Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP"

Transkripsi

1 Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms. Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

2 LAMPIRAN

3 CATATAN OBSERVASI Dua hari sebelum upacara Sedekah Laut, penulis datang ke bagian Humas di Kabupaten Cilacap untuk menanyakan jika ingin mengikuti Sedekah Laut di pendopo apakah harus menggunakan ijin. Ternyata semuanya bebas untuk datang dari hari Kamis malam harinya. Kamis malam hari, penulis datang ke pendopo kabupaten sekitar pukul enam sore. Pada waktu itu banyak wartawan dan anak-anak sekolah ataupun kuliah datang juga untuk menyaksikan malam penyerahan bungkusan sesaji dari bupati Tato. Bupati sendiri mendapatkan pesan dari keluarga Mataram untuk menyerahkan dua bungkusan yang besok akan dilarung bersama jolen. Ketua adat dan para sesepuh nelayan datang menggunakan pakaian Jawa lengkap berwarna hitam dan juga belangkon. Mereka datang untuk menerima bungkusan dari Mataram tersebut. Setelah merema, mereka semayamkan bungkusan itu di bagian dalam pendopo. Setelah selesai penyerahan itu, para warga dan nelayan yang sudah datang akan berkumpul duduk di lantai sambil memakan nasi tumpeng yang dibawa oleh masingmasing TPI. Mereka saling mengobrol, tertawa, dan bercanda satu dengan lainnya. Keesokkan harinya saat Jumat Kliwon, penulis pergi kembali ke pendopo kabupaten sekitar pukul setengah tujuh pagi. Di sana halaman pendopo sudah terdapat sembilan jolen yang tersedia. Delapan adalah milik para nelayan dan satu jolen tunggul berasal dari pemerintah Cilacap. Terdapat pula beberapa kesenian daerah untuk meramaikan seperti gamelan dan tari kuda lumping. Para nelayan yang ada berpakaian hitam-hitam dan sudah banyak orang-orang berdatangan untuk melihat. Sekitar pukul setengah delapan, ketua adat dan rombongan para sesepuh datang menggunakan pakaian adat Jawa lengkap seperti semalam dan berhenti tepat di depan pendopo kabupaten. Bupati Tato pun datang dari dalam pendopo dan berhenti di depan para sesepuh. Bupati memerintahkan untuk segera melarung jolen-jolen yang sudah ada ke laut pantai selatan. Setelah itu, ada orang-orang yang merupakan suruhan dari bupati membuka barisan dengan menggunakan kuda untuk mengiring para nelayan mengarak jolen keliling Cilacap sebentar hingga akhirnya sampai ke Teluk Penyu.

4 Penulis pun langsung menuju ke pantai teluk Penyu dan di sana sudah ada ribuan orang yang berkumpul di tepi pantai menanti rombongan jolen datang. Di tengahtengah masyarakat yang berkumpul, dikosongkan membentuk jalan kecil untuk lewatnya jolen. Di bagian depan pantai, dekat dengan jalan sudah diberi tempat kecil untuk salah satu sesepuh berdoa sebelum berangkat melarung jolen. Setelah sampai, sesepuh berdoa sebentar dan kemudian masing-masing jolen dibawa ke perahu setiap TPI. Di sana sudah terdapat 9 perahu yang siap melarungkan jolen tadi. Penulis tidak bisa ikut melarung ke tengah laut karena memang tidak boleh. Hanya para sesepuh dan seksi nelayan saja yang boleh ikut naik ke perahu. Setelah jolen di angkat ke atas perahu, masyarakat yang menyaksikannya pun langsung pada pulang, begitu juga dengan penulis. Pada tanggal 1 April, penulis pergi ke kantor HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) kabupaten Cilacap yang berada di Jalan Lingkar Timur. Penulis sudah berjanji dengan ketua HNSI yang bernama bapak Sarjono. Penulis menunggu di kantor tersebut selama kurang lebih 30 menit. Kantor HNSI sendiri menyatu dengan lapangan bulutangkis yang setiap harinya disewakan untuk masyarakat. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Sarjono, akhirnya penulis mewawancara bapak Sarjono. Dari Bapak Sarjono inilah penulis mengetahui bahwa ketua adat yang memimpin Sedekah Laut beberapa waktu lalu adalah Bapak Parjo yang merupakan wakil ketua dari Bapak Sarjono. Penulis pun langsung menuju ke tempat Bapak Parjo yang berada di lantai satu dan memintanya untuk wawancara. Dari Bapak Parjo inilah penulis banyak mengerti tentang urutan Sedekah Laut dan juga arti-arti yang terkandung di dalamnya. Setelah mewawancarai Bapak Parjo, saya pun berbincang-bincang dengan nelayan yang sedang berada di HNSI, namanya adalah Bapak Misban. Bapak Misban tidak terlalu mengetahui tentang makna-makna Sedekah Laut yang ada di dalamnya, tetapi dia mengenal salah satu sesepuh yang bertugas untuk membuat jolen. Penulis akhirnya diberi tahu bahwa nama sesepuh itu adalah Sudis dan diberikan alamatnya. Keesokan harinya penulis pun datang ke rumah Pak Sudis dan berbincang sebentar untuk meminta wawancara. Di dalam rumahnya kebetulan terdapat istri dan seorang anaknya yang masih kecil. Terlihat pula jaring-jaring untuk menangkap ikan. Kata Bapak Sudis, jaring-jaring tersebut sedang diperbaiki. Setelah mengobrol sebentar diketahui bahwa Bapak Sudis ini sudah turun temurun dipercaya untuk membuat jolen, karena tidak semua orang tahu aturan dalam membuatnya. Selain itu,

5 Bapak Sudis juga merupakan ketua kesenian kuda lumping, salah satu kesenian Jawa. Akhirnya penulis pun mewawancarai Bapa Sudis terkait dengan jolen dan isi yang ada di dalamnya. Kemudian beberapah hari kemudian tanggal 9 April, penulis mendatangi Koperasi Unit Desa Minosaroyo. Koperasi ini adalah milik nelayan Cilacap yang digunakan untuk menyejahterakan nelayan dan masyarakat sekitar. Penulis datang sekitar pukul 9 pagi dan bertanya kepada salah satu petugas apakah ada yang bisa diwawancarai mengenai Sedekah Laut. Petugas di KUD berkata bahwa ada yang bisa bernama Bapak Subari, tetapi sedang pergi. Oleh karena itu penulis kembali lagi pada pukul 11 dan akhirnya mengobrol dengan Bapak Subari. Dari hasil mengobrol diketahui bahwa Bapak Subari ini sudah tujuh kali berturut-turut menjadi ketua panitia Sedekah Laut. selain itu, Bapak Subari ini juga ternyata adalah cucu dari salah satu nelayan yang pertama kali mengadakan Sedekah Laut. Pada bulan Juli penulis datang kembali ke rumah Bapak Sudis untuk melengkapi data-data yang kurang mengenai doa karena bapak Sudis adalah sesepuh yang bertugas untuk menaikkan doa-doa saat Sedekah Laut.

6 FOTO-FOTO PADA SAAT OBSERVASI Bersama informan 1, Bapak Parjo Bersama informan 4, Bapak Sarjono Bersama informan 2, Bapak Sudis Bersama informan 3, Bapak Subari

7 Bersama salah satu nelayan, Bapak Misban Peneliti saat acara Sedekah Laut Suasana saat Sedekah Laut di kabupaten Cilacap

8 Ketua ada menerima bungkusan dari keluarga Mataram Tumpengan di pendopo kabupaten Jolen-jolen yang ada di kabupaten Tari kuda lumping meramaikan Sedekah Laut Barongsai turut meramaikan Sedekah Laut Jolen dinaikkan ke perahu untuk dilarung

9 TRANSKRIP WAWANCARA Informan 1, Parjo Hadipranoto, usia 67 tahun Saya namanya Parjo Hadipranoto, umur 67 tahun. Pak, boleh diceritain nggak awal mula terjadinya Sedekah laut itu bagaimana? Perlu kami sampaikan di sini bahwa pertama kali adanya sedekah laut di kabupaten cilacap, bahwa dulu padawaktu Adipati, belum bupati namanya, waktu penjajahan belanda itu 1870an di Cilacap ada yang namanya kadipaten, belum kabupaten. Nah adipatinya yang pertama, beliau adalah Cakrawerdana I, terus diganti lagi Cakrawedana II, Cakrawedana III, nah waktu itu Adipati Cakrawedana III di tahun 1873 memerintahkan, nah itu mendapat wangsit memerintahkan kepada seorang nelayan Pandanaran yang namanya Ki Arsa Menawi, dipanggil ke kabupaten, diutus oleh Adipati Cakrawedana III itu supaya melarung sesaji ke Pantai Samudera Selatan, di lautan selatan. Nah, sesaji itu sudah disiapkan dari kadipaten. Nah waktu itu adalah bulan Sura, persis harinya Jumat Kliwon dipanggil ke sana, membawa temannya supaya melarung sesaji ke sana. Diperkirakan yang supaya dilarung adalah pakaian wanita. Nah pakaian wanita itu diantaranya adalah nyamping(jarit), benting (stagen), baju warna hijau muda (hijau gadung), termasuk ada petet (sisir) yang diberikan dari sang adipati, setelah itu kebetulan jam 8 pagi lebih 10 menit beliau berangkat ke sana dan dilarung. Setelah itu setiap tahun diharuskan melakukan semacam itu, pada bulan sura, jumat Kliwon pagi hari. Kalau tepatnya jam 8.10, tahun berikutnya suruh dilengkapi tidak hanya pakaian wanita tetapi dilengkapi dengan jajan pasar. Maksudnya jajanan yang dibeli di pasar. Macam-macamlah kalau sekarang ada kolak, klepon, dan sebagainya, dan juga supaya dilengkapi dengan ayam yang masih hidup. Jadi setiap tahun sang adipati menyuruh itu. Hubungannya kita ya selaku orang yang beragama itu adalah untuk rasaa syukur kepada Tuhan, karena selama satu tahun diberi rejeki oleh Tuhan, dan juga kalau dalam artian bahasa kleniknya itu katanya kan laut selatan ada yang nunggu, Nyi Roro Kidul, mungkin pikirannya ke situ jadi pakaiannya untuk nyi roro kidul, istilahnya ucapan terima kasih karena ya ngemong terhadap ikan lah. Harapannya agar supaya nelayan yang mencari ikan diberi keselamatan dan tidak diganggu oleh penghuni laut pantai selatan dan sipaya diberi

10 ikan yang banyak. Tetapi kalau dalam kita beragama ya rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi keselamatan dan diberi ikan yang banyak. Itu asal mulanya begitu. Terus setiap tahun diadakan. Dulu kan ditambah tidak hanya sesaji dari sana, yang adari pakaian yaitu ditambah dengan kepala kambing, itu kan yang sudah disembelih, nah itu harusnya kalau kepala sapi dan kambing itu harusnya dagingnya dibagikan kepada nelayan, terus kepalanya dilarung. Upamanya sapi ya dagingnya dibagiakan, kepalanya, kakinya, buntutnya dibawa ke laut, tetapi sekarang kepala sama buntutnya tok. Kegiatan untuk sedekah laut itu, sekarang bersamaan dengan beliau pak Bupati memerintahkan agar sedekah laut ini dimeriahkan. Untuk diperintahkan dilaksanakan agar menarik pariwisata yang intinya tidak merubah ritual yang sebenarnya. Nah sekarang, jadi kegiatannya sekarang ini adalah pertama Kamis Wage pagi, sebelum Jumat Kliwon kan Kamis wage. Nah sekarang kalau dalam bulan Suro kan kadangkala tidak ada hari Jumat Kliwon, bisa terjadi kan dalam beberapa tahun itu terjadi dalam bulan Sura itu tidak ada Jumat Kliwonnya, nah itu diambil hari Selasa Kliwon, yang peting harus Selasa kalau tidak Jumat Kliwon. Kenapa sih? Semacam kepercayaan sih ya.. nah ini saya sampaikan kegiatan yang dilaksanakan memperingati sedekah laut yang dipanitiain oleh Kabupaten, nah itu Kamis Wagenya nelayan2 yang ada di komplek sini itu nyekar, istilahnya membawa sesaji ke Karang Bandung, sebelah selatan pulau Nusakambangan. Jadi sebelah selatan nusakambangan itu ada pulau kecil, namanya Karang Bandung. Biasanya neleyan brngkat ke sana pagi, biasanya itu dilaksanakan di atas batu, itu ada kan batu bentuknya rata, di sana itu ritualnya dari temen-temen nelayan banyak yang dateng terus memberikan banyak sesaji, yaa itu macem-macem sesajinya, tetapi nggak ada kepala kambing, nggak ada di jolen, terus diletakkan di atas batu. Terus ada lagi orang-orang yang mengambil air Nusakambangan. Airnya diambil diletakkan di situ, terus ada juga yang meletakkan uang di atas batu. Itu sudah diletakkan semua sesajinya, kan banyak sekali nah ada kesepuhan satu, itu duduk di situ menghadap ke selatan mendonga apalah saya nggak tahu. Saya kalau datang hanya di tepi saja, karena memang tidak ditugaskan ndonga di sana. Setelah itu sudah, obong-obong kemenyan, terus uang yang diletakkan di situ diambil sendiri-sendiri, umpana saya meletakkan uang di situ, ya saya ambil sendiri. nah itu katanya untuk berkah modal dagang, dengan uang it uterus nanti untuk beli apa untuk modal ddagang, biar laris.

11 Terus untuk airnya, misalnya saya bawa botol aqua, yaa nanti diambil sendiri setelah didoain itu katanya biar sakitnya sembuh atau gimana. Nah setelah jam 12 pada pulang sendiri-sendiri. itu kegiatan yang pertama. Kegiatan yang kedua itu malam jumat Kliwon, itu biasanya di Kabupaten. Tirakatan. Yang pertama itu kegiatannya setelah jam 6 sore habis maghrib kami yang ditugaskan ke sana tiap tahun, saya pake pakaian kejawen, pake belangkon dan sebagainya ketemu pak bupati, menerima dua bungkusan yang dibalut dengan kain kuning, nah itu dibawa dari keluarga mataram Yogyakarta dan Surakarta. Beliau mendapat tugas jadi orang sini keluarga sana itu pakem, paguyuban keluarga mataram, beliau diberi mandat untuk menyerahkan sesaji yang di dalamnya ada kain dan sebagainya setiap tahun. Dalam bungkusan itu ada perlengkapan pakaian untuk Ibu Kanjeng Ratu nyamping (jarit), benting (stagen), baju berwarna hijau gadung (hijau muda), dan petet (sisir). Kami datang rombongan itu kemudian diserahkan terus kami menerima terus kami bawa ke pendopo dan meletakkannya di sana, termasuk ada payungnya juga. Istilahnya disemayamkan di situlah, nah itu diletakkan terus kita ngadakan resepsi itu tadi. Kan semua dinas, instansi, dan kantor tadi itu kan datang bersama pegawainya bawa tumpeng juga. Terus kita makan, laporan ketua panitia dinas pariwisata. Terus kami selaku nelayan itu membacakan sejarah sedekah laut sejak dulu, dalam bahasa jawa, kadangkala bahasa Indonesia. Riwayat singkat sedekah laut. Lalu dibacakan sambutan bupati lalu bapak bupati potong tumpeng, diserahkan pada saya, kemudian makan bersama. Nah setelah itu di pendopo diadakan uyon-uyon itu gamelan itu, kalau sekarang campur sari, atau macapat dan nyanyi-nyanyi semalem. Nah beliau pak bupati datang ke tempat-tempat nelayan persiapan untuk paginya. Ke TPI yang mau mengadakan sedekah laut masing-masing, istilahnya kesiapannya bagaimana. Nah di setiap TPI, rukun nelayan kan aka nada jolen yang mau dibawa paginya ke kabupaten kan disiapkan dulu dan diperiksa dulu oleh bupati. Terus paginya diadakan ritual sedekah laut jam 3 pagi, malah ada yang jam 1 dan 2 itu semua rukun nelayan yang ada membawa jolen, itu kaya semacam rumah, jolen itu ada artinya, jole itu tegese (artinya) ojo kelalen, jangan sampai lupa kepada yang maha kuasa. Berupa rumahrumahan yang di dalamnya itu isinya macem2. Termasuk di dalamnya itu pakaianpakaian itu masih ada, buah-buahan, makanan, kepala kambing, jajanan pasar. Jam 1 itu udah ada di sana, biasanya ada 8 jolen, ada 9 (satunya itu jolen yang utama, joleng tunggul), jolen itu sudah ada dipersiapkan oleh kabupaten di pendopo. Isinya sama saja, cuma ada yang kambing ada juga yang sapi biasanya.

