KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI"

Transkripsi

1 KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Untuk Melengkapi Tugas dan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh : HUSNA IFFAH AFRIDA NIM: DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW FAKULTAS HUKUM MEDAN 2017

2 KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Untuk Melengkapi Tugas dan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh : HUSNA IFFAH AFRIDA NIM: DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSUSAN PERDATA BW Disetujui Oleh: Ketua Departemen Hukum Perdata (Dr. Rosnidar Sembiring, SH. M.Hum) NIP Dosen pembimbing I Dosen Pembimbing II (Muhammad Husni, SH. M.H) (Maria Kaban, SH. M.Hum) NIP NIP FAKULTAS HUKUM MEDAN 2017

3 SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT Saya yang bertanda tangan di bawah ini : NAMA : HUSNA IFFAH AFRIDA NIM : DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN/PERDATA BW JUDUL SKRIPSI :KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016) Dengan ini menyatakan Bahwa skripsi yang saya tulis tersebut diatas bebas dari plagiat, tidak merupakan ciplakan dari skripsi orang lain. Apabila dikemudian hari skripsi saya terbukti hasil ciplakan, maka saya akan bertanggung jawab dan bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Demikian pernyataan ini saya buat tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Medan, 28 Januari 2017 (HUSNA IFFAH AFRIDA) NIM

4 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam senantiasa penulis panjatkan kehadirat Nabi besar Muhammad SAW, yang telah mengantarkan ummat manusia dari kehidupan jahiliyah menuju kehidupan modern yang penuh dengan pengetahuan dan kemajuan teknologi seperti yang kita rasakan sekarang ini. Penulisan skripsi ini merupakan kewajiban bagi mahasiswa tingkat akhir sebagai persyaratan untuk mendapat gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi penulis, yaitu : KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016). Penulis juga menyadari bahwa penulisan serta segala hal yang dibahas dalam skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan baik menyangkut penyusunan bahasa ataupun kelengkapan datanya sehingga masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis dengan segala kerendahan hati sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk mendukung kesempurnaan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. i

5 2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Dr. OK. Saidin, SH, M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 4. Ibu Puspa Melati, SH, M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 5. Dr. Jelly Leviza, SH, M.Hum.,selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 6. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, SH, M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 7. Ibu Erna Herlinda, SH., M.Hum., selaku Dosen Wali penulis yang telah membimbing penulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 8. Bapak Muhammad Husni, SH, M.H., selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu serta memberikan arahan kepada penulis dalam membantu penyusunan skripsi ini. 9. Ibu Maria Kaban, SH, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu serta memberikan arahan kepada penulis dalam membantu penyusunan skripsi ini. 10. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu, mendidik dan membimbing penulis semasa kuliah sampai penulis menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 11. Seluruh Staf dan Pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. ii

6 12. Ibu Riana br Pohan, SH, M.H., selaku Hakim Mediator di Pengadilan Negeri Medan yang telah meluangkan waktu kepada penulis untuk melakukan wawancara demi kepentingan penyusunan skripsi ini. 13. Seluruh staf dan pegawai di Pengadilan Negeri Medan yang telah membantu dan memberikan data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang-orang terdekat penulis : 1. Ayahanda Erianof, S.Pi dan Ibunda Rahma Adelinda yang sangat penulis cintai sepenuh hati, yang selalu mendoakan penulis, mendidik, memberikan kasih sayang tulus dan pengorbanan yang tiada hentinya demi kebahagiaan dan keberhasilan penulis. 2. Kakak-kakak penulis tersayang, Ulfah Seprida, S.Pi Rizki Annisa, S.TP dan Adik penulis Muhammad Ikhwan yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis. 3. Seluruh kerabat serta Keluarga Besar Penulis yang telah mendukung penulis dalam penyusunan skripsi ini. 4. Sahabat-sahabat penulis Tria Alvionita, Reny Melinda, Yanti Arnilis, Putri Surya Dinanti yang telah memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis. 5. Sahabat-sahabat penulis semasa SMA Winda, Lia, Nanda, Nini, Deby, Nia, Putri, Aas yang selalu mendukung penulis. 6. Senior penulis kakak Nida Syafwani yang memberikan dukungan dan semangat kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. iii

7 7. Seluruh teman-teman penulis satu angkatan, khususnya anak-anak Keperdataan BW. 8. Seluruh pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Akhir kata, penulis mengharapkan skripsi ini memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya bagi penulis sendiri dalam menambah pengetahuan tentang hukum, dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu hukum dan pendidikan kedepannya. Medan, Januari 2017 Hormat Penulis (Husna Iffah Afrida) iv

8 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... v ABSTRAK... vii BAB I PENDAHULUAN..1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah C. Tujuan Penulisan D. Manfaat Penulisan E. Metode Penelitian F. Keaslian Penulisan G. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA..20 A. Pengertian Umum dan Penyebab Timbulnya Sengketa B. Latar Belakang Lahirnya Pilihan Penyelesaian Sengketa C. Bentuk-Bentuk dan Pelaksanaan Pilihan Penyelesaian Sengketa v

9 BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG MEDIASI DAN PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN 55 A. Latar Belakang Lahirnya Prosedur Mediasi di Pengadilan B. Esensi Mediasi Dalam Penyelesaian Perkara Perdata di Pengadilan C. Pengertian Mediator dan Fungsi Mediator di Pengadilan BAB IV KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016)..89 A. Kedudukan Mediator Dalam Penyelesaian Sengketa di Pengadilan Negeri Medan B. Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan C. Kendala-Kendala Yang Dialami Mediator Dalam Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Negeri Medan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi

10 ABSTRAK Husna Iffah Afrida 1 Muhammad Husni, SH, M.H ** Maria Kaban, SH, M.Hum *** Manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa terhindar dari suatu sengketa. Timbulnya sengketa diakibatkan bilamana salah satu pihak merasa dirugikan oleh pihak tertentu. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan terkadang tidak memberikan penyelesaian sebagaimana yang diharapkan oleh para pihak. Penyelesaian dengan cara ini juga dikenal memakan waktu yang cukup lama dan mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Salah satu yang menjadi pilihan penyelesaian sengketa adalah mediasi yang merupakan suatu proses yang dilaksanakan untuk menyelesaikan sengketa antara para pihak yang dilakukan oleh pihak ketiga yang bersifat netral dan imparsial. Pihak ketiga inilah yang disebut mediator yang dipilih berdasarkan kesepakatan para pihak. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini antara lain tentang kedudukan mediator dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan, bagaimana efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan, dan kendala-kendala apa saja yang dialami mediator dalam pelaksanaan mediasi di Pengadilan. Metode penelitian yang digunakan penulis dalam skripsi ini adalah penelitian yuridis normatif dan yuridis empiris, dimana penulis mengambil bahan dari kepustakaan serta meneliti langsung efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Berdasarkan hasil penelitian penulis dapat diketahui bahwa Kedudukan mediator sebagai pihak ketiga dalam mediasi harus bersifat netral dalam melayani berbagai kepentingan para pihak. Mediator harus mampu menelusuri apa saja kepentingan para pihak itu, agar dapat menawarkan pilihan kepada para pihak demi memenuhi kepentingan mereka. Sebagai pihak ketiga yang memimpin pertemuan yang dihadiri para pihak, mediator harus mampu mengarahkan para pihak untuk komunikasi yang positif demi memudahkan jalannya proses mediasi. Adapun efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 belum dirasakan perubahan yang nyata, sehingga penerapan Perma Nomor 1 Tahun 2016 ini dapat dikatakan belum efektif melihat penumpukan perkara di Pegadilan negeri yang menjadi kendala bagi mediator hakim yang hanya memiliki waktu terbatas dalam menjalankan proses mediasi. Kendala yang dialami mediator dalam mediasi ini dapat dilihat dari para pihak, dimana jika para pihak tidak mempunyai itikad baik maka akan mempersulit mediator dalam mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan proses mediasi. Bahwa akta perdamaian itu mempunyai kekuatan hukum yang mengikat para pihak. Oleh karena itu, para pihak harus melaksanakan isi yang tercantum didalamnya. Para pihak tidak dapat membatalkan putusan perdamaian secara sepihak. Kata Kunci : Mediator, Pengadilan, Perma No. 1 Tahun Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ** Dosen Pembimbing I, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara *** Dosen Pembimbing II, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara vii

11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan bermasyarakat manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa terhindar dari sengketa. Perbedaan pendapat maupun persepsi diantara manusia yang menjadi pemicu timbulnya sengketa. Sengketa merupakan salah satu hal yang dapat muncul kapan saja dan dimana saja. Sengketa bermula dari suatu kondisi dimana salah satu pihak merasa dirugikan oleh pihak tertentu yang dimana hal ini diawali oleh rasa tidak puas yang bersifat tertutup. Proses sengketa terjadi karena tidak adanya titik temu antara para pihak yang bersengketa. Bentuk sengketa bermacam-macam dimana setiap permasalahannya memiliki banyak lika-liku. Terdapat beberapa pilihan dalam menyelesaikan sengketa hukum salah satunya yang paling sering dipakai oleh masyarakat adalah penyelesaian sengketa melalui pengadilan. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan terkadang tidak memberikan penyelesaian sebagaimana yang diharapkan oleh para pihak. Penyelesaian dengan cara ini juga dikenal memakan waktu yang cukup lama dan mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Dalam proses litigasi, pemeriksaan suatu perkara dianggap telah selesai karena semua tingkat upaya hukum telah digunakan secara maksimal. Akibatnya perkara tersebut akan dianggap tuntas dengan ditandai proses eksekusi. Namun bila ditelaah, sebenarnya dengan berakhirnya proses litigasi bukan berarti sengketa di antara para pihak telah benar-benar selesai, karena dengan munculnya 1

