TESIS. Oleh ROSMERI GINTING /IKM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TESIS. Oleh ROSMERI GINTING /IKM"

Transkripsi

1 PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016) TESIS Oleh ROSMERI GINTING /IKM PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT MEDAN 2016

2 THE IMPLEMENTATION OF BACK REFERENCE PROGRAM OF HEALTH INSURANCE PROVIDER (A Case Study on the Implementation of Back Reference Program of Health Insurance Provider in National Health Insurance Program at Plus Public Health Center of Perbaungan, Serdang Bedagai Regency, in 2016) THESIS By ROSMERI GINTING /IKM MASTER IN PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN 2016

3 PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016) T E S I S Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M. Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Oleh ROSMERI GINTING /IKM PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT MEDAN 2016

4

5 Telah Diuji pada Tanggal : 30 Juni 2016 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes : 1. dr. Fauzi, S.K.M 2. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M 3. dr. Heldy BZ, M.P.H

6 PERNYATAAN PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016) TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Medan, 20 Juni 2016 Rosmeri Ginting /IKM

7 ABSTRAK Pelayanan Program Rujuk Balik (PRB) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atas rekomendasi/rujukan dari dokter spesialis/sub spesialis yang merawat. PRB merupakan program unggulan BPJS yang bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisas proses pelaksanaan PRB di FKTP Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2016 studi kasus Puskesmas Plus Perbaungan. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kualitatif. Sampel pada penelitian ini adalah informan yang dipilih secara purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Data diperoleh dengan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan belum berjalan dengan baik, dilihat dari prosedur PRB yang tidak dijalankan sesuai dengan prosedur layanan PRB dan rendahnya pemahaman pasien terhadap manfaat PRB. Pemahaman petugas kesehatan pelaksana PRB cukup baik dan ketersediaan obat untuk pelayanan obat PRB mencukupi. Tidak ada evaluasi dan pengawasan dinas kesehatan dan BPJS terhadap pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan. Diharapkan Puskesmas Plus Perbaungan membuat komitmen bersama dalam peningkatan pelaksanaan PRB. Dinas kesehatan harus memfasilitasi koordinasi antara puskesmas, rumah sakit dan BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan perlu meningkatkan sosialisasi manfaat kepersertaan PRB. Kata Kunci : Pelaksanaan Program Rujuk Balik (PRB), Program Jaminan Kesehatan Nasional, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama i

8 ABSTRACT Refer Back Program Services (PRB) is a health provided for patients who suffer from chronic diseases in stable condition and still require long-term nursing care carried out in First-Level Health Facility (FKTP) on the recommendation from a specialist/sub specialist who treats the patients. PRB is an excellent program of Healthcare and Social Security Agency (BPJS) which aims to improve the access to health services. The research is to identify and analyze PRB implementation process in FKTP of Serdang Bedagai regency in 2016 with a case study in Plus Puskesmas of Perbaungan. This research with qualitative approach. Samples were informants selected by purposive sampling strategy with a certain consideration of data sources. Data were obtained through in-depth interviews, observation method and documentation review. The results showed that the implementation of PRB in Puskesmas Plus Perbaungan did not run well proved by omission of PRB in accordance with the procedure of PRB services and the lack of understanding of patients on the benefit of PRB. Competency of health workers to perform PRB was quite good and the availability of medicines was insufficient. There was no evaluation and supervision of Health Department and BPJS on the implementation of PRB in Puskesmas Plus Perbaungan. It is expected that Puskesmas Plus Perbaungan make commitment in improving the implementation of PRB. Health Department should facilitate the coordination among puskesmas, hospitals and BPJS. BPJS needs to improve socialization of benefits of PRB. Keywords: Implementation of PRB (Back Reference Program), First-Level Health Facility, National Health Insurance Program ii

9 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan ridho-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan ( Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016). Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari penulisan tesis ini tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih yang tidak terhingga kepada: 1. Prof. Dr. Runtung, S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 3. Prof. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 4. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan guna penyempurnaan tesis ini. iii

10 5. dr. Fauzi, S.K.M. selaku Pembimbing Kedua, yang penuh perhatian, kesabaran dan ketelitian dalam memberikan bimbingan, arahan, petunjuk, hingga selesainya penulisan tesis ini. 6. Dr. Drs. R Kintoko Rochadi, M.K.M dan dr Heldy BZ, M.P.H., selaku Tim Pembanding yang telah bersedia menguji guna penyempurnaan tesis ini. 7. drg. Cut Putri Elna Minarbach selaku Kepala Puskesmas Plus Perbaungan Kab.Serdang Bedagai yang telah memberikan izin dan banyak membantu dalam penelitian. 8. Seluruh staf pengajar Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan. 9. Orang tua yang tersayang Drs. Nampat Ginting dan (Almh) Fatimah Sinuraya,Bsc serta kakak dan adik penulis yang telah memberikan doa, semangat dan dukungan kepada penulis. 10. Keluarga tercinta suamiku Rahmat Mei Wijaya, SE dan anak-anak kami Raihan, Kiki, Dodo, Amanda dan Axel atas segala dukungan, doa, kesabaran dan pengertiannya karena kurangnya waktu untuk bersama dengan kalian selama pendidikan, kalian adalah sumber inspirasi dan motivasi terbesar saya. 11. Seluruh rekan kerja di Akademi Kebidanan Henderson Pematangsiantar yang telah memberikan saran, motivasi dan izin kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan program pendidikan ini dengan baik. iv

11 12. Seluruh teman-teman satu angkatan dan setiap orang yang telah menyumbangkan masukan, saran serta motivasi untuk kesempurnaan tesis ini, saya mengucapkan terima kasih semoga Tuhan membalas kebaikan yang telah diperbuat dan melimpahkan rezeki kepada kita semua. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin. Medan, Juni 2016 Rosmeri Ginting /IKM v

12 RIWAYAT HIDUP Rosmeri Ginting, lahir pada tanggal 20 Desember 1977 di Medan, anak kelima dari enam bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. Nampat Ginting dan Ibunda almh Fatimah Sinuraya, Bsc Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di No selesai Tahun 1990, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 9 Medan selesai Tahun 1993, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 7 Medan selesai tahun 1996, Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara selesai Tahun Penulis mulai bekerja sebagai staff Accounting di PT. Charoen Pokphand Indonesia KIM Medan Tahun 2002 sampai dengan tahun 2008, dan menjadi Wakil Direktur di Akbid Henderson Pematangsiantar Tahun 2008 sampai sekarang. Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2014 hingga saat ini. vi

13 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii RIWAYAT HIDUP... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Fokus Penelitian Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 7 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Sistem Rujukan (Referral System) Definisi Sistem Rujukan Macam Rujukan Manfaat Rujukan Tata Laksana Rujukan Kegiatan Rujukan Keuntungan Sistem Rujukan Determinan Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Rujukan Rujukan Balik Definisi Rujukan Balik Manfaat Program Rujuk Balik Pelayanan Jenis Obat Rujuk Balik Mekanisme Pelayanan Obat PRB Asuransi Kesehatan (Health Insurance) Konsep Jaminan Kesehatan Nasional Definisi Jaminan Kesehatan Nasional Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Evaluasi Implementasi Landasan Teori Kerangka Pikir vii

14 BAB 3. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian Waktu Penelitian Sumber Informasi Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Data BAB 4. HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Wilayah Kerja Puskesmas Plus Perbaungan Jenis Pelayanan Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Jenis Pelayanan Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Kesiapan Petugas/Tenaga Pelaksana Rujuk Balik Ketersediaan Obat Program Rujuk Balik Prosedur Pelaksanaan Rujuk Balik Proses Pelaksanaan Rujuk Balik Pengendalian Pelaksanaan Rujuk Balik BAB 5. PEMBAHASAN Analisis Kesiapan Petugas/Tenaga Pelaksana Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Analisis Ketersediaan Obat Program Rujuk Balik Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Analisis Prosedur Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Analisis Proses Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Analisis Pengendalian Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN viii

15 DAFTAR TABEL No Judul Halaman 4.1 Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Daftar Obat Fornas pada Penyakit Diabetes Daftar Obat Fornas pada Penyakit Hipertensi ix

16 DAFTAR GAMBAR No Judul Halaman 2.1 Alur Pelayanan Kesehatan Kerangka Pikir Peta Wilayah Puskesmas Plus Perbaungan x

17 DAFTAR LAMPIRAN No Judul Halaman 1 Surat Izin Melakukan Penelitian Dari Bappeda Surat Telah melaksanakan Penelitian dari Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Rencana Waktu Penelitian Surat Keterangan Penunjukan Dosen Pembimbing Formulir Pendaftaran Peserta Rujuk Balik Formulir Rujuk Balik Dokumentasi xi

18 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan implementasi dari kesepatankan World Health Organization (WHO) dalam mencapai universal health coverage di Tahun Pada kenyataannya Indonesia belum mencapai cakupan kesehatan semesta pada tahun 2014 dimana Indonesia masih dalam masa transisi karena target Indonesia menuju cakupan kesehatan semesta pada Tahun (Undang undang,2004) Sejak diberlakukannya undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), maka setiap peserta BPJS berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan. Pelayanan kesehatan meliputi semua fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, fasilitas kesehatan lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS. Beban kerja kesehatan semakin meningkat diera Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan meningkatnya demand masyarakat terhadap layanan kesehatan karena akses terhadap layanan yang makin baik. Mayarakat yang tadinya tidak bisa berobat ke fasilitas kesehatan (fasyankes) karena keterbatasan biaya, tetapi dengan adanya 1

19 2 JKN menjadi bisa mengakses layanan. Fasilitas kesehatan milik pemerintah dan milik swasta berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk meningkat jumlah kapitasi JKN. Berdasarkan data BPJS Kesehatan sampai dengan bulan Maret 2016, jumlah kepesertaan BPJS Kesehatan sebanyak jiwa. Jumlah fasilitas kesehatan yang bermitra dengan BPJS terdiri dari puskesmas, 714 klinik TNI, 569 Klinik Polri, Klinik Pratama dan dokter praktek. Jumlah kepesertaan BPJS di Kabupaten Serdang Bedagai setiap tahunnya meningkat dimana tahun 2014 sebanyak jiwa, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2105 yang berjumlah jiwa, maka persentasi kepesertaan BPJS di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 42,15%. Jumlah fasilitas kesehatan yang bekerjasama denga BPJS di Kabupaten Serdang Bedagai terdiri dari 20 puskesmas, 17 klinik pratama dan 4 rumah sakit. (BPJS, 2016) Pasal 17 ayat 2 dalam Peraturan BPJS Nomor 1 tahun 2014 dijelaskan bahwa peserta BPJS diberikan hak untuk memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Perubahan pilihan fasilitas kesehatan tingkat pertama juga diberikan keleluasaan kepada peserta per triwulan. Peserta dapat menentukan FKTP sendiri berdasarkan pertimbangan jarak, pelayanan, tenaga kesehatan, fasilitas dan lain-lain. (BPJS, 2014) Pelayanan kesehatan perorangan yang merupakan hak peserta BPJS terdiri dari pelayanan kesehatan tingkat pertama, pelayanan kesehatan tingkat kedua dan pelayanan kesehatan tingkat ketiga. Untuk mendapatkan semua pelayanan kesehatan

20 3 tersebut setiap peserta harus mengikuti alur pelayanan yang ditetapkan oleh BPJS. Setiap fasilitas kesehatan dalam menjalankan pelayanan kesehatan wajib melakukan sistem rujukan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. (BPJS, 2014) Dalam rangka meningkatkan akses pelayanan kesehatan tingkat lanjut, BPJS menerapkan sistem rujukan pelayanan kesehatan yaitu penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggungjawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan sosial dan seluruh fasilitas kesehatan. Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis yang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh FKTP, jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua. Begitu juga dengan pelayanan kesehatan tingkat ketiga di fasilitas kesehatan tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer. (BPJS, 2014) Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian nasional maupun global adalah penyakit tidak menular (PTM). Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh PTM. PTM juga membunuh penduduk dengan usia yang lebih muda. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, PTM menyebabkan

21 4 kematian 13%. Proporsi penyebab kematian PTM yaitu penyakit cardiovaskular merupakan penyebab terbesar (39%), kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan PTM yang lain menyebabkan sekitar 30%, serta 4% kematian disebabkan oleh diabetes. (Kemenkes, 2012) PTM merupakan penyakit kronis yang memerlukan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan sehingga memerlukan biaya yang besar untuk penanganannya. Dalam penanganan penyakit kronis ini dibutuhkan program sehingga tidak terjadi penumpukan pada fasilitas kesehatan sekunder maupun tersier. Salah satu program unggulan BPJS dalam sistem rujukan pelayanan kesehatan guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan serta memudahkan akses pelayanan kesehatan kepada peserta penderita penyakit kronis yaitu program rujuk balik. (BPJS, 2014) Pelayanan program rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di FKTP atas rekomendasi/rujukan dari dokter spesialis/sub spesialis yang merawat. Jenis penyakit yang termasuk dalam program rujuk balik adalah diabetus mellitus, hipertensi, jantung, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), epilepsy, schizophrenia, stroke dan systemic lupus erythematous (SLE). Peserta program rujuk balik adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/sub spesialis. (BPJS, 2014)

22 5 Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai diperoleh data bahwa jumlah pasien yang dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan dengan diagnosis penyakit diabetes melitus, PPOK, jantung, asma, hipertensi dan skizofrenia di Puskesmas Plus Perbaungan ratarata per bulan tahun 2016 sebanyak 70 orang. Pasien yang kembali datang ke Puskesmas Plus Perbaungan sebanyak 24 orang atau 35,7%. Hasil survei pendahuluan tersebut dapat diartikan bahwa program rujukan balik belum berjalan dengan baik. Peserta BPJS lebih senang berobat ke faskes tingkat sekunder dibandingkan puskesmas. Perilaku pasien yang selalu meminta rujukan langsung ke faskes tingkat sekunder dengan alasan fasilitas dan obat-obatan tidak lengkap dibandingkan puskesmas. Padahal keluhan atau penyakit yang diderita seharusnya dapat ditangani di puskesmas. Jika dilihat dari jumlah pasien yang memberikan rujukan balik ke puskesmas dapat diasumsikan pasien tidak melanjutkan perawatan di puskesmas dan meminta rujukan untuk melakukan pengobatan di rumah sakit atau faskes tingkat sekunder ataupun tersier. Puskesmas sebagai FKTP milik pemerintah tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai pintu masuk (gatekeeper) terhadap permasalahan kesehatan di masyarakat. Puskesmas seharusnya mampu menangani keluhan masyarakat terkhusus 155 jenis diagnosa penyakit. Jika memerlukan penanganan lebih lanjut baru keputusan rujukan harus diterapkan. Hasil penelitian Ali,dkk (2014) tentang analisis pelaksanaan rujukan rawat jalan tingkat pertama peserta program JKN di Puskesmas Siko dan Puskesmas Kalumata Kota Ternate menunjukkan bahwa pemahaman petugas tentang

23 6 kebijakan sistem rujukan masih tergolong kurang baik, ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai dalam kategori cukup baik, ketersediaan fasilitas dan alat kesehatan medis fasilitas pelayanan kesehatan masih minim dan pemahaman petugas tentang fungsi puskesmas sebagai pintu masuk (gatekeeper) rujukan cukup baik meskipun dalam prakteknya sering tidak mengikuti aturan yang ditetapkan. Primasari tahun 2015 menunjukkan hasil penelitiannya tentang analisis sistem rujukan jaminan kesehatan nasional RSUD Dr. Adjidarmo Kabupaten Lebak bahwa sistem rujukan berjenjang di rumah sakit tersebut masih kurang baik. Penerapan alur rujukan masih sering dilanggar oleh pasien maupun petugas. Ketersediaan obat dan fasilitas kesehatan di rumah sakit masih minim sehingga menimbulkan konflik intern dan ekstern di rumah sakit tersebut. Pencatatan dan pelaporan tidak terdokumentasi dengan baik sehingga tidak terdia data rujukan yang baik. Peneliti menyarankan agar pihak manajemen rumah sakit dan instansi terkait memperbaiki berbagai aspek yang terkait dengan keberhasilan pelaksanaan sistem rujukan berjenjang di Kabupaten Lebak. 1.2 Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang tersebut, diketahui bahwa sistem rujukan di puskesmas Kabupaten Serdang Bedagai belum berjalan dengan baik khusus program rujukan balik. Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program rujukan balik di puskesmas di Kabupaten Serdang Bedagai, yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah :

24 7 1. Bagaimana kesiapan petugas/ tenaga pelaksanaan program rujuk balik? 2. Bagaimana ketersediaan obat program rujuk balik? 3. Bagaimana prosedur pelaksanaan program rujuk balik? 4. Bagaimana proses pelaksanaan program rujuk balik? 5. Bagaimana pengendalian pelaksanaan program rujuk balik? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1. Menganalisa kesiapan petugas/ tenaga pelaksanaan rujuk balik 2. Menganalisa ketersediaan obat program rujuk balik 3. Menganalisa prosedur pelaksanaan program rujuk balik 4. Menganalisa proses pelaksanaan program rujuk balik 5. Menganalisa pengendalian pelaksanaan program rujuk balik. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan memberi konstribusi bagi perkembangan ilmu kesehatan masyarakat khususnya pengembangan ilmu masyarakat kesehatan bidang administrasi kesehatan. 2. Manfaat Praktis a. Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi Puskesmas Plus Perbaungan untuk meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan

25 8 sistem rujukan balik. b. Dinas Kesehatan Sebagai masukan dan evaluasi pada bidang atau seksi yang mengurusi sistem rujukan pelayanan kesehatan sehingga terjadi pemerataan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai. c. BPJS Sebagai masukan untuk membuat mengevaluasi pelaksanaan sistem rujukan balik sehingga tidak terjadi penumpukan pelayanan di rumah sakit dan dapat menekan dan pemerataan pembiayaan kesehatan di setiap fasilitas kesehatan.

