi
Expert System. Siapakah pakar/ahli. Pakar VS Sistem Pakar. Definisi
Siapakah pakar/ahli Expert System Seorang pakar atau ahli adalah: seorang individu yang memiliki kemampuan pemahaman superior dari suatu masalah By: Uro Abdulrohim, S.Kom, MT Definisi Program komputer
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lengkung Gigi Menurut DuBRUL (1980), bentuk lengkung gigi sangat bervariasi, akan tetapi secara umum lengkung gigi rahang atas berbentuk elips dan lengkung gigi rahang bawah
PERANCANGAN SYSTEM PAKAR GENERIC MENGGUNAKAN BINARY TREE
PERANCANGAN SYSTEM PAKAR GENERIC MENGGUNAKAN BINARY TREE Luky Agus Hermanto, ST., MT. Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya Jl. Arif Rahman Hakim
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pakar Definisi Pakar (Human Expert) adalah seseorang yang telah mempelajari fakta- fakta, buku teks, dan pengetahuan bidangnya, serta mengembangkan pengetahuan yang telah terdokumentasi
BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata. membawa dampak sampingan terhadap jenis, kualitas dan
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata membawa dampak sampingan terhadap jenis, kualitas dan kuantitas kejahatan. Seiring dengan adanya perkembangan tindak
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 1.1 Sistem Pakar Sistem pakar adalah suatu program komputer yang dirancang untuk mengambil keputusan seperti keputusan yang diambil oleh seorang atau beberapa orang pakar. Menurut
Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Penyakit Kucing Menggunakan Metode Backward Chaining
Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Penyakit Kucing Menggunakan Metode Backward Chaining Mardiah Fadhli Politeknik Caltex Riau Jl. Umbansari No.1, telp/fax: 0761 53939/0761 554224 e-mail: [email protected] Abstrak
Studi Perancangan Sistem Kendali Lalu Lintas Kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Berdasarkan Aplikasi Sistem Pakar
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5 1 Studi Perancangan Sistem Kendali Lalu Lintas Kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Berdasarkan Aplikasi Sistem Pakar Fajar Wardika, A.A. Masroeri, dan
MENGENAL SISTEM PAKAR
MENGENAL SISTEM PAKAR Bidang teknik kecerdasan buatan yang paling popular saat ini adalah system pakar. Ini disebabkan penerapannya diberbagai bidang, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan terutama
A. Anatomi dan morfologi Gigi Permanen 1. Gigi Incisivus Tetap Pertama Atas
A. Anatomi dan morfologi Gigi Permanen 1. Gigi Incisivus Tetap Pertama Atas Gigi Incisivus sentral atas adalah gigi kesatu di rahang atas, yang terletak dikiri kanan dari garis tengah / median (Itjingningsh,
Backward Chaining & Forward Chaining UTHIE
Backward Chaining & Forward Chaining UTHIE Inferensi merupakan proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui atau diasumsikan. Inferensi adalah konklusi logis (logical conclusion) atau
SISTEM PAKAR IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG BERBASIS WEB (STUDI KASUS : DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA KAB INHIL)
SISTEM PAKAR IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG BERBASIS WEB (STUDI KASUS : DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA KAB INHIL) Armansyah, Dwi Yuli Prasetyo Program Studi Sistem Informasi, Fakultas
PERANCANGAN SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KERUSAKAN TELEVISI BERWARNA
PERANCANGAN SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KERUSAKAN TELEVISI BERWARNA Indri Wulandari 1, Dini Destiani 2 Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi Teknologi Garut Jl. Mayor Syamsu No. 1 Jayaraga Garut 44151 Indonesia Email
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Ukuran lebar mesiodistal gigi setiap individu adalah berbeda, setiap
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Ukuran lebar mesiodistal gigi setiap individu adalah berbeda, setiap populasi juga berbeda dengan populasi lainnya. 1 Data lebar mesiodistal gigi penting sebagai informasi sebelum
VISUM ET REPERTUM No : 15/VRJ/06/2016
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN PEMULASARAN JENAZAH RUMAH SAKIT DR. KARIADI Jl. Dr. Sutomo No. 16 Semarang. Telp. (024) 8413993 PRO JUSTITIA VISUM ET REPERTUM No : 15/VRJ/06/2016 Atas permintaan tertulis
2/22/2017 IDE DASAR PENGANTAR SISTEM PAKAR MODEL SISTEM PAKAR APLIKASI KECERDASAN BUATAN
APLIKASI KECERDASAN BUATAN PENGANTAR SISTEM PAKAR Shinta P. Sari Prodi. Informatika Fasilkom UIGM, 2017 Definisi : Sebuah program komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan menyelesaikan masalah
APLIKASI SHELL SISTEM PAKAR
APLIKASI SHELL SISTEM PAKAR Yeni Agus Nurhuda 1, Sri Hartati 2 Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Teknokrat Lampung Jl. Z.A. Pagar Alam 9-11 Labuhan Ratu,
SISTEM PAKAR. Jurusan Teknik Informatika
SISTEM PAKAR Jurusan Teknik Informatika DEFENISI SISTEM PAKAR DEFINISI SISTEM PAKAR (EXPERT SYSTEM): Sebuah program komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan menyelesaikan masalah seperti layaknya
BAB 1 PENDAHULUAN. Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu populasi dengan populasi lainnya. 1 Adanya variasi ukuran lebar
Definisi Keuntungan dan kelemahan Konsep Dasar Bentuk dan Struktur Sistem Basis Pengetahuan Metode Inferensi Ciri-ciri Aplikasi dan Pengembangannya
Sistem Pakar Definisi Keuntungan dan kelemahan Konsep Dasar Bentuk dan Struktur Sistem Basis Pengetahuan Metode Inferensi Ciri-ciri Aplikasi dan Pengembangannya Referensi Giarrantano, J. and G.Riley bab
I.PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Nesturkh (1982) mengemukakan, manusia di dunia dibagi menjadi
I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nesturkh (1982) mengemukakan, manusia di dunia dibagi menjadi beberapa golongan ras. Masyarakat negara Indonesia termasuk ke dalam golongan ras Mongoloid. Jacob
PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT DAN HAMA PADA TANAMAN SEMANGKA BERBASIS ANDROID
PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT DAN HAMA PADA TANAMAN SEMANGKA BERBASIS ANDROID Imas Siti Munawaroh¹, Dini Destiani Siti Fatimah² Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi Teknologi Garut Jl. Mayor
BAB 1 PENGENALAN SISTEM PAKAR
BAB 1 PENGENALAN SISTEM PAKAR DEFINISI System yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan para ahli. ES dikembangkan
SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE FORWARD CHAINING
ISSN : 2338-4018 SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE FORWARD CHAINING Level Perdana ([email protected]) Didik Nugroho ([email protected]) Kustanto ([email protected])
BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan. tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada tubuh seseorang yang tidak dikenal, baik
Pengertian Maksud dan Tujuan Pembuatan Visum et Repertum Pembagian Visum et Repertum
VISUM et REPERTUM Pengertian Menurut bahasa: berasal dari kata latin yaitu visum (sesuatu yang dilihat) dan repertum (melaporkan). Menurut istilah: adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan
Pendahuluan PENGERTIAN SISTEM PAKAR
(Sistem Pakar) Pendahuluan PENGERTIAN SISTEM PAKAR Kecerdasan Buatan adalah salah satu bidang ilmu komputer yang mendayagunakan komputer sehingga dapat berperilaku cerdas seperti manusia. Cabang-cabang
Feriani A. Tarigan Jurusan Sistem Informasi STMIK TIME Jln. Merbabu No. 32 AA-BB Medan
Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Ginjal dengan Metode Backward Chaining Feriani A. Tarigan Jurusan Sistem Informasi STMIK TIME Jln. Merbabu No. 32 AA-BB Medan Abstrak Sistem pakar adalah sistem berbasis
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian. Kejahatan merupakan perilaku anti sosial dan juga
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Kejahatan merupakan perilaku anti sosial dan juga gejala sosial yang bersifat universal. Pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, hingga kejahatan-kejahatan
SISTEM PAKAR DIAGNOSIS SINDROM AKIBAT KELAINAN GENETIS PADA MANUSIA
SISTEM PAKAR DIAGNOSIS SINDROM AKIBAT KELAINAN GENETIS PADA MANUSIA Tirtanusa Geovan Dhyva. 1), Zikria Firmaini Kiat 2) 1), 2) Teknik Informatika STMIK AMIKOM Yogyakarta Jl Ring road Utara, Condongcatur,
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik (non-eksperimental)
III. METODE PENELITIAN III.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik (non-eksperimental) dengan pendekatan Cross Sectional, yaitu studi ini mencakup semua jenis penelitian
SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK DIAGNOSA HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MELON
SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK DIAGNOSA HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MELON Bambang Yuwono, Ario Wibowo, Dessyanto Boedi P Jurusan Teknik Informatika UPN Veteran Yogyakarta Jl. Babarsari 2 Tambakbayan
SISTEM PAKAR. Entin Martiana Jurusan Teknik Informatika - PENS
SISTEM PAKAR Entin Martiana Jurusan Teknik Informatika - PENS Defenisi Sistem Pakar 1. Sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengapdosi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer
SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN CERTAINTY FACTOR
SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN CERTAINTY FACTOR Aswita Andini Dea Fani Aneke Putri Jurusan Sistem Informasi STMIK PALCOMTECH Palembang Abstrak Sistem pakar untuk diagnosa penyakit
SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT SALURAN PENCERNAAN MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER
SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT SALURAN PENCERNAAN MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER 1 Yasidah Nur Istiqomah (07018047), 2 Abdul Fadlil (0510076701) 1 Program Studi Teknik Informatika 2 Program
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Fenomena maraknya kriminalitas di era globalisasi. semakin merisaukan segala pihak.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Fenomena maraknya kriminalitas di era globalisasi semakin merisaukan segala pihak. Wikipedia mendefinisikan kriminalitas adalah segala sesuatu perbuatan manusia yang
IDENTIFIKASI DAN ODONTOLOGI FORENSIK
IDENTIFIKASI DAN ODONTOLOGI FORENSIK Pada prinsipnya identifikasi adalah prosedur penentuan identitas individu, baik hidup ataupun mati, yang dilakukan melalui pembandingan berbagai data dari individu
APLIKASI DIAGNOSA KERUSAKAN MESIN SEPEDA MOTOR BEBEK 4 TAK DENGAN METODE FORWARD CHAINING
ISSN : 2338-4018 APLIKASI DIAGNOSA KERUSAKAN MESIN SEPEDA MOTOR BEBEK 4 TAK DENGAN METODE FORWARD CHAINING Supyani ([email protected]) Bebas Widada ([email protected]) Wawan Laksito ([email protected])
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penerapan ilmu komputer semakin meluas ke berbagai bidang, salah satunya di bidang kesehatan. Hal ini mendorong para ahli untuk semakin mengembangkan komputer agar
BAB II DASAR TEORI. Sistem pakar atau Expert System biasa disebut juga dengan knowledge
BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Pakar 2.1.1 Pengertian Sistem Pakar Sistem pakar atau Expert System biasa disebut juga dengan knowledge based system yaitu suatu aplikasi komputer yang ditujukan untuk membantu
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Foramen Mentale Foramen mentale adalah suatu saluran terbuka pada korpus mandibula. Melalui foramen mentale dapat keluar pembuluh darah dan saraf, yaitu arteri, vena
Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan
Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan Athfiyatul Fatati [email protected] Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Airlangga ABSTRAK Penelitian
SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA JENIS CEDERA PADA PEMAIN SEPAK BOLA
SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA JENIS CEDERA PADA PEMAIN SEPAK BOLA Teguh Nurhadi Sudarsono 1, Gilang Dwi Putra 2 Konsentrasi Sistem Informasi,Program Studi Sistem Informasi STMIK LPKIA Jl Soekarno - Hatta
SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM GERAK MANUSIA
JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMP VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM GERAK MANUSIA Tubuhmu memiliki bentuk tertentu. Tubuhmu memiliki rangka yang mendukung dan menjadikannya
SISTEM PAKAR PENDETEKSI PENYAKIT MATA BERBASIS ANDROID
Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JUSTIN) Vol. 1, No. 2, (2017) 57 SISTEM PAKAR PENDETEKSI PENYAKIT MATA BERBASIS ANDROID Aditiawarman 1, Helfi Nasution 2, Tursina 3 Program Studi Teknik Informatika,
