HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Widya Tedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Pengaturan Larangan Impor Beras Saat Musim Panen di Indonesia Ditinjau Dari Ketentuan World Trade Organization Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menyebutkan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal (Ketenutan Umum Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012). Sejauh ini produk beras Indonesia belum mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dengan adanya liberalisasi perdagangan, sampai saat ini beras Indonesia dinilai belum mampu untuk bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan Indonesia yang masih terus melakukan impor dari berbagai negara, pada Tahun 2014 Indonesia mengimpor beras dari Thailand sebesar ton atau US$ 42,6 juta, disusul India ton atau US$ 22,3 juta, Pakistan ton atau US$ 3,33 juta. Vietnam berada di peringkat keempat dengan ton atau US$ 3,3 juta, dan Myanmar ton atau US$ 2,7 juta. Beberapa negara lainnya juga menjadi negara pengekspor beras ke Indonesia dengan kisaran sebesar 675 ton atau US$ 1,9 juta ( Apabila hal ini terus dibiarkan maka akan semakin merugikan dan memperburuk kondisi petani beras di Indonesia, Oleh karena itu, untuk melindungi petani beras dalam negeri, dikeluarkanlah kebijakan-kebijakan pro petani dalam negeri, salah satunya adalah melalui ketentuan impor dan ekspor 54
2 beras Indonesia. Ketentuan impor dan ekspor ini berisi tentang syarat-syarat impor dan ekspor, jenis beras yang dapat diimpor dan diekspor, serta aturan-aturan administratif mengenai impor dan ekspor beras. Dalam ketentuan impor dan ekspor beras Indonesia terdapat aturan mengenai larangan impor beras pada saat musim panen. Larangan impor beras pada saat musim panen akan meminimalisir masuknya beras dari negara lain ke Indonesia dan harga beras lokal akan terangsang naik, Dengan naiknya permintaan, secara otomatis pendapatan petani dapat meningkat. Hal ini akan mendorong petani untuk bekerjasama dengan pihalpihak terkait guna meningkatkan produksi dan kualitas demi memenuhi permintaan beras dalam negeri. Meningkatnya pendapatan petani menjadi awal dari berkembangnya sektor pertanian Indonesia, khususnya komoditas beras, hingga perlahan-lahan Indonesia dapat memenuhi target swasembada pangan. Beras merupakan komoditi strategis sebagai bahan pangan bagi masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan produksi, penyediaan, pengadaan dan distribusi beras menjadi sangat penting untuk ketahanan pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani beras, kepentingan konsumen serta menciptakan stabilitas ekonomi nasional (Permendag Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008). Kedudukan beras memiliki peranan penting dalam kegiatan perdagangan internasional. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya perjanjian khusus WTO yang memuat mengenai produk pertanian (termasuk beras). Indonesia sebagai anggota WTO secara otomatis terikat dan memiliki kewajiban untuk menaati seluruh aturan yang ditetapkan oleh WTO, termasuk aturan WTO mengenai perdagangan bebas produk pertanian, khususnya beras. Wujud dari kebebasan dalam melakukan transaksi perdagangan internasional ditandai dengan dihapusnya hambatan tarif dan hambatan non-tarif yang membuka jalan bagi negara-negara dalam melakukan kegiatan ekspor dan impor. Penghapusan kebijakan ini sangat menguntungkan negara-negara yang telah memiliki kekuatan dalam perdagangan, namun dikhawatirkan justru akan merugikan negara berkembang. Perdagangan bebas dikhawatirkan hanya menjadikan negara berkembang sebuah pasar yang potensial untuk dikuasai oleh negara yang perekonomiannya lebih maju. Usaha pemerintah Indonesia dalam pengaturan impor beras dimulai pada Tahun 2004 dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Perindustrian dan 55
3 Perdagangan (KMPP) Nomor 9/MPP/Kep/1/2004 tentang Ketentuan Impor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan KMPP Nomor 368/MPP/Kep/5/2004. Dalam KMPP Nomor 9/MPP/Kep/1/2004 terdapat klausul mengenai larangan impor beras saat musim panen, yaitu dalam Pasal 3 ayat (1) raya, selama panen raya dan 2 (dua) Pada perubahan kedua dalam KMPP Nomor 357/MPP/Kep/5/2004 ditambahkan keterangan di Pasal 3 ayat ( diperpanjang atau dipersingkat sesuai dengan pencapaian produksi padi pada masa perubahan ketiga tidak merubah ketentuan mengenai larangan impor beras saat musim panen pada perubahan sebelumnya. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan ini juga memuat mengenai tata cara pelaksanaan dan syarat-syarat impor beras. KMPP ini juga dapat dikatakan sebagai usaha pemerintah Indonesia untuk melindungi petani dalam negeri, usaha ini kemudian dipertegas dalam SK Departemen Perdagangan No. 1718/M-DAG/XII/2005 mengenai tata niaga impor beras untuk melindungi petani pada saat musim panen. Pada perkembangannya, dikarenakan KMPP Nomor 368/MPP/Kep/5/2004 tentang Ketentuan Impor Beras dinilai sudah tidak sesuai lagi, maka pada tanggal 11 April 2008, pemerintah Indonesia mencabut aturan tersebut dan menggantikannya dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor (Permendag) 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendag Nomor 06/M- DAG/PER/2/2012. Namun aturan mengenai larangan impor beras saat musim panen masih dimuat sebagai berikut: a. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras Ketentuan impor dan ekspor beras memuat tentang aturan-aturan mengenai impor dan ekspor beras, mulai dari jenis beras yang dapat diimpor maupun diekspor, syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan impor dan ekspor beras, serta prosedur administratif terkait kegiatan impor dan ekspor beras, yang memiliki sistematika sebagai berikut. 56
4 1) BAB I Ketentuan Umum (pasal 1 dan 2). 2) BAB II Impor Berasa Untuk Keperluan Stabilisasi Harga, Penanggulangan Keadaan Darurat, Masyarakat Miskin dan Kerawanan Pangan (pasal 3 dan 4). 3) BAB III Impor Beras Untuk Keperluan Tertentu (pasal 5, 6, dan 7). 4) BAB IV Impor Beras yang Bersumber dari Hibah (pasal 8 dan 9). 5) BAB V Ekspor Beras (pasal 10). 6) BAB VI Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor dan Ekspor Beras (pasal 11, 12, 13, dan 14). 7) BAB VII Pelaporan Pelaksanaan Impor dan Ekspor Beras (pasal 15, 16, 17, dan 18). 8) BAB VIII Sanksi (pasal 19, 20, 21, 22, 23, dan 24). 9) BAB IX Lain-Lain (pasal 25, 26, dan 27). 10) BAB X Penutup (pasal 28, 29, dan 30). Ketentuan umum Permendag ini menyebutkan bahwa beras merupakan komoditi strategis sebagai bahan pangan bagi masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan produksi, penyediaan, pengadfaan dan distribusi beras menjadi sangat penting untuk ketahanan pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani beras, kepentingan konsumen serta menciptakan stabilitas ekonomi nasional. Aturan mengenai larangan impor beras saat musim panen masih dimuat dalam Permendag ini. Perbedaan Permendag ini dari KMPP yang telah dicabut terletak pada jumlah ayat yang sebelumnya hanya dua ayat menjadi 4 ayat (lebih diperinci). Pasal 3 Permendag 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras mengatur sebagai berikut. (1) Beras yang dapat diimpor untuk keperluan stabilisasi harga, penanggulangan keadaan darurat, masyarakat miskin dan kerawanan pangan adalah Beras (pos tarif/hs ) dengan ketentuan tingkat kepecahan paling tinggi 25% (dua puluh lima persen). (2) Beras sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diimpor di luar masa 1 (satu) bulan sebelum panen raya, masa panen raya, dan 2 (dua) bulan setelah panen raya. (3) Penentuan masa panen raya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Menteri Pertanian. (4) Pelaksanaan impor beras sebagaimana disebut pada ayat (2) dapat dikecualikan. 57
5 Dari ketentuan diatas dapat dilihat adanya penjelasan mengenai kondisi yang memperbolehkan impor beras dan pengecualian terhadap larangan impor beras saat musim panen pada ayat (2). b. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M- DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras Permendag ini tidak merubah aturan mengenai larangan impor beras saat musim panen yang ada pada Permendag sebelumnya. Perubahan dilakukan atas Pasal 10 dan Pasal 15 mengenai ketentuan ekspor beras. c. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/2/2012 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M- DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras Permendag ini kembali merubah aturan dalam Pasal 3 menjadi berbunyi sebagai berikut: (1) Beras yang dapat diimpor untuk keperluan stabilisasi harga, penanggulangan keadaan darurat, masyarakat miskin dan kerawanan pangan adalah Beras (pos tarif/hs ) dengan ketentuan tingkat kepecahan paling tinggi 25% (dua puluh lima persen). (1a) Penentuan impor beras sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan hasil kesepakatan Tim Koordinasi dengan mempertimbangkan: (a) Persediaan beras yang ada di Perusahaan Umum BULOG; (b) Perbedaan harga rata-rata beras terhadap Harga Pembelian Pemerintah (HPP); dan/atau (c) Perkiraan surplus produksi beras nasional. (2) Beras sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diimpor di luar masa 1 (satu) bulan sebelum panen raya, masa panen raya, dan 2 (dua) bulan setelah panen raya. (3) Penentuan masa panen raya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Menteri Pertanian. (4) Pelaksanaan impor beras sebagaimana disebut pada ayat (2) dapat dikecualikan. Berdasarkan pemaparan diatas dapat dilihat adanya tambahan penjelasan yang tercantum dalam ayat (1a) mengenai Tim Koodinasi yang bertugas untuk menentukan pelaksanaan impor beras dengan mempertimbangkan ketiga poin yang telah dicantumkan pula dalam ayat (1a). Kebijakan yang mendasari ketentuan impor dan ekspor beras yang didalamnya terkandung aturan mengenai larangan impor beras saat musim panen adalah: 58
6 a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (WTO Agreement) Pengesahan WTO Agreement dilakukan atas dasar kesadaran bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, khususnya di bidang ekonomi, diperlukan upaya-upaya untuk terus meningkatkan, memperluas, memantapkan dan mengamankan pasar bagi segala produk baik barang maupun jasa, termasuk aspek investasi dan hak atas kekayaan intelektual yang berkaitan dengan perdagangan, serta meningkatkan kemampuan daya saing terutama dalam perdagangan internasional. Indonesia sebagai anggota WTO berdasarkan prinsip pacta sunt servanda wajib untuk mematuhi seluruh aturan WTO dalam melaksanakan kegiatan perdagangan internasional. Setiap kebijakan perdagangan yang dikeluarkan Indonesia tidak boleh melanggar ketentuan WTO dan merugikan negara anggota lain. Undang-Undang ini dapat pula dikatakan sebagai bukti Indonesia sebagai negara anggota yang tunduk terhadap aturan WTO. b. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Definisi pangan telah dijelaskan dalam Pasal 1 Undang-Undang Pangan yaitu, segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuh bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minum. Undang-Undang Pangan berisi aturan tentang penyelenggaraan pangan di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan produksi pangan mandiri, ketersediaan pangan yang cukup, mempermudah dan meningkatkan akses pangan, meningkatkan daya saing komoditas pangan di pasar dalam negeri maupun luar negeri, meningkatkan kesejahteraan petani, serta melindungi dan mengembangkan kekayaan sumber daya pangan nasional (Pasal 4 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012). Impor pangan diatur dalam Pasal Undang-Undang Pangan. Inti dari pengaturan impor pangan dalam Undang-Undang Pangan adalah impor pangan hanya dapat dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu seperti produksi pangan dalam negeri yang tidak mencukupi dan cadangan pangan nasional tidak 59
7 mencukupi, namun terdapat persyaratan yang wajib dipenuhi oleh negara pengekspor seperti batas kadaluarsa dan kualitas pangan. Undang-undang tentang Pangan ini menyesuaikan perkembangan eksternal dan internal mengenai pangan di Indonesia, seperti demokratisasi, desentralisasi, globalisasi, penegakan hukum, dan kondisi aktual masyarakat Indonesia. c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Undang-Undang tentang Kepabeanan mengatur mengenai teknis pelaksanaan perdagangan barang (lalu lintas barang masuk atau keluar) di daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar. Daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan landas kontinen. Setiap barang impor yang masuk ke Indonesia tidak boleh melanggar aturan Undang-Undang tentang kepabeanan, setiap negara pengekspor pun harus memenuhi kewajiban-kewajiban yang diatur dalam undang-undang ini. Bagi negara yang melanggar dan atau lalai memenuhi kewajibannya akan dikenakan sanksi yang besarannya telah ditentukan dalam undang-undang ini berdasarkan jenis pelanggarannya. Dikaitkan dengan prinsip-prinsip perdagangan internasional yang diatur oleh WTO, WTO memiliki prinsip Non-discrimination, Transparency, Stability and predictability of trade regulation, Use of tariffs as instrument of protection, and Elimination if unfair competition. Negara-negara anggota WTO secara otomatis tunduk terhadap prinsip tersebut dan harus menyesuaikan kebijakan perdagangan negaranya dengan prinsip-prinsip perdagangan internasional WTO. Prinsipprinsip perdagangan ini diterapkan guna menciptakan kesinambungan kerjasama antar negara untuk menjalin perdagangan yang jujur dan berkeadilan (fair treatment). Namun di dalam ketentuan-ketentuan WTO terdapat pengecualian yang disebut dengan remedi perdagangan. Remedi perdagangan, baik berupa Anti-Dumping, Anti-Subsidi maupun Tindakan Pengamanan (Safeguard), merupakan instrumen kebijakan perdagangan internasional yang paling banyak digunakan oleh negara-negara importir anggota WTO untuk melindungi industri dalam negerinya. Kebijakan remedi perdagangan 60
8 ini pun sangat penting untuk melindungi industri dalam negeri Indonesia. Selama ini Indonesia dibanjiri oleh produk-produk impor dengan harga dunping dan bersubsidi, tak jarang Indonesia mengalami lonjakan impor untuk produk-produk tertentu, tetapi di sisi lain produk ekspor Indonesia seringkali dituduh merupakan produk dumping dan produk bersubsidi, dan sering pula dilakukan inisisasi untuk dikenakan tindakan pengamanan. Ironisnya, sebagai salah satu negara yang paling banyak dituduh melakukan praktek dumping, Indonesia justru dikategorikan sebagai negara yang paling rendah dalam melakukan tuduhan dan penyelidikan dumping (Malangnya Komoditas Ekspor Indonesia, Indonesia.com). Tidak mengherankan apabila partisipasi Indonesia masih sangat minim dalam dominasi kasus-kasus perdagangan yang ada dalam Dispute Settlement Body (DSB). Terhambatnya ekspor Indonesia dan banyaknya produk impor yang masuk ke Indonesia mengakibatkan industri dalam negeri mengalami kerugian atau terancam mengalami kerugian yang berdampak pada menurunnya perekonomian, dan pada gilirannya berdampak pula terhadap menyempitnya lapangan kerja atau bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Melihat kondisi ini, sudah seharusnya Indonesia bersikap lebih proaktif mendayagunakan instrumen remedi perdagangan dalam rangka melindungi industri dalam negeri. Sistem hukum yang kuat baik dari segi substansi, struktur maupun kultutrnya, memiliki peran krusial terhadap efektivitas perlindungan industri dalam negeri, oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk memperkuat sistem hukum remedi perdagangan. Secara umum pengertian remedi perdagangan mengacu kepada tindakan atau kebijakan pemerintah untuk meminimalkan dampak negatif dari impor terhadap industri dalam negeri. Remedi perdagangan ini diperlukan mengingat impor, baik yang dilakukan secara tidak jujur (unfair trade) maupun secara jujur (fair trade) dapat merugikan industri dalam negeri. Impor yang dilakukan secara tidak jujur dan merugikan industri dalam negeri adalah impor produk-produk asing dengan harga di bawah harga normal (harga dumping) dan impor produk-produk asing yang bersubsidi. Sedangkan impor yang dilakukan secara jujur tetapi dapat merugikan industri dalam negeri adalah impor yang jumlahnya melonjak secara cepat dan tidak wajar. Remedi perdagangan untuk mengantisipasi produk 61
