SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia."

Transkripsi

1 ANALISIS PENANDA DAN FUNGSI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI SISWA-SISWI KELAS XI IPS SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA : SUATU KAJIAN PRAGMATIK SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Ephyfania Bahantwelu PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

2 ii

3 iii

4 HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada : 1. Tuhan Yesus Kristus yang menjadi teladan serta senantiasi membimbing, memberkati dan menolong peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini 2. Bunda Maria yang selalu menuntun dan mendengarkan setiap permohonan peneliti dalam menyelesaikan skripsi. 3. Mama Maria Barek Aran yang selalu mendukung, mendoakan dan memotivasi peneliti dalam menyelesaikan skripsi. 4. Kakak Marianus Bahantwelu dan Maria Imaculata Bahantwelu yang selalu mendukung, memotivasi dan mendokan peneliti dalam menyelesaikan skripsi. iv

5 MOTTO Mimpi tidak terwujud nyata melalui ilmu sihir. Dibutuhkan keringat, tekad, dan kerja keras (Colin Powell) Agar sukses, kemauanmu untuk berhasil lebih besar dari ketakutanmu akan kegagalan (Bill Cosby) Jika kamu belum mengalami frustasi, jangan berharap untuk bersukacita (Zico - Blok B) Bekerjalah sampai idolamu menjadi sainganmu (G-Dragon - Bigbang) Waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik dan jalan Tuhan adalah jalan yang menyelamatkan (Peneliti) v

6 vi

7 vii

8 ABSTRAK Bahantwelu, Ephyfania Analisis Penanda dan Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa- Siswi Kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta : Suatu Kajian Pragmatik. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini membahas tentang kesantunan berbahasa di ranah pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penanda kesantunan berbahasa berdasarkan prinsip kesantunan Leech, serta mendeskripsikan fungsi kesantunan berbahasa menurut Rahardi dengan berdasarkan konteks dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Data diambil selama bulan Februari sampai Maret Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, catat dan rekam. Data kemudian diidentifikasi dan dianalisis menggunakan prinsip kesantunan Leech dan fungsi kesantunan menurut Kunjana Rahardi. Dari tuturan yang telah dianalisis, peneliti menemukan ada empat penanda kesantunan berbahasa, yakni, (1) berhati-hati dalam pemilihan kata, (2) memberikan tanggapan positif terhadap mitra tutur, (3) menanggapi pujian dari mitra tutur dengan sifat rendah hati, (4) menerima masukan dari mitra tutur. Selain menemukan penanda kesantunan, peneliti juga menemukan fungsi kesantunan berbahasa, yakni, fungsi menyatakan informasi, fungsi menyatakan perjanjian, fungsi pemberian izin, fungsi penjelasan, dan fungsi menyetujui. Kata kunci: pragmatik, penanda kesantunan berbahasa, fungsi kesantunan berbahasa. viii

9 ABSTRACT Bahantwelu, Ephyfania Analysis of markers and functions of politeness in Indonesian Language learning for students of class XI IPS at SMA Pangudi Luhur Yogyakarta: A Pragmatic Study. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language and Literature Education Study Program, Faculty of Teacher and training education, Sanata Dharma University This research discussed language politeness in the realm of learning. This research was aimed to describe language politeness markers based on Leech s politeness principles and to describe the function of politeness in language based on the Searle category on the context in Indonesian language learning for students of class XI IPS at SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. This research was descriptive qualitative research. The data were collected from February to March The research data were collected using observation, recording, and notetaking techniques. Then, data were identified and analyzed using Leech s politeness principles and politeness functions according to the Searle category. From the analyzed speech, the researcher found that there were four language politeness markers. The first was being careful in choosing words. The second was giving positive responses to the speech partners. The third was responding to the praise of the speech partners with humility. The fourth was receiving input from the speech partners. In addition, there was impoliteness in language markers, namely, firstly, the speakers did not respect the speech partners. Secondly, the speakers did not want to be harmed. Thirdly, the speakers were more concerned with their own ego. Fourthly, the speakers criticized directly. Fifthly, the speakers disparaged speech partners. Sixthly, the speakers boasted and praised themselves in front of the speech partners. From the results of data analysis, the researcher also found the functions of politeness in language namely firstly, assertive speech acts. Secondly, commissive speech acts. Thirdly, impositive (impositif) and expressive speech acts. In addition, there was also a function of impoliteness in language, namely assertive and expressive speech acts. Keywords: Pragmatics, language politeness markers, the function of language politeness. ix

10 KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karena atas segala berkat dan kasih karunia-nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Penanda dan Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa-Siswi Kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta: Suatu Kajian Pragmatik. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak pihak yang memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga skrisi dapat diselesaikan dengan baik. Maka dari itu, pada kesempata ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 3. Prof. Dr. Pranowo, M.Pd., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan memberi dukungan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. 4. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku triangulator yang telah memberikan bantuan dalam penelitian ini dengan melakukan triangulasi data penelitian. 5. Benediktus Banik Pribadi, S.Pd., selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah membantu peneliti dalam melakukan penelitian di SMA tersebut. x

11 xi

12 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv MOTTO... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... vii ABSTRAK... viii ABSTRACT... ix KATA PENGANTAR... x DAFTAR ISI... xii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Batasan Istilah Sistematika Penyajian... 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA Penelitian yang Relevan... 7 xii

13 2.2 Landasarn Teori Pragmatik Konteks Definisi Kesantunan Definisi Kesantunan Berbahasa Penanda Kesantunan Menurut Leech Fungsi Kesantunan Berbahasa Kerangka Berpikir BAB III METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian Sumber Data dan Data Penelitian Teknik pengumpulan data Instrumen Penelitian Teknik Analisis Data Triangulasi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Analisis Data Analisis Penanda kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa-Siswi Kelas XI IPS SMAPangudi Luhur Yogyakarta Berdasrkan Prinsip Kesantunan Penanda Maksim Kebijasanaan Penanda Maksim Kedermawanan Penanda Maksim Kerendahan Hati Penanda Maksim Kesepakatan Analisis Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa-Siswa Kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta Fungsi Tuturan dalam Maksim Kebijaksanaan xiii

14 Fungsi Tuturan dalam Maksim Kedermawanan Fungsi Tuturan dalam Maksim Kerendahan Hati Fungsi Tuturan dalam Maksim Kesepakatan Pembahasan Penanda Kesantunan Berbahasa Fungsi Kesantunan Berbahasa BAB V PENUTUP Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA BIODATA PENULIS LAMPIRAN xiv

15 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Bahasa merupakan alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa, seseorang dapat mengungkapan pikiran atau gagasan kepada orang lain. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan fungsinya, bahasa mempunyai peran untuk menyampaikan pesan antar manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dalam berkomunikasi, menurut Hendrikus (1991: 40) manusia melakukan proses pengalihan makna antar pribadi atau tukar-menukar berita dalam sistem informasi, dengan demikian, manusia seharusnya menggunakan bahasa yang santun, karena dalam proses komunikasi tidak hanya satu pihak yang terlibat. Dengan bahasa yang santun seseorang dapat menjaga harkat dan martabat dirinya dan menghormati mitra tutur sehingga proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Bahasa merupakan cerminan kepribadian seseorang. Bahkan bahasa merupakan cermin kepribadian bangsa. Artinya, melalui bahasa (yang digunakan), seseorang atau bangsa dapat diketahui kepribadiannya (Pranowo, 2009: 3). Jika seseorang berbahasa secara santun, maka hal itu akan mencerminkan kepribadiannya yang baik. Akan tetapi, jika seseorang berbahasa secara tidak santun, maka hal itu akan menunjukan bahwa ia mempunyai kepribadian yang tidak baik. Dalam bertutur, penutur yang hendak menyampaikan maksud atau pesan kepada mitra tutur yang menurutnya santun, belum tentu santun menurut 1

16 2 mitra tuturnya. Oleh karena itu, dalam bertutur kata seseorang hendaknya memperhatikan penggunaan kosa kata dengan baik. Hal ini bertujuan agar maksud atau pesan yang ingin disampaikan kepada mitra tutur dapat diterima baik tanpa menyinggung perasaan dari mitra tutur tersebut. Pemilihan dan penggunann diksi dapat menjadi penentu dalam kesantunan berbahasa. Lebih spesifik Leech membuat penanda yang dapat dijadikan penentu santun tidaknya pemakaian bahasa. Penanda tersebut terlihat pada prinsip kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Lecch (1993: ) yakni maksim kebijaksaan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian. Selain itu, dalam bertutur juga harus memerhatikan fungsi dari kesantunan berbahasa. Apabila penanda dan fungsi kesantunan tersebut diterapkan dengan baik, maka komunikasi akan berjalan dengan lancar. Dalam dunia pendidikan, keterampilan berbicara sangat diperlukan. Setiap peserta didik harus dapat berbicara dengan baik agar proses pembelajaran di dalam kelas dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, berbicara merupakan salah satu keterampilan dalam berbahasa yang harus dikuasai oleh peserta didik terlebih dalam proses pembelajaran. Tentunya, di dalam proses pembelajaran, penerapan bahasa yang santun sangat diperlukan. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti penggunaan bahasa siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti melakukan penelitian di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta khususnya kelas XI IPS karena, peneliti melihat bahwa penggunaan bahasa siswa-siswa di sekolah tersebut masih kurang santun. Salah satu contoh

17 3 Penggunaan bahasa yang tidak santun dapat dilihat dari penggunaan kata Dasar goblok yang diucapkan oleh seorang siswa kepada temannya sendiri karena kurang mampu mengerjakan soal, merupakan kata yang menunjukkan ketidaksantunan. Akibatnya, siswa akan merasa minder dan kurang percaya diri. Contoh tuturan di atas merupakan salah satu tuturan yang melanggar prinsip kesantunan Leech yakni melanggar maksim kesimpatian. Siswa yang menuturkan tuturan tersebut tidak memberikan rasa simpati kepada temannya yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Kasus-kasus seperti inilah yang membuat kesantunan berbahasa itu penting untuk dikaji agar dalam berkomunikasi dan berinteraksi tidak terjadi kesalahpahaman. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengharapkan semoga melalui penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk menggunakan bahasa secara santun serat menerapkan fungsi kesantunan dengan baik dalam berkomunikasi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan utama dalam penelitian ini adalah Analisis Penanda dan Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa-Siswi Kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta: Suatu Kajian Pragmatik. Berdasarkan rumusan masalah utama tersebut, disusun submasalah sebagai berikut: a. Penanda kesantunan berbahasa apa sajakah yang terdapat dalam tuturan siswa-siswi kelas XI IPS dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta?

18 4 b. Fungsi kesantunan berbahasa apa sajakah yang terdapat dalam tuturan siswa-siswi kelas XI IPS dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini sebagai berikut: a. Mendeskripsikan Penanda kesantunan berbahasa yang terdapat dalam tuturan siswa-siswi kelas XI IPS dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. b. Mendeskripsikan Fungsi kesantunan berbahasa yang terdapat dalam tuturan siswa-siswi kelas XI IPS dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis bagi para pembaca. Adapun manfaat teoritis dan praktis dalam penelitian ini sebagai berikut: a. Manfaat Teoretis Secara teoritis, penelitian ini dapat membantu pembaca untuk menambah informasi serta pengetahuan mengenai penanda kesantunan berbahasa dan fungsi kesantunan berbahasa bagi siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi acuan dalam penelitian-penelitian dibidang pragmatik.

19 5 b. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada pembaca untuk dapat berbahasa secara santun dalam kegiatan formal yakni dalam lingkup pembelajaran di kelas. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi hanya menyangkut penanda dan fungsi kesantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. 1.6 Batasan Istilah a. Pragmatik Menurut Levinson (dalam Rahardi, 2005: 48) menjelaskan pragmatik merupakan studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Dengan kata lain, pragmatik merupakan studi bahasa yang mempelajari makna kata yang terikat pada konteks. b. Penanda kesantunan Sebagai retorika interpersonal, pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). Prinsip kesopanan ini berhubungan dengan peserta percakapan, yakni diri sendiri (self) dan orang lain (others) Wijana, 1996:55). c. Fungsi kesantunan Dalam fungsi kesantunan berbahasa ini, bahasa tidak semata-mata dimaksudkan dan digunakan untuk menyamapaikan informasi; namun juga

20 6 digunakan untuk membangun dan membina relasi antarwarga masyarakar pemakai bahasa tersebut (Rahardi, 2005: 7). d. Kesantunan berbahasa Kesantunan berbahasa merupakan suatu penelitian kesantunan mengkaji penggunaan bahasa (language use) dalam suatu masyarakat bahasa tertentu (Rahardi, 2005: 35). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa adalah suatu kajian yang mengkaji tentang bagaiamana penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat. 1.7 Sistematika Penyajian Sistematika penyajian ini terdiri dari Bab I. Bab II, Bab III, Bab IV, Bab V dan Daftar Pustaka. Bab I yaitu mengenai pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II yaitu kajian pustaka yang menguraikan kerangka teori. Bab III yaitu metodologi penelitian. Bab ini berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan metode dalam penelitian yang meliputi (1) jenis penelitian, (2) sumber data, (3) teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian (5) teknik analisis data, dan (6) triangulasi data. Bab IV yaitu hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini berisi tentang analisis data dan pembahasan. Bab ini menguraikan deskripsi data dan pembahasan hasil data sesuai dengan rumusan masalah yang sudah ditentukan. Bab V berisi tentang kesimpulan, dan saran.

21 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini akan menguraikan penelitian yang relevan, landasan teori dan kerangka berpikir. Penelitian yang relevan berisi tentang tinjauan terhadap topiktopik sejenis yang dilakukan oleh peneliti-peneliti yang lain. Landasan teori berisi tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan analisis dari penelitian ini yang terdiri dari teori pragmatik, konteks, teori kesantunan, dan fungsi kesantunan. Kerangka berpikir berisi tentang acuan yang berdasarkan pada penelitian yang relevan dan landasan teori untuk menjawab rumusan masalah. 2.1 Penelitian yang Relevan Untuk mendukung proses pelaksanaa penelitian yang dilakukan, terdapat tiga penelitian yang relevan dengan dengan penelitian ini yakni penelitian yang dilakukan oleh Fendi Eko Prabowo yang berjudul Kesantunan Berbahasa Dalam Kegiatan Diskusi Kelas Mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma Angkatan Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kualitatif dalam penelitian ini Fendi Eko Prabowo mendeskripsikan tentang kesantunan berbahasa dan penanda dari kesantunan berbahasa dalam kegiatan diskusi kelas mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma Angkatan Penelitian relevan yang kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Oktaviana Kurniawati yang berjudul Analisis Pemanfaatan Prinsip Kesantunan Berbahasa pada Kegaiatan Diskusi Kelas Siswa Kelas XI SMAN 1 Sleman. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskripsi kualitatif. Oktaviana 7

22 8 Kurniawati mendeskripsikan pemakaian prinsip kesantunan berbahasa dan pemanfaatannya dalam kegiatan diskusi siswa kelas XI SMAN 1 Sleman. Penelitian relevan yang ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Puspa Rinda Silalahi yang berjudul Analisis Kesantunan Berbahasa Siswa-Siswi di Lingkungan Sekolah SMPN 5 Binjai. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskripsi kualitatif. Dalam penelitian ini, Puspa mendeskripsikan semua tuturan yang terjadi di lingkungan sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dari ketiga penelitian yang relevan di atas, terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian peneliti. Adapun persamaan penelitian relavan dengan penelitian peneliti terletak pada pengkajian kesantunan berbahasa, sedangkan perbedaanya terletak pada objek penelitiannya. Penelitian dari Fendi Eko Prabowo ini bersumber pada tuturan mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma Angkatan 2014, Penelitian dari Oktaviana bersumber pada tuturan siswa kelas XI SMAN 1 Sleman, Penelitian Puspa bersumber pada tuturan siswa-siswi SMPN 5 Binjai baik di dalam kelas maupun diluar kelas, sedangkan penelitian peneliti bersumber pada tuturan siswa-siswi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Dari uraian diatas membuktikan bahwa penelitian ini belum pernah dikaji dan penelitian ini layak untuk diangkat sebagai penelitian. 2.2 Landasan Teori Dalam landasan teori ini berisi tentang teori yang digunakan peneliti sebagai acuan dalam menganalisis data. Teori yang digunakan oleh peneliti yakni, teori pragmatik, konteks, kesantunan berbahasa, penanda kesantunan berbahasa menurut Leech (1993) serta fungsi kesantunan berbahasa menurut Rahardi (2005)

23 Pragmatik Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampikan oleh penutur dan ditafisirkan oleh mitra tutur (pendengar), atau dapat dikatakan bahwa pragmatik merupakan studi tentang maksud penutur. Menurut Parker (dalam Rahardi, 2005: 48-49), menyatakan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. Adapun yang dimaksud dengan hal itu adalah bagaimana satuan lingual tertentu digunakan dalam komunikasi yang sebenarnya. Studi tentang pragmatik mutlak dikaitkan dengan konteks yang melatarbelakangi dan mewadahinya. Definisi yang disampaikan parker itu selengkapnya dapat dilihat pada kutipan berikut : Pragmatics is distinct from grammar, which is the study of the internal structure of language. Pragmatics is the study of how language is used to communicate (Parker, 19986: 11), yang berarti pragmatik berbeda dari tata bahasa, yang merupakan studi struktur bahasa internal. Pragmatik adalah studi tentang bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Tarigan (dalam Rahardi dkk, 2016: 18) menyatakan bahwa telaah umum mengenai bagaimana konteks memengaruhi cara kita menafsirkan kalimat disebut pragmatik. Teori tindak ujar adalah bagian dari pragmatik, dan pragmatik sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik. Pengetahuan mengenai dunia adalah bagian dari konteks, dan dengan demikian pragmatik mencakup bagaimana cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk menginterpretasikan ujaran-ujaran. Menurut Levinson (dalam Rahardi, 2005: 48) menjelaskan pragmatik merupakan studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Konteks tuturan yang dimaksud telah tergramatisasi dan

24 10 terkodefisasi sehingga tidak dapat dilepaskan dari struktur bahasanya. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam bertutur, penutur dan mitra tutur tidak terlepas dari konteks, karena konteks tersebutlah yang meletarbelakngi terjadinya sebuah tuturan. Pragmatik dapat dikatakan sejajar dengan semantik. Akan tetapi, kedua disiplin ilmu ini memiliki perbedaan yang mendasar. Makna yang dikaji semantik adalah makna linguistik (linguistic meaning) atau makna semantik (semantic sense), sedangkan makna yang dikaji pragmatik adalah maksud penutur (speaking meaning) atau (speaker sense). Makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat terikat konteks, sedangkan makna yang dikaji dalam semantik bersifat bebas konteks, Parker dalam Wijana (1996:3). Anlisis tuturan (1) dan (2) dibawah ini mengilustrasikan pernyataan tersebut. 1. Minuman saya habis 2. Siska, pulpen saya di mana? Dilihat secara struktural, kedua tuturan tersebut merupakan tuturan berita dan pertanyaan. Secara semantis, tuturan (1) bermakna Seseorang kehabisan minuman dan tuturan (2) bermakna Pulpennya berada di mana. Tuturan (1) menginformasikan sesuatu kepada lawan tutur, sedangkan penutur dalam tuturan (2) ingin mendapatkan informasi dari mitra tuturnya. Kedua tuturan ini bisa dianalisis secara pragmatik dengan mencermati konteks pemakaiannya akan diperoleh hasil yang berbeda. Misalnya tuturan (1) dituturkan oleh seorang pemuda kepada temannya pada waktu makan. Tuturan tersebut dituturkan bukan

25 11 semata-mata untuk menginformasikan sesuatu, tetapi dimaksudkan untuk meminta minum kepada temannya. Demikian pula halnya bisa tuturan (2) dituturkan oleh seorang siswa kepada temannya. Tuturan itu tidak bermaksud mendapatkan informasi dari lawan tutur, melainkan dimaksudkan untuk meminta mitra tutur mengambilkan pulpen. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam melakukan studi pragmatik, seseorang harus mengupayakan maksud dari penutur, baik yang diekspresikan secara tersurat maupun yang diungkapkan secara tersirat di balik tuturan, juga konteks yang terjadi saat tuturan berlangsung. Konteks diperlukan oleh pragmatik. Tanpa konteks, analisis pragmatik tidak akan berjalan karena daya pragmatik itu bergantung pada konteks yang berlangsung pada waktu tuturan yang diujarkan dalam sebuah peristiwa tutur Konteks Berbicara tentang pragmatik berarti berbicara tentang konteks. Untuk dapat menafsirkan sebuah tuturan, maka diperlukan adanya konteks. Permasalahan konteks dalam kaitannya dengan pragmatik merupakan bagian yang tidak boleh terabaikan. Kajian pragmatik selalu terikat dengan masalah perilaku pemakaian bahasa dalam konteks. Mulyana (2005: 21) menyatakan bahwa konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan atau dialog. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan, apakah itu berkaitan dengan arti, maksud, maupun informasinya sangat bergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu. Dalam pandangan ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, disetiap

26 12 tuturan selalu ada konteks yang mewadahinya, karena dengan konteks sebuah tuturan dapat terjadi. Wijana (dalam Rahardi, dkk (2016: 41) menyatakan bahwa semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama penutur dan lawan tutur. Semua latar belakang pengetahuan (all background) yang dipahami bersama penutur dan lawan tutur itulah yang sangat berguna dalam menafsirkan makna bentuk kebahasaan tertentu yang hadir dalam pertuturan. Dalam paparan di atas dapat disimpulkan bahwa penafsiran dari mitra tutur terhadap apa yang disampaiakn oleh penutur sangat bergantung pada latar belakang pengetahuan yang dimiliki keduanya. Jika penutur dan mitra tutur memiliki latar belakang pengetahuan yang sama, maka maksud tuturan akan sangat mudah untuk ditafsir. Akan tetapi, jika penutur dan mitra tutur memiliki pengetahuan yang berbeda, maka maksud tuturan akan semakin sulit untuk ditafsir. Menurut Zamzani (2007: 24), konteks secara pragmatik dapat dipandang sebagai konteks yang antara lain meliputi identitas partisipan, parameter waktu dan tempat peristiwa pertuturan. Konteks situasi atau konteks pertuturan/percakapan terkait dengan berbagai aspek. Setidaknya, syarat terjadinya suatu komunikasi ada tiga, yaitu, pembicara, lawan bicara, dan sandi atau bahasa yang digunakan. Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa pragmatik adalah studi bahasa yang mendasari analisisnya pada konteks. Konteks yang dimaksud adalah latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan lawan tutur yang menyertai dan mewadahi sebuah pertuturan. Dengan mendasarkan pada gagasan Leech (1993:

27 ) konteks yang semacam ini dapat disebut sebagai konteks situasi tutur. konteks situasi tutr mencakup aspek-aspek berikut: 1. Penutur dan mitra tutur Penutur dan mitra tutur merupakan orang yang terlibat dalam komunikasi. Aspek-aspek yang perlu dicermati dari penutur dan mitra tutur adalah jenis kelamin, umur, daerah asal, tingkat keakraban, dan latar belakang sosial budaya yang dapat menjadi penentu hadirnya sebuah makna tuturan. Konsep penutur dan lawan tutur juga mencakup penulis dan pembaca apabila sebuah tuutran tuturan dikomunikasikan dengan media tulisan. Penutur adalah orang yang bertutur, sedangkan mitra tutur adalah orang yang menajdi sasarana atau laan tutur. Aspek-aspek yang terkait dengan penutur dan mitra tutur di atas, dapat mempengaruhi daya tangap mitra tutur, produksi tuturan serta pengungkapan maksud. Penutur dan mitra tutur dapat saling memahami maksud tuturan apabila keduanya mengetahui aspek-aspek tersebut. 2. Konteks sebuah tuturan Konteks tuturan dalam penelitian linguistik mencakup semua aspek fisik dan seting sosial yang relevan dengan sebuah tuturan. Konteks yang bersifat fisik disebut koteks (cotext), sedangkan konteks seting sosial disebut konteks. Dalam kerangka pragmatik, konteks merupakan suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur yang membantu mitra tutur menafsirkan makna. Dengan adanya konteks, seseorang dapat menafsirkan makna kata dengan baik.

28 14 Apabila dalam berkomunikasi, penutur dan mitra tutur mempunyai pengetahuan latar belakang yang sama, maka makna bahasa dapat ditafsirkan dengan mudah. Akan tetapi, jika penutur dan mitra tutur memiliki latar belakang pengetahuan yang berbeda, maka penafsiran makna bahasa akan sulit dilakukan. 3. Tujuan sebuah tuturan Bentuk-bentuk tuturan yang muncul dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dengan kata lain, penutur dan mitra tutur terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Secara pragmatik, suatu bentuk tuturan dapat memiliki maksud dan tujuan bermacam-macam. Sebaliknya satu maksud dan tujuan tuturan akan dapat diwujudkan dengan bentuk tuturan yang berbeda-beda. Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Semua tuturan memiliki tujuan, hal tersebut memiliki arti bahwa, tidak ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan. Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur selalu dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tuturan. Dalam hubungan tersebut, bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan suatu maksud, sebaliknya, satu tuturan dapat menyatakan berbagai macam maksud. 4. Tuturan sebagai bentuk tindakan Pragmatik menangani bahasa pada tingkatan yang lebih konkret daripada tata bahasa. Tuturan disebut sebagai tindakan konkret (tindak tutur) dalam suasana tertentu. Segala hal yang berkaitan dengannya,

29 15 seperti jati diri penutur, dan mitra tutur yang terlibat, waktu, dan tempat dapat diketahui dengan jelas. Tuturan sebagai tindakan memiliki maksud bahwa, tindak tutur merupakan sebuah tindakan. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan. Tuturan dapat dikatakan sebagai sebuah tindakana atau aktivitas, karena dalam peristiwa tutur, tuturan dapat menimbulkan efek, sebagaimana tindakan yang dilakukan yang dilakukan oleh tangan atau bagaian tubuh lain yang dapat menyakiti orang lain atau mengekspresikan tindakan. 5. Tuturan sebagai produk tindak verbal Tuturan pada dasarnya adalah hasil tindak verbal dalam aktivitas bertutur sapa. Oleh sebab itu, tuturan dibedakan dengan kalimat. Kalimat adalah entitas produk struktural, sedangkan tuturan adalah produk dari suatu tindak verbal yang muncul dari suatu pertuturan. Tuturan sebagai produk tindak verbal merupakan tindakan mengekspresikan kata-kata atau bahasa. Tuturan sebagai produk tindak verbal akan terlihat dalam setiap percakapan lisan maupun tertulis antara penutur dan mitra tutur Definisi Kesantunan Kesantunan bersifat relatif di dalam masyarakat. Ujaran tertentu bisa dikatakan santun di dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, akan tetapi dikelompok masyarakat lain bisa dikatakan tidak santun. Menurut Zamsani, dkk (2010: 2), kesantunan merupakan perilaku yang diekspresikan dengan cara yang baik atau beretika. Kesantunan merupakan fenomena kultural, sehingga apa yang dianggap santun oleh suatu kultur mungkin tidak demikian halnya dengan kultur

30 16 yang lain. Tujuan kesantunan, termasuk kesantunan berbahasa, adalah membuat suasana berinteraksi menyenangkan, tidak mengancam muka dan efektif Definisi Kesantunan Berbahasa Menurut Rahardi (2005: 35), penelitian kesantunan mengkaji penggunaan bahasa (language use) dalam suatu masyarakat bahasa tertentu. Masyarakat tutur yang dimaksud adalah masyarakat dengan aneka latar belakang situasi sosial dan budaya yang mewadahinya. Adapun yang dikaji di dalam penelitian kesantunan adalah segi maksud dan fungsi tuturan. Fraser melalui Rahardi (2005: 38-40) menyebutkan bahwa sedikitnya terdapat empat pandangan yang dapat digunakan untuk mengkaji masalah kesantunan dalam bertutur. 1. Pandangan kesantunan yang berkaitan dengan norma-norma sosial (the social-norm view). Dalam pandangan ini, kesantunan dalam bertutur ditentukan berdasarkan norma-norma sosial dan kultural yang ada dan berlaku di dalam masyarakat bahasa itu. Santun dalam bertutur ini disejajarkan dengan etiket berbahasa (language etiquette). 2. Pandangan yang melihat kesantunan sebagai sebuah maksim percakapan (conversational maxim) dan sebagai sebuah upaya penyelamatan muka (face-saving). Pandangan kesantunan sebagai maksim percakapan menganggap prinsip kesantunan (politeness principle) hanyalah sebagai pelengkap prinsip kerja sama (cooperative principle). Prinsip kesantunan ini, terutama mengatur tujuan-tujuan relasional yang berkaitan erat dengan upaya pengurangan friksi dalam interaksi personal antarmanusia pada masyarakat bahasa tertentu.

31 17 3. Pandangan ini melihat kesantunan sebagai tindakan untuk memenuhi persyaratan terpenuhinya sebuah kontrak percakapan (conversational contract). Jadi, bertindak santun itu sejajar dengan bertutur yang penuh pertimbangan etiket berbahasa. 4. Pandangan kesantunan yang keempat berkaitan dengan penelitian sosiolinguistik. Dalam pandangan ini, kesantunan dipandang sebagai sebuah indeks sosial (social indexing). Indeks sosial yang demikian terdapat dalam bentuk-bentuk referensi sosial (social reference), (honorific), dan gaya bicara (style of speaking) (Rahardi, 2005: 40). Menurut Chaer (2010: 10), secara singkat dan umum, ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. Ketiga kaidah itu adalah (1) formalitas (formality), (2) ketidaktegasan (hesistancy), dan (3) kesamaan atau kesekawanan (equality or camaraderie). Jadi, dengan singkat bisa dikatakan bahwa sebuah tuturan disebut santun kalau ia tidak terdengar memaksa atau angkuh, tuturan itu memberi pilihan tindakan kepada lawan tutur, dan lawan tutur itu menjadi senang. Sedangkan menurut Brown dan Levinson (1978:11) menyatakan teori kesantunan berbahasa itu berkisar antara nosi muka atau wajah (face), yakni Citra diri yang bersifat umum yang selalu ingin dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Muka ini meliputi dua aspek yang berkaitan yaitu muka negatif dan muka positif. Muka negatif mengacu pada citra diri setiap orang yang berkeinginan agar dia dihargai dengan jalan membiarkannya bebas melakukan tindakannya atau membiarkannya bebas dari keharusan mengerjakan sesuatu. Adapun yang dimaksud dengan muka positif

32 18 adalah mengacu pada citra diri setiap orang yang berkeinginan agar apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya, atau apa yang merupakan nilai-nilai yang ia yakini diakui orang lain sebagai sutau hal yang baik, yang menyenangkan, dan patut dihargai. Brown dan Levinson menyatakan bahwa konsep muka ini bersifat universal Penanda Kesantunan Menurut Leech Indikator adalah penanda yang dapat dijadikan penentu apakah pemakaian bahasa Indonesai si penutur itu santun atau tidak. Wijana (1996: 55), mengungkapkan bahwa sebagai retorika interpersonal, pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). Prinsip kesopanan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri (self) dan orang lain (others). Diri sendiri adalah penutur dan orang lain adalah lawan tutur. Leech (1993) memandang prinsip kesantunan sebagai piranti untuk menjelaskan mengapa penutur sering bertutur secara tidak langsung (indirect) dalam mengungkapkan maksudnya. Penutur biasanya menggunakan implikatur. Implikatur adalah apa yang tersirat dalam suatu ujaran. Jika dibedakan apa yang dikatakan dan apa yang dikomunikasikan, implikatur termasuk yang dikomunikasian. Namun, meskipun tidak harus menggunakan implikatur, tuturan dapat dikatakan santun, jika ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: a. Maksim kebijaksanaan (tact maxim) Dalam maksim kebijaksanaan ini, (Leech, 1993: 2016) mengamanatkan bahwa maksim kebijaksanaan haruslah membuat kerugian orang lain sekecil mungkin dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin. Dalam bertutur,

33 19 penutur harus memberikan tuturan yang menyenangkan hati mitra tutur. Dengan kata lain, apa yang dikatakan oleh penutur harus memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Pendapat lain dikemukakan oleh Kunjono, dkk (2016: 59) yang mengatakan bahwa di dalam maksim kebijaksanaan ini menjelaskan bahwa dalam bertutur yang santun setiap peserta pertuturan haruslah selalu berusaha meminimalkan kerugian kepada orang lain, dan memaksimalkan keuntungan kepada orang lain pula. Dimensi yang ditujukan dalam maksim kebijaksanna ini adalah dimensi orang lain atau others bukan dimensi diri sendiri self. Adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Pranowo (2009: 103), menyatakan bahwa maksim kebijaksanaan merupakan tuturan yang dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa, dalam bertutur penutur harus mengatakan sesuatu yang menyenangkan hati mitra tutur, dan membuat mitra tutur merasa senang, dengan kata lain, tuturan yang dituturkan penutur kepada mitra tutur harus memberikan keuntungan bagi mitra tutur itu sendiri. Maksim ini dilaksanakan dengan bentuk tuturan impositif dan komisif. Tuturan impositif adalah bentuk tuturan yang digunakan untuk menyatakan perintah. Sedangkan tuturan komisif adalah tuturan yang berfungsi untuk menyatakan janji, penawaran, (Leech, 1993:206). Berikut contoh tuturan yang mengandung maksim kebijaksanaan: Tuan rumah : Silahkan makan dulu nak! Kami semua sudah mendahuluimu. Tamu : Wah, saya jadi tidak enak, Bu Konteks : Dituturkan oleh seorang ibu kepada seorang anak muda yang sedang bertamu di rumah ibu tersebut. Pada saat itu, ia harus berada di rumah ibu tersebut sampai malam karena hujan sangat deras dan tidak segera reda.

34 20 dalam tuturan di atas, tampak jelas bahwa apa yang dituturkan tuan rumah sangat memaksimalkan keuntungan bagi tamu. Penutur (tuan rumah) dengan baik hati menawarkan makanan kepada mitra tutur (tamu). Orang-orang desa biasanya sangat menghargai tamu, baik tamu yang datangnya secara kebetulan maupun tamu yang sudah direncanakan terlebih dahulu kedatangannya. Bahkan, sering kali ditemukan minuman dan makanan yang disajikan kepada tamu diupayakan agar layak diterima dan dinikmati oleh tamu tersebut (Rahardi, 2005: 61). b. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) Maksim kedermawanan merupakan maksim yang mengharuskan penutur untuk meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. Maksim ini dituturkan dengan tuturan impositif dan komisif (Leech, 1993: 209). Jika maksim kebijasanaan berpusat pada orang lain, maka maksim kedermawanan merupakan kebalikannya, yakni berpusat pada diri sendiri. Dalam maksim ini, penutur harus berusaha membuat dirinya melakukan segala sesuatu yang dikatakan mitra tutur. Penutur harus membuat dirinya mengerjakan apa yang dikatakan mitra tutur, sekalipun apa yang dikatakan tersebut dipandang susah atau sulit dilakukan, karena hal tersebut merupakan tuntutan dari maksim ini yakni penutur harus memaksimalkan kerugian dirinya sendiri. Pendapat lain dikemukakan oleh (Kunjono, dkk, 2016: 60) yang menyatakan bahawa, dalam maksim kedermawanan atau generosity maxim digariskan bahwa, agar tuturan seseorang dapat berciri sopan dan santun, tuturan itu harus dibuat sesederhana dan sesimpel mungkin. Orang yang menuturkannya pun harus bersikap rendah hati, tidak sebaliknya justru bersikap congkak dan

35 21 menyombongkan diri. Dengan menempatkan sosok dirinya pada posisi yang berada di bawah atau di dalam posisi yang rendah itu artinya orang tersebut bersikap baik, bersikap murah hati, dan bersikap sebagai dermawan terhadap pihak lain. Pandangan lain dikemukan oleh Pranowo (2009: 103) yang menyatakan bahwa tuturan lebih baik menimbulkan kerugian kepada penutur. Berdasarkan pendapata ketiga ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam bertutur, penutur harus membuat dirinya rugi sebanyak mungkin yakni dengan memberikan tuturan yang bersifat membantu mitra tutur. Berikut contoh tuturan yang mengandung maksim kedermawanan. Anak kos A : Mari, saya cucikan baju kotormu! Pakaianku tidak banyak kok yang kotor. Anak kos B : Tidak usah, Mbak. Nanti siang saya akan mencuci juga kok Konteks : Tuturan ini merupakan cuplikan pembicaraan antar anak kos pada sebuah rumah kos di kota Yogyakarta. Anak yang satu berhubungan demikian erat dngan anak yang satunya. Di dalam tuturan di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa si A berusaha memaksimalkan keuntungan pihak lain dengan cara menambahkan beban bagi dirinya sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara menawarkan bantuan dengan mencucikan pakaian kotornya si B. Orang yang tidak suka membantu orang lain, apalagi tidak pernah bekerja bersama dengan orang lain, akan dapat dikatakan tidak sopan dan biasanya tidak akan mendapatkan banyak teman dipergaulan keseharian hidupnya (Rahardi, 2005: 62). c. Maksim Pujian (Praise Maxim) Maksim pujian mengharuskan penutur untuk meminimalkan kecaman terhadap orang lain, dan memaksimalkan pujian kepada orang lain tersebut

36 22 (Leech,1993:211). Pada maksim ini aspek negatifnya yang lebih penting adalah jangan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan mengenai orang lain, terutama mengenai mitra tutur. Dalam maksim ini, penutur dituntut untuk memberikan pujian kepada mitra tutur atas apa yang capainya. Maksim ini diungkapkan dengan bentuk tuturan ekspresif dan asertif. Berikut contoh tuturan yang mengandung maksim pujian. Dosen A : Pak, aku tadi sudah memulai kuliah perdana untuk kelas Business English. Doesen B : Oya, tadi aku mendengar bahasa Ingrismu jelas sekali dari sini. Konteks : Dituturkan oleh seorang dosen kepada temannya yang juga seorang dosen dalam ruang kerja dosen pada sebuah perguruan tinggi. Pemberitahuan yang disampaikan dosen A terhadap rekannya dosen B pada contoh di atas, ditanggapi dengan sangat baik bahkan disertai pujian atau penghargaan oleh dosen A. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa di dalam pertuturan itu dosen B berprilaku santun terhadap dosen A (Rahardi, 2005: 63). d. Maksim Kerendahan Hati Dalam maksim kerendahan hati, (Leech, 1993: 214) mengatakan bahwa Maksim kerendahan hati mengharuskan penutur untuk meminimalkan pujian kepada dirinya sendiri, tetapi harus mengecam diri sendiri sebanyak mungkin. Seperti halnya dengan maksim pujian, maksim ini juga diungkapkan dengan bentuk tuturan ekspresif dan asertif. Pendapat lain dikemukakan oleh (Kunjana dkk, 2016: 62) yang mengatakan di dalam maksim kerendahan hati ditegaskan bahwa, agar dapat dikatakan santun, seseorang harus bersedia meminimalkan pujian terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya seseorang harus bersedia

37 23 memaksimalkan perendahan atau penjelekan pada dirinya sendiri. Berikut contoh dari maksim kerendahan hati sebagai berikut : Juri Pemenang Konteks : Terimalah hadiah yang kecil ini sebagai tanda penghargaan kami. : Terima kasih atas hadiahnya : Penutur adalah seorang juri, dan tuturan tersebut terjadi di tempat petandingan. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh juri berupa hadiah atas kemenangan dari salah satu peserta lomba. Tuturan yang dituturkan oleh penutur sesuai dengan maksim kerendahan hati, karena penutur telah meminimalkan pujian kepada dirinya sendiri. Penutur telah memberikan hadiah kepada mitra tutur yang telah menang dalam pertandingan, hadiah yang diberikan penutur bisa saja merupakan hadiah yang besar, akan tetapi dalam mengungkapkannya, penutur menggunakan kalimat yang menunjukan bahwa hadiah yang diberikan tidak begitu berharga nilainya. e. Maksim Kesepakatan Maksim kesepakatan mengharuskan seseorang untuk memaksimalkan kesepakatan dengan orang lain dan meminimalkan ketidaksepakatan dengan orang lain. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan asertif, Lecch (1993 : 207). Dalam maksim ini, penutur harus mengupayakan kesepakatannya dengan mitra tutur. Sesungguhnya di antara penutur dan mitra tutur itu harus ada kesamaan upaya untuk saling memaksimalkan kecocokan dan meminimalkan ketidakcocokan. Semakin banyak dimensi-dimensi kesesuaian atau kecocokan di antara kedua belah pihak dalam praktik bertutur, harus dikatakan bahwa maksim kesepakatan telah bersama-sama ditepati dan diupayakan demi tercapaiya kondisi kesantunan (Kunjana dkk, 2016: 63). Contoh maksim kesepakatan sebagai berikut:

38 24 Siswa A : Ujiannya sangat sulit. Siswa B : Betul, kepalaku sampai pusing. Konteks : Tuturan dituturkan oleh seorang siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas tepat setelah ujian berakhir. Tuturan merupakan tanggapan dari mitra tutur (siswa B) kepada penutur (siswa A) yang menyatakan bahwa ujiannya sangat sulit. Jawaban (B) telah memenuhi maksim ini dengan cara memaksimalkan kesepakatan dengan (A). Mitra tutur menunjukan kesepakatannya dengan penutur dengan mengatakan bahwa ujiannya memang sulit sampai kepalanya pusing. f. Maksim Kesimpatian (Thy Maxim) Maksim kesimpatian mengharuskan penutur dan mitra tutur memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati diantara mereka. dalam maksim ini, penutur harus memberikan dan menunjukan rasa simpati kepada mitra tutur atas apa yang dialami mitra tutur (Leech, 1993: 2017). Maksim ini diperlukan untuk mengungkapkan kesantunan karena setiap orang perlu bersimpati terhadap prestasi serta terhadap musibah yang dialami oleh orang lain. Maksim diungkapkan menggunakan tuturan asertif dan ekspresif. Berikut contoh dalam maksim kesimpatisan: Tuturan 1 : Saya turut berdukacita atas meninggalnya ayahmu, kamu yang sabar yah, kita sama-sama mendoakan beliau. Tuturan 2 : Iya terima kasih banyak Konteks : Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang siswa kepada temannya, dan tuturan tersebut terjadi di rumah duka. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur terhadap musibah yang dialami oleh temannya. Tuturan di atas telah memenuhi maksim kesimpatisan karena penutur telah memaksimalkan rasa simpati kepada mitra tutur. Contoh tuturan diatas merupakan ucapan simpati dari penutur kepada salah satu temannya yang ayahnya meninggal.

39 Fungsi Kesantunan Berbahasa Fungsi kasantunan berbahasa tidak semata-mata dimaksudkan dan digunakan untuk menyamapaikan infromasi; namun juga digunakan untuk membangun dan membina relasi antarwarga masyarakat pemakai bahasa tersebut (Rahardi, 2005: 7). Fungsi utama tuturan jika dilihat dari pihak penutur adalah fungsi menyatakan (deklaratif), fungsi menanyakan (interogatif), fungsi menyuruh (imperatif), fungsi eksklamatif, dan fungsi empatik (Rahardi, 2005: 74-86). Berikut penjelasannya: a. Fungsi menyatakan (deklaratif) Fungsi menyatakan di dalam kajian gramatika dilakukan dalam bentuk kalimat deklaratif, yakni kalimat yang menyampaikan berita atau keadaan di sekeliling penutur. Dengan tuturan dalam kalimat deklaratif ini, penutur tidak mengharapkan adanya komentar dari lawan tutur; juga memang memang tidak ada kewajiban lawan tutur untuk mengomentarinya. Akan tetapi, bukan berarti lawan tutur tidak boleh mengomentarinya. Kalimat deklaratif dalam bahasa Indonesia dapat merupakan tuturan langsung dan tuturan tidak langsung. Contoh: A: Ibu menyahut, Si Atik akan segera pulang dari jepang bulan depan. B: Ibu menyahut dengan mengatakan bahwa Si Atik akan segera pulang dari Jepang bulan depan. Konteks: Dituturkan oleh ibu Atik kepada suaminya ketika mereka bersamasama duduk dengan santai di serambi rumah mereka sambil membaca koran. Baik tuturan (A) mapun (B) kedunya mengandung maksud menyatakan atau memberitahukan seseuatu. Dalam hal ini, informasi bahwa seseorang yang

40 26 bernama Atik itu akan pulang dari negara Jepang. Dengan demikian, jelas bahwa kedua kalimat itu merupakan kalimat deklaratif (Rahardi, 2005: 74-75). b. Fungsi menanyakan (interogatif) Tuturan dengan fungsi menanyakan dilakukan dalam bentuk kalimat bermodus interogatif. Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada si mitra tutur. Dengan perkataan lain, apabila seseorang penutur bermaksud mengetahui jawaban terhadap suatu hal atau suatu keadaan, penutur akan bertutur dengan menggunakan kalimat interogatif kepada si mitra tutur. Dalam bahasa Indonesia, terdapat paling tidak lima macam cara untuk mewujudkan tuturan interogatif. Kelima macam cara itu sebagai berikut: (1) dengan membalik urutan kalimat, (2) dengan menggunakan kata apa atau apakah, (3) dengan menggunakan kata bukan atau tidak, (4) dengan mengubah intonasi kalimat menjadi intonasi tanya, dan (5) dengan menggunakan kata-kata tanya tertentu. Kalimat interogatif dapat dibedakan menjadi dua, yakni (1) kalimat interogatif total dan (2) kalimat interogatif parsial. Kalimat interogatif total dimaksudkan untuk menanyakan secara keseluruhan informasi yang terdapat dalam pertanyaan. Lazimnya, kalimat interogatif total itu menanyakan kesetujuan dan ketidaksetujuan mitra tutur. Dengan kata lain, kalimat interogatif total menuntut dua kemungkinan tanggapan, yakni tanggapan mengiyakan (iya atau sudah) dan tanggapan menidakkan (tidak, bukan, atau belum). Adapun kalimat interogatif parsial adalah kalimat interogatif yang dimaksudkan untuk menanyakan sebagain informasi yang terkandung di dalam pertanyaan.

41 27 Contoh : A: Apakah surat permohonan bantuan ke negeri Belanda sudah diselesaikan? B: Siapakah yang menyelesaikan surat permohonan bantuan ke negeri Belanda? Konteks: Kedua tuturan itu ditutrkan oleh seorang pimpinan pimpinan kepada sekretarisnya pada saat mereka bersama-sama bekerja di ruang pimpinan. Tuturan (A) dianggap sebagai kalimat interogatif total karena tuturan itu tidak mengharapkan jawaban yang hanya menanyakan sebagai dari kalimat interogatif itu, melainkan menanyakan isi tuturan secara keselurahan. Sebaliknya, tuturan (B) mengharapkan jawaban yang hanya merupakan bagian dari kalimat interogatif. Oleh karena itu, kalimat tersebut disebut kalimat interogatif parsial (Rahardi, 2005: 76-78). c. Fungsi memerintah (imperatif) Tuturan dengan fungsi memerintah dilakukan dalam kalimat bermodus imperatif. Kalimat imperatif mengandung maksud memerintah atau meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaimana diinginkan penutur. Kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia dapat berkisar antara suruhan yang sangat keras atau kasar sampai dengan permohonan yang sangat halus atau santun. kalimat imperatif merupakan suruhan untuk melakukan sesuatu sampai larangan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia itu kompleks dan banyak variasinya. Secara singkat, menjadi lima macam, yakni (1) kalimat imperatif biasa, (2) kalimat imperatif permintaan, (3) kalimat imperatif pemberian izin, (4) kalimat imperatif ajakan, dan (5) kalimat imperatif suruhan.

42 28 Contoh: A: Monik tolong ambil botol minumku. Konteks: Dituturkan oleh teman Monik pada saat pada saat ia mau minum, tetapi botol airnya tidak berada didekatnya Dalam tuturan (A) menunjukan bahwa penutur meminta mitra tutur untuk mengambil botol minumnya yang pada saat itu tidak berada di dekatnya. Tuturan tersebut mengandung maksud meminta. d. Fungsi Eksklamatif Kalimat eksklamatif adalah kalimat yang dimaksudkan untuk menyatakan rasa kagum. Karena kalimat eksklamatif menggambarkan suatu keadaan yang mengundang kekaguman. Kalimat ini disusun dari kalimat deklaratif yang berpredikat adjektiva. Ketentuan-ketentuan berikut dapat digunakan untuk membentuk tuturan eksklamatif yakni, (1) susunan kalimat dibuat invensi, (2) pertikel-nya melekat pada predikat yang telah diletekan di depan subjek, (3) kata seru alangkah dan bukan main diletakan di posisi terdepan. Contoh: A: Wah... Bukan main sopannya kedua penjaga makam Ibu Negara yang sebelah utara itu. Konteks: Dituturkan oleh seorang pengunjung yang sudag berusia lanjut di makam Ibu Negara. Tuturan itu disampaikan pada saat ia bersama dengan temannya beranjak meninggalkan kompleks makam. Dalam tuturan (A), penutur mengutarakan rasa kagunya terhadap kedua penjaga makam Ibu Negara yang sangat sopan. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur mengutarakan rasa kekagumannya kepada keadaan di sekitar.

43 29 e. Fungsi Empatik Kalimat empatik adalah kalimat yang di dalamnya terkandung maksud memberikan penekanan khusus. Dalam bahasa Indonesia, penekanan khusus itu biasanya dikenakan pada bagian subjek kalimat. Penekanan khusus itu dapat dilakukan dengan cara menambahkan informasi lebih lanjut tentang subjek itu. Dengan demikian, terdapat dua ketentuan pokok yang dapat digunakan untuk membentuk kalimat empatif dalam bahasa Indonesia, yakni (1) menambahkan partikel-kah pada subjek dan (2) menambahkan kata sambung yang di belakang subjek. Contoh: A: Para pengurus kopma-lah yang pertama kali harus mempertanggungjawabkan ketidakberesan uang dan barang dagangan itu Konteks: Dituturkan oleh seorang dosen kepada rekannya yang juga seorang dosen pada sebuah kampus. Tuturan itu muncul karena pada saat itu sedang ada kasus ketidakberesan keungan koperasi mahasiswa di kampus itu. Dalam tuturan (A) merupakan tuturan yang mengandung kalimat empatik. Tuturan tersebut menunjukan bahawa penutur telaj memberikan penekanan pada kata kopma yakni menambahkan partike kah. 2.3 Kerangka Berpikir Dalam kerangka berpikir, peneliti akan memberikan gambaran mengenai apa yang peneliti lakukan. Penelitian ini dilatarbelakngi masalah-masalah siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta yang kurang mampu menggunakan bahasa secara santun pada saat berkomunikasi khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti bisa merekam suara, membuat video ataupun mencatat hasil pembicaraan siswa-siswi yang dianggap santun serta

44 30 fungsi tuturan santun selama proses pembelajaran berlangsung, antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Berdasarkan judul yang diambil oleh peneliti, pengetahuan ataupun teori yang mendukung dalam penelitian ini adalah terori pragmatik, konteks, kesantunan, prinsip kesantunan dan fungsi kesantunan dalam berkomunkasi. Berikut ini digambarkan hasil kerangka berpikir: ANALISIS PENANDA DAN FUNGSI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI SISWA-SISWI KELAS XI IPS SMA PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA KAJIAN PRAGMATIK KESANTUNAN BERBAHASA PENANDA KESANTUNAN LEECH FUNGSI KESANTUNAN BERBAHASA MENURUT KUNJANA RAHARDI 2.1 Kerangka Berpikir

45 32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam metode penelitian ini akan dibahas mengenai enam hal diantaranya (1) jenis penelitian, (2) sumber data dan data penelitian, (3) teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) teknik analisis data, (6) triangulasi data. Keenam hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian penanda dan fungsi kesantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ini, menggunakan jenis penelitian yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode deskpriptif yaitu metode paparan hasil temuan berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang diperoleh berdasarkan data yang dikumpulkan di lapangan. Menurut Moleong (2007: 6), penelitian kualitatif dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya prilaku, persepsi, tindakan, dll secara holistik dan dengan cara deskrispi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Pendekatan deskriptif kualitatif yang dimaksud adalah penelitian yang akan memberikan berbagai gambaran mengenai penanda kesantunan dan ketidasantunan berbahasa serta fungsi kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswasiswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif karena data yang digunakan sebagai objek dalam 32

46 33 penelitian yaitu berupa tuturan dari siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. 3.2 Sumber Data dan Data Penelitian Sumber data utama dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti melakukan penelitian terhadap tigas kelas yakni kelas XI IPS 1, XI IPS, dan XI IPS 3 yang masing-masing kelas terdiri dari 30 siswa. Peneliti mulai mengambil data pada tanggal, 13 February 2019 sampai dengan tanggal, 27 Maret Peneliti melakukan pengambilan data tiga kali dalam seminggu, yakni pada hari Rabu, Kamis, dan Jumat. Dalam melaukan penelitian, durasi yang digunakan peneliti untuk mengambil data yaitu, dua jam dalam sekali pertemuan. Adapun data dalam penelitian ini berupa tuturan dari siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, rekam dan catat. Berikut uraian dari tiga teknik tersebut. a. Teknik observasi Teknik observasi merupakan teknik pengumpulan data, yakni peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Dalam teknik observasi ini, peneliti akan mengamati penggunaan bahasa dari siswa kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam hal ini, peneliti akan mengamati penggunaan tuturan yang mengandung penanda kesantunan yakni

47 34 ada enam maksim serta fungsi kesantunan yakni ada lima fungsi. Selain itu, peneliti juga mengamati konteks selama berinteraksi. b. Teknik catat Teknik catat merupakan teknik untuk mencatat data yang diperoleh dari informan. Dalam melakukan teknik catat, peneliti sudah membekali diri dengan membuat kartu data yang telah disediakan. Dalam teknik catat ini, peneliti akan mencatat tuturan-tuturan yang mengandung prinsip kesantunan berbahasa serta fungsi kesantunan berbahasa disertai konteksnya. c. Teknik rekam Teknik rekam digunakan untuk merekam tuturan yang terajadi di kelas. Peneliti merekam menggunakan alat yang sudah peneliti sediakan yakni menggunakan handphone. Tekni rekam ini digunakan peneliti untuk kembali mendengar tuturan yang belum sempat dicatat. 3.4 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan penelitian. Adapaun instrumen yang akan diguanakan peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan berbekal pengetahuan pragmatik dengan fokus penanda dan fungsi kesantunan berbahasa. Peneliti sebagai instrumen penelitian, memegang peranan yang sangat penting dalam penelitian. Salah satu peran tersebut yakni dalam mengumpulkan data. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan teknik utama yaitu teknik observasi. Dalam teknik observasi ini, peneliti melakukan pengamatan terhadap

48 35 penggunaan bahasa. Selain teknik observas, peneliti juga menggunakan teknik catat, yakni mencatat tuturan-tuturan yang dituturkan oleh siswa dan guru yakni, tuturan-tuturan yang diduga merupakan tuturan yang termasuk dalam enam penanda kesantunan berbahasa dan lima fungsi kesantunan berbahasa. Selain teknik observasi dan catat, peneliti juga melakukan teknik rekam untuk mendengar kembali tuturan-tuturan yang belum sempat dicatat. Sebagai bekal pengumpulan data, peneliti melengkapi diri dengan format pengumpulan data sebagai berikut: 1. Penanda kesantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta Data tuturan Konteks Analisis Fungsi kesantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta

49 36 Data tuturan konteks Analisis Teknik Analisis Data (Moleong 2006: 247) menyatakan bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan hasil observasi untuk menganalisis data tuturan. Dalam penelitian kualitatif, data dianalisis pada saat pengumpulan data dan setelah selesai pengumpulan data. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskpriptif, yakni metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data yang sudah terkumpul sebagaimana adanya. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan langkah sebagai berikut: a. Peneliti mengidentifikasi data Identifikasi merupakan kegiatan mencari, menemukan, mengumpulkan, meneliti, mendaftarkan, mencatat data dan informasi dari kebutuhan lapangan.

50 37 Pada tahap identifikasi, peneliti mengidentifikasi penanda dan fungsi kesantunan berbahasa yang dituturkan oleh siswa. Identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui tuturan-tuturan mana yang masuk dalam penanda dan fungsi kesantunan dan yang tidak termasuk. b. Peneliti mengklasifikasi data Klasifikasi data berguna untuk mengelompokan dan mengklasifikasikan data. Setelah peneliti melakukan identifikasi data, peneliti kemudian mengelompokan data tuturan berdasarkan prinsip kesantunan dan fungsi kesantunan. Klasifikasi data bertujuan untuk mengetahui tuturan mana saja yang termasuk dalam penanda kesantunan yang terdiri dari enam, yakni penanda maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatisan. Selain itu, untuk mengetahui tuturan mana saja yang termasuk dalam fungsi kesantunan berbahasa, yakni fungsi menyatakan (Deklaratif), fungsi menanyakan (interogatif), fungsi memerintah (imperatif), fungsi eksklamatif, dan fungsi empatik. c. Peneliti menginterpretasi data (pemaknaan data) Interpretasi merupakan sebuah bentuk dari kegiatan untuk melakukan penggabungan terhadap sebuah hasil dari analisis dengan berbagai macam pertanyaan dan kriteria, maupun pada sebuah standar tertentu guna untuk dapat mencipatakan sebuah makna. Peneliti menginterpretasi tuturan siswa untuk mengetahui penanda dan fungsi yang terdapat dalam tuturan tersebut. Selain itu, peneliti juga melihat respon yang diberikan siswa setelah guru memberikan tuturan.

51 38 d. Melaporkan Melaporkan merupakan catatan mengenai informasi mengenai data yang diperoleh dan dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Melaporkan menjadi tahap akhir peneliti untuk mendeskripsikan data. Peneliti menjelaskan dalam kata-kata mengenai penanda dalam kesantunan berbahasa serta fungsi dalam kesantunan berbahasa itu sendiri. 3.6 Triangulasi Data Penelitian penanda dan fungsi kesantunan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta menggunakan teknik triangulasi untuk memeriksa keabsahan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian. Menurut Lexi J. Moleong (2006: 330), triangulasi adalah teknik pemerikasaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini, peneliti membuat triangulasi dengan tujuan untuk melakukan pengecekan terhadap validitas dan keterpercayaan hasil temuan. Triangulasi dalam penelitian ini menggunakan teknik pemeriksaan yang memanfaatkan keahlian peneiliti lain untuk membantu mengurangi ketidakcermatan dalam langkah pengumpulan data. Penelitia lainnya yang melakukan pengecekan dalam triangulasi penelitian ini adalah pakar yang ahli dalam bidang pragmatik yakni, Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.

52 39 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data Data penelitian berupa tuturan dari kegiatan pembelajaran siswa-siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dengan jangka waktu bulan Februari-Maret Jumlah data yang di analisis sebanyak 20 tuturan. Data di analisis berdasarkan prinsip kesantunan dengan kaidah kesantunan menurut Lecch (1993) dan fungsi kesantunan menurut Kunjana Rahardi (2005). Dalam kegiatan pembelajaran, diperlukan adanya komunikasi antara pendidik dan peserta didik serta peserta didik dengan peserta didik. Dengan adanya komunikasi proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Peneliti menganalisis data berdasarkan kaidah yang ditetapkan oleh (Lecch 1993). Peneliti menggunakan kaidah kesantunan Leech dan fungsi kesantunan menurut Kunjana Rahardi (2005) karena, sub maksim Leech dan fungsi kesantunan Kunjana sesuai dengan apa yang harus diperhatikan ketika dalam proses pembelajaran. Untuk menunjang kegiatan proses pembelajaran dengan baik, maka peserta didik dalam berkomunikasi harus memperhatikan dan menggunakan maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian yang sesuai dengan sub maksim Leech (1993). Selain itu, harus memperhatikan fungsi kesantunan, yakni fungsi menyatakan infromasi (deklaratif), menyatakan perjanjian (deklaratif), pemberian izin (imperatif), penjelasan (deklaratif), dan menyetujui (imperatif). 39

53 40 Berdasarkan hasil penelitian di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, peneliti menemukan ada 50 tuturan. Triangulasi dilakukan oleh Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum. selaku dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Setelah ditriangulasi, data yang disetujui sebanyak 48 tuturan. 4.2 Analisis Data Hasil penelitian terhadap Penanda dan Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi Siswa-Siswi Kelas Xi IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta sebagai berikut : Analisis Penanda kesantunan berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Siswa-Siswi kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta Berdasarkan Prinsip Kesantunan Leech. Setalah melakukan penelitian, peneliti menemukan 4 penanda kesantunan berbahasa siswa kelas XI IPS kepada guru SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Penanda kesantunan tersebut terdiri dari maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kerendahan hati, dan maksim ksesepakatan. Peneliti mendeskripsikan penanda kesantunan berbahasa tersebut sebagai berikut: Penanda Maksim Kebijaksaaan Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kebijaksanaan dapat diartikan sifat atau kepandaian dalam menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif tajam pemikiran dan mempunyai kejakapan atau berhatihati apabila apabila menghadapi kesulitan. Ketika bertutur, sifat bijaksana juga harus diperhatikan agar proses komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat

54 41 berjalan dengan lancar dan terasa santun. Gagasan untuk bertutur secara santun ini dikemukan oleh Leech (1993) ke dalam 6 maksim salah satunya adalah maksim kebijaksanaan, dimana penutur diharuskan untuk meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan orang lain agar tuturan menjadi santun. Maksim kebijaksanaan mengamanatkan hendaknya penutur harus mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan mamaksimalkan keuntungan bagi orang lain ketika bertutur. Maksim ini diungkapkan dengan menggunakan ujaran impositif dan komisif. Ujaran impositif adalah bentuk tuturan yang digunakan untuk menyatakan perintah. Sedangkan tuturan komisif adalah tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, dan tuturan ini berfungsi untuk menyatakan janji, penawaran. Dengan berpedoman pada maksim ini, diharapkan proses komunikasi dapat berjalan dengan baik dan tidak ada rasa saling menyakiti antara penutur dan mitra tutur. Dalam lingkup formal, pematuhan terhadap maksim ini sering dijumpai, salah satunya dalam proses pembelajaran di kelas seperti di bawah ini: 1. Penyaji : Pagi teman-teman Peserta diskusi : Pagi... Penyaji : Terima kasih atas kesempatanyya, di sini saya akan menyampaikan judul proposal saya terlebih dahulu. Saya minta perhatiannya yah. Jadi judul proposal saya adalah tentang pengaruh penggunaan gadget bagi prestasi belajar siswa. Sekian laporan saya, terima kasih. Koteks : Penutur adalah penyaji, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut ditujukan penutur penyaji) kepada seluruh mitra tutur (peserta diskusi) ketika akan membacakan hasil temuan mengenai judul proposal. 2. Siswa : Pak, judul saya penggunaan gadget di kalangan masyarakat. Guru : Masalahmu apa? Siswa : Penggunaan gadget di zaman sekarang tu banyak pengaruh di kalangan masyarakat, kaya bisa buat kecanduan.

55 42 Guru : Gadget itu apa sih, apakah laptop itu termasuk gadget juga? Makanya coba buat lebih spesifik, gedgetnya apa? terus mau cari pengaruhnya dari apa dan terhadap apa. Siswa : Oke pak, nanti saya perbaiki lagi, terima kasih banyak pak. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang sudah memberikan masukan kepada penutur (siswa) terkait dengan judul proposalnya. 3. Guru : Temukan hal-hal yang masih salah dalam KTI kaka tingkat. Perhatikan dibagian isi, mulai judul, pendahuluan dan sebagainya. Tujuan kalian saya minta buat analisis KTI ini biar kalian bisa tahu mana hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis KTI. Siswa : Baik pak, terima kasih atas arahannya, kami akan mengerjakan sesuai dengan suruhan bapak. konteks : Penutur adalah seorang siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk tidak berisik dan mulai menganalisis isi KTI (karya tulis ilmiah) kaka tingkat. 4. Sisiwa : Pak saya mau tanya Guru : Iya gimaan Ave mau tanya apa? Sisiwa : Pak saya tu bingung menentukan antara judul saya pak Guru Siswa Guru : Judul kamu sekarang tentang apa? : Tentang penggunaan teknologi yang memberikan kecanduan pada anak zaman sekarang. Menurut bapak bisa gak yah itu pak? : Semua masalah itu bisa dijadikan untuk bahan penelitian. Punyamu ini bisa cuman kalimatmu mungkin diubah, misalnya pengaruh penggunaan gadget bagi anak zaman sekarang Siswa : Baik pak, saya akan ubah seperti yang bapak minta. Terima kasih pak Guru : Iya sama-sama. Sana kerjakan. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa perumusan kalimat dalam judul penelitian perlu diubah. 5. Guru : Kalau sudah selesai langsung di upload yah, waktu tinggal dikit lagi. Jangan lupa di cek, siapa tau masih ada yang belum dikerjakan Siswa : Syukurlah pak, untuk bapak ngasih tau jadi aku bisa tahu kalau punyaku tinggal 1. Untung belum tak upload. Makasih banyak pak Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa sebelum tugas di upload, harus di cek terlebih dahulu.

56 43 Data tuturan (1) dituturkan oleh seorang siswa yang akan memaparkan judul proposalnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penutur menggunakan diksi yang mencerminkan kesantunan ketika menuturkan pesannya yakni Terima kasih yang berarti mencerminkan rasa hormat kepada mitra tutur (peserta diskusi) selain itu dalam pengucapannya enak didengar. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut ditujukan kepada seluruh mitra tutur (peserta diskusi) ketika penutur akan membacakan hasil temuan mengenai judul proposal. Data tuturan (1) tersebut tentunya mematuhi prinsip kesantunan Leech. Khusunya maksim kebijaksanaan, yakni tuturan haruslah membuat keuntungan bagi orang lain sebesar mungkin, yang terlihat dari tuturan Terima kasih atas kesempatanyya, di sini saya akan menyampaikan judul proposal saya terlebih dahulu. Saya minta perhatiannya yah. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas penutur menggunakan diski yang mencerminkan kesantunan yakni Terima kasih atas kesempatannya, yang menunjukan bahwa penutur bermaksud untuk menghormati mitra tutur (peserta diskusi). Selanjutnya tuturan (2) dituturkan oleh seorang siswa ketika mendapat jawaban dan masukan dari mitra tutur (guru) mengenai judul proposal yang dibuat. Dalam bertutur, Penutur menggunakan diksi yang mencerminkan kesantunan yakni, Terima kasih banyak pak ditujukan kepada mitra tutur (guru) yang sudah memberikan masukan mengenai judul proposal dan tuturan tersebut terikat pada konteks dimana penutur adalah seoarng siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada

57 44 mitra tutur (guru) yang sudah memberikan masukan kepada penutur (siswa) terkait dengan judul proposalnya. Berdasarkan tuturan (2) diatas, penutur telah mematuhi prinsip kesantunan Leech, khusunya maksim kebijaksanaan, yakni tuturan haruslah membuat keuntungan bagi orang lain sebesar mungkin, yang terlihat dari tuturan Oke pak, nanti saya perbaiki lagi, terima kasih banyak pak. Jelas terlihat bahwa penutur menerima masukan dari mitra tutur (guru) dan berjanji akan memperbaiki judul proposalnya, dan hal tersebut akan menimbulkan perasaan senang bagi mitra tutur (guru) karena apa yang disampaikannya diterima baik oleh penutur. Selanjutnya data tuturan (3) dituturkan oleh siswa ketika mendapat arahan yang diberikan oleh mitra tutur (guru) terkait dengan apa yang akan dikerjakan. Dalam bertutur penutur menggunakan diksi yang mencerminkan kesantunan yakni Terima kasih yang ditujukan kepada mitra tutur (guru) yang sudah memberikan arahan mengenai apa yang harus dikerjakan dalam KTI (karya tulis ilmiah) milik kaka tingkat, dan hal ini terikat dalam konteks penutur adalah seorang siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk tidak berisik dan mulai menganalisis isi KTI (karya tulis ilmiah) kaka tingkat. Tuturan (3) tersebut tentunya mematuhi prinsip kesantunan Leech khusunya maksim kebijaksanaan, yakni tuturan haruslah membuat keuntungan bagi orang lain sebesar mungkin, yang terlihat dari tuturan Baik pak terima kasih atas arahannya, kami akan mengerjakan sesuai dengan suruhan bapak. Dalam tuturan tersebut jelas terlihat bahwa penutur (siswa) menerima arahan yang

58 45 diberikan oleh mitra tutur (guru), dan dalam tuturan tersebut menandakan bahwa penutur menghormati dan menghargai mitra tutur. Dataran tuturan (4) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa penutur harus mengubah rumusan kalimat dalam masalahnya tersebut, serta mitra tutur (guru) juga memberikan contoh kalimatnya Hal ini dapat di lihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa perumusan kalimat dalam judul penelitian perlu diubah. Data tuturan (4) dianggap sebagai bentuk tuturan yang santun karena telah mematuhi prinsip kesantunan Leech khususnya maksim kebijaksanaan, yakni penutur harus mamaksimalkan keuntungan bagi orang lain ketika bertutur. Tuturan yang dianggap santun dapat dilihat dalam tuturan Baik pak, saya akan ubah seperti yang bapak minta. Terima kasih pak. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur telah menerima masukan dari mitra tutur untuk merumuskan kembali kalimat dalam masalah penelitian. Hal tersebut akan membuat mitra tutur merasa senang karena apa yang disampaikan dapat diterima baik oleh penutur. Tuturan di atas telah mematuhi maksim kebijaksanaan, karena penutur telah mamaksimalkan keuntungan penutur ketika bertutur, yakni penutur telah menerima masukan dari mitra tutur dan penutur telah menggunakan diksi yang mencerminkan kesantunan yakni Terima kasih pak. Data tuturan (5) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa sebelum para siswa mengupload tugas, harap dicek ulang siapa tahu ada yng terlewati untuk dikerjakan. Hal ini dapat di lihat dalam

59 46 konteks penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa sebelum tugas di upload, harus di cek terlebih dahulu. Data tuturan (5) merupakan tuturan yang dianggap santun karena mematuhi prinsp kesantunan Leech khususnya maksim kebijaksanaan, yakni tuturan harus memberikan keuntungan bagi mitra tutur sebanyak mungkin. Tuturan yang dianggap santun dapat dilihat dalam tuturan Syukurlah pak, untung bapak ngasih tahu jadi aku bisa tau kalau punyaku tinggal 1. Untung belum tak upload. Makasih banyak pak. Dalam tuturan tersebut terlihat jelas bahwa penutur telah memberikan jawaban yang mengurangi kerugian mitra tutur. jawaban yang diberikan penutur akan menimbulkan perasaan senang oleh mitra tutur. Dari hasil analisis data di atas, peneliti menemukan ada 5 tuturan yang menerapkan maksim kebijaksanaan. Lima tuturan tersebut terdiri dari tuturan yang dituturkan oleh penutur (penyaji) kepada mitra tutur (peserta diskusi), serta tuturan yang dituturkan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru). Dalam bertutur, penutur telah menggunakan bahasa yang santun serta tuturannya memberikan keuntungan bagi mitra tutur. Hal ini sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh Leech (1993) dalam maksim kebijaksanaan, yakni tuturan harus meminimlkan kerugian mitra tutur dan memaksimalkan keuntungan mitra tutur sebesar mungkin ketika bertutur. Dalam tuturan di atas, terlihat jelas bahwa apa yang dituturkan oleh penutur telah memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Tuturan yang menerapkan maksim kebijaksanaan akan dikatakan sebagai bentuk tuturan yang santun, dan dalam berkomunikasi jika seseorang menerapkan

60 47 maksim kebijaksanaan maka akan dijamin proses komunikasi akan berjalan dengan lancar Penanda Maksim Kedermawanan Kedermawanan mempunyai arti sebagai kebaikan hati terhadap sesama manusia atau kemurahan hati (KBBI). Melihat hal ini, apabila suatu tuturan memerhatikan kebaikan hati atau kemurahan hati maka dapat dipastikan proses komunikasi dapat berjalan dengan baik, karena bila antara penutur dan mitra tutur sama-sama berbaik hati maka tuturan tidak akan melukai hati satu sama lain. Leech mempunyai gagasan agar tuturan terasa santun salah satunya dengan memerhatikan arti kedermawanan, yakni tuturan haruslah membuat keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin, itulah yang dinamakan maksim kedermawanan (kerendahan hati). Dengan mematuhi prinsip ini, maka tuturan akan semakin lebih santun baik dalam lingkup sehari-hari atau formal. Penutur yang mampu mematuhi maksim ini akan dianggap sebagai orang yang tahu sopan santun dan pintar menghargai orang lain. Tuturan ini biasanaya diujarkan dengan tuturan impositif dan komisif. Ujaran impositif adalah bentuk tuturan yang digunakan untuk menyatakan perintah. Sedangkan tuturan komisif adalah tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, dan tuturan ini berfungsi untuk menyatakan janji, penawaran. Apabila dalam suatu proses komunikasi, penutur dan mitra tutur mematuhi maksim ini, maka dapat dipastikan proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan santun karena penutur dan mitra tutur

61 48 mempunyai keinganan untuk saling menghargai satu sama lain. Pematuhan maksim kedermawanan ini dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkup formal, dalam lingkup formal pematuhan terhadap maksim ini sering dijumpai, salah satunya dalam proses pembelajaran di kelas berikut ini : 6. Siswa 1 : Cak, ini yang dimaksud dengan kerangka teori itu apa sih? Siswa 2 : Yah itu teori yang akan kamu gunakan. Kamu teorinya pake apa? Siswa 1 : aku belum nemu dari tadi. Siswa 2 : Sek yah tak selesaikan bagianku, habis tu baru aku bantu carikan punyamu. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa 2) terhadap respon atau jawaban yang diberikan oleh mitra tutur (siswa 1) dimana ia belum menemukan teori yang digunakan. 7. Siswa 1 : Judul ini gimana pak, bisa gak? (berebutan untuk bertanya) Guru : Satu-satu yah tanyanya, siapa yang lebih dulu? Siswa 1 : Yaudah itu dulu aja gak papa pak, habis tu baru aku. Konteks : Penutur adalah seorang siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas, tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap respon mitra tutur (guru) yang meminta para siswa untuk bertanya satu-satu. 8. Guru : Bagi yang tidak membawa format KTI, kalian bisa menggunakan buku paket kalian saja. Silahkan kalian cari di buka paket, hal-hal apa saja yang diperhatikan dalam menulis KTI. Siswa 1 : Hito, aku gak bawa buku paketnya e, nanti kita gantian pake yah. Habis kamu pake aku pinjam punyamu. Siswa 2 : Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Setelah kamu pake baru aku aja gk papa. Siswa 1 : Yah bener nih to? Makasih yah. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang menyatakan bahwa ia tidak membawa buku paket dan akan meminjam buku paket penutur. 9. Siswa 1: Zefa, ako boleh minta bantuan kamu gak?. Ini kok aku gak bisa login komputernya yah. Waktunya tinggal dikit lagi dan aku belum ngerjain lagi Sisiwa 2 : Coba kamu pindah ke komputer lain Sisiwa 1 : Sama aja Zef, yang lainnya apada eror Sisiwa 2 : Oke bentar, aku upload punyaku bentar nanti aku bantuin.

62 49 Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) kepada mitra tutur (siswa 1) yang mengatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya dan komputer lainnya eror. 10. Sisiwa 1 : Cin, aku gak bawa EYD, nanti boleh gantian yah, aku pinjam punyamu Siswa 2 : Yaudah ni pake dulu aja. Sisiwa 1 : Lah nanti kamu gimana? Siswa 2 : Gampang nanti, kamu pake 30 menit abis tu gantian Siswa 1 : Oke makasih yah Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) yang meminjamkan EYD miliknya kepada mitra tutur (siswa 1) 11. Siswa 1 : Pak, ini kok komputer saya dari tadi gak mau login e Guru : Coba kamu pindah ke komputer lain Siswa 2 : Eh Gus, komputer di samping gue ni bisa. Ini lu login pake komputer gue ni, biar gue pindah di sebelah Siswa 1 : Eh yaudah aku yang di sebelah aja, kan kamu udh login punyamu tadi. Siswa 2 : Santai bro. Aku baru aja mau login. Sini loh Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa 2) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa komputernya tidak bisa login. Data tuturan (6) di tuturkan oleh seorang siswa ketika mengerjakan proposal pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dari konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa 2) terhadap respon atau jawaban yang diberikan oleh mitra tutur (siswa 1) dimana ia belum menemukan teori yang digunakan. Dalam tuturan (6) tersebut, penutur mematuhi prinsip kesantunan Leech khusunya maksim kedermawanan yakni tuturan haruslah membuat keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin, yang terlihat dalam tuturan Sek yah tak selesaikan bagiaku, habis tu baru aku bantu carikan

63 50 punyamu. Dalam tuturan tersebut, tuturan yang dituturkan penutur (siswa 2) telah meminimlakan keuntungan bagi dirinya sendiri. Penutur (siswa 2) menyatakan kesediaannya membantu mitra tutur (siswa 1) untuk mencari teori yang akan mitra tutur gunakan, dan hal ini menunjukan bahwa penutur (siswa 2) berusaha untuk meminimalkan keuntungan sendiri yakni dengan membantu mitra tutur dalam mencari teorinya. Data tuturan (7) dituturkan oleh seorang siswa ketika mendapat respon dari mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk bertanya satu-satu. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas, tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 1) terhadap respon mitra tutur (guru) yang meminta para siswa untuk bertanya satu-satu. Dalam tuturan (7) tersebut, penutur mematuhi prinsip kesantunan Leech khusunya maksim kedermawanan yakni, tuturan harus membuat keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin yang terlihat dalam tuturan Yaudah itu dulu aja gak papa pak, habis tu baru aku. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur (siswa 2) berusaha untuk meminimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa ia bersedia mengalah dan mempersilahkan teman-temannya yang lain untuk bertanya terlebih dahulu kepada guru. Hal ini akan menimbulkan kerugian bagi penutur (siswa 2) karena ia harus menunggu giliran untuk bertanya. Data tuturan (8) dituturkan oleh penutur (siswa 2) ketika mendapat pernyataa dari mitra tutur (siswa 1) yang tidak membawa buku paket dan meminjam buku paket milih penutur (siswa 2). Hal ini terlihat dalam konteks,

64 51 penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang menyatakan bahwa ia tidak membawa buku paket dan akan meminjam buku paket penutur. Dalam tuturan (8) tersebut, penutur mematuhi prinsip kesantunan Leech khusunya maksim kedermawanan yakni, tuturan haruslah membuat keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin terlihat dalam tuturan Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Setelah kamu pake baru aku aja gak papa. Terlihat jelas bahwa dalam tuturan tersebut penutur (siswa 2) berusaha untuk membuat keuntungan dirinya sekecil mungkin dengan menyatakan bahwa ia akan meminjamkan buku paket miliknya kepada mitra tutur (siswa 1) bahkan penutur mempersilahkan mitra tutur untuk menggunakan buku paketnya terlebih dahulu. Hal ini akan menimbulkan kerugian bagi penutur karena penutur akan ketinggalan dalam membaca dan memahami tentang format dalam menulis KTI (karya tulis ilmiah). Data tuturan (9) dituturkan oleh siswa 2 yang merespon pernyataan dari siswa 1 yang mengatakan bahwa semua komputer lagi eror sehingga ia tidak bisa login pada komputernya. Hal ini dapat dilihat pada konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) kepada mitra tutur (siswa 1) yang mengatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya dan komputer lainnya eror. Data tuturan (9) dianggap sebagai tuturan yang santun karena mematuhi prinsip kesantunan Leech khusunya maksim kedermawanan, yakni penutur meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. tuturan yang dianggap santun dapat di lihat

65 52 dalam tuutran Oke bentar, aku upload punyaku bentar nanti aku bantuin. Dalam tuturan tersebut terlihat jelas bahwa penutur (siswa 2) mengatakan bahwa ia akan membantu mitra tutur (siswa 1) untuk bisa membuat penutur dapat login di komputernya. Hal ini menunjukan bahwa penutur siswa 2) telah memaksimalkan kerugian dirinya sendiri, yakni dengan membantu mitra tutur untuk login dalam dalam komputer penutur. Data tuturan (10) dituturkan oleh siswa 2 yang merespon pernyataan dari siswa 1 yang mengatakan bahwa ia tidak membawa EYD dan akan meminjam EYD milik siswa 2. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) yang meminjamkan EYD miliknya kepada mitra tutur (siswa 1). Data tuturan (10) merupakan tuturan yang dianggap santun karena mematuhi prinsip kesantunan Leech khususnya maksim kedermawanan, yakni tuturan harus membuat kerugian diri sendiri sebasar mungkin. Tuturan yang tidak santun dapat dilihat dalam tuturan Yaudah ni pake dulu aja. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur berusaha membuat keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dengan mengatakan bahwa ia akan meminjamkan EYD miliknya kepada mitra tutur, bahkan penutur memperslihakan mitra tutur untuk menggunakannya terlebih dahulu. Hal ini akan membuat kerugian bagi penutur karena ia harus menunggu untuk menggunakan EYD miliknya dalam mengerjakan tugas. Data tuturan (11) dituturkan oleh siswa 2 yang merespon pernyataan dari siswa 1 yang menyatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas.

66 53 Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa 2) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa komputernya tidak bisa login. Data tuturan (11) dianggap sebagai bentuk tuturan yang santun karena telah mematuhi prinsip kesantunan Leech khususnya maksim kedermawanan, yakni tuturan harus membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin. Tuturan yang dianggap santun dapat dilihat dalam tuturan Eh Gus, komputer di samping gue ni bisa. Ini lu login pake komputer gue ni, biar gue pindah di sebelah. Dalam tuturan tersebut terlihat jelas penutur (siswa 2) telah mengurangi keuntungan dirinya dengan mengatakan kepada mitra tutur (siswa 1) untuk login pada komputer miliknya. Penutur mempersilahkan mitra tutur untuk menggunakan komputer miliknya untuk login. Hal ini menunjukan bahwa penutur telah membuat kerugian bagi dirinya, yakni penutur mempersilahkan mitra tutur menggunakan komputer miliknya dan ia harus pindah ke komputer lain untuk login, dan belum tentu komputer yang digunakan penutur bisa login seperti yang di komputer miliknya yang sudah ia berikan kepada mitra tutur. Dari hasil analisis data di atas, peneliti menemukan ada 6 tuturan yang menerapkan maksim kedermawanan ketika bertutur, yakni tuturan yang dituturkan oleh penutur (siswa 2) kepada mitra tutur (siswa 1) serta tuturan yang dituturkan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru). Dalam bertutur, penutur telah berusaha untuk membuat dirinya rugi sebanyak mungkin, dan hal ini sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh Leech (1993: 209) dalam maksim kedermawanan, yani tuturan harus meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri sebanyak mungkin. Dalam tuturan di atas,

67 54 penutur telah memaksimalkan kerugian dirinya sendiri yakni dengan membantu mitra tutur, meminjamkan buku miliknya kepada mitra tutur serta mempersilahkan mitra tutur untuk bertanya terlebih dahulu. Dalam berkomunikasi, orang yang menerapkan maksim kedermawanan akan dipandang sebagai orang yang rendah hati, serta akan membuat proses komunikasi berjalan dengan lancar Penanda Maksim Kerendahan Hati Maksim kerendahan hati diartikan sebagai maksim yang menuntut penutur untuk memuji diri sendiri sedikit mungkin, dan mengecam diri sendiri sebanyak mungkin, Leech (1993: 214). Seseorang yang dapat menaati maksim ini dapat dipandang sebagai orang yang rendah hati dan tidak sombong. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri, orang seperti itu akan dipandang menjadi orang yang tidak santun, dan sombong. Apabila dalam tuturan sehari-hari dapat memaksimalkan maksim ini maka proses komunikasi dapat menjadi santun. Dalam komunkasi sehari-hari khusunya dalam lingkup formal, juga dapat ditemukan pematuhan terhadap maksim ini. mereka yang bersifat rendah hati dan tidak sombong akan menaati maksim ini. seperti halnya ditemukan peneliti dalam proses pembelajaran berikut ini: 12. Guru : Ini Avi sudah selesai ngerjain, dan jawabannya benar semua. bagi yang jawabannya masih salah, silahkan di cek di EYD Siswa : Ah pak, jawaban saya juga masih ada yang salah kok. Tadi cuman kebetulan aja benar Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa

68 55 pekerjaan penutur sudah selesai dan jawabnnya benar semua. Data tuturan (12) dituturkan oleh siswa ketika merespon atau menanggapi pernyataan dari mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa pekerjaan dari siswa tersebut sudah selesai dan jawabannya benar semua. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa pekerjaan penutur sudah selesai dan jawabnnya benar semua. Data tuturan (12) telah mematuhi prinsip kesantunan Leech yakni maksim kerendahan hati, dimana penutur diharapkan untuk meminimalkan pujian terhadap diri sendiri dan mengecam diri sendiri sebanyak mungkin, yang terlihat dalam tuturan Ah pak, jawaban saya juga masih ada yang salah kok. Tadi cuman kebetulan aja benar. Dalam tuturan tersebut terlihat jelas bahwa penutur telah meminimalkan pujian terhadap diri sendiri dan mengecam diri sendiri dengan menyatakan jawabannya masih ada yang salah dan jawaban yang benar hanya kebetulan semata. Dalam Tuturan tersebut terlihat jelas bahwa penutur telah merendahkan diri dihadapan mitra tutur (guru) yang sudah memujinya karena menjawab semua pertanyaan dengan benar. Dari hasil analisis data di atas, peneliti menemukan ada 1 tuturan yang menerapkan maksim kerendahan hati, yakni tuturan yang ditujukan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru). Peneliti hanya menemukan satu tuturan dalam maksim kerendahan hati. Hal ini dikarenakan, dalam tuturan di kelas, penutur (siswa) masih belum memiliki sifat kerendahan hati yang besar sehingga tuturan untuk maksim ini masih sangat minim. Dalam bertutur, penutur telah

69 56 merendahkan dirinya dihadapan mitra tutur yakni dengan mengecam dirinya sendiri, dan hal ini sejalan dengan apa yang diamanatkan Leech dalam maksim kerendahan hati, yakni penutur harus memuji diri sendiri sedikit mungkin, dan mengecam diri sendiri sebanyak mungkin. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah memberikan kecaman terhadap dirinya sendiri yakni dengan mengatakan bahwa jawaban benar yang ia dapatkan hanyalah sebuah kebetulan. Dalam berkomunikasi, jika seseorang menerapkan maksim ini, maka orang tersebut akan dipandang sebagai orang yang rendah hati dan tidak sombong Penanda Maksim Kesepakatan Maksim kesepakatan diartikan sebagai maksim yang menuntut penutur untuk sebanyak mungkin bersepakat dengan mitra tutur dan mengurangi ketidaksepakatan dengan mitra tutur. Seseorang yang dapat menaati maksim ini dipandang sebagai orang yang memerhatikan topik pembicaraan, dan dengan menaati maksim ini pula percecokan dapat dimanimalisir. Misalnya dalam proses komunikasi, ketika penutur dan mitra tutur mempunyai paham yang berbeda, diharpkan agar mereka tidak saling berkonfrontasi, agar hubungan antara penutur dan mitra tutur tetap baik dan harmonis. Tidak dipungkri, kadang antar penutur dan mitra tutur pendapat atau argumen yang berbeda, tetapi alangkah baiknya penutur dan mitra tutur saling berpikir jernih dan mencari titik tengahnya agar menemukan suatu kesepakatan. Tentulah dengan hal tersebut, proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan konflik. Oleh karena itu, maksim kesepakatan ini perlu diketahui dan ditaati.

70 57 Dalam komunkasi sehari-hari, dapat ditemukan pematuhan terhadap maksim ini. Mereka yang mau berlapang dada dan mau mengalah akan menaati maksim ini, seperti halnya yang ditemukan peneliti di dalam proses pembelajaran berikut ini: 13. Siswa : Pak, kalau aku meneliti tentang pemikiran orang-orang tentang anak-anak broken home itu bisa gak? Guru : Mending pengaruh kondisi keluarga terhadap prestasi siswa aja. Monik : Oh iya pak, itu saja yang saya gunakan. Sepakat yah pak, saya akan ubah judulnya seperti bapak sampaikan yah, terima kasih pak. Guru : Iya, gunakan itu saja. Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat masukan/sanggahan dari mitra tutur (guru)bahwa judul proposal yang digunakan kurang tepat. 14. Siswa : Pak, rumusan masalah ini dalam bentuk pertanyaan yah, terus semua kata tanya dimasukan semua yah? Guru : Iya bener sekali, misalnya bagaimanakah pengaruh penggunaan gadget bagi remaja, terus bisa menggunakan kata tanya apa.. misalnya apa pengaruh penggunaan gadget. Cukup gunakan kata tanya apa dan bagaiamana saja yah. Siswa : Siap pak, makasih pak. Berarti fix yah pak saya cukup gunakan kata tanya bagaiaman dan apa. Guru : Iya, dilanjutkan yah Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat jawaban dari mitra tutur (guru) mengenai pertanyaan tentang rumusan masalah dan kata tanya. 15. Guru: Nanti kalian menganalisis kebahasaan KTI kak tingkat kalian. Tapi yang pertama kalian jangan membuka EYD dulu. Kerjakan berdasarkan pengetahuan kalian saja dulu. Begitu yah. sepakat? Siswa : Siap pak, sepakat. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupapan respon yang diberikan oleh siswa kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa dalam mengerjakan tugas mereka tidak boleh membuka EYD. 16. Guru : Kalian selesaikan pekerjaan kalian, bapak tinggal sebentar karena harus ke ruang panitia USBN. Kerjakan dengan baik, jangan mengobrol kesana-kemari. Saya di sana cuman cuman 5 menit, setelah itu saya periksa semua pekerjaan kalian. Dikerjakan yah. Siswa : Iya pak, kami akan mengerjakan dan tidak berisik, tenang aja pak

71 58 Guru : Oke. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk mengerjakan tugas dan tidak berisik. 17. Siswa : Pak aku tu, pengen ngambil masalaah tentang pengaruh anakanak muda yang jarag ke gereja atau tidak ke gereja ituloh pak terus nanti buat dapat kenapa gak gereja itu aku nyebarin kuisoner dan wawancara. Guru : Itu bisa saja, terus nanti kamu bisa meyebarkan kuisoner atau wawancara untuk mendaptkan kenapa mereka tidak gereja. Siswa : Oh berarti hanya kuisoner dan wawancara saja yah pak Guru: Iya kuisoner dan wawancara. Siswa : Yaudah pak, berarti sepakat dengan kuisoner dan wawancara saja yah pak. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa dalam mengumpulkan data penutur menggunakan kuisoner dan wawancara 18. Guru : Nanti kalian mengerjakan dengan tenang, bapak tinggal sebentar. Di belakang ada mbak Ephy, jadi kalian harus jaga sikap yah. Siswa : Iya pak, tenang aja. Kami akan jaga sikap kok. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. 19. Sisiwa : Pak judul saya tentang pengaruh pergaulan siswa pada perkembangan diri. Itu bisa gak pak? Guru : Iya.. nanti kamu mengamati untuk anak SMA atau SMP kamu silahkan memilih itu. Siswa : Kalau saya mengamati anak SMP gimana pak Guru : Gini aja kamu mending amati anak SMA karena tingkat pergaulannya sangat tinggi. Apalagi kamu bisa lihat temanteman kamu di sini kan Siswa : Oh iya pak, berarti saya amati anak SMA saja yah pak, makasih. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru)yang mengatakan bahwa penutur lebih baik mengamati anak SMA saja dibanding dengan anak SMP. 20. Guru: Ini adalah tugas kedua kalian. Dan tugas ini akan bapak ambil nilai. Kalian kerjakan berdasarkan suruhan yang sudah ada di komputer

72 59 kalian masing-masing. Kalau ada yang tidak jelas, kalian bertanya ke bapak, jangan tanya ke teman kalian Sisiwa : Iya pak, siap laksanakan Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terajdi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tuutr (guru) yang mengatakan bahwa tugas dikerjakan berdasarkan arahan yang ada di komputer dan jika ada pertanyaan yang tidak jelas, bisa beranya langsung kepada mitra tutur. Data tuturan (13) dituturkan oleh siswa ketika mendapat jawaban yang diberikan oleh guru mengenai judul proposal. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat masukan/sanggahan dari mitra tutur (guru) bahwa judul proposal yang digunakan kurang tepat. Data tuturan (13) dipandang sebagai bentuk tuturan yang santun karena mengusahakan kesepakatan dengan penutur (siswa) dan mitra tutur (guru), dengan hal ini baik penutur maupun mitra tutur sama-sama menerima dan tidak menimbulkan perdebatan. Hal ini sejalan dengan prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan yakni membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin, yang terlihat dalam tuturan Oh iya pak, itu saja yang saya gunakan. Sepakat yah pak, saya akan ubah judulnya seperti bapak sampaikan yah, terima kasih pak. Dalam tuturan tersebut terlihat jelas bahwa penutur (siswa) menyatakan kesepakatannya dengan mitra tutur (guru) untuk mengubah judul proposal seperti yang disampikan oleh mitra tutur. Tuturan yang dilontarkan penutur menunjukan bahwa penutur bersepakat dengan mitra tutur untuk mengubah judul proposalnya.

73 60 Data tuturan (14) dituturkan oleh siswa ketika mendapat jawaban yang diberikan oleh guru mengenai rumusan masalah dan kata tanya yang digunakan. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat jawaabn dari mitra tutur (guru) mengenai pertanyaan tentang rumusan masalah dan kata tanya. Data tuturan (14) merupakan tuturan yang santun karena dalam bertutur penutur (siswa) mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur (guru), yang terlihat dalam tuturan Siap pak, makasih pak. Berarti fix yah pak saya cukup gunakan kata tanya bagaiaman dan apa. Tuturan tersebut telah memenuhi maksim kesantunan Lecch (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan yakni membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin. Dalam tuturan tersebut terlihat jelas bahwa tuturan yang dilontarkan penutur menunjukan bahwa penutur bersepakat dengan mitra tutur untuk menggunakan kata tanya apa dan bagaiaman dalam merumuskan masalah dalam proposal, dan dengan hai ini baik penutur maupun mitra tutur sama-sama menerima dan tidak menimbulkan perdebatan. Data tuturan (15) dtuturkan oleh siswa yang menanggapi pernyataan dari mitra tutur (guru) untuk tidak membuka EYD pada saat mengerjakan tugas. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh siswa kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa dalam mengerjakan tugas mereka tidak boleh membuka EYD. Data tuturan (15) dipandang sebagai bentuk tuturan yang santun karena mengusahakan kesepakatan antara penutur (siswa) dan mitra tutur (guru), dengan

74 61 hai ini baik penutur maupun mitra tutur sama-sama menerima dan tidak menimbulkan perdebatan. Hal ini sejalan dengan prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan yakni membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin, yang terlihat dalam tuturan Siap pak, sepakat. Tuturan yang dilontarkan penutur menunjukan bahwa penutur (siswa) bersepakat dengan mitra tutur (guru) untuk tidak membuka EYD pada saat mengerjakan tugas. Data tuturan (16) dituturkan oleh siswa yang menanggapi pernyataan dari guru yang menyatakan bahwa para siswa harus mengerjakan tugas dengan baik dan tidak boleh berisik. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk mengerjakan tugas dan tidak berisik. Data tuturan (16) dipandang sebagai bentuk tuturan yang santun karena dalam tuturan tersebut penutur (siswa) mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur (guru), yang terlihat dalam tuturan Iya pak, kami akan mengerjakan dan tidak berisik, tenang aja pak Dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) telah mematuhi prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan yakni dalam bertutur, penutur harus membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin. Dalam tuturan di atas, terlihat jelas bahwa penutur menyatakan bahwa mereka sepakat dengan mitra tutur untuk mengerjakan tugas dan tidak berisik, dan dengan hai ini baik penutur maupun mitra tutur sama-sama menerima dan tidak menimbulkan perdebatan.

75 62 Data tuturan (17) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa untuk mengumpulkan data, cukup menggunakan kuisoner dan wawancara. Hal ini dapat dilihat dalam konteks Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa dalam mengumpulkan data penutur menggunakan kuisoner dan wawancara. Data tuturan (17) dipandang sebagai bentuk tuturan yang santun, karena dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur (guru), yang terlihat dalam tuturan Yaudah pak, berarti sepakat dengan kuisoner dan wawancara saja yah pak. Dalam tuturan tersebut, penutur telah mematuhi prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan yakni dalam bertutur, penutur harus membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin. Dalam tuturan di atas, penutur telah menyatakan kesepakatannya dengan mitra tutur untuk menggunakan kuisoner dan waancara dalam mengumpulkan data. Hal ini akan membuat mitra tutur merasa senang, karena apa yang dikatakannya diterim baik oleh penutur. Data tuturan (18) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang menyatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. Data tuturan (18) dipandang sebagai tuturan yang santun, karena dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) mengusahakan kesepakatan dengan mitra

76 63 tutur (guru), yang terlihat dalam tuturan Iya pak, tenang aja. Kami akan jaga sikap kok. Dalam tuturan tersebut, penutur telah mematuhi prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan yakni dalam bertutur, penutur harus membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin. Dalam tuturan di atas, penutur telah menyatakan kesepakatannya dengan mitra tutur untuk menjaga sikap saat mengerjakan tugas. Hal ini tentunya akan membuat perasaan mitra tutur senang. Data tuturan (19) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa lebih baik mengamati anak SMA karena tingkat pergaulan anak SMA lebih bebas. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur lebih baik mengamati anak SMA saja dibanding dengan anak SMP. Data tuturan (19) dianggap sebagai bentuk tuturan yang santun, karena dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur (guru), yang terlihat dalam tuturan Oh iya pak, berarti saya amati anak SMA saja yah pak, makasih. Dalam tuturan tersebut, penutur telah mematuhi prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan, yakni dalam bertutur, penutur harus membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin. Dalam tuturan di atas, penutur telah menyatakan kesepakatannya dengan mitra tutur untuk mengamati siswa SMA dikarenakan tingkat pergaulan siswa SMA lebih bebas.

77 64 Data tuturan (20) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa, mereka harus mengerjakan tugas dengan baik sesuai dengan suruhan yang ada di komputer, dan jika ada hal yang dipertanyakan, mereka harus bertanya kepada guru bukan kepada teman. Hal ini dapat dilihat dalam konteks penutur adalah siswa dan tuturan terajdi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tuutr (guru) yang mengatakan bahwa tugas dikerjakan berdasarkan arahan yang ada di komputer dan jika ada pertanyaan yang tidak jelas, bisa beranya langsung kepada mitra tutur. Data tuturan (20) dianggap sebagai bentuk tuturan yang santun, karena dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur (guru), yang terlihat dalam tuturan Iya pak, siap laksanakan. Dalam tuturan tersebut, penutur telah mematuhi prinsip kesantunan Leech (1993: 217) khusunya maksim kesepakatan, yakni dalam bertutur, penutur harus membuat kesepakatan diri dengan orang lain sebanyak mungkin. Dalam tuturan di atas, penutur telah menyatakan kesepakatannya dengan mitra tutur mengerjakan tugas sesuai suruhan yang ada di komputer, dan jika ada hal yang membingungkan, mereka harus bertanya kepada guru bukan kepeda temannya. Dari hasil analisi data di atas, peneliti menemukan ada 8 tuturan yang menerapkan maksim kesepakatan, yakni tuturan yang ditujukan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru). Dalam bertutur, penutur telah berusaha untuk bersepakat dengan mitra tutur, dan hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Leech dalam maksim kesepakatan, yakni penutur harus sebanyak mungkin bersepakat dengan mitra tutur dan mengurangi ketidaksepakatan dengan mitra

78 65 tutur. Tuturan di atas menunjukan hal yang demikian, yakni penutur dalam berkomunikasi telah berusaha untuk bersepakat dengan mitra tutur. Orang yang menerapkan maksim kesepakatan dalam berkomunikasi akan dipandang sebagai orang yang memperhatikan topik pemicaraan, dan apabila maksim ini diterapkan dengan baik, maka akan membuat proses komunikasi berjalan dengan lancar tanpa adanya percecokan Analisis Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Tuturan Siswa-Siswi Kelas XI IPS dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia SMA Pangudi Luhur Yogyakarta Berdasarkan Kategori Searle. Setelah melakukan penelitian, peneliti menemukan 4 fungsi kesantunan berbahasa siswa kelas XI IPS kepada guru SMA Pangudu Luhur Yogyakarta. Fungsi kesantunan tersebut terdiri dari fungsi menyatakan infomasi, fungsi menyatakan perjanjian, fungsi pemberian izin, fungsi penjelasan dan fungsi menyetujui. Peneliti mendeskripsikan fungsi kesantunan berbahasa tersebut sebagai berikut: Fungsi Tuturan (Menyatakan infromasi) dalam Maksim Kebijaksaaan Maksim kebijaksanaan mengamanatkan hendaknya penutur harus mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan mamaksimalkan keuntungan bagi orang lain ketika bertutur. Ketika bertutur, penutur harus menuturkan sesuau yang memberikan keutungan bagi mitra tutur dan isi tuturannya harus menyenangkan hati mitra tutur Leech (1993: 209). Dalam maksim kebijaksanaan ini, penutur menemukan fungsi kesantunan berbahasa yang digunakan yakni fungsi

79 66 menyatakan yang diwujudkan dengan menggunakan kalimat deklaratif yakni, kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur, dan dapat berupa tuturan langsung maupun tuturan tidak langsung. Dalam fungsi menyatakan ini, peneliti menemukan berbagai macam jenis fungsi menyatakan yakni, menyatakan informasi, menyatakan perjanjian dan menyatakan keputusan. Fungsi kesantunan menyatakan ini dapat ditemukan dalam tuturan sehari-hari khususya dalam lingkup formal, seperti yang peneliti temukan dalam proses pembelajaran di kelas seperti di bawah ini: 1. Penyaji : Pagi teman-teman Peserta diskusi : Pagi... Penyaji : Terima kasih atas kesempatanyya, di sini saya akan menyampaikan judul proposal saya terlebih dahulu. Saya minta perhatiannya yah. Jadi judul proposal saya adalah tentang pengaruh penggunaan gadget bagi prestasi belajar siswa. Sekian laporan saya, terima kasih. Koteks : Penutur adalah salah satu peserta diskusi, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut ditujukan penutur penyaji) kepada seluruh mitra tutur (peserta diskusi) ketika akan membacakan hasil temuan mengenai judul proposal. 2. Siswa : Pak, judul saya penggunaan gadget di kalangan masyarakat. Guru : Masalahmu apa? Siswa : Penggunaan gadget di zaman sekarang thu banyak pengaruh di Guru kalangan masyarakat, kaya bisa buat kecanduan. : Gadget itu apa sih, apakah laptop itu termasuk gadget juga? Makanya coba buat lebih spesifik, gedgetnya apa? terus mau cari pengaruhnya dari apa dan terhadap apa. Siswa : Oke pak, nanti saya perbaiki lagi, terima kasih banyak pak. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang sudah memberikan masukan kepada penutur (siswa) terkait dengan judul proposalnya. 3. Guru : temukan hal-hal yang masih salah dalam KTI kaka tingkat.perhatikan dibagian isi, mulai judul, pendahuluan dan sebagainya. Tujuan kalian saya minta buat analisis KTI ini biar kalian bisa tahu mana hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis KTI.

80 67 Siswa : Baik pak, terima kasih atas arahannya, kami akan mengerjakan sesuai dengan suruhan bapak. konteks : Penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk tidak berisik dan mulai menganalisis isi KTI (karya tulis ilmiah) kaka tingkat. 4. Sisiwa : Pak saya mau tanya Guru : Iya gimaan Ave mau tanya apa? Sisiwa : Pak saya tu bingung menentukan antara judul saya pak Guru Siswa Guru : Judul kamu sekarang tentng apa? : Tentang penggunaan teknologi yang memberikan kecanduan pada anak zaman sekarang. Menurut bapak bisa gak yah itu pak? : Semua masalah itu bisa dijadikan untuk bahan penelitian. Punyamu ini bisa cuman kalimatmu mungkin diubah. Misalnya pengaruh penggunaan gadget bagi anak zaman sekarang Siswa : Baik pak, saya akan ubah seperti yang bapak minta. Terima kasih pak Guru : Iya sama-sama. Sana kerjakan Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa perumusan kalimat dalam judul penenlitian perlu diubah. 5. Guru : Kalau sudah selesai langsung di upload yah, waktu tinggal dikit lagi. Jangan lupa di cek, siapa tau masih ada yang belum dikerjakan Siswa : Syukurlah pak, untuk bapak ngasih tau jadi aku bisa tau kalau punyaku tinggal 1. Untung belum tak upload. Makasih banyak pak Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa sebelum tugas di upload, harus di cek terlebih dahulu. Data tuturan (1) dituturkan oleh seorang siswa yang akan memaparkan judul proposalnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah salah satu peserta diskusi dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut ditujukan penutur (penyaji) kepada seluruh mitra tutur (peserta diskusi) ketika akan membacakan hasil temuan mengenai judul proposal. Data tuturan (1) tersebut mengandung fungsi tuturan yang bersifat menyatakan

81 68 informasi yakni, tuturan yang menyatakan informasi keadaan sekitar penutur dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif (Chaer, 2010: 80). Tuturan yang menyatakan informasi dapat dilihat dalam tuturan Terima kasih atas kesempatanyya, di sini saya akan menyampaikan judul proposal saya terlebih dahulu. Saya minta perhatiannya yah. Jadi judul proposal saya adalah tentang pengaruh penggunaan gadget bagi prestasi belajar siswa. Sekian laporan saya, terima kasih. Dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) hendak mempresentasikan hasil kerjanya kepada seluruh mitra tutur. Penutur menyatakan infromasi tersebut kepada seluruh mitra tutur bahwa ia akan menyampaikan judul proposalnnya dan meminta mitra tutur untuk memperhatikannya. Tuturan di atas merupkan tuturan yang menggunakan fungsi menyatakan informasi yang diwujudkan dalam kalimat deklaratif. Selanjutnya tuturan (2) dituturkan oleh seorang siswa ketika mendapat jawaban dan masukan dari mitra tutur (guru) mengenai judul proposal yang dibuat. Hal ini terlihat pada konteks, penutur adalah seoarang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang sudah memberikan masukan kepada penutur (siswa) terkait dengan judul proposalnya. Data tuturan (2) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni, fungsi menyatakan perjanjian dengan menggunakan kalimat deklaratif, yakni tuutran yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur (Rahardi, 2005: 74). Tuturan yang menggunakan fungsi menyatakan perjanjain dapat dilihat dalam tuturan Oke pak, nanti saya perbaiki lagi. Terima kasih banyak pak atas masukannya. Dalam tuturan tersebut terlihat

82 69 jelas bahwa Penutur (siswa) berjanji kepada mitra tutur (guru) untuk memperbaiki judul proposal sesuai yang diarahkan oleh mitra tutur. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah memberikan janji kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif. Selanjutnya data tuturan (3) dituturkan oleh siswa ketika mendapat arahan yang diberikan oleh mitra tutur (guru) terkait dengan apa yang akan dikerjakan. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk tidak berisik dan mulai menganalisis isi KTI (karya tulis ilmiah) kaka tingkat. Tuturan (3) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni, fungsi menyatakan perjanjian yang diwujudkan menggunakan kalimat deklaratif, yakni kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur (Rahardi, 2005: 74). Tuturan yang mengandung fungsi menyatakan perjanjian dapat dilihat dalam tuturan Baik pak, terima kasih atas arahannya, kami akan mengerjakan sesuai dengan suruhan bapak. Dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) mengatakan bahwa mereka akan mengerjakan tugas sesuai dengan permintaan mitra tutur (guru) dan hal tersebut berupa janji yang diberikan oleh penutur kepada mitra tutur untuk mengerjakan tugas sesuai dengan arahan mitra tutur, dan dalam bertutur penutur menggunakan tuturan yang sopan. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur menyatakan janji kepada mitra tutur dan tuturkan menggunakan kalimat deklaratif.

83 70 Dataran tuturan (4) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa penutur harus mengubah rumusan kalimat dalam masalahnya tersebut, serta mitra tutur (guru) juga memberikan contoh kalimatnya. Hal ini dapat di lihat dalam konteks penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa perumusan kalimat dalam judul penenlitian perlu diubah. Data tuturan (4) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni, fungsi menyatakan perjanjian yang dituturkan menggunakan kalimat deklaratif, yakni kalimat yang bermaksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur. Tuturan yang mengandung fungsi menyatakan perjanjian dapat dilihat dalam tuturan Baik pak, saya akan ubah seperti yang bapak minta. Terima kasih pak. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur (siswa) telah menerima masukan dari mitra tutur (guru) untuk merumuskan kembali kalimat dalam masalah penelitian dan berjanji untuk melakukan seperti yang diarahkan oleh mitra tutur. Penutur telah berjanji dengan mitra tutur untuk mengubah kalimat yang ia gunakan dalam merumuskan masalah penelitian. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan perjanjiannya kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat interogatif. Data tuturan (5) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa sebelum para siswa mengupload tugas, harap dicek ulang siapa tahu ada yang terlewati untuk dikerjakan. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur yang

84 71 mengatakan bahwa sebelum tugas diupload, harus dicek terlebih dahulu. Data tuturan (5) mengandung fungi kesantunan berbahasa yakni fungsi menyatakan infromasi. Tuturan yang mengandung fungsi menyatakan informasi dapat dilihat dalam tuutran Syukurlah pak, untuk bapak ngasih tau jadi aku bisa tau kalau punyaku tinggal 1. Untung belum tak upload. Makasih banyak pak. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur telah menyadari bahwa tugas yang ia kerjakan masih tersisa satu yang belum dikerjakan. Penutur menanggapi pernyataan dari mitra tutur tersebut, dan tanggapan penutur mengisayratkan bahwa ia akan menyelesaikan tugas yang belum diselesaikannya. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan infromasi kepada mitra tutur dan tuturkan dengan sopan menggunakan kalimat deklaratif. Dari hasil analisis di atas, peneliti menemukan ada 2 tuturan yang mengandung fungsi menyatakan informasi dan 3 tuturan yang mengandung fungsi menyatakan perjanjian. Dalam tuturan (1 dan 5), penutur penutur menyatakan bahwa ia akan mempersentasikan judul proposalnnya kepada mitra tutur dan dalam tuturan (5) penutur menyatakan bahwa ia belum selesai mengerjakan tugas yang diberikan, yakni tersisa satu tugas yang belum dikerjakannya. Adapun tuturan yang mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni, fungsi menyatakan perjanjian yang terlihat dalam tuturan (2,3,4). Dalam tuturan tersebut, penutur menyatakan janjinya kepada mitra tutur dan tuturkan menggunakan kalimat deklaratif yakni, kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur (Rahardi, 2005: 74).

85 Fungsi Tuturan (memerintah, menyatakan) dalam Maksim Kedermawanan Maksim kedermawanan mengamanatkan agar penutur meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. penutur yang mampu mematuhi maksim ini akan dianggap sebagai orang yang tahu sopan santun dan pintar menghargai orang lain (Leech, 1993: 209). Dalam maksim kedermawanan ini, peneliti menemukan fungsi kesantunan berbahasa yang digunakan, yakni fungsi memerintah yang diwujudkan menggunakan kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud memerintah atau meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu sebagaiaman diinginkan penutur (Kunjana, 2005: 79). Dalam fungsi memerintah ini, peneliti menemukan salah satu jenis fungsi memerintah, yakni fungsi pemberian izin. Selain menemukan fungsi pemberian izin, peneliti juga menemukan fungsi kesantunan berbahasa yang lain yakni, fungsi menyatakan yang bersifat menyataan perjanjian yang diwujudkan menggunakan kalimat deklaratif. Penggunaan fungsi kesantunan berbahasa yakni, fungsi pemberian izin dan fungsi menyatakan perjanjian dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dalam lingkup formal seperti yang peneliti temukan dalam dalam proses pembelajaran di kelas berikut ini : 6. Siswa 1 : Cak, ini yang dimaksud dengan kerangka teori itu apa sih? Siswa 2 : Yah itu teori yang akan kamu gunakan. Kamu teorinya pake apa? Siswa 1 : Aku belum nemu dari tadi. Siswa 2 : Sek yah tak selesaikan bagianku, habis tu baru aku bantu carikan punyamu. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa 2)

86 73 terhadap respon atau jawaban yang diberikan oleh mitra tutur (siswa 1) dimana ia belum menemukan teori yang digunakan. 7. Siswa 1 : Judul ini gimana pak, bisa gk? (berebutan untuk bertanya) Guru : Satu-satu yah tanyanya, siapa yang lebih dulu? Siswa 1 : Yaudah itu dulu aja gk papa pak, habis tu baru aku. Konteks : Penutur adalah seorang siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas, tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap respon mitra tutur (guru) yang meminta para siswa untuk bertanya satu-satu. 8. Guru : Bagi yang tidak membawa format KTI, kalian bisa menggunakan buku paket kalian saja. Silahkan kalian cari di buka paket, hal-hal apa saja yang diperhatikan dalam menulis KTI. Siswa 1 : Hito, aku gk bawa buku paketnya e, nanti kita gantian pake yah. Habis kamu pake aku pinjam punyamu. Siswa 2 : Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Setelah kamu pake baru aku aja gk papa. Siswa 1 : Yah bener nih to? Makasih yah. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang menyatakan bahwa ia tidak membawa buku paket dan akan meminjam buku paket penutur. 9. Siswa 1: Zefa, aku boleh minta bantuan kamu gak. Ini kok aku gak bisa login komputernya yah.. waktunya tinggal dikit lagi dan aku belum ngerjain lagi Sisiwa 2 : Coba kamu pindah ke komputer lain Sisiwa 1 : Sama aja Zef, yang lainnya apada eror Sisiwa 2 bantuin. Konteks : Oke bentar, aku upload punyaku bentar nanti aku : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) kepada mitra tutur (siswa 1) yang mengatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya dan komputer lainnya eror. 10. Sisiwa 1: Cin, aku gak bawa EYD, nanti boleh gantian yah, aku pinjam punyamu Siswa 2 : Yaudah ni pake dulu aja. Sisiwa 1 : Lah nanti kamu gimana? Siswa 2 : Gampang nanti, kamu pake 30 menit abis tu gantian Siswa 1 : Oke makasih yah Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) yang meminjamkan EYD miliknya kepada mitra tutur (siswa 1) 11. Siswa 1 : Pak, ini kok komputer saya dari tadi gak mau login e

87 74 Guru : Coba kamu pindah ke komputer lain Siswa 2 : Eh gus, komputer di samping gue ni bisa. Ini lu login pake komputer gue ni, biar gue pindah di sebelah Siswa 1 : Eh yaudah aku yang di sebelah aja, kan kamu udh login punyamu tadi Siswa 2 : Santai bro. Aku baru aja mau login. Sini loh Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa 2) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa komputernya tidak bisa login Data tuturan (6) di tuturkan oleh seorang siswa ketika mengerjakan proposal pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dari konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa 2) terhadap respon atau jawaban yang diberikan oleh mitra tutur (siswa 1), dimana ia belum menemukan teori yang digunakan. Data tuturan (6) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni fungsi menyatakan perjanjian yang diwujudkan dalam kalimat deklaratif, yakni kalimat yang dimaksudkan untuk memberitakan sesuatu kepada mitra tutur (Rahardi, 2005: 74). Tuturan tersebut dapat dilihat dalam tuturan Sek yah tak selesaikan bagianku, habis tu baru aku bantu carikan punyamu. Dalam tuturan tersebut Penutur (siswa 2) mengatakan bahwa ia akan membantu mitra tutur (siswa 1) untuk mencari materi yang akan digunakan dalam proposalnya. Terlihat jelas bahwa penutur telah memberikan bantuan serta janji kepada mitra tutur untuk membantu dalam mencari teori yang digunakan. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah menyatakan janji kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif. Data tuturan (7) dituturkan oleh seorang siswa ketika mendapat respon dari mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk bertanya satu-satu. Hal ini

88 75 terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 1) terhadap respon mitra tutur (guru) yang meminta para siswa untuk bertanya satu-satu. Data tuturan (7) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni fungsi pemberia izin yang diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud memerintah atau meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu sebagaiamana diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi pemberian izin dapat dilihat dalam tuturan Yaudah itu dulu aja gak papa pak, habis tu baru aku. Dalam tuturan tersebut, Penutur (siswa 1) menyatakan kesediannya untuk mempersilahkan temannya bertanya terlebih dahulu dan menunggu gilirannya setelah temannya. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah memberikan izin kepada mitra tutur untuk bertanya terlebih dahulu dan hal tersebut ditandai dengan kata Yaudah itu dulu yang diwujudkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (8) dituturkan oleh penutur (siswa 2) ketika mendapat pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang tidak membawa buku paket dan meminjam buku paket milih penutur (siswa 2). Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang menyatakan bahwa ia tidak membawa buku paket dan akan meminjam buku paket penutur. Data tuturan (8) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni fungsi pemberian izin yang diwujudkan menggunakan kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud memerintah agar mitra tutur melakukan sesuatu

89 76 sebagaiamana diinginkan penutur. Tuturan tersebut dapat dilihat dalam tuturan Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Setelah kamu pake baru aku aja gak papa. Dalam tuturan tersebut, Penutur (siswa 2) mengizinkan mitra tutur untuk menggunakan buku paket miliknya terlebih dahulu. Hal ini ditandai dengan penanda kesantunan yakni Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur memberikan izin kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperataif. Data tuturan (9) dituturkan oleh siswa 2 yang merespon pernyataan dari siswa 1 yang mengatakan bahwa semua komputer lagi eror sehingga ia tidak bisa login pada komputernya. Hal ini dapat dilihat pada konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) kepada mitra tutur (siswa 1) yang mengatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya dan komputer lainnya eror. Data tuturan (9) mengandung fungsi kesantunan berbahasa yakni fungsi menyatakan perjanjian yang diwujudkan dalam kalimat deklaratif. Fungsi tuturan yang menyatakan perjanjian dapat dilihat dalam tuturan Oke bentar, aku upload punyaku bentar nanti aku bantuin. Dalam tuturan tersebut penutur (siswa 2) menyatakan bahwa ia akan membantu mitra tutur (siswa 1) untuk login pada komputer penutur, dikarenakan penutur tidak bisa login. Dalam bertutur, penutur berjanji bahwa ia akan membantu mitra tutur setelah ia mengupload tugasnya terlebih dahulu. Tuturan tersebut berupa janji. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah menyatakan janjinya kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif.

90 77 Data tuturan (10) dituturkan oleh siswa 2 yang merespon pernyataan dari siswa 1 yang mengatakan bahwa ia tidak membawa EYD dan akan meminjam EYD milik siswa 2. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) yang meminjamkan EYD miliknya kepada mitra tutur (siswa 1). Data tuturan (10) menagndung fungsi kesantunan berbahasa yakni fungsi pemberian izin yang diwujudkan dengan kalimat imperatif, yakni kalimat yang dimaksud untuk memerintah mitra tutur melakukan sesuatu sebagaiamana diinginkan mitra tutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang menggunakan fungsi pemberian izin dapat dilihat dalam tuturan Yaudah ni pake dulu aja. Dalam tuturan tersebut, penutur mengatakan bahwa, mitra tutur boleh menggunakan EYD miliknya terlebih dahulu, setelah itu baru ia gunakan. Penutur memberikan izin kepada mitra tutur untuk menggunakan buku EYD miliknya terlebih dahulu dan tuturan tersebut dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (11) dituturkan oleh siswa 2 yang merespon pernyataan dari siswa 1 yang menyatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa 2) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa komputernya tidak bisa login. Data tuturan (11) mengandung fungsi pemberian izin yang diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud memrintah atau meminta mitra tutur untuk melakukan suatu sebagaiamana diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi pemberian izin dapat dilihat dalam tuturan Eh

91 78 Gus, komputer di samping gue ni bisa. Ini lu login pake komputer gue ni, biar gue pindah di sebelah. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas penutur (siswa 2) memberikan izin kepada mitra tutur (siswa 1) untuk menggunakan komputer miliknya. Penutur mengatakan bahwa mitra tutur boleh menggunakan komputer miliknya untuk login, dan mitra tutur akan pindak ke komputer lain. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah memberikan izin kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Dari hasil analisis di atas, peneliti menemukan dua tutuan yang mengandung fungsi menyatakan janji yang dituturkan menggunakan kalimat deklaratif dan empat tuturan yang mengandung fungsi pemberian izin yang dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Tuturan tersebut merupakan tuturan yang ditujukan siswa kepada guru dan siswa kepada siswa. Dalam bertutur, penutur telah berusaha untuk membantu mitra tutur, dan bantuan tersebut berupa janji yang diberikan penutur kepada mitra tutur serta pemberian izin yang diberikan penutur kepada mitra tutur untuk bertanya terlebih dahulu, menggunakan buku EYD dan buku paket terlebih dahulu, serta menggunakan komputer milik penutur. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan janjinya kepada mitra tutur dan penutur memberikan izin kepada mitra tutur Fungsi Tuturan (penjelasan) dalam Maksim Kerendahan Hati Maksim kerendahan hati diartikan sebagai maksim yang menuntut penutur untuk memuji diri sendiri sedikit mungkin, dan mengecam diri sendiri sebanyak mungkin, (Leech, 1993: 207). Dalam maksim kerendahan hati, peneliti

92 79 menemukan fungsi kesantunn berbahasa yakni fungsi menyatakan dengan jenis fungsi penjelesan yang diwujudkan menggunakan kalimat deklaratif, yakni tuturan yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur (Kunjana, 2005: 74). Penggunaan fungsi penjelasan ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari khusunya dalam lingkup formal, seperti yang ditemukan peneliti dalam peneliti dalam proses pembelajaran berikut ini: 12. Guru : Ini Avi sudah selesai ngerjain, dan jawabannya benar semua. bagi yang jawabannya masih salah, silahkan di cek di EYD Siswa : Ah pak, jawaban saya juga masih ada yang salah kok. Tadi cuman kebetulan aja benar Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa pekerjaan penutur sudah selesai dan jawabnnya benar semua. Data tuturan (12) dituturkan oleh siswa ketika merespon atau menanggapi pernyataan dari mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa pekerjaan dari siswa tersebut sudah selesai dan jawabannya benar semua. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa pekerjaan penutur sudah selesai dan jawabnnya benar semua. Data tuturan (12) mengandung fungsi tuturan yang memberikan penjelasan atau keterangan yang menggunakan kalimat deklaratif (Chaer, 2010: 82). Tturan yang mengandung fungsi penjelesan dapat dilihat dalam tuturan Ah pak, jawaban saya juga masih ada yang salah kok. Tadi cuman kebetulan aja benar. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur telah menjelaskan kepada mitra tutur bahwa jawaban yang ia berikan masih ada yang salah, dan

93 80 jawaban yang benar hanya kebetulan semata. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah memberikan tuturan penjelesan kepada mitra tutur dan diwujudkan menggunakan kalimat deklaratif. Dari hasil analisis di atas, peneliti menemukan ada 1 mengandung fungsi penjelasan yang dituturkan menggunakan kalimat deklaratif, yakni tuturan yang ditujukan siswa kepada guru. Peneliti hanya menemukan satu fungsi tuturan dalam maksim kerendahan hati. Hal ini dikarenakan, dalam bertutur di kelas penutur (siswa) tidak memiliki sifat kerendahan hati yang membuat fungsi tuturan dalam maksim ini sangat minim. Dalam tuturan di atas, penutur telah memberikan penjelasan kepada mitra tutur bahwa, soal yang ia kerjakan masih ada yang salah, dan jawaban yang benar hanya kebetulan semata. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan penjelasannya kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif Fungsi Tuturan (menyetujui) dalam Maksim Kesepakatan Maksim kesepakatan diartikan sebagai maksim yang menuntut penutur untuk sebanyak mungkin bersepakat dengan mitra tutur dan mengurangi ketidaksepakatan dengan mitra tutur (Leech, 1993: 2017). Dalam maksim kesepakatan ini, penutur menemukan tuturan yang mengandung fungsi menyetujui yang diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni tuturan yang mengandung maksud memerintah atau meminta mitra tutur untk melakukan suatu sebagaiaman diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang menyetujui pada dasanya adalah, tuturan yang disampaikan oleh lawan tutur sebagai reaksi atas tuturan yang dituturkan oleh penutur. Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi

94 81 tuturan menyetujui sering ditemukan terlebih dalam lingkup formal, seperti halnya yang ditemukan peneliti di dalam proses pembelajaran berikut ini: 13. Siswa : pak, kalau aku meneliti tentang pemikiran orang-orang tentang anak-anak broken home itu bisa gak? Guru : Mending pengaruh kondisi keluarga terhadap prestasi siswa aja. Siswa : Oh iya pak, itu saja yang saya gunakan. Sepakat yah pak, saya akan ubah judulnya seperti bapak sampaikan yah, terima kasih pak. Guru : Iya, gunakan itu saja. Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat masukan/sanggahan dari mitra tutur (guru)bahwa judul proposal yang digunakan kurang tepat. 14. Siswa : Pak, rumusan masalah ini dalam bentuk pertanyaan yah, terus semua kata tanya dimasukan semua yah? Guru : Iya bener sekali, misalnya bagaimanakah pengaruh penggunaan gadget bagi remaja, terus bisa menggunakan kata tanya apa.. misalnya apa pengaruh penggunaan gadget. Cukup gunakan kata tanya apa dan bagaiamana saja yah. Siswa : Siap pak, makasih pak. Berarti fix yah pak saya cukup gunakan kata tanya bagaimana dan apa. Guru : Iya, dilanjutkan yah Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat jawaban dari mitra tutur (guru) mengenai pertanyaan tentang rumusan masalah dan kata tanya. 15. Guru: Nanti kalian menganalisis kebahasaan KTI kaka tingkat kalian. Tapi yang pertama, kalian jangan membuka EYD dulu. Kerjakan berdasarkan pengetahuan kalian saja. Begitu yah. sepakat? Siswa : siap pak, sepakat. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupapan respon yang diberikan oleh siswa kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa dalam mengerjakan tugas mereka tidak boleh membuka EYD. 16. Guru : Kalian selesaikan pekerjaan kalian, bapak tinggal sebentar karena harus ke ruang panitia USBN. Kerjakan dengan baik, jangan mengobrol kesana-kemari. Saya di sana cuman cuman 5 menit, setelah itu saya periksa semua pekerjaan kalian. Dikerjakan yah. Siswa : Iya pak, kami akan mengerjakan dan tidak berisik, tenang aja pak Guru : Oke. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada

95 82 mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk mengerjakan tugas dan tidak berisik. 17. Siswa : Pak aku tu, pengen ngambil masalah tentang pengaruh anak-anak muda yang jarag ke gereja atau tidak ke gereja ituloh pak terus nanti buat dapat kenapa gak gereja itu aku nyebarin kuisoner dan wawancara Guru : Itu bisa saja, terus nanti kamu bisa meyebarkan kuisoner atau wawancara untuk mendaptkan kenapa mereka tidak gereja. Siswa : Oh berarti hanya kuisoner dan wawancara saja yah pak Siswa Guru: Iya kuisoner dan wawancara. : Yaudah pak, berarti sepakat dengan kuisoner dan wawancara saja yah pak. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa dalam mengumpulkan data penutur menggunakan kuisoner dan wawancara 18. Guru : Nanti kalian mengerjakan dengan tenang, bapak tinggal sebentar. Di belakang ada mbak Ephy, jadi kalian harus jaga sikap yah. Siswa : Iya pak, tenang aja. Kami akan jaga sikap kok. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. 19. Sisiwa : Pak judul saya tentang pengaruh pergaulan siswa pada perkembangan diri. Itu bisa gak pak? Guru : Iya.. nanti kamu mengamati untuk anak SMA atau SMP kamu silahkan memilih itu. Siswa : Kalau saya mengamati anak SMP gimana pak Guru : Gini aja kamu mending amati anak SMA karena tingkat pergaulannya sangat tinggi. Apalagi kamu bisa lihat temanteman kamu di sini kan Siswa : Oh iya pak, berarti saya amati anak SMA saja yah pak, makasih. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru)yang mengatakan bahwa penutur lebih baik mengamati anak SMA saja dibanding dengan anak SMP. 20. Guru: Ini adalah tugas kedua kalian. Dan tugas ini akan bapak ambil nilai. Kalian kerjakan berdasarkan suruhan yang sudah ada di komputer kalian masing-masing. Kalau ada yang tidak jelas, kalian bertanya ke bapak, jangan tanya ke teman kalian

96 83 Sisiwa : Iya pak, siap laksanakan. Konteks : Penutur adalah siswa dan tuturan terajdi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tuutr (guru) yang mengatakan bahwa tugas dikerjakan berdasarkan arahan yang ada di komputer dan jika ada pertanyaan yang tidak jelas, bisa beranya langsung kepada mitra tutur. Data tuturan (13) dituturkan oleh siswa ketika mendapat jawaban yang diberikan oleh guru mengenai judul proposa. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat masukan/sanggahan dari mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa judul proposal yang digunakan kurang tepat. Data tuturan (13) mengandung fungsi tuturan menyetujui dan diwujudkan menggunakan kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menetujui dapat dilihat dalam tuturan Oh iya pak, itu saja yang saya gunakan. Sepakat yah pak, saya akan ubah judulnya seperti bapak sampaikan yah, terima kasih pak. Dalam tuturan tersebut, terlihat jelas bahwa penutur (siswa) menyatakan bahwa dirinya sepakat dan setuju dengan mitra tutur (guru) untuk mengubah judul proposalnya. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan kesetujuan dengan mitra tutur, dan tuturan tersebut dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (14) dituturkan oleh siswa ketika mendapat jawaban yang diberikan oleh guru mengenai rumusan masalah dan kata tanya yang digunakan. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah seorang siswa dan tuturan terjadi di

97 84 dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur ketika mendapat jawaaban dari mitra tutur (guru) mengenai pertanyaan tentang rumusan masalah dan kata tanya. Data tuturan (14) mengandung fungsi menyetujui yang diwujudkan melalui kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menyetujui dapat dilihat dalam tuturan Siap pak, makasih pak. Berarti fix yah pak saya cukup gunakan kata tanya bagaiaman dan apa. Dalam tuturan tersebut, penutur mengatakan bahwa ia sepakat dan setuju dengan mitra tutur (guru) untuk menggunakan kata tanya apa dan bagaiaman. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah menyatakan kesetujuan dengan mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (15) dtuturkan oleh siswa yang menanggapi pernyataan dari mitra tutur (guru) untuk tidak membuka EYD pada saat mengerjakan tugas, dan hal ini terlihat dalam konteks penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh siswa kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa dalam mengerjakan tugas mereka tidak boleh membuka EYD. Data tuturan (15) mengandung fungsi tuturan menyetujui dan diwujudkan menggunakan kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menyetujui dapat dilihat dalam tuturan siap pak, sepakat. Dalam tuturan tersebut, penutur telah menyatakan bahwa ia sepakat dan setuju dengan mitra tutur untuk tidak membuka

98 85 EYD pada saat mengerjakan tugas. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan kesetujuannya dengan mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (16) dituturkan oleh siswa yang menanggapi pernyataan dari guru yang menyatakan bahwa para siswa harus mengerjakan tugas dengan baik dan tidak boleh berisik. Hal ini terlihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk mengerjakan tugas dan tidak berisik. Data tuturan (16) mengandung fungsi menyetujuidan diwujudkan dengan kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menyetujia dapat dilihat dalam tuturan Iya pak, kami akan mengerjakan dan tidak berisik, tenang aja pak Dalam tuturan tersebut, penutur (siswa) mengatakan bahwa mereka sepakat dan setuju dengan mitra tutur (guru) untuk mengerjakan tugas selama mitra tutur pergi dan tidak akan berisik. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan kesetujuannya dengan mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (17) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa untuk mengumpulkan data, cukup menggunakan kuisoner dan wawancara. Hal ini dapat dilihat dalam konteks Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa dalam mengumpulkan data penutur menggunakan kuisoner dan wawancara. Data

99 86 tuturan (17) mengandung fungsi menyetujui yang diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud memerintah atau meminat mitra tutur untuk melakukan suatu sebagaiamana diinginkan penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menyetujui dapat dilihat dalam tuturan Yaudah pak, berarti sepakat dengan kuisoner dan wawancara saja yah pak. dalam tuturan tersebut, penutur menyatakan bahwa ia setuju dengan mitra tutur untuk mengumpulkan data menggunakan kuisoner dan wawancara. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah menyatakan kesetujuannya dengan mitra tutur dan dituturkan menggunakan kelimat imperatif. Data tuturan (18) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang menyatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. Data tuturan (18) mengandung fungsi menyetujui yang diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginka penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menytetujui dapat dilihat dalam tuturan Iya pak, tenang aja. Kami akan jaga sikap kok. Dalam tuturan tersebut, penutur mengatakan bahwa mereka setuju dengan mitra tutur untuk tidak berisik dan emnjaga sikap. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan kesetujuan kepada mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif.

100 87 Data tuturan (19) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa lebih baik mengamati anak SMA karena tingkat pergaulan anak SMA lebih bebas. Hal ini dapat dilihat dalam konteks, penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur lebih baik mengamati anak SMA saja dibanding dengan anak SMP. Data tuturan (19) mengandung fungsi menyetujui dan diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginka penutur (Kunjana, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menyetujui dapat dilihat dalam tuturan Oh iya pak, berarti saya amati anak SMA saja yah pak, makasih. Tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur telah setuju dengan mitra tutur untuk mengamati anak SMA. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah menyatakan kesetujuannya dengan mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Data tuturan (20) dituturkan oleh siswa yang merespon pernyataan dari guru yang mengatakan bahwa, mereka harus mengerjakan tugas dengan baik sesuai dengan suruhan yang ada di komputer, dan jika ada hal yang dipertanyakan, mereka harus bertanyakepada guru bukan kepada teman. Hal ini dapat dilihat dalam konteks penutur adalah siswa dan tuturan terajdi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tuutr (guru) yang mengatakan bahwa tugas dikerjakan berdasarkan arahan yang ada di komputer dan jika ada pertanyaan yang tidak jelas, bisa beranya langsung kepada mitra tutur. Data tuturan (20) mengandung fungsi menyetujui

101 88 dan diwujudkan dalam kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiaman diinginka penutur (Rahardi, 2005: 79). Tuturan yang mengandung fungsi menyetujui dapat dilihat dalam tuturan Iya pak, siap laksanakan. Dalam tuturan tersebut, penutur menyatakan bahwa mereka setuju dengan mitra tutur untuk mengerjakan tugas berdasarkan suruhan yang ada di komputer. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan kesetujuannya dengan mitra tutur dan dituturkan menggunakan kalimat imperatif. Dari hasil analisis di atas, peneliti menemukan ada 8 tuturan yang mengandung fungsi menyetujui, yakni tuturan yang ditujukan siswa kepada guru. Dalam tuturan di atas, penutur menyatakan kesepakatanya dan setuju dengan mitra tutur untuk melakukan apa yang dikatakan oleh mitra tutur. Penutur menyatakan kesepakatannya dengan mitra tutur, dan penutur bersedia untuk melakukan apa yang sudah disampaikan oleh mitra tutur. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah menyatakan kesetujuan dan kesepakatannya dengan mitra tutur. 4.3 Pembahasan Penanda Kesantunan Berbahasa Dari analisis data, peneliti menemukan penanda kesantunan berbahasa dalam kegiatan pembelajaran yang diperoleh dari tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan berbahasa. Penanda kesantunan dalam kegiatan pembelajaran di kelas dapat membuat proses pembelajaran menjadi lancar. Penutur menemukan empat penanda kesantuna berbahasa yang dapat membuat tuturan terasa santun ketika

102 89 proses pembelajaran. Pertama, berhati-hati dalam pemilihan kata. Kedua, memberikan tanggapan positif terhadap mitra tutur. Ketiga, menanggapi pujian dari mitra tutur dengan sifat rendah hati. Keempat menerima masukan dari mitra tutur. 1. Berhati-hati dalam pemilihan kata Pemilihan kata menjadi hal yang penting dalam berkomunikasi. Pemilihan kata yang salah dapat menyinggung dan melukai perasaan mitra tuturnya, maka dalam proses komunikasi, seseorang harus berhati-hati dalam memilih kata yang akan diungkapkan kepada mitra tuturnya. Terlebih dalam proses pembelajaran di kelas, ketika hendak menyampaikan sesuatu, mengkritik atau memberikan tanggapan, jika salah memilih kata akan menimbulkan kesalapahaman. Oleh karena itu, diharapkan agar para siswa harus berhati-hati dalam memilih kata agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. 1) Evan : Pagi teman-teman... Peserta diskusi : Pagi... Evan : Terima kasih atas kesempatanyya, di sini saya akan menyampaikan judul proposal saya terlebih dahulu. Saya minta perhatiannya yah. Jadi judul proposal saya adalah tentang pengaruh penggunaan gadget bagi prestasi belajar siswa. Sekian laporan saya, terima kasih. Koteks : Penutur adalah salah satu peserta diskusi, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut ditujukan penutur penyaji) kepada seluruh mitra tutur (peserta diskusi) ketika akan membacakan hasil temuan mengenai judul proposal. sudah memberikan masukan kepada penutur (siswa) terkait dengan judul proposalnya. 3) Guru: Temukan hal-hal yang masih salah dalam KTI kaka tingkat. Perhatikan dibagian isi, mulai dari judul, pendahuluan dan sebaginya. Tujuan kalian saya minta buat analisis KTI kaka tingkat ini, biar kalian bisa tahu mana hal-hal yang haris diperhatikan dalam menulis KTI.

103 90 Siswa: Baik pak, terima kasih atas arahannya, kami akan mengerjakan sesuai dengan suruhan bapak. konteks : Penutur adalah seorang siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang meminta mereka untuk tidak berisik dan mulai menganalisis isi KTI (karya tulis ilmiah) kaka tingkat. Data tuturan (1) dan (3) memperlihatkan bahwa penutur sangat berhatihati dalam memilih kata. Dalam tuturan (1), penutur hendak membacakan hasil temuan mengenai judul proposal, dan diawal penutur terlebih dahulu mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan kesampatan. Selain itu, penutur meminta para peserta untuk memperhatikan presentasinya dengan menggunakan bahasa yang santun. Sedangkan dalam tuturan (3), penutur menanggapi pernyataan dari mitra tutur yang meminta mereka untuk mengerjakan tugas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh mitra tutur. Dalam tuturan di atas, penutur menggunakan diksi yang santun yakni Terima kasih. yang menandakan bahwa penutur menghargai mitra tutur. Jadi pemilihan kata sangat perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran. 2. Memberikan tanggapan positif terhadap mitra tutur Memberikan tanggapan positif ketika berkomunikasi dapat meminimalkan terjadinya pertentangan. Terlebih dalam proses pembelajaran di kelas, dimana ketika penutur hendak bertanya kepada mitra tutur mengenai hal-hal yang belum diketahui, dan mitra tutur menanggapinya dengan memberikan jawaban bahkan membantu mitra tutur untuk mencari jawaban. Selain itu, ketika penutur hendak meminjam sesuatu dari mitra tutur, dan mitra tutur menanggapinya dengan memberikan apa yang diminta oleh penutur.

104 91 6. Siswa 1 : Cak, ini yang dimaksud dengan kerangka teori itu apa sih? Siswa 2 : Yah itu teori yang akan kamu gunakan. Kamu teorinya pake apa? Siswa 1 : Aku belum nemu dari tadi.siswa 2 : Sek yah tak selesaikan bagianku, habis tu baru aku bantu carikan punyamu. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa 2) terhadap respon atau jawaban yang diberikan oleh mitra tutur (siswa 1) dimana ia belum menemukan teori yang digunakan. 8. Guru: Bagi yang tidak membawa format KTI, kalian bisa menggunakan buku paket kalian saja. Silahkan kalian cari di buka paket, hal-hal apa saja yang diperhatikan dalam menulis KTI. Siswa 1 : Hito, aku gk bawa buku paketnya e, nanti kita gantian pake yah. Habis kamu pake aku pinjam punyamu Siswa 2 : Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Setelah kamu pake baru aku aja gk papa. Siswa 1 : Yang bener nihto? Makasih yah. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang menyatakan bahwa ia tidak membawa buku paket dan akan meminjam buku paket penutur. Data tuturan (6) dan (8) menunjukan bahwa penutur memberikan tanggapan positif kepada mitra tutur. dalam tuturan (6) penutur menanggapi mitra tutur yang belum menemukan teori yang digunakan dalam penelitian, dan penutur mengatakan bahwa ia akan membantu mitra tutur untuk mencari teori yang diguanakn. Sedangkan data tuturan (8), penutur menanggapi permintaan dari mitra tutur yang hendak meminjam buku dari mitra tutur, dan mitra tutur pun mengatakan bahwa ia akan meminjamkan buku kepada penutur. Hal seperti ini akan akan sangat bermanfaat karena akan membuat proses pembelajaran menjadi lancar.

105 92 3. Menanggapi pujian dari mitra tutur dengan sifat rendah hati Tuturan dapat dikatakan santun apabila dalam tuturan tersebut penutur mempunyai sifat rendah hati terhadap pujian yang diterima dalam berkomunikasi. Seperti dalam proses pembelajaran, ketika siswa mendapat pujian dari guru karena mendapat nilai yang bagus atau dapat mengerjakan tugas dengan baik, siswa tersebut harus meresponnya dengan sifat yang rendah hati. Penutur tidak boleh bersifat sombong dengan pujian yang diterima. 12. Guru: Ini Avi sudah selesai ngerjain, dan jawabannya benar semua. bagi yang jawabannya masih salah, silahkan di cek di EYD Siswa : Ah pak, jawaban saya juga masih ada yang salah kok. Tadi cuman kebetulan aja benar Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa pekerjaan penutur sudah selesai dan jawabnnya benar semua. Data tuturan (12) menunjukan bahwa penutur bersifat rendah hati dan tidak sombong dengan pujian yang ia terima. Penutur menanggapi pernyataan dari mitra tutur yang memujinya karena dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar. Tanggapan yang diberikan penutur menunjukan bahwa penutur memilki sifat redah hati dan tidak sombong akan pujian yang diterima. Hal ini akan membuat mita tutur merasa senang. 4. Menerima masukan dari mitra tutur. Tuturan dapat dikatakan santun apabila dalam proses komunikasi, penutur dan mitra tutur sama-sama menerima masukan yang diberikan. Hal ini dapat meminimalkan pertentangan. Seperti dalam proses pembelajaran, ketika siswa hendak bertanya kepada guru mengenai tugas yang diberikan dan guru

106 93 memberikan masukan-masukan terkait dengan tugas tersebut, serta siswa dapat menerima masukan itu maka akan menimbulkan perasaan senang bagi mitra tutur. 13. Siswa : Pak, kalau aku meneliti tentang pemikiran orang-orang tentang anak-anak broken home itu bisa gk? Guru : Mending pengaruh kondisi keluarga terhadap prestasi siswa aja. Siswa : Oh iya pak, itu saja yang saya gunakan. Sepakat yah pak, saya akan ubah judulnya seperti bapak sampaikan yah, terima kasih pak. Guru : Iya, gunakan itu saja. Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat masukan/sanggahan dari mitra tutur (guru)bahwa judul proposal yang digunakan kurang tepat. 14. Siswa : Pak, rumusan masalah ini dalam bentuk pertanyaan yah, terus semua kata tanya dimasukan semua yah? Guru : Iya bener sekali, misalnya bagaimanakah pengaruh penggunaan gadget bagi remaja, terus bisa menggunakan kata tanya apa.. misalnya apa pengaruh penggunaan gadget. Cukup gunakan kata tanya apa dan bagaiamana saja yah. Siswa : Siap pak, makasih pak. Berarti fix yah pak saya cukup gunakan kata tanya bagaiaman dan apa. Guru : Iya, dilanjutkan yah Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat jawaban dari mitra tutur (guru) mengenai pertanyaan tentang rumusan masalah dan kata tanya. Data tuturan (13) dan (14) menunjukan bahwa penutur mau menerima masukan yang diberikan oleh mitra tutur. Data tuturan (13) menunjukan bahwa penutur menerima masukan yang diberikan oleh mitra tutur terkait dengan judul proposal yang digunakan. Sedangkan data tuturan (14) menunjukan bahwa penutur menerima masukan yang diberikan oleh mitra tutur terkait dengan kata tanya yang akan digunakan dalam penelitian. Hal ini tentunya akan menimbulkan perasaan senang bagi mitra tutur.

107 Fungsi Kesantunan Berbahasa Dari analisis data, peneliti menemukan fungsi kesantunan berbahasa dalam kegiatan pembelajaran yang diperoleh dari tuturan siswa-siswi. Fungsi tuturan yang ditemukan oleh peneliti berupa fungsi kesantunan berbahasa. Dalam pembelajaran, apabila menerapkan fungsi kesantunan berbahasa dengan baik, maka, proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Peneliti menemukan ada lima fungsi kesantunan berbahasa yang digunakan dalam pembelajaran, yakni fungsi menyatakan informasi, fungsi menyatakan perjanjian, fungsi pemberian izin, fungsi penjelasan, dan fungsi menyetujui 1. Fungsi menyatakan informasi Tuturan dengan fungsi menyatakan infromasi tentang keadaan di sekitar, dituturkan dengan menggunakan kalimat deklaratif yang santun yakni, kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur. 1. Penyaji : Pagi teman-teman Peserta diskusi : Pagi... Penyaji : Terima kasih atas kesempatanyya, di sini saya akan menyampaikan judul proposal saya terlebih dahulu. Saya minta perhatiannya yah. Jadi judul proposal saya adalah tentang pengaruh penggunaan gadget bagi prestasi belajar siswa. Sekian laporan saya, terima kasih. Koteks : Penutur adalah salah satu peserta diskusi, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan tersebut ditujukan penutur penyaji) kepada seluruh mitra tutur (peserta diskusi) ketika akan membacakan hasil temuan mengenai judul proposal. Dalam tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur (penyaji) telah menyatakan informasi kepada mitra tutur (peserta diskusi) mengenai judul proposal yang telah ia buat. Tuturan di atas mmerupakan tuturan yang berisi

108 95 informasi dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif, yakni kalimat yang dimaksud untuk memberitakan sesuatu kepada mitra tutur. 2. Fungsi menyatakan perjanjian Tuturan dengan fungsi menyatakan perjanjian atau peringatan dituturkan dengan menggunakan kalimat deklaratif yang santun santun yakni, kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur. 6. Siswa 1 : Cak, ini yang dimaksud dengan kerangka teori itu apa sih? Siswa 2 : Yah itu teori yang akan kamu gunakan. Kamu teorinya pake apa? Siswa 1 : Aku belum nemu dari tadi. Siswa 2 : Sek yah tak selesaikan bagianku, habis tu baru aku bantu carikan punyamu. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa 2) terhadap respon atau jawaban yang diberikan oleh mitra tutur (siswa 1) dimana ia belum menemukan teori yang digunakan. Dalam tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah menyatakan janjinya kepada mitra tutur untuk membantu mitra tutur mencari teori yang penutur gunakan. Tuturan di atas merupakan tuturan yang menyatakan perjanjian dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif. 3. Fungsi pemberian izin Tuturan dengan fungsi pemberian izin dituturkan dengan menggunakan kalimat imperatif, yakni kalimat yang mengandung maksud memerintah agar mitra tutur melakukan suatu sebagaiamana diinginkan penutur. 8. Guru : Bagi yang tidak membawa format KTI, kalian bisa menggunakan buku paket kalian saja. Silahkan kalian cari di buka paket, hal-hal apa saja yang diperhatikan dalam menulis KTI. Siswa 1 : Hito, aku gk bawa buku paketnya e, nanti kita gantian pake yah. Habis kamu pake aku pinjam punyamu.

109 96 Siswa 2 : Yaudah Nggit, kamu pake aja dulu. Setelah kamu pake baru aku aja gk papa. Siswa 1 : Yah bener nih to? Makasih yah. Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan penutur (siswa 2) terhadap pernyataan dari mitra tutur (siswa 1) yang menyatakan bahwa ia tidak membawa buku paket dan akan meminjam buku paket penutur. Dalam tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur telah memberikan izin kepada mitra tutur untuk menggunakan buka paket miliknya terlebih dahulu. Tuturan di atas merupakan tuturan yang berfungsi untuk memberikan izin dan dituutrkan menggunakan kalimat deklaratif. 4. Fungsi penjelasan Tuturan dengan fungsi menyatakan penjelasan atau keterangan dilakukan dengan menggunakan kalimat deklaratif, yakni kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur. 12. Guru : Ini Avi sudah selesai ngerjain, dan jawabannya benar semua. bagi yang jawabannya masih salah, silahkan di cek di EYD Siswa : Ah pak, jawaban saya juga masih ada yang salah kok. Tadi cuman kebetulan aja benar Konteks : Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa pekerjaan penutur sudah selesai dan jawabnnya benar semua. Dalam tuturan di atas menunjukan bahwa penutur telah memberikan penjelasan kepada mitra tutur bahwa jawaban yang ia berikan masih ada yang salah, dan jawaban yang benar tersebut hanya kebetulan semata. Tuturan di atas merupakan tuturan yang berfungsi memberikan penjelasan dan dituturkan menggunakan kalimat deklaratif.

110 97 5. Fungsi menyetujui Tuturan yang menyetujui pada dasarnya adalah tuturan yang dituturkan oleh lawan tutur sebagai reaksi atas tuturan yang dituturkan oleh penutur. Tuturan yang berfungsi menyetujui merupakan tuturan yang menyatakan kesetujuan antara apa yang disampaikan penutur dan lawan tutur. 13. Siswa : Pak, kalau aku meneliti tentang pemikiran orang-orang tentang anak-anak broken home itu bisa gak? Guru : Mending pengaruh kondisi keluarga terhadap prestasi siswa aja. Siswa : Oh iya pak, itu saja yang saya gunakan. Sepakat yah pak, saya akan ubah judulnya seperti bapak sampaikan yah, terima kasih pak. Guru : Iya, gunakan itu saja. Konteks : Penutur adalah seorang siswa. Tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari siswa ketika mendapat masukan/sanggahan dari mitra tutur (guru)bahwa judul proposal yang digunakan kurang tepat. Tuturan di atas menunjukan bahwa, penutur bersepakat dan menyatakan kesetujuannya dengan mitra tutur untuk mengubah judul proposalnnya seperti yang sudah disampaikan mitra tutur. Tuturan di atas merupakan pernyataan persetujuan penutur terhadap apa yang disampaikan mitra tutur.

111 98 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan terhadap penelitian yang berjudul Analisis Penanda dan Fungsi Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi Siswa-Siswi Kelas XI IPS SMA Pangudi Luhur Yogyakarta: Suatu Kajian Pragmatik. Peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut: a. Peneliti menemukan penanda kesantunan berbahasa dalam kegiatan pembelajaran di kelas yang diperoleh dari data tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan berbahasa. Peneliti menemukan empat penanda kesantunan berbahasa yang membuat tuturan jadi terasa santun selama proses pembelajaran di kelas. (1) berhati-hati dalam pemilihan kata, (2) memberikan tanggapan positif terhadap mitra tutur, (3) menanggapi pujian dari mitra tutur dengan sifat rendah hati, (4) menerima masukan dari mitra tutur. b. Selain menemukan penanda kesantunan, peneliti juga menemukan fungsi kesantunan berbahasa dalam tuturan siswa-siswi dalam proses pembelajaran di kelas. Peneliti menemukan lima fungsi kesantunan berbahasa, yakni fungsi menyatakan informasi, fungsi menyatakan perjanjian. Fungsi pemberian izin, fungsi penjelasan, dan fungsi menyetujui.

112 Saran Penelitian ini masih mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, peneliti mengajukan beberapa saran bagi para peneliti selanjutnya terutama yang melakukan penelitian sejenis. Saran dari peneliti adalah sebagai berikut : a. Peneliti ini hanya membahas prinsip kesantunan dari kaidah menutur Leech (1993) sebagai penentu kesantunan dalam berkomunikasi. Peneliti ingin jika ada penelitian yang sama, alangkah baiknya jika bisa menggunakan kaidah dari ahli lain, serta meneliti apakah ada hubungan atau kesamaan antara kaidah kesantunan ahli yang satu dengan yang lain, karena pasti ada sesuatu yang sama dan berbeda yang pada akhirnya menentukan sebuah kesantunan. b. Data yang diteliti sebaiknya tidak hanya dialog dalam suatu pembelajaran di kelas, tetapi masih ada data lain yang bisa dijadikan objek penelitian seperti proses pembelajaran yang menggunakan teknik atau metode lain yang masih dalam lungkup formal.

113 100 DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Chaer, Abdul Kesantunan Berbahasa. Jakarta : Rineka Cipta Cummings, Louise Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Departemen Pendidikan Nasional Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka Hendrikus, Doni Wuwur Retorika Terampila Berpidato, Berdiskusi, Beragumentasi, Bernegosiasi. Kanisius: Yogyakarta Kurniawati, Oktaviana Analisis Pemanfaatan Prinsip Kesantunan Berbahasa Pada Kegiatan Diskusi Kelas XI SMAN1 Sleman. Versi HTML dari file pdf Lubis, A. Hamid Hasan Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: CV Aangkasa Leech, Geoffrey. Prinsip-Prinsip Pragmatik Jakarta : Universitas Indonesia Moleng Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyona, deddy Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT Remaja Rosdakrya Mulyana Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wicana Nadar Pragmatik dan penelitian pragmatik. Yogyakarta : GRAHA ILMU Pranowo Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta : Pustaka Belajar Pranowo Kesantunan Berbahasa Tokoh Masyarakat. Yogyakarta: Universitas Sanata Daharma Prabowo, Eko Kesantunan Berbahasa Dalam Kegiatan Diskusi Mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma Angkatan Versi HTML dari file Rahardi, Kunjana dkk Fenomena Ketidksantunan Berbahasa. Jakarta : Erlangga 100

114 101 Rahardi, Kunjana Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga Silalahi, Rinda Analisis Kesantunan Berbahasa Siswa-Siswi Di Lingkungan Sekolah SmpnBinjai. Versi HMTL dari file BAHASA_SISWA_I_DI_LINGKUNGAN_SEKOLAH_SMP_NEGERI _5_BINJAI Wijana, Putu dkk Analisis Wacana Pragmatik. Surakarta :Yuma Pustaka Yule, George PRAGMATIK. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Zamzani Kajian Sosiopragmatik. Yogyakarta: Citra Pustaka Zamzani, dkk Pengembangan Alat Ukur Kesantunan Bahasa Indonesia Dalam Interaksi Sosial Bersemuka Dan Non Bersemuka. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta

115 102 BIODATA PENULIS Ephyfania Bahantwelu lahir di Lewopulo, Adonara Timur, tanggal 26 Oktober Ia menyelesaikan pendidikan tingkat sekolah dasar di SD Santo Antonius Lewopulo pada tahun Kemudian, ia melanjutkan studinya di SMPN 2 Adonara Timur, kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, dan tamat pada tahun Pendidikan tingkat menengah atas ditempuhnya di SMAK Lamaholot Witihama. Setelah menyelesaikan sekolah tingkat menengah atas, ia melanjutkan studi SI Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Masa pendidikan tersebut berakhir pada tahun 2019.

116 103

117 104

118 105

119 106

120 107

121 108

122 109

123 110

124 111

125 112

126 113

127 114

128 115

129 116

130 117

131 118

132 119

133 120

134 121

135 122

136 123

137 124

138 125

139 126

140 127

141 128

142 129

143 130

144 131

145 132

146 133

147 134

148 135

149 136

150 137

151 138

152 139

153 140

154 141

155 142

156 143

157 144

158 145

159 146

160 147

161 148

162 149

163 150

164 151

165 152

166 153

167 154

168 155

169 156

170 157

171 158

172 159

173 160

174 161

175 162

176 163

177 a. Anlisis Penanda Kesantunan Berbahasa Maksim kebijaksanaan No Data Tuturan Kontkes Penanda Fungsi Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) 51 Sisiwa : Pak saya mau tanya Guru : Iya gimaan Ave mau tanya apa? Sisiwa : Pak saya tu bingung menentukan antara judul saya pak Guru : Judul kamu sekarang tentang apa? Siswa : Tentang penggunaan teknologi yang memberikan kecanduan pada anak zaman sekarang. Menurut bapak bisa gak yah itu pak? Guru : Semua masalah itu bisa dijadikan untuk bahan penelitian. Punyamu ini bisa cuman kalimatmu Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa perumusan kalimat dalam judul penelitian perlu diubah. Penutur (siswa) bersedia untuk merumuskan kembali kalimat dalam judul proposalnya seperti yang sudah disampaikan oleh mitra tutur (guru). dalam bertutur, penutur menggunakan diksi yang mencerminka kesantunan yakni Terima kasih yang ditujukan kepada mitra tutur. tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur bersedia untuk mengganti kalimat dalam merumuskan judul proposalnya. Hal ini mennadakan bahwa penutur menghormati dan menghargai mitra tutur. Tuturan tersebut mengandung tindak tutur komisif, yakni penutur terikat pada suatu tindakan di masa depan. Dalam tuturan tersebut, penutur berjanji bahwa ia akan mengubah kalimat dalam judul proposalnya sesuai dengan apa yang diarahkan oleh mitar tutur. Ya Tidak Keterangan Triangulator 164

178 mungkin diubah, misalnya pengaruh penggunaan gadget bagi anak zaman sekarang Siswa : Baik pak, saya akan ubah seperti yang bapak minta. Terima kasih pak Guru : Iya sama-sama. Sana kerjakan. 52 Guru : Kalau sudah selesai langsung di upload yah, waktu tinggal dikit lagi. Jangan lupa di cek, siapa tau masih ada yang belum dikerjakan Siswa : Syukurlah pak, untung bapak ngasih tau jadi aku bisa tahu kalau punyaku tinggal 1. Untung belum tak upload. Makasih banyak pak Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa sebelum tugas di upload, harus di cek terlebih dahulu. Penutur (siswa) mengatakan bahwa ia bersyukur karena karena bekum mengupload tugasnya kerana masih 1 soal yang belum dikerjakannya. Dalam bertutur, penutur (siswa) menggunakan diksi yang mencerminkan kesantunan yakni Terima kasih. Tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur menerima apa yang disampaikan oleh mitra tutur dan meresponya dengan memberikan tanggapan Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur komisif, yakni penutur terikat pada suatu tindakan di masa yang akan datang. Tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur akan menyelesaikan tugas yang belum ia kerjakan. 165

179 yang positif. Maksim Kedermawanan No Data Tuturan Kontkes Penanda Fungsi Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) 53 Siswa 1: Zefa, aku boleh minta bantuan kamu gak. Ini kok aku gak bisa login komputernya yah. waktunya tinggal dikit lagi dan aku belum ngerjain lagi Sisiwa 2 : Coba kamu pindah ke komputer lain Sisiwa 1 : Sama aja Zef, yang lainnya apada eror Sisiwa 2 : Oke bentar, aku upload punyaku bentar nanti aku bantuin. 54 Sisiwa 1 : Cin, aku gak bawa EYD, nanti boleh gantian yah, aku pinjam Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) kepada mitra tutur (siswa 1) yang mengatakan bahwa ia tidak bisa login di komputernya dan komputer lainnya eror. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan Penutur (siswa 2) menyatakan bahwa ia akan membantu mitra tutur (siswa 1) untuk login pada komputer. Penutur berjanji bahwa aia kan membantu mitra tutur setelah ia mengupload tugasnya. Hal ini akan menimbulkan kerugian bagi mitra tutur karena mitra tutur harus membantu penutur. Penutur (siswa 2) menawarkan EYD miliknya kepada mitra tutur untuk digunakan. Tuturan tersebut mengandung tindak tutur komisif yakni tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, dan tuturan ini berfungsi untuk menyatakan janji, penawaran. Penutur berjanji kepada mitra tutur bahwa ia akan membantunya untuk login di komputer setelah ia selesai mengupload tugasnya. Tuturan tersebut mengandung tindak tutur komisif yakni tindak tutur yang Ya Tidak Keterangan Triangulator 166

180 punyamu Siswa 2 : Yaudah ni pake dulu aja. Sisiwa 1 : Lah nanti kamu gimana? Siswa 2 : Gampang nanti, kamu pake 30 menit abis tu gantian Siswa 1 : Oke makasih yah. 55 Siswa 1 : Pak, ini kok komputer saya dari tadi gak mau login e Guru : Coba kamu pindah ke komputer lain Siswa 2 : Eh Gus, komputer di samping gue ni bisa. Ini lu login pake komputer gue ni, biar gue pindah di sebelah Siswa 1: Eh yaudah aku yang di sebelah aja, kan kamu udh login punyamu tadi merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa 2) yang meminjamkan EYD miliknya kepada mitra tutur (siswa 1) Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa 2) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa komputernya tidak bisa login Hal ini akan membawa kerugian bagi mitra tutur karena ia harus menunggu EYD untuk digunakan mitra tutur dan ia akan terlambat dalam mengerjakan tugasnya dikarenakan EYD miliknya dipinjam oleh mitra tutur. Penutur (siswa 2) menawarkan komputer miliknya kepada mitra tutur (siswa 1) untuk digunakan dalam mengerjakan tugas. Hal ini akan memberikan kerugian bagi mitra tutur karena ia harus pindah ke komputer lain dan harus login ulang pada komputer lain. dipahami oleh penutur untuk meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, dan tuturan ini berfungsi untuk menyatakan janji, penawaran. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur (siswa 2) menawarkan kepada mitra tutur (siswa 1) untuk menggunakan EYD terlebih dahulu. Tuturan tersebut mengandung tindak tutur komisif yakni tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, dan tuturan ini berfungsi untuk menyatakan janji, penawaran. Tuturan di atas menunjukan bahwa penutur menawarkan komputer miliknya kepada mitra tutur 167

181 Siswa 2 : Santai bro. Aku baru aja mau login. Sini loh untuk digunakan dan penutur mencari komputer lain untuk digunakan. Maksim Kesepakatan No Data Tuturan Kontkes Penanda Fungsi Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) 56 Siswa : Pak aku tu, pengen ngambil masalaah tentang pengaruh anak-anak muda yang jarag ke gereja atau tidak ke gereja ituloh pak terus nanti buat dapat kenapa gak gereja itu aku nyebarin kuisoner dan wawancara Guru : Itu bisa saja, terus nanti kamu bisa meyebarkan kuisoner atau wawancara untuk mendaptkan kenapa mereka tidak gereja Siswa : Oh berarti hanya Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa dalam mengumpulkan data penutur menggunakan kuisoner dan wawancara Penutur (siswa) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tekni kuisoner dan wawancara seperti yang sudah disampaikan oleh mitra tutur (guru). Tuturan tersebut dipandang sebagai bentuk tuturan yang santun karena mengusahakan kesepakatan antara penutur (siswa) dan mitra tutur (guru), dengan hai ini baik penutur maupun mitra tutur sama-sama menerima dan tidak Tuturan tersebut menggunakan jenis tindak tutur asertif, yakni penutur terikat pada kebenaran proporisi yang diungkapkan. Dalam tuutran tersebut menunjukan bahwa penutur mengikuti apa yang dikatakan oleh mitra tutur. Penutur menyakini bahwa apa yang dikatakan oleh mitra tutur itu merupakan hal yang tepat, sehingga ia mengikutinya. Ya Tidak Keterangan Triangulator 168

182 kuisoner dan wawancara saja yah pak Guru: Iya kuisoner dan wawancara. Siswa : Yaudah pak, berarti sepakat dengan kuisoner dan wawancara saja yah pak. menimbulkan perdebatan. 57 Guru : Nanti kalian mengerjakan dengan tenang, bapak tinggal sebentar. Di belakang ada mbak Ephy, jadi kalian harus jaga sikap yah Siswa : Iya pak, tenang aja. Kami akan jaga sikap kok 58 Sisiwa : Pak judul saya tentang pengaruh pergaulan siswa pada perkembangan diri. Itu bisa gak pak. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mengerjakan tugas dengan tenang. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari Penutur menyatakan bahwa mereka akan mengerjakan tugas dengan tenang dan akan menjaga sikap seperti yang sudah perintahkan oleh mitra tutur. tuturan di atas menunjukan bahwa penutur mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur yakni sepakat untuk mengerjakan tugas dengan tenang. Penutur (siswa 2) menyatakan bahwa ia akan mengamati siswa SMA seperti yang sudah disampaikan oleh mitra tutur (guru). Tuturan tersebut dituturkan menggunkan jenis tindak tutur ekspresif, yakni penutur mengutarakan sikap psikologisnya terhadap keadaan di sekitar Dalam tuturan tersebut, penutur mengutarakan sikapnya terhadap pernyataan dari mitra tutur. Penutur mengatakan bahwa mereka akan menjaga sikap dan akan tenang. Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur asertif, yakni penutur terikat pada kebenaran 169

183 guru : Iya.. nanti kamu mengamati untuk anak SMA atau SMP kamu siilahkan memilih itu. Siswa : Kalau saya mengamati anak smp gimana pak Guru : Gini aja kamu mending amati anak sma karena tingkat pergaulannya sangat tinggi. Apalagi kamu bisa lihat teman-teman kamu di sini kan Siswa : Oh iya pak, berarti saya amati anak SMA saja yah pak, makasih. penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru)yang mengatakan bahwa penutur lebih baik mengamati anak SMA saja dibanding dengan anak SMP tuturan di atas dipandang sebagai tuturan yang santun karena penutur mengusahakan kesepakatan dengan mitra tutur, yakni sepakat untuk mengamati siswa SMA seperti yang sudah disampaikan mitra tutur. proposisi yang diungkapna. Dalam tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur mengatakan ia akan mengamati siswa SMA seperti yang disampaikan oleh mitra tutur. Hal ini menunjukan bahwa penutur meyakini akan kata-kata mitra tutur sehingga ia mengikutnya. 59 Guru: Ini adalah tugas kedua kalian. Dan tugas ini akan bapak ambil nilai. Kalian kerjakan berdasarkan suruhan yang sudah ada di komputer kalian masing-masing. Kalau ada yang tidak jelas, kalian Penutur adalah siswa dan tuturan terajdi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tuutr (guru) yang mengatakan bahwa tugas Penutur (siswa) menyatakan bahwa mereka akan mengerjakan tugas sesuai dengan suruhan yang ada di komputer, dan apabila mereka kebingungan mereka harus bertanya ke guru dan bukan ke teman. Tuturan di atas Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak ekspresif, yakni penutur mengutarakan sikap psikologisnya terhadap keadaan di sekitar. Dalam tuturan tersebut penutur mengutarakan sikapnya terhadap pernyataan 170

184 bertanya ke bapak, jangan tanya ke teman kalian Sisiwa : Iya pak, siap laksanakan dikerjakan berdasarkan arahan yang ada di komputer dan jika ada pertanyaan yang tidak jelas, bisa beranya langsung kepada mitra tutur. dipandang sebagai bentuk tuturan yang santun, karena penutur (siswa) mengusahakan kesepakat dengan mitra tutur. dari mitra tutur. Penutur mengatakan bahwa mereka sepakat dengan apa yang dikatakan oleh mitra tutur. b. Analisis Penanda Ketidaksantunan Berbahasa Maksim kebijaksanaan No Data Tuturan Kontkes Penanda Fungsi Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) 60 Guru : sekarang giliran Avi untuk membacakan masalah yang kamu temui Siswa : Masalah yang saya temukan tentang ketidkbersihan penggunaan toilet Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur siswa) Penutur menyatakan bahwa kertas untuk mengerjakan tugasnya dicuri tetapi dia yang disalahkan. Tuturan tersebut dipandang sebagai tuturan yang tidak santun, karena Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur ekspresif, yakni penutur mengungkapkan sikap psikologisnya terhadap keadaan di sekitar. Ya Tidak Keterangan Triangulator 171

185 pak. Guru : Iya coba deskripsikan Siswa : Pak tadi saya sudah deskripsikan tapi kertas saya hilang pak, di ambil orang saya gak tahu. Guru : Lah terus, kamu tidak ada usaha untuk membuat ulang? berarti kamu tidak ada niat untuk mengerjakan Siswa : Lah piye pak, orang kertas saya dicuri kok saya yang disalahin. Gimana sih bapak ni kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur tidak mempunyai niat untuk menherjakan tugas. dalam bertutur, penutur menggunakan notasi yang tinggi dan dalam tuturan tersebut penutur menunjukan kekesalnnya kepada mitra tutur dan tuturannya berisi kecaman. Dalam tuturan tersebut, penutur mengutarakan sikapnya terhadap apa yang dikatakan oleh mitra tutur. Tuturan tersebut berisi kecaman yang diberikan penutur kepada mitra tutur. 61 Guru : Dikerjakan dengan baik, dan jangan ada yang membuka EYD. Komputer sudah ada di depan mata kalian masingmasing jadi jangan tanya ke sana ke mari Siswa : Pak ini tu lagi ngerjain, bapak Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menerangkan mengenai tugas Penutur menyatakan bahwa ia tidak bisa mengerjakan tugas karena mitra tutur banyak bicara. Tuturan tersebut dipandang sebagai tuturan yang tidak santun karena dalam bertutur penutur menggunakan notasi byang tinggi, dan isi Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis impositif, yakni ilokusi yang bertujuan menghasilakn efek berupa tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur. dalam tuturan tersebut penutur meminta kepada mitra 172

186 banyak bicara jadi kami tu malah bingung ni 62 Siswa : Pak Banik saya bingung pak nentuin rumusan masalah Guru : Masalahmu apa? Siswa : Tentang mengapa siswa mendapat nilai rendah dalam ulangan itu pak. Guru : Masalah itu bukan dirumuskan dalam bentuk pertanyaann. Kalau yang begini malah masuk dirumusan masalah Sisiwa: Lah terus piye? yang dikerjakan. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur yang mengatakan bahwa rumusan masalah itu tidak dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. tuturan tersebut menyalahkan mitra tutur, padahal mitra tutur hanya menerangkan tugas yang dikerjakan. Penutur merespon pernyataan dari mitra tutur dengan memberikan jawaban yakni ia bertanya kembali ini harus bagaimana. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena dalam bertutur, penutur menggunakan notasi yang tinggi dan isi tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur tidak mnghargai mitra tutur, karena mitra tuutr sudah menjelaskan bagaiaman merumuskan masalah dalam penelitian, akan tetapi penutur meresponnya dengan tutur untuk berhenti berbicara agar mereka dapat mengerjakan tugas dengan baik, karena jika berbicara terus, mereka kebingungan dalam mengerjakan tugas. Tuutran tersebut dituturkan menggunakan jensi tindak tutur eskpresif, yakni penutur mengutarakan sikapnya terhadap keadaan di sekitar. Dalam tuturan tersebut, penutur mengutarakan sikapnya atas penjelesan dari mitra tutur. Penutur merespon penjelasan dari mitra tutur dengan menunjukan sifat kekesalnnya yakni dengan bertanya kembali atas penjelasan dari mitra tutur. 173

187 63 Guru : Ayo Cindy, dikerjakan dulu. Jangan ngobrol sama temannya. Kamu udh selesai belum? Siswa : Lah belum lah. Orang baru ngerjain kok udah ditanya. Piye to? Guru : Makanya dikerjakan, jangan ngomong sendiri 64 Siswa : Pak ini tu kalau kata bahasa inggris tu ditulisnya biasa atau di cetak miring Guru : Coba kamu lihat di EYD. Ada tidak penjelsannya Siswa : Lah aku ki gak nemu, makanya tanya. Huh... Piye to bapak ni! Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang bertanay apakah tugasnya sudah selesai atau belum. Penutur adalah siswa, dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa cek di EYD ada penjelasan mengenai jawaban yang tidak sopan. Penutur merespon pertanyaan dari mitra tutur dengan mengatakan bahwa tugasnya baru diberikan tapi sudah bertanya apakah sudah selesai atau belum. Tuturan tersebut dipandang sebagai tuturan yang tidak santun karena dalam bertutur, penutur menggunakan notasi yang tinggi dan isi tuturannya seolah-olah mengecam mitra tutur. Penutur merespon pernyataan dari mitra tutur dengan mengatakan bahwa ia tidak menemukan jawabannya. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena dalam bertutur, penutur menggunakan notasi yang tinggi, dan isi tuturan tersebut memojokan mitra tutur Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur ekspresif, yakni penutur mengutarakan sikapnya terhadap keadaan di sekitar. Dalam tuutran tersebut, penutur mengutarakan kekesalannya kepada mitra tutur karena mitra tutur menyanyakan apakah mereka sudah selesai mengerjakan tugas. Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur ekspresif, yakni penutur mengutarakan sikapnya terhadap keadaan di sekitar. Dalam tuturan tersebut penutur secara tidak langsung mengecam mitra tutur karena mitra tutur memintanya untuk mengecek jawaban di 174

188 Maksim Kedermawanan penulisan kata bahasa Inggris. dan penutur secara langsung menunjukan kekesalannya kepada mitra tutur. EYD. No Data Tuturan Kontkes Penanda Fungsi Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) 65 Guru : Kalau ada yang bingung untuk menentukan masalah jangan sungkan untuk bertanya. Siswa : Ini tu bingung semua e pak, saya jadi malas ngerjain ni. Tugas yang di kasih kok susuh banget sih Guru : Makanya itu saya minta anda untuk bertanya kalau bingung. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan dari penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang menyatakan bahwa kalau bingung menentukan masalah jangan sungkan untuk bertanya. Penutur merespon pernyataan mitra tutur dengan mengatakan bahwa ia malas mengerjakan tugas karena tugas yang diberikan susah semua. tuturan tersebut dianggap sebagai tututran yang tidak santun, karena dalam bertutur penutur secara langsung menolak untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh mitra tutur. Hal ini tentunya akan membuat mitra tutur merasa tidak senang. Fungsi tuturan yang digunakan dalam tuturan tersebut adalah tindak tutur asertif yakni penutur terikat pada kebenaran proposisi yang diungkapkan. Dalam tuturan di atas, penutur mengeluh kepada mitra tutur bahwa tugas diberikan tersebut susah. Penutur mengatakan hal demikia karena penutur menyadari bahwa tugas tersebut sangat membingkan dan susah sehingga ia menjadi malas untuk mengerjakannya. Ya Tidak Keterangan Triangulator 175

189 Maksim Kesepakatan No Data Tuturan Kontkes Penanda Fungsi Kesesuaian Dengan Teori (Triangulator) 66 Siswa : Pak, ini tu masalahnya tentang pengaruh merokok bagi kalangan remaja. Guru : Cari masalah yang lain, saya yakin kamu hanya akan kopas dari internet untuk maslaah itu. Karena ini masalah umum. Siswa : Lah gak mau pak, saya gunakan ini saja. Susah cari masalah lain e. 67 Guru: Kalau ada yang belum mengambil memfotocopy materi, nanti kalian silahkan mengunduh dan fotocopy sendiri. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mencari maslaah lain. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan respon yang diberikan Penutur merespon pernyataan dari mitra tutur dengan mengatakan bahwa ia tidak mau mengganti masalah penelitian seperti yang sudah disampaikan mitra tutur, karena akan susah. Tututran tersebut dipandang sebagai tuturan yang tidak santun, karena penutur secara langsung menolak untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh mitra tutur dan memilih untuk mempertahankan egonya sendiri. Penutur merespon pernyataan dari mitra tutur dengan mengatakan bahwa ia tidak mau mengunduh materi dikarenakan Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur asertif yakni penutur terikat pada kebenaran proposisi yang diungkapkan. Dalam tturan tersebut, penutur menyatakan bahwa ia menolak untuk mengganti masalah. Penutur mengelluh bahwa mencari masalah itu susah. Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur asertif, yakni apa yang dikatakan penutur Ya Tidak Keterangan Triangulator 176

190 Sisiwa : Gak mau pak, ribet harus di download dulu 68 Guru: Tadi di IPS 2 mereka sudah bapak minta mengerjakan tugas yang harus di upload di komputer hari ini. kalian kemarin bapak minta kalian membawa EYD kan? nah sekarang buka komputer kalian, kerjakan soal yang ada di komputer tersebut, tapi dengan catatatn kalian tidak boleh membuka EYD. Kerjakan sebisa kalian. Untuk membuka eyd nanti di tugas yang kedua Siswa : Yah, gak mau pak. oleh penutur (siswa) kepada mitra tutur (guru) yang mengatakan bahwa penutur harus mengunduh dan memfotocopy materinya sendiri. Penutur adalah siswa dan tuturan terjadi di dalam kelas. Tuturan merupakan tanggapan yang diberikan penutur (siswa) kepada mitra tutur guru) yang mengatakan bahwa dalam mengerjakan tugas tidak boleh membuka EYD. akan ribet. Tuturan tersebut dianggap tidak santun karena penutur tidak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh mitra tutur. Penutur tidak mau bersepekat dengan mitra tutur dan hal ini akan menimbulkan perasaan tidak senang bagi mitra tutur. Penutur merspon pernyataan dari mitra tutur dengan mengatakan bahwa ia akan membuka EYD, karena jika tidak membukanya ia tidak bisa mengerjakan tugas. Tuturan tersebut dianggap tidak santun, karena penutur tidak mau seppendapat dengan mitra tutur, dan menolak untuk melakukan apa yang diperintahkan mitra tutur. Hal ini akan menimbulkan perdebatan antara penutur dan mitra tutur. sudah ia yakni kebenarannya. Dalam tuturan tersebut, penutur menyatakan bahwa ia tidak mau mengunduh materi karena ribet. Tuturan tersebut dituturkan menggunakan jenis tindak tutur asertif, yakni penutur terikat pada kebenaran proposisi yang diungkapkan. Dalam tuturan tersebut menyatakan bahwa ia akan tetap membuka EYD karena jika ia tidak membukanya maka ia tidak bisa mengerjakan tugas. 177

191 kalau gak bisa buka saya gk bisa jawab 178

192 179

193 180

BAB II KERANGKA TEORI. ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi

BAB II KERANGKA TEORI. ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi BAB II KERANGKA TEORI Kerangka teori ini berisi tentang teori yang akan digunakan dalam penelitian ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi tindak tutur;

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Fraser dalam Irawan (2010:7) mendefinisikan kesopanan adalah property

BAB II KAJIAN TEORI. Fraser dalam Irawan (2010:7) mendefinisikan kesopanan adalah property 7 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kesopanan Berbahasa Kesopanan berbahasa sangat diperlukan bagi penutur dan petutur. Menurut Fraser dalam Irawan (2010:7) mendefinisikan kesopanan adalah property associated with

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, terutama bagi kehidupan manusia. Setiap manusia akan

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, terutama bagi kehidupan manusia. Setiap manusia akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan suatu hal yang mutlak dibutuhkan oleh semua makhluk hidup, terutama bagi kehidupan manusia. Setiap manusia akan melakukan komunikasi dengan sesamanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan lainnya. Manusia pasti menggunakan bahasa untuk

BAB I PENDAHULUAN. manusia satu dengan lainnya. Manusia pasti menggunakan bahasa untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah sebuah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia

Lebih terperinci

Jurnal Sasindo Unpam, Volume 3, Nomor 3, Desember 2015 PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN

Jurnal Sasindo Unpam, Volume 3, Nomor 3, Desember 2015 PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN Dhafid Wahyu Utomo 1 Bayu Permana Sukma 2 Abstrak Di ranah formal, seperti di perguruan tinggi, penggunaan

Lebih terperinci

ANALISIS PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN DISKUSI KELAS SISWA KELAS XI SMA N 1 SLEMAN SKRIPSI

ANALISIS PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN DISKUSI KELAS SISWA KELAS XI SMA N 1 SLEMAN SKRIPSI ANALISIS PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN DISKUSI KELAS SISWA KELAS XI SMA N 1 SLEMAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sedang mengalami perubahan menuju era globalisasi. Setiap perubahan

BAB I PENDAHULUAN. sedang mengalami perubahan menuju era globalisasi. Setiap perubahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi. Berbahasa berkaitan dengan pemilihan

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA TALK SHOW

KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA TALK SHOW KESANTUNAN BERBAHASA POLITISI DALAM ACARA TALK SHOW Syamsul Arif Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan ABSTRAK Kesantunan berbahasa merupakan hal yang penting dalam kegiatan berkomunikasi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cara pengungkapan maksud dan tujuan berbeda-beda dalam peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. Cara pengungkapan maksud dan tujuan berbeda-beda dalam peristiwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cara pengungkapan maksud dan tujuan berbeda-beda dalam peristiwa berbahasa. Sebagian orang menggunakan bahasa lisan atau tulisan dengan menggunakan kata-kata yang jelas

Lebih terperinci

ABSTRACT: Kata kunci: kesantunan, tuturan, imperatif. maksim penghargaan, maksim kesederhanaan,

ABSTRACT: Kata kunci: kesantunan, tuturan, imperatif. maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, ABSTRACT: KESANTUNAN TUTURAN IMPERATIF MAHASISWA KELAS A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM RIAU ANGKATAN 2007 Oleh: Rika Ningsih This research

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi vital yang dimiliki oleh manusia dan digunakan untuk berinteraksi antarsesamanya. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KEGIATAN DISKUSI KELAS PADA SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA

PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KEGIATAN DISKUSI KELAS PADA SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KEGIATAN DISKUSI KELAS PADA SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berupasistemlambangbunyiujaranyang kompleks dan aktif. Kompleks,

BAB I PENDAHULUAN. berupasistemlambangbunyiujaranyang kompleks dan aktif. Kompleks, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakangPenelitian Bahasa adalah hasil budaya suatu masyarakat berupasistemlambangbunyiujaranyang kompleks dan aktif. Kompleks, karenaujarantersebutmengandung pemikiran-pemikiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi yang paling utama bagi manusia. Chaer (2010:11) menyatakan bahasa adalah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Chaer (2011: 1) mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi, bersifat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi bersifat arbitrer yang dipergunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi bersifat arbitrer yang dipergunakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan alat utama dalam komunikasi dan memiliki daya ekspresi dan informatif yang besar. Bahasa sangat dibutuhkan oleh manusia karena dengan bahasa manusia

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Tesis ini membahas tentang pelanggaran maksim-maksim prinsip

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Tesis ini membahas tentang pelanggaran maksim-maksim prinsip BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan Tesis ini membahas tentang pelanggaran maksim-maksim prinsip kerjasama dan prinsip kesopanan dalam drama seri House M.D. di mana tuturantuturan dokter Gregory House

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan oleh para pengguna bahasa itu sendiri. saling memahami apa yang mereka bicarakan. Fenomena ini terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan oleh para pengguna bahasa itu sendiri. saling memahami apa yang mereka bicarakan. Fenomena ini terjadi di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemakaian bahasa sebagai sarana komunikasi kurang begitu diperhatikan oleh para pengguna bahasa itu sendiri. Mereka berfikir bahwa yang terpenting dalam berkomunikasi

Lebih terperinci

ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN PEMBELAJARAN KELAS VIII E SMPN 2 KOTA BENGKULU TAHUN AJARAN 2016/2017

ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN PEMBELAJARAN KELAS VIII E SMPN 2 KOTA BENGKULU TAHUN AJARAN 2016/2017 10 ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN PEMBELAJARAN KELAS VIII E SMPN 2 KOTA BENGKULU TAHUN AJARAN 2016/2017 Ayu Wulan Dari 1, Dian Eka Chandra W. 2, dan Marina Siti Sugiyati 3 1,2,3 Program Studi

Lebih terperinci

Prinsip Kerjasama Dan Kesantunan Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Saintifik

Prinsip Kerjasama Dan Kesantunan Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Saintifik Prinsip Kerjasama Dan Kesantunan Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Saintifik I Made Rai Arta 1 Abstrak Tulisan ini memuat kajian prinsip kerjasama dan kesantunan yang berorientasi pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tetapi juga pada pemilihan kata-kata dan kalimat-kalimat yang digunakan,

BAB I PENDAHULUAN. tetapi juga pada pemilihan kata-kata dan kalimat-kalimat yang digunakan, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu ciri individu yang beretika adalah individu tersebut santun berbahasa. Santun berbahasa adalah bagaimana bahasa menunjukkan jarak sosial diantara para

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Dalam KBBI edisi ketiga (1990) dijelaskan yang dimaksud dengan

BAB II KAJIAN TEORI. Dalam KBBI edisi ketiga (1990) dijelaskan yang dimaksud dengan BAB II KAJIAN TEORI H. Kesantunan Berbahasa Kesantunan berbahasa merupakan salah satu kajian dari ilmu pragmatik. Jika seseorang membahas mengenai kesantunan berbahasa, berarti pula membicarakan pragmatik.

Lebih terperinci

MAKSIM PELANGGARAN KUANTITAS DALAM BAHASA INDONESIA. Oleh: Tatang Suparman

MAKSIM PELANGGARAN KUANTITAS DALAM BAHASA INDONESIA. Oleh: Tatang Suparman MAKSIM PELANGGARAN KUANTITAS DALAM BAHASA INDONESIA Oleh: Tatang Suparman FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2008 LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : MAKSIM PELANGGARAN KUANTITAS DALAM BAHASA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan media komunikasi yang paling canggih dan produktif. Kentjono (dalam Chaer, 2007: 32) mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah 1.1.1 Latar Belakang Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pak-pak Dairi, dan Batak Angkola Mandailing.

Lebih terperinci

Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep

Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep Andriyanto, Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia... 9 Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep Andriyanto Bahasa Indonesia-Universitas Negeri Malang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. interaksi antarpesona dan memelihara hubungan sosial. Tujuan percakapan bukan

BAB I PENDAHULUAN. interaksi antarpesona dan memelihara hubungan sosial. Tujuan percakapan bukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan berbicara menduduki posisi penting dalam kehidupan manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia melakukan percakapan untuk membentuk interaksi antarpesona

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. Menurut Kridalaksana

BAB I PENDAHULUAN. penyampai pesan antara manusia satu dengan lainnya. Menurut Kridalaksana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan sebuah sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Sesuai dengan fungsinya, bahasa memiliki peran sebagai penyampai pesan antara manusia

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERBAHASA GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMA NEGERI 2 LINTAU BUO

KESANTUNAN BERBAHASA GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMA NEGERI 2 LINTAU BUO KESANTUNAN BERBAHASA GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMA NEGERI 2 LINTAU BUO Oleh: Nuri Gusriani 1, Atmazaki 2, Ellya Ratna 3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pragmatik merupakan salah satu ilmu yang dimasukkan dalam kurikulum tahun Ilmu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pragmatik merupakan salah satu ilmu yang dimasukkan dalam kurikulum tahun Ilmu BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Pragmatik Pragmatik merupakan salah satu ilmu yang dimasukkan dalam kurikulum tahun 1994. Ilmu pragmatik merupakan salah satu pokok bahasan yang harus diberikan dalam pengajaran

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR DAN KESANTUNAN BERBAHASA DI KANTIN INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI

TINDAK TUTUR DAN KESANTUNAN BERBAHASA DI KANTIN INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI TINDAK TUTUR DAN KESANTUNAN BERBAHASA DI KANTIN INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI Oleh: Latifah Dwi Wahyuni Program Pascasarjana Linguistik Deskriptif UNS Surakarta Abstrak Komunikasi dapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 7 BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Sejenis yang Relevan Penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya sangat penting untuk diungkapkan karena dapat dipakai sebagai sumber informasi dan bahan acuan

Lebih terperinci

ANALISIS PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN DISKUSI KELAS SISWA KELAS XI SMA N 1 SLEMAN SKRIPSI

ANALISIS PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN DISKUSI KELAS SISWA KELAS XI SMA N 1 SLEMAN SKRIPSI ANALISIS PEMANFAATAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN DISKUSI KELAS SISWA KELAS XI SMA N 1 SLEMAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi

Lebih terperinci

PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN BERBAHASA PADA RUBRIK POJOK NUWUN SEWU

PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN BERBAHASA PADA RUBRIK POJOK NUWUN SEWU PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN BERBAHASA PADA RUBRIK POJOK NUWUN SEWU DALAM SURAT KABAR HARIAN SOLOPOS EDISI DESEMBER 2016 DAN IMPLIKASI TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA Skripsi Diajukan untuk

Lebih terperinci

FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI EKSPRESIF PADA TUTURAN TOKOH DALAM NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 KARYA ASMA NADIA

FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI EKSPRESIF PADA TUTURAN TOKOH DALAM NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 KARYA ASMA NADIA i FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI EKSPRESIF PADA TUTURAN TOKOH DALAM NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 KARYA ASMA NADIA SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Lebih terperinci

ARTIKEL E-JOURNAL. Oleh RASMIAYU FENDIANSYAH NIM JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

ARTIKEL E-JOURNAL. Oleh RASMIAYU FENDIANSYAH NIM JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI DAN PERLOKUSI PADA GURU MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR KELAS X SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 5 TANJUNGPINANG ARTIKEL E-JOURNAL Oleh RASMIAYU

Lebih terperinci

BAB 2 IHWAL PRAGMATIK: PRINSIP KERJA SAMA, KESOPANAN DAN TINDAK TUTUR. Berbicara mengenai maksud tuturan dalam melakukan tugas dari petugas

BAB 2 IHWAL PRAGMATIK: PRINSIP KERJA SAMA, KESOPANAN DAN TINDAK TUTUR. Berbicara mengenai maksud tuturan dalam melakukan tugas dari petugas 8 BAB 2 IHWAL PRAGMATIK: PRINSIP KERJA SAMA, KESOPANAN DAN TINDAK TUTUR Berbicara mengenai maksud tuturan dalam melakukan tugas dari petugas koperasi saat melakukan transaksi dengan nasabah atau sebaliknya

Lebih terperinci

WUJUD KESANTUNAN BERBAHASA DALAM BUKU AJAR BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR TINGKAT RENDAH KARANGAN MUHAMMAD JARUKI

WUJUD KESANTUNAN BERBAHASA DALAM BUKU AJAR BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR TINGKAT RENDAH KARANGAN MUHAMMAD JARUKI WUJUD KESANTUNAN BERBAHASA DALAM BUKU AJAR BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR TINGKAT RENDAH KARANGAN MUHAMMAD JARUKI Irfai Fathurohman Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendapat dari seorang penutur kepada mitra tutur. mengemukakan pendapat, yang perlu diperhatikan bukan hanya kebahasaan

BAB I PENDAHULUAN. pendapat dari seorang penutur kepada mitra tutur. mengemukakan pendapat, yang perlu diperhatikan bukan hanya kebahasaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia memperlakukan bahasa sebagai alat komunikasi. Keinginan dan kemauan seseorang dapat dimengerti dan diketahui oleh orang lain melalui bahasa dengan

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERTUTUR DIALOG TOKOH DALAM FILM SANG PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO. Oleh

KESANTUNAN BERTUTUR DIALOG TOKOH DALAM FILM SANG PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO. Oleh KESANTUNAN BERTUTUR DIALOG TOKOH DALAM FILM SANG PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO Oleh Yorista Indah Astari Nurlaksana Eko Rusminto Munaris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan e-mail: yoristaindahastari@ymail.com

Lebih terperinci

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Diajukan oleh: RIZKA RAHMA PRADANA A

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Diajukan oleh: RIZKA RAHMA PRADANA A KESANTUNAN BERBICARA PENYIAR RADIO SE-EKS KARESIDENAN SURAKARTA: KAJIAN PRAGMATIK Skripsi Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Diajukan

Lebih terperinci

ANALISIS KESOPANAN BERBAHASA PADA ANAK USIA 6-10 TAHUN DI DESA LUMBIR KECAMATAN LUMBIR KABUPATEN BANYUMAS

ANALISIS KESOPANAN BERBAHASA PADA ANAK USIA 6-10 TAHUN DI DESA LUMBIR KECAMATAN LUMBIR KABUPATEN BANYUMAS 1 ANALISIS KESOPANAN BERBAHASA PADA ANAK USIA 6-10 TAHUN DI DESA LUMBIR KECAMATAN LUMBIR KABUPATEN BANYUMAS SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Progam Studi

Lebih terperinci

REALISASI TINDAK TUTUR DIREKTIF MEMINTA DALAM INTERAKSI ANAK GURU DI TK PERTIWI 4 SIDOHARJO NASKAH PUBLIKASI

REALISASI TINDAK TUTUR DIREKTIF MEMINTA DALAM INTERAKSI ANAK GURU DI TK PERTIWI 4 SIDOHARJO NASKAH PUBLIKASI REALISASI TINDAK TUTUR DIREKTIF MEMINTA DALAM INTERAKSI ANAK GURU DI TK PERTIWI 4 SIDOHARJO NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan suatu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan atau dihindari dari kehidupan manusia. Chaer (2010:11) menyatakan bahasa adalah sistem, artinya,

Lebih terperinci

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN OLAHRAGA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN OLAHRAGA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN OLAHRAGA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG Oleh Atik Kartika Nurlaksana Eko Rusminto Mulyanto Widodo Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Lebih terperinci

PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA ANAK KOS RIZKY DI DESA DUKUH WALUH KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS BULAN MEI 2016

PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA ANAK KOS RIZKY DI DESA DUKUH WALUH KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS BULAN MEI 2016 PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA ANAK KOS RIZKY DI DESA DUKUH WALUH KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS BULAN MEI 2016 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian Syarat Mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Istilah dan teori tentang tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J. L.

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Istilah dan teori tentang tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J. L. BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret (KBBI, 2007: 588). 2.1.1 Tindak Tutur Istilah dan teori tentang

Lebih terperinci

KESANTUNAN IMPERATIF DALAM PIDATO M. ANIS MATTA: ANALISIS PRAGMATIK SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

KESANTUNAN IMPERATIF DALAM PIDATO M. ANIS MATTA: ANALISIS PRAGMATIK SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 KESANTUNAN IMPERATIF DALAM PIDATO M. ANIS MATTA: ANALISIS PRAGMATIK SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah HERU SUTRISNO

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR GURU DAN SISWA SMP PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN IMPLIKASINYA

TINDAK TUTUR GURU DAN SISWA SMP PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN IMPLIKASINYA TINDAK TUTUR GURU DAN SISWA SMP PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN IMPLIKASINYA Oleh Septia Uswatun Hasanah Mulyanto Widodo Email: septiauswatunhasanah@gmail.com Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Chaer, 2010: 22). Sehingga dalam bertutur tentu menggunakan bahasa dalam

BAB I PENDAHULUAN. (Chaer, 2010: 22). Sehingga dalam bertutur tentu menggunakan bahasa dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bertutur merupakan suatu kegiatan sosial. Bertutur merupakan realisasi dari berbahasa. Karena bahasa bersifat abstrak, sedangkan bertutur bersifat konkret (Chaer, 2010:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pikiran kita. Dengan demikian bahasa yang kita sampaikan harus jelas dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pikiran kita. Dengan demikian bahasa yang kita sampaikan harus jelas dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbahasa adalah kebutuhan utama bagi setiap individu dalam kehidupan. Bahasa pada dasarnya dapat digunakan untuk menyampaikan maksud yang ada di dalam pikiran kita.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38).

BAB 1 PENDAHULUAN. Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38). Komunikasi merupakan suatu hal penting dalam membangun relasi antarindividu. Dengan adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam teori semantik, atau dengan perkataan lain, membahas segala aspek makna

BAB I PENDAHULUAN. dalam teori semantik, atau dengan perkataan lain, membahas segala aspek makna BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik, atau dengan perkataan lain, membahas segala aspek makna ucapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Linguistik memiliki berbagai cabang disiplin ilmu. Cabang-cabang

BAB I PENDAHULUAN. Linguistik memiliki berbagai cabang disiplin ilmu. Cabang-cabang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Linguistik memiliki berbagai cabang disiplin ilmu. Cabang-cabang tersebut diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik dan sebagainya. Berbeda

Lebih terperinci

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA PADA PERCAKAPAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 GEYER

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA PADA PERCAKAPAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 GEYER REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA PADA PERCAKAPAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 GEYER NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- I Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap manusia berkomunikasi menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap manusia berkomunikasi menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Suatu kehidupan masyarakat sehari-hari komunikasi sangat penting digunakan untuk berinteraksi antar manusia di dalam lingkungan masyarakat. Setiap manusia

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU TAMAN KANAK-KANAK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR TK AISYIYAH 29 PADANG

TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU TAMAN KANAK-KANAK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR TK AISYIYAH 29 PADANG TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU TAMAN KANAK-KANAK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR TK AISYIYAH 29 PADANG Nensi Yuferi 1), Hasnul Fikri 2), Gusnetti 2) 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia 2)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan saling berkomunikasi dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan saling berkomunikasi dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan saling berkomunikasi dan memberikan informasi kepada sesama. Dalam hal ini, keberadaan bahasa diperlukan sebagai

Lebih terperinci

ANALISIS TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 TANJUNGPINANG

ANALISIS TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 TANJUNGPINANG ANALISIS TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 TANJUNGPINANG ARTIKEL E-JOURNAL Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DI KELAS VIII SMPN 1 LIMBUR KABUPATEN BUNGO

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DI KELAS VIII SMPN 1 LIMBUR KABUPATEN BUNGO KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DI KELAS VIII SMPN 1 LIMBUR KABUPATEN BUNGO Sudaryono, Irma Suryani, Kasmini Putri* ABSTRACT FKIP Universitas Jambi This article

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebencian. Benci (a) ialah sangat tidak suka dan kebencian (n) ialah sifat-sifat benci

BAB I PENDAHULUAN. kebencian. Benci (a) ialah sangat tidak suka dan kebencian (n) ialah sifat-sifat benci BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam berinteraksi dengan yang lain, manusia memiliki emosi yang dapat diekspresikan melalui banyak hal. Salah satu contoh emosi tersebut ialah perasaan kebencian.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan Yang Relevan Sofa,S.IP(2008) yang menulis tentang, Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara bagi Siswa SMPN 3 Tarakan Kalimantan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa berfungsi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi atau interaksi sosial. Sebagai alat komunikasi, bahasa dapat

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588).

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588). BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini ada empat, yaitu tuturan,

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini ada empat, yaitu tuturan, BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep yang digunakan dalam penelitian ini ada empat, yaitu tuturan, perkawinan, tindak tutur, dan konteks situasi. Keempat konsep ini perlu

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Relevan 1. Penelitian dengan judul Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesopanan dalam Percakapan Pembawa Acara Musik Inbox Edisi Desember 2015 di Stasiun Televisi

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SEPANJANG PANTAI PADANG DALAM HAL KESANTUNAN BERBAHASA UNTUK KEMAJUAN PARAWISATA

UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SEPANJANG PANTAI PADANG DALAM HAL KESANTUNAN BERBAHASA UNTUK KEMAJUAN PARAWISATA UPAYA PENINGKATAN KESADARAN PEDAGANG KAKI LIMA DI SEPANJANG PANTAI PADANG DALAM HAL KESANTUNAN BERBAHASA UNTUK KEMAJUAN PARAWISATA Gusdi Sastra dan Alex Dermawan Fak. Sastra Universitas Andalas Abstrak

Lebih terperinci

KESANTUNAN TUTURAN IMPERATIF DALAM KOMUNIKASI ANTARA PENJUAL HANDPHONE DENGAN PEMBELI DI MATAHARI SINGOSAREN

KESANTUNAN TUTURAN IMPERATIF DALAM KOMUNIKASI ANTARA PENJUAL HANDPHONE DENGAN PEMBELI DI MATAHARI SINGOSAREN KESANTUNAN TUTURAN IMPERATIF DALAM KOMUNIKASI ANTARA PENJUAL HANDPHONE DENGAN PEMBELI DI MATAHARI SINGOSAREN NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu berinterasi dengan orang lain. Dalam melakukan interaksi manusia harus menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut. 1. Jenis tindak tutur dalam iklan kampanye

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Manusia sebagai

BAB I PENDAHULUAN. digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Manusia sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kegiatan komunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Manusia sebagai makhluk individual

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa pada prinsipnya merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa pada prinsipnya merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa pada prinsipnya merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat untuk menunjukkan identitas masyarakat pemakai bahasa. Masyarakat tutur merupakan masyarakat

Lebih terperinci

ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA TRANSAKSI TAWAR MENAWAR PENJUAL DAN PEMBELI LAIN JENIS KELAMIN DI PASAR TRADISONAL KOTA BATU SKRIPSI

ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA TRANSAKSI TAWAR MENAWAR PENJUAL DAN PEMBELI LAIN JENIS KELAMIN DI PASAR TRADISONAL KOTA BATU SKRIPSI ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA TRANSAKSI TAWAR MENAWAR PENJUAL DAN PEMBELI LAIN JENIS KELAMIN DI PASAR TRADISONAL KOTA BATU SKRIPSI Oleh SUSANTI FITRIANA PATRISIA NIM 201010080311008 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERBAHASA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIAANGKATAN DENGAN KARYAWAN UNESA. Pembimbing Dra.

KESANTUNAN BERBAHASA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIAANGKATAN DENGAN KARYAWAN UNESA. Pembimbing Dra. KESANTUNAN BERBAHASA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIAANGKATAN 2008--2011 DENGAN KARYAWAN UNESA Dwi Santoso S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam berbahasa diperlukan kesantunan, karena tujuan berkomunkasi bukan hanya bertukar pesan melainkan menjalin hubungan sosial. Chaer (2010:15) mengatakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sesuatu yang dipertuturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. sesuatu yang dipertuturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Implikatur Percakapan Penutur dan mitra tutur dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar karena mereka berdua memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejatinya, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana berkomunikasi antarsesama. Akan tetapi, tidak jarang bahasa juga digunakan oleh manusia sebagai sarana

Lebih terperinci

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012 TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012 NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI Untuk Memenuhi sebagai Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa sebagai alat komunikasi, digunakan oleh anggota masyarakat untuk berinteraksi, dengan kata lain interaksi atau segala macam kegiatan komunikasi di dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam kehidupan untuk menciptakan komunikasi yang baik di antara penutur dan lawan tutur. Kesantunan berbahasa memiliki

Lebih terperinci

BENTUK KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI MTS MUHAMMADIYAH 4 TAWANGHARJO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI

BENTUK KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI MTS MUHAMMADIYAH 4 TAWANGHARJO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI BENTUK KALIMAT IMPERATIF OLEH GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI MTS MUHAMMADIYAH 4 TAWANGHARJO KABUPATEN WONOGIRI NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dapat dilakukan oleh manusia melalui bahasa. Chaer (2010:14)

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dapat dilakukan oleh manusia melalui bahasa. Chaer (2010:14) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dalam kehidupannya memerlukan komunikasi untuk dapat menjalin hubungan dengan manusia lain dalam lingkungan masyarakat. Komunikasi dapat dilakukan oleh

Lebih terperinci

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM PERCAKAPAN PEMBAWA ACARA MUSIK INBOX EDISI DESEMBER 2015 DI STASIUN TELEVISI SCTV

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM PERCAKAPAN PEMBAWA ACARA MUSIK INBOX EDISI DESEMBER 2015 DI STASIUN TELEVISI SCTV 1 PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM PERCAKAPAN PEMBAWA ACARA MUSIK INBOX EDISI DESEMBER 2015 DI STASIUN TELEVISI SCTV SKRIPSI Disusun sebagai Syarat Mencapai Derajat Sarjana Disusun

Lebih terperinci

ANALISIS PRAGMATIK PELANGGARAN TINDAK TUTUR GURU DI SMA LENTERA

ANALISIS PRAGMATIK PELANGGARAN TINDAK TUTUR GURU DI SMA LENTERA Vol. 4 No.1 Juli 2014 ISSN 2089-3973 ANALISIS PRAGMATIK PELANGGARAN TINDAK TUTUR GURU DI SMA LENTERA Indah Rahmita Sari FKIP Universitas Jambi ABSTRACT This article is aimed to explain the disobedience

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesantunan berbahasa pada hakikatnya erat kaitannya dengan hubungan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesantunan berbahasa pada hakikatnya erat kaitannya dengan hubungan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesantunan berbahasa pada hakikatnya erat kaitannya dengan hubungan sosial dalam masyarakat. Kesantunan berbahasa sendiri merupakan pengungkapan gagasan, ide atau pendapat

Lebih terperinci

ANALISIS CAMPUR KODE PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS DI BANJAR TESIS. Oleh : Budi Setyo Nugroho NIM

ANALISIS CAMPUR KODE PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS DI BANJAR TESIS. Oleh : Budi Setyo Nugroho NIM ANALISIS CAMPUR KODE PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS DI BANJAR TESIS Oleh : Budi Setyo Nugroho NIM 1420104002 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PROGRAM PASCA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan dengan sesama anggota masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada prinsipnya bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat untuk menunjukkan identitas masyarakat pemakai bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya.

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL PRASASTI (Pragmatik: Sastra dan Linguistik)

SEMINAR NASIONAL PRASASTI (Pragmatik: Sastra dan Linguistik) IMPLEMENTASI KESANTUNAN LEECH TERHADAP KEHIDUPAN BERMASYARAKAT (Suatu Strategi untuk Menciptakan Kerukunan Hidup Bermasyarakat yang Damai dan Harmonis) Nisa Afifah S111308007 Universitas Sebelas Maret

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik

BAB I PENDAHULUAN. pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan sesuatu yang bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. satu potensi mereka yang berkembang ialah kemampuan berbahasanya. Anak dapat

I. PENDAHULUAN. satu potensi mereka yang berkembang ialah kemampuan berbahasanya. Anak dapat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Taman kanak-kanak merupakan salah satu sarana pendidikan yang baik dalam perkembangan komunikasi anak sejak usia dini. Usia empat sampai enam tahun merupakan masa

Lebih terperinci

Realisasi Tuturan dalam Wacana Pembuka Proses Belajar- Mengajar di Kalangan Guru Bahasa Indonesia yang Berlatar Belakang Budaya Jawa

Realisasi Tuturan dalam Wacana Pembuka Proses Belajar- Mengajar di Kalangan Guru Bahasa Indonesia yang Berlatar Belakang Budaya Jawa REALISASI TUTURAN DALAM WACANA PEMBUKA PROSES BELAJARMENGAJAR DI KALANGAN GURU BAHASA INDONESIA YANG BERLATAR BELAKANG BUDAYA JAWA NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Zeta_Indonesia btarichandra Mimin Mintarsih, 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Zeta_Indonesia btarichandra Mimin Mintarsih, 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Saat ini media sosial twitter banyak digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk memperoleh informasi maupun untuk berkomunikasi. Pengguna

Lebih terperinci

KESANTUNAN BERBAHASA PADA TUTURAN SISWA SMP

KESANTUNAN BERBAHASA PADA TUTURAN SISWA SMP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh dewinurhayati0403@gmail.com, hendaryan@unigal.ac.id ABSTRAK Bahasa dan kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan. Bahasa digunakan penuturnya untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa manusia akan sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesamanya. Selain itu bahasa juga menjadi

Lebih terperinci

ANALISIS KESANTUNAN BAHASA DALAM KONTEKS PEMBELAJARAN TEKS NEGOSIASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 MEDAN TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

ANALISIS KESANTUNAN BAHASA DALAM KONTEKS PEMBELAJARAN TEKS NEGOSIASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 MEDAN TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017 ANALISIS KESANTUNAN BAHASA DALAM KONTEKS PEMBELAJARAN TEKS NEGOSIASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 MEDAN TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017 Oleh Intan Br Tarigan (intansepty68@gmail.com) Dr. Abdurahman AS, M.Hum.

Lebih terperinci

Oleh: Budi Cahyono, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ABSTRAK

Oleh: Budi Cahyono, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia   ABSTRAK REALISASI PRINSIP KESOPANAN BERBAHASA INDONESIA DI LINGKUNGAN SMA MUHAMMADIYAH PURWOREJO TAHUN 2012 DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA DI SMA Oleh: Budi Cahyono, Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi keinginannya sebagai mahluk sosial yang saling berhubungan untuk

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi keinginannya sebagai mahluk sosial yang saling berhubungan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Melalui bahasa manusia dapat berkomunikasi dengan sesama untuk memenuhi keinginannya sebagai mahluk sosial yang saling berhubungan untuk menyatakan pikiran dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas dan sebagainya. mengingat jumlah bahasa atau variabel bahasa yang digunakan.

BAB I PENDAHULUAN. ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas dan sebagainya. mengingat jumlah bahasa atau variabel bahasa yang digunakan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial atau makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Oleh karena itu, dalam proses interaksi sosial manusia, peristiwa komunikasi tidak pernah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan usia pada tiap-tiap tingkatnya. Siswa usia TK diajarkan mengenal

BAB I PENDAHULUAN. dengan usia pada tiap-tiap tingkatnya. Siswa usia TK diajarkan mengenal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah sebagai lembaga untuk belajar mengajar merupakan tempat untuk menerima dan memberi pelajaran serta sebagai salah satu tempat bagi para siswa untuk menuntut

Lebih terperinci