BUNGA RAMPAI Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif: BAUNG Hemibagrus nemurus

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUNGA RAMPAI Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif: BAUNG Hemibagrus nemurus"

Transkripsi

1

2 BUNGA RAMPAI Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif: BAUNG Hemibagrus nemurus

3

4 BUNGA RAMPAI Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif: BAUNG Hemibagrus nemurus Dewan Penyunting: Prof Dr Ir Brata Pantjara, MP Prof Dr Ir Rudhy Gustiano, MSc Ir Anang Hari Kristanto, MSc, PhD Dr drh Angela Mariana Lusiastuti, MSi Penyunting Pelaksana: Deni Radona, SPi, MSi Vitas Atmadi Prakoso, SPi, MSc MH Fariduddin Ath-Thar, SPi, MSi Penerbit IPB Press Jalan Taman Kencana No. 3, Kota Bogor - Indonesia C.01/

5 Judul Buku: BUNGA RAMPAI POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Penulis: Tim Penulis Dewan Penyunting: Prof Dr Ir Brata Pantjara, MP Prof Dr Ir Rudhy Gustiano, MSc Ir Anang Hari Kristanto, MSc, PhD Dr drh Angela Mariana Lusiastuti, MSi Penyunting Pelaksana: Deni Radona, SPi, MSi Vitas Atmadi Prakoso, SPi, MSc MH Fariduddin Ath-Thar, SPi, MSi Penyunting Bahasa: Bayu Nugaraha Mutia Rizqydiani Korektor Dwi M Nastiti Penata Isi dan desain Sampul: Makhbub Khoirul Fahmi Jumlah Halaman: halaman romawi Edisi/Cetakan: Cetakan 1, Oktober 2019 PT Penerbit IPB Press Anggota IKAPI Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor Telp ISBN: Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan 2019, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit

6 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...v PRAKATA...vii PROLOG...ix PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN Brata Pantjara, Anang Hari Kristanto, Rudhy Gustiano, dan Reza Samsudin...1 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) Rudhy Gustiano, Vitas Atmadi Prakoso, Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar, dan Irin Iriana Kusmini...15 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG Anang Hari Kristanto, Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-Thar, Otong Zenal Arifin, dan Brata Pantjara...27 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG Jojo Subagja, Otong Zenal Arifin, Vitas Atmadi Prakoso, dan Deni Radona...39 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Irin Iriana Kusmini, Deni Radona, Anang Hari Kristanto, dan Vitas Atmadi Prakoso...55 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG Mas Tri Djoko Sunarno, Reza Samsudin, Deisi Heptarina, dan Muhamad Sulhi...71

7 vi Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Yohanna R Widyastuti, Lies Setijaningsih, Adang Saputra, dan Nurhidayat...85 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG Ani Widiyati, Adang Saputra, Tri Heru Prihadi, dan Yosmaniar...95 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA Taukhid, Desy Sugiani, dan Tuti Sumiati APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Angela Mariana Lusiastuti, Nunak Nafiqoh, dan Septyan Andriyanto EPILOG...147

8 PRAKATA Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-nya sehingga buku bunga rampai dengan judul Potensi Budidaya Ikan Lokal Prospektif: Baung Hemibagrus nemurus telah terselesaikan. Buku bunga rampai ini merupakan hasil dari berbagai kajian riset dan pengalaman peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan Bogor. Budidaya ikan baung telah berkembang di masyarakat sejak beberapa tahun silam karena mempunyai pangsa pasar yang baik. Ketersediaan benih yang berkualitas dan berkecukupan sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan budidaya. Untuk itu, pengelolaan induk ikan baung dalam menghasilkan telur dan sperma yang berkualitas, serta teknik pemijahan buatan dan kelengkapan panti benih yang memadai dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan benih ikan baung yang berkualitas. Berbagai aktivitas sangat penting dan menjadi perhatian utama dalam penyediaan benih, misalnya pemilihan induk yang akan digunakan dalam pemijahan, sistem pemeliharaan induk, teknik pemberian pakan dan pengelolaan kualitas air, nutrisi induk ikan baung, parasit dan penyakit, serta predator ataupun pesaingnya telah dibahas dalam buku bunga rampai ini. Semoga buku bunga rampai ini bermanfaat dan dapat menjadi acuan dalam meningkatkan ketersediaan benih ikan baung secara nasional. Kepala Pusat Riset Perikanan Waluyo Sejati Abutohir, SH, MM

9

10 PROLOG Arah dan kebijakan perbenihan nasional telah ditetapkan dalam Undang- Undang No 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang perikanan dan diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 35/PERMEN-KP/2016, yaitu tentang cara pembenihan ikan yang baik, pedoman dan tata cara mengembangbiakkan ikan melalui manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan larva atau benih dalam lingkungan terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi kriteria dan persyaratan teknis, manajemen, keamanan pangan, dan lingkungan. Untuk membangun sektor perikanan, khususnya perikanan budidaya diperlukan ketersediaan benih secara kontinu. Benih yang diperlukan harus memenuhi persyaratan untuk budidaya dalam menunjang industri perikanan. Bunga rampai ini disusun dengan maksud untuk menyajikan informasi tentang perbenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) yang diharapkan dapat mendukung pengembangan perikanan budidaya secara nasional. Karena teknologi perbenihan ikan baung cukup kompleks, terutama dalam mengurangi tingkat kanibalisme di tingkat larva, berbagai upaya perlu dilakukan, seperti pemberian shelter, penyeragaman ukuran, dan pemberian pakan yang kontinu. Artikel-artikel dalam bunga rampai ini membahas berbagai isu terkait perbenihan ikan baung. Karena itu, bunga rampai ini diberi judul Potensi budidaya ikan lokal prospektif: Baung Hemibagrus nemurus. Dalam buku ini disajikan 12 artikel termasuk prolog dan epilog. Artikel pertama membahas prospek perbenihan ikan baung dalam mendukung industri perikanan. Pengembangan budidaya dan usaha pelestarian ikan baung akan terlaksana apabila tersedia benih yang berkualitas secara kontinu, penggunaan pakan yang tepat dan pencegahan penyakit, serta terjaganya lingkungan hidup yang baik untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhannya. Ketersediaan induk dan benih ikan berkualitas baik masih terbatas. Artikel selanjutnya membahas tentang keanekaragaman ikan baung yang termasuk dalam genus Hemibagrus dan merupakan anggota famili Bagridae. Famili ini merupakan salah satu famili ikan berkumis (catfish) yang hidup di air tawar dan payau

11 x Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus di Asia dan Afrika. Artikel berikutnya membahas tentang manajemen induk dan benih, pakan, kualitas air, pencegahan, dan pengendalian penyakit pada ikan baung. Manajemen induk yang tepat akan menghasilkan kualitas telur, sperma, larva, benih yang baik, serta dapat meminimalkan kematian induk melalui pengaturan kualitas air, pemberian pakan yang tepat, dan pencegahan penyakit. Editor

12 1.PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN Brata Pantjara, Anang Hari Kristanto, Rudhy Gustiano, dan Reza Samsudin Salah satu sumber daya perikanan perairan umum di Indonesia yang mempunyai peluang dan prospek cukup cerah untuk pengembangan budidaya air tawar adalah ikan baung (Hemibagrus nemurus). Di Jawa Barat, ikan baung mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga ikan mas. Ikan baung sangat diminati masyarakat karena rasa dagingya yang lezat, tekstur dagingnya sangat lembut dan gurih, serta tidak memiliki duri halus (sedikit durinya). Selain itu, ikan baung mempunyai nilai gizi dan protein yang cukup tinggi sehingga sangat baik untuk dikonsumsi. Ikan baung cenderung ada kemiripan dengan ikan patin, namun perbedaan yang mudah dikenali dari kedua jenis ikan ini antara lain ikan patin memiliki tubuh yang lebih panjang, sedangkan baung lebih pendek. Perbedaan lainnya yaitu pada sirip ikan patin berbentuk agak runcing, sedangkan sirip baung lebih condong ketumpul. Selain itu, bagian kepala ikan patin lebih kecil dibandingkan kepala ikan baung yang cenderung lebih besar dan pipih. Bila dilihat dari tingkat kekerabatannya, ikan baung masih tergolong satu famili dengan ikan lele (Muflikhah et al. 1998; Samuel et al. 1995). Bobot baung dewasa berkisar dari 2 5 kg, namun baung yang hidup di alam bobotnya bisa mencapai lebih dari 5 kg. Di alam liar maupun di kolam pembudidayaan, ikan baung mempertahankan dirinya dengan cara mematil menggunakan pangkal sungut dan kepalanya. Patilan baung lebih beracun daripada patilan ikan lele. Oleh karena itu, biasanya para pemancing atau pembudidaya baung menggunakan sarung tangan supaya tidak terkena patil yang beracun tersebut.

13 2 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Ikan baung termasuk ke dalam hewan nokturnal atau hewan yang aktif di malam hari. Dengan demikian, baung baru mencari makan pada malam hari, sedangkan ketika siang hari biasanya berdiam diri di sarang atau di lubanglubang berlumpur di tepi sungai. Di habitat aslinya, ikan baung termasuk golongan omnivora atau pemakan segala. Oleh karena itu, kehidupannya di alam liar biasanya memakan ikan-ikan kecil, serangga, lumut, dan cacing. Ikan baung dapat hidup pada suhu C. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi, kecernaan makanan, laju pencernaan, frekuensi pemberian pakan, penyerapan zat makanan, serta efisiensi dan konversi pakan (Ibrahim et al. 2008; Izquierdo et al. 2001; Millamena et al. 2002). Ikan baung banyak ditemukan di perairan Kalimantan, Sumatera, Jawa, hingga beberapa daerah di wilayah Indonesia timur. Ikan ini dapat dibudidayakan di kolam maupun keramba jaring apung Ikan baung (Suhenda et al. 2010). Di perairan umum, ikan baung dapat ditemukan di rawa, danau, dan waduk, namun baung sebenarnya lebih suka hidup di perairan yang memiliki arus cukup deras, seperti sungai sehingga ikan tersebut lebih banyak hidup di sungai. Ikan baung memiliki berbagai keunggulan, yaitu toleransi terhadap kualitas air dan penyakit relatif tinggi, toleransi terhadap berbagai kondisi lingkungan, efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari berbagai bahan organik, serta memiliki kemampuan tumbuh yang baik (Khairuman dan Amri 2010; Nwadukwe dan Ayinla 2004). Ekspor perikanan Indonesia sudah terdistribusi di berbagai negara. Pada skala ekonomi makro, data International Trade Center (2017) menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tahun , total nilai ekspor komoditas perikanan nasional mengalami kenaikan rata-rata pertahun sebesar 2%. Tahun 2016 total nilai ekspor komoditas perikanan nasional mencapai ± US$2,9 miliar. Dari nilai tersebut, subsektor perikanan budidaya mendominasi dengan memberikan share sebesar 60,03% terhadap total nilai ekspor perikanan nasional. Di samping itu, pendapatan domestik bruto (PDB) perikanan berdasarkan harga berlaku dalam kurun waktu lima tahun terakhir ( ) menunjukkan tren peningkatan dengan rata-rata kenaikan per tahun sebesar 14,6% dan memiliki kinerja pertumbuhan yang lebih besar dibanding sektor lainnya. Sementara itu, produksi ikan baung secara nasional belum

14 PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN 3 banyak informasinya, namun produksi ikan lainnya di Indonesia, misalnya tilapia terus meningkat setiap tahunnya, kenaikan rata-rata produksi yaitu 17,98% per tahun, sedangkan nilai produksi rata-rata naik 24,91% per tahun. Ekspor ikan baung Indonesia sudah dilakukan bersamaan dengan tilapia ke Amerika Serikat dan Kanada, sedangkan untuk kawasan Eropa ke Jerman, Belanda, Prancis, dan Belgia (Anonim 2017). Beberapa permasalahan terkait dengan pengembangan usaha pembenihan ikan baung di daerah, antara lain benih masih mengandalkan hasil penangkapan dari alam. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan membuat kebijakan mengenai pembenihan yang tertuang dalam Undang-Undang No 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang perikanan dan diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 35/PERMEN-KP/2016 (Anonim 2004; 2016). Pengembangan budidaya dan usaha pelestarian ikan termasuk ikan baung dapat terlaksana apabila tersedianya benih yang berkualitas, penggunaan pakan yang tepat, pencegahan penyakit, serta kondisi lingkungan yang baik untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan ikan budidaya. Selama ini, produksi benih ikan baung dari Unit Pembenihan masih mengandalkan pada musim hujan. Di musim kemarau, induk ikan air tawar umumnya kurang produktif karena sediaan nutrien yang kurang, terutama protein dan asam lemak. Izquierdo et al. (2001) melaporkan bahwa nutrien menentukan keberhasilan reproduksi dan meningkatkan derajat sintasan larva. Pemerintah mendukung secara penuh pembudidaya ikan yang telah tergabung dengan kelembagaan agar lebih mudah mengontrolnya, efektif, dan berkelanjutan dalam kemandirian usaha. Hal ini terbukti dengan banyaknya pembudidaya yang telah mampu secara mandiri mengembangkan usahanya di beberapa daerah. Dengan demikian, perencanaan program KKP yang dilakukan sudah mempertimbangkan prinsip bottom-up, yaitu program didasarkan pada penilaian kebutuhan masyarakat, pendekatan solusi, dan partisipasi masyarakat. PELUANG USAHA PERBENIHAN IKAN BAUNG Peluang usaha perbenihan ikan baung di masa mendatang memiliki prospek yang baik. Bisnis benih ikan baung sudah lama dilakukan oleh pembudidaya dan mempunyai peluang cukup besar, walaupun masih berfluktuasi karena

15 4 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus kebutuhan benih untuk menunjang budidaya pembesaran sampai saat ini belum terpenuhi. Bisnis perbenihan budidaya ikan baung memerlukan modal yang kecil tidak seperti pada pembesaran karena tidak memerlukan lahan yang luas. Ketersediaan benih ikan baung yang berkualitas dan berkesinambungan sangat diharapkan guna menunjang keberhasilan budidaya pembesaran (Hardjamulia dan Suhenda 2000). Benih dengan kualitas baik kurang banyak tersedia di pasaran disebabkan sulitnya mendapatkan induk matang gonad. Selain itu, daya tetas telur ikan baung masih rendah, yaitu sebesar 34,5% (Muflikhah et al. 1998). Teknologi perbenihan ikan baung cukup sederhana karena bahan dan peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut banyak dijual di pasaran dan sudah dilakukan masyarakat. Selain kolam, hal penting yang dibutuhkan antara lain pengadaan induk ikan baung dan kelengkapan lainnya, seperti selang, paralon, timba, jaring, terpal, wadah jerigen, pompa air, perlengkapan aerasi, dan lainnya. Pemasaran benih untuk dijual ke masyarakat tergantung pada lokasi dan peminat, namun sampai saat ini konsumennya cukup besar karena ikan baung digemari masyarakat mulai dari konsumsi rumah tangga hingga berbagai usaha kuliner. DUKUNGAN RISET PERBENIHAN Beberapa peneliti telah melakukan serangkaian riset perbenihan, antara lain seleksi induk, pematangan gonad ikan melalui aplikasi hormon, persyaratan sperma yang baik, teknik pengambilan sperma dan telur, teknologi pendederan, teknik penetasan, serta monitoring penyakit dan perbaikan pakan induk baung. Seleksi induk dengan cara induk ikan baung yang terpilih dari hasil seleksi, terutama dilihat dari morfologi ikan. Induk betina matang gonad dicirikan oleh perut yang membesar, tubuh agak kusam, gerakan lamban dan genitalnya berwarna kemerahan (Bobe dan Labbé 2010), sedangkan induk jantan dicirikan dengan gerakannya yang lincah, tubuhnya memerah dan lebih terang, serta memiliki genital berwarna kemerahan dan agak membengkak. Penggunaan hormon berfungsi untuk memacu pematangan telur (Brain dan Amy 1980). Subagja et al. (2006) menyatakan bahwa pemijahan ikan secara buatan dengan rangsangan hormon dapat meningkatkan produksi benih. Hormon yang sering digunakan, yaitu LHRHa dengan komposisi salmon gonadotropin releasing hormone analog (sgnrha) dengan konsentrasi

16 PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN 5 20 µg/ml dan antidopamin (domperidone) dengan konsentrasi 10 mg/ml, serta aplikasinya dilakukan melalui penyuntikan. Selain LHRHa, penyuntikan dapat menggunakan larutan kelenjar hypofisa dari ikan mas. Prosedur yang dilakukan adalah menyiapkan induk betina ikan mas matang gonad ukuran g dan diambil hypofisanya dengan cara memotong ikan secara vertikal tepat di belakang tutup insang, kemudian kelenjar hypofisa diambil dan dimasukan ke dalam gelas dan digerus. Selanjutnya, ditambah 1 ml aquabides dan diaduk sampai merata. Larutan hypofisa disuntikan ke dalam tubuh induk betina. Pematangan gonad ikan baung dapat dilakukan di kolam tanah dengan sistem air mengalir. Untuk perbenihan, diperlukan sebanyak 300 ekor induk ukuran 0,7 1,0 kg. Induk jantan dan betina dipelihara terpisah. Kondisi sperma sangat penting untuk mendapatkan benih yang berkualitas (Bobe dan Labbé 2010). Sperma disiapkan sebelum pengeluaran telur dengan ditempatkan pada cawan yang ditambah larutan infus natrium klorida. Pengeluaran telur ikan baung dilakukan secara perlahan pada bagian perut ke arah lubang telur. Sperma dan telur diaduk sampai merata dengan menggunakan bulu ayam, kemudian ditambahkan larutan natrium chlorida dan diaduk kembali hingga merata. Telur yang telah terbuahi, kemudian diaktivasi dengan menambahkan air dan sperma yang tidak membuahi dibuang sehingga telur yang telah bersih siap ditetaskan. Berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam penetasan telur Ikan baung di antaranya suhu pada waktu masa inkubasi telur (Brazil dan Wolters 2002; Okunsebor et al. 2015). Woynarovich dan Horvath (1980) melaporkan bahwa semakin tinggi suhu penetasan, semakin cepat telur akan menetas, namun juga akan menyebabkan larva lahir prematur sehingga larva tersebut tidak dapat hidup dengan baik. Penetasan telur ikan baung dilakukan di bak beton, bak fiber, atau akuarium dan dilengkapi dengan aerasi untuk menambah oksigen pada media. Penetasan telur ikan baung dilakukan dalam bak tembok dan sebaiknya kolam dilengkapi dengan sistem air mengalir selama proses penetasan. Penetasan telur di bak fiber dan akuarium disesuaikan dengan ukuran atau volume, serta ukuran ikan dan jumlah ikan. Sintasan larva ikan yang tinggi dapat diperoleh dengan memasang hapa halus yang ukurannya sama dengan bak dan diberi pemberat agar hapa tenggelam. Telur yang sudah disiapkan hingga merata ke seluruh permukaan hapa. Larva yang telah menetas diberi pakan naupli artemia. Pemanenan dilakukan panen pada hari ke-7 dengan menggunakan gayung plastik dan larva ini siap ditebar

17 6 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus ke kolam penederan pertama. Larva ikan baung yang dihasilkan dari induk generasi kedua (G2) hasil domestikasi mempunyai sintasan yang lebih tinggi dibandingkan larva yang berasal dari induk di alam karena menurunnya tingkat kanibalisme. Hal positif lainnya adalah parameter bioreproduksi induk ikan baung G2 hasil domestikasi tidak mengalami penurunan kualitas (Prakoso et al unpublished). Pendederan untuk penyediaan benih ikan baung dapat dilakukan dengan tiga tahapan pendederan yang masing-masing segmen pendederan mempunyai nilai jual di pasaran. Pendederan pertama, dapat dilakukan di kolam beton atau kolam dengan substrat tanah. Bentuk kolam persegi panjang atau bujur sangkar dengan ukuran m 2 atau disesuaikan dengan luasan lahan yang tersedia. Persiapan kolam untuk pendederan I dengan melakukan pengeringan kolam tanah untuk mengurangi toksisitas dan pada kolam beton tidak diperlukan pengeringan hanya pembersihan lumut yang menempel pada dinding kolam dan kotoran lainnya. Penumbuhan pakan alami (plankton) pada kolam dasar tanah dengan memberikan pupuk pupuk organik sebanyak 0,2 0,3 kg/m 2. Kedalaman air kolam ± 20 cm dan air ditinggikan kedalamannya secara bertahap hingga air mencapai kedalaman ± 40 cm selama 5 7 hari. Penebaran larva ikan baung sebanyak ekor /m 2 atau 4 6 ekor/l. Waktu penebaran dilakukan pada pagi hari. Pemberian pakan berupa pelet yang dihaluskan (tepung pelet) sebanyak 1 2 kg dilakukan setelah dua hari larva ditebar di kolam. Lama pemeliharaan pada pendederan I sekitar 21 hari. Pada segmen pendederan I, benih ikan baung sudah dapat dijual dan sudah ada pangsa pasar, namun masih sedikit pembeli. Pendederan kedua juga dapat dilakukan pada kolam beton atau kolam tanah. Ukuran kolam dan persiapan kolam budidaya hampir sama dengan pendederan I. Penebaran benih sebanyak ekor/m 2 benih hasil pendederan I yang terseleksi. Pemberian pakan sebanyak 2 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam yang diberikan setiap hari. Pendederan II dengan lama pemeliharaan selama 30 hari. Pada segmen pendederan kedua, benih ikan baung mulai banyak peminat dan sudah ada pangsa pasar dan cukup banyak pembeli karena digunakan untuk usaha bisnis pendederan ikan yang cukup memberikan keuntungan.

18 PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN 7 Pendederan ketiga, sebaiknya dilakukan pada kolam tanah. Ukuran kolam disesuaikan dengan luas lahan, namun ukuran yang ideal antara m 2. Persiapan kolam yang dilakukan hampir sama dengan yang dilakukan pada pendederan I maupun II. Penebaran benih sebanyak ekor/m 2 benih hasil pendederan II yang terseleksi. Pemberian pakan dosis 4 6% dari bobot ikan per hari. Lama pemeliharaan 3 4 minggu. Pada segmen pendederan ketiga, benih ikan baung sudah banyak pembeli untuk digunakan pada budidaya pembesaran. Pada segmen pendederan ini, ukuran benih ikan lebih besar dan sehat, serta benih ikan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan bila ditebar untuk budidaya pembesaran di kolam. Monitoring penyakit yang sering menyerang ikan baung adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan penyakit pada benih ikan baung dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang mantap dan penggunaan air yang baik kualitasnya dalam arti tidak tercemar dari limbah atau tidak banyak mengandung bahan organik. Sebaiknya, air yang masuk dalam kolam budidaya pendederan berasal dari air dari petak tandon yang sudah di treatment. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m 3 setiap 10 hari selama pemeliharan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan oksitetrasiklin 2 mg/l. Faktor utama dari pakan menentukan keberhasilan reproduksi dan meningkatkan sintasan larva. Menurut Wooton (1979), jumlah telur ikan ditentukan oleh faktor lingkungan dan distribusi atau penggunaan energi pakan. Kualitas dan jumlah pakan mempunyai peranan penting bagi pematangan gonad dalam menghasilkan telur dengan kualitas baik (daya tetas tinggi). Pertumbuhan dan pematangan gonad terjadi apabila terdapat kelebihan energi yang diperoleh dari makanan untuk pertumbuhan tubuh. Demikian pula dengan protein yang merupakan salah satu nutrien penting dalam mendukung pertumbuhan dan reproduksi ikan. Riset perbaikan pakan induk baung untuk reproduksi telah dilakukan Sunarno et al. (2018), di BBI Ciherang. Bobot induk baung yang digunakan dalam penelitian berkisar 682,74 ± 177,59 g. Induk yang matang gonad berbobot 730,16 ± 223,98 g dan fekunditas yang diperoleh disajikan pada Tabel 1.1. Nilai indeks kematangan gonad (IKG) induk baung tersebut pada kondisi pakan tidak terkontrol sekitar 5,36 ± 4,20%. Nilai IKG tersebut tergolong normal untuk kondisi di alam.

19 8 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Tabel 1.1 Kondisi awal induk ikan baung ( H. nemurus) sebelum diberi pakan perlakuan Awal Bobot induk (g) Akhir Berat gonad (g) IKG (%) FR (%) Kisaran 413, , ,80 2,50 106,50 0,4 13, Rerata ± st dev 730±223,98 689,15 ± 207,80 41,01± 36,34 5,36 ± 4, Sumber: Sunarno et al. (2018) HR (%) Pada kondisi ini, induk ikan baung sulit beradaptasi karena konsumsi pakan hariannya yang relatif rendah. Fluktuasi pakan harian pada induk ikan baung pada pakan yang diberikan dan tidak direspons oleh ikan akan mengendap di dasar wadah dan berpotensi mencemari perairan. Hasil pengamatan induk yang matang gonad, pemijahan, dan pengukuran performa reproduksi tercantum pada Tabel 1.2. Induk ikan baung pada pakan uji mempunyai fekunditas tertinggi, kemudian diikuti oleh kontrol. Induk ikan baung diberi pakan uji ( butir), selanjutnya pakan kontrol ( butir). Tabel 1.2 Performa reproduksi induk ikan baung ( H. nemurus) pada berbagai suplementasi asam lemak Parameter Satuan Pakan komersial Pakan uji Pertumbuhan mutlak g Jumlah ikan memijah Ekor 1 1 Jumlah telur Butir Fekunditas total Derajat pembuahan % Derajat penetasan % Produksi larva selama 25 hari Produksi larva per 100 g induk Diameter telur (mm) mm 0,32 0,34 Indek kematangan gonad (%) % 9,44 12,93 Sumber: Sunarno et al. (2018) Dilaporkan oleh Sunarno et al. (2018) bahwa pemijahan ikan dilakukan dua kali dengan selang waktu 25 hari. Tingkat pembuahan telur meningkat pada pakan uji (96%), kemudian pakan komersial (92%). Tingkat penetasan telur tertinggi pada pakan uji (92%), kemudian kontrol (86%).

20 PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN 9 DUKUNGAN PEMERINTAH DALAM PERBENIHAN Pembenihan ikan merupakan proses dalam menghasilkan benih ikan melalui pengelolaan terhadap induk, teknik pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan larva atau benih pada lingkungan yang terkontrol (Anonim 2016). Kebijakan Pemerintah dalam upaya peningkatan produksi perikanan secara nasional diarahkan pada keinginan mewujudkan kemandirian, kedaulatan, kesejahteran, dan keberlanjutan. Untuk itu, aspek pelestarian sumberdaya perikanan yang ada dan lingkungan menjadi hal penting dalam upaya pemanfaatan potensi, agar nilai ekonomi sumberdaya perikanan budidaya mampu dinikmati sampai generasi yang akan datang. Akuakultur di masa depan dihadapkan pada dua tantangan besar, yaitu pemenuhan kebutuhan pangan dan perubahan lingkungan global. Perubahan iklim dan lingkungan global mengancam eksistensi sumberdaya alam pada sektor yang berbasis pangan, termasuk perikanan budidaya (Anonim 2015). Oleh karena itu, penting untuk mengedepankan aspek pelestarian sumberdaya dan lingkungan, serta pengelolaan budidaya yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan nilai ekonomi agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pengembangan budidaya dan usaha pelestarian ikan baung akan terlaksana apabila tersedia benih berkualitas secara kontinu, penggunaan pakan yang tepat dan pencegahan penyakit, serta terjaganya lingkungan hidup yang baik untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhannya. Ketersediaan induk dan benih ikan berkualitas baik masih terbatas. Untuk itu, perlu strategi untuk pengembangan pembenihan ikan baung tersebut. Demikian pula, pembenih ikan baung belum sepenuhnya menerapkan standar prosedur operasional (SOP), tata laksana pembinaan, pengawasan, dan monev perbenihan belum berjalan optimal. Berdasarkan kebijakan pembenihan yang tercantum dalam UU 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang perikanan Pasal 7 poin e, Pasal 14.1, dan Pasal 15 bahwa urusan perbenihan (induk dan benih Ikan) menjadi kewenangan pemerintah dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran, mengembangkan pemanfaatan plasma nutfah, dan alokasi ikan tertentu. Peraturan Menteri KP yang menyangkut perbenihan diatur dalam KP No 35/PERMEN-KP/2016 tentang cara pembenihan ikan yang baik (CPIB). CPIB adalah pedoman dan tata cara mengembangbiakkan ikan dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, dan pemeliharaan

21 10 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus larva atau benih dalam lingkungan yang terkontrol, melalui penerapan teknologi yang memenuhi kriteria dan persyaratan teknis, manajemen, keamanan pangan, dan lingkungan (Anonim 2004; 2016). Strategi yang harus dilakukan dalam jangka pendek adalah membangun dan mengoptimalkan broodstock center untuk menghasilkan induk dan benih yang berkualitas. Penerapan CPIB tidak boleh diabaikan agar dapat memenuhi produksi benih yang berstandar dan bersertifikasi. Hal ini juga harus mendapat dukungan dari pemerintah yang ada di provinsi maupun kabupaten dan kota agar penerapan CPIB wajib dilakukan untuk menghasilkan benih yang berkualitas. Selain itu, hatchery skala rumah tangga (HSRT) atau unit perbenihan rakyat (UPR), serta pembinaan kelompok yang mandiri dan profesional harus diberdayakan dan diawasi secara kontinu. Pemerintah harus meningkatkan fasilitas bangunan, serta rehabilitasi sarana dan prasarana untuk Balai Benih Ikan (BBI). Pentingnya sharing informasi untuk pengembangan jejaring pada instansi dan lembaga, serta stakeholder lainnya terkait dengan perbenihan ikan baung. Perlu adanya program pemanfaatan dan revitalisasi, serta operasionalisasi unit hatchery pemerintah dan swasta yang terkesan mangkrak dan kurang termanfaatkan. PENGUATAN KELEMBAGAAN PERBENIHAN SKALA MIKRO Pengawasan dalam proses penyediaan benih yang berkualitas sampai ke masyarakat perlu dilakukan. Penerapan teknologi perbenihan di unit perbenihan rakyat, terutama ikan baung hasil domestikasi dan dukungan dari bidang riset lainnya, seperti aquaculture engineering. Peran pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan UPTD dalam pembinaan pembenihan sangat diperlukan agar kegiatan dapat berjalan baik. PEMULIAAN GENETIKA PUSAT INDUK/ BROODSTOCK CENTER UPT/UPTD MASYARAKAT/ PEMBUDIDAYA HATCHERY Gambar 1.1 Diagram penyediaan benih yang berkualitas pada hatchery

22 PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN 11 Tingkat pusat atau UPT yang bertanggung jawab dalam pembuatan dan penerapan SOP; melakukan kegiatan pengembangan di beberapa lokasi yang terpilih, meliputi pembinaan, pengawasan, monitoring, dan evaluasi terhadap kegiatan perbenihan, sosialisasi sertifikasi, distribusi induk, dan calon induk. Tercapainya penyediaan benih harus diimbangi dengan permintaan masyarakat atas kebutuhan benih. Perbenihan akan berkembang dan berkelanjutan apabila permintaan benih ikan baung oleh masyarakat cukup banyak. Untuk itu, dukungan masing-masing daerah di tingkat provinsi sangat dibutuhkan. Dukungan pemerintah pada perbenihan ikan baung diprioritaskan pada kelembagaan atau kelompok pembudidaya ikan yang sudah ditetapkan agar lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak pada usaha yang mandiri untuk kesejahteraan masyarakat. Strategi untuk mencapai kelembagaan yang kuat dapat dilakukan melalui pendampingan teknologi kepada masyarakat, misalnya dengan pelatihan, bimbingan, pembinaan, kegiatan diseminasi, atau membuat demplot di beberapa daerah karena masing-masing daerah mempunyai kondisi lahan yang berbeda sehingga perlu penanganan yang spesifik. Bimbingan pada kelompok melalui organisasi kelompok mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi, serta budaya masyarakat. Pembinaan kemitraan melalui inti plasma, perbankan, antarkelompok binaan dan penguatan modal usaha, serta pemberian bantuan paket sarana produksi bagi kelompok pemula sehingga sesuai dengan sasaran yang diinginkan pemerintah. Saat ini, banyak pembudidaya atau kelompok pembudidaya secara mandiri mengembangkan usahanya. Untuk itu, pemerintah mengarahkan kelompok pembudidaya yang telah tergabung dengan kelembagaan pembudidaya ikan yang kuat dan mandiri dengan harapan peranan kelembagaannya lebih efektif dan berkesinambungan, serta berdampak positif bagi kemandirian usaha. Pemerintah dalam mengajukan program kegiatan didasari pada penilaian kebutuhan masyarakat (need assessment), pendekatan solusi (solution approach), dan partisipasi masyarakat (social participatory). Langkah ini sangat penting sebagai faktor utama dalam membangun pengembangan komunitas (community development) yang efektif dan secara langsung mendorong pemberdayaan dalam meningkatkan kapasitas usaha pembudidaya ikan dan upaya kelompok pembudidaya mendapatkan kemudahan akses terhadap input produksi, teknologi, dan informasi pasar sehingga mampu mandiri.

23 12 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Gambar 1.2 Dukungan pemerintah terhadap penguatan kelembagaan kelompok pembudidaya Keterlibatan berbagai pihak mulai dari perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kementerian/lembaga lain, serta pihak terkait lainnya untuk melakukan pengawalan sekaligus pembinaan kepada para kelompok pembudidaya di sentra-sentra produksi sehingga mampu mewujudkan community development. Upaya pendampingan dan pengawalan dari berbagai pihak yang terkait harus didorong dengan kerja sama. DAFTAR PUSTAKA Anonim Undang-Undang Republik Indonesia No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Keputusan bersama DPR RI dan Keputusan Presiden RI. 86 Hlm. Anonim Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 45/Permen-KP/2015 tentang perubahan atas peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 25/Permen-KP/2015 tentang rencana strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 92 Hlm. Anonim Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia no 35/Permen-KP/2016 tentang cara pembenihan ikan yang baik. Kementerian Kelautan dan Perikanan, (KKP). 19 Hlm.

24 PROSPEK PERBENIHAN IKAN BAUNG DALAM MENDUKUNG INDUSTRI PERIKANAN 13 Anonim Tilapia jadi komoditas unggulan perikanan budidaya. Diakses pada tanggal 4 Juli Bobe J, Labbé C Egg and sperm quality in fish. General and Comparative Endocrinology 165(3): Brain FD, Amy C Induced fish breeding in South East Asia. Working report, Singapore th November RC: 178. Brazil BL, Wolters WR Hatching success and fingerling growth of channel catfish cultured in ozonated hatchery water. N Am J Aquac 64: Gustiano R, Kusmini II, Ath-thar MHF Mengenal Sumber Daya Genetik Ikan Spesifik Lokal Air Tawar Indonesia untuk Pengembangan Budidaya. Bogor: IPB Press. Okunsebor SA, Ofojekwu PC, Kakwi DG, Audu BS Effect of temperature on Fertilization, Hatching and Survival Rates of Heterobranchus bidorsalis Eggs and Hatchlings. British Journal of Applied Science & Technology 7(4): Hardjamulia A, Suhenda N Evaluasi sifat reproduksi dan sifat gelondongan generasi pertama empat strain ikan baung (Mystus nemurus) di karamba jaring apung. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 6(3 4): Ibrahim MSA, Mona HA, Mohammed A Zooplankton as live food for fry and fingerlings of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) and Catfish Clarias gariepinus in Concrete ponds. Central Laboratory for Aquaculture Research (CLAR), Abbassa, Sharkia, Egypt. 8th International Symposium on Tilapia in Aquaculture Izquierdo MS, Fernandez H, Palacios, Tacon AGJ Effect of broodstock nutrition on reproductive performance of fish. Aquaculture 197: Khairuman, Amri K Ikan Baung, Peluang Usaha Dan Teknik Budidaya Intensif. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 88 Hlm.

25 14 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Millamena OM, Colloso RM, Pascual FP Nutrition in Tropical Aquaculture: essentials of fish nutrition, feeds, and feeding of tropical aquatic species. Tigbauan, Iloilo, Philippines: SEAFDEC Aquaculture Department. 221 p. Muflikhah N, Syarifah N, Aida SN Domestikasi Ikan Baung (Mystus nemurus). Jurnal Litbang Pertanian XVII(2). Jakarta. 72 Hlm. Nwadukwe FO, Ayinla OA Growth and survival of hybrid catfish fingerlings under three dietary treatments in concrete tanks. Azazeb 6: Prakoso VA, Subagja J, Arifin OZ Keragaan Bioreproduksi Induk Ikan Baung Lokal dan Hasil Domestikasi serta Pertumbuhan Benih yang Dihasilkannya. Unpublished. Samuel, Adjie S, Akrimi Beberapa aspek biologi ikan baung (Mystus nemurus) di daerah aliran sungai Batanghari, Provinsi Jambi. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 28: Sunarno MTD, Sulhi M, Samsudin R, Heptarina D, Sumiati T, Saputra A, Prakoso VA, Nugraha A, Hendra, Kumarasetya A Aplikasi Pakan Formula Induk Untuk Peningkatan Performa Reproduksi Induk Dan Produksi Ikan Baung. Laporan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan perikanan, Bogor. 15 Hlm Subagja J, Cahyanti W, Nafiqoh N, Arifin OZ Keragaan bioreproduksi dan pertumbuhan tiga populasi ikan baung (Hemibagrus nemurus Val. 1840). Jurnal Riset Akuakultur 10(1): Subagja J, Arifin OZ, Prakoso VA, Suhud EH Pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) hasil domestikasi. Dipresentasikan pada Simposium Nasional Ikan dan Perikanan. Sekolah Tinggi Perikanan Bogor September Suhenda N, Samsudin R, Nugroho E Pertumbuhan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) dalam keramba jaring apung yang diberi pakan buatan dengan kadar protein berbeda. Jurnal Iktiologi Indonesia 10(1): Woynarovich E, Horvath L The Artificial Propagation of Warm-Water Finfish. A Manual for Extention, FAO. Fisheries Technical Paper No p.

26 2.KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) Rudhy Gustiano, Vitas Atmadi Prakoso, Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar, dan Irin Iriana Kusmini Ikan baung khususnya jenis Hemibagrus nemurus merupakan salah satu jenis komoditas air tawar yang relatif mahal di Indonesia. Menurut Gustiano et al. (2015) ikan ini merupakan salah satu sumber daya genetik dari 22 jenis ikan air tawar yang dapat digunakan untuk diversifikasi usaha budidaya. Penurunan populasi ikan baung di alam terjadi akibat eksploitasi secara berlebihan dan intensifikasi usaha budidaya menggunakan benih dari alam. Beberapa alasan ikan baung menjadi komoditas andalan karena kualitas dan kuantitas dagingnya mendukung kuliner di daerah Sumatera dan Kalimantan, serta harga yang cukup menjanjikan berkisar antara Rp /kg di tingkat penghasil. Hasil analisis komoditas melaporkan bahwa ikan baung menduduki posisi kelima dari 15 komoditas yang dikaji di Kalimantan Selatan (Sukadi et al. 2009). Di Indonesia, upaya budidaya ikan baung pertama dilaporkan oleh Gaffar et al. (1992). Pada tahun 2007, produksi baung dunia sebesar ton dengan nilai USD yang dihasilkan oleh Indonesia dan Malaysia. Secara statistik, Malaysia telah tercatat lebih dahulu memproduksi ikan baung oleh FAO pada tahun 1993 sebesar 29 ton dengan nilai sebesar USD Dalam periode tahun , terjadi lonjakan peningkatan produksi sebesar %. Peningkatan produksi terus terjadi dalam kurun waktu , hingga mencapai angka produksi sebesar 1,366 ton dengan nilai USD3,088. Sementara Indonesia baru tercatat sebagai negara produser ikan baung oleh FAO sejak tahun 2004 dengan nilai produksi

27 16 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus sebesar 541 ton senilai USD842,000. Produksi meningkat pada tahun 2007 menjadi 2,277 ton dengan nilai USD4, Berdasarkan data yang dilaporkan FAO pada tahun 2007, Indonesia adalah negara penghasil ikan baung nomor satu di dunia. Tabel 2.1 Produksi ikan baung, Hemibagrus nemurus di dunia Negara Unit Indonesia (t) ,277 USD ,691 Malaysia (t) 29 1,366 1,231 1,327 1,316 1,200 USD ,088 2,782 3,497 3,237 3,027 Total (t) 29 1,366 1,772 1,455 2,307 3,477 USD ,088 3,624 4,397 3,931 7,718 Sumber: Fisheries and Aquaculture Statistics (FAO 2008) Pada Tabel 2.1, ikan baung menunjukkan peningkatan lebih dari 1000 kali dalam waktu 14 tahun, 29 ton pada tahun 1993 menjadi ton pada tahun Sangatlah ironis informasi produksi dan perkembangan budidaya ikan baung di Indonesia masih langka dibandingkan dengan di Malaysia hingga saat ini. Hal ini diduga produksi ikan baung di Indonesia masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, baik untuk ukuran ikan konsumsi maupun ukuran benih untuk kegiatan budidaya. Oleh karena itu, budidaya ikan baung harus segera dibenahi untuk meningkatkan dan mempertahankan keunggulan potensi yang sudah ada pada ikan ini. Ilustrasi pola produksi dalam usaha budidaya ikan baung di Indonesia ditampilkan dalam Gambar 2.1.