9 dumping dan produk bersubsidi diwujudkan dalam bentuk pengenaan bea masuk impor tambahan, yaitu Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) atau Anti-Dumping Duties (ADD) dan Bea Masuk Imbalan (BMI) atau Countervailing Duties (CVD). Remedi perdagangan untuk mengendalikan dampak impor yang melonjak adalah tindakan pengamanan (safeguard) berupa bea masuk tambahan dan pembatasan impor. Secara umum penerapan remedi perdagangan didesain untuk meratakan kembali lapangan permainan (to level the playing field) yang sempat terganggu akibat adanya praktek dagang yang curang yang dimainkan produsen asing atau akibat meningkatnya secara drastis kompetisi yang jujur dengan produsen asing. Dengan kalimat lain, tindakan Anti-Dumping dan Anti-Subsidi dimaksudkan untuk mengeliminasi keunggulan-keunggulan harga yang diperoleh kompetitor asing melalui praktek perdagangan curang, sedangkan tindakan pengamanan (safeguards) dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada industri domestik untuk melakukan penyesuaian dan meminimalisasi dampak-dampak yang berupa destabilisasi akibat lonjakan impor (William H. cooper, 2003 : 2). Remedi perdagangan yang digunakan Indonesia untuk melindungi neraca perdagangan dan produk beras dalam negeri adalah dengan menggunakan tindakan pengamanan (safeguard). Tindakan tersebut berwujud sebuah kebijakan larangan impor saat musim panen dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendag Nomor 06/M- DAG/PER/2/2012. Tindakan safeguard diperlukan mengingat akibat konsesikonsesi perdagangan sebagai komitmen terhadap liberalisasi perdagangan akan membuka pasar domestik dan membawa dampak lonjakan impor secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang tidak wajar. Walaupun tidak ada unsur-unsur kecurangan atau ketidak jujuran dalam praktek perdagangan eksportir asing, hal ini tetap merugikan atau berpotensi merugikan industri lokal. Tindakan safeguard sebagai remedi perdagangan baik berupa pengenaan bea masuk tambahan dan/atau pembatasan impor diperlukan untuk memberi kesempatan kepada industri lokal untuk berkembang dari ketatnya kompetisi asing. Industri lokal memiliki kesempatan untuk melakukan penyesuaian dengan kondisi persaingan selama 62
10 masa remedi ini, baik dengan cara menambah modal atau meningkatkan performa dengan teknologi terbaru, sehingga di akhir masa remedi industri lokal bisa bersaing dengan eksportir asing (Nandang Sutrisno, 2007: 233). Para ekonom beranggapan bahwa dalam prespektif WTO, remedi perdagangan adalah suatu bentuk proteksi terhadap impor yang mengarah pada inefiensi kesejahteraan ekonomi dan tidak lebih hanya diposisikan sebagai kebijakan terbaik kedua (second-best policy). Meskipun demikian, para ekonom telah menyepakati dimasukkannya remedi perdagangan ke dalam perjanjian perdagangan internasional, dalam hal ini WTO, sebagai pengecualian dengan motivasi insurance (jaminan) dan safety valve (katup pengaman) (Chad P. Bown, 2005: ). Ketentuan mengenai remedi perdagangan penting untuk menjaga keutuhan perjanjian perdagangan internasional. Negara-negara anggota WTO tentunya akan enggan menandatangani perjanjian perdagangan internasional yang mengarah pada liberalisasi secara substansial apabila tidak ada jaminan perlindungan terhadap industri dalam negerinya. Selain itu, pemerintah negara anggota WTO akan merasa tertekan dalam melakukan negoisasi yang berkaitan dengan komitmen liberalisasi tertentu jika tidak ada pengecualian untuk pengamanan industri dalam negerinya. Namun, harus diakui bahwa mekanisme remidi perdagangan berupa safeguard ini sangat berpotensi untuk disalahgunakan sebagai usaha proteksi terselubung. Penyalahgunaan ini kontra produktif dengan paradigma liberalisasi perdagangan yang merupakan filosofi dasar dari WTO. Oleh karena itu, implementasi safeguard diatur secara ketat dalam ketentuanketentuan WTO, baik mengenai substansi maupun proseduralnya. Ketentuanketentuan WTO tentang remedi berupa safeguard diatur dalam Article XIX (Emergency Action on Imports of Particular Products) dan dijabarkan lebih lanjut dalam The Agreement on Safeguards (SG Agreement). Dalam penerapannya, mekanisme safeguard harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut (Nandang Sutrisno, 2007: 8): a. Lonjakan impor, baik secara absolut maupun relatif. b. Lonjakan impor tersebut merupakan akibat dari pemenuhan kewajiban berdasarkan perjanjian WTO. 63
11 c. Kerugian serius atau ancaman kerugian serius terhadap industri dalam negeri yang menghasilkan barang yang serua atau barang yang langsung tersaingi. d. Hubungan kausalitas yang menunjukkan bahwa kerugian atau ancaman kerugian tersebut benar-benar disebabkan adanya lonjakan impor. Pada dasarnya mekanisme safeguard memiliki beberapa persamaan dengan mekanisme Anti-Dumping dan Anti-Subsidi namun, mekanisme safeguard memiliki perbedaan yang sangat mencolok dari mekanisme Anti-Dumping dan Anti-Subsidi. Pertama, mekanisme safeguard tidak mengharuskan adanya praktek perdagangan curang dari kompetitor asing seperti halnya dalam mekanisme Anti- Dumping dan Anti-Subsidi. Kedua, disamping menggunakan pengenaan bea masuk tambahan, tindakan safeguard dapat dilakukan melalui pembatasan kuantitas impor. Hal ini tidak sebagaimana tindakan Anti-Dumping dan Anti- Subsidi yang hanya dapat dilakukan melalui bea masuk tambahan. Ketiga, tindakan safeguard dapat diambil secara cepat dalam keadaan kritis, lain halnya dengan Anti-Dumping dan Anti-Subsidi yang hanya dapat diterapkan setelah melalui investigasi pendahuluan dimana para pihak yang berkepentingan diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan dan menunjukkan bukti-bukti. Keempat, tindakan safeguard mengharuskan adanya kompensasi terhadap kompetitor asing yang terkena dampak tindakan tersebut. Apabila tidak ada kompensasi, maka kompetitor asing diberikan otoritas untuk melakukan penangguhan konsesi atau kewajiban lain (misalnya retalisasi yang sepadan). Indonesia sendiri telah memiliki instrumen hukum yang mengatur mengenai tindakan safeguard. Adapun ketentuan tentang safeguard diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002 tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor. Prosedur penyelidikan safeguard diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 85/MPP/Kep/2/2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan Penyelidikan atas Pengamanan Industri Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor. Pelaksanaan penyidikan terhadap adanya kerugian serius atau ancaman kerugian serius terhadap industri dalam negeri akibat meningkatnya impor di Indonesia dilakukan oleh Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI). Dengan adanya KPPI, pihak-pihak berkepentingan yang terkena dampak secara langsung dapat mengajukan 64
12 permohonan penyelidikan atas pengamanan kepada Komite. Pihak berkepentingan yang terkena langsung dampak peningkatan produk impor menurut menurut Pasal 2 ayat (2) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 85/MPP/Kep/2/2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan atas Pengamanan Industri dari Akibat Lonjakan Impor, adalah sebagai berikut: a. Produsen dalam negeri Indonesia yang menghasilkan barang sejenis barang terselidik dan/atau barang yang secara langsung bersaing. b. Asosiasi produsen barang sejenis barang terselidik dan/atau barang yang secara langsung bersaing. c. Organisasi buruh yang mewakili kepentingan para pekerja industri dalam negeri. Tindakan safeguard hanya dapat dilakukan setelah dilakukan investigasi oleh otoritas yang kompeten berdasarkan prosedur yang telah ada sebelumnya. Namun apabila diperlukan, pemerintah dapat mengajukan penyelidikan kepada Komite dalam rangka perlindungan terhadap industri dalam negeri. Selanjutnya KPPI atas prakarsa sendiri dapat melakukan penyelidikan atas lonjakan impor yang mengakibatkan kerugian serius dan/atau mengancam kerugian serius industri dalam negeri. KPPI harus memberikan kesempatan yang sama kepada para pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan bukti-bukti kepada Komite dalam setiap proses pembuktian yang dilakukan. Kemudian Komite melakukan verifikasi atas data dan informasi yang diperoleh dari para pihak. Selanjutnya, dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah pengajuan permohonan tindakan pengamanan tersebut diterima lengkap oleh Komite, berdasarkan hasil penelitian serta bukti awal yang lengkap sebagaimana yang diajukan pemohon, berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002, Komite memberi keputusan berupa: a. Menolak permohonan dalam hal permohonan tidak memenuhi persayaratan yang ditentukan; atau b. Menerima permohonan dan memulai penyelidikan dalam hal permohonan memenuhi persyaratan. Terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pemohon guna mengajukan pelaksanaan penyidikan lonjakan impor ke Komite. Menurut Pasal 3 65
13 ayat (2) Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002 tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor, untuk mempermudah proses penyidikan, pemohon harus melengkapi data sekurangkurangnya memuat sebagai berikut: a. Identifikasi pemohon. b. Uraian lengkap barang terselidik. c. Uraian lengkap barang sejenis atau barang yang secara langsung bersaingan. d. Nama eksportir dan negara pengekspor dan/atau negara asal barang. e. Industri dalam negeri yang dirugikan. f. Informasi mengenai kerugian serius dan/atau ancaman kerugian serius. g. Informasi data impor barang terselidik. Berikut disajikan data Volume dan Nilai impor, Volune dan Nilai Ekspor serta Neraca perdagangan Beras Indonesia sebelum diterbitkannya Permendag Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor beras dan yang menjadi alasan pemerintah Indonesia memberlakukan tindakan safeguard: Gambar 1.1 Impor komoditas Dominan Pertanian Tahun
14 Sumber: BPS, 2014 Gambar 1.2 Impor Komoditas Dominan Pertanian Tahun Sumber: BPS, 2014 Gambar 1.3 Impor Komoditas Dominan Pertanian Tahun Sumber: BPS,
15 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada Tahun terjadi kenaikan volume impor beras mencapai angka Ton, hal ini lah yang kemudian menjadi alasan pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (KMPP) Nomor 9/MPP/Kep/1/2004 tentang Ketentuan Impor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan KMPP Nomor 368/MPP/Kep/5/2004, yang di dalamnya memuat larangan impor beras saat musim panen. Fakta yang tercermin dalam tabel diatas membuktikan bahwa KMPP ini efektif menurunkan volume impor beras Indonesia pada Tahun 2005 menjadi Ton. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya liberalisasi perdagangan, lonjakan impor beras kembali terjadi pada Tahun 2007 hingga mencapai angka Ton. Lonjakan impor ini menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk mencabut Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (KMPP) Nomor 9/MPP/Kep/1/2004 tentang Ketentuan Impor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan KMPP Nomor 368/MPP/Kep/5/2004, yang dinilai sudah kurang efektif/sesuai dan menggantinya dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras, yang efektif menurunkan impor beras Indonesia menjadi sejumlah Ton. Lonjakan yang sama kembali terjadi pada Tahun 2011 dimana volume impor beras Indonesia mencapai Ton, hal ini mendorong pemerintah untuk kembali menyempurnakan aturan larangan impor beras Indonesia melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M- DAG/PER/2/2012 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras, yang kembali menurunkan volume impor beras menjadi Ton pada Tahun Pengaruh positif juga dapat dilihat dalam ekspor beras Indonesia, beras memang merupakan salah satu sektor unggulan pertanian Indonesia, namun beras tidak termasuk dalam komoditas dominan ekspor yang meliputi kelapa, karet, kelapa sawit, kopi, kakao, manggis, mangga, nenas (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2014: 23), namun beras termasuk dalam kategori tanaman pangan sebagai berikut: 68
16 Gambar 1.4 Ekspor Pertanian Menurut Sub Sektor Periode Tahun Sumber: BPS, 2014 Gambar 1.5 Ekspor Pertanian Menurut Sub Sektor Periode Tahun Sumber: BPS, 2014 Gambar 1.7 Ekspor Pertanian Menurut Sub Sektor Periode Tahun
17 Sumber: BPS, 2014 Walaupun volume dan nilai ekspor tanaman pangan (termasuk didalamnya beras) cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun, namun Growth Rate of Ekspor Index merangkak naik dalam periode Tahun 2001 sampai 2013, dari semula 11,66% menjadi 28,10% untuk volume (ton) dan 17,37% pada periode Tahun 2001 menjadi 2972% pada periode Tahun Fenomena ini membuktikan bahwa mekanisme safeguard yang diterapkan Indonesia efektif untuk melindungi petani dan produk beras dalam negeri. Mekanisme safeguard yang diterapkan secara bertahap memberi ruang bagi pemerintah dan petani dalam negeri untuk memperbaiki sistem produksi dalam negeri sehingga pada akhirnya dapat mengembangkan akses pasar produk unggulannya, namun kebijakan larangan impor saat musim panen yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia ini dipermasalahkan oleh Thailand dalam sidang ILA WTO. Berikut ini adalah analisis Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras yang telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/2/2012, ditinjau dari ketentuan WTO: a. Ditinjau dari General Agreement on Tariffs and Trade 1994 (GATT 1994) Tarif tidak secara tegas didefinisikan dalam GATT, melainkan hanya dalam kaitannya dengan kegiatan ekspor-impor (Taryana Sunandar, 1996: 10). Menurut John J. Harter, dikenakan atas barang yang diangkut dari sebuah kekuasaan politik ke suatu wilayah lain. Pajak ini khususnya atas barang yang diimpor dari wilayah 70
18 kekuasaan politik yang satu ke wilayah yang lain, atau tingkat pajak yang dikenakan atas barang te : 11). Selain hambatan tarif, negara seringkali menerapkan kebijakan perdagangan dalam bentuk hambatan non-tarif yang bentuknya sangat beragam. Hambatan non-tarif yang dilarang oleh GATT 1947 adalah sebagai berikut. 1) Menurut Article III, pajak dalam negeri dan pungutan-pungutan lainnya, demikian juga peraturan perundang-undangan yang mempengaruhi perdagangan dalam negeri serta produksi tidak boleh diterapkan terhadap barang-barang impor atau produk dalam negeri dengan maksud untuk memberikan proteksi terhadap produk dalam negeri. Pengaturan kuota (quantitative regulation) atas film (exposed cinematograph films) dalam keadaan-keadaan tertentu diperkenankan menurut Article III: 10 dan IV). 2) Article IV mengharuskan adanya kebebasan transit melalui jalur yang paling menguntungkan transit internasional, tanpa penundaan yang tidak perlu dan tanpa membedakan kewarganegaraan sarana transportasi atau barang yang diangkut. Suatu hambatan terhadap pengangkutan merupakan hambatan terhadap perdagangan. Dalam keadaan-keadaan tertentu tindakan anti-dumping dan bea masuk imbalan diperkenankan oleh Article VI. Hambatan administratif terhadap perdagangan sejauh mungkin harus dibatasi menurut Article VII, VIII, dan IX. 3) Menurut Article X, negara-negara peserta berkewajiban untuk mempublikasikan peraturan-peraturan hukum nasionalnya, demikian juga putusan pengadilan dan administratif yang berlaku umum dalam kaitannya dengan sesuatu produk tertentu. Ketiadaan informasi merupakan suatu hambatan non-tarif, karena mencegah persaingan adil. 4) Kuota atas impor maupun ekspor umumnya dilarang Article XI. Namun demikian pembatasan-pembatasan atas produk pertanian, pembatasan untuk melindungi neraca pembayaran, dan untuk melindungi industri baru di negaranegara berkembang di izinkan dengan persyaratan-persyaratan tertentu menurut Article XI sampai dengan XV dan XVIII. 5) Dalam keadaan-keadaan khusus subsidi diperkenankan sesuatu dengan ketentuan Article XVI. 71