12 pihak yang kalah, justru sering menumbuhkan dendam yang berkepanjangan, sehingga pihak yang kalah akan terus melakukan ronrongan kepada pemenangnya agar ia tidak bisa menikmati hasil kemenangannya itu. Kondisi seperti itu justru menjadi kontraproduktif dengan tujuan penyelesaian sengketa itu sendiri, karena bukan hanya konfliknya tidak selesai secara tuntas, namun pihak yang nyata-nyata telah dinyatakan menang oleh putusan pengadilan pun pada kenyataannya tidak bisa menikmati kemenangan itu secara nyaman dan tentram. 2 Penyelesaian dengan cara litigasi ini hanya digunakan untuk memuaskan rasa emosional demi mencari kepuasan pribadi dengan keinginan agar pihak lawan dinyatakan kalah oleh putusan pengadilan negeri dimana kebanyakan pihak yang mengajukan tidak memperhitungkan apakah nilai yang disengketakan itu sebanding atau tidak dengan pengorbanan yang telah dilakukan selama proses persidangan yang begitu panjang. Proses litigasi memang lebih memberikan kepastian hukum karena putusannya dapat dilaksanakan dengan kekuatan eksekusi, namun pada kenyataannya eksekusi itu justru dianggap tidak bisa memberi kenyamanan dalam menikmati hasil dari kemenangan itu, bahkan dalam beberapa kasus eksekusi tidak dapat dijalankan. Kinerja institusi penegak hukum masih dianggap kurang memenuhi harapan dan perasaan keadilan dalam masyarakat dimana lembaga peradilan yang seharusnya menjadi jalan terakhir untuk mendapatkan keadilan akan tetapi sering tidak mampu memberikan keadilan yang diharapkan. Berangkat dari kekurangan penyelesaian sengketa melalui litigasi ini, kemudian berkembanglah berbagai pilihan penyelesaian sengketa atau disebut 2 Rachmadi Usman (Buku I), Mediasi di Pengadilan dalam Teori dan Praktik, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012), hal

13 alternatif penyelesaian sengketa yang dianggap sebagai pengganti dari mekanisme penyelesaian sengketa di pengadilan dimana penyelesaian sengketa ini dilakukan diluar pengadilan atau non litigasi yang lebih menguntungkan para pencari keadilan yang bertujuan untuk mengakomodir keinginan-keinginan para pihak yang bersengketa. Adapun alternatif tersebut antara lain : Arbitrase, konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi dan penilaian ahli. Kesepakatan penyelesaian sengketa di luar pengadilan ini dilakukan dengan cara mufakat oleh para pihak. Penyelesaian sengketa dengan cara ini dilaksanakan berdasarkan prinsip kesukarelaan yang pelaksanaannya tergantung pada ketaatan para pihak yang bersengketa. Mas Achmad Sentosa dalam makalahnya Perkembangan ADR Indonesia mengemukakan sekurang-kurangnya ada 5 (lima) faktor utama yang memberikan dasar diperlukannya pengembangan penyelesaian sengketa alternatif di Indonesia, yaitu : 3 1. Sebagai upaya meningkatkan daya saing dalam mengundang penanaman modal ke Indonesia. 2. Tuntutan masyarakat terhadap mekanisme penyelesaian sengketa yang aefisien dan mampu memenuhi rasa keadilan. 3. Upaya untuk mengimbangi meningkatnya daya kritis masyarakat yang dibarengi dengan tuntutan berperan serta aktif dalam proses pembangunan ( termasuk pengambilan keputusan terhadap urusan-urusan publik). 4. Menumbuhkan iklim persaingan sehat (peer pressive) bagi lembaga peradilan. 5. Sebagai langkah antisipasif membendung derasnya arus perkara mengalir ke pengadilan. Alternatif penyelesaian sengketa menawarkan berbagai bentuk proses penyelesaian yang fleksibel dengan menerapkan satu atau beberapa bentuk mekanisme yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan 3 Ibid, hal

14 demikian sengketa diusahakan mencapai suatu penyelesaian final. Usaha ini ditempuh melalui proses yang sifatnya informal dan sesuai bagi sengketa yang kadang-kadang sangat pribadi atau melalui proses mekanisme yang disusun bersama oleh para pihak secara kesepakatan agar dapat pula dimanfaatkan dikemudian hari bagi sengketa yang lebih besar, teknis dan kompleks. 4 Istilah alternatif penyelesaian sengketa dapat ditemukan dalam Undang- Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (LN Tahun 1999 No. 138). Istilah alternatif penyelesaian sengketa merupakan terjemahan dari istilah Inggris alternative dispute resolution yang lazim disingkat dengan sebutan ADR. Namun, sebagian kalangan akademik di Indonesia menerjemahkan istilah alternative dispute resolution dengan istilah pilihan penyelesaian sengketa. 5 Alternatif penyelesaian sengketa diatur dalam UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang dimana dalam pasal 1 angka 10 dijelaskan bahwa : Alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melaui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian diluar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Bentuk Alternatif penyelesaian sengketa yang cukup pesat perkembangannya salah satunya adalah mediasi. Mediasi pada dasarnya adalah negosiasi yang melibatkan pihak ketiga yang memiliki keahlian mengenai 4 Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa Suatu Pengantar, ( Jakarta : Fikahati Aneska, 2002), hal.2. 5 Takdir Rahmadi, Mediasi : Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2010), hal.10. 4

15 prosedur mediasi yang efektif, dapat membantu dalam situasi konflik untuk mengkoordinasikan aktivitas mereka sehingga lebih efektif dalam proses tawarmenawar bila tidak ada negosiasi tidak ada mediasi. Mediator dalam mediasi, berbeda halnya dengan arbiter atau hakim. Mediator tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksakan suatu penyelesaian pada pihak-pihak yang bersengketa. 6 Menurut Tolberg dan Taylor yang dimaksud dengan mediasi adalah Suatu proses dimana para pihak dengan bantuan seseorang atau beberapa orang secara sistematis menyelesaikan permasalahan yang disengketakan untuk mencari alternatif dan dapat mempercaya penyelesaian yang dapat mengakomodasi kebutuhan mereka. 7 Mediasi sebagai bagian dari alternatif penyelesaian sengketa atau pilihan penyelesaian sengketa dimana mediasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelesaikan sengketa antara para pihak yang dilakukan oleh pihak ketiga yang bersifat netral dan imparsial. Dalam penyelesaian sengketa dengan cara mediasi ini menempatkan kedua belah pihak yang berperkara dalam posisi yang sama, tidak ada pihak yang menang ataupun pihak yang kalah. Dalam penyelesaian sengketa dengan cara mediasi ini harus adanya keinginan dan itikad baik dari para pihak yang juga akan dibantu oleh pihak ketiga dalam melaksanakan perdamaian itu. Adapun pihak ketiga dalam mediasi tersebut disebut mediator yang bertugas membantu para pihak dalam menyelesaikan masalahnya akan tetapi tidak memiliki wewenang dalam mengambil keputusan. 6 Nurnaningsih Amriani, Mediasi : Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2011), hal diakses pada tanggal 22 Oktober

16 Dalam proses mediasi terjadi permufakatan diantara para pihak dan bantuan mediator dalam mediasi ini diharapkan mampu menemukan berbagai pilihan solusi penyelesaian sengketa, yang akan dilakukan oleh para pihak yang bersengketa. Hasil dari mediasi ini dituangkan dalam kesepakatan tertulis, yang bersifat final dan mengikat para pihak yang bersengketa agar dilaksanakan dengan asas itikad baik. Adapun maksud dari Itikad Baik adalah dimana para pihak yang bersengketa menyampaikan saran-saran melalui jalur yang bagaimana sengketa akan diselesaikan oleh mediator, karena mereka sendiri tidak mampu melakukannya. Melalui kebebasan ini dimungkinkan kepada mediator memberikan penyelesaian yang inovatif melalui suatu bentuk penyelesaian yang tidak dapat dilakukan oleh pengadilan, akan tetapi para pihak yang bersengketa memperoleh manfaat yang saling menguntungkan. 8 Pendekatan mufakat dalam mediasi mengandung arti, bahwa segala sesuatu yang dihasilkan merupakan hasil dari persetujuan bersama ataupun kesepakatan para pihak. Penyelesaian itu dapat dicapai jika semua pihak yang bersengketa dapat menerima penyelesaian itu. Mediator yang netral mengandung arti bahwa mediator tidak memihak kepada para pihak, tidak memiliki kepentingan dengan sengketa yang sedang terjadi, serta tidak diuntungkan maupun dirugikan bila ternyata sengketa dapat diselesaikan maupun menemukan jalan buntu. Mediasi sebagai salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang memiliki kelebihan-kelebihan sehingga menjadi pilihan yang tepat bagi para pihak yang bersengketa. Adapun kelebihan mediasi adalah kerahasiaan dan ketertutupan yang 8 Priyatna Abdurrasyid,Op.Cit., hal

17 menjadi daya tarik bagi kalangan tertentu, contohnya para pengusaha yang tidak ingin masalah yang dihadapinya diketahui oleh publik. Mediasi juga dilakukan secara cepat, dan menghasilkan kesepakatan secara komperehensif yang dimana keputusan itu dapat diterima dengan baik oleh para pihak. Para pihak dalam mediasi juga dapat memakai bahasa sehari-hari yang lazim mereka gunakan tanpa perlu memakai istilah-istilah hukum yang lazim dipakai dalam proses beracara di pengadilan. Meskipun mediasi memiliki banyak kekuatan, akan tetapi mediasi juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu juga diketahui para pihak bahwa mediasi hanya akan dapat dilaksanakan secara efektif jika para pihak benar-benar memiliki keinginan untuk menyelesaiakan sengketa diantara mereka dengan cara mediasi ini, karena jika hanya salah satu dari mereka yang ingin melakukannya maka mediasi ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Latar belakang lahirnya mediasi pada dasarnya adalah karena pengintegrasian mediasi ke dalam proses beracara di pengadilan dapat menjadi salah satu instrumen yang mengatasi penumpukan perkara di pengadilan. Mediasi merupakan salah satu proses yang lebih cepat dan murah serta memberikan kesempatan para pihak yang bersengketa agar dapat memperoleh keadilan dan rasa kepuasan atas hasil dari penyelesaian sengketa yang tengah mereka hadapi. Perdamaian pada dasarnya telah ada dalam dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila dimana disiratkan bahwa asas penyelesaian sengketa adalah musyawarah untuk mufakat. Penyelesaian perkara di luar pengadilan telah dirintis sejak lama oleh para ahli hukum sehingga Mahkamah Agung sebagai lembaga tertinggi merasa bertanggung jawab untuk merealisasikan undang-undang tentang mediasi. Mahkamah Agung pada September 2001 mengadakan Rapat kerja 7

18 Nasional yang menghasilkan SEMA No. 1 Tahun 2002 Tentang pemberdayaan pengadilan tingkat pertama menerapkan lembaga damai. Pada Januari 2003 Mahkamah Agung mengadakan temu karya yang dimana hasil dari temu karya ini menghasilkan Perma No. 2 Tahun Peraturan Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2003 ini menjadikan mediasi sebagai salah satu proses beracara di pengadilan. Bahwa semua perkara perdata yang diajukan pada pengadilan tingkat pertama harus terlebih dahulu diselesaikan dengan upaya damai. Dalam perma ini hakim diwajibkan untuk menawarkan mediasi kepada para pihak yang berperkara dimana sebelum dilakukannya mediasi hakim wajib memberikan penjelasan kepada para pihak mengenai prosedur dan biaya mediasi. Pada tahun 2008 Mahkamah Agung menyempurnakan prosedur mediasi ini dengan melahirkan Perma No. 1 Tahun Penyempurnaan tersebut dilakukan karena Perma No. 2 tahun 2003 mengalami masalah yang menyebabkan penerapannya tidak efektif di pengadilan. Perma ini dikeluarkan untuk mempercepat, mempermudah proses penyelesaian sengketa dimana kehadiran perma ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian, ketertiban, kelancaran dalam proses mendamaikan para pihak. Perma No. 1 tahun 2008 yang dikeluarkan pada tanggal 31 Juli 2008 ini membawa beberapa perubahan penting dimana memungkinkan para pihak menempuh mediasi pada tingkat banding atau kasasi. Sangat berbeda dengan Perma No 2 tahun 2003 dimana mediasi hanya ditawarkan pada awal saja. Lahirnya Perma No 1 tahun 2008 ini sebagai suatu hal positif yang membantu para pihak untuk lebih memahami mediasi. Perma No. 1 Tahun 2008 ini memberikan pengaturan yang lebih lengkap mengenai proses mediasi di 8

19 pengadilan. Peraturan ini mengarahkan para pihak yang berperkara agar menempuh proses perdamaian secara detail. Mediasi wajib dilakukan dengan hatihati untuk menghindari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak beritikad baik. Mediasi tidak hanya bermanfaat bagi para pihak, tetapi juga bermanfaat bagi pengadilan. Mediasi dapat mengurangi kemungkinan penumpukan jumlah perkara yang diajukan ke pengadilan, sehingga jika banyak perkara yang berhasil melalui proses mediasi ini akan membuat pemeriksaan perkara di pengadilan berjalan lebih cepat. Mengenai mediator dalam Perma No. 2 tahun 2003, mediator adalah pihak ketiga yang menyelesaikan perkara para pihak. Dalam Perma No. 2 tahun 2003 dan juga UU No. 30 tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa sama sekali tidak menyebutkan tentang syarat-syarat ataupun kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang mediator. Dalam Pasal 1 angka 6 Perma No. 1 tahun 2008 menyebutkan bahwa : Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Mediator tidak dibenarkan masuk kedalam proses mediasi tanpa persetujuan tertulis dari pihak dalam sengketa yang akan dimediasikan. Sebelum persetujuan diberikan, mediator harus menyampaikan kepada para pihak adanya kemungkinan kepentingan yang dimilikinya menyangkut dengan salah satu pihak 9

20 dan keadaan lainnya yang mungkin dapat mempengaruhi azas prasangka tidak berpihak. 9 Dalam pasal 14 Perma No.1 tahun 2008 disebutkan bahwa : Mediator berkewajiban menyatakan mediasi telah gagal jika salah satu pihak atau para pihak atau kuasa hukumnya telah dua kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi sesuai jadwal pertemuan mediasi yang telah disepakati atau telah dua kali berturut-turut tidak menghadiri pertemuan mediasi tanpa alasan setelah dipanggil secara patut. Jika setelah proses mediasi berjalan, mediator memahami bahwa dalam sengketa yang sedang dimediasi melibatkan aset atau harta kekayaan atau kepentingan yang nyata-nyata berkaitan dengan pihak lain yang tidak disebutkan dalam surat gugatan sehingga pihak lain yang berkepentingan tidak dapat menjadi salah satu pihak dalam proses mediasi, mediator dapat menyampaikan kepada para pihak dan hakim pemeriksa bahwa perkara yang bersangkutan tidak layak untuk dimediasi dengan alasan para pihak tidak lengkap. Dibentuknya Perma No. 1 tahun 2008 adalah dengan maksud mengatasi kekurangan Perma No. 2 tahun Akan tetapi, pelaksanaan perma ini masih juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanannya. Adapun faktor yang menghambat pelaksanaan itu antara lain : 1. Terbatasnya jumlah mediator dan jumlah hakim 2. Itikad baik para pihak yang bersengketa Dimana itikad baik sangat penting agar tercapainya keberhasilan dalam mediasi. Apabila para pihak hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kepentingan mereka, maka perdamaian dengan cara mediasi akan sangat sulit tercapai. 3. Kurangnya dukungan para hakim 9 Ibid, hal

21 Perlunya penciptaan insentif yang jelas dan transparan bagi para hakim yang sukses mendamaikan, sehingga para hakim dapat mendukung sepenuhnya proses mediasi. 4. Ruangan Mediasi Diperlukannya rehabilitasi gedung kantor pengadilan, dimana saat ini masih banyaknya pengadilan yang kekurangan ruangan. Hambatan pelaksanaan Perma No.1 Tahun 2008 menjadi alasan dilahirkannya Perma No.1 Tahun Dimana Perma No.1 Tahun 2008 dianggap belum efektif pelaksanaannya. Ada beberapa poin penting dalam Perma No.1 Tahun 2016 yang berbeda dengan Perma No. 1 Tahun Salah satunya, Jangka waktu penyelesaian mediasi dalam Perma No.1 Tahun 2016 menjadi 30 hari, dimana sebelumnya dalam Perma No. 1 Tahun 2008 adalah 40 hari. Dalam Perma No.1 Tahun 2016 diwajibkan bagi para pihak untuk hadir dengan atau tanpa kuasa hukumnya, kecuali ada ada alasan yang sah seperti kondisi kesehatan yang tidak baik, berdasarkan surat keterangan dokter, sedang menjalankan tugas negara, tuntutan profesi atau pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan. Hal yang terpenting adalah adanya itikad baik oleh para pihak dan sanksi bagi pihak yang tidak memiliki itikad baik dalam proses mediasi. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan ketidakberhasilan proses mediasi yakni tidak adanya itikad baik para pihak, peran advokat atau kuasa hukum para pihak, dan penjelasan majelis yang memeriksa perkara belum optimal sehingga mengakibatkan para pihak kurang memahami bagaimana proses mediasi. Dalam Perma No.1 Tahun 2016 mewajibkan para pihak beritikad baik ketika melakukan mediasi. Jika tidak, akan menimbulkan akibat hukum bagi para pihak yang tidak 11

22 beritikad baik yaitu berdasarkan laporan mediator adanya putusan gugatan tidak dapat diterima disertai hukuman membayar biaya mediasi dan biaya perkara. Majelis hakim yang memeriksa perkara wajib menjelaskan prosedur mediasi secara jelas kepada para pihak serta memberi penjelasan mengenai dokumendokumen persetujuan melakukan mediasi dengan itikad baik yang harus ditandatangani oleh para pihak. Perma No. 1 Tahun 2016 diterbitkan dengan tujuan untuk meningkatkan keberhasilan mediasi di pengadilan umum dan pengadilan agama. Perma yang terbaru ini memiliki pengaturan mediasi yang cakupannya lebih luas dari Perma sebelumnya. Dalam Perma No. 1 Tahun 2016 ini juga kembali menegaskan peranan mediator independen agar berperan lebih aktif dalam penyelesaian perkara di luar pengadilan dan lahirnya mediator-mediator handal dan yang mampu menyelesaikan permasalahan di masyarakat dengan cara damai. Berdasarkan hal-hal yang diuraikan dalam latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN ( STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016). B. Perumusan Masalah Berdasarkan hal-hal yang diuraikan dalam latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana Kedudukan Mediator Dalam Penyelesaian Sengketa Di Pengadilan Negeri Medan? 12

23 2. Bagaimana efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan? 3. Kendala-Kendala Apa Saja Yang Dialami Mediator Dalam Pelaksanaan Mediasi Di Pengadilan Negeri Medan? C. Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui kedudukan mediator dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan Negeri Medan. 2. Untuk mengetahui efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan. 3. Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dialami mediator dalam pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Medan. D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang diharapkan penulis dalam skripsi ini adalah : 1. Secara teoritis Penulisan skripsi ini diharapkan sebagai acuan dalam perkembangan ilmu hukum di Indonesia. Hal-hal yang tertuang dalam penulisan skripsi Ini diharapkan menambah pengetahuan para mahasiswa hukum dan juga masyarakat khususnya berkaitan tentang mediasi di pengadilan serta kedudukan mediator dalam mediasi. Skripsi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang nyata kepada masyarakat tentang bagaimana 13

24 pelaksanaan mediasi di pengadilan dengan diterapkannya Perma No. 1 Tahun 2016 Tentang prosedur mediasi di Pengadilan. 2. Secara praktis Penulisan skripsi ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa, praktisi hukum khususnya bagi advokat dan para hakim, pemerintah, mediator dalam mediasi, maupun masyarakat khususnya para pihak yang terlibat dalam suatu sengketa sehingga penulisan skripsi ini dapat dijadikan acuan dalam penyelesaian sengketa yang melalui proses mediasi. E. Metode Penelitian Dalam melakukan suatu penelitian kita tidak terlepas dengan penggunaan metode. Setiap penelitian haruslah menggunakan metode guna menganalisa permasalahan yang akan dibahas dalam suatu penelitian. Adapun metode yang dipakai penulis adalah : 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah yuridis normatif dan yuridis empiris. Yuridis normatif adalah penelitian dengan cara pengambilan bahan maupun data dari kepustakaan dimana penelitian ini mengacu kepada peraturan perundang-undangan dan norma-norma hukum dalam masyarakat. Sedangkan penelitian yuridis empiris terdiri atas penelitian terhadap identifikasi hukum, penelitian terhadap efektivitas hukum yang meliputi (kaidah hukum, penegak hukum, sarana atau fasilitas, dan kesadaran hukum masyarakat), penelitian terhadap 14

