SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)"

Transkripsi

1 PENERAPAN PRODUK PEMBIAYAAN PEMILIKAN RUMAH (PPR) INDEN DITINJAU DENGAN FATWA MMQ No. 73/DSN-MUI/XI/2008 dan FATWA IMFZ No. 102/DSN-MUI/X/2016 (Studi Pada PermataBank Syariah Pusat Tower III Bintaro) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H) Oleh: Andi Benazir Daeng Pawewang PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2020 M

2

3 PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI Skripsi yang berjudul Penerapan Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden Ditinjau dengan Fatwa MMQ No.73/DSN-MUI/XI/2008 dan Fatwa IMFZ No.102/DSN-MUI/X/2016 (Studi Pada PermataBank Syariah Pusat Tower III Bintaro) yang ditulis oleh Andi Benazir D.P, NIM , telah diujikan dalam sidang skripsi pada Senin, 23 Maret Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H) pada Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta, 23 Maret 2020 Mengesahkan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H.,M.H., M.A NIP Panitia Sidang: Ketua : AM. Hasan Ali, M.A. (.) NIP Sekretaris : Dr. Abdurrauf, Lc., M.A (.) NIP Pembimbing : Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag., M.H. NIP (.) Penguji 1 : AM. Hasan Ali, M.A. (.) NIP Penguji 2 : Ahmad Chairul Hadi, M.A. (.) NIP iii

4

5 ABSTRAK Andi Benazir Daeng Pawewang. NIM PENERAPAN PRODUK PEMBIAYAAN PEMILIKAN RUMAH (PPR) INDEN DITINJAU DENGAN FATWA MMQ No. 73/DSN-MUI/XI/2008 dan FATWA IMFZ No. 102/DSN- MUI/X/2016 (Studi Pada PermataBank Syariah Pusat Tower III Bintaro). Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M. x + 86 halaman Indonesia masih kekurangan kebutuhan (backlog) sebanyak 7,6 juta unit dan angka ini masih cukup tinggi. Padahal saat ini fasilitas untuk memiliki rumah semakin mudah dengan semakin banyak layanan pembiayaan perumahan yang ditawarkan perbankan kepada masyarakat untuk memudahkan dalam memenuhi kebutuhan memiliki rumah termasuk dari perbankan syariah. Sejak ditetapkan Fatwa DSN-MUI tentang Musyarakah Mutanaqishah sampai sekarang MMQ menjadi akad yang memiliki peluang yang cukup luas untuk diterapkan khususnya dalam produk pembiayaan pemilikan rumah (PPR) termasuk dalam PPR-Inden namun harus disertakan akad tambahan Ijarah Maushufah fi Dzimmah (IMFZ) dalam PPR-Inden mengingat perbankan syariah tidak boleh mengambil margin ketika objek pembiayaan belum ada. Studi ini bertujuan untuk menganalisis apakah PermataBank Syariah menerapkan pembiayaan pemilikan rumah inden sesuai dengan prinsip syariah atau tidak, dengan menggunakan tolak ukur fatwa DSN- MUI tentang MMQ dan IMFZ untuk PPR-Inden karena melihat salah satu pertimbangan ditetapkannya Fatwa DSN-MUI IMFZ yaitu permintaan Fatwa KPR Inden dari Bank Permata. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dengan pendekatan penelitian menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Sumber penelitian ini didapatkan melakukan teknik analisis kontrak serta data tambahan dengan wawancara kepada PermataBank Syariah dengan dibantu oleh sumber peraturan perundang-undangan, buku-buku, jurnal-jurnal, serta beberapa dokumentasi yang berkaitan dengan judul skripsi ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Produk PermataKPR ib Akad MMQ-IMFZ masih belum sepenuhnya sesuai dengan fatwa, karena porsi hishshah dalam pembiayaan MMQ tidak dicantumkan dalam perjanjian tapi diganti dengan definisi komposisi pembiayaan padahal hishshah merupakan bagian penting dalam akad MMQ yang tidak boleh terpisah. Selanjutnya terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki karena ketentuan terkait barang sewa inden, uang muka dan jaminan penerapannya sangat berbeda dengan yang diatur dalam Fatwa DSN-MUI No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk PPR-Inden. Kata Kunci : Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden, Fatwa Dewan Syariah Nasional, PermataBank Syariah. Pembimbing : H. Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag., M.H. Daftar Pustaka : v

6 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, penulis memanjatkan rasa syukur yang tidak terhingga atas ilmu dan izin-nya yang telah diberikan kepada penulis, serta Shalawat dan salam penulis haturkan kepada baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Selama penulisan skripsi ini, penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan tersebut tidaklah lepas dari segala bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Bapak Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak AM. Hasan Ali, M.A dan Bapak Dr. Abdurrauf, Lc., M.A., selaku Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum. 3. Bapak AH. Azharuddin Lathi, M.Ag., M.H selaku dosen pembimbing skripsi yang senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan masukan bagi Penulis sehingga dapat meyelesaikan skripsi ini dengan baik. 4. Bapak Ir. Muh. Nadratuzzaman, M.Sc, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu mengingatkan Penulis agar selalu disiplin. 5. Bapak Yaya C.P selaku Head Mortgage PermataBank Syariah beserta jajarannya Kakak Andi Herlina Jusuf, Teteh Dita Risantiwi, Bapak Adji Budianto, Mbak Darifah Hardani, Kakak Vella Yolanda, Ceu Kokom Komariah, Mas Afriansyah dan Kakak Dwi Retno yang telah banyak membantu Penulis dalam memberikan informasi serta menjadi obyek penelitian ini. 6. Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah ikhas mengajar dan menyalurkan ilmunya kepada Penulis selama masa perkuliahan. vi

7 7. Para staf karyawan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum, Perpustakaan Umum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta para staf akademik Fakultas Syariah dan Hukum. 8. Orangtua tercinta Papa Hi. Abdul Rahim Daeng Pawewang (Alm) dan Mama Misbah Sugeha (Almh), yang tidak bisa menemani Penulis sampai berada di titik saat ini tapi doa dari Penulis akan selalu mengalir tiada hentinya agar selalu bahagia dan selamat di dimensi kehidupan yang berbeda dengan Penulis serta mendapatkan tempat terbaik disisi-nya. 9. Kakak pertama selaku pengganti orangtua Sitti Humairah Daeng Pawewang dan suaminya Agustinus Heru Irianto yang sejak kecil Penulis memanggil mereka dengan sebutan Ibu dan Ayah, serta Kakak Zulkifli Daeng Pawewang dan Kakak Muammar Ersyad Daeng Pawewang terimakasih banyak atas segala dukungan, pengorbanan dan jerih payah yang telah kalian berikan sehingga dapat mengantarkan Penulis sampai ke titik saat ini. 10. Sahabat-sahabat terbaik serantau dan sekampung halaman Bunga Tanjung, Tyana Damayanti, Dirga Montol, Ghery Katong dan Rizky Mokoginta yang selalu menjadi tempat pulang dan pelepas penat dikala Penulis mulai lelah dengan kehidupan Jakarta. 11. Sahabat-sahabat seperjuangan Rifati Hanifa, Putri Diana dan Dannia Sanni yang telah banyak berbagi peran dan membantu Penulis selama menjalani kehidupan di rantau. Terimakasih sudah sayang dan mau berkawan dengan Penulis. Tempat kalian selalu spesial di hati Penulis. 12. Keluarga idealisme C.O.I.N.S yang telah membantu Penulis dalam membentuk jalur berpikir dan memperkuat idealisme dalam belajar, sehingga dapat mempermudah dalam penyelesaian skripsi ini dan Keluarga besar GIBEI yang telah memberikan kesempatan untuk penulis dalam meningkatkan kualitas diri. 13. Keluarga non-formal KKN BINAR 157 UIN Jakarta 2018 yang telah memberikan apa arti kekeluargaan disaat kita hidup dalam satu atap di Jayaraharja, Bogor. vii

8 14. Teman-teman seperjuangan Hukum Ekonomi Syariah angkatan 2015, yang berjuang bersama selama masa perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 15. Serta teman-teman yang tidak bisa Penulis sebutkan satu per satu, terimakasih atas doa-doa terbaiknya. Jakarta, 13 Februari 2020 Andi Benazir Daeng Pawewang viii

9 DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI... iii LEMBAR PERNYATAAN... iv ABSTRAK... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Ruang Lingkup Permasalahan Identifikasi Masalah Pembatasan Masalah Perumusan Masalah... 8 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 8 D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu... 9 E. Kerangka Penelitian Kerangka Teori Kerangka Konseptual F. Metode Penelitian Jenis Penelitian Pendekatan Penelitian Sumber Data Teknik Pengumpulan Data Teknik Pengolahan Data Metode Analisis Data Metode Penulisan Skripsi G. Sistematika Penulisan ix

10 BAB II TINJAUAN UMUM PEMBIAYAAN PEMILIKAN RUMAH INDEN DENGAN AKAD MMQ-IMFZ A. Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden Bank Syariah Pengertian Pembiayaan Pengertian Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden Dasar Hukum Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden di Bank Syariah B. Akad Musyarakah Mutanaqishah Pengertian Musyarakah Mutanaqishah (MMQ) Dasar Hukum Akad Musyarakah Mutanaqishah Syarat Pembiayaan Musyarakah Mutanaqishah di Bank Syariah Karakteristik Pembiayaan Akad Musyarakah Mutanqishah Inden Skema Musyarakah Mutanaqishah C. Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah Pengertian Ijarah Maushufah fi Dzimmah (IMFZ) Dasar Hukum IMFZ Ketentuan Terkait Manfaat Barang (Manfaat Ain) dalam Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden (PPR-Inden) Ketentuan Terkait Ujrah Ketentuan Terkait Uang Muka dan Jaminan BAB III GAMBARAN UMUM PermataBank SYARIAH A. Sejarah Singkat PermataBank Syariah B. Produk PermataBank Syariah C. Produk PermataKPR ib D. PermataKPR ib Musyarakah Mutanaqishah (Inden) E. Mekanisme Pembiayaan MMQ Inden (IMFZ) x

11 BAB IV ANALISA KESESUIAN PRODUK PermataKPR ib MUSYARAKAH MUTANAQISHAH INDEN BERDASARKAN FATWA DSN-MUI...57 A. Analisis Pelaksanaan Prinsip MMQ Pada Produk PermataKPR ib Akad MMQ...58 B. Analisis Ketentuan Terkait Manfaat Barang (Manfaat Ain)...62 C. Analisis Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden (PPR-Inden)...65 D. Analisis Ketentuan Terkait Ujrah...74 E. Analisis Ketentuan Terkait Uang Muka dan Jaminan...76 F. Ketentuan Penyelesaian Sengketa...82 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xi

12 DAFTAR TABEL No. Judul Tabel Hal Tabel 3.1 Produk PermataBank Syariah 49 Tabel 4.1 Analisis Kesesuai Prinsip MMQ 58 Tabel 4.2 Analisis Ketentuan Terkait Manfaat Barang 62 Tabel 4.3 Analisis Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden 65 Tabel 4.4 Analisis Terkait Ujrah 74 Tabel 4.5 Analisis Terkait Uang Muka dan Jaminan 76 Tabel 4.6 Ketentuan Penyelesaian Sengketa 82 xii

13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar maka diperlukan dukungan terhadap ketersediaan perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar utama manusia. Berdasarkan data Kementerian PUPR per 8 Maret 2019, kekurangan kebutuhan (backlog) perumahan saat ini sebanyak 7,6 juta unit. 1 Angka tersebut masih cukup tinggi dalam kebutuhan (backlog) perumahan yang memberikan artian bahwa masih banyak rumah tangga Indonesia, baik Masyarakat Berpenghasilan Rendah (BMR) maupun non BMR yang menghuni rumah bukan milik sendiri. Saat ini fasilitas untuk memiliki rumah sudah semakin mudah. Semakin banyak layanan kredit atau pembiayaan perumahan yang ditawarkan perbankan kepada masyarakat untuk memudahkan dalam memenuhi kebutuhan dalam memiliki rumah. Akan tetapi, salah satu kendala perbankan dalam memberikan kredit atau pembiayaan perumahan yaitu presentase terbesar dari kebutuhan perumahan ada pada masyarakat berpenghasilan rendah (BMR) yang bekerja disektor non formal yang dianggap tidak bankable 2. Perbankan memang benar-benar dituntut untuk selalu memperhatikan prinsip utama dalam menjalankan setiap aktvitasnya baik itu di perbankan konvensional maupun perbankan syariah, yaitu prudential banking principle (prinsip kehati-hatian) yang harus dijalankan dengan baik termasuk ketika dalam pemberian kredit atau 1 Per 8 Maret 2019, "Backlog" Rumah 7,6 Juta Unit", artikel diakses pada 27 Maret 2019 dari 2 Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI, Pembangunan Perumahan, 2014, h.3. 1

14 2 pembiayaan yang tentu memiliki risiko yang akan dipikul oleh pihak bank Oleh karena itu, implementasi dari prinsip tersebut bank wajib memiliki keyakinan bahwa nasabah atau debitur mampu membayar dan memiliki i tikad baik dalam melunasi setiap kredit atau pembiayaan yang diajukan dengan melakukan penilaian dengan prinsip 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Colateral dan Condition guna mengurangi risiko yang akan timbul dikemudian hari. Maka, dalam pemenuhan kebutuhan perumahan tersebut perbankan terus melakukan inovasi dalam mengeluarkan produkproduk kredit atau pembiayaan perumahan. Perbankan konvensional sudah menyediakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan berbagai macam pilihan yang selalu dikemas sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang. Begitu juga di perbankan syariah pembiayaan perumahan berdasarkan prinsip-prinsip syariahdiberikan beberapa pilihan akad agar dapat bersaing dengan baik dengan perbankan konvensional. Memang perbankan syariah di dunia termasuk di Indonesia memiliki dua permasalahan yang harus dicarikan jalan keluarnya, yaitu pertama, masih sedikit inovasi produk-produk yang dikeluarkan oleh bank syariah sehingga tidak banyak tawaran variasi produk yang bisa diberikan kepada masyarakat, dan kedua, terdapat permasalahan kesesuian syariah (shariah compliance) yang masih harus diperketat 3. Keterbatasan produk dari perbankan syariah ini yang membuat permintaan nasabah terhadap produk perbankan masih kurang. 3 M. Ridwan dan Syahruddin, Implementasi Musyarakah Mutanaqishah sebagai Alternatif Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah Indonesia, Jurnal TSAQAFAH, Vol. 9 No.1, (April, 2013), h.4.

15 3 Salah satu produk perbankan syariah yang dilihat memiliki peluang yang cukup luas untuk diterapkan di perbankan syariah di Indonesia yaitu produk dengan akad Musyarakah mutanaqishah (MMQ). Akad MMQ sebagaimana yang dijelaskan oleh Nadratuzzaman Hosen adalah bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk kepemilikan suatu barang atau asset. Dimana kerjasama ini akan mengurangi hak kepemilikan salah satu pihak sementara pihak yang lain bertambah hak kepemilikannya. Perpindahan kepemilikan ini melalui mekanisme pembayaran atas hak kepemilikan yang lain. Bentuk kerjasama ini berakhir dengan pengalihan hak salah satu pihak kepada pihak lain. 4 Produk pembiayaan perumahan akad MMQ ini hadir sebagai alternatif dari produk pembiayaan perumahan akad murabahah yang merupakan akad yang paling dominan atau paling banyak digunakan di perbankan syariah bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Kebolehan dan teknis dari akad Musyarakah Mutanaqishah telah dinyatakan dalam fatwa DSN MUI No.73 tahun 2008, namun dalam praktiknya pembiayaan perumahan dengan menggunakan akad MMQ masih sangat kurang sehingga pada tahun 2013 Bank Indonesia merasa perlu mendorong penggunaan akad ini secara lebih massif. Oleh karena itu, pada tanggal 22 November 2012 Bank Indonesia telah mengeluarkan surat edaran (SEBI) nomor 14/33/DPbS kepada seluruh Bank Syariah (BUS dan UUS) tentang penerapan kebijakan produk pembiayaan kepemilikan rumah atau KPR dan kendaraan bermotor dan juga sebagai pendorong untuk penggunaan akan Musyarakah Mutanaqishah agar lebih masif 5. Kebijakan yang disebut LTV atau FTV (finance to value) dalam perbankan syariah itu 4 Nadratuzzaman Hosen, Musyarakah Mutanaqishah, Jurnal Al-Iqtishad, Vol.I, No.2, Juli Aplikasi MMQ pada KPR ib artikel diakses pada 21 Mei 2019 dari

16 4 diperuntukkan bagi pembiyaan pemilikan rumah ukuran tipe 70 meter persegi. FTV paling tinggi yaitu 70% untuk KPR lebih dari 70 meter persegi dengan akad murabahah. FTV paling tinggi 80% untuk pembiayaan KPR dengan akad Musyarakah Mutanaqishah (MMQ) dan akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT) yang telah diterapkan pada bulan April 2013 lalu. 6 Ini berarti akad Musyarakah Mutanaqishah bisa menjadi pilihan akad yang menarik untuk digunakan dalam produk perbankan syariah Indonesia. Selanjutnya, tahun 2016 BI merelaksasi kembali aturan terkait LTV dan FTV melalui PBI No. PBI No.18/16/PBI/2016 tentang Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti, Rasio Financing to Value untuk Pembiayaan Properti, dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor 7. Dalam peraturan tersebut dicantumkan bahwa uang muka alias down payment (DP) untuk pembiayaan property pertama berdasarkan akad MMQ dan akad IMBT dengan tipe 70 meter persegi adalah 10%. Ini artinya pembiayaan pemilikan rumah dengan akad MMQ benar-benar disorot oleh Bank Indonesia. Namun dalam Fatwa DSN MUI No.73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah belum merinci dengan jelas bagaimana teknis dari akad tersebut agar bisa dipraktikan dengan baik dan maksimal bagi perbankan syariah. Oleh karena itu, DSN MUI mengeluarkan Keputusan DSN MUI No.1 tahun 2013 tentang Pedoman Implementasi Musyarakah Mutanaqishah dalam Produk Pembiayaan. Dalam keputusan tersebut menjelaskan semua tentang karakteristik, tujuan, obyek pembiayaan dan prinsip ketentuan jika 6 Surat Edaran Bank Indonesia nomor 14/ 33/DPbS tahun 2012 tentang Ketentuanketentuan pelaksanaan KPR ib pada Bank Syariah. 7 Frequently Asked Questions PBI NO.18/16/PBI/2016 tentang Rasio LTV Untuk Kredit Properti, Rasio FTV Untuk Pembiayaan Properti, dan Uang Muka Untuk Kredit Atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor.

17 5 akad MMQ di implemetasikan, bahkan ketentuan khusus indent dijelaskan dalam pedoman tersebut. Semakin kesini penerapan musyarakah mutanaqishah menghadapi beberapa persoalan yang perlu diselesaikan dengan baik walaupun telah dikeluarkan Keputusan DSN MUI No.1 tahun 2013 tersebut, salah satunya yaitu tentang pembiayaan perumahan indent yang masih butuh kejelasan akad tambahan. Pembiayaan perumahan indent adalah pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan terhadap nasabah yang hendak memilik rumah dimana pihak bank dapat memperoleh pembayaran margin dari nasabah kendati rumah tersebut belum jadi. Dalam perbankan konvensional, pembayaran ini dapat dilakukan karena perbankan konvensional menerapkan bunga sehingga mereka tidak merasa kesulitan untuk menarik pembayaran dari nasabah. Proses ini disebut interest during construction (IDC). Tentu saja, IDC tidak dapat diterapkan dalam perbankan syariah yang melarang bunga. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada dasarnya perbankan syariah memiliki peluang mendapatkan pembayaran margin dari nasabah kendati rumah masih dalam proses konstruksi. Akad yang dapat digunakan adalah Ijarah Mausufah fi Dzimmah (IMFZ) 8. Sehingga untuk memperkuat produk pembiayaan perumahan menggunakan akad Musyarakah Mutanaqishah dengan objek masih dibangun (Inden), DSN MUI akhirnya mengeluarkan fatwa No. 102 tahun 2016 tentang Akad Al-Ijarah Al-Maushufah fi Al-Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR)-Inden. Sejak 2016 setelah ditetapkan fatwa Akad IMFZ untuk PPR-Inden sebagai akad tambahan untuk pembiayaan perumahan yang menggunakan akad MMQ atau akad IMBT ternyata akad IMFZ belum 8 M. Ridwan dan Syahruddin, Implementasi Musyarakah Mutanaqishah sebagai Alternatif Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah Indonesia, Jurnal TSAQAFAH, Vol. 9 No.1, (April, 2013), h.13.

18 6 diterapkan secara menyuluruh atau serentak oleh Perbankan Syariah di Indonesia. Padahal, ini merupakan peluang yang besar jika semua Perbankan Syariah di Indonesia baik BUS atau yang masih UUS menerapkan akad IMFZ karena dapat memberikan pembiayaan kepada nasabah khususnya dalam pembiayaan perumahan dengan objek yang masih dibangun (inden). Selanjutnya, dilihat dari salah satu pertimbangan dikeluarkan dan ditetapkan Fatwa DSN-MUI No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk PPR-Inden yaitu DSN-MUI menerima permohonan fatwa dari PermataBank Syariah untuk KPR ib inden dan setelah ditelusuri bahwa benar sejak dikeluarkan produk pembiayaan PermataKPR ib akad MMQ pada tahun 2016, akad MMQ dibolehkan untuk pembiayaan perumahan dengan objek pembiayaan masih dalam tahap dibangun (inden). Maka dari hasil pembahasan diatas perlu adanya penelitian tentang Penerapan Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden Ditinjau Dengan Fatwa MMQ No. 73/DSN-MUI/XI/2008 dan Fatwa IMFZ No. 102/DSN-MUI/X/2016 di PermataBank Syariah B. Ruang Lingkup Permasalahan PermataKPR ib merupakan produk pembiayaan pemilikan rumah dari PermataBank Syariah yang menawarkan pembiayaan perumahan dengan tiga pilihan akad yang diberikan untuk Nasabah yaitu Akad Murabahah, akad Ijarah Muntahiyyah Bittamlik (IMBT) dan Akad Musyarakah Mutanaqishah. PermataKPR ib selain untuk pembiayaan rumah, ruko, dan sejenisnya juga dibolehkan untuk mebiayai renovasi rumah diakses pada tanggal 29 Maret 2019.

