PENERAPAN BIAYA PEMELIHARAAN AKAD IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KEPEMILIKAN RUMAH DI BANK SYARIAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENERAPAN BIAYA PEMELIHARAAN AKAD IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KEPEMILIKAN RUMAH DI BANK SYARIAH"

Transkripsi

1 PENERAPAN BIAYA PEMELIHARAAN AKAD IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KEPEMILIKAN RUMAH DI BANK SYARIAH Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.) Oleh : Muhammad Farhan Fauzaan PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2020 M

2 PENERAPAN BIAYA PEMELIHARAAN AKAD IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KEPEMILIKAN RUMAH DI BANK SYARIAH Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.) Oleh : Muhammad Farhan Fauzaan Pembimbing Dr. Muhammad Maksum, M.A., M.D.C. NIP PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2020 i

3 ii

4 iii

5 ABSTRAK Muhammad Farhan Fauzaan NIM PENERAPAN BIAYA PEMELIHARAAN AKAD IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KEPEMILIKAN RUMAH DI BANK SYARIAH. Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis penerapan biaya pemeliharaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk pembiayaan kepemlikan rumah di Bank BRI Syariah KCP Bintaro serta kesesuaian praktiknya dengan Fatwa DSN MUI. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan pendekatan Normatif, dan Empiris. Penelitian ini menggunakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian yang diteliti. Dalam penelitian ini penulis mendapatkan data dan informasi melalui wawancara secara langsung dengan pihak Bank Syariah dan studi dokumentasi langsung ditempat. Teknik wawancara dilakukan dengan informan yang mengetahui dan mengerti secara keseluruhan tentang apa yang peneliti lakukan. Data-data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis untuk menemukan kesimpulan dan jawaban atas permasalahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam praktiknya Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk pembiayaan kepemilikan rumah di Bank BRI Syariah KCP Bintaro diterapkan dalam bentuk Refinancing Aset (Pembiayaan ulang). Implementasi Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah KCP Bintaro sudah terpenuhi berdasarkan skema dan mekanisme yang tercantum dalam Fatwa DSN-MUI tentang Refinancing Syariah. Akan tetapi terdapat beberapa ketidaksesuaian terhadap Fatwa DSN-MUI tentang Ijarah dalam hal biaya pemeliharaan atas objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Dalam penerapannya seluruh biaya yang keluar selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini menjadi tanggung jawab nasabah sepenuhnya, dan apabila terjadi kerusakan pada objek sewa juga menjadi tanggung jawab nasabah, adanya ketidaksesuaian atas biaya-biaya pemeliharaan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bittamlik semuanya merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada nasabah. Kata Kunci Pembimbing Daftar Pustaka : 2001 s.d : Ijarah Muntahiyah bit tamlik, Biaya Pemeliharaan, Perbankan Syariah : Dr. Muhammad Maksum, M.A., M.D.C. iv

6 KATA PENGANTAR ب س م هللا الر ح م ن الر ح ي م Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Atas segala limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam hanya tercurah kepada baginda yang mulia Nabi besar Muhammad SAW., yang telah membimbing manusia ke jalan yang penuh dengan ridho-nya. Selanjutnya, sehubungan dengan penyelesaian skripsi ini, secara pribadi penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada segenap civitas akademika Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baik secara kelembagaan maupun perorangan. Terselesaikannya skripsi ini juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Ucapan terimakasih terutama penulis sampaikan kepada : 1. Bapak Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H, M.H, M.A, selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak AM. Hasan Ali, M.A selaku Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, dan Bapak Dr. Abdurrauf, Lc, M.A selaku Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah. 3. Bapak Dr. Muhammad Maksum, M.A selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik. 4. Segenap Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, serta seluruh civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mengajarkan ilmu dan pengalaman kepada penulis sehingga dapat meneyelesaikan studi di Fakultas Syariah dan Hukum. v

7 5. Bank BRI Syariah Kantor Cabang Pembantu Bintaro yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh data dan informasi terkait penelitian, terutama kepada Mas Adit selaku Account Officer. 6. Orang tua tercinta Papah Martaya, dan Mamah Imas Ratna Komala atas do a dan kasih sayang yang selalu dilimpahkan dan tiada henti memberikan dukungan moril dan materiil serta kesabaran, keikhlasan, perhatian, cinta dan kasih sayang sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. 7. Kaka dan adik tercinta, Mas Rekza Nur Setiawan, Teh Ema Pratiwi, Nasywa Hasna Nabilla, Gavin Hamidan El-Haq, Keluarga Jogja dan Garut yang telah membantu memberikan motivasi dan semangat, serta kasih sayang yang tiada henti selama proses pengerjaan skripsi ini. 8. Teman-teman Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah 2016 yang telah samasama berjuang selama masa perkuliahan. Terkhusus untuk Risky, Risca, Mella, Kevin, Aul, Indra, dan Kemal. 9. Organisasi Paduan Suara Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Angkatan Farabia yang menjadi tempat bagi penulis untuk berkembang selama proses perkuliahan. Terutama untuk Frepin, Clarinet, Fliso, Gojer, Cedi, Tatali, Maze, Bass Farabia (Zayk, Ramades, dan Yazheng). 10. Deden, Madam, Puput dan Ilham yang telah memberikan dukungan, pencerahan serta motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga kebersamaan kita tetap terjalin sampai akhir nanti. 11. Teman-teman SMANJA SQUAD khususnya Angkatan 2016, terutama untuk Rusni, Aul, Utut, Irma, Viviam, Widi, dan Sandra yang menjadi tempat berkeluh kesah dan juga tempat bercerita penulis dari lulus SMA, awal masuk perkuliahan sampai saat ini. 12. Teman-teman KKN 122 UIN Jakarta, terutama untuk Vicky, Rafif, Maurin dan Ajeng yang selalu mendukung penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini. vi

8 13. Teman-teman KangNong Kab.Serang 2020, terkhusus untuk Luqyana, Mahfudz, Budi, dan Tb yang menjadi tempat bercerita selama proses pengerjaan skripsi ini. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT jugalah penulis berdoa semoga mereka mendapat balasan yang mulia. Dengan segala kelemahan dan kelebihan yang ada semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi setiap langkah kita, Aamiin Ya Rabbal- Alamin. Serang, 21 September 2020 Penulis Muhammad Farhan Fauzaan vii

9 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... i LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii ABSTRAK... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Identifikasi Masalah... 5 C. Pembatasan Masalah... 6 D. Rumusan Masalah... 6 E. Tujuan Penelitian... 7 F. Manfaat Penelitian... 7 G. Kerangka Teori... 8 a. Pembiayaan... 8 b. Ijarah Muntahiyah bit tamlik... 8 c. Refinancing Syariah... 8 d. KPR... 8 e. Bank Syariah... 9 H. Metode Penelitian Jenis Penelitian Pendekatan Penelitian Subjek dan Objek Penelitian Sumber Data A. Data Primer viii

10 B. Data Sekunder a. Bahan Hukum Primer b. Bahan Hukum Sekunder Lokasi Penelitian Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara b. Studi Pustaka & Dokumen Teknik Penulisan Kerangka Konseptual I. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori Tinjauan Ijarah Muntahiyah bittamlik a. Ijarah Muntahiyah bittamlik b. Dasar Hukum Ijarah Muntahiyah bittamlik c. Rukun dan Syarat Ijarah Muntahiyah bittamlik d. Hak, Kewajiban Pemberi Sewa & Penyewa e. Objek Ijarah Muntahiyah bittamlik f. Manfaat Ijarah Muntahiyah bittamlik g. Risiko yang harus diantisipasi B. Review Studi Terdahulu BAB III PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat BRISyariah B. Visi dan Misi PT. Bank BRISyariah C. Struktur Organisasi PT. Bank BRISyariah, Tbk D. Nilai-Nilai Perusahaan PT. Bank BRISyariah E. Produk-Produk dan Jasa Bank BRISyariah ix

11 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bittamlik pada produk KPR B. Syarat Pengajuan pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bittamlik di Bank BRI Syariah C. Proses pemberian / mekanisme Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bittamlik dalam produk KPR di PT. Bank BRISyariah, Tbk D. Implementasi Akad Ijarah Muntahiyah bittamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah KCP Bintaro E. Analisis Hasil Penelitian BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN x

12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dengan adanya aturan tersendiri yaitu Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, memberikan jaminan perlindungan hukum yang tentunya sangat diperlukan bagi usaha perbankan syariah dan nasabahnya. Perbankan syariah dalam kegiatannya untuk membantu perekonomian rakyat memberikan pembiayaan bagi masyarakat sehingga bank syariah termasuk salah satu Lembaga pembiayaan konsumen. Pembiayaan Bank Syariah dalam penyaluran dana kepada masyarakat dalam bentuk barang atau jasa untuk nasabahnya. Selain itu, kegiatan pembiayaan Bank Syariah juga melakukan tranaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah, transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiyah bit tamlik, transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah (salam dan istishna), transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang (Qardh), dan transaksi sewamenyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa 1. Salah satu produk perbankan syariah dalam pembiayaan adalah Ijarah Muntahiyah bit tamlik, Keberadaan akad Ijarah Muntahiya bit tamlik sebagai pengembangan dari akad ijarah untuk diaplikasikan atau digunakan dalam kegiatan ekonomi umat Islam. IMBT merupakan transaksi sewa dengan perjanjian untuk menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga transaksi ini diakhiri dengan alih kepemilikan objek sewa. 2 Objek sewa ini tidak akan berpindah ke pihak penyewa selama masa sewa menyewanya belum berakhir. Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini dalam prakteknya dapat digunakan dalam produk pembiayaan hunian/tempat tinggal dan pembiyaan untuk kebutuhan konsumtif. Produk yang saat ini digunakan dalam 1 Sriono, Telaah terhadap perjanjian sewa menyewa (Al Ijarah) dalam perbankan syariah, Jurnal Ilmiah Advokasi Vol.01.No.01 (Maret 2013), hlm Ismail. Perbankan Syariah (Jakarta : Prenadamedia Group, 2011) hlm

13 2 perbankan syariah dibuat dengan berlandaskan pada hukum Islam yang telah ditetapkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Produk ini muncul seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia yang cukup tinggi, sehingga kebutuhan yang diinginkan juga sangat tinggi. Dilansir dalam media online bahwasanya jumlah penduduk di Indonesia saat ini berada di kisaran 271 juta jiwa, Pulau Jawa dengan penghuni paling banyak 3. Peningkatan jumlah penduduk yang cukup tinggi ini menjadi salah satu keuntungan bagi Lembaga Keuaangan Bank maupun Non Bank yang mempunya fungsi sebagai Financial Intermediary atau penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat untuk berbagai tujuan. Kebutuhan akan rumah menjadi salah satu aset yang harus dimiliki setiap keluarga, seiring dengan meningkatnya populasi penduduk di Indonesia yang berdampak pula akan meningkatnya harga tanah. Produk Bank Syariah yang menggunakan akad ini yaitu KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau PPR (Pembiayaan Pemilikan Rumah). Pembiayaan sendiri merupakan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain atas penyediaan uang, dan adanya kewajiban bagi pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang tersebut setelah jangka waktu tertentu yang telah disepakati keduanya dengan imbalan atau bagi hasil. KPR adalah salah satu produk perbankan dalam hal pengkreditan penalangan rumah. Produk ini muncul karena adanya kebutuhan yang sangat tinggi dikalangan masyarakat untuk dapat memiliki rumah, seiring dengan pertumbuhan penduduk, dan tuntutan sosial ekonomi yang semakin berkembang. KPR ini dirasa tumbuh secara signifikan yang kebetulan juga bersamaan dengan kenaikan pasar property yang didominasi oleh permintaan rumah di Indonesia. Bank sebagai Lembaga intermediary membantu dalam hal memberikan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan akan hunian atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dengan kebijakan dan syarat-syarat tertentu dalam system pembiayaan KPR tersebut. 3 Diakses pada tanggal 29 Juni 2020

14 3 Produk KPR sendiri dapat dijumpai di bank konvensional dan juga bank syariah, yang membedakan keduanya adalah produk KPR yang dijalankan oleh bank konvensional tidak akan lepas dari salah satu cirinya yaitu bunga. Sedangkan produk KPR pada bank syariah pada dasarnya berbeda dengan yang ada di bank konvensional. Perbedaan ini terdapat pada prinsip keduanya, perbankan syariah menggunakan konsep bagi hasil atau imbalan. Berdasarkan konsep KPR syariah, maka penentuan harga dan juga keuntungan yang ada di dalam KPR syariah harus memenuhi beberapa hal, diantaranya (a) keuntungan yang diminta oleh bank syariah dan juga harus diketahui secara jelas oleh nasabah ; (b) harga jual bank merupakan harga beli bank ditambah dengan keuntungan yang diambil oleh bank ; (c) harga jual yang tidak boleh berubah selama perjanjian ; (d) system pembayaran yang disepakati bersama antara bank dan pihak yang dibiayai. 4 Perbankan syariah memberikan solusi pada produk pembiayaan KPR yang dapat diterapkan pada beberapa akad, salah satunya akad Ijarah Muntahiya bit tamlik.. Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik (sewa-menyewa) ini kemudian diterapkan pada beberapa Bank Syariah, salah satunya Bank BRI Syariah dalam produk KPR Faedah BRISyariah ib. Hal ini selaras dengan strategi bisnis PT BRISyariah yang sudah dicanangkan sejak tahun 2010, kemudian diperkuat dalam laporan tahunannya bahwa jumlah penyaluran pembiayaan PT Bank BRISyariah meningkat. Sepanjang tahun 2019, BRISyariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp.27,38 triliun, tumbuh 25,29% dibandingkan pada tahun 2018 sebesar Rp.21,85 triliun. Pembiayaan tersebut berasal dari Piutang Murabahah sebessar Rp.13,56 triliun, Piutang Istishna Rp.2,71 miliar, Pinjaman Qardh Rp.406,65 miliar, Pembiayaan Mudharabah Rp.414,10 miliar, Pembiayaan Musyarakah Rp.11,38 triliun, dan Pembiayaan Ijarah Muntahiyah bit Tamlik (IMBT) Rp.1,60 triliun. 5 4 Helmi Haris, Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan Syariah) Jurnal Ekonomi Islam La Riba Vol. 1, No. 1, (Juli 2007), hlm, Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm.85

15 4 Gambar 1.1 Pada tahun 2019 total pembiayaan konsumer yang disalurkan Perseroan mencapai Rp. 8,34 triliun meningkat 28,70% dibanding di tahun 2018 sebesar Rp.6,48 triliun dalam laporan tahunan BRISyariah. Dari data tersebut diatas, Terjadi peningkatan pembiayaan KPR yang terus menerus setiap tahunnya, tercatat pada 31 Desember 2019 pembiayaan KPR yang disalurkan mencapai Rp.2,93 triliun, atau tumbuh 37,79% dibandingkan posisi di tahun 2018 yang mencapai Rp.2,13 triliun 6. Beberapa hal yang dilakukan BRISyariah sehingga pembiayaan KPR tumbuh pesat antara lain proses pengajuan dilakukan secara system melalui APPEL yang sudah terintegrasi dengan pengujian skor nasabah dan secara host to host ke mekanisme penjaminan. Dengan APPLE proses pemberian pembiayaan menjadi lebih cepat. BRISyariah juga memperluas kerjasama dengan pengembang rumah berbiaya rendah sebagai saluran distribusi utama pembiayaan. Semakin tinggi pembiayaan dipengaruhi oleh tingginya minat masyarakat untuk memiliki rumah dengan proses pembiayaan yang cepat dengan biaya rendah, berpotensi tinggi pula terhadap pemasaran produk yang ditawarkan. 6 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm.93-94

16 5 Dalam prakteknya Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini masih menimbulkan berbagai macam persoalan diantaranya seperti penerapan akad dan kesesuaiannya dengan peraturan, tingkat pemahaman masyarakat, status kepemilikan dan juga biaya-biaya pemeliharaan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Apakah telah sesuai dengan Fatwa DSN No. 09/DSN-MUI/VI/2000 tentang akad Ijarah dan Fatwa DSN No.27/DSN- MUI/III/2002 tentang akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Berdasarkan paparan diatas bahwa dalam praktiknya Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini masih terdapat beberapa permasalahan. Atas dasar tersebut penulis tertarik untuk melakukan analisis yang mendalam terkait penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk pembiayaan kepemilikan rumah dan kesesuaian terkait penentuan biayabiaya pemeliharaan atas Akad tersebut dengan Fatwa DSN No.09/DSN- MUI/IV/2000 tentang akad Ijarah dan Fatwa DSN MUI No. 27/DSN- MUI/III/2002 tentang akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Dan dibahas lebih lanjut dalam bentuk penelitian yang diberi judul Penerapan Biaya Pemeliharaan Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik dalam Produk Pembiayaan Kepemilikan Rumah di Bank Syariah. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan penjelasan latar belakang maka permasalahan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan Ijarah Muntahiyah bit tamlik? 2. Apa yang dimaksud dengan Refinancing Asset? 3. Bagaimana penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam Produk KPR di Bank BRI Syariah KCP Bintaro? 4. Bagaimana mekanisme/prosedur pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam Produk KPR di Bank BRI Syariah KCP Bintaro? 5. Bagaimana Penentuan Biaya Pemeliharaan atas Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam Produk KPR di Bank BRI Syariah KCP Bintaro?

