HUBUNGAN VOLUME DAN PH SALIVA PADA LANSIA
|
|
|
- Johan Chandra
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 HUBUNGAN VOLUME DAN PH SALIVA PADA LANSIA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Gigi OLEH : FITRI APRILYA MARASABESSY J FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
2 HALAMAN PENGESAHAN Judul : Hubungan Volume dan ph Saliva pada Lansia Oleh : Fitri Aprilya Marasabessy/ J Telah Diperiksa dan Disahkan Pada Tanggal 26 November 2013 Oleh : Pembimbing drg. Zohra Nazaruddin NIP Mengetahui, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Prof. Mansjur Nasir, DDS, Ph.D NIP
3 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim.. Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena hanyalah dengan berkat dan rahmat-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Hubungan Volume dan ph Saliva Pada Lansia. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Selain itu skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan peneliti lainnya untuk menambah pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran gigi masyarakat. Dalam penulisan skripsi ini terdapat banyak hambatan yang penulis hadapi, namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai belah pihak sehingga dengan segala keterbatasan penulis, akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan walau masih jauh dari sebuah kesempurnaan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Prof. drg. H. Mansjur Nasir, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. 2. drg. Zohra Nazaruddin, selaku dosen pembimbing penulisan skripsi ini yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan arahan, petunjuk, serta bimbingan bagi penulis selama penyusunan skripsi ini.
4 3. drg. Eri Hendra Jubhari, M.Kes, sebagai penasehat akademik yang senantiasa memberikan dukungan, nasihat, motivasi dan semangat, sehingga penulis berhasil menyelesaikan jenjang perkuliahan dengan baik 4. Ayahandaku Abdullah Marasabessy dan Ibundaku Fauziah Marasabessy, Serta keempat saudara ku yang sangat kusayangi, Taufan Hakim Marasabessy, Afifa Chara Marasabessy, Sitti Rahima Marasabessy dan Syaiful Ahmad Zidane Marasabessy. Tak lupa juga untuk sepupuku yang senasib dan seperjuangan Sitti Rahma Marasabessy. Rasa terima kasih dan penghargaan yang terdalam dari lubuk hati, penulis berikan kepada mereka semua yang senantiasa telah memberikan doa, dukungan, bantuan, didikan, nasihat, perhatian, semangat motivasi, dan cinta kasih yang tak ada habis-habisnya. Tak ada kata atau kalimat yang mampu mengekspresikan besarnya rasa terima kasihku. Yang pasti, saya sungguh bersyukur dan bahagia memiliki kalian semua berada disisiku. Tiada apapun atau siapapun didunia ini yang dapat menggantikan kalian. Sekali lagi, terima kasih. 5. Seluruh dosen yang telah bersedia memberikan ilmu, serta staf karyawan FKG Universitas Hasanuddin. 6. Seluruh keluarga besar Atrisi 2010, khususnya untuk sahabat-sahabatku Nurul, Fara, Booy, dan Intan yang senantiasa membantu, menghibur dan memberikan semangat. Terima kasih untuk semuanya. Saya sangat senang bisa mengenal dan berbagi bersama kalian. 2Takkan terlupakan pengorbanan kalian. Sekali lagi terima kasih.
5 7. Teman-Teman seperjuangan di bagian IPM, Dime, Maryam, Erwin dan Ningsih terima kasih atas kebersamaan, kerjasama dan sarannya. 8. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya skripsi ini yang namanya tidak bisa disebut satu persatu. Semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan dari segala pihak yang telah bersedia membantu penulis. Akhirnya dengan segenap kerendahan hati, penulis mengharapkan agar kiranya tulisan ini dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi ke depannya, juga dalam usaha peningkatan perbaikan kualitas Kesehatan Gigi dan Mulut masyarakat. Amin Makassar, 25 November 2013 Penulis
6 ABSTRAK Latar Belakang : Rongga mulut merupakan tempat paling rawan dari tubuh karena merupakan pintu masuk berbagai agen berbahaya, seperti mikroorganisme, agen karsinogenik, selain itu juga rentan terhadap trauma fisik, kimiawi, dan mekanis. Dalam rongga mulut terdapat saliva yang membantu pencernaan dan proses penelanan, di samping itu juga untuk mempertahankan integritas gigi, lidah, dan membrana mukosa mulut. Saliva adalah unsur penting yang dapat melindungi gigi terhadap pengaruh dari luar, maupun dari dalam rongga mulut itu sendiri. Makanan dapat menyebabkan ludah bersifat asam maupun basa. Derajat keasaman (ph) saliva merupakan faktor penting yang berperan dalam rongga mulut, agar saliva dapat berfungsi dengan baik maka susunan serta sifat dari saliva harus tetap terjaga dalam keseimbangan yang optimal, khususnya derajat keasaman. Pada sekresi saliva kurang dari 0,06 ml/menit (3 ml/jam) akan timbul keluhan mulut kering, sedangkan sekresi saliva normal adalah ml/hari. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan volume dan ph saliva pada lansia. Metode : Subjek penelitian terdiri dari 30 sampel Lansia dengan umur 51 tahun ke atas. Subjek diminta mencucurkan salivanya ke penampung saliva kemudian di ukur volume serta ph saliva dan hasilnya di catat pada form penelitian.
7 Hasil : Pada penelitian ini terlihat adanya penurunan volume saliva yang diikuti dengan penurunan ph saliva seiring dengan bertambahnya usia. Berdasarkan hasil uji statistik, terlihat bahwa terdapat hubungan korelasi yang signifikan antara volume saliva dengan ph saliva (p: 0.000, p<0.05). Adapun, nilai koefisien korelasi yang dicapai adalah (positif), yang berarti bahwa setiap peningkatan atau pun penurunan volume saliva terjadi, maka akan diikuti dengan peningkatan atau penurunan ph saliva sebesar 78.5%. Koefisisen korelasi 0.60 hingga 0.79 menunjukkan hubungan korelasi dengan kategori hubungan yang kuat (Sopiyudin, 2009). Kesimpulan : Terdapat hubungan korelasi yang signifikan antara volume dan ph saliva pada lansia, dimana jika terjadi peningkatan atau penurunan volume saliva maka akan diikuti dengan peningkatan atau penurunan ph saliva. Kata Kunci : Lansia, Volume Saliva, ph Saliva
8 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN.... ii KATA PENGANTAR.... iii DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL.... ix BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SALIVA Anotomi Kelenjar Saliva Komposisi Saliva Fungsi Saliva Volume Saliva PH Saliva LANSIA
9 2.2.1 Perubahan Pada Lansia Keadaan Rongga Mulut Pada Lansia HUBUNGAN VOLUME DAN PH SALIVA BAB III KERANGKA KONSEP. 18 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 JENIS PENELITIAN DESAIN PENELITIAN POPULASI DAN SAMPEL Populasi Sampel 4.4 INSTRUMEN PENELITIAN PENGUMPILAN DATA DEFENISI OPERASIONAL Volume Saliva ph Saliva Lansia 4.7 KRITERIA PENILAIAN
10 4.7.1 Volume Saliva ph Saliva Alur Penelitian.23 BAB V HASIL PENELITIAN BAB VI PEMBAHASAN BAB VII PENUTUP. 31 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
11 DAFTAR TABEL Tabel 1 : Distribusi karakteristik sampel penelitian Tabel 2 : Distribusi kelompok usia berdasarkan jenis kelamin sampel penelitian...25 Tabel 3 : Distribusi usia, volume saliva, dan ph saliva berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia Tabel 4 : Korelasi volume saliva (ml) dengan ph saliva sampel penelitian. 27
12 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rongga mulut mempunyai berbagai macam fungsi, yaitu sebagai mastikasi, fonetik dan juga estetik. Hal ini Mengakibatkan rongga mulut merupakan tempat paling rawan dari tubuh karena merupakan pintu masuk berbagai agen berbahaya, seperti mikroorganisme, agen karsinogenik, selain itu juga rentan terhadap trauma fisik, kimiawi, dan mekanis. 1 Dalam rongga mulut terdapat saliva yang merupakan suatu cairan yang sangat penting selain cairan celah gusi. Saliva membantu pencernaan dan proses penelanan, di samping itu juga untuk mempertahankan integritas gigi, lidah, dan membrana mukosa mulut. Di dalam mulut, saliva adalah unsur penting yang dapat melindungi gigi terhadap pengaruh dari luar, maupun dari dalam rongga mulut itu sendiri. Makanan dapat menyebabkan ludah bersifat asam maupun basa. 2 Derajat keasaman (ph) saliva merupakan faktor penting yang berperan dalam rongga mulut, agar saliva dapat berfungsi dengan baik maka susunan serta sifat dari saliva harus tetap terjaga dalam keseimbangan yang optimal, khususnya derajat keasaman. Karena ph sangat terkait dengan beberapa aktivitas pengunyahan yang terjadi di rongga mulut. Penurunan ph saliva dapat menyebabkan demineralisasi elemen-elemen gigi dengan cepat, sedangkan
13 kenaikan ph dapat membentuk kolonisasi bakteri yang menyimpan juga meningkatnya pembentukan kalkulus. 24 Derajat keasaman dan kapasitas bufer saliva selalu dipengaruhi perubahanperubahan, misalnya oleh siang dan malam, diet, perangsangan kecepatan sekresi. Dukungan terbesar saliva secara kuantitatif diberikan oleh kelenjar parotis, submandibularis dan sublingualis. 2 Perasaan mulut kering terjadi apabila kecepatan resorbsi air oleh mukosa mulut bersama-sama dengan penguapan air mukosa mulut, lebih besar dari pada sekresi saliva. Pada sekresi saliva kurang dari 0,06 ml/menit (3 ml/jam) akan timbul keluhan mulut kering, sedangkan sekresi saliva normal adalah ml/hari. Pada orang dewasa kecepatan sekresi saliva normal saat stimulasi adalah 1-2 ml/menit. Perubahan umur diketahui dapat berpengaruh terhadap penurunan produksi saliva. Hal ini disebabkan karena terjadi penurunan fungsi gandula parenkhim saliva. Pada orang usia lanjut morfologi kelenjar saliva mengalami perubahan, dengan akibat penurunan produksi saliva. 2 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan volume dan ph saliva pada lansia. 1.2 Perumusan Masalah 1. Apakah terjadi penurunan volume dan ph saliva pada lansia 2. Apakah ada hubungan volume dan ph saliva pada lansia.
