No.18/ 7 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 SURAT EDARAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "No.18/ 7 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 SURAT EDARAN"

Transkripsi

1 No.18/ 7 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 SURAT EDARAN Perihal : Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh Bank Indonesia Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/9/PBI/2015 tentang Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5704) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/5/PBI/2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5876), perlu mengatur kembali ketentuan pelaksanaan mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal oleh Bank Indonesia dalam Surat Edaran Bank Indonesia sebagai berikut: I. KETENTUAN UMUM Dalam Surat Edaran Bank Indonesia ini yang dimaksud dengan: 1. Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal adalah kegiatan dalam rangka memproses perhitungan hak dan kewajiban antar Peserta Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia yang setelmennya dilakukan pada waktu tertentu. 2. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia yang selanjutnya disingkat SKNBI adalah infrastruktur yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal untuk memproses Data Keuangan Elektronik pada Layanan Transfer Dana, Layanan Kliring Warkat Debit, Layanan Pembayaran Reguler, dan Layanan Penagihan Reguler. 3. Penyelenggara SKNBI yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah Bank Indonesia. 4. Peserta SKNBI yang selanjutnya disebut Peserta adalah pihak yang telah memenuhi persyaratan dan telah memperoleh persetujuan dari Penyelenggara sebagai Peserta. 5. Layanan...

2 2 5. Layanan Transfer Dana adalah layanan dalam SKNBI yang memproses pemindahan sejumlah dana antar Peserta dari 1 (satu) pengirim kepada 1 (satu) penerima. 6. Layanan Kliring Warkat Debit adalah layanan dalam SKNBI yang memproses penagihan sejumlah dana yang dilakukan antar Peserta dari 1 (satu) pengirim tagihan kepada 1 (satu) penerima tagihan, disertai dengan fisik Warkat Debit. 7. Layanan Pembayaran Reguler adalah layanan dalam SKNBI yang memproses pemindahan sejumlah dana antar Peserta dari 1 (satu) atau beberapa pengirim kepada 1 (satu) atau beberapa penerima. 8. Layanan Penagihan Reguler adalah layanan dalam SKNBI yang memproses penagihan sejumlah dana antar Peserta dari 1 (satu) pengirim tagihan kepada beberapa penerima tagihan. 9. Data Keuangan Elektronik yang selanjutnya disingkat DKE adalah data keuangan dalam format elektronik yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam penyelenggaraan SKNBI. 10. DKE Transfer Dana adalah DKE yang dibuat berdasarkan perintah transfer dana dan digunakan sebagai dasar perhitungan dalam Layanan Transfer Dana. 11. DKE Warkat Debit adalah DKE yang dibuat berdasarkan perintah transfer debit dan digunakan sebagai dasar perhitungan dalam Layanan Kliring Warkat Debit. 12. DKE Pembayaran adalah DKE yang dibuat berdasarkan perintah transfer dana dan digunakan sebagai dasar perhitungan dalam Layanan Pembayaran Reguler. 13. DKE Penagihan adalah DKE yang dibuat berdasarkan perintah transfer debit dan digunakan sebagai dasar perhitungan dalam Layanan Penagihan Reguler. 14. Warkat Debit adalah alat pembayaran nontunai yang diperhitungkan atas beban nasabah atau Bank melalui Layanan Kliring Warkat Debit. 15. Kliring Penyerahan adalah kegiatan untuk memperhitungkan DKE Warkat Debit yang disampaikan oleh Peserta pengirim kepada Peserta penerima melalui Penyelenggara. 16. Kliring...

3 3 16. Kliring Pengembalian adalah kegiatan untuk memperhitungkan DKE Warkat Debit yang diperhitungkan dalam Kliring Penyerahan namun ditolak oleh Peserta penerima berdasarkan alasan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 17. Penyerahan Tagihan adalah kegiatan untuk memperhitungkan DKE Penagihan yang disampaikan oleh Peserta pengirim kepada Peserta penerima melalui Penyelenggara. 18. Pengembalian Tagihan adalah kegiatan untuk memperhitungkan DKE Penagihan yang diperhitungkan dalam Penyerahan Tagihan namun ditolak oleh Peserta penerima berdasarkan alasan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 19. Peserta Langsung Utama yang selanjutnya disingkat PLU adalah Peserta yang mengirimkan DKE ke Penyelenggara secara langsung dengan menggunakan infrastruktur SKNBI dan Setelmen Dana dilakukan ke Rekening Setelmen Dana Peserta yang bersangkutan. 20. Peserta Langsung Afiliasi yang selanjutnya disingkat PLA adalah Peserta yang mengirimkan DKE ke Penyelenggara secara langsung dengan menggunakan infrastruktur SKNBI Peserta yang bersangkutan sedangkan Setelmen Dana dilakukan ke Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. 21. Peserta Tidak Langsung yang selanjutnya disingkat PTL adalah Peserta yang mengirimkan DKE ke Penyelenggara secara tidak langsung melalui Bank Penerus dan Setelmen Dana dilakukan ke Rekening Setelmen Dana Bank Penerus. 22. Bank Pembayar adalah PLU yang ditunjuk oleh PLA dalam rangka Setelmen Dana, penyediaan Prefund, dan/atau pembayaran kewajiban lainnya dalam penyelenggaraan SKNBI. 23. Bank Penerus adalah PLU yang memenuhi persyaratan dan telah memperoleh persetujuan dari Penyelenggara untuk melaksanakan pengiriman DKE, penyediaan Prefund, Setelmen Dana, dan/atau pembayaran kewajiban lainnya untuk kepentingan PTL. 24. Rekening Setelmen Dana adalah rekening Peserta dalam mata uang Rupiah yang ditatausahakan di Bank Indonesia. 25. Setelmen...

4 4 25. Setelmen Dana adalah kegiatan pendebitan dan pengkreditan Rekening Setelmen Dana melalui Sistem BI-RTGS yang dilakukan berdasarkan perhitungan hak dan kewajiban masing-masing Peserta yang timbul dalam penyelenggaraan SKNBI. 26. Prefund adalah dana yang disediakan oleh Peserta untuk memenuhi kewajiban dalam penyelenggaraan SKNBI. 27. Prefund Kredit adalah Prefund yang disediakan untuk Layanan Transfer Dana dan Layanan Pembayaran Reguler. 28. Prefund Debit adalah Prefund yang disediakan untuk Layanan Kliring Warkat Debit dan Layanan Penagihan Reguler. 29. Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai perbankan termasuk kantor cabang dari bank di luar negeri dan Bank Umum Syariah termasuk Unit Usaha Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai perbankan syariah. 30. Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank adalah badan usaha berbadan hukum Indonesia bukan Bank yang telah memperoleh izin dari Bank Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan transfer dana. 31. Sistem Sentral Kliring yang selanjutnya disingkat SSK adalah infrastruktur SKNBI di Penyelenggara yang digunakan dalam penyelenggaraan SKNBI. 32. Sistem Peserta Kliring yang selanjutnya disingkat SPK adalah infrastruktur SKNBI di Peserta yang terhubung dengan SSK yang digunakan oleh Peserta dalam penyelenggaraan SKNBI. 33. Jaringan Komunikasi Data yang selanjutnya disingkat JKD adalah infrastruktur komunikasi data yang digunakan dalam penyelenggaraan SKNBI yang menghubungkan SSK dengan SPK. 34. Soft Token adalah sertifikat dalam bentuk file terproteksi yang memuat identitas pemilik sertifikat, kunci enkripsi untuk melakukan verifikasi tanda tangan digital pemilik, dan periode sertifikat yang dihasilkan oleh infrastruktur kunci publik Bank Indonesia. 35. Sistem...

5 5 35. Sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement yang selanjutnya disebut Sistem BI-RTGS adalah infrastruktur yang digunakan sebagai sarana transfer dana elektronik yang setelmennya dilakukan seketika per transaksi secara individual. 36. Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System yang selanjutnya disebut BI-SSSS adalah infrastruktur yang digunakan sebagai sarana Penatausahaan Transaksi dan Penatausahaan Surat Berharga yang dilakukan secara elektronik. 37. Keadaan Tidak Normal adalah situasi atau kondisi yang terjadi sebagai akibat adanya gangguan atau kerusakan pada perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, aplikasi, maupun sarana pendukung yang mempengaruhi kelancaran penyelenggaraan SKNBI. 38. Keadaan Darurat adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kekuasaan Penyelenggara dan/atau Peserta yang menyebabkan kegiatan operasional SKNBI tidak dapat diselenggarakan yang diakibatkan oleh, tetapi tidak terbatas pada kebakaran, kerusuhan massa, sabotase, dan bencana alam seperti gempa bumi dan banjir yang dinyatakan oleh pihak penguasa atau pejabat setempat yang berwenang, termasuk Bank Indonesia. 39. Fasilitas Kontinjensi adalah fasilitas yang disediakan oleh Penyelenggara di lokasi Penyelenggara dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Dalam Negeri yang dapat digunakan oleh Peserta apabila terjadi Keadaan Tidak Normal atau Keadaan Darurat di lokasi kantor Peserta. 40. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Dalam Negeri yang selanjutnya disingkat KPwDN adalah kantor Bank Indonesia selain kantor pusat Bank Indonesia yang melaksanakan fungsi sistem pembayaran. 41. Wilayah Kliring adalah suatu wilayah yang telah disetujui oleh Penyelenggara untuk melaksanakan kegiatan pertukaran Warkat Debit. 42. Wilayah...

6 6 42. Wilayah Kliring Otomasi adalah Wilayah Kliring yang melaksanakan kegiatan pertukaran Warkat Debit secara otomasi. 43. Wilayah Kliring Manual adalah Wilayah Kliring yang melaksanakan kegiatan pertukaran Warkat Debit secara manual. 44. Koordinator Pertukaran Warkat Debit yang selanjutnya disebut Koordinator PWD adalah koordinator pertukaran Warkat Debit kantor Bank Indonesia dan koordinator pertukaran Warkat Debit selain Bank Indonesia yang melaksanakan pertukaran Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring. 45. Perwakilan Peserta adalah kantor Peserta di suatu Wilayah Kliring yang ditunjuk sebagai wakil Peserta untuk melaksanakan pertukaran Warkat Debit yang dikliringkan di Wilayah Kliring tersebut. 46. Pimpinan adalah direksi atau pejabat yang berwenang mewakili Peserta sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi masingmasing Peserta sebagai berikut: a. Pimpinan untuk Peserta berupa Bank Umum dan Bank Umum Syariah adalah direksi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai perseroan terbatas; b. Pimpinan untuk Peserta berupa Unit Usaha Syariah adalah anggota direksi Bank Umum Konvensional yang membawahkan Unit Usaha Syariah atau pimpinan kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri yang mengelola dan bertanggung jawab terhadap operasional Unit Usaha Syariah; c. Pimpinan untuk Peserta berupa kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri adalah pemimpin kantor cabang dan pejabat satu tingkat di bawah pemimpin kantor cabang yang menerima surat kuasa (power of attorney) dari kantor pusat bank yang berkedudukan di luar negeri; d. Pimpinan...

7 7 d. Pimpinan untuk Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank adalah direksi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana. 47. Bukti Penyerahan Warkat Debit yang selanjutnya disingkat BPWD adalah dokumen kliring yang digunakan di Wilayah Kliring Otomasi yang berfungsi sebagai alat kontrol dalam pelaksanaan kegiatan pertukaran Warkat Debit. 48. Rincian Warkat Debit yang selanjutnya disingkat RWD adalah dokumen kliring yang digunakan di Wilayah Kliring Manual yang berfungsi sebagai alat kontrol dalam pelaksanaan kegiatan pertukaran Warkat Debit. 49. Tanda Pengenal Petugas Kliring yang selanjutnya disingkat TPPK adalah tanda pengenal yang digunakan oleh petugas kliring dalam kegiatan pertukaran Warkat Debit. II. PENYELENGGARA A. Organisasi Penyelenggara 1. Penyelenggara adalah Bank Indonesia c.q. Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran. 2. Kegiatan korespondensi terkait penyelenggaraan SKNBI ditujukan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: a. Kegiatan terkait kepesertaan dan operasional penyelenggaraan SKNBI ditujukan ke alamat: Bank Indonesia Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Divisi Kliring dan Transfer Dana Gedung D Lantai 3 Jalan M.H. Thamrin No. 2 Jakarta b. Kegiatan korespondensi terkait pemantauan kepatuhan Peserta terhadap ketentuan dan prosedur dalam penyelenggaraan SKNBI ditujukan ke alamat: Bank...

8 8 Bank Indonesia Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Divisi Kepatuhan dan Informasi Sistem Pembayaran Bank Indonesia Gedung D Lantai 3 Jalan M.H. Thamrin No. 2 Jakarta Penyelenggara menyediakan helpdesk untuk menangani permasalahan operasional SKNBI yang dihadapi oleh Peserta dengan nomor sebagai berikut: a. telepon : b. faksimile : Dalam hal terdapat perubahan nama departemen, divisi, dan/atau alamat sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dan/atau perubahan nomor telepon dan/atau faksimile sebagaimana dimaksud dalam angka 3 maka Penyelenggara memberitahukan perubahan tersebut melalui surat dan/atau sarana lainnya. B. Tugas Penyelenggara Dalam rangka penyelenggaraan SKNBI, Penyelenggara melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. menetapkan ketentuan dan prosedur penyelenggaraan SKNBI; 2. menyediakan sarana dan prasarana penyelenggaraan SKNBI sebagai berikut: a. perangkat keras dan aplikasi SSK di Penyelenggara; b. 1 (satu) JKD yang menghubungkan SPK dengan SSK; c. aplikasi SPK dan perubahannya serta buku pedoman pengoperasian aplikasi SPK yang disampaikan oleh Penyelenggara melalui surat dan/atau sarana lain; d. Fasilitas Kontinjensi; dan e. sarana dan prasarana pendukung lainnya; 3. melaksanakan kegiatan operasional SKNBI sesuai waktu yang telah ditetapkan, antara lain sebagai berikut: a. melakukan...

9 9 a. melakukan monitoring pengiriman DKE dan penyediaan Prefund dalam rangka menjaga kelancaran kegiatan operasional SKNBI; b. melakukan perhitungan DKE yang dikirim oleh Peserta dan diterima oleh Penyelenggara; dan c. menyediakan data/informasi hasil perhitungan dalam SKNBI. 4. melakukan upaya untuk menjamin keandalan, ketersediaan, dan keamanan penyelenggaraan SKNBI, antara lain sebagai berikut: a. melakukan pengelolaan dan pengoperasian SSK; b. melakukan security audit terhadap SKNBI secara berkala; c. menyediakan helpdesk untuk menangani masalah: 1) operasional penyelenggaraan SKNBI; dan/atau 2) JKD; d. memberikan layanan yang berkaitan dengan kepesertaan dalam penyelenggaraan SKNBI; e. menetapkan waktu operasional penyelenggaraan SKNBI; f. memiliki standar layanan minimum penyelenggaraan SKNBI antara lain standar layanan waktu terkait kepesertaan dan standar layanan dalam penyelenggaraan SKNBI; g. menetapkan dan memberlakukan ketentuan dan prosedur penanganan Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat; h. memberikan pelatihan kepada calon Peserta dan pelatihan secara berkala kepada Peserta; dan i. menetapkan status kepesertaan Peserta; 5. melakukan pemantauan kepatuhan Peserta dan Koordinator PWD terhadap ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal serta prosedur yang ditetapkan oleh Penyelenggara; 6. menetapkan...

10 10 6. menetapkan dan mengenakan sanksi administratif kepada Peserta; 7. menetapkan batas nilai nominal transaksi yang dapat diperhitungkan dalam penyelenggaraan SKNBI; dan 8. menetapkan jenis dan besarnya biaya dalam penyelenggaraan SKNBI, termasuk batas biaya paling banyak yang dikenakan Peserta kepada nasabah. III. KEPESERTAAN A. Prinsip Umum 1. Pihak yang dapat menjadi Peserta yaitu: a. Bank Indonesia; b. Bank; dan c. Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank. 2. Dalam hal Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir 1.b merupakan Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional sekaligus melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah maka kepesertaan dalam penyelenggaraan SKNBI untuk kegiatan usaha secara konvensional harus terpisah dari kepesertaan untuk kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. 3. Jenis kepesertaan dalam SKNBI terdiri atas: a. PLU; b. PLA; atau c. PTL. 4. Berdasarkan jenis kepesertaan, pihak sebagaimana dimaksud dalam angka 1, diatur sebagai berikut: a. Bank Indonesia hanya dapat menjadi PLU; b. Bank hanya dapat menjadi PLU; dan c. Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank hanya dapat menjadi PLA atau PTL. 5. Berdasarkan jenis layanan, keikutsertaan pihak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 diatur sebagai berikut: a. Bank...

11 11 a. Bank Indonesia dapat mengikuti seluruh layanan dalam penyelenggaraan SKNBI. b. Bank harus mengikuti seluruh layanan dalam penyelenggaraan SKNBI. c. Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank hanya dapat mengikuti Layanan Transfer Dana dan/atau Layanan Pembayaran Reguler. 6. Keikutsertaan Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank dalam Layanan Pembayaran Reguler hanya berlaku bagi Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank yang mengelola rekening nasabah. 7. Penyelenggara berwenang untuk menetapkan ketentuan dan persyaratan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik untuk Peserta. B. Persyaratan Menjadi Peserta Calon Peserta harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Persyaratan Sebagai PLU a. memiliki surat izin usaha yang masih berlaku dari lembaga yang berwenang; b. tidak sedang dalam proses likuidasi atau kepailitan; c. telah menjadi peserta dalam Sistem BI-RTGS; d. Pimpinan calon Peserta telah memperoleh persetujuan atau dinyatakan lulus dalam fit and proper test yang dilakukan oleh lembaga pengawas yang berwenang; e. menyediakan infrastruktur SPK dengan spesifikasi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.1; dan f. memiliki laporan hasil security audit atas sistem internal Peserta yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun terakhir, dalam hal calon Peserta akan menghubungkan sistem internal Peserta ke SSK. 2. Persyaratan Sebagai PLA a. memiliki izin sebagai penyelenggara transfer dana yang masih berlaku dari Bank Indonesia; b. tidak sedang dalam proses likuidasi atau kepailitan; c. menyediakan layanan transfer dana kepada nasabah dan memiliki jaringan kantor yang luas di mayoritas provinsi di Indonesia; d. memiliki...

12 12 d. memiliki kinerja keuangan yang baik selama 2 (dua) tahun terakhir; e. memiliki aset paling sedikit Rp ,00 (satu triliun rupiah) atau modal paling sedikit Rp ,00 (lima ratus miliar rupiah) selama 1 (satu) tahun terakhir; f. Pimpinan calon PLA tidak tercantum dalam daftar kredit macet dan/atau daftar hitam nasional yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang; g. menyediakan infrastruktur SPK dengan spesifikasi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.1; h. memiliki laporan hasil security audit atas sistem internal Peserta yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun terakhir, dalam hal calon Peserta akan menghubungkan sistem internal Peserta ke SSK; i. menunjuk 1 (satu) Bank Pembayar dalam rangka pendebitan dan/atau pengkreditan dana untuk: 1) Setelmen Dana; 2) penyediaan Prefund Kredit; 3) pembebanan biaya dalam penyelenggaraan SKNBI; dan 4) pembebanan sanksi administratif berupa kewajiban membayar atas pelanggaran ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal; dan j. memiliki perjanjian dengan Bank Pembayar yang paling kurang memuat: 1) hak dan kewajiban PLA dan Bank Pembayar; 2) mekanisme penyediaan Prefund Kredit; 3) batas waktu penerusan hasil Setelmen Dana dari Bank Pembayar ke PLA; 4) tanggung jawab atas kerahasiaan dan/atau penyalahgunaan informasi hasil Setelmen Dana; dan 5) mekanisme penyelesaian perselisihan. 3. Persyaratan...

13 13 3. Persyaratan Sebagai PTL a. memiliki izin sebagai penyelenggara transfer dana yang masih berlaku dari Bank Indonesia; b. tidak sedang dalam proses likuidasi atau kepailitan; c. Pimpinan calon PTL tidak tercantum dalam daftar kredit macet dan/atau daftar hitam nasional yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang; d. menunjuk 1 (satu) Bank Penerus; dan e. memiliki perjanjian dengan Bank Penerus yang paling kurang memuat: 1) hak dan kewajiban PTL dan Bank Penerus; 2) tanggung jawab atas kerahasiaan dan/atau penyalahgunaan data dan informasi dalam penyelenggaraan SKNBI; 3) mekanisme pelaksanaan: a) penyediaan Prefund Kredit; b) pengiriman DKE kepada Penyelenggara; dan c) batas waktu penerusan hasil Setelmen Dana dari Bank Penerus kepada PTL, baik dalam keadaan normal, Keadaan Tidak Normal, dan Keadaan Darurat pada Bank Penerus; 4) pengaturan penyelesaian perselisihan; 5) biaya penggunaan infrastruktur yang dikenakan kepada PTL; dan 6) pembebanan sanksi administratif berupa kewajiban membayar atas pelanggaran ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal. C. Prosedur untuk Memperoleh Persetujuan menjadi Peserta Prosedur untuk memperoleh persetujuan menjadi Peserta diatur sebagai berikut: 1. Prosedur...

14 14 1. Prosedur menjadi PLU a. Calon PLU menyampaikan surat permohonan untuk menjadi Peserta kepada Penyelenggara dengan menggunakan format surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.2. b. Dalam hal calon PLU merupakan Unit Usaha Syariah maka surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diajukan oleh Bank konvensional atas nama Unit Usaha Syariah. c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilengkapi dengan dokumen sebagai berikut: 1) data kepesertaan SKNBI sesuai dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.3; 2) Wilayah Kliring yang dipilih oleh calon PLU dalam rangka pertukaran Warkat Debit; 3) fotokopi dokumen persetujuan izin usaha yang masih berlaku dari lembaga berwenang dan telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Pimpinan calon PLU; 4) fotokopi anggaran dasar perusahaan dan perubahannya yang menunjukan informasi terakhir yang mencakup nama dan kepengurusan perusahaan telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Pimpinan calon PLU; 5) fotokopi surat kuasa (power of attorney) dari kantor pusat calon PLU yang berkedudukan di luar negeri kepada pemimpin kantor cabang berikut terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang dibuat oleh penerjemah tersumpah, bagi calon PLU yang berkantor pusat di luar negeri; 6) surat pernyataan dari Pimpinan calon PLU yang menyatakan bahwa calon PLU tidak sedang dalam proses likuidasi atau kepailitan dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.4; 7) fotokopi...

15 15 7) fotokopi keputusan hasil fit and proper test Pimpinan calon PLU yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang. Dalam hal calon Peserta adalah Unit Usaha Syariah maka yang disampaikan adalah fotokopi keputusan hasil fit and proper test sebagai Pimpinan Unit Usaha Syariah; 8) surat pernyataan dari Pimpinan calon PLU mengenai kesiapan infrastruktur SPK dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.5; dan 9) laporan hasil security audit atas sistem internal calon PLU yang dilakukan oleh auditor internal atau auditor independen, dalam hal sistem internal calon PLU akan dihubungkan ke SSK. Dalam hal security audit dilakukan oleh auditor internal, laporan hasil security audit dilengkapi dengan surat pernyataan dari Pimpinan calon PLU yang menyatakan bahwa security audit dilaksanakan secara independen. d. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh Pimpinan PLU dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. e. Bagi calon PLU yang kantor pusatnya berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. f. Dalam hal calon PLU merupakan peserta Sistem BI- RTGS dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf c telah disampaikan kepada penyelenggara Sistem BI-RTGS, calon PLU tidak perlu menyampaikan dokumen pendukung dimaksud. g. Dalam...

16 16 g. Dalam hal diperlukan, calon PLU harus dapat memperlihatkan asli dari dokumen sebagaimana dimaksud dalam butir c.3), butir c.4), butir c.5), dan butir c.7) kepada Penyelenggara. h. Berdasarkan surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Penyelenggara dapat melakukan pemeriksaan lokasi kantor calon PLU untuk memastikan antara lain kesesuaian informasi dalam dokumen yang disampaikan dan kesiapan infrastruktur SPK. i. Penyelenggara memberikan persetujuan prinsip atau penolakan atas permohonan calon PLU sebagaimana dimaksud dalam huruf a, paling lama 25 (dua puluh lima) hari kerja terhitung sejak surat permohonan dan dokumen diterima secara lengkap oleh Penyelenggara. j. Dalam hal permohonan calon PLU disetujui, Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan prinsip sebagai PLU yang memuat antara lain hal-hal sebagai berikut: 1) persetujuan prinsip menjadi PLU; 2) nama dan kode Peserta; 3) kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan, antara lain: a) mengikuti kegiatan pelatihan; b) instalasi SPK; dan c) penandatanganan perjanjian, apabila diperlukan; 4) kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi oleh pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU dalam rangka pelaksanaan kegiatan operasional. k. Dalam hal permohonan calon PLU tidak disetujui, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan penolakan yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. 1. Dokumen...

17 17 l. Dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam butir j.4) terdiri atas: 1) Surat pemberitahuan kewenangan Pimpinan dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.6. 2) Surat permohonan untuk memperoleh Soft Token disertai dengan file certificate signing request yang disimpan dalam compact disc dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.7. 3) Surat kuasa terkait dengan kepesertaan dan operasional SKNBI dengan ketentuan sebagai berikut: a) Pimpinan dapat memberikan kuasa tanpa hak subsitusi atau dengan 1 (satu) kali hak subsitusi dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.8. b) Surat kuasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a) berlaku untuk 1 (satu) kantor Bank Indonesia. c) Surat kuasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dibuat untuk melakukan kegiatan sebagai berikut: (1) penandatanganan surat menyurat, laporan, dan/atau dokumen lain, baik dokumen tertulis maupun dokumen elektronik, yang terkait dengan kepesertaan dan operasional dalam penyelenggaraan SKNBI; (2) penyerahan certificate signing request dan/atau pengambilan Soft Token; dan/atau (3) penyerahan dan/atau pengambilan surat, laporan, dan dokumen lain baik dokumen tertulis maupun dokumen elektronik...

18 18 elektronik, yang terkait dengan kepesertaan dan operasional dalam SKNBI. d) Pimpinan atau pejabat penerima kuasa dengan 1 (satu) kali hak substitusi dapat memberikan kuasa tanpa hak substitusi kepada petugas di kantor pusat atau kantor cabang yang bersangkutan hanya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir c)(3). e) Jumlah pejabat penerima kuasa untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam huruf c) paling banyak 5 (lima) orang. f) Surat kuasa disertai dengan fotokopi identitas diri yang masih berlaku dari penerima kuasa yaitu: (1) Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), atau paspor bagi Warga Negara Indonesia (WNI); atau (2) paspor, Keterangan Izin Tinggal Sementara (KITAS), dan surat izin kerja dari instansi berwenang bagi Warga Negara Asing (WNA). g) Dalam hal PLU adalah kantor cabang dari Bank yang berkedudukan di luar negeri maka surat kuasa terkait kepesertaan dan operasional SKNBI dapat diberikan oleh pemimpin kantor cabang dari Bank yang bersangkutan. 4) Surat permohonan untuk membuat spesimen tanda tangan bagi: a) Pimpinan; atau b) pejabat penerima kuasa untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir 3)c), dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.9. 5) Dalam...

19 19 5) Dalam hal Pimpinan dan/atau pejabat yang berwenang telah memiliki spesimen tanda tangan di Sistem BI-RTGS, dari pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU dapat menyampaikan surat pemberitahuan mengenai penambahan kewenangan pejabat dimaksud kepada Penyelenggara dengan melampirkan fotokopi surat kuasa terkait dengan kewenangan operasional SKNBI. Surat pemberitahuan mengenai penambahan kewenangan tersebut menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.10. m. Pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU menyampaikan seluruh dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf l kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. n. Dalam hal terdapat kekurangan dokumen administrasi dalam rangka pelaksanaan kegiatan operasional SKNBI, Penyelenggara menginformasikan kepada pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU melalui surat, telepon, atau sarana lain. o. Berdasarkan dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf l, Penyelenggara menyampaikan surat yang menginformasikan mengenai kegiatan yang harus dilakukan oleh pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU dalam rangka persiapan operasional. p. Berdasarkan surat sebagaimana dimaksud dalam huruf o, pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) mengikutsertakan pejabat dan/atau petugas yang akan menangani operasional SKNBI dalam kegiatan pelatihan; 2) melakukan...

20 20 2) melakukan instalasi SPK dan uji koneksi SPK dengan SSK; 3) mengambil Soft Token yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pimpinan atau pejabat yang menerima kuasa; 4) membuat spesimen tanda tangan Pimpinan dan/atau pejabat yang menerima kuasa; 5) menandatangani perjanjian, apabila diperlukan; 6) menunjuk salah satu kantor Peserta sebagai Perwakilan Peserta di setiap Wilayah Kliring; dan 7) menyediakan stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan untuk setiap kantor di Wilayah Kliring yang dipilih dengan contoh sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.1. q. Pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU harus menyampaikan dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf l, paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak tanggal surat persetujuan prinsip dari Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam huruf j. r. Dalam hal pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU tidak dapat memenuhi dokumen administrasi secara lengkap sesuai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf q maka: 1) persetujuan prinsip sebagai PLU menjadi tidak berlaku; 2) pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU harus mengembalikan aplikasi SPK, buku petunjuk instalasi SPK, dan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK kepada Penyelenggara paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf q; dan 3) pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU harus mengajukan permohonan baru kepada Penyelenggara, dalam hal tetap ingin menjadi PLU. s. Setelah...

21 21 s. Setelah pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU memenuhi dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf l, Penyelenggara melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) memberitahukan secara tertulis kepada pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU mengenai: a) persetujuan operasional keikutsertaan sebagai PLU; dan b) tanggal efektif operasional sebagai PLU, paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLU melengkapi dokumen administrasi; dan 2) memberitahukan secara tertulis mengenai penambahan PLU dan tanggal efektif operasional sebagai PLU kepada: a) seluruh Peserta melalui fasilitas administrative message dan/atau sarana lainnya; dan b) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta melalui surat atau sarana lain. 2. Prosedur menjadi PLA a. Calon PLA menyampaikan surat permohonan untuk menjadi Peserta kepada Penyelenggara dengan menggunakan format surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.11. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilengkapi dengan dokumen sebagai berikut: 1) data kepesertaan SKNBI sesuai dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.3; 2) fotokopi dokumen persetujuan izin sebagai penyelenggara transfer dana yang masih berlaku dari Bank Indonesia yang telah dilegalisasi oleh pejabat...

22 22 pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Pimpinan calon PLA; 3) fotokopi anggaran dasar perusahaan dan perubahannya yang menunjukan informasi terakhir yang mencakup nama dan kepengurusan perusahaan dan telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Pimpinan calon PLA; 4) surat pernyataan dari Pimpinan calon PLA yang menyatakan bahwa calon PLA tidak sedang dalam proses kepailitan atau likuidasi dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.4; 5) susunan Pimpinan sesuai kondisi terakhir; 6) data mengenai lokasi kantor cabang calon PLA termasuk mengenai cakupan kegiatan transfer dana yang dilakukan oleh kantor cabang calon PLA; 7) laporan keuangan calon PLA posisi 2 (dua) tahun terakhir; 8) surat pernyataan dari Pimpinan calon PLA yang menyatakan tidak masuk dalam daftar kredit macet dan daftar hitam nasional; 9) surat pernyataan dari Pimpinan calon PLA mengenai kesiapan infrastruktur SPK yang memuat informasi spesifikasi infrastruktur SPK sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.5; dan 10) laporan hasil security audit atas sistem internal calon PLA yang dilakukan oleh auditor internal atau auditor independen, dalam hal sistem internal calon PLA akan dihubungkan ke SSK. Dalam hal security audit dilakukan oleh auditor internal, laporan hasil security audit dilengkapi dengan...

23 23 dengan surat pernyataan dari Pimpinan calon PLA yang menyatakan bahwa security audit dilaksanakan secara independen. c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh Pimpinan calon PLA dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. d. Bagi calon PLA yang kantor pusatnya berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. e. Dalam hal diperlukan, calon PLA wajib memperlihatkan asli dari dokumen sebagaimana dimaksud dalam butir b.2) dan butir b.3) kepada Penyelenggara. f. Berdasarkan surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Penyelenggara dapat melakukan pemeriksaan lokasi kantor calon PLA untuk memastikan antara lain kesesuaian informasi dalam dokumen yang disampaikan dan kesiapan infrastruktur SPK. g. Penyelenggara memberikan persetujuan prinsip atau penolakan atas permohonan calon PLA sebagaimana dimaksud dalam huruf a, paling lama 25 (dua puluh lima) hari kerja terhitung sejak surat permohonan dan dokumen diterima secara lengkap oleh Penyelenggara. h. Dalam hal permohonan calon PLA disetujui, Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan prinsip sebagai PLA yang memuat antara lain hal-hal sebagai berikut: 1) persetujuan prinsip menjadi PLA; 2) nama dan kode Peserta; 3) kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan, antara lain: a) mengikuti...

24 24 a) mengikuti kegiatan pelatihan; b) instalasi SPK; dan c) penandatanganan perjanjian, apabila diperlukan; 4) kelengkapan dokumen administrasi yang harus dipenuhi oleh pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA dalam rangka pelaksanaan kegiatan operasional. i. Dalam hal permohonan calon PLA tidak disetujui, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan penolakan yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. j. Dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam butir h.4) terdiri atas: 1) Surat pemberitahuan kewenangan Pimpinan PLA dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.6. 2) Surat permohonan untuk memperoleh Soft Token disertai dengan file certificate signing request yang disimpan dalam compact disc dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.7. 3) Surat kuasa terkait dengan kepesertaan dan operasional SKNBI dengan ketentuan sebagai berikut: a) Pimpinan dapat memberikan kuasa tanpa hak subsitusi atau dengan 1 (satu) kali hak subsitusi dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.8; b) Surat kuasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a) berlaku untuk 1 (satu) kantor Bank Indonesia. c) Surat kuasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dibuat untuk melakukan kegiatan sebagai berikut: (1) penandatanganan...

25 25 (1) penandatanganan surat menyurat, laporan, dan/atau dokumen lain, baik dokumen tertulis maupun dokumen elektronik, yang terkait dengan kepesertaan dan operasional dalam penyelenggaraan SKNBI; (2) penyerahan certificate signing request dan/atau pengambilan Soft Token; dan/atau (3) penyerahan dan/atau pengambilan surat, laporan, dan dokumen lain baik dokumen tertulis maupun dokumen elektronik, yang terkait dengan kepesertaan dan operasional dalam SKNBI. d) Pimpinan atau pejabat penerima kuasa dengan 1 (satu) kali hak substitusi dapat memberikan kuasa tanpa hak substitusi kepada petugas di kantor pusat atau kantor cabang yang bersangkutan hanya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir c)(3). e) Jumlah pejabat penerima kuasa untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam huruf c) paling banyak 5 (lima) orang. f) Surat kuasa disertai dengan fotokopi identitas diri yang masih berlaku dari penerima kuasa yaitu: (1) Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), atau paspor bagi Warga Negara Indonesia (WNI); atau (2) paspor, Keterangan Izin Tinggal Sementara (KITAS), dan Surat Izin kerja dari instansi berwenang bagi Warga Negara Asing (WNA). 4) Surat...

26 26 4) Surat permohonan untuk membuat spesimen tanda tangan bagi: a) Pimpinan; atau b) pejabat penerima kuasa untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir 3).c), dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.9. 5) Surat penunjukan Bank Pembayar dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.12 yang dilengkapi dengan: a) surat konfirmasi dari Bank Pembayar dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.13; dan b) surat kuasa pendebitan Rekening Setelmen Dana dari Bank Pembayar kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.14. k. Pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA menyampaikan seluruh dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf j kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. l. Dalam hal terdapat kekurangan dokumen administrasi dalam rangka pelaksanaan kegiatan operasional SKNBI, Penyelenggara menginformasikan kepada pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA melalui surat, telepon, atau sarana lain. m. Berdasarkan dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf j, Penyelenggara menyampaikan surat yang menginformasikan mengenai kegiatan yang harus dilakukan oleh pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA dalam rangka persiapan operasional. n. Berdasarkan...

27 27 n. Berdasarkan surat sebagaimana dimaksud dalam huruf m, pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) mengikutsertakan pejabat dan/atau petugas yang akan menangani operasional SKNBI dalam pelatihan; 2) melakukan instalasi SPK dan uji koneksi SPK dengan SSK; 3) mengambil Soft Token yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pimpinan atau pejabat yang menerima kuasa; 4) membuat spesimen tanda tangan Pimpinan dan/atau pejabat yang menerima kuasa; dan 5) menandatangani perjanjian, apabila diperlukan. o. Pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA harus menyampaikan dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf j, paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak tanggal surat persetujuan prinsip dari Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam huruf h. p. Dalam hal pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA tidak dapat memenuhi dokumen administrasi secara lengkap sesuai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf j maka: 1) persetujuan prinsip sebagai PLA menjadi tidak berlaku; 2) pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA harus mengembalikan aplikasi SPK, buku petunjuk instalasi SPK, dan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK kepada Penyelenggara paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf o; dan 3) pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA harus mengajukan permohonan baru kepada Penyelenggara, dalam hal tetap ingin menjadi PLA. q. Setelah...