17 6 6. Apa saja yang menjadi faktor dalam penentuan biaya pemeliharaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam Produk KPR di Bank BRI Syariah KCP Bintaro? 7. Apakah praktik Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini sudah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No 89/DSN-MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah, Fatwa DSN-MUI No.09/DSN- MUI/IV/2000 tentang Ijarah, dan Fatwa DSN MUI No.27/DSN- MUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik? C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah yang peneliti kemukakan diatas, untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas sehingga pembahasannya lebih jelas dan terarah sesuai dengan yang diharapkan penulis. Dibatasi pada pembahasan bagaimana penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dan kesesuaiannya serta penentuan biaya-biaya pemeliharaan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik di Bank Syariah dengan Fatwa DSN No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah, dan Fatwa DSN MUI No.27/DSN-MUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik. D. Rumusan Masalah Penulis dapat merumuskan masalah dari penelitian di atas dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut : a. Bagaimana Mekanisme dan penerapan Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik dalam Produk KPR di Bank BRI Syariah KCP Bintaro? b. Bagaimana Kesesuaian Penentuan Biaya-Biaya atas Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik dalam Produk KPR pada Bank BRI Syariah KCP Bintaro dengan Fatwa DSN MUI?

18 7 E. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui Mekanisme dan penerapan Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik dalam Produk KPR di Bank BRI Syariah KCP Bintaro. b. Untuk mengetahui Kesesuaian Penentuan Biaya-Biaya atas Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik dalam Produk KPR pada Bank BRI Syariah KCP Bintaro dengan Fatwa DSN MUI. F. Manfaat Penelitian Pada permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat. Secara garis besar, manfaat untuk penelitian ini dibedakan menjai 3 (tiga) yaitu : a. Dengan adanya penelitian ini penulis berharap agar nantinya dapat memberikan manfaat serta pembelajaran untuk mengembangkan pengetahuan serta menjadi bahan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya pada bidang Hukum Ekonomi Syariah terkait pelaksanaan pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank Syariah. b. Sebagai referensi bagi Lembaga Keuangan Syariah terkait dalam melaksanakan prinsip ekonomi syariah yang sesuai dengan syariat islam serta meningkatkan kinerja bank dalam pengelolaan produk pembiayaan syariah. c. Penelitian ini, diharapkan bisa memberikan manfaat bagi peneliti guna menambah wawasan dan pengetahuan mengenai implementasi atau penerapan pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank Syariah ditinjau dari Fatwa DSN MUI. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank Syariah, serta dapat menjadi informasi bagi

19 8 para calon anggota untuk melakukan pembiayaan KPR berdasarkan prinsip syariah. G. Kerangka Teori a. Pembiayaan Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil. 7 b. Ijarah Muntahiyah bit tamlik Ijarah Muntahiyah bit tamlik adalah perjanjian sewa menyewa yang disertai opsi pemindahan hak milik atas benda yang disewa, kepada penyewa, setelah selesai masa sewa. 8 Dengan ketentuan semua rukun dan syarat yang berlaku dalam Ijarah, berlaku pula dalam akad ini, jadi piha yang melakukan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini harus melaksanakan Akad Ijarah terlebih dahulu. c. Refinancing Syariah Pembiayaan Ulang (Refinancing) adalah pemberian fasilitas pembiayaan baru bagi nasabah baru atau nasabah yang belum melunasi pembiayaan sebelumnya; Pembiayaan Ulang Syariah (Sharia Refinancing) adalah pembiayaan ulang berdasarkan prinsip syariah. 9 d. KPR Kredit Kepemilikan Rumah merupakan salah satu jenis pelayanan kredit yang diberikan oleh bank kepada para nasabah yang menginginkan pinjaman khusus untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan rumah atau renovasi rumah. KPR secara umum dibagi 7 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Pasal 1 ayat (25) 8 Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.27 Tahun 2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit Tamlik 9 Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.89 Tahun 2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah

20 9 menjadi 2 jenis, yaitu : (1) KPR Subsidi yang diperuntukkan kepada masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi menengah kebawah yang diatur oleh pemerintah (2) KPR Non Subsidi yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat tanpa adanya campur tangan pemerintah. 10 e. Bank Syariah Bank Syariah adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 11 H. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kulaitatif Deskriptif, yaitu penelitian berdasarkan data yang dikumpulkan dalam kondisi alamiah (natural setting). Peneliti sebagai alat utama dalam pengumpul data berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dikumpulkan secara deskriptif kemudian ditulis dalam laporan, data ini berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Normatif, dan Empiris. Dikatakan demikian karena dalam penelitian ini digunakan cara-cara pendekatan terhadap masalah yang diteliti dengan cara meninjau dari Fatwa DSN No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang 10 Muhammad Rizal Satria, Tia Setiani, Analisis Perbandingan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank Konvensional dengan Pembiayaan Murabahah (KPR) pada Bank Syariah (Studi Kasus Pada Bank BJB dengan Bank BJB Syariah), Amwaluna : Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol.2 No. 1 (Januari 2018) 11 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Pasal 1 ayat (2) dan (7) 12 Pupu Saeful Rahmat, Penelitian Kualitatif, EQUILIBRIUM VoI. 5, hlm. 4 (Juni 2009)

21 10 Ijarah dan Fatwa DSN No.27/DSNMUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit Tamlik. 3. Subjek dan Objek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk pembiayaan KPR, dan objek penelitian ini adalah Bank BRI Syariah KCP Bintaro. 4. Sumber Data A. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang akan diteliti. Pada penelitian ini data primer diperoleh langsung dari Bank BRI Syariah KCP Bintaro melalui Observasi maupun wawancara dengan pengurus di Bank BRISyariah KCP Bintaro yang melakukan kegiatan layanan pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR berdasarkan prinsip syariah. B. Data Sekunder Data sekunder pada penelitian ini diperoleh dari dokumendokumen tertulis, jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, tesis, Undang- Undang, Fatwa DSN-MUI, dan berbagai referensi yang relevan dengan masalah penelitian. Data sekunder diperoleh dengan menelusuri beberapa sumber bahan hukum, antara lain : a. Bahan Hukum Primer - Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah - Fatwa DSN No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah - Fatwa DSN No.27/DSNMUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit Tamlk - Fatwa DSN No. 89/DSN-MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah - Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)

22 11 b. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder bersumber pada dokumen-dokumen tertulis tentang pembiayaan kepemilikan rumah dalam akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, hasil penelitian karya ilmiah, Peraturan Perundang-undangan, Fatwa DSN-MUI dan berbagai referensi lain yang relevan dengan masalah penelitian. 5. Lokasi Penelitian Lokasi yang menjadi Objek Penelitian penulis ialah Bank BRI Syariah KCP Bintaro yang beralamat Jl. Boulevard Bintaro Jaya Sektor 7, Kebayoran Arcade Blok KA/C-1 No. 19 & 21, Pondok Jaya, Kec. Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara Pada penelitian ini penulis langsung mewawancarai pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan pembiayaan menggunakan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR yaitu Pihak Bank BRI Syariah KCP Bintaro, agar penulis dapat memperoleh data yang secara jelas dan akurat tentang penelitian yang akan penulis lakukan. b. Studi Pustaka & Dokumen Studi pustaka pada penelitian ini yaitu pengumpulan data dokumentasi berdasarkan laporan yang didapat dari pihak Bank BRI Syariah KCP Bintaro serta laporan lain yang berkaitan dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan diteliti. Dalam hal ini melakukan Teknik pengumpulan data dengan memanfaatkan buku, jurnal, artikel, literatur, studi terdahulu guna mendapatkan landasan teori mengenai permasalahan yang akan diteliti.

23 12 7. Teknik Penulisan Adapun teknik penulisan skripsi ini disesuaikan dengan kaidahkaidah penulisan skripsi pada buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017.

24 13 8. Kerangka Konseptual Pembiayaan Kepemilikan Rumah Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik Bank BRI Syariah Proses Pengajuan Pembiayaan Nasabah Mekanisme Refinanicing Asset Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik Regulasi Terkait Pembiayaan Kepemilikan Rumah dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik Penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR Penerapan Biaya Pemeliharaan 1. Fatwa DSN-MUI No. 89/DSN- MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah 2. Fatwa DSN-MUI No. 09/DSN- MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah 3. Fatwa DSN-MUI No.27/DSN- MUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik Kesesuaian Mekanisme Refinancing Aset Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dengan Fatwa DSN-MUI No. 89/DSN-MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah Kesesuaian Penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR dan biaya pemeliharaan dengan Fatwa DSN-MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah dan Fatwa DSN-MUI No.27/DSN- MUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik

25 14 I. Sistematika Penulisan Agar penulisan dalam penelitian ini menjadi lebih terarah dan sistematis, maka penulis menyusun sistematika pembahasan sebagai berikut. 1. BAB I : PENDAHULUAN Pada Bab Pendahuluan ini penulis memberikan gambaran umum penelitian yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan. 2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Pada Bab ini penulis membahas teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti berdasarkan tinjauan pustaka. Penulis menguraikan teori tentang Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik, selain itu bab ini juga berisi review penelitian terdahulu. 3. BAB III : PROFIL BANK BRI SYARIAH Pada Bab ini penulis membahas gambaran umum dan profil Bank BRI Syariah yang menjadi objek penelitian diantaranya berisi sejarah singkat, visi dan misi, struktur organisasi, nilai-nilai perrusahaan serta produk dan jasa layanan Bank BRI Syariah. 4. BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada Bab ini merupakan inti pembahasan penelitian yang akan membahas mengenai permasalahan yang diteliti yaitu mengenai Mekanisme pembiayaan serta penerapan biayabiaya pemeliharaan atas Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik pada Bank BRI Syariah dengan merujuk Fatwa DSN MUI.

26 15 5. BAB V : PENUTUP Pada Bab ini berisi Kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh pada Bab sebelumnya dan disertai dengan pemberian Saran dari hasil penelitian.

27 16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Tinjauan Ijarah Muntahiyah bittamlik a. Ijarah muntahiyah bittamlik Ijarah muntahiyah bittamlik berasal dari dua kata yaitu alijarah yang secara etimologi adalah Masdar dari kata ajarayajri u yaitu upah yang diberikan sebagai kompensasi sebuah pekerjaan. Sedangkan At-tamlik memiliki arti menjadikan orang lain memiliki sesuatu. Adapun menurut istilah (terminology) Attamlik bisa berupa kepemilikan terhadap benda, atau terhadap manfaat. 13 Sementara itu undang-undang memberikan definisi Ijarah muntahiyah bit tamlik sebagai berikut. Menurut Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah dalam pasal 19 ayat 1 dan 2 poin f, transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiyah bittamlik yaitu menyalurkan pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiyah bittamlik atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 14 Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/26/BPS/2003 tentang Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia halaman 111, juga mendefinisikan yang dimaksud dengan Ijarah Muntahiyah bit tamlik adalah perjanjian sewa-menyewa suatu barang antara lessor/muajjir (pemberi sewa) dengan 13 Mila sartika & Hendri Hermawan Adinugraha, Implementasi Ijarah dan IMBT Pada Bank BRI Syariah Cabang Yogyakarta, Vol.VII, hlm Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

28 17 lessee/musta jir (penyewa) yang diakhiri dengan perpindahan hak milik objek sewa. 15 Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No.27/DSNMUI/III/2002 tentang Al Ijarah Al Muntahiyah Bi Al Tamlik, yang dimaksud dengan sewa beli yaitu perjanjian sewa menyewa yang disertai opsi pemindahan hak milik atas benda yang disewa, kepada penyewa, setelah selesai masa sewa. 16 Akad ijarah muntahiyah bittamlik adalah suatu akad sewabeli dengan adanya pilihan atau opsi kepada nasabah berupa hibah ataupun membeli barang yang disewanya pada akhir masa sewa, artinya terdapat perpindahan kepemilikan atas barang di akhir masa sewa. 17 Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Ijarah Muntahiyah bit tamlik adalah perjanjian sewa-menyewa antara bank sebagai pemberi sewa dan nasabah sebagai penyewa dalam waktu tertentu, terdapat kewajiban bagi nasabah untuk melakukan pembayaran sewa, dan terdapat pengalihan kepemilikan objek sewa dari bank kepada nasabah setelah selesai masa sewa; Bank syariah sebagai pemberi sewa wajib melaksanakan pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik sesuai dengan prinsip syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. 15 Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syariah Bank Indonesia, 2006, hlm Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.27 Tahun 2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit Tamlik 17 Muhammad Syafi I Antonio, Bank Syariah : Teori ke Praktik, (Gema Insani Press : Jakarta, 2001) hlm. 117

29 18 b. Dasar Hukum Ijarah Muntahiyah bittamlik 1. Al-quran a. Q.S Al-Zukhruf : Hadits أ ه م ي ق سم و ن ر ح م ت ر ب ك ن ح ن ق س م ن ا ب ي ن ه م م عي ش ت ه م في ال ح ي اة الد ن ي ا و ر ف ع ن ا ب ع ض ه م ف و ق ب ع ض د ر ج ات لي ت خذ ب ع ض ه م ب ع ض ا س خ ري ا و ر ح م ت ر ب ك خ ي ر مم ا ي ج م ع و ن Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. a. Hadits Nabi riwayat Abd Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa id al-khudri, Nabi saw bersabda : م ن اس ت أ ج ر أ جي ر ا ف ل ي ع لم ه أ ج ر ه Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya. b. Hadits Nabi riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Nasa I dari Sa d Ibn Abi Waqqash, dengan teks Abu Daud ia berkata : ك ن ا ن ك ري ا أل ر ض بم ا ع ل ى الس و اقي من الز ر ع و م ا س عد بال م اء من ه ا ف ن ه ان ا ر س ول ا لل ص ل ى ا لل ع ل ي ه و س ل م ع ن ذ لك و أ م ر ن ا أ ن ن ك ري ه ا بذ ه ب أ و فض ة Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil tanaman yang tumbuh pada parit dan tempat yang teraliri air; maka Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami

30 19 menyewakan tanah itu dengan emas atau perak (uang). c. Rukun dan Syarat Ijarah Muntahiyah bittamlik 18 Di dalam ketentuan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Pasal 278 dijelaskan bahwa Rukun dan syarat dalam ijarah dapat diterapkan dalam pelaksanaan Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Mengacu dari pasal tersebut maka rukun dan syarat akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik sama dengan rukun dan syarat akad ijarah pada umumnya. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al-ijarah Al-Muntahiyah Bi At-Tamlik, dijelaskan bahwa Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dapatt dilakukan apabila calon nasabah telah memenuhi syarat dan rukun dalam akad Ijarah yang terdapat dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 09/DSN- MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. 1. Rukun 1) Penyewa (musta jir) atau dikenal dengan lesse, yaitu pihak yang menyewa objek sewa. Dalam perbankan, penyewa adalah nasabah. 2) Pemilik barang (mua ajjir), dikenal dengan lessor, yaitu pemilik barang yang digunakan sebagai objek sewa. 3) Barang/objek sewa (ma jur) adalah barang yang disewakan. 4) Harga sewa/ manfaat sewa (ujrah) adalah manfaat atau imbalan yang diterima oleh mu ajjir. 5) Ijab Kabul, adalah serah terima barang Syarat 1) Kerelaan dari pihak yang melaksanakan akad. 18 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), hlm Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2011), hlm.164

31 20 2) Ma jur memiliki manfaat dan manfaatnya dibenarkan dalam islam, dapat dinilai atau diperhitugkan, dan manfaat atas transaksi ijarah muntahiya bittamlik harus diberikan oleh lesse kepada lessor. Ketentuan sahnya akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik hampir sama dengan yang dijelaskan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHES) yaitu pihak yang melakukan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik harus menyelesaikan akad Ijarahnya terlebih dahulu, artinya akad pemindahakan kepemilikan atas objek sewa hanya dapat dilakukan setelah masa Ijarah (sewa) selesai. Tentunya atas kesepakatan antara kedua belah pihak yakni Bank Syariah dan Nasabahnya. d. Hak, Kewajiban Pemberi sewa & Penyewa Dijelaskan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No : 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah dalam ketentuan ketiga, terkait Hak dan Kewajiban. 1. Kewajiban Pemberi sewa yakni Lembaga Keuangan Syariah dalam pembiayaan Ijarah a. Menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang diberikan b. Menanggung biaya pemeliharaan barang c. Menjamin bila terdapat cacat pada barang yang disewakan 2. Kewajiban Penyewa yakni nasabah sebagai penerima manfaat barang atau jasa dalam pembiayaan Ijarah a. Membayar sewa atau upah dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan barang serta menggunakannya sesuai kontrak b. Menanggung biaya pemeliharaan barang yang sifatnya ringan (materiil)

32 21 c. Jika barang yang disewa rusak, bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan, juga bukan karena kelalaian pihak penerima manfaat dalam menjaganya, ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Secara jelas dalam ketentuan keempat bahwa jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. 20 e. Objek Ijarah Muntahiyah bittamlik Objek ijarah muntahiyah bittamlik harus bisa diserah terimakan. Tidak boleh menyewakan sesuatu yang manfaatnya tidak bisa diserahterimakan, baik ketidakmungkinan itu menurut realitas atau menurut ajaran Syariat. Dalam Peraturan Bank Indonesia tentang pelaksanaan prinsip syariah, kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa bank syariah dijelaskan bahwa obyek ijarah Muntahiah Bit Tamlik adalah berupa barang modal yang memenuhi ketentuan sebagai berikut. 1. Obyek Ijarah Muntahiah Bit Tamlik merupakan milik Perusahaan Pembiayaan sebagai pemberi sewa (muajjir); 2. Manfaatnya harus dapat dinilai dengan uang; 3. Manfaatnya dapat diserahkan kepada penyewa (musta jir); 4. Manfaatnya tidak diharamkan oleh syariah Islam; 5. Manfaatnya harus ditentukan dengan jelas; dan 20 Fatwa DSN-MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Ijarah

33 22 6. Spesifikasinya harus dinyatakan dengan jelas, antara lain melalui identifikasi fisik, kelayakan, dan jangka waktu pemanfataannya. 21 Sedangkan dalam Fatwa DSN MUI No.09/DSN- MUI/IV/2000 dijelaskan terkait ketentuan objek Ijarah sebagai berikut. 1. Objek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/ atau jasa 2. Manfaat barang dan jasa harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak 3. Manfaat barang atau jasa harus yang bersifat dibolehkan (tidak diharamkan) 4. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah 5. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa 6. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas, termasuk jangka waktunya. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik 7. Sewa atau upah adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa atau upah dalam Ijarah. 8. Pembayaran sewa atau upah boleh berebntuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak 9. Kelenturan (flexibility) dalam menentukan sewa atau upah dapat diwujudkan dalam ukuran waktu tempat dan jarak Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/19/PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah 22 Fatwa DSN-MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Ijarah

34 23 Obyek al-ijārah al-muntahiya bi al-tamlik antara lain: alatalat berat (Heavy Equipment); alat-alat kantor (Office Equipment); alat-alat foto (Photo Equipment); alat-alat medis (Medical Equipment); alat-alat printer (Printing Equipment); mesin-mesin (Machineries); alat-alat pengangkutan (Vehicle); gedung (Building); komputer; dan peralatan telekomunikasi atau satelit. 23 f. Manfaat Ijarah Muntahiyah bittamlik Banyak manfaat yang diperoleh dari menggunakan akad ini baik bagi Bank maupun nasabah, yaitu: 1. Bagi Bank a. Sebagai salah satu bentuk penyaluran dana b. Memperoleh pendapatan dalam bentuk imbalan/fee/ujroh. 2. Bagi Nasabah manfaat yang diperoleh yaitu: a. Memperoleh hak manfaat atas barang yang dibutuhkan memperoleh peluang untuk mendapatkan hak penguasaan barang dalam hal menggunakan akad Ijarah Muntahiya Bittamlik. b. Merupakan sumber pembiayaan dan layanan perbankan syariah untuk memperoleh hak manfaat atas barang dan/atau memperoleh peluang untuk mendapatkan hak penguasaan barang. Dalam menjalankan produk KPR, bank syariah memadukan dan menggali skim-skim transaksi yang dibolehkan dalam Islam. Adapun salah satu akad yang digunakan oleh perbankan syariah di indonesia dalam menjalankan produk pembiayaan KPR adalah akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik (IMBT). Bank Syariah menyewakan rumah sebagai objek akad kepada nasabah. Meskipun prinsipnya tidak terjadi pemindahan kepemilikan 23 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/19/PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah

35 24 (hanya pemanfaatan rumah), tetapi pada akhir masa sewa bank dapat menjual atau menghibahkan rumah yang disewakannya kepada nasabah. 24 g. Risiko yang harus diantisipasi Risiko yang mungkin terjadi dalam akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik adalah sebagai berikut: 1. Default; nasabah tidak membayar cicilan dengan sengaja. 2. Rusak; aset ijarah rusak sehingga menyebabkan biaya pemeliharaan bertambah, terutama bila disebutkan dalam kontrak bahwa pemeliharaan harus dilakukan oleh si pemberi sewa (mu ajjir). 3. Berhenti; nasabah berhenti di tengah kontrak dan tidak mau membeli aset tersebut. Akibatnya bank harus menghitung kembali keuntungan dan mengembalikan sebagian kepada nasabah. 25 B. Review Studi Terdahulu Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini, peneliti akan menyertakan beberapa studi terdahulu dari hasil penelitian sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai acuan peneliti dalam menyusun pemikiran tentang Penerapan Akad Ijarah Muntahiyah it tamlik dalam produk KPR di Bank Syariah berdasarkan Fatwa DSN MUI. Sehingga dapat memudahkan dalam melakukan penelitian selanjutnya mengenai problematika yang terjadi pada saat ini. Sebelum meneliti, penulis mengacu pada penelitian terdahulu dengan tema serupa. Antara lain penelitian Mila Sartika & Hendri Hermawan Adinugraha (2016) dalam penelitiannya, penerapan pembiayaan IMBT di Bank BRI Syariah cabang Yogyakarta memiliki kesamaan perlakuan dengan pembiayaan murabahah. Kesamaan ini dilihat dari 24 Helmi Haris, Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan Syariah) Jurnal Ekonomi Islam La Riba Vol. 1, No. 1, (Juli 2007) 25 Muhammad Syafi I Antonio, Bank Syariah dari teori ke praktik, (Jakarta : Gema Insasi, 2001), hlm 199

36 25 kategori akadnya yaitu jual beli, yang membedakaan hanyalah objeknya murabahah berupa barang sedangkan IMBT ialah barang dan jasa. Dalam UU No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah diperbolehkan selagi tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 26 Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan, dalam penelitian ini hanya menjelaskan penerapan pembiayaan IMBT memiliki kesamaan perlakuan dengan pembiayaan murabahah. Sedangkan penelitian yang akan dibahas terfokus pada kesesuaian penentuan biaya pemeliharaan terhadap objek IMBT di Bank Syariah berdasarkan Fatwa DSN MUI dan apa yang menjadi faktor dalam penentuan biaya pemeliharaan tersebut. Rizkita Effendi (2013), dalam penelitiannya yang membahas mengenai Analisis Penerapan PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah dalam Pembiayaan Perbankan Syariah mengatakan terdapat ketidaksesuaian anatara penerapan pembiayaan dengan akad ijarah muntahiya bittamlik dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional, yakni dalam hal pemilikan aset dan pembebanan biaya perawatan. Aset yang menjadi aset ijarah dalam produk morgate menjadi langsung milik nasabah secara legal serta biaya perawatan terkait aset yang di ijarah kan sepenuhnya ditanggung oleh nasabah. Pada Bank Muamalat pembebanan biaya perawatan terhadap aset diserahkan sepenuhnya kepada nasabah. 27 Perbedaan dengan penelitian yang penulis teliti yaitu pada objeknya dimana penelitian sebelumnya dilakukan di Bank Muamalat, sedangkan penulis akan melakukan penelitian di Bank BRI Syariah KCP Bintaro. Selain itu juga penelitian sebelumnya menjelaskan mengenai perlakuan Akuntansi Ijarah dalam pembiayaan perbankan syariah, sedangkan penulis menjelaskan mengenai Praktik dan Penerapan 26 Mila Sartika dan Hendri Hermawan Adinugraha, Implementasi Ijarah dan IMBT pada Bank BRI Syariah Cabang Yogyakarta, Jurnal Ekonomi Islam UIN Walisongo Volume VII, Edisi 1 (Mei 2016), 27 Rizkita Effendi Analisis Penerapan PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah dalam Pembiayaan Perbankan Syariah (Studi Fenomenologis pada Bank Muamalat dan Permata Bank Syariah. (Skripsi S-1 Fakultas Pendiidkan Ekonomi dan Bisnis, Univesritas Pendidikan Indonesia, 2013).

37 26 Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik secara keseluruhan dalam produk pembiayaan KPR di Bank Syariah

38 27 BAB III PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat BRISyariah Dalam Laporan Tahunan BRISyariah (2019), Sejarah pendirian PT. Bank BRISyariah, Tbk. (Selanjutnya disebut BRISyariah atau Bank) tidak lepas dari akuisisi yang dilakukan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember Setelah mendapatkan izin usaha dari Bank Indonesia melalui surat No. 10/67/KEP.GBI/DPG/2008 pada 16 Oktober 2008 BRISyariah resmi beroperasi pada 17 November 2008 dengan nama PT Bank BRI Syariah dan seluruh kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah Islam. 28 PT. Bank BRISyariah hadir mmepersembahkan sebuah bank ritel modern terkemuka dengan layanan finansial sesuai kebutuhan nasabah dengan jangkauan termudah untuk kehidupan lebih bermakna. Melayani nasabah dengan pelayanan prima (service excellence) dan menawarkan beragam produk yang sesuai harapan nasabah dengan prinsip syariah. Kehadiran PT. Bank BRISyariah di tengah-tengah industry perbankan nasional dipertegas oleh makna pendar cahaya yang mengikuti logo perusahaan. Logo ini menggambarkan keinginan dan tuntutan masyarakat terhadap sebuah bank modern sekelas PT. Bank BRISyariah yang mampu melayani masyarakat dalam kehidupan modern. Kombinasi warna yang digunakan merupakan turunan dari warna biru dan putih sebagai benang merah dengan bran PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Aktivitas PT. Bank BRISyariah semakin kokoh setelah pada 19 Desember 2018 ditandatangani akta pemisahan Unit Usaha Syariah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Untuk melebur ke dalam PT. Bank BRISyariah (spin off) yang berlaku efektif pada tanggal 1 Januari Penandatanganan dilakukan oleh Sofyan Basir selaku Direktur Utama PT. 28 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm.37

39 28 Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk dan Ventje Rahardjo selaku Direktur Utama PT. Bank BRISyariah. Sesuai dengan visinya, saat ini PT. Bank BRISyariah merintis sinergi dengan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Dengan memanfaatkkan jaringan kerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Sebagai kantor layanan syariah dalam mengembangkan bisnis yang berfokus kepada kegiatan penghimpunan dana masyarakat dan kegiatan consumer berdasarkan prinsip syariah. B. Visi dan Misi PT. Bank BRISyariah Logo PT. Bank BRISyariah a. Visi BRISyariah Menjadi bank ritel modern terkemuka dengan ragam layanan finansial sesuai kebutuhan nasabah dengan jangkauan termudah untuk kehidupan lebih bermakna. b. Misi BRISyariah 1. Memahami keragaman individu dna mengakomdasi beragam kebutuhan finansial nasabah. 2. Menyediakan produk dan layanan yang mengedepankan etika sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. 3. Menyediakan akses ternyaman melalui berbagai sarana kapan pun dan dimana pun.

40 29 4. Memungkinkan setiap individu untuk meningkatkan kualitas hidup dan menghadirkan ketentraman pikiran. 29 C. Struktur Organisasi PT. Bank BRISyariah, Tbk. Berikut ini adalah gambar struktur organisasi di PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. 30 Dewan Pengawas Syariah Rapat Umum Pemegang saham (RUPs) Dewan Komisaris Komite Pemantau Risiko Komite Audit Direktur Utama Komite Reasuransi & Nominasi Direktur Operassional Direktur Kepatuham Direktur Bisnis Komersial Direktur Bisnis Ritel Divisi Perancangan Strategis Divisi Akuntansi & Keuangan Divisi Manajemen Risiko Divisi Bisnis Komersial Divisi Bisnis Ritel Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) Divisi Sekretaris Perusahaan Divisi Operasi & Layanan Divisi Kepatuhan Divisi Dana & Perbankan Digital Divisi Bisnis Mikro Divisi Teknologi Informasi Divisi Pengelolaan Aset Khusus Divisi Jaringan & Logistik Divisi Analisa Pembiayaan Divisi Sumber Daya Insani Divisi Treasuri & Perbankan Internasional Regional Office Divisi Penunjang Pembiayaan Branch Office 29 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm Laporan Tahunan PT. Bank BRISyariah, Tbk.

41 30 D. Nilai-Nilai Perusahaan PT. Bank BRISyariah Nilai-Nilai Perusahaan pada PT. Bank BRISyariah adalah PASTI OKE yaitu kepanjangan dari kata Profesional, Antusias, Tawakkal, Penghargaan terhadap Sumber Daya Manusia, Integritas, Berorientasi Bisnis, Kepuasan Pelanggan, 1. Profesional Kesungguhan dalam melakukan tugas sesuai dengan standar teknis dan etika yang telah ditentukan. 2. Antusias Semangat atau dorongan untuk berperan aktif dan mendalam pada setiap aktiitas kerja. 3. Tawakkal Optimisme yang diawali dengan doa yang sungguh-sungguh, dimanifestasikan dengan upaya yang sungguh-sungguh serta diakhiri dengan keikhlasan atas hasil yang dicapai. 4. Penghargaan terhadap Sumber Daya Manusia Menempatkan dan menghargai karyawan sebagai modal utama Perusahaan dengan menjalankan upaya-upaya yang optimal mulai dari perencanaan, perekrutan, pengembangan dan pemberdayaan SDM yang berkualitas serta memperlakukannya baik sebagai individu maupun kelompok berdasarkan azas saling percaya, terbuka, adil dan menghargai. 5. Integritas Kesesuaian antara kata dan perbuatan dalam menerapkan etika kerja, nilai-nilai, kebijakan dan peraturan organisasi secara konsisten sehingga dapat dipercaya dan senantiasa memegang teguh etika profesi dan bisnis, meskipun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya. 6. Berorientasi Bisnis Tanggap terhadap perubahan dan peluang, selalu berpikir dan berbuat untuk menghasilkan nilai tambah dalam pekerjaannya.

42 31 7. Kepuasan Pelanggan Memiliki kesadaran, sikap serta tindakan yang bertujuan memuaskan pelanggan eksternal dan internal di lingkungan Perusahaan. 31 E. Produk-Produk dan Jasa Bank BRISyariah Adapun produk Bank BRISyariah terdiri dari dana pihak ketiga dan pembiayaan dengan penjelasan sebagai berikut : a. Produk Pendanaan (Funding) 1. Tabungan Faedah BRISyariah ib Merupakan produk tabungan dengan akad wadi ah, dengan beragam faedah memberikan kemudahan bagi nasabah untuk bertransaksi keuangan. Tabungan Faedah BRISyariah ib memiliki beberapa segmen, yaitu : a. Tabungan Faedah Segmen Regular BRISyariah ib Merupakan produk tabungan yang diperuntukkan bagi nasabah individu, dengan dilengkapi buku tabungan dan kartu ATM serta fasilitas ibank, SMS Banking, BRIS Online dari Cash Management System (CMS) sehingga memberikan kemudahan bagi nasabah untuk bertransaksi kapanpun dan dimanapun. b. Tabungan Faedah Segmen Payroll BRISyariah ib Merupakan produk tabungan yang diperuntukan bagi nasabah kerjasama sebagai sarana pembiayaan gaji/payroll karyawan dengan fitur khusus payroll. c. Tabungan Faedah Segmen Siswa BRISyariah ib (Co-Branding) Merupakan produk tabungan yang diperuntukan bagi nasabah kerjasama yang dapat dipergunakan sebagai kartu siswa ataupun identitas dengan fitur co-branding. 31 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm.51

43 32 d. Tabungan Faedah Segmen Binsis Non Individu BRISyariah ib Merupakan produk tabungan yang diperuntukan bagi nasabah badan / non individu baik berupa badan hukum maupun non badan hukum dengan dilengkapi buku tabungan untuk mempermudah transaksi bisnis nasabah. 2. Tabungan Faaedah Haji BRISyariah ib Merupakana produk simpanan dari BRISyariah menggunakan akad Mudharabah Mutlaqah sesuai prinsip syariah, khusus bagi calon Haji yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Selain itu Tabungan Faedah Haji BRISyariah ib dapat digunakan bagi nasabah untuk merencanakan ibadah umrah. BRISyariah juga meluncurkan program Tabungan Haji untuk Anak, yaitu Tabungan Haji BRISyariah ib yang diperuntukan bagi anak-amak agar dapat menabung sejak dini mempersiapkan kebutuhan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) karena masa tunggu berangkatan haji di Indonesia relatif lama, antara tahun sehingga Anak usia di atas 12 tahun sudah dapat didaftarkan untuk mendapatkan porsi haji. 3. Tabungan Faedah Impian BRISyariah ib Merupakan tabungan berjangka dari BRISyariah menggunakan akad Mudharabah Mutlaqah dengan prinsip bagi hasil yang dirancang untuk mewujudkan impian nasabahnya dengan terencana memakai mekanisme autodebet setoran rutin bulanan melalui Tabungan Faedah BRISyariah ib sebagai rekening induk. Tabungan ini memiliki fitur yang menarik karena dilengkapi asuranasi jiwa. 4. TabunganKu BRISyariah ib Tabunagn untuk perorangan menggunakan akad wadiah dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama oleh Bank di Indonesia guna menumbuhkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

44 33 5. Tabungan Faedah Simpanan Pelajar ib Tabungan Faedah Simpanan Pelajar ib adalah tabungan yang diperuntukan bagi siswa yang diterbitkan secara nasional, dengan persyaratan mudah dan sederhana serta fitur yang menarik, dalam rangka edukasi dan inklusi keuangan untuk mendorong budaya menabung sejak dini. 6. Giro Faedah BRISyariah ib a. Giro Faedah Segmen Regular BRISyariah ib Produk simpanan dari BRISyariah yang diperuntukan bagi nasabah perorangan maupun perusahaan untuk kemudahan transaksi bisnis sehari-hari dimana penarikan dana menggunakan cek, bilyet giro, sarna perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan yang tersedia dalam akad Wadiah maupun Mudharabah Mutlaqah. b. Giro Faedah Segmen Pemerintah BRISyariah ib Giro Faedah Segmen Pemerintah BRISyariah Ib yaitu produk dana nasabah dengan segmen pemerintah menggunakan akad Wadiah, yang penarikannya dapat dilakukan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan. 7. Deposito a. Deposito Faedah BRISyariah ib Merupakan produk investasi berjangka dari BRISyariah menggunakan akad Mudharabah Mutlaqah sesuai prinsip syariah bagi nasabah perorangan maupun perusahaan dengan jangka waktu penempatan 1, 3, 6, dan 12 bulan. b. Simpanan Faedah BRISyariah ib Merupakan produk investasi berjangka dari BRISyariah menggunakan akad Mudharabah Mutlaqah sesuai prinsip syariah bagi nasabah perorangan maupun perusahaan dengan

45 34 jangka waktu penempatan kurang dari 1 bulan (7, 14, 21 dan 28 hari). 32 b. Produk Pembiayaan Retail (Retail Consumer Financing) 1. Griya Faedah BRISyariah ib Pembiayaan kepada perorangan untuk memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan akan hunian dengan mengunakan prinsip jual beli (Murabahah)/sewa menyewa dengan opsi beli/hibah (Ijarah Muntahiya Bit Tamlik) dan Kemitraan Sewa (Musyarakah Mutanaqisah) dimana pembayarannya secara angsuran setiap bulan dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar. Khusus untuk sewa menyewa dan sharing, dimungkinkan adanya penyesuaian harga sewa per periode yang telah disepakati sebelumnya. 2. KPR Sejahtera BRISyariah ib Produk Pembiayaan Kepemilikan Rumah (KPR ib) yang diterbitkan Bank BRIsyariah untuk pembiayaan rumah dengan dukungan bantuan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam rangka pemilikan rumah sejahtera yang dibeli dari pengembang (developer). 3. Oto Faedah BRISyariah ib Pembiayaan kepemilikan monil kepada perorangan untuk memenuhi kebutuhan akan kendaraan dengan menggunakan prinsip jual beli (Murabahah) / sewa menyewa dengan opsi beli/hibah (Ijarah Muntahiya Bit Tamllik) dan Kemitraan Sewa (Musyarakah Mutanaqisah) dimana pembayarannya secara angsuran setiap bulan dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan. Khusus untuk sewa menyewa dan sharing kepemilikan, 32 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm.41-42

46 35 dimungkinkan adanya penyesuaian harga sewa per periode yang telah disepakati. 4. Gadai Faedah BRISyariah ib Pinjaman dengan agunan berupa emas, dimana emas yang diagunkan disimpan dan dipelihara oleh BRISyariah selama jangka waktu tertentu dengan membayar biaya penyimpanan dan pemeliharaan atas emas. 5. Gadai Faedah BRISyariah ib : Pembiayaan Kepemilikan Emas (PKE) Pembiayaan kepada perorangan untuk tujuan kepemilikan emas dan emas yang dibeli sebagai agunan pembiayaan, dengan menggunakan Akad Murabahah dimana pengembalian pembiayaan dilakukan dengan mengangsur setiap bulan sampai dengan jangka waktu selesai sesuai kesepakatan. 6. Multi Faedah BRISyariah ib Pembiayaan yang diberikan khusus kepada karyawan perusahaan yang telah bekerjasama dengan BRISyariah untuk memenuhi segala kebutuhan (barang/jasa) yang bersifat konsumtif menggunakan prinsip jual beli (Murabahah) atau sewa menyewa (Ijarah) dengan pengembalian pembiayaan dilakukan secara mengangsur setiap bulannya sesuai kesepakatan. 7. Multi Faedah BRISyariah ib : Pembiayaan Umroh Pembiayaan kepada perorangan untuk tujuan beribadah umrah, dimana pembayarannya secara angsuran setiap bulannya dan tetap dapat diangsur walaupun nasabah telah menunaikan ibadah umrah. 8. Purna Faedah BRISyariah ib : Pra Purna Fasilitas pembiayaan kepada para ASN aktif yang akan memasuki masa pensiunan untuk memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan paket barang atau jasa. Pembiayaan ini menggunakan prinsip jual beli (Murabahah) atau sewa menyewa

47 36 (Ijarah) dengan jangka waktu dimungkinkan melebihi usia pension ASN aktif. Pembayarannya dilakukan secara angsuran setiap bulan yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan sesuai jangka waktu pembiayaan (Sebelum dan/atau setelah usia pension). 9. Purna Faedah BRISyariah ib Fasilitas pembiayaan yang diberikan kepada para pensiun ASN untuk memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan paket barang atau jasa. Pembiayaan ini menggunakan prinsip jual beli (murabahah) atau sewa menyewa (ijarah). Pembayarannya dilakukan secara angsuran dengan jumlah angsuran setiap bulan yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan. 33 c. Jasa Layanan 1. SMS Banking SmsBRIS (SMSBanking BRIS) adalah fasilitas layanan perbankan bagi Nasabah Tabungan BRIS yang memudahkan Anda untuk melakukan isi ulang pulsa, bayar tagihan, transfer sampai pembayaran Zakat, Infaq, Shodaqah. 2. Mobile Banking Mobile BRIS adalah layanan yang memungkinkan Nasabah memperoleh informasi perbankan dan melakukan komunikasi serta transaksi perbankan melalui perangkat yang bersifat mobile seperti telepon seluler/handphone menggunakan media menu pada aplikasi mobilebris dengan menggunakan media jaringan internet pada handphone yang dikombinasikan dengan media Short Message Service (SMS) secara aman dan mudah. 3. Internet Banking Internet Banking BRISyariah adalah fasilitas layanan transaksi perbankan melalui jaringan internet yang dapat diakses selama 24 jam, kapan dan dimanapun Nasabah berada menggunakan 33 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk. 2019, hlm.42-44

48 37 Personal Computer, Laptop, Notebook atau Smartphone. Internet Banking BRIS akan memberikan Anda kemudahan, kepraktisan, keamanan serta kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan transaksi secara online. Dengan layanan Internet Banking, transaksi dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, selama terdapat koneksi jaringan internet. Keuntungan menggunakan layanan Internet Banking BRIS antara lain : a. Hemat Waktu, karena Anda tidak perlu meninggalkan meja kerja Anda untuk melakukan aktivitas perbankan, cukup menggunakan PC, Laptop, atau smartphone Anda yang telah terkoneksi dengan jaringan internet. b. Aman, dilengkapi system keamanan berlapis dengan dukungan keamanan jaringan SSL (Secure Socket Layer) bersertifikat Symantec 128 sd 256 bit serta mtoken BRIS. c. Transaksi Real Time Online, karena dapat dilakukan kapanpun, dan dimanapun melalui jaringan internet. d. Satu akses untuk semua produk, dengan login hanya menggunakan 1 User ID Anda dapat sekaligus mengakses seluruh rekening yang Anda miliki di BRISyariah. 4. Cash Management System (CMS) Salah satu produk unggulan BRISyariah, dalam rangka mengusung visinya sebagai Bank ritel modern terkemuka, adalah Cash Management BRISyariah ib (CMS). Produk yang disegmentasikan bagi nasabah korporat ini memberikan solusi terbaik dalam rangka pengelolaan keuangan dan monitoring arus kas korporat. Didukung dengan teknologi mutakhir, system pengamanan yang maksimal, serta pelayanan yang prima, CMS BRISyariah ib diharapkan mampu memberikan solusi terbaik bagi nasabah segmen korporat. Saat ini terdapat perusahaan-perusahaan, institusi-institusi serta badan usaha yang telah menggunakan jasa layanan CMS

49 38 BRISyariah ib dengan sukses dan berjalan dengan lancar. CMS BRISyariah ib bahkan saat ini dapat mengakomodasikan kebutuhan akan data transaksi yang cepat dan akurat, sehingga menjadikan layanan ini semakin terpadu dan berkualitas. CMS BRISyariah ib sebagai layanan elektronik yang menyajikan layanan berupa transaksi finansial, antara lain transfer antar rekening BRISyariah atau rekening bank lain, electronic payroll systems, pembayaran tagihan hingga system laporan pembayaran dan non finansial (informasi saldo, laporan historis transaksi, dan download sebagai media penyajian laporan keuangan). 5. E-Form Untuk membuka rekening Tabungan Faedah di BRISyariah cukup melakukan input data Anda di website BRISyariah, kemudian datang ke Cabang BRISyariah terdekat, maka proses pembukaan rekening akan di proses dengan cepat. Link : 6. Laku Pandai Laku Pandai BRISyariah (BRISSmart) merupakan kegiatan BRISyariah untuk menyediakan layanan perbankan dan/atau layanan keuangan lainnya yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor, namun melalui kerjasama dengan pihak lain dan perlu didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi. Hingga saat ini, BRISSmart baru melayani transaksi produk Tabungan Cerdas BRISyariah ib Bank Rakyat Indonesia Syariah, Produk, Produk Perbankan,

50 39 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR Bank syariah memiliki tiga fungsi utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk titipan dan investasi, menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana dari bank, dan juga memberikan pelayanan dalam bentuk jasa perbankan syariah 35. Penyaluran dana dalam hal ini pada Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik merupakan produk pembiayaan bank BRISyariah yang memberikan pembiayaan kepada nasabah untuk kebutuhan nasabah, salah satunya KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dengan system sewa-menyewa aset milik BRIsyariah yang diperoleh melalui pembelian dari Nasabah/pihak ke-3, dengan opsi perpindahan kepemilikan atas Aset dari BRISyariah kepada Nasabah dengan syarat pembiayaan telah selesai/lunas. (Jual beli/hibah). Hubungan bank syariah dengan nasabah pengguna merupakan hubungan kemitraan. Bank sebagai mitra kerja dalam usaha bersama antara bank syariah dan debitur. Kedua pihak memiliki kedudukan yang sama. Sehingga hasil usaha atas Kerjasama yang dilakukan oleh nasabah pengguna dana, akan dibagi hasilkan dengan bank syariah dengan nisbah yang telah disepakati bersama dan tertuang dalam akad 36. Kredit Pemilikan Rumah pada Bank BRISyariah berlandaskan pada aturan Fatwa DSN MUI No.27/DSN-MUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik juga tidak terlepas dari Fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah. Selain akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dan akad Murabahah dalam produk KPR ini juga disertai dengan akad wakalah karena pihak bank tidak memiliki atau tidak menyediakan 35 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), hlm Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), hlm. 36