14 1.3 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui hubungan volume dan ph saliva pada lansia.
15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Anotomi Kelenjar Saliva Saliva merupakan cairan mulut yang kompleks terdiri dari campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor yang ada dalam rongga mulut. Saliva sebagian besar yaitu sekitar 90 persennya dihasilkan saat makan yang merupakan reaksi atas rangsangan yang berupa pengecapan dan pengunyahan makanan. 3 Gambar 2.1: Kelenjar Saliva Sumber : Dental caries : a ph-mediated disease. CDHA J; 2010: 25(1) 1. Kelenjar parotis,2. kelenjar submandibular, 3. Kelenjar sublingual. Lingkungan oral dikuasai hampir secara eksklusif oleh kelenjar saliva. Kelenjar saliva di bagi dalam dua kelompok yaitu kelenjar saliva mayor dan minor. Pada kelenjar saliva mayor ada tiga kelenjar utama, terletak simetris pada
16 kedua sisi kepala: Parotis, Submandibular (kadang-kadang disebut sebagai Submaxillarys), dan Sublingual (Gambar 2.1). Kelenjar parotis adalah yang terbesar dari kelenjar lain dan terletak pada bagian samping di atas m. masseter bagian inferior menempel pada m. sternocleidomastoideus, dan pada bagian posterior, kelenjar ini terletak di atas venter posterior m.digastricus. Kelenjar ini di pisahkan dari kelenjar submandibularis oleh ligamentum stylomandiularis, sedangkan bagian dalam, yaitu perluasan retromandibular berhubungan dengan rongga parafaringeal. Cabang dari terminal n. facialis berjalan di dalam substansi kelenjar tersebut. Ductus poroticus, misalnya ductus stensen, dengan panjang 5 sampai 6 cm, bermula dari aspek anterior kelenjar, melintasi m. masseter, menembus m. buccinator, dan memasuki rongga mulut pada regio molar pertama atau molar kedua rahang atas. Meskipun kelenjar parotis adalah yang terbesar, kelenjar ini hanya menghasilkan seperempat dari volume air liur. 5 Kelenjar submandibularis terletak di bawah corpus mandibulae dan menempati sepertiga yang di bentuk oleh venter posterior dan anterior m.digastrici. Bagian tengah berhubungan dengan m. styloglossus dan m. hyoglosus. Otot mylohyoideus yang membatasi rongga sublingual dan submandibular, merupakan batas superior kelenjar submandibularis. Duktusnya keluar dari perluasan kelenjar submandibularis yang melintasi batas posterior dari m. mylohyodeus dan memasuki rongga atau ruang sub lingual. Ductus wharton dengan panjang kurang lebih 6 cm, melintas di bagian anterior dan berakhir dalam lubang saluran di dasar mulut, tepat di samping frenulum lingualis. Nervus
17 lingualis terletak superolateral dari ductus pada regio molar posterior, dan aspek medial dari ductus pada regio anterior. 5 Kelenjar sublingualis menempati rongga sublingual bagian anterior dan karena itu hampir memenuhi dasar mulut. Aliran dari sublingualis memasuki rongga mulut melalui sejumlah muara yang terdapat sepanjang plica sublingualis, yaitu suatu lingir mukosa anteroposterior di dasar mulut yang menunjukkan alur dari ductus submandibularis, atau melalui ductus utama (yaitu ductus bartholin) yang berhubungan dengan ductus manibularis. 5 Sedangkan pada kelenjar saliva minor dalam jumlah besar terletak pada submukosa atau mukosa bibir, permukaan lidah bagian bawah, bagian posterior palatum durum dan mukosa bukal Komposisi Saliva a. Unsur organik dari seluruh saliva : Urea, uric acid, glukosa bebas, asam amino bebas, laktat dan asam-asam lemak. b. Makromolekul yang ditemukan dalam saliva : Protein, amilase, peroksidase, tiosianat, lisozim, lipid, IgA, IgM dan IgG. c. Unsur anorganik : Ca 2+, Mg 2+, F, HCO 3 - (bikarbonat), K +, Na +, Cl - dan NH 4 d. Gas : CO 2, N 2 dan O 2 e. Air 6,7 Air liur terdiri dari air 99% dengan 1% sisanya sebagai bahan organik molekul (glikoprotein, lipid) dan elektrolit (kalsium, fosfat). 8
18 2.1.3 Fungsi Saliva Saliva memiliki berbagai macam fungsi diantaranya adalah untuk lubrikasi jaringan dalam rongga mulut, melindungi jaringan dalam rongga mulut agar tidak terjadi abrasi saat mastikasi berlangsung, membantu metabolisme karbohidrat, aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen rongga mulut, membersihkan debris dan sisa makanan yang tertinggal dalam rongga mulut, serta saliva juga turut membantu mempertahankan kestabilan sistem bufer dalam rongga mulut. 8 Saliva memiliki sifat utama sebagai berikut: 1. Perlindungan ke jaringan oral dan peri-oral a. Pelumasan dengan mucins dan glikoprotein b. Antimikroba dan aktivitas pembersihan mengecilkan dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhannya c. Buffer produksi asam dengan bikarbonat dan pengendali ph plak d. Remineralisasi dari enamel dengan kalsium dan fosfat. 2. Memfasilitasi makan dan berbicara a. Pengolahan makanan, pengunyahan dan menelan b. Pencernaan, inisiasi dengan enzim c. Meningkatkan rasa d. Mengaktifkan pelumas berbicara sebagai fungsi motorik. 3. Penggunaan dalam pengujian diagnostik a. Bakteri, ragi dan jumlah virus mengindikasikan aktivitas karies dan mengubah respon imun maupun tes doagnostik untuk penyakit oral dan sistemik
19 b. Keseimbangan hormonal untuk mengidentifikasi steroid dan hormon seks Volume saliva Sekresi kelenjar saliva dikontrol oleh saraf simpatis dan parasimpatis. Saraf simpatis menginervasi kelenjar parotis, submandibula, dan sublingualis. Saraf parasimpatis selain menginervasi ketiga kelenjar di atas juga menginervasi kelenjar saliva minor yang berada palatum. Saraf parasimpatis bertanggung jawab pada sekresi saliva yaitu volume saliva yang dihasilkan oleh sel sekretori. 14 Variasi sekresi saliva tergantung pada kondisi kelenjar saliva tanpa stimulasi atau terstimulasi. Volume saliva tanpa stimulasi yaitu 0,3 ml dalam 1 menit dengan ph yang berkisar antara 6,10-6,47 dan dapat meningkat sampai 7,8 pada saat volume saiva mencapai volume maksimal. Volume saliva terstimulasi 3,0 ml dalam 1 menit dengan ph 7, Penyebab Gangguan Volume Saliva Sekresi saliva yang berkurang selalui disertai dengan perubahan dalam komposisi saliva yang mengakibatkan sebagian besar fungsi saliva tidak normal. Hal ini mengakibatkan timbulnya beberapa keluhan pada penderita mulut kering (xerostomia), seperti kesukaran dalam mengunyah dan menelan makanan, kesukaran dalam berbicara, kepekaan terhadap rasa berkurang, mulut terasa seperti terbakar dan sebagainya. 16
20 Faktor-faktor yang mengganggu sekresi volume saliva antara lain : 1. Terapi Radiasi Pada radioterapi area kepala dan leher, kelenjar saliva terpapar radioterapi dengan dosis dan volume yang sama dengan tumor primer, hal itu dapat merusak sel-sel pada kelenjar saliva sehingga produksi saliva menurun. Menurunnya curah saliva sejalan dengan semakin meningkatnya dosis radioterapi ini disebabkan karena kerusakan sel-sel asinar pada kelenjar saliva khususnya kelenjar parotis. Sel-sel tersebut sangat sensitif terhadap radiasi. Keterlibatan kelenjar saliva dalam area radiasi dapat menyebabkan fibrosis, degenerasi lemak, atrofi sel-sel asinar dan nekrosis sel kelenjar. Akibat utama dari radiasi terhadap kelenjar saliva adalah xerostomia yang ditandai dengan penurunan volume saliva. Saliva cenderung menjadi lebih kental. Kelenjar saliva pada tahap awal akan mengalami inflamasi akut kemudian mengalami atrofi dan fibrosis. Selama radioterapi, sel asinar serous dipengaruhi lebih dulu dari sel asinar mukus. Akibatnya saliva menjadi lebih lengket dan kental. Produksi saliva turun sebanyak 50% selama satu minggu setelah radioterapi. Perubahan komposisi saliva juga terjadi antara lain, penurunan sekresi IgA, kapasitas buffer dan ph saliva menjadi asam Gangguan pada kelenjar saliva. Ada beberapa penyakit lokal tertentu yang mempengaruhi kelenjar saliva dan menyebabkan berkurangnya aliran saliva. Sialodenitis kronis lebih umum