25 perbandingan hukum, penelitian sejarah hukum, dan penelitian psikologi hukum Sifat Penelitian Sifat penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif yang dimana penelitian ini berusaha memberikan gambaran tentang sebagian ataupun keseluruhan objek yang akan diteliti. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untu menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Penelitian ini, kadang-kadang berawal dari hipotesis, tetapi dapat juga tidak bertolak dari hipotesis, dapat membentuk teori-teori baru atau memperkuat teori yang sudah ada, dan dapat menggunakan data kualitatif atau kuantitatif Sumber data Data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data primer dan data sekunder, yaitu : a. Data primer adalah data yang diperoleh langsung ke lapangan dengan cara wawancara. Penulis melakukan wawancara dengan mediator hakim yang melaksanakan mediasi di Pengadilan Negeri Medan. b. Data Sekunder Data yang diperoleh dengan cara studi kepustakaan meliputi bukubuku yang berkaitan dengan objek penelitian, peraturan perundang- 10 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, ( Jakarta : Raja grafindo Persada, 2014), hal

26 undangan, artikel hukum, pendapat para sarjana, dan bahan lainnya. Data sekunder ini dapat dibagi menjadi : 1) Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang terdiri peraturan peundang-undangan yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu Perma No.1 Tahun 2016 Tentang prosedur mediasi di pengadilan. 2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang hukum primer antara lain berupa buku-buku ataupun tulisan ilmiah hukum yang berkaitan dengan judul penelitian. 3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer dan sekunder antara lain berupa kamus, ensiklopedia, surat kabar, maupun artikel hukum dari internet. 4. Teknik Pengumpulan Data a. Studi Kepustakaan (Data Sekunder) Dilakukan dengan mempelajari berbagai sumber bacaan yang berkaitan dengan masalah yang diangkat dalam skripsi ini. Seperti : Buku-buku hukum, surat kabar, majalah hukum, makalah hukum, maupun artikel hukum dari internet, serta pendapat sarjana hukum dan bahan-bahan lainnya. b. Studi Lapangan (Data Primer) Penelitian langsung ke lapangan yang dilakukan dengan wawancara antara penulis dengan mediator hakim yang melaksanakan mediasi di 16

27 Pengadilan Negeri Medan. Wawancara yang dilakukan penulis terkait mengenai efektivitas Perma No.1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan. 5. Analisis Data Analisis data dalam penulisan ini digunakan data kualitatif, metode kualitatif ini digunakan agar penulis dapat mengerti dan memahami gejala yang ditelitinya. 12 Penulisan skripsi dengan metode analisis kualitatif dilakukan dengan menelaah bahan-bahan hukum baik dari buku-buku, internet, serta peraturan perundang-undangan dan juga melakukan analisis hukum tentang peristiwa-peristiwa hukum yang terjadi dalam masyarakat pada saat sekarang ini. Peneliti mencari tahu dan menggali sumber yang berkaitan dengan peristiwa hukum yang dituangkan dalam penelitian ini. F. Keaslian Penulisan Skripsi ini berjudul KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016). Langkah awal yang dilakukan penulis sebelumnya adalah melakukan penelusuran terhadap judul skripsi yang ada pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Sepengetahuan penulis materi yang dibahas dalam skripsi ini belum pernah dijadikan judul ataupun pembahasan pada skripsi yang ada di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sehingga penulis tertarik mengangkat judul skripsi ini. 12 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 2007), hal

28 G. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan ini akan mempermudah penulisan dan penjabaran penulisan skripsi dengan memberikan gambaran yang lebih jelas. Penelitian ini dibagi menjadi lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang, yaitu apa alasan yang mendorong penulis untuk mengangkat judul ini dalam suatu penelitian hukum. Permasalahan, yaitu hal-hal yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini yang nantinya akan dicari solusi dari suatu permasalahan tersebut. Tujuan penulisan yaitu maksud dari penulis melakukan penulisan skripsi ini. Manfaat penulisan, yaitu apa manfaat yang ditimbulkan dengan adanya skripsi ini baik manfaat bagi penulis sendiri maupun pembacanya. Metode penelitian, yaitu metode yang penulis pakai dalam mengkaji setiap permasalahan yang ada. Keaslian penulisan, yaitu penegasan bahwa skripsi ini bukan merupakan plagiat dari penulisan orang lain dan dapat dijamin keasliannya. Sistematika penulisan yaitu uraian ringkas tentang skripsi ini. BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA Bab ini menguraikan tentang pengertian umum dan penyebab timbulnya sengketa, latar belakang lahirnya pilihan penyelesaian sengketa, bentuk-bentuk dan pelaksanaan pilihan penyelesaian sengketa. 18

29 BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG MEDIASI DAN PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN Bab ini membahas tentang latar belakang lahirnya prosedur mediasi di Pengadilan, esensi mediasi dalam penyelesaian perkara perdata di Pengadilan, pengertian mediator dan fungsi mediator di Pengadilan. BAB IV : KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016 ) Bab ini menjelaskan tentang bagaimana kedudukan mediator dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan Negeri Medan, bagaimana efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan, apa saja kendala-kendala yang dialami mediator dalam pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Medan. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan skripsi ini yang berisikan kesimpulan dan saran dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya. 19

30 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA A. Pengertian Umum dan Penyebab Timbulnya Sengketa Sengketa merupakan hal yang dapat timbul kapan saja dalam kehidupan bermasyarakat. Timbulnya sengketa dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa diperhitungkan sebelumnya. Manusia yang merupakan makhluk sosial sehingga sejak awal kehidupannya manusia sudah terlibat dengan masyarakat yang ada disekelilingnya, dimana dalam kehidupan bermasyarakat pertentangan akan selalu ada karena masyarakat memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda-beda. Persengketaan dalam kehidupan bermasyarakat tidak pula menutup kemungkinan adanya pihak penengah dalam suatu sengketa. Sengketa terjadi disaat munculnya suatu situasi dimana adanya pihak yang merasa dirugikan oleh pihak yang lainnya sehingga pihak yang merasa dirugikan ini menyampaikannya ke pihak tersebut sehingga dalam hal ini akan terjadi perbedaan pendapat diantara mereka sehingga terjadilah sengketa itu. Dalam kehidupan bermasyarakat banyak yang mempersoalkan antara sengketa dengan konflik. Sebagian berpendapat bahwa sengketa dan konflik merupakan dua hal yang secara konseptual tidak terdapat perbedaan diantaranya. Akan tetapi, sebagian lain sarjana berpendapat, bahwa istilah konflik dapat dibedakan dari istilah sengketa. Pertama, istilah konflik mengandung pengertian yang lebih luas karena konflik dapat mencakup perselisihan-perselisihan yang bersifat laten dan perselisihan-perselisihan yang telah mengemuka. Konflik atau perselisihan yang telah mengemuka disebut sebagai sengketa. Kedua, konflik 20

31 merujuk pada perselisihan-perselisihan yang para pihaknya sudah mupun belum teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara jelas. Ketiga, istilah konflik lebih sering ditemukan dalam kepustakaan ilmu-ilmu sosial dan politik daripada dalam kepustakaan ilmu hukum. 13 Ada beberapa pengertian konflik menurut para pakar, sebagai berikut : Menurut Leopod Von Wiese, Pengertian konflik adalah suatu proses sosial dimana kelompok manusia atau orang perorangan yang berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya tersebut dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan kekerasan dan ancaman. 2. Menurut Lewis A Coser, Pengertian konflik ialah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status, kuasa dan sumber kekayaan yang persediannya terbatas. 3. Menurut Duanne Ruth-hefelbower, mengemukakan pengertian konflik, Konflik merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak ataupun lebih yang menganggap ada perbedaan posisi yang tidak selaras atau sebanding, tidak cukup sumber dan salah satu pihak menghalangi, mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan di pihak lain kurang berhasil. Menurut Taquiri dan Davis, Konflik adalah warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku di berbagai keadaan akibat berbangkitnya keadaan merujuk pada perselisihan-perselisihan yang para pihaknya sudah maupun belum teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara jelas. Ketiga, istilah konflik lebih 13 Takdir Rahmadi 14 diakses pada tanggal 6 November

32 sering ditemukan dalam kepustakaan ilmu-ilmu sosial dan politik daripada dalam kepustakaan ilmu hukum. 15 Ada beberapa pengertian konflik menurut para pakar, sebagai berikut : Menurut Leopod Von Wiese, Pengertian konflik adalah suatu proses sosial dimana kelompok manusia atau orang perorangan yang berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya tersebut dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan kekerasan dan ancaman. 5. Menurut Lewis A Coser, Pengertian konflik ialah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status, kuasa dan sumber kekayaan yang persediannya terbatas. 6. Menurut Duanne Ruth-hefelbower, mengemukakan pengertian konflik, Konflik merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak ataupun lebih yang menganggap ada perbedaan posisi yang tidak selaras atau sebanding, tidak cukup sumber dan salah satu pihak menghalangi, mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan di pihak lain kurang berhasil. 7. Menurut Taquiri dan Davis, Konflik adalah warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku di berbagai keadaan akibat berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontoversi dan juga pertentangan diantara dua pihak atau lebih secara berterusan. 8. Menurut Muchlas, Konflik ialah bentuk interaktif yang terjadi pada tingkatan individual, kelompok, interpersonal atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini terutama terjadi pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stress. 9. Menurut Faules, Konflik adalah ekspresi pertikaian antara individu dengan individu yang lain, kelompok dengan kelompok yang lain yang disebabkan karena beberapa alasan. Dalam pengertian konflik ini pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat dan telah dialami. Jika terlibat dalam suatu sengketa, maka hal sebaiknya yang dilakukan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang sedang terjadi. Dimana dalam hal ini, sebaiknya menetapkan terlebih dahulu mana yang dapat diminta pertanggungjawaban dan meneliti apakah ada perjanjian atau kontrak. Perlu dipertimbangkan peraturan mana yang berlaku meskipun di dalam perjanjian tidak ditetapkan secara tegas mengenai peraturan yang terkait dengan sengketa itu. 15 Takdir Rahmadi, Op.Cit., hal diakses pada tanggal 6 November

33 Kemudian yang selanjutnya dilakukan adalah dipertimbangkan tindakan dan sikap yang bagaimana yang harus dipersiapkan dalam menangani sengketa tersebut. Dalam penyelesaian sengketa diperlukan adanya suatu analisa dan pengelompokan yang dapat memberikan kita pemahaman dalam menghadapi segala persoalan dan sekaligus menentukan rencana apa saja yang harus digunakan dalam pemecahan masalah tersebut. Berikut suatu pengelompokkan dasar sengketa atau perselisihan, termasuk yang bersifat kompleks dan batasbatasnya yang dapat saja saling tumpang tindih sebagai berikut : Internasional termasuk masalah-masalah hukum publik. 2. Konstitusional, administratif dan fiskal termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan kewarganegaraan atau status; pemerintahan, instansi pemerintah, jenis instansi pemerintah, perijinan, perencanaan, perpajakan dan jaminan sosial. 3. Organisasi termasuk masalah-masalah yang timbul dalam berbagai bentuk organisasi dan mencakup manajemen, struktur, prosedur dan perselisihan dalam organisasi. 4. Tenaga kerja termasuk tuntutan gaji, jam kerja dan perselisihan ketenagakerjaan (kalau di Indonesia termasuk dalam kelompok yang diatur oleh undang-undang perburuhan). 5. Korporasi termasuk perselisihan di antara pemegang saham dan masalah-masalah yang timbul dalam liquidasi, kepailitan dan keuangan. 6. Perdagangan; bidang ini sangat luas dan mencakup perselisihan di bidang kontrak, masalah-masalah dalam hubungannya seperti kemitraan, usaha 17 Priyatna Abdurrasyid, Op.,Cit., hal

34 patungan yang berbentuk dalam berbagai bidang kegiatan yang menyangkut bisnis, seperti perbankan, pengangkutan komoditas, kekayaan intelektual, industry konstruksi, dan banyak lainnya. 7. Perselisihan antara para konsumen, antara pemasok dan konsumen ( product liability perlu diteliti lebih lanjut). 8. Perselisihan mengenai harta benda termasuk perselisihan antara pemilik dan penyewa, atau antara para penyewa, peninjauan sewa dan perselisihan tentang batas-batas pekarangan rumah dan sejenisnya. 9. Sengketa yang timbul akibat kerugian atau kesalahan termasuk kealpaan atau kelalaian melakukan kewajiban akibat tuntutan terhadap perusahaan asuransi dan yang berkaitan dengan itu. 10. Masalah yang timbul akibat perceraian termasuk masalah yang berkaitan dengan anak, harta benda dan keuangan (khusus di Indonesia, sengketa soal keluarga harus diselesaikan melalui Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama islam). 11. Masalah keluarga lainnya termasuk tuntutan hak waris, bisnis keluarga dan perselisihan antara anggota keluarga (di Indonesia menjadi wewenang Pengadilan untuk mereka yang beragama bukan islam). 12. Masalah perwalian termasuk masalah-masalah yang timbul antara wali dan ahli waris. 13. Perselisihan yang menimbulkan konsekuensi dalam undang-undang pidana. 14. Masalah-masalah berkehidupan masyarakat, jenis kelamin, ras dan suku. 15. Perselisihan antara pribadi. 24

35 Masyarakat umum banyak mengidentifikasi konflik atau sengketa sebagai kekerasan, sehingga konflik dipandang sebagai hal yang buruk yang harus ditiadakan, banyak yang berpendapat seperti ini, mungkin pandangan ini dikuatkan dengan kenyataan yang ada bahwa setiap konflik atau pertikaian yang terjadi di Indonesia selalu berujung pada kekerasan, sehingga orang pun menganggap konflik ini adalah yang buruk. Akan tetapi, ada yang berpendapat lain, bahwa konflik tidak selalu berakibat buruk karena konflik harus dibedakan dengan kekerasan. Konflik mengandung nilai-nilai positif yang dapat mewujudkan perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Konflik timbul karena adanya pihak yang merasa bahwa kepentingannya dirugikan sehingga konflik merupakan suatu proses merubah ketidakadilan menjadi berkeadilan sebagaimana mestinya. Sengketa atau perselisihan mungkin saja dalam sengketa itu hal-hal yang berhubungan dengan uang atau yang melibatkan uang yang dapat ditentukan ataupun dihitung jumlahnya. Ada pula didalam sengketa itu hal-hal yang berkaitan dengan status, hak, maupun hal lainnya dalam kegiatan perdagangan dan juga perjanjian. Dalam hal perjanjian sengketa ini bisa muncul bilamana salah satu pihak ada yang wanprestasi sehingga pihak lainnya jelas merasa bahwa kepentingan hak nya dirugikan. Sengketa atau perselisihan mungkin juga berhubungan dengan soal yang sederhana atau kompleks dan melibatkan berbagai jenis persoalan, misalnya : Ibid, hal

36 1. Kenyataan yang mungkin timbul akibat kredibilitas para pihak itu sendiri, atau dari data yang diberikan oleh pihak ketiga termasuk penjelasanpenjelasan tentang kenyataan-kenyataan data tersebut. 2. Masalah hukum yang pada umumnya akibat dari pendapat atau tafsiran menyesatkan yang diberikan oleh para ahli hukum yang terkait. 3. Akibat perbedaan teknis termasuk perbedaan pendapat dari para ahli teknik dan profesionalisme dari para pihak. 4. Perbedaan pemahaman tentang sesuatu hal yang muncul, misalnya dalam penggunaan kata-kata yang membingungkan atau adanya perbedaan asumsi. 5. Perbedaan persepsi mengenai keadilan, konsep keadilan dan moralitas, budaya, nilai-nilai dan sikap. Dalam sengketa, salah satu pihak mungkin benar yang memungkinkan memiliki hak hukum yang benar dalam masalah-masalah tertentu akan tetapi, pihak yang lainnya juga mungkin benar terhadap masalah-masalah lainnya, dimana kedua belah pihak mempunyai tuntutan yang bermanfaat bagi keduanya. Dimana dalam hal ini mungkin saja adanya pembagian tanggung jawab antara para pihak. Penyelesaian sengketa dapat dipengaruhi oleh sikap-sikap para pihak misalnya masalah keuangan terkait dengan posisi keuangan secara keseluruhan antara para pihak. Persepsi tentang keadilan ataupun kecurigaan yang timbul diantara para pihak sehingga mempengaruhi tindakan yang akan diambil dalam pemecahan suatu masalah. Kemarahan ataupun faktor emosional dari para pihak dapat menjadi penghambat penyelesaian sengketa. Dalam penyelesaian sengketa itu alangkah baiknya jika para pihak menjalankan proses dengan penuh kesabaran 26

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia sebagai makhluk sosial tidak

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia sebagai makhluk sosial tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan bermasyarakat manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa terhindar dari sengketa. Perbedaan pendapat maupun persepsi diantara manusia yang menjadi pemicu

Lebih terperinci

KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI

KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (Studi Terhadap Efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Hukum Untuk Melengkapi Tugas dan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

MEDIASI ATAU KONSILIASI DALAM REALITA DUNIA BISNIS

MEDIASI ATAU KONSILIASI DALAM REALITA DUNIA BISNIS MEDIASI ATAU KONSILIASI DALAM REALITA DUNIA BISNIS Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Alternatif Penyelesaian Sengketa Disusun Oleh: Raden Zulfikar Soepinarko Putra 2011 200 206 UNIVERSITAS

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum. Oleh:

SKRIPSI. Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum. Oleh: EFEKTIFITAS PERJANJIAN DAMAI DALAM PENGADILAN (AKTA VAN DADING) TERHADAP PERBUATAN MELAWAN HUKUM DAN WANPRESTASI DALAM PENEGAKAN HUKUM PERDATA (STUDI PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI Diajukan Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan berdirinya lembaga-lembaga perekonomian yang menerapkan

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan berdirinya lembaga-lembaga perekonomian yang menerapkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejalan dengan berdirinya lembaga-lembaga perekonomian yang menerapkan prinsip syari ah tidak mungkin dihindari akan terjadinya konflik. Ada yang berujung sengketa

Lebih terperinci

A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi

A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi BAB IV ANALISIS A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya dapat diketahui bahwa secara umum mediasi diartikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keperdataan. Dalam hubungan keperdataan antara pihak yang sedang berperkara

BAB I PENDAHULUAN. keperdataan. Dalam hubungan keperdataan antara pihak yang sedang berperkara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia selain merupakan makhluk individu, juga berperan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk dapat melakukan kerjasama dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bernegara, agar tercipta kehidupan yang aman, tertib, dan adil.

BAB I PENDAHULUAN. bernegara, agar tercipta kehidupan yang aman, tertib, dan adil. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum (Pasal 1 ayat (3). Ketentuan tersebut merupakan landasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sengketa yang terjadi diantara para pihak yang terlibat pun tidak dapat dihindari.

BAB I PENDAHULUAN. sengketa yang terjadi diantara para pihak yang terlibat pun tidak dapat dihindari. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pesatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat melahirkan berbagai macam bentuk kerjasama di bidang bisnis. Apabila kegiatan bisnis meningkat, maka sengketa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. * Dosen Pembimbing I ** Dosen Pembimbing II *** Penulis. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. * Dosen Pembimbing I ** Dosen Pembimbing II *** Penulis. A. Latar Belakang Adapun metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian hukum normatif dan metode penelitian hukum sosiologis. Penelitian hukum normatif mengkaji data-data sekunder di bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Kegiatan usaha

BAB I PENDAHULUAN. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Kegiatan usaha 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses

Lebih terperinci

PANDUAN WAWANCARA. proses mediasi terhadap perkara perceraian? b. Apa ada kesulitan dalam menerapkan model-model pendekatan agama?

PANDUAN WAWANCARA. proses mediasi terhadap perkara perceraian? b. Apa ada kesulitan dalam menerapkan model-model pendekatan agama? PANDUAN WAWANCARA Mediator: 1. Apa saja model-model Pendekatan Agama dalam proses mediasi terhadap perkara perceraian? a. Bagaimana cara menerapkan model-model pendekatan agama dalam proses mediasi terhadap

Lebih terperinci

Lex Administratum, Vol. III/No.3/Mei/2015

Lex Administratum, Vol. III/No.3/Mei/2015 PENYELESAIAN PERKARA MELALUI CARA MEDIASI DI PENGADILAN NEGERI 1 Oleh : Elty Aurelia Warankiran 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan bertuan untuk mengetahui bagaimana prosedur dan pelaksanaan mediasi perkara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengadakan kerjasama, tolong menolong, bantu-membantu untuk

BAB I PENDAHULUAN. mengadakan kerjasama, tolong menolong, bantu-membantu untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia mempunyai sifat, watak dan kehendak sendiri-sendiri. Namun di dalam masyarakat manusia mengadakan hubungan satu sama lain, mengadakan kerjasama, tolong

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. Bahwa mediasi merupakan salah satu proses penyelesaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa sekarang ini banyak terjadi sengketa baik dalam kegiatan di

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa sekarang ini banyak terjadi sengketa baik dalam kegiatan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada masa sekarang ini banyak terjadi sengketa baik dalam kegiatan di dunia bisnis, perdagangan, sosial budaya, ekonomi dan lain sebagainya, namun dalam penyelesaiannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia hidup diatas tanah dan memperoleh bahan pangan dengan mendayagunakan. Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia hidup diatas tanah dan memperoleh bahan pangan dengan mendayagunakan. Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu kekayaan alam atau sumber daya alam yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia adalah tanah. Manusia hidup

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Bahwa mediasi merupakan salah satu proses penyelesaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sengketa atau konflik tersebut timbul disebabkan karena adanya hubungan antara satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sengketa atau konflik tersebut timbul disebabkan karena adanya hubungan antara satu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sengketa atau konflik tersebut timbul disebabkan karena adanya hubungan antara satu manusia dengan manusia lain sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA. A. Pengertian Umum dan Penyebab Timbulnya Sengketa

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA. A. Pengertian Umum dan Penyebab Timbulnya Sengketa BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA A. Pengertian Umum dan Penyebab Timbulnya Sengketa Sengketa merupakan hal yang dapat timbul kapan saja dalam kehidupan bermasyarakat. Timbulnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling membutuhkan satu sama lainnya. Dengan adanya suatu hubungan timbal

BAB I PENDAHULUAN. saling membutuhkan satu sama lainnya. Dengan adanya suatu hubungan timbal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupan sehari-hari saling membutuhkan satu sama lainnya. Dengan adanya suatu hubungan timbal balik, bukan tidak

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL III - 1 III - 2 Daftar Isi BAB I KETENTUAN UMUM III-9 BAB II TATACARA PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan usaha di sektor jasa keuangan pada saat sekarang ini sedang mengalami perkembangan dan kemajuan, hal itu dapat terlihat dari besarnya antusias masyarakat

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA; Menimbang

Lebih terperinci

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENGGANDAAN BUKU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA (Studi Pada Titi Gantung Medan)

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENGGANDAAN BUKU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA (Studi Pada Titi Gantung Medan) PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENGGANDAAN BUKU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA (Studi Pada Titi Gantung Medan) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan memenuhi syarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setelah melakukan musyawarah dengan para shahabatnya. pikiran, gagasan ataupun ide, termasuk saran-saran yang diajukan dalam

BAB I PENDAHULUAN. setelah melakukan musyawarah dengan para shahabatnya. pikiran, gagasan ataupun ide, termasuk saran-saran yang diajukan dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sistem hukum Islam mediasi dikenal dengan Musyawarah, yang dimaksudkan musyawarah disini adalah urusan peperangan dan hal-hal yang bersifat duniawiyah, seperti

Lebih terperinci

Lex et Societatis, Vol. IV/No. 2/Feb/2016. TAHAPAN DAN PROSES MEDIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN 1 Oleh: Agung Akbar Lamsu 2

Lex et Societatis, Vol. IV/No. 2/Feb/2016. TAHAPAN DAN PROSES MEDIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN 1 Oleh: Agung Akbar Lamsu 2 TAHAPAN DAN PROSES MEDIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN 1 Oleh: Agung Akbar Lamsu 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaturan tentang

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 1 PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI MEDIASI DALAM PERKARA WARISAN DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajad Sarjana Hukum dalam

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pengertian Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak. 2 Perjanjian kerja wajib

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pengertian Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak. 2 Perjanjian kerja wajib BAB III LANDASAN TEORI A. Pengertian Perjanjian Kerja Waktu Tertentu Pengaturan perjanjian bisa kita temukan didalam buku III bab II pasal 1313 KUHPerdata yang berbunyi Perjanjian adalah suatu perbuatan

Lebih terperinci

PERANAN MEDIATOR DAN TINGKAT KEBERHASILANNYA DALAM PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDY DINAS SOSIAL DAN TENAGA KERJA KOTA MEDAN)

PERANAN MEDIATOR DAN TINGKAT KEBERHASILANNYA DALAM PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDY DINAS SOSIAL DAN TENAGA KERJA KOTA MEDAN) PERANAN MEDIATOR DAN TINGKAT KEBERHASILANNYA DALAM PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (STUDY DINAS SOSIAL DAN TENAGA KERJA KOTA MEDAN) SKRIPSI Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS PENERAPAN ARBITRASE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN (STUDI DI BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA KOTA MEDAN) SKRIPSI

EFEKTIFITAS PENERAPAN ARBITRASE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN (STUDI DI BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA KOTA MEDAN) SKRIPSI EFEKTIFITAS PENERAPAN ARBITRASE DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN (STUDI DI BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA KOTA MEDAN) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna

Lebih terperinci

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. Bahwa mediasi

Lebih terperinci

Oleh Helios Tri Buana

Oleh Helios Tri Buana TINJAUAN YURIDIS TERHADAP MEDIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PEWARISAN DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA (Studi Kasus Perkara Nomor : 168/Pdt.G/2013/PN.Ska) Jurnal Ilmiah Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi

Lebih terperinci

MEDIASI. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan

MEDIASI. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan MEDIASI Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN Dasar Hukum : Pasal 130 HIR Pasal 154 RBg PERMA No. 1 tahun 2016 tentang Prosedur

Lebih terperinci

PENERAPAN AZAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA MELALUI MEDIASI BERDASARKAN PERMA NO

PENERAPAN AZAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA MELALUI MEDIASI BERDASARKAN PERMA NO PENERAPAN AZAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA MELALUI MEDIASI BERDASARKAN PERMA NO. O1 TAHUN 2008 DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA SKRIPSI Disusun dan diajukan untuk

Lebih terperinci

Dalam melaksanakan tugasnya, Kelompok Kerja telah melakukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan proses penyusunan revisi PERMA tersebut.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kelompok Kerja telah melakukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan proses penyusunan revisi PERMA tersebut. MEDIASI Pengertian Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga ke tahap yang lebih besar dan kompleks seiring dengan perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga ke tahap yang lebih besar dan kompleks seiring dengan perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berinteraksi satu dengan yang lainnya.interaksi sosial ini dimulai dari tingkat yang paling sederhana sehingga ke tahap yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Keberadaan tanah yang jumlahnya tetap (terbatas) mengakibatkan perebutan

BAB 1 PENDAHULUAN. Keberadaan tanah yang jumlahnya tetap (terbatas) mengakibatkan perebutan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara Konstitusional dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 pada pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa: Bumi dan air dan kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kredit macet merupakan masalah yang sangat penting dalam sejarah perbankan Indonesia terutama pada tahun 1999-2004. Banyaknya bank yang dilikuidasi sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sorotan masyarakat karena diproses secara hukum dengan menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sorotan masyarakat karena diproses secara hukum dengan menggunakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banyaknya kasus tindak pidana ringan yang terjadi di Indonesia dan sering menjadi sorotan masyarakat karena diproses secara hukum dengan menggunakan ancaman hukuman

Lebih terperinci

PERAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAGIAN HARTA BERSAMA SETELAH PERCERAIAN (STUDI DI PENGADILAN AGAMA MEDAN) SKRIPSI

PERAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAGIAN HARTA BERSAMA SETELAH PERCERAIAN (STUDI DI PENGADILAN AGAMA MEDAN) SKRIPSI PERAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAGIAN HARTA BERSAMA SETELAH PERCERAIAN (STUDI DI PENGADILAN AGAMA MEDAN) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk Mencapai

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI ( STUDI DI PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI OLEH

EFEKTIFITAS MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI ( STUDI DI PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI OLEH EFEKTIFITAS MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI ( STUDI DI PENGADILAN NEGERI MEDAN) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Untuk Melengkapi Tugas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era globalisasi saat ini kebutuhan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari semakin

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era globalisasi saat ini kebutuhan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari semakin BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Di era globalisasi saat ini kebutuhan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari semakin meningkat sehingga, memberikan peluang bagi pelaku usaha sebagai produsen

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN TEORITIS. Undang-Undang No 9 Tahun 1999 berjudul Undang-Undang tentang Perlindungan

BAB III TINJAUAN TEORITIS. Undang-Undang No 9 Tahun 1999 berjudul Undang-Undang tentang Perlindungan BAB III TINJAUAN TEORITIS A. Pengertian Perlindungan Konsumen Undang-Undang No 9 Tahun 1999 berjudul Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen dan bukan Undang-Undang tentang Konsumen. menyebutkan pengertianpengertian

Lebih terperinci

BAB IV. A. Analisa terhadap Prosedur Mediasi di Pengadilan Agama Bangkalan. cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi, bila didasarkan pada

BAB IV. A. Analisa terhadap Prosedur Mediasi di Pengadilan Agama Bangkalan. cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi, bila didasarkan pada BAB IV ANALISA TERHADAP PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA BANGKALAN DITINJAU DARI PERATURAN MAHKAMAH AGUNG RI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN A. Analisa terhadap Prosedur Mediasi

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dalam Memenuhi Syarat-Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum OLEH :

SKRIPSI. Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dalam Memenuhi Syarat-Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum OLEH : TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN PENGADAAN JENIS IKAN NILAI EKONOMI TINGGI ANTARA DINAS PERTANIAN KOTA TEBING TINGGI DENGAN CV. AVANSA SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dalam

Lebih terperinci

CARA MENYELESAIKAN SENGKETA DALAM EKONOMI MAKALAH. Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis

CARA MENYELESAIKAN SENGKETA DALAM EKONOMI MAKALAH. Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis CARA MENYELESAIKAN SENGKETA DALAM EKONOMI MAKALAH Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis Dosen Pengampu: Ahmad Munir SH, MH. Oleh: Kelompok 9 Isti anatul Hidayah (15053012)

Lebih terperinci

EKSEKUSI TERHADAP KEPUTUSAN HAKIM YANG MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM TETAP DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA

EKSEKUSI TERHADAP KEPUTUSAN HAKIM YANG MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM TETAP DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA EKSEKUSI TERHADAP KEPUTUSAN HAKIM YANG MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM TETAP DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum dalam Ilmu

Lebih terperinci

Ditulis oleh Administrator Jumat, 05 Oktober :47 - Terakhir Diperbaharui Jumat, 05 Oktober :47

Ditulis oleh Administrator Jumat, 05 Oktober :47 - Terakhir Diperbaharui Jumat, 05 Oktober :47 Pengertian Mediasi Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN MEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN MEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL EFEKTIVITAS PELAKSANAAN MEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Oleh : I Gusti Ngurah Adhi Pramudia Nyoman A Martana I Gusti Ayu Agung Ari Krisnawati Bagian Hukum

Lebih terperinci

PENERAPAN PERMA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG MEDIASI DALAM PERSIDANGAN DI PENGADILAN AGAMA Oleh : H. Sarwohadi, SH, MH (Hakim Tinggi PTA Bengkulu)

PENERAPAN PERMA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG MEDIASI DALAM PERSIDANGAN DI PENGADILAN AGAMA Oleh : H. Sarwohadi, SH, MH (Hakim Tinggi PTA Bengkulu) PENERAPAN PERMA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG MEDIASI DALAM PERSIDANGAN DI PENGADILAN AGAMA Oleh : H. Sarwohadi, SH, MH (Hakim Tinggi PTA Bengkulu) A. Pendahuluan Lahirnya Perma Nomor 1 Tahun 2008 Tentang

Lebih terperinci

dengan hukum atau yang tidak dapat dilaksanakan atau yang memuat iktidak tidak baik (Pasal 17 ayat 3).

dengan hukum atau yang tidak dapat dilaksanakan atau yang memuat iktidak tidak baik (Pasal 17 ayat 3). MAKALAH : JUDUL DISAMPAIKAN PADA : MEDIASI DAN GUGAT REKONPENSI : FORUM DISKUSI HAKIM TINGGI MAHKAMAH SYAR IYAH ACEH PADA HARI/ TANGGAL : SELASA, 7 FEBRUARI 2012 O L E H : Dra. MASDARWIATY, MA A. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN Tentang

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN Tentang KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG

Lebih terperinci

ANALISIS HUKUM TERHADAP TANGGUNG JAWAB PENILAI KERUGIAN ASURANSI DALAM INDUSTRI ASURANSI DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.

ANALISIS HUKUM TERHADAP TANGGUNG JAWAB PENILAI KERUGIAN ASURANSI DALAM INDUSTRI ASURANSI DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. ANALISIS HUKUM TERHADAP TANGGUNG JAWAB PENILAI KERUGIAN ASURANSI DALAM INDUSTRI ASURANSI DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 40 TAHUN 2014 S K R I P S I Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia dikodratkan oleh sang pencipta menjadi makhluk sosial yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia dikodratkan oleh sang pencipta menjadi makhluk sosial yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dikodratkan oleh sang pencipta menjadi makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dari sifat manusia inilah maka akan timbul suatu interaksi antara manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat melepaskan diri dari berinteraksi atau berhubungan satu sama lain

BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat melepaskan diri dari berinteraksi atau berhubungan satu sama lain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), yakni makhluk yang tidak dapat melepaskan diri dari berinteraksi atau berhubungan satu sama lain dalam rangka memenuhi

Lebih terperinci

Mahkamah Agung yang berfungsi untuk melaksanakan kekuasaan. wewenang yang dimiliki Pengadilan Agama yaitu memeriksa, mengadili,

Mahkamah Agung yang berfungsi untuk melaksanakan kekuasaan. wewenang yang dimiliki Pengadilan Agama yaitu memeriksa, mengadili, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peradilan Agama merupakan salah satu badan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang berfungsi untuk melaksanakan kekuasaan kehakiman dalam lingkup khusus. 1 Kekhususan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Dari uraian bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat memberikan. 1. Tata cara di Pengadilan Agama Purwodadi dalam melaksanakan mediasi

BAB V PENUTUP. Dari uraian bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat memberikan. 1. Tata cara di Pengadilan Agama Purwodadi dalam melaksanakan mediasi BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut : 1. Tata cara di Pengadilan Agama Purwodadi dalam melaksanakan mediasi sudah sesuai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sengketa merupakan suatu hal yang sangat wajar terjadi dalam kehidupan ini.

BAB I PENDAHULUAN. Sengketa merupakan suatu hal yang sangat wajar terjadi dalam kehidupan ini. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar BelakangMasalah Penelitian Sengketa merupakan suatu hal yang sangat wajar terjadi dalam kehidupan ini. Sengketa merupakan sebuah situasi dimana dua pihak atau lebih dihadapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perjanjian kerjasama berawal dari perbedaan kepentingan yang dicoba

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perjanjian kerjasama berawal dari perbedaan kepentingan yang dicoba 8 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perjanjian kerjasama berawal dari perbedaan kepentingan yang dicoba dipertemukan melalui kesepakatan. Melalui perjanjian perbedaan tersebut diakomodir dan selanjutnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. asasi tenaga kerja dalam Undang-Undang yang tegas memberikan. bahkan sampai akhirnya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

BAB I PENDAHULUAN. asasi tenaga kerja dalam Undang-Undang yang tegas memberikan. bahkan sampai akhirnya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan tenaga kerja dari tahun ke tahun menarik perhatian banyak pihak. Permasalahan tenaga kerja yang menimbulkan konflik-konflik pada buruh, seperti

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N ASPEK HUKUM PENOLAKAN REPUBLIK RAKYAT CINA TERHADAP KEPUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL DALAM KASUS LAUT CINA SELATAN SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan memenuhi syarat syarat untuk mencapai

Lebih terperinci

ADE FD SINAGA DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

ADE FD SINAGA DEPARTEMEN HUKUM PIDANA PEMBERIAN KOMPENSASI DAN RESTITUSI DALAM PELANGGARAN HAM BERAT DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG- UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Hukum Untuk Melengkapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekal yang di jalankan berdasarkan tuntutan agama. 1. berbeda. Pernikahan juga menuntut adanya penyesuaian antara dua keluarga.

BAB I PENDAHULUAN. kekal yang di jalankan berdasarkan tuntutan agama. 1. berbeda. Pernikahan juga menuntut adanya penyesuaian antara dua keluarga. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, manusia di bekali dengan keinginan untuk melakukan pernikahan, karena pernikahan itu adalah salah satu faktor untuk menjaga

Lebih terperinci

BAB III UPAYA HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN PEKERJA KONTRAK YANG DI PHK SEBELUM MASA KONTRAK BERAKHIR

BAB III UPAYA HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN PEKERJA KONTRAK YANG DI PHK SEBELUM MASA KONTRAK BERAKHIR BAB III UPAYA HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN PEKERJA KONTRAK YANG DI PHK SEBELUM MASA KONTRAK BERAKHIR 3.1. Pemutusan Hubungan Kerja Pemutusan hubungan kerja oleh majikan adalah jenis PHK yang sering terjadi,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam masyarakat diselesaikan secara musyawarah mufakat. Peradilan sebagai

I. PENDAHULUAN. dalam masyarakat diselesaikan secara musyawarah mufakat. Peradilan sebagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perselisihan atau pertengkaran (sengketa) merupakan suatu keadaan yang lazimnya tidak dikehendaki oleh setiap orang, namun pada dasarnya perselisihan dalam masyarakat diselesaikan

Lebih terperinci

Pengertian Mediasi. Latar Belakang Mediasi. Dasar hukum pelaksanaan Mediasi di Pengadilan adalah Peraturan Mahkamah Agung RI No.

Pengertian Mediasi. Latar Belakang Mediasi. Dasar hukum pelaksanaan Mediasi di Pengadilan adalah Peraturan Mahkamah Agung RI No. Pengertian Mediasi Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah

Lebih terperinci

Oleh: Marhendi, SH., MH. Dosen Fakultas Hukum Untag Cirebon

Oleh: Marhendi, SH., MH. Dosen Fakultas Hukum Untag Cirebon UPAYA PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL SECARA BIPARTIT, MEDIASI DAN KONSILIASI, SEBUAH KAJIAN YURIDIS Oleh: Marhendi, SH., MH. Dosen Fakultas Hukum Untag Cirebon ABSTRAK Dengan meningkatnya

Lebih terperinci

ANALISIS HUKUM HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN LEASING DENGAN OBJEK ALAT BERAT (PADA

ANALISIS HUKUM HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN LEASING DENGAN OBJEK ALAT BERAT (PADA ANALISIS HUKUM HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN LEASING DENGAN OBJEK ALAT BERAT (PADA KONTRAK PT. CLIPAN FINANCE INDONESIA TBK. DAN PT. DIPO STAR FINANCE) SKRIPSI Disusun untuk melengkapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. umum. Diantaranya pembangunan Kantor Pemerintah, jalan umum, tempat

BAB I PENDAHULUAN. umum. Diantaranya pembangunan Kantor Pemerintah, jalan umum, tempat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan Negara Republik Indonesia adalah untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG MEDIASI DAN PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN. A. Latar Belakang Lahirnya Prosedur Mediasi di Pengadilan

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG MEDIASI DAN PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN. A. Latar Belakang Lahirnya Prosedur Mediasi di Pengadilan BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG MEDIASI DAN PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN A. Latar Belakang Lahirnya Prosedur Mediasi di Pengadilan Mediasi sebagai pilihan penyelesaian sengketa yang telah berkembang pesat

Lebih terperinci

Lex Administratum, Vol. III/No. 8/Okt/2015

Lex Administratum, Vol. III/No. 8/Okt/2015 PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL MELALUI ARBITRASE MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 1 Oleh: Meifi Meilani Paparang 2 Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

S K R I P S I. Oleh TIESA SALEH DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA (BW)

S K R I P S I. Oleh TIESA SALEH DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA (BW) IMPLEMENTASI HUKUM TERHADAP PERJANJIAN PENYEDIA JASA PEKERJA YANG DILAKUKAN PT. PLN (Persero) DENGAN PT. SENTRA (Studi Pada PT. PLN (Persero) Wil. Area Binjai) S K R I P S I Disusun dan Diajukan Untuk

Lebih terperinci

SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA

SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA I. PENDAHULUAN Bahwa dalam beracara di Pengadilan Agama tidak mesti berakhir dengan putusan perceraian karena ada beberapa jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. paling baik untuk memperjuangkan kepentingan para pihak. Pengadilan

BAB I PENDAHULUAN. paling baik untuk memperjuangkan kepentingan para pihak. Pengadilan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara hukum. Setiap perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh warga negara haruslah didasarkan pada hukum. Penegakan hukum berada diatas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyelesaian Sengketa (APS) atau Alternative Dispute Resolution (ADR). 3 Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Penyelesaian Sengketa (APS) atau Alternative Dispute Resolution (ADR). 3 Salah satu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyelesaian sengketa perdata dapat dilakukan melalui 2 (dua) jalur, yaitu melalui jalur litigasi dan jalur non litigasi. Jalur litigasi merupakan mekanisme

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Perjanjian sewa-menyewa, akibat hukum, upaya hukum.

ABSTRAK. Kata kunci: Perjanjian sewa-menyewa, akibat hukum, upaya hukum. ABSTRAK Dita Kartika Putri, Nim 0810015183, Akibat Hukum Terhadap Perjanjian Tidak Tertulis Sewa-Menyewa Alat Berat di CV. Marissa Tenggarong, Dosen Pembimbing I Bapak Deny Slamet Pribadi, S.H., M.H dan

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN KAJIAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA TERHADAP PELAKSANAAN PELAYANAN PUBLIK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2009 (STUDI DI KECAMATAN SIBOLGA KOTA) S K R I P S I Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki tujuan sebagai badan yang dibentuk untuk melakukan upaya

BAB I PENDAHULUAN. memiliki tujuan sebagai badan yang dibentuk untuk melakukan upaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) merupakan badan yang menyelesaikan sengketa konsumen melalui cara di luar pengadilan. BPSK memiliki tujuan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bentuk sengketa beraneka ragam dan memiliki sekian banyak liku-liku yang

BAB I PENDAHULUAN. Bentuk sengketa beraneka ragam dan memiliki sekian banyak liku-liku yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini perkembangan bisnis dan perdagangan sangat pesat dan tidak dapat dibatasi oleh siapa pun. Pelaku bisnis bebas dan cepat untuk menjalani transaksi bisnis secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lain sebagainya. Dari pengertian diatas jika kita melihat di lapangan maka

BAB I PENDAHULUAN. lain sebagainya. Dari pengertian diatas jika kita melihat di lapangan maka BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pengadilan Agama adalah sebuah lembaga hukum yang dibentuk untuk menyelesaikan sengketa di masyarakat dalam hal perceraian, waris, gonogini,dan lain sebagainya. Dari

Lebih terperinci

PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF MELALUI MEDIASI. Oleh : Prof. Rehngena Purba, SH., MS.

PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF MELALUI MEDIASI. Oleh : Prof. Rehngena Purba, SH., MS. PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF MELALUI MEDIASI Oleh : Prof. Rehngena Purba, SH., MS. FILOSOFI : Asas Musyawarah Mufakat (Pembukaan UUD 1945). Asas Peradilan Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan (UU). FAKTA/KENYATAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keadaan yang menunjukan hal yang luar biasa. 1 Apabila sebagai contoh

BAB I PENDAHULUAN. keadaan yang menunjukan hal yang luar biasa. 1 Apabila sebagai contoh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang sudah aman, tertib atau teratur, hukum tidak akan membiarkan orang bertindak sesuka hatinya, pengecualian

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF MELALUI ARBITRASE PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK) KOTA MEDAN SKRIPSI

EFEKTIFITAS PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF MELALUI ARBITRASE PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK) KOTA MEDAN SKRIPSI EFEKTIFITAS PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF MELALUI ARBITRASE PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (BPSK) KOTA MEDAN SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Tugas Dan Memenuhi Syarat Syarat Guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mediasi sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa alternatif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mediasi sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa alternatif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mediasi sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa alternatif di luar pengadilan sudah lama dipakai dalam berbagai kasus-kasus bisnis, lingkungan hidup,

Lebih terperinci

Prosiding Ilmu Hukum ISSN: X

Prosiding Ilmu Hukum ISSN: X Prosiding Ilmu Hukum ISSN: 2460-643X Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Mediasi antara Serikat Pekerja dengan PT Andalan Fluid di Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Kota Bogor

Lebih terperinci

Doni Aripandi Saputra Harahap DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN Program Kekhususan Hukum Perdata BW

Doni Aripandi Saputra Harahap DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN Program Kekhususan Hukum Perdata BW PEMBAGIAN HARTA BERSAMA AKIBAT PERCERAIAN (STUDI PADA PENGADILAN AGAMA PANYABUNGAN KOTA KABUPATEN MANDAILING NATAL) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum OLEH:

SKRIPSI. Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum OLEH: PELAKSANAAN PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN ANTARA PT.PLN (PERSERO) AREA PAYAKUMBUH DENGAN CV.CARMEL DALAM HAL PENYEIMBANGAN BEBAN TRAFO (STUDI PADA PT.PLN (PERSERO) AREA PAYAKUMBUH) SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

TANGGUNGJAWAB ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERDATA (Studi pada Rumah Sakit Permata Bunda Medan) SKRIPSI

TANGGUNGJAWAB ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERDATA (Studi pada Rumah Sakit Permata Bunda Medan) SKRIPSI TANGGUNGJAWAB ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERDATA (Studi pada Rumah Sakit Permata Bunda Medan) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan memenuhi syarat syarat untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aktifitasnya yang berupa tanah. Tanah dapat berfungsi tidak saja sebagai lahan

BAB I PENDAHULUAN. aktifitasnya yang berupa tanah. Tanah dapat berfungsi tidak saja sebagai lahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupannya, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, manusia tentu memerlukan lahan atau tempat sebagai fondasi untuk menjalankan aktifitasnya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 51. Grafindo Persada, 2004), hal. 18. Tahun TLN No. 3790, Pasal 1 angka 2.

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 51. Grafindo Persada, 2004), hal. 18. Tahun TLN No. 3790, Pasal 1 angka 2. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aktivitas bisnis merupakan fenomena yang sangat kompleks karena mencakup berbagai bidang baik hukum, ekonomi, dan politik. Salah satu kegiatan usaha yang

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 2009

UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 2009 1 TESIS Sistem Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Antara Pekerja/Buruh Dengan Pengusaha Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Oleh : Nama NIM : ASMAN SYAHA : 12108066 PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN SISTEM PENDAFTARAN MEREK BERDASARKAN UU 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK SEBAGAI UPAYA MENANGGULANGI PENDAFTARAN MEREK TANPA HAK S K R I P S I Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

Lebih terperinci

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap pencari keadilan dimanapun. Undang-Undang Nomor 48 Tahun

Lebih terperinci

PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMALSUAN DAN PENGEDARAN UANG PALSU. (STUDY PUTUSAN NOMOR 1515/Pid.B/2013/PN/MDN SKRIPSI

PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMALSUAN DAN PENGEDARAN UANG PALSU. (STUDY PUTUSAN NOMOR 1515/Pid.B/2013/PN/MDN SKRIPSI PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMALSUAN DAN PENGEDARAN UANG PALSU (STUDY PUTUSAN NOMOR 1515/Pid.B/2013/PN/MDN SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidupnya. Dalam memenuhi segala kebutuhan hidup, akal dan pikiran. Ia memerlukan tangan ataupun bantuan dari pihak lain.

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidupnya. Dalam memenuhi segala kebutuhan hidup, akal dan pikiran. Ia memerlukan tangan ataupun bantuan dari pihak lain. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Hal ini dikarenakan manusia diberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. kelamin yang berlainan seorang laki laki dan seorang perempuan ada daya saling

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. kelamin yang berlainan seorang laki laki dan seorang perempuan ada daya saling BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang. Sudah menjadi kodrat alam, bahwa dua orang manusia dengan jenis kelamin yang berlainan seorang laki laki dan seorang perempuan ada daya saling menarik satu sama lain

Lebih terperinci

BAB III PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN SYSTEM COURT CONNECTED MEDIATION DI INDONESIA. memfasilitasi, berusaha dengan sungguh-sungguh membantu para pihak

BAB III PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN SYSTEM COURT CONNECTED MEDIATION DI INDONESIA. memfasilitasi, berusaha dengan sungguh-sungguh membantu para pihak BAB III PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN SYSTEM COURT CONNECTED MEDIATION DI INDONESIA Terintegrasinya mediasi dalam proses acara pengadilan adalah untuk memfasilitasi, berusaha dengan sungguh-sungguh membantu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa sepanjang masa dalam mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat yang

BAB I PENDAHULUAN. bangsa sepanjang masa dalam mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, merupakan salah satu sumber utama bagi kelangsungan hidup dan penghidupan bangsa sepanjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beli, tetapi disebutkan sebagai dialihkan. Pengertian dialihkan menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. beli, tetapi disebutkan sebagai dialihkan. Pengertian dialihkan menunjukkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanah adalah unsur penting yang menunjang kehidupan manusia. Tanah berfungsi sebagai tempat tinggal dan beraktivitas manusia. Begitu pentingnya tanah, maka setiap

Lebih terperinci