51 40 barang dari pihak lain dan bank sebagai wakil yang menyediakan barang tersebut. Adapun objek pembiayaan Ijarah Muntahiyah bit tamlik di Bank BRI Syariah KCP Bintaro dalam bentuk Refinancing Aset, antara lain : a. Property dan kendaraan roda empat b. Memenuhi kebutuhan konsumtif Multiguna/Multijasa c. Multiguna : Pembelian motor, pembelian perabotan rumah tangga, pembelian elektronik. Multijasa : Biaya Pendidikan, biaya pengobatan, dan lain-lain. B. Syarat pengajuan pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik di Bank BRI Syariah Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1998 perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, dikatakan bahwa nasabah penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang berlaku. Persyaratan yang harus dipenuhi Nasabah dalam pengajuan pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik di Bank BRISyariah, dibagi menjadi dua kategori: a. Fix income, yaitu Calon Nasabah yang ingin mengajukan pembiayaan dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR dengan penghasilan / pendapatan tetap. Persyaratannya antara lain : 1. Fotocopy KTP pemohon dan pasangan (jika sudah menikah) 2. Fotocopy Kartu Keluarga 3. Fotocopy surat nikah (bila sudah menikah) 4. Fotocopy NPWP pribadi 5. Surat keterangan aktif bekerja / Surat keterangan pengangkatan karyawan tetap selama 2 tahun dari HRD (Human Research Development) tempat calon nasabah bekerja 6. Surat keterangan penghasilan / slip gaji 3 bulan terakhir

52 41 7. Fotocopy rekening tabungan / giro calon nasabah 3 bulan terakhir b. Non income, Calon Nasabah merupakan pengusaha yang ingin mengajukan pembiayaan dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR. 1. Fotocopy KTP pemohon dan pasangan (jika sudah menikah) 2. Fotocopy Kartu Keluarga 3. Fotocopy surat nikah (bila sudah menikah) 4. Fotocopy NPWP 5. Legalitas usaha (Surat Keterangan Usaha) yang disahkan oleh KEMENKUMHAM (Kementrian Hukum dan HAM) 6. Laporan keuangan usaha 7. Fotocopy rekening koran 6 bulan terakhir

53 42 C. Proses pemberian / mekanisme Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di PT. Bank BRISyariah Tbk Dalam hal ini Bank BRISyariah KCP Bintaro memiliki prosedur atau proses pemberian Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR dalam bentuk Refinancing Asset, mekanisme tersebut dijelaskan di bawah ini. Nasabah mengajukan permohonan pembiayaan IMBT ke BRI Syariah Nasabah menyerahkan dokumen untuk pengajuan pembiayaan BRI Syariah melakukan Analisa / BI Checking Nasabah menyerahkan dokumen legalitas Asset ke BRI Syariah sebagai jaminan Nasabah & BRI Syariah melakukan penandatanganan Akad Bai Persetujuan pimpinan (komite pembiayaan) Nasabah & BRI Syariah melakukan penandatanganan Wa ad & Proses pencairan Nasabah melakukan pembayaran angsuran sewa atas objek IMBT BRI Syariah dan Nasabah melakukan penandatanganan akad hibah & Bank menyerahkan dokumen legalitas Asset kepada nasabah setelah pembiayaan lunas Keterangan : a. Nasabah yang ingin mengajukan permohonan pembiayaan Ijarah Muntahiyah bit tamlik datang ke Bank BRI Syariah b. Kemudian nasabah mengisi FAP (Form Aplikasi Permohonan) yang disediakan oleh bank guna mengetahui data-data dan informasi pendukung seputar nasabah, kemudian pihak bank mengumpulkan data utama calon nasabah

54 43 c. Kemudian pihak bank atau AO melakukan BI Checking yang berfungsi untuk pemeriksaan riwayat kredit nasabah dengan mengacu pada data BI (Bank Indonesia). d. Melihat dari data-data dan riwayat kredit nasabah kemudian diajukan untuk persetujuan ke komite pembiayaan. e. Jika disetujui maka Bank BRI Syariah dan nasabah melakukan penandatanganan Akad Bai. Pada saat proses Bai ini selesai dilaksanakan antara Bank dengan nasabah, kemudian nasabah menyerahkan dokumen legalitas aset kepada Bank BRI Syariah. Refinancing Asset (Pembiayaan ulang) ini diimplementasikan setelah nasabah menyerahkan dokumen legalitas asset tersebut, Bank melakukan pembiayaan ulang kepada nasabah dengan menghitung besarnya nilai likuidasi asset yang menjadi objek ijarah. f. Setelah penyerahan dokumen legalitas asset, kemudian Bank Syariah dan nasabah melakukan penandatanganan Wa ad atau perjanjian akad untuk kemudian proses pencairan. Pada saat ini Akad Ijarah mulai diimplementasikan sampai pada tahap selanjutnya g. Nasabah melakukan pembayaran angsuran sewa atas objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik kepada pihak Bank sesuai dengan besaran dan jangka waktu yang telah ditentukan pada awal akad h. Setelah masa ijarah (sewa-menyewa) selesai, Bank BRI Syariah dan nasabah melakukan penandatanganan Akad hibah kemudian Bank Syariah menyerahkan dokumen legalitas asset kepada nasabah. Bank juga melakukan Analisa kepada nasabah dengan menggunakan konsep 5C atau prinsip kehati-hatian yaitu : 1. Character (watak) : Prinsip ini dilihat dari segi kepribadian nasbaah, bank akan menilai calon nasabah memiliki pembawaan, karakter dan sifat-sifat yang baik dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

55 44 2. Capacity (kemampuan) : Prinsip ini yaitu bank menilai nasabah dari kemampuan dalam menjalankan keuangan yang ada pada usaha yang dimilikinya. Baik pada masa sekarang maupun yang akan datang dalam melakukan pembayaran miliknya. 3. Capital (modal) : Bank akan melihat kondisi asset atau kekayaan yang dimiliki nasabah khususnya nasabah yang mempunyai usaha, sehingga dari penilaian tersebut pihak bank dapat menentukan layak atau tidaknya nasabah tersebut mendapatkan jaminan 4. Condition (kondisi) : Bank akan melihat bagaimana stabilitas kondisi ekonomi atau keuangan nasabah pada saat peminjaman dan perkiraan pada masa menadatang. 5. Collateral (jaminan) : prinsip ini harus diperhatikan bagi para nasabah ketika mereka tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam mengembalikan pinjaman dari pihak bank. Jika hal tersebut terjadi maka sesuai dengan ketentuan, pihak bank bisa saja menyita asset yang telah dijanjikan sebelumnya sebagai sebuah jaminan. 37 Tujuan-tujuan diberlakukannya prinsip-prinsip tersebut yaitu agar bank selalu dalam keadaan sehat, dan diharapkan kadar kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap tinggi, sehingga masyarakat tidak ragu dalam hal menyimpan dananya di bank. 37 Djawahir Hejazziey, Hukum Perbankan Syariah (Yogyakarta : deepublish publisher, 2013) hlm. 109

56 45 D. Implementasi Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam Produk KPR Dalam penelitian kualitatif deskriptif yang peneliti lakukan, peneliti memaparkan temuan penelitian berdasarkan hasil wawancara serta dokumentasi dengan para informan, yaitu Bapak Aditya Ramadhan selaku Account Officer (AO) Bank BRI Syariah KCP Bintaro, Tbk. Dari hasil wawancara yang penulis lakukan, penulis mendapat beberapa informasi dan temuan yang akan dipaparkan dan dijelaskan secara rinci mengenai implementasi dan penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR. Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik merupakan akad sewa menyewa yang dilakukan antara bank dengan nasabah, yang diakhiri dengan perpindahan objek sewa dari milik bank menjadi milik nasabah. Dengan cara dihibahkan atau dijual belikan. Dalam penelitian yang peneliti lakukan di Bank BRI Syariah KCP Bintaro, akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini diterapkan dalam Produk KPR ib, dalam bentuk Refinancing Aset (Pembiayaan Ulang). Sementara untuk pembelian aset sendiri menggunakan Akad Murabahah. Bank BRISyariah dalam hal ini tidak menyediakan objek barang / aset yang disewakan, jadi Nasabah yang melakukan pengajuan untuk Refinancing Aset miliknya ke Bank Syariah. Dalam fatwa DSN-MUI No.89/DSN-MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) syariah disebutkan bahwa pembiayaan ulang (refinancing) syariah adalah pemberian fasilitas pembiayaan baru bagi nasabah baru atau nasabah yang belum melunasi pembiayaan sebelumnya berdasarkan prinsip syariah. Refinancing Aset dalam Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini, Bank sebagai pihak yang memberikan pembiayaan dan nasabah yang mengajukan pembiayaan ulang (Refinancing Aset) melakukan kesepakatan terlebih dahulu. Akan tetapi seluruh dokumen atas objek/aset tersebut nasabah serahkan ke Bank Syariah dalam hal ini perjanjian dibawah tangan. Dokumen atas objek / aset tersebut sebagai jaminan bagi Nasabah selama proses pembiayaan, maksud dan tujuannya antara lain :

57 46 a. Guna memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapatkan pelunaasan dengan barang-barang agunan tersebut, bilamana cidera janji atau tidak bisa membayar kembali hutangnya pada waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian b. Memberikan dorongan kepada nasabah untuk memenuhi janjinya, dalam hal pembayaran angsuran pokok tiap bulannya. 38 Bank Syariah juga memiliki persyaratan dan ketentuan yang dibuat untuk nasabah yang akan melakukan pengajuan pembiayaan ini, kemudian ditinjau lebih lanjut oleh Bank Syariah. Bank BRISyariah membuat lampiran perjanjian untuk jual beli / hibah atas objek atau asset ijarah tersebut diakhir masa periode setelah mendapat persetujuan dari pimpinan (komite pembiayaan) Bank BRISyariah dimana nasabah mengajukan pembiayaan tersebut. Kemudian Nasabah melakukan pembayaran sewa setiap bulannya sesuai dengan kesepakatan. Jika masa sewa telah berakhir, nasabah memiliki dua opsi : (1) Membeli objek sewa atau (2) Bank Syariah menghibahkan objek sewa tersebut. Dalam hal ini Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik yang diterapkan di Bank BRISyariah KCP Bintaro pada praktik Refinancing Aset (Pembiayaan Ulang), maka opsi perpindahan yang dilakukan adalah dengan cara dihibahkan. Untuk kemudian Bank Syariah diakhir masa sewa menyerahkan seluruh dokumen dan bukti kepemilikan atas objek / asset yang diserahkan pada awal akad, diberikan kembali kepada nasabah. 38 Djawahir Hejazziey, Hukum Perbankan Syariah (Yogyakarta : deepublish publisher, 2013) hlm. 103

58 47 Dalam melaksanakan kegiatan perbankan syariah, tentunya Bank BRISyariah tidak terlepas dari dasar hukum / peraturan yang mengatur terkait setiap produk yang dikeluarkannya. Dalam hal ini dasar hukum yang digunakan dan diterapkan pada Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR antara lain : a. Undang-Undang Perbankan Syariah b. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia c. PT. Bank BRI Syariah, Tbk. Bank sebagai pihak yang memberikan pinjaman juga memilik aturan atau ketentuan sendiri terkait produk perbankan yang dijalankannya serta peraturan-peraturan lain yang menjadi acuan terkait dengan pelaksanaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik sejalan dengan hukum atau aturan yang berlaku di Indonesia. Pada tahun 2020 ini sampai bulan Juli sendiri tercatat dalam laporan Bank BRISyariah KCP Bintaro, tidak ada nasabah yang melakukan pengajuan pembiayaan menggunakan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR ini. Namun, dilihat dari data lima tahun kebelakang, terdapat 29 Nasabah yang melakukan pembiayaan menggunakan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR ini, dan 3 Nasabah telah selesai pembiayaannya. Untuk calon nasabah sendiri terbagi menjadi dua kategori : (1) Fix income, yaitu Calon Nasabah yang ingin mengajukan pembiayaan dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR dengan penghasilan / pendapatan tetap, dengan syarat dan ketentuan yang ada didalamnya. (2) Non Income, yaitu Calon Nasabah merupakan pengusaha yang ingin mengajukan pembiayaan dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR, dengan syarat dan ketentuan yang ada didalamnya.

59 48 Dari awal perjanjian sampai akhir masa penyewaan tentunya tidak terlepas dari biaya-biaya. Biaya-biaya yang keluar selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah sendiri antara lain : a. Biaya Administrasi 1 % dari plafond b. Asuransi Kebakaran c. Asuransi Jiwa d. Biaya Notaris Yang semuanya bekerjasama dengan Bank BRISyariah. Untuk prosentase penentuan atas biaya pemeliharaan antara Bank Syariah dan Nasabah, bahwasanya seluruh biaya yang keluar selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini menjadi tanggung jawab nasabah sepenuhnya, dan apabila terjadi kerusakan pada objek sewa juga menjadi tanggung jawab nasabah. Dasar penetapan yang digunakan dalam penentuan atas biaya-biaya tersebut adalah ketentuan dari Bank BRISyariah yang tertuang dalam akad / awal perjanjian. Bank Syariah dalam hal ini juga melakukan review setiap tahun selama proses pembiayaan produk KPR ini, pada praktiknya biaya-biaya angsuran pokok tersebut tidak berubah-ubah artinya tetap sesuai dengan kesepakatan di awal. Sedangkan untuk angsuran ujrahnya akan besar di awal dan semakin lama akan menurun sampai akhir pelunasan.

60 49 E. Analisis Hasil Penelitian Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, implementasi akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR di Bank BRISyariah KCP Bintaro dalam bentuk Refinancing Asset terkait skema dan mekanismenya sudah sesuai dengan syariah (Fatwa DSN No.89/DSN-MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah), dalam ketentuan kelima (Mekanisme al-bai wa al isti jar) Fatwa tersebut. Akan tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan peraturan Fatwa yang berkaitan dengan Akad Ijarahnya. Dalam hal ini yang mengatur tentang akad tersebut adalah Fatwa DSN MUI No.27/DSNMUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit Tamlik yang mengacu juga pada Fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah. Pembiayaan Ijarah sendiri merupakan pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah untuk memiliki suatu barang / jasa dengan kewajiban menyewa barang tersebut sampai jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan 39. Dijelaskan pada Fatwa tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam point pertama (Ketentuan Umum), bahwasanya Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini boleh dilakukan dengan ketentuan semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad Ijarah yang termuat dalam (Fatwa DSN Nomor : 09/DSN- MUI/IV/2000) berlaku pula dalam akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik. Pada point kedua (Ketentuan tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik) dijelaskan bahwa pihak yang melaksanakan akad ijarah muntahiyah bit tamlik harus melaksanakan akad ijarah terlebih dahulu. Akad permindahan kepemilikan, baik dengan jual beli atau pemberian, hanya dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai. Jadi dapat diketahui bahwasanya Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini bisa dilakukan ketika akad Ijarahnya sudah selesai. Dalam pelaksanaan pembiayan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini juga terdapat akibat hukum diantara para pihak yang terikat akad, yaitu timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak dalam 39 Djawahir Hejazziey, Hukum Perbankan Syariah (Yogyakarta : deepublish publisher, 2013) hlm. 84