26 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Rujukan (Referral System) Defenisi Sistem Rujukan Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani) atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya. Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi (Syafrudin, 2009) Macam Rujukan Sistem Kesehatan Nasional membedakannya menjadi dua macam yakni : 1. Rujukan Kesehatan Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada 9

27 10 dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Rujukan kesehatan dibedakan atas tiga macam yakni rujukan teknologi, sarana dan operasional (Azwar, 2010). Rujukan kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau specimen ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan yang sifatnya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan opersional (Syafrudin, 2009). 2. Rujukan Medik Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kedokteran (medical service). Sama halnya dengan rujukan kesehatan, rujukan medik ini dibedakan atas tiga macam yakni rujukan penderita, pengetahuan dan bahan bahan pemeriksaan (Azwar, 2010). Menurut Syafrudin (2009), rujukan medik yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu menangani secara rasional. Jenis rujukan medik antara lain: a. Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan operatif dan lain-lain. b. Transfer of specimen Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.

28 11 c. Transfer of knowledge / personal. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan setempat Manfaat Rujukan Menurut Azwar (2010), beberapa manfaat yang akan diperoleh ditinjau dari unsur pembentuk pelayanan kesehatan terlihat sebagai berikut : 1. Sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan Jika ditinjau dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan kesehatan (policy maker), manfaat yang akan diperoleh antara lain membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan kedokteran pada setiap sarana kesehatan, memperjelas sistem pelayanan kesehatan, karena terdapat hubungan kerja antara berbagai sarana kesehatan yang tersedia dan memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan. 2. Sudut pandang masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan Jika ditinjau dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (health consumer), manfaat yang akan diperoleh antara lain meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara berulangulang dan mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang sarana pelayanan kesehatan. 3. Sudut pandang kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Jika ditinjau dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan

29 12 kesehatan (health provider), manfaat yang diperoleh antara lain memperjelas jenjang karir tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif lainnya seperti semangat kerja, ketekunan dan dedikasi, membantu peningkatan pengetahuan dan keterampilan yakni melalui kerjasama yang terjalin, memudahkan dan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai tugas dan kewajiban tertentu Tata Laksana Rujukan Menurut Syafrudin (2009), tatalaksana rujukan diantaranya adalah internal antarpetugas disatu rumah; antara puskesmas pembantu dan puskesmas; antara masyarakat dan puskesmas; antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya; antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya; internal antarbagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit; antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari rumah sakit. Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan di catat dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan, yang berisikan antara lain: nomor surat, tanggal dan jam pengiriman, status pasien pemegang kartu Jaminan Kesehatan atau umum, tujuan rujukan penerima, nama dan identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnose, tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan penunjang, kemajuan pengobatan dan keterangan tambahan yang dipandang perlu. Agar sistem rujukan ini dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka perlu diperhatikan organisasi dan pengelolanya, harus jelas mata rantai kewenangan dan

30 13 tanggung jawab dari masing-masing unit pelayanan kesehatan yang terlibat didalamnya, termasuk aturan pelaksanaan dan koordinasinya. Karena terbatasanya sumber daya tenaga dan dana kesehatan yang disediakan, maka perlu diupayakan penggunaan fasilitas pelayanan medis yang tersedia secara efektif dan efisien. Pemerintah telah menetapkan konsep pembagian wilayah dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam sistem rujukan ini setiap unit kesehatan mulai dari Polindes, Puskesmas pembantu, Puskesmas dan Rumah Sakit akan memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan wilayah dan tingkat kemampuan petugas atau sama. Ketentuan ini dikecualikan bagi rujukan kasus gawat darurat, sehingga pembagian wilayah pelayanan dalam sistem rujukan tidak hanya didasarkan pada batas-batas wilayah administrasi pemerintahan saja tetapi juga dengan kriteria antara lain: 1. Tingkat kemampuan atau kelengkapan fasilitas sarana kesehatan, misalnya fasilitas Rumah Sakit sesuai dengan tingkat klasifikasinya. 2. Kerjasama Rumah Sakit dengan Fakultas Kedokteran 3. Keberadaan jaringan transportasi atau fasilitas pengangkutan yang digunakan ke Sarana Kesehatan atau Rumah Sakit rujukan. 4. Kondisi geografis wilayah sarana kesehatan. Dalam melaksanakan pemetaan wilayah rujukan, faktor keinginan pasien/ keluarga pasien dalam memilih tujuan rujukan perlu menjadi bahan pertimbangan.

31 Kegiatan Rujukan Menurut Syafrudin (2009), kegiatan rujukan terbagi menjadi tiga macam yaitu rujukan pelayanan kebidanan, pelimpahan pengetahuan dan keterampilan, rujukan informasi medis: 1. Rujukan Pelayanan Kebidanan Kegiatan ini antara lain berupa pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap; rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan, dan nifas; pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis; pengiriman bahan laboratorium; dan jika penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan kirimkan ke unit semula, jika perlu diserta dengan keterangan yang lengkap (surat balasan). 2. Pelimpahan Pengetahuan dan Keterampilan Kegiatan ini antara lain : a. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan demonstrasi operasi. b. Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap atau rumah sakit pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis dalam kegiatan ilmiah yang diselenggarakan dengan tingkat provinsi atau institusi pendidikan.

32 15 3. Rujukan Informasi Medis Kegiatan ini antara lain berupa : a. Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim. b. Menjalin kerjasama dalam sistem pelaporan data-data parameter pelayanan kebidanan, terutama mengenai kematian maternal dan prenatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka secara regional dan nasional Keuntungan Sistem Rujukan Menurut Syafrudin (2009), keuntungan sistem rujukan adalah : 1. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah dan secara psikologis memberi rasa aman pada pasien dan keluarga. 2. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga makin banyak kasus yang dapat dikelola di daerahnya masing masing Determinan Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Rujukan Berbagai penelitian telah dilakukan para peneliti baik dari kalangan mahasiswa maupun kalangan praktisi kesehatan tentang sistem rujukan di Indonesia. Pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan rujukan masih menjadi permasalahan bagi masyarakat yang merupakan peserta penerima manfaat pelayanan tersebut. Determinan pelayanan rujukan difasilitas kesehatan diperoleh dari berapa penelitian yaitu:

33 16 1. Luti, dkk (2012) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan rujukan adalah: a. Faktor kedekatan jarak dan kemudahan jangkauan. b. Keterbatasan sumber daya dan infrastruktur yang esensial dalam institusi kesehatan untuk menyediakan layanan kesehatan yang minimal. c. Kompetensi pegawai disarana pelayanan kesehatan rujukan. d. Ketersediaan tenaga difasilitas kesehatan primer dan kemampuan diagnosis dokter. 2. Ali,dkk (2014) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan rujukan yaitu: a. Kurangnya pemahaman petugas kesehatan tentang kebijakan sistem rujukan. b. Ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai. c. Ketersediaan fasilitas dan alat kesehatan medis. 3. Mutia (2015) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan sistem rujukan yaitu: a. Pemahaman dokter puskesmas tentang kebijakan sistem rujukan dan sistem kapitasi masih rendah. b. Ketersediaan sarana dan prasarana di puskesmas masih minim. c. Ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai di puskesmas. d. Keterbatasan tenaga kesehatan dan kompetensi tenaga kesehatan. e. Keterlibatan pasien dalam proses rujukan. 4. Fernando (2015) menunjukkan bahwa faktor-faktor mempengaruhi manajemen rujukan di RSUD yaitu:

34 17 a. Ketersediaan SDM b. Sarana/prasarana gedung dan fasilitas kesehatan c. Ketersediaan obat d. Akses jalan menuju rumah sakit. 2.2 Rujukan Balik Definisi Rujukan Balik Pelayanan Obat Rujuk Balik adalah pemberian obat-obatan untuk penyakit kronis di Faskes Tingkat Pertama sebagai bagian dari program pelayanan rujuk balik. Pelayanan Rujuk balik adalah Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita di Fasilitas Kesehatan atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat. Pelayanan Program Rujuk Balik adalah Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di Faskes Tingkat Pertama atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat Manfaat Program Rujuk Balik 1. Bagi Peserta a. Meningkatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan. b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup akses promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

35 18 c. Meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dalam konteks pelayanan holistik. d. Memudahkan untuk mendapatkan obat yang diperlukan. 2. Bagi Faskes Tingkat Pertama a. Meningkatkan fungsi Faskes selaku Gatekeeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional. b. Meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini (evidence based) melalui bimbingan organisasi/dokter spesialis. c. Meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan. 3. Bagi Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan a. Mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS. b. Meningkatkan kualitas pelayanan spesialistik di Rumah Sakit. c. Meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit. Jenis Penyakit yang termasuk Program Rujuk Balik adalah: 1. Diabetus Mellitus 2. Hipertensi 3. Jantung 4. Asma 5. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) 6. Epilepsy

36 19 7. Schizophrenia 8. Stroke 9. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Sesuai dengan rekomendasi Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan Komite Formularium Nasional, penyakit sirosis tidak dapat dilakukan rujuk balik ke Faskes Tingkat Pertama karena sirosis hepatis merupakan penyakit yang tidak curable dan Tidak ada obat untuk sirosis hepatis. Setiap gejala yang timbul mengarah kegawatdaruratan (misal : eshopageal bleeding) yang harus ditangani di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan. Tindakan-tindakan medik untuk menangani gejala umumnya hanya dapat dilakukan di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan Pelayanan Jenis Obat Rujuk Balik Obat yang termasuk dalam Obat Rujuk Balik adalah: 1. Obat Utama, yaitu obat kronis yang diresepkan oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dan tercantum pada Formularium Nasional untuk obat Program Rujuk Balik. 2. Obat Tambahan, yaitu obat yang mutlak diberikan bersama obat utama dan diresepkan oleh dokter Spesialis/Sub Spesialis di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan untuk mengatasi penyakit penyerta atau mengurangi efek samping akibat obat utama. Peserta yang berhak memperoleh obat PRB adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh Dokter

37 20 Spesialis/Sub Spesialis dan telah mendaftarkan diri untuk menjadi peserta Program Rujuk Balik. Mekanisme Pendaftaran Peserta PRB yaitu peserta mendaftarkan diri pada petugas Pojok PRB dengan menunjukan: 1. Kartu Identitas peserta BPJS Kesehatan 2. Surat Rujuk Balik (SRB) dari dokter spesialis 3. Surat Elijibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Kesehatan 4. Lembar resep obat/salinan resep 5. Peserta mengisi formulir pendaftaran peserta PRB 6. Peserta menerima buku kontrol Peserta PRB Mekanisme Pelayanan Obat PRB 1. Pelayanan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama a. Peserta melakukan kontrol ke Faskes Tingkat Pertama (tempatnya terdaftar) dengan menunjukkan identitas peserta BPJS, SRB dan buku kontrol peserta PRB. b. Dokter Faskes Tingkat Pertama melakukan pemeriksaan dan menuliskan resep obat rujuk balik yang tercantum pada buku kontrol peserta PRB. 2. Pelayanan pada Apotek/depo Farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk pelayanan obat PRB a. Peserta menyerahkan resep dari Dokter Faskes Tingkat Pertama b. Peserta menunjukkan SRB dan Buku Kontrol Peserta c. Pelayanan obat rujuk balik dilakukan 3 kali berturut-turut selama 3 bulan di Faskes Tingkat Pertama.

38 21 3. Setelah 3 (tiga) bulan peserta dapat dirujuk kembali oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan untuk dilakukan evaluasi oleh dokter spesialis/sub-spesialis. 4. Pada saat kondisi peserta tidak stabil, peserta dapat dirujuk kembali ke dokter Spesialis/Sub Spesialis sebelum 3 bulan dan menyertakan keterangan medis dan/atau hasil pemeriksaan klinis dari dokter Faskes Tingkat Pertama yang menyatakan kondisi pasien tidak stabil atau mengalami gejala/tanda-tanda yang mengindikasikan perburukan dan perlu penatalaksanaan oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis. 5. Apabila hasil evaluasi kondisi peserta dinyatakan masih terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/sub-spesialis, maka pelayanan program rujuk balik dapat dilanjutkan kembali dengan memberikan SRB baru kepada peserta. Ketentuan Pelayanan Obat Program Rujuk Balik yaitu: 1. Obat PRB diberikan untuk kebutuhan maksimal 30 (tiga puluh) hari setiap kali peresepan dan harus sesuai dengan Daftar Obat Formularium Nasional untuk Obat Program Rujuk Balik serta ketentuan lain yang berlaku. 2. Perubahan/penggantian obat program rujuk balik hanya dapat dilakukan oleh Dokter Spesialis/sub spesialis yang memeriksa di Faskes Tingkat Lanjutan dengan prosedur pelayanan RJTL. Dokter di Faskes Tingkat Pertama melanjutkan resep yang ditulis oleh Dokter Spesialis/sub-spesialis dan tidak berhak merubah resep obat PRB. Dalam kondisi tertentu Dokter di Faskes

39 22 Tingkat Pertama dapat melakukan penyesuaian dosis obat sesuai dengan batas kewenangannya. 3. Obat PRB dapat diperoleh di Apotek/depo farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan Obat PRB. 4. Jika peserta masih memiliki obat PRB, maka peserta tersebut tidak boleh dirujuk ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut, kecuali terdapat keadaan emergency atau kegawatdaruratan yang menyebabkan pasien harus konsultasi ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut. PESERTA Faskes Tk I: Dokkel, Klinik, Puskesmas Rujuk/ Rujuk Balik Rujukan Sesuai Indikasi Medis Kondisi Gawat Darurat RUMAH SAKIT yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan Gambar 2.1 Alur Pelayanan Kesehatan 2.3 Asuransi Kesehatan (Health Insurance) Kata jaminan secara bahasa dapat berarti asuransi (insurance), peyakinan (assurance), garansi (guarantee/waranty), janji (promise/pledge) dan dapat berarti pengamanan (security). Istilah jaminan sosial dalam bahasa Inggris adalah social security. Kata jaminan yang berarti asuransi di Indonesia berakar dari proses pengumpulan dana bersama untuk kepentingan bersama yang memiliki arti transfer risiko.

40 23 Asuransi kesehatan di Indonesia merupakan hal yang relatif baru bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Pemahaman terhadap asuransi kesehatan masih sangat beragam. Asuransi kesehatan mencakup asuransi kesehatan sosial maupun komersil. Menurut Thabrany (2014) asuransi sosial adalah asuransi yang wajib diikuti oleh seluruh atau sebagian penduduk, premi atau iurannya bukan nilai nominal tetapi persentase upah yang wajib dibayarkan dan manfaat asuransi (benefit) ditetapkan peraturan perundangan dan sama untuk semua peserta. Sedangkan asuransi komersial adalah asuransi yang dijual oleh perusahaan atau badan asuransi lain, sifat kepesertaanya sukarela, tergantung kesediaan orang atau perusahaan untuk membeli dan preminya ditetapkan dalam bentuk nominal sesuai manfaat asuransi yang ditawarkan. Kata asuransi berasal dari bahasa Inggris insurance dengan akar kata in-sure yang berarti memastikan. Dalam konteks asuransi kesehatan pengertian asuransi adalah memastikan seseorang yang menderita sakit akan mendapatkan pelayanan yang dibutuhkannya tanpa harus mempertimbangkan keadaan kantongnya. Ada pihak yang menjamin atau menanggung biaya pengobatan atau perawatan orang tersebut. Pihak yang menjamin disebut asuradur. Asuransi merupakan jawaban atas sifat ketidakpastian (uncertainty) dari kejadian sakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk memastikan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan dapat didanai secara memadai, maka seseorang atau sekelompok kecil orang melakukan transfer risiko kepada asuradur ataupun badan penyelenggara jaminan (Thabrany, 2014).

41 Konsep Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera. Program ini menjadi prioritas Pemerintah, yaitu Program Kementerian Kesehatan dan Program Dewan Jaminan Sosial Nasional. Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 menetapkan asuransi sosial dan ekuitas sebagai prinsip penyelenggaraan JKN. Kedua prinsip dilaksanakan dengan menetapkan kepesertaan wajib dan penahapan implementasinya, iuran sesuai dengan besaran pendapatan, manfaat JKN sesuai dengan kebutuhan medis serta tata kelola dana amanah peserta oleh badan penyelenggara nirlaba dengan mengedepankan kehati-hatian, akuntabilitas efisiensi dan efektifitas Definisi, Prinsip dan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 1. Defenisi Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya di bayar oleh pemerintah (BPJS, 2014). Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasioanal (SJSN). Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, ini diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi kesehatan Sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang No.40 Tahun 2004

42 25 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. JKN diluncurkan Pemerintah Republik Indonesia sejak 1 Januari 2014, Kementerian Kesehatan melakukan berbagai upaya untuk memperkuat pelayanan kesehatan. Berbagai peraturan dan panduan tentang pelayanan kesehatan dan standar tarif dasar bagi pemberi dan pengelola pelayanan kesehatan telah dikeluarkan (Kemenkes, 2014). 2. Prinsip- Prinsip Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsipprinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) seperti yang dijelaskan dalam Undangundang nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN adalah sebagai berikut: a. Prinsip kegotongroyongan Prinsip kegotongroyongan adalah prinsip kebersamaan yang berarti peserta yang mampu dapat membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit atau beresiko tinggi. Hal ini dapat terwujud karena kepersertaan SJSN yang bersifat wajib dan pembayaran iuran sesuai dengan tingkat gaji, upah dan penghasilan sehingga dapat terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. b. Prinsip nirlaba Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.

43 26 Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh peserta. c. Prinsip keterbukaan Prinsip keterbukaan yang dimaksud adalah prinsip untuk mempermudah akses informasi yang lengkap, benar, dan jelas bagi setiap peserta. d. Prinsip kehati-hatian Prinsip kehati-hatian adalah prinsip pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta secara cermat, teliti, aman dan tertib. e. Prinsip akuntabilitas Prinsip akuntabilitas maksudnya adalah prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan. f. Prinsip portabilitas Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan kepada peserta meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. g. Prinsip kepersertaan wajib Kepersertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepersertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program yang semuanya dilakukan secara bertahap. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor

44 27 formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dapat mencakup seluruh rakyat. h. Prinsip dana amanat Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badanbadan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan dan kesejahteraan peserta. i. Prinsip hasil pengelolaan dana jaminan sosial Prinsip yang dimaksud adalah prinsip pengelolaan hasil berupa keuntungan dari pemegang saham yang dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta jaminan sosial. 3. Kepesertaan Kepersertaan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional dijelaskan dalam Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan yang kemudian dilakukan perbaikan penjelasan dalam Peraturan Presiden Nomor 111 tahun Kepersertaan Jaminan Kesehatan bersifat wajib dan mencakup seluruh penduduk Indonesia. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara bertahap, yaitu tahap pertama mulai 1 Januari 2014 hingga mencakup seluruh penduduk Indonesia paling lambat 1 Januari 2019.

45 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional Manfaat JKN terdiri atas dua jenis yaitu secara medis dan maupun non medis.manfaat medis berupa pelayaanan kesehatan yang komprehensif, yakni pelayanan yang diberikan bersifat paripurna mulai dari preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Seluruh pelayanan tersebut tidak dipengaruhi oleh besarnya biaya iuran bagi peserta. Manfaat non-medis meliputi akomodasi dan ambulan. Manfaat akomodasi untuk layanan rawat inap sesuai hak kelas perawatan peserta.manfaat ambulan hanya diberikan untuk pasien rujukan antar fasilitas kesehatan, dengan kondisi tertentu sesuai rekomendasi dokter. Promotif dan preventif yang diberikan bagi upaya kesehatan perorangan (personal care). JKN menjangkau semua penduduk, artinya seluruh penduduk, termasuk warga asing harus membayar iuran dengan prosentase atau nominal tertentu, kecuali bagi masyarakat miskin dan tidak mampu, iurannya dibayar oleh pemerintah. Peserta yang terakhir ini disebut sebagai penerima bantuan iuran. Harapannya semua penduduk Indonesia sudah menjadi peserta JKN pada tahun Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Pelayanan kesehatan yang didapatkan peserta JKN meliputi : 1. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP); 2. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL);

46 29 3. Pelayanan gawat darurat, dan; 4. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh menteri. Manfaat jaminan yang diberikan kepada peserta dalam bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) berdasarkan kebutuhan medis yang diperlukan. Pelayanan kesehatan diberikan di fasilitas kesehatan yang telah melakukan perjanjian kerjasama dengan BPJS Kesehatan atau pada keadaan tertentu (kegawatdaruratan medik atau darurat medik) dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Pelayanan kesehatan dalam program JKN diberikan secara berjenjang, efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip kendali mutu dan kendali biaya. Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat kedua atau tingkat pertama, kecuali pada keadaan gawat darurat, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, pertimbangan geografis dan pertimbangan ketersediaan fasilitas. Fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk peserta JKN terdiri atas fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL). FKTP dimaksud adalah: 1. Puskesmas atau yang setara, 2. Praktik Dokter, 3. Praktik dokter gigi,

47 30 4. Klinik Pratama atau yang setara, 5. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara. Dalam hal di suatu kecamatan tidak terdapat dokter berdasarkan penetapan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, BPJS Kesehatan dapat bekerja sama dengan praktik bidan dan/atau praktik perawat untuk memberikan Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama sesuai dengan kewenangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) berupa: 1. Klinik utama atau yang setara, 2. Rumah Sakit Umum, 3. Rumah Sakit Khusus Bagi peserta yang sakit wajib terlebih dahulu memeriksakan diri ke Faskes tingkat pertama, kecuali dalam keadaan darurat dapat langsung ke RS. Di Faskes tingkat pertama, peserta JKN dapat memperoleh pelayanan yang menyeluruh, termasuk konsultasi, pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medis, transfusi darah, rawat inap tingkat pertama dan diagnostik laboratorium. Seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bergabung dalam program JKN harus mampu menyelenggarakan pelayanan kesehatan komprehensif, yang belum memiliki sarana itu wajib membangun jejaring atau merujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan. 2.4 Evaluasi Implementasi Evaluasi merupakan konsep yang luas, karena seluruh bagain dari proses dan isi kebijakan publik dapat menjadi objek evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan terhadap

48 31 keseluruhan proses atau tahapan kebijakan. Juga bisa dilakukan evaluasi terhadap tujuan-tujuan substansif dan isi kebijakan atau program. Evaluasi terhadap implementasi kebijakan yang berpotensi sarat nilai sering dilakukan para ahili disamping evaluasi dampaknya. Michael Borus dalam Kusumanegara berpendapat terdapat 3 tipe evaluasi kebijakan atau program, yaitu : 1. Evaluasi proses Tipe evaluasi yang berusaha untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah program berjalan? evaluasi proses juga disebut evaluasi normatif. 2. Evaluasi dampak Tipe evaluasi yang menjawab pertanyaan apa yang telah dilakukan suatu program? atau akibat apa yang terjadi dengan adanya suatu progam? evaluasi dampak disebut juga evaluasi summatif. 3. Analisis strategis Evaluasi ini berupaya menjawab seberapa jauh efektivitas program dalam mengatasi masalah sosial dibandingkan dengan program-program lain untuk masalah yang sama. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam evaluasi proses yaitu compliance (kepatuhan) dan what s happening. Fokus komplains dari evaluasi proses adalah menguji apakah pelaksanaan telah sesuai dengan rencananya. Pertimbangan dasarnya adalah suatu rencana harus diikuti untuk mencapai keberhasilan. Fokus tersebut dipandang sangat terbatas karena hanya mempertanyakan bagaimana program telah

49 32 dijalankan. Sedangkan fokus what s happening lebih luas karena mencakup juga aspek short range dari akibat yang ditimbulkan dari pelaksanaan suatu program. Evaluasi implementasi adalah: 1. Meliputi evaluasi proses; 2. Menjawab pertanyaan-pertanyaan perspektif what happen, dan tidak sekedar pertanyaan perspektif komplains; 3. Dapat ditujukan pada short-run evaluasi (dampak yang ditimbulkan suatu kebijakan/program yang belum lama berjalan). Evaluasi implementasi berisikan deksripsi apa inputnya melalui proses yang bagaimana dan apa outputnya atau akibat-akibat short-run program, memberi ekplanasi mengenai pola hubungan antar variabel yang diamati dalam bentuk hubungan kausal dan memberikan preskripsi dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi apakah yang dapat atau tidak dapat dimanipulasi oleh pembuat kebijakan. Berdasarkan pendapat Azwar (2010), ruang lingkup penilaian atau evaluasi porgram secara sederhana dibedakan atas empat kelompok saja,yakni: 1. Penilaian terhadap masukan (Input) Adalah sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya suatu sistem. Sub elemen tersebut dikenal dengan 6 M yakni ; manusia (man), uang (money), sarana (material), metode (methode), pasar (market) serta mesin (machine) untuk organisasi yang mencari keuntungan, sedangkan organisasi yang

50 33 tidak mencari keuntungan dikenal dengan 4 M yaitu ; man, money, material dan methode. 2. Penilaian terhadap proses (process) Adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan menghasilkan keluaran (output) yang direncanakan. Dalam praktek sehari-hari,untuk memudahkan pelaksanaan biasanya menggunakan fungsi dari manajemen yaitu: planning, organizing, actuating, evaluation. 3. Penilaian terhadap keluaran (output) Keluaran adalah hal yang dihasilkan dari suatu proses atau kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangusngnya proses dalam sistem. 4. Penilaian terhadap dampak (impact) Dampak adalah yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya. 2.5 Landasan Teori Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Manfaat jaminan yang diberikan kepada peserta dalam bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) berdasarkan kebutuhan medis yang diperlukan. (Thabrany,2014) Sistem rujukan (Referral System) merupakan suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik

51 34 terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani) atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya. (Notoatmodjo,2012) Program Rujuk Balik merupakan salah satu produk dari Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Tujuan utama dari progarm ini adalah meningkatkan askes pelayanan kesehatan bagi peserta JKN dan memudahkan memperoleh obat yang diperlukan. Selain itu, Program Rujuk Balik meningkatkan fungsi Faskes selaku Gatekeeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional dan meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan. Khusus untuk rumah sakit sebagai faskes rujukan tingkat lanjutan keuntungan dari program ini adalah mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS, meningkatkan kualitas pelayanan spesialistik di Rumah Sakit dan meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit. Untuk mengetahui apakah suatu program yang sedang berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya maka diperlukan suatu evaluasi implementasi/pelaksanaan. Evaluasi implementasi berisikan deksripsi apa inputnya melalui proses yang bagaimana dan apa outputnya atau akibat-akibat short-run program, memberi ekplanasi mengenai pola hubungan antar variabel yang diamati dalam bentuk hubungan kausal dan memberikan preskripsi dalam bentuk pernyataan-

52 35 pernyataan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi apakah yang dapat atau tidak dapat dimanipulasi oleh pembuat kebijakan. (Kusumanegara,2010) Program rujuk balik merupakan program yang sudah berjalan sejak diberlakukannya BPJS tahun Penelitian ini melakukan evaluasi proses pada pelaksanaan program rujukan balik di fasilitas kesehatan tingkat pertama studi kasus di Puskesmas Plus Perbaungan. 2.6 Kerangka Pikir Penelitian ini berfokus pada analisis pelaksanaan rujukan balik di Fasilitas Tingkat Pertama di Kabupaten Serdang Bedagai. Secara ringkas disusun alur fokus penelitian sebagai berikut :

53 36 1.Kesiapan petugas/tenaga pelaksana rujuk balik 2.Ketersediaan obat program rujuk balik Sistem Program Rujuk Balik 3.Prosedur pelaksana rujuk balik 4.Proses pelaksana program rujuk balik 5.Pengendalian pelaksanaan rujuk balik Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian

54 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektifkonstruktif (misalnya, makna-makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan baru) (Creswell, 2010). Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data secara mendalam tentang pelaksanaan rujuk balik di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kabupaten Serdang Bedagai studi kasus di Puskesmas Plus Perbaungan. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian Penelitian studi kasus ini dilakukan di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Pertimbangan pemilihan lokasi adalah: 1. Puskesmas Plus Perbaungan merupakan puskesmas rawat inap dan merupakan puskesmas perkotaan. 2. Puskesmas Plus Perbaungan merupakan puskesmas yang melaksanakan program rujuk balik di Kabupaten Serdang Bedagai. 3. Wilayah kerja Puskesmas Plus Perbaungan terdapat 3 rumah sakit yang menjadi tujuan rujukan fasilitas kesehatan tingkat sekunder. 37

55 Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Mei tahun Sumber Informasi (Informan) Sumber informasi atau informan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria informan yaitu : 1. Bersedia menjadi informan dan mampu bekerjasama dengan peneliti 2. Memiliki wewenang pembuat diagnosa penyakit dan merujuk pasien di puskesmas 3. Memiliki tugas sebagai penanggungjawab pelayanan rujukan di puskesmas 4. Penanggungjawab puskesmas 5. Penanggungjawab sistem rujukan kabupaten 6. Penerima layanan rujukan Berdasarkan kriteria tersebut, ditetapkan sebagai informan dalam penelitian ini adalah: 1. Dokter umum (bertugas di poli umum) 2. Perawat (bertugas di poli umum) 3. Staf pengelola rujukan 4. Kepala Puskesmas 5. Pasien yang pernah di rujuk balik Informan penelitian dipilih secara purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010). Sehingga informan yang dipilih adalah orang-orang yang berhubungan pelaksanaan program rujuk balik di puskesmas.

56 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini adalah : 1. Wawancara mendalam (indepth interview) Wawancara mendalam terhadap informan seputar pelaksanaan rujuk balik di Puskesmas Plus Perbaungan di Kabupaten Serdang Bedagai tahun Observasi Pengumpulan data melalui observasi dilakukan dengan cara peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati dalam hal ini peneliti mengamati proses seorang pasien mulai dari mendaftar, anamnese dan dirujuk. Peneliti mengamati fenomena yang terjadi dalam proses pelaksanaan rujuk balik tersebut. 3. Studi dokumentasi Pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber data, dokumen, laporan, profil dan arsip-arsip lain yang ada hubungannya dengan permasalahan dalam penelitian ini. 3.5 Metode Analisis Data Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis konten. Uji validitas data dalam penelitian ini meliputi : 1. Perpanjangan pengamatan Peneliti melakukan pengamatan dan wawancara kembali terhadap informan yang pernah ditemui maupun yang baru. Hal ini dilakukan agar peneliti dan informan

57 40 lebih akrab sehingga informan lebih terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan. 2. Triangulasi Pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. a. Triangulasi sumber Dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa berbagai sumber. b. Triangulasi teknik/metode Dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. c. Triangulasi waktu Dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. (Sugiyono,2010) Pada penelitian kualitatif dilakukan langkah-langkah analisis dan interpretasi data sebagai berikut: 1. Transkripsi Transkripsi data adalah proses menterjemahkan hasil rekaman wawancara tulisan yang berisi pembicaraan selama wawancara antara peneliti dengan responden apa adanya, tidak ada yang dikurangi atau ditambahkan. 2. Reduksi Reduksi data adalah proses pemilihan, membuang yang tidak perlu, pemusatan

58 41 perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. 3. Koding dan kategorisasi Koding adalah proses mengolah materi/informasi menjadi segmen-segmen tulisan, kemudian membuat kategori-kategori khusus. 4. Penyajian data Penyajian data adalah proses menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Pada penelitian ini penyajian data dengan menggunakan uraian singkat. 5. Interpretasi data Interpretasi data adalah proses memaknai data. Interpretasi ini dapat berupa interpretasi pribadi peneliti, dengan berpijak pada pengalaman dan kemampuan pribadinya, maupun berupa makna yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literatur atau teori. (Sugiyono,2010).

59 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Wilayah Kerja Puskesmas Plus Perbaungan Besarnya jumlah penduduk dan luas wilayah sehingga Kecamatan Perbaungan terdiri dari 2 puskesmas yaitu Puskesmas Plus Perbaungan dan Puskesmas Melati. Puskesmas Plus Perbaungan adalah puskesmas rawat inap dan Puskemas Melati adalah puskesmas non rawat inap. Wilayah administrasi Kecamatan Perbaungan terdiri 4 kelurahan dan 24 desa dengan jumlah penduduk terdiri dari jiwa dan kepala keluarga. Puskesmas Plus Perbaungan merupakan salah satu pukesmas rawat inap dari 5 puskesmas rawat inap di Kabupaten Serdang Bedagai. Wilayah kerja Puskesmas Plus Perbaungan terdiri dari 3 kelurahan, 16 desa dan 81 dusun. Puskesmas Plus Perbaungan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatan derajat kesehatan terhadap jiwa. Wilayah kerja Puskesmas Plus Perbaungan berbatasan dengan : 1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pantai Cermin 2. Sebelah selatan berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Melati 3. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Teluk Mengkudu 4. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang 42

60 43 Gambar 4.1 Peta Wilayah Puskesmas Plus Perbaungan Puskesmas Perbaungan adalah satu dari 20 Puskesmas dalam wilayah Kabupaten Serdang Bedagai, luas wilayah 5655 Km². Ibukota kecamatan terletak di Perbaungan dan dapat ditempuh sekitar 30 menit dari ibukota Kabupaten Serdang Bedagai yaitu Sei Rampah Visi Puskesmas Perbaungan Tercapainya Kecamatan sehat yang diawali dari desa sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat Misi Puskesmas Perbaungan Untuk tercapainya Kecamatan sehat yang diawali dari desa sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat ditempuh melalui misi sebagai berikut :

61 44 1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan diwilayah kerja Puskesmas Perbaungan. 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat diwilayah kerja Puskesmas Perbaungan. 3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. 4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya Jenis Pelayanan Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Puskesmas Plus Perbaungan memberikan pelayanan kesehatan perorangan maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan di puskesmas terdiri dari upaya pelayanan esensial, pelayanan pengembangan dan pelayanan kesehatan penunjang. Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas Plus Perbaungan terdiri dari: 1. Pelayanan gawat darurat 2. Poli umum 3. Pelayanan rawat inap 4. Poli gigi 5. Pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana 6. Pelayanan gizi 7. Pelayanan kesehatan lingkungan 8. Pelayanan promosi kesehatan

62 45 9. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit 10. Pojok layanan ramah anak 11. Pelayanan kefarmasian 12. Pelayanan laboratorium 13. Pelayanan rontgen 14. Pelayanan kesehatan masyarakat Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Dalam menjalankan fungsi sebagai puskesmas, Puskesmas Plus Perbaungan memiliki tenaga kesehatan yang siap memberikan pelayanan dan bertanggungjawab terhadap peningkatan derajat kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Plus Perbaungan dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan No Jenis Ketenagaan Jumlah (orang) 1 Dokter umum 4 2 Dokter gigi 2 3 Bidan 48 4 Perawat 7 5 Perawat gigi 2 6 Analis farmasi 2 7 Gizi 1 8 Sarjana kesehatan masyarakat 3 9 Sanitarian 1 10 Analis kesehatan 3 11 Radiografer 1 Jumlah 74 Sumber : Profil Puskesmas 2015

63 Kesiapan Petugas/Tenaga Pelaksana Rujuk Balik Petugas/tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelaksanaan PRB mengerti dan paham pengertian dari PRB. Hal diketahui dari hasil wawancara terhadap beberapa informan di Puskesmas Plus Perbaungan. Informan juga mengetahui manfaat dari pelaksanaan PRB itu sendiri. Informan mengetahui bahwa PRB merupakan salah satu program BPJS dalam menekan pemanfaatan pasien terhadap fasilitas kesehatan tingkat kedua dengan memberdayaan fasilitas kesehatan tingkat primer, sehingga akses masyarakat dalam memperoleh pengobatan menjadi mudah....program rujuk balik itu kan.. meminimalisirkan penyakit penyakit yang sebetulnya bisa di tangani oleh puskesmas... (Informan-1)...Program rujuk balik itu kak misalnya pasien dalam kondisi ini memungkinkan dia hanya mengambil obat aja jadi gak capek ke rumah sakit jadi hanya mengambil obat saja jadi bisa kita yang nangani... (Informan-2)...Setau kita pasien hanya ngambil obat aja ke puskesmas setelah di periksa sama dokter spesialisnya itu kemudian tiga bulan sekali nanti mereka bisa ketemu lagi sama dokter spesialisnya... (Informan-3) Pada dasarnya petugas/tenaga kesehatan di Puskesmas Plus Perbaungan pada dasarnya telah siap dalam pelaksanaan PRB. Kepala Puskesmas, dokter, perawat dan seluruh staf yang terlibat dalam pelayanan kesehatan telah berupaya memberikan pelayanan PRB terhadap pasien rujukan balik. Kepala Puskemas sebagai pimpinan manajemen berupaya melakukan inovasi pelayanan agar PRB dapat berjalan dengan baik. Sosialisasi dilakukan untuk program ini dan setiap pasien yang datang khususnya penderita 9 penyakit dalam PRB diberikan penjelasan. Selain itu, setiap pasien didata dalam buku khusus PRB dan setiap minggu apabila pasien tidak datang

64 47 mengambil obat maka petugas akan menghubungi pasien tersebut. Bahkan menurut informan akan dilakukan jemput bola dengan memanfaatkan bidan desa yang tinggal di desa untuk memberikan obat-obatan pasien.... kemudian ada juga yang memang tidak mengambil obat, itu banyak obat yang itu kita hubungi by phone mereka gak mau karena mungkin merasa ketidakcocokan obat... sebetulnya pasien PRB kita kan gak banyak 24 orang itu by phone meri selalu telepon pasien itu petugas saya selalu telepon suruh ambil obat...saya mau mengarahkan bidan desa artinya kita minta alamat yang lengkap kita follow up kita jemput bola ke desa (Informan-1)..yaa sejauh ini sih proses nya berjalan baik ya, artinya gini kalau kita rajin menghimbau ke pasien nya mereka bersedia... (Informan-4) Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan yang merupakan pasien yang ikut dalam PRB diperoleh informasi bahwa program ini sangat membantu mereka dalam pengambilan obat lanjutan tidak perlu pergi jauh ke rumah sakit. Informan juga mengatakan bahwa petugas kesehatan juga menawarkan manfaat dari program ini sehingga beberapa informan tertarik untuk mengikuti PRB....Petugas kesehatan bilang sama ibu memakai program rujuk balik ini akan lebih memudahkan ibu dalam berobat, gak perlu lagi ibu mengantri di rumah sakit, taulah nak ibu sudah tua jalan pun uda ga tahan lama lama makanya ibu ikut program rujuk balik ini... (Informan-7)...Iya ibu mengerti nak dengan adanya program ini ibu merasa terbantu sekali karena ibu tidak perlu lagi capek capek ke rumah sakit untuk mengambil obat... (Informan-8)...Lebih memudahkan ibu untuk berobat dek, taulah nenek uda tua malas ikut antrian di rumah sakit karena mau ngantri dari pagi sampai sore sedangkan ibu uda ga tahan lama lama berdiri... (Informan-9)...Awalnya sih bapak gak percaya namun karena petugas kesehatan ini berhasil membuat bapak mengerti sehingga bapak tertarik mengikuti program ini petugas bilang bahwa program ini akan lebih memudahkan

65 48 bapak dalam berobat, gak perlu lagi mengantri di rumah sakit (Informan- 10) kalau kadang ibu lupa mengambil obat ibu selalu di kabari sama petugas puskesmas itu... (Informan-13) 4.3. Ketersediaan Obat Program Rujuk Balik Obat-obatan merupakan objek utama dalam pelaksaan PRB karena pada dasarnya pelayanan obat rujuk balik adalah pemberian obat-obatan untuk penyakit kronis di fasilitas kesehatan tingkat. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa ketersediaan obat di Puskesmas Plus Perbaungan cukup. Dalam hal penyediaan obat dalam PRB, Puskesmas Plus Perbaungan melakukan pengamprahan berdasarkan data pasien yang ikut PRB ke apotik yang telah bekerja sama dengan BPJS. Sehingga dapat dipastikan obat selalu mencukupi. Meskipun dalam beberapa kasus ada jenis obat yang dibutuhkan tidak tersedia. Hal ini terjadi karena jenis obat tersebut tidak ada dalam daftar obat PRB, dokter spesialis rumah sakit meresepkan obat yang tidak ada di daftar PRB.... penyediaan obat dari apotik, mereka yang mendrop ke puskesmas kita terima dan kita yang mendistribusikan ke pasien... saya tiap bulan buat amprahan perbulan, kalau misalnya ada pasien baru saya masukin data obatnya, nanti saya kirim ke orang BPJS lalu orang BPJS konfirmasi ke apotik... (Informan-4)...obatnya ya kita amprah balik ke apotik BPJS...kadang ada juga pasien yang cerewet tidak sabar nunggu obatnya, kalau si pasien mau bersabar ya sabar nunggu sampai obatnya datang dari apotik BPJS... (Informan-6)

66 49 Berdasarkan persepsi pasien yang menjadi informan dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa persepsi responden terhadap ketersediaan obat-obatan di Puskesmas Plus Perbaungan cukup baik....iya dek, saya sudah cocok dengan resep yang telah di berikan dokter itu dan obat di puskesmas ini pun sesuai dengan resep dokter... (Informan-9)...Sangat bagus, obat obatan yang di resepkan dokter ada semua di puskesmas ini... (Informan-11)...kalau kadang ibu lupa mengambil obat ibu, selalu di kabari sama petugas puskesmas itu... (Informan-13) 4.4. Prosedur Pelaksanaan Rujuk Balik Peserta yang berhak mendapatkan obat PRB adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh dokter spesialis. Prosedur menjadi peserta PRB adalah pasien merupakan peserta BPJS Kesehatan, memperoleh surat rujuk balik dari dokter spesialis dan mengisi formulir menjadi peserta PRB. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa petugas kesehatan mensosialisasikan kepada pasien yang menderita penyakit kronis untuk mengikuti program PRB. Setiap pasien yang menderita penyakit kronis wajib untuk mengikuti program tersebut dengan mengisi formulir PRB. Informan juga memberitahukan kepada pasien untuk mengingatkan kepada rumah sakit agar memberikan surat rujuk balik....pakai buku. Di buku si meri ada itu tidak disatukan dengan rujukan biasa, jadi meri menanyakan kepada pasien ibu mau ini obat nya biar kita gak usah payah payah ke rumah sakit ambil obat nya disini aja, kalau dia mau yauda masukkan ke program PRB... (Informan-1)

67 50 Tidak semua pasien yang mau menjadi peserta PRB, hal ini dikarenakan persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas. Beberapa pasien yang menjadi peserta PRB mengerti dan paham akan manfaat program ini. Mereka mengerti bahwa obat yang diberikan adalah obat sesuai resep dari dokter spesialis di rumah sakit. Sedangkan pasien yang tidak ikut menjadi peserta PRB masih memiliki mindset yang salah terhadap puskesmas. Puskesmas dianggap memberikan obat kualitas rendah yang semua penyakit obatnya sama. Pola pikir masyarakat terhadap pelayanan dokter spesialistik sangat tinggi, penyakit yang seharusnya dapat ditangani di puskesmas dipaksakan harus dirujuk ke rumah sakit. Kalau untuk PRB ini sulit nya karena sudah mindset spesialis tinggi jadi memang kurang ke kita itu, aku uda biasa lho dok, aku uda begini lhoo dok katanya jadi kita juga ga bisa paksakan karena penyakit PRB ini penyakit kronis yang masih dalam kondisi stabil. Mereka pun kadang kadang gak percaya dengan treatment nya kita... (Informan-1)...ga usah lah dek, pasti beda nya obat nya itu, lebih paten obat rumah sakit dari pada obat puskesmas ini, apalagi sakit ibu ini sakit jantung mana boleh sembarangan makan obat, kalau di puskesmas obat nya lama... (Informan-21)...waktu itu anak saya di rujuk terus obat yang di kasih dokter sana itu enggak tersedia di puskesmas di bilang orang puskes namanya aja yang beda hanya saja isinya sama, setelah di minum sama anak saya hamper tiap hari kejang padahal waktu minum obat resep dokter sana kejang nya berkurang makanya aku gak mau ikut lagi... (Informan-22) Pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan masih sebatas pemberian obat lanjutan dari rumah sakit saja. Mekanisme pelayanan obat PRB dimulai dengan pemeriksaan oleh dokter di puskesmas. Dokter fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menetapkan apakah kondisi pasien masih stabil dan pemberian obat dalam 1

68 51 bulan dapat dilanjutkan. Prosedur pelaksanaan PRB belum dilaksanakan sesuai dengan regulasi PRB....si pasien ini memungkinkan hanya untuk ngambil obat aja kan maksud nya jadi gak capek- capek kesana ke rumah sakit jadi hanya obat saja jadi bisa kita yang nangani... Gak ada kak cuman hanya ngasih obat aja...(informan-2)...setau kita dia hanya ngambil obat aja ke puskesmas setelah di periksa sama dokter spesialisnya... (Informan-3) 4.5. Proses Pelaksanaan Rujuk Balik Pelaksaanaan Program Rujuk Balik (PRB) di Puskesmas Plus Perbaungan sudah berjalan selama 6 bulan. Kerjasama antara Puskesmas Plus Perbaungan dengan BPJS dituangkan dalam MoU pada bulan Desember Sebagai puskesmas yang berada di Kota Perbaungan diharapkan Puskesmas Plus Perbaungan dapat melayani pasien dalam penyediaan obat-obatan khusus penyakit dalam PRB. Puskesmas Plus Perbaungan masih satu-satunya puskesmas yang bekerja sama dengan BPJS dalam program rujuk balik. Puskesmas Plus Perbaungan selalu mensosialisasikan PRB kepada pasien-pasien kronik. Pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan masih belum berjalan dengan baik. Hal ini diketahui berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung bahwa Puskesmas Plus Perbaungan masih sebatas pemberian obat yang didasarkan pada resep dokter spesialis dari fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Seharusnya pasien rujuk balik tetap diperiksa oleh dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang selanjutnya memberikan resep obat rujuk balik yang tertera dalam buku kontrol peserta PRB.

69 52... kalau rujuk yang PRB ini karena masih sedikit kemudian ya apa yang mereka resepkan itu kan yang di kasih BPJS, ibarat nya kita cuma menyalurkan,mengambilnya disini artinya potong kompas dari pada ke rumah sakit ya sebaiknya ngambilnya ke puskesmas saja... (Informan-1) Belum semua peserta BPJS yang menderita penyakit kronis memahami PRB, sehingga masih banyak peserta meminta rujukan ke puskesmas setiap bulan. Meskipun demikian Puskesmas Plus Perbaungan terus aktif mempromosikan PRB pada saat jam pelayanan Pengendalian Pelaksanaan Rujuk Balik Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap kepala puskesmas sebagai penanggungjawab puskesmas diketahui informasi bahwa berbagai hambatan dan kendala yang mempengaruhi pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan. Informan telah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pelayanan rujukan. Beberapa kasus dimana pasien tetap bersikeras untuk minta dirujuk maka kepala puskesmas adalah jalan terakhir sebagai pengambilan keputusan. Informan tetap mematuhi peraturan pelayanan rujukan yang berlaku. Kepala puskesmas tetap menolak permintaan pasien dan berusaha memberikan penjelasan mengenai rujukan kepada pasien. ada lah, pasti nya...ya paling, perbulan lah nanti kan laporan nya ada, kan semua laporan saya di tandatangani sama Informan-1 paling nanti kalau ada kendala saya konfirmasi.. (Informan-4)..ya jelas lahh, di pantau semua karena biasanya di rujuk uda dapat obat nya dari dokter itu biasanya kita kasih ke bagian tata usaha, tata usahalah yang membagi dan memesan obatnya ke apotik.. (Informan-5)

70 53 Informan mengatakan bahwa kurang koordinasi antara rumah sakit dengan puskesmas dalam penanganan PRB. BPJS belum pernah mengevaluasi pelaksanaan PRB di puskesmas. BPJS masih fokus terhadap rujukan biasa dimana apabila rujukan tinggi melebihi 15% dari jumlah kunjungan. Belum pernah dilakukan koordinasi antara rumah sakit, puskesmas dan BPJS. koordinasinya kurang yang kita tau mereka kan mengeluarkan dan kita hanya menyalurkan obat itu mereka yang tetap meresepkan artinya hubungan kita ke rumah sakit itu lebih banyak bukan yang PRB ini lebih banyak pasien rujuk biasa.. (Informan-1) Informan berusaha untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di puskesmas. Strategi yang akan dilakukan Puskesmas Plus Perbaungan untuk meningkatkan kepesertaan PRB adalah kegiatan pelayanan bergerak ke 8 desa setiap bulan....saya harus membenahi manajemen saya karena saya tau terlalu banyak kompleksitasnya manajemen puskesmas salah satu nya itu artinya saya harus lebih pilah pilih kalau pasien nya tidak mau mending kita buat inform concern... (Informan-1)

71 BAB 5 PEMBAHASAN 5.1 Analisis Kesiapan/Tenaga Pelaksana Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Program rujuk balik merupakan salah satu program unggulan guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan serta memudahkan akses pelayanan kesehatan kepada peserta penderita penyakit kronis. Pelayanan rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita kronis di fasilitas kesehatan atas rekomendasi dari dokter spesialis dimana kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di fasilitas tingkat pertama. (BPJS, 2014) Sumber daya manusia kesehatan di puskesmas merupakan petugas/tenaga kesehatan pelaksana pelayanan kesehatan. Keputusan seseorang pasien diberikan tindakan pelayanan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut berdasarkan diagnosa yang ditetapkan tenaga media maupun paramedis di puskesmas. Pelayanan program rujuk balik merupakan pelayanan lanjutan dari fasilitas kesehatan tingkat lanjut yang tujuannya untuk mempercepat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Puskesmas sebagai gatekeeper rujukan harus mampu memberikan pelayanan kesehatan dasar sesuai dengan komptensi masing-masing tenaga kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan pelaksana program rujuk balik memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai Program Rujuk Balik. Hal ini diketahui bahwa seluruh informan sudah mengerti dan paham tentang 54

72 55 pengertian dan manfaat PRB. Hasil wawancara terhadap informan berpendapat bahwa puskesmas hanya memberi obat dari resep dokter spesialis sehingga pasien tidak perlu repot atau ngantri lagi dan mengambil rujukan untuk mengambil obat di rumah sakit. Sejak dilakukan kerja sama antara Puskesmas Plus Perbaungan dengan BPJS pada Desember 2015, jumlah pasien peserta PRB di Puskesmas Plus Perbaungan berkisar 24 orang. Pasien merasa terbantu dengan adanya program ini karena mempermudah akses pelayanan kesehatan dan tidak perlu repot berdesak-desakkan di rumah sakit. Pasien peserta PRB tidak perlu mengambil surat rujukan setiap bulan dan akan tetapi akan mendapat pemeriksaan dari dokter puskesmas. Evaluasi terhadap kondisi pasien dilakukan selama 3 bulan jika selama waktu tersebut peserta tidak stabil maka pasien tersebut akan dirujuk kembali ke dokter spesialis dengan menyertakan keterangan medis dan hasil pemeriksaan klinis dari dokter fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menyatakan kondisi pasien mengalami gejala yang mengindikasikan perburukan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa petugas/tenaga kesehatan di Puskesmas Plus Perbaungan siap dalam pelaksanaan PRB. Kepala Puskesmas, dokter, perawat dan seluruh staf yang terlibat dalam pelayanan kesehatan telah berupaya memberikan pelayanan PRB terhadap pasien rujukan balik. Kepala Puskemas sebagai pimpinan manajemen berupaya melakukan inovasi pelayanan agar PRB dapat berjalan dengan baik. Tata kelola administrasi pasien rujukan balik dibuat dalam buku register khusus peserta PRB. Monitoring dan pengawasan terhadap kepatuhan

73 56 kunjungan mengambil obat dilakukan dengan menghubungi pasien langsung untuk mengingatkan agar mengambil obat ke puskesmas. Bahkan menurut informan akan dilakukan jemput bola dengan memanfaatkan bidan desa yang tinggal di desa untuk memberikan obat-obatan pasien. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Luti, dkk (2012) dimana tenaga kesehatan di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau memiliki pengetahuan baik tentang sistem rujukan karena telah mendapat pelatihan khusus sistem informasi rujukan. Akan tetapi dalam proses pelaksanaanya belum terintegrasi dengan baik antara fasilitas kesehatan. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mutia (2014) dimana pemahaman tenaga pelaksana tentang kebijakan sistem rujukan tergolong kurang baik di Puskesmas Susoh dan Puskesmas Blangpidie di Kabupaten Aceh Barat Daya. Rendahnya pemahaman tenaga kesehatan tersebut dikarenakan tidak ada pelatihan ksusus tentang sistem rujukan. Jika dibandingkan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya diketahui pelatihan dan sosialisasi terhadap suatu kebijakan terkait sistem pelayanan sangat diperlukan. Pemahaman terhadap prosedur pelaksanaan sistem rujukan sangat diperlukan agar sistem rujukan dapat berjalan dengan baik. Pada penelitian ini PRB merupakan salah satu produk dari sistem rujukan berjenjang dari BPJS. Dengan meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan mengenai PRB akan meningkatkan kepesertaan PRB.

74 Analisis Ketersediaan Obat Program Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pasal 36 ayat 1, bahwa Pemerintah menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan perbekalan kesehatan terutama obat esensial. Sesuai dengan panduan program rujuk balik bahwa obat PRB diberikan untuk kebutuhan maksimal 30 hari setiap kali peresepan dan harus sesuai dengan daftar obat formularium nasional. Pelayanan obat rujuk balik adalah pemberian obat-obatan untuk penyakit kronis di fasilitas kesehatan tingkat pertama berdasarkan resep dokter spesialis di rumah sakit. (BPJS, 2014) Obat merupakan komponen yang penting dalam upaya pelayanan kesehatan, baik di pusat pelayanan kesehatan primer maupun ditingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Keberadaan obat merupakan kondisi pokok yang harus terjaga ketersediaannya karena ketersediaan obat merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pelayanan kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketersediaan obat di Puskesmas Plus Perbaungan cukup. Dalam hal penyediaan obat dalam PRB, Puskesmas Plus Perbaungan melakukan pengamprahan berdasarkan data pasien yang ikut PRB ke apotik yang telah bekerja sama dengan BPJS. Sehingga dapat dipastikan obat selalu mencukupi. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap kualitas obat PRB dari puskesmas sangat baik, karena pada dasarnya obat berdasarkan resep dokter spesialis.

75 58 Masih banyak masyarakat Kecamatan Perbaungan yang menderita penyakit kronis belum ikut berpartisipasi dalam PRB. Beberapa pasien tidak mengetahui adanya program tersebut, seharusnya BPJS Kesehatan di setiap rumah sakit melakukan sosialisasi interpesonal mengenai manfaat PRB. Selain itu, koordinasi BPJS Kesehatan dengan pihak rumah sakit dalam pelaksanaan PRB sehingga akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan penyakit kronis lebih dekat. Berdasarkan daftar obat dalam formularium nasional penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi dalam kasus tertentu tidak bisa di rujuk balik karena obat yang di resepkan oleh dokter spesialis tidak tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama, dapat di lihat pada table berikut: KELAS TERAP I 16.2 ANTI DIABETES Antidiabetes Oral Table 5.1 Daftar Obat Fornas pada Penyakit Diabetes SUB KELAS TERAPI/ NAMA GENERIK/ SEDIAAN/KEKUATAN DAN RESTRIKSI FASILITAS KESEHATAN TK 1 TK 2 TK 3 Akarbose* 1. Tab 50 mg 2. Tab 100 mg Glibenklamid* 1. Tab 2,5 mg 2. Tab 5 mg Gliklazid* 1. Tab MR 30 mg 2. Tab SR 60 mg 3. Tab 80 mg Glikuidon 1. Tab 30 mg Untuk pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gangguan fungsi ginjal ringan sampai berat.

76 59 KELAS TERAPI Tabel 5.1 (Lanjutan) SUB KELAS TERAPI/ NAMA GENERIK/ SEDIAAN/KEKUATAN DAN RESTRIKSI FASILITAS KESEHATAN TK 1 TK 2 TK 3 Glimepirid 1. Tab 1 mg 2. Tab 2 mg 3. Tab 3 mg* 4. Tab 4 mg* Glipizid 1. Tab 5 mg 2. Tab 10 mg* Metformin 1. Tab 500 mg 2. Tab 850 mg Pioglitazon* Tidak di berikan kepada pasien dengan gagal ginjal, gagal jantung, riwayat keluarga bladder cancer. 1. Tab 15 mg 2. Tab 30 mg

77 60 KELAS TERAPI Tabel 5.2 Daftar Obat Fornas pada Penyakit Hipertensi SUB KELAS TERAPI/ NAMA GENERIK/ SEDIAAN/KEKUATAN DAN RESTRIKSI FASILITAS KESEHATAN TK 1 TK 2 TK ANTI HIPERTENSI Catatan Pemberian obat antihipertensi harus didasarkan pada prinsip dosis tirasi, mulai dari dosis terkecil hingga tercapai dosis dengan outcome tekanan darah terbaik Amlodipin* 1. Tab 5 mg 2. Tab 10 mg atenolol* 1. Tab 50 mg 2. Tab 100 mg Beraprost sodium Untuk hipertensi pulmonal 1. Tab 20 mcg Bisoprolol* Hanya untuk kasus hipertensi 1. tab 5 mg Diltiazem* 1. Tab 30 mg 2. Kaps SR 100 mg 3. Kaps SR 200 mg 4. Serb inj 10 mg/ 10mL Untuk hipertensi berat 5. Inj 25 mg/ 5 ml Untuk hipertensi berat atau angina pectoris pada kasus rawat inap. 6. Serb inj 50 mg/ vial Untuk hipertensi berat atau angina pectoris pada kasus rawat inap. Goksazosin* 1. Tab 1 mg 2. Tab 2 mg Hidroklorotiazid* 1. Tab 25 mg Imidaptil* 1. Tab 5 mg 2. Tab 10 mg

78 61 Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Mutia (2014) dimana ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai di Puskesmas Susoh dan Puskesmas Blangpidie tergolong sudah baik. Masyarakat cenderung minta dirujuk ke rumah sakit bukan karena ketersediaan obat tetapi dikarenakan kelengkapan fasilitas dan alat kesehatan yang masih minim. Demikian juga hasil penelitian oleh Ali, dkk (2014) di Puskesmas Siko dan Puskesmas Kalumata Kota Ternate yang menunjukkan bahwa ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai dalam kategori cukup baik. Keluhan peserta BPJS Kesehatan paling banyak berkaitan dengan penyakit kronis dan rujuk balik. Misalnya, faskes tidak menjamin obat yang dibutuhkan peserta atau jumlahnya kurang dari yang dibutuhkan. Untuk mengatasi hal tersebut Kemenkes telah menerbitkan daftar obat yang tercantum dalam fornas. Sehingga dapat digunakan sebagai acuan faskes tingkat primer dan rujukan. Untuk penyakit kronis, Menkes telah menerbitkan SE No. 31 Tahun 2014 dan SE No. 32 Tahun Lewat regulasi itu peserta bisa mengambil obat yang dibutuhkan selama 30 hari di instalasi farmasi RS atau apotik yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Jika kondisi kesehatan peserta sudah dinyatakan stabil oleh dokter spesialis yang menangani, maka peserta yang bersangkutan harus mengikuti PRB. Kemudian, pelayanan bakal dikembalikan ke faskes tingkat pertama seperti dokter keluarga, klinik dan Puskesmas. Peserta PRB dapat diberi obat untuk kebutuhan 30 hari. Puskesmas plus perbaungan sudah mensosialisasikan kepada pasien tentang rujuk balik dan untuk penanganan penyakit kronis.

79 Analisis Prosedur Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Prosedur menjadi peserta PRB adalah pasien merupakan peserta BPJS Kesehatan, memperoleh surat rujuk balik dari dokter spesialis dan mengisi formulis menjadi peserta PRB. Peserta yang berhak mendapatkan obat PRB adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh dokter spesialis dari rumah sakit. (BPJS, 2014) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosedur pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan belum berjalan sesuai dengan petunjuk teknis PRB yang ditetapkan BPJS Kesehatan. Pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan hanya sebatas pemberian obat saja. Tidak dilakukan pemeriksaan dasar oleh dokter puskesmas. Seharusnya pasien diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan apakah kondisi stabil atau menurun, jika hasil pemeriksaan kondisi stabil pasien dapat diberikan obat selama 1 bulan tetapi jika kondisi pasien menurun maka dirujuk kembali ke rumah sakit agar mendapat penanganan spesialistik. Dari hasil wawancara dan pengamatan peneliti terhadap prosedur pelaksanaan PRB diketahui bahwa pasien yang menjadi peserta PRB menunjukkan kartu kontrol PRB ke bagian pendaftaran, kemudian pasien akan diperiksa oleh dokter di puskesmas, selanjutnya dokter akan meresepkan obat sesuai dengan resep yang diberikan dokter spesialis yang tertuang dalam buku kontrol PRB. Obat diberikan kepada pasien selama 1 bulan. Pelayanan obat PRB dilakukan di Apotek/layanan farmas Puskesmas Plus Perbaungan sehingga pasien tidak perlu repot untuk mengambil obat ke apotek lain Setelah 1 bulan obat habis, maka pasien harus

80 63 berkunjung kembali ke puskesmas. Setelah 3 bulan akan dievaluasi perkembangan kesehatan pasien. Jika kondisi pasien tidak stabil atau mengalami gejala yang mengindikasi penurunan stamina tubuh akan dirujuk kembali ke rumah sakit oleh dokter spesialis/sub spesialis. Berdasarkan mekanisme PRB yang tertuang dalam panduan praktis program rujuk balik BPJS Kesehatan Tahun 2014 dijelaskan bahwa peserta melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan menunjukkan buku kontrol peserta PRB selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan dan menuliskan resep obat rujuk balik sesuai dengan buku kontrol PRB. Peserta akan menyerahkan resep dari dokter fasilitas kesehatan tingkat pertama dan menunjukkan buku kontrol kepada Apotek yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan (BPJS, 2014). Peran puskesmas sebagai gerbang utama dalam pelayanan rujukan di Puskesmas Plus Perbaungan belum berjalan dengan baik. Sebagai penyedia layanan dasar harus mampu memberikan pelayanan terhadap 155 penyakit yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan. Demikian pula pelayanan PRB yang merupakan program unggulan BPJS Kesehatan seharusnya Puskesmas Plus Perbaungan mampu memberikan pelayanan dasar dengan menjalankan prosedur PRB. Pasien harus diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan apakah kondisi stabil atau menurun, jika hasil pemeriksaan kondisi stabil pasien dapat diberikan obat selama 1 bulan. Setelah 1 bulan obat habis, maka pasien harus berkunjung kembali ke puskesmas. Setelah 3 bulan akan dievaluasi perkembangan kesehatan pasien. Jika kondisi pasien tidak stabil atau mengalami gejala yang mengindikasi penurunan

81 64 stamina tubuh akan dirujuk kembali ke rumah sakit oleh dokter spesialis/sub spesialis. Dokter, bidan dan perawat serta staf lain yang berhubungan dengan pemberi layanan PRB memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik terhadap PRB tetapi dalam pelaksanaannya terjadi ketidakpedulian petugas terhadap prosedur PRB. Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap informan petugas kesehatan menunjukkan bahwa informan hanya mengetahui pelaksanaan pelayanan kesehatan PRB hanya sebatas pemberian obat terusan dari rumah sakit. Perlu peningkatan pengetahuan petugas kesehatan terhadap prosedur pelayanan kesehatan PRB. Kepala Puskesmas Plus Perbaungan harus melakukan sosialisasi bekerja sama dengan BPJS guna penyegaran pengetahuan dan pemahaman terhadap PRB. Demikian pula peserta PRB yang hanya memahami bahwa manfaat PRB sebatas pengambilan obat terusan selama 1 bulan di puskesmas. Sehingga Pelayanan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan hanya sebatas penyedia obat lanjutan bagi pasien kronis. Peranan pasein pada sistem rujukan PRB sebagai penerima manfaat pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional harus proaktif terhadap pelaksanaan sistem rujukan PRB. Pasien harus mengerti prosedur dan manfaat pelayanan PRB. Sehingga ketika pemberi layanan tidak melakukan sesuai dengan prosedur makan pasien dapat menegur pemberi layanan. BPJS Kesehatan seharusnya terus menerus memberikan sosialisasi kepada pasien PRB. BPJS Kesehatan memberikan panduan praktis PRB kepada setiap peserta JKN penderita kronis selain itu memberikan panduan tersebut kepada puskesmas-puskesmas yang melakukan kerja sama program rujuk balik.

82 65 Sehingga pasien dan pemberi layanan kesehatan dapat terus mengingat prosedur layanan PRB. Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam PRB maka petugas kesehatan selalu mensosialisasikan secara interpesonal kepada pasien yang menderita penyakit kronis untuk mengikuti program PRB. Setiap pasien yang menderita penyakit kronis wajib untuk mengikuti program tersebut akan mengisi formulir PRB. Informan juga memberitahukan kepada pasien untuk mengingatkan kepada rumah sakit agar memberikan surat rujuk balik. Petugas kesehatan yang menjadi pelaksana PRB di Puskesmas Plus Perbaungan aktif melakukan komunikasi kepada pasien yang lupa untuk mengambil obat berikutnya. Prosedur standar penerimaan rujukan balik belum dilaksanakan secara optimal, baik prosedur administrasi dan prosedur klinis berupa pelaksanaan anjuran rujuk balik. Salah satu penyebab pengabaian umpan balik dari rumah sakit ke fasilitas asal rujukan adalah karena tindakan yang dilakukan ditingkat RS dianggap telah menyelesaikan masalah. Puskesmas Plus Perbaungan sebaiknya membuat alur pelayanan kesehatan khusus layanan PRB sehingga pasien dapat mengetahui prosedur pelayanan PRB dengan baik. Dalam rangka meningkatkan kunjungan pasien khususnya sistem rujukan PRB maka petugas kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan selalu mensosialisasikan secara interpesonal kepada pasien yang menderita penyakit kronis untuk mengikuti program PRB. Setiap pasien yang menderita penyakit kronis wajib untuk mengikuti program tersebut akan mengisi formulir PRB. Informan juga

83 66 memberitahukan kepada pasien untuk mengingatkan kepada rumah sakit agar memberikan surat rujuk balik. Petugas kesehatan yang menjadi pelaksana PRB di Puskesmas Plus Perbaungan aktif melakukan komunikasi kepada pasien yang lupa untuk mengambil obat berikutnya. Perlunya kerjasama, koordinasi antara petugas kesehatan dan pasien sehingga dapat berinteraksi satu sama lain secara efektif dan efisien. Puskesmas Plus Perbaungan harus membuat prosedur tetap (protap) pelayanan kesehatan rujuk balik. Protap rujuk balik tersebut yang akan nantinya menjadi pedoman bagi Puskesmas Plus Perbaungan dalam memberikan layanan kesehatan bagi peserta PRB. Dengan adanya protap yang jelas, pasien yang ingin dirujuk atas permintaan sendiri tidak dapat memaksakan dirinya lagi sebab ada protap yang jelas yang telah disahkan pimpinan kepala puskesmas. Protap yang dimaksud dibuat sesuai dengan mekanisme program rujuk balik BPJS Kesehatan. 5.4 Analisis Proses Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Sebagai program yang masih baru berjalan 6 bulan, maka evaluasi yang dilakukan terhadap kebijakan program PRB ini adalah evaluasi proses. Menurut Kusumanegara (2010) bahwa Evaluasi proses atau evaluasi normatif berusaha menjawab pertanyaan bagaimanakah suatu program berjalan. Penelitian ini fokus dari evaluasi proses adalah menguji apakah pelaksanaan PRB telah sesuai dengan rencana. Sehingga dapat diketahui apakah manfaat sudah dapat dirasakan oleh peserta, fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

84 67 Manfaat PRB bagi peserta diharapkan meningkatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan, meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup akses promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dalam konteks pelayanan holistik dan memudahkan untuk mendapatkan obat yang diperlukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbuangan belum berjalan dengan baik. Puskesmas Plus Perbaungan masih sebatas pemberian obat yang didasarkan pada resep dokter spesialis dari fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Seharusnya pasien rujuk balik harus dilakukan diperiksa dulu oleh dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang selanjutnya memberikan resep obat rujuk balik yang tertera dalam buku kontrol peserta PRB. Rendahnya kepesertaan masyarakat terhadap PRB, hal ini dikarenakan peserta BPJS yang menderita penyakit kronis belum memahami PRB, sehingga masih banyak peserta meminta rujukan puskesmas setiap bulan. Meskipun demikian Puskesmas Plus Perbaungan terus aktif mempromosikan PRB pada saat jam pelayanan. Kepala Puskesmas Plus Perbaungan melakukan monitoring internal terhadap pelaksanaan PRB. Bahkan kepala puskesmas sangat tegas dalam memutuskan merujuk pasien. Kepala puskesmas selalu menekankan kepada petugas untuk memberikan penjelasan mengenai sistem rujukan sesuai dengan regulasi yang ada. Fungsi puskesmas selaku gatekeeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiyaan yang rasional, meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini dan meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan.

85 68 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mutia (2015) diketahui bahwa proses pelaksanaan sistem rujukan di puskesmas belum dapat dilaksanakan secara baik. Beberapa kendala yang dihadapi pada Puskesmas Susoh dan Puskesmas Blangpodie di Kabupaten Aceh Barat Daya adalah keterbatasan sarana dan prasarana, keterbatasan tenaga kesehatan, kompetensi tenaga kesehatan dan peranan pasien dalam proses rujukan. Demikian juga dengan hasil penelitian Fernando (2015) menunjukkan diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan sistem rujukan yaitu ketersediaan SDM, sarana/prasarana, obat dan akses jalan. Hasil penelitian Ali, dkk (2010) menunjukkan bahwa proses rujukan dari pelayanan kesehatan primer ke pelayanan tingkat lanjut di Puskesmas Siko dan Puskesmas Kalumata Kota Ternate telah berjalan dengan baik. Hal ini diketahui dari pemahaman petugas terhadap sistem rujukan cukup baik dan ketersediaan obatobatan dan bahan habis pakai dalam kategori cukup baik. Hasil wawancara mendalam terhadap informan yang merupakan pasien PRB mengatakan bahwa mereka sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Informan merasakan betul manfaat PRB di Puskesmas Plus Perbaungan antara lain efisiensi waktu dan biaya. Dari 11 orang informan yang ikut PRB menyatakan hal sama bahwa mereka dapat menghemat waktu baik jarak tempuh menuju puskesmas lebih dekat dibandingkan dengan rumah sakit. Waktu mendapatkan obat lebih cepat karena tidak harus ikut antrian yang panjang seperti di rumah sakit. Menghemat biaya

86 69 karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang besar karena jarak Puskesmas Plus Perbaungan dekat. Sementara hasil wawancara beberapa informan yang tidak ikut PRB mengatakan bahwa mereka tidak tahu akan adanya program tersebut. Beberapa informan yang sedang menderita penyakit kronis selalu mengambil obat atau kontrol ulang di rumah sakit. Mereka sangat menyesalkan kepada pihak rumah sakit tidak memberitahukan adanya program rujuk balik tersebut. Setelah dijelaskan oleh peneliti pengertian dan manfaat PRB, informan merasa merasa tertarik untuk ikut PRB. Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa masih kurangnya sosialisasi program rujuk balik kepada masyarakat peserta JKN. Seluruh informan yang ikut PRB menyatakan pelayanan di Puskesmas Plus Perbaungan sudah bagus. Pelayanan yang dimaksud dilihat dari dimensi pemberi jasa pelayanan kesehatan yaitu petugas kesehatan. Mereka berpendapat bahwa perawat di Puskesmas Plus Perbaungan ramah. Obat yang diberikan kepada pasien sesuai dengan resep dokter spesialis pada saat di rumah sakit. Hal lain yang membuat informan merasa tertarik untuk ikut PRB di Puskesmas Plus Perbaungan adalah adanya pelayanan komunikasi untuk mengingatkan pasien untuk mengambil obat selanjutnya. Informan merasa diperhatikan sehubungan dengan rata-rata usia informan yang sudah lansia. Harapan seluruh informan yang ikut PRB terhadap Puskesmas Plus Perbaungan adalah Puskesmas Plus Perbaungan dapat meningkatkan pelayanannya khususnya pemenuhan pelayanan kesehatan PRB demi kesejahteraan masyarakat lansia

87 70 penderita penyakit kronis. Jika dilihat dari harapan dan antusias masyarakat yang ikut PRB tersebut Pusksmas Plus Perbaungan harus segera berbenah diri dengan meningkatkan pelayanan kesehatan, melaksanakan PRB sesuai dengan peraturan yang ada dan meningkatkan layanan komunikasi terhadap pasien PRB. Pelaksanaan sistem rujukan di indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya. Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi, transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan tepat. Kegagalan proses rujukan yaitu tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait, keterbatasan sarana, tidak ada dukungan peraturan. Dengan adanya sistem rujukan yang baik dan terkoordinasi maka kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dapat dihindari.. Proses pelaksanaan program rujuk balik dapat berjalan dengan baik apabila proses yang dilalui pasien dapat dipermudah atau dipersingkat sehingga tidak membutuhkan waktu tunggu yang lama sehingga pasien dapat secepatnya mendapat pelayanan PRB. Dalam rangka menurunkan angka kesakitan penyakit kronis, BPJS bekerjasama dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam melaksanakan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan

88 71 pendekatan proaktif yang dilaksanakan secaraterintegrasi yang melibatkan Peserta, FasilitasKesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangkapemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatanyang menderita penyakit kronis untuk mencapaikualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Tujuan Prolanis adalah mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes tingkat pertama memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi memiliki panduan klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit. Sasaran Prolanis adalah seluruh peserta BPJS Kesehatan penyandang penyakit kronis (Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi). Aktifitas dalam Prolanis meliputi aktifitas konsultasimedis/edukasi, Home Visit, Reminder, aktifitas klub dan pemantauan status kesehatan. Penanggungjawab adalah Kantor Cabang BPJS Kesehatan bagian manajemen pelayanan primer. pengisian formulir kesediaan bergabung dalam PROLANIS oleh calon peserta PROLANIS. Peserta PROLANIS harus sudah mendapat penjelasan tentang program dan telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung. Validasi kesesuaian diagnosa medis calon peserta. Peserta PROLANIS adalah peserta BPJS yang dinyatakan telah terdiagnosa DM Tipe 2 dan atau Hipertensi oleh Dokter Spesialis di Faskes Tingkat Lanjutan. Peserta yang telah terdaftar dalam PROLANIS harus dilakukan proses entri data dan pemberian flag peserta didalam aplikasi kepesertaan. Demikian pula dengan

89 72 peserta yang keluar dari program. Pencatatan dan pelaporan menggunakan aplikasi Pelayanan Primer (P-Care). Program ini juga berlaku pada peserta BPJS Kesehatan, bahkan ini sangat penting dan dianjurkan bagi penderita penyakit kronis misalnya Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi. Aktifitas dalam Prolanis meliputi aktifitas konsultasi medis/edukasi, Home Visit, Reminder, aktifitas klub dan pemantauan status kesehata Kegiatan dikemas dalam bentuk Senam Prolanis, Pemeriksaan Kesehatan berupa Pemeriksaan Tekanan darah, Pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan untuk menentukan IMT (Indeks Massa Tubuh), Pemeriksaan Gula darah serta kegiatan Penyuluhan sehubungan dengan keterkaitan antara Penyakit Tekanan darah tinggi dan Diabetes. Puskesmas Plus Perbaungan belum bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dalam melaksanakan Prolanis. Padahal program ini dapat meningkatkan peran serta masyarakat khususnya peserta BPJS Kesehatan dalam upaya pencegahan dan meningkatkan status kesehatan. Apabila Prolanis sudah dilaksanakan di Puskesmas Plus Perbaungan maka PRB juga akan berjalan dengan baik. Penyandang penyakit kronis tidak cukup hanya diberi obat dan pulang ke rumah, tapi perlu dibangkitkan kesadaran akan perlunya PERUBAHAN POLA HIDUP. Prolanis mengajak untuk menjalankan pola hidup sehat agar penyakit kronis yang sudah disandang tidak menjadi lebih berat atau timbul komplikasi.selain itu, puskesmas dapat berfungsi sebagai gatekeeper pelayanan kesehatan tingkat pertama.

90 73 Ada 7 Pilar Prolanis yang menjadi inti kegiatan yaitu : 1. Konsultasi Medis 2. Panduan Klinis 3. Pelayanan Obat yang cepat dan terintegrasi 4. Pemantauan Kesehatan 5. Klub Risti 6. Home Visite 7. Reminder Program ini berjalan atas kerjasama banyak pihak yang terlibat antara lain Dokter Keluarga, Rumah Sakit, Laboratorium, Puskesmas, Dinas Kesehatan, Apotik juga organisasi profesi. Dokter keluarga dan Puskesmas sebelum bergabung dalam Prolanis mengikuti pelatihan yang diadakan BPJS Kesehatan. Hasil penelitian dijelaskan bahwa masih banyak informan peserta BPJS Kesehatan belum mengenal PRB. Melalui pendekatan Prolanis ini diharapkan seluruh penderita kronis mengetahui produk layanan BPJS Kesehatan lainnya yang sangat bermanfaat. Puskesmas Plus Perbaungan sebaiknya melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan dalam melaksanakan Prolanis guna meningkatkan kunjungan PRB. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada Prolanis meliputi aktifitas konsultasi medis, home visit, reminder, aktifitas klub dan pemantauan status kesehatan.

91 Pengendalian Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan Berdasarkan permenkes Nomor 001 tahun 2012 pasal 20 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan dijelaskan bahwa Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dan organisasi profesi bertanggungjawab atas pembinaan dan pengawasan rujukan pada pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pada sistem program rujuk balik khusus penyakit kronis pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh kepala puskesmas dan BPJS Kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepala puskesmas telah melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap PRB di Puskesmas Plus Perbaungan. Kepala Puskesmas berusaha menegakkan peraturan ataupun regulasi sistem rujukan yang berlaku. Citra puskesmas yang hanya menjadi puskesmas rujukan berusaha dikembalikan fungsinya sebagai gatekeeper pelayanan kesehatan dasar. Beberapa kasus pada sistem rujukan masih terdapat pasien yang meminta rujukan atas permintaan sendiri. Petugas kesehatan akan berusaha menjelaskan kepada pasien yang bersangkutan bahwa pasien harus diperiksa terlebih dahulu dan apabila kondisi/penyakit masih bisa ditangani di puskesmas maka tidak akan dirujuk. Jika pasien tetap bersikeras untuk minta dirujuk maka kepala puskesmas adalah jalan terakhir sebagai pengambilan keputusan. Kepala puskesmas tetap menolak permintaan pasien dan berusaha memberikan penjelasan mengenai rujukan kepada pasien. Dalam rangka meningkatkan jumlah kepesertaan PRB dan pelaksanaan pelayanan kesehatan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan diketahui bahwa kurang koordinasi antara rumah sakit dengan puskesmas dalam penanganan PRB. BPJS

92 75 belum pernah mengevaluasi pelaksanaan PRB di puskesmas. BPJS masih fokus terhadap rujukan biasa dimana apabila rujukan tinggi melebihi 15% dari jumlah kunjungan. Belum pernah dilakukan koordinasi antara dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan BPJS mengenai evaluasi sistem pelaksanaan PRB. Dinas kesehatan diharapkan memfasilitasi pertemuan koordinasi antara penyedia layanan kesehatan PRB dan pihak pemberi jaminan asuransi BPJS Kesehatan. Puskesmas dan rumah sakit harus mampu menjalankan fungsinya masing-masing sesuai. Mengingat besarnya manfaat PRB bagi peserta, penyedia layanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjut. Pasien sebagai peserta JKN berhak atas kemudahan pelayanan kesehatan di setiap fasilitas kesehatan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Luti, dkk (2012) bahwa rendahnya peran Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga dalam meningkatkan sistem rujukan. Pemerintah Kabupaten Lingga dalam hal ini melalui dinas kesehatan perlu melakukan koordinasi dan memfasilitasi pembentukan jejaring komunikasi antara rumah sakit dan puskesmas. Peran Dinas Kesehatan dalam penyelenggaraan rujukan perlu ditingkatkan dalam konteks kerja sama antar institusi kesehatan. Hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa informan antusias terhadap PRB karena kepala puskesmas sadar melalui program PRB dapat meningkatkan fungsi Puskesmas Plus Perbaungan sebagai pintu utama pelayanan dasar, meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasi kajian ilmiah terkini melalui bimbingan dokter spesialis dan meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan. Diharapkan PRB dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap puskesmas.

93 76 Salah satu strategi Puskesmas Plus Perbaungan dalam meningkatkan kepesertaan PRB adalah melakukan sosialisasi menfaaf PRB pada kegiatan pelayanan bergerak ke 8 desa setiap bulan. Masyarakat Kecamatan Plus Perbaungan masih banyak yang belum mengetahui produk layanan asuransi BPJS Kesehatan. Cakupan kepesertaan JKN di Kecamatan Perbaungan masih rendah. Perlu sosialisasi manfaat asuransi BPJS Kesehatan kepada masyarakat dengan melakukan pendekatan lintas sektoral. Masyarakat harus paham bahwa sakit memiliki sifat ketidakpastian (uncertainty) yang beriringan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Menurut Thabrany (2014) bahwa Asuransi merupakan jawaban atas sifat ketidakpastian dari kejadian sakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk memastikan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan dapat didanai secara memadai, maka seseorang atau sekelompok kecil orang melakukan transfer risiko kepada asuradur ataupun badan penyelenggara jaminan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dijelaskan tujuan SJSN adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. Target Indonesia pada tahun 2019 seluruh masyarakat indonesia sudah terjamin kesehatannya dalam JKN. Pemerintah daerah/kota, pemerintah desa, seluruh instansi kesehatan dan stakeholder bersamasama berupaya menyakinkan masyarakat pentingnya jaminan perlindungan kesehatan. selain itu partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam mensukseskan program pemerintah tersebut.

94 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1. Tenaga kesehatan pelaksana rujuk balik di Puskesmas Plus Perbaungan memiliki pengetahuan cukup baik mengenai PRB. Petugas/tenaga kesehatan di Puskesmas Plus Perbaungan siap dalam pelaksanaan PRB. 2. Ketersediaan obat di Puskesmas Plus Perbaungan mencukupi untuk pelayanan kesehatan PRB. 3. Prosedur pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan belum berjalan sesuai dengan petunjuk teknis PRB yang ditetapkan BPJS Kesehatan. 4. Proses pelaksanaan rujuk balik di Puskesmas Plus Perbaungan belum berjalan dengan baik. Hambatan dalam pelaksanaan rujuk balik di Puskesmas Plus Perbaungan adalah masih banyak masyarakat Kecamatan Perbaungan belum mengerti manfaat PRB. 5. Monitoring pelaksanaan PRB hanya dilakukan oleh kepala puskesmas. Dinas Kesehatan dan BPJS Kesehatan belum pernah melakukan evaluasi dan pengawasan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan. Belum pernah dilakukan koordinasi antara rumah sakit, puskesmas dan BJPS Kesehatan terhadap pelaksanaan PRB. 77

95 Saran 1. Bagi Puskesmas Plus Perbaungan a. Diharapkan agar puskesmas membuat komitmen bersama terhadap seluruh tenaga kesehatan dalam pelaksanaan PRB. b. Diharapkan puskesmas membuat alur prosedur standar PRB 2. Rumah Sakit a. Diharapkan rumah sakit mensosialisasikan kepada dokter spesialis/sub spesialis untuk mengikuti panduan dari formularium nasional (Fornas) dalam meresepkan obat khusus untuk PRB. b. Untuk mengimplementasikan kebijakan PRB, maka RS perlu membuat standar prosedur secara tertulis untuk pengembalian rujukan. c. Perlu dibangun komitmen antara RS dan juga fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat secara bertanggung jawab 3. Bagi Dinas Kesehatan a. Diharapkan dinas kesehatan mampu menjalankan fungsi sebagai pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan PRB di puskemas. Dinas kesehatan harus memfasilitasi koordinasi antara puskesmas, rumah sakit dan BPJS Kesehatan. b. Optimalisasi sistem rujukan dengan mengembalikan fungsi dari Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan yang komprehensif, meliputi promotif, preventif,

96 79 kuratif, dan rehabilitatif, sehingga jumlah rujukan yang terkendala, akses pelayanan dan biaya pelayanan di RS rujukan dapat dikurangi 4. Bagi BPJS a. Diharapkan BPJS terus menerus melakukan sosialisasi manfaat asuransi BPJS Kesehatan guna meningkatkan kepesertaan JKN dan PRB. b. Perlu dibentuk Tim Monitoring dan Evaluasi untuk mengawasi pelaksanaan dari PRB c. Perlu adanya sosialisasi PRB kepada dokter spesialis d. Mempermudah cara untuk mendapatkan obat-obatan pasien rujuk balik, melalui pengadaan Apotek BPJS

97 DAFTAR PUSTAKA Ali, Kandou dan Umboh, Analisis Pelaksanaan Rujukan Rawat Jalan Tingkat Pertama Peserta JKN di Puskesmas Siko dan Puskesmas Kalumata Kota Ternate. FKM-Universitas Sam Ratulangi, Manado. Azwar A, Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara, Jakarta. BPJS, Panduan Praktis Sistem Rujukan Berjenjang. BPJS Kesehatan, Jakarta.,2014. Panduan Praktis Program Rujuk Balik Bagi Perserta JKN. BPJS Kesehatan, Jakarta., Kepesertaan BPJS. Creswell,W, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. SAGE Publications, California. Fernando, M, Analisis Manajemen Rujukan Pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Pinang Kabupaten Labuhan Batu Selatan. FK-USU, Medan. Kemenkes, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan. Jakarta., Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional. Kementerian Kesehatan, Jakarta., Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Kementerian Kesehatan, Jakarta. Kusumanegara,S,.2010.Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik Klitren,Yogyakarta Luti, Hasanbasri, Lazuardi, Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Sistem Rujukan Kesehatan Daerah Kepulauan Di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau. Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan Masyarakat, UGM, Yogyakarta. 80

98 81 Mutia, D, Analisis Pelaksanaan Rujukan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Pada Puskesmas Susoh dan Puskesmas Blangpidie di Kabupaten Aceh Barat Daya. FKM-USU, Medan. Notoatmodjo S, Kesehatan Mayarakat. PT. Rineka Cipta, Jakarta. Permenkes Nomor 001 tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan Primasari, K. L, Analisis Sistem Rujukan Jaminan Kesehatan Nasional RSUD Dr. Adjidarmo Kabupaten Lebak. RSUD Dr. Adjidarmo, Lebak. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Penerbit Alfabeta, Bandung. Syafrudin, Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk Mahiswa Kebidanan. Transinfomedia, Jakarta. Thabrany, H Jaminan Kesehatan Nasional. Rajawali Pers, Jakarta. Undang-undang, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta.,2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.,2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Jakarta.

99 82 LAMPIRAN 1

100 83 LAMPIRAN 2

101 84 LAMPIRAN 3 No Kegiatan Pengajuan Judul Penelitian Penetapan Judul Penelitian Konsul Proposal Penelitian Seminar Proposal Penelitian Revisi Proposal Penelitian Pengurusan Izin Penelitian Pengumpulan Data Penelitian Penulisan Hasil Penelitian Seminar Hasil Penelitian Revisi Seminar Hasil Ujian Tesis Penelitian Rencana Waktu Penelitian Waktu Des - Jan - Feb Mar Apr - 16 Mei - 16 Juni -16

102 85 LAMPIRAN 4

103 86 LAMPIRAN 5

104 87 LAMPIRAN 6

105 88 LAMPIRAN 7 DOKUMENTASI PENELITIAN

106 89

107 90

108 91

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hipertensi, jantung, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis, epilepsy, stroke,

BAB I PENDAHULUAN. hipertensi, jantung, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis, epilepsy, stroke, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta BPJS Kesehatan dan mempermudah akses pelayanan kesehatan kepada peserta penderita penyakit kronis, maka BPJS Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kronis merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. WHO (2005) melaporkan penyakit kronis telah mengambil nyawa lebih dari 35 juta orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universal Health Coverage (UHC) yang telah disepakati oleh World

BAB I PENDAHULUAN. Universal Health Coverage (UHC) yang telah disepakati oleh World BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universal Health Coverage (UHC) yang telah disepakati oleh World Health Organizatiaon (WHO) pada tahun 2014 merupakan sistem kesehatan yang memastikan setiap warga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelayanan Rujuk Balik adalah Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita di Fasilitas Kesehatan (Faskes) atas rekomendasi/rujukan dari dokter spesialis/sub

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Badan hukum yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Badan hukum yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaminan Kesehatan Nasional Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN KESESUAIAN DAN KETIDAKSESUAIAN RESEP PASIEN BPJS PROGRAM RUJUK BALIK PUSKESMAS WILAYAH BANJARBARU PERIODE SEPTEMBER DESEMBER 2014

ABSTRAK GAMBARAN KESESUAIAN DAN KETIDAKSESUAIAN RESEP PASIEN BPJS PROGRAM RUJUK BALIK PUSKESMAS WILAYAH BANJARBARU PERIODE SEPTEMBER DESEMBER 2014 ABSTRAK GAMBARAN KESESUAIAN DAN KETIDAKSESUAIAN RESEP PASIEN BPJS PROGRAM RUJUK BALIK PUSKESMAS WILAYAH BANJARBARU PERIODE SEPTEMBER DESEMBER 2014 Febrina Eky Paramitawati 1 ; Noor Aisyah, S.Farm, Apt

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya (Kemenkes RI, 2012).

