PENGARUH PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PENGENDALIAN DIRI DARI AKHLAK TERCELA SISWA KELAS VIII DI SMP YAPIA CIPUTAT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGARUH PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PENGENDALIAN DIRI DARI AKHLAK TERCELA SISWA KELAS VIII DI SMP YAPIA CIPUTAT"

Transkripsi

1 PENGARUH PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PENGENDALIAN DIRI DARI AKHLAK TERCELA SISWA KELAS VIII DI SMP YAPIA CIPUTAT SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) Oleh: IRFAN SUNDUS NIM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H / 2020 M

2

3

4

5

6 ABSTRAK Irfan Sundus ( ): Pengaruh Pembiasaan Shalat Berjamaah Terhadap Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Kelas VIII Di SMP Yapia Ciputat. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dosen Pembimbing Kata Kunci : Drs. Achmad Gholib, M.Ag : Pembiasaan Shalat Berjamaah, Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pembiasaan shalat berjamaah siswa di SMP Yapia Ciputat dan tingkat pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat, serta untuk mengetahui pengaruh antara pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2020 di SMP Yapia Ciputat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kuantitatif. Adapun dalam pengambilan sampelnya, peneliti menggunakan teknik sampling total. Karena, jumlah sampel yang peneliti gunakan kurang dari 100 responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket dengan bentuk skala likert. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi product moment. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa kelas VIII di SMP Yapia Ciputat. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai r hitung sebesar 0,606 termasuk kategori kuat (nilai r hitung pada rentang 0,600-0,800) dengan nilai KD sebesar 36,72%. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan antara pengaruh pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa kelas VIII di SMP Yapia Ciputat. i

7 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur kita panjatkan hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita baginda alam Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan hingga terang menerang dan pembawa ajaran yang paling benar. Ucapan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisan. Oleh karena itu, melalui kesempatan kali ini kami mengharapkan sumbangan pemikiran berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini dan demi perbaikan di masa yang akan datang. Pada kesempatan kali ini, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungan baik secara moril maupun materil sehingga skripsi ini bisa diselesaikan. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Sururin, M. Ag. 2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Drs. Abdul Haris, M. Ag. serta sekertaris jurusan Pendidikan Agama Islam, Drs, Rusdi Jamil, M. Ag. 3. Drs. Achmad Gholib, M. Ag selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberikan masukan, saran, dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini ii

8 4. Dr. Akhmad Sodiq, M. Ag selaku dosen penasehat akademik yang selalu memberikan arahan dari awal semester sampai bisa terselesaikannya skripsi ini. 5. Kepala Sekolah SMP Yapia Ciputat yang telah memberikan penulis izin dan dukungan untuk penulis melakukan penelitian di sekolah. 6. Kedua orang tua, Drs. H. Didi Ruhaedi dan Ika Sartika yang telah memberikan nasihat, support, bantuan serta doa yang tak henti-hentinya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini serta kepada kedua adik saya, Putri Febrianti dan Andika Lutfi Madani. 7. Ruhmina Ulfa. S.Pd yang selama ini telah membantu dan memberikan waktu, tenaga, dukungan serta motivasinya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini 8. Teman-teman seperjuangan Alif, Nival, Cahyo, Rifqi, Tapleng, Zaki, Mukhtar, dan Nawawi yang selalu memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi 9. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Agama Islam tahun 2015, khususnya kepada keluarga besar kelas A Akhir kata, Penulis memohon kepada Allah SWT semoga tulisan ini menjadi amal ibadah yang baik dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan semua pihak. Amin ya Rabbal Alamin. iii

9 DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah... 7 C. Pembatasan Masalah... 8 D. Perumusan Masalah... 8 E. Tujuan Penelitian... 8 F. Manfaat dan Kegunaan Penelitian... 8 BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Shalat Berjamaah Pengertian Shalat Dalil Disyariatkannya Shalat Kedudukan Shalat Pengertian Shalat Berjamaah Hukum Shalat Berjamaah a. Shalat Berjamaah Fardhu Ain b. Shalat Berjamaah Fardhu Kifayah Sejarah Disyariatkannya Shalat Berjamaah Hikmah Disyariatkannya Shalat Berjamaah B. Pengendalian Diri dari Akhlak Tercela Pengendalian Diri Pengertian Akhlak Tercela (Akhlak Madzmumah) Macam-macam Akhlak Tercela (Akhlak Madzmumah) iv

10 C. Hasil Penelitian yang Relevan D. Kerangka Berpikir E. Pengajuan Hipotesis BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Metode Penelitian C. Variabel Penelitian D. Populasi dan Sampel E. Teknik Pengumpulan Data dan Instumen Teknik Pengumpulan Data Instrumen Penelitian Validitas Instrumen Reliabilitas Instrumen F. Teknik Analisis Data G. Hipotesis Statistik BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Gambaran Umum Lokasi Penelitian a. Sejarah Singkat Sekolah b. Identitas Sekolah c. Identitas Kepala Sekolah d. Visi dan Misi Sekolah e. Tujuan Sekolah f. Fasilitas Pendidikan g. Guru SMP Yapia Ciputat h. Keadaan Siswa i. Tenaga Pendidik dan Karyawan j. Kegiatan Ekstrakulikuler Deskripsi Data Pembahasan Shalat Berjamah v

11 3. Deskripsi Data Pengendalian Diri dari Akhlak Tercela Siswa B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengajuan Hipotesis Pengujian Persyaratan Analisis a. Uji Normalitas b. Uji Linearitas c. Pengujian Hipotesis C. Pembahasan Hasil Penelitian D. Keterbatasan Penelitian BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Kesimpulan B. Implikasi C. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi

12 DAFTAR TABEL No Uraian Halaman 3.1 Nilai Skor Jawaban Kisi-kisi Skala Pembiasaan Shalat Berjamaah Kisi-kisi Skala Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Hasil Uji Validitas Variabel X Hasil Uji Validitas Variabel Y Reabilitas Variabel X Reabilitas Variabel Y Interpetasi Analisis Deskriptif Interpretasi Nilai R Data Guru SMP Yapia Ciputat Tahun Ajaran Jumlah Data Siswa SMP Yapia Ciputat Tahun Ajaran Saya Melaksanakan Shalat Secara Berjamaah Di Sekolah Saya Bergegas Pergi Ke Masjid Ketika Mendengar Adzan Saya Melaksanakan Shalat Pada Awal Waktu Ketika Shalat Berjamaah, Saya Mengisi Shaf yang Kosong 52 Di Depan 4.7 Saya Berdzikir Setelah Selesai Shalat Saya Merasa Berdosa Ketika Meninggalkan Shalat Berjamaah Saya Menghentikan Pekerjaan Apapun Ketika Tiba Waktu Shalat 53 vii

13 4.10 Saya Melaksanakan Shalat Atas Kesadaran Saya Sendiri Saya Tetap melaksanakan Shalat Berjamaah Walaupun Dalam 54 Keadaan Sakit 4.12 Hati Saya Merasa Tidak Tenang Ketika Meninggalkan Shalat Saya Berangkat Lebih Awal Sebelum Shalat Berjamaah Dimulai Saya Segera Melaksanakan Shalat Ketika Saya Lupa 56 Melaksanakannya 4.15 Saya Disiplin Ketika Melaksanakan Shalat Berjamaah Saya Melaksanakan Shalat berjamaah Ketika Berada 57 Di Sekolah Saja 4.17 Saya Khusyuk Ketika Melaksanakan Shalat Berjamaah Saya Bersikap Ihsan Saat Melaksanakan Shalat Berjamaah Saya Menyempatkan Shalat Berjamaah Walaupun Dalam 58 Keadaan Sibuk 4.20 Skor Perolehan Pembiasaan Shalat Berjamaah Saya Mengetahui Berbohong Merupakan Perbuatan Yang Tidak 59 Terpuji 4.22 Saya Mengetahui Iri Hati Merupakan Perbuatan Yang Tidak 59 Terpuji 4.23 Saya Mengetahui Sombong Merupakan Perbuatan Yang Tidak 60 Terpuji 4.24 Saya Tidak Sombong Ketika Mendapatkan Nilai Bagus 60 viii

14 4.25 Ketika Marah Saya Lebih Baik Untuk Diam Saya Berkata Jujur Kepada Orang Tua Dan Guru Saya Tidak Kesal Bila Suatu Keinginan Tidak Terpenuhi Saya Mengenali Orang Lain Dengan Melihat Ekspresi Wajahnya Saya Meminta Maaf Ketika Melakukan Kesalahan Kepada 63 Orang Lain 4.30 Saya Mematuhi Peraturan Dan Tata Tertib Sekolah Saya Tidak Mencontek Ketika Melaksanakan Soal Ujian Saya Mampu Mengendalikan Emosi Ketika Marah Saya Membagikan Sebagian Rezeki Kepada Yang Membutuhkan Saya Merasa Sedih Ketika Melihat Teman Yang Kesusahan Saya Merasa Bahagia Ketika Teman Mendapatkan Nilai Bagus Saya Mengikuti Kegiatan Sosial Tanpa Mengharapkan Pujian 66 Dari Orang Lain 4.37 Saya Berusaha Memisahkan Teman Yang Bertengkar Saya Mudah Bergaul Dengan Teman-Teman Saya Tidak Pernah Mengejek Teman Disekolah Saya Menerima Nasihat Dari Orang Lain Skor Perolehan Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Uji Normalitas Data Normal Probably Plot Uji Linearitas 71 ix

15 4.45 Perhitungan Hasil Penelitian Analisis Koefesien Korelasi Angka Indeks Korelasi Product Moment 76 x

16 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel X Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel Y Angket Uji Coba Variabel X Angket Uji Coba Variabel Y Kisi-kisi Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba Variabel X Kisi-kisi Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba Variabel Y Angket Sesudah Uji Coba Variabel X Angket Sesudah Uji Coba Variabel Y Hasil Angket Variabel X Hasil Angket Variabel Y Uji Validitas Variabel X Uji Validitas Variabel Y Tabel R (Pearson Product Moment) Pedoman Wawancara Dokumentasi Surat Bimbingan Skripsi Surat Izin Penelitian Lembar Uji Referensi xi

17 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam merupakan agama yang sangat mementingkan akhlak pada diri manusia, karena misi utama Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan salah satu faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau dalam menyebarluaskan Islam ke seluruh jazirah Arab antara lain karena beliau memiliki akhlaqul karimah. Rasulullah SAW merupakan seorang manusia yang pertama kali mencetuskan gagasan tentang akhlak dan seluruh perkataan dan perbuatannya dapat dijadikan teladan bagi manusia. Seandainya manusia dapat mengikuti seluruh gerak-gerik, tindakan, karakter, sifat, dan perilaku Rasulullah SAW, maka kehidupannya akan mulia di dunia dan akhirat. Ini semua dikarenakan beliau memiliki akhlak mulia dalam seluruh kehidupannya. 1 Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, karena kesempurnaan Islam seseorang sangat tergantung kepada kebaikan dan kemuliaan akhlaknya. Manusia yang dikehendaki Islam adalah manusia yang memiliki akhlak mulia. Manusia yang memiliki akhlak mulialah yang akan mendapatkan kebaikan baik itu di dunia maupun di akhirat nanti. Di dalam Al-Qur an, banyak diungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan akhlak, baik perintah untuk berakhlak yang baik maupun larangan berakhlak yang buruk yang merupakan perbuatan tercela dan dosa bagi orang yang melanggarnya. Hal ini membuktikan betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam, karena akhlak yang baik akan membawa kemaslahatan dan kemuliaan kehidupan. 1 Muhammad Abdurrahman. AKHLAK: Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2016) h. 1 1

18 2 Pada hakikatnya, akhlak seseorang bisa dilihat dari perbuatannya yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga menjadi kepribadiannya. Semua perbuatannya dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran karena sifatnya sudah mendarah daging. 2 Maka dari itu, kita bisa melihat baik buruknya seseorang itu dari perbuatannya. Tujuan utama dalam dunia pendidikan Islam, yaitu pembentukan akhlak dan budi pekerti yang nantinya akan membentuk insan-insan yang memiliki moral tinggi, jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar, berakhlak muslim, tahu arti kewajiban dan cara pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta menghindari perbuatan tercela, karena ia akan selalu mengingat Allah SWT dalam setiap perbuatannya. 3 Melihat perkembangan zaman yang semakin cepat dengan segala perubahannya, pada zaman sekarang ini kehidupan kita dihadapkan pada masalah moral dan akhlak yang cukup serius. Selain itu, terdapat banyaknya kerusakan-kerusakan yang ada dalam lingkungan, masyarakat, lembaga pendidikan maupun di dalam suatu negara menjadi sesuatu hal yang benarbenar harus diperhatikan. Hal yang lebih berbahayanya lagi, perilakuperilaku yang tidak mencerminkan akhlak yang baik justru dilakukan oleh generasi muda. Perilaku tersebut jika dibiarkan akan menghancurkan generasi bangsa. Banyaknya kejadian pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, penggunaan narkoba, dan lain sebagainya merupakan bukti nyata akan kehidupan kita dihadapi kerusakan moral dan akhlak. Selain itu, disamping kemajuan bidang ilmu dan teknologi yang menawarkan kemudahan dan kenyamanan hidup, dapat juga menjadikan peluang kejahatan yang lebih canggih jika ilmu pengetahuan dan teknologi itu salah digunakan. 2 Syarifah Habibah, Akhlak Dan Etika Dalam Islam, Journal Pesona Dasar Vol. 1, No 4, 2015, h M. Athiyah, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam,(Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 103

19 3 Fenomena yang terjadi di kalangan siswa saat ini, masih banyaknya persoalan perilaku menyimpang yang terjadi pada siswa dan juga masih banyaknya siswa yang melanggar aturan-aturan yang di terapkan di sekolah, seperti membolos sekolah, merokok, tawuran antar sekolah, bahkan ada juga siswa yang terlibat dengan narkoba. Sangatlah jelas sekali fenomena tersebut sangatlah prihatin, mengingat mereka merupakan generasi bangsa di masa yang akan datang dan tentu saja tindakan tersebut sangatlah merugikan diri sendiri, orang lain, dan tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang pelajar. Di lingkungan sekolah pun masih banyak ditemukan pelanggaran terhadap aturan dan tata tertib sekolah yang tidak mencerminkan akhlak yang baik, seperti mencontek, pemalakan, saling mencela satu sama lain, tidak menghormati guru, perkelahian sesama teman, dan bentuk-bentuk perilaku negatif lainnya yang mencerminkan akhlak tercela. Berdasarkan hal diatas, maka perlu adanya suatu pembiasaan. Menurut Armai Arif dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan, pembiasaan merupakan sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama Islam. Metode ini sangatlah praktis dalam pembinaan dan pembentukan karakter peserta didik dalam meningkatkan pembiasaan-pembiasaan dalam suatu kegiatan di sekolah. Metode pembiasaan dinilai sangat efektif jika penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang masih kecil, karena memiliki rekaman ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang. Sehingga, mereka mudah terlarut dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan seharihari. Oleh karena itu, sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral kedalam jiwa anak. Nilai-nilai yang tertanam dalam ini kemudian akan

20 4 termenifestasikan dalam kehidupannya semenjak ia mulai melangkah ke usia remaja dan dewasa. 4 Pembiasaan merupakan sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu ini dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan menempatkan manusia sebagai sesuatu yang istimewa yang dapat menghemat kekuatan, karena akan menjadi kebiasaan yang melekat dan spontan agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan dalam setiap pekerjaan dan aktivitas lainnya. Pembiasaan dalam pendidikan hendaknya dimulai sejak dini. Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan shalat, tatkala mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka. 5 Dengan adanya suatu pembiasaan dan juga pembinaan yang merupakan suatu proses dinamika kehidupan manusia yang berlangsung secara terus menerus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia yang dimulai sejak kecil sampai dewasa yang merupakan salah satu upaya untuk menanamkan kebiasaan yang baik dan menghindarkannya dari perbuatan yang menyimpang. Pembinaan akhlak perlu ditanamkan dalam kepribadian anak sejak kecil. Hal ini dikarenakan salah satu upaya untuk mengarahkan dan memotivasi anak dalam pembentukan akhlak. Sehingga, tujuan memiliki akhlak yang baik dapat tercapai. Namun, apabila pembinaan akhlak tidak ditanamkan dalam diri anak sejak dini bukan tidak mungkin akhlak anak akan cenderung memburuk. Pembinaan akhlak sangatlah dibutuhkan bagi generasi muda, khususnya di sekolah untuk pengendalian diri peserta didik dari akhlak tercela, karena sekolah merupakan salah satu lingkungan yang memberikan pengaruh besar dalam menanamkan dan membentuk akhlak. Pendidikan 4 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta:Ciputat Pers, 2002), h Mulyasa. Manajemen Pendidikan Karakter. (Jakarta: Bumi Askara, 2013), h. 166

21 5 agama sebagai pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral spiritual bagi peserta didik. Pendidikan agama Islam mempunyai berbagai bentuk kegiatan, salah satunya kegiatan shalat berjamaah di sekolah. Kegiatan pembiasaan shalat berjamaah di sekolah merupakan suatu bentuk upaya untuk menanamkan nilai positif terhadap peserta didik. Shalat merupakan ibadah yang paling utama. Persyariatan shalat mengandung titik konsentrasi kehidupan yang baik, dimana kita dapat melihat di dalamnya semangat penegakan keadilan, pembinaan akhlak, dan penempatan naluri (insting). Sebab, di dalam shalat, aspek spiritualitas muncul, bangkit, dan menguat. Dengan shalat, manusia dapat berkomunikasi langsung dengan penciptanya dan pengatur urusannya, meminta serta memohon pertolongan kepada-nya. Shalat efektif untuk membina manusia dan menempa nalurinya. Shalat menjadi fondasi hubungan antar manusia yang dibangun di atas dasar-dasar yang baik dan jauh dari bias tendensi dan keinginan (hawa nafsu). Allah SWT menjadikan shalat sebagai media untuk membina dan meluruskan orang mukmin setelah sebelumnya. Dia memberikan kepada manusia segala macam ciptaan-nya dengan menundukan semua yang ada di langit dan bumi untuk manusia, memuliakannya dengan akal, dan pikiran. 6 Adapun cara memperoleh buah shalat dan menikmati efeknya dalam menempa dan membentuk akhlak yang baik adalah dengan melaksanakannya secara sempurna, berikut seluruh rukun dan syaratnya, dibarengi dengan menyempurnakan wudhu dan memperhatikan waktuwaktunya, memikirkan serta merenungi apa yang diucapkan dan yang dilakukan di dalam shalat. Sebab, shalat merupakan munajat seorang hamba kepada Tuhannya dan munajat tidak akan tercapai kalau tidak melakukan shalat. Jika tubuh, akal, dan hati baik, maka manusia akan melakukan 6 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Amzah, 2013), h

22 6 kebaikan, mendapatkan petunjuk, dan jauh dari perbuatan-perbuatan buruk. Allah SWT berfirman: 7 ا ن الص ا لةا تان ا هى ع ا ن ال اف ح اش ا ء ا و ال م ن Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar (QS. Al-Ankabut: 45). Dengan demikian, shalat akan menghindarkan diri dari pikiran ataupun perbuatan yang tidak baik, dan dapat menghindarkan kita dari perbuatan tercela. Membiasakan anak shalat, lebih-lebih dilakukan secara berjamaah itu penting. Dalam kehidupan sehari-hari, dilakukannya pembiasaan yang sangat positif, seperti shalat berjamaah itu merupakan hal yang sangat penting, karena pembiasaan yang bernilai positif akan mendorong perilaku anak ke arah yang positif juga. Dibiasakan anak shalat secara berjamaah merupakan suatu upaya untuk menanamkan nilai-nilai islami kepada mereka dengan harapan terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan menjadi peribadi yang baik di masa yang akan datang. اك ر Kegiatan tersebut telah dilakukan di SMP Yapia Ciputat sebagai bentuk mewujudkan perilaku keagamaan dalam upaya meningkatkan budi pekerti siswanya. Hal ini terealisasikan karena bagi para pendidik, pemberian pembelajaran agama Islam yang disampaikan di dalam kelas dirasa belum cukup untuk meningkatkan perilaku keberagamaan dan budi pekerti siswanya, karena masih sering ditemukannya peserta didik yang tidak mencerminkan akhlak yang baik, seperti membolos, menyontek ketika ujian, merokok serta kurang hormatnya siswa terhadap guru. Sehingga dengan adanya pembiasaan shalat berjamaah, diharapkan mampu meningkatkan perilaku keberagamaan dan berbudi pekerti yang baik. Sistematis pelaksanaan shalat secara berjamaah di SMP Yapia Ciputat dilaksanakan setiap hari, yaitu pada waktu shalat dhuha dan shalat dzhuhur yang dipimpin oleh guru. Setelah melaksanakan shalat, kemudian 7 Ibid. h. 148

23 7 dilakukan dzikir secara bersama-sama yang di pimpin oleh seorang guru yang menjadi imam. Dengan pembiasaan pelaksanaan shalat berjamaah dan disambung dengan berdzikir secara bersama-sama yang dipimpin oleh guru, maka secara tidak langsung akan memberikan siraman rohani yang menyegarkan yang diharapkan mampu menanamkan pola pikir yang baik terhadap peserta didik untuk menjadi pribadi yang baik. Melihat ulasan tersebut, dapat diketahui bahwasanya SMP Yapia Ciputat benar-benar menginginkan perubahan terhadap peserta didik, bukan hanya menjunjung tinggi nilai dalam bidang akademisnya saja. Akan tetapi, berupaya juga untuk meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan serta budi pekerti yang luhur yang baik sehingga menjadikan insan yang berkualitas. Melaksanakan pembiasaan shalat secara berjamaah merupakan upaya mewujudkan fondasi anak saleh dan unggul. Dengan dilaksanakannya shalat berjamaah, diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap peserta didik serta berupaya meningkatkan nilainilai keimanan, ketakwaan, dan budi pekerti yang baik dengan harapan menjadi pribadi yang berkualitas di masa yang akan datang. Berdasarkan dari latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian skripsi dengan judul: PENGARUH PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH TERHADAP PENGENDALIAN DIRI DARI AKHLAK TERCELA SISWA KELAS VIII DI SMP YAPIA CIPUTAT B. Identifikasi Masalah Berdasarkan dari latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Banyak siswa yang masih belum mampu menghindari perilaku tercela. 2. Kemerosotan nilai-nilai akhlak dan moral di kalangan pelajar semakin meresahkan. 3. Pemahaman arti shalat berjamaah yang bisa meningkatkan pengendalian diri dari akhlak tercela.

