BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Definisi Alat Mesin pendingin adalah suatu rangkaian yang mampu berkerja untuk menghasilkan suhu atau temperatur dingin. Yang dapat digunakan untuk mendinginkan atau menyimpan benda-benda yang diinginkan oleh penggunanya agar dapat dipakai dikemudian hari. Biasanya mesin pendingin berbentuk persegi panjang. Mesin pendingin sangat dibutuhkan oleh orang-orang, karena berguna untuk menyimpan berbagai jenis bahan pokok, seperti produk buah dan sayuran. Mesin pendingin ini dirancang agar bisa menyimpan buah sesuai kapasitas yang diinginkan(sugiarto, 2002). Penyimpanan adalah mengelolah barang yang ada agar tetap bisa dipakai di kemudian hari. Pada umumnya, pendinginan buah dan sayur suhu berada pada 2⁰C - 15⁰C bergantung pada setiap buah-buahan tersebut. Pendinginan meminta control kondisi ekologi seperti suhu rendah, pengaturan udara, kelengketan, dan penyebaran udara. Suhu yang digunakan kapasitasnya tidak boleh terlalu rendah karena dapat menyebabkan kerusakan produk karena suhu terlalu rendah. Harus sesuai suhu buah yang akan kita simpan di mesin pendingin. Buah dan sayur adalah sesusatu benda yang realtif mudah mengalami kerusakan setelah proses panen. Kerusakan buah dan sayur yang disebabkan perlakuan fisik contohnya adalah pengerasan pada kulit panagan yang dikeringkan akibat buah dan sayur yang dibekukan. Tingkat kerusakan tergantung kepada tingkatan suhu dan lamanya terpapar. Suhu buah dan sayur berdeba untuk setiap koditas atau produk. Secara suhu umum terjadinya chilling injury berada pada di bawah ⁰C tetapi diatas freezing temperature yang artinya penyimpanan diantara suhu ini akan menyebabkan produk mengalami chilling injury. Gejala yang terjadi pada buah yaitu warna berubah menjadi kecoklatan, tekstur menjadi lembek atau kenyal, lama-lama rasanya menjadi masam bahkan hambar, keluar aroma busuk dan akibat chiling injury, kulit biah menyusut, berlubang dan gagal masak. 5

2 6 1.2 Sistem refrigerasi Sistem refrigerasi merupakan proses penyerapan kalor dari ruangan yang bertemperatur tinggi dan memindahkan kalor tersebut ke suatu medium tertentu yang memiliki tempepratur lebih rendah serta menjaga kondisi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan. dengan kata lain refregerasi adalah proses pengubahan temperatur dalam suatu ruangan menjadi rendah pada temperatur awalnya. Prinsip kerja sistem refrigerasi yakni jika mesin dialiri listrik maka akan memutar kompresor. Saat kompresor berputar, suhu refrigeran dan faktor pengepresan akan naik. Ini karena siklus tekanan, dimana atom-atom refrigeran bergerak lenih cepat. Gas dari refrigeran akan mengalir disaluran kondensor ke segmen motor refrigerasi berikutnya.(purnomo & Waluyo, 2015) Komponen utama dari sistem pendinginan adalah kompresor, kondensor, katup ekspansi, dam evaporator. Kompresor berfungi untuk mengisap refrigeran dari evaporator dengan suhu dan tekanan rendah lalu memampatkan refrigeran tersebut sehingga tekanan dan suhunya meningkat untuk kemudian dialirkan ke kondensor. Kondensor untuk mengkondesasikan gas refrigeran dengan menurunkan suhu dan faktor tekanan gas yang stabil, kemudian, pada saat itu cairan refrigeran masuk ke evaporator. Evaporator dalam sistem pendingin yang menerima retensi panas ke dalam sitem biasa menjadi dingin. Pada tingkat dasar, perpindahan panas yang terjadi di evaporator sama dengan perpindahan panas yang terjadi dikondensor. Hanaya saja di dalam kondensor panas dialirkan atau dikeluarkan oleh refrigeran ke media pendingin kondensor, sedangkan di evaporator panas diserapi oleh refrigeran dari media yang didinginkan. Secara umum prinsip refrigerasi adalah proses penyerapan panas dari dalam ruangan yang tertutup lalu memindahkan panas keluar dari ruangan tersebut. Refrigerasi memanfaatkan sifat-sifat panas dari bentuk cair menjadi gas dan sebaliknya gas menjadi cair. Sistem Refrigerasi adalah sistem pendingin yang biasa dipakai di AC, kulkas dan freezer. Sistem pendinign yang saya gunakan adalah menunggunakan siklus kompresi uap.pada sistem pendingin kompresi uap menggunakan kompresor untuk menaikkan tekanan refrigerasi/ freon. Pada siklus kompresi uap ada empat

3 7 komponen utama yaitu : kompresor, kondensor, alat ekspansi ( katup ekpansi dan pipa kapiler), dan evaporator. Jika tidak ada dari salah satu komponen tersebut, maka sistem pendingin tidak akan dapat bekerja mendinginkan udara.(achamd THARIQ 2016, 2016) 1.3 Siklus Kompresi Uap Dalam siklus kompresi uap merupakan jenis mesin refrigerasi yang paling banyak digunakan saat ini. Mesin refrigerasi siklus kompresi uap terdiri dari empat komponen utama. Pembagian komponen utama bertujuan untuk membedahkan fungsi masing-masing komponen yaitu kompresor, kondensor, alat ekpansi, dan evaporator. Pada kerangka Fume pressure Refrigeration Cycle, kompresor mengemas pada tahap fume sehingga faktor pengepresan dan temperatur meningkat, dengan tujuan agar refrigerant secara efektif terkumpul (mengkonsolidasi) di dalam kondensor. Kemudian pada saat itu faktor pengepresan dan temperatur diturunkan oleh extension valve sehingga fluida dapat menghilang kembali (disipasi), sambibl menahan panas dari benda ideal, pola aliran refrigeran dapat dilihat kondensasi (pengembunan) dikondensor. (Budiarto et al., 2016) Pembagian komponen utama bertujuan untuk membedakan fungsi masingmasing komponen yaitu kompresor, kondensor, alat ekpansi, dan evaporator. Susunan empat komponen tersebut secara skematik ditujukan pada gambar 2.1 Gambar 2.1. Sistem siklus Uap : [ yaitu : Proses yang berlangsung pada sistem refrigerasi memiliki beberapa proses

4 8 1. Penguapan ( evaporasi ) Penguapan adalah proses yang terjadi didalam evaporator. Penguapan tejadi pada suhu tetap. 2. Penurunan tekanan ( ekspansi ) Penurunan tekanan terjadi pada katup ekspansi 3. Pengembunan ( kondensasi ) Pengembunan adalah menghilangkan panas dari refrigerant yang bersuhu dan tekanan tinggi didalam kondensor. 4. Pemompaan (kompresi) Pemompaan adalah cara untuk menyalurkan refrigerant/ freon bertekanan dan suhu tinggi dari kompresor menuju ke kondensor Diagram T-S Diagram P-H Siklus kompresi uap, di dalam evaporator refrigeran akan menyedot panas dari ruangan dengan tujuan agar panas tersebut akan menghilang refrigeran. Kemudian pada saat itu asap refrigeran akan di kemas oleh kompresor hingga mencapai tekanan kondensor, di dalam kondensor uap refrigeran dikondensasikan dengan menghilangkan panas dari asap refrigeran ke keadaan saat ini. Kemudian, pada saat itu refrigeran akan dilewati sekai lagi ke dalam evaporator. Grafik T-s dan P-h dari siklus tekanan asap terbaik dapat ditemukan pada gambar 2.2. Gambar 1.2. Diagram T-S dan Diagram P-H Proses pada diagram T-S dan Diagram P-H memiliki beberapa proses Kompresor, freon gas bertekanan rendah dikompresikan menjadi freon bertekanan tinggi. Kondensor, freon bertekanan tinggi yang semulanya berbentuk gas dirubah menjadi freon cair dengan pressure tetap tinggi dan temperature tetap tinggi.