19 6) Adanya perusahaan dagang negara dapat juga menjadi hambatan non-tarif. Namun dalam keadaan tertentu diperbolehkan sesuai Article XVII. Tokyo Round yang berlangsung dari Tahun merupakan putaran perundingan GATT yang membahas mengenai hambatan non-tarif secara mendalam. Tokyo Round menghasilkan sejumlah perjanjian (code) yang menyangkut hambatan non-tarif, salah satunya adalah The Agreement on Import Licensing Procedures. Perjanjian ini mengakui bahwa prosedur lisensi impor dapat memiliki kegunaan yang bisa diterima, tetapi prosedur lisensi impor dapat pula dinilai tidak layak sehingga menghambat perdagangan internasional. Perjanjian ini memastikan bahwa tindakan tersebut tidak merupakan suatu restriksi terhadap impor. Ketentuan impor dan ekspor beras Indonesia yang menerapkan kebijakan larangan impor pada musim panen tidak melanggar ketentuan GATT Kuota atas impor dan ekspor pada umumnya dilarang dalam Article XI. Namun, pembatasan-pembatasan atas produk pertanian, pembatasan untuk melindungi neraca pembayaran, dan untuk melindungi industri baru di negara-negara berkembang di izinkan dengan persyaratan-persyaratan tertentu menurut Article XI sampai dengan XV dan XVIII GATT Disini Indonesia sudah memenuhi syarat-syarat tersebut, yakni volume dan nilai neraca perdagangan yang turun serta yang dilindungi adalah produk pertanian. b. Ditinjau Dari Agreement on Agriculture (AoA) Thailand mempermasalahkan larangan impor beras saat musim panen Indonesia karena dinilai tidak sesuai dengan ketentuan mengenai hambatan nontarif dalam WTO. Hambatan non-tarif untuk produk pertanian diatur secara khusus dalam AoA, yaitu dalam Article 4.2 AoA, namun di dalam Article 5.1 AoA tentang Ketentuan Pengamanan Khusus, bahwa meskipun terdapat ketentuan pada alinea 1 (b) Article 2 GATT 1994, suatu negara dapat mengambil jalan lain dari alinea 4 dan 5 di bawah dalam kaitannya dengan produk pertanian, dalam hal ini kebijakan-kebijakan (measures) sebagaimana tersebut pada alinea 2 Article 4 dari Persetujuan ini telah dikonversikan kepada bentuk tarif, dan hal itu ditunjukkan pada jadwaln yang mana ketentuan dari Article ini dapat diajukan, apabila: 72
20 Volume impor produk yang bersangkutan memasuki wilayah pabean suatu negara anggota yang mengakui ketentuan, selama beberapa tahun melebihi tingkat batas tertentu (triggers levels) sehubungan dengan peluang akses yang berlaku sebagaimana ditetapkan pada alinea 4; atau tetapi tidak bersamaan. Harga produk impor yang masuk wilayah pabean suatu negara anggota yang mengakui ketentuan, berdasarkan harga impor Cost Insurance and Freight (CIF) dari pengapalan yang dinyatakan dalam mata uang dalam negeri yang bersangkutan, berada dibawah trigger price yaitu rata-rata harga selama periode dari produk yang bersangkutan. c. Ditinjau Dari Agreement on Import Licensing Procedures (ILA) Setiap anggota WTO wajib untuk menyampaikan notifikasi kebijakan impor setiap satu tahun sekali setiap akhir bulan September, kemudian notifikasi ini akan dikaji oleh Committee on Import Licensing setiap dua tahun sekali. Terkait permasalahan larangan impor beras saat musim panen antara Indonesia dan Thailand, aturan ILA yang berkaitan dan berpotensi untuk dilanggar diantaranya: 1) Article 1.2 tentang ketentuan-ketentuan umum bahwa anggota harus memastikan bahwa prosedur-prosedur administratif yang digunakan untuk melaksanakan rezim perizinan impor telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan GATT 1994 yang relevan, termasuk segala lampiran dan protokolnya, sebagaimana ditafsirkan di dalam persetujuan ini, dengan tujuan mencegah distorsi perdagangan yang mungkin timbul dari pelaksanaan prosedurprosedur tersebut yang tidak wajar, dengan mempertimbangkan tujuan pembangunan ekonomi dan kebutuhan keuangan dan perdagangan dari negara anggota. Tidak ada di dalam persetujuan ini yang dapat ditafsirkan bermaksud bahwa dasar, ruang lingkup atau masa berlakunya suatu tindakan yang sedang dilaksanakan melalui prosedur perizinan menjadi dipertanyakan menurut perjanjian ini (Soedjono Dirdjosisworo, 2004: 240). 2) Article 3.2 tentang Perizinan Impor Non-Otomatis, bahwa perizinan nonotomatis tidak boleh berakibat membatasi atau mengganggu impor yang menambah pembatasan yang sudah ada. Prosedur-prosedur perizinan nonotomatis harus, dari segi ruang lingkup dan masa berlakunya, sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan dengan prosedur tersebut, dan harus tidak lebih 73
21 membebankan secara administratif daripada yang sungguh-sungguh perlu untuk mengatur tindakan yang bersangkutan. 3) Article 3.3 tentang Perizinan Impor Non-otomatis, bahwa dalam hal persyaratan perizinan untuk maksud selain pelaksanaan pembatasan kuantitatif, anggota harus menerbitkan informasi yang cukup agar anggota lain dan para pedagang dapat mengetahui dasar pemberitahuan dan/atau penjatahan izin yang bersangkutan. Keberadaan ILA sering dirasakan sebagai beban negara berkembang yang terus menerus mendapat tekanan dari negara maju. Meskipun demikian, setiap anggota WTO yang merasa dirugikan akses pasarnya oleh kebijakan impor negara mitra dagangnya dapat menggunakan notifikasi ini sebagai sarana untuk menekan anggota WTO yang dituju, terlebih lagi anggota yang belum melakukan kewajiban notifikasi mereka. Thailand yang merasa akses pasarnya dirugikan akibat kebijakan larangan impor beras saat musim panen di Indonesia menggunakan mekanisme ini untuk secara tidak langsung menekan Indonesia yang dalam hal ini belum melaksanakan kewajiban notifikasinya. Jika dilihat dari ketentuan-ketentuan WTO seperti GATT Article VIII mengenai bea dan formalitas terkait dengan impor dan ekspor, GATT Article X tentang Publikasi dan Tertib Administrasi Regulasi Perdagangan, dan Pasal-Pasal Notifikasi Import Licensing Procedures WTO sebagai dasar hukum ILA, serta sudut pandang remedi perdagangan (safeguard), aturan larangan impor beras saat musim panen di Indonesia yang dimuat dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/2/2012 tidak melanggar aturan WTO karena, di dalam WTO sendiri terdapat pengecualian terhadap prinsip dan ketentuan WTO guna melindungi perekonomian dalam negeri. Disamping itu Indonesia telah memenuhi persyaratan untuk melakukan tindakan safeguard yaitu nilai impor yang terus naik dan nilai neraca perdagangan yang terus menurun selama kurun waktu empat tahun. Kebijakan larangan impor beras saat musim panen di Indonesia memberi dampak positif terhadap neraca perdagangan beras Indonesia, hal ini dibuktikan dengan menurunnya defisit neraca perdagangan 74
22 Indonesia dari 463,925US$ pada Tahun 2007 menjadi 122,913US$ pada Tahun Dampak positif juga dirasakan langsung oleh petani Indonesia karena harga beras lokal dapat terangkat, salah satu contohnya di Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Selatan cenderung meningkat dari kurun waktu Tahun , yaitu secara berturut-turut senilai 104,52; 108,2; 114,23; 121,12; 124,63; 124,17 ( NTP merupakan indikator proxy kesejahteraan petani yang diperoleh dari perbandingan antara Indeks Harga yang diterima petani (It) dengan Indeks harga yang dibayar petani (Ib). Setiap angka NTP memiliki artinya masing-masing, sebagai berikut ( accordion-daftarsubjek2): 1) NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. 2) NTP = 100, berarti petani mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya. 3) NTP< 100, berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun, lebih kecil dari pengeluarannya. 4) NTP memiliki kegunaan dan manfaat sebagai berikut Dari Indeks Harga Yang Diterima Petani (It), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani. Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan sektor pertanian. Dari Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Perkembangan Ib juga dapat menggambarkan perkembangan inflasi di pedesaan. NTP mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar produk yang dijual petani dengan produk yang dibutuhkan petani dalam produksi dan 75
23 konsumsi rumah tangga. Angka NTP menunjukkan tingkat daya saing produk pertanian dibandingkan dengan produk lain. Atas dasar ini upaya produk spesialisasi dan peningkatan kualitas produk pertanian dapat dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan terangkatnya harga beras lokal, maka petani dapat memperoleh keuntungan lebih dari produk yang mereka jual, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Pembatasan impor beras dapat dikatakan sebagai wujud nyata nasionalisme yang dilakukan pada tingkat pemerintahan, pembatasan impor beras juga mendorong meningkatnya pengembangan produk pertanian yang telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Pemerintah mulai bergerak untuk mendorong petani menanam beras khusus yang mempunyai spesifikasi khusus terutama beras Jepang misalnya untuk restoran Jepang dan kelas tinggi, serta beras yang dipakai untuk industri makanan dan minuman yaitu beras menir atau broken rice ( 03/13/102153/ /459/). Larangan impor beras saat musim panen di Indonesia tidak melanggar ketentuan WTO karena dikeluarkan untuk melindungi produk beras dan petani dalam negeri karena lonjakan impor yang menyebabkan neraca perdagangan menjadi defisit, serta mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap pertanian dalam negeri, sehingga dapat dibenahi dan dapat meningkatkan produksi dalam negeri. Pemerintah tidak serta merta menghentikan impor beras secara keseluruhan, melainkan melakukannya secara bertahap guna melatih petani dalam negeri untuk perlahan-lahan memperbaiki kualitas produk domestik. 2. Penyelesaian Keberatan Thailand Atas Larangan Impor Beras Saat Musim Panen di Indonesia Larangan impor beras saat musim panen di Indonesia diangkat menjadi sebuah permasalahan dalam sidang Agreement on Import Licensing Procedure (ILA) WTO, tanggal 30 April 2009 oleh Thailand yang mengajukan keberatannya atas kebijakan tersebut dan meminta penjelasan tertulis Indonesia akan diberlakukannya larangan impor beras pada saat musim panen dalam kebijakan tata niaga impor Indonesia. Thailand menganggap bahwa kebijakan larangan impor beras pada musim panen demi melindungi petani ini tidak merujuk 76
24 ketentuan WTO mengenai hambatan non-tarif yang berlaku. Thailand menggunakan haknya sebagai anggota WTO untuk meminta penjelasan atas kebijakan perdagangan Indonesia sesuai ketentuan Notifikasi Questions and Replies on Import Licensing WTO. Tiap anggota WTO dapat meminta klarifikasi tentang peraturan impor anggota WTO lainnya degan menotifikasi pertanyaan mereka ke Committee on Import Licensing WTO. Anggota yang menerima pertanyaan juga wajib menotifikasi jawaban atau tanggapannya ke Committee on Import Licensing agar semua anggota WTO mengetahuinya. Notifikasi Questions and Replies on Import Licensing WTO merupakan satu dari tujuh kebijakan yang wajib untuk dinotifikasi dalam ILA, kebijakan tersebut adalah: a. Publikasi Tata Cara Permohonan Izin (Article 1.4(a)) Setiap anggota harus melakukan notifikasi ke Komite Import Licensing semua sumber informasi terkait dengan publikasi mengenai prosedur perizinan impor dan menyampaikan salinan publikasi tersebut ke Sekretariat WTO. b. Kuesioner Kebijakan Impor yang Berlaku (Article 7.3) Setiap anggota WTO harus menyediakan informasi yang mencakup isi kuesioner yaitu, perizinan impor dan prosedur administratif terkait (visa teknis, sistem pengawasan, rancangan patokan harga minimum, dan tinjauan administratif lainnya). c. Penanda Tangan Tokyo Round (Article 8.2(b)) Tiap anggota WTO harus menginformasikan kepada Komite mengenai segala perubahan undang-undang dan regulasi dimaksud. Notifikasi pertama yang harus dilakukan oleh anggota bukan penandatangan Tokyo Round Code harus memuat teks lengkap undang-undang dan regulasi terkait yang mempunyai relevansi dengan kepentingan anggota lainnya sejak persetujuan WTO mulai berlaku. d. Prosedur Pengajuan Perizinan (Article ) Para Anggota yang melembagakan prosedur perijinan atau perubahanperubahan atas prosedur tersebut harus melakukan notifikasi ke Komite dalam waktu 60 hari sejak dipublikasikan. Notifikasi dimaksud harus memuat informasi yang termasuk dalam daftar sebagaimana diatur dalam Article 5.2 (yakni, daftar produk yang ditataniagakan, kontak point untuk informasi yang absah, instnasi yang memberikan rekomendasi; tanggal dan nama publikasi diterbitkannya 77
25 prosedur perijinan tersebut; indikasi otomatis tidaknya prosedur perijinan tersebut sesuai definisi Article 2 dan 3; bilamana perijinan itu bersifat otomatis, maka harus ada penjelasan mengenai tujuan dari tataniaga; namun apabila bersifat nonotomatis, maka harus ada penjelasan ketentuan yang diterapkan melalui perijinan tersebut; harus juga diindikasikan jangka waktu pengaturan prosedur perijinan dimaksud yang dapat diperkirakan batas waktunya, namun jika tidak bias maka harus ada penjelasan mengenai alas an tidak adanya informasi yang dapat diberikan). Setiap anggota WTO harus menotifikasi ke Committee on Import Licensing Procedures segala publikasi yang terkait. e. Notifikasi Kebijakan Impor Negara Lain (Article 5.5) Setiap Anggota WTO yang beranggapan bahwa Anggota WTO lainnya belum menotifikasikan prosedur tata-niaga atau perubahan terhadap kebijakan tata niaga tersebut menurut Article , dapat mengangkat masalah ini untuk meminta perhatian Anggota WTO lainnya, dan apabila notifikasi semacam itu belum dilakukan, maka Negara yang bersangkutan harus segera melakukan notifikasi atau perubahan terhadap kebijakan yang telah dinotifikasikan. f. Penundaan Kebijakan Impor WTO (Footnote 5 to Article 2.2) Catatan kaki (Footnote) No. 5 atas Article 2.2 memungkinkan Negara berkembang yang bukan penandatangan Tokyo Round Code untuk menunda selama tahun, penerapan ketentuan termaktub pada Article 2.2(a)(ii) dan (a)(iii) yang terkait dengan ijin otomatis. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/2/2012 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M- DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras mengatur bahwa Indonesia tidak menerima impor beras pada masa satu bulan sebelum panen dan dua bulan sebelum panen, hal ini dapat dikatakan sebagai pembatasan jumlah (kuota) beras yang masuk ke Indonesia. Thailand menyebutkan bahwa kebijakan larangan impor beras saat musim panen yang diterapkan oleh Indonesia tidak merujuk pada ketentuan hambatan non-tarif WTO yang berlaku. Ketentuan mengenai hambatan non-tarif dalam WTO yang dapat dijadikan rujukan adalah: a. Article X-3(a) dan X-1 General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) Article X:3(a) berbunyi: 78
26 reasonable manner all its laws, regulations, decisions and rulings of the kind described in paragraph 1 of this Article. Setiap negara anggota harus memberlakukan rezim perizinan impor sesuai dengan kebijakan hukum, administrasi dan regulasi perdagangan WTO. Sedangkan Article XI:1 berbunyi: whether made effective through quotas, import or export licences or other measures, shall be instituted or maintained by any contracting party on the importation of any product of the territory of any other contracting party or on the exportation or sale for export of any product destined for the territory Rezim perizinan impor di WTO menetapkan bahwa pembatasan kuota merupakan larangan pada impor. b. Article 4.2 Agreement on Agriculture, Pasal ini mengatur tentang negara anggota tidak diperkenankan mempertahankan, terpaksa atau kembali kepada berbagai jenis kebijaksanaan yang diwajibkan untuk dikonversikan kepada tarif, kecuali untuk beberapa hal yang sesuai dengan Article 5 dan Lampiran 5. Kebijaksanaan tersebut meliputi import restrictions, variable import levies, minimum import price, discretionary import licensing, serta kebijaksanaan non-tarif melalui state trading enterprises, voluntary exportrestraints dan kebijaksanaan border lainnya selain tarif, baik kebijaksanaan tersebut dilakukan maupun tidak melalui negara khusus yang dikeluarkan dari ketentuan GATT 1947, tetapi bukan kebijaksanaan yang dikelola sesuai ketentuan balance of payments atau kebijaksanaan umum lainnya, ketentuan khusus non pertanian GATT 1994 atau persetujuan perdagangan multilateral lainnya pada lampiran 1A WTO Agreeement (Soedjono Dirdjosisworo, 2004: 33). c. Article 1.2, 3.2, dan 3.3 Agreement on Import Licensing Procedures, Article 1.2 tentang ketentuan-ketentuan umum bahwa anggota harus memastikan bahwa prosedur-prosedur administratif yang digunakan untuk melaksanakan rezim perizinan impor telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan GATT
