MENELISIK AKUNTABILITAS HARTA PUSAKO TINGGI DALAM KONTEKS WAKAF AHLI : SUATU KAJIAN ETNOGRAFI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MENELISIK AKUNTABILITAS HARTA PUSAKO TINGGI DALAM KONTEKS WAKAF AHLI : SUATU KAJIAN ETNOGRAFI"

Transkripsi

1 MENELISIK AKUNTABILITAS HARTA PUSAKO TINGGI DALAM KONTEKS WAKAF AHLI : SUATU KAJIAN ETNOGRAFI Tesi Sumarni 1), Hidayatul Ihsan 2), Irda Rosita 3) 1,2,3) Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Padang 1, 2, 3 Abstract The term waqf is generally interpreted as philanthropic endowment amongst Indonesian Muslims. This is understandable due to the fact that many waqf are created in the form of mosques, schools, and hospitals and other public facilities which are intended for social welfare. In fact, these types of waqf are catagorised as waqf khairy (public waqf). However, there is actually another type of waqf which is called waqf ahli (family waqf). Unfortunately, waqf ahli has received little attention either from regulator or academics. The lack of attention to waqf ahli makes its development backward compared to the popularity of khairy waqf. It is undoubtedly true that the family waqf possesses the same potential as waqf khairy has. This study, therefore aims to investigate the status of a family endowment practised amongst Minang Kabau tribe in West Sumatra. This family endowment which is called Pusako Tinggi will be snapped from the context of family waqf. In doing so, this research employed ethnography design. The results showed that the practice of pusako tinggi in Minangkabau tribe is much closer to waqf, especially family waqf than any other form of donations. Thus, this study suggests that the management of family waqf should be protected by legal enforcement for its future sustainability. Keywords: wakaf ahli, Pusako Tinggi, Minangkabau 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Wakaf di Indonesia telah dikenal dan dipraktikkan sejak Islam masuk ke nusantara. Seiring dengan berjalannya waktu dan pasca diundangkannya Undang-undang No 41 tahun 2004 tentang wakaf, pengelolaan wakaf di tanah air semakin berkembang yang ditandai dengan berdirinya berbagai lembaga wakaf. Jika dilihat dari sisi peruntukkannya, wakaf bisa dibedakan menjadi wakaf khairy dan wakaf ahli. Wakaf khairy merupakan wakaf yang ditujukan bagi kemaslahatan umum, seperti; rumah sakit, sekolah, masjid dan sebagainya. Sedangkan wakaf ahli dibentuk untuk kepentingan kerabat, anak-anak, cucu dan keturunan wakif (orang yang berwakaf) yang juga dikenal dengan istilah wakaf dhurri/zurri. Hanya saja, di Indonesia keberadaan wakaf ahli seperti tidak mendapat perhatian cukup oleh peraturan hukum, baik dalam Peraturan Pemerintah, Kompilasi Hukum Islam maupun Undang-undang Republik Indonesia No 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Praktik wakaf ahli sendiri pada dasarnya memang tidak sepopuler wakaf khairy yang bertahan dan berkembang sepanjang zaman. Di beberapa negara, seperti Mesir dan India bahkan wakaf ahli tidak lagi diperkenankan. Di Indonesiapun, agak sulit untuk menelusuri keberadaan wakaf ahli. Akan tetapi, menurut Syaikh Abdulkarim (ayah Buya Hamka), harato pusako tinggi (harta pusaka tinggi) di Minangkabau termasuk kategori wakaf yang diperuntukkan bagi anak keturunan di pemberi harta (Hamka, 1984).. Bahkan, jika ditilik lebih jauh lagi, pusako tinggi di Minangkabau menyerupai wakaf sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar atas hartanya di Mekah untuk anak keturunannya. Pada dasarnya pusako tinggi merupakan harta yang diperoleh secara turun temurun yang tidak boleh diperjualbelikan seperti yang terdapat dalam ungkapan berbahasa minang dijua indak dimakan bali, digadai indak dimakan sando. Ungkapan ini bermakna, pusako tinggi tersebut tidak boleh dijual ataupun digadaikan. Harta tersebut hanya boleh dipergunakan dan dimanfaatkan oleh anggota kaum untuk kesejahteraan keluarga, terutama bagi para anak kemenakan dari garis keturunan ibu (Hamka, 1984). Pada masyarakat Minangkabau berlaku sistem matrilinial, yaitu susunan kekerabatannya ditarik berdasarkan garis keturunan ibu. Masyarakat Minangkabau hidup dalam kekerabatan yang ditentukan menurut garis ibu, dimana pusaka serta waris diturunkan menurut garis keturunan ibu juga.

2 381 Selain berpandukan kepada adat yang sudah diamalkan secara turun-temurun, terdapat beberapa alasan pusako tinggi ini tidak dibagikan sesuai peruntukkan syarak, yaitu menerusi hukum warisan Islam (faraidh). Di antaranya adalah, bahwa pada hakikatnya pusako tinggi merupakan amanah dari leluhur yang tidak diketahui lagi siapa pemilik asalnya. Jika harta ini diwariskan sebagaimana mana pusako randah (harta pusaka rendah) atau warisan biasa, maka perlu mendapat kejelasan terlebih dahulu siapa yang mewariskannya. Inilah yang dianggap sebagai alasan logis pusako tinggi tidak boleh diwariskan oleh keluarga dari garis ayah (Saleh et al., 2017). Dalam pengelolaan dan pengawasan pusako tinggi, fungsi dan peranan mamak (paman) kepala waris sangatlah penting demi kelangsungan pusako tinggi bagi kehidupan anak kemenakan di kemudian hari. Mamak kepala waris adalah seorang laki-laki yang dituakan dalam sebuah kaum, bertugas memimpin seluruh anggota kaum, mengurus, mengatur serta bertanggung jawab atas hal-hal terkait harta pusaka kaum. Mamak kepala waris inilah yang mengurus dan mengembangkan pusako tinggi untuk kepentingan anak kemenakannya (Devi, 2003). Oleh karenanya, sangat dibutuhkan sekali akuntabilitas mamak dalam upaya menjadikan pusako tinggi tersebut tetap produktif. Hal inilah yang kemudian memotivasi Peneliti untuk melakukan mengeksplorasi tentang posisi pusako tinggi dalam konteks wakaf ahli melalui berbagai pemikiran dan kajian dari masyarakat Minangkabau, serta peranan mamak kepala waris dalam menunjukkan akuntabilitasnya. 1.2 Kontribusi Penelitian Meskipun menjadi akuntabel bagi mamak kepala waris adalah suatu hal yang tidak terbantahkan lagi, namun kenyataannya tidak sedikit kasus yang menunjukkan kalau terdapat kasus di mana pusako tinggi selama ini salah urus atau justru disalahgunakan. Fenomena ini tidak terlepas dari ketidakadaan payung hukum positif yang jelas selain hukum adat. Karena itu, penelitian ini menjadi hal yang urgen untuk dilakukan dengan harapan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan praktik pusako tinggi. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru kepada tokoh adat seperti datuk/penghulu dan mamak mengenai pusako tinggi di Minangkabau dan kaitannya dengan wakaf ahli dalam Islam. Semakin berkembang pesatnya praktik pusako tinggi yang dinilai sebagai wakaf ahli ini, diharapkan mampu mengatasi permasalahan ekonomi negara, berawal dari adanya peningkatan kesejahteraan hidup suatu keluarga sebagai bagian dari masyarakat dan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, keberadaan aset wakaf ahli di Indonesia hendaknya juga mendapat perhatian khusus dari regulator perwakafan di tanah air. 2. KAJIAN LITERATUR 2.1 Mengenal Wakaf Secara Umum Secara harfiah, wakaf berarti berhenti, menahan, tetap berdiri. Sedangkan menurut istilah, terminologi wakaf dapat artikan sebagai menahan harta tertentu dan menjaganya demi tujuan filantropi serta mencegahnya dari penggunaan selain dari tujuan yang telah ditentukan (Isfandiar, 2008). Meskipun istilah wakaf itu sendiri tidak dijumpai di dalam Al Qur an, praktik memberikan harta demi kemaslahatan orang banyak telah dicontoh oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Sehingga, bisa dikatakan bahwa wakaf merupakan bagian dari kehidupan umat Islam di masa lampau. Tanti (2013) menjelaskan bahwa wakaf ahli merupakan wakaf yang ditujukan dan diperuntukkan bagi orang-orang tertentu, seseorang atau lebih, keluarga si wakif atau bukan. Namun, karena wakaf jenis ini pada umumnya diberikan kepada keluarga wakif maka disebut dengan wakaf ahli (keluarga) atau wakaf dzurri (keturunan). Sementara wakaf khairy ditujukan untuk kebajikan seperti mewakafkan untuk dirinya sendiri, untuk anak-anaknya serta kepentingan masyarakat, seperti untuk masjid, sekolah, fakir miskin dan lain-lain. Suwaidi (2011) menyatakan bahwa praktik wakaf di Indonesia diyakini sudah ada sejak Islam menjadi kekuatan sosial politik, atau sejak berdirinya kesultanan Islam di Nusantara. Di beberapa daerah Indonesia terindikasi beberapa praktik yang menyerupai wakaf seperti di Mataram dikenal tanah perdikan, di Lombok dikenal adanya tanah pareman, di Banten pada masyarakat Badui Cebo dikenal adanya huma serang, dan di Aceh dikenal adanya tanah weukeuh yaitu, tanah pemberian sultan untuk kepentingan umum, sementara di Minangkabau Sumatera