28 28 q. Setelah pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA memenuhi dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf j, Penyelenggara melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) memberitahukan secara tertulis kepada pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip menjadi PLA mengenai: a) persetujuan operasional keikutsertaan sebagai PLA; dan b) tanggal efektif operasional sebagai PLA, paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah PLA melengkapi dokumen administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf j. 2) memberitahukan mengenai penambahan PLA dan tanggal efektif operasional sebagai PLA kepada: a) seluruh Peserta melalui fasilitas administrative message dan/atau sarana lainnya; dan b) KPwDN yang mewilayahi PLA. 3. Prosedur menjadi PTL a. Permohonan untuk menjadi calon PTL dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1) Penunjukan Bank Penerus a) Calon PTL menyampaikan permohonan untuk menjadi PTL sekaligus penunjukan PLU sebagai Bank Penerus dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.12. b) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) disampaikan kepada PLU yang akan ditunjuk sebagai Bank Penerus. c) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dilampiri dengan dokumen sebagai berikut: (1) fotokopi...

29 29 (1) fotokopi dokumen persetujuan izin sebagai penyelenggara transfer dana yang masih berlaku dari Bank Indonesia yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Pimpinan calon PTL; (2) fotokopi anggaran dasar perusahaan dan perubahannya yang menunjukan informasi terakhir yang mencakup nama dan kepengurusan perusahaan dan telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai dengan aslinya oleh Pimpinan calon PTL; (3) surat pernyataan dari Pimpinan calon PTL yang menyatakan bahwa calon PTL tidak sedang dalam proses kepailitan atau proses likuidasi dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.4; dan (4) surat pernyataan dari Pimpinan calon PTL yang menyatakan bahwa pengurus calon PTL tidak masuk dalam daftar kredit macet dan daftar hitam nasional. d) Setelah menerima dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf c), PLU yang ditunjuk sebagai Bank Penerus melakukan verifikasi atas kelengkapan dan kebenaran dokumen. e) Berdasarkan verifikasi dokumen dan pertimbangan aspek kredibilitas, kondisi keuangan, dan kesiapan sistem calon PTL, PLU yang ditunjuk sebagai Bank Penerus dapat menyetujui atau menolak permohonan calon PTL. f) Dalam hal PLU yang ditunjuk sebagai Bank Penerus menyetujui permohonan calon PTL maka PLU melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) membuat...

30 30 (1) membuat surat konfirmasi Bank Penerus dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.13; (2) membuat surat kuasa pendebitan Rekening Setelmen Dana Bank Penerus dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.14; dan (3) membuat perjanjian kerja sama dengan PTL. 2) Permohonan sebagai PTL a) PLU menyampaikan surat yang memuat: (1) permohonan Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank menjadi PTL; dan (2) penunjukan Bank Penerus oleh calon PTL, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.15. b) Surat sebagaimana dimaksud dalam huruf a) disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a yang dilengkapi dokumen sebagai berikut: (1) surat penunjukan dari calon PTL untuk bertindak sebagai Bank Penerus; (2) surat konfirmasi Bank Penerus sebagaimana dimaksud dalam butir 1)f)(1); (3) surat kuasa pendebitan Rekening Setelmen Dana Bank Penerus sebagaimana dimaksud dalam butir 1)f)(2); dan (4) fotokopi perjanjian antara Bank Penerus dengan calon PTL dimaksud dalam butir 1)f)(3). c) Surat...

31 31 c) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) ditandatangani oleh Pimpinan yang ditunjuk sebagai Bank Penerus yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara. d) Dalam hal diperlukan, Penyelenggara dapat: (1) meminta PLU yang ditunjuk sebagai Bank Penerus untuk memperlihatkan asli dari dokumen sebagaimana dimaksud dalam butir 1)c)(1) dan butir 1)c)(2) kepada Penyelenggara; dan/atau (2) melakukan pemeriksaan ke lokasi kantor calon PTL untuk memastikan antara lain kesesuaian informasi dalam dokumen yang disampaikan. 3) Dalam hal PLU belum memperoleh persetujuan sebagai Bank Penerus dari Penyelenggara maka permohonan untuk menjadi Bank Penerus dapat dilakukan bersamaan dengan proses permohonan Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank sebagai PTL sebagaimana dimaksud dalam angka 2). b. Penyelenggara memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam butir a.2)a) paling lama 25 (dua puluh lima) hari kerja terhitung sejak surat permohonan dan dokumen diterima secara lengkap oleh Penyelenggara, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Dalam hal permohonan sebagai PTL disetujui, Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan kepada Bank Penerus yang memuat antara lain sebagai berikut: a) persetujuan menjadi PTL; b) nama dan kode Peserta; dan c) tanggal efektif menjadi PTL. 2) Dalam...

32 32 2) Dalam hal permohonan sebagai PTL tidak disetujui, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan mengenai penolakan permohonan sebagai PTL kepada Bank Penerus yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. D. Persyaratan dan Prosedur untuk Memperoleh Persetujuan menjadi Bank Penerus 1. Calon Bank Penerus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. masuk dalam kategori Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) 4 sesuai penilaian terakhir yang dilakukan oleh otoritas pengawasan Bank; b. memiliki teknologi informasi yang memadai yaitu paling kurang memiliki kemampuan untuk: 1) melakukan pemrosesan dan pencatatan transaksi PTL secara seketika; dan 2) menyampaikan informasi transaksi secara terenkripsi; c. memiliki unit khusus dengan didukung oleh sumber daya manusia yang memadai untuk mengkoordinir kegiatan sebagai Bank Penerus; dan d. telah menerapkan manajemen risiko dengan mengacu pada ketentuan yang mengatur mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum. 2. Prosedur untuk menjadi Bank Penerus adalah sebagai berikut: a. Calon Bank Penerus menyampaikan surat permohonan untuk menjadi Bank Penerus kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.16. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus dilengkapi dengan dokumen sebagai berikut: 1) surat...

33 33 1) surat pernyataan dari Pimpinan calon Bank Penerus yang menyatakan bahwa calon Bank Penerus masuk kategori BUKU 4; 2) surat pernyataan dari Pimpinan calon Bank Penerus mengenai kesiapan teknologi informasi yang mendukung operasional sebagai Bank Penerus; 3) struktur organisasi calon Bank Penerus; dan 4) surat pernyataan dari Pimpinan calon Bank Penerus yang menyatakan bahwa calon Bank Penerus telah menerapkan manajemen risiko. c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam butir b.1) ditandatangani oleh Pimpinan calon Bank Penerus atau pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. d. Bagi calon Bank Penerus yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam butir b.1) disampaikan kepada Penyelenggara dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. e. Berdasarkan surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam butir b.1), Penyelenggara dapat melakukan pemeriksaan lokasi kantor calon Bank Penerus untuk memastikan antara lain kesesuaian informasi dalam dokumen yang disampaikan dan kesiapan infrastruktur. f. Penyelenggara memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan calon Bank Penerus sebagaimana dimaksud dalam butir b.1), paling lama 25 (dua puluh lima) hari kerja terhitung sejak surat permohonan dan dokumen sebagaimana dimaksud butir b.2) diterima secara lengkap oleh Penyelenggara. E. Perubahan...

34 34 E. Perubahan Data Kepesertaan 1. Perubahan Jenis Kepesertaan a. Penyelenggara Transfer Dana Selain Bank dapat melakukan perubahan jenis kepesertaan dari PTL menjadi PLA atau sebaliknya. b. Persyaratan dan prosedur perubahan jenis kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a mengacu pada persyaratan dan prosedur sebagaimana dimaksud dalam huruf B dan huruf C. 2. Perubahan Kode Peserta Perubahan kode Peserta dapat dilakukan antara lain karena perubahan kode peserta Sistem BI-RTGS, perubahan Peserta menjadi anggota Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication, atau perubahan Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication Bank Identifier Code dari Peserta. Dalam hal terdapat perubahan kode Peserta, Peserta harus mengganti Soft Token. Perubahan kode Peserta dan penggantian Soft Token diatur sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan perubahan kode Peserta dan penggantian Soft Token kepada Penyelenggara dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.17 dengan melampirkan: 1) dokumen pendukung yang menunjukkan adanya perubahan kode Peserta; dan 2) file certificate signing request yang disimpan dalam compact disc. Penggantian Soft Token sebagaimana dimaksud dalam huruf a mengacu pada ketentuan butir I.2.d sampai dengan butir I.2.g. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat...

35 35 1) surat disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. c. Penyelenggara menyampaikan persetujuan atau penolakan melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf a diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. d. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan kode Peserta maka: 1) Penyelenggara memberitahukan kepada Peserta yang bersangkutan mengenai persetujuan dan tanggal efektif perubahan kode Peserta; 2) Penyelenggara memberitahukan perubahan kode Peserta kepada: a) seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya; dan b) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta melalui surat atau sarana lainnya. e. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan perubahan kode Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat penolakan dengan disertai alasannya. 3. Perubahan Nama Peserta Perubahan nama Peserta diatur sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan perubahan nama Peserta dalam SKNBI kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.18. b. Surat...

36 36 b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilengkapi dengan dokumen pendukung yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan dari Peserta yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara berupa: 1) fotokopi akta perubahan anggaran dasar untuk badan hukum Indonesia; 2) fotokopi surat persetujuan perubahan anggaran dasar dari instansi yang berwenang; dan 3) fotokopi surat keputusan dari otoritas yang berwenang tentang perubahan nama Peserta dalam hal Peserta adalah Bank. Bagi Peserta berupa Bank yang berkantor pusat di luar negeri cukup menyampaikan surat keputusan sebagaimana dimaksud dalam angka 3). c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat permohonan disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. d. Penyelenggara menyampaikan persetujuan atau penolakan kepada Peserta melalui surat yang penyampaiannya dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. e. Dalam...

37 37 e. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan nama Peserta maka: 1) Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan yang memuat informasi mengenai: a) persetujuan dan tanggal efektif perubahan nama Peserta; b) permintaan untuk menyediakan stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan untuk setiap kantor Peserta di Wilayah Kliring yang dipilih, dengan contoh sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.1; dan/atau c) penyesuaian Warkat Debit dan dokumen kliring dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir XI.C.8; 2) Penyelenggara memberitahukan perubahan nama Peserta kepada: a) seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya; dan b) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta, melalui surat yang penyampaiannya dapat didahului dengan faksimile. f. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan perubahan nama Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat penolakan dengan disertai alasannya. 4. Perubahan Kegiatan Usaha Perubahan kegiatan usaha Peserta dalam SKNBI dari Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum Syariah dapat menyebabkan adanya perubahan data kepesertaan antara lain nama Peserta dan/atau kode Peserta. Perubahan data kepesertaan karena adanya perubahan kegiatan usaha Peserta diatur sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan perubahan kegiatan usaha kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.19. b. Surat...

38 38 b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilengkapi dengan dokumen pendukung yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan dari Peserta yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara berupa: 1) fotokopi akta perubahan anggaran dasar; 2) fotokopi surat persetujuan perubahan anggaran dasar dari instansi yang berwenang; dan 3) fotokopi surat keputusan dari otoritas yang berwenang mengenai perubahan kegiatan usaha dari bank umum konvensional menjadi bank umum syariah. c. Dalam hal perubahan kegiatan usaha berdampak pada perubahan kode Peserta maka Peserta harus mengajukan permohonan perubahan kode Peserta dan penggantian Soft Token dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 2. d. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. e. Penyelenggara menyampaikan persetujuan atau penolakan melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. f. Dalam...

39 39 f. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan kegiatan usaha maka: 1) Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan yang memuat informasi mengenai: a) persetujuan dan tanggal efektif perubahan kegiatan usaha Peserta; b) permintaan untuk menyediakan stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan untuk setiap kantor Peserta di Wilayah Kliring yang dipilih, dengan contoh sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.1; dan/atau c) penyesuaian Warkat Debit dan dokumen kliring, dalam hal perubahan kegiatan usaha mempengaruhi spesifikasi dan informasi pada Warkat Debit dan dokumen kliring; 2) Penyelenggara memberitahukan perubahan kegiatan usaha Peserta kepada: a) seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya; dan b) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta, melalui surat atau sarana lainnya. g. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat penolakan dengan disertai alasannya. 5. Perubahan Alamat Kantor Peserta Prosedur perubahan alamat kantor Peserta diatur sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan perubahan alamat Peserta kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.18. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilengkapi dengan dokumen pendukung berupa fotokopi surat persetujuan atau penerimaan pemberitahuan perubahan alamat kantor dari otoritas atau lembaga yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh...

40 40 oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan dari Peserta yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara. c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat permohonan disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. d. Penyelenggara menyampaikan tanggapan yang dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang menyatakan bahwa perubahan alamat kantor Peserta telah dicatat dalam tata usaha Penyelenggara paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. e. Dalam hal perubahan alamat kantor Peserta mengakibatkan perubahan lokasi SPK dan pemindahan JKD utama Peserta, surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus memuat perubahan lokasi SPK dan pemindahan JKD utama Peserta. 6. Perubahan Lokasi SPK dan/atau Pemindahan JKD Utama Peserta Perubahan lokasi SPK dan/atau pemindahan JKD utama Peserta diatur sebagai berikut: a. Peserta menyampaikan surat permohonan perubahan lokasi SPK utama, SPK cadangan, dan/atau pemindahan JKD utama kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.18. b. Surat...

41 41 b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. c. Penyelenggara menyampaikan persetujuan atau penolakan melalui surat yang penyampaiannya dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diterima oleh Penyelenggara. d. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan lokasi SPK utama, SPK cadangan, dan/atau pemindahan JKD utama Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan yang memuat antara lain informasi mengenai: 1) perubahan lokasi SPK utama dan/atau SPK cadangan Peserta telah dicatat dalam tata usaha Penyelenggara; 2) pelaksanaan pemindahan JKD utama; dan 3) kegiatan yang harus dilakukan oleh Peserta terkait dengan perubahan lokasi SPK utama, SPK cadangan, dan/atau JKD utama. e. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat penolakan dengan disertai alasannya. 7. Perubahan Pimpinan Perubahan Pimpinan dapat berupa perubahan susunan, nama, kewenangan, dan/atau jabatan Pimpinan. Perubahan Pimpinan diatur sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan perubahan Pimpinan kepada Penyelenggara yang ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang memiliki...

42 42 memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.20. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilengkapi dengan dokumen pendukung yang telah dilegalisasi oleh pejabat atau pihak yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan Peserta yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara berupa: 1) fotokopi perubahan anggaran dasar mengenai pengangkatan Pimpinan, bagi Peserta yang berbadan hukum Indonesia; 2) fotokopi bukti identitas diri Pimpinan yang masih berlaku, berupa: a) Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Surat Izin Mengemudi (SIM) atau paspor, bagi Warga Negara Indonesia (WNI); atau b) paspor, Keterangan Izin Tinggal Sementara (KITAS), dan surat izin kerja dari otoritas berwenang, bagi Warga Negara Asing (WNA). 3) bagi Pimpinan baru dari Peserta berupa Bank, selain memenuhi kelengkapan dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dan angka 2), harus melengkapi dokumen pendukung berupa: a) fotokopi keputusan fit and proper test; b) fotokopi surat kuasa (power of attorney) dari pimpinan kantor pusat Bank yang berkedudukan di luar negeri kepada pemimpin kantor cabang berikut terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang dibuat oleh penerjemah tersumpah; dan c) fotokopi struktur organisasi yang masih berlaku, bagi kantor cabang dari Bank yang kantor pusatnya berkedudukan di luar negeri. c. Dalam hal terdapat perubahan kewenangan dan/atau jabatan Pimpinan Peserta yang telah tercatat pada tata...

43 43 tata usaha di Penyelenggara, surat permohonan dilengkapi dengan surat pernyataan bahwa spesimen tanda tangan Pimpinan tetap berlaku dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.21. d. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat permohonan disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. e. Dalam hal Peserta yang mengajukan permohonan perubahan Pimpinan merupakan peserta Sistem BI- RTGS dan Pimpinan baru telah memiliki spesimen tanda tangan yang digunakan dalam Sistem BI-RTGS maka Peserta dapat meminta penambahan kewenangan operasional SKNBI bagi Pimpinan pemilik spesimen tanda tangan di Sistem BI-RTGS dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.10 dan surat pernyataan tetap diberlakukannya spesimen tanda tangan Pimpinan tersebut dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.21. f. Penyelenggara memberikan persetujuan atau penolakan perubahan Pimpinan kepada Peserta melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. g. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan Pimpinan maka: 1) Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan mengenai: a. pembuatan...

44 44 a) pembuatan spesimen tanda tangan Pimpinan baru; dan b) tanggal efektif pencabutan kewenangan Pimpinan dalam hal terdapat perubahan kewenangan Pimpinan; 2) spesimen tanda tangan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) berlaku efektif sejak pemberitahuan dari Penyelenggara mengenai tanggal efektif berlakunya spesimen tanda tangan atau paling lama 5 (lima) hari kerja sejak pembuatan spesimen tanda tangan; 3) data yang telah ditatausahakan di Penyelenggara dianggap masih berlaku dan segala tindakan hukum yang dilakukan oleh Pimpinan sebagaimana dimaksud dalam butir 1)b) sepenuhnya menjadi tanggung jawab Peserta, dalam hal Peserta tidak memberitahukan perubahan data Pimpinan kepada Penyelenggara. h. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan perubahan Pimpinan, Penyelenggara menyampaikan surat penolakan perubahan Pimpinan dengan disertai dengan alasannya. 8. Perubahan Bank Pembayar Perubahan Bank Pembayar diatur sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan perubahan Bank Pembayar kepada Penyelenggara dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.22. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dilengkapi dokumen pendukung sebagai berikut: 1) surat penunjukan Bank Pembayar dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.12; 2) surat...

45 45 2) surat konfirmasi Bank Pembayar dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.13; dan 3) surat kuasa pendebitan Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.14. c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat permohonan disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan 2) bagi Peserta yang berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. d. Penyelenggara menyampaikan persetujuan atau penolakan perubahan Bank Pembayar melalui surat yang penyampaiannya dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. e. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan Bank Pembayar maka: 1) Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan yang memuat informasi mengenai persetujuan dan tanggal efektif perubahan Bank Pembayar; 2) Bank Pembayar yang lama wajib tetap menjalankan fungsinya sampai dengan hari kerja terakhir sebelum tanggal penggantian Bank Pembayar baru berlaku efektif sebagaimana dimaksud dalam angka 1). k. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan mengenai penolakan permohonan Peserta yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. 9. Perubahan...

46 46 9. Perubahan Bank Penerus Perubahan Bank Penerus diatur sebagai berikut: a. Bank Penerus pengganti mengajukan surat permohonan perubahan Bank Penerus kepada Penyelenggara dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.23. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang dari Bank Penerus pengganti yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dengan dilengkapi dokumen pendukung sebagai berikut: 1) surat penunjukan Bank Penerus pengganti dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.12; 2) surat konfirmasi Bank Penerus pengganti dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.13; 3) surat kuasa pendebitan Rekening Setelmen Dana Bank Penerus pengganti dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.14; dan 4) fotokopi perjanjian kerjasama antara PTL dengan Bank Penerus pengganti. c. Dalam hal Bank Penerus pengganti belum memperoleh persetujuan sebagai Bank Penerus dari Penyelenggara maka permohonan sebagai Bank Penerus pengganti dapat dilakukan bersamaan dengan pengajuan sebagai Bank Penerus sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf D. d. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) surat permohonan disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a dengan tembusan kepada Bank Penerus lama; dan 2) bagi...

47 47 2) bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi dan Bank Penerus lama. e. Penyelenggara menyampaikan persetujuan atau penolakan kepada Peserta melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile kepada Bank Penerus pengganti dengan tembusan kepada Bank Penerus lama paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf b diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. f. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan Bank Penerus maka: 1) Penyelenggara menyampaikan surat persetujuan yang memuat informasi mengenai persetujuan dan tanggal efektif Bank Penerus pengganti; 2) Bank Penerus lama wajib tetap menjalankan fungsinya sampai dengan hari kerja terakhir sebelum tanggal efektif Bank Penerus pengganti sebagaimana dimaksud dalam angka 1) berlaku. l. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan mengenai penolakan permohonan Peserta yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. 10. Perubahan Kuasa Perubahan kuasa dilakukan antara lain karena penambahan, penggantian, pencabutan kuasa, dan/atau perubahan wewenang dari pejabat dan/atau petugas penerima kuasa. Perubahan kuasa diatur sebagai berikut: a. Dalam hal terjadi perubahan kuasa, Peserta harus mengajukan surat permohonan perubahan kuasa kepada Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana...

48 48 sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.24 dan melampirkan dokumen: 1) surat permintaan pembuatan spesimen tanda tangan dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.9; dan 2) surat pernyataan pencabutan kuasa yang ditandatangani oleh Pimpinan atau pemberi kuasa dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.25, yang disertai dengan surat kuasa baru. b. Perubahan kuasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus memenuhi ketentuan, persyaratan, dan prosedur pemberian kuasa dengan berpedoman pada butir C.1.l.3) dan butir C.2.j.3). c. Perubahan kuasa berlaku efektif paling lama 5 (lima) hari kerja sejak dokumen diterima secara lengkap dan spesimen tanda tangan telah dipenuhi kelengkapannya. d. Surat permohonan perubahan surat kuasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada: 1) Penyelenggara ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, untuk pejabat penerima kuasa yang berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; dan 2) KPwDN yang mewilayahi, untuk pejabat penerima kuasa yang berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia. e. Penyelenggara memberikan persetujuan atau penolakan perubahan kuasa kepada Peserta melalui surat yang penyampaiannya dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam huruf a diterima oleh Penyelenggara secara lengkap. f. Dalam...

49 49 f. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan kuasa maka: 1) Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan mengenai persetujuan permohonan perubahan kuasa dan pembuatan spesimen tanda tangan pejabat penerima kuasa; 2) spesimen tanda tangan berlaku efektif sejak persetujuan dari Penyelenggara mengenai tanggal efektif berlakunya spesimen tanda tangan atau paling lama 5 (lima) hari kerja sejak pembuatan spesimen tanda tangan; 3) spesimen tanda tangan bagi pejabat penerima kuasa yang sudah dicabut kewenangannya dinyatakan tidak berlaku terhitung sejak tanggal surat persetujuan perubahan kuasa pejabat dari Penyelenggara. g. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan penolakan yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. h. Dalam hal Peserta tidak memberitahukan perubahan kewenangan pejabat atau petugas penerima kuasa kepada Penyelenggara maka data yang telah ditatausahakan di Penyelenggara dianggap masih berlaku. 11. Perubahan Keikutsertaan Peserta dalam Layanan Kliring Warkat Debit di Wilayah Kliring Dalam hal Peserta menambah atau menghentikan keikutsertaan Peserta dalam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan penambahan atau penghentian keikutsertaan Peserta dalam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring beserta tanggal efektif penambahan atau penghentian keikutsertaan...

50 50 keikutsertaan Peserta kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.26. c. Penyelenggara memberikan persetujuan atau penolakan melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile kepada Peserta yang bersangkutan paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diterima oleh Penyelenggara. d. Dalam hal Penyelenggara menyetujui permohonan perubahan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, surat persetujuan dari Penyelenggara memuat informasi mengenai persetujuan penambahan atau penghentian keikutsertaan Peserta di Wilayah Kliring dan tanggal efektif perubahan kepesertaan dengan tembusan kepada Koordinator PWD terkait. e. Dalam rangka penambahan keikutsertaan Peserta dalam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring, Peserta harus menunjuk Perwakilan Peserta dan mengajukan permohonan pendaftaran Perwakilan Peserta dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir XII.C.1. 1) Penyelenggara memberitahukan penambahan atau penghentian keikutsertaan Peserta di Wilayah Kliring kepada: a) seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya; dan b) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat penambahan atau penghentian Perwakilan Peserta, melalui surat atau sarana lainnya. f. Dalam...

51 51 f. Dalam hal Penyelenggara menolak permohonan Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan penolakan yang disertai dengan keterangan mengenai alasan penolakan. 12. Perbedaan Spesimen Tanda Tangan Dalam hal terdapat perbedaan antara tanda tangan yang tercantum pada identitas diri dengan spesimen tanda tangan pejabat atau petugas penerima kuasa yang ditatausahakan di Peserta maka Peserta harus menyampaikan surat pernyataan mengenai perbedaan tanda tangan dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.27. Dalam hal Peserta merupakan peserta Sistem BI-RTGS dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam angka 1 sampai dengan angka 12 yang perlu disampaikan dalam SKNBI sama dengan dokumen pendukung yang telah disampaikan kepada Bank Indonesia sebagai penyelenggara Sistem BI-RTGS maka dokumen pendukung untuk perubahan data kepesertaan sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 11 dapat tidak disampaikan kepada Penyelenggara. F. Status Kepesertaan dan Perubahannya 1. Status Kepesertaan Dalam penyelenggaraan SKNBI, berlaku 4 (empat) jenis status kepesertaan yaitu: a. Aktif Peserta dengan status aktif dapat melakukan seluruh fungsi dalam SKNBI sesuai jenis kepesertaan yang bersangkutan. b. Ditangguhkan Peserta dengan status ditangguhkan dapat melakukan berbagai fungsi kegiatan dalam SKNBI, namun kegiatannya dibatasi sebagai berikut: 1) untuk Layanan Kliring Transfer Dana, Peserta tidak dapat mengirim DKE Transfer Dana; 2) untuk Layanan Kliring Warkat Debit, Peserta tidak dapat mengirimkan dan menerima DKE Warkat Debit; 3) untuk...

52 52 3) untuk Layanan Pembayaran Reguler, Peserta tidak dapat mengirim DKE Pembayaran; dan/atau 4) untuk Layanan Penagihan Reguler, Peserta tidak dapat mengirim dan menerima DKE Penagihan. c. Dibekukan Peserta dengan status dibekukan tidak dapat melakukan seluruh kegiatan dalam layanan SKNBI namun tetap memiliki hak akses terhadap informasi terkait SKNBI. d. Ditutup Peserta dengan status ditutup dihentikan secara tetap kepesertaannya dalam SKNBI dan tidak dapat diaktifkan kembali sebagai Peserta. 2. Perubahan Status Kepesertaan a. Perubahan status kepesertaan diatur sebagai berikut: 1) Perubahan status kepesertaan dapat ditetapkan dari: a) aktif menjadi ditangguhkan atau sebaliknya; b) aktif menjadi dibekukan atau sebaliknya; c) ditangguhkan menjadi dibekukan atau sebaliknya; d) aktif menjadi ditutup; e) ditangguhkan menjadi ditutup; atau f) dibekukan menjadi ditutup. 2) Perubahan status kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1), disebabkan hal-hal sebagai berikut: a) dilakukan dalam rangka pengenaan sanksi administratif oleh Penyelenggara; b) dilakukan karena adanya perubahan status kepesertaan dalam Sistem BI-RTGS; c) dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari pihak yang berwenang melakukan pengawasan terhadap kegiatan Peserta, antara...

53 53 antara lain Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas makroprudensial dan sistem pembayaran dan Otoritas Jasa Keuangan sebagai otoritas pengawas mikroprudensial; dan/atau d) dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari Peserta yang bersangkutan. 3) Perubahan status kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dapat dilakukan: a) pada jam layanan SKNBI; atau b) berdasarkan tanggal efektif perubahan status yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 4) Penyelenggara menginformasikan perubahan status kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) kepada: a) Peserta yang bersangkutan melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile; b) seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya; dan c) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta melalui surat atau sarana lainnya. 5) Informasi perubahan status kepesertan berdasarkan tanggal efektif sebagaimana dimaksud dalam butir 3)b) diberitahukan kepada pihak sebagaimana dimaksud dalam angka 4) paling lama 1 (satu) hari kerja sebelum tanggal efektif perubahan status kepesertaan. 6) Perubahan status kepesertaan dalam rangka pengenaan sanksi administratif oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam butir 2)a) dapat berupa: a) aktif menjadi ditangguhkan atau sebaliknya; b) aktif menjadi dibekukan atau sebaliknya; c) ditangguhkan menjadi dibekukan atau sebaliknya; d) aktif...

54 54 d) aktif menjadi ditutup; e) ditangguhkan menjadi ditutup; atau f) dibekukan menjadi ditutup. 7) Perubahan status kepesertaan karena adanya perubahan status kepesertaan dalam Sistem BI- RTGS sebagaimana dimaksud dalam butir 2)b) dapat berupa: a) aktif menjadi dibekukan atau sebaliknya; b) aktif menjadi ditutup; atau c) dibekukan menjadi ditutup. 8) Perubahan status kepesertaan atas permintaan pihak yang berwenang melakukan pengawasan kegiatan Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir 2)c) dapat berupa: a) aktif menjadi dibekukan atau sebaliknya; atau b) aktif menjadi ditutup. 9) Perubahan status kepesertaan atas permintaan dari Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir 2)d), hanya berupa perubahan status kepesertaan dari aktif menjadi ditutup. 10) Dalam hal dilakukan perubahan status kepesertaan menjadi ditutup, Peserta harus menyelesaikan seluruh kewajiban dalam penyelenggaraan SKNBI. 11) Dalam hal perubahan status kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) terjadi pada PLU yang berfungsi sebagai Bank Pembayar dan/atau Bank Penerus, maka: a) PLA harus menunjuk PLU lainnya sebagai Bank Pembayar pengganti; dan b) PTL harus menunjuk PLU lainnya sebagai Bank Penerus pengganti. 12) Penunjukan Bank Pembayar dan Bank Penerus sebagaimana dimaksud dalam angka 11) mengacu pada ketentuan dalam butir E.8 dan butir E.9. b. Prosedur...

55 55 b. Prosedur perubahan status kepesertaan diatur sebagai berikut: 1) Perubahan status kepesertaan karena pengenaan sanksi oleh Penyelenggara a) Perubahan status kepesertaan karena pengenaan sanksi oleh Penyelenggara dapat ditetapkan oleh Penyelenggara berdasarkan hasil pemantauan kepatuhan Peserta terhadap ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal. b) Penyelenggara dapat mengubah kembali status kepesertaan dari: (1) ditangguhkan menjadi aktif; (2) dibekukan menjadi aktif; atau (3) dibekukan menjadi ditangguhkan, setelah melakukan evaluasi atas perbaikan yang dilakukan oleh Peserta dalam rangka pemenuhan kepatuhan Peserta terhadap ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal. c) Penyelenggara menginformasikan perubahan status kepesertaan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam huruf b) dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir a.4) dan butir a.5). 2) Perubahan status kepesertaan dalam penyelenggaraan Sistem BI-RTGS a) Penyelenggara dapat menetapkan perubahan status kepesertaan di SKNBI berdasarkan perubahan status kepesertaan di Sistem BI- RTGS. b) Penyelenggara menginformasikan perubahan status kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam...

56 56 dalam huruf a) dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir a.4) dan butir a.5). 3) Perubahan status kepesertaan atas permintaan pihak yang berwenang melakukan pengawasan kegiatan Peserta a) Otoritas atau lembaga yang berwenang melakukan pengawasan kegiatan Peserta menyampaikan surat permohonan perubahan status kepesertaan kepada Gubernur Bank Indonesia dengan tembusan kepada Penyelenggara. b) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) memuat antara lain hal-hal sebagai berikut: (1) nama Peserta dan perubahan status kepesertaan yang diminta; (2) alasan perubahan status kepesertaan; dan (3) tanggal efektif perubahan status kepesertaan. c) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) disertai dengan dokumen pendukung yang menjadi dasar penetapan perubahan status Peserta. d) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) disetujui, Penyelenggara memberitahukan perubahan status kepesertaan kepada: (1) otoritas atau lembaga yang mengajukan permohonan perubahan status kepesertaan; dan (2) pihak sebagaimana dimaksud dalam butir a.4). e) Informasi...

57 57 e) Informasi perubahan status kepesertan sebagaimana dimaksud dalam huruf d) diberitahukan paling lambat 1 (satu) hari kerja sebelum tanggal efektif perubahan status kepesertaan. 4) Perubahan status kepesertaan atas permintaan Peserta a) Perubahan status kepesertaan menjadi ditutup karena pengunduran diri sebagai Peserta atau karena self-liquidation (1) Peserta mengajukan surat permohonan penutupan sebagai Peserta dilengkapi dengan dokumen yang mendasari. (2) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (1) harus memuat tanggal efektif penutupan kepesertaan dan alasan pengunduran diri dengan mengacu pada format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.28. (3) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (1) ditandatangani oleh Pimpinan yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: (a) surat disampaikan kepada Penyelenggara ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; atau (b) bagi Peserta yang berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan kepada Penyelenggara dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. (4) Berdasarkan...

58 58 (4) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (1), Penyelenggara menyetujui dan mengubah status kepesertaan menjadi ditutup setelah: (a) dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka (1) telah diterima oleh Penyelenggara; dan (b) Peserta memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir a.10), butir a.11) dan butir a.12). (5) Penyelenggara menginformasikan perubahan status kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam angka (4) dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir a.4) dan butir a.5). b) Perubahan status kepesertaan karena penggabungan usaha (1) Setiap Peserta yang menggabungkan diri mengajukan surat permohonan penutupan kepesertaan, paling kurang memuat: (a) persetujuan dari lembaga yang berwenang; (b) rencana waktu pelaksanaan penggabungan secara operasional dalam SKNBI; (c) hak dan kewajiban terkait kepesertaan SKNBI yang akan dialihkan dari Peserta yang menggabungkan diri kepada Peserta yang menerima penggabungan, terhitung sejak tanggal penggabungan secara hukum; dan (d) spesiman...

59 59 (d) spesimen tanda tangan Pimpinan atau pejabat dari Peserta yang menggabungkan diri yang akan dicabut terhitung sejak tanggal penggabungan secara hukum, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.28. (2) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (1) dilengkapi fotokopi surat persetujuan penggabungan yang telah dilegalisasi oleh pejabat atau pihak yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan. (3) Peserta yang menerima penggabungan mengajukan surat permohonan penggabungan dalam SKNBI yang paling kurang memuat informasi mengenai: (a) persetujuan penggabungan dari lembaga yang berwenang terkait; (b) Peserta yang menerima (c) (d) penggabungan dan Peserta yang menggabungkan diri; rencana waktu pelaksanaan: i. pengalihan operasional dalam ii. penyelenggaraan SKNBI dari Peserta yang menggabungkan diri kepada Peserta yang menerima penggabungan; dan penghentian kepesertaan dalam SKNBI dari Peserta yang menggabungkan diri; hak dan kewajiban Peserta yang menggabungkan diri yang akan dialihkan kepada Peserta yang menerima...

60 60 menerima penggabungan terhitung sejak tanggal penggabungan secara hukum; dan (e) pengumuman penggabungan dalam surat kabar harian berskala nasional, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.29. (4) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (3) dilengkapi dengan dokumen sebagai berikut: (a) surat pernyataan yang memuat paling kurang: i. pengambilalihan hak dan kewajiban Peserta yang menggabungkan diri terhitung sejak tanggal penggabungan secara hukum; ii. pemberlakuan spesimen tanda tangan untuk Peserta yang menerima penggabungan dan penegasan status spesimen tanda tangan Peserta yang menggabungkan diri; dan iii. pengambilalihan wewenang dan tanggung jawab operasional Peserta yang menggabungkan diri terhitung sejak tanggal penggabungan secara hukum sampai dengan tanggal pelaksanaan penggabungan secara operasional dalam SKNBI, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.30. (b) fotokopi...

61 61 (b) fotokopi dokumen yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan berupa: i. akta penggabungan; ii. akta perubahan anggaran iii. iv. dasar Peserta yang menerima penggabungan; izin penggabungan dari otoritas atau lembaga yang berwenang; surat persetujuan perubahan anggaran dasar dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atau dokumen pendaftaran akta penggabungan dan akta perubahan anggaran dasar dalam daftar perusahaan; dan v. pengumuman penggabungan yang dimuat dalam surat kabar harian berskala nasional. (5) Surat sebagaimana dimaksud dalam angka (1), angka (3), dan butir (4)(a) ditandatangani oleh Pimpinan yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: (a) surat disampaikan kepada (b) Penyelenggara ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan bagi Peserta yang berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat disampaikan kepada Penyelenggara dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. (6) Penyelenggara...

62 62 (6) Penyelenggara memberitahukan kepada Peserta yang menerima penggabungan melalui surat mengenai telah disetujuinya waktu pelaksanaan penggabungan secara operasional dalam SKNBI beserta hal-hal yang harus dilakukan oleh Peserta yang bersangkutan, setelah dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka (1), angka (2), angka (3), dan angka (4) diterima secara lengkap. (7) Penyelenggara memberitahukan persetujuan pelaksanaan penggabungan secara operasional dalam SKNBI dan penutupan kepesertaan SKNBI dari Peserta yang menggabungkan diri kepada seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya. (8) Status kepesertaan SKNBI dari Peserta yang menggabungkan diri efektif berubah menjadi ditutup pada tanggal pelaksanaan penggabungan secara operasional dalam SKNBI. (9) Penyelenggara menginformasikan penutupan kepesertaan SKNBI dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir a.4) dan butir a.5). c) Perubahan status kepesertaan karena peleburan usaha (1) Calon Peserta yang merupakan hasil peleburan dalam SKNBI mengajukan permohonan menjadi Peserta dengan mengikuti ketentuan umum kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam huruf A, persyaratan menjadi Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf...

63 63 huruf B, dan prosedur menjadi Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf C. (2) Calon Peserta yang merupakan hasil peleburan menyampaikan surat permohonan peleburan dalam SKNBI yang memuat paling kurang: (a) persetujuan peleburan dari lembaga yang berwenang; (b) Peserta yang merupakan hasil peleburan dan Peserta yang meleburkan diri; (c) rencana waktu pelaksanaan: i. pengalihan operasional dalam penyelenggaraan SKNBI dari Peserta yang meleburkan diri kepada calon Peserta hasil peleburan; dan ii. penghentian Peserta yang meleburkan diri dari kepesertaan dalam SKNBI; (d) hak dan kewajiban Peserta yang akan dialihkan dari Peserta yang meleburkan diri kepada calon Peserta hasil peleburan terhitung sejak tanggal peleburan secara hukum; dan (e) pengumuman peleburan dalam surat kabar harian berskala nasional, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.29. (3) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (2) dilengkapi dengan dokumen sebagai berikut: (a) surat pernyataan yang memuat informasi paling kurang: i. hak...

64 64 i. hak dan kewajiban Peserta yang dialihkan dari Peserta yang meleburkan diri kepada calon Peserta hasil peleburan, terhitung sejak tanggal peleburan secara hukum; ii. spesimen tanda tangan untuk Peserta hasil peleburan dan penegasan status spesimen tanda tangan Peserta yang meleburkan diri; dan iii. wewenang dan tanggung jawab operasional yang dialihkan dari Peserta yang meleburkan diri kepada Peserta hasil peleburan, terhitung sejak tanggal peleburan secara hukum sampai dengan tanggal pelaksanaan peleburan secara operasional, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.29. (b) fotokopi dokumen yang telah dilegalisasi oleh pejabat atau pihak yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan calon Peserta berupa: i. akta peleburan; ii. akta pendirian Peserta yang merupakan hasil peleburan; iii. persetujuan peleburan dari otoritas atau lembaga yang berwenang; iv. surat pengesahan badan hukum perseroan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atas...

65 65 atas akta pendirian Peserta yang merupakan hasil peleburan; dan v. pengumuman penggabungan yang dimuat dalam surat kabar harian berskala nasional. (4) Setiap Peserta yang meleburkan diri mengajukan surat permohonan penutupan kepesertaan yang memuat paling kurang: (a) persetujuan peleburan dari otoritas atau lembaga yang berwenang; (b) waktu pelaksanaan peleburan secara operasional dalam SKNBI; (c) pengalihan hak dan kewajiban terkait kepesertaan SKNBI dari Peserta yang meleburkan diri kepada Peserta yang merupakan hasil peleburan, terhitung sejak tanggal peleburan secara hukum; dan (d) permohonan penutupan kepesertaan SKNBI dari Peserta yang meleburkan diri; (e) pencabutan spesimen tanda tangan Pimpinan dan pejabat dari Peserta yang meleburkan diri terhitung sejak tanggal peleburan secara hukum. dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.28. (5) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka (4) dilengkapi fotokopi surat persetujuan peleburan yang telah dilegalisasi oleh pejabat atau pihak yang berwenang atau dinyatakan sesuai asli oleh Pimpinan calon Peserta. (6) Surat...

66 66 (6) Surat sebagaimana dimaksud dalam angka (2), butir (3)(a), dan angka (4) ditandatangani oleh Pimpinan calon Peserta dengan ketentuan sebagai berikut: (a) surat disampaikan kepada (b) Penyelenggara ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a; dan bagi Peserta yang berkedudukan di wilayah kerja KPwDN, surat disampaikan kepada Penyelenggara dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. (7) Penyelenggara memberitahukan kepada Peserta yang merupakan hasil peleburan melalui surat mengenai telah disetujuinya waktu pelaksanaan peleburan secara operasional dalam SKNBI beserta hal-hal yang harus dilakukan oleh Peserta yang bersangkutan, setelah dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka (2), angka (3), angka (4), dan angka (5) diterima secara lengkap. (8) Penyelenggara memberitahukan persetujuan pelaksanaan peleburan secara operasional dalam SKNBI dan penutupan kepesertaan SKNBI dari Peserta yang meleburkan diri kepada seluruh Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya. (9) Status kepesertaan SKNBI dari Peserta yang meleburkan diri efektif berubah menjadi ditutup pada tanggal pelaksanaan peleburan secara operasional dalam SKNBI. (10) Penyelenggara...

67 67 (10) Penyelenggara menginformasikan penutupan kepesertaan SKNBI dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir a.4) dan butir a.5). d) Perubahan status kepesertaan SKNBI karena pemisahan usaha (1) Perubahan kepesertaan SKNBI karena pemisahan dilakukan dalam hal terdapat Peserta berupa Unit Usaha Syariah yang melakukan pemisahan dari Peserta berupa bank umum konvensional sebagai induk yang dilakukan dengan cara mendirikan Bank Umum Syariah baru atau mengalihkan hak dan kewajiban Unit Usaha Syariah kepada Bank Umum Syariah yang telah ada. (2) Perubahan kepesertaan SKNBI karena pemisahan dengan cara mendirikan Bank Umum Syariah baru mengikuti prosedur perubahan status kepesertaan karena peleburan sebagaimana dimaksud dalam huruf c). (3) Perubahan kepesertaan SKNBI karena pemisahan dengan cara mengalihkan hak dan kewajiban Unit Usaha Syariah kepada Bank Umum Syariah yang telah ada dilakukan dengan prosedur penggabungan sebagaimana dimaksud dalam huruf b). Dalam hal Peserta merupakan peserta Sistem BI-RTGS dan dokumen pendukung untuk perubahan status kepesertaan SKNBI karena pengunduran diri, self liquidation, penggabungan, peleburan, atau pemisahan sebagaimana dimaksud...

68 68 dimaksud dalam huruf a), huruf b), huruf c), dan huruf d) telah disampaikan kepada penyelenggara Sistem BI-RTGS, Peserta tidak perlu menyampaikan dokumen pendukung dimaksud kepada Penyelenggara. 3. Dampak Perubahan Status Kepesertaan dalam Operasional SKNBI Dalam hal terdapat perubahan status kepesertaan dari aktif menjadi ditangguhkan atau ditangguhkan menjadi dibekukan yang ditetapkan pada jam operasional, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Untuk Layanan Transfer Dana dan/atau Layanan Pembayaran Reguler 1) DKE Transfer Dana dan/atau DKE Pembayaran yang telah diterima sebelum perubahan status kepesertaan tetap diteruskan dan diperhitungkan sepanjang didukung dengan dana yang cukup. 2) Dalam hal dana yang dimiliki Peserta tidak cukup untuk memenuhi kewajiban Peserta maka Peserta harus menyelesaikan DKE Transfer Dana dan/atau DKE Pembayaran yang tidak diperhitungkan oleh Penyelenggara (unconfirmed DKE Transfer Dana dan/atau DKE Pembayaran). b. Untuk Layanan Kliring Warkat Debit dan/atau Layanan Penagihan Reguler 1) DKE Warkat Debit dan/atau DKE Penagihan yang telah diterima sebelum perubahan status kepesertaan, tetap diteruskan dan diperhitungkan sepanjang didukung dengan dana yang cukup. 2) Dalam hal dana yang dimiliki Peserta tidak mencukupi maka Peserta harus menyelesaikan DKE Warkat Debit dan/atau DKE Penagihan yang tidak diperhitungkan oleh Penyelenggara (unconfirmed DKE Warkat Debit dan/atau DKE Penagihan). 3) Dalam...

69 69 3) Dalam hal DKE Warkat Debit dan/atau DKE Penagihan telah diterima oleh Penyelenggara dan telah diteruskan kepada Peserta penerima, namun tidak dapat diperhitungkan oleh Penyelenggara akibat perubahan status kepesertaan maka penyelesaian perhitungan DKE Warkat Debit dan/atau DKE Penagihan diselesaikan antar Peserta. 4) Penerusan dana atas DKE Warkat Debit yang tidak diperhitungkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam angka 2) dan angka 3), mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah dalam pelaksanaan transfer dana dan kliring berjadwal melalui SKNBI. c. Untuk PLU yang berfungsi sebagai Bank Penerus dan/atau Bank Pembayar maka PLU yang bersangkutan harus memberitahukan secara tertulis kepada PLA dan PTL mengenai perubahan status PLU sesegera mungkin dan menyelesaikan kewajibannya sesuai ketentuan yang berlaku. G. Tindak Lanjut Administrasi Kepesertaan SKNBI oleh Koordinator PWD Dalam hal terdapat Peserta baru atau perubahan data kepesertaan SKNBI yang berdampak pada administrasi kepesertaan dalam kegiatan pertukaran Warkat Debit maka Koordinator PWD melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. memberitahukan secara tertulis kepada Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring mengenai: a. perubahan data kepesertaan SKNBI berikut tanggal efektif yang ditetapkan oleh Penyelenggara; dan/atau b. penambahan Perwakilan Peserta; 2. menyiapkan TPPK dengan contoh sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.2; dan 3. melakukan pengkinian data kepesertaan pertukaran Warkat Debit. H. Kewajiban...

70 70 H. Kewajiban Peserta Dalam penyelenggaraan SKNBI, Peserta wajib: 1. Menjaga kelancaran dan keamanan penggunaan SKNBI. Dalam rangka menjaga kelancaran dan keamanan penggunaan SKNBI, Peserta melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Menyusun Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) yang mendukung sistem kontrol internal yang baik dalam pelaksanaan operasional SKNBI, termasuk prosedur pengamanan penggunaan SKNBI di lingkungan internal Peserta, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) merupakan aturan tertulis yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di internal Peserta dan berlaku sebagai pedoman operasional SKNBI di Peserta. 2) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) wajib dibuat paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif kepesertaan SKNBI dan harus dievaluasi oleh satuan kerja audit internal Peserta. 3) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) wajib dibuat dalam Bahasa Indonesia dengan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal dan ketentuan yang ditetapkan oleh asosiasi sistem pembayaran terkait penyelenggaraan SKNBI. 4) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) paling kurang memuat materi sebagai berikut: a) pendahuluan; b) organisasi operasional SKNBI; c) ketentuan dan prosedur operasional SKNBI; d) pengawasan operasional SKNBI; e) penanganan Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat; dan f) perlindungan nasabah. Rincian...

71 71 Rincian cakupan minimum materi Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) diatur dalam Pedoman Penyusunan Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) SKNBI sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.3. 5) Dalam hal terjadi perubahan materi Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) sebagaimana dimaksud dalam angka 4), perubahan ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan/atau ketentuan yang dikeluarkan oleh asosiasi sistem pembayaran yang berdampak pada materi Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT), Peserta harus melakukan pengkinian terhadap Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT). 6) Pengkinian terhadap Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) sebagaimana dimaksud dalam angka 5) wajib dilakukan dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak terjadinya perubahan materi Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT), ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, dan/atau ketentuan yang dikeluarkan oleh asosiasi sistem pembayaran. b. Melakukan pemeriksaan internal terhadap operasional SKNBI dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Pemeriksaan internal bertujuan memastikan pengendalian intern telah dilaksanakan sesuai ketentuan untuk menjamin keamanan dan kelancaran operasional SKNBI yang dilakukan oleh Peserta. 2) Pemeriksaan internal dilakukan oleh satuan kerja audit internal Peserta paling kurang 1 (satu) tahun sekali. 3) Pelaksanaan pemeriksaan internal paling kurang mencakup ruang lingkup materi penilaian kepatuhan Peserta terhadap hal-hal yang disampaikan oleh Penyelenggara. c. Melakukan...

72 72 c. Melakukan security audit, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Security audit bertujuan untuk memastikan keamanan dan keandalan teknologi informasi internal Peserta, hubungan (interface) antara SPK dengan sistem internal Peserta serta kondisi lingkungan Peserta dalam melakukan kegiatan operasional. 2) Security audit dilakukan: a) paling kurang 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) tahun terhitung sejak menjadi Peserta; atau b) paling lama 6 (enam) bulan sejak perubahan sistem teknologi informasi internal Peserta yang dapat mempengaruhi kelancaran operasional SKNBI di Peserta. 3) Security audit dapat dilakukan oleh auditor internal Peserta maupun auditor eksternal. 4) Security audit paling kurang mencakup ruang lingkup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.4. d. Menyusun kebijakan dan prosedur penggunaan teknologi informasi terkait dengan SKNBI dan melakukan pengkinian dalam hal terdapat perubahan kebijakan teknologi informasi dan prosedur penggunaan teknologi informasi, paling lama 6 (enam) bulan sejak perubahan kebijakan teknologi informasi dengan mengacu pada ketentuan yang mengatur mengenai manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi. e. Memiliki pedoman Business Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP) dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Pedoman Business Continuity Plan (BCP) atau Disaster Recovery Plan (DRP) memuat prosedur yang dilakukan oleh Peserta dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat...

73 73 Darurat atau upaya lainnya yang perlu dilakukan dalam hal sistem cadangan tidak dapat digunakan, untuk memastikan bahwa operasional SKNBI di Peserta tetap dapat dilakukan. 2) Pedoman Business Continuity Plan (BCP) sebagaimana dimaksud dalam angka 1) paling kurang memuat hal-hal sebagai berikut: a) unit kerja penanggung jawab; b) mekanisme koordinasi apabila penanggung jawab terdiri dari beberapa unit; c) langkah-langkah bisnis yang dilakukan untuk menjamin kegiatan operasional SKNBI tetap berjalan; d) mekanisme pengujian prosedur Business Continuity Plan (BCP); e) mekanisme pelaporan dan monitoring; dan f) petugas operasional (termasuk data nomor telepon yang dapat dihubungi). 3) Pedoman Disaster Recovery Plan (DRP) sebagaimana dimaksud dalam angka 1) paling kurang memuat hal-hal sebagai berikut: a) unit kerja penanggung jawab; b) mekanisme koordinasi apabila penanggung jawab terdiri dari beberapa unit; c) prosedur penyiapan infrastruktur cadangan untuk menjamin kegiatan operasional SKNBI tetap berjalan; d) mekanisme pelaporan dan monitoring; dan e) petugas operasional (termasuk data nomor telepon yang dapat dihubungi). f. Menggunakan aplikasi SPK sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. g. Menjamin SPK utama dan SPK cadangan berfungsi dengan baik. Untuk menjamin SPK utama dan SPK cadangan berfungsi dengan baik, Peserta melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Memastikan...

74 74 1) Memastikan petugas yang menangani SKNBI memahami sistem dan prosedur operasional SKNBI yang telah ditetapkan baik oleh Penyelenggara maupun internal Peserta, antara lain melalui pelatihan secara berkala. 2) Mengatur dan menetapkan user dan kewenangan user yang melakukan operasional SKNBI dengan ketentuan sebagai berikut: a) pengaturan kewenangan user dengan memperhatikan rentang kendali (span of control) untuk meminimalisasi kesalahan manusia (human error) dan penyalahgunaan wewenang; b) pembuatan sampai dengan pengiriman DKE dilakukan secara berjenjang sesuai dengan tingkat kewenangan petugas; c) pengaturan petugas pengganti untuk user sesuai dengan perannya masing-masing; d) penetapan dan penatausahaan data user yang mengelola Soft Token sesuai ketentuan internal Peserta; dan e) memastikan keamanan penggunaan dan penyimpanan Soft Token sesuai ketentuan internal Peserta. 3) Melakukan pemeliharaan data dengan ketentuan sebagai berikut: a) Data yang disimpan dalam media elektronik harus mendapat pengamanan yang memadai dan terjaga kerahasiaannya, antara lain terlindung dari akses petugas yang tidak berhak. b) Data sebagaimana dimaksud dalam huruf a) antara lain meliputi data transaksi, aplikasi SPK yang diberikan oleh Penyelenggara, Soft Token, dan/atau ketentuan dan prosedur yang diberikan oleh Penyelenggara. c) Data...

75 75 c) Data sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dicadangkan dan disimpan dalam media elektronik. d) Peserta harus memastikan bahwa data yang tersimpan dalam media elektronik sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dan cadangannya sebagaimana dimaksud dalam huruf c) tidak rusak antara lain dengan cara melakukan pemeliharaan atau pengecekan secara berkala. e) Seluruh data yang tersimpan dalam media elektronik sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dan cadangannya sebagaimana dimaksud dalam huruf c) didokumentasikan dengan baik. 4) Menyediakan dan mengelola sistem cadangan untuk SKNBI di Peserta dengan ketentuan sebagai berikut: a) Peserta menyediakan: (1) SPK cadangan di lokasi cadangan (back up site) Peserta; dan (2) JKD cadangan dari lokasi cadangan (back up site) Peserta ke Penyelenggara, sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan oleh Penyelenggara. b) Biaya penyediaan dan penggunaan infrastruktur sebagaimana dimaksud dalam butir a)(2) menjadi beban Peserta. c) Pemilihan jenis dan lokasi SPK cadangan serta jenis JKD cadangan diserahkan kepada Peserta. d) Pemilihan jenis dan lokasi SPK cadangan serta jenis JKD cadangan sebagaimana dimaksud dalam huruf c) dilakukan berdasarkan pertimbangan antara lain: (1) volume...

76 76 (1) volume transaksi Peserta dan tingkat urgensi SKNBI bagi Peserta; dan (2) pengendalian internal guna memitigasi risiko operasional di Peserta. 5) Menjamin sistem cadangan berfungsi dengan dengan baik, antara lain dengan cara sebagai berikut: a) Peserta ikut serta dalam uji coba SKNBI yang dilaksanakan oleh Penyelenggara dengan menggunakan sistem cadangan milik Peserta paling kurang 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. b) Peserta melakukan uji coba koneksi sistem cadangan secara berkala dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Uji coba koneksi sistem cadangan mencakup uji coba terhadap SPK cadangan, JKD cadangan, dan/atau data cadangan. (2) Uji coba koneksi sistem cadangan sebagaimana dimaksud dalam angka (1) dapat dilakukan dengan menggunakan environment production Penyelenggara dengan jadwal yang ditetapkan oleh Penyelenggara setelah seluruh layanan SKNBI di Penyelenggara berakhir dan pelaksanaannya dilakukan paling lama 1 (satu) jam. (3) Uji coba koneksi sistem cadangan dilakukan dengan tata cara sebagai berikut: (a) Peserta menyampaikan permohonan uji coba koneksi sistem cadangan melalui fasilitas administrative message dan/atau sarana lain kepada...

77 77 kepada Penyelenggara paling lambat 1 (satu) hari kerja sebelum pelaksanaan uji coba. (b) Penyelenggara memberitahukan persetujuan uji coba koneksi sistem cadangan kepada Peserta melalui sarana administrative message. (c) Peserta menyampaikan laporan tertulis hasil pelaksanaan ujicoba koneksi kepada Penyelenggara paling lambat 1 (satu) hari kerja setelah pelaksanaan uji coba. c) Mengoperasikan sistem cadangan untuk kegiatan operasional SKNBI dalam kondisi normal dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Penggunaan sistem cadangan untuk kegiatan operasional dalam kondisi normal dilakukan secara berkala paling kurang 1 (satu) kali dalam setahun. (2) Pengoperasian sistem cadangan untuk kegiatan operasional dalam kondisi normal dapat mencakup pengoperasian SPK cadangan dan/atau JKD cadangan. (3) Tata cara penggunaan sistem cadangan untuk kegiatan operasional dalam kondisi normal adalah sebagai berikut: (a) Peserta menyampaikan surat permohonan yang dapat didahului dengan faksimile, administrative message dan/atau sarana lainnya kepada Penyelenggara paling lama 1 (satu) hari kerja sebelum menggunakan sistem cadangan untuk kegiatan operasional dalam kondisi normal. (b) Penyelenggara...

78 78 (b) Penyelenggara memberitahukan persetujuan penggunaan sistem cadangan pada kondisi normal kepada Peserta melalui sarana administrative message. (c) Peserta menyampaikan laporan tertulis hasil penggunaan sistem cadangan untuk kegiatan operasional dalam kondisi normal kepada Penyelenggara paling lama 1 (satu) hari kerja setelah sistem cadangan selesai digunakan. 6) Menjamin keamanan dan keandalan dari JKD yang digunakan untuk menghubungkan SPK dengan: a) perangkat komputer Peserta yang digunakan untuk operasional SKNBI; dan b) sistem komputer internal Peserta, apabila Peserta menghubungkan SPK utama dan/atau SPK cadangan dengan sistem komputer internal Peserta, sehingga bebas dari segala kemungkinan hal-hal yang dapat merusak SKNBI termasuk tetapi tidak terbatas pada kemungkinan pemalsuan, pembobolan data elektronis (hacking), serta perusakan sistem dengan cara membanjiri sistem dengan data dan pesan pembayaran. 7) Melaporkan pengembangan aplikasi internal yang terkait dengan SKNBI kepada Penyelenggara secara tertulis dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a paling lama 1 (satu) bulan sebelum aplikasi tersebut diimplementasikan. 8) Melakukan langkah preventif yang diperlukan sehingga perangkat keras berfungsi dengan baik dan...

79 79 dan perangkat lunak aplikasi yang digunakan dalam SKNBI dan/atau dalam kaitannya dengan SKNBI bebas dari segala jenis virus. 9) Menjamin integritas database SKNBI yang ada pada SPK utama dan SPK cadangan termasuk data cadangan yang disimpan dalam bentuk compact disk (CD), tape, cartridge, flashdisk, dan/atau media lainnya. 10) Melakukan instalasi setiap terjadi perubahan aplikasi SPK utama dan/atau SPK cadangan sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 11) Menyimpan dengan baik aplikasi SPK dan perubahannya serta Soft Token di tempat yang aman dan bebas dari berbagai hal yang dapat merusak aplikasi SPK dan Soft Token. 12) Melakukan perpanjangan masa aktif Soft Token sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Penyelenggara. h. Melakukan pengkinian data kepesertaan dalam hal terdapat perubahan data kepesertaan SKNBI. 2. Bertanggung jawab atas kebenaran DKE dan seluruh informasi yang dikirim Peserta kepada Penyelenggara melalui SKNBI. Dalam rangka memastikan kebenaran DKE dan seluruh informasi yang dikirim kepada Penyelenggara, Peserta melakukan hal-hal sebagai berikut: a. membuat DKE dan batch sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK; dan b. mengirimkan batch DKE sesuai jadwal yang ditetapkan Penyelenggara. 3. Melaksanakan perjanjian dengan Penyelenggara apabila diperlukan dalam rangka penyelenggaraan SKNBI. 4. Menginformasikan...

80 80 4. Menginformasikan biaya transaksi melalui SKNBI kepada nasabah secara transparan. Dalam rangka transparansi biaya transaksi melalui SKNBI kepada nasabah, Peserta mengumumkan secara tertulis mengenai biaya transaksi melalui SKNBI pada tempat yang mudah terlihat oleh nasabah. 5. Memberikan data dan informasi terkait penyelenggaraan SKNBI kepada Bank Indonesia. Dalam rangka pemberian data dan informasi terkait penyelenggaraan SKNBI kepada Bank Indonesia, Peserta memberikan data dan informasi yang diminta oleh Penyelenggara termasuk namun tidak terbatas pada dokumen asli dan/atau salinan dokumen yang berupa warkat dan/atau data elektronik terkait dengan pelaksanaan SKNBI. 6. Mematuhi peraturan yang dikeluarkan oleh asosiasi sistem pembayaran yang telah disetujui oleh Bank Indonesia. 7. Mematuhi ketentuan lain terkait operasional penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal. Dalam rangka memenuhi ketentuan mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal dan ketentuan terkait lainnya, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Pimpinan dan/atau pejabat yang berwenang wajib melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan Peserta terhadap ketentuan lainnya yang terkait dengan operasional penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal. b. Peserta menatausahakan perintah transfer dana, perintah transfer debit, dan hasil perhitungan SKNBI, dalam bentuk elektronik dan/atau hasil cetaknya, serta Warkat Debit sesuai dengan ketentuan pengarsipan yang berlaku di internal Peserta dan masa retensi sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai dokumen perusahaan. I. Penggunaan...

81 81 I. Penggunaan Soft Token dalam SKNBI 1. Prinsip Penggunaan Soft Token a. Dalam operasional SKNBI, Peserta harus memiliki Soft Token yang merupakan salah satu sarana pengamanan dalam melakukan koneksi antara SPK dengan SSK. b. Soft Token sebagaimana dimaksud dalam huruf a terdiri atas: 1) Bank Indonesia Certificate of Authentification (BI- CA); 2) sertifikat SSK; dan 3) sertifikat SPK. c. Sertifikat SPK sebagaimana dimaksud dalam butir b.3) memiliki masa aktif paling lama 2 (dua) tahun sejak tanggal efektif. d. Peserta dapat mengajukan penggantian Soft Token antara lain karena masa aktif sertifikat SPK telah berakhir, hilang, rusak, atau tidak dapat digunakan karena sebab apapun. e. Soft Token yang telah diserahkan oleh Penyelenggara kepada Peserta digunakan sesuai ketentuan internal Peserta dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Peserta yang bersangkutan. 2. Prosedur Permohonan Penggunaan Soft Token, Penggantian Soft Token, dan Perpanjangan Masa Aktif Sertifikat SPK a. Peserta mengajukan surat permohonan kepada Penyelenggara untuk mendapatkan Soft Token, penggantian Soft Token, dan perpanjangan masa aktif sertifikat SPK, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Untuk mendapatkan Soft Token, surat permohonan paling kurang memuat informasi sebagai berikut: a) nama Peserta; dan b) kode Peserta. 2) Untuk...

82 82 2) Untuk penggantian Soft Token, surat permohonan paling kurang memuat informasi sebagai berikut: a) nama Peserta; b) kode Peserta; dan c) alasan penggantian. 3) Untuk perpanjangan masa aktif sertifikat SPK, surat permohonan paling kurang memuat informasi sebagai berikut: a) nama Peserta; b) kode Peserta; dan c) tanggal berakhirnya sertifikat SPK. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disertai dengan file certificate signing request yang disimpan dalam compact disc. Pembuatan file certificate signing request mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. c. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.7 dan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara serta disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Surat permohonan disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. 2) Bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, surat permohonan disampaikan kepada Penyelenggara dengan tembusan kepada KPwDN yang mewilayahi. 3) Bagi Peserta yang mengajukan permohonan perpanjangan masa aktif sertifikat SPK, surat permohonan disampaikan paling lama 1 (satu) bulan sebelum masa aktif sertifikat SPK berakhir. d. Penyelenggara...

83 83 d. Penyelenggara memberitahukan kepada Peserta melalui administrative message atau sarana lainnya untuk pengambilan Soft Token, Soft Token pengganti, atau sertifikat SPK yang telah diperpanjang masa aktifnya paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diterima secara lengkap oleh Penyelenggara. e. Peserta melakukan pengambilan Soft Token, Soft Token pengganti, atau sertifikat SPK sebagaimana dimaksud dalam huruf d yang dilakukan oleh pejabat yang berwenang yang telah memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPBI, pengambilan dilakukan di Penyelenggara. 2) Bagi Peserta yang berkantor pusat di wilayah kerja KPwDN, pengambilan dilakukan di KPwDN setempat. f. Peserta melakukan instalasi Soft Token, Soft Token pengganti, atau sertifikat SPK yang diperoleh dari Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam huruf e ke server SPK yang menghasilkan certificate signing request. 3. Penghapusan Sertifikat SPK a. Penghapusan sertifikat SPK dapat dilakukan atas dasar: 1) inisiatif Penyelenggara; atau 2) permintaan Peserta. b. Penghapusan sertifikat SPK atas dasar inisiatif Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam butir a.1) antara lain dilakukan dalam hal Peserta telah dihentikan kepesertaannya dalam penyelenggaraan SKNBI. c. Penghapusan...

84 84 c. Penghapusan sertifikat SPK atas dasar permintaan Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir a.2) diatur dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Peserta mengajukan surat permohonan penghapusan sertifikat SPK kepada Penyelenggara dengan menyebutkan alasan dan tanggal efektif penghapusan sertifikat SPK tersebut paling lama 1 (satu) bulan sebelum tanggal efektif dimaksud. 2) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara. 3) Surat permohonan penghapusan sertifikat SPK sebagaimana dimaksud dalam angka 1) menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I.7 dan dapat disampaikan terlebih dahulu melalui faksimile. d. Penyelenggara menyampaikan surat permohonan kepada Peserta mengenai penghapusan sertifikat SPK paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah pelaksanaan penghapusan sertifikat SPK. IV. WAKTU OPERASIONAL SKNBI A. Prinsip Umum 1. Penyelenggara menetapkan waktu operasional SKNBI yang mencakup: a. hari operasional; b. jam operasional; c. jam layanan; dan d. periode waktu kegiatan. 2. Hari operasional sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a yaitu hari yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagai hari diselenggarakannya operasional SKNBI. 3. Jam...

85 85 3. Jam operasional sebagaimana dimaksud dalam butir 1.b yaitu jam yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagai waktu diselenggarakannya operasional SKNBI pada setiap hari operasional. 4. Jam layanan sebagaimana dimaksud dalam butir 1.c yaitu jadwal yang ditetapkan oleh Penyelenggara untuk setiap layanan dalam SKNBI, misalnya jam Layanan Transfer Dana, jam Layanan Kliring Warkat Debit, jam Layanan Pembayaran Reguler, dan jam Layanan Penagihan Reguler. 5. Periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir 1.d yaitu jangka waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara untuk melaksanakan kegiatan operasional setiap layanan dalam SKNBI, misalnya periode waktu untuk pengiriman DKE dan periode waktu untuk penyediaan Prefund. 6. Peserta wajib melakukan kegiatan operasional SKNBI sesuai dengan waktu operasional yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 7. Dalam kondisi tertentu, Keadaan Tidak Normal, dan/atau Keadaan Darurat, Peserta dapat tidak ikut serta dalam kegiatan SKNBI berdasarkan persetujuan dari Penyelenggara. 8. Prosedur permohonan Peserta yang tidak ikut dalam kegiatan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam angka 7 adalah sebagai berikut: a. Peserta mengajukan permohonan melalui surat yang ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara ke alamat II.A.2.a yang dapat didahului dengan faksimile atau administrative message. b. Penyelenggara memberitahukan persetujuan atau penolakan atas permohonan Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a melalui surat yang dapat didahului administrative message atau sarana lainnya. c. Dalam...

86 86 c. Dalam hal permohonan disetujui, Penyelenggara menginformasikan Peserta yang tidak ikut dalam kegiatan operasional SKNBI kepada seluruh Peserta melalui administrative message. 9. Untuk permohonan tidak ikut serta dalam kegiatan SKNBI dikarenakan kondisi tertentu, permohonan diajukan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sebelum tanggal Peserta tidak ikut serta dalam kegiatan SKNBI. Alasan pengajuan permohonan antara lain sebagai berikut: a. kantor pusat Peserta berada dalam wilayah KPwDN tertentu yang menerapkan hari operasional sebagai libur fakultatif; dan/atau b. kondisi tertentu yang disetujui oleh Penyelenggara. 10. Dalam hal KPwDN di Wilayah Kliring tertentu menerapkan hari operasional sebagai libur fakultatif maka Peserta tidak dapat melakukan pengiriman DKE Warkat Debit ke Wilayah Kliring tersebut dan kegiatan pertukaran Warkat Debit di wilayah tersebut ditiadakan. 11. Waktu operasional SKNBI sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dapat diubah sewaktu-waktu oleh Penyelenggara. B. Penetapan Waktu Operasional SKNBI 1. Operasional SKNBI dilaksanakan pada setiap hari kalender yang ditetapkan sebagai hari operasional oleh Penyelenggara. 2. Jam operasional SKNBI adalah pukul WIB sampai dengan pukul WIB. 3. Penyelenggara menetapkan jam layanan sebagaimana dimaksud dalam butir A.1.c dan periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam butir A.1.d yang berlaku secara nasional dengan ketentuan sebagai berikut: a. Untuk Layanan Transfer Dana 1) Jam Layanan Transfer Dana mengacu kepada jam layanan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. 2) Dalam Layanan Transfer Dana, Penyelenggara menetapkan periode waktu kegiatan yang terdiri atas: a) penyediaan...

87 87 a) penyediaan Prefund Kredit; b) pengiriman DKE Transfer Dana ke SSK; c) penyediaan informasi awal; d) download confirmed incoming DKE Transfer Dana; dan e) Setelmen Dana, dengan rincian periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. b. Untuk Layanan Kliring Warkat Debit 1) Layanan Kliring Warkat Debit ditetapkan dalam 4 (empat) zona, yang terdiri atas: a) Zona 1, Zona 2, dan Zona 3 dilaksanakan dalam 1 (satu) hari kerja, yaitu kegiatan Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian dilakukan pada hari yang sama. b) Zona 4 dilaksanakan dalam 2 (dua) hari kerja, yaitu: (1) hari kerja pertama untuk kegiatan kliring penyerahan; dan (2) hari kerja kedua untuk kegiatan kliring pengembalian. 2) Jam layanan untuk Zona 1, Zona 2, Zona 3, dan Zona 4 mengacu pada jam layanan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. 3) Dalam setiap zona, Penyelenggara menetapkan periode waktu kegiatan sebagai berikut: a) pengiriman DKE Warkat Debit untuk kegiatan: (1) Kliring Penyerahan; dan (2) Kliring Pengembalian; b) download DKE Warkat Debit incoming untuk: (1) Kliring Penyerahan; dan (2) Kliring Pengembalian; c) download DKE Warkat Debit confirmed outgoing dalam kegiatan Kliring Penyerahan; d) penyediaan...

88 88 d) penyediaan informasi awal; e) penambahan Prefund Debit; f) Setelmen Dana; dan g) proses pertukaran Warkat Debit untuk: (1) Kliring Penyerahan; dan (2) Kliring Pengembalian, dengan rincian periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. 4) Penetapan zona dalam setiap Wilayah Kliring dilakukan oleh Koordinator PWD berdasarkan kesepakatan Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan dengan mengacu pada kriteria sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. 5) Dalam kondisi tertentu, penetapan zona sebagaimana dimaksud dalam angka 4) dilakukan oleh Penyelenggara. c. Untuk Layanan Pembayaran Reguler 1) Jam Layanan Pembayaran Reguler ditetapkan dalam 2 (dua) periode, yaitu: a) periode 1 dilaksanakan dalam 1 (satu) hari kerja yaitu untuk kegiatan pengiriman DKE Pembayaran, pengecekan kecukupan dana dan Setelmen Dana. b) periode 2 dilaksanakan dalam 2 (dua) hari kerja, yaitu: (1) hari kerja pertama untuk kegiatan pengiriman DKE Pembayaran; dan (2) hari kerja kedua untuk kegiatan pengecekan kecukupan dana dan Setelmen Dana. c) Jam layanan kegiatan untuk periode 1 sebagaimana dimaksud dalam huruf a) dan untuk periode 2 sebagaimana dimaksud dalam huruf b) mengacu pada jam layanan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. 2) Dalam...

89 89 2) Dalam setiap periode, Penyelenggara menetapkan periode waktu kegiatan sebagai berikut: a) penyediaan Prefund Kredit; b) pengiriman DKE Pembayaran ke SSK; c) penyediaan informasi awal; d) download DKE Pembayaran confirmed incoming; dan e) Setelmen Dana, dengan rincian periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. d. Untuk Layanan Penagihan Reguler 1) Jam Layanan Penagihan Reguler mengacu kepada jam layanan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. 2) Dalam Layanan Penagihan Reguler, Penyelenggara menetapkan periode waktu kegiatan sebagai berikut: a) pengiriman DKE Penagihan untuk kegiatan: (1) Penyerahan Tagihan; dan (2) Pengembalian Tagihan; b) Download DKE Penagihan incoming untuk: (1) Penyerahan Tagihan; dan (2) Pengembalian Tagihan; c) Download DKE Penagihan confirmed outgoing dalam kegiatan Penyerahan Tagihan; d) penyediaan informasi awal; e) penambahan Prefund Debit; dan f) Setelmen Dana, dengan rincian periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. C. Perubahan Waktu Operasional SKNBI 1. Penyelenggara dapat melakukan perubahan waktu operasional SKNBI sebagaimana dimaksud dalam butir A.1 berdasarkan pertimbangan antara lain sebagai berikut: a. adanya Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Penyelenggara; b. adanya...

90 90 b. adanya perubahan jam operasional Sistem BI-RTGS dan/atau BI-SSSS; c. adanya kepentingan Bank Indonesia dalam rangka menjaga kelancaran sistem pembayaran; d. adanya permohonan perpanjangan periode waktu kegiatan dari Peserta; dan/atau e. adanya permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring dari Koordinator PWD. 2. Pengajuan permohonan perpanjangan periode waktu kegiatan oleh Peserta sebagaimana dimaksud dalam butir 1.d dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Peserta dapat mengajukan permohonan perpanjangan periode waktu kegiatan yang terdiri atas: 1) perpanjangan periode waktu pengiriman DKE Transfer Dana, DKE Pembayaran, dan DKE Penagihan; dan 2) perpanjangan periode waktu penambahan Prefund. b. Permohonan dapat diajukan apabila Peserta mengalami Keadaan Tidak Normal, Keadaan Darurat, dan/atau alasan tertentu yang mengakibatkan adanya kebutuhan perpanjangan periode waktu kegiatan pengiriman DKE dan/atau penyediaan Prefund. c. Perpanjangan periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang dapat diberikan oleh Penyelenggara untuk setiap layanan adalah selama 30 (tiga puluh) menit dan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) menit kecuali dalam kondisi tertentu yang disetujui oleh Penyelenggara. d. Perpanjangan periode waktu kegiatan pengiriman DKE Transfer Dana, DKE Pembayaran, dan DKE Penagihan atas permintaan Peserta dikenakan biaya sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.6. e. Perpanjangan periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Peserta...

91 91 1) Peserta mengajukan permohonan perpanjangan periode waktu kegiatan kepada Penyelenggara paling lambat 30 (tiga puluh) menit sebelum periode waktu kegiatan berakhir kecuali dalam kondisi tertentu yang disetujui oleh Penyelenggara. 2) Permohonan perpanjangan periode waktu sebagaimana dimaksud dalam angka 1) disampaikan melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile, administrative message, dan/atau sarana lainnya. 3) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara. 4) Penyelenggara memberitahukan persetujuan atau penolakan atas permohonan perpanjangan periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) kepada Peserta melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile, administrative message, dan/atau sarana lainnya. 5) Dalam hal permohonan perpanjangan periode waktu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) disetujui, Penyelenggara memberitahukan perpanjangan periode waktu kegiatan kepada seluruh Peserta melalui administrative message dan/atau sarana lainnya. 3. Pengajuan permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring oleh Koordinator PWD sebagaimana dimaksud dalam butir 1.e dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit diatur sebagai berikut: 1) Untuk Wilayah Kliring yang terdaftar pada zona 1 dan zona 2, perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit dilakukan dengan mengacu pada jam Layanan Kliring Warkat Debit pada zona berikutnya. Sebagai...

92 92 Sebagai contoh, apabila terdapat permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit pada Wilayah Kliring zona 1 oleh Koordinator PWD maka perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit pada zona tersebut dilakukan dengan penyesuaian jam Layanan Kliring Warkat Debit yang mengacu pada jam layanan pada zona 2. 2) Untuk Wilayah Kliring yang terdaftar pada zona 3 dan zona 4, perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit dilakukan dengan perpanjangan periode waktu pengiriman DKE Warkat Debit pada zona tersebut. Sebagai contoh, apabila terdapat permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit pada Wilayah Kliring zona 4 oleh Koordinator PWD maka perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit pada zona tersebut dilakukan dengan cara perpanjangan periode waktu pengiriman DKE Warkat Debit. b. Koordinator PWD dapat mengajukan permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring berdasarkan: 1) permintaan Perwakilan Peserta secara tertulis karena adanya Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat; atau 2) adanya Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat. c. Koordinator PWD menyampaikan surat permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf b kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. d. Penyelenggara memberitahukan persetujuan atau penolakan atas permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring kepada Koordinator PWD melalui surat dan/atau sarana lainnya. e. Dalam...

93 93 e. Dalam hal permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit disetujui, Penyelenggara memberitahukan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring kepada seluruh Peserta melalui administrative message dan/atau sarana lainnya. f. Dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat yang berdampak pada operasional SKNBI di beberapa Wilayah Kliring, Peserta dapat mengajukan permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit yang diatur sebagai berikut: 1) Peserta mengajukan permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, yang dapat didahului dengan administrative message, faksimile, dan/atau sarana lainnya. 2) Penyelenggara memberitahukan persetujuan atau penolakan atas permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit kepada Peserta yang bersangkutan melalui surat yang dapat didahului melalui administrative message dan/atau sarana lainnya. 3) Penyelenggara memberitahukan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit kepada: a) seluruh Peserta; dan b) Koordinator PWD terkait, melalui administrative message dan/atau sarana lainnya. g. Koordinator PWD mengumumkan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan berdasarkan pemberitahuan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf d dan butir f.3)b). V. PREFUND...

94 94 V. PREFUND A. Jenis dan Pengelolaan Prefund 1. Jenis Prefund a. Jenis Prefund dalam SKNBI terdiri atas: 1) Prefund Kredit berupa dana tunai (cash Prefund); dan 2) Prefund Debit dapat berupa: a) dana tunai (cash Prefund); dan/atau b) surat berharga (collateral Prefund). b. Jenis surat berharga (collateral Prefund) yang dapat disediakan dalam Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam butir a.2)b) mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai tata cara penggunaan fasilitas likuiditas intrahari. c. Surat berharga (collateral Prefund) sebagaimana dimaksud dalam butir a.2)b) hanya berlaku untuk PLU. 2. Pengelolaan Prefund a. Dana tunai (cash Prefund) yang disediakan oleh PLU dan PLA untuk Prefund Kredit dan Prefund Debit ditatausahakan pada Sistem BI-RTGS dalam rekening milik Penyelenggara yang khusus menampung dana tunai (cash Prefund). Dana tunai (cash Prefund) untuk masing-masing PLU dan PLA ditatausahakan oleh Penyelenggara di SSK. b. Surat berharga (collateral Prefund) yang disediakan oleh PLU ditatausahakan pada BI-SSSS dalam rekening surat berharga masing-masing PLU yang digunakan khusus untuk menampung surat berharga (collateral Prefund) sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai BI-SSSS. B. Nilai Minimum Nominal Prefund Penyelenggara menetapkan besarnya nilai minimum nominal Prefund yang harus disediakan oleh masing-masing Peserta dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Penyelenggara...

95 95 1. Penyelenggara tidak menetapkan nilai minimum nominal Prefund Kredit yang wajib disediakan oleh Peserta. 2. Penyelenggara menetapkan nilai minimum nominal Prefund Debit yang wajib disediakan oleh Peserta. 3. Nilai minimum nominal Prefund Debit yang wajib disediakan oleh Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 2 ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Peserta wajib menyediakan minimum Prefund Debit sesuai dengan periode waktu sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. b. Nilai minimum Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a paling sedikit sebesar nilai nominal yang ditetapkan oleh Penyelenggara. c. Nilai minimum nominal Prefund Debit adalah sebesar total tagihan harian terbesar Peserta dalam Layanan Kliring Warkat Debit dan Layanan Penagihan Reguler dalam kurun waktu 12 (dua belas) bulan terakhir, dengan mengecualikan total tagihan harian yang nilainya di luar kebiasaan (outlier). Khusus untuk bulan ke-12 (keduabelas), data yang diperhitungkan adalah data transaksi sampai dengan tanggal 25. Apabila tanggal 25 pada bulan ke-12 (keduabelas) jatuh pada hari libur maka data yang diperhitungkan adalah data transaksi sampai dengan hari kerja terakhir sebelum tanggal 25 pada bulan yang bersangkutan. Contoh perhitungan minimum Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.7. d. Total tagihan harian yang nilainya di luar kebiasaan (outlier) sebagaimana dimaksud dalam huruf c merupakan total tagihan harian yang nilainya di atas rata-rata total tagihan harian (incoming debit) Peserta yang bersangkutan dalam kurun waktu 12 (dua belas) bulan terakhir ditambah 3 (tiga) standar deviasi. e. Nilai minimum nominal Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf b yang wajib disediakan oleh Peserta dapat diakses oleh Peserta melalui SPK pada tanggal...

96 96 tanggal 26 setiap bulannya. Apabila tanggal 26 jatuh pada hari libur maka besarnya nilai minimum nominal Prefund Debit dapat diakses oleh Peserta melalui SPK pada hari kerja berikutnya. f. Dalam hal terdapat Peserta baru dan belum memiliki data historis transaksi Layanan Kliring Warkat Debit dan Layanan Penagihan Reguler, besarnya minimum nilai nominal Prefund Debit yang wajib disediakan oleh Peserta tersebut diatur dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Pada hari pertama keikutsertaan Peserta, nilai minimum nominal Prefund Debit yang harus disediakan adalah sebesar Rp0,00 (nol rupiah). 2) Pada hari kerja berikutnya di bulan yang sama dengan tanggal keikutsertaan Peserta, nilai minimum nominal Prefund Debit yang harus disediakan oleh Peserta ditetapkan berdasarkan data total tagihan harian (incoming debit) terbesar Peserta pada hari kerja sebelumnya. 3) Nilai minimum nominal Prefund Debit untuk bulan berikutnya ditetapkan dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf b sesuai dengan data historis yang dimiliki Peserta. Dalam hal data historis yang dimiliki oleh Peserta kurang dari 12 (dua belas) bulan maka data historis yang digunakan adalah data yang tersedia pada periode tersebut. g. Dalam hal terdapat Peserta yang melakukan penggabungan atau peleburan usaha, nilai minimum nominal Prefund Debit yang harus disediakan oleh Peserta hasil penggabungan atau peleburan usaha diatur dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Sejak tanggal efektif penggabungan atau peleburan usaha sampai dengan akhir bulan yang bersangkutan...

97 97 bersangkutan, nilai nominal Prefund Debit yang harus disediakan adalah sebesar total nilai nominal Prefund Debit dari Peserta yang melakukan penggabungan atau peleburan usaha, yang telah ditetapkan pada awal bulan ketika Peserta tersebut belum melakukan penggabungan atau peleburan usaha. 2) Nilai nominal Prefund Debit untuk bulan berikutnya ditetapkan berdasarkan total tagihan harian terbesar Peserta hasil penggabungan atau peleburan usaha untuk Layanan Kliring Warkat Debit dan Layanan Penagihan Reguler dengan mengecualikan total tagihan harian yang nilainya di luar kebiasaan (outlier), dalam bulan sebelumnya terhitung sejak tanggal efektif penggabungan atau peleburan usaha. 3) Nilai minimum nominal Prefund Debit untuk bulan berikutnya ditetapkan dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 2) sesuai dengan data historis yang dimiliki oleh Peserta hasil penggabungan atau peleburan usaha. Dalam hal data historis yang dimiliki oleh Peserta hasil penggabungan atau peleburan usaha kurang dari 12 (dua belas) bulan maka data historis yang digunakan adalah data yang tersedia pada periode tersebut. h. Dalam hal terdapat perubahan kegiatan usaha Peserta dari konvensional menjadi syariah, nilai minimum nominal Prefund Debit yang harus disediakan oleh Peserta menggunakan data historis 12 (dua belas) bulan sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam huruf b. i. Dalam...

98 98 i. Dalam hal sampai batas waktu yang ditetapkan Peserta tidak memenuhi kewajiban penyediaan minimum Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf b maka Peserta melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) menginformasikan segera kepada Penyelenggara mengenai tidak dipenuhinya kewajiban penyediaan minimum Prefund Debit beserta alasannya, melalui faksimile dan/atau sarana lainnya. 2) menyampaikan surat pernyataan kepada Penyelenggara mengenai tidak dipenuhinya kewajiban penyediaan minimum Prefund Debit beserta alasan dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.9. j. Surat pernyataan sebagaimana dimaksud dalam huruf i.3) ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan disampaikan ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a pada hari yang sama dengan Peserta tidak memenuhi kewajiban penyediaan minimum Prefund Debit. C. Tata Cara Penyediaan Prefund 1. Penyediaan Prefund Kredit Dalam melakukan kewajiban penyediaan Prefund Kredit, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta menyediakan Prefund Kredit sesuai periode waktu kegiatan penyediaan Prefund Kredit yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. b. Dalam melakukan penyediaan Prefund Kredit sebagaimana dimaksud dalam huruf a, berlaku ketentuan sebagai berikut: 1) Untuk...

99 99 1) Untuk PLU, penyediaan Prefund Kredit dilakukan oleh Peserta yang bersangkutan. 2) Untuk PLA, penyediaan Prefund Kredit dilakukan melalui Bank Pembayar. 3) Untuk PTL, penyediaan Prefund Kredit dilakukan oleh Bank Penerus. c. Nilai nominal Prefund Kredit yang disediakan oleh Peserta paling sedikit sebesar total DKE Transfer Dana dan/atau DKE Pembayaran keluar (outgoing) dikurangi total DKE Transfer Dana dan/atau DKE Pembayaran masuk (incoming) dari Peserta lain yang didukung oleh dana yang cukup (confirmed incoming). d. Penyediaan Prefund Kredit dalam bentuk dana tunai (cash Prefund) dilakukan melalui Sistem BI-RTGS dengan cara melakukan transfer dana dari Rekening Setelmen Dana PLU atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar ke rekening milik Penyelenggara yang digunakan khusus untuk menampung dana tunai (cash Prefund) dengan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. 2. Penyediaan Prefund Debit Dalam melakukan kewajiban penyediaan nilai minimum nominal Prefund Debit, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Penyediaan Prefund Debit dalam bentuk dana tunai (cash Prefund) dilakukan melalui Sistem BI-RTGS dengan cara melakukan transfer dana dari Rekening Setelmen Dana PLU ke rekening milik Penyelenggara yang digunakan khusus untuk menampung dana tunai (cash Prefund) dengan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. b. Penyediaan Prefund Debit dalam bentuk surat berharga (collateral Prefund) dilakukan melalui BI- SSSS, dengan prosedur sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan BI-SSSS. D. Tata...

100 100 D. Tata Cara Penambahan Prefund 1. Penambahan Prefund Kredit a. Peserta wajib melakukan penambahan Prefund Kredit dalam hal Prefund Kredit yang disediakan oleh Peserta tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban Peserta dalam Layanan Transfer Dana dan/atau Layanan Pembayaran Reguler. b. Penambahan Prefund Kredit sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan sesuai dengan periode waktu penambahan Prefund Kredit yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. c. Mekanisme penambahan Prefund Kredit sebagaimana dimaksud dalam huruf a mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir C Penambahan Prefund Debit a. Peserta wajib melakukan penambahan Prefund Debit dalam hal nilai minimum nominal Prefund Debit tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban Peserta dalam Layanan Kliring Warkat Debit dan/atau Layanan Penagihan Reguler. b. Penambahan Prefund Debit dilakukan sesuai dengan periode waktu penambahan Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. c. Mekanisme penambahan Prefund Debit mengacu pada E. Pengembalian Prefund ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf C Pengembalian Prefund Kredit Dalam hal setelah jam layanan pada Layanan Transfer Dana dan Layanan Pembayaran Reguler berakhir, Peserta masih memiliki saldo dana tunai (cash Prefund) yang tidak dipergunakan dalam perhitungan Layanan Transfer Dana dan/atau Layanan Pembayaran Reguler maka saldo dana tunai (cash Prefund) tersebut dikembalikan oleh Penyelenggara ke Rekening Setelmen Dana PLU dan/atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. 2. Pengembalian...

101 Pengembalian Prefund Debit Setelah jam layanan pada Layanan Kliring Warkat Debit dan Layanan Penagihan Reguler berakhir, Penyelenggara melakukan pengembalian dana tunai (cash Prefund) ke Rekening Setelmen Dana PLU dengan ketentuan sebagai berikut: a. Dalam hal saldo dana tunai (cash Prefund) menunjukkan nilai positif maka Penyelenggara mengembalikan saldo dana tunai (cash Prefund) sebesar nilai positif ke Rekening Setelmen Dana PLU. b. Dalam hal surat berharga (collateral Prefund) tidak digunakan maka: 1) Peserta dapat memindahkan kembali surat berharga (collateral Prefund) tersebut ke rekening surat berharga PLU sesuai ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan BI-SSSS. 2) Dalam hal Peserta tidak memindahkan kembali surat berharga (collateral Prefund) ke rekening surat berharga PLU maka surat berharga (collateral Prefund) tersebut akan diperhitungkan sebagai komponen Prefund Debit untuk hari kerja berikutnya. 3. Periode pengembalian Prefund Pengembalian Prefund Kredit dan pengembalian Prefund Debit dilakukan sesuai dengan periode waktu kegiatan pengembalian Prefund sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. VI. LAYANAN TRANSFER DANA A. Prinsip Umum 1. Dalam hari operasional, Layanan Transfer Dana dilakukan sesuai dengan jam layanan yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Jenis...

102 Jenis transfer dana yang dapat diperhitungkan dalam Layanan Transfer Dana adalah transfer dana yang berasal dari: a. perintah transfer dana dari Peserta kepada Peserta lainnya; b. perintah transfer dana dari Peserta kepada nasabah Peserta lainnya dan sebaliknya; dan c. perintah transfer dana dari nasabah Peserta kepada nasabah Peserta lainnya. 3. Transfer dana sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a merupakan transaksi selain yang telah ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan Sistem BI-RTGS. 4. Nasabah sebagaimana dimaksud dalam butir 2.b dan butir 2.c meliputi: a. nasabah pengirim dapat berupa nasabah yang memiliki rekening dan yang tidak memiliki rekening di Peserta pengirim; dan b. nasabah penerima berupa nasabah yang memiliki rekening di Peserta penerima. 5. Nilai nominal transfer dana sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dibatasi sesuai ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai batas nilai nominal transfer dana melalui Sistem BI-RTGS dan SKNBI. 6. Transfer dana sebagaimana dimaksud dalam angka 2 diproses pada Layanan Transfer Dana dalam bentuk DKE Transfer Dana yang dihasilkan dari SPK. 7. DKE Transfer Dana yang telah diterima oleh Penyelenggara tidak dapat diubah atau dibatalkan oleh Peserta. 8. Perhitungan Layanan Transfer Dana dilakukan berdasarkan DKE Transfer Dana yang didukung dengan dana yang cukup. 9. Setelmen Dana atas perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 8 dilakukan ke Rekening Setelmen Dana PLU dan/atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. 10. Setelmen Dana sebagaimana dimaksud dalam angka 9 dilakukan 5 (lima) kali dalam 1 (satu) hari operasional. B. Operasional...

103 103 B. Operasional Layanan Transfer Dana 1. Pembuatan dan Pengiriman DKE Transfer Dana dan Batch DKE Transfer Dana a. Pembuatan DKE Transfer Dana 1) Pembuatan DKE Transfer Dana dilakukan oleh Peserta dengan cara sebagai berikut: a) input DKE Transfer Dana secara manual melalui SPK; atau b) interface DKE Transfer Dana dengan cara: (1) import file dari media rekam elektronik ke SPK; atau (2) Straight Through Processing (STP) dari sistem internal Peserta ke SPK. 2) Pembuatan DKE Transfer Dana sebagaimana dimaksud dalam angka 1) mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. b. Pembuatan batch DKE Transfer Dana 1) Pembuatan batch DKE Transfer Dana dilakukan melalui SPK atau sistem internal Peserta. 2) Pembuatan batch DKE Transfer Dana oleh Peserta mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan DKE Transfer Dana dan batch DKE Transfer Dana 1) Pengisian field kode transaksi pada DKE Transfer Dana wajib mengacu pada kode transaksi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.9. 2) Field kode kota asal wajib diisi dengan ketentuan sebagai berikut: a. untuk perintah transfer dana yang diterima melalui over the counter, diisi dengan kode kota kantor Peserta yang menerima perintah transfer dana dari nasabah; atau b. untuk perintah transfer dana yang dilakukan melalui electronic channel, diisi dengan kode kota dari kantor Peserta yang mengelola electronic channel. 3) 1...

104 104 3) 1 (satu) batch DKE Transfer Dana paling banyak berisi 200 (dua ratus) transaksi atau 1 (satu) batch DKE Transfer Dana memiliki nilai nominal paling banyak Rp ,00 (seratus miliar rupiah). d. Pengiriman batch DKE Transfer Dana ke SSK Batch DKE Transfer Dana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dikirim ke SSK dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Pengiriman batch DKE Transfer Dana oleh Peserta diatur sebagai berikut: a) Pengiriman batch DKE Transfer Dana oleh Peserta dilakukan melalui SPK. b) Batch DKE Transfer Dana yang dikirim oleh PLU dapat berupa: (1) batch DKE Transfer Dana milik PLU yang bersangkutan; dan/atau (2) batch DKE Transfer Dana milik PTL dalam hal PLU berfungsi sebagai Bank Penerus. c) Batch DKE Transfer Dana yang dikirim oleh PLA hanya milik PLA yang bersangkutan. 2) Pengiriman batch DKE Transfer Dana dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Transfer Dana yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 3) Dalam hal terjadi kegagalan pengiriman batch DKE Transfer Dana maka Peserta dapat mengirimkan kembali batch DKE Transfer Dana tersebut selama periode waktu pengiriman batch DKE Transfer Dana belum berakhir. 4) Atas pengiriman batch DKE Transfer Dana sebagaimana dimaksud dalam angka 1), SSK mengirimkan konfirmasi status pengiriman batch DKE Transfer Dana ke SPK. 2. Mekanisme...

105 Mekanisme Perhitungan dalam Layanan Transfer Dana a. Selama periode waktu kegiatan pengiriman DKE Transfer Dana, SSK melakukan perhitungan setiap batch DKE Transfer Dana yang diterima dengan memperhatikan kecukupan dana yang dimiliki oleh Peserta. b. Dana yang dimiliki oleh Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a bersumber dari: 1) dana tunai (cash Prefund) yang disediakan dalam Prefund Kredit; dan 2) confirmed incoming DKE Transfer Dana yaitu DKE Transfer Dana masuk dari Peserta lainnya yang telah didukung dengan dana yang dimiliki oleh Peserta lain tersebut. c. DKE Transfer Dana yang dikirim oleh Peserta dan didukung dengan dana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dinyatakan sebagai confirmed outgoing DKE Transfer Dana. 3. Informasi Perhitungan Layanan Transfer Dana a. Penyelenggara menyediakan informasi hasil perhitungan dalam Layanan Transfer Dana sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a yang dapat diperoleh Peserta melalui SPK secara seketika. b. Dalam hal PLU berfungsi sebagai Bank Penerus maka informasi hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam huruf a mencakup hasil perhitungan PLU dan PTL. c. Apabila berdasarkan informasi sebagaimana dimaksud dalam huruf a masih terdapat DKE Transfer Dana yang belum dapat diperhitungkan (unconfirmed DKE Transfer Dana) karena belum didukung dengan dana yang cukup maka Peserta wajib menambah Prefund Kredit sampai batas waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara. Tata cara penambahan Prefund Kredit sebagaimana dimaksud dalam butir V.D Setelmen...

106 Setelmen Hasil Perhitungan Akhir dalam Layanan Transfer Dana a. Setelah batas waktu penambahan Prefund Kredit berakhir, Penyelenggara melakukan perhitungan akhir untuk masing-masing Peserta. b. Dalam hal setelah berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf a Peserta masih memiliki unconfirmed DKE Transfer Dana maka mekanisme penyelesaiannya mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 5. c. Dalam hal PLU berfungsi sebagai Bank Penerus maka hasil perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a mencakup hasil perhitungan akhir PLU dan PTL. d. Penyelenggara melakukan Setelmen Dana atas hasil perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a ke Rekening Setelmen Dana PLU dan/atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar sebesar nilai hasil perhitungan akhir Layanan Transfer Dana. 5. Penyelesaian Unconfirmed DKE Transfer Dana a. Dalam hal terdapat unconfirmed DKE Transfer Dana sebagaimana dimaksud dalam butir 4.b, berlaku ketentuan sebagai berikut: 1) apabila unconfirmed DKE Transfer Dana terjadi sebelum Setelmen Dana periode terakhir maka unconfirmed DKE Transfer Dana tersebut akan diperhitungkan secara otomatis ke periode Setelmen Dana berikutnya; dan 2) apabila pada Setelmen Dana terakhir masih terdapat unconfirmed DKE Transfer Dana maka unconfirmed DKE Transfer Dana tersebut tidak diperhitungkan oleh SSK. b. Penyelesaian unconfirmed DKE Transfer Dana sebagaimana dimaksud dalam butir a.2) dapat dilakukan dengan mengirimkan kembali unconfirmed DKE Transfer Dana tersebut pada hari kerja berikutnya, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Peserta...

107 107 1) Peserta pengirim melaporkan hasil penyelesaian unconfirmed DKE Transfer Dana kepada Penyelenggara paling lama 2 (dua) hari kerja sejak tanggal penyelesaian, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.10. 2) Peserta pengirim memberikan kompensasi, jasa, dan/atau bunga kepada nasabah dengan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI. 6. Penerusan Dana kepada Nasabah Penerima Peserta penerima wajib meneruskan dana kepada nasabah penerima sesuai amanat dalam DKE Transfer Dana yang diterima dari Peserta pengirim sesuai batas waktu yang ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI. VII. LAYANAN KLIRING WARKAT DEBIT A. Prinsip Umum 1. Dalam 1 (satu) hari operasional, Layanan Kliring Warkat Debit dilakukan dalam 4 (empat) zona sesuai dengan jam layanan yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Layanan Kliring Warkat Debit dalam setiap zona terdiri atas Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian, yang merupakan satu kesatuan siklus Layanan Kliring Warkat Debit. 3. Warkat Debit yang dapat diperhitungkan dalam Layanan Kliring Warkat Debit adalah Warkat Debit berupa cek, bilyet giro, nota debit, dan Warkat Debit lainnya yang telah disetujui oleh Penyelenggara untuk dikliringkan. 4. Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dapat dikliringkan oleh Peserta ke seluruh Wilayah Kliring sepanjang Peserta yang menerbitkan Warkat Debit memiliki Perwakilan Peserta di wilayah tersebut. 5. Nilai...

108 Nilai nominal Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3 tidak dibatasi. 6. Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3 diproses pada Layanan Kliring Warkat Debit dalam bentuk DKE Warkat Debit yang dihasilkan dari SPK. 7. DKE Warkat Debit yang telah diterima oleh Penyelenggara tidak dapat diubah atau dibatalkan oleh Peserta. 8. DKE Warkat Debit yang telah dikirim oleh Peserta harus diikuti dengan penyampaian Warkat Debit kepada Peserta penerima di Wilayah Kliring dimana Warkat Debit tersebut dikliringkan. 9. Penyampaian Warkat Debit kepada Peserta penerima sebagaimana dimaksud dalam angka 8 dilakukan melalui pertukaran Warkat Debit sesuai mekanisme sebagaimana diatur dalam angka XII. 10. Perhitungan Layanan Kliring Warkat Debit dilakukan berdasarkan DKE Warkat Debit yang didukung dengan dana yang cukup. 11. Setelmen Dana atas perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 10 dilakukan ke Rekening Setelmen Dana masing-masing Peserta. 12. Setelmen Dana sebagaimana dimaksud dalam angka 11 dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) hari operasional untuk setiap zona. B. Operasional Layanan Kliring Warkat Debit pada setiap Zona 1. Pembuatan dan Pengiriman DKE Warkat Debit dan Batch DKE Warkat Debit a. Kliring Penyerahan 1) Pembuatan DKE Warkat Debit a) Pembuatan DKE Warkat Debit dilakukan oleh Peserta dengan cara sebagai berikut: (1) input DKE Warkat Debit secara manual melalui SPK; atau (2) interface DKE Warkat Debit dengan cara: (a) import file dari media rekam elektronik ke SPK; atau (b) Straight...

109 109 (b) Straight Through Processing (STP) dari sistem internal Peserta ke SPK. b) Pembuatan DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a) mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 2) Pembuatan batch DKE Warkat Debit a) Pembuatan batch DKE Warkat Debit dilakukan melalui SPK atau sistem internal Peserta. b) Pembuatan batch DKE Warkat Debit oleh Peserta harus memenuhi persyaratan sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 3) Pengiriman batch DKE Warkat Debit ke SSK Batch DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 2) dikirim ke SSK dengan ketentuan sebagai berikut: a) Pengiriman batch DKE Warkat Debit ke SSK dilakukan melalui SPK. b) Pengiriman batch DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a) harus diikuti dengan penyampaian fisik Warkat Debit kepada Peserta penerima. c) Pengiriman batch DKE Warkat Debit dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Warkat Debit yang ditetapkan oleh Penyelenggara. d) Dalam hal terjadi kegagalan pengiriman batch DKE Warkat Debit maka Peserta dapat mengirimkan kembali batch DKE Warkat Debit tersebut sepanjang periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Warkat Debit belum berakhir. e) Atas...

110 110 e) Atas pengiriman batch DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a), SSK akan mengirimkan konfirmasi status pengiriman batch DKE Warkat Debit ke SPK. b. Kliring Pengembalian 1) Proses Verifikasi a) Peserta melakukan verifikasi terhadap DKE Warkat Debit yang diterima dari SSK pada Kliring Penyerahan. b) Dalam hal terdapat DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a) yang harus dikembalikan maka pengembalian DKE Warkat Debit tersebut dilakukan melalui Kliring Pengembalian sesuai dengan alasan penolakan DKE Warkat Debit sebagaimana tercantum dalam Lampiran II.11. 2) Pembuatan DKE Warkat Debit a) Pembuatan DKE Warkat Debit pada Kliring Pengembalian sebagaimana dimaksud dalam butir 1)b) dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) input DKE Warkat Debit secara manual melalui SPK; atau (2) interface DKE Warkat Debit dengan cara: (a) import file dari media rekam elektronik ke SPK; atau (b) Straight Through Processing (STP) dari sistem internal Peserta ke SPK. b) Pembuatan DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a) disertai alasan penolakan dengan mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 3) Pembuatan Batch DKE Warkat Debit a) Pembuatan batch DKE Warkat Debit dilakukan melalui SPK atau sistem internal Peserta. b) Pembuatan...

111 111 b) Pembuatan batch DKE Warkat Debit oleh Peserta harus memenuhi persyaratan sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 4) Pengiriman batch DKE Warkat Debit ke SSK Batch DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3) dikirim ke SSK dengan ketentuan sebagai berikut: a) Pengiriman batch DKE Warkat Debit ke SSK dilakukan melalui SPK. b) Pengiriman batch DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a) harus diikuti dengan penyampaian fisik Warkat Debit kepada Peserta pengirim. c) Pengiriman batch DKE Warkat Debit dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan waktu periode pengiriman batch DKE Warkat Debit yang ditetapkan oleh Penyelenggara. d) Dalam hal terjadi kegagalan pengiriman batch DKE Warkat Debit maka Peserta dapat mengirimkan kembali batch DKE Warkat Debit tersebut sepanjang periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Warkat Debit belum berakhir. e) Atas pengiriman batch DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a), SSK akan mengirimkan konfirmasi status pengiriman batch DKE Warkat Debit ke SPK. 2. Mekanisme Perhitungan dalam Layanan Kliring Warkat Debit a. Setelah jam Layanan Kliring Pengembalian berakhir, Penyelenggara melakukan perhitungan Layanan Kliring Warkat Debit dengan memperhatikan kecukupan dana yang dimiliki oleh masing-masing Peserta. b. Perhitungan Layanan Kliring Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Melakukan...

112 112 1) Melakukan perhitungan tagihan atas DKE Warkat Debit outgoing pada Kliring Penyerahan dengan DKE Warkat Debit incoming pada Kliring Pengembalian untuk masing-masing Peserta pengirim. 2) Melakukan perhitungan kewajiban atas DKE Warkat Debit incoming pada Kliring Penyerahan dari Peserta lain dengan DKE Warkat Debit outgoing pada Kliring Pengembalian yang dikirim oleh Peserta yang bersangkutan. 3) Melakukan netting antara hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dengan hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 2). c. Hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam butir b.3) dapat berupa: 1) net kredit yaitu apabila total tagihan lebih besar dari total kewajiban Peserta; 2) net nihil yaitu apabila total tagihan sama dengan total kewajiban Peserta; atau 3) net debit yaitu apabila total tagihan lebih kecil dari total kewajiban Peserta. d. Dalam hal hasil perhitungan kliring menunjukkan net kredit sebagaimana dimaksud dalam butir c.1) atau net nihil sebagaimana dimaksud dalam butir c.2), seluruh DKE Warkat Debit yang diterima dinyatakan sebagai confirmed incoming DKE Warkat Debit. e. Dalam hal hasil perhitungan kliring menunjukkan net debit sebagaimana dimaksud dalam butir c.3), dilakukan perhitungan terhadap dana pada Prefund Debit, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) DKE Warkat Debit yang diterima oleh Peserta dan didukung dengan dana yang cukup dinyatakan sebagai confirmed incoming DKE Warkat Debit. 2) Dalam hal DKE Warkat Debit yang diterima oleh Peserta tidak didukung dengan dana yang cukup, dinyatakan sebagai unconfirmed incoming DKE Warkat...

113 113 Warkat Debit dan dikeluarkan dari perhitungan Layanan Kliring Warkat Debit. 3. Informasi Perhitungan Layanan Kliring Warkat Debit a. Penyelenggara menyediakan informasi hasil perhitungan Layanan Kliring Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam butir 2.c yang dapat diperoleh Peserta melalui SPK sesuai periode waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara. b. Apabila berdasarkan informasi sebagaimana dimaksud dalam huruf a ketersediaan dana Prefund Debit tidak mencukupi untuk menyelesaikan perhitungan net debit maka Peserta wajib menambah Prefund Debit sampai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara dengan mengacu pada ketentuan mengenai penambahan Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam butir V.D Setelmen Dana Hasil Perhitungan Akhir dalam Layanan Kliring Warkat Debit a. Setelah batas waktu penambahan Prefund Debit berakhir, Penyelenggara melakukan perhitungan akhir untuk masing-masing Peserta. b. Dalam hal Peserta tidak melakukan penambahan Prefund Debit sampai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara maka DKE Warkat Debit yang tidak didukung dengan Prefund Debit yang cukup (unconfirmed DKE Warkat Debit) tidak diperhitungkan dan selanjutnya dibatalkan oleh SSK. c. Penyelenggara melakukan Setelmen Dana atas perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a ke Rekening Setelmen Dana masing-masing Peserta dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Apabila hasil perhitungan akhir menunjukkan net kredit maka Setelmen Dana dilakukan dengan mengkredit Rekening Setelmen Dana Peserta sebesar total nilai net kredit. 2) Apabila hasil perhitungan akhir menunjukkan net nihil maka Setelmen Dana dilakukan dengan mengkredit...

114 114 mengkredit Rekening Setelmen Dana Peserta sebesar nilai net nihil. 3) Apabila hasil perhitungan akhir menunjukkan net debit maka penyelesaian atas net debit tersebut dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a) Posisi net debit akan mengurangi saldo dana tunai (cash Prefund). b) Dalam hal hasil pengurangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) menunjukkan selisih positif atau selisih nihil maka Setelmen Dana dilakukan sebesar nilai nihil. c) Dalam hal hasil pengurangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) menunjukkan selisih negatif maka Setelmen Dana dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta yang bersangkutan sebesar selisih negatif tersebut. (2) Dalam hal Rekening Setelmen Dana Peserta yang bersangkutan sebagaimana pada angka (1) tidak mencukupi untuk menutup selisih negatif tersebut maka kekurangan dari selisih negatif yang telah diperhitungkan dengan dana pada Rekening Setelmen Peserta, dipenuhi dengan surat berharga (collateral Prefund). Mekanisme penggunaan surat berharga (collateral Prefund) mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai tata cara penggunaan fasilitas likuiditas intrahari. 5. Penyelesaian Unconfirmed DKE Warkat Debit a. Unconfirmed DKE Warkat Debit merupakan DKE Warkat Debit yang tidak diperhitungkan karena tidak didukung dengan dana yang cukup dari Peserta penerima. b. Warkat...

115 115 b. Warkat Debit dari unconfirmed DKE Warkat Debit harus dikembalikan oleh Peserta penerima kepada Peserta pengirim melalui Perwakilan Peserta, dalam hal Warkat Debit tersebut tidak memenuhi persyaratan untuk dilakukan pembayaran. c. Peserta pengirim yang menerima unconfirmed DKE Warkat Debit harus menyelesaikan kewajiban pembayaran Warkat Debit sepanjang Warkat Debit tersebut memenuhi persyaratan untuk dilakukan pembayaran dan tersedia dana nasabah penarik yang cukup pada Peserta penerima. d. Penyelesaian kewajiban pembayaran Warkat Debit sebagaimana dalam huruf c dilakukan segera dengan memperhatikan kesepakatan antar Peserta sebagaimana diatur dalam peraturan asosiasi sistem pembayaran di Indonesia. e. Peserta penerima sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus melaporkan tindak lanjut dan hasil penyelesaian unconfirmed DKE Warkat Debit kepada Penyelenggara paling lama 2 (dua) hari kerja sejak tanggal penyelesaian unconfirmed DKE Warkat Debit, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Penerusan Dana kepada Nasabah Penerima Peserta pengirim wajib meneruskan dana kepada nasabah penerima sesuai amanat dalam Warkat Debit sesuai batas waktu yang ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI. 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam operasional Layanan Warkat Debit: a. Pembuatan DKE Warkat Debit dan batch DKE Warkat Debit 1) Pengisian field kode transaksi pada DKE Warkat Debit wajib mengacu pada kode transaksi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.9. 2) Field...

116 116 2) Field kode kota asal wajib diisi dengan kode kota kantor Peserta yang menerima Warkat Debit dari nasabah yang akan dikliringkan dalam Layanan Kliring Warkat Debit. 3) 1 (satu) batch DKE Warkat Debit paling banyak berisi 200 (dua ratus) transaksi atau 1 (satu) batch DKE Warkat Debit memiliki nilai nominal kurang dari Rp ,00 (satu triliun rupiah). b. Penolakan Warkat Debit karena adanya tindak pidana Dalam hal Warkat Debit ditolak karena diduga terkait suatu tindak pidana sesuai dengan surat keterangan dari pihak yang berwenang, berlaku ketentuan sebagai berikut: 1) Peserta penerima harus menahan Warkat Debit dan membuat surat keterangan yang menyatakan bahwa Peserta penerima telah menerima serta menahan Warkat Debit tersebut karena diduga terkait tindak pidana sesuai bukti lapor yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.12. 2) Pada saat Kliring Pengembalian, Peserta penerima menyampaikan: a) surat keterangan penahanan Warkat Debit dalam rangkap 2 (dua); b) fotokopi bukti lapor yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang; dan c) fotokopi Warkat Debit, kepada Peserta pengirim. 3) Berdasarkan dokumen yang diterima Peserta pengirim dari Peserta penerima pada Kliring Pengembalian, Peserta pengirim menyampaikan surat keterangan asli sebagaimana dimaksud dalam butir 2)a) kepada nasabah penagih. c. Penolakan...

117 117 c. Penolakan Warkat Debit di luar mekanisme Kliring Pengembalian Dalam hal Peserta penerima dalam Kliring Penyerahan tidak dapat melakukan penolakan Warkat Debit yang seharusnya ditolak melalui mekanisme Kliring Pengembalian, antara lain karena adanya Keadaan Tidak Normal di Peserta penerima maka Peserta penerima harus segera menginformasikan hal tersebut kepada Peserta pengirim yang bersangkutan untuk diselesaikan secara bilateral. VIII. LAYANAN PEMBAYARAN REGULER A. Prinsip Umum 1. Dalam 1 (satu) hari operasional, Layanan Pembayaran Reguler dilakukan sebanyak 2 (dua) periode sesuai dengan jam layanan yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Jenis transfer dana yang dapat diperhitungkan dalam Layanan Pembayaran Reguler adalah transfer dana yang berasal dari: a. perintah transfer dana dari 1 (satu) Peserta pengirim kepada 1 (satu) atau lebih nasabah di Peserta penerima; b. perintah transfer dana dari 1 (satu) atau lebih nasabah di Peserta pengirim kepada 1 (satu) Peserta penerima; c. perintah transfer dana dari 1 (satu) nasabah di Peserta pengirim kepada 1 (satu) atau lebih nasabah di Peserta penerima; dan d. perintah transfer dana dari 1 (satu) atau lebih nasabah di Peserta pengirim kepada 1 (satu) nasabah di Peserta penerima. 3. Nasabah sebagaimana dimaksud dalam angka 2 adalah nasabah yang memiliki rekening di Peserta. 4. Nilai nominal transfer dana sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dibatasi paling banyak Rp ,00 (lima ratus juta rupiah) per rincian transaksi. 5. Transfer...

118 Transfer dana sebagaimana dimaksud dalam angka 2 diproses pada Layanan Pembayaran Reguler dalam bentuk DKE Pembayaran yang dihasilkan dari SPK. 6. DKE Pembayaran yang telah diterima oleh Penyelenggara tidak dapat diubah atau dibatalkan oleh Peserta. 7. Perhitungan Layanan Pembayaran Reguler dilakukan berdasarkan DKE Pembayaran yang didukung dengan dana yang cukup. 8. Setelmen Dana atas perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 7 dilakukan ke Rekening Setelmen Dana PLU dan/atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. 9. Setelmen Dana sebagaimana dimaksud dalam angka 8 dilakukan 1 (satu) kali dalam setiap periode Layanan Pembayaran Regular. B. Operasional Layanan Pembayaran Reguler pada Setiap Periode 1. Pembuatan dan Pengiriman DKE Pembayaran dan Batch DKE Pembayaran a. Pembuatan DKE Pembayaran 1) Pembuatan DKE Pembayaran dilakukan oleh Peserta dengan cara sebagai berikut: a) Input DKE Pembayaran secara manual melalui SPK; atau b) interface DKE Pembayaran dengan cara: (1) import file dari media rekam elektronik ke SPK; atau (2) Straight Through Processing (STP) dari sistem internal Peserta ke SPK. 2) Pembuatan DKE Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam angka 1) mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. b. Pembuatan batch DKE Pembayaran 1) Pembuatan batch DKE Pembayaran dilakukan melalui SPK atau sistem internal Peserta. 2) Pembuatan batch DKE Pembayaran oleh Peserta mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. c. Hal-hal...

119 119 c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan DKE Pembayaran dan batch DKE Pembayaran 1) Pengisian field kode transaksi pada DKE Pembayaran wajib mengacu pada kode transaksi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.9. 2) Field kode kota asal wajib diisi dengan kode kota kantor Peserta yang menerima perintah transfer dana dari nasabah. 3) 1 (satu) batch DKE Pembayaran paling banyak berisi 10 (sepuluh) DKE Pembayaran atau 1 (satu) batch DKE Pembayaran memiliki nilai nominal paling banyak Rp ,00 (lima ratus miliar rupiah). 4) Dalam 1 (satu) DKE Pembayaran paling banyak berisi 100 (seratus) rincian transaksi. d. Pengiriman batch DKE Pembayaran ke SSK Batch DKE Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam huruf b dikirim ke SSK dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Pengiriman batch DKE Pembayaran oleh Peserta diatur sebagai berikut: a) Pengiriman batch DKE Pembayaran oleh Peserta dilakukan melalui SPK. b) Batch DKE Pembayaran yang dikirim oleh PLU dapat berupa: (1) batch DKE Pembayaran milik PLU yang bersangkutan; dan/atau (2) batch DKE Pembayaran milik PTL dalam hal PLU berfungsi sebagai Bank Penerus. c) Batch DKE Pembayaran yang dikirim oleh PLA hanya milik PLA yang bersangkutan. 2) Pengiriman batch DKE Pembayaran dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Pembayaran yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 3) Dalam...

120 120 3) Dalam hal terjadi kegagalan pengiriman batch DKE Pembayaran maka Peserta dapat mengirimkan kembali batch DKE Pembayaran sepanjang periode waktu pengiriman batch DKE Pembayaran belum berakhir. 4) Atas pengiriman batch DKE Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam angka 1), SSK akan mengirimkan konfirmasi status pengiriman batch DKE Pembayaran ke SPK. 2. Mekanisme Perhitungan dalam Layanan Pembayaran Reguler a. Selama periode waktu kegiatan pengiriman DKE Pembayaran, SSK melakukan perhitungan setiap batch DKE Pembayaran yang diterima dengan memperhatikan kecukupan dana yang dimiliki oleh Peserta. b. Dana yang dimiliki oleh Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a bersumber dari: 1) dana tunai (cash Prefund) yang disediakan dalam Prefund Kredit; dan 2) confirmed incoming DKE Pembayaran, yaitu DKE Pembayaran masuk dari Peserta lainnya yang telah didukung dengan dana yang dimiliki oleh Peserta lain tersebut. c. DKE Pembayaran yang dikirim oleh Peserta dan didukung dengan dana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dinyatakan sebagai confirmed outgoing DKE Pembayaran. 3. Informasi Perhitungan Layanan Pembayaran Reguler a. Penyelenggara menyediakan informasi hasil perhitungan Layanan Pembayaran Reguler sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a yang dapat diperoleh Peserta melalui SPK secara seketika. b. Dalam hal PLU berfungsi sebagai Bank Penerus maka informasi hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam huruf a mencakup hasil perhitungan PLU dan PTL. c. Apabila...

121 121 c. Apabila berdasarkan informasi sebagaimana dimaksud dalam huruf a masih terdapat DKE Pembayaran yang belum dapat diperhitungkan (unconfirmed DKE Pembayaran) karena belum didukung dengan dana yang cukup maka Peserta wajib menambah Prefund Kredit sampai batas waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara. Tata cara penambahan Prefund Kredit sebagaimana dimaksud dalam butir V.D Setelmen Hasil Perhitungan Akhir dalam Layanan Pembayaran Reguler a. Setelah batas waktu penambahan Prefund Kredit berakhir, Penyelenggara melakukan perhitungan akhir untuk masing-masing Peserta. b. Dalam hal setelah berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf a Peserta masih memiliki unconfirmed DKE Pembayaran maka mekanisme penyelesaiannya mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 5. c. Dalam hal PLU berfungsi sebagai Bank Penerus maka hasil perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a mencakup hasil perhitungan akhir PLU dan PTL. d. Penyelenggara melakukan Setelmen Dana atas hasil perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a ke Rekening Setelmen Dana PLU dan/atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar sebesar nilai hasil perhitungan akhir Layanan Pembayaran Reguler. 5. Penyelesaian Unconfirmed DKE Pembayaran Reguler a. Dalam hal terdapat unconfirmed DKE Pembayaran pada periode pertama maka unconfirmed DKE Pembayaran tersebut tidak secara otomatis akan diteruskan ke periode selanjutnya. Peserta harus mengirimkan kembali unconfirmed DKE Pembayaran tersebut pada periode kedua. b. Dalam...

122 122 b. Dalam hal terdapat unconfirmed DKE Pembayaran pada periode kedua maka Peserta harus mengirimkan kembali unconfirmed DKE Pembayaran tersebut pada hari kerja berikutnya. c. Dalam hal penyelesaian unconfirmed DKE Pembayaran sebagaimana dimaksud dalam huruf b dilakukan pada hari kerja berikutnya, berlaku ketentuan sebagai berikut: 1) Peserta pengirim melaporkan hasil penyelesaian unconfirmed DKE Pembayaran kepada Penyelenggara paling lama 2 (dua) hari kerja sejak tanggal penyelesaian, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.10. 2) Peserta pengirim memberikan kompensasi, jasa, dan/atau bunga kepada nasabah dengan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan kepada nasabah pengguna SKNBI. 6. Penerusan Dana kepada Nasabah Penerima Peserta penerima wajib meneruskan dana kepada nasabah penerima sesuai amanat dalam DKE Pembayaran yang diterima dari Peserta pengirim, sesuai batas waktu yang ditentukan dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI. IX. LAYANAN PENAGIHAN REGULER A. Prinsip Umum 1. Dalam 1 (satu) hari operasional, Layanan Penagihan Reguler dilakukan dalam 1 (satu) periode sesuai dengan jam layanan yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Layanan Penagihan Reguler terdiri atas Penyerahan Tagihan dan Pengembalian Tagihan yang merupakan satu kesatuan siklus Layanan Penagihan Reguler. 3. Transfer...

123 Transfer debit yang dapat diperhitungkan dalam Layanan Penagihan Reguler adalah transfer debit berupa tagihan rutin dari 1 (satu) nasabah di Peserta penagih untuk mendebit beberapa rekening nasabah di Peserta tertagih. 4. Dalam melaksanakan transfer debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3, harus dilakukan berdasarkan: a. perjanjian Peserta penagih dengan nasabah penagih untuk meneruskan DKE Penagihan kepada Peserta tertagih; dan b. standing instruction dari nasabah tertagih kepada Peserta tertagih untuk melakukan pendebitan rekening dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.13, yang dibuat sebanyak 3 (tiga) rangkap untuk kepentingan sebagai berikut: 1) 1 (satu) lembar asli untuk Peserta tertagih, sebagai kuasa pendebitan rekening nasabah tertagih; dan 2) 2 (dua) lembar salinan masing-masing untuk nasabah tertagih dan nasabah penagih. 5. Standing instruction sebagaimana dimaksud dalam butir 4.b harus memuat nomor referensi standing instruction yang terdiri dari paling banyak 35 (tiga puluh lima) digit diawali dengan 4 (empat) digit pertama kode Peserta tertagih. 6. Seluruh Peserta harus menerima dan memproses permintaan dari nasabah tertagih untuk melaksanakan transfer debit sebagaimana dimaksud dalam angka Nilai nominal transfer debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dibatasi paling banyak Rp ,00 (lima ratus juta rupiah) per rincian transaksi. 8. Transfer debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3 diproses pada Layanan Penagihan Reguler dalam bentuk DKE Penagihan yang dihasilkan dari SPK. 9. DKE Penagihan yang telah diterima oleh Penyelenggara tidak dapat diubah atau dibatalkan oleh Peserta. 10. Perhitungan...

124 Perhitungan Layanan Penagihan Reguler dilakukan berdasarkan DKE Penagihan yang didukung dengan dana yang cukup. 11. Setelmen Dana atas perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 9 dilakukan ke Rekening Setelmen Dana masing-masing Peserta. 12. Setelmen Dana sebagaimana dimaksud dalam angka 10 dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) hari operasional. B. Operasional Layanan Penagihan Reguler 1. Pembuatan dan Pengiriman DKE Penagihan dan Batch DKE Penagihan a. Penyerahan Tagihan 1) Pembuatan DKE Penagihan a) Pembuatan DKE Penagihan dilakukan oleh Peserta dengan cara sebagai berikut: (1) input DKE Penagihan secara manual melalui SPK; atau (2) interface DKE Penagihandengan cara: (a) import file dari media rekam elektronik ke SPK; atau (b) Straight Through Processing (STP) dari sistem internal Peserta ke SPK. b) Pembuatan DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 2) Pembuatan batch DKE Penagihan a) Pembuatan batch DKE Penagihan dilakukan melalui SPK atau sistem internal Peserta. b) Pembuatan batch DKE Penagihan oleh Peserta harus memenuhi persyaratan sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 3) Pengiriman batch DKE Penagihan ke SSK Batch DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam angka 2) dikirim ke SSK dengan ketentuan sebagai berikut: a) Pengiriman...

125 125 a) Pengiriman batch DKE Penagihan ke SSK dilakukan melalui SPK. b) Pengiriman batch DKE Penagihan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Penagihan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. c) Dalam hal terjadi kegagalan pengiriman batch DKE Penagihan maka Peserta dapat mengirimkan kembali batch DKE Penagihan tersebut sepanjang periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Penagihan belum berakhir. d) Atas pengiriman batch DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam huruf a), SSK akan mengirimkan konfirmasi status pengiriman batch DKE Penagihan ke SPK. b. Pengembalian Tagihan 1) Proses Verifikasi a) Peserta melakukan verifikasi terhadap DKE Penagihan yang diterima dari SSK pada Penyerahan Tagihan. b) Dalam hal terdapat DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) yang harus dikembalikan maka pengembalian DKE Penagihan tersebut dilakukan melalui Pengembalian Tagihan sesuai dengan alasan penolakan DKE Penagihan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II.14. 2) Pembuatan DKE Penagihan a) Pembuatan DKE Penagihan pada Pengembalian Tagihan sebagaimana dimaksud dalam butir 1)b) dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) input DKE Penagihan secara manual melalui SPK; atau (2) interface...

126 126 (2) interface DKE Penagihan dengan cara: (a) import file dari media rekam elektronik ke SPK; atau (b) Straight Through Processing (STP) dari sistem internal Peserta ke SPK. b) Pembuatan DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) disertai alasan penolakan dengan mengacu pada buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 3) Pembuatan batch DKE Penagihan a) Pembuatan batch DKE Penagihan dilakukan melalui SPK atau sistem internal Peserta. b) Pembuatan batch DKE Penagihan oleh Peserta harus memenuhi persyaratan sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 4) Pengiriman batch DKE Penagihan ke SSK Batch DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam angka 3) dikirim ke SSK dengan ketentuan sebagai berikut: a) Pengiriman batch DKE Penagihan ke SSK dilakukan melalui SPK. b) Pengiriman batch DKE Penagihan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Penagihan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. c) Dalam hal terjadi kegagalan pengiriman batch DKE Penagihan maka Peserta dapat mengirimkan kembali batch DKE Penagihan tersebut sepanjang periode waktu kegiatan pengiriman batch DKE Penagihan belum berakhir. d) Atas pengiriman batch DKE Penagihan sebagaimana dimaksud dalam huruf a), SSK akan mengirimkan konfirmasi status pengiriman batch DKE Penagihan ke SPK. 2. Mekanisme...

127 Mekanisme Perhitungan dalam Layanan Penagihan Reguler a. Setelah jam Layanan Penagihan Reguler berakhir, Penyelenggara melakukan perhitungan Layanan Penagihan Reguler dengan memperhatikan kecukupan dana yang dimiliki oleh masing-masing Peserta. b. Perhitungan Layanan Penagihan Reguler sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Melakukan perhitungan tagihan atas DKE Penagihan outgoing pada Penyerahan Tagihan dengan DKE Penagihan incoming pada Pengembalian Tagihan untuk masing-masing Peserta pengirim. 2) Melakukan perhitungan kewajiban atas DKE Penagihan incoming pada Penyerahan Tagihan dari Peserta lain dengan DKE Penagihan outgoing pada Pengembalian Tagihan yang dikirim oleh Peserta yang bersangkutan. 3) Melakukan netting antara hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dengan hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 2). c. Hasil perhitungan sebagaimana dimaksud dalam butir b.3) dapat berupa: 1) net kredit yaitu apabila total tagihan lebih besar dari total kewajiban Peserta; 2) net nihil yaitu apabila total tagihan sama dengan total kewajiban Peserta; atau 3) net debit yaitu apabila total tagihan lebih kecil dari total kewajiban Peserta. d. Dalam hal hasil perhitungan kliring menunjukkan net kredit sebagaimana dimaksud dalam butir c.1) atau net nihil sebagaimana dimaksud dalam butir c.2), seluruh DKE Penagihan yang diterima dinyatakan sebagai confirmed incoming DKE Penagihan. e. Dalam hal hasil perhitungan kliring menunjukkan net debit sebagaimana dimaksud dalam butir c.3), dilakukan...

128 128 dilakukan perhitungan terhadap dana pada Prefund Debit, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) DKE Penagihan yang diterima oleh Peserta dan didukung dengan dana yang cukup dinyatakan sebagai confirmed incoming DKE Penagihan. 2) Dalam hal DKE Penagihan yang diterima oleh Peserta tidak didukung dengan dana yang cukup, dinyatakan sebagai unconfirmed incoming DKE Penagihan dan dikeluarkan dari perhitungan Layanan Penagihan Reguler. 3. Informasi Perhitungan Layanan Penagihan Reguler a. Penyelenggara menyediakan informasi hasil perhitungan Layanan Penagihan Reguler sebagaimana dimaksud dalam butir 2.c yang dapat diperoleh Peserta melalui SPK sesuai periode waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara. b. Apabila berdasarkan informasi sebagaimana dimaksud dalam huruf a ketersediaan dana Prefund Debit tidak mencukupi untuk menyelesaikan perhitungan net debit maka Peserta wajib menambah Prefund Debit sampai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara dengan mengacu pada ketentuan mengenai penambahan Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam butir V.D Setelmen Dana Hasil Perhitungan Akhir dalam Layanan Penagihan Reguler a. Setelah batas waktu penambahan Prefund Debit berakhir, Penyelenggara melakukan perhitungan akhir untuk masing-masing Peserta. b. Dalam hal Peserta tidak melakukan penambahan Prefund Debit sampai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh Penyelenggara maka DKE Penagihan yang tidak didukung dengan Prefund Debit yang cukup (unconfirmed DKE Penagihan) tidak diperhitungkan dan selanjutnya dibatalkan oleh SSK. c. Penyelenggara...

129 129 c. Penyelenggara melakukan Setelmen Dana atas perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a ke Rekening Setelmen Dana masing-masing Peserta dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Apabila hasil perhitungan akhir menunjukkan net kredit maka Setelmen Dana dilakukan dengan mengkredit Rekening Setelmen Dana Peserta sebesar total nilai net kredit. 2) Apabila hasil perhitungan akhir menunjukkan net nihil maka Setelmen Dana dilakukan dengan mengkredit Rekening Setelmen Dana Peserta sebesar nilai net nihil. 3) Apabila hasil perhitungan akhir menunjukkan net debit maka penyelesaian atas net debit tersebut dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a) Posisi net debit akan mengurangi saldo dana tunai (cash Prefund). b) Dalam hal hasil pengurangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) menunjukkan selisih negatif maka Setelmen Dana dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta yang bersangkutan sebesar selisih negatif tersebut. (2) Dalam hal Rekening Setelmen Dana Peserta yang bersangkutan sebagaimana pada angka (1) tidak mencukupi untuk menutup selisih negatif tersebut maka kekurangan dari selisih negatif yang telah diperhitungkan dengan dana pada Rekening Setelmen Peserta, dipenuhi dengan surat berharga (collateral Prefund). Mekanisme penggunaan surat berharga (collateral Prefund) mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai fasilitas likuiditas intrahari. d. Pelaksanaan...

130 130 d. Pelaksanaan Setelmen Dana pada perhitungan akhir sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan apabila Prefund Debit setiap Peserta telah dapat menutup kewajiban atas hasil perhitungan masingmasing Peserta. 5. Penyelesaian Unconfirmed DKE Penagihan pada Layanan Penagihan Reguler a. Unconfirmed DKE Penagihan merupakan DKE Penagihan yang tidak diperhitungkan karena tidak didukung dengan dana yang cukup dari Peserta Penerima. b. Peserta pengirim yang menerima unconfirmed DKE Penagihan harus menyelesaikan kewajiban pembayaran sepanjang transfer debit memenuhi persyaratan untuk dilakukan pembayaran dan tersedia dana nasabah penarik yang cukup pada Peserta penerima. c. Peserta penerima sebagaimana dimaksud dalam huruf a harus melaporkan tindak lanjut dan hasil penyelesaian unconfirmed DKE Penagihan kepada Penyelenggara paling lama 2 (dua) hari kerja sejak tanggal penyelesaian unconfirmed DKE Penagihan, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.10, serta memperhatikan ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI 6. Penerusan Dana kepada Nasabah Penerima Peserta pengirim wajib meneruskan dana kepada nasabah penerima sesuai amanat dalam DKE Penagihan, dengan mengacu pada batas waktu yang ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI. 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan DKE Penagihan dan batch DKE Penagihan a. Pengisian field kode transaksi pada DKE Penagihan wajib mengacu pada kode transaksi sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.9. b. Field...

131 131 b. Field kode kota asal wajib diisi dengan kode kota kantor Peserta yang menerima perintah transfer debit dari nasabah. c. 1 (satu) batch DKE Penagihan paling banyak berisi 10 (sepuluh) DKE Penagihan atau 1 (satu) batch DKE Penagihan memiliki nilai nominal paling banyak Rp ,00 (lima ratus miliar rupiah). d. Dalam 1 (satu) DKE Penagihan paling banyak berisi 100 (seratus) transaksi. X. PENYEDIAAN INFORMASI DALAM PENYELENGGARAAN SKNBI A. Data Individual Penyelengggaraan SKNBI 1. Penyelenggara menyediakan data hasil proses dalam penyelenggaraan SKNBI yang dapat diakses oleh masingmasing Peserta. 2. Data hasil proses dalam penyelenggaraan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam angka 1 yang disediakan oleh Penyelenggara adalah data hasil proses 90 (sembilan puluh) hari kalender terakhir. 3. Data sebagaimana dimaksud dalam angka 1, terdiri atas data hasil proses pada: a. Layanan Transfer Dana; b. Layanan Kliring Warkat Debit; c. Layanan Pembayaran Reguler; dan d. Layanan Penagihan Reguler. 4. Data hasil proses sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dapat diperoleh Peserta dengan cara download dari SSK yang meliputi: a. DKE confirmed outgoing; b. DKE confirmed incoming; c. DKE incoming; d. DKE outgoing; e. DKE yang di-reject oleh SSK; f. status pengiriman DKE; dan g. laporan-laporan hasil perhitungan DKE, dilakukan sesuai jam layanan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5. B. Data...

132 132 B. Data Hasil Perhitungan secara Agregat 1. Penyelenggara menyediakan fasilitas data hasil perhitungan setiap layanan SKNBI secara agregat. 2. Data hasil perhitungan dalam layanan SKNBI secara agregat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 yang disediakan oleh Penyelenggara adalah data hasil perhitungan 90 (sembilan puluh) hari kalender terakhir. 3. Peserta yang akan menggunakan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam angka 1 harus mengajukan permohonan kepada Penyelenggara dengan mekanisme sebagai berikut: a. Peserta mengajukan surat permohonan yang ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang mempunyai spesimen tanda tangan di Penyelenggara dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.15. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditujukan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. 4. Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 3, Penyelenggara memberikan tanggapan atas permohonan Peserta secara tertulis paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak surat permohonan diterima secara lengkap. 5. Dalam hal Peserta akan mengakhiri penggunaan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam angka 1, Peserta harus mengajukan permohonan penghentian penggunaan fasilitas tersebut kepada Penyelenggara dengan mengacu pada mekanisme sebagaimana dimaksud dalam angka 3. XI. WARKAT DEBIT DAN DOKUMEN KLIRING A. Warkat Debit 1. Jenis Warkat Debit Jenis Warkat Debit yang dapat diperhitungkan dalam Layanan Kliring Warkat Debit terdiri atas: a. cek...

133 133 a. cek sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang ditarik baik atas beban nasabah Peserta atau atas beban Peserta; b. bilyet giro sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai bilyet giro; c. nota debit yaitu Warkat Debit yang digunakan untuk menagih dana pada Peserta lain untuk untung nasabah Peserta atau Peserta yang menyampaikan Nota Debit tersebut; dan d. Warkat Debit lainnya yang disetujui oleh Penyelenggara untuk dikliringkan. 2. Spesifikasi teknis Warkat Debit Jenis Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1 wajib memenuhi spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.16. B. Dokumen Kliring 1. Dokumen kliring merupakan dokumen yang berfungsi sebagai alat kontrol dalam pelaksanaan pertukaran Warkat Debit. 2. Dokumen kliring sebagaimana dimaksud dalam angka 1 terdiri atas: a. Jenis dokumen kliring di Wilayah Kliring Otomasi: 1) BPWD Kliring Penyerahan; 2) BPWD Kliring Pengembalian; dan 3) kartu batch. b. Jenis dokumen kliring di Wilayah Kliring Manual: a) RWD Kliring Penyerahan; dan b) RWD Kliring Pengembalian. 3. Spesifikasi teknis dokumen kliring adalah sebagai berikut: a. Dokumen kliring sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a wajib memenuhi spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.17. b. Dokumen kliring sebagaimana dimaksud dalam butir 2.b harus menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.18. C. Prosedur...

134 134 C. Prosedur Permohonan Pencetakan Warkat Debit dan/atau Dokumen Kliring 1. Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam butir A.1 wajib dicetak di perusahaan percetakan dokumen sekuriti yang telah memperoleh izin dari otoritas atau lembaga yang berwenang. 2. Dokumen kliring sebagaimana dimaksud dalam butir B.2.a dapat dicetak di perusahaan percetakan dokumen sekuriti yang telah memperoleh izin dari lembaga yang berwenang. 3. Sebelum melakukan pencetakan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring, Peserta mengajukan surat permohonan pencetakan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.19, ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a atau KPwDN yang mewilayahi. 4. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 3 dilampiri dengan: a. fotokopi surat keterangan dari lembaga atau instansi yang berwenang yang menyatakan bahwa kertas yang digunakan dalam Warkat Debit telah sesuai dengan spesifikasi teknis Warkat Debit; b. surat pernyataan dari perusahaan percetakan dokumen sekuriti yang telah memperoleh izin dari lembaga atau instansi yang berwenang dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.20; dan c. spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring masing-masing sebanyak 100 (seratus) lembar dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Seluruh spesimen harus memenuhi ketentuan spesifikasi teknis Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.16 dan dokumen kliring sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.17. 2) Seluruh...

135 135 2) Seluruh spesimen harus dibubuhi tambahan tulisan spesimen, speciment, cetak coba atau tulisan lain yang semakna, dengan ukuran tulisan yang relatif besar dan menggunakan warna yang terang atau jelas. Tulisan tersebut ditulis pada bagian depan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring, sehingga mudah dibedakan dengan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring yang bukan merupakan spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring. 3) Seluruh lembar spesimen Warkat Debit harus telah dipisahkan dari lembar pertinggal. 4) Apabila spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring akan digunakan oleh Peserta di Wilayah Kliring Otomasi maka: a) pada bagian depan dari 5 (lima) lembar spesimen Warkat Debit dapat ditambahkan informasi dummy dalam bentuk tulisan yang antara lain mencakup nama penerima, jumlah nominal dalam angka dan huruf, tempat dan tanggal penerbitan atau penarikan, tanda tangan serta nama jelas penandatangan untuk dilakukan uji perekaman data spesimen Warkat Debit dalam bentuk salinan (image); b) pada clear band spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring harus dibubuhi informasi Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line guna dilakukan pengujian oleh Penyelenggara; dan c) pencantuman informasi Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line sebagaimana dimaksud dalam huruf b) harus sesuai dengan tata cara pencantuman Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Spesimen...

136 Spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring yang telah diisi informasi Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.21 harus memenuhi syarat pengujian, sebagai berikut: a. tingkat penolakan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring paling tinggi sampai dengan 2% (dua persen); dan b. salinan (image) spesimen Warkat Debit yang telah diambil rekaman gambarnya menunjukkan hasil yang baik yaitu tulisan pada salinan (image) Warkat Debet dapat terlihat cukup jelas. 6. Atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 3, Penyelenggara atau KPwDN memberikan persetujuan atau penolakan kepada Peserta paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak surat permohonan diterima secara lengkap dan benar. 7. Penolakan sebagaimana dimaksud dalam angka 6 dilakukan antara lain apabila hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam angka Dalam hal terdapat perubahan nama Peserta yang mengakibatkan perubahan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring, permohonan pencetakan Warkat Debit dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Peserta yang berubah nama karena penggabungan atau peleburan harus mengajukan surat permohonan persetujuan pencetakan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring dengan nama Peserta yang baru sebelum Warkat Debit dan/atau dokumen kliring lama diperkirakan habis, sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 sampai dengan angka 5. b. Warkat Debit dan/atau dokumen kliring dengan nama Peserta yang lama masih dapat dipergunakan dalam penyelenggaraan SKNBI sampai dengan persediaan Warkat Debit dan/atau dokumen kliring yang lama habis, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) memperhatikan...

137 137 1) memperhatikan aspek risiko keamanan dan risiko reputasi (corporate image) serta aspek kepercayaan nasabah terkait rencana penggunaan Warkat Debit; 2) mencoret nama Peserta yang lama pada Warkat Debit dan/atau dokumen kliring dan menambahkan nama Peserta yang baru dengan menggunakan ketikan, stempel, atau dengan cara sejenis lainnya; 3) khusus untuk perubahan nama Peserta yang diikuti dengan perubahan sandi kliring maka sandi kliring lama dalam bentuk MICR code line untuk Warkat Debit yang akan dikliringkan di Wilayah Pertukaran Otomasi harus disesuaikan menjadi sandi kliring yang baru dengan menggunakan stiker paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal efektif perubahan nama yang dikeluarkan oleh Penyelenggara; dan 4) untuk Warkat Debit berupa cek, bilyet giro, dan/atau Warkat Debit lainnya, antara lain voucher perjalanan (traveller s cheque), voucher cinderamata (gift cheque), dengan nama Peserta lama yang telah beredar di masyarakat dan perubahan nama Peserta tersebut diikuti pula dengan perubahan sandi kliring maka Peserta penerima yang bermaksud melakukan penagihan cek, bilyet giro, dan/atau Warkat Debit lainnya dalam Layanan Kliring Warkat Debit harus menyesuaikan sandi kliring lama menjadi sandi kliring baru dengan menggunakan stiker. D. Tata Cara Penulisan Warkat Debit Dalam penulisan Warkat Debit perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Nilai nominal Warkat Debit dinyatakan dalam mata uang Rupiah. 2. Pencantuman...

138 Pencantuman nilai nominal Warkat Debit dalam mata uang Rupiah ditulis secara lengkap dengan angka dan huruf dalam Bahasa Indonesia dan apabila diperlukan, dapat ditambahkan padanan katanya dalam Bahasa Inggris. 3. Penulisan nilai nominal dalam angka dan huruf serta pengisian redaksional Warkat Debit dilakukan dengan menggunakan huruf latin, kecuali untuk tanda tangan. 4. Penulisan dan/atau penandatanganan cek, bilyet giro, dan/atau Warkat Debit lainnya hendaknya menggunakan alat tulis atau sarana yang: a. tidak menyebabkan kerusakan dan/atau menyebabkan tulisan dalam cek, bilyet giro, dan/atau Warkat Debit lainnya sulit terbaca dengan jelas; dan/atau b. tidak mudah diubah. 5. Tambahan penulisan nilai nominal dengan peralatan apapun yang dimaksudkan untuk memperjelas nilai nominal, baik dalam angka dan huruf, misalnya dengan menggunakan peralatan tertentu seperti cheque-writer (protectograph) dianggap tidak ada, karena hasilnya dapat menimbulkan bermacam-macam penafsiran. 6. Penulisan cek, bilyet giro, dan Warkat Debit lainnya disarankan untuk tidak diperjelas dengan menggunakan fluorescent pen karena akan menimbulkan kesulitan untuk mendeteksi perubahan penulisan. Di samping itu, penggunaan alat tersebut pada angka nominal dapat menimbulkan cahaya sehingga akan menyulitkan penelitian dalam hal terjadi perubahan nilai nominal. Dalam hal masih terdapat Warkat Debit yang menggunakan fluorescent pen maka sebelum Peserta melakukan pembayaran hendaknya terlebih dahulu menghubungi nasabah yang bersangkutan untuk konfirmasi. XII. PERTUKARAN...

139 139 XII. PERTUKARAN WARKAT DEBIT A. Prinsip Umum 1. Koordinator PWD menetapkan jadwal pertukaran Warkat Debit dengan mengacu pada rentang waktu jadwal pertukaran Warkat Debit yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Jadwal pertukaran Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan. 3. Pertukaran Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dilakukan secara otomasi atau manual. 4. Warkat Debit yang dipertukarkan di Wilayah Kliring Otomasi wajib mencantumkan Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Peserta harus menunjuk salah satu kantor Peserta di Wilayah Kliring sebagai Perwakilan Peserta. 6. Dalam rangka pertukaran Warkat Debit, Perwakilan Peserta harus menunjuk petugas kliring untuk melakukan kegiatan penyerahan, penerimaan, dan/atau pengambilan Warkat Debit pada Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian. 7. Petugas kliring sebagaimana dimaksud dalam angka 5 dapat merupakan petugas internal Perwakilan Peserta atau petugas perusahaan jasa kurir yang diberi kuasa atau wewenang tertentu. 8. Perusahaan jasa kurir sebagaimana dimaksud dalam angka 6 harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. B. Tanggungjawab Koordinator PWD 1. Menyusun Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) mengenai pelaksanaan pertukaran Warkat Debit Dalam rangka menjaga kelancaran pelaksanaan pertukaran Warkat Debit, Koordinator PWD melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Koordinator...

140 140 a. Koordinator PWD harus menyusun Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) mengenai pelaksanaan pertukaran Warkat Debit dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) merupakan aturan tertulis yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di internal Koordinator PWD dan berlaku sebagai pedoman dalam kegiatan pertukaran Warkat Debit. 2) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) dibuat paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal efektif sebagai Koordinator PWD. 3) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) dibuat dalam Bahasa Indonesia, dengan mengacu pada ketentuan mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal paling kurang memuat materi sebagai berikut: a) pendahuluan; b) organisasi Koordinator PWD; c) pengelolaan administrasi Perwakilan Peserta; d) prosedur pertukaran Warkat Debit; e) penanganan Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat. Rincian cakupan minimum materi Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) diatur dalam Pedoman Penyusunan Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) Pertukaran Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.22. b. Dalam hal terjadi perubahan ketentuan yang dikeluarkan oleh Penyelenggara yang berdampak pada materi Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT), Koordinator PWD harus melakukan pengkinian Kebijakan dan Prosedur Tertulis (KPT) paling lama 6 (enam) bulan sejak terjadinya perubahan materi dan ketentuan tersebut. 2. Menyediakan...

141 Menyediakan sarana dan prasarana dalam rangka pertukaran Warkat Debit Dalam rangka penyediaan sarana dan prasarana pertukaran Warkat Debit, Koordinator PWD menyediakan fasilitas pertukaran warkat sebagai berikut: a. Untuk Wilayah Kliring Otomasi paling kurang: 1) mesin penera waktu; 2) telepon; 3) sarana penerimaan Warkat Debit; 4) sistem pilah Warkat Debit; dan 5) sarana pengarsipan. b. Untuk Wilayah Kliring Manual paling kurang: 1) mesin penera waktu; 2) telepon; 3) ruangan dan fasilitas pendukung untuk pelaksanaan pertukaran Warkat Debit, antara lain berupa meja dan kursi; 4) daftar hadir; dan 5) sarana pengarsipan. 3. Menjaga kelancaran pelaksanaan pertukaran Warkat Debit Dalam menjaga kelancaran pelaksanaan pertukaran Warkat Debit, Koordinator PWD melakukan antara lain hal-hal sebagai berikut: a. Koordinator PWD di Wilayah Kliring Otomasi: 1) menyelenggarakan pertukaran Warkat Debit sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Koordinator PWD; 2) melakukan upaya untuk menjamin kehandalan sistem penerimaan Warkat Debit dan sistem pilah Warkat Debit; dan 3) menetapkan langkah yang harus dilakukan apabila terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat dengan sejauh mungkin menghindari alternatif penghentian pelaksanaan pertukaran Warkat Debit. b. Koordinator...

142 142 b. Koordinator PWD di Wilayah Kliring Manual: 1) memantau pelaksanaan pertukaran Warkat Debit; 2) memastikan pelaksanaan pertukaran Warkat Debit dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Koordinator PWD; dan 3) menetapkan langkah yang harus dilakukan apabila terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat dengan sejauh mungkin menghindari alternatif penghentian pelaksanaan pertukaran Warkat Debit. 4. Mengelola administrasi kepesertaan pertukaran Warkat Debit Dalam rangka mengelola administrasi kepesertaan pertukaran Warkat Debit di Wilayah Kliring, Koordinator PWD melakukan antara lain hal-hal sebagai berikut: a. mengadministrasikan data Perwakilan Peserta dan petugas kliring; b. menginformasikan penambahan dan/atau perubahan data Perwakilan Peserta kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan; dan c. menyediakan TPPK tanpa foto atau TPPK dengan menggunakan foto sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir XII.I Menyediakan fasilitas penyelesaian permasalahan dalam proses Warkat Debit Koordinator PWD menyediakan fasilitas penyelesaian permasalahan dalam pelaksanaan pertukaran Warkat Debit bagi Perwakilan Peserta. 6. Menyediakan sarana kontinjensi pertukaran Warkat Debit pada saat terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat Koordinator PWD harus menyediakan sarana kontinjensi pertukaran Warkat Debit agar kegiatan pertukaran Warkat Debit tetap dapat dilaksanakan, antara lain lokasi back-up pertukaran Warkat Debit dan sistem cadangan pilah Warkat Debit. C. Pendaftaran...

143 143 C. Pendaftaran atau Perubahan Perwakilan Peserta 1. Pendaftaran Perwakilan Peserta a. Calon Perwakilan Peserta di suatu Wilayah Kliring mengajukan surat permohonan pendaftaran sebagai Perwakilan Peserta beserta tanggal efektif Perwakilan Peserta dan daftar petugas kliring dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.23. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh pimpinan atau pejabat yang berwenang mewakili calon Perwakilan Peserta dan disampaikan kepada: 1) Koordinator PWD di Wilayah Kliring Jakarta dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, bagi calon Perwakilan Peserta yang berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau 2) Koordinator PWD di Wilayah Kliring yang bersangkutan, bagi calon Perwakilan Peserta yang berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia. c. Berdasarkan surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Koordinator PWD melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) memberitahukan secara tertulis kepada Perwakilan Peserta yang bersangkutan mengenai: a) persetujuan sebagai Perwakilan Peserta; b) penyediaan stempel dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.1; dan c) waktu pengambilan TPPK, paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum tanggal efektif Perwakilan Peserta; dan 2) memberitahukan...

144 144 2) memberitahukan tanggal efektif Perwakilan Peserta paling lambat 1 (satu) hari kerja sebelum tanggal efektif kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan. d. Pengambilan TPPK dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Dalam hal pengambilan TPPK dilakukan oleh petugas internal Perwakilan Peserta maka petugas yang bersangkutan harus menunjukkan surat sebagaimana dimaksud dalam butir c.1). 2) Dalam hal pengambilan TPPK dilakukan oleh petugas jasa kurir maka petugas yang bersangkutan harus menunjukkan surat sebagaimana dimaksud dalam butir c.1) dan surat kuasa pengambilan TPPK dari Perwakilan Peserta. 2. Perubahan Perwakilan Peserta dan Petugas Kliring a. Peserta dapat melakukan perubahan Perwakilan Peserta dan/atau petugas kliring di suatu Wilayah Kliring karena pertimbangan internal Peserta. b. Dalam hal Peserta akan melakukan perubahan Perwakilan Peserta maka Perwakilan Peserta pengganti mengajukan surat permohonan perubahan Perwakilan Peserta beserta tanggal efektif perubahan Perwakilan Peserta kepada Koordinator PWD dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.24. c. Dalam hal perubahan Perwakilan Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf b berdampak terhadap perubahan petugas kliring maka surat permohonan dilengkapi dengan daftar petugas kliring pengganti. d. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf b ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang mewakili Perwakilan Peserta pengganti dan disampaikan kepada: 1) Koordinator...

145 145 1) Koordinator PWD di Wilayah Kliring Jakarta dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, bagi Perwakilan Peserta yang berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau 2) Koordinator PWD di Wilayah Kliring yang bersangkutan, bagi Perwakilan Peserta yang berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia. e. Berdasarkan surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf c, Koordinator PWD melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) memberitahukan secara tertulis kepada Perwakilan Peserta pengganti mengenai: a) persetujuan perubahan Perwakilan Peserta; b) penyediaan stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan dengan mengacu pada Lampiran II.1; dan c) waktu pengambilan TPPK, apabila perubahan Perwakilan Peserta dan/atau petugas kliring berdampak pada perubahan TPPK, paling lama 5 (lima) hari kerja sebelum tanggal efektif perubahan Perwakilan Peserta. 2) memberitahukan tanggal efektif perubahan Perwakilan Peserta paling lama 1 (satu) hari kerja sebelum tanggal efektif kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan. 3) memberikan TPPK kepada Perwakilan Peserta pengganti apabila perubahan Perwakilan Peserta tersebut berdampak pada perubahan TPPK sesuai dengan waktu pengambilan sebagaimana dimaksud dalam butir 1)c) dengan cara pengambilan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir 1.d. f. Dalam...

146 146 f. Dalam hal terdapat perubahan petugas kliring maka berlaku ketentuan sebagai berikut: 1) Perwakilan Peserta menyampaikan surat permohonan dengan mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, huruf c, dan huruf d. 2) Berdasarkan surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1), Koordinator PWD menginformasikan waktu pengambilan TPPK, apabila perubahan petugas kliring berdampak pada perubahan TPPK. g. TPPK baru akan diberikan apabila Perwakilan Peserta telah menyerahkan TPPK lama kepada Koordinator PWD. Dalam hal TPPK lama hilang maka Perwakilan Peserta harus membuat surat pernyataan kehilangan TPPK dan segala risiko menjadi tanggung jawab Peserta. D. Tata Cara Pertukaran Warkat Debit di Wilayah Kliring Otomasi 1. Kegiatan di Perwakilan Peserta Dalam rangka kegiatan pertukaran Warkat Debit, petugas di Perwakilan Peserta melakukan kegiatan sebagai berikut: a. mencantumkan informasi Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line pada Warkat Debit dan dokumen kliring dengan tata cara sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.21; b. membubuhkan stempel kliring pada setiap Warkat Debit dan dokumen kliring dengan ketentuan sebagai berikut: 1) stempel kliring tidak boleh mengenai clear band; 2) stempel kliring tidak boleh menutupi angka nominal; 3) dalam hal pada Warkat Debit telah terdapat stempel kliring maka stempel kliring yang terdahulu harus dibatalkan dengan stempel kliring dibatalkan dan diparaf oleh pejabat yang berwenang dari Perwakilan Peserta yang bersangkutan; dan 4) khusus...

147 147 4) khusus untuk zona 4, tanggal kliring yang dicantumkan dalam stempel kliring adalah tanggal DKE Warkat Debit diperhitungkan oleh Penyelenggara, dengan format stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.1; dan c. menyusun bundel Warkat Debit dengan urutan sebagai berikut: 1) BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian; 2) kartu batch; dan 3) Warkat Debit. Jumlah nominal dalam 1 (satu) bundel Warkat Debit paling banyak kurang dari Rp ,00 (satu triliun rupiah). 2. Kegiatan di Kantor Koordinator PWD Kegiatan pertukaran Warkat Debit di kantor Koordinator PWD dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Petugas kliring melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) mencantumkan waktu penyerahan bundel Warkat Debit pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian; dan 2) menyerahkan bundel Warkat Debit kepada petugas Koordinator PWD dengan menunjukkan TPPK. b. Petugas Koordinator PWD melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) memastikan adanya TPPK; 2) menerima bundel Warkat Debit dari petugas kliring; 3) memeriksa persyaratan kelengkapan informasi pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD- Kliring Pengembalian dan kartu batch, yang meliputi: a) pencantuman...

148 148 a) pencantuman waktu penyerahan bundel Warkat Debit sesuai dengan jadwal pertukaran Warkat Debit; b) pencantuman stempel kliring; c) pencantuman nama dan tanda tangan; dan d) pencocokan kode Peserta dengan kode Peserta yang terdapat pada TPPK. Pemeriksaan dilakukan hanya untuk memeriksa kelengkapan, bukan untuk memeriksa keabsahan informasi yang tercantum dalam BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian. Keabsahan informasi pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian termasuk kebenaran tanda tangan dan nama yang tercantum pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Perwakilan Peserta dan bukan merupakan tanggung jawab Koordinator PWD; 4) dalam hal persyaratan kelengkapan informasi pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD- Kliring Pengembalian sebagaimana dimaksud dalam angka 3) telah dipenuhi, melakukan halhal sebagai berikut: a) mengembalikan BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian yang telah disetujui secara otomasi oleh petugas Koordinator PWD kepada petugas kliring sebagai tanda terima bundel Warkat Debit; b) memilah Warkat Debit berdasarkan Peserta penerima secara otomasi; dan c) mendistribusikan Warkat Debit dan laporan hasil pilah Warkat Debit kepada petugas kliring sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Koordinator PWD; 5) dalam...

149 149 5) dalam hal persyaratan kelengkapan informasi pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD- Kliring Pengembalian sebagaimana dimaksud dalam angka 3) tidak dipenuhi, melakukan halhal sebagai berikut: a) membatalkan waktu penyerahan BPWD, dengan cara mencoret dan menuliskan alasan pembatalan serta membubuhkan paraf pada BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian; dan b) mengembalikan BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian dan bundel Warkat Debit kepada petugas kliring. c. Dalam hal proses persetujuan BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian secara otomasi tidak dapat dilakukan, Koordinator PWD melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) menginformasikan mekanisme penyerahan bundel Warkat Debit Kliring Penyerahan atau Kliring Pengembalian dengan menggunakan daftar bundel Warkat Debit yang diserahkan dalam Kliring Penyerahan atau Kliring Pengembalian sebagai pengganti BPWD-Kliring Penyerahan atau BPWD-Kliring Pengembalian; dan 2) membuat daftar bundel Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dalam rangkap 2 (dua) dengan mengacu pada format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.25. d. Dalam hal pada saat proses pemilahan Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam butir b.4)b) terdapat Warkat Debit reject yaitu Warkat Debit yang tidak dapat diproses secara otomasi, yang mencapai lebih dari 2% (dua persen), Koordinator PWD mengenakan biaya atas kelebihan Warkat Debit yang tidak dapat diproses. 3. Fasilitas...

150 Fasilitas yang disediakan oleh Koordinator PWD a. Fasilitas pengujian kualitas Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line 1) Dalam rangka menjaga kelancaran pertukaran Warkat Debit di Wilayah Kliring Otomasi, Koordinator PWD menyediakan fasilitas pengujian kualitas Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line pada Warkat Debit dan kartu batch. 2) Dalam hal Peserta akan memanfaatkan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam angka 1), Peserta mengajukan surat permohonan pemanfaatan fasilitas dimaksud kepada Koordinator PWD di Wilayah Kliring Otomasi. 3) Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 2) dilengkapi dengan spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring yang akan dilakukan pengujian masing-masing sebanyak 100 (seratus) lembar. 4) Koordinator PWD menyampaikan hasil pengujian atas spesimen Warkat Debit dan/atau dokumen kliring kepada Peserta paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. b. Fasilitas salinan Warkat Debit Koordinator PWD dapat menyediakan salinan Warkat Debit yang telah diproses secara otomasi dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Permintaan salinan Warkat Debit diajukan secara tertulis oleh pejabat Perwakilan Peserta yang berwenang dengan menyebutkan alasan permintaan dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.26. 2) Permintaan salinan Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dilakukan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak Warkat Debit tersebut dikliringkan. 3) Dalam...

151 151 3) Dalam hal salinan Warkat Debit tidak dapat diberikan akibat kerusakan pada mesin pilah Warkat Debit dan Peserta dapat membuktikan bahwa Warkat Debit tersebut telah diproses oleh Koordinator PWD maka Koordinator PWD memberikan surat keterangan bahwa Warkat Debit tersebut telah diproses sebagai pengganti salinan Warkat Debit. 4) Apabila salinan Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 3) digunakan sebagai dasar pembukuan rekening nasabah maka segala konsekuensi yang timbul atas pembukuan tersebut merupakan tanggung jawab Peserta. 5) Dalam hal Peserta penerima akan melakukan penolakan terhadap DKE Warkat Debit, namun Warkat Debit yang telah diproses secara otomasi dalam Kliring Penyerahan hilang sebelum Kliring Pengembalian maka Peserta penerima dapat menolak DKE Warkat Debit yang hilang tersebut melalui mekanisme Kliring Pengembalian dengan melampirkan salinan Warkat Debit dan surat keterangan hilang dari Peserta penerima yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dari Peserta penerima. E. Tata Cara Pertukaran Warkat Debit di Wilayah Kliring Manual 1. Kegiatan di Perwakilan Peserta Dalam rangka kegiatan pertukaran Warkat Debit, petugas di Perwakilan Peserta melakukan kegiatan sebagai berikut: a. memilah Warkat Debit berdasarkan Peserta penerima; b. menyiapkan RWD-Kliring Penyerahan atau RWD- Kliring Pengembalian sebanyak 2 (dua) rangkap yang dibubuhi stempel kliring dan tanda tangan serta nama petugas Perwakilan Peserta dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.18; c. membubuhkan...

152 152 c. membubuhkan stempel kliring pada setiap Warkat Debit dengan ketentuan sebagai berikut: 1) stempel kliring tidak boleh menutupi angka nominal; dan 2) dalam hal pada Warkat Debit telah terdapat stempel kliring maka stempel kliring yang terdahulu harus dibatalkan dengan stempel kliring dibatalkan dan diparaf oleh pejabat yang berwenang dari Perwakilan Peserta yang bersangkutan, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Kegiatan di Kantor Koordinator PWD Kegiatan pertukaran Warkat Debit di kantor Koordinator PWD dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Petugas kliring melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) mencantumkan waktu penyerahan pada RWD- Kliring Penyerahan atau RWD-Kliring Pengembalian; 2) menyerahkan kepada petugas kliring penerima: a) Warkat Debit; dan b) lembar pertama RWD-Kliring Penyerahan atau RWD-Kliring Pengembalian; 3) menerima dari petugas kliring pengirim: a) Warkat Debit; dan b) lembar kedua RWD-Kliring Penyerahan atau RWD-Kliring Pengembalian; 4) membubuhkan tanda tangan dan mencantumkan nama petugas kliring pada lembar pertama RWD- Kliring Penyerahan atau RWD-Kliring Pengembalian yang diterima dari petugas kliring lainnya dan mengembalikan kepada petugas kliring yang menyerahkan sebagai bukti penyerahan Warkat Debit. b. Petugas...

153 153 b. Petugas Koordinator PWD memantau dan memastikan pelaksanaan pertukaran Warkat Debit dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan. F. Kehadiran Petugas Kliring pada saat Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian 1. Pertukaran Warkat Debit di Wilayah Kliring Otomasi a. Pada saat Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian, petugas kliring harus hadir dan menyerahkan Warkat Debit kepada Koordinator PWD pada tempat dan jadwal yang telah ditetapkan. b. Dalam hal petugas kliring menyerahkan Warkat Debit setelah batas akhir jadwal pertukaran warkat yang telah ditetapkan Koordinator PWD maka: 1) petugas Koordinator PWD dapat menolak Warkat Debit yang diserahkan; dan 2) dalam hal Koordinator PWD menolak Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1), petugas kliring yang bersangkutan bertanggung jawab untuk mendistribusikan Warkat Debit yang terlambat tersebut kepada Perwakilan Peserta penerima. c. Petugas kliring harus menerima Warkat Debit sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Koordinator PWD. 2. Pertukaran Warkat Debit di Wilayah Kliring Manual a. Pada saat Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian, petugas kliring harus hadir dan menyerahkan dan/atau menerima Warkat Debit pada tempat dan jadwal yang telah ditetapkan oleh Koordinator PWD. b. Dalam hal petugas kliring hadir melewati batas akhir jadwal pertukaran warkat yang ditetapkan Koordinator PWD maka petugas kliring bertanggung jawab untuk menyerahkan Warkat Debit secara langsung kepada Perwakilan Peserta penerima. c. Petugas...

154 154 c. Petugas kliring dinyatakan tidak hadir apabila petugas kliring tidak datang pada tempat dan jadwal yang telah ditetapkan oleh Koordinator PWD sampai dengan 30 (tiga puluh) menit sejak batas akhir jadwal pertukaran Warkat Debit. d. Dalam hal petugas kliring tidak hadir atau dinyatakan tidak hadir sebagaimana dimaksud dalam huruf c maka petugas Koordinator PWD meminta petugas kliring pengirim untuk mengambil Warkat Debit yang sebelumnya akan diserahkan kepada petugas kliring yang tidak hadir. Segala risiko dan dampak akibat ketidakhadiran petugas kliring dimaksud menjadi tanggung jawab Perwakilan Peserta yang bersangkutan sepenuhnya. G. Perubahan Jadwal Pertukaran Warkat Debit 1. Perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring dapat dilakukan berdasarkan permintaan Perwakilan Peserta yang mengalami Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Wilayah Kliring. 2. Perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Perwakilan Peserta mengajukan permohonan perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit kepada Koordinator PWD yang disertai dengan alasan. b. Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Koordinator PWD menyetujui atau menolak permohonan perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit. c. Dalam hal permohonan perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit disetujui, Koordinator PWD melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) menginformasikan kepada Perwakilan Peserta yang bersangkutan secara tertulis mengenai persetujuan atas permohonan perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit; dan 2) mengumumkan...

155 155 2) mengumumkan kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring tersebut mengenai perubahan jadwal pertukaran Warkat Debit. d. Dalam hal permohonan Perwakilan Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a mencakup permohonan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit maka: 1) Koordinator PWD mengajukan permohonan perpanjangan jam Layanan Kliring Warkat Debit kepada Penyelenggara dengan melampirkan surat permohonan yang diajukan oleh Perwakilan Peserta. 2) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) disampaikan secara tertulis dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a yang penyampaiannya dapat didahului melalui faksimile atau sarana lainnya. 3) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) disetujui, Koordinator PWD mengumumkan perubahan jam Layanan Kliring Warkat Debit kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan. H. Penggunaan Perusahaan Jasa Kurir 1. Ruang lingkup kegiatan perusahaan jasa kurir Kegiatan Perwakilan Peserta yang dapat dilakukan oleh perusahaan jasa kurir meliputi kegiatan sebagai berikut: a. penyerahan bundel Warkat Debit kepada petugas Koordinator PWD pada Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian; b. penerimaan BPWD-Kliring Penyerahan dan/atau BPWD-Kliring Pengembalian dari petugas Koordinator PWD; c. penerimaan...

156 156 c. penerimaan Warkat Debit dan laporan hasil proses Warkat Debit pada Kliring Penyerahan dan Kliring Pengembalian dari petugas Koordinator PWD; d. penerimaan salinan Warkat Debit hasil Kliring Penyerahan dari petugas Koordinator PWD; dan/atau e. penerimaan surat pemberitahuan dan/atau surat yang bersifat tidak rahasia dari Koordinator PWD. 2. Persyaratan perusahaan jasa kurir Perusahaan jasa kurir yang dapat ditunjuk oleh Perwakilan Peserta harus berbentuk Perseroan Terbatas dan terdaftar di instansi yang berwenang sebagai perusahaan jasa kurir yang dibuktikan dengan Tanda Daftar Perusahaan yang masih berlaku. 3. Persyaratan penggunaan perusahaan jasa kurir a. Penggunaan perusahaan jasa kurir oleh Perwakilan Peserta harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) efisiensi, keamanan, dan kecepatan dalam penyampaian Warkat Debit dengan tidak mengurangi jam pelayanan kepada nasabah; 2) jumlah Perwakilan Peserta lain yang telah dilayani oleh perusahaan jasa kurir tersebut; dan 3) kredibilitas perusahaan jasa kurir serta pengurus perusahaan jasa kurir. b. Dalam hal Perwakilan Peserta menggunakan perusahaan jasa kurir maka kegiatan pertukaran Warkat Debit harus dilakukan oleh petugas jasa kurir kecuali terjadi Keadaan Darurat dan/atau kondisi tertentu berdasarkan pertimbangan Koordinator PWD, yang mengakibatkan perusahaan jasa kurir tidak dapat melakukan kewajibannya. c. Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, kegiatan pertukaran Warkat Debit dilakukan oleh petugas internal Perwakilan Peserta. d. Dalam...

157 157 d. Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud dalam huruf c, petugas internal Perwakilan Peserta menyampaikan surat pemberitahuan kepada Koordinator PWD. Surat pemberitahuan tersebut harus ditandatangani oleh pimpinan atau pejabat yang berwenang mewakili Perwakilan Peserta yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan dan nama petugas yang ditunjuk untuk melakukan kegiatan pertukaran Warkat Debit dan disampaikan paling lambat pada saat melakukan kegiatan pertukaran Warkat Debit dengan menunjukkan kartu identitas pegawai yang menggunakan foto. 4. Tata Cara Penggunaan Perusahaan Jasa Kurir a. Penggunaan perusahaan jasa kurir harus didasarkan pada perjanjian antara Peserta atau Perwakilan Peserta dengan perusahaan jasa kurir yang paling kurang memuat pengaturan mengenai hal-hal sebagai berikut: 1) Kewajiban petugas jasa kurir untuk mencocokkan: a) jumlah bundel Warkat Debit yang diserahkan kepada Koordinator PWD pada saat Kliring Penyerahan dengan jumlah Bukti BPWD- Kliring Penyerahan yang diterima dari Koordinator PWD; dan b) jumlah bundel Warkat Debit yang diserahkan kepada Koordinator PWD pada saat Kliring Pengembalian dengan jumlah BPWD-Kliring Pengembalian yang diterima dari Koordinator PWD. 2) Kewajiban perusahaan jasa kurir untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyalahgunaan ataupun kesalahan yang dapat merugikan Perwakilan Peserta, nasabah, maupun masyarakat luas baik secara langsung maupun tidak langsung. 3) Kewajiban...

158 158 3) Kewajiban perusahaan jasa kurir untuk memperhatikan aspek keamanan dalam penggunaan sarana yang dipakai dalam pengemasan bundel Warkat Debit dan laporan hasil proses pertukaran Warkat Debit. 4) Pemberian kuasa dari Perwakilan Peserta kepada perusahaan jasa kurir untuk melakukan penyerahan dan penerimaan dalam kegiatan pertukaran Warkat Debit. b. Penunjukan dan penggantian perusahaan jasa kurir wajib diberitahukan kepada Koordinator PWD paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum tanggal efektif penggunaan perusahaan jasa kurir oleh Perwakilan Peserta, dengan melampirkan fotokopi perjanjian sebagaimana dimaksud dalam huruf a. 5. Kewajiban Perwakilan Peserta dalam Penggunaan Perusahaan Jasa Kurir a. Sebelum bundel Warkat Debit diserahkan kepada petugas perusahaan jasa kurir, Perwakilan Peserta wajib mengisi informasi secara lengkap pada BPWD, kartu batch, dan Warkat Debit. b. Peserta bertanggung jawab penuh kepada Koordinator PWD terhadap segala akibat yang timbul dari setiap penyimpangan yang dilakukan oleh petugas perusahaan jasa kurir. c. Perwakilan Peserta melaporkan penyimpangan secara tertulis kepada Koordinator PWD dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh petugas jasa kurir sebagaimana dimaksud dalam huruf b beserta langkah penanganan yang telah dilakukan dan Perwakilan Peserta harus memberikan keterangan apabila diminta oleh Koordinator PWD. d. Perwakilan...

159 159 d. Perwakilan Peserta harus memberikan pengarahan dan pembinaan kepada petugas perusahaan jasa kurir untuk mematuhi segala tata tertib selama berada di lokasi Koordinator PWD. Apabila dalam pelaksanaan pertukaran Warkat Debit petugas jasa kurir melanggar tata tertib, Koordinator PWD dapat meminta Peserta untuk mengganti petugas perusahaan jasa kurir. e. Dalam hal Peserta tidak memenuhi permintaan Koordinator PWD untuk mengganti petugas perusahaan jasa kurir sebagaimana dimaksud dalam huruf d, Koordinator PWD dapat menolak petugas perusahaan jasa kurir yang ditunjuk oleh Peserta yang bersangkutan untuk melakukan kegiatan pertukaran Warkat Debit. Selanjutnya kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri oleh petugas internal Peserta. I. TPPK 1. TPPK a. Selama mengikuti kegiatan pertukaran Warkat Debit di lokasi Koordinator PWD, petugas kliring harus menggunakan TPPK. b. Petugas kliring harus menunjukkan TPPK pada saat: 1) menyerahkan bundel Warkat Debit; dan 2) menerima Warkat Debit dan laporan pertukaran Warkat Debit. c. Apabila diperlukan, selain menunjukkan TPPK sebagaimana dimaksud dalam huruf b, petugas Koordinator PWD sewaktu-waktu dapat meminta Petugas Kliring untuk memperlihatkan kartu identitas pegawai Bank atau Perusahaan Jasa Kurir. d. Dalam hal petugas kliring tidak dapat menunjukkan TPPK sebagaimana dimaksud dalam huruf b atau kartu identitas sebagaimana dimaksud dalam huruf c maka: 1) Untuk...

160 160 1) Untuk Wilayah Kliring Otomasi, petugas Koordinator PWD tidak mengikutsertakan petugas kliring yang bersangkutan dalam proses penerimaan dan penyerahan Warkat Debit; atau 2) untuk Wilayah Kliring secara manual, melarang petugas kliring yang bersangkutan untuk mendistribusikan Warkat Debit kepada petugas kliring lainnya. e. Peserta bertanggungjawab atas penggunaan TPPK yang diterbitkan oleh Koordinator PWD 2. SpesifikasiTPPK a. TPPK tanpa foto 1) Bagi petugas internal Perwakilan Peserta, bagian depan TPPK memuat informasi sebagai berikut: a) nama Koordinator PWD; b) nama Peserta; dan c) kode Peserta. 2) Bagi petugas perusahaan jasa kurir, bagian depan TPPK memuat informasi sebagai berikut: a) nama Koordinator PWD; b) nama perusahaan jasa kurir; c) nama Peserta yang diwakili; dan d) kode Peserta yang diwakili. 3) Bagian belakang TPPK sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dan angka 2) memuat nama dan tanda tangan pejabat Koordinator PWD. b. TPPK dengan menggunakan foto 1) Pada bagian depan, TPPK memuat: a) nama Koordinator PWD; b) nama Peserta; c) nama petugas internal Peserta; dan d) pas foto petugas internal Peserta. 2) Pada bagian belakang, TPPK memuat: a) kode Peserta; b) alamat Peserta; c) nama...

161 161 c) nama dan tanda tangan pejabat Koordinator PWD; dan d) nama dan tanda tangan petugas internal Peserta. Contoh TPPK sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.2. c. Apabila terdapat perubahan spesifikasi TPPK, Koordinator PWD memberitahukan secara tertulis kepada seluruh Peserta. 3. Tata Cara Memperoleh TPPK a. Permohonan TPPK untuk petugas internal Peserta 1) Untuk pertama kali, permohonan TPPK bagi petugas internal Peserta diajukan oleh calon Perwakilan Peserta kepada Koordinator PWD. 2) Koordinator PWD memberikan paling banyak 3 (tiga) buah TPPK bagi petugas internal sebagaimana dimaksud dalam angka 1). b. Permohonan TPPK untuk Perusahaan Jasa Kurir 1) Untuk pertama kali, permohonan TPPK bagi petugas perusahaan jasa kurir diajukan oleh Perwakilan Peserta secara tertulis kepada Koordinator PWD, dengan melampirkan fotokopi perjanjian antara Perwakilan Peserta dengan perusahaan jasa kurir. 2) Setiap perusahaan jasa kurir mendapatkan paling banyak 3 (tiga) buah TPPK untuk masing-masing Perwakilan Peserta yang diwakilinya. 3) TPPK untuk perusahaan jasa kurir sebagaimana dimaksud dalam angka 2) diserahkan oleh Koordinator PWD kepada Perwakilan Peserta yang mengajukan permohonan. 4) Tanggal efektif penggunaan TPPK ditetapkan oleh Koordinator PWD. c. Dalam hal TPPK akan menggunakan foto, maka permohonan TPPK kepada Koordinator PWD harus dilampiri...

162 162 dilampiri pas foto ukuran 2x3 cm sebanyak 2 (dua) lembar untuk masing-masing petugas kliring yang didaftarkan. d. Dalam hal Perwakilan Peserta telah memiliki TPPK untuk petugas internal kemudian menunjuk perusahaan jasa kurir maka Perwakilan Peserta yang bersangkutan harus mengembalikan TPPK yang telah dimiliki kepada Koordinator PWD pada tanggal efektif penggunaan perusahaan jasa kurir. Koordinator PWD tidak akan memberikan TPPK yang baru untuk perusahaan jasa kurir sebelum TPPK untuk petugas internal Perwakilan Peserta dikembalikan. e. Dalam hal TPPK hilang, Peserta harus segera mengajukan permohonan penggantian TPPK secara tertulis kepada Koordinator PWD dengan melampirkan surat keterangan kehilangan dari Kepolisian. Koordinator PWD memberikan TPPK baru paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah permohonan diterima. f. Dalam hal TPPK rusak, Perwakilan Peserta dapat mengajukan permohonan secara tertulis kepada Koordinator PWD untuk mengganti TPPK. Koordinator PWD memberikan TPPK baru paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah permohonan diterima. Pemberian TPPK baru dilakukan setelah TPPK yang rusak dikembalikan. g. Dalam hal TPPK hilang sebagaimana dimaksud dalam huruf e atau rusak sebagaimana dimaksud dalam huruf f adalah TPPK yang menggunakan foto, permohonan penggantian TPPK dilampiri pas foto ukuran 2x3 cm sebanyak 2 (dua) lembar dari petugas kliring. h. Selama Perwakilan Peserta belum memperoleh penggantian atas TPPK yang hilang sebagaimana dimaksud dalam huruf e atau TPPK yang rusak sebagaimana dimaksud dalam huruf f, petugas kliring Perwakilan...

163 163 Perwakilan Peserta dapat menggunakan fotokopi surat permohonan penggantian TPPK yang dilegalisasi oleh Koordinator PWD sebagai pengganti TPPK dalam mengikuti penyelenggaraan SKNBI. Legalisasi tersebut dilakukan dengan cara membubuhkan stempel Koordinator PWD dan tanda tangan pejabat Koordinator PWD. i. Perwakilan Peserta dikenakan biaya penggantian atas pembuatan TPPK. XIII. PROSEDUR PEMBUKAAN WILAYAH KLIRING DI WILAYAH YANG TIDAK TERDAPAT KANTOR BANK INDONESIA A. Prinsip Umum 1. Pembukaan Wilayah Kliring di wilayah yang tidak terdapat kantor Bank Indonesia didasarkan pada kebutuhan dan kesepakatan beberapa kantor Peserta di wilayah yang bersangkutan. 2. Salah satu kantor Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1 ditunjuk sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia atas kesepakatan seluruh kantor Peserta di wilayah yang bersangkutan dan dengan persetujuan dari Penyelenggara. B. Persyaratan Pembukaan Wilayah Kliring Persyaratan pembukaan Wilayah Kliring paling kurang sebagai berikut: 1. jumlah kantor Peserta paling kurang 4 (empat) kantor Peserta yang berbeda. Kantor Peserta dapat berupa kantor pusat, kantor cabang, kantor cabang pembantu, dan/atau kantor kas; 2. dalam periode 6 (enam) bulan terakhir, jumlah Warkat Debit yang beredar di wilayah tersebut rata-rata paling kurang 30 (tiga puluh) Warkat Debit per hari; dan 3. terdapat kantor Peserta yang bersedia sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia. C. Persyaratan...

164 164 C. Persyaratan untuk menjadi Koordinator PWD Selain Bank Indonesia 1. Koordinator PWD selain Bank Indonesia adalah kantor Peserta yang memenuhi persyaratan menjadi penyelenggara pertukaran Warkat Debit di suatu Wilayah Kliring. 2. Kantor Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dapat berupa kantor pusat, kantor cabang, kantor cabang pembantu, dan/atau kantor kas. 3. Untuk dapat memperoleh persetujuan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia, kantor Peserta yang diusulkan menjadi Koordinator PWD selain Bank Indonesia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. mampu menyediakan sarana dan prasarana dalam rangka pertukaran Warkat Debit; b. memiliki lokasi yang mudah dijangkau oleh kantor Peserta. Lokasi pelaksanaan pertukaran Warkat Debit tidak harus berada pada lokasi yang sama dengan lokasi kantor Peserta yang diusulkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia; dan c. memperoleh persetujuan dari kantor pusat Peserta yang bersangkutan untuk diusulkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia, dalam hal calon Koordinator PWD selain Bank Indonesia berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas. D. Tata Cara Permohonan Pembukaan Wilayah Kliring Permohonan pembukaan Wilayah Kliring diatur sebagai berikut: 1. Kesepakatan Tertulis a. Dengan memperhatikan pemenuhan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam huruf C, beberapa kantor Peserta di suatu wilayah membuat kesepakatan tertulis mengenai kebutuhan pertukaran Warkat Debit di wilayah tersebut termasuk usulan kantor Peserta yang akan ditunjuk sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia. b. Kesepakatan...

165 165 b. Kesepakatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditandatangani oleh seluruh pimpinan kantor Peserta yang mendukung pembukaan Wilayah Kliring. 2. Pengajuan Permohonan a. Calon Koordinator PWD selain Bank Indonesia menyampaikan surat permohonan rencana pembukaan Wilayah Kliring yang dilampiri dengan dokumen sebagai berikut: 1) kesepakatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 1; 2) daftar nama dan alamat kantor Peserta yang mendukung pembukaan Wilayah Kliring; 3) zona yang diusulkan dengan mengacu pada jam operasional Layanan Kliring Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.5; 4) surat persetujuan dari kantor pusat Peserta untuk menjadi Koordinator PWD selain Bank Indonesia; 5) surat pernyataan kesanggupan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan penyelenggaraan pertukaran Warkat Debit; dan 6) informasi tertulis yang menunjukkan rata-rata Warkat Debit yang beredar di wilayah tersebut paling kurang 30 (tiga puluh) Warkat Debit per hari dalam periode 6 (enam) bulan terakhir, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.27. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada: 1) Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, apabila pembukaan Wilayah Kliring berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau 2) KPwDN apabila pembukaan Wilayah Kliring berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia. c. Persetujuan...

166 166 c. Persetujuan atau penolakan atas permohonan pembukaan Wilayah Kliring oleh Penyelenggara atau KPwDN diberikan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak dokumen permohonan diterima secara lengkap. 3. Persetujuan Permohonan a. Dalam hal permohonan pembukaan Wilayah Kliring disetujui maka Penyelenggara mengeluarkan surat persetujuan yang antara lain mengenai: 1) Wilayah Kliring; memuat penetapan 2) Koordinator PWD selain Bank Indonesia; 3) jadwal pertukaran Warkat Debit; dan 4) tanggal efektif pembukaan Wilayah Kliring. b. Surat persetujuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan kepada kantor Peserta yang ditetapkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia dengan tembusan kepada: 1) kantor pusat dari kantor Peserta yang ditetapkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas; dan/atau 2) Penyelenggara apabila persetujuan pembukaan Wilayah Kliring diberikan oleh KPwDN. 4. Penolakan Permohonan a. Dalam hal permohonan pembukaan Wilayah Kliring ditolak maka Penyelenggara atau KPwDN menyampaikan secara tertulis kepada calon Koordinator PWD selain Bank Indonesia mengenai penolakan yang disertai dengan alasan penolakan, dengan tembusan kepada: 1) Kantor pusat dari kantor Peserta yang diusulkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas; dan/atau 2) Penyelenggara...

167 167 2) Penyelenggara apabila penolakan pembukaan Wilayah Kliring diberikan oleh KPwDN. b. Alasan penolakan sebagaimana dimaksud dalam huruf a adalah sebagai berikut: 1) persyaratan sebagaimana dimaksud dalam huruf B dan huruf C tidak dipenuhi; 2) dokumen permohonan sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a tidak lengkap; dan/atau 3) terdapat faktor lain yang menurut pertimbangan Penyelenggara atau KPwDN belum layak untuk dilakukan pembukaan Wilayah Kliring. c. Apabila penolakan dikarenakan persyaratan tidak dipenuhi dan/atau dokumen permohonan tidak lengkap, kantor Peserta yang diusulkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia dapat mengajukan permohonan kembali setelah memenuhi persyaratan dan dokumen yang ditetapkan. E. Tindak Lanjut atas Persetujuan Pembukaan Wilayah Kliring Berdasarkan persetujuan pembukaan Wilayah Kliring sebagaimana dimaksud dalam butir D.3, kantor Peserta yang ditetapkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. menyampaikan informasi secara tertulis kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan mengenai: a. persetujuan pembukaan Wilayah Kliring; b. daftar nama dan alamat Perwakilan Peserta; c. jadwal penyelenggaraan pertukaran Warkat Debit; d. tanggal efektif pembukaan Wilayah Kliring; dan e. permintaan untuk: 1) menyampaikan daftar nama petugas kliring dalam rangka pembuatan TPPK; 2) menyiapkan stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan dengan contoh sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.1; dan 3) menyampaikan...

168 168 3) menyampaikan contoh stempel kliring dan stempel kliring dibatalkan sebagaimana dimaksud dalam angka 1), paling lambat 2 (dua) hari kerja sebelum tanggal efektif; 2. menyediakan sarana dan prasarana pertukaran Warkat Debit antara lain: a. ruangan dan peralatan yang diperlukan dalam pertukaran Warkat Debit; dan b. TPPK dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.2; dan 3. mengadministrasikan data Perwakilan Peserta dan petugas kliring. F. Penggantian Koordinator PWD Selain Bank Indonesia 1. Penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia dapat dilakukan berdasarkan persetujuan lebih dari 50% (lima puluh persen) Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring tersebut yang disertai dengan usulan penunjukan Koordinator PWD selain Bank Indonesia baru. 2. Berdasarkan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, calon Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti menyampaikan surat kepada Penyelenggara atau KPwDN yang memuat: a. pemberitahuan mengenai penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia; dan b. permohonan mengenai penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia, disertai alasan dan usulan tanggal efektif penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia. 3. Surat sebagaimana dimaksud dalam angka 2 disampaikan kepada: a. Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, apabila calon Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau b. KPwDN,...

169 169 b. KPwDN, apabila calon Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam butir 2.b dilampiri dengan dokumen: a. Persetujuan tertulis lebih dari 50% (lima puluh persen) Perwakilan Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1 yang ditandatangani oleh seluruh pimpinan Perwakilan Peserta yang menyetujui penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia; b. surat pernyataan kesanggupan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan penyelenggaraan pertukaran Warkat Debit; dan c. surat persetujuan untuk diusulkan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti dari kantor pusat yang bersangkutan, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas. 5. Atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 2, Penyelenggara atau KPwDN memberikan persetujuan atau penolakan atas penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak dokumen permohonan diterima secara lengkap. 6. Dalam hal permohonan penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia disetujui, Penyelenggara atau KPwDN menyampaikan surat persetujuan sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti. 7. Surat persetujuan sebagaimana dimaksud dalam angka 6 disampaikan kepada kantor Peserta yang disetujui sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti dengan tembusan kepada: a. Kantor...

170 170 a. Kantor pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas; b. Kantor pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia lama, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas; dan/atau c. Penyelenggara, dalam hal persetujuan penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia diberikan oleh KPwDN. 8. Dalam hal permohonan penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia ditolak, Penyelenggara atau KPwDN menyampaikan surat pemberitahuan penolakan disertai dengan keterangan alasan penolakan. 9. Surat pemberitahuan penolakan sebagaimana dimaksud dalam angka 8 disampaikan kepada kantor Peserta yang ditolak sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti dengan tembusan kepada: a. Kantor pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti yang ditolak, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas; b. Kantor pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia lama, dalam hal Koordinator PWD selain Bank Indonesia berupa kantor cabang, kantor cabang pembantu, atau kantor kas; dan/atau d. Penyelenggara apabila persetujuan penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia diberikan oleh KPwDN. 10. Berdasarkan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam angka 6 Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti menyediakan sarana dan prasarana penyelenggaraan pertukaran Warkat Debit, antara lain mencakup: a. ruangan...

171 171 a. ruangan dan peralatan yang diperlukan dalam pertukaran Warkat Debit; dan b. TPPK dengan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Koordinator PWD selain Bank Indonesia lama harus tetap menjalankan fungsinya sampai dengan hari kerja terakhir sebelum tanggal penggantian Koordinator PWD selain Bank Indonesia pengganti berlaku efektif. G. Penutupan Wilayah Kliring Permohonan penutupan Wilayah Kliring diatur dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Penutupan Wilayah Kliring dapat dilakukan berdasarkan: a. kesepakatan tertulis dari kantor Peserta di Wilayah Kliring tersebut; atau b. kebijakan Penyelenggara atau KPwDN. 2. Dalam hal penutupan Wilayah Kliring dilakukan berdasarkan kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Koordinator PWD selain Bank Indonesia mengajukan surat permohonan mengenai penutupan Wilayah Kliring dengan memberitahukan alasan dan tanggal efektif penutupan Wilayah Kliring kepada: 1) Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a, apabila Wilayah Kliring berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau 2) KPwDN apabila Wilayah Kliring berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia. Surat permohonan penutupan Wilayah Kliring menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.29. b. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang ditandatangani oleh seluruh pimpinan Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan dan dilampiri dengan dokumen mengenai kesepakatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a. c. Atas...

172 172 c. Atas surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, Penyelenggara atau KPwDN memberikan persetujuan atas penutupan Wilayah Kliring paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak dokumen permohonan diterima secara lengkap. d. Dalam hal permohonan penutupan Wilayah Kliring disetujui, Penyelenggara atau KPwDN menyampaikan surat persetujuan kepada kantor Peserta yang sebelumnya menjadi Koordinator PWD selain Bank Indonesia dengan tembusan kepada: 1) Kantor pusat dari kantor Peserta yang sebelumnya menjadi Koordinator PWD selain Bank Indonesia; dan/atau 2) Penyelenggara apabila persetujuan penutupan Wilayah Kliring diberikan oleh KPwDN. e. Berdasarkan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam huruf d, kantor Peserta yang sebelumnya menjadi Koordinator PWD selain Bank Indonesia menyampaikan informasi mengenai tanggal efektif penutupan Wilayah Kliring kepada seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan. f. Koordinator PWD selain Bank Indonesia harus tetap menjalankan fungsinya sampai dengan hari kerja terakhir sebelum tanggal pengunduran diri sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia dan/atau penutupan Wilayah Kliring berlaku efektif. g. Setelah Wilayah Kliring tersebut ditutup, pertukaran Warkat Debit di wilayah tersebut tetap dapat dilaksanakan secara bilateral sesuai kesepakatan. 3. Dalam hal penutupan Wilayah Kliring dilakukan berdasarkan kebijakan Penyelenggara atau KPwDN sebagaimana dimaksud dalam butir 1.b, Penyelenggara atau KPwDN menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Koodinator PWD selain Bank Indonesia dengan tembusan kepada: a. kantor...

173 173 a. kantor pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia; b. seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring; dan c. Penyelenggara dalam hal penutupan Wilayah Kliring berdasarkan kebijakan KPwDN. 4. Pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 3 mencakup informasi mengenai: a. tanggal efektif penutupan Wilayah Kliring; dan b. penghentian bantuan keuangan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia. 5. Pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 3 disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tanggal efektif penutupan Wilayah Kliring tersebut. Setelah Wilayah Kliring tersebut ditutup, pertukaran Warkat Debit di wilayah tersebut tetap dapat dilaksanakan secara bilateral sesuai kesepakatan. H. Bantuan Keuangan Dalam pelaksanaan pertukaran Warkat Debit yang dilaksanakan oleh Koordinator PWD selain Bank Indonesia, Penyelenggara memberikan bantuan keuangan dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Nominal dan Kriteria Bantuan Keuangan a. Penyelenggara memberikan bantuan keuangan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia setiap bulan terhitung sejak Kordinator PWD selain Bank Indonesia efektif menyelenggarakan pertukaran Warkat Debit. b. Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diberikan sesuai kriteria sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.30. c. Nilai nominal bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditetapkan oleh Penyelenggara dan disampaikan kepada kantor pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia. 2. Mekanisme...

174 Mekanisme Pemberian Bantuan Keuangan a. Pemberian bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a disampaikan oleh Penyelenggara kepada kantor pusat Koordinator PWD selain Bank Indonesia paling lambat pada akhir bulan berjalan. b. Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diberikan dengan cara mengkredit Rekening Setelmen Dana kantor pusat Koordinator PWD selain Bank Indonesia di Bank Indonesia. 3. Bantuan Keuangan bagi Koordinator PWD Selain Bank Indonesia yang Baru a. Dalam hal Peserta bertindak sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonesia di Wilayah Kliring yang baru dibentuk maka: 1) untuk jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama sejak tanggal efektif pembentukan Koordinator PWD selain Bank Indonesia tersebut diberi bantuan setiap bulan sebesar 100% (seratus persen) dari nilai nominal yang ditetapkan oleh Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam butir 1.c. Penetapan jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama diatur dengan ketentuan sebagai berikut: a) apabila tanggal efektif pembentukan Wilayah Kliring ditetapkan pada tanggal 1 sampai dengan tanggal 15 bulan berjalan maka masa 3 (tiga) bulan pertama dihitung sejak bulan yang bersangkutan; atau b) apabila tanggal efektif pembentukan Wilayah Kliring ditetapkan setelah tanggal 15 bulan berjalan maka masa 3 (tiga) bulan pertama dihitung sejak bulan berikutnya; 2) bantuan keuangan per bulan yang akan diberikan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia setelah masa 3 (tiga) bulan tersebut disesuaikan dengan kriteria sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.30. Contoh...

175 175 Contoh perhitungan pemberian bantuan keuangan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia di Wilayah Kliring yang baru dibentuk mengacu pada Lampiran II.31. b. Dalam hal kantor Peserta bertindak sebagai Koordinator PWD selain Bank Indonsia pengganti maka: 1) bantuan keuangan diberikan sesuai dengan kriteria sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.30; 2) pemberian bantuan keuangan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia yang mengalami perubahan diatur sebagai berikut: a) apabila tanggal efektif pengalihan dilaksanakan pada tanggal 1 sampai dengan tanggal 15 bulan berjalan maka bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) untuk bulan yang bersangkutan diberikan kepada KPWD selain Bank Indonesia yang menerima pengalihan; atau b) apabila tanggal efektif pembentukan Wilayah Kliring ditetapkan setelah tanggal 15 bulan berjalan maka bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a) untuk bulan yang bersangkutan diberikan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia yang mengalihkan. Contoh perhitungan pemberian bantuan keuangan kepada Koordinator PWD selain Bank Indonesia yang baru adalah sebagaimana dalam Lampiran II.31. I. Iuran Perwakilan Peserta 1. Apabila bantuan keuangan yang diberikan oleh Penyelenggara tidak dapat menutupi seluruh biaya operasional Koordinator PWD selain Bank Indonesia dalam pertukaran Warkat Debit, Koordinator PWD selain Bank Indonesia...

176 176 Indonesia dapat menetapkan iuran kepada kantor Peserta di Wilayah Kliring. 2. Besarnya iuran sebagaimana dimaksud dalam angka 1 ditetapkan berdasarkan selisih biaya operasional yang dikeluarkan Koordinator PWD selain Bank Indonesia dalam rangka pertukaran Warkat Debit. 3. Biaya operasional sebagaimana dimaksud dalam angka 2 antara lain mencakup biaya tenaga kerja serta biaya penyediaan sarana dan prasarana pertukaran Warkat Debit. 4. Besarnya iuran dan perhitungan biaya operasional yang menjadi dasar penetapan iuran wajib disampaikan kepada dan disetujui oleh seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring. J. Pelaporan 1. Kantor Pusat dari Koordinator PWD selain Bank Indonesia wajib menyampaikan laporan bulanan mengenai pendistribusian dan besarnya nilai nominal bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam H.1.c paling lambat pada akhir bulan berikutnya. 2. Laporan bulanan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a dengan menggunakan format laporan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Koordinator PWD selain Bank Indonesia wajib menyampaikan laporan triwulanan mengenai penggunaan bantuan keuangan dan iuran Perwakilan Peserta dalam pelaksanaan pertukaran Warkat Debit paling lama 7 (tujuh) hari kerja pada bulan berikutnya dengan format laporan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.33 kepada: a. seluruh Perwakilan Peserta di Wilayah Kliring yang bersangkutan; b. Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.b, untuk Koordinator PWD selain Bank Indonesia yang berada di wilayah KPBI; dan c. KPwDN...

177 177 c. KPwDN untuk Koordinator PWD selain Bank Indonesia yang berada di wilayah KPwDN. XIV. BIAYA DALAM PENYELENGGARAAN SKNBI A. Prinsip Umum 1. Peserta dikenakan biaya dalam penyelenggaraan SKNBI. 2. Peserta dapat mengenakan biaya transaksi melalui SKNBI kepada nasabah. 3. Penyelenggara menetapkan batas maksimal biaya yang dapat dikenakan Peserta kepada nasabah. B. Biaya Penyelenggaraan SKNBI yang Dikenakan kepada Peserta 1. Jenis dan besarnya biaya a. Jenis biaya dalam penyelenggaraan SKNBI terdiri atas: 1) biaya proses meliputi: a) biaya proses DKE Transfer Dana; b) biaya proses DKE Transfer Dana dalam rangka Treasury Single Account (TSA); c) biaya proses DKE Warkat Debit; d) biaya proses DKE Pembayaran; e) biaya proses DKE Penagihan; f) biaya rincian transaksi pembayaran; dan g) biaya rincian transaksi penagihan. 2) biaya akses informasi data agregat. 3) biaya penggunaan Fasilitas Kontinjensi. 4) biaya perpanjangan periode waktu pengiriman DKE Transfer Dana, DKE Pembayaran, dan DKE Penagihan. 5) biaya sortasi Warkat Debit. 6) biaya Warkat Debit reject. 7) biaya pembuatan dan/atau penggantian TPPK. b. Besar biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf a mengacu pada rincian biaya sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.6. c. Besarnya biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf b tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai. d. Besarnya...

178 178 d. Besarnya biaya sebagaimana dimaksud dalam butir a.1) tidak berlaku untuk pengiriman pengembalian DKE, rincian transaksi pembayaran, dan rincian transaksi penagihan oleh Peserta penerima, yang dilakukan paling lambat pada 1 (satu) hari kerja sejak DKE, rincian transaksi pembayaran, dan rincian transaksi penagihan diterima oleh Peserta penerima. e. Dalam hal terdapat DKE Transfer Dana dalam rangka Treasury Single Account (TSA) menggunakan kode transaksi Treasury Single Account (TSA) yang tidak mengacu pada ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.9 maka DKE Transfer Dana tersebut dikenakan biaya proses DKE Transfer Dana dan sanksi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal. f. Penyelenggara dapat tidak memberlakukan biaya sebagaimana dimaksud dalam butir a.3) dan/atau butir a.4), apabila terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Penyelenggara. g. Penyelenggara dapat membebaskan biaya dalam sebagaimana dimaksud dalam butir dalam butir a.3) dan/atau butir a.4), apabila terjadi Keadaan Tidak Normal bukan disebabkan oleh kelalaian Peserta dan/atau terjadi Keadaan Darurat di lokasi Peserta. h. Dalam hal Penyelenggara membebaskan biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf g, Peserta tetap harus membayar Pajak Pertambahan Nilai atas biaya tertentu yang dibebaskan oleh Penyelenggara. 2. Perhitungan dan Pembebanan Biaya a. Perhitungan dan pembebanan biaya sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.1) sampai dengan butir 1.a.4) dilakukan oleh Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Biaya proses sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.1) dan Pajak Pertambahan Nilai dihitung setiap...

179 179 setiap bulan atas dasar total DKE dan rincian transaksi yang diterima dan diperhitungkan oleh Penyelenggara. 2) Biaya akses informasi data agregat sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.2) dan Pajak Pertambahan Nilai dihitung setiap bulan dan hanya dibebankan kepada Peserta yang terdaftar sebagai pengguna fasilitas informasi. 3) Biaya penggunaan Fasilitas Kontinjensi sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.3) dan Pajak Pertambahan Nilai untuk penggunaan: a) fasilitas guest bank dihitung atas dasar durasi waktu penggunaan fasilitas tersebut setiap 1 (satu) jam berdasarkan absensi yang telah ditandatangani oleh Penyelenggara dan Peserta; dan b) fasilitas upload DKE dihitung atas dasar penggunaan fasilitas upload DKE setiap layanan. 4) Biaya perpanjangan pengiriman DKE sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.4) dan Pajak Pertambahan Nilai dihitung atas dasar durasi waktu perpanjangan kegiatan tersebut setiap 30 (tiga puluh) menit. 5) Pembebanan biaya sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai dengan angka 4) dilakukan oleh Penyelenggara dengan cara mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta dan/atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar, dengan ketentuan sebagai berikut: a) biaya sebagaimana dimaksud dalam angka 1) dan angka 2) dibebankan setiap akhir bulan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja pada bulan berikutnya; b) biaya sebagaimana dimaksud dalam angka 3) dan angka 4) dibebankan paling lama 1 (satu) hari kerja setelah Peserta menggunakan Fasilitas Kontinjensi dan/atau perpanjangan...

180 180 perpanjangan periode waktu pengiriman DKE; b. Perhitungan dan pembebanan biaya sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.5) sampai dengan butir 1.a.7) dilakukan oleh Koordinator PWD dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Biaya sortasi Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.5) dihitung atas dasar total Warkat Debit dalam Kliring Penyerahan yang diserahkan oleh Peserta dan diproses oleh Koordinator PWD yang melakukan pertukaran Warkat Debit secara otomasi. 2) Biaya Warkat Debit reject sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.6) dihitung dan dibebankan oleh Koordinator PWD yang melakukan pertukaran Warkat Debit secara otomasi dengan ketentuan sebagai berikut: a) Warkat Debit reject adalah Warkat Debit dalam Kliring Penyerahan yang tidak dapat diproses secara otomasi. b) Biaya Warkat Debit reject dikenakan apabila total Warkat Debit reject harian melebihi 2% (dua persen) dari total Warkat Debit yang diproses oleh Koordinator PWD. c) Biaya Warkat Debit reject sebagaimana dimaksud dalam huruf b) dibebankan kepada Peserta penerima. 3) Biaya pembuatan dan/atau penggantian TPPK sebagaimana dimaksud dalam butir 1.a.7) dihitung oleh Koordinator PWD untuk setiap permohonan pembuatan dan/atau penggantian TPPK. 4) Pembebanan biaya sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3) dilakukan oleh Koordinator PWD setiap akhir bulan paling lama 7 (tujuh) hari kerja pada bulan berikutnya dengan ketentuan sebagai berikut: a) Dalam...

181 181 a) Dalam hal pertukaran Warkat Debit dilakukan oleh Koordinator PWD maka pembebanan biaya dilakukan dengan cara mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta. b) Dalam hal pertukaran Warkat Debit dilakukan oleh Koordinator PWD selain Bank Indonesia maka pembebanan biaya dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Koordinator PWD selain Bank Indonesia. C. Biaya Transaksi melalui SKNBI yang Dikenakan kepada Nasabah Peserta 1. Dalam rangka mendukung kelancaran penyelesaian transaksi melalui SKNBI, Peserta dapat menetapkan dan mengenakan biaya transaksi kepada nasabah dengan batas maksimal yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 2. Biaya transaksi yang dikenakan oleh Peserta kepada nasabah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 ditetapkan paling banyak Rp5.000,00 (lima ribu rupiah). 3. Peserta wajib mengumumkan besarnya biaya transaksi melalui SKNBI dengan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai perlindungan nasabah pengguna SKNBI. XV. PENANGANAN KEADAAN TIDAK NORMAL DAN/ATAU KEADAAN DARURAT A. Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Penyelenggara Dalam rangka menjaga kelangsungan operasional SKNBI apabila terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Penyelenggara berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. Keadaan Tidak Normal di Penyelenggara Dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal di Penyelenggara yang mempengaruhi kelancaran penyelenggaraan SKNBI maka penanganan dilakukan sebagai berikut: a. Penyelenggara...

182 182 a. Penyelenggara memberitahukan kepada seluruh Peserta mengenai Keadaan Tidak Normal dan langkahlangkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: 1) menghentikan sementara kegiatan pengiriman DKE dan kegiatan lainnya yang terhubung ke SSK; 2) dalam hal SSK dapat berfungsi kembali, Peserta melakukan hal-hal sebagai berikut: a) melakukan koneksi ulang ke SSK; b) melakukan rekonsiliasi antara status batch DKE pada SPK dengan status batch DKE pada SSK; dan/atau c) melakukan pengiriman ulang dalam hal terdapat batch DKE yang belum berhasil dikirim. b. Pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan oleh Peserta berdasarkan pemberitahuan dari Penyelenggara melalui administrative message, help desk SKNBI, dan/atau sarana lainnya. c. Dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang mengakibatkan SKNBI tidak dapat beroperasi sampai dengan batas waktu yang ditentukan oleh Penyelenggara maka Penyelenggara menetapkan kebijakan dan prosedur penanganan Keadaan Tidak Normal dan memberitahukan kepada Peserta mengenai hal-hal yang harus dilakukan oleh Peserta. 2. Keadaan Darurat di Penyelenggara a. Dalam hal terjadi Keadaan Darurat di lokasi Penyelenggara yang menyebabkan SKNBI tidak dapat beroperasi maka Penyelenggara menetapkan kebijakan dan prosedur penanggulangan Keadaan Darurat dan memberitahukan kepada seluruh Peserta mengenai Keadaan Darurat serta hal-hal yang harus dilakukan oleh Peserta. b. Kebijakan...

183 183 b. Kebijakan sebagaimana dimaksud dalam huruf a antara lain sebagai berikut: 1) perubahan waktu operasional SKNBI; 2) mengalihkan perhitungan transfer dana melalui SKNBI ke Sistem BI-RTGS; 3) perhitungan dalam Layanan Kliring Warkat Debit dilakukan oleh Koordinator PWD di setiap Wilayah Kliring berdasarkan Warkat Debit; dan/atau 4) penghentian sementara sebagian atau seluruh layanan dalam penyelenggaraan SKNBI. B. Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Peserta Dalam rangka menjaga kelangsungan operasional SKNBI apabila terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Peserta berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. Dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Peserta yang menyebabkan terganggunya kelancaran operasional SKNBI maka Peserta harus memberitahukan kepada Penyelenggara mengenai terjadinya Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat. 2. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada: a. Helpdesk SKNBI melalui sarana telepon paling lama 30 (tiga puluh) menit sejak terjadinya Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat; dan b. Penyelenggara melalui surat yang didahului dengan faksimile dalam hal memerlukan tindak lanjut perpanjangan periode waktu kegiatan pengiriman DKE sesuai dengan prosedur sebagaimana dimaksud dalam butir IV.A Dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 yang menyebabkan Peserta tidak dapat melakukan kegiatan operasional SKNBI di lokasi Peserta maka Peserta dapat menggunakan Fasilitas Kontinjensi, yang terdiri atas: a. fasilitas...

184 184 a. fasilitas guest bank; dan b. fasilitas upload DKE. 4. Penggunaan fasilitas upload DKE sebagaimana dimaksud dalam butir 3.b hanya dapat digunakan oleh Peserta berdasarkan kebijakan Penyelenggara. 5. Dalam hal Peserta memutuskan untuk tidak melakukan kegiatan operasional SKNBI maka Peserta harus segera memberitahukan kepada Penyelenggara melalui surat yang dapat didahului dengan faksimile atau sarana lain. 6. Dalam hal terjadi Keadaan Tidak Normal dan/atau Keadaan Darurat di Peserta, Penyelenggara dapat menetapkan kebijakan, prosedur, dan hal lain yang diperlukan untuk penyelesaian transaksi oleh Peserta melalui SKNBI. C. Penggunaan Fasilitas Kontinjensi Tata cara penggunaan Fasilitas Kontinjensi diatur sebagai berikut: 1. Peserta mengajukan surat permohonan dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 paling kurang memuat: a. alasan untuk menggunakan Fasilitas Kontinjensi; b. lokasi penggunaanfasilitas Kontinjensi; dan c. pernyataan bahwa Peserta yang bersangkutan membebaskan Penyelenggara atau KPwDN dari tanggung jawab atas segala kerugian yang timbul (indemnity) pada Peserta terkait dengan penggunaan Fasilitas Kontinjensi. 3. Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 ditandatangani oleh Pimpinan atau pejabat yang memiliki spesimen tanda tangan di Penyelenggara dan dapat disampaikan terlebih dahulu kepada Penyelenggara melalui faksimile ke alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.a. 4. Untuk...

185 Untuk Peserta yang berada di wilayah kerja KPwDN, surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada Penyelenggara dengan tembusan kepada KPwDN yang menyediakan Fasilitas Kontinjensi, dengan memperhatikan jam kerja KPwDN. 5. Persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan melalui administrative message atau sarana lainnya. 6. Dalam hal surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disetujui, Peserta harus menyiapkan data transaksi dan hal lain yang diperlukan dalam rangka penggunaan Fasilitas Kontinjensi yang ditetapkan oleh Penyelenggara sesuai dengan buku pedoman penggunaan aplikasi SPK. 7. Dalam hal Penyelenggara menetapkan Fasilitas Kontinjensi yang dapat digunakan oleh Peserta adalah fasilitas upload DKE maka: a. data transaksi sebagaimana dimaksud dalam angka 6 disampaikan kepada Penyelenggara disertai dengan bukti pengiriman DKE offline sebanyak 2 (dua) rangkap. b. penyampaian data transaksi dan bukti pengiriman DKE offline kepada Penyelenggara atau KPwDN harus dilakukan oleh pejabat yang berwenang atau petugas Peserta yang diberi kuasa oleh Pimpinan atau pejabat yang berwenang yang memiliki spesimen di Penyelenggara. 8. Penyelenggara dapat menetapkan batas maksimal waktu dan/atau urutan penggunaan Fasilitas Kontinjensi dalam hal jumlah Peserta yang mengajukan permohonan penggunaan Fasilitas Kontinjensi melebihi kapasitas yang tersedia. XVI. PEMANTAUAN KEPATUHAN Pelaksanaan pemantauan kepatuhan Peserta dan Koordinator PWD diatur dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Penyelenggara...

186 Penyelenggara melakukan pemantauan kepatuhan: a. Peserta; dan b. Koordinator PWD, terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 2. Pemantauan kepatuhan Peserta terhadap ketentuan yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal dilakukan dalam rangka menjaga kelancaran operasional SKNBI. 3. Pemantauan kepatuhan Koordinator PWD terhadap ketentuan yang mengatur mengenai penyelenggaraan transfer dana dan kliring berjadwal dilakukan dalam rangka menjaga kelancaran kegiatan pertukaran Warkat Debit. 4. Pemantauan kepatuhan oleh Penyelenggara dilakukan secara langsung dan tidak langsung. 5. Dalam rangka pemantauan tidak langsung, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Pemantauan kepatuhan kepada Peserta 1) Pemantauan secara tidak langsung kepada Peserta dilakukan berdasarkan: a) data, informasi, dan/atau dokumen yang diperoleh dari: (1) Peserta yang bersangkutan; (2) sistem Penyelenggara; dan/atau (3) pihak lain. b) laporan berkala dan/atau laporan sewaktu-waktu yang disampaikan oleh Peserta kepada Penyelenggara. 2) Laporan berkala dan/atau laporan sewaktu-waktu sebagaimana dimaksud dalam butir 1)b) wajib disampaikan kepada Penyelenggara dengan ketentuan sebagai berikut: a) Laporan Berkala berupa Laporan Hasil Penilaian Kepatuhan (LHPK) (1) Laporan Hasil Penilaian Kepatuhan (LHPK) merupakan laporan tahunan hasil penilaian pemeriksaan internal sebagaimana dimaksud dalam...

187 187 dalam butir III.H.1.b.2) untuk periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember. Format Laporan Hasil Penilaian Kepatuhan (LHPK) ditetapkan oleh Penyelenggara dan disampaikan kepada Peserta melalui surat dan/atau sarana lain. (2) Laporan Hasil Penilaian Kepatuhan (LHPK) sebagaimana dimaksud dalam angka (1) disampaikan oleh Peserta paling lambat tanggal 31 Maret tahun berikutnya. (3) Dalam hal batas waktu penyampaian sebagaimana dimaksud dalam angka (1) jatuh pada hari Sabtu atau hari libur maka batas waktu penyampaian adalah hari kerja berikutnya. (4) Laporan Hasil Penilaian Kepatuhan (LHPK) sebagaimana dimaksud dalam angka (1) disampaikan kepada Penyelenggara melalui surat dan/atau sarana lain yang ditetapkan oleh Penyelenggara. b) Laporan sewaktu-waktu (1) Laporan sewaktu-waktu disampaikan atas inisiatif Peserta atau permintaan Penyelenggara, antara lain laporan gangguan SKNBI pada Peserta atau laporan dalam rangka kegiatan operasional SKNBI oleh Peserta. (2) Laporan sewaktu-waktu atas inisiatif Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka (1) disampaikan kepada Penyelenggara paling lama 5 (lima) hari kerja sejak tanggal kejadian; (3) Laporan sewaktu-waktu atas permintaan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam angka (1) disampaikan sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Penyelenggara. 3) Laporan...

188 188 3) Laporan sebagaimana dimaksud dalam angka 2) disampaikan kepada Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.b. 4) Berdasarkan hasil pemantauan tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam huruf a), Penyelenggara dapat melakukan klarifikasi dan/atau konfirmasi kepada Peserta atas data, informasi, dokumen, dan/atau laporan. 5) Dalam hal berdasarkan hasil pemantauan tidak langsung terdapat hal-hal yang perlu ditindaklanjuti oleh Peserta, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan kepada Peserta untuk melakukan upaya perubahan dalam rangka pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 6) Peserta wajib menindaklanjuti hasil pemantauan tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam angka 5). b. Pemantauan kepada Koordinator PWD 1) Pemantauan secara tidak langsung kepada Koordinator PWD dilakukan berdasarkan laporan triwulanan dan/atau laporan sewaktu-waktu yang disampaikan oleh Koordinator PWD. 2) Laporan triwulanan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) merupakan laporan yang memuat informasi jumlah Perwakilan Peserta, jumlah transaksi, jumlah nominal transaksi, dan jadwal pelaksanaan pertukaran Warkat Debit, dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.35. 3) Laporan triwulanan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) disampaikan paling lama 7 (tujuh) hari kerja pada bulan berikutnya kepada: a) Penyelenggara dengan alamat sebagaimana dimaksud dalam butir II.A.2.b, untuk Koordinator PWD Bank Indonesia dan Koordinator PWD selain Bank Indonesia yang berada di wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia; atau b) KPwDN...

189 189 b) KPwDN apabila Koordinator PWD selain Bank Indonesia berada di luar wilayah kerja Kantor Pusat Bank Indonesia. 4) Berdasarkan hasil pemantauan tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam angka 1), Penyelenggara dapat melakukan klarifikasi dan/atau konfirmasi kepada Koordinator PWD atas data, informasi, dokumen, dan/atau laporan. 5) Dalam hal berdasarkan hasil pemantauan tidak langsung terdapat hal-hal yang perlu ditindaklanjuti oleh Koordinator PWD, Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan kepada Koordinator PWD untuk melakukan upaya perubahan dalam rangka pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara. 6) Koordinator PWD harus menindaklanjuti hasil pemantauan tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam angka 5). 6. Dalam rangka pemantauan langsung, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Pemantauan kepatuhan kepada Peserta 1) Pemantauan secara langsung dilakukan melalui kunjungan ke lokasi Peserta secara berkala atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. 2) Dalam kunjungan pemeriksaan di lokasi Peserta, berlaku ketentuan dan prosedur sebagai berikut: a) Petugas Penyelenggara yang melakukan pemeriksaan di lokasi Peserta dilengkapi dengan surat tugas dari Penyelenggara. b) Peserta wajib memberikan akses kepada petugas Penyelenggara, paling kurang untuk: (1) memperoleh data, informasi, dan/atau dokumen yang diperlukan, termasuk namun tidak terbatas pada dokumen asli dan/atau salinan dokumen yang berupa warkat, dan/atau...

190 190 dan/atau data elektronik yang terkait dengan pelaksanaan SKNBI sesuai dengan permintaan petugas Penyelenggara; dan/atau (2) memeriksa sarana fisik dan aplikasi pendukung yang terkait dengan operasional SKNBI di Peserta, antara lain SPK serta interface dari dan ke sistem internal Peserta. 3) Penyelenggara dapat menunjuk pihak lain untuk dan atas nama Penyelenggara untuk melaksanakan pemantauan Peserta sebagaimana dimaksud dalam angka 1). Pihak lain yang ditugaskan tersebut dilengkapi dengan surat penugasan dari Penyelenggara. 4) Petugas Penyelenggara melakukan exit meeting dengan Peserta yang dituangkan dalam laporan hasil exit meeting yang ditandatangani oleh Penyelenggara dan pejabat Peserta yang berwenang. 5) Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan kepada Peserta untuk melakukan tindak lanjut dan mendorong Peserta untuk melakukan upaya perubahan dalam rangka pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara sesuai dengan laporan hasil exit meeting sebagaimana dimaksud dalam angka 4). 6) Peserta wajib menindaklanjuti hasil pemantauan langsung sebagaimana dimaksud dalam angka 5). b. Pemantauan kepatuhan kepada Koordinator PWD 1) Pemantauan secara langsung dilakukan melalui kunjungan ke lokasi Koordinator PWD secara berkala atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. 2) Dalam kunjungan pemeriksaan di lokasi Koordinator PWD, berlaku ketentuan dan prosedur sebagai berikut: a) Petugas...

191 191 a) Petugas Penyelenggara yang melakukan pemeriksaan di lokasi Koordinator PWD dilengkapi dengan surat tugas dari Penyelenggara. b) Koordinator PWD harus memberikan akses kepada petugas Penyelenggara, paling kurang untuk memperoleh data, informasi, dan/atau dokumen yang diperlukan terkait dengan pelaksanaan pertukaran Warkat Debit sesuai dengan permintaan petugas Penyelenggara. c) Petugas Penyelenggara melakukan exit meeting dengan Koordinator PWD yang dituangkan dalam laporan hasil exit meeting yang ditandatangani oleh Penyelenggara dan pejabat Koordinator PWD yang berwenang. d) Penyelenggara menyampaikan surat pemberitahuan kepada Koordinator PWD untuk melakukan tindak lanjut dan mendorong Koordinator PWD untuk melakukan upaya perubahan dalam rangka pemenuhan ketentuan yang ditetapkan oleh Penyelenggara sesuai dengan laporan hasil exit meeting sebagaimana dimaksud dalam huruf c). e) Koordinator PWD harus menindaklanjuti hasil pemantauan langsung sebagaimana dimaksud dalam huruf d). 7. Dalam rangka pemantauan kepatuhan Peserta, Penyelenggara dapat meminta Peserta untuk melakukan pengujian terhadap infrastruktur SPK yang digunakan dalam operasional SKNBI. XVII. TATACARA PENGENAAN SANKSI A. Sanksi Administratif Terkait Pembuatan DKE 1. Peserta yang tidak memenuhi ketentuan mengenai pembuatan DKE sebagaimana dimaksud dalam butir VI.B.1.c.1), butir VI.B.1.c.2), butir VII.B.7.a.1), butir VII.B.7.a.2),...

192 192 VII.B.7.a.2), butir VIII.B.1.c.1), butir VIII.B.1.c.2), butir IX.B.7.a, dan/atau butir IX.B.7.b dikenakan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebesar Rp ,00 (seratus ribu rupiah) per DKE dengan jumlah kewajiban membayar paling banyak sebesar Rp ,00 (sepuluh juta rupiah) dalam bulan berjalan. 2. Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dilakukan dengan mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. B. Sanksi Administratif Terkait Penyediaan dan Penambahan Prefund 1. Bagi Peserta yang tidak memenuhi ketentuan mengenai penyediaan minimum nominal Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam butir V.B.3 yang dikarenakan kelalaian Peserta, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta dikenakan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebesar Rp ,00 (lima juta rupiah) namun tetap dapat ikut serta dalam Layanan Kliring Warkat Debit dan Layanan Penagihan Reguler. Pengenaan sanksi dilaksanakan paling lama 1 (satu) hari kerja berikutnya, dengan mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta. b. Terhadap Peserta yang dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Penyelenggara melakukan pemantauan selama 6 (enam) bulan. c. Apabila selama periode pemantauan sebagaimana dimaksud dalam huruf b Peserta tidak memenuhi kewajiban penyediaan Prefund Debit sebanyak 6 (enam) kali maka Peserta dapat dikenakan sanksi berupa penurunan status kepesertaan dari aktif menjadi ditangguhkan. d. Penyelenggara dapat mengubah kembali status Peserta dari ditangguhkan menjadi aktif berdasarkan kebijakan Penyelenggara. e. Penyelenggara...

193 193 e. Penyelenggara menginformasikan perubahan status Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf c dan huruf d kepada: 1) Peserta yang bersangkutan melalui surat; 2) seluruh Peserta melalui fasilitas administrative message dan/atau sarana lainnya; dan 3) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta melalui surat atau sarana lainnya. 2. Bagi Peserta yang tidak memenuhi ketentuan penyediaan minimum nominal Prefund Debit sebagaimana dimaksud dalam butir V.B.3 dikarenakan ketidakmampuan dalam penyediaan Prefund Debit, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta dikenakan sanksi administratif berupa penurunan status kepesertaan dari aktif menjadi ditangguhkan. b. Penyelenggara dapat mengubah kembali status Peserta dari ditangguhkan menjadi aktif apabila Peserta dapat memenuhi kewajiban penyediaan minimum nominal Prefund Debit. c. Penyelenggara menginformasikan perubahan status Peserta sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b kepada: 1) Peserta yang bersangkutan melalui surat; 2) seluruh Peserta melalui fasilitas administrative message dan/atau sarana lainnya; dan 3) Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta, melalui surat atau sarana lainnya. 3. Bagi Peserta yang tidak memenuhi ketentuan penambahan Prefund sebagaimana dimaksud dalam butir VI.B.3.c, butir VII.B.3.b, butir VIII.B.3.c, dan/atau butir IX.B.3.b, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta dikenakan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebesar Rp ,00 (lima juta rupiah) per 1 (satu) hari kerja. b. Pengenaan...

194 194 b. Pengenaan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan paling lama 1 (satu) hari kerja berikutnya, dengan mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. C. Sanksi Administratif Terkait Penolakan Warkat Debit dan/atau DKE Warkat Debit Dalam hal Peserta melakukan penolakan Warkat Debit atau DKE Warkat Debit sebagaimana dimaksud dalam butir VII.B.1.b.1)b), berlaku ketentuan sebagai berikut: 1. Peserta pengirim, Peserta penerima, atau nasabah dikenakan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebesar Rp ,00 (seratus ribu rupiah) per DKE Warkat Debit yang ditolak. 2. Pengenaan sanksi administratif berupa kewajiban membayar kepada Peserta pengirim, Peserta penerima, atau nasabah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dilakukan berdasarkan alasan penolakan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Pembebanan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebagaimana dalam angka 1 dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Sanksi administratif yang dikenakan kepada nasabah Peserta dibebankan oleh Penyelenggara dengan cara mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta. Selanjutnya, Peserta membebankan sanksi administratif tersebut kepada nasabahnya. b. Sanksi administratif yang dikenakan kepada Peserta dibebankan oleh Penyelenggara dengan cara mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta. Peserta dilarang membebankan biaya pengenaan sanksi administratif tersebut kepada nasabahnya, mengingat alasan penolakan Warkat Debit atau DKE Debit tersebut disebabkan oleh kekeliruan Peserta. c. Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam huruf b dilakukan paling lama 7 (tujuh) hari kerja pada bulan berikutnya. D. Sanksi...

195 195 D. Sanksi Administratif Terkait Warkat Debit 1. Bagi Peserta yang tidak mencantumkan Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir XII.A.3 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 2. Bagi Peserta yang tidak melaksanakan teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam angka 1 sehingga mengganggu proses pertukaran Warkat Debit secara otomasi, Koordinator PWD dapat tidak memproses Warkat Debit Peserta dalam pertukaran Warkat Debit. E. Sanksi Administratif Terkait Pemantauan Kepatuhan 1. Bagi Peserta yang tidak memenuhi ketentuan kewajiban menjaga kelancaran dan keamanan penggunaan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam butir III.H.1 dikenakan sanksi administratif sebagai berikut: a. Peserta yang tidak memenuhi ketentuan kewajiban menjaga kelancaran dan keamanan penggunaan SKNBI dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. b. Dalam hal Peserta tidak menindaklanjuti sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak teguran tertulis diterima, dapat dikenakan sanksi administratif berupa berupa penurunan status kepesertaan. 2. Bagi Peserta yang tidak menginformasikan biaya transaksi dalam penyelenggaraan SKNBI kepada nasabah secara transparan sebagaimana dimaksud dalam butir III.H.4 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 3. Bagi Peserta yang tidak mencetak Warkat Debit di perusahaan percetakan dokumen sekuriti sebagaimana dimaksud dalam butir XI.C.1 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 4. Bagi Peserta yang tidak mencetak Warkat Debit sesuai dengan spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam butir XI.A.2, berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta...

196 196 a. Peserta yang tidak mencetak Warkat Debit sesuai dengan spesifikasi teknis dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. b. Dalam hal Peserta tidak menindaklanjuti sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam huruf a sehingga mengganggu proses pertukaran Warkat Debit secara otomasi, Koordinator PWD dapat tidak memproses Warkat Debit Peserta dalam pertukaran Warkat Debit 5. Bagi Peserta yang tidak memberikan data, informasi, dan/atau dokumen terkait penyelenggaraan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam butir III.H.5 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. 6. Bagi Peserta yang tidak memberikan akses kepada Penyelenggara untuk melakukan pemeriksaan secara langsung sebagaimana dimaksud dalam butir XVI.6.a.2)b), berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta yang tidak memberikan akses kepada Penyelenggara untuk melakukan pemeriksaan secara langsung dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. b. Dalam hal Peserta tidak menindaklanjuti sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak teguran tertulis diterima, dapat dikenakan sanksi penurunan status kepesertaan. 7. Bagi Peserta yang tidak menindaklanjuti hasil pemantauan sebagaimana dimaksud dalam butir XVI.6.a.6), berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta yang tidak menindaklanjuti hasil pemantauan dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. b. Dalam hal Peserta tidak menindaklanjuti sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dapat dikenakan sanksi penurunan status kepesertaan. 8. Bagi...

197 Bagi Peserta yang terlambat menyampaikan laporan berkala sebagaimana dimaksud dalam butir XVI.5.a.2)a)(1) berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Peserta dikenakan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebesar Rp ,00 (lima ratus ribu rupiah) per hari kerja keterlambatan sejak batas waktu penyampaian pelaporan, dengan jumlah kewajiban membayar paling banyak sebesar Rp ,00 (lima belas juta rupiah). b. Pengenaan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilakukan dengan mendebit Rekening Setelmen Dana Peserta atau Rekening Setelmen Dana Bank Pembayar. c. Penyelenggara menginformasikan pembebanan pengenaan sanksi administratif berupa kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam huruf b melalui surat setelah pelaksanaan pembebanan sanksi. d. Dalam hal Peserta terlambat menyampaikan laporan berkala sesuai batas waktu, Peserta tetap wajib menyampaikan laporan berkala paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak batas waktu penyampaian laporan berkala yang ditetapkan oleh Penyelenggara. e. Dalam hal Peserta tidak menyampaikan laporan berkala sebagaimana dimaksud dalam huruf d, Peserta dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. f. Peserta yang tidak menindaklanjuti sanksi teguran tertulis sebagimana dimaksud dalam huruf e, dapat dikenakan sanksi administratif berupa penurunan status kepesertaan. 9. Dalam hal Penyelenggara mengenakan sanksi administratif berupa penurunan status kepesertaan, Penyelenggara menginformasikan kepada: a. Peserta...

198 198 a. Peserta yang bersangkutan melalui surat; b. seluruh Peserta melalui fasilitas administrative message dan/atau sarana lainnya; dan c. Koordinator PWD yang di wilayah kerjanya terdapat Perwakilan Peserta, melalui surat atau sarana lainnya. XVIII. LAIN-LAIN 1. Dalam rangka keikutsertaan dalam Layanan Pembayaran Reguler dan/atau Layanan Penagihan Reguler, diatur ketentuan sebagai berikut: a. Peserta yang memanfaatkan Layanan Pembayaran Reguler dan/atau Layanan Penagihan Reguler untuk pertama kalinya harus menyampaikan pemberitahuan kepada Penyelenggara mengenai pengiriman DKE Pembayaran dan/atau DKE Penagihan. b. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum tanggal pengiriman DKE Pembayaran dan/atau DKE Penagihan. c. Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Penyelenggara menginformasikan kepada seluruh Peserta mengenai penggunaan Layanan Pembayaran Reguler dan/atau Layanan Penagihan Reguler. 2. Lampiran I dan Lampiran II merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini. XIX. KETENTUAN PENUTUP 1. Ketentuan mengenai penyediaan JKD cadangan dari lokasi cadangan (back up site) Peserta ke Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam butir III.H.1.h.4)a)(2) wajib dipenuhi paling lambat tanggal 31 Desember Ketentuan mengenai penyesuaian indemnity dan jumlah lembar Warkat Debit pada BPWD-Kliring Penyerahan dan BPWD- Kliring Pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.17 dipenuhi paling lambat tanggal 31 Desember Ketentuan...

199 Ketentuan mengenai pencantuman jumlah lembar Warkat Debit dalam MICR code line pada BPWD-Kliring Penyerahan dan BPWD-Kliring Pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II.21 dipenuhi paling lambat tanggal 31 Desember Ketentuan mengenai pengenaan biaya penggunaan akses data agregat hasil perhitungan SKNBI sebagaimana dimaksud dalam butir XIV.B.1.a.2) mulai berlaku pada 1 Juli Ketentuan mengenai penyampaian laporan triwulanan oleh Koordinator PWD sebagaimana dimaksud dalam butir 5.b.3) untuk pertama kali mulai berlaku untuk periode laporan triwulan II yang penyampaiannya paling lama 7 (tujuh) hari kerja pada bulan Juli Pada saat Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku maka Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/13/DPSP tanggal 5 Juni 2015 perihal Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh Bank Indonesia, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 2 Mei 2016 Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Surat Edaran Bank Indonesia ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. BANK INDONESIA, BRAMUDIJA HADINOTO KEPALA DEPARTEMEN PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN

No.17/13/DPSP Jakarta, 5 Juni 2015 SURAT EDARAN

No.17/13/DPSP Jakarta, 5 Juni 2015 SURAT EDARAN No.17/13/DPSP Jakarta, 5 Juni 2015 SURAT EDARAN Perihal : Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh Bank Indonesia Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/9/PBI/2015

Lebih terperinci

No. 18/20/DPSP Jakarta, 23 September 2016 S U R A T E D A R A N

No. 18/20/DPSP Jakarta, 23 September 2016 S U R A T E D A R A N 1 No. 18/20/DPSP Jakarta, 23 September 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/31/DPSP tanggal 13 November 2015 perihal Penyelenggaraan Penatausahaan Surat

Lebih terperinci

No. 17/31/DPSP Jakarta, 13 November 2015 SURAT EDARAN

No. 17/31/DPSP Jakarta, 13 November 2015 SURAT EDARAN No. 17/31/DPSP Jakarta, 13 November 2015 SURAT EDARAN Perihal : Penyelenggaraan Penatausahaan Surat Berharga Melalui Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement System Sehubungan dengan berlakunya Peraturan

Lebih terperinci

No. 18/ 8 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N

No. 18/ 8 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N 1 No. 18/ 8 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/30/DPSP tanggal 13 November 2015 perihal Penyelenggaraan Setelmen Dana Seketika

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/9/PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/9/PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIA 1 PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/9/PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, - 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/5/PBI/2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/9/PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

No. 17/36/DPM Jakarta, 16 November SURAT EDARAN Kepada SEMUA PESERTA SISTEM BANK INDONESIA - ELECTRONIC TRADING PLATFORM DI INDONESIA

No. 17/36/DPM Jakarta, 16 November SURAT EDARAN Kepada SEMUA PESERTA SISTEM BANK INDONESIA - ELECTRONIC TRADING PLATFORM DI INDONESIA No. 17/36/DPM Jakarta, 16 November 2015 SURAT EDARAN Kepada SEMUA PESERTA SISTEM BANK INDONESIA - ELECTRONIC TRADING PLATFORM DI INDONESIA Perihal : Penyelenggaraan Sistem Bank Indonesia - Electronic Trading

Lebih terperinci

-2- Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran

-2- Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.76, 2016 PERBANKAN. BI. Kliring Berjadwal. Transfer Dana. Penyelenggaraan. Perubahan (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5876) PERATURAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, 2 PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/21/PADG/2017 TENTANG PENYEDIAAN PREFUND DALAM PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, - 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/5/PBI/2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/9/PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA DAN KLIRING BERJADWAL OLEH BANK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, 1 PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/4/PADG/2018 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAUSAHAAN SURAT BERHARGA MELALUI BANK INDONESIA-SCRIPLESS SECURITIES SETTLEMENT SYSTEM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/20/PADG/2017 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/20/PADG/2017 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/20/PADG/2017 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mendukung

Lebih terperinci

2 1. Perluasan akses kepesertaan yang tidak terbatas pada Bank Umum Saat ini kepesertaan SKNBI terbatas pada Bank Umum sehingga transfer dana melalui

2 1. Perluasan akses kepesertaan yang tidak terbatas pada Bank Umum Saat ini kepesertaan SKNBI terbatas pada Bank Umum sehingga transfer dana melalui TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERBANKAN. BI. Transfer Dana. Kliring. Berjadwal. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 122). PENJELASAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/18/PBI/2005 TENTANG SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/18/PBI/2005 TENTANG SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/18/PBI/2005 TENTANG SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung kelancaran sistem pembayaran diperlukan

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/ 18 /PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSAKSI, PENATAUSAHAAN SURAT BERHARGA, DAN SETELMEN DANA SEKETIKA

- 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/ 18 /PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSAKSI, PENATAUSAHAAN SURAT BERHARGA, DAN SETELMEN DANA SEKETIKA - 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/ 18 /PBI/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN TRANSAKSI, PENATAUSAHAAN SURAT BERHARGA, DAN SETELMEN DANA SEKETIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

No. 18/ 8 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N

No. 18/ 8 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N 1 No. 18/ 8 /DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/30/DPSP tanggal 13 November 2015 perihal Penyelenggaraan Setelmen Dana Seketika

Lebih terperinci

No. 17/34/DPSP Jakarta, 13 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA PESERTA SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT

No. 17/34/DPSP Jakarta, 13 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA PESERTA SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT 1 No. 17/34/DPSP Jakarta, 13 November 2015 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PESERTA SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT Perihal : Perlindungan Nasabah dalam Pelaksanaan Transfer Dana melalui

Lebih terperinci

No. 17/ 14 /DPSP Jakarta, 5 Juni S U R A T E D A R A N Kepada PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA DI INDONESIA

No. 17/ 14 /DPSP Jakarta, 5 Juni S U R A T E D A R A N Kepada PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA DI INDONESIA 1 No. 17/ 14 /DPSP Jakarta, 5 Juni 2015 S U R A T E D A R A N Kepada PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA DI INDONESIA Perihal : Perlindungan Nasabah dalam Pelaksanaan Transfer Dana dan Kliring

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung pelaksanaan

Lebih terperinci

Lampiran 7 BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Lampiran 7 BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009, Bank Indonesia mempunyai

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/3/PADG/2018 TENTANG LAYANAN SUB-REGISTRY BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/3/PADG/2018 TENTANG LAYANAN SUB-REGISTRY BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/3/PADG/2018 TENTANG LAYANAN SUB-REGISTRY BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa guna pengelolaan

Lebih terperinci

No. 18/4/DPTP Jakarta, 28 Maret 2016 SURAT EDARAN

No. 18/4/DPTP Jakarta, 28 Maret 2016 SURAT EDARAN No. 18/4/DPTP Jakarta, 28 Maret 2016 SURAT EDARAN Perihal: Layanan Sub-Registry Bank Indonesia dalam rangka Konversi Penyaluran Dana Bagi Hasil dan/atau Dana Alokasi Umum dalam bentuk Nontunai berupa Surat

Lebih terperinci

No.18/ 41 /DKSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N. Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran

No.18/ 41 /DKSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N. Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran No.18/ 41 /DKSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 tentang

Lebih terperinci

No. 18/9/DPSP Jakarta, 2 Mei S U R A T E D A R A N Kepada PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA

No. 18/9/DPSP Jakarta, 2 Mei S U R A T E D A R A N Kepada PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA 1 No. 18/9/DPSP Jakarta, 2 Mei 2016 S U R A T E D A R A N Kepada PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA Perihal : Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/14/DPSP tanggal 5 Juni 2015

Lebih terperinci

SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 7/29/DASP Jakarta, 22 Juli 2005 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Pemberian Persetujuan Terhadap Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia oleh Penyelenggara Kliring

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/43/PBI/2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/29/PBI/2006 TENTANG DAFTAR HITAM NASIONAL PENARIK CEK DAN/ATAU BILYET GIRO KOSONG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

No.10/29/DPM Jakarta, 2 September 2008 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DAN LEMBAGA KUSTODIAN BUKAN BANK DI INDONESIA

No.10/29/DPM Jakarta, 2 September 2008 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DAN LEMBAGA KUSTODIAN BUKAN BANK DI INDONESIA No.10/29/DPM Jakarta, 2 September 2008 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DAN LEMBAGA KUSTODIAN BUKAN BANK DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Pengajuan Permohonan, Pelaporan, dan Pengawasan Sub-Registry

Lebih terperinci

No. 15/23/DASP Jakarta, 27 Juni S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK DAN BADAN USAHA BERBADAN HUKUM INDONESIA BUKAN BANK

No. 15/23/DASP Jakarta, 27 Juni S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK DAN BADAN USAHA BERBADAN HUKUM INDONESIA BUKAN BANK No. 15/23/DASP Jakarta, 27 Juni 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK DAN BADAN USAHA BERBADAN HUKUM INDONESIA BUKAN BANK Perihal : Penyelenggaraan Transfer Dana Sehubungan dengan diberlakukannya

Lebih terperinci

No. 18/39/DPSP Jakarta, 28 Desember 2016 S U R A T E D A R A N

No. 18/39/DPSP Jakarta, 28 Desember 2016 S U R A T E D A R A N 1 No. 18/39/DPSP Jakarta, 28 Desember 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Perubahan Kedua atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 9/13/DASP tanggal 19 Juni 2007 perihal Daftar Hitam Nasional Penarik Cek

Lebih terperinci

SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DAN PERUSAHAAN JASA KURIR DI INDONESIA

SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DAN PERUSAHAAN JASA KURIR DI INDONESIA No. 6/38/DASP Jakarta, 16 September 2004 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DAN PERUSAHAAN JASA KURIR DI INDONESIA Perihal : Penggunaan Jasa Kurir dan Tanda Pengenal dalam Penyelenggaraan Kliring Lokal

Lebih terperinci

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 50 /SEOJK.03/2017

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 50 /SEOJK.03/2017 Yth. Direksi Lembaga Jasa Keuangan di tempat. SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 50 /SEOJK.03/2017 TENTANG PELAPORAN DAN PERMINTAAN INFORMASI DEBITUR MELALUI SISTEM LAYANAN INFORMASI KEUANGAN

Lebih terperinci

Lampiran 1. Contoh Format Surat Kesepakatan untuk Penyelenggaraan SKNBI SURAT KESEPAKATAN

Lampiran 1. Contoh Format Surat Kesepakatan untuk Penyelenggaraan SKNBI SURAT KESEPAKATAN Lampiran 1 Contoh Format Surat Kesepakatan untuk Penyelenggaraan SKNBI SURAT KESEPAKATAN Menunjuk Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/15/DASP tanggal 18 Juni 2009 perihal Penyelenggaraan Sistem Kliring

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/9/PADG/2017 TENTANG LEMBAGA PENDUKUNG PASAR UANG YANG MELAKUKAN KEGIATAN TERKAIT SURAT BERHARGA KOMERSIAL DI PASAR UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/ 29 /PBI/2006 TENTANG DAFTAR HITAM NASIONAL PENARIK CEK DAN/ATAU BILYET GIRO KOSONG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/ 29 /PBI/2006 TENTANG DAFTAR HITAM NASIONAL PENARIK CEK DAN/ATAU BILYET GIRO KOSONG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/ 29 /PBI/2006 TENTANG DAFTAR HITAM NASIONAL PENARIK CEK DAN/ATAU BILYET GIRO KOSONG GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penggunaan instrumen cek dan/atau bilyet

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /POJK.03/2017 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /POJK.03/2017 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /POJK.03/2017 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang :

Lebih terperinci

SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM. Perihal : Tata Cara Pemberian Fasilitas Likuiditas Intrahari Bagi Bank Umum

SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM. Perihal : Tata Cara Pemberian Fasilitas Likuiditas Intrahari Bagi Bank Umum No.12/ 29 /DASP Jakarta, 10 November 2010 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM Perihal : Tata Cara Pemberian Fasilitas Likuiditas Intrahari Bagi Bank Umum Sehubungan dengan penerbitan Peraturan Bank Indonesia

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N

S U R A T E D A R A N No. 9/13/DASP Jakarta, 19 Juni 2007 S U R A T E D A R A N Perihal : Daftar Hitam Nasional Penarik Cek dan/atau Bilyet Giro Kosong ---------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 11/ 15 /DASP Jakarta, 18 Juni 2009 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia oleh Penyelenggara Kliring Lokal Selain Bank Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/1/PADG/2017 TENTANG PELAKSANAAN LELANG SURAT BERHARGA NEGARA DI PASAR PERDANA

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/1/PADG/2017 TENTANG PELAKSANAAN LELANG SURAT BERHARGA NEGARA DI PASAR PERDANA PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/1/PADG/2017 TENTANG PELAKSANAAN LELANG SURAT BERHARGA NEGARA DI PASAR PERDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

No. 18/2/DPTP Jakarta, 28 Januari S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PEMILIK REKENING GIRO DI BANK INDONESIA

No. 18/2/DPTP Jakarta, 28 Januari S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PEMILIK REKENING GIRO DI BANK INDONESIA 1 No. 18/2/DPTP Jakarta, 28 Januari 2016 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PEMILIK REKENING GIRO DI BANK INDONESIA Perihal : Penyelenggaraan Sistem Bank Indonesia Government Electronic Banking Sehubungan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1 /POJK.05/ TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN LEMBAGA PENJAMIN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1 /POJK.05/ TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN LEMBAGA PENJAMIN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1 /POJK.05/20172017 TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN LEMBAGA PENJAMIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 23 /PBI/2012 TENTANG TRANSFER DANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 23 /PBI/2012 TENTANG TRANSFER DANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 23 /PBI/2012 TENTANG TRANSFER DANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk menjaga keamanan dan kelancaran sistem pembayaran

Lebih terperinci

No. 10/ 47 /DPNP Jakarta, 23 Desember 2008 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 10/ 47 /DPNP Jakarta, 23 Desember 2008 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 10/ 47 /DPNP Jakarta, 23 Desember 2008 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Sistem Informasi Debitur Sehubungan dengan telah dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA No. 7/63/DPBPR Jakarta, 30 Desember 2005 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA Perihal : Sistem Informasi Debitur Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank

Lebih terperinci

No.11/ 17 /DPM Jakarta, 7 Juli SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

No.11/ 17 /DPM Jakarta, 7 Juli SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH No.11/ 17 /DPM Jakarta, 7 Juli 2009 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH Perihal : Tata Cara Pemberian Fasilitas Likuiditas Intrahari Berdasarkan Prinsip Syariah Sehubungan

Lebih terperinci

No. 18/40/DPSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N

No. 18/40/DPSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N 1 No. 18/40/DPSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 18/7/DPSP tanggal 2 Mei 2016 perihal Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.283, 2012 PERBANKAN. BI. Transfer Dana. Sistem Pembayaran. Pelaksanaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5381) PERATURAN BANK INDONESIA

Lebih terperinci

No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA

No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA Perihal: Bank Umum Syariah Dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tanggal

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. wawancara langsung dan dokumenter, penulis mendapatkan data-data yang

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. wawancara langsung dan dokumenter, penulis mendapatkan data-data yang BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Penyajian Data Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis dengan cara wawancara langsung dan dokumenter, penulis mendapatkan data-data yang berhubungan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 1/ 3 /PBI/1999 TENTANG

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 1/ 3 /PBI/1999 TENTANG PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 1/ 3 /PBI/1999 TENTANG PENYELENGGARAAN KLIRING LOKAL DAN PENYELESAIAN AKHIR TRANSAKSI PEMBAYARAN ANTAR BANK ATAS HASIL KLIRING LOKAL GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/9/PBI/2016 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/9/PBI/2016 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/9/PBI/2016 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.194, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Valuta Asing. Penukaran. Bukan Bank. Usaha. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5932) PERATURAN BANK INDONESIA

Lebih terperinci

Evaluasi Pemantauan Kepatuhan Peserta SKNBI. Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Divisi Kepatuhan dan Informasi SPBI Solo, 12 November 2016

Evaluasi Pemantauan Kepatuhan Peserta SKNBI. Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Divisi Kepatuhan dan Informasi SPBI Solo, 12 November 2016 Evaluasi Pemantauan Kepatuhan Peserta SKNBI Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Divisi Kepatuhan dan Informasi SPBI Solo, 12 November 2016 OUTLINE 1 2 3 4 5 Overview Hasil Monitoring Off Site

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 6/ 8 /PBI/2004 TENTANG SISTEM BANK INDONESIA REAL TIME GROSS SETTLEMENT GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 6/ 8 /PBI/2004 TENTANG SISTEM BANK INDONESIA REAL TIME GROSS SETTLEMENT GUBERNUR BANK INDONESIA, -1- PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 6/ 8 /PBI/2004 TENTANG SISTEM BANK INDONESIA REAL TIME GROSS SETTLEMENT GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung tercapainya sistem pembayaran

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA DI INDONESIA. Perihal : Penyelenggaraan Kliring Antar Wilayah

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA DI INDONESIA. Perihal : Penyelenggaraan Kliring Antar Wilayah No. 9/35/DASP Jakarta, 18 Desember 2007 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PESERTA SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA DI INDONESIA Perihal : Penyelenggaraan Kliring Antar Wilayah Sehubungan dengan

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/7/PADG/2018 TENTANG KEPESERTAAN OPERASI MONETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/7/PADG/2018 TENTANG KEPESERTAAN OPERASI MONETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 20/7/PADG/2018 TENTANG KEPESERTAAN OPERASI MONETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memenuhi tujuan

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N

S U R A T E D A R A N No. 10/49/DASP Jakarta, 24 Desember 2008 S U R A T E D A R A N Perihal : Perizinan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang bagi Perorangan dan Badan Usaha Selain Bank ---------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/13/PBI/2017 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU TERKAIT HUBUNGAN OPERASIONAL BANK UMUM DENGAN BANK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/13/PBI/2017 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU TERKAIT HUBUNGAN OPERASIONAL BANK UMUM DENGAN BANK INDONESIA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/13/PBI/2017 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU TERKAIT HUBUNGAN OPERASIONAL BANK UMUM DENGAN BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

No. 14 / 28 /DPM Jakarta, 27 September SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

No. 14 / 28 /DPM Jakarta, 27 September SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No. 14 / 28 /DPM Jakarta, 27 September 2012 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Transaksi Repurchase Agreement (Repo) Surat Berharga Syariah

Lebih terperinci

No. 11/11/DASP Jakarta, 13 April 2009 S U R A T E D A R A N. Perihal : Uang Elektronik (Electronic Money)

No. 11/11/DASP Jakarta, 13 April 2009 S U R A T E D A R A N. Perihal : Uang Elektronik (Electronic Money) No. 11/11/DASP Jakarta, 13 April 2009 S U R A T E D A R A N Perihal : Uang Elektronik (Electronic Money) Sehubungan dengan diberlakukannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12./PBI/2009 tanggal 13 April

Lebih terperinci

No. 17/32/DPSP Jakarta, 13 November SURAT EDARAN

No. 17/32/DPSP Jakarta, 13 November SURAT EDARAN 1 No. 17/32/DPSP Jakarta, 13 November 2015 2015 SURAT EDARAN Perihal : Tata Cara Lelang Surat Berharga Negara di Pasar Perdana dan Penatausahaan Surat Berharga Negara Sehubungan dengan Peraturan Bank Indonesia

Lebih terperinci

No. 17/45/DPM Jakarta, 16 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

No. 17/45/DPM Jakarta, 16 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No. 17/45/DPM Jakarta, 16 November 2015 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Transaksi Repurchase Agreement Sertifikat Bank Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/8/PADG/2017 TENTANG PEMBIAYAAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK SYARIAH BAGI BANK UMUM SYARIAH

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/8/PADG/2017 TENTANG PEMBIAYAAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK SYARIAH BAGI BANK UMUM SYARIAH 1 PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/8/PADG/2017 TENTANG PEMBIAYAAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK SYARIAH BAGI BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

No. 4/ 11 /DASP Jakarta, 13 Agustus 2002 S U R A T E D A R A N

No. 4/ 11 /DASP Jakarta, 13 Agustus 2002 S U R A T E D A R A N No. 4/ 11 /DASP Jakarta, 13 Agustus 2002 S U R A T E D A R A N Perihal : Hubungan Rekening Giro Antara Bank Indonesia Dengan Pihak Ekstern Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 2/24/PBI/2000

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N

S U R A T E D A R A N No. 7/59/DASP Jakarta, 30 Desember 2005 S U R A T E D A R A N Perihal : Tata Cara Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu -----------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

Sistem Informasi Debitur. Peraturan Bank Indonesia No. 7/8/PBI/ Januari 2005 MDC

Sistem Informasi Debitur. Peraturan Bank Indonesia No. 7/8/PBI/ Januari 2005 MDC Sistem Informasi Debitur Peraturan Bank Indonesia No. 7/8/PBI/2005 24 Januari 2005 MDC PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/ 8 /PBI/2005 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

No. 17/42/DPM Jakarta, 16 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

No. 17/42/DPM Jakarta, 16 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No. 17/42/DPM Jakarta, 16 November 2015 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Transaksi Repurchase Agreement Surat Berharga Syariah

Lebih terperinci

BAB I. KETENTUAN UMUM

BAB I. KETENTUAN UMUM BAB I. KETENTUAN UMUM 1 1 Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya disingkat OJK, adalah lembaga yang independen yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan

Lebih terperinci

No. 14/ 32 /DPM Jakarta, 7 November 2012 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH, UNIT USAHA SYARIAH DAN LEMBAGA PERANTARA DI INDONESIA

No. 14/ 32 /DPM Jakarta, 7 November 2012 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH, UNIT USAHA SYARIAH DAN LEMBAGA PERANTARA DI INDONESIA No. 14/ 32 /DPM Jakarta, 7 November 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH, UNIT USAHA SYARIAH DAN LEMBAGA PERANTARA DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Transaksi Repurchase Agreement (Repo)

Lebih terperinci

Sistem Pembayaran Non Tunai

Sistem Pembayaran Non Tunai Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Sistem Pembayaran Non Tunai Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Sistem Pembayaran Non Tunai Tim Penyusun Ramlan Ginting Chandra Murniadi Dudy Iskandar Gantiah Wuryandani

Lebih terperinci

SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM, PERUSAHAAN PIALANG PASAR UANG RUPIAH DAN VALUTA ASING DAN PERUSAHAAN EFEK DI INDONESIA

SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM, PERUSAHAAN PIALANG PASAR UANG RUPIAH DAN VALUTA ASING DAN PERUSAHAAN EFEK DI INDONESIA No. 7/31/DPM Jakarta, 25 Juli 2005 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM, PERUSAHAAN PIALANG PASAR UANG RUPIAH DAN VALUTA ASING DAN PERUSAHAAN EFEK DI INDONESIA Perihal: Tata Cara Persetujuan dan Pencabutan

Lebih terperinci

No. 7/55/DPM Jakarta, 6 Desember 2005 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DAN LEMBAGA KUSTODIAN BUKAN BANK DI INDONESIA

No. 7/55/DPM Jakarta, 6 Desember 2005 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DAN LEMBAGA KUSTODIAN BUKAN BANK DI INDONESIA No. 7/55/DPM Jakarta, 6 Desember 2005 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DAN LEMBAGA KUSTODIAN BUKAN BANK DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Penunjukan dan Pengawasan Sub-Registry Sebagaimana ditetapkan

Lebih terperinci

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Kelembagaan. Persyaratan dan Tata Cara Pemeriksaan Bank

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Kelembagaan. Persyaratan dan Tata Cara Pemeriksaan Bank Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Kelembagaan Persyaratan dan Tata Cara Pemeriksaan Bank Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Kelembagaan Persyaratan dan Tata Cara Pemeriksaan Bank Tim Penyusun Ramlan

Lebih terperinci

Permohonan Perubahan Kegiatan Usaha

Permohonan Perubahan Kegiatan Usaha LAMPIRAN II SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 18/8/DPSP TANGGAL TANGGAL 2 MEI 2016 PERIHAL PENYELENGGARAAN SETELMEN DANA SEKETIKA MELALUI SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT CONTOH II.17 SURAT

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/6/PADG/2017 TENTANG PINJAMAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/6/PADG/2017 TENTANG PINJAMAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/6/PADG/2017 TENTANG PINJAMAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/15/PADG/2017 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN, PENYAMPAIAN INFORMASI, DAN PEMANTAUAN PENYELENGGARA TEKNOLOGI FINANSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 7/ 9 /DPNP Jakarta, 31 Maret 2005 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Sistem Informasi Debitur Sehubungan dengan telah dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR BANK INDONESIA,

- 1 - GUBERNUR BANK INDONESIA, - 1 - PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 4/ 1/PBI/2002 TENTANG PERUBAHAN KEGIATAN USAHA BANK UMUM KONVENSIONAL MENJADI BANK UMUM BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH DAN PEMBUKAAN KANTOR BANK BERDASARKAN PRINSIP

Lebih terperinci

No.18/32/DPSP Jakarta, 29 November 2016 S U R A T E D A R A N

No.18/32/DPSP Jakarta, 29 November 2016 S U R A T E D A R A N No.18/32/DPSP Jakarta, 29 November 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Bilyet Giro Sehubungan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/41/PBI/2016 tentang Bilyet Giro (Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

No. 18/25/DPU Jakarta, 2 November 2016 Oktober Perihal : Penyelenggara Jasa Pengolahan Uang Rupiah

No. 18/25/DPU Jakarta, 2 November 2016 Oktober Perihal : Penyelenggara Jasa Pengolahan Uang Rupiah No. 18/25/DPU Jakarta, 2 November 2016 Oktober 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Penyelenggara Jasa Pengolahan Uang Rupiah Sehubungan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/15/PBI/2016 tentang Penyelenggara

Lebih terperinci

No. 11/10 /DASP Jakarta, 13 April 2009 S U R A T E D A R A N

No. 11/10 /DASP Jakarta, 13 April 2009 S U R A T E D A R A N No. 11/10 /DASP Jakarta, 13 April 2009 S U R A T E D A R A N Perihal : Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu Sehubungan dengan diberlakukannya Peraturan Bank Indonesia Nomor

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA. Perihal : Jadwal Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA. Perihal : Jadwal Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia No. 7/ 27 /DASP Jakarta, 22 Juli 2005 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Jadwal Penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia Sehubungan dengan telah diberlakukannya

Lebih terperinci

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Non Bank. Hubungan Rekening Giro antara Bank Indonesia dengan Pihak Ekstern

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Non Bank. Hubungan Rekening Giro antara Bank Indonesia dengan Pihak Ekstern Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Non Bank Hubungan Rekening Giro antara Bank Indonesia dengan Pihak Ekstern Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia Hubungan Non Bank dengan BI Hubungan Rekening Giro antara

Lebih terperinci

2017, No menetapkan Peraturan Bank Indonesia tentang Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek bagi Bank Umum Konvensional; Mengingat : 1. Undang-Undang

2017, No menetapkan Peraturan Bank Indonesia tentang Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek bagi Bank Umum Konvensional; Mengingat : 1. Undang-Undang No.82, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Bank Umum. Konvensional. Jangka Pendek. Likuiditas. Pinjaman. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6044) PERATURAN

Lebih terperinci

No. 18/42/DKSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N. Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank

No. 18/42/DKSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N. Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank No. 18/42/DKSP Jakarta, 30 Desember 2016 S U R A T E D A R A N Perihal : Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/20/PBI/2016 tentang

Lebih terperinci

No. 11/ 24 /DPbS Jakarta, 29 September SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA

No. 11/ 24 /DPbS Jakarta, 29 September SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA No. 11/ 24 /DPbS Jakarta, 29 September 2009 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal: Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional Menjadi Bank Umum Syariah Sehubungan dengan

Lebih terperinci

No. 10/17/DPM Jakarta, 31 Maret Maret 2008 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

No. 10/17/DPM Jakarta, 31 Maret Maret 2008 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH No. 10/17/DPM Jakarta, 31 Maret 200831 Maret 2008 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH Perihal : Tata Cara Transaksi Repo Sertifikat Bank Indonesia Syariah dengan Bank Indonesia.

Lebih terperinci

No. 17/33/DPSP Jakarta, 13 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK PESERTA SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT

No. 17/33/DPSP Jakarta, 13 November 2015 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK PESERTA SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT 1 No. 17/33/DPSP Jakarta, 13 November 2015 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK PESERTA SISTEM BANK INDONESIA-REAL TIME GROSS SETTLEMENT Perihal : Tata Cara Penggunaan Fasilitas Likuiditas Intrahari

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/51/PBI/2005 TENTANG LAPORAN BULANAN BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/51/PBI/2005 TENTANG LAPORAN BULANAN BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/51/PBI/2005 TENTANG LAPORAN BULANAN BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyusunan laporan dan informasi untuk keperluan

Lebih terperinci

INFORMASI PENTING! QUESTIONS & ANSWERS (Q & A) KETENTUAN BILYET GIRO DAN KETENTUAN TERKAIT LAINNYA

INFORMASI PENTING! QUESTIONS & ANSWERS (Q & A) KETENTUAN BILYET GIRO DAN KETENTUAN TERKAIT LAINNYA INFORMASI PENTING! PERUBAHAN KETENTUAN BILYET GIRO SESUAI KEBIJAKAN BANK INDONESIA EFEKTIF 1 APRIL 2017 Untuk Informasi Lebih Lengkap Dapat Diakses Melalui www.danamon.co.id Atau Hello Danamon. QUESTIONS

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/41/PBI/2016 TENTANG BILYET GIRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/41/PBI/2016 TENTANG BILYET GIRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/41/PBI/2016 TENTANG BILYET GIRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa salah satu alat pembayaran nontunai berbasis warkat yang

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/28/PBI/2006 TENTANG KEGIATAN USAHA PENGIRIMAN UANG GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa saat ini jumlah transaksi maupun nilai nominal pengiriman uang baik di

Lebih terperinci