24 8 C. Pembatasan Masalah Dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi permasalahan sebagai berikut: 1. Pengaruh pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa yang meliputi dengki, iri hati, takabbur (sombong), dan riya di SMP Yapia Ciputat. D. Perumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah pembiasaan shalat berjamaah mempunyai pengaruh terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa yang meliputi dengki, iri hati, takabbur (sombong), dan riya di SMP Yapia Ciputat? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah penyaji paparkan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembiasaan shalat berjamaah yang dilakukan siswa-siswi di SMP Yapia Ciputat 2. Untuk mengetahui pengaruh pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa yang meliputi dengki, iri hati, takabbur (sombong), dan riya di SMP Yapia Ciputat F. Manfaat dan Kegunaan Penelitian Adapun manfaat dan kegunaan penelitian ini sebagai berikut: 1. Bagi siswa Sebagai acuan motivasi untuk siswa agar senantiasa menjalankan ibadah dalam rangka untuk pembinaan akhlak siswa. 2. Bagi guru

25 9 Sebagai informasi dan dapat memberikan konsep yang jelas mengenai keterkaitan pembiasaan pelaksanaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa. 3. Bagi sekolah Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih kepada SMP Yapia Ciputat dalam rangka meningkatkan akhlak siswa. 4. Bagi penulis Penelitian ini diharapkan menjadi pembelajaran akan ilmu pengetahuan bagi penulis sebagai calon guru dan dapat memberikan pengetahuan penting akan pentingnya melaksanakan pembiasaan shalat berjamaah untuk pengendalian diri dari akhlak tercela. 5. Bagi peneliti lain Hasil penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai bahan literatur penelitian yang akan datang dengan masalah sejenis.

26 BAB II KAJIAN TEORI A. Shalat Berjamaah 1. Pengertian Shalat Shalat secara terminologi adalah rukun-rukun yang khusus dengan syarat dan waktu tertentu. Dalam artian yang lain, shalat ialah ucapan dan perbuatan yang dibuka dengan takbir disertai niat dan diakhiri dengan salam. 1 Shalat menghubungkan seorang hamba kepada penciptanya dan merupakan bentuk manifestasi penghambaan serta kebutuhan diri kepada Allah SWT. Selain itu, shalat dapat dijadikan sebagai media permohonan dan pertolongan dalam menyingkirkan segala bentuk kesulitan yang ditemui manusia dalam perjalanan hidupnya. Sebagaimana firman Allah SWT: 2 و اس ت ع ي ن و ا ب لص ب و الص ل ة Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. (QS. Al-Baqarah: 153). 2. Dalil Disyariatkannya Shalat Tidak asing lagi, bahwasanya shalat fardhu itu telah tsabit kefardhuannya dengan Al-Qur an, As-Sunnah, dan ijma. Adapun di dalam Al-Qur an, banyak sekali ayat-ayat tentang disyariatkannya shalat. Salah satunya adalah firman Allah SWT yang berbunyi: 1 Shalih bin Ghanim as-sadlan, Fiqih Shalat Berjamaah, (Jakarta: Pustaka as-sunnah, 2006), h Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fikih Ibadah, (Jakarta: Amzah, 2013), h

27 11 و م ا ا م ر و ا ا ل ل ي عب د وا ا ه لل م ل ص ي ل ه الد ي ن ح ن ف ا ء و ي ق ي م وا الص هلوة و ي ؤ ت وا الز هكوة و هذل ك د ي ن ال ق ي م ة Padahal mereka tidak disuruh, melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. ( Q.S Al- Bayyinah: 5). Di dalam As-Sunnah, banyak hadits yang menegaskan kewajiban shalat. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-bukhari, Muslim, dan selain keduanya dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra dia berkata, Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : ح دث نا د. ع ن خ ال ا ل سى ق ا ل: ا خ ب ن م و ع ب ي دهللا ب ن ي هللا ع ن اب ن ع م ر رض س لم ع ل ى خ س حن ظ ل ة ماق ا ل: ق ال ه ب ن ا ب س في ا ن ع ن ر س و ل هللا : ش ها دة ا ن ل ا ل ه ا ل هللا. و ا ن ع ك رم ة ب ن صل ى هللا ع ل ي ه و سل م: ))ب ن م مدا ر س و ل هلل. و ا ق ا م ال ص لة. و ا ي ت ا ءال ز كاة. و ال ج. و ضا ن.(( ر م ص وم Abdullah bin Musa menyampaikan kepada kami dari Hanzhalah bin Abu Sufyan yang mengabarkan kepada kami, dari ikrimah bin khalid, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, Islam dibangun di atas lima pilar: syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadhan". 3 Sedangkan menurut ijma, Ibnu Al-Hubairah telah mengatakan di dalam al-ifshah, Kaum Muslimin telah sepakat bahwasanya shalat merupakan salah satu rukun Islam, dan bahwa ia adalah lima kali shalat 3 Abu Abdullah Muhammad Bin Ismail Al-Bukhori. ENSIKLOPEDIA HADITS, Shahih Al-Bukhori 1 (Jakarta: Al-Mahira, 2011), cet. 1, h. 6

28 12 wajib dalam sehari semalam dan kewajibannya tidak akan gugur atas orang yang telah mukallaf dari kalangan orang yang telah baligh, berakal, dan orang yang telah diberi titah untuk shalat hingga melihat kematian serta perkara akhirat Kedudukan Shalat Shalat memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara ibadahibadah yang lain. Bahkan, shalat memiliki kedudukan sangat agung dalam Islam dan tidak ada ibadah apapun yang dapat menyamainya. Allah SWT berfirman: 5 ا ن الص هلوة ك ان ت ع ل ى ال م ؤ م ن ي ك هتب ا م و ق و ت Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS An-Nisa: 103). Shalat merupakan amalan hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat dan penopang agama, dimana agama ini tidak akan tegak kecuali dengannya. Jika tiangnya roboh, maka Islam juga akan roboh dan diantara hal yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah bahwa ia merupakan ibadah yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur an Pengertian Shalat Berjamaah Shalat jama ah adalah shalat secara bersama-sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Satu orang berdiri di depan sebagai imam dan yang lain berdiri dibelakang imam sebagai makmum. Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi SAW berikut ini: 4 Shalih bin Ghanim as-sadlan, Kajian Lengkap Shalat Jamaah, (Jakarta: DARUL HAQ, 2015), h.13 5 Shalih bin Ghanim as-sadlan, Fiqih Shalat Berjamaah, op.cit. h Ibid, h. 37

29 13 ح دث ن ا ع ب دهللا ب ن ي و س ف ق ا ل: ا خ ب ن ما كل نفع ع ن س و ل ر م ر: ا ن ع, ع ن ع ب دهللا ب ن هللا ص ل ى هللا ع ل ي ه و س ل م ق ال : )) ت ف ص لة ال ماع ة ضل سبع ال فذ ع ل ى ص لة و ب ع ش ر ي ن د ر ج ة ((. 7 Abdullah bin Yusuf menyampaikan kepada kami dari Malik yang mengabarkan dari nafi, dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Shalat berjamaaah, dua puluh lima derajat lebih utama dari pada shalat sendiri. Dalam shalat berjama ah, semakin banyak jama ah pada shalat berjama ah, semakin lebih utama dan lebih dicintai Allah dari pada jama ah yang sedikit. Dalam pelaksanaan shalat berjamaah yang menjadi imam hendaklah orang yang lebih fasih dan lebih banyak hafalan Al-Qur annya, lebih mengetahui sunnah Nabi SAW, dan lebih tua umurnya. Makmum dilarang mendahului imam dalam gerakan dan tidak boleh pula terlalu ketinggalan. Walaupun dia belum selesai membaca suatu bacaan, dia harus mengikuti gerakan imam. Sebab, bacaan imam bisa menggantikan bacaan ma mum Hukum Shalat Berjamaah Terdapat perbedaan pendapat tentang hukum shalat berjamaah di kalangan ulama. Menurut sebagian ulama berpendapat hukumnya fardhu ain, dan sebagian ulama juga berpendapat hukumnya merupakan fardhu kifayah. 7 Abu Abdullah Muhammad Bin Ismail Al-Bukhori. ENSIKLOPEDIA HADITS, Shahih Al-Bukhori 1 (Jakarta: Al-Mahira, 2011) cet 1, h Zurinal Z dan Aminuddin, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 99

30 14 a. Shalat berjamaah adalah fardhu ain Pandangan ulama-ulama yang berpendapat bahwa shalat jamaah itu hukumnya wajib, hal itu didasarkan dari hadis berikut: ح د ث ن اع ب د هللا ب ن ي و س ف ق ال : ا خ ب ن م ال ك ع ن ا ب الز ن د, ع ن ا ل ع ر ج, ع ن ا ب ه ر ي ر ة ا ن ر س و ل هللا ا ن ا م ر ب طب ف ا خال صل ى هللا ع ل ي ه و سل م ق ا ل:)) ف ي حط ب ث ا م ر ب ل ص لة ف ي ؤذ ن هم ا ل ر جال ف ا حر ق ع ل ي ب ي وت م 9 ع ر ق ا س ي ن ا ا و م ر م ات ي ح س ن ت ي لش ح د ال ع ش اء (( و ال ذي ن فس ي ب ي ل ق د ه م ده ل ا ث ا م ر ر ج ل ف ي ؤ م الن ا س ث ت ده ي د و ال ذي ن فس ي ب ي ل وي عل م ا ح د ه م ا ن ه Abdullah bin Yusuf menyampaikan kepada kami dari malik yang mengabarkan dari Abu az-zinad, dari al- a raj, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Demi zat yang menguasai jiwaku! Sungguh aku bermaksud menyuruh aku membawa kayu bakar, kemudian aku suruh orang melakukan shalat, dibacalah azan bagi shalat itu, lalu aku suruh seseorang mengimami orang banyak, kemudian aku pergi ke tempat orang-orang yang tidak menghadiri shalat jamaah, maka akan aku bakar rumah-rumah mereka, demi zat yang menguasai diriku! Jika salah seorang dari mereka mengetahui bahwa dia akan mendapat tulang yang berdaging gemuk atau (akan mendapat) dua daging gemuk, yang ada di antara rusuk-rusuk yang bagus-bagus, sungguh ia akan menghadiri shalat isya (berjamaah). Para ulama yang mewajibkan shalat jamaah dengan alasan hadis tersebut, berkata bahwa ancaman siksa yang berat tidak akan tergadai kecuali karena meninggalkan hal-hal yang fardhu Abu Abdullah Muhammad Bin Ismail Al-Bukhori. ENSIKLOPEDIA HADITS, Shahih Al-Bukhori 1 (Jakarta: Al-Mahira, 2011) cet 1, h M. Ardani, Fikih Ibadah Praktis, (Ciputat: PT. Mitra Cahaya Utama, 2008), h

31 15 b. Shalat berjamaah fardhu kifayah Para ulama berpendapat bahwa berjamaah dalam shalat lima waktu hukumnya fardhu kifayah atau kewajiban yang bersifat kolektif, artinya kalau ada orang-orang yang mengerjakan shalat secara berjamaah di suatu tempat, maka terpenuhilah kewajiban itu dan terbebaslah orang-orang di tempat itu dari kewajiban tadi. 11 Arti dari fardhu kifayah, yaitu apabila shalat jamaah didirikan dalam jumlah atau syarat yang cukup gugur bagi yang lainnya (tidak berdosa). Akan tetapi, bila tak seorangpun mengerjakannya atau hanya sebagian dengan jumlah atau syarat yang tidak cukup, maka semua berdosa. Ini disebabkan karena shalat adalah bagian dari syiar-syiar Islam yang utama. 6. Sejarah Disyariatkannya Shalat Berjamaah Turunnya syari at shalat berjamaah pada mulanya shalat itu hanyalah disyariatkan untuk dilakukan dua kali, yakni dua rakaat pada waktu pagi dan dua rakaat pada waktu sore, yaitu waktu fajar dan waktu Ashar. Sebagaimana berdasarkan firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Mukmin ayat 55: و س ب ح ب م د ر ب ك ب ل ع ش ي و ا ل ب ك ار Bertasbihlah memuji Memuji Tuhanmu pada petang 2 dan pagi 2. Awal mula disyariatkan shalat fardhu lima waktu yakni pada Isra Mi raj Nabi Muhammad SAW, yaitu pada tanggal 27 Rajab setahun sebelum hijrah. Shalat fardhu lima waktu itu adalah merupakan kewajiban kaum muslim yang sangat penting, terbukti datangnya perintah itu diinstruksikan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara Nabi Jibril dalam peristiwa Isra Mi raj. Disamping itu, perintah sholat tersebut dinyatakan dalam Al-Qur an dengan susunan dan gaya bahasa yang bermacam-macam. 11 Sudirman Tebba, Nikmatnya Shalat Berjamaah, (Jakarta: Pustaka Irvan, 2008), h. 91

32 16 Adapun pelaksanaan shalat berjamaah secara terang-terangan dilakukan setelah hijrah. Belumlah terjadi shalat jama ah itu ketika Nabi SAW masih berada di Makkah dan belum pula disyariatkan sholat semacam itu melainkan setelah hijrah Nabi di Madinah. Sesudah Nabi berhijrah ke Madinah, dikerjakanlah sholat berjamaah secara terangterangan dan besar-besaran di masjid dengan sahabat-sahabatnya. Sejak di Madinah dikerjakannya sholat berjamaah ini secara terus menerus dan berkekalan Hikmah Disyariatkannya Shalat Berjamaah Diantara ketinggian syaria at Islam bahwasanya ia mewajibkan dalam banyak ibadah perkumpulan yang sama halnya dengan mu tamar islami, yakni berkumpul di dalamnya kaum muslimin untuk saling berinteraksi, berkenalan, dan berembuk antar sesama dalam perkaraperkara mereka hingga terwujud tolong-menolong dalam menyelesaikan masalah mereka serta bertukar pikiran yang di dalamnya banyak mengandung manfaat yang besar. 13 Menurut Sudirman Tebba dalam bukunya yang berjudul Nikmatnya Shalat Berjamaah, disebutkan bahwa manfaat luar biasa dari shalat jamaah dalam Islam yang berguna untuk menumbuhkan semangat kesetaraan dan persaudaraan. Tidak ada keraguan bahwa shalat jamaah benar-benar menciptakan ikatan cinta dan saling pengertian di antara kaum muslimin. Hal ini membangkitkan rasa kebersamaan, saling membantu dalam persaudaraan mereka, dan menanamkan tali persaudaraan yang dalam. 14 Hikmah keutamaan shalat berjamaah juga terletak pada pahalanya yang berlipat ganda dibanding dengan pahala shalat yang dikerjakan secara sendirian, yakni mendapatkan pahala/kebaikan 27 derajat lebih 12 M. Ardani, op. cit. h Shalih bin Ghanim as-sadlan, op. cit. h Sudirman Tebba, op. cit, h

33 17 tinggi dari pada shalat sendiri (satu derajat jaraknya antara langit dengan bumi). 15 Dapat disimpulkan bahwasanya pelaksanaan shalat berjamaah dapat menumbuhkan persatuan, cinta, persaudaraan, menjalin ikatan erat, menumbuhkan sikap tenggang rasa, saling menyayangi dan pertautan hati serta mendidik mereka untuk terbiasa hidup teratur, terarah, dan menjaga waktu. B. Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela 1. Pengendalian Diri Menurut Nur Ghufron dan Rini Risnawita dalam bukunya yang berjudul Teori- Teori Psikologi, dinyatakan bahwa pengendalian diri merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya. Selain itu, dalam artian yang lain adalah suatu kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi. Kontrol diri (self-control) diartikan sebagai pengaturan prosesproses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang. Dapat dikatakan juga kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Kontrol diri juga menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan. 16 Adapun pengertian lainnya menurut pakar psikologi kontrol diri, Lazarnus, menjelaskan bahwa pengendalian diri menggambarkan keputusan individu melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun guna meningkatkan hasil dan tujuan tertentu 15 Sitti Satriani, Peran Guru Pai Dalam Membiasakan Siswa Melaksanakan Shalat Berjamaah Jurnal Tarbawi, Vol. 3, No. 1, 2018, h Nur Ghufron dan Rini Risnawita, Teori-Teori Psikologi,(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h

34 18 sebagaimana yang diinginkan. Sedangkan menurut tokoh psikologi yang lain, Gleitman, mengemukakan bahwa kontrol diri atau pengendalian diri merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan tanpa terhalangi baik oleh rintangan maupun kekuatan yang berasal dari individu. 17 Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengendalian diri dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku. Pengendalian tingkah laku mengandung makna, yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak. Semakin tinggi kontrol diri, maka semakin intens pengendalian diri terhadap tingkah laku. Averill berpendapat (dalam KSyamsul Bachri Thalib) secara umum, kontrol diri (self-control) dibedakan atas tiga kategori, yaitu: 18 a) Kontrol perilaku (behavior control) Kontrol perilaku merupakan kesiapan tersedianya suatu respons yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku ini diperinci menjadi dua komponen, yaitu mengatur pelaksanaan (regulated administration) dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability). Kemampuan mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan. Apakah dirinya sendiri atau aturan perilaku dengan menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki akan dihadapi. 17 Syamsul Bachri Tholib, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, (Jakarta: Kencana, 2010), h Ibid. h

35 19 b) Kontrol kognitif (Cognitive control) Kontrol kognitif merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterprestasi, menilai, atau menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri atas dua komponen, yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki oleh individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan. Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif. c) Mengontrol keputusan (Decesional control) Mengontrol keputusan merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau sauatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan Tindakan. Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa untuk mengukur pengendalian diri atau kontrol diri biasanya digunakan aspek-aspek yang terdiri dari kemampuan mengontrol perilaku, kemampuan mengontrol stimulus, kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian, kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian, dan kemampuan mengambil keputusan. 2. Pengertian Akhlak Secara kebahasaan, kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari khuluq atau khalq, (a) tabiat atau budi pekerti, (b) kebiasaan atau adat, (c) keperwiraan, kesatriaan (d) agama. Prof. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan

36 20 kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak, contohnya, bila kehendak itu dibiasakan memberi, maka kebiasaan ayu ialah akhlak dermawan. Di dalam Enslokpedia pendidikan dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia. 19 Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak ialah hasrat atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang mudah dan gampang tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran. Maka jika hasrat itu melahirkan perbuatan-perbuatan yang dipuji menurut akal dan syara, maka itu dinamakan akhlak yang bagus dan jika melahrkan akhlak darinya perbuatan-perbuatan akhlak yang jelek, maka hasrat yang keluar dinamakan akhlak yang jelek. 20 Sementara itu, secara istilah akhlak (khuluq) didefinisikan sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. 21 Berdasarkan beberapa pengertian akhlak diatas, maka peneliti menyimpulkan definisi akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. 3. Sumber Akhlak Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam islam, maka dari itu sebagai seorang muslim harus memiliki akhlak yang baik Sahriansyah, Ibadah dan Akhlak, (Banjarmasin: IAIN ANTASARI PRESS, 2014), h. 20 Imam Abi Hamid Muhammad Ibn Muhammad Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin, Juz, III (Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah), h Sahriansyah, Op, Cit, h. 176

37 21 Akhlak yang baik akan terbentuk bila sumbernya baik dan benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim adalah al-qur an dan as-sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruknya seseorang secara utuh diukur dengan al-qur am dan as-sunnah. Adapun tradisi merupakan pelengkap selama hal tersebut tidak bertentangan dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. 22 Berdasarkan uraian di atas, dapat di garis bawahi dalam proses pembentukan akhlak perlu diperhatikan nilai-nilai yang terdapat dalam al-qur an dan as-sunnah agar tidak terjadi penyimpangan terhadap akhlak tersebut. Kedua dasar inilah yang menjadi landasan dan sumber ajaran islam secara keseluruhan untuk mengatur pola hidup dan menetapkan perbuatan yang baik dan buruk dan Allah juga telah menetapkan firman dan Rasul pilihan-nya sebagai petunjuk moral diatas segala-galanya pembawa keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. 4. Ruang Lingkup Akhlak Akhlak memiliki karakteristik yang universal. Artinya ruang lingkup dalam pandangan islam sama luasnya dengan ruang lingkup pola hidup dan tindakan manusia di mana ia berada. Akhlak bukanlah sekedar prilaku manusia yang bersifat bawaan lahir, tetapi merupakan salah satu dari kehidupan manusia yang mencakup akidah dan Syariah, karena itu akhlak sering dibedakan menjadi tiga yaitu: 23 a. Akhlak Terhadap Allah Yang dimaksud dengan akhlak terhadap Allah atau pola hubungan dengan manusia dengan Allah adalah sikap dan perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia terhadap Allah. Akhlak terhadap Allah meliputi beribadah kepada-nya, mentauhidkan-nya, berdoa, berzikir, dan bersyukur serta tunduk dan taat kepada Allah. 22 Novi Hardian, Super Mentoring: Panduan Keislaman Untuk Remaja,(Bandung: Syamil Cipta Media, 2003), h Sahriansyah, Op, Cit