27 yang relevan, termasuk segala lampiran dan protokolnya, sebagaimana ditafsirkan di dalam Persetujuan ini, dengan tujuan mencegah distorsi perdagangan yang mungkin timbul dari pelaksanaan prosedur-prosedur tersebut yang tidak wajar, dengan mempertimbangkan tujuan pembangunan ekonomi dan kebutuhan keuangan dan perdagangan dari negara anggota. Tidak ada di dalam persetujuan ini yang dapat ditafsirkan bermaksud bahwa dasar, ruang lingkup atau masa berlakunya suatu tindakan yang sedang dilaksanakan melalui prosedur perizinan menjadi dipertanyakan menurut Perjanjian ini (Soedjono Dirdjosisworo, 2004: 240). Article 3.2 tentang Perizinan Impor Non-Otomatis, bahwa perizinan nonotomatis tidak boleh berakibat membatasi atau mengganggu impor yang menambah pembatasan yang sudah ada. Prosedur-prosedur perizinan nonotomatis harus, dari segi ruang lingkup dan masa berlakunya, sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan dengan prosedur tersebut, dan harus tidak lebih membebankan secara administratif daripada yang sungguh-sungguh perlu untuk mengatur tindakan yang bersangkutan. Article 3.3 tentang Perizinan Impor Non-otomatis, bahwa dalam hal persyaratan perizinan untuk maksud selain pelaksanaan pembatasan kuantitatif, anggota yang bersangkutan harus menerbitkan informasi yang cukup agar anggota lain dan para pedagang dapat mengetahui dasar pemberitahuan dan/atau penjatahan izin yang bersangkutan. Istilah sengketa internasional (international disputes) mencakup bukan saja sengketa-sengketa antar negara-negara, melainkan juga kasus-kasus lain yang berada dalam lingkup pengaturan internasional, yakni beberapa kategori sengketa tertentu antara negara di satu pihak dan individu-individu, badan badan korporasi serta badan-badan bukan negara di pihak lain (Szasz, 1970: 23). Suatu sengketa perdagangan internasional dapat muncul ketika suatu negara membuat sebuah regulasi atau peraturan yang bertentangan dengan ketentuan WTO. Article XIII menentukan kapan suatu negara peserta dapat menggunakan prosedur penyelesaian sengketa GATT dan WTO guna melindungi kepentingannya. Prosedur ini baru dimungkinkan apabila suatu negara peserta beranggapan bahwa keuntungan yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak langsung dari 80
28 perjanjian ini hilang atau terganggu, atau pencapaian salah satu tujuan dari perjanjian ini terganggu sebagai akibat: a. Kegagalan negara peserta lain untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya menurut perjanjian ini. b. Penerapan suatu tindakan oleh suatu negara-negara peserta lain apakah itu bertentangan dengan ketentuan perjanjian ini atau; c. Adanya situasi-situasi lain. Sistem penyelesaian sengketa yang diatur dalam WTO merupakan hasil dari perundingan Uruguay Round dan merupakan penyempurnaan dari sitem GATT WTO memiliki sistem untuk menyelesaikan sengketa di antara anggotanya yang dalam banyak hal terbukti unik dan berhasil.sistem ini terdapat dalam kesepakatan WTO mengenai Penyelesaian Sengketa/ WTO Dispute Settlement Understanding (DSU). Sejak WTO didirikan pada tahun 1995, lebih dari 380 sengketa telah dibawa ke forum Penyelesaian Sengketa WTO. Beberapa dari sengketa tersebut sangat bernuansa politis dan mendapatkan perhatian yang luas dari media. Perlu ditambahkan bahwa anggota negara-negara berkembang telah sering menggunakan sistem ini dalam menyelesaikan sengketa dengan mereka, dan seringkali juga mereka menang dalam sengketa dengan anggota negaranegara maju (Peter Van den Bossche dkk, 2010: 98). Menurut Article 3.7 DSU, sasaran dan tujuan utama sistem penyelesaian sengketa WTO adalah menjamin penyelesaian yang positif bagi suatu sengketa. Sistem ini sangat cenderung menyelesaikan sengketa melalui konsultasi dari pada proses pengadilan. Hanya jika proses konsultasi gagal, suatu sengketa dibawa ke panel penyelesaian sengketa WTO. Berdasarkan Article 3.2 DSU, sistem penyelesaian sengketa WTO bertujuan untuk memelihara hak dan kewajiban negara anggotanya berdasarkan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam lampiran-lampiran Persetujuan WTO (Selanjutnya disebut covered agreements), dan sekaligus menjelaskan ketentuan-ketentuan tersebut. Penjelasan-penjelasan ini harus dilakukan sejalan dengan kaidah-kaidah penafsiran hukum internasional publik, yang oleh Appellate Body di interpretasikan mengacu kepada kaidah penafsiran yang terdapat dalam Article 31 dan 32 Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian Internasional (atau Vienna Convention on the Law of Treaties). DSU 81
29 mengingatkan, pada Article 3.2 dan 19.2, terhadap tindakan Judical Activism dengan menegaskan dua kali bahwa penyelesaian sengketa WTO tidak boleh menambahkan atau menghapus hak dan kewajiban anggota-anggota WTO. Sistem penyelesaian sengketa WTO merupakan elemen pokok dalam menjamin keamanan dan kepastian terhadap perdagangan multilateral. Mekanisme penyelesaian persengketaan WTO sangat penting dalam rangka penerapan disiplin dan fungsi WTO secara efektif. Dibawah WTO hanya ada satu badan penyelesaian sengketa (DSB=Dispute Settlement Body) mengatur persengketaan yang timbul dari persetujuan yang terdapat pada Final Act. Jadi, dalam hal ini DSB mempunyai otoritas untuk menentukan Panels Adopts dan Appellate Reports, mempertahankan pengawasan dalam penerapan peraturan dan rekomendasi dan member kuasa dalam aturan pembalasan dalam hal-hal nonimplementation of Recommendations (Syahmin AK, 2007: 252). Berikut ini adalah tahap-tahap dalam penyelesaian sengketa dagang di dalam WTO: a. Konsultasi (Concultations) Konsultasi adalah tahap pertama penyelesaian sengketa dan biasanya berlangsung dalam bentuk yang informal atau negosiasi formal, seperti melalui saluran diplomatik (Article 4 DSU). Konsultasi merupakan proses yang mengikat bagi para pihak karena dimuat dalam DSU dan menjadi peoses pertama sebelum para pihak mengajukan panel untuk menyelesaiakan sengketa. Menurut Article 4 DSU, konsultasi bersifat rahasia dan harus dibuat secara tertulis dan mengemukakan alasan timbulnya sengketa dan dasar hukum untuk pengajuan permohonan untuk konsultasi. Berdasarkan DSU, terdapat suatu perkembangan baru mengenai penyelesaian sengketa melalui konsultasi (Huala Adolf, 2005: 97). Pertama, DSU memperkenalkan prinsip automatisasi (the principle of automaticity), prinsip ini berarti prosedur penyelesaian sengketa akan terus berlanjut secara otomatis atas dasar permintaan dari salah satu pihak yang bersengketa. Bahkan, sesuai dengan Article 3 paragraph 3 DSU, pihak negara termohon dapat menghadapi kemungkinan pembentukan suatu badan panel setelah 10 (sepuluh) hari sejak permintaan konsultasi terhadapnya. Kedua, DSU menetapkan jangka waktu 10 (sepuluh) hari bagi termohon untuk memberi jawaban kepada pemohon untuk 82
30 menyelenggarakan konsultasi. Apabila termohon menerima tawaran untuk berkonsultasi tersebut, maka mereka disyaratkan untuk menyelesaikan sengketanya secara bilateral dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hati) hari sejak permohonan untuk berkonsultasi diterima. Jadi waktu yang digunakan untuk berkonsultasi sejak permohonan konsultasi adalah 60 (enam puluh) hari. Menurut Article 4 paragraph 8 DSU, dalam keadaan darurat misalnya objek permasalahannya adalah barang yang dapat rusak, maka jangka waktunya dapat diperpendek. Dalam keadaan demikian itu, konsultasi dapat dilakukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari sejak permohonan konsultasi dilayangkan. Apabila gagal, para pihak dapat meminta pembentukan panel dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari. Kemudian menurut Article 4 paragraph 11 DSU, pihak ketiga yang mempunyai kepentingan kepentingan di dalam suatu penyelesaian sengketa dapat meminta untuk turut serta dalam konsultasi apabila disetujui oleh kedua belah pihak yaitu pemohon dan termohon. b. Jasa Baik, Konsiliasi dan Mediasi Jasa Baik dan mediasi merupakan metode penyelesaian dengan mana negara ketiga memberikan bantuan untuk menyelesaikan sengketa dengan damai (Chapter II The Hague Conference 1907). Dalam beberapa kasus, pihak yang memberikan jasa baik dapat pula berupa individu atau organisasi internasional. Dalam jasa baik, pihak ketiga menawarkan jasa untuk mempertemukan pihakpihak yang bersengketa dan mengusulkan dilakukannya penyelesaian, tanpa pihak ketiga itu sendiri secara nyata ikut serta dalam negosiasi-negosiasi sengketa tersebut. Negara penyelenggara jasa baik tidak aktif dalam penyelesaian sengketa (Article X Pact of Bogota). Dalam kasus media, sebaliknya, pihak yang melakukan mediasi memiliki suatu peran aktif dan ikut serta dalam negosiasi serta mengarahkan pihak-pihak yang bersengketa sedemikian rupa sehingga jalan penyelesaian dapat tercapai, meskipun usulan-usulan yang diajukannya tidak mengikat para pihak. Istilah konsiliasi (conciliation) dalam arti luas mencakup berbagai ragam metode dimana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan bantuan negara lain atau badan penyelidik dan komite penasihat yang tidak berpihak (Dewa Gede Sudika Mangku, 2012: 154). Dalam pegertian sempit, konsiliasi berarti 83
31 penuerahan suatu sengketa kepada sebuah komisi atau komite untuk membuat laporan beserta usul-usul kepada para pihak bagi penyelesaian sengketa tersebut, usulan tersebut tidak bersifat mengikat. c. Pembentukan Panel (Establishment of Panels) Pembentukan panel merupakan upaya terakhir dalam penyelesaian sengketa di WTO apabila proses secara bilateral tidak berhasil. Permohonan pembentukan panel dibuat secara tertulis serta harus mencantumkan pokok-pokok perkara dan pengajuan permohonan untuk pembentukan panel (Article 4 paragraph (4)). Dalam praktik, permohonan tersebut juga mencantumkan upaya-upaya yang telah dilakukan dalam proses konsultasi, menunjukkan upaya atau tindakan suatu negara yang dipersengketakan dan memberikan ringkasan mengenai dasar hukum permohonannya (UNCTAD, 1994: 209). Menurut Article 8 DSU, panel terdiri dari 3 (tiga) orang yang memiliki latar belakang dan pengalaman menyelesaikan sengketa dagang dalam GATT atau yang pernah mengajar hukum perdagangan internasional. Mereka adalah orangorang netral yang dipilih bukan dari negara-negara yang sedang bersengketa. Mereka bisa pejabat (biasanya diplomat) atau orang-orang sipil.sekretariat WTO memiliki nama-nama yang sesuai dengan kriteria tersebut dan dapat mengusulkan nama-nama untuk menyelesaikan suatu sengketa. Apabila para pihak setuju, komposisi panel dapat ditambahi menjadi 5 (lima). Permohonan ini harus dimintakan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari sejak pembentukan panel (Article 8 paragraph (5) DSU). Ketika para pihak tidak sepakat dengan komposisi atau susunan panel dalam waktu 20 (dua puluh) hari sejak pembentukannya maka masalah penetapan panel tersebut akan dilakukan oleh Dirjen WTO. d. Banding (Appelleate Body) Para pihak yang bersengketa dapat mengajukan banding terhadap putusan panel. DSU mensyaratkan bahwa banding dibatasi untuk memperjelas interpretasi hukum atas suatu ketentuan atau Pasal dalam perjanjian WTO. Banding tidak dapat diajukan untuk mengubah bukti-bukti yang ada atau bukti baru yang muncul kemudian (Dian Triansjah Djani, 2002: 47). Proses pemeriksaan banding tidak boleh lebih dari 60 (enam puluh) hari, sejak para pihak memberitahukan secara formal keinginannya untuk banding (Article 17 paragraph (5)). Namun, apabila 84
32 Badan Banding (Appellate Body) tidak dapat memenuhi batas waktu tersebut maka ia dapat memperpanjang hingga maksimum 90 (sembilan puluh) hari. Untuk itu, ia harus memberitahukannya kepada DSB secara tertulis beserta alasan perpanjangan kapan laporan akan diberikan. Tiga orang dari tujuh orang anggota tetap Badan Banding akan meneliti setiap adanya permohonan banding. Putusan yang dikeluarkannya dapat berupa penundaan atau perubahan atas suatu putusan panel. Hasil proses pemeriksaan dilaporkan dan disahkan oleh DSB. Namun laporan dan pengesahan keputusan badan banding ini masih tetap dapat dicegah apabila para pihak sepakat untuk tidak dilakukannya pengesahan tersebut (Huala Adolf, 2004: 149). Ada pengecualian mengenai penyelesaian sengketa di WTO bagi negara berkembang, misalnya dalam tingkat banding (Gabrielle Marceau, 2010: 6): preferences to imports of goods from developing countries and Article VI of the GATS contains similar flexibilities for trade in services. The recent Appellate Body report on EC Generalized System of Preferences (GSP) seems to suggest that such preferences can be conditioned upon the respect of development-related requirements, if applied objectively and fairly. Arguably, access to energy is an inherent part of development and GSP schemes could arguably include energy-related criteria. e. Pelaksanaan putusan (implementasi) dan rekomendasi Tahap akhir pada proses ini adalah pelaksanaan putusan atau rekomendasi (Huala Adolf, 2004: 149). Article 21 paragraph (3) DSU menyebutkan bahwa hasil tersebut diserahkan langsung kepada para pihak dan mereka diberi waktu 30 (tiga puluh) hari untuk melaksanakan putusan dan rekomendasi tersebut. Untuk memastikan agar pihak (yang kalah) melaksanakan rekomendasi atau putusan DSB, Article 21 paragraph (6) menegaskan bahwa DSB akan terus mengawasi pelaksanaan rekomendasi atau putusannya. Article tersebut juga merupakan ketentuan Article baru yang tidak dikenal sebelumnya dalam GATT. Ketentuan pasal tersebut mencerminkan pula bahwa putusan atau rekomendasi DSB sifatnya mengikat. Dalam Article 22 paragraph (1), apabila para pihak khususnya pihak yang terkena kewajiban untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, ternyata gagal melaksanakannya maka pihak lainnya dapat meminta wewenang 85
33 DSB untuk menangguhkan konsesi atau kewajiban-kewajiban lainnya terhadap pihak lainnya itu. Tindakan kompensasi (ganti rugi) atau penangguhan konsensi atau kewajiban lainnya tersebut sifatnya adalah sementara. Apabila penangguhan ini dimintakan, pihak lainnya dapat menegosiasikannya dalam jangka waktu yang pantas. Namun, apabila dalam jangka waktu yang pantas ini tidak tercapai kesepakatan maka salah satu pihak dapat meminta arbitrase untuk menyelesaikannya. Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada pihak ketiga yang netral serta putusan yang dikeluarkan bersifat final dan mengikat (N. Rosyidah Rakhmawati, 2006: 154). Arbitrase akan dilakukan oleh anggotaanggota panel yang menangani sengketa tersebut. Atau, apabila tidak tercapai kesepakatan, arbitrator akan ditunjuk oleh Dirjen WTO. Arbitrator bertugas selama 60 hari sejak berakhirnya jangka waktu yang layak tersebut (Article 22 paragraph (6)). Tugas utama arbitrator adalah menentukan apakah penangguhan konsensi atau kewajiban-kewajiban salah satu pihak tersebut pantas atau sebanding dengan kerugian yang dideritanya (Article 22 paragraph (7)). Telah dipaparkan diatas mengenai mekanisme penyelesaian sengketa perdagangan di WTO namun, yang perlu diteliti lebih lanjut adalah, apakah keberatan yang diajukan Thailand atas kebijakan larangan impor beras saat musim panen dalam ketentuan impor dan ekspor Indonesia dapat dikatakan sebagai suatu sengketa. Setiap sengketa adalah konflik, tetapi tidak semua konflik dapat dikategorikan sebagai sengketa (dispute) (Much. Ichwan, 2014: 2). Sengketa internasional adalah sengketa yang bukan secara eksklusif merupakan urusan dalam negeri suatu negara. Sengketa internasional juga tidak hanya eksklusif menyangkut hubungan antar negara saja mengongat subjek-subjek hukum internasional saat ini sudah mengalami perluasan sedemikian rupa melibatkan banyak aktor non negara. Friedmann membagi sengketa menjadi dua yaitu, sengketa hukum (legal dispute) dan sengketa politik (political dispute). Friedmann mengemukakan bahwa karakteristik sengketa hukum adalah sebagai berikut: a. Mampu diselesaikan oleh penerapan prnsip-prinsip tertentu dan aturan-aturan hukum internasional. 86
34 b. Pengaruh kepentingan vital negara. c. Pelaksanaan hukum internasional yang ada cukup untuk meningkatkan keputusan keadilan untuk hubungan internasional yang progresif. d. Sengketa terkait dengan hak hukum dengan klaim untuk mengubah aturan yang ada. Sebagai negara anggota WTO, Thailand memiliki hak untuk menyampaikan keberatannya atas kebijakan perdagangan yang dikeluarkan oleh Indonesia, namun dalam hal ini pengajuan keberatan Thailand tidak disertai dengan klaim untuk mengubah aturan yang ada, dalam hal ini Thailand tidak menuntut Indonesia untuk menghapus kebijakan larangan impor beras saat musim panen dan atau mengubah aturan yang ada dalam ketentuan impor dan ekspor beras Indonesia. Thailand hanya mengajukan pertanyaan lewat mekanisme Questions and Replies dalam sidang ILA WTO, sampai saat ini belum ada upaya dari Thailand untuk mempersengketakan masalah ini, menyelesaikannya dengan mediasi, jasa baik, konsiliasi, melalui badan arbitrase maupun pelaporan ke DSB WTO. Oleh karena itu kejadian antara Indonesia dengan Thailand ini belum dapat d Permasalahan larangan impor beras saat musim panen yang diangkat oleh Thailand memang tidak memberikan tekanan pada Indonesia untuk mengubah aturan mengenai impor dan ekspor beras yang telah ada, namun perlu diingat bahwa Indonesia sebagai anggota WTO memiliki kewajiban untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Thailand. Sejak diajukan pada 30 April 2009, sampai sekarang belum ada tanggapan atau jawaban dari Indonesia yang dinotifikasi ke WTO. Anggota WTO yang tidak melakukan notifikasi tidak serta merta dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap ILA, meskipun demikian suatu saat Indonesia sebagai anggota WTO akan dipaksa untuk memenuhinya. Salah satu bentuk paksaannya adalah dengan mengirimkan daftar pertanyaan mengenai kebijakan impor yang tidak dinotifikasikan ke WTO. Walaupun tidak ada aturan yang secara langsung mengatur mengenai jangka waktu negara harus memberikan jawaban atas pertanyaan negara lain mengenai kebijakan perdagangannya, suatu anggota WTO yang mengajukan pertanyaan terhadap notifikasi anggota WTO lainnya dapat dianggap sebagai indikasi bahwa 87
35 anggota yang harus menjawab pertanyaan tersebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi terhadap anggota penanya. Anggota yang melakukan notifikasi tidak dapat dipersengketakan karena notifikasi yang disampaikan ke WTO. Sengketa mengenai Kebijakan Impor Licensing dapat terjadi apabila aplikasi atau nullification impairment ks berikut ini adalah keterangan ringkas untuk memeriksa dengan cepat jenis peraturan atau kebijakan yang perlu dinotifikasin sesuai ILA WTO. Kolom pertama adalah pasal-pasal dalam agreement yang menjadi dasar hukum dari notifikasi; kolom kedua adalah jenis ketentan yang perlu dinotifikasi; kolom ketiga adalah periodisasi kapan harus melakukan notifikasi; kolom keempat adaah format notifikasi; kolom kelima adalah pihak yang melakukan notifikasi; serta kolom keenan adalah alamat tujuan notifikasi. Gambar 2.1 Matriks Kewajiban Notifikasi Agreement on Import Licensing Procedures WTO Sumber : Direktorat Kerja Sama Multilateral, Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 2001 Meskipun demikian, pedoman dasar yang harus dipenuhi bagi penyampaian notifikasi adalah pengutamaan transparansi tanpa harus mengorbankan 88
36 kepentingan untuk mengamankan kebijakan impor itu sendiri. Hal yang perlu diingat adalah bahwa isi bahan notifikasi harus diperiksa dan disetujui oleh instansi atau otoritas yang menerbitkan perizinan, sehingga maksud dan transparansi itu tercapai tanpa membahayakan kebijakan. Thailand merupakan salah satu negara produsen beras yang besar di ASEAN, bahkan beras Thailand diekspor pula ke Indonesia sejumlah ton atau US$ 42,6 juta pada Tahun MEA akan segera berlaku pada akhir 2015, sebagai negara anggota ASEAN, Thailand memiliki kepentingan untuk melindungi dan mengembangkan akses pasar salah satu komoditas unggulannya yaitu beras. Aturan larangan impor beras saat musim panen yang diberlakukan oleh Indonesia tentunya akan menghambat akses pasar Thailand sehingga muncul alasan yang nullification impairment mendorong Thailand untuk mempersengketakan masalah ini ke tingkat yang lebih serius baik melalui hubungan bilateral antar negara terlebih dahulu hingga naik ke tingkat DSB WTO. Indonesia harus mencegah melebarnya konflik mengenai larangan impor beras saat musim panen ini, salah satu cara yang dapat dilakukan Indonesia adalah dengan menjawab secara tertulis pertanyaan yang diajukan Thailand melalui mekanisme Questions and Replies ILA WTO pada 30 April 2009 ke Committee on Import Licensing WTO serta mencabut peraturan-peraturan terkait yang sudah tidak sesuai, seperti SK Departemen Perdagangan No. 1718/M- DAG/XII/2005 mengenai tata niaga impor beras untuk melindungi petani pada saat musim panen. Pasal 3 ayat (4) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M- DAG/PER/2/2012 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras menyebutkan bahwa larangan impor beras saat musim panen di Indonesia dapat dikecualikan, dalam hal ini belum ada keterangan yang jelas mengenai pengecualian-pengecualian seperti apa yang dimaksud disini, ketidak jelasan aturan seperti ini berpotensi menimbulkan permasalahan baru di masa mendatang sehingga sebaiknya hal ini juga diperjelas dalam notifikasi Indonesia di WTO. Dengan menjawab pertanyaan Thailand dan melakukan notifikasi mengenai ketentuan impor dan ekspor beras Indonesia yang didalamnya terkandung aturan 89
37 mengenai larangan impor beras saat musim panen, Indonesia akan meminimalisir melebarnya konflik yang mengganggu kestabilan perekonomian Indonesia terutama di bidang perdagangan beras. 3. Dampak Ketentuan Impor dan Ekspor Beras Indonesia Terhadap Akses Pasar Perdagangan Beras Indonesia di ASEAN dalam Rangka Mewujudkan ASEAN Economic Community Sejarah mencatatkan pernah terjadinya krisis pangan yang melanda dunia, fenomena ini tercatat terjadi pada tahun Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya harga pangan yang pada akhirnya menimbulkan masalah kelaparan yang ekstrem khususnya di negara berkembang yang angka kemiskinannya cukup tinggi. Berdasarkan data dari climate justice menyebutkan bahwa negara-negara berkembang yang terkena dampak krisis pangan adalah 21 negara di kawasan Afrika, 9 negara di kawasan Asia, 4 negara di kawasan Amerika Latin, dan 2 negara di kawasan Eropa yaitu Maldova dan Rusia ( Ada dua hal utama yang mempengaruhi meningkatnya harga pangan, yaitu pertama, terjadinya penurunan produksi akibat dari perubahan iklim; kedua, terjadinya liberalisasi di sektor pertanian khususnya komoditas pangan (Rachmi Hertanti, 2012: 60). Pangan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Kebutuhan yang besar akan pangan menyebabkan sektor pangan menjadi salah satu sektor yang sangat strategis sehingga mendorong industri untuk mengambil alih pemenuhan kebutuhan pangan dunia guna meraih keuntungan bisnis yang berlimpah. Pasar agribisnis yang besar dan menawarkan keuntungan berlipat pada akhirnya memunculkan ide mengenai perluasan pasar dengan menghilangkan berbagai hambatan perdagangan. Kesempatan besar datang pada sektor industri agribisnis ketika lahirnya Agreemnent on Agriculture (AoA) dan disepakatinya General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) sebagai embrio dari terbentuknya World Trade Organization (WTO) pada tahun Indonesia sendiri telah meratifikai perjanjian pembentukan WTO melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement on Establishing The World 90
38 Trade Organization. Dengan disahkannya Undang-Undang ini, Indonesia resmi mengikatkan diri dan tunduk pada aturan WTO dalam melaksanakan hubungan perdagangan internasional, termasuk di dalamnya aturan mengenai perdagangan bebas. Liberalisasi perdagangan yang menghilangkan berbagai hambatan perdagangan pada akhirnya menyerahkan produk pertanian pada mekanisme pasar dimana pemenuhan kebutuhan pangan dari produk pertanian tidak lagi dapat ditentukan oleh negara, melainkan ditentukan oleh faktor supply and demand. Dalam perdagangan bebas, harga ditentukan oleh pasar, pasar yang di maksud di sini adalah para spekulan, importir, dan industri. Sehingga pihak yang di untungkan dengan adanya liberalisasi perdagangan ini adalah para eksportir, importir, spekulan, dan industri pertanian, sedangkan petani kecil dan petani tradisional terancam mengalami kebangkrutan dan kemiskinan akibat liberalisasi. Sektor pangan di ASEAN menjadi isu yang sangat sensitif karena seluruh negara anggota ASEAN dalam AEC telah menyepakati komitmen Pasar Tunggal dan Basis Produksi ASEAN yang di dalamnya terkandung kesepakatan mengenai tariff measures. Di samping itu, hal ini didasari pula atas fakta bahwa mayoritas negara-negara anggota ASEAN merupakan negara agraris, yaitu Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Myanmar. Dalam AEC Blueprint disebutkan bahwa pelaksanaan Pasar Tunggal dan Basis Produksi ASEAN yang telah dibuat aturannya dalam ATIGA dan CEPT diberlakukan pula terhadap dua komponen penting dalam sektor pangan di ASEAN yaitu The Priority Integration Sectors dan Food, Agriculture, and Foresty, yaitu sebagai berikut: a. The Priority Integration Sectors (PIS) PIS merupakan sektor yang dinilai sangat strategis dalam perekonomian seluruh negara anggota ASEAN dan memperoleh prioritas untuk diintegrasikan. Aturan mengenai PIS diatur tersendiri dalam satu framework agreement yaitu The ASEAN Framework Agreement For The Integration of Priority Sectors. Sektor yang termasuk dalam PIS adalah sebagai berikut (Article 2 Paragraph 1.a. The ASEAN Framework Agreement For The Integration of Priority Sectors): 1) Agro based products 2) Air Travel 91
39 3) Automotives 4) e-asean 5) Electronics 6) Fisheries 7) Healthcare 8) Rubber-based products 9) Textile and apparels 10) Tourism 11) Wood based products 12) Logictics (Annex XII The ASEAN Framework Agreement for The Integration of Priority Sectors, ditambahkan pada tahun 2006) Beras termasuk dalam sektor Agrobased Product. Article 21 PIS Framework mengamanatkan integrasi seluruh negara anggota ASEAN. Amanat ini kemudian dituangkan dalam ASEAN Sectoral Integration Protocol for Agro-Based Products sebagai salah satu annex dalam PIS Framework. Langkah-langkah pengintegrasian agro-based products disusun dalam Appendix I Protocol mengenai Roadmap for Integration of Agro-Based Products Sector yang berisi mengenai: 1) Tujuan Pengintegrasian; a) Memperlancar integrasi kawasan melalui liberalisasi dan tindakan fasilitasi dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi; b) Meningkatkan peran sektor swasta. 2) Langkah-langkah; Dalam rangka meningkatkan perdagangan dan investasi intra-asean dilakukan hal sebagai berikut: a) Tariff Elimination b) Non-Tariff Measures (NTMs) c) Custom Cooperation d) Effective Inplementation of CEPT Scheme e) Improvement of Rules of Origin f) Standards and Conformance g) Future Investment 92
40 h) Improvement of Logistics Services ATIGA telah mengatur secara khusus mengenai penurunan tarif untuk sektorsektor yang masuk dalam PIS Framework dalam Article 19 tentang Reduction or Elimination of Import Duties ayat 1 huruf a angka (i) yang menyebutkan bahwa bea impor untuk seluruh produk yang masuk dalam PIS adalah 0% kecuali untuk produk-produk yang masuk dalam negative list dalam the ASEAN Framework Agreement for the Integration of Priority Sectors beserta perubahannya. Agro-based Products yang masuk dalam negative list adalah seluruh produk yang disebutkan dalam Appendix II dari ASEAN Sectoral Integration Protocol for Agro-Based Products. Agro-based Products Indonesia yang masuk dalam negative list adalah sebagai berikut: Gambar 3.1 Indonesia Negative List of Agro-based Products NO AHTN DESCRIPTION Seed Popcorn Other Maize (corn) Flour Suitable for sowing Other Of soya beans Other Crude Oil Fraction of unrefined maize (corn) oil Other 93
41 Roasted nuts Peanut butter Other Cashew Other Sumber: Appendix II Negative List of ASEAN Member Countries for Agro-based Products Sector (ASEAN Sectoral Integration Protocol for Agro-Based Productswww.aseansec.org). Produk beras Indonesia termasuk dalam kategori HSL dalam CEPT Agreement. List of Highly Sensitive Products Indonesia tercantum dalam annex 1 dari Protocol on the Special Arrangement for Sensitive and Highly Sensitive Products, sebagai berikut: Gambar 3.2 Indonesia Highly Sensitive List (HSL) Products No. HS Code Description Rice in the husk (paddy or rough) Husked (brown) rice Semi-milled of wholly milled rice wether or not polished of glazed Broken rice Sumber: Annex I ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) Berdasarkan ketentuan Article 2 paragraph (5) protokol tentang sensitive list products dan highly sensitive products, Indonesia, Malaysia, dan Filipina sebagai negara anggota ASEAN yang memiliki produk HSL wajib untuk melaksanakan tahapan penurunan tarif bagi produk HSL. Ketentuan tersebut berbunyi: beginning on 1 January 2001 but no later than 1 January 2005 and shall complete the 94
42 Di sisi lain, produk HSL memiliki kekhususan apabila dibandingkan dengan produk IL dan SL. Kekhusussan tersebut nampak dalam Annex 3 number 3 protokol tentang IL dan SL yang menyebutkan: 20%, Malaysia: 20%, dan Filipina: to be determine within the CEPT Dengan adanya liberalisasi perdagangan dan kewajiban pelaksanaan jadwal komitmen ATIGA yang akan menyebabkan masuknya produk beras secara bebas, negara anggota ASEAN tentunya akan mengupayakan food security negaranya masing-masing. Atas alasan tersebut maka dalam pelaksanaan jadwal komitmen ATIGA diperbolehkan adanya. yang dimaksud di sini adalah melepaskan kewajiban negara terhadap komitmen yang telah dibuat dalam ATIGA terkait dengan produk beras dan gula. Hal ini diatur dalam Article 1 parapraph 1 Protocol to Provide Special Consideration For Sugar and Rice, yaitu: exceptional cases, request for waiver from the obligations imposed under the CEPT Agreement and its related Protocols, Namun, yang per beras dan gula hanya boleh dilakukan saat: 1) Situasi darurat yang menimbulkan kerugian yang serius/serious injury (Article 6 CEPT Agreement); 2) Tindakan pengamanan/safeguard (Article 7 Protokol tentang SL dan HSL) 3) Article 1 Protokol tentang Temporary Exclusion List (TEL) dimana penundaan terhadap pelaksanaan transfer produk TEL ke IL karena akan menimbulkan masalah akibat hal-hal yang tidak berada dalam ruang lingkup Article 6 CEPT Agreement. Hal tersebut dinyatakan dalam Article 1 ayat 2 Protokol tentang Beras dan Gula: 95
43 (Emergency Measures) of the CEPT Agreement, Article VII (2) of the S/HS Products Protocol and the TEL Pro Terlepas dari pengecualian di atas, komitmen Indonesia dalam ATIGA sampai saat ini berjalan sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan. Hal ini dapat dilihat dari Annex 2 ATIGA mengenai Tariffs Under The ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) milik Indonesia yang digambarkan dalam tabel berikut: Gambar 3.3 Jadwal Komitmen Pengurangan Tarif Produk HSL Indonesia No. AHTN Description Schedule Tarif (%) Rice in the husk (paddy or rough) Husked (brown) rice Semimilled of wholly milled rice, wether or not polished of glazed Sch-E (Original HSL) Sch-E (Original HSL) Sch-E (Original HSL) Broken rice Sch-E (Original HSL)
44 Sumber: ATIGA Agreement, Annex 2 b. The ASEAN Integrated Food Secutiry (AIFS) Pada ASEAN Summit ke 14 Tahun 2009, negara-negara anggota ASEAN mengadopsi AIFS Framework dan The Stategic Plan of Action on ASEAN Food Security. Kedua kesepakatan ini berisi program penguatan ketahanan pangan regional dan cadangan pangan regional beserta mekanisme pelaksanaannya. Prioritas ruang lingkup AIFS terdiri dari 5 (lima) komoditas pangan yaitu, beras, kedelai, gula, singkong, dan jagung. AIFS memiliki tujuan untuk memastikan food security dalam jangka panjang di kawasan ASEAN. Food security ini dicapai melalui peningkatan produksi pangan, mengurangi kehilangan atau kerusakan panen, mempromosikan pasar dan perdagangan yang kondusif, memastikan kestabilan pangan, mempromosikan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap komoditas pertanian, dan menjalankan regional food emergency relief arrangements (C. Peter Timmer, 2010: 1). Strategi pelaksanaan AIFS tergambar dalam 4 (empat) komponen penting yang terdapat dalam Strategic Plan of Action on Food Security (SPA-FS), sebagai berikut: Gambar 3.4 Komponen AIFS dan Strategi Rencana Aksi Food Security ASEAN Komponen Strategi Program Aktifitas Food Security and Emergency/Shortage Relief Strenghten Food Security Arrangements Strenghten national food security programmes Promote diversification of food sources and scale up community based food security initiatives. Support capacity building to strenghten national food security programmes, including management of national food stockpiles, planning of potential land use for agriculture, 97