5 9 Alat ekpansi, freon cair yang memiliki tekanan tinggi diturunkan sehingga suhu pada freon cair menurun. Evaporator, mengubah freon cair kedalam bentuk gas/uap dengan metode menyerap kalor yang berasal dari ruang yang telah dikondisikan. Freon, yang berbentuk gas atau uap kemudian dihisap oleh kompresor, sebelum adanya sirkulasi kembali. 1.4 Proses Perpindahan Panas Perpindahan panas adalah energi panas yang berpindah dari suhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah melalui berbagai macam perambatannya. Panas dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain karena ada perbedaan suhu. Perpindahan panas bisa terjadi dengan tiga proses yang pertama secara konduksi, konveksi, dan radiasi. Dalam proses pendinginan terjadi perpindahan panas yang bersifat konveksi antar zat cair.(agus Haryanto, 2015) Konveksi merupakan proses bertukarnya panas yang terjadi didalam permukaan yang kuat dengan cairan yang berada disekitarnya, proses tersebut membutuhkan media penghantar berupa cairan/gas Perpindahan Panas Konduksi Konduksi merupakan suatu perpindahan kalor dalam zat padat tanpa diikuti dengan perpindahan partikelnya. Biasanya peristiwa ini dapat kita temukan pada saat memanaskan suatu ujung besi, maka panas dari ujung besi tersebut dapat merambat atau menyebar keujung besi lainnya.(ningsi, 2021) Perpindahan panas konduksi tidak hanya terjadi pada benda padat, tetapi juga terjadi pada benda cair dengan gas. Jika media penghantar benda padat, maka daya hantaranya sangat tinggi menuju ke suhu rendah sangat lebih cepat. Sepertih contoh logam, jika media penghantar berupa gas, maka daya hantar suhu tinggi menuju ke suhu rendah lebih lambat dari pada media gas. Rumus konsep perpindahan panas konduksi adalah menggunakan hukum fourier. Ditanyakan pada 2.1 : qk A = k.a. dt dx (2.1)

6 10 q k = laju perpindahan panas konduksi (W) =konduktivitas termal dingin (W/m.K) A = luas penampang (m 2 ) dt dx = perbedaan suhu ke arah perpindahan panas antara dua titik T X = temperature (⁰C dan ⁰F) = tebal dinding (m/ft) Perpindahan Panas Konveksi Konveksi adalah teknik perpindahan panas yang mengalir pada zat cair yang suhunya tinggi menuju zat cair yang suhunya lebih rendah karena perpindahan panas atau aliran partikel.(walujodjati, 2006) Suatu zat cair bersuhu (T) bergerak dengan kecepatan (V), pada permukaan yang kuat. Jumlah ebnergi kalor persatuan waktu yang diterima oleh fluida sekitarnya secara konveksinya adalah sebanding dengan luas penampang benda yang bersentuhan dengan fluida pad temperatur Δ. Dengan memanfaatkan hukum pendinginan Newton, dampak umum kondisi dapat ditemukan pada kondisi 2.2 : H= h. A. T (2.2) H = Laju perpindahan A = Luas permukaan perindahan panas h = Koefisien konveksi menurut perpindahan panas konveksi, aliran fluida dapat diklasifikasikan menjadi : a) Konveksi paksa (forced convection ) adalah mekanisme atau jenis transportasi gerakan fluida yang dihasilkan oleh sumber eksternal. Seperti pompa, kipas,angin, alat penghisap dan lainya. Penerpannya biasanya digunakan dalam kehidupan

7 11 sehari-hari, misalnya sistem pemanas, AC, Turbin uap dan lain-lain. b) Konveksi alamiah (natural convection) adalah perpindahan kalor yang terjadi secara alam, contoh : pemanasan air. Pada pemanasan air,massa jenis air yang dipanasi mengecil sehingga air yang panas naik digantikan air yang massa jenisnya lebih besar Perpindahan Panas Radiasi Perpindahan panas radiasi dapat dipandang sebagai proses perpindahan panas yang terjadi akibat pancaran atau radiasi gelombang elektromagnetik. Perpindahan panas yang terjadi pada perpindahan panas radiasi ini tidak memerlukan media, hasil dari perpindahan panas dapat berlangsung di dalam ruangan hampa(ramadhan et al., 2017). Persamaan yang ada pada perpindahan panas radiasi adalah hukum stefan Boltzman : 4 q rad = εσt s (2.3) Dimana: q rad = Laju pertukaran panas radiasi ε = Nilai emisivitas σ = Konstanta Stefan Boltzamn nilai %,67 x 10 8 (W /m 2 K 4 ) A = Luas bidang permukaan(m 2 ) Ts = Temperatur absolut benda (K) Untuk situasi ini, semua suhu dalam pertukaran panas radiasi adalah suhu mutlak (absolut) yaitu kelvin (K).

8 Thermodinamika Refrigerasi Sifat sifat termodinamika R- 134a FORMULA MOLEKUL CH₂FCF₃ Berat molekul 102,03 Titik Didih 101,3 Kpa (⁰C) -26,10 Titik Bekuh 101,3 Kpa -96,60 Densitas 30⁰C (kg/m3) 1188,10 Suhu kritis (⁰C) 101,10 Tekanan kritis Mpa 4,06 ODP 0 GWP 1300 Laju aliran massa refrigerant M x = ṁ e Kg =... ( 1 x ) s Kalor yang dilepas kondensor (2.4) Q cond = h 2 h 3 h 2 = Entalpi sebelum kondensor (kj/kg) h 3 = Entalpi freon sesudah kondensor (kj/kg) Kerja kompresi W comp = h 1 h 2.. kj kg (2.5) W comp = kerja spesifik kompresor (kj/kg) h 1 = entalpi pada awal proses kompresi (kj/kg) h 2 = entalpi pada akhir proses kompresi (kj/kg) Laju masa pendauran refrigeren

9 13 M = Qe qe Qe = beban pendinginan (W) qe = efek refrigerasi (kj/ kg) Daya kompresor M = Laju aliran massa (Kg/s) N comp = Mr (h 1 h 2 )... kj COP ( Coefficient Of Performance) s (2.6) (2.7) COP merupakan salah satu indikator pada sistem refrigerasi yang begitu sangat dibutuhkan karena untuk menentukan kerja dari sistem itu sendiri. Semakin besar nilai COP maka semakin efesien sebuah mesin pendingin.(silaban et al., 2018a) COP = h 1 h 2 h 1 h 2 (2.8) COP = prestasi kerja mesin refrigerai h 1 = entalpi masuk kompresor (kj/kg) h 2 = entalpi keluar kompresor (kj/kg) h 4 = entalpi masuk evaporator (kj/kg) COP C = T evaporasi +273 Q kondensor T evaporasi Efesiensi COP COP c X100%

10 Komponen Mesin Pendingin Mesin pendingin adalah satuan rangkaian komponen yang mampu berkerja untuk menghasilkan suhu dingin dan mesin pendingin mempunyai beberapa komponen sebagai berikut : a) Kompresor b) Kondensor c) Katub ekspansi d) Evaporator Kompresor Menurut Handoko K 1981, komporesor adalah bagian yang terpenting dalam mesin pendingin, pada sistem refrigerasi kompresor bekerja membuat perbedaan tekanan sehingga bahan pendingin dapat mengalir dari satu bagian ke bagian lain dari sistem.kompresor pada sistem refrigerasi gunanya untuk: a) menurunkan tekanan didalam evaporator, sehingga bahan pendingin di evaporator dapat menguap pada suhu lebih rendah dan menyerap panas lebih banyak dari ruangan didekat evaporator b) menghisap bahan pendingin gas dari evaporator dengan suhu rendah dan tekanan rendah lalau memampatkan gas tersebut sehingga menjadi gas suhu tinggi dan tekanan tinggi, kemudian mengalirkan ke kondensor, sehingga gas tersebut dapat memeberikan panasnya kepada zat yang mendinginkan kondensor lalau mengembun. Berikut jenis Kompresor yang banyak dipakai untuk mesin pendingin : 1) Kompresor Open unit Gambar 2.3. Kompresor Open Unit