38 22 b. Akhlak Terhadap Manusia Akhlak terhadap manusia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu akhlak terhadap diri pribadi sendiri yang meliputi: jujur dan dapat dipercaya, bersikap sopan santun, sabar, kerja keras dan disiplin, berjiwa ikhlas, dan hidup sederhana. Kemudian akhlak terhadap keluarga yang meliputi: berbuat baik terhadap keluarga dan kerabat dekat, menghormati hak hidup anak, membiasakan bermusyawarah, bergaul dengan baik, menyantuni saudara yang kurang mampu. Dan yang terakhir yakni akhlak terhadap orang lain atau masyarakat. c. Akhlak Terhadap Alam Yang dimaksud alam di sini adalah alam semesta yang mengitar kehidupan manusia yang mencakup tumbuh-tumbuhan, hewan, udara, sungai, laut dan sebagainya. Kehidupan manusia memerlukan lingkungan yang bersih, tertib, sehat dan seimbang. Oleh karena itu pelestarian alam harus dilakukan dan harus selalu menjaga alam agar tidak rusak Jadi secara garis besar ruang lingkup akhlak meliputi hubungan manusia dengan khaliqnya, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam. 5. Pengertian Akhlak Tercela (Akhlak Madzmumah) Secara etimologi, kata madzmumah berasal dari bahasa Arab yang artinya tercela. Oleh karena itu, akhlak madzmumah artinya akhlak tercela. Akhlak tercela merupakan tingkah laku yang tercela yang dapat merusak keimanan seseorang, dan menjatuhkan martabatnya sebagai manusia. 24 Akhlak tercela juga menimbulkan orang lain merasa tidak suka terhadap perbuatan tersebut. Akhlak tercela merupakan akhlak 24 Djazimi, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Akhlak Siswa Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Provinsi Banten, Journal Studia Didkatika, Vol. 10, No. 2, 2016, h. 50

39 23 yang bertentangan dengan perintah Allah. Dengan demikian, pelakunya mendapat dosa karena mengabaikan perintah Allah. 25 Menurut M. Yatimin Abdullah dalam bukunya yang berjudul Studi Akhak Dalam Perspektif Al-Qur an, mengemukakan bahwa yang di maksud dengan akhlaqul madzmumah ialah peringai atau tingkah laku pada tutur kata yang tercermin pada diri manusia, cenderung melekat dalam bentuk yang tidak menyenangkan orang lain. Akhlakul madzmumah juga merupakan tingkah laku kejahatan, kriminal, perampasan hak. Sifat ini ada sejak lahir, baik wanita maupun pria, yang tertanam dalam jiwa setiap manusia. Akhlak secara fitrah manusia adalah baik. Namun, dapat berubah menjadi akhlak buruk apabila manusia itu lahir dari keluarga yang tabiatnya kurang baik, lingkungannya buruk, pendidikan tidak baik, dan kebiasaan-kebiasaan tidak baik sehingga menghasilkan akhlak yang buruk. 26 Sifat tercela merupakan suatu perbuatan yang dapat merugikan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran Islam, sifat tercela ini sangat dibenci oleh Allah, karena sifat tercela sangat hina. Perbuatan tercela biasanya dilandaskan pada nafsu yang tidak baik. Apabila ia mempunyai nafsu yang tidak baik, maka orang tersebut pasti mempunyai akhlak tercela. Akhlak tersebut sangat sekali disenangi iblis, karena siapa yang memiliki sifat tercela berarti orang tersebut sudah mendengarkan bisikan iblis. Orang yang melaksanakan perbuatan tercela dianggap sebagai sahabat karibnya dan orang yang menjauhi sifat tercela, dianggapnya sebagai musuhnya. Barang siapa yang mempunyai sifat tercela ini, niscaya orang itu akan mendapat siksaan di dunia, mendekam dalam neraka dan akhirat, karena itu sifat tercela ini harus dijauhi agar tidak menjadi sahabat karib iblis di neraka. Adapun cara untuk menghindari sifat tercela, yakni harus 2007). h Syamsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016). h M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur an, (Jakarta: Amzah,

40 24 memperbanyak ilmu keagamaan, mengamalkannya, dan berserah diri kepada Allah SWT. Harus diyakini bahwa hidup di dunia tidaklah kekal dan berakhir dengan kematian, yaitu akhir yang kekal tempat menerima balasan baik dan balasan buruk yang dilakukan manusia di dunia. 27 Oleh karena itu, jahuilah akhlak yang tidak baik (akhlakul madzmumah). Hindarilah perbuatan yang dapat merusak pergaulan. Barang siapa yang melakukan perbuatan tercela, menandakan hatinya yang tercela dan buruk. Allah tidak menyukai hatinya yang buruk. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi: ق ل لي ست وى ال ب ي ث ح و ن ل ع ل ك م ت فل ب و ي الط ث ف ا ت ق وهللا ي ا و ل ول و ا ع جب ك كث رة ال ب ي ا ل ل ب ا ب Katakanlah, tidak sama yang baik dengan yang buruk itu, meskipun yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan (QS.Al- Maidah: 100). 6. Macam-Macam Akhlak Tercela Segala macam bentuk akhlak tercela dilarang oleh agama. Perbuatan akhlak tercela apabila dilakukan akan memperolah dosa dari Allah SWT. Oleh karena itu, akhlak tercela hendaknya dihindari oleh setiap muslim. Adapun sifat-sifat perbuatan akhlak tercela dalam kehidupan manusia tergambar dari perkataan dan perbuatannya. Sifat-sifat perbuatan akhlak tercela itu secara umum adalah sebagai berikut: a. Dengki Dengki menurut bahasa (etimologi) berarti menaruh perasaan marah (benci, tidak suka), karena sesuatu yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Dengki ialah rasa benci dalam hati terhadap kenikmatan orang lain dan disertai maksud agar nikmat 27 Ibid. h. 61

41 25 itu hilang atau berpindah kepadanya. Dengki termasuk penyakit hati dan merupakan sifat tercela. Hukumnya haram, karena dapat merugikan orang lain. 28 Menurut Al-Ghazali, dengki adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada orang lain serta ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Terdapat empat tingkatan dengki dalam pandangan Imam Al-Ghazali. Pertama, menginginkan lenyapnya kenikmatan dari orang lain, meskipun kenikmatan itu tidak berpindah kepada dirinya. Kedua, menginginkan lenyapnya kenikmatan diri orang lain, karena ia sendiri menginginkannya. Ketiga, tidak menginginkan kenikmatan itu sendiri, tetapi menginginkan kenikmatan serupa. Jika gagal memperolehnya, ia berusaha merusak kenikmatan orang lain. Keempat, menginginkan kenikmatan serupa. Jika gagal memperolehnya, ia tidak menginginkan lenyapnya kenikmatan itu dari orang lain. Sikap keempat ini diperbolehkan dalam urusan agama. 29 Adapun tanda-tanda orang yang bersifat dengki antara lain: 1) Tidak senang melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan. 2) Suka mengumpat, mencela, menghina, dan memfitnah orang lain. 3) Bila berbicara, ucapannya selau membuat sakit hati orang lain. 4) Suka mencaci, bersikap angkuh, congkak, sombong ucapannya, dan perbuatannya. Adapun bahaya akibat sifat dengki antara lain: 1) Hati merasa gusar dan tidak tentram. 2) Perasaan iri hati yang terus menerus. 3) Apabila diketahui yang bersangkutan dapat menimbulkan percekcokan. 28 Ibid. h Samsul Munir Amin. Op. Cit. h

42 26 4) Biasanya pelaku sering bohong akibat perbuatannya. Jelas bahaya dengki sangat tidak terpuji. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang beriman, jauhi segala sifat-sifat dengki, karena dengki dapat menyesatkan di kemudian hari. Sifat dengki merupakan sifat tercela, maka harus menghindarinya dengan caracara sebagai berikut: 1) Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. 2) Menyadari bahwa dengki dapat menghapus kebaikan. 3) Meningkatkan syukur kepada Allah. 30 b. Iri Hati Kata iri hati menurut bahasa (etimologi) artinya merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain, kurang senang melihat orang lain beruntung, cemburu dengan keberuntungan orang, tidak rela apabila orang lain mendapatkan nikmat, dan kebahagiaan. Iri hati merupakan perbuatan tercela, hukumnya haram. Adapun bahaya iri hati secara secara umum adalah sebagai berikut: 1) Hati merasa gusar dan tidak tentram. 2) Iri hati yang terus menerus memuncak dapat mengakibatkan stress. 3) Apabila diketahui orang lain, nama baiknya tercemar. 4) Apabila diketahui orang lain, orang yang bersangkutan dapat menimbulkan permusuhan. 5) Di suatu masyarakat, apabila ada orang yang suka iri hati, mengakibatkan keresahan. 6) Iri hati menandakan bahwa ia tidak bersyukur terhadap nikmat Allah. 30 M. Yatimin Abdullah. Op. Cit. h

43 27 7) Iri hati mengakibatkan dosa. Apabila dilakukan terus-menerus akan menjadi dosa besar. Iri hati merupakan sifat yang sangat tercela dapat merugikan diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu, hendaklah seseorang harus menjauhinya. Adapun tuntutan untuk menghindari sifat iri hati secara umum sebagai berikut: 1) Harus menyadari keburukan dan bahaya sikap iri hati. 2) Bahwa sifat iri hati dapat menjadikan dirinya menderita dan stress. 3) Bersyukur atas nikmat yang telah di berikan Allah. 4) Menyadari bahwa nasib manusia berbeda-beda. 5) Menghargai dan menghormati hak orang lain. 6) Mengembangkan sifat cinta kasih sesama hamba Allah. 7) Mempertebal amal, iman, dan takwa kepada Allah. Adapun perasaan iri hati adalah menginginkan nikmat yang sama dengan apa yang dianugerahkan Allah kepada orang lain. Iri hati yang menyangkut urusan agama, seperti mencari ilmu pengetahuan dan mengamalkannya, beribadah yang tekun, zakat, infak, sedekah, membantu orang lain, dan sejenisnya dapat dibenarkan. Hal ini merupakan iri hati yang terpuji. Iri hati seperti ini sekiranya tidak berhasil meraih sukses, seperti orang lain. Ia pun tidak akan putus asa, karena ia menyadari bahwa Tuhan telah menentukan bagian masing-masing. Allah berfirman: 31 و ل ت ت من و ا م ا ف ض ل هللا ب ه ب ع ض ك م ع ل ى ب ع ض, ل لر ج ال ن ص ي ب م ا اك ت س ب و. سب, و م اا كت من سئ ل وا هلل ىء ل ش ف ضل ه, ا ن هللا كا ن ب ك يما ع ل صيب سا ءن و ل لن 31 Ibid, h

44 28 Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-nya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu (QS. An-Nisa: 32). c. Takabbur (Sombong) Takabbur merupakan perilaku seseorang yang menganggap dirinya lebih dari yang lain. Sehingga, ia berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan yang ada pada dirinya. Biasanya orang yang seperti ini memandang orang lain lebih buruk, lebih rendah dan tidak mau mengakui kelebihan orang lain. 32 Sifat tercela ini harus dihindari oleh setiap muslim. Sesungguhnya Allah SWT mengutuk perbuatan takabbur, sebagaimana firmannya dalam Al- Qur an: س ا ص ر ف ع ن ء اي ت ال ذ ي ن ي ت ك ب و ن ف ا ل ر ض ب غ ي ح ق Akan Aku panglingkan dari tanda-tanda (Kekuasaan-Ku) orangorang tang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. (QS. Al-A raf: 146). Takabbur terbagi dalam dua bagian, yaitu lahir dan batin. Takabbur lahir merupakan perbuatan-perbuatan anggota tubuh yang muncul dari takabbur batin. Sedangkan, takabbur batin adalah perilaku dan akhlak diri. Perbuatan-perbuatan buruk yang muncul akibat takabbur batin sangat banyak. Berbagai perbuatan tersebut sangat merugikan para pelaku sikap takabbur sendiri. Dilihat dari subjeknya, takabbur terbagi menjadi tiga bagian yaitu: 32 Ibid. h. 66

45 29 1) Takabbur kepada Allah. Takabbur ini merupakan yang paling berat dan keji. Contoh pelaku takabur ini adalah Fir aun, manusia yang mengaku dirinya dapat menerangi Tuhan langit. Selain Fir aun, perilaku takabur ini juga di tunjukkan oleh orangorang yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. 2) Takabur kepada Rasul, yaitu tidak mau mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW serta menghina dan menyepelekan ajarannya. Hal ini seperti perilaku orang-orang kafir Quraisy yang menantang dakwah Nabi Muhammad SAW. 3) Takabur terhadap sesama manusia, yaitu menganggap orang lain remeh dan hina. Meskipun tingkatannya lebih rendah dari yang pertama dan kedua, kesombongan jenis ketiga ini juga merupakan perilaku yang sangat tercela. Hal ini karena kesombongan, keagungan, dan kemuliaan tidak layak bagi siapapun kecuali bagi Allah, Tuhan semesta alam. 33 Adapun seseorang menjadi sombong secara umum ada tujuh macam, antara lain yaitu: 1) Sombong karena memiliki ilmu. 2) Sombong karena memiliki amal ibadah yang banyak. 3) Sombong karena kedudukan dirinya sebagai keturunan bangsawan. 4) Sombong karena kecantikannya, wajah mulus dan tampan sehingga disukai lawan jenisnya. 5) Sombong karena harta, kedudukan dan relasi. 6) Sombong karena kekuatan dan kekuasaan yang ada pada dirinya. 7) Sombong terhadap bawahan, pengikut, dan pembantupembantunya. 33 Samsul Munir Amin, Op. Cit. h

46 30 Semua kesombongan-kesombongan tersebut wajib dijauhkan dan dihindari karena dapat menimbulkan penyakit hati yang merusak diri sendiri dan orang lain. Akibat buruk yang di timbulkan oleh perangai sombong ini banyak sekali di antaranya yaitu: 1) Ia suka menyakiti orang lain. 2) Memutuskan kasih sayang. 3) Mencerai-beraikan hubungan hati manusia. 4) Menjadikan orang lain benci kepadanya dan bersepakat untuk menyakitinya. 5) Orang yang sombong sulit untuk diajak ke jalan yang benar. 6) Orang yang sombong tidak bisa menahan marah. 7) Orang yang sombong tidak pernah bersikap lemah lembut, apabila menasehati orang lain. 34 d. Riya Kata riya diambil dari kata dasar ar-ru yah yang artinya adalah memancing perhatian orang lain agar dinilai sebagai orang baik. Riya merupakan salah satu sifat tercela karena dapat menggugurkan amal ibadah. Riya adalah memperlihatkan diri kepada orang lain, artinya beramal bukan karena Allah, melainkan karena manusia. Riya ini berhubungan erat dengan sikap takabbur. 35 Sifat riya juga merupakan amalan yang dikerjakan dengan niat tidak ikhlas. Berbuat kebaikan karena didasarkan ingin mendapat pujian orang lain agar dipercaya orang lain, agar ia dicintai orang lain, karena ingin dilihat oleh orang lain. Riya merupakan penyakit rohani. Biasanya ingin mendapat pujian, sanjungan dan dapat menghalang-halangi manusia dari jalan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur an: M. Yatimin Abdullah. Op. Cit. h H. Rosihon Anwar, Akidah Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia: 2016). h M. Yatimin Abdullah. Op. Cit. h. 68

47 31 و ل ت ك و ن و ك ا ل ذ ي ن خ ر ج و ام ن د ي ر ه م ب ط ر ا و ر ئ ء الن اس و ي ص د و ن ع ن س ب ي ل هللا, وهللا ب ا ي ع مل و ن م يط Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah. Sesungguhnya ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Anfal: 47). Sifat riya dapat muncul dalam beberapa bentuk, diantaranya sebagai berikut: 37 1) Riya dalam beribadah. Memperlihatkan kekhusyukannya apabila berada di tengah-tengah jamaah atau karena ada orang yang melihatnya. 2) Riya dalam berbagai kegiatan. Orang itu rajin dan tekun bekerja selama ada orang yang melihat. Ia bekerja seolah-olah penuh semangat. Padahal dalam hati kecil tidak demikian. Ia rajin bekerja apabila ada pujian, tetapi apabila tidak ada yang memuji, semangatnya menurun. 3) Riya dalam bersedekah. Dalam bersedekah, orang riya ini bermaksud bukan karena ingin menolong dengan ikhlas, melainkan ingin dikatakan sebagai dermawan dan pemurah. Orang yang bersedekah karena riya tidak akan mendapat pahala dan amalnya itu sia-sia. 4) Riya dalam berpakaian. Orang riya umumnya memakai pakaian yang bagus, perhiasan yang mahal dan beraneka ragam dengan harapan agar disebut orang kaya, mampu dan pandai berusaha sehingga melebihi orang lain. Tujuannya hanya dipamerkan dan mendapat pujian. 37 Ibid. h

48 32 C. Penelitian yang Relevan Hasil penelitian yang relevan ini dilakukan dengan mencari beberapa skripsi yang sesuai dengan masalah atau tema pokok yang penulis ajukan dan fungsinya dapat memberikan arahan dalam skripsi ini dari penelitianpenelitian sebelumnya. 1. Hasil penelitian yang berjudul Pengaruh Pembiasaan Shalat Zuhur Berjamaah Terhadap Kedisiplinan Belajar Siswa Di SMP PGRI 2 Somagede Kabupaten Banyumas yang disusun oleh Eti Ernawati ( ). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan ketentuan Isaac dan Michael. Sedangkan, teknik pengumpulan data menggunakan instrument angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian yang terkumpul dalam penelitian ini di analisis dengan menggunakan analisis product moment dan analisis regresi yang sederhana. Dari uji linearitas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,418 lebih besar dari 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang linear secara signifikan antara variabel pembiasaan shalat dzhuhur berjamaah dan kedisiplinan belajar siswa. Dari skripsi ini memiliki kesamaan dengan apa yang penulis teliti, yaitu mengenai pembiasaan shalat berjamaah siswa dan juga sama-sama menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan analisis product moment. Perbedaannya, yaitu pada penelitian ini, teknik menentukan sampel menggunakan ketentuan Isaac dan Michael. Sedangkan, penelitian penulis menggunakan sampling total / sensus dalam teknik pengambilan sampel, karena populasinya dibawah 100 responden. 2. Hasil penelitian yang berjudul Pengaruh Shalat Berjamaah Terhadap Pembinaan Karakter Religius Peserta Didik Kelas VIII Di SMP IT Daarul Ilmi Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2018/2019 yang disusun oleh Renna Oktavia Sari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sumber data diambil dari angket, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian,

49 33 pembahasan dan hasil pengujian pengaruh yang telah diuraikan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara shalat berjamaah terhadap pembinaan karakter religius berdasarkan keikutsertaan yang aktif, ketertiban yang baik, sarana, dan prasarana yang tersedia dengan baik, maka aktivitas ibadah dapat berjalan dengan kondusif, dihayati, dan menjadi kebiasaan yang dapat memupuk karakter religius dalam diri peserta didik. Persamaan dengan penelitian ini, yaitu sama-sama mengkaji tentang shalat berjamaah. Kemudian perbedaannya, yaitu pada variabel y nya yang mana pada penelitian ini mendeskripsikan terkait pembinaan karakter religius peserta didik. Sedangkan, penulis meneliti mengenai pengendalian diri dari akhlak tercela. 3. Hasil penelitian yang berjudul Pengaruh Shalat Zuhur Berjamaah Terhaadap Kemampuan Afektif Siswa Di Sekolah Kelas VIII MTs Al- Ihsan Pamulang yang disusun oleh M. Mujalisin ( ). Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi korelasional melalui penelitian lapangan jenis metode korelasi Pearson (product moment). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik pengumpulan datanya menggunakan angket, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya pengaruh antara shalat dhzuhur berjamaah terhadap kemampuan afektif siswa. Dari hasil pengujian hipotesis, diperoleh data yang menunjukan terdapat hubungan yang cukup signifikan antara shalat dzhuhur berjamaah terhadap kemampuan afektif siswa dengan koefesien korelasi yang diperoleh, yaitu sebesar 0,632. Sehingga, hubungan antara kedua variabel termasuk pada katagori sedang. Dari skripsi ini memiliki kesamaan dengan apa yang penulis teliti, yaitu sama-sama menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis korelasi untuk mengetahui hubungan diantara variabelnya. Perbedaannya, yaitu dalam teknik pengambilan sampling. Pada penelitian ini, dalam teknik pengambilan samplingnya menggunakan

50 34 teknik random sampling. Sedangkan, penulis menggunakan teknik sampling total / sensus dalam pengambilan samplingnya. D. Kerangka Berfikir Akhlak merupakan suatu tabiat seseorang yang sudah tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Akhlak menjadi suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa yang terjadi tanpa adanya proses pemikiran yang panjang atau terjadi secara spontanitas dan sudah menjadi suatu kebiasaan. Baik buruknya akhlak seseorang bergantung pada proses pembentukan akhlak. Jika sumber pembentukan akhlak sesuai dengan Al-Qur an dan As- Sunnah, maka akan lahir akhlak terpuji dalam jiwa. Akan tetapi, jika pembentukan akhlak tersebut sumbernya bertentangan dengan Al-Qur an dan As-Sunnah, maka akan ada akhlak tercela pada jiwa seseorang. Pembinaan Akhlak sangatlah dibutuhkan bagi generasi muda khususnya di sekolah, karena sekolah merupakan salah satu lingkungan yang memberikan pengaruh besar dalam menanamkan dan membentuk akhlak yang baik serta mengendalikan diri dari akhlak tercela. Banyak sekali kegiatan kegiatan positif di sekolah yang dapat membentuk fondasi akhlak yang kuat bagi peserta didik. Salah satunya, yakni dengan melaksanakan pembiasaan shalat berjamaah. Kegiatan pembiasaan shalat berjamaah merupakan kegiatan yang sangat positif. Dengan dilaksanakannya kegiatan pembiasaan shalat berjamaah yang di pimpin oleh guru dan disambung dengan zikir secara bersama, maka akan memberikan siraman rohani yang diharapkan mampu membawa pengaruh positif terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa siswa. Dari penjelasan diatas, penulis berasumsi bahwa kegiatan pembiasaan shalat berjamaah di sekolah dapat membentuk fondasi akhlak yang kuat dan dapat mengendalikan diri dari akhlak tercela. Dengan mendekatkan diri kepada Allah di awal kegiatan dengan melaksanakan salat dhuha, maka akan membuat pikiran menjadi jernih. Sehingga, akan