12 Pagi2 sudah dilaksanakan, itu diikiuti oleh nelayan yang ada, jolennya ada 8, satu jolen tunggul, kadangkala ada jolen yang dari kampong laut. oya, ittu pak bupati Pujonopranoto yang memerintahkan setiap tahun harus dilaksanakan sedekah laut di kabupaten berangkatnya. Sebelum itu kana da ritual khusus, itu kan kami (saya di depan sendiri) terus masuk dari regol kan bendengnya 9 kali (teng-teng) terus kita masuk terus kita laporan. Jadi kami kan nelayan, nah kami mewakili Ki Arsa Menawi nya, saya perannya Ki Arsa Menawi, nelayan yang dipanggil dari Pandanaran menuju ke kabupaten. Nah datang ke kabupaten itu ada Tumenggungnya, itu utusannya bupati lah supaya mengiringi. Tumenggung Duta Pangarsa, itu utusan yang paling depan. Nah setelah kami datang, bupatinya kan keluar dari pendopo terus mengatakan Kadang nelayan kabeh, sira tak utus, (bupati mengutus, memerintahkan) supaya ngelarung sesaji ana saktengahing jaladri (di tengah-tengah samudra) kanggo pisungsun marang Gusti kang Maha Agung. Pisungsung itu rasa syukur, kepada Tuhan Yang Maha Esa, rasa syukur kita. Nah, kita kan menjawab Kanjeng Bupati pangestuni sedaya dawuh panjenengan. Ingsun badhe ngayahi menapa ingkang sampun dados dawuhipun. Jadi, kami menerima dan siap melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kita. Setelah itu pak Bupati memanggil tumenggung duta pangarsa, yang intinya pak bupati memerintahkan tumenggung duta pangarsa untuk membawa pasukannya, ngawal kitalah yang ada di situ membawa sesaji. Sebetulnya ritual yang dulu sih tidak ada, cuma itu untuk pelengkap. Ada putri domas, membawa bendera, api yang diberi kemenyan, dupa, untuk mengiring ke sana. Jadi pertama itu jolen tunggul berangkat di depan, terus nanti jolen-jolen yang lain. Pertama itu Duta Pangarsa di depan kemudian putri domas yang banyak sekali itu, terus di belakangnya jolen tunggu yang sudah disiapkan dari kabupaten, terus dibelakangnya jolen2 lain yang delapan, terus diikuti oleh pasukan yang lain. Itu kan ada pasukan yang bawa pedang dan sebagainya, hanya sebagai pelengkap. Biasanya pada naik kuda di belakangnya itu pejabat-pejabat naik dokar. Terus belakangnya sendiri ini ada pasukan pengombyong, pasukan penggembira, ya biasanya dari nelayan-nelayan kana da kesenian macem2, nah itu di belakang. Terus masuk ke THR teluk penyu, nah dari sana biasanya Tumenggung Duta Pangarsa biasanya menyerahkan kepada orang yang mau membawanya ke laut. Kapalnya nanti ada 9 yang membawa jolen sendiri0sendiri, terus dibawa ke tengah laut. yaa ditengah laut disesuaikan ombaknya bagaimana terus dibuang, baru pada pulang.

13 Justru di desa-desa seperti Jetis, Adiraja itu ada. Setiap ada pantai, ada nelayannya ya mesti ada jolennya. Mereka mengadakan sendiri kalau jauh. Karangbenda, srandil juga mengadakan Sedekah Laut sendiri, Adiraja, Adipala, Bunton juga. Jadi yang di kota yang hanya dijadikan satu. Ada larangan-larangan tertentu nggak kalau Sedekah laut itu? Nah ini perlu saya sampaikan, bahwa ini sudah menjadi kesepakatan, tradisi bahwa di kabupaten Cilacap kemungkinan tidak hanya di cilacap saja, itu setiap hari Jumat Kliwon nelayan tidak boleh berangkat melaut, tidak boleh mengangkap ikan, setiap Jumat Kliwon. Pokokonya hari kamis sorenya sudah tidak boleh berangkat. Itu istilahnya untuk menghormati,tidak boleh melaut. Kalau Selasa Kliwon boleh? Boleh.. sebab apa itu biasanya kalau ada yang melaut Jumat Kliwon biasanya terjadi kecelakaan, perhunya tenggelam, atau gimana. Jadi semua sudah sepakat. Nah kan kadang-kadang kapal2 besar berangkat melaut kan bisa satu bulan, 2 bulan, itu di sana kalau hari Jumat Kliwon juga berhenti, kapal tidak menangkap ikan. Krunya pasang jangkar gitu loh, satu hari itu istirahat. Sebetulnya ya itu ada baiknya. Kita satu bulan mencari ikan, ya prei (libur) 1 hari ya untuk istirahat, ya untuk memperbaiki kapak, perahu, jarring yang rusak, tp itu sudah kesepakatan. Kalau dalam Sedekah laut ini ada yang boleh atau tidak boleh ikut Pak? Boleh saja, pokoknya itu semua boleh ikut memperingati, ikut ke laut boleh, hanya saja disarankan kalau mau pergi ke laut itu jangan memakai baju atau pakaian berwarna hijau., karena itu pakaiannya sana, nyi roro kidul. Ngko nganu malah digawa nganah, nah itu biasanya begitu tradisi lah. Yang dilarang lagi itu adalah sesaji yang sudah diserahkan di sana yaa jangan diambil, kadangkala kan sudah diambil, termasuk yang di karang bandung sana, di atas batu yang hari Kamis Wage.ya sudah diletakkan di sana ya sudah. Kadangkala kan ada anak yang nakal ngambili di makan. Sebab pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, itu di Srandil kana da paguyuban tersendiri yang mengadakan peringatan itu. Itu membawa dari darat sesaji dan sudah dipasrahkan ke sana. Nah itu karena waktu perjalanan membawa sesaji ke sana, itu kan di atas air loh masih ada, nah itu ada orang yang mengambil apel, jadi belum disilahken, apelnya diambil itulah dikiranya apel akeh ikihlah, ternyata ada ombak besar der, akhirnya orang-orang itu ada yang meninggal 3, hari itu juga Jumat. Kami di sini mendapat kabar bahwa di sana ada kecelakaan, tapi ya bukan

14 orang sini, itu pendatang sih. Yaa mungkin tidak tahu lah orangnya. Ya kami dari sini langsung pergi ke sana, termasuk dengan tim SAR menolong di sana. Memang ada pantangan-pantangannya. Terus lagi pantangan untuk nelayan yah, kalau untuk berangkat melaut di tengah samudera itu sama sekali tidak boleh berbicara atau mengucapkan kata-kata yang jorok. Termasuk mengata-ngatai temannya, mungkin saja temannya kan satu kapal ada 4, 2, 3 yang agak mengatakan tidak enak atau dimarahi sampai ngataken yang jorok-jorok itu biasanya terjai. Pertamanya biasanya nggak dapet ikan, keduanya terjadi itu. Pernah si dari sini kapal compreng lah, itu marah2 ngata2in anak buahnya. Akhirnya, ini blong tempat air terlempar ke atas mengenai punggung, seolah-olah ada yang mukul. Biasanya begitu. Pas Sedekah laut peran laki-laki dan perempuan itu biasanya bagaimana sih pak? Ada perbedaan tidak? Yang laki tugasnya ngapain, sedangkan yang perempuan ngapain? Oh pada waktu pelaksanaan ritual, peran laki-laki ya itu jelas sebagai nelayan biasanya semua atas nama nelayan, perannya sebagai pembawa jolen dan sebagainya, terus peran putri itu mungkin putri domas, sebgai pendamping ya seolah-olah kita itu mencari ikan itu direstui, umpanya suami istri ya direstui oleh istrinya jadi ada perannya, disamping itu ya untuk kebersamaan. Jadi makanya ada peran kanjeng bupati bersama istrinya, perannya untuk menyerahkan jolen itu untuk dilarung. Terus tumenggung duta pangarsa juga bersama istrinya yaa walaupun bukan istri aslinya sendiri, tapi peragaannya begitu. Biasanya kami itu didampingi dari 8 kelompok nelayan. Bapak memaknai Sedekah laut itu secara budaya bagaimana? Begini, kalau kita memaknai Sedekah Laut secara budaya itu merupakan suatu kebudayaan, tradisi turun temurun, dari mbah buyut kita dulu, kalo kita kan katanya asalnya dari seorang pelaut, nenek moyang kita seorang pelaut, kita sebagai tradisi karena itu sudah dilaksanakan sejak dulu, maka kita harus melestarikan kebudayaan yang ada, tanpa ada sangkut pautnya dengan keagamaan. Budaya, tradisi yang harus kita lestarikan agar tidak punah. Ada sesaji dsb karena itu suatu tradisi lah, kalau secara islam kan itu disebut musyriklah, kami tidak berpikiran ke situ. Pokoknya yang sudah ada kita lestarikan. Di Indonesia kan budaya2 kesenian banyak, ada ebeg, ada wayang, ada reog, kita melestarikan itu, agar tetap ada, makanya sedekah laut ini kita dampingi dengan kesenian yang ada. Terus masalah keagamaan, kita kan diciptakan

15 oleh Tuhan Yang Maha Esa ya baik Kristen maupun apa kan Tuhan kita satu. Karena kita diberi hidup, diberi keselamatan, diberi rejeki, rasa syukur kita diwujudkan dengan hal itu. Yaa samalah kayak kita punya orang tua, yang telah mengasuh kita, nah mengucapkan terima kasih, rasa syukur kita kepada ortu. Nah kalau kita datang ke rumah orang tua tidak membawa apa-apa kan tidak enak, gitu loh. Nah makanya kita membawa sesaji ke sana. Lain kalau kita membawa the, gula, jajanan pada orang tua kan seneng. Yaa itu rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa moga-moga Tuhan memberi keselamatan, rejeki yang lebih banyak. Soal Nyi roro kidul itu kan budaya bagi kita.nah ini kalau kita kaitkan, suatu negara kan ada pimpinannya presiden, kan punya bawahan. Yaa sama saja Tuhan Yang Maha Esa punya bawahan. Yang ngurusi masalah-masalah hewan tumbuhan kan nabi sulaiman. Yaa budaya kita kan sesaji lah ya. Kalau secara logika kan begini, bahwa kita memberikan ke sana sesaji kan ada makanan, kepala kambing, kerbau, kan itu dimasukkan ke laut, nah makanan ini kan dimakan oleh ikan, dagingnya ini dimakan oleh ikan, sehingga ikan itu gemuk, cepat bertelur, terus cepat netas kan jadi ikannya banyak. Itu kalau secara logika kita berpikirnya ke situ dan juga hubungannya dengan perekonomian, dengan adanya Sedekah Laut otomatis kan pariwisata masuk dan pemasukkan ke pemerintah daerah jadi banyak, membayar karcis masuk. Trus para pedagang yang dulunya tidak begitu laku, buat warung disitu jadi laku. Terus dalam hal perhubungan banyak yang datang ke Cilacap. Itu kan jadi angkutan kota jadi payu (laku), bis juga, itu kalau dihubungkan dengan ekonomi. Dalang-dalang juga pada laku semua karena ditanggap. Mengapa sih pak kok jolen diarak dulu keliling Cilacap, baru dilarung ke Teluk Penyu? Kalau dulu waktu ada perintah dari adipati cakrawedana III itu setiap nelayan berangkat ke san sendiri-sendiri. nah itu tadi dengan adanya bapak Pujonopranyoto dikaitkan dengan even pariwisata, biar Cilacap terkenal banyak yang dateng, makanya dari kabupaten diarak ke sana. Bahasa yang digunakan kan karma Inggil, nah itu kenapa sih pak? Yaa karena kita orang Jawa. Yaa harusnya bahasa krama Inggil, tetapi bapak bupati kan dialeknya lebih ke Sunda jadi kadang kala begitu. Jadi pertama saya kan laporan kepada tumenggung, atur palaporan kanjeng tumenggung. Saya memberikan laporan

16 kepada kanjeng Tumenggung, gili sedaya kadang minantoko, bahwa seluruh anggota nelayan siaga kangge methuk jolen tunggul, siap untuk menjemput jolen tunggul. Ingsun pangestoni sendika dawuh tumenggung, siap untuk melaksanakan tugas. Ya kita ceritanya laporan lah bahwa nelayan wis siap methuk jolen tunggul. Saat berlangsungnya Sedekah Laut itu yang boleh berbicara siapa saja Pak? Dalam acara itu ya kalau sekarang istilahnya upacara, pertama adalah saya mewakili nelayan yaitu sebagai ki arsa menawi berbicara. Terus tumenggung duta pangarsa yang pasti. Terus bupati, yaa hanya tiga itu. Pakaian yang digunakan pada saat Sedekah laut itu apa saja, selain tadi belangkon? Nah ini kalau kami waktu upacaranya, malam jumat Kliwong sih pakai pakaian blangkon dsb, tp pada waktu pelaksanaan yang dipakai ini adalah pakaian nelayan adalah biasanya hitam2. Celana komprang yang gombor2 hitam, terus bajunya komprang hitam terus pakai iket kepala juga hitam. Terus bawa sarung diselempangin, ya biasalah nelayan kan neng tengah segara Mandan kademen. Jadi kami pakai itu, termasuk juga disarankan semua para pejabat memakai itu. Kalau para peraganya yang jadi putri domas, yang jadi prajurit itu pada waktu upacara. Tidak memakai alas kaki. Nah sewaktu sudah keluar itu dibagikan sandal jepit karena kasian kan mau ke THR Teluk Penyu. Jadi kalau pakaiannya itu kalau bupati, berpakaian seperti keraton. Kalau kami pakai pakaian nelayan. Kalau bapak berbicara itu intonasinya gimana pak? Apakah tegas atau lembut? Yaa intonasinya diupayakan seperti bahasa nelayan. Ya tapi kalau jeblek banget kaya bahasa Cilacap ya wagu lah. Jadi kita, ya sedikit berbau alus. Biar kelihatannya didengar enak. Pak, kalau masyarakat Cilacap sendiri memandang Sedekah Laut itu sebagai apa? Persembahan, pengorbanan, atau apa? Yaa rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun embel2nya kepada Gusti Ayu Nyi Roro Kidul sih ya itu juga, yak an kadang kala kana da yang tdk memakai. Ya spesifiknya ya rasa syukur kepada Tuhan. Pak ini lebih bentuk ke persembahan atau doa-doa nih pak? Yaa doa-doa, persembahan kan itu persyaratan ada persembahan.

17 Nilai-nilai apa saja sih pak yang terkandung pada Sedekah Laut? Nilai2 pertama rasa syukur kita kepada Yang Maha Esa, kedua nilai agar diberi keselamatan, baik itu nelayan atau seluruh masyarakat Cilacap. Jangan sampai terjadi musibah, mungkin itu tsunami. Terus mohon juga kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi rejeki yang lebih banyak, tidak hanya rejeki menangkap ikan, pedagang diberi rejeki yang banyak, para pejabatnya juga cepet naik pangkat. Terus nilai-nilai yang lain adalah meningkatkan obyek pariwisata. Melestarikan kebudayaan. Nilai positifnya banyak. Untuk persatuan dan kesatuan juga. Jadi memang harus dilestarikan setaun sekali jadi memang biar lebih berkembang. Nah hubungannya dengan anggaran adalah pertama ditopang oleh pemerintah, APBD, jadi disediakan untuk peringatan Sedekah laut. masuknya ke Dinas Pariwisata. Setelah itu diolah dan disumbangkan. Disamping itu juga anggaran dari iuran nelayan. Nelayan kan punya hasil nah itu ada iuran kan dikumpulkan untuk kegiatan itu, dsb. Kalau anggaran dr pemerintah kan hbungannya di tingkat kabupaten. Bisa sampe ada yang habis 50 juta, 70 juta. Pas saat berlangsungnya itu situasinya bagaimana? Suasananya pada waktu sebelumnya, semua nelayan itu memang terfokus pada peringatan Sedekah laut. mulai Kamis wage itu sudah tidak ada kegiatan lainnya dan hanya terfokus pada itu. Dan jangan sampai terjadi gejolak. Dulu kan pernah ada orang2 yang tidak senang dengan Sedekah Laut protes dan ini sudah diantisipasi jangan sampai ada orang yang menghalangi acara Sedekah Laut ini. dulu ada mahasiswa sudah diadang di jembatan serayu, terus ada yang demo. Jadi semua orang2 yang nggak senang yaa manggalah tidak apa-apa, tapi jangan mengganggu. Dan semua kondusif. Dan pada saat itu peringatan jumat Kliwon dari anak-anak ada juga dari SMP Pius, semua murid-muridnya suruh dateng ke sini supaya menanyakan. Jadi ya situasinya pada hari-hari itu ya sangat kondusif. Bapak ikut melarung? Iya saya ikut, kamis Wage nya juga ikut ke sana. Sebelum dilarung itu kan ada doa-doa, nah doanya itu apa sih pak? Yaa doanya yaa doa orang islam minta selamat biasanya itu kan dijolennya diangkat dari kapal yah, diangkat terus didoain. Nah doanya ya doa secara islam, walaupun itu tetap obong menyan. Di pendopo juga itu, jolen diangkat ya sudah obong menyan, ada yang ndongani.

18 Nah itu artinya apa sih pak secara budaya menyan? Yaa tadisi lah. Sebetulnya yah kalau kita berpikir ada kembang. Kan kembang telon, ada kembang mawar, kenanga, dan kantil, itu ada artinya. Kembang mawar itu artinya diwarahi, diberi pelajaran oleh orang-orang tua. Mawar, diwarahi agar supaya berkelakuan baik, terus kembang kenanga artinya ngeningaken cipta, kita mengheningkan cipta kepada TYME agar diberi keselamatan. Kembang kanthil, itu harus bisa metil, methyl itu ngambil, mengambil apa yang baik dan apa yang tidak baik. Yang tdk baik dipethil dibuang, yang baik kita pethil kita ambil. Selanjutnya menyan yang diobong. Menyan itu menyatakan. Menyatakan bahwa kita itu betul-betul minta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nah kalo secara logika, secara nalar, kita itu ya tdk hnya di situ, kadangkala kita nyekar ke makam untuk membawa kembang, menyan. Di situ kan juga kembang hawanya harum, biar kita dalam khusyuk minta pada Tuhan di sekitarnya rasanya harum loh tidak ada bau apa-apa dsb. Terus menyannya diobong, biar kita dalam upacara meminta pada Tuhan biar tdk ada lelembut yang datang. Bau menyan yaa lelembutnya lunga lah. Ya sama saja di kuburan ada menyan kan baunya harum, trus obong menyan biar apa saja pergilah. Kalau tumpengan itu maknanya apa sih pak? Tumpeng itu biasanya selametan, selametan itu menggunakan tumpeng sebagai lambang persatuan, kita manusia dari satu dua orang kita jadikan satu biar lebih kuat. Kan sega pirang2 nek dipiring mubyar ora nggenah loh. Nah jadi tumpeng sebagai lambang persatuan. Ada ingkung, ayam yang diikat juga itu supaya kita utuh menjadi satu. Nah itu karena dulu tradisi semacam itu ya jadi kita lestarikan. Kan kalau selametan mesti ada tumpengnya mesti ada ingkungnya. Nah biasanya ingkungitu dibuat dari ayam yang jantan, ayam jago, agar supaya kita lebih berani sajalah. Jadi semua yaa ada artinya lah. Kalau Sedekah Laut itu memang harus di bulan suro yah pak? Ya harus, kan tradisi memang di bulan suro, sama Jumat Kliwon.

19 Informan 2, Sudis Mulyanto Awal mula adanya Sedekah Laut itu terjadi pada tahun 1947, tapi khusus adanya Sedekah Laut di Kab Cilacap, jangan keliru masalahnya Sedekah Laut juga banyak di tempat lain yah. Khusus di kabupaten Cilacap sendiri pertama kali tahun 1947 yang digerakkan oleh bapak Bupati Cokrowerdoyo sehingga berjalan sampai sekarang cuma pada waktu itu belum menggunakan tata cara seperti sekarang, misalkan dengan menggunakan jolen itu belum, dulu menggunakan ancak, ancak itu pohon pisang kan ada lapisan-lapisan yah, itu dibuat segi empat terus bawahnya dibikin anyaman bambu, itu kalau orang Jawa bilangnya ancak, nggak tahu yah bahasa Indonesianya apa. Tapi adapun itu sesaji semuanya sama dari dulu empah tujuh sampai sekarang tidak jauh berbeda. Itulah awal mula adanya Sedekah laut. Terus tujuannya sebenarnya itu apa sih pak diadakannya Sedekah Laut? Tujuannya pertama rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, hanya rasa syukur tujuan utamanya karena Cilacap itu diliputi oleh samudera sebagai penghasil utama. Mengapa sih pak kok mengambil Jumat Kliwon dan pada bulan Sura? Karena kalau kita mengambil bulan Sura itu intinya bulan pertama untuk tahun Jawa karena dalam tahun Jawa itu ada 12 bulan, bulan pertama tahun Jawa adalah bulan Sura, adapun hari Jumat Kliwon dimanapun orang sudah tahu adalah hari sakral yah. Berhubungan juga dengan liburnya para nelayan jadi nelayan kabupaten Cilacap di hari Jumat Kliwon itu libur, tidak ada yang ke laut, seperti kalau umumnya hari minggu, anak sekolah juga prei, pegawai negeri, nah kalau nelayan itu hari Jumat Kliwon., nggak PPC, nggak Pandanaran, Sentolo Kawat semuanya libur. Di sini ada delapan kelompok dan semuanya libur. Jadi diambil Jumat Kliwon bulan Sura, kalau tanggal itu tidak mesti yah. Inti utama dari Sedekah laut adalah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Cilacap penghasil utamanya dari laut. Bisa tolong diceritakan tidak pak kegiatan dari hari Kamisnya itu ngapain aja sih? Biasanya sebelum terjadinya Sedekah laut, lima hari, minimal lima hari maksimal tidak terbatas yah bisa sampai tujuh hari, nelayan itu mengadakan ziarah kepada para

20 leluhur yang ada di pesisir pantai selatan sampai dengan Kebumen, Cilacap dan lainlain. Kalau di Cilacap ini ziarahnya ke mana? Kalau dari Cilacap itu pertama dari PLTU, Srandil, Karang Bandung, terakhir ke Kebumen, daerah pertanahan. Biasanya dilakukan 5 hari minimal sebelum hari H, misalkan Minggu Kliwon, dari Minggu Kliwon ke Jumat Kliwon kan itu lima hari. Pada biasanya Kamis Wage yah Pak? Kamis Wage biasanya dikhususkan di Karang Bandung, itu menyeluruh, termasuk ziarah. Terus hari Jumat Kliwonnya itu diadakan kirab di pendopo kabupaten Cilacap menuju THR Teluk Penyu yang akhirnya jolen dibawa ke tengah untuk dilarung, itu Jumat pagi yah. Bapak sudah berapa lama buatin jolen? Saya buat karena untuk kelompok Sidakaya itu turun temurun generasi penerus yah. Saya sudah ada sepuluh tahun yang lalu memegang jolen dan memegang langsung sesajinya, seluruhnya dipegang di sini. Kalau boleh tahu maknanya apa sih Pak bagi bapak sendiri? yah karena itu suatu keyakinan manusia yah karena kita percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu tdk langsung memberi tetapi ada perantaranya, seperti kita ikuti adanya Sedekah Laut di pantai selatan. Bener kita rasa syukur kepada Tuhan, juga memberika satu hikmah kepada yang ada di lautan, contohnya diisinya jolen itu ada kepala kambing setelah kepala kambing ditaruh di jolen kita larung ke sana secara tidak langsung kambing itu akan jatuh karena kena gelombang, jatuhnya kepala kambing sampai ke dasar laut dan kita sodakoh kepada ikan yang ada di dasar laut, kepiting, kerang, itu yang makan. Setelah dia makan, namanya sodakoh kan nggak harus besar yah, kecil pun kalau dengan keikhlasannya diterima dengan ikan itu dia makan lama-lama ikan itu akan besar, besar kena jaring, ditangkap, naik ke darat dijual di pasar kan saya, kamu yang makan, intinya hanya sodakoh, maka disebut Sedekah laut, aslinya Sodakoh Laut apa yang kita tangkap dalam satu tahun itu berilah sodakoh sedikit. Pak arti dari jolen itu apa sih pak? Jolen itu kalau dalam bahasa Jawa ojo kelalen, nah itu naluri budaya, jangan lupa kalau kita punya tradisi, adat istiadat dari leluhur nenek moyang kita, maka digambarkan dengan jolen, jangan lupa. Kalau boleh tahu isinya apa saja sih pak jolen itu?

21 Wah kalau kita terangkan isinya apa saja itu banyak sekali yah, di antaranya itu kepala kambing atau kepala kerbau, kalau kita dana besar ya kita kasih kepala kerbaulah biar ikan2 rata makannya, kalau kambingkan kecilah jadi yang makan ikan udang itu sedikitlah. Isinya ada tumpeng juga, setelah sampai di tengah kita larung dengan sendirinya tumpeng itu tumpah, nasinya akan menjadi satu latar, mambrahmambrah nanti dimakan ikan, ikan yang masih ukuran makan nasi, kalau yang kecil sama nasinya kan nggak mungkin bisa makan yah. Nah ikan itu nantinya kan jadi besar yah. Termasuk buah-buahan juga yah? Kalau untuk daerah saya, Cilacap itu tidak memakai buah-buahan, ya ada sih buah cuma tidak seberapa ada pisang, nangka, dan pepaya. Kalau jajanan pasar? Kalau jajan pasar lain, itu nanti ada sendiri tata caranya. Jajan pasar itu yang utama kacang, jipang, dan lanting itu khas sebab apa yang kita taruh terhadap sesaji di situ hanya gegambaran manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jadi hanya gambaran tidak ada arti apa2, seperti halnya tumpeng, oh tumpeng itu tumuju dateng pangeran. Jadi apa yang kita inginkan hening dengan gegambaran tumpeng tujuan kita akan sampai pada Tuhan. Bagi nelayan itu sendiri Nyi Roro Kidul bermakna sebagai apa sih? Ya kalau kita berbicara Nyi Roro Kidul itu kepercayaan bukan daripada nelayan saja, seluruh orang yang menganut adat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu ada ikatan dari kejawen, orang2 kejawen kan ikatannya seperti itu. Jadi kenapa ada Kanjeng Ibu Ratu Kidul? Karena itu suatu nur ilahi untuk menguasai laut, penguasa laut pantai selatan. Sejatinya itu nur ilahi, nur (cahaya) nya itu dari Tuhan. Kalau nur itu bisa bentuk apa saja. Kalau boleh tahu Sedekah Laut itu dari dulu memamng diadakan di pendopo atau baru2 ini sih pak? Sedekah Laut diadakan di pendopo semenjak kurang lebih tahun 2004, pada waktu itu ada seorang bupati namanya Pak Pujonopranoto, yang menggerakan adanya Sedekah Laut supaya diadakan kirab di pendopo Kab. Cilacap. Karena apapun yang terjadi pendopo kabupaten Cilacap atau leluhur, bupati2 yang lalu selalu ada hubungannya dengan pantai selatan. Kan pakem ada sejak Pak Pujono, sempat mau dibubarkan oleh bupati Pak Supardi, kirabnya bukan masalah tradisi di daerah, tetapi tetap tidak bisa.

22 Bagaimana sih bapak dan masyarakat memaknai Sedekah Laut? Secara budaya ya itu hanya menyangkut keyakinan saja, kita yakin dengan adanya Sedekah Laut kita diberi kesehatan, nelayan dan seluruh keluarganya berkecukupan. Seorang kalau yakin pada benda atau patung (animisme dan dinamisme yah) kalau terlalu yakin itu akan menimbulkan sesuatu. Kalau boleh tahu siapa saja yang boleh atau tidak boleh berpartisipasi dalam acara Sedekah Laut? Terutama kalau adanya Sedekah Laut itu berlaku untuk umum, siapa saja boleh ikut, tetapi untuk pemegang peranan itu memang orang-orang tertentu. Arti kata dari seksi ziarah, ini memang orang yang benar2 tahu karena itu hubungan nya dengan yang Maha Kuasa, kedua hubungannya dengan tata cara karena sangat2 sulit membuat pasukatan Jawa yah, nanti kita buat lagi untuk rasa syukur di darat karena kita hidup di darat, pun kita harus membuat sesuatu yang namanya kepungan, nah dalam bahasa jawa. Itu hanya sarana karena Tuhan nggak pernah minta sarana dan lain2 yah, itu hanya gambaran manusia saja kepada Tuhan. Bapak mewakili TPI mana? Saya Sidakaya. Pak perbedaan peran laki-laki dan perempuan apa sih? Dalam Sedekah Laut perbedaan peran laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan sama semua sebab nanti di situ ada pembentukan seksi pertama ketua panitia Sedekah laut, kedua sekretaris, ketiga bendahara, keempat seksi sosial untuk pencarian dana, baru kemudian dibentuk seksi2 yang berhubungan langsung dengan Sedekah laut, sesaji, ziarah, hiburan, perlengkapan, arak-arakan, dan lainnya, jadi kita nggak rebutan bagian ini, sudah dibentuk semua sedemkian rupa dan itu berlaku untuk seluruh kelompok nelayan yang ada di Cilacap. Kenapa sih jolen harus diarak dulu keliling Cilacap baru dilarung ke Teluk Penyu? Sebetulnya jolen yang diarak melalui kota Cilacap itu hanya simbolis asli itu tetap ada jolen tunggul, jolen Sidakaya itu yang sakral. Jadi kita di kelompok itu bikin dua, yang satu kecil untuk kabupaten pendopo. Masa iya saya mau ngasih makan ke ibu saya diedarkan dulu ke sana-sana, kan tidak etis yah. Brarti dua kali melarung pak? Nggak dua kali melarung, arti kata ada panitia sendiri ya dikata itu seksi jolen, arak2an, itu tanggung jawabnya dari pendopo dia sudah tahu disiapkan di THR, kalau

23 saya yang langsung dari TPI berangkat langsung pakai perahu nelayan. Jadi ada dua macam cara, lewat seksi masing-masing. Biasanya bahasa apa sih pak yang digunakan sama pemimpin adat? Bahasa Jawa alus, bahkan sedikit kita menggunakan campuran bahasa Sansekerta. Kenapa sih pak kok memakai bahasa Sansekerta? Yaa karena leluhur kita semua itu meninggalnya sudah ribuan tahun silam jadi bahasnya pun kita harus bisa menghidupi dengan bahasa2 yang sangat tertata rapi. Ada satu bahasa ngaturaken bubut pethak brubrabit sri putri tunggal, tri itu telu tunggal itu siji, tiga menjadi satu, adanya kehidupan di alam dunia, itu bahasa sansekerta yah. Kehidupan yang ada di jagad raya itu hanya ada 3, jiwa, raga, sukma. Komunikasi yang ada di Sedekah laut itu lebih bersifat pemujaan, doa2? Itu hanya doa2 saja, kita tidak boleh memuja yah. Intinya kita hanya minta doa restu supaya seluruh nelayan dari kelompok Sidakaya diberi keselamatan mencari hasil di lautan jauh maupun dekat, tua ataupun muda diberi keselamatan dan rejeki. Otomatis leluhur itu akan meminta kepada yang di atas sana. Kita hanya minta izin dan restu, bukan minta langsung, kalau kita minta langsung nanti salah lagi. Itu hanya lantaran, perantara, seperti ciontoh mudah kalau kita mau ke kelurahan kalo nggak lewat RT ya nggak bisa. Makanya ke RT minta pengantar ke kelurahan. Nah seperti itulah. Nah pak, pada saat Sedekah laut itu ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan nggak pak? Misalnya tidak boleh memakai baju hijau? Yaa memang bagi pengikut-pengikut, dengan adanya perkembangan jaman yaa ternyata tidak masalah yah. Tergantung dari seksi sesaji nanti, kan kita memintakan maaf tentang situasi dan keadaan, banyak orang tidak tahu, dia hanya ikut-ikutan. Yaa memang jaman dulu tidak boleh, karena memang kita bersaingan dengan seragam yang digunakan dayang-dayang yang ada di pantai selatan, itu yang memakai putri domasnya di sana ijo-ijo yah, jadi nggak boleh menyamai. Tapi sekarang sepertinya sana juga memaklumi, sana itu lunak kok, seperti Tuhan juga lunak. Manusia dibebaskan, Tuhan tidak menjegal umat manusia, yang minum-minum juga nggak dibunuh walaupun minum-minum tiap malam diberi hidup. Bijaksana yah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Saat Sedekah laut itu yang boleh berbicara itu siapa saja sih pak?

24 Yang boleh berbicara itu pertama pemimpin adatnya sendiri, untuk lain-lainnya hanya mengikuti saja. Ya yang pokok ya saya sendiri yang lainnya hanya mengikuti saja. Bapak berbicara sebagai apa? Saya sebagai sesepuh kelompok nelayan Sidakaya. Kalau boleh tahu, ngomongnya apa saja pak? Ya misalkan pengarahan pemberitahuan dengan adanya kata Sedekah laut orang itu salah kenapa, Sedekah laut dulunya itu bukan Sedekah laut karena kita mengikuti jaman, dulunya itu Ruwat Laut, arti kata Ruwat itu laut supaya dirumat dipunrawat. dilestarikan, untuk anak cucu kita nantinya supaya laut nggak habis hasilnya dengan cara penggunaan kalau kita jaring rusak ya jangan dibuang dilaut, menangkap ikan jangan menggunakan racun, kasian anak-anak cucu kita. Kita untung besar, anak cucu kita gimana. Itu maksudnya ruwat laut hanya memberi pengertian kepada nelayan bahwa ruwat laut itu dirumah, dirawat, dan dilestarikan. Jauh-jauh ke sini diubah menjadi kata Sedekah laut. kita ambil inti daripada kata Sedekah, sedekah itu dari kata sodakoh, kita memberikan sedekah kan sama dengan memberikan sodakoh. Ini dari yang kita lakukan itu sodakoh, untuk siapa? Untuk ikan-ikane yang ada di laut Selatan, toh nantinya ikan itu akan kita tangkap dan kita jual hasilnya kita terima. Kalau boleh tahu bapak dan masyarakat sendiri memandang Sedekah laut sebagai pengorbanan, persembahan, atau wujud syukur nih pak? Kalau pandangan dari masyarakat Cilacap sendiri masih simpang siur karena itu bertolah belakang dengan kaum agama yang garis keras karena bisa mengatakan musyrik. Tapi itu suatu sodakoh, kalau kita bicara sodakoh orang pasti akan menerima dengan sepenuhnya sebab itu ada hubungannya dengan ruwat bumi, atau yang biasa disebut sedekah bumi. Sedekah laut pun begitu, kalau kita di laut, kita sedekah laut, kalau di darat kita kepungan di darat kita sudah menuju ke arah sedekah bumi karena bapak yang hanya di laut, toh ibu dagang tetap di darat. Jangan bapak saja yang diberi, di darat juga, yaitu di TPI kita mengadakan kumpul dan selamatan sedekah bumi. Pakaian yang digunakan saat Sedekah laut itu bagaimana? Item-item. Pake pakaian item dan iket item di sini. Itu melambangkan item kenapa sih pak? Itu melambangkan khas orang Jawa, pakaian adat jawa menggunakan pakaian hitam. Karena kita tidak mau berpaiakan putih. Karena sebaik apa pun manusia tetap ada kotorannya, ada kesalahan, kekeliruan, maka kita tidak mau tampil berpakaian putih, karena orang

25 yang sudah berani memakai pakaian putih adalah orang yang benar2 suci, apalagi dalam hal seperti itu, kita mengakui adalah kekeliruan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja, itu gambaran dengan pakaian hitam. Pada malam hari itu kan ada tumpengan, itu biasanya masyarakat memaknainya sebagai apa? Sebagai rasa syukur saja malam itu atau malam lowong malam sebelum hari h. rasa syukur kepada Tuhan, tumpeng itu tumuju dateng pangeran. Kalau orang yang nggak tahu nanti bilang musyrik, padahal itu gambaran kita. Kita mau ke Purwokerto kan nggak mungkin jalan, pasti menggunakan kendaraan nah itulah kendaraannya menuju kepada Tuhan digambarkan dengan tumpeng. Pas awal mulanya kalau boleh tahu bupati Cilacap itu berperan sebagai apa sih pak? Pak bupati Cilacap di situ berperan sebagai tumenggung, nanti dia yang akan berkomunikasi memberikan sesaji kepada kidul. Itu memberikan perintah kepada pemimpin adat juga pak? Ya nanti memberikan perintah semua pemimpin adat untuk melakukan Sedekah laut, sama bekerjasama dengan dinas pariwisata dan kebudayaan. Kalau boleh tahu saat berlangsung Sedekah Laut itu pak suasananya gimana pak? Situasinya kalau bilang kita lagi di tengah laut pada waktu pelepasan itu sangat mencekam yah, karena disitu sudah mulai sakral, mencekam itu juga masuk logika karena kita membawa jolen, arak-arakan banyak orang di perahu yang ukurannya melebihi ukuran dengan gelombang yang sangat besar, akhirnya kita terpengaruh oleh hawa-hawa seperti itu yah, karena ngerilah perahunya kecil muatannya banyak. Mau nggak mau seksi daripada sesepuhnya itu kan ikut bertanggung jawab. Dan orang di perahu pun tidak bicara karena suasana tadi dan ia juga mengimbangi dirinya sendiri karena goncangan gelombang, jadi akhirnya seperti mencekam. Akhrinya pada diam saja megangin kayunya supaya tidak jatuh. Jadi suasanya itu mencekam sampai dengan selesai acaranya itu. Dan juga memang harus hening saat doa-doa yang dibacakan tadi. Pak kalau boleh tahu kan sebelum jolen dibuang ada doa-doa gitu pak, boleh tahu apa sih yang didoain itu pak? Yaa yang didoain itu adalah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kalo orang Jawa bilang Sumrambah dumateng ingkang dados lantaranipun para lelulur para

26 punden lan sakpanunggalanipun mboten sanes para kadang nelayan dumantar kawula nyuwun idin pangestu, memang sulit kalau kita sudah bicara bahasa seperti itu kita bahasa Indonesia kan nggak sulit yah. Karena memang itu nggak bisa dibahasa Indonesia kan yah contohnya kalau kita mempelajari bahasa islam misalkan ada doa, tetap tetap ada yang tidak bisa diislamkan, tetap bahasa Jawa yah. Tapi ya intinya ya itulah hanya rasa syukur kepada Tuhan YME dan lajurnya itu yang ada para leluhur, punden yang ada di situkarena seorang seperti ibu ratu, kalau kita anggap seorang pimpinan, toh dia tidak akan berdiri sendiri. ada senopati, dan lain-lain. Seperti pak lurah kan ada sekertarisnya, wakilnya, dan lain-lain. Kalau kita ngasih pak lurah, lainnya ya sedikit-sedikit ya dikasihlah, masa enggak. Cuma bedanya kalau kita di pemerintahan kita lihat langsung orangnya, kalau yang di sana kan nggak bisa lihat yag, dan kita percaya Tuhan menciptakan itu berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada perempuan ada laki-laki, kalau ada alam nyata pasti ada yang tidak nyata. Orang tidak percaya seperti itu, tetapi percaya malaikat yaa sama saja. Terus pak kalau bapak membuat jolen ada aturan-aturan tersendiri nggak sih pak? Itu ada ukuran arti kata jolen pokok itu ukurannya 120x100 cm itu khusus jolen pokok tidak boleh diubah dari zaman dulu. Kalau jolen yang di pendopo itu 80x100cm dengan ketinggian 160 itu sudah ada ukurannya semua, bambu yang kita gunakan pun harus bambu-bambu tertentu, misalkan bambu wulung, wulung itu melambangkan wulangan, wulangan jawa agar kita selalu teringat wulangan jawa,sebab wulangan Jawa itu sudah terkenal ke penjuru dunia bahwa Jawa itu terkenal dengan budi luhur adat ketimuran terkenal di seluruh dunia, tetapi sekarang sudah adat kebaratan, kebalik yah, karena orang Jawanya sudah tidak mau mengakui Jawa nya. Itu bapak buat jolen sendiri atau bersama-sama? Itu ada koordinator pembuatan nantinya saya sendiri memberikan ukuran, tata cara, tetapi nanti yang membatu teman-teman, aksi sosial lah rame-rame. Kalau boleh tahu nilai-nilai apa saja yang terkandung dari Sedekah laut itu? Nilainilai yang tekandung dari Sedekah laut itu pertama kita nguri-uri adanya budaya Jawa, tidak tergantikan yah itu nilai utama, adapun nilai kedua itu intinya rasa syukur kepada Tuhan sesuai dengan tuntunan kita peninggalan dari nenek moyang, jaman kino, jaman dulu lah.

27 Pas di karang bandung itu ngapain aja sih pak? Di Karang Bandung itu kita memberikan sesaji, ingat yah sesaji itu bukan kita berikan kepada leluhur dan sebagainya, adapun sesaji itu sebagai gambaran kita meminta idin pangestu, contoh kalau ada orang tua yang mau punya hajat, dateng ke rumah uwak ataupun bibi yang rumahnya nun jauh di sana, apa dia mau datang dengan tangan kosong, mestinya gula atau pun apa kan dia bawa, seperti itu. Yah kami juga berdoa semoga Tuhan memberkahi diberi keselamatan. Tata cara pembuangannya itu ya seperti yang saya ucapkan tadi tidak bisa dibahasa Indonesiakan ya percuma. Kalau doa-doa yang diucapkan apa saja pak? Yang pertama mengucapkan pujapuji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dimana sudah memberikan berkah dan rahmatnya pada kita semua terutama warga nelayan, yang ada di Cilacap. Itu yang pertama, yang kedua Assalamualaikum Wr. Sepindang ngaturaken dumateng Gusti ingkang ngakayuhing jagad ingkang sampun paring berkah kawilujengan dumateng kawula sakaluarga sumrambahipun dumateng para kadang nelayan Sidakaya saktepesmiringipun wondene para kadang nelayan Sidakaya ngawontenaken caos bekti dumateng Kanjeng Ibu Ratu Kidul sekaring jagad sak wadya balanipun ingkang wonten sakelebatin keraton, saknjawaning keraton, sumrambahipun dumateng para punden, para leluhur ingkang mengkoning wonten ing pesisir kidul, sak rene mbenyan para kadang nelayan sidakaya badhe ngawontenaken sesaji laut. Sageto kang sakpanirangan berkah kawilujengan kalih silir ing sambikala.wondene selajengipun sak sampunipun para kadang nelayan sidakaya anggenipun caos bekti dumateng kanjeng ibu ratu kidul sak wadya balanipun ingkang wonten sakelebatin keraton, sak njawaning keraton. Sumrambahipun dumateng para punden, para leluhur ingkang mengkoni wonten ing laut kidul saktepes miringipun, mugi anggenipun para kadang nelayan anggenipun caos bekti sak mangke. Anggenipun makani wonten ing laut kidul kedi utawi caket, sepuh utawi anen pinaringana rahayu, wilujeng-wilujeng sak panggiripun mboten manggarang setunggal menopo kalih slir ing sambikala. Wassalamualaikum Wrr. Cekap sewonten anggenipun ing kawula caos bekti mbok bilih wonten kepatan saha klenta klentunipun kawula pinangka sesulih saking para kadang nelayan sidakaya mboten rampun namun teng sanyuwun aguning samudra pangambeksami. Cekap sewonten atur kawula Assalamualaikum Warr. Itu baca doanya kapan pak?