45 and technical support for preparing national food balance sheet. Promote exchange of information and experiences among ASEAN Member States through networking and regional consultations in formulation and implementation of national food security programmes activities. Enhance food assistance programmes for the targeted vulnerable groups. Develop regional food security reserve initiatives and mechanism Reinforce the ASEAN Food Security Reserve Board (AFSRB) and its secretariat in compilation, management and dissemination of statistics and information on food and food security as a basis for effective planning of food production and trade within the region. Support the establishment of a long-term mechanism for ASEAN Plus Three emergency rice reserve. 98
46 Conduct study on the posibility of establishing an ASEAN Fund for Food Security. Sustainable food trade development Integrated food security information system Promote conductive food market and trade Strenghten Integrated Food Security Information Systems to Effectively Forecast, Plan and Monitor Supplies and Utilization for Basic Food Commodities Promote initiatives supporting sustainable food trade Reinforce the ASEAN Food Security Information System (AFSIS) project towards long Utilization for Basic Food Commodities Full compliance and implementation of the ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) provisions with respect to trade in food products. Review and analyse international/region al trade information, including prices, quantities traded, distribution and logistics. Conduct a food security assessment and identify underlying causes of food insecurity. Collect and periodically update and share information on supply and demand/utulization for main food commodities such as rice, corn, soybean, cassava and sugar, and maintain food security related baseline data for each Member State in a regional database. Develop an early warning, monitoring and 99
47 Agricultural Innovation Promote Sustainable Food Production Improve agricultural infrastructure development to secure production system,minimize post-harvest losses, and reduce transaction cost. surveillance information system as a basis for sound development planning and policy decision to adress food security, including sharp rise of food prices. Promote the development of supply chain system in Member States through establishing demonstrated models and sharing knowledge. Conduct fesibility study on development of potential land and irrigation in the Member States for food production. Encourage initiatives /supporting systems for greater access to agricultural inputs, particulary crops seeds, animal breeds, agrochemical and irrigation facilities for food production in potential areas of the region. Efficient utilization resource potential of for Promote the optimisation of utilisation of land and other natural resources for food production. 100
48 agricultural development. Promote public and private sector partnership to promote efficient and sustainable food production, harvest practices & loss reduction, marketing and trade. Promote asoption and implementation of Good Agricultural Practices (GAP) in the ASEAN region. Promote agricultural innovation including research and development on improving and agricultural production. Promote closer collaboration to accelerate transfer and 101 Support intiatives to minimise postharvest losses of main food products. Promote research to improve agricultural productivity and production. Promote alternative approaches and practices for sustainable food security. Collaborate to Rice Action Plan. Promote the adoption of new technologies. Promote collaborative research and technology transfer in agricultural products. Strenghten reional
49 adoption of new technologies. networks of agricultural research and development. Support initiatives to promote greater access to land and water resource, agricultural inputs and capital, particulary among small-scale farmers to support food production. Strengthen development of agricultural cooperatives and farmers organisations to enhance their resilience. Encourage Greater Investment in Food and Agro-based Industry to Enhance Food Security Identify and address Emerging Issues Related Promote food and agro-based industry development Encourage public investment in food and agro-based industry. Stregthen capacity building for adoption of international standards for food safety and quality assurance and certification systems. Review status and trend of bio-fuels development in the region and potential impacts on food security. Develop collaboration with other Sectoral Bodies, which handle the 102
50 to Security Food Address the development of bio-fuels with consideration on food security Address impacts of climate change on food security development of biofuels. Conduct study to identify possible impacts of climate change on food security. Identify measures to mitigate/adapt to impacts of climate change on food security. Develop collaboration with other Sectoral Bodies, which address impact mtigation and adaptation of climate change. Sumber: AIFS & SPA-AIFS, Appendix 1 & 2 (ASEAN Secretariat, Jakarta, 2015) AIFS memiliki keterkaitan yang erat dengan akses pasar karena AIFS sendiri dapat dikatakan sebagai mekanisme kontrol pasokan pangan global. Beras tentunya menjadi salah satu sorotan utama dalam AIFS mengingat 5 (lima) dari negara anggota ASEAN merupakan produsen beras terbesar di dunia yaitu, Indonesia, Filipina, Thailand, Myanmar, dan Vietnam. Kesepakatan ini dapat menjadi mekanisme kontrol penyeimbang suply and demand pasokan beras global dan kawasan ASEAN. Faktor utama AIFS adalah peningkatan produksi, dengan meningkatnya produksi tentu akan menciptakan kestabilan harga pasar. Namun yang perlu dipikirkan lebih lanjut khususnya oleh Indonesia adalah mekanisme peningkatan produksi beras guna memenuhi supply and demand pasar itu sendiri. Permintaan Indonesia akan beras sangatlah tinggi karena beras merupakan makan pokok di Indonesia. Dalam ASEAN Economic Community Factbook disebutkan bahwa produksi pangan yang berkelanjutan dapat dicapai melalui agricultural infrastructure development, mininusing post-harvest losses, reducing transaction cost, maximizing agricultural resources potential, promoting agricultural innovation including research and development on agricultural 103
51 productivity, and accelerating transfer and adaption of dimana semua ini hanya bisa dilakukan dengan memberikan ruang sebesar-besarnya pada agro-based industry dan penciptaan pasar yang efektif (ASEAN Secretariat, 2011: 37). Setiap negara anggota ASEAN tentu memiliki strategi dan kebijakan tersendiri guna menghadapi era pasar bebas ASEAN dan mewujudkan ASEAN Economic Community. Indonesia sendiri telah memiliki dasar hukum yang kuat untuk mengatur perdagangan barang baik ekspor maupun impor. Dalam hal hak negara untuk mengatur tata niaga beras, apabila ditarik garis lurus ke tingkat prinsip berbangsa dan bernegara, Indonesia telah menuangkan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) bahwa negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini kemudian air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya Perekonomian Indonesia bersifat terbuka, namun ada rambu-rambu yang harus ditaati, dibutuhkan peran serta pemerintah untuk ikut serta dalam perekonomian negara lain seperti kegiatan ekspor-impor. Sebagai konsekuensinya, perekonomian nasional harus peka terhadap perkembangan yang terjadi pada perekonomian dunia, terutama terhadap gejolak yang ditimbulkan oleh perekonomian negara mitra kerja dan berpengaruh terhadap hubungan ekonomi, perdagangan, dan moneter antar negara. Perdagangan dunia ditandai dengan disepakatinya GATT pada tahun 1947 pada pertimbangan bahwa hubungan antar negara di bidang perdagangan dan ekonomi harus dijalankan dengan sasaran untuk meningkatkan standar hidup, menjamin lapangan pekerjaan dan meningkatkan penghasilan dan pemenuhan kebutuhan, pemanfaat sumber-sumber daya dunia sepenuhnya, serta memperluas produksi serta pertukaran barang, bukan untuk merubah konsepsial-konsepsial ekonomi pribadi negara masingmasing, akan tetapi penyesuaian-penyesuain pranata hukum yang perlu dilakukan (Nursalam Sianipar, 2001: 8). 104
52 Selain itu, pada konsep perdagangan dunia mengakui adanya hak memproteksi industri dan komoditi riskan didalam negeri. Pada putaran Uruguay menghasilkan kesepakatan perjanjian yang memunculkan kecendrungan proteksionis dari negara maju, kurangnya kepastian mengenai tatanan perdagangan yang ada, yang dikhawatirkan akan dapat menimbulkan perang dagang dimasa-masa yang akan datang jika tatanan hubungan perdagangan antar negara tidak diatur kembali. Hal ini, menunjukkan bahwa oragnisasi perdagangan dunia GATT/WTO memberikan hak kepada masing-masing negara untuk memenuhi pranata hukum dalam negerinya sendiri dan mengatur tatanan komoditi-komoditi vitalnya sendiri menurut landasan-landasan negara masing, namun secara transparan dan terbuka kepada negara-negara dunia dan tetap di bawah pengawasan organisasi perdagangan dunia GATT/WTO (Hatta, 2006: 213). Proteksi Indonesia terhadap komoditas beras diwujudkan dengan Permendag Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendag Nomor 06/M- DAG/PER/2/2012. Permendag ini mengatur hal-hal penting lain yang berkaitan dengan kegiatan impor dan ekspor beras diantaranya: bentuk-bentuk keperluan impor beras, jenis beras yang dapat diimpor, syarat impor beras. a. Bentuk-bentuk Keperluan Impor Beras Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 12/M- DAG/PER/4/2008 Tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras menentukan bentuk-bentuk keperluan impor beras sebagai berikut: 1) Impor beras untuk keperluan stabilisasi harga, penanggulangan keadaan darurat, masyarakat miskin dan kerawanan pangan adalah pengadaan beras dari luar negeri sebagai cadangan yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan oleh Pemerintah. Beras yang dapat diimpor untuk keperluan stabilisasi harga, penanggulangan keadaan darurat, masyarakat miskin dan kerawanan pangan adalah beras (pos tarif/hs ) dengan ketentuan tingkat kepecahan paling tinggi 25% (dua puluh lima persen). Beras untuk keperluan tersebut hanya dapat diimpor diluar masa 1 (satu) bulan sebelum panen raya, masa panen raya dan 2 (dua) bulan setelah panen raya, dapat dikecualikan oleh 105
53 Menteri hanya berdasarkan hasil kesepakatan Tim Koordinasi, dimana penentuan masa panen raya ditentukan oleh Menteri Pertanian. 2) Impor beras untuk keperluan tertentu adalah pengadaan beras dari luar negeri terkait dengan faktor kesehatan/dietary, konsumsi khusus, atau segmen tertentu dan pengadaan benih serta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku/penolong industri yang tidak atau belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari sumber dalam negeri. 3) Impor beras untuk keperluan tertentu untuk memenuhi kebutuhan industri sebagai bahan baku/penolong dilarang diperjualbelikan atau dipindahtangankan. Impor beras untuk memenuhi kebutuhan industri biasanya dilakukan oleh pelaku usaha dibidang konsumsi (makanan) atau industri olahan makanan, impor beras sebagai bahan baku/penolong industrinya. Impor beras yang dilakukan oleh pelaku usaha ini, biasanya perusahaan berbentuk franchise (waralaba) dibidang konsumsi. Pelaku usaha yang malakukan impor beras untuk keperluan industrinya disebut dengan Importir Produsen Beras (IP-Beras) adalah industri pengolahan produk dari beras yang diakui dan disetujui oleh Direktur Jendral untuk mengimpor beras tertentu yang dibutuhkan atau diperlukan semata-mata bahan baku/penolong proses produksi industrinya. 4) Impor beras hibah adalah pengadaan beras dari luar negeri oleh lembaga/organisasi sosial atau badan pemerintah untuk diberikan kepada masyarakat di Indonesia dan tidak untuk diperdagangkan. Beras yang dapat diimpor yang bersumber dari hibah adalah beras lain (pos tarif/hs dan ) dengan tingkat kepecahan paling tinggi 25 % (dua puluh lima persen). Terkait beras yang di impor oleh Pemerintah diperuntukkan bukan untuk diperdagangkan secara bebas di pasaran, melainkan beras tersebut di peruntukkan sebagai Cadangan Beras Pemerintah sebagai Stok Penyangga (Buffer Stock) untuk Ketahanan Pangan Nasional dan Stabilisasi Harga Beras dipasaran. Impor ini hanya dilakukan manakala pemenuhan stok cadangan beras nasional dari dalam negeri tidak terpenuhi dari target yang ditetapkan, namun selama target pemenuhan stok dapat 106
54 terpenuhi dari penyerapan produksi beras dalam negeri maka impor tidak dilakukan. b. Jenis Beras yang Dapat Diimpor Gambar 3.5 Jenis Beras yang Dapat Diimpor No. Pos Tarif/HS Uraian Barang Keterangan 10/06 Beras Beras berkulit (padi atau gabah) Gabah dikuliti; Pecah kulit Beras Thai Hom Mali Lain-lain Beras setengah digiling atau digiling seluruhnya, disosoh, dikilapkan maupun tidak --Beras wangi Beras Thai Hom Mali Lain-lain Beras setengah matang Beras jetan pulut; Lain-lain Tingkat kepatahan paling tinggi 5%, antara lain: Beras Japonica, Basmati Beras pecah Tingkat kepecahan/kepecahan 100% Menir, tepung kasar dan palet serealia -Menir dan tepung kasar Dari serealia lainnya; Dari beras Sumber: Lampiran II Permendag No.12/M-DAG/PER/4/2008 Berdasarkan tabel diatas yang menjadi catatan ialah: 1) Impor beras untuk keperluan tertentu untuk kesehatan dan konsumsi khusus, beras yang dapat diimpor adalah nomor urut 1, 2, 3, 4, 5, 6,
55 2) Impor beras untuk keperluan stabilisasi harga, penanggulangan keadaan darurat, masyarakat miskin dan kerawanan pangan, beras yang dapat diimpor adalah nomor urut 8, pelaksana impornya oleh perum BULOG. 3) Impor beras untuk keperluan hibah beras yang dapat diimpor adalah nomor urut 5 dan 8 dengan tingkat kepecahan paling tinggi 25%. 4) Impor beras untuk memenuhi kebutuhan industri sebagai bahan baku/penolong, beras yang dapat diimpor adalah nomor urut 5, 9, dan 10. c. Syarat Impor Beras Impor beras hanya dilakukan manakala target pemenuhan stok beras nasional dari dalam negeri tidak terpenuhi, namun selama target pemenuhan stok dapat terpenuhi dari penyerapan produksi beras dalam negeri maka impor tidak dilakukan. Syarat boleh atau tidaknya beras luar diimpor ke Indonesia secara umum harus memenuhi standar kualitas layak konsumsi yang ditetapkan oleh aturan suatu negara importir atau ketentuan- ketentuan khusus yang menjadi persyaratan utama kesepakatan jual beli antara negara penjual dengan pembeli. Impor beras yang dilakukan oleh importir harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing importir dengan keperluan impor masing-masing telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008. Impor beras untuk keperluan stabilisasi harga, penanggulangan keadaan darurat, masyarakat miskin dan kerawanan pangan dilaksanakan oleh Perusahan Umum BULOG (Pasal 1 Permendag Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008). Untuk dapat ditetapkan sebagai importir Perusahaan Umum BULOG harus mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri dengan melampirkan: 1) fotokopi Angka Pengenal Importir Umum (API-U); 2) fotokopi Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK) Beras; 3) Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan 4) Fotokopi Nomor Identitas Kepabeaan (NIK). Perusahaan Umum BULOG dapat melakukan impor beras setelah mendapat persetujuan impor dari Menteri berdasarkan hasil kesepakatan Tim Koordinasi. Persetujuan impor tersebut harus memuat informasi paling sedikit mengenai: 1) jenis dan volume beras; 108
