PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA YANG BUTA HURUF DI BONTOMARANNU KABUPATEN TAKALAR SKRIPSI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA YANG BUTA HURUF DI BONTOMARANNU KABUPATEN TAKALAR SKRIPSI"

Transkripsi

1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA YANG BUTA HURUF DI BONTOMARANNU KABUPATEN TAKALAR SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar Oleh: SYAMSIAH UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI 2015

2

3

4

5

6 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan mudah bila dikerjaan tanpa keengganan Jangan tunda sampai besok apa yang bisa engkau kerjakan hari ini Kebersamaan menumbuhkan rasa persahabatan, Persahabatan menumbuhkan rasa persaudaraan (Spesial to rekan-rekan S1 pendidikan Sosiologi 011) Kupersembahkan karya yang sederhana ini semata-mata hanyalah kepada kedua orang tuaku yang selama ini telah membesarkan, memberi semangat dan yang tak hentihentinya mendoakan demi kebahagiaan dan kesuksesan anaknya, serta seluruh keluarga dan teman-temanku yang senantiasa mendoakan dan membantu atas segala keberhasilanku

7 ABSTRAK Syamsiah Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Hidayah Quraisy dan Rosleny Babo. Penelitian tentang pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriftif Kualitatif ditunjang pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, teknik dokumentasi dari hasil foto dan arsip yang dimiliki pemerintah setempat. Dalam penelitian ini Pemerintah setempat, pengelolah, tutor atau pengajar, dan masyarakat yang buta huruf di desa Bontomarannu yang dianggap bisa memberikan informasi atau data yang sesuai dengan penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa apa yang diharapkan oleh pemerintah dengan diselenggarakannya program Pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf telah tercapai, yaitu adanya kemajuan warga belajar dalam bidang sosial maupun ekonomi. Secara sosial, masyarakat yang dulunya buta huruf sekarang mampu membaca, menulis, dan berhitung. Sedangkan secara ekonomi, masyarakat mampu berwirausaha secara mandiri dengan menerapkan materi keterampilan fungsional yang telah diberikan pada waktu proses pembelajaran program pengentasan buta huruf yang dilaksanakan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Satria Galesong. Kata Kunci : Pemberdayaan, Masyarakat, Desa, Buta Huruf.

8 KATA PENGANTAR AssalamuAlaikumWr. Wb. Syukur Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Pemilik segalaa kesempurnaan, memiliki segala ilmu dan kekuatan yang tak terbatas, yang telah memberikan kami kekuatan, kesabaran, ketenangan, dan karunia selama ini sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Pemberdayaan Masyarakat Desa Yang Buta Huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Dan tak lupa pula penulis kirimkan salawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa penerapan dan menjadi penunjuk jalan kebenaran bagi umat manusia. Dalam Prosess penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat dukungan dan bantuan dari pihak pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah ikut menyumbangkann pikiran, tenaga dan inspirasi bagi penulis. Oleh karena itu, penulis dengan sangat berterima kasih atas pihak pihak dibawah ini yang telah turut serta dalam membantu penulis hingga selesainya skripsi ini. Ucapan banyak terima kasih khususnya kepada kedua orang tua saya Ayahanda Seni Dg. Sewang dan Ibunda Saliama Dg. Sayu yang telah membesarkan dan membimbing saya. Selama penyusunan skripsi ini, penulis menghadapi berbagai hambatan dan tantangan namunn berkat bimbingan, motivasi, dan sumbangann pemikiran dari berbagai pihak, segala hambatan dan tantangan yang di hadapi penulis dapat teratasi. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat penulis menghaturkan banyak

9 terima kasih yang sebesar besarnya kepada Dra. Hidayah Quraisy, M. Pd, pembimbing I dan Dra. Hj. Rosleny Babo, M.Si, Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal proposal hingga selesainya skripsi ini. Selanjutnya dengan penuh rasa hormat penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada Dr. H. Irwan Akib, M. Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dr. H. Nursalam, M. Si, dan Muhammad Akhir S. Pd., M. Pd. Ketua jurusan dan sekertaris jurusan pendidikan sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan segenap dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Keluarga besar serta Saudaraku Sahabuddin, Syarifuddin, Sattariah, Sabir, dan Suhartina yang tulus mengorbankan waktu, tenaga, materi, do a dan dukungan kepada penulis demi terselesainya skripsi ini demi meraih gelar Sarjana. Sahabat sahabat seperjuanganku di Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya Salmawati (Sikecil), Sahriana Irwan (Bebo), Salmawati (Tarakan), Muh.Dahyar, Nur Iman, Irsan, Alimuddin, Herianto, Abd. Hadi Hasan, Masdin, Andi Nurhaerani Sapriadi, serta teman teman angkatan 2011 kelas B dan Andi Eldayani, Kanda Lajiwa, teman teman PPL Pesentren Purti Yatama Mandiri, dan

10 Teman teman P2K SMA 1 POLUT terima kasih serta teman teman seperjuangan bimbingan Proposal maupun skripsi atas kebersamaan dan dukungan kalian serta bantuannya. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak sempat disebutkan satu persatu terima kasih atas bantuannya. Mengiringi penghargaan dan ucapan terima kasih penulis kepada semua pihak yang turut membantu secara langsung maupun tidak langsung. Penulis telah berusaha menyajikan skripsi ini dengan sebaik mungkin, namun disadari masih banyak kekurangan oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun agar kedepannya dapat lebih baik. Amin, Ya Rabbal Alamin! Makassar, September 2015 Penyusun

11 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii KARTU KONTROL PEMBIMBING 1... iv KARTU KONTROL PEMBIMBING 2... v SURAT PERNYATAAN... vi SURAT PERJANJIAN... vii MOTTO DAN PERSEMBAHAN... viii ABSTRAK... ix KATA PENGANTAR... x DAFTAR ISI... xiii DAFTAR TABEL... xv DAFTAR GAMBAR... xvi BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 6 C. Tujuan Penelitian... 6 D. Manfaat Penelitian... 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR... 8 A. Kajian Pustaka... 8

12 1. Konsep Pemberdayaan Masyarakat Desa Buta Huruf Kajian Teori B. Kerangka Pikir BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian B. Sasaran penelitian C. Teknik pengumpulan data D. Instrumen peneltian E. Teknik Analisis Data F. Teknik Keabsahan Data BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian B. Deskripsi Hasil Penelitian C. Pembahasan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

13 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1. Informan Tabel 4.1.1: Luas Wilayah Kabupaten Takalar Menurut Kecamatan Tabel : Jarak Dari Ibu Kota Kabupaten Ke Ibu Kota Kecamatan Tabel : Statistik daerah Kabupaten Takalar Tahun Tabel : Indikator Pendidikan Kabupaten Takalar menurut jenjang Pendidikan Tabel : Luas Desa di Kecamatan Galesong Selatan dan Jarak ke Ibukota Kecamatan dan Kabupaten Tahun Tabel: Banyaknya penduduk, rumah tangga dan kepadatan penduduk di tiap desa di kecamatan Galesong Selatan

14 DAFTAR GAMBAR Halaman 3.1. Bagan Kerangka Pikir... 35

15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang utama didalam kehidupan era sekarang ini. Pendidikan dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal dan pendidikan non formal. Ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pendidikan merupakan unsur dasar yang menentukan kecekatan seseorang berpikir tentang dirinya dan lingkungannya. Seseorang yang mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik maka akan mampu pula mengubah keluarganya, kelak dapat mengubah daerahnya kemudian dapat mengubah negara ke arah yang lebih baik. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan, pendidikan dan keterampilan sebab hal itu merupakan modal utama untuk bersaing dengan Negara lain. Melihat kondisi pendidikan di Indonesia, masih perlu dilakukan pembenahan diberbagai bidang pendidikan. Dilihat dari ruang lingkup di Indonesia yang sempit ini, masih saja ada masyarakat yang terbelakang yaitu masih banyak masyarakat yang menyandang status buta huruf. ( 2015). Buta huruf adalah ketidak mampuan membaca dan menulis baik bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Buta xv aksara juga dapat diartikan sebagai ketidak mampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Dalam kurun waktu beberapa tahun, nampak bahwa 1

16 usaha pemerintah daerah untuk menurunkan angka buta huruf tidak selalu berhasil di semua daerah. Secara nasional, Sulawesi Selatan bahkan masuk dalam kategori daerah dengan angka buta huruf yang masih tinggi. Hal tersebut didukung data temuan FIPO, di antara 23 Kabupaten Kota se Sulawesi Selatan, delapan di antaranya belum berhasil menurunkan angka buta huruf. Delapan daerah yang terdeteksi meningkat rasio buta huruf penduduk untuk usia 15 tahun ke atas di antaranya Kabupaten Jeneponto, Sinjai, Bone, Bulukumba, Pinrang, Barru, Bantaeng, dan Takalar. Yang terjadi malah sebaliknya; angka buta huruf mengalami kelonjakan. Tentunya kelonjakan itu disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya buta huruf baru, putus sekolah formal yang buta huruf kembali, dan hasil garapan pemberantasan buta huruf yang tidak tuntas dan hanya menyebut secara kualitas saja. Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas Pendidikan Kecamatan Galesong Selatan sebagai perpanjangan tangan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar bekerja sama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) berupaya untuk menggalakkan program Pemberantasan Buta huruf di seluruh Kecamatan Galesong Selatan. Sebelum dilaksanakan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf maka dilakukan sosialisasi dan pendataan terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat buta huruf masyarakat Bontomarannu. Dari Kecamatan Galesong Selatan yang terdiri dari 12 Desa salah satu diantaranya di desa Bontomarannu yang mengalami buta huruf dan terdapat 4 dusun yang penduduknya menyandang buta huruf. Oleh karena itu Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas Pendidikan Kecamatan Galesong Selatan bersama PKBM

17 merupakan wadah pemberdayaan masyarakat di tingkat kecamatan yang perlu menggalakkan program Pemberantasan Buta Huruf dengan melakukan berbagai strategi pemberdayaan masyarakat dan membekali warga belajar dengan keterampilan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu bantuan dan program yang telah diupayakan pemerintah dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat termasuk di antaranya adalah program pemberantasan Buta huruf (atau sekarang disebut dengan Keaksaraan Fungsional) melalui kelompok belajar. Akan tetapi, tidak semua peserta yang mengikuti kegiatan di kelompok belajar tersebut melanjutkan ke program selanjutnya, yaitu lanjut ke program Paket A setara SD. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya adalah warga belajar merasa cukup setelah bisa membaca dan menulis. Padahal warga belajar harus terus meningkatkan kemampuannya tersebut dengan mempelajari pelajaran yang tingkatannya lebih sulit lagi. Selain itu keterbatasan sarana belajar yang tersedia di desa, terbatasnya sumber daya manusia yang tersedia, terbatasnya dana pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di masyarakat atau faktor keengganan masyarakat memperparah keadaan yang membuat masyarakat tetap buta huruf. Para peserta program pemberantasan Buta Huruf berpotensi akan menjadi buta huruf kembali jika pengetahuan dan kemampuan membaca mereka tidak terus diasah dengan membaca dan belajar. Dan menjadi Faktor utama yang membuat masyarakat buta huruf di Desa Bontomarannu Kecamatan Galesong Selatan adalah kemiskinan, ekonomi, berbagai jenis penyakit fisik dan mental, dan anggapan orang tua bahwa sekolah itu tidak penting, sehingga banyak anak

18 anak remaja yang tidak sekolah, ada juga putus sekolah disebabkan pengaruh uang, mereka lebih mementingkan mencari uang dari pada mencari ilmu. Salah satu desa yang ada di Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar yang penduduknya masih banyak terdapat ibu ibu dan bapak bapak yang buta huruf serta remaja yang usia 15 tahun ke atas karena tidak adanya dukungan dari orang tua mereka untuk sekolah sehingga mereka lebih memilih untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Kesenjangan sosial pada bidang pendidikan adalah suatu keadaan ketidak seimbangan sosial yang ada di masyarakat Bontomarannu yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok. Dimana kesenjangan ini berakibat pertama, angka buta huruf anak laki laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan. Kesenjangan buta huruf perempuan dengan laki laki terjadi pada usia 15 tahun dan usia 45 tahun ke atas. Pada usia 15 tahun, sebanyak 8% laki laki buta huruf, sedangkan perempuan sebanyak 5%. Pada usia 45 tahun ke atas, perempuan yang buta huruf sebanyak 20%, sedangkan laki laki hanya 13%. Kedua, anak perempuan yang bisa menamatkan SLTA/sederajat dan perguruan tinggi juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak laki laki. Fenomena lainnya, anak perempuan akan menjadi korban dari praktek pernikahan dini dan korban dari norma masyarakat yang merugikan perempuan, misalnya pandangan bahwa anak perempuan lebih diperlukan dalam membantu menyelesaikan tugas sehari hari di rumah dan setelah menikah nantinya akan menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurusi masalah: dapur, sumur, dan kasur. Dan masyarakat desa Bontomarannu yang buta huruf buka saja anak remaja

19 tetapi orang tua juga. Dan lebih banyak bapak bapak buta huruf yang bekerja sebagai nelayan dan petani. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk mengubah dan membentuk kehidupan masyarakat. Pemberdayaan akan meningkatkan kemampuan anggota masyarakatnya agar dapat mengarahkan, mengendalikan, membentuk dan mengelola hidupnya. Pemberdayaan masyarakat juga akan meningkatkan kemampuan seseorang untuk dapat mengelola hidupnya secara mandiri sebagai indikator pemberdayaan meliputi kemampuan: i) Memahami masalah, ii) Menilai tujuan hidupnya, iii) Membentuk strategi, iv) Mengelola sumber daya, v) Bertindak dan berbuat. Selanjutnya pembangunan masyarakat merupakan suatu proses yang berkelanjutan dengan pendekatan holistik atau menyeluruh sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kemudian menerapkan pemberdayaan yang berpengaruh, melibatkan, dan mendidik; menjamin keseimbangan lingkungan; memastikan keberlanjutan dan kebertahanan, dan menggunakan kemitraan untuk membuka akses. Berdasarkan uraian singkat di atas dapat dikatakan bahwa pemberdayaan sangat identik dengan pendidikan dan merupakan hakikat pendidikan itu sendiri, apa yang disebut dengan pendidikan termasuk pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal adalah usaha memberdayakan manusia, memampukan manusia, mengembangkan talenta talenta yang ada pada diri manusia agar dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pembelajaran.

20 Fenomena itulah yang melatar belakangi peneliti untuk mengetahui secara mendalam pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini telah dirumuskan suatu masalah bagaimana pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar? C. Tujuan Penelitian Melalui penelitian Kualitatif ini, bertujuan untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat yang buta huruf dalam di Desa Bontomarannu Kabupaten Takalar. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dalam menambah khasanah dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada jurusan sosiologi dan sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya. 2. Manfaat Praktis a. Diharapkan bisa menjadi bahan acuan dan sekaligus mampu memberikan stimulus untuk peneliti lain yang tertarik untuk meneliti topik yang terkait sehingga studi sosiologi selalu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

21 b. Diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi sumbangsi pengetahuan bagi masyarakat tentang strategi pemerintah dalam upaya memberdayaanan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kecematan Galesong Selatan Kabupaten Takalar.

22 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka 1. Konsep Pemberdayaan Masyarakat a. Pemberdayaan Pemberdayaan berasal dari kata daya yang mendapat awalan ber yang menjadi kata berdaya artinya memiliki atau mempunyai daya. Daya artinya kekuatan, berdaya artinya memiliki kekuatan. Pemberdayaan artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau mempunyai daya atau mempunyai kekuatan. Pemberdayaan dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari empowerment dalam bahasa inggris. Pemberdayaan sebagai terjemahan dari empowerment menurut Merrian Webster dalam Oxford English Dicteonary mengandung dua pengertian : a. To give ability or enable to, yang diterjemahkan sebagai memberi kecakapan dan kemampuan atau memungkinkan. b. Togive power of authority to, yang berarti memberi kekuasaan. Dalam konteks pembangunan istilah pemberdayaan pada dasarnya bukanlah istilah baru melainkan sudah sering dilontarkan semenjak adanya kesadaran bahwa faktor manusia memegang peran penting dalam pembangunan. Mengutip definisi Pemberdayaan dari Ifz ( 1995 : 182 ) : Pemberdayaan berarti menyiapkan kepada masyarakat sumber daya, kesempatan dan peluang, pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri masyarakat itu dalam menentukan masa depan mereka, serta untuk berpartisipasi dan mempengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri. 8

23 Robinson (1994) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial; suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak. Sedangkan Ife (1995) dalam Oos M Anwas (2014: 49), mengemukakan bahwa pemberdayaan adalah menyiapkan kepada masyarakat berupa sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri masyarakat didalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan mempengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri. Payne (1997) menjelaskan bahwa pemberdayaan pada hakikatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan daya, kekuatan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan diri klien tersebut, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Orang orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan keharusan untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan, ketrampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan. Pranarka mengutip pendapat Hulme & Turner (1996:62 63), menyatakan bahwa : Pemberdayaan mendorong terjadinya suatu proses perubahan sosial yang memungkinkan orang orang pinggiran yang tidak berdaya untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal maupun nasional. Karena itu, pemberdayaan selalu akan dihadapkan pada fenomena ketidak berdayaan sebagai titik tolak dari aktivitas pembedayaan. Ketidak berdayaan yang dialami

24 oleh sekelompok masyarakat telah menjadi bahan diskusi dan wacana akademis dalam beberapa dekade terakhir ini. Di Indonesia, pemberdayaan semakin menguat berkaitan dengan penguatan demokratisasi dan pemulihan krisis ekonomi. Kieffer dalam Edi Suharto (1998 : 211) mendeskripsikan secara konkrit tentang kelompok mana saja yang mengalami ketidak berdayaan yaitu; kelompok kelompok tertentu yang mengalami diskriminasi dalam suatu masyarakat seperti masyarakat kelas ekonomi rendah; kelompok miskin, usaha kecil, pedagang kaki lima, etnis minoritas, perempuan, petani kecil, umumnya adalah orang orang yang mengalami ketidak berdayaan Menurut Sennet & Cabb (1972) dan Conway (1979) dalam Suharto (1998:209); ketidak berdayaan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketiadaan jaminan ekonomi, rendahnya akses politik, lemahnya akses informasi dan teknologi, ketiadaan dukungan finansial serta tidak tersedianya pendidikan dan pelatihan. Para teoritisi seperti Seeman (1985), Seligman (1972), dan Learner (1986) yang dirangkum Suharto meyakini bahwa: Ketidak berdayaan yang dialami oleh sekelompok masyarakat merupakan akibat dari proses internalisasi yang dihasilkan dari interaksi mereka dengan masyarakat. Kelompok masyarakat yang kurang berdaya menganggap diri mereka lemah dan tidak berdaya karena masyarakat menganggap demikian.seeman menyebutnya dengan alienasi, Seligmen menyebutnya dengan ketidak berdayaan dan Learner mengistilahkan dengan ketidak berdayaan surplus. Dari fenomena ketidak berdayaan tersebut, maka muncul berbagai tindakan pemberdayaan dengan berbagai pendekatan mulai dari program yang berkelanjutan sampai pada aktivitas aktivitas yang sporadis. Menurut Rappaport dalam Suharto (1998:3); pemberdayaan menunjuk pada usaha realokasi sumber daya melalui pengubahan struktur sosial. Pemberdayaan adalah suatu cara yang

25 diarahkan kepada masyarakat, organisasi atau komunitas agar mampu menguasai (berkuasa atas) kehidupannya. Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam (1) Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memilki kebebasan (freedom) dalam arti bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan, (2) Menjangkau sumber sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya, dan memperoleh barang barang dan jasa jasa yang mereka perlukan. (3) Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusankeputusan yang mempengaruhi mereka. Tujuan Dan Sasaran Pemberdayaan merupakan upaya meningkatkan harkat lapisan masyarakat dan pribadi manusia. Upaya ini meliputi (1) Mendorong, memotivasi, meningkatkan kesadaran akan potensinya dan menciptakan iklim dan suasana untuk berkembang. (2) Memperkuat daya, potensi yang dimiliki dengan langkah langkah positif dalam memperkembangkannya. (3) Penyediaan berbagai masukan dan pembukaan akses kepeluang peluang. Upaya pokok yang dilakukan dalam pemberdayaan adalah peningkatan taraf pendidikan, derajat kesehatan, akses kepada modal, teknologi tepat guna, informasi, lapangan kerja dan pasar, dan fasilitas fasilitas yang ada. b. Masyarakat 1) Pengertian Masyarakat Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama.

