FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN ENREKANG TAHUN SKRIPSI SYAMSIR HADIR NIM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN ENREKANG TAHUN SKRIPSI SYAMSIR HADIR NIM"

Transkripsi

1 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN ENREKANG TAHUN SKRIPSI SYAMSIR HADIR NIM PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

2 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN ENREKANG TAHUN SKRIPSI Oleh : SYAMSIR HADIR NIM Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020 ii

3 PERSEMBAHAN Karya Ilmiah Ini Kupersembahkan kepada Kedua orang tuaku yang terhebat Saudara-Saudaraku yang tersayang Seluruh Keluarga Besarku MOTTO HIDUP Ilmu adalah harta yang tak akan pernah habis dan jawaban dari sebuah keberhasilan adalah terus belajar dan tak kenal putus asa, mulailah dari tempatmu berada gunakan yang kau punya dan lakukan yang kau bisa. iii

4 iv

5 v

6 vi

7 KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan di Kabupaten Enrekang Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Alm bapak H. Hadir Bakri dan ibu H. Isa Gawi yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tak pamrih. Dan saudara-saudarku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula vii

8 penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Abd Rahman Rahim, SE.,MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. 2. Bapak Ismail Rasullong, SE., MM, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar. 3. Ibu Hj. Naidah, SE., M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. 4. Ibu Asriati, SE., M.Si selaku dosen pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi selesai dengan baik. 5. Bapak Asdar, SE., M.Si selaku pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga ujian skripsi. 6. Bapak/ibu dan asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah. 7. Para staf karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. 8. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis program studi Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan angkatan 2015, terutama Besse Sulfiana Akil, Andi Riski Ananda, Nurfaujiah, Wahyudin, yang selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis. viii

9 9. Terima kasih teruntuk semua kerabat yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi, dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulisan skripsi ini. Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan skripsi ini. Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar. Billahi fisabilil Haq fastabiqul khairat, Wassalamualaikum Wr.Wb Makasaar, 2020 penulis ix

10 ABSTRAK Syamsyir Hadir, Tahun 2020, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan di Kabupaten Enrekang. Skripsi Program Studi Ilmu Ekonomi Studi dan Pembangunan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing Oleh Pembimbing I Asriati, dan Pembimbing II Asdar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi, dan Distribusi Pendapatan terhadap Kemiskinan di Kabupaten Enrekang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian ini ini menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,024 (sig<0,05), pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,004 (sig<0,05), distribusi pendapatan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,161 (sig>0,05). Kata Kunci : Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi, Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan x

11 ABSTRACT Syamsyir Present, 2020, Factors Affecting Poverty in Enrekang Regency. Thesis Study Program of Economics Study and Development Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar. Supervised by Supervisor I Asriati, and Supervisor II Asdar. This study aims to determine the effect of Government Expenditure, Economic Growth, and Income Distribution on Poverty in Enrekang Regency. This type of research is quantitative research. Data collection is done by using secondary data. The results of this study indicate that government spending has a significant effect on poverty levels in Enrekang, this is evidenced by the significance value of (sig <0.05), economic growth has a significant effect on poverty levels in Enrekang, this is evidenced by the significance value of ( sig <0.05), income distribution has no significant effect on poverty levels in Enrekang, this is evidenced by the significance value of (sig> 0.05). Keywords: Government Expenditure, Economic Growth, Income Distribution and Poverty xi

12 DAFTAR ISI SAMPUL... i HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PERSEMBAHAN... iii HALAMAN PERSETUJUAN... iv HALAMAN PENGESAHAN... v SURAT PERNYATAAN... vi KATA PENGANTAR... vii ABSTRAK BAHASA INDONESIA....x ABSTRACT... xi DAFTAR ISI... xii DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR GAMBAR... xv BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah... 5 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Kegunaan Penelitian... 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7 A. Pengeluaran Pemerintah... 7 B. Pertumbuhan Ekonomi... 9 C. Distribusi Pendapatan D. Kemiskinan E. Tinjauan Empiris F. Kerangka Konsep xii

13 G. Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian B. Lokasi dan Waktu Penelitian C. Devenisi Operasional Variabel dan Pengukuran D. Teknik Pengumpulan Data...23 E. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi penelitian B. Hasil Penelitian C. Hasil pembahasan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN... xiii

14 DAFTAR TABEL Nomor Judul Halaman Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Tabel 4.1 Deskripsi pengeluaran Pemerintah Tabel 4.2 Deskripsi Pertumbuhan ekeonomi Tabel 4.3 Deskripsi Distribusi Pendapatan Tabel 4.4 Deskripsi Kemiskinan Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolineritas Tabel 4.6 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Tabel 4.7 Hasil Uji Koefisien determinasi R Square Tabel 4.8 Hasil Uji Simultan (F) Tabel 4.9 Hasil Uji Parsial (T) xiv

15 DAFTAR GAMBAR Nomor Judul Halaman Gambar 2.1 Kerangka Pikir Gambar 4.1 Struktur Organisasi BPS Kab Enrekang Gambar 4.2 Hasil Uji heterokedastisitas Gambar 4.3 Hasil Uji Normalitas xv

16 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menjelaskan tentang pembangunan ekonomi merupakan hal yang kompleks dan menarik sebab di dalamnya terdiri dari banyak dinamika baik itu secara mikro maupun makro. Suatu negara dikatakan sukses dalam pembangunan ekonomi jika telah menyelesaikan tiga masalah inti dalam pembangunan. Ketiga masalah tersebut adalah angka kemiskinan yang terus meningkat, distribusi pendapatan yang semakin memburuk dan lapangan pekerjaan yang tidak variatif sehingga tidak mampu menyerap pencari kerja. Untuk itu melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi di Kabupaten Enrekang merupakan hal menarik guna melihat sejauh mana negara ini mampumelakukan pembangunan ekonomi secara komprehensif. Dalam menyelesaikan masalah tersebut berbagai pendekatan dilakukan termasuk pendekatan pertumbuhan ekonomi digunakan untuk menyelesaikan masalah pembangunan ini. Pasca krisis pertumbuhan ekonom terus mengalami ekspansi, meskipun belum mampu menyamai pertumbuhan ekonomi pada masa pemerintahan orde baru.saat ini ekonomi di Kabupaten Enrekang secara meyakinkan terus mengalami pertumbuhan dengan besaran diatas 5% ratarata per tahun. Ini menarik perhatian beberapa lembaga rating dan lembaga penelitian internasional yang melakukan prediksi tentang masa depan ekonomi juga diperkiran pertumbuhan ekonomiakan mencapai 13% pada tahun 2025, dengan syarat pertumbuhan ekonomi riil harus berada antara 1

17 2 7-9% pertahun dan berkelanjutan. Selain itu berbagai lembaga riset terkemuka termasuk Badan Pusat Statistik 2011 melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang mencapai angka 6,1%. Angka yang cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 4,6%. Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang cenderung meningkat tiap tahunya yaitu6,0% pada tahun 2008, 4,6% pada tahun 2009 kemudian naik pada tahun 2010 sebesar 6,1%. Pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil dan konsisten tersebut memasukkan Kabupaten Enrekang sejajar dengan beberapa kabupaten lainya. Namun tampaknya teori tersebut digugat oleh laporan tentang kesenjangan antara pertumbuhan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat. dalam laporanya melaporkan bahwa ditemukan fakta diberbagai belahan kabupaten, semua kabupaten telah mencatat laju pertumbuhan ekonomi yang mengesankan dan bahkan berlangsung secara konsisten selama dua dekade, namun tidak diimbangi dengan penurunan angka kemiskinan (pendapatan dibawah 2$).Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar dua puluh ribu masih berada dalam kemiskinan padahal disatu sisi pertumbuhan terus meningkat secara konsisten. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu syarat tercapainya pembangunan ekonomi, namun yang perlu diperhatikan tidak hanya angka statistik yang menggambarkan laju pertumbuhan, namun lebih kepada siapa yang menciptakan pertumbuhan ekonomi tersebut, apakah hanya segelintir orang atau sebagian besar masyarakat. Jika hanya segelintir orang yang menikimati maka pertumbuhan ekonomi tidak mampu mereduksi kemiskinan

18 3 dan memperkecil ketimpangan, sebaliknya jika sebagian besar turut berpartisipasi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi maka kemiskinan dapat direduksi antara orang kaya dan orang miskin dapat diperkecil. Kondisi ini mengharuskan pemerintah untuk melakukan koreksi terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang. Jika tidak, maka kemiskinan dan ketimpangan pendapatan akan tetap menjadi masalah pembangunan ekonomi dimasa depan. Perkembangan sektor tersier dalam perekonomian di Kabupaten Enrekang menunjukkan kontraproduktif dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten Enrekang. Peran sektor tersier dalam perekonomia di Kabupaten Enrekang hanya menyerap sebagian kecil dari angkatan kerja di Kabupaten Enrekang karena basis dari sektor tersebut hanya didorong oleh sub sektor jasa yang padat modal. Seharusnya yang mengalami pertumbuhan saat ini adalah sektor yang padat tenaga kerja. Pergesaran struktur ekonomi tersebut mengharuskan terjadinya proses industrialisasi. Proses industrialisasi yang cepat juga menjadi pemicu matinya sektor pedesaan yang menyerap hampir 50% orang miskin. Namun menurut Oshima.kegagalan beberapa kabupaten untuk memperbaiki ketimpangan dan menurunkan tingkat kemiskinan tidak disebabakan oleh kegagalan teori trickle down effecttapi karena kegagalan pemerintah yang tidak mampu melanjutkan proses industrialisasi. Proses ini yang nantinya akan meyebarkan kesejahteraan ditiap daerah dalam satu provinsi. Namun sampai saat ini paradigma pemerintah nampaknya masih berorientasi pada pertumbuhan, meskipun kualitas pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang belum mampu mengentaskan kemiskinan dan justru

19 4 memperbesar antara kaum miskin dan kaya. Ini dapat dilihat dari strategi pembangunan yang digunakan pemerintah yaitu triple track strategy.triple track strategy lebih mengedapankan pertumbuhan (pro growth) diatas lapangan pekerjaan dan kemiskinan (pro job dan pro poor).ini memberikan indikasi bahwa pemerintah masih mempercayai efektifitas pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu variabel yang dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan serta memperbaiki distribusi pendapatan. Dalam lima belas program prioritas yang disebutkan dalam Nota Keuangan tahun 2010 salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi yang akan terus dtingkatkan sampai mencapai minimal 7 % sehingga kesejahteraan rakyat juga lebih meningkat, termasuk untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Masalah lain yang menarik perhatian dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten Enrekang adalah pengeluaran pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dari tahun ke tahun pemerintah telah mengeluarkan banyak anggaran untuk menekan angka kemiskinan.namun jika dilihat lebih teliti anggaran yang meningkat begitu besar hanya mampu menurunkan angka kemiskinan sebesar paling besar 1%. Selain faktor tersebut, ada program yang memang hanya bersifat jangka pendek. Program ini pada prinsipnya hanya mengangkat orang miskin dari posisi miskin menjadi hampir miskin.ini dipertegas dengan temuan Afrizal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ia menemukan bahwa Raskin dikatakan sebagai bantuan-batuan habis sesaat. BLT/SLT pada umumnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari dan tidak membuat mereka dapat menyimpan karena adanya bantuan tersebut. Hal ini

20 5 disebabkan oleh karena bantuan tersebut terlalu kecil, sedangkan pendapatan mereka tidak mampu menutupi kebutuhan dasarnya. Untuk itu beberapa masalah pembangunan yang tidak kunjung selesai harus diberikan solusi guna memecahkan masalah pembangunan yang mulai asimetris dengan indikator keberhasilan pembangunan. Maka dari itu berdasarkan pemaparan latar belakang masalah tersebut maka judul penelitian Faktor faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan di Kabupaten Enrekang Tahun B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini yaitu: 1. Apakah pengeluaran pemerintah berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang? 2. Apakah pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang? 3. Apakah distribusi pendapatan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang? C. Tujuan Penelitian Untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini dirumuskan tujuan penelitian yaitu, 1. Untuk mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang. 2. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang.