56 2) tingkat kepecahan; 3) negara asal; 4) pelabuhan tujuan; dan 5) masa berlakunya persetujuan impor. Impor beras untuk keperluan tertentu terkait dengan kesehatan/dietary dan konsumsi/segmen tertentu serta untuk pengadaan benih hanya dapat dilakukan oleh importir yang telah mendapat persetujuan impor dari Direktur Jendral atas nama Menteri. Untuk mendapatkan persetujuan impor tersebut, importir harus mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri, dalam hal ini Direktur Jendral dengan melampirkan: 1) fotokopi Angka Pengenal Importir Umum (API-U) atau Angka Pengenal Importir Terbatas (API-T); 2) fotokopi Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK) Beras; 3) fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 4) fotokopi Nomor Indentitas Kepabeaan (NIK); 5) rekomendasi dari Direktur Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Depatermen Pertanian; dan 6) surat pernyataan dari bank devisa yang menyatakan bahwa permohonan memiliki kemampuan finansial yang memenuhi syarat perbankan untuk mendukung penerbitan L/C. Atas permohonan tertulis sebagaimana yang dimaksud diatas Direktur Jendral dapat menerbitkan persetujuan atau penolakan permohonan paling lambat 5 (lima) hari kerja terhitung sejak permohonan diterima. Pengakuan sebagai IP-Beras merupakan persetujuan impor menyangkut: 1) jenis dan volume beras; 2) tingkat kepecahan; 3) pelabuhan tujuan; 4) nama dan alamat importir; dan 5) masa berlaku persetujuan impor. Impor beras yang bersumber dari hibah hanya dapat dilakukan oleh lembaga/organisasi sosial atau badan pemerintah, tanpa harus memiliki Angka Pengenal Importir (API) dan Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK). 109
57 Lembaga/organisasi sosial atau badan pemerintah dapat melakukan impor setelah mendapat persetujuan impor dari Direktur Jendral atas nama Menteri. Untuk memperoleh persetujuan impor lembaga/organisasi sosial atau badan pemerintah mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri, dalam hal ini Direktur Jendral dengan melampirkan dokumen sebagai berikut: 1) sertifikat hibah (gift certificate) dari instansi/lembaga di negara pemberi hibah yang telah diketahui oleh Perwakilan Republik Indonesia yang berada di negara pemberi hibah yang bersangkutan; 2) rencana pendistribusian yang diketahui oleh Menteri Sosial atau pejabat berwenang yang ditunjuk; dan 3) rekomendasi yang memuat keterangan mengenai jumlah dan kualitas beras hibah serta pelabuhan tujuan dari Direktur Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Depatermen Pertnanian untuk keperluan selain penanggulangan bencana; atau 4) rekomendasi yang memuat keterangan mengenai jumlah dan kualitas beras hibah, serta pelabuhan tujuan dari badan/ instansi yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk penanggulangan bencana; Atas permohonan tertulis Direktur Jendral menerbitkan persetujuan atau penolakan permohonan persetujuan impor beras paling lambat 5 lima hari kerja terhitung sejak permohonan diterima. Usaha perlindungan komoditas beras Indonesia tidak hanya terfokus pada pengaturan ketat impor saja melainkan juga kejelasan aturan mengenai ekspor beras serta persyaratan dan birokrasi ekspor beras yang tidak berbelit-belit namun tetap terjamin kemananannya. Hal ini diwujudkan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras, Permendag ini mengatur mengenai jenis beras yang dapat diekspor, bentuk ekspor, dan syarat ekspor beras sebagai berikut: a. Jenis Beras yang Dapat Diekspor Gambar 3.6 Jenis Beras Tertentu yang Dapat Diekspor No. Pos Tarif/HS Uraian Barang Keterangan Beras 110
58 Beras berkulit (padi atau gabah) Hanya untuk keperluan benih Beras setengah digiling atau digiling seluruhnya, disosoh, dikilapkan maupun tidak --Beras wangi Lain-lain - Beras wangi dengan tingkat kepecahan paling tinggi 5% Beras ketan pulut; - Beras wangi yang diproduksi melalui sistem pertanian organik dengan tingkat kepecahan 0% sampai dengan 25% Lain-lain - Non beras wangi dengan tingkat kepecahan paling tinggi 5% - Non beras wangi yang diproduksi melalui sistem pertanian organik dengan tingkat kepecahan 0% sampai dengan 25% Sumber: Lampiran III Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M- DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras b. Bentuk Ekspor Beras 111
59 Ekspor beras jenis tertentu yang terdapat dalam Lampiran III Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras hanya dapat dilakukan apabila persediaan beras dalam negeri melebihi kebutuhan dan dapat diekspor oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau perusahaan swasta hanya jika telah mendapat persetujuan ekspor dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk dengan memperhatikan rekomendasi dari Menteri Pertanian atau pejabat yang ditunjuk, yaitu: 1) Beras Berkulit dalam hal ini padi atau gabah khusus untuk keperluan benih dengan Pos Tarif/HS , Beras Wangi bukan Thai Hom Mali dengan Pos Tarif/HS , dan jenis beras lain-lain dengan Pos Tarif/HS , yang tidak diproduksi melalui sistem pertanian organik dengan tingkat kepecahan paling tinggi 5%. 2) Beras ketan pulut dengan Pos Tarif/HS ) Beras yang diproduksi melalui sistem pertanian organik dengan Pos Tarif/HS dan Pos Tarif/HS dengan tingkat kepecahan 0% sampai dengan 25%. Setiap perusahaan dapat melakukan ekspor beras sepanjang tahun untuk jenis beras pada poin 1) dan 2), sedangkan Beras Berkulit dalam hal ini padi atau gabah khusus untuk keperluan benih dengan Pos Tarif/HS , Beras Wangi bukan Thai Hom Mali dengan Pos Tarif/HS , dan jenis beras lainlain dengan Pos Tarif/HS , yang tidak diproduksi melalui sistem pertanian organik dengan tingkat kepecahan di atas 5% sampai dengan 25% hanya dapat dilakukan oleh Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (BULOG). c. Syarat Ekspor Beras Berdasarkan Pasal 10 ayat (5) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M- DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras perusahaan pengekspor beras harus mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri melalui Direktur Jenderal dengan melampirkan: 1) Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP); 112
60 2) Tanda Daftar Perusahaan (TDP); 3) Sertifikat Organik yang diperoleh dari Lembaga Sertifikasi Organik di dalam negeri atau di luar negeri yang telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi atau Otoritas Kompeten di dalam negeri atau di luar negeri, untuk ekspor beras sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b; 4) Rekomendasi dari Menteri Pertanian atau Pejabat yang ditunjuk, untuk ekspor beras sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan ayat (3); 5) Rekomendasi dari Tim Koordinasi, untuk ekspor beras sebagaimana dimaksud pada ayat (2) butir b; dan 6) Pernyataan pesanan (Confirmation Order) dari calon pembeli di luar negeri. Dalam Pasal 10 ayat (9) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M- DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras, disebutkan bahwa persetujuan atau penolakan atas permohonan ekspor diterbitkan paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak diterimanya permohonan secara lengkap. Ketatnya aturan impor beras dan diperjelas aturan ekspor beras serta disederhanakannya syarat dan prosedur administratif impor turut berperan penting dalam usaha perluasan akses pasar perdagangan beras Indonesia. Berdasarkan Pasal 15 ayat (1) dan (2) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M- DAG/PER/8/2009 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras, perusahaan yang telah diterbitkan izin impor atau ekspornya wajib menyampaikan laporan pelaksanaan impor dan ekspor beras baik terealisasi maupun tidak terealisasi secara tertulis kepada Menteri dengan tembusan disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Peranian paling lambat pada tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya. Ketentuan Impor dan Ekspor Beras telah memberi ruang gerak bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan evaluasi terhadap pertanian dalam negeri, sehingga dapat dibenahi dan dapat meningkatkan produksi dalam negeri. Produksi padi/beras cenderung meningkat selama dengan rata-rata 2,85%/tahun. Sumber pertumbuhan produksi adalah pertumbuhan luas panen rata-rata 1,99%/tahun dan pertumbuhan produktivitas rata-rata 0,86%/tahun. Ini berarti 113
61 bahwa sumber utama pertumbuhan produksi adalah pertumbuhan luas panen dengan sumbangan 70%, sementara pertumbuhan produktivitas hanya 30%. Produksi sempat turun pada tahun 2011 karena turunnya luas panen dan produktivitas, namun pada Tahun 2012 produksi meningkat lagi yaitu. Pada tahun 2012, produksi padi (GKG) mencapai ton (setara dengan ton beras), yang bersumber dari luas panen ha dan produktivitas kg GKG/ha (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2013: 91). Ketentuan Impor dan Ekspor Beras turut mempengaruhi perdagangan beras Indonesia dalam lingkup antar negara ASEAN. Berdasarkan hasil analisa data ekspor-impor komoditi pertanian , beras termasuk komoditas ekspor sekaligus impor utama Indonesia ke negara-negara ASEAN, sebagai berikut: Gambar 3.7 Nilai Ekspor Rata-rata Komoditi Pertanian Utama Indonesia ke Internal ASEAN Tahun (000 USD) 114
62 115
63 perpustakaan.uns.ac.id Sumber: World Bank diolah Setditjen PPHP Gambar 3.8 Nilai Impor Rata-rata Komoditi Pertanian Utama Indonesia ke Internal ASEAN Tahun (000 USD) 116
64 Sumber: World Bank diolah Setditjen PPHP Berdasarkan Gambar 3.7 diatas, komoditi pertanian utama terbesar yang diekspor Indonesia ke pasar ASEAN didominasi oleh produk perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, karet alam, cassava yang masing-masing memiliki nilai ekspor lebih dari USD 100 juta. Komoditi Indonesia yang menguasai market share di ASEAN tanpa adanya negara pesaing adalah crude oil (HS ) dengan 117
65 market share sebesar 86,12%; cocoa beans, whole or broken, raw (HS ) dengan market share 93,64%; Palm kernel or babassu oil and fraction (HS ) dengan market share 89,91%. Berdasar Gambar 3.8 dapat disimpulkan bahwa beras dengan nomor HS merupakan komoditi impor terbesar Indonesia dari internal ASEAN dengan nilai rata-rata sebesar 306,6 milyar USD. Untuk komoditi tersebut, Indonesia adalah negara pengimpor terbesar ketiga dari internal ASEAN dibawah Filipina sebesar 707,7 milyar USD dan Malaysia sebesar 341,9 milyar USD. Setelah beras, komoditi lainnya yang juga merupakan komoditi impor terbesar yang diimpor Indonesia dari internal ASEAN adalah gula mentah (HS ) yang memiliki nilai rata-rata impor sebesar 264,2 milyar USD dan gula (HS ) sebesar 153,5 milyar USD. Produk buah lainnya/durian (HS ) yang memiliki nilai impor rata-rata yang juga besar yaitu sebesar 87,6 milyar USD. Komoditi impor pertanian yang menempati urutan kelima terbesar yang diimpor Indonesia dari internal ASEAN adalah produk susu dengan nomor HS yang memiliki nilai rata-rata impor sebesar 77,1 milyar USD. Indonesia adalah negara pengimpor terbesar dari internal ASEAN (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian, 2014: 20). Impor terbesar Indonesia di internal ASEAN ternyata justru adalah komoditas beras. Walaupun kebijakan perdagangan beras dalam ketentuan eksporimpor beras Indonesia telah membantu kenaikan produksi beras dalam negeri, nyatanya Indonesia masih terus mengimpor beras dengan nilai tinggi dari negaranegara ASEAN. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena ini diantaranya adalah: a. Alih Fungsi Lahan Sawah Alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan juga dapat diartikan sebagai perubahan untuk penggunaan lain disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk 118
66 yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan data BPS Tahun 2013, rumah tangga yang menanam padi (di tahun) 2003 (sejumlah) 14,2 juta rumah tangga, sementara (tahun) 2013 turun menjadi 14,1 juta. Usaha tanaman kedelai menurun tahun 2003 ada satu juta, pada tahun 2013 hanya 700 ribu. Untuk usaha tanaman jagung juga terjadi penurunan (dari) tahun ,4 juta, pada tahun 2013 menjadi 5,1 juta ( 20 mei ). Terkait dengan masalah alih fungsi sawah, ketika jumlah rumah tangga petani menurun, di sisi lain jumlah perusahaan pertanian bermunculan. Dengan demikian asumsi bahwa perusahaan-perusahaan pertanian yang mengambil alih lahan-lahan individu petani, sehingga para petani beralih profesi menjadi buruh tani di perusahaan-perusahaan pertanian. Menurut data Kementerian Pertanian, saat ini konversi lahan pertanian mencapai 140 ribu hektar per tahun untuk berbagai kepentingan ( Alih fungsi lahan pertanian terutama adalah untuk pembangunan infrastruktur, perkebunan skala besar, pariwisata dan perumahan. Selain berdampak pada berkurangnya produksi pangan, alih fungsi lahan pertanian ini juga berdampak pada hilangnya sumber penghidupan petani, meningkatnya konflik agraria, kriminalisasi dan pelanggaran HAM/HAP terhadap petani. Sejak tahun , telah terjadi 618 konflik agraria di seluruh wilayah Republik Indonesia, dengan areal konflik seluas ,49 hektar, dimana ada lebih dari KK harus menghadapi ketidakadilan agraria dan konflik berkepanjangan (Konsorsium Pembaruan Agraria, 2013) ( b. Tingkat Kerusakan Jaringan Irigasi Tingkat kerusakan irigasi di Indonesia cukup tinggi. Pada Tahun 2013 kerusakan di tingkat provinsi mencapai 45%, di tingkat kabupaten sebesar 37%, dan 23,3% di tingkat nasional. Kerusakan tersebut disebabkan oleh musim (hujan/banjir dan kemarau/kering), kerusakan DAS (gundul), minimnya kawasan 119
67 hutan, sedimentasi, pencemaran air, terbatasnya atau tidak adanya anggaran (APBD) untuk perbaikan, kesalahan desai dan buruknya bangunan irigasi, kerusakan tanggul (jebol), kerusakan pintu air, dan kekurang pedulian pemerintah untuk melaukan perbaikan (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian, 2014: 104). c. Perubahan Iklim Perubahan iklim memberikan dampak pada kenaikan suhu dan perubahan curah hujan sehingga membawa dampak negatif bagi sektor pertanian. Musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan menjadi lebih pendek dengan intensitas hujan yang tinggi menyebabkan ketersediaan air menjadi berkurang dan sulit diprediksi (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian, 2014: 105).. Lebih lanjut perubahan iklim yang tidak menentu ini menyebabkan meningkatnya bencana hidrometologi (seperti banjir, tanah lonsor, dan puting beliung). Sementara itu, program mitigasi dan adaptasi yang ada saat ini masih kurang efektif, terbukti dengan masih banyaknya bencana hidrometologi di Indonesia (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian, 2014: 105). Berbagai penyebab di atas berdampak pada petani atau produsen pertanian tidak mampu merespon permintaan pasar akibat permasalahan buruknya infrastruktur, lemahnya kelembagaan perani, dan buruknya kelembagaan pasar. Petani memiliki kecenderungan untuk bekerja secara individualistik sehingga aktivitas penciptaan nilai tambah dan pengolahan produk primer di pedesaan tidak berkembang. Sebagian besar padi diproduksi oleh petani yang berstatus sebagai penggarap dengan luas garapan lahan yang kecil (< 0,50 ha) (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian, 2014: 106). Bagi petani kecil, peranan sawah sebagai sumber pendapatan kurang penting, sehingga mereka menjadikan pertanian sebagai usaha sambilan. Karena sebagai usaha sambilan, maka intensitas pemeliharaan menjadi kurang, dan mereka banyak bekerja di luar usaha tani. Ketentuan impor dan ekspor Indonesia yang didalamnya memuat pengaturan larangan impor beras saat musim panen di Indonesia telah berhasil memberikan 120
68 ruang gerak bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap pertanian dalam negeri sehingga dapat dibenahi dan dapat meningkatkan produksi dalam negeri, serta mengurangi jumlah impor beras Indonesia. Hal ini telah dibuktikan dengan tabel ekspor impor yang telah dijelaskan sebelumnya serta meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP). NTP merupakan indikator proxy kesejahteraan petani yang diperoleh dari perbandingan antara Indeks Harga yang diterima petani (It) dengan Indeks harga yang dibayar petani (Ib). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Selatan cenderung meningkat dari kurun waktu Tahun , yaitu secara berturut-turut senilai 104,52; 108,2; 114,23; 121,12; 124,63; 124,17 ( Namun memperluas akses pasar perdagangan beras Indonesia di ASEAN tidak cukup dengan ketentuan impor dan ekspor beras, hal ini dikarenakan berbagai macam permasalahan mulai dari alih fungsi lahan sawah, tingkat kerusakan jaringan irigasi, dan perubahan iklim yang sangat erat kaitannnya dengan produktivitas beras. ASEAN Economic Community akan segera berlaku pada akhir Tahun 2015, sudah seharusnya masalah pertanian ini menjadi perhatian pemerintah. Sektor pertanian sebagai sektor andalan Indonesia dalam kegiatan ekspor-impor harus mampu menjadi tonggak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, jangan sampai Indonesia justru hanya menjadi sasaran pasar ekspor produk pertanian dan pangan (terutama beras sebagai makanan pokok di Indonesia) yang besar bagi negaranegara pesaing seperti Thailand, Vietnam, dan Malayasia. Oleh karena perlu adanya kebijakan/aturan/program yang berfokus pada perbaikan infrastruktur pertanian dan mendongkrak produktivitas padi nasional secara signifikan. Perlu adanya usaha dari pemerintah untuk mengoptimalkan perluasan akses pasar beras Indonesia di ASEAN guna mendukung Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Beras sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendag Nomor 06/M- DAG/PER/2/2012, yang telah memperketat syarat, waktu, dan jumlah impor beras serta mempermudah dengan memperjelas prosedur ekspor beras. Salah satu usaha yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia adalah dengan mengeluarkan dan 121