51 35 memberikan pengaruh positif dalam segala aktivitas di dalam dan di luar lingkungan sekolah. E. Pengajuan Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara pada rumusan masalah penelitian. Dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. 38 Sebelum perhitungan dilakukan, maka penulis mengajukan hipotesis nihil (H0) dan hipotesis alternatif (Ha) dengan rincian sebagai berikut: H0 = Ha = Terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pelaksanaan pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela. 38 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods), (Bandung: Alfabeta, 2011), cet ke-1, h. 99

52 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di SMP Yapia Ciputat yang berlokasi di Jl. RE Martadinata No 7, Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2020 sampai dengan bulan Februari 2020 pada tahun ajaran 2019/2020. B. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, yaitu penelitian yang hasil analisis datanya disajikan dalam bentuk angka-angka statistik dan penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menguji suatu teori yang menjelaskan tentang hubungan antara kenyataan sosial. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode pendekatan korelasi, yakni suatu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variable atau lebih. 1 Selain itu, penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif. Teknik ini digunakan untuk mengukur kuat lemahnya peranan pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat. C. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk di pelajar dan kemudian ditarik kesimpulannya. 2 1 Pangestu Subagyo & Djarwanto, Statistika Indukatif, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2005), h Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitataif, Dan Kombinasi (Bandung: AFABETA, 2011), cet 1, h

53 34 Variabel ada dua macam, yakni variabel independent (variabel terikat) dan variabel dependen (variabel bebas). Adapun variabel dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Pembiasaan Shalat Berjamaah Pelaksanaan pembiasaan ibadah shalat secara berjamaah ini menduduki sebagai variabel independent (bebas). Variabel ini yang memberikan pengaruh dan disimbolkan dengan huruf (X), yakni siswa yang melaksanakan shalat berjamaah dengan kesadarannya sendiri dan juga mereka mengetahui keutamaan serta manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat sebagai variabel dependent (terikat), yakni hasil dari hubungan independent yang disimbolkan dengan huruf Y, maka pengendalian diri dari akhlak tercela siswa ini menjadi salah satu dampak yang terjadi setelah siswa melaksanakan shalat berjamaah. D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang berfungsi sebagai sumber data. 3 Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Yapia Ciputat kelas VIII (delapan) yang terdaftar pada tahun ajaran 2019/2020 adalah sebanyak 99 siswa. 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi (jumlahnya lebih sedikit dari pada populasinya). 4 Penelitian yang dilakukan pada populasi di bawah 100 responden sebaiknya dilakukan dengan sensus/ sampling total. Sehingga, seluruh anggota populasi tersebut dijadikan 3 Hadeli, Metode Penelitian Kependidikan, (Ciputat: PT Ciputat Press, 2006), h Pangestu Subagyo & Djarwanto, op.cit, h. 93

54 35 sampel semua sebagai subyek yang dipelajari atau sebagai responden pemberi informasi. 5 Pada peneilitian ini, jumlah sampel yang peneliti gunakan kurang dari 100 responden. Maka, populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII SMP Yapia Ciputat sebanyak 99 orang. E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen 1. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi dalam mencapai tujuan penelitian. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian ini adalah: a. Angket (Kuisioner) Angket atau kuisioner merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. 6 Angket ini diberikan kepada siswa untuk memperoleh informasi mengenai pembiasaan shalat berjamaah untuk mengendalikan diri dari akhlak tercela siswa. b. Wawancara Wawancara merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber (informan) untuk mendapatkan informasi yang mendalam. 7 Wawancara yang dilakukan peneliti bertujuan untuk memperoleh data yang lebih mendalam terkait dengan penelitian. Wawancara dilakukan dengan guru dan juga siswa di SMP Yapia Ciputat. 5 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, (Bandung: ALFABETA, 2018). h Ibid. h Rully Indrawan dan Poppy Yuniawati. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran untuk Manajemen, Pembangunan, dan Pendidikan. (Bandung: Rafika Aditama, 2014). h. 136

55 36 c. Observasi Observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap objek baik secara langsung maupun tidak langsung. 8 Pada pengambilan data melalui observasi, peneliti datang langsung ke SMP Yapia Ciputat untuk mengamati secara langsung keadaan sekolah dan bagian yang paling terpenting, yakni mengamati secara langsung proses pelaksanaan kegiatan shalat berjamaah di SMP Yapia Ciputat. 2. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur suatu fenomena yang diamati. 9 Pada penelitian kali ini, instrumen penelitian data yang digunakan, yakni berupa angket. Angket ini menggunakan skala likert yang mempunyai empat jawaban pilihan yang meliputi: selalu, sering, kadang-kadang, dan tidak pernah. Jawaban yang berjumlah genap ini bertujuan untuk menghindari kecenderungan responden bersikap ragu-ragu dan tidak mempunyai jawaban yang jelas. Tabel 3.1 Nilai Skor Jawaban No Alternatif Jawaban Skor 1 Selalu 4 2 Sering 3 3 Kadang-Kadang 2 4 Tidak Pernah 1 8 Hadeli, op, Cit Sugiyono, Op. Cit. h. 166

56 37 Tabel 3.2 Kisi-Kisi Skala Pembiasaan Shalat Berjamaah Variabel Indikator Item Jumlah 1. Teratur dalam 1,3, 7, 9, Shalat melaksanakan shalat 4 Berjamaah berjamaah 2. Taat 6.14, 18, 19, Bertanggung jawab 4, 8, 10, Rajin 2, 12, Patuh pada aturan 5, 15, 16, 17 4 Tabel 3.3 Kisi-Kisi Skala Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Variabel Indikator Item Jumlah Pengendalian 1. Mengenali 1, 2, 3, 8 4 diri dari akhlak tercela perbuatan-perbuatan tercela 2. Mengelola 4, 5, 7, 11, 12 5 pengendalian diri dari perbuatan tercela 3. Memotivasi diri 6, 9, 10, 3 4. Empati 13, 14, 15, Membina hubungan 17, 18, 19, Validitas Instrumen Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkattingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih memiliki validitas yang tinggi. Sebaliknya, instrumen

57 38 yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang di teliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud. 10 Pengujian validitas dalam penelitian kali ini menggunakan korelasi product moment dalam Pearson dengan menggunakan program SPSS versi 23. Hasil uji validitas item tersebut kemudian dibandingkan dengan r tabel = 0, 202 (pada taraf signifikansi 5% dan n = 99) dengan keputusan: Jika rhitung > rtabel maka dinyatakan valid Jika rhitung < rtabel maka dinyatakan tidak valid Berikut ini tabel item soal yang valid dan tidak valid setelah pengolahan data menggunakan program SPSS 23: Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Variabel X Variabel Nilai R hitung Nilai R tabel Nilai sig Keputusan X1,606 0,202,000 Valid X2,680 0,202,000 Valid X3,555 0,202,000 Valid X4,456 0,202,000 Valid X5,449 0,202,000 Valid X ,202,000 Valid X7,297 0,202,003 Valid X8,372 0,202,000 Valid X9,600 0,202,000 Valid 10 Suharsini Arikunto. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013). h

58 39 X10,372 0,202,000 Valid X11 -,037 0,202,714 Tidak Valid X12,506 0,202,000 Valid X13,166 0,202,101 Tidak Valid X14,440 0,202,000 Valid X15,151 0, Tidak Valid X16,427 0,202,000 Valid X17,539 0,202,000 Valid X18,246 0,202,014 Valid X19,326 0,202,001 Valid X20,528 0,202,000 Valid Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Variabel Y Variabel Nilai R hitung Nilai R tabel Nilai sig Keputusan Y1,576 0,202,000 Valid Y2,552 0,202,000 Valid Y3,509 0,202,000 Valid Y4,532 0,202,000 Valid Y5,247 0,202,014 Valid Y6,416 0,202,000 Valid Y7,479 0,202,000 Valid Y8,435 0,202,000 Valid Y9,337 0,202,001 Valid Y10,253 0,202,011 Valid Y11,390 0,202,000 Valid Y12,355 0,202,000 Valid Y13,455 0,202,000 Valid Y14,430 0,202,000 Valid

59 40 Y15,398 0,202,000 Valid Y16,432 0,202,000 Valid Y17,374 0,202,000 Valid Y18,258 0,202,004 Valid Y19,434 0,202,000 Valid Y20,500 0,202,000 Valid 4. Realiabilitas Instrumen Realibilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data, karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan. 11 Uji realibilitas skala pembiasaan shalat berjamaah dan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa menggunakan uji statistik Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS versi 23. Suatu variabel dikatakan memiliki realibilitas yang baik bila memiliki koefesien diatas 0,60. Berdasarkan perhitungan menggunakan program SPSS versi 23 tersebut, maka peneliti memperoleh hasil dalam tabel berikut ini: Tabel 3.6 Realibilitas Variabel X Cronbach' s Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items,776, Ibid. h. 221

60 41 Tabel 3.7 Realibilitas Variabel Y Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items,748, Berdasarkan hasil yang diperoleh dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai Cronbach s Alpha untuk variabel pembiasaan shalat berjamaah sebesar 0,773 dan variabel pengendalian diri dari akhlak tercela siswa sebesar 0, 755. Maka, hasil dari perhitungan kedua variabel tersebut menunjukan bahwa kedua variabel memiliki realibilitas yang baik, karena memiliki tingkat koefesien di atas 0,60 dan berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa instrumen yang peneliti gunakan cukup di percaya sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian. F. Teknik Analisis Data Teknik analisis data merupakan tahapan yang penting dalam penyelesaian suatu kegiatan ilmiah. Data yang telah terkumpul tanpa dianalisis menjadi tidak bermakna. Oleh karena itu, data yang telah diperoleh kemudian dianalisis untuk memberi arti, makna, dan nilai yang terkandung dalam data. 12 Adapun langkah-langkah yang ditempuh penulis untuk mencari dan mengetahui presentase setiap data sebagai berikut: 1. Editing. Editing ini merupakan suatu prroses pengecekan atau memeriksa data yang telah berhasil dikumpulkan dari lapangan, karena ada kemungkinan data yang telah masuk tidak memenuhi syarat atau 12 Kasiram, Metodologi Penelitian, (Malang: UIN Malang Press, 2008). h. 127

61 42 tidak dibutuhkan. Proses editing bertujuan untuk mengoreksi kesalahankesalahan dan kekurangan data yang terdapat pada catatan lapangan. 2. Scoring. Setelah melakukan proses tahapan editing, maka penulis memberikan skor terhadap pertanyaan yang ada pada angket. 3. Tabulasi. Tabulasi merupakan proses penempatan data ke dalam bentuk table dan menghitungnya. 4. Mengolah data menggunakan SPSS versi 23. Untuk mengetahui kecenderungan tiap item jawaban yang telah dipilih oleh responden, peneliti menggunakan metode statitiska, karena data berbentuk angka serta menggunakan tabel frekuensi. Adapun rumus yang peneliti gunakan, yakni sebagai berikut: P = f x 100 % N Diketahui: P = Presentase yang ingin diketahui F = Frekuensi jumlah pilihan responden N = Number of Cases (Jumlah responden) Tabel 3.8 Interpetasi Analisis Deskriptif Kategori Interval Nilai Presentase (Skor) Baik 76% - 100% Cukup Baik 56% - 75% Kurang Baik 40% - 55% Tidak Baik < 40%

62 43 Setelah mengetahui frekuensi jawaban setiap item soal, penulis mencari nilai NH dan NS. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: Mean = NS NH x 100 % 1. Baik, jika nilainya pada interval 76% - 100%. 2. Cukup baik, jika nilainya pada interval 56% - 75%. 3. Kurang baik, jika nilainya pada interval 40% - 55%. 4. Tidak baik, jika nilainya pada interval < 40%. Berdasarkan hipotesis yang akan diukur, peneliti menggunakan korelasi product moment dari Karl Pearson guna mengetahui hubungan antara dua gejala interval. Adapun rumus yang peneliti gunakan sebagai berikut: Keterangan: r N. XY ( X)( Y) xy = {(N X 2 ( X) 2.(N Y 2 ( Y) 2 } rxy = Angka indeks korelasi Y N = Jumlah responden xy = Jumlah hasil penilaian antara skor x dan skor y x = Jumlah seluruh skor x sebagai variabel bebas y = Jumlah seluruh skor y sebagai variabel terikat Kemudian, setelah penulis memperoleh nilai r, lalu dikonsultasikannya ke dalam tabel r product moment dengan taraf signifikansi 5% atau dengan cara lain yang lebih sederhana, yaitu menggunakan tabel pedoman untuk memberikan interpretasi koefesien korelasi. Adapun tabel interpretasi sebagai berikut: Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, op. cit. h

63 44 Tabel 3.9 Interpretasi Nilai R Interval Koefesien Tingkat Hubungan 0,00-0,200 Sangat Rendah 0,200-0,400 Rendah 0,400-0,600 Sedang 0,600-0,800 Kuat 0,800-1,000 Sangat Kuat Selanjutnya, untuk mengetahui apakah data penelitian ini signifikan atau tidak, diinterpretasi juga menggunakan table nilai r. Setelah hasilnya diketahui, hasilnya dicocokkan dengan table nilai koefisien korelasi product moment pada taraf signifikn 5% dan disimpulkan, apakah terdapat korelasi positif yang signifikan atau tidak dengan kriteria pengujian. Kesimpulan yang digunakan, yakni sebagai berikut: r hitung > r tabel r hitung < r tabel Pada tahap signifikansi, maka Ha diterima dan H0 ditolak Pada tahap signifikan 5%, maka Ha ditolak dan H0 diterima Kemudian untuk mengetahui berapa persen (%) variabel X memberikan kontribusi terhadap variabel Y, maka penulis mencari koefesien determinasi dengan menggunakan derajat hubungan antara variabel X dan Y dengan rumus sebagai berikut: KD = rxy 2 x 100% Keterangan: KD = Kontribusi variabel X dan Variabel Y rxy = Koefisien antara variabel X dengan variabel Y

64 45 G. Hipotesis Statistik Perumusan hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah: H0 : β y = 0 H1 : β y 0 Keterangan H0= Hipotesis nol; Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa. H1 = Hipotesis alternatif; Terdapat pengaruh yang signifikan antara pembiasaan shalat berjamaah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa.

65 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian a. Sejarah Singkat Sekolah Lembaga Pendidikan SMP Yapia Ciputat adalah sekolah enengah pertama yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Hidayah. Yayasan Al- Hidayah sendiri berdiri sejak tahun 1926 yang didirikan oleh K. H. Moch. Noor. SMP Yapia Ciputat tepat berdiri dan beroperasional sejak tahun Sekolah ini sekarang telah memiliki fasilitas-fasilitas yang cukup lengkap dengan jumlah siswa yang terus berkembang, SMP Yapia Ciputat telah memilki tempat sendiri yang beralamatkan di Jl. RE. Martadinata No. 7 Cipayung, Ciputat b. Identitas Sekolah - Nama Sekolah : SMP Yapia Ciputat - Alamat Jalan : R. E Martadinata No. 07 Desa : Cipayung Kecamatan : Ciputat Kabupaten : Tangerang Selatan Provinsi : Banten No. Telepon : (021) NSS / NDS : / NPSN : Status : Swasta - Bentuk Pendidikan : SMP - Status Kepemilikan : Yayasan 46

66 47 - Jenjang Akreditasi : Terakreditasi A - Tahun Didirikan : Kepemilikan Tanah Status Tanah : Milik Sendiri Luas Tanah : 1200 m - Status Bangunan Surat Izin Bangunan : Dari Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Barat No. 181/102-kep/1983 tanggal Nomor Rekening : Sumber dana operasional : SPP, BP3, dan Dana Bos c. Identitas Kepala Sekolah - Nama : Siti Suryani, S. Pd - Tempat Tanggal Lahir: Tangerang, 10 Mei Pendidikan Terakhir : S-1 - Jurusan : IPA-Biologi - No HP : d. Visi dan Misi Sekolah 1) Visi Unggul dan bermutu dalam mewujudkan pengembangan tenaga pendidik dan pendidikan yang jujur, profesional, terampil, tangguh dan berkompeten di bidangnya 2) Misi - Mewujudkan pendidikan dan bermutu efisien dan relevan - Mewujudkan metode pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan - Mewujudkan prasarana pembelajaran yang inovatif dan canggih e. Tujuan Sekolah 1) Meningkatkan prilaku akhlak mulia bagi peserta didik 2) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat peserta didik

67 48 3) mengembangkan kepribadian manusia yang utuh bagi peserta didik 4) mempersiapkan peserta didik sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri dan berguna 5) mempersiapkan peserta didik dalam melanjutkan pendidikan lebih lanjut f. Fasilitas Pendidikan - Data Ruang Kelas : 9 Ruang - Ruang Guru : 1 Ruang - Ruang Tata Usaha : 1 Ruang - Ruang Kepala Sekolah: 1 Ruang - Ruang Perpustakaan : 2 Ruang - Ruang UKS : 1 Ruang - Ruang Keerampilan : 1 Ruang - WC Murid : 4 Ruang - WC Guru : 1 Ruang - Ruang Laboratorium : 1 Ruang - Sarana Olahraga : Lapangan - Sarana Ibadah : 1 Ruang g. Guru SMP Yapia Ciputat SMP Yapia Ciputat adalah suatu lembaga yayasan pendidikan, dimana setiap guru yang mengajar harus memiliki persyaratan formal dan kredibilitas serta kepribadian yang tinggi, karena seorang guru akan merelakan dirinya untuk menerima dan memikul sebagian dari tanggung jawab pendidik yang semestinya harus ditunaikan orang tua. Guru-guru yang mengajar di SMP Yapia Ciputat berjumlah 19 orang dengan penjelasan sebagai berikut:

68 49 Tabel 4.1 Data Guru SMP Yapia Ciputat Tahun Ajaran No Nama Guru Mata Keterangan Pelajaran 1 Siti Suryani, S. Pd IPA Terpadu Kepala Sekolah 2 Rini Eva S, M. Pd. I IPA Terpadu Waka. Bid. Kurikulum 3 Adib Faruq R, S. Pd.I PAI/Tahfidz Waka. Bid Kesiswaan 4 Wahyudin, S. Pd. I Penjaskes Wali Kelas VII 2 5 Drs. Yasmin PKN 6 Badri, S. Ag PAI Wali Kelas VII 1 7 M. Idrus, M. Pd B. Inggris Wali Kelas IX 2 8 Umaeroh. M, Si IPS Terpadu 9 H. Imron, S. Pd Matematika 10 Via Apriliani S. Informatika Wali Kelas VII 3 Kom 11 Dewi Aprianti S. Pd Bahasa Inggris Wali Kelas VIII 2 12 Alimuddin M. Pd IPS Terpadu Wali Kelas IX 3 13 Arsih. S. Pd Matematika Wali Kelas IX 1 14 Habibi. S. Pd. i B.Indo / PAI Wali Kelas VIII 3 15 Yulyanti, S. S B.Indonesia Wali Kelas VIII 1 16 Suhendra Penjaskes 17 Jouhar Bachtiar Seni Budaya 18 Helmi Faridhatul Seni Budaya 19 Nur Alfianto Rohis h. Keadaan Siswa Keadaan siswa SMP Yapia Ciputat, berdasarkan data statistik tahun ajaran 20019/2020 berjumlah

69 50 Tabel 4.2 Jumlah Data Siswa SMP Yapia Ciputat Tahun Ajaran Kelas Siswa Laki-Laki Perempuan Jumlah VII VIII IX Jumlah i. Tenaga Pendidik dan Karyawan 1) Guru - Guru tetap yayasan : 10 (orang) - Guru tidak tetap : 12 (orang) - Guru pembinaan ekskul : 6 (orang) 2) Karyawan - Tenaga tata usaha : 3 (orang) - Penjaga Sekolah : 2 (orang) j. Kegiatan Ekstrakulikuler 1) Pramuka 2) Futsal 3) Volley 4) Paskibra 5) Palang Merah Remaja (PMR) 6) Marawis 7) Karya Ilmiah Remaja (KIR)

70 51 2. Deskripsi Data Pembiasaan Shalat Berjamaah Data skor pembiasaan shalat berjamaah diperoleh melalui angket/kuesioner yang disebar kepada siswa kelas VIII, wawancara, dan pegamatan peneliti selama proses penelitian di SMP Yapia Ciputat. Kemudian, setelah diperoleh data, lalu data tersebut dianalisis dalam bentuk tabel. Data yang telah diolah dinyatakan dalam bentuk persen kemudian dianalisis dan hasilnya sebagai berikut: Tabel 4.3 Saya melaksanakan shalat secara berjamaah di sekolah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 33 33,3% Sering 51 51,5% Kadang-Kadang 15 15,2% Total % Berdasarkan hasil di atas, siswa yang menyatakan Sering paling tinggi yaitu sebesar 51,5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa rutin dalam melaksanakan ibadah shalat berjamaah di sekolah. Tabel 4.4 Saya bergegas pergi ke masjid ketika mendengar adzan dikumandangkan Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 25 25,3% Sering 39 39,4% Kadang-Kadang 33 33,3% Tidak Pernah 2 2,0% Total %

71 52 Dari hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang di pilih pada pernyataan Sering sebesar 39,4%. Artinya, siswa sudah cukup baik akan kesadarannya untuk melaksanakan shalat berjamaah ketika adzan telah dikumandangkan. Tabel 4.5 Saya melaksanakan shalat pada awal waktu Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 32 32,3% Sering 42 42,4% Kadang-Kadang 25 25,3% Total % Frekuensi tertinggi pada hasil diatas yang paling tinggi dipilih adalah Sering yakni sebesar 42,4%. Maka, siswa sudah cukup baik dalam melaksanakan ibadah shalat pada awal waktu. Tabel 4.6 Ketika shalat berjamaah, saya mengisi shaf yang kosong di depan Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 50 50,5% Sering 30 30,3% Kadang-Kadang 19 19,2% Total % Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan yakni Selalu dengan presentase sebesar 50,5%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah cukup memahami dalam menyempurnakan ibadah shalat yakni dengan mengisi shaf yang kosong terlebih dahulu.