3 382 Barat dikenal adanya pusako tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa wakaf sudah mengakar di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. 2.2 Wakaf dan Akuntabilitas Akuntabilitas merupakan tema sentral dalam Islam karena pertanggungjawaban kepada Allah dan masyarakat sangat penting untuk iman seorang Muslim (Lewis, 2006). Istilah dual accountability digunakan oleh Shahul (2000) dan juga oleh Ihsan & Shahul (2011) untuk menjelaskan kepada siapa seorang Muslim harus mempertanggungjawabkan amanat yang diterimanya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan akuntabilitas yang baik salah satunya adalah dengan menerapkan prinsip Islam dalam setiap kegiatan yang dilakukan mamak kepala waris, sehingga dapat tercapai akuntabilitas kepada Allah maupun kepada masyarakat. Di samping itu, Peneliti juga menggunakan akuntabilitas individu yang terlihat pada proses aktivitas rutin yang dilakukan mamak. Menurut Roberts (1996), mentalitas disiplin sangat menunjang keberhasilan dalam bekerja. Dari kedisiplinan tersebut, individu dapat menahan diri dari kesibukan dirinya sendiri dan simpati kepada kepentingan orang lain. Hal ini ditujukan demi tercapainya harapan orang lain atas usaha seseorang. Beberapa peneliti menekankan betapa pentingnya akuntabilitas pada pengelolaan wakaf. Hal ini tercermin dari pentingnya isu akuntabilitas nazhir (pengelola wakaf) berbadan hukum yang diterapkan pada institusi wakaf Daarut Tauhiid (Ihsan et al., 2016). Namun, isu akuntabilitas bagi nazhir perseorangan dalam mengelola wakaf ahli saat ini masih sebatas konsepsual. Tidak adanya referensi yang mengkaji mengenai wakaf ahli di Indonesia dan tidak ada hukum yang jelas seperti wakaf khairy dalam UU No 41 tahun 2004 secara komprehensif, serta belum adanya bentuk yang konkret dari akuntabilitas nazhir perseorangan, memberikan ruang pada penelitian ini untuk mengeksplorasi isu akuntabilitas secara integral. Pada penelitian ini, Peneliti lebih fokus membahas mengenai akuntabilitas individu dan personal seorang mamak kepala waris sebagai nazhir di Minangkabau dalam mengelola harta pusako tinggi agar tetap produktif dan terus berkembang demi kesejahteraan hidup kaum seketurunannya Sejarah Pusako Tinggi di Minangkabau Sumatera Barat terkenal dengan kelompok etnik nusantara yang bernama Minangkabau. Keunikan Minangkabau terletak pada sistem sosial ekonomi matrilinealnya. Menurut sistem ini garis keturunan seseorang ditarik dari pihak ibu, begitu juga dengan perihal harta jatuh ke tangan perempuan (ibu). Sistem adat Minangkabau yang unik itu semakin unik dan khas bila dihubungkan dengan Islam. Menurut filsafat hidup Minangkabau, tidak ada pertentangan antara adat dan agama. Keduanya berjalan seiring tanpa harus terlibat konflik, karena adat sebagai institusi kebudayaan dalam masyarakat mendapat posisi yang selaras dan harmoni dengan agama. Hubungan adat dan agama yang demikian itu dengan indah diungkapkan dalam pepatah Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Kehadiran agama Islam, termasuk di dalamnya hukum waris, tidak begitu saja dapat diterima oleh masyarakat Minangkabau. Abdullah (1966) menjelaskan bahwa pola perjumpaan adat dan Islam di Minangkabau mengalami konflik antara keinginan untuk mempertahankan adat dengan penerimaan Islam sebagai agama dan jalan hidup. Konflik tersebut sangat terlihat dalam masalah kewarisan pusako tinggi, karena berbedanya sistem kekerabatan yang dianut oleh Islam dengan yang dianut oleh hukum adat Minangkabau. Adat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal sementara Islam menganut sistem kekerabatan parental. Mengenai masalah ini, Abdul Karim Amrullah, seorang ulama Minangkabau yang sangat berpengaruh juga pernah mengemukakan pendapatnya, bahwa harta di Minangkabau dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu; pusako tinggi dan pusako randah (Hamka, 1984). Hamka juga menjelaskan bahwa harta pusako tinggi itu secara logika lama kelamaan akan selalu bertambah, karena dalam adat pusako tinggi itu pada prinsipnya tidak boleh diperjualbelikan, seperti yang tertuang dalam satu ungkapan dijua indak dimakan bali, digadai indak dimakan sando. Artinya, harta yang sudah ada tersebut tidak boleh dijual dan digadaikan. Makna tersirat yang dapat dipetik dari ungkapan tersebut adalah, bahwa anak cucu dari suatu keluarga harus selalu berusaha untuk menambah dan memperbanyak hartanya dan tidak boleh ada yang berpikiran dan berusaha untuk menguranginya.

4 Studi Terkait Wakaf Ahli Eksplorasi terhadap literatur wakaf menunjukkan bahwa dalam tiga decade terakhir kajian tentang wakaf masih didominasi oleh wakaf khairy dan masih sangat sedikit yang membahas tentang wakaf ahli. Doumani (1998) melakukan studi komparatif praktik wakaf di dua kota, yaitu; Tripoli (Lebanon) dan Nablus (Pakistan). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kedua kota lebih cendrung mengaplikasikan wakaf dzurri baik bagi masyarakat Muslim maupun non- Muslim. Wakaf merupakan mekanisme yang sangat baik untuk menjaga properti keluarga. Sementara transmisi properti wakaf dari waktu ke waktu tampak berbeda di antara kedua kota tersebut. Prioritas utama manfaat wakaf di Tripoli adalah untuk perempuan sedangkan di Nablus tidak ada yang lebih diprioritaskan, karena wakaf keluarga tersebut sama-sama dimanfaatkan oleh seluruh anggota keluarga baik laki-laki maupun perempuan. Penelitian terkait penghapusan praktik wakaf ahli dilakukan oleh Suwaidi (2011), yang menyatakan bahwa Mesir merupakan salah satu contoh negara yang sangat baik dalam mengelola wakaf. Salah satu jenis wakaf yang menarik untuk dikaji di negara ini adalah polemik seputar wakaf keluarga. Dikarenakan sikap pro dan kontra terhadap wakaf keluarga semakin memuncak, akhirnya pemerintah mengeluarkan Peraturan No 180 tahun 1952, yang menyatakan bahwa legalitas wakaf keluarga dihapus, status wakaf keluarga menjadi wakaf bebas dan tidak terikat. Pada akhirnya, wakaf di negara ini hanya terbatas pada wakaf umum saja, yang diperkuat dengan Peraturan No 347 tahun 1953 tentang Wakaf Umum. Sadique (2014) melakukan penelitian terhadap wakaf ahli yaitu family waqf deserve a better deal. Sadique mengungkapkan tentang kelemahan wakaf ahli terkait pengelolaanya sementara aset wakaf ahli mayoritas merupakan aset produktif. Sehingga Shadique berkesimpulan bahwa dengan adanya penerapan wakaf ahli turut membantu dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi tidak hanya bagi keluarga bahkan masyarakat juga ikut merasakannya, oleh sebab itu wakaf ahli membutuhkan manajemen yang lebih profesional serta berlaku akuntabel. Dalam lembaga Peradilan Islam, yang mempunyai wewenang menangani dan mengelola masalah perwakafan adalah mutawalli atau nadzir. Namun ada beberapa negara muslim yang mempunyai kementrian atau lembaga khusus yang menangani masalah wakaf dan mempunyai wewenang secara legal. Salah satunya di Negara Lebanon. Fitria (2016) mengatakan dengan diundangkannya Undang-undang Wakaf Keluarga tahun 1947 yang diadopsi dari Undang-undang Wakaf Mesir tahun 1946, maka masalah perwakafan di Lebanon, terutama wakaf keluarga, mulai terorganisir sesuai ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Diterapkannya Undang-undang Wakaf Keluarga 1947 di Lebanon, lebih mencerminkan bahwa Lebanon sebagai negara kecil yang sangat heterogen dan bisa dikatakan tidak stabil secara politik, mampu mewujudkan langkah positif untuk mengatasi problema perwakafan. Selanjutnya seorang peneliti asal India melakukan penelitian mengenai perjuangan Muslim India untuk menolak intervensi kolonial terkait praktik waqf ala al awlad. Zilli (2018) menyatakan bahwa India merupakan suatu negara yang sangat kaya akan praktik wakaf. Namun, setelah kegagalan perang kemerdekaan pada tahun 1857, penguasa Inggris ikut campur dalam pengelolaan wakaf dan UU yang menyebabkan merosotnya praktik wakaf di India. Perlawanan Inggris berhasil mereformasi hukum yang merupakan intervensi dalam syariah Islam. Kemudian, perlawanan ini selanjutnya dipelopori dan dipimpin oleh cendekiawan Islam yaitu Allama Shibli Nomani ( ). Sehingga pada tanggal 7 Maret 1913 dengan disahkannya RUU yang dikenal sebagai Mussalaman Waqf Validating Act 1913, maka dapat memulihkan hak kaum Muslim terkait praktik wakaf keluarga. Pencapaian Shibli ini merupakan kontribusi yang sangat signifikan dari dirinya terhadap evolusi legislatif dalam sejarah hukum pribadi Muslim di Sub Benua India. Penelitian di negara lain menunjukkan bahwa praktik wakaf ahli memang tertinggal dari wakaf khairy dan butuh perhatian untuk merevitalisasinya. Penelitian Suhaimi (2018) memberikan bukti bahwa wakaf ahli di Malaysia terpinggirkan dan luput dari peraturan perundang udangan. Melihat potensi yang dimiliki oleh wakaf ahli, Suhaimi (2018) merekomendasikan untuk menghidupkan lagi