11 15 Umumnya juga disebut belt- Driven atau open tipe kompresor, kompresor terpisah dari tenaga penggeraknya, masing-masing berdiri sendiri dalam keadaan terpisah, tenaga penggerak kompresor umumnya motor listrik, tetapi ada juga yang memakai motor bensin atau diesel. (Silaban et al., 2018b) 2) Semi Hermetic Unit Gambar 2.4. Kompresor Semi Hermetic Unit Disini kompresor dan eletro motor masing masing berdiri sendiri dalam keadaan terpisah. Tetapi dihubungkan sehingga seolah olah menjadi satu buah. Untuk memutarkan / menggerakan kompresor, poros motor listrik (electro motor ) dihubungkan dengan poros kompresor langsung. 3) Kompresor Hermetic Jenis ini banyak dipakai sekarang, karena kompresor dan elektro motor berada dalam satu unit yang tertutup rapat, konstruksi dari kompresor dan elektro motor merupakan satu kesatuan dan kompresor digerakkan langsung oleh elektro motor dengan poros engkol yang menjadi satu dengan poros dari elektro motor. Gambar 2.5. Kompresor Hermetic

12 Kondensor Kondensor berfungsi untuk membuang kalor dan mengubah wujud refrigerant dari fase gas menjadi fase cair, jumlah kalor yang dilepaskan dalam kondensor sama dengan jumlah kalor yang diserap oleh refrigerant didalam evaporator serta ekuivalen dengan energi yang diperlukan untuk melakukan kerja kompresor dan kalor dari system. Uap refrigeran dari kompresor yang bertekanan. Gambar 2.6.Kondensor dan temperatur tinggi dialirkan ke kondensor untuk dicairkan dengan menggunakan air atau udara luar. (Elektro et al., 2013) Kondensor dibagi 3 macam tergantung dari zat yang mendinginkan : a) Kondensor dengan pendingin udara (air cooled) b) Kondensor dengan pendingin air (water cooled) c) Kondensor dengan pendingin campuran udara dan air (evaporative) Kapasitas kondensor yang dibutuhkan Laju perpindahan kalor yang dibutuhkan didalam kondensor merupakan fungsi dari kapasitas refrigerasi, suhu penguapan dan suhu pengembunan. Kondensor harus dapat mengeluarkan energi yang diserap oleh evaporator serta kalor kompresi yang diberikan kompresor. Istilah yang sering digunakan untuk mengaitkan antara laju alir kalor di kondensor dan dalam evaporator adalah rasio pelepasan kalor ( heat rejection rattio) yaitu (Stoecker,1989) Rasio pelepasan kalor (RPK)= lajupelepasankalordikondensor,kw lajupelepasankalordievaporator,kw (2.9)

13 17 Koefisien perpindahan kalor total Menurut Stoeker,1989 untuk menghitung koefisien perpindahan kalor total adalah: 1 U₀ = A₀ + x.a₀ + A₀ hf (Ap+ƞAc k.am hi.ai U₀ = koefisien perpindahan panas total (W/m²K) A₀ = luas permukaan pipa luar (m²) Ai = luas permukaan pipa dalam (m²) Am = rata rata luas permukaan pipa (m²) hi = koefisien perpindahan panas dalam pipa (W/m².k) hf = koefisien perpindahan panas rata-rata udara (W/m².k) x = tebal pipa (m) k = kondukfitas termal pipa (W/m.k) Ap = keefektifan sirip utama Ƞ= keefektifan sirip Ac = keefektifan sirip tambhan Beda temperatur rata rata logaritma (LMTD) Menurut persamaan (2.10) Stoecker, 1989 untuk menghitung (LMTD) menggunakan LMTD = (tc ti) (tc to) In (tc ti) (tc to) (2.11) tc = temperatur refrigent masuk dan keluar (⁰C) ti = temperatur udara masuk (⁰C) to = temperatur udara keluar (⁰C) Luas Bidang Kontak Perpindahan Panas Pada Kondensor Menurut Stoecker, 1989 untuk menemukan luas bidang perpindahan panas pada kondensor digunakan persamaan : A = Q ULMTD (2.12)

14 18 Panjang pipa A= luas bidang perpindahan panas pada kondensor (m²) Q = laju perpindahan kalor (KW) U= koefisien perpindahan kalor total (W/m²K) LMTD = beda temperatur rata-rata logaritma (⁰C) Menurut Stoecker 1989 untuk menetukan panjang pipa digunakan persamaan: L= L = panjang pipa (m) A π.d 0 (2.13) A= luas bidang perpindahan panas (m²) D₀= diameter luar pipa (m) Katup Ekspansi dan pipa kapiler Katup ekspansi berfungsi untuk mengalirkan dan menurunkan tekanan refrigerent cair dari kondensor agar mudah menguap didalam evaporator. Katup ekspansi yang dipergunakan dalam rancangan ini adalah katup ekspansi otomatic termostic, karena katup ekspansi ini menggunakan sensor panas yang ada di dalamnya sehingga katup ekspansi ini akan bekerja sendirian tanpa bantuan dari operator atau manusia lagi. (Pipa et al., 2018) Gambar 2.7. Katub Ekspansi

15 19 Gambar 2.8. Pipa Kapiler Evaporator Gambar 2.9. Evaporator Tekanan cairan refrigeranrt yang diturunkan pada katup ekspansi akan didistribusikan secara merata ke dalam pipa pipa evaporator. Refrigerant tersebut akan menguap karena menyerap kalor dari udara yang mengalir melalui permukaan luar dari evaporator. Udara didinginkan di bawah titik embun, maka uap air akan mengembun pada permukaan evaporator, yang kemudian ditampung dan dialirkan pada ruangan yang akan dikondisikan tersebut. Cairan refrigerant diuapkan berangsur-angsur karena menerima kalor sebanyak kalor laten penguapan, selama mengalir didalam setiap pipa dari koil evaporator.(conditioning et al., n.d.) 1.7 Beban Pendinginan Beban pendingin dalam sistem pendiniginan dapat diartikan sebagai banyaknya panas yang diarborsikan (diserap) perunit time yang besarnya diukur dalam BTU/Hour atau Ton Refregration. Beban pendinigin dapat sigolongkan dalam tiga macam yaitu : 1. Panas konduksi yaitu beban panas dari dinding. 2. Infilstrasi yaitu bban panas karena adanya pertukaran udara. 3. Panas produk yaitu beban panas dari benda yang didinginkan.