28 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) 17 Sumber benih (Jawa Barat dan Kalimantan Selatan) Panti Benih Alam Budidaya (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) Kolam Karamba KJA KONSUMSI Ikan Segar Rumah Makan Olahan Gambar 2.1 Alur sistem budidaya dan usaha ikan baung, Hemibagrus nemurus MENGENAL IKAN BAUNG Ikan baung, Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) termasuk dalam genus Hemibagrus yang merupakan anggota famili Bagridae. Famili ini merupakan salah satu famili ikan berkumis (catfish) yang hidup di air tawar dan payau di Asia dan Afrika, berisi banyak anggota dengan 20 genera, dan lebih dari 200

29 18 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus spesies ( Ciri-ciri umum Bagridae adalah sebagai berikut: terdapat jari-jari sirip keras di sirip punggung, jari-jari sirip lunak 6 atau 7. Sirip pengendali sangat beragam ukurannya. Jari-jari keras sirip dada bergerigi, memiliki dua pasang kumis (Nelson 1994). Genus Hemibagrus Bleeker 1862 memiliki sinonim sebagai Mystus Scopoli 1777 atau Macrones Dumeril Distribusi genus Hemibagrus ditampilkan dalam Gambar 2.2. Ikan baung yang umum dikenal masyarakat, diketahui terdapat tiga nama sinonim yang dikenal sebagai Bagrus nemurus (Valenciennes 1840), Macrones nemurus (Valenciennes 1840), dan Mystus nemurus (Valenciennes 1840) (Tabel 2.2). Gambar 2.2 Distribusi genus Hemibagrus (Berra 2001) Di Indonesia, genus Hemibagrus memiliki sepuluh spesies atau jenis yang disajikan dalam Tabel 2.2. Semua jenis Hemibagrus sering kali disebut sebagai ikan baung sebagaimana Hemibagrus nemurus. Tabel 2.2 Daftar spesies baku dalam genus Hemibagrus di Indonesia (fishbase.org) No. Nama Baku Sinonim 1. Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) Bagrus nemurus Valenciennes 1840 Macrones nemurus (Valenciennes 1840) Mystus nemurus (Valenciennes 1840) Bagrus hoevenii (non-bleeker 1846) Mystus johorensis (non-herre 1940)

30 19 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) Tabel 2.2 Daftar spesies baku dalam genus Hemibagrus di Indonesia (fishbase.org) (lanjutan) No. Nama Baku Sinonim 2. Hemibagrus planiceps Bagrus planiceps Valenciennes 1840 (Valenciennes 1840) Macrones planiceps (Valenciennes 1840) 3. Hemibagrus hoevenii (Bleeker 1846) 4. Hemibagrus wyckii (Bleeker 1858) Mystus planiceps (Valenciennes 1840) Bagrus hoevenii Bleeker 1846 Bagrus nemurus (non-valenciennes 1840) Bagrus wyckii (Bleeker 1858) Macrones wyckii (Bleeker 1858) Mystus wyckii (Bleeker 1858) Hemibagrus wycki (Bleeker 1858) Mystus wicki (Bleeker 1858) 5. Hemibagrus bongan (Popta 1904) 6. Hemibagrus fortis (Popta 1904) Mystus wycki (Bleeker 1858) Macrones bongan (Popta 1904) Hemibagrus nemurus (nonvalenciennes 1840) Macrones fortis Popta 1904 Macrones howong Popta 1904 Macrones bo Popta 1904 Macrones kajan Popta 1904 Macrones fortis capitulum Popta Hemibagrus olyroides (Roberts 1989) 8 Hemibagrus velox (Tan dan Ng 2000) Hemibagrus capitulum Popta 1904 Mystus olyroides Roberts 1989 Bagrus planiceps (non-valenciennes 1840) Hemibagrus planiceps (non-valenciennes 1840) Macrones planiceps (non-valenciennes 1840) 9. Hemibagrus caveatus (Ng Wirjoatmodjo dan Hadiaty 2001) 10. Hemibagrus lacustrinus (Ng dan Kottelat 2013) Mystus planiceps (non-valenciennes 1840) - -

31 20 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Kunci identifikasi buatan genus Hemibagrus di Indonesia (Modifikasi Ng dan Kottelat 2013; Robert 1989) 1a. Memiliki vertebrae, dasar-sirip lemak atau pengendali (adipose fin) pendek (<19% SL)...2 1b. Tubuh memanjang dengan vertebrae...5 2a. Sirip ekor berwarna kemerahan atau jingga waktu hidup, sisi tubuh memiliki garis hitam tipis vertikal dan garis tipis gurat sisi...hemibagrus caveatus 2b. Tubuh polos tanpa ada ciri khusus sepanjang gurat sisi, sirip ekor berwarna abu-abu waktu hidup...3 3a. Hamparan gigi premaxillary (premaxillary tooth band) nampak ketika mulut ditutup, sirip ekor lonjong, terdapat batas hitam menyolok sekitar sirip ekor, sirip ekor berbentuk segitiga...hemibagrus hoevenii 3b. Hamparan gigi premaxillary (premaxillary tooth band) tidak nampak ketika mulut ditutup, sirip ekor membulat, batas hitam sekitar sirip ekor memudar atau tidak ada...4 4a Seluruh cabang dari jari-jari keras sirip punggung sama panjang, memiliki batas membulat ke arah sirip... Hemibagrus fortis 4b. Bagian depan cabang dari jari-jari keras sirip punggung lebih panjang dari bagian lainnya, memiliki batas bergerigi yang jelas ke arah sirip, sirip dorsal di luar perpanjangan filamen tidak menyentuh adipose fin, bagian atas kepala relatif rata... Hemibagrus nemurus 5a. Dasar adipose fin panjang (>20% SL), sirip punggung pendek dan lemah poorly serta tidak memiliki gerigi pada bagian sisi belakang, sirip ekor memanjang dan bagian atasnya berbentuk pisau, berwarna cokelat gelap... Hemibagrus olyroides 5b. Sirip punggung panjang dan kuat (12 16%SL), memiliki gerigi pada bagian sisi belakang...6

32 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) 21 6a. Kepala lebar dan pipih, berwarna terang pada bagian utama sirip ekor, daerah humeral berwarna krem, sungut maxila menyentuh bagian tengah dasar sirip punggung... Hemibagrus wyckii 6b. Dasar sirip lemak pendek (<19% SL), tubuh tanpa garis hitam pada gurat sisi...7 7a. Jarak sirip punggung ke sirip lemak 8 11% SL, bagian belakang sirip punggung menyentuh atau melebihi awal sirip lemak...hemibagrus lacustrinus 7b. Jarak sirip punggung ke sirip lemak 11 18% SL, bagian belakang sirip punggung menyentuh atau melebihi awal sirip lemak...8 8a. jarak antar bola mata 32 37% chl...hemibagrus planiceps 8b. Jarak antar bola mata 28 34% chl, panjang moncong 33 41%SL, sirip lemak relatif pendek...9 9a. Alat kelamin jantan tidak menyentuh sirip dubur, bagian atas sirip ekor ke arah belakang membulat, tidak memiliki perpanjang sirip...hemibagrus bongan 9b. Alat kelamin jantan menyentuh sirip dubur, bagian atas sirip ekor lonjong, memiliki perpanjang sirip... Hemibagrus velox

33 22 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) A B C Gambar 2.3 Ikan baung, Hemibagrus nemurus (salah satu contoh ikan Hemibagrus di Indonesia) A. seluruh tubuh; B. bagian kepala; C. gigi premaxillary (sumber: Bleeker 1862)

34 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) 23 Gambar 2.4 Hemibagrus nemurus, 400 mm SL, 23 Mei 2010, Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia (Sumber: fishbase. org) Deskripsi asli: Bagrus nemurus Valenciennes, in Cuvier dan Valenciennes P: 423. (type locality: Jawa). Diagnosis: Memiliki vertebrae, dasar sirip lemak pendek (<19% SL), tubuh polos tanpa ada ciri khusus sepanjang gurat sisi, sirip ekor berwarna abu-abu waktu hidup, hamparan gigi premaxillary (premaxillary tooth band) tidak nampak ketika mulut ditutup, sirip ekor membulat, bagian depan cabang dari jari-jari keras sirip punggung lebih panjang dari bagian lainnya, memiliki batas bergerigi yang jelas ke arah sirip, sirip dorsal di luar perpanjangan filamen tidak menyentuh sirip lemak atau pengendali, bagian atas kepala relatif rata. Nama umum: Ikan baung atau dikenal secara internasional sebagai Asian redtail catfish, di Indonesia dikenal dengan nama lokal sebagai duri, patik, baung, tagih, ririgi, baung putih. Keterangan umum: Secara umum, ikan baung dicirikan dengan jari-jari keras sirip punggung 2, jari-jari sirip lunak enam atau tujuh; jari-jari lunak sirip dubur Warna tubuh cokelat, sering diikuti warna kehijauan berkilat. Sirip berwarna abu-abu hingga ungu pudar. Sirip perut bersekat-

35 24 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus sekat dibagian dalamnya. Dasar sirip pengendali lebih pendek dari sirip punggung dan kurang lebih sebanding dengan sirip dubur. Sungut (kumis) dua pasang; sungut hidung memanjang melebihi belakang mata, sedangkan sungut dari sudut bibir melebihi pangkal sirip perut. Kepala agak mendatar daripada menonjol; sirip punggung tidak menyentuh sirip pengendali; sirip dada lunak bagian depan; terdapat sembilan sirip dubur yang bercabang. Ikan ini dimanfaatkan secara komersial sebagai ikan konsumsi atau ikan hias. Ekologi dan tingkah laku: Pada umumnya, ikan ini hidup di sungai besar yang berlumpur atau lunak dan ada aliran yang tidak terlalu deras (Gustiano et al. 2015). Ikan baung sering berpindah dari habitat sungai ke daerah genangan atau banjir di sekitar hutan di musim penghujan untuk memijah. Makanan ikan baung berupa udang-udangan dan ikan. Sebagai ikan karnivor, ikan baung termasuk salah satu pemangsa level atas dalam rantai makanan. Panjang total maksimum adalah 65,0 cm. Ikan baung merupakan salah satu ikan yang bernilai tinggi sebagai ikan konsumsi. Distribusi: Ikan baung di Indonesia memiliki sebaran di Pulau Jawa (Gambar 2.5). Gambar 2.5 Distribusi ikan baung di indonesia memiliki sebaran di Pulau Jawa

36 KEANEKARAGAMAN IKAN BAUNG Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840) 25 DAFTAR PUSTAKA Berra TM Freshwater Fish distribution. San Diego: Academic Press, xxxv+604pp. Bleeker P. 1858a. Enumeratios [Ecierum piscium javanensium hucusque cognitarium. Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 15: Bleeker P. 1858b. [ eenige vischsoorten, hem toegezonden van Banjoewangi, eenige andere, verzameld te Buitenzorg, reptilian, te Buitenzorg verzameld ]. Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 16: Bleeker P. 1858c. [ eenige slangen en vischen, gevangen in de omstreken van Montrado de gawezen hoofplats der chinezen ter westkust van Borneo ]. Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 16: Bleeker P. 1858d. [ vischsoorten uit de rivier van Palembang ], Naturkundig Tijdshcrift voor Nederlandshc Indie 16: Bleeker P. 1858e. Ichyyologiae archipeagii indici prodromus. Volume 1 Siluri DE vischen van den indischen archipel beschreven en toegelicht Deel 1 siluri. Acta Societatis Scientarum Indo-Nederlandicae 4(2): i xii [Preprint published in1858, journal in 1859; also Published by Lange, Batavia i xii ]. Bleeker P. 1858f. Zevende bijdrage tot de kennis den vischfauna van Sumatra Visschen van Palembang. Acta Societatis Scientarum Indo-Nederlandicae 4(2): I xii [Preprint published in1858, journal in 1859]. Bleeker P. 1858g. Twaalfde bijdrage tot de kennis den vischfauna van Borneo Visschen van Singkawang. Acta Societatis Scientarum Indo-Nederlandicae 5(7): [Preprint published in1858, journal in 1859]. Bleeker P Atlas ichthyologique des Indes orientales néêrlandaises: publié sous les auspices du gouvernement colonial néêrlandais. II. Siluroide, Chacoïdes et Heterobranchoïdes. 112 pls Cuvier G, Valenciennes A Histoire Naturelle Des Poissons, 14. Pitois- Levrault, Paris. 464 pp, pls

37 26 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus [FAO] Food and Agriculture Organization Fisheries and Aquaculture Statistics. Gaffar AK, Muflikhah N Pemijahan buatan dan pemeliharaan larva ikan baung. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar Gustiano R, Kusmini II, Ath-thar MHF Mengenal sumber daya genetik ikan spesifik lokal air tawar Indonesia untuk pengembangan budidaya. Bogor: IPB Press, 51p. ISBN Nelson JS Fishes of the World. NY, USA: John Willey and Sons.Inc. 600p. Ng HH, Kottelat M Revision of The Asian Catfish Genus Hemibagrus Bleeker 1862 (Teleostei: Siluriformes: Bagridae). The Raffles Bulletin of Zoology 61(1): Roberts TR The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Mem. Calif. Acad. Sci 14: Sukadi MF, Kristanto AH, Nugroho E, Komarudin O, Widiyati A, Gustiano R, Djajasewaka H, Kusmini II Kandidat komoditas ikan lokal air tawar potensial untuk pengembangan budidayanya di Kalimantan Selatan In: Sudradjat et al. (eds). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur (Buku 1),

38 3.MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG Anang Hari Kristanto, Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-Thar, Otong Zenal Arifin, dan Brata Pantjara Ikan baung (Hemibagrus nemurus) termasuk dalam ikan ekonomis penting yang mendiami perairan umum yang menyebar di Asia. Ikan baung terdapat di sungai Mekong, sungai Chao Phraya, dan sungai Xe Bangfai, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan ( Hemibagrus-nemurus). Ikan baung merupakan bahan baku untuk membuat ikan asap dan pindang yang digemari oleh masyarakat Sumatera, khususnya masyarakat Jambi (Nasution et al. 1993). Di Jawa Barat, jenis ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih. Kajian terhadap aspek sumber daya di alam, telah dilakukan sejak tahun 1995 oleh beberapa peneliti (Samuel et al. 1995), sedangkan kajian terkait aspek pembenihan ikan baung dilakukan sejak tahun 1992 (Gaffar dan Muflikhah 1992; Muflikhah dan Gaffar 1992; Muflikhah et al. 1993; Hardjamulia dan Suhenda 2000). Muflikhah dan Gaffar (1992); Muflikhah dan Aida (1996) telah melakukan aspek kajian pembesaran ikan baung sejak tahun Budidaya ikan baung mulai berkembang di masyarakat, dicirikan dengan permintaan benih ikan baung untuk kegiatan pembesaran. Kebutuhan benih di Provinsi Riau untuk keperluan budidaya lebih sejuta per tahun (Roza et al. 2014). Ketersediaan benih berkualitas dalam jumlah yang mencukupi merupakan dasar dan kebutuhan utama dalam budidaya ikan baung yang berkelanjutan. Benih ikan baung dapat tersedia setiap saat, bila mana manajemen induk ikan baung diterapkan sesuai kaidah. Manajemen induk ikan baung melibatkan semua tindakan yang diterapkan oleh pembudidaya untuk mendapatkan ikan baung yang dibudidayakan matang gonad dan menghasilkan telur, serta dapat dibuahi

39 28 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus oleh sperma dari induk ikan baung jantan. Penggunaan teknik pemijahan buatan dan kelengkapan panti benih yang memadai dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan benih ikan baung yang berkualitas (Kristanto et al. 2016) dan Radona et al. (2018). Keberhasilan pemijahan ikan baung yang dilakukan oleh pembudidaya tergantung dari kualitas induk yang dipijahkan. Kualitas induk ikan baung dapat ditingkatkan melalui menajemen induk yang baik. Kegiatan manajemen induk ikan baung meliputi penyediaan induk dan transportasi induk asal alam ke wadah budidaya, pemilihan induk ikan baung yang akan digunakan dalam pemijahan, sistem pemeliharaan induk, teknik pemberian pakan serta pengelolaan kualitas air, nutrisi induk ikan baung, parasit dan penyakit, serta predator dan pesaingnya. PENYEDIAAN INDUK DAN PENGANGKUTAN INDUK IKAN BAUNG Penggunaan induk baung hasil domestikasi sangat dianjurkan dalam pengadaan induk. Apabila induk yang terdomestikasi tidak tersedia, induk hasil penangkapan dari alam dapat dipergunakan sebagai indukan dengan input teknologi domestikasi. Transportasi induk ikan baung dari alam maupun yang telah terdomestikasi, dapat dilakukan melalui udara maupun kendaraan darat dengan sistem transportasi tertutup. Apabila sampai di tempat penampungan, induk ikan baung diberikan potasium permanganat, kemudian ditampung dalam wadah yang dilengkapi air mengalir pada kondisi fotoperiod alami dengan suhu air o C, serta kandungan oksigen yang mencukupi antara 7 8 ppm. Proses aklimatisasi ini dilakukan untuk membiasakan induk ikan baung pada lingkungan budidaya yang baru (Adebiyi et al. 2013). PEMILIHAN INDUK IKAN BAUNG Pemuliaan ikan baung sampai saat ini belum dilakukan oleh pembudidaya. Hal ini karena pemuliaan memerlukan waktu yang cukup panjang dan kebutuhan sarana perkolaman yang cukup banyak. Induk ikan baung hasil domestikasi dapat digunakan dalam produksi benih. Pemilihan induk ikan baung yang akan digunakan dalam pemijahan dapat mengacu pada Bromage dan Roberts (2001). Induk ikan baung yang dipilih, sebaiknya tidak cacat bawaan dan tidak terinfeksi penyakit. Pembudidaya harus mempunyai

40 29 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG kemampuan mendiagnosa dan memberikan tindakan pencegahan terhadap serangan penyakit bila diperlukan. Induk ikan baung jantan dipilih berdasarkan kriteria panjang papilla genitalia. Ikan yang dipergunakan bila panjang papilla sudah melewati pangkal sirip anal dan induk ikan baung betina yang dipilih mempunyai tubuh gemuk dan melebar, warna kulit terlihat kusam, alat kelaminnya berwarna merahan (Subagja et al. 2015). Induk jantan dan betina terbesar yang tertangkap pada saat penangkapan pertama dengan jaring dapat digunakan sebagai induk terpilih. Hal ini karena selain induk tersebut mudah tertangkap, sifat mudah tertangkap ini dapat diturunkan kepada generasi berikutnya, juga dapat menghindari terpilihnya induk yang mempunyai pertumbuhan lambat pada saat penangkapan induk berikutnya. Induk ikan baung jantan mencapai kematangan gonad pertama pada saat berumur 1 tahun, sedangkan betina berumur 1,5 tahun. Induk ikan baung yang digunakan dalam pemijahan dipasangkan minimal 50 pasang untuk menjaga tidak terjadi inbreeding. Pemasangan induk betina dari kolam induk betina dengan jantan dari kolam lain perlu dipertimbangkan bila menggunakan jumlah induk yang sedikit. PEMELIHARAAN INDUK IKAN BAUNG Pemeliharaan induk ikan baung dapat dilakukan di kolam, keramba, atau wadah fiber. Induk ikan baung akan memberikan benih ikan dengan kualitas baik perlu ditangani secara seksama. Pada pemeliharaan secara terpisah, padat tebar yang dapat digunakan untuk induk 0,5 ekor per m 2. Induk baung yang dipelihara di kolam ukuran 100 m 2 dapat ditebar dengan kepadatan 50 ekor. Kolam yang digunakan mempunyai kedalaman 1 1,5 m dengan kondisi air masuk dan pengeluaran yang baik. Lokasi kolam induk, berbentuk persegi atau disesuaikan dengan ruang yang tersedia. (Muflikhah et al. 1994). Induk ikan baung, bisa juga dipelihara dalam wadah pemeliharaan berupa waring berukuran masing-masing 2 m x 2 m x 1,25 m yang diletakkan di dalam kolam tembok berukuran 200 m 2 dengan kedalaman air 1,25 m. Kualitas air diupayakan dalam kondisi yang baik, seperti yang disyaratkan dalam pemeliharaan induk, terutama untuk kandungan oksigen terlarut. Untuk itu pada malam hari digunakan aerasi dengan pompa air. Ikan uji adalah ikan baung jantan yang berumur minimal dua tahun sebanyak 25 ekor dengan bobot antara ,5 g, serta ikan baung betina yang telah matang gonad.

41 30 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Pemeliharaan induk ikan baung telah dilakukan oleh Subagja et al. (2015) di kolam tembok luasan 20 m 2 dan diisi ikan sebanyak 20 ekor dengan rasio pemeliharaan 15 ekor betina dan 5 ekor jantan. Ikan diberi pakan buatan kadar protein 28 30%, diberikan sebanyak 3% dari biomassa yang didistribusikan dua kali sehari, yaitu pagi hari sekitar pukul 8.00 dan sore hari pukul Pemeliharaan induk ikan baung dapat juga dilakukan di keramba yang ditempatkan dalam kolam atau diletakkan di sungai. Pemeliharaan induk ikan baung dalam keramba dapat dilakukan dengan padat tebar 32 ekor per keramba yang berukuran 1 m x 1 m x 1,5 m dengan pemberian pakan komersil yang mengandung 41% protein dengan pemberian 1,5% dari biomas per hari. Pemberian ikan rucah dapat digunakan untuk mempercepat tingkat kematangan gonad dengan dosis pemberian 6% sekali setiap minggu (Muflikhah et al. 2005). Pemeliharan ikan baung di kolam mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pemeliharaan induk ikan baung dikolam, antara lain pencemaran yang terjadi terhadap air kolam sedikit, bila air berasal dari mata air, bila kolam dipupuk, pakan alami dapat tumbuh sehingga dapat meningkatkan produktivitas ikan yang dipelihara. Kekurangan yang dijumpai pada pemeliharaan di kolam, antara lain kebutuhan air untuk penggantian tergantung dari musim, serta perubahan kualitas air pada siang dan sore bisa sangat ekstrem tergantung dari alkalinitas air akibat limbah pakan dan feses sehingga terjadi endapan yang perlu diangkat secara berkala. Bila pemeliharaan induk ikan baung di karamba, mempunyai kelebihan penggunaan padat tebar ikan bisa tinggi dengan volume air yang kecil. Selain itu, pemeliharaan ikan baung di karamba memerlukan teknologi yang sederhana dan relatif murah, serta pengelolaan dan manajemen pemberian pakan dan penangkapan induk untuk pengecekan tingkat kematangan gonad relatif mudah. Beberapa kendala yang sering dijumpai pemeliharaan ikan di karamba adalah kematian masal akibat cemaran air dan karamba terbawa banjir (Slembrouck et al. 2005). TEKNIK PEMBERIAN PAKAN DAN KEBUTUHAN NUTRISI DALAM MANAJEMEN INDUK Ikan baung termasuk ikan yang mencari makan dibagian dasar atau badan air bila dipelihara dalam lingkungan budidaya. Penggunaan pakan tenggelam akan membantu induk baung dalam mendapatkan makanan. Oleh karena itu, pakan tenggelam yang diberikan harus tidak mudah larut dalam air dan

42 31 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG mempunyai nilai kecernaan yang baik. Pemberian pakan induk ikan baung dilakukan sehari dua kali dan diberikan selama enam hari dalam seminggu. Untuk tujuan pengosongan lambung dan memacu nafsu makan, pemberian pakan tidak diberikan selama satu hari dalam seminggu. Pemberian pakan dilakukan secara perlahan agar induk ikan baung terbiasa dan pakan tidak banyak terbuang pada dasar perairan. Selain itu, pembudidaya dapat sekaligus melihat perilaku induk ikan baung yang diberi makan. Pakan yang diberikan terhadap induk ikan baung, perlu dievaluasi jumlah takaran yang diberikan setiap bulannya, penyesuaian takaran yang diberikan dilakukan dengan mengambil sampel induk ikan baung sebanyak 10% dari populasi dan mengukur berat dari induk ikan baung yang diperoleh, kemudian perhitungan pemberian takaran pakan mengikuti hasil kalkulasi yang baru. Evaluasi penyesuaian takaran diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan dan proses kematangan gonad induk ikan baung. Pada proses pemeliharaan induk ikan baung, sering kali dijumpai jenis ikan lain yang hidup dalam wadah pemeliharaan yang sama. Ikan ini mengganggu karena pada saat pemberiaan pakan, ikan jenis lain akan mengambil porsi pakan induk baung. Ikan jenis lain masuk ke wadah pemeliharaan dapat melalui saluran masuk, baik dalam bentuk telur yang kemudian menetas di dalam kolam atau juga larva atau benih yang terbawa air yang masuk ke kolam induk. Oleh karena itu, jenis ikan liar, harus sering dibersihkan secara berkala (Slembrouck et al. 2005). Produksi telur dan larva berkualitas dari induk ikan baung dapat dicapai melalui penanganan biologi reproduksi, pengelolaan metabolisme tubuh, dan lingkungan akuatik yang baik. Pakan induk merupakan faktor yang sangat menentukan dalam kemampuan ikan untuk reproduksi. Keberhasilan program domestikasi menyebabkan ikan baung yang awalnya bersifat omnivor dapat diberikan pakan komersil berupa pelet dengan kandungan protein 30%. Pakan diberikan sebanyak 2% dari bobot badan per hari dengan frekuensi dua kali sehari (Hardjamulia dan Suhenda 2000). Abidin et al. (2006) menyatakan kebutuhan protein induk ikan baung sebesar 35% yang berasal dari sumber hewani (tepung ikan dan tepung hasil limbah) dan protein dari tanaman (kedelai, biji minyak, dan sereal). Energi berasal dari lemak 3 8% (minyak sayur atau lemak dari limbah). Pakan komersil ini dapat mendukung pertumbuhan dan meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan. Asam lemak esensial tidak dapat diproduksi di dalam tubuh ikan baung. Oleh karena itu, kebutuhan akan asam lemak dapat di berikan melalui pakan (Bautista dan

43 32 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus La Crus 1988). Suhenda et al. (2009) menyatakan kebutuhan lemak untuk induk ikan baung sebesar 8% dalam ransum pakannya. Menurut Izquierdo et al. (2001), lemak dan komposisi asam lemak pakan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan reproduksi dan sintasan larva karena asam lemak yang terkandung dalam telur berpengaruh terhadap stadia awal dari embriogenesis dan akan menentukan apakah embrio itu akan berkembang atau tidak (Mokoginta 1991). Pemberian vitamin C dan E yang tepat dalam pakan induk merupakan salah satu cara meningkatkan kematangan gonad dan peningkatan produksi benih ikan baung. Vitamin C dan E mempunyai peranan penting menjaga ketersediaan nutrisi sebagai sumber energi yang dibutuhkan untuk reproduksi (Khaidir 2001). PENGELOLAAN KUALITAS AIR Kolam induk ikan baung pada saat awal pengisian digunakan air yang mempunyai kualitas baik, namun pemberian pakan yang tidak termakan oleh induk akan memicu pembusukan. Pembusukan bahan organik akan mengurangi kualitas air yang dicirikan dengan rendahnya kandungan oksigen, tingginya kandungan amonia dan nitrit, serta karbon dioksida dan terkadang terdapat asam sulfit menyebabkan induk ikan menjadi stres. Hal ini membuka peluang untuk masuknya penyakit dan parasit. Selain itu, kolam menjadi blooming akibat kandungan nitrogen dan fosfor yang dihasilkan dari pembusukan sisa pakan yang menyebabkan kebutuhan oksigen lebih tinggi di malam hari. Kualitas air yang menurun secepatnya harus diatasi melalui pengurangan pemberian pakan, pemberian aerasi untuk meningkatkan kandungan oksigen, atau melakukan oksidasi kimia untuk mengurangi nilai Biology Oxygen Demand (BOD) melalui pemberian potasium permanganat atau membuang air kolam pada bagian dasar kolam dan mengganti air. PREDATOR DAN KOMPETITOR (PESAING) Predator dapat merupakan masalah utama penyebab hilangnya induk ikan baung dan kompetitor dapat menyebabkan pengurangan jumlah dan kualitas telur. Predator utama pada induk ikan baung adalah ikan gabus dan berangberang. Sementara itu, ikan kompetitornya antara lain ikan gabus dan lele. Pencegahan berang-berang dapat dilakukan dengan memagar sekeliling kolam. Pencegahan kompetitor dapat dilakukan pada saat persiapan kolam

44 33 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG induk sebelum diisi dengan air, kolam dikeringkan dan dijemur, diberi kapur, kemudian diisi air dengan kedalaman 10 cm. Penambahan air sampai kedalaman yang diinginkan dilakukan tiga atau empat hari setelah organisme yang tidak diinginkan mati. PENANGANAN STRES PADA INDUK Penanganan induk ikan baung perlu dilakukan dengan saksama untuk mengurangi stres. Induk biasanya ditangkap menggunakan jaring atau serokan. Penanganan induk yang baik pada saat menangkap tidak akan menimbulkan stres. Induk ikan baung biasanya ditangkap pada saaat sampling bulanan untuk menyesuiakan pemberian pakan, pengecekan kondisi induk matang gonad, dan pemberian penanda. Stres pada ikan baung dapat muncul pada saat penangkapan guna pengukuran berat dan pengecekan tingkat kematangan gonad. Stres yang ditimbulkan akan memengaruhi selera makan, yang akan berakibat terhadap perkembangan gonad, hal ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan pemijahan. Ikan baung hasil domestikasi mempunyai tingkat stres yang berbeda dibandingkan ikan baung yang ditangkap dari alam dan dipelihara di kolam atau keramba. PERKEMBANGAN INDUK MATANG GONAD Kematangan gonad diamati secara periodik (setiap satu bulan) dengan mengukur diameter sampel oosit dari masing-masing induk betina. Induk ikan baung matang gonad dapat dikenali melalui bentuk luarnya sebagai berikut: induk betina yang matang kelamin ditunjukkan dengan perut yang membengkak, terutama di daerah urogenital serta perkembangan oosit. Pengamatan tingkat kematangan gonad betina ikan baung dilakukan melalui perkembangan oosit dengan mengukur diameter telur. Induk ikan yang terpilih diambil telurnya menggunakan kateter. Jenis kateter yang digunakan mempunyai ukuran bervariasi dan terbuat dari polypropilene dan berbentuk tabung. Kateter dimasukkan ke dalam genital papila sedalam 5 8 cm, kemudian diambil beberapa telur. Telur yang diperoleh diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 25 kali. Pengamatan diameter telur sebanyak butir dilakukan setiap bulan sehingga akan diperoleh diameter rataan serta distribusi ukuran telur dalam satuan mm. Indikasi yang diperlukan untuk menentukan keadaan telur yang siap dan telah berada pada posisi

45 34 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus akhir, ditandai dengan warna telur yang berwarna kuning. Bila telur masih berwarna putih, menandakan telur masih belum matang, sebaliknya bila ukuran telur besar dan berwarna bening menandakan telur telah memasuki fase over riping. Telur yang mempunyai ukuran yang sama dengan sedikit basah, mudah dipisahkan satu dengan lainnya, dan telah mencapai ukuran 1,5 mm menandakan induk ikan siap menerima rangsangan hormon. Ikan jantan yang siap untuk pemijahan dipilih berdasarkan kriteria panjang genital papilla yang sudah melewati pangkal sirip anal. Ikan jantan, matang kelamin dilihat dari ujung papila berwarna kemerah-merahan serta keluarnya cairan kalau dilakukan pengalinan. Penandaan (tagging) sangat diperlukan dalam manajemen induk. Hal ini karena penggunaan tanda pada setiap ekor ikan dapat diikuti tingkat perkembangan, baik pertumbuhan dan gonadnya. Pemberian tanda pada ikan juga dapat membantu pembudidaya dalam mengikuti kejadian yang dilakukan induk ikan baung, seperti serangan penyakit, penanganan pengobatan, frekuensi penggunaan induk untuk pemijahan, kualitas dan jumlah telur yang dihasilkan, serta jumlah larva yang diperoleh. Penggunaan penanda dapat menggunakan metode sederhana, seperti pengguntingan sirip dan pewarnaan dengan cap menggunakan alat dipanaskan atau PIT tagging (passive inductance transponder tagging) yaitu tanda pengenal untuk ikan berdasarkan metode elektronik. PIT tag mempunyai beberapa keuntungan, antara lain mudah digunakan, tidak membahayakan bagi ikan, serta penggunaan kode yang unik, namun mudah di baca serta tidak mudah rusak. Pemberian penanda dilakukan setelah ikan dibius dengan menggunakan jarum penyuntik yang telah diberi PIT tag. PIT tag disuntikkan di bagian akhir sirip dorsal (punggung). Jarum suntik yang telah berisi PIT tag setelah disuntikan kedalam tubuh ikan, nomor yang tertera dalam PIT tag dapat dibaca dengan menggunakan PIT tag reader. Manajemen induk merupakan aspek penting dalam budidaya ikan baung. Manajemen induk yang tepat akan menghasilkan kualitas telur, sperma, dan larva yang baik, serta dapat meminimalkan kematian induk melalui pengaturan kualitas air, pemberian pakan yang tepat, dan pencegahan penyakit.

46 35 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG DAFTAR PUSTAKA Adebiyi FA, Siraj SS, Harmin SA, Christianus A Induced spawning of a river catfish Hemibagrus nemurus (Valenciennes 1840). Pertanika Journal of Tropical Agricultural Science 36(1): Abidin MZ, Hashim R, Chung AC. S Influence of dietary protein levels on growth and egg quality in broodstock female bagrid catfish (Mystus nemurus Cuv. & Val.). Short Communication. Aquaculture Research 37: Bromage NR, Roberts RJ Broodstock management and egg and larval quality. Institute of Aquaculture. University of Sterling. 414p. Bautista MN, De La Crus MC Linoleic (n-6) and linolenic (n-3) acids in the diet of fingerling milkfish Chanos chanos forskal, Aquaculture 71: Gaffar AK, Muflikhah N Pemijahan buatan dan pemeliharaan larva ikan baung. pros. Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992. Balitkanwar Bogor p. Hardjamulia A, Suhenda N Evaluasi sifat reproduksi dan sifat gelondongan empat strain ikan baung (Mystus nemurus) di keramba jaring apung di Waduk Cirata. Prosiding Hasil Penelitian Balai Penelitian Perikanan Air Tawar 1999/2000. Sukamandi. Izquierdo MS, Fernandes-Palacios H, Tacon AGJ Effect of broodstock nutrition on reproductive performance of fish. Aquaculture 197: Khaidir A Pengaruh vitamin C dalam bentuk L-Askorbil-2-fosfat Magnesium sebagai sumber vitamin C dalam pakan terhadap kualitas telur ikan patin (Pangasius hypophthalmus) [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian BogorSekolah Pascasarjana IPB. Bogor. 62 p. Kristanto AH, Subagja J, Ath-thar MHF, Arifin OZ, Prakoso VA, Cahyanti W Pengaruh suhu inkubasi induk dan pemberian naungan pada larva terhadap produksi benih ikan baung, Jakarta; Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2016, pp

47 36 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Muflikhah N, Gaffar AK, Jahri M Pembenihan ikan baung (Mystus nemurus) dengan cara hypofisasis. Buletin Penelitian Perikanan Darat 12(2): Muflikhah N, Gaffar AK Pengaruh perbedaan padat tebar terhadap pertumbuhan ikan baung (Mystus nemurus) di kolam stagnan. Buletin Penelitian Perikanan Darat 11(2): Muflikhah N, Yosmaniar, Jahri M Pematangan gonad dan pemijahan buatan ikan baung (Mystus nemurus). Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Muflikhah N, Aida SN Pengaruh frekuensi pemberian pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan baung (Mystus nemurus). Prosiding Lolitkanwar 2: Muflikhah N, Nurdawati S, Aida SN Pengaruh pakan yang berbeda terhadap pemantangan gonad ikan baung (Mystus nemurus) dalam keramba, kualitas telur dan sintasan larva. Jurnal ilmu Perikanan 7(1): Mokoginta I Kebutuhan ikan lele (Clarias batrachus) akan asam lemak esensial bagi perkembangan induk. Direktorat Pembinaan, Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Fakultas Perikanan, IPB. 46 hlm. Nasution Z, Utomo AD, Prasetyo D, Yusuf S Kajian ekonomi pada sumber daya perikanan baung di DAS Batanghari, Provinsi Jambi. Laporan Rakernis Balitkanwar Sukamandi Mei Radona D, Subagja J, Prakoso VA, Kusmini II, Kristanto AH Biologi reproduksi dan tingkat keberhasilan pemijahan ikan baung populasi Cirata dengan inkubasi suhu. Jurnal Riset Akuakultur 13(2): Roza M, Manurung R, Budhi A, Sinwanus B, Heltonika Kajian pemeliharaan ikan baung (Hemibagrus nemurus) dengan padat tebar yang berbeda pada keramba jaring apung di Waduk Sungai Paku, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Acta Aquatica 1(1): 2 6.

48 37 MANAJEMEN INDUK IKAN BAUNG Subagja J, Cahyanti W, Nafiqoh N, Arifin OZ Keragaan bioreproduksi dan pertumbuhan tiga populasi ikan baung (Hemibagrus nemurus Val. 1840). Jurnal Riset Akuakultur 10(1): Suhenda N, Samsudin R, Kristanto AH Peranan lemak pakan dalam mendukung perkembangan embrio, derajat penetasan telur, dan sintasan larva ikan baung (Mystus nemurus). Jurnal Riset Akuakultur, 4(2): Slembrouck J, Komarudin O, Maskur, Legendre M Technical manual for artificial propagation of the Indonesian catfish (Pangasius djambal). IRD-DKP, Karya Pratama. 131 hlm. Samuel, Adjie S, Akrimi Beberapa aspek biologi lkan baung (Mystus nemurus) di daerah aliran sungai Batanghari, Provinsi Jambi. Oseanologi dan Limnologi di lndonesia 28: 1 13.

49

50 4.TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG Jojo Subagja, Otong Zenal Arifin, Vitas Atmadi Prakoso, dan Deni Radona Pada tahun 2017, rata-rata harian konsumsi protein per kapita masyarakat Indonesia hanya berada diangka 46,49 kg per tahun (BPS 2017a). Sementara itu, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk konsumsi ikan segar pada tahun 2017 sebesar 1,323 kg (BPS 2017b). Seiring dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia, kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan semakin tinggi. Demikian pula dengan adanya program Gemar Makan Ikan yang dikampanyekan KKP, angka konsumsi akan terus bergerak naik. Budidaya ikan air tawar dari sisi produksi, pada tahun 2017 produksi perikanan nasional mencapai 23,26 juta ton. Dari jumlah tersebut, produksi perikanan tangkap sebanyak 6,04 juta ton dan produksi perikanan budidaya 17,22 juta ton (BPS 2017a). Kenaikan produksi budidaya ikan dalam kolam air tawar cukup pesat, yaitu berkisar 11% setiap tahun. Hal ini menunjukkan ada gairah besar di masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Tentunya pertumbuhan produksi ini mengacu pada permintaan pasar yang terus meningkat, sejalan dengan penambahan jumlah jenis ikan yang dibudidayakan. Jenis ikan air tawar yang baru mulai dilirik untuk dikembangkan dimasyarakat sebagai komoditas budidaya beberapa spesies berasal dari ikan perairan umum, salah satunya yaitu ikan baung. Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang ekonomis penting di indonesia dan telah mendapatkan popularitas di kalangan konsumen dalam negeri, serta di wilayah asia tenggara. Ikan ini memiliki kualitas daging baik dan nilai gizi tinggi sehingga akan berdampak terhadap harga jual yang tinggi dibandingkan dengan dari jenis ikan catfish air tawar lainnya. Namun, komersialisasi dan budidaya masif terhadap spesies ini masih terbatas. Hal ini karena belum didukung oleh keberadaan panti

51 40 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus benih yang memproduksi benih baung. Di sisi lain, induk ikan baung yang sudah dipergunakan untuk proses penyediaan benih masih berasal dari indukan alam sehingga masih banyak permasalahan dalam penyesuaian dengan lingkungan budidaya. Dengan demikian, penyediaan benih baung untuk budidaya pembesaran sebagian besar masih mengandalkan tangkapan benih dari alam. Penggunaan induk baung yang berasal dari alam seringkali belum teradaptasi pada kondisi lingkungan baru. Dengan demikian, faktor alamiah masih sangat dominan dalam memengaruhi proses reproduksi induk. Beberapa parameter yang berpengaruh pada proses reproduksi di antaranya kondisi suhu lingkungan, fotoperiod, faktor sosial (kepadatan) dan curah hujan, serta pakan alami. Hal ini didukung dengan pendapat yang dikemukakan oleh Alawi et al. (1992) dan Handoyo et al. (2010). Di alam, siklus reproduksi ikan baung umumnya terjadi pada musim hujan dengan puncak pemijahan pada bulan Oktober Desember. Salah satu strategi untuk menggantikan sinyal lingkungan yang kebutuhan ikan baung untuk bereproduksi pada kondisi lingkungan budidaya, dapat dilakukan melalui pemberian hormon reproduksi. Teknologi ini mudah dan efektif diaplikasikan kepada pengelola panti benih dalam upaya pecepatan reproduksi benih. PERKEMBANGAN TEKNIK PEMIJAHAN Ikan baung termasuk jenis ikan yang sangat digemari oleh masyarakat. Budidaya ikan baung di Indonesia pertama kali dicoba sejak tahun 1983 (Rifai et al. 1988) dan pada tahun 1991 pemijahan sudah dilakukan secara buatan dengan menggunakan hormon ekstrak kelenjar hifopisa ikan mas Cyprinus carpio dan Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) dengan nama dagang Pregnyl (Gaffar dan Muflikhah 1992). Pada sekitar tahun 2000, pemijahan dilakukan dengan menggunakan rangsangan Luteunizing Hormon Realising Hormon (LHRH) analog kombinasi dengan antidopamin, kemudian dikemas dengan nama komersial, yaitu LHRHa. Aplikasi penggunaan LHRHa sejak beredar dipasaran telah banyak dipergunakan untuk proses pemijahan dan berdampak pada akselerasi teknik pemijahan secara buatan pada jenis ikan air tawar. Pemakaian hormon reproduksi ini relatif praktis dan efesien dalam pemakaiannya untuk proses ovulasi. Meskipun ada beberapa pengecualian penggunaannya sedikit lebih tinggi dari dosis anjuran, terutama bila terapkan pada ikan-ikan baru didomestikasi dan pemakaian di luar musim reproduksi.

52 41 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG Salah satu contoh dosis LHRHa yang digunakan untuk pemijahan induk ikan baung dari alam yang baru diadaptasikan pada lingkungan budidaya, menggunakan dosis 0,6 0,7 ml/kg bobot induk (Subagja et al. 2015), sedangkan dosis anjurannya 0,5 ml/kg.. Penguasaan teknik produksi benih masih didominasi oleh Jawa Barat dan Kalimantan Selatan yang memiliki keunggulan teknologi perbenihan dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal ini karena keberadaan institusi pemerintah di bidang perikanan yang berperan aktif dan lebih maju, sedangkan untuk kegiatan budidaya skala pembesaran memiliki cakupan wilayah yang lebih luas di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Di Pulau Jawa, usaha pembesaran ikan baung terkonsentrasi di beberapa waduk besar, antara lain Waduk Cirata di Jawa Barat dan Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah. Di Pulau Sumatera, usaha budidaya terkonsentrasi di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Budidaya di Pulau Sumatera lebih banyak diusahakan di kolam dan sungai. Di Pulau Kalimantan, usaha budidaya ikan baung banyak dilakukan di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, teknik pemeliharaan di lokasi tersebut lebih banyak dilakukan dalam keramba di sungai. PEMBENIHAN IKAN BAUNG Pembenihan ikan baung dapat dilakukan secara semi-alami dan buatan. Perkembangan gonad akan sempurna ketika umur ikan di atas satu tahun pemeliharaan. Ciri-ciri Induk Baung Secara umum, ukuran induk baung yang baik digunakan untuk proses pemijahan berkisar g. Ikan baung jantan dan betina cukup mudah dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Induk jantan ditandai dengan tubuh ramping dan panjang, warna kulit lebih cerah dibanding warna ikan betina, serta memiliki alat kelamin dengan ujung genital papilla yang meruncing mengarah ke pangkal sirip anal. Ciri lain apabila diurut terkadang keluar cairan berwarna putih. Persyaratan ikan jantan yang telah matang atau dewasa dicirikan dengan panjang genetal papila sudah mencapai atau melebihi pangkal sirip anal. Ciri induk betina ditandai dengan tubuh lebih gemuk dan lebih melebar terkesan tampak lebih pendek, warna kulit agak kusam dibanding dengan ikan jantan, alat kelamin betina berwarna kemerahan, serta bentuknya membulat dan hanya sedikit menonjol. Induk betina yang

53 42 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus sudah matang dicirikan dengan perutnya yang gendut, permukaan kulit lebih lembut, bila bagian perut dilakukan pemijatan terkadang keluar telur berwarna kecokelatan (Gambar 4.1). Gambar 4.1 Jantan Betina Perbedaan morfologi kelamin antara Induk jantan dan betina ikan baung Pemeliharaan dan Pematangan Gonad Induk Pemeliharaan induk baung merupakan tahap awal yang harus dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan induk yang matang gonad. Kematangan gonad sangat dipengaruhi oleh faktor umur dan lingkungan. Umumnya, ikan jantan matang gonad lebih awal dari pada ikan betina. Selain umur dan lingkungan, pakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap proses kematangan gonad, khususnya pada perkembangan ikan betina. Selain itu, pakan akan berpengaruh terhadap fekunditas dan kualitas telur, serta sebagai bahan dasar untuk sintesis vitelogenin dan hormon. Menurut Tang et al. (2000), pakan yang optimal dalam pematangan gonad memiliki kandungan protein sebesar 35%, lebih lanjut Suhenda et al. (2009) menyatakan bahwa pakan yang mengandung lemak sebesar 6% akan menghasilkan perkembangan embrio yang optimal, derajat pembuahan (>95%), derajat penetasan (>90%),

54 43 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG dan sintasan (>95%). Untuk induk jantan, pematangan gonad bisa dipercepat melalui implantasi hormon 17α-metil testosteron dengan dosis optimal 200 mg/kg (Sularto et al. 2010). Pemeliharaan induk ikan baung dapat dilakukan di kolam tanah, beton, atau fiber. Untuk pemeliharaan di kolam, sebagai contoh dengan menggunakan kolam berukuran 5 x 2 m dan ke dalam air kolam 1 m, perlu dilakukan pengeringan terlebih dahulu selama 2 3 hari, kemudian kolam diisi dan dialirkan secara kontinu. Pemeliharaan induk baung dilakukan terpisah antara jantan dan betina agar mempermudah dalam proses pengecekan. Kepadatan optimal pemeliharaan induk, yaitu 2 ekor/m 3. Kolam dilengkapi dengan saluran pemasukan (inlet) dan saluran pengeluaran (outlet). Selama pemeliharaan, induk diberi pakan berupa pelet komersil dengan kandungan protein berkisar antara 28 32%, kandungan lemak berkisar antara 6 8%. Pakan diberikan sebanyak 3% dari bobot bimassa dengan frekuensi pemberian tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore). Pemilihan Induk Matang Gonad Seleksi atau pemilihan induk dilakukan untuk menentukan induk ikan baung yang sudah layak untuk dipijahkan. Untuk memudahkan proses seleksi induk, sebaiknya induk ikan baung diberi penanda (tagging). Penggunaan penanda elektronik lebih praktis dan tidak mengganggu aktivitas induk, berikut cara pemasangan penanda pada induk (Gambar 4.2) A B Gambar 4.2 Penanda elektronik ( Chip electronic tag) dan jarum implanter A) Penyisipan penanda pada induk ikan baung; B) intramuscular pada bagian punggung sebelah kanan sirip dorsal

55 44 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Induk ikan baung sebelum diperlakukan pemasangan penanda atau pada aktivitas pemilihan induk, sebaiknya dilakukan pembiusan terlebih dahulu menggunakan obat anastesi. Bisa menggunakan 2-phenoxyethanol dengan dosis 0,3 ml/l air atau stabilizer dengan dosis 1 ml/l air dengan lama waktu pembiusan sekitar 3 5 menit. Setelah pingsan, induk diangkat dan siap dilakukan pemasangan penanda. Kriteria induk baung betina yang sudah matang gonad (TKG IV) dapat diketahui melalui pengecekan sampel telur yang diambil secara kanulasi dan mengukur oosit hasil sampling menggunakan mikroskop yang dilengkapi dengan lensa mikrometer. Oosit yang matang memiliki diameter telur rata-rata 1,5 1,8 mm. Telur berwarna kuning kecokelatan dan mudah dipisahkan satu sama lain. Induk yang sudah terpilih, kemudian ditampung dalam wadah atau akuarium, dan sebelumnya ditimbang bobotnya bertujuan untuk menentukan jumlah hormon yang akan disuntikkan. Untuk menghindari luka akibat gigitan, penampungan induk betina hanya dimasukkan satu ekor induk per wadah. Wadah penampungan induk ini, sebaiknya dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen. Gambar 4.3 Teknik kanulasi untuk melihat tingkat kematangan gonad induk betina dari observasi terhadap diameter telur sampel

56 45 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG Gambar 4.4 Penimbangan bobot induk betina terpilih untuk dipijahkan guna penentuan dosis hormon Pemijahan Ikan Baung Proses pemijahan ikan baung belum bisa dilakukan secara alami sehingga pemijahan baung dilakukan secara buatan (induced breeding). Aktivitasnya diawali dengan penyuntikan hormon, stripping, pembuahan telur, dan inkubasi telur. Demikian juga dengan sperma dari ikan jantan diperoleh dari hasil pembedahan. Setiap pemijahan dilakukan dengan rasio 1:3 (satu ekor jantan membuahi tiga ekor betina). Teknik penyuntikan Setelah induk dipilih dan ditempatkan pada wadah, selanjutnya adalah penyuntikan hormon, jenis hormon yang biasa dipergunakan adalah HCG dan LHRHa. Strategi pertama, penyuntikan hormon pada induk yang sudah matang akhir. Hormon yang ini praktis digunakan sebagai perangsang ovulasi atau spermiasi dengan dosis 0,6 ml/kg untuk induk betina dan 0,2 ml/kg untuk induk jantan. Penyuntikan dilakukan dua kali menggunakan sgnrha + domperidone. Penyuntikan pertama dan kedua diberikan sebanyak 30% dan 70% dari dosis total dengan interval waktu penyuntikan 6 7 jam. Untuk menghindari luka pada induk pascapemijahan, hendaknya penyuntikan pertama dan kedua dilakukan di tempat yang berbeda (punggung kiri dan kanan). Penyuntikan ikan jantan hanya dilakukan satu kali penyuntikan

57 46 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus menggunakan sgnrha + domperidone, diberikan minimal 10 jam sampai dengan saat diambil spermanya (satu jam sebelum penyuntikan kedua pada ikan betina). Strategi kedua dilakukan apabila induk ikan baung belum sepenuhnya matang gonad akhir. Hormon untuk induksi digunakan HCG (Human chorionic gonadotropin) dipergunakan untuk proses penyuntikan pendahuluan (priming injection) diaplikasikan 24 jam sebelum dilakukan penyuntikan ovulasi menggunakan LHRHa, proses sama dengan tahapan strategi pertama. Hormon yang digunakan dilarutkan dengan aquabides steril dengan perbandingan 1:1. Penyuntikan dilakukan secara intramuscular (dibelakang sirip punggung) dengan sudut penyuntikan 45 o atau di bagian sisi kanan dan kiri dari sirip punggung. 4.Pengecekan Induk Gambar HCG 500IU/Kg Ovaprim 4.24 Jam 4. (0.6 ml/kg) Jam 4.Ovulasi (Stripping) Proses pemijahan buatan ikan baung melalui strategi kedua priming injection dan dilanjutkan dengan penyuntikan akhir Teknik stripping Induk ikan baung yang telah disuntik hormon akan mengalami ovulasi setelah 7 9 jam setelah penyuntikan pada suhu air o C. Induk betina yang sudah siap ovulasi dicirikan tidak aktif bergerak dan perut sangat mengembang. Bisa dilakukan pengecekan, yaitu dengan cara melakukan pengurutan secara perlahan. Apabila telur sudah keluar, menandakan ikan siap ovulasi. Tahap selanjutnya adalah melakukan stripping ikan betina. Ikan betina yang siap ovulasi diangkat dari wadah, kemudian badan ikan dibalut kain sekaligus dikeringkan, kemudian dilakukan pengurutan secara perlahan diawali menekan pada pangkal urogenital. Telur mulai keluar dan ditampung menggunakan mangkuk. Setelah telur keluar mulai lancar, pengurutan

58 47 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG selanjutnya bisa dilakukan pada bagian perut atas diurut ke belakang. Telur hasil stripping lalu ditimbang, dengan syarat baskom yang dipergunakan sudah diketahui bobotnya (Gambar 4.6). Total telur yang dihasilkan adalah selisih bobot telur yang dihasilkan dikurangi dengan bobot waskom (ova somatik). Menurut Suhenda et al. (2004), indeks ovasomatik ikan baung mencapai 14,7%. Sebelum melakukan stripping ikan betina, langkah yang harus dilakukan adalah menyiapkan sperma. Teknik pengambilan sperma Gambar 4.6 Teknik stripping ikan baung Ikan jantan yang sebelumnya sudah disuntik dianastesi dengan obat bius dan dibunuh dengan cara menusuk bagian otaknya menggunakan scapel. Setelah mati, segera dilakukan pembedahan, testisnya diangkat/dikeluarkan dari rongga perut, kemudian bersihkan dari darah yang melekat dengan menempelkan tisu pada testis. Kemudian, testis dipotong-potong halus menggunakan gunting. Hasil rajangan tadi diperas menggunakan kain trikot sambil dibilas menggunakan larutan infus (NaCl fisiologis), sperma hasil perasan ditampung menggunakan gelas. Sperma dari satu induk jantan bisa membuahi tiga ekor induk betina. Teknik pengambilan sperma ditampilkan pada Gambar 4.7.

59 48 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Gambar 4.7 Preparasi sperma ikan baung dari induk jantan yang telah disuntik LHRHa Agar sperma bertahan lebih lama, gelas yang berisi larutan sperma disimpan diatas wadah yang telah dialasi es batu (suhu 6 o C) atau setara suhu refrigerator. Pembuahan Campurkan larutan sperma ke dalam telur lalu aduk hingga rata menggunakan bulu ayam sebagai alat pengaduk. Telur dan sperma yang sudah tercampur lalu diaktifasi dengan cara menambahkan air bersih dan diaduk kembali menggunakan bulu ayam supaya pembuahannya merata. Setelah itu, telur dibilas dengan air bersih sampai tidak ada lagi sisa sperma yang menempel. Proses fertilisasi (pembuahan) akan berlangsung cepat karena sperma ikan baung akan aktif bergerak dan bertahan hidup hampir tiga menit setelah terkena air (Gambar 4.8). Gambar 4.8 Pencampuran telur dan sperma ikan baung

60 49 Penetasan telur TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG Telur ikan baung bersifat menempel pada substrat (adhesive), pada proses inkubasi telur bisa menggunakan substrat penempel, atau langsung ditebar ke dasar wadah (Gambar 4.9). Telur akan menetas optimal pada suhu 28 o C. Telur yang terbuahi berwarna bening atau transparan, sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih pucat. Fekunditas induk ikan baung bisa mencapai butir/ekor dengan nilai derajat pembuahan sebesar 70 80%, derajat penetasan sebesar 30 80% dan kelangsungan hidup sebesar 50 60% (Subagja et al. 2012). Untuk hasil yang lebih baik dan menghindari jamur pada telur, sebaiknya dilakukan treatment dengan direndam emolin dengan dosis 0,05 ml/liter air. Bahan kimia ini mudah didapat di toko kimia atau apotek. Gambar 4.9 Inkubasi telur ikan baung di dalam tangki fiber glas Penetasan di bak tembok Penetasan telur ikan baung dilakukan dalam bak tembok dengan cara menyiapkan sebuah bak tembok ukuran panjang 2 m, lebar 1 m, dan tinggi 0,4 m (ukuran fleksibel). Bak penetasan dikeringkan selama 2 4 hari. Bak diisi dengan air setinggi 30 cm. Hapa halus yang berukuran sama dipasang dan diberi pemberat agar hapa tenggelam (misalnya kawat behel yang diberi selang). Sebaiknya, bak dilengkapi dengan sistem aerasi dengan kecepatan yang cukup. Telur yang telah dibuahi dan dibilas, kemudian ditebar pada kakaban/substrat penempel tebar telur hingga merata ke seluruh permukaan

61 50 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus substrat, telur akan menetas dalam 2 3 hari pada suhu o C. Substrat penempel bisa menggunakan kasa tray, telur ikan baung yang bagus ditandai dengan daya rekat pada substrat. Penetasan di Akuarium Pada umumnya, penetasan telur ikan baung lebih banyak dilakukan di akuarium. Akuarium disiapkan dengan ukuran tertentu dan sebaiknya disterilisasi. Selanjutnya, akuarium diisi air setinggi 30 cm. Masing-masing akuarium dipasang dua buah titik aerasi dan dihidupkan selama proses penetasan. Telur ditebarkan hingga merata ke seluruh permukaan dasar akuarium dan biarkan telur menetas dalam 2 3 hari pada suhu o C. Gambar 4.10 Penebaran telur pada dasar akuarium (kiri), akuarium tempat pemeliharaan larva menggunakan sistem air resirkulasi (kanan) Penetasan di wadah fiber Penetasan telur ikan baung juga bisa dilakukan di fiber. Secara teknis caranya hampir sama dengan penetasan menggunakan akuarium atau bak tembok. Telur ikan baung bisa langsung ditebar ke dasar tangki atau terlebih dulu ditebar ke substrat penempel telur.

62 51 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG Gambar 4.11 Penetasan telur menggunakan substrat kasa (kiri), dan di tetaskan dalam akuarium unit resirkulasi (kanan) Pemanenan Larva Pemanenan larva dilakukan setelah 24 jam telur menetas. Pada periode tersebut, cadangan makanan berupa kuning telur (yolk sack) pada larva sudah mulai menipis. Umumnya, larva akan menetas dan berenang pada permukaan wadah. Substrat diambil dari wadah penetasan sehingga yang tersisa hanya larva yang menetas saja karena telur yang tidak menetas akan tetap menempel pada substrat. Larva ikan baung yang baru menetas memiliki panjang 0,5 cm dengan bobot 0,7 mg. Larva dapat dilakukan pemanenan menggunakan scope net fitoplankton yang memiliki botol, larva akan terkumpul di dalam botol, kemudian dipindahkan ke tempat pemeliharaan. Pemeliharaan Larva Larva merupakan fase kritis bagi ikan, yaitu fase awal di mana perkembangan organ mulai terbentuk. Pada kondisi larva, ikan akan mudah mengalami kematian pada kondisi kualitas air yang buruk. Pemeliharaan larva, biasanya dilakukan di ruangan tertutup agar suhu tetap terjaga. Pemeliharaan larva bisa dilakukan di akuarium, fiber, bak semen, dan bak plastik. Untuk pemeliharaan larva agar terkontrol, sebaiknya dilakukan di akuarium berukuran 60 x 50 x 40 cm (ukuran akuarium bisa disesuaikan) dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Dari hasil penelitian Muflikhah (1994), kepadatan yang baik adalah 5 ekor/l diperoleh sintasan hingga 75%. Namun, seiring dengan berkembangnya pengetahuan dalam teknologi pengelola unit-unit pembenihan, padat penebaran sudah bisa mencapai 50 ekor/liter. Larva yang baru menetas belum dapat diberi pakan dari luar karena larva ikan

63 52 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus baung masih memiliki cadangan kuning telur (yolk sack) selama 2 3 hari. Selain itu, larva ikan baung baru bisa membuka mulut pada umur tiga hari (Handoyo et al. 2010). Setelah itu, larva diberi pakan alami berupa Artemia sampai umur sepuluh hari. Artemia sangat diperlukan karena pakan alami yang memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva ikan baung. Artemia mengandung enzim yang berperan sebagai enzim pencernaan larva. Artemia diberikan setiap tiga jam sekali dengan cara at satiasi. Larva ikan baung memiliki sifat kanibalisme yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan pemberian pakan yang tepat dan kecukupan. Pada umur >10 hari, larva sudah bisa diberi pakan cacing sutra (Tubifex sp.). Adapun pakan cacing sutra diberikan dalam cara dicincang sampai halus. Cacing sutra dimasukkan ke dalam scope net halus dan kemudian dibilas dengan air bersih sampai air bilasan tidak berwarna merah. Kemudian, pakan tersebut dilarutkan ke dalam air dan disebarkan ke dalam wadah pemeliharaan larva. Selama pemeliharaan larva, dilakukan penyiponan dan pergantian air 2 3 hari sekali sebanyak 75% agar kondisi air tetap terjaga. Pemeliharaan benih sampai ukuran 2,5 cm memerlukan waktu sampai satu bulan. Benih ikan baung yang sudah siap dipasarkan dipelihara ke wadah yang lebih luas agar mencapai ukuran 4 5 cm. Ukuran tersebut merupakan ukuran yang umum pada segmen benih ikan baung. Gambar 4.12 Benih baung ukuran 1,5 2 cm pada kondisi pemeliharaan dalam wadah akuarium menggunakan sistem air resirkulasi

64 53 TEKNOLOGI REPRODUKSI IKAN BAUNG DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik. 2017a. Produksi Perikanan Indonesia. Diambil dari bps. go. id. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2017b. Pengeluaran untuk konsumsi penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik. 81 hlm. Gaffar AK, Muflikah N Penelitian budi daya ikan baung. Prosiding Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992. Bogor: Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Hardjamulia A, Suhenda N Evaluasi sifat reproduksi dan sifat gelondongan generasi pertama empat strain ikan baung (Mystus nemurus) di keramba jaring apung. Jurnal Penelitian Perikanan lndonesia 6(3 4): Kristanto AH, Subagja J, Ath-thar MHF, Arifin OZ, Prakoso VA, Cahyanti W Pengaruh suhu inkubasi induk dan pemberian naungan pada larva terhadap produksi benih ikan baung, Jakarta; Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2016, pp Subagja J, Cahyanti W, Nafiqoh N, Arifin OZ Keragaan bioreproduksi dan pertumbuhan tiga populasi ikan baung (Hemibagrus nemurus Val. 1840). Jurnal Riset Akuakultur 10(1): Subagja J, Sularto, Slembrouck J Milt-Egg ratio in artificial fertilization of Pangasiid catfish injected by gonadotropin releasing hormone analog (GnRH-a) and domperidone mixture. Jurnal Akuakultur Indonesia, 2(2): Suhenda N, Samsudin R, Subagja J Peningkatan produksi benih baung (Mystus nemurus) melalui perbaikan kadar lemak pakan induk. Berita Biologi 9(5): Sularto, Dewi RRSPS, Khasani I Pengaruh implantasi hormon 17 -metil testosteron terhadap pematangan gonad dan fertilitas sperma ikan baung (Mystus nemurus). Jurnal Riset Akuakultur 5(1): Tang UM Teknik Budidaya Ikan Baung. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru: Unri. 76 hlm.

65

66 5.PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Irin Iriana Kusmini, Deni Radona, Anang Hari Kristanto, dan Vitas Atmadi Prakoso Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu jenis ikan yang sangat digemari dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan ini tergolong ke dalam jajaran ikan air tawar kelas satu karena bernilai ekonomis. Sekarang ini harga jual ikan baung segar di pasar tradisional dapat mencapai Rp /kg, sedangkan ikan asap baung (ikan salai) dapat mencapai Rp /kg. Suksesnya budidaya pembesaran ikan baung sangat dipengaruhi oleh benih ikan baung baik secara kualitas maupun kuantitas. Dari segi kuantitas benih ikan baung mengalami permasalahan, yaitu masih sangat rendahnya jumlah benih yang dihasilkan dan lambatnya pertumbuhan benih ikan baung. Selain itu juga dipengaruhi adanya sifat kanibalisme pada benih ikan baung, yang terjadi pada stadia larva dan benih (Heltonika et al. 2017). Fase larva merupakan fase yang rentan akan kematian disebabkan larva sangat sensitif, baik dari kualitas air, asupan nutrisi dari pakan, dan adanya sifat kanibalisme. Sunarti (2003) menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva ikan baung selama pemeliharaan 7 hari adalah 71,67%, kemudian menurun menjadi 65,35% ketika berumur 20 hari. Pada stadia larva, baik morfologi, anatomi, maupun fisiologi ikan baung masih sangat sederhana. Tubuh larva tampak transparan, sirip dada dan ekor sudah ada tetapi bentuknya belum sempurna. Sirip hanya berbentuk tonjolan, mulut dan rahang belum berkembang, serta usus masih merupakan lambung lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah belum sempurna. Pakan diperoleh dari sisa kuning telur yang belum habis terserap. Untuk mendukung dan meningkatkan pembenihan ikan baung, dalam tulisan ini

67 56 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus akan dibahas mengenai pemeliharaan larva dan benih baung yang berisi tentang perkembangan dan perilaku larva ikan baung, pemanenan larva, pemeliharaan ikan baung, teknik budidaya dan manajemen kualitas air, pakan dan cara pemberian pakan pada larva ikan baung, serta pendederan dan pembesaran ikan baung yang dapat dimanfaatkan untuk pembudidaya ikan baung. PERKEMBANGAN DAN PERILAKU LARVA IKAN BAUNG Perkembangan larva dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu pralarva dan pascalarva. Pralarva merupakan tahap dari mulai menetas hingga habisnya kuning telur. Adapun ciri-ciri pralarva sebagai berikut: masih adanya kantung kuning telur (yolk sac), tubuh transparan dengan beberapa pigmen yang belum diketahui fungsinya, adanya sirip dada dan sirip ekor (caudal fin) walaupun bentuknya belum sempurna, mulut dan rahang belum berkembang, serta ususnya masih merupakan tabung halus. Pada saat tersebut pakan didapatkan dari kantung kuning telur yang belum habis terserap. Masa pascalarva ikan merupakan masa dari habisnya kantung kuning telur sampai terbentuk organ-organ baru atau penyempurnaan organ-organ yang ada. Pada akhir fase tersebut, secara morfologi larva telah memiliki bentuk tubuh hampir seperti induknya. Pada tahap ini sirip punggung (dorsal fin) sudah mulai dapat dibedakan, sudah ada garis bentuk sirip ekor (caudal fin), dan larva ikan sudah lebih aktif berenang. Pada masa akhir pascalarva tersebut, larva secara morfologi sudah mempunyai bentuk menyerupai individu dewasa (Effendie 2002). Pola tingkah laku larva bisa berubah pada stadium atau tahapan yang berbeda. Larva ikan tertentu yang awalnya aktif berenang vertikal berubah menjadi lemah dan lambat laun tergeletak di dasar tanpa bergerak, sedangkan yang lainnya mulai bergerak secara cepat atau tiba-tiba melompat (Majumdar 1985). Larva ikan dibagi dalam beberapa kategori. Berdasarkan aktif tidaknya, larva ikan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu larva aktif dan larva pasif. Sementara dilihat dari tingkah lakunya, larva dibedakan menjadi larva yang berenang secara vertikal, larva yang menempel diam pada objek, larva menggantung yang ekornya bergetar terus menerus, dan larva yang menggeletak diam di

68 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 57 dasar (Waynarovich dan Hovath 1980). Untuk memenuhi kebutuhan oksigen ketika sistem pernapasannya belum berkembang, larva memanfaatkan sistem kapiler pada permukaan kantung kuning telur untuk mendapatkan oksigen dari air. Masuknya oksigen ke dalam tubuh larva berlangsung melalui proses difusi. Oksigen merupakan faktor lingkungan yang bersifat akut, dampaknya bersifat cepat dan massal. Kematian larva pada pembenihan seringkali disebabkan oleh kekurangan oksigen lokal. Di wadah pemeliharaan, biasanya larva kekurangan oksigen meskipun aliran aerasi dan air terus berlangsung. Daerah demikian disebut death point area (daerah titik mati air). Larva yang memiliki tingkah laku pasif dan terbatas sebaiknya tidak dipelihara dalam wadah berbentuk persegi. Larva ikan baung yang baru menetas langsung mengalami pigmentasi mata, sirip dada, sirip ekor, dan sungut sudah terbentuk. Setelah 26 jam, mulut mulai membuka. Pada umur 52 jam larva mulai makan, dan pada saat tersebut bukaan mulut mencapai 0,55 mm. Ketika berumur >72 jam, kuning telur telah habis sehingga pergerakan larva makin aktif berenang di dasar dan dinding wadah pemeliharaan. Larva baung mempunyai kebiasaan menyebar pada malam hari dan hidup berkelompok, serta membentuk gumpalan terutama pada siang hari sehingga dapat menyebabkan kematian larva yang berada di bagian dalam karena kekurangan oksigen. Oleh karena itu sistem aerasi harus selalu diperhatikan agar kandungan oksigen terlarut di dalam air tetap tinggi. Menyebarnya larva ikan baung dalam wadah budidaya sangat baik bagi larva. Hal ini mengingat jika ikan baung memiliki tingkat kanibal yang cukup tinggi, berakibat pada peluang larva untuk selamat dari pemangsaan larva yang lain lebih besar (Khairuman et al. 2008). Secara keseluruhan, penyebab kematian larva ikan baung selama pemeliharaan disebabkan oleh keterlambatan pemberian pakan sehingga menimbulkan sifat kanibalisme larva. Selain itu kematian larva yang tinggi dikarenakan pada fase kritis stadia larva terjadi peralihan pemanfaatan makanan dari kuning telur (endogenous feeding) ke pemanfaatan pakan dari luar (exogenous feeding). Hutapea (2001) menyatakan bahwa besarnya nilai mortalitas larva ikan baung terjadi saat masa kuning telur habis dan larva mulai mencari makanan dari luar. Jenis makanan yang baik dan pemberian pakan tepat waktu merupakan faktor penentu keberhasilan pembenihan.

69 58 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus PEMANENAN LARVA Fekunditas ikan baung pada induk betina yang bobotnya 327 g sebanyak butir telur, sedangkan pada ikan baung yang bobotnya g sebanyak butir. Ikan betina yang matang kelamin mempunyai indeks gonad somatik (ISG)= 5 10% (Radona et al. 2018). Pemanenan larva dilakukan setelah 24 jam telur menetas. Hal ini karena cadangan makanan berupa kantung kuning telur pada larva sudah mulai menipis. Umumnya larva akan menetas dan berenang pada permukaan wadah. Cara memanennya adalah dengan cara mengambil substrat dari wadah penetasan sehingga yang tersisa hanya larva yang menetas saja karena telur yang tidak menetas akan tetap menempel pada substrat. Larva ikan baung yang baru menetas memiliki panjang 0,5 cm dengan bobot 0,7 mg. PEMELIHARAAN LARVA IKAN BAUNG Larva merupakan fase kritis bagi ikan, yaitu fase awal di mana perkembangan organ mulai terbentuk. Pada kondisi larva, ikan akan mudah mengalami kematian pada kondisi yang buruk. Pemeliharaan larva biasanya dilakukan di ruangan tertutup (indoor) agar suhu tetap terjaga. Pemeliharaan larva bisa dilakukan di akuarium, fiber, bak semen, dan bak plastik. Untuk pemeliharaan larva sampai umur dua bulan agar terkontrol dan menghindari penyakit, kanibalisme, dan hama, sebaiknya dilakukan di akuarium berukuran 60 x 50 x 40 cm (ukuran akuarium bisa disesuaikan) dengan ketinggian air sekitar cm. Larva yang baru menetas belum dapat diberi pakan dari luar karena larva ikan baung masih memiliki cadangan kuning telur (yolk sac) selama 2 3 hari. Larva ikan baung saat menetas tidak memiliki mulut, gelembung renang belum terisi, alat pencernaan belum sempurna dan ukuran kantung kuning telur berpacu pada perkembangannya, serta selalu tanpa pigmentasi. Pada saat kemampuan larva masih sangat terbatas, ternyata kuning telur merupakan sumber nutrien dan energi utama bagi larva. Oleh karena itu volume kuning telur dan ukuran tubuh dapat menunjukkan keberhasilan larva melewati fase kritis dalam siklus hidupnya.

70 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 59 MANAJEMEN KUALITAS AIR UNTUK PEMELIHARAAN LARVA Padat penebaran yang tinggi menyebabkan kebutuhan oksigen dan pakan semakin besar, begitu pula untuk buangan metabolisme sepeti feses, amonia, dan karbondioksida juga bertambah banyak. Kualitas air pemeliharaan dapat menurun dengan cepat akibat adanya feses dan buangan metabolik ikan, serta sisa pakan. Hal ini tampak dari menurunnya kualitas air akibat penurunan ph air yang terlalu cepat dan tingginya kadar amonia selama pemeliharaan. Menurunnya kualitas air tersebut menyebabkan ikan menjadi stres. Cara yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas air pada budidaya ikan adalah dengan menggunakan sistem resirkulasi. Sistem resirkulasi adalah memanfaatkan air yang telah digunakan dalam suatu unit budidaya yang telah terpolusi kemudian dialirkan kembali ke dalam suatu unit perlakuan (Handajani dan Hastuti 2002). Sistem resirkulasi dapat menghemat air dan mempermudah pengontrolan lingkungan budidaya. Prinsip resirkulasi bertujuan untuk meningkatkan oksigen terlarut, mengurangi kadar amonia, dan mengurangi limbah organik yang dihasilkan ikan. Dengan prinsip ini, kualitas air diharapkan akan tetap baik untuk kehidupan ikan dan air tidak perlu diganti dalam waktu ±3 bulan, kecuali bila dianggap perlu (Chotimah et al. 2018). Penggunaan sistem resirkulasi pada pemeliharan benih ikan baung dengan padat penebaran yang tinggi dapat meningkatkan nilai kualitas air. Dengan demikian, ikan yang dipelihara tidak akan stres sehingga pertumbuhannya menjadi cepat. Hasil penelitian Chotimah et al. (2018) menunjukkan bahwa pemeliharaan ikan baung dengan sistem resirkulasi dengan padat tebar 400 ekor/m 3 menghasilkan pertumbuhan bobot mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik terbaik sebesar 12,57 g; 4,33 cm; 5,32 % dengan pertumbuhan bobot rata-rata sebesar 15,67 g dan sintasan sebesar 100 %.

71 60 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus NILAI KUALITAS AIR PEMELIHARAAN BENIH IKAN BAUNG Pengukuran kualitas air diperlukan untuk menunjang kegiatan budidaya ikan. Hal ini karena selain faktor genetik, lingkungan sangat memengaruhi keberhasilan dalam proses pertumbuhan ikan. Oliveira et al. (2012) menyatakan performa pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi suhu, ph, dan oksigen terlarut. Adapun nilai-nilai kualitas dari beberapa kegiatan penelitian disajikan pada Tabel 5.1 di bawah ini. Tabel 5.1 Nilai kualitas air pada beberapa kegiatan pemeliharaan ikan baung No. Suhu ( C) Parameter ph Oksigen terlarut (mg/l) Referensi ,0 7,0 4,0 6,0 Kusmini dan Radona (2019) ,0 8,0 4,0 8,0 Kusmini et al. (2018) ,5 7,4 4,0 5,2 Chotimah et al. (2018) PAKAN DAN CARA PEMBERIAN PAKAN LARVA IKAN BAUNG Larva ikan baung baru bisa membuka mulut pada umur 3 hari (Handoyo et al. 2010). Larva ikan baung yang diberi pakan infusoria selama 3 4 hari kemudian diberi pakan artemia sampai dengan umur 21 hari lebih baik pertumbuhannya daripada pascalarva yang diberi pakan infusoria selama 15 hari (Muflikhah 2002). Artemia sangat diperlukan karena merupakan jenis pakan alami yang memiliki ukuran sesuai dengan bukaan mulut larva ikan baung. Artemia mengandung enzim yang berperan sebagai enzim pencernaan larva. Artemia diberikan setiap 3 jam sekali dengan cara sekenyang-kenyangnya. Tang et al. (2000) menyatakan bahwa salah satu makanan alami yang digunakan untuk makanan benih yang telah berumur 5 hari adalah cacing sutra atau T. tubifex. Pada umur hari, perkembangan saluran pencernaan sudah lengkap sehingga pada saat tersebut T. tubifex yang panjangnya 20 mm dapat dimanfaatkan oleh benih ikan baung dan lebih banyak dikonsumsi.

72 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 61 Menurut Tang et al. (2000), ikan baung termasuk ikan pemakan segala (omnivora) dengan kecenderungan memakan anak ikan, udang, remis, cacingcacing, dan rumput lunak atau mengarah ke pemakan daging (carnivora). Sementara menurut Windy (2015) kebiasaan makan ikan baung di Sungai Bingai terdiri dari makanan utama, yaitu ikan, makanan pelengkap yaitu serat tumbuhan, dan makanan tambahan yaitu insekta, Planaria sp., Thiara scabra, Faunus ater, dan Nodilittorina pyramidali. CARA PEMBERIAN PAKAN LARVA Larva ikan baung memiliki sifat kanibalisme yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan pemberian pakan yang tepat. Vaas et al. (1953) mengatakan bahwa makanan ikan baung antara lain ikan, udang, insekta, dan larva. Salah satu faktor penyebab tingginya mortalitas larva dan benih ikan baung adalah ketersedian pakan. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk meningkatkan usaha pembenihan yang perlu diperhatikan adalah dari segi pakan dan pemberian pakan pada fase larva menuju ke fase benih. Cara pemberian pakan dengan cacing sutra sebagai berikut: cincang cacing dengan pisau sampai halus, masukkan ke dalam net halus dan bilas dengan air bersih sampai air bilasan tidak berwarna merah, larutkan ke dalam air dan sebarkan ke dalam wadah pemeliharaan larva. Selama pemeliharaan larva dilakukan penyiponan dan pergantian air 2 3 hari sekali sebanyak 75% agar kondisi air tetap terjaga. PENDEDERAN I IKAN BAUNG Pendederan merupakan proses pemeliharaan benih setelah larva. Pendederan I bisa dilakukan pada kolam, akuarium, dan fiber. Pada pendederan I, ukuran larva ikan bisa mencapai sekitar 2 cm. Ikan baung dapat dipelihara dalam berbagai wadah pemeliharaan seperti keramba, kolam, dan keramba jaring apung. Kedalaman air 15 cm adalah yang terbaik dalam pemeliharaan larva ikan baung terhadap pertumbuhan berat mutlak dan pertumbuhan panjang mutlak dengan persentase pertumbuhan berat sebesar 0,32 g, persentase pertumbuhan panjang mutlak sebesar 1,79 mm, dan tingkat kelangsungan hidup (SR) 64,75% (Rachimi et al. 2015).