26 Seperti; sekolah, keluarga, perkumpulan, Negara semua adalah masyarakat. Masyarakat merupakan gabungan dari individu individu, oleh karena itu setiap individu harus bisa menjadi masyarakat yang modern, dalam arti tanggap akan perubahan perubahan zaman, untuk itu masyarakat harus bisa menguasai IPTEK yang semakin hari semakin berkembang pesat. Pengertian masyarakat menurut para ahli yaitu sebagai berikut : (a) Peter. L.Berger adalah suatu bagian bagian yang membentuk kesatuan hubungan antar manusia yang bersifat luas. (b) Marx berpendapat bahwa pengertian masyarakat merupakan hubungan ekonomis dalam hal produksi atau konsumsi yang berasal dari kekuatan kekuatan produksi ekonomis seperti teknik dan karya. (c) Harold. J.Laski, masyarakat itu adalah kelompok manusia yang bekerjasama dan hidup demi mencapai terkabulnya keinginan mereka bersama. (d) Gillin, manusia memiliki kebiasaan, tradisi, sikap serta perasaan sebagai satu unit yang diikat oleh kesamaan. (e) Robert Macive rmenyebut masyarakat adalah suatu sistem hubungan yang ditertibkan. (f) Selo Soemardjan memiliki pendapat masyarakat adalah orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. (g) Horton dan Hunt mengungkapkan organisasi manusia yang saling berhubungan itu adalah masyarakat. (h) Mansyur Fakih berkata bahwa pengertian masyarakat adalah sebuah sistem yang terdiri atas bagian bagian yang saling berkaitan dan masingmasing bagian acara terus menerus mencari keseimbangan dan harmoni. Mayo (1998), masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu: Pertama, masyarakat sebagai sebuah tempat bersama, yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan. Kedua, masyarakat sebagai kepentingan bersama, yakni

27 kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh, kepentingan bersama pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan identifikasi kebutuhan tertentu seperti halnya pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus (anak cacat phisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan mental. 2) Unsur unsur suatu masyarakat di antaranya yaitu: Pertama, harus ada perkumpulan manusia dan harus banyak.kedua, telah bertempat tinggal dalam waktu lama di suatu daerah tertentu.ketiga, adanya aturan atau undang undang yang mengatur masyarakat untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama. 3) Tipe tipe masyarakat Menurut Kingsley Davis dalam Soekanto (2007: 135) dalam mengadakan klasifikasi masyarakat setempat, dapat digunakan empat kriteria yang saling berpautan, yaitu: Jumlah penduduk. Luas, kekayaan dan kepadatang bersangkutan, Fungsi fungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat, dan Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan. Seorang tokoh sosiologi modern, Talcolt Parsons dalam Sunarto (2004 : 54) merumuskan kriteria bagi adanya masyarakat. Menurutnya masyarakat ialah suatu sistem sosial yang swasembada (self Subsistent), melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara repruduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya. 4) Masyarakat dipandang dari sudut Antropologi terdapat dua tipe masyarakat: Pertama, masyarakat kecil yang belum begitu kompleks, belum mengenal pembagian kerja, belum mengenal tulisan, dan tehknologinya. Kedua, masyarakat sudah kompleks, yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam segala bidang

28 bermasyarakat, kerena pengetahuan modern sudah maju, tehknologi pun sudah berkembang, dan sudah mengenal tulisan. 5) Dalam ilmu sosiologi kita mengenal ada dua macam masyarakat, yaitu: Pertama, masyarakat paguyuban terdapat hubungan pribadi antara anggotaanggota yang menimbulkan suatu ikatan batin antara mereka. Kedua, masyarakat patambayan terdapat hubungan pamrih antara anggota angotanya. (Tonnies dalam Soekanto, 2007: 116) 6) Pengelompokan Masyarakat Masyarakat dapat di kelompokan berdasarkan ras, suku dan keturunannya selain itu masyarakat juga bisa dibedakan menurut mata pencaharian di wilayahnya. Pertama, menurut para pakar, lewat pekerjaannya masyarakat bisa dibagi menjadi masyarakat pemburu, masyarakat agraris, masyarakat pastoral nomadis dan masyarakat peradaban. Yang dimaksud dengan masyarakat peradaban adalah masyarakat yang dapat menyesuaikan diri supaya mendapatkan kehidupan layak sesuai dengan lingkungan alamnya lalu menerapkan hasil adaptasinya untuk kehidupan yang lebih maju. Kedua, pengertian masyarakat lainnya juga bisa dibagi lagi menjadi masyarakat transisi, masyarakat non industrial dan masyarakat industrial. Masyarakat peralihan atau transisi yaitu masyarakat yang di dalamnya terdapat perubahan komposisi orang misalnya orang Sunda menikah dengan orang Jawa lalu memutuskan untuk tinggal dan hidup di Jawa atau jika seseorang merubah pekerjaannya dimana pekerjaan itu tidak terdapat pada komposisi

29 masyarakat sebelumnya misalnya seseorang yang memutuskan menjadi ilmuwan di daerah yang mayoritasnya nelayan. Sosiologi struktural fungsionalis parson menyatakan bahwa Logikanya, pemberdayaan masyarakat miskin dapat tercapai bila ditunjang oleh adanya struktur sosial yang tidak berpengaruh negatif terhadap kekuasaan (powerful). Dengan ilmu pengetahuan dan kemandirian sehingga dapat berperan sebagai agen pembangunan. Hal inilah yang oleh Schumacker disebut pemberdayaan. Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses dimana masyarakat, terutama mereka yang miskin sumber daya, kaum perempuan dan kelompok yang terabaikan lainnya, didukung agar mampu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Dalam proses ini, LSM berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses pemberdayaan masyarakat. (Martikanto T dan Soebiato P, 2013 : 61) Dalam bidang pendidikan, pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya keaksaraan atau pemberantasan 3 buta (buta huruf, buta angka, buta pengetahuan dasar) dan pelatihan yang lain, sehingga mereka mampu mengali kearifan tradisional. Dan mudah menadopsi inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan keluarga dan masyarakatnya. Menurut Freire (1973) dalam Martikanto T dan Soebiato P (2013 : 33 34) mengartikan pemberdayaan bidang pendidikan merupakan praktik pembebasan diri dari ketidak tahuan, tekanan tekanan, dan lain hal yang membelenggu

30 seseorang dan kelompok masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya. Pendidikan sebagai praktik pembebasan, juga termasuk membesaskan diri dari sistem sekolah. Pemberdayaan dalam bidang pendidikan, juga berarti kemampuan dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi, politik, maupun budaya untuk terus menerus memperbaiki kehidupan. Penerima manfaat program pemberdayaan masyarakat adalah kelompokkelompok marjinal dalam masyarakat, termasuk wanita, namun demikian, ini tidak berarti menafikan partisipasi pihak pihak lain dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Aspek penting dalam suatu program pemberdayaan masyarakat adalah program yang disusun sendiri oleh masyarakat, menjawab kebutuhan dasar masyarakat, mendukung keterlibatan kaum miskin, perempuan, buta huruf dan kelompok terabaikan lainnya, dibangun dari sumber daya lokal, sensitif terhadap nilai nilai budaya setempat, memperhatikan dampak lingkungan, tidak menciptakan ketergantungan, berbagai pihak terkait, serta berkelanjutan. c. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah suatu kegiatan yang memiliki tujuan yang jelas dan harus dicapai, oleh sebab itu, setiap pelaksanaan pemberdayaan masyarakat perlu di landasi dengan strategi kerja tertentu demi keberhasilannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Strategi diartikan sebagai langkah langkah atau tindakan tertentu yang dilaksanakan demi tercapainya suatu tujuan atau penerima manfaat yang dikehendaki, oleh karena itu, pengertian strategi sering rancu dengan, metode, teknik atau taktik.

31 Dalam melaksanakan pemberdayaan perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan. Menurut Suharto dalam Anwas.O.M (2014 : 87), penerapan pendekatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui 5P yaitu: pemungkinan, penguatan, perlindungan, penyokongan, dan pemeliharaan, dengan penjelasan sebagai berikut: Pemungkinan: yaitu menciptakan suasanan terhadap potensi masyarakat agar dapat berkembang secara optimal dann membebaskan masyarakat dari ketidak berdayaan. Penguatan yaitu memberikan motivasi pada masyarakat agar mampu dan percaya diri agar bisa mandiri dalam memecahkan masalah dan mampu memenuhi kebutuhannya. Pelindungan yaitu melindungi masyarakat dari kelompok kelompok yang lemah agar tidak tertindas dari kelompok kelompok yang kuat dan melindungi masyarakat dari diskriminasi yang merugikan masyarakat kecil. Penyokongan : memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan perannya sesuai tugas tugasnya dalam kehidupan. Pemeliharaan : memelihara kondisi yang kondusif agar mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha. 2. Desa Perkataan desa berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran. Yang dimaksud dengan desa menurut Undang undang Nomor 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa adalah : Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara Kesatuan Republik Indonesia. (Jabal Arfa, 2002:4). Sedangkan menurut I Nyoman Baratha mengemukakan sebagai berikut : Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang hampir semuanya saling mengenal. Kebanyakan yang termasuk didalamnya hidup dari pertanian, perikanan, dan sebagainya serta usaha usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam dalam tempat tinggal itu terdapat banyak ikatan ikatan keluarga yang rapat

32 ketaatan pada tradisi dan kaidah kaidah sosial.(i Nyoman Baratha, 1982:6). Dari beberapa pengertian desa di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian desa merupakan satu daerah kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa untuk mengadakan pemerintahan sendiri dan termasuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Undang undang Nomor 5 tahun 1979 tentang pemerintahan Desa, di antaranya dijelaskan pula mengenai seluk beluk eksistensi desa yaitu sebagai berikut : Pembanguan Desa adalah keseluruhan pembangunan yaitu (18 sektor), yang berlangsung dipedesaan dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat (IPOLEKSUSBUDHANKAM) yang dilaksanakan secara terpadu dengan pengembangan swadaya gotong royong. (Jabal Arfa, 2002: 5). Salman (2012: 4), Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas batas wilayah yang berwewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan NKRI. Serta Desa merupakan bentuk pemerintahan terkecil yang ada di negeri ini. Luas wilayah desa biasanya tidak terlalu luas dan dihuni oleh sejumlah keluarga. Mayoritas penduduknya bekerja di bidang agraris dan tingkat pendidikannya cenderung rendah. Karena jumlah penduduknya tidak begitu banyak, maka biasanya hubungan kekerabatan antar masyarakatnya terjalin kuat. Para masyarakatnya juga masih percaya dan memegang teguh adat dan tradisi yang di tinggalkan para leluhur mereka.

33 3. Buta Huruf a. Pengertian Buta Huruf Dalam Wikipedia, Buta huruf bukan sekadar tidak mampu membaca dan menulis, melainkan berpotensi menimbulkan serangkaian dampak yang sangat luas. Kemampuan membaca dan menulis merupakan alat penting untuk memberantas kemiskinan. Tak mengherankan jika kemampuan itu termasuk dalam indikator pendidikan pada indeks pembangunan manusia atau Human Development Index United Nations Development Programme (UNDP). Indeks tersebut mengukur kemajuan pendidikan berdasarkan kemampuan membaca dan menulis atau literasi. Buta huruf adalah ketidak mampuan membaca dan menulis baik bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya. Buta aksara juga dapat diartikan sebagai ketidak mampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Dalam perkembangan saat ini kata buta aksara diartikan sebagai ketidak mampuan untuk membaca dan menulis pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau dalam taraf bahwa seseorang dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca tulis, sehingga dapat menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Menurut Umberto Sihombing (2001) yaitu: Buta huruf adalah merupakan kelompok masyarakat yang tidak mungkin mendapatkan pelayanan pendidikan sekolah karena sebagian besar mereka telah berusia lanjut, sedangkan usia sekolah pada umumnya sudah masuk jalur persekolahan, mereka pada umumnya berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu memikul biaya pendidikan yang diperlukan.

34 Buta aksara (buta Huruf) adalah seseorang yang tidak dapat membaca, menulis, dalam huruf latin dan berhitung dengan angka Arab, sedangkan buta aksara fungsional adalah orang yang tidak dapat memanfaatkan kemampuan baca, tulis, dan berhitung dalam kehidupan sehari hari (Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, 2006: 3). Pandangan Paulo Freire ( 1999: 90), orang yang buta huruf adalah orang marginal, kata ini mengandung makna pasif, artinya bahwa orang yang buta huruf merupakan orang yang dimarginalkan atau diasingkan dari masyarakat karena tidak mungkin mereka terpinggirkan tanpa memisalkan adanya alasan yang jelas. Ada dua anggapan bahwa apabila marginalitas itu sebuah pilihan yang tidak lepas dari permasalahan mereka: kelaparan, penderitaan, berbagai jenis penyakit fisik dan mental, kematian, kriminal. Freire (1972), Desakan ekonomi, kesadaran terhadap pendidikan masih rendah, jumlah anggota keluarga yang banyak, persaingan kehidupan dan kekurang mampuan dalam menghadapi kehidupan merupakan faktor yang menimbulkan anak putus sekolah atau tidak mampu untuk sekolah sehingga timbulnya warga yang buta huruf. Akhirnya, mereka pasrah dalam keadaan kondisi tersebut (fatalism) sehingga terdiam dalam kebuta aksaraannya (silent culture). a. Sebab-sebab Terjadinya Buta Huruf Buta Huruf merupakan salah satu indikator dalam penentuan tinggi rendahnya Indek Pembangunan Manusia (IPM) serta penghambat suksesnya wajib belajar 9 tahun karena berdasarkan berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila orang tua anak menyandang buta aksara, maka anaknya cenderung tidak sekolah dan kalaupun sekolah potensi untuk mengulang kelas dan putus sekolah pada kelas kelas awal SD besar kemungkinan terjadi. Masih banyaknya penduduk buta huruf, disebabkan karena: (1) Terjadinya siswa Sekolah Dasar pada kelas 1,2,

35 dan 3 rata rata per tahun yang disinyalir berpotensi menjadi buta aksara baru. (2) Anak anak yang tidak sekolah sejak awal karena masalah geografis dan ekonomi. (3) Kurangnya intensifikasi terhadap pemeliharaan dan pemanfaatan keaksaraan mereka. Kusnadi ( 2005 : 36 47), faktor faktor yang menyebabkan buta huruf (buta aksara). Beberapa penyebab buta aksara dapat diidentifikasi sebagai berikut: (a) Kemiskinan penduduk merupakan ketidak mampuan seseorang memenuhi kebutuhan sehari harinya termasuk pendidikan dan faktor ekonomi keluarga sehingga mereka tidak mampu sekolah dan banyaklah masyarakat yang buta huruf. (b) Putus sekolah dasar (SD). (c) Drop out program PLS. (d) Kondisi sosial masyarakat di antaranya: Kesehatan dan gizi masyarakat, Demografis dan geografis, Aspek sosiologis, dan Issue gender. (e) Penyebab struktural yaitu: Skala makro, skala mikro, dan aspek kebijakan b. Pengaruh Buta Aksara Terhadap Kesejahteraan Rakyat Dalam Wikipedia, Penyandang buta aksara cenderung memiliki tingkat produktivitas yang rendah, karena kondisi buta aksara terkait erat dengan kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Artinya, kebodohan, keterbelakangan, ketidak berdayaan atau kemiskinan merupakan mata rantai yang saling terkait dari dampak buta huruf. Predikat sebagai salah satu negara penyandang buta huruf terbesar di dunia melekat pada Indonesia. Kondisi ini harus dientaskan guna melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan. Menurut Sajogyo dalam (Prayitno & Lincolin Arsyad, 1987: 98) kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimun yang ditetapkan berdasarkan atas kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan hidup sehat berdasar atas kebutuhan beras dan kebutuhan gizi.

36 Menurut pengamat sosial kemasyarakat Universitas Sebelas Maret, Prof Dr Sodiq A Kuntoro menegaskan disamping faktor kemiskinan baik struktural dan absolut, penyebab buta huruf juga dipengaruhi oleh masih tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Menurut beliau lagi, adanya krisis multidimensional ini sangat mempengaruhi usaha pemerintah untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun. Setiap tahun hampir 1 juta anak terancam putus sekolah dasar dikarenakan berbagai sebab. Angka putus sekolah SD dan madrasah ibtidaiyah, dalam enam tahun terakhir rata rata putus sekolah sebanyak anak dari seluruh jumlah siswa SD dan MI sebanyak anak di Indonesia. Putus sekolah anak SD ini, lanjutnya menjadi penyumbang terbesar bagi bertambahnya jumlah buta huruf di Indonesia karena menurut penelitian UNESCO, jika peserta pendidikan sekolah dasar mengalami putus sekolah khususnya ketika dia masih duduk di kelas I hingga kelas III, maka dalam empat tahun tidak menggunakan baca tulis hitungnya, maka mereka akan menjadi buta huruf kembali. Belum lagi masih banyak anak Indonesia yang belum memiliki kesempatan untuk masuk sekolah karena orang tua atau keluarganya tidak mampu. Kondisi ini memaksa orang tua untuk mempekerjakan anak mereka untuk mendatangkan pemasukan tambahan bagi keluarga. c. Cara Penyelesaian Buta Huruf Buta Huruf dapat diselesaikan dengan berbagai cara, di antaranya dengan: (1) Mengurangi jumlah anak yang tidak bersekolah. Pemerintah harus berupaya untuk menekan anak usia sekolah yang tidak sekolah dan putus sekolah yang diakibatkan oleh masalah kemiskinan, maupun yang diakibatkan oleh jauh dari layanan pendidikan. (2) Membuat cara cara baru dalam proses pembelajaran. Membuat cara cara yang baru yang asyik agar peserta didik tidak bosan untuk belajar dan menjaga kemampuan beraksara bagi peserta didik. (3) Adanya niat baik dan sungguh sungguh dari pemerintah. Pemerintah harus mempunyai niat

37 yang baik, sungguh sungguh dan serius untuk memberantas buta huruf untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia. (4) Perlunya keterlibatan berbagai pihak dalam upaya percepatan pemberantasan buta huruf. Pemberantasan buta huruf bukan saja tugas pemerintah semata tapi itu tugas kita semua selaku generasi penerus bangsa. Jadi semua pihak harus berpartisipasi untuk memberantas buta huruf, contohnya ibu ibu PKK harus ikut serta, organisasi masyarakat (Ormas), mahasiswa yag sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan anggota TNI yang mempunyai program TNI Manunggal Aksara. d. Pemberdayaan Sektor Pendidikan Pendidikan merupakan sektor penting dalam mengubah perilaku kea rah yang lebih baik. Perilaku masyarakat menurut Benyamin Bloom dapat di kategorikan dalam tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh yang dimanifestasikan dalam perilaku manusia, pemberdayaan pada hakikatnya adalah mengubah perilaku masyarakat. Mengubah perilaku ini dimulai dari mengubah cara berpikir dari pengetahuan dan pemahamannya, selanjutnya diharapkan memiliki sikap yang positif untuk berubah, selanjutnya di wujudkan dalam perilaku nyata sebagai bentuk usaha untuk mengubah perilaku kea rah yang lebih baik. Perubahan perilaku ini di harapkan kearah yang lebih baik menuju pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan. Ada beberapa tingkat pemberdayaan pada sektor pendidikan yaitu:

38 (1) Pendidikan tingkat anak anak Pemberdayaan dalam pendidikan diarahkan untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat. Pemberdayan pada aspek ini dimulai dari anak anak usia 0 sampai 6 tahun dan sering disebut istilah PAUD. Ada beberapa kendala dalam pendidikan PAUD yaitu masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak anaknya, keterbatasa biaya. Tetapi sekarang seiring perkembangan zaman yang semakin maju dan modern membuat anak anak untuk bersemangat sekolah. Anak anak usia PAUD perlu diantarkan oleh orang tuanya ketempat belajar dan tempat bermain. Untuk mengantar ini, jika masih ada diupayakan dilakukan oleh nenek atau kakeknya. Dengan demikian orang tua dari anak anak tersebut dapat bekerja mencari nafkah ntuk menghidupi kebutuhan ekonomi keluarga mereka. Jika yang mengantar anak tersebut para orang tuanya, maka pada saat anakanaknya belajar dan bermain di PAUD, orang tua anak anak dapat diberdayakan dengan berbagai kegiatan pelatihan keterampilan. Keterampilan ini adalah yang dapat meningkatkan ekonomi keluarga, misalnya menjahit, membuat berbagai olahan makanan atau kerajinan. (2) Pendidikan tingkat remaja Pada tingkat remaja anak anak seharusnya sekolah mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA atau kejuruan. Namun pada kenyataanya masih banyak anak anak yang tidak bisa menamatkan pendidikan pada tingkat tersebut. Program pemerintah wajib belajar 9 tahun ternyata juga tidak bisa menuntaskan semua

39 anak hingga 100 persen, termasuk pada tingkat SD. Pada hal pendidikan merupakan modal yang sangat penting untuk masa depan generasi muda tersebut. Kendala pendidikan pada tingkat remaja dihadapkan pada berbagai faktor diantaranya: kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anak masih banyak yang rendah. Disisi lain tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang sangat berat, sehingga tidak sedikit orang tua yang mengajak anak anaknya untuk bekerja membantu mencari nafkah. (3) Pendidikan tingkat dewasa Pemberdayaan aspek pendidikan pada tingkat orang dewasa diarahkan pada peningkatan kualitas kehidupan yang lebih baik. Pendidikan pada kelompok dewasa perlu diarahkan pada pendidikan yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan terhadap ekonomi kreatif dan kompetitif. Di sisi lain mereka juga perlu kemampuan dalam managerial, kerjasama dan pemasaran produk yang dihasilkan. Pendidikan pada kelompok dewasa ini perlu menerapkan prinsipprinsip pendidikan orang dewasa. Pemberdayaan pendidikan bagi kaum dewasa diarahkan pada kemandiria belajar. Kemandirian dalam arti belajar berarti kemampuan individu dalam mengelola dirinya untuk belajar, mengubah pengetahuan sikap dan kemampuan tanpa bergantung pada pihak lain. (4) Pendidikan tingkat lansia Pemberdayaan lansia dalam sektor pendidikan ditujukan untuk memberikan peran atau aktivitas yang sesuai dengan kondisi fisik dan pengalamannya. Dengan aktivitas yang cukup, lansia akan tetap sehat. Disisi lain, dengan beraktivitas ini,

40 lansia tetap produktif untuk dapat menghasilkan finansial untuk memenuhi keperluan hidupnya. Karena peran pendidikan sangat besar dalam membentuk peradaban manusia. Sejalan dengan terus bergulirnya waktu, roda peradaban pun terus berputar dan mengalami perubahan. Disinilah sesungguhnya pendidikan mempunyai peran besar agar kemanusiaan tidak tergerus oleh zaman. Sebuah pendidikan yang membebaskan manusia untuk senantiasa mempunyai kesadaran akan dirinya dan tidak teralienasi dari masyarakat dan dunianya. Pendidikan seperti ini adalah sebuah proses dalam membangun kesadaran anak didik agar tidak tercerabut dari realitas sosial. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dengan kenyataan dan problem sosial yang terjadi. Konsep pendidikan yang dihadapkan pada realitas sosial bukan berarti mencetak anak didik menjadi robot atau mesin mesin yang siap bekerja demi kepentingan industrialisasi dan kapitalisme global. 4. Kajian Teori a. Teori Fungsionalisme Struktural Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan perubahan dalam masyarakat. Menurut Ritzer, 2011: 21, teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan hilang dengan sendirinya. Penganut teori ini cenderung untuk melihat hanya kepada sumbangan satu sistem atau peristiwa terhadap sistem yang lain dan karena itu mengabaikan

41 kemungkinan bahwa suatu peristiwa atau suatu sistem dapat beroperasi menentang fungsi fungsi lainnya dalam suatu sistem sosial. Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi suatu masyarakat. Dengan demikian pada tingkat tertentu umpamanya peperangan, ketidaksamaan sosial, perbedaan ras bahkan kemiskinan diperlukan oleh suatu masyarakat. Perubahan dapat terjadi secara perlahanlahan dalam masyarakat. Kalau terjadi konflik, penganut teori fungsionalisme struktural memusatkan perhatiannya kepada masalah bagaimana cara menyelesaikannya sehingga masyarakat tetap dalam keseimbangan. Talcott Parsons (1937) dalam Ritzer Teori Sosiologi Modern Edisi Keenam (2008: 122) mengungkapkan suatu keyakinan akan perubahan dan kelangsungan sistem. Teori Struktural Fungsional Talcott Parson. Ia melihat bahwa masyarakat seperti layaknya organ tubuh manusia, di mana seperti tubuh yang terdiri dari berbagai organ yang saling berhubungan satu sama lain maka masyarakat pun mempunyai lembaga lembaga atau bagian bagian yang saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. Parson menggunakan istilah sistem untuk menggambarkan adanya koordinasi yang harmonis antar bagian. Selain itu karena organ tubuh mempunyai fungsinya masing masing maka seperti itu pula lembaga di masyarakat yang melaksanakan tugasnya masing masing untuk tetap menjaga stabilitas dalam masyarakat. Teori fungsional juga populer disebut teori integrasi atau teori konsensus. Tujuan utama pemuatan teori integrasi, consensus, atau fungsional ini tidak lain agar pembaca lebih jelas dalam memahami masyarakat secara integral. Pendekatan fungsional menganggap masyarakat terintegrasi atas dasar kata sepakat anggota anggotanya akan nilai nilai kemasyarakatan tertentu. General agreements ini memiliki daya yang mampu mengatasi perbedaan perbedaan