72 53 Tabel 4.7 Saya berdzikir setelah selesai shalat Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 38 38,4% Sering 26 26,3% Kadang-Kadang 33 33,3% Tidak Pernah 2 2,0% Total % Dari hasil tersebut, Frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 38,4%. Artinya, siswa rutin berdzikir setelah melaksanakan ibadah shalat Tabel 4.8 Saya merasa berdosa ketika meninggalkan shalat berjamaah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 50 50,5% Sering 26 26,3% Kadang-Kadang 21 21,2% Tidak Pernah 2 2,0% Total % Berdasarkan hasil diatas, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 50,5%. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran siswa sudah cukup baik akan pentingnya shalat secara berjamaah. Tabel 4.9 Saya menghentikan pekerjaan apapun ketika tiba waktu shalat Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 29 1,0%

73 54 Sering 45 45,5% Kadang-Kadang 24 24,2% Tidak Pernah 1 29,3% Total % Dari hasil tersebut, frekuensi tertinggi pada pernyataan Sering sebesar 45,5%. Artinya, Siswa sudah cukup baik akan kesadarannya ketika tiba waktu shalat untuk menghentikan pekerjaan apapun dan melaksanakan shalat. Tabel 4.10 Saya melaksanakan shalat atas kesadaran saya sendiri Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 44 44,4% Sering 34 34,3% Kadang-Kadang 21 21,2% Total % Dari hasil tersebut, frekuensi tertinggi pada pernyataan Selalu yakni sebesar 44,4%. Hal ini menunjukkan kesadaran siswa sudah cukup baik untuk melaksanakan kewajiban shalat. Tabel 4.11 Saya tetap melaksanakan shalat berjamaah walaupun dalam keadaan sakit Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 25 25,3% Sering 26 26,3% Kadang-Kadang 41 41,4% Tidak Pernah 7 7,1%

74 55 Total % Berdasarkan hasil diatas, frekuensi tertinggi pada pernyataan Kadang-Kadang sebesar 41,4%. Artinya ketika siswa dalam keadaan sakit, sebagian siswa masih menyempatkan dirinya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Tabel 4.12 Hati saya merasa tidak tenang ketika meninggalkan shalat Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 53 53,5% Sering 23 23,2% Kadang-Kadang 22 22,2% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Dari hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 53,5%. Artinya, Siswa sudah cukup baik akan kesadarannya untuk tidak meninggalkan shalat. Tabel 4.13 Saya berangkat lebih awal sebelum shalat berjamaah dimulai Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 36 36,4% Sering 14 14,1% Kadang-Kadang 44 44,4% Tidak Pernah 5 5,1% Total % Berdasarkan hasil diatas menunjukkan sebagian siswa berangkat lebih awal sebelum shalat berjamaah dimulai.

75 56 Tabel 4.14 Saya segera melaksanakan shalat ketika saya lupa melaksanakannya Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 28 28,3% Sering 36 36,4% Kadang-kadang 34 34,3% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Dari hasil tersebut, frekuensi tertinggi dipilih pada pernyataan Sering sebesar 36,4%. Artinya, Ketika siswa lupa melaksanakan shalat, maka siswa segera melaksanakannya. Tabel 4.15 Saya disiplin ketika melaksanakan shalat berjamaah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 49 49,5% Sering 33 33,3% Kadang-Kadang 17 17,2% Total % Berdasarkan hasill diatas, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 49,5%. Artinya, Siswa selalu disiplin dalam melaksanakan shalat berjamaah

76 57 Tabel 4.16 Saya melaksanakan shalat berjamaah ketika berada di sekolah saja Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 28 28,3% Sering 24 24,2% Kadang-Kadang 33 33,3% Tidak Pernah 14 14,1% Total % Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwasannya kebanyakan siswa melaksanakan shalat berjamaah di sekolah saja dan ada beberapa siswa juga yang melaksanakan shalat berjamaah di luar sekolah Tabel 4.17 Saya khusyuk ketika melaksanakan shalat berjamaah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 56 56,6% Sering 32 32,3% Kadang-Kadang 10 10,1% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Berdasarkan hasil diatas, frekuensi tertinggi yang dipilihpada pernyataan Selalu sebesar 56,6%. Artinya, Sebagian siswa sudah cukup baik dengan melaksanakan shalat berjamaah secara khusyuk.

77 58 Tabel 4.18 Saya bersikap ihsan saat melaksanakan shalat berjamaah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 52 52,5% Sering 34 34,4% Kadang-Kadang 12 12,1% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Berdasarkan tabel diatas, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 52,5%. Hal ini menunjukan kebanyakan siswa bersikap ihsan pada saat melaksanakan shalat berjamaah. Tabel 4.19 Saya menyempatkan shalat berjamaah walaupun dalam keadaan sibuk Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 41 41,4% Sering 31 31,3% Kadang-Kadang 27 27,3% Total % Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 41,4%. Hal ini menunjukkan kebanyakan siswa menyempatkan dirinya untuk melaksanakan shalat berjamaah walaupun dalam keadaan sibuk. Selanjutnya peneliti membuat nilai rata-rata skor penelitian sebagai berikut:

78 59 Jumlah Responden Tabel Skor Perolehan Pembiasaan Shalat Berjamaah NS NH NS NH x100% Kategori ,70% Baik 3. Deskripsi Data Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Tabel 4.21 Saya mengetahui berbohong merupakan perbuatan yang tidak terpuji Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 67 67,7% Sering 24 24,2% Kadang-Kadang 8 8,1% Total % Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 67,7%. Artinya, Siswa sudah cukup memahami bahwasanyya berbohong merupakan salah satu perbuatan yang tidak terpuji Tabel 4.22 Saya mengetahui iri hati merupakan perbuatan yang tidak terpuji Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 62 62,6% Sering 26 26,3% Kadang-Kadang 10 10,1% Tidak Pernah 1 1,0% Total %

79 60 Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 62,6%. Artinya, Siswa sudah cukup memahami bahwasanyya iri hati merupakan salah satu perbuatan yang tidak terpuji. Tabel 4.23 Saya mengetahui sombong merupakan perbuatan yang tidak terpuji Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 65 65,7% Sering 25 25,3% Kadang-Kadang 9 9,1% Total % Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi tertinggi yang dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 65,7%. Artinya, Siswa sudah cukup memahami bahwasanyya sombong merupakan salah satu perbuatan yang tidak terpuji. Tabel 4.24 Saya tidak sombong ketika mendapatkan nilai bagus Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 55 55,6% Sering 24 24,2% Kadang-Kadang 19 19,2% Tidak Pernah 1 1,0% Total %

80 61 Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwasanya kebanyakan siswa ketika dirinya mendapatkan nilai yang bagus mereka tidak sombong kepada temannya yang lain. Tabel 4.25 Ketika marah, saya lebih baik untuk diam Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 31 31,3% Sering 36 36,4% Kadang-Kadang 31 31,3% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Berdasarkan hasil diatas, frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Sering sebesar 36,4%. Artinya, siswa sudah cukup baik mengontrol emosinya ketika sedang marah lebih baik untuk diam. Tabel 4.26 Saya berkata jujur kepada orang tua dan guru Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 41 41,4% Sering 35 35,4% Kadang-Kadang 23 23,2% Total % Dari hasil diatas, frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 41,4%. Artinya Kebanyakan siswa sudah cukup baik dengan berbicara secara jujur kepada orang tua dan juga guru.

81 62 Tabel 4.27 Saya tidak kesal bila suatu keinginan tidak terpenuhi Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 40 40,4% Sering 18 18,2% Kadang-Kadang 40 40,4% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwasanya kebanyakan siswa sudah cukup baik dalam mengendalikan dirinya apabila suatu keinginan mereka belum bisa terpenuhi. Tabel 4.28 Saya mengenali emosi orang lain dengan melihat ekspresi wajahnya Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 33 33,3% Sering 38 38,4% Kadang-Kadang 27 27,3% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Sering sebesar 38,4. Artinya kebanyakan siswa sudah cukup baik dalam mengenali emosi orang lain dengan melihat ekspresi wajahnya.

82 63 Tabel 4.29 Saya meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada orang lain Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 49 49,5% Sering 41 41,4% Kadang-Kadang 9 9,1% Total % Berdasarkan tabel diatas, frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 49,5%. Hal ini menunjukkan kebanyakan siswa sudah memahami jika dirinya berbuat salah kepada orang lain maka dirinya segera meminta maaf. Tabel 4.30 Saya mematuhi peraturan dan tata tertib di sekolah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 59 59,6% Sering 29 29,3% Kadang-Kadang 11 11,1% Total % Berdasarkan hasil diatas, frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 59,6%. Artinya, kebanyakan siswa sudah cukup baik dalam mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah. Tabel 4.31 Saya tidak mencontek ketika melaksanakan soal ujian Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 28 28,3%

83 64 Sering 32 32,3% Kadang-Kadang 38 38,4% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Berdasarkan hasil diatas menunjukkan sebagian siswa sudah cukup baik dalam melaksanakan ujian untuk mengerjakannya sendiri dan tidak mencontek. Tabel 4.32 Saya mampu mengendalikan emosi ketika saya marah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 33 33,3% Sering 26 26,3% Kadang-Kadang 38 38,4% Tidak Pernah 2 2,0% Total % Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwasannya sebagian siswa sudah cukup baik dalam mengendalikan emosinya ketika dirinya sedang marah. Tabel 4.33 Saya membagikan sebagian rezeki kepada yang membutuhkan Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 37 37,4% Sering 36 36,4% Kadang-Kadang 23 23,2% Tidak Pernah 3 3,0% Total %

84 65 Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 37,4%. Hal ini menunjukkan kebanyakan siswa sudah cukup baik ketika dirinya memiliki rezeki yang lebih, maka membagikannya sebagian kepada yang membutuhkan. Tabel 4.34 Saya merasa sedih ketika melihat teman yang kesusahan Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 35 35,4% Sering 42 42,4% Kadang-Kadang 20 20,2% Tidak Pernah 2 2,0% Total % Berdasarkan hasil diatas menunjukkan frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Sering sebesar 42,4%. Hal ini menunjukkan kebanyakan siswa peduli ketika melihat temannya yang sedang kesusahan. Tabel 4.35 Saya merasa bahagia ketika teman mendapatkan nilai bagus Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 40 40,4% Sering 34 34,3% Kadang-Kadang 23 23,2% Tidak Pernah 2 2,0% Total % Frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 40,4%. Artinya, kebanyakan siswa merasa bahagia juga ketika melihat temannya mendapatkan nilai bagus.

85 66 Tabel 4.36 Saya mengikuti kegiatan sosial tanpa mengharapkan pujian dari orang lain Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 50 50,5% Sering 31 31,3% Kadang-Kadang 17 17,2% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 50,5%. Hal ini menunjukkan kebanyakan siswa sudah cukup baik dalam mengikuti kegiatan sosial tanpa mengharapkan pujian dari orang lain. Tabel 4.37 Saya berusaha memisahkan teman yang bertengkar Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 37 37,4% Sering 38 38,4% Kadang-Kadang 20 20,2% Tidak Pernah 4 4,0% Total % Berdasarkan hasil diatas, frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Sering sebesar 38,4%. Artinya, Kebanyakan siswa sudah cukup baik memahami bertengkar itu merupakan prilaku yang tidak baik

86 67 Tabel 4.38 Saya mudah bergaul dengan teman-teman Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 55 55,6% Sering 26 26,3% Kadang-Kadang 17 17,2% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 55,6%. Artinya, kebanyakan siswa sudah cukup baik dalam bergaul dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Tabel 4.39 Saya tidak pernah mengejek teman di sekolah Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 36 36,4% Sering 19 19,2% Kadang-Kadang 43 43,4% Tidak Pernah 1 1,0% Total % Berdasarkan hasil diatas menunjukkan sebagian siswa sudah cukup baik untuk tidak mengejek sesama teman lainnya. Tabel 4.40 Saya menerima nasihat dari orang lain Pilihan Responden Frekuensi Presentase Selalu 57 57,6% Sering 38 28,3%

87 68 Kadang-Kadang 14 14,1% Total % Berdasarkan tabel diatas, Frekuensi yang paling banyak dipilih pada pernyataan Selalu sebesar 57,6%. Artinya, kebanyakan siswa sudah cukup baik dengan menerima nasihat dari orang lain. Selajutnya peneliti membuat nilai rata-rata skor penelitian sebagai berikut. Tabel 4.41 Skor Perolehan Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Jumlah Responden NS NH NS NH x100% Kategori ,56% Baik B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis 1. Pengujian Persyaratan Analisis a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diambil berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05 atau sebesar 5%. Adapun hasil dari uji normalitas pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

88 69 Tabel 4.42 Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogrov-Smirnov Test Unstandaedized Residual N 99 Normal Mean, Parameters a,b Std. Deviation 5, Most Extreme Absolute,054 Differences Positive,035 Negative -,054 Test Statistic,054 Asymp. Sig. (2-tailed),200 c,d a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. Berdasarkan hasil uji normalitas di atas, diketahui bahwa nilai signifikansi 0,200 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal. Selain menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov, peneliti juga menggunakan uji normalitas dengan Normal Probably Plot. Adapun gambar plot yang di hasilkan dengan menggunakan program SPSS versi 23 sebagai berikut:

89 70 Tabel 4.43 Normal Probably Plot Berdasarkan gambar diatas, dapat dilihat bahwa data menyebar disekitar garis diagonal. Maka, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan model regresi telah memenuhi asumsi normalitas. Dengan demikian, maka data dalam penelitian ini dapat dipergunakan dalam analisis yang lebih lanjut. b. Uji Linearitas Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua variabel tersebut mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Untuk mengetahuinya, dilakukan uji linearitas dengan menggunakan program SPSS versi 23 dengan rincian sebagai berikut:

90 71 Tabel 4.44 Pembiasaan Shalat Berjamaah * Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Between Groups Uji Linearitas ANOVA Table Sum of Squares Df Mean Square F Sig. (Combined) 2198, ,283,000 Linearity 1576, ,697,000 Deviation 622, ,957,528 From Linearity Within Groups 2093, Total 4292, Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui nilai sig. deviation from linearity sebesar 0,528 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela. c. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment. Analisis korelasi berguna untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan kuatnya suatu variabel dengan variabel lain. Adapun, uji koefesien korelasi menggunakan Product Moment dari Pearson, yakni sebagai berikut. Tabel 4.45 Perhitungan Hasil Penelitian Responden X Y X 2 Y 2 X*Y

91

92

93

94 Total r N. XY ( X)( Y) xy = {(N X 2 ( X) 2.(N Y 2 ( Y) 2 } 99 (337795) (5213)(6366) r xy = [99 (278733) (5213) 2 ] [99 (413646) (6366) 2 ] r xy = r xy = r xy = r xy = [( ) ( )][ ( ) ( )] (419198)(424998) r xy = 0,606 Berikut ini merupakan hasil output analisis korelasi Bivariate Pearson yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS Versi 23: Tabel 4.46 Analisis Koefesien Korelasi

95 76 Pembiasaan Shalat Berjamaah Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Corelations Pembiasaan Shalat Berjamaah Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Pearson 1,606 Correlation Sig. (2-tailed),000 N Pearson,606 1 Correlation Sig. (2-tailed),000 N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed) Berdasarkan hasil perhitungan korelasi product moment diperoleh harga r hitung lebih besar dari r tabel (0,606 > 0,202) pada taraf signifikansi 5%, maka hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Artinya, pada penelitian ini terdapat pengaruh pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat. Adapun angka hasil penelitian ini dapat pula diinterpretasikan dengan cara angka kasar atau sederhana. Dalam memberikan interpretasi secara sederhana terhadap angka indeks korelasi r product moment (r xy ) pada umumnya digunakan pedoman sebagai berikut: Tabel 4.47 Angka Indeks Korelasi Product Moment Interval Koefesien Tingkat Hubungan 0,00-0,200 Sangat Rendah 0,200-0,400 Rendah 0,400-0,600 Sedang 0,600-0,800 Kuat

96 77 0,800-1,000 Sangat Kuat Dari hasil perhitungan diperoleh r xy = 0,606 dan ini berada diantara 0,600-0,800, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa antara pembiasaan shalat berjamaah (X) dan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa (Y) terdapat korelasi yang kuat. Adapun untuk mengetahui besarnya kontribusi yang ditimbulkan dari variabel X dan Y digunakan koefesien determinasi sebagai berikut: KD = rxy 2 x 100% KD = 0,606 2 x 100% KD = 0, x 100% KD = 36,72% Berdasarkan hasil diatas menunjukkan bahwa presentase faktor pembiasaaan shalat berjamaah yang mempengaruhi pengendalian diri dari akhlak tercela siswa adalah sebesar 36,72% dan sisanya 63,28% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. C. Pembahasan Hasil Penelitian Pada penelitian ini, subjek yang digunakan, yakni siswa kelas VIII di SMP Yapia Ciputat dengan responden sebanyak 99 orang. Masingmasing responden diberikan angket sebanyak 2 buah untuk masing-masing variabel X dan variabel Y. Jumlah butir soal dalam angket tersebut sebanyak 40 butir soal. Angket yang disebarkan kepada responden telah melewati proses penilaian dan uji validitas konten terhadap ahlinya yang bertujuan untuk memenuhi syarat instrument yang memadai dan diuji coba kepada 99 orang responden dengan jumlah butir soal sebanyak 40 soal. Hasil uji validitas pembiasaan shalat berjamaah dan pengendalian diri dari akhlak

97 78 tercela siswa yang diuji cobakan pada 99 responden tersebut, yakni terdapat 37 soal valid dan 3 soal yang tidak valid. Nilai alpha untuk variabel pembiasaan shalat berjamaah, yaitu sebesar 0,773 dan untuk variabel pengendaliaan diri dari akhlak tercela siswa sebesar 0,755. Berdasarkan hasil tersebut berarti instrumen yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data cukup dapat dipercaya atau reliabel sebagai alat pengumpulan data karena memiliki tingkat koefesien diatas 0,60. Dari hasil uji persyaratan analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa data telah berkontribusi normal dan memiliki hubungan yang linear. Dengan demikian, data dalam penelitian ini dapat dipergunakan dalam analisis yang lebih lanjut dan mendalam. Berdasarkan hasil dari pengujian hipotesis, diperoleh data yang menunjukkan terdapat pengaruh pembiasaan shalat berjamaah (X) dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa (Y) di SMP Yapia Ciputat. Koefesien korelasi yang diperoleh yaitu sebesar 0,606. Dengan artian, pengaruh antara pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa berada pada kategori kuat. Besarnya pengaruh antara variabel pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa dapat diketahui dengan melihat hasil perhitungan uji koefesien determinasi sebesar 36,72% dengan artian bahwa pengendalian diri dari akhlak tercela siswa sebesar 36,72% di tentukan oleh pembiasaan shalat berjamaah di SMP Yapia Ciputat. D. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini masih banyak sekali kekurangannya, meskipun penelitian ini telah berhasil menguji hipotesis yang diajukan. Akan tetapi, belum sepenuhnya pada tingkat kebenaran mutlak. Sehingga, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan penelitian lanjutan. Hal ini disebabkan adanya beberapa keterbatasan penelitian, yakni penelitian ini masih menggunakan kuesioner tertutup, yaitu jawaban kuesioner telah disediakan oleh peneliti sehingga terbatasnya informasi yan didapatkan oleh peneliti.

98 79 Selain itu juga, penyusunan instrumen tes peneliti hanya berkomunikasi dengan dosen pembimbing dan juga kurangnya kejujuran responden dalam menjawab instrumen test yang telah peneliti ajukan.

99 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan yang telah dilakukan, maka penulis dapat menyimpulkan hasil dari penelitian ini bahwa: 1. Terdapat pembiasaan shalat berjamaah di SMP Yapia Ciputat yang memiliki skor rata-rata presentase sebesar 77,70%. Hal tersebut mengindikasikan pembiasaan shalat berjamaah di SMP Yapia Ciputat termasuk pada kategori baik. Secara garis besar, pelaksanaan pembiasaan shalat berjamaah di SMP Yapia Ciputat sudah berjalan dengan baik dan mampu berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku siswa. 2. Terdapat pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat yang memperoleh skor rata-rata sebesar 94,56%. Hal tersebut semakin mengindikasi bahwa pengendalian diri dari akhlak tercela siswa di SMP Yapia Ciputat sudah sangat baik. Dalam artian, para peserta didik sudah mampu mengendalikan dirinnya dari perilakuperilaku yang tidak terpuji. 3. Berdasarkan hasil analisis, terdapat pengaruh yang signifikan antara pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil perhitungan korelasi product moment diperoleh r hitung lebih besar dari r tabel (0,606 > 0,202) pada taraf signifikansi 5%. Koefesien korelasi yang diperoleh, yaitu sebesar 0,606 dan dapat disimpulkan bahwa antara pembiasaan shalat berjamaah (X) dan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa (Y) terdapat korelasi dengan kategori kuat. Adapun kontribusi kecenderungan pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri 80

100 81 dari akhlak tercela siswa ditunjukkan oleh hasil koefesien korelasi sebesar 36,72% dan sisanya 63,28% dipengaruhi oleh faktor lain. 4. Berdasarkan hasil analisis, pengaruh pembiasaan shalat berjama ah terhadap pengendalian diri dari akhlak tercela siswa kelas VIII di SMP Yapia Ciputat dapat dikatakan baik. Hal ini berdasarkan pengamatan peneliti. Bahwasanya, siswa yang rajin melakukan shalat berjama ah di sekolah cenderung lebih mampu mengontrol dirinya dari perilakuperilaku yang tidak terpuji dan juga melakukan pertimbanganpertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak. B. Implikasi Berdasarkan analisis data dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pembiasaan shalat berjamaah dengan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa. Maka dari itu, dalam penelitian ini dapat diimplikasikan bahwa perlunya upaya untuk menanamkan nilai-nilai positif terhadap peserta didik, seperti menerapkan disiplin beribadah, mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif serta memberikan contoh perilaku yang baik sehingga mampu menjadikan peserta didik insan yang berkualitas dan berakhlakul karimah. C. Saran-Saran Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian yang dikemukakan, penulis mengajukan beberapa saran antara lain sebagai berikut: 1. Guru dan siswa hendaknya selalu mengutamakan ibadah dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, karena ibadah merupakan pondasi agama Islam. 2. Hendaknya lembaga mengadakan absensi pada waktu shalat berjamaah. Sehingga, guru dapat mengetahui murid yang telat atau tidak shalat dengan tujuan untuk menerapkan sikap disiplin dalam beribadah.

101 82 3. Memperbaiki dan menambah fasilitas ibadah. Sehingga, peserta didik mampu melaksanakan shalat berjamaah secara bersama-sama tidak bergiliran. 4. Memberikan arahan positif sesuai karakter masing-masing individu untuk menjadi lebih baik lagi. 5. Memberikan kegiatan-kegiatan positif di sekolah dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif terhadap peserta didik, seperti muhadharah, lomba-lomba islami, dan lain sebagainya. 6. Orang tua diharapkan mampu membimbing putra-putri mereka ketika berada diluar jam sekolah, karena peran orang tua dalam mengendalikan perilaku anaknya sangat penting.

102 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Muhammad. AKHLAK: Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016 Abdullah, M. Yatimin. Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur an. Jakarta: Amzah, 2007 Amin, Syamsul Munir. Ilmu Akhlak. Jakarta: Amzah, 2016 Anwar, H. Rosihon. Akidah Akhlak. Bandung: Pustaka Setia: 2016 Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers, 2002 Ardani, M. Fikih Ibadah Praktis. Ciputat: PT. Mitra Cahaya Utama, 2008 Arikunto, Suharsini. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, Athiyah, M. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, Azzam, Abdul Aziz Muhammad dan Hawwas, Abdul Wahhab Sayyed. Fiqih Ibadah. Jakarta: Amzah, 2013 Djazimi, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Akhlak Siswa Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Provinsi Banten. Journal Studia Didkatika, Vol. 10, No. 2, 2016, Ghufron, Nur dan Rini Risnawita. Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2016 Habibah, Syarifah. Akhlak Dan Etika Dalam Islam. Journal Pesona Dasar Vol. 1, No 4, Hadeli. Metode Penelitian Kependidikan. Ciputat: PT Ciputat Press, 2006

103 Indrawan, Rully dan Poppy Yuniawati. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran untuk Manajemen, Pembangunan, dan Pendidikan. Bandung: Rafika Aditama, 2014 Kasiram. Metodologi Penelitian. Malang: UIN Malang Press, 2008 Mulyasa. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Askara, 2013 Muhammad, Abu Abdullah Bin Ismail Al-Bukhori. ENSIKLOPEDIA HADITS, Shahih Al-Bukhori 1. Jakarta: Al-Mahira, cet 1. Satriani, Sitti. Peran Guru Pai Dalam Membiasakan Siswa Melaksanakan Shalat Berjamaah. Jurnal Tarbawi, Vol. 3, No. 1, 2018 Shalih bin Ghanim as-sadlan, Fiqih Shalat Berjamaah, (Jakarta: Pustaka as- Sunnah, 2006) Shalih bin Ghanim as-sadlan, Kajian Lengkap Shalat Jamaah, (Jakarta: DARUL HAQ, 2015) Subagyo, Pangestu & Djarwanto. Statistika Indukatif. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta, 2005 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: ALFABETA, 2018 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta, 2011, cet ke Tebba, Sudirman. Nikmatnya Shalat Berjamaah. Jakarta: Pustaka Irvan, Tholib, Syamsul Bachri. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta: Kencana, 2010 Z, Zurinal dan Aminuddin. Fiqih Ibadah. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008

104 Lampiran 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Pembiasaan Shalat Berjamaah Variabel Indikator Item Jumlah 1. Teratur dalam 1,3, 7, 9, 4 Shalat Berjamaah melaksanakan shalat berjamaah 2. Taat 6.14, 18, 19, Bertanggung jawab 4, 8, 10, Rajin 2, 12, Patuh pada aturan 5, 15, 16, 17 4

105 Lampiran 2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa Variabel Indikator Item Jumlah Pengendalian diri dari akhlak tercela 1. Mengenali perbuatanperbuatan 1, 2, 3, 8 4 tercela 2. Mengelola pengendalian 4, 5, 7, 11, 12 5 diri dari perbuatan tercela 3. Memotivasi diri 6, 9, 10, 3 4. Empati 13, 14, 15, Membina hubungan 17, 18, 19, 20 4

106 Lampiran 3 Angket Uji Coba Variabel X (Pembiasaan Shalat Berjamaah) NAMA KELAS :... :... Berilah tanda silang ( ) pada salah satu alternatif jawaban yang tersedia sesuai pilihan dan kebiasaan anda Keterangan alternatif jawaban sebagai berikut: 1. Selalu 2. Sering 3. Kadang-kadang 4. Tidak pernah No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Kadang 1 Saya melaksanakan shalat secara berjamaah di sekolah 2 Begitu mendengar adzan dikumandangkan, saya bergegas untuk pergi ke masjid 3 Saya melaksanakan shalat pada awal waktu 4 Ketika shalat berjamaah, saya mengisi shaf yang kosong di depan 5 Saya berdzikir setelah selesai shalat 6 Saya merasa berdosa ketika meninggalkan shalat berjamaah Tidak Pernah

107 7 Saya menghentikan pekerjaan apapun ketika tiba waktu shalat 8 Saya melaksanakan shalat atas kesadaran saya sendiri 9 Saya tetap melaksanakan shalat walaupun dalam keadaan sakit 10 Hati saya merasa tidak tenang ketika meninggalkan shalat 11 Saya berwudhu sebelum melaksanakan shalat 12 Saya berangkat lebih awal, sebelum shalat berjamaah dimulai 13 Saya melaksanakan shalat berjamaah karena terpaksa 14 Saya segera melaksanakan shalat ketika saya lupa melaksanakan shalat 15 Saya dimarahi orang tua ketika saya tidak melaksanakan shalat 16 Saya disiplin ketika melaksanakan shalat berjamaah 17 Saya mengerjakan shalat berjamaah ketika berada di sekolah saja 18 Saya khusyuk ketika melaksanakan shalat berjamaah 19 Saya bersikap ihsan saat sedang mengerjakan shalat berjamaah

108 20 Saya menyempatkan shalat berjamaah meskipun dalam keadaan sibuk

109 Lampiran 4 Angket Uji Coba Variabel Y (Pengendalian Diri Dari Akhak Tercela Siswa) NAMA KELAS :. :. Berilah tanda silang ( ) pada salah satu alternatif jawaban yang tersedia sesuai pilihan dan kebiasaan anda Keterangan alternatif jawaban sebagai berikut: 1. Selalu 2. Sering 3. Kadang-kadang 4. Tidak pernah No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Kadang 1 Saya mengetahui berbohong merupakan perbuatan yang tidak terpuji 2 Saya mengetahui iri hati merupakan perbuatan yang tidak terpuji 3 Saya mengetahui Sombong merupakan perbuatan yang tidak terpuji 4 Saya tidak sombong ketika mendapatkan nilai bagus 5 Ketika marah, saya lebih baik untuk diam Tidak Pernah

110 6 Saya berkata jujur kepada orang tua dan guru 7 Saya tidak kesal bila suatu keinginan tidak terpenuhi 8 Saya mengenali emosi orang lain dengan melihat ekspresi wajahnya 9 Saya meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada orang lain 10 Saya mematuhi peraturan dan tata tertib di sekolah 11 Saya tidak mencontek ketika mengerjakan soal ujian 12 Saya mampu mengendalikan emosi ketika saya marah 13 Saya membagikan sebagian rezeki kepada yang membutuhkan 14 Saya merasa sedih ketika melihat teman kesusahan 15 Saya merasa bahagia ketika melihat teman mendapatkan nilai bagus 16 Saya mengikuti kegiatan sosial, tanpa mengharapkan pujian dari orang lain 17 Saya berusaha memisahkan teman yang bertengkar

111 18 Saya mudah bergaul dengan teman-teman 19 Saya tidak pernah mengejek teman di sekolah 20 Saya menerima nasihat dari orang lain

112 Lampiran 5 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba Variabel X (Pembiasaan Shalat Berjamaah) Variabel Indikator Item Jumlah Shalat Berjamaah 6. Teratur dalam melaksanakan shalat berjamaah 1,3, 7, 9, 4 7. Taat 6.14, 18, 19, Bertanggung jawab 4, 8, 10, 3 9. Rajin 2, 12, Patuh pada aturan 5,, 16, 17 3

113 Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba Variabel Y (Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa) Variabel Indikator Item Jumlah Pengendalian diri dari akhlak tercela 6. Mengenali perbuatanperbuatan 1, 2, 3, 8 4 tercela 7. Mengelola pengendalian 4, 5, 7, 11, 12 5 diri dari perbuatan tercela 8. Memotivasi diri 6, 9, 10, 3 9. Empati 13, 14, 15, Membina hubungan 17, 18, 19, 20 4

114 Lampiran 7 Angket Sesudah Uji Coba Variabel X (Pembiasaan Shalat Berjamaah) NAMA KELAS :... :... Berilah tanda silang ( ) pada salah satu alternatif jawaban yang tersedia sesuai pilihan dan kebiasaan anda Keterangan alternatif jawaban sebagai berikut: 1. Selalu 2. Sering 3. Kadang-kadang 4. Tidak pernah No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Kadang 1 Saya melaksanakan shalat secara berjamaah di sekolah 2 Begitu mendengar adzan dikumandangkan, saya bergegas untuk pergi ke masjid 3 Saya melaksanakan shalat pada awal waktu 4 Ketika shalat berjamaah, saya mengisi shaf yang kosong di depan 5 Saya berdzikir setelah selesai shalat Tidak Pernah

115 6 Saya merasa berdosa ketika meninggalkan shalat berjamaah 7 Saya menghentikan pekerjaan apapun ketika tiba waktu shalat 8 Saya melaksanakan shalat atas kesadaran saya sendiri 9 Saya tetap melaksanakan shalat walaupun dalam keadaan sakit 10 Hati saya merasa tidak tenang ketika meninggalkan shalat 12 Saya berangkat lebih awal, sebelum shalat berjamaah dimulai 14 Saya segera melaksanakan shalat ketika saya lupa melaksanakan shalat 16 Saya disiplin ketika melaksanakan shalat berjamaah 17 Saya mengerjakan shalat berjamaah ketika berada di sekolah saja 18 Saya khusyuk ketika melaksanakan shalat berjamaah 19 Saya bersikap ihsan saat sedang mengerjakan shalat berjamaah 20 Saya menyempatkan shalat berjamaah meskipun dalam keadaan sibuk

116 Lampiran 8 Angket Sesudah Uji Coba Variabel Y (Pengendalian Diri Dari Akhak Tercela Siswa) NAMA KELAS :. :. Berilah tanda silang ( ) pada salah satu alternatif jawaban yang tersedia sesuai pilihan dan kebiasaan anda Keterangan alternatif jawaban sebagai berikut: 1. Selalu 2. Sering 3. Kadang-kadang 4. Tidak pernah No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Kadang 1 Saya mengetahui berbohong merupakan perbuatan yang tidak terpuji 2 Saya mengetahui iri hati merupakan perbuatan yang tidak terpuji 3 Saya mengetahui Sombong merupakan perbuatan yang tidak terpuji 4 Saya tidak sombong ketika mendapatkan nilai bagus Tidak Pernah

117 5 Ketika marah, saya lebih baik untuk diam 6 Saya berkata jujur kepada orang tua dan guru 7 Saya tidak kesal bila suatu keinginan tidak terpenuhi 8 Saya mengenali emosi orang lain dengan melihat ekspresi wajahnya 9 Saya meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada orang lain 10 Saya mematuhi peraturan dan tata tertib di sekolah 11 Saya tidak mencontek ketika mengerjakan soal ujian 12 Saya mampu mengendalikan emosi ketika saya marah 13 Saya membagikan sebagian rezeki kepada yang membutuhkan 14 Saya merasa sedih ketika melihat teman kesusahan 15 Saya merasa bahagia ketika melihat teman mendapatkan nilai bagus 16 Saya mengikuti kegiatan sosial, tanpa mengharapkan pujian dari orang lain

118 17 Saya berusaha memisahkan teman yang bertengkar 18 Saya mudah bergaul dengan teman-teman 19 Saya tidak pernah mengejek teman di sekolah 20 Saya menerima nasihat dari orang lain

119 Lampiran 9 Hasil Angket Variabel X (Pengaruh Pembiasaan Shalat Berjamaah) Hasil Penelitian Variabel X Responden Nomor Soal X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X12 X14 X16 X17 X18 X19 X20 Skor Total Aan Mudiansyah Agustian Pratama Amelia Febrianti Anita Suryati Apry Yansyah Ardiansyah Aulia Tiara Putri Daniel Ramadhan Fatan Bagas. S Gusti Ramsa W Hani Dwi Rahma Ira Rahmawati Ita Rosita Jafar Faruk Januar Fathan Lia Sari M. Ivandar Ilham

120 M. Ikhsan Aqbar M. Ikhwal S M. Rizki R Nabilah Thifania Nindi Triyanti Pandu Tidar P Priska Prasetya Rama Putra A Reza Rifki Syahbana Savira Azahra Suci Rahmawati Syalabi Hisahita Umi Azizah Vivaldi Virdi V Ade Rizki Ahmad Fauzi Ali M Ilham Ani Kartika Aura Nurdiana Bintang Amara G Chelsi Stopya P Dede Riyaldi Desy Amanda P Dimas Rafli

121 Faizah Feri Setiawan Irzy Mahesa P Kayla Indah N Martinio Alfando Mea Culpa Meyta Sari M. Faiz Aziz M. Ilham M. Rafif Talbiah M. Hafiz Wijaya M. Raihan Wijaya M Raihan Farizi M. Reval M. Vicki Maulana M. Wahfiyuddin H Nurul Ita Nurul N Nazwa Aprilia Neza Fitrianti Niken Putri Prianto Putra Dwi P Putri Ghaniyya R Raihan Iskandar Rangga Efendi Zahirriyansyah

122 Adithya Pratama Andika Agustine Eka Gusti Priyandi Faris Fadhillah Fatma Meyla Dwi Fauzan Azima Friza Dinar K Idan Muhammad Jaldi Efendi Kayla Laudy M M. Guruh D Malik Maulana Marlo Setiawan Muhammad Arya M. Iqbal M. Jibran Danar M. Sabil M. Umar Mutiara Putri Nadia Fitria Aditya Nayyla Karisyah P Okta Maesa R Pandu Radja Puja Aulia Rizka Lailatul H

123 Sabrina Ayudiah Sabrina Sahitawati Sahrul Ramadhan Septrina Raisha G Tania Vita Laura Tayana Azmi Yanuar Widianto

124 Lampiran 10 Hasil Angket Variabel Y (Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa) Hasil Penelitian Variabel Y Responden Nomor Soal Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 Skor Total Aan Mudiansyah Agustian Pratama Amelia Febrianti Anita Suryati Apry Yansyah Ardiansyah Aulia Tiara Putri Daniel Ramadhan Fatan Bagas. S Gusti Ramsa W Hani Dwi Rahma Ira Rahmawati Ita Rosita Jafar Faruk Januar Fathan Lia Sari M. Ivandar Ilham

125 M. Ikhsan Aqbar M. Ikhwal S M. Rizki R Nabilah Thifania Nindi Triyanti Pandu Tidar P Priska Prasetya Rama Putra A Reza Rifki Syahbana Savira Azahra Suci Rahmawati Syalabi Hisahita W Umi Azizah Vivaldi Virdi V Ade Rizki Ahmad Fauzi Ali M Ilham Ani Kartika Aura Nurdiana Bintang Amara G Chelsi Stopya P Dede Riyaldi Desy Amanda P Dimas Rafli

126 Faizah Feri Setiawan Irzy Mahesa P Kayla Indah N Martinio Alfando Mea Culpa Meyta Sari M. Faiz Aziz M. Ilham M. Rafif Talbiah M. Hafiz Wijaya M. Raihan Wijaya M Raihan Farizi M. Reval M. Vicki Maulana M. Wahfiyuddin H Nurul Ita Nurul N Nazwa Aprilia Neza Fitrianti Niken Putri Prianto Putra Dwi P Putri Ghaniyya R Raihan Iskandar Rangga Efendi Zahirriyansyah

127 Adithya Pratama Andika Agustine Eka Gusti Priyandi Faris Fadhillah Fatma Meyla Dwi Fauzan Azima Friza Dinar K Idan Muhammad Jaldi Efendi Kayla Laudy M M. Guruh D Malik Maulana Marlo Setiawan Muhammad Arya M. Iqbal M. Jibran Danar M. Sabil M. Umar Mutiara Putri Nadia Fitria Aditya Nayyla Karisyah P Okta Maesa R Pandu Radja Puja Aulia Rizka Lailatul H

128 Sabrina Ayudiah Sabrina Sahitawati Sahrul Ramadhan Septrina Raisha G Tania Vita Laura Tayana Azmi Yanuar Widianto

129 Lampiran 11 Uji Validitas Variabel X (Pengaruh Pembiasaan Shalat Berjamaah) X1 X2 X3 X4 X5 X6 Correlation X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 Skor Total Pearson Corelation 1,562 **,472 **,318 **,249 *,061,009,151,429 **,031 -,203 *,369 ** -,085,175,069,224 *,378 **,126,186,358 **,606 ** Sig. (2- tailed),000,000,001,013,551,929,135,000,762,043,000,405,083,497,026,000,213,065,000,000 N Pearson Corelation,562 ** 1,527 **,190,338 **,234 *,187,206 *,383 **,126 -,132,377 ** -,160,185,017,131,496 **,093,215 *,378 **,680 ** Sig. (2- tailed),000,000,060,001,020 1,041,000,213,191,000,114,066,864,195,000,357,033,000,000 N Pearson Corelation,472 **,527 ** 1,308 **,059,191,120,299 **,233 * -,017 -,118,464 **,017,092,050,263 **,172,166,006,229 *,555 ** Sig. (2- tailed),000,000,002,563,058,238,003,020,870,244,000,869,367,620,009,088,100,955,022,000 N Pearson Corelation,318 **,190,308 ** 1,185,003,001,333 **,217 *,030,065,101,208 *,137,071,296 **,130,077 -,016,202 *,456 ** Sig. (2- tailed),001,060,002,066,980,992,001,031,771,523,321,039,177,485,003,198,448,875,045,000 N Pearson Corelation,249 *,338 **,059,185 1,010,149 -,033,407 **,090 -,139,208 * -,146,321 ** -,076 -,065,321 ** -,086,225 *,330 **,449 ** Sig. (2- tailed),013,001,563,066,923,142,749,000,376,170,039,151,001,457,521,001,396,025,001,000 N Pearson Corelation,061,234 *,191,003,010 1,206 *,124,058,247 *,061,042,186 -,043,116,172,197,213 *,135,050,396 ** Sig. (2- tailed),551,020,058,980,923,041,220,567,014,547,678,066,671,252,089,050,034,183,623,000

130 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 N Pearson Corelation,009,187,120,001,149,206 * 1 -,029,157,223 * -,075,183,063,119 -,069 -,017,129 -,025 -,148,140,297 ** Sig. (2- tailed),929,063,238,992,142,041,775,121,027,461,070,535,242,497,866,204,807,144,167,003 N Pearson Corelation,151,206 *,299 **,333 ** -,033,124 -,029 1,000 -,073,172,108,218 * -,034,109,374 **,034,361 **,056 -,068,372 ** Sig. (2- tailed),135,041,003,001,749,220,775,997,472,088,289,031,736,284,000,742,000,581,505,000 N Pearson Corelation,429 **,383 **,233 *,217 *,407 **,058,157,000 1,411 ** -,249 *,326 **,040,316 ** -,246 *,010,506 ** -,102,037,537 **,600 ** Sig. (2- tailed),000,000,020,031,000,567,121,997,000,013,001,691,001,014,921,000,316,714,000,000 N Pearson Corelation,031,126 -,017,030,090,247 *,223 * -,073,411 ** 1,024,015,017,300 **,029 -,054,158 -,048,096,292 **,372 ** Sig. (2- tailed),762,213,870,771,376,014,027,472,000,815,880,867,003,773,596,118,634,346,003,000 N Pearson -,203 Corelation -,132 -,118,065 -,139,061 -,075,172 -,249 * -, ,181,135 -,080,148,149,329 **,202 *,048 -,241 * -,037 Sig. (2- tailed),043,191,244,523,170,547,461,088,013,815,073,182,431,145,141,001,045,637,016,714 N Pearson Corelation,369 **,377 **,464 **,101,208 *,042,183,108,326 **,015 -, ,085,183 -,153,256 *,247 *,157 -,001,207 *,506 ** Sig. (2- tailed),000,000,000,321,039,678,070,289,001,880,073,404,070,130,010,014,120,990,040,000 N Pearson Corelation -,085 -,160,017,208 * -,146,186,063,218 *,040,017,135 -, ,048,039,208 * -,161,180,087,012,166 Sig. (2- tailed),405,114,869,039,151,066,535,031,691,867,182,404,637,705,039,111,074,390,908,101 N Pearson Corelation,175,185,092,137,321 ** -,043,119 -,034,316 **,300 ** -,080,183 -,048 1,203 *,126,136 -,060,103,352 **,440 **