16 Panas konduksi Perpindahan panas secara konduksi disebabkan karena adanya perbedaan temperatur antara ruang pendingin dengan sekelilingnya, misalnya melalui dinding, atap dan lantai. Besarnya beban ini dipengaruhi oleh type isolasi, tebal isolasi, konstruksi, luas dinding luar dan perbedaan temperatur antara ruang pendingin dan diluarnya (Camarano, 1989) Infiltrasi Gambar Filter Beban pertukaran udara dapat terjadi karena masuknya udaraluar keruangan pendingin ini mengandung panas. Udara bebas ini akan menjadi beban mesin refrigerator. (J.,1989 p.169). besarnya beban pendingin infiltrasi ini dapat dicari dengan persamaan : Qud = V ruang. pertukaran udara. (0,075). (h₀-h₁) (2.14) h₀ = entalphi didalam ruangan h₁= enthalphi diluar ruangan Panas Produk Panas yang dikeluarkan oleh makanan dan minuman pendingin yang harus diatasi oleh mesin pendignin. Besarnya beban pendinginan tergantung dari banyak atau sedikitnya makanan dan minuman yang akan dimasukkan.(siswanti, 2016) Sehingga pertambahan panas ruangan yang disebabkan oleh produk dapat dicari dengan persamaan :

17 21 Q = m.cp. T (2.15) Q = jumlah panas dalam (Btu) M = masa produk (ib) Cp= spesifikasi heat diatas titik beku (Btu/ib.⁰F) T = perbedaan temperatur produk (⁰F) Perhitungan Beban Pendinigin 1. Beban Produk Q₃ = m,cp.(ti tr) waktu pendinginan (2.16) Q : kuantitas panas (w) m = massa produk (kg) cp = panas spesifikasi sebelum beku (Kj/kg⁰C) 2. Beban akibat lampu Q₄ = total light watt x faktor ballast (2.17) 1. Beban transmisi akibat kontruksinya. o Perhitungan Beban melalui dinding box pendingin Qlt = A x U x T (2.18) A = luas permukaan dinding (m²) U = koefisien perpindahan panas total (W/m².⁰K) T = Selisi temperatur (⁰K)

18 22 Koefisien perpindahan panas total 1 U = 1 f1 + x1 f1 + x2 k2 + + xn kn + 1 fo F1 = koefesien konveksi dari permukaan bagian dalam(w/m².k) Fo = koefisien konvekso dari permukaan bagian luar (w/m².k) X = tebal material (m) K = konduktivitas termal ( w/m².⁰k) 2. Beban pendingin Akibat Infiltrasi Q₂ = laju ilfiltrasi x h (2.19) Laju ilfitrasi (kj/s) 3. Radiasi matahari h₀ = entalpi diluar ruangan (kj/kg) h₁ = entalpi didalam ruangan (kj/kg) Karena box pendingin yang dirancang berada dalam ruangan maka beban radiasi matahari dianggap nol Jumlah Beban Pendingin (Q tot) Qtotal = Q₁+Q₂+Q₃+Q₄ Untuk menghindari adanya kesalahan dalam mengestimasi besarnya beban pendinigin total, maa diperlukan adanya faktor keamanan untuk menambah besarnya perkiraan beban pendingin. Faktor keamanan dalam perancangan ini diambil 10% dari beban pendinigin total Beban pendingin total Q = Q total. 0,1 Pendingin total Qt = Q total + Q

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Umum Mesin pendingin atau kondensor adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar ruangan. Adapun sistem mesin pendingin yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Tabel 2.1 Daya tumbuh benih kedelai dengan kadar air dan temperatur yang berbeda

BAB II DASAR TEORI. Tabel 2.1 Daya tumbuh benih kedelai dengan kadar air dan temperatur yang berbeda BAB II DASAR TEORI 2.1 Benih Kedelai Penyimpanan benih dimaksudkan untuk mendapatkan benih berkualitas. Kualitas benih yang dapat mempengaruhi kualitas bibit yang dihubungkan dengan aspek penyimpanan adalah

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR FISIKA ENERGI II PEMANFAATAN ENERGI PANAS TERBUANG PADA MESIN AC NPM : NPM :

LAPORAN AKHIR FISIKA ENERGI II PEMANFAATAN ENERGI PANAS TERBUANG PADA MESIN AC NPM : NPM : LAPORAN AKHIR FISIKA ENERGI II PEMANFAATAN ENERGI PANAS TERBUANG PADA MESIN AC Nama Praktikan : Utari Handayani NPM : 140310110032 Nama Partner : Gita Maya Luciana NPM : 140310110045 Hari/Tgl Percobaan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 sistem Blast Chiller [PT.Wardscatering, 2012] BAB II DASAR TEORI

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 sistem Blast Chiller [PT.Wardscatering, 2012] BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Blast Chiller Blast Chiller adalah salah satu sistem refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan suatu produk dengan cepat. Waktu pendinginan yang diperlukan untuk sistem Blast

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ALAT PENGKONDISIAN UDARA Alat pengkondisian udara merupakan sebuah mesin yang secara termodinamika dapat memindahkan energi dari area bertemperatur rendah (media yang akan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengeringan Pengeringan adalah proses mengurangi kadar air dari suatu bahan [1]. Dasar dari proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan kandungan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI

BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem refrigerasi kompresi uap Sistem refrigerasi yang umum dan mudah dijumpai pada aplikasi sehari-hari, baik untuk keperluan rumah tangga, komersial dan industri adalah sistem

Lebih terperinci

Studi Eksperimen Pemanfaatan Panas Buang Kondensor untuk Pemanas Air

Studi Eksperimen Pemanfaatan Panas Buang Kondensor untuk Pemanas Air Studi Eksperimen Pemanfaatan Panas Buang Kondensor untuk Pemanas Air Arif Kurniawan Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang E-mail : arifqyu@gmail.com Abstrak. Pada bagian mesin pendingin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Umum Air Conditioning (AC) atau alat pengkondisian udara merupakan modifikasi pengembangan dari teknologi mesin pendingin. Alat ini dipakai bertujuan untuk mengkondisikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dasar Dasar Perpindahan Kalor Perpindahan kalor terjadi karena adanya perbedaan suhu, kalor akan mengalir dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat suhu rendah. Perpindahan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. perpindahan kalor dari produk ke material tersebut.

BAB II DASAR TEORI. perpindahan kalor dari produk ke material tersebut. BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Refrigerasi adalah suatu proses penarikan kalor dari suatu ruang/benda ke ruang/benda yang lain untuk menurunkan temperaturnya. Kalor adalah salah satu bentuk

Lebih terperinci

Laporan Tugas Akhir 2012 BAB II DASAR TEORI

Laporan Tugas Akhir 2012 BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Definisi Vaksin Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA BAB II STUDI PUSTAKA.1 Teori Pengujian Sistem pengkondisian udara (Air Condition) pada mobil atau kendaraan secara umum adalah untuk mengatur kondisi suhu pada ruangan didalam mobil. Kondisi suhu yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI

BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Penyimpanan Energi Termal Es merupakan dasar dari sistem penyimpanan energi termal di mana telah menarik banyak perhatian selama beberapa dekade terakhir. Alasan terutama dari penggunaan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Batasan Rancangan Untuk rancang bangun ulang sistem refrigerasi cascade ini sebagai acuan digunakan data perancangan pada eksperiment sebelumnya. Hal ini dikarenakan agar

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Refrigerasi merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan saat ini terutama bagi masyarakat perkotaan. Refrigerasi dapat berupa lemari es pada rumah tangga, mesin

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Blood Bank Cabinet

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Blood Bank Cabinet BAB II DASAR TEORI 2.1 Blood Bank Cabinet Darah merupakan suatu cairan yang sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak kegunaan lainnya untuk menunjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Pengkondisian Udara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Pengkondisian Udara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Pengkondisian Udara Sistem pengkondisian udara adalah suatu proses mendinginkan atau memanaskan udara sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Pasteurisasi 2.2 Sistem Pasteurisasi HTST dan Pemanfaatan Panas Kondensor

BAB II DASAR TEORI 2.1 Pasteurisasi 2.2 Sistem Pasteurisasi HTST dan Pemanfaatan Panas Kondensor BAB II DASAR TEORI 2.1 Pasteurisasi Pasteurisasi ialah proses pemanasan bahan makanan, biasanya berbentuk cairan dengan temperatur dan waktu tertentu dan kemudian langsung didinginkan secepatnya. Proses

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 10 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PSIKROMETRI Psikrometri adalah ilmu yang mengkaji mengenai sifat-sifat campuran udara dan uap air yang memiliki peranan penting dalam menentukan sistem pengkondisian udara.