73 62 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Pemeliharaan benih di kolam tanah Sebelum dilakukan penebaran benih, perlu dilakukan persiapan kolam yang meliputi pengeringan dan penjemuran kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, pemupukan, serta pembuatan caren (kemalir). Pengeringan kolam dan penjemuran selama 3 hari bermanfaat untuk membunuh bibit-bibit penyakit atau hama-hama yang ada di dalam kolam. Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan cara membalikkan tanah dasar kolam, lalu dibuatkan kemalir dengan kemiringan 0,5 1% ke arah pintu pengeluaran. Untuk menumbuhkan pakan alami, kolam sebaiknya dipupuk menggunakan kotoran ayam sebanyak g/m 2 tergantung kesuburan tanah atau pemupukan menggunakan pupuk urea + TSP dengan perbandingan 2:1 dosis yang digunakan 40 g/m 2. Pupuk tersebut disebarkan merata di dasar kolam. Pada hari keempat kolam diisi air secara bertahap sampai mencapai ketinggian 90 cm. Setelah itu, kolam didiamkan selama 3 4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp. dapat berkembang biak. Sebelum benih ikang baung ditebar di kolam, terlebih dahulu dilakukan pengukuran kualitas air, yang meliputi suhu, oksigen, dan ph. Penebaran benih dilakukan pada hari ke-3 setelah penebaran Moina sp. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari benih stres. Pengambilan benih dilakukan dengan menguras sebagian air akuarium, lalu benih ditangkap menggunakan serokan halus dan ditampung di dalam ember atau baskom plastik. Setelah itu, penebaran dilakukan secara hati-hati di bagian tepi kolam. Caranya dengan menenggelamkan ember ke dalam air kolam sehingga benih-benih ikan baung akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benih tidak boleh dilakukan dengan cara menggerojokkan air dari ember langsung ke dalam kolam karena dapat mengakibatkan benih baung mengalami stres. Padat tebar benih ekor/m 2 dengan ukuran benih rata-rata 2,4 cm. Jika kolam diyakini kurang subur, padat tebar benih dikurangi menjadi ekor/ m 2. Pemeliharaan benih dilakukan selama empat minggu. Pakan yang dapat diberikan selama pemeliharaan bisa berupa pakan komersial (pelet) dengan kadar protein 28 30% sebanyak % total biomassa/hari. Sebelum diberikan, sebaiknya pelet ini dihancurkan. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Hasil penelitian Roza

74 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 63 et al. (2014) mengungkapkan bahwa pemeliharaan ikan baung pada tingkat padat tebar yang tinggi dengan ukuran KJA 16 m 2 masih memungkinkan dengan pakan yang diberikan berupa ad-libitum. Padat tebar optimal untuk pertumbuhan benih ikan baung di kolam beton yaitu 15 ekor/m 3 (Subagja et al. 2017). Pemeliharaan benih di akuarium dan fiber Akuarium dan fiber (ukuran fleksibel) terlebih dahulu dibersihkan. Setelah akuarium dan fiber siap, kemudian larva ditebar dengan kepadatan 50 ekor/ m 3. Setiap akuarium dan fiber diberi sistem aerasi. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan adalah pelet komersial yang berbentuk crumble dengan kandungan protein 28 32% yang diberikan secara ad-libitum dengan frekuensi tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore). Pemeliharan pada pendederan I dilakukan selama 30 hari. Untuk menjaga kondisi air selama pemeliharaan, dilakukan penyiponan dan pergantian air 2 3 hari sekali sebanyak 75%. PENDEDERAN II IKAN BAUNG Pada pendederan I larva ikan baung sudah berukuran 3 5 cm, kemudian dilanjutkan pemeliharaannya ke kolam tanah, yaitu pada fase pendederan II. Tahap persiapan dilakukan terlebih dahulu, yaitu pengolahan tanah dan pemupukan. Padat tebar yang optimal pada pendederan II sebanyak 30 ekor/ m 3. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari agar larva tidak menjadi stres karena terik matahari. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan adalah pelet komersial yang berbentuk crumble dengan kandungan protein 28 32% dengan dosis sebanyak 30 40% dari total biomassa dan diberikan tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore). Pemeliharaan dilakukan selama dua bulan. Untuk mencapai target ukuran 1 2 cm pada umumnya dibutuhkan waktu selama sebulan, dan untuk mencapai ukuran 3 5 cm dibutuhkan waktu dua bulan. Sementara untuk mencapai ukuran 5 8 cm dibutuhkan waktu selama tiga bulan, dan untuk mencapai ukuran cm dibutuhkan waktu selama lima bulan. Hasil penelitian Kusmini et al. (2018) menyebutkan bahwa pendederan ikan baung antar generasi (G1, G2, dan G3) yang dipelihara selama 45 hari di kolam tanah dan kolam beton menunjukkan generasi kedua lebih unggul daripada generasi kesatu dan ketiga (Gambar 5.1 dan 5.2).

75 64 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Gambar 5.1 Pertumbuhan bobot dan panjang ikan baung G1,G2, dan G3 di kolam tanah setiap 15 hari (pemeliharaan 45 hari) Gambar 5.2 Pertumbuhan bobot dan panjang ikan baung G1, G2, dan G3 di kolam beton setiap 15 hari (pemeliharaan 45 hari) Selanjutnya benih dipelihara di tempat pembesaran hingga menjadi ukuran konsumsi, yaitu kira-kira selama 6 bulan dari benih. Sementara jika akan dijadikan calon induk, ikan dipelihara lagi selama 3 bulan.

76 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 65 PEMBESARAN IKAN BAUNG Pembesaran ikan baung biasanya dilakukan setelah benih didederkan terlebih dahulu. Namun, ada juga pembudidaya yang langsung memeliharanya di kolam pembesaran tanpa melalui pendederan. Pembesaran ikan baung dapat dilakukan di berbagai media seperti di kolam air tergenang (kolam tanah, tembok, atau beton), kolam rawa, di karamba jaring apung (KJA), atau di karamba. Kolam yang digunakan untuk pembesaran ikan baung disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Biasanya, kolam pembesaran yang digunakan memiliki luas minimum 100 m 2. Sementara itu, jaring yang digunakan untuk memelihara ikan baung di KJA harus memiliki ukuran mata 2,5 cm dengan jaring polyetilen nomor 240 D/12. Berdasarkan pengalaman para petani, jika ikan baung yang akan dipelihara berukuran g/ekor, mata jaring yang digunakan berukuran 2 inci. Sebelum penebaran benih, kolam pembesaran harus dikeringkan terlebih dahulu selama 5 7 hari dengan tujuan untuk membunuh bibit-bibit penyakit, memberantas hama, dan memudahkan pemupukan untuk menumbuhkan pakan alami. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang sebanyak 500 g/m 2 dan kapur pertanian sebanyak 15 g/m 2. Pupuk dan kapur pertanian tersebut disebar rata di permukaan dasar kolam. Setelah itu, pintu pengeluaran air kolam ditutup, sementara pintu pemasukan air dibuka sambil dipasang saring untuk menjaga agar ikan-ikan liar tidak bisa masuk. Ketinggian air di dalam kolam sebaiknya dipertahankan cm. Penebaran benih ikan baung dilakukan 7 hari setelah pemupukan, saat pakan alami telah tersedia. Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suhu udara masih rendah agar benih tidak mengalami stres. Untuk setiap kolam seluas 100 m 2 dapat ditebarkan benih baung sebanyak 50 ekor dengan ukuran rata-rata 45 g per ekor. Selama pemeliharaan, ikan baung diberi pakan tambahan berupa pakan buatan komersial. Pakan komersial yang umum digunakan adalah pelet dengan kandungan protein minimum 25%. Namun, lebih baik diberi pakan yang kandungan proteinnya 28%. Sementara itu, pakan tambahan alternatif yang diberikan bisa berupa campuran antara ikan rucah dan dedak halus. Pakan tambahan ini diberikan sebanyak 3% per hari dari berat total ikan. Lama pemeliharaan sangat tergantung dari ukuran benih yang ditebarkan. Untuk pembesaran di KJA, jika benih yang ditebar berukuran g/ekor, dalam waktu empat bulan pemeliharaan akan mencapai bobot g/

77 66 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus ekor atau 5 ekor/kg. Pada pembesaran di kolam, bobot benih menjadi 113 g/ ekor dan jika dipelihara selama empat bulan, ukurannya akan menyamai ikan baung yang dipelihara di KJA dengan syarat pakan yang diberikan memiliki kandungan protein sesuai yang dianjurkan. Pemanenan ikan baung harus dilakukan secara berhati-hati untuk menghindari terjadinya stres atau lukaluka sehingga mutu ikan tetap bagus dan harga jualnya tetap tinggi. MANAJEMEN PAKAN BENIH IKAN BAUNG Bentuk pakan Berdasarkan bentuknya, pakan dapat berbentuk larutan, tepung halus, tepung kasar, butiran, remahan, dan lembaran. Pakan bentuk pelet terdiri atas dua jenis, yaitu pelet tenggelam dan pelet terapung. Pelet tenggelam merupakan jenis pakan yang cocok digunakan untuk ikan baung karena kebiasaan makannya di dasar perairan. Bentuk pakan buatan tergantung pada kebiasaan makan dan ukuran benih (ukuran bukaan mulut). Benih ukuran hari dapat diberi pakan berbentuk tepung kasar dan benih berumur hari dapat diberi pakan berbentuk remahan. Sementara ikan yang berumur 120 hari ke atas sudah dapat diberi pakan berupa pelet. Jumlah pakan Jumlah pakan yang diberikan per hari biasanya dihitung berdasarkan bobot badan (% bobot badan). Jumlah pakan disarankan 20 50% untuk benih, 36 60% untuk ukuran 3 50 g, 30 34% untuk ikan ukuran g, dan 2 3% untuk ikan lebih besar dari 200 g. Semakin besar ukuran ikan, semakin berkurang persentase pemberian pakan. Ikan dengan ukuran relatif besar memiliki laju metabolisme yang makin lambat sehingga memerlukan sedikit pakan. Waktu pemberian pakan Pemberian pakan yang sering dengan jumlah yang sedikit untuk setiap kali pemberian lebih menguntungkan bagi ikan daripada pemberian pakan dalam jumlah banyak tetapi jarang. Pemberian pakan sebaiknya juga mempertimbangkan laju pengosongan lambung. Bagi ikan baung, pengosongan lambung pada umur 1 bulan adalah selama 5 6 jam. Ikan baung

78 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 67 akan makan jika jumlah pakan dalam lambungnya kira kira tinggal ¼ bagian. Berdasarkan hal tersebut, ikan baung sebaiknya diberi pakan sebanyak 4 5 kali sehari. Namun, pada budidaya yang sederhana pemberian pakan malam hari sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu, pemberian pakan pada ikan baung dianjurkan 3 kali sehari, yakni pagi hari, siang hari, dan sore hari. Cara pemberian pakan Pemberian pakan pada ikan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni pemberian pakan menggunakan tangan dan pemberian pakan menggunakan alat. Pemberian pakan menggunakan tangan lebih praktis dan ekonomis karena pakan cukup ditebarkan secara merata ke seluruh permukaan kolam. Pemberian pakan tersebut disarankan untuk ditebarkan pada tempat tempat tertentu sesuai dengan kebiasaan ikan makan. Pemberian pakan pada pemeliharaan ikan di karamba sebaiknya diletakkan dalam wadah pakan yang diletakkan di dasar karamba untuk mencegah terbuangnya pakan keluar karamba. Pemberian pakan di kolam air tenang dilakukan di dekat pintu pengeluaran air, agar sisa-sisa pakan yang tidak habis termakan mudah terbuang bersama air melalui pintu air. Sementara pemberian pakan di kolam air deras, sebaiknya dilakukan di tempat yang arusnya paling lemah dan jauh dari pintu pengeluaran untuk menghindari hanyutnya pakan oleh arus. Pemberian pakan dengan alat dapat dilakukan dengan alat otomatis ataupun alat yang sederhana. Pemberian pakan dengan alat otomatis biasanya dilakukan di negara-negara maju yang menggunakan panel-panel khusus dengan sistem komputer. Pemberian pakan dengan alat sederhana dapat digunakan pada pembesaran ikan di karamba ataupun kolam. DAFTAR PUSTAKA Chotimah S, Rusliandi, Tang UM Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan baung (Mystus nemurus C.V) dengan padat tebar berbeda pada sistem resirkulasi. Budidaya Perairan 5: Effendie MI Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID): Yayasan Pustaka Nusatama. 163 p. Handoyo B, Setiowibowo C, Yustiran Y Cara Mudah Budidaya dan Peluang Bisnis Ikan Baung dan Jelawat. Bogor (ID): IPB Press. 161 p.

79 68 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Handajani H, Hastuti SD Budidaya Perairan. Malang (ID): Penerbit Bayu Media dan UMM Press. 201 p. Heltonika B, Karsih OR Pemeliharaan benih ikan baung (Mystus nemurus C.V) dengan teknologi photoperiod. Berkala Perikanan Terubuk 45(1): Kusmini II, Radona D Performa tiga generasi ikan baung Hemibagrus nemurus hasil domestikasi pada fase pendederan satu. Jurnal Iktiologi Indonesia 19(2), in press. Kusmini II, Kristanto AH, Subagja J, Prakoso VA, Putri FP Respon dan pola pertumbuhan benih ikan baung dari tiga generasi dipelihara pada wadah budidaya yang berbeda. Jurnal Riset Akuakultur 13(3): Khairuman SP, Amri K Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi. Pengenalan Jenis dan Teknik Budidaya Ikan Air Tawar Ekonomis Penting. Agromedia p. Majumdar NN Textbook of Vertebrates Embriology. New Delhi (IN): Tata Mc Graw Hill. Muflikhah N Pemanfaatan infusoria untuk meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan. Prosiding 2 Aplikasi Biologi dalam Peningkatan Kesejahteraan Manusia dan Kualitas Lingkungan. Seminar Nasional Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Oliviera EG, Pinheiro AB, Oliviera VQ, Junior AR, Moraes MG, Rocha IR, Sousa RR, Costa FH Effect of stocking density on the performance of juvenile pirarucu (Arapaima gigas) in cages. Aquaculture 370: Rachimi F, Susanto D Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan baung (Mystus nemurus) dengan kedalaman air yang berbeda. Majalah Ilmiah Al Ribaath 12(2): Radona D, Subagja J, Prakoso VA, Kusmini II, Kristanto AH Biologi reproduksi dan tingkat keberhasilan pemijahan ikan baung populasi Cirata dengan inkubasi suhu. Jurnal Riset Akuakultur 13(2):

80 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 69 Roza M, Manurung R, Budhi A, Sinwanus, Heltonika B Kajian pemeliharaan ikan baung (Hemibagrus nemurus) dengan padat tebar yang berbeda pada keramba jaring apung di Waduk Sungai Paku, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Acta Aquatica 1: 2 6. Subagja J, Arifin OZ, Prakoso VA, Suhud EH Pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) hasil domestikasi. Simposium Nasional Ikan dan Perikanan. Bogor September Tang UM, Affandi R, Widjajakusuma R, Setijanto H, Rahardjo MF Aspek biologi dan kebutuhan lingkungan benih ikan baung. Prosiding Seminar Nasional Keanekaragaman Hayati Ikan. 6 Juni p Vaas KF, Sahlan M, Wiraatmadja G On the ecology and fisheries of some inland waters along the rivers Ogan and Komring in South East Sumatera. Cont. Inl. Fish. Res. Sta. Jakarta 3: Woynarovich E, Horvath L The artificial propagation of warm-water fin fish. a manual for extention, FAO. Fisheries Technical Paper No p.

81

82 6.NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG Mas Tri Djoko Sunarno, Reza Samsudin, Deisi Heptarina, dan Muhamad Sulhi Sekitar 39 juta ha luas daratan Indonesia ditutupi perairan umum daratan, terdiri atas danau, waduk, sungai/anak sungai, dan rawa banjiran yang dihuni lebih dari jenis ikan (Kottelat et al. 1996), sebagian besar tersebar dalam wilayah Paparan Sunda (Sumatera, Kalimantan, Jawa). Berbagai jenis ikan tersebut dimanfaatkan sebagai sumber makanan harian masyarakat yang tinggal di sekitar perairan (Subagja et al. 2003), di antaranya bernilai ekonomis. Jenis ikan ekonomis tersebut antara lain adalah ikan baung (Hemibagrus nemurus). Ikan baung mempunyai pasar domestik dan ekspor ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei. Sebagian besar kebutuhan pasar ikan baung diperoleh dari hasil tangkapan dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan penurunan produksi dan bahkan mengancam kelestarian ikan baung. Salah satu upaya untuk pengembangan budidaya ikan baung adalah melalui program domestikasi (Subagja et al. 2004; Hardjamulia et al. 1991). Domestikasi merupakan upaya penjinakan suatu jenis ikan hingga dapat tumbuh dan berkembang secara cepat dalam wadah budidaya. Proses domestikasi ini dapat diawali melalui pemijahan ikan untuk mendapatkan keturunan atau perbaikan genetik. Pemijahan ikan baung secara terkontrol telah berhasil dilakukan sejak pertengahan tahun 1980 (Sunarno 2009). Hingga saat ini, keberhasilan pemijahan ikan baung masih terbatas selama musim pemijahan. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaktersediaan induk matang gonad ikan baung selama musim kemarau karena penggunaan pakan induk komersial. Hal ini menunjukkan bahwa pakan induk komersial tersebut tidak mengandung nutrien sesuai dengan kebutuhan ikan. Keberhasilan pemijahan bergantung pada ketersediaan ikan yang matang gonad. Proses pematangan gonad ikan ini membutuhkan pakan yang mengandung nutrien

83 72 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus lengkap dan seimbang, serta sesuai bagi ikan baung yang berukuran relatif besar, usia dewasanya lebih dari dua tahun, pemijahannya bergantung ketersediaan lingkungan yang menunjang proses pemijahan, dan ketersediaan pakan bagi keberlangsungan hidup anakannya. Proses adaptasi induk ikan baung dan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai dengan perkembangan gonad berpengaruh terhadap keberhasilan pemijahan ikan tersebut. Penyediaan nutrisi pakan secara tepat (kualitas dan jumlah) akan mendukung perkembangan gonad (telur dan sperma) secara optimum tanpa dipengaruhi oleh musim seperti kasus pada ikan jelawat (Sunarno 1991). Ketepatan penyediaan pakan yang mengandung nutrien lengkap dan berimbang akan mempercepat proses demestikasi ikan (Watanabe et al. 1984; Watanabe 1988a,b), serta mendapatkan produksi benih ikan tersebut secara massal. Ketersediaan benih ikan baung secara massal akan mendukung pengembangan budidaya ikan baung yang selama ini telah dilakukan, khususnya di sekitar habitat ikan tersebut (Sumatra dan Kalimantan) (Sunarno 2009), serta mendukung penebaran kembali ikan tersebut di alam dan penekanan eksploitasinya. Tulisan ini mengulas nutrisi dan pemberian pakan pada induk ikan baung, yang meliputi kebiasaan makanan, kebutuhan nutrisi dan pemberian pakan, serta aplikasi pakan induk secara langsung pada pengguna utama. KEBIASAAN MAKANAN IKAN BAUNG Di alam, ikan akan mencari makanan sesuai dengan kebutuhannya. Ketersediaan makanan di alam berbeda, bergantung kepada musim dan kondisi perairan. Habitat induk baung berupa sungai dan anak sungai, rawa banjiran (flood plain), dan danau oxbow yang terletak di bagian tengah hingga hilir dari sistem daerah aliran sungai. Perairan tersebut mempunyai tingkat kesuburan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya dan merupakan habitat berbagai jenis ikan dengan berbagai ukuran (Utomo et al. 2005; Nasution dan Sunarno 2005; Rupawan dan Sunarno 2006). Faktor biotik dan abiotik akan memengaruhi kelimpahan sumber daya makanan bagi ikan baung di perairan habitatnya (Effendi 1997). Sumber makanan bagi ikan terdapat di bagian permukaan, tengah, dan dasar dari badan air. Dari bentuk mulutnya, ikan baung cenderung mencari makanan di bagian dasar perairan (Saanin 1984; Kottelat et al. 1996). Ikan baung memakan berbagai bentos, moluska,

84 73 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG ikan kecil, udang kecil, serasah, dan sisa hewan yang tidak bisa teridentifikasi lagi (Aida 2011; Elinah et al. 2016). Bila hidup di air keruh, ikan baung akan aktif sepanjang hari. Selain itu, baung juga memiliki sifat suka bersembunyi di dalam lubang di tepi sungai. Ketersediaan makanan di perairan berbeda antara musim kemarau dan penghujan. Selama musim kemarau, berbagai jenis makanan akan terbawa ke bagian perairan yang dalam (lubuk) dan merupakan sumber makanan bergizi bagi ikan, termasuk baung. Semakin banyak mendapat makanan, semakin tinggi pertumbuhan bobotnya. Ikan baung yang pertama kali matang gonad berhubungan dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang memengaruhinya (Tang dan Affandi 2001). Semakin besar ukuran ikan baung, semakin agresif mencari makanannya. Pada kondisi makanan berlimpah, berat gonad ikan baung betina berkisar 10 25% dan jantan berkisar 5 10% dari total bobot tubuh (Gupta dan Banerjee 2013; Gupta 2015; Elliot 1979; Wooton 1979). Jika makanan tidak cukup, ukuran ikan baung mencapai matang gonad relatif lebih kecil (panjang 20 cm; bobot 90 g) (Elinah et al. 2016; Heltonika 2009; Nugroho et al. 2005) bila dibandingkan ukuran ikan yang berada di perairan lebih subur (Aida 2011). Pada musim memijah, pola pertumbuhan ikan baung betina berbeda dengan jantan. Oleh karena itu, jenis makanan yang dimakan ikan baung dapat digunakan sebagai dasar penentuan kebutuhan nutrisi dan pemberian pakan dalam wadah terkontrol. KEBUTUHAN NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN Nutrisi induk Nutrisi ikan terdiri atas protein-asam amino esensial, lemak-asam lemak esensial, karbohidrat dan berbagai vitamin, serta mineral (NRC 2011; Halver dan Hardy 2002; Halver 1988; Watanabe 1988a). Protein, lemak, dan karbohidrat merupakan sumber energi. Protein lebih mudah dicerna daripada lemak sehingga sebagian besar protein digunakan sebagai sumber energi. Jika kekurangan energi, lemak, dan protein tubuh akan digunakan sebagai sumber energi, mengakibatkan ikan tidak tumbuh dan menjadi kurus. Apabila energi yang tersedia tidak mencukupi, telur akan mengalami peningkatan atresia (Wooton 1979; Hardjamulia dan Atmawinata 1986). Kelebihan energi akan menyebabkan penumpukan lemak tubuh yang akan menghalangi proses

85 74 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus pengeluaran telur pada induk ikan. Oleh karena itu, imbangan antara energi dan nutrien diperlukan untuk menghasilkan performa pertumbuhan dan reproduksi induk ikan (Watanabe et al. 1984; Woynarovich dan Horvath 1980). Nutrien yang berperan nyata terhadap performa repoduksi ikan adalah protein dan asam amino esensial, lemak/asam lemak esensial, vitamin E, dan vitamin C. Protein merupakan komponen utama jaringan dan organ tubuh ikan, begitu juga senyawa nitrogen lain seperti asam nukleat, enzim, hormon, dan vitamin. Protein dibutuhkan secara terus-menerus untuk mendukung pertumbuhan daging, gonad, dan perbaikan jaringan yang rusak. Protein ini terdiri atas asam-asam amino esensial dan non-esensial. Asam amino esensial tidak dapat disintesis dalam tubuh sehingga perlu diberikan melalui pakan. Kebutuhan protein pada ikan disesuaikan menurut spesiesnya dan pada umumnya berkisar antara 25 40%. Proses pematangan gonad pada ikan jelawat dan baung membutuhkan protein berkisar 35 40% (Patmasothy 1985; Sunarno dan Reksalegora 1982; Sunarno 1989; Sunarno et al. 1988; Ondara dan Sunarno 1987; Abidin et al. 2006; Begum et al. 2008; Aryani dan Suharman 2015; Ng et al. 2001; Suhenda et al. 2009). Menurut Watanabe (1988), fungsi lemak selain sebagai sumber energi juga digunakan untuk struktur sel dan mempertahankan integritas pada biomembran. Lemak dan komposisi asam lemak diidentifikasi sebagai faktor utama yang menentukan keberhasilan reproduksi dan meningkatkan derajat kelangsungan hidup larva (Izquierdo et al. 2001). Pada beberapa spesies, asam lemak tidak jenuh HUFA (High Unsaturated Fatty Acid) dapat meningkatkan fekunditas, fertilisasi, dan kualitas telur. HUFA dan PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) berperan dalam proses metabolisme, komponen membran, senyawa awal prostaglandin, seperti tromboksan, prostasiklin, dan leukotrin. Lemak telur ikan yang matang gonad berkisar 2 10% dari berat telur (Elliot 1979; Furuita et al. 2000; Furuita et al. 2002). Semakin tinggi kandungan lemak telur, semakin banyak gelembung yang berisi lemak netral (triacyl gliserol dan wax ester). Lemak netral berfungsi sebagai energi metabolisme bagi embrio selama perkembangan, sementara fosfolipid berguna untuk penyediaan asam lemak esensial yang diendapkan menjadi membran sel sebagai jaringan. Efisiensi fertilisasi telur meningkat sebanding dengan induk ikan yang mendapatkan asam lemak esensial (Leray et al. 1985). Kekurangan asam lemak esensial akan menimbulkan gejala abnormal. Vitelus pada larva yang berasal dari induk yang

86 75 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG mendapat pakan tanpa asam lemak esensial lebih cepat habis dibandingkan dengan larva yang berasal dari induk yang mendapatkan asam lemak esensial. Asam lemak esensial pada ikan air tawar di daerah tropik dapat dipenuhi dari linoleat (18:3n-6) atau linolenat (18:3n-3) atau kombinasi keduanya. Kombinasi asam lemak esensial linoleat dan linolenat pada induk ikan baung adalah 1:1 (Suhenda et al. 2009). Tubuh ikan relatif kecil mengandung karbohidrat. Peran karbohidrat pakan pada ikan masih diperdebatkan. Namun, fakta menunjukkan bahwa ikan yang hidup di perairan tropis dan di air tawar lebih mampu memanfaatkan karbohidrat. Kekurangan karbohidrat akan menyebabkan peningkatan katabolisme protein dan lemak untuk mensuplai energi dan menyediakan metabolisme lanjutan (intermedier) untuk sintesis senyawa biologi penting lainnya. Keberadaan enzim amilase dalam saluran pencernaan ikan berperan penting dalam pemanfaatan karbohidrat. Secara umum, ikan air tawar memerlukan karbohidrat sekitar 20%. Vitamin dan mineral merupakan elemen mikro yang diperlukan sebagai katalisator untuk menunjang pertumbuhan atau reproduksi ikan. Vitamin menjadi esensial apabila tubuh tidak dapat mensintesisnya. Kebutuhan vitamin bervariasi menurut spesies, ukuran, dan umur. Kecukupan vitamin A, C, E, dan mineral Zn dalam pakan memengaruhi perkembangan gonad (telur dan sperma) induk ikan. Vitamin C atau asam askorbat (AAs) berperan dalam berbagai reaksi hidroksilasi triptofan, tirosin, lisin, fenilalanin, dan prolin. AAs sangat mudah teroksidasi menjadi dehidro-asam askorbat (d-aas). Reaksi ini bersifat dua arah sehingga dapat kembali menjadi bentuk AAs, tetapi oksidasi d-aas bersifat satu arah menghasilkan asam diketogulonat yang merupakan bentuk tidak aktif dan tidak mempunyai aktivitas secara biologi. Sekitar 50% AAs akan hilang selama proses pembuatan dan penyimpanan pakan (NRC 2011). Oleh karena itu, penggunaan AAs dalam formula pakan perlu ditingkatkan dua kali dari kebutuhan ikan. Vitamin E (α-tokoferol) dibutuhkan sebagai bahan struktur somatik, gonadik, dan penentu kualitas telur. Apabila oosit atau telur dalam perkembangannya tidak memperoleh α-tokoferol secara cukup, telur akan menjadi busuk, diameter telur relatif kecil dan derajat penetasan rendah, serta selanjutnya menurunkan derajat kelangsungan hidup larva. Kandungan α-tokoferol berperan dalam melindungi unit-unit oosit atau telur akibat kerusakan oleh proses oksidasi.

87 76 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Keberadaan α-tokoferol ini mencegah teroksidasnya asam lemak tidak jenuh terutama asam lemak esensial. Selanjutnya, akan meningkatkan reproduksi ikan. Penggunaan α-tokoferol dalam pakan secara cukup akan menghasilkan peningkatan performa reproduksi ikan baung (Aryani 2001). Vitamin E dan asam lemak esensial dibutuhkan secara bersamaan untuk pematangan gonad ikan. Dosis vitamin E bergantung kepada kandungan asam lemak esensial yang ada dalam pakan tersebut. Semakin tinggi kandungan asam lemaknya, semakin tinggi kebutuhan vitamin E. Mineral berperan dalam pembentukan gigi dan tulang, menjaga keseimbangan asam basa, proses osmotik, pembekuan darah, fungsi otot, dan sebagai kofaktor dalam reaksi enzimatik. Mineral ini dapat diperoleh dari lingkungan perairan. Kekurangan fosfor menyebabkan tulang belakang bengkok dan rapuh, serta peningkatan kandungan lemak daging. Beberapa kelainan yang timbul akibat defisiensi vitamin E dapat dicegah dengan pemberian asam amino yang mengandung sulfur dan selenium. Penambahan Zn dalam pakan dapat meningkatkan kestabilan tokoferol plasma. Namun, ikan mempunyai kemampuan untuk mendapatkan Zn dari dalam air melalui insang, ginjal, kulit, lapisan mukosa rongga mulut, dan bahan pakan, antara lain tepung ikan, tepung biji sereal, kulit biji gandum, beras gilingan, tepung kepiting, tepung bunga matahari, tepung jagung, dan ZnSO 4 serta Zn(NO 3 ) 2. Defisiensi Zn ini akan memengaruhi konsentrasi Zn pada ovarium dan testes ikan. Informasi nutrien pada ikan dibutuhkan dalam proses pembuatan formulasi pakan (Sunarno et al. 2011). Besaran penggunaan bahan baku dalam formulasi pakan akan menentukan kualitas pakan. Bahan baku tesebut dikelompokkan sebagai sumber protein/asam amino esensial, lemak/asam lemak esensial, sumber energi, sumber vitamin dan mineral, serat sumber suplemen, serta sumber perekat. Bahan baku tersebut dipilih dengan menggunakan parameter berbentuk tepung, mudah dicerna ikan, dan dibuat dua kali, terutama bahan sumber vitamin yang mudah hilang pada saat proses pembuatan pakan dan penyimpanan. Tepung ikan dengan kandungan protein sekitar 50 55% merupakan sumber protein dan asam amino esensial. Sumber protein lainnya antara lain adalah tepung bungkil kedelai sebagai komplemen asam amino esensial tepung ikan dan tepung daging tulang. Minyak ikan dan minyak jagung merupakan bahan baku sumber lemak dan asam lemak esensial. Perekat pakan dapat menggunakan dedak dan tapioka. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral pakan, vitamin dan mineral komersial, serta

88 77 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG suplemen lainnya dapat dimasukkan dalam komposisi pakan. Keberadaan bahan attraktan dalam pakan menjadi kunci bagi ikan untuk memakan pakan yang diberikan. Pakan berkualitas akan berdampak positif bilamana pakan tersebut diberikan secara benar dan tepat. Pemberian pakan Selain kualitas, jumlah pakan harian yang diberikan mempunyai peranan penting bagi pematangan gonad (daya tetas tinggi). Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian pakan adalah kualitas air, terutama suhu air, kandungan oksigen terlarut, alkalinitas dan ph air, serta kepadatan. Pada kondisi lingkungan optimum, nafsu makan pada ikan menjadi optimum. Kekurangan pakan akan mengurangi laju pertumbuhan ikan dan sebaliknya, kelebihan pakan akan menghasilkan penumpukan sisa pakan dalam lingkungan perairan yang akan menurunkan kualitas air. Hal demikian akan menyebabkan gangguan pada pertumbuhan ikan. Jika kondisi lingkungan tersedia secara optimum, pemberian pakan secara tepat terkait dengan ukuran ikan. Semakin besar ukuran ikan, relatif semakin kecil jumlah pakan yang diberikan. Jumlah pakan ini terkait dengan ukuran lambung ikan tersebut. Nafsu makan pada ikan akan timbul pada saat lambung hampir kosong. Induk ikan yang mempunyai ukuran lambung relatif besar akan membutuhkan waktu relatif lebih lama daripada ikan kecil. Oleh karena itu, waktu pemberian pakannya akan relatif lebih sedikit daripada ikan kecil. Untuk induk ikan, pemberian pakan dapat dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Jumlah pakan yang diberikan sekitar 2% dari bobot tubuh per hari atau secara ad-libitum. APLIKASI PAKAN INDUK IKAN BAUNG Budidaya ikan baung telah berkembang di beberapa wilayah yang merupakan habitat ikan tersebut, seperti di Kabupaten Kampar Riau. Benih ikan sudah diproduksi secara terkontrol, namun terbatas selama musim penghujan. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan budidaya ikan baung. Dukungan riset nutrisi mempunyai posisi strategis dalam mendukung penyediaan induk yang siap pijah dan peningkatan kualitas larvanya. Riset dasar kebutuhan nutrien, khususnya protein dan vitamin, telah dilakukan di panti benih dan menunjukkan hasil yang dapat meningkatkan performa induk

89 78 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus ikan dan kualitas benih. Pengujian pakan induk baung dilakukan tahun 2017 di Balai Pelestarian Perikanan Perairan Umum dan Ikan Hias, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat. Pakan induk disusun atas berbagai bahan baku untuk mendapatkan kandungan protein 35% dan energi kal per kg pakan (Tabel 6.1). Berbagai bahan baku tersebut dicetak dalam bentuk pakan pelet tenggelam dengan diameter 3 mm. Pakan diberikan kepada induk baung dengan kisaran ukuran g per ekor secara ad-libitum pada pagi dan sore hari. Pada kondisi pemeliharaan menggunakan bak di hatchery, induk ikan baung sulit beradaptasi. Hal ini dapat dilihat pada konsumsi pakan hariannya yang relatif rendah. Fluktuasi pakan harian pada induk ikan baung menunjukkan bahwa pakan yang diberikan tidak direspons oleh ikan dan akan mengendap di dasar wadah, serta berpotensi mencemari perairan. Induk ikan akan kekurangan pakan dan mudah terserang penyakit seperti yang terjadi pada ikan pada setiap bak. Induk ikan baung secara perlahan mengalami kematian. Wadah pemeliharaan induk menggunakan bak semen di luar hatchery menghasilkan performa induk lebih baik (Gambar 6.1). Tabel 6.1 Komposisi bahan baku pakan induk ikan baung Bahan baku Persentase (%) Tepung ikan 25,00 Tepung daging tulang 10,00 Dedak padi 11,00 Tepung bungkil kedelai 30,00 Tapioka 12,97 Minyak jagung 2,00 Minyak ikan 1,00 Minyak CPO 4,60 Suplemen 3,43 Jumlah 100,00

90 79 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG Tabel 6.1 Komposisi bahan baku pakan induk ikan baung (lanjutan) Bahan baku Persentase (%) Kadar proksimat (%): Protein kasar 35,41 Lipid kasar 13,15 Serat kasar 2,64 Abu 14,31 Bahan ekstrak tanpa N 34,44 Energi kasar (kkal/100 g) 463,12 Keterangan: Suplemen terdiri atas premix, Choline khlorid, dikalsium pospat, vit C, vit E, NaCl, *Premix, 0.5 kg megandung: 5.5 juta IU vitamin A, 1.1 juta IU vitamin D3, 22,000 mg, vitamin B, 750 mg vitamin E, 1.0 mg vitamin K, 1000 mg vitamin B6, 6 mcg vitamin B12, 25,000 mg calcium pantothenate, 10 mg nicotinamide, 150 g choline chloride, 27,000 mg Mn, 1000 mg I, 7500 mg Fe, 5000 mg Zn, 2000 mg Cu, 450 mg Co, 500 g Ca, 300 g P, 10 g L-lysine, 10 g DL-methionine, 50 ppm selenium Gambar 6.1 Kolam semen untuk pemeliharaan induk ikan baung (H. nemurus) Berdasarkan aplikasi pakan induk, induk ikan baung dapat matang gonad setelah diberi pakan selama hari. Dari populasi 550 ekor induk betina ikan baung, sebanyak 20% matang gonad dan siap dipijahkan pada bulan pertama dan minimum 50% nya pada bulan berikutnya. Bobot induk betina yang siap mijah lebih besar dari 450 g per ekor, dengan diameter telur 0,7 0,8 cm dengan fekunditas total per 600 g induk telur adalah sekitar butir atau sekitar 107 butir per g induk. Tingkat pembuahan dan penetasan telur ikan baung berkisar 80 90%, sementara nilai survival activity index (SAI) (Gambar 6.2) berkisar sepuluh jam dengan tingkat 60% larvanya masih bertahan hidup, artinya bahwa cadangan nutrisi dari kuning telur larva mencukupi kebutuhan nutrisi larva dalam waktu 2 (dua) minggu.

91 80 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Gambar 6.2 SAI larva induk ikan baung yang diberi pakan formula Pakan induk tersebut dapat mempercepat rematurasi gonad ikan baung dari 90 menjadi 43 hari dibandingkan dengan pakan kontrol. Performa reproduksi induk juga menunjukkan peningkatan, di mana nilai fekunditas ikan baung mengalami kenaikan sebesar 18,50 22,00% dibandingkan pakan komersial. DAFTAR PUSTAKA Abidin MZ, Hashim R, Chien ACS Influence of dietary protein levels on growth and egg quality in broodstock female bagrid (Mystus nemurus Cuv Val). Shorth Communication. Aquaculture Research 37: Aida SN Panjang-berat, kebiasaan makan dan faktor kondisi ikan baung (Mystus nemurus) di Sungai Batanghari, Jambi Prosiding Seminar Nasional Tahunan VIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. Universitas Gadjah Mada. BP-12. Aryani N, Suharman I Effect of dietary protein level on the reproductive performance of female of green catfish (Hemibagrus nemurus Bagridae). Aquaculture Research and Development 6(11): 1 5. Aryani N Penggunaan vitamin E pada pakan untuk pematangan gonad ikan baung (Mystus numerus CV). Jurnal Perikanan dan Ilmu Kelautan 6(1):

92 81 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG Begum M, Pal HK, Islam MA, Alam MJ Formulation of quality fish feeds from indegenous raw materials and their effect on growth and maturity of Mystus gulio. Journal of Bangladesh Agriculture University 6(2): Effendi M Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID): Yayasan Pustaka Nusantara. 163p. Elinah, Datu DTFL, Ernawati Y Kebiasaan makan dan luas relung ikan-ikan indigenous yang ditemukan di Waduk Penjalin Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia 21(2): Elliot JM Energetic of freshwater teleost, p In Miller PJ (Ed). Fish Phenology Adaptive. London (ID): Academic Press. Inc. Furuita H, Tanaka H, Yamamoto T, Shiraishi M, Takeuchi T Effects of n-3 HUFA level in broodstock diet on the reproductive performance and egg and larva quality of the Japanese flounder, Paralichthys olivaceus. Aquaculture 187: Furuita H, Tanaka H, Yamamoto T, Suzuki N, Takeuchi T Effects of high levels n-3 HUFA in broodstock diet on the egg quality and egg fatty acid composition of the Japanese flounder, Paralichthys olivaceus. Aquaculture 210: Gupta S, Banerjee S Studies on reproductive biology of Mystus tengara (Ham. Buch. 1822), a freshwater catfish of West Bengal, India. International Journal of Aquatic Biology 1(4): Gupta S An overview on feeding and breeding biology of Mystus tengara (Ham-Buch 1822), a freshwater catfish of Indian Subcontinent. World Journal of Fish and Marine Sciences 7(3): Halver JE Fish Nutrition. London (ID): Academic Press, Inc. 798p. Halver JE, Hardy RW Fish Nutrition, 3 rd Edition. San Diego (US): Academic Press. 824p. Hardjamulia A, Atmawinata S Teknik hipofisasi beberapa jenis ikan air tawar. Dalam Cholik F (Eds). Pros. Lokakarya Nasional Teknologi Tepat Guna Bagi Pengembangan Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor Juni Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Bogor.

93 82 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Hardjamulia A, Sunarno MTD, Subagyo Kebutuhan penelitian untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan budidaya air tawar dalam pembangunan jangka panjang ke dua. Prosiding Forum II Perikanan 1991 Juni Jakarta (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan; Heltonika B Kajian makanan dan kaitannya dengan reproduksi ikan senggaringan (Mystus ngiriceps) di Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah. [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Izquierdo MS, Fernandes-Palacios H, Tacon AGJ Effect of broodstock nutrition on reproductive performance of fish. Aquaculture 197: Kottelat M, Anthony J, Sri NK, Soetikno W Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Jakarta (ID): Periplus Edition. Leray C, Nonnotte G, Roubaud P, Leger C Incidence of (n-3) essential fatty acid deficiency on trout reproductive processes. Reproduction Nutrition Development 25: Nasution Z, Sunarno MTD Pengelolaan perairan umum sungai dan rawa banjiran secara terpadu dan berkelanjutan. Prosiding Forum Perairan Umum I 2005, Ng WK, Soon SC, Hasyim R The dietary protein requirement of a Bagrid catfish, Mystus nemurus (Cuvier and Valenciennes), determined using semi purified diets of varying protein level. Aquaculture Nutrition 7(1): [NRC] National Research Council Nutrient Requirements of Fish and Shrimp. Washington DC (US): National Academy of Science. Nugroho E, Subagja J, Wartono H, Kurniasih T Keragaman genetik dan morfometrik pada ikan tagih dari Jambi, Wonogiri dan Jatiluhur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2(2): Ondara, Sunarno MTD Pemijahan ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni Blkr.) dengan suntikan hormon dalam sangkar terapung di Danau Teluk, Jambi. Bulletin Penelitian Perikanan Darat 6(1):

94 83 NUTRISI DAN PEMBERIAN PAKAN INDUK IKAN BAUNG Patmasothy S The effect of three diets with variable protein levels on ovary development and fecundity in Leptobarbus hoevenii. In Cho CY et al. [eds]. Finfish Nutrition in Asia: Methodological Approaches to Research and Development. Ottawa (CA): International Development Research Centre. Rupawan, Sunarno MTD Karakteristik habitat dan keragaman jenis ikan di suaka perikanan Propinsi Kalimantan Selatan. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia III 2006, Saanin H Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jakarta (ID): Binacipta. Subagja, Kumari K, Sunarno MTD Ikan air tawar sebagai ketahanan pangan di Sumatera Selatan. Prosiding Semiloka Nasional Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dalam Era Otonomi Daerah dan Globalisasi 2003 Mei 2 3. Palembang (ID): Universitas Tridinanti. Subagja, Kumari K, Sunarno MTD Ikan perairan umum sebagai kandidat ikan budidaya di lahan rawa Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Lokakarya Nasional Hasil Litkaji Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi 2004 Juni Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Suhenda N, Samsudin R, Subagja J Peningkatan produksi benih tagih (Mystus nemurus) melalui perbaikan kadar lemak pakan induk. Berita Biologi 9(5): Sunarno MTD, Reksalegora O, Nurdawati S Penelitian pembenihan ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni BLKR.) dengan cara hipofisasi. Bulletin Penelitian Perikanan Darat 7(2): Sunarno MTD, Reksalegora O Pematangan calon induk ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni Blkr.) di Danau Mudung, Jambi. Pewarta BPPD (1): Sunarno MTD, Sulhi M, Samsudin R, Heptarina D Teknologi Pakan Ikan Ekonomis dan Efisien Berbasis Bahan Baku Lokal. Bogor (ID): PT Penerbit IPB Press. 54p. Sunarno MTD Pengamatan fekunditas ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni Blkr.). Bulletin Penelitian Perikanan Darat 8:

95 84 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Sunarno MTD Pengembangan domestikasi ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni Blkr.) di Kalimantan Barat. Prosiding Puslitbangkan No. 20. TKI PLHP/91. Jakarta (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Sunarno MTD Beberapa jenis ikan asli perairan umum daratan sebagai kandidat komoditas restoking dan budidaya. Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumberdaya Ikan II; Jakarta (ID): Pusat Riset Perikanan Tangkap, Tang UM, Affandi R Biologi Reproduksi Ikan. Riau (ID): Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan Universitas Riau. Utomo AD, Sunarno MTD, Susilo A Teknik peningkatan produksi perikanan perairan umum di rawa banjiran melalui penyediaan suaka perikanan. Prosiding Forum Perairan Umum Watanabe TA, Arakawa T, Kitajima C, Fujita S Effect of nutritional quality of broodstock diets on reproduction of red sea bream. Nippon Suisan Gakkaishi 50: Watanabe T. 1988a. Fish Nutrition and Mariculture. Tokyo (JP: JICA. The General Aquaculture Course. Dept. of Agriculture Bioscience. 233p. Watanabe T. (1988b). Nutritional energetics. In: Watanabe T. (ed). Fish Nutrition and Mariculture. Tokyo (JP): JICA, Wooton RJ Energy cost production and environmental determinant of fecundity in teleost fishes p In Miller PJ. (Eds). Fish Phenology, Anabolic Adaptive In Teleost. London (UK): Academic Press Inc. Woynarovich E, Horvath L The artificial propagation of warmwater fish. A manual for extention FAO, Fishes Technical Paper, No. 201.

96 7.PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Yohanna R Widyastuti, Lies Setijaningsih, Adang Saputra, dan Nurhidayat Pengamatan parameter kualitas air dalam wadah pemeliharaan induk ikan baung sangat perlu diperhatikan. Demikian juga dengan daerah penangkapan baung di alam yang akan digunakan sebagai induk sangat perlu diperhatikan kondisinya, terutama kualitas air, sedimen, serta bahan pencemar yang dapat memengaruhi kesehatan induk dan reproduksinya. Parameter kualitas air yang dapat memengaruhi induk baung, di antaranya suhu, tingkat keasaman (ph), oksigen terlarut (DO), salinitas, padatan tersuspensi total (TSS), dan amonia. Suhu air pada suatu perairan dapat dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam satu hari, penutupan awan, aliran, dan kedalaman air. Peningkatan suhu air mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatisasi, serta penurunan kelarutan gas dalam air, seperti O 2, CO 2, N 2, CH 4 dan sebagainya (Romimohtarto dan Juwana 1999). Tingkat keasaman atau ph (potential of hydrogen) merupakan skala logaritma untuk konsentrasi ion hidrogen (H + ). Nilainya berkisar dari 0 (paling asam, paling banyak ion hidrogen) sampai 14 (paling alkalin, paling sedikit ion hidrogen). Nilai netral adalah 7, yaitu ion hidrogen seimbang dengan ion hidroksil (OH - ) dalam air (Boyd 1982). Oksigen digunakan ikan untuk bernapas. Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 21%), serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Kordi dan Tancung 2007). Salinitas perairan menggambarkan kandungan

97 86 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus garam dalam suatu perairan. Pada umumnya salinitas dipengaruhi oleh tujuh ion utama, yaitu: natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorit (Cl), sulfat (SO 4 ), dan bikarbonat (HCO 3 ) (Kamler 1992 dalam Sukendi 2003). Padatan tersuspensi total atau sering disebut TSS (total suspended solid) merupakan bahan-bahan tersuspensi dalam air yang menyebabkan kekeruhan air, terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen (Effendi 2000). Di air terdapat amonia yang terionisasi dan amonia yang tidak terionisasi. Amonia bebas bersifat toksik, sementara NH 4 terionisasi tidak bersifat toksik. Amonia adalah produk akhir dari dekomposisi protein pakan ikan dan pembusukan senyawa organik oleh mikroba dalam air (Effendi 2000). KEBUTUHAN DASAR KUALITAS AIR UNTUK INDUK BAUNG Ikan baung (Hemibagrus nemurus) tergolong benthopelagik dan hidup di perairan tawar dan payau. Secara umum, ikan baung terdistribusi di beberapa negara Asia (Gustiano et al. 2015). Di wilayah Indonesia, ikan baung banyak ditemui di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Ikan baung banyak ditemukan di rawa, danau, waduk, dan perairan lainnya. Sampai saat ini, ikan baung sudah menjadi komoditas ikan budidaya dan dapat dipelihara secara terkontrol di kolam atau karamba jaring apung (KJA), serta sudah teradaptasi terhadap pakan buatan (Hardjamulia dan Suhenda 2000). Menurut Roza et al. (2014), budidaya ikan baung dalam keramba banyak ditemui di Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa ikan baung yang dipelihara di keramba selama empat bulan mencapai ukuran rata-rata 100,96 g dan sudah dapat digunakan sebagai induk. Umumnya ikan baung jantan dan betina mulai matang gonad ketika beratnya mencapai 90 g dan panjang total rata-rata 20 cm. Ikan baung lebih cepat matang gonad dibandingkan ikan lele dan patin (Madsuly 1977). Secara alamiah, ikan baung betina matang gonad pada bulan Maret Oktober, sementara jantan mencapai tingkat matang gonad IV pada bulan Oktober Desember (Madsuly 1977). Tingkat fekunditas ikan baung yang berasal dari tangkapan di alam berkisar butir (Hartoto 1984).

98 PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 87 Kondisi daerah penangkapan baung asal alam yang akan digunakan sebagai induk sangat perlu diperhatikan tentang kualitas air, sedimen, dan bahan pencemar yang dapat memengaruhi kesehatan induk dan reproduksinya. Hasil penelitain Rinaldi et al. (2018) menyebutkan, daging ikan baung di hulu Sungai Kuantan, Kabupatan Sijunjung, Padang telah mengandung logam berat Cu, Zn, Hg, dan Pb dengan kadar melampaui standar nilai baku mutu yang telah ditetapkan dalam PP RI No 82 Tahun 2001 tentang Batas Maksimum Kandungan Logam Berat dalam Daging Ikan. Induk baung dari Sungai Kampar Kanan, Riau dapat di pergunakan untuk tujuan domestikasi dan budidaya karena memiliki karakteristik morfometrik yang lebih baik dibandingkan dengan wilayah lainya (Aryani et al. 2017). Kolam budidaya induk ikan baung dapat berupa kolam tanah atau tembok, serta memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air dengan ukuran kolam sekitar 50 m 2. Induk baung dipelihara dengan kepadatan 3 5 ekor/m 2. Induk betina dan jantan dapat disatukan, karena untuk ikan baung tidak pernah terjadi pemijahan secara liar. Namun demikian, ikan baung sudah dapat dipijahkan secara terkontrol menggunakan hormonal. PENGAMATAN PARAMETER KUALITAS AIR Suhu Suhu perairan merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap aktivitas ikan untuk pertumbuhan, pernapasan, dan reproduksi. Suhu memegang peran penting dalam perkembangan jaringan daging dan otot ikan (Sfakianasis et al. 2011; Johnston et al. 2009). Oleh karena itu, suhu air yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan mengakibatkan pertumbuhan pada ikan menjadi terhambat (Kossakowski 2008). Suhu perairan optimum untuk pemeliharaan induk ikan baung sekitar 27 C (Ali dan Junianto 2014). Ikan baung dapat hidup di perairan dari muara sampai ke bagian hulu sungai, bahkan dapat hidup juga pada areal sub-optimal (lahan marjinal). Meskipun demikian, suhu air optimum merupakan kunci untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain itu, suhu air pada pemeliharaan induk ikan baung dapat meningkatkan metabolisme. Energi yang dihasilkan dari proses metabolisme mampu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Suhu air yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan

99 88 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus berpengaruh terhadap berbagai ukuran, efisiensi penggunaan kuning telur, pertumbuhan, kecepatan makan, waktu metamorfosis, tingkah laku, kecepatan berenang, penyerapan, laju pengosongan lambung, dan metabolisme (Blaxter 1988). Pengaruh suhu air pada pemeliharaan induk ikan baung selain terhadap pertumbuhan dan metabolisme, juga berpengaruh terhadap waktu masa inkubasi telur. Woynarovich dan Horvath (1980) mengemukakan bahwa semakin tinggi suhu media penetasan akan mempercepat proses penetasan telur, namun suhu air yang terlalu tinggi akan mengakibatkan abnormalitas pada larva. Tingkat keasaman (ph) Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan ph dan menyukai nilai ph sekitar 7 8,5 (Effendi 2000). Menurut Boyd (1982), kisaran ph 6,5 9 cocok untuk produksi ikan. Kenaikan ph pada perairan umum, seperti sungai atau rawa yang merupakan media habitat alamiah ikan baung, akan diikuti dengan semakin kecilnya kelarutan dari senyawa-senyawa logam berat yang dapat berpengaruh bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup induk ikan baung. Pembesaran ikan baung pada perairan yang bersifat asam lebih berpotensi tercemar logam berat dibandingkan yang berada dalam air dan sedimen. Kisaran nilai ph 6,0 8,5 tercatat sebagai tingkat keasaman optimum untuk pemeliharaan induk baung. Hasil penelitian Erlangga (2007) menunjukkan bahwa ikan baung mampu tumbuh dan berkembang dengan baik di sepanjang Sungai Kampar, Provinsi Riau yang memiliki nilai ph air 4,5 6. Muflikhah dan Aida (1994) menyatakan bahwa kisaran ph yang baik untuk induk ikan baung 5 7. Oksigen terlarut Ikan baung hidup optimal pada kadar oksigen antara 5 6 mg/l (Tang 2003). Menurut Effendi (2000), kandungan oksigen terlarut dalam air >4 mg/l dibutuhkan untuk ikan baung. Induk ikan baung membutuhkan kadar oksigen tinggi karena kadar oksigen terlarut yang optimum dapat mempercepat proses elemen-elemen meristik embrio (Kossakowski 2008). Selain memengaruhi proses rematurasi, oksigen terlarut menjadi stressor untuk induk ikan yang dipelihara secara terkontrol. Menurut Adebayo (2006), stres pada akhirnya akan memengaruhi beberapa parameter reproduksi, yaitu fertilisasi, persentase penetasan, abnormalitas larva, sintasan, dan mortalitasnya (Tabel 7.1).

100 PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 89 Tabel 7.1 Pengaruh stres pada induk ikan baung akibat kekurangan oksigen Lama kurang oksigen % Keberhasilan Fertilisasi Penetasan Larva cacat Sintasan Mortalitas 0 jam ,2 77,5 22,5 4 jam 47,5 29,5 28,14 52,5 47,5 Sumber: Adebayo (2006) Salinitas Variasi salinitas di lingkungan hidup ikan baung mulai dari daerah estuaria hingga perairan tawar/kolam menyebabkan ikan tersebut mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan ikan tawar lainya. Induk baung hasil tangkapan alam memerlukan waktu adaptasi secara bertahap untuk dibudidayakan di kolam secara terkontrol. Pengaruh salinitas terhadap induk ikan baung berhubungan dengan daya tetas telur yang dihasilkan. Kadar salinitas 2 ppt merupakan salinitas terbaik untuk penetasan telur ikan baung. Kondisi ini sesuai hasil penelitian Hadid et al. (2014) dengan persentase penetasan telur mencapai 85,33%. Sungai Kampar dengan salinitas berkisar 0 0,5 merupakan salah satu perairan dengan populasi ikan baung tertinggi (Erlangga 2007). Kondisi ini menggambarkan induk ikan baung dapat dipelihara dan dipijahkan di kolam air tawar. Padatan tersuspensi total (TSS) Padatan tersuspensi total dalam kolom air berasal dari komponen hidup, seperti plankton, bakteri, dan fungi, maupun komponen mati, seperti detritus dan partikel anorganik. Distribusi padatan tersuspensi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas air di perairan pantai dan estuaria. Pada ekosistem perairan, konsentrasi TSS yang tinggi dapat menyebabkan turunnya daya penetrasi cahaya ke dalam kolom air secara langsung sehingga dapat mengganggu proses fotosintesis oleh klorofil, yang pada akhirnya mengakibatkan rendahnya produktivitas primer perairan tersebut. Induk ikan baung membutuhkan perairan dengan tingkat TSS rendah. Padatan tersuspensi tinggi akan berakibat buruk bagi tubuh ikan baung yang tidak bersisik dan terhadap insangnya. Kekeruhan yang tinggi akan mengganggu penglihatan ikan dan menyebabkan nafsu makan berkurang. Kisaran kandungan TSS di perairan Sungai Kampar adalah 0,009 0,065 mg/l (Erlangga 2007). Kisaran

101 90 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus tersebut merupakan kondisi optimum untuk kehidupan ikan baung. Dalam kriteria kualitas air, kandungan TSS dengan nilai <4 mg/l termasuk dalam kriteria sangat baik untuk ikan baung. Amonia Kadar amonia dalam air tawar dapat bersifat racun bagi ikan apabila jumlahnya >0,2 mg/l (Effendi 2000). Menurut Boyd (1982), tingkatan amonia untuk jangka pendek berada di antara 0,6 2,0 mg/l. Menurut Modu et al. (2012), kolam induk ikan baung dengan kadar total amonia nitrogen (TAN) 2,1 3,05 mg/l menyebabkan perubahan kondisi sel insang rusak dan iritasi (Gambar 7.1). A B Gambar 7.1 Histologi insang sehat (A) dan perubahan sel rusak serta iritasi akibat kadar TAN yang tinggi pada insang induk ikan baung (B) (Sumber: Modu et al. 2012) Interaksi yang tidak seimbang antara faktor lingkungan dengan kondisi ikan dan organisme parasit akan memicu munculnya serangan penyakit pada ikan. Insang ikan sangat sensitif terhadap perubahan fisik dan kimia dari media akuatik dan terhadap setiap perubahan dalam lingkungannya (Ogundiran et al. 2009). Hasil penelitian Modu et al. (2012) mencantumkan perubahan bentuk insang dan terjadinya nekrosis yang diakibatkan terserang monogeneans parasit (Gambar 7.2). Parasit tersebut muncul dikarenakan kualitas air kolam ikan baung yang buruk akibat kadar amonia yang melebihi ambang batas optimum. Kondisi tersebut memicu peningkatan infeksi penyakit, yaitu parasit dan beberapa mikroba. Parasit monogeneans adalah jenis parasit ikan yang sering ditemukan menyerang insang dan sirip ikan (Jiri et al. 2004).

102 PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 91 Gambar 7.2 Parasit monogeneans pada insang induk ikan baung (Sumber: Modu et al. 2012) Kualitas perairan yang baik merupakan syarat utama dalam pengelolaan induk ikan baung. Lingkungan dapat meningkatan performa reproduksi induk ikan baung sehingga penyediaan benih dalam kelangsungan budidaya terpenuhi. Parameter kualitas air utama yang berpengaruh pada manajemen pengelolaan induk ikan baung adalah suhu, tingkat keasaman (ph), oksigen terlarut, salinitas, padatan tersuspensi total (TSS), dan amonia. DAFTAR PUSTAKA Adebayo OT Reproductive performance of african clariid catfish Clarias gariepinus broodstocks on varying maternal stress. Journal of Fisheries International 1: Ali M, Junianto RS Pengaruh lanjut suhu pada penetasan telur terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan baung Hemibagrus nemurus. Prosiding Seminar Nasional Lahan Sub Optimal Aryani N, Hasibuan S, Mardiah A, Syandri H Morphometric characteristics of Asian catfish, Hemibagrus wyckii (Bleeker, 1858) (Bagridae), from the Riau Province of Indonesia. Pakistan Journal of Biological Sciences 20(8):

103 92 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Blaxter JHS Development: eggs and larvae. In Hoar WS, Randall DJ. (Eds). Fish Physiology. Vol. III. pp Boyd CE Water quality management in aquaculture and fisheries science. Amsterdam (NL): Elsevier Scientific Publishing Company. 312 p. Canter LW, Hill LG Handbook of Variable for Environmental Impact Assessment. Michigan (US): Ann Arbor Science Publisher. Effendi H Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. IPB Bogor. 257 p. Elliot JM Energetic of freshwater teleost. In Miller PJ. (Ed). Fish Phenology Anabolic Adaptive in Teleost. London (UK): Academy Press Inc. pp Erlangga Efek pencemaran perairan sungai Kampar di Provinsi Riau terhadap ikan baung Hemibagrus nemurus. [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Gustiano R, Kusmini II, Ath-thar MHF Mengenal Sumber Daya Genetik Ikan Spesifik Lokal Air Tawar Indonesia untuk Pengembangan Budidaya. Bogor (ID): IPB Press. 51 hlm. Hadid Y, Syaifudin M, Amin M Pengaruh salinitas terhadap daya tetas telur ikan baung (Hemibagrus nemurus, Blkr). Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia 2(1): Hardjamulia A, Suhenda N Evaluasi sifat reproduksi dan sifat gelondongan generasi pertama empat populasi ikan baung (Hemibagrus nemurus) di keramba jaring apung. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 6(3 4): Hartoto DI Beberapa aspek fekunditas ikan ikan tawar di lubuk linpam Sumatera Selatan, Suku Bagridae, Ikan Beringu, Mytus nigriceps, C.V. Berita Biologi 2(2): Izquierdo MS, Fernandez-Palacios H, Tacon AGJ Effect of broodstock nutrition on reproductive performance of fish. Aquaculture 197(1 4):

104 PARAMETER KUALITAS AIR OPTIMUM UNTUK INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 93 Jiri J, Serge M, Andreand S, Milan G Reproductive barriers between congeneric monogenean parasites (Dactylogyrus: Monogenea): Attachment apparatus morphology or copulatory organ incompatibility. Parasitology 92: Johnston IA, Lee HT, Macqueen DJ, Paranthaman K, Kawashima C, Anwar A, Kinghorn JR, Dalmay T Embryonic temperature affects muscle fibre recruitment in adult zebrafish: genome-wide changes in gene and microrna expression associated with the transition from hyperplastic to hypertrophic growth phenotypes. Journal of Experimental Biology 212: Kordi MGH, Tancung AB Pengelolaan Kualitas Air. Jakarta (ID): PT Rineka Cipta. Kossakowski MK The influence of temperature during the embryonic period on larval growth and development in carp, Cyprinus carpio L., and grass carp, Ctenopharyngodon idella (Val.): Theoretical and practical aspects. Arch. Pol. Fish 16: Madsuly T Laporan petemakan ikan tagih (Macrones nemurus) di Kabupaten DTII Sumedang. (Tidak diterbitkan). Sumedang (ID): Dinas Perikanan Kabupaten Sumedang.15 hlm. Modu BM, Saiful M, Kartini M, Kasim Z, Hassan M, Shaharom-Harrison FM Effects of water quality and monogenean parasite in the gills of freshwater cat fish, Hemibagrus nemurus Valenciennes Current Research Journal of Biological Sciences 4(3): Muflikhah N, Aida SN Pengaruh perbedaan jenis pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan ikan baung Mystus nemurus di kolam rawa. Kumpulan Riset Komoditas Baung Palembang (ID): Loka Penelitian Perikanan Air Tawar Mariana. Renaldi, Syandri A, Aswad D Kandungan logam berat dalam air dan ikan baung (Hemibagrus nemurus C.V) di kawasan konservasi sungai Batang Kuantan Kec Sijunjung, Kab. Sijunjung. Prosiding Hasil Penelitian Mahasiswa FPIK. Univ Bung Hatta 12(1): 1 11.

105 94 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Romimohtarto K, Juwana S Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI. 527 hlm. Roza M, Manurung AR, Budhi A, Sinwanus, Heltonika B Kajian pemeliharaan ikan baung Hemibagrus nemurus dengan padat tebar yang berbeda pada keramba jaring apung di waduk Sungai Paku, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Acta Aquatica 1: 2 6. Sfakianakis DG, Leris I, Laggis A, Kentouri M The effect of rearing temperature on body shape and meristic characters in zebrafish Danio rerio juveniles. Environmental Biology of Fishes Journal 92: Suhenda N, Samsudin R, Nugroho E Pertumbuhan ikan baung (Hemibagrus nemurus) dalam keramba jarring apung yang diberi pakan buatan dengan kadar protein berbeda. Jurnal Iktiologi Indonesia 10: Sukendi Vitelogenesis dan manipulasi fertilisasi pada ikan. Bagian bahan mata kuliah reproduksi ikan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. Tang MU Teknik Budidaya Ikan Baung (Mystus nemurus C.V.). Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius. 64 hlm. Woynarovich E, Horvath L The artificial propagation of warm water fish. A manual for extention FAO, Fishes Technical Paper, 201: 285 p.

106 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG Ani Widiyati, Adang Saputra, Tri Heru Prihadi, dan Yosmaniar Kegiatan budidaya ikan baung sangat potensial untuk dikembangkan karena ikan ini disukai oleh masyarakat, serta mempunyai respons yang baik terhadap teknologi budidaya secara intensif dengan padat tebar tinggi dan pemberian pakan buatan (Masrizal et al. 2001). Selanjutnya menurut Muflikhah et al. (1998), ikan baung dapat dipelihara dalam berbagai wadah pemeliharaan, seperti keramba, kolam, dan juga keramba jaring apung. Menurut Boyd (1990), intensifikasi budidaya ikan melalui padat tebar dan laju pemberian pakan yang tinggi dengan berbagai wadah pemeliharaan budidaya dapat menimbulkan masalah pada kualitas air. Meskipun ikan memakan sebagian besar pakan yang diberikan, namun persentase terbesar diekskresikan menjadi buangan metabolik (nitrogen) yang dapat mencemari media budidaya. Kegiatan pemeliharaan benih merupakan salah satu upaya untuk penyediaan benih yang berkualitas, baik dalam jumlah maupun waktu yang tepat. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produksi benih dalam kegiatan pemeliharaan benih adalah kualitas air pada lingkungan budidaya. Kualitas air memiliki peran dalam peningkatan produktivitas pada sistem budidaya ikan (Gorder 2003). Penyediaan kualitas air yang optimum pada pemeliharaan ikan merupakan faktor penentu karena air merupakan media untuk tumbuh dan reproduksi (Bardach et al. 1972). Oleh karena itu, perhatian yang cermat terhadap masalah kualitas air merupakan kebutuhan yang mutlak dalam pelaksanaan budidaya ikan secara intensif (Boyd 1990). Selanjutnya, diperlukan pengelolaan kualitas air budidaya ikan pada fase pemeliharaan, kondisi lingkungan diatur sedemikian rupa sehingga selalu pada kisaran yang masih dapat ditolerir, baik untuk pertumbuhan maupun untuk kelangsungan

107 96 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus hidup ikan. Secara umum, parameter kualitas air terbagi menjadi parameter fisika, biologi, dan kimia (Forteath et al. 1993). Untuk keberlanjutan kegiatan pemeliharaan benih ikan baung, perlu pengelolaan kualitas air dari parameter fisika, kimia, dan biologi. Sasaran pengelolaan kualitas air adalah untuk memperbaiki dan menstabilkan kelayakan kualitas air sehingga tidak melebihi ambang batas toleransi. ASPEK FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI AIR UNTUK PEMELIHARAAN BENIH Beberapa aspek penting parameter fisika kualitas air untuk pemeliharaan benih ikan baung, yaitu suhu air, cahaya matahari, padatan tersuspensi, dan debit air. Parameter kimia terdiri atas oksigen terlarut, karbon dioksida terlarut, ph, nitrit, nitrat, total fosfat, alkalinitas, dan amonia. Parameter biologi yaitu jumlah serta jenis fitoplankton dan zooplankton. Ketiga parameter tersebut perlu diukur dan diketahui secara rutin karena berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup benih ikan baung. Parameter fisika Suhu perairan merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap aktivitas ikan, terutama untuk pertumbuhan, pernapasan, dan reproduksi (Huet 1994). Pada ikan tanpa sisik seperti ikan baung, perubahan suhu sangat berpengaruh pada kehidupan ikan karena suhu air berpengaruh terhadap suhu tubuh dan proses metabolismenya. Menurut Tang (2003), suhu 25 C memberikan hasil terbaik bagi kelangsungan hidup larva ikan baung. Bunasir et al. (2005) menyatakan suhu untuk perawatan larva dan pertumbuhan benih ikan baung berkisar antara C. Menurut Ali dan Junianto (2014), suhu yang optimal untuk kelangsungan hidup larva sampai benih ikan baung adalah 27 C. Salah satu faktor fisika yang penting pada kolam pemeliharaan benih ikan baung adalah intensitas cahaya yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memengaruhi tingkah laku ikan. Beberapa jenis ikan menyukai intensitas cahaya rendah, tetapi ada juga ikan yang menyukai intensitas cahaya tinggi (Boeuf dan Le-Bail 1999). Pada ikan gilthead seabream (Sparus aurata L), waktu penyinaran dalam waktu yang lebih lama dapat meningkatkan pertumbuhan

108 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG 97 serta efisiensi pakan (Vardar dan Yildirim 2012), dan meningkatkan sintasan benih pada mirror carp (Cyprinus carpio) (Yagci dan Yigit 2009) dan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) (Sonmez et al. 2009; Barimani et al. 2013). Sementara pada ikan nokturnal, lama penyinaran yang diminimalkan dapat meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan, serta warna tubuh pada benih African catfish (Clarias gariepinus) (Mustapha et al. 2012). Dari beberapa hasil penelitian pengaruh cahaya terhadap ikan budidaya memperlihatkan keperluan intensitas dan lama penyinaran yang berbeda-beda. Hasil penelitian Heltonika dan Karsih (2017) memperlihatkan jika larva ikan baung dipelihara dalam kondisi 24 jam gelap menghasilkan laju pertumbuhan terbaik, baik dari segi panjang maupun bobot. Selanjutnya dikatakan hal ini diduga karena larva/benih ikan baung termasuk jenis ikan yang bersifat nokturnal. Limbah budidaya ikan terdeteksi ada yang menjadi padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Menurut Fardiaz (1992), padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air. Nilai padatan terlarut yang baik untuk media pemeliharaan benih ikan adalah JTU (Jackson Turbidity Unit) dan padatan tersuspensi adalah JTU (Sutisna dan Sutarmanto 1995). Secara umum debit air pada pemeliharaan benih ikan akan berpengaruh terhadap penyebaran pakan alami, mikroba, serta limbah budidaya. Debit air akan menimbulkan arus pada media pemeliharaan, semakin kuat arus semakin cepat kotoran terbawa sehingga kualitas air menjadi baik. Arus yang terlalu kuat mengakibatkan benih ikan baung mudah hanyut, sementara arus yang lemah berakibat tidak terangkutnya kotoran/feses. Pengukuran debit air diperlukan untuk mengatur pola air pada kolam pemeliharaan benih. Menurut Sutisna dan Sutarmanto (1995), debit air yang sesuai untuk pemeliharaan benih ikan air tawar adalah 1,5 L/detik/1000 m 2. Debit yang paling optimal terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih adalah 0,03 L/detik.

109 98 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Parameter kimia Parameter kimia air yang melebihi baku mutu akan menjadi racun untuk ikan. Menurut Boyd (2015) dan Sulastri et al. (2007), konsentrasi parameter kimia air disarankan tidak melebihi ambang batas optimum karena dapat menjadi racun untuk ikan yang dipelihara. Parameter kimia air yang bersifat toksik terhadap ikan, antara lain ph dan oksigen terlarut. Konsentrasi ph air memegang peran penting terhadap metabolisme dan proses fisiologis (Abbink et al. 2011; Kwong et al. 2014), sintasan (Hamid et al. 1994), serta kerusakan insang (Kwong et al. 2014). Setiap jenis ikan memiliki kisaran toleransi ph air berbeda. Kisaran ph air optimum untuk budidaya ikan berkisar 4,25 9,4 (Oliveira et al. 2012; Courtenay dan Williams 2004). Konsentrasi ph air optimum pada pemeliharaan benih ikan baung berkisar antara 5,5 6,5 (Heltonika dan Karsih 2017). Ikan baung merupakan ikan yang biasa hidup di perairan yang mempunyai arus deras. Umumnya ikan baung memerlukan oksigen tinggi untuk menjaga homeostasis pada siklus hidupnya. Rendahnya kandungan oksigen terlarut dapat memengaruhi fungsi biologis dan lambatnya pertumbuhan, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Ikan memiliki batas ideal oksigen terlarut yang berperan sebagai faktor pembatas pada siklus hidupnya. Kisaran oksigen terlarut optimum pada pemeliharaan ikan yaitu 3 7 mg/l (Mallya 2017). Kisaran oksigen terlarut optimum pada pemeliharaan benih ikan baung berkisar antara 3,7 5,6 mg/l (Heltonika dan Karsih 2017). Nilai kisaran oksigen terlarut mengalami penurunan sejalan dengan waktu pemeliharaan ikan. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya waktu pemeliharaan, akumulasi feses, urin, dan pakan yang tidak termakan semakin tinggi sehingga oksigen terlarut mengalami penurunan karena digunakan oleh bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi untuk mengurai limbah tersebut. Salah satu permasalahan pada budidaya ikan secara intensif adalah tingginya limbah nitrogen beserta turunannya, seperti nitrit (NO 2 -N), nitrat (NO 3 -N), dan amonia (NH 3 -N) yang dihasilkan dari feses, urin, serta sisa pakan yang tidak termakan. Pakan buatan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfat (P) yang berfungsi untuk pertumbuhan ikan. Parameter kimia air optimum untuk pemeliharaan benih ikan baung, yaitu: nitrit (0,07 0,71 mg/l), nitrat (0,10 1,43 mg/l), dan amonia (0,02 0,72 mg/l). Menurut standar baku mutu kualitas air kelas II PP No. 82 tahun 200 untuk kegiatan perikanan, kandungan nitrit 0,06 mg/l, nitrat 10 mg/l, dan amonia 0,02 mg/l.

110 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG 99 Konsentrasi nitrit dalam air berasal dari proses nitrifikasi (bantuan bakteri anaerob), di mana amonia dirubah menjadi nitrit kemudian nitrat. Laju produksi nitrit tergantung pada jumlah populasi bakteri dalam air. Apabila ph air rendah dan temperatur tinggi, produksi asam nitrit lebih tinggi. Nitrit dapat mengoksidasi ion ferro dalam hemoglobin menjadi ion ferri yang mampu merubah hemoglobin menjadi methemoglobin (Colt dan Armstrong 1981). Nitrat adalah produksi dari nitrit di dalam proses nitrifikasi dan merupakan bentuk oksidasi terbanyak dari nitrogen dalam air. Alga dan diatom, serta tumbuhan lainnya dengan mudah berasimilasi dengan ion nitrat dalam air. Daya racun nitrat kurang kuat bila dibandingkan dengan nitrit dan amonia. Meskipun demikian, nitrat bisa menjadi salah satu masalah potensial di dalam sistem resirkulasi. Pengaruh nitrat terutama pada osmoregulasi dan transpor oksigen. Nitrat adalah oksidator yang mampu mengubah hemoglobin menjadi ferrihemoglobin (methemoglobin), serta dapat merusak darah, hati, pusat hematopoetik, filamen insang, dan tingkah laku yang tidak normal. Amonia merupakan buangan metabolik yang pada kensentrasi tertentu sangat beracun bagi ikan (Benli et al. 2008). Sumber amonia di perairan berasal dari pemecahan nitrogen organik (protein, urea, feses) dan nitrogen anorganik yang berasal dari dekomposisi bahan organik oleh mikroba atau jamur (Boyd 2015). Peningkatan amonia melebihi 0,3 mg/l berdampak terhadap penurunan oksigen terlarut dan meningkatkan konsentrasi karbondioksida dalam darah. Menurut Boyd (2015), konsentrasi amonia optimal untuk budidaya ikan di perairan yang tidak tercemar <0,25 mg/l dan perairan tercemar konsentrasinya di bawah 1,0 mg/l. Konsentrasi amonia optimum untuk pemeliharaan benih ikan baung berkisar 0,02 0,72 mg/l. Alkalinitas air menggambarkan jumlah ion karbonat dan bikarbonat yang ada di perairan. Konsentrasi tersebut menunjukkan kapasitas air untuk menetralkan asam atau basa serta sebagai penyangga terhadap pertumbuhan ph. Konsentrasi alkalinitas perairan >200 mg/l menggambarkan perairan tersebut stabil terhadap perubahan perubahan asam atau basa. Konsentrasi alkalinitas >100 mg/l disebut sebagai perairan alkalin dan nilai alkalinitas <100 mg/l adalah tingkat alkalinitas sedang. Untuk kehidupan ikan, alkalintas optimal berkisar >60 dan <200 mg/l. Konsentrasi alkalinitas sebesar 500 mg/l kurang baik untuk budidaya ikan baung karena memengaruhi proses osmoregulasi, juga mengakibatkan tingginya nilai kesadahan.

111 100 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Parameter biologi Parameter biologi pada budidaya ikan dapat digunakan sebagai indikator biologis, yaitu untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi, khususnya pada budidaya ikan yang dilakukan secara alami/semi alami. Parameter ini banyak berpengaruh dalam pengelolaan kualitas air, seperti plankton, alga, tanaman air, dan bentos. Jasad renik dalam perairan berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Parameter biologi sangat perlu untuk dipahami oleh pembudidaya ikan karena beberapa jasad renik bermanfaat untuk budidaya ikan, khususnya larva untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Sifat biologi air yang banyak berperan dan perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya ikan adalah produktivitas primer. Hal ini karena produktivitas primer berperan sebagai pakan alami serta penyedia oksigen terlarut dalam air bagi ikan untuk respirasi. Sukendi (2001) menyebutkan, di perairan makanan utama benih ikan baung adalah Arthropoda terutama dari jenis insekta dan Oligochaeta. Sementara makanan pelengkap adalah detritus, serta makanan tambahan adalah ikan dan tanaman air. Komposisi komunitas makrobenthos merupakan salah satu indikator terbaik untuk menjelaskan kualitas suatu lingkungan, terutama melalui kekayaan spesiesnya dengan kata lain status komunitas benthos dapat dipakai sebagai indikator. Kelimpahan plankton yang terdiri dari fitoplankton dan zooplankton sangat diperlukan untuk mengetahui kesuburan suatu perairan yang akan dipergunakan untuk kegiatan budidaya. Plankton sebagai organisme perairan tingkat rendah melayang-layang di air dalam waktu yang relatif lama mengikuti pergerakan air. Plankton pada umumnya sangat peka terhadap perubahan lingkungan (suhu, ph, salinitas, gerakan air, dan cahaya matahari). Fitoplankton dari kelas Chlorophyceae menyumbang oksigen terlarut terbesar pada lingkungan perairan (Rissik dan Suthers 2009). Melalui proses fotosintesis, mereka mampu memanen energi dari matahari, menggunakan zat yang diperoleh dalam air untuk berkembang biak, serta menyediakan makanan dan energi untuk berbagai spesies hewan. Selain itu, produk utama fotosintesis mereka adalah oksigen yang dilepaskan ke dalam air sebagai komponen penting lain untuk biota di habitat ini. Menurut FAO (2014), aktivitas respirasi fitoplankton yang berlebihan akan berpengaruh terhadap kualitas air, seperti terhadap ph, DO, dan nitrogen. Respirasi oleh ikan

112 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG 101 akan menurunkan ph melalui pelepasan karbon dioksida ke dalam air, sebaliknya fotosintesis plankton akan menghilangkan karbon dioksida dari air dan meningkatkan ph. Pengaruh fitoplankton pada ph mengikuti pola harian, di mana ph naik di siang hari karena adanya proses fotosintesis dan menurunkan kandungan asam karbonat dan pada malam hari melepaskan asam karbonat. Pada budidaya ikan sistem resirkulasi, plankton akan tersaring oleh filter. Apabila fitoplankton dalam kolam tumbuh berlebihanhingga warna air menjadi hijau pekat sebaiknya dilakukan pemfilteran, selanjutnyza akan tumbuh zooplankton yang akan menjadi makanan benih ikan baung. Populasi zooplankton dipengaruhi oleh ketersediaan fitoplankton dan jenis ikan yang memakannya. Zooplankton dan fitoplankton merupakan pakan alami ikan. Keperluan pakan alami bagi pembenihan ikan sangat penting karena larva ikan sangat menyukai pakan tersebut. Plankton mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi untuk pertumbuhan larva dan ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva. Semakin tinggi populasi zooplankton dan fitoplankton, maka dapat dipastikan pertumbuhan benih akan tinggi. PENGELOLAAN KUALITAS AIR UNTUK PEMELIHARAAN BENIH Pemeliharaan benih sistem indoor Pemeliharaan benih ikan baung, dapat dilakukan secara indoor (intensif) dan outdoor (intensif dan semi intensif). Sebelum air digunakan untuk pemeliharaan benih, perlu dilakukan aerasi selama 1 3 hari untuk membuang zat-zat beracun dalam air dan meningkatkan kualitas air. Kebersihan dan sterilisasi wadah dilakukan untuk membunuh bakteri dengan klorinasi. Untuk keberlanjutan kualitas air yang baik selama kegiatan pemeliharaan benih, perlu dilakukan pemantauan dan rekayasa pada media pemeliharaan. Pada pemeliharaan benih sistem indoor, untuk meningkatkan dan menstabilkan suhu dilakukan dengan menggunakan pemanas ruangan atau pemanas air. Untuk pengaturan cahaya ruangan diperlukan cahaya matahari untuk menghangatkan ruangan pada ruang indoor dengan cara menggunakan atap transparan. Untuk menurunkan padatan terlarut dan tersuspensi, dilakukan dengan pemeliharaan benih menggunakan sistem resirkulasi. Demikian juga untuk pengelolaan parameter kimia di indoor, seperti meningkatkan

113 102 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus kandungan oksigen terlarut, menstabilkan ph, dan menurunkan kandungan senyawa nitrogen dapat dilakukan dengan sistem resirkulasi menggunakan filter biologi. Teknologi pemeliharaan benih ikan baung dengan penggunaan probiotik lingkungan mampu mendegradasi nitrogen dan fosfor sehingga media pemeliharaan ikan menjadi tidak beracun. Selain itu, teknologi penggunaan bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengatasi masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pengolahan limbah domestik secara konvensional (Avnimelech et al. 1992). Pemeliharaan benih sistem outdoor Pemeliharaan benih sistem outdoor lebih sulit untuk dibuat rekayasa lingkungan dibandingkan pemeliharaan benih sistem indoor. Untuk mempertahankan kestabilan suhu air dan menangkal intensitas sinar matahari yang terlalu tinggi, kolam outdoor yang tidak terlalu luas dapat diberi naungan atap plastik transparan, atau paranet. Sementara pada kolam yang lebih luas, perlu diberi naungan langsung di perairan dengan memasukkan tanaman air. Untuk menurunkan jumlah total padatan dan tersuspensi dengan cara memasukkan tanaman air, seperti enceng gondok sehingga padatan tersuspensi/dalam media budidaya akan terperangkap oleh akar enceng gondok dan mengendap ke dasar perairan. Pengaturan debit air dilakukan dengan cara pengaturan air masuk dan keluar kolam dengan pemasangan paralon untuk saluran masuk dan keluar. Untuk kegiatan pembenihan, debit air tidak perlu tinggi karena pakan ikan selain pakan buatan juga masih mengandalkan pakan alami (fito dan zooplankton). Jika debit air yang masuk ke kolam pemeliharaan tinggi, benih dan pakan alami, serta mikroba yang diperlukan untuk kehidupan benih ikan akan hanyut keluar dari kolam. Pada pemeliharaan benih semi intensif, pengaturan debit air juga untuk mempertahankan kelimpahan plankton. Apabila kolam pemeliharaan benih mengalami blooming plankton, debit air kolam perlu diperbesar untuk membuang kelebihan plankton. Manipulasi lingkungan untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas air pada pemeliharaan benih ikan baung secara outdoor dapat dilakukan dengan menggunakan sistem akuaponik. Berdasarkan uraian di atas maka beberapa aspek penting kualitas air untuk pemeliharaan benih ikan baung yang perlu diperhatikan adalah parameter fisika (suhu air, cahaya matahari, padatan tersuspensi, dan

114 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG 103 debit air), parameter kimia (oksigen terlarut, karbon dioksida terlarut, ph, nitrit, nitrat, total fosfat, alkalinitas, dan amonia), dan parameter biologi (plankton). Parameter tersebut perlu diukur dan diketahui secara rutin karena berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup benih ikan baung. DAFTAR PUSTAKA Abbink W, Garcia AB, Roques JAC, Partridge GJ, Kloet K, Schneider O The effect of temperature and ph on the growth and physiological response of juvenile yellowtail kingfish Seriola lalandi in recirculating aquaculture systems. Aquaculture 333: Ali M, Junianto RS Pengaruh lanjut suhu pada penetasan telur terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan baung (Hemibagrus nemurus). Prosiding Seminar Nasional Lahan Sub Optimal Palembang, Avnimelech Y, Diab S, Kochva M, Mokady S Control and utilization of inorganic nitrogen in intensive fish culture pond. Aquaculture and Fisheries Management 23: Bardach JE, Ryther JH, McLarney WO Aquaculture: The farming and husbandry of freshwater and marine organisms. New York. London. Sydney. Toronto. 868p. Barimani S, Kazemi MB, Hazaei K Effects of different photoperiod regimes on growth and feed conversion rate of young Iranian and French rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). World Applied Sciences Journal 21: Benli ACK, Kokasal G, Ozkul A Sublethal ammonia exposure of Nile tilapia Oreochromis niloticus L: Effects on gill, liver and kidney histology. Chemosphere 72: Boeuf G, Le Bail PY Does light have an influence on fish growth? Aquaculture 177: Boyd CE Water quality in ponds for aquaculture. Springer Science 2: Boyd CE Water Quality: An Introduction, Second Edition. New York (US): Springer Science.

115 104 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Bunasir S, Firdausi P, Widodo MN, Fahmi, Fauzan G Teknologi budidaya ikan baung (Mystus nemurus C.V) skala usaha. Makalah Seminar Pertemuan Lintas UPT Lingkup Ditjen Perikanan Budidaya, Juli 2005 di Manado. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Colt JE, Armstrong DA Nitrogen toxicity to crustaceans, fish, and molluscs. Courtenay WR, Williams JD Snakehead Pisces, Channidae: A Biological Synopsis and Risk Assesment. US Geological Survey, US Geological Survey Circular, Denver, Colo, USA. 155 p. Effendi H Telaah Kualitas Air bagi Pengelola Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Jakarta (ID): Penerbit Kanisius. 258 p. FAO. (2014). Small scale aquaponic food production integrated and fish farming. FAO Fisheries and Aquaculture Technical Paper No. 589: Fardiaz S Polusi Air dan Udara. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius. 192p. Forteath N, Wee L, Frith M The biological filter-structure and function, p: In Hart P, O Sullivan D. (Eds). Recirculation System: Design, Contruction and Management. Launceston (AU): University of Tasmania. 134p. Gorder SV Small-scale aquaculture and aquaponics. Aquaponics Journal 7: Hamid SN, Fortes RD, Estepa FR Effect of ph and ammonia on survival and growth of the early larval stages of Penaeus monodon Fabricius. Aquaculture 125: Heltonika B, Karsih OR Pemeliharaan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) dengan teknologi photoperiod. Berkala Perikanan Terubuk 45(1): Huet M Textbook of Fish Culture Breeding and Cultivation of Fish. Fishing News Book. 438p.

116 KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK BENIH IKAN BAUNG 105 Kelabora DM Pengaruh suhu terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan mas (Cyprinus carpio). Berkala Perikanan Terubuk 38(1): Kwong RWM, Kumai Y, Perry SF The physiology of fish at low ph: the zebrafish as a model system. Journal of Experimental Biology 217: Mallya YJ The effects of dissolved oxygen on fish growth in aquaculture. UNU-Fisheries Training Programme. 30p. Masrizal, Azhari W, Azhar Pengaruh suhu yang berbeda terhadap hasil penetasan telur ikan patin (Pangasius sutchi Fow). Padang (ID): Universitas Andalas. Muflikhah N, Syarifah N, Aida SN Domestikasi ikan baung (Mystus nemurus). Jurnal Litbang Pertanian XVII(2): 72p. Mustapha MK, Okafor BU, Olaoti KS, Oyelakin OK Effects of three different photoperiods on the growth and body coloration of juvenile African catfish, (Burchell). Archives of Polish Fisheries 20: Oliveira EG, Pinheiro AB, Oliveira VQ, Junior AR, Moraes MG, Rocha IR, Sousa RR, Costa FH Effect of stocking density on the performance of juvenile pirarucu Arapaima gigas in cages. Aquaculture 370: Putra I, Setiyanto DD, Wahyuningrum D Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila Oreochromis niloticus dalam sistem resirkulasi. Jurnal Perikanan dan Kelautan 16(1): Rissik D, Suthers IM The importance of plankton. In Suthers I, Rissik D. (Eds). Plankton: A Guide to Their Ecology and Monitoring for Water Quality. CSIRO Publishing Setiyanto DD, Dongoran RK, Supriyono E Pengaruh alkalinitas terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan patin siam (Pangasius sp). Jurnal Akuakultur Indonesia 4: Sonmez AY, Hisar O, Hisar SA, Alak G, Aras MS, Yanik T The effects of different photoperiod regimes on growth, feed conversion rate and survival of rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) fry. Journal of Animal and Veterinary Advances 8:

117 106 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Sukendi Biologi reproduksi dan pengendaliannya upaya pembenihan ikan baung (Mystus nemurus CV). [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Sulastri, Meutia AA, Suryono T Komposisi fitoplankton dan peluang blooming Microcystis aeruginosa di Waduk Karangkates. Jawa Timur. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 33: Sutisna DH, Sutarmanto R Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius. 258p. Tang UM Teknik Budidaya Ikan Baung. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius. 85p. Vardar H, Yıldırım S Effects of long-term extended photoperiod on somatic growth and husbandry parameters on cultured gilthead sea bream (Sparus aurata, L.) in the net cages. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences 12: Yagci DD, Yigit M Influence of increased photoperiods on growth, feed consumption and survival of juvenile mirror carp (Cyprinus carpio Linnaeus, 1758). Journal of Fisheries Sciences.com 3(2):

118 9.PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA Taukhid, Desy Sugiani, dan Tuti Sumiati Kegiatan budidaya ikan baung (Hemibagrus nemurus) di masyarakat terus berkembang, baik yang dilakukan secara intensif maupun ekstensif. Selain di kolam pekarangan, kolam irigasi, dan kolam tadah hujan, pembudidayaan ikan baung dalam karamba jaring apung (KJA) di danau/waduk serta sungai juga telah terbukti sebagai usaha ekonomi rakyat yang potensial dan terus berkembang. Suhenda et al. (2010) menyatakan bahwa peningkatan animo masyarakat terhadap jenis ikan ini harus dibarengi dengan pasokan benih yang memenuhi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Pemenuhan terhadap ketiga persyaratan tersebut memerlukan adanya program dan produksi benih ikan baung yang terstandar dan terintegrasi, mulai dari sistem manajemen induk, lingkungan/rekayasa budidaya, pakan, dan kesehatan. Terkait dengan masalah kesehatan, secara konseptual munculnya penyakit pada ikan merupakan hasil interaksi yang kompleks antara 3 biosistem dalam lingkungan budidaya, yaitu ikan yang lemah akibat berbagai cekaman (stressor), patogen yang virulen, dan kualitas lingkungan yang memburuk. Taukhid et al. (2012) dan Taukhid (2017) menyatakan bahwa selama ini pengendalian penyakit pada budidaya ikan lebih mengandalkan pada penggunaan bahan kimia/obat/antibiotik yang sejatinya memiliki dampak negatif, baik terhadap lingkungan perairan, ikan, maupun konsumen. Walaupun pada kondisi tertentu penggunaan bahan-bahan pengendali penyakit tersebut masih diperlukan. Namun, untuk menghindari munculnya dampak negatif yang ditimbulkan, sebelum melakukan pengobatan perlu mempertimbangkan kaidah-kaidah pengobatan penyakit ikan yang baik dan benar.

119 108 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Review penyakit potensial pada pembenihan ikan baung ini disarikan dari kajian referensi serta hasil riset yang dilakukan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP). Menurut Taukhid (2017), berdasarkan data/informasi dari kompilasi hasil pemeriksaan laboratoris pada benih ikan baung, jenis-jenis penyakit infeksius utama yang sering ditemukan dan mengakibatkan kematian antara lain: parasit (protozoa dan trematoda), jamur, dan bakteri. Sementara penyakit non-infeksius yang sering terjadi antara lain akibat kondisi kualitas air (suhu, oksigen terlarut, ph, amonia, alkalinitas, dan kesadahan), serta malnutrisi. Selain pemaparan tentang jenisjenis penyakit potensial, alternatif pencegahan dan pengendaliannya juga disampaikan secara teknis dan aplikatif. PENYAKIT PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG Gangguan penyakit pada pembenihan ikan baung linier dengan sistem budidaya yang diterapkan. Semakin intensif sistem budidaya yang diterapkan, maka semakin kompleks pula penyakit yang muncul, demikian pula sebaliknya. Secara umum, penyakit pada pembenihan ikan baung dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu penyakit infeksi dan non-infeksi. 1. Penyakit infeksi pada pembenihan ikan baung Beberapa jenis penyakit infeksi yang potensial pada pembenihan ikan baung sudah dimulai sejak stadia larva di unit pembenihan hingga ukuran siap tebar di unit pembesaran. Pada stadia larva hingga ukuran benih sering ditemukan adanya infeksi parasit (protozoa: Trichodina spp., Ichthyophthirius multifiliis, Epistylis spp., Oodinium spp., dan metazoa: Dactylogyrus spp., Gyrodactylus spp.), infeksi jamur (Saprolegniaceae), dan beberapa jenis bakteri: Aeromonas hydrophila, A. sobria, Flavobacterium columnare, Pseudomonas spp., dan beberapa jenis bakteri patogen lainnya (Lerssutthichawal 2008; Faruk dan Anka 2017; Taukhid et al. 2018). 1.1 Parasit Infeksi patogen parasitik jarang mengakibatkan wabah penyakit yang sporadis. Namun pada intensitas serangan yang tinggi, hal itu bisa saja terjadi. Akibat yang ditimbulkannya secara ekonomis cukup merugikan. Selain dapat mengakibatkan kematian, hal tersebut juga dapat menurunkan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan yang kurang

120 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA 109 efisien, menurunkan performance, serta ketahanan tubuh ikan sehingga sering dimanfaatkan sebagai jalan masuk (port of entry) bagi infeksi sekunder oleh patogen lain, seperti jamur dan bakteri (Faruk dan Anka 2017; Taukhid et al. 2018). 1.1.a Protozoa Beberapa jenis protozoa parasitik yang umum menginfeksi dan menimbulkan kerugian signifikan pada pembenihan ikan baung di Indonesia, antara lain: Trichodina spp., Trichodinella spp., Tripartiella spp., Ichthyopthirius multifiliis, dan/atau umum disebut penyakit gatal. Infeksi jenis-jenis protozoa parasitik tersebut umumnya lebih banyak ditemukan pada media budidaya yang mengandung total bahan organik tinggi, relatif stagnan, serta padat tebar tinggi dan status kesehatan benih yang kurang prima akibat nutrisi yang kurang berimbang. Trichodina spp. sering ditemukan menginfeksi kulit, sirip, dan insang benih ikan baung. Sementara dari genus Trichodinella spp. dan Tripartiella spp. umumnya hanya ditemukan pada insang ikan. Ketiga genus protozoa tersebut menempel dan merusak sel epitel atau epidermal pada tubuh benih ikan sehingga menimbulkan iritasi yang serius dan selanjutnya digunakan sebagai pintu masuk bagi bakteri atau jamur. Gejala klinis yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif akibat infeksi parasit ini, antara lain ikan tampak pucat, nafsu makan menurun, gerakan lambat, dan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding kolam. Pada infeksi lanjut, sirip kuncup, megap-megap dan meloncat-loncat ke permukaan air, serta adanya hemoragi/pendarahan pada pangkal sirip (Lom dan Dykova 1992; Faruk dan Anka 2017; Taukhid 2017). Ichthyophthirius multifiliis atau biasa disebut Ich atau penyakit bintik putih merupakan salah satu jenis parasit yang paling sering menjadi kendala pada pembenihan ikan baung. Parasit tersebut lebih sering muncul pada saat suhu air budidaya relatif rendah secara berkelanjutan (22 27 C) sehingga sering disebut parasit musim dingin. Sifat serangannya sangat sporadis karena memiliki kemampuan multiplikasi yang sangat cepat, dan kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 100% dari seluruh populasi dalam tempo yang relatif singkat. Gejala klinis yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif akibat infeksi parasit ini, antara lain: (1) Ikan tampak pucat, nafsu makan berkurang, gerakan lambat dan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding

121 110 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus kolam. Pada infeksi lanjut, ikan tampak megap-megap dan meloncatloncat ke permukaan air untuk mengambil oksigen; dan (2) Gejala khas infeksi parasit ini adalah adanya bercak-bercak putih pada permukaan tubuh ikan. 1.1.b Metazoa Parasit dari golongan metazoa yang sering dilaporkan menginfeksi dan menimbulkan kerugian pada pembenihan ikan baung di Indonesia adalah cacing monogenea (Dactylogyrus spp., Gyrodactylus spp.,) atau sering disebut cacing insang dan cacing kulit/sirip. Cacing insang (Dactylogyrus sp.) merupakan cacing kecil yang bersifat ektoparasit, berkembang biak dengan cara bertelur, dan dalam siklus hidupnya hanya memerlukan satu inang yaitu ikan, dan organ yang menjadi target infeksi adalah insang ikan. Penularan terjadi secara horizontal, terutama pada saat cacing dalam fase berenang bebas (Onchomiracidium) yang sangat infektif. Gejala klinis akibat infeksi kelompok parasit ini yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif, antara lain: (1) Ikan tampak lemah, tidak nafsu makan, pertumbuhan lambat, tingkah laku dan berenang tidak normal, disertai produksi lendir yang berlebihan. Ikan sering terlihat mengumpul di sekitar air masuk, karena pada daerah ini kualitas air terutama kadar oksigen lebih tinggi; dan (2) Insang tampak pucat dan membengkak sehingga operkulum terbuka. Kerusakan pada insang menyebabkan ikan sulit bernapas sehingga tampak megap-megap seperti gejala kekurangan oksigen (Lerssutthichawal dan Hong 2005; Maika et al. 2013; Solichah et al. 2014; Faruk dan Anka 2017; Taukhid 2017). Cacing kulit (Gyrodactylus sp.) bentuknya mirip Dactylogryrus sp. Namun apabila diamati secara mikroskopis terlihat perbedaan yang sangat signifikan. Beberapa karakter yang paling mudah untuk membedakan Gyrodactylus sp. dengan Dactylogyrus sp., antara lain tonjolan pada ujung kepala hanya 2 buah, tidak memiliki mata, dan berkembang biak dengan cara beranak (keturunan ke-1 dan bahkan keturunan ke-2 kadang dapat dilihat dengan jelas). Organ yang menjadi target infeksi adalah kulit dan sirip ikan. Gejala klinis akibat infeksi parasit ini yang dapat digunakan sebagai diagnosa presumtif diagnosa, antara lain: (1) Ikan tampak lemah, tidak nafsu makan, pertumbuhan lambat, tingkah laku dan berenang tidak normal, disertai produksi lendir yang berlebihan; (2) Peradangan pada kulit sehingga tubuh ikan tampak gelap, sering menggosok-gosokkan

122 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA 111 badannya pada benda di sekitarnya, dan sering disertai warna kemerahan di sekitar lokasi penempelan parasit; dan (3) Pada infeksi berat, terkadang parasit ini dapat dilihat dengan mata telanjang di permukaan kulit ikan. Cacing tersebut menempel dan merusak sel epitel atau epidermal tubuh ikan sehingga menimbulkan iritasi yang serius dan selanjutnya digunakan sebagai pintu masuk bagi bakteri atau jamur. 1.2 Jamur Infeksi jamur pada pembenihan ikan baung umumnya merupakan infeksi sekunder, meskipun ada beberapa jenis jamur yang bersifat obligate parasite seperti Aphanomycosis. Namun selama ini belum ada laporan penyakit pada ikan baung yang disebabkan oleh jenis jamur tersebut. Penyakit jamur yang sering dilaporkan menjadi kendala pada pembenihan ikan baung adalah dari famili Saprolegniaceae (Saprolegnia sp. dan Achlya sp.) (Lerssutthichawal 2008; Taukhid et al. 2018). Saprolegniasis disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Beberapa faktor yang memicu terjadinya infeksi jamur, antara lain: penanganan yang kurang baik (terutama transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu, dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kualitas telur buruk/tidak terbuahi, kepadatan telur pada saat penetasan terlalu tinggi, serta adanya iritasi/luka akibat infeksi parasit. Penyakit ini terutama menular melalui spora di air. Gejala klinis yang dapat digunakan sebagai diagnosa sementara adalah terlihat adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan. 1.3 Bakteri Lusiastuti dam Taukhid (2013) dan Taukhid et al. (2015) menyatakan bahwa penyakit bakterial merupakan jenis penyakit yang banyak dilaporkan sebagai penyebab kegagalan usaha perikanan. Dua jenis penyakit bakterial yang sering ditemukan pada pembenihan ikan baung adalah penyakit merah dan penyakit columnaris. Penyakit merah disebabkan oleh bakteri gram negatif (Aeromonas hydrophila dan/atau koinfeksi A. hydrophila dan A. sobria). Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stres akibat berbagai faktor seperti kepadatan, malnutrisi, penanganan kurang baik (handling and transportation), infeksi parasit, eutrofik, oksigen rendah, kualitas air yang buruk, fluktuasi suhu air yang

123 112 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus signifikan, pemijahan, dan lain-lain. Sifat serangan umumnya sub-akut sampai akut, namun apabila kondisi lingkungan terus merosot pada saat terjadi kasus, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%. Gejala klinis penyakit merah sangat bervariasi. Mula-mula warna tubuh kusam/ gelap, nafsu makan menurun, mengumpul dekat saluran pembuangan, kulit kasat, dan ekses lendir. Selanjutnya terlihat perdarahan pada tubuh ikan, baik pada pangkal sirip, ekor, sekitar anus, dan bagian tubuh yang lain. Kemudian sisik lepas, luka, dan akhirnya menjadi borok. Pada infeksi berat, perut lembek, dan bengkak (dropsy) yang berisi cairan merah kekuningan. Ikan mati lemas sering ditemukan di permukaan maupun dasar kolam. Penyakit columnaris atau luka kulit, sirip, dan insang disebabkan oleh infeksi bakteri Flavobacterium columnare (sebelumnya dikenal Flexibacter columnaris). Seperti halnya penyakit merah, infeksi bakteri F. columnare umumnya berkaitan dengan kondisi stres akibat berbagai faktor, fluktuasi suhu air yang signifikan, dan kualitas air yang buruk. Kasus penyakit ini sering terjadi pada kelompok ikan yang baru datang (pascatransportasi). Gejala klinis awal biasanya terjadi luka di sekitar mulut, kepala, badan, atau sirip yang berwarna putih kecokelatan, kemudian berkembang menjadi borok. Infeksi di sekitar mulut terlihat seperti diselaputi benang (threadlike) sehingga awalnya disebut penyakit jamur mulut (mouth fungus) meskipun penyebab yang sebenarnya adalah bakteri. Di bagian pinggir luka tertutup oleh lendir berwarna kuning cerah. Apabila bakteri tersebut menginfeksi insang, respons pertama adalah ekses lendir, kerusakan dimulai dari ujung filamen insang, dan merambat ke bagian pangkal, akhirnya filamen membusuk dan rontok (gill rot). Selain insang, apabila bakteri ini menginfeksi sirip maka sering dicirikan dengan rontok sirip (fin rot). Sifat serangan umumnya sub akut sampai akut, apabila insang yang dominan sebagai organ target, ikan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya dapat mencapai 100%. 2. Penyakit non-infeksi pada pembenihan ikan baung 2.1 Penyakit akibat faktor lingkungan Penyakit non-infeksi akibat faktor lingkungan pada pembenihan ikan baung yang sering menjadi pemicu terjadinya cekaman (stress), bahkan mengakibatkan kematian, antara lain: deplesi oksigen terlarut, fluktuasi

124 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA 113 suhu dan ph, serta tingginya kadar amonia dalam media pemeliharaan (Taukhid et. al. 2018). Meskipun penyakit akibat faktor lingkungan tidak menular, namun efeknya cukup serius karena dampak negatif (fisiologis) serta kematian yang terjadi berlangsung sangat singkat dan umumnya mematikan seluruh populasi ikan. Kisaran parameter kualitas air (fisika-kimia) yang optimal untuk pembenihan ikan baung disajikan pada Tabel 9.1. Tabel 9.1 Kisaran kualitas air (fisika-kimia) determinan yang optimal untuk pembenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) Parameter Oksigen terlarut (mg/l) Kisaran optimal 4 mg/l hingga level jenuh untuk telur, larva, dan benih Sejalan dengan pertumbuhan ikan, alat pernafasan tambahan berkembang dan mampu mengambil oksigen dari permukaan air pada saat konsentrasi oksigen di dalam air relatif rendah. Namun, idealnya pada pembesaran, konsentrasi oksigen terlarut tetap pada level optimal Lebih rendah dari kisaran optimal 0 1,5 mg/l merupakan konsentrasi lethal, terutama apabila berlangsung lama 1,4 5 mg/l-ikan bertahan hidup, tetapi nafsu makan menurun, rasio konversi pakan tinggi, tumbuh lambat, stres, peka terhadap infeksi patogen. Penumpukan limbah toksik karena proses dekomposisi tidak berlangsung (non-oxidised) Lebih tinggi dari kisaran optimal Trauma emboli gas (gas bubble trauma) apabila kadar oksigen super-saturasi hingga mencapai 300% atau lebih

125 114 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Tabel 9.1 Kisaran kualitas air (fisika-kimia) determinan yang optimal untuk pembenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) (lanjutan) Parameter Kisaran optimal Lebih rendah dari kisaran optimal Suhu ( o C) C <15 C pertumbuhan ikan terhenti dan mungkin dapat mengakibatkan kematian C nafsu makan dan pertumbuhan menurun, rasio konversi pakan tinggi Umumnya ikan lebih stress pada suhu rendah, sehingga lebih rentan terhadap penyakit Lebih tinggi dari kisaran optimal Kelarutan oksigen lebih rendah, stres dan pada suhu ekstrem panas dapat mengakibatkan kematian ikan ph 6,5 9 (maksimum) Pada suhu rendah, proses dekomposisi bahan organik melambat, dan berisiko terjadinya lewat subur (eutrophication) < 4, berpotensi mematikan ikan (acid death point) 4 6, ikan mampu bertahan hidup tetapi stres, lambat tumbuh, nafsu makan menurun, dan FCR tinggi Proporsi Total Ammonium Nitrogen (TAN) dalam bentuk terionisasi lebih tinggi, dan sifat toksiknya lebih rendah ph rendah merupakan indikator tingginya kadar karbon dioksida terlarut 9 11 stres berat bagi ikan, laju pertumbuhan rendah > 11, berpotensi mematikan ikan (alkaline death point). Semua organisme dalam kolam, termasuk bakteri akan mati pada ph tersebut Proporsi Total Ammonium Nitrogen (TAN) dalam bentuk tidak terionisasi lebih tinggi, dan sifat toksiknya lebih tinggi

126 115 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA Tabel 9.1 Kisaran kualitas air (fisika-kimia) determinan yang optimal untuk pembenihan ikan baung (Hemibagrus nemurus) (lanjutan) Parameter Alkalinitas dan Kesadahan (mg/l) Total Ammonia Nitrogen (TAN) (mg/l) Kisaran optimal Alkalinitas >20 ppm Kesadahan >20 ppm Total alkalinitas dan total kesadahan lebih dari 60 ppm masih ditoleransi oleh benih baung Tidak lebih dari 0,3 mg/l dalam bentuk toksik (amonia) Proporsi TAN dalam bentuk amonia cenderung meningkat sejalan dengan kenaikan ph di atas 7 Sumber: Taukhid (2017) Lebih rendah dari kisaran optimal Fluktuasi ph ekstrem, ikan stres Ikan dalam kondisi tercekam (fisiologi) Produksi primer kolam rendah, miskin pakan alami Ikan nyaman apabila kadar amonia sangat rendah Lebih tinggi dari kisaran optimal Penyangga ph air, fluktuasi kecil Ikan umumnya nyaman Produksi primer relatif tinggi (pakan alami melimpah, untuk benih) Untuk hatchery patin, sebaiknya dihindari Lebih peka terhadap infeksi parasit (terutama trematoda) Ikan kesulitan untuk mengeluarkan amonia dari darah karena kadar amonia di air sudah tinggi 2.1.a Deplesi oksigen Kekurangan oksigen terlarut sering menjadi masalah pada pembenihan ikan baung. Pada sistem pembenihan yang sepenuhnya dilakukan secara indoor, kondisi ini umumnya terjadi akibat peningkatan biomassa sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ikan yang tidak diimbangi dengan peningkatan pasokan oksigen. Sementara pada sistem pembenihan yang dilakukan secara outdoor, kondisi ini umumnya terjadi menjelang pagi hari di kolam/bak yang memiliki populasi fitoplankton tinggi, atau pada saat tekanan atmosfer rendah dan tidak ada cahaya matahari karena tertutup awan dalam tempo yang cukup lama.

127 116 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus 2.1.b Fluktuasi suhu air yang ekstrem Perubahan suhu air yang ekstrem akan merusak keseimbangan hormonal dan fisiologis tubuh ikan, serta pada umumnya ikan tidak mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan ini yang berakibat stres bahkan kematian mendadak. Sebagian besar ikan budidaya memiliki kemampuan yang tinggi untuk hidup pada kisaran suhu air yang cukup luas yang sulit untuk ditoleransi adalah fluktuasi suhu yang tinggi dalam tempo yang relatif singkat. Kondisi ini sangat sensitif, terutama bagi larva dan benih ikan. 2.1.c Keracunan nitrit Keracunan nitrit atau methemoglobinemia atau penyakit darah cokelat adalah penyakit yang disebabkan oleh konsentrasi nitrit yang tinggi di dalam air. Sumber nitrit terutama berasal dari hasil metabolisme protein pakan oleh ikan. Unsur nitrogen yang dihasilkan oleh tubuh ikan adalah amonia. Pada saat amonia dilepas ke air, selanjutnya dioksidasi oleh bakteri Nitrosomonas yang mampu merubah amonia menjadi nitrit. Nitrit selanjutnya dioksidasi menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobacter. Apabila pakan ikan terlalu intensif atau Nitrobacter kurang efektif mengoksidasi nitrit menjadi nitrat, konsentrasi nitrit meningkat dan selanjutnya menjadi masalah bagi ikan. Nitrit akan bersifat toksik bagi ikan pada konsentrasi 0,5 ppm. Gejala klinis yang tampak pada kondisi keracunan nitrit, antara lain ikan terlihat lemas, meloncat ke permukaan air atau berkumpul di saluran pemasukan air, dan insang berwarna merah kecokelatan karena darah tidak berfungsi membawa oksigen sehingga ikan seperti tercekik. 2.1.d Keracunan amonia Amonia terdapat dalam dua bentuk, yaitu yang tidak terionisasi dan sangat beracun (NH 3 ), serta yang terionisasi dan kurang beracun (NH 4+ ). Mekanisme keracunan amonia berlangsung seperti halnya keracunan nitrit, umumnya akibat pemberian pakan yang berlebihan atau bahan organik. Sementara populasi bakteri pengurai nitrogen yang ada tidak mencukupi. Daya racun amonia sangat dipengaruhi oleh ph dan suhu air. Semakin tinggi ph atau suhu air, maka makin tinggi pula daya racun amonia.

128 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA 117 Gejala klinis yang tampak pada kondisi keracunan amonia secara umum hampir sama dengan keracunan nitrit, yaitu ikan terlihat lemas dan meloncat ke permukaan air atau berkumpul di saluran pemasukan air karena lapisan epitel pada filamen insang tidak berfungsi melakukan proses difusi. 2.1.e Emboli gas (Gas Bubble Disease) Emboli gas adalah kondisi di mana konsentrasi gas lewat jenuh yang ada dalam air keluar dari larutan dan membentuk emboli gas dalam tubuh ikan. Emboli gas tersebut mungkin terjadi di bawah kulit atau dalam pembuluh darah. Emboli di bawah kulit merusak kekompakan kulit sebagai pertahanan utama terhadap infeksi patogen serta menjaga keseimbangan osmotik. Sementara emboli pada pembuluh darah akan membendung aliran darah, terutama pada insang ikan. 2.2 Penyakit malnutrisi Penyakit akibat malnutrisi umumnya jarang menunjukkan gejala yang spesifik sehingga relatif sulit dalam mendiagnosis penyebab utamanya. Meskipun demikian, defisiensi unsur tertentu dalam diet pakan berakibat kelainan morfologis dan fungsi fisiologis, misalnya: (1) Defisiensi asam pantothenic adalah penyakit proliferasi jaringan insang ikan, dengan gejala klinis: insang terlihat lunak dan kesulitan bernapas yang diikuti dengan kematian; (2) Defisiensi vitamin A sering menunjukkan gejala: pertumbuhan lamban, kornea mata lunak, mata menonjol/buta, serta terjadi perdarahan pada kulit dan ginjal; (3) Defisiensi vitamin B-1 (Thiamin) sering menunjukkan gejala: kehilangan nafsu makan, perdarahan dan penyumbatan pembuluh darah, serta nervous; (4) Defisiensi asam lemak esensial sering menunjukkan gejala: erosi sirip, infiltrasi lemak dalam kulit, serta minimnya pigmentasi pada tubuh ikan. Defisiensi vitamin C merupakan penyakit yang umum terjadi, akibat yang paling populer adalah broken back syndrome seperti skoliosis dan lordosis. Vitamin C sangat berperan dalam: (1) proses osifikasi atau konversi tulang rawan menjadi tulang sejati, (2) sebagai ko-enzim reaksi biokimia dalam tubuh, (3) meningkatkan ketahanan tubuh (imunitas) terhadap penyakit infeksius, (4) mencegah pengaruh negatif akibat gangguan lingkungan atau stres, serta (5) mempercepat proses penyembuhan luka.

129 118 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus 2.3 Penyakit genetis Perkawinan sekerabat (inbreeding) yang berlangsung terus menerus berdampak pada penurunan variasi genetik dalam tubuh ikan, antara lain: (1) pertumbuhan yang lambat (kuntet) dan variasi ukuran yang luas (blantik), (2) lebih sensitif terhadap infeksi patogen, (3) organ tubuh invalid, seperti operkulum yang tidak tertutup sempurna, tubuh bengkok, atau tidak memiliki salah satu sirip. PENGENDALIAN PENYAKIT PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG Beberapa teknik pengendalian untuk mengurangi kerugian pada saat terjadi kasus penyakit infeksius pada pembenihan ikan baung menurut Taukhid (2018), sejatinya dapat dilakukan melalui beberapa tindakan, antara lain: (1) Mengurangi porsi pakan. Pada saat terjadi kasus penyakit infeksius, multiplikasi organisme patogen sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan organik, baik yang berasal dari pakan yang tidak termakan ataupun dari kotoran ikan; (2) Mengurangi kepadatan ikan per satuan luas dan/atau volume air. Pengurangan kepadatan berdampak langsung terhadap level cekaman dan konsentrasi patogen dalam populasi ikan tersebut. Menjaga/menambah kadar oksigen terlarut di atas konsentrasi sub-optimal dapat meningkatkan kenyamanan dan mempercepat proses penyembuhan; (3) Menstabilkan fluktuasi parameter kualitas air, terutama suhu dan ph antara siang dan malam. Suhu air yang terlalu panas mempercepat proses multiplikasi bakteri dan dapat mengakibatkan ikan tercekam. Pada kondisi kolam yang terkendali, dapat dilakukan pergantian air yang cukup dan/atau sistem resirkulasi, atau memberikan sebagian penutup (sunscreens) pada kolam pemeliharaan; (4) Pengobatan dengan bahan kimia/antibiotik. Berdasarkan pengalaman, penggunaan bahan kimia/antibiotik untuk pengendalian penyakit infeksius pada pembenihan ikan baung dapat memberikan hasil yang baik apabila dilakukan sedini mungkin pada saat gejala klinis sudah tampak pada kurang dari 10% populasi. Pembudidaya sering melaporkan bahwa penggunaan bahan kimia/antibiotik hanya membantu selama periode aplikasi. Setelah aplikasi berakhir, kematian yang terjadi justru semakin meningkat. Fenomena ini yang sering memicu pembudidaya untuk mengaplikasikan bahan kimia/antibiotik pada periode yang panjang dengan dosis yang lebih tinggi dari yang direkomendasikan.

130 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA Pengobatan penyakit pada benih ikan baung Prinsip-prinsip pengobatan penyakit ikan Taukhid (2018) menyatakan bahwa tindak pengobatan merupakan salah satu dari sekian banyak cara pengendalian penyakit, dan sebaiknya tindakan ini selalu menjadi pilihan terakhir setelah usaha pencegahan gagal dilakukan. Sebelum melakukan tindak pengobatan, maka perlu mempertimbangkan beberapa hal untuk memperoleh hasil yang paling optimal, antara lain: (1) Ketepatan diagnosa terhadap patogen penyebab penyakit. Hasil diagnosa yang salah mengakibatkan tindak pengobatan yang siasia. Sering terjadi, pembudidaya ikan hanya mengandalkan satu jenis obat/antibiotik (misalnya obat A) untuk menanggulangi segala macam masalah penyakit yang terjadi pada ikan yang dibudidayakan. Diagnosa yang tepat dan cepat memudahkan kita untuk mengambil tindakan yang tepat dan efisien. (2) Jenis obat/antibiotik yang hendak digunakan. Dosis efektif serta dampak terhadap lingkungan perairan juga harus diketahui. Dosis obat yang diberikan harus sesuai dengan petunjuk, karena penggunaan dosis yang terlalu rendah kemungkinan besar tidak akan efektif untuk menanggulangi penyakit begitu pula sebaliknya, penggunaan dosis yang terlalu tinggi hanyalah pemborosan. Pembudidaya juga sebaiknya mengetahui dampak negatif dari obat yang digunakan terhadap lingkungan perairan dan kesehatan manusia sehingga aplikasinya lebih hati-hati. (3) Kemudahan memperoleh obat/antibiotik serta harga yang terjangkau. Sering terjadi, berdasarkan hasil riset, jenis obat/ antibiotik tertentu memiliki efektivitas yang baik. Namun untuk mendapatkan jenis obat tersebut tidaklah mudah dan harganya relatif mahal. Apabila hal ini terjadi, maka sebaiknya pembudidaya segera menentukan pilihan untuk mencari jenis obat/antibiotik yang memiliki potensi yang hampir sama namun mudah diperoleh dan harganya relatif murah.

131 120 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus (4) Withdrawal time, yaitu batas akhir pemberian obat sebelum ikan boleh dipanen/dikonsumsi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari residu antibiotik pada daging ikan. Waktu tenggang ini umumnya berkisar antara 2 4 minggu, tergantung jenis antibiotik. (5) Kemungkinan keberhasilan (probability of success) dari tindak pengobatan. Hal ini lebih didasarkan pada pengalaman empiris, intensitas serangan penyakit, serta kondisi ikan. Apabila intensitas serangan masih rendah dan kemungkinan keberhasilan tinggi, segeralah lakukan upaya pengobatan. Namun, apabila dalam satu populasi ikan intensitas penyerangan sudah lebih dari 75%, dan jika dilakukan pengobatan tingkat keberhasilannya sangat kecil, serta secara ekonomi tidak menguntungkan karena biaya pengobatan lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual ikan, segeralah dilakukan pemanenan apabila ukurannya sudah layak jual. Namun apabila tidak layak jual, segeralah lakukan eradikasi total. (6) Teknik pengobatan yang hendak diterapkan. Sedikitnya, ada tiga keuntungan dari penggunaan obat/antibotik yang rasional, yaitu (1) efektivitas obat terhadap patogen target, (2) terhindarinya resistensi mikroba terhadap antibiotik, dan (3) keuntungan ekonomis Teknik pengobatan penyakit ikan Banyak metode yang dapat dilakukan untuk melakukan pengobatan ikan. Aplikasi metode disesuaikan dengan keadaan/sistem budidaya (akuarium, kolam, atau karamba), jumlah, ukuran dan umur ikan, serta pertimbangan ekonomi. Teknik pengobatan melalui perendaman (bath treatment) dan pemberian obat melalui pakan (per oral) merupakan cara yang paling umum dilakukan. Meskipun teknik pengobatan melalui penyuntikan juga sering dilakukan, terutama terhadap ikan yang berukuran relatif besar, ekonomis tinggi, dan jumlahnya relatif sedikit. Taukhid (2018) merangkum teknik pengobatan penyakit ikan yang dianggap cukup aplikatif diterapkan pada budidaya ikan air tawar.

132 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA a Melalui perendaman Pengobatan dengan cara perendaman dapat dilakukan secara langsung di kolam, akuarium, atau secara tidak langsung dengan menggunakan wadah lain. Teknik pengobatan melalui perendaman sendiri sebetulnya dapat dibagi menjadi beberapa teknik, antara lain: (1) Pencelupan (dips), pengobatan dilakukan pada dosis obat yang tinggi misalnya dalam larutan lysol 0,2% atau ppm selama 5 15 detik yang bertujuan untuk pengendalian protozoa dan Gyrodactylus; atau larutan PK pada konsentrasi ppm selama 30 detik untuk menanggulangi infeksi Argulus sp. serta beberapa jenis protozoa. (2) Perendaman jangka pendek (short bath), pengobatan dilakukan pada dosis obat relatif tinggi dalam tempo yang agak lama, misalnya dalam larutan garam dapur pada konsentrasi 2 5 % selama menit untuk menanggulangi beberapa ekto parasit seperti protozoa, cacing, dan jamur untuk ikan-ikan berukuran besar. Sementara untuk ikan-ikan kecil konsentrasinya lebih rendah, yaitu antara 1 1,5% selama 20 menit untuk tujuan serupa. Bahan kimia yang sering digunakan untuk pengobatan dengan teknik ini antara lain: formalin dan methylene blue, tentu saja dengan dosis efektif yang berbeda-beda. (3) Perendaman jangka panjang (long bath), umumnya dilakukan di dalam akuarium, wadah lain (bak beton, kontainer, dan lain-lain), atau kolam dan secara singkat akan dijelaskan sebagai berikut. Perendaman secara langsung di kolam dilakukan dengan cara menuangkan larutan obat ke dalam kolam sesuai dosis yang telah ditentukan. Sementara perendaman tidak langsung dilakukan dengan cara mengambil ikan yang sakit dari kolam, kemudian direndam di dalam wadah lain (misalnya bak beton, kontainer yang terbuat dari fiber glass atau ember). Perendaman secara langsung biasanya dilakukan bila jumlah ikan yang sakit cukup banyak. Sebaliknya bila jumlah ikan yang sakit relatif sedikit, perendaman dapat dilakukan dalam wadah lain. Khusus pengobatan yang dilakukan secara langsung di kolam, terutama kolam tanah, meskipun aplikasinya relatif mudah dan diperlukan lebih sedikit proses penanganan, namun sebetulnya tidak mudah

133 122 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus untuk menghitung secara tepat berapa jumlah obat yang seharusnya dimasukkan ke dalam kolam. Karena aplikasi teknik ini tidak hanya sulit dalam proses pencampuran agar konsentrasi obat merata di setiap kolom air, tetapi juga kemungkinan terjadinya perubahan komposisi obat sebagai hasil interaksi antara air kolam dengan obat atau antara obat dengan substrat, serta unsur-unsur organik dan anorganik yang ada di dalamnya. Tentu saja, obat/antibiotik yang dimasukkan ke dalam kolam tidak hanya beraksi terhadap ikan dan patogen yang menjadi target pengobatan, namun juga terhadap organisme lain yang sebetulnya turut mendukung keseimbangan ekosistem kolam. Untuk menghindari masalah-masalah tersebut, pengobatan melalui teknik perendaman tidak langsung nampaknya dapat dijadikan pilihan. Dosis pengobatan melalui teknik perendaman biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (part per million); 1 ppm = 1 mg obat/l air atau 1 gram obat/m 3 air untuk obat serbuk/padat, sementara untuk obat bentuk cair 1 ppm = 1 ml obat/m 3 air. Sering pula dosis obat dinyatakan dalam persen larutan (%). Misalnya betadin 10%, artinya betadin 10 bagian dicampur dengan air 90 bagian atau 1:10. Apabila sediaan obat (stock solution) telah diketahui konsentrasinya, misalnya larutan methylene blue ppm (mg/l), maka untuk membuat larutan agar sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan dapat dilakukan pengenceran dengan menggunakan formulasi V1.N1 = V2.N2, di mana V1 = volume obat (stock solution) yang harus ditambahkan, N1 = konsentrasi awal obat yaitu ppm, V2 = volume air yang hendak dicampur dengan obat, dan N2 = konsentrasi akhir yang ingin dicapai sesuai dengan dosis pengobatan efektif. Lama perendaman tergantung pada jenis dan konsentrasi obat. Perendaman di kolam ada yang dapat dilakukan terus menerus tanpa perlu menganti air kolam (indefinite treatment) dan ada pula yang harus mengganti air kolam setelah waktu tertentu, misalnya beberapa jam atau beberapa hari setelah aplikasi. Pergantian air dilakukan dengan cara membuang air yang mengandung obat dan menggantinya dengan air baru, dan volumenya berkisar antara 25 75%.

134 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA 123 Selain itu, sebelum aplikasi obat secara langsung, baik di kolam ataupun di wadah lain, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu langkah-langkah sebagai berikut: (1) Tidak memberi pakan kepada ikan selama 6 24 jam sebelum aplikasi obat. Memuasakan ikan sebelum pengobatan bertujuan untuk mengurangi konsumsi oksigen dan produksi amonia. Beberapa jenis obat/antibiotik bersifat mereduksi kemampuan air untuk mengikat oksigen terlarut. Hal ini juga untuk mengantisipasi efek negatif akibat aplikasi obat terhadap ikan (stres), di mana pada kondisi tersebut ikan memerlukan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan pada kondisi normal. Apabila memungkinkan, tingkat kesadahan dan ph air juga sebaiknya diperhatikan karena kesadahan dan ph air yang rendah umumnya akan meningkatkan sifat toksik beberapa jenis obat. (2) Menggunakan wadah plastik untuk mencampur obat terlebih dahulu, hindari penggunaan wadah yang terbuat dari logam galvanis untuk mencampur obat. (3) Mengecek kembali perhitungan dosis obat yang tepat sesuai dengan volume air yang hendak dimasuki obat. (4) Melakukan pengobatan pada saat suhu air terendah, umumnya pada pagi atau malam hari. (5) Melakukan percobaan pengobatan pada skala kecil terlebih dahulu (ember/bak) dengan beberapa ekor ikan, sebelum melakukan pengobatan yang sesungguhnya pada wadah yang lebih besar (kolam). (6) Apabila ikan terinfeksi patogen yang kompleks, misalnya parasit insang dan bakteri, maka pengobatan untuk membasmi parasit tersebut harus didahulukan. Setelah terlihat berhasil, barulah dilakukan untuk jenis patogen lainnya. (7) Evaluasi hasil percobaan pengobatan selama jam, sebelum betul-betul melakukan pengobatan di kolam. (8) Perhatikan kondisi ikan secara rutin selama pengobatan dan segera ambil tindakan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (keracunan, overdosis, kematian, dan lain-lain).

135 124 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus (9) Pengobatan ulang sebaiknya hanya dilakukan apabila memang benar-benar diperlukan b Melalui pakan Pengobatan melalui pakan merupakan salah satu metode yang sering dilakukan karena sedikit sekali menimbulkan stres pada ikan. Tetapi pada kenyataannya, metode ini hanya efektif pada tahap awal infeksi patogen, di mana ikan masih memiliki nafsu makan. Pada infeksi lanjut, nafsu makan ikan sangat rendah dan bahkan sama sekali tidak mau makan sehingga tidak dapat dilakukan pengobatan melalui teknik ini. Pengobatan melalui pakan ini biasanya digunakan untuk obat-obatan jenis antibiotik. Dosis obat biasanya dinyatakan dalam mg obat/kg pakan (bila ikan berukuran kecil dan dalam jumlah banyak) atau mg obat/kg bobot tubuh ikan (bila ikan berukuran besar). Contoh penghitungan obat yang diberikan melalui pakan dengan dosis obat mg/kg pakan dan dosis obat dalam satuan mg/kg bobot tubuh ikan. Contoh penghitungan obat yang diberikan melalui pakan dengan dosis obat mg/kg pakan. 1. Hasil diagnosa telah diketahui bahwa populasi ikan yang sakit terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Langkah pengobatan akan dilakukan melalui pakan dengan menggunakan oksitetrasiklin (OTC) pada dosis 50 mg/kg pakan, dan pemberian obat akan dilakukan selama 10 hari berturut-turut. 2. Data ikan Jumlah ikan ekor, bobot rata-rata 50 g/ekor = total biomassa 500 kg Pakan yang diberikan sebanyak 3% bobot biomassa/hari = 3% x 500 kg = 15 kg/hari Jumlah obat (OTC) yang diperlukan untuk 10 hari pengobatan = 10 x (50 mg x 15) = mg = 7,5 g Penghitungan obat yang diberikan melalui pakan dengan dosis obat mg/kg bobot tubuh ikan pada prinsipnya adalah sama dengan contoh penghitungan di atas, faktor yang menjadi variabel adalah bobot tubuh ikan.

136 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA 125 Sedikitnya ada tiga keunggulan dari teknik pengobatan melalui pakan bila dibandingkan dengan teknik pegobatan melalui perendaman, yaitu (1) jumlah obat yang dibutuhkan relatif lebih sedikit, (2) efek negatif terhadap lingkungan perairan juga relatif lebih kecil, dan (3) dapat diaplikasikan pada ikan yang dipelihara dalam karamba jaring apung di perairan umum (danau, waduk, sungai), di mana hal ini sulit dilakukan melalui teknik perendaman secara langsung. Namun karena salah satu kendala aplikasi obat melalui pakan adalah tergantung pada nafsu makan ikan yang diobati, maka berikut adalah strategi pengobatan melalui pakan. (1) Segeralah dilakukan pengobatan apabila terlihat adanya gejala penyakit (tentu saja setelah ada hasil diagnosa, atau paling tidak presumtif diagnosa). Tidak hanya infeksi patogen bakterial yang dapat diobati dengan teknik ini, karena akibat infeksi patogen parasitikpun dapat dilakukan pengobatan melalui pakan. (2) Apabila diduga akibat infeksi patogen bakterial, gunakan jenis antibiotik yang memiliki spektrum luas (broad spectrum) dan dosis yang relatif tinggi. Hal ini untuk mengantisipasi bahwa terkadang jenis antibiotik yang memiliki efektivitas tinggi tidak mudah diperoleh secara bebas dan cepat, dan untuk memperolehnya memerlukan izin dari otoritas dokter hewan atau pihak yang telah ditunjuk. (3) Pelaku budidaya harus mampu melakukan sendiri teknik mencampur obat ke dalam pakan yang hendak diberikan. Teknik yang umum dilakukan adalah mencampur obat dengan minyak sayur, kemudian dicampur dengan pakan dan dikeringkan (diangin-anginkan) sebelum diberikan kepada ikan. Sebaiknya pencampuran obat dilakukan tidak terlalu lama dari jadwal pemberian pakan, karena jenis-jenis antibiotik tertentu menurun efektivitasnya dalam 24 jam setelah dicampur dengan pakan c Aplikasi langsung ke tubuh ikan (penyuntikan dan oles) Penyuntikan (injection) Apabila ikan yang sakit jumlahnya relatif sedikit dan ukuran ikan cukup besar, maka pengobatan dengan cara penyuntikan (injection) merupakan alternatif pengobatan yang dapat dilakukan. Keuntungan

137 126 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus pengobatan melalui penyuntikan adalah penggunaan obat sangat efisien dan ketepatan dosisnya dapat diandalkan. Penghitungan dosis obat untuk teknik ini umumnya dinyatakan dalam satuan mg obat/kg bobot tubuh. Ada dua cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal, IP) dan dimasukkan ke otot/daging (intra muscular, IM). Penyuntikan secara IP biasanya dilakukan di bagian perut, di antara kedua sirip perut atau sedikit di depan anus, dengan sudut kemiringan jarum suntik (needle) kira-kira 30. Penyuntikan secara IM biasanya dilakukan di bagian punggung, pada ikan yang bersisik biasanya dilakukan di sela-sela sisik ke 3 5 dari kepala, dengan sudut kemiringan jarum suntik kira-kira Penyuntikan secara IP secara teoritis memberikan hasil yang lebih baik karena obat akan terdistribusi lebih cepat. Namun cara ini memerlukan keterampilan khusus, terutama pada saat menusukkan jarum ke rongga perut. Apabila jarum yang masuk terlalu dalam dan sudut kemiringannya tidak tepat, ada kemungkinan obat akan masuk ke usus atau gonad, dan dapat menusuk organ-organ internal lainnya. Sementara penyuntikan secara IM, meskipun distribusi obat relatif lebih lambat namun pelaksanaannya lebih mudah dan aman. Satu hal yang perlu diperhatikan, di dalam cairan obat yang telah dimasukkan ke dalam alat suntik tidak boleh ada gelembung udara karena hal ini dapat berakibat fatal yaitu mematikan ikan. Jarum suntik yang digunakan berukuran relatif kecil (nomor 22 27½, tergantung ukuran ikan) dan untuk mengurangi stres serta mempermudah penanganan ikan yang hendak diobati, sebaiknya sebelum penyuntikan dilakukan pembiusan (anestesi) terlebih dahulu. Ada beberapa jenis anestesi yang sering digunakan untuk membius ikan, antara lain benzocaine (ethyl aminobenzoate) pada dosis ppm, methyl quinoline pada dosis ppm, dan phenoxyethanol (2-phenoxyethanol) pada dosis ppm. Phenoxyethanol pada dosis tersebut sering tidak menunjukkan efek bius, tetapi ikan hilang keseimbangannya dan tidak mampu berenang.

138 PENYAKIT POTENSIAL PADA PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DAN PENGENDALIANNYA Desinfeksi Desinfeksi dimaksudkan untuk mensuci-hamakan seluruh komponen yang hendak digunakan dalam proses produksi ikan, meliputi peralatan, kolam/wadah, air yang hendak digunakan, ikan dan telurnya, pelaksana, dan lain-lainnya. Sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk membunuh semua jenis mikroorganisme (parasit, bakteri, virus, jamur, serta organisme pengganggu lainnya), maka dosis bahan kimia (desinfektan) yang diterapkan umumnya relatif tinggi. Desinfeksi juga dapat diartikan untuk memutus rantai penularan (horizontal and vertical transmission), misalnya telur-telur ikan yang hendak ditetaskan dapat didesinfeksi dengan larutan methylene blue 3 5 ppm atau betadin 1%. Pada saat transportasi ikan tanpa pembiusan, ikan biasanya mengalami stres sehingga lebih mudah terinfeksi patogen. Apalagi bila di dalam wadah pengangkutan terdapat ikan yang sakit. Untuk mencegah penularan selama transportasi, sering digunakan larutan Acriflavin 4 ppm atau garam dapur ppm. Jenis-jenis desinfektan yang sering digunakan dalam budidaya ikan jumlahnya cukup banyak, dari yang mudah diperoleh dan relatif murah hingga yang sulit diperoleh dan relatif mahal harganya. Aplikasi dapat dilakukan melalui perendaman, penaburan, penyemprotan, dan bahkan ada yang melalui pengelapan (terutama untuk bak beton/ akuarium/ fiber glass tank). DAFTAR PUSTAKA Faruk AR, Anka IZ An overview of diseases in fish hatcheries and nurseries. Fundamental and Applied Agriculture 2(3): Lerssutthichawal T, Hong SLL Diversity of freshwater monogeneans from siluriform fishes of Thailand. In Walker P, Lester R, Bondad- Reantaso MG. (Eds). Diseases in Asian Aquaculture V. Manila (PH): Fish Health Section, Asian Fisheries Society. pp Lerssutthichawal T Diversity and distribution of external parasites from potentially cultured freshwater fishes in Nakhonsithammarat, southern Thailand. pp In Bondad-Reantaso MG, Mohan CV, Crumlish M, Subasinghe RP. (Eds.). Diseases in Asian Aquaculture VI. Manila (H): Fish Health Section, Asian Fisheries Society. 505p.

139 128 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Lom J, Dykova I Protozoan Parasites of Fishes. Development in Aquaculture and Fisheries Science 26. Elsevier Amsterdam London New York Tokyo. 315p. Lusiastuti AM, Taukhid Direktori Herbal untuk Pengelolaan Kesehatan Ikan Air Tawar. Bogor (ID): PT IPB Press. Maika N, Kaur P, Borana K Distribution of helminth parasites in Bagridae catfishes (Order Siluriformes). JECET 2(2): Solichah L, Taukhid, Wibawa GS Inventarisasi dan identifikasi patogen potensial yang menginfeksi ikan rainbow (Melanotaenia sp.). Jurnal Riset Akuakultur 9(1): Suhenda N, Samsudin R, Nugroho E Pertumbuhan benih ikan baung (Hemibagrus nemurus) dalam karamba jarring apung yang diberi pakan buatan dengan kadar protein berbeda. Jurnal Iktiologi Indonesia 10(1): Taukhid Taslihan A, Lusiastuti AM Prospek vaksinasi pada perikanan budidaya di Indonesia. Prosiding Indoaqua-Forum Inovasi Teknologi Akuakultur Taukhid, Purwaningsih U, Sugiani D, Sumiati T, Lusiastuti AM Efikasi vaksin in-aktif bakteri Aeromonas hydrophila-ahl (HYDROVAC) dan Streptococcus agalactiae-n14g (STREPTOVAC) untuk pencegahan penyakit bakterial pada budidaya ikan air tawar. Jurnal Riset Akuakultur 10(4): Taukhid Penyakit dan vaksinasi pada budidaya ikan air tawar. Makalah pada Pelatihan Pengelolaan Kesehatan Ikan bagi Pembudidaya Ikan Air Tawar. Bogor (tidak dipublikasikan). Taukhid Pengenalan dan pengobatan penyakit ikan air tawar. Makalah pada Pelatihan Pengelolaan Kesehatan Ikan bagi Pembudidaya Ikan Air Tawar. Bogor (tidak dipublikasikan). Taukhid, Lusiastuti AM, Hastuti MS, Rahman A, Setyowati D, Sugiani D, Sukowati AS Buku Saku Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta (ID): Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 234p.

140 10.APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Angela Mariana Lusiastuti, Nunak Nafiqoh, dan Septyan Andriyanto Vaksin adalah suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme (bakteri atau virus dan produknya), komponen mikroorganisme yang telah dilemahkan, dimatikan atau rekayasa genetika, dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktif. Vaksinasi merupakan suatu upaya preventif untuk meningkatkan kekebalan pada tubuh ikan secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga apabila ikan terpapar mikroorganisme patogen, tubuh ikan akan mampu melawan infeksi jenis patogen tersebut (Ellis 1998). Vaksinasi didasarkan pada prinsip: ketika mikroorganisme patogen (misalnya bakteri atau virus) menginfeksi inang, maka sistem kekebalan tubuh inang bereaksi untuk mengeliminasinya. Bila ikan terpapar kembali dengan mikroorganisme yang sama, maka sistem kekebalan inang memberikan respons imun yang lebih baik karena sudah mengenal antigen tersebut. Hal ini yang disebut sebagai respons memori atau kekebalan adaptif. Vaksinasi meniru mekanisme infeksi patogen dan merangsang sistem kekebalan ikan dalam melawan patogen tersebut, tetapi vaksin tidak menyebabkan penyakit. Probiotik didefinisikan sebagai mikroba hidup yang mempunyai efek menguntungkan pada inang dengan memodifikasi komunitas mikroba di dalam tubuh inang, memperbaiki kualitas pakan atau meningkatkan nilai nutrisinya, meningkatkan respons inang terhadap penyakit atau memperbaiki kualitas lingkungan media budidaya (Verschuere et al. 2000). Keuntungan yang diperoleh inang dari probiotik melalui produksi komponen penghambat

141 130 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus patogen, kompetisi pada sisi perlekatan saluran cerna, nutrisi dan sumber energi, memperoleh nutrien dan enzim untuk digesti saluran cerna, meningkatkan respons imun, memperbaiki kualitas air, berinteraksi dengan fitoplankton, dan mempunyai aktivitas sebagai antivirus (Verschuere et al. 2000; Sahu et al. 2008; Son et al. 2009; Chiu et al. 2010; Sun et al. 2010). Bakteri probiotik diduga dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk perbaikan pertumbuhan dan kelulushidupan, pencegahan, serta pengendalian berbagai jenis penyakit di akuakultur (Son et al. 2009; Chiu et al. 2010; Sun et al. 2010). Probiotik sebagai alternatif untuk mengganti penggunaan antibiotik dan bahan kimia lain yang tidak hanya membunuh dan menghambat patogen pada ikan tetapi juga semua bakteri yang menguntungkan dalam media budidaya (Sahu et al. 2008). Menurut Rainboth (1996), Hemibagrus nemurus atau Asian redtail catfish diidentifikasi sebagai Mystus nemurus, serta secara lokal disebut sebagai ikan baung. H. nemurus sebagai ikan akuarium bernilai ekonomis dan secara komersial dibudidayakan sebagai ikan konsumsi dalam perdagangan karena bergizi tinggi dan dagingnya mempunyai rasa yang enak (Chong et al. 2000). Namun, penyakit menjadi kendala utama pada budidaya dan memengaruhi perkembangan ekonomi serta sosio-ekonomi di berbagai negara (Subasinghe 2005). Penyakit bakterial merupakan penyebab infeksi utama pada jenis ikan catfish (Al Dohail et al. 2009). Patogen dari genus Aeromonas umum ditemukan pada ikan air tawar di Malaysia, seperti A. hydrophila (69,6%), A. caviae (8,7%), dan A. sobria (21,7%) (Freshwater Fisheries Research Centre 2004). JENIS VAKSIN YANG DAPAT DIAPLIKASIKAN PADA IKAN BAUNG Vaksin harus mampu menginduksi respons imun dalam level yang cukup untuk melindungi ikan dari serangan patogen tertentu. Kemampuan vaksin dalam menginduksi kekebalan sangat tergantung dari proses pembuatan antigennya (Ellis 1998). Berdasarkan proses pembuatan/sediaannya, vaksin dapat digolongkan menjadi: 1. Vaksin in-aktif, yaitu vaksin yang dibuat dari mikroorganisme yang telah dimatikan (in-aktif). Jenis sediaan vaksin yang paling banyak dipakai untuk vaksinasi ikan adalah bakteri utuh yang diinaktivasi dengan

142 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 131 menggunakan formalin atau pemanasan. Jenis vaksin ini sangat efektif menginduksi respons antibodi humoral, tetapi kurang efektif merangsang kekebalan selular maupun respons mukosal. Beberapa contoh vaksin jenis ini adalah vaksin Vibrio anguillarum, V. ordalii, V. salmonicida, dan Yersinia ruckerii. 2. Vaksin hidup yang dilemahkan ( live-attenuated vaccine), yaitu vaksin yang dibuat dari mikroorganisme hidup yang dilemahkan. Sistem kekebalan inang terpapar dengan antigen dalam waktu yang lama sehingga efektif dalam merangsang sistem kekebalan selular dan menginduksi respons memori. Namun, kelemahan vaksin jenis ini adalah adanya kemungkinan mikroorganisme menjadi ganas kembali. Hal inilah yang menyebabkan vaksin hidup sulit mendapatkan izin untuk digunakan secara komersial. Namun demikian, dengan kemajuan dalam bidang rekayasa genetik maka gen penyebab virulensi dapat dihilangkan sehingga kecil kemungkinan mikroorganime dapat menjadi ganas kembali. 3. Vaksin sub-unit, yaitu vaksin yang dibuat dari bagian/komponen mikroorganisme misalnya molekul makro kapsul polisakarida, exotoksin, atau protein rekombinan hasil rekayasa genetik. Vaksin rekombinan diperoleh dengan mengkloning gen dari suatu patogen ke dalam bakteri atau jamur. Bakteri/jamur inilah yang menjadi pabrik untuk memproduksi protein imunogenik. Teknologi vaksin rekombinan sangat cocok dipakai untuk membuat vaksin dari patogen yang sulit dikultur masal seperti virus, Piscirickettsia, dan Renibacterium salmoninarum. Vaksin rekombinan yang sudah digunakan secara komersial adalah vaksin yang menggunakan gen VP2 untuk melindungi ikan salmon dari virus infectious pancreatic necrosis (IPN) di Norwegia. Gen VP2 adalah bagian dari komponen mikroorganisme yang digunakan sebagai vaksin sehingga kekhawatiran mikroorganisme menjadi ganas kembali seperti pada vaksin hidup dapat dihindari. 4. Vaksin DNA, yaitu vaksin yang dibuat dari DNA (gen) yang mengkode protein imunogenik dari patogen target. Gen imunogenik dari suatu patogen dikloning ke dalam plasmid, dan plasmid ini kemudian disuntikkan ke ikan. Gen akan terekspresi secara extrachromosomal (di luar kromosom ikan) untuk memproduksi protein imunogenik yang merangsang sistem kekebalan ikan dan melindungi ikan dari serangan penyakit tertentu. Plasmid yang mengandung gen yang mengkode

143 132 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus glikoprotein dan nucleocapsid protein terbukti dapat melindungi ikan dari serangan penyakit virus, antara lain infectious hematopoietic necrosis (IHN), viral hemorrhagic septicaemia (VHS), dan koi herpes virus (KHV). Vaksin DNA dapat menginduksi respons imun spesifik melalui antibodi, sel T-helper, dan sel sitotoksik. Vaksin DNA mempunyai beberapa keunggulan dibanding vaksin konvensional, antara lain mudah disimpan dan dipakai, walaupun biaya risetnya mahal tetapi biaya produksi vaksinnya murah, dan tidak ada risiko patogen menjadi ganas kembali. Sampai saat ini, vaksin DNA masih mengalami hambatan dalam hal perizinan karena adanya anggapan bahwa vaksin DNA adalah GMO (genetically modified organism). Tidak semua penyakit dapat dikendalikan dengan vaksin konvensional, beberapa patogen belum berhasil dibuat vaksinnya sehingga diperlukan pendekatan baru dalam pengembangan vaksin untuk jenis patogen seperti itu. Misalnya, antigen Aeromonas salmonicida terbukti sangat lemah dan tidak dapat memberikan perlindungan ikan yang divaksin terhadap serangan penyakit furunculosis sehingga perlu ditambahkan adjuvan ke dalam vaksin untuk meningkatkan tingkat perlindungan (level of protection) dan lamanya kekebalan (duration of immunity) vaksin tersebut. Cara adjuvan bekerja sebagai berikut: 1) antigen teremulsi di dalam butiran minyak adjuvan sehingga adjuvan sebagai depot penyimpanan bagi antigen di dalam butiran minyak. Pada saat emulsi ini pecah di dalam rongga perut ikan, antigen terlepas secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama dan menghasilkan respons imun yang lebih kuat pada ikan; 2) adjuvan menimbulkan respons inflamasi (peradangan) dalam perut ikan sehingga menarik leukosit ke lokasi penyuntikan. Leukosit akan mengambil antigen dan membawanya ke jaringan limfoid dan berperan sebagai antigen-presenting cell dan menyajikan antigen ini ke sel limfosit. Sel limfosit adalah sel yang berperan besar dalam produksi respons imun spesifik dan memori imunologi terhadap patogen. Menurut Ellis (1998), vaksin ikan untuk ikan baung yang digunakan harus memenuhi persyaratan berikut: (a) aman bagi ikan, lingkungan perairan dan konsumen; (b) harus spesifik untuk patogen tertentu; (c) harus dapat melindungi ikan (protective duration) dalam waktu yang lama, minimal selama periode pemeliharaan (siklus produksi); (d) harus mudah didapat, aplikatif, dan ekonomis; dan (e) telah berlisensi atau memiliki nomor registrasi. Keberhasilan pencegahan penyakit infeksius pada budidaya ikan

144 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 133 baung melalui vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh keampuhan dari vaksin yang digunakan, tetapi juga sangat ditentukan oleh bagaimana dan kapan sebaiknya vaksin itu diberikan. Beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan aplikasi vaksin pada ikan baung, antara lain: 1. Vaksin harus diberikan melalui teknik yang direkomendasikan oleh produsen, misalnya melalui perendaman, dan/atau pakan, dan/atau penyuntikan. 2. Pemberian vaksin yang pertama kali ( priming) umumnya hanya mampu memberikan level proteksi untuk periode 2 3 bulan setelah pemberian sehingga untuk mendapatkan level proteksi yang lebih lama diperlukan vaksinasi ulang (booster). 3. Vaksinasi harus mempertimbangkan umur/ukuran ikan yang rentan terhadap jenis penyakit yang menjadi target untuk dicegah, serta saat/ musim munculnya penyakit tersebut sehingga pemberian vaksin dapat memberikan manfaat (efektif dan protektif) yang maksimal pada saat penyakit tersebut muncul. 4. Prosedur transportasi, penyimpanan, dan aplikasi vaksin sesuai dengan yang direkomendasikan oleh produsen. Selain hal tersebut di atas, beberapa persyaratan umum yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi sebagai berikut (Ellis 1998): Ikan minimal berumur 2 minggu atau lebih (apabila diberikan melalui perendaman dan/atau pakan), karena pada umur kurang dari 2 minggu, perkembangan organ yang berperan dalam sistem pembentukan antibodi belum sempurna. Organ-organ yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh ikan meliputi reticulo endothelial (ginjal bagian depan, thymus, limfa, dan hati), limfosit, plasmosit, dan fraksi serum protein tertentu. Aplikasi vaksin melalui penyuntikan harus menyesuaikan antara ukuran ikan dan jarum suntik (needle), dosis yang diberikan, serta memastikan vaksinasi aman secara anatomis (misalnya tidak mengakibatkan abses atau luka yang serius).

145 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Status kesehatan ikan harus dalam kondisi baik, ikan yang sedang mengalami cekaman (stres) dan/atau ikan yang sedang sakit misalnya karena terinfeksi jenis patogen tertentu, sebaiknya tidak divaksinasi terlebih dahulu sebelum benar-benar sehat. Vaksinasi dilakukan pada suhu 25 C karena respons antibodi yang terbentuk akan lebih cepat dibandingkan dengan suhu air yang lebih rendah. Air rendaman untuk melakukan vaksinasi dan media budidaya selama periode induksi kekebalan harus bebas dari cemaran. Air yang mengandung cemaran akan menghambat proses pembentukan antibodi (immunosuppressif) dalam tubuh ikan. APLIKASI VAKSIN PADA IKAN Secara umum, vaksinasi pada ikan dapat diberikan melalui perendaman, pakan, dan penyuntikan. Perendaman Teknik ini sangat ideal untuk benih ikan dalam jumlah cukup banyak. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass, akuarium, atau ember plastik. Selama proses vaksinasi, sebaiknya dilengkapi dengan aerasi dan kepadatan ikan tidak terlalu tinggi (antara g/l air). Dosis vaksin adalah 100 ml dilarutkan dalam L air, atau 1 ml vaksin dalam 10 L air. Pengamatan tingkah laku ikan selama proses vaksinasi dilakukan secara cermat. Apabila terlihat ikan yang mengalami masalah, segera dipindahkan ke air segar. Ikan yang sudah divaksin sesuai dengan waktu perendaman (30 45 menit) dapat segera dipindahkan ke wadah/kolam pemeliharaan. Air bekas rendaman vaksin masih dapat digunakan untuk memvaksin ikan lainnya dengan kepadatan dan periode perendaman yang sama (30 45 menit). Sebelum sediaan vaksin yang telah dilarutkan dengan air tidak lebih dari 120 menit (2 jam), larutan vaksin tersebut masih bekerja dengan baik. Namun apabila pencampuran antara sediaan vaksin dengan air telah melebihi 120 menit, efektivitas vaksin telah menurun.

146 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 135 Pakan ikan (pelet) Teknik ini lebih sesuai untuk ikan-ikan yang sudah dipelihara dalam kolam pemeliharaan ataupun sebagai upaya vaksinasi ulang (booster). Teknik mencampur vaksin dengan pakan ikan yang umum dilakukan adalah sediaan vaksin tersebut diencerkan beberapa kali dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata (tidak terlalu basah), dikeringkan dengan cara dianginanginkan, dan selanjutnya langsung diberikan kepada ikan. Vaksin yang telah disemprotkan ke pakan akan lebih baik apabila diselaputi putih telur terlebih dahulu, dikeringkan, dan kemudian baru diberikan kepada ikan. Sebaiknya pencampuran vaksin dilakukan tidak terlalu lama dari jadwal pemberian pakan. Dosis vaksin yang diberikan melalui pakan adalah 2 ml/kg bobot tubuh ikan, dan diberikan selama 5 7 hari berturut-turut. Penyuntikan Keuntungan pemberian vaksin melalui penyuntikan adalah 100% vaksin dapat masuk ke dalam tubuh ikan. Ikan yang akan divaksin harus memiliki ukuran yang sesuai. Vaksinasi melalui penyuntikan harus dapat memastikan bahwa ikan harus nyaman selama proses vaksinasi dan pembiusan mungkin diperlukan. Penyuntikan dilakukan dengan dua cara, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal) dan ke otot/daging (intra muscular). Penyuntikan secara intra peritoneal (IP) biasanya dilakukan di bagian perut, di antara kedua sirip perut atau sedikit di depan anus dengan sudut kemiringan jarum suntik (needle) kira-kira 30. Penyuntikan secara intra muscular (IM) biasanya dilakukan di bagian punggung, pada ikan yang bersisik biasanya dilakukan di sela-sela sisik ke 3 5 dari kepala, dengan sudut kemiringan jarum suntik sekitar Dosis vaksin Hydrovac yang diberikan melalui penyuntikan adalah 0,1 ml/ekor ikan atau 0,2 ml/kg bobot tubuh ikan. Periode induksi dan durasi kekebalan spesifik vaksin Secara teoritis, vaksinasi pada ikan umumnya memerlukan waktu antara 2 3 minggu untuk membentuk/memproduksi kekebalan spesifik (antibodi) sesuai dengan tipe antigen yang dimasukkan ke dalam tubuh ikan. Hal ini berarti bahwa apabila persyaratan dan prosedur vaksinasi telah dilakukan dengan baik dan benar, maka kinerja dari vaksin tersebut baru dapat diandalkan

147 136 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus setelah 2 3 minggu pascapemberian vaksin. Kinerja vaksin Hydrovac pada ikan sudah terdeteksi pada awal minggu ke-2 sampai ke-6 dan pada mulai minggu ke-7 sampai ke-8 sudah mulai mengalami penurunan level proteksi. Level proteksi dapat ditingkatkan hingga masa pemeliharaan yang lebih lama (3 8 bulan) melalui vaksinasi ulang (booster) yang diberikan cukup sekali hingga akhir masa pemeliharaan. Vaksin Hydrovac Vaksin Hydrovac merupakan vaksin yang dapat diaplikasikan pada ikan baung. Penemuan vaksin Hydrovac diawali pada tahun 1980-an ketika terjadi wabah penyakit bakterial pada ikan air tawar yang menyerang beberapa jenis ikan (lele, mas, gurame, betutu, dan gabus) dari berbagai ukuran. Wabah tersebut bermula dari daerah Jawa Barat dan akhirnya meluas ke seluruh wilayah Indonesia dengan tingkat kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah pada saat itu. Hasil studi epidemiologi disimpulkan bahwa patogen yang dianggap paling bertanggung jawab atas kasus tersebut adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Sejak saat itu, penelitian dan kajian tentang biologi, karakterisasi, serta mekanisme serangan penyakit tersebut dilakukan secara intensif untuk mendapatkan teknologi penanggulangannya yang paling rasional, murah, aman, efisien, dan efektif. Hingga pada akhirnya ditemukan vaksin monovalen anti-aeromonas hydrophila yang mampu bekerja untuk pencegahan infeksi jenis bakteri tersebut. Gambar 10.1 Vaksin Hydrovac

148 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 137 Seluruh koleksi isolat bakteri A. hydrophila yang ada di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) yang diperoleh dari beberapa wilayah pengembangan perikanan budidaya air tawar di Indonesia, diseleksi (screening) dan diuji secara laboratoris untuk tujuan pembuatan vaksin. Isolat-isolat bakteri tersebut diberi pengkodean sebagai berikut: jenis bakteri dan jenis ikan yang terinfeksi, kemudian diikuti dengan waktu isolasi pertama kali dilakukan, serta spesimen ikan yang ke-x, misalnya: AHM (Aeromonas hydrophila yang diisolasi dari ikan mas dan pertama kali diisolasi pada bulan Juni tahun 2005 pada spesimen ikan yang ke-2, dan seterusnya). Pengujian dilakukan terhadap seluruh koleksi isolat bakteri yang meliputi beberapa aspek, yaitu: (1) Karakterisasi melalui uji bio-kimia; (2) Patogenisitas terhadap beberapa spesies ikan yang dijadikan model, yaitu ikan mas, lele dan gurame; (3) Potensi imunogenisitas; serta (4) Potensi reaksi silang (cross-reactivity) antara satu isolat terhadap isolat-isolat lainnya (Frerichs dan Millar 1993; Movahedi dan Hampson 2008). Dari ke-32 isolat bakteri Aeromonas spp. yang merupakan koleksi Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BALITKANWAR), berdasarkan hasil karakterisasi melalui uji biokimia diketahui bahwa keseluruhannya merupakan bakteri A. hydrophila. Di bawah ini adalah beberapa contoh hasil karakterisasi selengkapnya dari uji biokimia disajikan pada Tabel Tabel 10.1 Hasil uji biokimia terhadap 32 isolat bakteri Aeromonas spp. yang diperoleh dari kasus penyakit ikan air tawar (isolat 1 4) Karakter Kode isolat AHM AHM AHM AHM Bentuk Batang pendek Batang pendek Batamg pendek Batang pendek Motilitas Gram Hidrolisi Esculin Voges-Proskauer Tumbuh pada 37 C Pigmen coklat difus β-galactosidase Arginine dihydrolase Lysine decarboxylase d d + +

149 138 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Tabel 10.1 Hasil uji biokimia terhadap 32 isolat bakteri Aeromonas spp. yang diperoleh dari kasus penyakit ikan air tawar (lanjutan) Karakter Ornithine decarboxylase Kode isolat AHM AHM AHM AHM Simmons citrate d d d d Produksi H2S Urease Indol Hidrolisis gelatin Hidrolisis Aesculin Tumbuh pada KCN Asam dari: Arabinose d d + d Glucose Inositol Mannitol Salicin Sorbitol d d d d Sucrose Hemolysis (TSA + 5% eritrosit darah kambing ) Aeromonas hydrophila Aeromonas hydrophila Catatan: + (positif), - (negatif), d (reaksi bervariasi) Aeromonas hydrophila Aeromonas hydrophila

150 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 139 Tabel 10.1 Hasil uji biokimia terhadap 32 isolat bakteri Aeromonas spp. yang diperoleh dari kasus penyakit ikan air tawar (lanjutan) (isolat 9 12) Karakter Kode isolat AHM AHL AHL AHL Bentuk Batang pendek Batang pendek Batang pendek Batang pendek Motilitas Gram Hidrolisis Aesculin Voges-Proskauer Tumbuh pada 37 C Pigmen coklat difus β-galactosidase Arginine dihydrolase Lysine decarboxylase + d + d Ornithine decarboxylase Simmons citrate D d d d Produksi H 2 S Urease Indol Hidrolisis Gelatin Hidrolisi Aesculin Tumbuh pada KCN Asam dari Arabinose Glucose Inositol Mannitol Salicin Sorbitol d d d d Sucrose Hemolisis (TSA + 5% eritrosit kambing) Aeromonas hydrophila Aeromonas hydrophila Catatan: + (positif), - (negatif), d (reaksi bervariasi) Aeromonas hydrophila Aeromonas hydrophila

151 140 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Tabel 10.1 menunjukkan bahwa isolat AHL lebih potensial sebagai kandidat vaksin dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut menjadi vaksin. Inilah cikal bakal diciptakannya vaksin Hydrovac. Aplikasi vaksin Hydrovac di lapang untuk ikan air tawar (Anonim, 2015) Aplikasi vaksin Hydrovac tahun 2009 dilakukan di beberapa dinas dan UPT di bawah Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan diperoleh data-data sebagai berikut: bahwa vaksin Hydrovac memberikan hasil yang menggembirakan bagi para pembudidaya ikan lele, gurame, nila, patin, dan ikan mas di wilayah Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor dengan memperoleh tingkat kelangsungan hidup ikan berkisar antara 89 90% (Taukhid et al. 2012). Laporan dari Dinas Pertanian Kota Metro Lampung yang mengaplikasikan Hydrovac pada ikan lele dan ikan patin dengan ukuran 5 7 cm melalui rute perendaman memperoleh tingkat kelangsungan hidup ikan sebesar 90 95%. BBPBAT Sukabumi melaporkan penggunaan vaksin Hydrovac pada berbagai ukuran dan berat ikan yang diaplikasikan melalui rute perendaman dan melalui pakan yang disajikan pada Tabel Tabel 10.2 Penggunaan vaksin Hydrovac di wilayah BBPBAT Sukabumi Jenis Ikan Ukuran Ikan (cm) Berat Ikan Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Lele Lele g Lele g 97 Lele - 20 g 95 Mas - 1,8 2,5 kg 100 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis melakukan aplikasi Hydrovac pada ikan lele dan patin. Aplikasi Hydrovac pada ikan gurame dengan berbagai ukuran yaitu 1 3 cm, 5 8 cm, 8 12 cm sampai gurame indukan dengan memperoleh tingkat kelangsungan hidup berkisar antara % telah dilakukan di Kabupaten Ciamis. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat mengaplikasikan Hydrovac pada ikan nila dan mas pada umur sekitar satu sampai 2 bulan dan melaporkan sangat baik responsnya dengan tingkat kelangsungan hidup 60 80%.