21 6 3. Untuk mengetahui pengaruh distribusi pendapatan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis: Diharapkan penelitian ini mampu menambah kekayaan kajian teoritis demi pengembangan ilmu ekonomi. 2. Manfaat praktis: a. Bagi mahasiswa Penelitian ini bermanfaat sebagai literatur tambahan dalam memahami kondisi pembangunan ekonomi di Kabupaten Enrekang. b. Bagi instansi terkait Penelitian ini dapat menjadi referensi dengan memberikan informasi mengenai tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang. c. Bagi penulis Penelitian ini memberikan pengalaman dan pengetahuan dalam menerapkan pengetahuan tersebut baik dalam bangku kuliah maupun untuk studi secara mandiri.

22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengeluaran Pemerintah Dalam pembangunan ekonomi, peran pemerintah melalui kebijaksanaan fiskal sangat dibutuhkan untuk menekan angka kemiskinan.namun program yang dibuat harus melalui analisis kebutuhan yang jelas agar anggaran yang digunakan efektif dalam menurunkan angka kemiskinan. Menurut Wing Wahyu (2011) setelah melakukan pengamatan terhadap stabilitas makro, disiplin fiskal dan belanja publik untuk kesehatan dan pendidikan menemukan bahwa kuat dugaan kebijakan pro poor seperti belanja publik untuk kesehatan dan pendidikan tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap pendapatan kaum miskin.sebaliknya pendapatan kaum miskin memiliki hubungan yang sistematis terhadap kebjakan publik misalnya disipln fiskal, stabilitas makro ekonomi, penegakan hukum dan keterbukaaan dalam perdagangan internasional.menurut mereka seringkali di kabupaten berkembang kebijakan pro poor tersebut hanya dinikmati oleh kelompok menengah dan kaya dari pada kelompok miskin.ini terjadi misalnya pada listrik dimana sebagaian besar yang menikmati subsidi terbut hanya mereka yang berpendapatan menegah keatas. Membuat pengeluaran bermanfaat bagi masyarakat miskin merupakan syarat harus untuk menekan angka kemiskinan saat ini, terutama mengingat adanya peluang dari sisi fiskal.hendri Saparini 7

23 8 (2008) mengatakan bahwa pemerintah harus memprioritaskan alokasi anggaran untuk program-program pengentasan kemiskinan dan pengangguran.selain itu, pernerintah harus memperbesar alokasi belanja modal dan mengurangi biaya birokrasi.ini dikarenakan kecenderungan anggaran yang meningkat namun tidak signifikan menurunkan angka kemiskinan. Peran pemerintah dalam mempengaruhi kemiskinan termasuk dalam mengantisipasi kegagalan pasar dalam perekonomian sangat penting.peranya melalui kebijakan fiskal ditargetkan dapat menyelesaikan masalah pembangunan (kemiskinan, pengangguran dan distribusi pendapatan).inilah yang mendasari Keynes mengeluarkan teori yang memberikan peran yang besar bagi pemerintah untuk memberikan stabilisasi, redistribusi pendapatan dan alokasi dalam perekonomian suatukabupaten. Keynes mengatakan pada tingkat makro, pemerintah harus secara aktif dan sadar mengendalikan perekonomian ke arah posisi Full Employment, sebab mekanisme otomatis kearah posisi tersebut tidak bisa diandalkan secara otomatis atau diserahkan pada mekanisme pasar. Untuk itu peran pemerintah melalui kebijaksanaan fiskal untuk melakukan distribusi pendapatan termasuk melalui mekanisme pajak, sangat penting karena ketidakmampuan mekanisme pasar dalam meyelesaikan masalah kesejahteraan.pendapat tersebut juga dikemukakan oleh Iradian (2012).Ia mengatakan bahwa selain ketimpangan pendapatan, pengeluaran pemerintah juga memiliki pengaruh terhadap penurunan kemiskinan.

24 9 B. Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan ekonomi di Kabupaten Enrekang telah berlangsung cukup lama. Selama itu pula pembangunan ekonomi dijalankan dengan berbagai macam teori dan pendekatan yang diadopsi, namun belum mampu meyelesaikan masalah pembangunan yang mengancam keberlangsungan jalannya pembangunan ekonomi yang ada di Kabupaten Enrekang. Ketidakmampuan berbagai macam pendekatan tersebut menarik perhatian banyak akademisi untuk melakukan penelitian guna mencari akar permasalahan tersebut. Landasan teori dari beberapa penelitian memberikan kesimpulan yang beragam. Apa yang dikemukakan oleh Todaro (2009) menjadi entry point dalam melihat hubungan antara pertumbuhan dan kemiskinan. Menurutnya Gross Domestic Produk/Product Domestic Bruto (pertumbuhan ekonomi) yang cepat menjadi salah satu syarat tercapainya pembangunan ekonomi. Namun masalah fundamental bukan hanya menumbuhkan Gross Domestic Income(GNI), Apa yang dikemukakan oleh Sukirno Sadono (2010) sebelumnya dijelaskan oleh teori distribusi pendapatan klasik dan pertumbuhan output dalam teori distribusi pendapatan klasik dan pertumbuhan output dijelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak lain adalah pertumbuhan output nasional merupakan fungsi dari faktor produksi. Semakin cepat laju pertumbuhan ekonomi maka seharusnya aliran pendapatan kepada rumah tangga faktor produksi mengalami perbaikan. Tingginya pertumbuhan output suatu negara diakibatkan oleh tingginya produktivitas input dalam penciptaan barang dan jasa. Peningkatan

25 10 output tersebut dapat memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan upah dan pada akhirnya memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat. Beberapa penelitian yang dilakukan Tambunan Tulus(2009), setelah mekakukan analisis hubungan antara pertumbuhan ekonomi, ketimpangan dan kemiskinan menemukan bahwa dampak pertumbuhan terhadap angka kemiskinan hanya terjadi jika ketimpangan relatif tinggi. Dengan kata lain bagi kabupaten yang mempunyai tingkat ketimpangan sedang atau rendah dampak pertumbuhan terhadap kemiskinan relatif tidak signifikan (Agussalim, 2009). Dengan menggunakan garis kemiskinan internasionalmaka melanjutkan dengan melakukan studi ekonometrik dengan analisis regresi antara tingkat penurunan kemiskinan dengan tingkat pertumbuhan. Menurutnya, jika terjadi kenaikan 1% dalam pertumbuhan ekonomi maka akan mengurangi jumlah penduduk miskinsebesar 0,24%. mengeluarkan fungsi untuk menjelaskan secara sedehana tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan dimana change in poverty = ƒ (growth, distribution, change in distribution). Pendapat Smith Sthepen C (2010:152)Pertumbuhan ekonomi akan memberikan manfaat kepada warga miskin jika pertumbuhan ekonomi tersebut disertai dengan berbagai kebijakan seperti penegakan hukum, disipin fiskal, keterbukaan dalam perdagangan internasional dan strategi penanggulangan kemiskinan. Kabupaten yang berhasil dalam pertumbuhan ekonomi kemungkinan besar juga akan berhasil dalam menurunkan angka kemiskinan, apalagi jika terdapat dukungan kebjakan dan lingkungan kelembagaan yang tepat.

26 11 Michael. P (2011)juga melihat hubungan yang kuat antara pertumbuhan dan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi dapat menurunkan kemiskinan ketika pertumbuhan ekonomi diukur berdasarkan pendapatan rata-rata.terdapat hubungan yang kuat secara statistik antara pertumbuhan ekonomi dan kemiksinan.untuk itutidak adalagi yang meragukan pentingnya pertumbuhan ekonomi bagi penurunan angka kemiskinan.apa yang dikemukakan oleh Michael P. Ia menemukan bahwa setiap pertumbuhan 10 ribu dalam output akan menurunkan sekitar 1000 orang miskin. Fakta pendukung peran pertumbuhan ekonomi dalam menurunkan angka kemiskinan memberikan rekomendasi kebijakan yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi agar tercipta lapangan kerja dan pemanfaatan tenaga kerja guna mengentaskan angka kemiskinan. Pentingnya pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan angka kemiskinan dijelaskan secara teoritis melalui virtous circle oleh Sagir (2009). Ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi pemicu atau indikasi dunia usaha mengalami tingkat produktivitas yang tinggi dan kemudian akan berdampak pada luasnya lapangan pekerjaan yang tersedian seiring peningkatan kapasitas produksi. C. Distribusi Pendapatan Todaro (2009) menjadi landasan penting dalam melihat hubungan antara distribusi pendapatan dan kemiskinan.menurutnya Gross domestic Produk/Product Domestic Bruto (pertumbuhan ekonomi) yang cepat menjadi salah syarat tercapainya pembangunan ekonomi. Namun masalah dasarnya bukan hanya menumbuhkanproduct Domestic

27 12 Income(GNI), tetapi juga siapakah yang akan menumbuhkan GNI tersebut, sejumlah orang yang ada dalam suatu negara ataukan hanya segelintir orang. Jika hanya segelintir orang yangmenubuhkan GNI ataukah orang-orang kaya yang berjumlah sedikit, maka manfaat dari pertumbuhan GNI itu pun hanya dinikmati oleh mereka saja sehingga kemiskinan dan ketimpangan pendapatan pun akan semakin parah (Todaro dan Stephen C.Smith, 2009, Dawey, 2014). Untuk itu hal yang paling penting dalam pertumbuhan adalah siapa yang terlibat dalam pertumbuhan ekonomi tersebut atau dengan kata lain adalah tingkat kualitas pertumbuhan tersebut. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan pertama kali dikemukakan oleh Simon Kusnets.Dalam Todaro (2009) Kusnets mengatakan bahwa hubungan antara pertubuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan berbentuk kurva U-Shape terbalik.dasar dari hipotesis Kusnetz adalah ketimpangan yang rendah yang terjadi dipedesaan dengan sektor yang mendominasi adalah pertanian dibandingkan dengan perkotaan yang didominasi oleh sektor jasa dan industri yang tingkat ketimpangan pendapatanya tinggi.ia mengatakan, terjadi transformasi ekonomi dari sektor pertanian ke sektor jasa. Transformasi ekonomi tersebut membuat upah yang diterima oleh pekerja disektor pertanian lebih rendah dari upah yang diterima oleh pekerja disektor jasa.untuk itu pada tahap awal pembangunan, ketimpangan pendapatan masih rendah.kemudian pada tahap selanjutnya ketimpangan pendapatan mengalami peningkatan seiring perubahan struktur ekonomi (Institut Pertanian).

