BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN"

Transkripsi

1 BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Pengumpulan dan Pengolahan data Penentuan Lokasi Pada penelitian ini penggunaan kata lokasi lebih mengacu kepada keempat tempat dimana penumpang dapat menggunakan shuttle bus yaitu Binus Square, Kampus Anggrek, Syahdan, dan Kijang. Sedangkan posisi merupakan tempat halte akan didirikan di masing-masing lokasi tersebut. Menurut hasil kuesioner yang dibagikan kepada 312 responden di Lobby Binus Square terdapat 294 responden menggunakan shuttle bus, dimana persyaratan minimum jumlah responden yang dibutuhkan adalah 291 responden. Jumlah responden yang menggunakan shuttle bus dari lokasi Binus Square, Kampus Anggrek, Syahdan dan Kijang adalah sebanyak 268 responden (85,90%), 271 responden (86,86%), 171 responden (54,81%), dan 96 responden (30,77%). Persentase jumlah responden yang merasa nyaman dan tidak nyaman untuk setiap lokasinya pada tempat menunggu (shuttle point) saat ini dapat dilihat pada Gambar 4.1 Persentase Kenyamanan Menunggu (N = 312) % 80.00% 60.00% 40.00% 20.00% 54.85% 45.15% 26.20% 73.80% 65.50% 63.54% 34.50% 36.46% Tidak Nyaman Nyaman 0.00% n Binus Square = 268 n Anggrek = 271 n Syahdan = 171 n Kijang = 96 Gambar 4.1 Diagram Persentase Kenyamanan Tempat Tunggu Persentase Kebutuhan Halte (N = 312) % 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 57.56% 72.76% 73.10% 77.08% 42.44% 27.24% 26.90% 22.92% n Binus Square = 268 n Anggrek = 271 n Syahdan = 171 n Kijang = 96 Perlu Halte Tidak Perlu Halte Gambar 4.2 Diagram Persentase Kebutuhan Tempat Tunggu 13

2 Keterangan Gambar 4.1 dan 4.2: N = total responden n = banyaknya responden yang menggunakan shuttle bus di masingmasing lokasi. Berdasarkan hasil kuesioner yang ditunjukkan pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2, di lokasi Binus Square yang merasa tidak nyaman dan membutuhkan halte memiliki persentase sebesar 54,85% dan 72,76%, sehingga untuk memenuhi kebutuhan penumpang tersebut perlu didirikan sebuah halte di Binus Square. Hal ini cukup memungkinkan karena lahan untuk mendirikan halte di Binus Square cukup luas dan tidak mengambil lahan parkir (Lampiran 2). Sedangkan pendirian halte di lokasi Kampus Anggrek dinilai belum siginifikan untuk saat ini karena 57,56% responden menyatakan memerlukan halte namun hanya sekitar setengahnya yaitu 26,20% yang menyatakan bahwa tempat menunggu yang telah ada tidak nyaman. Mayoritas responden merasa cukup nyaman kemungkinan karena sudah adanya alternatif lokasi tempat menunggu bus yaitu bagian depan admisi (Lampiran 3). Tempat menunggu ini sudah memiliki atap, batuan pembatas tanaman sebagai alternatif tempat duduk, dan tempat sampah. Selain itu, pelataran di depan admisi tersebut juga memiliki keunggulan lain, yaitu cukup mudah untuk melihat kedatangan bus dan tidak terlalu jauh dengan tempat bus berhenti (Lampiran 4). Dengan demikian, disimpulkan bahwa lokasi Kampus Anggrek belum membutuhkan halte. Untuk Kampus Syahdan dan Kijang, responden yang merasa tidak nyaman sebesar 65,50% dan 63,54%, membutuhkan halte memiliki persentase sebesar 73,10%, dan 77,08%. Secara statistik, Kampus Syahdan dan Kijang memang memerlukan halte. Namun, luas area di kedua kampus tersebut tidak cukup besar dan pembangunan halte akan mengurangi lahan parkir yang ada. Selain itu, di Kampus Syahdan terdapat alternatif lokasi menunggu bus yaitu kantin, lantai di depan kantin sebagai alternatif tempat duduk (Lampiran 5), dan area depan musholla dimana bus berhenti (Lampiran 8) meskipun tempat-tempat tersebut masih memiliki kekurangan yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang. Sementara di Kampus Kijang, alternatif tempat menunggu adalah beberapa pendopo (gazebo) yang berdekatan dengan lapangan olahraga (Lampiran 6). Pendopo-pendopo tersebut tidak bersebelahan dengan posisi bus berhenti sehingga para calon penumpang akan tergesa-gesa apabila bus telah datang. Apabila penumpang menunggu tepat di posisi bus berhenti (Lampiran 7), maka penumpang akan semakin merasa tidak nyaman karena tidak adanya atap maupun tempat duduk. Kondisi inilah yang menyebabkan persentase ketidaknyamanan dan kebutuhan halte yang tinggi di kedua kampus tersebut. Akan tetapi, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah rata-rata penumpang yang menggunakan shuttle bus. Rata-rata penumpang yang menggunakan bus di Kampus Syahdan adalah 1,45 atau 2 orang (Lampiran 9). Rata-rata penumpang yang menggunakan bus di Kampus Kijang adalah 0,85 atau 1 orang (Lampiran 10). Permintaan (demand) yang masih rendah menyebabkan perlunya evaluasi lebih lanjut untuk menilai kelayakan pendirian halte pada saat ini. 14