Lebih terperinci

Tugas akhir Perencanan Mesin Pendingin Sistem Absorpsi (Lithium Bromide) Dengan Tinjauan Termodinamika

Tugas akhir Perencanan Mesin Pendingin Sistem Absorpsi (Lithium Bromide) Dengan Tinjauan Termodinamika Tugas akhir Perencanan Mesin Pendingin Sistem Absorpsi (Lithium Bromide) Dengan Tinjauan Termodinamika Oleh : Robbin Sanjaya 2106.030.060 Pembimbing : Ir. Denny M.E. Soedjono,M.T PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Lebih terperinci

PENGARUH STUDI EKSPERIMEN PEMANFAATAN PANAS BUANG KONDENSOR UNTUK PEMANAS AIR

PENGARUH STUDI EKSPERIMEN PEMANFAATAN PANAS BUANG KONDENSOR UNTUK PEMANAS AIR PENGARUH STUDI EKSPERIMEN PEMANFAATAN PANAS BUANG KONDENSOR UNTUK PEMANAS AIR Arif Kurniawan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang; Jl.Raya Karanglo KM. 2 Malang 1 Jurusan Teknik Mesin, FTI-Teknik Mesin

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir. Gambar 2.1 Schematic Dispenser Air Minum pada Umumnya

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir. Gambar 2.1 Schematic Dispenser Air Minum pada Umumnya BAB II DASAR TEORI 2.1 Hot and Cool Water Dispenser Hot and cool water dispenser merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengkondisikan temperatur air minum baik dingin maupun panas. Sumber airnya berasal

Lebih terperinci

Penggunaan Refrigeran R22 dan R134a pada Mesin Pendingin. Galuh Renggani Wilis, ST.,MT

Penggunaan Refrigeran R22 dan R134a pada Mesin Pendingin. Galuh Renggani Wilis, ST.,MT Penggunaan Refrigeran R22 dan R134a pada Mesin Pendingin Galuh Renggani Wilis, ST.,MT ABSTRAKSI Pengkondisian udara disebut juga system refrigerasi yang mengatur temperature & kelembaban udara. Dalam beroperasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Refrigeran merupakan media pendingin yang bersirkulasi di dalam sistem refrigerasi kompresi uap. ASHRAE 2005 mendefinisikan refrigeran sebagai fluida kerja

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Teori Dasar Perpindahan Kalor 2.1.1. Umum Penukaran Kalor sering dipergunakan dalam kehidupan sehari hari dan juga di gedung dan industri. Contoh kegiatan penukaran kalor dalam

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Refrigerasi merupakan suatu media pendingin yang dapat berfungsi untuk

BAB II LANDASAN TEORI. Refrigerasi merupakan suatu media pendingin yang dapat berfungsi untuk BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Refrigerasi Refrigerasi merupakan suatu media pendingin yang dapat berfungsi untuk menyerap kalor dari lingkungan atau untuk melepaskan kalor ke lingkungan. Sifat-sifat fisik

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1 Latar Belakang Pengkondisian udaraa pada kendaraan mengatur mengenai kelembaban, pemanasan dan pendinginan udara dalam ruangan. Pengkondisian ini bertujuan bukan saja sebagai penyejuk

Lebih terperinci

ANALISA KINERJA MESIN REFRIGERASI RUMAH TANGGA DENGAN VARIASI REFRIGERAN

ANALISA KINERJA MESIN REFRIGERASI RUMAH TANGGA DENGAN VARIASI REFRIGERAN ANALISA KINERJA MESIN REFRIGERASI RUMAH TANGGA DENGAN VARIASI REFRIGERAN 1 Amrullah, 2 Zuryati Djafar, 3 Wahyu H. Piarah 1 Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin, Politeknik Bosowa, Makassar 90245,Indonesia

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian Sistem Heat pump

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian Sistem Heat pump BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Sistem Heat pump Heat pump adalah pengkondisi udara paket atau unit paket dengan katup pengubah arah (reversing valve) atau pengatur ubahan lainnya. Heat pump memiliki

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka

BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka BAB II DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Untuk memperbaiki kualitas ikan, dibutuhkan suatu alat yaitu untuk menjaga kondisi ikan pada kondisi seharusnya dengan cara menyimpannya didalam sebuah freezer yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Simulator Pengertian simulator adalah program yg berfungsi untuk menyimulasikan suatu peralatan, tetapi kerjanya agak lambat dari pada keadaan yg sebenarnya. Atau alat untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur BAB II MESIN PENDINGIN 2.1. Pengertian Mesin Pendingin Mesin Pendingin adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mendinginkan air, atau peralatan yang berfungsi untuk memindahkan panas dari suatu tempat

Lebih terperinci

Sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan daur yang terbanyak. daur ini terjadi proses kompresi (1 ke 2), 4) dan penguapan (4 ke 1), seperti pada

Sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan daur yang terbanyak. daur ini terjadi proses kompresi (1 ke 2), 4) dan penguapan (4 ke 1), seperti pada Siklus Kompresi Uap Sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan daur yang terbanyak digunakan dalam daur refrigerasi, pada daur ini terjadi proses kompresi (1 ke 2), pengembunan( 2 ke 3), ekspansi (3

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian umum. Refrigerasi adalah aplikasi dari hukum ke dua Termodinamika yang. dinyatakan oleh Clausius.

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian umum. Refrigerasi adalah aplikasi dari hukum ke dua Termodinamika yang. dinyatakan oleh Clausius. 4 BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian umum Refrigerasi adalah aplikasi dari hukum ke dua Termodinamika yang dinyatakan oleh Clausius. adalah hal yang tidak mungkin untuk membangun suatu alat yang beroperasi

Lebih terperinci

BAB II. Prinsip Kerja Mesin Pendingin

BAB II. Prinsip Kerja Mesin Pendingin BAB II Prinsip Kerja Mesin Pendingin A. Sistem Pendinginan Absorbsi Sejarah mesin pendingin absorbsi dimulai pada abad ke-19 mendahului jenis kompresi uap dan telah mengalami masa kejayaannya sendiri.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 1. Prinsip Kerja Mesin Pendingin Penemuan siklus refrigerasi dan perkembangan mesin refrigerasi merintis jalan bagi pembuatan dan penggunaan mesin penyegaran udara. Komponen utama

Lebih terperinci

Seminar Nasional Mesin dan Industri (SNMI4) 2008 ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA REFRIGERATOR KAPASITAS 2 PK DENGAN REFRIGERAN R-12 DAN MC 12

Seminar Nasional Mesin dan Industri (SNMI4) 2008 ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA REFRIGERATOR KAPASITAS 2 PK DENGAN REFRIGERAN R-12 DAN MC 12 ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA REFRIGERATOR KAPASITAS 2 PK DENGAN REFRIGERAN R-12 DAN MC 12 Suroso, I Wayan Sukania, dan Ian Mariano Jl. Let. Jend. S. Parman No. 1 Jakarta 11440 Telp. (021) 5672548

Lebih terperinci

MULTIREFRIGERASI SISTEM. Oleh: Ega T. Berman, S.Pd., M,Eng

MULTIREFRIGERASI SISTEM. Oleh: Ega T. Berman, S.Pd., M,Eng MULTIREFRIGERASI SISTEM Oleh: Ega T. Berman, S.Pd., M,Eng SIKLUS REFRIGERASI Sistem refrigerasi dengan siklus kompresi uap Proses 1 2 : Kompresi isentropik Proses 2 2 : Desuperheating Proses 2 3 : Kondensasi

