Perkawinan Campuran. Prof. Dr. Zulfa Djoko Basuki
|
|
|
- Ade Johan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Hukum Antar Tata Hukum: Perkawinan Campuran Prof. Dr. Zulfa Djoko Basuki Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok,, 13 Juli 2009
2 GHR, Stb 1898 No. 158 Regeling op de Gemengde Huwelijken. Koninklijk Besluit van 29 Desember 1896 No. 23, Staatsblad 1898 No Pasal 1: Perkawinan-perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk kepada hukum yang berbeda-beda,disebut perkawinan campuran. Huwelijken tusschen personen, die in Indonesië aan een verschillend recht onderworpen zijn, worden gemengde huwelijken genoemd. Pasal 2: Istri yang melakukan perkawinan campuran, selama dalam perkawinannya mengikuti kedudukan suaminya dalam hukum publik dan hukum perdata. De vrouw, die een gemengd huwelijk aangaat, volgt staande huwelijk, publiek- en privaatrechterlijk, den staat van haren man. 2
3 INTI dari GHR Karena perkawinan campuran, istri memperoleh status hukum suaminya. Terdapat anasir memilih, yaitu: Persetujuan/pilihan dari pihak perempuan selalu disyaratkan sebelum perkawinan campuran dilangsungkan. 3
4 Pasal 2 GHR Pasal ini merupakan pasal terpenting dalam GHR karena mencerminkan asas persamarataan dari semua stelsel hukum. Tidak ada kesan mengeloni salah satu stelsel hukum. Pasal 2 GHR merupakan kebalikan dari pasal 15 OV (S , lahirnya perundang-undangan baru). Kesimpulannya: Pasal 15 OV mencerminkan Hukum perdata Eropa dianggap lebih tinggi Tidak ada penundukkan hukum secara sukarela dari pihak laki-laki non-eropa. Hal ini merupakan keharusan. 4
5 Pengecualian atas Pasal 15 OV Pasal 12 dan 13 Stb jo. Stb : Diberi keleluasaan pada laki-laki Indonesia Nasrani untuk melakukan pilihan hukum, yaitu perkawinannya dengan orang Eropa harus dilakukan menurut hukum sang suami (pasal 12); Diberi kebebasan kepada pihak laki-laki bukan Eropa, jika dikehendakinya melakukan pilihan hukum untuk tunduk secara sukarela pada pasal 15 OV, kepada hukum perdata dan dagang Eropa. 5
6 Luas Lingkup GHR Aliran Luas: GHR meliputi perkawinan antargolongan (HAG), perkawinan antaragama (AA), dan perkawinan antartempat (AT). Penganut: Nederburgh, Lemaire, Kollewijn, Gautama. Gautama: masalah HAT terasa pengaruh daripada masalah percampuran dengan suku bangsa asli dan persatuan dengan masyarakat hukum setempat. Aliran Sempit Hanya meliputi HAG. Penganut: van Vollenhoven, Wincke, dan Carpentir Alting. Wincke: GHR tidak berlaku untuk HAA, dan HAT. Sulit dikatakan suami ikut istri, bila keduanya dari golongan bangsa yang sama. Aliran Setengah Luas, Setengah Sempit GHR = HAG + HAA Penganut: van Hasselt Dalam HAT sering sang suami yang mengikuti status istri, misalnya perkawinan laki-laki Palembang dengan perempuan Sunda. Yurisprudensi: GHR berlaku untuk perkawinan antaragama. 6
7 Yurisprudensi GHR berlaku untuk perkawinan antar-agama. Pengecualian dari pasal 2 GHR 1. Pasal 75 HOCI Lelaki Indonesia bukan Nasrani dapat melakukan pilihan hukum ke arah Hukum Nasrani sewaktu mengawini perempuan Indonesia Nasrani. 2. Pasal 73 HOCI Bagi kedua mempelai (suami-istri) dapat mengajukan permohonan supaya untuk selanjutnya perkawinan mereka diatur oleh HOCI, apabila salah seorang mempelai sudah menjadi Nasrani. a. Apabila pihak suami menjadi Nasrani, maka tidak terjadi penyimpangan, karena istri akan mengikuti hukum suami (sesuai dengan pasal 2 GHR). b. Tetapi bila yang menjadi Nasrani adalah istri, maka suami mengikuti status istri. Dalam hal ini terjadi penyimpangan dari pasal 2 GHR. 7
8 Peralihan Agama Apakah arti peralihan agama? Bilamanakah terjadi peralihan agama? Apakah akibat dari peralihan agama? 8
9 Peralihan Agama: dalam HATAH Peralihan agama, misalnya, ke agama Islam tidak cukup dengan hanya mengucapkan kalimat syahadat. Peralihan agama, misalnya, dari agama Islam tidak cukup dengan murtad saja. Dalam HATAH peralihan agama tersebut harus diikuti dengan peralihan sosial: Yang bersangkutan sudah diterima oleh golongan penduduk (hukum) yang baru; Tidak mempedulikan lagi golongan hukum yang ditinggalkan; Cara hidup, cara ybs diperlakukan oleh golongan hukum baru dianggap sama. 9
10 Tujuan dari Syarat Peralihan Sosial 1. Mencegah peralihan agama secara purapura 2. Mencegah penyelundupan hukum Misalnya untuk bisa kawin lagi, kasus Tjoa Peng An. 10
11 Akibat Peralihan Agama terhadap Perkawinan Peralihan agama tidak membubarkan perkawinan. Pendapat ini merupakan pendapat terbanyak para sarjana (communis opinio doctorum), antara lain Lemaire dan van Hasselt. Hanya dapat dijadikan alasan oleh yang tidak turut berali agama untuk mengajukan tuntutan perceraian. Contoh: Putusan Landraad Banyumans 1934, di mana istri mengajukan tuntutan cerai dengan alasan suami menjadi bukan Kristen (masuk Islam dan kawin lagi dengan perempuan lain); Sekarang, menurut Kompilasi Hukum Islam, murtadnya salah satu pasangan suami atau istri, merupakan alasan untuk bercerai. 11
12 Yurisprudensi: Keputusan Menyimpang Kasus mr.. I. Tj. Perkawinan dilangsungkan di depan Penghulu antara mr. I. Tj (seorang Bumiputera) dengan Nn. JMR (seorang Eropa) secara Islam. Kehidupan perkawinan kurang harmonis, dan istri menginginkan perceraian, tetapi suami tidak bersedia menjatuhkan talak. Istri, kemudian, pergi ke Labuhan Bilik (Sumatera Utara) dan melakukan murtad dengan mengucapkan ikrar di depan Kerapan Negeri Panai di hadapan Tengku Sultan, Raja Negeri Panai, dan pejabat yang berwenang (gedelegeerde gezaghebber): Mulai hari ini saya murtad dari Agama Islam dan menerangkan sekali-kali saya tidak percaya yang Nabi Muhammad itu Pesuruh Tuhan Allah. Raad Agama memberikan pendapat: Jika sudah murtad, cukup tunggu waktu 3 bulan (3 x suci). Bila tetap murtad, talak akan jaturh, yaitu tanggal nikahnya. Putusan ini dikecam oleh banyak sarjana. 12
13 Akibat Peralihan Agama terhadap Status Perkawinan (Monogami/Poligami) 1. Terhadap perkawinan campuran (enkelvoudig): 1. Pasal 2 GHR, istri ikut status suami apabila suami pindah agama. Dalam hal ini istri sudah berubah statusnya, sesuai dengan status suami; 2. Jadi status perkawinan berubah sesuai dengan status sang suami. 2. Terhadap perkawinan intern (enkelvoudig): Pasal 2 GHR tidak diikuti, bila hanya salah satu pihak yang beralih agama. Hukum perkawinan berubah bila keduanya beralih agama. 3. Terhadap perkawinan meervoudig: Hukum yang lama tetap berlaku: poligami. Misalnya suami/istri menjadi Kristen, akan menyulitkan bila tibatiba berlaku hukum monogami, karena ini juga menyangkut status istri (-istri) lain, serta anak-anak dari istri (-istri) tersebut. 13
14 Pasal 72 HOCI Peralihan ke agama Kristen baru memperoleh akibat berlakunya HOCI bila kedua mempelai menjadi Kristen. Bila hanya satu pihak yang menjadi Kristen, hukum perkawinan lama tetap berlaku. Kecuali bila kedua pihak mempergunakan kesempatan untuk melakukan pilihan hukum sesuai dengan pasal 73 HOCI. Pasal 72 HOCI: 1. Terhadap perkawinan-perkawinan yang telah dilaksanakan tidak menurut ketentuan-ketentuan ordonansi ini dan peraturan penyelenggaraan Reglemen catatan sipil untuk orang-orang Indonesia-Kristen (S ), ordonansi ini berlaku, bila kedua suami-istri telah atau baru masuk agama Kristen, tidak dibedakan apakah perkawinan itu telah dilaksanakan sebelum atau sesudah berlakunya ordonansi ini, kecuali dalam hal-hal di mana suami terikat oleh perkawinan dengan lebih dari satu orang istri. 2. Kecuali apa yang ditentukan dalam pasal berikut, perkawinan-perkawinan yang dilaksanakan sebelum perpindahan salah seorang dari suami-istri ke agama Kristen tetap dikuasai oleh hukum yang berlaku terhadap perkawinan pada waktu peralihan itu terjadi. 14
15 Pasal 74 HOCI: Sekali HOCI, tetap HOCI Pasal 74 HOCI: Terhadap suatu perkawinan yang telah dilaksanakan dengan memperlakukan apa yang ditentukan dalam ordonansi ini, atau yang kemudian atasnya berlaku ordonansi ini, tetap berlaku ordonansi ini, juga bila suami-istri itu atau salah seorang dari mereka pindah lain daripada agama Kristen. Peralihan agama ke agama bukan Kristen tidak membawa akibat berlakunya hukum yang baru atau tidak ada perubahan status hukum. Juga apabila salah satu pihak atau keduanya menjadi bukan Kristen atau pindah ke luar lingkungan HOCI. 15
16 Perkawinan Antaragama (1) Pasal 1 GHR: Perkawinan-perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk kepada hukum yang berbeda-beda,disebut perkawinan campuran. Huwelijken tusschen personen, die in Indonesië aan een verschillend recht onderworpen zijn, worden gemengde huwelijken genoemd. Contoh: Medelu v. Sumarni, dasar hukumnya pasal 7 ayat (2) jo. pasal 6 ayat (1) GHR: Pasal 7 ayat (2) GHR: Perbedaan agama, bangsa atau keturunan sama sekali bukanmenjadi penghalang terhadap perkawinan. Verschil van godiesnt, landaard of afkomst kan nimmer als beletsel tegen het huwelijk gelden. Pasal 6 ayat (1) GHR: Pelaksanaan perkawinan campuran dilakukan menurut hukum yang berlaku terhadap suaminya,dengan tidak mengurangi persetuiuan suanii-istri yang selalu dipersyaratkan. De voltrekking van gemengde huwelijken geschiedt volgens het voor den man geldende recht, behoudens de toestemming der aanstaande echtgenooten, welke steeds wordt vereischt. 16
17 Perkawinan Antaragama (2) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP) tidak mengatur perkawinan antaragama. Perkawinan Campuran, menurut pasal 57 UUP, adalah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. 17
18 Perkawinan Antaragama Pasca UU Perkawinan (1) Pendapat semula menyatakan bahwa perkawinan antaragama masih bisa dilaksanakan berdasarkan pasal 66 UUP jo. Pasal 7 ayat (2) GHR jo. pasal 6 ayat (1) GHR: Pasal 66 UUP: Untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan atas Undang-undang ini, maka dengan berlakunya Undang-undang ini ketentuanketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijks Ordonantie Christen Indonesiers S.1933 No. 74), Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling op de gemengde Huwelijken S No. 158), dan peraturanperaturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam Undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku. Contoh: perkawinan Jamal Mirdad & Lydia Kandouw 18
19 Perkawinan Antaragama Pasca UU Perkawinan (2) Pendapat yang lebih banyak dianut sekarang: tidak boleh. Alasannya: 1. Tidak ada lagi perkawinan di luar hukum agama dan kepercayaannya itu. Sesuai dengan pasal 2 ayat (1) UUP: Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. 2. Kantor Catatan Sipil tidak lagi berfungsi sebagai instansi yang mengawinkan, tetapi hanya mencatatkan perkawinan, perceraian, dan kematian bagi mereka yang non-islam. Sejak 1 Januari 1989 Kantor Catatan Sipil tidak lagi mencatat perkawinan beda agama, yang salah satunya beragama Islam. 19
20 Perkawinan Antaragama Pasca UU Perkawinan (3) Sebagian lain (minoritas) berpendapat perkawinan beda agama diperbolehkan. Alasannya: 1. Pasal 29 jo. pasal 27 UUD 1945 Pasal 29 (1): Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa Pasal 29 (2): Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Pasal 27 (1): Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pasal 27 (2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 2. Pasal 10 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: Ayat (1): Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. Ayat (2): Perkawinan yang sah hanya dapat berlangsung atas kehendak bebas calon suami dan calon istri yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Apabila pemohon hendak melangsungkan perkawinan tidak secara Islam dan mengajukan permohonan perkawinan ke Kantor Catatan Sipil, berarti pemohon tidak lagi menghiraukan status agamanya (Islam). Contoh: Kasus Andi Vonny Gani. 20
21 Jalan Keluar? Menikah di dua instansi, yaitu sekali di KUA dan kali kedua di Gereja, atau sebaliknya. Ini tidak dianjurkan. Hal ini menimbulkan kesulitan bila keduanya atau salah satu pihak ingin bercerai. Menikah di luar negeri secara sipil, dan kembali ke Indonesia untuk melaporkan perkawinan ke Kantor Catatan Sipil. Ini juga tidak dianjurkan. Hal ini menimbulkan kesulitan bila keduanya atau salah satu pihak ingin bercerai. Ingat: pasal 16 dan 18 AB! 21
BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1974, TLN No.3019, Pasal.1.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Tentang perkawinan BAB I DASAR PERKAWINAN. Pasal 1. Pasal 2
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Tentang perkawinan BAB I DASAR PERKAWINAN Pasal 1 Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri
Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA)
Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Sumber: LN 1974/1; TLN NO. 3019 Tentang: PERKAWINAN Indeks: PERDATA. Perkawinan.
BAB II PENGESAHAN ANAK LUAR KAWIN DARI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BERBEDA KEWARGANEGARAAN BERDASARKAN PARTICULARS OF MARRIAGE
30 BAB II PENGESAHAN ANAK LUAR KAWIN DARI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BERBEDA KEWARGANEGARAAN BERDASARKAN PARTICULARS OF MARRIAGE NO. 49/08 YANG TERDAFTAR PADA KANTOR DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL
2002), hlm Ibid. hlm Komariah, Hukum Perdata (Malang; UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang,
Pendahuluan Perkawinan merupakan institusi yang sangat penting dalam masyarakat. Di dalam agama islam sendiri perkawinan merupakan sunnah Nabi Muhammad Saw, dimana bagi setiap umatnya dituntut untuk mengikutinya.
PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Abdul Kholiq ABSTRACT
ISSN : NO. 0854-2031 PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Abdul Kholiq * ABSTRACT Marriage is a part of human life on this earth, and in Indonesia live many human diverse religions recognized by the government,
PERSPEKTIF YURIDIS DAN SOSIOLOGIS TENTANG PERKAWINAN ANTAR PEMELUK AGAMA DI KABUPATEN WONOGIRI T A R S I
PERSPEKTIF YURIDIS DAN SOSIOLOGIS TENTANG PERKAWINAN ANTAR PEMELUK AGAMA DI KABUPATEN WONOGIRI TESIS Oleh : T A R S I NIM : R 100030064 Program Studi : Magister Ilmu Hukum Konsentrasi : Hukum Administrasi
BAB I PENDAHULUAN. Perceraian pasangan..., Rita M M Simanungkalit, FH UI, 2008.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Sebagaimana tersimpul dalam judul tesis ini, topik yang akan dibahas adalah perceraian pasangan suami isteri Kristen dan problematiknya. Alasan pemilihan
B A B I P E N D A H U L U A N. Sebagaimana prinsip hukum perdata barat di dalam KUH Perdata tersebut, telah
B A B I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Konsepsi harta kekayaan di dalam perkawinan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) 1 adalah sebagai suatu persekutuan harta bulat, meliputi
KONTROVERSI PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA
64 KONTROVERSI PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Sri Wahyuni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Masrda Adisucipto Yogyakarta, DIY Yogyakarta 55281 Abstract: Implementation of
PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat
PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat 09-04-05 PERNIKAHAN bernuansa keragaman ini banyak terjadi dan kita jumpai di dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA. Presiden Republik Indonesia
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA Presiden Republik Indonesia Menimbang : bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk
www.pa-wonosari.net [email protected] UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : bahwa sesuai dengan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk
KONTROVERSI PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum. 1
KONTROVERSI PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum. 1 Abstract: Implementation of interfaith marriage after the enactment of the Marriage Act No. 1/1974 is relatively difficult. The
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Setiap manusia di muka bumi ini diciptakan saling berpasang-pasangan. Seorang pria dan seorang wanita yang ingin hidup bersama dan mereka telah memenuhi persyaratan-persyaratan
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. MEMUTUSKAN : BAB I DASAR PERKAWINAN. Pasal 1
Bentuk: Oleh: UNDANG-UNDANG (UU) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Sumber: LN 1974/1; TLN NO. 3019 Tentang: Indeks: PERKAWINAN PERDATA. Perkawinan.
BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya agar berjalan tertib dan lancar, selain itu untuk menyelesaikan
BAB I PENDAHULUAN Masyarakat sebagai suatu kumpulan orang yang mempunyai sifat dan watak masing-masing yang berbeda, membutuhkan hukum yang mengatur kehidupannya agar berjalan tertib dan lancar, selain
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah. Dalam era globalisasi ini, Indonesia mengalami perkembangan di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, Indonesia mengalami perkembangan di berbagai bidang, seperti perkembangan di bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan
FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA
NO PERBEDAAN BW/KUHPerdata Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 1 Arti Hukum Perkawinan suatu persekutuan/perikatan antara seorang wanita dan seorang pria yang diakui sah oleh UU/ peraturan negara yang bertujuan
RAHMAD HENDRA FAKULTAS HUKUM UNRI
RAHMAD HENDRA FAKULTAS HUKUM UNRI Hukum Keluarga dimulai dengan adanya perkawinan. Sebelum berlakunya Undang-undang Nomor I Tahun 1974, kondisi hukum perkawinan di Indonesia sangat pluralistis. Hal ini
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG P E R K A W I N A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 974 TENTANG P E R K A W I N A N Menimbang : Mengingat: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila
BAB IV WALI NIKAH PEREMPUAN HASIL PERNIKAHAN SIRI MENURUT UNDANG-UNDANG PERKAWINAN. Undang-undang perkawinan di Indonesia, adalah segala
75 BAB IV WALI NIKAH PEREMPUAN HASIL PERNIKAHAN SIRI MENURUT UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Undang-undang perkawinan di Indonesia, adalah segala peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkawinan
BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan kebutuhan kodrat manusia, setiap manusia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkawinan merupakan kebutuhan kodrat manusia, setiap manusia diciptakan oleh sang kholiq untuk memiliki hasrat dan keinginan untuk melangsungkan perkawinan. Sebagaimana
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori
digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan Mengenai Perkawinan a. Pengertian Perkawinan Menurut Para Ahli Perkawinan merupakan bentuk kerjasama dalam kehidupan antara seorang
BAB III PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN DAMPAKNYA DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERKAWINAN INDONESIA
47 BAB III PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN DAMPAKNYA DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERKAWINAN INDONESIA A. Pengaruh Islam di Indonesia Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar umat Muslim di dunia. Ada sekitar
VAGUE NORM PENGATURAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA (KAJIAN NORMATIF PENETAPAN NO.382/PDT/P1986/PN.JKT.PST JO PUTUSAN REG.NO.
1 VAGUE NORM PENGATURAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA (KAJIAN NORMATIF PENETAPAN NO.382/PDT/P1986/PN.JKT.PST JO PUTUSAN REG.NO.1400 K/PDT/1986) Herliany, Ulfa Azizah, SH. MKn, M.Hamidi Masykur, SH.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat luas. Pengertian "ikatan lahir batin" dalam perkawinan berarti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan umum Perkawinan a. Definisi Perkawinan Menurut Prof. R. Sardjono,SH,. "Ikatan lahir" berarti para pihak yang bersangkutan karena perkawinan secara formil merupakan suami
BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana di nyatakan dalam UU
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah lembaga yang luhur untuk membentuk keluarga dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia
REVISI UNDANG-UNDANG PERKAWINAN
REVISI UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Oleh: HERU SUSETYO Dosen Fakultas Hukum UIEU [email protected] ABSTRAK Undang Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 lahir antara lain dari perjuangan panjang kaum
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA I. UMUM Warga negara merupakan salah satu unsur hakiki dan unsur pokok suatu negara. Status
BAB I PENDAHULUAN. dan lain sebagainya. Hikmahnya ialah supaya manusia itu hidup
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Allah menjadikan makhluk-nya berpasang-pasangan, menjadikan manusia laki-laki dan perempuan, menjadikan hewan jantan betina begitu pula tumbuhtumbuhan dan lain sebagainya.
BAB IV. rumah tangga dengan sebaik-baiknya untuk membentuk suatu kehidupan. tangga kedua belah pihak tidak merasa nyaman, tenteram dan mendapaatkan
58 BAB IV ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERTIMBANGAN HUKUM PENGADILAN AGAMA SIDOARJO DALAM MEMUTUSKAN PERCERAIAN PASANGAN YANG MENIKAH DUA KALI DI KUA DAN KANTOR CATATAN SIPIL NOMOR: 2655/PDT.G/2012/PA.SDA
PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014
PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014 Membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
BAB I. Persada, 1993), hal Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, cet.17, (Jakarta:Raja Grafindo
BAB I 1. LATAR BELAKANG Salah satu kebutuhan hidup manusia selaku makhluk sosial adalah melakukan interaksi dengan lingkungannya. Interaksi sosial akan terjadi apabila terpenuhinya dua syarat, yaitu adanya
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA A. Pengertian Perkawinan Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 Tahun 1974. Pengertian perkawinan menurut Pasal
PELAKSANAAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU POLIGAMI BERDASARKAN PASAL 279 KUHP DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI KLAS I B BUKITTINGGI Oleh : Nofil
PELAKSANAAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU POLIGAMI BERDASARKAN PASAL 279 KUHP DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI KLAS I B BUKITTINGGI Oleh : Nofil Gusfira (Di bawah bimbingan Bapak Prof. Dr. Teguh Sulistia,
PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN
PENTINGNYA PENCATATAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG- UNDANG NO.1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Oleh: Wahyu Ernaningsih, S.H.,M.Hum. Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Abstrak Putusan Mahkamah Konstitusi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pembukaan Bab I Dasar perkawinan Bab II Syarat-syarat perkawinan Bab III Pencegahan perkawinan Bab IV Batalnya perkawinan Bab V Perjanjian
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Undang-Undang Nomor
BAB I PENDAHULUAN. perkawinan yang ada di negara kita menganut asas monogami. Seorang pria
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang merupakan ketentuan yang mengatur pelaksanaan perkawinan yang ada di Indonesia telah memberikan landasan
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERKAWINAN CAMPURAN BEDA KEWARGANEGARAAN. 1. Pengertian Perkawinan Secara Umum
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERKAWINAN CAMPURAN BEDA KEWARGANEGARAAN A. PERKAWINAN 1. Pengertian Perkawinan Secara Umum Sudah menjadi kodrat alam, bahwa dua orang manusia dengan jenis kelamin yang berlainan,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa sesuai dengan falsafah
BAB I PENDAHULUAN. sakral, karena itu pernikahan tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai ajaran agama 2. Oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkawinan campuran antara Warga Negara Indonesia dengan Warga Negara Asing adalah konsekuensi logis dari perkembangan jaman serta pesatnya perkembangan wisatawan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : a. bahwa negara
BAB I PENDAHULUAN. kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 1 Sedangkan menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan merupakan institusi atau lembaga yang sangat penting dalam, masyarakat. Eksistensi institusi ini adalah melegalkan hubungan hukum antara seorang pria dan
BAB I PENDAHULUAN. suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat 2. Pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut
Bentuk: UNDANG-UNDANG. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 4 TAHUN 1961 (4/1961) Tanggal: 25 PEBRUARI 1961 (JAKARTA)
Bentuk: UNDANG-UNDANG Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 4 TAHUN 1961 (4/1961) Tanggal: 25 PEBRUARI 1961 (JAKARTA) Sumber: LN 1961/15; TLN NO. 2154 Tentang: PERUBAHAN ATAU PENAMBAHAN NAMA KELUARGA
BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN
BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN 2.1 Pengertian Perkawinan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1961 TENTANG PERUBAHAN ATAU PENAMBAHAN NAMA KELUARGA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1961 TENTANG PERUBAHAN ATAU PENAMBAHAN NAMA KELUARGA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sambil menunggu dikeluarkannya Undang-undang nasional Catatan
PERKAWINAN CAMPURAN DAN AKIBAT HUKUMNYA. Oleh : Sasmiar 1 ABSTRACT
PERKAWINAN CAMPURAN DAN AKIBAT HUKUMNYA Oleh : Sasmiar 1 ABSTRACT Mixed marriage according to Nomor.1 Act of 1974 on Marriage is a marriage between Indonesian citizens with a foreign citizen (Article 57).
BAB I PENDAHULUAN. tertentu, maka ia tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Ia ingin memenuhi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA. 1. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa asli dan orang-orang bangsa lain
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA A. PENGERTIAN DAN ASAS-ASAS KEWARGANEGARAAN. Defenisi kewarganegaraan secara umum yaitu hak dimana manusia tinggal dan menetap di suatu kawasan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SRAGEN, Menimbang : a. bahwa untuk memberikan perlindungan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN 1. Pengertian Perkawinan Dalam ajaran Islam sebuah perkawinan merupakan peristiwa sakral bagi manusia, karena melangsungkan perkawinan merupakan
Lembaran Informasi untuk Pernikahan di Indonesia/Pernikahan di Jerman
Kedutaan Besar Republik Federal Jerman Jakarta BAGIAN HUKUM DAN KONSULER ALAMAT Jl. M.H. Thamrin No. 1 Jakarta 10310 / Indonesia WEBSITE http://www.jakarta.diplo.de TEL: +62-21 398 55 172/173/174 Jam kerja
Lex Privatum, Vol.I/No.4/Oktober/2013
STATUS WARGA NEGARA ASING YANG MELANGSUNGKAN PERKAWINAN DENGAN WARGA NEGARA INDONESIA DI INDONESIA 1 Oleh : Monalisa Nggilu 2 ABSTRAK Tujuan dilakukan penelitian skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana
BAB I. Pendahuluan. Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah Perkawinan beda agama adalah suatu perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita, yang memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda antara
BAB I PENDAHULUAN. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. 5 Dalam perspektif
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Aristoteles manusia adalah zoon politicon atau makhluk sosial.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Aristoteles manusia adalah zoon politicon atau makhluk sosial. Manusia tidak dapat terlepas dari interaksi dengan lingkungan dan manusia disekitarnya
BAB II SISTEM PERKAWINAN CAMPURAN DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BAB II SISTEM PERKAWINAN CAMPURAN DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI NEGARA REPUBLIK INDONESIA A. Perkawinan Campuran Menurut Gemengde Huwelijken Regeling (GHR) 1. Latar Belakang Sejarah Hukum Perkawinan Campuran
BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1989, dan telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2006,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberadaan Pengadilan Agama berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989, dan telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2006, merupakan salah satu badan
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.
DAMPAK PEMBATALAN PERKAWINAN AKIBAT WALI YANG TIDAK SEBENARNYA TERHADAP ANAK DAN HARTA BERSAMA MENURUT HAKIM PENGADILAN AGAMA KEDIRI (Zakiyatus Soimah) BAB I Salah satu wujud kebesaran Allah SWT bagi manusia
BAB 1 PENDAHULUAN. rumah tangga yang kekal, tenteram dan teratur serta memperoleh keturunan. Akan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan setiap manusia pasti ingin memiliki keturunan dari pasangannya. Hal tersebut harus melalui jalan perkawinan yang sah menurut peraturan dan hukum yang
Universitas Sumatera Utara BAB II PENGATURAN LARANGAN PERKAWINAN BEDA AGAMA MENURUT HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. A. Hukum Perkawinan Di Indonesia
24 BAB II PENGATURAN LARANGAN PERKAWINAN BEDA AGAMA MENURUT HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA A. Hukum Perkawinan Di Indonesia 1. Pengertian, Asas dan Tujuan Perkawinan Perkawinan adalah perilaku makhluk ciptaan
BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga
Lex Crimen Vol. V/No. 5/Jul/2016
KAJIAN YURIDIS TENTANG PERKAWINAN YANG BELUM MEMENUHI SYARAT PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 1 Oleh: Billy Bidara 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam hidupnya akan mengalami berbagai peristiwa hukum.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dalam hidupnya akan mengalami berbagai peristiwa hukum. Peristiwa hukum yang pasti dialami oleh manusia adalah kelahiran dan kematian. Sedangkan peristiwa
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie) (Diumumkan dengan Maklumat tgl. 30 April 1847, S ) BUKU PERTAMA ORANG
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie) (Diumumkan dengan Maklumat tgl. 30 April 1847, S. 1847-23.) BUKU PERTAMA ORANG BAB I. MENIKMATI DAN KEHILANGAN HAK-HAK KEWARGAAN (Berlaku
I. PENDAHULUAN. suatu sistem pemerintahan sangat ditentukan oleh baik buruknya penyelenggaraan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyelenggaraan pelayanan publik merupakan upaya negara untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hak-hak sipil setiap warga negara atas barang, jasa, dan pelayanan administrasi
