BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas penelitian terkait atau sering disebut literature review, yang diperoleh dari berbagai sumber terdahulu berupa buku dan majalah, serta laporan dan hasil penelitian tentang peningkatan wisata edukasi BUMDes Pejambon. 2.1 Penelitian Terdahulu (Literarur Review) Penelitian terdahulu atau tinjauan pustaka adalah hasil, teori, dan penelitian lain yang berasal dari referensi yang digunakan sebagai landasan teori kegiatan penelitian untuk mengembangkan kerangka berpikir yang jernih dari rumusan masalah yang diteliti. Bagian ini memberikan gambaran sebagai bentuk perbaikan penelitian yang ada dan berbagai konsep penelitian. Studi sebelumnya atau pencarian literatur terkait tercantum di bawah ini, termasuk studi berikut. 26

2 Tabel 2. 1 Literature Review No. Nama Penulis dan Judul Teori dan Metode Penelitian Temuan 1. Ristiana & Yusuf (2020) dengan judul Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui BUMDes di Desa Wisata Lerep 2. Shifa & Ilyas, (2021) dengan judul Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat melalui Badan Pendekatan kualitatif deskriptif, pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari 2 pengelola BUMDes sebagai informan kunci, 4 anggota BUMDes sebagai informan tambahan Metode kualitatif, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi dilakukan dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil survei menunjukkan bahwa ada tujuh fase dalam proses pemberdayaan. Yaitu, tahap persiapan, review program atau rencana kegiatan alternatif, formalisasi rencana aksi, pelaksanaan, evaluasi dan penghentian program atau kegiatan. Kekuatan pendorong di balik pemberdayaan adalah sumber daya alam yang melimpah, dukungan masyarakat dan pemerintah, serta niat dan antusiasme individu yang diberdayakan. Kendalanya adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap BUMDes, namun anggaran yang masih minim dan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap makna BUMDes. Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui BUMDes dengan membuat homestay, serta perbaikan fisik lingkungan wisata. Hambatan dari program ini yakni terbatasnya permodalan dari 27

3 Usaha Desa Milik pemerintah sehingga masyarakat lebih banyak mengambil peran dalam permodalan. 3. Kadek Sumiasih (2018) dengan judul Peran BUMDes dalam Pengelolaan Sektor Pariwisata (Studi di Desa Pakse Bali, Kabupaten Klungkung 4. Rahmat Priyanto, Didin Syarifuddin dan Sopa Martina (2018) dengan judul Perancangan Model Wisata Edukasi di Objek Wisata Kampung Tulip 5. Yogi Hermawan, Syarif Hidayatullah, Stella Alviana, Dewi Hermin, Aprilia Rachmadian (2021) dengan judul Pemberdayaan Masyarakat melalui Wisata Edukasi dan Metode penelitian hukum empiris. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan wawancara Metode penelitian hukum empiris. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan teknik wawancara Pendekatan kualitatif yakni metode penelitian dokumentasi. Tahapan analisis data adalah sebagai berikut; pengumpulan data, Reduksi data, Penyajian data, dan penarikan kesimpulan BUMdes mengalami perkembangan sejak berlakunya UU Desa. Potensi wisata belum dimaksimalkan karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha serta kurangnya dukungan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan BUMD berkembang setelah berlakunya UU Desa, namun masih terdapat desa-desa di kampung tulip. Program pemberdayaan masyarakat melalui wisata edukasi memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, khususnya secara ekonomi. 28

4 Dampak yang Didapatkan Masyarakat Desa Pujonkidul 6. Deditiani Tri Indrianti, Lutfi Ariefianto dan Dinar Halimi (2019) dengan judul Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Desa Wisata Organik di Kabupaten Bondowoso 7. Anggit Kurnia Prohasta dan Suswanta (2020) dengan judul Pengembangan Desa Wisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Kaki Langit Padukuhan Mangunan 8. Dwi Ariani Margayaningsih (2018) dengan judul Peran Masyarakat dalam Kegiatan Pemberdayaan Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif kualitatif, Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi datanya menggunakan triangulasi sumber, Teknik, dan waktu Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian deskriptif Pengembangan program desa wisata organik berfokus pada proses penyadaran masyarakat dan transformasi tersendiri. Komunitas dikelola melalui diskusi kelompok terfokus yang diadakan untuk interaksi langsung dengan pengelola. Pemberdayaan Masyarakat dengan desa wisata mampu membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Hasil survei peran masyarakat dalam kegiatan bina lingkungan desa terfokus pada survei peran masyarakat sebagai aktor, peserta dan peserta, dan menunjukkan kategori baik. Motivasi dan kebijakan pemerintah 29

5 Masyarakat Desa di menjadi faktor pendukung penguatan masyarakat, sedangkan anggaran dan infrastruktur menjadi penghambat kegiatan penguatan masyarakat. 9. Nurmaulida Saragi dan Abdullah (2019) dengan judul Peran Badan Usaha Milik Desa dalam Pengelolaan Obek Wisata di Desa Denai Lama Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang 10. Dwi Hastutik, Dwiningtyas Padmaningrum dan Agung Wibowo (2021) Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam Pengembangan Desa Wisata di Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten Metode penelitian dengan kualitatif, observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai data penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah Sekretaris Desa, Perangkat BUMDes yang meliputi Ketua, Sekretaris dan masyarakat Desa. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan Metode penelitian kualitatif deskriptif. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diuji dengan triangulasi sumber dan teknik Hasil survei ini menunjukkan bahwa banyak penduduk desa Denai Lama yang sebelumnya ekonomi rendah, sehingga melalui pengelolaan fasilitas pariwisata, BUMDes berperan sangat penting dalam meningkatkan perekonomian penduduk desa Denai Lama. bahwa Anda. Program oleh BUMDes. Wisata desa diinisiasi pertama kali oleh warga setempat tanpa dukungan langsung pemerintah. Pada tahap perkembangannya pemerintah desa melalui BUMDes melakukan sosialisasi dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola wisata. 2.2 Landasan Teori 30