28 13 Namun beberapa penelitian yang lian menemukan hal yang berbeda. Misalnya apa yang dikemukakan oleh Ravallion yang mengatakan bahwa antara distribusi pendapatan dan kemiskinan tidak terdapat hubungan yang sistematis. D. Kemiskinan Penduduk miskin atau kemiskinan absolut adalah situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Deklarasi Copenhagen menjelaskan kemiskinan absolut sebagai ketimpangan pembagian pendapatan. Pandangan tentang kemiskinan sebagai suatu fenomena atau gejala dari suatu masyarakat melahirkan konsep kemiskinan absolut atau yang sering disebut sebagai kemiskinan saja. BAPPENAS mendefnisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar tersebut antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik. Untuk mewujudkan hak-hak dasar seseorang atau sekelompok orang miskin. Bappenas menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain: pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan

29 14 pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan objective and subjective. Pendekatan kebutuhandasar, melihat kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan seseorang, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan kesehatan.pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi. Dari berbagai definisi kemiskinan konsep dasar yang disepakati yang diajukan oleh para ahli adalah bahwa kemiskinan merupakan kondisi d imana seseorang atau kelompok yang tidak memiliki atau jauh dari kesejahteraan (well-being, welfare). Seperti yang dijelaskan oleh Amartya Sen (1990), yang mengartikan kemiskinan sebagai deprivasi dari kemampuan dasar (deprivaton of basic capabilities) seseorang untuk memilih dan berusaha memenuhi tingkat kesejahteraannya. Selanjutnya, Bank Dunia (2013) memberikan definisi sederhana bahwa kemiskinan merupakan deprivasi dari kesejahteraan (proverty is pronounced deprivation in well-being). Berdasarkan konsep tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan merupakan persoalanyang multidimensi, yang tidak hanya diukur dengan menggunakan terminologi moneter, tetapi juga pendekatan non-moneter. Penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of proverty). Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menyababkan rendahnya produktivitas. Rendahnya produktivitasnya mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan

30 15 akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya investasi berakibat pada ketebelakangan, dan seterusnya. Dipandang dari sisi ekonomi Sharp, et all, (2013) mencoba mengidentifikasi penyebab kemiskinan yang pertama, secara mikro kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikkan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua kemiskinan muncul dikarenakan adanya perbedaan dalam kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang rendah menyebabkan produktivitasnya rendah, yang pada gilirannya upahnya rendah. Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini dikarenakan rendahnya pendidikan, adanya diskriminasi, nasib yang kurang beruntung, atau karena keturunan. Ketiga, kemiskinan mucul akibat perbedaan akses dalam modal. Indikator kemiskinan dari sisi moneter yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) secara berkala adalah untuk melihat ketidakmampuan penduduk dari sisi ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. BPS menggunakan dua macam pendekatan, yaitu pendekatan Kebutuhan Dasar (Basic Needs Approach) dan pendekatan Head Count Index. Pendekatan Head Count Index merupakan ukuran yang menggunakan kemiskinan absolut. Pendekatan kebutuhan dasar merupakan pendekatan yang paling sering digunakan. Garis kemiskinan terdiri dari dua komponen yaitu, garis kemiskinan makanan (food line) dan non makanan (non food line).

31 16 E. Tinjauan Empiris Beberapa penelitian terdahulu terkait Pengeluaran Pemerintah, pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan sebagai berikut: Penelitian oleh (Ni Ketut Eni Endrayani, 2016: 63) dengan judul analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan Kabupaten/Kota Bali. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan menggunakan data sekunder. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi dan investasi berpengaruh menurunkan kemiskinan melalui pengangguran di Provinsi Bali baik secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel intervening yaitu pengangguran. Penelitian oleh (Merry Anitasari, 2014) dengan judul pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Satistik dengan menggunakan analisis SPSS 16. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Penelitian oleh (Syahrur Romi, 2018) dengan judul pengaru pertumbuhan ekonomi dan upah minimum terhadap kemiskinan di kota Jambi. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan data sekunder, menggunakan metode regresi linear berganda dalam bentuk semilog. Dari hasil analisis secara

32 17 simultan pertumbuhan ekonomi dan upah minimum provinsi berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di kota Jambi. Penelitian oleh (Muhammad Nur Afiat, 2015: 20) dengan judul analisis pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perubahan struktur ekonomi di Propinsi Sulawesi Tenggara. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap perubahan struktur ekonomi. Hasil analisis memperlihatkan koefisien estimasi sebesar 0,518 yang menunjukkan bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah akan mendorong pertumbuhan sektor industri di Propinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian oleh (Lia Ratnasari, 2016) dengan judul pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di indonesia. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan, dengan nilai sebesar 0,976 menandai bahwa 97,6 % ketimpangan distribusi di Indonesia.

33 18 Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu NO Nama/Tahun Judul Tujuan Penelitian 1. Ni Ketut Eni Endrayani, Merry Anitasari, Syahrur Romi, 2018 Analisis faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Bali Pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Pengaruh pertumbuhan ekonomi dan upah minimum terhadap kemiskinan di Kota Jambi. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Bali Untuk menganalisis pengaruh dari pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Untuk mengetahui pengaruh laju pertumbuhan ekonomi dan upah minimum terhadap kemiskinan di Kota Jambi Metode Metode kuantitatif Metode kuantitatif Metode Kualitatif Hasil Penelitian Hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dengan path analysis menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh menurunkan kemiskinan melalui pengangguran di Provinsi Bali. Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Jika pemerintah menaikkan pengeluaran pemerintah sebesar 1 Miliar maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,17%. Pertumbuhan ekonomi dan upah minimum provinsi berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Kota Jambi. Dengan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,28%, pertumbuhan upah minimum 14,30% dan pertumbuhan penduduk miskin sebesar 17,84%.

34 19 4. Muhammad Nur Afiat, Lia Ratnasari, 2016 Analisis pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perubahan struktur ekonomi di Provinsi Sulawesi Tenggara. pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia. Untuk menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perubahan struktur ekonomi di Provinsi Sulawesi Tenggara. untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia. Metode kuantitatif Metode kuantitatif Hasil analisis memperlihatkan koefisien estimasi sebesar 0,518 yang menunjukkan bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah akan mendorong pertumbuhan sektor industri di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan, dengan nilai sebesar 0,976 menandai bahwa 97,6 % ketimpangan distribusi di Indonesia. F. Kerangka Konsep Pembangunan ekonomi di Kabupaten Enrekang telah menetapkan sasaran tersendiri untuk menetapkan indikator pembangunan ekonomi.berangkat dari landasan yang dikemukakan oleh Prof.Dudley Seers dalam Todaro (2009) tentang indikator pembangunan ekonomi suatu kabupaten.menurutnya jika ada kabupaten yang mengklaim telah melakukan pembangunan, maka patut dipertanyakan terkait dengan masalah kemiskinan, pengangguran dan distribusi pendapatan kabupaten tersebut.untuk itu Kabupaten Enrekang menetapkan salah satu sasaran pembangunan adalah pengentasan kemiskinan dan dijadikan salah satu variabel dalam penelitian ini.

35 20 Pengeluran Pemerintah (X 1 ) Pertumbuhan Ekonomi (X 2 ) Kemiskinan (Y) Distribusi Pendapatan (X 3 ) G. Hipotesis Berdasarkan latar belakang masalah dan landasan teori maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. Diduga bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang. 2. Diduga bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang. 3. Diduga bahwa distribusi pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang.

36 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian Kuantitatif merupakan penelitian yang paling murni kuantitatif, karena semua prinsip dan kaidah-kaidah penelitian kuantitatif dapat diterapkan pada metode ini.penelitian Kuantitatif merupakan penelitian labolatorium, walaupun bisa juga dilakukan diluar labolatorium, tetapi pelaksanaannya menerapkan prinsip-prinsip penelitian labolatorium, terutama dalam pengontrolan terhadap hal-hal yang mempengaruhi jalanya eksperimen. Metode ini bersifat validation atau menguji, yaitu menguji pengaruh satu atau lebih variabel terhadap variabel lain. Variabel yang 33 memberi pengaruh dikelompokan sebagai variabel bebas (independent variables) dan variabel yang dipengaruhi dikelompokan sebagai variabel terikat (dependent variables). Ada beberapa variasi dari penelitian Kuantitatif, yaitu: eksperimen murni, eksperimen kuasi, eksperimen lemah dan subjek tunggal. B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian akan dilakukan di kantor Badan Pusat Statistik, Jl. Puserren, Kec. Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan

37 22 2. Waktu Penelitian Agar penelitian lebih spesifik dalam cakupannya, maka penelitian ini menggunakan sistem rentang waktu (time series), penelitian akan dilaksanakan pada bulan agustus-september C. Devenisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. a. Variabel Independen (X) 1. Pengeluaran Pemerintah ( X 1 ) Pengeluaran pemerintah adalah kewajiban yang harus dibayar oleh pemerintah kabupaten/ kota, baik oleh pemerintah pusat melalui APBN maupun pemerintah daerah melalui APBD, untuk membiayai kegiatan pembangunan suatu daerah dalam periode tertentu yaitu dalam jangka waktu satu tahun anggaran yang diukur dengan rupiah. 2. Pertumbuhan Ekonomi ( X 2 ) Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah sehingga perekonomian meningkat. Peningkatan perekonomian suatu Negara dapat diukur dari perkembangan PDRB yaitu dihitung dari tahun yang sedang berjalan dengan tahun sebelumnya, diukur dengan persen.