42 pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat. Masyarakat sebagai suatu sistem sosial, secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium. Oleh sebab itu aliran pemikiran tersebut disebut integration approach. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa keterkaitan antara teori struktural fungsional dengan permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana teori struktural fungsional ini hadir untuk memberikan gambaran tentang nilai nilai kemasyarakatan tertentu serta mampu untuk memberikan gambaran tentang bagaimana mengatasi perbedaan perbedaan pendapat dan kepentingan di antara masyarakat, di masyarakat Desa Bontomarannu Kabupaten Takalar terjadi perbedaan pendapat serta kepentingan yang terjadi antara masyarakat dengan pemerintah yang mengakibatkan terpinggirkanya masyarakat yang buta huruf tersebut, dengan pandangan struktural fungsional yang menekankan keteraturan dan mengabaikan konflik bisa diharapkan untuk memberikan solusi dan mempertajam analisis permasalahan bentuk keterpinggiran masyarakat yang buta huruf tersebut, sehingga diharapkan kedepannya permasalahan ini bisa teratasi dengan baik dan mendapat solusi solusi agar dapat mengurangi buta huruf di Indonesia. 1) Karakteristik Perspektif Struktural Fungsional Teori ini menekankan keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan perubahan dalam masyarakat. Konsep konsep utamanya antara lain: fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest, dan keseimbangan. Functionalis (para penganut pendekatan fungsional) melihat masyarakat dan

43 lembaga lembaga sosial sebagai suatu sistem yang seluruh bagiannya saling tergantung satu sama lain dan bekerja sama menciptakan keseimbangan (equilibrium). Mereka memang tidak menolak keberadaan konflik didalam masyarakat, akan tetapi mereka percaya benar bahwa masyarakat itu sendiri akan mengembangkan mekanisme yang dapat mengontrol konflik yang timbul. Inilah yang menjadi pusat perhatian analisis bagi kalangan fungsionalis. Menurut teori ini, masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian bagian atau element yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain (Ritzer, 1992: 25 ). Asumsi dasarnya adalah setiap struktur dalam sistem sosial fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya, kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya. Secara ekstrem penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi semua masyarakat ( Ritzer, 1992: 25 ). Menurut Lawer dalam Zamroni, 1988: , teori ini mendasarkan pada tujuh asumsi, yaitu: (a). Masyarakat harus di analisis sebagai suatu kesatuan yang utuh yang terdiri atas bagian bagian yang saling berinteraksi; (b). Hubungan yang ada bisa bersifat satu arah atau hubungan yang bersifat timbal balik; (c). Sistem sosial yang ada bersifat dinamis penyesuaian yang ada tidak perlu banyak mengubah sistem sebagai suatu kesatuan yang utuh; (d). Integrasi yang sempurana di masyarakat tidak pernah ada, sehingga di masyarakat senantiasa timbul ketegangan ketegangan dan ini akan di netralisasi lewat proses pelembagaan; (e). Perubaham perubahan akan berjalan secara gradual dan perlahan lahan sebagai suatu proses adaptasi dan penyesuaian; (f). Perubahan merupakan hasil penyesuaian dari luar, tumbuh oleh adanya diferensiasi dan inovasi; (g). Sistem di integrasikan lewat pemilikan nilai nilai yang sama

44 Parsons mendesain skema itu agar dapat digunakan pada semua level sistem teoritisnya. Ritzer dan Goodman dalam Teori Sosiologi Modern Edisi Keenam (2008: 122) mengemukakan penjabaran Parsons tentang skema AGIL yang merupakan sebuah struktur sistem tindakan, yang terdiri dari unsur berikut: Pertama, Organisme behavioral merupakan sistem tindakan yang menangani fungsi adaptasi dengan menyesuaikan dan mengubah dunia luar. Kedua, Sistem kepribadian, merupakan fungsi pencapaian tujuan dengan mendefinisikan tujuan sistem dan memobilisasi sumber daya yang di gunakan untuk mencapainya. Ketiga, Sistem Sosial, menangani fungsi integrasi dan sosialisasi dengan mengontrol bagian bagian yang menjadi komponennya. Sistem sosial yang dimaksud disini adalah masyarakat. Keempat, Sistem kultural, menjalankan fungsi latensi dengan membekali aktor dengan norma dan nilai nilai yang memotivasi mereka untuk bertindak... 2) Kelemahan Teori Struktural Fungsional Disamping kelebihan kelebihan yang dimiliki, teori fungsionalisme tidak luput dari kelemahan. Kelemahan teori ini bersumber pada anggapan dasarnya. Pertama, terlalu menekankan pada peranan unsur unsur normatif dari tingka laku sosial, khususnya pada proses perorangan yang diatur secara normatif untuk membangun terpeliharanya stabilitas sosial (Sutaryo, 1992). Kedua anggapan dasar bahwa setiap sistem sosial memiliki kecenderungan untuk mencapai stabilitas atau equilibrium di atas konsensus anggota masyarakat terhadap nilai nilai umum tertentu. Hal ini mengakibatkan para penganut struktural fungsional kemudian menganggap bahwa disfungsi, ketegangan, dan penyimpangan penyimpangan sosial mengakibatkan terjadinya perubahan masyarakat yang semakin kompleks.

45 Ketiga, teori struktural fungsional hanya memperhatikan pada kelompok, konkret, kekuasaan, konflik, dan perubahan sosial, sehingga dapat dianggap mengabaikan peranan individu. Teori ini juga menganggap masyarakat bersifat harmoni, stabil, dan terintegrasi oleh sebab itu dalam pandangan neofungsionalisme teori struktural fungsional harus mendapat autokritik dalam dunia observasi. Sekalipun demikian teori struktural fungsional masih tetap didukung secara serius oleh kelompok minoritas yang signifikan secara sosiologis. b. Teori Konstruksi Sosial menurut Berger dan Luckman Konstruksi sosial yang dikemukakan Berger dan Luckman memandang manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan obyektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (yang mencerminkan kenyataan subjektif). Dalam konsep berpikir dialektis (tesis antitesis sintesis), Berger memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Yang jelas, karya Berger ini menjelajahi berbagai implikasi dimensi kenyataan obyektif dan subjektif dan proses dialektis obyektivasi, internalisasi dan eksternalisasi. Adapun arah pemikiran teori konstruksi sosial, Berger & Luckmann berpandangan bahwa kenyataan itu dibangun secara sosial, dalam pengertian individu individu dalam masyarakat itulah yang membangun masyarakat. Maka pengalaman individu tidak terpisahkan dengan masyarakatnya. Berger memandang manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang objketif melalui tiga momen dialektis yang simultan yaitu Eksternalisasi, Obyektivasi, Internalisasi.

46 Penerapan teori konstruksi sosial dalam pekerjaan sosial. Peter L. Berger dan Thomas Luckman (1967) dalam Burhan (2007: 125) mengemukakan bahwa: Pekerja sosial sadar bahwa keinginan untuk membangun masyarakat yang masih rentan dari kesejahteraan membutuhkan alternatif alternatif yang kiranya bisa diterapkan kepada masyarakat yang menyandang buta huruf. Seperti yang terjadi di Desa Bontomarannu saat ini, pekerja sosial mengalami distorsi terhadap permasalahan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat desa yang buta huruf. Keikut sertaan pekerja sosial (pemerintah) dalam melihat problem masyarakat tentunya berpengaruh bagi laju perkembangan harapan hidup ke arah yang lebih baik. Seperti yang ditegaskan Clifford untuk mencari sumber masalah orang banyak, memerlukan keterampilan yang lebih. Menurutnya, pekerja sosial yang terampil menggunakan assesment dengan tujuan untuk mengeluarkan pertentangan emosi dan sikap dan untuk menyiasati dengan teliti masalah individu mendasar yang mungkin tidak di sentuh. Proses pertolongan oleh pekerjaan sosial dalam melihat masalah yang dihadapi, pekerja sosial memiliki tahapan dalam proses pertolongan yang paling sering dilakukan oleh pekerja sosial adalah assesment. Assesment merupakan penaksiran atau penilaian terhadap situasi, data, fakta dasar, perasaan orang dan keadaan yang terlibat didalamnya. Pekerja sosial dalam pelaksanaan kerjanya menerapkan dasar pengetahuan umum hingga dasar pengetahuan khusus. c. Teori Pemberdayaan atau Pengembangan Masyarakat Secara teoretik, basis ideologi pemberdayaan adalah Neo Marxisme, karena menggunakan asumsi pembebasan dari ketertindasan. Beberapa asumsi yang mendasari teori pemberdayaan: Fakta pertama adalah keterbelakangan atau diukur oleh derajat pendidikan, kesehatan, status pangan, status pendapatan, pemenuhan papan dan akses terhadap informasi, hingga kepada akses pada aktivitas politik

47 sebagai akibat kapitalisme global. Fakta kedua adalah ketertinggalan diukur dari angka pencapaian sasaran indikator kemajuan yang dibandingkan secara relatif antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Fakta ketiga adalah kemiskinan diukur melalui angka pendapatan atau pengeluaran perkapital ataupun oleh pemenuhan kebutuhan fisik minimum seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, serta martabat individu sebagai manusia. Fakta keempat adalah ketergantungan diukur oleh derajat kebebasannya dalam menentukan nasib sendiri. Semua fakta itu bermuara ke satu persoalan, yaitu sindroma ketidak berdayaan dan ketidak mandirian. B. Kerangka Pikir Adapun kerangka pikir mengenai pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Model penelitian ini menggambarkan peran pemerintah dalam mengatasi masalah buta huruf yang merupakan masalah besar. Sebagaimana peran pemerintah sebagai pelayan masyarakat yang tidak bertujuan memperoleh keuntungan. Dan disinilah pemerintah harus mencari solusi agar masyarakat yang buta huruf dapat di berdayakan. Kemudian Fungsi pelayanan pemerintah diharapkan dapat meratakan keadilan dalam masyarakat sehingga diperlukan pemberdayaan yang mampu mendorong kemandirian masyarakat. Seperti halnya yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi dan menghapus buta huruf di Indonesia, ia merumuskan dan menyusun program kerja mengentaskan dan memberdayakan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu. Salahsatu program kerja pemerintah di Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar

48 adalah Pengentasan buta huruf Kepada masyarakat Bontomarannu dan memberdayaankan masyarakat desa. Masyarakat Desa Bontomannu yang buta huruf disebabkan dari beberapa faktor di antaranya adalah kemiskinan penduduk, putus sekolah dasar (SD), Drop out program PLS, serta kondisi sosial masyarakat. Sehingga diperlukan peran pemerintah dalam mengentaskan buta huruf dan memberdayakan masyarakat desa Bontomarannu. Strategi pengentasan buta huruf juga diperlukan agar sekiranya berhasil yaitu Pertama, belajar dengan materi yang dikaitkan dengan kebutuhan dan masalah sehari hari. Kedua, Bahan belajar yang menarik dari segi isi dan kemudahan untuk mempelajarinya. Ketiga, Proses belajar yang menarik dan relevan dengan kebutuhan. Keempat, Ada wadah atau tindak lanjut yang menjadi wahana pembelajaran lulus, misal TBM, KBU dsb. Kelima, Kesempatan untuk mempraktekkan kemampuan baca, tulis dan hitung dalam kehidupan sehari hari. Arah program pengentasan buta huruf adalah pemberdayaan masyarakat yang merupakan suatu proses dimana masyarakat, terutama mereka yang miskin sumber daya, kaum perempuan dan kelompok yang terabaikan didukung agar mampu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Dengan adanya pemberdayaan masyarakat akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berapa implementasi pemberdayaan, baik dari sektor pendidikan, pemberdayaan sektor kesehatan, pemberdayaan sektor usaha kecil, pemberdayaan sektor pertanian dan pemberdaan sektor keterampilan.

49 Kesejahteran masyarakat merupakan tujuan utama dalam pembangunan Negara Kesatuan republik Indonesia. Salah satu program pemberdayaan yang di buat pemerintah adalah PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). Program pemberdayaan masyarakat ini memprioritaskan kegiatan bidang infrastruktur desa, pengelolaan dana bergulir bagi kelompok perempuan, kegiatan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat di wilayah perdesaan, dan yang pasti untuk mensejahterakan masyarakat pedesaaan. Dari gambaran di atas bisa disimpulkan bagan kerangka pikir sebagai berikut: Pemerintah Masyarakat Buta Huruf Penyebab Buta Huruf Strategi Pengentasan Buta Huruf Pemberdayaan Masyarakat Kesejahteran Masyarakat Gambar 1.1. Bagan Kerangka Pikir

50 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan lokasi penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan dasar penelitian studi masyarakat. Deskriptif yang dimaksud di sini adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum tentang pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Studi masyarakat dimaksud adalah strategi riset penelahan empiris yang menyelidiki suatu gejala dalam latar kehidupan nyata. Strategi ini dapat menyertakan bukti kualitatif yang berdasar pada berbagai sumber. Studi masyarakat merupakan penelitan yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh deskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah identitas. Adapun lokasi penelitan ini dilakukan di Desa Bontomarannu Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar. B. Sasaran Penelitian Yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah pemerintah setempat, pengajar atau tutor dan masyarakat yang buta huruf di desa Bontomarannu Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar. Untuk mengetahui hal ini peneliti mengali informasi dari beberapa responden yang diambil sebagai sampel 36

51 dengan teknik purposive sampling (pengambilan sempel berdasarkan tujuan). Purposive sampling adalah dengan memilih secara langsung berdasarkan kriteria yang telah ditentukan peneliti. Sesuai dengan judul yang saya angkat yaitu Pemberdayaan Masyarakat Desa Yang Buta Huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar untuk mendapatkan informasi yang akurat maka informan yang akan di teliti sebanyak 12 orang yang terdiri dari pemerintah sebanyak 3 orang, pihak pengelola pengentasan buta huruf sebanyak 1 orang, guru sebanyak 1 orang dan masyarakat sebanyak 7 orang. Namun demikian tidak menutup kemungkinan informan ini akan bergulir (Snowball Sampling). Tabel 3.1: Informan No Objek Informan Jumlah Informan 1. Pemerintah 3 orang 2. Pengelola 1 orang 3. Guru 1 orang 4. Masyarakat yang buta huruf 7 orang Total 12 orang Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Adapun data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari responden di lapangan. C. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Observasi

52 Alwasilah C (2003:211) menyatakan bahwa, observasi adalah penelitian atau pengamatan sistematis dan terencana yang diamati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan reliabilitasnya. Jenis observasi yang digunakan yaitu, observasi langsung (direct) dan tak langsung (indirect). Jenis observasi ini dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di desa Bontomarannu kabupaten Takalar. Selama masa penelitian, peneliti akan mengamati strategi dan implementasi program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di desa Bontomarannu Kabupaten Takalar. Objek yang akan diteliti adalah masyarakat desa yang buta huruf dan, pemerintah setempat, dan tutor atau pengajar. 2. Wawancara (interview) Teknik wawancara yang dilakukan adalah dengan melakukan tanya jawab langsung kepada informan yang berdasarkan pada tujuan penelitian. Teknik wawancara yang dilakukan penulis adalah dengan cara mencatat berdasarkan pedoman pada daftar pertanyaan yang telah di siapkan sebelumnya. Wawancara ini dilakukan beberapa kali sesuai dengan keperluan peneliti yang berkaitan dengan kejelasan dan kemantapan masalah yang dijelajahi. Berg (2007:89) membatasi wawancara sebagai suatu percakapan dengan suatu tujuan, khususnya tujuan untuk mengumpulkan informasi. Tujuan dari wawancara ini untuk mengumpulkan data atau informasi penting baik itu mengenai pendapat, keadaan, serta keterangan dari suatu pihak tertentu.

53 Adapun informan yang akan diwawancara yaitu, kepala dinas Pendidikan Kecamatan Galesong Selatan, kepala desa, tutor atau pengajar, dan masyarakat desa yang buta huruf. 3. Dokumentasi Jika data melalui wawancara dan observasi belum jenuh maka akan dilakukan penelusuran dokumen. Menurut Sugiyono (2011 : 329). Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, dan karya. Metode yang peneliti gunakan untuk memperoleh data atau informasi yang terkait dengan permasalahan penelitian yang akan dilakukan. Peneliti akan mencari informasi yang terdapat dalam media cetak seperti majalah dan koran serta buku buku yang terkait dengan penelitian ini. D. Instrumen Penelitian Pada penelitian ini, peneliti sendiri bertindak sebagai instrumen (human instrument). Hal ini didasarkan oleh adanya potensi manusia yang memiliki sifat dinamis dan kemampuan untuk mengamati, menilai, memutuskan, menyimpulkan secara obyektif Guba dan Lincoln (Muhajir, 1996) mengatakan bahwa tujuh karakteristik yang menjadikan manusia sebagai instrumen peneliti memiliki kualifikasi baik yaitu: sifatnya yang responsif, adaptif, lebih holistik, kesadaran pada konteks tak terkatakan mampu memproses segera, mampu menjelajahi jawaban ideosinkretik serta mampu mengajar pemahaman yang labih dalam. Untuk memperoleh hasil penelitian yang cermat dan valid serta memudahkan penelitian maka perlu menggunakan alat bantu berupa pedoman

54 wawancara (daftar pertanyaan), pedoman observasi, pensil, pulpen dan catatan peneliti yang berfungsi sebagai alat pengumpulan data serta pemotret. E. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk menganalisis, mempelajari serta mengolah data tertentu. Sehingga dapat diambil kesimpulan yang konkret tentang persoalan yang diteliti. Penelitian yang akan dilakukan adalah tergolong tipe penelitian deskriptif kualitatif analisis. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif (Moleong, 2014:248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah milahnya menjadi satuan yang dapat dikelolah, mensitesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Dalam penelitian ini setelah memperoleh data dari observasi, wawancara dan dokumentasi, maka peneliti memilah milahnya menjadi satuan yang dapat dikelolah. Kemudian peneliti mengelompokkannya sesuai dengan masalah yang diteliti dan menyajikannya dengan kata kata yang dapat diceritakan kepada orang lain sebagai hasil penelitian. F. Teknik Keabsahan Data Dalam penelitian kualitatif, Pengabsahan data merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena tanpa pengabsahan data yang diperoleh dari lapangan maka akan sulit seorang peneliti untuk mempertanggung jawabkan hasil

55 penelitiannya. Dalam hal pengabsahan data, peneliti menggunakan metode triangulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu (Sugiyono, 2013:372) Untuk melihat derajat kebenaran dari hasil penelitian ini, maka dilakukan pemeriksaan data, pengabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi, yaitu: 1. Triangulasi Sumber Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengasn cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. 2. Tringulasi Waktu Tringulasi waktu digunakan untuk validitasi data yang berkaitan dengan perubahan suatu proses dan perilaku manusia, karena perilaku manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkan data yang sahih melalui observasi peneliti perlu mengadakan pengamatan tidak hanya satu kali pengamatan saja. 3. Triangulasi Teknik Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dengan wawancara lalu di cek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner.

56 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Letak dan Luas Kabupaten Takalar yang beribu Kota di Pattallassang terletak antara 5P P3 5P P38 Lintang Selatan dan Bujur Timur. Di sebelah timur secara administrasi berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Jeneponto. Kabupaten Gowa Disebelah utara berbatasan dengan. Sedangkan di sebelah barat dan selatan dibatasi oleh Selat Makassar dan Laut Flores. Luas wilayah Kabupaten Takalar tercatat 566,51 km2 terdiri dari 9 kecamatan dan 83 wilayah desa/kelurahan. Jarak ibu Kota Kabupaten Takalar dengan ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan mencapai 45 km yang melalui Kabupaten Gowa. Tabel 4.1.1: Luas Wilayah Kabupaten Takalar Menurut Kecamatan NO Kecamatan Luas Area (Km²) Persentase Luas Kabupaten 1 Mangarabombang 100,50 17,74 2 Mappakasunggu 45,27 7,99 3 Sanrobone 29,36 5,18 4 Polobangkeng Selatan 88,07 15,54 5 Pattalassang 25,31 4,47 6 Polobangkeng Utara 212,25 37,47 7 Galesong Selatan 24,71 4,36 42

57 8 Galesong 25,93 4,58 9 Galesong Utara 15,11 2,67 10 Takalar 566,51 100,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar 2015 Tabel : Jarak Dari Ibu Kota Kabupaten Ke Ibu Kota Kecamatan NO Kecamatan Ibu Kota Kecamatan Jarak/Km 1 Mangarabombang Mangadu 7 2 Mappakasunggu Cilallang 5 3 Sanrobone Sanrobone 7 4 Polobangkeng Selatan Bulukunyi 11 5 Pattalassang Pattalassang 0 6 Polobangkeng Utara Pallekko 9 7 Galesong Selatan Bonto Kassi 15 8 Galesong Galesong Kota 19 9 Galesong Utara Bonto Lebang 25 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar 2015 Kabupaten Takalar yang keadaan alam memiliki potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan baik dari sektor agraris maupun dari sektor perikanan, sektor peternekan dan sektor perkebunan didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan tanaman beberapa komoditi yang memiliki potensi untuk dikembangan adalah padi, jagung, tebu, semangka, jambu mete, kelapa, kacang kedelai, kajang hijau, kacang tanah, singkong, dan ubi jalar dan berbagai sayur sayuran.

58 Dari sektor peternakan dapat dikembangkan seperti sapi, kerbau, kambing, ternak kuda, ayam buras, itik dan ayam ras. Wilayah pesisir Kabupaten Takalar merupakan kawasan pantai dan pulau dengan potensi perikanan yang cukup besar. Dengan panjang pantai kurang lebih 28 km, potensi untuk pengembangan ikan tangkap, budi daya laut dan perairan umum sangan menjanjikan. Untuk perikanan tangkap sendiri, tingkat pemanfaatan baru mencapai ,5 ton/tahun. Beberapa hasil tangkapan berupa ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti ikan terbang, ikan merah, cakalang, tuna dan tongkol. Untuk budi daya tambak, komoditi yang dapat dikembangkan antara lain udang windu, rumput laut dan ikan bandeng. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, memungkinkan munculnya industri industri kecil dan industri rumah tangga. Beberapa industri yang sedang dikembangkan adalah industri makanan, industri minuman, industri kerajinan bambu, industri kerajinan lontara, serta industri kerajinan tangan lainnya. Tabel : Statistik daerah Kabupaten Takalar Tahun 2015 Luas Rumah NO Kecamatan Penduduk Kepadatan Wilayah Tangga 1. Mangarabombang , Mappakasunggu , Sanrobone , Polobangkeng Selatan , Pattalassang ,

59 6. Polobangkeng Utara , Galesong Selatan , Galesong , Galesong Utara , Jumlah , Sumber : BPS Kabupaten Takalar 2015 Statistik Daerah Kabupaten Takalar Tahun 2015 pada penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak dapat membaca dan menulis sekitar 9,61 persen, laki laki sekitar 8,05 persen dan perempuan sekitar 10,79 persen. Tingkat pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu ukuran kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan, semakin baik kualitas sumber daya manusianya. Sehingga potensi sumber daya manusia di suatu wilayah dapat dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan. Tabel : Indikator Pendidikan Kabupaten Takalar menurut jenjang Pendidikan NO Indikator Rata rata 1. Angka Melek Huruf 83,10 2. Rata Lama Sekolah 6,99 3. Rasio Murid SD sederajat SLTP sederajat SLTA/SMA

60 4. Rasio Murid Guru SD sederajat SLTP sederajat SLTA/SMA Sumber : Dinas Pendidikan dan Kementrian Agama 2. Letak Geografis Kecamatan Galesong Selatan Kawasan Galesong Selatan, membentang dari wilayah Desa Aeng Batu Batu yang bersebelahan dengan Kelurahan Barombong, Kota Makassar hingga wilayah Desa Bontomarannu di pesisir selatan. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Galesong. Ditimur berbatasan dengan kabupaten Gowa. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sanrobone dan Kabupaten Gowa. Dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Jika hendak menuju pusat daerah Galesong dari Makassar dapat ditempuh dari daerah Limbung, dari jalan raya Makassar Takalar 25 kilometer ke Barat. Atau dari kota Makassar melewati Barombong dan melewati jembatan di atas sungai Je neberang yang terletak di Kabupaten Takalar dengan batas batas Kecamatan Galesong. Kecamatan Galesong Selatan adalah salahsatu dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Takalar dengan luas wilayah 24,71 Km2 dengan jumlah penduduk jiwa, yang terdiri dari 12 desa yaitu: Mangindara, Bontomarannu, Barammamase, Bonto Kassi, Sawakong, Bentang, Bonto Kanang, Popo, Taroang, Kadatong, Kale Bentang, dan Kaluku Bodo. Terdiri dari 48 dusunserta 136 RK dan 136 RT.