6 1. Konsep Pemberdayaan Konsep pemberdayaan adalah upaya membangun keterampilan kolektif dengan cara menumbuhkembangkan potensi, memotivasi, membangkitkan kesadaran, dan berusaha menerjemahkan potensi tersebut ke dalam tindakan nyata. (Zubaedi, 2007) Pemberdayaan adalah upaya membangun kekuatan itu dengan cara memajukan, memotivasi, mengenali dan mengembangkan potensi (Kartasasmitha, 1996b). Pemberdayaan adalah upaya membangun kekuatan itu dengan cara mempromosikan, memotivasi, mengenali, dan mengembangkan potensi itu. Memperkuat (empower) potensi atau daya masyarakat. Dalam konteks ini, selain penciptaan iklim dan suasana, diperlukan langkah-langkah positif lebih lanjut sebagai indikator pemberdayaan. Pemberdayaan ini mencakup langkah-langkah spesifik, memberikan informasi yang berbeda dan membuka akses ke berbagai peluang untuk memperkuat masyarakat. Pemberdayaan meliputi penguatan organisasi maupun individu anggota masyarakat. Pengajaran nilai-nilai budaya modern seperti ketekunan, berhemat, keterbukaan dan akuntabilitas merupakan bagian integral dari dorongan untuk penentuan nasib sendiri ini. (bpps.kemenkos.go.id, 2021). 2.Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan dalam konteks sosial adalah kemampuan setiap individu atau individu untuk berhubungan dengan individu lain dalam masyarakat dan untuk membentuk dan membangun keberdayaan bagi masyarakat yang bersangkutan (Kertasasmita, 1995). Pemberdayaan masyarakat merupakan unsur masyarakat yang memiliki potensi untuk bertahan atau bertahan, berkembang dan maju dalam arti yang dinamis. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk memperkuat unsur pemberdayaan dan meningkatkan harkat dan martabat strata sosial yang tidak dalam posisi hanya mengandalkan kekuatan sendiri dalam situasi saat ini. Melarikan diri dari jebakan keterbelakangan dan kemiskinan. Dengan 31

7 kata lain, pemberdayaan berarti memberdayakan dan memberdayakan masyarakat (Kartasasmitha, 1996a). Menurut Linton, masyarakat cukup lama untuk mengatur semua orang dalam komunitas dan membentuk organisasi yang memungkinkan setiap orang dalam komunitas untuk mengatur diri mereka sendiri dan berpikir lebih sosial Sekelompok orang yang pernah tinggal dan bekerja di Jepang. Menurut Peter L. Berger, memahami masyarakat berarti bahwa masyarakat merupakan keseluruhan kompleks dari hubungan inklusif, dan bahwa keseluruhan kompleks itu sendiri terdiri dari bagian-bagian yang membentuk unit tersebut. (Margayaningsih, 2018). Pemberdayaan masyarakat desa bertujuan untuk melakukan upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan cara meningkatkan taraf hidup masyarakat, mendorongnya untuk memberi manfaat, serta memberikan peluang dan peluang. Diperbarui melalui partisipasi masyarakat dan pemerintah. Payne (1997: 268) menjelaskan keadilan sosial dengan memberikan gambaran terwujudnya kedamaian pada masyarakat yang lebih besar melalui saling membantu dan belajar menuju tujuan yang lebih besar. a. Model alternatif pengembangan Desa Pejambon berdasarkan unsurunsur pemberdayaan masyarakat seperti berikut ini menurut (Kartasasmita,1995): 1) Enabling yakni menciptakan lingkungan yang memberi ruang bagi potensi berkembang. Pemberdayaan merupakan suatu upaya membangun kekuatan dengan memotivasi, membangkitkan dan mendorong semangat serta kesadaran terkait potensi yang dimiliki. 2) Empowering yakni memperkuat daya maupun potensi yang dimiliki masyarakat. Kekuatan ini berkaitan dengan langkah nyata dan juga berkaitan dengan penyediaan masukan, akses pada berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin memiliki kekuatan. 3) Protecting yakni melindungi dan mencegah eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah untuk keberlanjutan program. Dalam proses 32

8 pemberdayaan, pencegahan terkait potensi yang lemah semakin menjadi lemah harus dilakukan dan dilindungi. Sehingga pemihakan kepada yang lemah dan perlindungan yang dilakukan sangat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat tidak dimaksudkan untuk membuat masyarakat semakin bergantung pada program seperti donasi. Pada dasarnya, masyarakat didorong untuk berubah dan menikmati apa yang dibangun dengan tangan sendiri. (Kertasasmita, 1995). b. Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan penguatan individu sebagai anggota masyarakat namun juga pranatanya (Kertasasmita, 1995). Bagian pokok dari upaya pemberdayaan menurut Kartasasmita (1995) adalah dengan menambahkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, keterbukaan, tanggung jawab dan juga hemat. Arti penting dari pemberdayaan masyarakat yakni peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan diri dan juga masyarakat. Oleh sebab itu, pemberdayaan masyarakat berkaitan erat dengan pemantapan, pengalaman demokrasi dan pembudayaan. Perencanaan pembangunan yang berorientasi kepada pemberdayaan masyarakat antara lain meliputi pokok sebagai berikut: 1) Mengenali dasar masalah yang menjadi penyebab ketidakberdayaan di masyarakat yang pada gilirannya telah menciptakan kesenjangan 2) Mengidentifikasi alternative dalam memecahkan masalah yang terjadi 3) Menetapkan alternatif atau beberapa alternated yang dipilih dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia dan juga dapat dimanfaatkan, diperhatikan asas efisiensi dan efektivitas serta mengembangkan potensi yang dapat dikembangkan. 33