21 mempengaruhi kelenjar submandibula dan parotis. Penyakit ini menyebabkan degenerasi dari sel asini dan penyumbatan duktus. 17 Kista-kista dan tumor kelenjar saliva, baik yang jinak maupun ganas dapat menyebabkan penekanan pada struktur-struktur duktus dari kelenjar saliva dan dengan demikian mempengaruhi sekresi saliva. 17 Sindrom Sjogren merupakan penyakit autoimun jaringan ikat yang dapat mempengaruhi kelenjar airmata dan kelenjar saliva. Sel-sel asini kelenjar saliva rusak karena infiltrasi limfosit sehingga sekresinya berkurang. 17,18 3. Kesehatan umum yang terganggu. Pada orang-orang yang menderita penyakit-penyakit yang menimbulkan dehidrasi seperti demam, diare yang terlalu lama, diabetes, gagal ginjal kronis dan keadaan sistemik lainnya dapat mengalami pengurangan aliran saliva. Hal ini disebabkan karena adanya gangguan dalam pengaturan air dan elektralit, yang diikuti dengan terjadinya keseimbangan air yang negatif yang menyebabkan turunnya sekresi saliva. 17,19 Pada penderita diabetes, berkurangnya saliva dipengaruhi oleh faktor angiopati dan neuropati diabetik, perubahan pada kelenjar parotis dan karena poliuria yang berat, penderita gagal ginjal kronis terjadi penurunan output. Untuk menjaga agar keseimbangan cairan tetap terjaga pertu intake cairan dibatasr. Pembatasan intake cairan akan menyebabkan menurunnya aliran saliva dan saliva menjadi kental. 20
22 Penyakit-penyakit infeksi pernafasan biasanya menyebabkan mulut terasa kering. Pada infeksi pemafasan bagian atas, penyumbatan hidung yang terjadi menyebabkan penderita bernafas melalui mulut Obat-obatan Beberapa obat-obatan mempunyai efek menaikkan sekresi saliva dan menurunkan sekresi saliva. Obat-obatan yang mempengaruhi aliran saliva bekerja dengan menekan aksi sistem saraf autonom dan secara tidak langsung mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar saliva dan dengan merangsang sekresi saliva. 14 Contoh obat-obatan yang dapat menghambat pengeluaran saliva yaitu obatobatan antidepresan, antipsikotik, transquilizer, antihistamin, hipnotika, antihipertensi, antikholinergi, diuretika, anti parkinson, dan obat pengurang nafsu makan. Jika obat-obatan tersebut digunakan untuk waktu lebih dari satu minggu, maka harus diambil langkah-langkah untuk melindungi gigi dari serangan karies. 21 Adapun contoh obat-obatan yang menaikkan sekresi saliva antara lain : a. Mouth Lubricant dan Lemon Mucilage yang mengandung asam sitrat dan dapat merangsang sangat kuat sekresi encer dan menyebabkan rasa segar di dalam mulut. Tetapi obat ini mempunyai ph yang rendah sehingga dapat merusak dan dentin.
23 b. Salivix, yang berbentuk tablet isap berisi asam malat, gumarab, kalsium laktat, natrium fosfat, Iycasin dan sorbitol akan merangsang produksi saliva. c. Sekresi saliva juga dapat dirangsang dengan pemberian obat-obatan yang mempunyai pengaruh merangsang melalui sistem syaraf parasimpatis, seperti pilokarpin, karbamilkolin dan betanekol Keadaan fisiologis. Tingkat aliran saliva biasanya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan fisiologis. Pada saat berolahraga dan bernafas melalui mulut juga akan memberikan pengaruh mulut kering. 18 Gangguan emosionil, seperti stress, putus asa dan rasa takut dapat menyebabkan mulut kering. Hal ini disebabkan keadaan emosionil tersebut merangsang terjadinya pengaruh simpatik dari sistem syaraf autonom dan menghalangi sistem parasimpatik yang menyebabkan turunnya sekresi saliva Usia. Keluhan mulut kering sering ditemukan pada usia lanjut. Keadaan ini disebabkan oleh adanya perubahan atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan mengubah komposisinya sedikit. 21 Seiring dengan meningkatnya usia, terjadi proses aging. Terjadi perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva, dimana kelenjar parenkim hilang yang digantikan oleh jaringan lemak dan penyambung, lining sel duktus intermediate mengalami atropi. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan jumlah aliran saliva.
24 Selain itu, penyakit- penyakit sistemis yang diderita pada usia lanjut dan obatobatan yang digunakan untuk perawatan penyakit sistemis dapat memberikan pengaruh mulut kering pada usia lanjut. 22,23 7. Keadaan-keadaan lain. Agenesis dari kelenjar saliva sangat jarang terjadi, tetapi kadang-kadang ada pasien yang mengalami keluhan mulut kering sejak lahir. Hasil sialograf menunjukkan adanya cacat yang besar dari kelenjar saliva. 18 Kelainan syaraf yang diikuti gejala degenerasi, seperti sklerosis multiple akan mengakibatkan hilangnya innervasi kelenjar saliva, kerusakan pada parenkim kelenjar dan duktus, atau kerusakan pada suplai darah kelenjar saliva juga dapat mengurangi sekresi saliva. 17 Belakangan telah dilaporkan bahwa pasien-pasien AIDS juga mengalami mulut kering, sebab terapi radiasi untuk mengurangi ketidaknyamanan pada sarkoma kaposi intra oral dapat menyebabkan disfungsi kelenjar saliva PH Saliva Suatu derajat keasaman atau seringkali disebut (ph) adalah sesuatu yang digunakan untuk menentukan tingkat keasaman suatu larutan. Dimana semakin kecil nilai ph maka semakin tinggi tingkat keasaman suatu larutan, dan dikatakan netral bila nlai ph adalah 7. Saliva adalah cairan dengan komposisi yang seringkali mengalami perubahan antara lain dapat dilihat dari derajat keasaman (ph), kandungan elektrolit dan protein didalam susunannya. Menurut Amerogen (1991) dinyatakan bahwa susunan kualitatif dan kuantitatif elektrolit di dalam
25 ludah menentukan ph dan kapasitas bufer saliva. Efek bufer adalah sifat saliva yang cenderung untuk selalu menjaga suasana dalam mulut agar tetap netral, dengan cara cairan saliva cenderung mengurangi keasaman plak yang disebabkan oleh gula. 9 Faktor- faktor yang mempengaruhi ph dalam saliva ph dan kapasitas buffer saliva selalu dipengaruhi perubahan-perubahan antara lain: 1. Irama siang dan malam ph saliva dan kapasitas buffer akan tinggi segera setelah bangun ( keadaan istirahat), tetapi akan cepat turun. Pada saat makan nilai ph saliva tinggi, tetapi dalam waktu menit akan turun lagi. Selain itu, sampai malam hari akan naik, lalu kemudian akan turun lagi. 2. Diet Diet berpengaruh dalam ph saliva. Diet yang kaya karbohidrat akan menurunkan ph saliva karena menaikkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri. Diet yang kaya akan sayur-sayuran akan cenderung menaikkan ph saliva. 3. Perangsangan kecepatan sekresi Hal ini berkaitan dengan ion bikarbonat yang meningkat jika tejadi peningkatan dari laju alir saliva sehingga ph saliva meningkat. 9
26 Derajat keasaman (ph) saliva optimum untuk pertumbuhan bakteri 6,5 7,5 dan apabila rongga mulut ph-nya rendah antara 4,5 5,5 akan memudahkan pertumbuhan kuman asidogenik seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus LANSIA Perubahan Pada Lansia Proses umum penuaan tidak dapat diterangkan dengan jelas. Hal ini sering dijabarkan sebagai gabungan dari fenomena fisiologis normal dan degenerasi patologis. Penuaan dapat didefenisikan sebagai suatu hal biologis dimana proses tersebut merupakan hal yang genetik, suatu terminasi yang tak terelakkan dari pertumbuhan normal. Segi patologis dari penuaan termasuk proses destruksi, yang kemungkinan berkaitan dengan reaksi autoimun atau akumulasi dari pengaruh trauma-trauma minor yang terjadi sepanjang hidup. Berbagai penyakit tertentu yang pernah dialami sepanjang kehidupan cenderung memperkuat besarnya perubahan degeneratif yang terjadi pada usia lanjut. Usia lanjut juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan perubahan patologis. 10 Regresi pada fungsi tubuh secara umum mulai terjadi pada usia 25 hingga 30 tahun dan berlanjut terus sampai akhir hayat. Penurunan metebolism selular menyebabkan berkurangnya kemampuan sel untuk bertumbuh dan reparasi. Laju pembelahan sel (mitosis) menurun sehingga pada usia 65 tahun deplesi selular mendekati 30%. Karena semua jaringan, organ dan sistem tidak bergeser dengan kecepatan yang sama, struktur komposit tubuh dan fungsinya juga berbeda pada pasien usia lanjut di bandingkan dengan pasien usia muda. 10