61 Tabel : Luas Desa di Kecamatan Galesong Selatan dan Jarak ke Ibukota Kecamatan dan Kabupaten Tahun 2015 NO Desa Luas (km²) Persentase terhadap Jarak ke Kec. (Km) Jarak ke Kab.(Km) luas Kec. 1. Mangindara 1,05 3,97 5, Bontomarannu 3,95 14,93 3, Barammamase 2,24 8,47 2, Bonto Kassi 2,86 14,78 0, Sawakong 3,55 13,42 3, Bentang 1,37 16,48 0, Bonto Kanang 3,46 13,42 2, Popo 2,19 8,28 4, Tarowang 1,74 6,58 2, Kadatong 1,05 1,10 0, Kale Bentang 1,25 1,12 9,6 14,6 12. Kaluku Bodo Sumber : Berdasarkan SK mendagri dan SK Pemekaran dari Pemda Penduduk kecamatan Galesong Selatan pada umunya bermata pencaharian di bidang pertanian dan perikanan serta industri kerajinan. Produksi utama di bidang pertanian adalah padi, dan jagung dan di bidang perikanan adalah penangkapan ikan, pengelolaan kepiting, serta Tambak, pengelolaan telur ikan

62 terbang. Sedangkan dibidang industri kerajian produksinya seperti songko guru, tikar, bakul, dan lain sebagainya. Tabel: Banyaknya penduduk, rumah tangga dan kepadatan penduduk di tiap desa di kecamatan Galesong Selatan. NO Desa Penduduk Rumah Tangga Kepadatan 1. Mangindara Bontomarannu ,64 3. Barammamase Bonto Kassi Sawakong Bentang Bonto Kanang , Popo , Tarowang , Kadatong , Kale Bentang Kaluku Bodo Sumber:Registrasi penduduk tahun 2015 Catatan : Desa Kaluku Bodo masih bergabung Desa BT Marannu 3. Letak Geografis Desa Bontomarannu Desa Bontomarannu sebagai wilayah penelitian, merupakan salah satu desa pesisir yang ada di Kecamatan Galesong Selatan. Luas desa 3,95 Km² Letaknya

63 jarak ke kecamatan 3,2 Km dan Jarak ke Kabupaten 19 Km dari wilayah ibu Kota Kabupaten Takalar. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Popo. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Barammamase, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kaluku Bodo. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Secara geografis, kabupaten Takalar memiliki sembilang kecamatan potensi unggulan untuk di jadikan sebagai sumber penghidupan masyarakatnya. 1) Iklim Keadaan iklim di kabupaten Takalar sama halnya dengan daerah lain di Sulawesi selatan khususnya di Kecamatan Galesong Selatan dikenal ada dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim kemarau mulai pada bulan juni sampai September sedangkan musim hujan mulai bulan Desember hingga bulan Maret. Keadaan seperti itu berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan yaitu pada bulan april sampai mei dan Oktober sampai November. Curah hujan di berbagai tempat di Kabupaten Takalar umumnya tidak merata kearena pngaruh oleh keadaan iklim, keadaan pada bulan Desember yang mencapai rata rata 676 mm, sedangkan curah hujan terendah pada bulan Juli sampai September yang biasa dikatakan hampir tidak ada hujan. 2) Keadaan Penduduk Kecamatan Galesong Selatan terdiri dari 12 desa. Desa Bontomarannu, merupakan wilayah dataran rendah. Desa Bontomarannu merupakan desa mandiri

64 karena dulunya merupakan gabungan dari Desa Popo, Kaluku Bodo, dan Barammamase. Keadaan Monografi atau data dinamis kependudukan desa Bontomarannu, sesuai dengan data terakhir yang dicatat kantor Desa Bontomarannu jiwa, Kepala Keluarga 549 KK. Penduduk Desa Bontomarannu, Kecamatan Takalar pada umunya bermata pencaharian dibidang peternakan, pertanian dan perkebunan dan perikanan dengan produksi utama di bidang peternakan adalah sapi, kambing dan unggas, di bidang pertanian adalah padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kajang hijau, serta dibidang perkebunan adalah tebu, ubi Jalar singkong, dan di bidang perikanan seperti ikan terbang, ikan bandeng, udang dan kepiting. Jika kita lihat sektor perumahan dan fasilitas kesehatan dikecamatan Galesong Selatan pada umumnya terdapat bangunan tempat tinggal pada tahun Dari jumlah bangunan tempat tinggal panggung, rumah semi permanen dan rumah permanen. Fasilitas kesehatan di Kecamatan ini terdiri dari 2 unit puskesmas, postu 5 unit, dan pokesdes 3 unit serta 40 unit posyandu. Untuk memenuhi kebutuhan akan perawatan kesehatan bagi masyarakat Kecamatan Sinjai Barat maka pemerintah mengalokasikan 2 dokter umum, 2 dokter gigi, 32 orang perawat kesehatan, 14 bidan yang masing masing tersebar hampir diseluruh desa/kelurahan di kecamatan Galesong Selatan termasuk Desa Bontomarannu. Selain itu kecamatan Galesong Selatan sudah mulai dipengaruhi oleh arus modernisasi termasuk juga desa Bontomarannu merupakan desa swakarsa yang

65 sudah mulai menggunakan teknologi. Petani yang dulu menggarap sawah dengan menggunakan sapi atau kerbau sekarang sudah memakai traktor dan berbagai alat pertanian lainnya. Dalam aktivitas masyarakat sudah serba instan semua serba mesin yang mempermudah pekerjaan masyarakat. Secara keseluruhan, luas daerah desa Bontomarannu adalah sebesar 3,95 Ha. Luas tersebut meliputi 4 dusun di dalamnya, yaitu dusun Balang, dusun Talisea, dusun Barua dan dusun Mandi. Bahasa sehari hari penduduk desa Bontomarannu adalah Bahasa Makassar. 3) Bidang Pendidikan Desa Bontomarannu berada pada daerah daratan rendah yang merupakan kawasan desa swakarsa. Masyarakat Bontomarannu telah menikmati pendidikan gratis yang telah dicanangkan pemerintah Kabupaten Takalar, peningkatan mutu pendidikan yang menjadi pilar pembangunan kabupaten Takalar telah terlaksana dan telah dirasakan Masyarakat Desa Bontomarannu. Hingga saat ini, perkembangan dunia pendidikan di Desa Bontomarannu kecamatan Takalar selama 5 tahun terakhir ( ) telah mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan fasilitas pendidikan seperti pembangunan dan perbaikan sekolah, penambahan kualitas dan kuantitas guru yang mengajar serta fasilitas pendukung pendidikan lainnya (buku buku, alat peraga, dan lain lain) ini dapat dilihat adanya lima bangunan sekolah di dalamnya yang terdiri atas 5 PAUD, 4 sekolah dasar, dan 1 SMP. Tetapi ternya masih banyak juga masyarakat desa bontomarannu yang mengalami buta huruf berjumlah 11 laki laki dan 59

66 perempuan dan total secara keseluruhan adalah 70 orang yang mengalami buta huruf 4) Stratifikasi Sosial dan Adat Sejak dahulu, Bontomarannu dikenal dengan stratifikasi sosial atau pelapisan dalam masyarakatnya. Hal tersebut dianggap sebagai hal yang penting dalam menilai latar belakang kehidupan, watak dan sifat sifat yang mendasar pada masyarakat. Di desa ini terdapat tiga lapisan masyarakat yang berbeda secara adat, yaitu lapisan karaeng, lapisan te ta dan lapisan bawah. Strata ini ada sejak dulu Pada lapisan sosial tersebut strata sosial yang paling tinggi adalah lapisan karaeng, karena strata sosial tersebut diakui oleh masyarakat sebagai orang bangsawan seperti yang bergelar pemerintah atau raja pada saat itu yang sangat dihargai, dihormati dan ditakuti oleh masyarakatnya. Pada lapisan kedua yaitu lapisan te ta. Pada lapisan te ta masih ada hubungan darah bangsawan, bahkan ada yang mengatakan bahwa te ta merupakan saudara sepupu dari karaeng. Pada lapisan terakhir yaitu lapisan bawah yang menurut sejarah pada masyarakat adalah masyarakat biasa. 5) Agama dan Kepercayaan Menurut data statistik pemerintah Desa Bontomarannu menunjukkan bahwa mayoritas (100%) penduduknya beragama Islam. Kesadaran masyarakat yang kuat akan pentingnya shalat lima waktu, sifat relegius itu terlihat dari keseharian masyarakat ketika waktu shalat tiba mereka terlihat antusias melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam terutama masyarakat yang berdomisili di sekitar mesjid yang datang dengan berjalan kaki. Namun ada juga

67 yang shalat di mesjid yang jauh dari rumahnya datang dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Selain itu juga masyarakat sering melakukan pengajian setiap malam jumat yaitu setelah selesai sholat magrib sampai waktu sholat isyah dimulai yang didominasi oleh bapak bapak dan ibu ibu yang sudah naik haji walaupun ada sebagian remaja yang ikut serta dalam pengajian tersebut. Namun pada hari Jumat masyarakat Bontomarannu tidak pernah meninggalkan sholat jumat walupun tugas atau pekerjaan yang sementara mereka kerjakan itu ada, masyarakat yang bekerja sebagai petani, dan peternak pada pukul 11 mereka sudah ada dirumah masing masing. Jadi sebelum adzan berkumandang mereka sudah di mesjid menunggu shalat jumat tiba. Mesjid yang biasanya dua sampai tiga baris sekarang hampir penuh dengan jamaah Jumat.dari anak anak sampai orang tua hadir di mesjid. Namun di sisi lain masih ada sebagian masyarakat desa Bontomarannu yang masih percaya terhadap hal hal gaib atau animisme dan dinamisme. Itu bisa dilihat ketika ada masyarakat yang melakukan ritual atau memberi sesembahan ketika sudah melakukan pesta atau selamatan. Pergi makan makan di air panas pulau sanrobengi, boe. Atau membawa makanan turun ke sungai, melepaskan kambing di hutan tergantung hajatnya. Hal ini dilakukan secara turun temurung oleh masyarakat desa Bontomarannu yang masih kental terhadap hal hal gaib dan tidak bisa ditinggalkan karena sudah menjadi tradisi masyarakat. Dalam kenyataannya dewasa ini, kepercayaan animisme dan dinamisme dalam implikasi pelaksanaannya sudah berkurang, bahkan sudah hampir tidak tampak. Hal ini disebabkan karena dakwah islamiah yang dilancarkan oleh para

68 ulama, utadz dan para da i, sangat berperan besar mengikis dan melunturkan kepercayaan yang bisa membawa orang kepada ke syirikan atau pada kegiatan yang membawa seseorang menjadi musyrik yakni menyerikatkan Allah B. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Pandangan Pemerintah Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf Pada sektor pendidikan di Kabupaten Takalar memegang peranan penting dalam peningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Agar sumber daya manusia di kabupaten Takalar dapat bersaing dengan kabupaten lainnya dan memegang peranan minimal di Kabupatennya sendiri maka diperlukan suatu perencanaan untuk meningkatkan pendidikan di Kabupaten Takalar, termasuk Pendidikan Non Formal dan Informal. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak sekali sumber daya manusia di Kabupaten Takalar yang tidak berkompeten, hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang rendah bahkan banyak masyarakat terutama di desa yang berada di daerah pesisir pantai kurang mengenyam pendidikan, sehingga mengalami buta huruf, kalau pun ada cuma orang orang yang mampu yang bisa sekolah. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Kepala Desa (Abdul Wahab), Bahwa: Buta huruf adalah bagian dari beban pemerintah, artinya orang buta huruf tidak bisa maju kalau tidak mau belajar untuk membaca dan menulis. Sehingga kalau Negara mau maju maka semua orang harus belajar, apalagi menggunakan bahasa Indonesia. Rata rata pesan pemerintah diharuskan berbahasa Indonesia. Pemerintah menganggarkan banyak anggaran untuk pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan buta huruf utamanya usia usia yang sudah tua diatas 30 tahun, bahkan setiap tahunnya dilakukan pendataan karena itu sangat berpengaruh pada indeks prestasi manusia khususnya di Kabupaten Takalar, sehingga pada

69 pengentasan buta huruf dibentuklah kelompok kelompok dari beberapa dusun di setiap desa. Ada beberapa program program yang dibuat oleh pemerintah seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) pemberdayaan masyarakat petani, nelayan, keterampilan, dan usahausaha kecil. Pemberdayaan masyarakat artinya bagaimana masyarakat mampu dan bisa mandiri, Dan pemberdayaan masyarakat yang buta huruf pemerintah memberikan bantuan modal usaha melalui program desa seperti PNPM. Dengan adanya program pengentasan buta huruf dan pemberdayaan masyarakat ini sangat membantu warga saya terkhusus di desa Bontomarannu, harapan saya kedepannya semoga tidak ada lagi masyarakat yang buta huruf. (Wawancara 24 Juli 2015). Selain itu hal serupa juga di ungkapkan pengawai Dinas Pendidikan Kecamatan Galesong Selatan (A. Jupri Sangaji), bahwa: Pemerintah tidak hanya semata mata melakukan pendekatan baca tulis dan berhitung tetapi pendekatan yang akan dilakukan adalah mengaitkan kebuta hurufan itu dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial sehingga mereka jadi tertarik untuk belajar. Pemerintah memberikan mereka bantuan modal usaha melalui program desa Prima atau desa perempuan Indonesia maju mandiri, serta PNPM dimana setiap desa di Kabupaten Takalar, kata pak Jupri untuk proses pengentasan buta huruf dana yang dipakai adalah anggaran dana dari APBD. Di setiap Desa yang dibentuk dari beberapa kelompok belajar. (Wawancara, 29 Juli 2015). Jaharuddin S.Pd sebagai ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Satria Galesong mengungkapkan bahwa: Peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat desa yang buta huruf ada tiga tingkatan pemerintah yang mendukung diantaranya APBD I dalam hal ini Provinsi, APBD II dalam hal ini Kabupaten dan APBD III dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta masih ada lagi instansi yang mendukung diantaranya Direktorat Pembinaan dan Pendidikan anak Usia Dini serta pendidikan masyarakat. Didalam Dirjen PAUD dan Dikmas ada lagi program Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan kesetaraan. Program program yang kami bentuk di PKBM diantarannya: PAUD Terpadu, Kelompok Bermain, TBM (Taman Baca Masyarakat), Keaksaraan Dasar, Pendidikan Kesetaraan Paket A,B,C, Pendidikan Kepemudaan dan Perempuan, Pendidikan Kecakapan Hidup/ Kursus. Upaya pemerintah menuntaskan buta huruf merupakan investasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut saya pemerintah sudah cukup membantu masyarakat dalam menuntaskan buta huruf, tetapi kembali lagi pada kesadaran masyarakat bahwa begitu

70 pentingnya pendidikan dalam kehidupan kita. (Wawancara, 08 Agustus 2015). Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf benar benar sudah membantu masyarakat dalam hal membaca, menulis dan berhitung serta mampu mengembangkan keterampilan yang mereka miliki dengan diberikannya bantuan modal usaha oleh pemerintah sehingga mereka mampu meningkatkan kesejahteran keluargannya. 2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Masyarakat Buta Huruf Kemiskinan merupakan masalah yang sangat serius dan masalah yang kompleks yang disebabkan faktor internal dan eksternal. Seperti yang diungkapkan kepala desa Abdul Wahab, bahwa: Faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf adalah faktor kemiskinan dan ekonomi keluarga yang tidak cukup sehingga masyarakat susah untuk mengenyang pendidikan, masalah biaya untuk membeli perlengkapan sekolah. Selanjutnya karena orang tua selalu beranggapan bahwa orang pendidikan itu tidak penting lebih baik membantu orang tua mencari nafkah (Wawancara, 24 agustus 2015) Hal yang serupa juga disampaikan Ketua PKBM Jaharuddin S.Pd, bahwa: Faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf terutama usia diatas tahun dikarenakan jauhnya sekolah, pemahamannya tentang pendidikan kurang ia merasa bahwa pendidikan itu bukan bagian dari kebutuhan hidup, faktor kemiskinan, banyaknya orang yang lebih condong membantu mencari nafkah dari pada sekolah, Adanya beberapa golongan mengatakan bahwa yang berpendidikan hanyalah keturunan yang berada atau bangsawan dan yang merasa kehidupannya biasa biasa saja seperti petani dan nelayan kurang begitu berharap karena katanya kalaupun sekolah tetap saja jadi petani dan nelayan. (Wawancara, 08 Agustus 2015)

71 Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf adalah kemiskinan, ekonomi, putus sekolah kondisi sosial masyarakat, dan gender 3. Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf Dalam rangka pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta huruf ini, perlu dilakukan beberapa langkah agar dicapai pelaksanaan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penyelenggara. Langkah langkah tersebut adalah sebagai berikut : langkah persiapan, pendataan calon warga belajar, dan langkah pelaksanaan. a. Langkah Persiapan 1) Sosialisasi Sosialisasi program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta Huruf yang dilakukan oleh ketua PKBM pada perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat untuk dipublikasikan kepada masyarakatnya. Namun terdapat hambatan dalam proses sosialisasi yaitu sulitnya meyakinkan masyarakat untuk mengikuti program ini, karena memang masyarakat merasa tidak membutuhkannya. Selain itu, sosialisasi juga untuk menentukan pihak siapa yang bisa menjadi penyelenggara dan tutor. Penyelenggara adalah orang atau lembaga yang menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan Buta Huruf, sedangkan tutor adalah guru atau orang yang mengajar pada proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf. Bentuk penyelenggara bisa berupa perorangan maupun kelompok. Untuk perorangan adalah setiap orang yang mempunyai keinginan mengabdi dalam

72 dunia pendidikan dan bersedia menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf ini. Sedangkan apabila penyelenggaranya lembaga adalah organisasi kemasyarakatan. Keagamaan, LSM, yayasan, PKK dan lain lain yang mempunyai kemauan untuk menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf. Untuk program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf penyelenggaranya adalah perorangan semua. Dalam melakukan sosialisasi dan penentuan identifikasi penyelenggara dan tutor dilaksanakan secara intensif oleh Ketua PKBM Satria Galesong yang melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat seperti Kepala Desa, Sekertaris. Hal ini karena mereka yang lebih mengetahui karakteristik desanya dan bisa mengidentifikasi kira kira siapa yang bisa menjadi penyelenggara. Jadi untuk pemilihannya lebih menekankan pada yang memiliki kepedulian pada masyarakat dan mau mengabdi. Hal ini seperti yang disampaikan Ketua PKBM Jaharuddin S.Pd berikut ini : Pemilihan dan perekrutan tutor kami percayakan pada Kepala Desa disana, karena kepala desa yang lebih mengetahui karakteristik desanya masing masing. Selain itu juga memang tidak mudah mencari tutor yang mau mengajar bapak bapak maupun ibu ibu dengan honor yang kecil Rp seperti itu. Jadwal pelaksanaannya 3 kali satu minggu. Jadi disini kami memilih sesuai kriteria yang ada namun tidak terpaku pada kriteria tersebut, pokoknya yang penting dia mau mengabdi untuk masyarakat. Mengajar bapak bapak dan ibu ibu itu tidak mudah mbak, bahkan kadang yang datang cuma sedikit jadi memang dibutuhkan kesabaran. Hanya orang orang yang terpanggil hatinya untuk mau menolong sesamanya yang bersedia menjadi tutor. (Wawancara, 08 Agustus 2015). Bapak Jaharuddin S.Pd juga ketua PKBM Satria Galesong menambahkan sebagai berikut :

73 Sebagian besar tutor yang mau membantu dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini berprofesi sebagai seorang Guru atau mereka yang peduli pada pendidikan, punya jiwa pengabdian pada masyarakat. Kalau tidak ya yang mau saja karena memang tugas ini berat, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Jadi kriteria tidak menjadi syarat mutlak untuk mencari tutor (Wawancara 08 Agustus 2015) Dari wawancara di atas menunjukkan bahwa pemilihan tutor dan penyelenggara tidak harus mutlak sesuai kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pemilihannya lebih diutamakan yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan mau mengabdi untuk masyarakat, hal ini berkenaan dengan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf bersifat non formal. Dalam proses perekrutan penyelenggara dan tutor program Pemberdayaan Masyarakat yang Buta Huruf ini, maka terjaring sebanyak 26 orang penyelenggara dan 26 orang tutor yang bersedia membantu pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf. Seperti yang dijelaskan oleh Bapak Jaharuddin S.Pd. Ketua PKBM Satria Galesong Kabupaten Takalar: Perekrutan penyelenggara dan juga tutor yang hanya memakan waktu 1 bulan itu sudah mampu terjaring 26 tutor dan 26 orang penyelenggara mbak di 12 desa Kecamatan galesong Selatan. Saya kira dengan jumlah tersebut sudah cukuplah. untuk melaksanakan program ini. Yang penting kerelaan dan juga kemauan mereka dalam mengemban amanah ini. Karena tidak mudah jadi seorang tutor dan juga penyelenggara pada program pemerintah ini mbak. (Wawancara 08 Agustus 2015) Setelah terpilih tutor dan penyelenggara, maka tutor dan penyelenggara dipanggil ke kantor PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) untuk diberi pengarahan dan pelatihan tentang pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf serta diberikan Silabus, Modul yang menjadi kurikulum pembelajaran. Modul tersebut dari Pemerintah Kabupaten Takalar