3 Sehingga untuk penelitian saat ini, pendirian halte hanya dilakukan pada lokasi Binus Square. Pada lokasi ini, tidak terdapat tempat duduk maupun atap. Bus memang seringkali telah menunggu di lokasi tersebut namun hal tersebut tidak dapat dipastikan dan terdapat situasi tertentu dimana bus terlambat datang sehingga calon penumpang hanya dapat berdiri menunggu kedatangan bus Penentuan Posisi Halte di Lokasi Binus Square, Kampus Anggrek, Syahdan dan Kijang Apabila di satu atau lebih lokasi responden menilai bahwa halte perlu didirikan, responden kemudian melakukan pemilihan posisi halte. Hasil persentase posisi di masing-masing 4 lokasi dapat dilihat pada Gambar 4.3 sampai Gambar Gambar 4.3 Persentase Posisi Halte di Binus Square Sumber denah: Pihak Binus Square

4 16 Gambar 4.4 Persentase Posisi Halte di Kampus Anggrek Gambar 4.5 Persentase Posisi Halte di Kampus Syahdan Gambar 4.6 Persentase Posisi Halte di Kampus Kijang Berdasarkan Gambar 4.3 sampai 4.6, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 71,25% dari responden yang menyatakan bahwa halte perlu didirikan memilih posisi 1 untuk lokasi Binus Square, 58,70% responden memilih posisi 1 untuk lokasi Kampus Anggrek, 67,58% memilih posisi 1 untuk lokasi Kampus Syahdan, dan 47,33% memilih posisi 2 untuk lokasi kampus Kijang Kriteria Halte Sesuai Keinginan Pengguna Shuttle Bus Gambar 4.7 menampilkan persentase kriteria-kriteria kenyamanan halte pada umumnya berdasarkan hasil penyebaran kuesioner dari 312

5 responden. Urutan kebutuhan yang didapatkan adalah kursi, jadwal, atap, tempat sampah, lampu, rute, AC, nama halte, beverage vending machine, food vending machine, majalah dinding (mading) dan lain-lain. 17 Gambar 4.7 Diagram Kriteria Kenyamanan Halte Menurut Responden Untuk mengetahui kriteria halte yang diinginkan responden pada setiap lokasi, dilakukan observasi awal dengan menemukan kelemahan pada shuttle point saat ini. Pada Gambar 4.8 sampai 4.11 dapat diketahui kelemahan pada shuttle point saat ini untuk setiap lokasi. Frekuensi Tidak ada tempat duduk Panas Tidak ada atap Kotor Faktor Jauh Sulit dengan melihat tempat bus kedatangan berhenti bus Lain-lain Gambar 4.8 Pareto Kelemahan Tempat Menunggu di Binus Square 0.00 % Kumulatif Berdasarkan Gambar 4.8, sekitar 80% pengguna shuttle bus pada lokasi Binus Square menginginkan tempat menunggu yang memiliki tempat duduk, tidak panas dan memiliki atap atau kanopi.

6 18 Frekuensi Panas Tidak ada tempat duduk Tidak ada atap Kotor Faktor Sulit melihat kedatangan bus Jauh dengan tempat bus berhenti Lain-lain Gambar 4.9 Pareto Kelemahan Tempat Menunggu di Kampus Anggrek Berdasarkan Gambar 4.9, sekitar 80% pengguna shuttle bus pada lokasi Kampus Anggrek menginginkan tempat menunggu yang tidak panas, memiliki tempat duduk, memiliki atap dan bersih % Kumulatif Frekuensi Panas Tidak ada tempat duduk Sulit melihat kedatangan bus Kotor Faktor Tidak ada atap Jauh dengan tempat bus berhenti Lain-lain Gambar 4.10 Pareto Kelemahan Tempat Menunggu di Kampus Syahdan Berdasarkan Gambar 4.10, sekitar 80% pengguna shuttle bus pada lokasi Kampus Syahdan menginginkan tempat menunggu yang tidak panas, memiliki tempat duduk, mudah melihat kedatangan bus, bersih dan memiliki atap atau kanopi % Kumulatif

7 19 Frekuensi Panas Tidak ada tempat duduk Tidak ada atap Jauh dengan tempat bus berhenti Faktor Sulit melihat kedatangan bus Kotor Lain-lain Gambar 4.11 Pareto Kelemahan Tempat Menunggu di Kampus Kijang Berdasarkan Gambar 4.11, sekitar 80% pengguna shuttle bus pada lokasi Kampus Kijang menginginkan tempat menunggu yang tidak panas, memiliki tempat duduk, memiliki atap dan dekat dengan tempat bus berhenti. 4.2 Desain Halte di Binus Square Tabel 4.1 menunjukkan data mengenai banyaknya pengguna yang menggunakan shuttle bus dari Binus Square berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama bulan Febuari sampai April % Kumulatif

