PROSIDING. Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat. Membangun Peternakan Berkelanjutan Menuju Era Industri Oktober 2019, BW Luxury Hotel Jambi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROSIDING. Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat. Membangun Peternakan Berkelanjutan Menuju Era Industri Oktober 2019, BW Luxury Hotel Jambi"

Transkripsi

1 PROSIDING Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat Membangun Peternakan Berkelanjutan Menuju Era Industri Oktober 2019, BW Luxury Hotel Jambi TIM PENYELIA : Prof. Dr. Ir.H. R.A. Muthalib, MS Prof. Dr. Ir. Hj. Nurhayati, MSc. Agr. Prof. Dr. Ir. Hj. Adriani. MS Prof. Dr. Ir. H. Abdul Azis, MS Prof. Dr. Ir. Hj. Zubaidah, MS Prof. Dr. Ir. Ucop Haroen, MS Penerbit : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

2 PROSIDING HASIL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SEMINAR NASIONAL 2019 Membangun Peternakan Berkelanjutan Menuj Era Industri 4.0 Tim Penyelia : Prof. Dr. Ir.H. R.A. Muthalib, MS Prof. Dr. Ir. Hj. Nurhayati, MSc. Agr. Prof. Dr. Ir. Hj. Adriani. MS Prof. Dr. Ir. H. Abdul Azis, MS Prof. Dr. Ir. Hj. Zubaidah, MS Prof. Dr. Ir. Ucop Haroen, MS Disain sampul dan tata letak : Dr. Ir. H.M. Afdal, MSc., M.Phil. Penerbit : Fakultas Peternakan Universitas Jambi Alamat : Kampus UNJA Mendalo Indah KM 15 Jambi Telepon/Fax : (0741) Cetakan pertama Januari 2020 Hak cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit ii

3 PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2019 Hasil Pengabadian Kepada Masayarakat Membangun Peternakan Berkelanjutan Menuju Era Industri 4.0 Panitia Pelaksana kegiatan Seminar Nasional tahun 2019 Fakultas Peternakan Universitas Jambi Steering Comitee Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Hj. Nurhayati, MSc. Agr. (Dekan Fakultas Peternakan) Anggota Dr. Sc. Agr Ir. Teja Kaswari, MSc (Wakil Dekan Bidang Akademik, Kerjasama dan Sistem Informasi) Dr. Ir. Agus Budiansyah, MS (Wakil Dekan Bidang Umum, Perencanaan dan Keuangan) Dr. Ir. Depison, M.P. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni) Ketua : Dr. Firmansyah, SPt. MP Wakil ketua : Dr. Ir. Mairizal, Msi Sekretaris : Dr. Heni Suyani, SPt. Bendahara : Afriani H. SPt. M.P Bagian Pelaksanaan Acara Seminar Bagian Sekretariat, Publikasi dan dokumentasi : Prof. Dr. Ir. Adriani. MS Ir. Yusrizal, MSc., Ph.D Ir. Wiwaha A.S, MSc., Ph.D. Dr. drh. Fahmida Manin, MP Dr. Ir. Syafril Hadi, M.S Dr. Ir. H. Afzalani, M.P Dr. Ir. Suparjo, M.P : Dr. Ir. H.M. Afdal, MSc., M.Phil Dr. Ir. Akmal MSi Dr. Bagus Pramusintho, SPt. MSc. M. Hariski, S.Pi iii

4 RTS Sherly Dwijayanti, S.Pt, M.Pt. Siti Rahayu, S.E Drh. Nurbani Azis Bagian Kerjasama : Dr. Ir. Fachroerrozy Hoesni, M.P. Bagian Field Trip : Ir. Saitul Fakhri, M.Sc, Ph.D Dr. Ir Rahmi Dianita SPt. MSc Bagian Konsumsi : Nelwida, S.Pt, MP Filawati, S.Pt, M.P Bagian Perlengkapan dan Transprotasi : Dr. Yatno, S.Pt, M.Si Supriyadi, SH Wahyudi Darmawan Fauzan Ramadan S.Pi iv

5 KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya kepada kita sekalian, serta dengan izinnya SEMINAR NASIONAL TAHUN 2019 Hasil Penelitian yang bertema : Membangun Peternakan Berkelanjutan Menuju Era Industri 4.0 yang diadakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Jambi dapat terlaksana dengan baik dan prosiding ini dapat diterbitkan. Teknologi akan selalu berkembang untuk mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali di bidang peternakan. Industri peternakan semakin berkembang di era industri 4.0 dimana produk peternakan diciptakan dan dibuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat, smart, dan efisien. Prosiding ini memberikan kesempatan untuk berbagi informasi tentang berbagai strategi untuk meningkatkan kemampuan peneliti dalam melakukan penelitian serta penerapan hasil-hasil penelitian bidang peternakan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan inovasi serta memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial ekonomi khususnya di bidang peternakan Kami menyadari bahwa dalam penyelenggaran seminar ini masih banyak kekurangan baik dalam penyajian acara, pelayanan administrasi maupun keterbatasan fasilitas, serta penyusunan prosiding Seminar Nasional hasil penelitian tahun 2019 ini masih banyak kekurangan. Pada akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang begitu tinggi kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan prosiding Seminar Nasional hasil penelitian tahun Jambi, Oktober 2019 Ketua Panitia Dr. Firmansyah SPt. MP. v

6 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PEMAKALAH SEMINAR HASIL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 1. Introduksi Teknologi Biochar pada Usahatani Hortikultura Sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani Desa Kasang Lopak Alai Kabupaten Muaro Jambi Armen Mara, Endriani, dan M. Syarif PKM Kelompok Peternak Sapi Dalam Pembuatan Probio_fm F3 Di Desa Lubuk Lingkuk Kabupaten Bangka Tengah Rufti Puji Astuti, Evahelda dan Nur Annis Hidayati Metode Cepat Perkecambahan Jernang Di Mandiangin, Provinsi Jambi Revis Asra, Ade Octavia, Lisna Penerapan Sistem Integrasi Ternak Sapi Dengan Tanaman Padi Murnita, Nitta Yessirita dan Yonny Arita Taher Penerapan Teknologi Bioproses Bahan Pakan Lokal Untuk Ayam Kampung Di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari Noferdiman dan Yusma Damayanti Meningkatkan Akses Permodalan Kelompok Tani Teman Abadi Kepada Lembaga Keuangan Untuk Usaha Ternak Sapi Afriani H, Firmansyah, M. Farhan Implementasi Sistem Pertanian Tekno-Ekologis Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani Dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca Sri Arnita Abu Tani, Darlis Dan Suhessy Syarief Sosialisasi Model 5C Untuk Membantu Peternak Sapi Memperoleh Akses Modal Afriani H, Firmansyah dan Rahmi Dianita Pengenalan Saccharomyces cerevisiae sebagai Probiotik Dalam Pakan Ternak Sapi Potong Teja Kaswari, H. Suryani, S. Fakhri dan M. Afdal Pengembangan Ayam Kampung Unggul Balitnak (Kub) Secara Longyam Dengan Ikan Lele Berbasis Probiotik Di Desa Nyogan Kecamatan Mestong Mairizal, Hutwan Syarifuddin dan M. Afdal

7 Introduksi Teknologi Biochar pada Usahatani Hortikultura Sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani Desa Kasang Lopak Alai Kabupaten Muaro Jambi Armen Mara a), Endriani, M. Syarif Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Jalan Raya Jambi Ma. Bulian KM. 15 Mendalo Indah. a ) Korespondensi: eend_200662@yahoo.co.id ABSTRAK Inovasi teknologi produksi biochar dan biokompos dapat menghasilkan bahan pembenah tanah yang baru atau pengembangan produk, sehingga tanah menjadi lebih berkualitas, efektif dan efisien, produk hortikultura yang dihasilkan lebih sehat dan dapat diterima oleh pasar. Tujuan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah untuk membentuk atau mengembangkan sekelompok masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani Tani Makmur menjadi kelompok yang produktif, berkinerja tinggi dan mandiri secara ekonomis, serta meningkatkan ketrampilan masyarakat petani dalam memproduksi tanaman hortikultura sekaligus mengelola tanah ramah lingkungan agar sustainable. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada Mitra Kelompok Tani Tani Makmur di Desa Kasang Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Ulu, selama 6 (enam) bulan dalam tahun Metode pelaksanaan kegiatan PKM melalui penyuluhan, pelatihan dan demplot yang selanjutnya diikuti dengan pendampingan. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah sebagai berikut : (1) Pemberdayaan kelompok tani melalui kegiatan pelatihan dan praktek lapang (demplot) mampu meningkatkan ketrampilan anggota dalam menerapkan teknologi; (2) Introduksi teknologi biochar dan biokompos dapat mendorong tumbuhnya usaha sentra biochar skala rumah tangga, yang ditandai dengan pengabdosian teknologi biochar dan biokompos oleh 5 (lima) orang petani. Penguasaan teknologi pemanfaatan biochar dan biokompos dapat memicu tumbuhnya usaha agroindustri, khususnya biochar dan pengomposan di lingkungan kelompok tani Tani Makmur ; (3) Usaha produksi biochar meningkatkan pendapatan petani dengan R/C = 6,87 serta meningkatkan produksi tanaman hortikultura. Dapat dikatakan bahwa teknologi biochar dan biokompos yang diterapkan pada kelompok masyarakat sangat layak untuk dilanjutkan. Kata Kunci: biochar, biokompos, hortikultura, limbah pertanian peternakan, ekonomi rumah tangga PENDAHULUAN Kecamatan Kumpeh Ulu merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan RTRW Kabupaten Muaro Jambi (2016), pemanfaatan ruang Kecamatan Kumpeh diarahkan sebagai perkebunan, pertanian lahan kering dan 1

8 pemukiman. Kecamatan Kumpeh Ulu dikenal sebagian sebagai daerah utama penghasil sayur dan buah-buahan karena sebagian besar penduduk bermata pencarian petani, khususnya tanaman palawija dan holtikultura. Hal ini didukung kondisi lahan yang sebagian terdiri dari dataran rendah / lahan basah sehingga sangat cocok untuk budidaya tanaman sayuran dan buah-buahan. Menurut BPS Kabupaten Muaro Jambi (2017), Desa Kasang Lopak Alai terletak di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Desa ini memiliki luas ±700 ha yang terdiri dari tanah sawah ±100 ha, tanah pekarangan ±300 ha, tanah perkebunan ±150 ha, dan tanah tegalan ±150 ha. Mayoritas mata pencarian penduduk desa ini adalah sebagai petani sawah ataupun petani hortikultura dan perkebunan. Jumlah penduduk Desa Kasang Lopak Alai adalah jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga 513 KK, dengan rincian jumlah penduduk lakilaki sebanyak jiwa, perempuan 903 jiwa. Desa Kasang Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi, merupakan wilayah yang berpotensi dalam pengembangan tanaman hortikultura, namun hasil yang diperoleh petani masih rendah dan tidak seimbang dengan input yang diberikan. Hal tersebut disebabkan karena lahan petani umumnya lahan kering masam dengan sifat fisika yang kurang baik dan kesuburan yang rendah. Petani umumnya masih melakukan usaha tani sayuran secara kimiawi, melalui pemanfaatan pupuk kimia dan pestisida. Padahal untuk menuju pertanian yang ramah lingkungan dan konservatif, sangat perlu pengurangan aplikasi bahan kimia dalam usaha tani, dintaranya adalah dengan pemanfaatan biochar pada lahan usahatani. Biochar atau arang hayati merupakan pembenah tanah alami berbahan baku hasil pembakaran tidak sempurna (pirolisis) dari residu atau limbah pertanian yang sulit didekomposisi, seperti kayu-kayuan, kakao, dan lain-lain. Pembakaran tidak sempurna dilakukan dengan menggunakan alat pembakaran atau pirolisator suhu sekitar C, selama 2-3,5 jam, sehingga diperoleh arang yang mengandung karbon tinggi dan dapat diaplikasikan sebagai pembenah tanah. Pemilihan bahan baku pembenah tanah dari bahan tang sulit didekomposisi dimaksudkan agar dapat bertahan lama di dalam tanah (Gani, 2010, Endriani et al., 2016). Di Jambi, potensi penggunaan biochar cukup besar mengingat bahan baku seperti residu kayu, tempurung kelapa dan sekam padi cukup tersedia, pada setiap proses penggilingan gabah akan dihasilkan 16,3 28 % 2

9 sekam. Berdasarkan analisis situasi yang dijelaskan di atas, maka perlu usaha untuk menjaga kelestarian tanah dan meningkatkan produktivitasnya sehingga dapat mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan (Sustainable agriculture development), meningkatkan pendapatan petani yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kelompok tani produktif di Desa Kasang Lopak Alai adalah kelompok tani Tani Makmur dengan anggota 18 orang yang diketuai oleh Suprayogi. Hasil diskusi dengan kelompok tani dan berdasarkan kunjungan lapangan, diketahui terdapat beberapa permasalah yang ditemui di lapangan, di antaranya : pengelolaan lahan kering marjinal belum maksimal, usaha tani sayuran yang dilakukan masih menggunakan pestisida dan pupuk kimia, kesadaram petani yang masih rendah dalam penerapan Teknologi Pertanian Ramah Lingkungan berbasis bioorganik baik berupa pembenah tanah biochar, pupuk organik maupun pestisida organik. Tujuan kegiatan ini adalah : a) mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat dengan cara mengoptimalkan kemampuan budidaya hortikultura secara ramah lingkungan; b). meningkatkan kemampuan masyarakat tani dalam memproduksi biochar berbasis bahan lokal dan biokompos limbah pertanian, serta biopestisida, pemanfaatannya untuk budidaya tanaman sayuran; c). pengelolaan lahan kering marjinal yang ramah lingkungan untuk masa depan dengan mengembangkan biochar dan biokompos dan; d). peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan cara mengembangkan kegiatan ekonomi produktif, membentuk kelompok usaha baru sentra produksi biochar sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup secara mandiri. MATERI DAN METODE PELAKSANAAN Materi yang diperlukan antara lain, bahan pembuat biochar seperti sekam padi, serbuk gergaji, ram kawat, kotoran sapi/ayam, hijauan gamal, rock phosphate, Trichoderma, gembor, papan, seng, karung, semen, spanduk, stiker, materi untuk penyuluhan, dan lain-lain. Metode kegiatan PKM berupa penerapan IPTEK yang akan dilaksanakan meliputi : penyuluhan dan atau pelatihan, tujuannya untuk menambah pengetahuan petani tentang pengelolaan lahan marginal yang ramah lingkungan, 3

10 mengenalkan biochar si pembenah tanah yang ramah lingkungan, mengenalkan pupuk organik biokompos berbasis bahan lokal, pada kelompok tani Tani Makmur. 1) Pembentukan kelompok usaha baru Sentra Produksi Biochar dan Biokompos. 2) Pelaksanaan demonstrasi produksi biochar dan biokompos sebagai usaha baru untuk pemenuhan kebutuhan petani pada budidaya sayuran dan menstimulasi petani dalam penerapan pada usaha tani sayuran masing masing, 3) Melaksanakan percontohan penerapan teknologi biochar pada lahan sayuran dengan melibatkan seluruh anggota kursus, yang mencakup kegiatan pembuatan pupuk biochar, pembuatan dan pemberian pupuk organik, pestisida organik. 4) Melaksanakan percontohan pola diversifikasi pangan dan sayuran dengan memberikan bantuan bibit. 5) Melaksanakan pembinaan terhadap petani-petani yang akan menerapkan teknologi rumah pangan lestari bebas pupuk kimia dan pestisida di lahan pekarangan milik petani itu sendiri. 6) Melaksanakan pendampingan pemeliharaan tanaman sayuran secara tepat guna untuk mendapat hasil yang menguntungkan sekaligus bebas dari bahan kimia. 7) Melaksanakan evaluasi HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa program Kemitraan Masyarakat dilaksanakan di Desa Kasang Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi terletak pada lokasi yang cukup strategis dengan jarak tempuh ke ibu kota kecamatan sekitar 20 km, ke ibu kota kabupaten sekitar 50 km dan ke ibu kota provinsi sekitar 25 km. Orbitasi ini menunjukkan bahwa akses Desa Kasang Lopak Alai ke kota Jambi sangat dekat sehingga memudahkan bagi masyarakat khususnya petani yang tergabung dalam kelompok Tani Makmur menjual hasil pertaniannya ke kota. Kawasan ini merupakan kawasan yang juga kaya akan potensi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Walaupun memiliki potensi sumber daya alam yang 4

11 cukup besar, namun tingkat perekonomian masyarakat di Desa Kasang Lopak Alai masih tergolong rendah. Selain itu, juga terdapat potensi pencemaran lingkungan di sekitar pemukiman, sampah-sampah anorganik dibuang secara langsung ke lingkungan permukiman. Jika hal ini dibiarkan, tentunya dapat menjadi permasalahan yang cukup serius bagi lingkungan maupun bagi masyarakat pada umumnya. Sampah merupakan material sisa yang dihasilkan oleh pemanfaatan suatu benda atau produk yang dimanfaatkan oleh manusia maupun aktivitas alam. Lahan milik petani di lokasi PPM umumnya tidak dimanfaatkan secara optimal, sebagian besar lahan pekarangan hanya dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik. Sebagian lahan pekarangan ditanami tanaman buah-buahan seperti rambutan, durian dan duku, serta sirsak, namun tanaman tersebut terlihat tidak dipelihara dan dirawat dengan baik. Petani melakukan kegiatan usahatani hanya pada musim penghujan saja sedangkan pada musim kemarau membiarkan lahan pertaniannya tanpa dikelola dengan baik. Petani umumnya menanam tanaman sayuran, diantaranya : kacang panjang, pare, gambas, mentimun, dan lain sebagainya, disamping itu juga menanam tanaman palawija seperti jagung. Lahan usahatani masyarakat juga ditanami buah buahan seperti papaya dan pisang. Permasalahan yang sering ditemui petani dalam budidaya sayuran adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga secara rutin dilakukan penyemprotan pestisida setiap empat hari. Namun sebagian besar petani belum paham bahwa sebelum pemanenan tidak boleh dilakukan penyemprotan pestisida karena akan membahayakan konsumen. Aplikasi pupuk organik masih terbatas dan lahannya nampak miskin hara. Introduksi Teknologi Biochar Solusi lahan usaha tani yang masih miskin hara adalah mengurangi penggunaan pupuk kimia, serta upaya terciptanya lingkungan hidup yang sehat dan membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga petani adalah dengan introduksi teknologi biochar dan biokompos. Dimulai dari pengenalan biochar pada petani dan sosialisasi manfaatnya dalam memperbaiki kesuburan tanah dan menghasilkan tanaman sayuran yang sehat dan bebas pestisida. Selanjutnya dilakukan pelatihan pembuatan biochar 5

12 (Gambar 1) dan pelatihan pembuatan biokompos yang pelaksanaannya mendapat respon sangat baik dari petani, dibuktikan dari jumlah kehadiran petani, respo kemampuan menyerap teknologi yang diintroduksikan. Gambar 1. Kegiatan pelatihan produksi biochar sekam padi Tabel 1. Hubungan antara kegiatan, target, realisasi kegiatan dan capaian No. Kegiatan Target Realisasi Pelaksanaan Kegiatan Capaian 1. Penyuluhan usaha 20 orang peserta Kegiatan penyuluhan dan diskusi 100 % tani berbasis hadir dan mengenai usaha tani berbasis (semua anggota organik farming memaham usaha organik terlaksana dengan baik dan kelompok tani hadir tani berbasis mendapat tanggapan yang baik dan mendengar pertanian organic yang dinilai berdasarkan keaktifan penyuluhan) dalam diskusi dan jumlah petani yang berpartisipasi 2. Penyuluhan 20 orang peserta Kegiatan penyuluhan dan diskusi 100 % pengenalan fungsi hadir dan melihat mengenai usaha tani berbasis (semua anggota dan manfaat biochar serta organik berupa biochar dan kelompok tani yang biochar sebagai mengetahui pengenalan biochar terlaksana hadir megetahui apa pembenah tanah manfaatnya dengan baik dan mendapat itu biochar dan sebagai tanggapan yang baik dari petani mengetahui ppembenah tanah yang dinilai berdasarkan keaktifan manfaatnya) dalam diskusi dan jumlah petani yang berpartisipasi 3. Pelatihan Minimal 50 % Pelatihan pembuatan bochar 100 % Pembuatan petani mampu berjalan baik, petani mampu dan (semua petani yang Biochar membuat biochar bisa membuat biochar dengan baik, hadir bisa membuat hampir semua petani yang hadir (20 biochar) orang) mampu membuat biochar dengan pyrolysis sederhana 4. Pembuatan rumah 1 rumah biochar Pembuatan Sentra Biochar 100 % biochar /sentra berbasis sekam padi dan serbuk (sudah terbentuk satu biochar gergaji sudah terlaksana, rumah sentra kesepakatan ketua kelompok tani Biochar ) (Bapak Yogi Pratama) adalah di Loorong antu Rengas RT 01 Desa Lasang Lopak Alai 6

13 Lanjutan Tabel.1 5. Pelatihan membuat biokompos 6. Penerapan aplikasi biochar pada tanaman buah buahan 7. Pendampingan keberlanjutan sentra biochar Minimal 50 % anggota yang hadir mampu membuat pupuk organic biokompos Sudah dilakukan penerapan biochar pada lahan hortikultura Minimal 2 orang anggota keompok tani mau mengelola usaha baru sentra biochar Pelatihan pembuatan biokompos berjalan baik, petani mampu dan bisa membuat biokompos dengan baik, hampir semua petani yang hadir sudah mampu membuat biokompos dengan bahan kotoran sapi, hijauan legume, dan trichoderma Penerapan aplikasi biochar pada lahan tanaman buah buahan sudah dilaksanakan, biochar diaplikasikan pada lahan yang ditanami pepaya Diskusi lebih diutamakan mencari alternatif dan solusi untuk keberlanjutan usaha Sentra Biochar dan manajemen pengelolaannya dengan Tim PPM dari PT sebagai fasilisator 100% (semua petani yang hadir dapat membuat biokompos) 20 % (penerapan biochar dilakukan pada tanaman papaya 5 orang petani) 100 % (biochar dan biokompos sudah memiliki labeling dan pemasaran lebih luas) Introduksi teknologi biochar telah mendorong tumbuhnya usaha sentra biochar skala rumah tangga, ditandai dengan diadopsinya teknologi biochar oleh 5 orang petani. Petani tersebut melakukan produksi biochar secara individu dengan cara sederhana sebanyak 500 kg/petani. Alasan yang disampaikan petani, pengangkutan yang selama ini menjadi masalah dapat diatasi. Gambar 2. Proses produksi biochar kelompok Tani Makmur Desa Kasang Lopak Alai Tabel 2. menunjukkan bahwa pengolahan limbah pertanian menjadi biochar telah dapat diadopsi petani khususnya anggota kelompok Tani Makmur. Dari ± kg bahan baku pembuatan biochar diperoleh biochar jadi sebanyak 500 kg, dan dengan total biaya Rp ,00 maka harga pokok biochar Rp.800/kg. 7

14 Tabel 2. Analisa Usaha Produksi Biochar di Kelompok Tani Tani Makmur Desa Kasang Lopak Alai, No Uraian Fisik Harga/satuan Jumlah I. Biaya : Sekam padi (Kg) 1000,00 400, ,00 Tenaga kerja (HOK) 10, , ,00 Penyusutan saung (bulan) 1, ,00 II. Total biaya ,00 III. Hasil (kg) 500,00 Harga pokok biochar/kg 800,00 Harga jual biochar/kg 5.500,00 IV. Pendapatan ,00 V. Keuntungan ,00 VI. R/C 6,875 Sumber : data primer (diolah) Berdasarkan pengamatan, dengan harga jual bochar yang beredar di pasaran sekitar Rp.5.500/kg, maka petani dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp ,- dengan R/C = 6,87. Namun apabila bahan utama biochar dapat disediakan oleh petani (dari limbah pertanian milik petani) dan dikemas sendiri, maka biaya produksi dapat diturunkan menjadi Rp ,-, akan diperoleh keuntungan Rp ,- dengan R/C= 11,0. Artinya akan diperoleh keuntungan 11 kali lipat apabila biochar dibuat dari bahan sendiri dibandingkan bahan dibeli yang hanya memperoleh keuntungan 6,88 kali lipat. Biochar merupakan bahan padat kaya karbon hasil konversi dari limbah organik (biomas pertanian) melalui pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (Gambar. 3) Gambar 3. Proses Pembakaran Limbah Organik 8

15 Biochar bukan pupuk tetapi berfungsi sebagai pembenah tanah. Aplikasi biochar ke lahan pertanian dapat meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan hara, memperbaiki kegemburan tanah, mengurangi penguapan air dari tanah dan membuat habitat yang baik untuk mikroorganisme simbiotik. Biomas pertanian yang dapat menjadi bahan biochar dapat berupa sekam padi, tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit, kulit buah kakao, dan tongkol jagung. Dari berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa kulit buah kakao merupakan bahan baku yang paling baik untuk pembuatan biochar. Hasil pembakaran tak sempurna dari biomas di atas akan menjadi arang. Arang (biochar) itulah yang akan dibenamkan ke dalam tanah sehingga memberikan dampak pertukaran air dan udara dalam tanah/daerah perakaran tanaman menjadi lebih baik, dan sejumlah manfaat lainnya seperti tersebut di atas. Dengan berbagai manfaat tersebut, Tim dari Unversitas Jambi telah berinisiasi mengadakan pelatihan pembuatan biochar kepada kelompok tani Tani Makmur dan masyarakat sekitar agar teknologi ini dapat didiseminasikan secara luas di Desa Kasang Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Ulu Provinsi Jambi. KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa introduksi teknologi biochar telah mendorong tumbuhnya usaha produksi biochar skala rumah tangga, ditandai dengan telah diadopsinya teknologi produksi biochar oleh 5 orang petani. Penguasaan teknologi biochar dapat memicu tumbuhnya usaha agroindustri, khususnya produksi biochar di lingkungan kelompok tani Tani Makmur. Usaha produksi biochar meningkatkan pendapatan petani dengan R/C 6,88, serta meningkatkan produksi tanaman hortikultura. UCAPAN TERIMAKASIH Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia melalui Hibah PKM. Ucapan terima kasih kepada Yang Terhormat 9

16 Bapak Dirjen DRPM Dikti, Bapak Rektor Universitas Jambi, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, yang telah mendanai dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan ini, terima kasih PPL Kecamatan Kumpeh Ulu Ir. Ramli atas bantuannya. DAFTAR PUSTAKA Asai, H., Samson, B.K., Stephan, H.M., Songyikhangsuthor, K., Homma, K., Kiyono, Y., Inoue, Y., Shiraiwa, T., & Horie, T. (2009). Biochar amendment techniques for upland rice production in Northern Laos 1. Soil physical properties, leaf SPAD and grain yield. Field Crops Research, 111, Balai Penelitian Tanah, Teknologi Pembuatan Biochar sederhana. Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian. /2845/ Balai Penelitian Tanah, 2017). BPS Kabupaten Muaro Jambi Kabupaten Muaro Jambi Dalam Angka. 8c/ Chan K Y, A, E, L. Van Zwieten B, I. Meszaros A, A. Downie C,D, and S. Joseph D A Agronomic values of greenwaste biochar as a soil amendment. Australian Journal of Soil Research, 2007, 45: Djaenudin D Potensi Sumber Daya Lahan untuk Perluasan Areal Tanaman Pangan di Kabupaten Merauke. Jrnal Iptek Tanaman Pangan. 2(2): Endriani dan A Kurniawan Pengembangan Soil Amandement Biochar Untuk Pengelolaan Lahan Kering Sub-Optimal Hemat Karbon dan Rendah Emisi Mendukung Ketahanan Pangan. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jambi. Endriani, Sunarti dan Ajidirman Biochar cangkang kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif yang renewable dan soil amandement lahan sub optimal di Provinsi Jambi. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Jambi. Gani, A Multiguna Arang - Hayati Biochar. Sinar Tani. Edisi Okt Juniadi, Teknis pembuatan arang sekam. Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang. RTRW Kabupaten Muaro Jambi Revisi Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kabupaten Muaro Jambi. file:///g:/des%20kasang/rtrw_105_2016.pdf Sapto A, Bambang Si Hitam Biochar yang Multiguna. PT. Perkebunan Nusantara X (Persero), Surabaya. Sukartono, W. H. Utomo, Z. Kusuma, and W. H. Nugroho. "Soil Fertility Status, Nutrient Uptake, and Maize (Zea Mays L.) Yield Following Biochar and Cattle Manure Application on Sandy Soils of Lombok, Indonesia." Journal of Tropical Agriculture (2011):

17 PKM Kelompok Peternak Sapi Dalam Pembuatan Probio_FM F3 Di Desa Lubuk Lingkuk Kabupaten Bangka Tengah Rufti Puji Astuti 1a, Evahelda 2, Nur Annis Hidayati 3 1,2 Pogram Studi Agribisnis, Universitas Bangka Belitung, 3 Pogram Studi Biologi, Universitas Bangka Belitung, 1a) Korespondensi: ruftipuji24@gmail.com ABSTRAK Teknologi Probio_fm dikenal masyarakat Bangka Belitung sebagai bahan fermentasi pakan dalam kegiatan budidaya ternak sapi. Teknologi Probio_fm dinilai sederhana dan tepat guna, tidak hanya menjadikan cara budidaya ternak sapi lebih mudah, namun peternak juga terbebas dari masalah pencemaran bau limbah kotoran ternak. Kendala yang dihadapi peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Saling Gumilang dalam penerapan Teknologi Probio_fm adalah, ketergantungan peternak untuk membeli Probio_fm F3, biaya pengiriman produk mahal dan distribusi pengiriman produk terkendala adanya penolakan oleh jasa ekpedisi sehingga penggunaannya belum berkelanjutan. Tujuan pengabdian ini untuk memberdayakan peternak dalam membuat Probio_fm F3. Metode pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui tahapan sosialisasi, aksi demontrasi dan pelatihan, serta evaluasi dan monitoring. Metode pengumpulan data dengan wawancara dan penyebaran angket. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil pelaksanaan program kemitraan masyarakat menunjukkan adanya perubahan pengetahuan, keterampilan dan perilaku peternak di kelompok saling gumilang dalam menerapkan teknologi probio_fm. Pengetahuan peternak tentang tekknologi probio_fm meningkat 44%; sebagain besar (80% peternak) terampil membuat Probio_fm F3 sehingga peternak tidak lagi membeli Probio_fm F3 dan 25% peternak sudah menerapkan teknologi berkelanjutan dengan mengolah pakan silase pelepah sawit. Hasil evaluasi dan monitoring menemukan adanya kendala dalam produksi Probio_fm F3, yaitu masalah penyaringan bahan. Hasil evaluasi dan monitoring juga menemukan adanya dampak aplikasi pakan berbasis teknologi probio_fm mampu mengatasi pencemaran bau di lingkungan kandang dan efisien waktu dalam manajemem pemberian pakan. Kata Kunci: Perberdayaan, Teknologi Probio_Fm,Ternak Sapi. 11

18 PENDAHULUAN Penguasaan dan pengembangan IPTEKS baik oleh masyarakat peternak maupun petani perkebunan, menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan produksi hasil perkebunan maupun peternakan. Pemeritah Kabupaten Bangka Tengah memprioritaskan program peningkatan penerapan teknologi dan menargetkan terdapat 30 kelompok yang memiliki kemampuan dalam pengembangan dan penguasaan teknologi dibidang peternakan dan perkebunan. Penerapan teknologi (minimal 30 kelompok tani), diyakini mampu berkontribusi dalam pencapaian target populasi sebanyak 5000 ekor ternak sapi pada tahun Dalam hal ini, pemerintah juga mengandalkan program sistem integrasi sapi kelapa sawit (SISKA) untuk mewadahi peternak maupun petani perkebunan dalam penguasaan dan pengembangan teknologi. Usaha pengembangan ternak sapi Bali banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat di desa Lubuk Lingkuk. Kelompok Tani Saling Gumilang merupakan salah satu kelompok yang aktif melakukan kegiatan usaha pengembangan ternak sapi. Tidak hanya memelihara ternak sapi, peternak anggota Kelompok Tani Saling Gumilang juga berprofesi sebagai petani kebun kelapa sawit. Pengembangan ternak sapi oleh peternak dilakukan secara bersamaan dengan mengelola kebun kelapa sawit. Peternak menerapkan sistem integrasi sapi dan kelapa sawit dalam pemeliharaan ternak sapi dan tanaman sawit. Bentuk penerapan sisten integrasi sapi-kelapa sawit di Kelompok Tani Saling Gumilang adalah dengan mengolah limbah pelepah sawit sebagai pakan ternak dan sebaliknya limbah kotoran ternak digunakan untuk pupuk tanaman. Desa Lubuk Lingkuk berpotensi untuk menjadi desa percontohan dalam penerapan sistem integrasi sapi kelapa sawit. Keberadaan kebun sawit milik masyarakat maupun perusahaan swasta berpotensi untuk menyediakan sumber pakan bagi ternak dan sebaliknya kotoran ternak berpotensi untuk pupuk tanaman sawit. Namun faktanya kegiatan pemelihraan ternak sapi oleh sebagai peternak di Kelompok Tani Saling Gumilang masih dilakukan dengan cara tradisional, yaitu mengandalkan rumput alam. Cara tradisional juga terlihat dari cara peternak menggunakan limbah kotoran ternak sebagai pupuk tanaman sawit secara langsung tanpa pengolahan. 12