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Cooling Tunnel

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Cooling Tunnel BAB II DASAR TEORI 2.1 Cooling Tunnel Cooling Tunnel atau terowongan pendingin merupakan sistem refrigerasi yang banyak digunakan di industri, baik industri pengolahan makanan, minuman dan farmasi. Cooling

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2012

BAB II DASAR TEORI 2012 BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Sistem Brine Sistem Brine adalah salah satu sistem refrigerasi kompresi uap sederhana dengan proses pendinginan tidak langsung. Dalam proses ini koil tidak langsung mengambil

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA PENDINGIN AIR PADA KONDENSOR TERHADAP KEMAMPUAN KERJA MESIN PENDINGIN

PENGARUH MEDIA PENDINGIN AIR PADA KONDENSOR TERHADAP KEMAMPUAN KERJA MESIN PENDINGIN PENGARUH MEDIA PENDINGIN AIR PADA KONDENSOR TERHADAP KEMAMPUAN KERJA MESIN PENDINGIN Kemas. Ridhuan 1), I Gede Angga J. 2) Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Metro Jl. Ki Hjar

Lebih terperinci

Maka persamaan energi,

Maka persamaan energi, II. DASAR TEORI 2. 1. Hukum termodinamika dan sistem terbuka Termodinamika teknik dikaitkan dengan hal-hal tentang perpindahan energi dalam zat kerja pada suatu sistem. Sistem merupakan susunan seperangkat

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir BAB II DASAR TEORI

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Freezer Freezer merupakan salah satu mesin pendingin yang digunakan untuk penyimpanan suatu produk yang bertujuan untuk mendapatkan produk dengan kualitas yang

Lebih terperinci

DASAR TEKNIK PENDINGIN

DASAR TEKNIK PENDINGIN DASAR TEKNIK PENDINGIN Oleh : Agus Maulana Praktisi Mesin Pendingin HP. 0813 182 182 33 PT Mitra Lestari Bumi Abadi Jl.Gading Indah Raya Blok C No. 25 Kelapa Gading - Jakarta, 14240 Siklus Sistem Mesin

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM. Disusun Oleh: MUHAMMAD NADJIB, S.T., M.Eng. TITO HADJI AGUNG S., S.T., M.T.

MODUL PRAKTIKUM. Disusun Oleh: MUHAMMAD NADJIB, S.T., M.Eng. TITO HADJI AGUNG S., S.T., M.T. MODUL PRAKTIKUM Disusun Oleh: MUHAMMAD NADJIB, S.T., M.Eng. TITO HADJI AGUNG S., S.T., M.T. PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016 i ii KATA PENGANTAR Assalaamu

Lebih terperinci

Gambar 2.21 Ducting AC Sumber : Anonymous 2 : 2013

Gambar 2.21 Ducting AC Sumber : Anonymous 2 : 2013 1.2.3 AC Central AC central sistem pendinginan ruangan yang dikontrol dari satu titik atau tempat dan didistribusikan secara terpusat ke seluruh isi gedung dengan kapasitas yang sesuai dengan ukuran ruangan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Rangkaian Alat Uji Dan Cara Kerja Sistem Refrigerasi Tanpa CES (Full Sistem) Heri Kiswanto / Page 39

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Rangkaian Alat Uji Dan Cara Kerja Sistem Refrigerasi Tanpa CES (Full Sistem) Heri Kiswanto / Page 39 BAB IV PEMBAHASAN Pada pengujian ini dilakukan untuk membandingkan kerja sistem refrigerasi tanpa metode cooled energy storage dengan sistem refrigerasi yang menggunakan metode cooled energy storage. Pengujian

Lebih terperinci

ROTASI Volume 7 Nomor 3 Juli

ROTASI Volume 7 Nomor 3 Juli ROTASI Volume 7 Nomor 3 Juli 2005 25 PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR EVAPORATOR TERHADAP PRESTASI AIR COOLED CHILLER DENGAN REFREGERAN R-134a, PADA TEMPERATUR KODENSOR TETAP Bambang Yunianto 1) Abstrak Pengujian

Lebih terperinci

BAB 9. PENGKONDISIAN UDARA

BAB 9. PENGKONDISIAN UDARA BAB 9. PENGKONDISIAN UDARA Tujuan Instruksional Khusus Mmahasiswa mampu melakukan perhitungan dan analisis pengkondisian udara. Cakupan dari pokok bahasan ini adalah prinsip pengkondisian udara, penggunaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Perencanaan pengkondisian udara dalam suatu gedung diperlukan suatu perhitungan beban kalor dan kebutuhan ventilasi udara, perhitungan kalor ini tidak lepas dari prinsip perpindahan

Lebih terperinci

Pengaruh Pipa Kapiler yang Dililitkan pada Suction Line terhadap Kinerja Mesin Pendingin

Pengaruh Pipa Kapiler yang Dililitkan pada Suction Line terhadap Kinerja Mesin Pendingin Pengaruh Pipa Kapiler yang Dililitkan pada Suction Line terhadap Kinerja Mesin Pendingin BELLA TANIA Program Pendidikan Fisika Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya May 9, 2013 Abstrak Mesin

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Air Conditioner Air Conditioner (AC) digunakan untuk mengatur temperatur, sirkulasi, kelembaban, dan kebersihan udara didalam ruangan. Selain itu, air conditioner juga

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. temperatur di bawah 123 K disebut kriogenika (cryogenics). Pembedaan ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. temperatur di bawah 123 K disebut kriogenika (cryogenics). Pembedaan ini BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21 Mesin Refrigerasi Secara umum bidang refrigerasi mencakup kisaran temperatur sampai 123 K Sedangkan proses-proses dan aplikasi teknik yang beroperasi pada kisaran temperatur

Lebih terperinci

LAMPIRAN I. Tes Hasil Belajar Observasi Awal

LAMPIRAN I. Tes Hasil Belajar Observasi Awal 64 LAMPIRAN I Tes Hasil Belajar Observasi Awal 65 LAMPIRAN II Hasil Observasi Keaktifan Awal 66 LAMPIRAN III Satuan Pembelajaran Satuan pendidikan : SMA Mata pelajaran : Fisika Pokok bahasan : Kalor Kelas/Semester

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kondensor Kondensor adalah suatu alat untuk terjadinya kondensasi refrigeran uap dari kompresor dengan suhu tinggi dan tekanan tinggi. Kondensor sebagai alat penukar

Lebih terperinci

Termodinamika. Energi dan Hukum 1 Termodinamika

Termodinamika. Energi dan Hukum 1 Termodinamika Termodinamika Energi dan Hukum 1 Termodinamika Energi Energi dapat disimpan dalam sistem dengan berbagai macam bentuk. Energi dapat dikonversikan dari satu bentuk ke bentuk yang lain, contoh thermal, mekanik,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Dasar Mesin Pendingin Untuk pertama kali siklus refrigerasi dikembangkan oleh N.L.S. Carnot pada tahun 1824. Sebelumnya pada tahun 1823, Cagniard de la Tour (Perancis),

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Cold Storage

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Cold Storage BAB II DASAR TEORI 2.1 Cold Storage Cold storage merupakan suatu ruang penyimpanan yang digunakan untuk menjaga dan menurunkan temperatur produk beserta kelembabannya agar kualitas produk tetap terjaga

Lebih terperinci

Heroe Poernomo 1) Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia

Heroe Poernomo 1) Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia ANALISIS KARAKTERISTIK UNJUK KERJA SISTEM PENDINGIN (AIR CONDITIONING) YANG MENGGUNAKAN FREON R-22 BERDASARKAN PADA VARIASI PUTARAN KIPAS PENDINGIN KONDENSOR 1) Heroe Poernomo 1) Jurusan Teknik Permesinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyejuk udara atau pengkondisi udara atau penyaman udara atau erkon atau AC (air conditioner) adalah sistem atau mesin yang dirancang untuk menstabilkan suhu udara

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Properti Termodinamika Refrigeran Untuk menduga sifat-sifat termofisik masing-masing refrigeran dibutuhkan data-data termodinamik yang diambil dari program REFPROP 6.. Sedangkan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA SISTEM PENDINGIN RUANG PALKAH IKAN DENGAN MENGGUNAKAN REFRIGERAN R-22 DAN HIDROKARBON (MC-22)

ANALISIS KINERJA SISTEM PENDINGIN RUANG PALKAH IKAN DENGAN MENGGUNAKAN REFRIGERAN R-22 DAN HIDROKARBON (MC-22) ANALISIS KINERJA SISTEM PENDINGIN RUANG PALKAH IKAN DENGAN MENGGUNAKAN REFRIGERAN R-22 DAN HIDROKARBON (MC-22) Amri Jumhan, Audry D Cappenberg Program studi Teknik Mesin Universitas 17 agustus 1945 Jakarta

Lebih terperinci

Analisa Performansi Sistem Pendingin Ruangan dan Efisiensi Energi Listrik padasistem Water Chiller dengan Penerapan Metode Cooled Energy Storage

Analisa Performansi Sistem Pendingin Ruangan dan Efisiensi Energi Listrik padasistem Water Chiller dengan Penerapan Metode Cooled Energy Storage Analisa Performansi Sistem Pendingin Ruangan dan Efisiensi Energi Listrik padasistem Water Chiller dengan Penerapan Metode Cooled Energy Storage Sugiyono 1, Ir Sumpena, MM 2 1. Mahasiswa Elektro, 2. Dosen

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG MESIN AC SPLIT 2 PK. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Mencapai Gelar Strata Satu ( S-1 ) Teknik Mesin

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG MESIN AC SPLIT 2 PK. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Mencapai Gelar Strata Satu ( S-1 ) Teknik Mesin TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG MESIN AC SPLIT 2 PK Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Mencapai Gelar Strata Satu ( S-1 ) Teknik Mesin U N I V E R S I T A S MERCU BUANA Disusun oleh : Nama : Ari Siswoyo

Lebih terperinci

[LAPORAN TUGAS AKHIR]

[LAPORAN TUGAS AKHIR] BAB II DASAR TEORI 2.1 Udara 2.1.1 Komposisi Udara Udara yang mengandung uap air dinamakan udara lembab sedangkan udara yang tidak mengandung uap air dinamakan udara kering. Udara atmosfir terdiri dari

Lebih terperinci

Termodinamika II FST USD Jogja. TERMODINAMIKA II Semester Genap TA 2007/2008

Termodinamika II FST USD Jogja. TERMODINAMIKA II Semester Genap TA 2007/2008 TERMODINAMIKA II Semester Genap TA 007/008 Siklus Kompresi Uap Ideal (A Simple Vapor-Compression Refrigeration Cycle) Mempunyai komponen dan proses.. Compressor: mengkompresi uap menjadi uap bertekanan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. pengembangan dari teknologi mesin pendingin. Alat ini dipakai bertujuan untuk

BAB II DASAR TEORI. pengembangan dari teknologi mesin pendingin. Alat ini dipakai bertujuan untuk BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Umum Air Conditioning (AC) atau alat pengkondisi udara merupakan modifikasi pengembangan dari teknologi mesin pendingin. Alat ini dipakai bertujuan untuk memberikan udara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu mesin refrigerasi akan mempunyai tiga sistem terpisah, yaitu:

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu mesin refrigerasi akan mempunyai tiga sistem terpisah, yaitu: BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan Refrigerasi adalah proses pengambilan kalor atau panas dari suatu benda atau ruang tertutup untuk menurunkan temperaturnya. Kalor adalah salah satu bentuk dari energi,

Lebih terperinci

PENGARUH KECEPATAN UDARA PENDINGIN KONDENSOR TERHADAP KOEFISIEN PRESTASI AIR CONDITIONING

PENGARUH KECEPATAN UDARA PENDINGIN KONDENSOR TERHADAP KOEFISIEN PRESTASI AIR CONDITIONING Marwan Effendy, Pengaruh Kecepatan Udara Pendingin Kondensor Terhadap Kooefisien Prestasi PENGARUH KECEPATAN UDARA PENDINGIN KONDENSOR TERHADAP KOEFISIEN PRESTASI AIR CONDITIONING Marwan Effendy Jurusan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iv. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR GAMBAR... xi. DAFTAR GRAFIK...xiii. DAFTAR TABEL... xv. NOMENCLATURE...

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iv. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR GAMBAR... xi. DAFTAR GRAFIK...xiii. DAFTAR TABEL... xv. NOMENCLATURE... JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR... i ABSTRAK... iv... vi DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR GRAFIK...xiii DAFTAR TABEL... xv NOMENCLATURE... xvi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Perumusan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Sistem Pendinginan Tidak Langsung (Indirect System)

BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Sistem Pendinginan Tidak Langsung (Indirect System) BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pendinginan Tidak Langsung (Indirect System) Melinder (2010) menjelaskan sistem refrigerasi tidak langsung yang menggunakan secondary refrigerant telah lama banyak digunakan

Lebih terperinci

BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC)

BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC) BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC) Refrigeration, Ventilation and Air-conditioning RVAC Air-conditioning Pengolahan udara Menyediakan udara dingin Membuat udara

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Dispenser Air Minum Hot and Cool Dispenser air minum adalah suatu alat yang dibuat sebagai alat pengkondisi temperatur air minum baik air panas maupun air dingin. Temperatur air

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori. 2.1 AC Split

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori. 2.1 AC Split BAB II DASAR TEORI 2.1 AC Split Split Air Conditioner adalah seperangkat alat yang mampu mengkondisikan suhu ruangan sesuai dengan yang kita inginkan, terutama untuk mengkondisikan suhu ruangan agar lebih

Lebih terperinci

SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AC)

SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AC) Pertemuan ke-9 dan ke-10 Materi Perkuliahan : Kebutuhan jaringan dan perangkat yang mendukung sistem pengkondisian udara termasuk ruang pendingin (cool storage). Termasuk memperhitungkan spatial penempatan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-2 DAN R-34a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W Ridwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma e-mail: ridwan@staff.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Cooling Tunnel

BAB II DASAR TEORI 2.1 Cooling Tunnel BAB II DASAR TEORI 2.1 Cooling Tunnel Cooling Tunnel atau terowongan pendingin merupakan penerapan sistem refrigerasi yang banyak digunakan di industri, baik industri pengolahan makanan, minuman dan farmasi.

Lebih terperinci

SISTEM REFRIGERASI KOMPRESI UAP

SISTEM REFRIGERASI KOMPRESI UAP SISTEM REFRIGERASI KOMPRESI UAP PADA UNIT PEMBEKUAN DI PT MITRATANI DUA TUJUH, JEMBER Oleh : KHAFID SUDRAJAT F14103081 Di bawah bimbingan : Prof. Dr. Ir. Armansyah H. Tambunan, M.Agr SISTEM REFRIGERASI

Lebih terperinci

SISTEM REFRIGERASI. Gambar 1. Freezer

SISTEM REFRIGERASI. Gambar 1. Freezer SISTEM REFRIGERASI Sistem refrigerasi sangat menunjang peningkatan kualitas hidup manusia. Kemajuan dalam bidang refrigerasi akhir-akhir ini adalah akibat dari perkembangan sistem kontrol yang menunjang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Energy balance 1 = Energy balance 2 EP 1 + EK 1 + U 1 + EF 1 + ΔQ = EP 2 + EK 2 + U 2 + EF 2 + ΔWnet ( 2.1)

BAB II DASAR TEORI. Energy balance 1 = Energy balance 2 EP 1 + EK 1 + U 1 + EF 1 + ΔQ = EP 2 + EK 2 + U 2 + EF 2 + ΔWnet ( 2.1) BAB II DASAR TEORI 2.1 HUKUM TERMODINAMIKA DAN SISTEM TERBUKA Hukum pertama termodinamika adalah hukum kekekalan energi. Hukum ini menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. Energi

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Tugas Akhir Rancang Bangun Sistem Refrigerasi Kompresi Uap untuk Prototype AHU 4. Teknik Refrigerasi dan Tata Udara

BAB II DASAR TEORI. Tugas Akhir Rancang Bangun Sistem Refrigerasi Kompresi Uap untuk Prototype AHU 4. Teknik Refrigerasi dan Tata Udara BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Kompresi Uap Sistem Refrigerasi Kompresi Uap merupakan system yang digunakan untuk mengambil sejumlah panas dari suatu barang atau benda lainnya dengan memanfaatkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... x. DAFTAR NOTASI... xi Rumusan Masalah...