19 7 Dalam menerapkan salah satu akad dari produk PermataKPR ib yaitu akad Musyarakah Mutanaqishah terkadang produk yang akan dibiayai objeknya belum tersedia atau masih dalam tahap dibangun (inden). Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasi akan adanya masalah-masalah seputar pembiayaan perumahan dengan objek yang masih dibangun (inden) yang diantaranya adalah : 1. Bagaimana konsep akad Musyarakah Mutanaqishah menurut fatwa DSN-MUI? 2. Kapan ujrah dapat ditetapkan dalam pembiayaan pemilikan rumah inden dengan akad MMQ? 3. Bagaimana konsep pembiayaan pemilikan rumah inden dengan menggunakan akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah sebagai akad tambahan dalam pembiayaan akad MMQ? 4. Bagaimana penerapan pembiayaan perumahan dengan akad Musyarakah Mutanaqishah di PermataBank Syariah? 5. Apa saja peraturan yang terkait dengan produk PermataKPR ib akad MMQ? 6. Apakah penerapan pembiayaan pemilikan rumah inden dengan akad MMQ di PermataBank Syariah telah sesuai dengan prinsip syariah yang tertuang dalam Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk PPR-Inden? Pembatasan Masalah Mengingat terlalu luas lingkup pembahasan implementasi akad Musyarakah Mutanaqishah maka penelitian kali ini hanya akan membahas tentang penerapan akad MMQ dalam Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden di PermataBank Syariah ditinjau dari Fatwa DSN MUI No.73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah dan Fatwa DSN

20 8 MUI No.102 tahun 2016 tentang Akad Al-Ijarah Al-Maushufah fi Al- Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR)-Inden. Perumusan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka penulis membuat perumusan masalah: 1. Bagaimana penerapan pembiayaan pemilikan rumah dengan Akad Musyarakah Mutanaqishah di PermataBank Syariah? 2. Apakah penerapan pembiayaan pemilikan rumah inden dengan akad MMQ di PermataBank Syariah telah sesuai dengan prinsip syariah yang tertuang dalam Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk PPR-Inden? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian adalah ini bertujuan untuk: a. Menganalisis bagaimana konsep, mekanisme dan ketentuan akad musyarakah mutanaqishah dalam pembiayaan perumahan di PermataBank Syariah. b. Menganalisis kesesuaian syariah dalam pembiayaan pemilikan rumah inden pada produk PermataKPR MMQ Inden. 2. Manfaat Penelitian Penelitian yang penulis lakukan, diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik secara teoritis maupun praktis. a. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan menjadi acuan untuk pembelajaran dan pembuatan karya ilmiah, khususnya yang berkaitan dengan Akad Musyarakah Mutanaqishah dan Akad Ijarah

21 9 Maushufah fi Dzimmah dalam Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden, serta untuk sumber data dan informasi yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagai bahan untuk menambah pengetahuan, khususnya di Bidang Hukum Ekonomi Syariah. b. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi penulis sendiri dalam menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai pembiayaan pemilikan rumah dengan akad MMQ dan konsep akad IMFZ sebagai akad tambahan dalam PPR-Inden. Selain itu penelitian ini juga dapat berguna bagi masyarakat Islam pada umumnya, terutama para penyelenggara dan pelaksana hukum pembiayaan akad MMQ dengan asset yang masih dibangun (Inden). D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu Dewasa ini perbankan syariah semakin berkembang pesat dengan berusaha mengeluarkan produk-produk inovasi terbaru agar dapat menarik minat para nasabah termasuk produk pembiayaan perumahan. Produk-produk tersebut dikeluarkan dengan tetap dikemas agar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dengan dibantu pengeluaran regulasi-regulasi yang terkait oleh DSN MUI Indonesia. M.Ridwan dan Syahruddin (2013) meneliti tentang penerapan akad musyarakah mutanaqishah yang dilihat dapat berkembang luas dan menjadi alternative pembiayaan murabahah di perbankan syariah karena akad musyarakah mutanaqishah dilihat lebih menguntukan dan lebih tepat dalam pembiayaan perumahan dengan tenor panjang, 7 sampai 15 tahun 10. Namun, dalam penerapan MMQ, terdapat banyak persoalan terkait dengannya yang 10 M. Ridwan dan Syahruddin, Implementasi Musyarakah Mutanaqishah sebagai Alternatif Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah Indonesia, Jurnal TSAQAFAH, Vol. 9 No.1, April, 2013.

22 10 harus diselesaikan dengan baik salah satunya yaitu terkait pembiayaan property indent. Pembiayaan property indent adalah pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan dimana perbankan dapat menerima margin dari nasabah kendati property yang menjadi objek pembiayaan belum jadi. Dalam bank konvensional hal ini diperbolehkan, proses ini disebut interest during construction (IDC) namun dalam bank syariah tidak boleh diterapkan dan untuk mengantisipasinya maka akad yang dapat digunakan yaitu Akad Ijarah Al-Maushufah fi Al-Dzimmah (IMFZ) dengan mekanisme pembayarannya atas manfaat yang akan diperoleh kemudian hari. Penelitian tersebut sama dengan penelitian yang akan dikaji. Dimana penelitian kali ini akan lebih mendalami produk pembiayaan perumahan dengan menggunakan akad Musyrakah Mutanaqishah di PermataBank Syariah. Putri Kamilatur Rohmi (2015), melakukan penelitian tentang implementasi akad MMQ pada pembiayaan kepemilikan rumah di Bank Muamalat Lumajang dimana dari hasil penelitiannya implementasi akad MMQ telah sesuai dengan fatwa DSN MUI no.72 tahun 2008 dan juga Surat Edaran Bank Indonesia SE BI nomor 14/ 33/ Dbps. Dengan implementasi meliputi akad yang digunakan yaitu Akad Musyarakah Mutanaqishah dan Prosedur Pembiayaan yang meliputi criteria nasabah, analasis nasabah yang meliputi 5C, dan Scorring 11. Penelitian tersebut sama dengan penetilian yang akan dikaji yaitu tentang implementasi Akad MMQ. Namun dalam penelitian kali ini penulis akan membahas lebih dalam mengenai produk pembiyaan perumahan inden dengan akad penunjang yaitu Akad Ijarah Al-Maushufah fi Al-Dimmah (IMFZ). 11 Putri Kamilatur Rohmi, Implementasi Akad Musyarakah Mutanaqishah Pembiayaan Kepemilikan Rumah di Bank Muamalat Lumajang, Jurnal Iqtishoduna, Vol. 5, No.1, April, 2015.

23 11 Lastuti Abubakar dan Tri Handayani (2017) melakukan penelitian tentang telaah yuridis terhadap pembiayaan perumahan melalui akad MMQ, dalam penelitian ini menjelaskan bahwa sistem kepemilikan bersama harus diperjelas dan harus dituangkan dalam bukti kepemilikan yaitu sertifikat karena dalam mekanisme akad MMQ bank dan nasabah adalah mitra dimana objek MMQ adalah milik bersama sehingga kedudukan keduanya harus jelas dalam pengalihan kepemilikan. Mekanisme jaminan yang diberlakukan dalam akad MMQ tidak tepat dikarenakan menggunakan pengikatan dalam Hak Tanggungan yang memberikan hak pada kreditor untuk mengeksekusi objek MMQ apabila objek dijadikan objek jaminan mengingat kedudukan nasabah dan bank adalah mitra bukan sebagai kreditur dan debitur 12. Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian yang akan dikaji. Penelitian yang akan dikaji akan membahas tentang Pembiayaan Perumahan Inden menggunakan Akad MMQ. Mengenai pengikatan jaminan tentang Hak Tanggungan dalam Produk Pembiayaan Perumahan menggunakan Akad MMQ telah diatur oleh OJK Dalam Buku Standar Produk Musyarakah dan Musyarakah Mutanaqishah bahwa Bank Syariah dan Nasabah akan menandatangani surat persetujuan dimana Hak Tanggungan dicantumkan nama Nasabah dikarenakan belum ada regulasi syariah yang sesuai untuk pengikatan jaminan ketika menggunakan Akad MMQ maka pilihan satu-satunya yaitu tetap menggunakan pengikatan jaminan dengan Hak Tanggungan. Dan terakhir yaitu penelitian dari Rega Felix S.H (2017) yang membahas tentang potensi penerapan Fatwa tentang Al-Ijarah Al-Maushufa Fi Al- Dzimmah dimana fatwa ini dikeluarkan oleh DSN MUI pada tahun 2016 sebagai fatwa pelengkap dalam akad Musyarakah Mutanaqishah (MMQ). 12 Lastuti Abubakad dan Tri Handayani, Telaah Yuridis terhadap Pembiayaan Perumahan Melalui Akad MMQ, Jurnal Hukum Ekonomi Islam, UNPAD, 2017.

24 12 IMFZ menjadi solusi agar pengembalian keuntungan bagi bank dapat dilakukan jika rumah tersebut belum dibangun. 13 Ditetapkannya fatwa mengenai IMFZ membuka peluang bagi perbankan syariah untuk memperluas pasarnya, karena dalam praktik bisnis banyak kebutuhan transaksi terhadap objek yang sedang/akan dibangun. Penelitian tersebut sama dengan penelitian yang akan dikaji. Dimana penelitian kali ini akan berfokus juga kepada penerapan akad IMFZ dalam Pembiayaan Pemilikan Rumah dengan Akad MMQ yang objeknya masih dalam tahap inden. E. Kerangka Penelitian 1. Kerangka Teori Dalam penelitian ini penulis akan menjelaskan mengenai teori tentang kedudukan Fatwa DSN-MUI, Perbankan Syariah dan Nasabah. a. Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, adalah keputusan atau pendapat yang dibuat oleh DSN-MUI yang berkaitan dengan masalah perekonomian islam. DSN-MUI dibentuk untuk melaksanakan tugas MUI dalam menetapkan fatwa dan mengawasi penerapannya guna menumbuh kembangkan usaha bidang keuangan, bisnis, dan ekonomi syariah di Indonesia. Fungsi utama DSN adalah mengawasi produkproduk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah islam. Kedudukan Fatwa DSN-MUI dalam hukum Indonesia yaitu tidak memiliki kekuatan hukum mengikat karena tidak masuk dalam jenis dan hierarki peraturan perundang-udangan. 14 Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 7 ayat (1) UU 12/2011 tentang Pembentukan peraturan Perundangundangan, jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: 13 Potensi Penerapan Al-Ijarah Al-Maushuah Fi Al- DzimmahOleh Perbankan Syariah, jurnal karya Rega Felix S.H, diakses pada tanggal 23 Januari 2020.

25 13 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; 3) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; 4) Peraturan Pemerintah; 5) Peraturan Presiden; 6) Peraturan Daerah Provinsi; dan 7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Namun, Fatwa DSN-MUI bisa menjadi mengikat apabila dilegitimasi lewat peraturan perundang-undangan oleh lembaga pemerintah, sehingga harus dipatuhi oleh para pelaku ekonomi syariah. 15 Salah satunya yaitu dilegitimasi oleh Otoritas Jasa Keuangan di dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan yang kemudian peraturan tersebut masuk dalam hierarki peraturan perundang-undangan sebagai Peraturan Pemerintah sehingga menjadi pedoman atau acuan yang harus dipatuhi oleh setiap lembaga keuangan syariah, salah satunya yaitu Perbankan Syariah agar menjalankan setiap kegiatan usaha atau operasionalnya harus sesuai dengan prinsip syariah. Dalam POJK No. 4 tahun 2015 tentang Produk dan Aktivitas BUS dan UUS, Pasal 1 ayat 6 tentang Prinsip Syariah adalah Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yaitu prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Fatwa DSN-MUI ketika dilegitimasi lewat peraturan perundang-undangan oleh lembaga pemerintah, maka kedudukan dari Fatwa DSN-MUI yaitu mengikat 15 diakses pada tanggal 23 Januari 2020.

26 14 karena memiliki wewenang otoritatif dalam menilai sesuatu sesuai syariah atau tidak. Sehingga untuk menilai apakah penerapan Produk PermataKPR ib akad MMQ Inden di PermataBank Syariah telah sesuai dengan Prinsip Syariah atau tidak maka harus menggunakan parameter yang tertuang dalam Fatwa DSN-MUI No. 73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah dan Fatwa DSN-MUI No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah di Dzimmah untuk PPR-Inden dimana penjelasan terkait dua akad tersebut akan dijelaskan secara singkat dibawah ini; 1) Musyarakah Mutanaqishah (MMQ), merupakan salah satu produk pengembangan dari produk berbasis akad Musyarakah. Musyarakah Mutanaqishah dapat diaplikasikan sebagai suatu produk pembiayaan perbankan syariah berdasarkan prinsip syirkah 'inan, dimana porsi modal (hishshah) salah satu syarik (mitra) yaitu Bank berkurang disebabkan oleh pembelian atau pengalihan komersial secara bertahap (naqlul hishshah bil 'iwadh mutanaqishah) kepada syarik (mitra) yang lain yaitu Nasabah. 16 Akad MMQ diatur dalam Fatwa DSN No.73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqisah. Berdasarkan Fatwa DSN MUI No. 73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah, yang dimaksud dengan MMQ adalah Musyarakah atau Syirkah yang kepemilikan asset (barang) atau modal salah satu pihak berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya. Dalam artian yang membedakan antara Musyarakah Mutanaqishah dengan Musyarakah yaitu ada pengalihan 16 Buku Standar Produk Musyarakah dan Musyarakah Mutanaqishah Otoritas Jasa Keuangan, 2016 h. 114.

27 15 secara bertahap (hishshah) dari salah satu pihak ke pihak lainnya. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa MMQ: a) Merupakan produk turunan dari musyarakah yang merupakan bentuk akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk kepemilikan suatu barang (obyek). b) Kepemilikan salah satu pihak terhadap barang yang menjadi obyek MMQ secara bertahap akan berkurang sedangkan pihak lainnya bertambah hak kepemilikannya. c) Perpindahan porsi kepemilikan kepada salah satu pihak terjadi melalui mekanisme pembayaran. Akad MMQ biasa digunakan sebagai akad pembiayaan pemilikan rumah di Bank Syariah. Aturan mengenai persyaratan dan karakteristik Pembiayaan MMQ di Bank Syariah terdapat dalam SEOJK No. 36/2015. Objek pembiayaan MMQ dapat berupa objek berwujud (ready stock) atau belum berwujud (inden), dalam hal objek MMQ belum berwujud (inden) harus memenuhi persyaratan salah satunya menggunakan akad Musyarakah Mutanaqishah dan Ijarah Maushufah fi Dzimmah. 17 Skema Pembiayaan Pemilikan Rumah dengan akad MMQ berdasarkan atas kerjasama bagi hasil. Dalam skema ini, nantinya bank dan nasabah bersama-sama membeli rumah sesuai porsinya masing-masing. Misalnya, nasabah harus menyetor sebesar 20% dari harga rumah dan bank menyetor sekitar 80%. Kemudian, rumah tersebut disewakan dengan nasabah sebagai penyewanya. Porsi 17 SEOJK No.36 tahun 2015 tentang Produk dan Aktivitas BUS dan UUS, h.38.

28 16 kepemilikan bank terhadap rumah tersebut setiap bulan akan berkurang dikarenakan pada saat pembayaran angsuran, nasabah secara tidak langsung juga membeli porsi kepemilikan secara bertahap sesuai dengan perhitungan yang telah disepakati di awal. Selanjutnya, di akhir periode porsi kepemilikan nasabah atas rumah tersebut menjadi 100% dan porsi kepemilikan bank menjadi 0%. 18 2) Ijarah Maushufah fi Dzimmah (IMFZ), yaitu akad sewamenyewa atas manfaat suatu barang (manfaat 'ain) dan/atau jasa ('amal) yang pada saat akad hanya disebutkan sifat-sifat dan spesifikasinya (kuantitas dan kualitas). Akad IMFZ menjadi akad tambahan dalam pembiayaan pemilikan rumah dengan menggunakan akad Musyarakah Mutanaqishah (MMQ) atau Ijarah Muntahiyah Bi Tamlik (IMBT) dengan objek pembiayaan masih dalam tahap dibangun (inden). Akad IMFZ diatur dalam Fatwa DSN MUI No. 101 tahun 2016 tentang IMFZ dan Fatwa DSN MUI No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden. Menurut Ammi Nur Baits, Ijarah Maushufah fi Dzimmah terdiri dari tiga kata penting dengan arti yang berbeda-beda, yaitu: 19 a) Ijarah ( (إجااا artinya akad sewa menyewa. Dimana konsumen memiliki hak guna pakai sesuai ukuran tertentu terhadap barang yang memiliki nilai ketahanan (tidak habis pakai) seperti menyewa rumah, mobil, dan sebagainya. 18 Otoritas Jasa Keuangan, Kajian Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan: Kredit Pemilikan Rumah (KPR), (Jakarta; Departemen Perlindungan Konsumen OJK, 2017), h Mengenal Akad Ijarah Maushuf fi Dzimmah (IMFD), artikel diakses pada 13 November 2019 dari

29 17 b) Mausuf ( (الموصاااو artinya yang disifati, yaitu sesuatu yang ditetapkan dan dibatasi berdasarkan kriteria. Sehingga wujud bendanya belum tertentu, dan umumnya ketersediaannya banyak di pasaran. c) Fi al-dzimmah ( ال اااااااا (فاااااااا artinya dalam tanggungan/jaminan, sehingga barang belum ada. Dimana penjual atau penyedia layanan menjamin akan mendatangkan benda yang dimaksud sesuai kriteria yang disebutkan. Sehingga makna dari Ijarah Maushufah fi Dzimmah adalah akad sewa menyewa dimana objek transaksi wujudnya belum ada namun kriteria secara spesifik dari sifat, bentuk, kuantitas dan kulitas sudah ditentukan ketika akad agar terhindar dari gharar dengan manfaat objek baru akan diperoleh di kemudian hari. Perbedaan antara akad IMFZ dengan akad ijarah adalah manfaat atas barang atau jasa pada IMFZ belum ada pada saat akad dilakukan, sehingga manfaat atas barang yang disifati tersebut masih dalam tanggungan penyedia barang dan jasa. Sedangkan dalam akad ijarah biasa, manfaat atas barang atau jasa dapat dinikmati manfaatnya oleh penyewa barang atau jasa pada saat akad dilakukan. b. Perbankan Syariah, dalam UU No.21/2008 tentang Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya yang harus sesuai dengan prinsip syariah yaitu prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki

30 18 kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah yang di Indonesia dikenal dengan sebutan Dewan Syariah Nasional MUI. c. Nasabah, adalah orang yang biasa berhubugan atau menjadi pelanggan bank (dalam hal keuangan) atau pihak yang menggunakan jasa Bank Syariah dan/atau UUS. Dalam UU No.21/2008 tentang Perbankan Syariah dijelaskan bahwa Nasabah terbagi menjadi dua yaitu: a. Nasabah Penyimpan adalah Nasabah yang menempatkan dananya di Bank Syariah dan/atau UUS dalam bentuk Simpanan berdasarkan Akad antara Bank Syariah atau UUS dan Nasabah yang bersangkutan. b. Nasabah Investor adalah Nasabah yang menempatkan dananya di Bank Syariah dan/atau UUS dalam bentuk Investasi berdasarkan Akad antara Bank Syariah atau UUS dan Nasabah yang bersangkutan.

31 19 2. Kerangka Konseptual Pembiayaan Kepemilikan rumah inden di Perbankan Syariah PermataBank Syariah Permata KPR ib Produk Akad Musyarakah Mutanaqishah untuk PPR-Inden Kesesuaian produk PermataKPR ib Akad MMQ (objek masih dalam tahap inden) Kedudukan para pihak Manfaat barang Barang sewa inden (PPR-Inden) Ujrah Uang muka & jaminan Penyelesaian sengketa Penyesuaian prinsip syariah Ya Tidak F. Metode Penelitian Dari penjelasan di atas, maka pada bagian ini akan dijelaskan metode penelitian hukum yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini, yaitu:

32 20 1. Jenis Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yaitu penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dibangun adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan atau yang ditunjuk oleh undang-undang, putusan pengadilan, perjanjian, serta doktrin (ajaran). 20 Lebih lanjut mengenai penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang memiliki objek kajian tentang kaidah atau aturan hukum. Penelitian hukum normatif meneliti kaidah atau peraturan hukum sebagai suatu bangunan sistem yang terkait dengan suatu peristiwa hukum. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memberikan argumentasi hukum sebagai dasar penentu apakah suatu peristiwa telah benar atau salah serta bagaimana sebaiknya peristiwa itu menurut hukum. 21 Menurut Terry Hutchinson sebagaimana dikutip Peter Mahmud Marzuki adalah sebagai berikut : Doctrinal research: research wich provides a systematic exposition of the rules goverming a particular legal category, analyses the relationship between rules, explain areas of difficullty and perhaps, predicts future and development. (Penelitian doctrinal adalah penelitian yang memberikan penjelasan sistematis aturan yang mengatur suatu kategori hukum tertentu, menganalisis hubungan antara peraturan menjelaskan daerah kesulitan dan mungkin memprediksi pembangunan masa depan) Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2017), Cetakan IV, h Ibid, h Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum. (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 35.