5 384 praktik wakaf tersebut di tengah tengah masyarakat Malaysia. Penelitian lainnya di Malaysia dilakukan oleh Khalil et al (2021) setuju untuk melakan peninjauan ulang terhadap undang-undang yang mengatur tentang perwakafan di Malaysia sehingga bisa memberikan ruang bagi pengembangan wakaf ahli di negara tersebut. Salah satu cara pengembangan wakaf ahli yang disarankan dari penelitian ini adalah dengan memperkenalkan model wakaf ahli berjangka (temporer). Menyadari adanya perdebatan tentang legalitas wakaf ahli, Moumtaz (2018) menginvestigasi bagaimana posisi wakaf ahli di Siria dan Libanon. Penelitiannya menunjukkan bahwa pelarangan wakaf ahli banyak dipengaruhi oleh aturan kolonial yang tidak mengenal keberadaan wakaf untuk keluarga. Padahal, wakaf ahli tradisi Islam yang tidak bisa dipisahkan dari aturan syariah. Umar (2019) setuju bahwa wakaf ahli harus memberikan manfaat ekonomi pada anggota keluarga yang menjadi mauquf alaihi. Oleh karena itu, agar tujuan wakafnya tercapai, Umar (2019) menyarankan agar aset wakaf ahli dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis yang bisa memberikan manfaat dari generasi ke generasi. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan studi etnografi sebagai desain penelitiannya. Secara kategori, studi etnografi dalam penelitian ini tergolong kepada interpretive. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam dan Kota Padang. Adapun narasumber dari penelitian ini adalah Bapak Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto sebagai pemuka adat, Prof. Dr. Amir Syarifuddin seorang pakar syariah, Ustadz Bujang Rangkayo Bungsu sebagai ulama yang memiliki pemahaman mengenai wakaf. Selain itu, peneliti juga mewawancari Bapak Yusril seorang mamak kepala waris serta kemenakan yaitu Bapak Darma Ira Surya dan Ibu Darmi Tetri selaku pengelola pusako tinggi serta keluarga wakif (orang yang berwakaf) sebagai penerima manfaat pusako tinggi (mauquf alaih). Adapun kerangka konseptual yang Peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dual accountability (Ihsan & Shahul, 2011) untuk melihat bagaimana akuntabilitas yang ditunjukkan oleh mamak kepala waris dalam mengelola pusako tinggi baik dalam perspektif adat maupun pusako tinggi dalam perspektif Islam yang mengenal istilah wakaf ahli. 3.2 Pengumpulan dan Analisis Data Dalam melakukan penelitian ini, Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang Peneliti gunakan adalah melalui wawancara mendalam (in-depth interviews) dan observasi. Sumber data yang bervariasi ini akan memungkinkan Peneliti untuk mentriangulasi data sehingga bisa memahami secara lebih dalam isu akutabilitas dalam praktik pusako tinggi. Wawancara dilakukan secara semi-structured dan open-ended questions. Metode wawancara seperti ini memberi peluang bagi Peneliti untuk mengeksplorasi akuntanbilitas secara komprehensif. Wawancara dengan menggunakan teknik semi-structured juga memberikan keluasaan bagi pihak yang diwawancarai untuk mengekspresikan ide mengenai isu yang tengah diteliti (Horton et al., 2004). Dalam menganalisis data, Peneliti menggunakan metode analisis induktif, yaitu metode analisis data yang berangkat dari faktor-faktor yang bersifat khusus untuk ditarik kesimpulan yang bersifat umum (Cresswell, 2008). Tahap-tahap analisis data tersebut adalah reduksi data, display data, conclusion drawing, dan verification. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Posisi Pusako Tinggi Dalam Konteks Wakaf Ahli Keberadaan harta pusako tinggi menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Dari perspektif ahli adat, harta pusako tinggi dianggap sebagai harta syubhat. Harta syubhat ini belum memiliki ketentuan hukum secara pasti, apakah dihalalkan atau diharamkan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh ahli adat berikut ini: Pusako tinggi itu disebut sebagai harta syubhat, karena hukum pusako tinggi menurut syariat Islam belum jelas. Dikatakan harta syubhat karena merupakan sesuatu yang masalahnya tidak jelas yang di dalamnya terdapat dua macam keyakinan yang berlawanan, dan belum bisa ditentukan benar salahnya.

6 385 Di sisi lain, perspektif syariah melihat bahwa pusako tinggi memiliki karakteristik yang kuat menyerupai harta wakaf. Mengenai pandangan wakaf yang dianggap masyarakat selama ini, ada dua persepsi bahwa masyarakat membenarkan wakaf untuk kepentingan umum seperti pembangunan masjid dan wakaf untuk kepentingan keluarga yang berasal dari pusako tinggi. Seperti yang diungkapkan oleh seorang ustadz, berikut:...jika kita bawakan ke hukum Islam, pusako tinggi itu hampir sama dengan wakaf. Wakaf artinya harta tersebut untuk dimanfaatkan tidak untuk dijual pun dihibahkan. Harta itu tidak boleh digunakan untuk hal yang salah, tetapi digunakan untuk menunjang kehidupan sekeluarga seketurunan. Jadi, hal ini serupa dengan wakaf untuk masjid dan mushala tidak boleh dijual-belikan, dengan kata lain bahwa harta pusako tinggi itu yang mengelola dahulu adalah nenek moyang kemudian diwariskan kepada kita saat ini dalam bentuk sudah terolah. Kita wajib memelihara harta itu, sedangkan hasilnya boleh dimanfaatkan dan digunakan. Pendapat di atas didukung oleh pemahaman akan esensi pusako tinggi yang digunakan untuk kepentingan anak kemenakan di kemudian hari, sebagaimana wakaf ahli yang diperuntukkan bagi keluarga empunya harta. Hal ini seperti yang diungkapan oleh ahli hukum Islam berikut: Harta pusaka dalam pengertian diwariskan menurut hukum adat ini dapat dibandingkan dengan harta wakaf dzurri. Kepada dari kesatuan kerabat yang disebut mamak kepala waris, ditinjau dari segi bahwa tugasnya adalah mengawas, mengatur dan mengembangkan harta pusaka, dapat ditempatkan sebagai nazhir wakaf. Sedangkan anggota kerabat yang mengusahakan harta pusaka dalam bentuk genggam beruntuk dalam satu segi adalah anggota yang berhak atas manfaat harta pusaka yang dalam mengolah harta tersebut juga bertanggung jawab kepada nazhir wakaf. Sehingga penggarap atau pengusaha harta ini tidak berhak atas wujud harta pusaka sebagaimana tidak berhak a tas wujud harta wakaf. Persamaan yang pasti dari keduanya adalah kedua bentuk harta tersebut bukanlah milik orang perorangan dan oleh karenanya orang perorang tidak dapat menghibahkan, menjual atau mewariskannya. Layaknya harta wakaf yang harus ada ikrar dari wakif, keberadaan harta pusako tinggi juga ditandai dengan ikrar, meskipun tidak secara tertulis. Hal ini diakui oleh ahli adat, Iya, tentulah ada ikrarnya. Jika tidak ada ikrar mana bisa harta tersebut kita peroleh. Bersumpah atas nama Tuhan ya sangat jelas ikrarnya, yaitu ketika dulu nenek moyang saling membagi harta untuk keturunannya masing-masing. Ikrar pusako tinggi ini semakin jelas adanya ketika berasal dari pusako randah. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh ahli adat berikut ini: Ikrarnya lebih jelas lagi ketika harta pusaka tinggi itu berasal dari harta pusaka rendah. Harta pusaka rendah itu dibagi menurut hukum faraidh, jelas ikrarnya ada. Setelah beberapa kali diwariskan, tentu lambat laun harta pusaka rendah itu akan menjadi pusaka tinggi. Nah, itulah sebenarnya yang sering terjadi di Minangkabau saat ini. Paparan di atas menunjukkan bahwa pusako tinggi memiliki banyak persamaan dengan praktik wakaf ahli. Praktik pusako tinggi diatur pengelolaannya oleh mamak kepala waris, yang dalam konteks wakaf sebagai nazhir untuk kemudian dimanfaatkan bersama anggota keluarga sebagai mauquf alaih. Oleh sebab itu, diharapkan mamak mampu mengawasi, mengatur serta mengembangkan harta pusaka dan bertanggung jawab demi kesejahteraan keluarga. Mengenai akuntabilitas mamak dalam mengelola pusako tinggi akan diuraikan pada paparan berikut. 4.2 Akuntabilitas Pengelolaan Pusako Tinggi Di Minangkabau, pertanggungjawaban harta berada di pundak seorang mamak. Mamak sebagai pengurus harta pusako adalah seseorang yang baligh berakal dan mampu membedakan baik dan buruk suatu perbuatan. Jika suatu keluarga tidak memiliki keturunan laki-laki, maka wewenang tersebut

7 386 didelegasikan kepada laki-laki di rumah lain atau disebut sebagai saudara seibu. Menurut adat Minangkabau pemegang harta adalah perempuan karena di tangannya terpusat kekerabatan matrilineal. Sementara mamak berperan mengawasi serta mengatur penggunaan harta itu. Meskipun semua pihak yang ada dalam suatu kaum bertanggung jawab terhadap pengelolaan pusako tinggi, namun secara legal formal, pengurus serta pengawas pusako tinggi adalah laki-laki yang ditunjuk sebagai mamak kepala waris secara resmi. Secara praktis tidak semua hal diputuskan sendiri oleh mamak, melainkan keputusan yang diambil adalah hasil musyawarah dengan kemenakan, ibu dan juga seluruh anggota kaum. Seperti kutipan dari wawancara dengan ahli adat berikut: Semua orang berhak mengurus harta pusaka itu baik tua muda dewasa kecil, intinya tergantung kesepakatan. Namun, sebenarnya harta pusaka di Minangkabau itu adalah tanggung jawab laki-laki sebagai mamak. Tetapi bukan berarti kemenakan tidak boleh mengurusnya. Keputusan yang diambil oleh seorang mamak adalah hasil musyawarah dan mufakat dengan ibu serta orang sekaum seketurunan. Sistem kewarisan adat Minangkabau mengatur bahwa harta yang diterima dari nenek moyang itu diperuntukkan bagi kepentingan keluarga secara kolektif. Oleh karena itu, seluruh anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban terhadap harta tersebut. Hal ini terungkap dalam kutipan wawancara dengan pakar syariah berikut: Dengan berlalunya generasi ninik [nenek], maka peranan pengurusan dan pengawasan dilanjutkan oleh mamak, sedangkan peranan pengolahan dilanjutkan oleh ibu untuk membiayai kehidupan keluarga. Maka demikian, dikatakan bahwa harta ninik turun ke mamak atau dengan arti mamak adalah ahli waris terhadap harta ninik. Begitu pula dengan berlalunya generasi mamak, maka kemenakan laki-laki meneruskan peranan pengawasan serta pengurusan harta dan kemenakan perempuan meneruskan peranan pengolahan. Sehingga dikatakan bahwa harta mamak turun ke kemenakan dengan arti kemenakan adalah ahli waris terhadap harta pusaka yang ditinggalkan oleh mamak. Sebagai adat yang kental dengan nilai keislamannya, maka pusako tinggi di Minangkabau dikelola berdasarkan keyakinan dan prinsip bahwa mamak sebagai nazhir tidak hanya bertanggung jawab kepada kaum, tetapi juga kepada Allah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pakar syariah berikut: Ketika dia sudah diberi amanah oleh kaum, maka dia harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada kaumnya. Disamping itu, ketika dia sudah melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya, maka ia harus melaksanakannya sesuai aturan demi mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada Allah. Jika bentuk akuntabilitas kepada Allah adalah sesuatu yang transendental, maka akuntabilitas kepada kaum diwujudkan dalam bentuk memproduktifkan pusako tinggi yang ditinggalkan nenek moyang. Di samping itu, mamak dikatakan akuntabel ketika kemenakan serta anggota kaum tidak meragukan kepengurusannya. Lebih lanjut, ketika harta pusaka tersebut telah diolah, biasanya laporan dari pihak penggarap hanya berupa lisan saja. Sebenarnya tidak ada pertanggungjawaban apa-apa. Hanya saja mamak kadang bertanya ke kemenakan bagaimana hasil sawah. Berapa dapat padi? Ada dapat kg. Jadi pertanggungjawaban antara mamak dengan kemenakan yang menggarap hanya sebatas itu secara sederhana yang dipraktikkan selama ini di masyarakat Minangkabau. (Wawancara Dengan ahli adat) Secara terperinci dalam mengolah pusako tinggi tidak dilakukan perhitungan dan pencatatannya oleh pihak pengolah. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh seorang ahli adat bahwa manajemen keluarga itu sangatlah sederhana, yaitu hanya melalui musyawarah dan mufakat saja. Sehingga tidak ada perhitungan apalagi pencatatan sedemikian rupa. Menurut beliau, pertanggungjawaban pengolahan harta pusako itu tampak jelas

8 387 ketika diolah oleh orang lain di luar kaum. Seperti kutipan di bawah ini:...bapak tidak tahu (berapa biaya yang sudah dikeluarkan) karena memang tidak pernah dicatat. Sebenarnya manajemen keluarga itu tidak ada pencatatannya. Ketika kita bekerja sama mengolah harta pusako dengan keluarga, tidak ada perhitungan seperti itu. Kecuali kita kongsi dengan orang lain, maka harus jelas pencatatan dan perhitungan uang masuk dan uang keluarnya. Salah orang berpaham adat itu (kalau perhitungan dengan keluarga). Adat Minang ini mengajarkan bahwa segala urusan itu diputuskan berdasarkan kesepakatan bersama saja. 4.3 Diskusi dan Analisis Posisi Pusako Tinggi Sebagai Wakaf Ahli Pusako tinggi yang dimaksud di atas, menurut Syarifuddin (1984) dapat dibandingkan dengan harta wakaf, karena banyak terdapat kesamaan di antara keduanya. Jenis wakaf yang dimaksud adalah wakaf ahli yang dapat terjadi bila seorang yang cakap bertindak atas hartanya, menyatakan dalam bentuk lisan dan tulisan untuk membekukan tindakan atas hartanya itu dan hasilnya dipergunakan untuk kepentingan anak cucunya. Oleh karena pembekuan itu, maka harta itu selanjutnya tidak dapat dijual, dihibahkan atau diwariskan. Dengan perbuatan wakaf itu maka hak milik atas harta itu beralih kepada Allah. Menurut satu pendapat, hak atas harta tetap berada di tangan wakif dan menurut pendapat yang lain, hak tersebut beralih kepada penerima wakaf (mauquf alaih). Mohsin et al., (2016) menyatakan bahwa, If the beneficiaries specified by the founder are no longer alive, then only in this case will the waqf property transferred for public welfare purpose. Maka dengan demikian, apabila mauquf alaih dari wakaf yang ditentukan wakif tidak ada lagi maka properti wakaf akan dilimpahkan kepada masyarakat. Secara prinsip, pusako tinggi merupakan sumber modal potensial bercorak keagamaan, memiliki dimensi sosial ekonomi yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Ini sejalan dengan realitas dari ajaran Islam yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki kehidupan sosial ekonomi umat agar mampu mempertahankan eksistensi hidupnya ditengah-tengah persaingan ekonomi global. Sebagai wakaf ahli, diharapkan pusako tinggi di Minangkabau dapat meminimalisir perbedaan struktur sosial ekonomi melalui sirkulasi properti keluarga ini secara produktif dalam mencapai kesejahteraan hidup Perspektif Akuntabilitas Secara umum, mamak kepala waris sebagai nazhir setuju akan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan pusako tinggi. Keyakinan akan pentingnya akuntabilitas ini tidak terlepas dari nilai-nilai Islam yang dominan dalam keseharian nazhir untuk mengurus, mengawasi serta mengelola pusako tinggi di Minangkabau dalam konteks wakaf ahli. Akuntabilitas juga bisa dilihat dalam dua hal, yaitu proaktif dan reaktif (Roberts, 1996). Akuntabilitas reaktif ditunjukkan apabila seseorang menerima tekanan dan paksaan dari orang lain. Dalam hal ini, nazhir memiliki kecenderungan untuk menunjukkan akuntabilitas proaktif secara sadar tanpa tekanan dari pihak manapun, melainkan ia bekerja atas dasar kesadaran sendiri sebagai seorang nazhir di kaumnya, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk produktivitas pusako tinggi yang dikelolanya dan dilaporkan secara lisan atau tertulis. Lebih lanjut, Shahul (2000) menggunakan istilah dual accountability untuk menjelaskan tanggung jawab seorang Muslim. Model ini sejalan dengan yang dijelaskan Philips (2005) bahwa setiap Muslim bertanggung jawab terhadap Allah dan sesama manusia yang diutus di muka bumi sebagai khalifah. Saat wakif mendistribusikan harta pusako tinggi, terjadi hubungan sosial dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sedangkan keikhlasan wakif saat mendistribusikan pusako tinggi di jalan Allah, terjadi hubungan ketakwaan sebagai refleksi rasa syukur terhadap nikmat Allah. Kedua hubungan di atas mengandung nilai sosial ekonomi religius, yang dapat membawa perubahan besar dalam tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau, dengan menekankan rasa tanggungjawab sosial bagi peningkatan kesejahteraan keluarga.

9 388 Begitu kuatnya asumsi bahwa posisi pusako tinggi adalah sebagai wakaf ahli, maka jenis akuntabilitasnya juga lebih holistik. Akuntabilitas menjadi sesuatu yang penting karena akan mempengaruhi legitimasi terhadap pengelola pusako tinggi sebagai nazhir dan dapat memberikan implikasi besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat Minangkabau. Potret pengelolaan nazhir terhadap wakaf ahli di Minangkabau bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, transparansi dalam manajemen profesional yang harus dilakukan oleh seorang nazhir. Ketika aspek transparansi sudah ditinggalkan, maka manajemen tidak akan berjalan dengan baik, bahkan membuka peluang terjadinya penyelewengan mamak atau anggota kaum yang lainnya hingga tak terkendali. Karena transparansi adalah aspek penting yang tak terpisahkan dalam rangkaian kepemimpinan dan manajemen yang diajarkan oleh nilai-nilai Islam. Kedua, akuntabilitas yang merupakan wujud dari pelaksanaan sifat amanah (kepercayaan) dan shidiq (kejujuran) nazhir. Karena kepercayaan dan kejujuran memang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak, sehingga tidak saling mencurigai sesama anggota kaum. Ketiga, aspiratif atau mau mendengar dan mengakomodasi seluruh dinamika pengelolaan wakaf ahli. Seorang nazhir yang dipercaya mengelola harta milik kaum harus mendorong terjadinya sistem sosial yang melibatkan partisipasi banyak kalangan. Partisipasi perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya pola pengambilan keputusan secara sepihak. Sehingga segala tindakan yang dilakukan oleh mamak dalam mengelola hingga mendistribusikan hasil pusako tinggi adalah bersumber dari musyawarah untuk mufakat. Penerapan syariat Islam dalam praktik pusako tinggi sebagai wakaf ahli ini dapat dilihat ketika mamak dan anggota kaum dalam bertindak dilandasi oleh prinsip tauhid. Mamak sebagai nazhir yakin bahwa setiap usahanya diawasi oleh Allah, sehingga ia akan mengelola pusako tinggi sesuai amanah yang dipercayakan kepadanya. Maka demikian, tauhid dalam perspektif epistemologi memiliki kelebihan bahwa konsep tersebut menolak sikap skeptisisme yang telah menjadi prinsip dominan dikalangan terpelajar dan menjalar dikalangan orang awam. Oleh sebab itu, diskursus mengenai tauhid harus dijadikan idealisme yang dapat menepis semua keraguan dan tindakan paganisme yang sudah menjadi tradisi masyarakat Minangkabau, seperti kenduri di rumah orang kematian. Jelas bahwa kedatangan Islam memperkuat tatanan adat Minangkabau. Kesesuaian dan keserasian adat dengan ajaran Islam tak lain karena nilai-nilai adat Minangkabau, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al- Qur an dan hadis. Sehingga tidak ada alasan untuk menafikan bahwa posisi pusako tinggi ini adalah sesuai konteks wakaf ahli yang sudah dipraktikkan Nabi dan para sahabat pada masa awal Islam. Ketika pusako tinggi sudah dipraktikkan sesuai kaedah wakaf ahli, tentu akan mendatangkan keuntungan untuk tatanan adat dan masyarakat. Dalam konteks saat ini, aspek kepercayaan tidak cukup hanya dengan ucapan, tapi harus berlandaskan pada hukum positif yang berlaku umum. Oleh karena itu, ketundukan pada aspek adat dan agama harus diimbangi dengan ketundukan pada aspek undang-undang wakaf supaya pusako tinggi bisa permanen dan pemanfaatannya optimal bagi kemaslahatan masyarakat Minang. Sejatinya, seberapa besar tanah atau harta wakaf mengindikasikan kualitas keimanan dan solidaritas sosial masyarakat bersangkutan. Oleh karena itu, sehubungan dengan paparan sebelumnya bahwa harta yang mencerminkan nilai-nilai luhur atau mulia ini, seharusnya diproteksi atau dilindungi pemerintah, layaknya wakaf khairy yang secara umum di atur dalam UU No 41 tahun Sehingga, dengan bekal legalitas nazhir akan khusuk mengelola harta wakaf itu untuk kepentingan sosial atau keagamaan, sebagaimana amanat wakif. Tak ada lagi bayang-bayang kekhawatiran pusako tinggi itu digugat atau disengketakan keturunan wakif. Di samping mendapatkan kejelasan payung hukum, juga mampu meningkatkan produktivitas wakaf ahli. Perkembangan ke arah yang lebih produktif ini tentu dipengaruhi oleh kompetensi nazhir. Untuk menjadikan nazhir tersebut menjadi orang yang profesional dan ahli dalam mengelola harta benda wakaf sebagaimana yang sudah disinggung pada narasi sebelumnya, maka pembinaan terhadap nazhir menjadi suatu hal yang wajib dilakukan oleh BWI sebagai lembaga independen yang bertugas mengurus dan mengelola persoalan wakaf di Indonesia. Dengan bekal legalitas nazhir bertanggung

10 389 jawab atas produktivitas pengelolaan wakaf, maka mamak sebagai seorang nazhir kelak berhak mendapatkan jaminan untuk kesejahteraan, baik itu berupa gaji ataupun bentuk tunjungan lainnya. Seorang nazhir yang bertugas untuk mengurus dan mengelola harta wakaf dengan mengembangkan, memperbaiki kerusakan-kerusakan, menginvestasikan dan menjual hasil produksinya serta membagikan keuntungan yang telah terkumpul kepada keluarga wakif, sudah selayaknya mendapatkan upah yang setimpal atas apa yang telah dilakukannya. Tetapi, mengenai ketentuan upah ini tentu tidak ada batasan tertentu. Karena bisa dalam bentuk dan besaran yang berbeda-beda, tergantung tempat dan kondisinya, sekaligus disesuaikan dengan kemampuan dan kecapakan nazhir. Bentuk upah yang dimaksud juga tidak menentu, bisa berbentuk uang, seperti sepuluh atau dua puluh, atau berdasarkan persentase, seperti sepersepuluh atau seperlima dari keuntungan, dan bisa berbentuk imbalan lainnya yang mampu memenuhi kebutuhan hidup si nazhir. 5. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana asal usul harta pusako tinggi, akuntabilitas dan manajemen nazhir serta penerapan prinsip agama Islam dalam praktik dan pengelolaan pusako tinggi sebagai wakaf ahli. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik pusako tinggi di Minangkabau selama ini lebih memenuhi kriteria sebagai wakaf terutama wakaf keluarga dibandingkan dengan donasi dalam bentuk lain. Dengan demikian, diharapkan pengelolaan wakaf ahli ini mendapat perhatian lembaga yang bersangkutan, seperti BWI untuk mengeluarkan peraturan yang tepat, seperti UU No 41 tahun 2004 yang mengatur tentang wakaf khairy secara umum. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mamak sebagai nazhir setuju dengan esensi akuntabilitas karena keyakinan bahwa setiap Muslim bertanggung jawab terhadap Allah dan sesama manusia di dunia dan akhirat atas semua yang diamanahkan kepadanya. Manajemen mamak sangat menentukan tercapainya dual accountability. Setiap mamak memiliki keyakinan akan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan pusako tinggi. Keyakinan tersebut tidak terlepas dari nilainilai Islam yang dominan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan kata lain, bahwa ajaran hidup secara Islami harus dilandasi oleh prinsip tauhid, yaitu percaya pada keesaan Allah. Untuk mereposisi kedudukan pusako tinggi sebagai wakaf ahli, tentu membutuhkan peranan pemuka adat, regulator dan undangundang. Pemuka adat diharapkan mampu melakukan peninjauan kembali terhadap pengelolaan pusako tinggi yang bertentangan dengan syariat Islam. Di samping berpedoman pada ajaran Islam, setidaknya juga semakin menjadi lebih baik lagi ketika dari sisi impelementasinya, pemerintah juga merevisi peraturan perundangan tentang wakaf dan pelaksanaan wakaf itu sendiri. Kedua peraturan itu menjadi urgensi yang sangat penting, karena selain untuk kepentingan ibadah yang sifatnya mahdhah, aspek penekanan terhadap pemberdayaan pusako tinggi dalam konteks wakaf ahli secara lebih produktif untuk kepentingan sosial dan kesejahteraan umat juga dikedepankan sehingga akan berjalan selaras. Selanjutnya, BWI sebagai regulator independen yang menangani persoalan wakaf juga harus melakukan beberapa pelatihan dan pembinaan terhadap nazhir, sehingga nazhir memiliki kompetensi yang memadai dalam upaya produktivitas harta benda wakaf seperti pusako tinggi di Minangkabau. 6. REFERENSI Abdullah, T. (1966). Adat and Islam: An Examination of Conflict in Minangkabau. Indonesia, 2, Cresswell, J. (2008). Eduactional Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Pearson Prentice Hall. Devi, E. (2003). Fungsi dan Peranan Mamak Kepala Waris Terhadap Kelangsugan Harta Pusaka Tinggi Pada Kaum Caniago Supanjag Aro di Nagari Solok (Propinsi Sumatera Barat). Universitas Diponegoro Semarang. Doumani, B. (1998). No Endowing Family: Waqf, Property Devolution, and Gender in Greater Syria, 1800 to Comparative Studies in Society and History., 40(1), Fitria, V. (2016). Sistem wakaf di negara Lebanon, Undang-undang Perwakafan dalam Heterogenitas Agama. Humanika, 16(1).

11 390 Hamka. (1984). Islam dan Adat Minangkabau. PT Pustaka Panjimas. Horton, J., Macve, R., & Sruyven, G. (2004). Qualitative research: Experiences in using semi-structured interviews. In Humphrey & Lee (Eds.), The Real life guide to accounting research. A behind-the scenes view of using qualitative research methods (pp ). Elsevier. Ihsan, H., & Mohamed Ibrahim, S. (2011). WAQF accounting and management in Indonesian WAQF institutions: The cases of two WAQF foundations. Humanomics, 27(4), Ihsan, H., Septriani, Y., & Eliyanora. (2016). Akuntabilitas pada Institusi Wakaf: Studi Kasus pada Wakaf Daarut Tauhiid. National Conference of Applied Sciences, Engineering, Business and Information Technology, Isfandiar, A. A. (2008). Tinjauan Fiqh Muamalat dan Hukum Nasional tentang Wakaf di Indonesia. Journal La_Riba, 1, Khalil, M. A. H. M., Rahman, M. F. A., Thaidi, H. Azeemi A., & Rahman, A. A. (2021). Pengaplikasian Wakaf Ahli Bertempoh (Muaqqat) Sebagai Mekanisme Memakmurkan Amalan Wakaf Di Malaysia. September, /14353/1/5.BM. SAIS Pengaplikasian Wakaf Ahli Bertempoh %28Muaqqat%29 Sebagai Mekanisme Memakmurkan Amalan Wakaf Di Malaysia.pdf Lewis, M. (2006). Accountability and Islam. Conference Paper Presented at Fourth International Conference on Accounting and Finance in Transition Adelaide. Mohsin, M. I. A., Daftedar, H., & Cizakca, M. (2016). Financing the Development of Old Waqf Properties. Classical Principles and Innovative Practice around the World. In Palgrave Studies in Islamic Banking, Finance, and Economics. Palgrave Macmillan. Moumtaz, N. (2018). Is the Family Waqf a Religious Institution? Charity, Religion, and Economy in French Mandate Lebanon. Islamic Law and Society, 23(1 2), Roberts, J. (1996). From discipline to dialogue: individualizing and socializing forms of accountability. In R.Munro & J.Mouritsen (Eds.), Accountability: Power, ethos and the technologies of managing. International Thomson business press. Sadique Muhammad Abdurrahman. (2014). Family Waqf Deserve a Better Deal. In Issues in Waqf Laws and Management (with focus on Malaysia) (pp ). IIUM Press. Saleh, M. A. M., Wajis, N. R. N., Sahid, M. M., Gunardi, S., Majid, M. N. A., Tagaranao, M. S., & Ramli, N. A. (2017). Perwarisan Tanah Adat di Indonesia dan Malaysia dalam adat Perpatiah : Satu Tinjauan Syarak. Malaysian Journal of Syariah and Law, 5, Shahul Hameed Mohamed Ibrahim. (2000). The need for Islamic accounting: Perception of Malaysian Muslims accountants and academicians on the objectives and characteristics of Islamic accounting. University of Dundee, UK. Suhaimi, F. M. (2018). Wakaf Ahli: Peruntukan Undang-Undang Dan Pelaksanaannya Di Malaysia. Malaysian Journal of Syariah and Law, 8(1), /19279/1/Wakaf Ahli%3B Peruntukan Undang-Undang Dan Pelaksanaannya Di Malaysia.pdf Suwaidi, A. (2011). Wakaf dan Penerapannya di Negara Muslim. Jurnal Ekonomi Dan Hukum Islam, 1(2), Syarifuddin, A. (1984). Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Lingkungan Adat Minangkabau. PT Gunung Agung. Tanti, T. (2013). Wakaf ahli Dalam Konsep Fiqh Tradisional. Jurnal Al-Irsyad, II. Umar, U. H. (2019). Revitalization of Waqf for Socio-Economic Development, Volume II. In Revitalization of Waqf for Socio- Economic Development, Volume II: Vol. II. Springer International Publishing. Zilli, I. A. (2018). Indian Muslims Struggle to Resist Colonial Intervention: Waqf ala al- Awlad. International Conference On History and Governance of Awqaf in South and Southeast Asia: Colonial Interventions and the Modern States,14-23.

BAB I PENDAHULUAN. tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf), baik berupa

BAB I PENDAHULUAN. tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf), baik berupa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. Wakaf diambil dari kata waqafa, menurut bahasa berarti menahan atau berhenti. Dalam hukum Islam, wakaf berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 159, 2004 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4459) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat a. bahwa lembaga wakaf sebagai pranata keagamaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lembaga wakaf sebagai pranata keagamaan yang memiliki

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa lembaga wakaf sebagai pranata keagamaan yang memiliki potensi dan manfaat ekonomi perlu

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa lembaga wakaf sebagai pranata keagamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di tengah problem sosial masyarakat Indonesia dan tuntutan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Di tengah problem sosial masyarakat Indonesia dan tuntutan terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di tengah problem sosial masyarakat Indonesia dan tuntutan terhadap kesejahteraan ekonomi akhir-akhir ini, keberadaan lembaga wakaf menjadi cukup strategis.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa lembaga wakaf sebagai pranata keagamaan yang memiliki

Lebih terperinci

HASIL WAWANCARA. Konteks Tatap Muka dalam Komunikasi Antarpribadi

HASIL WAWANCARA. Konteks Tatap Muka dalam Komunikasi Antarpribadi Lampiran 2 HASIL WAWANCARA Konteks Tatap Muka dalam Komunikasi Antarpribadi 1. Bagaimanakah cara orang tua menyampaikan hukum adat Minangkabau kepada anak, terkait adanya pewarisan harta kepada anak perempuan?

Lebih terperinci

KEPASTIAN HUKUM BAGI TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT Oleh: Ridho Afrianedy,SHI, Lc (Hakim PA Sungai Penuh)

KEPASTIAN HUKUM BAGI TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT Oleh: Ridho Afrianedy,SHI, Lc (Hakim PA Sungai Penuh) KEPASTIAN HUKUM BAGI TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT Oleh: Ridho Afrianedy,SHI, Lc (Hakim PA Sungai Penuh) Latar Belakang Tak sekali terjadi konflik horizontal di tengah masyarakat

Lebih terperinci

BAB III WAKAF HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL DALAM PASAL 16 UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF

BAB III WAKAF HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL DALAM PASAL 16 UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF BAB III WAKAF HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL DALAM PASAL 16 UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF A. Ruang Lingkup Wakaf HAKI Dalam Pasal 16 Undang-Undang No. 41 Tahun 2004. Salah satu substansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup manusia baik secara langsung maupun tidak langsung selalu memerlukan

BAB I PENDAHULUAN. hidup manusia baik secara langsung maupun tidak langsung selalu memerlukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah merupakan kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar. Manusia hidup serta melakukan aktivitas di atas tanah sehingga setiap saat manusia selalu berhubungan

Lebih terperinci

Tanah, dan Kepemilikan Harta Benda lainnya

Tanah, dan Kepemilikan Harta Benda lainnya Pemahaman Progresif tentang Hak Perempuan atas Waris, Kepemilikan Tanah, dan Kepemilikan Harta Benda lainnya Beberapa Istilah Penting terkait dengan Hak Perempuan atas Waris dan Kepemilikan Tanah: Ahli

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. bahwa pergeseran pemahaman wakaf tuan guru di Lombok menjiwai karakteristik

BAB V PENUTUP. bahwa pergeseran pemahaman wakaf tuan guru di Lombok menjiwai karakteristik BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian yang telah dipaparkan di bab-bab sebelumnya, dapat dipahami bahwa pergeseran pemahaman wakaf tuan guru di Lombok menjiwai karakteristik dasar pemikiran fiqh, termasuk

Lebih terperinci

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. I Hukum Islam telah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan Islam itu sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa lembaga wakaf sebagai pranata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pusaka peninggalan mayit kepada ahli warisnya. 1

BAB I PENDAHULUAN. pusaka peninggalan mayit kepada ahli warisnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Waris adalah perpindahan harta milik atau perpindahan pusaka.sehingga secara istilah ilmu waris adalah ilmu yang mempelajari tentang perpindahan harta pusaka

Lebih terperinci

BAB II TAHUN 2004 TENTANG WAKAF. A. Dasar pemikiran lahirnya UU No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf

BAB II TAHUN 2004 TENTANG WAKAF. A. Dasar pemikiran lahirnya UU No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf 11 BAB II KETENTUAN UMUM TENTANG UNDANG UNDANG NO.41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF A. Dasar pemikiran lahirnya UU No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf Hadirnya Undang-Undang Republik Indonesia No.41 tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

BAB IV PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN KEWARISAN TUNGGU TUBANG ADAT SEMENDE DI DESA MUTAR ALAM, SUKANANTI DAN SUKARAJA

BAB IV PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN KEWARISAN TUNGGU TUBANG ADAT SEMENDE DI DESA MUTAR ALAM, SUKANANTI DAN SUKARAJA BAB IV PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN KEWARISAN TUNGGU TUBANG ADAT SEMENDE DI DESA MUTAR ALAM, SUKANANTI DAN SUKARAJA A. Analisis Tradisi Pelaksanaan Kewarisan Tunggu Tubang Adat Semende di

Lebih terperinci

KAJIAN ATAS GANTI RUGI TANAH DAN/ATAU BANGUNAN WAKAF DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM

KAJIAN ATAS GANTI RUGI TANAH DAN/ATAU BANGUNAN WAKAF DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM KAJIAN ATAS GANTI RUGI TANAH DAN/ATAU BANGUNAN WAKAF DALAM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM 1. Latar Belakang Pengadaan tanah untuk proyek Banjir Kanal Timur meliputi tanah/bangunan/tanaman yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masjid Quba sebagai wakaf pertama, kemudian beliau membangun masjid Nabawi

BAB I PENDAHULUAN. masjid Quba sebagai wakaf pertama, kemudian beliau membangun masjid Nabawi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengelolaan wakaf baik benda bergerak maupun benda tidak bergerak telah banyak dilakukan oleh para sahabat. 1 Wakaf zaman Islam dimulai bersamaan dengan dimulainya masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagi umat manusia seperti yang disebutkan dalam Al-Qur an, Sesungguhnya

BAB I PENDAHULUAN. bagi umat manusia seperti yang disebutkan dalam Al-Qur an, Sesungguhnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wakaf berasal dari kata waqfa yang mempunyai arti menahan, berhenti, diam di tempat atau tetap berdiri. Pengertian menahan atau berhenti atau diam ditempat dalam pengertian

Lebih terperinci

BAB IV PRAKTEK PEWARISAN HARTA PUSAKA TINGGI TIDAK BERGERAK DALAM MASYARAKAT ADAT MINANGKABAU DI NAGARI PARIANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV PRAKTEK PEWARISAN HARTA PUSAKA TINGGI TIDAK BERGERAK DALAM MASYARAKAT ADAT MINANGKABAU DI NAGARI PARIANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM BAB IV PRAKTEK PEWARISAN HARTA PUSAKA TINGGI TIDAK BERGERAK DALAM MASYARAKAT ADAT MINANGKABAU DI NAGARI PARIANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Praktek Pewarisan Harta Pusaka Tinggi Tidak Bergerak di

Lebih terperinci

SUMBER-SUMBER DAN NILAI DALAM PERILAKU ETIKA. Week 6

SUMBER-SUMBER DAN NILAI DALAM PERILAKU ETIKA. Week 6 SUMBER-SUMBER DAN NILAI DALAM PERILAKU ETIKA Week 6 Agama Islam menganggap etika sebagai cabang dari Iman, dan ini muncul dari pandangan dunia islam sebagai cara hidup manusia. Istilah etika yang paling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. komunitas masyarakat matrilineal paling besar di dunia (Kato, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. komunitas masyarakat matrilineal paling besar di dunia (Kato, 2005). BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Minangkabau merupakan satu-satunya budaya yang menganut sistem kekerabatan matrilineal di Indonesia. Masyarakat Minangkabau merupakan komunitas masyarakat matrilineal

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT DAN PEMANFAATANNYA

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT DAN PEMANFAATANNYA PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT DAN PEMANFAATANNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT Menimbang:a. bahwa dalam Undang - undang Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Perkawinan merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Perkawinan merupakan suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perempuan Indonesia tidak hanya memiliki pengaruh dalam keluarga, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM WARIS ISLAM TERHADAP PRAKTEK PEMBAGIAN WARIS DI KEJAWAN LOR KEL. KENJERAN KEC. BULAK SURABAYA

BAB IV ANALISIS HUKUM WARIS ISLAM TERHADAP PRAKTEK PEMBAGIAN WARIS DI KEJAWAN LOR KEL. KENJERAN KEC. BULAK SURABAYA BAB IV ANALISIS HUKUM WARIS ISLAM TERHADAP PRAKTEK PEMBAGIAN WARIS DI KEJAWAN LOR KEL. KENJERAN KEC. BULAK SURABAYA A. Analisis Terhadap Kebiasaan Pembagian Waris Di Kejawan Lor Kelurahan Kenjeran Kecamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dinamakan kematian. Peristiwa hukum tersebut menimbulkan akibat

BAB I PENDAHULUAN. yang dinamakan kematian. Peristiwa hukum tersebut menimbulkan akibat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai mahkluk hidup pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Peristiwa hukum tersebut menimbulkan akibat hukum yang berkaitan dengan pengurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tanah ini dengan sendirinya menimbulkan pergesekan- pergesekan. kepentingan yang dapat menimbulkan permasalahan tanah.

BAB I PENDAHULUAN. tanah ini dengan sendirinya menimbulkan pergesekan- pergesekan. kepentingan yang dapat menimbulkan permasalahan tanah. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, oleh karenanya manusia tidak bisa terlepas dari tanah. Tanah sangat dibutuhkan oleh setiap

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP WAKAF ONLINE

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP WAKAF ONLINE BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP WAKAF ONLINE A. Analisis Pelaksanaan Wakaf Online di Sinergi Foundation Pelaksanaan wakaf yang dilakukan Sinergi Foundation sebagai salah satu lembaga wakaf online

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1085, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN WAKAF. Peruntukan. Harta Benda. Perubahan. PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN PERUNTUKAN HARTA BENDA WAKAF DENGAN

Lebih terperinci

Article Review. : Jurnal Ilmiah Islam Futura, Pascasarjana UIN Ar-Raniry :

Article Review. : Jurnal Ilmiah Islam Futura, Pascasarjana UIN Ar-Raniry : Article Review Judul Artikel : Perubahan Sosial dan Kaitannya Dengan Pembagian Harta Warisan Dalam Perspektif Hukum Islam Penulis Artikel : Zulham Wahyudani Reviewer : Anna Rizki Penerbit : Jurnal Ilmiah

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN PENGANGAKATAN ANAK TERHADAP BAPAK KASUN YANG TERJADI DI DESA BLURI KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN

BAB III PELAKSANAAN PENGANGAKATAN ANAK TERHADAP BAPAK KASUN YANG TERJADI DI DESA BLURI KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN BAB III PELAKSANAAN PENGANGAKATAN ANAK TERHADAP BAPAK KASUN YANG TERJADI DI DESA BLURI KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN A. Sekilas Tentang Bapak Kasun Sebagai Anak Angkat Bapak Tasral Tasral dan istrinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. garis keturunan berdasarkan garis bapak (patrilinial), sedangkan pada masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. garis keturunan berdasarkan garis bapak (patrilinial), sedangkan pada masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umunmya sistem kekerabatan suku bangsa yang ada di Indonesia menarik garis keturunan berdasarkan garis bapak (patrilinial), sedangkan pada masyarakat Minangkabau

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN WAKAF INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumatera merupakan pulau yang memiliki sejumlah suku besar berciri khas tradisional. Suku yang terkenal adalah Minangkabau, Aceh, Batak, Melayu, dan ada juga sejumlah suku-suku

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2008

LEMBARAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2008 No. Urut : 06 LEMBARAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT DAN PEMANFAATANNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. daerah di Indonesia. Sumatera Barat dengan sistem pemerintahan nagari yang. tersendiri yang berbeda dengan masyarakat Indonesia.

I. PENDAHULUAN. daerah di Indonesia. Sumatera Barat dengan sistem pemerintahan nagari yang. tersendiri yang berbeda dengan masyarakat Indonesia. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumatera Barat adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang memakai sistem pemerintahan lokal selain pemerintahan desa yang banyak dipakai oleh berbagai daerah

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN NAGARI SITUJUAH GADANG Nomor: 03/NSG/2002. Tentang BENTUK PARTISIPASI ANAK NAGARI DALAM PEMBANGUNAN NAGARI

RANCANGAN PERATURAN NAGARI SITUJUAH GADANG Nomor: 03/NSG/2002. Tentang BENTUK PARTISIPASI ANAK NAGARI DALAM PEMBANGUNAN NAGARI RANCANGAN PERATURAN NAGARI SITUJUAH GADANG Nomor: 03/NSG/2002 Tentang BENTUK PARTISIPASI ANAK NAGARI DALAM PEMBANGUNAN NAGARI Menimbang : a. bahwa modal dasar pembangunan Nagari yang tumbuh dan berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhannya telah mampu merombak tatanan atau sistem kewarisan yang

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhannya telah mampu merombak tatanan atau sistem kewarisan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum kewarisan, termasuk salah satu aspek yang diatur secara jelas dalam Al-Qur an dan Sunnah Rasul. Hal ini membuktikan bahwa masalah kewarisan cukup penting

Lebih terperinci

III. Upaya Strategis Pengembangan Wakaf Salah satu upaya strategis pengembangan wakaf yang dilakukan oleh Pemerintah C.q. Departemen Agama adalah

III. Upaya Strategis Pengembangan Wakaf Salah satu upaya strategis pengembangan wakaf yang dilakukan oleh Pemerintah C.q. Departemen Agama adalah MAKALAH MENTERI AGAMA RI TINJAUAN ASPEK LEGAL FORMAL DAN KEBIJAKAN WAKAF DISAMPAIKAN PADA DISKUSI PANEL BADAN PENGELOLA MASJID AG UNG SEMARANG SEMARANG, 27AGUSTUS 2005 I. Pendahuluan Terlebih dahulu marilah

Lebih terperinci

BAB I. Beranjak dari Pasal 33 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan. oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

BAB I. Beranjak dari Pasal 33 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan. oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beranjak dari Pasal 33 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan bahwa, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan kesejahteraan masyarakat, seringkali dijadikan indikator pertumbuhan perekonomian dalam negeri untuk tetap stabil, bahkan meningkat. Beberapa sektor yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu penjelmaan dari jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad 1.Setiap

BAB I PENDAHULUAN. satu penjelmaan dari jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad 1.Setiap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adat merupakan cerminan kepribadian suatu bangsa yang menjadi salah satu penjelmaan dari jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad 1.Setiap bangsa di dunia ini

Lebih terperinci

Berderma dan Sejarah Sosial Politik Islam Indonesia

Berderma dan Sejarah Sosial Politik Islam Indonesia BOOK REVIEW Berderma dan Sejarah Sosial Politik Islam Indonesia DOI 10.18196/AIIJIS.2015. 0052. 268-272 MUKHLIS RAHMANTO Dosen di Jurusan Muamalah (Ekonomi dan Perbankan Islam), Fakultas Agama Islam, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jangan beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. Dan juga Ibn. Abbas r.a dalam Laroche (1996) mengatakan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. jangan beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. Dan juga Ibn. Abbas r.a dalam Laroche (1996) mengatakan bahwa: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 7 telah disebutkan bahwa harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu. Dan juga Ibn Abbas r.a dalam Laroche

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terdahulu, dan harta ini berada dibawah pengelolahan mamak kepala waris (lelaki

BAB I PENDAHULUAN. terdahulu, dan harta ini berada dibawah pengelolahan mamak kepala waris (lelaki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah pusako adalah tanah hak milik bersama dari pada suatu kaum yang mempunyai pertalian darah dan diwarisi secara turun temurun dari nenek moyang terdahulu,

Lebih terperinci

Konstitusi Rancangan Rusia untuk Suriah: Pertimbangan tentang Pemerintahan di Kawasan Tersebut

Konstitusi Rancangan Rusia untuk Suriah: Pertimbangan tentang Pemerintahan di Kawasan Tersebut Konstitusi Rancangan Rusia untuk Suriah: Pertimbangan tentang Pemerintahan di Kawasan Tersebut Leif STENBERG Direktur, AKU- Dalam makalah berikut ini, saya akan mengambil perspektif yang sebagiannya dibangun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masyarakat batak toba menganut sistem kekeluargaan patrilineal yaitu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masyarakat batak toba menganut sistem kekeluargaan patrilineal yaitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat batak toba menganut sistem kekeluargaan patrilineal yaitu keturunan ditarik dari ayahnya. Dilihat dari marga yang dipakai oleh orang batak yang diambil dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. badan hukum dengan menyerahkan sebagian dari harta bendanya untuk

BAB I PENDAHULUAN. badan hukum dengan menyerahkan sebagian dari harta bendanya untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perwakafan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum dengan menyerahkan sebagian dari harta bendanya untuk kepentingan umum dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP ALIH FUNGSI WAKAF PRODUKTIF KEBUN APEL DI DESA ANDONOSARI KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP ALIH FUNGSI WAKAF PRODUKTIF KEBUN APEL DI DESA ANDONOSARI KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP ALIH FUNGSI WAKAF PRODUKTIF KEBUN APEL DI DESA ANDONOSARI KECAMATAN TUTUR KABUPATEN PASURUAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan disajikan pada bab III,

Lebih terperinci

Analisis Hukum Islam Terhadap Pembagian Waris Dalam Adat Minang (Studi Kasus Di Desa Biaro Gadang, Sumatera Barat)

Analisis Hukum Islam Terhadap Pembagian Waris Dalam Adat Minang (Studi Kasus Di Desa Biaro Gadang, Sumatera Barat) Prosiding Peradilan Agama ISSN: 2460-6391 Analisis Hukum Islam Terhadap Pembagian Waris Dalam Adat Minang (Studi Kasus Di Desa Biaro Gadang, Sumatera Barat) 1 Utari Suci Ramadhani, 2 Dr. Tamyiez Dery,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Zakat merupakan satu dari lima rukun Islam. Kewajiban mengeluarkan

BAB I PENDAHULUAN. Zakat merupakan satu dari lima rukun Islam. Kewajiban mengeluarkan BAB I PENDAHULUAN A. KONTEKS PENELITIAN Zakat merupakan satu dari lima rukun Islam. Kewajiban mengeluarkan zakat itu berlaku bagi setiap muslim yang dewasa, merdeka, berakal sehat, dan telah memiliki harta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain adalah untuk memajukan

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain adalah untuk memajukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh hukum adatnya masing-masing. Negara telah mengakui hak-hak adat

BAB I PENDAHULUAN. oleh hukum adatnya masing-masing. Negara telah mengakui hak-hak adat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki masyarakat majemuk. Kemajemukan masyarakat di negara Indonesia terdiri dari berbagai etnis, suku, adat dan budaya.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENGAWASAN KUA KECAMATAAN SEDATI TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF

BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENGAWASAN KUA KECAMATAAN SEDATI TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENGAWASAN KUA KECAMATAAN SEDATI TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF A. ANALISIS EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENGAWASAN KUA TERHADAP PENGELOLA BENDA WAKAF DI KECAMATAN SEDATI Perwakafan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. agar manusia senantiasa melaksanakan perintah-nya dan menjauhi larangan-

BAB I PENDAHULUAN. agar manusia senantiasa melaksanakan perintah-nya dan menjauhi larangan- BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam merupakan syariat Allah yang diturunkan kepada umat manusia agar manusia senantiasa melaksanakan perintah-nya dan menjauhi larangan- Nya.. Dalam menanamkan keyakinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) merupakan ibadah yang tidak hanya

BAB I PENDAHULUAN. Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) merupakan ibadah yang tidak hanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) merupakan ibadah yang tidak hanya berhubungan dengan nilai ketuhanan saja namun berkaitan juga dengan hubungan kemanusian yang bernilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sorotan sebagai salah satu pemutar roda ekonomi di Indonesia. MLM

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sorotan sebagai salah satu pemutar roda ekonomi di Indonesia. MLM BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem pemasaran berjenjang atau Multi Level Marketing (MLM) sedang menjadi sorotan sebagai salah satu pemutar roda ekonomi di Indonesia. MLM adalah salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. senantiasa melaksanakan pembangunan yang bersifat fisik materil dan mental

BAB I PENDAHULUAN. senantiasa melaksanakan pembangunan yang bersifat fisik materil dan mental BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan Nasional bangsa di Indonesia senantiasa melaksanakan pembangunan yang bersifat fisik materil dan mental spiritual, antara lain

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1047, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN AGAMA. Perwakafan. Benda Tidak Bergerak. Benda Bergerak. Tata Cara. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG TATA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dekade tujuh puluhan telah menjadi awal dari timbulnya sistem. Ekonomi Islam dan Lembaga Keuangan Islam dalam tatanan dunia

BAB I PENDAHULUAN. Dekade tujuh puluhan telah menjadi awal dari timbulnya sistem. Ekonomi Islam dan Lembaga Keuangan Islam dalam tatanan dunia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dekade tujuh puluhan telah menjadi awal dari timbulnya sistem Ekonomi Islam dan Lembaga Keuangan Islam dalam tatanan dunia Internasional. Pada masa itu pula kajian Ilmiah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara menjamin kemerdekaan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MASYARAKAT AGRARIS DAN INDUSTRI. dalam kode hukum sipil meiji ( ) ( Fukute, 1988:37 ).

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MASYARAKAT AGRARIS DAN INDUSTRI. dalam kode hukum sipil meiji ( ) ( Fukute, 1988:37 ). BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MASYARAKAT AGRARIS DAN INDUSTRI 2.1. Masyarakat Agraris Sejak zaman tokugawa sampai akhir perang dunia II, sistem keluarga Jepang diatur oleh konsep Ie dan bahkan mendapat

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. Penelitian tentang sastra lisan yang dilakukan selama ini, cenderung

BAB VI PENUTUP. Penelitian tentang sastra lisan yang dilakukan selama ini, cenderung BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Penelitian tentang sastra lisan yang dilakukan selama ini, cenderung berangkat dari pemikiran bahwa sastra yang tumbuh dalam masyarakat tradisi merupakan artefak kebudayaan.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. telah dikaji oleh banyak sejarawan. Hubungan historis ini dilatarbelakangi dengan

BAB V PENUTUP. telah dikaji oleh banyak sejarawan. Hubungan historis ini dilatarbelakangi dengan 201 BAB V PENUTUP A. Simpulan Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hubungan historis antara Turki Utsmani dan Hindia Belanda sejatinya telah terjalin lama sebagaimana yang telah dikaji oleh banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan demikian itu, tidak hanya karena kelalaian atau ketidak mampuan. sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukan wakaf.

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan demikian itu, tidak hanya karena kelalaian atau ketidak mampuan. sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukan wakaf. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Islam, wakaf merupakan salah satu ibadah yang mempunyai dimensi sosial di dalam agama Islam. Praktik

Lebih terperinci

PROSES PERALIHAN HAK ATAS TANAH WAKAF (Studi kasus di KUA Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo)

PROSES PERALIHAN HAK ATAS TANAH WAKAF (Studi kasus di KUA Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo) PROSES PERALIHAN HAK ATAS TANAH WAKAF (Studi kasus di KUA Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo) Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Tugas tugas dan Syarat syarat Guna Mencapai Derajat Sarjana Hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN KEISTIMEWAAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN KEISTIMEWAAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH UNDANG-UNDANG NOMOR 44 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN KEISTIMEWAAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh

Lebih terperinci

WAKAF SEBAGAI ALTERNATIF PENDANAAN PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT INDONESIA

WAKAF SEBAGAI ALTERNATIF PENDANAAN PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT INDONESIA WAKAF SEBAGAI ALTERNATIF PENDANAAN PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT INDONESIA Oleh Darwanto Fakultas Ekonomi UNDIP ABSTRAKSI Wakaf mempunyai kedudukan penting dalam Islam. Penggunaan wakaf sebagai salah satu

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN TEORITIS. Wakaf merupakan perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan atau

BAB III TINJAUAN TEORITIS. Wakaf merupakan perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan atau 26 BAB III TINJAUAN TEORITIS A. Wakaf dan Tujuannya Wakaf merupakan perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. alasan kemunculan hukum, namun dalam usaha-usaha memberikan jawaban akan hukum

BAB I PENDAHULUAN. alasan kemunculan hukum, namun dalam usaha-usaha memberikan jawaban akan hukum BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Para pemerhati dan pemikir hukum belum ada satu pandangan dalam melihat alasan kemunculan hukum, namun dalam usaha-usaha memberikan jawaban akan hukum itu diadakan

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF BERGERAK BERUPA UANG

PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF BERGERAK BERUPA UANG PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN HARTA BENDA WAKAF BERGERAK BERUPA UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BADAN WAKAF INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya hukum waris yang terdapat di Indonesia ini masih bersifat

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya hukum waris yang terdapat di Indonesia ini masih bersifat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap penganut agama di dunia mengatur tentang pembagian waris, salah satunya hukum waris yang terdapat di Indonesia ini masih bersifat pluralistis 1, karena saat ini

Lebih terperinci

Intisari Buku. Tarbiyah Siyasiyah. Bersama Dakwah

Intisari Buku. Tarbiyah Siyasiyah. Bersama Dakwah Judul Buku : Penulis : Ahmad Dzakirin Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo Cetakan Ke : 1 Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010 Tebal Buku : xxiv + 152 halaman Ketika dakwah memasuki wilayah

Lebih terperinci

MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM *

MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM * MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM * DPR-RI dan Pemerintah telah menyetujui RUU Desa menjadi Undang- Undang dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 18 Desember

Lebih terperinci

Modul ke: MASYARAKAT MADANI. 13Fakultas FASILKOM. Salamah, SPd. MSi. Program Studi Teknik Informatika

Modul ke: MASYARAKAT MADANI. 13Fakultas FASILKOM. Salamah, SPd. MSi. Program Studi Teknik Informatika Modul ke: 13Fakultas Yayah FASILKOM MASYARAKAT MADANI Salamah, SPd. MSi. Program Studi Teknik Informatika Tujuan Instruksional Khusus 1. Menyebutkan pengertian dan latar belakang masyarakat madani 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sudirman (2010) menjelaskan bahwa wakaf merupakan salah satu bentuk kegiatan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam karena pahala wakaf akan terus mengalir meskipun

Lebih terperinci

Bagaimana pandangan anda tentang hukum waris di Indonesia terkait dengan hak waris perempuan?

Bagaimana pandangan anda tentang hukum waris di Indonesia terkait dengan hak waris perempuan? Nama lengkap narasumber kita kali ini adalah Sri Wiyanti Eddyono, namun di kalangan aktivis ia biasa dipanggil dengan Mbak Iyik. Perempuan yang lahir pada tanggal 21 September 1973 ini, sekarang tinggal

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2007 POKOK-POKOK PEMERINTAHAN NAGARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT

PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2007 POKOK-POKOK PEMERINTAHAN NAGARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT Menimbang: PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2007 POKOK-POKOK PEMERINTAHAN NAGARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT a. bahwa berdasarkan hasil evaluasi penyelenggaraan

Lebih terperinci

Undang Undang. Nomor 23 Tahun Republik Indonesia ZAKAT PENGELOLAAN. Tentang

Undang Undang. Nomor 23 Tahun Republik Indonesia ZAKAT PENGELOLAAN. Tentang Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Tentang PENGELOLAAN ZAKAT Kementerian Agama Republik lndonesia Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Pemberdayaan Zakat Tahun 2012

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Segi kehidupan manusia yang telah diatur Allah dapat dikelompokkan

BAB I PENDAHULUAN. Segi kehidupan manusia yang telah diatur Allah dapat dikelompokkan BAB I PENDAHULUAN Segi kehidupan manusia yang telah diatur Allah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, hal-hal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah sebagai penciptanya. Aturan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Model Pengelolaan Wakaf Produktif dengan kerangka kerja yang professional merupakan

BAB V PENUTUP. 1. Model Pengelolaan Wakaf Produktif dengan kerangka kerja yang professional merupakan 1 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Model Pengelolaan Wakaf Produktif dengan kerangka kerja yang professional merupakan bentuk pengelolaan yang dilaksanakan secara profesional-produktif. Profesionalisme yang

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI PADA ANNUAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES VIII TANGGAL 3 NOVEMBER 2008 DI PALEMBANG

SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI PADA ANNUAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES VIII TANGGAL 3 NOVEMBER 2008 DI PALEMBANG SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI PADA ANNUAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES VIII TANGGAL 3 NOVEMBER 2008 DI PALEMBANG Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Yth. Gubernur Sumatera Selatan; Yth. Ketua DPRD

Lebih terperinci

MANFAAT DAN HAMBATAN DALAM PENGELOLAAN WAKAF UANG * Oleh Drs. H. Asrori, S.H., M.H

MANFAAT DAN HAMBATAN DALAM PENGELOLAAN WAKAF UANG * Oleh Drs. H. Asrori, S.H., M.H MANFAAT DAN HAMBATAN DALAM PENGELOLAAN WAKAF UANG * Oleh Drs. H. Asrori, S.H., M.H A. PENDAHULUAN Sebelum adanya Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf, pengaturan tentang wakaf hanya menyangkut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan gugusan pulau dan kepulauan yang memiliki beragam warisan budaya dari masa lampau. Kekayaan-kekayaan yang merupakan wujud dari aktivitas-aktivitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Motivasi terbesar yang mendasari perjuangan rakyat Indonesia merebut

I. PENDAHULUAN. Motivasi terbesar yang mendasari perjuangan rakyat Indonesia merebut I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Motivasi terbesar yang mendasari perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan dari kaum penjajah adalah cita-cita untuk dapat mewujudkan kehidupan rakyat Indonesia yang

Lebih terperinci

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam 40 BAB III PENYAJIAN DATA A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam masyarakat Pujud Data yang disajikan adalah data yang diperoleh dari lapangan yang dihimpun melalui observasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berbicara tentang warisan menyalurkan pikiran dan perhatian orang ke arah suatu

BAB I PENDAHULUAN. Berbicara tentang warisan menyalurkan pikiran dan perhatian orang ke arah suatu BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Berbicara tentang warisan menyalurkan pikiran dan perhatian orang ke arah suatu kejadian penting dalam suatu masyarakat tertentu, yaitu ada seorang anggota dari

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. penulis angkat dalam mengkaji pendidikan ekologi dalam perspektif Islam,

BAB V PENUTUP. penulis angkat dalam mengkaji pendidikan ekologi dalam perspektif Islam, 161 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Sebagaimana telah diuraikan dalam bab pendahuluan, bahwa penelitian ini akan diarahkan guna menjawab rumusan masalah yang telah penulis angkat dalam mengkaji pendidikan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2015

LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2015 LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH DENGAN

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Jakarta, 30 Juni 2011 Kamis, 30 Juni 2011

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Jakarta, 30 Juni 2011 Kamis, 30 Juni 2011 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Jakarta, 30 Juni 2011 Kamis, 30 Juni 2011 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERINGATAN ISRA' MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW TANGGAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter saat ini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Dalam UU No 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. minallah atau dimensi vertikal dan hablum minannas atau dimensi horizontal.

BAB I PENDAHULUAN. minallah atau dimensi vertikal dan hablum minannas atau dimensi horizontal. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zakat adalah ibadah yang mengandung dua dimensi yaitu dimensi hablum minallah atau dimensi vertikal dan hablum minannas atau dimensi horizontal. Ibadah zakat

Lebih terperinci

Keuangan mulai tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Hal ini dapat. dilihat dari terus meningkatnya perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

Keuangan mulai tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Hal ini dapat. dilihat dari terus meningkatnya perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, keberadaan akuntansi syariah dalam Pengelolaan Transaksi Keuangan mulai tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat menghormati adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. terjalinnya hubungan antar individu maupun kelompok.

BAB I PENDAHULUAN. sangat menghormati adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. terjalinnya hubungan antar individu maupun kelompok. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang penduduknya memiliki aneka ragam adat kebudayaan. Mayoritas masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di pedesaan masih berpegang teguh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. warga non-muslim agar memeluk agama Islam. Hal ini diperlukan tujuan

BAB I PENDAHULUAN. warga non-muslim agar memeluk agama Islam. Hal ini diperlukan tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Kondisi ini memiliki keuntungan tersendiri bagi proses pembangunan menuju masyarakat muslim

Lebih terperinci