19 Kelompok Tani Saling Gumilang terbentuk sejak tahun 2011 dengan jumlah anggota sebanyak 20 orang. Kelompok tani ini termasuk salah satu kelompok penerima bantuan mesin pencacah pelepah sawit maupun mesin kompos dari Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Tengah. Permasalahan yang dihadapi pada awal kelompok terbentuk adalah belum optimalnya penggunaan mesin pencacah dan kompos. Kelompok tani kembali aktif melakukan kegiatan pengembangan ternak sapi sejak tahun Permasalahan cara budidaya yang dianggap kurang menguntungkan oleh sebagian anggota kelompok, telah diatasi dengan menerapkan teknologi probio_fm untuk pengolahan pakan silase pelepah sawit. Probio_Fm merupakan probiotik cair mengandung beberapa spesies bakteri asam laktat, yang merupakan hasil isolasi mikroba dari saluran pencernaan itik Kerinci (Manin et al. 2003; Manin et al. 2010). Probio_Fm baik digunakan untuk pengolahan pakan ternak unggas maupun ruminansia dan telah digunakan oleh peternak di berbagai daerah seperti Provinsi Banten, Kabupaten Kerawang Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Kalimantan Selatan. Mayoritas peternak merasa puas dengan hasil yang dirasakan setelah menggunakan probio_fm, dikarenakan selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan kandang (bau kandang), penggunaan probio_fm juga terbukti dapat mengurangi jumlah bakteri patogen pada saluran pencernaan unggas, meningkatkan kesehatan ternak, serta meningkatkan produktivitas ternak itik dan sapi (Yusrizal dan Aziz 2009; Hendalia et al. 2010; Manin et al. 2010; Hendalia et al. 2012; Yusrizal et al. 2012; Manin et al. 2014; Riza et al 2015). Probio_Fm juga sudah digunakan oleh peternak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan terbukti mampu mengatasi permasalahan pencemaran bau kandang, menjaga kesehatan ternak, serta dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan (Hendalia et al. 2017) Probiotik juga dikenal sebagai produk suplemen pakan berisi bakteri hidup yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan mikroflora dalam usus, dengan mengurangi jumlah mikroba patogen dalam saluran pencernaan (Fuller, 2002). Teknologi probio_fm pertama dikenal Kelompok Tani Saling Gumilang pada tahun Informasi tentang teknologi probio_fm diperoleh ketua kelompok saat mengikuti acara pameran produk di Kelompok Tunas Baru. Peternak menggunakan produk probiotik probio_fm produksi Kelompok Tunas Baru.Penggunaan Probio_fm dinilai peternk tidak hanya memudahkan 13

20 proses manajemen pemberian pakan tapi juga dapat mengatasi masalah pencemaran bau di lingkungan kandang. Permasalahannya peternak tidak berdaya untuk memproduksi probiotik Probio_fm,sehingga keberlanjutan penggunaan probio_fm berkelanjutan berdampak pada ketergantungan peternak membeli probiotik Probio_fm. Keberhasilan peternak menerapkan teknologi probio_fm untuk mengolah pakan silase pelepah sawit, menjadikan penggunaan mesin pencacah lebih optimal. Keberhasilan ini juga memotivasi peternak di Kelompok Saling Gumilang untuk memiliki keterampilan memproduksi Probio_fm F3. Kegiatan pelatihan produksi Probio_fm perlu dilakukan agar peternak tidak ketergantung untuk terus membeli Probio_fm F3. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan memproduksi Probio_fm F3 dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi, demontrasi dan pelatihan serta evaluasi dan monitoring. Cara ini terbukti mampu menjadikan peternak di Kelompok Nadi Lestari trampil membuat Probio_fm F3 (Astuti at al, 2018). Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberdayakan peternak untuk membuat Probio_fm F3. Pengetahuan dan keterampilan peternak dalam memproduksi probio_fm akan bermanfaat untuk menunjang penerapan teknologi probio_fm berkelanjutan oleh Kelompok Tani Saling Gumilang, serta mengatasi masalah ketergantungan membeli produk. MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilaksanakan di Desa Lubuk Lingkuk, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengabdian dilaksanakan selama 4 bulan sejak bulan Mei - Agustus Pelaksanaan pengabdian melibatkan peternak mitra, yaitu peternak di Kelompok Tani Saling Gumilang. Pemilihan lokasi dan mitra sasaran didasari oleh pengalaman dan minat peternak menggunakan Probio_fm. Mekanisme Penyelesain Masalah Kemampuan peternak untuk memproduksi Probio_fm berkelanjutan harus didukung dengan kepemilikan alat produksi, salah satu diantaraya adalah inkubator. Pelaksanaan program pemberdayaan peternak dalam membuat Probio_fm F3 ini diawali 14

21 dengan kegiatan pendampingan merakit inkubator sederhana. Pelaksanaan program kemudian akan dilanjutkan dengan pelatihan produksi Probio_fm setelah dipastikan peternak memiliki kemampuan merakit inkubator. Bentuk pelaksanaan program produksi Probio_fm ini dilakukan secara berkelompok, dengan 1 (satu) kepemilikan inkubator diyakini kualitas produk yang dihasilkan dapat terjaga. Metode Pelaksanaan Pengabdian Pelaksanaan program kegiatan pengabdian dilakukan dengan melalui 3 (tiga) bentuk metode, yaitu: sosialisasi, aksi dalam bentuk demontrasi dan pelatihan serta evaluasi dan monitoring. HASIL DAN PEMBAHASAN Program terlaksana secara sistematis melalui tiga tahapan, diawali dengan kegiatan sosialisai materi cara memproduksi Probio_fm F3 maupun merakit inkubator, dilanjutkan dengan demontrasi dan pelatihan pembuatan Probio_fm F3. Pelaksanaan program diakhri dengan kegiatan evaluasi dan moitoring yang bertujuan untuk mengukur tingkat keberdayaan peternak. Noor (2011) menyatakan bahwa tujuan utama kegiatan pemberdayaan adalah untuk menjadikan masyarakat mampu mengatasi permasalahan dengan segala keterbatasan yang dimiliki dan memiliki rasa tanggung jawab, mau berkerja keras dan mau menerima perubahan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat secara detail dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Persentase persepsi peternak yang menyatakan setuju sampai dengan sangat setuju tentang penilaian indikator dalam kegiatan pengabdian Indikator penilaian Persentase (%) Sebelum Sesudah Sosialisasi Pengetahuan tentang teknologi probio_fm Pengalaman menggunakan teknologi probio_fm 15 - Minat mengikuti pelatihan produksi probio_fm Demontrasi/ pelatihan produksi probio_fm Pengetahuan tentang teknologi probio_fm Kemampuan merakit alat produksi dan produksi f Kemampuan memproduksi Probio_fm F Evaluasi dan monitoring Pengalaman menggunakan teknologi probio_fm

22 Tahapan Sosialisasi Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk mengawali kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Tim pengabdian menggunakan kesempatan dengan membentuk dan menyepakati jadwal pelaksanaan program bersama peserta dalam kegiatan sosialisasi. Tujuan utama pelaksanaan kegiatan sosialisasi adalah untuk memastikan kesiapan dan minat peternak di Kelompok Saling Gumilang untuk mengikuti kegiatan pendampingan pembuatan Probio_fm F3. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi program, pengenalan teknologi probio_fm dan sosiliasi materi pelatihan baik materi perakitan inkubator maupun materi pembuatan Probio_fm F3. Kegiatan sosialisasi dihadiri oleh 14 peternak anggota kelompok tani. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi diawali dengan pembagian buku pedoman pelatihan, dilanjutkan dengan penyampaian masing-masing materi oleh tim pengabdi (Gambar 1) Gambar 1. Foto kegiatan sosialisasi Hasil penilaian angket kegiatan sosialisasi (Tabel.1) menunjukkan adanya perubahan pengetahuan peternak tentang teknologi probio_fm kearah yang positif. Pengetahuan peternak tentang teknologi probio_fm mengalami peningkatan dari 36% 16

23 menjadi 71%, setelah dilakukan kegiatan sosialisasi. Peternak pernah mendengar dan mengetahui manfaat probio_fm dengan melihat anggota lain yang sudah menerapkan teknologi namun belum memahami alat dan bahan untuk pembuatan probio_fm F3. Peternak saat ini tidak hanya mengetahui manfaat teknologi probio_fm, namun juga memahami alat, bahan serta proses produksi Probio_fm F3. Pengenalan teknologi probio_fm yang dilakukan melalui kegiatan sosialisasi terbukti mampu meningkatkan pengetahuan peternak. Kegiatan pengenalan teknologi probio_fm di Kelompok Tunas Hijau terbukti memapu menambah pengetahuan peternak. Peternak tidak hanya mengetahui manfaat saja, peternak juga mengetahui tentang cara penggunaan teknologi (Astuti et al, 2019). Peternak di Kelompok Saling Gumilang sebagain besar belum berpengalaman menggunakan probio_fm, hasil penilaian angket dalam kegiatan sosialisasi menunjukkan hanya 15% atau sebanyak 3 orang saja yang pernah menggunakan. Namun demikian, berdasarkan hasil penilaian minat diketahui bahwa semua peternak atau 100% menyatakan setuju sampai sangat setuju perlu dilakukan pelatihan produksi Probio_fm F3. Minat peternak juga ditunjukan dengan kesiapan peternak mengikuti jadwal pelatihan yang telah disepakati bersama. Tahapan Demontrasi/pelatihan Pembuatan Probio_fm Kegiatan demontrasi dilaksanakan menggunakan pendekatan metode partisipatif. Menurut Dewi (2014) pendekatan partisipatif dapat digunakan untuk mempengaruhi kemandirian yang mengarah pada kesadaran masyarakat. Pelaksanaan kegiatan demontrasi dihadiri oleh pakar teknologi probio_fm (Ibu Dr. drh Fahmida Manin M.P) dari Universitas Jambi sebagai narasumber. Pelaksanaan kegiatan demontrasi diawali kegiatan diskusi dan tanya jawab bersama antara peternak dan narasumber. Pelaksanaan kegiatan demontrasi dilanjutkan dengan pengumpulan alat dan bahan, setelah diskusi peternak dan narasumber selesai. Kehadiran narasumber dalam kegiatan demontrasi menambah motivasi peternak untuk mengikuti pelatihan, peternak tidak hanya bertanya tentang cara penggunaan probio_fm untuk pakan ternak, peternak juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya tentang cara penggunakan teknologi probio_fm untuk pengolahan pelet ikan maupun pakan ternak unggas. 17

24 Pelaksanaan kegiatan demontrasi pembuatan Probio_fm F3 dilakukan oleh narasumber bersama peternak secara langsung dengan mempraktekkan materi pelatihan. Narasumber berperan sebagai pengarah sekaligus pemeraga, dalam hal ini tim pengabdi dan peternak juga terlibat aktif dalam memperagakan arahan narasumber. Proses pembuatan probio_fm secara keseluruhan dilakukan melalui 7 (tujuh) tahapan. Hasil kegiatan demotrasi menunjukkan peserta pelatihan aktif dan secara langsung terlibat pada semua proses, baik penimbangan, pencampuran, pengadukan, perebusan, penyaringan dan pendinginan, penambahan bahan starter dan inkubasi, maupun pada saat pemanenan produk (Gambar 2.) Hasil penilaian angket (Tabel.1) menunjukan sebelum kegiatan mengikuti kegiatan demontrasi sebanyak 71% peternak menyatakan setuju sampai dengan sangat setuju memiliki pengetahuan tentang teknologi probio_fm, pengetahuan peternak meningkat menjadi 100% setelah mengikuti kegiatan demontasi. Bentuk pengetahuan peternak setelah mengikuti kegiatan demontrasi tidak hanya ditunjukkan oleh pengetahuan tentang manfaat dan cara menggunaan teknologi, tetapi juga pengetahuan tentang cara produksi Probio_fm F3. Artinya kegiatan demontrasi yang dilakukan terbukti mampu memberikan tambahan pengetahuan pada peternak, dari belum mengetahui menjadi mengetahui. Hasil penilaian angket pada Tabel 1 juga menunjukkan adanya perubahan kearah yang positif pada kemampuan peternak merakit inkubator dan membuat Probio_fm F3. Peternak tidak hanya mampu merakit inkubator dan memproduksi probio_fm, tetapi juga trampil memproduksi probio_fm dengan berbagai varian takaran bahan dalam 4 kali pengulangan percobaan. Keterampilan peternak juga ditunjukkan dari kemampuan menjelaskan cara membuat Probio_fm F3 kepada sesama peserta pelatihan. Perubahan keterampilan peternak ke arah yang positif ini ditunjjukkan oleh pernyataan setuju sampai dengan sangat setuju oleh 80% sampai 100% peternak pada indikator penilaian yang ditentukan. Hasil serupa juga terjadi di Kelompok Tani Nadi Lestari. Adanya kegiatan demontrasi pelatihan pembuatan probio_fm memberikan pengaruh pada perubahan keterampilan petermak dalam membuat Probio_fm F3. Keterampilan membuat probio_fm dimiliki oleh sebagian peternak saja, karena hanya 65% peternak 18

25 yang berhasil mempraktekkan membuat probio_fm dengan berbagai ukuran takaran bahan dalam berbagai percobaan (Astuti et al. 2018). Keterampilan peternak membuat Probio_fm F3 dengan berbagai takaran ukuran bahan dinilai sangat bermanfaat untuk peternak, misalnya produksi probio_fm dapat disesuaikan dengan ketersediaan biaya, jumlah bahan, maupun disesuaikan dengan kebutuhan. Jumlah peternak yang berhasil mempraktekkan proses produksi probio_fm dengan berbagai variasi takaran bahan di Kelompok Nadi Lestari jauh lebih banyak (80%) bila dibandingkan kelompok Nadi lestari (65%). Artinya Kelompok Saling Gumilang juga berpotensi untuk menerapkan teknologi probio_fm berkelanjutan, untuk mendukung kegiatan pengembangan ternak sapi. 19

26 Gambar 2. Foto kegiatan produksi Probio_fm F3 Tahapan evaluasi dan monitoring Evaluasi dan monitoring dilakukan selama dua bulan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui kegiatan tatap muka, maupun komunikasi melalui media sosial (whatsapp). Pelaksanaan kegiatan evaluasi dan monitoring juga melibatkan mahasiswa untuk membantu di lapangan. Tujuan utama kegiatan evaluasi dan monitorng adalah untuk memastikan keberlanjutan program, mengamati temuan di lapangan terkait dampak dan kendala. Hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan sebagai dasar membuat perbaikan pada tahap selanjutnya. Hasil penilaian angket pada Tabel. 1, menunjukkan adanya perubahan kearah positif pada pengalaman peternak menggunakan probio_fm. Jika sebelum peternak memiliki pengetahuan dan keterampilan membuat probio_fm hanya terdapat 15% peternak yang menggunakan probio_fm, saat ini dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki jumlah pengguna probio_fm di Kelompok Saling Gumilang mencapai 80%. Hasil evaluasi dan monitoring menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan probio_fm oleh anggota Kelompok Saling Gumilang sebagain beasar dilakukan melalui pemberian air minum dan hanya 25% persen peternak yang sudah menggunakan berkelanjutan untuk mengolah pakan silase pelepah sawit. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan beberapa dampak nyata yang dirasakan peternak adalah adanya perubahan anggota kelompok ternak, sebeleumnya membeli probio_fm dari Kelompok Tunas Baru saat ini sudah memproduksi sendiri dan tidak membeli lagi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap penurunan biaya produksi 20

27 pakan mencapai 68,3%. Perubahan perilaku tidak hanya terjadi pada perolehan Probio_fm F3 sebagai bahan dalam pengolahan pakan, keterampilan membuat probio_fm dan kepemilikan alat inkubator meningkatkan keaktifan anggota dalam kelompok tani. Hasil wawancara angket juga menemukan adanya kendala dalam proses produksi Probio_fm F3 di Kelompok Saling Gumilang. Bentuk kendala yang dirasakan peternak adalah, kendala penyaringan bahan yang terlalu halus sulit untuk dipisahkan dengan air rebusan. Jumlah kepemilikan ternak juga menjadi kendala menerapkan atau memproduksi probio_fm dalam jumlah besar. Pada peternak dengan jumlah kepemilikan ternak 1 sampai 2 ekor penggunaan probio_fm masih relatif sedikit, belum menjadi kebutuhan dan bersifat uji coba saja. Penyuluhan dan monitoring perlu terus dilakukan untuk mendampingi peternak dalam menerapkan teknologi probio_fm berkelanjutan, pada berbagai jumlah kepemilikan ternak. KESIMPULAN Pelaksanaan program pengabdian memberikan perubahan pada pengetahuan, sekaligus perilaku peternak dalam menerapkan teknologi probio_fm. Peternak anggota Kelompok Saling Gumilang trampil membuat Probio_fm F3. Peternak mampu mengatasi pencemaran bau di lingkungan kandang dengan menerapkan teknologi probio_fm berkelanjutan melalui aplikasi pakan berbasis probio_fm. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kemenristek Dikti yang telah memberi pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat melalui hibah program kemitraan masyarakat (PKM) tahun Kepada Universitas Bangka Belitung (UBB) yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti pendampingan penyusunan proposal pengabdian masyarakat tahun 2019, serta kepada Universitas Jambi (UNJA) atas dukungan pengiriman bahan dan tranfer teknologi yang diberikan. Kepada Dinas Pertanian Bangka Tengah atas izin dan dukungan menugaskan 21

28 penyuluh lapangan mendampingi pelaksanaan program. Serta Kepada kelompok tani saling gumilang atas kesediaan dan kerjasamanya menjadi mitra. DAFTAR PUSTAKA Astuti R.P. Yulia Pemberdayaan Kelompok Tani dalam Pembuatan Probio_Fm sebagai Bahan Fermentasi Pakan Ternak di Bangka Tengah. Jurnal ilmiah pengabdian kepada masyarakat agrokreatif.vol 5 (2): Astuti R.P., Manin F., Adriani, Bahtera N.I.,Adawiyah C.R The Agricultural Extension Services to Stock Farmers through Utilizing The Probio_Fm in Improving The Productivity of Beef Cattle in Central Bangka, Indonesia. Prociding WoMELA-GG 2019, January 26-28, Medan, Indonesia. DOI /eai Dewi NK Pendidikan Lingkungan Hidup bagi Masyarakat. Madiun (ID): IKIP PGRI Madiun. Fuller R Probiotic-What they are and what they do. [Internet]. [diunduh 2018 November 28]: Tersedia pada Hendalia E, Yusrizal, Manin F Pemanfaatan Berbagai Spesies Bakteri Bacillus dan Lactobacillus dalam Probiotik Untuk Mengatasi Polusi Lingkungan Kandang Unggas. Jurnal Penelitian Universitas Jambi. 12(3): Hendalia E, Manin F, Yusrizal, Nasution GM Aplikasi probiotik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan protein dan menurunkan emisi amonia pada ayam broiler. Agrinak. 1(2): Manin F, Hendalia E, Yatno, Kompiang IP Potensi Saluran Pencernaan Itik Lokal Kerinci Sebagai Sumber Probiotik dan Implikasinya Terhadap Produktivitas Ternak dan Penanggulangan kasus Salmonellosis. Laporan Penelitian Hibah Bersaing X Tahun Kedua. Jambi (ID): Universitas Jambi. Manin F, Hendalia E, Yusrizal, Yatno Penggunaan Simbiotik yang Berasal dari Bungkil Inti Sawit dan Bakteri Asam Laktat Terhadap Performans, Lingkungan dan Status Kesehatan Ayam Broiler. Laporan Penelitian Strategi. Manin F, Hendalia E, Yatno, Rahayu P Dampak Pemberian Probiotik Probio_FM Terhadap Status Kesehatan Ternak Itik Kerinci. Jurnal Ilmu Ternak. 1(2): Noor, M Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmiah CIVIS. 1 (2): Riza H, Wizna, Rizal Y, Yusrizal Peran Probiotik dalam Menurunkan Amonia Feses Unggas. Jurnal Peternakan Indonesia. 17(1): Yusrizal, Aziz A Identifikasi dan Pemanfaatan Kombinasi Berbagai Bakteri untuk menurunkan kadar amonia feses dan litter unggas. Laporan Penelitian Fundamental. Yusrizal, Manin F, Yatn, Noverdiman The use of probiotic and prebiotic (symbiotic) derived from palm kernel cake in reducing ammonia emission in the broiler house. Proc. The 1st Poult Int.Sem P : ISBN

29 Metode Cepat Perkecambahan Jernang Di Mandiangin, Provinsi Jambi Revis Asra 1a, Ade Octavia 2, Lisna 3 1 Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi. 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jambi 3 Program Studi Perikanan, Fakultas Peternakan, Universitas Jambi a Koperpondensi:revisasra@unja.ac.id ABSTRAK Salah satu hasil hutan non kayu yang memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Jambi adalah resin merah dari Rotan Jernang. Rotan Jernang tidak seperti Rotan pada umumnya, dimana yang dimanfaaatkan bukanlah batangnya melainkan resin merah yang dihasilkan dari permukaan buah Rotan. Rotan Jernang merupakan sumber penghasilan bagi masyarakat pedalaman di Jambi, seperti Suku Anak Dalam dan Talang Mamak serta masyarakat yang tinggal di pedesaan terutama di sekitar hutan. Pada umumnya masyarakat akan mencari buah Rotan Jernang ke hutan alam ketika musim buah Rotan Jernang telah tiba. Namun dengan berkurangnya luasan hutan alam karena konversi menjadi perkebunan, maka keberadaan Rotan Jernang di hutan alam juga menurun drastis. Budidaya Rotan Jernang oleh masyarakat sangat minim. Beberapa faktor penyebabnya adalah sulitnya mendapatkan buah tua dan lamanya perkecambahan biji Rotan tersebut (8-12 bulan). Oleh karena itu melalui Pengabdian Kepada Masyarakat dengan skim Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) telah melakukan pelatihan metode cepat perkecambahan Jernang di Mandiangin. Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode Participatory Rural Apraisal (PRA). Kegiatan PPPUD melibatkan Kelompok Tani Jernang Rimbo dan Jernang Lestari. Berdasarkan hasil pengabdian pelatihan budiaya Jernang melalui biji sudah berhasil dilakukan yang ditandai dengan berhasilnya anggota kelompok tani dalam mengecambahkan biji Jernang. Waktu yang dibutuhkan untuk tumbuhnya kecambah hanya 2 (dua) minggu, waktu jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional, karena menggunakan teknogi sederhana dengan memanfaatkan hormone pertumbuhan alami dan sintetis. Scarifikasi yang dilakukan juga sangat membantu untuk proses imbibisi, sehingga perkecambahan lebih cepat. Kata kunci: Rotan Jernang (Daemonorops spp.), perkecambahan, hormone alami dan sintetis, scarifikasi. 23

30 PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di kawasan khatulistiwa dengan keanekaragaman hayati yang melimpah di dunia. Sumber plasma nutfah yang dimiliki oleh Indonesia bersumber dari hutan. Salah satu manfaat hutan yang dapat diambil secara langsung adalah hasil hutan bukan kayu (HHBK), misalnya Rotan (Arecacea) (Jumiati et al., 2012; Schreer, 2016). Rotan merupakan jenis tanaman yang dapat ditemui hampir diseluruh wilayah Indonesia. Ada 314 jenis rotan yang dapat dikelompokkan kedalam 8 (delapan) genus. Hanya terdapat 62 jenis rotan di Indonesia yang dikomersialkan atau diperdagakan, misalnya spesies-spesies dari genus Daemonorops (Jasni et al., 2017; Rachamn and Jasni, 2013). Rotan Jernang (Daemonorops) adalah salah satu hasil hutan bukan kayu yang memiliki potensi tinggi menjadi produk unggulan Provinsi Jambi. Penelitian dari Asra et al. (2014) yang menyatakan bahwa keanekaragaman genetik dari Jernang yang berada dikawasan hutan konservasi ataupun hutan sekunder di Provinsi Jambi dan Provinsi Riau. Hasil tertinggi berada di hutan sekunder Sepintun, Kabupaten Sorolangun, Jambi. Resin Jernang (dragon s blood) merupakan getah termahal di dunia dan sangat dicari oleh dunia farmasi. Hal ini disebabkan karena resin Jernang mengandung senyawa yang memiliki aktivitas farmakologis (antimikroba, antitumor, antivirus, antisitotoksi, anifungal) dan aktivitas biologi (Gupta et al., 2008; Waluyo dan Pasaribu, 2015). Resin Jernang juga dimanfaatkan dalam indusutri bahan baku pewarna keramik, mamer, kayu, alat kert dan dalam pembuatan kosmetik (Gafar, 2010). Akibat banyaknya kebutuhan resin Jernang dalam berbagai industri menyebabkan harganya selalu mengalami kenaikan. Saat ini pada tingkat petani harga resin Jernang per kilogramnya dapat mencapai Rp. 5 juta, sedangkan buah segar dijual dengan harga Rp ribu rupiah/kilogram (Ridwhan et al., 2018). Inilah yang menyebabkan Jernang menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarkat pedalaman Jambi seperti Suku Anak Dalam dan Talang Mamak serta masyarakat yang tinggal di pedesaan terutama di sekitar hutan. Pada umumnya masyarakat akan mencari buah Rotan Jernang ke hutan alam ketika musim berbuah Rotan Jernang telah tiba. Akan tetapi saat ini menurut Widiyaningsih et al. (2019) kawasan hutan dibanyak negara yang sedang 24

31 berkembang seperti Indonesia mengalami penyusutan dan penuruan kualitas, salah satunya mengarah ke penurunan HHBK seperti Jernang. Berkurangnya luasan hutan alam, karena konversi menjadi perkebunan menyebabkan keberadaan Rotan Jernang di hutan alam juga menurun drastis ditambah dengan upaya budidaya Rotan Jernang oleh masyarakat sangat minim. Faktor penyebab minimnya upaya budidaya salah satunya karena sulitnya mendapatkan buah tua dan lamanya perkecambahan biji Rotan (8-12 bulan). Sulasmi et al. (2012) menyatakan bahwa penyebab menurunnya dan langkanya produksi getah Jernang karena semakin ekspansifnya pengembangan perkebunan disamping tidak optimalnya sistem regenerasi alami dan pola pemanenan dengan cara menebang pohon Jernang tersebut. Sementara menurut Asra et al. (2014), resin Jernang adalah sumber penghasilan bagai masyarakat di Mandiangain ketika musim berbuah Jernang tiba. Mereka akan mencari buah Jernang di hutan sekunder disekitar lingkungan mereka. Desa Liam Lestari dan Desa Mandiangan pasar merupakan desa yang terletak di Kecamatan Mandingan, Kabupaten Sorolangun, Provinsi Jambi. Awalnya masyarakat disana sebagian besar memiliki mata pencarian sebagai petani karet. Harga karet yang sangat fluktuatif menyebabkan kehidupan petani karet masih jauh dari sejahtera. Saat musim hujan tiba, petani karet tidak dapat memanen karetnya dan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari biasanya mereka akan berhutang pada toke karet dan baru akan membayar hutangnya kalau mereka sudah bisa memanen karetnya kembali. Hal tersebutlah yang menyebabkan masyarakat tersebut akhirnya berprofesi sebagai pencari getah Jernang di hutan alam karena harganya lebih menjanjikan. Hasil wawancara dengan masyarakat masyarakat Desa Liam Lestarari dan Desa Mandiangin, Jambi diperoleh informasi bahwa keberadaan Jernang dihutan alam semakin hari semakin sedikit, kalaupun ada jarak tempuh untuk pengambilan Jernang semakin jauh dari desa mereka dan hasil yang didapatpun sedikit. Hutan alam di daerah tersebut telah banyak berubah menjadi lahan perkebunan karet dan kelapa sawit. Tiap tahun luas hutan terus berkurang sehingga berdampak terhadap hasil yang diperoleh. Upaya untuk membudidayakan Jernang (regenerasi) oleh masyarakat tersebut masih sangat mimim, sehingga muncul eksploitasi yang berlebih dan mengancam kelestarian populasi Jernang di hutan alam sebab bersifat open acces dan berlaku hukum rimba, 25

32 siapa cepat dia dapat. Pola pemanenan yang dilakukan juga tidak lestari, dimana para pencari Jernang selalu memanen buah Jernang yang masih muda, karena getah Jernang lebih banyak diperoleh pada buah yang masih muda. Hal ini menyebabkan kesempatan buah menjadi tua untuk bergenerasi menghasilkan bibit menjadi tidak ada. Ini merupakan faktor utama yang menyebabkan produksi Jernang di Jambi menurun drastis. Hal ini mengakibatkan Jernang masuk dalam kategori langka (Balai Informasi Kehutanan Provinsi Jambi, 2009). Baru-baru ini, Jernang termasuk di antara 22 spesies yang terdaftar sebagai tanaman berpotensi terancam (Adiwibowo et al. 2012). Desa Liam Lestari dan Desa Mandiangan pasar merupakan desa yang memiliki 3 (tiga) rumpun Jernang yang diintegrasi dengan kebun karet di desa ini. Buah dari pohon induk Jernang tersebut dapat dimanfaatka sebagai bibit dalam pembudidayaan oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, kedua desa tersebut juga memiliki akses yang mudah kelokasi penjualan biji Jernang berkualitas baik yang cocok digunakan sebagai sumber bibit. Namun masyarakat disana masih konvensional dan masih membutuhkan waktu yang lama dalam mengecambahkan Jernang yakni 8 bulan hingga 12 bulan. Oleh karena itu dilakukan upaya untuk membudidayakan Jernang dengan memberikan penyuluhan metode perkecambahan yang cepat dengan teknologi sederhana menggunakan hormon alami dan sintesis melalu skim Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD). METODE PENERAPAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini telah dilaksanakan di Desa Mendiangin Pasar dan di Desa Liam Lestari, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, bersama Kelompok Tani Jernang Rimbo (Desa Mandiangin Pasar) dan Kelompok Tani Lestari (Desa Liam Lestari). Pemilihan lokasi ini didasarkan karena sebagian besar masyarakat ini merupakan petani karet dan di daerah ini memiliki sumber plasma nutfah Rotan Jernang yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai tanaman budidaya. Metode pengabdian yang digunakan adalah PRA (Participatory Rural Apraisa), yaitu metode pendidikan pada masyarakat. 26

33 Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dengan metode penyuluhan, pelatihan, demonstrasi di lapangan serta aplikasi langsung melalui percontohan dengan melibatkan kelompok tani sebagai pengelola. Langkah pertama dalam kegiatan ini adalah sosialisasi yang dilakukan pada Kelompok Tani Jernang Lestari dan Tani Jernang Rimbo terkait teknologi sederhana mempercepat perkecambahan Jernang dengan menggunakan hormon alami dan sintetis. HASIL KEGIATAN PENGABDIAN Target luaran yang diharapkan dalam pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat dalam skim PPPUD (Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah) di Mandiangin, Provinsi Jambi, adalah untuk meningkatkan minat masyarakat yang berprofesi sebagai petani karet di Mandiangin dalam budidaya Jernang dengan teknologi sederhana menggunakan hormon alami dan sintetis. Guna mendapatkan buah Jernang tua sebagai sumber bibit dalam budidaya maka dilakukan perlindungan pohon induk Jernang dengan cara pemagaran menggunakan kayu besi/kayu bulian bertujuan supaya pagar yang dibuat bisa tahan lama. Sosialisasi Kegiatan PPPUD Sosialisasi terkait kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat PPPUD (Program Pembangungan Produk Unggulan Daerah) bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat khususnya Kelompok Tani Jernang Rimbo dan Jernang Lestari bahwa ada metode cepat yang dapat digunakan dalam mengecambahkan biji Jernang untuk budidaya Jernang di desa tersebut. Masyarakat juga diberi penjelasan terkait pentingnya budidaya Jernang, salah satunya mereka tidak perlu lagi mencari Jernang di hutan alam yang lokasinya jauh dan jumlah yang didapatpun tidak banyak serta mengeluarkan biaya yang cukup besar. Semakin menurunnya produksi Jernang di Jambi diperoleh informasi dari anggota kelompok tani. Hal yang sama juga dikemukan oleh Yetty et al. (2013), sejak zaman dahulu Rotan Jernang merupakan salah satu komoditas yang diperdagangkan, akan tetapi saat ini tingkat produktifitasnya sedang mengalami penurunan. Hal tersebut ditunjukkan pada tahun 1960an, setiap pengekstrak Jernang dapat menghasilkan getah 27

34 Jernang setiap musim berbuah sebanyak kg, sedangkan saat ini hanya dapat menghasilkan sebanyak 5-15 kg. Demikian juga jumlah populasi Jernang menjadi semakin berkurang akibat kerusakan habitatnya. Budidaya Jernang merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan. Nasution (2018) juga menyatakan bahwa keberadaan dari Rotan Jernang dihutan alam semakin langka. Selain itu para pemburu Jernang saat ini juga sulit untuk mendapatkannya (mereka harus berjalan sejauh 5 km- 10 km) dan hasil yang didapatkan biasanya tidak banyak. Kegiatan sosialisasi ini untuk menumbuhkan kesadaran dan kemauan petani karet untuk melakukan budidaya Jernang dan selanjutnya bibit akan diintegrasikan di kebun karet mereka. Hasil sosialisasi dapat dianggap berhasil dengan banyaknya pertanyaan dan antusias dari anggota kelompok tani. Pelatihan Mengecambahkan Jernang Perkecambahan Jernang secara alami (konvensional) yang biasa dilakukan oleh anggota kelompok tani membutuhkan waktu 8 bulan hingga 12 bulan. Lamanya perkecambahan tersebut menyebabkan masyarakat tidak tertarik untuk melakukan budidaya, masyarakat justru lebih tertarik untuk mengambil buah Jernang secara langsung dihutan dan kemudain menjualnya. Oleh karena itu pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat PPPUD, kelompok tani dilatih untuk mengecambahkan Jernang dengan metode pemanfaatan hormon alami dan sintetis. Pelatihan perkecambahan ini dilakukan sebanyak 2 (dua) kali, sampai masyarakat berhasil melakukannya sendiri (Gambar 1). A B Gambar 1. Pelatihan metode cepat dalam mengecambahkan biji Jernang dengan metode cepat dalam mengecambahkan biji (A); yang kedua kalinya (B). 28

35 Metode yang pertama kali diajarkan dalam pelatihan tersebut adalah teknik dalam mencari buah Jernang yang dapat digunakan sebagai bibit. Buah yang dicari berasal dari pohon induk yang berada di desa tersebut. Buah yang diambil haruslah buah yang telah tua/masak. Pengambilan buah dilakukan dengan cara memanjat pohon bukan dengan cara menebang. Ada beberapa masyarakat yang telah menerapkan hukum adat berupa denda bagi para penjernang yang mengambil buah dengan cara menebang pohon secara langsung seperti pada suku Batin Sembilan dan Suku Talang Mamak (Asra, et al. 2012). Pemanenen buah yang telah masak biasanya dilakukan pada saat tanaman Jernang yang berusia 6-7 tahun. Biji yang dipergunakan merupakan biji yang benarbenar masak dan sehat. Cirinya adalah mengkilap, berwarna coklat tua serta tidak terserang hama/penyakit. Gambar 2. Pemanenan buah Jernang tua yang dimanfaatkan untuk perkecambahan Setelah diperoleh buah yang sesuai dengan kriteria, biji dipisahkan dari kulit buah, daging buah serta kotoran yang terdapat pada buah tersebut. Kulit biji kemudian dikupas dan dicuci hingga bersih dengan menggunakan air hingga bersih. Selanjutnya biji yang sudah bersih disimpan di tempat kering dan teduh selama ±5 menit lalu biji diberikan hormon. Hormon yang digunakan berupa hormon alami (air kelapa muda) dan sintetis (atonik). Telah lama masyarakat mengenal air kelapa sebagai zat pengatur pertumbuhan. Air kelapa mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin (vitamin C dan B Kompleks), beberapa jenis hormon (auksin, sitokinin dan giberelin), Ca dan P (Purdyaningsih, 2013). Menurut Azwar (2008), air kelapa juga memiliki 29

36 manfaat dalam meningkatkan pertumbuhan suatu tanaman. Hormon yang terdapat didalam air kelapa juga dapat memecahkan masa istirahat (masa dormansi) dari suatu biji dan menumbuhkan tunas beberapa tumbuhan. Selain banyaknya kandungan yang mampu mendorong perkecambahan pada Jernang, di lokasi pengabdian tanaman kelapa merupakan tanaman yang mudah didapatkan dan harga jualnya tidak terlalu mahal sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mengecambahkan Jernang. Atonik merupakan hormon sintetis yang dapat dengan mudah ditemukan di toko pertanian dengan harga terjangkau yakni Rp /100 ml (botol berukuran kecil). Hormon ini juga mudah ditemukan di toko pertanian di pasar Mandiangin. Bahan-bahan yang terkandung didalam atonik diantaranya bahan aktif natrium, senyawa fenol yang berfungsi sebagai karier metabolit dalam proses metabolisme dan ion Na+ yang mampu menggantikan fungsi dari ion K+. Komponen aktif utama yang menyusun atonik terdiri dari natrium 5 nitroguaicol (C 7 H 6 NO 4 Na), natrium ortonitrofenol (C 6 H 4 NO 3 Na), natrium para-nitrofenol (C 6 H 4 NO 3 Na) dan natrium 2,4 dinitrofenol (C 6 H 3 N 2 O 5 Na) (Afandhie dan Yuwono, 2007). Komponen aktif tersebutlah yang mampu mendorong Jernang berkecambah lebih cepat. Larutan hormon alami dibuat dalam konsentrasi 75% dan hormon sintesis dibuat dalam konsentrasi 1%. Sebelumnnya penulis terlebih telah mencoba membuat beberapa konsentrasi dan waktu perendaman yang dilakukan di laboratorium guna mendapatkan konsentrasi terbaik untuk diajarkan ke masyarakat Mandiangin. Biji Jernang kemudian direndam dalam larutan hormon tersebut selama 36 jam, diganti setiap 12 jam sekali untuk hormon alami (air kelapa). (A) (B) Gambar 3. Biji Jernang yang direndam larutan Hormon Alami (A) dan Sintesis (B) 30

37 Perendaman ini merupakan metode sklarifikasi yang dapat membantu imbibisi dari biji Jernang sehingga perkecambahan berjalan cepat. Setelah dilakukan perendaman dengan meggunakan hormon, biji kemudan dibilas dengan air dan direndam dalam larutan fungisida selama 5 menit mencegah agar biji tidak terserang jamur. Cara perkecambahan yang diajarkan ialah perkecambahan pada tempat kedap udara. Agustin (2011), wadah kedap udara yang digunakan pada saat perkecambahan dapat mempengaruhi sirkulasi dari oksigen. Selama proses respirasi, oksigen menjadi sangat terbatas akibatnya aktivitas metabolisme dibutuhkan lebih awal untuk proses perkecambahan. Rahayu dan Widajati (2007) juga menyatakan bahwa oksigen yang terbatas pada benih menyebabkan proses metabolisme sangat diperlukan untuk proses perkecambahan sehingga proses perkecambahan akan menjadi lebih awal. Akibatnya kelompok tani dan masyarakat Mandiangin tidak perlu melakukan penyiraman setiap harinya, sehingga cara mengecambahkan ini lebih efektif dan efesien. Kelebihan dari metode perkecambahan yang diajarkan kepada kelompok tani diantaranya perkecambahan menjadi lebih cepat hanya memerlukan waktu paling lama 7 hari. Metode perkecambahan ini berhasil meningkatkan viabilitas dan vigoritas dari biji yang dipergunakan sebagai bibit. Penggunaan hormon alami (air kelapa) mampu meningkakan potensi tumbuh biji hingga 75%, laju perkecambahan 84,25% dan daya berkecambah 91,67%, kerserampakan tumbuh dan indeks vigor 91,67% sedangkan penggunaan hormon sintetis (atonik) mampu meningkatkan poensi tumbuh biji hingga 75%, laju perkecambahan 89,25% dan daya berkecambah 91,67%, kerserampakan tumbuh dan indeks vigor 91,67%. Selain itu metode ini juga dapat mampu mendorong pertumbuhan radikula dan plumula yang lebih cepat dan lebih panjang. Beberapa bulan setelah dilakukannya pelatihan perkecambahan tersebut, Ketua Kelompok Tani yakni Bapak Herlandes Gros menginformasikan bahwa banyak masyarakat mandiangin yang sudah sadar untuk melakukan budidaya Jernang tersebut. Selain itu, masyarakat yang tidak tergabung kedalam kelompok tani Jernang Rimbo dan Kelompok Tani Jernang Lestari turut serta mendatangi ketua kelompok tani tersebut untuk belajar cara mengecambahkan Jernang dengan cepat. Selain itu, masyarakat yang menemukan biji Jernang tua dihutan akan langsung melakukan perkecambahan sendiri dengan metode yang telah diajarkan. 31

38 Gambar 4. Kecambah Jernang yang dihasilkan dari pelatihan Saat ini Ketua Kelompok Tani Jernang di Desa Liam Lestari sudah menjadi instruktur bagi masyarakat Mandiangin untuk belajar cara mengecambahkan Jernang. Ketua Kelompok Tani sudah memiliki keahlian dalam melakukan perkecambahan Jernang dan ketika mendapatkan biji tua, beliau langsung melakukan perkecambahan Jernang setelah kecambah menghasilkan akar, baru ditanam ke polybag. Gambar 5. Biji Jernang yang dikecambahkan oleh Ketua kelompok tani Metode yang diajarkan melalui pelatihan tersebut kemudain dituangkan dalam brosur yang dibagikan kepada masyarakat. Pemberian brosur ini bertujuan agar kelompok tani yang telah diberikan pelatihan tidak lupa tentang metode yang diajarkan. Gambar 6. Brosur yang dibagikan ke masyarakat Mandiangin 32

39 Kecambah yang dipindahkan kedalam polybag adalah kecambah yang telah memiliki akar. Kecambah yang memiliki akar tersebut diyakini dapat tumbuh pada media tanam yang dipergunakan dan dapat dikembangkan menjadi bibit. Gambar 7. Bibit Jernang hasil perkecambahan Gambar 7: Bibit hasil pengecambahkan Jernang KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengabdian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa sosialisasi dan pelatihan tentang budidaya Jernang di Mandiangin dengan memanfaatkan hormon alami beruapa air kelapa dan hormon sintesis beruapa atonik mendapat respon positif dari anggota kelompok tani, hal ini dapat dilihat dari antusiasme anggota kelompok tani mengikuti rangkaian pelatihan dari awal hingga akhir berjalan lancar serta masyarakat di luar kelompok tani juga ikut memotivasi untuk melakukan budidaya Jernang dengan menggunakan metode yang telah diajarkan. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih tidak terhingga kami sampaikan kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sesuai dengan Perjanjian Pendanaan Pelaksanaan Program Pengabdian Kepada Masyarakat Nomor: 013/SP2H/PPM/DRPM/

40 DAFTAR PUSTAKA Adiwibowo A, Is S, Nisyawati The relationships of forest biodiversity and rattan Jernang (Daemonorops draco) sustainable harvesting by Anak Dalam tribe in Jambi, Sumatra. Biodiversitas. 13(1): Afandhie, R dan N.W. Yuwono Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Agustin, W Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh BAP (6-Benzi Amino Purine) terhadap Perkecambahan Biji Kapas (Gossypium hirsutum L.). Skripsi. Malang: Universitas Islam Negri (UIN) Malang. Asra, R., Syamsuardi, Mansyurdin dan J. R. Witono Rasio Seks Jernang (Daemonorops draco (Wild.) Blume) pada Populasi Alami da Budidaya : Implikasi untuk Produksi Biji. Buletin Kebun Raya. 15(1): 1-9. Asra, R. Syamsuardi, Mansyurdin, Joko Ridho Witono Genetic Diversity of the Dragon s Blood Rattan Daemonorops draco (Palmae) Using ISSR Markers, BIODIVERSITAS Journal of Biological Diversity, Volume 15, Number 2 Azwar Air Kelapa Pemacu Pertumbuhan Anggrek. Diakses tanggal 14 September Balai Informasi Kehutanan Provinsi Jambi (diakses tanggal 2 Januari 2009) Gupta, D.; B. Bleakley And R. K. Gupta Dragon's Blood : Botany, Chemestry And Therapeuticuses. Journal of Ethnopharmacology. 115(3) : Nasution, N.R Potensi dan Pemanfaatan Tanaman Jernang (Daemonorops didymophylla Becc.) di Kawasan Taman Nasional Batang Gadis.Skripsi. Sumatera Utara: Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Purdyaningsih, E Kajian Pengaruh Pemberian Air Kelapa dan Urine Sapi Terhadap Pertumbuhan Stek Nilam. Balai besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Rahayu, E. dan E. Widajati Pengaruh Kemasan, Kondisi Ruang Simpan dan Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Caisin (Brassica hinensis L.). Sulasmi, I. S., Purwanto, Y., dan Fatimah, S Rattan Jernang (Daemonorops draco) management by Anak Dalam Tribe in Jebak Batanghari, Jambi Province. Biodiversitas, 13(3), p Waluyo, T. K., dan G. Pasaribu Aktivitas Antijamur, Antibakteri dan Penyembuhan Luka Ekstrak Resin Jernang. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 33(4): Widianingsih, N.N., Schmidt, L. H., and Theilade, I Jernang (Daemonorops spp.) Commercalization and its role for Rural Incomes and Livelihoods in Southern Sumatra, Indonesia. Forests, Trees and Livelihoods. 28 (3) : Yetty., B. Hariyadi dan P. Murni Studi Etnobotani Jernang (Daemonorops spp.) pada Masyarakat Desa Lamban Sigatal dan Sepintun Kecamatan Pauh Kabupaten Sorolangun Jambi. Jurnal Biospcies. 6(1):

41 Penerapan Sistem Integrasi Ternak Sapi dengan Tanaman Padi Murnita a), Nitta Yessirita dan Yonny Arita Taher Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti Padang a ) Korespondensi: murnita12@gmail.com ABSTRAK Penerapan Sistem integrasi tanaman padi sawah dengan ternak sapi pada Kelompok Tani Bina Karya, Nagari Koto Hilalang Kecamatan Kubung Kabupaten Solok belum terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dilakukan dengan tujuan untuk: (1) meningkatkan motivasi petani membuat pupuk organik dan pakan ternak dari amoniasi jerami padi; (2) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang pembuatan pupuk organik dan pakan ternak serta; (3) meningkatkan penggunaan pupuk organik dari kotoran sapi untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik pada tanaman padi. Tujuan tersebut dicapai dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa PKM berlangsung dengan baik. Mitra memiliki motivasi yang tinggi untuk melanjutkan pembuatan pupuk organik dan pakan ternak. Terlihat dari kegiatan pembuatan pupuk organik dan pakan ternak yang dilakukan kembali oleh kelompok tani. Kegiatan PKM telah dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan sehingga pengetahuan dan keterampilan petani dalam pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak dan jerami padi serta pakan ternak dari amoniasi jerami padi meningkat. Penggunaan pupuk organik saja menghasilkan produksi padi yang rendah (6,08-6,20 ton/ha) tetapi dengan pemberian pupuk organik dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik. Sedangkan pemberian (pupuk anorganik 50% + organik 50%) dapat meningkatkan hasil tanaman padi sebesar 25% (8,34 ton/ha) dan dengan penambahan pupuk organik cair lebih meningkatkan produksi padi yaitu sebanyak 27% (8,6 ton/ha) dibandingkan tanpa menambahkan pupuk organik. Kata Kunci: integrasi, sapi, padi sawah, pupuk organik, pakan ternak PENDAHULUAN Kelompok Tani Bina Karya didirikan pada tahun 2003, dengan jumlah anggota 20 orang. Umumnya mata pencaharian dari anggota kelompok tani adalah petani sawah, petani kebun coklat, petani kebun karet dan peternak sapi. Luas sawah garapan sekitar 10 ha, tanaman sayur-sayuran sekitar 5 ha (cabe, bawang merah), luas tanaman kakao sekitar 15 ha dan perkebunan karet 30 ha. Kelompok memiliki 11 ekor sapi yang 35

42 dipelihara pada satu tempat oleh kelompok tani dan diusahakan di kandang individu milik warga sebanyak 20 ekor. Dengan demikian jumlah keseluruhan sapi yang terdapat di Jorong Dalam Nagari ada 31 ekor. Kelompok Tani ini, untuk proses pematangan kotoran padat ternak sapi (feses) dengan cara pembakaran, sehingga kualitas unsur hara pupuk organik berkurang. Belum ada upaya dari masyarakat untuk mengolah limbah sapi yang cair (urine). Padahal limbah peternakan baik feses atau urine dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik sehingga mampu mensubstitusi pupuk anorganik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Budiyanto (2011) bahwa satu ekor sapi setiap harinya menghasilkan kotoran berkisar 8-10 kg per hari atau 2,6-3,6 ton per tahun atau setara dengan 1,5-2 ton pupuk organik sehingga akan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan mempercepat proses perbaikan lahan. Selanjutnya Ustriyana (2011) menyatakan bahwa pengelolaan limbah peternakan dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bila dikelola dengan baik. Jorong Dalam Nagari, Nagari Koto Hilalang Kecamatan Kubung sebagai daerah persawahan memiliki ketersediaan jerami padi yang sangat berlimpah. Produksi jerami padi mencapai 8,4-15 ton per hektar per panen, bervariasi tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman padi yang digunakan. Jerami padi di lokasi pengabdian, dapat panen 2 kali setahun sehingga jerami yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan sapi dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun atau dapat menunjang kebutuhan pakan berserat untuk 4-6 ekor per ha sawah. Dengan luas areal sawah yang dimiliki kelompok tani mencapai 10 Ha, secara matematis walau hanya mengandalkan jerami sebagai sumber pakan ternak, seharusnya dapat dipelihara ternak sapi lebih kurang 60 ekor. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Marjuki (2013), untuk mengatasi kendala dan meningkatkan potensinya sebagai pakan ternak, maka limbah pertanian harus diolah atau diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak. Salah satu perlakuan yang mudah diaplikasikan dan berpengaruh baik terhadap peningkatan kualitas limbah pertanian adalah perlakuan urea amoniasi. Jerami padi dibakar selama ini oleh kelompok tani, apabila diolah menjadi kompos akan menjadi alternatif pengurangan penggunaan pupuk anorganik dan ramah lingkungan. Wiwaha (2013), pupuk organik dapat diperoleh dengan memanfaatkan limbah padi sawah yaitu jerami padi yang biasanya hanya dibakar di areal persawahan 36

43 sehingga menimbulkan polusi udara yang dapat membahayakan lingkungan. Pupuk organik yang berasal dari jerami padi yang telah dikomposkan memiliki potensi hara yang sangat tinggi dengan komposisi: rasio C/N =18,88, C= 35,11, N= 1,86%, P 2 O 5 = 0,21%, K 2 O 5,35% dan air= 55%.. Hal ini berarti bahwa kompos jerami padi per ton memiliki kandungan hara setara dengan 41,3kg urea, 5,8 kg SP36, dan 89,17kg KCl atau total 136,27 kg NPK. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan ketua dan anggota pada Kelompok Tani Bina Karya, umumnya masyarakat masih mengeluhkan rendahnya pendapatan petani karena rendahnya produktivitas dan tidak efisiennya penggunaan sumber daya yang mereka miliki. Beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi meliputi: 1. Belum efisiennya pemanfaatan jerami untuk pakan ternak dan kompos. Jerami padi yang dihasilkan dari pertanaman padi baru sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak karena pemberiannya dalam bentuk segar. Sebagian besar lainnya dibakar petani untuk memudahkan pengolahan tanah berikutnya. Sementara menyabit rumput menyita waktu petani sekitar 2-3 jam/hari/ekor sepulang dari sawah/ladang, ini menyebabkan terbatasnya jumlah ternak yang mampu dipelihara oleh setiap petani. 2. Masih dilakukan pembakaran feses ternak untuk proses pematangan pupuk dan belum dimanfaatkan urine untuk dijadikan pupuk. Feses ternak sapi biasanya langsung menjualnya kepada petani yang ada di sekitar Kabupaten Solok, dengan terlebih dahulu dilakukan pematangan dengan pembakaran, sehingga pupuk organiknya kurang berkualitas. Padahal feses maupun urine diolah dengan teknologi yang tepat akan memiliki kualitas yang baik serta nilai jual yang tinggi. 3. Harga pupuk anorganik yang semakin mahal. Harga pupuk urea non subsidi mencapai Rp ,- /50 kg. Sementara pupuk urea bersubsudi susah diperoleh. Petani yang terlibat pada kelompok tani dapat memperoleh pupuk bersubsidi tetapi terbatas jumlahnya yaitu 1 sak (50 kg), padahal petani memerlukan pupuk urea kg/ha. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dapat mengakibatkan tidak efisiensinya pemupukan tersebut, rusaknya struktur tanah, rendahnya mikrobiologi tanah dan ketidakseimbangan unsur hara di dalam tanah. Penggunaan 37

44 pupuk cair dapat mengantisipasi ketidakseimbangan unsur hara tanah, sehingga tanaman memperoleh unsur hara yang cukup dan berimbang. 4. Sumberdaya manusia masih rendah. Sumberdaya manusia rendah, terutama untuk mengelola kotoran ternak sapi dan jerami padi menjadi pupuk organik dan pakan ternak. Dalam hal ini terutama wawasan dan pengetahuan dalam mengope-rasikan teknologinya membutuhkan pelatihan secara cukup. Solusi terbaik yang dapat dilakukan adalah Penerapan Sistem Integrasi Ternak Sapi dengan Tanaman Padi. Limbah dari sawah (jerami) merupakan sumber pakan untuk ternak, limbah ternak (feses dan urine) dijadikan pupuk organik merupakan sumber unsur hara yang sangat baik bagi pertumbuhan padi sawah. Tujuan dari kegiatan PKM yaitu untuk: a) meningkatkan motivasi petani tentang pembuatan pupuk organik dan pakan ternak; b) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang pembuatan pupuk organik dan pakan ternak serta; c) aplikasi pupuk organik dari kotoran sapi untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik pada tanaman padi. Metode Pelaksanaan Waktu dan Tempat Lama waktu pelaksanaan kegiatan PKM di kelompok tani sekitar 5 (lima) bulan (Bulan April 2019 sampai Agustus 2019). Tempat PKM dilaksanakan di Kelompok Tani Bina Karya yang terletak di Jorong Dalam Nagari, Nagari Koto Hilalang Kecamatan Kubung Kabupaten Solok. Solusi Solusi (Gambar. 1) yang akan diberikan dibidang produksi, berupa introduksi Ipteks yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu: a. Memanfaatkan limbah jerami padi untuk pupuk organik dan pakan ternak b. Memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk pupuk organik c. Pembuatan demplot ternak sapi dengan memberikan pakan ternak berupa amoniasi jerami padi. d. Pembuatan demplot budidaya tanaman padi dengan memanfaatkan kombinasi pupuk organik (feses dan urine sapi) dengan pupuk anorganik. 38

45 Permasalahan manajemen tentang pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk dan meningkatkan kesadaran mintra tentang memanfaatkan pupuk organik ada beberapa solusinya yaitu: 1. Mitra diberikan motivasi untuk memanfaatkan jerami di lingkungan mereka untuk dijadikan makanan ternak dan pupuk organik yang digunakan untuk tanaman padi, palawija dan tanaman hortikultura serta perkebunan. 2. Mitra diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kelebihan dan kekurangan serta manfaat pupuk organik. Bahan dan alat Untuk terlaksananya kegiatan PKM diperlukan bahan-bahan sebagai berikut: atap kayu ukuran : 6 x 12 x 4 cm; 5 x 10 x 4 cm, 4 x 6 x 4 cm, dan 5 x 7 x 4 cm, paku, semen, pasir, parabung, dedak halus, EM4, gula merah, terasi, benih padi, urea, NPK phonska. Alat yang digunakan adalah: cangkul, parang, penggaru, masker, sepatu boot, sarung tangan, ember plastik, karung plastik, terpal, dan hand sprayer. Metode Pelaksanaan PKM dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Sosialisasi dan pemahaman kegiatan PKM Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang teknologi yang akan diterapkan diterapkan pada PKM agar seluruh anggota kelompok tani tidak salah paham dari kegiatan ini dan tertarik untuk melaksanakannya. 39

46 Gambar 1. Solusi yang ditawarkan di bidang produksi 2. Pembuatan pondok pupuk organik/ fermentasi Kegiatan ini dilakukan secara bergotong royong oleh kelompok tani. Tempat ini dibangun agar mempermudah dan melindungi bahan baku pembuatan pupuk organik dan tempat ketika proses fermentasi pupuk organik dan pakan ternak. 3. Demonstrasi pembuatan pupuk organik Pembuatan pupuk organik yang dilakukan dengan sumber bahan organik berasal dari feses dan urine sapi serta jerami padi. Pada tahap ini melibatkan kelompok tani secara langsung dalam pembuatan pupuk organik sehingga memperdalam pemahaman petani tentang cara pembuatan pupuk organik yang dibimbing oleh narasumber dari Tim PKM. Sebelum pelaksanaan telah dipersiapkan alat dan bahan. Kelompok tani menyediakan kotoran ternak, jerami padi dan dedak, bahan lainnya disediakan melalui dana PKM. Kegiatan yang dilakukan antara lain: menyiapkan bahan, mencampurkan bioaktifator dengan bahan, menyusun tumpukan bahan dan menutup dengan terpal/menutup derigen untuk pembuatan pupuk cair, selanjutnya memaksimalkan proses fermentasi. 40

47 4. Demonstrasi pembuatan pakan ternak Teknik yang digunakan dalam demonstasi jerami padi untuk makanan ternak yaitu teknik amoniasi. Bahan dan alat yang dipakai adalah: 100 kg jerami padi kering udara, 3-4 kg Urea (3-4% dari bahan), lembaran plastik sebagai alas, dan timbangan. Cara membuatnya: jerami ditimbang dan dicincang dan ditaburi dengan cairan urea secara merata, dimasukkan ke dalam kantong plastik. Selanjutnya ikat kantong plastik dengan rapat agar tidak ada udara yang masuk/anerob dan simpan di tempat yang teduh dan tidak kena hujan/air selama satu bulan. Kelompok tani menyediakan jerami, sedangkan bahan lainnya disediakan melalui dana PKM. Pembuatan pakan ternak dilakukan oleh anggota kelompok tani dengan dibimbing oleh anggota Tim PKM. 5. Demplot pemeliharaan ternak sapi Demplot pemeliharaan ternak sapi, dipelihara sapi sebanyak 6 ekor. Amoniasi jerami padi diberikan cukup 2 kali sehari dengan dosis sesuai dengan umur sapi. Untuk umur sapi 1-2 tahun diberikan jerami 5 kg/ekor, umur sapi 3 tahun diberikan 8 kg/ekor, dan umur sapi 4 atau lebih diberikan 9 kg/ekor. Untuk melengkapi kandungan gizi pakan sapi penggemukan dilakukan pemberian pakan konsentrat sebanyak 1 % dari berat badan. Formula ransum pakan konsentrat dapat disesuaikan dengan bahan yang ada ditempat yaitu: 50% dedak, 22% jagung halus dan 18% bungkil kelapa, 5% tepung Ikan, 4% mineral dan 1% garam. Sapi diperiksa kesehatannya secara berkala berdasarkan gejala klinisnya sekali sebulan oleh anggota Tim PKM. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan ektoparasit dan endoparasit. Pengobatan diberikan berdasarkan kebutuhan. Biaya pembelian obatobatan berasal dari dana PKM. Peran serta kelompok tani yakni melakukan pemberian obat-obatan sesuai petunjuk dari anggota Tim PKM. 6. Demplot tanaman padi Pembuatan demplot tanaman padi dengan kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemberian pupuk organik berupa pupuk padat dan cair yang diberikan pada tanaman padi. Pemberian 50% NPK (200 kg/ha Urea kg/ha NPK Ponska) dan 50% pupuk padat dari kotoran sapi. Takaran pupuk organik padat dari kotoran sapi 5 41

48 ton/ha. Pupuk cair dari urine sapi 1: 15 disemprotkan pada tanaman padi. Luas petakan tanaman padi yaitu 2 m x 3 m. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum kegiatan tahap demi tahap dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan koordinasi dengan kelompok tani untuk mendiskusikan proses pelaksanaannya serta dibuat spanduk kegiatan PKM. Hasil-hasil dan luaran yang telah dicapai meliputi: pembuatan pondok pupuk organik, demonstrasi pembuatan pupuk organik dan pembuatan pakan ternak, demplot ternak sapi dan tanaman padi. 1. Pembuatan pondok pupuk organik (fermentasi) Pondok untuk pembuatan pupuk organik dibuat berukuran 3 x 8 m. Bahan dan alat dari dana PKM sesuai dengan proposal, karena sebagian bertingkat maka kekurangan untuk beli bahan berupa dana swadaya dari kelompok tani dan begitu juga pelaksanaan pekerjaannya. Lokasi ini dibuat untuk mempermudah dan melindungi bahan baku ketika proses fermentasi pembuatan pupuk organik baik dari bahan kotoran sapi maupun jerami padi serta pakan ternak dari fermentasi jerami padi. Hasilnya seperti Gambar 2. Gambar 2. Pondok pembuatan pupuk organik/ fermentasi 2. Pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan jerami padi Untuk memenuhi kebutuhan pupuk bagi petani baik untuk tanaman pangan, perkebunan salah satu kegiatan pengabdian yang sudah dilakukan adalah pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar petani. Pupuk organik yang dihasilkan berasal dari bahan baku di lingkungan petani (kotoran ternak: feses dan urine sapi serta jerami padi). Pembuatan dan pendampingan pembuatan pupuk organik 42

49 telah dilakukan oleh Tim PKM dengan petani, dimulai dari pengumpulan kotoran ternak sapi dan jerami, dilanjutkan dengan penimbangan bahan, hingga proses pembuatan pupuknya dan pengemasan seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Untuk mempercepat proses dekomposisi dari feses dan jerami padi serta proses fermentasi dari urine sapi ditambah EM4. Dengan sentuhan inovasi teknologi, limbah urine diproses (fermentasi) menjadi pupuk cair dengan kandungan hara tinggi berbahan limbah urine (biourine) sebagai nutrisi tanaman. Yuniwati, Iskarima dan Padulemba (2012) menjelaskan bahwa fermentasi urin bertujuan menghasilkan pupuk cair dengan bahan dasar urin dengan komposisi yang dihasilkan menjadi lebih baik, dengan sentuhan inovasi tekhnologi, limbah urine sebagai nutrisi tanaman. (a) (b) (c) (d) (e) (f) Gambar 3. Pembuatan pupuk organik dari feses (a) dan kemasannya (b), Pembuatan pupuk organik dari jerami padi (c) dan kemasannya (d), Pembuatan pakan ternak dari amoniasi jerami padi (e) dan pemberiannya pada ternak (f) Kelompok tani yang hadir menyimak dengan seksama dan mengajukan beberapa pertanyaan pada setiap kegiatan. Pertanyaan petani berkisar pada kualitas pupuk organik 43

50 dan pemasarannya. Setelah tahap diskusi selesai, warga kemudian mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu demonstrasi dan praktek pembuatan pupuk organik. Pada tahap ini Tim PKM terlebih dahulu mendemonstrasikan cara pembuatan pupuk organik yang kemudian diikuti dan dilaksanakan secara langsung oleh petani. Pada akhir kegiatan, pupuk organik yang dibuat oleh petani dievaluasi dan diberikan saran agar pupuk yang dibuat lebih baik lagi. Demonstrasi pembuatan pakan ternak Kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya adalah demonstrasi pembuatan pakan ternak dengan teknik amoniasi jerami padi. Sama dengan mekanisme kegiatan sebelumnya bahwa kegiatan ini dimulai dengan penjelasan tentang pembuatan amoniasi jerami padi dan kegunaan dilakukan amoniasi jerami padi. Selanjutnya petani mengajukan beberapa pertanyaan dan diskusi mengenai kegunaan amoniasi jerami padi dan hal-hal yang terkait dengan ransum pakan ternak serta penyakit pada ternak. Tingkat partisipasi dan antusiasme petani yang hadir sangat baik. Hal ini dilihat dari banyaknya pertanyaan seputar pakan dan penyakit ternak serta ada partisipasi keikutsertaan petani di luar Kelompok Tani Bina Karya. Setelah itu tahap pembuatan dan praktek dimulai dengan menyiapkan bahan dan alat serta langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan pakan ternak dari amoniasi jerami padi. Dengan dimanfaatkannya jerami padi sebagai bahan pakan ternak berarti ketersediaan pakan bertambah, sehingga akan membuka peluang peternak untuk menambah jumlah ternaknya untuk dipelihara tanpa terkendala pakan. Pada kegiatan ini bahan pakan limbah pertanian berupa jerami padi sangat potensi sebagai sumber serat, satu kendala penggunaannya sebagai pakan ternak ruminansia adalah kandungan nutrisi dan daya cernanya lebih rendah dibanding rumput atau bahan pakan hijauan lain. Untuk mengatasi kendala dan meningkatkan potensinya sebagai pakan ternak, maka limbah pertanian harus diolah atau diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak. Sebagaimana menurut Marjuki (2013) salah satu perlakuan yang mudah diaplikasikan dan berpengaruh baik terhadap peningkatan kualitas limbah pertanian adalah perlakuan urea amoniasi. 44