38 23 3. Distribusi Pendapatan ( X 3 ) Distribusi pendapatan merupakan salah satu aspek kemiskinan yang perlu dilihat karena pada dasarnya merupakan ukuran kemiskinan relatif.ada dua kategori tingkat kemiskinan yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.kemiskinan absolut adalah kondisi di mana tingkat pendapatan seorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan.kemiskinan relatif adalah perhitungan kemiskinan berdasarkan proporsi distribusi pendapatan daerah. b. Variabel Dependen ( Y ) 1. Kemiskinan ( Y ) Kemiskinan berarti sejumlah penduduk yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang telah ditetapkan oleh suatu badan atau orang tertentu dan perhitungan yang dilakukan oleh badan atau organisasi tersebut digunakan sebagai standar perhitungan untuk menentukan jumlah kemiskinan yang ada di suatu daerah.atau singkatnya, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS). D. Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data pelengkap yang diperoleh tidak melalui tangan pertama, melainkan melalui tangan kedua, ketiga atau seterusnya. Perkecualian juga pada riset kuantitatif. Beberapa peneliti selalu

39 24 mencontohkan dokumen seperti literatur atau naskah akademik, koran, majalah, pamflet, dan lain sebagainya sebagai data sekunder. E. Teknik Analisis Data Untuk melihat hubungan antara pengeluaran pemerintah, pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan terhadap angka kemiskinan, digunakan model dasar sebagai berikut: 1. Regresi Linier Berganda Teknik analisis data menggunakan metode ekonometrika yaitu Regresi Linier Berganda. Y= a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 + e Keterangan : Y X 1 X 2 X 3 a = Kemiskinan = Pengeluaran Pemerintah = Pertumbuhan Ekonomi =Distribusi Pendapatan = Konstanta atau bilangan tetap b 1 b 2 b 3 = Koefisien Regresi variabel independen e = Error (residual) 2. Uji Asumsi Klasik Sebelum melakukan analisis data maka data diuji sesuai asumsi klasik, jika terjadi penyimpangan akan asumsi klasik digunakan pengujian statistik non parametrik sebaliknya asumsi klasik terpenuhi apabila digunakan statistik parametrik untuk mendapatkan model regresi yang baik, model regresi tersebut harus terbebas dari multikolinearitas,

40 25 autokorelasi, dan heteroskedastisitas serta data yang dihasilkan harus berdistribusi normal. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas, keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal. b. Uji Autokorelasi Autokorelasi adalah hubungan antara residual suatu observasi dengan residual lainnya (Winarno, 2009).Autokorelasi lebih mudah timbul pada data yang bersifat runtut waktu, karena berdasarkan sifatnya, data masa sekarang dipengaruhi oleh data pada masamasa sebelumnya serta tetap dimungkinkan autokorelasi dijumpai pada data yang bersifat antarobjek (cross section).uji autokorelasi yang sederhana adalah menggunakan uji Durbin Watson (DW). Autokorelasi dapat dideteksi dengan cara membandingkan antara DW statistic dengan DW tabel. Kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut: 1. Bila nilai DW statistik terletak antara 0 < d < dl, H0 yang menyatakan tidak ada autokorelasi positif ditolak. 2. Bila nilai DW statistik terletak antara 4 dl < d < 4, H0* yang menyatakan tidak ada autokorelasi negatif ditolak. 3. Bila nilai DW statistik terletak antara du < d < 4 du, H0 yang menyatakan tidak ada autokorelasi negatif diterima.

41 26 4. Ragu-ragu tidak ada autokorelasi positif bila nilai DW statistik terletak antara dl = d = du. 5. Ragu-ragu tidak ada autokorelasi negatif bila nilai DW statistik terletak antara du = d = 4 dl. Menurut Gujarati (2012:370) penggunaan metode GLS (Generalized Least Square) dapat menekankan adanya autokorelasi yang biasanya terjadipada rumus OLS (Ordinary Least Square), sebagai akibat kesalahan estimasi(underestimate) varians sehingga dengan GLS masalah autokorelasi dapatdiatasi. Asumsi terjadinya autokorelasi sering dijumpai pada estimasi yang menggunakan OLS, sedangkan pada estimasi data panel yang menggunakanmetode fixed effect baik bersifat LSDV maupun GLS dapat mengabaikan terjadinya autokorelasi karena di dalam metode GLS terdapat pembobotan pada variasi data. c. Uji Multikolinieritas Ghozali (2009) menyatakan bahwa multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang sempurna atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen (variabel yang menjelaskan) dari model regresi.konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien regresi variabel tidak tentu dan kesalahan menjadi tidak terhingga. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak

42 27 ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Salah satu munculnya multikolinearitas adalah R² sangat tinggi dan tidak satupun koefisien regresi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas secara skolastik. d. Uji Heteroskedastisitas Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Heteroskedastisitas terjadi apabila variabel gangguan tidak mempunyai varian yang sama untuk semua observasi. Akibat adanya heteroskedastisitas, penaksir OLS tidak bias tetapi tidak efisien. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dalam model maka dapat dilakukan dengan menggunakan white heteroscedasticity-consistent standart errors and covariance yang tersedia dalam program Eviews 9. Uji ini diterapkan pada hasil regresi dengan menggunakan prosedur equations dan metode OLS untuk masing-masing perilaku dalam persamaan simultan.hasil yang perlu diperhatikan dari uji ini adalah nilai F dan Obs*Rsquared, secara khusus adalah nilai probability dari Obs*Rsquared.Dengan uji White, dibandingkan Obs*R-squared dengan χ (Chi-Squared) tabel.jika nilai Obs*R-squared lebihkecil dari pada χ tabel maka tidak ada heteroskedastisitas pada model. 3. Uji Hipotesis Parameter-parameter yang diestimasi dapat dilihat melalui dua kriteria.pertama adalah statistik, yang meliputi uji signifikansi parameter

43 28 secara individual (Uji - t), uji signifikansi parameter secara serempak (Uji F) dan uji kebaikan sesuai {(Goodness of Fit) atau R 2 }. a. UjiKoefisien Determinasi (R 2 ) Koefisien determinasi ini mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.koefisien ini nilainya antara nol (0) sampai dengan satu (1).Semakin besar nilai koefisien tersebut maka variabel-variabel bebas lebih mampu menjelaskan variasi variabel terikatnya. Untuk menghitung besarnya determinan (R2 ). b. Uji Simultan ( F ) Pengujian hipotesis secara keseluruhan dengan menggunakan uji statistik F- hitung dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis yang dirumuskan: Ho: β 1 = β 2 = β 3 = β 4 = 0, variabel independen secara bersamasama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Ha: β 1 β 2 β 3 β 4 0, variabel independen secara bersamasama berpengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengujiannya adalah : Ho ditolak dan Ha diterima, jika F-Prob < α 5 % Ho diterima dan Ha ditolak, jika F-Prob > α 5 % Jika Ho ditolak, berarti variabel bebas yang diuji berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.jika Ho diterima berarti variabel bebas yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

44 29 c. Uji Parsial ( T ) Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. Pengujian dilakukan dengan uji t atau t-test, yaitu membandingkan antara t hitung dengan t tabel.uji ini dilakukan dengan syarat: 1. Jika T< T tabel, maka hipotesis tidak teruji yaitu variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 2. JikaT>T tabel, maka hipotesis teruji yang berarti variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

45 30 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat Badan Pusat Statistik Kabupaten Enrekang Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non- Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS merupakan Biro Pusat Statistik, yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1960 tentang Sensus dan UU Nomer 7 Tahun 1960 tentang Statistik. Sebagai pengganti kedua UU tersebut ditetapkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan UU ini yang ditindaklanjuti dengan peraturan perundangan dibawahnya, secara formal nama Biro Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik. Materi yang merupakan muatan baru dalam UU Nomor 16 Tahun 1997, antara lain : a. Jenis statistik berdasarkan tujuan pemanfaatannya terdiri atas statistik dasar yang sepenuhnya diselenggarakan oleh BPS, statistik sektoral yang dilaksanakan oleh instansi Pemerintah secara mandiri atau bersama dengan BPS, serta statistik khusus yang diselenggarakan oleh lembaga, organisasi, perorangan, dan atau unsur masyarakat lainnya secara mandiri atau bersama dengan BPS. b. Hasil statistik yang diselenggarakan oleh BPS diumumkan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) secara teratur dan transparan agar masyarakat dengan mudah mengetahui dan atau mendapatkan data yang diperlukan. c. Sistem Statistik Nasional yang andal, efektif, dan efisien. 30

46 31 d. Dibentuknya Forum Masyarakat Statistik sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat statistik, yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada BPS. Berdasarkan undang-undang yang telah disebutkan di atas, peranan yang harus dijalankan oleh BPS adalah sebagai berikut : a. Menyediakan kebutuhan data bagi pemerintah dan masyarakat. Data ini didapatkan dari sensus atau survey yang dilakukan sendiri dan juga dari departemen atau lembaga pemerintahan lainnya sebagai data sekunder b. Membantu kegiatan statistik di departemen, lembaga pemerintah atau institusi lainnya, dalam membangun sistem perstatistikan nasional. c. Mengembangkan dan mempromosikan standar teknik dan metodologi statistik, dan menyediakan pelayanan pada bidang pendidikan dan pelatihan statistik. d. Membangun kerjasama dengan institusi internasional dan negara lain untuk kepentingan perkembangan statistik Indonesia. 2. Visi dan Misi a) Visi Pelopor data statistik terpercaya untuk semua. b) Misi 1) Memperkuat landasan konstitusional dan operasional lembaga statistik untuk penyelenggaraan statistik yang efektif dan efisien.

47 32 2) Menciptakan insan statistik yang kompeten dan profesional, didukung pemanfaatan teknologi informasi mutakhir untuk kemajuan perstatistikan Indonesia. 3) Meningkatkan penerapan standar klasifikasi, konsep dan definisi, pengukuran, dan kode etik statistik yang bersifat universal dalam setiap penyelenggaraan statistik. 4) Meningkatkan kualitas pelayanan informasi statistik bagi semua pihak. 5) Meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi kegiatan statistik yang diselenggarakan pemerintah dan swasta, dalam kerangka Sistem Statistik Nasional (SSN) yang efektif dan efisien.