61 50 hal ini nasabah dan bank syariah. Hak dan kewajiban Bank Syariah sebagai Lembaga Keuangan Syariah dan Nasabah dalam hal ini tercantum dalam Fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. Pada praktiknya hak dan kewajiban ini belum sepenuhnya sesuai, terdapat ketidaksesuaian antara Fatwa dengan yang dipraktikan oleh Bank Syariah, antara lain : Dalam bagian ketiga Fatwa tentang Pembiayaan Ijarah dijelaskan bahwa : 1. Kewajiban LKS sebagai pemberi manfaat barang atau jasa : a. Menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang diberikan b. Menanggung biaya pemeliharaan barang c. Menjamin bila terdapat cacat pada barang yang disewakan 2. Kewajiban nasabah sebagai penerima manfaat barang atau jasa : a. Membayar sewa atau upah dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan barang serta menggunakannya sesuai kontrak b. Menanggung biaya pemeliharaan barang yang sifatnya ringan (tidak materiil) c. Jika barang yang disewa rusak, bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan, juga bukan karena kelalaian pihak penerima manfaat dalam menjaganya, ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan. Pada praktiknya terkait objek / aset yang disewakan, Bank Syariah tidak memenuhi kewajiban yang tertuang dalam Fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah terkait penyediaan objek / aset yang disewakan. Dalam hal ini Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik yang diterapkan oleh Bank BRI Syariah KCP Bintaro ini dalam bentuk Refinancing Aset, Bank BRISyariah dalam hal ini tidak menyediakan objek barang / aset yang disewakan, jadi Nasabah yang melakukan pengajuan untuk Refinancing Aset miliknya ke Bank Syariah, yang menjadi jaminan dalam akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR ini adalah sertifikat dari rumah yang ingin dilakukan untuk

62 51 Refinancing Aset. Sehingga jaminan tersebut harus atas nama nasabah atau pasangan dari nasabah tersebut. Selain menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang diberikan, Bank Syariah juga memiliki kewajiban untuk menanggung biaya pemeliharaan. Dalam praktiknya seluruh biaya yang keluar selama proses penyewaan, baik biaya pemeliharaan, biaya administrasi, asuransi kebakaran, asuransi jiwa, dan biaya notaris adalah tanggung jawab nasabah sepenuhnya. Nasabah juga harus menjaga objek sewa dengan keadaan dan kondisi baik. Sejak penyerahan objek sewa, nasabah harus menanggung semua resiko kerugian atau kerusakan terhadap objek / aset yang disewa. dapat disimpulkan bahwa adanya ketidak sesuaian atas biaya-biaya pemeliharaan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bittamlik semuanya merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada nasabah. Tentunya tidak sesuai dengan Fatwa DSN No.09/DSN-MUI/IV/2000. Bahwa biaya pemeliharaan aset pada pihak bank dan nasabah, Bank berkewajiban menanggung biaya pemeliharaan. Ketidaksesuaian ini terkait tanggungjawab atas perbaikan dan kerugian kerusakan objek ijarah yang dibebankan kepada nasabah. Adapun yang menjadi faktor / dasar penentuan biaya pemeliharaan ini dibebankan sepenuhnya kepada nasabah antara lain : (1) Telah terstatement bahwasanya diawal perjanjian antara bank dan nasabah dijelaskan serta tertuang dalam akad untuk rumah yang disewakan serta biaya pemeliharaan menjadi tanggung jawab nasabah sepenuhnya; (2) Dewan Pengawas Syariah (DPS) mengeluarkan opini bahwa biaya pemeliharaan ini bisa menjadi tanggung jawab penyewa, tentunya atas kesepakatan bersama saat akad dan tertuang dalam perjanjiannya secara tertulis dan jelas.

63 52 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan penelitian dari Bab I sampai Bab IV, penulis dapat mengambil beberapa pokok yang dijadikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan ini. 1. Mekanisme pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah KCP Bintaro. Bank BRI Syairah KCP Bintaro menerapkan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini pada pembiayaan Refinancing Asset (Pembiayaan ulang) dalam hal ini nasabah menitipkan Assetnya pada Bank Syariah berupa sertifikat Asset tersebut untuk memperoleh pembiayaan. Kemudian nasabah melakukan pembayaran atas sewa dari Asset tersebut. Calon Nasabah dalam pengajuan Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini dibagi menjadi dua kategori : Fix income, yaitu berpenghasilan / pendapatan tetap. Non Income, yaitu Calon Nasabah merupakan pengusaha. Secara sederhana, nasabah dapat mengajukan pembiayaan tersebut dengan mekanisme sebagai berikut : a. Nasabah mengajukan pembiayaan kepada pihak Bank Syariah b. Nasabah menyewakan Asset kepada Bank Syariah c. Pihak Bank Syariah melakukan pengecekan atas data-data nasabah, pengajuan ini dapat diterima atau tidak. Dalam hal ini Bank menerapkan prinsip kehati-hatian (5C) : Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral. d. Asset diserahkan kepada Bank Syariah dalam bentuk sertifikat rumah e. Nasabah membayar sewa setiap bulannya Perpindahan kepemilikan atas Asset Ijarah Muntahiyah bit tamlik tidak dilakukan secara langsung, namun atas kesepakatan yang

64 53 dilakukan oleh pihak Bank Syariah dan Nasabah untuk melakukan penyerahan asset di akhir periode pembiayaan. 2. Kesesuaian penentuan Biaya-biaya atas Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR pada Bank BRI Syariah KCP Bintaro Dari awal perjanjian sampai akhir masa penyewaan tentunya tidak terlepas dari biaya-biaya. Biaya-biaya yang keluar selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah sendiri antara lain : a. Biaya Administrasi 1 % dari plafond b. Asuransi Kebakaran c. Asuransi Jiwa d. Biaya Notaris Implementasi akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah KCP Bintaro sudah sesuai dengan syariah. Akan tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. Dalam hal ini yang mengatur tentang akad tersebut adalah Fatwa DSN MUI No.27/DSNMUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit Tamlik yang mengacu juga pada Fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah. Dalam penerapannya seluruh biaya yang keluar selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini menjadi tanggung jawab nasabah sepenuhnya, dan apabila terjadi kerusakan pada objek sewa juga menjadi tanggung jawab nasabah, adanya ketidak sesuaian atas biaya-biaya pemeliharaan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bittamlik semuanya merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada nasabah. Tentunya tidak sesuai dengan Fatwa DSN No.09/DSN- MUI/IV/2000 dalam point Hak dan Kewajiban LKS & Nasabah. Selain itu terkait objek / aset yang disewakan, Bank Syariah tidak memenuhi kewajiban yang tertuang dalam Fatwa DSN MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah terkait penyediaan objek / aset yang disewakan. Dalam hal ini Bank Syariah memberikan

65 54 kuasa kepada nasabah untuk membeli objek / aset sendiri. Bank Syariah bukan berarti melakukan kesalahan dalam menerapkan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini, tetapi pihak Bank Syariah tidak menyediakan objek / aset karena objek / aset dalam Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini diterapkan dalam produk KPR dalam bentuk Refinancing Asset. jadi Nasabah yang melakukan pengajuan untuk Refinancing Aset miliknya ke Bank Syariah, yang menjadi jaminan dalam akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR ini adalah sertifikat dari rumah yang ingin dilakukan untuk Refinancing Aset. Sehingga jaminan tersebut harus atas nama nasabah atau pasangan dari nasabah tersebut.. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka penulis memberikan saran sebagai berikut : Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini kurang banyak diketahui, harapan penulis perlu adanya penyebar luasan informasi dari Bank BRI Syariah KCP Bintaro terkait pembiayaan ini kepada masyarakat, sehingga angka masyarakat yang melakukan pembiayaan ini dapat meningkat dan agar lebih mengetahui bagaimana penerapannya. Dalam praktiknya Bank Syariah dalam hal ini agar selalu meningkatkan penerapan kesesuaian praktiknya dengan ketentuan, prinsip dan nilai nilai syariah yang melandasi Akad tersebut yaitu Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

66 55 DAFTAR PUSTAKA Peraturan dan Undang-Undang Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/19/PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah Surat Edaran Bank Indonesia No. 5/26/BPS/2003 tentang Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 89/DSN-MUI/XII/2013 tentang Pembiayaan Ulang (Refinancing) Syariah Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 27 /DSN-MUI/III/2002 tentang Ijarah Muntahiyah bit tamlik Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Jurnal dan Buku Antonio, Muhammad. Bank Syariah : Teori ke Praktik. Gema Insani Press : Jakarta, 2001 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Jakarta : PT. Intermasa, Effendi, Rizkita Analisis Penerapan PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah dalam Pembiayaan Perbankan Syariah (Studi Fenomenologis pada Bank Muamalat dan Permata Bank Syariah. (Skripsi S-1 Fakultas Pendiidkan Ekonomi dan Bisnis, Univesritas Pendidikan Indonesia, 2013). Haris, Helmi Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan Syariah) Jurnal Ekonomi Islam La Riba Vol. I, No. 1, (Juli 2007), Hejazziey, Djawahir Hukum Perbankan Syariah Yogyakarta : deepublish publisher, Ismail. Perbankan Syariah Jakarta : Prenadamedia Group, Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syariah Bank Indonesia, 2006 Laporan Tahunan PT. Bank BRI Syariah, Tbk Rahmat, Pupu Saeful Penelitian Kualitatif, Jurnal EQUILIBRIUM VoI. 5, hlm. 4 (Juni 2009), Satria, Muhammad Rizal, Tia Setiani, Analisis Perbandingan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada Bank Konvensional dengan Pembiayaan Murabahah (KPR) pada Bank Syariah (Studi Kasus Pada Bank BJB dengan Bank BJB Syariah), Amwaluna : Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol.2 No. 1 (Januari 2018)

67 56 Sartika, Mila & Hendri Hermawan Adi Nugraha Implementasi Ijarah dan IMBT pada Bank BRI Syariah Cabang Yogyakarta, Jurnal Ekonomi Islam UIN Walisongo Volume VII, Edisi 1 (Mei 2016), Sriono, Telaah terhadap perjanjian sewa menyewa (Al Ijarah) dalam perbankan syariah, Jurnal Ilmiah Advokasi Vol.01.No.01 (Maret 2013). Website Bank Rakyat Indonesia Syariah, Diakses pada tanggal 29 Juni 2020

68 LAMPIRAN LAMPIRAN 57

69 58

70 59

71 60 DRAFT PERTANYAAN WAWANCARA PT. BANK BRI SYARIAH KCP BINTARO Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Perkenalkan nama saaya Muhammad Farhan Fauzaan, Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini saya sedang menyusun skripsi dengan judul Penerapan Akad Ijarah Muntahiyah bit Tamlik dalam produk Pembiayaan Kepemilikan Rumah di Bank Syariah (Studi pada Bank BRI Syariah KCP Bintaro). Pada kesempatan ini saya memohon kiranya Bapak dapat memberikan informasi terkait dengan penelitian yang saya susun, adapun daftar pertanyan terkait judul diatas adalah sebagai berikut : 1. Dasar hukum yang digunakan Bank BRISyariah pada pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR? Jawab : Dasar hukum yang digunakan oleh Bank BRISyariah terkait dengan pembiayaan menggunakan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR ini tentunya tidak terlepas dari peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, diantaranya : a. Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 terkait Perbankan Syariah b. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia c. PT. Bank BRI Syariah, Tbk. Peruasahaan juga memiliki peraturan atau ketentuan terkait dengan produk perbankan yang dijalankannya, serta peraturan-peraturan lain yang menjadi acuan terkait dengan pelaksanaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik ini.

72 61 2. Bagaimana mekanisme pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah? Jawab : Mekanisme atau alur yang dibuat oleh Bank BRISyariah pada pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR dalam bentuk refinancing aset sebagai berikut. a. Nasabah yang ingin mengajukan permohonan pembiayaan Ijarah Muntahiyah bit tamlik datang ke Bank BRI Syariah b. Kemudian nasabah mengisi FAP (Form Aplikasi Permohonan) yang disediakan oleh bank guna mengetahui data-data dan informasi pendukung seputar nasabah, kemudian pihak bank mengumpulkan data utama calon nasabah c. Kemudian pihak bank atau AO melakukan BI Checking yang berfungsi untuk pemeriksaan riwayat kredit nasabah dengan mengacu pada data BI (Bank Indonesia). d. Melihat dari data-data dan riwayat kredit nasabah kemudian diajukan untuk persetujuan ke komite pembiayaan. e. Jika disetujui maka Bank BRI Syariah dan nasabah melakukan penandatanganan Akad Bai. Pada saat proses Bai ini selesai dilaksanakan antara Bank dengan nasabah, kemudian nasabah menyerahkan dokumen legalitas aset kepada Bank BRI Syariah. Refinancing Asset (Pembiayaan ulang) ini diimplementasikan setelah nasabah menyerahkan dokumen legalitas asset tersebut, Bank melakukan pembiayaan ulang kepada nasabah dengan menghitung besarnya nilai likuidasi asset yang menjadi objek ijarah. f. Setelah penyerahan dokumen legalitas asset, kemudian Bank Syariah dan nasabah melakukan penandatanganan Wa ad atau perjanjian akad untuk kemudian proses pencairan. Pada saat ini Akad Ijarah mulai diimplementasikan sampai pada tahap selanjutnya

73 62 g. Nasabah melakukan pembayaran angsuran sewa atas objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik kepada pihak Bank sesuai dengan besaran dan jangka waktu yang telah ditentukan pada awal akad h. Setelah masa ijarah (sewa-menyewa) selesai, Bank BRI Syariah dan nasabah melakukan penandatanganan Akad hibah kemudian Bank Syariah menyerahkan dokumen legalitas asset kepada nasabah. 3. Apa saja persyaratan dalam pengajuan pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik di Bank BRISyariah? Jawab : Persyaratan dalam pengajuan pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik di Bank BRISyariah, dibagi memjadi dua kategori: c. Fix income, yaitu Calon Nasabah yang ingin mengajukan pembiayaan dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR dengan penghasilan / pendapatan tetap. Persyaratannya antara lain : 8. Fotocopy KTP pemohon dan pasangan (jika sudah menikah) 9. Fotocopy Kartu Keluarga 10. Fotocopy surat nikah (bila sudah menikah) 11. Fotocopy NPWP pribadi 12. Surat keterangan aktif bekerja / Surat keterangan pengangkatan karyawan tetap selama 2 tahun dari HRD (Human Research Development) tempat calon nasabah bekerja 13. Surat keterangan penghasilan / slip gaji 3 bulan terakhir 14. Fotocopy rekening tabungan / giro calon nasabah 3 bulan terakhir d. Non income, Calon Nasabah merupakan pengusaha yang ingin mengajukan pembiayaan dengan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR. 8. Fotocopy KTP pemohon dan pasangan (jika sudah menikah) 9. Fotocopy Kartu Keluarga 10. Fotocopy surat nikah (bila sudah menikah) 11. Fotocopy NPWP

74 Legalitas usaha (Surat Keterangan Usaha) yang disahkan oleh KEMENKUMHAM (Kementrian Hukum dan HAM) 13. Laporan keuangan usaha 14. Fotocopy rekening koran 6 bulan terakhir 4. Pada tahun 2020, ada berapa nasabah Bank BRISyariah KCP Bintaro yang melakukan pembiayaan menggunakan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik pada produk KPR? Jawab : Untuk 2020 sendiri tidak ada nasabah yang mengajukan pembiayaan menggunakan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR, sementara dari data lima tahun terakhir terdapat 29 nasabah yang mengajukan pembiayaan tersebut. serta tiga nasabah yang telah selesai pembiayaan tersebut. 5. Apakah Bank BRISyariah dalam hal ini menyediakan objek barang yang disewakan? Jawab : Dalam hal ini Bank Syariah tidak menyediakkan objek barang / aset yang disewakan. Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik yang diterapkan dalam Refinancing Aset, jadi Nasabah yang melakukan pengajuan untuk Refinancing aset miliknya ke Bank Syariah. 6. Bagaimana ketentuan terkait perpindahan kepemilikan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik? Jawab : Ketentuan terkait dengan perpindahan kepemilikan terhadap objek Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR yaitu dari awal perjanjian dibuat dengan menandatangani secara notarial perjanjian dibawah tangan, kemudian melaksanakan Akad Ijarah (Sewa-menyewa), berakhir masa sewa kemudian akad hibah.

75 64 7. Biaya-biaya apa saja yang keluar selama proses pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah? Jawab : Biaya-biaya yang keluar selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah sendiri antara lain : e. Biaya Administrasi 1 % dari plafond f. Asuransi Kebakaran g. Asuransi Jiwa h. Biaya Notaris Yang semuanya bekerjasama dengan Bank BRISyariah 8. Bagaimana penentuan prosentase atas biaya pemeliharaan antara Bank Syariah dan Nasabah selama proses pembiayaan akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR di Bank BRISyariah? Dasar penetapan apa yang digunakan dalam penentuan atas biaya-biaya tersebut? Jawab : Penentuan prosentase atas biaya pemeliharaan selama proses pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah bit tamlik dalam produk KPR menjadi tanggung jawab nasabah sepenuhnya, dasar penetapan yang digunakan dalam penentuan atas biaya-biaya tersebut adalah ketentuan dari Bank BRISyariah. 9. Apakah biaya selama proses pembiyaan akad Ijarah Muntahiyah bit Tamlik dalam produk KPR ini berubah-ubah atau tidak? Jika berubah, Apa yang dijadikan dasar atas perubahan tersebut? Jawab : Bank Syariah melakukan review setiap tahun selama proses pembiayaan produk KPR ini, pada praktiknya biaya tidak berubah-ubah artinya tetap sesuai dengan kesepakatan di awal perjanjian.

76 65 LAMPIRAN DOKUMENTASI WAWANCARA Wawancara ini dilakukan pada Jumat, 17 Juli 2020 di Bank BRI Syariah KCP Bintaro. Dengan Narasumber Bapak Aditya Ramadhan yang menjabat sebagai Accounnt Officer. Alhamdulillah wawancara ini telah berlangsung ditengah Pandemi Covid-19 dan tetap sesuai dengan protokol Kesehatan yang berlaku seperti Cek suhu dan menggunakan handsanitizer untuk memasuki wilayah kantor, yang kebetulan kantor BRI Syariah KCP Bintaro ini berada di Tangerang Selatan.

BAB II GAMBARAN UMUM PT. BANK BRI SYARIAH. izin dari Bank Indonesia pada 16 Oktober 2008

BAB II GAMBARAN UMUM PT. BANK BRI SYARIAH. izin dari Bank Indonesia pada 16 Oktober 2008 BAB II GAMBARAN UMUM PT. BANK BRI SYARIAH A. Sejarah PT. Bank BRI Syariah Berawal dari akuisisi PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007 dan setelah mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan dana. Bank

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan dana. Bank BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank syariah sebagai lembaga intermediasi masyarakat memliki peranan yang sangat penting. Tugas dari bank syariah sebagai lembaga intermediasi adalah menghimpun

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Berdirinya Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Berdirinya Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Berdirinya Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah Berawal dari akuisisi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak

BAB I PENDAHULUAN. sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kendala yang sering dipermasalahkan dan merupakan kendala utama adalah

BAB I PENDAHULUAN. Kendala yang sering dipermasalahkan dan merupakan kendala utama adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan rumah. Memiliki sebuah rumah impian adalah keinginan semua manusia. Namun terkadang keinginan tersebut tidak dapat

Lebih terperinci

Oleh : ALI SYUKRON. Abstrak

Oleh : ALI SYUKRON. Abstrak IMPLEMENTASI AL-IJĀRAH AL-MUNTAHIYA BI AL-TAMLIK (IMBT) DI PERBANKAN SYARIAH Oleh : ALI SYUKRON Abstrak Al-Ijārah al-muntahiya bit al-tamlik (IMBT) merupakan salah satu alternatif skim pembiayaan syariah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baru dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. musyarakah dengan akad ijarah atau bai. Yang mana akad musyarakah

BAB I PENDAHULUAN. baru dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. musyarakah dengan akad ijarah atau bai. Yang mana akad musyarakah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pesatnya perkembangan perbankan syariah di Indonesia ternyata juga memberi dampak pada produk-produk perbankan syariah yang ada di dalamnya. Ditambah lagi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan industri perbankan syariah di Indonesia saat ini sudah mengalami peningkatan yang cukup pesat dan sudah memiliki tempat yang memberikan cukup pengaruh

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 04 /BL/2007 TENTANG AKAD-AKAD YANG DIGUNAKAN DALAM KEGIATAN PERUSAHAAN PEMBIAYAAN BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH KETUA BADAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu agama yang mengajarkan prinsip at ta awun yakni saling

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu agama yang mengajarkan prinsip at ta awun yakni saling BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah suatu pandangan atau cara hidup yang mengatur semua sisi kehidupan manusia, maka tidak ada satu pun aspek kehidupan manusia yang terlepas dari ajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan bank syariah di Indonesia dewasa ini berjalan dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan bank syariah di Indonesia dewasa ini berjalan dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan bank syariah di Indonesia dewasa ini berjalan dengan sangat pesat. Walaupun jumlah bank, jumlah kantor bank dan jumlah total aset bank syariah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sejalan dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia untuk mencapai terciptanya masyarakat adil dan makmur berdasarkan demokrasi ekonomi, telah dikembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bank-bank konvensional. Esensi bank Islam tidak hanya dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN. bank-bank konvensional. Esensi bank Islam tidak hanya dilihat dari 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Bank Islam memiliki ciri karakter sendiri yang berbeda dengan bank-bank konvensional. Esensi bank Islam tidak hanya dilihat dari ketiadaan sistem riba dalam seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, Dan Perkembangan Usaha Bentuk Usaha

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, Dan Perkembangan Usaha Bentuk Usaha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Bentuk, Bidang, Dan Perkembangan Usaha 1.1.1 Bentuk Usaha Berawal dari akuisisi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, terhadap Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007 dan setelah

Lebih terperinci

4. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif, antara lain QS. al- Ma idah [5]: 2:./0*+(,-./ #%/.12,- 34 D

4. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif, antara lain QS. al- Ma idah [5]: 2:./0*+(,-./ #%/.12,- 34 D DEWAN SYARI AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA FATWA DEWAN SYARI AH NASIONAL NO: 31/DSN-MUI/VI/2002 Dewan Syari ah Nasional, setelah Tentang PENGALIHAN HUTANG Menimbang : a. bahwa salah satu bentuk jasa

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PENERAPAN AKAD IJARAH PADA PRODUK PEMBIAYAAN BINA AGROBISNIS DALAM PERSPEKTIF FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NOMOR 09/ DSN-MUI/ IV/ 2000

BAB IV ANALISIS PENERAPAN AKAD IJARAH PADA PRODUK PEMBIAYAAN BINA AGROBISNIS DALAM PERSPEKTIF FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NOMOR 09/ DSN-MUI/ IV/ 2000 BAB IV ANALISIS PENERAPAN AKAD IJARAH PADA PRODUK PEMBIAYAAN BINA AGROBISNIS DALAM PERSPEKTIF FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NOMOR 09/ DSN-MUI/ IV/ 2000 Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan

BAB I PENDAHULUAN. dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan peran perbankan syariah di Indonesia tidak terlepas dari sistem perbankan di Indonesia secara umum. Sistem perbankan syariah juga diatur dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. prinsip syariah sebagai dasar hukumnya berupa fatwa yang dikeluarkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. prinsip syariah sebagai dasar hukumnya berupa fatwa yang dikeluarkan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) merupakan salah satu bagian dari konsep sistem ekonomi Islam yang lebih luas. Dalam menjalankan kegiatan bisnis dan usahanya, Lembaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Arthaloka Gf, 2006 ), hlm M. Nadratuzzaman Hosen, Ekonomi Syariah Lembaga Bisnis Syariah,(Jakarta: Gd

BAB I PENDAHULUAN. Arthaloka Gf, 2006 ), hlm M. Nadratuzzaman Hosen, Ekonomi Syariah Lembaga Bisnis Syariah,(Jakarta: Gd BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, telah muncul kebutuhan akan adanya bank yang melakukan kegiatannya berdasarkan prinsip syariah. Disamping bank

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembiayaan murabahan..., Claudia, FH UI, 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembiayaan murabahan..., Claudia, FH UI, 2010. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat dilepaskan dari dunia ekonomi. Aspek dunia ekonomi yang dikenal saat ini sangat luas. Namun yang sering digunakan oleh masyarakat

Lebih terperinci

PRODUK PEMBIAYAAN BERBASIS SEWA

PRODUK PEMBIAYAAN BERBASIS SEWA PRODUK PEMBIAYAAN BERBASIS SEWA Produk & Jasa Lembaga Keuangan Syariah Operasional Bank Syariah di Indonesia Penghimpunan Dana Penggunaan Dana Wadiah Mudharabah Equity Financing Debt Financing Giro (Yad

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat oleh bank disebut financing atau leading. Dalam menjalankan dua

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat oleh bank disebut financing atau leading. Dalam menjalankan dua 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank sebagai salah satu lembaga keuangan memiliki fungsi menghimpun dana masyarakat. Dana yang telah terhimpun, kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat.

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat. Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo

BAB V PEMBAHASAN. A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat. Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo BAB V PEMBAHASAN A. Skema Pembiayaan Kongsi Pemilikan Rumah di Bank Muamalat Indonesia Kantor Cabang Pembantu Ponorogo Musyarakah mutanaqisah (decreasing participation) adalah nasabah dan bank berkongsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Adanya potensi jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai ±

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Adanya potensi jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai ± BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adanya potensi jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai ± 85% dari 220 juta penduduk Indonesia, memberikan kesempatan bagi berkembang pesatnya sektor Perbankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia ditandai dengan perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan lembaga kuangan syariah di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga keuangan seperti perbankan merupakan instrumen penting. syariah telah memasuki persaingan berskala global,

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga keuangan seperti perbankan merupakan instrumen penting. syariah telah memasuki persaingan berskala global, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan seperti perbankan merupakan instrumen penting dalam memperlancar jalannya pembangunan suatu bangsa. Saat ini perbankan syariah telah memasuki

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PEMBAHASAN PEMBIAYAAN. A. Analisis Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Pada Produk. Pembiayaan Angsuran di BMT SM NU Cabang Kajen.

BAB IV ANALISIS HASIL PEMBAHASAN PEMBIAYAAN. A. Analisis Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Pada Produk. Pembiayaan Angsuran di BMT SM NU Cabang Kajen. 1 BAB IV ANALISIS HASIL PEMBAHASAN PEMBIAYAAN A. Analisis Akad Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Pada Produk Pembiayaan Angsuran di BMT SM NU Cabang Kajen. Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik mulai

Lebih terperinci

BAB V PENGAWASAN KEGIATAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH 1

BAB V PENGAWASAN KEGIATAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH 1 BAB V PENGAWASAN KEGIATAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH 1 5.1. Dewan Pengawas Syariah Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah dewan yang melakukan pengawasan terhadap prinsip syariah dalam kegiatan usaha lembaga

Lebih terperinci

BAB III AUDIT BERBASIS RISIKO PADA PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG GUBENG SURABAYA

BAB III AUDIT BERBASIS RISIKO PADA PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG GUBENG SURABAYA BAB III AUDIT BERBASIS RISIKO PADA PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BANK BRI SYARIAH KANTOR CABANG GUBENG SURABAYA A. Gambaran Singkat Bank BRI Syariah KC Gubeng Surabaya 1. Sejarah dan Gambaran Umum Bank BRI Syariah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana, sedangkan bank

BAB I PENDAHULUAN. kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana, sedangkan bank BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank merupakan lembaga perantara keuangan antara masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana, sedangkan bank menurut istilah adalah

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Bisnis merupakan salah satu aktivitas kehidupan manusia dan bahkan telah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat modern. Dengan fenomena ini mustahil orang

Lebih terperinci

Dealin Mahaputri Leonika

Dealin Mahaputri Leonika Analisis Pembiayaan Akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik Berdasarkan PSAK 107 dan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 27 Pada Bank Muamalat dan Bank DKI Syariah Dealin Mahaputri Leonika-21210718 Analisis Pembiayaan

Lebih terperinci

SESI : 07 ACHMAD ZAKY

SESI : 07 ACHMAD ZAKY SESI : 07 ACHMAD ZAKY akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri (MUI,2000)

Lebih terperinci

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengertian Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bittamlik

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengertian Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bittamlik BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengertian Akad Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bittamlik 1) Pengertian akad pembiayaan Ijarah Muntahiya Bittamlik berdasarkan undang-undang Berdasarkan penjelasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keperluan-keperluan lain, tidak bisa diabaikan. Kenyataan menunjukkan bahwa di

BAB I PENDAHULUAN. keperluan-keperluan lain, tidak bisa diabaikan. Kenyataan menunjukkan bahwa di 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sebagai makhluk sosial, kebutuhan akan kerjasama antara satu pihak dengan pihak lain guna meningkatkan taraf perekonomian dan kebutuhan hidup, atau keperluan-keperluan

Lebih terperinci

BAB II REGULASI PERBANKAN SYARI AH DAN CARA PENYELESAIANNYA. kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka

BAB II REGULASI PERBANKAN SYARI AH DAN CARA PENYELESAIANNYA. kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka BAB II REGULASI PERBANKAN SYARI AH DAN CARA PENYELESAIANNYA A. Perbankan Syari ah Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Islam merupakan agama yang memiliki aturan-aturan untuk mengatur

BAB I PENDAHULUAN. Islam merupakan agama yang memiliki aturan-aturan untuk mengatur BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam merupakan agama yang memiliki aturan-aturan untuk mengatur segala gerak dan langkah setiap manusia dalam menjalani kehidupan. Islam tentang sistem nilai, tata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan Al-Qur an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Al-Qur an dan

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan Al-Qur an dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Al-Qur an dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan umat Islam, banyak idealisme yang muncul mempertanyakan apakah praktik ekonomi yang sudah dijalankan saat ini sudah sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas generasi mendatang, termasuk perannya sebagai pemantapan jati diri.

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas generasi mendatang, termasuk perannya sebagai pemantapan jati diri. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Selain sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, perumahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Muhammad, Pengantar Akuntansi Syariah, Salemba Empat, Jakarta, 2002, hlm. 35.

BAB I PENDAHULUAN. Muhammad, Pengantar Akuntansi Syariah, Salemba Empat, Jakarta, 2002, hlm. 35. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting di dalam perekonomian suatu negara sebagai lembaga perantara keuangan. Bank dalam pasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dana (liabilities), penyaluran dana (asset) berupa pembiayaan, dan jasa-jasa

BAB I PENDAHULUAN. dana (liabilities), penyaluran dana (asset) berupa pembiayaan, dan jasa-jasa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank syariah menjalankan kegiatan usahanya meliputi penghimpunan dana (liabilities), penyaluran dana (asset) berupa pembiayaan, dan jasa-jasa perbankan lainnya (services).