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... x. DAFTAR NOTASI... xi Rumusan Masalah... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i ABSTRAK... iii ABSTRACT... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR NOTASI... xi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan Masalah...

Lebih terperinci

Jurnal Pembuatan Dan Pengujian Alat Uji Prestasi Sistem Pengkondisian Udara (Air Conditioning)Jenis Split

Jurnal Pembuatan Dan Pengujian Alat Uji Prestasi Sistem Pengkondisian Udara (Air Conditioning)Jenis Split PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT UJI PRESTASI SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AIR CONDITIONING)JENIS SPLIT ZUBERI, Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Pasir Pengaraian E-mail: zuberi2016@gmail.com

Lebih terperinci

Analisa Performansi Sistem Pendingin Ruangan dan Efisiensi Energi Listrik padasistem Water Chiller dengan Penerapan Metode Cooled Energy Storage

Analisa Performansi Sistem Pendingin Ruangan dan Efisiensi Energi Listrik padasistem Water Chiller dengan Penerapan Metode Cooled Energy Storage Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol. 4 No.. April 00 (43-50) Analisa Performansi Sistem Pendingin Ruangan dan Efisiensi Energi Listrik padasistem Water Chiller dengan Penerapan Metode Cooled Energy Storage

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI Prinsip Kerja Mesin Refrigerasi Kompresi Uap

BAB II DASAR TEORI Prinsip Kerja Mesin Refrigerasi Kompresi Uap 4 BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Pengkondisian Udara Pengkondisian udara adalah proses untuk mengkondisikan temperature dan kelembapan udara agar memenuhi persyaratan tertentu. Selain itu kebersihan udara,

Lebih terperinci

PENGUJIAN UNJUK KERJA SOLAR ASSISTED HEAT PUMP WATER HEATER. MENGGUNAKAN HFC-134a DENGAN VARIASI INTENSITAS RADIASI

PENGUJIAN UNJUK KERJA SOLAR ASSISTED HEAT PUMP WATER HEATER. MENGGUNAKAN HFC-134a DENGAN VARIASI INTENSITAS RADIASI PENGUJIAN UNJUK KERJA SOLAR ASSISTED HEAT PUMP WATER HEATER MENGGUNAKAN HFC-134a DENGAN VARIASI INTENSITAS RADIASI Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Oleh : TRI

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Termoelektrik Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah rangkaian.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 8 BAB I PENDAHULUAN 11 Latar Belakang Energi memiliki peranan penting dalam menunjang kehidupan manusia Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan akan energi pun terus meningkat Untuk dapat memenuhi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Radiator Radiator memegang peranan penting dalam mesin otomotif (misal mobil). Radiator berfungsi untuk mendinginkan mesin. Pembakaran bahan bakar dalam silinder mesin menyalurkan

Lebih terperinci

MARDIANA LADAYNA TAWALANI M.K.

MARDIANA LADAYNA TAWALANI M.K. KALOR Dosen : Syafa at Ariful Huda, M.Pd MAKALAH Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat pemenuhan nilai tugas OLEH : MARDIANA 20148300573 LADAYNA TAWALANI M.K. 20148300575 Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori BAB II DASAR TEORI 2.1 Florist Cabinet Florist cabinet merupakan suatu alat yang digunakan untuk proses pendinginan bunga. Florist cabinet sangat beragam dalam ukuran dan konstruksi. Biasanya florist cabinet

Lebih terperinci

SILABUS MATA KULIAH D4 REFRIGERASI DASAR KURIKULUM 2011 tahun ajaran 2010/2011. Materi Tujuan Ket.

SILABUS MATA KULIAH D4 REFRIGERASI DASAR KURIKULUM 2011 tahun ajaran 2010/2011. Materi Tujuan Ket. SILABUS MATA KULIAH D4 REFRIGERASI DASAR KURIKULUM 2011 tahun ajaran 2010/2011 No Minggu ke 1 1-2 20 Feb 27 Feb Materi Tujuan Ket. Pendahuluan, Jenis dan Contoh Aplikasi system Refrigerasi Siswa mengetahui

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah dan Pengenalan Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh seorang ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah

Lebih terperinci

Ahmad Farid* dan Moh. Edi.S. Iman Program Studi Teknik Mesin, Universitas Pancasakti Tegal Jl. Halmahera km 1, Tegal *

Ahmad Farid* dan Moh. Edi.S. Iman Program Studi Teknik Mesin, Universitas Pancasakti Tegal Jl. Halmahera km 1, Tegal * ANALISA EFEKTIFITAS PENAMBAHAN MEDIA AIR KONDENSAT PADA AC SPLIT 1,5 PK TERHADAP RASIO EFISIENSI ENERGI (EER) Ahmad Farid* dan Moh. Edi.S. Iman Program Studi Teknik Mesin, Universitas Pancasakti Tegal

Lebih terperinci

Cara Kerja AC dan Bagian-Bagiannya

Cara Kerja AC dan Bagian-Bagiannya Cara Kerja AC dan Bagian-Bagiannya Di era serba maju sekarang ini, kita pasti sudah sangat akrab dengan air conditioner. Kehidupan modern, apalagi di perkotaan hampir tidak bisa lepas dari pemanfaatan

Lebih terperinci

Gbr. 2.1 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)

Gbr. 2.1 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian HRSG HRSG (Heat Recovery Steam Generator) adalah ketel uap atau boiler yang memanfaatkan energi panas sisa gas buang satu unit turbin gas untuk memanaskan air dan

Lebih terperinci

OPTIMASI PENGGUNAAN AC SEBAGAI ALAT PENDINGIN RUANGAN

OPTIMASI PENGGUNAAN AC SEBAGAI ALAT PENDINGIN RUANGAN OPTIMASI PENGGUNAAN AC SEBAGAI ALAT PENDINGIN RUANGAN Irnanda Priyadi Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Bengkulu, Staf Pengajar Program Studi Teknik Elektro Universitas Bengkulu Jl.

Lebih terperinci

PEMAHAMAN TENTANG SISTEM REFRIGERASI

PEMAHAMAN TENTANG SISTEM REFRIGERASI PEMAHAMAN TENTANG SISTEM REFRIGERASI Darwis Tampubolon *), Robert Samosir **) *) Staf Pengajar Teknik Mesin, Politeknik Negeri Medan **) Staf Pengajar Teknik Mesin, Politeknik Negeri Medan Abstrak Refrigerasi

Lebih terperinci

BAB III DASAR PERANCANGAN INSTALASI AIR CONDITIONING

BAB III DASAR PERANCANGAN INSTALASI AIR CONDITIONING BAB III DASAR PERANCANGAN INSTALASI AIR CONDITIONING 3.1 Perngertian dan Standar Pengkondisian Udara Bangunan Pengkondisian udara adalah suatu usaha ang dilakukan untuk mengolah udara dengan cara mendinginkan,

Lebih terperinci