27 2.2.2 Keadaan rongga mulut pada lansia Mukosa mulut dilapisi oleh sel epitel yang berfungsi sebagai barier terhadap pengaruh dari dalam maupun luar mulut. Pertambahan usia dapat menyebabkan sel epitel pada mukosa mulut mengalami penipisan, berkurangnya kapiler dan suplai darah, berkurangnya keratinisasi, serta penebalan serabut kolagen pada lamina propia. Hal ini menyebabkan mukosa mulut terlihat menjadi lebih pucat, tipis kering, dan mengalami proses penyembuhan yang melambat. 11 Selain itu, pada lansia biasanya terjadi penurunan tingkat kebersihan mulut, berkurangnya jumlah gigi geligi, penurunan sensivitas mukosa rongga mulut terhadap iritasi dan terjadi pula pelemahan jaringan penyangga gigi sehingga kemampuan mengunyah berkurang. Semua perubahan di atas merupakan proses degenerasi yang menyebabkan menurunnya resistensi mukosa. Mukosa mulut menjadi mudah terluka oleh karena makanan keras, hal tersebut dapat diperberat karena mulut kering akibat menurunya produksi saliva Hubungan Volume dan ph Saliva Saliva merupakan salah satu faktor penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut yang berperan dalam fungsi perlindungan. Perannya sebagai pelumnas yang melapisi mukosa dan membantu melindungi jaringan mulut terhadap iritasi mekanis, termal, dan zat kimia. Fungsi lain termasuk kapasitas buffer, bertindak sebagai penyimpanan ion yang memfasilitasi remineralisasi gigi, aktivitas antimikroba, yang melibatkan immunoglobulin A, lisozim, laktoferin, dan myeloperoxidase. Fungsi perlindungan dilakukan dengan cara meningkatkan
28 sekresi saliva yang dapat diukur melalui kecepatan aliran, volume, ph dan viskositasnya. Meningkatnya sekresi saliva menyebabkan meningkatnya volume dan mengencerkan saliva yang diperlukan untuk proses penelanan dan lubrikasi. Peningkatan sekresi saliva juga meningkatkan jumlah dan susunan kandungan saliva, seperti bikarbonat yang dapat meningkatkan ph. 13 Sebaliknya menurunnya kecepatan sekresi saliva akan menurunkan ph saliva. Keadaan ini akan mempengaruhi proses demineralisasi dan remineralisasi gigi geligi. 14 Hal ini akan dibuktikan pada penelitian ini, yaitu apakah ada hubungan volume dan ph saliva khususnya pada lansia.
29 BAB III KERANGKA KONSEP LANSIA Faktor Ekternal Faktor Internal Penggunaan Gigitiruan Konsumsi obat-obatan Merokok Jenis Kelamin OH Usia Penyakit Sistemik Volume Saliva ph Saliva Tidak diteliti Diteliti
30 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Observasional deskriptif, yaitu suatu rancangan penelitian dengan melakukan pengamatan terhadap objek alamiah, tanpa melakukan intervensi apapun terhadap objek tersebut. 4.2 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional study, yaitu observasi dan pengukuran variabel yang di lakukan pada saat tertentu dan tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang di lakukan. 4.3 Populasi dan Sampel Populasi Lansia umur 51 tahun keatas di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa Sampel Pengambilan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditentukan seperti usia, tidak ada riwayat penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi volume dan ph saliva, tidak merokok, tidak menggunakan gigi tiruan dan tidak rutin konsumsi
31 obat-obatan. Akan diambil sampel sebanyak 30 orang yang memenuhi kriteria tersebut. 4.4 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ; a. Pot penampung saliva b. Gelas ukur saliva c. ph meter untuk mengukur ph saliva d. Handskun e. Alat tulis menulis 4.5 Pengumpulan Data Pengambilan sampel saliva (metode tanpa stimulasi) dilakukan satu kali antara jam Sebelum penelitian akan dilakukan, diinformasikan kepada sampel untuk tidak makan dan minum minimal 60 menit sebelum pengambilan sampel. Selama penelitian berlangsung sampel tidak diperbolehkan untuk makan dan minum. Pengumpulan saliva dilakukan dengan mencucurkan salivanya ke dalam penampung saliva. Volume saliva diukur dengan gelas ukur saliva dan ph saliva diukur dengan ph meter kemudian hasilnya dicatat pada form penelitian. Pada penelitian ini metode pengumpulan saliva yang digunakan adalah metode passive drool. Metode ini adalah metode yang paling efektif dan sering digunakan untuk mengumpulkan saliva dengan mengeluarkan saliva secara pasif ke dalam wadah kecil.
32 4.6 Defenisi Operasional Volume Saliva Volume saliva adalah jumlah saliva yang dapat dikumpulkan dari sampel tanpa stimulasi selama 5 menit PH Saliva PH saliva adalah tingkat keasaman pada cairan rongga mulut yang di dapat dari sampel (LANSIA umur 51 tahun keatas) sehingga dapat diketahui asam atau basa Lansia Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. 4.7 Kriteria Penilaian Volume Saliva Volume saliva tanpa stimulasi dinilai dengan menggunakan gelas pengukur saliva, dimana kriteria penilaian volume saliva (ml) disesuaikan dengan nilai normal volume saliva menurut Batthal dan Ericsson (1996), jumlah normal volume saliva tanpa stimulasi yaitu 0,3 ml dalam 1 menit. Jadi, dalam waktu 5
33 menit jumlah volume saliva tanpa stimulasi yang dapat terkumpul normalnya 1,5 ml. Kriteria penilaiannya ; a. < 1,5 : < Normal b. 1,5 : Normal c. > 1,5 : > Normal ph Saliva ph saliva dinilai dengan menggunakan ph meter, dimana ; a. < 7 : ph Asam b. 7 : Netral c. > 7 : ph Basa
34 4.8 Alur Penelitian Pengumpulan Sampel Pengambilan Sampel Saliva Pengukuran ph Saliva Pengukuran Volume Saliva Hasil Penelitian Analisis Data Kesimpulan
35 BAB V HASIL PENELITIAN Telah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara volume saliva dengan ph saliva pada populasi lanjut usia. Penelitian dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa pada tanggal 17 Mei Adapun, lanjut usia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yang berusia 50 tahun ke atas. Hubungan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah hubungan korelasi. Subjek penelitian adalah seluruh lanjut usia yang berusia 50 tahun ke atas dan tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji. Seluruh sampel berjumlah 30 orang. Pengambilan data diawali dengan metode interview untuk mendapatkan identitas pasien, seperti usia dan jenis kelamin. Selanjutnya, saliva pasien diambil dengan metode tanpa stimulasi (unstimulated saliva) dan dilakukan satu kali antara jam hingga jam Sampel telah diinstruksikan sebelunya untuk tidak makan dan minum sebelumnya selama 60 menit untuk mengurangi variabel perancu. Pengumpulan saliva dilakukan dengan mencucurkan saliva ke dalam penampungan saliva secara pasif selama lima menit (metode passive drool). Volume saliva diukur dengan gelas ukur dan ph saliva dengan ph meter. Seluruh hasil penelitian selanjutnya dicatat, dikumpulkan, dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi Hasil penelitian ditampilkan dalam tabel distribusi sebagai berikut.
