STATUS MINERAL DALAM PAKAN IKAN DAN UDANG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "STATUS MINERAL DALAM PAKAN IKAN DAN UDANG"

Transkripsi

1 985 Status mineral dalam pakan ikan dan udang (Sukarman) ABSTRAK STATUS MINERAL DALAM PAKAN IKAN DAN UDANG Sukarman dan Lili Sholichah Balai Riset Budidaya Ikan Hias Jl. Perikanan No 13 Pancoran Mas Depok Mineral merupakan substansi anorganik yang mempunyai beberapa fungsi dalam tubuh hewan, di antarannya untuk menjaga proses metabolisme, sebagai bahan pembentuk tulang, gigi, karapas, sebagai ko enzim, menjaga keseimbangan tekanan osmotik dan keseimbangan asam basa dalam tubuh. Namun pada kenyataannya unsur ini sering diabaikan dalam proses pembuatan formula pakan. Makalah ini bertujuan membahas klasifikasi, fungsi mineral, sumber-sumber mineral, efek defisiensi mineral, serta rekomendasi dalam pakan ikan dan udang. Hasil studi diketahui ada 22 jenis mineral yang dibutuhkan oleh hewan, namun hanya ada 11 unsur yang diketahui secara pasti fungsi dan efek defisiensinya untuk ikan dan udang. Sebelas unsur tersebut terbagi dalam unsur makro (kalsium, fosfor, magnesium, kalium) dan unsur mikro (Fe, Zn, Mn, Co, Cu, I dan Se). Unsur mikro lain yang saat ini sudah mulai diteliti fungsinya untuk ikan dan udang adalah kromium. Sedangkan beberapa mineral yang tidak diketahui fungsinya untuk ikan antara lain aluminium, arsenic, cadmium, mercury, nikel, silicon, tin dan vanadium. Mineral terdapat dalam air dan bahan pakan, tetapi kandungannya tidak stabil sehingga perlu ditambahkan sumber mineral dalam bentuk premix. Umumnya defisiensi mineral makro dan mikro berakibat pada terhambatnya pertumbuhan sampai dengan tingginya kematian. Rekomendasi level mineral dalam pakan perlu memperhatikan interaksi antar mineral dan nutrisi lainnya. KATA KUNCI: mineral, makro, mikro, fungsi, defisiensi PENDHULUAN Kebutuhan gizi ikan serta krustase meliputi karbohidrat, protein, asam amio, lemak, asam lemak, vitamin, dan mineral (Schmittou et al., 2004). Dominasi protein dan lemak dalam pembahasan nutrisi pakan ikan menjadikan vitamin serta mineral sering terlupakan. Padahal kedua unsur tersebut mempunyai peran yang tidak kalah penting terutama pada proses metabolisme. Sebagai contoh unsur kalsium dan fosfor merupakan bahan utama pembentukan tulang pada ikan, jika unsur ini kekurangan maka ikan akan tumbuh tidak proporsional. Mineral kadang-kadang dicantumkan sebagai hara penting atau langka (trace) didasarkan atas kebutuhan relatifnya (Schmittou et al., 2004). Asupan minimal mineral yang dibutuhkan sebaiknya dimasukan dalam proses formulasi pakan. Oleh karena itu masyarakat pada umumnya dan praktisi perikanan perlu mengetahui klasifikasi mineral, fungsi, efek defisiensi, sumber, dan level mineral dalam pakan ikan dan udang. PEMBAHASAN Dalam skema analisis proksimat weende, mineral digolongkan komponen abu. Unsur kalsium dan fosfor keduanya merupakan lebih dari 70% dari seluruh abu tubuh. Sedangkan unsur-unsur yang lain jumlahnya relatif sedikit. Mineral yang dibutuhkan oleh hewan ada 22 jenis, namun hanya 11 macam yang diketahui pasti fungsi dan efek defisiensinya pada ikan dan udang. Klasifikasi dan Fungsi Mineral Umumnya mineral dalam pakan ikan digolongkan menjadi 2 yaitu mineral makro dan mineral mikro. Ada pula yang membagi kembali menjadi mineral mikro esensial dan mikro non esensial. Esesnsial yang dimaksud adalah jika kebutuhannya tidak tercukupi akan tampak gejala-gejala defisiensi pada ikan. Semua unsur mineral tidak dapat disintesis dari mineral lainnya. Kriteria makro dan mikro didasarkan atas jumlah kebutuhan dan penggunaan unsur mineral tersebut di dalam pakan.

2 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur A. Mineral Makro 1. Kalsium Kalsium merupakan unsur yang penting dalam perkembangan serta pertumbuhan tulang pada ikan, ekso skeleton (karapas) pada krustase (Millamena et al., 2002), menjaga keseimbangan osmotik, proses pembekuan darah, sekresi hormon dan sistem saraf (Guillaume et al., 2001). Ikan dan Udang dapat menyerap kalsium dari air (Davis & Lawrence, 1997), kemudian Guilaume et al (2001), menambahkan bahwa lebih dari 50%-60% kebutuhan kalsium dapat diperoleh dari air. Kalsium dari air diserap melalui insang, sirip, oral epithelia. Insang merupakan organ terpenting dalam pengaturan kalsium. Kalsium dalam pakan umumnya di dapatkan dari bahan baku seperti tepung ikan, namun kekuranganya bisa juga disuplementasi dengan tepung batu. Pada saat proses metabolisme makanan ada interaksi antara kalsium dengan vitamin D 3, Mg, dan Zn. 2. Fosfor (P) Fosfor merupakan mineral makro lainnya yang dibutuhkan oleh ikan dan sangat penting dalam pembentukan nukleotida dan membran sel. Hal ini berarti fosfor berpran penting dalam pembentukan ATP (Millamena et al., 2002), yang kemudian akan menjadi energi bagi ikan. Berbeda dengan kalsium, ketersediaan fosfor dalam air sangatlah rendah. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan fosfor harus disediakan dalam pakan. Sebagian besar jenis ikan membutuhkan fosfor tersedia 0,5%- 1% (Millamena et al., 2002), spesies lainnya membutuhkan 0,5%-0,9% dalam pakan (Guillaume et al., 2001). Fosfor tersedia di sini diartikan sebagai fosfor yang mampu diserap oleh ikan dan udang. Fosfor pada tanaman yang diikat oleh asam fitat sebagian besar tidak bisa diserap oleh ikan dan udang, Guilaume et al (2001) menambahkan hanya sekitar 40%-60% saja yang bisa diserap. Asam fitat juga akan mengikat ion Zn 2+, Fe 2+, Ca 2+ sehingga akan menurunkan penyerapan ions tersebut di dalam saluran pencernaan. Untuk menyiasati hal ini maka penggunaan enzim fitase untuk melepaskan ikatan fitat telah banyak digunakan dalam industri pakan. Pemenuhan kebutuhan fosfor tidak terkait dengan penambahan kalsium dalam pakan, akan tetapi sumber fosfor umumnya mengandung kalsium tinggi. Hal yang perlu di perhatikan adalah rasio antara kalsium dan fosfor dalam pakan ikan dan udang. Nilai rasio Ca dan P bervariatif berkisar antara 0,5:1 sampai dengan 1:1. 3. Magnesium (Mg) Konsentrasi magnesium dalam tubuh ikan adalah mg / 100 g (Guillaume et al., 2001). Magnesium adalah ko-faktor beberapa reaksi enzimatis yang berhubungan dengan fosfor. Magnesium dalam bahan pakan asal tanaman cukup tinggi, sehingga suplementasi bahan inorganik dalam bentuk garam magnesium diperlukan dalam kasus tertentu saja. Kandungan dan kecernaan magnesium dalam tepung ikan sangat tinggi, kecernaanya dibandingkan dengan MgCl 2 lebih tinggi 75% pada ikan salmon (Guillaume et al., 2001). Ini diduga ada hubungannya dengan kondisi magnesium di dalam laut. Air laut mempunyai kandungan magnesium yang tinggi yaitu sekitar mg/l. Oleh karena itu, spesies ikan dan udang yang hidup pada air berkadar garam tinggi tidak memerlukan suplementasi sumber magnesium pada pakannya. 4. Sodium, Klor, dan Potasium Keseimbangan asam basa dari Na +, Cl - dan K + dibutuhkan dalam proses osmoregulasi. Lingkungan air umumnya kaya akan Na dan Cl, sehingga kebutuhan akan unsur tersebut tidak banyak dibahas. Namun demikian diketahui bahwa penambahan sodium, potasium dan chloride dalam pakan akan memperbaiki proses fisiologi. Kanazawa et al. (1984) dalam Davis & Lawrence (1997), melaporkan bahwa pakan yang mengandung 0,9% potasium pada udang P. japonicus lebih tinggi pertumbuhannya dibandingkan dengan pakan yang mengandung 1,8% potasium. Deshimaru & Yone (1978) dalam Davis & Lawrence (1997), menambahkan bahwa suplementasi potasium dalam pakan cukup 1% saja.