74 dengan bahan ajarnya adalah bahan ajar tematik yaitu bahan ajar yang digunakan untuk membelajarkan warga masyarakat penyandang buta huruf agar memiliki kemampuan menulis, membaca, berhitung, dan menganalisis tematik, yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kehidupan sehari hari dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal serupa juga disampaikan ibu Hj.Nursiah, bahwa: Dalam proses belajar, para tutor menggunakan tema yang disukai para penyandang buta huruf. Jadi prinsipnya harus menggunakan pendekatan pembelajaran tematik sesuai dengan tema tema pembelajaran apa yang digemari oleh para penyandang buta huruf. Contohnya kalau dia di lingkungan keagamaan kita mengembangkan tema tema agama tapi kalau basisnya di lingkungan pertanian kita mengembangkan materi pembelajaran dengan pertanian, (Wawancara, 13 Agustus 2015) b. Pendataan calon warga belajar Setelah ditentukan siapa yang akan menjadi penyelenggara dan tutor maka dilakukan pendataan awal untuk mengidentifikasi calon warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf pada setiap desa. Pendataan merupakan kewenangan masing masing desa yang bisa dilakukan oleh Kepala Desanya langsung atau Kepala Desa menunjuk tokoh tokoh masyarakat setempat seperti PKK, Aisyiyah, atau pihak pihak yang memahami karakteristik desanya untuk melakukan pendataan secara langsung. Data yang diperoleh digunakan sebagai data dasar desa mana saja yang perlu diselenggarakan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Kepala desa diberi waktu maksimal 1 bulan dalam melakukan pendataan calon warga belajar yang ada di daerahnya masing masing. Ibu Hj. Nursiah, mengungkapkan bahwa:

75 Tutor yang di bentuk di desa Bontomarannu sebanyak 4 orang, di antaranya Salawati, Israwati, Dg.Minne, dan Dg. Tarring. Masing masing tutor diberi amanah memegang 1 kelompok belajar di setiap dusun. Salawati di dusun Talisea, Israwati di dusun Balang, Dg.Minne di dusun Mandi, dan Dg. Tarring di dusun Barua, (Wawancara, 13 Agustus 2015) Salawati tutor warga belajar menuturkan tentang pendataan yang beliau lakukan dimana beliau harus terjun langsung bersama sama tutor yang lain untuk membujuk masyarakat agar memiliki kesadaran mengikuti program pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan buta huruf. Beliau juga harus melakukan pendekatan langsung terhadap masyarakat agar mereka respon terhadap pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Berikut ini penuturan beliau : Dulu itu saya membuat pengumuman ke masyarakat desa melalui Bu Nia dan Bu Nia menyampaikannya lewat PKK, kemudian ditawarkan kepada siapa siapa saja yang mau ikut. Tadinya banyak yang takut untuk ikut tapi saya dan teman melakukan pendekatan pada warga dan saya temui satu persatu orang yang kira kira pantas untuk mengikuti program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf ini. Saya bilang tidak apa apa Bu, ini cuma belajar bersama, dan saya beri pengertian pada mereka kalau bisa membaca menulis itu penting. Alhamdulillah warga desa Bontomarannu disini banyak yang mau ikut, pada awal pendataan calon warga belajar program Pemberdayaan Masyarakat desa yang buta huruf saya dan teman teman lakukan berhasil memperoleh 70 orang calon warga belajar yang 11 orang laki laki dan 59 orang perempuan. (Wawancara, 12 Agustus 2015 ) Pendataan dilakukan oleh pengawai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan dibantu oleh perangkat desa, tokoh masyarakat serta tutor maupun penyelenggara program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf dengan terjun langsung ke masyarakat dan memberikan sosialisasi tentang program Pemberdayaan masyarakat Pemberantasan Buta Aksara serta memberi pemahaman tentang pentingnya program ini. Mereka memberikan penawaran

76 kepada masyarakat untuk mengikuti program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf secara gratis. Mereka juga berusaha memberi pengertian kepada penyandang buta huruf agar mau mengikuti program ini. Dari pendataan calon warga belajar periode tahun 2014/2015, terjaring 70 orang penyandang buta huruf dibontomarannu Kabupaten Takalar. Calon warga belajar sejumlah 70 orang tersebut terdiri dari 4 dusun. Yaitu Dusun Talisea, Dusun Balang, Dusun Mandi dan Dusun Barua. Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa pendataan calon warga belajar di Bontomarannu telah dilakukan oleh berbagai pihak yaitu dari PKBM, PKK, Aisiyah, Dinas Pendidikan Kecamatan, tutor dan penyelenggara program Pemberdayaan masyarakat desa Yang buta huruf, perangkat desa, serta tokoh masyarakat. Dalam proses pendataan calon warga belajar hanya terdapat sedikit hambatan, yaitu rendahnya responsivitas perangkat desa dan tokoh tokoh masyarakat setempat dalam mensosialisasikan dan juga mendata calon warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Pemilihan orang orang yang tepat, dapat menjadi solusinya. c. Langkah Pelaksanaan Proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf dapat dilaksanakan setelah adanya akad kerja sama antara penyelenggara program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamaan Galesong Selatan Kabupaten Takalar. Pelaksanaan proses pembelajaran meliputi 3 tahapan : 1) Tahap Pemberian Materi Dasar (Tahap I)

77 Pada tahap pemberian materi dasar, materi yang diberikan adalah membaca, menulis dan berhitung. Tutor memberikan materi awal dengan mengenalkan huruf abjad kemudian membantu warga belajarnya untuk dapat menghafal huruf huruf. Maka tutor akan menambah tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran tahap I ini, yaitu dengan mengajari warga belajar mengeja dan berlatih membaca kata sederhana. Untuk materi berhitung di tahap I ini, tutor memberi materi dengan menggunakan angka angka yang sangat sederhana. 2) Tahap Pembinaan Keterampilan (Tahap II) dilaksanakan Setelah melalui tahap I, maka pada tahap II ini warga belajar akan diberi materi pembelajaran keterampilan. 3) Tahap Pembinaan berkesenambungan (Tahap III) dilaksanakan Pada tahap III ini warga dibina dan diberikan dana untuk mengembangkan keterampilannya. Proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di rumah tutor dengan jadwal pembelajaran 3 kali dalam 1 minggu. Setiap kelompok belajar memiliki jadwal yang berbeda dengan kelompok belajar yang lain. Tahap I hingga tahap III, warga belajar juga diberi keterampilan fungsional, misalnya : cara memjahit, membuat kerajinan dari anyaman bambu, membuat song ko guru dan kerajian dari anyaman lontar lainnya serta membuat tikar dari daun pandan. Serta pembentukan kelompok tani dengan berbagai hal yang dia ajarkan seperti cara membuat pupuk kandang, cara menanam padi dengan menggunakan alat, cara menanam jagung yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk mensejahterakan masyarakat.

78 Seperti halnya yang dipaparkan Bapak Jaharuddin S.Pd. Ketua PKBM, mengungkapkan bahwa Keterampilan yang diajarkan mulai dari menjahit, perbengkelan, anyaman buh yang terbuat dari bambu, berbagai macam anyaman lontar, anyaman daun pandang, dan membentuk usaha usaha kecil serta membentuk kelompok kelompok tani dan nelayan. Setiap kelompok masing masing memiliki 10 orang anggota. Masing masing kelompok diberikan dana bantuan 30 juta setiap kelompok, (Wawancara, 08 Agustus 2015). Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat betulbetul diberdayaakan dengan diberikan bekal ketampilan dan modal usaha untuk membantu keluarga dalam meningkatkan pendapatan. Serta memandirikan masyarakat untuk berusaha untuk maju. d. Dana Pelaksanaan Program Pendanaan pelaksanaan program Pemberantasan Buta Aksara adalah dari APBD I (Pemerintah Provinsi) dan dari APBD II (Pemerintah Kabupaten). Pihak PKBM mengajukan proposal pada masing masing sumber dana tersebut dalam rangka pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat. Hal ini seperti yang disampaikan bapak Jaharuddin S. Pd selaku ketua PKBM Satria galesong berikut ini : Dana yang kami peroleh yaitu dari APBD I, dan APBD II, dan Insya Allah tidak ada yang ditahan, sudah dicairkan semua. Besarnya macam macam, saya lupa mbak, pada intinya dana yang paling besar berasal dari APBD I. (Wawancara 08 Agustus 2015) Pada prakteknya dana dengan jumlah tersebut masih sangat kurang dan sangat terbatas, baik yang berkenaan dengan biaya belajar mengajar ataupun honor tutor dan penyelenggara. Namun sistem pendidikan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah dengan misi kemanusiaan yaitu untuk

79 membantu saudara saudara kita agar melek huruf sehingga tutor dan penyelenggara harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi karena dana yang tersedia sangat tidak sebanding dengan beban kerja yang didapat. Salawati dan tutor tutor lainnya mengatakan bahwa : Kami honornya kecil mbak akan tetapi tidak mengapa, ini demi saudara kita supaya mereka mampu membaca dan menulis, kasihan mbak kalau mereka tidak bisa membaca dan menulis, mudah dibohongi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. (Wawancara12 Agustus 2015) Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya dana dari pemerintah kurang mencukupi untuk pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini, akan tetapi kebesaran hati dan kerelaan para tutornya dalam berupaya mensukseskan program pemerintah dalam hal pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di kalangan masyarakat, mampu menetralisir hambatan tersebut e. Sarana dan prasaran Warga belajar Kegiatan pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini sudah mendapat dukungan dari Pemerintah yang berupa penyediaan sarana dan prasarana bagi warga belajar sehingga para warga belajar tidak dituntut untuk membayar sedikitpun. Sarana dan prasarana tersebut sangat standar berupa alat tulis menulis, namun sudah bisa mendukung berjalannya proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Seperti yang diungkapkan Bapak Jaharuddin S.Pd selaku ketua PKBM Satria Galesong berikut ini : Peralatan tulis menulis sudah disediakan dana dari Pemerintah mbak..sehingga warga belajar mengikuti kegiatan pembelajaran ini secara gratis dan tidak perlu membeli peralatan karena sudah menerima buku, pensil, penghapus, bolpoin. Kemudian untuk tempat pembelajaran

80 dapat digunakan rumah warga, sedangkan papan tulispun juga sudah ada biaya penyelenggaraannya. Sebenarnya dari Pemerintah sudah lengkap, walau baru berupa peralatan yang standar dan sederhana namun itu sudah mendukung dilaksanakannya PBA tadi karena materi pembelajarannya juga sangat sederhana. (Wawancara 08 Agustus 2015) Dari penuturan di atas, dapat diketahui bahwa warga belajar sudah dipenuhi dalam hal sarana dan prasarananya, dalam artian sudah tersedia sarana dan prasarana yang memadai untuk warga belajar di di kabupaten Takalar. Walaupun sarana dan prasarana masih bersifat sederhana namun sudah mampu mendukung proses pembelajaran pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Seperti yang diungkapkan Bapak Jaharuddin S.Pd selaku ketua PKBM Satria Galesong berikut ini : Untuk alat tulis menulis memang sudah ada dana dari Pemerintah mbak..sehingga warga belajar mengikuti kegiatan pembelajaran ini secara gratis dan tidak perlu membeli peralatan karena sudah menerima buku, pensil, penghapus, bolpoin. Kemudian untuk papan tulispun juga sudah ada biaya penyelenggaraannya. Sebenarnya dari Pemerintah sudah lengkap, walau baru berupa peralatan yang standar dan sederhana namun itu sudah mendukung dilaksanakannya PBA tadi karena materi pembelajarannya juga sangat sederhana. (Wawancara 08 Agustus 2015) Begitu juga dengan pengakuan Masurung, sebagai salah satu warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini : Tena ja na le baki na pa palaki doe pa bayara untuk appilajara, kabusu anjo pakakasa ni pakai annulisi kammaya tong: bo bo, po tolo, siagang penghapus nasareang ki guru anggajaraki. Artinya: Saya sama sekali tidak dimintai uang pembayaran untuk proses pembelajaran, semua peralatan tulis menulis seperti : buku tulis, pensil, penghapus seperti itu diberi sama guru yang mengajar. (Wawancara 22 Agustus 2015)

81 Dari penuturan di atas, dapat diketahui bahwa kebutuhan warga belajar sudah dipenuhi dalam hal sarana dan prasarananya. Dalam artian sudah tersedia sarana dan prasarana yang memadai untuk warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu. Walaupun sarana dan prasarana masih bersifat sederhana namun sudah mampu mendukung proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. f. Hambatan selama proses pembelajaran Dalam proses pembelajaran masih sering terjadi penundaan jadwal belajar, hal itu disebabkan karena banyak warga belajar yang memiliki motivasi belajar yang sangat rendah sehingga tidak menepati jadwal pembelajaran yang sudah ditetapkan. Banyak warga belajar yang tidak mau datang kalau tidak dijemput oleh tutornya sendiri, ada yang malu untuk ikut kegiatan belajar, ada yang dengan alasan banyak pekerjaan maka mereka mengurungkan niatnya untuk belajar, atau bahkan ada yang memang malas untuk ikut belajar. Hambatan yang paling dirasakan yaitu ketidak mampuan warga belajar dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga secara kualitas masih ada yang belum optimal dalam menguasai materi pembelajaran. Tindak lanjut yang dilakukan oleh penyelenggara adalah melakukan program Jaring Garap. Program Jaring Garap ini bertujuan untuk membelajarkan kembali para warga belajar yang belum benar benar mampu menguasai materi pembelajaran. Bapak Jaharuddin S.Pd ketua PKBM mengungkapkan bahwa: Kendala yang dihadapi selama pendataan dan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah yang pertama: masalah pembiayaan yang terlambat masuk, Kedua: masyarakat yang

82 belum terlalu paham tentang pentingnya pendidikan sehingga hanya sebagian saja yang datang yang merasa pendidikan itu penting sehingga lmereka serius dalam belajar, Ketiga: banyaknya alasan warga seperti pergi keacara pesta, panen dan lain sebagainya.(wawancara, 08 Agustus 2015). Hal serupa juga yang di ungkapkan Salawati bahwa: Kendala yang saya hadapi pada saat proses mengajar adalah warga tidak cepat paham dengan apa yang dijelaskan itu mungkin karena orang tua, banyaknya warga tidak datang belajar dengan alasan sibuk, kepesta, dan panen.(wawancara,12 Agustus 2015) Dari uraian wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa hambatan proses pembelajaran adalah faktor biaya, kurangnya motivasi belajar, mata pencaharian, nilai nilai sosial yang membuat masyarakat terhambat dalam pembelajaran serta banyaknya alasan masyarakat untuk tidak datang belajar. Selain hambatan hambatan di atas masih terdapat faktor hambatan dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf yaitu sebagai berikut: 1) Nilai nilai sosial Adanya sikap masyarakat yang tidak mau dan malu menginformasikan bahwa ada diantara diri masyarakat yang buta huruf. Di samping itu, masih ada masyarakat yang beranggapan kurangnya manfaat yang dirasakan dari program pendidikan terhadap kehidupan sehari hari, artinya meskipun berpendidikan belum tentu bisa menjamin kebutuhan sehari hari. Dengan demikian masyarakat tidak terdorong untuk mengikuti program pendidikan, termasuk program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf yang dilaksanakan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) tersebut.

83 Untuk lebih jelasnya berikut ini penuturan Bapak Jaharuddin sebagai ketua PKBM Satria Galesong sebagai berikut: Terkadang mereka tidak merasa membutuhkan, padahal kemampuan membaca dan menulis itu penting sekali untuk masyarakat, untuk peningkatan SDM dan mengentaskan mereka dari keterbelakangan. Toh mereka sebetulnya manusia seperti kita juga yang sangat butuh pendidikan, butuh ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya tetapi kenyataannya mereka tidak merasa butuh. (Wawancara 08 Agustus 2015) Salawati selaku tutor kelompok belajar juga mengungkapkan hal yang senada berikut ini : Sebenarnya masih banyak mbak yang belum bisa membaca dan menulis, di desa Bontomarannu sini saja terdapat 70 warga yang masih menyandang status buta huruf, namun masih ada lagi yang belum terdata hanya saja mereka malu untuk mengikuti proses pembelajaran. Selain itu pola pikir mereka yang menganggap belajar maupun mempunyai kemampuan membaca dan menulis itu tidak penting, jadi menurut mereka kegiatan seperti ini tidak ada gunanya. (Wawancara 12 Agustus 2015) Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masih banyak warga masyarakat yang malu untuk ikut pembelajaran dan masih banyak yang beranggapan bahwa program ini tidak penting. Hal tersebut sangat menghambat suksesnya program, karena apabila masyarakat sudah malu dan menganggap tidak penting maka otomatis mereka tidak respon terhadap program tersebut. 2) Mata pencaharian Mata pencaharian musiman yang ada pada masyarakat sering mempengaruhi terhadap dorongan masyarakat untuk mengikuti program pendidikan. Pada saat musim mata pencaharian tertentu tiba, masyarakat cenderung lebih memilih mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan sehari harinya dari pada mengikuti program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf.

84 Seperti yang diungkapkan Salawati selaku tutor program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf : Disini semangat belajarnya sangat kurang mbak, apalagi saat musim panen. Mereka lebih memilih memanen padi dari pada mengikuti pembelajaran. Saya juga tidak bisa memaksa karena mereka juga mencari makan. (Wawancara 12 Agustus 2015) Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf juga terhambat masalah mata pencaharian warga belajarnya, dimana warga belajar lebih memilih mencari uang dari pada mengikuti proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan saat warga belajar merasa ada peluang mencari uang, maka mereka akan meninggalkan pembelajaran. Permasalahan ini tidak dapat dihindari dan tutor juga tidak berhak melarang karena warga belajar juga membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup. 3) Motivasi penduduk Permasalahan yang paling mendasar dalam pemberdayaan masayarakat desa yang buta huruf yaitu rendahnya motivasi belajar penduduk buta huruf. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf mereka tidak merasa membutuhkan pendidikan karena mereka menganggap itu tidak penting sehingga mereka kurang respon terhadap program ini. Bapak Jaharuddin S.Pd selaku ketua PKBM satria Galesong mengatakan sebagai berikut : Warga belajar itu sendiri kesadarannya kurang disamping bazis pendidikannya sangat sangat minim, mereka lebih senang ke sawah daripada belajar. Mereka berpikir dari pada waktu habis untuk belajar

85 lebih baik waktu habis untuk merumput, sapinya kenyang. Ya motivasi yang masih sangat kurang seperti itu mbak yang membuat kami kesulitan dalam memberi dorongan agar mereka mau belajar. (Wawancara 08 Agustus 2015) Salawati selaku tutor juga mengungkapkan bahwa motivasi warga masyarakat yang rendah ditunjukkan dengan jarangnya mereka datang ke lokasi pembelajaran dikarenakan hujan atau mereka mengemukakan alasan lain seperti tidak punya waktu karena sibuk : Memang masyarakat penyandang buta huruf disini kesadarannya masih sangat rendah mbak, pernah waktu hujan itu yang datang hanya satu orang. Yang lainnya tidak datang dengan alasan hujan. Selain itu ada juga yang tidak datang karena memang malas, atau alasannya sibuk merawat anaknya, sibuk masak. Pokoknya macam macam alasannya, intinya motivasi mereka untuk belajar itu masih rendah. (Wawancara 12 Agustus 2015) Dari penuturan penuturan di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi masyarakat yang rendah menjadi hambatan yang sulit diatasi oleh penyelenggara maupun para tutor. Dengan motivasi rendah, timbul pemikiran bahwa program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf tidak penting sehingga mereka akan berat hati untuk meluangkan waktu ikut pembelajaran. g. Tujuan Pelaksanaan Program Meningkatkan pengetahuan membaca, menulis, berhitung, dan tematik serta keterampilan fungsional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan masyarakat agar mampu berperan serta secara aktif dalam pembangunan dan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi peningkatan kesejahteraan hidupnya. Memberi bekal keterampilan kepada warga belajar agar dapat mandiri. (Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, 2006 : 31).

86 bahwa : Seperti yang disampaikan oleh Ketua PKBM Informal, Jaharuddin S.Pd Tujuan dari program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini sudah kami terapkan dalam pelaksanaannya mbak, yaitu dengan pemberian materi calistung atau baca tulis dan berhitung serta pemberian materi keterampilan fungsional kepada warga belajar yang mengikuti program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini pada dasarnya tujuan utamanya adalah menjadikan masyarakat mampu membaca, menulis dan juga berhitung. Sedangkan keterampilan fungsional yang diberikan kepada warga belajar itu merupakan stimulus untuk menarik minat warga belajar agar mau datang dan lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran program ini. (Wawancara, 08 Agustus 2015) Sabintang sebagai salah satu warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf mengatakan bahwa : Sanna rannuku, nisare waktu a pilajara a mmaca siagang annulisi, siagang na ajari ki angkembangkangi anangan palapa tala kamma ya tong songko guru, pa kape, asbak, tampa bunga, topi, ponto, gantungan konci. Riolo songko guru tonji ni asseng ni pare, tapi anne kamma kamma jai mi a rupa rupa siagang Alhamdulillah akkulle tomma ang kembangkangi. Sanna rannuku teyai angkana pangngisengang siagang keterampilan ingka ni sareki modal tallu juta se re tau per kalompok siagang na pa sadiangki bahan bahan nani pakai ya. Artinya: Saya senang sekali diberi kesempatan belajar membaca dan menulis. Serta dilatih mengembangkan anyaman lontar seperti songko guru, kipas, asbak, pot bunga, topi, gelang, gantungan kunci. Dulu hanya songko guru saja yang bisa saya buat tetapi sekarang sudah banyak macamnya dan Alhamdulillah sudah bisa mengembangkannya. Saya sangat senang bukan hanya pengetahuan dan keterampilan saja yang saya dapat tetapi diberi juga bantuan modal sebesar Rp per orang setiap kelompok serta disediakan bahan bahannya. (Wawancara, 11 Agustus 2015) Para warga belajar juga mengakui akan pentingnya mengikuti program Pemberdayaan Masyarakat desa yang Buta huruf dan sudah merasakan manfaatnya, seperti yang dikemukakan Masurung selaku warga belajar berikut ini:

87 Nakke ap pala terimakasih, lebba ni a program kamma anne, anne kamma kamma a kulle ma ammaca sike de ke de. Riolo tena naku sangkai angkana nia kamajuan kamma anne, jari tena ku peduli angkanaya pentingi assikola ya. Ingka sanna dudu rannuku a kulle a pilajara ammaca, annulisi siagang a rekeng. Nampa ni sarea poeng pa pilajarang a pare keterampilan kammaya tong kanre jawa, a genna nia anne program nga a kulle tomma ambantui keluargaku a boya boya. Artinya: Saya mengucapkan terima kasih, sudah ada program seperti ini, sekarang sudah bisa membaca sedikit sedikit. Dulu saya tidak menyangka akan ada kemajuan seperti ini, jadi saya tidak peduli arti pentingnya sekolah. Maka dari itu saya senang sekali bisa belajar seperti ini, jadi bisa membaca, menulis dan berhitung. Selain itu saya juga diberi pembelajaran tentang berbagai macam keterampilan, misalnya : membuat kue, dengan adanya program ini saya sudah bisa menambah pendapatan keluarga (Wawancara 22 Agustus 2015) Hal serupa juga di sampaikan oleh Samsina bahwa: Salama ku ikuti program anne, ku sa ring nia perubahan ka riolo tena ku ngisseng ammaca,annulisi, ingka kamma kamma anne Alhamdulillah a kulle tomma. Riolo antama tong ja assikolah a gengku ji kalasa rua na saba tena biaya na ku mantangmo siagang sikolah ya bellai, sanna dudu rannuku ni ana anne program nga na saba na bantuki pa ngisengang siagang nasare ki modala usaha tallu juta se re tau siagang na pasadiakangki berang, kandao, pammaja, komporo, passiko, siagang katoang. Nakke ni pantamaka ri kelompok penrajin ta pereka, ka ia tommi anjo kuaseng ku pare. Artinya: Selama saya mengikuti program ini, saya merasa ada perubahan karena dulu saya tidak bisa membaca, menulis, tetapi sekarang Alhamdulillah sudah bisa. Saya dulunya sekolah sampai kelas 2 tetapi berhenti karena faktor biaya, saya berhenti dan sekolahnya pun jauh, saya merasa senang dengan adanya program ini karena selain pengetahuan yang didapat kamipun diberi bantuan modal untuk mengembangkannya. Saya diberi uang sebesar Rp perorang dan disediakan bahan bahan yang dipakai seperti parang, sabit, wajang, kompor, tali, baskom, saya di kasih masuk dikelompok penrajin tikar, karena itu saja yang bisa saya buat, (Wawancara, 23 Agustus 2015) Dg. Tayang sebagai informan yang bekerja sebagai nelayan: Sanna rannuku nia na program kamma ya anne, a kulle tomma ammaca, annulisi siagang a rekeng. Riolo nakke tena ku assikolah gara gara tena

88 doe siagang bellai sikolayah, jama jamanna tau toaya tena na nassa, siagang jaiya assaribattang, iya mi anjo naku tena mo naku sikolah. Ingka Alhamdulillah nia na anne program nga a kulle ya na bantu, Siagang sanna rannuku ni sare ya podeng bantuan alat papekang kamma ya tong lanra, biseang, masina, otere, siagang doe tallu juta. Artinya: Saya merasa senang dengan adanya program ini, saya bisa membaca, menulis dan berhitung. Dulunya memang saya tidak sekolah karena tidak adanya uang, jaunya sekolah, pekerjaan orang tua yang tidak tetap, dan saya juga banyak bersaudara, inilah yang menyebabkan saya sehingga tidak sekolah. Tapi Alhamdulillah adanya program ini bisa membantu, dan saya pun senang diberikan bantuan perlengkapan nelayan seperti: jaring, perahu, mesin, tali dan uang sebesar Rp (Wawancara, 22 Agustus 2015) Hal serupa juga di ungkapkan Sekertaris desa Muhammad Nasir P bahwa: Masyarakat yang buta huruf di berdayakan dalam kelompok kelompok jadi setiap kelompok masing masing beranggota 10 orang, misalnya kelompok petani 30 orang tetapi terbagi dalam 3 kelompok, kelompok penrajin anyaman tikar 10 orang, anyaman lontar 10 orang, kelompok nelayan 20 orang terbagi dalam 2 kelompok. Pada kelompok tani diberikan banyak bantu seperti popa air, traktor, mesin padi, benih padi, benih jagung, dan diajarkan pula bagaimana membuat pupuk kandang dengan memanfaatkan kotoran sapi, dan cara menanam padi dengan mengunakan alat. (Wawancara, 21 Agustus 2015) Ketua PKBM Satria Galesong Jaharuddin S.Pd mengungkapkan bahwa: Masyarakat yang buta huruf diberdayakan melalui pembinaaan, PKBM membina 3 kelompok penrajin song ko guru yaitu: Citra Insani, Kreasi Lontara, dan Citra Mandiri, dengan memberikan kepada mereka modal setiap kelompok diberi bantuan modal sebesar RP dan bahan yang di pakai disediakan oleh kami seperti: pelapa lontar, pewarna, benang. Setiap kelompok berhak memasarkan sendiri kerajinannya dan diberi kebebasan tersendiri untuk berkreasi. Dan dana yang diberikan kepada setiap kelompok tidak kembalikan, tetapi bagaimana setiap kelompok mengelolah dananya masing masing. (Wawancara 08 Agustus 2015) Dari wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi tujuan dari program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini telah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat penyandang buta huruf. Adanya

89 kesesuaian tujuan pemerintah untuk memberantas buta huruf dan memberdayakan masyarakatnya dan keinginan masyarakat untuk mau mengikuti proses pembelajaran agar dapat mempunyai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta memperoleh keterampilan fungsional yang sesuai dengan potensi wilayah di daerahnya masing masing. h. Sasaran Pelaksanaan Program Dilihat dari tujuan dari program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf, maka dapat diketahui pula siapa saja yang menjadi sasaran pelaksanaan program ini. Sasaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah warga masyarakat yang berusia 15 tahun ke atas yang belum mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Untuk lebih jelasnya, bapak Jaharuddin S.Pd ketua PKBM menjelaskan : Yang menjadi sasaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah orang orang yang belum bisa membaca atau sudah pernah mendapatkan pendidikan akan tetapi putus ditengah jalan. Dengan batasan usia 15 tahun ke atas. Jadi masyarakat yang sudah pernah mengenyam pendidikan tapi putus sekolah juga dapat mengikuti program ini. Karena biasanya, walaupun sudah pernah mengenyam pendidikan tapi tidak pernah dilatih maka kelamaan bisa lupa. (Wawancara 08 Agustus 2015) Sewang merupakan warga belajar kelompok menuturkan bahwa: Program na pareka pammarenta siagang PKBM sanna baji na, nasaba program tersebut na bantua ammaca, annulisi siagamng a tanda tangan, riolo nakke lebba tong ja assikolah ingka a;gengku ji ri kalasa ap pa, gara gara tena biaya, tea mako angkana sikolah angnganre saja ni sawala, beru pi kusadari angkana parallu padeng pendidikan bantu ri tallasaka Artinya: Program yang dibuat pemerintah bersama PKBM sangat bagus, karena program tersebut membantu saya dalam hal membaca dan menulis serta tanda tangan, dulunya saya juga sekolah tetapi hanya sampai kelas 4 saja,

90 gara gara biaya tidak ada, jangankan sekolah makan saja susah, saya baru menyadari bahwa pentingnya pendidikan dalam kehidupan. (Wawancara, 21 Agustus 2015) Diungkapkan Hariani peserta kelompok belajar di Dusun Balang: Riolo lebba ja assikolah ingka beru pa kalasa rua naku ammalasa battu kasammari ya napa kanai taua tolo jari siri siri tomma battu sikolah. Lebba na anjo tena mo kulleba appilajara ammaca, siagang annulisi. Ingka lebba ku amminawang ri program PKBM a kulle tomma ammaca, annulisi. Sanna tong baji na manfaat na. Artinya: Dulu saya pernah sekolah tapi baru kelas 2 saya malas datang karena selalu di katai bodoh sehingga saya malu datang kesekolah. Setelah itu, saya tidak pernah belajar membaca dan menulis lagi. Tetapi setelah mengikuti program PKBM ini saya mulai bisa kembali membaca dan menulis, Saya sangat merasakan manfaatnya. (Wawancara 23 Agustus 2015) Dapat disimpulkan bahwa sasaran program Pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini sudah sesuai dengan tujuannya. Warga belajar yang mengikuti program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini telah sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan oleh pelaksana program PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Satria Galesong. i. Dampak Pelaksaanaan Program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf Dampak dari pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf dalam rangka meningkatan kualitas sumber daya manusia dan masyarakat agar mampu berperan serta secara aktif dalam pembangunan dan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi peningkatan kesejahteraan hidupnya. Hal ini dikarenakanpelaksanaan program tidak terlepas dari dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaan program tersebut.

91 Dengan dilaksanakannya program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf maka dampak sosial yang diharapkan terjadi pada kehidupan masyarakat yaitu masyarakat mampu berinisiatif dan memiliki kemandirian dalam kehidupannya sehinga tidak menggantungkan diri pada orang dan berpikiran untuk maju. Selain itu juga diharapkan masyarakat sudah memiliki kemampuan keaksaraan sehingga mampu melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan keaksaraan dan mampu mengakses informasi dalam bentuk tulisan seperti koran dan majalah. Setelah pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini, dampak ekonomi yang diharapkan pemerintah bagi masyarakatnya adalah masyarakat mampu berwirausaha secara mandiri dengan bekal keterampilan yang telah diberikan selama program pemerintah ini berlangsung. Dengan begitu, apa yang menjadi tujuan pemerintah dapat tercapai. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Jaharuddin S. Pd selaku Ketua PKBM Satria Galesong bahwa: Dampak positif dari program PBA ini ya...tentunya masyarakat yang masih buta aksara sekarang jadi bisa membaca, menulis dan juga berhitung. Dengan mampunya masyarakat untuk membaca dan menulis, menjadikan mereka tidak mudah ditipu. Dampak secara administrasi, warga belajar jadi bisa melakukan kegiatan transaksi ekonomi dalam kehidupan sehari hari, misal: sudah bisa mengisi kuitansi, membaca bukti pembayaran. Pemberian materi keterampilan ya walaupun tidak semua warga belajar bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari harinya, tapi ada sebagian warga belajar yang membuka usaha kecil kecilan tentunya dengan modal seadanya,. (Wawancara 08 Agustus 2015)

92 Hal tersebut diperkuat dengan penuturan Bapak Sewang salah satu warga belajar yang telah selesai mengikuti proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf : Inakke kodong jama jamaku petani ji ingka selama le baka amminawang ri PKBM ni a anu beru ku kappa iami anjo ni ajaran ki appare pentol sanggara. Naku coba mo usaha pentol siagang ku paraktekkan tomi batena ni pa re. Artinya: Pekerjaan saya Cuma petani tetapi selama sudah mengikuti PKBM ada hal baru yang saya dapat di sana yaitu diajarkan membuat pentol goreng, Saya mencoba usaha pentol goreng dan praktek cara membuat. (Wawancara 21 Agustus 2015) Dampak dari diselenggarakannya program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini juga dirasakan positifnya oleh Sabintang yang juga sebagai warga belajar dalam program pemerintah ini. Berikut penuturan Ibu Sabintang tentang dampak proses pembelajaran yang telah beliau ikuti : Anne kamma kamma akkulle tomma anulisi surat izin anakku punna tena na mange assikolah siagang akkulle tomma attanda tangan. Riolo sanna bingungku appala tolong punna na pa reka surat. Riolo guru na ji anakku anggajaria anulisi. Pertamaku ampilajara sanna sukkara na, samata apilajaraku ji a gengku akulle. Alhamdulillah akulle tomma appare kale kale mana tena kulancara. Artinya: Sekarang saya sudah bisa menulis surat ijin untuk anak saya kalau dia tidak masuk sekolah, sudah bisa tanda tangan. Dulu saya bingung minta tolong tetangga kalau mau membuat surat ijin. Dulu bu Gurunya mengajari saya cara membuat surat ijin tidak masuk sekolah. Awalnya saya tidak bisa terus waktu diajari, padahal sudah diajari berulang ulang kali, lama kelamaan saya bisa juga. Alhamdulillah...sekarang sudah bisa membuat sendiri walau agak tidak lancar nulisnya. (Wawancara 11 Agustus 2015)

93 Dari penuturan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa dampak yang diharapkan pemerintah dengan diselenggarakannya program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf telah tercapai. Hal itu terbukti dengan adanya kemajuan warga belajarnya dibidang sosial maupun ekonomi, yaitu secara sosial masyarakat yang dulunya buta aksara sekarang telah mampu membaca, menulis, dan berhitung sedangkan secara ekonomi masyarakat mampu berwirausaha secara mandiri dengan menerapkan materi keterampilan fungsional yang telah diberikan dalam proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf yang dilaksanakan oleh PKBM Satria Galesong. C. Pembahasan Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat dalam memamfaatkan sumber daya yang dimiliki, baik itu sumber daya manusia (SDM) maupun sumber daya alam (SDA) yang tersedia dilingkungannya agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun upaya yang dilakukan tidak hanya sebatas untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga untuk membangun jiwa kemandirian masyarakat agar berkembang dan mempunyai motivasi yang kuat dalam berpartisipasi dalam proses pemberdayaan. Berkaitan dengan pandangan teori struktural fungsional Parson yang mengatakan bahwa pemberdayaan merupakan sebuah proses agar setiap orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai pengontrolan, dan mempengaruhi, kejadian kejadian serta lembaga lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Karena itulah pemberdayaan menekankan bahwa orang

94 memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya. Talcott Parsons (1973) dalam Ritzer Teori Sosiologi Modern Edisi Keenam (2008: 122) mengungkapkan suatu keyakinan akan perubahan dan kelangsungan sistem yang ada dalam masyarakat yang harmonis antar bagian. Selain itu ibarat organ tubuh mempunyai fungsinya masing masing maka seperti itu pula lembaga di masyarakat yang melaksanakan tugasnya masingmasing untuk tetap menjaga stabilitas dalam masyarakat, jika dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah masyarakat dibentuk dalam sebuah lembaga agar mampu mandiri dan menjadi kuat dalam menjaga keharmonisan suatu kelompok, karena jika masyarakat dikelompok akan mengalami perubahan seperti halnya kelompok belajar yang di buat oleh pemerintah dalam mengentaskan buta huruf dan memberdayakan masyarakatnya agar dapat mandiri. Penerapan teori konstruksi sosial dalam pekerjaan sosial. Peter L. Berger dan Thomas Luckman (1967) dalam Burhan (2007: 125) mengemukakan bahwa: Pekerja sosial sadar bahwa keinginan untuk membangun masyarakat yang masih rentan dari kesejahteraan membutuhkan alternatif alternatif yang kiranya bisa diterapkan kepada masyarakat yang menyandang buta huruf. Seperti yang terjadi di Desa Bontomarannu saat ini, pekerja sosial mengalami distorsi terhadap permasalahan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat desa yang buta huruf. Keikut sertaan pekerja sosial (pemerintah) dalam melihat problem masyarakat tentunya berpengaruh bagi laju perkembangan harapan hidup ke arah yang lebih baik. Seperti yang ditegaskan Clifford untuk mencari sumber masalah orang banyak, memerlukan keterampilan yang lebih. Menurutnya, pekerja sosial yang terampil menggunakan assesment dengan tujuan untuk mengeluarkan pertentangan emosi dan sikap dan untuk menyiasati dengan teliti masalah individu mendasar yang mungkin tidak di sentuh. Proses pertolongan oleh pekerjaan sosial dalam melihat masalah yang dihadapi, pekerja sosial memiliki tahapan dalam proses pertolongan yang paling sering dilakukan

95 oleh pekerja sosial adalah assesment. Assesment merupakan penaksiran atau penilaian terhadap situasi, data, fakta dasar, perasaan orang dan keadaan yang terlibat didalamnya. Pekerja sosial dalam pelaksanaan kerjanya menerapkan dasar pengetahuan umum hingga dasar pengetahuan khusus. Dalam hal ini pekerja sosial adalah pemerintah yang ada di Desa Bontomarannu yang juga melihat masalah yang di hadapi masyarakat. Masalah tersebut adalah masalah buta huruf, dimana masyarakat masih banyak yang buta huruf. Untuk itu pemerintah melakukan upaya pengentasan buta huruf dengan memberdayakan masyarakat desa dan memberikan modal usaha kepada masyarakat. Dengan adanya program ini masyarakat sangat terbantu sudah bisa mandiri. Faktor faktor yang menyebabkan masyarakat desa yang buta huruf disebabkan karena kemiskinan, putus sekolah, kondisi sosial masyarakat seperti kesehatan dan gizi masyarakat, geografis, aspek sosiologis, dan issue gender, dan penyebab struktural seperti skala makro, skala mikro, aspek kebijakan. Pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta huruf ini, perlu dilakukan beberapa langkah agar dicapai pelaksanaan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penyelenggara. Langkah langkah tersebut adalah sebagai berikut : langkah persiapan, pendataan calon warga belajar, dan langkah pelaksanaan. Pemberdayaan dalam bidang pendidikan, juga berarti kemampuan dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi, politik, maupun budaya untuk terus menerus memperbaiki kehidupan.

96 Menurut Sumodiningrat (1999) dalam Martikanto T dan Soebiato P (2013:52) mengungkapkan bahwa: Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki. Artinya pemberdayaan masyarakat senantiasa menyangkut dua kelompok yang salng terkait, yaitu masyarakat sebagai pihak yang diberdayakan dan pihak yang menaruh kepedulian sebagai pihak yang memberdayakan. Freire (1973) dalam Martikanto T dan Soebiato P (2013: 32 33) mengatakan bahwa kegiatan pendidikan orang dewasa (seperti halnya pemberdayaan masyarakat) merupakan Proses penyadaran menuju kepada pembebasan. Oleh sebab itu, proses pemberdayaan masyarakat harus dibebaskan dari upaya upaya menciptakan ketergantungan atau bentuk bentuk penindasan. Artinya melalui pemberdayaan, penerima manfaat harus diberi kesempatan seluas luasnya untuk menyampaikan pengalaman dan mengembangkan daya nalarnya, sehingga didalam proses pemberdayaan tersebut kedudukan tutor dan masyarakat yang buta huruf berada dalam posisi yang setara. Penerima manfaat program pemberdayaan masyarakat adalah kelompokkelompok marjinal dalam masyarakat, termasuk wanita, namun demikian, ini tidak berarti menafikan partisipasi pihak pihak lain dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf seperti yang dilakukan PKBM, PKK, dan Aisiyah. Di samping itu, harus selalu diingat bahwa penerima manfaat adalah orangorang dewasa yang disamping telah memiliki pengalaman, perasaan dan harga diri (yang tidak mudah dan tidak ingin di gurui), mereka juga memiliki banyak kegiatan (tidak memiliki banyak waktu untuk belajar), dan merupakan pribadipribadi yang umumnya telah mengalami kemunduran (baik kemunduran kemampuan fisiknya maupun semangat belajar).

97 Kegiatan pendidikan non formal (termasuk fasilitator an) selalu deprogram sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. Artinya berbeda dengan pendidikan formal yang telah memiliki program yang dibakukan, sehingga setiap peserta harus mengikuti/menyesuaikan diri dengan program pendidikan tersebut. Setiap kegiatan pendidikan non formal (kegiatan pemberdayaan masyarakat) harus selalu menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan penerima manfaatnya.

98 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, dapat disimpulkan tentang pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut: 1. Faktor faktor yang menyebabkan masyarakat desa yang buta huruf yaitu faktor kemiskinan, faktor ekonomi, faktor putus sekolah, faktor kondisi sosial masyarakat seperti kesehatan dan gizi masyarakat, geografis, aspek sosiologis, dan issue gender, dan penyebab struktural seperti skala makro, skala mikro, aspek kebijakan. 2. Pelaksanaa program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf dilaksanakan oleh pemerintah bersama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) PKK dan Aisiyah. Pelaksanaan program ini meliputi 3 tahap di antaranya: Tahap pertama pemberian materi dasar (seperti: membaca, menulis, dan berhitung), Tahap kedua: Pembinaan Keterampilan, dan Tahap Ketiga: Pembinaan secara bersikenambungan. 3. Hambatan pelaksanaan dalam program ini adalah dipengaruhi oleh nilainilai sosial, sosialisasi yang kurang, mata pencaharian, motivasi penduduk yang kurang sehingga masyarakat tidak terlalu peduli, dana, kurangnya motivasi tutor. 84

99 B. Saran Penulis memberikan saran dan masukan terhadap pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat Desa yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar kedepannya agar masyarakat yang buta huruf dapat berkurang dan bisa mengembangkan keterampilan yang mereka miliki diantaranya: 1. Sosialisasi yang dilakukan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) sebaiknya lebih ditingkatkan, yaitu dengan melakukan sosialisasi rutin di tiap desa tentang manfaat program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. 2. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) selaku motivator dan fasilitator program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf sebaiknya mengkoordinasikan dan mengusulkan peningkatan anggaran agar pelaksanaan program dapat ditingkatkan. 3. Walaupun program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf merupakan Pendidikan Non Formal, namun Pemerintah juga harus memperhatikan kesejahteraan para penyelenggara dan tutor seperti layaknya Pendidikan Formal dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dan honor yang cukup.

100 DAFTAR PUSTAKA Adi, R, I Kesejahteraan Sosial (Pekerjaan Sosial, Pembangunan Sosial, dan Kajian Pembangunan). Jakarta : Rajawali Pers. Alwasilah, A. C Pokoknya Kualitatif Dasar dasar Merancang dan Melakukan Penelitian kualitatif. Bandung: Pustaka Jaya. Anwas, O, M Pemberdayaan Masyarakat di Era Global. Bandung : Alfabeta. Azzet, M, A Pendidikan Yang Membebaskan. Jogjakarta: Ar Ruzz Media. Freire, P Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Yogyakarta : Pustaka Belajar Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia. Gunawan, I Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan Praktik. Malang : Bumi Aksara. Hiryanto Kebijakan Program Pemberantasan Buta Aksara. Tesis. Yogyakarta: PLS FIPs UNY. Kholif, N. H Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Terbit Terang. Labolo, M Memaham iilmu Pemerintahan: Suatu Kajian, Teori, Konsep, dan Pengembangannya. Jakarta: Rajawali Pers. Poloma, M. M Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers. Pranarka A. M. W. dan Prijono Onny S, Pemberdayaan : Konsep, Kebijakan dan Implementasi. Jakarta : CSIS. Priyatna, H Kamus Sosiologi. Bandung: Nuansa Cendekia. Maleong, L, J Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mardikanto, T. & Soebiato, P Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung :Alfabeta. Ritzer, G Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berpara digma Ganda. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 86

101 Salman, D Sosiologi Desa : Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas. Makassar : Ininnawa. Scott, J Teori Sosial Masalah masalah Pokok Dalam Sosiologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Soekanto, S Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. Sugiyono Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suharto, E Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama. Suyanto, B Anatomi Kemiskinan dan Strategi Penanganannya. Malang : In Trans Publishing Wisma Kali Metro. Tim Penyusun FKIP Unismuh Makassar Pedoman Penulisan Skripsi. Unismuh Makassar: Panrita Press. Wirawan, I, B Teori Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma (Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial). Jakarta: Kencana. Sumardi K Pendidikan Keaksaraan Dasar Melalui Metode Kombinasi Bagi Wanita Miskin dan Tuna Aksara di Pedesaan Indonesia. (Online). Diakses pada tanggal 28 April 2015 Permana, Heru Hairudin Buta Huruf. (Online). ( huruf.html. Diakses pada tanggal 28 April Purba, J. N Pemberdayaan Masyarakat Desa Di Kecamatan Panombeian Panei Kabupaten Simalungun. Tesis. Medan: Program Sarjana Universitas Sumatera Utara. (Online). Diakses : 14April 2015 ( Ratman, Dadang Rizki Persentase Pemuda yang Buta Aksara Menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin dan Tipe Daerah (2009). Diakses pada tanggal 01 November Sri Wahyuni Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Melalui Model Penuntasan Buta Aksara Wanita Pedesaan Dengan Snowball Method Berbasis Sumber Daya Daerah. Diakses pada tanggal 15 April 2015

102 Subiyanto, B, S Strategi Pemberdayaan Masyarakat. (Online). Di akses 15 April ( strategi pemberdayaan masyarakat.html) Wilastinova, Reny Fatma Upaya Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia. (Online). ( buta aksara di indonesia/). Diakses pada tanggal 27 April 2015

103 LAMPIRAN 1 PEDOMAN WAWANCARA LAMPIRAN 2 DAFTAR NAMA NAMA INFORMAN LAMPIRAN 3 DATA HASIL PENELITIAN LAMPIRAN 4 PERSURATAN LAMPIRAN 5 DOKUMENTASI

104 PEDOMAN WAWANCARA Daftar wawancara ini digunakan sebagai pedoman untuk mempermudah menjawab hasil penelitian mengenai Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar A. Pemerintah 1. Bagaimana peran pemerintah dalam menuntaskan masalah buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar? 2. Sejauh mana upaya pemerintah dalam menuntaskan buta huruf dan memberdayakan masyarakat desa? 3. Bagaimana pandangan bapak/ibu terhadap masih banyaknya masyarakat desa yang buta huruf di kabupaten Takalar? 4. Apa kendala yang dihadapi selama program tersebut teralisasikan di masyarakat? 5. Apa yang bapak/ibu ketahui tentang penyebab masyarakat buta huruf di kabupaten Takalar? 6. Apa saja program program pemberdayaan masyarakat yang di buat oleh pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat? 7. Apa harapan bapak/ibu kedepannya dengan adanya program ini?

105 PEDOMAN WAWANCARA Daftar wawancara ini digunakan sebagai pedoman untuk mempermudah menjawab hasil penelitian mengenai Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar B. Tutor atau Pengajar 1. Bagaimana pandangan ibu terhadap banyaknya masyarakat yang buta huruf di desa Bontomarannu? 2. Bagaimana pandangan ibu terhadap program yang dibuat oleh pemerintah mengenai pengentasan buta huruf dan pemberdayaan masyarakat desa di kabupaten Takalar? 3. Bagaimana tanggapan ibu terhadap antusias masyarakat terhadap program tersebut? 4. Menurut ibu selaku tutor, apa kendala kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut? 5. Apa sajakah yang diajar kan pada proses belajar tersebut? 6. Apa harapan ibu selaku tutor atau pengajar kedepannya terhadap program pemerintah tentang pengentasan buta huruf dan pemberdayaan masyarakat?

106 PEDOMAN WAWANCARA Daftar wawancara ini digunakan sebagai pedoman untuk mempermudah menjawab hasil penelitian mengenai Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar C. Pertanyaan pada Masyarakat yang buta huruf 1. Bagaimana menurut bapak dan ibu perlukah pendidikan dalam kehidupan sehari hari? 2. Apa yang menjadi penyebab sehingga bapak dan ibu tidak bisa membaca maupun menulis dengan istilah buta huruf? 3. Bagimana menurut bapak dan ibu dengan adanya program pemerintah mengenai pengentasan buta huruf dan pemberdayaan masyarakat desa Bontomarannu? 4. Selama bapak dan ibu ikut serta dalam program pemerintah, apa manfaat yang dirasakan? 5. Kesulitan apa yang di alami bapak dan ibu pada saat belajar? 6. Bagaimana tanggapan bapak dan ibu terhadap program pemerintah dalam mengentaskan dan memberdayakan masyarakat desa? 7. Apa harapan bapak dan ibu dengan program program pemerintah kedepannya?

107 DAFTAR NAMA-NAMA INFORMAN 1. Nama : Abdul Wahab S.Sos. M.Si Umur : 40 Tahun Status : Sudah menikah Pendidikan : S2 Pekerjaan : Kades 2. Nama : Muhammad Nasir P Umur : 44 Tahun Status : menikah Pendidikan : S1 Pekerjaan : Sekertaris Desa 3. Nama : A. Jupri Sangaji Umur : 43 tahun Status : Menikah Pendidikan : S1 Pekerjaan : Pegawai Diknas 4. Nama : Jaharuddin S.Pd Umur : 38 Tahun Status : menikah Pendidikan : S1 Pekerjaan : Ketua PKBM 5. Nama : Salawati Umur : 34 Tahun Status : Menikah Pendidikan : Tamat SMA Pekerjaan : PKK/ Tutor

108 6. Nama : Hj. Nursiah Umur : 41 Tahun Status : Menikah Pendidikan : D3 Pekerjaan : Ketua PKK 7. Nama : Sewang Umur : 55 Tahun Status : Menikah Pendidikan : Tidak Tamat SD Pekerjaan : Petani 8. Nama : Sabintang Umur : 52 Tahun Status : Menikah Pendidikan : Tidak Tamat SD Pekerjaan : penrajin Song ko Guru 9. Nama : Masurung Umur : 43 Tahun Status : Menikah Pendidikan : Pekerjaan : Pembuat Kue 10. Nama : Dg. Tayang Umur : 35 Tahun Status : Menikah Pendidikan : Pekerjaan : Nelayan

109 11. Nama : Hariani Umur : 25 Tahun Status : Belum Menikah Pendidikan : Tidak Tamat SD Pekerjaan : 12. Nama : Samsina Umur : 32 Tahun Status : Menikah Pendidikan : Tidak Tamat SD Pekerjaan : Pengrajin Tikar

110 Lampiran 3 Data Hasil Penelitian No Nama Informan Umur Pekerjaan Keterangan 1. Abdul Wahab S.Sos. M. Si 40 tahun Kades Buta huruf adalah bagian dari beban pemerintah, artinya orang buta huruf tidak bisa maju kalau tidak mau belajar untuk membaca dan menulis. Sehingga kalau Negara mau maju maka semua orang harus belajar, apalagi menggunakan bahasa Indonesia. Ratarata pesan pemerintah diharuskan berbahasa Indonesia. Pemerintah menganggarkan banyak anggaran untuk pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan buta huruf utamanya usia usia yang sudah tua diatas 30 tahun, bahkan setiap tahunnya dilakukan pendataan karena itu sangat berpengaruh pada indeks prestasi manusia khususnya di Kabupaten Takalar, sehingga pada pengentasan buta huruf dibentuklah kelompok kelompok dari beberapa dusun di setiap desa. Ada beberapa program program yang dibuat oleh pemerintah seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) pemberdayaan masyarakat petani, nelayan, keterampilan, dan usaha usaha kecil. Pemberdayaan masyarakat artinya bagaimana masyarakat mampu dan bisa mandiri, Dan pemberdayaan masyarakat yang buta huruf pemerintah memberikan bantuan modal usaha melalui program desa seperti PNPM. Dengan adanya program pengentasan buta huruf dan pemberdayaan masyarakat ini sangat membantu warga saya terkhusus di desa Bontomarannu, harapan saya kedepannya semoga tidak ada lagi masyarakat yang buta huruf, 2 A. Jupri Sangaji 43Tahun Pegawai Diknas Pemerintah tidak hanya semata mata melakukan pendekatan baca tulis dan berhitung tetapi pendekatan yang akan dilakukan adalah mengaitkan kebuta

111 3 Jaharuddin S.Pd 38Tahun Ketua PKBM hurufan itu dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial sehingga mereka jadi tertarik untuk belajar. Pemerintah memberikan mereka bantuan modal usaha melalui program desa Prima atau desa perempuan Indonesia maju mandiri, serta PNPM dimana setiap desa di Kabupaten Takalar, kata pak Jupri untuk proses pengentasan buta huruf dana yang dipakai adalah anggaran dana dari APBD. Di setiap Desa yang dibentuk dari beberapa kelompok belajar, Pemilihan dan perekrutan tutor kami percayakan pada Kepala Desa disana, karena kepala desa yang lebih mengetahui karakteristik desanya masing masing. Selain itu juga memang tidak mudah mencari tutor yang mau mengajar bapak bapak maupun ibu ibu dengan honor yang kecil Rp seperti itu. Jadwal pelaksanaannya 3 kali satu minggu. Jadi disini kami memilih sesuai kriteria yang ada namun tidak terpaku pada kriteria tersebut, pokoknya yang penting dia mau mengabdi untuk masyarakat. Mengajar bapak bapak dan ibu ibu itu tidak mudah mbak, bahkan kadang yang datang cuma sedikit jadi memang dibutuhkan kesabaran. Hanya orang orang yang terpanggil hatinya untuk mau menolong sesamanya yang bersedia menjadi tutor. 4 Hj. Nursiah 41Tahun Ketua PKK Tutor yang di bentuk di desa Bontomarannu sebanyak 4 orang, di antaranya Salawati, Israwati, Dg.Minne, dan Dg. Tarring. Masing masing tutor diberi amanah memegang 1 kelompok belajar di setiap dusun. Salawati di dusun Talisea, Israwati di dusun Balang, Dg.Minne di dusun Mandi, dan Dg. Tarring di dusun Barua, 5. Salawati 34Tahun PKK/Tutor Dulu itu saya membuat pengumuman ke masyarakat desa melalui Bu Nia dan Bu Nia menyampaikannya lewat PKK, kemudian ditawarkan kepada siapa siapa saja yang mau ikut. Tadinya banyak yang

112 6. Muhammad Nasir P 44Tahun Sekertaris Desa 7. Sabintang 52Tahun Penrajin anyaman Lontara takut untuk ikut tapi saya dan teman melakukan pendekatan pada warga dan saya temui satu persatu orang yang kira kira pantas untuk mengikuti program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf ini. Saya bilang tidak apa apa Bu, ini cuma belajar bersama, dan saya beri pengertian pada mereka kalau bisa membaca menulis itu penting. Alhamdulillah warga desa Bontomarannu disini banyak yang mau ikut, pada awal pendataan calon warga belajar program Pemberdayaan Masyarakat desa yang buta huruf saya dan teman teman lakukan berhasil memperoleh 70 orang calon warga belajar yang 11 orang lakilaki dan 59 orang perempuan. Kendala yang saya hadapi pada saat proses mengajar adalah warga tidak cepat paham dengan apa yang dijelaskan itu mungkin karena orang tua, banyaknya warga tidak datang belajar dengan alasan sibuk, kepesta, dan panen Masyarakat yang buta huruf di berdayakan dalam kelompok kelompok jadi setiap kelompok masing masing beranggota 10 orang, misalnya kelompok petani 30 orang tetapi terbagi dalam 3 kelompok, kelompok penrajin anyaman tikar 10 orang, anyaman lontar 10 orang, kelompok nelayan 20 orang terbagi dalam 2 kelompok. Pada kelompok tani diberikan banyak bantu seperti popa air, traktor, mesin padi, benih padi, benih jagung, dan diajarkan pula bagaimana membuat pupuk kandang dengan memanfaatkan kotoran sapi, dan cara menanam padi dengan mengunakan alat. Sanna rannuku, nisare waktu a pilajara a mmaca siagang annulisi, siagang na ajari ki angkembangkangi anangan palapa tala kamma ya tong songko guru, pa kape, asbak, tampa bunga, topi, ponto, gantungan konci. Riolo songko guru tonji ni asseng ni pare, tapi anne kamma kamma jai mi a rupa rupa siagang Alhamdulillah akkulle tomma ang

113 kembangkangi. Sanna rannuku teyai angkana pangngisengang siagang keterampilan ingka ni sareki modal tallu juta se re tau per kalompok siagang na pa sadiangki bahan bahan nani pakai ya. 8. Masurung 43Tahun Pengrajin kue Artinya: Saya senang sekali diberi kesempatan belajar membaca dan menulis. Serta dilatih mengembangkan anyaman lontar seperti songko guru, kipas, asbak, pot bunga, topi, gelang, gantungan kunci. Dulu hanya songko guru saja yang bisa saya buat tetapi sekarang sudah banyak macamnya dan Alhamdulillah sudah bisa mengembangkannya. Saya sangat senang bukan hanya pengetahuan dan keterampilan saja yang saya dapat tetapi diberi juga bantuan modal sebesar Rp per orang setiap kelompok serta disediakan bahan bahannya. Nakke ap pala terimakasih, lebba ni a program kamma anne, anne kammakamma a kulle ma ammaca sike de ke de. Riolo tena naku sangkai angkana nia kamajuan kamma anne, jari tena ku peduli angkanaya pentingi assikola ya. Ingka sanna dudu rannuku a kulle a pilajara ammaca, annulisi siagang a rekeng. Nampa ni sarea poeng pa pilajarang a pare keterampilan kammaya tong kanre jawa, a genna nia anne program nga a kulle tomma ambantui keluargaku a boya boya. Artinya: Saya mengucapkan terima kasih, sudah ada program seperti ini, sekarang sudah bisa membaca sedikit sedikit. Dulu saya tidak menyangka akan ada kemajuan seperti ini, jadi saya tidak peduli arti pentingnya sekolah. Maka dari itu saya senang sekali bisa belajar seperti ini, jadi bisa membaca, menulis dan berhitung. Selain itu saya juga diberi pembelajaran tentang berbagai macam keterampilan, misalnya : membuat kue, dengan adanya

114 program ini saya sudah bisa menambah pendapatan keluarga 9. Samsina 32Tahun Pengrajin Anyaman Pandang Salama ku ikuti program anne, ku sa ring nia perubahan ka riolo tena ku ngisseng ammaca,annulisi, ingka kamma kamma anne Alhamdulillah a kulle tomma. Riolo antama tong ja assikolah a gengku ji kalasa rua na saba tena biaya na ku mantangmo siagang sikolah ya bellai, sanna dudu rannuku ni ana anne program nga na saba na bantuki pa ngisengang siagang nasare ki modala usaha tallu juta se re tau siagang na pasadiakangki berang, kandao, pammaja, komporo, passiko, siagang katoang. Nakke ni pantamaka ri kelompok penrajin ta pereka, ka ia tommi anjo kuaseng ku pare. Artinya: Selama saya mengikuti program ini, saya merasa ada perubahan karena dulu saya tidak bisa membaca, menulis, tetapi sekarang Alhamdulillah sudah bisa. Saya dulunya sekolah sampai kelas 2 tetapi berhenti karena faktor biaya, saya berhenti dan sekolahnya pun jauh, saya merasa senang dengan adanya program ini karena selain pengetahuan yang didapat kamipun diberi bantuan modal untuk mengembangkannya. Saya diberi uang sebesar Rp perorang dan disediakan bahan bahan yang dipakai seperti parang, sabit, wajang, kompor, tali, baskom, saya di kasih masuk dikelompok penrajin tikar, karena itu saja yang bisa saya buat, 10. Dg. Tayang 35Tahun Nelayan Sanna rannuku nia na program kamma ya anne, a kulle tomma ammaca, annulisi siagang a rekeng. Riolo nakke tena ku assikolah gara gara tena doe siagang bellai sikolayah, jama jamanna tau toaya tena na nassa, siagang jaiya assaribattang, iya mi anjo naku tena mo naku sikolah. Ingka Alhamdulillah nia na

115 anne program nga a kulle ya na bantu, Siagang sanna rannuku ni sare ya podeng bantuan alat papekang kamma ya tong lanra, biseang, masina, otere, siagang doe tallu juta. Artinya: Saya merasa senang dengan adanya program ini, saya bisa membaca, menulis dan berhitung. Dulunya memang saya tidak sekolah karena tidak adanya uang, jaunya sekolah, pekerjaan orang tua yang tidak tetap, dan saya juga banyak bersaudara, inilah yang menyebabkan saya sehingga tidak sekolah. Tapi Alhamdulillah adanya program ini bisa membantu, dan saya pun senang diberikan bantuan perlengkapan nelayan seperti: jaring, perahu, mesin, tali dan uang sebesar Rp Sewang 55Tahun Petani Program na pareka pammarenta siagang PKBM sanna baji na, nasaba program tersebut na bantua ammaca, annulisi siagamng a tanda tangan, riolo nakke lebba tong ja assikolah ingka a;gengku ji ri kalasa ap pa, gara gara tena biaya, tea mako angkana sikolah angnganre saja ni sawala, beru pi kusadari angkana parallu padeng pendidikan bantu ri tallasaka Artinya: Program yang dibuat pemerintah bersama PKBM sangat bagus, karena program tersebut membantu saya dalam hal membaca dan menulis serta tanda tangan, dulunya saya juga sekolah tetapi hanya sampai kelas 4 saja, gara gara biaya tidak ada, jangankan sekolah makan saja susah, saya baru menyadari bahwa pentingnya pendidikan dalam kehidupan. (Wawancara, 21 Agustus 2015) 12. Hariani 25Tahun Riolo lebba ja assikolah ingka beru pa kalasa rua naku ammalasa battu kasammari ya napa kanai taua tolo jari siri siri tomma battu sikolah. Lebba na

116 anjo tena mo kulleba appilajara ammaca, siagang annulisi. Ingka lebba ku amminawang ri program PKBM a kulle tomma ammaca, annulisi. Sanna tong baji na manfaat na. Artinya: Dulu saya pernah sekolah tapi baru kelas 2 saya malas datang karena selalu di katai bodoh sehingga saya malu datang kesekolah. Setelah itu, saya tidak pernah belajar membaca dan menulis lagi. Tetapi setelah mengikuti program PKBM ini saya mulai bisa kembali membaca dan menulis, Saya sangat merasakan manfaatnya.

117

118

119

120 DOKUMENTASI Kantor Desa Bontomarannu (24 Juli 2015)

121 Kepala Desa, (24 Juli 2015) Sekertaris Desa (21 Agustus 2015) Dinas Pendidikan ( 29 Juli 2015)

122 Tutor atau Pengajar (12 Agustus 2015) Samsina (23 Agustus 2015)

123 Hariani (23 Agustus 2015) Masurung (22 Agustus 2015)

124 Sewang (21 Agustus 2015) Dg. Tayang (22 Agustus 2015)

125 Sabintang (11 Agustus 2015)

126

127 RIWAYAT HIDUP SYAMSIAH, dilahirkan pada tanggal 13 Juli 1990 di Bontomarannu anak ke lima dari 6 bersaudara yang merupakan buah kasih sayang dari Seni Dg. Sewang dan Saliama Dg. Sayu. Pada tahun 1997 penulis mulai memasuki pendidikan sekolah dasar yakni tepatnya di SD Negeri Impres Bontomarannu Kecamatan Galesong Selatan dan selesai pada tahun Kemudian pada tahun 2003 melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP yakni tepatnya di SMP Negeri 3 Bonto Kassi Galesong Selatan dan selesai pada tahun Kemudian pada tahun 2008 melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA/Sederajat tepatnya di MA Bontomarannu Galesong Selatan dan selesai pada tahun Pada tahun 2011 melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Makassar tepatnya di Universitas Muhammadiyah Makassar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Sosiologi pada Program Strata 1(S1). Pada tahun 2015 penulis menyelesaikan program studi dengan menulis karya ilmiah yang berjudul Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar.

128 HALAMAN PENGESAHAN Skripsi atas narna Syamsiah, NIM diterima dan disahkan -,Leh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas \luhammadiyah Makassar Nomor: 090 Tahun 1437 H12015 M, Sebagai salah satu si arat guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan S",siologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah \lakassar. Yudisium pada hari sabtu tanggal 14 November Makassar, 05 Safar 1437H 17 November 2015 M PANITIA UJIAN Pengawas Umum Ketua Sekreraris Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. ( Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. ( Khaeruddin, S.Pd., IvI.Pd. Penguji 1. Dra. Hidayah Quraisy, M.Pd. 2. Muhammad Nawir, S.Ag., M.Pd. ( Drs. H. Mas'ud lbrahim. M.Si. 4. Risfaisal, S.Pd., M.Pd. Mengetahui Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi

129 PERSETUJUAI\ PEMBIMBING Iudul Skripsi : Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf di Bontomarannu KabuPaten Takalar' Nama NIM Jurusan Fakultas Setelah diteliti Syamsiah Pendidikan Sosiologi Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan diperiksa ulang, skripsi ini telah memenuhi syarat untuk dipertanggungjawahkandidepantimpengujiskripsifakultaskeguruandanllmu P endidikan Universitas Muhammadiyah Makassar' 1'. Makassar' 17 November 2015 Disalrkan oleh: f#'-,ffi

Pemberdayaan Masyarakat Desa Yang Buta Huruf

Pemberdayaan Masyarakat Desa Yang Buta Huruf Pemberdayaan Masyarakat Desa Yang Buta Huruf Syamsiah Hidayah Quraisy Universitas Muhammadiyah Makassar hidayahquraisy@unismuh.ac.id Rosleny Babo Universitas Muhammadiyah Makassar roslenybabo@unismuh.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) adalah Deklarasi Millennium hasil kesepakatan yang ditandatangani oleh kepala negara dan perwakilan dari

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana pada FISIP UPN : Veteran Jawa Timur

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana pada FISIP UPN : Veteran Jawa Timur PERANAN DINAS KOPERASI USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DALAM PEMBINAAN SENTRA USAHA KECIL PRODUKSI TEMPE DI KELURAHAN TENGGILIS MEJOYO KECAMATAN TENGGILIS MEJOYO PEMERINTAH KOTA SURABAYA. SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

DESKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PUNCAK MANDIRI KECAMATAN SUMALATA KABUPATEN GORONTALO UTARA JURNAL OLEH

DESKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PUNCAK MANDIRI KECAMATAN SUMALATA KABUPATEN GORONTALO UTARA JURNAL OLEH DESKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PUNCAK MANDIRI KECAMATAN SUMALATA KABUPATEN GORONTALO UTARA JURNAL OLEH TONI KOEM NIM. 121 411 015 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau lebih dikenal dengan sebutan PKBM merupakan sebuah lembaga pendidikan nonformal yang lahir dari kesadaran tentang betapa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluarga merupakan suatu kelompok yang menjadi bagian dalam masyarakat.

I. PENDAHULUAN. Keluarga merupakan suatu kelompok yang menjadi bagian dalam masyarakat. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan suatu kelompok yang menjadi bagian dalam masyarakat. Keluarga terdiri dari kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi menciptakan

Lebih terperinci

KOMITMEN MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KEAKSARAAN

KOMITMEN MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KEAKSARAAN KOMITMEN MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KEAKSARAAN Dasar Hukum Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 : Setiap warga negara mempuyai hak untuk memperoleh pengajaran Undang-Undang Nomor 20 Tahun

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORITIK

BAB II KERANGKA TEORITIK BAB II KERANGKA TEORITIK A. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Secara konseptual pemberdayaan atau pemberkuasaan (Empowerment), berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan) keterangan. Ide utama

Lebih terperinci

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai Sarjana S-1. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai Sarjana S-1. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. PENANAMAN KARAKTER KERJA KERAS DAN TANGGUNG JAWAB PADA ANAK KELUARGA NELAYAN (Studi Kasus Pada Anak Keluarga Nelayan Dusun Tawang Kulon Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan Tahun 2015)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, yang terdiri dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, yang terdiri dari keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan dimana kesemuanya itu merupakan anugrah dari Tuhan yang maha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan Indonesia kearah modernisasi maka semakin banyak peluang bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan. Tetapi berhubung masyarakat

Lebih terperinci

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATERI AJAR CERDAS BERBAHASA INDONESIA UNTUK SMA/MA KELAS XI KARANGAN ENGKOS KOSASIH TERBITAN :

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATERI AJAR CERDAS BERBAHASA INDONESIA UNTUK SMA/MA KELAS XI KARANGAN ENGKOS KOSASIH TERBITAN : NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATERI AJAR CERDAS BERBAHASA INDONESIA UNTUK SMA/MA KELAS XI KARANGAN ENGKOS KOSASIH TERBITAN : ERLANGGA TAHUN 2008 SKRIPSI Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh si miskin. Penduduk miskin pada umumya ditandai oleh rendahnya tingkat

BAB I PENDAHULUAN. oleh si miskin. Penduduk miskin pada umumya ditandai oleh rendahnya tingkat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan situasi serba kekurangan yang terjadi bukan dikehendaki oleh si miskin. Penduduk miskin pada umumya ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas dan kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam pasal 3 UU RI No.20, Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang dikenal dan diakui

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan oleh : NOVIANA RAHMAWATI A

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan oleh : NOVIANA RAHMAWATI A PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INSTRUKSI LANGSUNG UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR MATEMATIKA (PTK bagi Siswa Kelas VIII Semester Genap di SMP IT Nur Hidayah Surakarta Tahun Ajaran 2010/2011) SKRIPSI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMALANG, Menimbang : a. bahwa sistem

Lebih terperinci

ARTIKEL ILMIAH UPAYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DAERAH PEDESAAN. Oleh: Drs. Suyoto, M.Si

ARTIKEL ILMIAH UPAYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DAERAH PEDESAAN. Oleh: Drs. Suyoto, M.Si ARTIKEL ILMIAH UPAYA PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DAERAH PEDESAAN Oleh: Drs. Suyoto, M.Si PROGRAM STUDI MANAJEMEN S1 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO JUNI, 2002 UPAYA PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

SKRIPSI PERAN PEMERINTAH. Disusun Oleh : ANDRIYAN SOSIAL DAN SURABAYA 2011

SKRIPSI PERAN PEMERINTAH. Disusun Oleh : ANDRIYAN SOSIAL DAN SURABAYA 2011 PERAN DINAS KOPERASI USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBERDAYAAN UKM BATIK MANGROVE DI KECAMATAN RUNGKUT PEMERINTAH KOTA SURABAYA. SKRIPSI Disusun Oleh : ANDRIYAN NPM : 0541010039 YAYASAN KESEJAHTERAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, pertanyaan penelitian, hipotesis dan definisi operasional yang

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, pertanyaan penelitian, hipotesis dan definisi operasional yang BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, hipotesis dan definisi operasional yang berkaitan dengan efektifitas

Lebih terperinci

BAB II PERUBAHAN SOSIAL TALCOT PARSONS. Perubahan dapat berupa yang tidak menarik atau dalam arti

BAB II PERUBAHAN SOSIAL TALCOT PARSONS. Perubahan dapat berupa yang tidak menarik atau dalam arti BAB II PERUBAHAN SOSIAL TALCOT PARSONS A. Teori Fungsionalisme Struktural AGIL Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahanperubahan. Perubahan dapat berupa yang tidak menarik atau dalam arti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kompleksitas permasalahan yang bersifat krusial seringkali dihadapi para

BAB I PENDAHULUAN. Kompleksitas permasalahan yang bersifat krusial seringkali dihadapi para 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kompleksitas permasalahan yang bersifat krusial seringkali dihadapi para perempuan. Beberapa hal yang menonjol antara lain dihadapkan pada persoalan pemenuhan

Lebih terperinci

EKSISTENSI NILAI SOSIAL BUDAYA PENDUDUK ASLI DI SEKITAR PERUMAHAN JEMBER PERMAI I KABUPATEN JEMBER

EKSISTENSI NILAI SOSIAL BUDAYA PENDUDUK ASLI DI SEKITAR PERUMAHAN JEMBER PERMAI I KABUPATEN JEMBER EKSISTENSI NILAI SOSIAL BUDAYA PENDUDUK ASLI DI SEKITAR PERUMAHAN JEMBER PERMAI I KABUPATEN JEMBER (Studi Deskriptif di Lingkungan Krajan Timur Kelurahan Sumbersari Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember)

Lebih terperinci

MUHAMAD WAHID FAUZI A

MUHAMAD WAHID FAUZI A PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN METODE INKUIRI PADA PESERTA DIDIK KELAS VIIIA SMP NEGERI 2 GEYER KABUPATEN GROBOGAN TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai

Lebih terperinci

DAMPAK SOSIAL ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA SERANG KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI

DAMPAK SOSIAL ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA SERANG KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI DAMPAK SOSIAL ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA SERANG KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta untuk

Lebih terperinci

SAMBUTAN BUPATI KULONPROGO PADA ACARA PELANTIKAN PIMPINAN DAERAH AISYIYAH KABUPATEN KULONPROGO PERIODE Wates, 17 April 2011

SAMBUTAN BUPATI KULONPROGO PADA ACARA PELANTIKAN PIMPINAN DAERAH AISYIYAH KABUPATEN KULONPROGO PERIODE Wates, 17 April 2011 SAMBUTAN BUPATI KULONPROGO PADA ACARA PELANTIKAN PIMPINAN DAERAH AISYIYAH KABUPATEN KULONPROGO PERIODE 2010-2015 Assalamu alaikum Wr.Wb. Yang Kami Hormati Wates, 17 April 2011 Unsur Muspida Kabupaten Kulonprogo;

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menarik orang mendatangi kota. Dengan demikian orang-orang yang akan mengadu nasib di

BAB 1 PENDAHULUAN. menarik orang mendatangi kota. Dengan demikian orang-orang yang akan mengadu nasib di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan kota yang selalu dinamis berkembang dengan segala fasilitasnya yang serba gemerlapan, lengkap dan menarik serta menjanjikan tetap saja menjadi suatu faktor

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan guna memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara FISIP UPN veteran Jawa Timur

SKRIPSI. Diajukan guna memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara FISIP UPN veteran Jawa Timur PERANAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DALAM MENJALANKAN FUNGSI PENGAWASAN PEMERINTAHAN DESA (Studi Kasus Pada Desa Sukoharjo Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri) SKRIPSI Diajukan guna memenuhi syarat

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI TENGAH

GUBERNUR SULAWESI TENGAH GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA KAMPANYE DAMAI DALAM RANGKA PERINGATAN HARI PEREMPUAN SEDUNIA PROVINSI SULAWESI TENGAH JUM AT, 11 MARET 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN : 2013 NOMOR : 22 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN : 2013 NOMOR : 22 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN : 2013 NOMOR : 22 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

Pengertian Pemberdayaan PEMBERDAYAAN. Makna Pemberdayaan 5/24/2017. Penyebab Ketidakberdayaan. Pemberdayaan (empowerment) Power/daya.

Pengertian Pemberdayaan PEMBERDAYAAN. Makna Pemberdayaan 5/24/2017. Penyebab Ketidakberdayaan. Pemberdayaan (empowerment) Power/daya. Pengertian Pemberdayaan PEMBERDAYAAN Minggu ke 12 Pemberdayaan (empowerment) Power/daya Mampu Mempunyai kuasa membuat orang lain melakukan segala sesuatu yang diinginkan pemilik kekuasaan Makna Pemberdayaan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana DIAJUKAN OLEH AGUSTINA

SKRIPSI. Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana DIAJUKAN OLEH AGUSTINA PERSEPSI LANSIA TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN POSYANDU USILA PASCA PEMEKARAN KECAMATAN (Studi Deskriptif di Posyandu Usila Kecamatan Aek Ledong Kabupaten Asahan) SKRIPSI Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

Kesetaraan Gender Strategi Jitu dalam Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia

Kesetaraan Gender Strategi Jitu dalam Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia Buta aksara adalah ketidakmampuan untuk membaca, menulis dan berhitung untuk fungsi efektif dan pengembangan individu dalam masyarakat. Menurut definisi UNESCO Buta aksaya, adalah : literacy is the ability

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan menjadi salah satu ukuran terpenting untuk mengetahui tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Sebagai suatu ukuran agregat, tingkat kemiskinan di suatu

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN INDUSTRSI KECIL DI KABUPATEN GRESIK DAN KABUPATEN JOMBANG SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN INDUSTRSI KECIL DI KABUPATEN GRESIK DAN KABUPATEN JOMBANG SKRIPSI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN INDUSTRSI KECIL DI KABUPATEN GRESIK DAN KABUPATEN JOMBANG SKRIPSI Oleh : RUDYANSAH 0511010187 / FE / IE Kepada FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

PERAN GURU SOSIOLOGI DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA N 1 SEYEGAN

PERAN GURU SOSIOLOGI DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA N 1 SEYEGAN PERAN GURU SOSIOLOGI DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA N 1 SEYEGAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Masyarakat berasal dari kata musyarak (arab), yang artinya bersama-sama, yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Masyarakat berasal dari kata musyarak (arab), yang artinya bersama-sama, yang BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Masyarakat Nelayan Masyarakat berasal dari kata musyarak (arab), yang artinya bersama-sama, yang kemudian berubah menjadi masyarakat, yang artinya berkumpul bersama, hidup bersama

Lebih terperinci

Bab I. Pendahuluan. Anak jalanan, anak gelandangan, atau kadang disebut juga sebagai anak mandiri,

Bab I. Pendahuluan. Anak jalanan, anak gelandangan, atau kadang disebut juga sebagai anak mandiri, Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang Anak jalanan, anak gelandangan, atau kadang disebut juga sebagai anak mandiri, sesungguhnya adalah anak- anak yang tersisih, marginal dan teralinasi dari perlakuan

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pd Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2013, tgl.23 Juli 2013, di Jakarta Selasa, 23 Juli 2013

Sambutan Presiden RI pd Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2013, tgl.23 Juli 2013, di Jakarta Selasa, 23 Juli 2013 Sambutan Presiden RI pd Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2013, tgl.23 Juli 2013, di Jakarta Selasa, 23 Juli 2013 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PUNCAK PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,

Lebih terperinci

BUPATI BURU. Bismilahirahmanirahim Assalamualaikum Wr. Wb dan salam sejahtera

BUPATI BURU. Bismilahirahmanirahim Assalamualaikum Wr. Wb dan salam sejahtera BUPATI BURU Bismilahirahmanirahim Assalamualaikum Wr. Wb dan salam sejahtera Yth. - Bapak Eka Sastra, SE Anggota DPR RI Fraksi Golkar - Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Buru - Para Unsur Forpimda Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Koentjaraningrat sebagaimana yang dikutip oleh Adon Nasrulloh 2 memberikan

BAB I PENDAHULUAN. Koentjaraningrat sebagaimana yang dikutip oleh Adon Nasrulloh 2 memberikan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Desa merupakan kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga, yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang kepala desa). 1 Koentjaraningrat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan. kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan. kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pendidikan sebagai sarana strategis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern

BAB I PENDAHULUAN. Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dewasa ini, maka banyak terjadi perubahan diberbagi aspek kehidupan. Demikian pula dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelembagaan 2.1.1 Pengertian Kelembagaan Suatu kelembagaan merupakan suatu sistem kompleks yang sengaja dibuat manusia untuk mengatur cara, aturan, proses, dan peran masing-masing

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan teknologi, maka dalam rangka peningkatan sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan teknologi, maka dalam rangka peningkatan sumber daya manusia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan kebutuhan bagi suatu Bangsa dan Negara, jika ingin berpartisipasi aktif dalam pembangunan di era kemajuan

Lebih terperinci

ANALISIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 SAMBI TAHUN AJARAN 2013/2014

ANALISIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 SAMBI TAHUN AJARAN 2013/2014 ANALISIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 SAMBI TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORI

BAB II KERANGKA TEORI BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pembangunan pada hakikatnya merupakan suatu rangkaian upaya yang dilakukan secara terus menerus untuk mendorong terjadinya perubahan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea ke-4 serta ingin

BAB I PENDAHULUAN. dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea ke-4 serta ingin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan cara untuk mencerdaskan bangsa yang sesuai dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea ke-4 serta ingin mencapai tujuan pendidikan

Lebih terperinci

MATERI 1 HAKEKAT PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

MATERI 1 HAKEKAT PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MATERI 1 HAKEKAT PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA 1. Hakekat Perubahan Sosial yang Terjadi di Masyarakat Perubahan sosial merupakan sebuah proses yang tidak dapat dihindari dalam sebuah masyarakat, baik perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada setiap warganegara untuk memperoleh pendidikan. Karena itu

BAB I PENDAHULUAN. kepada setiap warganegara untuk memperoleh pendidikan. Karena itu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan Nasional telah memberikan kesempatan yang seluasluasnya kepada setiap warganegara untuk memperoleh pendidikan. Karena itu dalam penerimaan siswa,

Lebih terperinci

Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan

Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan Program Pengentasan Kemiskinan melalui Penajaman Unit Pengelola Keuangan I. PENDAHULUAN Pembangunan harus dipahami sebagai proses multidimensi yang mencakup perubahan orientasi dan organisasi sistem sosial,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Sebagai Syarat Guna Mencapai Derajat Sarjana S-I Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Sebagai Syarat Guna Mencapai Derajat Sarjana S-I Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah PENINGKATAN PEMBELAJARAN MEMERANKAN NASKAH DRAMA DENGAN METODE ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 2 GATAK SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2010 2011 SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Sebagai Syarat Guna

Lebih terperinci

Menumbuhkan Motivasi, Menggali Potensi yang Tersembunyi

Menumbuhkan Motivasi, Menggali Potensi yang Tersembunyi Menumbuhkan Motivasi, Menggali Potensi yang Tersembunyi Oleh : James P. Pardede Tidak mudah untuk mewujudkan target Indonesia menurunkan angka buta aksara hingga 5 persen pada 2009 mendatang, diperlukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelembagaan 2.1.1 Pengertian Kelembagaan Kelembagaan merupakan suatu sistem yang sengaja dibuat manusia untuk mengatur cara, aturan, proses dan peran masing-masing komponen

Lebih terperinci

PERAN DINAS INDUSTRI PERDAGANGAN KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL SONGGOLANGIT PONOROGO

PERAN DINAS INDUSTRI PERDAGANGAN KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL SONGGOLANGIT PONOROGO PERAN DINAS INDUSTRI PERDAGANGAN KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL SONGGOLANGIT PONOROGO SKRIPSI Disusun oleh : Christian Anoraga Nim : 12221075 ILMU PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maka akan goncanglah keadaan masyarakat itu. diantara sifat beliau adalah benar, jujur, adil, dan dipercaya.

BAB I PENDAHULUAN. maka akan goncanglah keadaan masyarakat itu. diantara sifat beliau adalah benar, jujur, adil, dan dipercaya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah moral, adalah suatu masalah yang sekarang ini membutuhkan perhatian, terutama dari para pendidik, alim ulama, pemuka masyarakat, dan orang tua. Karena

Lebih terperinci

BAB II CHYNE, O BRIEN DAN BELGRAVE: TEORI SOSIAL DEMOKRAT

BAB II CHYNE, O BRIEN DAN BELGRAVE: TEORI SOSIAL DEMOKRAT BAB II CHYNE, O BRIEN DAN BELGRAVE: TEORI SOSIAL DEMOKRAT A. Teori Sosial Demokrat Untuk menjelaskan fenomena yang di angkat oleh peneliti yaitu POTRET KEMISKINAN MASYARAKAT DESA Studi Kasus Masyarakat

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI KOTA SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memenuhi hak

Lebih terperinci

SKRIPSI. persyaratan. Disusun oleh: IRINA A 410 090 195

SKRIPSI. persyaratan. Disusun oleh: IRINA A 410 090 195 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI LINGKARAN MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING (PTK Pembelajaran Matematikaa Kelas VIIII F Semester Genap SMP

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

PERANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PEMBINAAN USAHA KERAJINAN KERIPIK TEMPE DI KABUPATEN NGAWI SKRIPSI

PERANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PEMBINAAN USAHA KERAJINAN KERIPIK TEMPE DI KABUPATEN NGAWI SKRIPSI PERANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PEMBINAAN USAHA KERAJINAN KERIPIK TEMPE DI KABUPATEN NGAWI SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh Gelar Sarjana pada FISIP UPN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan diberbagai daerah serta menciptakan kesempatan kerja. Sasaran

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan diberbagai daerah serta menciptakan kesempatan kerja. Sasaran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan suatu wilayah adalah serangkaian kebijakan sebagai usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat, untuk menciptakan keseimbangan pembangunan diberbagai daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus dijaga karena dalam diri anak melekat harkat, martabat, dan hakhak sebagai manusia

Lebih terperinci

LEGENDA JAKA TINGKIR VERSI PATILASAN GEDONG PUSOKO KARATON PAJANG DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT: TINJAUAN RESEPSI SASTRA

LEGENDA JAKA TINGKIR VERSI PATILASAN GEDONG PUSOKO KARATON PAJANG DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT: TINJAUAN RESEPSI SASTRA LEGENDA JAKA TINGKIR VERSI PATILASAN GEDONG PUSOKO KARATON PAJANG DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT: TINJAUAN RESEPSI SASTRA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di negara sedang berkembang kemiskinan adalah masalah utama. Menurut Chambers (1983), kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar rakyat di negara sedang berkembang

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1. Program Studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1. Program Studi Pendidikan Matematika PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN CONCEPT MAPPING DAN PROBLEM POSING DITINJAU DARI HASIL BELAJAR SISWA MENURUT TAKSONOMI BLOOM (Eksperimen Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP N 4 Wonogiri Tahun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia,

I. PENDAHULUAN. Dalam hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia, yang berorientasi kepada pemenuhan hajat hidup manusia sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG

- 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG - 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 186 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERDAYAAN SOSIAL TERHADAP KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PASCA KONFLIK LAHAN ANTARA WARGA DENGAN TNI DI DESA SETROJENAR KECAMATAN BULUSPESANTREN KABUPATEN KEBUMEN RINGKASAN SKRIPSI

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PASCA KONFLIK LAHAN ANTARA WARGA DENGAN TNI DI DESA SETROJENAR KECAMATAN BULUSPESANTREN KABUPATEN KEBUMEN RINGKASAN SKRIPSI PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PASCA KONFLIK LAHAN ANTARA WARGA DENGAN TNI DI DESA SETROJENAR KECAMATAN BULUSPESANTREN KABUPATEN KEBUMEN RINGKASAN SKRIPSI Oleh : UMI NURROISAH NIM. 10413244010 JURUSAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

SAMBUTAN BUPATI BENGKALIS PADA ACARA PEMBUKAAN PELATIHAN PENDIDIKAN POLITIK PEREMPUAN KABUPATEN BENGKALIS TAHUN

SAMBUTAN BUPATI BENGKALIS PADA ACARA PEMBUKAAN PELATIHAN PENDIDIKAN POLITIK PEREMPUAN KABUPATEN BENGKALIS TAHUN BUPATI BENGKALIS SAMBUTAN BUPATI BENGKALIS PADA ACARA PEMBUKAAN PELATIHAN PENDIDIKAN POLITIK PEREMPUAN KABUPATEN BENGKALIS TAHUN 2017 BENGKALIS, 13 AGUSTUS 2017 ASSALAMU ALAIKUM WR. WB, SELAMAT PAGI DAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

2015, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le

2015, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le No.1279, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENSOS. Pemberdayaan. Sosial. Adat. Terpencil. PERATURAN MENTERI SOSIAL REPULIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap manusia harus memenuhi kebutuhannya, guna kelangsungan hidup.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap manusia harus memenuhi kebutuhannya, guna kelangsungan hidup. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia harus memenuhi kebutuhannya, guna kelangsungan hidup. Upaya pemenuhan kebutuhan ini, pada dasarnya tak pernah berakhir, karena sifat kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan pembangunan nasional negara kita adalah pembangunan di bidang pendidikan. Pendidikan nasional sebagai salah satu sistem dari supra sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian keseluruhan dalam pembangunan. Perkembangan dan meningkatnya kemampuan siswa selalu muncul bersamaan dengan situasi dan kondisi lingkungan,

Lebih terperinci

DAMPAK SOSIO KULTURAL MASYARAKAT DUSUN KREBET SEBAGAI SALAH SATU DESTINASI WISATA PERDESAAN

DAMPAK SOSIO KULTURAL MASYARAKAT DUSUN KREBET SEBAGAI SALAH SATU DESTINASI WISATA PERDESAAN DAMPAK SOSIO KULTURAL MASYARAKAT DUSUN KREBET SEBAGAI SALAH SATU DESTINASI WISATA PERDESAAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

Diajukan oleh: HANIFAH

Diajukan oleh: HANIFAH PENERAPAN PAPAN MAGNETIK DAN CD WARNA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT SISWA KELAS IV SDN KLECO I SURAKARTA Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat

Lebih terperinci

BAB IV PENGARUH PEMBENTUKAN ORGANISASI DHARMA WANITA DI KOTA BANJAR PATROMAN. A. Pengaruh organisasi Dharma Wanita dalam Bidang Pendidikan

BAB IV PENGARUH PEMBENTUKAN ORGANISASI DHARMA WANITA DI KOTA BANJAR PATROMAN. A. Pengaruh organisasi Dharma Wanita dalam Bidang Pendidikan BAB IV PENGARUH PEMBENTUKAN ORGANISASI DHARMA WANITA DI KOTA BANJAR PATROMAN A. Pengaruh organisasi Dharma Wanita dalam Bidang Pendidikan Bidang pendidikan adalah sektor pembangunan yang paling vital dan

Lebih terperinci

BUDAYA KEMISKINAN DAN KEBIJAKAN PEMERATAAN RASKIN SEBAGAI SAVETY VALVE DI DUSUN PELINGGIHAN ANTIROGO

BUDAYA KEMISKINAN DAN KEBIJAKAN PEMERATAAN RASKIN SEBAGAI SAVETY VALVE DI DUSUN PELINGGIHAN ANTIROGO BUDAYA KEMISKINAN DAN KEBIJAKAN PEMERATAAN RASKIN SEBAGAI SAVETY VALVE DI DUSUN PELINGGIHAN ANTIROGO CULTURE OF POVERTY AND POLICY OF RASKIN EVEN DISTRIBUTION AS SAVETY VALVE IN PELINGGIHAN HAMLET ANTIROGO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan hak asasi bagi setiap orang, oleh karena itu bagi suatu Negara dan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan hak asasi bagi setiap orang, oleh karena itu bagi suatu Negara dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan dalam masyarakat Indonesia adalah mutlak adanya dan merupakan hak asasi bagi setiap orang, oleh karena itu bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, setiap individu terkait dengan persoalan politik dalam arti luas. Masyarakat sebagai kumpulan individu-individu

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan wahana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa

BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pihak laki-laki. Ideologi Patriakat tumbuh subur dalam masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. pihak laki-laki. Ideologi Patriakat tumbuh subur dalam masyarakat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem kekerabatan yang dianut masyarakat Indonesia umumnya adalah masyarakat patrilineal. Patrilineal adalah kekuasaan berada di tangan ayah atau pihak laki-laki.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012 1 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL

MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Dalam Ilmu Ekonomi Islam Disusun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pendidikan menempati peran sangat strategi dalam pembangunan Nasional. Hal ini tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 yang mengamanatkan pemerintah dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Badan Keswadayaan Masyarakat ( BKM) dan fungsi BKM Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) merupakan suatu institusi/ lembaga masyarakat yang berbentuk paguyuban, dengan

Lebih terperinci