48 33 3) Struktur Organisasi dan Job Description Gambar 4.1 Struktur Organisasi BPS Kabupaten Enrekang Sumber : BPS Kabupaten Enrekang tahun 2019

49 34 Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2007 tentang Badan Pusat Statistik dan Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 116 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pusat Statistik. Susunan organisasi BPS terdiri dari: a. Kepala BPS dipimpin oleh seorang Kepala yang mempunyai tugas memimpin BPS sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku; menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum sesuai dengan tugas BPS; menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas BPS yang menjadi tanggung jawabnya; serta membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi dan organisasi lain. Kepala dibantu oleh seorang Sekretaris Utama, 5 (lima) Deputi dan Inspektorat Utama. b. Sekretariat Utama Sekretariat Utama mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan, pembinaan, pengendalian administrasi, dan sumber daya di lingkungan BPS. Sekretariat Utama terdiri dari beberapa Biro, setiap Biro terdiri dari beberapa Bagian dan setiap Bagian terdiri dari beberapa Subbagian. Sekretariat Utama terdiri dari Biro Bina Program, Biro Keuangan, Biro Kepegawaian, Biro Hubungan Masyarakat dan Hukum, dan Biro Umum. c. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang metodologi dan informasi statistik. Deputi Bidang Metodologi dan

50 35 Informasi Statistik terdiri dari Direktorat Pengembangan Metodologi Sensus dan Survei, Direktorat Diseminasi Statistik, dan Direktorat Sistim Informasi Statistik. d. Deputi Bidang Statistik Sosial Deputi Bidang Statistik Sosial mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang statistik sosial. Deputi Bidang Statistik Sosial terdiri dari Direktorat Statistik Kependudukan & Ketenagakerjaan, Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, dan Direktorat Statistik Ketahanan Sosial. e. Deputi Bidang Statistik Produksi Bidang Statistik Produksi mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang statistik produksi. Deputi Bidang Statistik Produksi terdiri dari Direktorat Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura & Perkebunan, Direktorat Peternakan, Perikanan & Kehutanan dan Direktorat Statistik Industri. f. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang statistik distribusi dan jasa. Deputi Bidang Statistik Distribusi & Jasa terdiri dari Direktorat Statistik Harga, Direktorat Statistik Distribusi, dan Direktorat Statistik Keuangan, TI & Pariwisata. g. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan melaksanakan kebijakan di bidang neraca dan analisis statistik. Deputi Bidang Neraca dan Analisis

51 36 Statistik terdiri dari Direktorat Neraca Produksi, Direktorat Neraca Pengeluaran, dan Direktorat Analisis & Pengembangan Statistik. h. Inspektorat Utama Inspektorat Utama yang mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan BPS; i. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) yang mempunyai tugas melaksanakan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan prajabatan dan kepemimpinan serta teknis dan fungsional. j. Instansi Vertikal Instansi Vertikal BPS terdiri dari BPS Provinsi dan BPS Kabupaten/Kota. BPS Provinsi adalah instansi vertikal BPS yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala BPS. BPS Kabupaten/Kota adalah instansi vertikal BPS yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala BPS Provinsi. Disamping itu terdapat Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) yang pembentukannya berlandaskan pada Keputusan Presiden Nomor 163 tahun 1998 tentang Sekolah Tinggi Ilmu Statistik sebagai perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Badan Pusat Statistik yang berkedudukan di Jakarta. Struktur organisasi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik didasarkan pada Keputusan Kepala BPS Nomor 101 tahun 1998 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik dipimpin oleh seorang Ketua.

52 37 B. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Variabel a. Deskripsi Pengeluaran Pemerintah Kabupaten Enrekang Pengeluaran pemerintah kabupaten Enrekang yang tercermin dalam realisasi APBD memiliki beberapa fungsi alokasi dan fungsi redistribusi untuk melihat sejauh mana peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah kemiskinan di Kabupaten Enrekang salah satunya adalah seberapa besar pengeluaran pemerintah yang diperuntukkan untuk pengentasan kemiskinan. Berikut ini jumlah pengeluaran pemerintah di Kabupaten Enrekang pada tahun tahun 2013 sampai tahun Tabel 4.1 Pengeluaran Pemerintah Tahun No Tahun Jumlah Pengeluaran Pemerintah ,054,884, ,803,077, ,529,861, ,874,332, ,100,625, ,394,645,304 Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019 Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 jumlah pengeluaran pemerintah sebesar RP 460,054,884,757 tahun 2014 sebesar RP. 502,803,077,819 selanjutnya pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar Rp. 445,529,861,012 pada tahun berikutnya pengeluaran pemerintah di Kabupaten Enrekang

53 38 sebesar Rp. 516,874,332,505 dan pada tahun 2017 naik sebesar Rp. 527,100,625,245 sementara pada tahun 2018 naik menjadi Rp. 589,394,645,304. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Jumlah pengeluaran pemerintah di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan, ini dapat diartikan bahwa pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Kabupaten Enrekang. b. Deskripsi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Enrekang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang, berikut jummlah pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang pada tahun 2013 sampai tahun Tabel 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Tahun Jumlah No Tahun Pertumbuhan Ekonomi % % % % % % Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019 Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 jumlah pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 sebesar 6.80% tahun 2014 sebesar 6.94% tahun 2015 sebesar 7.00% tahun 2016

54 39 sebesar 7.34% tahun 2017 sebesar 7.45% sementara pada tahun 2018 naik menjadi 7.65%. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Jumlah pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. c. Deskripsi Distribusi Pendapatan Kabupaten Enrekang Distribusi pendapatan merupakan salah satu indikator yang dapat mengurangi tingkat kemiskinan pada Kabupaten Enrekang, berikut jumlah distribusi pendapatan pada tahun 2013 sampai pada tahun Tabel 4.3 Distribusi Pendapatan Tahun No Tahun Jumlah Distribusi Pendapatan % % % % % % Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019 Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2013 jumlah distribusi pendapatan pada tahun 2013 sebesar 6.353% tahun 2014 sebesar 6.334% tahun 2015 sebesar 6.362% tahun 2016 sebesar 6.431% tahun 2017 sebesar 6.440% sementara pada tahun 2018 naik menjadi 6.498%

55 40 Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Jumlah distribusi pendapatan di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. d. Deskripsi Kemiskinan Kabupaten Enrekang Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang sering terjadi khususnya di Kabupaten Enrekang,berikut jumlah kemiskinan pada tahun 2013 sampai pada tahun Tabel 4.4 Kemiskinan Tahun No Tahun Jumlah Kemiskinan % % % % % % Sumber : BPS Kabupaten Enrekang Tahun 2019 Berdasarkan di atas maka dapat dijelaskan bahwa jumlah kemiskinani pada tahun 2013, 2014, 2015, dan 2016 sebesar 4.3 % kemudian pada tahun 2017 dan tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 4.4 %. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.

56 41 2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan yang lain. Pada heteroskedastisitas kesalahan yang terjadi tidak secara acak tetapi menunjukkan hubungan yang sistematis sesuai dengan besarnya satu atau lebih variabel. Uji heteroskedastisitas yang digunakan adalah secara grafik. Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas Secara Grafis Sumber : Data Diolah Tahun 2019 Dari grafik scatterplot yang ada pada gambar di atas dapat di lihat bahwa titik-titik menyebar secara acak, dan tersebar diatas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

57 42 e. Uji Multikolineritas Untuk uji multikolineritas diperlukan untuk memperoleh korelasi yang sebenarnya, yang murni tidak dipengaruhi variabel-variabel lain yang mungkin terjadi saja berpengaruh. Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolineritas Coefficients a Collinearity Statistics Model Tolerance VIF 1 Pengeluaran Pemerintah 14,398 0,227 Pertumbuhan Ekonomi 20,031 0,050 Distribusi Pendapatan 16,063 0,062 a. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber : Data Diolah Tahun 2019 Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dari hasil uji Variance Inflation Factor (VIF) pada hasil output SPSS.23, tabel coefficient, masingmasing variabel independen memiliki VIF < 10 yaitu untuk variabel pengeluaran pemerintah 0,227, variabel pertumbuhan ekonomi sebesar 0,050, dan variabel distribusi pendapatan sebesar 0,062 dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas. antara variabel dependen dengan variabel independen yang lain sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini.

58 43 f. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memilki distribusi normal. Dalam uji normalitas terdapat dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafis. Uji normalitas data dengan menggunakan pengolahan SPSS 22 untuk menghasilkan grafik tersebut. Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas Secara Grafis Sumber : Data Diolah Tahun 2019 Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa titik-titik yang menyebar disekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik data searah dengan garis diagonal menandakan bahwa model asumsi regresi memenuhi asumsi normalitas dan model regresi layak untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel bebas (pengeluaran

59 44 pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan) terhadap variabel terikat (kemiskinan). 3.. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Pembahasan sebelumnya telah di kemukakan bahwa untuk dapat menjawab hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini, yaitu pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat baik dilakukan dengan analisis regresi linear berganda. Ringkasan hasil perhitungan analisis regresi linear berganda dalam pemilihan ini dapat dlihat pada tabel berikut : Tabel 4.6 Hasil Analisis Linear Berganda Coefficients a Model Unstandardize d Coefficients Standa rdized Coeffici ents T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF (Constant) Pengeluaran ,398 0,227 Pemerintah Pertumbuhan ,031 0,050 Ekonomi 2 Distribusi Pendapatan ,063 0,062 a. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber: Data Diolah Tahun 2019 Y= a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + e Y= -1, ,493X1 + 0,337X2 + 0,226X3 + e

60 45 Dimana : Y X1 X2 X3 b e : Kemiskinan : Pengeluaran Pemerintah : Pertumbuhan Ekonomi : Distribusi Pendapatan : Koefisien Regresi : Standar Kesalahan Pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen. 4. Hasil Uji Statistik a. Koefisien Determinasi (R²) Koefisisen determinasi (R²) bertujuan mengukur seberapa akurat variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen. (Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai yang mendekati satu berarti adalah variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh variabel dependen (Ghozali, 2013). Tabel 4.7 Koefisien determinasi Model Summary b Model R R Adjusted Std. Change Statistics Squa re R Square Error of the Estimat e R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change a a. Predictors: (Constant), Distribusi Pendapatan, Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi b. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber : Data Diolah Tahun 2019

61 46 Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS, diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 1,000 yang menunjukkan bahwa pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen dapat dikatakan kuat. hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,999 hal ini berarti variabel independen (pengeluaran pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan ) sangat mempengaruhi variabel dependen (kemiskinan). b. Uji simultan Uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh independen secara simultan terhadap variabel dependen. Tabel 4.8 Hasil uji Simultan ANOVA a Model Sum of Df Mean Square F Sig. Squares Regression b 1 Residual Total a. Dependent Variable: Kemiskinan b. Predictors: (Constant), Distribusi Pendapatan, Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi Sumber : Data Diolah Tahun 2019 Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai Fhitung sebesar dengan nilai sig sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa nilai F hitung lebih besar dari F tabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya hubungan pengeluaran pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan distribusi pendapatan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang.

62 47 C. Hasil Uji Parsial (T) Pengujian hipotesis secara parsial dimaksudkan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Hasil hipotesis dalam pengujian ini adalah sebagai berikut Tabel 4.9 Hasil Uji T Coefficients a Model Unstandardized Coefficients Standardi zed Coefficien ts T Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF (Constant) Pengeluaran Pemerintah ,398 0,227 1 Pertumbuhan Ekonomi ,031 0,050 Distribusi Pendapatan ,063 0,062 a. Dependent Variable: Kemiskinan Sumber : Data Diolah Tahun 2019 Berdasarkan pada tabel Uji t di atas untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial (individual) terhadap variabel dependen adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil analisis regresi yang diperoleh untuk variabell pengeluaran pemerintah diperoleh T hitung sebesar 6,282 dengan tingkat signifikan 0,024, hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pengeluaran pemerintah terhadap kemiskinan di kabupaten Enrekang. Maka hipotesis pertama yang menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang.