152 141 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Dinas Perikanan Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat melakukan aplikasi vaksin Hydrovac pada ikan lele dumbo, gurame, mas, dan nila dengan kisaran umur 3 minggu sampai 3 bulan menyatakan bahwa nafsu makan ikan meningkat sehingga pertumbuhannya meningkat sampai 50%. Tingkat kelangsungan hidup ikan juga dilaporkan mencapai 75 99%. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung melaporkan respons ikan lele dumbo dan nila terhadap pakan lebih tinggi setelah divaksin dengan Hydrovac. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung dan BBI Punten Kota Batu Jawa Timur melaporkan tingkat kelangsungan hidup ikan 100% setelah divaksin Hydrovac. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat memberikan deskripsi yang rinci pada ikan gurame dengan umur hari dan ukurannya berkisar antara 0,5 2 inci yang divaksin Hydrovac melalui rute perendaman. Rincian aplikasi Hydrovac pada ikan gurame dari Padang Pariaman Sumatera Barat disajikan pada Tabel Tabel 10.3 Aplikasi Hydrovac pada ikan gurame dari Padang Pariaman Sumatera Barat Jenis Ikan Umur Ikan (hari) Ukuran Ikan (inci) Kondisi ikan setelah divaksin Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Gurame 15 0,5 Ikan normal >80 Gurame 20 0,5 Ikan sehat >80 Gurame 30 1 Gerakan kurang lincah, warna >80 sedikit pucat tapi tidak pudar Gurame 50 1,5 Tidak terjadi gripis pada ekor dan >80 sirip, performa lebih baik Gurame 60 2 Ikan lebih cepat tumbuh dan lebih sehat >80 Dinas Kelautan dan Perikanan Agam, Sumatera Barat melaporkan bahwa setelah ikan nila dan ikan mas divaksin maka kematian ikan menjadi berkurang, demikian juga Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bangli Bali, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, BBI Kepanjen Malang Jatim, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang Jawa Barat melaporkan hal yang sama juga seperti di atas. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu menyatakan penggunaan vaksin Hydrovac mempunyai efek positif, yaitu ikan yang terkena mata melotot dapat sembuh dan secara

153 142 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus umum terjadi kenaikan berat ikan. Provinsi Bengkulu melaporkan FCR-nya adalah 27 29%. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Barat dan Timur, Disperik Provinsi Gorontalo, Disperik Provinsi DI Yogyakarta, Disperik Provinsi NTB, Disperik dan Peternakan Kabupaten Karawang Jabar, Disperik Provinsi Jambi, dan BBAP Ujung Batee Aceh semua rata-rata melaporkan kehebatan vaksin Hydrovac yang sangat efektif diaplikasikan pada ikan budidaya karena dapat memperoleh tingkat kelangsungan hidup ikan rata-rata di atas 80%. Transportasi dan penyimpanan vaksin Kerusakan vaksin sering terjadi akibat persyaratan pada saat transportasi dan/atau penyimpanan tidak terpenuhi. Sebagian besar vaksin konvensional memerlukan suhu rendah sebelum digunakan. Oleh sebab itu, selama proses transportasi dan penyimpanan harus sesuai dengan rekomendasi dari produsen. Kesalahan dalam transportasi dan penyimpanan vaksin dapat menurunkan atau menghilangkan potensi, atau bahkan dapat menimbulkan dampak negatif apabila diberikan kepada ikan. Probiotik yang dapat diaplikasikan pada ikan baung Penelitian tentang probiotik melalui media budidaya di Laboratorium Kesehatan Ikan Instalasi Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Ikan, BRPBATPP Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menghasilkan produk biologi, yaitu probiotik PATO AERO 1 dan PATO AERO 2. Ulkhaq (2014) menyatakan bahwa dengan pemberian probiotik Bacillus P4I1 dengan dosis 10 4 cfu/ml pada media air pemeliharaan ikan lele efektif menekan pertumbuhan A. hydrophila dan mencegah penyakit Motile Aeromonads Septicemia, dengan meningkatkan respons imun dan kelangsungan hidup, serta laju pertumbuhan harian ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Begitu juga penelitian yang dilakukan Haditomo (2011), dengan aplikasi probiotik B. firmus pada media budidaya mampu mencegah serangan A. hydrophila pada ikan mas (Cyprinus carpio). Penambahan probiotik B. firmus dengan dosis 10 6 cfu/ml pada media budidaya dengan pemberian setiap 2 hari sekali selama 2 minggu mampu mencegah dan menanggulangi serangan A. hydrophila. Tingkat kelangsungan hidup ikan uji dengan aplikasi probiotik mencapai 100% dan lebih tinggi jika dibandingkan tanpa penambahan probiotik B. firmus dengan kelangsungan hidup hanya sebesar

154 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) %. Hal tersebut dikarenakan konsentrasi A. hydrophila pada media budidaya penyebab penyakit Motile Aeromonad Septicemia (MAS) pada ikan mas berada pada kisaran cfu/ml, dan apabila ikan berada dalam kondisi stres maka semakin besar kemungkinan terjadinya kematian. Sementara penelitian Lusiastuti et al. (2011) menunjukkan bahwa pemberian probiotik B. firmus dengan dosis 10 9 cfu/ml dapat meningkatkan ketahanan tubuh benih lele dumbo dengan kelangsungan hidup tertinggi mencapai 53,33% setelah diuji tantang dengan A. hydrophila, serta terjadi peningkatan kadar limfosit sebesar 81% dan aktivitas fagosit sebesar 60% setelah pemberian probiotik. Menurut Fidyandini (2015) bahwa pemberian probiotik multispesies dengan kombinasi B. substilis ND2 dan Staphyilococcus lentus LIK melalui media budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) mampu menekan populasi A. hydrophila hingga 40% dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 89,33%. Hasil penelitian Lusiastuti et al. (2011) memperlihatkan aktivitas Bacillus cereus dengan dosis 10 9 cfu/ml sebagai probion anti Streptococcus agalactiae yang diaplikasikan pada media pemeliharaan benih ikan nila (Oreochromis niloticus) dan tanpa penggantian air mampu meningkatkan kelangsungan hidup mencapai 46%. Selain itu pemberian probiotik juga meningkatkan indeks fagositosis, baik pada media tanpa maupun dengan pergantian air, meskipun peningkatan indeks fagositosis masih lebih baik pada ikan yang dipelihara pada media tanpa pergantian air. Bacillus subtilis STC sebagai biokontrol dengan mekanisme anti-quorum sensing dapat menekan penyakit vibriosis pada budidaya udang di mana dengan penambahan B. subtilis STC ke media pemeliharaan udang dan mampu mendegradasi AHL (Acyl Homoserine Lactone) yang dihasilkan oleh Vibrio harveyi BB 120 (Yuniarti et al. 2015). Dalam review-nya, Newaj-Fyzul (2014) mengkompilasikan beberapa probiotik yang telah diteliti penggunaanya dalam kegiatan akuakultur dan terbukti untuk menyingkirkan bakteri patogen tertentu. Probiotik tersebut dari berbagai organisme baik bakteri ataupun nonbakteri. Ikan baung yang diinfeksi dengan A. hydrophila selama dua minggu dan diberi pakan dengan 10 9 cfu/g B. subtilis G1 menghasilkan tingkat mortalitas yang rendah dibandingkan kontrol (Verschuere et al. 2000; Balcázar et al. 2006; Sahu et al. 2008). Bakteri probiotik memberikan efek yang besar pada sistem imun sebagai modulator sistem imun nonspesifik dengan memperkuat level antibodi dan aktivitas makrofag yang dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit (Balcázar et al. 2006; Nayak 2010).

155 144 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Liu et al. (2012) menduga bahwa resistensi terhadap patogen berkorelasi dengan meningkatnya alternative complementary pathway activities (ACH50) dan aktivitas lysozyme karena ikan diberi pakan yang mengandung B. subtilis. Efek probiotik pada pertumbuhan dan resistensi penyakit tergantung dari jenis spesies ikan, dosis dan lama pemberian pakan, asal strain probiotik, mekanisme pertahan ikan yang berbeda terhadap patogen yang berbeda, dan patogenisitas patogen yang berbeda pula (Son et al. 2009; Standen dan Abid 2011). Perbedaan dari mikrobiota saluran cerna dan fisiologi ikan juga memengaruhi keberhasilan aplikasi probiotik (Gisbert dan Castillo 2011). Vaksin dan probiotik efektif dalam melindungi ikan dari serangan penyakit, terutama untuk perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus. Vaksin kurang efektif digunakan pada benih sebelum umur satu minggu dan ikan yang mengalami stres. DAFTAR PUSTAKA Al Dohail MA, Hashim R, Aliyu Paiko M Effects of the probiotic, Lactobacillus acidophilus, on the growth performance, haematology parameters and immunoglobulin concentration in African catfish (Clarias gariepinus, Burchell 1822) fingerling. Aquaculture Research 40: Anonim Laporan Penggunaan Vaksin dari Dinas Perikanan Se Indonesia. (Tidak dipublikasi) Balcázar JL, Blas ID, Ruiz-Zarzuela I, Cunningham D, Vendrell D, Múzquiz JL The role of probiotics in aquaculture. Veterinary Microbiology 114: Chiu CH, Cheng CH, Gua WR, Guu YK, Cheng W Dietary administration of the probiotic, Saccharomyces cerevisiae P13, enhanced the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper, Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 29: Chong LK, Tan SG, Yusoff K, Siraj SS Identification and characterization of Malaysian river catfish, Mystus nemurus (C&V): RAPD and AFLP analysis. Biochemical Genetics 38(3 4):

156 APLIKASI VAKSIN DAN PROBIOTIK PADA PEMBESARAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) 145 Ellis AE Fish Vaccination. London (UK): Academic Press Limited. 255p. Fidyandini HP Evaluasi pemberian probiotik multispesies melalui media budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) untuk pencegahan penyakit motile aeromonas septicemia [Tesis]. Bogor (ID): Institut Peranian Bogor. Frerichs GN, Millar SD Manual for the Isolation and Identification of Fish Bacterial Pathogens. Stirling (UK): Pisces Press. 60p. Freshwater Fisheries Research Centre Freshwater fisheries Research Centre Annual Report Available: page11-1.html [Accessed 12 March 2012]. Gisbert E, Castillo M Use of probiotic in aquaculture: Can these additives be useful? Available: [Accessed 28 May 2013]. Haditomo AC Pemberian probiotik pada media budidaya untuk pengendalian Aeromonas hydrophila pada ikan mas (Cyprinus carpio) [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Lusiastuti AM, Sumiati T, Hadie W, Wijaya A Kajian aktivitas probion anti Streptococcus agalactiae pada media pemeliharaan benih ikan nila Oreochromis niloticus. Prosiding Forum Inovasi teknologi Akuakultur 2011, Liu CH, Chiu CH, Wang SW, Cheng W Dietary administration of the probiotic, Bacillus subtilis E20, enhances the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper, Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 33: Movahedi A, Hampson DJ Now ways to identify novel bacterial antigens for vaccine development. Veterinary Microbiology 131: Nayak SK Probiotics and immunity: a fish perspective. Fish and Shellfish Immunology 29: Newaj-Fyzul A, Al-Harbi AH, Austin B Review: developments in the use of probiotics for disease control in aquaculture. Aquaculture 431: 1 11.

157 146 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus Rainboth WJ Fishes of the Cambodian Mekong. FAO species identification field guide for fishery purposes. FAO, Rome. 265p. Sahu MK, Swarnakumar NS, Sivakumar K, Thangaradjou T, Kannan L Probiotics in aquaculture: Importance and future perspectives. Indian Journal of Microbiology 48: Son VM, Chang CC, Wu MC, Guu YK, Chiu CH, Cheng W Dietary administration of the probiotic, Lactobacillus plantarum, enhanced the growth, innate immune responses, and disease resistance of the grouper Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 26: Subasinghe R Fish health management in aquaculture. FAO Fisheries and Aquaculture Iranian Journal of Fisheries Sciences 14(4) Departmen, Rome. Available: en [Accessed 5 March 2013]. Sun YZ, Yang HL, Ma RL, Lin WY Probiotic applications of two dominant gut Bacillus strains with antagonistic activity improved the growth performance and immune responses of grouper Epinephelus coioides. Fish and Shellfish Immunology 29: Standen B, Abid A Evaluation of probiotic bacteria in tilapia production. Available: [Accessed 28 May 2013]. Taukhid, Taslihan A, Lusiastuti AM Prospek vaksinasi pada perikanan budidaya di Indonesia. Prosiding Indoaqua-Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2012, Ulkhaq MF Pemberian probiotik bacillus pada media pemeliharaan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) untuk pencegahan penyakit motile aeromonads septicemia [Tesis]. Bogor (ID): Institut Peranian Bogor. Verschuere L, Rombaut G, Sorgeloos P, Verstraete W Probiotic bacteria as biological control agents in aquaculture. Microbiology and Molecular Biology Reviews 64: Yuniarti, Maftuch, Soemarno, Aulanni am In vitro and in vivo study of acyl homoserine lactone degrading Bacillus against Vibrio harveyi. International Journal of Biosciences 6(2):

158 10.EPILOG Kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan produksi perikanan secara nasional diarahkan pada keinginan mewujudkan kemandirian, kedaulatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan. Untuk itu, aspek pelestarian sumber daya perikanan yang ada dan lingkungan menjadi hal penting dalam upaya pemanfaatan potensi, agar nilai ekonomi sumber daya perikanan budidaya mampu dinikmati sampai generasi yang akan datang. Salah satu ikan lokal air tawar yang dikembangkan adalah ikan baung (Hemibagrus nemurus). Ikan ini memiliki nilai ekonomis penting dan telah mendapatkan popularitas di kalangan konsumen di Indonesia dan Asia Tenggara. Ikan baung dikenal dengan tiga nama sinonim di masyarakat, yaitu sebagai Bagrus nemurus (Valenciennes 1840), Macrones nemurus (Valenciennes 1840), dan Mystus nemurus (Valenciennes 1840). Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan anggota famili Bagridae. Famili ini merupakan salah satu famili ikan berkumis (catfish) yang hidup di air tawar dan payau yang tersebar di Asia dan Afrika. Genus Hemibagrus Bleeker 1862 memiliki sinonim sebagai Mystus Scopoli 1777 atau Macrones Dumeril Di Indonesia, genus Hemibagrus memiliki sepuluh spesies. Ikan baung termasuk ikan pemakan segalanya (omnivora) dengan kecenderungan memakan anak ikan, udang, remis, cacing, dan lumut atau mengarah ke pemakan daging (carnivora). Selain itu, jenis makanan yang disukai berupa insekta, Planaria sp., Thiara scabra, Faunus ater, dan Nodilittorina pyramidali. Di Indonesia, budidaya ikan baung belum dilakukan secara optimal disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya belum tersedianya jumlah induk terdomestikasi yang mencukupi sehingga benih yang dihasilkan belum berkualitas dan tidak kontinu. Selama ini, penyediaan benih baung untuk kegiatan budidaya sebagian besar masih mengandalkan tangkapan dan pemijahan menggunakan induk dari alam. Benih ikan baung yang berasal dari alam masih memiliki tingkat kanibalisme yang tinggi, sedangkan benih yang diperoleh dari induk hasil domestikasi memiliki tingkat kanibalisme yang rendah. Selain itu, rendahnya produksi pada kegiatan budidaya ikan baung dipengaruhi juga oleh faktor alam, di antaranya kondisi lingkungan (suhu, ph, oksigen terlarut, salinitas, padatan tersuspensi total (TSS), dan amonia), fotoperiod, padat tebar, dan curah hujan. Di alam, siklus reproduksi

159 148 Bunga Rampai POTENSI BUDIDAYA IKAN LOKAL PROSPEKTIF: BAUNG Hemibagrus nemurus ikan baung umumnya terjadi pada musim hujan dengan puncak pemijahan pada bulan Oktober Desember. Pengelolaan induk merupakan aspek penting dalam budidaya ikan baung. Pengelolaan induk yang tepat akan menghasilkan kualitas telur, sperma, dan larva yang baik. Pengelolaan induk bisa dilakukan secara terkontrol dengan menyediakan pakan yang mengandung nutrien secara lengkap. Pakan induk ikan baung dapat meningkatkan performa produksi dan produktivitas induk. Untuk pengembangannya, riset pakan induk ikan baung perlu digali dengan fokus: (a) penggunaan tepung ikan secara minimum dalam pakan, (b) substitusi penggunaan minyak ikan dengan minyak nabati, dan (c) penggunaan suplemen pakan yang dapat meningkatkan performa reproduksi dan kualitas telur/sperma, percepatan pematangan gonad, dan rematurasi induk. Pada budidaya ikan baung, jenis-jenis penyakit infeksius utama yang sering ditemukan dan mengakibatkan kematian antara lain: parasit (protozoa dan trematoda), jamur, dan bakteri. Penyakit non-infeksius yang sering terjadi antara lain akibat kondisi kualitas air (suhu, oksigen terlarut, ph, amonia, alkalinitas, dan kesadahan), serta malnutrisi (feeding habit and periodicity). Penggunaan vaksin dan probiotik cukup efektif dalam melindungi ikan dari serangan penyakit, terutama untuk perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus kecuali pada benih sebelum umur satu minggu dan ikan yang mengalami stres. Penyediaan benih ikan baung pada Balai Benih Ikan (BBI) sangat diperlukan dalam rangka menunjang kebutuhan benih yang berkualitas untuk mendukung budidaya pembesaran. Beberapa permasalahan terkait dengan pengembangan usaha pembenihan ikan baung adalah kondisi kualitas lingkungan yang tidak baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Upaya peningkatan produktivitas pada pendederan ikan baung secara indoor dapat menggunakan teknologi resirkulasi dengan penggunaan filter biologi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan membuat kebijakan mengenai pembenihan yang tertuang dalam Undangundang No 31 Tahun 2004 jo. UU 45/2009 tentang PERIKANAN dan diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 35/ PERMEN-KP/2016. Pemerintah mendukung secara penuh pembudidaya ikan dalam mengembangkan usahanya dengan mempertimbangkan pada program penilaian kebutuhan masyarakat, pendekatan solusi, dan partisipasi masyarakat. Selain itu, diprioritaskan pada kelembagaan atau kelompok yang sudah ditetapkan agar lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak pada usaha yang mandiri.

160

Pematangan Gonad di kolam tanah

Pematangan Gonad di kolam tanah Budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus) mulai berkemang pada tahun 1985. Tidak seperti ikan mas dan ikan nila, pembenihan Patin Siam agak sulit. Karena ikan ini tidak bisa memijah secara alami. Pemijahan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Lele Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Filum: Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies :

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/KEPMEN-KP/2016 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN KELABAU (OSTEOCHILUS MELANOPLEURUS) HASIL DOMESTIKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M : LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS NAMA KELAS : IMADUDIN ATHIF : S1-SI-02 N.I.M : 11.12.5452 KELOMPOK : G STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELEPASAN IKAN GABUS HARUAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELEPASAN IKAN GABUS HARUAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELEPASAN IKAN GABUS HARUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemeliharaan Induk Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk terlebih dahulu di kolam pemeliharaan induk yang ada di BBII. Induk dipelihara

Lebih terperinci

AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT

AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT UNDERSTANDING POND AQUACULTURE POND BOTTOM SOIL QUALITY MANAGEMENT Soil Profile Soil Triangle Clear plastic liner tube & sediment removal tool Sediment Sampler Soil acidity tester Food web in Aquaculture

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Lele dumbo merupakan ikan hasil perkawinan silang antara induk betina lele Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan

Lebih terperinci

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6483.3-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock) DAFTAR ISI Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan... 1

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var) menurut Kordi, (2010) adalah. Subordo : Siluroidae

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var) menurut Kordi, (2010) adalah. Subordo : Siluroidae BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var) Klasifikasi ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var) menurut Kordi, (2010) adalah sebagai berikut : Phylum

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan Ben s Fish Farm mulai berdiri pada awal tahun 1996. Ben s Fish Farm merupakan suatu usaha pembenihan larva ikan yang bergerak dalam budidaya ikan konsumsi, terutama

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar SNI : 01-6133 - 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar Daftar Isi Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan...1 3 Definisi...1

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILEM (Osteochilus hasseltii)

EVALUASI PENGGUNAAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILEM (Osteochilus hasseltii) 697 Evaluasi penggunaan pakan dengan kadar protein berbeda... (Reza Samsudin) EVALUASI PENGGUNAAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILEM (Osteochilus hasseltii) ABSTRAK

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA.

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA. KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T No.714, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN KP. Larangan. Pengeluaran. Ikan. Ke Luar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/PERMEN-KP/2014 TENTANG LARANGAN

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK)

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK PERIKANAN TAHUN ANGGARAN 2017 Pengadaan Pakan Ikan Tuna Sirip Kuning, Kerapu Sunu Dan Bandeng Pada Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan

Lebih terperinci

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus)

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus) 1 Deskripsi METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus) Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan produksi massal benih ikan hias mandarin (Synchiropus splendidus),

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jenis Kelamin Belut Belut sawah merupakan hermaprodit protogini, berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pada ukuran panjang kurang dari 40 cm belut berada pada

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar SNI : 01-6141 - 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar Daftar isi Pendahuluan Halaman 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan... 1 3 Definisi...

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar SNI : 01-6137 - 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar Daftar Isi Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan...1 3 Definisi...1

Lebih terperinci

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda 116 PEMBAHASAN UMUM Domestikasi adalah merupakan suatu upaya menjinakan hewan (ikan) yang biasa hidup liar menjadi jinak sehingga dapat bermanfaat bagi manusia. Domestikasi ikan perairan umum merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki beranekaragam jenis ikan asli yang berhabitat di beberapa sungai di Indonesia. Ikan baung merupakan salah satu jenis ikan asli yang berhabitat di

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 12 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan bulan November 2012 di Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Bogor. Analisis hormon testosteron

Lebih terperinci

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were. II. METODOLOGI 2.1 Materi Uji Sumber genetik yang digunakan adalah ikan nilem hijau dan ikan nilem were. Induk ikan nilem hijau diperoleh dari wilayah Bogor (Jawa Barat) berjumlah 11 ekor dengan bobot

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.66/MEN/2011 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.66/MEN/2011 TENTANG Menimbang KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.66/MEN/2011 TENTANG PELEPASAN IKAN TORSORO MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa guna lebih memperkaya

Lebih terperinci

Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok Standar Nasional Indonesia SNI 6138:2009 Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional SNI 6138:2009 Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii

Lebih terperinci

PENDEDERAN IKAN PATIN DI KOLAM OUTDOOR UNTUK MENGHASILKAN BENIH SIAP TEBAR DI WADUK MALAHAYU, BREBES, JAWA TENGAH

PENDEDERAN IKAN PATIN DI KOLAM OUTDOOR UNTUK MENGHASILKAN BENIH SIAP TEBAR DI WADUK MALAHAYU, BREBES, JAWA TENGAH Media Akuakultur Volume 7 Nomor 1 Tahun 2012 PENDEDERAN IKAN PATIN DI KOLAM OUTDOOR UNTUK MENGHASILKAN BENIH SIAP TEBAR DI WADUK MALAHAYU, BREBES, JAWA TENGAH Septyan Andriyanto *), Evi Tahapari **), dan

Lebih terperinci

I. P E N D A H U L U A N

I. P E N D A H U L U A N I. P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang Ikan Gurami (Ospheronemus gouramy Lac) merupakan plasma nutfah ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara (Badan Standarisasi

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar SNI : 01-6483.4-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar DAFTAR ISI Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan... 1 3 Definisi... 1

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar SNI : 02-6730.3-2002 Standar Nasional Indonesia Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar Prakata Standar produksi benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persiapan Kolam Pemijahan Kolam pemijahan dibuat terpisah dengan kolam penetasan dan perawatan larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga mudah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Tawes 2.1.1 Taksonomi Tawes Menurut Kottelat (1993), klasifikasi ikan tawes adalah sebagai berikut: Phylum : Chordata Classis Ordo Familia Genus Species : Pisces : Ostariophysi

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6135 - 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock) Daftar Isi Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup... 1 2

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Clownfish Klasifikasi Clownfish menurut Burges (1990) adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Perciformes

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH MERAIH SUKSES DENGAN BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE

KARYA ILMIAH MERAIH SUKSES DENGAN BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE KARYA ILMIAH MERAIH SUKSES DENGAN BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Lingkungan Bisnis NAMA : BUNGA DWI CAHYANI NIM : 10.11.3820 KELAS : S1 TI-2D STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai potensi perikanan cukup besar. Hal ini ditunjukkan dengan kontribusi Jawa Barat pada tahun 2010 terhadap

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Ikan Nila (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang mendapat perhatian besar bagi usaha perikanan terutama

PENDAHULUAN Ikan Nila (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang mendapat perhatian besar bagi usaha perikanan terutama PENDAHULUAN Ikan Nila (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang mendapat perhatian besar bagi usaha perikanan terutama dalam usaha peningkatan gizi masyarakat di Indonesia. Hal

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 8 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 di Kolam Percobaan Babakan, Laboratorium Pengembangbiakkan dan Genetika Ikan

Lebih terperinci

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer)

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer) PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer) 1. PENDAHULUAN Kakap Putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak disukai masyarakat dan mempunyai niali ekonomis yang tinggi. Peningkatan

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6138 - 1999 Standar Nasional Indonesia Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock) Daftar Isi Pendahuluan Halaman 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan... 1 3

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE Disusun oleh: Felik Ferdiawan (10.11.3827) TEKHNIK INFORMATIKA STIMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2010/2011 ABSTRAK Ikan lele memang memiliki banyak penggemar, karena

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele

Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele Oleh : Rangga Ongky Wibowo (10.11.4041) S1Ti 2G STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011/2012 Kata Pengantar... Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, atas limpahan

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6484.3-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock) Prakata Standar produksi induk ikan lele dumbo kelas induk

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.23/MEN/2012 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA NIRWANA II

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.23/MEN/2012 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA NIRWANA II KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.23/MEN/2012 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA NIRWANA II MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa guna lebih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di

I. PENDAHULUAN. dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama ini pasokan ikan dunia termasuk Indonesia sebagian besar berasal dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di sejumlah negara

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari April 2010 sampai Januari 2011, di Laboratorium Pembenihan Ikan Ciparanje dan Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. No.45 tahun 2009 tentang perikanandisebutkan dalam Pasal 1,perikanan

I. PENDAHULUAN. No.45 tahun 2009 tentang perikanandisebutkan dalam Pasal 1,perikanan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi yang sangat besar di bidang perikanan dengan luas perairan lebih kurang 14 juta Ha terdiri dari rawa, sungai

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6485.1-2000 Standar Nasional Indonesia Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock) Prakata Standar induk ikan gurami kelas induk pokok diterbitkan oleh Badan Standardisasi

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01 6131 1999 Standar Nasional Indonesia Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock) Daftar Isi Pendahuluan Halaman 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan...1

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DUMBO PELUANG BISNIS YANG MENJANJIKAN

BUDIDAYA IKAN LELE DUMBO PELUANG BISNIS YANG MENJANJIKAN BUDIDAYA IKAN LELE DUMBO PELUANG BISNIS YANG MENJANJIKAN TUGAS LINGKUNGAN BISNIS NAMA :MARIUS KORBIANO NERUM KELAS : SI.S1.2J NIM : 10.12.5055 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA II.PELUANG BISNIS TAMBAK IKAN LELE

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp) 1. Klasifikasi Menurut Muktiani (2011 : hal 4), Lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetika lele dumbo melalui

Lebih terperinci

Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: Induk kelas induk pokok (Parent stock)

Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: Induk kelas induk pokok (Parent stock) Standar Nasional Indonesia SNI 7471.1:2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: Induk kelas induk pokok (Parent stock) ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional SNI 7471.1:2009 Daftar isi Daftar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Balai Benih Ikan Inovatif ( BBII ) merupakan unit pelaksanaan teknis daerah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Balai Benih Ikan Inovatif ( BBII ) merupakan unit pelaksanaan teknis daerah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi PKL Balai Benih Ikan Inovatif ( BBII ) merupakan unit pelaksanaan teknis daerah tingkat Provinsi yang mempunyai fungsi menyebar luaskan teknologi perbenihan

Lebih terperinci

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS Usaha Pembenihan Ikan Bawal Di susun oleh: Nama : Lisman Prihadi NIM : 10.11.4493 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2010 / 2011 PENDAHULUAN Latar Belakang Ikan bawal merupakan salah satu

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) JAYASAKTI

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) JAYASAKTI KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) JAYASAKTI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA

Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA BBPBAT Sukabumi 2007 Daftar Isi 1. Penduluan... 1 2. Persyaratan Teknis... 2 2.1. Sumber Air... 2 2.2. Lokasi...

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6484.1-2000 Standar Nasional Indonesia Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock) Daftar Isi Halaman Prakata... 1 Pendahuluan... 1 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar SNI : 01-6484.4-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar Prakata Standar produksi benih ikan lele dumbo kelas benih sebar diterbitkan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH MAKAN UNTUK PAKAN IKAN LELE DI UPR MITRA CAMBAI PRABUMULIH

PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH MAKAN UNTUK PAKAN IKAN LELE DI UPR MITRA CAMBAI PRABUMULIH PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH MAKAN UNTUK PAKAN IKAN LELE DI UPR MITRA CAMBAI PRABUMULIH Ferdinand H. Taqwa*, Yulisman, A. D Sasanti, M. Fitrani, Muslim, D. Apriadi PS Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian-Universitas

Lebih terperinci

USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan)

USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan) USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan) Melalui berbagai media komunikasi pemerintah selalu menganjurkan kepada masyarakat untuk makan ikan. Tujuannya adalah untuk

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN TAWES (PUNTIUS JAVANICUS) JOIS

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN TAWES (PUNTIUS JAVANICUS) JOIS KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN TAWES (PUNTIUS JAVANICUS) JOIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor perikanan menjadi bagian yang sangat penting dalam pembangunan nasional mengingat potensi perairan Indonesia yang sangat besar, terutama dalam penyediaan bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena permintaannya terus meningkat setiap

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN NILA MUHAMMAD ARIEF

BUDIDAYA IKAN NILA MUHAMMAD ARIEF BUDIDAYA IKAN NILA MUHAMMAD ARIEF BUDIDAYA IKAN NILA POTENSI : - daya adaptasi tinggi (tawar-payau-laut) - tahan terhadap perubahan lingkungan - bersifat omnivora - mampu mencerna pakan secara efisien

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ikan baung (Mystus nemurus) merupakan ikan asli perairan Indonesia. Ikan baung

I. PENDAHULUAN. Ikan baung (Mystus nemurus) merupakan ikan asli perairan Indonesia. Ikan baung I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan baung (Mystus nemurus) merupakan ikan asli perairan Indonesia. Ikan baung hanya terdapat di perairan-perairan tertentu di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan

Lebih terperinci

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan Pendahuluan Pembenihan merupakan suatu tahap kegiatan dalam budidaya yang sangat menentukan kegiatan pemeliharaan selanjutnya dan bertujuan untuk menghasilkan benih. Benih yang dihasilkan dari proses pembenihan

Lebih terperinci

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial 1. Mengidentifikasi potensi dan peran budidaya perairan 2. Mengidentifikasi

Lebih terperinci

TUGAS KARYA ILMIAH TENTANG PELUANG BISNIS DAN BUDIDAYA IKAN PATIN

TUGAS KARYA ILMIAH TENTANG PELUANG BISNIS DAN BUDIDAYA IKAN PATIN TUGAS KARYA ILMIAH TENTANG PELUANG BISNIS DAN BUDIDAYA IKAN PATIN Disusun Oleh : Nama : Galih Manunggal Putra NIM : 11.12.5794 Kelas : 11-S1SI-06 Kelompok : H ABSTRAK Bisnis budidaya ikan konsumsi memang

Lebih terperinci

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk Standar Nasional Indonesia ICS 65.150 Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk Badan Standardisasi Nasional SNI 6484.3:2014 BSN 2014 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus )

BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus ) BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus ) 1. SEJARAH SINGKAT Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) MARWANA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) MARWANA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/KEPMEN-KP/2016 TENTANG PELEPASAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) MARWANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Proses pengambilan data yang dilakukan peneliti dalam memperoleh data tentang gambaran umum perusahaan dilakukan dengan wawancara, kemudian dilanjutkan dengan pemberian file

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 12/PERMEN-KP/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 12/PERMEN-KP/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PERMEN-KP/2015 TENTANG PEDOMAN UMUM BUDIDAYA IKAN HIAS AROWANA SUPER RED (Scleropages formosus)/siluk DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kaya akan sumberdaya alam yang dapat di gali untuk kesejahteraan umat manusia. Salah satu sumberdaya alam yang berpotensi yaitu sektor perikanan.

Lebih terperinci

Bisnis Ternak Ikan Lele

Bisnis Ternak Ikan Lele Bisnis Ternak Ikan Lele Tugas Karya Ilmiah Peluang Bisnis Disusun Oleh : Bukhari Muslim. ( 10.01.2668 ) D3-2A Teknik Informatika SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Lebih terperinci

APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus)

APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) Oleh Adi Hardiyanto, Marwa dan Narulitta Ely ABSTRAK Induk ikan mandarin memanfaatkan pakan untuk reproduksi. Salah satu

Lebih terperinci

Pengaruh Lanjut Suhu pada Penetasan Telur terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Baung (Hemibagrus nemurus).

Pengaruh Lanjut Suhu pada Penetasan Telur terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Baung (Hemibagrus nemurus). Pengaruh Lanjut Suhu pada Penetasan Telur terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Baung (Hemibagrus nemurus). Further Effect of Egg Hatching Temperature on the Baung Fish (Hemibagrus nemurus)

Lebih terperinci

KONDISI TERKINI BUDIDAYA IKAN BANDENG DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH

KONDISI TERKINI BUDIDAYA IKAN BANDENG DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH Kondisi terkini budidaya ikan bandeng di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Septyan Andriyanto) KONDISI TERKINI BUDIDAYA IKAN BANDENG DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH Septyan Andriyanto Pusat Penelitian dan Pengembangan

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

SNI : Standar Nasional Indonesia. Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar SNI : 01-6140 - 1999 Standar Nasional Indonesia Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar Daftar Isi Pendahuluan Halaman 1. Ruang lingkup... 1 2. Acuan... 1 3. Definisi...

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan.

BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan. 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika dan kolam percobaan pada Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Jl. Raya 2 Sukamandi,

Lebih terperinci

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA BUDIDAYA IKAN LELE Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Lingkungan Bisnis STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Oleh: Mada Mahatma 11.12.5828 Kelas 11.S1SI.07 Sistem Informasi Budidaya Ikan Lele Jenis Ikan Lele memang memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat

I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat I. PENDAHULUAN Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat dengan cara membendung aliran sungai sehingga aliran air sungai menjadi terhalang (Thohir, 1985). Wibowo (2004) menyatakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Octinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Osteochilus vittatus ( Valenciennes, 1842)

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Octinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Osteochilus vittatus ( Valenciennes, 1842) II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Palau Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Octinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Osteochilus Spesies : Osteochilus vittatus

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) GALUNGGUNG SUPER

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) GALUNGGUNG SUPER KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) GALUNGGUNG SUPER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas

1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas Media Litbang Sulteng 2 (2) : 126 130, Desember 2009 1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu ISSN : 1979-5971 PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, pada bulan Maret 2013 sampai dengan April 2013.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budidaya ikan dapat dijadikan alternatif usaha yang dapat memberikan keuntungan dan memiliki prospek jangka panjang yang baik. Hal ini dikarenakan atas permintaan produk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perikanan budidaya diyakini memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang usaha guna mengurangi kemiskinan (pro-poor), menyerap tenaga kerja (pro-job) serta

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Lele Sangkuriang Lele Sangkuriang merupakan jenis lele hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik (back cross) antara induk betina generasi kedua (F2) dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. adalah ikan gurami (Osphronemus gouramy) (Khaeruman dan Amri, 2003).

I. PENDAHULUAN. adalah ikan gurami (Osphronemus gouramy) (Khaeruman dan Amri, 2003). 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan industri perikanan budidaya air tawar sekarang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Salah satu ikan budidaya yang cukup digemari adalah ikan gurami (Osphronemus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan. serta ada yang berskala kecil(said dan lutan, 2001).

I. PENDAHULUAN. perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan. serta ada yang berskala kecil(said dan lutan, 2001). I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian mencakup kegiatan usahatani perkebunan, perhutanan, peternakan, dan perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan ragam. Dari sakala

Lebih terperinci

JURNAL. THE EFFECT OF GIVEN SKIN SEED IN GREEN BEANS ON GROWTH RATE OF CATFISH (Clarias sp)

JURNAL. THE EFFECT OF GIVEN SKIN SEED IN GREEN BEANS ON GROWTH RATE OF CATFISH (Clarias sp) JURNAL PENGARUH PEMBERIAN KULIT KECAMBAH KACANG HIJAU PADA PAKAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN IKAN LELE (Clarias sp) THE EFFECT OF GIVEN SKIN SEED IN GREEN BEANS ON GROWTH RATE OF CATFISH (Clarias sp) Oleh:

Lebih terperinci

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13 PEMBENIHAN : SEGALA KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM PEMATANGAN GONAD, PEMIJAHAN BUATAN DAN PEMBESARAN LARVA HASIL PENETASAN SEHINGGA MENGHASILAKAN BENIH YANG SIAP DITEBAR DI KOLAM, KERAMBA ATAU DI RESTOCKING

Lebih terperinci

2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi

2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi 4 2.2. Morfologi Ikan Tambakan (H. temminckii) Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 26/MEN/2004 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN LELE SEBAGAI VARIETAS UNGGUL

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 26/MEN/2004 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN LELE SEBAGAI VARIETAS UNGGUL KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 26/MEN/2004 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN LELE SEBAGAI VARIETAS UNGGUL MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memperkaya

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6130 - 1999 Standar Nasional Indonesia Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock) Daftar Isi Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan...1

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM USAHA. Tabel 4. Penggunaan Lahan Pada Kecamatan Bekasi Utara Pada Tahun 2010

GAMBARAN UMUM USAHA. Tabel 4. Penggunaan Lahan Pada Kecamatan Bekasi Utara Pada Tahun 2010 V GAMBARAN UMUM USAHA 5.1. Gambaran Umum Wilayah 5.1.1. Letak dan Keadaan Alam Kecamatan Bekasi Utara merupakan salah satu kecamatan yang terletak di sebelah utara Kota Bekasi dengan luas wilayah sekitar

Lebih terperinci