BAB I PENDAHULUAN. kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya (Kemenkes RI, 2012). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsabangsa didunia,

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM RUJUKAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM RUJUKAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM RUJUKAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM RUJUK BALIK PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIDAR KOTA MAGELANG

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM RUJUK BALIK PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIDAR KOTA MAGELANG ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM RUJUK BALIK PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIDAR KOTA MAGELANG Dianita Pertiwi, Putri Asmita Wigati, Eka Yunila Fatmasari Peminatan Administrasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-bangsa di dunia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi Manusia, pada pasal 25 Ayat (1) dinyatakan bahwa setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai

Lebih terperinci

WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG

WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN KOTA PONTIANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 50 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN DI PROVINSI BANTEN

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 50 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN DI PROVINSI BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 50 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN DI PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rumah Sakit 2.1.1. Pengertian Rumah Sakit Menurut Permenkes Republik Indonesia No.56 Tahun 2014 Pasal 1 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT 1 BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2015 PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2015 PEDOMAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) PADA PUSKESMAS SUSOH DAN PUSKESMAS BLANGPIDIE DI KABUPATEN ACEH BARAT DAYA TESIS

ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) PADA PUSKESMAS SUSOH DAN PUSKESMAS BLANGPIDIE DI KABUPATEN ACEH BARAT DAYA TESIS 1 ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) PADA PUSKESMAS SUSOH DAN PUSKESMAS BLANGPIDIE DI KABUPATEN ACEH BARAT DAYA TESIS Oleh DESRI MUTIA 137032146/IKM PROGRAM STUDI S2

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir (JNPK-KR, 2012).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir (JNPK-KR, 2012). 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. SISTEM RUJUKAN 1. Definisi Rujukan adalah suatu kondisi yang optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukan atau fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap yang diharapkan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG 1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DI KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG,

Lebih terperinci

hipertensi sangat diperlukan untuk menurunkan prevalensi hipertensi dan mencegah komplikasinya di masyarakat (Rahajeng & Tuminah, 2009).

hipertensi sangat diperlukan untuk menurunkan prevalensi hipertensi dan mencegah komplikasinya di masyarakat (Rahajeng & Tuminah, 2009). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi masih menjadi salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi dan masih menjadi masalah serius di dunia terkait dengan efek jangka panjang yang

Lebih terperinci

SELAMAT DATANG PESERTA SOSIALISASI JAMINAN KESEHATAN NASIONAL. Ged. RSCM Kirana 23 Juli 2014

SELAMAT DATANG PESERTA SOSIALISASI JAMINAN KESEHATAN NASIONAL. Ged. RSCM Kirana 23 Juli 2014 SELAMAT DATANG PESERTA SOSIALISASI JAMINAN KESEHATAN NASIONAL Ged. RSCM Kirana 23 Juli 2014 Sosialisasi Pelayanan Rujuk Balik dan Administrasi Pengajuan dan Verifikasi Klaim RSUPN Cipto Mangunkusumo 23

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.122, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Sistem Rujukan. Pelayanan Kesehatan. Perorangan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 001 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM

Lebih terperinci

Dr. Hj. Y. Rini Kristiani, M. Kes. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. Disampaikan pada. Kebumen, 19 September 2013

Dr. Hj. Y. Rini Kristiani, M. Kes. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. Disampaikan pada. Kebumen, 19 September 2013 Dr. Hj. Y. Rini Kristiani, M. Kes. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen Disampaikan pada DIALOG WARGA TENTANG PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL Kebumen, 19 September 2013 SISTEM KESEHATAN NASIONAL

Lebih terperinci

SOP. KOTA dr. Lolita Riamawati NIP

SOP. KOTA dr. Lolita Riamawati NIP Halaman : 1 UPTD Puskesmas KOTA SURABAYA 1. Pengertian Pelayanan program rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 99 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi Manusia, pada pasal 25 Ayat (1) dinyatakan bahwa setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ketika berobat ke rumah sakit. Apalagi, jika sakit yang dideritanya merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. ketika berobat ke rumah sakit. Apalagi, jika sakit yang dideritanya merupakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang memiliki risiko jatuh sakit dan membutuhkan biaya cukup besar ketika berobat ke rumah sakit. Apalagi, jika sakit yang dideritanya merupakan penyakit yang

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 5 ayat (2) menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang : a. bahwa setiap

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DI KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG,

Lebih terperinci

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON RESPONDEN. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Nama saya Ester Selfia Napitupulu, saat ini saya sedang menjalani

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON RESPONDEN. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Nama saya Ester Selfia Napitupulu, saat ini saya sedang menjalani 52 LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON RESPONDEN Lampiran 1 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu Dengan Hormat, Nama saya Ester Selfia Napitupulu, saat ini saya sedang menjalani pendidikan di program D-IV

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah Sakit 1. Pengertian Rumah Sakit Berdasarkan Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit,yang dimaksud dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

Lebih terperinci

BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT

BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAJENE, Menimbang: a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT 1 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang 04 02 panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan

Lebih terperinci

S A L I N A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO,

S A L I N A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO, 06 JANUARI 2015 BERITA DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR 11 S A L I N A N PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 11 TAHUN 2015 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALUYO JATI KRAKSAAN

Lebih terperinci

WALIKOTA PALANGKA RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

WALIKOTA PALANGKA RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG WALIKOTA PALANGKA RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945, yaitu pasal 28 yang menyatakan bahwa

BAB 1 PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945, yaitu pasal 28 yang menyatakan bahwa 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Prinsip dasar pembangunan kesehatan di Indonesia dirumuskan berdasarkan Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945, yaitu pasal 28 yang menyatakan bahwa kesehatan adalah

Lebih terperinci

BUPATI HULU SUNGAI SELATAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI HULU SUNGAI SELATAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI HULU SUNGAI SELATAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN JAMINAN KESEHATAN BAGI PENDUDUK KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengetahuan 2.1.1.1 Definisi Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, yang terjadi akibat adanya pengindraan terhadap objek tertentu

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENERAPAN FORMULARIUM NASIONAL DALAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN)

KEBIJAKAN PENERAPAN FORMULARIUM NASIONAL DALAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) KEBIJAKAN PENERAPAN FORMULARIUM NASIONAL DALAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI LAY OUT LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN SUMATERA SELATAN SEMESTA DI RUMAH SAKIT Dr. SOBIRIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-bangsa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU UTARA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU UTARA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Jaminan Kesehatan Nasional a. Definisi dan Dasar Hukum Jaminan Kesehatan Nasional menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2013

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN PESERTA JKN DARI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT I DI PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO

ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN PESERTA JKN DARI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT I DI PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN PESERTA JKN DARI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT I DI PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO Grace Boyangan*, Marjes N. Tumurang*, Jean H. Raule* *Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian pasien penerima bantuan iuran. secara langsung maupun tidak langsung di Rumah sakit.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian pasien penerima bantuan iuran. secara langsung maupun tidak langsung di Rumah sakit. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PASIEN PENERIMA BANTUAN IURAN 2.1.1.Pengertian pasien penerima bantuan iuran Undang-undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit menyebutkan bahwa pasien

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA (KIBBLA) DI KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. asuransi sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. asuransi sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu kebijakan pemerintah bidang kesehatan yang terintegrasi dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1400, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Jaminan Kesehatan Nasional. Pelayanan. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN

Lebih terperinci

WALIKOTA TANGERANG SELATAN. Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang kesehatan pada. dasarnya ditujukan untuk peningkatan

WALIKOTA TANGERANG SELATAN. Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang kesehatan pada. dasarnya ditujukan untuk peningkatan PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBEBASAN RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT BAGI PENDUDUK KOTA TANGERANG

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 51 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 1B TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabat sehingga pemerintah mengembangkan Sistem Jaminan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2014 NOMOR 19 SERI F NOMOR 315 PERATURAN BUPATI SAMOSIR NOMOR 18 TAHUN 2014

BERITA DAERAH KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2014 NOMOR 19 SERI F NOMOR 315 PERATURAN BUPATI SAMOSIR NOMOR 18 TAHUN 2014 BERITA DAERAH KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2014 NOMOR 19 SERI F NOMOR 315 PERATURAN BUPATI SAMOSIR NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PEMANFAATAN DANA KAPITASI DAN NON KAPITASI PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal kronis, penurunan kognitif

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG, PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGELOLAAN DANA KLAIM PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN PADA RUMAH SAKIT

Lebih terperinci

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN KLAIM JAMINAN KESEHATAN DAERAH DI KABUPATEN TANAH BUMBU DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KESEHATAN BAGI MASYARAKAT MISKIN YANG DIBIAYAI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA SURABAYA

Lebih terperinci

ANALISIS PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT PUBLIK UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DASAR PUSKESMAS DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KOTA PADANGSIDIMPUAN TESIS.

ANALISIS PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT PUBLIK UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DASAR PUSKESMAS DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KOTA PADANGSIDIMPUAN TESIS. ANALISIS PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT PUBLIK UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DASAR PUSKESMAS DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KOTA PADANGSIDIMPUAN TESIS Oleh NURHANIFAH SIREGAR 137032039/IKM PROGRAM STUDI S2 ILMU

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN KESEHATAN BAGI MASYARAKAT MISKIN YANG DIBIAYAI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Permenkes RI No. 75 Tahun 2014, Pusat Kesehatan Masyarakat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Permenkes RI No. 75 Tahun 2014, Pusat Kesehatan Masyarakat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat 2.1.1 Pengertian Menurut Permenkes RI No. 75 Tahun 2014, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam rangka mewujudkan komitmen global sebagaimana amanat resolusi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam rangka mewujudkan komitmen global sebagaimana amanat resolusi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka mewujudkan komitmen global sebagaimana amanat resolusi World Health Assembly (WHA) ke-58 tahun 2005 di Jenewa yang menginginkan setiap negara mengembangkan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERILAKU PETUGAS KESEHATAN DI BAGIAN PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RSUD IDI KABUPATEN ACEH TIMUR TESIS

HUBUNGAN PERILAKU PETUGAS KESEHATAN DI BAGIAN PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RSUD IDI KABUPATEN ACEH TIMUR TESIS HUBUNGAN PERILAKU PETUGAS KESEHATAN DI BAGIAN PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RSUD IDI KABUPATEN ACEH TIMUR TESIS Oleh SYARIFAH RINA 127032016/IKM PROGRAM STUDI S2 ILMU

Lebih terperinci

KONSEP PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI PELAYANAN KESEHATAN

KONSEP PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI PELAYANAN KESEHATAN KONSEP PELAYANAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI PELAYANAN KESEHATAN UUS SUKMARA, SKM, M.Epid. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Bandung, 24 Agustus 2015 DASAR HUKUM UU 40/ 2004 UU 24 Tahun 2011 tentang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan sosial. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah suatu tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara jaminan

Lebih terperinci

Akses Pelayanan Kesehatan di Era BPJS. Dr. E. Garianto, M.Kes

Akses Pelayanan Kesehatan di Era BPJS. Dr. E. Garianto, M.Kes Akses Pelayanan Kesehatan di Era BPJS Dr. E. Garianto, M.Kes Sistem Jaminan Sosial Nasional Hak konstitusional setiap orang + Wujud tanggung jawab negara Konvensi ILO 102 tahun 1952 Standar minimal Jaminan

Lebih terperinci

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI BINTAN NOMOR : 39 TAHUN

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI BINTAN NOMOR : 39 TAHUN SALINAN BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI BINTAN NOMOR : 39 TAHUN 2016 016 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN DAERAH (JAMKESDA) KABUPATEN BINTAN TAHUN 2017 DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah

BAB I PENDAHULUAN. asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jaminan Kesehatan Nasional adalah perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan. Dalam Undang Undang 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan. Dalam Undang Undang 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsabangsa di

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN KESEHATAN BAGI MASYARAKAT MISKIN YANG DIBIAYAI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG NORMA PENETAPAN BESARAN KAPITASI DAN PEMBAYARAN KAPITASI BERBASIS PEMENUHAN KOMITMEN PELAYANAN PADA FASILITAS KESEHATAN

Lebih terperinci

SISTEM JAMINAN KESEHATAN DAERAH

SISTEM JAMINAN KESEHATAN DAERAH PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kesehatan. Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun (2009), kesehatan adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kesehatan. Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun (2009), kesehatan adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu kebutuhan pokok hidup manusia yang bersifat mutlak adalah kesehatan. Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun (2009), kesehatan adalah keadaan sehat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. juga mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Perwujudan komitmen tentang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. juga mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Perwujudan komitmen tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Di

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Rujukan 2.1.1 Pengertian Sistem Rujukan Sistem Rujukan pelayanan kesehatan adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) a. Pengertian JKN Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia merupakan pengembangan dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan kondisi sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang produktif secara ekonomis (Ps. 1 point (1) UU Nomor 23/1992 tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Universal Health Coverage (UHC) sebagai bagian dari reformasi sistem kesehatan pada saat ini telah dilaksanakan oleh hampir setengah negara di dunia dengan berbagai

Lebih terperinci

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA BENGKULU TENTANG SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN.

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA BENGKULU TENTANG SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN. WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU PERATURAN WALIKOTA BENGKULU NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BENGKULU, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS) Kesehatan. iurannya dibayar oleh pemerintah (Kemenkes, RI., 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS) Kesehatan. iurannya dibayar oleh pemerintah (Kemenkes, RI., 2013). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS) Kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah Badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR UTAMA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR UTAMA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN, PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG PENILAIAN KEGAWATDARURATAN DAN PROSEDUR PENGGANTIAN BIAYA PELAYANAN GAWAT DARURAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR

Lebih terperinci

REGULASI DI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN UNTUK MENDUKUNG JKN

REGULASI DI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN UNTUK MENDUKUNG JKN REGULASI DI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN UNTUK MENDUKUNG JKN Sekretaris Ditjen Binfar Alkes Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Di Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan 9-12 November 2015

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAPUAS HULU NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KAPUAS HULU, Menimbang Mengingat :

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS BAGI PASIEN TIDAK MAMPU PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTEN

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS BAGI PASIEN TIDAK MAMPU PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS BAGI PASIEN TIDAK MAMPU PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2011 NOMOR 5 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2011 NOMOR 5 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2011 NOMOR 5 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH (JAMKESDA) KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah jaminan kesehatan. Asuransi kesehatan memberi jaminan berupa

BAB I PENDAHULUAN. adalah jaminan kesehatan. Asuransi kesehatan memberi jaminan berupa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap penduduk di suatu negara membutuhkan perlindungan kesehatan sebagai kebutuhan dasar kehidupan. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah jaminan kesehatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun berupaya untuk memberikan kemudahan kepada setiap warganya tanpa terkecuali untuk akses ke pelayanan kesehatan dengan memperbaiki

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG, Menimbang Mengingat : : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah berkewajiban melindungi seluruh masyarakat Indonesia dengan segenap kemampuannya, terutama melindungi hak hidup masyarakat Indonesia. Untuk mewujudkan cita-cita

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 09 TAHUN 2010 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 09 TAHUN 2010 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 09 TAHUN 2010 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa setiap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Inggris pada tahun 1911 (ILO, 2007) yang didasarkan pada mekanisme asuransi

BAB 1 PENDAHULUAN. Inggris pada tahun 1911 (ILO, 2007) yang didasarkan pada mekanisme asuransi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Konsep Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pertama kali dicetuskan di Inggris pada tahun 1911 (ILO, 2007) yang didasarkan pada mekanisme asuransi kesehatan sosial dan

Lebih terperinci

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 61 TAHUN 2018 TENTANG

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 61 TAHUN 2018 TENTANG BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 61 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK KE DALAM PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI KABUPATEN CILACAP DENGAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaminan Kesehatan Nasional Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia yang memiliki banyak pulau sehingga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia yang memiliki banyak pulau sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai dengan sistem kesehatan nasional (SKN), bahwa pembangunan kesehatan harus merata di seluruh wilayah di Indonesia, namun kenyataannya pembangunan pada aspek kesehatan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009 LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA (KIBBLA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tingkat kesehatan masyarakat yang semakin baik harus didukung dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan

Lebih terperinci