63 48 2. Berdasarkan hasil analisis regresi yang diperoleh untuk variabel pertumbuhan ekonomi diperoleh T hitung sebesar 15,292 dengan tingkat signifikan 0,004, hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di kabupaten Enrekang. Maka hipotesis kedua yang menyatakan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Kabupaten Enrekang. 3. Berdasarkan hasil analisis regresi yang diperoleh untuk variabel distribusi pendapatan diperoleh T hitung sebesar 0,184 dengan tingkat signifikan 0,161, hal ini menunjukkan tidak adanya pengaruh positif dan signifikan antara distribusi pendapatan terhadap kemiskinan dii Kabupaten Enrekang. Maka hipotesis kedua menyatakan distribusi pendapatan tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Kemiskinan di Kabupaten Enrekang. C. Hasil Pembahasan Pembahasan ini difokuskan pada keputusan yang dihasilkan dari pengujian hipotesis, sebagai upaya untuk menjawab perumusan masalah penelitian. Hasil analisis dari pengujian hipotesis dijabarkan sebagai berikut : 1. Pengeluaran Pemerintah Untuk menjawab rumusan dan hipotesis pertama dapat diamati dan dijelaskan bahwa pengaruh pengeluaran pemerintah yang dijalankan oleh pemerintah di Kabupaten Enrekang mampu mengurangi tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang, hal tebukti dari hasil bahwa variabel pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan. Adapun hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad

64 49 Nur Afiat (2015), yaitu analisis pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perubahan struktur ekonomi di Propinsi Sulawesi Tenggara. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap perubahan struktur ekonomi. Hasil analisis memperlihatkan koefisien estimasi sebesar 0,518 yang menunjukkan bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah akan mendorong pertumbuhan sektor industri di Propinsi Sulawesi Tenggara. yang berarti pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang. Senada dengan pendapat yang dijelaskan pada bab sebelumnya yang mengatakan bahwa Peran pemerintah dalam mempengaruhi kemiskinan termasuk dalam mengantisipasi kegagalan pasar dalam perekonomian sangat penting. Peranya melalui kebijakan fiskal ditargetkan dapat menyelesaikan masalah pembangunan (kemiskinan, pengangguran dan distribusi pendapatan). peran yang besar bagii pemerintah untuk memberikan stabilisasi, redistribusi pendapatan dan alokasi dalam perekonomian suatu kabupaten. Keynes mengatakan pada tingkat makro, pemerintah harus secara aktif dan sadar mengendalikan perekonomian ke arah posisi Full Employment, sebab mekanisme otomatis kearah posisi tersebut tidak bisa diandalkan secara otomatis atau diserahkan pada mekanisme pasar. Untuk itu peran pemerintah melalui kebijaksanaan fiskal untuk melakukan distribusi pendapatan termasuk melalui mekanisme pajak, sangat penting karena ketidakmampuan mekanisme pasar dalam meyelesaikan masalah kesejahteraan.

65 50 2. Pertumbuhan Ekonomi Untuk menjawab rumusan dan hipotesis kedua hasil pengujian peneliti didapat bahwa pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang berpengaruh positif dan signifikan. Adapun hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Syahrur Romi (2018), yaitu pengaruh pertumbuhan ekonomi dan upah minimum terhadap kemiskinan di kota Jambi menghasilkan bahwa adanya hubungan langsung yang signifikan positif antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan.yang berarti pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten Enrekang. Senada dengan pendapat yang dijelaskan pada bab sebelumnya yang mengatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi akan memberikan manfaat kepada warga miskin jika pertumbuhan ekonomi tersebut disertai dengan berbagai kebijakan seperti penegakan hukum, disipin fiskal, keterbukaan dalam perdagangan internasional dan strategi penanggulangan kemiskinan. Kabupaten yang berhasil dalam pertumbuhan ekonomi kemungkinan besar juga akan berhasil dalam menurunkan angka kemiskinan, apalagi jika terdapat dukungan kebjakan dan lingkungan kelembagaan yang tepat (Smith Sthepen C, 2010:152). 3. Distribusi Pendapatan Untuk menjawab rumusan dan hipotesis ketiga hasil pengujian peneliti didapat bahwa distribusi pendapatan terhadap kemiskinan di kabupaten Enrekang berpengaruh positif variabel tidak signifikan. Adapun hasil Penelitian ini sejalan dengan peneliitian yang dilakukan oleh Lia Ratnasari (2016), yaitu pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap

66 51 ketimpangan distribusi pendapatan di indonesia. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan, dengan nilai sebesar 0,976 menandai bahwa 97,6 % ketimpangan distribusi di Indonesia. Senada dengan pendapat yang dijelaskan pada bab sebelumnya yang menggatakan bahwa yang menjadi landasan penting dalam melihat hubungan antara distribusi pendapatan dan kemiskinan.menurutnya Gross domestic Produk/Product Domestic Bruto (pertumbuhan ekonomi) yang cepat menjadi salah syarat tercapainya pembangunan ekonomi Todaro (2009).

67 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di uraikan pada bab sebelumnya, maka peneliti memperoleh hasil dan kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang, hal ini dibuktikan dengan nilai thitung sebesar 6,282 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,024 (sig < 0,05). 2. Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang, hal ini dibuktikan dengan nilai thitung sebesar 15,292 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,004 (sig < 0,05). 3. Distribusi pendapatan tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Enrekang, hal ini dibuktikan dengan nilai thitung sebesar 0,184 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,161 (sig > 0,05). B. Saran Adapun saran dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Pemerintah Kabupaten Enrekang Disarankan kepada pemerintah Kabupaten Enrekang harus secara aktif dalam mengendalikan perekonomian melalui kebijakan fiskal melalui analisis kebutuhan yang jelas agar anggaran yang digunakan efektif dalam menurunkan angka kemiskinan. 52

68 53 2. Bagi penulis Semoga penelitian ini menambah pengalaman dan wawasan pengetahuan terkait dengan kemiskinan di Kabupaten Enrekang serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian selanjutnya lebih sempurna. Karena dalam penelitian ini, peneliti masih merasa banyak kekurangan yang masih harus diperbaiki..

69 DAFTAR PUSTAKA Afiat. N. M Analisis pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perubahan struktur ekonomi di Propinsi Sulawesi Tenggara. Anitasari, M Pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu. Arifianto, W Pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap distribusi pendapatan di Indonesia. Alawi, Nadhif Pengaruh Anggaran Belanja Pembangunan Daerah Terhadap Kemiskinan Studi Kasus: Badan Pusat Statistik Data Strategis Sugiono, Kemajuan Tingkat Penduduk Indonesia, masalah-masalah dan struktual baru Basri, Faisal dan Munandar, Haris Lanskap ekonomi Indonesia; kajian dan renungan terhadap masalah-masalah struktural, transformasi baru, dan prospek perekonomian Indonesia. Kharisma Putra Utama Chenery, Hollis and Ahluwalia, Redistibutionwith Growth, Published for the World Bank and the Instituteof Development studies, Sussex, Oxford U.P. Darmawan, Dhani Agung 2015.Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas. Darwin, Muhadjir Pembangunan Pro Pertumbuhan VS Pro Rakyat Eko, Sutoro PRO POOR BUDGETING: Politik Baru Reformasi Anggaran Daerah untuk Pengurangan Kemiskinan Hadi,Agus Purbathin Tinjauan Terhadap Berbagai Program Pemberdayaan Masyarakat. Hamid, Edy Suandi. Pengangguran di berbagai provinsi Institut Pertanian Enrekang. Strategi Pembangunan Untuk Pengantasan Kemiskinan di kabupaten Enrekang Magdalena, Ester Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Pengangguran di Indonesia. Mahalli, Kasyful Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Mulyaningsih, Yani. Pengaruh pengeluaran pemerintah di sektor publik terhadap peningkatan pembangunan manusia dan pengurangan kemiskinan. Tesis

70 Prastyo, Adit Agus Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan Studi Kasus: 35 Kabupaten/Kota di sulawesi selatan Tahun Putra, Linggar Dewangga Analisis Pengaruh Ketimpangan Distribusi Pendapatan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Di Provinsi sulawesiselatanperiode Romi, S Pengaruh pertumbuhan ekonomi dan upah minimum terhadap kemiskinan di kota Jambi. Ratnasari, L pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia

71

72 Regression Notes Output Created 25-DEC :18:53 Comments Active Dataset DataSet0 Filter <none> Input Weight <none> Split File <none> N of Rows in Working Data File 6 User-defined missing values are Definition of Missing treated as missing. Missing Value Handling Statistics are based on cases Cases Used with no missing values for any variable used. REGRESSION /DESCRIPTIVES MEAN STDDEV CORR SIG N /MISSING LISTWISE /STATISTICS COEFF OUTS R ANOVA COLLIN TOL CHANGE /CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10) Syntax /NOORIGIN /DEPENDENT Y /METHOD=ENTER X1 X2 X3 /SCATTERPLOT=(Y,*ZPRED) (Y,*ZRESID) (Y,*DRESID) /RESIDUALS HISTOGRAM(ZRESID) NORMPROB(ZRESID). Processor Time 00:00:01.75 Elapsed Time 00:00:00.99 Resources Memory Required 3472 bytes Additional Memory Required for 728 bytes Residual Plots

73 Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Kemiskinan Pengeluaran Pemerintah Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan Pearson Correlation Sig. (1-tailed) N Correlations Kemiskinan Pengeluaran Pemerintah Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan Kemiskinan Pengeluaran Pemerintah Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan Kemiskinan Pengeluaran Pemerintah Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan Kemiskinan Pengeluaran Pemerintah Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan Variables Entered/Removed a Model Variables Entered Variables Removed Method Distribusi Pendapatan, Pengeluaran 1 Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi b. Enter a. Dependent Variable: Kemiskinan b. All requested variables entered.

74 Model Summary b Model R R Square Adjusted R Std. Error of the Change Statistics Square Estimate R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change a a. Predictors: (Constant), Distribusi Pendapatan, Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi b. Dependent Variable: Kemiskinan ANOVA a Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. Regression b 1 Residual Total a. Dependent Variable: Kemiskinan b. Predictors: (Constant), Distribusi Pendapatan, Pengeluaran Pemerintah, Pertumbuhan Ekonomi Coefficients a Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleranc e VIF (Constant) Pengeluaran Pemerintah ,398 0,227 1 Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan ,031 0,050 16,063 0,062 a. Dependent Variable: Kemiskinan Collinearity Diagnostics a Model Dimension Eigenvalue Condition Index Variance Proportions (Constant) Pengeluaran Pemerintah Pertumbuhan Ekonomi Distribusi Pendapatan E E a. Dependent Variable: Kemiskinan

75 Residuals Statistics a Minimum Maximum Mean Std. Deviation N Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual Mahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value a. Dependent Variable: Kemiskinan

76 Charts

77

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi/Objek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur. Pemilihan Provinsi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi/Objek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur. Pemilihan Provinsi BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi/Objek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur. Pemilihan Provinsi Jawa Timur ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Jawa Timur merupakan provinsi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis akan melaksanakan langkah-langkah sebagai

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis akan melaksanakan langkah-langkah sebagai BAB III METODE PENELITIAN A. Langkah Penelitian Dalam penelitian ini, penulis akan melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Merumuskan spesifikasi model Langkah ini meliputi: a. Penentuan variabel,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan Data sekunder

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan Data sekunder 47 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan 2003-2012. Data sekunder tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Dalam Angka, Badan

Lebih terperinci

ANALISIS PERTUMBUHAN PENDUDUK, PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN SKRIPSI

ANALISIS PERTUMBUHAN PENDUDUK, PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN SKRIPSI ANALISIS PERTUMBUHAN PENDUDUK, PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2008-2015 SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan alat yang digunakan untuk mencapai. tujuan bangsa dan pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan alat yang digunakan untuk mencapai. tujuan bangsa dan pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan bangsa dan pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk menilai keberhasilan pembangunanan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Obyek dari penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah besarnya

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Obyek dari penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah besarnya BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Obyek dari penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah besarnya yield to maturity (YTM) dari obligasi negara seri fixed rate tenor 10 tahun

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. tabungan masyarakat, deposito berjangka dan rekening valuta asing atau

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. tabungan masyarakat, deposito berjangka dan rekening valuta asing atau BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian 3.1.1 Jumlah Uang Beredar Jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) atau broad money merupakan merupakan kewajiban sistem moneter (bank sentral)

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 73 BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah menganalisis tentang faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan Indonesia yang terjadi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Objek/Subjek Penelitian Objek penelitian data ini adalah Pemerintah Daerah pada 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah. Subjek penelitiannya, yaitu data PAD, DAU, DAK, dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Utara. Series data yang digunakan dari tahun

BAB III METODE PENELITIAN. Utara. Series data yang digunakan dari tahun BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik Republik Indonesia dan BPS Provinsi Maluku Utara.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah

III. METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah 63 III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Belanja Barang dan Jasa (BBJ) terhadap pembangunan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif. Definisi dari penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hubungan Antara Penerimaan DAU dengan Pertumbuhan PDRB Dalam melihat hubungan antara PDRB dengan peubah-peubah yang mempengaruhinya (C, I, DAU, DBH, PAD, Suku Bunga dan NX)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dan pertumbuhan ekonomi adalah laporan keuangan pemerintah daerah

BAB III METODE PENELITIAN. dan pertumbuhan ekonomi adalah laporan keuangan pemerintah daerah BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian dampak kinerja keuangan terhadap alokasi belanja modal dan pertumbuhan ekonomi adalah laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota Provinsi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan Data sekunder

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan Data sekunder III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder tahunan 2001-2012.Data sekunder tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Dalam Angka, dan Dinas

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. series dan (2) cross section. Data time series yang digunakan adalah data tahunan

III. METODE PENELITIAN. series dan (2) cross section. Data time series yang digunakan adalah data tahunan 29 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder berupa data panel, yaitu data yang terdiri dari dua bagian : (1)

Lebih terperinci

PENGARUH PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, TINGKAT INFLASI DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH ( )

PENGARUH PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, TINGKAT INFLASI DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH ( ) PENGARUH PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, TINGKAT INFLASI DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH (1988-2012) SKRIPSI DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN UNTUK MENCAPAI

Lebih terperinci

PENGARUH INVESTASI DAN KONSUMSI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA SELATAN PERIODE

PENGARUH INVESTASI DAN KONSUMSI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA SELATAN PERIODE PENGARUH INVESTASI DAN KONSUMSI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA SELATAN PERIODE 1995-2010 Fitri Suciani Jaka Pratama Tetiyeni Dwi Lestari ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik yaitu metode penelitian yang menekankan kepada usaha untuk memperoleh informasi mengenai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengambil objek di seluruh provinsi di Indonesia, yang berjumlah 33 provinsi

BAB III METODE PENELITIAN. mengambil objek di seluruh provinsi di Indonesia, yang berjumlah 33 provinsi BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis mengambil objek di seluruh provinsi di Indonesia, yang berjumlah 33 provinsi di 5 pulau

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. model struktural adalah nilai PDRB, investasi Kota Tangerang, jumlah tenaga kerja,

III. METODE PENELITIAN. model struktural adalah nilai PDRB, investasi Kota Tangerang, jumlah tenaga kerja, III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk time series dari tahun 1995 sampai tahun 2009. Data yang digunakan dalam model

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel

METODE PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel yang akan dianalisis dalam penelitian ini, maka perlu dirumuskan

Lebih terperinci

semua data, baik variabel dependen maupun variable independen tersebut dihitung

semua data, baik variabel dependen maupun variable independen tersebut dihitung BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan membahas mengenai pengaruh pertumbuhan variabel PMTDB, pertumbuhan variabel angkatan kerja terdidik, pertumbuhan variabel pengeluaran pemerintah daerah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. tahun terakhir yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun Data yang. diambil adalah data tahun 2001 sampai 2015.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. tahun terakhir yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun Data yang. diambil adalah data tahun 2001 sampai 2015. BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskriptif Sampel dan Data Penelitian ini menggunakan 30 data, sampel yang diamati selama 15 tahun terakhir yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun 2015. Data yang diambil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 41 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Menurut Sugiono, metode penelitian kuantitatif merupakan suatu metode yang digunakan untuk meneliti suatu populasi dan sampel tertentu. Dalam penelitian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dengan

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dengan 40 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif dengan rentang waktu dari tahun 2001 2012. Tipe data yang digunakan adalah data runtut

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 48 BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan di Kabupaten/Kota yang berada di Provinsi Banten. Pemilihan lokasi di Kabupaten/Kota disebabkan karena berdasarkan hasil evaluasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa depan perekonomian dunia. Menurut Kunarjo dalam Badrul Munir (2002:10),

BAB I PENDAHULUAN. masa depan perekonomian dunia. Menurut Kunarjo dalam Badrul Munir (2002:10), BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Kemiskinan merupakan gambaran kehidupan di banyak

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Profil Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Profil Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Profil Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Lebih terperinci

3. METODE. Kerangka Pemikiran

3. METODE. Kerangka Pemikiran 25 3. METODE 3.1. Kerangka Pemikiran Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu serta mengacu kepada latar belakang penelitian, rumusan masalah, dan tujuan penelitian maka dapat dibuat suatu bentuk kerangka

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 90 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian 3.1.1. Objek Penelitian Objek penelitian ini memuat tentang tingkat pengangguran terbuka yang terjadi di Indonesia selama. Adapun yang menjadi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Variabel penelitian merupakan atribut atau perlengkapan yang digunakan untuk mempermudah suatu penelitian dan sebagai sara untuk pengukuran serta memberikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan dari

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan dari BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari 2014 sampai dengan Februari 2014. Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi 41 BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan terhadap ekonomi Indonesia dalam waktu 1996-2013, oleh karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam usahanya untuk mensejahterakan dan memakmurkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam usahanya untuk mensejahterakan dan memakmurkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mensejahterakan dan memakmurkan masyarakatnya, suatu negara akan melakukan pembangunan ekonomi dalam berbagai bidang baik pembangunan nasional

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu berkaitan dengan data yang waktu dikumpulkannya bukan (tidak harus) untuk memenuhi

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, JUMLAH TENAGA KERJA, DAN INFLASI TERHADAP KEMISKINAN DI KOTA SURAKARTA TAHUN

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, JUMLAH TENAGA KERJA, DAN INFLASI TERHADAP KEMISKINAN DI KOTA SURAKARTA TAHUN ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, JUMLAH TENAGA KERJA, DAN INFLASI TERHADAP KEMISKINAN DI KOTA SURAKARTA TAHUN 1995 2013 Naskah Publikasi Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan seluruh bangsa tersebut. Hal ini di Indonesia yang salah satunya

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan seluruh bangsa tersebut. Hal ini di Indonesia yang salah satunya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses mutlak yang dilakukan oleh suatu bangsa dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh bangsa tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat setempat sesuai dengan peraturan peundang-undangan. Hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat setempat sesuai dengan peraturan peundang-undangan. Hal tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat

Lebih terperinci

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Kuncoro (2014), dalam jurnal Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pengangguran dan Pendidikan terhadap Tingkat Kemiskinan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Penelitian dilakukan di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Dengan pertimbangan di setiap wilayah mempunyai sumber daya dan potensi dalam peningkatan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1. Gambaran Umum Subyek penelitian Penelitian ini tentang pertumbuhan ekonomi, inflasi dan tingkat kesempatan kerja terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/kota

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum Provinsi Jawa Timur Penelitian ini dilakukan mulai bulan September 2012 di Jakarta terhadap Laporan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur untuk periode tahun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan lebih mendalam tentang teori-teori yang menjadi dasar dari pokok permasalahan yang diamati. Selain itu akan dikemukakan hasil penelitian terdahulu

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELTIAN. Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur,

BAB III METODELOGI PENELTIAN. Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, BAB III METODELOGI PENELTIAN A. Obyek/Subyek Penelitian Obyek dalam penelitian ini meliputi seluruh wilayah atau 33 provinsi yang ada di Indonesia, meliputi : Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau,

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, DAN TENAGA KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN

ANALISIS PENGARUH PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, DAN TENAGA KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN ANALISIS PENGARUH PAJAK DAERAH, RETRIBUSI DAERAH, DAN TENAGA KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN 1995-2013 NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Hasil Uji Asumsi Klasik Untuk menghasilkan hasil penelitian yang baik, pada metode regresi diperlukan adanya uji asumsi klasik untuk mengetahui apakah

Lebih terperinci

PENGARUH DANA BAGI HASIL PAJAK DAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM TERHADAP BELANJA DAERAH

PENGARUH DANA BAGI HASIL PAJAK DAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM TERHADAP BELANJA DAERAH PENGARUH DANA BAGI HASIL PAJAK DAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM TERHADAP BELANJA DAERAH (Studi Pada Kabupaten dan Kota di Eks Karesidenan Madiun Tahun 2009-2015) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian Berdasarkan pada masalah-masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini antara lain untuk: 1. Mengetahui besarnya pengaruh tenaga kerja

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Prima Artha, Sleman. Sedangkan subjek penelitiannya adalah Data

BAB III METODE PENELITIAN. Prima Artha, Sleman. Sedangkan subjek penelitiannya adalah Data BAB III METODE PENELITIAN A. Objek dan Subjek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah Koperasi Jasa Keuangan Syariah Prima Artha, Sleman. Sedangkan subjek penelitiannya adalah Data Tingkat Bagi Hasil

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari 34 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari tahun 2005-2012, yang diperoleh dari data yang dipublikasikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012: 13), penelitian deskriptif

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data time series tahunan Data

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data time series tahunan Data 40 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data time series tahunan 2002-2012. Data sekunder tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung. Adapun data

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM. Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang

BAB II GAMBARAN UMUM. Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang BAB II GAMBARAN UMUM 2.1. SEJARAH BPS Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS merupakan Biro Pusat Statistik, yang

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU) TERHADAP PENGALOKASIAN ANGGARAN BELANJA MODAL

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU) TERHADAP PENGALOKASIAN ANGGARAN BELANJA MODAL PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU) TERHADAP PENGALOKASIAN ANGGARAN BELANJA MODAL (Studi Kasus pada Kabupaten/Kota di provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Paradigma pembangunan modern memandang suatu pola yang berbeda

BAB I PENDAHULUAN. Paradigma pembangunan modern memandang suatu pola yang berbeda BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Paradigma pembangunan modern memandang suatu pola yang berbeda dengan pembangunan ekonomi tradisional. Pertanyaan beranjak dari benarkah semua indikator ekonomi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. (independent variable) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang terdiri dari

BAB III METODE PENELITIAN. (independent variable) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang terdiri dari 55 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Adapun yang menjadi obyek penelitian sebagai variabel bebas (independent variable) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang terdiri dari PAD, transfer

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada pemerintah Provinsi Jawa Timur. Provinsi Jawa Timur yang terdiri dari 29 Kabupaten dan 9 Kota, akan tetapi ada penelitian

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Pendapatan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Pendapatan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Pendapatan Identifikasi pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan dilakukan melalui analisa data panel dengan model

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan pertumbuhan ekonomi dibutuhkan peran pemerintah, tingkat

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan pertumbuhan ekonomi dibutuhkan peran pemerintah, tingkat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Termasuk dalam tujuan pembangunan ekonomi

Lebih terperinci

H 2 : Dana Perimbangan berpengaruh positif terhadap Belanja Modal

H 2 : Dana Perimbangan berpengaruh positif terhadap Belanja Modal H 2 : Dana Perimbangan berpengaruh positif terhadap Belanja Modal BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian Kuantitatif,yaitu penelitian yang menekankan pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini adalah asosiatif. Pendekatan kuantitatif menurut Sugiyono (2010:8)

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini adalah asosiatif. Pendekatan kuantitatif menurut Sugiyono (2010:8) BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, sedangkan tipe atau jenis penelitian ini adalah asosiatif. Pendekatan kuantitatif menurut Sugiyono (2010:8)

Lebih terperinci

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menganalisis pengaruh kemiskinan, pengeluran pemerintah bidang pendidikan dan pengeluaran pemerintah bidang kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. metode analisis data serta pengujian hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN. metode analisis data serta pengujian hipotesis. BAB III METODE PENELITIAN Pada bab 3 ini akan dijelaskan mengenai metode penelitian yang meliputi populasi dan sampel penelitian, data dan sumber data, variabel operasional, metode analisis data serta

Lebih terperinci

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA BAGI HASIL (DBH), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DAN DANA ALOKASI KHUSUS

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA BAGI HASIL (DBH), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DAN DANA ALOKASI KHUSUS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA BAGI HASIL (DBH), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI (PDRB) (Studi Empiris pada Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah menganalisis pengaruh antara upah

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah menganalisis pengaruh antara upah 40 BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah menganalisis pengaruh antara upah minimum, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan pengangguran terhadap tingkat

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. 1. Analisis Model Regresi dengan Variabel Dependen PAD. a. Pemilihan Metode Estimasi untuk Variabel Dependen PAD

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. 1. Analisis Model Regresi dengan Variabel Dependen PAD. a. Pemilihan Metode Estimasi untuk Variabel Dependen PAD BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data 1. Analisis Model Regresi dengan Variabel Dependen PAD a. Pemilihan Metode Estimasi untuk Variabel Dependen PAD Cross-section F Pemilihan model estimasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, yang bertempat di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Dan waktu penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian dalam penelitian ini adalah Kontribusi Usaha Kecil Menengah (UKM)

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian dalam penelitian ini adalah Kontribusi Usaha Kecil Menengah (UKM) 45 BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Obyek penelitian merupakan sasaran untuk mendapatkan suatu data. Obyek penelitian dalam penelitian ini adalah Kontribusi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Agriculture, Manufacture Dan Service di Indonesia Tahun Tipe

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Agriculture, Manufacture Dan Service di Indonesia Tahun Tipe BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan analisis mengenai Pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Dan Penanaman Modal Asing

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3. 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriptif. Pendekatan kuantitatif menitikberatkan pada pembuktian hipotesis.

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji. Multikolinearitas dan uji Heteroskedastisitas.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji. Multikolinearitas dan uji Heteroskedastisitas. BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kualitas Instrumen dan Data Uji kualitas data dalam penelitian ini menggunakan uji asumsi klasik. Asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kota Palembang. Penelitian ini dilakukan untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kota Palembang. Penelitian ini dilakukan untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Palembang. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis variabel-variabel yang memiliki pengaruh terhadap kesempatan kerja,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian tentang kemiskinan ini hanya terbatas pada kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2011. Variabel yang digunakan dalam menganalisis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Objek dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh promosi

BAB III METODE PENELITIAN. Objek dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh promosi BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh promosi terhadap jumlah wisatawan dan implikasinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di

Lebih terperinci

PENGARUH LABA BERSIH DAN KOMPONEN-KOMPONEN AKRUAL DALAM MEMPREDIKSI ARUS KAS DI MASA MENDATANG (STUDI

PENGARUH LABA BERSIH DAN KOMPONEN-KOMPONEN AKRUAL DALAM MEMPREDIKSI ARUS KAS DI MASA MENDATANG (STUDI PENGARUH LABA BERSIH DAN KOMPONEN-KOMPONEN AKRUAL DALAM MEMPREDIKSI ARUS KAS DI MASA MENDATANG (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE TAHUN 2011-2015) SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan daerah dan menserasikan laju pertumbuhan antar daerah

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan daerah dan menserasikan laju pertumbuhan antar daerah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelaksanaan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah dan menserasikan laju pertumbuhan

Lebih terperinci

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH

PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA DI PROVINSI JAWA TENGAH

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA DI PROVINSI JAWA TENGAH ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA DI PROVINSI JAWA TENGAH SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan

III. METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan 49 III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, inflasi dan kualitas sumber daya manusia terhadap tingkat pengangguran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 77 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2015, penelitian ini menggunakan data sekunder untuk pengumpulan data. Tempat penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masalah kompleks yang telah membuat pemerintah memberikan perhatian khusus

I. PENDAHULUAN. masalah kompleks yang telah membuat pemerintah memberikan perhatian khusus 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Kemiskinan merupakan isu sentral yang dihadapi oleh semua negara di dunia termasuk negara sedang berkembang, seperti Indonesia. Kemiskinan menjadi masalah kompleks yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB IV HASIL DAN ANALISIS BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1. Deskripsi Data Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan datatime series atau data runtun waktu sebanyak 12 observasi, yaitu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 35 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2014 dan mengambil data yang berasal dari situs resmi Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia,

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN, PENGANGGURAN DAN INFLASI TERHADAP KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN, PENGANGGURAN DAN INFLASI TERHADAP KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN, PENGANGGURAN DAN INFLASI TERHADAP KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 1996-2014 Disusun sebagai Salah Satu Syarat menyelesaikan Program Studi Strata I Pada

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian

METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian 28 III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif kuantitatif. Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk melihat

Lebih terperinci

Judul : Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Provinsi Bali Nama : Ita Aristina NIM :

Judul : Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Provinsi Bali Nama : Ita Aristina NIM : Judul : Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Provinsi Bali Nama : Ita Aristina NIM : 1215151009 ABSTRAK Kemiskinan menjadi masalah besar di Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara-negara yang

BAB I PENDAHULUAN. yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara-negara yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebuah negara tidak akan pernah bisa lepas dari berbagai permasalahan yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara-negara yang memiliki

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Regional Bruto tiap provinsi dan dari segi demografi adalah jumlah penduduk dari

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Regional Bruto tiap provinsi dan dari segi demografi adalah jumlah penduduk dari 54 V. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dibahas hasil dari estimasi faktor-faktor yang memengaruhi migrasi ke Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Adapun variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada sebuah ketidakseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem

BAB I PENDAHULUAN. pada sebuah ketidakseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidak seimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif, artinya perubahan yang terjadi pada sebuah ketidakseimbangan

Lebih terperinci

BAB V HASIL ESTIMASI DAN ANALISIS MODEL. Tabel 5.1. Output regresi model persentase penduduk miskin absolut (P 0 )

BAB V HASIL ESTIMASI DAN ANALISIS MODEL. Tabel 5.1. Output regresi model persentase penduduk miskin absolut (P 0 ) 97 BAB V HASIL ESTIMASI DAN ANALISIS MODEL 5.1. Hasil Estimasi Model Persentase Penduduk Miskin Absolut (P 0 ) Head count index (P 0 ) merupakan jumlah persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan.

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN KOTA SEMARANG TAHUN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN KOTA SEMARANG TAHUN ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN KOTA SEMARANG TAHUN 1996-2014 SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. dilakukan secara sengaja (purposive) melihat bahwa propinsi Jawa Barat

BAB IV METODE PENELITIAN. dilakukan secara sengaja (purposive) melihat bahwa propinsi Jawa Barat 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian BAB IV METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan dalam lingkup wilayah Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) melihat bahwa propinsi Jawa Barat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam buku Sugiono, menurut tingkat explanasinya atau tingkat penjelas yaitu dimana penelitian yang menjelaskan kedudukan variabelvariabel yang diteliti serta

Lebih terperinci

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Tengah tahun dan apakah pengangguran berpengaruh terhadap

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Tengah tahun dan apakah pengangguran berpengaruh terhadap BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang telah diperoleh sekaligus pembahasannya. Hasil penelitian ini menjawab masalah penelitian pada Bab I yaitu apakah jumlah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 2002). Penelitian ini dilakukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

BAB III METODE PENELITIAN. 2002). Penelitian ini dilakukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap agregat makro ekonomi. Pertama, inflasi domestik yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. terhadap agregat makro ekonomi. Pertama, inflasi domestik yang tinggi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Inflasi merupakan suatu fenomena ekonomi yang sangat menarik untuk dibahas terutama yang berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap agregat makro ekonomi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004, daerah diberi kewenangan yang luas dalam mengurus dan mengelola

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK),

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian Pada penelitian ini dilakukan analisis hasil pengumpulan data penelitian dari 34 provinsi di Indonesia. Data yang digunakan meliputi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek/Subyek Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan analisis yang berupa angka-angka sehingga dapat diukur dan dihitung dengan

Lebih terperinci