9 Terdapat berbagai alternative dalam pemberdayaan masyarakat menurut Kartasasmitha (1996a) yakni: 1) Alternatif kebijaksanaan makro yang berlaku secara nasional dan bersifat umum tidak merugikan bahkan menguntungkan masyarakat yang lemah, baik dalam kedudukan social maupun ekonominya. 2) Alternatf kebijaksanaan sectoral, yang berkenaan dengan dan ada dalam lingkungan sectoral tertentu yang mana tidak merugikan dan sebagaimana keharusan untuk menguntungkan masyarakat lemah 3) Alternatif kebijaksanaan regional, yang dilaksanakan dalam suatu kawasan dan wilayah tertentu yang untuk mendahulukan kepentingan masyarakat yang tertinggal ataupun terbelakang di wilayah tersebut 4) Alternatif kebijakan khusus yang ditujukan pada golongan masyarakat lemah, tertinggal dan terbelakang yang memerhitungkan kebhinekaan masyarakat, perbedaan tingkat perkembangannya, keragaman kebutuhannya sehingga tidak menyamaratakan dan senantiasa memerhatikan kondisi setempat Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan ekonomi dengan paradigma baru yang berpusat pada rakyat, partisipatif, berdaya dan berkelanjutan. (Noor, 2011). Pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu strategi alternatif dalam pembangunan sebenarnya tidak dilaksanakan secara maksimal, tetapi telah berkembang dengan berbagai literatur dan gagasan. Pembangunan dan pemberdayaan Gereja banyak diperdebatkan di Gereja karena berkaitan dengan kemajuan dan perubahan negara ini di masa depan. Dari perspektif penyelenggaraan pemerintahan nasional, pemberdayaan masyarakat bukan sekedar istilah ekonomi, tetapi secara implisit berarti pelaksanaan demokrasi ekonomi. Oleh karena itu, konsep ekonomi yang dimaksud meliputi akses pasar, penguasaan tehnologi, kepemilikan modal dan keterampilan manajemen. 34

10 Sebagaimana agar upaya demokrasi ekonomi dapat berjalan, aspirasi perlu ditangkap dan dirumuskan secara jelas oleh birokrasi pemerintah dan dimasukkan ke dalam perumusan kebijakan publik untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh masyarakat (Noor, 2011). Sementara itu Osmani (Haris, 2014) mendefinisikan Pemberdayaan adalah pembentukan situasi di mana orang-orang yang tidak berdaya dapat mengungkapkan keinginannya dan sekaligus merasa terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan. Adapun menurut World bank (Margayaningsih, 2018) lebih mengartikan kegiatan pemberdayaan adalah upaya membekali kelompok masyarakat, dalam hal ini keluarga miskin, dengan keberanian dan keterampilan untuk berani mengungkapkan gagasan dan pendapat serta membuat pilihan berupa metode, produk, tindakan dan konsep untuk dipertimbangkan. Besar untuk masyarakat serta keluarga dan individu. 1. Wisata Edukasi Pariwisata merupakan salah satu sektor dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Pariwisata diharapkan terus tumbuh kuat sehingga perekonomian negara dapat ditingkatkan melalui kegiatan pariwisata melalui berbagai pengembangan dan rencana pengembangan pariwisata oleh pemerintah. Selain itu, pengelolaan pariwisata yang baik berdampak positif pada berbagai sektor industri lainnya, sehingga banyak masyarakat yang dapat menyadari manfaat pariwisata. Sektor ini memiliki potensi pengembangan yang baik sebagai sumber pendapatan daerah hingga nasional (Priyanto et al., 2018). Pengertian potensi wisata menurut Mariotti dalam Yoeti (2008) segala sesuatu yang termasuk dalam suatu daerah yang memiliki tujuan wisata dan merupakan daya tarik bagi wisatawan agar tertarik untuk mengunjungi lokasi tersebut. Oleh karena itu, kemungkinan pariwisata dapat diperluas ke tempat-tempat wisata. Kemungkinan pariwisata dapat dibagi menjadi 35

11 tiga jenis: kemungkinan alam, kemungkinan budaya, dan kemungkinan manusia. a. Alam Alam dimaknai sebagai keadaan dan jenis flora dan fauna dalam suatu kawasan bentang alam suatu kawasan, seperti pantai dan hutan (kondisi fisik kawasan). Manfaat dan keunikan alam tentunya akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata ini jika dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi daerah sekitarnya. b. Kebudayaan Budaya berarti segala hasil cipta, rasa, dan karsa manusia berupa warisan sejarah leluhur berupa adat istiadat, kerajinan tangan, kesenian, bangunan, monumen dan sejenisnya. Manusia juga berpotensi untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata melalui pertunjukan tari daerah dan penyajian budaya. c. Manusia Manusia juga dapat dimaknai sebagai sumber daya potensial yang berperan dalam mengelola lingkungan setempat menjadi daerah wisata. Wisata edukasi dapat diartikan sebagai wisata minat khusus yang biasanya dikaitkan dengan waktu, hobi, dan kegiatan rekreasi yang memadukan antara rekreasi dan pendidikan. Wisata edukasi adalah wisata yang bertujuan untuk memberikan gambaran, studi banding, atau pengetahuan tentang bidang pekerjaan yang dikunjungi. Jenis wisata ini juga digunakan sebagai study trip atau kunjungan ilmu (Suwantoro, 1997). Wisata edukasi tentunya merupakan konsep wisata yang bernilai positif, yang merupakan perpaduan antara pembelajaran dan kegiatan wisata. Wisata pendidikan merupakan kegiatan belajar informal dan tidak seketat kegiatan belajar di kelas. Selain itu, implementasi konsep ini lebih erat dengan konsep edutainment, pembelajaran dengan aktivitas yang menyenangkan. Tujuan utama dari wisata edukasi adalah untuk memberikan kepuasan maksimal dan pengetahuan baru kepada wisatawan. Wisata edukatif adalah suatu program bagi pengunjung kegiatan wisata 36