36 Tabel 1. Distribusi karakteristik sampel penelitian Karakteristik sampel penelitian Frekuensi (n) Persen (%) Mean ± SD Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia ± 8.71 Kelompok Usia Usia tahun Usia tahun Usia tahun Usia tahun Volume Saliva (ml) 1.09 ± 0.28 ph Saliva 5.46 ± 0.69 Total Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik sampel penelitian yang berjumlah 30 sampel secara keseluruhan dan terdiri atas 15 perempuan (50%) dan 15 laki-laki (50%). Rata-rata usia sampel penelitian adalah 74 tahun dengan kelompok usia yang paling banyak adalah usia tahun, yaitu sebanyak 16 orang (53.3%). Adapun, kelompok usia yang paling sedikit adalah usia tahun, yaitu sebanyak dua orang (6.7%). Rata-rata volume saliva sampel secara keseluruhan adalah 1.09 ml dan rata-rata ph saliva pasien secara keseluruhan adalah Tabel 2. Distribusi kelompok usia berdasarkan jenis kelamin sampel penelitian Usia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Kelompok Usia Usia tahun 1 (3.3%) 1 (3.3%) 2 (6.7%) Usia tahun 4 (13.3%) 2 (6.7%) 6 (20%) Usia tahun 6 (20.0%) 10 (33.3%) 16 (53.3%) Usia tahun 4 (13.3%) 2 (6.7%) 6 (20%) Total 15 (50%) 15 (50%) 30 (10%) Tabel 2 menunjukkan distribusi kelompok usia berdasarkan jenis kelamin sampel penelitian. Seperti yang telah dijelaskan, terdapat 15 laki-laki dan 15
37 perempuan. Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 15 laki-laki, terdapat satu orang (3.3%) yang berusia tahun; empat orang (13.3%) yang berada dalam kategori usia tahun; enam orang (20%) yang masuk dalam kelompok usia tahun; dan empat orang (13.3%) yang berusia tahun. Adapun, untuk sampel yang berjenis kelamin perempuan, terdiri dari satu orang yang berusia tahun; dua orang (6.7%) yang berusia tahun; sepuluh orang (33.3%) yang berada dalam kategori usia tahun; dan dua orang (6.7%) yang berada dalam kelompok usia tahun. Tabel 3. Distribusi usia, volume saliva, dan ph saliva berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia Jenis Kelamin dan Usia Usia Volume Saliva ph Saliva Mean ± SD Mean ± SD Mean ± SD Jenis Kelamin Laki-laki ± ± ± 0.70 Perempuan ± ± ± 0.70 Kelompok Usia Usia tahun ± ± ± 0.00 Usia tahun ± ± ± 0.49 Usia tahun ± ± ± 0.57 Usia tahun ± ± ± 0.49 Total ± ± ± 0.69 Tabel 3 menunjukkan distribusi usia, volume saliva, dan ph saliva berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Terlihat dari tabel 3, baik jenis kelamin laki-laki dan perempuan memiliki rata-rata usia, volume saliva, dan ph saliva yang hampir serupa, yaitu rata-rata usia 74 tahun, volume saliva 1.10 ml untuk laki-laki dan 1.08 untuk perempuan, serta ph saliva 5.5 untuk laki-laki dan 5.43 untuk perempuan. Berdasarkan kelompok usia, terlihat semakin tinggi usia diikuti dengan penurunan volume saliva dan ph saliva. Pada usia tahun, volume saliva yang diperoleh mencapai 1.40 ml dan ph 6.5. Akan tetapi, seiring
38 peningkatan usia, volume dan ph saliva menurun, mulai dari usia tahun, volume saliva menurun menjadi 1.32 ml dengan ph 6.08, diikuti pada usia tahun, volume saliva terus menurun menjadi 1.08 ml dengan ph 5.31, hingga pada usia tahun, terlihat volume saliva hanya diperoleh 0.80 ml dengan ph hanya mencapai Secara keseluruhan, rata-rata usia sampel penelitian adalah 74 tahun dengan volume 1.09 ml dan ph saliva Tabel 4. Korelasi volume saliva (ml) dengan ph saliva sampel penelitian Volume Saliva ph Saliva p-value Koefisien korelasi (r) Mean ± SD Mean ± SD 1.09 ± ± 0.69 *0,000 0,785 *Pearson correlation test: p<0,05, signifikan Tabel 4 menunjukkan korelasi volume saliva (ml) dengan ph saliva sampel penelitian. Pada penelitian ini, hubungan antara variabel bebas dengan variabel akibat yang ingin dicapai adalah hubungan korelasi. Kedua variabel, baik variabel bebas dan variabel akibat berskala numerik, sehingga pada penelitian ini uji yang digunakan adalah uji korelasi Pearson dengan taraf confidence interval 95% (tingkat kemaknaan 0.05). Seperti yang telah dijelaskan pada tabel 3, terlihat adanya penurunan volume saliva yang diikuti dengan penurunan ph saliva seiring dengan bertambahnya usia. Pada tabel 4, berdasarkan hasil uji statistik, terlihat bahwa terdapat hubungan korelasi yang signifikan antara volume saliva dengan ph saliva (p: 0.000, p<0.05). Adapun, nilai koefisien korelasi yang dicapai adalah (positif), yang berarti bahwa setiap peningkatan atau pun penurunan volume saliva terjadi, maka akan diikuti dengan peningkatan atau penurunan ph saliva
39 sebesar 78.5%. Koefisisen korelasi 0.60 hingga 0.79 menunjukkan hubungan korelasi dengan kategori hubungan yang kuat (Sopiyudin, 2009).
40 BAB VI PEMBAHASAN Pada keadaan lanjut usia (Lansia), biasanya terjadi penurunan tingkat kebersihan mulut, berkurangnya jumlah gigi geligi dan penurunan sensitivitas mukosa rongga mulut terhadap iritasi. Selain itu juga terjadi pelemahan jaringan penyangga gigi sehingga kemampuan mengunyah menjadi berkurang. Semua perubahan tersebut adalah proses degenerasi yang menyebabkan resistensi mukosa menurun. Mukosa mulut menjadi mudah terluka oleh makanan yang keras dan proses penyembuhan yang agak melambat. Semua keadaan tersebut diperberat karena mulut kering akibat menurunnya produksi saliva. 12 Seiring dengan meningkatnya usia, terjadi proses aging. Terjadi perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva, dimana kelenjar parenkim hilang yang digantikan oleh jaringan ikat dan lemak. Keadaan inilah yang menyebabkan menurunnya produksi saliva. 21,22 Meningkatnya sekresi saliva menyebabkan meningkatnya volume dan mengencerkan saliva yang diperlukan untuk proses penelanan dan lubrikasi. Peningkatan sekresi saliva juga meningkatkan jumlah dan susunan kandungan saliva, seperti bikarbonat yang dapat meningkatkan ph. Sebaliknya menurunnya sekresi saliva akan menurunkan jumlah dan susunan kandungan saliva yang dapat menyebabkan menurunnya ph saliva.
41 Hal ini diperkuat dari hasil penelitian berdasarkan kelompok usia dari 30 orang sampel, terlihat semakin tinggi usia diikuti dengan penurunan volume saliva dan ph saliva. Pada usia tahun, volume saliva yang diperoleh mencapai 1.40 ml dan ph 6.5. Akan tetapi, seiring peningkatan usia, volume dan ph saliva menurun, mulai dari usia tahun, volume saliva menurun menjadi 1.32 ml dengan ph 6.08, diikuti pada usia tahun, volume saliva terus menurun menjadi 1.08 ml dengan ph 5.31, hingga pada usia tahun, terlihat volume saliva hanya diperoleh 0.80 ml dengan ph hanya mencapai Secara keseluruhan, rata-rata usia sampel penelitian adalah 74 tahun dengan volume 1.09 ml dan ph saliva Selain itu juga berdasarkan hasil uji statistik, terlihat bahwa terdapat hubungan korelasi yang signifikan antara volume saliva dengan ph saliva (p: 0.000, p<0.05). Adapun, nilai koefisien korelasi yang dicapai adalah (positif), yang berarti bahwa setiap peningkatan atau pun penurunan volume saliva terjadi, maka akan diikuti dengan peningkatan atau penurunan ph saliva sebesar 78.5%. Koefisisen korelasi 0.60 hingga 0.79 menunjukkan hubungan korelasi dengan kategori hubungan yang kuat.
