DESKRIPSI SURGA DALAM ALQURAN (Kajian Behaviourisme Linguistik) No. Nama NIP/NIM Jabatan 1. Dr. Ubaidillah, M.Hum Peneliti

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DESKRIPSI SURGA DALAM ALQURAN (Kajian Behaviourisme Linguistik) No. Nama NIP/NIM Jabatan 1. Dr. Ubaidillah, M.Hum Peneliti"

Transkripsi

1 DESKRIPSI SURGA DALAM ALQURAN (Kajian Behaviourisme Linguistik) No. Nama NIP/NIM Jabatan 1. Dr. Ubaidillah, M.Hum Peneliti

2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Surga adalah sebuah tempat yang dinanti-nantikan semua umat Islam setelah mereka mengalami kematian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, surga diartikan sebagai alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya dalam keabadian. 1 Alquran telah mendeskripsikan bentuk surga dengan deskripsi yang indah dan menarik dalam sebagian ayat-ayatnya, tetapi pada ayat-ayatnya yang lain deskripsi surga ini dinafikan. Deskripsi surga dan segala kenikmatannya secara rinci ditemukan pada beberapa ayat yang terdapat dalam surat Al-Waqiah dan Ar-Rahman, serta di ayat-ayat lain yang tersebar secara sporadis dalam surat-surat Alquran. Sebagai contoh, Allah swt. mendeskripsikan surga dalam Alquran pada ayat berikut: ه م م ل وا الص ال ح ات أ ن ل ذ ين آم ن وا وع ش ر ال وب وا ت ا م ن ق ب ل وأ ن ذ ي ر ز ق ال وا ه ذا ال ر ز قا ق ات ت ج ر ي م ن ج ن و اج م ز ب ه م ت ش اب ها ول ه م ف يه ا أ ه ار ك ل م ن ت ح ت ه ا ألا ه ر ة و ه م ط ة ا ر ز ق وا م ن ه ا م ن ث م ر ف يه ا ال ون Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah:25) Secara eksplisit, wujud surga dideskripsikan secara rinci pada ayat ini, yakni berupa adanya sungai yang mengalir, tersedianya buah-buahan serta bidadari yang suci. Akan tetapi, ada pula ayat lain dalam Alquran yang menyebutkan bahwa surga itu tidak dapat digambarkan sebagaimana yang diungkapkan pada ayat berikut: ف س م ا ع ل م ن ف ل ت أ ف ي ل ه م م ن ق ر ة أ ع ي ن ج ز اء ب م ا ك ان وا ي ع م ل ون (السج ة: 71 ) Tak seorangpun mengetahui sesuatu yang indah dipandang mata (qurrata a yun) yang tidak ditampakkan kepada meraka, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. (QS As-Sajdah:17) Melihat adanya kontradiksi ini, yaitu adanya ayat Alquran yang mendeskripsikan gambaran surga secara rinci, sementara ayat lain menyebutkan bahwasanya surga itu tidak 1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke-iv (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), hlm. 974.

3 dapat digambarkan, maka peneliti menduga adanya konteks situasi masyarakat Arab yang memengaruhi adanya deskripsi surga dan segala kenikmatannya dalam Alquran. Sudah jamak diketahui bahwa turunnya Alquran tidak terlepas dari berbagai faktor sosial-budaya Arab, meskipun kandungannya bersifat universal, bukan regional maupun lokal. Atas dasar ini, peneliti merumuskan pertanyaan sebagai berikut: 1) Bagaimana deskripsi surga dalam Alquran, 2) Apa faktor-faktor yang memengaruhi adanya deskripsi surga, 3) dan bagaimana mencari titik temu terkait adanya kontradiksi tentang deskripsi surga tersebut. Signifikansi penelitian ini untuk menjelaskan tentang kontekstualisasi makna Alquran agar umat Islam tidak terjerumus kepada pemahaman yang tekstual bahkan jauh dari kebenaran. Dengan menggunakan teori linguistik Barat, penelitian ini akan menambah khazanah makna kebahasaan Alquran. B. Kajian Pustaka dan Kerangka Teori 1. Kajian Pustaka Penelitian tentang istilah surga telah banyak dikaji dengan analisis yang berbedabeda. Berikut paparan tentang penelitian sebelumnya: Artikel Wildan Taufiq yang berjudul IDEOLOGI DI BALIK SIMBOL-SIMBOL SURGA DAN KENIKMATANNYA DALAM AYAT-AYAT QURAN membahas pemaknaan surga dan kenikmatannya dengan melihat simbol-simbol yang digunakan Alquran ketika mendeskripsikan kenikmatan surga tersebut. Dengan analisis semiologi mitos Roland Barthes, makna yang dihasilkan mengacu pada kata-kata yang ada, seperti: kebun, istana raja, dan suatu tempat yang terdapat sungai-sungai mengalir. 2 Tulisan berikutnya adalah penelitian tafsir Alquran dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan judul Surga Menurut Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho karya Abdul Hamid. Penelitian ini bertitik tolak dari kerangka berpikir, bahwa penafsiran al- Quran bersumber kepada dua sumber, yakni penafsiran yang bersumber kepada riwayat, dan penafsiran yang bersumber kepada akal atau dirayat. Dua sumber tersebut digunakan dengan mengacu kepada empat pilihan metode penafsiran, yakni tafsir tahlili, ijmali, muqarran, dan maudhu'i. Hasil dari kajian tafsir ini bertolak belakang. Menurut Muhammmad Abduh surga bersifat kongkrit yang mengandung unsur-unsur duniawi, tetapi surga bersifat abadi dan tidak 2 Wildan Taufiq, Ideologi di Balik Simbol-Simbol Surga dan Kenikmatannya dalam Ayat-Ayat Alquran, dalam Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 20, No. 2, Desember 2008:

4 mengenal relativitas, sedangkan menurut M. Rasyid Ridho surga merupakan suatu yang gaib yang keberadaannya tidak pernah diilustrasikan. 3 Penelitian tentang surga lainnya juga terdapat pada penelitian bercorak tafsir dengan judul Kehidupan Penduduk Surga di Dalam Al-Quran (Kajian Tafsir Tematik) karya Sibro Malisi F. 4 Penelitian mahasiswa Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga ini menjelaskan secara rinci gambaran surga secara detil berdasar tafsir yang digunakan, tanpa membahas bagaimana proses penggambaran surga yang detail itu bisa tertulis dalam Alquran. Dari beberapa penelitian tentang tema surga yang telah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya, belum ada yang menjelaskan mengapa Allah menggambarkan surga dalam Alquran dengan gambaran-gambaran kenikmatan dunia yang berwujud nyata. Penelitian ini menggunakan teori linguistik behaviourisme untuk mengungkap konteks situasi sosial budaya masyarakat Arab pada saat Alquran diturunkan, khususnya terkait pendeksripsian surga, yang bisa menyelesaikan permasalah apakah gambaran-gambaran surga tersebut konkrit atau abstrak. 2. Kerangka Teori Dalam Kamus Linguistik, behaviorisme adalah pendekatan kepada bahasa sebagai bagian perilaku manusia dalam situasi rangsang-tanggap yang dapat diamati. Pendekatan ini hanya memperhatikan apa yang sungguh-sungguh dapat diamati, dan mengabaikan apa yang disebut keadaan mental. 5 Tokoh yang mencetuskan teori behaviourisme dalam linguistik ini adalah Leonard Bloomfield. Menurut Bloomfield, manusia dapat menerka dan menjelaskan perilaku seseorang dari stimulus yang ada di sekitarnya, atau situasi-situasi yang bebas dari faktor-faktor internal. Dengan begitu, ujaran yang merupakan respon manusia atas stimulus, bisa diterangkan dengan kondisi-kondisi eksternal yang ada di sekitar kejadiannya. Dengan melihat stimulus tertentu, orang akan berbicara dengan sesuatu yang masih ada hubungannya dengan stimulus yang diterima oleh si pembicara. 6 Cara lain yang dilakukan Bloomfield untuk menyelidiki respon-respon manusia adalah pengamatan pada kelompok, terutama pada kebiasaan-kebiasaan mereka. Ada perbuatan-perbuatan yang sangat berbeda pada setiap orang, tetapi agak tetap pada kelompok-kelompok orang banyak. Apabila kita 3 Abdul Hamid, Surga Menurut Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho, Penelitian LPPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Oktober Sibro Malisi F, Kehidupan Penduduk Surga di Dalam Al-Quran (Kajian Tafsir Tematik) Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: PT. Gramedia, 2001), hlm Chaedar Alwasilah, Beberapa Mazhab dan Dikotomi dalam Linguistik, Bandung: Angkasa, 1993, hlm. 44.

5 pergi ke suatu negara asing, dengan cepat kita akan mengetahui bagaimana sopan santun mereka, waktu makan mereka, dan sebagainya. 7 Menurut Soeparno, stimulus yang memunculkan respon kebahasaan terdiri dari 3 jenis: 1. Ujaran, yaitu ketika ada seseorang atau kelompok orang bertutur kata akan menyebabkan respon dari lawan tutur yang berwujud bahasa. 2. Isyarat, yaitu dengan adanya gerakan anggota tubuh (gesture) seseorang akan meresponnya dengan tuturan yang berwujud bahasa. 3. Situasi, yaitu keadaan, bisa berupa sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi yang menyebabkan muncul respon kebahasaan atas adanya situasi tersebut. 8 C. METODE 1. Jenis dan Paradigma Penelitian Jika melihat dari permasalahannya, penelitian ini termasuk penilitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan paradigma fenomenologi sosial sebagai landasan filosofis berpikirnya Sumber Data Data primer penelitian ini adalah ayat-ayat Alquran yang di dalamnya terkandung gambaran tentang surga dan segala kenimkatannya. Adapun data pendukung adalah bukubuku yang mengulas tentang keadaan sosial budaya masyarakat Arab ketika Alquran diturunkan. 3. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan objek materialnya, untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan teknik simak-catat dan studi dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode deduktif, yakni memberikan kesimpulan awal terlebih dahulu, baru kemudian merinci data yang ada, hingga diketahui kebenarannya Teknik Analisis Data 7 Leonard Bloomfiled, Language. 1 st Published (London & Aylesbury: Great Britain, 1935), hlm Soeparno, Dasar-Dasar Linguistik (Yogyakarta: Mitra Gama Widya, 2003), hlm Heddy Shri Ahimsa-Putra, Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya. Dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar (Yogyakarta: FIB UGM, 2008), hlm Michael Quinn Patton, How to Use Qualitative Methodes in Evaluation (London: Sage Publication, 1991), hlm. 16.

6 Untuk menganalisis data yang semuanya menggunakan bahasa Arab, peneliti menggunakan metode padan translasional, berupa menerjemahkan data terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia, selanjutnya dianalisis dengan pendekatan behaviourisme dalam linguistik Pemaparan Hasil Analisis Hasil analisis data yang merupakan bagian akhir dari penelitian ini dipaparkan secara deskriptif, yaitu dengan menggunakan kata-kata biasa atau tanpa menggunakan lambanglambang atau simbol-simbol. Menurut Sudaryanto, metode pemaparan ini disebut metode penyajian informal, yakni perumusan dengan kata-kata biasa ), hlm D. Edi Subroto, Pengantar Metode Linguistik Struktural (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 12 Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis, (Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1993), hlm. 145.

7 BAB II ANALISIS BEHAVIOURISME LINGUISTIK TENTANG GAMBARAN SURGA DALAM ALQURAN Setelah menganalisis ayat-ayat Alquran yang mendeskripsikan keadaan surga dan kenikmatannya, peneliti menemukan tiga stimulus utama yang berhubungan dengan keadaan masyarakat Arab yang memunculkan respon-respon kebahasaan dalam bentuk deskripsi surga, yaitu: keadaan geografi, hasil pertanian dan perkebunan, keadaan sosial budaya masyarakat. Berikut uraian deskripsi surga berikut. A. Keadaan Geografis sebagai Stimulus Deskripsi Surga dalam Alquran Jazirah Arab tidak memiliki sungai besar yang mengalir dan bermuara ke laut sepanjang musim, dan tidak pula perahu berlayar di atasnya. Jazirah Arab hanya berupa lembahlembah yang bisa menampung air hujan sehingga mengungdang datangnya para kafilah dagang dan orang-orang yang datang untuk berhaji. 1 Adapun negeri Hijaz (Makkah dan Madinah), sebagai sumber keberadaan Islam, memiliki musim panas yang berlangsung selama tiga tahun bahkan lebih, dan hal ini sudah biasa terjadi di sana. Terkadang terjadi badai petir dan banjir bandang dan mengalir ke Mekkah dan Madinah dan hampir merobohkan Ka bah. 2 Kondisi geografis ini sangat dimungkinkan menjadi stimulus dalam pendeskripsian surga dalam Alquran. Dari stimulus geografis ini, Alquran merespon dengan jelas bahwa di dalam surga banyak sungai-sungai yang mengalir. Ditemukan dalam al-mu jam al- Mufahras li Alfadz al-quran al-karim bahwa ada 37 ayat-ayat yang mendeskripsikan bahwa di dalam surga terdapat banyak sungai, 3 diantaranya:: أو أ نثى بع ض كم م ن ف اس ت ج اب ل ه م ر ب ه م أ ن ي ال أ ض يع ع م ل ع ام ل م نكم م ن ذك ر بع ض ف ال ذ ين ه اج ر وا و أ خر ج وا م ن د ي ار ه م و أ وذ وا ف ي س ب يل ي و ق ات ل وا و ق ت ل وا أل ك ف ر ن 2005), hlm Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi, ياقوت بن عبد هللا الحموي معجم البلدان الجزء الثاني (بيروت: دار الصدير 7711 ص( محمد فؤاد عبد الباقي المعجم المفهرس أللفاظ القرآن الكريم (القاهرة: دار الحديث 7141 ه ) ص

8 دخ ل ن ه م ج نا ت جر م م ن ت ته ه ا ن أ هه ا ر ئ ات ه م و أل ع نه م س ي ح س ن الث و اب } )آل عمران: 591( ث و اب ا م ن ع ند الله و الله ع ند ه Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-nya pahala yang baik." 4 Berdasar pada janji yang menarik bagi masyarakat Arab yang mendiami daerah padang pasir dan lembah-lembah ini, mereka tertarik untuk memeluk Islam sebagai pengganti agama lama mereka dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-nya. Hal ini tentu berbeda dengan keadaan masyarakat yang hidup di daerah yang terdapat sungai mengalir seperti berbagai wilayah di Indonesia. Seandainya surga dideskripsikan di hadapan penduduk Indonesia dengan wujud sungai yang mengalir, niscaya mereka enggan memeluk Islam karena sungai dengan air yang jernih dan dapat langsung dikonsumsi telah memadai di negeri Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa deskripsi surga yang terdapat sungai mengalir di bawahnya merupakan sebuah respon dari stimulus yang terdapat pada masyarakat Arab, yaitu keadaan geografis yang kering kerontang. B. Hasil Pertanian sebagai Stimulus Deskripsi Surga dalam Alquran Udara kering dan tanah yang gersang di Jazirah Arab menyebabkan sedikitnya tumbuhan-tumbuhan hijau yang menghasilkan buah-buahan segar. Yang ada di daerah ini hanyalah kurma sebagai tumbuhan utama. Meskipun ada gandum yang dikonsumsi seharihari oleh penduduk Hijaz, pohon ini hanya tumbuh di daerah Yaman dan lembah-lembah tertentu yang terdapat air di dalamnya. Di dalam lembah-lembah yang subur, terdapat buahbuahan segar, seperti delima, apel, jeruk, timun, dan pisang, tetapi itu semua merupakan tumbuh-tumbuhan yang jarang didapati oleh orang-orang Hijaz karena hanya ditanam oleh bangsa Yahudi. 5 hlm Ayat-ayat lain yang terkait dengan mengalirnya sungai di surga disajikan dalam lampiran. 5 Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi, 2005),

9 Keadaan tumbuh-tumbuhan di Hijaz, terutama dengan sedikitnya buah-buahan segar, menjadi stimulus yang memunculkan respon kebahasaan dalam mendeskripsikan surga. Dalam Alquran, surga dideskripsikan penuh dengan buah-buahan segar siap konsumsi yang mencukupi untuk penghuninya kapan pun. Buah-buahan ini disebutkan dalam ayat berikut. وا ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ا أ ن ل ه م ج ن ا ت جر م م ن ت ته ه ا ن أ هه ار ك ل م ا ر ز ق و ب ش ر ة ر زقا ق ال وا ه ذ ا ال ذ م ر ز قنا م ن قب ل و أ ت وا ب ه م ت ش اب ها و ل ه م ف يه ا أ زوا ج م نه ا م ن ث م ر (البقرة: 51) م ط ه ر ة و ه م ف يه ا خ ال د ون dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya dalam ayat lain disebutkan: 8 )86 : ف يه م ا ف اك ه ة خل و ر م و ن ان )الرحمن di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima. Deskripsi akhirat bagi siapa yang menaati Allah dan rasul-nya ini sangat menarik bagi orang-orang Hijaz karena di negeri mereka jarang sekali terdapat buahbuahan segar sebagaimana yang telah disebutkan. Hal ini tentu tidaklah menarik bagi penduduk yang di negerinya terdapat buah-buahan melimpah ruah. Seandainya surga dideskripsikan demikian dihadapan meeka, niscaya mereka akan enggan menerima Islam karena kebutuhan buah-buahan sudah terpenuhi di sana. Dengan demikian, jelaslah bahwa deskripsi surga yang berupa tersedianya buah-buahan segar merupakan respon kebahasaan dari stimulus keadaan masyarakat Arab, terutama penduduk Hijaz yang hanya memiliki sedikit buah-buahan segar. C. Keadaan Sosial Budaya sebagai Stimulus Deskripsi Surga dalam Alquran Di antara tradisi masyarakat Arab jahiliyah, yakni sebelum datangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. di negeri Hijaz adalah poligami. Sebagaian peneliti telah melakukan riset bahwa masyarakat Arab jahiliyah tidak mengenal pernikahan yang langgeng, yang mengikat antara seorang lelaki dan perempuan tertentu hingga waktu yang tidak ditentukan karena mereka terbiasa menikah dalam batasan waktu (kawin kontrak). Ketika 6 Ayat-ayat lain yang terkait dengan tersedianya buah-buahan di surga disajikan dalam lampiran.

10 Islam datang, Nabi Muhammad saw membolehkan sahabat-sahabatnya, pada masa transisi, melakukan nikah dalam batasan waktu ini yang biasa disebut dengan nikah mut ah, sebagaimana yang dibolehkan secara umum bagi masyarakat Arab sebelum Islam. Hal ini seperti yang dikemukakan seorang sejarawan, Strabo, dalam kamus geografisnya tentang bangsa Arab di negeri Yaman, meskipun sejarawan klasik dan modern telah menepis pernyataan Strabo ini. 7 Para sejarawan menetapkan bahwa hubungan laki-laki dengan perempuan pada zaman jahiliyah memiliki empat jenis sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadis Nabi Muhammad dalam as-sunan al-kubra li al-baihaqy dan Mustakhraj Abi Uwanah, melalui riwayat Aisyah r.a. yang mengatakan, Sesungguhnya pernikahan pada masa jahiliyah ada 4 macam: 1). Pernikahan yang berlaku seperti sekarang ini, yaitu seorang laki-laki meminang wanita atau anak perempuan kepada orang tuanya atau walinya, lalu membayar mahar, kemudian menikahinya. Bentuk pernikahan yang lain yaitu, 2). Seorang laki-laki berkata kepada istrinya, ketika istrinya itu telah suci dari haidl, pergilah kepada si Fulan, kemudian mintalah untuk dikumpuli, dan suaminya sendiri menjauhinya, tidak menyentuhnya sama sekali sehingga telah jelas istrinya itu telah hamil dari hasil hubungannya dengan laki-laki itu. Kemudian apabila telah jelas kehamilannya, lalu suaminya itu melanjutkan mengumpulinya apabila dia suka. Dan hal itu diperbuat karena keinginan untuk mendapatkan anak yang cerdas (bibit unggul). Nikah semacam ini disebut nikah istibdla. Kemudian bentuk yang lain, 3). Yaitu sejumlah laki-laki, kurang dari sepuluh orang berkumpul, lalu mereka masingmasing mencampuri seorang wanita tersebut. Apabila wanita telah hamil dan melahirkan anaknya, selang beberapa hari maka perempuan itu memanggil mereka dan tidak ada seorang pun diantara mereka yang dapat menolak panggilan tersebut sehingga merekapun berkumpul di rumah perempuan itu. Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, sungguh anda semua telah mengetahui urusan kalian, sedang aku sekarang telah melahirkan, dan anak ini adalah anakmu hai Fulan. Dan wanita itu menyebut nama laki-laki yang disukainya, sehingga dihubungkanlah anak itu sebagai anaknya, dan laki-laki itupun tidak bisa menolaknya. Dan bentuk ke-4). Yaitu, berhimpun laki-laki yang banyak, lalu mereka mencampuri seorang wanita yang memang tidak akan menolak setiap laki-laki yang mendatanginya. Mereka itu adalah para wanita pelacur. Mereka memasang bendera-bendera di depan pintu mereka sebagai tanda. Maka siapa saja yang menginginkannya boleh masuk, kemudian apabila salah hadithsearch.php 1 "الموسوعة اإلسالمية". 771/77/70 المقتبس من في التاريخ

11 seorang diantara wanita itu ada yang hamil dan telah melahirkan anaknya, maka para laki-laki tadi dikumpulkan di situ, dan mereka pun memanggil orang-orang ahli qiyafah ( ahli memeriksa dan meneliti tanda-tanda pada manusia), lalu dihubungkalah anak itu kepada ayahnya oleh orang-orang ahli qiyafah itu menurut anggapan mereka. Maka anak itu pun di panggil sebagai anaknya, dan orang (yang dianggap sebagai ayahnya) itu tidak boleh menolaknya. Kemudian Nabi Muhammad SAW di utus sebagai Rasul dengan membawa kebenaran, beliau menghapus pernikahan dengan model jahiliyah tersebut seluruhnya, kecuali pernikahan sebagaimana yang berjalan sekarang ini. 8 Keadaan ini terus berlangsung hingga akhirnya Allah membatasi jumlah istri yang dimiliki oleh seorang muslim tidak lebih dari empat, sebagaimana ayat berikut: وا ف ي الي ت ام ى ف انك ت وا م ا ط اب ل ك م م و إ ن خ فت م أال و ر ب اع النساء: ٣ ت قس ط ف إ ن خ فتم أال ن الن س اء م ثن ى و ث ل ث ت ع ولوا ت ع د ل وا ف و اح د ة أو م ا م ل كت أي م ان كم ذ ل ك أ دن ى أال dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Dari fenomena sosial budaya masyarakat Arab terutama yang berhubungan dengan tradisi poligami ini, dapat diketahui bahwa orientasi seksual mereka besar, sehingga Alquran meresponnya dengan respon kebahasaan, yaitu apabila orang-orang muslim masuk surga, Allah akan mengawinkannya dengan bidadari sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan seksual mereka. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa semua manusia membutuhkan hubungan seksual. Akan tetapi, bangsa Arab khususnya pada masa jahiliyah dan permulaan Islam mempunyai tradisi seksual khusus, yaitu suka berpoligami. Atas dasar ini, mengawinkan mereka dengan bidadari merupakan sebuah respon yang sesuai ketika Allah mendeksripsikan surga dan kenikmatannya dalam Alquran yang terkait dengan tradisi seksual mereka adalah dengan disiapkannya bidadari untuk dikawini. 8 Tamir Abd al-fatah, Keluarga pada masa Jahiliyah dan Islam, diakses dari situs /social/0/445 tanggal 05/11/2014.

12 Fenomena ini merupakan stimulus yang membuat Alquran meresponnya dengan menggunakan ungkapan beraneka ragam untuk mendeskripsikan kenikmatan ini, yaitu hurun iin, azwaj mutohharah, qashirat al-tharf, khayrat hisan. Penggunaan ungkapan-ungkapan ini dapat dilihat pada ayat-ayat berikut: م ج نا ت جر م م ن ت ته ه ا ن أ هه ا ر ئ كم ب خ ير م ن ذ ل ك ق ل أ ؤن ب م ل ل ذ ين ات ق وا ع ند ر ب ه )آل عمران: 51 اج م ط ه ر ة خ ال د ين ف يه ا و أ زو الع ب ا د ه ب ص ير ب ه و الل و ر ضو ان م ن الل Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-nya. ك ذ ل ك و ز و جن اه م ب ت ور ع ي ن )الدخان: 15 ( demikianlah. dan Kami berikan kepada mereka bidadari. )56 : و ع ند ه م ق اص ر ا ر ف ع ين الط )الصافا di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, خ ير ا ف يه ن ح س ان )الرحمن: 07 (. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik. 9 Dengan demikian, jelaslah bahwa deskripsi surga yang berupa perkawinan orangorang muslim yang taat dengan bidadari merupakan respon kebahasaan yang sesuai yang berasal dari stimulus sosial budaya masyarakat Arab, terutama yang berkaitan dengan tradisi poligami. Terkait dengan kondisi sosial budaya Arab ini juga, ada sebuah minuman yang merupakan tradisi Arab yang keberadaannya diharamkan secara berangsur-angsur oleh Alquran, tetapi Alquran pun menjadikannya minuman yang halal di surga, yaitu khamr. Hal ini dapat dilihat pada ayat berikut. 9 Ayat-ayat lain yang terkait dengan tersedianya bidadari di surga disajikan dalam lampiran.

13 ن لم ي ت غ ي لب م اء غ ير آس ن وأ هه ار م ن ر ط ع م ه و أ هه ا ر م ث ل الج ن ة ال ت ي و ع د ا ل ت ق ون ف يه ا أ هه ار م ن س ل م ص فى و ل ه م ف يه ا م ن ك ل الث م ين وأ هه ار م ن ع م خ م ر ل ذ ة ل لش ار ب ر ا و م غف ر ة م ن ر ب ه م ن ك م ن ه و خ ال د ف ي الن ار و س ق وا م اء ح م يم ا ف قط ع أم ع اءهم (apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (QS Muhammad 15) Pendeskripsian khamr yang merupakan minuman di surga pada ayat di atas juga merupakan sebuah respon dari adanya stimulus yang berupa kondisi sosial budaya Arab dalam hal tradisi meminum khamr yang pada akhirnya diharamkan dalam Alquran. Ketika khamr diharamkan secara mutlak melalui QS Al-Maidah ayat 90, para sahabat penduduk Madinah langsung pulang dan membuang seluruh persediaan khamr mereka di jalanan. Sehingga dikatakan juga bahwa jalan-jalan di kota madinah tergenang oleh khamr, karna saking banyaknya khamr yang dibuang. Meskipun demikian, dalam ayat di atas, khamr kembali diperbolehkan untuk diminum ketika seorang muslim sudah berada di dalam surga, sebagaimana tertuang pada ayat di atas. D. Diskusi antara ayat-ayat yang bertentangan Dari pertentangan antara ayat-ayat yang mendeskripsikan keadaan surga dan segala kenikmatannya secara rinci dan ayat yang menyebutkan bahwa surga itu tidak mungkin dideskripsikan, Ibn Asyur dala Tafsirnya, at-tahrir wa at-tanwir berkata, Yang dapat dipahami oleh akal terbatas pada apa yang dipahami mata yang berupa keindahan dan perhiasan dan yang dapat didengar oleh telinga berupa ucapan yang baik serta pujian, yang dapat dibayangkan dalam imajinasi seperti sungai dari madu, khamr atau susu, juga seperti istana dan kubah dari mutiara; seperti pohon dari zabarjud, bunga dari yaqut, debu dari minyak misik dan anbar. Semua ini sangatlah kecil dibandingkan apa yang telah disiapkan bagi mereka di surga dari semua deskripsi ini. Semua yang dideskripsikan tentang surga ini tidak dapat menyamai hakikatnya karena deskripsi itu sebatas tanda-tanda bahasa yang terlintas dalam benak manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw bersabda»أعددت لعبادي الصالحين ما ال عين رأت وال أذن سمعت وال خطر على قلب بشر»

14 Surga itu disiapkan untuk hamba-hamba-ku yang saleh yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran manusia Yang demikian sama seperti ucapan orang Arab dalam mengagungkan sesuatu dengan mengatakan, هذا ال يعلمه إال هللا yang mengetahui ini hanya Allah. 10 Al-Hafiz Ibnu Hajar al-asqalani berkata dalam Fath al-bary, Ibnu Mas ud menambahkan kata ال خطر على قلب بشر dan tidak pernah terlintas dalam pikiran manusia dalam hadisnya dengan maksud bahwa surga itu tidak diketahui para malaikat juga para nabi dan rasul. Hal ini dibenarkan dengan Alquran dalam ayatnya (السجدة: 50) ع ل ف ل ت أ خف ي ل ه م م ن ق ر ة أ عي ن ج ز اء ب م ا ك ان وا ي ع م ل ون م ن فس م ا Tak seorangpun mengetahui sesuatu yang indah dipandang mata (qurrata a yun) yang tidak ditampakkan kepada meraka, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. (QS As- Sajdah:17) Muhammad Thahir bin Asyur, Tafsir at-tahrir wa at-tanwir, Juz ke-21 (Tunisia: ad-dar at- Tunisiyah li an-nasyr, 2008), hlm Al-Hafizh Ibn Hajar al-asqalani, Fath al-bary Kitab Tafsir al-quran, Juz VIII (Beirut: Dar al- Ma rifah, t.t.) hlm. 386.

15 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Setelah peneliti melakukan analisis terhadap deskripsi surga dalam Alquran menggunakan teori linguistik behaviorisme, ditemukan bahwa ada stimulus-stimulus yang berhubungan dengan masyarakat Arab yang memengaruhi pendeskripsian surga di dalamnya. Adapun stimulus-stimulus tersebut adalah kondisi geografis yang menggambarkan bahwa jazirah Arab merupakan negeri yang tandus dan memiliki padang pasir luas, iklim yang panas, dan sedikit hujan sehingga memunculkan respon dalam bentuk deskripsi surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai yang di dalamnya terdapat buah-buahan yang siap untuk dikonsumsi. Stimulus lainnya adalah kondisi sosial budaya masyarakat Arab khususnya yang terkait dengan kehidupan mereka yang diwarnai dengan poligami. Atas dasar stimulus ini, Allah swt meresponnya dalam Alquran dalam bentuk tersedianya bidadari di surga yang dapat digunakan kapanpun. Selain itu, tradisi minum khamr dalam masyarakat Arab juga menjadi stimulus dalam mendeskripsikan surga yang direspon dalam Alquran dengan menjelaskan bahwa diantara minuman penduduk surga adalah sungai yang isinya khamr. Berdasarkan stimulus-stimulus yang memunculkan respon kebahasaan yang ada dalam Alquran dalam mendeskripsikan surga dan segala kenikmatannya ini, masyarakat Arab tertarik untuk memeluk agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, juga menaati Allah dan rasul-nya. Meskipun demikian, bukan berarti gambaran surga dan segala kenikmatannya seperti yang dideskripsikan oleh Alquran, tetapi sesungguhnya lebih menarik dari itu semua, sebagaimana sabda Rasulullah sesungguhnya surga itu wujudnya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, belum pernah terlintas dalam pikiran manusia, dan yang mengetahui keagungannya hanya Allah swt.

16 Daftar Pustaka Abd al-baqi, Muhammad Fuad, al-mu jam al-mufahras li Alfaz al-quran al-karim, Kairo: Dar al-hadis, 1464 H. Ahimsa-Putra, Heddy Shri, Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya. Dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Yogyakarta: FIB UGM, Al-Hamawi, Yaqut Abdullah, Mu jam al-buldan, Beirut: Dar ash-shadir, Alwasilah, Chaedar, Angkasa, Beberapa Mazhab dan Dikotomi dalam Linguistik, Bandung: Asqala>ni, Ibn H{ajar al-, Ahmad bin Ali, Fath} al-ba>ri, diedit oleh Abd al-qādir Syaibah al- H{amdi, Madinah: Wiza>rah ad-difa> wa al-t{ayra>n, t.t., 13 jilid. Bloomfiled, Leonard, Language. 1 st Published, London & Aylesbury: Great Britain, D. Edi Subroto, Pengantar Metode Linguistik Struktural (Surakarta: Sebelas Maret University Press, Hamid, Abdul, Surga Menurut Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho, Penelitian LPPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Oktober Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke-iv, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Kridalaksana, Harimurti, Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia, Malisi F, Sibro, Kehidupan Penduduk Surga di Dalam Al-Quran (Kajian Tafsir Tematik) Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Patton, Michael Quinn, How to Use Qualitative Methodes in Evaluation. London: Sage Publication, Hitti, Philip K. History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi, Soeparno, Dasar-Dasar Linguistik, Yogyakarta: Mitra Gama Widya, Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press, Tamir Abd al-fattah, Al-Usrah fi Al-Jahiliyyah wa al-islam, diunduh dari tanggal 26 Maret Taufiq, Wildan, Ideologi di Balik Simbol-Simbol Surga dan Kenikmatannya dalam Ayat-Ayat Alquran, dalam Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 20, No. 2, Desember 2008: Hitti, Philip K. History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi, 2005.

17 Lampiran: Daftar ayat-ayat yang mendeskripsikan surga berikut jenis stimulusnya Nama Surat Teks Alquran Jenis Stimulus و ب ش ر ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات أ ن ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن البقرة: 0 ت ح ت ه ا األ ن ه ار ك ل م ا ر ز ق وا م ن ه ا م ن ث م ر ة ر ز قا ق ال وا ه ذ ا ال ذ ي ر ز ق ن ا م ن ق ب ل و أ ت وا ب ه م ت ش اب ها و ل ه م ف يه ا أ ز و اج م ط ه ر ة و ه م ف يه ا خ ال د ون م ث ل ال ج ن ة ال ت ي و ع د ال م ت ق ون ف يه ا أ ن ه ار م ن م اء غ ي ر آس ن محمد: 70 و أ ن ه ار م ن ل ب ن ل م ي ت غ ي ر ط ع م ه و أ ن ه ار م ن خ م ر ل ذ ة ل لش ار ب ي ن و أ ن ه ار م ن ع س ل م ص ف ى و ل ه م ف يه ا م ن ك ل الث م ر ا ت و م غ ف ر ة م ن ر ب ه م ك م ن ه و خ ال د ف ي الن ار و س ق وا م اء ح م يم ا ف ق ط ع أ م ع اء ه م يس: 01 ل ه م ف يه ا ف اك ه ة و ل ه م م ا ي د ع و ن ص: 07 م ت ك ئ ين ف يه ا ي د ع ون ف يه ا ب ف اك ه ة ك ث ير ة و ش ر ا ب ل ك م ف يه ا ف اك ه ة ك ث ير ة م ن ه ا ت أ ك ل و ن الزخروف: 1 الدخان: 00 ي د ع ون ف يه ا ب ك ل ف اك ه ة آم ن ي ن HASIL PERKEBUNAN الطور : و أ م د د ن اه م ب ف اك ه ة و ل ح م م م ا ي ش ت ه و ن الرحمن: 77 ف يه ا ف اك ه ة و الن خ ل ذ ات األ ك م ا م الرحمن: 42 ف يه م ا ف اك ه ة و ن خ ل و ر م ا ن الرحمن: 0 ف يه م ا م ن ك ل ف اك ه ة ز و ج ا ن الواقعة: 7 و ف اك ه ة م م ا ي ت خ ي ر و ن المرسالت : و ف و اك ه م م ا ي ش ت ه ون

18 1 الصافات : 1-7 و م ا ت ج ز و ن إ ل م ا ك نت م ت ع م ل ون إ ل ع ب اد هللا ال م خ ل ص ين أ و ل ئ ك ل ه م ر ز ق م ع ل وم ف و اك ه و ه م م ك ر م ون ف ي ج ن ات الن ع ي م أ ي و د أ ح د ك م أ ن ت ك ون ل ه ج ن ة م ن ن خ يل و أ ع ن اب ت ج ر ي م ن البقرة: 44 ت ح ت ه ا األ ن ه ار ل ه ف يه ا م ن ك ل الث م ر ات و أ ص اب ه ال ك ب ر و ل ه ذ ر ي ة ض ع ف اء ف أ ص اب ه ا إ ع ص ار ف يه ن ار ف اح ت ر ق ت ك ذ ل ك ي ب ي ن هللا ل ك م اآلي ات ل ع ل ك م ت ت ف ك ر ون KEADAAN GEOGRAFIS ق ل أ ؤ ن ب ئ ك م ب خ ي ر م ن ذ ل ك م ل ل ذ ين ات ق و ا ع ند ر ب ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا و أ ز و اج م ط ه ر ة و ر ض و ان م ن هللا و هللا ب ص ير ب ال ع ب اد أ و ل ئ ك ج ز آؤ ه م م غ ف ر ة م ن ر ب ه م و ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا و ن ع م أ ج ر ال ع ام ل ين آل عمران: 70 آل عمران: 7 4 ف اس ت ج اب ل ه م ر ب ه م أ ن ي ل أ ض يع ع م ل ع ام ل م نك م م ن ذ ك ر أ و أ نث ى ب ع ض ك م م ن ب ع ض ف ال ذ ين ه اج ر وا و أ خ ر ج وا م ن د ي ار ه م و أ وذ وا ف ي س ب يل ي و ق ات ل وا و ق ت ل وا أل ك ف ر ن ع ن ه م س ي ئ ات ه م و أل د خ ل ن ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار ث و اب ا م ن ع ند هللا و هللا ع ند ح س ن الث و ا ب ل ك ن ال ذ ين ات ق و ا ر ب ه م ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا ن ز ل م ن ع ند هللا و م ا ع ند هللا خ ي ر ل أل ب ر ار آل عمران: 770 آل عمران: 772 ت ل ك ح د ود هللا و م ن ي ط ع هللا و ر س ول ه ي د خ ل ه ج ن ات ت ج ر ي م ن النساء: 7 ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا و ذ ل ك ال ف و ز ال ع ظ يم و ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات س ن د خ ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن 01 النساء: ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا ل ه م ف يه ا أ ز و اج م ط ه ر ة و ن د خ ل ه م ظ ال ظ ل يال

19 و ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات س ن د خ ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن النساء: 7 ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا و ع د هللا ح ق ا و م ن أ ص د ق م ن هللا ق يال و ل ق د أ خ ذ هللا م يث اق ب ن ي إ س ر آئ يل و ب ع ث ن ا م نه م اث ن ي ع ش ر ن ق يب ا المائدة: 7 و ق ال هللا إ ن ي م ع ك م ل ئ ن أ ق م ت م الص ال ة و آت ي ت م الز ك اة و آم نت م ب ر س ل ي و ع ز ر ت م وه م و أ ق ر ض ت م هللا ق ر ض ا ح س ن ا أل ك ف ر ن ع نك م س ي ئ ات ك م و أل د خ ل ن ك م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار ف م ن ك ف ر ب ع د ذ ل ك م نك م ف ق د ض ل س و اء الس ب يل ف أ ث اب ه م الل ه ب م ا ق ال وا ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين المائدة: 20 ف يه ا و ذ ل ك ج ز اء ال م ح س ن ي ن المائدة: 777 األعراف: 1 ق ال الل ه ه ذ ا ي و م ي نف ع الص اد ق ين ص د ق ه م ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا ر ض ي الل ه ع ن ه م و ر ض وا ع ن ه ذ ل ك ال ف و ز ال ع ظ يم و ن ز ع ن ا م ا ف ي ص د ور ه م م ن غ ل ت ج ر ي م ن ت ح ت ه م األ ن ه ار و ق ال وا ال ح م د ل ل ه ال ذ ي ه د ان ا ل ه ذ ا و م ا ك ن ا ل ن ه ت د ي ل و ل أ ن ه د ان ا الل ه ل ق د ج اء ت ر س ل ر ب ن ا ب ال ح ق و ن ود وا أ ن ت ل ك م ال ج ن ة أ ور ث ت م وه ا ب م ا ك نت م ت ع م ل ون و ع د الل ه ال م ؤ م ن ين و ال م ؤ م ن ات ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا التوبة: 1 األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا و م س اك ن ط ي ب ة ف ي ج ن ات ع د ن و ر ض و ان م ن الل ه أ ك ب ر ذ ل ك ه و ال ف و ز ال ع ظ ي م أ ع د الل ه ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا ذ ل ك التوبة: 27 ال ف و ز ال ع ظ يم يونس: إ ن ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ي ه د يه م ر ب ه م ب إ يم ان ه م 7 ت ج ر ي م ن ت ح ت ه م األ ن ه ار ف ي ج ن ات الن ع يم

20 م ث ل ال ج ن ة ال ت ي و ع د ال م ت ق ون ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار أ ك ل ه ا الرعد: 0 د ائ م و ظ ل ه ا ت ل ك ع ق ب ى ال ذ ين ات ق وا و ع ق ب ى ال ك اف ر ين الن ا ر و أ د خ ل ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا ابراهيم : األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا ب إ ذ ن ر ب ه م ت ح ي ت ه م ف يه ا س ال م ج ن ات ع د ن ي د خ ل ون ه ا ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار ل ه م ف يه ا م ا النحل: 7 ي ش اء ون ك ذ ل ك ي ج ز ي الل ه ال م ت ق ين أ ول ئ ك ل ه م ج ن ات ع د ن ت ج ر ي م ن ت ح ت ه م األ ن ه ار ي ح ل و ن ف يه ا الكهف: 7 م ن أ س او ر م ن ذ ه ب و ي ل ب س ون ث ي اب ا خ ض ر ا م ن س ند س و إ س ت ب ر ق م ت ك ئ ين ف يه ا ع ل ى األ ر ائ ك ن ع م الث و اب و ح س ن ت م ر ت ف ق ا ج ن ات ع د ن ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا و ذ ل ك ج ز اء طه: 14 م ن ت ز ك ى إ ن الل ه ي د خ ل ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ج ن ات ت ج ر ي الحج: 71 م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار إ ن الل ه ي ف ع ل م ا ي ر يد 77 إ ن الل ه ي د خ ل ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ج ن ات ت ج ر ي الحج : م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار ي ح ل و ن ف يه ا م ن أ س او ر م ن ذ ه ب و ل ؤ ل ؤ ا و ل ب اس ه م ف يه ا ح ر ير ت ب ار ك ال ذ ي إ ن ش اء ج ع ل ل ك خ ي ر ا م ن ذ ل ك ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار و ي ج ع ل ل ك ق ص ور ا الفرقان: العنكبوت: 02 و ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ل ن ب و ئ ن ه م م ن ال ج ن ة غ ر ف ا ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا ن ع م أ ج ر ال ع ام ل ين 7 ل ك ن ال ذ ين ات ق و ا ر ب ه م ل ه م غ ر ف م ن ف و ق ه ا غ ر ف م ب ن ي ة ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار و ع د الل ه ل ي خ ل ف الل ه ال م يع اد الزمر: إ ن الل ه ي د خ ل ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ج ن ات ت ج ر ي محمد: 7

21 م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار و ال ذ ين ك ف ر وا ي ت م ت ع ون و ي أ ك ل ون ك م ا ت أ ك ل األ ن ع ام و الن ار م ث و ى ل ه م م ث ل ال ج ن ة ال ت ي و ع د ال م ت ق ون ف يه ا أ ن ه ار م ن م اء غ ي ر آس ن محمد: 70 و أ ن ه ار م ن ل ب ن ل م ي ت غ ي ر ط ع م ه و أ ن ه ار م ن خ م ر ل ذ ة ل لش ار ب ين و أ ن ه ار م ن ع س ل م ص ف ى و ل ه م ف يه ا م ن ك ل الث م ر ات و م غ ف ر ة م ن ر ب ه م ك م ن ه و خ ال د ف ي الن ار و س ق وا م اء ح م يم ا ف ق ط ع أ م ع اء ه م ل ي د خ ل ال م ؤ م ن ين و ال م ؤ م ن ات ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار الفتح: 0 خ ال د ين ف يه ا و ي ك ف ر ع ن ه م س ي ئ ات ه م و ك ان ذ ل ك ع ند الل ه ف و ز ا ع ظ يم ا ل ي س ع ل ى األ ع م ى ح ر ج و ل ع ل ى األ ع ر ج ح ر ج و ل ع ل ى الفتح: 71 ال م ر يض ح ر ج و م ن ي ط ع الل ه و ر س ول ه ي د خ ل ه ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار و م ن ي ت و ل ي ع ذ ب ه ع ذ اب ا أ ل يم ا ي و م ت ر ى ال م ؤ م ن ين و ال م ؤ م ن ات ي س ع ى ن ور ه م ب ي ن أ ي د يه م الحديد: 7 و ب أ ي م ان ه م ب ش ر اك م ال ي و م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا ذ ل ك ه و ال ف و ز ال ع ظ يم...أ ول ئ ك ك ت ب ف ي ق ل وب ه م اإل يم ان و أ ي د ه م ب ر وح م ن ه و ي د خ ل ه م المجادلة : ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا ر ض ي الل ه ع ن ه م و ر ض وا ع ن ه أ ول ئ ك ح ز ب الل ه أ ل إ ن ح ز ب الل ه ه م ال م ف ل ح ون ي غ ف ر ل ك م ذ ن وب ك م و ي د خ ل ك م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار الصف: 7 و م س اك ن ط ي ب ة ف ي ج ن ات ع د ن ذ ل ك ال ف و ز ال ع ظ يم ي و م ي ج م ع ك م ل ي و م ال ج م ع ذ ل ك ي و م ال ت غ اب ن و م ن ي ؤ م ن ب الل ه التغابن: 7 و ي ع م ل ص ال ح ا ي ك ف ر ع ن ه س ي ئ ات ه و ي د خ ل ه ج ن ات ت ج ر ي م ن

22 ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا ذ ل ك ال ف و ز ال ع ظ يم... و م ن ي ؤ م ن ب الل ه و ي ع م ل ص ال ح ا ي د خ ل ه ج ن ات ت ج ر ي م ن الطالق: 77 ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا ق د أ ح س ن الل ه ل ه ر ز ق ا 2 77 ي ا أ ي ه ا ال ذ ين آم ن وا ت وب وا إ ل ى الل ه ت و ب ة ن ص وح ا ع س ى ر ب ك م أ ن ي ك ف ر ع نك م س ي ئ ات ك م و ي د خ ل ك م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار ي و م ل ي خ ز ي الل ه الن ب ي و ال ذ ين آم ن وا م ع ه ن ور ه م ي س ع ى ب ي ن أ ي د يه م و ب أ ي م ان ه م ي ق ول ون ر ب ن ا أ ت م م ل ن ا ن ور ن ا و اغ ف ر ل ن ا إ ن ك ع ل ى ك ل ش ي ء ق د ير إ ن ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار ذ ل ك ال ف و ز ال ك ب ير التحريم: البروج: ج ز اؤ ه م ع ند ر ب ه م ج ن ات ع د ن ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار البينة: 2 خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا ر ض ي الل ه ع ن ه م و ر ض وا ع ن ه ذ ل ك ل م ن خ ش ي ر ب ه و ب ش ر ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات أ ن ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن البقرة: 0 ت ح ت ه ا األ ن ه ار ك ل م ا ر ز ق وا م ن ه ا م ن ث م ر ة ر ز ق ا ق ال وا ه ذ ا ال ذ ي ر ز ق ن ا م ن ق ب ل و أ ت وا ب ه م ت ش اب ه ا و ل ه م ف يه ا أ ز و اج م ط ه ر ة و ه م ف يه ا خ ال د ون ق ل أ ؤ ن ب ئ ك م ب خ ي ر م ن ذ ل ك م ل ل ذ ين ات ق و ا ع ند ر ب ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا و أ ز و اج م ط ه ر ة و ر ض و ان م ن الل ه و الل ه ب ص ير ب ال ع ب اد آل عمران: 70 و ال ذ ين آم ن وا و ع م ل وا الص ال ح ات س ن د خ ل ه م ج ن ات ت ج ر ي م ن النساء: 01 ت ح ت ه ا األ ن ه ار خ ال د ين ف يه ا أ ب د ا ل ه م ف يه ا أ ز و اج م ط ه ر ة و ن د خ ل ه م ظ ال ظ ل يال KEADAAN SOSIAL MASYARAKAT الدخان: 01 ك ذ ل ك و ز و ج ن اه م ب ح ور ع ي ن

23 الصافات: 12 و ع ن د ه م ق اص ر ات الط ر ف ع ي ن الرحمن: 17 ف يه ن خ ي ر ات ح س ا ن الواقعة: - و ح ور ع ين كأمثال اللؤلؤ المكنون ص: 0 و ع ند ه م ق اص ر ات الط ر ف أ ت ر ا ب ف يه ن ق اص ر ات الط ر ف ل م ي ط م ث ه ن إ نس ق ب ل ه م و ل ج ان الرحمن: 04