51 Produk kali pertama pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak dan jerami padi serta pakan ternak dari amoniasi jerami dibuat bersama dengan Tim PKM Universitas Ekasakti Padang. Hasil produk kedua diproduksi oleh Kelompok Tani Bina Karya sendiri. Pada proses ini, terbukti bahwa mitra memiliki motivasi yang tinggi untuk melanjutkan pembuatan pupuk organik dan pakan ternak. Program Kemitraan Masyarakat telah dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan sehingga petani meningkat pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak dan jerami padi serta pakan ternak dari amoniasi jerami. Teknologi pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak dan jerami padi yang telah dilatihkan pada petani sangat bermanfaat untuk menciptakan usaha bisnis pupuk organik akibatnya pendapatan petani bertambah. Sholihul (2017) yang memanfaat-kan limbah kotoran sapi diolah menjadi pupuk organik ternyata menghasilkan potensi ekonomi yang lumayan besar bagi anggota kelompok tani ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dan dapat mendorong kesejahertaan petani. Ditinjau dari sisi analisis bisnis dari kotoran sapi sangat layak dikembangkan menjadi bisnis desa setempat dengan didapatkan nilai B/C >1 yakni 6,67 yang berarti usaha ini layak untuk dijalankan. Demplot ternak sapi Kegiatan PKM untuk demplot ternak sapi dengan pemberian pakan ternak berupa amoniasi jerami padi sebanyak 2 kali sehari. Sapi yang diberikan pakan amoniasi jerami padi pada awalnya kurang menyukai karena bau amoniaknya dan baru beradaptasi atau belum terbiasa dengan pakan amoniasi jerami padi. Tetapi hari-hari berikutnya dengan pakan tersebut sapi menyukainya. Demplot tanaman padi Dari hasil diskusi antara para peserta kegiatan PKM dengan ketua kelompok tani Bina Karya ternyata petani tertarik mengembangkan padi sawah dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik, sehingga didapatkan dan disepakti bahwa ketua kelompok tani bersedia lahannya dijadikan demplot untuk penanaman padi sawah. Tim PKM mengunjungi lahan yang telah ditetapkan untuk melihat kesiapan petani. Setelah 45

52 lahan siap untuk ditanam, tim PKM bersama petani melakukan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik serta menanam padi varietas Galur Harapan (GH). Setelah kegiatan penanaman,tim PKM masih akan terus memantau perkembangan demplot, pemberian pupuk susulan pertama dan kedua serta pemberian pupuk cair dari urine sapi. Selain itu demplot yang diperlakukan terus diamati dan dihitung produksi tanamnya. Sebagaimana Peraturan Meteri Pertanian Nomor 40/2007 merekomendasikan pengembalian bahan organik atau pemberian pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik bertujuan untuk memperbaiki kondisi dan kesuburan tanah. Dari hasil demplot tanaman padi terlihat bahwa pertumbuhan tanaman yang paling bagus adalah dengan pemberian pupuk organik dari feses sapi 50% + pupuk anorganik 50% dan disemprot dengan pupuk organik cair (Gambar 4 d). Kemudian berkurang pertumbuhannya bertutur-turut sebagai berikut: pemberian 50% pupuk organik + 50% pupuk anorganik (4 c), pemberian pupuk anorganik (4 b) dan pemberian pupuk organik (4 a). Demikian pula dengan produksi padi, aplikasi pupuk organik dari feses sapi saja menghasilkan produksi padi yang rendah yaitu 6,08-6,20 ton/ha tetapi dengan pemberian pupuk organik dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik. Sebagaimana. yang dikemukakan oleh Widowati (2009); Rochmah (2009) bahwa aplikasi pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan meningkatkan efisiensi pemupukan. (4a) (4b) 46

53 (4c) (4d) Gambar 4. Padi umur 2 bulan dengan pemberian pupuk organik (a), pemberian pupuk anorganik (b), pemberian 50% pupuk organik + 50% pupuk anorganik (c) dan disemprot pupuk cair (d) Selanjutnya Eugene, Jacques, Desire dan Paul (2010); Leszczyinska dan Malina (2011) menambahkan bahwa pemberian bahan organik sebagai pupuk organik dapat meningkatkan aktivitas mikroba dalam tanah. Pemberian (pupuk anorganik 50% + organik 50%), dapat meningkatkan hasil tanaman padi sebesar 25% (produksi mencapai 8,34 ton/ha) dibandingkan tanpa menambahkan pupuk organik. Sarwono (2011) menyatakan bahwa pupuk organik mempunyai banyak kelebihan, apabila dibandingkan dengan pupuk anorganik yaitu pupuk yang memiliki unsur hara yang lebih lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro, mengandung asam-asam organik, enzim dan hormon yang tidak terdapat dalam pupuk buatan. Selanjutnya Bakri (2011) dengan aplikasi pupuk anorganik + organik hayati dengan metode SRI dapat bmeningkatkan aktivitas dan jumlah populasi mikroba (Azotobacter dan mikroba pelarut fosfat) Apabila ada penambahan pupuk cair lebih meningkatkan produksi padi sebanyak 27% (produksi padi terbaik yaitu 8,6 ton/ha) karena pupuk organik cair merupakan pupuk yang dapat langsung diserap tanaman dan mempunyai kandungan hara N, P dan K. Sebagaimana dijelaskan oleh Sutedjo (2010) bahwa urine sapi memiliki kandungan N dan K yang tinggi dan terdapat cukup kandungan P untuk perkembangan tanaman. Selain dapat bekerja dengan cepat, urine ternyata mengandung hormon tertentu yang dapat merangsang perkembangan tanaman. Urine pada ternak sapi terdiri dari air (92%), nitrogen (1,00%), fosfor (0,2%) dan kalium (0,35%). 47

54 KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan PKM yang telah dilakukan di Kelompok Tani Bina Karya dapat disimpulkan bahwa: mitra memiliki motivasi yang tinggi untuk melanjutkan pembuatan pupuk organik dan pakan ternak terlihat dari kegitan pembuatan pupuk organik dan pakan ternak yang dilakukan kembali oleh kelompok tani. Program Kemitraan Masyarakat telah dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan sehingga petani meningkat pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak dan jerami padi serta pakan ternak dari amoniasi jerami padi. Penggunaan pupuk organik saja menghasilkan produksi padi yang rendah (6,08-6,20 ton/ha) tetapi dengan pemberian pupuk organik dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik. Sedangkan pemberian pupuk anorganik 50% + organik 50% dapat meningkatkan hasil tanaman padi sebesar 25% (8,34 ton/ha) dan dengan penambahan pupuk organik cair lebih meningkatkan produksi padi yaitu sebanyak 27% (8,6 ton/ha) dibandingkan tanpa menambahkan pupuk organik SARAN Saran dari Tim PKM Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti pada Kelompok Tani Bina Karya yaitu program pengabdian masyarakat sebaiknya dilakukan berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi di kelompok tani yaitu kotoran ternak sapi sebagai pupuk organik untuk tanaman dan memanfaatkan amoniasi jerami padi sebagai pakan ternak. Untuk menambah pendapatan petani pupuk organik dikemas sebaik mungkin dan dipasarkan baik untuk petani di Kabupaten Solok maupun di kabupaten lainnya yang ada di Sumatera Barat. UCAPAN TERIMAKASIH Penghargaan dan ucapan terima kasih diberikan kepada Ibu Nitta Yessirita dan Yonny Arita Taher atas kerjasamanya dalam tim PKM. Selanjutnya Afifah dan Kiki mahasiswa yang telah terlibat di dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Demikian pula apresiasi disampaikan kepada kementerian Riset, Teknologi dan 48

55 Pendidikan Tinggi Republik Indonesia atas dukungan pendanaannya dan Universitas Ekasakti yang sudah memfasilitasi kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA Bakri, M.M Aplikasi pupuk anorganik dan pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah (oriza sativa L.). Skripsi. Institute Pertanian Bogor. Bogor. Budiyanto, Krisno Tipologi pendayagunaan kotoran sapi dalam upaya mendukung pertanian organik di Desa Sumbersari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Jurnal GAMMA 7 (1) Eugene, E.E., E. Jacques, V.T. Desire, B. Paul Effect of some physical and chmeical characteristic of soil on productivity and yield of cowpea (Vigna anguiculata L. Walp.) in Costal Ragion (Cameroon) Afr. J. Environ Sci. Technol, 4: Leszczynska, D., J. K. Malina Effect of organic matter from various sources on yield and quality of plant on soils contaminated with heavy metals. J. Ecol. Chem Enginering. 18: Marjuki, Peningkatan Kualitas Jerami Padi Melalui Perlakuan Urea Amoniasi. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Rochmah, H. F Pengaruh pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah (Oriza sativa L.) Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sarwono, Peraturan Menteri Pertanian No.70/Permentan /SR.140/10/2011. Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah. Sholihul H. 2017, Penerapan pola usaha tani terintegrasi tribionik sebagai upaya peningkatan pendapatan petani. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Vol.1, No.1, Februari 2017 Hal Issn (Print) Dan Issn x (Online). Sukamta, M. A. Shomad dan A. Wisnujat Pengelolaan limbah ternak sapi menjadi pupuk organik komersial di Dusun Kalipucang, Bangunjiwo, Bantul, Yogyakarta Jurnal BERDIKARI Vol.5 No.1 Februari Sutedjo, M Pupuk Dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta. 177 hal. Ustriyana, I. Nyoman Gede Analisis nilai tambah dan pendapatan usaha pengolahan limbah ternak: Studi Kasus Di Desa Babahan Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan, Dwijenagro Vol. 1 No. 2 Issn : Widowati, L. R Peranan pupuk organik terhadap efisiensi pemupukan dan tingkat kebutuhannya untuk tanaman sayuran pada tanah Inseptisol Ciherang. J. Tanah Tropika. 14: Wiwaha diakses tanggal 30 November Yuniwati M., F. Iskarima dan A. Padulemba Optimasi kondisi proses pembuatan kompos dari sampah organik dengan carafermentasi menggunakan EM4. Jurnal Teknologi, Vol. 5 (2):

56 Penerapan Teknologi Bioproses Bahan Pakan Lokal Untuk Ayam Kampung Di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari Noferdiman 1) dan Yusma Damayanti 2) 1) Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jambi 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jambi Korespondensi: ABSTRAK Tujuan pengabdian pada masyarakat (PPM) ini adalah: (1) penerapan teknologi bioproses bahan pakan lokal oleh petani peternak ayam kampung; (2) peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani peternak ayam dalam menyusun ransum yang tepat dan biaya yang lebih murah; dan (3) peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani peternak ayam dalam manajemen pemeliharaan yang lebih efisien dan menghasilkan produksi yang lebih baik. Metode pelaksanaan pada kegiatan pengabdian pada masyarakat dilakukan dengan metode interaksi aktif antara tim pelaksana kegiatan dengan kelompok sasaran yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu 40 anggota masyarakat dan kelompok tani. Beberapa program yang ditawarkan untuk pencapaian target PPM adalah: penyuluhan dan pelatihan, partisipatif aktif anggota masyarakat dan kelompok tani, serta penerapan teknologi bioproses, penyusunan ransum ayam kampung berbasis bahan pakan lokal, penerapan manajemen pemeliharaan untuk produksi ayam kampung. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat adalah: (1) pelaksanaan penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan, dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta pelatihan, dimana keberhasilan penyuluhan berkategori baik; (2). pemeliharaan ayam kampung dapat dilakukan oleh masyarakat, petani dan peternak di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari, tapi masih perlu bimbingan teknis agar tercapai tingkat produksi yang lebih baik dan (3). pelaksanaan pengabdian pada masyarakat (PPM) di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari dapat direspon dengan baik oleh masyarakat, petani dan peternak. Kata kunci : teknologi bioproses, manajemen pemeliharaan, dan ayam kampung PENDAHULUAN Kelompok Tani dan masyarakat petani peternak unggas (ayam kampung) di Desa Lopak Aur Kabupaten Batnaghari dibentuk dari kondisi sosial masyarakat yang tumbuh karena adanya keinginan untuk usaha bersama dalam satu tujuan, yaitu peningkatan kesejahteraan. Kebersamaan ini lebih dari identitas untuk bereaksi dalam melakukan usaha tani ternak yang lebih baik dari segi manajemen pemeliharaan, penggunaan teknologi, permodalan dan pemasaran produk ternak yang akan dihasilkan. 50

57 Kemampuan kelompok untuk mencapai kondisi tersebut sangat tergantung dari kemampuan melibatkan anggotanya dalam kelompok-kelompok kerja dan masyarakat sesuai dengan rencana usaha dan penggunaan teknologi yang dapat mendukung usaha tani ternaknya. Permasalahan utama dalam usaha pemeliharaan ayam kampung yang dihadapi oleh kelompok tani ternak dan masyarakat adalah: ketersediaan bahan-bahan pakan penyusun ransum yang lazim digunakan pada akhir-akhir ini makin terasa sulit dan mahal harganya, kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya harga bahan-bahan pakan ternak ayam terutama bahan baku yang masih impor seperti: bungkil kedelai, jagung, dan tepung ikan. Pada tahun 2016, Indonesia masih mengimpor bungkil kedele sebesar 4,2 juta ton/tahun, jagung 850 ribu ton/tahun, tepung ikan 80 ribu ton/tahun dan tepung daging tulang 450 ribu ton/tahun (BPS, 2017). Penggunaan komponen impor ini dapat diturunkan atau dikurangi melalui penggunaan sumberdaya pakan lokal, antara lain dengan menggali potensi limbah non konvensional yang jumlahnya semakin meningkat, seperti: bungkil inti sawit dan dedak padi. Bila dihitung secara nominal potensi dedak padi dan bungkil inti sawit berdasarkan produksi tanaman padi dan produksi minyak sawit serta diestimasikan menurut Aritonang (1984) dan Sutardi (1991), maka Provinsi Jambi pada tahun 2017 memiliki potensi dedak padi sebesar ton/tahun dan bungkil inti sawit sebesar ton/tahun. Bungkil inti sawit dan dedak padi ini diharapkan dapat menunjang bahkan mengefisienkan penggunaan bahan pakan untuk penyusun ransum unggas yang lebih murah dan tersedia. Kandungan serat kasar yang tinggi pada bungkil inti sawit (17,40 %) dan dedak padi (15,10%) merupakan suatu kendala untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak ayam kampung, dikarenakan ayam kampung memiliki sistem pencernaan tunggal tidak menghasilkan enzim selulase untuk mencerna komponen serat kasar. Salah satu cara untuk menurunkan kandungan serat kasar adalah dengan cara memanfaatkan aktivitas mikroba melalui proses biodegradasi, dimana mikroba mampu mendegradasi komponen serat secara lebih ekonomis dan hasilnya dapat lebih bermanfaat. Salah satu mikroba selulolitik adalah jamur Trichoderma harzianum 51

58 karena mampu mendegradasi selulosa yang merupakan komponen dari serat kasar. Peningkatan nilai manfaat selulosa harus didahului dengan penguraian ikatan kompleks lignoselulosa yang dapat dilakukan oleh enzim selulase dari jamur Trichoderma harzianum. Pada proses fermentasi terjadi pemecahan oleh enzim terhadap komponen serat seperti: selulosa, hemiselulosa, serta polimer lainnya menjadi lebih sederhana sehingga bahan-bahan hasil fermentasi mempunyai mutu dan daya cerna lebih baik dari bahan asalnya. Penelitian Nuraini (2002) melaporkan bahwa jamur Trichoderma harzianum mempunyai kemampuan yang tinggi dalam merombak selulosa dibanding species lain. Ayam kampung merupakan komoditas peternakan yang sangat disukai oleh masyarakat, dimana jika dibandingkan dengan ternak lain, namun ternak ini mempunyai produktivitas masih rendah sebagai akibat dari pemeliharaan yang masih sederhana dan belum memperhatikan tata laksana atau manajemen pemeliharaan yang baik, pemberian pakan yang belum seimbang baik kulaitas maupun kuantitasnya (Muryanto et al, 1994) dan pencegahan penyakit belum optimal (Lestari 2000). Sartika (2005) menyatakan bahwa produktivitas ayam kampung beragam, bergantung pada sistem pemeliharaan dan keragaan individu. Upaya meningkatkan produktivitas ayam buras dapat dilakukan melalui introduksi teknologi pemeliharaan dari ekstensif-tradisional menjadi semi-intensif atau intensif (Zakaria, 2004) disamping juga memperbaiki managemen pemberian pakan dengan pemanfaatan sumber daya pakan dan meramu bahan pakan lokal yang lebih bermutu. Teknologi bioproses pada bahan pakan lokal untuk penyusunan ransum ayam kampung merupakan solusi dalam penyediaan pakan yang lebih murah bagi petani peternak ayam kampung serta dapat memperbaiki penampilan produksi ayam kampung yang lebih baik sehingga akan memberikan kontribusi pendapatan bagi kelompok tani dan masyarakat untuk menuju pengembangan kawasan unggas di pedesaan. MATERI DAN PELAKSANAAN Pelaksanan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu: Tahap I. Pengenalan Program dan Persiapan PPM; Tahap II. Penyuluhan 52

59 dan Pelatihan; Tahap III. Demonstrasi, Praktek, dan Pembinaan; Tahap IV. Layanan Konsultasi Teknis; dan Tahap V. Evaluasi Program. 1. Tahap I: Pengenalan program Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) dan Persiapan, Tim Pelaksana PPM memperkenalkan rencana kegiatan pada masyarakat pada kelompok tani ternak ayam kampung dengan menjelaskan secara detail rencana kegiatan yang akan dilakukan. Pada tahap ini dibuat kesepakatan pengaturan rencana kegiatan dan jadwal pelaksanaan pengabdian masyarakat, sehingga komitmen untuk ikut serta dan partisipasi aktif kelompok lebih tinggi. Tahap ini dilakukan juga survey awal tentang potensi kelompok tani dan masyarakat petani peternak unggas, baik dari potensi sumberdaya usahatani ternak ayam kampung (sarana dan prasarana), sumberdaya pendukung ketersediaan bahan-bahan pakan sumberdaya manusia anggota kelompok tani, maupun keterkaitan kelompok tani dengan Kelembagaan Desa, Kelembangaan Permodalan, serta peluang pemasaran produk ayam kampung. 2. Tahap II: Penyuluhan dan Pelatihan dengan metode ceramah dan diskusi yang dilaksanakan langsung di Kantor Kepala Desa dan di rumah ketua Kelompok Tani. Penyuluhan dibantu dengan alat multimedia projector agar memudahkan peserta penyuluhan dalam memahami materi yang disampaikan. Tahap ini materi yang diberikan adalah: a. Potensi ayam kampung pedaging unggul, potensi bahan-bahan pakan lokal, potensi bungkil inti sawit, dedak padi dan kandungan nutrisinya. b. Teknologi bioproses bahan pakan lokal, cara membuat bungkil inti sawit, dedak padi melalui bioproses oleh jamur Trichoderma harzianum dan penggunaan dalam ransum ayam kampung. c. Cara menyusun pakan ayam kampung bermutu yang berbasis bahan-bahan pakan lokal. d. Manajemen pemeliharaan, perkandangan dan pemberian pakan pada ayam kampung. e. Permodalan dan peningkatan pemasaran produk ayam kampung. 53

60 1. Tahap III: Demonstrasi, Praktek, dan Pembinaan: Pembuatan bungkil inti sawit (BIS) dan dedak padi (DP) melalui bioproses oleh jamur Trichoderma harzianum, dan penyusunan ransum ayam kampung per kelompok peserta pelatihan. Setiap kelompok peserta membuat bioproses bahan pakan local sebanyak 10 kg dan penyusunan ransum ayam kampung berbasis bahan-bahan pakan lokal dilakukan dengan teknik menyusun ransum yang paling sederhana namun aplikatif. Selanjutnya peserta mencoba sendiri cara menyusun ransum dan langsung memberikan kepada ternak ayam kampung hasil ransum buatannya sendiri tersebut. 2. Tahap IV: Layanan Konsultasi Teknis: Memberi jasa konsultasi teknis kepada anggota kelompok tani dan masyarakat tentang manajemen pemeliharaan ayam kampung, baik masalah bibit, teknologi bioproses bahan pakan lokal, penyusunan ransum dan pemberiannya, perkandangan, penyakit dan pengendaliannya, pengolahan hasil ternak ayam, standar mutu hasil ternak ayam, solusi permodalan, dan peningkatan pemasaran produk ayam kampung unggul. 3. Tahap V: Pelaksanaan evaluasi dilakukan dua kali, yaitu: pada akhir penyuluhan dan pelatihan dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan materi yang disampaikan, dan pada akhir demonstrasi/praktek pembuatan bioproses bahan pakan lokal, menyusun ransum ayam bermutu basis bahan-bahan pakan lokal, dan manajemen pemberian pakan ayam untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan ketrampilan peserta pelatihan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penyuluhan dan Pelatihan Kegiatan PPM. Penyuluhan dan pelatihan program yang telah dilakukan pada kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) ini dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini. 54

61 Tabel 1. Materi penyuluhan dan jenis kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari. Materi Penyuluhan Jenis Kegiatan Target Capaian Ayam Kampung Pedaging Unggul/Super 1. Potensi ayam kampung super 2. Ciri-ciri ayam kampung super 3. Jenis, macam ayam kampong super 1. Peternak mengetahui potensi ayam kampung super 2. Mengetahui Ciri-ciri dan jenis ayam kampung super. Teknologi Bioproses 1. Potensi dan kualitas bahan 1. Peternak mengetahui bahan Bahan Pakan Lokal pakan lokal potensial (bungkil pakan lokal tersedia (BIS dan inti sawit dan dedak padi). DP), mengetahui kualitasnya, 2. Penggunaan jamur Trichoderma harzianum dalam proses dan batas penggunaannya dalam ransum unggas bioproses. 2. Peternak mengetahui 3. Cara membuat bahan pakan penggunaan jamur Trichoderma lokal dengan teknologi bioproses. harzianum. 3. Peternak mendapat pengetahuan tentang teknologi bioproses untuk bahan pakan lokal. Cara Menyusun Ransum 1. Pemilihan bahan-bahan pakan 1. Peternak memahami tentang Ayam Kampung Berbasis lokal untuk ayam. pemilihan bahan-bahan pakan Bahan-Bahan Pakan Lokal 2. Penggunaan bahan pakan lokal lokal yang murah untuk hasil bioproses. menyusun ransum ayam 3. Menyusun ransum ayam dengan kampung. metode sederhana. 2. Peternak mendapat pengetahuan tentang menyusun ransum yang sederhana untuk ayam. Manajemen Pemberian 1. Cara pemberiaan pakan yang 1. Peternak dapat melaksanakan Pakan untuk Ayam efisien (jumlah dan frekuensi). pemberian pakan secara efisien. Kampung 2. Penempatan tempat pakan dan 2. Penempatan tempat pakan dan minum. minum yang tepat sehingga 3. Sanitasi pakan. tidak tumpah/ tercecer. 3. Peternak paham cara pemberian pakan dan air minum yang efisien. Manajemen Pemeliharaan 1. Pemeliharaan Periode Starter 1. Pengaturan kandang, pakan dan Anak Ayam (DOC) dan 2. Pemeliharaan Periode pemeliharaan untuk anak ayam Masa pertumbuhan Pertumbuhan. (DOC). 2. Biosecurity untuk ayam. 3. Penanganan masa pertumbuhan hingga panen Pemasaran Produksi Ayam Kampung 1. Cara pemasaran telur dan ayam pedaging unggul 2. Cara pemasaran bibit ayam kampung (DOC). 1. Terbentuknya jalur pemasaran produksi ayam di kawasan Village Poultry Farming (VPF) ayam kampung. 2. Peternak akan memperoleh keuntungan yang lebih baik. Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan dan Pelatihan. Evaluasi pelaksanaan penyuluhan dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peternak sebelum dilakukan penyuluhan dan pada akhir dilakukan 55

62 penyuluhan dan pelatihan. Pengetahuan yang dievaluasi meliputi: pengetahuan tentang ayam kampung unggul/super, cara menyusun ransum ayam kampung berbasis bahan- bahan pakan lokal, manajemen pemberian pakan untuk ayam kampung, manajemen pemeliharaan anak ayam (DOC) dan dara/petelur, serta pemasaran produksi ayam kampung. Evaluasi ini dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan, sehingga dari evaluasi ini akan diketahui batas pengetahuan, keterampilan peserta pelatihan, serta kegiatan apa lagi yang akan dilakukan untuk menunjang keberhasilan yang telah dicapai dan target pelatihan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi tingkat pengetahuan peserta pelatihan dapat dilhat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Evaluasi Tingkat Pengetahuan Peserta Penyuluhan dan Pelatihan. Tingkat Pengetahuan (%) No. Materi Penyuluhan Sebelum Pelatihan Setelah Pelatihan 1. Pengetahuan Bibit Ayam 40,00 70,00 Unggul/Super 2 Teknologi Bioproses Bahan Pakan 35,00 65,00 Lokal 3. Menyusun Ransum Ayam Kampung 50,00 75,00 Berbasis Bahan-Bahan Pakan Lokal 4. Manajemen Pemberian Pakan untuk 55,00 80,00 Ayam Kampung 6. Manajemen Pemeliharaan Anak Ayam 50,00 75,00 (DOC) dan Dara/Petelur 7. Pemasaran Produksi Ayam Kampung 60,00 70,00 Berdasarkan Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta pelatihan mengalami peningkatan dari beberapa aspek materi penyuluhan yang disampaikan dan di kategorikan berhasil. Tingkat pengetahuan tentang bibit ayam kampong berkategori baik, dimana tingkat pengetahuan sebelum melakukan penyuluhan hanya 40,00 % dan meningkat menjadi 70,00 %, keadaan ini menunjukkan bahwa peserta pelatihan telah mengetahui ciri-ciri bibit ayam kampung super yang baik, mengetahui potensi ayam kampung untuk bibit, petelur dan pedaging, serta mengetahui keunggulan produksi ayam kampung. Tingkat pengetahuan teknologi bioproses hanya 35,00 % sebelum pelatihan dan meningkat menjadi 65,00 % setelah pelatihan, artinya 56

63 peserta pelatihan sudah mengetahui cara-cara melakukan pembuatan bahan pakan local dedak padi dan bungkil inti sawit menggunakan teknologi bioproses dengan baik. Aspek menyusun ransum ayam kampung berbasis bahan-bahan pakan local tingkat pengetahuan juga meningkat dari 50,00 % menjadi 75,00 %, artinya peserta pelatihan sudah mengetahui beberapa macam bahan-bahan pakan lokal seperti: jagung, dedak padi, bungkil kelapa, tepung, ikan, tepung bekicot, bungkil inti sawit, serta mengetahui potensi, kualitas zat-zat gizi, dan batas penggunaannya dalam ransum ayam. Sedangkan untuk manajemen pemberian pakan ayam kampung, pengetahuan peserta meningkat dari 55 % ke 80 %, dimana peserta pelatihan sudah mengetahui tentang cara pemberian ransum yang efisien, bentuk ransum, jumlah yang harus diberikan, waktu pemberian ransum, dan perhitungan jumlah konsumsi ransum terhadap bobot badan dan produksi telur yang dihasilkan. Pengetahuan tentang pemasaran produk ayam kampung masih berkatagori baik 60,00 %, karena selama ini masyarakat sudah pernah dilakukan melakukan penjualan ayam kampung di sekitar Desa saja. Setelah melakukan pelatihan, pengetahuan petani peternak meningkat menjadi 70,00 % artinya masyarakat telah mengetahui tentang cara memasarkan produk yang meliputi: menjual langsung di Desa atau ke Pasar Kota Jambi, serta di beberapa rumah makan yang selalu menyediakan ayam kampung di dekat dengan Desa setempat, serta sudah bias mencari pasar di luar Desa atau di Kabupaten dengan bekerjasama dengan tenaga pemasaran, serta menjual langsung di rumah dengan cara promosi sehingga konsumen bisa langsung memesan produk ayam kampung. Perkembangan Pemeliharaan Ayam Kampung Pelaksanaan program PPM di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari dimulai bulan Juli 2019 untuk pemeliharaan ayam kampung pedaging unggul/super dengan jumlah ayam yang dipelihara sebanyak 100 ekor bibit anak ayam (DOC). Ayam ini secara manajemen kelompok dipelihara di kandang ketua kelompok. Pada awal bulan Juli 2019, bibit ayam berjumlah 100 ekor dipelihara secara intensif dengan pemberian pakan yang telah disediakan dengan standar dibuat sesuai kebutuhan gizi ayam, dimana selama bulan Juli rataan konsumsi ransum per ekor sebanyak gram dengan rataan 57

64 pertambahaan bobot badan sebesar 416 gram per ekor, sehingga konversi mencapai 2,86. Kondisi ini berarti tingkat efisiensi ransum untuk ayam kampung cukup baik dimana ayam mengkonsumsi sebanyak 2,86 kg ransum untuk mencapai pertambahan bobot badan setiap unit ayam 1 kg. Pada minggu ke 4 bulan Agustus 2019, dimana ayam sudah dipelihara selama 8 minggu dengan rataan pencapaian bobot badan ayam sebesar 812 gram per ekor dengan konversi ransum 3,24. Terjadi peningkatan nilai konversi ransum dibanding dengan bulan sebelumnya, hal ini dikarenakan ayam mengalami pertumbuhan dengan mengkonsumsi ransum yang lebih banyak, sehingga untuk mencapai pertambahan bobot badan 1 kg akan mengkonsumsi ransum sebanyak 3,24 kg. Begitu juga pada umur ayam 10 minggu, rataan pencapaian bobot badan ayam sebesar 970 gr per ekor dengan konversi 3,37. Hasil perhitungan nilai income over feed chick cost (IOFCC) selama pemeliharaan ayam kampung dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini. Hasil perhitungan dari nilai Income Over Feed and Chick Cost (IOFCC) selama pemeliharaan ayam kampung dapat dilihat di Tabel 4, dimana nilai IOFCC sebesar Rp ,- per kg ayam, berarti setiap penerimaan penjualan ayam per ekor adalah Rp 8.690,- dari perhitungan komponen biaya bibit ayam dan ransum, belum termasuk biaya tenaga kerja, investasi kandang, dan komponen lainnya. Tabel 3. Perkembangan pemeliharaan ayam kampung di Desa Lopak Aur Batanghari (2019). Bulan Jumlah Ayam Rataan Konsumsi Ratan PBB Konversi (Umur ayam) Kampung Super Ransum (gr/ekor) Ransum (ekor) (gr/ekor) Juli (4 minggu) ,86 Agustus (8 minggu) ,24 September (10 minggu) ,37 *) September minggu ke 2 ; PPB = Pertambahan bobot badan. Nilai ekonomi dari biaya pakan ditujukan untuk melihat keuntungan dari pendapatan yang diterima dalam usaha pemeliharaan ayam. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dan biaya produksi. Harga ransum dihitung berdasarkan harga yang berlaku saat pemeliharaan dilakukan, sedangkan perbedaan harga ransum yang timbul ditentukan oleh persentase atau komposisi bahan penyusun ransum percobaan 58

65 masing-masing pemeliharaan. Nilai ekonomis ransum setiap ekor ayam dihitung sebagai biaya ransum per kilogram bobot badan yang dihasilkan. Angka tersebut adalah hasil perkalian konversi ransum dengan harga ransum masing-masing perlakuan setiap kilogramnya. Tabel 4. Nilai income over feed chick cost (IOFCC) pemeliharaan ayam kampung. No. Komponen Perhitungan Nilai IOFCC 1. Harga DOC (Rp/ekor) Harga Ransum (Rp/kg) Rataan Konsumsi (Kg/ekor) Biaya Konsumsi Ransum (Rp) (2 x 3) Biaya Konsumsi Ransum + DOC (Rp) (4 + 1) Rataan Bobot Hidup (Kg/ekor) 0, Harga Ayam per kg (Rp/kg) Hasil Penjualan (Rp/ekor) (6 x 7) Nilai IOFCC (Rp/kg) (8 5) Nilai IOFCC dapat mengetahui efisiensi penggunaan ransum secara ekonomis, selain memperhitungkan bobot badan akhir yang dihasilkan, juga harga ransum yang dikonsumsi. Nilai IOFCC ini diperoleh dari hasil penjualan produksi dikurangi biaya ransum untuk menghasilkan produksi (termasuk biaya bibit). Menurut Rasyaf (1989) ada tiga faktor yang mempengaruhi nilai IOFC yaitu : jumlah ransum yang dikonsumsi, pertambahan bobot badan dan harga ransum yang diberikan. Semakin tinggi nilai IOFCC maka semakin tinggi pendapatan kotor yang diperoleh. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan pelaksanaan pengabdian pada masyarakat dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pelaksanaan penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan, dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta pelatihan, dimana keberhasilan penyuluhan berkategori baik, berarti semua materi penyuluhan yang disampaikan dapat dipahami oleh petani peternak ayam kampung di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari. 2. Pemeliharaan ayam kampung dapat dilakukan oleh masyarakat, petani dan peternak di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari, tapi masih perlu bimbingan teknis agar tercapai tingkat produksi yang lebih baik. 59

66 3. Pelaksanaan pengabdian pada masyarakat (PPM) di Desa Lopak Aur Kabupaten Batanghari dapat direspon dengan baik oleh masyarakat, petani dan peternak. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Jambi, Direktur Pascasarjana Universitas Jambi, dan Ketua LPPM Universitas Jambi yang telah memberi izin dan dukungan dana PNBP terhadap pelaksanaan pengabdian pada masyarakat ini serta ucapan terima kasih juga kepada Kepala Desa Lopak Aur, anggota masyarakat dan kelompok tani yang telah memberi respon dan semangat dalam melaksanakan kegiatan PPM ini. DAFTAR PUSTAKA Aritonang, D Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum babi yang sedang bertumbuh. Disertasi, Fakultas Pascasarjana IPB, Bogor , Analisis Usaha: Cara Cerdas Memulai Usaha. (Diakses, 28 Maret 2014). BPS, Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. Gibson, T.S. and B.V. McCleary A simple procedure for the lange scale purification of ß-D-Xilanase from Tricoderma viride. Carbohydrate Polymer. Volume 7, Issue 3, p: Available on line 25 April Hardjosworo, P.S., A. Setioko, P.P. Ketaren, L. H. Prasetyo, A.P. Sinurat dan Rukmiasih Perkembangan teknologi peternakan unggas air di Indonesia. Prosiding Lokakarya Unggas Air, BPT Ciawi, Bogor. Iskandar, S. A.P. Sinurat, B.Tiesnamurti, dan A.Bamualim Bungkil inti sawit potensial untuk pakan ternak. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol.30. No.1; Jaelani, A dan N. Firahmi Kualitas sifat fisik dan kandungan nutrisi bungkil inti sawit dari Berbagai proses pengolahan crude palm oil (CPO). Jurnal Al Ulum Vol.33 No 3; 1-7. Noferdiman dan Zubaidah Penggunaan Azolla microphylla fermentasi dalam ransum broiler. Prosiding Seminar Nasional dan Rapat Tahunan Bidang Ilmu- Ilmu Pertanian BKS-PTN Wilayah Barat Tahun 2012, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Hal : Nuraini Campuran ampas sagu dan enceng gondok fermentasi sebagai pakan buras. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahun Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Pasaribu, A, M Kewirausahaan Berbasis Agribisnis. Penerbit: Andi. Yogyakarta. 60

67 Putra, R Pengaruh Pendidikan, Permodalan, dan Pembinaan dalam Meningkatkan Kinerja Industri Kecil Hasil Pertanian. (Diakses, 28 Maret 2014). Rasyaf, M Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. Sumarsono, S Kewirausahaan. Graha Ilmu. Yogyakarta. Sutardi, T Pemanfaatan limbah tanaman perkebunan sebagai pakan ternak ruminansia. Proseding seminar peningkatan produksi dan teknologi peternakan. Fakultas Peternakan IPB dan Pemda Bogor. hal :

68 Meningkatkan Akses Permodalan Kelompok Tani Teman Abadi Kepada Lembaga Keuangan Untuk Usaha Ternak Sapi Afriani H a), Firmansyah, M. Farhan Fakultas Peternakan Universitas Jambi a) korespondensi: afriani.h@unja.ac.id ABSTRAK Kelompok Tani Teman Abadi berada di wilayah Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan Kota Jambi menghadapi permasalahan, yaitu sulitnya untuk mengakses sumber modal ke lembaga keuangan karena keterbatasan informasi dan kemampuan menembus sumber modal tersebut. Kelompok tani dituntut menyajikan proposal usaha yang feasible atau layak usaha dan menguntungkan. Disamping itu lembaga keuangan bank mensyaratkan kelompok tani harus bankable atau dapat memenuhi ketentuan bank. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan adalah melaksanakan pelatihan dan bimbingan pembuatan laporan keuangan, dan penyusunan proposal usaha yang berisi kelayakan usaha Kelompok Tani Teman Abadi dengan menggunakan program komputer sederhana dan mudah untuk dioperasikan. Metode pendekatan menggunakan prinsip yaitu setiap inovasi yang diterima oleh mitra kelompok tani melalui proses mendengar, mengetahui, mencoba, mengevaluasi, menerima, meyakini, dan melaksanakan, melalui proses-proses tersebut diharapkan inovasi dapat diadopsi secara berkesinambungan. Tahapan kegiatan yang dilakukan meliputi: sosialisasi kegiatan, diskusi, penyuluhan dan pelatihan, bimbingan dan pendampingan serta evaluasi. Setelah dilakukan evaluasi dapat diketahui bahwa pengurus dan anggota kelompok Tani Teman Abadi dapat menerima materi yang diberikan, hal ini terbukti pengurus dan anggota dapat mengoperasikan program komputer yang disediakan sehingga laporan keuangan kelompok menjadi lengkap dan tertata dengan rapi, selain itu juga dengan bimbingan dari tim pengabdian pengurus telah mampu membuat proposal kelayakan usaha. Kata Kunci : Akses permodalan, lembaga keuangan, usaha ternak sapi PENDAHULUAN Kelompok Tani Teman Abadi berada di wilayah Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan Kota Jambi telah berdiri sejak tahun 1975 dan dikukuhkan kembali pada tahun Kelompok Tani Teman Abadi terus berkembang, baik secara kelembagaan maupun usaha tani. Secara kelembagaan, Kelompok Tani Teman Abadi berkembang menjadi Gapoktan yaitu berdiri tahun 2009 yang merupakan gabungan dari 62

69 8 kelompok tani yang ada di Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan dengan jumlah anggota 70 orang. Secara usaha tani, Kelompok Tani Teman Abadi memiliki usaha tani yang beragam. Jenis usaha yang dilakukan anggota kelompok meliputi bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Usaha tani bidang pertanian, rata-rata anggota Kelompok Tani Teman Abadi memiliki lahan sekitar 0,5 Hektar. Untuk usaha tani ternak, didominasi ternak sapi yaitu berjumlah 125 ekor yang berasal dari bantuan pemerintah dan ada juga yang milik sendiri, sedangkan khusus bidang perikanan pelaksanaannya belum optimal. Khusus untuk usaha ternak sapi, Kelompok Tani Teman Abadi di Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan masih menghadapi berbagai permasalahan, yaitu kesulitan untuk mengakses sumber-sumber modal ke lembaga keuangan karena keterbatasan informasi dan kemampuan menembus sumber modal tersebut. Padahal pilihan sumber modal sangat banyak dan beragam. Lembaga keuangan bank adalah sumber modal terbesar yang dapat dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Teman Abadi. Namun untuk bermitra dengan bank, Kelompok Tani Teman Abadi dituntut menyajikan proposal usaha yang feasible atau layak usaha dan menguntungkan. Disamping itu lembaga keuangan bank mensyaratkan Kelompok Tani Teman Abadi harus bankable atau dapat memenuhi ketentuan bank. Inilah persoalannya akibat bank berlaku prudent atau hati-hati, maka semakin mempersulit Kelompok Tani Teman Abadi untuk mengakses sumber modal. Menurut Ningtyas (2017), pihak bank/lembaga keuangan biasanya akan mensyaratkan laporan keuangan untuk melihat kelayakan pemberian kredit. Kelompok Tani Teman Abadi yang sulit mengakses bank hanya menunggu bantuan atau hibah dari pemerintah atau akan mencari jalan pintas. Kemana lagi kalau bukan kepada para rentenir dengan biaya yang mencekik. Mengandalkan modal sendiri tidak mungkin karena jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit diperoleh karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh bank tidak dapat dipenuhi. Persyaratan yang menjadi hambatan terbesar bagi Kelompok Tani Teman Abadi adalah adanya ketentuan mengenai agunan karena kelompok tani tidak memiliki aset yang memadai dan cukup untuk dijadikan agunan. Selain itu, Kelompok Tani Teman 63

70 Abadi harus menyerahkan dokumen-dokumen pendukung persyaratan kredit atau pembiayaan yang ditetapkan Laporan Keuangan Usaha (laporan neraca, laporan rugi laba, dan laporan cash flow) dan Proposal Usaha yang berisi kelayakan usaha kelompok tani ternak sapi). Untuk itu perlu dilakukan pelatihan, bimbingan dan arahan dalam membuat dokumen-dokumen pendukung persyaratan kredit atau pembiayaan yang ditetapkan lembaga keuangan berupa Laporan Keuangan Usaha (laporan neraca, laporan rugi laba, dan laporan cash flow) dan Proposal Usaha yang berisi kelayakan usaha kelompok tani ternak sapi pada Kelompok Tani Teman Abadi. METODE PELAKSANAAN a. Sosialisasi Program Meskipun ketua Kelompok Tani Teman Abadi sebagai Mitra sudah menandatangani kesediaan bekerjasama, namun karena kegiatan usaha ternak sapi pada Kelompok Tani Teman Abadi melibatkan berbagai pihak (anggota kelompok tani), maka sosialisasi perlu juga dilakukan terhadap mereka, karena pihak lain akan turut terlibat dalam aktivitas pendampingan, serta secara langsung turut berperan untuk mencapai keberhasilan kegiatan Program Pengabdian Kepada Masyarakat. b. Diskusi Tim Pelaksana Program Dengan Kelompok Tani Kegiatan diskusi antara tim pelaksana Program Pengabdian Kepada Masyarakat dengan ketua, pengurus dan anggota Kelompok Tani Teman Abadi dimaksudkan untuk membicarakan tentang tujuan dan materi kegiatan, langkah-langkah yang akan dilakukan, peranan kelompok tani dan tim pelaksana program, jadwal pelaksanaan program, serta pengumpulan data tentang usaha ternak sapi yang ada pada kelompok tani Teman Abadi. c. Kegiatan Penyuluhan Kegiatan penyuluhan oleh tim pelaksana Program Pengabdian Kepada Masyarakat dengan materi yaitu : laporan neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan analisis kelayakan usaha 64

71 d. Kegiatan pendampingan dan bimbingan Transfer pengetahuan ini akan dilaksanakan dengan cara pelatihan dan pendampingan dalam menyusunan kelayakan usaha yang ditinjau dari beberapa aspek yaitu : Aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajerial dan administrasi, aspek organisasi, aspek komersial, aspek finansial, serta aspek ekonomis. e. Evaluasi hasil kegiatan Pada akhir kegiatan dilakukan diskusi dan evaluasi hasil kegiatan Program Kelompok Tani Teman Abadi terutama : 1) Gambaran umum hasil kegiatan sosialisasi, diskusi, penyuluhan, pendampingan dan bimbingan penyusunan laporan keuangan dan analisis kelayakan usaha, 2) Respon, permasalahan dan harapan petani terkait materi penyuluhan yang ditawarkan dan diterapkan; dan 3) Evaluasi peluang penerapan selanjutnya oleh kelompok tani dan petani lainnya di Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan. Metode Pendekatan Transfer IPTEKS yang dilakukan oleh tim pelaksana pengabdian kepada Kelompok Tani Teman Abadi di Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan dilakukan dengan menggunakan prinsip : 1. Setiap inovasi yang diterima oleh Mitra Kelompok Tani Teman Abadi di Kelurahan Mudung Laut sebaiknya melalui proses mendengar, mengetahui, mencoba, mengevaluasi, menerima, meyakini, dan melaksanakan. 2. Melalui proses-proses tersebut diharapkan inovasi dapat diadopsi secara berkesinambungan, serta target sasaran mempunyai kemampuan untuk melakukan analisis terhadap perkembangan usahanya, serta mampu mengembangkan inovasi yang telah dikuasainya. 3. Agar setiap proses berlangsung dengan baik, maka penyampaian inovasi kepada Mitra Kelompok Tani Teman Abadi di Kelurahan Mudung Laut ditempuh melalui tahapan penjelasan, diskusi, praktek serta dilakukan tahapan pendampingan dan bimbingan. 65

72 HASIL DAN PEMBAHASAN Sosialisasi Kegiatan Kegiatan program pengabdian kepada masyarakat ini diawali dengan pertemuan antara ketua tim pengabdian dengan ketua kelompok Tani Teman Abadi, yang bertujuan untuk mensosialisasikan upaya meningkatkan akses permodalan kelompok tani Teman Abadi kepada lembaga keuangan khususnya untuk usaha ternak sapi. Hal ini mendapat respon dan tanggapan yang baik dari ketua kelompok, karena pada umumnya peternak sapi di daerah ini mendapat modal hanya bersumber dari bantuan pemerintah, sementara itu kelompok juga belum mampu melakukan penguatan modal, sehingga peternak mengalami kesulitan untuk pengembangan usaha, sedangkan untuk memperoleh pinjaman modal yang bersumber dari bank sangat sulit karena terkendala dengan sejumlah persyaratan yang ditetapkan oleh pihak bank, peternak diwajibkan untuk mengajukan proposal yang layak usaha. Selain bank, instansi pemerintah ada juga yang menetapkan syarat apabila ingin memperoleh bantuan juga harus membuat proposal kelayakan usaha. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam pemberian pinjaman modal kepada peternak, pemerintah juga sudah menerapkan prinsip kehati-hatian. Berdasarkan keadaan ini maka kegiatan penyuluhan dan pelatihan tentang usaha untuk meningkatkan akses permodalan kelompok tani Teman Abadi kepada lembaga keuangan untuk usaha ternak sapi merupakan solusi yang tepat. Gambar 1. Usaha Ternak Sapi pada Kelompok Tani Teman Abadi 66

73 Tahap Diskusi Tahap diskusi dilakukan antara tim pengabdian dan pengurus dan perwakilan anggota kelompok membicarakan tentang tujuan dan materi kegiatan, langkah-langkah yang akan dilakukan, peranan kelompok tani dan tim pelaksana program, serta jadwal pelaksanaan program Pengabdian Kepada Masyarakat. Salah satu kegiatan terpenting dalam diskusi tersebut adalah mengumpulkan sejumlah data kelompok yang terkait dengan usaha ternak sapi. Hal ini penting dilakukan karena sistem pencatatan data kelompok tentang usaha ternak sapi belum tertata dengan baik dan masih dilakukan secara manual. Adapun data yang dikumpulkan meliputi jumlah ternak, data penerimaan, biaya investasi berupa banguinan kandang, sarana produksi, kebun hijauan makanan ternak, kendaraan dan mesin, serta peralatan. Sedangkan untuk data biaya operasional data yang dikumpulkan meliputi biaya variable dan biaya tetap. Data tersebut diperlukan dalam pembuatan laporan keuangan dan proposal kelayakan usaha. Setelah seluruh data terkumpul tim pengabdian membuat program komputer yang telah diprogram, dan untuk memudahkan pengoperasian program tersebut juga dibuat buku panduan sebagai petunjuk bagi anggota dan pengurus kelompok. Program komputer ini akan membantu anggota terutama pengurus kelompok dalam membuat laporan keuangan yang meliputi laporan neraca, laporan rugi laba, dan laporan cash flow serta proposal usaha yang berisi kelayakan usaha kelompok tani ternak sapi. Kegiatan Penyuluhan Kegiatan penyuluhan dilakukan dengan mengkombinasikan anatara metode ceramah, diskusi dan demonstrasi. Pada kegiatan ini materi penyuluhan yang diberikan adalah tentang laporan keuangan (laporan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas), serta penyusunan proposal kelayakan usaha. 67

74 Gambar 2. Tim pengabdian sedang berdiskusi dan memberikan penyuluhan a. Laporan Neraca. Laporan neraca yang menggambarkan posisi keuangan usaha Kelompok Tani Teman Abadi pada saat tertentu. Dari laporan neraca bisa dilihat besarnya aset, kewajiban, dan ekuitas sehingga bisa dilakukan evaluasi antara lain mengenai likuiditas dan struktur modal usaha Kelompok Tani Teman Abadi. Menurut Hanafi (2004) Laporan Keuangan Neraca yang menggambarkan posisi kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan pada waktu tertentu, neraca keuangan biasanya dinyatakan per tanggal tertentu. Neraca dibagi kedalam dua bagian sisi kiri yang menyajikan aset yang dimiliki perusahaan, sisi kanan menyajikan sumber dana yang dipakai untuk memperoleh aset tersebut. Untuk setiap sisi neraca disusun atau diurutkan berdasarkan likuiditas aset tersebut. Likuiditas yang dimaksud adalah kedekatan dengan kas. Karena itu kas ditempatkan pada baris pertama. Demikian juga dengan sisi kanan (pasiva) neraca. Kewajiban diurutkan dari utang dagang sampai modal saham. b. Laporan Laba Rugi. Laporan laba rugi yang menggambarkan kinerja keuangan usaha Kelompok Tani Teman Abadi selama/dalam kurun waktu tertentu. Di laporan laba rugi ini bisa mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian yang dihasilkan usahanya, biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usahanya, dan pendapatan yang dicapai dari melaksanakan kegiatan usahanya selama satu periode. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2016), pada laporan laba rugi menyajikan informasi tentang pendapatan, beban keuangan, beban pajak, dan laba atau rugi neto dari perusahaan. 68

75 c. Laporan Arus Kas. Laporan arus kas menggambarkan aliran kas masuk (sumber) dan keluar (penggunaan) pada usaha kelompok tani ternak sapi dalam satu periode tertentu. Menurut Kieso dan Donald (2010) laporan arus kas merupakan laporan yang menajikan informasi tentang arus kas masuk dan arus kas keluar dan setara kas suatu entitas untuk priode tertentu. Laporan keuangan tersebut dibuat dan disajikan dalam format excel yang sederhana agar mudah dibaca dan dipahami, namun tetap mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang ada dan mencerminkan kondisi yang sebenarnya dari usaha yang dimiliki secara tepat dan akurat. Setelah pemberian materi selesai diberikan lalu dilanjutkan dengan demonstrasi dan diskusi dengan peternak. Dalam kegiatan diskusi terlihat antusiasme anggota dan pengurus dalam bertanya seputar pengoperasian program dan pembuatan proposal kelayakan usaha. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengurus dan anggota dapat memahami materi yang diberikan. Kegiatan pendampingan dan bimbingan Pada tahap ini pengurus dan anggota berlatih agar terampil mengoperasikan program komputer berupa program laporan keuangan dan dibimbing dalam menyusunan kelayakan usaha ternak sapi dengan kriteria-kriteria investasi berupa NPV, Net B/C, dan IRR baik secara teori maupun praktek dengan menggunakan program komputer yang telah diprogram. Evaluasi hasil kegiatan Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengurus dan anggota kelompok Tani Teman Abadi dapat memahami materi yang diberikan, mulai dari tahap sosialisasi, diskusi, penyuluhan, pendampingan dan bimbingan penyusunan laporan keuangan dan analisis kelayakan usaha. Setelah dilakukan evaluasi dapat diketahui bahwa pengurus dan anggota kelompok Tani Teman Abadi dapat menerima materi yang diberikan, hal ini terbukti pengurus dan peternak dapat mengoperasikan program komputer yang disediakan sehingga laporan keuangan kelompok menjadi lengkap dan tertata dengan rapi, selain itu juga dengan bimbingan dari tim pengabdian peternak telah mempu membuat 69

76 proposal kelayakan usaha kelompok, sehingga apabila ada tawaran pengajuan kredit ke bank maupun pemerintah yang mengharuskan adanya persyaratan kelayakan usaha maka kelompok tani Teman Abadi telah mampu mempersiapkannya KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan program Pengabdian Kepada Masyarakat dapat disimpulkan bahwa : 1. Sistem pelaporan keuangan Kelompok Tani Teman Abadi menjadi lebih baik 2. Dihasilkannya proposal kelayakan usaha untuk pengajuan kredit kepada lembaga keuangan sehingga kesulitan modal Kelompok Tani Teman Abadi dapat diatasi. DAFTAR PUSTAKA Hanafi, M. M Manajemen Keuangan. BPFE. Yogjakarta. Ikatan Akutansi Indonesia Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil dan Menengah. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan. Kieso dan Donald E Akuntansi Intermediate. Erlangga. Jakarta. Ningtyas, J. D. A Penyusunan Laporan Keuangan UMKM Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil dan Menengah (SAK-EMKM) (Study Kasus Di UMKM Bintang Malam Pekalongan). Owner. Riset & Jurnal Akuntansi Volume 2 Nomor 1 Agustus Hal :

77 Implementasi Sistem Pertanian Tekno-Ekologis Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani Dan Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca Sri Arnita Abu Tani, Darlis dan Suhessy Syarief Tim Pelaksan Kegiatan Ppm-Pkm Kemenristekdikti-LPPM Univ Jambi ABSTRAK Program PKM pada Kelompok Tani Kajanglako Desa Pudak kecamatan Kumpeh Ulu, tidak hanya untuk menciptakan petani mandiri dan berjiwa enterpreneur, tetapi juga mampu menyelamatkan lingkungan dan meningkatkan pendapatan. Diketahui selama ini sistim usaha tani ternak sapi potong selalu dilakukan secara tradional tanpa adanya sentuhan teknologi dalam pemanfaatan limbahnya baik padat dan cair. Begitu juga halnya terhadap usaha tani tanaman pangan seperti tanaman jagung manis (Zea Mays L. Saccarata) ataupun tanaman padi yang dilakukan selalu bergantung kepada pupuk bersubsidi yang selama ini ketersediaannya tidak kontinu, harga terus merangkak naik sehingga biaya produksi yang dikeluarkan petani semakin tinggi. Dampak semua ini adalah produktivitas usaha yang dilakukan tidak optimal, emisi gas rumah kaca (GRK) seperti halnya N2O dan CH4 dan CO2 meningkat karena penumpukan limbah padat dan cair sapi potong dan penggunaan pupuk kimia secara intensif. Oleh karena itu perlu implementasi system pertanian tekno-ekologis guna meningkatkan pendapatan dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Metode yang dilakukan dalam implementasi sistem ini maka dilakukan beberapa kegiatan antara lain (1) Mengolah limbah padat dan cair sapi potong dengan menjadi pupuk organik Trichokompos dalam berbagai formula dengan menambahkan berbagai limbah seperti limbah batang pisang (LBP), Hijauan sisa pakan (HSP) dan jerami padi (JP); (2) Mengolah limbah cair sapi potong menjadi Pupuk Organik Cair (POC) Biourin Ekstrak Empon-Empon (E2P); (3) Mengolah limbah tanaman pangan menjadi SIPROMO (Silase Probiotik Molasses) yang dapat dijadikan feed suplemen untuk ternak sapi.. Seluruh kegiatan ini dilakukan melalui sosialisasi dan penerapan langsung di lapangan. Produk berbagai olahan limbah seperti limbah padat (Trichokompos) dan limbah cair (Biourine E2P) sapi potong serta limbah tanaman (SIPROMO) dapat mengurangi biaya produksi, serta dapat menjadi peluang usaha untuk menambah peningkatan pendapatan serta mengurangi emisi gas kaca (GRK) Key word : pupuk organik, silase, emisi, gas rumah kaca, pendapatan PENDAHULUAN Pada umumnya usaha tani yang dilakukan oleh petani masih bersifat tradisional, baik untuk usaha budidaya sapi potong maupun usaha tani tanaman pangan. Kondisi 71

78 disebabkan karena keterbatasan pengetahahuan petani, belum optimalnya teknologi yang dapat diimplementasikan dalam melakukan usaha tani. Pada pemeliharaan sapi potong biasanya petani hanya mengandalkan hijauan berupa rumput sebagai sumber pakan ternak sapi, pada musim hujan permasalahan ketersediaan hijauan tidak menjadi masalah, tetapi apabila pada musim kemarau ketersediaan hijauan berkurang sehingga ketersedian hijauan mulai berkurang sehingga penyediaan hijauan akan mengalami penurunan dan ini akan berpengaruh terhadap produktivitas ternak sapi potong. Dari hal limbah yang dihasilkan dari ternak sapi, petani belum memanfaatkan secara optimal, kotoran sapi dibuang ataupun ditumpuk disekitar kandang, begitu juga halnya dengan limbah cair berupa urine juga tidak dimanfaatkan secara optimal. Sistem pemeliharaan yang dilakukan ini, jelas akan mempengaruhi lingkungan terutama sekali terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan berupa methana (CH4). Kotoran sapi yang tidak dimanfaatkan akan berkontribusi terhadap terjadinya global warming (pemanasan global) karena emisi metan (CH4) yang dihasilkan. Gas metan (CH4) yang dihasilkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap panas bumi. Kotoran ternak (51%) berperan terhadap keberadaan gas rumah kaca (GRK) (Yusuf, 2015). Sri Arnita (2017) menyatakan penumpukan kotoran sapi berpotensi meningkatkan produksi methane (CH4) apabila tidak dimanfaatkan. Pada usaha tani tanaman pangan, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sangat tinggi, dengan harga pupuk kimia yang cukup mahal, membuat petani berharap dari pupuk subsidi. Tetapi pupuk subsidi ini ketersediaannya tidak kontinu dan sulit diperoleh petani. Kondisi ini juga akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas usaha tani yang dilakukan. Penggunaan pupuk N yang tinggi oleh petani juga menyebakan produksi gas rumah kaca (GRK) berupa N2O juga tinggi, mempunyai pengaruh 298 kali pengaruhnya lebih kuat terhadap persatuan berat dari CO2 (Yusuf, 2015). Terhadap limbah pangan petani juga tidak mampu mengolah menjadi produk yang dimanfaatkan, dan oleh petani setelah panen dibiarkan menumpuk, biasanya akan dibakar pada saat tanam kembali. Prilaku petani dalam sistem tradisonal yang dilakukan, jelas akan berpengaruh terhadap produktivitas usaha yang dilakukan, biaya produksi menjadi tinggi sebagai akibat ketergantungan petani terhadap pupuk subsidi, yang lebih fatal lagi kebiasaan 72

79 membakar pada saat panen menjadi pencetus terhadap terjadinya kebakaran lahan (Karhutla). Oleh karena itu perlu meminimalisir prilaku petani ini, dengan mulai mengimplementasikan sistem pertanian tekno-ekologis dimana merupakan suatu sistem pertanian dengan melakukan integrasi antara ternak dan tanaman dengan mengimplementasikan teknologi dan mempertimbangkan lingkungan sehingga terwujud pertanian ramah lingkungan (Guntoro, 2011). Pada sistem ini terjadi sustu sistem sinergis antara ternak dan tanaman terutama dalam pemanfaatan limbah, dimana limbah ternak dapat diberikan pada tanaman dan limbah tanaman dapat diberikan pada ternak, Dengan sinergis antar konoditi ini, jelas tidak ada limbah yang terbuang yang akan berpotensi merusak lingkungan terutama sekali terhadap emisi rumah kaca (GRK) yang dihasilkan. Melalui sistem ini juga biaya produksi yang dikeluarkan akan berkurang karena dapat memanfaatkan limbah yang dihasilkan antara ternak dan tanaman. Dampak dari global warming ini sendiri juga akan berpengaruh terhadap iklim, yang signifikan akan mempengaruhi usaha tani yang dilakukan. Sri Arnita (2017) menyatakan penumpukan kotoran sapi berpotensi meningkatkan. Oleh karena itu perlu suatu teknologi agar limbah yang terbuang dapat menjadi suatu produk yang mempunyai nilai ekonomi sehingga produktifitas usaha tani meningkat. Dengan Integrasi ternak dan tanaman dalam sistem pertanian tekno-ekologis limbah padat dan cair sapi potong akan diolah menjadi pupuk organik trichokompos dan pupuk cair biourine Empon-Empon.Aplikasi olahan limbah ternak sapi ini apabila dikombinasikan di lahan akan menjadi sumber pupuk organik yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia. Tehadap limbah tanaman apakah itu tanaman padi atau jagung bila diolah akan menjadi produk feed suplemen dengan produk SIPROMO. Pemanfaatkan berbagai limbah baik dari ternak dan tanaman ini menjadi suatu produk yang berdaya guna, dengan sendirinya petani telah berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang berkontribusi terhadap terjadinya pemanasan global (global warming). Peningkatan produktivitas usaha tani akan mendorong menciptakan petani mandiri secara ekonomis karena dapat menggerakkan ekonomi perdesaan. Dampak peningkatan produktivitas usaha tani akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan petani itu sendiri, sehingga secara keseluruhan tercipta masayarakat yang 73

80 lebih sejahtera, aman dan tentram. Oleh karena itu, penerapan sistem pertanian teknoekologis seyogyanya diimplementasikan pada kelompok tani, sehingga pendapatan petani dapat meningkat, dan emisi gas rumah kaca (GRK) berupa N2O, CH4 dan CO2 dapat dikurangi,terjadi perbaikan produktivitas dan manajemen usaha tani serta pertanian ramah lingkungan dapat METODE PELAKSANAAN Berdasarkan pada permasalahan di atas maka dilakukanlah beberapa kegiatan berupa sosialisasi dan penerapan langsung di lapangan. Kegiatan yang dilakukan antara lain : 1. Sosialisasi tentang Sistem Pertanian Tekno-Ekologis, untuk memahami tentantang manfaat sistem ini apabila diimplementasikan di dalam usaha tani. 2. Membuat demplot dalam hal ini membuat 4 (empat) buah boks untuk mengolah limbah padat sapi potong untuk dijadikan pupuk organik Trichokompos dengan memanfaatkan limbah lain yang ada disekitar lokasi usaha. Untuk ini dimanfaatkan limbah batang pisang hasil penjarangan pisang (LBP).limbah hijauan sisa pakan (HSP) dan jerami padi (JP) 3. Membuat pupuk organik cair (POC) biourine E2P, berbahan urine yang difermentasikan dengan ekstrak empon-empon dan bioaktivator EM4 4. Membuat SIPROMO jerami padi dengan bahan-bahan : limbah jerami padi,dedak padi, probiotik yang dihasilkan dari EM4, yoghurt, nenas dan molases. Cara Pengolahan Limbah pada, Cair Sapi Potong Dan SIPROMO 1. Limbah Padat Sapi Potong Berbagai limbah tambahan berupa limbah batang pisang (LBP), limbah hijauan sisa pakan (HSP) dan Jerami Padi dan pengolahannya disajikan pada Gambar 1.

81 Hijauan Sisa Pakan Jerami Padi Formula Trichokompos LBP, HSP dan JP Bahan Trichokompos Trichokompos Trichokompos Trichokompos LBP HSP JP % Feses Limbah batang pisang (LBP) Hijauan Sisa Pakan Jerami Padi Serbuk Gergaji Arang Sekam Dedak Padi Trichoderma 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg Indikator Keberhasilan Pembuatan Trichokompos A. Secara Fisik : a. Tidak berbau b. Berwarna Coklat kehitam-hitaman c. Remah dan tidak melengket di tangan 75

82 B. Indikator terukur Apabila proses fermentasi sudah selesai adalah melihat nilai suhu apakah telah mencapai 30 0 C, kadar air % dan ph kompos (6-8). Data diukur dengan alat pengukur suhu kompos dan alat pengukur kadar air dan ph. Apabila indikator ini telah tercapai kompos sudah dapat dipackaging untuk dapat dipasarkan. Pemasaran ini sebaiknya diiringi dengan analisa laboratorium nilai nutrisi kompos sesuai dengan aturan Permentan atau SNI untuk pupuk anorganik padat 2. Pengolahan Limbah Cair Sapi Potong Bahan-Bahan Yang diperlukan : a. Urine sapi liter sapi b. Molasses 750 ml c. Empon-Empon 5 kg d. Bioaktivator EM4 250 ml e. Air bersih 10 liter Langkah Pembuatan : Ada dua cara yang digunakan untuk membuat pupuk cair organik (POC) biourine sapi antara lain : a. Empon-empon yang telah dihaluskan langsung dimasukkan ke dalam urine dan ditambahkan EM4 b. Empon-empon dihaluskan kemudian dibuat ekstrak baru di masukkan ke dalam larutan urine c. Bahan-bahan ini dimasukan ke dalam drum yang ditutup rapat agar tidak dimasuki udara sehingga proses fermentasi dapat berlangsung sempurna d. Aduk campuran selama 15 menit, kemudian drum ditutup rapat, pengadukan dilakukan tiap hari selama 21 hari e. Setelah 21 hari urine langsung di saring dan dilakukan aerasi menggunakan aerator Gelembung selama 3 jam. Tujuannya untuk menurunkan kandungan amoniak dalam larutan f. Biourine siap digunakan 76

83 Cara penggunaan POC dari urine sapi ini dicampur atau diencerkan dengan air dengan perbandingan 10 % ( 1 liter urine : 10 liter air) 3. Pembuatan SIPROMO limbah tanaman pangan (Padi atau Jagung) Bahan Bahan : a. Jerami padi atau jagung b. Probiotik : Molasses 25 kg Buah nenas 5 buah diblender EM4 1 botol Susu bubuk ½ bungkus Yakult 3 botol Drum kapasitas 150 liter c. Dedak padi d. Garam Cara Membuat SIPROMO Jerami Padi a. Siapkan jerami padi maupun jagung sebanyak 25 kg b. Masukkan ke dalam drum selapis dan setiap lapis disiram dengan dedak setelah itu disiram dengan probiotik yang telah diolah, lapis lagi dengan jerami padi/jagung biotik c. Lakukan sampai drum berisi penuh dan dipadatkan sehingga tidak ada udara yang tertinggal d. Setelah penuh dan padat dalam drum, tutup dengan dedak dan siram kembali dengan probiotik e. Tutup rapat-rapat, sampai waktu 2-3 minggu f. Buka tutup drum setelah 2-3 minggu kemudian dibuka g. Cium aroma dari SIPROMO apakah sudah berbau wangi h. Sebelum diberi keternak sapi diangin-anginkan dulu Penggunaan berbagai limbah baik dari ternak dan tanaman dapat menghemat biaya produksi dan emisi gas rumah kaca. 77

84 JERAMI PADI SIPROMO Jerami Padi HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Profil Petani di Kawasan Ekonomi Masyarakat Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi Pada umumnya pola budidaya bertani dan beternak sapi potong masih bersifat tradisional, petani hanya mengandalkan rumput lapangan sebagai pakan andalan dari sapi yang mereka pelihara. Sisa hijauan pakan terbuang dan tidak termanfaatkan dengan baik, biasanya hanya digunakan sebagai pengasapan di kandang sapi untuk mencegah berkembangnya lalat. Dari limbah sapi yangh dihasilkan baik padat maupun cair juga tidak termanfaatkan dengan baik. Kotoran dan urine ternak hanya dibiarkan menumpuk disekitar kandang,. Waaupun dimanfaatkan tetapi itupun tidak secara maksimal. Penumpukan limbah sapi potong ini jelas akan mencemari lingkungan terutama menghasilkan gas metan (CH4) sehingga menjadi kontributor bagi terjadinya pemanasan global. Prilaku ini merupakan prilaku budidaya yang hampir dilakukan oleh 78

85 seluruh petani diperdesaan. Kondisi ini dikarenakan usaha yang dilakukan tidak dilakukan secara agrisbisnis, mereka tidak ada target produktivitas yang akan dicapai. Selanjutnya motivasi dan inovasi yang rendah membuat produktivitas usaha yang dilakukan tidak optimal. Petani belum membaca peluang usaha dengan memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari beternak. Pada budidaya tanaman pangan, kebutuhan petani akan pupuk subsidi sangat tinggi. Ketersediaan pupuk ini tidak kontinue. Pada saat dibutuhkan ketersediaan pupuk subsidi tidak ada. Apabila menggunakan pupuk komersial harga cukup tinggi. Akibatnya kebutuhan pupuk yang seharusnya diatasi dengan pupuk subsidi ternyata tidak terpenuhi. Hal ini juga menyebabkan produktivitas usaha tani menjadi rendah. Prilaku selanjutnya yang terjadi pada petani diperdesaan dalam melakukan budidaya ternak atau tanaman inilah menyebabkan petani tidak mempertimbangkan lingkungan. Limbah tanaman yang terbuang menjadi sumber peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) karena dibakar pada saat tanaman kembali. Pada musim kemarau pembakaran pada lahan sering mencetus terjadinya kebakaran lahan.oleh karena itu perlu dilakukan implementasi sistem pertanian tekno-ekologis untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dan mengurangi biaya produksi sehingga pendapatan petani meningkat. Untuk mencapai hal ini, tentu saja perlu adanya kegiatan sinergis antara ternak dan tanaman, sehingga seluruh limbah yang dihasilkan oleh ternak maupun tanaman dapat saling memanfaatkan. Apabila ini terwujud akan menghasilkan pertanian ramah lingkungan atau pertanian berkelanjutan. 2. Implementasi Sistem Pertanian Tekno-Ekologis Sistem pertanian tekno-ekologis merupakan suatu sistem pertanian yang mengimplementasikan teknologi dan mempertimbangkan ekologis (lingkungan). Sistem ini sering juga dinyatakan dengan eco-techno farming. Menurut Guntoro (2011) menyatakan bahwa ciri dan faktor pembentuk sistem pertanian tekno-ekologis antara lain : a) Adanya keragaman (diversifikasi) komoditas, sedikitnya harus ada dua komoditas atau spesies yang diusahakan yang mempunyai hubungan fungsional dengan komoditas pertama 79

86 b) Adanya pola integratif, tanpa adanya integrasi atau diversifikasi fungsional antara dua komoditas atau lebih. Pola integratif adalah pola dalam usaha tani yang menekankan komoditas-komoditas yang diusahakan memiliki hubungan fungsional dalam pemanfaatan zat-zat makanan, sehingga antar komoditas tidak berkompetisi, melainkan saling substitusi dalam memenuhi kebutuhan hara atau nutrisi. Dalam hal ini rantai zat-zat makanan dibentuk terutama oleh pemanfaatan limbah. Limbah tanaman diolah untuk pakan ternak, sedangkan limbah ternak diolah untuk pupuk tanaman dan model pertanian ini akan mendorong lahirnya kawasan bebas limbah (zero waste) c) Orientasi pemanfaatan sumber daya lokal, karena model pertanian tekno-ekologis mendorong terbentuknya siklus produksi tertutup, maka dengan sendirinya akan berorientasi pada pemanfaatan sumberdaya lokal dan menekan masuknya input dari luar. Hal ini sesuai dengan prinsip low external input and sustainable agriculture (LEISA), karena adanya rantai pemanfaatan zat-zat makanan dari tanaman ke ternak berupa limbah tanaman untuk pakan dan dari ternak ke tanaman berupa limbah (feses dan urine) untuk pupuk. Melalui proses dan penambahan bahanbahan tertentu dari sumber daya lokal ini juga dihasilkan biopestisida dan bioenergi. Dengan berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal ini, maka model pertanian tekno-ekologis disamping lebih efisien juga akan mengurangi ketergantungan petani terhadap input luar sehingga akan lebih menjamin keberlanjutan usaha tani d)ramah lingkungan, aplikasi teknologi ramah lingkungan merupakan ciri sekaligus pendukung penguatan model pertanian teknoekologis. Pengertian ramah lingkungan di sini,di samping mengurangi penggunaan bahan-bahan anorganik (pupuk,pestisida, pakan) dan meningkatkan penggunaan bahan-bahan organik, juga berorientasi untuk menjaga keseimbangan antar komponen ekosistem. Hal ini dilakukan untuk menjaga keragaman spesies (komoditas) serta menjamin kelestarian sumber daya pertanian, seperti lahan, air dan organisme-organisme yang hidup di dalamnya yang bermanfaat bagi kestabilan ekosistem. Selain itu teknologi ramah lingkungan di sini merupakan teknologiteknologi yang dapat menekan emisi GRK). 80

87 (e) Adanya pengolahan hasil, ini merupakan pendukung yang sangat penting selain dapat memberi nilai tambah hasil pertanian, aplikasi teknologi pengolahan hasil juga akan mendukung terbentuknya produksi siklus Pada kegiatan ini berbagai limbah yang terbuang seperti halnya limbah padat dan cair sapi potong dan limbah batang pisang, hijauan sisa pakan dan jerami padi, dapat dijadikan sebagai bahan penyusun pupuk organik. Bahan inilah digunakan untuk menghasilkan pupuk organik Trichokompos. Produk trichokompos ini sendiri dapat dihasilkan dalam berbagai produk seperti trichokompos LBP (limbah batang pisang), trichokompos HSP (Hijauan sisa pakan) dan trichokompos JP (Jerami padi). Dengan menghasilkan produk ini, secara tidak langsung memperlihatkan atau mensosialisasikan pada petani bahwa banyak peluang usaha yang dapat dilakukan untuk dapat dijadikan sumber pendapatan tambahan selain beternak maupun bertani. Setidak-tidaknya pupuk organik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat dikurangi. Apabila hal ini difahami oleh petani, penggunaan pupuk organik yang dihasilkan sendiri ini akan mengurangi biaya produksi. Dampak secara langsung dari inovasi yang ditumbuhkan pada diri petani, dengan sendirinya akan mengurangi potensi pencemaran lingkungan terutama sekaligus mengurangi potensi terjadinya peningkatan gas rumah kaca berupa metana (CH 4 ) dan nitrogen di oksida (N 2 O). Sri Arnita (2017), mengemukakan bahawa penerapan sistim pertanian tekno-ekologis dalam bentuk model integrasi antara sapi potong dan tanaman pangan (PAJALE) dapat meningkatkan produktifitas, pendapatan peternak, dan menekan produksi gas rumah kaca (GRK). Selanjutnya dikemukakan, limbah sapi potong baik padat dan cair cukup banyak tersedia tidak dimanfaatkan secara optimal oleh petani sehingga tumpukan kotoran sapi ini sangat berpotensi meningkatkan gas metane (CH4) dan (CO2) yang berkontribusi terhadap peningkatan (GRK) serta pemanasan global. Pengaruh gas metan (CH4) 23 kali lebih kuat dibandingkan CO2 dan berkontribusi dalam memenuhi ruangan atmosfir yang menyebabkan suhu bumi semakin panas. Begitu juga halnya dengan limbah cair sapi potong berupa urine juga dapat berpotensi untuk dijadikan penambahan pendapatan. Dengan tehnologi fermentasi dengan menggunakan empon-empon dan EM4 dapat dijadikan pupuk organik cair 81

88 (POC) yang dapat dijadikan sumber pupuk organik cair bagi tanaman. Produk POC ini diharapkan dapat menggantikan pupuk N cair kimia. Diketahui penggunaan pupuk N yang berlebihan akan mencetus terjadinya emisi N 2 Pengolahan limbah pertanian seperti halnya limbah padi dan jagung, merupakan limbah terbuang dan tidak dimanfaatkan oleh petani. Jerami padi biasanya akan ditumpuk di lahan dan diibakar pada saat akan tanam kembali, kebiasaan ini merupakan kebiasan yang dilakukan oleh petani pada sistem tradisional. Pada kegiatan ini juga, petani dilatih untuk membuat pakan sapi dari limbah yang terbuang ini dengan mentransferkan technologi SIPROMO (Silase Probiotik Molasses) berbasis limbah tanaman pangan. SIPROMO ini diharapkan dapat mensubtitusi kebutuhan hijauan pada saat musim kemarau.transfer technologi SIPROMO ini diharapkan dapat mengurangi prilaku petani yang lebih menyukai membakar limbah menjadi pakan sapi. Abay (2018) menyatakan bahwa pakan yang telah diawetkan dan diproses bahan bakunya berupa hijauan pakan ternak yang telah difermentasikan oleh bakteri asam laktat dalam suasana asam dan aerob (berproses tanpa oksigen) untuk memacu terbentuknya suasana asam dapat ditambahkan aditif berupa karbohidrat yang mudah dicerna seperti tetes tebu dan dedak. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tujuan dari pembuatan silase adalah untuk mensiasati persediaan pakan ternak di musim kemarau, menampung kelebihan hijauan pada musim penghujan agar dimanfaatkan secara optimal serta mendayagunakan limbah hasil pertanian seperti jerami padi dan jagung. Dengan memanfaatkan berbagai limbah baik dari ternak dan tanaman diharapkan petani dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan, dan dengan implementasi sistem pertanian tekno-ekologis diharapkan akan terjadi peningkatan pendapatan petani dan megurangi emisi gas rumah kaca (GRK). 3. Dampak Pengolahan Berbagai Limbah (Ternak dan Tanaman) Untuk melihat seberapa jauh dampak pengolahan limbah ternak (padat dan cair) sapi potong menjadi trichokompos dan biourin dapat dilihat berapa produk ini dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan selain dari sapi dan tanaman. Perhitungan analisa usaha tani sistem pertanian tradisional dan sistem pertanian tekno-ekologis disajikan pada Tabel 2. 82

89 Tabel 2. Analisa Usaha Tani Sistem Pertanian Tradisional Dan Sistem Pertanian Teknoekologis (Sapi Bali 4 ekor dan tanaman jagung seluas 1 Ha) No Biaya Tenaga Kerja Dan Saprodi Satuan Harga Sistem Sistem satuan (Rp) Tradisional Tek-Eko Jagung 1. Tenaga Kerja a. Biaya pengolahan lahan (Ha) b. PenyempRotan herbisida sblm tanam (HOK) c. Penanaman (HOK) d. PenyempRotan herbisida setelah tanam penyemprotan insektisida (HOK) e. Panen SUB TOTAL (1) Saprodi a. Benih (kg) b. Herbisida sistemik (ltr) c. Kapur (ton) d. Kompos kotoran sapi (ton) e. Bio-slurry (ltr) e. Bio-urine (ltr) f. Urea (kg) g.sp36 (kg) h. KCL i. Insektisida (ltr) SUB TOTAL (2) TOTAL BIAYA (1) PANEN PRODUKSI HARGA PENERIMAAN PENDAPATAN (1) II. SAPI a. Harga awal sapi (ekor) b. Rumput (kg)(15 kgx4 ekorx120 hr) b. SIPROMO (kg) c. Tenaga Kerja (HOK) d. Kandang (%) 0, e. Drum (unit) SUB TOTAL Rataan PANEN a. PBBH (kg/120 hr) 0,2-0, b. Harga akhir sapi (ekor) PENDAPATAN (Rp)

90 Lanjutan Tabel 2. III KOMPOS a.feses Sapi (4 ekor x15 kg x 120 hr)( karung) b. Dedak (kg) c. Trichoderma (kg) d. Sekam padi (karung) e. Serbuk gergaji (karung) SUB TOTAL PANEN Produksi kompos (4 ekor)(kg) Digunakan untuk lahan (kg) Potensi dijual (kg) SUB TOTAL PENDAPATAN BIOURINE a. Urine (4 ekor x 8 ltr x 120 hr) (liter) b. Drum c. Empon - empon d.em4 (botol) e. Diregen kapasitas 1 liter (paket) PANEN Produksi urine ( 4 ekor X 8 liter X 120 hr) Digunakan untuk lahan (liter) Potensi dijual (liter) SUB TOTAL PENDAPATAN TOTAL BIAYA PRODUKSI TOTAL PENERIMAAN Pendapatan R/C 1,55 1,74 Berdasarkan data Tabel 2. Terlihat bahwa usaha tani yang dilakukan dengan implementasi sistem pertanian tradisional, pendapatan yang diterima lebih rendah dibandingkan dengan implementasi sistem pertanian tekno-ekologis. Hal ini disebabkan dengan melakukan implementasi istem pertanian tekno-ekologis terbuka peluang usaha untuk menambah pendapatan bagi petani. Melalui implementasi Sistem pertanian teknoekologis ini selain menambhan pendapatan, dampak yang akan terlihat adalah pencemaran lingkungan berupa potensi terjadinya peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) dapat dikurangi, karena semua limbah diolah menjadi produk yang bernilai jual. Strategi agar sistem ini dapat memotivasi petani lainnya, kegiatan yang diimplementasi dalam bentuk demplot, dalam satu kawasan usaha tani ini secara terus 84

91 menerus harus dilakukan, sehingga demplot dalam kawasan ini akan menjadi suatu percontohan bagi kelompok tani lainnya dan kelompok tani yang dibina akan menjadi pioneer bagi kelompok tani tersebut. KESIMPULAN Implementasi sistem pertanian tekno-ekologis dapat meningkatkan pendapatan petani dan berdampak posistif terhadap penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Pengolahan berbagai limbah disuatu kawasan usaha tani akan menjadi sumber pendapatan bagi petani dan terwujudnya pertanian berkelanjutan. ACKNOWLEGMENTS Directorate General of Higher Education (DGHE) for providing funds PKM (Program Kemitraan Masyarakat) program in 2019 DAFTAR PUSTAKA Sri Arnita Integration of Beef Cattle and Crops on Tidal Swamps at Tanjung Jabung Timur Jambi Province (Eco-Techno Farming Sistem).Disertation. Institute Pertanian Bogor (IPB). Bogor Abay, U Silage Jerami Sosialisasi Pakan Ternak Musim Kemarau. Swadaya Media Bisinis Pertanian Guntoro, S Saatnya Menerapkan Pertanian Tekno-Ekologis. Sebuah Model Masa Depan Untuk Menyikapi Perubahan Iklim. PT Agromedia Pustaka. Jakarta. Yusuf, A.C Pertanian dan Peternakan Penyumbang Efek Rumah Kaca. 85

92 Sosialisasi Model 5C Untuk Membantu Peternak Sapi Memperoleh Akses Modal Afriani H, Firmansyah dan Rahmi Dianita Laboratorium Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi Jl. Jambi-Ma. Bulian KM 15. Mendalo Darat Jambi ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mensosialisasikan model 5C (Character, Capacity, Collateral, Condition, dan Capital) untuk membantu peternak memperoleh akes modal. Target khusus yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah peternak mampu menyiapkan dokumen 5C sebagai salah satu persyaratan memperoleh pinjaman modal. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan maka dilakukan sosialisasi tentang persyaratan untuk memperoleh kredit terutama menyangkut kelengkapan dokumen model 5C. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap, dengan metode ceramah dan diskusi dan bimbingan kepada peternak. Adapun materi yang diberikan meliputi : penjelasan tentang peluang memperoleh kredit, penjelasan tentang model 5C (Character, Capacity, Collateral, Condition, dan Capital) dan penyusunan dokumen 5C. Kata kunci : sosialisasi, model 5C, akses modal PENDAHULUAN Peluang usaha ternak sapi sangat besar, karena permintaan terus meningkat setiap tahun, ini terbukti di provinsi Jambi selama lebih 20 tahun (periode ) selalu mendatangkan sapi dari luar provinsi dengan jumlah yang terus meningkat tajam yaitu dari ekor tahun 1995 menjadi ekor tahun 2015 atau rata-rata bertambah 29,12 % per tahun. Kondisi ini disebabkan karena perkembangan populasi ternak sapi di provinsi Jambi pada periode tersebut tumbuh sangat lambat, dari ekor tahun 1995 menjadi ekor tahun 2015 atau rata-rata tumbuh hanya 1,17 % pertahun (Firmansyah dan Afriani 2017), akan tetapi peluang ini belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena peternak mengalami kesulitan untuk mengembangkan usaha disebabkan terbatasnya modal yang dimiliki. 86

93 Pinjaman modal yang diberikan pemerintah berupa pinjaman ternak, yang dilakukan dengan cara pengadaan ternak sapi bibit melalui program pola gaduhan ternak pemerintah. Program penyebaran ternak sapi dapat berjalan dengan baik apabila pemberdayaan peternak berjalan optimal, akan tetapi pinjaman modal yang diberikan pemerintah tidak selalu berjalan lancar, yang berakibat pada kredit macet. Ketidaklancaran pengembalian kredit oleh peternak karena terdapat beberapa penyimpangan dalam mekanisme perguliran ternak, pelimpahan ternak sebelum ternak beranak, dan adanya perguliran ternak di luar anggota kelompok (Wibowo dkk, 2011). Lebih lanjut hasil penelitian Basuno dan Suhaeti (2007) ditemukan bahwa penerima pinjaman modal enggan untuk menyerahkan aset ternak untuk digulirkan. Berdasarkan fakta yang ada, maka dalam pemberian pinjaman modal kepada peternak, pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian dan dilakukan analisis calon peternak dan calon lokasi melalui modifikasi dan rekayasa model perbankan dengan model 5C (Character, Capacity, Collateral, Condition, dan Capital) Kelurahan Mudung Laut merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Pelayangan Kota Jambi dengan luas wilayah 15,29 KM 2 dan jumlah penduduk jiwa (Badan Pusat Statistik Kota Jambi, 2017). Daerah tersebut dapat ditempuh melalui jalan darat maupun sungai dengan jarak dari pusat kota Jambi ± 15 KM, mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah bertani, selain itu mereka juga menjalankan usaha beternak sapi sebagai usaha sambilan, dan bahkan sudah ada yang menjadikannya sebagai usaha pokok. Untuk modal usaha rata-rata peternak memperoleh modal awal (pembelian bibit ternak) berasal dari pinjaman modal dari pemerintah. Masih banyak petani di daerah tersebut yang berminat untuk beternak sapi, karena potensi yang cukup banyak di daerah tersebut seperti limbah pertanian, rumput lapang, lahan, potensi tenaga kerja keluarga dan lokasi pemasaran. Akan tetapi belum semua peternak mendapatkan kesempatan memperoleh pinjaman modal baik dari pemerintah maupun swasta, karena pihak pemberi modal biasanya memberikan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon peternak termasuk persyaratan model 5C (Character, Capacity, Collateral, Condition, dan Capital) 87

94 METODE PELAKSANAAN Berdasarkan permasalahan yang ada maka dilakukan kegiatan sosialisasi dengan metode sebagai berikut : 1. Memberikan materi dengan kombinasi antara metode ceramah dan diskusi, tentang kiat-kiat untuk mendapatkan pinjaman kredit baik dari pemerintah maupun pihak swasta. Dengan metode ini diharapkan akan tumbuh pengertian dan pemahaman peternak sehingga kelompok mitra akan dapat memanfaatkan peluang pinjaman modal yang akan digunakan untuk pengembangan usahanya. 2. Memberikan materi dengan kombinasi antara metode ceramah dan diskusi, tentang persyaratan model 5C (Character, Capacity, Collateral, Condition, dan Capital ). Persyaratan model 5C sangat penting untuk diketahui oleh anggota kelompok mitra karena dalam pemberian pinjaman modal kepada peternak, pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian dan dilakukan analisis calon peternak dan calon lokasi melalui modifikasi dan rekayasa model perbankan dengan model 5C. 3. Setelah peternak mengerti dan paham tentang materi yang diberikan, maka selanjutnya peternak dibimbing dalam penyusunan dokumen 5C. 4. Guna mengetahui sejauh mana perubahan pengetahuan, dan pemahaman peternak terhadap materi yang diberikan tim pengabdian melakukan evaluasi ke lapangan. Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk melihat sejauh mana keberhasilan yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan, sehingga dari evaluasi yang dilakukan akan diketahui faktor-faktor yang menjadi penunjang dan penghambat pelaksanaan program tersebut HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI Tahap Persiapan Hari sabtu tanggal 1 September 2018 tim pengabdian melakukan kunjungan ke RT. 08 Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan Kota Jambi tepatnya ke kelompok Tani Teman Abadi dan kelompok Wanita Tani Serasi. Adapun maksud kedatangan tim pengabdian adalah untuk membicarakan rencana kegiatan yang akan 88

95 dilakukan, pada pertemuan tersebut disepakati tentang jadwal, tempat dan peserta yang akan mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut. Pada pertemuan ini juga banyak diperoleh informasi tentang pemeliharaan ternak sapi di daerah ini. Untuk tahun 2018 peternak di kelurahan Mudung Laut tidak ada yang mendapat bantuan ternak sapi dari pemerintah Kota Jambi, hal ini tentu membuat peternak kesulitan memperoleh modal untuk membeli bibit, meskipun sebagian tetap ada yang memelihara sapi dengan modal sendiri, dan modal ini juga awalnya mereka peroleh dari keuntungan memelihara ternak sapi bantuan pemerintah baik untuk sapi penggemukan maupun pada pola pengembangbiakan. Berdasarkan kunjungan ke lapangan diketahui bahwa minat dan motivasi peternak di Kelurahan Mudung Laut cukup tinggi untuk memelihara sapi, hal ini didukung dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga baik ayah, ibu dan anak. Hal ini terbukti di daerah ini terdapat kelompok wanita tani, yang ikut berperan aktif pada usaha pertanian maupun peternakan. Selain itu juga tersedia lahan yang cukup luas untuk pembuatan kandang ternak individu maupun kandang koloni masih memungkinkan didirikan di daerah ini. Tersedianya limbah pertanian dan rumput lapang, serta adanya kebun rumput dan legume merupakan hal yang sangat mendukung pengembangan ternak sapi di daerah tersebut. Sementara itu untuk pemasaran ternak tidak menjadi masalah, karena kelurahan Mudung Laut dekat dengan pusat pasar sehingga bisa dijadikan sebagai daerah penyangga dalam penyediaan ternak sapi khususnya untuk kota Jambi. Tahap Pelaksanaan Berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat maka pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 8 September 2018 bertempat di kediaman ketua kelompok tani Teman Abadi. Pada pertemuan ini dilakukan penyuluhan dengan kombinasi antara metode ceramah dan diskusi. Adapun materi penyuluhan yang diberikan tentang kiat-kiat untuk mendapatkan pinjaman kredit baik dari pemerintah maupun pihak swasta dan persyaratan model 5C (Character, Capacity, Collateral, Condition, dan Capital ), materi penyuluhan terlampir. Pada kegiatan ini terlihat antusiasme dari peserta untuk mendengarkan dan bertanya tentang hal-hal yang belum mereka pahami. Selama ini mereka memperoleh 89

96 bantuan ternak dari pemerintah tanpa harus melengkapi berbagai persyaratan dan apabila terjadi kematian karena sakit, kecelakaan dan pencurian peternak tidak perlu menanggung resikonya, akibatnya banyak program bantuan sapi pemerintah mengalami kegagalan, karena itu pemerintah sudah mulai menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memberikan bantuan ternak dengan melakukan analisis calon peternak dan calon lokasi melalui modifikasi dan rekayasa model perbankan yaitu model 5C, dengan harapan agar bantuan kredit ternak sapi ini dapat berjalan dengan baik dan peternak dapat merasakan manfaatnya. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan peternak diharapkan dapat mempersiapkan berbagai persyaratan untuk memperoleh bantuan kredit ternak sapi apabila sewaktu-waktu diperlukan. Evaluasi Kegiatan Guna mengetahui sejauh mana peserta kegiatan penyuluhan dapat menerima materi yang diberikan maka tim pengabdian melakukan evaluasi ke lapangan, terutama dalam mempersiapkan persyaratan dokumen 5C yang diperlukan apabila sewaktu-waktu diminta oleh pihak pemerintah maupun swasta selaku pemberi bantuan kredit ternak. Setelah dilakukan evaluasi dapat diketahui bahwa Character sebagian besar peternak cukup baik atau dapat dikatakan peternak jujur, sehingga dapat dikatakan layak untuk menerima bantuan kredit ternak sapi. Hal ini terbukti bahwa peternak di Kelurahan Mudung laut jarang yang menunggak pembayaran rekening listrik, sedangkan untuk pembayaran PBB juga secara rutin mereka bayar, karena pembayaran PBB juga menjadi syarat untuk berbagai urusan khususnya di kota Jambi. Sementara untuk pembayaran angsuran motor, dan kredit baik di bank maupun dikoperasi mereka jarang menunggak, bahkan banyak diantara peternak yang tidak memiliki pinjaman. Ditinjau dari segi Capacity, peternak mampu menyediakan rumput lapang, limbah pertanian, dan konsentrat berupa dedak padi yang cukup banyak di daerah tersebut. Sementara itu pemeliharaan ternak sapi dilakukan dengan sistem semi intensif, siang hari ternak dilepas dan malam hari dikandangkan. Modal (Capital) merupakan hal pertama yang dibutuhkan saat seseorang memulai usaha, begitu pula dalam menjalankan usaha peternakan. Peternak sapi di kelurahan Mudung Laut sebagian besar bersedia mengeluarkan modal untuk membeli bibit sapi, 90

97 membuat kandang, membeli peralatan kandang, obat-obatan, dan untuk biaya inseminasi buatan. Collateral adalah jaminan yang mungkin bisa disita apabila ternyata calon debitur benar-benar tidak bisa memenuhi kewajibannya. Untuk lebih menjamin agar bantuan kredit ternak dari pemerintah atau swasta dapat dikembalikan atau digulirkan oleh peternak dengan lancar sebaiknya peternak mengikuti program asuransi ternak. Di kelurahan Mudung Laut belum ada peternak yang mengikuti asuransi ternak, bahkan banyak diantara peternak belum mengetahuinya, akan tetapi peternak berminat untuk pengikutinya. Untuk pemeliharaan ternak sapi, kondisi ekonomi (economic condition) tidak begitu menjadi masalah, karena kebutuhan daging sapi terus meningkat, bahkan permintaan lebih tinggi dibanding ketersediaan, dan bila dilihat harga daging sapi dipasaran cukup stabil, hal ini cukup menguntungkan bagi peternak. Luaran yang Dicapai Hasil dari kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menambah bobot atau memperkaya materi kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi, Komunikasi dan penyuluhan, serta akan dipublikasi pada prosiding Semnas Fapet Unja Tahun KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari kegiatan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa peternak dapat memahami materi yang diberikan dan peternak mampu menyiapkan persyaratan dokumen 5C apabila diperlukan untuk memperoleh bantuan kredit ternak baik dari pemerintah maupun swasta. Saran Sebelum memberikan kredit usaha pemilikan ternak sapi kepada peternak, sebaiknya pemerintah atau pihak swasta selaku pemberi modal melakukan sosialisasi tentang persyaratan yang harus dipenuhi oleh peternak selaku calon penerima bantuan. 91

98 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Kota Jambi, Luas Daerah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan. Diakses tanggal 16 Februari Basuno, E dan R.N. Suhaeti Analisis Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM) : Kasus Pengembangan Usaha Ternak Sapi di Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 No. 2. Juni 2007 : Firmansyah dan H, Afriani Model 5C untuk Meningkatkan Keberhasilan Pola Gaduhan Ternak Sapi Pemerintah Daerah pada Beberapa Kawasan Sentra Ternak Sapi di Propinsi Jambi. Laporan Penelitian, Universitas Jambi. Wibowo, M. H. S., B. Guntoro dan E. Sulastri Penilaian Pelaksanaan Program Pengembangan Agribisnis Peternakan Sapi Potong di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Buletin Peternakan Vol. 35 (2) : , Juni Winarso, B Keberhasilan Pengembangan Ternak Sapi Potong Melalui Pola Pengembangan Model Usaha (KUPS). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Volume 15. Nomor 2, Mei Hal :

99 Pengenalan Saccharomyces cerevisiae sebagai Probiotik Dalam Pakan Tenak Sapi Potong Teja Kaswari, H. Suryani, S. Fakhri dan M. Afdal Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi Kampus Pinang Masak Jl. Raya Jambi Ma- Bulian KM. 15 Mendalo Darat Jambi Korespondensi: ABSTRAK Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan probiotik saccharomyces cerevisiae (SC) dalam pakan ternak Sapi Potong di Kelompok Tani Suka Maju. Target dan luaran dari program pengabdian kepada masyarakat ini diantaranya meningkatkan pengetahuan petani tentang penggunaan probiotik SC. Secara umum, permasalahan yang dihadapi oleh mitra saat ini adalah keterbatasan pengetahuan tentang cara penggunaan probiotik dalam pakan dan keterbatasan pengetahuan mengenai dosis probiotik yang dapat diberikan pada ternak Sapi Potong. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan beberapa kegiatan antara lain: Penyuluhan dan pelatihan cara menggunakan probitok SC. Program ini dimulai dengan pembekalan atau penyuluhan anggota kelompok ternak tentang manfaat probiotik, jenis jenis probiotik yang dapat digunakan untuk ternak ruminansia. Selanjutnya, pelatihan tentang cara dan dosis penambahannya dalam pakan ternak Sapi Potong. Kegiatan pengabdian dilaksanakan Kelompok Tani Suka Maju. Peternak sangat antusias dengan materi penyuluhan dan pelatihan yang diberikan. Hal ini terbukti dengan meningkatnya pemahaman peternak sekitar 90% setelah penyuluhan. Disimpulkan bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan dapat meningkatkan pengetahuan peternak tentang pemanfaatan probiotik SC dalam pakan ternak ruminansia. Kata kunci : probiotik, Saccharomyces cerevisiae, pakan sapi potong PENDAHULUAN Pemberian Saccharomyces cerevisiae (SC) sebagai imbuhan mikroba hidup ke dalam tubuh akan mempengaruhi induk semang melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme rumen (Zain et al., 2011, 2015). S.cerevisiae mampu bersaing dengan bakteri pati (Lynch dan Marti, 2002) yang mengarah ke pencegahan akumulasi laktat dalam rumen. Selain itu, dilaporkan bahwa SC memiliki kemampuan untuk merangsang faktor pertumbuhan, seperti asam organik atau vitamin, sehingga merangsang populasi bakteri selulolitik dan penggunaan bakteri asam laktat di dalam rumen (Chaucheyras et 93

100 al., (1995); Zain et al., (2011). Wina, (2000) menyatakan bahwa penambahan probiotik S. cerevisae (PSc) 5,2 x pada ternak sapi brahman cross menghasilkan kenaikan produksi daging 0,43 kg/ekor/hari. Abd.El-Ghani (2004), menyatakan bahwa pemberian 3 g atau 6 g S. cerevisiae pada pakan sapi perah yang berupa alfafa dan jerami gandum dapat meningkatkan produksi susu. Pada kambing saanen pemberian S. cerevisiae 4 x 10 9 CFU per harinya dapat meningkatkan produksi susu sebesar 14,4%. Kelompok Tani Suka Maju sepakat dibentuk pada tanggal 15 Mei 2008 terletak di Desa Kota Baru merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Geragai, Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Didaerah ini sebagian besar masyarakat memiliki ternak sapi Bali. Kelompok Tani ini juga telah memiliki koperasi yang diberi nama koperasi Suka Maju. Mata pencaharian dari masyarakat didaerah ini bervariasi diantaranya sebagai petani karet, sawit, pedagang dan peternak. Namun, mata pencaharian sebagai peternak sebagian besar dilakukan sebagai usaha sampingan. Banyak manfaat yang telah mereka rasakan dengan adanya usaha sampingan ini. Hal ini terbukti dengan meningkatnya kesejahteraan peternak. Pengenalan tentang manfaat probiotik untuk ternak perlu dilakukan pada dikelompok tani tersebut. Hal ini mengingat sistem pemeliharaan yang diterapkan di kelompok tani ini adalah sistem pemeliharaan intensif, dimana ternak selalu dikandangkan dan makanannya berupa rumput dan konsentrat diberikan di dalam kandang. Permasalahannya, ternak Sapi yang dikandangkan hanya akan memperoleh makanan dari apa yang diberikan oleh peternak. Penambahan probiotik dalam pakan akan membantu mengoptimalkan perkembangan mikroorganisme dalam rumen, meningkatkan kesehatan ternak dengan meningkatkan imun atau sistem kekebalan tubuh. Dengan meningkatkan optimalisasi bioproses dalam rumen melalui penambahan probiotik dapat meningkatkan produktivitas ternak. 94

101 METODE PELAKSANAAN Penyuluhan Tentang Manfaat Probiotik Dalam Pakan Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang jenis jenis probiotik yang dapat ditambahkan pada pakan ruminansia. Pelatihan dilakukan di rumah kelompok tani dan kandang ternak sapi selama satu hari. Metode pelatihan yang digunakan adalah metode pembelajaran orang dewasa (andragogi) serta partisipatif dengan menitikberatkan cara belajar sambil bekerja. Manfaat probiotik untuk ternak ruminansia, cara penambahan probiotik dalam pakan dan jenis jenis probiotik untuk ternak ruminansia Peserta pelatihan adalah seluruh anggota Kelompok Tani Suka Maju. Pelatihan yang dilakukan melibatkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), praktisi serta kepala desa setempat. Pelatihan Penambahan Probiotik SC dalam Pakan Tujuan Kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman peternak mengenai dosis penambahan probiotik SC yang efektif dalam pakan ternak Sapi Potong. Pelatihan dilakukan di saung kelompok tani dan kandang ternak sapi selama satu hari. Metode pelatihan yang digunakan adalah metode pembelajaran orang dewasa (andragogi) serta partisipatif dengan menitikberatkan cara belajar sambil bekerja. Materi yang disampaikan yaitu Pengertian probiotik, jenis jenis probiotik, dosis probiotik untuk ternak ruminansia, cara penambahan probiotik SC, Efek negatif dari kelebihan dosis penambahan probiotik SC dalam pakan. Peserta pelatihan adalah seluruh anggota kelompok tani mitra (Suka Maju dan Sumber Jaya). Iplementasi Kegiatan Pengabdian Persiapan dan Pembuatan Probiotik SC Pada kegiatan pengabdian ini kultur murni SC diperoleh dari laboratorium pangan dan gizi UGM dan diperbanyak dilaboratorium Fak. Peternakan Universitas Jambi. Pembuatan inokulum SC mengikuti prosedur (Suryani et al., 2016). Dosis dan cara penambahan SC dalam pakan harus sesuai dengan kebutuhan ternak, yaitu 1% berdasarkan bobot badan dan bahan kering ransum. Penambahan probiotik SC 1% BK (Suryani et al., 2016) dapat ditambahkan secara langsung dalam bahan pakan. Sebelum 95

102 dilakukan atau dimulai kegiatan evaluasi. Para petani akan memperoleh pengetahuan dasar tentang probiotik SC, manfaat dan dosisnya pada ternak. Setelah penyuluhan, para peternak diberi pelatihan dikandang tentang cara penambahan probiotik SC. Evaluasi Pelaksanaan Program Keberhasilan kegiatan pengabdian ini dinilai dari beberapa indikator yaitu : a. Peningkatan pemahaman petani tentang manfaat probiotik SC dalam ransum ternak ruminansia b. Peningkatan pemahaman petani tentang dosis probiotik SC dalam pakan c. Peningkatan keterampilan peternak tentang cara menambahkan probiotik SC dalam pakan Untuk mengukur tingkat pemahaman petani tentang pemanfaatan probitotik, dosis beserta cara penambahannya dalam pakan ternak dilakukan pengamatan dan tanya jawab dan pengisian kuisioner. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI Kegiatan PPM yang telah dilakasanan di Kelompok Tani Suka Maju yaitu kegiatan yang dilakukan dengan metode ceramah tatap muka dan demonstrasi tentang pemberian probiotik SC dalam pakan ternak ruminansia berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan penyuluhan dilakukan pada Kelompok Tani Suka Maju dihadiri oleh anggota kelompok tani dan masyarakat desa setempat. Pertemuan berlangsung di rumah ketua Kelompok Tani Suka Maju (Gambar 1) Gambar 1. Gambar Kegiatan Penyuluhan 96

103 Materi penyuluhan yang disampaikan meliputi pemahaman tentang penegrtian probiotik, jenis jenis probiotik, manfaat probiotik SC, dosis pemberian probiotik SC dan cara pemberiannya pada ternak. Kegiatan Demonstrasi Pemberian Probiotik SC Kegiatan percontohan pemberian probiotik SC dalam pakan ternak dilakukan untuk memberi pengetahuan dan keterampilan pada peternak dengan melihat langsung prosesnya (Gambar 2). Gambar 2. Gambar Kegiatan Demonstrasi Pemberian Probiotik SC Dari proses demontrasi yang dilakukan, semua peternak tertarik untuk menerapkannya karena mengetahui cara yang dilakukan sangatlah mudah yaitu dengan menambahkan secara langsung pada kosentrat pakan tanpa menambahkannya untuk fermentasi pakan. Sejauh ini pemahaman peternak dikelompok Tani Suka Maju yaitu memanfaatkan probiotik untuk pengolahan limbah kotoran ternak untuk menjadi kompos dan digunakan untuk memfermentasi pakan. Sehingga peternak sangat antusias karena cara penambahan probiotik SC yang praktis dalam pakan. Peningkatan Pengetahun dan Keterampilan Peternak Sebagai upaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan ini, peternak diberikan kuisioner pada akhir kegiatan. Hasil peningkatan pengetahuan dan ketermpilan peternak dapat dilihat pada gambar 3. 97

104 Gambar 3. Pengisian kuisioner Anggota kelompok tani Suka Maju merupakan peternak yang ulet serta bersedia menerima, mencoba dan menerapkan inovasi-inovasi baru. Hal ini dibuktikan dengan antusianya anggota dalam berdiskusi pada saat penyuluhan dan demonstrasi. KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan PPM ini adalah pengenalan probiotik dapat meningkatkan keterampilan peternak terutama tingkat pengetahuan petani terhadap hal hal baru yang berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Hal ini perlu dievaluasi secara terus menerus agar hasil hasil penelitian perguruan tinggi dapat dirasakan manfaanya oleh ke kelompok tani yang berada di daerah daerah tertentu. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada LPPM Universitas Jambi yang telah membiayai kegiatan ini melalui DIPA-PNBP LPPM pada Fakultas Peternakan Universitas Jambi Tahun Anggaran 2019 Nomor : SP DIPA /2019. DAFTAR PUSTAKA Dahlan, I. (2000). Oil palm frond (OPF) : A potential bio-waste material for commercial feed production. Agro-Search. 7(1): Dewhurst, R.J, D.R. Davies and R.J. Merry Microbial Protein Supply from The Rumen. J. Anim. Feed Sci and Tech

105 Ørakov, E.R. and I McDonald The estimation of protein degradability in the rumen from incubation measurements weighted according to rate of passage. J. Agr. Sci. Camb. S2: Pahan, Iyung Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta. Salminen, S. and A. V. Wright Lactic Acid Bacteria. Microbiology and Functional Aspects. 2nd Edition, Revised and Expanded. Marcell Dekker, Inc., New York. Suryani, H., M. Zain, R.W.S. Ningrat and N. Jamarun Effect supplementation of direct fed microbials on digestibility and fermmentability oil palm frond in vitro. Pakistan Journal of Nutrition. 15(1) : Suryani, H., M. Zain, R.W.S. Ningrat and N. Jamarun Effect supplementation based on ammoniated palm frond with direct fed microbials and virgin coconut oil on the growth perfomance and methane production of bali cattle. Pakistan journal of nutrition. 16(6): Suyitman., L. Warly and Evitayani In-vitro digestibility of palm leaf waste treated with different processing methods. Pakistan Journal and Nutrition. 17 (8): Tilley, M. A and R.A Terry A two-stage technique for the in vitro digestion of forage crops. Journal of British Grassland Society, 18 : Warly, L Study on improving nutritive valueof rice straw and physico-chemical aspects of its digestion in sheep. Ph.D. Thesis. The UnitedGraduated School of Agriculture Sciences, Tottori University, Japan. Weinberg, Z.G., Effect of lactic acid bacteria on animal performance. Indian J. Biotechnol. 2: i Widyobroto B.P., SPS. Budhi. A Agus and B Santosa Effect of undegraded protein level on nutrient digestibility and microbial protein synthesis of dairy cows. Yoon, I.K. and M.D. Stern, Influence of direct-fed microbials on ruminal microbial fermentation and performance of ruminants-a review. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 8: Zain, M., N. Jamarun dan Elihasridas Suplementasi rumput dengan jerami olahan dalam ransum ternak sapi. J. Andalas. No.31/Mei/Tahun XI. Zain, M., N. Jamarun, A. Arnim, W.S.N. Ningrat and R. Herawati Effect of Yeast (Saccharomyces cerevisiae) on fermentability, microbial population and digestibility low quality roughage (in vitro). Archiva Zootecnica 14(4),

106 Pengembangan Ayam Kampung Unggul Balitnak (Kub) Secara Longyam Dengan Ikan Lele Berbasis Probiotik Di Desa Nyogan Kecamatan Mestong Mairizal, Hutwan Syarifuddin dan M. Afdal Fakultas Peternakan, Universitas Jambi RINGKASAN Usaha budidaya ikan dan ayam kampung unggul sama-sama memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan dikalangan masyarakat mengingat permintaannya yang sangat besar dipasaran. Konsep Integrasi pemeliharaan ternak unggas dan ikan berbasiskan penggunaan probiotik diharapkan akan meningkatkan pendapatan petani peternak. Kelompok usaha bersama (KUBE) Mina Jaya dan Harapan Jaya yang berada di Desa Nyogan Kecamatan Mestong merupakan kelompok usaha bersama yang bergerak dibidang pemeliharaan ikan. Untuk meningkatkan pendapatan petani (income generating) bagi KUBE khususnya, maka perlu dikembangkan usaha mereka melalui integrasi pemeliharaan ikan dan ayam dengan system longyam dan berbasiskan probiotik. Kegiatan PPM penerapan ipteks ini melibatkan kelompok mitra Kelompok usaha bersama (KUBE) Mina Jaya dan Harapan Jaya. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan metode Participatory Rural Apraisal (PRA) melalui focus group discussion, penyuluhan, transfer teknologi tepat guna (introduksi ayam, ikan dan probiotik), pelatihan dan percontohan. Hasil kegiatan IPTEK telah berhasil dikembangkan ayam kampung unggul KUB dengan sistem longyam yang berbasiskan pemanfaatan probiotik. Selama masa pemeliharaan ayam kampung KUB tingkat kematian atau mortalitas ayam cukup rendah dan hal ini menunjukkan nahwa ransfer ilmu berupa pemeliharaan ikan dan ayam secara longyam telah memberikan hasil yang baik. Demikian juga dengan kondisi lingkungan kandang dan kolam yang terjaga bersih dengan memanfaatkan probiotik sehingga dapat meningkatkn kesehatan ternak. Kesimpulan kegiatan IPTEK ini adalah sistem pemeliharaan ayam dan ikan yang terintegrasi dapat membantu program pemerintah dalam rangka membangun ketahanan pangan serta peningkatan pendapatan masyarakat. Disamping itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga, menciptakan, mendukung, dan memperkuat penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Kata kunci: desa Nyogan, ikan lele, nila, integrasi, ayam kampung unggul Balitnak (KUB) 100

107 PENDAHULUAN Analisis Situasi Desa Nyogan yang dahulunya disebut Dusun Sugandi Kecamatan Mestong Kabupaten Muara Jambi merupakah salah satu daerah tempat pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) yang ada di Provinsi Jambi. Desa Nyogan mempunyai jarak yang cukup dekat dengan ibukota propinsi Jambi yaitu sekitar 60 Km. Dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia Suku Anak Dalam (SAD) Jambi yang merupakan komunitas masyarakat yang memiliki kebiasaan hidup berpindah-pindah dari suatu lokasi hutan ke lokasi lainnya maka saat ini SAD yang ada di Desa Nyogan sudah mulai hidup menetap. Secara Geografis desa Nyogan berada pada ketinggian 5 10m dpl yang terletak di bagian barat kabupaten Muaro Jambi dengan luas wilayah Hektar dan berada pada posisi : 01 o 45 Lintang Utara ( LU ) s/d 01 o 49 Lintang Selatan ( LS ) dan 103 o 30 Bujur Timur ( BT ) s/d 103 o 27 Bujur Barat (BB), dengan batas batas wilayah Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pelempang, sebelah selatan dengan Desa Berkah ( Sei Bahar ), sebelah timur dengan Desa Suka Damai dan sebelah barat dengan Desa Tanjung Pauh Talang Pelita / Markanding. Peruntukan lahan di Desa Nyogan adalah bagian utara memiliki wilayah tanah yang subur dengan Kultur tanah yang berbukit dengan lembah lembah kecil di sela perkebunan rakyat dan di aliri jalur sungai kecil, sedangkan dibagian selatan memiliki kultur tanah sedikit landai atau datar dengan dilewati sungai besar lahan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam, berupa kebun karet dan kebun sawit sebagian kecil lagi untuk lahan palawija dan tanaman sayuran. Kemudian dibagian Timur merupakan lahan perkebunan Karet dan terdapat Tambang Batu bara sampai saat ini dikeola Oleh PT Argo Makmur dan dibagian barat wilayah ini merupakan dataran rendah dan daerah rawa. Hampir 50% dari jumlah penduduk di Desa Nyogan merupakan komunitas SAD dan selebihnya adalah masyarakat pendatang. Mata pencaharian yang dilakukan penduduk Desa Nyogan sebagai petani karet, kelapa sawit, beternak dan memelihara ikan. 101

108 Berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan perekonomian komunitas SAD yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk membangun permukiman, sarana pendidikan, tempat ibadah dan lain-lain. Pembangunan sarana dan prasarana akan memberikan peluang berusaha bagi penduduk Desa Nyogan dan mengurangi perambahan hutan serta meningkatkan pelayanan kesehatan bagi komunitas SAD. Pembangunan Desa Sejahtera Mandiri di Desa Nyogan Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi sangat penting dalam rangka menuju pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) terutama untuk meningkatkan pengetahuan, kesehatan, perekonomian, pelestarian budaya terutama komunitas SAD. Selama ini yang menjadi permasalahan dalam pembangunan komunitas SAD adalah sumberdaya manusia, permodalan, penguasan teknologi dan daya tawar yang masih rendah. Salah satu upaya dalam Pembangunan Desa Sejahtera Mandiri melalui usaha pemanfaatan sumberdaya yang ada berupa pemanfaatan kolam ikan untuk budidaya ikan lele. Selama ini budidaya ikan lele yang dilakukan oleh penduduk Desa Nyogan secara tradisional sehingga hasil yang didapat masih belum optimal. Untuk meningkatkan hasil usaha perikanan maka perlu perbaikan dengan menggunakan metode partisipatif dan aksi dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang ada di Desa Nyogan. Dari hasil pengabdian Desa Binaan tahun 2017, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Jambi telah berhasil membina KUBE dalam hal peternakan ikan Nila. KUBE telah melakukan panen ikan Lele sebanyak dua kali dan ikan Nila sebanyak satu kali. Pada saat sekarang telah terjadi peningkatan luas kolam pemeliharaan ikan di KUBE dari 30 meter persebi sudah menjadi 80 meter persegi dimana pada awalnya hanya bisa menampung 6 jaring pemeliharaan sekarang sudah menjadi 10 jaring pemeliharaan ikan lele dan ikan nila. Berdasarkan pengamatan dilapangan, kondisi air kolam pemeliharaan ikan di kelompok usaha bersama KUBE termasuk cukup bersih dan mengalir sehingga sangat memungkin untuk diadakan usaha integrasi dengan peternakan ayam dengan teknik pemeliharaan secara Longyam. Longyam merupakan pemeliharaan ikan di kolong kandang ayam merupakan suatu perpaduan kegiatan budidaya yang saling menguntungkan. Dua kegiatan budidaya tersebut berjalan bersama-sama. Petani ikan yang membudidayakan ikan di kolong 102

109 kandang ayam secara tidak langsung akan menghasilkan penghasilan ganda. Selain dapat memanen ikan dari kegiatan memelihara ikan, petani juga dapat memanen ayam dari kegiatan budidaya ayam. Selain itu keuntungan yang diperoleh yaitu kotoran ayam yang jatuh ke kolam akan membuat atau akan menghasilkan pakan alami berupa plankton, yang sangat berguna bagi pertumbuhan ikan, selain bisa menumbuhkan pakan alami kotoran ayam tersebut bisa menjadi pakan langsung bagi ikan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ikan secara longyam ini adalah aerasi lancer, kolam tidak tertutup dan sinar matahari dapat menembus kolam serta kedalam 75 sampai 100 cm. Penggelolan produksi meliputi aspek terpadu antara segi teknis dengan segi bisnis. Setiap kegitan peternakan sudah tentu melibatkan ternak, yaitu hewan yang telah diarahkna kemampuan produksinya untuk memenuhi tujuan pemeliharaan. Salah satu ternak unggas yang dapat dipelihara secara longyam dengan ikan lele adalah ayam kampung unggul dari Balitnak (KUB) yang sudah mulai merata penyebarannya di seluruh wilayah Indonesia. Ayam kampung unggul Balitnak atau ayam KUB merupakan ayam hasil seleksi Ayam Kampung asli Indonesia galur betina (female line) selama enam generasi. Ayam KUB memiliki banyak keunggulan, diantaranya adalah pemberian pakan lebih efisien dengan konsumsinya yang lebih sedikit, lebih tahan terhadap penyakit, tingkat mortalitas yang lebih rendah, serta produksi telur Ayam KUB lebih tinggi dibanding ayam kampung lain dengan frekuensi bertelurnya setiap hari, sehinga dapat dijadikan solusi pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Berdasarkan keunggulannya tersebut Ayam KUB dapat menjadi ayam dengan tujuan penghasil telur atau sebagai pedaging. Pengembangan ternak ayam lokal seperti ayam KUB sebagai produk pangan komplemen dalam penyediaan daging unggas dewasa ini memiliki prospek yang cukup baik. Salah satu indikasinya adalah kecenderungan peningkatan permintaan produk ayam lokal dari tahun ke tahun dan hal ini menunjukkan bahwa: (1) masih tingginya preferensi masyarakat terhadap produk ayam lokal karena rasa daging yang khas; (2) terdapat kecenderungan beralihnya pangsa konsumen tertentu dari produk daging berlemak ke produk daging yang lebih organik dan (3) adanya pangsa pasar ayam lokal tersendiri yang tercermin dari semakin banyaknya restauran/outlet/gerai yang 103

110 menggunakan ayam lokal seperti Ayam Suharti, Ayam Kalasan, Mbok Berek dll (Priyanti et al., 2005). Demikian juga dengan telur ayam lokal yang oleh sebagian besar masyarakat diyakini mempunyai khasiat yang lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam ras, selain itu kuatnya pendapat konsumen bahwa daging ayam lokal dan telurnya lebih enak dibandingkan dengan ayam ras, sehingga dalam pemasarannya masih mudah dan tidak mengalami kesulitan (Ratnawaty et al., 2006). Pengembangan peternakan ayam dan khususnya ayam kampung unggul Balitnak (KUBE) sering terkendala oleh dampak yang ditimbulkannya berupa bau kandang yang menyengat sehingga akan mencemari lingkungan sekitarnya. Pengembangan ternak ayam kampung dengan pemberian probiotik merupakan salah satu solusi yang dapat mengatasi dampak lingkungan tersebut. Pemberian probiotik kepada ternak unggas, selain dapat meningkatkan status kesehatan ternak juga akan mengurangi bau amoniak dari kandang sehingga kandang tidak menimbulkan bau lagi. Berdasarkan beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian probiotik dapat menggantikan penggunaan antibiotik untuk ternak unggas serta dapat menjaga ekosistim kolam ikan sehingga akan meningkatkan produktivitas ternak ayam ataupun ikan. Permasalahan Mitra Peluang usaha dibidang budidaya unggas lokal seperti ayam kampung unggul Balitnak (KUB) masih terbuka lebar. Hal ini disebabkan permintaan konsumen akan daging dan telur dari ayam kampung masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian sebelumnya dan hasil survey awal menunjukkan bahwa kelompok usaha bersama (KUBE) Mina Jaya dan Harapan Makmur memungkinkan untuk pengembangan usaha pemeliharaan ikan dengan integrasi usaha pemeliharaan ayam kampung unggul Balitnak (KUBE). Namun anggota kelompok usaha bersama terkendala oleh beberapa faktor. Adapun masalah yang dihadapi oleh kelompok usaha bersama (KUBE) Mina Jaya dan Harapan Makmur dapat dirumuskan prioritas masalah yang perlu ditangani oleh anggota kelompok dengan pendampingan dari perguruan tinggi yaitu : 1. Modal usaha yang masih kecil sehingga mengalami kesulitan untuk pengembangan usaha integrasi pemeliharaan ikan dengan ayam kampung secara longyam. 104

111 2. Kurangnya pengetahuan anggota kelompok tentang beternak ayam kampung unggul Balitnak (KUB) sebagai sumber pendapatan yang dapat diandalkan 3. Kurangnya pengetahuan anggota kelompok tentang pemanfaatan probiotik untuk menjaga kesehatan ternak dan kebersihan lingkungan. 4. Kurangnya kemampuan anggota kelompok untuk mengadopsi teknologi tepat guna dalam pemeliharaan ayam dan ikan terintegrasi secara longyam berbasiskan probiotik. 5. Masih kurangnya sumber daya manusia serta daya tawar dari kelompok usaha bersama dalam memasarkan hasil ternak dan ikan. Prioritas utama bagi KUBE Mina Jaya dan Harapan Makmur Desa Nyogan adalah membangun Desa Sejahtera Mandiri berupa peningkatan produksi dengan melakukan kerjasama pada berbagai stakeholders seperti perguruan tinggi, dinas perikanan dan kelautan, dinas perindustrian dan perdagangan, dinas kesehatan, dinas pendidikan, dinas lingkungan (DLH), pemerintah daerah dan pihak swasta untuk mengembangkan usaha ikan lele dan ayam kampung unggul Balitnak (KUB) agar menjadi usaha mandiri yang berkelanjutan METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam penerapan Ipteks melibatkan kelompok mitra yaitu KUBE Mina Jaya dan Harapan Makmur Desa Nyogan Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi yang akan dilaksanakan selama 8 bulan. dengan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal ( PRA) Solusi yang Ditawarkan 1. Metode Pendekatan yang ditawarkan Metode yang ditawarkan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA adalah suatu metode yang menempatkan masyarakat sebagai subyek, perencana, pelaksana, sekaligus sebagai penilai dalam program pemberdayaan sehingga tim dan stakeholder yang terlibat sebagai fasilitator dan masyarakat dalam hal ini kelompok mitra ternak sebagai pelakunya (Sidu, 2006). Metode partisipasi aktif pada Kelompok 105

112 Usaha Bersama (KUBE) Mina Jaya dan Harapan Makmur dengan melibatkan secara proaktif antar pihak, yaitu Pemerintah/Pemerintah Daerah, masyarakat (termasuk jaringan kesetiakawanan sosial), dunia usaha, Perguruan Tinggi dan sebagainya. 2. Rencana Kegiatan (Langkah-Langkah Solusi) Rencana kegiatan dibagi dalam beberapa tahapan yaitu; Melanjutkan program, kegiatan demonstrasi dan pembinaan dari hanya satu sistem pembudidayaan ikan lela saja kemudian diintegrasikan dengan pemeliharaan ayam kampung unggul KUB secara longyam berbasiskan probiotik, tahap pengolahan hasil ikan lele, telur dan daging ayam kampung unggul KUB dan tahap pelayanan jasa serta konsultasi perikanan dan peternakan. Rencana Kegiatan Pelaksanaan pengabdian dilakukan kepada KUBE Mina Jaya dan Harapan Makmur Desa Nyogan Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi. Perintisan kerja sama antara KUBE Mina Lestari dengan stakeholder lainnya. Penyusunan program lanjutan untuk peningkatan usaha KUBE Mina Jaya dan Harapan Makmur. Tahap Kegiatan Sosialisasi rencana kegiatan, Persiapan teknis untuk Pemberdayaan masyarakat Desa Nyogan dan KUBE melalui kegiatan pendampingan dan FGD, Melakukan penyuluhan, pelatihan, demontrasi dan pendampingan pada anggota KUBE, Pelatihan teknik integrasi budidaya ikan lele dan ayam kampung unggul KUB berbasiskan penggunaan probiotik untuk meningkatkan produktivitas ternak dan ikan serta menjaga kesehatan lingkungan. Pelatihan pemeliharaan ternak ayam potong yang terintegrasi dengan ikan dan ikan nila berbasiskan penggunaan probiotik. Pelatihan teknik pengolahan ikan lele, dan ayam kampung unggul KUB yang ramah lingkungan. 106

113 Keberlanjutan kegiatan melalui perluasan kepada kelompok lain di sekitar Desa Nyogan. Monitoring dan Evaluasi dari kegiatan yang telah dilakukan. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI Tahapan Persiapan Kegiatan PPM pemeliharaan ayam kampong unggul Balitnak (KUB) dan pemeliharaan ikan secara terintegrasi dengan system longyam berbasiskan probiotik diawali dengan tahapan persiapan. Pada tahap persiapan ini, tim melakukan komunikasi dengan ketua kelompok dan sekaligus mengurus keperluan administrasi lainnya. Sebagai gambaran, bahwa kelompok usaha Bersama Mikna Jaya dan Harapan Makmur merupakan kelompok binaan dari LPPM Universitas Jambi dalam pemeliharaan ikan. Awalnya, kelompok mitra ini hanya memiliki 4 jaring pemeliharaan untuk ikan lele dan ikan nila dan pada saat sekarang sudah berkembang sebanyak 19 jaring pengembangan ikan lele. Berdasarkan wawancara dengan ketua kelompok didapatkan informasi bahwa pemeliharaan ikan lele lebih menguntungkan karena cepat masa panen serta pemeliharaannya yang tidak begitu sulit. Berdasarkan kondisi tersebut, maka kelompok mitra ini lebih memilih pemeliharaan ikan lele jika dibandingkan dengan ikan nila. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan PPM diawali dengan pertemuan tim dengan ketua dan anggota kelompok mitra untuk memulai kegiatan pemeliharaan ayam dan ikan secara longyam dan berbasiskan probiotik. Adapun serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut : 1. Penyuluhan tentang pemeliharaan ikan lele dan prospek ekonominya. 2. Kegiatan penyuluhan dengan materi pemeliharaan ikan lele dan prospek ekonominya telah dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 Juni 2019 dengan jumlah peserta 8 orang. Pada kesempatan ini juga dijelaskan tentang program PPM yang akan memberikan bantuan berupa bibit ikan lele sebanyak 2000 ekor serta pakan yang 107

114 disediakan selama 3 bulan pemeliharaan. Pemberian bantuan ini ditujukan untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan kelompok Mitra untuk dapat meningkatkan pendapatan mereka melalui usaha tambahan berupa pemeliharaan ikan lele. 3. Penyuluhan beternak ayam kampung unggul Balitnak (KUB) yang terintegrasi dengan pemliharaan ikan secara longyam dan berbasiskan penggunaan probiotik. 4. Kegiatan penyuluhan tentang cara beternak ayam KUB yang terintegrasi dengan pemeliharaan ikan lele (Longyam) serta penggunaan probiotik untuk menjaga kesehatan ternak dan ikan serta lingkungan kandang dan kolam. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini pada hari senin tanggal 8 Juli 2019 jam dengan peserta sebanyak 10 orang. Adapun materi yang disampaikan adalah keuntungan pemeliharaan ayam KUB, kandang dan peralatan kandang, cara pemeliharaan ayam KUB, pencegahan dan pengobatan penyakit yang menyerang ternak serta penggunaan probiotik untuk menjaga kesehatan ternak dan meningkatkan produksi ternak dan ikan. Pada kesempatan ini juga dijelaskan kepada kelompok mitra bahwa tim PPM akan memberikan bantuan berupa bibit ayam KUB sebanyak 200 ekor sebagai awal permulaan pemeliharaan ayam kampung KUB. 5. Pendampingan pembuatan kandang ayam diatas kolam pemeliharaan ikan dan jaring apung untuk pemeliharaan ikan lele. 6. Kegiatan pembuatan kandang ayam diatas kolam ikan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani atau kelompok Mitra dalam usaha terintegrasinya (longyam) ikan dan ayam. Pendampingan pembuatan kandang ayam dan jaring apung dilakukan pada hari Sabtu tanggal 20 Juli Gambar 1. Pendampingan pembuatan kandang ayam dan pembuatan jarring pemeliharaan ikan lele 108

115 1. Persiapan pemeliharaan anak ayam unggul KUB, pengadaan bibit ayam dan ikan serta penggunaan probiotik. Kegiatan pendampingan ini telah dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2019 pada hari sabtu jam dengan kehadiran peserta sebanyak 7 orang. Pada saat pendampingan ini tim PPM memberikan bantuan berupa bibit ayam KUB dan bibit ikan serta pakan selama pemeliharaan sampai panen. Kegiatan usaha integrasi budidaya ikan lele dan peternakan ayam sangat tergantung kepada kemampuan pembudidaya memilih benih yang baik dan murah, nilai konversi pakan yang menjadi daging (feed conversion ratio) yang rendah sama dengan 1, ukuran panen seragam 6-10 ekor per kg dan waktu budidaya pendek maksimum 90 hari (Nasrudin, 2010). Penguasaan pasar yang baik, penguasaan teknologi pembesaran ikan lele, dan strategi yang tepat dalam hal persiapan kolam, pemilihan benih, pengisian air, manajemen pakan, manajemen mutu air, manajemen panen, sangat berpengaruh terhadap keuntungan petani (Nugroho, 2007). Disamping itu juga disediakan probiotik untuk selama pemeliharaan. Gambar 2. Pengadaan bibit ayam KUB dan pakan ayam Gambar 3. Penyerahan bantuan bibit ikan lele dan pakan ikan. 109

116 1. Pemeliharaan ayam unggul KUB dan ikan Lele secara longyam dengan berbasiskan pengguanaan probiotik. Ayam KUB ini sudah dilepas sebagai ayam unggulan Balitnak sejak tahun 2009 dan merupakan hasil seleksi galur betina (female line) selama 6 generasi dengan keunggulan produksi telur tinggi (henday 45-50%), Puncak produksi 65%, produksi telur butir/tahun, konsumsi pakan gram, sifat mengeram 10% dari total populasi, umur pertama bertelur minggu, bobot telur gram dan konversi pakan 3,8. (Sartika et al. 2009). Pada saat sekarang ayam sudah memasuki pemeliharaan 2,5 bulan dan sebahagian sudah dipanen sesuai dengan permintaan pasar yaitu ayam kampung KUB dengan bobot hidup dengan kisaran 1 1,2 kg per ekor. Pemanenan dilaksanakan pada tanggal 24 oktober 2019 sebanyak 90 ekor sedangkan sisanya masih dipelihara untuk mencapai bobot badan yang sesuai dengan permintaan pasar. Budidaya ikan lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) secara intensif dapat menyebabkan menurunnya kualitas air media budidaya, antara lain menurunnya kandungan oksigen terlarut dan meningkatnya kandungan limbah khususnya nitrogen organik. Rachmawati dkk. (2015) Selanjutnya Avnimelech dan Kochba (2009) juga Ekasari (2008) serta Kuhn dkk. (2009) mengaplikasikan probiotik dalam pakan berperan dalam perbaikan kualitas air, peningkatan produktivitas dan efisiensi pakan serta penurunan pakan. Pratama dkk. (2016) melaporkan bahwa kualitas air kolam yang diberikan probiotik lebih baik dari kolam tanpa probiotik dan memberikan pengaruh positif pada ikan lele ditinjau dari pertambahan panjang dan berat. Sedangkan untuk ikan lele pemanenan akan dilaksanakan pada akhir November Gambar 4. Pemeliharaan ayam kampung KUB 110

117 Gambar 5. Pemanenenan ayam tahap awal 2. Monitoring dan evaluasi kegiatan Selama kegiatan PPM di kelompok Mitra yang berada di desa Nyogan Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi selalu dipantau oleh tim melalui kegiatan monitoring dan evaluasi. Pada saat monitoring dan evaluasi tim memberikan pengarahan dan pengetahuan praktis kepada kelompok mitra dalam pemeliharaan ayam dan lele secara longyam berbasiskan probiotik. Berdasarkan kondisi dilapangan, banyak ilmu yang didapatkan peternak dalam memelihara ayam dan ikan secara longyam. Jika mereka menemukan kendala atau masalah dalam pemeliharaan mereka sering berkomunikasi dengan tim PPM melalui sosial media seperti Whatshap ataupun mennelpon langsung ke tim terhadap kendala yang mereka hadapi. Berkat ketekunan dari kelompok Mitra angka mortalitas dalam pemeliharaan ayam KUB hanya 5 % dan ini dapat dikategorikan sangat bagus bagi pemelihara ayam kampung KUB yang masih tahap pemula. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari kegiatan PPM adalah adanya kemauan kelompok mitra untuk meningkatkan pengetahuan beternak ayam dan memelihara ikan dengan menggunakan probiotik untuk menjaga lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya angka kematian ayam KUB yang dipelihara rendah. Ayam KUB yang dipeliharapun men unjukkan bobot badan yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemeliharaan ayam kampung biasa secaar tradisional. Kelompok Mitra juga sangat antusial dalam pemeliharaan ayam dan ikan dan pada saat ini jaring ikan untuk pemeliharaan ikan lele sudah berkembang dari 6 jaring apung menjadi 24 jaring apung. 111

BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2

BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2 BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF 1 M. Syarif, 2 Wiwaha Anas Sumadja dan 1 H. Nasution 1 (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2 (Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KOMPOS AKTIF DALAM BUDIDAYA PEPAYA ORGANIK DI DESA KASANG PUDAK

PEMANFAATAN KOMPOS AKTIF DALAM BUDIDAYA PEPAYA ORGANIK DI DESA KASANG PUDAK PEMANFAATAN KOMPOS AKTIF DALAM BUDIDAYA PEPAYA ORGANIK DI DESA KASANG PUDAK Margarettha, Hasriati Nasution, dan Muhammad. Syarif Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi Abstrak Masyarakat kota

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAK SAPI DI DESA KOTA KARANG KECAMATAN KUMPEH ULU

TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAK SAPI DI DESA KOTA KARANG KECAMATAN KUMPEH ULU TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAK SAPI DI DESA KOTA KARANG KECAMATAN KUMPEH ULU Wiwaha Anas Sumadja, Zubaidah, Heru Handoko Staf Pengajar Fakultas Peternakan, Universitas Jambi Abstrak Kotoran ternak sapi

Lebih terperinci

PENGENALAN TEKNIK USAHATANI TERPADU DI KAWASAN EKONOMI MASYARAKAT DESA PUDAK

PENGENALAN TEKNIK USAHATANI TERPADU DI KAWASAN EKONOMI MASYARAKAT DESA PUDAK PENGENALAN TEKNIK USAHATANI TERPADU DI KAWASAN EKONOMI MASYARAKAT DESA PUDAK 1 Hutwan Syarifuddin, 1 Wiwaha Anas Sumadja, 2 Hamzah, 2 Elis Kartika, 1 Adriani, dan 1 Jul Andayani 1. Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci

PENERAPAN TEKNOLOGI MIKOTRIDERM BERBASIS 3 in 1 DALAM PEMBIBITAN KARET RAKYAT

PENERAPAN TEKNOLOGI MIKOTRIDERM BERBASIS 3 in 1 DALAM PEMBIBITAN KARET RAKYAT PENERAPAN TEKNOLOGI MIKOTRIDERM BERBASIS 3 in 1 DALAM PEMBIBITAN KARET RAKYAT Elis Kartika, Arzita, Wilma Yunita dan Gusniwati Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi ABSTRAK Desa Mujahirin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ultisols merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran

I. PENDAHULUAN. Ultisols merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ultisols merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanah merupakan salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam bidang

I. PENDAHULUAN. Tanah merupakan salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam bidang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanah merupakan salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam bidang pertanian, sebab tanah merupakan media tumbuh dan penyedia unsur hara bagi tanaman.

Lebih terperinci

APLIKASI PAKAN FERMENTASI BERBASIS HIJAUAN LOKAL PADA PETERNAKAN SAPI DI KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

APLIKASI PAKAN FERMENTASI BERBASIS HIJAUAN LOKAL PADA PETERNAKAN SAPI DI KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR APLIKASI PAKAN FERMENTASI BERBASIS HIJAUAN LOKAL PADA PETERNAKAN SAPI DI KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR Adriani, Fatati dan Suparjo Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber matapencaharian dari mayoritas penduduknya, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN MELALUI PEMBUATAN KOMPOS DAN SILASE PADA KELOMPOK PETERNAK SAPI DAN KELOMPOK WANITA PETANI HOLTIKULTURA 1

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN MELALUI PEMBUATAN KOMPOS DAN SILASE PADA KELOMPOK PETERNAK SAPI DAN KELOMPOK WANITA PETANI HOLTIKULTURA 1 OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN MELALUI PEMBUATAN KOMPOS DAN SILASE PADA KELOMPOK PETERNAK SAPI DAN KELOMPOK WANITA PETANI HOLTIKULTURA 1 Afriani H, Rahmi Dianita dan Nahri Idris 2 ABSTRAK Peningkatan

Lebih terperinci

APLIKASI COMPLETE FEED FERMENTASI LIMBAH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI

APLIKASI COMPLETE FEED FERMENTASI LIMBAH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI APLIKASI COMPLETE FEED FERMENTASI LIMBAH PERTANIAN PADA KELOMPOK TANI DI KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI Fatati, Sri Novianti, Adriani dan Jul Andayani Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Lebih terperinci

Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan ISSN: Vol. 2 No. 1 Tahun 2017 PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK DI KELOMPOK PETERNAK MAULAFA

Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan ISSN: Vol. 2 No. 1 Tahun 2017 PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK DI KELOMPOK PETERNAK MAULAFA PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK DI KELOMPOK PETERNAK MAULAFA Tri Anggarini Y. Foenay, Theresia Nur Indah Koni Politeknik Pertanian Negeri Kupang e-mail: anggarini.foenay@gmail.com, indahkoni@gmail.com ABSTRAK

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung

Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung Oleh: Agus Wahyudi (naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi) (Sumber : SINAR TANI Edisi 17 23 November 2010)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pupuk Bokasi adalah pupuk kompos yang diberi aktivator. Aktivator yang digunakan adalah Effective Microorganism 4. EM 4 yang dikembangkan Indonesia pada umumnya

Lebih terperinci

INTRODUKSI TEKNOLOGI KOMPOSTER BERBASIS MOL PADA KELOMPOK WANITA TANI DI DESA SEBAPO KECAMATAN MESTONG KABUPATEN MUARO JAMBI

INTRODUKSI TEKNOLOGI KOMPOSTER BERBASIS MOL PADA KELOMPOK WANITA TANI DI DESA SEBAPO KECAMATAN MESTONG KABUPATEN MUARO JAMBI INTRODUKSI TEKNOLOGI KOMPOSTER BERBASIS MOL PADA KELOMPOK WANITA TANI DI DESA SEBAPO KECAMATAN MESTONG KABUPATEN MUARO JAMBI Yurleni Fakultas Peternakan Universitas Jambi Email: yurleni@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

M.Yazid, Nukmal Hakim, Guntur M.Ali, Yulian Junaidi, Henny Malini Dosen Fakutas Pertanian Universitas Sriwijaya ABSTRAK

M.Yazid, Nukmal Hakim, Guntur M.Ali, Yulian Junaidi, Henny Malini Dosen Fakutas Pertanian Universitas Sriwijaya ABSTRAK PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI INTRODUKSI TEKNOLOGI PEMBUATAN DAN APLIKASI PESTISIDA NABATI PADA DEMPLOT SAYURAN ORGANIK DI KELURAHAN TALANG KERAMAT KABUPATEN BANYUASIN M.Yazid, Nukmal Hakim, Guntur M.Ali,

Lebih terperinci

Sistem Usahatani Terpadu Jagung dan Sapi di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan

Sistem Usahatani Terpadu Jagung dan Sapi di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan Sistem Usahatani Terpadu Jagung dan Sapi di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan Matheus Sariubang, Novia Qomariyah dan A. Nurhayu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan Jl. P. Kemerdekaan

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN PANGAN DAN GIZI KELUARGA MELALUI RUMAH HIJAU DI KECAMATAN SUNGAI GELAM KABUPATEN MUARO JAMBI.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN PANGAN DAN GIZI KELUARGA MELALUI RUMAH HIJAU DI KECAMATAN SUNGAI GELAM KABUPATEN MUARO JAMBI. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN PANGAN DAN GIZI KELUARGA MELALUI RUMAH HIJAU DI KECAMATAN SUNGAI GELAM KABUPATEN MUARO JAMBI. Refliaty dan Endriani Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

Majalah INFO ISSN : Edisi XVI, Nomor 1, Pebruari 2014 BIOGAS WUJUD PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT DI TUNGGULSARI TAYU PATI

Majalah INFO ISSN : Edisi XVI, Nomor 1, Pebruari 2014 BIOGAS WUJUD PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT DI TUNGGULSARI TAYU PATI BIOGAS WUJUD PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT DI TUNGGULSARI TAYU PATI M. Christiyanto dan I. Mangisah ABSTRAK Tujuan dari kegiatan ini adalah peningkatan produktivitas ruminansia, penurunan pencemaran

Lebih terperinci

IMBANGAN EFISIENSI PROTEIN RANSUM AYAM BROILER YANG MENGANDUNG TEPUNG BULU AYAM HASIL FERMENTASI DENGAN Bacillus spp. DAN Lactobacillus spp.

IMBANGAN EFISIENSI PROTEIN RANSUM AYAM BROILER YANG MENGANDUNG TEPUNG BULU AYAM HASIL FERMENTASI DENGAN Bacillus spp. DAN Lactobacillus spp. IMBANGAN EFISIENSI PROTEIN RANSUM AYAM BROILER YANG MENGANDUNG TEPUNG BULU AYAM HASIL FERMENTASI DENGAN Bacillus spp. DAN Lactobacillus spp. SKRIPSI LUQMAN HAKIM E10013041 FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair

Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair Pupuk Organik Unsur hara merupakan salah satu faktor yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan pupuk sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan

Lebih terperinci

Sri Arnita Abutani, Darlis, Yusrizal, Metha Monica dan M. Sugihartono 2

Sri Arnita Abutani, Darlis, Yusrizal, Metha Monica dan M. Sugihartono 2 8 PENERAPAN POLA USAHA TANI TERINTEGRASI TRIBIONIK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI 1 Sri Arnita Abutani, Darlis, Yusrizal, Metha Monica dan M. Sugihartono 2 ABSTRAK Pemeliharaan ternak sapi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju peningkatan produktivitas tanaman padi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung melandai, ditandai salah satunya dengan menurunnya produksi padi sekitar 0.06 persen

Lebih terperinci

Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan ISSN: Vol. 2 No. 1 Tahun 2017

Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan ISSN: Vol. 2 No. 1 Tahun 2017 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI POTONG MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI PETERNAKAN DI KELOMPOK TANI KOTA DALE - KELURAHAN OESAO Melkianus Dedimus Same Randu, Ferdinan S. Suek, dan Thomas Lapenangga Program

Lebih terperinci

PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI USAHA KOMPOS BOKASHI, BUDIDAYA SAYUR DAN JAMUR MERANG ABSTRAK

PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI USAHA KOMPOS BOKASHI, BUDIDAYA SAYUR DAN JAMUR MERANG ABSTRAK PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI USAHA KOMPOS BOKASHI, BUDIDAYA SAYUR DAN JAMUR MERANG Mariati, Rosita Sipayung, Riswanti, dan Era Yusraini Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Lebih terperinci

PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TERNAK SAPI POTONG DI KELURAHAN MERDEKA KECAMATAN KUPANG TIMUR KABUPATEN KUPANG

PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TERNAK SAPI POTONG DI KELURAHAN MERDEKA KECAMATAN KUPANG TIMUR KABUPATEN KUPANG PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TERNAK SAPI POTONG DI KELURAHAN MERDEKA KECAMATAN KUPANG TIMUR KABUPATEN KUPANG Ferdinan S. Suek, Melkianus D. S. Randu Program Studi Produksi

Lebih terperinci

STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN

STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN H. MASNGUT IMAM S. Praktisi Bidang Peternakan dan Pertanian, Blitar, Jawa Timur PENDAHULUAN Pembangunan pertanian berbasis sektor peternakan

Lebih terperinci

KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ABSTRAK

KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ABSTRAK KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH M. A. Firmansyah 1, Suparman 1, W.A. Nugroho 1, Harmini 1 dan

Lebih terperinci

JURNAL INFO ISSN : TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI

JURNAL INFO ISSN : TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI M. Christiyanto dan Surahmanto Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Email korespondensi: marrychristiyanto@gmail.com

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan

Lebih terperinci

Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat. dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif dengan

Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat. dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif dengan Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha di Indonesia Tahun (Persentase)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha di Indonesia Tahun (Persentase) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan sangat penting. Sektor ini mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, laju pertumbuhannya sebesar 4,8 persen

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sedangkan pads Bokashi Arang Sekam setelah disimpan selama 4 minggu C/N rationya sebesar 20.

PENDAHULUAN. Sedangkan pads Bokashi Arang Sekam setelah disimpan selama 4 minggu C/N rationya sebesar 20. PENDAHULUAN Selama ini para petani telah banyak memanfaatkan bahan organik sebagai pupuk di lahan pertanian, karena bahan tersebut merupakan bahan yang cepat melapuk. Salah satu contoh bahan organik yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanah Ultisol mencakup 25% dari total daratan Indonesia. Penampang tanah

I. PENDAHULUAN. Tanah Ultisol mencakup 25% dari total daratan Indonesia. Penampang tanah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanah Ultisol mencakup 25% dari total daratan Indonesia. Penampang tanah yang dalam dan KTK yang tergolong sedang sampai tinggi menjadikan tanah ini memunyai

Lebih terperinci

RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN

RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN MASKAMIAN Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan Jl. Jenderal Sudirman No 7 Banjarbaru ABSTRAK Permintaan pasar

Lebih terperinci

POTENSI KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG SEBAGAI SENTRA PERTANIAN ORGANIK MELALUI KEGIATAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT KELOMPOK WANITA TANI

POTENSI KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG SEBAGAI SENTRA PERTANIAN ORGANIK MELALUI KEGIATAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT KELOMPOK WANITA TANI POTENSI KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG SEBAGAI SENTRA PERTANIAN ORGANIK MELALUI KEGIATAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT KELOMPOK WANITA TANI Dewi Mustikaningtyas 1, Wiyanto 2, Noor Aini Habibah 3 1,3 Jurusan Biologi

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PRODUKSI KOMPOS

LAPORAN AKHIR PRODUKSI KOMPOS KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAS DAN PERHUTANAN SOSIAL DIREKTORAT BINA PERBENIHAN TANAMAN HUTAN LAPORAN AKHIR PRODUKSI KOMPOS RUMPIN SEED SOURCES AND NURSERY CENTER JAKARTA,

Lebih terperinci

PENERAPAN IPTEKS. Pemanfaatan Limbah Usaha Pemotongan Ayam dan Pertanian Untuk Penyediaan Pupuk Organik Cair dan Produksi Tanaman Organik

PENERAPAN IPTEKS. Pemanfaatan Limbah Usaha Pemotongan Ayam dan Pertanian Untuk Penyediaan Pupuk Organik Cair dan Produksi Tanaman Organik Pemanfaatan Limbah Usaha Pemotongan Ayam dan Pertanian Untuk Penyediaan Pupuk Organik Cair dan Produksi Tanaman Organik Murniaty Simorangkir Ratih Baiduri Idramsa Abstrak Program tanaman organik adalah

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN MEMBUAT DAN MEMANFAATKAN LIMBAH ORGANIK

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN MEMBUAT DAN MEMANFAATKAN LIMBAH ORGANIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN MEMBUAT DAN MEMANFAATKAN LIMBAH ORGANIK 1 Sufianto, 2 Wiyono dan 3 Sri Mursiani Arifah Universitas Muhammadiyah Malang, Jl. Raya Tlogomas 264, Malang 65144, Jawa Timur Abstrak

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanah sebagai sumber daya alam sangat penting dalam meyediakan sebahagian besar kebutuhan hidup manusia, terutama pangan. Pada saat ini kebutuhan akan pangan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal tersebut dikarenakan potensi dari sektor pertanian di Indonesia didukung oleh ketersediaan sumber

Lebih terperinci

Edisi Juni 2013 No.3511 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian

Edisi Juni 2013 No.3511 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian Zero Waste Integrasi Pertanian Tanaman Pangan dan Ternak Pada Lahan Sawah Tadah Hujan Indonesia sebagai negara agraris yang beriklim tropis memiliki sumberdaya pertanian dan peternakan yang cukup besar.

Lebih terperinci

Johanis A. Jermias; Vinni D. Tome dan Tri A. Y. Foenay. ABSTRAK

Johanis A. Jermias; Vinni D. Tome dan Tri A. Y. Foenay.    ABSTRAK PEMANFAATAN GULMA SEMAK BUNGA PUTIH (Chromolaena odorata) SEBAGAI BAHAN PEMBUAT PUPUK ORGANIK BOKHASI DALAM RANGKA MENGATASI PENYEMPITAN PADANG PEMGGEMBALAAN DAN MENCIPTAKAN PERTANIAN TERPADU BERBASIS

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu komoditas andalan bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani dan

Lebih terperinci

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA AgroinovasI SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA Ternak ruminansia seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan rusa dan lain-lain mempunyai keistimewaan dibanding ternak non ruminansia yaitu

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS TEKNOLOGI MODEL RUMAH PANGAN LESTARI DI KECAMATAN KUMPEH ULU

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS TEKNOLOGI MODEL RUMAH PANGAN LESTARI DI KECAMATAN KUMPEH ULU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS TEKNOLOGI MODEL RUMAH PANGAN LESTARI DI KECAMATAN KUMPEH ULU Sunarti, Endriani dan Ajidirman Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi Abstrak Kegiatan pemberdayaan

Lebih terperinci

Pemanfaatan dan Pengolahan Pupuk Organik Dari Limbah Tanaman Jagung Dan Kulit Coklat

Pemanfaatan dan Pengolahan Pupuk Organik Dari Limbah Tanaman Jagung Dan Kulit Coklat Pemanfaatan dan Pengolahan Pupuk Organik Dari Limbah Tanaman Jagung Dan Kulit Coklat (1 Uswatun Hasanah, 2 Murniaty Simorangkir, 3 Indra Masmur, 4 Sajaratud Dur dan, 5 Elvri Melliaty Sitinjak) Abstrak

Lebih terperinci

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Volume 30, Nomor 1 Januari Maret 2015

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Volume 30, Nomor 1 Januari Maret 2015 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK ITIK MELALUI PEMBERIAN SILASE IKAN RUCAH DAN LIMBAH UDANG DENGAN MENGUNAKAN PROBIOTIK PROBIO_FM DI DESA TELUK SIALANG KECAMATAN TUNGKAL HILIR TANJUNG JABUNG BARAT. Yusrizal,

Lebih terperinci

PEMANFAATAN SILASE KULIT BUAH KAKAO UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAMBING PADA SISTEM INTEGRASI KAKAO-KAMBING

PEMANFAATAN SILASE KULIT BUAH KAKAO UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAMBING PADA SISTEM INTEGRASI KAKAO-KAMBING PEMANFAATAN SILASE KULIT BUAH KAKAO UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAMBING PADA SISTEM INTEGRASI KAKAO-KAMBING BALAI PENELITIAN TERNAK 2012 Bidang Fokus : Ketahanan Pangan Jenis Insentif : Paket Insentif

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat No. 55 Tahun 2013, ISSN:

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat No. 55 Tahun 2013, ISSN: PEMANFAATAN LIMBAH DRUM CAT MENJADI DEKOMPOSTER SISTEM KIPAS SEBAGAI TEKNOLOGI UNTUK MENGOLAH LIMBAH PERTANIAN 1 Elis Kartika, Made Deviani Duaja, Lizawati, Gusniwati and Arzita 2 ABSTRAK Tujuan dari penyuluhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA DKI Jakarta merupakan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia dengan kepadatan penduduk mencapai 13,7 ribu/km2 pada tahun

Lebih terperinci

Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi

Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi Bangkinang-Salah satu kegiatan diseminasi inovasi hasil penelitian dan Pengkajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau adalah kegiatan temu lapang. Pada sabtu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung

Lebih terperinci

IPTEKS BAGI WILAYAH (IbW) KOTA SUNGAI PENUH. Trias Novita, Hanibal dan M. Sugihartono Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi

IPTEKS BAGI WILAYAH (IbW) KOTA SUNGAI PENUH. Trias Novita, Hanibal dan M. Sugihartono Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi IPTEKS BAGI WILAYAH (IbW) KOTA SUNGAI PENUH Trias Novita, Hanibal dan M. Sugihartono Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi Abstrak Kegiatan program Ipteks Bagi Wilayah (IbW) Kota Sungai Penuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009 sekitar ton dan tahun 2010 sekitar ton (BPS, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009 sekitar ton dan tahun 2010 sekitar ton (BPS, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jagung (Zea mays L) termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Jagung tidak hanya sebagai bahan pangan, namun dapat juga

Lebih terperinci

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, kami yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Ir. Bambang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya mata pencaharian penduduk Indonesia bergerak pada sektor

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya mata pencaharian penduduk Indonesia bergerak pada sektor 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada umumnya mata pencaharian penduduk Indonesia bergerak pada sektor pertanian, sektor ini meliputi aktifitas pertanian, perikanan, perkebunan dan peternakan.

Lebih terperinci

PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN KELEMBAGAAN PENYULUHAN DALAM MENDUKUNG SISTEM INTEGRASI DI KECAMATAN KERUMUTAN KABUPATEN PELALAWAN

PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN KELEMBAGAAN PENYULUHAN DALAM MENDUKUNG SISTEM INTEGRASI DI KECAMATAN KERUMUTAN KABUPATEN PELALAWAN PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN KELEMBAGAAN PENYULUHAN DALAM MENDUKUNG SISTEM INTEGRASI DI KECAMATAN KERUMUTAN KABUPATEN PELALAWAN Susy Edwina, Evy Maharani, Yusmini, Joko Saputra Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pertanian Organik Saat ini untuk pemenuhan kebutuhan pangan dari sektor pertanian mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan lingkungan.

Lebih terperinci

cair (Djarwati et al., 1993) dan 0,114 ton onggok (Chardialani, 2008). Ciptadi dan

cair (Djarwati et al., 1993) dan 0,114 ton onggok (Chardialani, 2008). Ciptadi dan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu merupakan komoditi pertanian yang utama di Provinsi Lampung. Luas areal penanaman ubi kayu di Provinsi Lampung pada tahun 2009 adalah sekitar 320.344

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian dan agribisnis di pedesaan merupakan sumber pertumbuhan perekonomian nasional. Agribisnis pedesaan berkembang melalui partisipasi aktif petani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tinjauan Agronomis Padi merupakan salah satu varietas tanaman pangan yang dapat dibudidayakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bagian integral dari pembangunan nasional mempunyai peranan strategis dalam

I. PENDAHULUAN. bagian integral dari pembangunan nasional mempunyai peranan strategis dalam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Pembangunan pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.2 Analisis Situasi Mitra pupuk organik.

BAB I. PENDAHULUAN 1.2 Analisis Situasi Mitra pupuk organik. BAB I. PENDAHULUAN 1.2 Analisis Situasi Mitra Pertanian merupakan sumber pangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan bidang pertanian harus dapat memacu diri untuk meningkatkan

Lebih terperinci

INTRODUKSI TEKNOLOGI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS REUSE, REDUCE DAN RECYCLE (3R) DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI 1

INTRODUKSI TEKNOLOGI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS REUSE, REDUCE DAN RECYCLE (3R) DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI 1 INTRODUKSI TEKNOLOGI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS REUSE, REDUCE DAN RECYCLE (3R) DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI 1 Sunarti, Heri Junedi dan Endriani 2 ABSTRAK Pengelolaan budidaya tanaman ramah

Lebih terperinci

pengusaha mikro, kecil dan menegah, serta (c) mengkaji manfaat ekonomis dari pengolahan limbah kelapa sawit.

pengusaha mikro, kecil dan menegah, serta (c) mengkaji manfaat ekonomis dari pengolahan limbah kelapa sawit. BOKS LAPORAN PENELITIAN: KAJIAN PELUANG INVESTASI PENGOLAHAN LIMBAH KELAPA SAWIT DALAM UPAYA PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI PROVINSI JAMBI I. PENDAHULUAN Laju pertumbuhan areal perkebunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik secara langsung maupun

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. Penelitian menyimpulkan sebagai berikut:

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. Penelitian menyimpulkan sebagai berikut: VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1. Kesimpulan Penelitian menyimpulkan sebagai berikut: 1. Usahatani padi organik masih sangat sedikit dilakukan oleh petani, dimana usia petani padi organik 51

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan

I. PENDAHULUAN. Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan menunjukkan dampak positif terhadap kenaikan produksi padi nasional. Produksi padi nasional yang

Lebih terperinci

P e r u n j u k T e k n i s PENDAHULUAN

P e r u n j u k T e k n i s PENDAHULUAN PENDAHULUAN Tanah yang terlalu sering di gunakan dalam jangka waktu yang panjang dapat mengakibatkan persediaan unsur hara di dalamnya semakin berkurang, oleh karena itu pemupukan merupakan suatu keharusan

Lebih terperinci

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI Pita Sudrajad, Muryanto, dan A.C. Kusumasari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah E-mail: pitosudrajad@gmail.com Abstrak Telah

Lebih terperinci

PERAN KUALITAS LAHAN DALAM MENDUKUNG PENINGKATAN KUALITAS DAN DAYA SAING PRODUK HORTIKULTURA

PERAN KUALITAS LAHAN DALAM MENDUKUNG PENINGKATAN KUALITAS DAN DAYA SAING PRODUK HORTIKULTURA PERAN KUALITAS LAHAN DALAM MENDUKUNG PENINGKATAN KUALITAS DAN DAYA SAING PRODUK HORTIKULTURA Prof. Benny Joy Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Pertanian Hortikultura Hortikultura merupakan komoditas

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PANEN RAYA PADI DI DESA SENAKIN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PANEN RAYA PADI DI DESA SENAKIN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK 1 SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PANEN RAYA PADI DI DESA SENAKIN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK Yang terhormat: Hari/Tanggal : Senin /11 Pebruari 2008 Pukul : 09.00 WIB Bupati

Lebih terperinci

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis 3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penelitian dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi. Fokus area penelitian adalah ekosistem transisi meliputi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pertanian Menurut Mubyarto (1995), pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat atau pertanian dalam arti sempit disebut perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Upaya memenuhi kebutuhan hijauan ternak ruminansia saat ini, para

I. PENDAHULUAN. Upaya memenuhi kebutuhan hijauan ternak ruminansia saat ini, para I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya memenuhi kebutuhan hijauan ternak ruminansia saat ini, para peternak selayaknya memanfaatkan bahan pakan yang berasal dari hasil ikutan produk sampingan olahan

Lebih terperinci

INTRODUSI TEKNOLOGI TRICHOKOMPOS PADA USAHA TANI SAYURAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI DESA RENGAS BANDUNG

INTRODUSI TEKNOLOGI TRICHOKOMPOS PADA USAHA TANI SAYURAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI DESA RENGAS BANDUNG INTRODUSI TEKNOLOGI TRICHOKOMPOS PADA USAHA TANI SAYURAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI DESA RENGAS BANDUNG Endriani dan Sunarti Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi Abstrak Tujuan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah selain menghasilkan air susu juga menghasilkan limbah. Limbah tersebut sebagian besar terdiri atas limbah ternak berupa limbah padat (feses) dan limbah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Lampung Timur merupakan salah satu daerah di provinsi Lampung yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan jagung, sehingga

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI KABUPATEN JEMBRANA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI KABUPATEN JEMBRANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa sistem pertanian

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa SawitSapi POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN ABDULLAH BAMUALIM dan SUBOWO G. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

STRATEGI PENGUATAN KELOMPOK TANI DALAM PENGEMBANGAN USAHA NOVRI HASAN

STRATEGI PENGUATAN KELOMPOK TANI DALAM PENGEMBANGAN USAHA NOVRI HASAN STRATEGI PENGUATAN KELOMPOK TANI DALAM PENGEMBANGAN USAHA Kasus Kelompok Tani Karya Agung Desa Giriwinangun, Kecamatan Rimbo Ilir, Kabupaten Tebo Provinsi Jambi NOVRI HASAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai potensi biomassa yang sangat besar. Estimasi potensi biomassa Indonesia sekitar 46,7 juta ton per tahun (Kamaruddin,

Lebih terperinci

Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam

Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam ANNY MULYANI Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi) (sumber : SINAR TANI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia, jagung (Zea mays L.) merupakan bahan pangan penting sebagai

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia, jagung (Zea mays L.) merupakan bahan pangan penting sebagai 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Di Indonesia, jagung (Zea mays L.) merupakan bahan pangan penting sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras, sebagai bahan makanan ternak dan bahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Budidaya tanaman pada dasarnya akan meninggalkan limbah baik limbah kimia maupun limbah organik, limbah organik biasanya berupa sisa tanaman seperti sisa batang dan daun tanaman

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menjadi suatu keharusan, agar produksi dapat menunjang permintaan pangan yang

I. PENDAHULUAN. menjadi suatu keharusan, agar produksi dapat menunjang permintaan pangan yang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan pokok terpenting bagi manusia yang harus dipenuhi agar bisa bertahan hidup. Perkembangan pertanian sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu :

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu : PROJECT DIGEST NAMA CLUSTER : Ternak Sapi JUDUL KEGIATAN : DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI pembibitan menghasilkan sapi bakalan super (bobot lahir > 12 kg DI LOKASI PRIMA TANI KABUPATEN TTU PENANGGUNG JAWAB

Lebih terperinci

SISTEM PERTANIAN TERPADU TEBU-TERNAK MENDUKUNG SWASEMBADA GULA DAN DAGING

SISTEM PERTANIAN TERPADU TEBU-TERNAK MENDUKUNG SWASEMBADA GULA DAN DAGING KODE JUDUL : X.47 LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN, KEKAYAAN INTELEKTUAL, DAN HASIL PENGELOLAANNYA INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN PENELITI DAN PEREKAYASA SISTEM PERTANIAN TERPADU TEBU-TERNAK MENDUKUNG

Lebih terperinci

PENGOLAHAN PUPUK PADAT DAN CAIR OLEH PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA

PENGOLAHAN PUPUK PADAT DAN CAIR OLEH PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA PENGOLAHAN PUPUK PADAT DAN CAIR OLEH PUSAT INOVASI AGROTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA PENDAHULUAN Petani pakai pupuk kimia Tekstur & struktur tanah ( sulit diolah & asam) Mobilisasi unsur hara Suplai

Lebih terperinci

RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat

RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Resona Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Vol. 1, No. 1 (2017) 1-5 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Palopo RESONA Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat http://journal.stiem.ac.id/index.php/resona/index

Lebih terperinci

<!--[if!supportlists]-->- <!--[endif]-->pemeliharaan kakao. <!--[if!supportlists]-->- <!--[endif]-->integrasi padi sawah dan ternak

<!--[if!supportlists]-->- <!--[endif]-->pemeliharaan kakao. <!--[if!supportlists]-->- <!--[endif]-->integrasi padi sawah dan ternak Hasil-hasil penelitian/pengkajian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian khususnya BPTP Sulawesi Tengah merupakan paket teknologi spesifik lokasi yang selanjutnya perlu disebarkan kepada pada ekosistem

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) Bunaiyah Honorita

PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) Bunaiyah Honorita PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) Bunaiyah Honorita Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu Jl. Irian Km. 6,5 Bengkulu 38119 PENDAHULUAN Hingga saat ini, upaya mewujudkan ketahanan

Lebih terperinci