42 BAB VII PENUTUP 7.1 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 2. Apakah terjadi penurunan volume dan ph saliva pada lansia : Berdasarkan kelompok usia, terlihat semakin tinggi usia diikuti dengan penurunan volume saliva dan ph saliva. Pada usia tahun, volume saliva yang diperoleh mencapai 1.40 ml dan ph 6.5. Akan tetapi, seiring peningkatan usia, volume dan ph saliva menurun, mulai dari usia tahun, volume saliva menurun menjadi 1.32 ml dengan ph 6.08, diikuti pada usia tahun, volume saliva terus menurun menjadi 1.08 ml dengan ph 5.31, hingga pada usia tahun, terlihat volume saliva hanya diperoleh 0.80 ml dengan ph hanya mencapai Secara keseluruhan, rata-rata usia sampel penelitian adalah 74 tahun dengan volume 1.09 ml dan ph saliva Apakah ada hubungan volume dan ph saliva pada lansia : Berdasarkan hasil uji statistik, terlihat bahwa terdapat hubungan korelasi yang signifikan antara volume saliva dengan ph saliva (p: 0.000, p<0.05). Adapun, nilai koefisien korelasi yang dicapai adalah (positif), yang berarti bahwa setiap peningkatan atau pun penurunan volume saliva terjadi, maka akan diikuti dengan peningkatan atau penurunan ph saliva sebesar 78.5%. Koefisien
43 korelasi 0.60 hingga 0.79 menunjukkan hubungan korelasi dengan kategori hubungan yang kuat. 7.2 SARAN 1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk lebih menyempurnakan penelitian ini, yaitu dengan membandingkan variabel lain yang juga merupakan etiologi dari mulut kering khususnya pada lansia. Seperti jenis obat yang dikonsumsi, tingkat stress, terapi radiasi yang pernah dijalani dan kesehatan umum yang terganggu yang menyebabkan berkurangnya sekresi saliva. 2. Melihat kurangnya kesadaran dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut, perlu dilakukan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada lansia. Khususnya di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa.
44 DAFTAR PUSTAKA 1. Hidayani T.A, Handajani J. Efek merokok terhadap status ph dan volume saliva pada laki-laki usia dewasa dan usia lanjut. Dent J: Dentika;2010: 15(2); Chrismawaty E. Peran struktur mukosa rongga mulut dalam mekanisme blockade fisik terhadap iritan. MIKGI; 2006:V: Soesilo D, Santoso R.E, Diyatri I. Peranan sorbitol. Dent J: Majalah Kedokteran Gigi; 2005: 38(1); Novy B, Young D. Dental caries : a ph-mediated disease. CDHA J; 2010: 25(1). 5. Hasan H. Penanganan sialolitiasis. J Kedokteran Gigi: Dentofasial; 2009: 8(1); Rosen F.S. Anatomi and physiology of the salivary gland. Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept. of Otolaryngology. 2001: Rantonen P. Salivary flow and composition in healthy and diseased adults. Dissertation. Helsinki: University of Helsinki, 2003: Roland S.M. Gigi penasihat kesehatan oral aksi, gigi umum praktisi st. john wood. 2005: London. 9. Febyanti P.A. Perbedaan perubahan derajat keasaman (ph) plak sebelum dan seduah mengkonsumsi makanan yang mengandung gula dan makanan yang tidak mengandung gula pada penghuni asrama JKG Poltekkes. JKG: Semarang; 2007.
45 10. Tarigan S. Pasien protodonsia lanjut usia : beberapa pertimbangan dalam perawatan. Sumatera Utara: FKG USU; hal Barnes I.E, Walls A. Perawatan gigi terpadu untuk lansia. Alih bahasa Cornella Hutauruk. EGC; Dharmautama M, Koyama A.T, Kusumawati A. Tingkat keparahan halitosis pada manula pemakai gigitiruan. J Kedokteran Gigi: Dentofasial; 2008: 7(2); Rodian M, Satari M.H, Rolleta H.E. Efek mengunyah permen karet yang mengandung sukrosa, xylitol, probiotik terhadap karakteristik saliva. Dent J: Dentika; 2011: 16(1); Rahayu F.A, Handajani J. Mengkonsumsi minuman beralkohol dapat menurunkan derajat keasaman dan volume saliva. Dent J: Dentika; 2010: 15(1); Roletta H.E. Pengaruh stimulus pengunyahan dan pengecapan terhadap kecepatan aliran dan ph saliva. J Kedokteran Gigi Universitas Indonesia; 2002;1(9): Glass B.J, Van Dis M.L, Langlais R.P, Miles D.A. Xerostomia: diagnosis and treatment planning considerations. J of Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology; 1984: 58(2); AI-Saif K.M. Clinical management of salivary deficiency : a review article. The Saudi Dent J; 1991: 3(2); Haskell R, Gayford J.J. Penyakit mulut ed. ke-2. alih bahasa drg. Lilian Yuwono. Jakarta: EGC; hal
46 19. Amerongan A.V.N. Ludah dan kelenjar ludah : arti bagi kesehatan gigi ed. ke- 1. alih bahasa Prof.drg.Rafiah Abyono. Yogyakarta: Gajah Mada University Press; hal Scully C, Cawson R.A. Medical problems in dentistry 3 rd ed. Wright. p Edwina A.M, Joyston B.S. Dasar-dasar karies penyakit dan penanggulangannya. Editor: Narlan Sumawinata, Safrida Faruk. Jakarta: EGC; hal.1-3, Pedersen P.H, Loe H. Geriatric dentistry 1 st ed. Munksgard: Copenhagen; p Ernawati D.S. Kelainan jaringan lunak rongga mulut akibat proses menua. Majalah Kedokteran Gigi Universitas Airlangga; 1997: 30(3); Minasari. Peranan saliva dalam rongga mulut. Dent J: Majalah Kedokteran Gigi USU; 1999: 4(2): 33-9.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Xerostomia Umumnya perhatian terhadap saliva sangat kurang. Perhatian terhadap saliva baru timbul apabila terjadinya pengurangan sekresi saliva yang akan menimbulkan gejala mulut
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan di masyarakat. 1 Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2004,
BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di dalam rongga
KELUHAN MULUT KERING DITINJAU DARI FAKTOR PENYEBAB, MANIFESTASI DAN PENANGGULANGANNYA
KELUHAN MULUT KERING DITINJAU DARI FAKTOR PENYEBAB, MANIFESTASI DAN PENANGGULANGANNYA PENDAHULUAN SAYUTI HASIBUAN Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Banyak keluhan yang dapat timbul di
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva adalah cairan oral kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk di rongga
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 90% yaitu kelenjar parotis memproduksi sekresi cairan serosa, kelenjar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan rongga mulut yang terdiri dari sekresi kelenjar saliva dan cairan krevikuler gingiva. Produksi saliva oleh kelenjar mayor sekitar 90%
PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK
PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK Nidia Alfianur 1, Budi Suryana 2 1, 2 Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Pontianak ABSTRAK
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam kesehatan jaringan keras dan lunak didalam rongga mulut. Saliva mempunyai banyak fungsi, diantaranya
HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI SEKRESI SALIVA. Departemen Biologi Oral FKG USU
HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI SEKRESI SALIVA. Departemen Biologi Oral FKG USU HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI DAN SEKRESI SALIVA. Sekresi saliva - fungsi normal - kesehatan rongga mulut.
BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa mulut. 1 Saliva terdiri
BAB I PENDAHULUAN. dalamnya terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rongga mulut adalah pintu gerbang sistem pencernaan manusia yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Di dalamnya terdapat fungsi perlindungan
BAB I PENDAHULUAN. saliva mayor yang terdiri dari: parotis, submandibularis, sublingualis, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan tubuh yang kompleks dan bermanfaat bagi kesehatan rongga mulut. Saliva disekresi oleh tiga pasang glandula saliva mayor yang terdiri
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radioterapi Kanker daerah Kepala dan Leher 2.1.1 Definisi Radioterapi atau terapi radiasi merupakan salah satu metode pilihan dalam pengobatan penyakit maligna dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN. Community Dental Oral Epidemiologi menyatakan bahwa anakanak. disebabkan pada umumnya orang beranggapan gigi sulung tidak perlu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Community Dental Oral Epidemiologi menyatakan bahwa anakanak TK (Taman Kanak-kanak) di Indonesia mempunyai risiko besar terkena karies, karena anak di pedesaan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, maka populasi penduduk lansia juga akan meningkat. 2 Menurut Badan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) bertambah lebih cepat dibandingkan kelompok usia lain. 1 Seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia, maka
BAB I PENDAHULUAN. melalui mulut, dan pada kalangan usia lanjut. 2 Dry mouth berhubungan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dry mouth merupakan keadaan rongga mulut yang kering, berhubungan dengan adanya penurunan aliran saliva. 1 Umumnya terjadi saat cemas, bernafas melalui mulut, dan pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peran penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut (Harty and
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Saliva dan Anatomi Glandula Saliva Saliva adalah suatu cairan dalam rongga mulut yang mempunyai peran penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut (Harty
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diekskresikan ke dalam rongga mulut. Saliva dihasilkan oleh tiga pasang kelenjar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva 2.1.1 Definisi dan fungsi saliva Saliva merupakan gabungan dari berbagai cairan dan komponen yang diekskresikan ke dalam rongga mulut. Saliva dihasilkan oleh tiga pasang
BAB 1 PENDAHULUAN. saliva yaitu dengan ph (potensial of hydrogen). Derajat keasaman ph dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu cara untuk menentukan atau mengukur derajat asam atau basa saliva yaitu dengan ph (potensial of hydrogen). Derajat keasaman ph dan kapasitas buffer saliva
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian ph dan Saliva 1. PH Hasil kali ( produk ) ion air merupakan dasar bagi skala ph, yaitu cara yang mudah untuk menunjukan konsentrasi nyata H + ( dan juga OH - ) didalam
BAB I PENDAHULUAN. dalam rongga mulut terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara anatomis sistem pencernaan manusia dimulai dari rongga mulut. Di dalam rongga mulut terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi lingkungan saliva
BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di Indonesia. 1 Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, menunjukkan prevalensi
BAB I PENDAHULUAN. kekurangan insulin, baik total ataupun sebagian. DM menunjuk pada. kumpulan gejala yang muncul pada seseorang yang dikarenakan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa ini Diabetes Melitus (DM) sudah menjadi penyakit yang diderita segala lapisan masyarakat. DM merupakan suatu kondisi abnormal pada proses metabolisme karbohidrat
Penanganan sialolitiasis
Hatta Hasan: Penanganan sialolitiasis 35 Penanganan sialolitiasis Hatta Hasan S Bagian Bedah Mulut Fakultas kedokteran gigi Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia ABSTRACT The health of layer of oral
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Gigi Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari
Lampiran 1. Skema Alur Pikir
Lampiran 1 Skema Alur Pikir 1. Kebiasaan merokok merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa terdapat lebih dari 1 milyar orang penduduk dunia adalah
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Antidepresan adalah terapi obat-obatan yang diberikan pada penderita gangguan depresif. Gangguan depresif adalah salah satu gangguan kesehatan jiwa yang paling sering
BAB I PENDAHULUAN. aktifitas mikroorganisme yang menyebabkan bau mulut (Eley et al, 2010). Bahan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obar kumur memiliki banyak manfaat bagi peningkatan kesehatan gigi dan mulut. Obat kumur digunakan untuk membersihkan mulut dari debris atau sisa makanan,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di dalam rongga
BAB 5 HASIL PENELITIAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 30 mahasiswa FKG UI semester VII tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut.
36 BAB 5 HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 30 mahasiswa FKG UI semester VII tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 5.1. Frekuensi distribusi tes saliva subjek penelitian
Gambar 1. Kelenjar saliva 19
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan yang terdiri atas sekresi yang berasal dari kelenjar saliva dan cairan sulkus gingiva. 90% dari saliva dihasilkan oleh kelenjar saliva mayor yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Obat Kardiovaskular yang Digunakan Pasien PJK Obat kardiovaskular yang digunakan pasien PJK adalah obat yang digunakan untuk menjaga agar suplai oksigen selalu seimbang dengan
BAB 5 HASIL PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN Data penelitian ini diperoleh dari sampel 30 anak usia 10-12 tahun di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok yang dipilih secara acak. Penelitian ini menggunakan metode cross over, sehingga
BAB 2 SALIVA. Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi
BAB 2 SALIVA 2.1 DEFINISI Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi dan diekskresikan oleh kelenjar saliva dan dialirkan ke dalam rongga mulut melalui suatu saluran. Saliva
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karies Gigi dan S-ECC Karies gigi merupakan penyakit infeksi pada jaringan keras gigi yang menyebabkan demineralisasi. Demineralisasi terjadi akibat kerusakan jaringan
BAB 5 HASIL PENELITIAN. Tabel 1 : Data ph plak dan ph saliva sebelum dan sesudah berkumur Chlorhexidine Mean ± SD
BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Penelitian Pengumpulan data klinis dilakukan mulai tanggal 10 November 2008 sampai dengan tanggal 27 November 2008 di klinik orthodonti FKG UI dan di lingkungan FK UI.
BAB I PENDAHULUAN. Mulut memiliki lebih dari 700 spesies bakteri yang hidup di dalamnya dan. hampir seluruhnya merupakan flora normal atau komensal.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tubuh secara alami merupakan tempat berkoloninya kompleks mikroorganisme, terutama bakteri. Bakteri-bakteri ini secara umum tidak berbahaya dan ditemukan di
BAB I PENDAHULUAN. ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia (RI) dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi
BAB I PENDAHULUAN. Usia harapan hidup perempuan Indonesia semakin meningkat dari waktu ke
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usia harapan hidup perempuan Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Menurut sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik, usia harapan hidup
SALIVA SEBAGAI CAIRAN DIAGNOSTIK RESIKO TERJADINYA KARIES PUTRI AJRI MAWADARA. Dosen Pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.Si.
SALIVA SEBAGAI CAIRAN DIAGNOSTIK RESIKO TERJADINYA KARIES PUTRI AJRI MAWADARA 04111004066 Dosen Pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.Si. PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PENGARUH METODE MENGGOSOK GIGI SEBELUM MAKAN TERHADAP KUANTITAS BAKTERI DAN Ph SALIVA
1 PENGARUH METODE MENGGOSOK GIGI SEBELUM MAKAN TERHADAP KUANTITAS BAKTERI DAN Ph SALIVA Rahmawati Sri Praptiningsih Endah Aryati Eko Ningtyas Dosen Fakultas Kedokteran Gigi UNISSULA ABSTRAK Waktu kegiatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas normal, yaitu 140/90 mmhg. Pada stadium dini hipertensi sering
BAB I PENDAHULUAN. makanan secara mekanis yang terjadi di rongga mulut dengan tujuan akhir proses ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem pengunyahan atau sistem mastikasi merupakan suatu proses penghancuran makanan secara mekanis yang terjadi di rongga mulut dengan tujuan akhir proses ini adalah
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia saat ini sedang menggalakkan pemakaian bahan alami sebagai bahan obat,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Indonesia saat ini sedang menggalakkan pemakaian bahan alami sebagai bahan obat, baik dibidang kedokteran maupun kedokteran gigi yang dapat dipertanggung jawabkan secara
Radiotherapy Reduced Salivary Flow Rate and Might Induced C. albicans Infection
ORIGINAL ARTICLE Radiotherapy Reduced Salivary Flow Rate and Might Induced C. albicans Infection Nadia Surjadi 1, Rahmi Amtha 2 1 Undergraduate Program, Faculty of Dentistry Trisakti University, Jakarta
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang kemudian, secara normal, terjadi setiap bulan selama usia reproduktif.
17 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Walaupun perempuan, umumnya, memiliki umur harapan hidup (UHH) lebih tinggi daripada pria, mereka menghadapi masalah kesehatan yang lebih rumit. Secara kodrati, perempuan mengalami
BAB I PENDAHULUAN. industri tetapi juga di negara berkembang, seperti Indonesia. Kanker kepala leher
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Insidens penyakit kanker saat ini semakin meningkat, tidak hanya di negara industri tetapi juga di negara berkembang, seperti Indonesia. Kanker kepala leher merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ganja adalah tanaman Cannabis sativa yang diolah dengan cara mengeringkan dan mengompres bagian tangkai, daun, biji dan bunganya yang mengandung banyak resin. 1 Ganja
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pengambilan sampel
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian telah dilakukan di OSCE Center kampus Pendidikan Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pengambilan sampel diawali dengan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 23,5%. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, terjadi peningkatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
HPO 4. 11 Ada beberapa fungsi saliva yaitu membentuk lapisan mukus pelindung pada 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan
BAB 3 METODE PENELITIAN
19 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental, dengan rancangan pre and post test control group design. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
BAB 5 HASIL PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN Pengumpulan data klinis dilakukan mulai tanggal 10 November 2008 sampai dengan 27 November 2008 bertempat di klinik ortodonti FKG UI dan di lingkungan FK UI. Selama periode tersebut
BAB I PENDAHULUAN. indeks caries 1,0. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan bahwa
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Karies menjadi salah satu bukti tidak terawatnya kondisi gigi dan mulut pada anak-anak. Target WHO tahun 2010 adalah untuk mencapai indeks caries 1,0. Hasil
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. gigi, jaringan pendukung gigi, rahang, sendi temporomandibuler, otot mastikasi,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem stomatognasi merupakan suatu unit fungsional yang terdiri atas gigi, jaringan pendukung gigi, rahang, sendi temporomandibuler, otot mastikasi, sistem saraf
BAB 1 PENDAHULUAN. Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum terjadi pada individu di seluruh dunia (Selwitz dkk, 2007). Menurut data riskesdas tahun 2013, sekitar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada rongga mulut terdapat berbagai macam koloni bakteri yang masuk melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang masuk melalui makanan,
Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**, Yayun Siti Rochmah***
PENGARUH KUMUR SARI BUAH BELIMBING MANIS (Averrhoa carambola L.) (Studi terhadap Anak Usia 12-15 Tahun Pondok Pesantren Al-Adzkar, Al-Furqon, Al-Izzah Mranggen Demak) Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel yang tak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan lainnya, baik
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. keparahan karies gigi pada anak usia 4-6 tahun merupakan penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian mengenai hubungan pemberian ASI eksklusif dengan tingkat keparahan karies gigi pada anak usia 4-6 tahun merupakan penelitian observational
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kesehatan gigi dan makanan sehat cenderung dapat menjaga perilaku hidup sehat.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak sekolah dasar yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang kesehatan gigi dan makanan sehat cenderung dapat menjaga perilaku hidup sehat. Aktivitas anak sekolah
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mempengaruhi derajat keasaman saliva. Saliva memiliki peran penting dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Makanan di dalam rongga mulut merupakan faktor penting yang mempengaruhi derajat keasaman saliva. Saliva memiliki peran penting dalam mengontrol ph plak gigi. Komposisi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rendah (Depkes RI, 2005). Anak yang memasuki usia sekolah yaitu pada usia 6-12
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal pada anak usia 12-15 tahun di Indonesia cenderung meningkat dari 76,25% pada tahun 1998 menjadi 78,65% pada tahun
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari makanan yang mengandung
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kualitas hidup seseorang (Navazesh dan Kumar, 2008; Amerongen, 1991).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saliva memainkan peranan penting bagi kesehatan rongga mulut (Gupta, 2006). Berkurang atau bertambahnya produksi saliva dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang (Navazesh
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Early Childhood Caries (ECC) merupakan gabungan suatu penyakit dan kebiasaan yang umum terjadi pada anak dan sulit dikendalikan. 1 Istilah ini menggantikan istilah karies botol atau
aureus, Stertococcus viridiansatau pneumococcus
Analisis Data No Data Etiologi Masalah 1. Data Subjektif : Gangguan sekresi saliva Nyeri Penghentian/Penurunan aliran Nyeri menelan pada rahang saliva bawah (kelenjar submandibula) Nyeri muncul saat mengunyah
BAB I PENDAHULUAN. Madu adalah pemanis tertua yang pertama kali dikenal dan digunakan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Madu adalah pemanis tertua yang pertama kali dikenal dan digunakan oleh manusia jauh sebelum mengenal gula. Madu baik dikonsumsi saat perut kosong (Suranto, Adji :
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mukosa, albumin, polipeptida dan oligopeptida yang berperan dalam kesehatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Saliva Saliva adalah cairan eksokrin yang terdiri dari 99% air, berbagai elektrolit yaitu sodium, potasium, kalsium, kloride, magnesium, bikarbonat, fosfat, dan terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di seluruh dunia dan dialami oleh hampir seluruh individu pada sepanjang hidupnya.
LISNA UNITA, DRG.M.KES DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL
LISNA UNITA, DRG.M.KES DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL MEKANISME PERTAHANAN IMUN DAN NON IMUN SALIVA SALIVA Pembersihan secara mekanik Kerja otot lidah, pipi dan bibir mempertahankan kebersihan sisi-sisi mulut
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
7 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indera pengecap merupakan salah satu alat untuk merasakan rasa yang ditimbulkan oleh makanan atau bahan lainnya. Lidah adalah sebagai indra pengecapan. Fungsi lidah
PREVALENSI XEROSTOMIA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
PREVALENSI XEROSTOMIA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh:
BAB I PENDAHULUAN. saliva mayor dan minor. Saliva diproduksi dalam sehari sekitar 1 2 liter,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan komplek yang dapat dihasilkan dari kelenjar saliva mayor dan minor. Saliva diproduksi dalam sehari sekitar 1 2 liter, yang terdiri dari
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dikatakan sebagai mukosa mastikasi yang meliputi gingiva dan palatum keras.
7 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jaringan lunak rongga mulut dilindungi oleh mukosa yang merupakan lapisan terluar rongga mulut. Mukosa melindungi jaringan dibawahnya dari kerusakan dan masuknya mikroorganisme
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tubuh manusia memiliki organ pencernaan yang salah satunya adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tubuh manusia memiliki organ pencernaan yang salah satunya adalah rongga mulut. Di dalam rongga mulut terdapat cairan yang dikenal dengan nama saliva. Saliva adalah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 2006). Kanker leher kepala telah tercatat sebanyak 10% dari kanker ganas di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker leher kepala merupakan kanker yang terdapat pada permukaan mukosa bagian dalam hidung dan nasofaring sampai trakhea dan esophagus, juga sering melibatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. batas normal. Menurut laporan ke tujuh dari Komite Nasional Bersama mengenai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Definisi dan klasifikasi hipertensi Hipertensi adalah keadaan dimana terjadi kenaikan tekanan darah melebihi batas normal. Menurut laporan ke tujuh dari Komite
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bersifat subjektif dan disebabkan oleh banyak faktor. 10
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Xerostomia Xerostomia merupakan suatu gejala kekeringan dalam mulut yang bersifat subjektif dan disebabkan oleh banyak faktor. 10 2.1.1 Definisi Xerostomia didefinisikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Erosi merupakan suatu proses kimia dimana terjadi kehilangan mineral gigi yang umumnya disebabkan oleh zat asam. Asam penyebab erosi berbeda dengan asam penyebab karies
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva merupakan cairan yang sangat penting di rongga mulut yang dihasilkan oleh kelenjar saliva mayor dan minor. Saliva memiliki peranan menegakkan diagnosa dalam bidang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar Teori 1. Saliva a. Pengertian Saliva Saliva adalah cairan oral yang kompleks, terdiri dari campuran sekresi yang berasal dari kelenjar ludah besar (mayor) dan kecil (minor)
Retriksi Cairan dengan Mengunyah Permen Karet Xylitol)
Retriksi Cairan dengan Mengunyah Permen Karet Xylitol) A. Pengertian 1. Retriksi caira Salah satu komplikasi berat dari GGK yaitu terjadinya Gagal Ginjal Terminal (GGT). Penderita GGT hanya dapat memproduksi
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bahan baku utamanya yaitu susu. Kandungan nutrisi yang tinggi pada keju
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keju merupakan makanan yang banyak dikonsumsi dan ditambahkan dalam berbagai makanan untuk membantu meningkatkan nilai gizi maupun citarasa. Makanan tersebut mudah diperoleh
I.PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Permasalahan. bersoda dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan berkarbonasi
I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Permasalahan Saat ini konsumsi minuman ringan pada anak maupun remaja mengalami peningkatan hingga mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Minuman ringan yang telah beredar
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi atau yang biasanya dikenal masyarakat sebagai gigi berlubang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi atau yang biasanya dikenal masyarakat sebagai gigi berlubang, merupakan hasil, tanda, dan gejala dari demineralisasi jaringan keras gigi secara kimia, yang
PERBEDAAN ph, LAJU ALIRAN DAN KADAR ION KALSIUM SALIVA PADA PEROKOK KRETEK DAN BUKAN PEROKOK DI KELURAHAN PADANG BULAN MEDAN
PERBEDAAN ph, LAJU ALIRAN DAN KADAR ION KALSIUM SALIVA PADA PEROKOK KRETEK DAN BUKAN PEROKOK DI KELURAHAN PADANG BULAN MEDAN SKRIPSI Ditujukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar
BAB 5 HASIL PENELITIAN
BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Hasil Penelitian Penelitian ini berlangsung di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok pada tanggal 4, 5, dan 7 November 2008. Jumlah subyek penelitian yang digunakan adalah 30 orang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manfaat yang maksimal, maka ASI harus diberikan sesegera mungkin setelah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ASI atau Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik untuk bayi dan tidak ada satupun makanan lain yang dapat menggantikan ASI. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berkontak dengan gigi dan mukosa mulut, sering disebut dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Saliva Istilah saliva menunjukkan pada larutan campuran di dalam mulut yang berkontak dengan gigi dan mukosa mulut, sering disebut dengan saliva secara keseluruhan.
BAB I PENDAHULUAN. setiap proses kehidupan manusia agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah gizi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang belum pernah tuntas ditanggulangi di dunia. 1 Gizi merupakan kebutuhan utama dalam setiap proses
LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095
LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 NAMA NIM : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095 PROGRAM S1 KEPERAWATAN FIKKES UNIVERSITAS MUHAMMADIAH SEMARANG 2014-2015 1 LAPORAN
BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang paling sering ditemui dalam kesehatan gigi dan mulut yaitu karies gigi dan penyakit periodontal. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2000,