Lebih terperinci

REGULASI ENTITAS SYARIAH

REGULASI ENTITAS SYARIAH REGULASI ENTITAS SYARIAH KURNIAWAN STRUKTUR REGULASI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH HUKUM SYARIAH HUKUM POSITIF FATWA DSN UU ATAU ATURAN DARI LEMBAGA TERKAIT 2 1 LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. intermediasi yang menghubungkan antara pihak-pihak yang kelebihan (surplus) dana

BAB I PENDAHULUAN. intermediasi yang menghubungkan antara pihak-pihak yang kelebihan (surplus) dana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia banyak sekali Lembaga Keuangan baik konvensional maupun syariah yang memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk menjadi lembaga perantara atau intermediasi

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN LAYANAN SYARIAH (OFFICE CHANNELING) PADA BTN UNIT USAHA SYARIAH (UUS)

BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN LAYANAN SYARIAH (OFFICE CHANNELING) PADA BTN UNIT USAHA SYARIAH (UUS) 67 BAB 4 ANALISIS PELAKSANAAN LAYANAN SYARIAH (OFFICE CHANNELING) PADA BTN UNIT USAHA SYARIAH (UUS) 4.1. Aspek Hukum Pelaksanaan Layanan Syariah (Office Channeling) Terkait dengan Penerapan Dual System

Lebih terperinci

Sriono ISSN Nomor TELAAH TERHADAP PERJANJIAN SEWA MENYEWA (AL IJARAH) DALAM PERBANKAN SYARIAH

Sriono ISSN Nomor TELAAH TERHADAP PERJANJIAN SEWA MENYEWA (AL IJARAH) DALAM PERBANKAN SYARIAH TELAAH TERHADAP PERJANJIAN SEWA MENYEWA (AL IJARAH) DALAM PERBANKAN SYARIAH Oleh : Sriono, SH, M.Kn Dosen tetap STIH Labuhanbatu ABSTRAK Perkembangan ekonomi disuatu Negara tidak dapat dilepaskan dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam. memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam. memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melayani kebutuhan masyarakat melalui jasa-jasanya. 1 Perbankan syariah. Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

BAB I PENDAHULUAN. melayani kebutuhan masyarakat melalui jasa-jasanya. 1 Perbankan syariah. Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Eksistensi perbankan syariah di Indonesia ditandai dengan lahirnya BMI (Bank Muamalat Indonesia). Dengan izin prinsip Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk adanya sebuah lembaga keuangan. Salah satu lembaga

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk adanya sebuah lembaga keuangan. Salah satu lembaga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada kehidupan modern dewasa ini adalah suatu kebutuhan masyarakat untuk adanya sebuah lembaga keuangan. Salah satu lembaga keuangan tersebut adalah bank yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Ijarah 1) Pengertian Ijarah Al- Ijarah berasal dari kata al-ajru yang arti menurut bahasanya adalah al- iwadh yang arti dalam bahasa indonesianya ialah ganti dan upah. 1 Secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Menurut Undang-Undang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Menurut Undang-Undang tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan bank muamalat merupakan bank pertama yang ada di indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. dan bank muamalat merupakan bank pertama yang ada di indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perbankan syariah merupakan salah satu inovasi yang baru dalam dunia perbankan di indonesia. Perbankan syariah mulai diperkenalkan di indonesia dengan beroprasinya

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 42 /POJK.03/2017 TENTANG KEWAJIBAN PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN PERKREDITAN ATAU PEMBIAYAAN BANK BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan perkembangan perdagangan. Bila ditelusuri asal mula timbulnya

BAB I PENDAHULUAN. dengan perkembangan perdagangan. Bila ditelusuri asal mula timbulnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehadiran sebuah usaha yang disebut bank sangat erat kaitannya dengan perkembangan perdagangan. Bila ditelusuri asal mula timbulnya usaha yang kemudian menjadi bank

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bank atau perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bank atau perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank atau perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan di Indonesia. Pada saat ini, lembaga keuangan tidak hanya melakukan kegiatan berupa pembiayaan investasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang utama yang harus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang utama yang harus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang utama yang harus dilakukan oleh para produsen dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan agar lebih berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis ekonomi merupakan kasus yang sangat ditakuti oleh setiap negara di dunia. Hal ini membuat setiap negara berusaha untuk memperkuat ketahanan ekonomi. Oleh

Lebih terperinci

LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH THALIS NOOR CAHYADI, S.H. M.A., M.H., CLA

LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH THALIS NOOR CAHYADI, S.H. M.A., M.H., CLA LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH THALIS NOOR CAHYADI, S.H. M.A., M.H., CLA PENGERTIAN LEMBAGA KEUANGAN Lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat dan menanamkannya dalam bentuk aset keuangan lain, misalnya kredit,

Lebih terperinci

2017, No penyusunan dan pelaksanaan kebijakan perkreditan atau pembiayaan bank bagi bank umum; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana di

2017, No penyusunan dan pelaksanaan kebijakan perkreditan atau pembiayaan bank bagi bank umum; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana di No.148, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Bank. Perkreditan. Pembiayaan. Kebijakan. Penyusunan dan Pelaksanaan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Rumah merupakan suatu kebutuhan primer dan hak dasar manusia untuk

I. PENDAHULUAN. Rumah merupakan suatu kebutuhan primer dan hak dasar manusia untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah merupakan suatu kebutuhan primer dan hak dasar manusia untuk bertempat tinggal. Hak bertempat tinggal ini harus dipenuhi Negara sebagaimana yang diamanatkan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemilik dana. Perbankan di Indonesia mempunyai dua sistem antara lain sistem

BAB I PENDAHULUAN. pemilik dana. Perbankan di Indonesia mempunyai dua sistem antara lain sistem BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan khususnya sektor perbankan menempati posisi sangat strategis dalam menjembatani kebutuhan modal kerja dan investasi riil dengan pemilik dana.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengangguran, masalah kekurangan modal. globalisasi saat ini masyarakat mudah memperoleh modal untuk memulai

BAB I PENDAHULUAN. pengangguran, masalah kekurangan modal. globalisasi saat ini masyarakat mudah memperoleh modal untuk memulai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ekonomi keuangan adalah proses kegiatan dalam mengelola keuangan yang mempengaruhi kehidupan setiap orang dan setiap organisasi. Ekonomi keuangan termasuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan syariah semakin berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya lembaga keuangan syariah yang berdiri di Indonesia. Tidak hanya

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN BENTUK BADAN HUKUM PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH CILEGON MANDIRI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana. tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Kasmir,

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana. tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Kasmir, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank merupakan lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas Akhir dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (SE.Sy) UIN SUSKA RIAU

SKRIPSI Diajukan Untuk Menyelesaikan Tugas Akhir dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (SE.Sy) UIN SUSKA RIAU PENERAPAN FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NO.31/DSN-MUI/VI/2002 PADA PEMBIAYAAN TAKE OVER DITINJAU MENURUT EKONOMI SYARIAH (Study Kasus Pada PT. BTN Kantor Cabang Syariah Pekanbaru) SKRIPSI Diajukan Untuk

Lebih terperinci

Pada hakikatnya pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank. pemenuhan kebutuhan akan rumah yang disediakan oleh Bank Muamalat

Pada hakikatnya pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank. pemenuhan kebutuhan akan rumah yang disediakan oleh Bank Muamalat BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI AKAD MUSHA@RAKAH MUTANA@QIS}AH SEBAGAI SOLUSI AKAD PEMBIAYAAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH DI BANK MUAMALAT INDONESIA CABANG SURABAYA Pada hakikatnya pembiayaan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH.

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH. PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

ISTILAH-ISTILAH DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARI AH

ISTILAH-ISTILAH DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARI AH ISTILAH-ISTILAH DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARI AH (Sulhan PA Bengkulu) 1. Perbankan Syari ah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syari ah dan Unit Usaha

Lebih terperinci

No. 15/22/DPbS Jakarta, 27 Juni 2013 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DI INDONESIA

No. 15/22/DPbS Jakarta, 27 Juni 2013 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DI INDONESIA No. 15/22/DPbS Jakarta, 27 Juni 2013 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DI INDONESIA Perihal : Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Pengawas Syariah Bank Pembiayaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keberadaan bank sebagai lembaga keuangan telah bertansformasi menjadi dua

I. PENDAHULUAN. keberadaan bank sebagai lembaga keuangan telah bertansformasi menjadi dua I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberadaan bank sebagai perusahaan yang bergerak di bidang keuangan memegang peranan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan akan dana. Sehubungan dengan hal tersebut sudah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai financial

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai financial BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai financial intermediary artinya menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan kembali ke masyarakat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Sejarah PT. BRI Syariah Cabang Surabaya Gubeng

BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Sejarah PT. BRI Syariah Cabang Surabaya Gubeng BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah PT. BRI Syariah Cabang Surabaya Gubeng Berawal dari akuisisi Bank Jasa Arta oleh Bank Rakyat Indonesia tanggal 19 Desember 2007 dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian a) Implementasi Akad Murabahah Di Indonesia, aplikasi jual beli murabahah pada perbankan syariah di dasarkan pada Keputusan Fatwa Dewan Syariah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permodalan merupakan salah satu faktor utama terhambatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kurangnya modal membuat suatu usaha menjadi sulit untuk berkembang karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian suatu negara. Salah satu lembaga moneter ini adalah Lembaga

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian suatu negara. Salah satu lembaga moneter ini adalah Lembaga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan suatu negara tidak terlepas dari salah satu lembaga moneternya. Lembaga ini berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan perekonomian suatu negara. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat adalah kegiatan pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat adalah kegiatan pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan bermuamalah dari zaman ke zaman semakin bervariasi karena adanya kebutuhan yang memaksakan manusia untuk melakukan hal tersebut. Salah satu kegiatan transaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini telah ditetapkan dan diterangkan secara jelas di dalam kitab suci Al-Quran

BAB I PENDAHULUAN. ini telah ditetapkan dan diterangkan secara jelas di dalam kitab suci Al-Quran BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Ibadah Haji sesungguhnya menjadi suatu kewajiban bagi umat Islam. Ibadah ini telah ditetapkan dan diterangkan secara jelas di dalam kitab suci Al-Quran dan Sunnah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan yang cukup signifikan. Menurut outlook perbankan syariah 2012 yang

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan yang cukup signifikan. Menurut outlook perbankan syariah 2012 yang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Perkembangan bisnis perbankan syariah di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Menurut outlook perbankan syariah 2012 yang disampaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kelembagaan perbankan syariah di Indonesia mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kelembagaan perbankan syariah di Indonesia mengalami BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan kelembagaan perbankan syariah di Indonesia mengalami peningkatan sejak dikeluarkannya UU No.10 Tahun 1998 yang mengatur dual banking system dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah untuk menjalankan bisnis dengan izin operasional sebagai

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah untuk menjalankan bisnis dengan izin operasional sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga keuangan syariah merupakan lembaga yang dibentuk pemerintah untuk menjalankan bisnis dengan izin operasional sebagai lembaga keuangan syariah untuk mengeluarkan

Lebih terperinci

AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH

AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH AKUNTANSI DAN KEUANGAN SYARIAH SESI 7: Akuntansi Akad Ijarah Achmad Zaky,MSA.,Ak.,SAS.,CMA DEFINISI 2 Bahasa: al Ajru = al Iwadhu (kompensasi) Terminologi: akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pinggiran, atau biasa dikenal dengan rural banking. Di Indonesia, rural banking

BAB I PENDAHULUAN. pinggiran, atau biasa dikenal dengan rural banking. Di Indonesia, rural banking BAB PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehadiran perbankan berfungsi melayani masyarakat di daerah pedesaan atau pinggiran, atau biasa dikenal dengan rural banking. Di ndonesia, rural banking diakomodasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya Undang-Undang No 21 tahun 2008. Dalam undang-undang tersebut diatur dengan rinci landasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional

BAB I PENDAHULUAN. kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ide pendirian bank syariah di negara negara Islam tidak terlepas dari kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional yang beredar di negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi yang menjalankan kegiatan perekonomian. Salah satu faktor penting

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi yang menjalankan kegiatan perekonomian. Salah satu faktor penting 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu negara pada umumnya tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan dari para pelaku ekonomi yang menjalankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tabungan dan pembiayaan, Bank Syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT),

BAB I PENDAHULUAN. tabungan dan pembiayaan, Bank Syariah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT), BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Dewasa ini, perkembangan perekonomian masyarakat dalam skala makro dan mikro, membuat lembaga keuangan khususnya lembaga keuangan syariah bersaing untuk mendapatkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan Bandar Lampung. mendeskripsikan dan mengilustrasikan rangkaian pelaksaan gadai dari awal

BAB IV ANALISIS DATA. Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan Bandar Lampung. mendeskripsikan dan mengilustrasikan rangkaian pelaksaan gadai dari awal BAB IV ANALISIS DATA A. Proses Penerapan Akad Rahn dan Ijarah dalam Transaksi Gadai pada Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan Bandar Lampung Mendiskusikan sub tema ini secara gamblang, maka tidak ubahnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pertumbuhan lembaga Islam di Indonesia termasuk cukup signifikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pertumbuhan lembaga Islam di Indonesia termasuk cukup signifikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan lembaga Islam di Indonesia termasuk cukup signifikan dan pesat semenjak tahun 1992 pada saat mulai beroperasinya Bank Muamalat Indonesia. Pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya. Pertumbuhan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bankbank

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya. Pertumbuhan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bankbank BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan dunia perbankan dirasa semakin cepat dan pesat perkembangannya. Pertumbuhan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya bankbank baru bermunculan, bukan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 107 1. PSAK Tentang Akuntansi Pembiayaan Ijarah Berdasarkan perkembangan per 1 September 2007, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN

PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN BENTUK BADAN HUKUM DAN NAMA PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH (PD. BPR SYARIAH) KABUPATEN

Lebih terperinci

PENERAPAN AKAD MUDHARABAH DALAM APLIKASI PRODUK SIMPANAN BERJANGKA (DEPOSITO) DI KSP GIRI MURIA GROUP CABANG DAWE KUDUS

PENERAPAN AKAD MUDHARABAH DALAM APLIKASI PRODUK SIMPANAN BERJANGKA (DEPOSITO) DI KSP GIRI MURIA GROUP CABANG DAWE KUDUS PENERAPAN AKAD MUDHARABAH DALAM APLIKASI PRODUK SIMPANAN BERJANGKA (DEPOSITO) DI KSP GIRI MURIA GROUP CABANG DAWE KUDUS TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini hampir semua kegiatan perekonomian. dilakukan oleh lembaga keuangan, misalnya bank, lembaga keuangan non bank,

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini hampir semua kegiatan perekonomian. dilakukan oleh lembaga keuangan, misalnya bank, lembaga keuangan non bank, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini hampir semua kegiatan perekonomian yang mengelola dana dilakukan oleh lembaga keuangan, misalnya bank, lembaga keuangan non bank, lembaga pembiayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan hidup, terutama kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan hidup, terutama kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, kita ketahui bersama bahwa populasi manusia juga semakin bertambah. Bertambahnya jumlah populasi manusia tersebut menyebabkan semakin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penghubung antara pihak yang kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana.

BAB I PENDAHULUAN. penghubung antara pihak yang kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi yaitu menjadi penghubung antara pihak yang kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana. Salah satu upaya dari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pengertian Analisis Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan pembiayaan jangka pendek dengan margin yang rendah. Salah. satunya pegadaian syariah yang saat ini semakin berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan pembiayaan jangka pendek dengan margin yang rendah. Salah. satunya pegadaian syariah yang saat ini semakin berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pegadaian sebagai lembaga keuangan alternatif bagi masyarakat guna menetapakan pilihan dalam pembiayaan disektor riil. Biasanya kalangan yang berhubungan dengan pegadaian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/9/PBI/2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. pelanggan perusahaan tidak berarti apa-apa. Bahkan sampai ada istilah yang

BAB II LANDASAN TEORI. pelanggan perusahaan tidak berarti apa-apa. Bahkan sampai ada istilah yang BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Nasabah Nasabah adalah aset atau kekayaan utama perusahaan karena tanpa pelanggan perusahaan tidak berarti apa-apa. Bahkan sampai ada istilah yang mengatakan pelanggan

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN SISTEM BAGI HASIL DALAM PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH (KJKS) CEMERLANG WELERI KENDAL

ANALISIS PENERAPAN SISTEM BAGI HASIL DALAM PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH (KJKS) CEMERLANG WELERI KENDAL ANALISIS PENERAPAN SISTEM BAGI HASIL DALAM PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH (KJKS) CEMERLANG WELERI KENDAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci