BAB I PENDAHULUAN. yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia menjelaskan bahwa

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia menjelaskan bahwa"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manajemen sumber daya manusia menurut A. Sihotang dalam bukunya yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia menjelaskan bahwa manajemen berasal dari bahasa inggris to manage yang artinya mengelola atau mengendalikan dan mengatur. Sedangkan sumber daya manusia merupakan tejemahan dari bahasa inggris human resources. 1 Husein Umar mengungkapkan tentang manajemen sumber daya manusia yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pemutusan hubungan kerja dengan maksud untuk mencapai tingkat kepuasan dan performansi yang mereka inginkan dan organisasi memenuhi tujuan. 2 Studi tentang manajemen sumber daya manusia pada umumnya menguraikan apa-apa yang dilakukan oleh bagian kepegawaian pada umumnya dari suatu organisasi. Dengan demikian, definisi yang biasa diberikan untuk 1 A. Sihotang, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 2007), hal. 5 2 Husein Umar, Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1998), hal. 3 1

2 2 manajemen personel seolah merupakan rangkuman dari fungsi-fungsi yang dilakukan oleh kepegawaian pada umumnya. 3 Oleh karena itu ada dua fungsi pengertian tentang manajemen dan fungsi operasianol manajemen sumber daya manusia yaitu proses perencanaan, pengorgasasian, pengarahan, dan pengendalian terhadap: pengadaan seleksi, tes penyaringan, pelatihan, penempatan, pemberian konpensasi, pengembangan, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemberhentian atau pemensiunan sumber daya manusia dari organisasi. Jadi pada hakikatnya manajemen sumber daya manusia merupakan gerakan pengakuan terhadap pentingnya unsur manusia sebagai sumber daya yang cukup potensial dan sangat dominan pada setiap organisasi. Oleh sebab itu perlu dikembangkan, sehingga mampu memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasi maupun pencapaian tujuan pribadi sumber daya manusia itu sendiri. Pendidikan Islam mempunyai peranan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sesuai dengan cirinya sebagai pendidikan agama, secara ideal berfungsi dalam penyiapan SDM yang berkualitas tinggi, baik dalam penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi maupun hal karakter, sikap moral, dan penghayatan serta pengamalan ajaran agama. Secara singkat, 3 Justine T. Sirait, Memahami Aspek-Aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi, (Jakarta : PT Grasindo, 2006), hal. 4

3 3 pendidikan Islam yang ideal berfungsi membina dan menyiapkan anak didik yang berilmu, berteknologi, berketerampilan tinggi serta beriman beramal sholeh. Sebagaimana yang dikutip Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. dalam Konferensi Internasional Pertama tentang pendidikan Islam di Mekah pada tahun 1977 merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut : Pendidikan bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya: spiritual, intelek, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun secara kolektif, dan mendorong semua aspek ini ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan Muslim terletak pada perwujudan ketundukan secara sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia memiliki akar tradisi sangat kuat dilingkungan masyarakat Indonesia. Berkembang sejalan dengan proses Islamisasi di Nusantara, pesantren merupakan produk budaya Indonesia yang indigenous. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren diindikasikan mempunyai tiga peran tradisional yang penting, yaitu 1) sebagai pusat berlangsungnya transmisi ilmu-ilmu Islam (transmission of islamic knowledge); 2) sebagai penjaga dan pemelihara kelangsungan tradisi Islam (maintenance of Islamic tradition); 3) sebagai pusat reproduksi Ulama

4 4 (reproduction of ulama). Dengan kekuatan figur Kiai/ Ulama, pesantren berperan penting dalam intelektualisasi dan intensifikasi keislaman masyarakat muslim nusantara secara massif. 4 Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bercorak tradisional untuk memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam (Tafaqquh Fiddien) dengan menekankan moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Pondok pesantren didirikan untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada umat yang berkualitas lahir dan batin yang berkualitas imani, akhlaki, ilmu dan amalnya. Pada dasarnya lembaga pendidikan pondok pesantren bertujuan untuk mempersiapkan anak didik menjadi anak sholeh yang bertaqwa menurut normanorma agama Islam, sehingga membekali para santrinya dengan pengetahuan agama, umum dan keterampilan yang dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan dalam masyarakat yang sesungguhnya. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang tertua, perannya dalam pembangunan sudah tidak diragukan lagi. Tugas pokok pondok pesantren pada esensinya adalah mewujudkan manusia dan masyarakat Islam Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Keunggulan SDM yang diinginkan pondok pesantren adalah terwujudnya generasi muda yang berkualitas yang tidak hanya pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, dengan lebih mengorientasikan peningkatan 4 Mastuki HS, MA, Pendidikan Pesantren antara Normativitas dan Objektivitas, Majalah Pesantren, LAKPESDAM NU. Edisi I/ Th. 1/ 2002, hlm. 20.

5 5 kualitas santrinya kearah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dilandaskan pada nilai-nilai luhur ajaran Islam. Pengembangan sumber daya manusia bukan merupakan persoalan yang mudah karena membutuhkan pemikiran langkah aksi yang sistematik, sistemik, dan serius. Karena berusaha memberikan konstruksi yang utuh tentang manusia dengan mengembangkan seluruh potensi dasar manusia. Dalam hal ini, pondok pesantren dengan segala potensi yang dimilikinya mempunyai peran serta terhadap pembangunan yang sedang berlangsung. Untuk itu segala upaya yang mengacu pada pengembangan kualitas manusia sebagai sumber daya insani secara terus menerus dilakukan dengan indikasi peningkatan kualitas manusia Indonesia yang mampu berfikir strategis dan berwawasan masa depan adanya keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK. Dalam studi Manajemen Sumber daya manusia di Pondok pesantren ini, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian di pondok pesantren Mambaul Hikam Putat Tangglangin karena pondok pesantren ini telah mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya pemberdayaan sumber daya manusia, dengan segala potensi dan ciri khas manajemen pondok pesantren yang digunakan. Manajemen pondok pesantren yang merupakan sintesa antara pondok salaf, pondok modern, dan Penulis Ingin mengetahui bagaimana manajemen Sumber daya manusia beserta pengembangan Sumber daya Manusia di Pondok Pesantren ini.

6 6 Untuk melihat indikator dan pengukuran SDM pondok Pesantren, ada beberapa hal yang harus diperhatikan : program seleksi SDM; pengembangan profesi, kompensasi, dan pengawasan. Seleksi SDM sangat di perlukan, sehingga siapa pun yang direkrut dalam sebuah lembaga atau institusi akan berdasarkan atas minat dan motivasi yang kuat untuk aspek/bidang yang digeluti secara professional. Pengembangan profesi juga mutlak diperlukan, sebab perkembangan adalah kebutuhan setiap orang yang berkecimpung dalam kegiatan professional. Evaluasi prestasi juga sangat diperlukan sebab setiap kemajuan haruslah terukur secara empiric, rasional, dan bukan masalah like dan dislike. Kompensasi atau pemberian honur bagi yang berprestasi juga penting, sebab penghargaan tidak hanya berupa materi, tetapi juga bisa dengan cara lain. Pengawasan menjadi kata kunci bagi setiap aktivitasdalam sebuah institusi. pengawasan dapat dilakukan secara kontinyu atau temporer, tetapi yang paling baik adalah pengawasan melekat atau bilt in control. 5 Berdasarkan diatas, secara jelas telah terdeskripsikan bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam merupakan kebutuhan manusia yang akan senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan tuntutan zaman, karena manusia sebagai makhluk pedagogis dilahirkan dengan membawa potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi 5 Nur Syam, Manajeman Pesantren Indikator dan pengukuran pengembangan SDM di pesantren, (Jogyakarta ; LKIS, 2005)

7 7 serta penolong dan pemegang kebudayaan. Jadi, kualitas sumber daya manusia pondok pesantren sangat berperan penting sekali dalam menentukan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan mengkaji lebih lanjut terhadap tema tersebut dan dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul: MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI PONDOK PESANTREN MAMBAUL HIKAM PUTAT TANGGULANGIN SIDOARJO. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan permasalahan pokok yang akan dikaji dalam skripsi, adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Perencanaan Sumber Daya Mansuia di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin? 2. Bagaimana perekrutan tenaga pendidik di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin? 3. Bagaimana pengembangan Sumber Daya Manusia Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin?

8 8 C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak di capai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang di usahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya. Sesuai dengan rumusan masalah yang telah di sebutkan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Untuk mengetahui Perancanaan Sumber Daya Mansuia di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin. 2. Untuk mengetahui perekrutan tenaga pendidik di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin. 3. Untuk mengetahui pengembangan Sumber Daya Manusia Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin. D. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian dalam skripsi ini adalah: 1. Bagi peneliti : a. Sebagai bahan pembelajaran bagi peneliti serta tambahan pengetahuan sekaligus untuk mengembangkan pengetahuan penulis dengan landasan dan kerangka teoritis yang ilmiah atau pengintegrasian ilmu pengetahuan dengan praktek serta melatih diri dalam research ilmiah. b. Untuk memenuhi beban SKS dan sebagai bahan penyusunan skripsi serta ujian munaqosah yang merupakan tugas akhir penulis untuk

9 9 memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) pada jurusan Kependidikan Islam kosentrasi Manajemen Pendidikan (KI). 2. Bagi Obyek Penelitian a. Sebagai bahan masukan dalam rangka peningkatan implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin. b. Sebagai bahan evaluasi untuk Manajemen Sumber Daya Manusia Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin. c. Sebagai sumbangan kepada IAIN Sunan Ampel Surabaya khususnya kepada perpustakaan sebagai bahan bacaan yang bersifat ilmiah dan sebagai kontribusi khasanah intelektual pendidikan. E. Definisi Opersional Untuk menghindari kekeliruan dalam penafsiran judul yang penulis maksudkan, ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan disini: 1. Manajemen Manajemen adalah Ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. 6 6 Drs.H.Malayu S.P.Hasibunan. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Akasara hal.1

10 10 2. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia adalah : kearah yang lebih sejahtera dan mengurangi ikatannya dengan tradisi untuk mencapai tujuan yang hendak di capai. 7 Sumber daya manusia yang di maksud dalam skripsi ini adalah manusia yang bekerja di lingkungan organisasi yang mempunyai potensi untuk memperbaiki partisipasi yang produktif orang-orang yang terlibat pada organisasinya dengan cara-cara yang bertanggung jawab secara strategis, sosial, dan etika 3. Pondok Pesantren Pondok pesantren adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para santrinya semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih di kenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam komplek yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan lainnya. Komplek ini biasanya di kelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku. 8 Jadi, adapun SDM yang di maksud dalam penelitian ini adalah Para tenaga pengajar /ustadz (SDM) dalam menghadapi perubahan zaman yang serba modern dan kompetitif, sehingga harus adanya keseimbangan antara IMTAQ dan 7 Jimmly Ash-Shidiqie (eds), op.cit., hlm Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S, Jakarta, 1983, hlm.18.

11 11 IPTEK dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini di arahkan pada tiga ranah yaitu: (1) Pelaksanaan pengadaan atau rekrutment sumber daya manusia pada pondok pesantren yang dilaksanakan dengan dua system yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. (2) Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia dilingkungan pondok pesantren dilakukan oleh kepala pondok pesantren. Sedangkan Manajemen Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin ini dimaksudkan untuk memberikan sebuah gambaran pola siasat yang menjadikan Manajemen Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tanggulangin menjadi lebih baik dan efektif serta menjadi contoh bagi pesantren-pesntren yang kurang memahami terhadap manajemen sumber daya manusia pondok pesantren. F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif (qualitatife researh) adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dan bersifat induktif berdasarkan faktorfaktor yang ditemukan di lapangan dan kemudian dikontsruksikan menjadi teori. 9 Dengan menggunakan metode penelitian lapangan (field research) yang biasanya berupa interview, observasi, dokumentasi dan lain-lain. Yang hasilnya di catat dan dikualifikasikan menurut kerangka yang sudah 9 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D Bandung : Alfabeta, 2007, hal: 15

12 12 ditentukan. Hal inilah yang membedakan penelitian kepustakaan (library research) penggalian data diambil dari buku-buku ilmiah, majalah, peraturan undang-undangan, surat kabar, seminar, atau sumber lain yang ada kaitannya dengan masalah yang diketengahkan dengan cara menganalisa sumber data yang ada. 10. Karena penelitian ini bermaksud untuk memperoleh data membuat gambaran tentang suatu keadaan secara factual, sistematis, jelas lengkap dan rinci. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut bertujuan agar mampu menghasilkan temuan pengetahuan, hipotesis atau ilmu baru, dapat memperluas wawasan dan mempelajari serta mendalami tentang obyek yang akan diteliti, mampu membangun hubungan yang akrab dengan setiap orang yang ada pada konteks social, serta mampu menguji kredibilitas, dependabilitas, konfirmabilitas dan transferabilitas hasil penelitian. 2. Jenis dan Sumber Data a) Jenis Data Data adalah suatu hal yang di peroleh di lapangan ketika melakukan penelitian dan belum diolah. Atau dengan pengertian lain, suatu hal yang dianggap atau di ketahui. Data menurut jenisnya dibagi menjadi dua: Jenis Penelitian Penelitian Kepustakaan ( )http://sumber data-metode penelitian.com 11 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. hal: 9

13 13 1) Data Kualitatif Yaitu yang di sajikan dalam bentuk kata verbal, bukan dalam bentuk angka. Data inilah yang menjadi data primer (utama) dalam penelitian ini. Yang termasuk data kualitatif adalah: a. Deskripsi sumber daya manusia yang ada Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin b. Gambaran mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin. c. Pengelolaan dan penanggungjawab tentang Manajemen Sumber Daya Manusia Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin. d. Proses Perencanaan Sumber Daya Manusia, perekrutan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin. 2) Data Kuantitatif Yaitu data yang berbentuk angka statistik. Dalam penelitian ini, data kuantitatif hanya bersifat data pelengkap, dikarenakan penelitian ini penelitian kualitatif. Yang termasuk data kuantitatif adalah: a. Jumlah pengurus Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat- Tanggulangin.

14 14 b. Sarana dan prasarana Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin dan data lain yang menunjukkan data kuantatif. b) Sumber Data Sumber data merupaka subyek dari mana data tersebut berasal. Menurut sumber datanya dalam penelitian ini, data dibedakan menjadi dua macam yakni : 1) Sumber Data Primer Yaitu sumber yang langsung memberikan data kepada peneliti, 12 diantara adalah: 1) Kepala/Ketua Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat- Tanggulangin. 2) Wakil Kepala/Ketua Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat- Tanggulangin. 3) Pengurus Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat- Tanggulangin. 4) Pendidik / Ustad Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat- Tanggulangin. 2) Data Sekunder Yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, 13 seperti dokumentasi mengenai keadaan lingkungan, 12 Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Yogyakarta: Teras, 2009, hal: 55

15 15 dan literatur-literatur mengenai manajemen sumber daya manusia di pondok pesantren. 1. Prosedur Pengumpulan Data Metode pengumpulkan data adalah cara atau teknik yang di gunakan untuk mengumpulkan data sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin di capai. Untuk mendapatkan data-data yang di perlukan, maka di gunakan beberapa pengumpulan data, antara lain : a. Metode Observasi Sebagai metode ilmiah observasi biasa di artikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang di selidiki. Dalam arti luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang di lakukan, baik pengamatan secara langsung maupun tidak langsung. 14 Metode ini di gunakan untuk mengetahui obyek secara langsung tentang peristiwa. Dalam hal ini, metode observasi juga di gunakan untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi riel lingkungan pondok pesantren dan keadaan fasilitas pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin. Adapun data yang diperoleh dari metode observasi atau pengamatan adalah merupakan data-data segar, dalam arti data yang di 13 Ibid,57 14 Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta: Yayasan FPSI UGM, 1984), hlm.136.

16 16 kumpulkan di peroleh dari subjek yang meliputi pengurus pesantren, para ustad, dan administrasi yang di butuhkan yang ada di pondok pesantren tersebut pada saat terjadinya tingkah laku dan keabsahan data dapat di ketahui secara langsung, seperti kebijakan-kebijakan Pondok, metode pembelajaran Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin, dan lain sebagainya. b. Metode Wawancara (interview) Metode interview merupakan metode pengumpulan data dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara langsung oleh peneliti kepada responden (informan) dan jawaban-jawaban responden dicatat atau di rekam dengan alat perekam 15. Nasution berpendapat bahwa interview atau yang sering juga disebut dengan wawancara adalah sebuah dialog yang di lakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara 16. Metode interview penulis gunakan untuk mendapatkan keterangan atau informasi melalui percakapan secara langsung mengenai data yang sebenarnya dari sumber data. Interview atau wawancara ini di susun secara terperinci dengan beberapa pertanyaan terbuka. Metode wawancara ini di gunakan untuk menggali data yang terkait dengan MSDM yang ada di pondok pesantren secara detail Irawan Suhartono, Metode Penelitian Sosial,(Bandung :Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 16 Nasution, S., Motode Research, (Jakarta : Bumi Aksara, cet. II, 1995), hlm

17 17 dengan menggali data sedalam-dalamnya kepada beberapa informan penelitian di antaranya ialah kiai, putra-putra kiai, kepala madrasah, asatidz/guru, ketua yayasan,. c. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang merupakan catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasati, notulen, rapat legger, legenda dan sebagainya 17 yang berkaitan dengan rumusan masalh di atas. Dengan demikian dapat di gambarkan bahwa dokumentasi adalah suatu penyelidikan yang di tujukan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber-sumber dokumentasi yang berupa catatan tertulis atau bukti yang tidak diubah kebenarannya 2. Analisis Data Menganalisis data merupakan kegiatan inti yang terpenting dan menentukan dalam penelitian. Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasi dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Karena dengan analisislah, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Dalam memperoleh suatu kecermatan, ketelitian, dan kebenaran, maka peneliti dalam menganalisa data dari hasil penelitian melakukan beberapa langkah adalah sebagai berikut : 17 Moh. Nasir, Metode Penelitian, (Jakarta, Ghalia Indonesia, 2003), hlm

18 18 a. Reduksi Data Reduksi data di lakukan merupakan suatu langkah untuk pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan data, pengabstrakan dan transformasi data besar yang muncul dari hasil pencatatan (tertulis) di lapangan. 18 Reduksi data merupakan kegiatan analisis yang meliputi identifikasi, klasifikasi dan kodefikasi. Metode ini di gunakan dengan alasan karena dalam penelitian diskriptif kualitatif untuk memperolah sebuah data bagaikan bola salju (snow ball), semakin di gali data itu, maka semakin luas pula dan semakin tidak berujung, sehingga data-data yang di peroleh semakin tidak fokus (menyimpang) dari penelitian ini. Oleh karena itu, data yang tidak diperlukan yang di peroleh dalam penelitian ini akan di biarkan saja, tidak di masukkan dalam laporan hasil penelitian ini. b. Peyajian Data Peyajian data adalah sekumpulan informasi sistematis dan terukur yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian ini bisa berbentuk matrik, jaringan dan bagan. 19 Misalnya tentang lembaga mulai dari identifikasi perkembangan santri, prestasi santri, daftar nominasi pengurus, dan 18 Ben Ahmad Saebani, Metode Penelitian, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm Ben Ahmad Saebani, Metode Penelitian, hlm. 95.

19 19 berbagai bagan lainnya yang ada di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tulangan. c. Verifikasi Langkah verifikasi ini dilakukan dalam mengalisis data sejak permulaan, pengumpulan data, pembuatan pola-pola, penjelasan konfigurasi-konfigurasi yang mungkin dan alur sebab-akibat serta proposisi. 20 d. Teknik Induktif Metode Induktif ialah metode berfikir yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang konkrit, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa yang konkrit itu ditarik generalisasigeneralisasi yang mempunyai sifat umum 21. Dengan demikian metode Induktif ini adalah metode berfikir dengan menggunakan pernyataan khusus, individu, kemudian diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Metode ini di gunakan untuk menganalisis adanya perubahanperubahan kebijakan esinsial yang ada di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin. Seperti perubahan gaya kepemimpinan, perubahan pengambilan keputusan, sistem kaderisasi, sistem pengajaran 20 Ben Ahmad Saebani, Metode Penelitian...hlm Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta: Yayasan FPSI UGM, 1990), hlm. 42.

20 20 (kurikulum), dan keunikan kepemimpinan pengasuh pondok. dibandingkan dengan pondok pesantren yang ada di daerahnya. e. Teknik Deduktif Metode deduksi ini merupakan kebalikan dari metode berfikir secara induksi. Yaitu cara berfikir yang rumusan-rumusan teori yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Sebagaimana di nyatakan oleh Sutrisno Hadi dalam bukunya Metodologi Research bahwa cara berfikir deduksi ialah berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum, bertitik tolak dari pengetahuan umum, itu kita hendak menilai suatu kejadian yang khusus. 22 Teknis analisis ini merupakan kebalikan dari induktif, yakni di gunakan menganilisis kepemimpinan kiai pondok pesantren secara umum, f. Reflektif John Dewy dalam sebuah buku Metode Penelitian yang ditulis oleh Moh Kasiran menuliskan bahwa mengalisis data dengan menggunakan teknik reflektif adalah merupakan langkah lanjutan setelah metode induktif dan deduktif. 23 Biasanya langkah reflektif ini digunakan untuk penelitian non-statistik. 22 Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, hlm Moh. Kasiran, Motedo Penelitian; Refleksi Pengembangan Pemahaman dan Penyusunan Metodologi Penelitian, (UIN Malang Press : th. 2008), hlm. 136.

21 21 g. Teknik Komparatif Menurut Winarno Surahmad dalam bukunya di jelaskan bahwa penyelidikan komparatif dapat di lakukan dengan meneliti fakta-fakta tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang di selidiki dan membandingkan sesuatu dengan faktor yang lain Pengecekan Keabsahan Data Teknik keabsahan data dalam suatu penelitian merupakan dasar objektifitas hasil yang dicapai. Dalam penelitian yang menggunakan jenis penelitian kualitatif terhadap Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat-Tanggulangin, maka akan menggunakan beberapa teknik dalam mengevaluasi keabsahan data adalah sebagai berikut : a. Perpanjangan keikutsertaan Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen utama, sehingga keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam mengumpulkan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada saat penelitian. Waktu yang panjang dalam melakukan penelitian akan dapat di peroleh data yang lebih banyak dan dapat 24 Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung : Trasito, 1975), hlm. 143.

22 22 digunakan untuk mendeteksi data yang di peroleh, sehingga menyediakan lingkup yang lebih luas. 25 b. Ketekunan pengamatan Ketekunan pengamatan disini dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isi yang sedang di cari dan kemudian memusatkan diri pada hal tersebut secara rinci. Dengan adanya pengamatan yang berperan serta dalam penelitian maka diperoleh kedalaman data yang bisa disesuaikan dengan masalah yang diteliti. 26 c. Triangulasi Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam hal ini triangulasi dengan teori sebagai penjelasan banding (rival explanations). Selain itu triangulasi dengan sumber sebagai pembanding terhadap sumber yang diperoleh dari hasil penelitian dengan sumber yang lain. Teknik triangulasi yang paling banyak di gunakan ialah pemeriksaan melaui sumber lainnya. Denzin (1987) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan 25 Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah hlm Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah hlm. 177

23 23 yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori Tahap-tahap Penelitian Dalam tahap-tahap penelitian ini terdiri atas beberapa tahap, antara lain tahap pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data. a. Tahap Pra Lapangan (investion) Tahap ini merupakan langkah awal di dalam melakukan sebuah penelitian. Bentuk dan langkah tahap awal ini bahwa peneliti mengawali dengan membuat proposal penelitian, memilih lapangan penelitian dengan pertimbangan letak geografis serta hemat dan praktisnya dalam mempergunakan waktu, tenaga dan biaya. 28 Oleh karena itulah peneliti memilih lokasi penelitian di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat Tulangan, dirasa tepat dan cocok karena lokasi pondok pesantren tersebut bisa dijangkau oleh kendaraan apa saja, dengan biaya yang cukup lumayan. Sementara dari perkembangannya, Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putat- Tanggulangin. Agak unik, sehingga layak untuk dijadikan obyek penelitian. 27 Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, hlm Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, cet. xix, 2001), hlm

24 24 Hal-hal yang dilakukan dalam tahap penelitian ini adalah mengadakan penjelajahan lapangan terlebih, kemudian peneliti berusaha untuk : 1) Menemukan masalah 2) Menemukan topik dan fokus penelitian 3) Membuat desain penelitian berupa penentuan rancangan penelitian 4) Memilih lapangan penelitian 5) Mengurus perizinan dan instansi penelitian b. Tahap Pekerjaan Lapangan Setelah mempersiapkan segala hal yang terkait dengan persiapan pada tahap pra lapangan selajutnya peneliti melakukan : 1) Memahami latar penelitian dan persiapan diri Disni peneliti perlu memahami latar penelitian terlebih dahulu. Disamping itu juga, perlu mempersiapkan baik secara fisik maupun secara mental, juga harus mengingat persoalan etika. 29 Agar dapat memahami latar penelitian, peneliti meminta keterangan terkait dengan sasaran penelitian dan mulai mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental serta mencoba 29 Loxy, J. Moelong, Metode Penelitian Kuantitatif, hlm. 137.

25 25 menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebiasaan, juga menjalin hubungan yang baik dengan obyek penelitian. 30 2) Memasuki Lapangan Selama memasuki lapangan hal yang harus diperhatikan adalah keakraban hubungan. Hubungan merupakan sikap peneliti yang hendak pasif, hubungan yang perlu dibina berupa rapport. Rapport adalah hubungan antara peneliti dengan yang diteliti yang sudah melebur sehingga seolah-olah tidak lagi ada dinding pemisah diantara keduanya. 31 Selanjutnya memperlajari bahasan dan mempelajari kebiasaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang menjadi subyek. 3) Berperan Serta Mengumpulkan Data Pencapaian data di lapangan dengan menggunakan alat pengumpulan data yang disediakan secara tertulis ataupun tanpa alat yang hanya merupakan angan-angan tentang sesuatu hal yang akan dicari dilapangan. 32 Pengumpulan data dimulai sejak memasuki lapangan dengan melakukan pengarahan batas studi, mencatat data yang diperoleh 30 Loxy, J. Moelong, Metode Penelitian Kuantitatif, hlm Loxy, J. Moelong, Metode Penelitian Kuantitatif, hlm P. Joko Subagyo, Metodologi Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 37.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi metode

BAB III METODE PENELITIAN. pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi metode 51 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Tahap-Tahap Penelitian Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan metodelogi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku,

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penggalian data dan informasi, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang

Lebih terperinci

Bab III. Metode Penelitian. Muslim Peserta Didik Di MA Al- Ma arif. Maka pendekatan dalam

Bab III. Metode Penelitian. Muslim Peserta Didik Di MA Al- Ma arif. Maka pendekatan dalam 78 Bab III Metode Penelitian A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang dikemukakan yakni Pelaksanaaan Pembelajaran GuruAqidah Akhlak dalam Meningkatkan Kepribadian Muslim Peserta Didik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam metodologi penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor sebagaimana dikutip Lexy J.Moloeng, medefinisikan metodologi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Penelitian

Lebih terperinci

kajian dalam penelitian ini menyangkut perilaku organisasi, maka metode yang dianggap tepat adalah metode deskriptif pendekatan

kajian dalam penelitian ini menyangkut perilaku organisasi, maka metode yang dianggap tepat adalah metode deskriptif pendekatan BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Fokus kajian dalam penelitian ini menyangkut perilaku organisasi, maka metode yang dianggap tepat adalah metode deskriptif pendekatan kualitatif. Sejalan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam BAB III METODE PENELITIAN A. Paradigma dan Pendekatan Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam penelitian ini, maka paradigma yang relevan dalam penelitian ini adalah paradigma

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Penggunaan metode yang tepat dalam penelitian adalah syarat utama dalam mencari data. Mengingat penelitian merupakan suatu proses pengumpulan sistematis dan analisis logis terhadap

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan analis isi ( content analysis). Pendekatan analisis isi merupakan suatu langkah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem. pendidikan secara keseluruan, yang harus mendapat perhatian sentral,

BAB I PENDAHULUAN. Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem. pendidikan secara keseluruan, yang harus mendapat perhatian sentral, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Figur yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius sesuai dengan kapasitas dan proporsinya.

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius sesuai dengan kapasitas dan proporsinya. BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Prinsip-prinsip manajemen modern yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan telah diadopsi dan digunakan dalam praktek penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. 40 BAB III METODE PENELITIAN Metodologi penelitian dalam suatu penelitian sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. Artinya apabila seseorang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari

BAB III METODE PENELITIAN. wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari 19 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian diskriptitf kualitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah merupakan kebutuhan dasar dan mempunyai fungsi yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Rumah merupakan kebutuhan dasar dan mempunyai fungsi yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rumah merupakan kebutuhan dasar dan mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, selain sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, perumahan dan pemukiman

Lebih terperinci

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis.

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis. ( Word to PDF Converter - Unregistered ) http://www.word-to-pdf-converter.netbab III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah Field Rescarch. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir ini tergolong cepat. Salah satu alasannya adalah keyakinan yang kuat di kalangan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Menurut Sumadi suryabrata, variable sering dikatakan sebagai gejala yang menjadi obyek pengamatan penelitian. Sering juga dinyatakan variable penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. penulis akan mengemukakan metode penelitian induktif. Metode penelitian

BAB III METODELOGI PENELITIAN. penulis akan mengemukakan metode penelitian induktif. Metode penelitian 76 BAB III METODELOGI PENELITIAN Agar suatu masalah dapat dipaparkan dengan jelas, maka perlu adanya suatu metode khusus sesuai dengan permasalahan yang akan di bahas. Disini penulis akan mengemukakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau orang-orang yang melakukan kejahatan. Lembaga Pemasyarakatan

BAB I PENDAHULUAN. atau orang-orang yang melakukan kejahatan. Lembaga Pemasyarakatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat pembinaan bagi narapidana atau orang-orang yang melakukan kejahatan. Lembaga Pemasyarakatan merupakan unit pelaksana teknis di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. dalam penyusunan program bimbingan dan konseling, hal tersebut merupakan

III. METODE PENELITIAN. dalam penyusunan program bimbingan dan konseling, hal tersebut merupakan 43 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini meneliti mengenai unjuk kerja guru bimbingan dan konseling dalam penyusunan program bimbingan dan konseling, hal tersebut merupakan masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN TINGKAH LAKU ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG WONOKROMO SURABAYA

PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN TINGKAH LAKU ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG WONOKROMO SURABAYA PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN TINGKAH LAKU ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG WONOKROMO SURABAYA SKRIPSI OLEH : SUTRISNO NIM : DO3304065 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL FAKULTAS TARBIYAH

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ruang sisi datar, maka dengan demikian data yang akan dikumpulkan dalam

BAB III METODE PENELITIAN. ruang sisi datar, maka dengan demikian data yang akan dikumpulkan dalam BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan bentuk pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan menerapkan pembelajaran

Lebih terperinci

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047 MUATAN MATERI PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA DAN PELAKSANAANNYA DALAM PROSESS PEMBELAJARAN (Analisis Isi Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Siswa Kelas VIII Terbitan Kemendikbud

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DAN DAMPAK NEGATIFNYA BAGI ANAK (Studi Kasus di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar)

FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DAN DAMPAK NEGATIFNYA BAGI ANAK (Studi Kasus di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar) FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DAN DAMPAK NEGATIFNYA BAGI ANAK (Studi Kasus di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar) NASKAH PUBLIKASI untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

Lebih terperinci

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PKn Studi Kasus: Siswa Kelas VII B MTs Muhammadiyah 07 Klego Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian 35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,

Lebih terperinci

umat Islam terhadap praktek keuangan yang tidak sesuai dengan syari ah perbankan konvensional yang diidentikkan dengan riba. 1 Dengan demikian,

umat Islam terhadap praktek keuangan yang tidak sesuai dengan syari ah perbankan konvensional yang diidentikkan dengan riba. 1 Dengan demikian, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebab utama kemunculan dan keberadaan lembaga keuangan syari ah di Indonesia adalah untuk menghindarkan dan menghilangkan kekhawatiran umat Islam terhadap praktek keuangan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk ,,* N _ PENn. \. I s ^ rut r >, Wit al" BAB III 3w^v METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan tugas atau

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.(lasa,2009:207). Kata ilmiah dalam Kamus Besar

Lebih terperinci

Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas

Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas BAB III METODE PENELITIAN A. Rencana Kegiatan Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas menurut Dave Ebbut dikutip

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memahami, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. memahami, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan dan sebagainya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya mempengaruhi jiwa anak didik agar mereka mau melakukan berbagai kegiatan belajar, seperti membaca, memahami, menganalisis,

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko)

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG IRA YUMIRA EMAIL: http // i.yumira@yahoo.co.id STKIP SILIWANGI

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM INSTITUTE OF ISLAMIC STUDIES DR. KHEZ. MUTTAQIEN

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM INSTITUTE OF ISLAMIC STUDIES DR. KHEZ. MUTTAQIEN STAI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM INSTITUTE OF ISLAMIC STUDIES DR. KHEZ. MUTTAQIEN Jalan Baru Maracang No. 35 Purwakarta - Website www.staimuttaqien.ac.id CEKLIST KELENGKAPAN SYARAT SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

PENERAPAN HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI MUSEUM SANG NILA UTAMA SKRIPSI

PENERAPAN HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI MUSEUM SANG NILA UTAMA SKRIPSI PENERAPAN HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI MUSEUM SANG NILA UTAMA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Pada Fakultas Dakwah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. SUBJEK PENELITIAN Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIIA MTs NU Tamrinut Thullab Undaan Lor Kudus tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoretis 1. Model Pembelajaran Langsung Model pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.1 Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis

Lebih terperinci

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA (Analisis Semiotik Pada Film Rumah Tanpa Jendela) NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat

Lebih terperinci

BAB I WAKAF HAK CIPTA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

BAB I WAKAF HAK CIPTA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA BAB I 1 WAKAF HAK CIPTA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA A. Latar Belakang Masalah Lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf di Indonesia sebagai penyempurna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya dan bagi manusia pada umumnya tanpa harus meninggalkan. prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

BAB I PENDAHULUAN. khususnya dan bagi manusia pada umumnya tanpa harus meninggalkan. prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam datang dengan membawa pemahaman tentang kehidupan yang membentuk pandangan hidup tertentu dan dalam bentuk garis hukum yang global. Karenanya guna menjawab

Lebih terperinci

0.01 sebaran tidak normal. Tehnik uji yang digunakan adalah uji z dari. Uji ini untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan

0.01 sebaran tidak normal. Tehnik uji yang digunakan adalah uji z dari. Uji ini untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan 90 0.01 sebaran tidak normal. Tehnik uji yang digunakan adalah uji z dari Kolmogorov-Smirnov. b) Uji Linieritas hubungan. Uji ini untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidup sehari-hari sangatlah mudah untuk terwujud, meskipun kita tidak

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidup sehari-hari sangatlah mudah untuk terwujud, meskipun kita tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa globalisasi seperti yang terjadi di Indonesia berbagai macam kebutuhan hidup sehari-hari sangatlah mudah untuk terwujud, meskipun kita tidak memegang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. 1 Diantara anugrah

BAB I PENDAHULUAN. dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. 1 Diantara anugrah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah khalifah di muka bumi, Islam memandang bahwa bumi dan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENERBITAN SERTIFIKAT PENGGANTI HAK MILIK ATAS TANAH KARENA HILANG OLEH KANTOR PERTANAHAN KOTA SURAKARTA

PELAKSANAAN PENERBITAN SERTIFIKAT PENGGANTI HAK MILIK ATAS TANAH KARENA HILANG OLEH KANTOR PERTANAHAN KOTA SURAKARTA PELAKSANAAN PENERBITAN SERTIFIKAT PENGGANTI HAK MILIK ATAS TANAH KARENA HILANG OLEH KANTOR PERTANAHAN KOTA SURAKARTA SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-syarat Guna Mencapai

Lebih terperinci

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh : MUNAFIAH

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Alasan memilih SDN Sukawening berdasarkan pertimbangan :

BAB III METODE PENELITIAN. Alasan memilih SDN Sukawening berdasarkan pertimbangan : 32 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Waktu, dan Jadwal Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi tempat penelitian adalah SDN Sukawening kabupaten sumedang. Alasan memilih SDN Sukawening berdasarkan pertimbangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru.

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa saat ini adalah upaya membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, baik mental, spiritual dan fisik material. Salah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. yang peneliti harapkan, baik dari hasil observasi, interview maupun dokumentasi,

BAB V PEMBAHASAN. yang peneliti harapkan, baik dari hasil observasi, interview maupun dokumentasi, 89 BAB V PEMBAHASAN Sebagaimana telah kita lihat pada bab-bab sebelumnya, telah ditemukan data yang peneliti harapkan, baik dari hasil observasi, interview maupun dokumentasi, pada uraian ini akan peneliti

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik dalam proses pembentukan jati diri bangsa. Di samping itu pendidikan juga merupakan variabel

Lebih terperinci

Kata kunci: otonomi Perguruan Tinggi, Tridharma.

Kata kunci: otonomi Perguruan Tinggi, Tridharma. PENERAPAN OTONOMI PERGURUAN TINGGI UNTUK MENUNJANG PELAKSANAAN TRIDHARMA DI JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MALANG Novitasari 1), Prof. Dr. Suko Wiyono, SH., M.H

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Islami dan tradisi-tradisi keislaman masih kental. peningkatan prestasi belajar dan pengembangan skill yang dimiliki oleh siswa.

BAB I PENDAHULUAN. Islami dan tradisi-tradisi keislaman masih kental. peningkatan prestasi belajar dan pengembangan skill yang dimiliki oleh siswa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Madrasah Aliyah Al-Irsyad Gajah Demak merupakan lembaga pendidikan Islam tingkat menengah yang selama ini menjadi model bagi Madrasah Aliyah di sekitarnya. Sejak

Lebih terperinci

BAB III METOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis kuantitatif,

BAB III METOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis kuantitatif, BAB III METOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis kuantitatif, oleh karena itu digunakan pendekatan secara kuantitatif yaitu suatu

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7 PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Diajukan

Lebih terperinci

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN 1) JUDUL, Pernyataan mengenai maksud penulisan laporan penelitian 2) Nama dan tim peneliti 3) KATA PENGANTAR 4) ABSTRAK 5) DAFTAR ISI 6) DAFTAR TABEL 7) DAFTAR GAMBAR 8)

Lebih terperinci

BAB l PENDAHULUAN. Remaja atau bisa juga di sebut sebagai adolescence mempunyai

BAB l PENDAHULUAN. Remaja atau bisa juga di sebut sebagai adolescence mempunyai BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja atau bisa juga di sebut sebagai adolescence mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. 1 Masa remaja adalah masa

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR PAI PADA ASPEK KOGNITIF ANTARA SISWA YANG IKUT ROHIS DENGAN SISWA YANG TIDAK IKUT ROHIS di SMA NEGERI 3 SEMARANG KELAS XI TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa, mendidik adalah kata kerja, sedang pendidikan adalah kata benda. Kalau kita

Lebih terperinci

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 Variabel: suatu objek yang dapat memiliki lebih dari satu nilai. Contoh variabel: Jenis kelamin: ada dua

Lebih terperinci

PANDUAN SISTEM PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MA HAD MADRASAH (ISLAMIC BOARDING SCHOOL) MTsN 31 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PANDUAN SISTEM PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MA HAD MADRASAH (ISLAMIC BOARDING SCHOOL) MTsN 31 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 A. Latar Belakang PANDUAN SISTEM PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MA HAD MADRASAH (ISLAMIC BOARDING SCHOOL) MTsN 31 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan dimaksudkan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA OPERASI HITUNG PERKALIAN DENGAN METODE BERMAIN KARTU PADA SISWA KELAS III MI DADAPAYAM II KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI Arlita Agustina 1 Muakibatul Hasanah 2 Heri Suwignyo 2 Email: arlitaagustina@ymail.com

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 32 BAB 3 METODE PENELITIAN Dalam bagian ini akan dipaparkan, hal-hal yang berkaitan dengan (1) pendekatan penelitian, (2) sumber data dan data (korpus), (3) teknik penelitian, (4) model kontekstualisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disertai dengan adanya tantangan - tantangan yang semakin luas dan kompleks, fungsi dan tanggung jawabnya melayani masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. disertai dengan adanya tantangan - tantangan yang semakin luas dan kompleks, fungsi dan tanggung jawabnya melayani masyarakat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan dunia perbankan yang dewasa ini bergerak sangat cepat disertai dengan adanya tantangan - tantangan yang semakin luas dan kompleks, hal tersebut membuat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran harus memiliki tujuan yang jelas serta dapat. beberapa faktor yang harus dirumuskan, jika proses pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran harus memiliki tujuan yang jelas serta dapat. beberapa faktor yang harus dirumuskan, jika proses pembelajaran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran harus memiliki tujuan yang jelas serta dapat merumuskan faktor-faktor, untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Gordon dan Vos (1999:109) Pembelajaran

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika PENINGKATAN PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN ATTENTION RELEVANCE CONFIDENCE SATISFACTION (ARCS) (PTK Pada Siswa Kelas VIIA SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Tarbiyah Program Studi

Lebih terperinci

IDENTITAS MATA KULIAH

IDENTITAS MATA KULIAH IDENTITAS MATA KULIAH Nama Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Sosial Kode Mata Kuliah : KPM398/3(2-2)5 Status Mata Kuliah : Wajib Prasyarat : Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM200) dan Metode Statistika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi penegak hukum, merupakan muara dari peradilan pidana yang menjatuhkan pidana penjara kepada para

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat menggunakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

Pondok Pesantren Modern di Semarang KATA PENGANTAR

Pondok Pesantren Modern di Semarang KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-nya sehingga Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur dengan judul Pondok Pesantren Modern di

Lebih terperinci

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : asyahza@yahoo.co.id syahza.almasdi@gmail.com Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian

Lebih terperinci

ii ~ Manajemen Sumber Daya Manusia

ii ~ Manajemen Sumber Daya Manusia Daftar Isi ~ i ii ~ Manajemen Sumber Daya Manusia Daftar Isi ~ iii MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA Oleh : Herman Sofyandi Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2008 Hak Cipta Ó 2008 pada penulis, Hak Cipta dilindungi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roda pemerintahan terus bergulir dan silih berganti. Kebijakan baru dan perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. Dampak

Lebih terperinci