12 khususnya anak-anak untuk berwisata ke daerah tujuan wisata dengan tujuan utama memperoleh pengalaman dalam pembelajaran secara langsung terkait dengan daerah tujuan wisata yang telah dikunjunginya (Priyanto et al., 2018). Wisata edukasi adalah program dimana peserta wisata melakukan perjalanan ke lokasi tertentu dalam kelompok, dengan tujuan utama memberikan pengalaman belajar yang berhubungan langsung dengan lokasi yang dikunjungi (Priyanto et al., 2018). Wisata edukasi didasarkan pada pengaruh lingkungan eksternal dan mempengaruhi penawaran dan permintaan atraksi wisata edukasi untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Wisata Edukasi atau Educational Tourism adalah suatu program yang tujuan utamanya adalah agar wisatawan mengunjungi daerah tujuan wisata dan belajar langsung tentang obyeknya. (Rodger, 1998: 28). Menurut Administrasi Umum PHKA, educationism adalah penganekaragaman daya tarik wisata dari wisata alam (ekowisata) dengan tujuan untuk memperluas dan memperluas produk wisata alam (Khadijah et al., 2020). Karena wisata edukasi merupakan turunan atau subtipe dari objek wisata alam (ekowisata), maka dasar pengembangannya tidak banyak berubah dan menggunakan prinsip-prinsip ekowisata. Kegiatan wisata edukasi dan kegiatan ekowisata lainnya juga memiliki unsur fasilitas dan pelayanan. Berdasarkan konsep pendidikan ini, wisata edukasi adalah gagasan menerapkan pendidikan nonformal pada pengetahuan wisatawan ketika mengunjungi tempat wisata. Penerapan konsep wisata edukatif merupakan konsep yang multifaset dan inter disipliner sehingga memerlukan persiapan yang matang dan pengawasan yang cermat dalam penerapannya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Konsep wisata edukasi lahir karena proses pendidikan formal yang membosankan. Perjalanan pendidikan ini bersifat formal, ketat dan tidak membosankan, sehingga dapat dijadikan sebagai celah dalam proses pendidikan. Perjalanan edukasi ini juga akan berdampak besar pada perluasan pengetahuan dan tujuan wisata. 37

13 2. Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) merupakan program yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa Republik Indonesia yang merupakan bagian wujud dari rancangan rencana strategis tahun yang tertuang dalam Peraturan Menteri Desa dalam bidang prioritas pembangunan Desa melalui Pembangungan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) membangun dari pinggiran dengan memperkuat Daerah-daerah dan Desa dalam kerangka negara kesatuan. Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) sebagai pemanfaatan Dana Desa yang tidak lagi memfokuskan pembiayaan pembangunan infrastruktur, namun lebih diarahkan pada sektor pengembangan usaha-usaha ekonomi Desa. Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) adalah bagian dari program Inovasi Desa yang merupakan program Kementerian Desa PDTT yang sumber pendanaannya dari Loan Bank Dunia. Program ini dilaksanakan menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo dalam mendorong pengembangan ekonomi Desa. Keberadaan program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) harus mampu menciptakan model usaha yang menjadi acuan pembelajaran bagi Desa-desa lain dengan tujuan kegiatan usaha masyarakat dapat terbantu. Tujuan dari Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) menurut Dirjen PPMD sebagai berikut : a. Mendorong peningkatan kapasitas maupun kualitas produk masyarakat. b. Ada inovasi ruang untuk berkembang c. Pengembangan usaha ekonomi Desa Prinsip yang dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) dalam pengembangan Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) ditujukan 38

14 oleh Desa yang berhak menerima Dana Desa dari Kementerian Desa melalui peran pembantu Pemerintah Daerah. 3. Pra Sejahtera Keluarga pra sejahtera adalah suatu kelompok mereka (masyarakat) yang paling tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Sedangkan keluarga sejahtera adalah keluarga yang didirikan melalui pernikahan sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup dan berbakti kepada Tuhan YME, serta memiliki hubungan yang serasi dan seimbang antar masyarakat serta lingkungan hidup (UU Nomor 52 Tahun 2009). Indikator keluarga berikut dapat dikategorikan sebagai keluarga sejahtera menurut BKKBN (2011) yaitu : Tabel 2. 2 Indikator Keluarga menurut BKKBN KATEGORI Basic needs Psychological needs Developmental needs Self esteem KPS No No No No KS I Yes No No No KS II Yes Yes No No KS III Yes Yes Yes No KS III+ Yes Yes Yes Yes Keterangan : KPS KS I KS II : Keluarga Pra Sejahtera : Keluarga sejahtera I : Keluarga sejahtera II 39

15 KS III KS III+ : Keluarga sejahtera III : Keluarga sejahtera III+ 4. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) a. Definisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Badan Usaha Milik Desa adalah unit usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa dengan ikut serta secara langsung dari kekayaan desa, aset, jasa, dan untuk kepentingan masyarakat desa, dipisahkan untuk mengelola usaha lain (UU RI, 2014). BUMDes adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah desa dan masyarakat untuk mengelola kebutuhan dan perekonomian desa, serta penyelenggaraan dan kepemilikan modalnya dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat. Pembinaan BUMDes dilakukan agar maksud dan tujuan dapat tercapai dan dikelola secara terarah dan profesional. Badan usaha milik Desa (BUMDes) Lahir dari suatu pedekatan baru dalam usaha peningkatan ekonomi Desa berdasarkan kebutuhan potensi desa, pengelolaan BUMDes sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat desa, yaitu dari desa, oleh Desa dan untuk Desa (Verawati, 2020). Menurut buku panduan pendirian dan pengelolaan badan usaha milik Desa (BUMDes) dapartemen pendidikan nasional pustaka kajian dinamika sistem pembangunan fakultas ekonomi universitas Brawijaya (PKDSP, 2007) Dari beberapa definisi diatas dapat di simpulkan bahwa badan usaha milik Desa (BUMDes) adalah badan usaha yang dikelola oleh masyarakat Desa sesuai dengan potensi Desa yang ada. a. Tujuan Pendirian BUMDes 1) Tujuan Utama Pendirian BUMDes Berdasarkan Permendes No 04 tahun 2015 ada delapan tujuan utama pendirian BUMDes. a. Dapat Meningkatkan dalam perekonomian Desa 40

16 b. Mengoptimalkan aset Desa dengan tujuan bermanfaat untuk kesejahteraan Desa c. Meningkatkan kelompok usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi pada ekonomi Desa d. Dapat mengembangkan rencana kerja sama usaha antar Desa dan/atau dengan pihak ketiga e. Menciptakan suatu peluang terutama pada jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga f. Memperluas lapangan pekerjaan g. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Desa h. Meningkatkan pendapatan masyarakat Desa dan Pendapatan Asli Desa. b. Prinsip Pengelolaan BUMDes Pengelolaan BUMDes membutuhkan strategi dan informasi yang kuat mengenai kondisi wilayah karakteristik masyarakat, peluang pasar atas produk maupun jasa yang akan diproduksi. Untuk menyusun hal tersebut, diperlukan prinsip pengelolaan yang baik sehingga BUMDes mampu menjadi badan yang lebih mengedepankan masyarakat. Prinsip-prinsip pengelolaan ini penting untuk dijelaskan agar mudah dipahami dan dikenal oleh seluruh stack holder BUMDes. Terdapat enam prinsip pengelolaan BUMDes, sebagai berikut (Arnis, 2018): 1) Kooperatif, Kerjasama seluruh komponen diperlukan agar keberlangsungan dan pengembangan usaha dapat dilakukan dengan baik. 2) Partisipatif, kontribusi diperlukan dalam mendorong kemajuan usaha dari seluruh anggota baik secara sukarela ataupun diminta. 41

17 3) Emansipatif, kesetaraan dalam pengelolaan membuat diskriminasi berkurang sehingga demokrasi tetap terjaga. 4) Transparan, seluruh proses dan hasil kegiatan dapat diakses informasinya secara terbuka bagi seluruh masyarakat dengan luas dan mudah. 5) Akuntabel, pertanggung jawaban kegiatan harus dilaporkan secara teknis dan administratif. 6) Berkelanjutan, keberlangsungan usaha dapat dilanjutkan dan dikembangkan dari generasi ke generasi. 42

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pariwisata Pariwisata merupakan semua gejala-gejala yang ditimbulkan dari adanya aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh seseorang dari tempat tinggalnya dalam waktu sementara,

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KARAWANG PERATURAN BUPATI KARAWANG

BERITA DAERAH KABUPATEN KARAWANG PERATURAN BUPATI KARAWANG BERITA DAERAH KABUPATEN KARAWANG NO. 32 2011 SERI. E PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 32 TAHUN 2010 TENTANG KAMPUNG BUDAYA GERBANG KARAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Ekowisata Di Kawasan Hutan Mangrove Tritih Cilacap

Ekowisata Di Kawasan Hutan Mangrove Tritih Cilacap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi sumber daya alam hutan serta perairannya berupa flora, fauna dan ekosistem termasuk di dalamnya gejala alam dengan keindahan alam yang dimiliki oleh bangsa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. proses untuk menarik wisatawan dan pengunjung lainnya (McIntosh : 4, 1972). Kepariwisataan

BAB I PENDAHULUAN. proses untuk menarik wisatawan dan pengunjung lainnya (McIntosh : 4, 1972). Kepariwisataan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pariwisata dapat diartikan sebagai seluruh kejadian dan hubungan yang timbul dari atraksi para wisatawan, penyalur jasa, pemerintah setempat, dan komunitas setempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada pengembangan sektor jasa dan industri, termasuk di dalamnya

BAB I PENDAHULUAN. kepada pengembangan sektor jasa dan industri, termasuk di dalamnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paradigma pembangunan di banyak negara kini lebih berorientasi kepada pengembangan sektor jasa dan industri, termasuk di dalamnya adalah perkembangan industri pariwisata

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG 1 PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINTANG NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN DAERAH KABUPATEN SINTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINTANG,

Lebih terperinci

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN GORONTALO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PERENCANAAN, PELAKSANAAN PEMBANGUNAN, PEMANFAATAN, DAN PENDAYAGUNAAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PERJALANAN WISATA PENGENALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA

Lebih terperinci

Pengelolaan. Pembangunan Desa Edisi Desember Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pengelolaan. Pembangunan Desa Edisi Desember Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Buku Bantu Pengelolaan Pembangunan Desa Edisi Desember 2016 PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014

Lebih terperinci

BAB IV PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DAN POTENSI PARIWISATA DI DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KOTA AGUNG TIMUR KABUPATEN TANGGAMUS

BAB IV PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DAN POTENSI PARIWISATA DI DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KOTA AGUNG TIMUR KABUPATEN TANGGAMUS BAB IV PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DAN POTENSI PARIWISATA DI DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KOTA AGUNG TIMUR KABUPATEN TANGGAMUS A. Potensi Sumber Daya Pengembangan Wisata di Desa Kampung Baru Kecamatan

Lebih terperinci

Pengelolaan. Pembangunan Desa. Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN

Pengelolaan. Pembangunan Desa. Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN Buku Bantu Pengelolaan Pembangunan Desa PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN Berdasarkan Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa Buku Bantu

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. yang bersifat terpusat (sentralistik) berubah menjadi desentralisasi melalui

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. yang bersifat terpusat (sentralistik) berubah menjadi desentralisasi melalui BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Semenjak Reformasi terdapat beberapa perubahan kebijakan dalam paradigma pembangunan nasional, diantaranya adalah paradigma pembangunan yang bersifat terpusat (sentralistik)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. unggulan di Indonesia yang akan dipromosikan secara besar-besaran di tahun 2016.

BAB I PENDAHULUAN. unggulan di Indonesia yang akan dipromosikan secara besar-besaran di tahun 2016. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata mempersiapkan 10 destinasi wisata unggulan yang akan menjadi prioritas kunjungan wisatawan di tahun 2016, dan Flores

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, selain itu juga dikenal sebagai kota

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, selain itu juga dikenal sebagai kota BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, selain itu juga dikenal sebagai kota budaya dan juga pariwisata. Salah satu sektor yang berperan penting dalam pendapatan daerah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TAHUN 2013-2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Lex Et Societatis Vol. V/No. 9/Nov/2017

Lex Et Societatis Vol. V/No. 9/Nov/2017 PENGELOLAAN DANA DESA BERDASARKAN UU NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA 1 Oleh : Roosje M.S. Sarapun 2 ; Audi H. Pondaag 3 ; Noldy Mohede 4. ABSTRAK Dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional untuk terciptanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam berbagai bentukan alam, struktur historik, adat budaya, dan sumber daya lain yang terkait dengan wisata.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau

Lebih terperinci

ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING

ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING MODEL PENGEMBANGAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT SUKU USING BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ketua/Anggota Peneliti: Dra.

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT KEMENTERIAN PANRB. Sekretariat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2015

RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT KEMENTERIAN PANRB. Sekretariat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2015 RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT KEMENTERIAN PANRB Sekretariat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2015 Kata Pengantar Sekretariat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Desa Karangtengah merupakan salah satu desa agrowisata di Kabupaten Bantul,

BAB I PENDAHULUAN. Desa Karangtengah merupakan salah satu desa agrowisata di Kabupaten Bantul, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Desa Karangtengah merupakan salah satu desa agrowisata di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Letaknya berdekatan dengan tempat wisata makam raja-raja Mataram. Menurut cerita

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. yang dimaksud adalah taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam

BAB I. PENDAHULUAN. yang dimaksud adalah taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wisata alam oleh Direktorat Jenderal Pariwisata (1998:3) dan Yoeti (2000) dalam Puspitasari (2011:3) disebutkan sebagai kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan beribu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan beribu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan beribu pulau yang terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudera,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN BUMI PERKEMAHAN PENGGARON KABUPATEN SEMARANG

PENGEMBANGAN BUMI PERKEMAHAN PENGGARON KABUPATEN SEMARANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata adalah kegiatan seseorang dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan perbedaan waktu kunjungan dan motivasi kunjungan. Menurut Pendit

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada).

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM DI SUAKA MARGASATWA, TAMAN NASIONAL, TAMAN HUTAN RAYA, DAN TAMAN WISATA ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TABALONG, Menimbang : a. bahwa kondisi wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBANGUNAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBANGUNAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA HASIL PANSUS FINAL 9-05-09_26-5-09 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBANGUNAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Museum dalam..., Faika Rahima Zoraida, FE UI, 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Museum dalam..., Faika Rahima Zoraida, FE UI, 2010. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya budaya. Keragaman budaya yang dimiliki melalui peristiwa sejarah yang panjang sudah seharusnya diapresiasi masyarakat dan diketahui

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM DI SUAKA MARGASATWA, TAMAN NASIONAL, TAMAN HUTAN RAYA, DAN TAMAN WISATA ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB IV TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB IV TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Blitar Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Tahun Tahun

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Tahun Tahun I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Hal ini berdasarkan pada pengakuan berbagai organisasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki panorama alam yang indah yang akan memberikan daya tarik

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki panorama alam yang indah yang akan memberikan daya tarik I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki panorama alam yang indah yang akan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik itu alam pegunungan (pedesaan), alam bawah laut, maupun pantai.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata memiliki peran yang semakin penting dan memiliki dampak positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013). Dengan adanya misi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nusantara maupun wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan. yang dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan di bidang pariwisata.

BAB I PENDAHULUAN. nusantara maupun wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan. yang dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan di bidang pariwisata. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak potensi alam baik di daratan maupun di lautan. Keanekaragaman alam, flora, fauna dan, karya cipta manusia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara ataupun bagi daerah objek wisata tersebut. antara lain unsur budaya, transportasi, akomodasi, objek wisata tersebut

BAB I PENDAHULUAN. negara ataupun bagi daerah objek wisata tersebut. antara lain unsur budaya, transportasi, akomodasi, objek wisata tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan alam yang sangat besar, dimana terdiri dari beribu-ribu pulau yang tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

Lebih terperinci

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik diajukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memunculkan sebuah minat berkunjung yang terdiri dari pengenalan akan

BAB I PENDAHULUAN. memunculkan sebuah minat berkunjung yang terdiri dari pengenalan akan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perilaku wisatawan merupakan serangkaian tindakan yang diambil oleh individu, kelompok atau organisasi. Serangkaian tindakan tersebut terdiri dari input, proses,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM DI SUAKA MARGASATWA, TAMAN NASIONAL, TAMAN HUTAN RAYA, DAN TAMAN WISATA ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan

Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan I. PENDAHULUAN Pembangunan harus dipahami sebagai proses multidimensi yang mencakup perubahan orientasi dan organisasi sistem sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi seperti sekarang ini, pembangunan dunia pariwisata dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan suatu daerah. Pengembangan

Lebih terperinci

- 2 - sistem keuangan dan sukses bisnis dalam jangka panjang dengan tetap berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Tujuan pemba

- 2 - sistem keuangan dan sukses bisnis dalam jangka panjang dengan tetap berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Tujuan pemba PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 51 /POJK.03/2017 TENTANG PENERAPAN KEUANGAN BERKELANJUTAN BAGI LEMBAGA JASA KEUANGAN, EMITEN, DAN PERUSAHAAN PUBLIK I. UMUM Untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

newsletter Terbitan No. 1, Mei 2009

newsletter Terbitan No. 1, Mei 2009 newsletter Terbitan No. 1, Mei 2009 Mengapa Kebudayaan? Tujuan, Komponen Utama Bagaimana cara kerjanya?, Tentang PNPM Mandiri Perdesaan, Kegiatan Kegiatan Mendatang Kegiatan Budaya Meramaikan Pertemuan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 5 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 5 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 5 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pegunungan yang indah, hal itu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk

BAB I PENDAHULUAN. pegunungan yang indah, hal itu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan keindahan alam dan beraneka ragam budaya. Masyarakat Indonesia dengan segala hasil budayanya dalam kehidupan bermasyarakat,

Lebih terperinci

PERENCANAAN KINERJA BAB. A. Instrumen untuk mendukung pengelolaan kinerja

PERENCANAAN KINERJA BAB. A. Instrumen untuk mendukung pengelolaan kinerja BAB II PERENCANAAN KINERJA A. Instrumen untuk mendukung pengelolaan kinerja Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik senantiasa melaksanakan perbaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjangkau kalangan bawah. Masyarakat di sekitar obyek-obyek wisata

BAB I PENDAHULUAN. menjangkau kalangan bawah. Masyarakat di sekitar obyek-obyek wisata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pariwisata sebagai penggerak sektor ekonomi dapat menjadi solusi bagi pemerintah dalam meningkatkan pembangunan ekonomi. Sektor pariwisata tidak hanya menyentuh

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2013-2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan erat dengan pelestarian nilai-nilai kepribadian dan. pengembangan budaya bangsa dengan memanfaatkan seluruh potensi

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan erat dengan pelestarian nilai-nilai kepribadian dan. pengembangan budaya bangsa dengan memanfaatkan seluruh potensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal, termasuk didalamnya sektor pariwisata. Untuk lebih memantapkan pertumbuhan

Lebih terperinci

1. Bab I Pendahuluan Latar belakang

1. Bab I Pendahuluan Latar belakang 1. Bab I Pendahuluan 1.1. Latar belakang Wisata alam merupakan salah satu alternatif wisata untuk membuat pikiran kembali rileks dan mengurangi tingkat stress masyarakat setelah lama berkutat dengan rutinitas

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.244, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Otonomi. Pemilihan. Kepala Daerah. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG DESA WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kepariwisataan merupakan salah satu sektor industri didalam

BAB I PENDAHULUAN. Kepariwisataan merupakan salah satu sektor industri didalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepariwisataan merupakan salah satu sektor industri didalam pembangunan nasional. Hal ini dilakukan karena sektor pariwisata diyakini dapat dijadikan sebagai

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepariwisataan meliputi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan wisata, pengusahaan, objek dan daya tarik wisata serta usaha lainnya yang terkait. Pembangunan kepariwisataan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rakyat Indonesia, dewasa ini Pemerintah sedang giat-giatnya melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. rakyat Indonesia, dewasa ini Pemerintah sedang giat-giatnya melaksanakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rangka usaha untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia, dewasa ini Pemerintah sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2013-2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

Implementasi Program Pemberdayaan Masyarakat Upaya penanggulangan kemiskinan yang bertumpu pada masyarakat lebih dimantapkan kembali melalui Program

Implementasi Program Pemberdayaan Masyarakat Upaya penanggulangan kemiskinan yang bertumpu pada masyarakat lebih dimantapkan kembali melalui Program Implementasi Program Pemberdayaan Masyarakat Upaya penanggulangan kemiskinan yang bertumpu pada masyarakat lebih dimantapkan kembali melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK) mulai tahun Konsepsi Pemberdayaan

Lebih terperinci

Kegiatan Belajar 1: Mengkonstruksi Industri Pariwisata

Kegiatan Belajar 1: Mengkonstruksi Industri Pariwisata Kegiatan Belajar 1: Mengkonstruksi Industri Pariwisata Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan 1. Menggambarkan karakteristik industry dan produk pariwisata 2. Mengenali dan membedakan potensi kepariwisataan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. wisata alam tersebar di laut, pantai, hutan dan gunung, dimana dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. wisata alam tersebar di laut, pantai, hutan dan gunung, dimana dapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar pada atraksi alam. Objek wisata alam tersebar di laut, pantai, hutan dan gunung, dimana dapat dikembangkan untuk daerah

Lebih terperinci

BAB II PENGATURAN PEMERINTAH DESA DALAM MENDIRIKAN BADAN USAHAMILIK DESA. A. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Badan Usaha Milik Desa

BAB II PENGATURAN PEMERINTAH DESA DALAM MENDIRIKAN BADAN USAHAMILIK DESA. A. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Badan Usaha Milik Desa BAB II PENGATURAN PEMERINTAH DESA DALAM MENDIRIKAN BADAN USAHAMILIK DESA A. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Badan Usaha Milik Desa BUMDesa didirikan dengan kesepakatan melalui musyawarah desa yang ditetapkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.228, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Strategis. Penyelenggaraan. Tata Cara. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5941) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI PURWOREJO PROVINSI JAWA TENGAH BUPATI PURWOREJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu kaya, indah dan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu kaya, indah dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu kaya, indah dan menakjubkan. Kondisi kondisi alamiah seperti letak dan keadaan geografis, lapisan tanah yang subur

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara.