3 987 Status mineral dalam pakan ikan dan udang (Sukarman) B. Mineral Mikro 1. Fe (Besi) Fe atau yang dikenal dengan zat besi merupakan unsur yang penting dalam pembentukan hemoglobin dan reaksi-reaksi ezimatik lainnya. Udang tidak mempunyai hemoglobin sehingga kebutuhan akan Fe belum diketahui pasti, kelebihan Fe berpotensi menurunkan pertumbuhan udang. Bahan baku pakan sumber Fe kebanyakan dari hewan, diantaranya adalah tepung darah dengan kandungan Fe sebesar mg/kg, tergantung pada proses pengeringannnya. 2. Cu ( Copper) Cu merupakan salah satu komponen penting dalam proses enzimatik yang berhubungan dengan transpot elektron didalam sel. Dalam hal ini Cu berperan sebagai pembawa oksigen dalam hemosianin pada krustase dan moluska. Pada ikan, Cu mempunyai berfungsi memfasilitasi penyerapan unsur mikro lainnya seperti Fe dan Zn. Ikan lebih toleran terhadap kelebihan Cu dari pakan, dibandingkan Cu yang ada dalam air. Kandungan Cu dalam air antara 0,8-1,0 mg/l air beracun untuk beberapa jenis ikan. Namun demikian pemberian Cu dalam pakan sampai dengan 600 mg/kg tidak menimbulkan bahaya pada ikan. 3. Zn ( Seng) Fungsi utama Zn adalah sebagai ko-faktor dalam beberapa proses enzimatik, termasuk penggunaan hampir semua nutrisi. Paling tidak ada 20 jenis enzim yang mengandung Zn. Ikan dapat memperoleh Zn dari air dan pakan, tetapi penyerapan Zn dari pakan lebih efisien. Zn dari bahan baku asal hewan seperti tepung ikan, tetapi mempunyai kecernaan rendah. Sementara Zn dari tumbuhan banyak terikat oleh asam fitat, sehingga suplementasi bahan an organik sumber Zn menjadi sangat penting. 4. Iodium (I) Kebutuhan Iodium berhubungan dengan kerja kelenjar tyroid. Kebutuhan minimal Iodium pada ikan dan udang tidak banyak diketahui, tetapi penambahan Iodium pada pakan sebagai jaminan supaya tidak terjadi defisiensi direkomendasikan oleh NRC. 5. Mangan (Mn) Seperti unsur Zn, ikan bisa mendapatkan Mn dari air, namun demikian akan lebih efisien jika diperoleh dari pakan. Manganese penting sebagai ko-faktor proses enzimetik terutama berhubungan dengan metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Mn dalam bahan baku pakan jumlahnya cukup banyak, tetapi kecernaanya sangat bervariasi. Pemberian MnSO 4 atau MnCl 3 lebih mudah diserap oleh ikan. Pemberian Mn pada pakan udang lebih diperlukan karena kadar Mn dalam air laut sangat rendah. 6. Selenium (Se) Fungsi utama Se adalah melindungi membran sel dari oksidasi, ini sejalan dengan fungsi vitamin E. Konsentrasi selenium dalam air sangat rendah, sedangkan pada tepung ikan sangat bervariasi. Penggunaan tepung ikan lebih dari 15% pada pakan udang bisa mencukupi kebutuhan selenium. Akan tetapi penggunaan tepung ikan saat ini mulai dibatasi, sehingga suplementasi selenium baik organik maupun anorganik sangat dianjurkan. 7. Unsur mikro lainnya Unsur alumunium diketahui berpengaruh terhadap pertumbuhan belut, sedangkan flourin diduga penting untuk ikan salmon. kobalt (Co) merupakan komponen penting dalam pembentukan vitamin B12, kromium penting dalam proses metabolisme glukosa dan lemak, dan sulfur diperlukan dalam proses sintetis sistin. Unsur-unsur lain seperti molibdenum, silikon dan vanadium belum banyak diketahui fungsinya untuk ikan.

4 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur Selain mineral-mineral yang telah disebut di atas, ada beberapa mineral yang tidak diketahui fungsinya untuk ikan antara lain aluminium, arsenic, cadmium, mercury, nikel, silicon, tin dan vanadium. B. Sumber-Sumber Mineral Sumber mineral untuk ikan dan udang sedikit berbeda dengan hewan pada umumnya. Ikan dan udang bisa mendapatkan mineral dari air (lingkungan hidupnya) dan makanannya, sedangkan hewan darat pada umumnya hanya mendapatkan asupan mineral dari makanannya. Mineral yang bisa didapatkan dari air antara lain Ca, K, Cu, dan Iodine, sedangkan mineral lainnya perlu tersedia dalam pakan. Mineral dalam pakan bisa berasal dari bahan baku pakan. Namun mineral dalam bahan baku variasinya sangat tinggi, begitu juga mineral dalam air. Oleh karena itu perlu ada tambahan sumber mineral murni yang bisa disuplementasikan dalam pakan (Nef et al., 2005). Baik mineral dalam bahan baku dan sumber mineral murni perlu diketahui agar bisa menjamin pakan tidak defisiensi mineral dan juga tidak mengandung mineral yang berlebihan dan bersifat toksik. Table 1. Bahan mineral makro dan mikro Mineral Sumber Kadar (%) Potasium (K) K 2 SO 4.MgSO 4 dan K 2 SO 4 18 dan 41 Magnesium (Mg) K 2 SO 4.MgSO 4 dan magnesium oxide 11 dan Sulfur (S) K 2 SO 4.MgSO 4 dan K 2 SO 4 22 dan 17 Kalsium sulfat (CaSO 4 ) 17 Amonium sulfat ( (NaH 4 ) 2 SO 4 ) 24 Sulfur (S) 99.6 Sodium sulfat (Na 2 SO 4 ) 10 Magnesium sulfat (MgSO 4 ) Sodium (Na) Sodium bicarbonat dan sodium sesquicarbonat Na= 27 dan Na= Klor (Cl) Garam Na = 39, Cl = 60 Sodium sulfat Na = 14 Potasium chloride Cl =47 Sodium fosfat Na =16 Zat Besi (Fe) Ferrous carbonate (Fe CO 3 ) 40 Ferrous sulfat (Fe SO 4.H 2 O atau Fe SO 4.7 H 2 O) Seng (Zn) Zinc oxide ( Zn O) dan Zinc sulfat (Zn SO 4. H 2 O) 72 dan 36 Iodium (I) Mangan (Mn) Kobalt (Co) Calsium iodate (Ca IO 3 ) 64 EDDI (Ethylenediamine Dihydroiodide) 79 Potasium iodate (KI) 69 Mangane oxide (MnO) 60 Manganese sulfat (Mn SO 4.H 2 O) 28.5 Cobalt carbonate (CoCO 3 ) 46 Cobalt sulfat (CoSO 4. H 2 O atau CoSO 4.7H 2 O) Selenium (Se) Sodium selenite (Na 2 Se O 3 ) dan sodium selenate 45 dan 40 Cupprum (Cu) Cupric oxide (CuO) 75 Copper sulfat (CuSO 4. 5H 2 O) 25 Copper carbonat (Cu CO 3 ) 55 Sumber: Anonim ( 2005), Charlton & Ewing (2007)

5 989 Status mineral dalam pakan ikan dan udang (Sukarman) Bahan baku utama dalam pakan hanya mengandung sedikit mineral sehingga perlu ada bahan tambahan yang konsentrasi mineralnya cukup tinggi. Bahan baku mikro yang bisa digunakan sebagai sumber mineral dalam pakan ikan dan udang adalah sebagai berikut : CaCO 3 (38%), kulit kerang (38%), kalsium sulfat dihydrate (21%), kalsium sulfat anhydride (26.5%), Tepung Tulang (23%), monokalsium fosfat (15%-18%),dikalsium fosfat (19%-22%) dan deflourinated (30%-32%). Sedangkan sumber-sumber fosfor untuk pakan ikan antara lain : asam fosforik (23.7%), deflourinated fosfat (18%.1%), dikalsium fosfat (18.5% fosfor total dan 65 fosfor tersedia), monokalsium fosfat (21% fosfor total dan 94% fosfor tersedia), monosodium fosfat (26%), monoamonium fosfat (24%), amonium polifosfat (14.8%-16%) dan tepung tulang (8-14%). Pada umunya monokalsium fosfat dan dialsium fosfat sering digunakan dalam pakan untuk menutupi kekurang unsure P dari tepung ikan. Tepung ikan sendiri mengandung 2%-7% fosfor total tetapi yang tersedia untuk ikan air tawar hanya 30%-40% saja. Umumnya CaCO 3 mengandung Mg sekitar 0.2%-0.9% dan kadar air 0,5%. Mono atau dikalsium fosfat berbentuk granul 95% berwarna abu-abu dengan berat jenis antara kg/m 3. Sumber-sumber mineral lainnya umumnya dijual di pasaran sudah dalam bentuk premix. Premix yang dimaksud adalah campuran beberapa bahan mineral dengan kandungan unsur yang telah ditentukan terlebih dahulu. Bahan-bahan tersebut bisa dilihat pada Tabel 1. C. Interelasi antara mineral dan defisiensi mineral Defisiensi mineral pada hewan disebabkan 2 hal yaitu kekurangan asupan mineral dari pakan atau lingkungannya dan adanya kelebihan salah satu mineral yang menyebabkan penyerapan mineral lainnya tergangggu. Oleh karena itu perlu juga diketahui interelasi antara mineral satu dengan lainnya dalam tubuh ikan. Interelasi pada mineral ada 2 macam yaitu satu arah dan 2 arah berlawanan. Penyerapan Zn akan berkurang jika level Ca dalam makanan berlebihan tetapi tidak berlaku sebaliknya. Sedangkan Mn dan P saling terpengaruh, jika salah satu diantaranya berlebihan maka akan mempengaruhi penyerapan unsur keduanya. Oleh karena itu selain level mineral, keseimbangan antar mineral menjadi penting supaya tidak terjadi defisiensi. Ca, Mg, Mn, Zn, Fe, Al dan Be mempengaruhi penyerapan P dan sebaliknya. Sedangkan Cu yang rendah Mo yang tinggi menambah kehilangan P dalam tubuh, Cu dibutuhkan untuk mensintesis fosfolipid. Kalsium juga berinterkorelasi dengan vitamin D, dalam bentuk vitamin D 3. Beberapa vitamin lainnya seperti niacin, vitamin B 1 dan vitamin B 6 berinteraksi juga dengan unsur P. Fe dan Se berinteraksi dengan PUFA, sedangkan Se juga berinteraksi dengan vitamin E. Umumnya defisiensi mineral baik makro maupun mikro akan menyebabkan pertumbuhan menurun, namun ada beberapa ciri yang bisa menunjukkan defisiensi unsur yang spesifik. Sebagai contoh defisiensi Ca akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tulang dan ukuran tulang yang tidak sempurna. D. Level Mineral dalam Pakan Ikan dan Udang Rekomendasi jumlah mineral untuk ikan dan udang berbeda, bahkan untuk setiap spesies udangpun bisa berbeda. Rekomendasi mineral makro biasanya dinyatakan dalam g/100g pakan (%), sedangkan kebutuhan mineral mikro dinyatakan dalam mg/kg pakan atau ppm. Satuan ppm (part per million) adalah untuk menyatakan kandungan suatu bahan yang jumlahnya satu per satu juta total keseluruhan bahan (Schofield, 2005). Kestaraan satuan tersebut sama dengan mg/kg untuk bahan padat didalam bahan padat, dan bisa sama dengan mg/l air untuk dosis obat berbentuk tepung yang dimasukan kedalam air. Sama halnya dengan ikan, udang juga memerlukan mineral dalam makanannya. Penelitian kebutuhan mineral pada berbagai jenis udang sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Kebutuhan kalsium berkisar antara 1,0-2,0% untuk semua spesies udang, sedangkan fosfor berkisar antara 0,75-2%. Hubungan antara kebutuhan kalsium dan fosfor pada udang dinyatakan dengan rasio Ca:P yaitu berkisar antara 0.5:1 hingga 1:1. Kebutuhan mineral - mineral makro tersebut dan beberapa mineral mikro lainnya seperti Cu, Zn, dan Se dipengaruhi oleh kelimpahan di dalam tambak pemeliharaan.

6 Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur Tabel 2. Kebutuhan mineral beberapa jenis ikan 1) Mineral Jenis ikan Lele Mas Nila Salmon Belut Ca (%) 0,45* ,03-0, P (%) 0,33-0,45 0,6-0,7 0,8-1,0 0,7-0, Mg (%) ,04-0,05 0,05-0, Cu (mg/kg) Fe (mg/kg) Mn (mg/kg) Zn (mg/kg) Co mg/kg) 0.1 1) Watanabe et al. (1998), Bautistista & Baticodas (1988), Metailler & Bergot (1999) * air tanpa kandungan Ca KESIMPUL AN Terdapat 22 jenis mineral yang dibutuhkan oleh hewan, namun hanya ada 11 unsur yang diketahui secara pasti fungsi dan efek defisiensinya untuk ikan dan udang. Sebelas unsur tersebut terbagi dalam unsur makro yaitu terdiri atas kalsium, fosfor, magnesium, kalium dan unsur mikro yang terdiri atas Fe, Zn, Mn, Co, Cu, I dan Se. Unsur mikro lain yang saat ini sudah mulai diteliti fungsinya untuk ikan dan udang adalah kromium.sedangkan beberapa mineral yang tidak diketahui fungsinya untuk ikan antara lain aluminium, arsenic, cadmium, mercury, nikel, silicon, tin dan vanadium. Mineral terdapat dalam air dan bahan pakan, tetapi kandungannya tidak stabil sehingga perlu ditambahkan sumber mineral dalam bentuk premix. Umumnya defisiensi mineral makro dan mikro berakibat pada terhambatnya pertumbuhan sampai dengan tingginya kematian. Rekomendasi level mineral dalam pakan perlu memperhatikan interaksi antar mineral dan nutrisi lainnya DAFTAR PUSTAKA Anonim,2005. Micro Ingredient for the Feed Industry. IMC AGRICO, p Charlton, S.J. dan Ewing, W.N The Minerals Directory 2 nd Edition, P Davis, D.A Dietary Mineral Requirement of Fish and Marine Crustacean. Review in Fisheries Science, 4(1): Davis, D.A. and Lawrence, A.L. in Akiyama and Conklin, D Minerals. Crustacean Nutrition. Advances in World Aquaculture, 6: Guillaume, J., Kaushik, S., Bergot, P.and Metailer, R Nutrition and Feeding of Fish and Crustaceans, p Millamena, O. M., Coloso, R.M., and Pascual, F.P Nutrition in Tropical Aquaculture. Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAEDEC). Tagibauan, Iloilo, Philippines, p Nef, E., Rohde, H.R. and Kersten, J Principles of Mixed Feed Production. Agrimedia GmbH. Germany, p Pascual, F.P Mineral Requirement of Penaeids. Advance in Tropical Aquaculture, 9: Schofield, E.K Feed Manufacturing Technology. American Feed Industry Association, Inc. p Schmittou, H.R., Jian, J. and Cremer, M.C Beberapa Prinsip dan Praktek Budidaya Ikan Kolam Sistem, 80: 20. Takeshi, W., Shuichi, S. and Toshio, T Available of Mineral in Fish Meal to Fish. Asian Fisheries Science 1(1988):

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 24 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakterisasi Fisik Udang Mantis Udang mantis yang digunakan dalam penelitian ini memiliki ukuran berat dan panjang yang tidak seragam, akan tetapi nilai rendemen daging

Lebih terperinci

menyebabkan air dari cairan ekstraseluler masuk ke dalam sel, sehingga tekanan osmotik dari cairan ekstraseluler meningkat. Volume cairan, termasuk

menyebabkan air dari cairan ekstraseluler masuk ke dalam sel, sehingga tekanan osmotik dari cairan ekstraseluler meningkat. Volume cairan, termasuk MINERAL Sebagian besar bahan makanan, yaitu sekitar 96% terdiri dari bahan organik dan air. Sisanya terdiri dari unsur-unsur mineral. Unsur mineral dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Dalam proses

Lebih terperinci

MAKALAH MATA KULIAH PANGAN DAN GIZI HASIL TERNAK. Oleh : Titian Rahmad S. H

MAKALAH MATA KULIAH PANGAN DAN GIZI HASIL TERNAK. Oleh : Titian Rahmad S. H MAKALAH MATA KULIAH PANGAN DAN GIZI HASIL TERNAK Oleh : Titian Rahmad S. H0506010 JURUSAN/PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009 MINERAL Mineral merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB PENDAHULUAN.7. Latar Belakang Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudi dayakan di Indonesia. Ikan Nila menduduki urutan kedua setelah ikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah penduduk yang disertai dengan meningkatnya kesadaran

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah penduduk yang disertai dengan meningkatnya kesadaran I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Meningkatnya jumlah penduduk yang disertai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani menyebabkan semakin meningkatnya konsumsi

Lebih terperinci

Ciri-Ciri Organisme/ Mahkluk Hidup

Ciri-Ciri Organisme/ Mahkluk Hidup DASAR-DASAR KEHIDUPAN Ciri-Ciri Organisme/ Mahkluk Hidup 1.Reproduksi/Keturunan 2.Pertumbuhan dan perkembangan 3.Pemanfaatan energi 4.Respon terhadap lingkungan 5.Beradaptasi dengan lingkungan 6.Mampu

Lebih terperinci

BAHAN PAKAN SUPLEMEN DAN ADITIF

BAHAN PAKAN SUPLEMEN DAN ADITIF BAHAN PAKAN SUPLEMEN DAN ADITIF Suplemen Mineral Pertemuan ke-5 ALI AGUS LAB. TEKNOLOGI MAKANAN TERNAK Klasifikasi Bahan Pakan 1) Hijauan kering dan jerami 2) Hijauan pakan 3) Silage 4) Bahan pakan sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sayuran segar adalah bahan pangan yang banyak mengandung vitamin dan mineral yang penting untuk tubuh (Ayu, 2002). Di samping sebagai sumber gizi, vitamin dan mineral,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kambing Perah Kambing perah merupakan jenis kambing yang dapat memproduksi susu dengan jumlah melebihi kebutuhan untuk anaknya. Kambing perah yang dipelihara biasanya adalah kambing

Lebih terperinci

PERTEMUAN/KULIAH KE: 13

PERTEMUAN/KULIAH KE: 13 PERTEMUAN/KULIAH KE: 13 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Setelah mengikuti pertemuan ini Anda akan dapat: 1. Memahami dan menjelaskan fungsi dan kebutuhan mineral pada ternak babi 2. Memilih sumber mineral

Lebih terperinci

Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan. Program Alih Jenjang D4 Bidang Akuakultur SITH, ITB VEDCA - SEAMOLEC

Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan. Program Alih Jenjang D4 Bidang Akuakultur SITH, ITB VEDCA - SEAMOLEC Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan Program Alih Jenjang D4 Bidang Akuakultur SITH, ITB VEDCA - SEAMOLEC Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan: 1. Pakan Buatan dalam Industri Akuakultur: Pengenalan 2. Nutrisi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh

II. TINJAUAN PUSTAKA. Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh II. TINJAUAN PUSTAKA A. Mineral Mikro Organik Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh makluk hidup. Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu sebagai senyawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. asli Indonesia. Daerah asalnya adalah India dan Afrika Tengah. Tanaman ini

BAB I PENDAHULUAN. asli Indonesia. Daerah asalnya adalah India dan Afrika Tengah. Tanaman ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kacang panjang sudah lama dikenal di Indonesia, tetapi bukan tanaman asli Indonesia. Daerah asalnya adalah India dan Afrika Tengah. Tanaman ini tumbuh dan menyebar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang mempunyai

I. PENDAHULUAN. Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang mempunyai 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang mempunyai prospek cerah untuk dapat dikembangkan. Cabai dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan dan gizi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan. Komponen ini merupakan kontribusi dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Masalah pangan: ketersediaan pangan; kerawanan konsumsi pangan oleh pengaruh kemiskinan, pendidikan rendah & pantangan terhadap makanan

PENDAHULUAN. Masalah pangan: ketersediaan pangan; kerawanan konsumsi pangan oleh pengaruh kemiskinan, pendidikan rendah & pantangan terhadap makanan GIZI & PANGAN PENDAHULUAN Gizi seseorang tergantung pada kondisi pangan yang dikonsumsinya Masalah pangan: ketersediaan pangan; kerawanan konsumsi pangan oleh pengaruh kemiskinan, pendidikan rendah & pantangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang

I. PENDAHULUAN. Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang memiliki banyak manfaat yaitu selain dapat dimanfaatkan sebagai sayur, lalapan, salad

Lebih terperinci

MODUL 2-1 NUTRISI MINERAL TUMBUHAN

MODUL 2-1 NUTRISI MINERAL TUMBUHAN MODUL 2-1 NUTRISI MINERAL TUMBUHAN Elemen esensial: Fungsi, absorbsi dari tanah oleh akar, mobilitas, dan defisiensi Oleh : Retno Mastuti 1 N u t r i s i M i n e r a l Jurusan Biologi, FMIPA Universitas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 10 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Sifat Kimia Abu Terbang Abu terbang yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari ESP (Electrostatic Precipitator) yang merupakan abu terbang segar dan abu

Lebih terperinci

NUTRISI UNGGAS 11/8/2016. Catootjie L. Nalle, Ph.D. Jurusan Peternakan Program Study Teknologi Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang

NUTRISI UNGGAS 11/8/2016. Catootjie L. Nalle, Ph.D. Jurusan Peternakan Program Study Teknologi Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang 1 NUTRISI UNGGAS 11/8/2016 Catootjie L. Nalle, Ph.D. Jurusan Peternakan Program Study Teknologi Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang 11/8/2016 POKOK-POKOK BAHASAN 1. JENIS-JENIS NUTRISI UNGGAS

Lebih terperinci

WAYAN AGUS EDHY PT HERO MULTI SENTOSA BANDARLAMPUNG 9 DESEMBER 2017

WAYAN AGUS EDHY PT HERO MULTI SENTOSA BANDARLAMPUNG 9 DESEMBER 2017 WAYAN AGUS EDHY PT HERO MULTI SENTOSA BANDARLAMPUNG 9 DESEMBER 2017 Keberhasilan budidaya udang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pemilihan lokasi yang cocok untuk pertambakan, dukungan finansial,

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Pendahuluan Pada penelitian pendahuluan dilakukan uji proksimat kulit udang dan penentuan waktu proses perendaman kulit udang dengan larutan HCl yang terbaik. Uji

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu peternakan. Pakan

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu peternakan. Pakan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu peternakan. Pakan merupakan salah satu komponen dalam budidaya ternak yang berperan penting untuk mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segar digunakan sebagai obat mencret, kencing manis, gatal-gatal, gangguan

BAB I PENDAHULUAN. segar digunakan sebagai obat mencret, kencing manis, gatal-gatal, gangguan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Eugenia polyantha Wight (Myrtaceae) dikenal dengan nama salam (jawa) banyak tumbuh dihutan dan dapat ditanam di pekarangan. Masyarakat sering menggunakannya sebagai

Lebih terperinci

4. Jenis pupuk. Out line. 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman

4. Jenis pupuk. Out line. 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman PUPUK Out line 1. Definisi pupuk 2. Nutrien pada tanaman dan implikasinya 3. Proses penyerapan unsur hara pada tanaman 4. Jenis pupuk 5. Proses pembuatan pupuk 6. Efek penggunaan pupuk dan lingkungan Definisi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jambu biji (Psidium guajava L) adalah satu jenis buah tropis yang mengandung

I. PENDAHULUAN. Jambu biji (Psidium guajava L) adalah satu jenis buah tropis yang mengandung 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Jambu biji (Psidium guajava L) adalah satu jenis buah tropis yang mengandung gizi yang baik bagi kesehatan. Buah jambu biji kaya akan kandungan mineral dan

Lebih terperinci

PELATIHAN PEMBUATAN PAKAN IKAN LELE, MAS DAN NILA

PELATIHAN PEMBUATAN PAKAN IKAN LELE, MAS DAN NILA PELATIHAN PEMBUATAN PAKAN IKAN LELE, MAS DAN NILA Harwi Kusnadi Peneliti Pertama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu Jl. Irian Km. 6,5Kelurahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. untuk dikembangkan di Indonesia, baik sebagai bunga potong maupun tanaman

I. PENDAHULUAN. untuk dikembangkan di Indonesia, baik sebagai bunga potong maupun tanaman I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anggrek merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang mempunyai potensi untuk dikembangkan di Indonesia, baik sebagai bunga potong maupun tanaman dalam pot. Dari ribuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bukanlah zat yang bisa dihasilkan oleh tubuh melainkan kita harus

BAB I PENDAHULUAN. bukanlah zat yang bisa dihasilkan oleh tubuh melainkan kita harus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mineral merupakan unsur kimia yang diperlukan untuk tubuh kita. Mineral bukanlah zat yang bisa dihasilkan oleh tubuh melainkan kita harus mendapatkannya dari luar tubuh

Lebih terperinci

Mineral dibagi dalam beberapa golongan yaitu :

Mineral dibagi dalam beberapa golongan yaitu : METABOLISME MINERAL PENDAHULUAN Fungsi utama mineral dalam tubuh organisme antara lain pembentukan struktur rangka, memelihara sistem koloid (tekanan osmotik, viskositas, difusi) dan regulasi keseimbangan

Lebih terperinci

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan % BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Berdasarkan hasil pengamatan terhadap benih Lele Sangkuriang selama 42 hari masa pemeliharaan diketahui bahwa tingkat penggunaan limbah ikan tongkol

Lebih terperinci

Unsur Hara Mikro yang dibutuhkan oleh Tanaman

Unsur Hara Mikro yang dibutuhkan oleh Tanaman Unsur Hara Mikro yang dibutuhkan oleh Tanaman Oleh : Mamik Tanaman, seperti halnya makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi yang cukup memadai dan seimbang agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Di zaman modern sekarang ini banyak hal yang memang dibuat untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitasnya, termasuk makanan instan yang siap saji. Kemudahan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume II No 1 Oktober 2013 ISSN: 2302-3600 PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis

Lebih terperinci

LOGO VITAMIN DAN MINERAL

LOGO VITAMIN DAN MINERAL LOGO VITAMIN DAN MINERAL Widelia Ika Putri, S.T.P., M.Sc Vitamin - Zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil - Pada umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh - Zat pengatur pertumbuhan

Lebih terperinci

KLASIFIKASI MINERAL. Makro : Kebutuhan minimal 100 mg/hari utk orang dewasa Ex. Na, Cl, Ca, P, Mg, S

KLASIFIKASI MINERAL. Makro : Kebutuhan minimal 100 mg/hari utk orang dewasa Ex. Na, Cl, Ca, P, Mg, S ANALISIS KADAR ABU ABU Residu anorganik dari proses pembakaran atau oksidasi komponen organik bahan pangan. Kadar abu dari bahan menunjukkan : Kadar mineral Kemurnian Kebersihan suatu bahan yang dihasilkan

Lebih terperinci

Gambar 1. Cara penggunaan alat pemeras madu. Gambar 2. Alat Pemeras madu. Gambar 3. Alat Penyaring madu Gambar 4. Ruang pengolahan madu 70 %

Gambar 1. Cara penggunaan alat pemeras madu. Gambar 2. Alat Pemeras madu. Gambar 3. Alat Penyaring madu Gambar 4. Ruang pengolahan madu 70 % BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian yang telah dilakukan yaitu pembuatan alat pemeras madu (Gambar 1 & 2) dan penyaring madu (Gambar 3). Pelaksanaan pembuatan ruang khusus pengolahan madu (Gambar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Zat Makanan Biomineral Dienkapsulasi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Zat Makanan Biomineral Dienkapsulasi HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Zat Makanan Biomineral Dienkapsulasi Kandungan nutrien biomineral tanpa proteksi dan yang diproteksi serta mineral mix dapat dilihat pada Tabel 7. Kandungan nutrien biomineral

Lebih terperinci

III. NUTRISI DAN MEDIUM KULTUR MIKROBA

III. NUTRISI DAN MEDIUM KULTUR MIKROBA III. NUTRISI DAN MEDIUM KULTUR MIKROBA Medium pertumbuhan (disingkat medium) adalah tempat untuk menumbuhkan mikroba. Mikroba memerlukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi dan untuk bahan pembangun

Lebih terperinci

Lampiran 1. Standar Kualitas Kompos Menurut Standar Nasional Indonesia

Lampiran 1. Standar Kualitas Kompos Menurut Standar Nasional Indonesia Lampiran 1. Standar Kualitas Kompos Menurut Standar Nasional Indonesia No Parameter Satuan Minimum Maksimum 1 Kadar air % - 50 2 Temperatur O C - Suhu air tanah 3 Warna - - Kehitaman 4 Bau - - Berbau tanah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lokal (Bos sundaicus), sapi Zebu (Bos indicus) dan sapi Eropa (Bos taurus). Sapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lokal (Bos sundaicus), sapi Zebu (Bos indicus) dan sapi Eropa (Bos taurus). Sapi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Potong Sapi potong pada umumnya digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sapi lokal (Bos sundaicus), sapi Zebu (Bos indicus) dan sapi Eropa (Bos taurus). Sapi potong merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar. Demikian. (The Tree of Life) atau pohon yang amat

BAB I PENDAHULUAN. seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar. Demikian. (The Tree of Life) atau pohon yang amat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha budidaya ikan pada dewasa ini nampak semakin giat dilaksanakan baik secara intensif maupun ekstensif. Usaha budidaya tersebut dilakukan di perairan tawar, payau,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Tanaman Klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut: Divisi Sub divisi Kelas Keluarga Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monotyledonae : Gramineae (Poaceae)

Lebih terperinci

WATER TREATMENT (Continued) Ramadoni Syahputra

WATER TREATMENT (Continued) Ramadoni Syahputra WATER TREATMENT (Continued) Ramadoni Syahputra Air adalah salah satu bahan pokok (komoditas) yang paling melimpah di alam tetapi juga salah satu yang paling sering disalahgunakan 2.3 JENIS-JENIS IMPURITAS

Lebih terperinci

Komponen Kimia penyusun Sel (Biologi) Ditulis pada September 27, 2012

Komponen Kimia penyusun Sel (Biologi) Ditulis pada September 27, 2012 Komponen Kimia penyusun Sel (Biologi) Ditulis pada September 27, 2012 Sel disusun oleh berbagai senyawa kimia, seperti karbohidrat, protein,lemak, asam nukleat dan berbagai senyawa atau unsur anorganik.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Syarat Tumbuh Tanaman Jambu Biji Merah Nama ilmiah jambu biji adalah Psidium guajava. Psidium berasal dari bahasa yunani yaitu psidium yang berarti delima, guajava

Lebih terperinci

Nimas Mayang Sabrina S, STP, MP Lab. Bioindustri, Jur Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya

Nimas Mayang Sabrina S, STP, MP Lab. Bioindustri, Jur Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT BAHAN BAKU DAN PRODUK BIOINDUSTRI Nimas Mayang Sabrina S, STP, MP Lab. Bioindustri, Jur Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya Email :

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebutuhan Energi dan Makronutrien Kerapu Bebek 2.1.1. Sumber dan Pemanfaatan Energi oleh Ikan Pada ikan, sumber energi diperoleh dari pakan, dimana pada pakan ikan ini mengandung

Lebih terperinci

Mineral. Pandangan Nutrisi : bahan inorganik yang dibutuhkan. untuk proses kehidupan baik dalam bentuk ion atau

Mineral. Pandangan Nutrisi : bahan inorganik yang dibutuhkan. untuk proses kehidupan baik dalam bentuk ion atau Mineral Mineral Pandangan Nutrisi : bahan inorganik yang dibutuhkan untuk proses kehidupan baik dalam bentuk ion atau elemen bebas. Diperoleh dari makanan (tubuh tidak dpt memproduksi) Fungsi Sebagai katalisator

Lebih terperinci

FEMA IPB, 2) Fateta IPB, 3) Balitbang Kemenkes, 4) BPOM, 5) SEAMEO REFCON, 6) DitGiz Kemenkes

FEMA IPB, 2) Fateta IPB, 3) Balitbang Kemenkes, 4) BPOM, 5) SEAMEO REFCON, 6) DitGiz Kemenkes Rimbawan 1), Dodik Briawan 1), Sugiyono 2), Purwiyatno Hariyadi 2), Evi Damayanti 1), Nelis Imaningsih 3), Elin Herlina 4), Helda Khusun 5), Meliza Suhartatik 4), Galopong Sianturi 6), Mursalim 6), Paulina

Lebih terperinci

dari reaksi kimia. d. Sumber Aseptor Elektron

dari reaksi kimia. d. Sumber Aseptor Elektron I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah, pertambahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sekaligus dapat memberdayakan ekonomi rakyat terutama di pedesaan.

I. PENDAHULUAN. sekaligus dapat memberdayakan ekonomi rakyat terutama di pedesaan. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengembangan peternakan dimasa mendatang bertujuan untuk mewujudkan peternakan yang modern, efisien, mandiri mampu bersaing dan berkelanjutan sekaligus dapat memberdayakan

Lebih terperinci

Kompartemen cairan di dalam tubuh

Kompartemen cairan di dalam tubuh MINERAL definisi Mineral merupakan bagian dari tubuh yang memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Karo merupakan air panas bumi atau disebut juga dengan hot spring

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Karo merupakan air panas bumi atau disebut juga dengan hot spring BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peminat sayuran kangkung yang tumbuh di kawasan air panas Desa Semangat Gunung Kabupaten Tanah Karo sudah cukup banyak dan meluas di kalangan ibu-ibu rumah tangga di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tubuh manusia, mineral berperan dalam proses fisiologis. Dalam sistem fisiologis manusia, mineral tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu makroelemen antara lain

Lebih terperinci

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007)

Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Lampiran 1. Nama unsur hara dan konsentrasinya di dalam jaringan tumbuhan (Hamim 2007) Unsur Hara Lambang Bentuk tersedia Diperoleh dari udara dan air Hidrogen H H 2 O 5 Karbon C CO 2 45 Oksigen O O 2

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sayur yang paling diminati oleh masyarakat Indonesia. Harga tanaman

BAB I PENDAHULUAN. sayur yang paling diminati oleh masyarakat Indonesia. Harga tanaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman sawi (Brassica juncea, L.) merupakan kelompok tanaman sayur yang paling diminati oleh masyarakat Indonesia. Harga tanaman sawi yang murah dan kandungan nutrisi

Lebih terperinci

ANALISIS KESUBURAN TANAH TEMPAT TUMBUH POHON JATI (Tectona grandis L.) PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA BAHIDIN LAODE MPAPA 1) ABSTRAK

ANALISIS KESUBURAN TANAH TEMPAT TUMBUH POHON JATI (Tectona grandis L.) PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA BAHIDIN LAODE MPAPA 1) ABSTRAK ANALISIS KESUBURAN TANAH TEMPAT TUMBUH POHON JATI (Tectona grandis L.) PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA BAHIDIN LAODE MPAPA 1) 1) Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah, Luwuk, 94711 Email : bahidin@gmail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pupuk didefinisikan sebagai material yang ditambahkan ketanah atau tajuk tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara. Bahan pupuk yang paling awal

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi Umum Saat Ini Faktor Fisik Lingkungan Tanah, Air, dan Vegetasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Kondisi umum saat ini pada kawasan pasca tambang batubara adalah terjadi

Lebih terperinci

KADAR PHOSPOR (P) DAN ZAT BESI (Fe) IKAN TERI ASIN HASIL PENGASINAN MENGGUNAKAN AIR ABU PELEPAH KELAPA

KADAR PHOSPOR (P) DAN ZAT BESI (Fe) IKAN TERI ASIN HASIL PENGASINAN MENGGUNAKAN AIR ABU PELEPAH KELAPA KADAR PHOSPOR (P) DAN ZAT BESI (Fe) IKAN TERI ASIN HASIL PENGASINAN MENGGUNAKAN AIR ABU PELEPAH KELAPA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antar jenis tanaman menyebabkan tanaman ini tersisih dan jarang ditanam dalam

BAB I PENDAHULUAN. antar jenis tanaman menyebabkan tanaman ini tersisih dan jarang ditanam dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Tanaman koro pedang telah lama dikenal di Indonesia, namun kompetisi antar jenis tanaman menyebabkan tanaman ini tersisih dan jarang ditanam dalam skala luas.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. yang memiliki potensi sebagai penghasil daging yang baik karena mempunyai

PENDAHULUAN. yang memiliki potensi sebagai penghasil daging yang baik karena mempunyai 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Domba Ekor Gemuk merupakan salah satu jenis domba lokal Indonesia yang memiliki potensi sebagai penghasil daging yang baik karena mempunyai produktivitas pertumbuhan

Lebih terperinci

PUPUK DAN PEMUPUKAN PADA BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PUPUK DAN PEMUPUKAN PADA BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PUPUK DAN PEMUPUKAN PADA BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA UNSUR HARA MAKRO UTAMA N P K NITROGEN Phosfat Kalium UNSUR HARA MAKRO SEKUNDER Ca Mg S Kalsium Magnesium Sulfur UNSUR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dilakukan sejak tahun 1995, meliputi pengolahan dan tingkat penggunaan dalam

I. PENDAHULUAN. dilakukan sejak tahun 1995, meliputi pengolahan dan tingkat penggunaan dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian pemanfaatan limbah agroindustri yang ada di Lampung sudah banyak dilakukan sejak tahun 1995, meliputi pengolahan dan tingkat penggunaan dalam ransum ruminansia

Lebih terperinci

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN 1 KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN M.K. Pengantar Ilmu Nutrisi Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB Zat makanan adalah unsur atau senyawa kimia dalam pangan / pakan yang dapat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan

TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan TINJAUAN PUSTAKA Pemupukan Pupuk adalah penyubur tanaman yang ditambahkan ke tanah untuk menyediakan unsur-unsur yang diperlukan tanaman. Pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang

Lebih terperinci

Nutrisi Pakan pada Pendederan kerapu

Nutrisi Pakan pada Pendederan kerapu Nutrisi Pakan pada Pendederan kerapu Oleh: Ibnu Sahidhir Kementerian Kelautan dan Perikanan Ditjen Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee 2011 Biologi Benih Kerapu Pemakan daging Pendiam,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab

II. TINJAUAN PUSTAKA. Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Limbah Organik Cair Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab pencemaran berupa zat atau bahan yang dianggap tidak memiliki manfaat bagi masyarakat.

Lebih terperinci

Rangkaian reaksi biokimia dalam sel hidup. Seluruh proses perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yg menyertai perubahan reaksi kimia tsb.

Rangkaian reaksi biokimia dalam sel hidup. Seluruh proses perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yg menyertai perubahan reaksi kimia tsb. Rangkaian reaksi biokimia dalam sel hidup. Seluruh proses perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yg menyertai perubahan reaksi kimia tsb. Anabolisme = (biosintesis) Proses pembentukan senyawa

Lebih terperinci

12/3/2015 PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR 2.1 PENDAHULUAN

12/3/2015 PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR 2.1 PENDAHULUAN Air adalah salah satu bahan pokok (komoditas) yang paling melimpah di alam tetapi juga salah satu yang paling sering disalahgunakan Definisi Water Treatment (Pengolahan Air) Suatu proses/bentuk pengolahan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 21 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Kualitas Air Kualitas air merupakan parameter lingkungan yang memegang peranan penting dalam kelangsungan suatu kegiatan budidaya. Parameter kualitas air yang

Lebih terperinci

Lampiran1. Dosis. Konsentrasi Hara Makro dan Mikro dalam Larutan Pupuk Siap Pakai untuk Produksi Sayuran Daun

Lampiran1. Dosis. Konsentrasi Hara Makro dan Mikro dalam Larutan Pupuk Siap Pakai untuk Produksi Sayuran Daun Lampiran1. Dosis Konsentrasi Hara Makro dan Mikro dalam Larutan Pupuk Siap Pakai untuk Produksi Sayuran Daun Unsur Hara Konsentrasi (ppm) Hara makro : N-NO3-, nitrat 214 N-NH4+,N-amonium 36 P, fosfor 62

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk),

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Selada Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal bentuk daunnya. Tanaman selada cepat menghasilkan akar tunggang diikuti

Lebih terperinci

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif dr. Yulia Megawati Tenaga Kerja Adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

ANALISIS NUTRIEN D R H. F I K A Y U L I Z A P U R B A, M. S C. 1 4 F E B R U A R I

ANALISIS NUTRIEN D R H. F I K A Y U L I Z A P U R B A, M. S C. 1 4 F E B R U A R I ANALISIS NUTRIEN D R H. F I K A Y U L I Z A P U R B A, M. S C. 1 4 F E B R U A R I 2 0 1 4 SASARAN PEMBELAJARAN Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa mampu menjelaskan: Macam bahan pakan, nutrien, anti

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja yang tinggi. Ketiga hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan

I. PENDAHULUAN. sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan subsektor peternakan provinsi Lampung memiliki peranan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan ini sejalan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang di analisis adalah tekstur tanah, bulk density, porositas, air tersedia, serta permeabilitas. Berikut adalah nilai masing-masing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang dan Permasalahan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang dan Permasalahan Terdapat banyak unsur di alam yang berperan dalam pertumbuhan tanaman, contohnya karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), fosfor (P), nitrogen (N), kalium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur,

BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki areal perkebunan jambu mete (Anacardium occidentale L.) seluas 560.813 ha, tersebar di propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan,

Lebih terperinci

TARIF LINGKUP AKREDITASI

TARIF LINGKUP AKREDITASI TARIF LINGKUP AKREDITASI LABORATORIUM BARISTAND INDUSTRI PALEMBANG BIDANG PENGUJIAN KIMIA/FISIKA TERAKREDITASI TANGGAL 26 MEI 2011 MASA BERLAKU 22 AGUSTUS 2013 S/D 25 MEI 2015 Bahan Atau Produk Pangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.

BAB I PENDAHULUAN. kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga kerap diistilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat

Lebih terperinci

PUPUK DAN PEMUPUKAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PUPUK DAN PEMUPUKAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PUPUK DAN PEMUPUKAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA UNSUR HARA MAKRO UTAMA N P K NITROGEN Phosfat Kalium UNSUR HARA MAKRO SEKUNDER Ca Mg S Kalsium Magnesium Sulfur

Lebih terperinci

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Selasa/03 Desember 2013 Biokimia Waktu : 13.00-14.40 WIB PJP : Puspa Juliastia Puspita, S.Si, M.Sc Asisten : Lusianawati, S.Si Resti Siti Mutmainah, S.Si MINERAL Kelompok

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hidroponik yang ada yaitu sistem air mengalir (Nutrient Film Technique). Konsep

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hidroponik yang ada yaitu sistem air mengalir (Nutrient Film Technique). Konsep I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah dingin maupun tropis. Kebutuhan selada meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang memiliki iklim tropis. Daerah tropis

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang memiliki iklim tropis. Daerah tropis 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang memiliki iklim tropis. Daerah tropis dibagi dalam dua kelompok iklim utama yaitu tropis basah dan tropis kering yang masing-masing sangatlah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. para peternak. Usaha budidaya ternak domba pada umumnya dilakukan

PENDAHULUAN. para peternak. Usaha budidaya ternak domba pada umumnya dilakukan 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang memiliki potensi besar dalam sektor peternakan. Domba banyak dipelihara masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai ternak penghasil

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia termasuk penghasil pisang terbesar, karena 50% dari produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia termasuk penghasil pisang terbesar, karena 50% dari produksi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pisang Awak (Musa paradisiaca L. Var. awak) Indonesia termasuk penghasil pisang terbesar, karena 50% dari produksi pisang Asia dihasilkan oleh Indonesia dan setiap tahun produksinya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. seluas seluas hektar dan perairan kolam seluas hektar (Cahyono,

I. PENDAHULUAN. seluas seluas hektar dan perairan kolam seluas hektar (Cahyono, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas dan potensial besar untuk usaha budidaya yang meliputi perairan umum seluas 141.690 hektar, sawah seluas seluas 88.500

Lebih terperinci

Pengertian Bahan Pangan Hewani Dan Nabati Dan Pengolahannya

Pengertian Bahan Pangan Hewani Dan Nabati Dan Pengolahannya Pengertian Bahan Pangan Hewani Dan Nabati Dan Pengolahannya Secara garis besar, bahan pangan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan pangan asal tumbuhan (nabati) dan bahan pangan asal hewan (hewani).

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Derajat Kelangsungan Hidup Derajat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) benih ikan patin yang dipelihara dengan masa pemeliharaan 30 hari memiliki hasil

Lebih terperinci

Fungsi Hara bagi Tanaman AGH 322

Fungsi Hara bagi Tanaman AGH 322 Fungsi Hara bagi Tanaman AGH 322 Esensialitas Hara bagi Tanaman Hara Esensial: Tanpa kehadiran hara tersebut maka tanaman tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya. Fungsi hara tersebut tidak dapat digantikan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Hidroponik Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam (soilless culture). Media tanam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman dapat memenuhi siklus hidupnya dengan menggunakan unsur hara. Fungsi hara tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain dan apabila tidak terdapat suatu hara

Lebih terperinci

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dengan menggunakan bahan pakan sumber kalsium (ISA, 2009). kerabang maka kalsium dapat diserap sampai 72% (Oderkirk, 2001).

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dengan menggunakan bahan pakan sumber kalsium (ISA, 2009). kerabang maka kalsium dapat diserap sampai 72% (Oderkirk, 2001). II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1. Deskripsi Mineral 2.1.1. Kalsium Kalsium merupakan golongan mineral yang dibutuhkan oleh ayam petelur untuk pembentukan kerabang telur dan pemenuhan akan zat ini tidak cukup

Lebih terperinci

5 Kimia dalam Ekosistem. Dr. Yuni. Krisnandi

5 Kimia dalam Ekosistem. Dr. Yuni. Krisnandi 5 Kimia dalam Ekosistem Dr. Yuni. Krisnandi 13-10-06 Pendahuluan: apakah ekosistem itu? Suatu ekosistem teridiri dari komunitas biologi yang terjadi di suatu daerah, dan faktor-faktor kimia dan fisika

Lebih terperinci

BAB II HIDROPONIK NFT

BAB II HIDROPONIK NFT BAB II HIDROPONIK 6 BAB II HIDROPONIK NFT II.1 Hidroponik Hidroponik merupakan suatu metode bercocok tanam yang tidak menggunakan media tanah sebagai media tanamnya tetapi menggunakan air, kerikil, pasir,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelompok dari Familia Palmae dan disebut juga Cocos nucifera L dan banyak

BAB I PENDAHULUAN. kelompok dari Familia Palmae dan disebut juga Cocos nucifera L dan banyak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tanaman yang dapat hidup di beberapa ketinggian adalah tanaman kelapa. Selain mudah tumbuh, tanaman kelapa juga memiliki banyak manfaat. Tanaman kelapa

Lebih terperinci