33 21 Menurut Soerjono Soekanto, penelitian normatif atau doctrinal disebut juga dengan penelitian perpustakaan atau studi dokumen karena penelitian ini dilakukan atau ditunjukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lain. 23 Jenis penelitian yang dipakai penulis jika diurutkan berdasarkan: a. Sifat, yakni eksplanatoris atau menjelaskan hukum yang dipakai. b. Bentuk, yakni evaluative atau prosedur evaluasi untuk mengumpulkan data tentang implementasi kebijakan. c. Tujuan, yakni problem-solution atau menemukan permasalahan yang terjadi kemudian mencetuskan suatu solusi untuk meminimalisir kesalahan yang akan terjadi. d. Penerapan, yakni terapan atau pelaksaaan suatu tata cara yang dilihat sudah sesuai standarisasi atau belum. 2. Pendekatan Penelitian Adapun pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu pendekatan perundang-undangan (Statute approach) dan pendekatan kasus (Case approach). Pendekatan perundang-undangan (statue approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan menelaah semua undangundang atau peraturan yang ditunjuk oleh undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang ditangani atau yang akan diteliti. 24 Pendekatan kasus (case approach) digunakan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktek hukum Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. Ke-8, h Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum. (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2011), h Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2015), h.133.

34 22 Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menggali implementasi Fatwa DSN-MUI No.73/DSN-MUI/XI/2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah dan Fatwa DSN-MUI No.102/DSN- MUI/X/2016 tentang Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk produk pembiayaan pemilikan rumah (PPR)-Inden dalam hal ini peneliti memilih studi kasus di PermataBank Syariah. 3. Sumber Data Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan berupa bahanbahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas, adapun bahan sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumendokumen resmi. 26 Data yang digunakan penulis dalam penelitian adalah: a. Data Primer, yaitu Peraturan Perundang-undangan, Peraturan Bank Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, Fatwa DSN-MUI No.73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah dan No. 102 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden, Ketentuan Umum Perjanjian Pemberian Fasilitas Musyarakah Mutanaqishah PermataBank Syariah dan Ketentuan Khusus Perjanjian Pemberian Fasilitas Musyarakah Mutanaqishah Untuk Aset Belum Berwujud (Inden) PermataBank Syariah. b. Data Sekunder, yaitu buku teks terkait produk pembiayaan perumahan di bank syariah dan akad-akad pembiayaan syariah, jurnal terkait akad Musyarakah Mutanaqishah dalam pembiayaan perumahan Syariah dan artikel di media internet. 26 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2015), h.181.

35 23 4. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis melakukan kajian dengan cara: a. Studi Pustaka, ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. 27 Studi pustaka digunakan untuk mendapatkan acuan teori dalam melengkapi data yang digunakan. Mendapatkan teori yang relevan guna melengkapi penelitian dengan cara membaca dan mempelajari beberapa literatur, buku-buku, dokumen perjanjian dari lembaga penelitian terkait dan catatan yang sesuai dengan pembahasan yang akan diteliti. Hal ini dilakukan agar mendapatkan landasan teori dan acuan yang jelas. b. Studi lapangan, studi lapangan adalah studi yang dilakukan langsung oleh penulis untuk mendapatkan data yang akurat, Penulis melakukan wawancara tatap muka kepada pihak PermataBank Syariah dalam bentuk pertanyaan yang telah penulis susun sebelumnya. 5. Teknik Pengolahan Data Penulis menggunakan beberapa cara untuk mengelolah data hasil penelitian. a. Cheking Data Pada langkah ini, peneliti mengecek ulang data yang sudah didapatkan dari hasil lapangan yang peneliti lakukan, apakah datanya sudah lengkap atau belum, kemudian menyeleksi data sehingga hanya data yang relevan saja yang digunakan dalam analisis. Hasil dari checking ini berupa pembetulan kesalahan, 2008), h Mestika zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,

36 24 kembali lagi ke lapangan, atau mengdrop item yang tidak dapat dibetulkan. b. Editting Data Data yang telah penulis teliti lengkap atau tidaknya, perlu di edit. Cara pengeditan tersebut adalah dengan dibaca kembali dan diperbaiki apa yang menjadi keselahan dari hasil penelitian, jika hasil penelitian masih ada yang kurang jelas atau meragukan maka perlu adanya kegiatan yang dilakukan, yaitu catatan yang tidak jelas harus diperjelas dan disempurnakan oleh penulis, kata-kata yang masih berupa singkatan diperjelas untuk menghilangkan keraguan terhadap data, dan mengubah kalimat kependekan yang masih rancu dari jawaban menjadi kalimat yang jelas dan lebih bermakna. c. Korelasi Korelasi dilakukan penulis untuk menyatakan kuat lemahnya hubungan antara dua hal atau lebih baik itu ke arah positif atau ke arah negatif. Setelah semua hasil lapangan terkumpul dan sudah dianggap benar serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, penulis menghubungkan hasil penelitian lapangan tersebut dengan Fatwa DSN-MUI dan peraturan-peraturan hukum positif ataupun hukum Islam di Indonesia yang terkait dengan permasalahan penelitian. 6. Metode Analisis Data Hasil dari klarifikasi data, kemudian penulis akan menganalisa dengan menggunakan metode analisis kualitatif melalui membaca dan mereview data untuk sebuah temuan masalah. 7. Metode Penulisan Skripsi Dalam penyusunan penelitian ini, penulis menggunakan dan mengacu pada metode penulisan Buku Pedoman Penulisan Skripsi

37 25 Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun G. Sistematika Penulisan Untuk memperjelas penelitian ini maka peneliti akan menjelaskan sistematika dalam penulisan ini, yaitu: BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah yang dijadikan penulis alam mengembangkan penelitian ini, dilanjutkan dengan identifikasi masalah, batasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review kajian terdahulu, kerangka teori dan konseptual, metode penelitian dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN UMUM PEMBIAYAAN PEMILIKAN RUMAH INDEN DENGAN AKAD MMQ-IMFZ Bab ini membahas tentang teori-teori yang berkaitan dengan konsep pembiayaan pemilikan rumah (PPR) inden di Bank Syariah dari definisi pembiayaan, pembiayaan pemilikan rumah inden, akad Musyarakah Mutanaqishah dan akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah. BAB III GAMBARAN UMUM PermataBank Syariah Bab ini menjelaskan tentang profil perusahaan, laporan keuangan tahunan unit syariah, produk-produk PermataBank Syariah, Produk PermataKPR ib Akad Musyarakah Mutanaqishah Inden dan terakhir yaitu mekanisme pembiayaan MMQ Inden (IMFZ). BAB IV ANALISIS KESESUAIAN PRODUK DENGAN FATWA DSN-MUI Bab ini menjelaskan tentang hasil dan Pembahasan penelitian mengenai kesesuaian Produk PermataKPR ib Musyarakah Mutanaqishah dengan asset

38 26 belum berwujud (Inden) berdasarkan Fatwa DSN-MUI No. 73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah dan Fatwa DSN-MU No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden. BAB V PENUTUP Bab ini mencakup uraian atas kesimpulan yang diambil dari penelitian berupa jawaban dari rumusan masalah dengan diperkuat saran-saran penulis untuk pembaca Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum 2017 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Jakarta: t.p, 2017).

39 27 BAB II TINJAUAN UMUM PEMBIAYAAN PEMILIKAN RUMAH INDEN DENGAN AKAD MMQ-IMFZ A. Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden Bank Syariah 1. Pengertian Pembiayaan Secara etimologi pembiayaan berasal kata biaya yaitu uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan, dan sebagainya) sesuatu. 29 Dalam arti luas Pembiayaan berarti financing atau pembelanjaan, yaitu pendanaan yang diberikan untuk sebuah investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri atau sekumpulan orang. Dalam buku Islamic Banking, Veithzal Rival dan Arviyan Arifin menyatakan, bahwa pembiyaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan/ atau lembaga keuangan lainnya dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. 30 Dan menurut Syafi i Antonio pembiayaan adalah pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. 31 Sebelum melanjutkan pengertian dari pembiayaan secara menyeluruh perlu diketahui bahwa pembiayaan sangat berkaitan erat dengan aktivitas bisnis. Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang yang melibatkan aktivitas 29 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, diakses pada 16 Oktober Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h Muhammad Syafi I Antonio, Bank Syariah: dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani, 2001) h. 160.

40 28 yang menjual barang atau jasa kepada konsumen dengan tujuan untuk mendapatkan laba 32. Pelaku bisnis dalam menjalankan bisnisnya sangat membutuhkan sumber modal. Jika pelaku tidak memiliki modal secara cukup maka ia akan berhubungan dengan pihak lain, seperti Bank, untuk mendapatkan suntikan dana, dengan melakukan pembiayaan. 33 Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank baik bank konvensional maupun bank syariah, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit. Dalam bank syariah istilah kredit diganti dengan pembiayaan karena bank syariah memiliki skema yang berbeda dengan bank konvensional dalam menyalurkan dana kepada pihak yang membutuhkan. Dalam Pasal 1 (12) UU Perbankan tahun 1998 Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. 34 Sedangkan, Pembiayaan dalam Pasal 1 (25) UU Perbankan Syariah tahun 2008 Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa: a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah; b. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; 32 Wikipedia Online, diakses pada 16 Oktoner Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, (Yogyakarta PT. UPP AMP YKPN, 2005) h UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan.

41 29 c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna ; d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan e. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil Pengertian Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden Pada perbankan syariah, KPR (Kredit Pemilikan Rumah) biasa disebut dengan PPR (Pembiayaan Pemilikan Rumah) atau KPR syariah yang menganut konsep jual beli dan kerjasama bagi hasil. Agar lebih terarah secara umum maka dalam penulisan ini penulis akan menggunakan istilah PPR. Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) masuk dalam kategori penyaluran dana di perbankan syariah, yaitu kegiatan pembiayaan dengan kategori pembiayaan konsumtif yang diberikan kepada nasabah untuk membeli hunian atau tempat tinggal dalam hal ini tidak hanya rumah tinggal, tetapi bisa berupa rumah toko (ruko), dan apartemen berdasarkan kebutuhan atau permintaan nasabah dengan pembayaran secara angsuran. PPR adalah salah satu alternatif dalam memiliki atau mendirikan sebuah rumah dengan proses pembayaran secara angsuran dan jaminan kepemilikan atas rumah tersebut. Pada dasarnya proses pemberian fasilitas pembiayaan dalam bank syariah sama dengan proses dalam bank konvensional, yaitu: 35 UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

42 30 pengajuan, analisa, persetujuan, akad, dan pencairan. Perbedaannya terletak pada akad yang digunakan dan pelaksanaan pembiayaan. 36 Adapun pengertian Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) secara garis besar tidak berbeda dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) secara umum, walaupun tetap memiliki perbedaan. Perbedaan yang paling jelas diantara keduanya adalah adanya aturan yang mengatur pada aplikasi PPR Syariah yaitu kaedahkaedah ekonomi Islam. Sehingga bisa disimpulkan bahwa PPR adalah pembiayaan yang digunakan untuk membeli rumah tinggal, rumah toko, atau apartemen sesuai dengan aturan syariah. 37 Disebut inden karena rumah atau property yang akan dibeli masih dalam proses pembangunan (building under construction) yang mana rumah atau property belum tersedia secara utuh dan belum siap diserahterimakan kepada nasabah maka pembelian dilakukan dengan cara pemesanan dan pembayaran dengan cara bertahap atau diangsur melalui bank syariah yang dipilih oleh nasabah. Maka dapat disimpulkan bahwa Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden adalah salah satu produk pembiayaan bank syariah yang diberikan kepada nasabah atas pembelian rumah yang belum tersedia atau belum ready stock karena masih dalam tahap dibangun sesuai dengan skema atau akad PPR yang berlaku. Dalam PPR terdapat beberapa skema atau akad yang digunakan diantaranya adalah Jual Beli (Murabahah), Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah), Sewa Beli (Ijarah 36 Otoritas Jasa Keuangan, Kajian Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan: Kredit Pemilikan Rumah (KPR), (Jakarta; Departemen Perlindungan Konsumen OJK, 2017), h Munadi Idris, Skripsi Implementasi PPR Syariah Studi Kasus Pada Griya Ar-Roya di Kota Makassar, (Makassar: UIN Alaudin, 2014), h.50.

43 31 Muntahiya Bittamlik/ IMBT) dan Jual Beli atas Dasar Pesanan (Istishna ). Khusus untuk PPR Inden menggunakan skema atau akad pilihan yaitu: Musyarakah Mutanaqishah, Ijarah Muntahiya Bittamlik atau Istishna Dasar Hukum Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Inden di Bank Syariah Aturan mengenai pokok-pokok ketentuan operasionalisasi PPR Syariah ditentukan dalam; a. Undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah b. Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No. 36/SEOJK.03/2015 tentang Produk dan aktivitas Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. c. Peraturan Bank Indonesia No. 20/8/PBI/2018 tentang Rasio LTV untuk Kredit Properti, Rasio FTV untuk Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor. d. Fatwa DSN MUI No.102/DSN-MUI/X/2016 tentang Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk produk pembiayaan pemilikan rumah (PPR)-Inden sebagai Akad baru pelengkap dari akad Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) atau Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT) B. Akad Musyarakah Mutanaqishah 1. Pengertian Musyarakah Mutanaqishah Secara bahasa, Musyarakah Mutanaqishah terdiri dari dua kata yaitu Musyarakah dan Mutanaqishah yang masing-masing memiliki pengertian yang berbeda. Musyarakah biasa juga disebut 38 Otoritas Jasa Keuangan, Kajian Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan: Kredit Pemilikan Rumah (KPR), (Jakarta; Departemen Perlindungan Konsumen OJK, 2017), h.50.

44 32 dengan syirkah yang berasal dari turunan kata syaraka-yusyrikusyarkan-syarikan-syirkatan (syirkah), yang berarti kerjasama, perusahaan, kelompok/kumpulan. Musyarakah atau syirkah adalah merupakan kerjasama antara modal dan keuntungan. Sementara mutanaqishah berasal dari kata yatanaqishu-tanaqish-tanaqishanmutanaqishun yang berarti mengurang secara bertahap. 39 Musyarakah Mutanaqishah atau biasa disingkat dengan MMQ merupakan produk turunan dari akad Musyarakah yang merupakan bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih dalam memiliki suatu asset. Dimana kepemilikan hak salah satu pihak akan bertambah sedangkan hak pihak lainnya berkurang. Akhir dari kerjasama ini yaitu pengalihan kepemilikan dari salah satu pihak ke pihak yang lain. Berdasarkan Fatwa DSN MUI No. 73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah, yang dimaksud dengan MMQ adalah Musyarakah atau Syirkah yang kepemilikan asset (barang) atau modal salah satu pihak berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya. 40 Sedangkan Musyarakah Mutanaqishah dalam Buku Standar Produk MMQ yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan pengertiannya adalah salah satu produk pengembangan dari produk berbasis akad Musyarakah. Musyarakah Mutanaqishah dapat diaplikasikan sebagai suatu produk pembiayaan perbankan syariah berdasarkan prinsip syirkah 'inan, dimana porsi modal (hishshah) salah satu syarik (mitra) yaitu Bank berkurang disebabkan oleh pembelian atau pengalihan komersial secara 39 Nadratuzzaman Hosen, Musyarakah Mutanaqishah, Jurnal Al-Iqtishad, Vol.I, No.2, Juli Fatwa DSN MUI No.73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah.

45 33 bertahap (naqlul hishshah bil 'iwadh mutanaqishah) kepada syarik (mitra) yang lain yaitu Nasabah. 41 Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa MMQ: a) Merupakan produk turunan dari musyarakah yang merupakan bentuk akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk kepemilikan suatu barang (obyek). b) Kepemilikan salah satu pihak terhadapa barang yang menjadi obyek MMQ secara bertahap akan berkurang sedangkan pihak lainnya bertambah hak kepemilikannya. c) Perpindahan porsi kepemilikan kepada salah satu pihak terjadi melalui mekanisme pembayaran. Selanjutnya, Pembiayaan Musyarakah Mutanaqishah merupakan bentuk pembiayaan kemitraan berbasis bagi hasil antara pihak Bank Syariah dan pihak Nasabah dalam rangka kepemilikan suatu aset properti tertentu yang dimiliki Bersama berdasarkan prinsip syirkah 'inan dimana hishshah (porsi modal) pihak Bank berkurang dan beralih secara bertahap kepada pihak Nasabah melalui mekanisme pembelian angsuran atau pengalihan secara komersial (bai'). Bagi hasil antara pihak Bank dan pihak Nasabah didasarkan pada hasil penggunaan manfaat atas aset bersama tersebut secara komersial berupa pendapatan ujroh dari penyewaan asset dengan akad ijarah (sewa) sesuai nisbah bagi hasil dan biaya sewa yang disepakati Dasar Hukum Akad Musyarakah Mutanaqishah a. Ayat al-quran yang dijadikan dalil mengenai bolehnya akad Musyarakah Mutanaqishah: 1) QS. Shad [38]: 24: 41 Buku Standar Produk Musyarakah dan Musyarakah Mutanaqishah Otoritas Jasa Keuangan, 2016 h Buku Standar Produk Musyarakah dan Musyarakah Mutanaqishah Otoritas Jasa Keuangan, 2016 h. 123.

46 34 و إ ن ك ث ير ا ن ال خ ل ط ء ل ي ب غ ب ع ض ه م ع ل ى ب ع ض إ ل ال ين آ ن وا و ع م ل وا الص ل ح ت و ق ل يل ه م Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini 2) QS. al-ma idah [5]: 1: ي أ ي ه ال ين آ ن وا أ و ف وا ب ل ع ق ود Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu b. Dasar hukum Musyarakah Mutanaqishah dalam Hadits adalah : 1) Hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata: ع ن أ ب ه ر ي ر ض للا ع ن ه ق ل: ق ل س ول هللا ص ل ى هللا ع ل ي ه و س ل م: "ق ل للا ت ع لى: أ ن ث ل ث الش ر ي ك ي ن ل م ي خ ن أ ح د ه م ص ح ب ه ف إذا خ ن خ ر ج ت ن ب ي ن ه م " و اه أبو داو د و ص ح ح ه ال ح ك م. Allah swt. berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka. (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-hakim, dari Abu Hurairah).

47 35 3. Syarat Pembiayaan Musyarakah Mutanaqishah di Bank Syariah Lebih spesifik dalam bank syariah akad MMQ lebih banyak digunakan dalam pembiayaan pemilikan rumah (PPR) baik yang sudah tersedia (ready stock) atau masih dalam tahap proses pembangunan (inden), dengan ketentuan pembiayaan sebagai berikut: 43 a. Memenuhi pembiayaan musyarakah antara lain: 1. Bank dan nasabah memberikan kontribusi modal berdasarkan kesepakatan; 2. Keuntungan dibagi sesuai nisbah yang disepakati; dan 3. Kerugian ditanggung sesuai proporsi modal. b. Modal usaha dari para pihak (Bank dan nasabah) dinyatakan dalam bentuk porsi kepemilikan (hishshah). c. Modal usaha yang telah dinyatakan dalam bentuk porsi kepemilikan (hishshah) tidak boleh berkurang selama akad berlaku secara efektif. d. Bank berjanji untuk menjual seluruh porsi kepemilikan (hishshah)-nya secara bertahap dan nasabah wajib membelinya. e. Bank mengalihkan seluruh porsi kepemilikan (hishshah)-nya kepada nasabah setelah terjadi pelunasan penjualan. f. Keuntungan yang diperoleh dari sewa aset musyarakah mutanaqisah (MMQ) dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati dalam akad sedangkan kerugian dibagi berdasarkan porsi kepemilikan (hishshah). Dalam hal nasabah wanprestasi maka nasabah mengembalikan aset musyarakah mutanaqisah (MMQ) yang menjadi obyek syirkah dalam rangka mengembalikan sisa porsi kepemilikan Bank. g. Jangka waktu pembiayaan ditentukan berdasarkan kesepakatan Bank dan nasabah. 43 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No. 36 tahun 2015 tentang Produk dan Aktivitas BUS dan UUS.

48 36 h. Bank melakukan analisis atas permohonan pembiayaan dari nasabah yang antara lain meliputi aspek personal berupa analisa karakter (character) dan/atau aspek usaha antara lain meliputi analisa kapasitas usaha (capacity), keuangan (capital), dan/atau prospek usaha (condition). i. Bank dan nasabah menuangkan kesepakatan pembiayaan dalam perjanjian tertulis atau bentuk lain yang dapat dipersamakan dengan itu. j. Bank menerapkan transparansi informasi produk dan perlindungan nasabah sesuai ketentuan yang berlaku. k. Bank memiliki kebijakan dan prosedur untuk mitigasi risiko. l. Bank memiliki sistem pencatatan dan pengadministrasian rekening yang memadai. 4. Karakteristik Pembiayaan Akad Musyarakah Mutanqishah Inden Dalam hal aset musyarakah mutanaqisah (MMQ) merupakan barang belum berwujud atau inden, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 44 a. Menggunakan akad musyarakah mutanaqisah (MMQ) dan ijarah maushufah fi al-dzimmah. b. Dalam hal pembiayaan ditujukan untuk kepemilikan properti, maka juga harus memenuhi hal-hal sebagai berikut: 1) Memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai rasio loan to value atau rasio financing to value untuk kredit atau pembiayaan properti dan uang muka untuk kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor antara lain: a) Pembiayaan merupakan pembiayaan properti urutan pertama; 44 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No. 36 tahun 2015 tentang Produk dan Aktivitas BUS dan UUS.

49 37 b) Terdapat perjanjian kerjasama antara Bank dan pengembang yang paling kurang memuat kesanggupan pengembang untuk menyelesaikan properti sesuai dengan yang diperjanjikan dengan nasabah; c) Terdapat jaminan yang diberikan oleh pengembang kepada Bank yang berasal dari pengembang sendiri atau pihak lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan kewajiban pengembang apabila properti tidak dapat diselesaikan dan/atau tidak dapat diserahterimakan sesuai perjanjian; dan d) Pencairan pembiayaan properti hanya dapat dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan pembangunan properti yang dibiayai. 2) Dalam perjanjian kerjasama antara Bank dan pengembang memuat klausula tentang kejelasan obyek yang dibiayai terkait: 1. Kuantitas dan kualitasnya; 2. Kriteria dan spesifikasinya; dan 3. Jangka waktu pembangunan dan waktu serah terima. 3) Dalam perjanjian pembiayaan musyarakah mutanaqisah (MMQ) memuat klausula yang mengatur mengenai penyelesaian permasalahan dalam hal pengembang wanprestasi. 4) Bank wajib memiliki kebijakan dan kriteria pengembang yang dapat melakukan kerjasama dengan Bank. 5) Bank wajib memastikan bahwa pengembang memiliki kemampuan untuk mewujudkan aset musyarakah mutanaqisah (MMQ) yang dapat diindikasikan dengan parameter antara lain: a) Tanahnya telah tersedia, bersertifikat, dan bebas sengketa; dan

50 38 b) Pengembang telah memiliki izin pendirian bangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6) Pengakuan pendapatan selama aset musyarakah mutanaqisah (MMQ) masih inden mengacu pada Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indo-nesia (PAPSI). c. Nisbah keuntungan (bagi hasil) ditetapkan berdasarkan kesepakatan dan dapat mengikuti perubahan proporsi kepemilikan modal. d. Pembayaran ujrah dari sewa aset musyarakah mutanaqisah (MMQ) dapat dilakukan secara tunai, tangguh, atau bertahap sesuai kesepakatan. 5. Skema Musyarakah Mutanaqishah Skema Pembiayaan Pemilikan Rumah musyarakah mutanaqisah berdasarkan atas kerjasama bagi hasil. Dalam skema ini, nantinya bank dan nasabah bersama-sama membeli rumah sesuai porsinya masing-masing. Misalnya, nasabah harus menyetor sebesar 20% dari harga rumah dan bank menyetor sekitar 80%. Kemudian, rumah tersebut disewakan dengan nasabah sebagai penyewanya. Porsi kepemilikan bank terhadap rumah tersebut setiap bulan akan berkurang dikarenakan pada saat pembayaran angsuran, nasabah secara tidak langsung juga membeli porsi kepemilikan secara bertahap sesuai dengan perhitungan yang telah disepakati di awal. Selanjutnya, di akhir periode porsi kepemilikan nasabah atas rumah tersebut menjadi 100% dan porsi kepemilikan bank menjadi 0% Otoritas Jasa Keuangan, Kajian Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan: Kredit Pemilikan Rumah (KPR), (Jakarta; Departemen Perlindungan Konsumen OJK, 2017), h.51.

51 39 C. Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah 1. Pengertian Ijarah Maushufah fi Dzimmah (IMFZ) Secara bahasa, menurut Ammi Nur Baits, Ijarah Maushufah fi Dzimmah terdiri dari tiga kata penting dengan arti yang berbeda-beda, yaitu: ijarah, al-mausuf, dan al-dzimmah. 46 a) Ijarah ( (إجاا artinya akad sewa menyewa. Dimana konsumen memiliki hak guna pakai sesuai ukuran tertentu terhadap barang yang memiliki nilai ketahanan (tidak habis pakai) seperti menyewa rumah, mobil, dan sebagainya. b) Mausuf ( (الموصاااو artinya yang disifati, yaitu sesuatu yang ditetapkan dan dibatasi berdasarkan kriteria. Sehingga wujud bendanya belum tertentu, dan umumnya ketersediaannya banyak di pasaran. c) fi al-dzimmah ( ال اااا (فاااا artinya dalam tanggungan/jaminan, sehingga barang belum ada. Dimana penjual atau penyedia layanan menjamin akan mendatangkan benda yang dimaksud sesuai kriteria yang disebutkan. Sehingga makna dari Ijarah Maushufah fi Dzimmah adalah akad sewa menyewa dimana objek transaksi wujudnya belum ada namun kriteria secara spesifik dari sifat, bentuk, kuantitas dan kulitas sudah ditentukan ketika akad agar terhindar dari gharar dengan manfaat objek baru akan diperoleh di kemudian hari. Dari pengertian diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa perbedaan ijarah maushufah fi dzimmah dengan ijarah lainnya adalah barang atau jasa pada IMFZ belum ada pada saat akad dan baru akan diterima di kemudian hari seperti menggunakan 46 Mengenal Akad Ijarah Maushuf fi Dzimmah (IMFD), artikel diakses pada 13 November 2019 dari

52 40 mekanisme pemesanan seperti pembiayaan berdasarkan salam atau istishna. Pada akhir tahun 2016 lalu Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI telah mengeluarkan dan menetapkan dua fatwa baru sebagai produk baru yang dapat diterapkan oleh perbankan syariah yaitu Fatwa DSN-MUI No.101/DSN-MUI/X/2016 tentang Akad Al- Ijarah Al-Maushufah fi Al-Dzimmah dan Fatwa DSN-MUI No.102/DSN-MUI/X/2016 tentang Akad IMFZ untuk produk pembiayaan pemilikan rumah (PPR)-Inden. Pengertian akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah dalam Fatwa DSN MUI No. 101 tentang Akad IMFZ dan Fatwa DSN MUI No. 102 tentang Akad IMFZ untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR)-Inden memiliki pengertian yang sama yaitu akad sewa-menyewa atas manfaat suatu barang (manfaat ain) dan/atau jasa ( amal) yang pada saat akad hanya disebutkan sifatsifat dan spesifikasinya (kuantitas dan kualitas). 47 Jika melihat dari salah satu pertimbangan dalam fatwa sehingga ditetapkan fatwa IMFZ untuk pembiayaan kepemilikan rumah yang belum dibangun (inden) tersebut adalah didasarkan pada permohonan fatwa untuk KPR ib Indent dari Bank Permata Syariah Nomor: 22/SYA-PRODUCT/SKV/v/20I3 tertanggal 23 Mei Menurut fatwa tersebut akad IMFZ menjadi akad pelengkap dari akad Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) atau Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT) dengan artian IMFZ hanya digunakan sebagai sub-kontrak dari kedua akad tersebut. Akad IMFZ menjadi 47 Fatwa No. 101 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah.

53 41 solusi agar pengembalian keuntungan bagi bank dapat dilakukan jika rumah tersebut belum dibangun Dasar Hukum IMFZ a. Ayat al-quran yang dijadikan dalil mengenai bolehnya akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah: 1) QS. al-ma idah [5]: 1: ي أ ي ه ال ين آ ن وا أ و ف وا ب ل ع ق ود Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu 2) QS. al-baqarah (2): 282: ي أ ي ه ال ين آ ن وا إ ذ ا ت د اي ن ت م ب د ي ن إ ل ى أ ج ل س م ى ف ك ت ب وه Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya b. Dasar hukum Ijarah Maushufah fi Dzimmah dalam Hadits adalah: 1) Hadits Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar : ع ن ع ب د للا ب ن ع م ر ق ل : ق ل س ول للا ص ل ى للا ع ل ي ه و س ل م : أع ط وا ا أل ج ير أ ج ر ه ق ب ل أ ن ي ج ف ع ر ق ه "Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering."" (HR. Ibnu Majah) 2) Hadits Nabi riwayat Abd Ar-Razzaq dari Sa id : Rega Felix, Potensi Penerapan Ijarah Maushufah fi Dzimmah oleh Perbankan Syariah,

54 42 و ع ن س ع ي د ض هللا ع ن ه أ ن الن ب ص ل ى هللا ع ل ي ه و س ل م ق ل : ن اس ت أ ج ر أ ج ي ر ا ف ل ي س م أ ج ر ت ه Dati Abi Sa'id r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya." 3. Ketentuan Terkait Manfaat Barang (Manfaat Ain) dalam Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah Manfaat barang dalam Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah diatur juga dalam Fatwa DSN MUI No.102 tahun 2016 tentang Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah PPR-Inden sebagai berikut: 49 a. harus berupa manfaat yang dapat diketahui spesifikasinya (ma lum) supaya terhindar dari perselisihan dan sengketa (alniza ); b. Manfaat harus berupa manfaat yang dapat diserah-terimakan baik secara hakiki maupun secara hukum; c. Jangka waktu penggunaan manfaat (masa ijarah) harus disepakati pada saat akad; d. Manfaat harus berupa manfaat yang boleh berdasarkan syariah; dan e. Manfaat yang diharapkan adalah manfaat yang dimaksud dalam akad yang dapat dicapai melalui akad al-ijarah al-maushufahfi al-dzimmah. 49 Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden.

55 43 4. Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden (PPR-Inden) Khusus untuk barang yang menjadi obyek sewa ketentuannya juga diatur dalam Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah dalam Fatwa DSN MUI No.102 tahun 2016 tentang Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah PPR-Inden sebagai berikut: 50 a. Kriteria barang sewa yang dideskripsikan harus terukur spesifikasinya; b. Barang sewa yang dideskripsikan boleh belum menjadi milik pemberi sewapada saat akad dilakukan; c. Ketersediaan barang sewa wajib diketahui dengan jelas serta sebagian barang sewa sudah wujud pada saat akad dilakukan; d. Wujud barang sewa yang dimaksud pada angka 3, harus jelas, siap dibangun, milik pemberi sewa atau pengernbang yang bekerjasama dengan pemberi sewa, dan bebas sengketa; e. Pemberi sewa harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mewujudkan barang sewa; f. Para pihak harus meyakini bahwa barang sewa dapat diwujudkan pada waktu yang disepakati; g. Para pihak harus sepakat terkait waktu serah-terima barang sewa; dan h. Apabila pemberi sewa menyerahkan barang sewa namun tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati atau gaga I serah pada waktu yang disepakati, maka penyewa berhak: 1) Melanjutkan akad dengan atau tanpa meminta kompensasi dari pemberi sewa, atau 2) Membatalkan akad dengan meminta pengembalian dana sesuai dengan jumlah yang telah diserahkan. 50 Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden.

56 44 5. Ketentuan Terkait Ujrah Khusus untuk pengambilan ujrah dalam obyek sewa ketentuannya diatur dalam Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah dalam Fatwa DSN MUI No.102 tahun 2016 tentang Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah PPR-Inden sebagai berikut: 51 a. Ujrah boleh dalam bentuk uang dan selain uang; b. Jumlah ujrah dan mekanisme perubahannya harus ditentukan berdasarkan kesepakatan; c. Ujrah boleh dibayar secara tunai, tangguh, atau bertahap (angsur) sesuai perjanjian sejak akad dilakukan; dan d. Ujrah yang dibayar oleh penyewa setelah akad, diakui sebagai milik pemberi sewa. 6. Ketentuan Terkait Uang Muka dan Jaminan Terkait uang muka dan jaminan ketentuannya diatur dalam Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah dalam Fatwa DSN MUI No.102 tahun 2016 tentang Akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah PPR-Inden sebagai berikut: 52 a. Dalam akad IMFZ dibolehkan adanya uang muka yang diserahkan oleh penyewa kepada pemberi sewa. b. Uang muka dapat dijadikan ganti rugi (ta'widh) oleh pemberi sewa karena proses upaya untuk mewujudkan barang sewa (apabila penyewa melakukan pembatalan sewa), dan menjadi pembayaran sewa (ujrah) apabila akad IMFZ dilaksanakan sesuai kesepakatan. c. Apabila jumlah uang muka lebih besar dari jumlah kerugian, maka uang muka tersebut harus dikembalikan kepada penyewa. 51 Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden. 52 Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden.

57 45 d. Apabila pemberi sewa menyalahi substansi perjanjian terkait spesifikasi barang sewa, jangka waktu dan gagal serah, maka penyewa berhak: 1) Melanjutkan akad dengan atau tanpa meminta kompensasi dari pemberi sewa, atau 2) Membatalkan akad dengan pengembalian dana sesuai dengan jumlah yang telah diserahkan. e. Dalam akad IMFZ dibolehkan adanya jaminan (al-rahn) dari pemberi sewa baik secara hakiki (qabdh haqiqi) maupun secara hukum (qabdh hukmi).

58 BAB III Gambaran Umum PermataBank Syariah A. Sejarah singkat PermataBank Syariah PermataBank Syariah (PBS) adalah Unit Usaha Syariah yang bernaung di bawah entitas PT. Bank Permata Tbk yang awal mula didirikan dengan nama PT Bank Persatuan Dagang Indonesia di Indonesia berdasarka Akta Pendirian no. 228 tanggal 17 Desember 1954 dihadapan Notaris Eliza Pondaag, serta disahkan sebagai badan hukum oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia (sekarang Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia) pada tanggal 4 Januari Dan memperoleh izin usaha bank umum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No /U.M.II tanggal 19 Februari Tahun 2002 merupakan tonggak penting dalam sejarah PermataBank, di bawah pengawasan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), PT Bank Universal Tbk, PT Bank Prima Ekspress, PT Bank Artamedia, dan PT Bank Patriot menggabungkan diri ke dalam PT Bank Bali Tbk dan selanjutnya berubah nama dari PT Bank Bali Tbk menjadi PT Bank Permata Tbk. Tahun 2004, Standard Chartered Bank dan PT Astra Internasional Tbk mengambil alih PermataBank dan memulai transformasi besar-besaran di dalam organisasi. Selanjutnya, sebagai wujud komitment terhadap kepemilikan gabungan pemegang saham utama ini meningkat menjadi 89,12% sejak tahun 2006 sampai per Desember Kombinasi yang baik dari kedua pemegang saham strategis, PT Astra Internasional Tbk yang merupakan salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia dan memiliki pengalaman kuat di pasar domestik. Sedangkan Standard Chartered Bank dengan keahlian dan pengalaman global terkemuka yang dimilikinya menjadikan Permata Bank berada dalam posisi yang baik. 53 PermataBank Laporan Tahunan - Annual Report tahun 2018, h

59 47 Saat ini Permata Bank telah berkembang menjadi sebuah bank swasta utama yang menawarkan produk dan jasa inovatif serta komprehensif terutama di sisi delivery channelnya, termasuk internet banking dan mobile banking. Melayani lebih dari 2 juta nasabah di 62 kota di Indonesia, per-maret 2018, PermataBank memiliki 323 cabang (cabang konvensioal dan Syariah, termasuk 304 layanan Syariah), 16 cabang bergerak (mobile branch), 2 payment point, 1018 ATM dengan lebih dari ATM (Visa Plus, Visa Electron, MasterCard, Alto, ATM Bersama dan ATM Prima) serta jutaan ATM di seluruh dunia yang terhubung dengan jaringan Visa, MasterCard dan Cirrus. 54 Sejalan dengan dinamika perbankan nasional terutama untuk menunjang ketahanan ekonomi nasional, setelah hasil kajian bisnis yang intensif dan mendalam memperlihatkan adanya pasar yang sangat potensial bagi bisnis berbasis Syariah di Indonesia, dengan prospek pertumbuhan yang pesat di masa mendatang, maka pada tanggal 10 November 2004, Unit Usaha Syariah PT Bank Permata Tbk, resmi dibentuk. Ditandai dengan pembukaan kantor cabang Syariah PermataBank yang pertama berlokasi di Jl. Arteri, Pondok Indah, Jakarta. Sesuai peraturan yang berlaku, Unit Usaha Syariah PermataBank memiliki Dewan Pengawas Syariah untuk memastikan kesesuaian operasional dengan kaidah-kaidah Syariah. 55 Tahun 2018, UUS menunjukkan kinerja keuangan yang positif dan tumbuh dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya pada beberapa indikator keuangan utama. UUS mencatatkan laba sebelum pajak untuk tahun 2018 sebesar Rp369 miliar atau meningkat sebesar Rp39 miliar (12%) dibandingkan dengan akhir tahun Pertumbuhan tersebut dikarenakan adanya peningkatan pendapatan dari naiknya pembiayaan yang lebih besar dibandingkan peningkatan beban operasional. 54 Website PT Bank Permata Tbk, diiakses pada tanggal 27 Oktober PermataBank Laporan Tahunan - Annual Report tahun 2004 hal.44.

60 48 Aset UUS di tahun 2018 adalah sebesar Rp22,10 triliun tumbuh sebesar 5% yang didorong dari pembiayaan (bruto) yang tumbuh sebesar 11%. Selain itu, pangsa pasar UUS di industri perbankan Syariah sampai dengan akhir tahun 2018 adalah sebesar 4,9%. Pendanaan UUS tercatat sebesar Rp14,98 triliun atau meningkat 5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan komposisi dana murah (CASA) lebih dari 60% yang mana lebih besar dibandingkan dengan rata-rata komposisi CASA industry. Pada tahun 2017, pihak manajemen PT Bank Permata Tbk meninjau kembali visi dan misi perusahaan, sehingga visi dan misi Permata Bank yang baru adalah sebagai berikut 56 : a. Visi : Menjadi Bank pilihan dengan terus membina kemitraan dan menciptakan nilai bermakna bagi pemangku kepentingan. b. Misi : 1) Berperan aktif sebagai mitra di bidang keuangan dan agen pembangunan yang efisien bagi nasabah dan masyarakat. 2) Memberikan layanan keuangan menyeluruh secara sederhana, cepat, andal dan inovatif. 3) Berkomitmen untuk memberikan pengalaman unggul bagi pemangku kepentingan dan membangun nilai positif bagi pemegang saham. 56 PermataBank Laporan Tahunan - Annual Report tahun 2017 hal.36.

61 49 B. Produk PermataBank Syariah Produk PermataBank Syariah Tabel 3.1 Produk Permata ib Bintang PermataMe ib PermataTabungan ib Optima PermataTabungan ib Bebas PermataTabungan ib Masa Depan PermataPayroll ib PermataPayroll ib Astra PermataTabungan ib Perusahaan TabunganKu ib Tabungan SimPel ib Permata Sub Account ib PermataDollar ib PermataTabungan ib Haji PermataTabungan ib Haji Khusus PermataTabungan ib Bijak & Umroh PermataTabungan ib Bijak PermataGiro ib IDR & Valas PermataGiro ib Maxima PermataGiro ib Ganda PermataDeposito ib PermataKPR ib PermataKPR ib Bijak Term Financing Revolving Financing LC and SKBDN Issuance ib Bank Guarantee ib Post Import Finance ib Pre-Shipment Financing ib Invoice Financing ib PO Financing ib PermataMultiguna ib Permata Indirect Consumer Financing ib Berbagai macam produk-produk asuransi Syariah yang diterbitkan perusahaan asuransi terkemuka. Berbagai macam reksadana Syariah yang dikelola perusahaan manajemen investasi terkemuka Money Market ib PermataFX ib (Spot & Wa ad) Fixed Income ib Surat Berharga Syariah Negara yg terdiri dari: seri PBS (Project Based Sukuk), Sukuk Global, Sukuk Retail & Sukuk Tabungan yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia

62 50 C. Produk PermataKPR ib Produk PermataKPR ib diluncurkan sejak 2004, awal mulanya PermataBank Syariah menggunakan nama Brand PermataSyariah PPR dan sekarang dikenal dengan nama PermataKPR ib. PermataKPR ib merupakan salah satu jenis produk pembiayaan consumer di PermataBank Syariah yang ditawarkan kepada nasabah untuk membantu Nasabah dalam memiliki rumah, apartemen, dan ruko. Minimal plafon pinjaman PermataKPR ib adalah Rp 300 juta dengan tenor maksimal 20 tahun. Suku bunga PermataKPR ib 2019 terendah adalah 7.99% untuk masa promosi 3 tahun dengan periode suku bunga fixed. PermataKPR ib memiliki tiga skema atau akad pilihan dalam Pembiayaan Pemilikan Rumah yaitu akad Murabahah, akad Musyarakah Mutanaqishah (MMQ), dan akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT). 57 PermataKPR ib Murabahah adalah akad pembiayaan berprinsip jual beli dengan menyertakan harga pokok dan keuntungan (margin) yang disepakati. Besar angsuran selama masa pembiayaan tidak berubah karena akad Murabahah menerapkan pembiayaan fixed meskipun kondisi ekonomi tidak menentu. PermataKPR ib Musyarakah Mutanaqishah (MMQ) adalah akad pembiayaan yang menggunakan konsep kepemilikan bersama antara Bank dengan Nasabah. Kepemilikan (porsi) Bank akan berkurang sedangkan kepemilikan (porsi) Nasabah akan meningkat seiring dengan pembayaran angsuran secara bertahap oleh Nasabah. Di akhir masa pembiayaan, objek pembiayaan akan menjadi milik Nasabah sepenuhnya. Besarnya angsuran/sewa dapat ditinjau kembali sesuai dengan periode yang telah ditentukan oleh bank. Akad MMQ selain diperuntukkan untuk pembiayaan perumahan dengan objek 27 Oktober Website PT Bank Permata Tbk, diakses pada tanggal

63 51 sudah tersedia (ready stock) dikhususkan juga untuk objek pembiayaan yang masih dibangun (inden). PermataKPR ib Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT) adalah akad pembiayaan berprinsip sewa beli disertai pembelian/hibah objek pembiayaan oleh nasabah di akhir periode. Besarnya biaya sewa (angsuran) dapat ditinjau kembali sesuai dengan periode yang telah ditentukan oleh bank. Salah satu keunggulan PermataKPR ib adalah pengajuan pembiayaan tidak hanya berlaku bagi Warga Negara Indonesia (WNI) tapi berlaku juga bagi Warga Negara Asing (WNA) dimana mayoritas PPR di perbankan syariah lainnya hanya diperbolehkan untuk Warga Negara Indonesia (WNI). Akad IMBT adalah akad yang dikhususkan untuk WNA yang bekerja di Indonesia. D. PermataKPR ib Musyarakah Mutanaqishah (Inden) Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pembiayaan perumahan dengan akad MMQ di PermataBank Syariah menjadi satu-satunya akad pilihan selain murabahah dan IMBT yang juga dikhususkan untuk pembiayaan dengan asset atau objek pembiayaan yang berlum berwujud atau masih dibangun (inden) walaupun akad MMQ dibolehkan untuk inden namun informasi tersebut tidak pernah terlihat karena dalam setiap brosur dan iklan mengenai PermataKPR ib MMQ. Akad MMQ telah diimplementasikan dalam Produk PermataKPR ib sejak awal tahun 2016 sebelum ditetapkan fatwa DSN-MUI No.102 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden pada bulan November Oleh karena itu, sebelumnya pembiayaan perumahan MMQ Inden dalam pembayaran ujrah sebagai nilai atau harga sewa yang harus dibayarkan oleh Nasabah atas penggunaan manfaat atas objek MMQ, tidak menggunakan akad tambahan IMFZ sebagai underlying transaksi akad yang dikhususkan untuk PPR-Inden tapi masih menggunakan akad Ijarah dengan mengikuti pedoman khusus indent dalam Keputusan DSN-MUI No.01 tahun 2013 tentang Pedoman Implementasi Musyarakah Mutanaqishah dalam Produk Pembiayaan.

64 52 Selanjutnya, sejak akad MMQ diimplementasikan sebagai salah satu akad pembiayaan pemilikan rumah di PermataBank Syariah, tercatat sampai akhir tahun 2019 akad MMQ menjadi akad pembiayaan yang paling banyak dipilih oleh Nasabah hingga mencapai 95% (termasuk pembiayaan MMQ dengan objek pembiayaan sudah terbangun dan yang masih inden) karena lebih fleksibel dengan memberikan banyak pilihan bukan hanya untuk pembiayaan rumah tapi bisa ruko, apartemen, renovasi rumah, konstruksi pembangunan rumah, villa, take over, top up dan pembiayaan multiguna beragun property dengan tenor waktu bisa sampai 20 tahun dan ada transparansi margin pada masa floating. 58 Namun, seiring berjalannya waktu setelah ditinjau kembali bahwa akad ijarah tidak boleh digunakan dalam PPR-Inden, melalui koordinasi antara DPS dengan team specialist product mortgage, dan legal advisory pada 26 September 2019 telah melakukan rapat bersama yang salah satu agendanya yaitu membahas tentang Akad IMFZ dengan hasil diskusi dengan DPS yaitu sebagai berikut: Fatwa DSN-MUI No. 102 tahun 2016 digunakan sebagai underlying transaksi untuk pembiayaan PPR-Inden. 2. Yang harus dipastikan pada transaksi dengan akad IMFZ adalah; a) Para pihak sepakat terkait waktu serah terima barang sewa. b) Mitigasi risiko harus diketahui oleh kedua belah pihak. c) Kriteria barang sewa yang dideskripsikan harus terukur spesifikasinya. d) Wujud barang sewa harus jelas, siap digunakan, dan bebas sengketa (telah memiliki ijin). 3. Akad IMFZ boleh menjadi bagian dari akad IMBT atau akad MMQ. Dalam transaksi pembiayaan dengan akad IMBT atau MMQ, bila objek 58 Wawancara Pribadi dengan Bpk. Adji Budianto, Head Specialist Product Mortgage PermataBank Syariah tanggal 19 Desember Meeting Internal PermataBank Syariah dengan DPS tanggal 26 September 2019 di WTC II Sudirman.

65 53 sewa masih belum tersedia dan diperlukan perakitan atau masih dalam tahap dibangun, maka dalam akad IMBT atau MMQ tersebut dimasukkan klausula mengenai IMFZ. November 2019, akad IMFZ resmi menjadi akad tambahan dalam ketentuan khusus perjanjian pemberian fasilitas Musyarakah Mutanaqishah regular untuk asset belum berwujud (inden) dengan mengikuti ketentuan sesuai dengan hasil rapat bersama DPS diatas. E. Mekanisme Pembiayaan MMQ Inden (IMFZ) Proses pembiayaan PermataKPR ib dilakukan melalui Broker, Developer, Referral Branch, dan Walk in Customer. Berdasarkan data distribution channel PermataKPR ib Januari-Desember 2019 Pembiayaan PermataKPR melalui Broker 32%, Developer 28%, Referral Branch 21% dan Walk In Customer 19%. 60 Namun, untuk pembiayaan pemilikan rumah inden hanya diizinkan melalui Developer, Referral Branch dan Walk in Customer karena untuk bagian broker objek pembiayaan wajib telah selesai dibangun atau ready stock. PermataBank Syariah hanya membolehkan pembiayaan pemilikan rumah inden melalui developer yang merupakan rekanan PBS yang telah melakukan perjanjian kerjasama dan pembiayaan pemilikan rumah inden merupakan pembiayaan pertama Nasabah di PBS. Hal ini sesuai dengan peraturan OJK dalam SEOJK No.36 tahun 2015 dan Buku Standar Produk Musyarakah dan MMQ yang dibuat oleh OJK bahwa Pembiayaan properti inden dengan akad MMQ hanya akan diproses jika developer properti merupakan developer rekanan PBS yang telah terbukti memenuhi standar-standar yang diatur oleh OJK terkait pembiayaan properti inden serta telah memiliki perjanjian kerjasama antara PBS dan developer tersebut serta dan pembiayaan merupakan pembiayaan properti urutan pertama. 60 Data distribution channel PermataKPR ib Januari-Desember 2019.

66 54 Tahap awal yaitu PermataBank Syariah melakukan Perjanjian Kerjamasama (PKS) terlebih dahulu dengan para developer yang telah di saring sesuai dengan kriteria PBS, telah memiliki pengalaman membangun perumahan sebelumnya dan tidak pernah memiliki riwayat portfolio bisnis yang buruk. Setelah melakukan perjanjian kerjasama (PKS) maka project setiap developer yang telah melakukan PKS siap untuk diberikan pembiayaan dari PBS bagi Nasabah yang menjadi rekomendasi dari Developer. Tahap I (Kerjasama antara PermataBank Syariah dan Developer) : 1. PermataBank Syariah (PBS) mendapatkan informasi proyek baru para Developer melalui Network, Cabang, dan Media. 2. PBS dalam hal ini menjadi tugas Team Mortgage khususnya Sub-Unit Sharia Mortgage Relationship (SMR) yang melakukan pendekatan kepada Developer sehingga Developer tertarik untuk melakukan kerjasama. 3. Setelah Developer tertarik maka SMR akan meminta dokumen perusahaan dan dokumen proyek dari Developer. Setelah itu SMR akan mengkaji kembali keperluan legalitas dan teknikal di dalam dokumen-dokumen proyek. Laporan teknikal dan sertifikat yang jelas pada proyek tersebut harus dapat dipastikan. 4. SMR melakukan konfirmasi untuk kelengkapan data dalam formulir kerjasama developer. 5. Formulir kerjasama developer harus dapat dilengkapi dan informasi yang diberikan dari developer ke PBS harus dapat diverifikasi dalam hal ini dokumen perusahaan dan dokumen proyek harus lengkap. 6. Setelah dokumen dari Developer diterima maka SMR akan membuat Dokumen Kerjasama Developer (DCD) yang memuat informasi lengkap terkait developer dan proyek beserta potensi bisnis, jaminan pengembang (Developer Guarantee), periode maksimum penyelesaian Bangunan dan Dokumen (Pemecahan Sertifikat, Penyelesaian Balik Nama dan Pemasangan Hak Tanggungan) dan Skema Transfer Dana Retensi untuk Kerjamasa Inden.

67 55 7. Proyek yang diajukan oleh SMR menggunakan DCD akan dilakukan pengecekan apakah sesuai kriteria dan diberikan Risk appetite PBS untuk Developer. 8. Terkait Skema Transfer untuk proyek akan diajukan oleh Business melalui DCD, yang akan dikaji oleh Risk untuk rekomendasi/persetujuan dan sesuai dengan PBI No. 20/2018 tanggal 1 agustus Jika penawaran diterima oleh bagian Risk (dengan atau tanpa perubahan pada kondisi dan ketentuan awal), maka kerjasama dapat dilanjutkan untuk dituangkan pada Akte PKS. Di dalam Akte PKS akan dimasukan tahapan pencairan dana untuk developer yng dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi perkembangan pembangunan (building progress) dari properti inden, Developer Guarantee, dan periode waktu penyelesaian pembangunan dan dokumen terkait. 10. PBS dan Developer melakukan Perjanjian Kerjasama yang akan dibantu oleh Notaris rekanan PBS. 11. Setelah penandatanganan PKS maka Proyek Developer akan dibantu tangani dan dipasarkan oleh Mortgage Sales Specialist (MSS) dan Business Development Manager (BDM). Tahap II (Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden antara PBS dan Nasabah): 1. Calon Nasabah melakukan kunjungan ke project Developer A. 2. Calon Nasabah memutuskan untuk membeli rumah dari project developer A yang masih inden dengan pilihan yaitu melakukan PPR dengan Bank yang telah bekerjasama dengan Developer A. 3. Developer A merekomendasikan untuk melakukan pembiayaan pemilikan rumah di PermataBank Syariah. 4. Setelah diajukan pembiayaan PPR-Inden dengan akad MMQ ke PBS yang akan dibantu oleh MSS, Calon Nasabah menyelesaikan pembayaran uang muka ke Developer A sebagai bukti tanda pemesanan. 5. Setelah mendapatkan persetujuan pembiayaan dari PBS, Nasabah diminta untuk melengkapi dokumen yang diperlukan serta wajib menyerahkan

68 56 kwitansi uang muka pembelian rumah dan kwitansi sisa pembayaran pembelian rumah (berlaku hanya untuk fasilitas pembelian baru termasuk inden) 6. Nasabah diberikan kuasa untuk menyelesaikan dokumen perjanjian jual beli terlebih dahulu dengan Developer setelah itu perjanjian jual beli diberikan ke PBS sebagai satu-kesatuan bagian dari dokumen Perjanjian antara Nasabah dan PBS. 7. Penandatanganan Akad dilakukan dengan menyebutkan ketentuan fasilitas MMQ yaitu dengan menyebutkan porsi modal PBS sebesar selisih harga uang muka dan porsi modal Nasabah yaitu sejumlah uang muka yang tertuang dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset belum berwujud (inden) dan akad IMFZ menjadi underlying akad yang digunakan dalam Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden. 8. Porsi kepemilikan (hishshah) antara PBS dan Nasabah ditentukan sesuai dengan kesepakatan bersama yang disesuaikan berdasarkan uang muka yang telah dibayar Nasabah ke Developer. Besar porsi kepemilikan Nasabah sebesar uang muka yang telah dibayarkan dan besar porsi PBS adalah sebesar pembiayaan atau selisih dari harga uang muka. 9. Akad IMFZ digunakan sebagai underlying akad dalm pembiayaan MMQ- Inden agar pembayaran sewa terhadap manfaat objek syirkah yang disewa Nasabah dapat diterapkan oleh PBS dan Nasabah dapat membayar ujrah walaupun objek pembiayaan masih dalam tahap inden. 10. Nasabah membeli porsi Bank secara bertahap melalui kewajibab angsuran (Nisbah bagi hasil dan ujrah) yang mulai dibayar sebulan setelah penandatanganan Akad Pembiayaan sampai tenor waktu pembiayaan yang disepakati dalam akad. 11. Sembari Nasabah membayar angsuran, PBS dan Nasabah mengawasi kinerja Developer agar bangunan dan jaminan pemecahan sertifikat yang akan di berikan Hak Tanggungan dan dipegang oleh PBS selesai sesuai dengan waktu yang tertera dalam Perjanjian Kerjasama antara PBS dan Developer dan Perjanjian Jual Beli antara Nasabah dan Developer.

69 BAB IV Analisis Kesesuaian Produk PermataKPR ib Musyarakah Mutanaqishah Inden berdasarkan Fatwa DSN-MUI Akad Musyarakah Mutanaqishah hadir sebagai alternatif dari pembiayaan Akad Murabahah yang merupakan akad pembiayaan terpopuler dan telah digunakan secara dominan oleh seluruh perbankan syariah tidak hanya di Indonesia tetapi digunakan juga di seluruh dunia. Di Indonesia Fatwa tentang Akad MMQ telah ditetapkan oleh DSN-MUI sejak tahun 2008 dan di perbankan syariah digunakan atau diterapkan dalam kategori pembiayaan consumer atau penyaluran dana salah satunya yaitu dalam pembiayaan pemilikan rumah. Pada tanggal 23 Mei 2013, DSN-MUI menerima permohonan fatwa dari PermataBank Syariah untuk KPR ib inden namun fatwa tersebut belum langsung ditetapkan oleh DSN-MUI karena masih perlu dibahas terlebih dahulu dalam internal DSN-MUI. 61 Pada awal tahun 2016 PermataBank Syariah akhirnya meluncurkan produk PermataKPR ib Musyarakah Mutanaqishah dengan ketentuan obyek pembiayaan bisa ready stock dan bisa juga yang masih dalam tahap pembangunan (Inden). Untuk ketentuan-ketentuan pembiayaan pemilikan rumah inden semua mengacu pada Fatwa MMQ No. 73 tahun 2008 dan Keputusan DSN-MUI No. 1 tentang Pedoman Implementasi Musyarakah Mutanaqishah dalam Produk Pembiayaan dan khusus untuk kegiatan usaha Musyarakah Mutanaqishah yang menggunakan prinsip sewa menyewa (ijarah) dimana obyek yang dibiayai masih dalam proses pembuatan (inden) maka berlaku ketentuan yaitu; jangka waktu penyerahan obyek beserta kuantitas dan kualitas harus ditetapkan dan disepakati secara jelas agar pengambilan ujrah bisa dilakukan walaupun objek pembiayaan masih dalam tahap pembangunan (inden). 61 Fatwa DSN-MUI No. 101 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah, perihal permohoan fatwa terkait KPR ib inden. 57

70 58 Selanjutnya, pada tahun yang sama 2016 tepatnya pada bulan November akhirnya DSN-MUI mengeluarkan dan menetapkan fatwa tentang akad ijarah maushufah fi dzimmah untuk pembiayaan pemilikan rumah (PPR)-Inden yang menjadi akad tambahan dalam pembiayaan akad MMQ dan IMBT. Namun, walaupun akad ini telah ditetapkan sejak 2016 ternyata PermataBank Syariah baru menerapkan akad IMFZ sebagai akad tambahan dalam produk PermataKPR ib MMQ pada November 2019 karena kurangnya koordinasi pihak internal dan sering terjadi pergantian posisi atau ada yang pindah (resign) sehingga informasi mengenai permintaan Akad KPR ib Inden PermataBank tidak diketahui oleh orangorang baru yang memegang produk pembiaayan perumahan. 62 Berikut analisis terhadap kesesuian produk PermataKPR ib MMQ-IMFZ berdasarkan Fatwa DSN-MUI: A. Analisis Pelaksanaan Prinsip MMQ Pada Produk PermataKPR ib Akad MMQ No. Fatwa DSN MUI No. 73 tahun 2008 tentang Praktek MMQ-IMFZ di PermataBank Syariah Musyarakah Mutanaqishah 1. Musyarakah Mutanaqisah adalah Musyarakah atau Syirkah yang kepemilikan asset (barang) atau modal salah satu pihak (syarik) berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 1.1 huruf g definisi tentang Musyarakah Mutanaqishah adalah transaksi yang menggunakan konsep penyertaan modal Bersama oleh Bank dan Nasabah atas pemilikan Objek Syirkah sebagai Objek usaha Bersama, 62 Wawancara Pribadi dengan Bpk. Adji Budianto, Head Specialist Product Mortgage PermataBank Syariah tanggal 19 Desember 2019.

71 59 yang porsi penyertaan kepemilikan Bank berkurang atau menurun yang disebabkan pembelian secara bertahap oleh Nasabah. 2. Hishshah adalah porsi atau bagian syarik dalam kekayaan musyarakah yang bersifat musya (bagian syarik dalam kekayaan musyarakah (milik bersama) secara nilai dan tidak dapat ditentukan batasbatasnya secara fisik) 3. Dalam akad Musyarakah Mutanaqisah, pihak pertama (syarik) wajib berjanji untuk menjual seluruh hishshah-nya secara bertahap dan pihak kedua (syarik) wajib membelinya. 4. Apabila aset MMQ menjadi obyek Ijarah, maka syarik Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 1, 1.1, tidak terdapat definisi tentang Hishshah tetapi huruf f menjelaskan tetang definisi Komposisi Pembiayaan adalah jumlah Penyertaan Bank dan Penyertaan Nasabah Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 3.1, huruf d dijelaskan bahwa Bank berjanji untuk mengalihkan seluruh porsi Penyertaan Bank atas Objek Syirkah dengan cara mejualnya secara bertahap kepada Nasabah dan Nasabah wajib menerima dan membeli porsi Penyertaan Bank sesuai kesepakatan Para Pihak, sebagaimana diatur dalam SKK. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk

72 60 (nasabah) dapat menyewa aset tersebut dengan nilai ujrah yang disepakati. asset inden, Pasal 1.1 huruf c definisi tentang Ijarah adalah pemindahan hak guna atau manfaat atas Objek Syirkah milik bersama kepada Nasabah yang mewajibkan Nasabah untuk membayar Imbalan Sewa sesuai dengan jumlah dan waktu yang disepakati berdasarkan Perjanjian ini. Tabel 4.1 Analisis Kesesuai Prinsip MMQ Prinsip dasar Pembiayaan MMQ yaitu kedudukan antara Bank dan Nasabah sebagai mitra atau syarik dan bekerjasama dalam memiliki suatu asset dengan konsep penyertaan modal dilakukan bersama dengan tujuan diakhir yaitu salah satu porsi syarik habis (porsi Bank) karena telah dilakukan pembelian secara bertahap oleh syarik lainnya (Nasabah). Untuk mengetahui bagian porsi masing-masing pihak maka ditentukan sejak akad. Porsi kepemilikan ini disebut dengan hishshah. Di dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 1 yang memuat tentang semua definisi yang terkait dengan MMQ tidak tercantum definisi tentang hishshah. Akan tetapi tercantum definisi tentang Komposisi Pembiayaan yaitu jumlah Penyertaan Bank dan Penyertaan Nasabah. 63 Dari informasi tabel diatas dapat disimpulkan, bagian hishshah perlu disesuiakan dengan Fatwa MMQ No. 73 tahun 2008 karena di dalam SKK tidak menggunakan istilah hishshah tetapi diganti dengan komposisi pembiayaan. Padahal hishshah merupakan bagian penting dari akad MMQ 63 Ketentuan Khusus Perjanjian Pemberian Fasiltas MMQ Reguler Inden PermataBank Syariah, Pasal 1 huruf e definisi tentang Komposisi Pembiayaan.

73 61 yang wajib untuk dituangkan secara jelas di dalam Perjanjian karena hishshah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan Akad MMQ. 64 Nilai 1 unit hishshah harus disepakati bersama antara Bank dan Nasabah. Nilai per 1 unit hishshah dapat disepakati di awal dan tidak berubah nilainya selama masa pembiayaan (DSN-MUI) atau berubah nilainya mengikuti harga pasar (AAOIFI). 65 Selanjutnya, Praktek pada poin ke-3 (tiga) telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No. 73/2008 tentang MMQ dan hal ini juga sesuai yang tercantum dalam Buku Standar Produk Musyarakah dan MMQ OJK yaitu Pembelian atau pengalihan hishshah Bank kepada Nasabah dilakukan secara bertahap sesuai pembayaran angsuran Nasabah. Pembayaran angsuran akan memperbesar hishshah kepemilikan Nasabah sampai seluruh hishshah Bank beralih kepada Nasabah. Para Pihak yang dimaksud dalam Praktek MMQ-IMFZ di PBS yaitu Bank dan Nasabah. Terakhir, terkait poin ke-4 (empat) telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No. 73/2008, dalam hal ini asset MMQ dapat di-ijarah-kan kepada salah satu syarik yaitu Nasabah dan yang menjadi pemberi sewa yaitu Para Pihak (PBS dan Nasabah). Ujrah wajib dibayar oleh Nasabah sebagai bentuk atas manfaat Objek Syirkah yang digunakan oleh Nasabah. Keuntungan yang diperoleh dari ujrah tersebut dibagi sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dalam akad, sedangkan kerugian harus berdasarkan proporsi kepemilikan. Nisbah keuntungan dapat mengikuti perubahan proporsi kepemilikan sesuai kesepakatan para syarik. 64 Ketentuan Umum, huruf c definisi Hishshah, Fatwa DSN-MUI No. 73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah. 65 Buku Standar Produk Musyarakah dan MMQ OJK 2016, h.132.

74 62 B. Analisis Ketentuan Terkait Manfaat Barang (Manfaat Ain) No. Fatwa DSN MUI No. 102 tahun 2016 tentang Praktek MMQ-IMFZ di PermataBank Syariah IMFZ PPR-Inden Ketentuan Terkait Manfaat Barang 1. Manfaat harus yang dapat diketahui spesifikasinya (ma lum) agar terhindar dari perselisihan dan sengketa. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden Pasal 2 ayat 2 dijelaskan Para Pihak mengetahui dan menyetujui bahwa Objek Syirkah pada waktu ditandatanganinya Perjanjian ini masih dalam kondisi belum terbangun secara utuh dan masih dalam proses penyelesaian pembangunan oleh Penyedia (Developer), dimana untuk jangka waktu penyerahan Objek Syirkah kepada Para Pihak serta kualitas bangunan dari Objek Syirkah semua mengacu kepada ketentuan/kesepakatan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Jual Beli. 2. Manfaat harus berupa manfaat yang dapat diserah-terimakan baik secara hakiki maupun secara hukum Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur sesuai dengan isi dari poin ke-2 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Manfaat Barang.

75 63 Tapi, dari hasil wawancara dengan salah satu team mortgage PBS manfaat secara hakiki yang dituju yaitu terbangunnya objek syirkah (rumah) sesuai dengan ukuran dan spesifikasi yang tertuang di brosur yang dalam penandatanganan akad masih dalam proses dibangun dan manfaat secara hukum yang dituju yaitu jaminan penyelesaian sertifikat yang dapat diserah-terimakan pada waktu yang telah disepakati Jangka waktu penggunaan manfaat (masa ijarah) harus disepakati pada saat akad 4. Manfaat yang diharapkan adalah manfaat yang dimaksud dalam akad yang dapat dicapai melalui akad IMFZ. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden Pasal 2 ayat 1 terdapat tabel kondisi dan ketentuan untuk menerima Fasilitas dari Bank yang didalamnya tertuang Jangka waktu Fasilitas yang disepakati antara PBS dan Nasabah. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 3.1, huruf e dijelaskan atas kesepakatan Para Pihak, Para Pihak selanjutnya menyewakan Objek Syirkah yang masih dalam proses pembangunan tersebut (Ijarah Maushufah fi Dzimmah) kepada Nasabah, dan sewa menyewa 66 Wawancara Pribadi dengan Ibu Andi Herlina Jusuf, Sharia Mortgage Relationship PermataBank Syariah tanggal 13 Januari 2020.

76 64 tersebut pun tetap berlanjut setelah pembangunan Objek Syirkah selesai selama Jangka Waktu Fasilitas. Nasabah wajib melakukan pembayaran imbalan sewa kepada Para Pihak sesuai kesepakatan. Tabel 4.2 Analisis Ketentuan Terkait Manfaat Barang Sesuai dengan analisis terhadap Fatwa DSN-MUI No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden dan Praktek MMQ-IMFZ di PermataBank Syariah diatas terkait manfaat barang hanya poin ke-2 yang belum sepenuhnya sesuai dengan Fatwa DSN-MUI. Pada poin ke-1 spesifikasi manfaat yang diperoleh dalam PPR- Inden dengan akad MMQ-IMFZ dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden yaitu terbangunnya objek pembiayaan (rumah) yang masih dalam tahap konstruksi (inden) sesuai dengan type rumah, bentuk, dan luas tanah yang dideskripsikan dalam brosur developer dan jangka waktu penyerahannya yang tertuang dalam Perjanjian Jual Beli antara Para Pihak (Nasabah dan PBS) dan Developer rekanan PBS. Hal ini juga telah sesuai dengan aturan dalam SEOJK No. 36/2016 bahwa dalam hal asset MMQ merupakan barang belum berwujud atau inden, maka harus menggunakan akad MMQ dan IMFZ dan dalam perjanjian kerjasama antara Bank dan pengembang (Developer) memuat klausula tentang kejelasan objek yang dibiayai terkait: 1. Kuantitas dan kualitasnya; 2. Kriteria dan spesifikasinya; dan 3. Jangka waktu pembangunan dan waktu serah terima. Selanjutnya, terkait poin ke-2 dalam praktek MMQ-IMFZ di PBS manfaat yang dituju harus berupa manfaat yang dapat diserah-terimakan baik secara hakiki maupun secara hukum telah sesuai dengan Fatwa DSN-

77 65 MUI karena manfaat secara hakiki yaitu terbangunnya objek syirkah (rumah) sesuai dengan ukuran dan spesifikasi yang dipilih oleh Nasabah sesuai dengan yang tertuang dalam brosur developer yang dalam penandatanganan akad masih dalam proses dibangun dan manfaat secara hukum yang dituju yaitu jaminan penyelesaian sertifikat dan dokumen terkait yang dapat diserah-terimakan pada waktu yang telah disepakati. 67 Tapi, di dalam SKK Perjanjian tidak terdapat Pasal yang mengatur ketentuan tersebut maka seharusnya PBS menambahkan Pasal yang menjelaskan terkait ketentuan dari Manfaat Barang agar sesuai dengan aturan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden. Terakhir terkait poin ke-4 praktek manfaat yang diharapkan yaitu manfaat yang dimaksud dalam akad yang dapat dicapai melalui akad IMFZ telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI karena tujuan utama menggunakan akad IMFZ sebagai akad tambahan dalam pembiayaan MMQ yaitu sebagai underlying akad dalam PPR-Inden dengan manfaat yang diharapakan yaitu Nasabah tetap dapat membayar angsuran atau imbalan sewa kepada Para Pihak sesuai kesepakatan walupun Objek Syirkah masih dalam tahap dibangun. C. Analisis Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden (PPR-Inden) No. Fatwa DSN MUI No. 102 tahun 2016 tentang Praktek MMQ-IMFZ di PermataBank Syariah IMFZ PPR-Inden Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden (PPR-Inden) 1. Kriteria barang sewa yang dideskripsikan harus Pasal yang menjelaskan spesifikasi terkait kriteria barang sewa tidak tertuang dalam Perjanjian Pemberian 67 Wawancara Pribadi dengan Bpk. Adji Budianto, Head Specialist Product Mortgage PermataBank Syariah tanggal 19 Desember 2019

78 66 terukur spesifikasinya Fasilitas MMQ untuk asset inden antara PBS dan Nasabah, namun Pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa spesifikasi tertuang pada Perjanjian Jual Beli antara Para Pihak dengan Developer*. *Perjanjian Jual Beli yang di dalamnya tertuang spesifikasi Barang Sewa Inden bersifat mengikat dimana spesifikasi barang sewa mengacu sesuai dengan yang tertuang dalam brosur developer yang telah melakukan kerjasama dengan PBS. Dalam brosur terdapat spesifikasi teknis mengenai ukuran dan model rumah beserta bahanbahan yang digunakan untuk pondasi, struktur, dinding, lantai, plafond, atap, kusen, pintu, dan jendela pada objek syirkah yang masih inden Barang sewa yang dideskripsikan boleh belum menjadi milik pemberi sewa pada saat akad dilakukan. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur sesuai dengan isi dari poin ke-2 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Barang Sewa Inden. Akan tetapi, Pasal 2 ayat 2 68 Lihat lampiran brosur salah satu developer yang melakukan kerjasama dengan PBS.

79 67 dijelaskan Para Pihak mengetahui bahwa Objek Syirkah pada waktu ditandatanganinya Perjanjian ini masih dalam kondisi belum terbangun secara utuh*. *Artinya barang sewa inden belum milik pemberi sewa karena masih dalam proses pembangunan Objek Syirkah. 3. Ketersediaan barang sewa wajib diketahui dengan jelas serta sebagian barang sewa sudah wujud (harus jelas, siap dibangun, milik pemberi sewa atau pengernbang yang bekerjasama dengan pemberi sewa, dan bebas sengketa) pada saat akad dilakukan. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur sesuai dengan isi dari poin ke-3 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Barang Sewa Inden. Akan tetapi, pada saat akad dilakukan Para Pihak telah mengetahui ketersediaan barang sewa karena sebelum penandatanganan akad Para Pihak wajib untuk berkunjung dan melihat kondisi objek syirkah yang siap dibangun oleh developer yang telah melakukan PKS dengan PBS dan telah dipastikan sebelum PKS hal-hal terkait proyek developer bebas sengketa Wawancara Pribadi dengan Ibu Andi Herlina Jusuf, Sharia Mortgage Relationship PermataBank Syariah tanggal 13 Januari 2020.

80 68 4. Pemberi sewa harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mewujudkan barang sewa. 5. Para pihak harus meyakini bahwa barang sewa dapat diwujudkan pada waktu yang disepakati. Pemberi sewa yang dimaksud dalam hal ini yaitu Para Pihak (PBS dan Nasabah). Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, pada Pasal 3, 3.1, huruf b dijelaskan bahwa Bank tidak bertanggung jawab atas penyelesaian pembangunan dan pengadaan dokumen untuk Objek Syirkah yang dibeli melalui Perjanjian ini, tidak terbatas pada Sertifikat, IMB, dan dokumen lainnya yang merupakan tanggung jawab Penyedia dan/atau Notaris atau pihak lain yang disetujui oleh Bank. Jika dikemudian hari diketahui adanya cacat, kekurangan dan permasalahan sehubungan dengan Objek Syirkah dan/atau AJB, Sertifikat, dan dokumen lainnya, Nasabah setuju risiko tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Nasabah dan Bank tidak akan memberikan ganti rugi atau pertanggung jawaban dalam bentuk apapun kepada Nasabah. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mangatur sesuai dengan isi dari poin ke-5 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk

81 69 PPR-Inden terkait Barang Sewa Inden. Akan tetapi, dalam Perjanjian Kerjasama antara PBS dan Developer dalam pembiayaan inden mewajibkan Developer memberikan jaminan berupa; Developer Guarantee dan Buy Back Guarantee (sebagai bentuk jaminan untuk meyakini kepada PBS bahwa Developer dapat menyelesaikan pembangunan Objek Syirkah dan dokumen yang terkait pada waktu yang disepakati dalam PKS) 6. Para pihak harus sepakat terkait waktu serah-terima barang sewa. 7. Apabila pemberi sewa menyerahkan barang sewa namun tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mangatur sesuai dengan isi dari poin ke-6 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Barang Sewa Inden. Namun pada Pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa untuk jangka waktu penyerahan Objek Syirkah kepada Para Pihak mengacu kepada ketentuan/kesepakatan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Jual Beli. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 4 ayat 4.2 Nasabah memahami dan menerima resiko bahwa terdapat

82 70 atau gagal serah pada waktu yang disepakati, maka penyewa berhak: a. Melanjutkan akad dengan atau tanpa meminta kompensasi dari pemberi sewa, atau b. Membatalkan akad dengan meminta pengembalian dana sesuai dengan jumlah yang telah diserahkan. kemungkinan Penyedia (Developer) tidak dapat menyelesaikan pembangunan Objek Syirkah sesuai dengan yang telah diperjanjikan oleh Penyedia kepada Nasabah pada Perjanjian Jual Beli, dan apabila hal tersebut terjadi, maka Nasabah setuju untuk memilih salah satu bentuk penyelesaian dibawah ini: a. Menggunakan dana ditahan milik Penyedia yang ada di Bank atas Obyek Syirkah untuk pelunasan sebagian atau keseluruhan atas fasilitas Nasabah; b. Menggunakan dana ditahan milik Penyedia yang ada di Bank atas Obyek Syirkah untuk menyelesaikan sendiri pembangunan Obyek Syirkah hingga terbangun utuh, dengan tata cara pencairan oleh Bank secara bertahap kepada Nasabah sesuai dengan progress pembangunan Obyek Syirkah berdasarkan hasil penilaian appraisal yang dilakukan oleh Bank atau pihak yang ditunjuk oleh Bank; atau c. Bentuk penyelesaian lain yang disepakati oleh Nasabah,

83 71 Penyedia, dan Bank. Tabel 4.3 Analisis Ketentuan Terkait Barang Sewa Inden Dari tabel analisis terkait Barang Sewa Inden (PPR-Inden) dapat disimpulkan bahwa implementasi di PBS belum sepenuhnya sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 102 tentang IMFZ PPR-Inden karena masih terdapat beberapa hal yang tertuang dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden yang perlu untuk dikaji dan diperbaiki kembali agar praktek MMQ-IMFZ di PermataBank Syariah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI. Pada poin ke-4 (empat) terkait pemberi sewa harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mewujudkan barang sewa dalam Praktek MMQ-IMFZ di PBS tidak sesuai dengan Fatwa DSN-MUI. Pasal 3, 3.1, huruf b masih perlu diperbaiki. Sesuai dengan alur pembiayaan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa yang bertanggung jawab dalam mewujudkan barang sewa yaitu Developer rekanan PBS maka seharusnya ketika ada resiko yang timbul dan bukan kesalahan Nasabah maka tidak boleh dibebankan atau diberikan aturan mutlak bahwa semua resiko menjadi tanggung jawab Nasabah karena bentuk dari pembiayaan MMQ adalah Syirkah (kerjasama) dimana ketika terjadi kerugian Bank dan Nasabah bertanggung jawab bersama-sama sesuai dengan porsi modal masing-masing. Kecuali resiko timbul atas kesalahan Nasabah sendiri yang menyalahi kesepakatan dan ceroboh maka Nasabah wajib bertanggung jawab dalam menanggung resiko. Dalam hal ini pun posisi Nasabah ketika membeli atau memesan Objek Syirkah adalah wakil yang diberikan kuasa penuh dari PBS untuk memilih dan membeli Objek Syirkah ke Developer yang telah melakukan PKS dengan PBS. Jadi, dalam hal mitigasi resiko ketika Nasabah tidak salah maka tanggung jawab tetap diberikan ke Developer sesuai dengan alur mekanisme pembiayaan yang telah dibahas pada bab sebelumnya dan

84 72 akan lebih baik jika terdapat Pasal khusus dalam membahas ketentuan terkait Barang Sewa Inden dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden karena bentuk dari barang sewa masih bersifat maushufah. Selanjutnya dalam Poin ke-5 dimana para pihak harus meyakini bahwa barang sewa dapat diwujudkan pada waktu yang disepakati dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ tidak terdapat pasal yang menjelaskan sesuai dengan Fatwa DSN-MUI namun dalam alur mekanisme pembiayaan Para Pihak dapat meyakini bahwa Developer akan menyelesaikan Objek Syirkah sesuai pada waktu yang disepakati karena ketika melakukan PKS dalam hal mitigasi resiko bangunan dan jaminan yang belum diterima karena masih dalam tahap penyelesaian (inden) maka Developer setuju memberikan jaminan (kafalah bil ujrah) kepada PBS berupa; Developer Guarantee dan Buy Back Guarantee. Developer Guarantee adalah jaminan yang diberikan developer kepada Bank baik berasal dari developer sendiri atau pihak lain yang dapat dieksekusi dan digunakan untuk menyelesaikan kewajiban developer apabila properti tidak dapat diselesaikan atau tidak dapat diserahterimakan sesuai perjanjian. 70 Buy Back Guarantee adalah jaminan dari developer untuk melunasi pinjaman jika fasilitas pembiayaan gagal bayar selama sertifikat belum diselesaikan pemecahannya oleh developer. Periode buy back dapat bervariasi untuk setiap developer sesuai perjanjian dengan PBS, paling tidak dari awal pembukaan pinjaman sampai perjanjian jual beli (AJB) dan SKMHT ditandatangani oleh nasabah atau sertifikat diterima oleh PBS. PBS segera dapat memita developer membeli kembali (buy back) properti apabila Nasabah gagal melakukan pembayaran atas cicilan pinjamannya selama 90 hari atau 3 bulan berturut-turut Wawancara Pribadi dengan Ibu Andi Herlina Jusuf, Sharia Mortgage Relationship PermataBank Syariah tanggal 13 Januari Wawancara Pribadi dengan Ibu Andi Herlina Jusuf, Sharia Mortgage Relationship PermataBank Syariah tanggal 13 Januari 2020.

85 73 Jaminan yang diberikan oleh Developer kepada Bank tersebut yang dapat membuat Para Pihak meyakini bahwa barang sewa dapat diwujudkan pada waktu yang disepakati dan akan lebih baik jika terdapat Pasal khusus dalam membahas ketentuan terkait Barang Sewa Inden dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden karena bentuk dari barang sewa masih bersifat maushufah. Selanjutnya, pada poin ke-6 terkait Perjanjian Jual Beli mengenai waktu penyerahan Objek Syirkah pasti mengacu pada perjanjian kerjasama antara PBS dan developer dimana waktu maksimal yang diberikan atau dibutuhkan developer untuk menyelesaikan pembanguan properti inden sampai properti tersedia secara utuh dan siap untuk diserahterimakan yaitu maksimal 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak akad pembiayaan ditandatangani sampai dengan bangunan 100% selesai dan siap diserahterimakan. Ketentuan waktu penyelesaian pembangunan tersebut sesuai dengan syarat dan ketentuan yang tertuang dalam Developer Empanelment Guideline PermataBank Syariah yang harus dipatuhi oleh developer rekanan PBS. 72 Namun, walaupun Perjanjian Jual Beli merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden akan lebih baik jika Pasal terkait waktu penyerahan Objek Syirkah atau Barang Sewa Inden ditambahkan atau dimasukkan dalam SKK agar lebih jelas. Selanjutnya, terkait poin ke-7 mengenai hak melanjutkan atau membatalkan ketika Objek Sewa diserahkan oleh pemberi sewa namun tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati atau dikenal dengan Hak Khiyar di dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Hak Khiyar yang merupakan hak penyewa tetapi PBS memberikan pilihan kepada Nasabah sesuai dengan yang telah dijelaskan dalam tabel diatas. Namun, pilihan tersebut tidak mencerminkan Prinsip 72 Wawancara Pribadi dengan Ibu Andi Herlina Jusuf, Sharia Mortgage Relationship PermataBank Syariah tanggal 13 Januari 2020.

86 74 Syirkah karena pada poin ke-7 dalam Praktek MMQ-IMFZ di PBS huruf b ketika developer tidak dapat menyelesaikan pembangunan Objek Syirkah maka Nasabah menggunakan dana ditahan milik Penyedia (Developer Guarantee) untuk menyelesaikan sendiri pembangunan Objek Syirkah. Seharusnya kalimat tersebut diganti dengan Nasabah dan PBS dapat menggunakan dana ditahan milik Penyedia untuk menyelesaikan bersama-sama pembangunan Objek Syirkah. Begitu pun terkait pilihan pada poin ke-7 dalam Praktek MMQ- IMFZ di PBS huruf c mengenai pilihan bentuk penyelesaian lain bisa dimasukkan mengenai hak khiyar agar aturan tersebut sesuai dengan Fatwa DSN-MUI IMFZ untuk PPR-Inden. D. Analisis Terkait Ujrah No. Fatwa DSN MUI No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ PPR-Inden Ketentuan Terkait Ujrah 1. Ujrah boleh dalam bentuk uang dan selain uang; 2. Jumlah ujrah dan mekanisme perubahannya harus ditentukan berdasarkan kesepakatan; Praktek MMQ-IMFZ terkait Ujrah di PermataBank Syariah Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden Pasal 2 ayat 1 terdapat tabel kondisi dan ketentuan untuk menerima Fasilitas dari Bank yang didalamnya terdapat ketentuan mata uang Fasilitas maka dapat disimpulkan bahwa ujrah dibayar dalam bentuk uang. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden Pasal 3, 3.1, huruf h dijelaskan setelah margin fixed berakhir

87 75 Nasabah setuju bahwa besarnya Imbalan Sewa (ujrah) dapat diadakan peninjauan kembali oleh Bank. 3. Ujrah boleh dibayar secara tunai, tangguh, atau bertahap (angsur) sesuai perjanjian sejak akad dilakukan; dan 4. Ujrah yang dibayar oleh penyewa setelah akad, diakui sebagai milik pemberi sewa Ujrah dibayar secara bertahap (angsur) Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden Pasal 3, 3.1, huruf f dijelaskan bahwa Para pihak akan memperoleh bagi hasil dari Imbalan Sewa (Ujrah) yang pembagiannya merujuk pada Nisbah bagi hasil yang disepakati. Porsi bagi hasil untuk Bank akan menjadi pendapatan Bank (revenue) sedangkan porsi bagi hasil untuk untuk Nasabah akan digunakan untuk membeli porsi Objek Syirkah Bank. Tabel 4.4 Analisis Terkait Ujrah Dari tabel analisis terkait ujrah dari poin pertama sampai akhir dapat disimpulkan bahwa implementasi di PBS telah sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 102 tentang IMFZ PPR-Inden karena jumlah ujrah dan mekanisme perubahan diatur dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden. Akan tetapi kalimat margin fixed perlu diganti dengan Ketetapan Ujrah karena bentuk pendapatan dalam akad MMQ hanya berasal dari ujrah bukan margin.

88 76 Selanjutnya, praktek MMQ-IMFZ terkait pembayaran ujrah yang dibayar oleh penyewa setelah akad, diakui sebagai milik pemberi telah sesuai dengan aturan dalam SEOJK No.36/2015 yang mana dalam hal asset MMQ disewakan kepada Nasabah Syirkah, pembayaran sewa yang tercatat di Bank dapat dijadikan bukti pendapatan usaha. 73 E. Analisis Terkait Uang Muka dan Jaminan No. Fatwa DSN MUI No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ PPR-Inden Praktek MMQ-IMFZ terkait Uang Muka dan Jaminan di PermataBank Syariah Ketentuan Terkait Uang Muka dan Jaminan 1. Dalam akad IMFZ dibolehkan adanya uang muka yang diserahkan oleh penyewa kepada pemberi sewa. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur terkait isi dari poin ke-1 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Uang Muka dan Jaminan. Akan tetapi, berdasarkan hasil diskusi dengan team Mortgage PermataBank Syariah sesuai dengan praktek di lapangan terkait uang muka yaitu Calon Nasabah langsung ke Developer dan melakukan pemesanan suatu rumah yang masih dibangun (inden) dengan uang muka dibayarkan calon Nasabah telebih dahulu ke Developer kemudian mengajukan pembiayaan ke 73 SEOJK No.36/2015 tentang Aktivitas dan Produk BUS dan UUS, h.37.

89 77 PermataBank Syariah yang telah menjadi rekanan Developer. Dalam alur pembiayaan bukti pembayaran uang muka diberikan Nasabah ke PBS dan uang muka tersebut akan menjadi hishshah Nasabah dan hishshah PBS adalah selisih harga dari uang muka Uang muka dapat dijadikan ganti rugi (ta'widh) oleh pemberi sewa karena proses upaya untuk mewujudkan barang sewa (apabila penyewa melakukan pembatalan sewa), dan menjadi pembayaran sewa (ujrah) apabila akad IMFZ dilaksanakan sesuai kesepakatan. 3. Apabila jumlah uang muka lebih besar dari jumlah kerugian, maka uang muka tersebut harus dikembalikan kepada penyewa. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur terkait isi dari poin ke-2 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Uang Muka dan Jaminan. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur terkait isi dari poin ke-3 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Uang Muka dan Jaminan. Desember Diskusi dengan Ibu Darifah, Team Mortgage PermataBank Syariah tanggal 19

90 78 4. Apabila pemberi sewa menyalahi substansi perjanjian terkait spesifikasi barang sewa, jangka waktu dan gagal serah, maka penyewa berhak: a. Melanjutkan akad dengan atau tanpa meminta kompensasi dari pemberi sewa, atau b. Membatalkan akad dengan pengembalian dana sesuai dengan jumlah yang telah diserahkan. Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 4 ayat 4.2 Nasabah memahami dan menerima resiko bahwa terdapat kemungkinan Penyedia (Developer) tidak dapat menyelesaikan pembangunan Objek Syirkah sesuai dengan yang telah diperjanjikan oleh Penyedia kepada Nasabah pada Perjanjian Jual Beli, dan apabila hal tersebut terjadi, maka Nasabah setuju untuk memilih salah satu bentuk penyelesaian dibawah ini: a. Menggunakan dana ditahan milik Penyedia yang ada di Bank atas Obyek Syirkah untuk pelunasan sebagian atau keseluruhan atas fasilitas Nasabah; b. Menggunakan dana ditahan milik Penyedia yang ada di Bank atas Obyek Syirkah untuk menyelesaikan sendiri pembangunan Obyek Syirkah hingga terbangun utuh, dengan tata cara pencairan oleh Bank secara bertahap kepada Nasabah sesuai dengan progress pembangunan Obyek Syirkah berdasarkan hasil penilaian appraisal yang dilakukan oleh

91 79 Bank atau pihak yang ditunjuk oleh Bank; atau c. Bentuk penyelesaian lain yang disepakati oleh Nasabah, Penyedia, dan Bank. 5. Dalam akad IMFZ dibolehkan adanya jaminan (al-rahn) dari pemberi sewa baik secara hakiki (qabdh haqiqi) maupun secara hukum (qabdh hukmi). Dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur terkait isi dari poin ke-5 yang dijelaskan dalam Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden terkait Uang Muka dan Jaminan*. *Sebenarnya jaminan dari Pemberi sewa yaitu sesuai dengan jaminan dari developer dimana jaminan hakiki yang diberikan yaitu penyelesaian barang sewa sesuai dengan ukuran, spesifikasi dan waktu yang ditentukan dengan developer dan untuk jaminan secara hukum yaitu proses penyelesaian sertifikat oleh developer yang kemudian dipasangkan Hak Tanggungan dan dipegang oleh PBS. Tabel 4.5 Analisis Terkait Uang Muka dan Jaminan Dari tabel analisis terkait Uang Muka dan Jaminan dapat disimpulkan bahwa implementasi di PBS belum sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 102 tentang IMFZ PPR-Inden Ketentuan Terkait Uang Muka

92 80 dan Jaminan. Pada poin ke-1 dijelaskan bahwa pada praktek MMQ-IMFZ di PBS uang muka dibayarkan terlebih dahulu dari calon Nasabah ke Developer sebagai bukti pengikatan diantara keduanya, setelah itu diajukan pembiayaan ke PBS. Bukti pembayan uang muka menjadi hishshah Nasabah dan hishshah PBS adalah selisih harga dari uang muka. Jika dilihat alurnya maka dapat dimaknai bahwa yang melakukan transaksi awal hanya Nasabah dan Developer padahal seharusnya yang melakukan pembelian di awal adalah Nasabah dan PBS bersama-sama yang melakukan transaksi dengan Developer atau PBS memberikan kuasa terlebih dahulu ke Nasabah sebagai wakil untuk membeli Objek Pembiayaan. Walaupun dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden, Pasal 3, 3.1, huruf a dijelaskan bahwa Bank mewakilkan atau menguasakan penuh kepada Nasabah untuk membeli Objek Syirkah dari Penyedia dan memberikan hak kepada Nasabah untuk melakukan pembuatan dokumen jual beli tetapi bukti praktek di lapangan tidak sesuai dengan yang tercantum di dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden. Pada praktek di lapangan PBS memberikan hak kuasa kepada Nasabah ketika Nasabah telah melakukan transaksi uang muka dengan Developer. Dengan mengikuti alur yang telah berjalan maka perlu ada perbaikan dalam praktek dilapangan yang harus disesuaikan dengan yang tercantum dalam SKK Perjanjian karena jika tidak diperbaiki maka dapat disimpulkan transaksi ini selamanya bukan merupakan Syirkah antara PBS dan Nasabah karena Nasabah telah melakukan transaksi (pembayaran uang muka) terlebih dahulu dengan Developer. Agar praktek MMQ-IMFZ di PBS berjalan sesuai dengan prinsip akad MMQ maka akan lebih baik jika ditetapkan aturan dimana Nasabah membayar uang muka terlebih dahulu ke PBS yang kemudian akan dihitung sebagai porsi hishshah Nasabah dan selisih dari uang muka dihitung sebagai porsi hishshah PBS. Setelah itu, diberikan kuasa penuh

93 81 ke Nasabah untuk membeli, membayar uang muka dan melakukan pembuatan dokumen jual beli dengan Developer dengan ketentuan Developer sudah menjadi rekanan PBS. Selanjutnya, terkait poin ke-2 di dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden perlu ditambahkan Pasal terkait ketentuan uang muka yang dibayar oleh Nasabah yang ketentuannya mengacu pada Fatwa IMFZ untuk PPR-Inden sebagai bentuk mitigasi resiko ketika suatu saat Nasabah atau penyewa melakukan pembatalan sewa secara sepihak karena jika dilihat dengan teliti di dalam SKK Perjanjian tidak terdapat aturan terkait Nasabah yang tiba-tiba mengundurkan diri padahal hal ini dapat memberikan kerugian kepada PBS. Begitu pun terkait poin ke-3 di dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden perlu ditambahkan Pasal terkait aturan apabila jumlah uang muka lebih besar dari jumlah kerugian, maka uang muka tersebut harus dikembalikan kepada penyewa agar Nasabah pun tidak merasa dirugikan. Selanjutnya, terkait poin ke-4 bisa merujuk pada penjelasan sebelumnya yang terdapat pada tabel analisis Ketentuan Barang Sewa Inden poin ke-7 beserta dengan penjelasan dibawah tabel analisis. Terakhir, terkait poin ke-5 di dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden perlu ditambahkan Pasal yang menyebutkan jaminan yang diberikan oleh Pemberi Sewa baik secara hakiki maupun secara hukum agar sesuai dengan aturan dalam Fatwa DSN-MUI tentang IMFZ untuk PPR-Inden.

94 82 F. Ketentuan Penyelesaian Sengketa No. Fatwa DSN MUI No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ PPR-Inden Praktek MMQ-IMFZ terkait Penyelesaian Sengketa di PermataBank Syariah Ketentuan Terkait Penyelesaian Sengketa 1. Penyelesaian sengketa di antara para pihak dapat dilakukan melalui musyawarah mufakat. Apabila musyawarah mufakat tidak tercapai, maka penyelesaian sengketa dilakukan melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan syariah sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Pada Syarat Ketentuam Umum (SKU) dan Ketentuan Khusus (SKK) Perjanjian Pemberian Fasilitas Musyarakah Mutanaqishah, bahwa dalam hal terjadi sengketa yang timbul berdasarkan Perjanjian maka Bank dan Nasabah atau disebut Para Pihak setuju bahwa langkah pertama yang akan diambil dalam menyelesaikan setiap perselisihan atau perbedaan pendapat yaitu diselesaikan dengan cara musyawarah. Jika perselisihan atau perbedaan pendapat tidak dapat diselesaikan secara musyawarah oleh Para Pihak, maka diselesaikan melalui mediasi di bidang Perbankan. Selanjutnya, langkah terakhir jika perselisihan atau perbedaan pendapat tidak dapat diselesaikan baik secara musyawarah atau mediasi di bidang Perbankan, maka diselesaikan melalui Kantor Kepaniteraan Pengadilan Agama

95 83 yang ditentukan dalam Perjanjian. Tabel 4.6 Ketentuan Penyelesaian Sengketa Sesuai dengan analisis terhadap Fatwa DSN-MU No. 102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk Produk Pembiayaan Pemilikan Rumah Inden dan Praktek MMQ-IMFZ di PermataBank Syariah diatas terkait penyelesaian sengketa telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI dan POJK No. 01 tahun 2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan diatur, bahwa apabila penyelesaian sengketa di Lembaga Jasa Keuangan tidak mencapai kesepakatan, konsumen dapat melakukan penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau melaui pengadilan. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dilakukan melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI). 75 Begitu pula dengan Fatwa DSN-MUI No. 73 tahun 2008 tentang MMQ dan Fatwa DSN-MUI No.102 tentang IMFZ untuk PPR- Inden, yang menyatakan bahwa jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah Alternatif-Penyelesaian-Sengketa.aspx, diakses pada 3 Desember Penyelesaian Perselisihan Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk PPR-Inden.

96 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan dan penelitian pada bab terdahulu maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Penerapan pembiayaan pemilikan rumah dengan Akad MMQ sesuai dengan SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ Reguler dengan asset yang belum berwujud (Inden) yaitu pembiayaan yang menggunakan konsep penyertaan modal bersama oleh Bank dan Nasabah atas pemilikan Objek Syirkah sebagai objek usaha bersama, yang porsi penyertaan kepemilikan Bank berkurang atau menurun yang disebabkan pembelian secara bertahap oleh Nasabah. 2. Penerapan PPR-Inden dengan akad MMQ di PBS belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip syariah yang tertuang dalam Fatwa No. 102 tahun 2016 tentang IMFZ untuk PPR-Inden. Masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki yaitu: a. Dalam pelaksanaan prinsip MMQ, definisi hishshah tidak terdapat dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ Reguler dengan asset yang belum berwujud (Inden) padahal hishshah merupakan bagian penting dari akad MMQ yang wajib untuk dituangkan secara jelas di dalam Perjanjian karena hishshah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan Akad MMQ. b. Ketentuan terkait Barang Sewa Inden dalam Praktek MMQ- IMFZ di PBS belum sepenuhnya sesuai dengan Fatwa DSN-MUI karena sesuai pembahasan dalam bab IV dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden tidak terdapat Pasal yang mengatur terkait yang bertanggung jawab dalam mewujudkan barang sewa, waktu 84

97 85 serah-terima barang sewa dan Hak Khiyar yang seharusnya semua itu tertuang dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden karena beberapa hal tersebut sangat penting mengingat Objek Pembiayaan masih dalam tahap penyelesaian. c. Ketentuan terkait Uang Muka dan Jaminan dalam Praktek MMQ-IMFZ di PBS belum sesuai dengan Fatwa DSN-MUI karena tidak ada satu pun Pasal yang tertuang dalam SKK Perjanjian yang mengatur dan menjelaskan terkait kejelasan uang muka dan jaminan yang seharusnya semua tertuang dalam SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden. B. Saran Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian adalah : 1. Bagi PermataBank Syariah, diharapkan dapat mengkaji dan memperbaiki (review) kembali isi dari SKK Perjanjian Pemberian Fasilitas MMQ untuk asset inden karena masih ada beberapa klausul yang tidak sesuai dengan Fatwa DSN MUI dan praktek dilapangan serta dibutuhkan tambahan pasal-pasal yang telah Peneliti sampaikan di setiap penjelasan pada BAB IV yang mengatur hal tersebut karena masih terlalu banyak aturan dari Fatwa DSN-MUI yang tidak dijelaskan dalam SKK Perjanjian sehingga proses dari pembiayaan MMQ-IMFZ masih banyak yang belum sesuai prinsip syariah karena ketentuan dalam akad IMFZ tidak diterapkan dalam Praktek sesungguhnya. 2. Bagi para akademisi dan khusus untuk Peneliti selanjutnya diharapkan agar dapat melanjutkan penelitian dengan mencari fokus penelitian ke Bank Umum Syariah lainnya terkait PPR-Inden dengan akad IMBT yang menggunakan akad Ijarah Maushufah fi Dzimmah sebagai akad

98 86 tambahan dengan objek yang masih dibangun (inden) apakah telah sesuai dengan Fatwa yang berlaku (prinsip syariah) atau tidak. 3. Bagi masyarakat seharusnya lebih banyak mencari referensi terkait akad MMQ-IMFZ agar sebelum melakukan pembiayaan pemilikan rumah di Bank Syariah dengan objek pembiayaan yang masih dibangun telah memiliki informasi yang cukup terkait alur pembiayaan agar tahu mana alur yang benar dan mana yang tidak dan agar sesuai dengan prinsip syariah.

99 DAFTAR PUSTAKA A. BUKU Antonio, Muhammad Syafi I, Bank Syariah: dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani, Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI, Pembangunan Perumahan, Fajar, Mukti dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris. Cetakan IV, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005 Otoritas Jasa Keuangan, Buku Standar Produk Musyarakah dan Musyarakah Mutanaqishah Otoritas Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, Kajian Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan: Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Jakarta: Departemen Perlindungan Konsumen OJK, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum 2017 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta: t.p, Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin, Islamic Banking, Jakarta: Bumi Aksara, Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. 8, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Zed, Mestika, Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, B. FATWA dan PERATURAN PERUNDANG - UNDANGAN Fatwa DSN MUI No.73 tahun 2008 tentang Musyarakah Mutanaqishah Fatwa DSN MUI No.101 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah Fatwa DSN MUI No.102 tahun 2016 tentang Ijarah Maushufah fi Dzimmah untuk PPR-Inden Frequently Asked Questions, PBI NO.18/16/PBI/2016 tentang Rasio LTV Untuk Kredit Properti, Rasio FTV Untuk Pembiayaan Properti, dan Uang Muka Untuk Kredit Atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor Surat Edaran Bank Indonesia nomor 14/33/DPbS tahun 2012 tentang Ketentuan-ketentuan pelaksanaan KPR ib pada Bank Syariah. Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No. 36 tahun 2015 tentang Produk dan Aktivitas BUS dan UUS UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah C. JURNAL dan SKRIPSI Abubakar, Lastuti dan Tri Handayani, Telaah Yuridis terhadap Pembiayaan Perumahan Melalui Akad MMQ, Jurnal Hukum Ekonomi Islam, UNPAD,

100 Felix, Rega, Potensi Penerapan Al-Ijarah Al-Maushufah Fi Al-Dzimmah Oleh Perbankan Syariah, jurnal karya Rega Felix S.H, Hosen, Nadratuzzaman, Musyarakah Mutanaqishah, Jurnal Al-Iqtishad, Vol.I, No.2, Juli Idris, Munadi, Implementasi PPR Syariah Studi Kasus Pada Griya Ar-Roya di Kota Makassar, Skripsi S1 UIN Alaudin Makassar, Kamilatur, Rohmi Putri Kamilatur, Implementasi Akad Musyarakah Mutanaqishah Pembiayaan Kepemilikan Rumah di Bank Muamalat Lumajang, Jurnal Iqtishoduna, Vol. 5, No.1, April, Ridwan, M dan Syahruddin, Implementasi Musyarakah Mutanaqishah sebagai Alternatif Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah Indonesia, Jurnal TSAQAFAH, Vol. 9 No.1, April, D. WEBSITE Aplikasi MMQ pada KPR ib artikel diakses pada 21 Mei 2019 dari an-fatwa-mui-dalam-hukum-indonesia/#ftn3, diakses pada tanggal 23 Januari diakses pada tanggal 23 Januari konsumen/pages/lembaga-alternatif-penyelesaian-sengketa.aspx, diakses pada 3 Desember diakses pada tanggal 29 Maret 2019 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, diakses pada 16 Oktober 2019 Mengenal Akad Ijarah Maushuf fi Dzimmah (IMFD), artikel diakses pada 13 November 2019 dari Per 8 Maret 2019, "Backlog" Rumah 7,6 Juta Unit, artikel diakses pada 27 Maret 2019 dari backlog-rumah-76-juta-unit?page=al Website PT Bank Permata Tbk, diiakses pada tanggal 27 Oktober Wikipedia Online, diakses pada 16 Oktoner E. LAIN-LAIN Data Distribution Channel PermataKPR ib Januari-Desember 2019 PermataBank Laporan Tahunan - Annual Report tahun 2004 PermataBank Laporan Tahunan - Annual Report tahun 2017 PermataBank Laporan Tahunan - Annual Report tahun

101 LAMPIRAN-LAMPIRAN 89

102

103

104

105

106

107

108

109

110

111

112

113

114

115

116

117

118

119

120

121

122

123

124

BAB I PENDAHULUAN. Kendala yang sering dipermasalahkan dan merupakan kendala utama adalah

BAB I PENDAHULUAN. Kendala yang sering dipermasalahkan dan merupakan kendala utama adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan rumah. Memiliki sebuah rumah impian adalah keinginan semua manusia. Namun terkadang keinginan tersebut tidak dapat

Lebih terperinci

A. Mekanisme Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan Menggunakan Akad Murabahah 1. Skema Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan Menggunakan Akad Murabahah

A. Mekanisme Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan Menggunakan Akad Murabahah 1. Skema Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan Menggunakan Akad Murabahah BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN AKAD MURABAHAH DAN AKAD MUSYARAKAH MUTANAQISAH PADA PEMBIAYAAN KPR MUAMALAT ib Membeli rumah secara tunai menjadi hal yang mustahil bagi banyak orang di zaman yang serba susah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Rumah merupakan suatu kebutuhan primer dan hak dasar manusia untuk

I. PENDAHULUAN. Rumah merupakan suatu kebutuhan primer dan hak dasar manusia untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah merupakan suatu kebutuhan primer dan hak dasar manusia untuk bertempat tinggal. Hak bertempat tinggal ini harus dipenuhi Negara sebagaimana yang diamanatkan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak

BAB I PENDAHULUAN. sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak memiliki

Lebih terperinci

No. 14/ 33 /DPbS Jakarta, 27 November Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

No. 14/ 33 /DPbS Jakarta, 27 November Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No. 14/ 33 /DPbS Jakarta, 27 November 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Penerapan Kebijakan Produk Pembiayaan Kepemilikan Rumah dan

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Bisnis merupakan salah satu aktivitas kehidupan manusia dan bahkan telah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat modern. Dengan fenomena ini mustahil orang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PEMBIAYAAN HUNIAN SYARIAH ANTARA AKAD MURA>BAH}AH DENGAN AKAD MUSHA>RAKAH MUTANA>QIS}AH DI BANK MUAMALAT CABANG DARMO SURABAYA

BAB IV ANALISIS PEMBIAYAAN HUNIAN SYARIAH ANTARA AKAD MURA>BAH}AH DENGAN AKAD MUSHA>RAKAH MUTANA>QIS}AH DI BANK MUAMALAT CABANG DARMO SURABAYA 84 BAB IV ANALISIS PEMBIAYAAN HUNIAN SYARIAH ANTARA AKAD MURA>BAH}AH DENGAN AKAD MUSHA>RAKAH MUTANA>QIS}AH DI BANK MUAMALAT CABANG DARMO SURABAYA A. Prosedur dan mekanisme pelaksanaan Pembiayaan Hunian

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat. Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo

BAB V PEMBAHASAN. A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat. Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo BAB V PEMBAHASAN A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo Musyarakah mutanaqisah (decreasing participation) adalah nasabah dan bank berkongsi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 64 BAB III METODE PENELITIAN Menurut Peter Mahmud, Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia ditandai dengan perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan lembaga kuangan syariah di Indonesia

Lebih terperinci

MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 04 TAHUN 2012

Lebih terperinci

DOKUMENTASI WAWANCARA

DOKUMENTASI WAWANCARA LAMPIRAN DOKUMENTASI WAWANCARA BROSUR KPR ib Tampak bagian depan dan belakang brosur Tampak bagian dalam brosur Yang ada di Cabang STRUKTUR ORGANISASI Tabel Angsuran Pembiayaan Rumah (KPR ib Muamalat)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sejalan dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia untuk mencapai terciptanya masyarakat adil dan makmur berdasarkan demokrasi ekonomi, telah dikembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan kredit dalan operasi bank sangat besar dan penting. Sebagian besar bank

BAB I PENDAHULUAN. peranan kredit dalan operasi bank sangat besar dan penting. Sebagian besar bank BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tugas pokok bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat yang memerlukannya. Oleh karena itu, peranan kredit dalan operasi

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Implementasi Fatwa DSN-MUI No.01/DSN-MUI/X/2013 Tentang. Karakteristik Pembiayaan Musyarakah mutanaqishah Di Bank

BAB V PEMBAHASAN. A. Implementasi Fatwa DSN-MUI No.01/DSN-MUI/X/2013 Tentang. Karakteristik Pembiayaan Musyarakah mutanaqishah Di Bank 144 BAB V PEMBAHASAN A. Implementasi Fatwa DSN-MUI No.01/DSN-MUI/X/2013 Tentang Karakteristik Pembiayaan Musyarakah mutanaqishah Di Bank Muamalat Indonesia Kantor Cabang Pembantu Tulungagung Dan Bank Bri

Lebih terperinci

ANALISIS KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BERDASARKAN AKAD PEMBIAYAAN MUSYARAKAH MUTANAQISAH (MMQ) PADA BANK BII UNIT USAHA SYARIAH CABANG BINTARO

ANALISIS KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BERDASARKAN AKAD PEMBIAYAAN MUSYARAKAH MUTANAQISAH (MMQ) PADA BANK BII UNIT USAHA SYARIAH CABANG BINTARO ANALISIS KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BERDASARKAN AKAD PEMBIAYAAN MUSYARAKAH MUTANAQISAH (MMQ) PADA BANK BII UNIT USAHA SYARIAH CABANG BINTARO Annisa Puspanira 20212971 3EB14 Latarbelakang Masalah Perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baru dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. musyarakah dengan akad ijarah atau bai. Yang mana akad musyarakah

BAB I PENDAHULUAN. baru dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. musyarakah dengan akad ijarah atau bai. Yang mana akad musyarakah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pesatnya perkembangan perbankan syariah di Indonesia ternyata juga memberi dampak pada produk-produk perbankan syariah yang ada di dalamnya. Ditambah lagi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Adapun salah satu ukuran keberhasilan suatu bank adalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Adapun salah satu ukuran keberhasilan suatu bank adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu aktifitas perbankan yang paling dominan adalah penyaluran dana kepada masyarakat. Penyaluran dana menjadi bagian yang sangat penting bagi bisnis bank

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Dasar Pertimbangan Bank Muamalat sebelum dikeluarkan Produk

BAB V PENUTUP. 1. Dasar Pertimbangan Bank Muamalat sebelum dikeluarkan Produk 116 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada uraian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan tentang permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu 1. Dasar Pertimbangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertambah pula kebutuhan akan perumahan. Menurut teori Maslow yang

BAB I PENDAHULUAN. bertambah pula kebutuhan akan perumahan. Menurut teori Maslow yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan manusia yang semakin bertambah menyebabkan semakin bertambah pula kebutuhan akan perumahan. Menurut teori Maslow yang menyebutkan bahwa sesudah manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperan sebagai institusi yang memberikan jasa keuangan bagi seluruh pelaku

BAB I PENDAHULUAN. berperan sebagai institusi yang memberikan jasa keuangan bagi seluruh pelaku BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank merupakan salah satu pelaku utama dari perekonomian negara karena berperan sebagai institusi yang memberikan jasa keuangan bagi seluruh pelaku ekonomi tidak hanya

Lebih terperinci

~J:~ Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia

~J:~ Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia ~- ~J:~ DEWAN SYARIAH NASIONAL MUI National Sharia Board -Indonesian Council of Ulama Sekretariat: JI. Dempo No.19 Pegangsaan-Jakarta Pusat 10320 Telp.: (021) 3904146 Fax. : (021) 31903288 KEPUTUSAN DEWAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. prinsip syariah sebagai dasar hukumnya berupa fatwa yang dikeluarkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. prinsip syariah sebagai dasar hukumnya berupa fatwa yang dikeluarkan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) merupakan salah satu bagian dari konsep sistem ekonomi Islam yang lebih luas. Dalam menjalankan kegiatan bisnis dan usahanya, Lembaga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas generasi mendatang, termasuk perannya sebagai pemantapan jati diri.

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas generasi mendatang, termasuk perannya sebagai pemantapan jati diri. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Selain sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, perumahan

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas Akhir dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (SE.Sy) UIN SUSKA RIAU

SKRIPSI Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas Akhir dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (SE.Sy) UIN SUSKA RIAU PENERAPAN FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NO.31/DSN-MUI/VI/2002 PADA PEMBIAYAAN TAKE OVER DITINJAU MENURUT EKONOMI SYARIAH (Study Kasus Pada PT. BTN Kantor Cabang Syariah Pekanbaru) SKRIPSI Diajukan Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah mengalami peningkatan yang cukup pesat dan sudah memiliki tempat yang memberikan cukup pengaruh

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH.

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH. PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalah), PT. Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalah), PT. Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hlm. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, manusia secara naluri adalah makhluk yang senantiasa bergantung dan terikat serta saling membutuhkan kepada yang lain.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/16/PBI/2016 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE UNTUK KREDIT PROPERTI, RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK PEMBIAYAAN PROPERTI, DAN UANG MUKA UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN KENDARAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai tempat untuk berkomunikasinya antar anggota keluarga dan juga. sebagai tempat berkumpulnya sebuah keluarga.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai tempat untuk berkomunikasinya antar anggota keluarga dan juga. sebagai tempat berkumpulnya sebuah keluarga. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan akan papan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang dan pangan. Manusia pada umumnya mempunyai kebutuhan tempat tinggal untuk berteduh

Lebih terperinci

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan

Lebih terperinci

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan

Lebih terperinci

No.17/ 25 /DKMP Jakarta, 12 Oktober Kepada SEMUA BANK UMUM, BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

No.17/ 25 /DKMP Jakarta, 12 Oktober Kepada SEMUA BANK UMUM, BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No.17/ 25 /DKMP Jakarta, 12 Oktober 2015 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM, BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Rasio Loan to Value atau Rasio Financing to Value

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan merupakan lembaga keuangan yang sering muncul sengketa yang bersentuhan dengan hukum dalam menjalankan usahanya. Sengketa Perbankan bisa saja terjadi antar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bank-bank konvensional. Esensi bank Islam tidak hanya dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN. bank-bank konvensional. Esensi bank Islam tidak hanya dilihat dari 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Bank Islam memiliki ciri karakter sendiri yang berbeda dengan bank-bank konvensional. Esensi bank Islam tidak hanya dilihat dari ketiadaan sistem riba dalam seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat di pisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan para pelaku ekonomi yang secara terus menerus dari waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya. Pertumbuhan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bankbank

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya. Pertumbuhan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bankbank BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan dunia perbankan dirasa semakin cepat dan pesat perkembangannya. Pertumbuhan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bankbank baru bermunculan, bukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan/tabungan dan

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan/tabungan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam mencapai tujuannya Bank Syariah ditentukan oleh kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan/tabungan dan menyalurkan kembali kepada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan

BAB I PENDAHULUAN. dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan peran perbankan syariah di Indonesia tidak terlepas dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan syariah juga diatur dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan cicilan atau angsuran sesuai dengan perjanjian. 2

BAB I PENDAHULUAN. dengan cicilan atau angsuran sesuai dengan perjanjian. 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tugas pokok bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat yang memerlukannya. Oleh karena itu, peranan kredit dalam operasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. properti bisa mencapai 20% pertahun tahun. Keadaan ini menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. properti bisa mencapai 20% pertahun tahun. Keadaan ini menyebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah tinggal adalah salah satu kebutuhaan utama manusia dalam hidup. Tingginya pertumbuhan penduduk dan semakin sempitnya lahan perumahan menyebabkan harga unit rumah

Lebih terperinci

DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN LOAN TO VALUE (LTV) TERHADAP PERKEMBANGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Oleh Tim Riset SMF

DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN LOAN TO VALUE (LTV) TERHADAP PERKEMBANGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Oleh Tim Riset SMF DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN LOAN TO VALUE (LTV) TERHADAP PERKEMBANGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Oleh Tim Riset SMF A. Latar Belakang Perlambatan ekonomi domestik yang terjadi ditengah perekonomian global yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma

BAB III METODE PENELITIAN. difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Topik masalah yang akan dikaji dalam penulisan ini adalah berkaitan dengan objek hukum, yaitu perlindungan hukum. Maka jenis penelitian menggunakan penelitian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/10/PBI/2015 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE ATAU RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN PROPERTI DAN UANG MUKA UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN KENDARAAN BERMOTOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Adanya potensi jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai ±

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Adanya potensi jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai ± BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adanya potensi jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai ± 85% dari 220 juta penduduk Indonesia, memberikan kesempatan bagi berkembang pesatnya sektor Perbankan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembiayaan murabahan..., Claudia, FH UI, 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembiayaan murabahan..., Claudia, FH UI, 2010. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat dilepaskan dari dunia ekonomi. Aspek dunia ekonomi yang dikenal saat ini sangat luas. Namun yang sering digunakan oleh masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. provisi, ataupun pendapatan lainnya. Besarnya kredit yang disalurkan akan

BAB I PENDAHULUAN. provisi, ataupun pendapatan lainnya. Besarnya kredit yang disalurkan akan 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemberian kredit bagi bank merupakan kegiatan yang utama, karena pendapatan terbesar dari bank berasal dari sektor kredit baik dalam bentuk bunga, provisi, ataupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan Al-Qur an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Al-Qur an dan

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan Al-Qur an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Al-Qur an dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan umat Islam, banyak idealisme yang muncul mempertanyakan apakah praktik ekonomi yang sudah dijalankan saat ini sudah sesuai dengan

Lebih terperinci

2 Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tent

2 Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tent LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.141, 2015 PERBANKAN. BI. Rasio. Loan To Value. Financing To Value. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5706). FPERATURAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada saat ini dunia perbankan di Indonesia memasuki masa persaingan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada saat ini dunia perbankan di Indonesia memasuki masa persaingan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini dunia perbankan di Indonesia memasuki masa persaingan yang sangat kompetitif. Hal ini disebabkan banyaknya bank yang beroperasi di Indonesia baik yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaru diukur berdasarkan besaran

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya. Selain itu, juga

III. METODE PENELITIAN. beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya. Selain itu, juga III. METODE PENELITIAN Penelitian hukum merupakan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan syariah semakin berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya lembaga keuangan syariah yang berdiri di Indonesia. Tidak hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Munculnya berbagai lembaga pembiayaan dewasa ini turut memacu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Munculnya berbagai lembaga pembiayaan dewasa ini turut memacu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Munculnya berbagai lembaga pembiayaan dewasa ini turut memacu roda perekonomian masyarakat. Namun sayangnya pertumbuhan institusi perekonomian tersebut tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional

BAB I PENDAHULUAN. kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ide pendirian bank syariah di negara negara Islam tidak terlepas dari kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional yang beredar di negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan jumlah penduduk yang makin meningkat/padat,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan jumlah penduduk yang makin meningkat/padat, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejalan dengan jumlah penduduk yang makin meningkat/padat, tuntutan akan tersedianya berbagai fasilitas yang mendukung kehidupan masyarakat juga mengalami

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1. Pembiayaan KPR Muamalat ib dengan akad murabahah merupakan transaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bank adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu Negara,

BAB I PENDAHULUAN. Bank adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu Negara, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu Negara, bahkan pada era globalisasi sekarang ini, bank juga telah menjadi bagian dari sistem keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Konsep anjak piutang ( factoring) yang berdasarkan prinsip syariah sering dikatakan

BAB I PENDAHULUAN. Konsep anjak piutang ( factoring) yang berdasarkan prinsip syariah sering dikatakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konsep anjak piutang ( factoring) yang berdasarkan prinsip syariah sering dikatakan sama dengan istilah hiwâlah, karena secara operasional mirip dengan pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I. Bandung, 2003, hal. xi 2 Undang-undang No. 10 Tahun 1998, Tentang Perbankan, hal. 5. Penerapan prinsip..., Indah Fajarwati, FH UI, 2011

BAB I. Bandung, 2003, hal. xi 2 Undang-undang No. 10 Tahun 1998, Tentang Perbankan, hal. 5. Penerapan prinsip..., Indah Fajarwati, FH UI, 2011 BAB I A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder maupun terseir. Adakalanya masyarakat tidak memiliki cukup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi semuanya. Padahal kebutuhan ini beraneka ragam, ada yang perlu

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi semuanya. Padahal kebutuhan ini beraneka ragam, ada yang perlu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya, setiap manusia hingga perusahaan pada setiap harinya selalu berhadapan dengan segala macam kebutuhan. Dalam menghadapi kebutuhan ini, sifat manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. kemudian diiringi juga dengan penyediaan produk-produk inovatif serta. pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan usaha di sektor jasa keuangan pada saat sekarang ini sedang mengalami perkembangan dan kemajuan, hal itu dapat terlihat dari besarnya antusias masyarakat

Lebih terperinci

MUSYARAKAH MUTANAQISAH SEBAGAI ALTERNATIF PADA PEMBIAYAAN KPRS DI BANK SYARIAH. Kajian LiSEnSi, Selasa, 23 Maret 2010

MUSYARAKAH MUTANAQISAH SEBAGAI ALTERNATIF PADA PEMBIAYAAN KPRS DI BANK SYARIAH. Kajian LiSEnSi, Selasa, 23 Maret 2010 MUSYARAKAH MUTANAQISAH SEBAGAI ALTERNATIF PADA PEMBIAYAAN KPRS DI BANK SYARIAH Kajian LiSEnSi, Selasa, 23 Maret 2010 Rumah adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Terungkapnya krisis kredit subprime

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian merupakan suatu proses, yaitu suatu rangkaian langkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memperoleh pemecahan masalah atau jawaban

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN LAYANAN SYARIAH (OFFICE CHANNELING) PADA BTN UNIT USAHA SYARIAH (UUS)

BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN LAYANAN SYARIAH (OFFICE CHANNELING) PADA BTN UNIT USAHA SYARIAH (UUS) 67 BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN LAYANAN SYARIAH (OFFICE CHANNELING) PADA BTN UNIT USAHA SYARIAH (UUS) 4.1. Aspek Hukum Pelaksanaan Layanan Syariah (Office Channeling) Terkait dengan Penerapan Dual System

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Arthaloka Gf, 2006 ), hlm M. Nadratuzzaman Hosen, Ekonomi Syariah Lembaga Bisnis Syariah,(Jakarta: Gd

BAB I PENDAHULUAN. Arthaloka Gf, 2006 ), hlm M. Nadratuzzaman Hosen, Ekonomi Syariah Lembaga Bisnis Syariah,(Jakarta: Gd BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, telah muncul kebutuhan akan adanya bank yang melakukan kegiatannya berdasarkan prinsip syariah. Disamping bank

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang hukum kepada instansi

BAB I PENDAHULUAN. keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang hukum kepada instansi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara hukum. Setiap interaksi antar individu maupun kelompok memiliki akibat hukum. Oleh karena itu, untuk mengatasi semua akibat hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah untuk menjalankan bisnis dengan izin operasional sebagai

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah untuk menjalankan bisnis dengan izin operasional sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga keuangan syariah merupakan lembaga yang dibentuk pemerintah untuk menjalankan bisnis dengan izin operasional sebagai lembaga keuangan syariah untuk mengeluarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut diatur dengan rinci landasan hukum serta jenis jenis usaha yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. tersebut diatur dengan rinci landasan hukum serta jenis jenis usaha yang dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya Undang undang Nomor 10 tahun 1998. Dalam undang-undang tersebut diatur dengan rinci landasan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh dari

BAB 1 PENDAHULUAN. yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh dari BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya kebutuhan rumah tinggal di Indonesia masih menjadi suatu masalah yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Pekerjaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melayani kebutuhan masyarakat melalui jasa-jasanya. 1 Perbankan syariah. Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

BAB I PENDAHULUAN. melayani kebutuhan masyarakat melalui jasa-jasanya. 1 Perbankan syariah. Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Eksistensi perbankan syariah di Indonesia ditandai dengan lahirnya BMI (Bank Muamalat Indonesia). Dengan izin prinsip Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. badan usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya seperti kebutuhan untuk

BAB I PENDAHULUAN. badan usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya seperti kebutuhan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan adalah salah satu sumber dana bagi masyarakat perorangan atau badan usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya seperti kebutuhan untuk membeli rumah, mobil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menguntungkan, tetapi mungkin pula sebaliknya. Manusia mengharapkan

BAB I PENDAHULUAN. menguntungkan, tetapi mungkin pula sebaliknya. Manusia mengharapkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Asuransi atau pertanggungan timbul karna kebutuhan manusia. Seperti telah dimaklumi, bahwa dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini, manusia selalu dihadapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Islam, seperti perbankan, reksadana, dan takaful. 1. Banking System, atau sistem perbankan ganda, di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Islam, seperti perbankan, reksadana, dan takaful. 1. Banking System, atau sistem perbankan ganda, di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank syariah merupakan bagian dari pelaksanaan ekonomi Islam. Bank syariah atau Lembaga Keuangan Syariah (LKS) adalah setiap lembaga yang kegiatan usahanya di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kecenderungan kondisi masyarakat dewasa ini membeli suatu benda

BAB I PENDAHULUAN. Kecenderungan kondisi masyarakat dewasa ini membeli suatu benda 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kecenderungan kondisi masyarakat dewasa ini membeli suatu benda bergerak maupun yang tidak berwujud. Pesatnya perkembangan masyarakat dewasa ini, kebutuhan akan sarana

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Bank percaya kepada

BAB II LANDASAN TEORI. diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Bank percaya kepada BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Pembiayaan Pembiayaan dapat diartikan sebagai aktivitas bank syariah dalam menyalurkan dananya kepada pihak nasabah yang membutuhkan dana. Penyaluran dana dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bank syariah pertama yang berdiri `di Indonesia adalah Bank Muamalat

BAB I PENDAHULUAN. Bank syariah pertama yang berdiri `di Indonesia adalah Bank Muamalat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank Syariah telah berkembang di Indonesia sejak tahun 90-an. Bank syariah pertama yang berdiri `di Indonesia adalah Bank Muamalat pada tahun 1992. Setelah terbukti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pedesaan. Dalam istilah sehari-hari kata kredit sering diartikan memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. pedesaan. Dalam istilah sehari-hari kata kredit sering diartikan memperoleh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kata kredit bukan hal yang asing dalam masyarakat, tetapi merupakan istilah yang sangat populer, baik dikalangan masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembiayaan berdasarkan prinsip syari ah dalam praktiknya di lembaga perbankan syari ah telah membentuk sebuah sub sistem, sistem pembiayaan berdasarkan prinsip syari

Lebih terperinci

No. 18/19/DKMP Jakarta, 6 September 2016 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM, BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA

No. 18/19/DKMP Jakarta, 6 September 2016 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM, BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA No. 18/19/DKMP Jakarta, 6 September 2016 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM, BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DI INDONESIA Perihal: Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti, Rasio Financing

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Yogyakarta telah melaksankan ketentuan-ketentuan aturan hukum jaminan

BAB III METODE PENELITIAN. Yogyakarta telah melaksankan ketentuan-ketentuan aturan hukum jaminan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan undang-undang (statute approach) yang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan

Lebih terperinci

LAMPIRAN IV SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 37/SEOJK.03/2015 TENTANG PRODUK DAN AKTIVITAS BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH

LAMPIRAN IV SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 37/SEOJK.03/2015 TENTANG PRODUK DAN AKTIVITAS BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH LAMPIRAN IV SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 37/SEOJK.03/2015 TENTANG PRODUK DAN AKTIVITAS BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH KODIFIKASI PRODUK DAN AKTIVITAS BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DAFTAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. - Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat. cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

BAB I PENDAHULUAN. - Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat. cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman sekarang semua kegiatan manusia tidak lepas dari yang namanya uang. Mulai dari hal yang sederhana, sampai yang kompleks sekalipun kita tidak dapat lepas dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Ada kalanya masyarakat tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan pesatnya kemajuan ekonomi dan bisnis di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan pesatnya kemajuan ekonomi dan bisnis di Indonesia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejalan dengan pesatnya kemajuan ekonomi dan bisnis di Indonesia, kegiatan bisnis bank umum menjadi semakin canggih dan beraneka ragam. Berbagai macam kegiatan

Lebih terperinci

Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version) BAB I PENDAHULUAN

Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version)  BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Undang undang No.10 Tahun 1998 tentang penyempurnaan Undangundang No.7 Tahun 1992 tentang perbankan merupakan langkah yang baik dalam perkembangan perbankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan tingkat perekonomian yang terjadi di Indonesia, peningkatan pertumbuhan pada sektor ekonomi perbankan juga terjadi. Saat ini

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 51. Grafindo Persada, 2004), hal. 18. Tahun TLN No. 3790, Pasal 1 angka 2.

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 51. Grafindo Persada, 2004), hal. 18. Tahun TLN No. 3790, Pasal 1 angka 2. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aktivitas bisnis merupakan fenomena yang sangat kompleks karena mencakup berbagai bidang baik hukum, ekonomi, dan politik. Salah satu kegiatan usaha yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan metode pendekatan syariah Islam yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. dengan metode pendekatan syariah Islam yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejak sepuluh tahun terakhir di Indonesia telah diperkenalkan suatu sistem perbankan dengan metode pendekatan syariah Islam yang dapat menjadi alternatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam. memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam. memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di samping itu, bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukarkan uang,

BAB I PENDAHULUAN. Di samping itu, bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukarkan uang, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank merupakan lembaga keuangan yang kegiatan utamanya yaitu menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dari waktu ke waktu. Diawali dengan berdirinya bank syariah di

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dari waktu ke waktu. Diawali dengan berdirinya bank syariah di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi syariah secara konsisten telah menunjukan perkembangan dari waktu ke waktu. Diawali dengan berdirinya bank syariah di wilayah mesir pada tahun

Lebih terperinci

Ketentuan Dasar dan Karakteristik. Pelaksanaan Kegiatan Usaha

Ketentuan Dasar dan Karakteristik. Pelaksanaan Kegiatan Usaha iaccountax Outline Ketentuan Dasar dan Karakteristik Jenis Kegiatan Usaha Pendanaan Pelaksanaan Kegiatan Usaha Penegakan Kepatuhan 3 KETENTUAN DASAR DAN KARAKTERISTIK PEMBIAYAAN SYARIAH 4 Dasar Hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini penggunaan komputer sudah memasuki hampir semua. bidang kehidupan, baik di kalangan perguruan tinggi, perkantoran,

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini penggunaan komputer sudah memasuki hampir semua. bidang kehidupan, baik di kalangan perguruan tinggi, perkantoran, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada saat ini penggunaan komputer sudah memasuki hampir semua bidang kehidupan, baik di kalangan perguruan tinggi, perkantoran, sampai ke rumah tangga. Sekarang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis, Sifat Penelitian, dan Pendekatan. normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis, Sifat Penelitian, dan Pendekatan. normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis, Sifat Penelitian, dan Pendekatan Penelitian yang ada dalam skripsi ini merupakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. terhadap asas-asas hukum. Penelitian asas-asas hukum dilakukan terhadap

III. METODE PENELITIAN. terhadap asas-asas hukum. Penelitian asas-asas hukum dilakukan terhadap 24 III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah penelitian hukum normatif terapan, yaitu penelitian terhadap asas-asas hukum. Penelitian asas-asas hukum dilakukan terhadap kaidah-kaidah

Lebih terperinci

Implementasi Akad MMQ pada Pembiayaan Modal Kerja Perspektif Hukum Ekonomi Syariah

Implementasi Akad MMQ pada Pembiayaan Modal Kerja Perspektif Hukum Ekonomi Syariah Implementasi Akad MMQ pada Pembiayaan Modal Kerja Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Study Kasus Akad MMQ di BPRS Mandiri Mitra Sukses Gresik) Rizza Rahayu Universitas Muhammadiyah Surabaya e-mail: rizzarahayu@gmail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis ekonomi merupakan kasus yang sangat ditakuti oleh setiap negara di dunia. Hal ini membuat setiap negara berusaha untuk memperkuat ketahanan ekonomi. Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

BAB I PENDAHULUAN. diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era modern ini Indonesia harus menghadapi tuntutan yang mensyaratkan beberapa regulasi dalam bidang ekonomi. tidak terkecuali mengenai perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.546,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG

Lebih terperinci