BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Vera Gunawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Kantor Pemerintah Pengertian Kantor Menurut id.wikipedia.org, Kantor (dari bahasa Belanda kantoor) adalah sebutan untuk tempat yang digunakan untuk perniagaan atau perusahaan yang dijalankan secara rutin. Kantor bisa hanya berupa suatu kamar atau ruangan kecil maupun bangunan bertingkat tinggi. Menurut situs kbbi.web.id, kantor : 1. balai (gedung, rumah, ruang) tempat mengurus suatu pekerjaan (perusahaan dsb); 2. tempat bekerja Pengertian Pemerintah Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Ada beberapa definisi mengenai sistem pemerintahan. Sama halnya, terdapat bermacammacam jenis pemerintahan di dunia (id.wikipedia.org) Menurut kamusbahasaindonesia.org, pemerintah adalah : (1) sistem menjalankan wewenang dan kekuasaan mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik suatu negara atau bagian-bagiannya; (2) sekelompok orang yg secara bersama-sama memikul tanggung jawab terbatas untuk menggunakan kekuasaan; (3) penguasa suatu negara (bagian negara): Jadi dapat disimpulkan kantor pemerintah adalah suatu gedung yang digunakan untuk organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang diwilayah tertentu Perkembangan Pemerintahan di Kabupaten Jepara Dengan terbatasnya fasilitas ruangan kantor di Kab. Jepara, maka pemerintah kabupaten Jepara berencana menambah Gedung kantor bersama untuk beberapa badan/dinas yang belum mendapatkan ruang kantor sesuai dengan kebutuhan dan standar. Beberapa Dinas maupun Badan tersebut antara lain, BKD(Badan Kepegawaian Daerah), SANTEL(Sandi dan Telekomunikasi), BAPERMADES(Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa), SATPOL PP(Satuan Polisi Pamong Praja), DISPERINDAG(Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Klasifikasi Bangunan Gedung Negara Klasifikasi Bangunan Gedung Negara Berdasarkan Tingkat Kompleksitas Meliputi: 1. Bangunan Sederhana Klasifikasi bangunan sederhana adalah bangunan gedung negara dengan karakter sederhana serta memiliki kompleksitas dan teknologi sederhana. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun. Yang termasuk klasifikasi Bangunan Sederhana, antara lain: a. Gedung kantor yang sudah ada disain prototipenya, atau bangunan gedung kantor dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai dengan luas sampai dengan 500 m2; b. Bangunan rumah dinas tipe c, d, dan e yang tidak bertingkat; c. Gedung pelayanan kesehatan: puskesmas; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 4
2 d. Gedung pendidikan tingkat dasar dan/atau lanjutan dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai. 2. Bangunan Tidak Sederhana Klasifikasi bangunan tidak sederhana adalah bangunan gedung negara dengan karakter tidak sederhana serta memiliki kompleksitas dan/atau teknologi tidak sederhana. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama paling singkat 10 (sepuluh) tahun. Yang termasuk klasifikasi Bangunan Tidak Sederhana, antara lain: a. Gedung kantor yang belum ada disain prototipenya, atau b. Gedung kantor dengan luas di atas dari 500 m2, atau c. Gedung kantor bertingkat lebih dari 2 lantai; d. Bangunan rumah dinas tipe a dan b; atau rumah dinas c, d, dan e yang bertingkat lebih dari 2 lantai, e. Rumah negara yang berbentuk rumah susun; f. Gedung rumah sakit klas a, b, c, dan d; g. Gedung pendidikan tinggi universitas/akademi; atau gedung pendidikan dasar/lanjutan bertingkat lebih dari 2 lantai. 3. Bangunan Khusus Klasifikasi bangunan khusus adalah bangunan gedung negara yang memiliki penggunaan dan persyaratan khusus, yang dalam perencanaan dan pelaksanaannya memerlukan penyelesaian/teknologi khusus. Masa penjaminan kegagalan bangunannya paling singkat 10 (sepuluh) tahun. Yang termasuk klasifikasi Bangunan Khusus, antara lain: a. Istana negara dan rumah jabatan presiden dan wakil presiden; b. Wisma negara; c. Gedung instalasi nuklir; d. Gedung instalasi pertahanan, bangunan POLRI dengan penggunaan dan persyaratan khusus; e. Gedung laboratorium; f. Gedung terminal udara/laut/darat; g. Stasiun kereta api; h. Stadion olah raga; i. Rumah tahanan; j. Gudang benda berbahaya; gedung bersifat monumental; dan No. Tipe Untuk keperluan Pejabat/Golongan 1 Khusus 1) Menteri, Kepala Lembaga Pemerintah Non-Departemen, Kepala Lembaga Tinggi/Tertinggi Negara, 2) Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan no.1) 2 A 1) Sekjen, Dirjen, Irjen, Kepala Badan, Deputi, 2) Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan no.1) 3 B 1) Direktur, Kepala Biro, Inspektur, Kakanwil, Asisten Deputi 2) Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) 3) Pegawai Negeri Sipil yang golongannya IV/d dan IV/e. 4 C 1) Kepala Sub Direktorat, Kepala Bagian, Kepala Bidang KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 5
3 2) Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) 3) Pegawai Negeri Sipil yang golongannya IV/a s/d. IV/c 5 D 1) Kepala Seksi, Kepala Sub Bagian, Kepala Sub Bidang 2) Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) 3) Pegawai Negeri Sipil yang golongannya III/a s/d. III/d. 6 E 1) Kepala Sub Seksi 2) Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) 3) Pegawai Negeri Sipil yang golongannya II/d kebawah Persyaratan Administratif Setiap bangunan gedung negara harus memenuhi persyaratan administratif baik pada tahap pembangunan maupun pada tahap pemanfaatan bangunan gedung negara. Persyaratan administratif bangunan gedung negara meliputi pemenuhan persyaratan: 1. Dokumen Pembiayaan Setiap kegiatan pembangunan Bangunan Gedung Negara harus disertai/memiliki bukti tersedianya anggaran yang diperuntukkan untuk pembiayaan kegiatan tersebut yang disahkan oleh Pejabat yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku yang dapat berupa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau dokumen lainnya yang dipersamakan, termasuk surat penunjukan/penetapan Kuasa Pengguna Anggaran/ Kepala Satuan Kerja. Dalam dokumen pembiayaan pembangunan bangunan gedung negara sudah termasuk: a. biaya perencanaan teknis; b. pelaksanaan konstruksi fisik; c. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi; d. biaya pengelolaan kegiatan. 