69 menerapkan secara sungguh-sungguh kebijakan/aturan/program yang berfokus pada perbaikan infrastruktur pertanian dan mendongkrak produktivitas padi nasional secara signifikan. Apabila produksi padi meningkat, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan nasional akan beras secara mandiri (swasembada beras) bahkan dapat mencapai surplus sehingga dapat memperluas ekspor beras ke negara-negara ASEAN dalam rangka mewujudkan ASEAN Economic Community. 122
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan perdagangan antar negara yang dikenal dengan perdagangan internasional mengalami perkembangan yang pesat dari waktu ke waktu. Perdagangan internasional merupakan
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2002 TENTANG TINDAKAN PENGAMANAN INDUSTRI DALAM NEGERI DARI AKIBAT LONJAKAN IMPOR
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2002 TENTANG TINDAKAN PENGAMANAN INDUSTRI DALAM NEGERI DARI AKIBAT LONJAKAN IMPOR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pelaksanaan komitmen
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 133, 2002 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2002 TENTANG TINDAKAN PENGAMANAN INDUSTRI DALAM
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG TINDAKAN ANTIDUMPING, TINDAKAN IMBALAN, DAN TINDAKAN PENGAMANAN PERDAGANGAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG TINDAKAN ANTIDUMPING, TINDAKAN IMBALAN, DAN TINDAKAN PENGAMANAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN TENTANG TINDAKAN ANTIDUMPING, TINDAKAN IMBALAN, DAN TINDAKAN PENGAMANAN PERDAGANGAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2011 2010 TENTANG TINDAKAN ANTIDUMPING, TINDAKAN IMBALAN, DAN TINDAKAN PENGAMANAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 23 Undang-undang
PP 34/1996, BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Copyright (C) 2000 BPHN PP 34/1996, BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN *34762 Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 34 TAHUN 1996 (34/1996) Tanggal: 4 JUNI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN, Menimbang : bahwa berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 23 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.208,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/M-DAG/PER/2/201235 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/M-DAG/PER/4/2008
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
ABSTRAK. Kata kunci : WTO (World Trade Organization), Kebijakan Pertanian Indonesia, Kemudahan akses pasar, Liberalisasi, Rezim internasional.
ABSTRAK Indonesia telah menjalankan kesepakan WTO lewat implementasi kebijakan pertanian dalam negeri. Implementasi kebijakan tersebut tertuang dalam deregulasi (penyesuaian kebijakan) yang diterbitkan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.901, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Impor. Garam. anganperaturan MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58/M-DAG/PER/9/2012 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM DENGAN
PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN DUNIA (GATT/WTO)
BAHAN KULIAH PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN DUNIA (GATT/WTO) Prof. Sanwani Nasution, SH Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM SEKOLAH PASCASARJANA USU MEDAN 2009 PRINSIP-PRINSIP
BAB I PENDAHULUAN. negara (Krugman dan Obstfeld, 2009). Hampir seluruh negara di dunia melakukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perekonomian negara-negara di dunia saat ini terkait satu sama lain melalui perdagangan barang dan jasa, transfer keuangan dan investasi antar negara (Krugman dan Obstfeld,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia
KEPPRES 111/1998, PENGESAHAN PERSETUJUAN ANGKUTAN UDARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK UKRAINA
Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 111/1998, PENGESAHAN PERSETUJUAN ANGKUTAN UDARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK UKRAINA *47919 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES)
PERSETUJUAN ANGKUTAN UDARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH UKRAINA PASAL I PENGERTIAN-PENGERTIAN
PERSETUJUAN ANGKUTAN UDARA ANTARA PEMERINTAH DAN PEMERINTAH UKRAINA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Ukraina di dalam Persetujuan ini disebut sebagai Para Pihak pada Persetujuan; Sebagai peserta
2016, No Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Neg
No.501, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Impor. Jagung. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/M-DAG/PER/3/20166/M-DAG/PER/2/2012 TENTANG KETENTUAN IMPOR JAGUNG DENGAN
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 9/MPP/Kep/1/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR BERAS
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 9/MPP/Kep/1/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR BERAS MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa
PERLINDUNGAN INDUSTRI DALAM NEGERI MELALUI TINDAKAN SAFEGUARD WORLD TRADE ORGANIZATION
PERLINDUNGAN INDUSTRI DALAM NEGERI MELALUI TINDAKAN SAFEGUARD WORLD TRADE ORGANIZATION Oleh : A.A. Istri Indraswari I Ketut Sudiarta Bagian Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT Protection
I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Oleh karena itu, kebijakan
hambatan sehingga setiap komoditi dapat memiliki kesempatan bersaing yang sama. Pemberian akses pasar untuk produk-produk susu merupakan konsekuensi l
BAB V 5.1 Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Dalam kesepakatan AoA, syarat hegemoni yang merupakan hubungan timbal balik antara tiga aspek seperti form of state, social force, dan world order, seperti dikatakan
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan perekonomian yang sangat pesat telah. mengarah kepada terbentuknya ekonomi global. Ekonomi global mulai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan perekonomian yang sangat pesat telah mengarah kepada terbentuknya ekonomi global. Ekonomi global mulai terbentuk ditandai dengan berbagai peristiwa
Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention)
Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention) BAB 1 PRINSIP UMUM 1.1. Standar Definisi, Standar, dan Standar
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekayaan budaya dan etnis bangsa
KEBIJAKAN EKONOMI DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
KEBIJAKAN EKONOMI DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Kebijakan ekonomi internasional dalam arti luas semua kegiatan ekonomi pemerintah suatu negara yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi komposisi,
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85/MPP/Kep/2/2003
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85/MPP/Kep/2/2003 TENTANG TATA CARA DAN PERYSARATAN PERMOHONAN PENYELIDIKAN ATAS PENGAMANAN INDUSTRI DALAM NEGERI DARI AKIBAT LONJAKAN
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai salah satu negara yang telah menjadi anggota World Trade
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sebagai salah satu negara yang telah menjadi anggota World Trade Organization (WTO), Indonesia terikat untuk mematuhi ketentuan-ketentuan perdagangan internasional
2 d. bahwa hasil pembahasan Tim Pertimbangan Kepentingan Nasional telah memutuskan untuk mengenakan Tindakan Pengamanan Perdagangan berupa kuota terha
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.579, 2014 KEMENDAG. Kuota. Pengamanan. Impor Tepung Gandum. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23/M-DAG/PER/4/2014 TENTANG KETENTUAN PENGENAAN KUOTA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan ratifikasi Indonesia pada perjanjian-perjanjian internasional, perkembangan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa sejalan dengan ratifikasi Indonesia pada
I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan orientasi yaitu dari orientasi peningkatan produksi ke orientasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
2 diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1011, 2015 KEMENDAG. Ban. Impor. Ketentuan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45/M-DAG/PER/6/2015 TENTANG KETENTUAN IMPOR BAN DENGAN
2016, No Peraturan Menteri Perdagangan tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian; Mengingat: 1. Undang-Undang
No. 21, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Ekspor. Produk. Pemurnian. Hasil Pengolahan. Pertambangan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 119/M-DAG/PER/12/2015
2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Ketahanan Pangan dan Gizi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan
No.60, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEJAHTERAAN. Pangan. Gizi. Ketahanan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5680) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1104, 2014 KEMENDAG. Verifikasi. Penelusuran Teknis. Perdagangan. Ketentuan Umum. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46/M-DAG/PER/8/2014 TENTANG
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR KACA LEMBARAN
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR KACA LEMBARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa paten merupakan kekayaan intelektual yang diberikan
VIII. KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Dalam periode September Oktober 2009 terbukti telah terjadi
329 VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan 1. Dalam periode September 1994 - Oktober 2009 terbukti telah terjadi banjir impor bagi komoditas beras, jagung dan kedele di Indonesia, dengan tingkat tekanan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Surat Keterangan Asal. Barang. Indonesia. Tata Cara Ketentuan. Pencabutan.
No.528, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Surat Keterangan Asal. Barang. Indonesia. Tata Cara Ketentuan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/M-DAG/PER/3/2015
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber daya pertanian seperti lahan, varietas serta iklim yang
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PERLAKUAN KEPABEANAN, PERPAJAKAN, DAN CUKAI SERTA PENGAWASAN ATAS PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI SERTA BERADA DI KAWASAN
2 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik I
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2012, 2014 KEMENDAG. Ekspor. Industri. Kehutanan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97/M-DAG/PER/12/2014 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PRODUK
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : Menimbang bahwa untuk melaksanakan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.946, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Impor. Produk Hortikultura. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/M-DAG/PER/9/2012 TENTANG PERUBAHAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 116, Tamba
No. 22, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Impor. Garam. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 125/M-DAG/PER/12/2015 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM DENGAN RAHMAT
2018, No Negara Republik Indonesia Nomor 3564); 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tah
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.205, 2018 KEMENDAG. Impor Perkakas Tangan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2018 TENTANG KETENTUAN IMPOR PERKAKAS TANGAN DENGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa paten merupakan kekayaan intelektual yang diberikan
2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1948 tentang Mencabut Peraturan Dewan Pertahanan Negara Nomor 14 dan Menetapkan Peraturan T
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1212, 2015 KEMENDAG. Impor. Nitrocellulose. Ketentuan. Pencabutan PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62/M-DAG/PER/8/2015 TENTANG KETENTUAN IMPOR
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
, No.1551 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perdag
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1551 2015 KEMENDAG. Impor. Tekstil. Produk Tekstil. Ketentuan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85/M-DAG/PER/10/2015 TENTANG KETENTUAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 243, 2000 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4045) UNDANG-UNDANG REPUBLIK
2 Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564); 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lem
No.1091, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Tekstil. Produk Tekstil Batik. Motif Batik. Impor. Ketentuan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53/M-DAG/PER/7/2015
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan ratifikasi Indonesia pada perjanjian-perjanjian
Key Words: Indications, Practice of Dumping, Laws
INDIKASI PRAKTIK DUMPING MENURUT KETENTUAN PERUNDANGAN INDONESIA oleh Putu Edgar Tanaya Ida Ayu Sukihana Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT Indications Dumping Practices Legislation
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan dan dilaksanakan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensikonvensi
HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Dumping dan Anti Dumping
BAHAN KULIAH HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Dumping dan Anti Dumping Prof. Sanwani Nasution, SH Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM SEKOLAH PASCASARJANA USU MEDAN 2009 DUMPING
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.105, 2015 SUMBER DAYA ALAM. Perkebunan. Kelapa Sawit. Dana. Penghimpunan. Penggunaan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 527/MPP/Kep/9/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA
KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 527/MPP/Kep/9/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 T a h u n Tentang Desain Industri
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 T a h u n 2 000 Tentang Desain Industri DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.
RESUME. Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan. biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari
RESUME Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari penandatanganan Perjanjian Pertanian (Agreement on Agriculture/AoA) oleh pemerintahan Indonesia yaitu
2017, No Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 T
No.1568, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAG. Impor Tembakau. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2017 TENTANG KETENTUAN IMPOR TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB I. PENDAHULUAN A.
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman pangan yang sampai saat ini dianggap sebagai komoditi terpenting dan strategis bagi perekonomian adalah padi, karena selain merupakan tanaman pokok bagi sebagian
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/5/2012
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/5/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 11/M- DAG/PER/3/2010 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU, CAKRAM