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara. 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara. Berkembangnya pariwisata pada suatu negara atau lebih khusus lagi pemerintah daerah tempat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan suatu daerah. Dengan pengelolaan yang baik, suatu obyek wisata dapat menjadi sumber pendapatan yang besar.menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata bergerak dari tiga aktor utama, yaitu masyarakat (komunitas

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata bergerak dari tiga aktor utama, yaitu masyarakat (komunitas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pariwisata bergerak dari tiga aktor utama, yaitu masyarakat (komunitas lokal) yang berperan sebagai informal business unit, sektor swasta sebagai formal business unit,

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA SEMINAR INTERNASIONAL TEMU ILMIAH NASIONAL XV FOSSEI JOGJAKARTA, 4 MARET 2015 DR HANIBAL HAMIDI, M.Kes DIREKTUR PELAYANAN SOSIAL

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki kawasan Indonesia menjadikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki kawasan Indonesia menjadikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki kawasan Indonesia menjadikan Indonesia memiliki banyak potensi untuk dikembangkan baik dalam sektor pertanian, perkebunan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berusaha, memperluas kesempatan kerja, dan lain sebagainya (Yoeti, 2004).

I. PENDAHULUAN. berusaha, memperluas kesempatan kerja, dan lain sebagainya (Yoeti, 2004). I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keragaman kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia, seperti potensi alam, keindahan alam, flora dan fauna memiliki daya tarik untuk dikunjungi oleh wisatawan

Lebih terperinci

MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM *

MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM * MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM * DPR-RI dan Pemerintah telah menyetujui RUU Desa menjadi Undang- Undang dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 18 Desember

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber penghasil devisa potensial selain sektor migas. Indonesia sebagai suatu negara kepulauan memiliki potensi alam dan budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pergeseran konsep kepariwisataan dunia kepada pariwisata minat khusus atau yang salah satunya dikenal dengan bila diterapkan di alam, merupakan sebuah peluang besar

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dan terletak di garis khatulistiwa dengan luas daratan 1.910.931,32 km 2 dan memiliki 17.504 pulau (Badan Pusat Statistik 2012). Hal

Lebih terperinci

Perspektif Kemendes No. 3 Tahun 2015

Perspektif Kemendes No. 3 Tahun 2015 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA Perspektif Kemendes No. 3 Tahun 2015 Disampaikan dalam Acara : Sosialisasi Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Yerik Afrianto S dalam diunduh tanggal 23

BAB I PENDAHULUAN. (Yerik Afrianto S dalam  diunduh tanggal 23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah kurang lebih 18.110 pulau dan garis pantai sepanjang 108.000 km (Yerik Afrianto S dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. September Matriks Rencana Tindak Pembangunan Jangka Menengah per Kementerian/Lembaga.

BAB I PENDAHULUAN. September Matriks Rencana Tindak Pembangunan Jangka Menengah per Kementerian/Lembaga. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor andalan pembangunan perekonomian nasional, merupakan peran yang signifikan. Secara nasional, sektor pariwisata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan konsep

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan konsep BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah Indonesia periode tahun 2014-2019, mengesahkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 dengan konsep membangun Indonesia dari pinggir.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam penyelenggaraan otonomi daerah seperti diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah memberikan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam penyelenggaraan otonomi daerah seperti diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah memberikan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam penyelenggaraan otonomi daerah seperti diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewenangan yang luas nyata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. alam yang luar biasa yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata dengan

BAB I PENDAHULUAN. alam yang luar biasa yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Bobonaro merupakan sebuah kabupaten yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata dengan banyaknya potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. budaya yang semakin arif dan bijaksana. Kegiatan pariwisata tersebut

BAB I PENDAHULUAN. budaya yang semakin arif dan bijaksana. Kegiatan pariwisata tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pariwisata di Indonesia saat ini telah memberikan sumbangan dalam meningkatkan devisa maupun lapangan kerja. Sektor pariwisata juga membawa dampak sosial,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu produk yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara cepat dalam hal kesempatan kerja, peningkatan taraf hidup yaitu dengan mengaktifkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dusun Srowolan adalah salah satu Dusun di Desa Purwobinangun, UKDW

BAB I PENDAHULUAN. Dusun Srowolan adalah salah satu Dusun di Desa Purwobinangun, UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dusun Srowolan adalah salah satu Dusun di Desa Purwobinangun, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dusun ini terletak 20 km di sebelah utara pusat Propinsi Kota Yogyakarta

Lebih terperinci

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI 1. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau dan memiliki panjang garis pantai 81.000 km yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkiraan jumlah wisatawan internasional (inbound tourism) berdasarkan perkiraan

BAB I PENDAHULUAN. perkiraan jumlah wisatawan internasional (inbound tourism) berdasarkan perkiraan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensial dan prioritas pengembangan bagi sejumlah negara, terlebih bagi negara berkembang

Lebih terperinci

BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN 1 BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BALANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Desa Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

UU 15/1997, KETRANSMIGRASIAN. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 15 TAHUN 1997 (15/1997) Tanggal: 9 MEI 1997 (JAKARTA)

UU 15/1997, KETRANSMIGRASIAN. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 15 TAHUN 1997 (15/1997) Tanggal: 9 MEI 1997 (JAKARTA) UU 15/1997, KETRANSMIGRASIAN Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 15 TAHUN 1997 (15/1997) Tanggal: 9 MEI 1997 (JAKARTA) Tentang: KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PRESIDEN

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Gambar 1. Perkembangan Wisatawan Mancanegara Tahun Sumber: Badan Pusat Statistik (2011)

I PENDAHULUAN. Gambar 1. Perkembangan Wisatawan Mancanegara Tahun Sumber: Badan Pusat Statistik (2011) I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kekayaan alam merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang harus dimanfaatkan dan dilestarikan. Indonesia diberikan anugerah berupa kekayaan alam yang

Lebih terperinci

NOMOR 7 TAHUN 2017 TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG,

NOMOR 7 TAHUN 2017 TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG, SALINAN BUPATI BULELENG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tempat obyek wisata berada mendapat pemasukan dari pendapatan setiap obyek

BAB I PENDAHULUAN. tempat obyek wisata berada mendapat pemasukan dari pendapatan setiap obyek 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara, dengan adanya pariwisata suatu negara atau lebih khusus lagi pemerintah daerah tempat

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci