TRADISI GONDANG HASAPI BATAK TOBA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TRADISI GONDANG HASAPI BATAK TOBA"

Transkripsi

1 TRADISI GONDANG HASAPI BATAK TOBA Kajian Fungsi Sosial Dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Huta Tinggi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Mendapatkan gelar Sarjana Sosial Dalam bidang Antropologi Oleh Junike Sihombing DEPARTEMEN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLIRIK HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh: Nama :Junike Sihombing Nim : Departemen :Antropologi Sosial Judul :Tradisi Gondang Hasapi Batak Toba: Kajian Fungsi Sosial Gondang Hasapi Dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Huta Tinggi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir Pembimbing Skripsi, Ketua Departemen, Prof. Drs. Mauly Purba, MA. Ph.D Dr. Fikarwin Zuska NIP NIP Dekan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dr. Muryanto Amin, S.sos, M.Si NIP

3 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PERNYATAAN ORIGINALITAS Tradisi Gondang Hasapi Batak Toba: Kajian Fungsi Sosial Gondang Hasapi Dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Huta Tinggi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir SKRIPSI Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan di sini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya. Medan, Desember 2016 Junike Sihombing 3

4 ABSTRAK Junike sihombing, Judul skripsi: Tradisi Gondang Hasapi Batak Toba: Kajian Fungsi Sosial Gondang Hasapi dalam Upacara Ritual Sipaha Sada Parmalim di Hutatinggi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Skripsi terdiri dari 5 bab, 105 halaman, lampiran, glosarium dan 14 gambar. Tulisan ini mengkaji fungsi sosial yang terdapat di dalam penggunaan gondang hasapi pada upacara ritual parmalim. khususnya pada upacara ritual sipaha sada yang dilaksanakan setiap tahunnya untuk memeringati hari kelahiran Tuhan Simarimbulubosi. Penelitian ini dilakukan di Hutatinggi Desa Pardomuan Nauli, yang berada di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Desa ini merupakan satu-satunya pusat ajaran Ugamo Malim yang ada diseluruh Indonesia. Ada beberapa upacara keagamaan yang dilaksanakan dalam aturan adat dan kehidupan masyarakat. Salah satu diantaranya adalah sipaha sada yang dilakukan untuk memeringati hari kelahiran Tuhan Simarimbulubosi dengan menggunakan gondang hasapi. Metode etnografi secara holistik yang bersifat kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan informasi data dan penjelasan dari masyarakat yang mereka terima dari proses pembelajaran dan pewarisan budaya secara turun temurun, baik secara lisan maupun tulisan dari generasi sebelumnya. Tehnik pengumpulan data yang digunakan ialah melalui wawancara dan observasi kepada masyarakat yang memiliki pengetahuan terkait masalah penelitian, studi pustaka, dan pengumpulan data lainnya. Permasalahan yang dibahas adalah apakah yang menjadi fungsi sosial dari tradisi penggunaan gondang hasapi yang khusus digunakan dalam upacara ritual sipaha sada parmalim. hasil dari penelitian dilapangan menunjukkan bahwa penggunaan gondang hasapi dalam upacara ritual tersebut sangat erat hubungannya dengan masyarakat karena merupakan sebuah media penyampaian yang sah. Terdapat beberapa fungsi dan makna sosial bagi kehidupan masyarakat parmalim dengan adanya gondang hasapi dalam pelaksanaan sipaha sada. Kesimpulannya adalah keberadaan gondang hasapi merupakan media penyampaian dan juga merupakan stempel pengesahan untuk upacara yang sedang dilaksanakan. Terdapat beberapa fungsi sosial yang terkandung dalam penggunaan gondang hasapi di upacara sipaha sada tersebut. Dan sampai sekarang originalitas dari pelaksanakaan upacara keagamaan itu masih dijalankan tanpa menghilangkan satu unsurpun. Berdasarkan pengalaman dilapangan, pengetahuan dan pendapat masyarakat mengenai makna dan fungsi gondang hasapi menjelaskan bahwa penggunaan gondang hasapi dalam upacara ritual sipaha sada sangatlah berperan penting dan merupakan salah satu faktor utama terlaksananya upacara ritual tersebut. Kata kunci: Ugamo Malim, Sipaha Sada, Gondang Hasapi 4

5 UCAPAN TERIMA KASIH Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas berkat, kasih karunia, dan anugrah-nya sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul Gondang Hasapi Parmalim (Mengkaji Fungsi Sosial Gondang Hasapi Dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Huta Tinggi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir). Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai sarjana S1 Antropologi Sosial di Departemen Antropologi, Fakulta Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada keluarga saya yang senantiasa sangat mengasihi, mendidik, menjaga, dan memotivasi saya. Terutama kepada orang tua tunggal saya, yaitu: ibu saya Pangibulan Eva Norma Monalisa br. Tumorang yang telah menjaga, merawat, membimbing, menyekolahkan saya sendirian dengan sekuat tenaga hingga tidak ada Ibu sekuat beliau, kakak saya tersayang Vera Kristina br. Hombing yang selalu membantu dan menyemangati, tulang saya tercinta Bosmer Situmorang yang membantu saya selama perkuliahan, beliaulah yang selalu memberi nasihat dan mengajari saya arti dari sebuah mimpi. Opung saya tersayang Setia Tamba, serta keluarga saya yang lain, Tulang leo Situmorang, Tulang Rio Situmorang, Tulang Zeus Situmorang dan seluruh keluarga besar OP. Leo Situmorang yang tak bisa saya sebut satu persatu. Tidak lupa juga saya 5

6 sampaikan kepada Alm. Nelly Montinim Situmorang S.pd tante saya yang mengharapkan saya berhasil dimasa hidupnya dan juga kepada Alm. Maraden Sihombing selaku Ayah saya yang telah meninggalkan saya sebelum saya lahir kedunia. Saya juga menyampaikan rasa terima kasih dengan tulus dan sebesarbesarnya kepada Bapak Prof. Drs. Mauly Purba, MA. P.hd., selaku dosen pembimbing skripsi saya yang telah banyak memberi ilmu, waktu, dan perhatian serta bimbingannya kepada saya mulai dari awal penyusunan proposal sampai akhir penyelesaian skripsi ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Bapak Dr. Muryanto Amin, S.sos, M.Si. kepada ketua Departemen Antropologi yang dengan senantiasa dengan baik dan memberikan arahan dari mulai pengajuan judul, pembuatan proposal hingga saat ini, Bapak Dr, Fikarwin Zuska dan Bapak Drs. Agustrisno, MSP selaku Sekretaris Departemen Antropologi juga sebagai Dosen Pembimbing Akademik saya yang selalu memberikan dukungan dan motivasi selama perkuliahan. Saya juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada camat laguboti yang telah memberi izin penelitian dan mengeluarkan surat-surat yang saya perlukan dalam rangka penelitian saya. Terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada kepala desa pardomuan nauli yang menaungi desa lokasi penelitian saya di Huta Tinggi dan juga mengizinkan saya penelitian di desa tersebut. Terutama terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ulu Punguan Parmalim Opung Raja Marnangkok Naipospos yang selalu memberi saya senyuman hangat ketika saya selalu hadir dalam setiap Mar ari sabtu ataupun pada 6

7 kesempatan-kesempatan lainnya beserta juga istri beliau, Bapak Simanjuntak selaku ihutan di Huta Tinggi beserta keluarga, serta seluruh masyarakat parmalim yang sangat mencintai saya dan mengasihi saya, membantu saya selama penelitian terutama kepada Tulang Sitorus beserta istri dan juga keluarga yang sudah memberi banyak sekali informasi dan file yang saya perlukan juga yang telah menerima saya dengan baik setelah butuh waktu yang lama untuk menemui beliau, Tomi Tongam Sitorus, Hendro Butar-butar beserta keluarga yang sangat baik hati selalu menerima saya dan juga memberi saya informasi yang sangat banyak serta kasih yang saya rasakan, Opung Silaen yang memberi saya pengajaran tentang bagaimana hidup sebagai seorang malim yang sesungguhnya dalam kehidupan dan memberi ilmu pengetahuan filsafat yang tidak pernah saya dengarkan sebelumnya yang dapat menambah wawasan saya dan memberi saya waktu, Sahala Naipospos yang memberi motivasi yang bisa saya gunakan dalam penelitian saya, Ibu Mamak Gita yang selalu ramah dan selalu menganggap saya keluarga dan selalu peduli dalam setiap kesempatan, uli gurning, serta Bapak Monang Naipospos adik dari Opung Raja Naipospos yang sangat ramah dan mengajari saya dalam penelitian juga memberi informasi yang baik dalam penelitian saya kurang lebih dua bulan, serta masih banyak lagi masyarakat parmalim yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang selalu menerima dan memberi saya senyuman hangat, mereka adalah informan sekaligus keluarga baru saya karena keramahan, kebaikan dan kepedulian mereka dalam membantu penyelesaian skripsi saya. 7

8 Pada kesempatan ini, saya juga mengucapkan terima kasih kepada temanteman mahasiswa/i Antropologi FISIP USU angkatan 2012 atas segala hal yang kita lalui bersama selama ini, atas pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan selama masa perkuliahan, terutama kepada Jayanti M Lubis teman saya serumah dan teman saya bermain, Ruth Oktodora Ginting yang membantu saya selama seminggu dilapangan penelitian, Erikson Silaban, Bill Tancer Situmorang, Jupentus Pardosi, Fritz Okto Saragih yang pernah merajut asa bersama dengan saya serta teman yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Begitu juga kepada senior-senior saya tercinta angkatan 2009, 2010, 2011, serta junior-junior saya angkatan 2013, 2014, 2015 serta Saya juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada pihak balar yang mengizinkan saya mulai dari magang, penyusunan proposal hingga penyusunan skripsi untuk tetap berkunjung dan menambah referensi buku-buku yang saya perlukan. Terima kasih untuk seluruh staf pengajar Departemen Antropologi FISIP USU yang memberikan begitu banyak ilmu, wawasan serta pengetahuan baru bagi saya selama perkuliahan. Demikian juga kepada staf administrasi Departemen Antropologi Kak Nurhayati, juga kepada bagian pendidikan Departemen Antropologi Kak Sofi yang berperan penting dalam suratsurat dan keperluan saya selama ini. Kiranya Tuhan membalas segala kebaikan yang saya terima selama ini. Saya yakin bahwa masih banyak ucapan terimakasih yang tidak saya sebutkan dan masig banyak hal-hal yang kurang dalam penulisan skripsi ini. Saya berharap akan adanya saran, masukan, dan kritik bagi skripsi ini, sehingga 8

9 tercapainya suatu tulisan yang baik dan berguna bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Medan, Desember 2016 Penulis, Junike Sihombing 9

10 RIWAYAT SINGKAT PENULIS JUNIKE SIHOMBING atau yang akrab dipanggil Juni ataupun Nike, lahir di Tanjung Bunga Desa Siharjulu Kec. Lintongnihuta Kab. Humbang hasundutan pada tanggal 13 juni 1994 dari pasangan M. Sihombing ( + ) dan P. br Tumorang, adik dari Vera K sihombing yang merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Negri lintongnihuta yang kemudian melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Negri 2 Lintongnihuta, dan melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Negri 1 Laguboti. Hingga pada saat ini melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di. Diperguruan tinggi ini penulis menjalani/mengambil program studi Antropologi Sosial yang dinaungi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Adapun alamat aktif yang bisa dihubungi yaitu whatsap yaitu Selama perkuliahan penulis banyak mengikuti beberapa kegiatan dalam aktivitas kampus, adapun kegiatan diantaranya adalah : 10

11 1. Peserta dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru antropologi 2012 di sibolangit, 2. Peserta seminar training of fasilitator ( TOF ) angkatan ke V di Hotel Candhi jln. Darusalam no. 124 Medan tahun 2013, 3. Peserta natal antropologi tahun 2012 dan Panitia pelaksanaan natal antropologi tahun 2013, 4. Penerima beasiswa yang diberikan Bank BNI pada tahun 2013, 5. Panitia bayangan pelaksanaan kegiatan penerimaan mahasiswa baru tahun 2013 dan menjadi panitia inti dan menjadi kordinator dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru tahun 2014, 6. Peserta dalam pelaksanaan seminar pelecehan seksual pada perempuan di simalingkar, medan yang dilaksanakan oleh LSM, 7. Menjadi Sekretaris INSAN ( Ikatan Dongan Sabutuha Antropologi ) tahun 2015 hingga saat ini. 8. Sebagai tim survei dalam Survei Permasalahan Publik di Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam yang dilaksanakan oleh MRC (Media Research Center). 9. Peserta dalam seminar Kementerian Luar Negeri yang dilaksanakan di Biro Rektor USU. 10. Peserta workshop IFGF Medan dengan pembahasan Perspective on LGBT, serta banyak kegiatan lain didalam maupun diluar perkuliahan. 11

12 LAMPIRAN Foto Daftar interview guide Daftar Nama Informan Surat balasan dari kecamatan Glosarium 12

13 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyelesaian skripsi ini dan segala pelengkap lainnya dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dalam bidang Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,. Judul skripsi ini adalah Tradisi Gondang Hasapi Batak Toba: Kajian Fungsi Sosial Dalam Upacara Ritual Parmalim Sipaha Sada di Huta Tinggi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Skripsi ini berisi kajian yang berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan masyarakat parmalim yang tinggal di Huta Tinggi Laguboti, serta studi pustaka dan sumber internet. Skripsi ini membahas mengenai pengetahuan, pendapat dan perasaan masyarakat parmalim mengenai penggunaan dalam ritual Sipaha Sada sebagai salah satu pelengkap pengadaan acara tersebut. Pembahasan tersebut dikhususkan pada pengetahuan, perasaan terutama fungsi sosial yang terdapat dalam penggunaan gondang hasapi dalam ritual Sipaha Sada, bagaimana masyarakat parmalim mengartikan atau menghayati hal-hal yang terkandung seperti alunan musik itu ataupun hal lain dalam musik gondang hasapi, yang dapat membuat pendengarnya terutama masyarakat yang menganut ajaran parmalim merasakan hal yang berbeda, merasakan suka cita atau ekspresi-ekspresi yang timbul seperti tarian, gerak tubuh, mimik dll dengan mendengar gondang tersebut. 13

14 Dalam berbagai ritual-ritual parmalim ataupun kebudayaan yang dimiliki oleh berbagai suku bangsa tentu beberapa diantaranya tidak asing lagi bila kita mendengarkan lantunan ataupun alunan-alunan. Seperti dalam ritual sipaha sada parmalim digunakan musik gondang hasapi yang melengkapi berlangsungnya acara tersebut. Ada ekspresi tersendiri yang timbul dalam jiwa masing-masing msyarakat parmalim, ada gejolak tersendiri yang menggerakkan masyarakat yang mengikuti acara sipaha sada sehingga muncullah fungsi sosial dalam raga setiap pengikut parmalim begitu juga dapat mempengaruhi hal yang sama bagi masyarakat diluar ajaran ini. Pengetahuan dan pendapat yang mereka miliki saat ini adalah warisan yang di turun-temurunkan oleh generasi sebelumnya. Dalam konteksnya bahwa dalam ritual sipaha sada tidak pernah berubah jenis ataupun aliran musik yang digunakan, akan tetapi dari dulu hingga sekarang Gondang Hasapi lah yang selalu digunakan untuk melengkapi adanya ritual tersebut. Dalam penggunaannya, mereka akan merasa lebih lengkap, lebih dekat dan lebih fokus untuk melaksanakan acara ini hingga mereka akan dengan tidak sadar dapat melakukan hal-hal diluar dugaan mereka seperti menari dengan begitu ahlinya atau beberapa dari antara mereka akan kesurupan. Masyarakat parmalim sangat mencintai gondang dan tidak pernah ada ritual-ritual tanpa bunyi-bunyian, mereka selalu menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi-generasi berikutnya. Jika masyarakat generasi sebelumnya jumlahnya masih bisa dihitung maka sekarang jumlah mereka sudah semakin banyak dan selalu mempertahankan setiap hal yang terkait dalam setiap hal-hal 14

15 yang mereka lakukan di lingkungan dan dalam kehidupan sehari-hari termasuk penggunaan gondang hasapi dalam ritual sipaha sada parmalim. Pada tulisan ini, saya juga membuat daftar pustaka dan lampiran-lampiran seperti pedoman wawancara, peta lokasi penelitian skripsi, surat-surat penelitian, serta gambar-gambar yang saya dapatkan selama proses penelitian. Saya menyadari dan yakin akan adanya kekurangan dalam skripsi ini baik dalam penulisan, pengkajian dan lainnya karena sebuah pribahasa mengatakan tak ada gading yang tak retak. Sehingga, saya akan dengan senang hati menerima saran, masukan, dan kritikan agar terciptanya sebuah skripsi yang baik dan berguna bagi mahasiswa, masyarakat ataupun pihak pembaca dari berbagai kalangan terutama mahasiswa Antropologi Sosial USU. Demikian pengantar dari saya, semoga skripsi ini bermanfaat memberikan kontribusi demi kemajuan ilmu pengetahuan. Medan, Desember 2016 Penulis Junike Sihombing 15

16 DAFTAR ISI Halaman persetujuan... i Halaman pengesahan... ii Pernyataan originalitas... iii Abstrak... iv Ucapan terimakasih... vi Riwayat singkat penulis... xi Kata pengantar... xiii Daftar isi... xvi Daftar gambar... xix Lampiran BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Rumusan Maslah Lokasi Penelitian Tujuan dan Manfaat Penelitian Tinjauan Pustaka Metode Penelitian Pengalaman Lapangan BAB II GAMBARAN UMUM HUTATINGGI 2.1.Sejarah Singkat Etnis Batak Toba Letak dan Keadaan Hutatinggi Sosial Pendidikan

17 2.3.2.Sistem Religi Kesehatan Sarana dan Prasarana Sistem Sosial Komunikasi dan Paeriwisata Perdagangan BAB III TRADISI GONDANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA 3.1.Pengertian Konsep Gondang Jenis-jenis Ensambel Gondang Ensambel Gondang Sabangunan Ensambel Gondang Hasapi Ensambel Gondang Bulu Gondang dan Tortor Penggunaan Gondang Dalam Berbagai Upacara Adat Pada Masyarakat Batak Toba Tradisi Gondang dan Tortor dalam Upacara Parmalim Gondang dan Tortor dalam Sipaha Lima Gondang dan Tortor dalam Sipaha Sada Penggunaan Tortor di dalam Ritual BAB IV FUNGSI SOSIAL GONDANG HASAPI DALAM UPACARA SIPAHA SADA PADA KOMUNITAS PARMALIM 4.1.Pengetahuan Masyarakat Parmalim Tentang Gondang Hasapi Fungsi Sosial Musik Gondang Hasapi Fungsi Kesinambungan Kebudayaan Fungsi Komunikasi

18 4.2.3.Fungsi Pengesahan Lembaga Sosial dan Upacara Keagamaan Fungsi Reaksi Jasmani Fungsi Pengungkapan Emosional BAB V KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 18

19 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di Hutatinggi, Laguboti Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara masih terdapat sebuah komunitas yang dengan tetap teguh menganut agama nenek moyang suku Batak Toba yaitu Ugamo Malim. (Sembiring, 2012:1-2) Penganut Ugamo Malim ini disebut Parmalim. Mereka meyakini keberadaan Tuhan Pencipta Alam Semesta dengan menyebutnya sebagai Debata Mulajadi Nabolon. Praktek-praktek ritual masyarakat ini berhubungan dengan Mulajadi Nabolon yang disebut Ugamo sementara inti ajaran dalam menjalankan hubungan itu disebut Hamalimon. Berdasarkan catatan sejarah dan data yang dikumpulkan dari penganut agama ini, organisai Parmalim Hutatinggi dirintis oleh Raja Mulia Naipospos 1. Saat ini Parmalim Hutatinggi dipimpin Raja Marnakkok Naipospos 2, cucu Raja Mulia Naipospos. Beliau inilah yang memimpin setiap upacara-upacara ritual yang dilakukan Parmalim Hutatinggi. Sebagai salah satu agama suku Batak Toba, Ugamo Malim juga menjalankan norma-norma yang terdapat dalam aturan suku. Agama suku ini mempunyai beberapa praktek ritual/norma yang menjadi keharusan antara lain adalah Mardebata (MarTuhan), Martutur (menjunjung tinggi kekerabatan), Marpatik (menjalankan aturan), Maruhum (menghormati hukum), Maradat 1 Raja Mulia Naipospos meninggal dunia pada 18 Februari 1956, beliau adalah perintis Agama Malim di Hutatinggi, Laguboti. 2 Raja Marnakkok Naipospos baru saja meninggal dunia tepatnya pada hari rabu, 14 september 2016, masih belum diketahui siapa nantinya yang akan menggantikan posisi beliau dan beliau adalah salah satu informan kunci penulis. 19

20 (menjunjung tinggi adat) kelima keharusan itu disebut sebagai sisia sia nalima sebagai salah satu filosofi orang Batak, termasuk Batak Toba. Hal inilah yang selalu diamalkan dan dilaksanakan parmalim dalam menjalankan upacara-upacara keagamaan mereka, baik berupa upacara besar seperti sipaha sada atau sipaha lima, maupun ritual-ritual kecil seperti upacara maranggir. Beberapa upacara keagamaan Ugamo Malim yang wajib dilaksanakan yaitu Upacara Mararisabtu (upacara mingguan), Upacara Martutuaek (upacara kelahiran), Upacara Pasahat tondi (upacara kematian), Upacara Mardebata (upacara sembah Debata), Upacara Mangan napaet (upacara memakan yang pahit dilaksanakan setiap akhir tahun), Upacara Sipaha Sada (upacara memeringati hari kelahiran Tuhan Simarimbulubosi), Upacara Sipaha Lima (upacara persembahan sesaji besar), dan Upacara Mamasu-masu (upacara perkawinan) serta upacara pensucian (maranggir) sebagai upacara tambahan tetapi wajib dilaksanakan. Upacara yang wajib dilaksanakan parmalim tersebut diatas adalah untuk melindungi, melancarkan dan membuat kehidupan masyarakat lebih harmonis dan ter arah sesuai dengan kepercayaan mereka serta memenuhi kehidupan lahir dan batin masyarakat Parmalim Hutatinggi. Salah satu upacara besar dari beberapa upacara keagamaan tersebut adalah upacara sipaha sada (parhinaloan). Sipaha sada adalah salah satu upacara besar dalam Ugamo Malim. Upacara ini untuk memeringati ari hatutubu (hari kelahiran) Tuhan Simarimbulubosi yang jatuh pada ari suma (hari kedua) dan ari anggara (hari ketiga) pada bulan sipaha sada (bulan satu). Tuhan Simarimbulubosi adalah utusan yang khusus membawa ajaran agama bagi 20

21 masyarakat Batak yang diutus oleh Debata Mulajadinabolon. Sipaha sada dalam kalender Batak adalah nama sebuah bulan yang berarti bulan satu dalam kalender masehi 3. Upacara ini dilaksanakan selama dua hari yaitu ari suma (hari kedua) dan ari anggara (hari ketiga) pada bulan sipaha sada. Ari suma adalah puncak dari ritual. Semua kegiatan upacara seperti memberikan persembahan (pelean), pemujaan (pemujian), berdoa (martonggo), serta manortor dilaksanakan dan dipusatkan di Bale Pasogit 4 dan akan diiringi dengan musik tradisional gondang hasapi. Gondang Hasapi adalah ensambel 5 musikal yang instrumentasinya terdiri dari hasapi, sarune etek, hesek, dan garantung. Gondang 6 hasapi adalah musik yang digunakan Ugamo Malim sebagai pengiring dalam pelaksanaan rangkaian upacara sipaha sada. Menurut Sitorus (pargonsi 7 ) masyarakat parmalim Hutatinggi Gondang hasapi dipilih dan disahkan oleh Raja Ungkap Naipospos (ayahanda dari Raja Marnakkok Naipospos) dengan mengumpulkan beberapa pargonsi dan akan memilih komposisi gondang hasapi mana yang cocok untuk mengiringi tarian dan melengkapi acara sipaha sada tersebut. 3 kalender masehi dan kalender batak mempunyai perbedaan yang sangat signifikan, sehingga jika sipaha sada sama artinya dengan bulan satu dikalender masehi akan tetapi dalam kalender batak waktunya berbeda. Sehingga sipaha sada kadang terlaksana dibulan dua atau dibulan tiga pada kalender masehi. 4 Bale pasogit adalah balai asal-usul, tempat pelaksanaaan pemujaan dan doa pada upacara ritual sipaha sada. Terdapat juga bangunan selain bale pasogit yaitu bale partonggoan, bale parpitaan, bale pangaminan dan bale parhobasan. 5 Ensambel adalah sekumpulan alat musik yang dimainkan secara bersama-sama dengan menggunakan beberapa alat musik dan kemudian memainkan lagu dengan alat musik sederhana. 6 Kata gondang mempunyai banyak pengertian, bisa berarti instrumen, ensambel musik, judul komposisi tunggal, judul komposisi kolektif, dan upacara.kata gondang yang digunakan pada kalimat yang berbeda memiliki arti yang berbeda pula (Mauly Purba, 2000:25). 7 Orang yang bertindak memainkan instrumen musik 21

22 Menurut ihutan 8, ada beberapa judul musik gondang hasapi yang wajib disajikan dan sejalan diikuti dengan tortor 9 pada upacara sipaha sada. Ibrahim Gultom (2010: ) menjelaskan bahwa terdapat 12 judul gondang yang diperdengarkan, dalam acara tersebut, yaitu gondang inanta natumubuhon Tuhan (gendang untuk ibu yang melahirkan Tuhan), gondang hatutubu ni Tuhan (gendang saat kelahiran Tuhan), gondang pangharoanan ni Tuhan (gendang menyambut kelahiran Tuhan), gondang didang-didang ni Tuhan (gendang membuai-buai Tuhan), gondang haposoon ni Tuhan (gendang masa muda Tuhan), gondang ni ulaon ni Tuhan (gendang untuk mengenang Tuhan menjalankan pekerjaanya), gondang habengeton ni Tuhan (gendang ketabahan Tuhan), gondang panghongkopan ni Tuhan (gendang pembelaan/perjuangan Tuhan untuk umat parmalim), gondang hasiakbagion ni Tuhan (gendang penderitaan Tuhan), gondang hamonangan ni Tuhan (gendang kemenangan Tuhan), gondang parolopolopon (gendang kegembiraan), gondang hasahatan (gendang tercapainya sebuah tujuan). Segala aturan di dalam Ugamo Malim, dilakukan dengan hati yang bersih melalui persembahan yang suci, dupa dan penyerahan diri di dalam doa (tonggotonggo). Ada sepuluh bagian dari doa (partangiangan) di dalam aturan Ugamo Malim yaitu tonggo untuk Mulajadi Nabolon, tonggo untuk Debata Natolu, tonggo untuk Siborudeakparujar, tonggo untuk Nagapadohaniaji, tonggo untuk Boru Saniangnaga, tonggo untuk Patuan Raja Uti, tonggo untuk Tuhan 8 Ihutan adalah sebuah jabatan dalam ritual / pemimpin dari seluruh cabang parmalim Huta Tinggi. Beliaulah yang memimpin setiap ritual-ritual keagamaan yang dilakukan penganut ugamo malim. 9 Tortor adalah tarian seremonial yang mendampingi penyajian. Keduanya seperti dua sisi yang berbeda pada sebuah uang logam (Mauly Purba, 2000:25). 22

23 Simarimbulubosi, tonggo untuk Raja Naopatpuluopat, tonggo untuk Raja Sisingamangaraja, dan tonggo untuk Raja Nasiakbagi. Setiap tonggo tersebut mempunyai fungsi dan makna yang sama, tetapi mempunyai permintaan yang berbeda untuk setiap kesepuluh tonggo tersebut, tergantung upacara apa yang sedang dilaksanakan. Khusus untuk sipaha sada yang memeringati hari kelahiran Tuhan Simarimbulubosi permintaan yang ada didalam tonggo itu adalah: mauliate ma hudok hami tu sahala ni Tuhan Simarimbulubosi, marhite ni timpul dohot daupa dohot pangurason on. Ala Ho do Tuhan pargogo naso hatudosan, parbisuk naso boi sumanon, napaimbarimbar rupa, paubauba tompa, naso olo matua tongtong doli-doli. Ho do Tuhan silehon pasu-pasu tu angka na tigor marroha, jala silehon uhum bura tu angka pardosa,...(udutna) 10. dan kemudian akan terdengar penyajian gondang hasapi secara beriringan dengan tortor setelah permintaan tonggo diucapkan oleh ihutan. Gondang hasapi dalam acara ritual sipaha sada berisi sebuah poda (pesan/petuah) sebagai media penyampaian (doa, permintaan, dan hal yang mereka inginkan, dll) yang kemudian diaplikasikan oleh para parmalim ke dalam sebuah tortor (tarian) yang seirama mengikuti ensambel musik tersebut, mereka melakukan komunikasi berbicara/berdoa kepada Tuhan lewat tarian yang mereka lakukan. Terlihat juga ketika mengikuti setiap acara dalam ritual ini, adakalanya mereka akan meneteskan air mata karena mereka menyesali perbuatan yang telah dilakukan, mereka menyadari dan mengingat penderitaan Tuhan, atau bisa sampai 10 Sebuah buku tentang pustaha parguruan taringot tu Ugamo Malim (Raja Marnangkok Naipospos 74-77). 23

24 kesurupan artinya mereka bersatu dengan roh nenek moyang yang mereka sembah lewat sesaji atau doa-doa ataupun penyajian gondang hasapi. Disaat Gondang hasapi mulai disajikan lewat tonggo yang berisikan permintaan atau sebuah penyampaian komunikasi yang tidak bisa dilakukan secara langsung, yang disampaikan oleh ihutan. maka, selanjutnya masyarakat parmalim yang mengikuti jalannya upacara akan mulai manortor sesuai dengan arahan ihutan. Disaat mereka manortor, ada hal yang menandakan bahwasanya oleh karena gondang tersebut, mereka mengaku atas kesalahan yang mereka lakukan dan mau mengikuti ajaran-ajaran dari Tuhan. sehingga merekapun akan mulai meneteskan air mata karena melalui gondang dan tortor yang mereka laksanakan akan menyampaikan sebuah doa, harapan, pemujaan yang tulus dari lubuk hati. Disaat manortor dilakukan bersamaan dengan penyajian gondang hasapi maka hal tersebut menandakan bahwa mereka mau dan menerima ajaran-ajaran dari Tuhan, juga dapat diartikan sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Setiap doa, permintaan, dan hal yang mereka inginkan yang tersirat dalam gondang hasapi dan tortor pada saat itu di ungkapkan melalui penyampaian gondang tersebut. Mereka menghayati ajaran-ajaran Tuhan dan mulai menari seiring dengan komposisi gondang yang dimainkan dalam upacara sipaha sada tersebut. Melihat mereka menari dengan penghayatan memberikan sebuah makna bahwa ada hal yang menjadi fungsi dari penggunaan gondang hasapi dalam ritual sipaha sada tersebut. 24

25 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah apa fungsi sosial gondang hasapi yang digunakan dalam tradisi upacara ritual parmalim sipaha sada di Huta Tinggi, Laguboti. 1.3.Lokasi Penelitian Lokasi penelitian difokuskan pada wilayah Hutatinggi kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara. Pemilihan huta tinggi sebagai pusat penelitian disebabkan karena Parmalim Hutatinggi yang menjadi pusat administrasi parmalim diseluruh Indonesia. Objek kajiannya adalah warga penganut Ugamo Malim yang tunduk kepada pimpinan Parmalim Hutatinggi, sekiranya ada sekte lain di luar dari kelompok Hutatinggi tidaklah termasuk dalam kajian ini. Selain itu, ihutan (pemimpin utama) parmalim juga berdomisili diwilayah ini dalam sebuah kompleks yang dikenal dengan sebutan huta parmalim (hutatinggi). Gambar dibawah adalah peta Kabupaten Toba Samosir. Tanda merah menunjukkan keberadaan Kecamatan Laguboti letak dari lokasi penelitian penulis yaitu Huta Tinggi. Daerah ini merupakan kecamatan terbesar ketujuh dari antara beberapa kecamatan lain yang berada di Kab.Toba samosir, seperti: Kecamatan Habinsaran, Kecamatan Bor-bor, Pintu Pohan, Balige dll. 25

26 1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan mengetahui kandungan informasi tentang fungsi sosial gondang hasapi dalam upacara ritual sipaha sada parmalim dan untuk memperkaya sudut pandang tentang ritual Ugamo Malim. Pada penelitian ini penulis mengkaji lebih dalam lagi secara etnografi tentang apa dan bagaimana fungsi sosial gondang hasapi dalam tradisi ritual sipaha sada parmalim. Dimana fungsi sosial ini berisikan beberapa fungsi musik dan juga alasan penggunaan dan juga tujuan digunakannya komposisi gondang tersebut dalam ritual. kajian ini bukanlah hendak ingin mencari kebenaran ajaran yang dikandung oleh Ugamo Malim, melainkan terbatas pada kajian perspektif antropologi yang bermaksud untuk mengetahui bagaimana musik itu digunakan, kebutuhan apa yang dipenuhi oleh gondang hasapi dan pengaplikasiannya serta alasan dan tujuan penggunaan gondang hasapi tersebut. 26

27 Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan referensi dikalangan masyarakat yang membaca, mahasiswa dan lain sebagainya, khususnya bagi mahasiswa antropologi yang ingin mengetahui dan ingin mengkaji lebih dalam tentang fungsi sosial gondang hasapi pada tradisi acara sipaha sada parmalim dan terutama bagi mahasiswa yang belum mengetahui sedikitpun tentang kegunaan dan tujuan dari penggunaan gondang hasapi. Selain dari itu, penelitian ini juga sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan pembelajaran bagi pembaca. Juga sebagai tuntutan studi perkuliahan untuk pemenuhan kewajiban tugas sebagai mahasiswa dan memberikan gambaran tentang beberapa hal pemahaman penulis dalam mengikuti perkuliahan dan untuk memenuhi tugas akhir penulis dalam penulisan skripsi. Dan untuk penulis sendiri, tulisan ini diharapkan menjadi sebuah pengembangan pengetahuan diri sendiri untuk lebih paham akan Ilmu Antropologi dalam kajian fungsi sosial gondang hasapi dan pemenuhan skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana Tinjauan Pustaka Mengkaji adalah berarti belajar, mempelajari, memeriksa, menyelidiki, memikirkan (mempertimbangkan dan sebagainya), menguji, menelaah, ataupun mengkaji baik buruk suatu perkara. Mengkaji suatu fungsi sosial dalam gondang hasapi yang terdapat pada acara ritual sipaha sada parmalim dimana peneliti akan mempelajari bagaimana penggunaan dan tujuan dari gondang hasapi tersebut. Untuk memahami fungsi musik gondang hasapi yang terdapat pada ritual 27

28 sipaha sada parmalim, penulis mengacu pada pendapat Alan P. Merriam (1964: ) yang menjelaskan bahwa use (penggunaan) mengacu pada masalah situasi atau cara bagaimana musik itu akan digunakan atau bagaimana cara pengaplikasiannya, sedangkan function (fungsi) mengacu pada alasan penggunaan atau tujuan pemakaian musik yang artinya mengapa suatu jenis musik tertentu yang digunakan, terutama maksud yang lebih luas, sampai sejauh mana musik itu mampu memenuhi kehidupan manusia itu sendiri. Lebih jauh lagi fungsi berperan bagi kehidupan sosial masyarakat. Istilah fungsi sosial mengacu pada cara-cara bertingkah laku atau melakukan tugas-tugas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan hidup individu, orang seorang maupun sebagai keluarga, kolektif, masyarakat, organisasi dsb. Pelaksanaan fungsi sosial dapat dievaluasi / dinilai apakah memenuhi kebutuhan dan membantu mencapai kesejahteraan bagi orang, dan bagi masyarakat, apakah normal dapat diterima masyarakat sesuai dengan norma sosial. Untuk dapat berfungsi sosial secara baik ada tiga faktor penting yang saling berkaitan untuk dilaksanakan yaitu: faktor status sosial yaitu kedudukan seseorang dalam suatu kehidupan bersama, dalam keluarga, kelompok, organisasi atau masyarakat yaitu seseorang yang diberi kedudukan agar melakukan tugas-tugas yang pokok sebagai suatu tanggung jawab atas kewajibannya (kompetensi ). Misalnya seorang berstatus sebagai: ketua, ayah, mahasiswa, pegawai, dsb. Faktor peran sosial yaitu peranan sosial, berupa kegiatan tertentu yang dianggap penting dan diharapkan harus dikerjakan sebagai konsekwensi dari 28

29 status sosialnya dalam kehidupan bersama (keluarga, kelompok, masyarakat). Misalnya ayah harus berperan sebagai pencari nafkah bagi keluarga, ibu berperan sebagai pengurus rumah tangga dan mengasuh anak, anak berperan sebagai pembantu mengurus adik-adiknya yang kesekolah, dsb. Penampilan peranan sosial secara efektif menyangkut penyediaan sumber dan pelaksanaan tugas sehingga individu atau kelompok, seperti keluarga mampu mempertahankan diri, tumbuh dan berkembang, menyenangi dan menikmati kehidupan. Penampilan peran ini dinilai baik oleh orang yang bersangkutan maupun dinilai oleh masyarakat dilingkungannya Faktor norma sosial yaitu hukum, peraturan, nilai-nilai masyarakat, adat istiadat, agama, yang menjadi patokan apakah status sosial sudah diperankan dan sudah dilaksanakan sebagaimana mestinya, dengan normal, wajar, dapat diterima oleh masyarakat, bermanfaat bagi orang-orang dalam kehidupan bermasyarakat. Pekerja sosial dapat mengadakan evaluasi dan intervensi pelaksanaan fungsi yang dilakukan orang secara individu maupun sebagai kelompok 11. Ketiga faktor fungsi sosial diatas tentu saja sangat diperlukan dalam kehidupan lingkungan masyarakat. Dimana dalam status sosial terdapat kedudukan dari seseorang, dan peran sosial berisi tentang bagaimana kegiatan seperti ritual yang berkaitan dengan musik dan lain-lain dalam bermasyarakat serta norma sosial yang mengatur kehidupan masyarakat. Didalam ketiga faktor tersebut ada suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam lingkungannya 11 Sebuah artikel tentang peran dan fungsi sosial budaya oleh Muhammad Obby Yusuf (0bbzsweb.blogspot.co.id) diakses pada hari rabu 14 juli 2016, pukul 10:08:24 WIB) 29

30 serta terdapat komponen-komponen yang mengatur kegiatan dari masyarakat tersebut, seperti halnya sebuah upacara ritual pada masyarakat parmalim dan beberapa hal yang menjadi fungsi dari penggunaan suatu komponen musik dalam kegiatan parmalim. Berkenaan dengan fungsi musik, menurut Alan P. Merriam terdapat sepuluh fungsi musik, yaitu: (1) fungsi pengungkapan emosional, (2) fungsi penghayatan estetika, (3) fungsi hiburan, (4) fungsi komunikasi, (5) fungsi perlambangan, (6) fungsi reaksi jasmani, (7) fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara keagamaan, (8) fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial, (9) fungsi kesinambungan kebudayaan, (10) fungsi pengintegrasian masyarakat (Merriam 1964: ). Dari keseluruhan fungsi musik tersebut akan ada beberapa yang akan dikaitkan dalam penggunaan komposisi gondang hasapi dalam acara ritual sipaha sada. Ritual ini mempunyai komponen-komponen yang mengisi sebuah upacara ritual. Koentjaraningrat (1985:243) menyatakan bahwa komponen dari sebuah kegiatan upacara ada empat yaitu tempat upacara, saat upacara, benda-benda dan alat upacara serta orang yang melakukan dan memimpin upacara. Berdasarkan teori tersebut maka gondang merupakan benda upacara yang terdapat dalam acara ritual sipaha sada parmalim. penggunaan musik gondang juga mempunyai waktu dan tempat yang disediakan dalam ritual yang dimainkan oleh pargonci. Ritual ini dipimpin oleh Raja Marnakkok Naipospos atau disebut worship leader yang akan mengorganisir jalannya ritual sipaha sada. 30

31 Sipaha sada adalah salah satu upacara dalam agama malim. Upacara ini khusus memperingati ari hatutubu (hari kelahiran) Tuhan Simarimbulubosi yang jatuh pada ari suma (hari kedua) dan ari anggara (hari ketiga) bulan sipaha sada (bulan satu). Sebenarnya, sipaha sada dalam kalender batak adalah nama sebuah bulan yang bermakna bulan satu. Karena Simarimbulubosi lahir pada bulan satu, maka hari kelahirannya diperingati pada sipaha sada. Semua kegiatan dipusatkan di bale pasogit partonggoan, Huta Tinggi dengan diiringi musik tradisional yaitu gondang hasapi (kecapi) dan alat musik lainnya. Repertoar gondang tangiang terdiri dari 10 komposisi gondang dimana masing-masing gondang memiliki komposisi lagunya tersendiri. Kekecualian terjadi untuk gondang Raja Simarimbulubosi dengan komposisi gondang yang sama juga disebut dengan gondang Haposoon Ni Tuhan Si Marimbulubosi. Demikian pula dengan komposisi gondang Siboru Deak Parujar, dalam konteks tertentu juga disebut dengan gondang Pangharoanan. Pada perayaan upacara Hatutubu Sipaha Sada, ke duabelas gondang yang ada biasanya dimainkan secara berurutan (fixed repertoire), terutama pada bagian awal pembuka kegiatan ritual, dimana raja ihutan (pimpinan upacara) memulai acara kegiatan ritual dimaksud. Namun, pereduksian jumlah gondang dalam repertoir dapat saja terjadi ketika aktifitas ritual beralih kepada kelompok punguan 12. Gondang dalam pengertian perangkat alat musik dapat diketahui dari penyebutan gondang Batak yang berarti sebagai ensambel musik. Penggunaan 12 (diakses pada 23 juli 2016, pukul WIB), ibrahim gultom (2010: ) 31

32 kata gondang dalam penyebutan ensambel musik bisa ditemukan pada pengkategorian dua bentuk ensambel musik tradisi Batak Toba, yakni Gondang Sabangunan (gondang bolon) dan Gondang Hasapi, kata gondang pada konteks kedua kata sabangunan dan hasapi bermakna ensambel musik. Dalam antropologi, (Ihromi: 2006) upacara ritual dikenal dengan istilah ritus. Ritus dilakukan ada yang untuk mendapatkan berkah atau rezeki yang banyak dari suatu pekerjaan, seperti upacara sakral ketika akan turun kesawah; ada untuk menolak bahaya yang telah atau diperkirakan akan datang; ada upacara mengobati penyakit (rites of healing); ada upacara karena perubahan atau siklus dalam kehidupan manusia, seperti pernikahan, mulai kehamilan, kelahiran (rites of passage, cyclic rites); dan ada pula upacara berupa kebalikan dari kebiasaan kehidupan harian (rites of reserval) seperti puasa pada bulan atau hari tertentu, kebalikan hari lain yang mereka makan dan minum pada hari lain tersebut. Karena sesuatu dipercayai sebagai sesuatu yang sakral, maka perlakuan kepadanya tidak boleh seperti terhadap benda-benda biasa, terhadap yang profan 13. Ada tata tertib tertentu yang harus dilakukan dan adapula larangan atau pantangan (taboo) yang harus dihindari. Taboo juga dipakaikan kepada pelanggaran yang sangat prinsipil dalam ajaran suatu agama atau kepercayaan masyarakat, seperti incest, syirik, dan zina. Bagi Durkheim, upacara-upacara ritual dan ibadat adalah untuk meningkatkan solidaritas, untuk menghilangkan perhatian kepada kepentingan individu. Masyarakat yang melakukan ritual larut dalam kepentingan bersama. 13 Profan adalah tidak bersangkutan dengan keagamaan dan tujuan: lawan sakral. Tidak kudus atau (suci) karena tercemar, kotor, dsb: tidak suci ( ) 32

33 Terlihat bahwa Durkheim menciutkan makna yang terkandung dalam upacara keagamaan kepada keutuhan masyarakat atau solidaritas sosial. Akan tetapi, banyak pula ibadat atau ritual yang dilakukan sendiri-sendiri, seperti doa, zikir, shalat tahajjud. Makna memperkuat hubungan dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, supaya manusia mendapatkan kepuasan batin, ketabahan, harapan, memperbaiki kesalahan (dengan sering minta ampun), adalah makna-makna penting yang terkandung dalam ibadat, disamping makna untuk tetap jujur, ikhlas, setia kepada janji. Salah satu bentuk konkrit yang mudah dicermati adalah dari ritual yang dijalankan oleh parmalim. Menurut Ismail (2012), ritual merupakan ekspresi dari sistem upacara keagamaan yang merefleksikan adanya hubungan manusia dengan alam spiritual. Ismail menjelaskan bahwa pelaksanaan ritual ini memiliki fungsi sosial untuk mengintegrasikan individu-individu dalam masyarakat dari tekanantekanan sosial dan mengembalikan ritme harmonitas (Ismail, 2012:1). Ungkapan yang mengukuhkan kajian ritual sebagai salah satu bagian yang penting untuk dicermati dari suatu komunitas penghayat keyakinan adalah apa yang diungkapkan Soehadha (2008) yang mengatakan bahwa disamping doktrin, aspek utama dari agama adalah ritual. Ritual menurut soedha merupakan perwujutan dari pelaksanaan doktrin agama, sekalipun sebagai sarana pengungkapan sikap religiusitas seseorang, Soehadha menambahkan bahwa ketaatan seseorang terhadap agama tidak hanya dapat diwujudkan dari keyakinan mereka terhadap doktrin agama, namun juga diekspresikan penganutnya melalui ritual yang bersumber dari doktrin tersebut (Soedha 2008:165). Dengan mengidentifikasikan 33

34 dan mencermati ritual, maka akan terlihat bagaimana suatu kelompok mengukuhkan kembali eksistensi mereka (Sembiring 2012:10). Oleh Durkheim (1912) dan Radcliffe-Brown (1922) upacara itu dianggap mempertebal perasaan kolektif dan integrasi sosial. Isi upacara-apakah pendeta itu berkata begini atau begitu, memegang tongkat ditangan kirinya atau sehelai daun ditangan kanannya itu soal kedua yang tidak dapat dibahas. Di dalam upacara, seperti di dalam mitos, manusia benar-benar terpesona oleh jurang yang memisahkan mereka, sebagai mahluk berbudaya, dari binatang dan fenomena alam lainnya. Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa manusia melakukan sebuah upacara keagamaan beralaskan perasaan ataupun penghayatan, dimana manusia benar-benar terpesona dengan alam dan sebagai mahluk yang berbudaya. Sehingga dalam setiap upacara keagamaan yang mereka laksanakan akan mempunyai suatu sistem atau aturan yang akan dijalankan. Sistem-sistem yang ada dalam setiap upacara keagamaan diantaranya adalah: a. Kelakuan keagamaan. Dunia gaib bisa dihadapi manusia dengan berbagai macam perasaan, ialah cinta, hormat, bakti, tetapi juga takut, ngeri dsb., atau dengan suatu campuran perasaan tad. Tiap upacara keagamaan dapat terbagi kedalam empat komponen, ialah: tempat upacara, saat upacara, benda-benda dan alat-alat upacara, orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara. 34

35 b. Tempat upacara yang keramat adalah biasannya suatu tempat yang di khususkan dan yang tidak boleh didatangi oleh orang yang tidak berkepentingan. c. Saat-saat upacara biasanya dirasakan sebagai saat-saat yang genting dan gawat, dan yang penuh dengan bahaya gaib. Saat-saat itu biasanya saat yang berulang tetap, sejajar dengan irama gerak alam semesta. d. Benda-benda upacara merupakan alat-alat yang dipakai dalam hal menjalankan upacara-upacara keagamaan. Alat-alat itu seperti wadah untuk tempat sajian, alat kecil seperti sendok, pisau dsb. Untuk sajian juga, sering kali senjata, bendera dsb. e. Orang-orang yang melakukan upacara. Orang-orang pemuka upacara keagamaan dalam berbagai macam religi dari berbagai macam suku bangsa didunia biasanya dapat kita bagi kedalam tiga golongan, ialah: pendeta, dukun, syaman. f. Pantangan. Semua komponen upacara keagamaan ialah tempat, saat, alat-alat, dan pemuka-pemuka upacara keagamaan, tetapi juga kesusastraan keagamaan seperti apa yang telah tersebut diatas, mempunyai sifat sacral atau keramat harus mengindahkan pantangan atau larangan. g. Unsur-unsur dari upacara keagamaan: bersaji, berkorban, berprosesi, upacara seni drama, berpuasa, intoxikasi, bertapa, bersamadi. Dengan pendapat dari Koentjaraningrat tersebut, maka upacara ritual parmalim dalam hal ritual sipaha sada melakukan semua sistem-sistem upacara keagamaan tersebut baik dalam hal puasa, benda-benda dan alat-alat upacara dsb. 35

36 Untuk melengkapi sebuah sistem maka ada unsur-unsur yang membuat suatu kebudayaan itu akan terlihat semakin bermakna. Setiap kebudayaan mempunyai tujuh unsur dasar, yaitu: kepercayaan, nilai, norma dan sanksi, simbol, teknologi, bahasa, dan kesenian. Kepercayaan berkaitan dengan pandangan tentang bagaimana dunia ini beroperasi. Kepercayaan itu bisa berupa pandangan-pandangan atau interpretasi-interpretasi tentang masa lampau, bisa berupa penjelasanpenjelasan tentang masa sekarang, bisa berupa prediksi-prediksi tentang masa depan, dan bisa juga berdasarkan common sense, akal sehat, kebijaksanaan yang dimiliki suatu bangsa, agama, ilmu pengetahuan, atau suatu kombinasi antara semua hal tersebut. Nilai mengacu pada apa atau sesuatu yang oleh manusia dan masyarakat dipandang sebagai yang paling berharga. Norma dan sanksi, norma mengungkapkan bagaimana seharusnya manusia bertindak dan jika dilanggar akan mendapat hukuman atau sanksi atas pelanggarannya. Teknologi pengetahuan dan teknik-teknik suatu bangsa dipakai untuk membangun kebudayaan materialnya. Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna sebuah salib atau suatu patung budha, suatu konstitusi atau suatu bendera Bahasa adalah gudang kebudayaan sarana utama untuk menangkap, mengkomunikasikan, mendiskusikan, mengubah, dan mewariskan arti-arti ini kepada generasi baru. 36

37 Kesenian, melalui karya seni, seperti seni sastra, musik, tari, lukis, dan drama, manusia mengekspresikan ide-ide, nilai-nilai, cita-cita, serta perasaanperasannya. Ketujuh unsur dari kebudayaan tersebut merupakan unsur-unsur yang masih dijalankan dengan baik oleh ugamo malim. dimana unsur kebudayaan itu merupakan sesuatu yang tidak bisa lepas dalam setiap ritual parmalim, terlihat dalam simbol, nilai juga sampai pada kesenian. Dalam setiap upacara ritual yang dilaksanakan Ugamo Malim akan tersirat aturan-aturan ritual sesuai dengan ketujuh unsur diatas. Selain dari simbol, nilai dan juga kesenian termasuk juga nilai, norma dan kepercayaan yang terkandung dalam upacara ritual sipaha sada tersebut. Dan ketujuh unsur tersebut tentu saja tidak dapat dipisahkan Metode Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data-data penelitian agar data ataupun informasi yang diperlukan dapat terkumpul dengan baik dan akurat. Clifford Geertz (1992) mengatakan bahwa etnografi merupakan lukisan mendalam. Yang akan dihadapi seorang etnografer adalah sebuah keanekaragaman struktur-struktur konseptual yang kompleks. Seorang etnografer pertama-tama harus memahami dan kemudian menerjemahkan struktur-struktur tersebut. Metode etnografi digunakan agar mampu menghasilkan data-data yang 37

38 mendalam mengenai fungsi sosial gondang hasapi pada ritual upacara sipaha sada parmalim, sehingga eksplorasi data secara mendalam bisa terjaring dengan baik. Menurut Lexy J.Moleong (2006:6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang terjadi dan dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lainlain. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode kualitatif berupa pengamatan, wawancara dan studi kepustakaan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua macam data yang akan dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari field research sehingga data yang diharapkan bisa tercapai secara objektif dan faktual. Adapun cara yang dilakukan untuk mendapatkan data adalah: a. Metode Observasi (metode pengamatan) Untuk mendapatkan pengamatan secara langsung terhadap berbagai gejala yang tampak pada saat penelitian, peneliti menggunakan metode observasi. Peneliti telah memperhatikan setiap bagian upacara yang dilaksanakan, bagaimana penggunaan gondang hasapi yang mempunyai peran dan memberikan fungsi baik kepada masyarakat maupun terhadap upacara tersebut. Peneliti telah mencatat dan mengamati hubungan dari gondang hasapi, ritual serta hal yang dialami dan dirasakan masyarakat parmalim ketika melaksanakan ritual sipaha sada tersebut. Menurut Danandjaja (1988:104) dalam pengumpulan data kebudayaan apa saja, harus dikumpulkan dengan pengamatan langsung (direct observation) dan pengamatan tidak langsung (indirect observation). Peneliti telah terjun 38

39 langsung lapangan dengan mengamati ataupun melakukan dan hidup berbaur dan bermasyarakat dengan masyarakat parmalim, serta telah mencatat segala data dan informasi yang diperoleh dan ditemukan dari masyarakat, petinggi parmalim, dan para pemusik ritual pada saat meneliti di kampung Parmalim. Pada saat melakukan observasi partisipasi peneliti membangun rapport yang baik dengan informan dengan cara bergaul dengan baik, sering menjumpai informan, tinggal dengan informan dan tidak pernah menggurui informan jika peneliti sudah mengetahui sebagian dari informasi yang diperoleh sehingga untuk mendapatkan data yang konkrit peneliti tidak mengalami kesulitan. Dengan semua hal tersebut, maka pengamatan dan pemahaman yang muncul adalah berdasarkan cara pandang dari informan atau orang yang diteliti (emic view). b. Metode Wawancara Untuk memperoleh data yang tersirat dalam aktivitas masyarakat yang tidak terlihat oleh peneliti melalui metode observasi, maka peneliti menggunakan metode wawancara. Peneliti bertanya kepada informan dengan menanyakan bagaimana jalannya upacara, hal apa yang informan rasakan, serta hal-hal yang terkait dengan kelengkapan data yang diperlukan oleh peneliti. Metode ini digunakan penulis untuk memperoleh data dengan cara tanya jawab yaitu bertatap muka langsung dengan informan atau dengan objek penelitian. Hal ini dilakukan penulis untuk memperoleh data yang pasti dan benar-benar fakta tanpa rekayasa. Dengan cara ini peneliti telah memperoleh data yang lebih akurat. Dalam penelitian ini, teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (depth interview). Burhan Bungin (2007:107) mengatakan metode wawancara 39

40 mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang erlatif lama. Metode wawancara digunakan untuk mendapatkan kelengkapan informasi mengenai fungsi sosial gondang hasapi pada ritual sipaha sada parmalim dari para informan yang akan diwawancarai. Adapun informan yang diwawancarai penulis diantaranya adalah ihutan, raja adat, pargonsi, masyarakat parmalim dan penilaian masyarakat awam terhadap gondang hasapi parmalim tersebut. Informan ini dipilih penulis karena merekalah yang memberikan data yang lebih mendalam dan akurat mengenai informasi yang diininkan oleh peneliti. Peneliti telah menyusun dan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Pedoman wawancara disusun oleh peneliti sebelum melakukan wawancara terhadap informan. Selain menggunakan pedoman wawancara, peneliti juga menggunakan alat perekam (record) untuk mengantisipasi kelupaan informasi yang telah diperoleh, dan menggunakan kamera sebagai bukti dan penguat data-data lapangan dengan cara membidik setiap adegan demi adegan yang diperankan oleh masyarakat parmalim pada saat jalannya upacara. c. Studi Kepustakaan Peneliti mendapatkan informasi yang telah dibaca dari buku-buku yang berkaitan dengan parmalim. untuk menambahi data, peneliti juga mendapatkan informasi dari internet serta lebih mudah mencatat hasil penelitian karena sudah direkam sebelumnya. 40

41 Untuk mendukung data primer maka penulis menggunakan juga data sekunder untuk mendukung hasil penelitian yang lebih bagus, pada penelitian ini data sekunder diperoleh melalui analisis data yang berkaitan dengan parmalim ataupun fungsi sosial reportoar gondang hasapi, berupa: a) Studi kepustakaan, melalui buku-buku ilmiah atau jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian maka penulis akan memperoleh data yang akurat. b) Dokumentasi, dengan menggunakan catatan-catatan yang ada di lokasi penelitian yaitu di kampung parmalim Huta Tinggi, Laguboti peneliti akan lebih mudah untuk menentukan hal apa yang akan di catat nantinya didalam hasil penelitiannya. c) Rekaman lapangan: penulis akan merekam ketika penulis sedang wawancara dengan informan ataupun merekam proses jalannya upacara, baik dalam berupa audio maupun audio vidio yang dihasilkan selama proses penelitian berlangsung maka penulis akan mendapatkan data yang lebih kongkrit dan terpercaya. d) Penulis akan menggunakan sumber online/internet dan sumber-sumber lain yang relevan dengan topik dan masalah penelitian untuk mempermudah penulisan skripsi. d. Metode Deskripsi/Analisis Dalam penelitian ini, peneliti telah mendapatkan informasi-informasi terkait dengan fungsi sosial gondang hasapi dalam upacara ritual sipaha sada parmalim. fungsi sosial tersebut diantaranya adalah bagaimana gondang hasapi itu sendiri bagaikan garam yang melengkapi sayuran yang sedang dimasak. 41

42 Gondang hasapi mempunyai hak yang sama dengan jalannya ritual sipaha sada artinya tidak akan ada upacara ritual sipaha sada tanpa adanya gondang hasapi, begitu pula sebaliknya. Selain itu, gondang hasapi juga mempunyai fungsi untuk memper erat hubungan antara masyarakat parmalim, antara masyarakat parmalim dengan Tuhannya dan juga hubungan antara masyarakat parmalim dengan alam. Dengan adanya gondang hasapi dalam upacara ritual sipaha sada maka akan semakin meneguhkan batin dan suasana yang tercipta dalam ritual tersebut. Dalam metode penelitian ini penulis telah memperhatikan gambaran informasi-informasi yang diperoleh dari lapangan ataupun dari observasi yang dilakukan serta menganalisa hasil lapangan. Dalam mendeskripsikan data lapangan, penulis memperhatikan aspek historiografi atau penulisan. Penulis menginterprestasikan kebenaran teori dengan hasil lapangan. Selain itu, penulis telah menceritakan apa-apa saja yang dialami oleh penulis ketika proses pencarian dan pengumpulan data yang terjadi dilapangan. Penulis telah memperhatikan gambaran-gambaran umum maupun gambaran-gambaran khusus mengenai makna/fungsi sosial yang terkandung di dalam gondang hasapi pada ritual sipaha sada parmalim dengan sedetail mungkin dengan hasil yang diperoleh dari lapangan selama proses observasi. Melalui beberapa cara penelitian yang sudah penulis paparkan, maka penulis telah mencatat informasi-informasi yang penting berupa catatan harian selama pengamatan,wawancara, deskripsi dan observasi. Kemudian catatan harian tersebut telah penulis rangkum kembali kedalam catatan lapangan menggunakan bantuan labtop, sehingga catatan lapangan tersebutlah yang menjadi acuan dan 42

43 sarana penulis dalam merampungkan skripsi mengenai fungsi sosial gondang hasapi pada ritual sipaha sada parmalim tersebut Pengalaman Lapangan Penelitian ini saya lakukan setelah mendapat ACC proposal untuk penelitian lapangan dibulan juni hingga juli. Sebenarnya saya telah ACC proposal di bulan mei tetapi karena beberapa alasan dan kendala saya mulai melakukan penelitian di bulan juni. Awalnya penelitian ini saya lakukan sendiri, yang kemudian di bantu beberapa hari oleh teman saya dimasa SMA yang bernama Ganda F Sianipar. Ia adalah salah satu mahasiswa jurusan Tehnik di UNIMED. Kemudian satu minggu pernah di temani penelitian oleh Ruth Oktodora Ginting salah satu teman saya yang sudah lebih dahulu tamat, ia adalah stambuk 2012 antropologi sosial USU. Selama penelitian, saya tinggal di rumah paman saya (tulang) yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi penelitian. Awalnya banyak hal yang saya lalui sebelum akhirnya memutuskan untuk mengkaji Gondang Hasapi parmalim ini. Pada saat saya memberitahukan kepada orang tua, beliau senang dengan penjelasan yang saya sampaikan karena berhubung beliau sangat senang dengan hal-hal yang berbau budaya, adat apalagi hal-hal yang berkaitan dengan para peninggalan nenek moyang. Awalnya saya ragu dengan hal yang saya akan teliti karena kata bu Rita salah satu dosen saya sudah banyak yang mengangkat hal tersebut, tetapi saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa penelitian saya ini akan berbeda dengan pemikiran dan observasi saya. Mungkin banyak yang sudah meneliti tentang parmalim, tapi bukan berarti 43

44 setiap pandangan peneliti sama. Hal tersebutlah yang menguatkan tekad saya untuk melanjutkan penelitian saya. Selain itu saya juga sudah sangat senang segala hal yang berbau dengan budaya, kearifan lokal dan sejenisnya. Parmalim adalah salah satu bentuk peninggalan sejarah kepercayaan di Batak yang masih ada dan dapat kita rasakan, saksikan hingga pada saat sekarang ini. Parmalim adalah salah satu tanda bahwa, jika sebuah kebudayaan dijaga dan dipertahankan maka bagaimanapun perkembangan zaman tidak akan mempengaruhi ataupun menghilangkan nilai budaya yang ada. Walaupun pada kenyataannya ada sedikit pergeseran atau perubahan yang tidak signifikan, perubahan itu tidak mempengaruhi originalitas dari budaya ataupun kepercayaan parmalim tersebut. Sebelum saya melakukan penelitian terlebih dahulu mengurus surat ke kantor camat, beberapa kali saya harus pulang dengan tangan kosong tanpa mendapat surat yang saya inginkan dikarenakan birokrasi yang ada dikantor camat ini masih sangat perlu diperhatikan agar kelancaran bagi setiap orang yang ingin mengurus kepentingan pribadi ataupun urusan lain dapat dengan segera dilayani. Kemudian pada akhirnya saya pun bertemu dengan sekretaris camat yang kebetulan adalah ayah dari teman satu kelas saya waktu SMA yang kemudian beliau langsung mempersilahkan saya menemui Bapak Camat Laguboti untuk meminta surat izin dan sedikit berbincang ketika beliau mempertanyakan mengenai judul skripsi saya. Selesai dengan pihak kantor camat, saya juga harus memberi surat penelitian saya kepada pihak kepala desa karena beliaulah yang menaungi dan memimpin desa huta tinggi dengan beliau saya sudah mengenalnya sebelumnya karena tidak asing lagi dengan tulang saya tempat saya tinggal itu. 44

45 Selama proses pencarian data, saya mendapat begitu banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Hal itu dimulai ketika saya akan mengantarkan surat penelitian kepada pemimpin Parmalim yang ada di Huta Tinggi tersebut, berhubung karena saya belum mengenal sosok beliau saya sudah sangat ketakutan dan pesimis. Ditemani oleh saudara sepupu saya Bang leo Situmorang yang tidak lain adalah anak dari paman saya. Tidak sembarangan orang untuk berbicara dengan beliau dan tidak sembarangan sikap dan sifat yang harus ditunjukkan, harus selalu melempar senyum dan nada suara yang harus saya turunkan oktafnya karena tidak ingin di nilai buruk oleh beliau. Setibanya dirumah beliau, kami menunggu beberapa menit. Hingga beberapa waktu kemudian beliaupun mempersilahkan kami untuk duduk dan sembari berbincang hangat dengan beliau mengenai tujuan dan maksud saya untuk datang ketempat tersebut. Dengan senyum yang ala kadarnya beliaupun menerima saya dengan baik hati, saya merasa sangat lega ketika itu. Pengalaman yang berkesan ketika itu adalah ketika Opung Raja Marnangkok mengatakan pagogo soarami, hera suarani halak jawa hape boru batak doho kan yang intinya saya harus membesarkan suara saya karena beliau sudah tua dan pendengarannya sudah mulai terganggu padahal sebelumnya saya sengaja menurunkan oktaf suara saya karena takut kurang sopan itu hal yang sangat lucu menurut saya. Mulai dari hari itu untuk bicara dengan Opung begitu saya memanggil beliau tidak lagi mengatur-atur nada suara saya dengan halusnya bahkan saya menaikkan oktaf suara saya lagi tanpa tentunya tidak berlebihan. Saya beruntung karena untuk penggunaan bahasa daerah saya sangat ahli dalam hal tersebut, berhubung bahasa ibu saya adalah bahasa batak 45

46 toba, jadi untuk berkomunikasi agar lebih akrap lagi dengan masyarakat saya tidak begitu kesulitan. Hampir seluruh masyarakat laguboti selalu menggunakan bahasa daerah pada saat berkomunikasi, baik dari anak kecil, remaja, maupun orang tua. Walau pada kenyataannya banyak juga para orang tua yang sudah berbicara dengan anak mereka dengan menggunakan bahasa indonesia. Anak-anak kecil sudah banyak juga yang menggunakan bahasa indonesia walau pada dasarnya mereka juga mengerti dan menggunakan bahasa daerah atau sering pula saya dengarkan pembicaraan yang bahasanya dicampur aduk oleh mereka, misalnya seperti: ianya hape yang artinya sama dengan oh ianya atau yang lainnya. Untuk berkomunikasi dengan para informan saya menyesuaikan diri dengan si informan, saya harus mengetahui kapan saya akan menggunakan bahasa indonesia, kapan saya menggunakan bahasa daerah dan kapan saya harus menggunakan bahasa campur artinya gabungan antara bahasa indonesia dan bahasa daerah atau biasa disebut marpasir-pasir (istilah yang digunakan orang batak bagi mereka yang belum fasih menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar). Sebahagian besar penduduk di huta tinggi ini adalah orang tua, hal ini terjadi karena para pemuda/i banyak yang merantau baik melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi sebagai mahasiswa ataupun untuk bekerja. Jadi selama proses penelitian saya jarang menemukan pemuda/i di daerah ini kalupun saya menemukannya beberapa hanya pada hari sabtu ketika kaum Parmalim akan melaksanakan ibadah Mar ari sabtu setiap hari sabtunya. Informan saya juga awalnya adalah semua orang tua itupun sangat sulit untuk mewawancarai mereka 46

47 karena setiap harinya tidak selalu ada di rumah karena mereka mempunyai ladang untuk digarap. Saya banyak melakukan wawancara setiap hari sabtunya dimana anggota punguan yang berada dihuta tinggi akan datang dari berbagai desa untuk beribadah sabtunya disana. Sering sekali saya harus merasa kesal ketika saya harus menerima kenyataan bahwa penantian saya selama seminggu sampai pada hari sabtu dimana ada banyak masyarakat yang bisa saya wawancara sudah pulang kerumah mereka masing-masing dengan cepat. Karena setelah ibadah selesai mereka langsung menyebar pulang tanpa sempat saya hentikan untuk berbincang sedikit alasan mereka secepatnya pulang karena masih ada hal yang mereka mau kerjakan. Selama menggali dan berusaha mendapat informasi yang akurat, padat dan terpercaya saya mendapat pengalaman yang begitu mengharukan sedikit. Hal ini dimulai ketika saya harus menemui pargondang (pemusik) beliaulah yang akan memberi banyak informasi kepada saya tentang bagaimana sebenarnya pengaruh besar dari musik gondang hasapi pada acara ritual sipaha sada tersebut. Perlu waktu yang sangat panjang dan sangat memakan waktu untuk bisa bertemu langsung dengan beliau karena beliau sangat sibuk diundang kesana kemari untuk bermain musik baik dalam acara adat batak toba misalnya pernikahan, kematian dll. Setiap ada kesempatan bertemu pada ibadah mar ari sabtu dengan beliau saya selalu menampakkan wajah polos saya dengan penuh harap bahwa beliau akan menyempatkan diri untuk sekedar berbincang santai dengan saya. Tetapi, saya selalu mendapat respon yang sama dan tidak bisa berbincang untuk 47

48 mendapat informasi dari beliau karena memang beliau sangat sibuk. Hingga pada akhirnya saya menemui beliau dirumahnya, tetapi sebelumnya sudah meminta waktu beliau lewat telefon. Karena rumah Tulang Sitorus tidak kami tahu posisi pastinya, maka kamipun mencarinya. Dengan bantuan teman saya Ganda dan Ruth, kami pun pergi ke laguboti kota dan menyusuri jalan menanyakan kepada orang-orang dimana pargondang parmalim yaitu Bapak Sitorus. Beruntungnya tidak perlu waktu yang lama, kami telah mendapat informasi letak dari rumah beliau. Tulang Sitorus cukup dikenal di daerah itu, itulah sebabnya kami tidak perlu memerlukan waktu yang lama untuk menemukan rumah beliau. Berwawancara berjam-jam dirumah beliau sangat saya idam-idamkan sejak mulai penelitian lapangan tetapi baru bertemu beliau hampir satu bulan lamanya. Jadi, ketika sudah bertemu dengan beliau saya tidak menyianyiakan kesempatan baik ini. Segala pertanyaan yang ingin saya sampaikan kepada beliau saya tanyakan dibantu oleh dua orang teman saya lainnya. Pengalaman yang berkesan adalah ketika mata saya mulai berkaca-kaca ingin meneteskan air mata karena Tulang Sitorus tersebut sempat menolak untuk memberi informasi kepada saya. Tetapi dengan berkat Tuhan saya mendapatkan hati beliau, karena sebelumnya saya juga sudah meminta izin kepada Opung Raja Marnangkok untuk meminta file informasi dari Tulang Sitorus yang saya perlukan dalam skripsi saya. Dengan usaha yang baik dan bahasa yang nyaman saya berhasil memenangkan hati Tulang Sitorus, kemudian beliau memberi saya banyak informasi mengenai penelitian skripsi saya. Beliau adalah sosok yang sangat tegas, bertanggung jawab itulah sebabnya beliau sempat menolak untuk tidak memberi saya informasi file 48

49 yang saya butuhkan dalam skripsi saya. Tetapi, dengan berjalannya waktu semua terlihat baik-baik saja pembicaraan kami makin lama semakin menyenangkan dan terlihat lebih santai walaupun tetap serius dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya istri beliau juga ikut bercerita tentang hal-hal yang membuat mereka menjengkelkan kepada para peneliti yang hanya menggali informasi dan setelah itu mereka pergi tanpa memberikan flasback terhadap parmalim. dengan cerita tersebut saya selalu menanamkan dibenak saya agar nantinya skripsi saya akan saya berikan kepada pihak huta tinggi untuk dimanfaatkan seperlunya dan sebaikbaiknya. Setiap hari sabtu saya selalu mengikuti ibadah rutin yang dilakukan masyarakat parmalim, pada hari sabtu tersebut saya akan berjumpa dengan banyak orang yang merupakan punguan di huta tinggi tersebut untuk melakukan ibadah. Seperti halnya ibadah orang kristen dihari minggu mereka juga akan berjumpa satu dengan yang lainnya bahkan untuk sekedar saling menyapa di samping mereka akan beribadah. Untuk orang awam seperti saya, awalnya saya sangat canggung dengan hal ini pertama kali saya mengikuti ibadah saya datang sangat cepat dua jam sebelum mulai hingga Opung Raja Marnangkok salut dengan saya walau pada akhirnya saya sangat bosan menunggu dua jam dimulainya ibadah tersebut. Tetapi untuk menjalin raport yang baik saya sudah cukup ahli, karena sudah lumayan sering terjun kelapangan. Memasuki pintu masuk tempat ibadah saya sudah mencium bau yang tidak asing lagi bau ini sangat has dengan hidung saya, seketika itupun saya tersadar dan ingat bahwa bau itu sangat familiar ketika saya memasuki kuil-kuil Tamil 49

50 India ketika saya melakukan penelitian ditempat tersebut sebelumnya, bau ini juga bisa kita temui di tempat ibadah umat Budha yaitu seperti bau Dupa. Awalnya saya tidak terbiasa dengan bau tersebut karena tercium selama beberapa jam selama ibadah berlangsung. Hal yang paling mengesankan adalah karena sudah terbiasanya saya dilihat dan selalu ikut melaksanakan ibadah setiap hari sabtunya maka mereka tidak asing lagi dengan wajah saya hingga setiap kali saya dilihat oleh istri dari ulu punguan yang sudah tua, saya selalu diberi senyum atau sekedar diajak untuk bicara dan selalu mempersilahkan saya untuk duduk didepan. Dan nenek ini selalu mencarikan saya jodoh dan selalu menawarkan saya kepada ibuibu lain apakah ada anaknya untuk saya. Mungkin kami orang batak selalu begitu jika orang tua bertemu dengan sosok perempuan yang terlihat sopan akan disodorkan kepada temannya yang lain jika anaknya tidak adalagi yang ingin dinikahkan. Salah satu pengalaman saya ketika mencari data di Huta Tinggi adalah ketika dalam proses penelitian saya harus jatuh hati kepada seorang pemuda parmalim yang tidak ingin saya sebut namanya, walau itu hanya sekedar dan tidak ingin memilikinya, kami cukup dekat dan cukup sering saya meminta tolong kepada Dia dan pada akhirnya saya harus menghapus segala akses yang berhubungan dengan Dia dikarenakan kami punya masalah yang tidak terlalu serius dan mungkin hanya kesalah pahaman yang mengharuskan kami untuk tidak saling menghubungi lagi satu sama lain. Ada beberapa remaja yang saya ajak untuk sekedar berbincang salah satunya adalah hendro butar-butar, Dia mempunyai banyak pengalaman dalam bidang pengetahuan tentang parmalim 50

51 karena dia merupakan salah satu naposo untuk mengajari anak-anak mengenal bagaimana parmalim dan ajaran-ajarannya. Pengalaman saya ketika mengikuti Upacara Ritual Sipaha Lima di bulan juli satu bulan lalu adalah ketika masyarakat disana selalu memanggil saya untuk duduk disampingnya ketika akan makan dalam acara tersebut. Terlebih ibu mamak Gita, beliau selalu mengistimewakan saya dianggap sebagai adik sendiri, meminta makan dan minum saya hingga tidak memperbolehkan saya untuk ikut berperan serta bekerja melayani masyarakat yang datang dari segala penjuru yang menganut agama parmalim maupun pihak lain yang ingin menyaksikan perhelatan akbar tersebut. Hal yang sangat menyedihkan terjadi dalam hidup saya selama penelitian adalah ketika orang yang sangat saya sayangi berubah dan tidak memperdulikan saya lagi, menganggap saya sebagai orang lain, tidak menghargai saya, memutuskan segala harapan dan mimpi saya bersama nya, hingga saya tidak memperdulikan skripsi saya lagi tidak menghiraukan tubuh saya lagi yang semakin lama semakin kurus. Dengan memikirkan skripsi dan hal diluar pemikiran saya, semangat yang seharusnya saya dapatkan dari dia tidak akan saya dapatkan melainkan hanya luka, sedih, hampa dan air mata yang menghiasi harihari saya ketika penelitian disana. Orang yang sangat saya percaya dan orang yang sudah saya titipkan seluruh hati saya, yang melalui banyak kisah dengan saya berani mengatakan hal yang tidak seharusnya saya dengar dan saya alami ketika saya dalam penelitian. 51

52 Dilain kesempatan, pengalaman yang sangat mengesankan pada saat penelitian dalam proses wawancara di daerah tersebut ketika saya bertanya kepada seorang ibu sebelum saya berbicara dia sudah terlebih dahulu menolak saya dan mengatakan tidak mengetahui apa-apa dan malah menyodorkan anaknya yang masih kecil untuk saya ajak berbicara. Untuk mendapatkan data-data lapangan tidak terlalu sulit saya lakukan karena bahasa yang saya gunakan adalah bahasa daerah yang memunginkan saya lebih akrap dan mengerti satu sama lain. Selain itu rapot yang baik sudah saya bangun dan gunakan dari awal saya datang dan memulai penelitian disana. Semakin berjalannya waktu maka semakin mereka terbuka untuk berbicara atau sekedar bercanda gurau dengan saya. Setiap kegiatan yang dilakukan masyarakat saya amati untuk mendapatkan informasi yang saya harapkan, menjalin raport yang baik juga dengan wawancara mendalam kepada informan-informan yang sangat saya kasihi tersebut. Suatu saat saya ingin kembali lagi ke lokasi penelitian tersebut untuk menunjukkan hasil dari penelitian yang saya lakukan dan kerjakan. Metode yang saya gunakan dilapangan sangat membantu penelitian saya selama dilapangan. Sehingga sekalipun saya mengalami kendala dalam penelitian saya, tetapi dengan tehnik dan metode penelitian yang saya gunakan maka kesulitan tersebut bisa ter atasi dengan sedikit usaha yang lumayan menguras tenaga. 52

53 BAB II GAMBARAN UMUM HUTATINGGI Laguboti adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kab. Toba Samosir. Terdapat beberapa desa yang ada di daerah ini, salah satunya adalah Desa Pardomuan Nauli. Desa ini adalah lokasi dimana Hutatinggi berada, yaitu lokasi yang ditempati oleh Ugamo Malim. Dipimpin oleh kepala desa yang bernama Josia Hutahaean. Untuk mengetahui data-data yang signifikan dalam penelitian ini dan untuk melengkapi hasil penelitian tentang Desa Pardomuan Nauli maka sangat penting untuk mencantumkan gambaran umum Kecamatan Laguboti ini dalam angka. Sebagian besar daerah ini dihuni oleh Etnis Batak Toba. Untuk itu perlu untuk mengetahui sejarah singkat dari etnis Batak Toba Sejarah Singkat Etnis Batak Toba Etnis Batak terbagi atas: Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Angkola, Batak Toba, Batak Pakpak, dan Batak Mandailing. Secara keseluruhan, masyarakat Batak bertempat tinggal mengelilingi Danau Toba yang saat ini terbagi atas beberapa kabupaten. Batak Toba merupakan pusat budaya Batak karena diantara sub-etnis lainnya, hanya Batak Toba yang mempunyai mitos penciptaan. Marpaung, (2013:31-32) mengatakan Mitos penciptaan etnis Batak Toba bahwa masyarakat Batak Toba berasal dari mulajadi nabolon, yaitu dewa tertinggi 53

54 dalam sejarah mitologi Batak. Kemudian mulajadi nabolon mengirimkan siraja Batak ke bumi tepatnya dikaki Gunung Pusuk Buhit. Siraja Batak memiliki dua orang putra, yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isombaon. Guru Tateabulan memilki lima anak laki-laki, yaitu Raja Biak-biak, Sariburaja, Limbongmulana, Sagalaraja, Malauraja, dan empat anak perempuan, yaitu Sibidinglaut, Siborupareme, Siboruparomas, dan Nan Tinjo. Salah seorang anak raja ada yang menikah dengan saudara perempuannya, yaitu Sariburaja dan Siborupareme. Sedangkan, Raja Isombaon memiliki tiga orang anak laki-laki yaitu Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi, dan Sangkarsomalidang. Masyarakat Batak Toba yang sekarang ini tersebar diseluruh dunia adalah keturunan dari anak raja-raja tersebut dan hingga kini anak dan boru batak jika dia adalah seorang laki-laki akan disebut anakni Raja dan jika dia adalah seorang perempuan maka dia akan disebut boruni Raja 14. Salah satu tanah Batak dari beberapa tempat yang didiami oleh masyarakat Batak Toba adalah Toba Samosir, yang mempunyai beberapa kecamatan salah satunya adalah kecamatan Laguboti. Ada sebuah desa yang didiami oleh sebuah aliran kepercayaan nenek moyang Parmalim yaitu Desa Pardomuan Nauli. Lokasi tanah yang didiami aliran kepercayaan Ugamo Malim ini disebut Hutatinggi. Huta adalah sekelomppok rumah yang berdiri diatas tanah satu kawasan yang dihuni oleh beberapa keluarga yang terikat dalam satu kerabat. Sebagai contoh adalah Hutatinggi yang dihuni oleh masyarakat Parmalim. 14 Cerita singkat sejarah asal muasal Suku Batak (diakses senin 03 oktober 2016), Kubur Batu Di Samosir ( Yohana Pamella Berliana Marpaung 2013:30-31) 54

55 2.2. Letak dan Keadaan Hutatinggi Akses tiap desa ke ibukota kecamatan relatif mudah. Karena seluruh desa/kelurahan sudah dapat dilalui oleh alat transportasi roda dua atau roda empat dan jaraknya pun relatif dekat. Sedangkan jarak Desa Pardomuan Nauli ke kantor kecamatan yaitu 2,5 km. untuk mencapai lokasi ini dapat menggunakan kendaraan umum. Hutatinggi juga dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum seperti angkot atau becak, karena akses jalan menuju tempat ini sudah cukup bagus. Desa/Kelurahan yang memiliki jarak terdekat dengan kantor kecamatan adalah kelurahan Pasar Laguboti yaitu 0,1 km dan desa terjauh dari kantor kecamatan adalah Desa Sidulang yaitu 7,1 km. Masyarakat yang menempati wilayah Parmalim Hutatinggi sebagian besar merupakan usia produktif usia tahun. Hal ini disesbabkan karena masyarakat ini sangat menyarankan anak-anaknya untuk sekolah kejenjang yang lebih tinggi lagi setelah tamat SMA. Karena masyarakat ini ingin membuktikan bahwa mereka juga mampu bersaing dikancah yang lebih tinggi dan meyakinkan. Seperti yang kita ketahui tidak jarang mereka tidak diterima disuatu instansi tertentu karena kolom agama di KTP mereka dikosongkan atau dibuat aliran kepercayaan. Jumlah penduduk Parmalim yang menempati wilayah Hutatinggi adalah 67 orang, sedangkan lainnya masyarakat yang menganut Ugamo Malim ini berada di pasar Laguboti, Porsea, Parsoburan dan lainnya seperti Balige. Berikut adalah denah sederhana untuk mencapai lokasi Hutatinggi, lokasi ugamo malim. 55

56 56

57 Gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa akses untuk mencapai lokasi Hutatinggi lokasi Ugamo Malim sangatlah mudah untuk ditempuh dengan berbagai kendaraan. Jalan, akses, trasportasi, dan lokasi yang tidak terlalu rumit juga mempermudah siapa saja yang ingin mengunjungi lokasi tersebut. Hal ini dapat terlihat dimulai dari pusat kota Laguboti yang sangat strategis. Berada di jalan lintas untuk menuju berbagai tempat, misalnya dari kota Medan menuju Kab. Humbang, Kab. Tapanuli, dll. Dari pusat kota untuk mencapai lokasi, terlebih dahulu akan melewati sebuah simpang sebelah kanan kurang lebih 300 m² yaitu simpang sirongit. Dari simpang tersebut menuju persimpangan Hutatinggi, disepanjang jalan atau lebih tepatnya jalan Hepata akan terlihat beberapa rumah warga disepanjang jalan tersebut. Tidak perlu khawatir karena sudah banyak rumah warga yang berderet jika lokasi tersebut ingin kita akses pada malam hari. Selain rumah-rumah warga, terdapat juga gereja yang biasanya digunakan oleh umat kristiani untuk beribadah setiap minggunya. Lokasi gereja tersebut tidak jauh dari lokasi Ugamo Malim, hanya kurang lebih 100 m². Sekitar 40 m² dari simpang gereja, tepatnya disebelah kiri ada sebuah simpang untuk menuju lokasi dimana Huta Parmalim tepatnya berada. Memasuki gerbang Huta Parmalim kita akan melewati beberapa rumah warga parmalim. berjalan beberapa langkah dengan sedikit menanjak, kita akan menemukan beberapa bangunan atau masyarakat parmalim biasa menyebutnya sebagai bale yang mempunyai fungsi masing-masing sesuai dengan namanya. 57

58 Terdapat beberapa bale yang ada di Huta Parmalim, diantaranya adalah Bale Partonggoan, terdapat dua bale pangaminan, Bale Parpitaan, Bale Parhobasan, dan sebuah bangunan yang merupakan rumah dari Raja Ihutan Parmalim. dan terdapat juga sebuah taman yang cukup luas untuk menampung seluruh masyarakat parmalim jika mereka sedang melakukan upacara-upacara keagamaan seperti sipaha sada atau siapaha lima. Fungsi dari masing-masing bale tersebut adalah sebagai berikut: Bale Partonggoan berfungsi sebagai tempat untuk melakukan ibadah mingguan setiap hari sabtunya. Selain itu tempat ini berfungsi sebagai pusat dari semua rangkaian upacara-upacara besar keagamaan, seperti sipaha sada ataupun sipaha lima. Di dalam ruangan ini akan dilakukan ritual-ritual untuk memulai setiap upacara keagamaan maupun untuk mengakhiri. Bale Pangaminan berfungsi sebagai tempat masyarakat parmalim berkumpul untuk bersiap-siap sebelum melakukan ibadah mingguan marari sabtu ataupun upacara-upacara keagamaan selama dua atau tiga hari. Selain itu tempat ini juga berfungsi sebagai tempat singgah untuk tidur dan menyimpan barang bawaan masyarakat parmalim yang datang dari luar kota untuk menghadiri upacara keagamaan. Bale Parpitaan berfungsi sebagai balai sakral yang digunakan oleh ihutan dan petinggi lainnya untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan upacara yang akan dilakukan. 58

59 Bale Parhobasan, berfungsi sebagai tempat untuk melakukan berbagai persiapan konsumsi, menyimpan peralatan yang digunakan untuk persiapan konsumsi upacara ritual keagamaan. Rumah Raja Ihutan Parmalim adalah rumah tempat tinggal ihutan beserta keluarga, berada di dekat seluruh bale yang berada di Huta Parmalim. Setiap bale mempunyai peran dan fungsi masing-masing yang sudah ditetapkan bersama oleh ihutan dan masyarakat parmalim sendiri. Lokasi Huta Parmalim yang sangat mudah di tempuh mempermudah orang yang ingin mengunjungi lokasi tersebut, terlebih bagi masyarakat awam yang belum pernah ke lokasi tersebut misalnya peneliti dari dlaam maupun dari luar negeri. Tentang Parmalim Hutatinggi Parmalim merupakan kelompok komunitas masyarakat keagamaan lokal tradisional Batak Toba yang terdapat di provinsi Sumatera Utara. Parmalim Nasiakbagi adalah salah satu sekte ajaran yang secara organisatoris berpusat di desa Hutatinggi kecamatan Laguboti di Kabupaten Toba-Samosir. Secara historis, sekte Nasiakbagi, kadangkala disebut dengan parnasiakbagi (pemeluk ajaran Nasiakbagi), didirikan sekitar tahun oleh Raja Mulia Naipospos, salah seorang pengikut dari Raja Si Singamangaraja XII. Pada waktu berdirinya aliran keagamaan ini, para pengikutnya telah mendapat tantangan berupa pelarangan oleh Rheins Mission Gessenschaft (institusi zending Kristen German yang datang dan sangat berpengaruh di wilayah tanah Batak pada masa itu) dan pelarangan 59

60 tersebut mendapat dukungan dari pihak kolonial Belanda yang sedang berkuasa (lihat M. Hiroshue 1988). Sejalan dengan melemahnya tekanan yang diberikan kepada pengikut Parmalim, pemerintah kolonial Belanda akhirnya memberi izin pada warga kepercayaan ini untuk dapat mendirikan rumah peribadatan (bale pasogit/bale partonggoan) bertempat di desa Hutatinggi. Sebelumnya, kolonial Belanda telah menghancurkan bale pasogit Parmalim di Bakkara ketika perang yang terjadi antara Raja Si Singamangaraja XII dan pengikutnya melawan kolonial Belanda di tahun Momentum perizinan ini dapat dilihat dari dikeluarkannya surat resmi dari Controleur Van Toba, Nomer: 1943/13 tertanggal 25 Juni 1921, sekaligus menandai aliran keagamaan Parmalim diakui secara legal oleh pemerintah Hindia Belanda. Sejak saat itu desa Hutatinggi secara formal menjadi pusat dari berbagai kegiatan kepercayaan Parmalim Nasiak Bagi. Momentum pendirian rumah ibadah ini sekaligus dijadikan oleh Raja Mulia Naipospos dan para pengikutnya menjadi tahun berdirinya Ugamo Malim. Komunitas ritual dalam tradisi Parmalim Nasiakbagi terbagi atas beberapa sub kelompok yang disebut punguan. Masing-masing punguan dipimpin oleh seorang ulu punguan (pimpinan kelompok berdasarkan wilayah persebaran dimana masyarakat Parmalim berdomisili). Persebaran dari kelompok masyarakat kepercayaan Parmalim meliputi beberapa wilayah di Indonesia, seperti wilayah kabupaten Tapanuli Utara dan Toba-Samosir, kota Medan, Sidikalang, Batam, Pekanbaru, hingga sebagian di pulau Jawa, Kalimantan dan Irian Jaya. Para 60

61 pengikut ajaran ini pada umumnya berkumpul di desa Hutatinggi sebagai pusat keagamaan, sedikitnya dua kali dalam setahun, pada waktu dimana upacara besar tahunan (perayaan Sipaha sada dan Sipaha lima) diselenggarakan. setiap upacara besar tersebut akan diperdengarkan musik gondang. Penggunaan gondang hasapi akan dilaksanakan pada upacara ritual sipaha sada sedangkan penggunaan gondang sabangunan akan dilaksanakan pada saat upacara ritual sipaha lima berlangsung. Diantara beberapa upacara ritual parmalim kedua upacara inilah yang merupakan upacara besar parmalim. Suasana Upacara Sipaha Sada Pelaksanaan upacara ritual sipaha sada berdekatan dengan pelaksanaan mangan napaet (makan yang pahit), sebuah upacara dalam agama malim sebagai pertanda lepas dari dosa ritual ini merupakan pesan yang disampaikan bapak dari Simarimbulubosi. Makna yang pahit adalah awal permulaan yang manis, sedangkan makna yang sakit adalah permulaan kehormatan (hasangapon). Walaupun upacara sipaha sada tidak ada kaitannya dengan upacara mangan napaet, tapi upacara sipaha sada ini hampir bersamaan waktunya dengan upacara mangan napaet, karena keduanya hanya berjarak satu hari yaitu ari artia (hari pertama) bulan sipaha sada. Hari artia (pertama) dalam agama malim disebut dengan istilah ari holang (pemisah) yaitu suatu hari pembatas antara pelaksanaan upacara mangan napaet dengan upacara sipaha sada. Pada hari holang sebenarnya adalah hari istirahat, namun khusus bagi anggota yang jauh dari Hutatinggi, hari holang ini dimanfaatkan sebagai hari untuk berangkat menuju Bale Pasogit 61

62 Partonggoan di Hutatinggi, tempat upacara sipaha sada dilaksanakan. Sementara bagi anggota yang dekat dengan Bale Pasogit Partonggoan sudah mulai mengerjakan segala sesuatu yang diperlukan untuk upacara sipaha sada, misalnya mempersiapkan makanan untuk peserta, bahan pelean dan sebagainya. Upacara sipaha sada dilaksanakan selama dua hari, hari pertama: sebelum upacara sipaha sada dimulai, lebih dahulu pada pagi harinya para petugas mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk upacara tersebut. Kaum ibu-ibu sebagai petugas dapur sudah sibuk memasak makanan untuk santapan tengah hari termasuk memasak bahan pelean (persembahan) yang terdiri dari satu ekor kambing putih, ayam, dan beberapa bahan pelean lainnya sedangkan kaum Bapak sibuk mempersiapkan peralatan gondang yang terdiri dari hasapi (kecapi) sarune, hesek dan garantung. Kesemua bahan sesaji dan peralatan harus dimasukkan kedalam ruangan bale pasogit partonggoan. Upacara sipaha sada dilaksanakan didalam bale pasogit partonggoan bukan dihalaman seperti pelaksanaan upacara sipaha lima. Setelah selesai makan siang pukul WIB, para pesrta sudah berada dihalaman gedung bale pasogit partonggoan dengan keadaan siap untuk memasuki ruangan dengan memakai pakaian upacara masing-masing. Ihutan dan pargonsi beserta keluarga induk bolon (keturunan Raja Mulia) lebih dulu memasuki ruangan bale pasogit partonggoan dan disusul kemudian oleh semua ketua-ketua cabang. Di dalam ruangan, ihutan dan beberapa petugas lainnya mulai menyusun letak sesaji diatas panggalangan dan termasuk memeras jeruk purut yang akan dijadikan sebagai air pangurason (pensucian). Bersamaan dengan itu 62

63 para peserta yang masih berada diluar belum diperbolehkan masuk kedalam ruangan, sementara gondang hasapi sudah mulai dibunyikan tanpa henti-hentinya hingga penyusunan sesaji selesai dilaksanakan. Setelah selesai penyusunan sesaji, ihutanpun menaiki tangga menuju lantai dua setelah terlebih dahulu memercikkan air pensucian sebanyak tiga kali disebelah kiri dan kanan sesaji. Kemudian, ulu punguan, membawa semua sesaji dengan cara manitang (secara bersambung) kepanggal tangga untuk selanjutnya salah satu dari ulu punguan naik turun atau bolak balik untuk mengantarkan sesaji tersebut kepada ihutan. ihutan selanjutnya akan menyusun semua sesaji tersebut dilantai dua (panggalangan). Setelah selesai, barulah semua peserta yang sejak tadi berada diluar boleh masuk kedalam ruangan bale pasogit partonggoan dan duduk bersila dengan tertib. Salah seorang ulu punguan memberi isyarat dari bawah bahwa upacara sudah bisa dimulai. Sebagai awal permulaan upacara, lebih dahulu ihutan memercikkan air pensucian dari lantai dua kepada seluruh peserta yang berada dilantai dasar sebelum meminta gondang alu-alu (gendang aduan) kepada pargonsi untuk dibunyikan tiga kali yang masing-masing ditujukan kepada raja nasian bagi, raja na 44, dan kepada Debata mulajadinabolon. Tidak berapa lama setelah itu ihutan langsung melafalkan doa-doa seperti biasa. Isi doa-doa itu tentunya berkaitan dengan upacara sipaha sada yang intinya memeringati hari lahirnya simarimbulubosi sekaligus meminta perlindungan sesuai dengan sifat yang dimilikinya. Sebagaimana biasanya, pada setiap pelafalan doa-doa lebih dahulu ihutan memasukkan serbuk daupa kedalam pendaupaan. Demikian juga dengan pembunyian gondang tetap dilangsungkan setiap satu doa selesai dilafalkan. 63

64 Dengan selesainya pelafalan doa-doa, maka selesailah upacara khusus persembahan pelean somba (sesaji sembah). Lalu, ihutanpun turun dari atas dan langsung berdiri dengan posisi menghadap ke panggalangan, sementara peserta masih tetap duduk bersila. Tidak berapa lama setelah gendang pengiring berhenti, ihutan meminta kepada pargonsi untuk membunyikan beberapa macam gondang. Gondang yang pertama sekali adalah gondang pembuka yang ditujukan kepada Raja Nasiakbagi, sedangkan gondang yang kedua adalah gondang khusus untuk memeringati hari kelahiran simarimbulubosi yang disebut dengan gondang pangharoanon (gendang menyambut kelahiran). Ada beberapa gondang khusus untuk memeringati hari kelahiran Simarimbulubosi. Diantaranya adalah gondang untuk ibu yang melahirkan Simarimbulubosi, gondang hatutubu (gondang kelahiran), gondang pangharoanon (gondang menyambut kelahiran), gondang didang-didang (gondang membuai Simarimbulubosi), gondang haposoon (gondang ketika dimasa muda), gondang ulaon (gondang kenabian), gondang habengeton (gondang ketabahan), gondang panghophopan (gondang pembelaan), gondang hasiakbagion (gondang penderitaan), gondang hamonangan (gondang kemenangan), gondang parolop-olopan (gondang untuk merayakan kegembiraan), gondang hasahatan (gondang tertujunya upacara). Semua nama gondang tersebut, wajib diperdengarkan dalam ritual sipaha sada tersebut. Setiap gondang dibunyikan, maka harus disertai dengan tortor, tetapi yang boleh manortor hanya ihutan sendiri sementara yang lainnya hanya mangatea (bersembah dengan sepuluh jari) dengan posisi tetap duduk. 64

65 Dengan selesainnya nama-nama gondang tersebut disajikan, maka selesailah upacara sipaha sada hari pertama. Namun selalu dilanjutkan dengan acara persembahan gondang dan tortor tambahan dari tiap cabang sebelum ditutup oleh ihutan dengan mempersembahkan gondang yang disebut dengan gondang panggohi (penutup). Di ujung gondang yang terakhir, ihutan menyudahinya dengan kata horas (selamat) sebanyak tiga kali. Dengan itu berakhirlah keseluruhan rangkaian upacara sipaha sada pada hari pertama. Hari kedua, upacara hari kedua sipaha sada hampir sama dengan hari pertama yang pelaksanaannya dimulai selepas makan tengah hari. Yang berbeda hanyalah dari segi kandungan doa-doa. Jika pada hari pertama bertumpu pada peringatan hari kelahiran Simarimbulubosi dan mempersembahkan sesaji Sembah (pelean somba), maka pada hari kedua kandungan doa-doa terfokus pada upacara syukur sekaligus memohon kepada Debata termasuk kepada Simarimbulubosi agar diberikan murah rezeki (hagabeon), keselamatan (hahorason), kekuatan jasmani dan rohani (hagogoon). Tiga permohonan ini sengaja disampaikan karena Simarimbulubosi memiliki sifat dan kuasa dari Debata untuk menyampaikannya kepada manusia. Pada hari kedua ihutan memberi ceramah yang berkaitan dengan hikmah sipaha sada. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan bahan ceramah yang disebut dengan turpuk poda kepada seluruh ulupunguan (ketua cabang). Bahan ceramah ini adalah semacam khotbah yang akan disajikan oleh ketua-ketua cabang pada setiap upacara agama mararisabtu. boleh dikatakan turpuk poda ini merupakan panduan materi agar semua cabang parmalim seragam. 65

66 Setelah selesai pemberian ceramah agama dan penyerahan panduan khotbah, keseluruhan upacara diakhiri dengan gondang penutup yang dipimpin langsung oleh ihutan. dalam hal ini ada beberapa nama gondang yang biasa diminta oleh ihutan sebagai penutup. Pada ujung gondang yang paling terakhir, ihutan mengucapkan kata horas sebanyak tiga kali sebagai pertanda bahwa upacara telah selesai. Dengan berakhirnya gondang penutup, maka berakhir pulalah keseluruhan rangkaian upacara sipaha sada, oleh karena itu, seluruh peserta sudah bolehmeninggalkan arena upacara menuju rumahnya masingmasing. 66

67 BAB III TRADISI GONDANG PADA MASYARAKAT BATAK TOBA Dalam konteks kehidupan tradisional masyarakat Batak Toba, kegiatan bermain musik merupakan sesuatu yang menonjol. Berbagai kegiatan musik dapat dilihat dari dua konteks kegunaan yakni; kegiatan musik yang dilakukan untuk sesuatu yang sifatnya hiburan dan kegiatan pertunjukan musik yang dilakukan dengan konteks adat dan ritual agama. Salah satu komponen penting dalam setiap upacara Batak Toba adalah menyajikan ensambel gondang dan tortor. Alat musik gondang ini merupakan alat musik tradisional masyarakat Batak Toba. Ensambel gondang ini wajib dimainkan pada saat upacara adat tertentu berlangsung atau pada saat kegiatan musik lain yang sifatnya hiburan sedang diadakan. Ditinjau dari segi penggunaannya, gondang dapat dibagi kepada dua kelompok yaitu gondang sabangunan (gondang lengkap) dan gondang hasapi (gondang kecapi) Pengertian Konsep Gondang Purba (2004:61-62) menyatakan, gondang mempunyai arti yang majemuk diantaranya adalah instrumen musikal, ensambel musikal, judul sebuah komposisi musik, judul kolektif dari beberapa komposisi musik (reportoar), sebuah upacara, menunjukkan suatu kelompok (kelompok kekerabatan atau tingkat umur), dan juga bisa berarti sebuah doa. 67

68 Pengertian kata gondang juga bisa sebagai kata benda jika ditambahi dengan beberapa imbuhan (margondang, pargondang, sagondang, dll). Oleh sebab itu, kata gondang merupakan sesuatu yang fleksibel (lentur, luwes: mudah dan cepat menyesuaikan diri) untuk digunakan dalam berbagai ekspresi sesuai dengan maksud, tujuan ataupun fungsinya dimana diposisikan. Kata itu akan berubah makna jika ditempatkan atau difungsikan dalam berbagai hal kegiatan tertentu. Kata gondang akan berubah makna, artinya akan menyesuaikan diri ketika digunakan dalam berbagai ekspresi. Oleh karena itu, kata gondang yang digunakan pada kalimat dan konteks yang berbeda akan memberikan pengertian yang berbeda pula. Makna lain dari kata gondang ini, berarti juga sebagai menunjukkan satu bagian dari kelompok kekerabatan, tingkat usia, atau orang-orang dalam tingkatan status sosial tertentu yang sedang menari (manortor) pada saat suatu upacara berlangsung (Purba, 2004). Kata ini dapat menunjukkan suatu hubungan. Pengertian gondang sebagai perangkat alat musik, yakni gondang Batak. Sering diidentikkan dengan gondang sabangunan. gondang sabangunan dan gondang hasapi, sedangkan gondang dalam pengertian ensambel musik terbagi atas dua bagian, yakni gondang sabangunan dan gondang hasapi. Secara umum fungsi kedua jenis ensambel ini hampir tidak memiliki perbedaan keduanya selalu digunakan di dalam upacara yang berkaitan dengan religi, adat maupun upacaraupacara seremonial lainnya. 68

69 Ensambel gondang sabangunan sering disebut dengan gondang bolon. Kata bolon berarti besar, dengan demikian gondang bolon berarti ensambel musik yang besar. Pertunjukan gondang sabangunan sering dilakukan di halaman terbuka, walaupun dapat juga dimainkan di dalam ruangan Sebutan gondang dalam pengertian komposisi menunjukkan arti sebagai sebuah komposisi dari lagu atau menunjukkan kumpulan dari beberapa lagu yang dimainkan pada upacara yang berbeda tergantung permintaan kelompok orang yang terlibat dalam upacara untuk menari, termasuk dalam upacara kematian saur matua. Misalnya: gondang sihutur sanggul, gondang sibunga jambu, dll. Kata sihutur sanggul menunjukkan sebuah komposisi lagu, sekaligus juga merupakan judul dari lagu itu sendiri. Sedangkan gondang dalam pengertian reportoar contohnya sipitu gondang. Disebut juga sebagai gondang pargonci adalah kumpulan lagu yang dimainkan pada bagian awal dari semua jenis upacara yang melibatkan aktivitas musik sebagai salah satu sarana dari upacara masyarakat Batak Toba. Dan kata gondang dalam pengertian upacara adalah misalnya gondang mandudu (upacara memanggil roh) dan upacara saem (upacara ritual). gondang juga dapat menunjukkan suatu bagian dari upacara dimana kelompok kekerabatan atau satu kelompok dari tingkatan usia dan status sosial tertentu yang sedang menari, pada saat upacara tertentu misalnya: gondang suhut, gondang boru, dll. Pengertian gondang secara keseluruhan dalam satu upacara dapat meliputi beberapa pengertian Makna atau arti yang terdapat pada sistem peralatan gondang dan fase-fase dalam upacara kematian Batak Toba ( diakses pada hari jumat 21 september 2016, pukul wib) 69

70 3.2. Jenis-jenis Ensambel Gondang Ada tiga jenis ensambel gondang yang dikenal masyarakat Batak Toba, yaitu ensambel gondang sabangunan, ensambel gondang hasapi, dan ensambel gondang bulu. Ketiga ensambel gondang ini digunakan untuk mengiringi tarian seremonial dalam setiap acara ataupun upacara masyarakat Batak Toba, yaitu tortor Ensambel Gondang Sabangunan Ensambel gondang sabangunan sering disebut dengan gondang bolon. Kata bolon berarti besar, dengan demikian gondang bolon berarti ensambel musik yang besar. Pertunjukan gondang sabangunan sering dilakukan di halaman terbuka, walaupun dapat juga dimainkan di dalam ruangan. Gondang sabangunan pada umumnya dimainkan oleh tujuh orang, yakni satu orang memainkan sarune bolon, taganing, odap, gondang bolon, ogung oloan, ihutan, ogung doal, ogung panggora dan satu orang lainya memainkan hesek. Ensambel gondang sabangunan terdiri dari: a. Sarune bolon, jenis alat tiup berlidah ganda Sarune Bolon adalah sejenis alat musik tiup yang berlidah ganda, seperti oboe dalam musik barat. Dalam bahasa batak toba, bolon berarti besar. Jadi Sarune Bolon artinya sarune yang besar. Panjang bagian batang sarune lebih kurang 46,5 cm. Sarune bolon memiliki bagian-bagian lain yang terpisah seperti ipit-ipit, ambong-ambing, dan anggar-anggar. Ipit-ipit adalah bagian lidah dari Sarune Bolon. 70

71 Sumber: internet Gambar 1: sarune bolon b. Taganing Taganing adalah sejenis alat musik gondang yang tergolong pada kategori gendang rak bernada. Taganing terdiri dari lima buah gondang yang kadangkadang berbentuk tabung melengkung atau tabung lurus. Seperangkat gondang bernada bermuka satu, yang terdiri dari odap-odap, paidua odap, painonga, paidua ting-ting, dan ting-ting. Gambar 2: taganing 71

72 c. Gordang bolon Gondang bas bermuka satu yang lebih besar dan lebih rendah. Gordang bolon merupakan jenis gendang yang sama dengan taganing, namun memiliki ukuran yang lebih besar. Disamping ukurannya yang lebih besar, Gordang juga tidak dilaras mengacu pada nada-nada tertentu. Gambar 3: gordang bolon d. Ogung Empat buah gong dengan ukuran yang berbeda, ihutan, doal, oloan dan panggora. Ogung merupakan seperangkat alat musik gong berpencu yang terdiri dari empat buah. Gambar4: ogung 72

73 e. Hesek, alat perkusi dari plat besi, botol atau benda perkusi apa saja yang bisa menghasilkan bunyi yang tajam Sumber: internet Gambar 5: hesek f. Odap, sejenis gendang kecil yang bermuka dua. Penggunaan odap dalam ensambel gondang sabangunan sangat jarang ditemukan saat ini. Alat ini hanya dipakai dalam upacara-upacara tertentu dan saat ini ditemukan dalam ritual si pahala lima yang dilakukan oleh kelompok kepercayaan parmalim. Dalam format penyajiannya, gondang sabangunan di sajikan diluar ruangan/di ruang terbuka dan dimainkan tujuh atau delapan orang pemain. Biasanya akan dibuat tempat khusus untuk penyajian gondang sabangunan ini misalnya sebuah panggung yang dihiasi khusus sesuai dengan acara yang sedang berlangsung. Di acara lain, di luar upacara yang dilakukan umat parmalim penyajian gondang sabangunan dapat juga dibuat dalam sebuah panggung yang berada diatas rumah bolon atau sebuah panggung yang tinggi. Tetapi, untuk ugamo parmalim sendiri penyajian gondang sabangunan tidak pernah dilakukan di sebuah panggung yang tinggi karena dalam hal ini fungsi nya adalah untuk menyempurnakan sebuah upacara keagamaan. 73

74 Gambar 6:penyajian gondang sabangunan Terlihat pargonsi sedang berada disebuah panggung menyajikan gondang sabangunan dalam sebuah upacara sipaha lima parmalim Dalam pengertian menurut suku Batak Toba, pembagian peranan filosofis dari masing-masing alat musik pada ensambel gondang sabangunan merupakan hal khusus yang tidak ditemukan pada gondang hasapi. Setiap alat musik dalam ensambel gondang sabangunan memiliki falsafah tertentu. Hubungan antara konsep falsafah dan pembagiaan peranan musikal tiap-tiap alat tercermin dalam konteks permainan musik yaitu: 1) Peranan alat musik yang mutlak sebagai pembawa melodi pada dasarnya adalah sarune bolon. 2) Taganing kadang-kadang bisa bermain mengikuti melodi sarune bolon secara heterofonis 16 atau hanya memberikan aksentuasi ritmis pada garis melodi yang 16 Heterofonosis yaitu bervariasi. Dalam hal ini heterofonosis berarti taganing bisa mengikuti melodi sarune bolon sesuai dengan penyajiannya. 74

75 dimainkan sarune bolon.. Bunyi taganing dianalogikan dengan suara orang yang sedang bersungut-sungut, dimana kata-katanya umumnya terdengar kurang jelas. 3) Bunyi ogung berfungsi sebagau pemberi aksentuasi dan penentu siklus yang dianalogikan seperti suara yang bergema. Untuk reportoar dari gondang sabangunan ada tiga bagian susunan acara yang merupakan bentuk upacara secara umum, yaitu pendahuluan yang disebut gondang mula-mula, pemberkatan yang disebut gondang pasu-pasu, dan penutup yang disebut gondang hasahatan. Bentuk upacara yang termasuk gondang mulamula antara lain: gondang alu-alu. Gondang somba-somba, upacara yang termasuk gondang pasu-pasu antara lain: gondang sampur marmere, gondang marorot, gondang saudara, gondang sibane-bane, gondang simonang-monang, gondang didang-didang, gondang malim, gondang mulajadi, sedangkan yang termasuk gondang hasahatan antara lain: gondang sitio-tio, dan gondang hasahatan 17. Dari ketiga bagian gondang tersebut diatas, maka para peminta gondang menentukan beberapa nomor acara gondang dan nama gondang yang akan ditarikan ataupun yang akan disajikan Ensambel Gondang Hasapi Musik gondang hasapi lazimnya dimainkan di dalam sebuah ruangan. Musik ini biasanya dimainkan oleh lima orang atau lebih tergantung jumlah ensambel yang sedang digunakan. Dalam konteks perkembangannya, gondang 17 Materi kuliah Batak (pardonsimbolon.blogspot.co.id) di akses selasa, 08 november 2016 pukul wib. 75

76 hasapi kadangkala diperluas dengan alat musik sulim, yaitu sejenis suling bambu yang secara tradisional dipergunakan dalam konteks hiburan pribadi. Ensambel Gondang Hasapi terdiri dari beberapa instrumental, antara lain: 1. Hasapi ende, atau kadang kala disebut dengan hasapi inang atau hasapi taganing, yaitu sejenis sebuah lute berleher pendek yang dimainkan dengan cara dipetik dan memiliki dua buah senar. Instrumen ini merupakan pembawa melodi dan dianggap sebagai instrumen utama dalam ensambel gondang hasapi. 2. Hasapi doal, instrumen ini sama bentuknya dengan hasapi ende, perbedaannya hanya terletak pada peranan musikalnya yakni hasapi doal berfungsi sebagai pembawa ritem konstan. Gambar: 7 (tujuh) Hasapi doal yang biasa digunakan oleh pargonsi dalam upacara 3. Sarune etek, yakni sejenis alat tiup berlidah tunggal (single reed) yang juga berfungsi sebagai pembawa melodi. Instrumen ini tergolong ke dalam kelompok aerophone yang memiliki lima lobang nada (empat di atas dan satu di bawah),dan dimainkan dengan cara mangombus marsiulak hosa 76

77 (meniup secara sirkular tanpa berhenti) yang dalam istilah musiknya disebut dengan circular breathing. Gambar 8: sarune etek 4. Garantung, yaitu alat musik berbilah yang terbuat dari kayu dan umumnya memiliki lima buah bilah nada. Selain berperan sebagai pembawa melodi, juga berperan sebagai pembawa ritem pada lagu-lagu tertentu. Dimainkan dengan cara mamalu. Gambar 9: Garantung 77

78 5. Hesek, yaitu sejenis alat perkusi yang terbuat dari plat besi atau botol kaca yang berperan sebagai pembawa tempo atau ketukan dasar, instrumen pembawa tempo atau ketukan dasar yang terbuat dari pecahan logam atau besi dan kadang kala dipukul dengan botol kosong. Instrumen ini dimainkan dengan cara mengadu pecahan logam tersebut sesuai dengan irama suatu lagu. Gambar 10: hesek yang terbuat dari besi Sumber: internet Untuk format penyajiannya, gondang hasapi disajikan di dalam ruangan upacara seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini: Gambar 11: penyajian gondang hasapi Sumber: internet 78

79 Ensambel Gondang Bulu Ensambel gondang ini jarang digunakan, tidak seperti eksisnya penggunaan gondang sabangunan dan gondang hasapi. Ensambel gondang bulu sama dengan gondang sabangunan tetapi yang membedakannya adalah taganing dan gong yang terbuat dari bambu, dan sarune etek yang digunakan adalah ensambel gondang hasapi. Gondang bulu sudah jarang ditemukan pada saat sekarang ini, gondang sabangunan lebih eksis digunakan dalam berbagai acaraacara adat atau keagamaan. Gondang sabangunan dan gondang hasapi biasanya akan digunakan untuk upacara-upacara ritual adat ataupun keagamaan, sedangkan ensambel bulu ini lebih digunakan untuk hiburan 18. Ensambel ini sudah jarang ditemukan sekalipun dalam acara hiburan pada masyarakat Batak Toba karena perkembangan musik yang sudah modern. Penggunaan gondang sabangunan dan gondang hasapi lebih sering disajikan dibandingkan gondang bulu baik dalam acara hiburan maupun acara adat atau religi Gondang dan Tortor Setiap ensambel musikal gondang adalah digunakan sebagai pengiring tarian seremonial yaitu tortor. Gondang dan tortor merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi. Setiap gondang selalu diikuti dengan tortor dan sebaliknya, tortor akan terlihat lebih bermakna jika diiringi dengan gondang pada upacara adat maupun keagamaan. Tortor 18 Tradisi gondang Sabangunan dan Tortor masyarakat Batak Toba oleh Mauly Purba ( kajiseni. Blogspot.co.id. diakses senin 24 oktober 2016, wib). 79

80 adalah tarian seremonial yang disajikan bersamaan dengan penyajian musik gondang. Purba (2004:64) menyatakan bahwa musik gondang dan tortor adalah ibarat sebuah koin dengan kedua sisinya, tidak dapat dipisahkan. Tortor lebih diartikan sebagai pengejawantahan 19 ekspresi baik individu maupun kolektif yang muncul pada saat upacara adat maupun ritual lainnya. Secara fisik tortor merupakan tarian, namun lebih dalam dari gerakannya menunjukkan makna lain yaitu sebagai media komunikasi, pemberi arti ataupun maksud tertentu. Melalui gerakan-gerakan yang disajikan terdapat interaksi untuk memberitahukan suatu hal yang tidak bisa diucapkan oleh mulut. Hal ini juga terlihat dalam partisipan upacara ketika partisipan memberi dan menerima hadiah seremonial, seperti ulos batak, beras, uang dan lain sebagainya. Tortor juga dapat difungsikan sebagai media untuk menyalurkan kekuatan diantara partisipan upacara. Hal ini dapat kita lihat pada acara adat orang Batak, ketika hula-hula memberikan berkat atau mamasu-masu kelompok boru dengan cara meletakkan kedua tangannya di atas kepala pihak boru. Dengan manortor hula-hula akan menyalurkan berkatnya, tanpa tidak harus berbicara langsung dengan boru (yang menerima berkat). Tortor itu sendiri dalam upacara adat sama dengan gondang yang berfungsi sebagai perantara untuk menyampaikan niat dan suara hati kepada tuhan. Dari gerak tortor itu akan tergambar bagaimana suasana hati seseorang. 19 Penjelmaan (perwujudan, pelaksanaan, manifestasi suatu posisi, kondisi, sikap, pendirian dll.) 80

81 Jika keadaan jiwanya penuh dengan kesusahan, jelas akan terlihat dalam lakon tortor itu kurang bergairah dan musik yang dimainkan juga terasa tidak bergairah. Berbeda dengan orang yang tampak gerak tortornya sangat bergairah dan menunjukkan sikap bergairah itu bermakna bahwa orang yang bersangkutan telah mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Dalam setiap manortor (menari) tentu harus berdiri dan tidak ada manortor yang pelaksanaannya duduk. Meskipun ada orang yang menggerakkan badannya pada saat seseorang manortor, gerakan itu bukan disebut manortor melainkan mangatea yaitu gerakan hanya menggerakkan sepuluh jarinya. Maksudnya adalah untuk memberikan perhatian kepada orang yang sedang manortor dan supaya terlihat lebih sempurna. Dalam hal ini gondang sabangunan memiliki peranan penting dalam tortor Batak Toba. Sedangkan dalam penggunaan gondang hasapi dalam adat batak toba dipergunakan untuk acara-acara tertentu saja. Biasanya musik gondang hasapi digunakan untuk acara-acara khusus yang diperuntukkan untuk hal-hal yang sangat spesial atau untuk hal-hal yang sangat sakral. Karena, alunan dari musik gondang hasapi ini biasanya akan lebih lambat dibanding dengan gondang sabangunan. Sebagai contoh adalah penggunaan hasapi pada upacara ritual sipaha sada parmalim. sedangkan untuk tortor didalam gondang hasapi ini lebih banyak digunakan tortor dalam bentuk mangatea yaitu bisa dengan keadaan duduk menggerakkan kesepuluh jarinya diartikan adalah sebagai bentuk penghormatan. 81

82 3.4. Penggunaan Gondang Dalam Berbagai Upacara Adat Pada Masyarakat Batak Toba Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam setiap upacara masyarakat Batak Toba penggunaan gondang sangatlah penting. Artinya gondang selalu berperan dalam setiap kegiatan keagamaan ataupun adat Batak. Di satu pihak orang Batak ingin mempraktikkan dan menghayati gondang itu menurut visi dan tradisi yang sudah sangat mendarah daging, dilain sisi ada kelompok yang menolak gondang untuk dipergunakan dalam upacara adat maupun keagamaan, karena mereka melihat unsur-unsur animisme pada gondang tersebut, ada ketakutan mereka mempelajari sejarah batak dan menghidupi unsurunsur kebudayaannya. Ketakutan ini timbul karena adanya predikat yang kurang baik sepeti kafir, kolot dan tuduhan lain yang diberikan penganut kebudayaan tersebut. (Sangti 1977 : 17) Pada bagian yang lain ada juga kelompok agama tradisional pada masyarakat Batak Toba yang menentang ajaran Kristen. Kelompok ini masih mempertahankan nilai-nilai kebudayaan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, terdapat banyak variasi-variasi pemikiran tentang hubungan antara kebudayaan tradisional dengan agama Kristen yang datang dari pihak gereja seperti tertulis oleh Verkuyl (1960: 36 ), antara lain : 1. Sikap antagonis (sikap menetang atau sikap negatif) terhadap kebudayaan yang ada. 2. Sikap akomodatif dan kapitulatif (sikap menyesuaikan diri ) terhadap kebudayaan yang ada. 82

83 3. Sikap dominasi (sikap menguasai) dari pihak gereja terhadap kebudayaan. 4. Sikap dualistic (sikap serba dua) atau sikap memisahkan iman dengan kebudayaan dan 5. Gagasan tetang pengudusan kebudayaan atau motif pertobatan kebudayaan. Penggunaan gondang bagi masyarakat Batak Toba dapat kita lihat dalam beberapa hal dibawah ini: a. Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks hiburan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dsb. b. Margondang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari sistem kekerabatan dalihan na tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangoli anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang diluar suku Batak Toba, dsb. c. Margondang Religi, upacara ini pada saat sekarang hanya dilakukan oleh organisasi agamaniah yang masih berdasar kepada kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka adalah mulajadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat serta hukuman 83

84 dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang dinaggap sebagai wakil mulajadi na bolon Tradisi Gondang dan Tortor Dalam Upacara Parmalim Batak identik dengan gondang. Setiap perhelatan akbar orang batak selalu menggunakan gondang sebagai kearifan lokal yang turun-temurun dan dipertahankan hingga saat ini dan mungkin akan begitu sampai keturunanketurunan berikutnya. Gondang digunakan dalam banyak kesempatan di acaraacara batak baik dalam acara pernikahan, kelahiran, kematian, atau acara-acara ritual ataupun acara keagamaan. Parmalim adalah kepercayaan Batak Toba yang masih bertahan dan dipertahankan oleh umat Parmalim sampai pada saat ini. Dalam pelaksanaan nya, Parmalim mempunyai banyak ritual-ritual dalam menjalankan kepercayaannya yang paling utama adalah acara ritual sipaha sada dan juga acara ritual sipaha lima. Ritual Sipaha Sada untuk memperingati hari lahirnya Tuhan dan Sipaha Lima adalah untuk menandakan kegembiraan umat parmalim karena dalam setahun mereka telah diberikan berkat yang berlimpah. Penggunaan gondang selalu melengkapi setiap acara dalam ritual-ritual parmalim, karena gondang sangat berperan penting untuk menyempurnakan makna-makna ataupun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ritual baik gondang hasapi dalam ritual sipaha sada dan gondang sabangunan dalam ritual sipaha lima. Gondang sabangunan lebih meriah dan di adakan diluar ruangan, bunyi gondang ini lebih gembira dan alunannya lebih cepat sedangkan gondang hasapi lebih lambat alunannya dan 84

85 lebih menyentuh jiwa. Jadi penggunaan gondang oleh umat parmalim disesuaikan menurut penggunaan dan keperluannya. Seperti yang dikemukakan oleh Ihutan, penggunaan gondang hasapi dalam upacara ritual sipaha sada parmalim sudah ada sejak ditetapkannya acara ini untuk memperingati hari lahirnya Tuhan Simarimbulu Bosi. Hal ini ditetapkan oleh Raja Nasiak Bagi kepada umat parmalim didalam 3 titah yang terdapat pada acara sipaha sada, yaitu; 1. Di hatindangkon Raja Nasiakbagi do di Suma Di Anggara di bulan Sipaha sada hasoorang ni Tuhan. Manjalo somba sian angka na porsea di Ibana. 2. Di tutung do Daupa bahen sanganonna. Di dogil Pangurason bahen paridionna, hio puti abit sabinna, jugia nasopipot bahen tapoltapolna, jala dipelehon hambing puti dohot manuk jarumbosi bahen pangharoananna. 3. Laos di ari ima hita marningot, dihatutubuni saluhut Sahala Marsangap Sahala Martua i, naung marsiakbagi humongkop jolma manisia 20. Semua masyarakat parmalim dari segala penjuru negeri datang untuk mengikuti acara ini, mereka akan datang dengan sendirinya tanpa adanya perintah dari pemimpin parmalim huta tinggi atau tanpa adanya undangan karena hal ini sudah menjadi tradisi setiap tahunnya sama seperti tahun baru bagi umat kristiani atau ramadan pada umat muslim dan lainnya. 20 Pustaha parguruan taringot tu Ugamo Malim (Marnakkok Naipospos 1998:51) 85

86 Acara ini sangat dihormati oleh seluruh umat parmalim, setiap upacara keagamaan yang besar seperti sipaha sada dan sipaha lima mereka akan mempersiap kannya dengan sedemikian rupa sehingga akan terlihat acara yang sangat baik. Tidak hanya datang untuk mengikuti dan melihat hal yang sangat ramai di acara ritual ini dan mendengarkan gondang. Masyarakat parmalim akan terlihat khusuk mendengarkan setiap ucapan-ucapan, doa-doa ataupun seperti kotbah dari ihutan parmalim. seluruh umat parmalim akan menggunakan abit batak (pakaian adat batak), marsanggul batak (rambut digulung kedalam) untuk para ibu dan kaum perempuan serta martali-tali nabontar (kain putih terikat dikepala) bagi kaum bapak sebagai tanda kesucian. Kemudian pargonsi (parhasapi) akan duduk didepan dalam ruangan bale partonggoan menghadap kepada umat yang mengikuti upacara ritual. Gondang hasapi sudah digunakan masyarakat parmalim sejak pertama sekali mereka memperingati hari lahirnya Tuhan Simarimbulubosi tersebut. Hal ini dikemukakan oleh ihutan parmalim, Ompu Raja Marnakkok Naipos-pos: lihat V1 line 1: ia anggo gondang hasapi on nungga adong jala ondo torus na dipalu disipaha sada.., (kalo gendang hasapi ini sudah ada serta inilah terus yang digunakan dalam acara sipaha sada) Umat parmalim berangggapan bahwa awal dari digunakannya gondang ini dalam acara untuk memperingati upacara ritual sipaha sada karena dimasa hidupnya Tuhan yang mereka yakini menyukai gondang ini, itulah sebabnya gondang hasapi yang digunakan dalam ritual sipaha sada Parmalim. selain itu 86

87 gondang hasapi identik dengan nada yang halus, instrumennya tidak seperti gondang sabangunan. Sipaha sada lebih menekannkan pada memperingati hari kelahiran Tuhan, dan juga segala kesedihannya, segala kesakitan atau segala hal yang dilaluinnya dimasa hidupnya dengan pahit demi umat Parmalim yang dicintainya. Jadi, sipaha sada mengacu kepada ketenangan, keheningan, penghayatan kepada Tuhan untuk itulah karena gondang hasapi lebih terdengar halus, lambat dan menyentuh maka digunakan didalam ritual ini. Terlihat dalam ke-12 gondang yang di mintakan oleh ihutan kepada pargonsi dalam ritual ini. Sedangkan dalam penggunaan gondang sabangunan dalam acara sipaha lima parmalim lebih meriah. Gondang sabangunan digunakan karena alunannya sangat cocok dalam pujian dan pelengkap untuk penyampaian sesaji syukur. Karena bulan ini adalah bulan yang istimewa maka untuk melengkapi syukur dan kemeriahan ritual ini harus digunakan juga gondang yang sesuai yaitu gondang sabangunan. Beda upacara sipaha lima dan sipaha sada juga tidak hanya pada jenis gondang yang digunakan. Jika sipaha sada lebih tertutup dan dilaksanakan di dalam ruangan bale pasogit sedangkan sipaha lima hampir semua aktivitas upacara ini dipusatkan dihalaman bale pasogit partonggoan (kecuali persembahan pelean mombang) Gondang dan Tortor Dalam Sipaha Lima Dalam agama Malim, upacara sipaha lima merupakan ibadat atau aturan yang wajib diamalkan oleh warga parmalim pada setiap tahunnya. Upacara ini dilaksanaka selama tiga hari. Di antara sekian banyak upacara agama dalam 87

88 agama Malim, boleh dikatakan bahwa upacara sipaha lima inilah yang paling besar dan meriah baik dari segi banyaknya pelean (sesaji) yang dipersembahkan maupun dari segi banyaknya peserta yang hadir. Gondang yang digunakan dalam acara besar ini adalah gondang sabangunan yaitu gondang lengkap dan ensambelnya dilaksanakan diluar ruangan. Mengingat acara ini adalah upacara yang dihadiri banyak parmalim yang datang dari berbagai tempat. Gondang sabangunan lebih tepat digunakan dalam acara ini karena gondang ini merupakan gondang yang mempunyai alunan musik yang lebih meriah dibanding gondang hasapi. Pada saat upacara dimulai, sudah terdengar suara gondang hingga ihutan memasuki arena upacara yang sudah disediakan. Untuk selanjutnya ihutanlah yang akan meminta gondang yang diperlukan atau diinginkan setiap beliau melafalkan sebuah tonggo atau pada saat ihutan menginginkan sebuah gondang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh jalannya upacara. Untuk manortor dalam upacara ini, setiap kelompok cabang akan mendapat giliran tertentu. Seperti biasanya yang lebih dahulu menari adalah ihutan dan akan dilanjutkan dengan kelompok keluarga besar Raja Mulia Naipospos. Baru kemudian disusul oleh kelompok dari tiap-tiap cabang (punguan) yang langsung dipimpin oleh ketua cabangnya masing-masing (ulupunguan). Dalam hal ini suara gondang dan manortor menandakan bahwa semua pesrta telah berserah diri, membulatkan hati, berjanji dan telah siap baik fisik ataupun mental untuk mengikuti upacara persembahan sesaji besar. 88

89 Gondang dan Tortor Dalam Sipaha Sada Untuk melihat dan mengetahui secara umum suatu bentuk penyajian dan komposisi instrumen yang dipergunakan pada Gondang Hasapi, dapat ditinjau berdasarkan tiga konteks penyajian, yaitu religi, adat dan hiburan. Dalam konteks religi, menurut salah seorang musisi tradisi dari penganut Parmalim, gondang Hasapi yang digunakan pada upacara Ugamo Parmalim, hal-hal yang berkaitan dengan komposisi instrument, merupakan salah satu yang sangat diperhatikan, baik yang berhubungan dengan penambahan dan pengurangan dari jumlah instrument yang digunakan, serta hal lain yang sangat diperhatikan adalah aspekaspek-aspek yang berhubungan dengan komposisi lagu (Gondang) yang akan disajikan (dimainkan). Kedua hal tersebut adalah kondisi yang sangat diperhatikan oleh masyarakat ajaran Parmalim. Dalam konteks adat, menurut beberapa musisi Batak Toba, salah satunya pargonsi parmalim hal seperti diatas tidak terlalu dipermasalahkan, angka nada beberapa hal yang mendapat perhatian seperti hal-hal yang berhubungan dengan konsep Sipitu Gondang, yaitu urutan suatu komposisi musik yang terdiri dari tujuh buah Gondang yang dimainkan secara berturut-turut pada awal upacara. Walaupun ada kalanya didalam pelaksanaan selanjutnya aturan-aturan mengenai jenis Gondang yang dimainkan tidak terlalu ketat, (tergantung dari seseoarang yang meminta Gondang dari Pargonsi) yang disebut Raja Parmalim, namun demikian biasanya jenis Gondang yang akan dimainkan pada upacara adat, jenis Gondang yang akan dimainkan pada upacara adat, jenis dan sifatnya sudah tertentu (lihat Purba 1989:2-5). Sedangkan dalam konteks yang bersifat hiburan, 89

90 hal-hal yang berhubungan dengan komposisi instrumentasi dan jenis lagu yang dimainkan, dapat dikatakan tidak memiliki aturan yang khusus. Juga hal-hal yang berkaitan dengan penambahan jenis instrumenya, menurut informan biasanya tidak tertutup kemungkinan untuk ditambah, prinsipnya asalkan instrument yag ditambah karakter suaranya dapat disesuaikan dengan kondisi instrument yang telah ada. Dari ketiga penyajian bentuk Gondang Hasapi, terdapat suatu hal yang spesifik sifatnya, hal ini akan terlihat pada saat penyajian Gondang Tersebut, dimana Gondang tersebut akan dimainkan secara Heterofonis. Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan tempat pertunjukkan Gondang Hasapi yaitu : dimana unsur-unsur yang bersifat spontanitas dari para pemusik, yaitu pada saat pertunjukkan Gondang, dimana salah satu pemusik (tanpa terkecuali) memberikan suatu teriakan, yag bertujuan agar pemain dan orang-orang yang sedang menortor agar lebih semangat. Sedangkan hal-hal pendekatan yang bersifat instrumentalia (tanpa vokal) Namun gondang hasapi yang disajikan dalam konteks hiburan seperti tradisi opera batak, unsur-unsur vocal sering dipakai, sehingga bisa dikatakan Gondang Hasapi dalam konteks opera batak sebagai pengiring vocal ataupun penggiring tarian, seperti Tumba dan tortor. Penggunaan musik gondang dalam upacara ritual sipaha sada ini sangat berperan penting. Artinya tidak sah jika acara berlangsung tanpa musik gondang sipaha sada dan tidak ada gondang hasapi tanpa adanya sipaha sada. Upacara sipaha sada yang dilaksanakan selama dua hari sesuai dengan sejarahnya bahwa 90

91 Tuhan Simarimbulu bosi lahir dua kali yaitu pada hari kedua (ari suma) dan hari ketiga (ari anggara) pada bulan sipaha sada. Semua upacara yang dipusatkan di Bale Pasogit Partonggoan, Hutatinggi dengan diiringi musik tradisional yaitu hasapi (kecapi) atau gondang hasapi. Sebelum pelaksanaan upacara dan penggunaan gondang hasapi terlebih dulu kaum Bapak akan mempersiapkan peralatan gondang yang terdiri dari hasapi, sarune, hesek, dan garantung. Setelah selesai makan siang, umat parmalim akan masuk ke bale partonggoan dengan pakaian upacara yang lengkap, ihutan dan pargonsi beserta keluarga induk bolon parmalim (keturunan Raja Mulia) akan lebih dulu memasuki ruangan Bale Pasogit Partonggoan dan disusul semua ulu punguan dari seluruh cabang yang ada. Di dalam ruangan, ihutan beserta beberapa petugas lainnya mulai menyusun letak sesaji diatas panggalangan dan termasuk memeras jeruk purut yang dijadikan sebagai air pangurason. Bersamaan dengan itu pesrta atau umat parmalim yang masih ada diluar belum diperbolehkan masuk ke dalam ruangan, sementara gondang hasapi sudah dibunyikan tanpa henti-hentinya hingga penyusunan sesaji selesai dilakukan. Sebagai awal permulaan upacara, lebih dahulu ihutan memercikkan air pensucian dari lantai dua kepada seluruh umat parmalim yang berada dilantai dasar sebelum meminta gondang alu-alu (gendang pengaduan) kepada pargonsi untuk dibunyikan tiga kali yang masing-masing ditujukan kepada Raja Nasiakbagi, Raja Na 44 dan kepada Debata Mulajadi Nabolon. Setiap pelafalan doa dilakukan maka setiap itu juga gendang akan dibunyikan. Bunyi gendang itu 91

92 tentu bunyi yang sudah baku yang biasa dipersembahkan kepada masing-masing sipemilik kerajaan malim. Dengan selesainya kegiatan pelafalan doa-doa dilantai dua maka ihutan turun, tidak berapa lama setelah gendang pengiring berhenti, ihutan meminta kepada tukang gendang untuk membunyikan beberapa macam gendang. Gendang yang pertama sekali adalah gendang pembuka yang ditujukan kepada Raja Nasiakbagi, sedangkan gondang yang kedua adalah gondang khusus untuk memperingati hari kelahiran Simarimbulubosi yang disebut dengan gondang pangharoanon (gondang menyambut kelahiran). Dalam pelaksanaanya, semua gondang yang sudah ditetapkan dan akan dibunyikan di acara ritual sipaha sada harus di bunyikan tanpa melangkahi ataupun melupakan salah satu diantara gondang. Untuk mengakhiri acara ini setelah keseluruhan gendang di laksanakan maka untuk menutup acara ini maka akan dibunyikan gondang hasahatan atau sebagai gendang penutup. Setelah gendang penutup dibunyikan maka acara ini pun telah berakhir dan semua umat parmalim meninggalkan bale pasogit Penggunaan Tortor di Dalam Ritual Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual keagamaan. Menari juga dilakukan dalam acara gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan). 92

93 Acara pesta adat, ritual keagamaan seperti ritual Sipaha Sada Parmalim yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap) dan gondang hasapi, erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman dahulu hingga pada saat ini seperti yang diwarisi dan tetap dipertahankan oleh Parmalim Huta Tinggi. Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan ataupun dari gondang hasapi dalam ritual sipaha sada. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan/ihutan (yang mempunyai hajat akan meminta permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun yang berisikan doa-doa ritus sbb: Amang pardoal pargonci. 1- Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion. 2- Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon. 3- Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo. Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan/ seruan 93

94 tersebut dilaksanakan dengan baik maka masyarakat parmalim akan manortor sesuai dengan tempatnya duduk untuk memulai menari. Kemudian kembali ihutan meminta jenis gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 12 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan ihutan beserta masyarakat parmalim untuk mendapatkan kesempurnaan acara (tua ni gondang). Para parmalim melakukan tarian dengan konsentrasi penuh, ekspresi yang serius, ketenangan ataupun dengan rasa yang haru karena mengingat dosa-dosa yang mereka lakukan. Dalam acara sipaha sada ini, ada saatnya umat parmalim akan manortor berdiri dan ada saatnya hanya menggerakkan tangannya dalam posisi duduk. Beberapa tonggo-tonggo dalam ritual yang di sebutkan oleh ihutan akan mengatur kapan mereka akan berdiri untuk menari dan kapan hanya menggerakkan tangan saja dalam posisi duduk. Ada aturan dalam manortor dalam acara ini yaitu ketika ihutan yang mengatur mereka akan menari. Bahwa ketika ihutan selesai martonggo maka untuk yang pertama kalinya dapat giliran manortor adalah pihak ina karena mereka lah sebagai ibu yang sangat dihargai, kemudian berikutnya kaum bapak, kemudian pemuda dan dilanjutkan kaum pemudi. Dan serangkaian giliran manortor itu terlaksana ketika ihutan mempersilahkan mereka manortor ketika beliau selesai martonggo. 94

95 Gambar 12: Terlihat para Bapak Parmalim menghayati jalannya acara yang berlangsung Ketika sedang manortor banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin, dll. Tortor Batak ada lima gerakan (urdot) 1. Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu. 2. Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap). 3. Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan). 4. Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna adalah leher). 95

BAB I PENDAHULUAN. hal yang tercakup seperti adat serta upacara tradisional. Negara Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. hal yang tercakup seperti adat serta upacara tradisional. Negara Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, budaya ada di dalam masyarakat dan lahir dari pengalaman hidup sehari-hari yang dialami oleh setiap kelompok

Lebih terperinci

BAB. I PENDAHULUAN. Negara Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, memiliki

BAB. I PENDAHULUAN. Negara Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, memiliki BAB. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, memiliki masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis dan beragam budaya yang tampak pada kebiasaan-kebiasaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. [Type text]

BAB I PENDAHULUAN. [Type text] BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Tari adalah suatu pertunjukan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat pendukungnya. Tari merupakan warisan budaya leluhur dari beberapa abad yang lampau. Tari

Lebih terperinci

POLA MENGAJAR GURU. (Studi Etnografi Mengenai Pola Mengajar. Para Guru di SMPN 10 Medan) SKRIPSI. Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

POLA MENGAJAR GURU. (Studi Etnografi Mengenai Pola Mengajar. Para Guru di SMPN 10 Medan) SKRIPSI. Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat POLA MENGAJAR GURU (Studi Etnografi Mengenai Pola Mengajar Para Guru di SMPN 10 Medan) SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi Sosial

Lebih terperinci

Hak Perempuan di Keluarga Batak Toba. Oleh. Susi Susanti

Hak Perempuan di Keluarga Batak Toba. Oleh. Susi Susanti Hak Perempuan di Keluarga Batak Toba (Studi Tentang Kerentanan) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dalam Bidang Antropologi Oleh Susi Susanti 120905044

Lebih terperinci

Persepsi Masyarakat Desa Parbutaran Terhadap Pendidikan Formal

Persepsi Masyarakat Desa Parbutaran Terhadap Pendidikan Formal Persepsi Masyarakat Desa Parbutaran Terhadap Pendidikan Formal (Studi Etnografi Mengenai Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Formal di Desa Parbutaran Kec. Bosar Maligas Kab. Simalungun) SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

DAFTAR ISTILAH UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR ISTILAH UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR ISTILAH Amang : Bapak Ari hatutubu : Hari kelahiran Ari holang : Hari cuti / istirahat Ari Sabtu : Hari Sabtu Bangke : Bangkai Banua ginjang : Benua atas Banua tonga : Benua tengah Banua toru :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. identik dengan nada-nada pentatonik contohnya tangga nada mayor Do=C, maka

BAB I PENDAHULUAN. identik dengan nada-nada pentatonik contohnya tangga nada mayor Do=C, maka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Musik merupakan bunyi yang terorganisir dan tersusun menjadi karya yang dapat dinikmati oleh manusia. Musik memiliki bentuk dan struktur yang berbeda-beda dan bervariasi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam budaya Batak Toba terdapat jenis Ragam Hias (Ornamen) yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam budaya Batak Toba terdapat jenis Ragam Hias (Ornamen) yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam budaya Batak Toba terdapat jenis Ragam Hias (Ornamen) yang sarat dengan nilai serta banyak melahirkan karya yang memiliki kekhususan, citra unggul, unik

Lebih terperinci

UPACARA SIPAHA SADA PADA AGAMA PARMALIM DI MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM KAJIAN SEMIOTIKA Oleh: Wiflihani Agung Suharyanto

UPACARA SIPAHA SADA PADA AGAMA PARMALIM DI MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM KAJIAN SEMIOTIKA Oleh: Wiflihani Agung Suharyanto UPACARA SIPAHA SADA PADA AGAMA PARMALIM DI MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM KAJIAN SEMIOTIKA Oleh: Wiflihani Agung Suharyanto Abstrak Bunyi gondang hasapi mengalun dari dalam parsantian (rumah ibadah) mengiringi

Lebih terperinci

GLOSARIUM. (menerangkan arti kata yang terdapat dalam bahasa Batak Toba sehubungan dengan judul. yang melanggar aturan.

GLOSARIUM. (menerangkan arti kata yang terdapat dalam bahasa Batak Toba sehubungan dengan judul. yang melanggar aturan. GLOSARIUM (menerangkan arti kata yang terdapat dalam bahasa Batak Toba sehubungan dengan judul tesis ini) Ban : Hukum atau siasat gereja dalam memberi sanksi kepada jemaat yang melanggar aturan. Bona pasogit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan dan bahasa. Keaneka ragaman kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Batak Toba adalah salah satu suku yang terdapat di Sumatera

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Batak Toba adalah salah satu suku yang terdapat di Sumatera 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Batak Toba adalah salah satu suku yang terdapat di Sumatera Utara. Suku Batak Toba termasuk dalam sub etnis Batak, yang diantaranya adalah, Karo, Pakpak,

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Sistem Berladang Menetap Orang Sakai di Desa Petani Kecamatan Mandau

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Sistem Berladang Menetap Orang Sakai di Desa Petani Kecamatan Mandau FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Sistem Berladang Menetap Orang Sakai di Desa Petani Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, Riau SKRIPSI Oleh: ROIDA SILABAN 100905007 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

Peran Perempuan di Sektor Domestik dan Sektor Publik

Peran Perempuan di Sektor Domestik dan Sektor Publik Peran Perempuan di Sektor Domestik dan Sektor Publik (Studi Kasus di PT.Perkebunan Nusantara III Medan) OLEH: LITA SARAGIH 090905052 DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Lebih terperinci

GONDANG NAPOSO (Studi Deskriptif Tentang Reproduksi Kebudayaan Orang Batak Toba di Desa Gajah, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan)

GONDANG NAPOSO (Studi Deskriptif Tentang Reproduksi Kebudayaan Orang Batak Toba di Desa Gajah, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan) GONDANG NAPOSO (Studi Deskriptif Tentang Reproduksi Kebudayaan Orang Batak Toba di Desa Gajah, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Ilmu

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DAN FUNGSI MUSIK MINUS ONE SEBAGAI PENGIRING AKTIVITAS IBADAH MINGGU DI GEREJA KRISTEN

PENGGUNAAN DAN FUNGSI MUSIK MINUS ONE SEBAGAI PENGIRING AKTIVITAS IBADAH MINGGU DI GEREJA KRISTEN PENGGUNAAN DAN FUNGSI MUSIK MINUS ONE SEBAGAI PENGIRING AKTIVITAS IBADAH MINGGU DI GEREJA KRISTEN INDONESIA BERASTAGI SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H NAMA NIM : 100707023 : MARK S ARITONANG UNIVERSITAS

Lebih terperinci

KONSEPSI SAKIT DAN PENGOBATAN TRADISIONAL PADA IBU DAN ANAK DALAM KEBUDAYAAN JAWA

KONSEPSI SAKIT DAN PENGOBATAN TRADISIONAL PADA IBU DAN ANAK DALAM KEBUDAYAAN JAWA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK KONSEPSI SAKIT DAN PENGOBATAN TRADISIONAL PADA IBU DAN ANAK DALAM KEBUDAYAAN JAWA (Studi Kasus di Desa Tanah Tinggi Kec. Air Putih Kab.

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Awal dari sebuah kehidupan adalah sebuah penciptaan. Tanpa adanya sebuah penciptaan maka kehidupan di muka bumi tidak akan pernah ada. Adanya Sang Pencipta yang akhirnya berkarya untuk

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN POTENSI AIR TERJUN PONOT di KABUPATEN ASAHAN SKRIPSI

PENGEMBANGAN POTENSI AIR TERJUN PONOT di KABUPATEN ASAHAN SKRIPSI PENGEMBANGAN POTENSI AIR TERJUN PONOT di KABUPATEN ASAHAN (Studi deskriptif daya tarik wisata air terjun Ponot di Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

PENGETAHUAN PETANI TENTANG HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI DI KAMPUNG SUSUK, KECAMATAN MEDAN SELAYANG - KOTA MEDAN

PENGETAHUAN PETANI TENTANG HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI DI KAMPUNG SUSUK, KECAMATAN MEDAN SELAYANG - KOTA MEDAN PENGETAHUAN PETANI TENTANG HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI DI KAMPUNG SUSUK, KECAMATAN MEDAN SELAYANG - KOTA MEDAN Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sosial dan

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR MUSIK KOMPANG DALAM UPACARA MENGANTAR PENGANTIN DI SUNGAI GUNTUNG, KECAMATAN

ANALISIS STRUKTUR MUSIK KOMPANG DALAM UPACARA MENGANTAR PENGANTIN DI SUNGAI GUNTUNG, KECAMATAN ANALISIS STRUKTUR MUSIK KOMPANG DALAM UPACARA MENGANTAR PENGANTIN DI SUNGAI GUNTUNG, KECAMATAN KATEMAN, RIAU OLEH: NAMA :ANDI FARHAN NIM : 100707001 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN

Lebih terperinci

STUDI DESKRIPTIF TARI PERSEMBAHAN YANG DIBAKUKANDAN MUSIK PENGIRING OLEH SANGGAR SINGGASANA SIAK DALAM

STUDI DESKRIPTIF TARI PERSEMBAHAN YANG DIBAKUKANDAN MUSIK PENGIRING OLEH SANGGAR SINGGASANA SIAK DALAM STUDI DESKRIPTIF TARI PERSEMBAHAN YANG DIBAKUKANDAN MUSIK PENGIRING OLEH SANGGAR SINGGASANA SIAK DALAM KONTEKS BUDAYA MELAYU RIAU DIKERJAKAN O L E H NAMA:PRINSA AGNEST NAINGGOLAN NIM:110707058 UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Pubertas Pada Anak Tunanetra (Studi Etnografis Mengenai Masa Pubertas Anak Tunanetra di Sekolah Karya Murni, Medan Johor)

Pubertas Pada Anak Tunanetra (Studi Etnografis Mengenai Masa Pubertas Anak Tunanetra di Sekolah Karya Murni, Medan Johor) Pubertas Pada Anak Tunanetra (Studi Etnografis Mengenai Masa Pubertas Anak Tunanetra di Sekolah Karya Murni, Medan Johor) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Sosial

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. memperoleh nilai secara finansial masyarakatnya, namun lebih kepada penonjolan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. memperoleh nilai secara finansial masyarakatnya, namun lebih kepada penonjolan BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Upacara Pangurason dilaksanakan bukan semata ditampilkan untuk memperoleh nilai secara finansial masyarakatnya, namun lebih kepada penonjolan identitas masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menentukan dan menetapkan masa depan masyarakat melalui pelaksana religinya.

BAB I PENDAHULUAN. menentukan dan menetapkan masa depan masyarakat melalui pelaksana religinya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Merayakan upacara-upacara yang terkait pada lingkaran kehidupan merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Karo. Upacara atau perayaan berhubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Seni merupakan salah satu bentuk unsur kebudayaan manusia, baik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Seni merupakan salah satu bentuk unsur kebudayaan manusia, baik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni merupakan salah satu bentuk unsur kebudayaan manusia, baik manusia sebagai individu, manusia sebagai kelompok masyarakat. Kondisi ekonomi, sosial dan adat istiadat,

Lebih terperinci

PARMALIM. (Studi Deskriptif Mengenai Strategi Adaptasi Penganut Agama Malim di Kota. Medan) Skripsi. Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

PARMALIM. (Studi Deskriptif Mengenai Strategi Adaptasi Penganut Agama Malim di Kota. Medan) Skripsi. Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat PARMALIM (Studi Deskriptif Mengenai Strategi Adaptasi Penganut Agama Malim di Kota Medan) Skripsi Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi

Lebih terperinci

PENGELOLAAN FILANTROPI BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. (Studi Kasus Pada Rumah Zakat Cabang Medan) SKRIPSI MARTHA FITRIYANTI SIREGAR

PENGELOLAAN FILANTROPI BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. (Studi Kasus Pada Rumah Zakat Cabang Medan) SKRIPSI MARTHA FITRIYANTI SIREGAR PENGELOLAAN FILANTROPI BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus Pada Rumah Zakat Cabang Medan) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sosial MARTHA FITRIYANTI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini oleh dilambangkan oleh bangsa Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini oleh dilambangkan oleh bangsa Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini oleh dilambangkan oleh bangsa Indonesia dengan semboyan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah pariwisata yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah pariwisata yang cukup BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah pariwisata yang cukup terkenal di Indonesia.Keindahan alam dan pemandangan serta banyaknya peninggalan-peninggalan

Lebih terperinci

FUNGSI MARTUMBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA DI PAHAE : KAJIAN FOLKLOR. Skripsi Sarjana O L E H : BILFERI HUTAPEA NIM :

FUNGSI MARTUMBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA DI PAHAE : KAJIAN FOLKLOR. Skripsi Sarjana O L E H : BILFERI HUTAPEA NIM : FUNGSI MARTUMBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA DI PAHAE : KAJIAN FOLKLOR Skripsi Sarjana O L E H NAMA : BILFERI HUTAPEA NIM : 070703004 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN SASTRA DAERAH

Lebih terperinci

PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT SKRIPSI. Diajukan Untuk Melengkapi Dan Memenuhi Persyaratan Ujian Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT SKRIPSI. Diajukan Untuk Melengkapi Dan Memenuhi Persyaratan Ujian Memperoleh Gelar Sarjana Sosial PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT (Studi Deskrifip Terhadap Nelayan Di Desa Bogak Kec. Tanjung Tiram Kab. Batubara) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Dan Memenuhi Persyaratan Ujian Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

STUDI DESKRIPTIF UPACARA SACAPME

STUDI DESKRIPTIF UPACARA SACAPME STUDI DESKRIPTIF UPACARA SACAPME DAN PENGGUNAAN MUSIK PADA SEMBAHYANG MALAM TAHUN BARU GONG XI FAT CAI DI VIHARA PEKONG KELURAHAN POLONIA DALAM BUDAYA MASYARAKAT TIONGHOA AGAMA BUDHA KOTA MEDAN SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Provinsi Sumatera Utara adalah salah Provinsi yang terletak di Negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Provinsi Sumatera Utara adalah salah Provinsi yang terletak di Negara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Provinsi Sumatera Utara adalah salah Provinsi yang terletak di Negara Indonesia. Sumatera Utara memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Suku yang berada di

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DAN FUNGSI ENSAMBEL CHUI KO DALAM UPACARA BING YI GUAN PADA MASYARAKAT TIONGHOA DI YAYASAN BALAI PERSEMAYAMAN ANGSAPURA MEDAN

PENGGUNAAN DAN FUNGSI ENSAMBEL CHUI KO DALAM UPACARA BING YI GUAN PADA MASYARAKAT TIONGHOA DI YAYASAN BALAI PERSEMAYAMAN ANGSAPURA MEDAN PENGGUNAAN DAN FUNGSI ENSAMBEL CHUI KO DALAM UPACARA BING YI GUAN PADA MASYARAKAT TIONGHOA DI YAYASAN BALAI PERSEMAYAMAN ANGSAPURA MEDAN SKRIPSI SARJANA DISUSUN O L E H NAMA : HERBERT F. S NIM : 020707019

Lebih terperinci

RAGAM DIALEK BAHASA SIGULAI MASYARAKAT SIMEULUE ( Studi Kasus Pada Masyarakat Simeulue Perantau di Kota Medan

RAGAM DIALEK BAHASA SIGULAI MASYARAKAT SIMEULUE ( Studi Kasus Pada Masyarakat Simeulue Perantau di Kota Medan RAGAM DIALEK BAHASA SIGULAI MASYARAKAT SIMEULUE ( Studi Kasus Pada Masyarakat Simeulue Perantau di Kota Medan Skripsi Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberagaman suku bangsa di Indonesia telah melahirkan ragamnya adat - istiadat dan kepercayaan pada setiap suku bangsa. Tentunya dengan adanya adatistiadat tersebut,

Lebih terperinci

KONFLIK DALAM RELOKASI PASAR. Kota Medan) SKRIPSI. Diajukan Guna Memenuhi salah satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana

KONFLIK DALAM RELOKASI PASAR. Kota Medan) SKRIPSI. Diajukan Guna Memenuhi salah satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana KONFLIK DALAM RELOKASI PASAR (Studi Kasus Di Pasar Sutomo,Kelurahan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan) SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi salah satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

Lebih terperinci

UCAPAN TERIMA KASIH. Puji dan syukur saya ucapkam kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena

UCAPAN TERIMA KASIH. Puji dan syukur saya ucapkam kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena UCAPAN TERIMA KASIH Puji dan syukur saya ucapkam kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat serta kasih dan karunianya saya dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul Pengelolaan Pantai Lumban

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara majemuk yang kaya akan keragaman suku,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara majemuk yang kaya akan keragaman suku, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara majemuk yang kaya akan keragaman suku, budaya, agama, dan kepercayaan yang tersebar dari ujung Sabang sampai Merauke. Maka tak heran

Lebih terperinci

ANALISIS TEKSTUAL PENYAJIAN ANDUNG DALAM KEMATIAN PADA MASYARAKAT TOBA DESA SIGUMPAR KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

ANALISIS TEKSTUAL PENYAJIAN ANDUNG DALAM KEMATIAN PADA MASYARAKAT TOBA DESA SIGUMPAR KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN ANALISIS TEKSTUAL PENYAJIAN ANDUNG DALAM KEMATIAN PADA MASYARAKAT TOBA DESA SIGUMPAR KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN Skripsi Sarjana Dikerjakan O l e h MEDINA HUTASOIT NIM : 080707012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan nenek moyang. Sejak dulu berkesenian sudah menjadi kebiasaan yang membudaya, secara turun temurun

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DI KANTOR PERPUSTAKAAN KOTA MEDAN SKRIPSI

EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DI KANTOR PERPUSTAKAAN KOTA MEDAN SKRIPSI EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DI KANTOR PERPUSTAKAAN KOTA MEDAN SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan kegiatan manusia untuk menguasai alam dan mengolahnya bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Kebudayaan

Lebih terperinci

WISATA KULINER DAN PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR DESA BAGAN PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KAB. DELI SERDANG. Disusun Oleh: TARI PUTRI

WISATA KULINER DAN PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR DESA BAGAN PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KAB. DELI SERDANG. Disusun Oleh: TARI PUTRI WISATA KULINER DAN PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR DESA BAGAN PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KAB. DELI SERDANG Disusun Oleh: TARI PUTRI 130901015 DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

Lebih terperinci

SISTEM PERAWATAN DAN PENYEMBUHAN TERHADAP PASIEN SAKIT JIWA

SISTEM PERAWATAN DAN PENYEMBUHAN TERHADAP PASIEN SAKIT JIWA SISTEM PERAWATAN DAN PENYEMBUHAN TERHADAP PASIEN SAKIT JIWA Studi Deskriptif Mengenai Sistem Perawatan dan Penyembuhan Terhadap Pasien yang Menderita Gangguan Jiwa Di Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara, Jl.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Perempuan merupakan kaum yang sering di nomor duakan di kehidupan sehari-hari. Perempuan seringkali mendapat perlakuan yang kurang adil di dalam kehidupan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang pada umumnya mempunyai nilai budaya yang tersendiri. Dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. yang pada umumnya mempunyai nilai budaya yang tersendiri. Dalam kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas beraneka ragam suku bangsa, yang pada umumnya mempunyai nilai budaya yang tersendiri. Dalam kehidupan berbangsa

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN 2.1 Pengertian Ritual Ritual adalah tehnik (cara metode) membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama,

Lebih terperinci

PENGARUH PROFESIONALISME KERJA PEGAWAI TERHADAP PELAYANAN PENGURUSAN SURAT IZIN MENGEMUDI DI KANTOR SATUAN LALU LINTAS POLRES KOTA MEDAN

PENGARUH PROFESIONALISME KERJA PEGAWAI TERHADAP PELAYANAN PENGURUSAN SURAT IZIN MENGEMUDI DI KANTOR SATUAN LALU LINTAS POLRES KOTA MEDAN PENGARUH PROFESIONALISME KERJA PEGAWAI TERHADAP PELAYANAN PENGURUSAN SURAT IZIN MENGEMUDI DI KANTOR SATUAN LALU LINTAS POLRES KOTA MEDAN SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat tersebut yang berusaha menjaga dan melestarikannya sehingga

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat tersebut yang berusaha menjaga dan melestarikannya sehingga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia terhadap perbedaan suku bangsa dan budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Setiap daerah masing-masing

Lebih terperinci

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH 41 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH Kerangka Berpikir Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Panaek Gondang merupakan salah satu ritual yang menjadi bagian dari seluruh

BAB I PENDAHULUAN. Panaek Gondang merupakan salah satu ritual yang menjadi bagian dari seluruh BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Panaek Gondang merupakan salah satu ritual yang menjadi bagian dari seluruh rangkaian upacara adat perkawinan dalam masyarakat Mandailing,jika perkawinan tersebut

Lebih terperinci

KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas)

KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas) KONFLIK PILKADES DAN PENYELESAIANNYA (Suatu Kajian Antropologi Terhadap Pilkades Periode 2008/2013 Di Desa Sosor Mangulahi Kabupaten Humbahas) SKRIPSI Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk menunjukkan tingkat peradaban masyarakat itu sendiri. Semakin maju dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk menunjukkan tingkat peradaban masyarakat itu sendiri. Semakin maju dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan merupakan bagian yang melingkupi kehidupan manusia. Kebudayaan yang diiringi dengan kemampuan berpikir secara metaforik atau perubahan berpikir dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian Batak secara umum dibagi menjadi 2(dua) bagian yaitu Gondang

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian Batak secara umum dibagi menjadi 2(dua) bagian yaitu Gondang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian Batak secara umum dibagi menjadi 2(dua) bagian yaitu Gondang Sabangunan dan Gondang Batak. Gondang Sabangunan (Gondang Bolon) untuk mengiringi upacara adat

Lebih terperinci

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM PROSES ASIMILASI PADA PERNIKAHAN CAMPURAN

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM PROSES ASIMILASI PADA PERNIKAHAN CAMPURAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM PROSES ASIMILASI PADA PERNIKAHAN CAMPURAN (Studi Kasus Tentang Komunikasi Antarbudaya Dalam Proses Asimilasi Pada Pernikahan Campuran Suku Batak Toba-Tionghoa di kota Medan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lepas dari masyarakat karena mencakup aktivitas masyarakat dari tiap tiap

BAB I PENDAHULUAN. lepas dari masyarakat karena mencakup aktivitas masyarakat dari tiap tiap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian merupakan unsur kebudayaan yang dalam kehidupannya tidak lepas dari masyarakat karena mencakup aktivitas masyarakat dari tiap tiap daerah tempat kesenian itu

Lebih terperinci

PERGAULAN BEBAS. (Studi Etnografis Perilaku Mahasiswa Kos-kosan di Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan. Baru, Kota Medan) SKRIPSI

PERGAULAN BEBAS. (Studi Etnografis Perilaku Mahasiswa Kos-kosan di Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan. Baru, Kota Medan) SKRIPSI PERGAULAN BEBAS (Studi Etnografis Perilaku Mahasiswa Kos-kosan di Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Sosial

Lebih terperinci

Kedai Kopi Pada Mahasiswa

Kedai Kopi Pada Mahasiswa Kedai Kopi Pada Mahasiswa (Studi Etnografi Mengenai Kedai Kopi Menjadi Forum Interaksi Bagi Mahasiswa di Padang Bulan, Kecamatan Medan Selayang Kota Medan) SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai ciri keanekaragaman budaya yang berbeda tetapi tetap satu. Indonesia juga memiliki keanekaragaman agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera merupakan pulau keenam terbesar

Lebih terperinci

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Pekerja Perempuan di PT. Agincourt Resources Martabe, Batangtoru (Studi Etnografi Mengenai Strategi Adaptasi Pekerja Perempuan di PT. Agincourt Resources Martabe, Kecamatan Batangtoru) SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

JUDI ONLINE. SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dalam Bidang Antropologi. Oleh : ALDO SERENA SITEPU

JUDI ONLINE. SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dalam Bidang Antropologi. Oleh : ALDO SERENA SITEPU JUDI ONLINE (Studi Etnografi Pada Mahasiswa Penjudi Online di Pasar 1, Padang Bulan, Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dalam Bidang Antropologi Oleh : ALDO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diartikan sebagai seperangkat norma, nilai, kepercayaan, adat-istiadat, aturan dan

BAB I PENDAHULUAN. diartikan sebagai seperangkat norma, nilai, kepercayaan, adat-istiadat, aturan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya tersusun dari beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara multikulturalis yang memiliki ribuan pulau,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara multikulturalis yang memiliki ribuan pulau, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara multikulturalis yang memiliki ribuan pulau, beragam suku bangsa, kaya akan nilai budaya maupun kearifan lokal. Negara mengakui perbedaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan simponi kehidupan manusia, menjadi bagian yang mewarnai kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan simponi kehidupan manusia, menjadi bagian yang mewarnai kehidupan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan simponi kehidupan manusia, menjadi bagian yang mewarnai kehidupan sehari-hari manusia. M usik tak sekedar memberikan hiburan, tetapi mampu memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan

BAB I PENDAHULUAN. Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Kalimantan Selatan merupakan salah satu dari lima provinsi yang ada di Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan keanekaragaman

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat. I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan

Lebih terperinci

BUDAYA MENGAJAR DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK AUTIS DI YAYASAN TALI KASIH MEDAN (Studi Etnografi)

BUDAYA MENGAJAR DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK AUTIS DI YAYASAN TALI KASIH MEDAN (Studi Etnografi) BUDAYA MENGAJAR DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK AUTIS DI YAYASAN TALI KASIH MEDAN (Studi Etnografi) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Oleh: JUANDI SIJABAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sesuai dengan fungsi dan tujuan yang diinginkan. Kesenian dapat

BAB I PENDAHULUAN. yang sesuai dengan fungsi dan tujuan yang diinginkan. Kesenian dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan serta memiliki beraneka ragam budaya. Kekayaan budaya tersebut tumbuh karena banyaknya suku ataupun etnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, dan lahir dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, dan lahir dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, dan lahir dari pengalaman hidup sehari-hari yang dialami oleh setiap kelompok masyarakat tertentu. Dalam budaya, kita

Lebih terperinci

BAB IV. 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat. Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat,

BAB IV. 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat. Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat, BAB IV ANALISIS 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat, yang secara sadar maupun tidak telah membentuk dan melegalkan aturan-aturan yang

Lebih terperinci

ETNOGRAFI BERBAGAI ATURAN HUKUM DALAM PENGELOLAAN KERAMBA JARING APUNG DI HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KABUPATEN SIMALUNGUN

ETNOGRAFI BERBAGAI ATURAN HUKUM DALAM PENGELOLAAN KERAMBA JARING APUNG DI HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KABUPATEN SIMALUNGUN ETNOGRAFI BERBAGAI ATURAN HUKUM DALAM PENGELOLAAN KERAMBA JARING APUNG DI HARANGGAOL, KECAMATAN HARANGGAOL HORISON, KABUPATEN SIMALUNGUN S K R I P S I Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Lebih terperinci

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau

Lebih terperinci

HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARA MERTUA DAN MENANTU

HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARA MERTUA DAN MENANTU HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARA MERTUA DAN MENANTU (STUDI ETNOGRAFI TERHADAP HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARA MERTUA DAN MENANTU YANG MASIH MELAKSANAKAN REBU PADA SUKU KARO DI DESA BATUKARANG KECAMATAN PAYUNG KABUPATEN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK FENOMENA PILIHAN HIDUP TIDAK MENIKAH (STUDI DESKRIPTIF PADA WANITA KARIR ETNIS BATAK TOBA DI KOTA MEDAN) SKRIPSI Diajukan Oleh PRIMA DAFRINA

Lebih terperinci

Koeksistensi Sistem Hukum dalam Pengelolaan Pendidikan. Panti Asuhan Al-Hakiim Desa Paya Kulbi Karang Baru. Kabupaten Aceh Tamiang

Koeksistensi Sistem Hukum dalam Pengelolaan Pendidikan. Panti Asuhan Al-Hakiim Desa Paya Kulbi Karang Baru. Kabupaten Aceh Tamiang Koeksistensi Sistem Hukum dalam Pengelolaan Pendidikan Panti Asuhan Al-Hakiim Desa Paya Kulbi Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. budaya yang pada awalnya merupakan unsur pembentukan kepribadiannya.

BAB I PENDAHULUAN. budaya yang pada awalnya merupakan unsur pembentukan kepribadiannya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan budaya yang pada awalnya merupakan unsur pembentukan kepribadiannya. Umumnya manusia sangat

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PERNYATAAN ORIGINALITAS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PERNYATAAN ORIGINALITAS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PERNYATAAN ORIGINALITAS KEBERADAAN PERTAMBANGAN TIMAH DI DAIRI (Studi Etnografi Mengenai Tanggapan Masyarakat Desa Sopokomil Kecamatan Silima

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Simalungun, Dairi, Nias, Sibolga, Angkola, dan Tapanuli Selatan.

BAB I PENDAHULUAN. Simalungun, Dairi, Nias, Sibolga, Angkola, dan Tapanuli Selatan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi yang memiliki beberapa sub etnis, dimana setiap etnis memiliki kebudayaan atau ciri khas yang berbeda-beda kebudayaan. Ciri

Lebih terperinci

KOMUNIKASI MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM UPACARA PERNIKAHAN ADAT

KOMUNIKASI MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM UPACARA PERNIKAHAN ADAT KOMUNIKASI MASYARAKAT BATAK TOBA DALAM UPACARA PERNIKAHAN ADAT (Studi Kasus Tentang Proses Komunikasi Antarbudaya Dalam Upacara Pernikahan Adat Batak Toba Pada Masyarakat di Kelurahan Lestari Kecamatan

Lebih terperinci

WISATA SALIB KASIH. (Studi Etnografi mengenai Wisata Religi di Kecamatan Siatas Barita Kabupaten Tapanuli Utara) Skripsi. Oleh: IMANDA HUTAPEA

WISATA SALIB KASIH. (Studi Etnografi mengenai Wisata Religi di Kecamatan Siatas Barita Kabupaten Tapanuli Utara) Skripsi. Oleh: IMANDA HUTAPEA WISATA SALIB KASIH (Studi Etnografi mengenai Wisata Religi di Kecamatan Siatas Barita Kabupaten Tapanuli Utara) Skripsi Oleh: IMANDA HUTAPEA 090905015 DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL

Lebih terperinci

SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H RESTAWATI MANURUNG NIM : UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN

SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H RESTAWATI MANURUNG NIM : UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN STUDI DESKRIPTIF DAN MUSIKOLOGIS GONDANG SABANGUNAN DALAM UPACARA MARDEBATA PADA MASYARAKAT PARMALIM HUTATINGGI-LAGUBOTI DI DESA SIREGAR KECAMATAN LUMBAN JULU KABUPATEN TOBA SAMOSIR SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN

Lebih terperinci

KONSEP WARNA DALAM BUDAYA BATAK TOBA SKRIPSI

KONSEP WARNA DALAM BUDAYA BATAK TOBA SKRIPSI KONSEP WARNA DALAM BUDAYA BATAK TOBA KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI SKRIPSI Oleh : GEBIE PRATIWI NIM 130701075 PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017 HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA ( Peran Toko Agama Dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Aceh Singkil ) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial OLEH

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar. Sarjana (S1) Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

SKRIPSI. Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar. Sarjana (S1) Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM ONE STOP SERVICE DALAM PELAYANAN PENGURUSAN PASPOR KEPADA MASYARAKAT (Studi Kasus di Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Medan) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi

Lebih terperinci

BUDAYA LITERASI. (Studi Deskriptif Budaya Literasi Pada Mahasiswa Teknik Industri USU)

BUDAYA LITERASI. (Studi Deskriptif Budaya Literasi Pada Mahasiswa Teknik Industri USU) BUDAYA LITERASI (Studi Deskriptif Budaya Literasi Pada Mahasiswa Teknik Industri USU) Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik SKRIPSI DISUSUN

Lebih terperinci

ANALISIS PERGESERAN FUNGSI PARHOBAS DALAM ACARA PESTA PADA SISTEM KEKERABATAN BATAK TOBA.

ANALISIS PERGESERAN FUNGSI PARHOBAS DALAM ACARA PESTA PADA SISTEM KEKERABATAN BATAK TOBA. ANALISIS PERGESERAN FUNGSI PARHOBAS DALAM ACARA PESTA PADA SISTEM KEKERABATAN BATAK TOBA. ( Studi Deskriptif di Desa Sitinjak, Kec. Onan Runggu, Kab. Samosir ) Disusun Oleh : Pestauli Sitinjak 090901041

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal artinya dapat di temukan pada setiap kebudayaan. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. universal artinya dapat di temukan pada setiap kebudayaan. Menurut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebudayaan suatu daerah dengan daerah lain pada umumnya berbeda, dan kebudayaan tersebut seantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Kebudayaan tersebut berkembang disebabkan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Kabupaten Tapanuli Utara

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Kabupaten Tapanuli Utara BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1. Letak Geografis Kabupaten Tapanuli Utara Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu kabupaten yang tekstur wilayahnya bergunung-gunung. Tapanuli Utara berada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Dalam

BAB I PENDAHULUAN. sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni yang sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Sebagai salah satu hasil kesenian, karya sastra mengandung

Lebih terperinci

PROSES PENYELESAIAN PERCERAIAN DALAM KEMAJEMUKAN HUKUM PADA MASYARAKAT JAWA YANG BERAGAMA ISLAM. Skripsi

PROSES PENYELESAIAN PERCERAIAN DALAM KEMAJEMUKAN HUKUM PADA MASYARAKAT JAWA YANG BERAGAMA ISLAM. Skripsi PROSES PENYELESAIAN PERCERAIAN DALAM KEMAJEMUKAN HUKUM PADA MASYARAKAT JAWA YANG BERAGAMA ISLAM Skripsi Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial dalam bidang Antropologi

Lebih terperinci

POLA RELASI SOSIAL PETANI DENGAN BURUH TANI DALAM PRODUKSI PERTANIAN

POLA RELASI SOSIAL PETANI DENGAN BURUH TANI DALAM PRODUKSI PERTANIAN POLA RELASI SOSIAL PETANI DENGAN BURUH TANI DALAM PRODUKSI PERTANIAN (Studi Deskriptif Masyarakat Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

EKSISTENSI PEDAGANG SEMBADA

EKSISTENSI PEDAGANG SEMBADA EKSISTENSI PEDAGANG SEMBADA (Studi Etnografi Mengenai Strategi Adaptasi Pedagang Tradisional Pasar Sembada Terhadap Kehadiran Carrefour dan Agen Pasar di Kota Medan) SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu

Lebih terperinci

PERTENUNAN BOI-TULUS TEKSTIL DI KECAMATAN BALIGE

PERTENUNAN BOI-TULUS TEKSTIL DI KECAMATAN BALIGE PERTENUNAN BOI-TULUS TEKSTIL DI KECAMATAN BALIGE (1950-1998) SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H NAMA : SWANDI F TAMBUNAN NIM : 090706036 DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Fenomena Penggunaan Facebook Di Kalangan Mahasiswa

Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Fenomena Penggunaan Facebook Di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fenomena Penggunaan Facebook Di Kalangan Mahasiswa (Studi deskriptif pada mahasiswa Fisip USU) SKRIPSI Diajukan Oleh : Ramauli Manurung 050901024 Departemen Sosiologi

Lebih terperinci

PERANAN DALIHAN NATOLU DALAM HUKUM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA (STUDI MENGENAI HUKUM PERKAWINAN ADAT BATAK DI KECAMATAN BALIGE)

PERANAN DALIHAN NATOLU DALAM HUKUM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA (STUDI MENGENAI HUKUM PERKAWINAN ADAT BATAK DI KECAMATAN BALIGE) PERANAN DALIHAN NATOLU DALAM HUKUM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA (STUDI MENGENAI HUKUM PERKAWINAN ADAT BATAK DI KECAMATAN BALIGE) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan memenuhi Syarat-Syarat

Lebih terperinci