131 X15 X16 X17 X18 X19 X20 Skor Total Sig. (2- tailed),083,066,367,177,001,671,242,736,001,003,431,070,637,044,215,179,555,312,000,000 N Pearson Corelation,069,017,050,071 -,076,116 -,069,109 -,246 *,029,148 -,153,039,203 * 1,284 **,005,005,086 -,109,151 Sig. (2- tailed),497,864,620,485,457,252,497,284,014,773,145,130,705,044,004,962,963,399,282,136 N Pearson Corelation,224 *,131,263 **,296 ** -,065,172 -,017,374 **,010 -,054,149,256 *,208 *,126,284 ** 1,035,128,215 *,024,427 ** Sig. (2- tailed),026,195,009,003,521,089,866,000,921,596,141,010,039,215,004,733,207,033,811,000 N Pearson,378 Corelation,496 **,172,130,321 **,197,129,034,506 ** -,158,329 **,247 * -,161,136,005, ,073,168,367 **,539 ** Sig. (2- tailed),000,000,088,198,001,050,204,742,000,118,001,014,111,179,962,733,473,096,000,000 N Pearson Corelation,126,093,166,077 -,086,213 * -,025,361 ** -,102 -,048,202 *,157,180 -,060,005,128 -,073 1,156 -,160,246 * Sig. (2- tailed),213,357,100,448,396,034,807,000,316,634,045,120,074,555,963,207,473,122,114,014 N Pearson Corelation,186,215 *,006 -,016,225 *,135 -,148,056,037,096,048 -,001,087,103,086,215 *,168,156 1,128,326 ** Sig. (2- tailed),065,033,955,875,025,183,144,581,714,346,637,990,390,312,399,033,096,122,205,001 N Pearson Corelation,358 **,378 **,229 *,202 *,330 **,050,140 -,068,537 **,292 ** -,241 *,207 *,012,352 ** -,109,024,367 ** -,160,128 1,528 ** Sig. (2- tailed),000,000,022,045,001,623,167,505,000,003,016,040,908,000,282,811,000,114,205,000 N Pearson Corelation,606 **,680 **,555 **,456 **,449 **,396 **,297 **,372 **,600 **,372 ** -,037,506 **,166,440 **,151,427 **,539 **,246 *,326 **,528 ** 1 Sig. (2- tailed),000,000,000,000,000,000,003,000,000,000,714,000,101,000,136,000,000,014,001,000 N

132 Lampiran 12 Uji Validitas Variabel Y (Pengendalian Diri Dari Akhlak Tercela Siswa) Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Correlation Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 Skor Total Pearson Corelation 1,672 **,454 **,287 **,160,087,194,171,077,055,233 *,114,248 *,130,195,253 *,217 *,091,234 *,140,576 ** Sig. (2- tailed),000,000,004,114,393,055,091,446,585,021,261,013,200,053,011,031,371,020,168,000 N Pearson Corelation,672 ** 1,576 **,307 **,052 -,056,153,193,082 -,046,188,104,282 **,169,142,347 **,173,156,241 *,064,552 ** Sig. (2- tailed),000,000,002,609,584,130,056,417,651,063,306,005,095,160,000,087,123,016,531,000 N Pearson Corelation,454 **,576 ** 1,222 *,059,115,204 *,149,199 *,019,145,106,118,230 *,178,323 **,053,109,069,184,509 ** Sig. (2- tailed),000,000,027,560,258,043,141,048,851,153,297,245,022,078,001,605,282,495,068,000 N Pearson Corelation,287 **,307 **,222 * 1,026,107,224 *,102,233 *,045,061,140,353 **,207 *,214 *,272 **,143,087,110,326 **,532 ** Sig. (2- tailed),004,002,027,802,290,026,316,020,657,548,167,000,040,033,006,157,390,280,001,000 N Pearson Corelation,160,052,059,026 1,053 -,001,063 -,023,053,249 *,248 *,046,301 **,004 -,053 -,113 -,020 -,030 -,036,247 * Sig. (2- tailed),114,609,560,802,601,996,536,824,599,013,013,651,002,970,602,264,846,771,721,014 N Pearson Corelation,087 -,056,115,107,053 1,257 * -,012,133,249 *,003,082,191,163,118,006,308 **,104,193,358 **,416 ** Sig. (2- tailed),393,584,258,290,601,010,909,188,013,978,421,059,106,246,953,002,304,056,000,000 N

133 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Pearson Corelation,194,153,204 *,224 * -,001,257 * 1,151,014 -,048,208 *,146,093,170,200 *,134,182 -,073,299 **,315 **,479 ** Sig. (2- tailed),055,130,043,026,996,010,135,893,634,039,150,362,093,047,185,071,475,003,002,000 N Pearson Corelation,171,193,149,102,063 -,012,151 1,046,184,204 *,246 *,084,088,067,156,142,151,240 *,178,435 ** Sig. (2- tailed),091,056,141,316,536,909,135,650,068,043,014,408,384,508,124,161,137,017,079,000 N Pearson Corelation,077,082,199 *,233 * -,023,133,014,046 1,217 * -,003,011,142,208 *,218 *,167 -,012,106,079,142,337 ** Sig. (2- tailed),446,417,048,020,824,188,893,650,031,978,913,160,039,030,098,909,295,437,162,001 N Pearson Corelation,055 -,046,019,045,053,249 * -,048,184,217 * 1 -,003,039,002,012,206 *,130,080,010,006,064,253 * Sig. (2- tailed),585,651,851,657,599,013,634,068,031,975,701,984,903,041,199,432,921,954,531,011 N Pearson Corelation,233 *,188,145,061,249 *,003,208 *,204 * -,003 -,003 1,163,028 -,010,037,104,158,082,279 **,037,390 ** Sig. (2- tailed),021,063,153,548,013,978,039,043,978,975,108,782,920,713,304,119,422,005,717,000 N Pearson Corelation,114,104,106,140,248 *,082,146,246 *,011,039,163 1,264 **,072 -,147,070,051,032 -,023,124,355 ** Sig. (2- tailed),261,306,297,167,013,421,150,014,913,701,108,008,479,147,494,617,750,824,223,000 N Pearson Corelation,248 *,282 **,118,353 **,046,191,093,084,142,002,028,264 ** 1,137,070,280 **,115,031,153,107,455 ** Sig. (2- tailed),013,005,245,000,651,059,362,408,160,984,782,008,176,489,005,256,759,130,293,000 N Pearson Corelation,130,169,230 *,207 *,301 **,163,170,088,208 *,012 -,010,072,137 1,345 **,025,120,048 -,042,268 **,430 **

134 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 Skor Total Sig. (2- tailed),200,095,022,040,002,106,093,384,039,903,920,479,176,000,804,238,636,679,007,000 N Pearson Corelation,195,142,178,214 *,004,118,200 *,067,218 *,206 *,037 -,147,070,345 ** 1,214 * -,017 -,072,135,272 **,398 ** Sig. (2- tailed),053,160,078,033,970,246,047,508,030,041,713,147,489,000,034,870,481,183,007,000 N Pearson Corelation,253 *,347 **,323 **,272 ** -,053,006,134,156,167,130,104,070,280 **,025,214 * 1 -,027,141,167 -,026,432 ** Sig. (2- tailed),011,000,001,006,602,953,185,124,098,199,304,494,005,804,034,788,165,099,799,000 N Pearson Corelation,217 *,173,053,143 -,113,308 **,182,142 -,012,080,158,051,115,120 -,017 -,027 1,219 *,050,229 *,374 ** Sig. (2- tailed),031,087,605,157,264,002,071,161,909,432,119,617,256,238,870,788,030,626,022,000 N Pearson Corelation,091,156,109,087 -,020,104 -,073,151,106,010,082,032,031,048 -,072,141,219 * 1,059,163,285 ** Sig. (2- tailed),371,123,282,390,846,304,475,137,295,921,422,750,759,636,481,165,030,559,107,004 N Pearson Corelation,234 *,241 *,069,110 -,030,193,299 **,240 *,079,006,279 ** -,023,153 -,042,135,167,050,059 1,273 **,434 ** Sig. (2- tailed),020,016,495,280,771,056,003,017,437,954,005,824,130,679,183,099,626,559,006,000 N Pearson Corelation,140,064,184,326 ** -,036,358 **,315 **,178,142,064,037,124,107,268 **,272 ** -,026,229 *,163,273 ** 1,500 ** Sig. (2- tailed),168,531,068,001,721,000,002,079,162,531,717,223,293,007,007,799,022,107,006,000 N Pearson Corelation,576 **,552 **,509 **,532 **,247 *,416 **,479 **,435 **,337 **,253 *,390 **,355 **,455 **,430 **,398 **,432 **,374 **,285 **,434 **,500 ** 1 Sig. (2- tailed),000,000,000,000,014,000,000,000,001,011,000,000,000,000,000,000,000,004,000,000 N

135 Lampiran 13 Tabel R (Pearson Product Moment)

136 Lampiran 14 Pedoman Wawancara Nama Informan Status : Adib Faruq R, S. Pd.I : Guru Pendidikan Agama Islam dan BTQ Hari/Tanggal : 25 Februari 2020 A: Sudah berapa lama bapak mengajar di SMP Yapia Ciputat? B: Saya mengajar di SMP Yapia Ciputat sudah berjalan selama 5 tahun sebagai guru Pendidikan Agama Islam A: Bagaimana penerapan pembiasaan shalat berjamaah siswa di sekolah? B: Kegiatan pembiasaan shalat berjamaah siswa diikuti oleh seluruh tingkatan dari mulai kelas tujuh sampai dengan kelas sembilan. Kegiatan tersebut dipimpin oleh para guru secara bergantian dan setelah itu dilanjutkan dengan dzikir dan doa secara bersama-sama A: Kapan saja waktu dilaksanakannya shalat berjamaah di sekolah? B: Shalat berjamaah di SMP yapia ciputat ini dilakukan secara bergantian dan dijadwal karena keterbatasan tempat. kita membuat jadwal pertingkatan yaitu kelas tujuh pada hari senin, kelas delapan pada hari selasa dan kelas sembilan pada hari rabu untuk shalat zhuhur. Untuk kegiatan pembiasaan shalat dhuhanya dilaksanakan satu jam sebelum istiahat dan tidak sama juga harinya dengan pembagian shalat zhuhur karena menyesuaikan dengan kegiatan sekolah juga, kalau untuk kelas tujuh itu pada hari selasa, kelas delapannya itu hari kamis dan kelas sembilan hari jum at A: Kendala apa yang dihadapi dalam penerapannya?

137 B: Kendala dari shalat berjamaah itu karena banyaknya siswa, kemudian dengan kapasitas sarana ibadah yang tidak memadai, dan juga tempat wudhu siswa yang tidak memadai, maka dari itu dalam pelaksanaanya dilakukan secara bergantian dan dijadwal A: Bagaimana cara untuk mengendalikan diri siswa dari akhlak tercela? B: Dalam hal pengendalian diri siswa dari akhlak tercela sudah pastinya masing masing siswa dan tingkatan pasti berbeda-beda, karena setiap tingkatan mempunyai ciri khas kenakalannya masing-masing dan sudah pasti berbeda karena dilihat dari faktor usianya dan tingkat kedewasaannya. Dalam menangani problem yang dihadapi pun berbeda-beda, karena kenakalan yang dilakukan oleh para siswa kebanyakan terpengaruh dari luar sekolah. Untuk kelas 7 dan kelas 8 sudah pastinya sulit jika hanya diberikan nasihat saja berbanding dengan kelas 9. dalam hal pengendaliaan diri siswa,pihak sekolah menekankan agar setiap siswa mentaati tata tertib peraturan yang ada di sekolah. karena dengan menanamkan disiplin sekolah yang didalamnya banyak sekali kegiatan-kegatan positif seperti kegiatan yasinan di minggu pertama dan minggu ketiga setiap bulan serta kegiatan positif lainnya, maka diharapkan mampu berpengaruh terhadap tingkah laku siswa. A: Adakah program untuk meningkatkan pengendalian diri siswa dari akhlak tercela? B: Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan pengendalian diri siswa dari akhlak tercela yakni dengan dilakukan diklat oleh para guru yang mana didalamnya diberikan pemahaman untuk menangani anak-anak dalam berbagai permasalahannya sehingga mampu ditangani A: Apakah dengan dilaksanakan pembiasaan shalat berjamaah dapat meningkatkan pengendalian diri dari akhlak tercela siswa? B: Sudah pasti ada pengaruhnya, karena dengan dibiasakannya shalat secara berjamaah sudah pasti menanamkan nilai-nilai positif kepada pribadi peserta didik,

138 menumbuhkan nilai-nilai islami dan berkarakter mulia.bahkan ada sebagian siswa yang memang bukan jadwalnya untuk melaksanakan shalat berjamaah dia tetap mengikutinya secara rutin dan rata-rata siswa yang rajin melaksanakan shalat berjamaah memiliki kepribadian yang baik dan berprestasi disekolah. dengan diterapkannya pembiasaan shalat secara berjamaah siswa dapat mengendalikan diri mereka dari perbuatan-perbuatan tercela dan bukan tidak mungkin jika siswa shalatnya kurang bagus maka kuranglah pengendalian diri mereka dari perbuatan tercela.

139 Lampiran 15 Dokumentasi

140

141

142

143

144

145

146

BAB I PENDAHULUAN. 2011), hlm. 9. (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga,

BAB I PENDAHULUAN. 2011), hlm. 9. (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia lahir ke alam dunia dalam keadaan yang paling sempurna. Selain diberi akal manusia juga diberi kesempurnaan jasmani. 1 Dengan akal dan jasmani yang sempurna

Lebih terperinci

Tegakkan Shalat Dengan Berjamaah

Tegakkan Shalat Dengan Berjamaah Tegakkan Shalat Dengan Berjamaah Khutbah Pertama:???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????...????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Syahruddin El-Fikri, Sejarah Ibadah, (Jakarta: Republika, 2014), hlm

BAB I PENDAHULUAN. 1 Syahruddin El-Fikri, Sejarah Ibadah, (Jakarta: Republika, 2014), hlm BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perintah shalat lima waktu untuk pertama kalinya diterima dan diwajibkan kepada umat Islam, tepatnya pada 27 Rajab Tahun kedua sebelum hijrah. Yang mana pada saat itu

Lebih terperinci

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orangorang yang ruku (Al Baqarah : 43)

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orangorang yang ruku (Al Baqarah : 43) Mari sholat berjamaah Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orangorang yang ruku (Al Baqarah : 43) Jangan Sia-Siakan Shalat Allah SWT berfirman:. Maka datanglah sesudah mereka,

Lebih terperinci

DAFTAR TERJEMAH No Halaman BAB Terjemah

DAFTAR TERJEMAH No Halaman BAB Terjemah DAFTAR TERJEMAH No Halaman BAB Terjemah 1 4 I Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat

Lebih terperinci

Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H

Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H Pengantar: Ramadhan 1434 H segera tiba. Sepantasnya kaum Muslim bergembira menyambutnya. Sebab di dalamnya penuh dengan pahala. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana kaum Muslim bisa meraih ketakwaan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dengan melaksanakan shalat,

BAB I PENDAHULUAN. dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dengan melaksanakan shalat, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam Islam ada tiga ajaran pokok yaitu akidah, ibadah, dan muamalah. Ibadah merupakan kewajiban utama manusia terhadap Allah SWT. Salah satunya adalah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG

BAB IV ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG BAB IV ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG A. Analisis Pembinaan Mental Keagamaan Siswa di SMP N 2 Warungasem Batang Pembinaan mental keagamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Shalat merupakan salah satu dari rukun Islam. Bahkan shalat merupakan tiangnya agama, artinya barangsiapa yang mendirikan shalat maka telah mendirikan agama

Lebih terperinci

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : : [ ] E٤٨٤ J٤٧٧ W F : : MENGHORMATI ORANG LAIN "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami." Orang yang paling pantas dihormati dan dihargai

Lebih terperinci

DI BULAN SUCI RAMADHAN

DI BULAN SUCI RAMADHAN AMALAN-AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN Disusun Oleh: Mohammad Iqbal Ghazali. MA Murajaah : Abu Ziyad ا عمال رمضانية Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah 1428 2007 AMALAN-AMALAN DI BULAN SUCI RAMADHAN

Lebih terperinci

KAYA TAPI ZUHUD. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. (Dosen PKn dan Hukum FIS UNY)

KAYA TAPI ZUHUD. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. (Dosen PKn dan Hukum FIS UNY) KAYA TAPI ZUHUD Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. (Dosen PKn dan Hukum FIS UNY) Kaya sering dipahami sebagai melimpahnya harta yang dimiliki seseorang. Orang kaya adalah orang yang memiliki harta yang berlimpah

Lebih terperinci

Sejumlah ulama berpendapat bahwa menjalankan shalat berjamaah mengandung banyak nilai kebaikan, diantaranya berikut;

Sejumlah ulama berpendapat bahwa menjalankan shalat berjamaah mengandung banyak nilai kebaikan, diantaranya berikut; Kkeberkahan puasa yang bentuk konkretnya bisa kita saksikan di bulan Ramadhan. Saat bulan itu ada ibadah shalat Tarawih dan kecendenderungan umat untuk bersemangat menjalankan shalat berjamaah. Kebaikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS. pendidikan agama Islam dalam meningkatkan pengendalian diri peserta didik di

BAB IV ANALISIS. pendidikan agama Islam dalam meningkatkan pengendalian diri peserta didik di BAB IV ANALISIS Setelah penulis mengumpulkan data di lapangan tentang upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan pengendalian diri peserta didik di SMP Negeri 02 Tulis dengan berbagai metode

Lebih terperinci

Beribadah Kepada Allah Dengan Mentauhidkannya

Beribadah Kepada Allah Dengan Mentauhidkannya Beribadah Kepada Allah Dengan Mentauhidkannya Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.???????????????????????????????????:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG 77 BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG A. Analisis Tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi bukan karena sendirinya, tetapi ciptaan Allah SWT. Allah menciptakan manusia untuk mengabdi

Lebih terperinci

Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama

Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Bismillahirrahmanirrahim

Bismillahirrahmanirrahim Bismillahirrahmanirrahim Allah Ta ala berfirman (yang artinya), Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al Mu`minun : 1-2) Allah Ta ala juga

Lebih terperinci

Di antaranya pemahaman tersebut adalah:

Di antaranya pemahaman tersebut adalah: MENYOAL PEMAHAMAN ATAS KONSEP RAHMATAN LI AL- ÂLAMÎN Kata Rahmatan li al- Âlamîn memang ada dalam al-quran. Namun permasalahan akan muncul ketika orang-orang menafsirkan makna Rahmatan li al- Âlamîn secara

Lebih terperinci

3 Wasiat Agung Rasulullah

3 Wasiat Agung Rasulullah 3 Wasiat Agung Rasulullah Dalam keseharian kita, tidak disangsikan lagi, kita adalah orang-orang yang senantiasa berbuat dosa menzalimi diri kita sendiri, melanggar perintah Allah atau meninggalkan kewajiban

Lebih terperinci

Jadilah Pembuka Pintu Kebaikan

Jadilah Pembuka Pintu Kebaikan Jadilah Pembuka Pintu Kebaikan Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????,???????????????????????????????????,???????????????????????????????????,???????????????????????????????,?????????????????????????????????????????????????????????????,??????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dan Aku (Allah ) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-ku. (QS. Adz- Dzariyat: 56)

BAB I PENDAHULUAN. Dan Aku (Allah ) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-ku. (QS. Adz- Dzariyat: 56) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta.

Lebih terperinci

Takwa dan Keutamaannya

Takwa dan Keutamaannya Takwa dan Keutamaannya Khutbah Jumat berikut ini menjelaskan tentang hakikat dan keutamaan takwa. Sebab, takwa merupakan wasiat Allah Subhanahu wa Ta ala dan Rasul-Nya yang harus dipahami maksudnya dan

Lebih terperinci

KISI KISI SOAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS UTS GENAP KELAS VII (TUJUH) (untuk memperkaya wawasan WAJIB BACA BUKU PAKET)

KISI KISI SOAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS UTS GENAP KELAS VII (TUJUH) (untuk memperkaya wawasan WAJIB BACA BUKU PAKET) KISI KISI SOAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS UTS GENAP KELAS VII (TUJUH) (untuk memperkaya wawasan WAJIB BACA BUKU PAKET) SEJARAH NABI MUHAMMAD DI MAKKAH BACA DI BUKU PAKET HALAMAN 109 126 (lebih lengkap)

Lebih terperinci

Umrah dan Haji Sebagai Penebus Dosa

Umrah dan Haji Sebagai Penebus Dosa Umrah dan Haji Sebagai Penebus Dosa Khutbah Pertama:?????????????????????????????????,?????????????????????????????????,????????????????????????????????????????.???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????,????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????,????????????????????????????????,??????????????????????????????,?????????????????????????,???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Khutbah Pertama???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah

BAB I PENDAHULUAN. yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Islam yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari

Lebih terperinci

Nasehat Bagi Orang Yang Melalaikan Shalat

Nasehat Bagi Orang Yang Melalaikan Shalat Nasehat Bagi Orang Yang Melalaikan Shalat Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????:?????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

[ Indonesia Indonesian

[ Indonesia Indonesian SUAMI TIDAK SHALAT : [ Indonesia Indonesian ] Penyusun : Misy'al al-utaibi Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2009-1430 : : : : 2009 1430 2 Suami Tidak Shalat Segala puji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyempurnakan akhlak yang mulia dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung

BAB I PENDAHULUAN. menyempurnakan akhlak yang mulia dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Misi utama Rasulullah diutus kealam dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu

Lebih terperinci

Khatamul Anbiya (Penutup Para Nabi)

Khatamul Anbiya (Penutup Para Nabi) Muhammad SAW adalah seorang nabi terakhir yang diutus ke bumi oleh Allah SWT. Sebagai seorang nabi dan rasul, nabi Muhamad SAW membawakan sebuah risalah kebenaran yaitu sebuah agama tauhid yang mengesakan

Lebih terperinci

MAKNA ISRO MI ROJ DAN HIKMAH SHOLAT

MAKNA ISRO MI ROJ DAN HIKMAH SHOLAT MAKNA ISRO MI ROJ DAN HIKMAH SHOLAT Assalamu alaikum Wr. Wb. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya sehingga hingga detik ini masih dipertemukan kembali

Lebih terperinci

DAFTAR TERJEMAH. No Hal Kutipan Bab Terjemah

DAFTAR TERJEMAH. No Hal Kutipan Bab Terjemah DAFTAR TERJEMAH No Hal Kutipan Bab Terjemah 1 1 Q.S. At I tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi Taubah ayat 122 semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka

Lebih terperinci

BERSETUBUH SEBAGAI HAK SUAMI DALAM PERKAWINAN MENURUT IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AL SYAFI I

BERSETUBUH SEBAGAI HAK SUAMI DALAM PERKAWINAN MENURUT IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AL SYAFI I BERSETUBUH SEBAGAI HAK SUAMI DALAM PERKAWINAN MENURUT IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AL SYAFI I Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam Program Strata

Lebih terperinci

MATAN. Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

MATAN. Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab MATAN Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab C MATAN AS-SITTATUL USHUL Z. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Termasuk perkara yang sangat menakjubkan dan tanda yang

Lebih terperinci

Kekeliruan Sebagian Umat Islam di Bulan Rajab

Kekeliruan Sebagian Umat Islam di Bulan Rajab Kekeliruan Sebagian Umat Islam di Bulan Rajab Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An Nawawi

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An Nawawi Untuk Apa Kita Diciptakan? Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An Nawawi K ehidupan di dunia pada dasarnya hanyalah senda gurau atau main-main saja. Orang akan semakin merugi bila tidak

Lebih terperinci

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116]

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116] Untuk selamat dari siksa neraka, mungkin adalah suatu yang sangat mustahil bagi kita karena memang Mayoritas manusia memang tersesat.dalam Al-Qur an sendiri sudah menegaskan hal itu. Jika kamu mengikuti

Lebih terperinci

2010), hlm. 57. Khayyal, Membangun keluarga Qur ani, (Jakarta : Amzah, 2005), hlm 3. 1 Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,

2010), hlm. 57. Khayyal, Membangun keluarga Qur ani, (Jakarta : Amzah, 2005), hlm 3. 1 Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi dewasa. Bentuk

Lebih terperinci

Istiqomah. Khutbah Pertama:

Istiqomah. Khutbah Pertama: Istiqomah Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????:??????????????????????????????????..???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Keutamaan Bulan Dzul Hijjah

Keutamaan Bulan Dzul Hijjah Keutamaan Bulan Dzul Hijjah Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Alquran

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Alquran Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Alquran Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6.

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembinaan akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2017 M/1438 H

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2017 M/1438 H PEMBELAJARAN FIQIH PADA MATERI PENDIDIKAN SEKS USIA REMAJA SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 MODEL BANJARMASIN OLEH YANA ARIANI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2017 M/1438 H i PEMBELAJARAN

Lebih terperinci

REVIEW. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK. Dr. Dede Abdul Fatah, M.Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi AKUNTANSI

REVIEW. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK. Dr. Dede Abdul Fatah, M.Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi AKUNTANSI REVIEW Modul ke: Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK Fakultas EKONOMI Dr. Dede Abdul Fatah, M.Si Program Studi AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Akhlak Sosial Islami Manusia sejak

Lebih terperinci

HUBUNGAN PEMAHAMAN MATA PELAJARAN FIQH DENGAN PENGAMALAN IBADAH PUASA RAMADHAN SISWA KELAS 3 MI NURUL HIKMAH KALIBUNTU LOSARI BREBES

HUBUNGAN PEMAHAMAN MATA PELAJARAN FIQH DENGAN PENGAMALAN IBADAH PUASA RAMADHAN SISWA KELAS 3 MI NURUL HIKMAH KALIBUNTU LOSARI BREBES HUBUNGAN PEMAHAMAN MATA PELAJARAN FIQH DENGAN PENGAMALAN IBADAH PUASA RAMADHAN SISWA KELAS 3 MI NURUL HIKMAH KALIBUNTU LOSARI BREBES SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berbangsa dan Bernegara, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), hlm. 17.

BAB I PENDAHULUAN. Berbangsa dan Bernegara, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), hlm. 17. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap pribadi muslim wajib melaksanakan syari at Islam dalam kehidupan pribadinya sekalipun sendirian, di mana pun ia berada. Dalam lingkup kehidupan pribadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Seperti: orang kaya membutuhkan orang miskin, orang miskin membutuhkan orang kaya, orang kuat membutuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan melalui wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat jibril. Islam itu

BAB I PENDAHULUAN. dengan melalui wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat jibril. Islam itu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah agama Allah yang kepada Nabi Muhammad SAW, dengan melalui wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat jibril. Islam itu sendiri didirikan atas lima

Lebih terperinci

!!" #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/" 4./" 56 * % &' &()*+&, " "# $ %! #78*5 9: ;<*% =7" >1?@*5 0 ;A " 4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. "/ 4!

!! #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/ 4./ 56 * % &' &()*+&,  # $ %! #78*5 9: ;<*% =7 >1?@*5 0 ;A  4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. / 4! [ ] E٤٩١ J٤٨٧ W F : : Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya agama mewajibkan kepada para pengikutnya (berbuat baik) dalam segala hal dan tidak ridha dari para pengikutnya

Lebih terperinci

Sucikan Diri Benahi Hati

Sucikan Diri Benahi Hati Sucikan Diri Benahi Hati Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????...????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Lailatul Qadar. Rasulullah SAW Mencontohkan beberapa amal khusus terkait Lailatul Qadar ini, di antaranya:

Lailatul Qadar. Rasulullah SAW Mencontohkan beberapa amal khusus terkait Lailatul Qadar ini, di antaranya: Lailatul Qadar Malam Lailatul Qadar ialah malam diturunkan Al-Qur an dan dirinci segala urusan manusia seperti rezeki, kematian, keberuntungan, hidup dan mati. Malam itu ada di setiap bulan Ramadhan. Allah

Lebih terperinci

ADAB MURID TERHADAP GURU DALAM PERSPEKTIF KITAB BIDAYATUL HIDAYAH KARANGAN IMAM GHAZALI

ADAB MURID TERHADAP GURU DALAM PERSPEKTIF KITAB BIDAYATUL HIDAYAH KARANGAN IMAM GHAZALI ADAB MURID TERHADAP GURU DALAM PERSPEKTIF KITAB BIDAYATUL HIDAYAH KARANGAN IMAM GHAZALI Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana

Lebih terperinci

Renungan Pergantian Tahun

Renungan Pergantian Tahun Renungan Pergantian Tahun Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????[???????:102].?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????[??????:1].??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????[???????:70-71].??????:

Lebih terperinci

KUMPULAN FATWA. Hukum Membagi Agama Kepada Isi dan Kulit. Penyusun : Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali

KUMPULAN FATWA. Hukum Membagi Agama Kepada Isi dan Kulit. Penyusun : Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali KUMPULAN FATWA Hukum Membagi Agama Kepada Isi dan Kulit [ Indonesia Indonesian ] Penyusun : Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2009-1430

Lebih terperinci

Mendidik Anak Menuju Surga. Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Tugas Mendidik Generasi Unggulan

Mendidik Anak Menuju Surga. Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Tugas Mendidik Generasi Unggulan Mendidik Anak Menuju Surga Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA Tugas Mendidik Generasi Unggulan Pendidikan merupakan unsur terpenting dalam proses perubahan dan pertumbuhan manusia. Perubahan dan pertumbuhan kepada

Lebih terperinci

Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah

Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam Modul ke: Pendidikan Agama Islam Kesalehan Sosial Fakultas EKONOMI Dr. Saepudin S.Ag. M.Si. Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id PENGERTIAN KESALEHAN SOSIAL Kesalehan sosial adalah suatu perilaku

Lebih terperinci

PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK AKHLAK SISWA DI MTS MUHAMMADIYAH 2 KELAYAN BANJARMASIN

PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK AKHLAK SISWA DI MTS MUHAMMADIYAH 2 KELAYAN BANJARMASIN PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK AKHLAK SISWA DI MTS MUHAMMADIYAH 2 KELAYAN BANJARMASIN OLEH FEBRIYANTI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2017 M/1438 H i PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK AKHLAK

Lebih terperinci

"SABAR ANUGERAH TERINDAH"

SABAR ANUGERAH TERINDAH "SABAR ANUGERAH TERINDAH" Marilah kita bertaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, mengamalkan syariat di segenap sudut kehidupan di samping melaksanakan segala tuntutan perintah Allah dan menghindari

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS. ersepsi Ulama terhadap Akhlak Remaja di Desa Sungai Lulut Kecamatan

BAB IV ANALISIS. ersepsi Ulama terhadap Akhlak Remaja di Desa Sungai Lulut Kecamatan BAB IV ANALISIS A... P ersepsi Ulama terhadap Akhlak Remaja di Desa Sungai Lulut Kecamatan Banjarmasin Timur Dimaksud dengan persepsi disini adalah tanggapan atau pendapat ulama pemimpin majelis taklim

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KELEKATAN ORANG TUA DENGAN PENGAMALAN AKHLAK PESERTA DIDIK. DI MTs MUHAMMADIYAH WONOSARI GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KELEKATAN ORANG TUA DENGAN PENGAMALAN AKHLAK PESERTA DIDIK. DI MTs MUHAMMADIYAH WONOSARI GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KELEKATAN ORANG TUA DENGAN PENGAMALAN AKHLAK PESERTA DIDIK DI MTs MUHAMMADIYAH WONOSARI GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Guna memperoleh

Lebih terperinci

Disebarluaskan melalui: website: TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Disebarluaskan melalui: website:    TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Judul : Cinta Rasul Penyusun : Ummu Abdillah al-buthoniyah Layout : MRM Graph Disebarluaskan melalui: website: e-mail: redaksi@raudhatulmuhibbin.org TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Nabi Muhammad shallallahu

Lebih terperinci

Khutbah Pertama Maasyirol Muslimin yang dirahmati Allah

Khutbah Pertama Maasyirol Muslimin yang dirahmati Allah Allah Swt Mengingatkan Orang Beriman dan Rasulullah Saw Menganjurkan Tentang Pentingnya Puasa Ramadhan Khutbah Pertama Adapu judul khutbah pada siang ini yaitu: Allah Swt Mengingatkan Orang Beriman dan

Lebih terperinci

Engkau Bersama Orang Yang Kau Cintai

Engkau Bersama Orang Yang Kau Cintai Engkau Bersama Orang Yang Kau Cintai Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:

Lebih terperinci

Khutbah Jumat Manfaatkan Nikmat Kehidupan

Khutbah Jumat Manfaatkan Nikmat Kehidupan Khutbah Jumat Manfaatkan Nikmat Kehidupan Khutbah Jumat berikut ini berisi nasihat untuk senantiasa memanfaatkan segala kenikmatan hidup ini sebagai bekal dalam menghadapi masa yang akan datang (baca:

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Pada bab V ini akan membahas dan menghubungkan antara teori dari

BAB V PEMBAHASAN. Pada bab V ini akan membahas dan menghubungkan antara teori dari BAB V PEMBAHASAN Pada bab V ini akan membahas dan menghubungkan antara teori dari temuan sebelumnya dengan teori temuan saat penelitian. Menggabungkan antara pola-pola yang ada dalam teori sebelumnya dan

Lebih terperinci

Tanda-Tanda Cinta Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam

Tanda-Tanda Cinta Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam Tanda-Tanda Cinta Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wa salam, kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam?, apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu

Lebih terperinci

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Urgensi Menjaga Lisan

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Urgensi Menjaga Lisan Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA Urgensi Menjaga Lisan Satu waktu Rasulullah saw pernah ditanya: keislamanan bagaimana yang utama? Beliau menjawab: siapa yang perkataan dan perbuatannya menjadikan orang Islam

Lebih terperinci

Modul ke: Kesalehan Sosial. Fakultas. Rusmulyadi, M.Si. Program Studi.

Modul ke: Kesalehan Sosial. Fakultas. Rusmulyadi, M.Si. Program Studi. Modul ke: Kesalehan Sosial Fakultas Rusmulyadi, M.Si. Program Studi www.mercubuana.ac.id Secara bahasa makna kesalehan sosial adalah kebaikan atau keharmonisan dalam hidup bersama, berkelompok baik dalam

Lebih terperinci

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284 Tafsir Depag RI : QS 002 - Al Baqarah 284 ل ل ه م ا ف ي الس م او ات و م ا ف ي ال ا ر ض و ا ن ت ب د وا م ا ف ي ا ن ف س ك م ا و ت خ ف وه ي ح اس ب ك م ب ه الل ه ف ي غ ف ر ل م ن ي ش اء و ي ع ذ ب م ن ي ش اء

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TENTANG PENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU (MIT) NURUL ISLAM RINGINWOK NGALIYAN SEMARANG

BAB IV ANALISIS TENTANG PENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU (MIT) NURUL ISLAM RINGINWOK NGALIYAN SEMARANG BAB IV ANALISIS TENTANG PENDIDIKAN KECERDASAN SPIRITUAL DI MADRASAH IBTIDAIYAH TERPADU (MIT) NURUL ISLAM RINGINWOK NGALIYAN SEMARANG A. Analisis Tujuan Pendidikan Kecerdasan Spiritual Segala macam usaha

Lebih terperinci

Bersegera Menuju Masjid di Hari Jumat dan Meninggalkan Aktivitas Duniawi

Bersegera Menuju Masjid di Hari Jumat dan Meninggalkan Aktivitas Duniawi Bersegera Menuju Masjid di Hari Jumat dan Meninggalkan Aktivitas Duniawi Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Jakarta: Amzah, 2007), hlm Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur an,

BAB I PENDAHULUAN. (Jakarta: Amzah, 2007), hlm Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur an, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin, yang mana dalam agama Islam

Lebih terperinci

Keistimewaan Hari Jumat

Keistimewaan Hari Jumat Keistimewaan Hari Jumat Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, 07-9-09 Senin, 07 September 2009 Â SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Â PADA ACARA PERINGATAN NUZULUL QURAN 1430 H DI ISTANA BOGOR, JAWA BARAT,

Lebih terperinci

ZAKAT HARTA ORANG YANG TIDAK CAKAP BERTINDAK SKRIPSI. Diajukan Oleh: ROHANA BINTI MAHUSSAIN. Mahasiswa Fakultas Syari ah

ZAKAT HARTA ORANG YANG TIDAK CAKAP BERTINDAK SKRIPSI. Diajukan Oleh: ROHANA BINTI MAHUSSAIN. Mahasiswa Fakultas Syari ah ZAKAT HARTA ORANG YANG TIDAK CAKAP BERTINDAK SKRIPSI Diajukan Oleh: ROHANA BINTI MAHUSSAIN Mahasiswa Fakultas Syari ah Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiah NIM : 110807795 FAKULTAS SYARI AH INSTITUT AGAMA ISLAM

Lebih terperinci

Kelompok Azizatul Mar ati ( ) 2. Nur Ihsani Rahmawati ( ) 3. Nurul Fitria Febrianti ( )

Kelompok Azizatul Mar ati ( ) 2. Nur Ihsani Rahmawati ( ) 3. Nurul Fitria Febrianti ( ) Kelompok 5 1. Azizatul Mar ati (14144600200) 2. Nur Ihsani Rahmawati (14144600186) 3. Nurul Fitria Febrianti (14144600175) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam

Lebih terperinci

Ibadah, (Jakarta : Amzah, 2010), Cet. II, hlm Ibadah..., hlm Abdul Aziz Muhammad Azzam, Abdul Wahib Sayyed Hawwas, Fiqih

Ibadah, (Jakarta : Amzah, 2010), Cet. II, hlm Ibadah..., hlm Abdul Aziz Muhammad Azzam, Abdul Wahib Sayyed Hawwas, Fiqih BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Allah SWT menjadikan shalat sebagai media untuk membina dan meluruskan orang mukmin setelah sebelumnya Dia memberikan kepada manusia segala macam ciptaannya

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam Modul ke: 06Fakultas Ekonomi dan Bisnis Akhlak Sosial Islam Dr. Achmad Jamil, M.Si Program Studi S1 Manajemen Akhlak Sosial Islami Terkait dengan hidup sosial bersama orang lain,

Lebih terperinci

Kekeliruan-Kekeliruan Umat Islam di Hari Jumat

Kekeliruan-Kekeliruan Umat Islam di Hari Jumat Kekeliruan-Kekeliruan Umat Islam di Hari Jumat Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:

Lebih terperinci

Khutbah Jumat Masjid Nabawi: Bagaimana Setelah Ramadhan?

Khutbah Jumat Masjid Nabawi: Bagaimana Setelah Ramadhan? Khutbah Jumat Masjid Nabawi: Bagaimana Setelah Ramadhan? Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46).

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46). Ikhlas oleh Islisyah Asman* Jika ada pengemban dakwah merasa kering jiwanya, gersang ukhuwah, keras hati, hasad, banyak berselisih dan beda pendapat dengan yang lain, mengarah ke permusuhan, berarti ada

Lebih terperinci

Keutamaan Bersegera Menunaikan Shalat

Keutamaan Bersegera Menunaikan Shalat Keutamaan Bersegera Menunaikan Shalat فضل حكبكري ىل لصلا [ Indonesia Indonesian ند نيn ] Karya: Dr. Amin bin Abdullah asy-syaqawi Terjemah : Muzaffar Sahidu Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2010-1431 1

Lebih terperinci

Al-Wadud Yang Maha Mencintai Hamba-Hamba-Nya Yang Shaleh

Al-Wadud Yang Maha Mencintai Hamba-Hamba-Nya Yang Shaleh Al-Wadud Yang Maha Mencintai Hamba-Hamba-Nya Yang Shaleh Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????:???????????????????????????????????:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

Khutbah Jum'at. Memaafkan Sesama Sebelum Ramadhan Tiba. Bersama Dakwah 1

Khutbah Jum'at. Memaafkan Sesama Sebelum Ramadhan Tiba. Bersama Dakwah 1 Bersama Dakwah 1 KHUTBAH PERTAMA.. * Hari ini kita hampir berada di pertengahan bulan Sya'ban. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan yang mulia. Ini merupakan bagian dari nikmat Allah yang

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam Modul ke: Akhlaq Sosial Islami Fakultas PSIKOLOGI Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Dian Febrianingsih, M.S.I Abstraksi Akhlak memiliki pengertian yang sangat luas. Standar

Lebih terperinci

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Keutamaan Puasa

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Keutamaan Puasa www.bersamadakwah.com 1 : Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah SWT, Setiap ibadah dalam Islam memiliki keutamaan masingmasing. Demikian pula dengan puasa yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dalam firman-nya

Lebih terperinci

"PEMIMPIN ADIL NEGARA MAKMUR"

PEMIMPIN ADIL NEGARA MAKMUR "PEMIMPIN ADIL NEGARA MAKMUR" Saya menyeru agar kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-nya dan meninggalkan segala larangan-nya. Kepimpinan di

Lebih terperinci

DAFTAR TERJEMAH No. BAB Hal Terjemah

DAFTAR TERJEMAH No. BAB Hal Terjemah DAFTAR TERJEMAH No. BAB Hal Terjemah 1 1 Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS. Az-Zumar: 54).

Lebih terperinci

PERAN GURU DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH BAGI PESERTA DIDIK DI MADRASAH TSANAWIYAH INAYATUTHTHALIBIN KECAMATAN BANJARMASIN BARAT SKRIPSI.

PERAN GURU DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH BAGI PESERTA DIDIK DI MADRASAH TSANAWIYAH INAYATUTHTHALIBIN KECAMATAN BANJARMASIN BARAT SKRIPSI. PERAN GURU DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH BAGI PESERTA DIDIK DI MADRASAH TSANAWIYAH INAYATUTHTHALIBIN KECAMATAN BANJARMASIN BARAT SKRIPSI Oleh: HUSNA ALIMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI FAKULTAS

Lebih terperinci

Mendidik Anak dengan Tauhid

Mendidik Anak dengan Tauhid Mendidik Anak dengan Tauhid Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????

Lebih terperinci

Mengimani Kehendak Allah

Mengimani Kehendak Allah Mengimani Kehendak Allah Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

TATA URUTAN AMALAN. taklid buta yang hanya mengandalkan tradisi para leluhur tanpa diiringi

TATA URUTAN AMALAN. taklid buta yang hanya mengandalkan tradisi para leluhur tanpa diiringi TATA URUTAN AMALAN Bab-bab sebelumnya merupakan dasar ilmu dan dasar hukum pelaksanaan amalan ini. Jangan sekali-kali ada yang mengamalkannya tanpa latar belakang ilmu yang cukup. Itu taklid namanya. Ajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2001), hlm. 42. Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,

BAB I PENDAHULUAN. 2001), hlm. 42. Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia pada dasarnya memiliki dua kedudukan dalam hidup yaitu sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Sebagai makhluk pribadi, manusia mempunyai beberapa tujuan,

Lebih terperinci

Tauhid untuk Anak. Tingkat 1. Oleh: Dr. Saleh As-Saleh. Alih bahasa: Ummu Abdullah. Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary. Desain Sampul: Ummu Zaidaan

Tauhid untuk Anak. Tingkat 1. Oleh: Dr. Saleh As-Saleh. Alih bahasa: Ummu Abdullah. Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary. Desain Sampul: Ummu Zaidaan Tauhid untuk Anak Tingkat 1 Oleh: Dr. Saleh As-Saleh Alih bahasa: Ummu Abdullah Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary Desain Sampul: Ummu Zaidaan Sumber: www.understand-islam.net Disebarluaskan melalui:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2014), hlm Imam Musbikin, Mutiara Al-Qur an, (Yogyakarta: Jaya Star Nine,

BAB I PENDAHULUAN. 2014), hlm Imam Musbikin, Mutiara Al-Qur an, (Yogyakarta: Jaya Star Nine, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Al-Qur an adalah kalam Allah yang bersifat mu jizat, diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul dengan perantaraan malaikat Jibril, diriwayatkan kepada kita

Lebih terperinci