2. Status Hak Atas Tanah Setiap bangunan gedung negara harus memiliki kejelasan tentang status hak atas tanah di lokasi tempat bangunan gedung negara berdiri. Kejelasan status atas tanah ini dapat berupa hak milik atau hak guna bangunan. Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah Instansi/lembaga pemerintah /negara yang bersangkutan. Dalam hal tanah yang status haknya berupa hak guna usaha dan/atau kepemilikannya dikuasai sementara oleh pihak lain, harus disertai izin pemanfaatan yang dinyatakan dalam perjanjian tertulis antara pemegang hak atas tanah atau pemilik tanah dengan pemilik bangunan gedung, sebelum mendirikan bangunan gedung di atas tanah tersebut. 3. Status Kepemilikan Status kepemilikan bangunan gedung negara merupakan surat bukti kepemilikan bangunan gedung sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam hal terdapat pengalihan hak kepemilikan bangunan gedung, pemilik yang baru wajib memenuhi ketentuan sesuai peraturan perundangundangan. 4. PERIZINAN Setiap bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan dokumen perizinan yang berupa: Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB), Sertifikat Laik Fungsi (SLF) atau keterangan kelaikan fungsi sejenis bagi daerah yang belum melakukan penyesuaian. KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 6
4 5. DOKUMEN PERENCANAAN Setiap bangunan gedung negara harus memiliki dokumen perencanaan, yang dihasilkan dari proses perencanaan teknis, baik yang dihasilkan oleh Penyedia Jasa Perencana Konstruksi, Tim Swakelola Perencanaan, atau yang berupa Disain Prototipe dari bangunan gedung negara yang bersangkutan. 6. DOKUMEN PEMBANGUNAN Setiap bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan dokumen pembangunan yang terdiri atas: Dokumen Perencanaan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Dokumen Pelelangan, Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi, dan As Built Drawings, hasil uji coba/test run operational, Surat Penjaminan atas Kegagalan Bangunan (dari penyedia jasa konstruksi), dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sesuai ketentuan. 7. DOKUMEN PENDAFTARAN Setiap bangunan gedung negara harus memiliki dokumen pendaftaran untuk pencatatan dan penetapan Huruf Daftar Nomor ( HDNo ) meliputi Fotokopi: a. Dokumen Pembiayaan/DIPA (otorisasi pembiayaan); b. Sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah; c. Status kepemilikan bangunangedung; d. Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan; e. Berita Acara Serah Terima I dan II; f. As built drawings (gambar sesuai pelaksanaan konstruksi) disertai arsip gambar g. Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF); dan h. Surat Penjaminan atas Kegagalan Bangunan (dari penyedia jasa konstruksi) PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN Persyaratan tata bangunan dan lingkungan bangunan gedung negara meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan gedung Negara dari segi tata bangunan dan lingkungannya, meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kabupaten/ Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan, yaitu: a. Peruntukan lokasi Setiap bangunan gedung negara harus diselenggara-kan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota dan/atau RTBL yang bersangkutan. b. Koefisien dasar bangunan (KDB) Ketentuan besarnya koefisien dasar bangunan mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung untuk lokasi yang bersangkutan. c. Koefisien lantai bangunan (KLB) Ketentuan besarnya koefisien lantai bangunan mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung untuk lokasi yang bersangkutan. KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 7
5 d. Ketinggian bangunan Ketinggian bangunan gedung negara, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi, maksimum adalah 8 lantai. Untuk bangunan gedung negara yang akan dibangun lebih dari 8 lantai, harus mendapat persetujuan dari: 1) Menteri Pekerjaan Umum atas usul Menteri/Ketua Lembaga, untuk bangunan gedung negara yang pembiayaannya bersumber dari APBN dan/atau APBD; 2) Menteri Pekerjaan Umum atas usul Menteri Negara BUMN, untuk bangunan gedung negara yang pembiayaannya bersumber dari anggaran BUMN. e. Ketinggian langit-langit Ketinggian langit-langit bangunan gedung kantor minimum adalah 2,80 meter dihitung dari permukaan lantai. Untuk bangunan gedung olah-raga, ruang pertemuan, dan bangunan lainnya dengan fungsi yang memerlukan ketinggian langit-langit khusus, agar mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dipersyaratkan. f. Jarak antar blok/massa bangunan Sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung, maka jarak antar blok/massa bangunan harus mempertimbangkan hal-hal seperti: a. Keselamatan terhadap bahaya kebakaran; b. Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan; c. Kenyamanan; d. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan. g. Koefisien daerah hijau (KDH) Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan gedung negara, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung, harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan 1) daerah resapan air; 2) ruang terbuka hijau kabupaten/kota. Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40%, harus mempunyai KDH minimum sebesar 15%. h. Garis sempadan bangunan Ketentuan besarnya garis sempadan, baik garis sempadan bangunan maupun garis sempadan pagar harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam RTBL, peraturan daerah tentang bangunan gedung, atau peraturan daerah tentang garis sempadan bangunan untuk lokasi yang bersangkutan. i. Wujud arsitektur Wujud arsitektur bangunan gedung negara harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Mencerminkan fungsi sebagai bangunan gedung negara; 2) Seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya; 3) Indah namun tidak berlebihan; 4) Efisien dalam penggunaan sumber daya baik dalam pemanfaatan maupun dalam pemeliharaannya; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 8
6 5) Mempertimbangkan nilai sosial budaya setempat dalam menerapkan perkembangan arsitektur dan rekayasa; dan 6) Mempertimbangkan kaidah pelestarian bangunan baik dari segi sejarah maupun langgam arsitekturnya. j.kelengkapan Sarana dan Prasarana Bangunan Bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan prasarana dan sarana bangunan yang memadai, dengan biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai pekerjaan non-standar. Prasarana dan sarana bangunan yang harus ada pada bangunan gedung negara, seperti: 1) Sarana parkir kendaraan; 2) Sarana untuk penyandang cacat dan lansia; 3) Sarana penyediaan air minum; 4) Sarana drainase, limbah, dan sampah; 5) Sarana ruang terbuka hijau; 6) Sarana hidran kebakaran halaman; 7) Sarana pencahayaan halaman; 8) Sarana jalan masuk dan keluar; 9) Penyediaan fasilitas ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi/ibu, toilet, dan fasilitas komunikasi dan 2.3. STANDAR SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAHAN DAERAH Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 7 tahun 2006, berikut adalah standar ruangan kerja dan penunjang kegiatan pada kantor pemerintah : Ruangan Kantor a. Ruangan kantor Gubernur terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 60 m²; 2. Ruang tamu 40 m²; 3. Ruang rapat 48 m²; 4. Ruang rapat utama 100 m²; 5. Ruang tunggu 20 m²; 6. Ruang staf/adc 25 m²; 7. Ruang istirahat 20 m²; 8. Ruang kamar mandi/toilet 9 m². b. Ruangan kantor Wakil Gubernur terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 40 m²; 2. Ruang tamu 25 m²; 3. Ruang rapat 40 m²; 4. Ruang tunggu 15 m²; 5. Ruang staf/adc 20 m²; 6. Ruang istirahat 15 m²; 7. Ruang kamar mandi/toilet 7,5 m². c. Ruangan kantor Bupati/Walikota terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 40 m²; 2. Ruang tamu 30 m²; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 9
7 3. Ruang rapat 40 m²; 4. Ruang rapat utama 80 m²; 5. Ruang tunggu 15 m²; 6. Ruang staf/adc 20 m²; 7. Ruang istirahat 15 m²; 8. Ruang kamar mandi/toilet 7,5 m². d. Ruangan kantor Wakil Bupati/Wakil Walikota terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 30 m²; 2. Ruang tamu 25 m²; 3. Ruang rapat 36 m²; 4. Ruang tunggu 15 m²; 5. Ruang staf/adc 15 m²; 6. Ruang istirahat 13 m²; 7. Ruang kamar mandi/toilet 6 m². e. Ruangan kantor Ketua/Wakil Ketua DPRD Provinsi terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 30 m²; 2. Ruang tamu 20 m²; 3. Ruang rapat 36 m²; 4. Ruang tunggu 15 m²; 5. Ruang staf/adc 9 m²; 6. Ruang istirahat 9 m²; 7. Ruang kamar mandi/toilet 6 m². f. Ruangan kantor Ketua/Wakil Ketua DPRD Kabupaten/Kota terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 25 m²; 2. Ruang tamu 15 m²; 3. Ruang rapat 30 m²; 4. Ruang tunggu 9 m²; 5. Ruang staf/adc 9 m²; 6. Ruang istirahat 6 m²; 7. Ruang kamar mandi/toilet 4 m². g. Ruangan kantor Sekda Provinsi terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 35 m²; 2. Ruang tamu 20 m²; 3. Ruang rapat 40 m²; 4. Ruang tunggu 15 m²; 5. Ruang staf/adc 10 m²; 6. Ruang kamar mandi/istirahat 9 m²; 7. Ruang toilet 6 m². h. Ruangan kantor Sekda Kabupaten/Kota terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 30 m²; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 10
8 2. Ruang tamu 15 m²; 3. Ruang rapat 35 m²; 4. Ruang tunggu 10 m²; 5. Ruang staf/adc 9 m²; 6. Ruang istirahat 6 m²; 7. Ruang kamar mandi/toilet 4 m². i. Ruangan kantor pejabat eselon II terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 25 m²; 2. Ruang rapat 30 m²; 3. Ruang tamu 12 m²; 4. Ruang toilet 4 m². j. Ruangan kantor pejabat eselon III yang terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 12 m²; 2. Ruang rapat 12 m2; 3. Ruang tamu 10 m². k. Ruangan kantor pejabat eselon IV yang terdiri atas beberapa ruang dengan ukuran maksimal: 1. Ruang kerja 9 m². 2. Ruang tamu 10 m². l. Ruangan kantor pejabat eselon V dengan ukuran ruang kerja maksimal 6 m²; m. Ruangan kantor staf dengan ukuran ruang kerja maksimal 4 m² per pegawai Perlengkapan Ruangan a. Perlengkapan Ruangan Kantor Pejabat Eselon II 1. Dalam ruang kerja pejabat eselon II dilengkapi perlengkapan kantor sebagai berikut: a. meja besar 1 (satu) unit, dengan spesifikasi dan kelengkapan: 1) ukuran : panjang 175 cm, lebar/dalam 100 cm, tinggi 75 cm; 2) model/type : meja biro, berlapis kaca setebal 5 mm; 3) bahan : kayu kelas i atau kwalitasnya setara; 4) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi Warna ruangan kerja; 5) kelengkapan : writing set, almanak meja, bak potlot, asbak, kotak memo Dan lembar disposisi. b. meja telepon 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: 1) ukuran : panjang 50 cm, lebar/dalam 40 cm, tinggi 70 cm; 2) model/type : biasa atau menyesuaikan; 3) bahan : kayu kelas i atau tik blok; 4) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi Warna ruangan kerja. c. kursi kerja 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: 1) ukuran : panjang 60 cm, lebar/dalam 60 cm, tinggi 45 cm; 2) model/type : biasa atau menyesuaikan; sandaran, tangan dan dudukan beralas karet atau busa, dibungkus kain bludru; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 11
9 3) bahan : rangka kayu kelas I atau stainless steel; 4) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan warna meja kerja. d. kursi hadap 2 (dua) unit, dengan spesifikasi: kursi pakai tangan, sandaran tinggi; sandaran dan dudukan beralas karet atau busa dibungkus imitalisir atau kain bludru warna coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna meja kerja. e. lemari buku 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: 1) ukuran : panjang 150 cm, lebar/dalam 50 cm, tinggi 125 cm; 2) model/type : biasa atau menyesuaikan; 3) bahan : kayu kelas dan kaca; 4) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan kerja. f. kursi size 1 (satu) set berikut meja; g. foto Presiden 1 (satu) unit; h. foto Wakil Presiden 1 (satu) unit; i. peta wilayah 1 (unit) unit; j. jam dinding 1 (satu) unit; k. pesawat telepon 1 (satu) unit; I. pendingin ruangan (AC) sesuai kebutuhan ruangan; m. komputer dan printer 1 (satu) set; n. pesawat televisi atau radio/tape, 1 (satu) unit; o. bell 1 (satu) unit. 2. Dalam ruangan tamu dilengkapi perlengkapan sebagai berikut: a. kursi tamu kapasitas 6 (enam) orang duduk berikut meja tamu, dengan spesifikasi: 1) kursi tamu: a) ukuran : (1) panjang 150 cm, lebar/dalam 90 cm, tinggi 35 cm, untuk 3 (tiga) tempat duduk; (2) panjang 120 cm, lebar/dalam 80 cm, tinggi 35 cm, untuk 2 (dua) tempt duduk; (3) panjang 50 cm, lebar/dalam 60 cm, tinggi 35 cm, untuk 1 (satu) tempat duduk. b) model/type : kursi size atau disesuaikan dengan kondisi ruangan; sandaran, tangan dan dudukan beralas karet atau busa, dibungkus kain bludru; c) bahan : rangka kayu kelas I atau kwalitasnya setara; d) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. 2) meja tamu: a) ukuran : panjang 75 cm, lebar/dalam 75 cm, tinggi 45 cm; b) model/type : biasa atau menyesuaikan; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 12
10 c) bahan : kayu kelas I atau tik blok; d) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. b. lemari buku atau kaca 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: 1) ukuran : panjang 300 cm, lebar/dalam 50 cm, tinggi 150 cm; 2) model/type : biasa; 3) bahan : kayu atau alumunium dan kaca; 4) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. c. jam dinding 1 (satu) unit; d. pendingin ruangan (AC) sesuai kebutuhan ruangan. 3. Dalam ruangan rapat dilengkapi perlengkapan sebagai berikut: a. kursi rapat kapasitas 15 (lima belas) orang duduk berikut meja rapat, dengan spesifikasi: 1) kursi rapat: a) ukuran per unit : panjang 60 cm, lebar/dalam 60 cm, tinggi 45 cm b) model/type : biasa atau menyesuaikan; c) bahan : rangka kayu kelas I atau kwalitasnya setara; d) warna coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. 2) meja rapat: a) ukuran : panjang 300 cm, lebar/dalam 150 cm, tinggi 75 cm; b) model/type : biasa atau menyesuaikan; c) bahan : kayu kelas I atau tik blok atau kwalitasnya setara; d) warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. b. lambang negara/daerah 1 (satu) unit; c. foto Presiden 1 (satu) unit; d. foto Wakil Presiden 1 (satu) unit; e. mic dan sound system sesuai dengan kebutuhan; f. over head projector (OHP) dan/atau LCD projector (in focus) dan layar (screen) 1(satu) set; g. papan tulis putih (white board) 1 (satu) unit; h. pendingin ruangan (AC) sesuai kebutuhan ruangan; i. jam dinding 1 (satu) unit; j. kalender 1 (satu) unit. b. Perlengkapan Ruangan Kantor Pejabat Eselon III Dalam ruang kerja pejabat eselon III dilengkapi perlengkapan kantor sebagai berikut: 1. meja 1 (satu) unit, dengan spesifikasi dan kelengkapan: a. ukuran : panjang 175 cm, lebar/dalam 100 cm, tinggi 75 cm; b. model/type : meja biro, berlapis kaca setebal 5 mm; c. bahan : kayu kelas I atau kwalitasnya setara; d. warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan kerja; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 13
11 e. kelengkapan : writing set, almanak meja, bak potlot, bak surat bersusun, kotak memo atau lembar disposisi. 2. meja telepon 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: a. ukuran : panjang 50 cm, lebar/dalam 40 cm, tinggi 70 cm; b. model/type : biasa; c. bahan : kayu kelas I atau tik blok; d. warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan kerja. 3. kursi kerja 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: a. ukuran : panjang 50 cm, lebar/dalam 50 cm, tinggi 45 cm; b. model/type : biasa; sandaran, tangan dan dudukan beralas karet atau busa, dibungkus kain bludru; c. bahan : rangka besi atau stainless steel; d. warna : hitam atau warna lain yang disesuaikan dengan warna meja kerja. 4. kursi hadap 2 (dua) unit, dengan spesifikasi: kursi pakai tangan, sandaran rendah; sandaran dan dudukan beralas karet atau busa dibungkus imitalisir atau kain bludru warna hitam atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna meja kerja. 5. lemari buku 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: a. ukuran : panjang 150 cm, lebar/dalam 50 cm, tinggi 125 cm; b. model/type : biasa atau menyesuaikan; c. bahan : kayu kelas dan kaca; d. Warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan kerja. 6. filing cabinet 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: a. ukuran : panjang 47 cm, lebar/dalam 62 cm, tinggi 132 cm; b. model/type : biasa, berlaci 4 (empat); c. bahan : plat besi; d. warna : light grey atau atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. 7. kursi size 1 (satu) set berikut meja; 8. pesawat telepon 1 (satu) unit; 9. jam dindlng 1 (satu) unit; 10. pendingin ruangan (AC) sesuai kebutuhan ruangan; c. Perlengkapan Ruangan Kantor Pejabat Eselon IV Dalam ruang kerja pejabat eselon IV dilengkapi perlengkapan kantor sebagai berikut: 1. meja 1 (satu) unit, dengan spesifikasi dan kelengkapan: a. ukuran : panjang 160 cm, lebar/dalam 75 cm, tinggi 75 cm; b. model/type : meja biro kecil, berlapis kaca setebal 5 mm; c. bahan : kayu kelas I atau kwalitasnya setara; KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 14
12 d. warna : coklat atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan kerja; e. kelengkapan : writing set, almanak meja, bak Surat bersusun, kotak memo atau lembar disposisi. 2. kursi kerja 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: a. ukuran : panjang 50 cm, lebar/dalam 50 cm, tinggi 45 cm; b. model/type : biasa; sandaran, tangan dan dudukan beralas karet atau busa, dibungkus kain bludru; c. bahan : rangka besi atau stainless steel; d. warna : hitam atau warna lain yang disesuaikan dengan warna meja kerja. 3. kursi hadap 2 (dua) unit, dengan spesifikasi: kursi pakai tangan, sandaran rendah; sandaran dan dudukan beralas karet atau busa dibungkus imitalisir atau kain bludru warna hitam atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna meja kerja. 4. filing cabinet 1 (satu) unit, dengan spesifikasi: a. ukuran : panjang 47 cm, lebar/dalam 62 cm, tinggi 132cm; b. model/type : biasa, berlaci 4 (empat); c. bahan : plat besi; d. warna : light grey atau atau warna lain yang disesuaikan dengan komposisi warna ruangan. 5. kursi size 1 (satu) set berikut meja; Kendaraan Dinas 1. Kendaraan Perorangan Dinas Tabel 2.1 Kendaraan Perorangan Dinas Pemerintah NO JABATAN JUMLAH JENIS KENDARAAN KAPASITAS 1 GUBERNUR 2 Wakil Gubernur 3 Bupati/walikota 4 Wakil Bupati/ Wakil Walikota 1 (satu) unit Sedan 3000 cc 1 (satu) unit Jeep 4200 cc 1 (satu) unit Sedan 2500 cc 1 (satu) unit Jeep 3200 cc 1 (satu) unit Sedan 2500 cc 1 (satu) unit Jeep 3200 cc 1 (satu) unit Sedan 2200 cc 1 (satu) unit Jeep 2500 cc Sumber : Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 7 tahun Kendaraan Dinas Operasional/Kendaraan Dinas Jabatan Tabel 2.2 Kendaraan Dinas Operasional NO JABATAN JUMLAH JENIS KENDARAAN KAPASITAS 1 Pejabat Eselon I 1 (satu) unit Sedan atau Jeep 2500 cc 2 Pejabat Eselon II 1 (satu) unit Sedan atau minibus 1800 cc 3 Pejabat Eselon III 1 (satu) unit minibus 1500 cc 4 Pejabat Eselon IV/ V 1 (satu) unit Sepeda Motor 150 cc Sumber : Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 7 tahun 2006 KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 15
13 2.4. Penekanan Desain Tinjauan Arsitektur Neo Vernacular Yulianto Sumalyo (1997:451) mengartikan Vernakular sebagai bahasa setempat yang dalam arsitektur istilah ini untuk menyebut bentuk-bentuk yang menerapkan unsur unsur budaya setempat. Lingkungan termasuk iklim setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, struktur, detail-detail bagian, ornament, dll). Dengan batasan tersebut maka arsitektural tradisional dalam bentuk permukiman maupun unit-unit bangunan di dalamnya dapat dikategorikan vernacular murni, terbentuk oleh tradisi turun-temurun tanpa pengaruh dari luar. Dalam perkembangan arsitektur modern, ada suatu bentuk yang mengacu pada bahasa setempat dengan mengambil elemen-elemen arsitektural yang ada ke dalam bentuk-bentuk modern yaitu Neo Vernacular. Sedangkan tujuan arsitek Neo Vernacular memiliki tujuan melestarikan unsur budaya lokal setempat yang secara empiris terbentuk oleh perilaku dan tradisi turun-temurun termasuk bentuk dan sistemnya. Gaya Arsitektur Vernakular memberikan sumbangan kepada perkembangan arsitektur Post modern dalam bentuk arsitektur Neo Vernacular. Suatu tampilan Arsitektur yang tidak secara utuh menerapkan kaidah kaidah vernakular, tetapi mencoba menampilkan ekspresi visual seperti bangunan Vernakular. Tampilan arsitektur Neo-Vernakular menampilkan kembali batu bata sebagai material tradisional. Di Indonesia dapat dijumpai penggunaan Neo Vernacular misalnya bandara Adi soemarmo. Dari pernyataan Charles Jencks dalam bukunya language of Post-Modern Architecture maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernacular sebagai berikut : Selalu menggunakan atap bumbungan Atap bumbungan menutupi tingkat bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang di ibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan permusuhan. Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen konstruksi lokal) Bangunan didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang merupakan budaya dari arsitektur barat. Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan proporsi yang lebih vertikal. Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan ruang terbuka di luar bangunan. Warna-warna yang kuat dan kontras. Dari ciri-ciri di atas dapat dilihat bahwa Arsitektur Neo-Vernacular tidak ditujukan pada arsitektur modern atau arsitektur tradisional tetapi lebih pada keduanya. Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan jelas dan tepat oleh Neo-Vernacular melalui trend akan rehabilitasi dan pemakaian kembali. KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 16
14 2.5. Studi Banding Kabupaten Kudus Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah dengan luas wilayah mencapai Ha yang terbagi dalam 9 kecamatan. Kudus merupakan daerah industri dan perdagangan, dimana sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi yang besar terhadap PDRB. Dilihat dari peluang investasi bidang pariwisata, di Kabupaten Kudus terdapat beberapa potensi yang bisa dikembangkan baik itu wisata alam, wisata budaya maupun wisata religi. Bidang agrobisnis juga ikut memberikan citra pertanian Kudus. Dalam hal seni dan budaya, Kudus mempunyai ciri khas yang membedakan Kudus dengan daerah lain. Diantaranya adalah seni arsitektur rumah adat Kudus, kekhasan produk bordir dan gebyog Kudus. Keanekaragaman potensi yang dimiliki Kudus diharapkan mampu menarik masyarakat luar untuk bersedia hadir di Kudus. Gambar 2.1 Peta Kab. kudus Sumber : google.com Kantor Pemerintahan Kabupaten Kudus terletak di pusat kota kudus di kawasan simpang tujuh kudus. Lokasi Kantor dinas BKD, SANTEL dan Satpol PP berada di kawasan kantor Bupati kudus, sedangkan kantor Bapermas dan dinas perindustrian teletak di kawasan perkantoran di Jl. Mejobo. 1. BKD Kantor BKD berada di kawasan kantor bupati kudus bertempat di gedung sebelah kiri pendopo kudus menjadi satu gedung dengan KESBANGLINMAS dan BAPPEDA. Fasilitas ruangan di BKD kudus meliputi : - 1 Ruang Kepala BKD dengan ruang tamu. - 1 Ruang Sekretaris BKD menjadi 1 dengan Ruang kesekretariatan termasuk di dalamnya 3 Kasubbag dan staff yang dipisahkan dengan sekat pembatas. - 1 Ruang yang mencakup 3 Kabid beserta staff yang dipisahkan dengan sekat pembatas. KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 17
15 - 3 Ruang Arsip - 1 Gudang - 1 Dapur - 1 ruang rapat Gambar 2.2 struktur organisasi BKD kudus Sumber :BKD Kab. kudus 2. Satpol PP Kantor satpol PP berada setelah pintu gerbang kantor bupati kudus. Memiliki 72 personil pegawai. Memiliki ruang : - 1 ruang piket/jaga, 3m x 4m - 1 ruang kepala Satpol dengan ruang rapat, 4m x 6m - 1 ruang Tata usaha/kesekretariatan, 4m x 6m - 1 ruang Seksi Trantib yang mencakup Kasie dan Staff, 3m x 4m - 1 Ruang untuk Seksi Penegakan Perda dan Pengembangan Kapasitas mencakup 2 Kasie beserta staff, 4m x 6m - 1 gudang untuk menyimpan perlengkapan dan hasil operasi, 3m x 6m Gambar 2.3 struktur organisasi satpol pp kudus Sumber : Satpol PP Kab. Kudus KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 18
16 Gambar 2.4 Ruang Piket Satpol PP Kab. Kudus Gambar 2.5 Ruang Rapat Satpol PP Kab. Kudus Gambar 2.6 Ruang Seksi Trantib Satpol PP Kab. Kudus Gambar 2.7 Ruang TU Satpol PP Kab. Kudus Gambar 2.8 Ruang Kepala Satpol PP Kab. Kudus Gambar 2.9 Ruang Seksi Penegakan Perda dan Pengembangan Kapasitas Satpol PP Kab. Kudus KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 19
17 3. SANTEL Kantor santel berada di gedung sebelah kanan pendopo termasuk dalam kantor Bagian Umum. Santel Merupakan Sub Bagian dari Bagian Umum yang meliputi Sandi dan Telekomunikasi, memiliki personil 1 Kasubbag dan 7 staff. Fasilitas ruang meliputi : - 1 ruang Kasubbag, 3m x 3m - 1 ruang Sandi, 3m x 3,5m - 1 ruang telekomunikasi, 3,5m x 5m Kasubbag Staff Gambar 2.11 Ruang Kasubbag SANTEL Kab. Kudus Gambar 2.12 Ruang Telekomunikasi Kab. Kudus Gambar 2.13 Ruang Sandi Kab. Kudus KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 20
18 4. Bapermas Kantor bapermas berada di kawasan perkantoran di jl. Mejobo. Memiliki 40 personil pegawai kantor. Memiliki fasilitas ruangan : - 1 ruang kepala dengan ruang tamu, 5m x 5m - 1 ruang sekretaris, 3m x 4m - 1 ruang sekretariat termasuk di dalamnya 3 kasubbag beserta staff, 5m x 10m - 4 ruang kabid dan 5m x 6m - 1 gudang, 3m x 3m - 1 dapur, 2m x 3m - 1 ruang rapat/aula, 4m x 6m - 2 2m x 2m Gambar 2.14 Struktur Organisasi BAPERMAS Kab. Kudus Sumber : Bapermas Kab. Kudus Gambar 2.15 Ruang Kepala Bapermas Kab. Kudus Gambar 2.16 Ruang Tamu Kepala Bapermas Kab. Kudus KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 21
19 Gambar 2.17 Ruang Kasubbag dan staff Bapermas Kab. Kudus Gambar 2.18 Ruang Aula/rapat Bapermas Kab. Kudus Gambar 2.19 Ruang Arsip Bapermas Kab. Kudus Gambar 2.20 Ruang Kabid Bapermas Kab. Kudus 5. Dinas perindustrian Dinas Perindustrian berada di kawasan perkantoran di jl. Mejobo. Memiliki 37 personil pegawai. Fasilitas ruangan meliputi : - 1 ruang kepala dengan ruang tamu, 5m x 5m - 1 ruang sekretaris, 3m x 4m - 1 ruang secretariat untuk 3 kasubbag beserta staff - 1 ruang untuk 2 kabid dan staff - 1 gudang, 3m x 3m - 1 dapur, 2m x 3m - 1 ruang tamu, 3m x 4m - 1 ruang rapat, 4m x 6m KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 22
20 Gambar 2.21 Ruang Kepala Dinas Perindustrian Kab. Kudus Gambar 2.22 Ruang Tamu Kepala Dinas Perindustrian Kab. Kudus Gambar 2.23 Ruang Kasie 1 Dinas Perindustrian Kab. Kudus Gambar 2.24 Ruang Kasie 2 Dinas Perindustrian Kab. Kudus Gambar 2.25 Ruang Kasie 4 Dinas Perindustrian Kab. Kudus Gambar 2.26 Ruang Rapat Dinas Perindustrian Kab. Kudus KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 23
21 Kabupaten Semarang Kabupaten Semarang merupakan salah satu Kabupaten dari 29 kabupaten dan 6 kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Terletak pada posisi ' 54,74" ' 3" Bujur Timur dan Lintang Selatan. Luas keseluruhan wilayah Kabupaten Semarang adalah ,674 Ha atau sekitar 2,92% dari luas Provinsi Jawa Tengah.Ibu kota Kabupaten Semarang terletak di kota Ungaran. Secara administratif Kabupaten Semarang terbagi menjadi 19 Kecamatan, 27 Kelurahan dan 208 desa. Batas-batas Kabupaten Semarang adalah sebelah utara berbatasan dengan Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Boyolali. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kendal. Ketinggian wilayah Kabupaten Semarang berkisar pada m diatas permukaan laut (dpl), dengan ketinggian terendah terletak di desa Candirejo Kecamatan Pringapus dan tertinggi di desa Batur Kecamatan Getasan. Rata-rata curah hujan mm dengan banyaknya hari hujan adalah 104. Gambar 2.27 Peta Kab. Semarang Sumber : google.com KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 24
22 1. Badan Kepegawaian Daerah BKD Kab. Semarang beralamat di Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 1A, Ungaran. Memiliki 49 personil. Gambar 2.28 Struktur BKD Kab. Semarang Sumber : perda Kab. Semarang no.3 tahun 2011 Gambar 2.29 foto kantor BKD Sumber : dokumentasi Gambar 2.30 foto ruang arsip BKD Sumber : dokumentasi KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 25
23 2. SATPOL PP Satpol PP berkantor di kantor bupati kab. Semarang dan memiliki 60 personil yang bertugas di kantor maupun di lapangan. Gambar 2.31 struktur SATPOL PP kab. semarang Sumber : perda Kab. Semarang no.5 tahun 2011 Gambar 2.32 SATPOL PP kab. semarang Sumber : dokumentasi KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 26
24 STUDI LITERATURE STUDI BANDING Neufert, Ernst, terjemahan Sunarto Tjahjadi dan Peraturan Menteri Dalam Negeri NO Ferryanto Chaidir, Data Nomor 7 Tahun 2006 KEBUTUHAN KAPASITAS Arsitek, Jilid 2 Edisi : 33, Tentang RUANG Jakarta, Penerbit Erlangga, Standarisasi Sarana Dan Kantor Dinas kab. kudus Kantor Dinas Kab. Semarang 1995 Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah Standar Ruang Standar Ruang Standar Ruang Standar Ruang KELOMPOK KEGIATAN PEGAWAI PEMERINTAHAN 1 Kepala Dinas - Ruang Kerja 25 m² - Ruang Rapat 30 m² 71 m² - Ruang Tamu 12 m² - Toilet 4 m² 2 Sekretaris 3 - Ruang Kerja 12 m² - Ruang Rapat 12 m² 34 m² - Ruang Tamu 10 m² 3 Ruang Sekretariat - Ruang Kasubbag 3 9 m² 36 m² - Ruang Staff 4 m² - Ruang Arsip 9.8 m² 9.8 m² 9 m² 9 m² KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 27
25 - Ruang Tamu m² 6 m² 4 Ruang Kabid 3 12 m² - Ruang Rapat 12 m² 58 m² - Ruang Tamu 10 m² 5 Ruang Kasi 9 m² 6 Ruang Staff 4 m² 7 Ruang Arsip 9.8 m² 9.8 m² 12 m² 12 m² 9 m² 9 m² 8 Ruang Tamu m² 6 m² 9 Lobby m² 12 m² 10 Ruang Fotokopi 4.46 m² 11 Gudang 9 m² 9 m² 9 m² 9 m² 12 Lavatory - Pria m² 10 m² - Wanita m² 10 m² 13 Pantry m² 7.2 m² 6 m² 6 m² 7,5 m² 7,5 m² KELOMPOK KEGIATAN PENUNJANG (SERVIS) 1 Kafetaria - Ruang Makan 30 Meja m² m² - Dapur 30 % Ruang Makan 48 m² 2 Koperasi - R. Pengelola m² 22.3 m² - Penjualan m² 29.5 m² KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 28
26 3 Musholla m² 96 m² 36 m² 36 m² 4 Lapangan Upacara m² 5 Parkir - Mobil Pegawai Dinas 19 12,5 m² 237,5 - Motor Pegawai 152 1,5 m² 250,5 m² - Mobil Tamu 35 12,5 m² 437,5 m² - Motor Tamu 70 1,5 m² 105 m² KANTOR PEMERINTAH KAB. JEPARA 29
STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH DAERAH
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KAPUAS. I. RUANGAN KANTOR STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH PROVINSI BALI
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : bahwa untuk
BUPATI SITUBONDO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SITUBONDO,
BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 80 TAHUN 2010 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA APARATUR DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 7 TAHUN 2006 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KER]A PEMERINTAHAN DAERAH
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 7 TAHUN 2006 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KER]A PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang Mengingat : a. bahwa
PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA APARATUR PEMERINTAH PROVINSI BANTEN
PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA APARATUR PEMERINTAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang Mengingat
WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 58 TAHUN 2010 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH DAERAH
1 SALINAN WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 58 TAHUN 2010 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH DAERAH WALIKOTA SURABAYA, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam rangka
WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT
Menimbang WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA BUKITTINGGI NOMOR : 4 TAHUN 2015 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA BUKITTINGGI WALIKOTA BUKITTINGGI,
~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PERATURAN BUPATI KAYONG UTARA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG
~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PERATURAN BUPATI KAYONG UTARA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN KABUPATEN KAYONG UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 69 TAHUN 2011 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KER]A DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH
BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 69 TAHUN 2011 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KER]A DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KULON PROGO,
WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 33 TAHUN 2008 TAHUN 200 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA TEGAL
SALINAN WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 33 TAHUN 2008 TAHUN 200 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA TEGAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TEGAL, Menimbang
BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2012 NOMOR 17 SERI E
BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2012 NOMOR 17 SERI E PERATURAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANJARNEGARA
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH
SALINAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 60 TAHUN 2015 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN RAHMAT
BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 45 TAHUN 2012 TENTANG
BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 45 TAHUN 2012 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DILINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,
PERATURAN BUPATI NGAWI NOMOR 124 TAHUN 2011 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN NGAWI
DAFTAR ISI PERATURAN BUPATI 1 BAB I Ketentuan Umum... 4 BAB II Penataan Sarana dan Prasarana Kerja... 5 BAB III Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja... 6 BAB IV Pelaksanaan Standarisasi Sarana dan Prasarana
KATA PENGANTAR. Muara Enim, Juli 2016 KEPALA BAPPEDA KABUPATEN MUARA ENIM. Dr. Ir. H. ABDUL NADJIB, MM NIP
KATA PENGANTAR Bangunan Gedung Negara merupakan salah satu aset milik negara yang mempunyai nilai strategis sebagai tempat berlangsungnya proses penyelenggaraan negara yang diatur dan dikelola agar fungsional,
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 46 TAHUN 2010 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 46 TAHUN 2010 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penataan
BERITA DAERAH KOTA BEKASI PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA BEKASI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 77 2013 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH KOTA BEKASI WALIKOTA BEKASI, Menimbang : a.
BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR :
BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 02 PERATURAN WALIKOTA BANDUNG NOMOR : 014 TAHUN 2009 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BANDUNG WALIKOTA BANDUNG,
WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2015 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA
WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2015 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang
BUPATI CILACAP PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG STANDARISASI SARANA PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP
BUPATI CILACAP PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG STANDARISASI SARANA PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CILACAP, Menimbang
GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
Lampiran : 1 (satu). GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PAPUA,
GUBERNUR RIAU, PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 140 TAHUN 2015 TENTANG STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU
1 GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 140 TAHUN 2015 TENTANG STANDARDISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU, Menimbang
PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM No. 45/PRT/M/2007 Tanggal 27 Desember 2007 PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN D I R E K T O R A T A T J E N D
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Kapasitas dan Besaran Ruang Ruang merupakan wadah aktifitas pelaku. Oleh karena itu, rencana besaran ruang
KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B
bab 3 KETENTUAN UMUM BANGUNAN PIP2B 3.1 FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN PIP2B 3.1.1 PENETAPAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG PIP2B Penetapan fungsi bangunan gedung PIP2B menurut ketentuan yang berlaku adalah:
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.937, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Standar Barang dan Kebutuhan. BMN. Tanah. Bangunan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 248/PMK.06/2011 TENTANG STANDAR
D. BANGUNAN KANTOR PEMERINTAH A. PENGERTIAN
D. BANGUNAN KANTOR PEMERINTAH A. PENGERTIAN 1. BANGUNAN GEDUNG Yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat dan kedudukannya, sebagian atau
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa bangunan gedung negara merupakan barang milik negara/daerah
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG BANGUNAN GEDUNG BAGIAN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN
BAB IV PENDEKATAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB IV PENDEKATAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 4.1 Pendekatan Aspek Fungsional Aspek fungsional berkaitan dengan pelaku aktivitas, kapasitas dan besaran ruang serta besaran spesifik
BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH LAYAK HUNI
SALINAN BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH LAYAK HUNI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG ESA BUPATI BERAU, Menimbang : a.
Syarat Bangunan Gedung
Syarat Bangunan Gedung http://www.imland.co.id I. PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia sedang giatnya melaksanakan kegiatan pembangunan, karena hal tersebut merupakan rangkaian gerak perubahan menuju kepada
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR II
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR II Neo Vernacular Architecture (Materi pertemuan 8) DOSEN PENGAMPU: ARDIANSYAH, S.T, M.T PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI Arsitektur
PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM PENGERTIAN 1. Bangunan Gedung Negara adalah bangunan gedung untuk
Page 1 of 14 Penjelasan >> PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA
TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA SEDERHANA TIDAK SEDERHANA KHUSUS A PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 1. Jarak Antar Bangunan minimal
BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG BANGUNAN PANGGUNG
BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG BANGUNAN PANGGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR, Menimbang : a. bahwa agar pertumbuhan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 14, 2003 PEMERINTAH DAERAH. Pemerintahan Daerah. Provinsi. Kabupaten. Kota. Desentralisasi. Dekosentrasi. Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. (Penjelasan dalam Tambahan
6. Undang-Undang
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bangunan gedung
PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 30 TAHUN 2008 TENTANG
Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 30 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN BANDUNG UTARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG DAN KABUPATEN BANDUNG
WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK, Menimbang:
PENGERTIAN. dinas yang menjadi barang milik negara/daerah dan diadakan dengan. sumber pembiayaan yang berasal dari dana APBN, dan/atau APBD, atau
PENGERTIAN 1. Bangunan Gedung Negara adalah bangunan gedung untuk keperluan dinas yang menjadi barang milik negara/daerah dan diadakan dengan sumber pembiayaan yang berasal dari dana APBN, dan/atau APBD,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.31, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTAHANAN. Standardisasi. Sarana. Prasarana. Kerja Pejabat. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG STANDARDISASI
BAB V KAJIAN TEORI. Pengembangan Batik adalah arsitektur neo vernakular. Ide dalam. penggunaan tema arsitektur neo vernakular diawali dari adanya
BAB V KAJIAN TEORI 5. V 5.1. Kajian Teori Penekanan /Tema Desain Tema desain yang digunakan pada bangunan Pusat Pengembangan Batik adalah arsitektur neo vernakular. Ide dalam penggunaan tema arsitektur
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Page 1 of 9 NO.14.2003 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Pemerintah Daerah Provinsi. Kabupaten. Kota. Desentralisasi. Dekosentralisasi. Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. (Penjelasan
TINJAUAN HUKUM PENDIRIAN BANGUNAN PADA JALUR HIJAU
TINJAUAN HUKUM PENDIRIAN BANGUNAN PADA JALUR HIJAU 1. PENDAHULUAN Perkembangan ekonomi masyarakat dewasa ini berbanding lurus dengan pembangunan properti. Tumbuhnya masyarakat dengan kemampuan ekonomi
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG WALIKOTA MALANG,
SALINAN NOMOR 14/E, 2009 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
Tingkat II Tapin dan Daerah Tingkat II Tabalong dengan Mengubah Undang Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang Undang Darurat Nomor 3
WALIKOTA PONTIANAK PROPINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 22.1 TAHUN 2015 TENTANG HARGA SATUAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA, RUMAH NEGARA DAN PAGAR WALIKOTA PONTIANAK, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 68 ayat
2016, No Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republ
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2079, 2016 KEMENDAGRI. Perangkat Daerah. Prov-DKI Jakarta. Pencabutan. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2016 TENTANG PERANGKAT DAERAH
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESlA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESlA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 /PMK.06/20 16 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 248/PMK.06/20 11 TENTANG STANDAR
SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA GELANGGANG RENANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA GELANGGANG RENANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :
BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 61 TAHUN 2017 TENTANG SERTIFIKAT LAIK FUNGSI BANGUNAN GEDUNG
SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 61 TAHUN 2017 TENTANG SERTIFIKAT LAIK FUNGSI BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : bahwa untuk
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05/PRT/M/2016 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN GEDUNG
MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05/PRT/M/2016 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN GEDUNG DENGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATAKERJA SEKRETARIAT DAERAH DAN SEKRETARIAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 54 TAHUN 2009 TENTANG
PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 54 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KORIDOR JALAN RAYA SERPONG KOTA TANGERANG SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG
BUPATI BANDUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPAEN BANDUNG
BUPATI BANDUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPAEN BANDUNG NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG TATA BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Arief Riyanda Page 23
BAB III TINJAUAN KOTA KUDUS 3.1 TINJAUAN UMUM KOTA KUDUS 3.1.1 Kondisi Fisik Kota a. Letak Geografis Kabupaten Kudus secara keseluruhan memiliki luas wilayah sebesar 21.516 Ha atau sekitar 1,31% luas propinsi
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 68 ayat
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.968, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPAREKRAF. Restoran. Standar Usaha. Sertifikasi. Persyaratan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11
WALIKOTA MALANG, 5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembara n Negara Republik Indonesia
SALINAN NOMOR 13/E, 2009 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR TETAP PENERBITAN IJIN LAYAK HUNI PADA DINAS PEKERJAAN UMUM WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa sebagai
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN JEMBRANA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN JEMBRANA Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
2015, No Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembar
No. 1939, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPAR. Usaha. Hotel. Standar. PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA MOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
Peraturan Perundangan. Pasal 33 ayat 3 UUD Pasal 4 UU 41/1999 Tentang Kehutanan. Pasal 8 Keppres 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung
LAMPIRAN 129 130 Lampiran 1. Peraturan Perundanga Undangan Aspek Hak Kepemilikan Terhadap Kawasan HLGD Pemantapan dan Penetapan Peraturan Perundangan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 Pasal 4 UU 41/1999 Tentang
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 68 ayat
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 2016 SERI : PERATURAN WALI KOTA BEKASI NOMOR 95.A TAHUN 2016 TENTANG KEBUTUHAN STANDAR BARANG MILIK DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
SALINAN BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
SALINAN BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU
Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 2 ISSN (E) : 2540-7589 PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU Ghina Fajrine1), Agus Budi Purnomo2),Jimmy
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN JEMBRANA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a.
2016, No Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31, Tam
No.117, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMHAN. Pejabat. Sapras Kantor. Standarisasi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA MOR 02 TAHUN 2016 TENTANG STANDARDISASI SARANA DAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang : a. bahwa Bangunan Gedung sebagai tempat manusia melakukan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
BUPATI TULANG BAWANG BARAT PROVINSI LAMPUNG PERATURAN BUPATI TULANG BAWANG BARAT NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI TULANG BAWANG BARAT PROVINSI LAMPUNG PERATURAN BUPATI TULANG BAWANG BARAT NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG,
- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : a. bahwa dengan telah ditetapkannya Peraturan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: PP 8-2003 file PDF: [1] LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 89, 2007 OTONOMI. PEMERINTAHAN. PEMERINTAHAN DAERAH. Perangkat Daerah. Organisasi.
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 108 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DENGAN KENDARAAN BERMOTOR UMUM TIDAK DALAM TRAYEK
GAMBARAN PELAYANAN BPLH KOTA BANDUNG A. TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA STRUKTUR ORGANISASI
BAB II GAMBARAN PELAYANAN BPLH KOTA BANDUNG A. TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA STRUKTUR ORGANISASI T ugas pokok Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung yaitu melaksanakan sebagian kewenangan
SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA GEDUNG PERTUNJUKAN SENI
SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA GEDUNG PERTUNJUKAN SENI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
WALIKOTA PROBOLINGGO
WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMANFAATAN LAHAN UNTUK PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN WALIKOTA PROBOLINGGO, Menimbang : a. bahwa dinamika perkembangan
BUPATI KEPULAUAN ANAMBAS
BUPATI KEPULAUAN ANAMBAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR
BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GRESIK, Menimbang : a. untuk mewujudkan
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA
SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 232
BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG
BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WONOSOBO,
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYELENGGARAAN ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa
BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG
SALINAN BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KAPUAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERATURAN DAERAH KOTA BANDAR LAMPUNG NOMOR 07 TAHUN 2014 TENTANG BANGUNAN GEDUNG
PERATURAN DAERAH KOTA BANDAR LAMPUNG NOMOR 07 TAHUN 2014 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DIHIMPUN OLEH : BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH PEMERINTAH KOTA BANDAR LAMPUNG 1 WALIKOTA BANDAR LAMPUNG PROVINSI LAMPUNG
SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA LAPANGAN TENIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR USAHA LAPANGAN TENIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 7 TAHUN 2009 T E N T A N G BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penataan
BUPATI ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN
BUPATI ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENREKANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ENREKANG, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan
