PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN"

Transkripsi

1 PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAPORAN TRANSAKSI PAJAK DAERAH YANG DIBAYAR SENDIRI OLEH WAJIB PAJAK SECARA ONLINE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN, Menimbang : bahwa dalam rangka penerapan prinsip peran serta Wajib Pajak melalui pelaporan transaksi terhadap jenis Pajak Daerah yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (self assesment), dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 134 ayat (3) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Tata Cara Pelaporan Transaksi Usaha Pajak Daerah yang Dibayar Sendiri oleh Wajib Pajak Secara Online; Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan LembaranNegara Republik Indonesia Nomor 4843); 4. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935); 5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah atau Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5179); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 189, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5348); 8. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 6 Tahun 2010 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kota Tangerang Selatan (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 6);

3 Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7); 10. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 20); 11. Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 64 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengelolaan Pajak Daerah Non PBB dan BPHTB (Berita Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 Nomor 64); MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG TATA CARA PELAPORAN TRANSAKSI PAJAK DAERAH YANG DIBAYAR SENDIRI OLEH WAJIB PAJAK SECARA ONLINE. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan. 2. Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan.

4 Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, dan Kelurahan. 4. Dinas adalah dinas yang berwenang dalam pengelolaan pajak daerah. 5. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas yang berwenang dalam menyelenggarakan urusan di bidang pengelolaan pajak daerah. 6. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 7. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. 8. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. 9. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan jasa sebagai pembayaran kepada Wajib Pajak oleh Subjek Pajak. 10. Surat Setoran Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SSPD adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Walikota.

5 Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut SPTPD adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. 12. Pajak Hotel adalah Pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. 13. Pajak Restoran adalah Pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. 14. Pajak Hiburan adalah Pajak atas penyelenggaraan hiburan. 15. Pajak Parkir adalah Pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. 16. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh). 17. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. 18. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran. 19. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. 20. Jaringan Sistem Elektronik adalah terhubungnya 2 (dua) sistem elektronik atau lebih, yang bersifat tertutup ataupun terbuka. 21. Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan sistem elektronik yang berdiri sendiri atau dalam jaringan.

6 Transaksi adalah keterangan/data/dokumen pembayaran yang dimiliki Wajib Pajak sebagai dasar pengenaan Pajak yang dibayar oleh masyarakat/subjek pajak kepada Wajib Pajak. 23. Online adalah sambungan langsung antara subsistem satu dengan subsistem lainnya secara elektronik dan terintegrasi serta real time. 24. Alat atau Sistem adalah perangkat keras dan/atau perangkat lunak yang digunakan untuk merekam, memproses dan mengirimkan Data Transaksi Usaha ke data center Dinas. 25. Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Walikota paling lama 3 (tiga) bulan kalender, yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang. 26. Pajak Yang Terutang adalah Pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam tahun Pajak, atau dalam bagian tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. BAB II JENIS PAJAK Pasal 2 Jenis Pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (self assesment) dalam rangka pelaporan Transaksi berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Walikota ini, terdiri atas: a. Pajak Hotel; b. Pajak Restoran; c. Pajak Hiburan; dan d. Pajak Parkir.

7 - 7 - BAB III TRANSAKSI Bagian Kesatu Jenis Transaksi Pasal 3 (1) Jenis Transaksi pada Pajak Hotel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, meliputi: a. Pembayaran sewa kamar (room); b. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); c. Pembayaran jasa penunjang; d. Pembayaran penggunaan fasilitas hiburan dan olahraga yang disediakan Hotel; dan e. banquet. (2) Pembayaran Jasa penunjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berupa: a. pelayanan cuci (laundry); b. telepon, faksimili, teleks, internet, dan fotokopi; c. transportasi yang dikelola Hotel atau berdasarkan perjanjian kerjasama dengan pihak lain; dan d. Pembayaran service charge. (3) Banquet sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berupa: a. persewaan ruang rapat; atau b. ruang pertemuan. Pasal 4 Jenis Transaksi pada Pajak Restoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, meliputi: a. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); b. Pembayaran pemakaian ruang rapat atau ruang pertemuan di Restoran (room charge); c. Pembayaran service charge;dan d. Pembayaran jasa boga/katering.

8 - 8 - Pasal 5 Hiburan pada Pajak Hiburan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, meliputi: a. tontonan film; b. pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana; c. kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya; d. pameran; e. diskotik; f. karaoke; g. klab malam; h. sirkus, akrobat, dan sulap; i. permainan bilyar, golf dan bowling; j. pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan; k. panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness center); dan l. pertandingan olahraga. Pasal 6 Jenis Transaksi pada Hiburan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 berupa Pembayaran tanda masuk/tiket/karcis, kecuali huruf f, huruf g, huruf i, dan huruf k. Pasal 7 Selain jenis Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, jenis Transaksi pada diskotik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf e juga berupa: a. Pembayaran sewa meja (table charge); b. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); c. Pembayaran sewa ruangan (room charge); dan d. Pembayaran service charge. Pasal 8 (1) Jenis Transaksi pada karaoke sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf f, berupa: a. Pembayaran sewa ruangan (room charge); b. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); atau c. Pembayaran service charge.

9 - 9 - (2) Jenis Transaksi pada klab malam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf g, berupa Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); (3) Jenis Transaksi pada permainan bilyar, golf dan bowling sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf i, berupa: a. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); b. Pembayaran sewa permainan (games charge); atau c. Pembayaran sewa kartu (games card). (4) Selain jenis Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, jenis Transaksi pada pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf j juga berupa: a. Pembayaran untuk permainan/ketangkasan kendaraan bermotor; atau b. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage). (5) Jenis Transaksi pada panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness center) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf k, berupa: a. Pembayaran makanan dan minuman (food and beverage); b. Pembayaran sewa ruangan (room charge); c. Pembayaran biaya terapi (therapis charge); d. Pembayaran biaya di muka (cover charge); atau e. Pembayaran biaya keanggotaan (member charge). Pasal 9 Jenis Transaksi pada Pajak Parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d, meliputi: a. Pembayaran karcis/tiket/smart card; b. Pembayaran penggunaan satuan ruang parkir untuk pelayanan Vallet Parking; atau c. Pembayaran berlangganan berupa sticker, smart card atau sejenisnya.

10 Bagian Kedua Jaringan Sistem Elektronik Secara Online Pasal 10 (1) Walikota melalui Kepala Dinas berwenang mengintegrasikan data atau informasi yang dimiliki Dinas dengan data atau informasi yang dimiliki Wajib Pajak kedalam Jaringan Sistem Elektronik secara Online dalam rangka pelaporan Transaksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. (2) Dalam hal terjadinya kegagalan Akses yang mengakibatkan tidak terintegrasinya pelaporan Transaksi oleh Wajib Pajak dalam Jaringan Sistem Elektronik secara Online sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaporan Transaksi dapat disampaikan secara langsung kepada Dinas. (3) Pelaporan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau ayat (2), menjadi dasar pengenaan Pajak Yang Terutang kepada Wajib Pajak. Bagian Ketiga Perekaman Pasal 11 (1) Dinas menggunakan Alat atau Sistem dalam Jaringan Sistem Elektronik secara Online sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1). (2) Alat atau Sistem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merekam setiap Transaksi pada Jaringan Sistem Elektronik yang dimiliki Wajib Pajak dalam Masa Pajak. (3) Alat atau Sistem sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merekam hasil penerimaan jumlah Pembayaran atau (omset) usaha Wajib Pajak secara harian dan besarnya Pajak Yang Terutang. Pasal 12 (1) Jika Transaksi pada Jaringan Sistem Elektronik yang dimiliki Wajib Pajak telah terpilah berdasarkan jenis Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Alat atau Sistem merekam: a. hasil penerimaan jumlah Pembayaran atau (omset) usaha sebelum Pajak; dan

11 b. jumlah Pajak Yang Terutang berdasarkan pemilahan jenis Pajak tersebut. (2) Jika Transaksi pada Jaringan Sistem Elektronik yang dimiliki Wajib Pajak belum terpilah berdasarkan jenis Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Alat atau Sistem merekam: a. hasil penerimaan jumlah Pembayaran atau (omset) usaha sudah termasuk Pajak; dan b. penghitungan jumlah Pajak Yang Terutang dari jumlah Pembayaran tersebut. Pasal 13 Untuk menghitung Pajak Yang Terutang berdasarkan Transaksi yang terpilah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan Transaksi yang belum terpilah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2), dilakukan dengan mengkalikan dasar pengenaan Pajak dengan tarif Pajak yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah. Bagian Keempat Penyajian Pasal 14 (1) Dinas dan Wajib Pajak secara bersama-sama mengawasi perekaman Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 12, serta Pembayaran Pajak Yang Terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. (2) Akses penyajian Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat rahasia, dan hanya diketahui oleh Wajib Pajak dan Kepala Dinas atau Pejabat yang ditunjuk. (3) Rahasia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah.

12 BAB III PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK YANG TERUTANG Pasal 15 (1) Wajib Pajak membayar Pajak Yang Terutang yang dihitung berdasarkan perekaman Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. (2) Apabila Pajak Yang Terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayar bertepatan dengan hari libur, pembayaran dilakukan dengan jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah hari libur. (3) Pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan SPPD. (4) Wajib Pajak mengisi SPPD dengan benar, jelas, dan lengkap. Pasal 16 (1) Wajib Pajak melaporkan Pajak Yang Terutang dalam Masa Pajak dengan menggunakan SPTPD, dan disampaikan paling lambat setiap tanggal 20 bulan berikutnya. (2) Apabila pelaporan SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertepatan dengan hari libur, penyampaian dilakukan dengan jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah hari libur. (3) Wajib Pajak mengisi SPTPD dengan benar, jelas, dan lengkap. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 17 (1) Dinas dan Wajib Pajak mempunyai hak dalam pelaksanaan pelaporan Transaksi. (2) Hak Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. mendapatkan rekapitulasi Transaksi Wajib Pajak; b. mendapatkan laporan rincian Pembayaran untuk masing-masing Wajib Pajak per jenis Pajak; dan c. memonitor Transaksi dan Pajak Yang Terutang. (3) Hak Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. memperoleh pembebasan dari kewajiban perporasi/legalisasi bukti Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9; dan

13 b. memperoleh pembebasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah dari kewajiban menyampaikan laporan penerimaan Pembayaran dari Subjek Pajak dan rekapitulasi bukti Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9. Pasal 18 (1) Dinas dan Wajib Pajak mempunyai kewajiban dalam pelaksanaan pelaporan Transaksi. (2) Kewajiban Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. merahasiakan atas setiap Transaksi Wajib Pajak; b. melakukan tindakan administrasi pemungutan perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, jika Wajib Pajak terbukti melakukan perusakan Alat atau Sistem Transaksi sehingga tidak berfungsinya pelaporan secara Online; dan c. menyimpan Transaksi Wajib Pajak pada Jaringan Sistem Elektronik Dinas untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun. (3) Kewajiban Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. menjaga dan memelihara dengan baik Alat atau Sistem yang ditempatkan pada tempat usaha Wajib Pajak; b. menyimpan bukti Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9 untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun; dan c. melaporkan segera kepada Dinas melalui call centre, jika Alat atau Sistem mengalami gagal Akses. BAB V KETENTUAN SANKSI Pasal 19 (1) Wajib Pajak yang menolak pemasangan Alat atau Sistem dikenakan sanksi di bidang perpajakan berupa: a. pemeriksaan dan pengawasan terhadap Transaksi setiap bulan; dan

14 b. pengenaan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. (2) Selain sanksi di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan perizinan dan/atau denda administrasi perizinan. (3) Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan evaluasi oleh Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan di bidang perizinan. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 20 Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Walikota ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah. Ditetapkan di Tangerang Selatan. pada tanggal 19 November WALIKOTA TANGERANG SELATAN, ttd AIRIN RACHMI DIANY Diundangkan di Tangerang Selatan. pada tanggal 19 November SEKRETARIS DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN, ttd DUDUNG E DIREDJA BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2013 NOMOR 27.

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR 1 Draft Mei 2015 BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 47 TAHUN 2015 TENTANG ONLINE SYSTEM PELAPORAN TRANSAKSI PAJAK PARKIR, PAJAK HOTEL, PAJAK RESTORAN DAN PAJAK HIBURAN

Lebih terperinci

WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 27 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 27 TAHUN 2016 TENTANG 1 WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 27 TAHUN 2016 TENTANG PELAPORAN TRANSAKSI USAHA PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN MELALUI ONLINE SYSTEM DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROVINSI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 37 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PELAPORAN DATA TRANSAKSI WAJIB PAJAK DALAM JARINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a.

Lebih terperinci

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 21 TAHUN 2017 TENTANG

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 21 TAHUN 2017 TENTANG WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 21 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN SISTEM SECARA ONLINE ATAS DATA TRANSAKSI USAHA WAJIB PAJAK DALAM RANGKA PENGAWASAN

Lebih terperinci

WORKSHOP & SOSIALISASI

WORKSHOP & SOSIALISASI WORKSHOP & SOSIALISASI Peraturan Bupati Banyuwangi No. 81 Tahun 2016 tentang pembayaran dan pelaporan Pajak Parkir, Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Hiburan secara elektronik. Pemerintah Kab. Banyuwangi

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pajak hiburan merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 33 2016 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM ONLINE TRANSAKSI WAJIB PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BEKASI, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENYETORAN PAJAK DAERAH DI KABUPATEN BARITO KUALA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA METRO,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA METRO, PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 39 TAHUN : 2012 PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 39 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGELOLAAN PAJAK HOTEL, PAJAK RESTORAN, PAJAK HIBURAN, PAJAK PENERANGAN

Lebih terperinci

BUPATI BULULUKUMBA. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA Nomor : 7 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN

BUPATI BULULUKUMBA. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA Nomor : 7 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN BUPATI BULULUKUMBA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA Nomor : 7 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUKUMBA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memenuhi ketentuan

Lebih terperinci

WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG

WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA GORONTALO,

Lebih terperinci

Menimbang: a. bahwa pajak hiburan merupakan salah satu sum be r pendapatan daerah yang penting guna membiayai

Menimbang: a. bahwa pajak hiburan merupakan salah satu sum be r pendapatan daerah yang penting guna membiayai PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN2012 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang: a. bahwa pajak hiburan merupakan salah satu sum be r pendapatan

Lebih terperinci

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BIDANG PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH

BIDANG PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH PERATURAN BUPATI KABUPATEN EMPAT LAWANG NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PAJAK HIBURAN DISUSUN OLEH BIDANG PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH DINAS PENDAPATAN DAERAH w t a -r-x-r x-i-k A nrv-ttmvt T^Tl KT~\ A TV T

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGGAI NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGGAI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGGAI NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGGAI, 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGGAI NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGGAI, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pajak 1. Pengertian Pajak Tentang pengertian pajak, ada beberapa pendapat dari beberapa ahli antara lain: a. Pengertian pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun

Lebih terperinci

BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI MOJOKERTO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 31 TAHUN 2016 TENTANG PEMBAYARAN DAN PELAPORAN TRANSAKSI PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN SECARA ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BUPATI PURWAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PURWAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA, Menimbang : a. bahwa Pajak Hiburan merupakan salah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 12

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 12 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 12 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 16 TAHUN 2010

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA Menimbang : a. bahwa berdasarkan pasal 2 ayat ( 2)

Lebih terperinci

BUPATI TELUK WONDAMA

BUPATI TELUK WONDAMA BUPATI TELUK WONDAMA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TELUK WONDAMA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TELUK WONDAMA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat

Lebih terperinci

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat PERATURAN WALI KOTA TASIKMALAYA NOMOR 100 TAHUN 2016 TENTANG PENERAPAN SISTEM INFORMASI PAJAK DAERAH DALAM PELAKSANAAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN DI KOTA TASIKMALAYA

Lebih terperinci

BUPATI PATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

BUPATI PATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, SALINAN BUPATI PATI PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS

PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 15 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGGAMUS, Menimbang : a. bahwa untuk menyelenggarakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA PROBOLINGGO NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG IZIN HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, WALIKOTA PROBOLINGGO, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TELUK BINTUNI

PEMERINTAH KABUPATEN TELUK BINTUNI PEMERINTAH KABUPATEN TELUK BINTUNI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TELUK BINTUNI NOMOR 6 TAHUN 2011 T E N T A N G PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TELUK BINTUNI, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA - 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf c

Lebih terperinci

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 49 TAHUN 2012 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DAERAH (SSPD)

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 49 TAHUN 2012 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DAERAH (SSPD) WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 49 TAHUN 2012 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DAERAH (SSPD) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJAR, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang : a. bahwa sesuai Pasal 95 ayat

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON

LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON 2 NOMOR 6 TAHUN 2011 SERI B Menimbang PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIREBON, : a. bahwa

Lebih terperinci

PROVINSI BANTEN BUPATI TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG

PROVINSI BANTEN BUPATI TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PROVINSI BANTEN BUPATI TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pajak Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, negara berkewajiban untuk menjaga kepentingan rakyatnya baik dalam bidang pertahanan dan keamanan negara, kesejahteraan

Lebih terperinci