8 20 Tabel 4.1 Jumlah Pengguna Shuttle Bus dari Binus Square Frekuensi (f) Jumlah Pengguna f*jumlah pengguna % Frekuensi % Kumulatif Frekuensi % 17.12% % 25.39% % 32.52% % 39.09% % 45.22% % 49.79% % 53.78% % 57.20% % 59.91% % 62.48% % 65.05% % 67.48% % 69.90% % 72.04% % 73.89% % 75.61% % 77.18% % 78.60% % 79.89% % 81.17% % 82.45% % 83.74% % 84.88% % 86.02% % 87.02% % 88.02% % 88.87% % 89.73% % 90.58% % 91.30% % 92.01% % 92.72% % 93.44% % 94.01% % 94.58% % 95.01% % 95.44% % 95.86% % 96.29% % 96.72% % 97.15% % 97.57% % 98.00% % 98.43% % 98.86% % 99.14% % 99.43% % 99.71% % 99.86% % % % % Total 80% Rata-rata 80% 5.95 Total keseluruhan Rata-rata keseluruhan Berdasarkan Tabel 4.1, dapat dilihat bahwa 80% kejadian yang paling berkontribusi memiliki rata-rata 5,95 atau mendekati 6 orang penumpang. Sehingga, banyaknya kursi dirancang untuk 6 orang duduk dengan nyaman. Hal ini dikarenakan apabila dilihat pada Gambar 4.8, tempat duduk menjadi peringkat pertama dan sangat dibutuhkan. Secara keseluruhan diperoleh ratarata 11 orang yang menggunakan shuttle bus dari Binus Square. Sehingga diasumsikan total luas area wilayah halte dirancang untuk 11 orang dengan luas area minimum = 11 orang x 90 cm x 60 cm = cm 2, dimana 6 orang duduk dan 5 berdiri.

9 Beberapa asumsi dan perhitungan untuk ukuran halte adalah sebagai berikut: 1. Panjang halte, dengan rincian sebagai berikut: Kursi. - Ukuran untuk 1 orang yang duduk adalah 90 cm, dimana 60 cm merupakan lebar penumpang dan 30 cm merupakan jarak bebas antar orang yang duduk (Departemen Perhubungan, 1996:24). Kursi didesain menjadi dua bagian yang terpisah sehingga panjang kursi masing-masing menjadi (90 cm x 3 orang) = 270 cm. Apabila digabungkan, total kursi untuk 6 orang menjadi 540 cm. - Kursi juga memperhitungkan ukuran-ukuran lain seperti: o Jarak dari alas kursi sampai penyangga (pinggang) = 20 cm. Jarak ini didapatkan dari pengukuran acak 3 sampel mahasisiwi. Diameter tiang yang digunakan adalah 10 cm. Jarak tiang yang terlalu tinggi tidak disarankan, karena berdasarkan pengamatan, hal tersebut akan menyebabkan posisi punggung yang membungkuk ke depan seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.1a. o Seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 4.2, tinggi lipat lutut (popliteal) pria Asia menggunakan persentil 95 adalah 44,5 cm, sedangkan wanita dengan persentil 5 adalah 32,5 cm. Maka didapati bahwa rentang yang ideal untuk tinggi tempat duduk berdasarkan tinggi lipat lutut adalah 32,5-44,5 cm. Tabel 4.2 Tinggi Lipat Lutut (Dalam cm) Sumber: Nurmianto (2003:60) Persentil Pria Wanita 5 36,5 32, ,5 37, ,5 42,5 Perancangan tempat duduk menggunakan rata-rata tinggi lipat lutut pria dan wanita yang masing-masing menggunakan persentil 50. Dengan demikian didapati rata-ratanya adalah 39 cm. Namun dalam perancangan tempat duduk perlu juga dipertimbangkan tinggi alas kaki. Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa macam alas kaki wanita dan pria didapati bahwa perkiraan tinggi alas kaki adalah 3 cm (Lampiran 11). Oleh karena itu, tinggi tempat duduk menjadi 42 cm (39 cm + 3 cm). o Lebar alas duduk menggunakan jarak dari lipat lutut ke bokong persentil 5 wanita yaitu 38,5 cm karena lebar alas duduk tidak boleh terlalu pendek tetapi harus lebih pendek dari jarak lipat lutut ke bokong (Hastuti & Sugiharto, 2010:12). Dengan menggunakan persentil 5 diharapkan tempat duduk akan dapat digunakan dengan nyaman untuk mayoritas penumpang. 21

10 22 Tabel 4.3 Jarak Lipat Lutut ke Bokong (Dalam cm) Sumber: Nurmianto (2003:60) Persentil Pria Wanita 5 40,5 38, , ,5 48,5 Jadwal dan Papan Pengumuman. Untuk papan pengumuman yang akan mencantumkan jadwal dan rute diasumsikan dilihat dengan jarak sejauh jarak genggaman tangan. Asumsi ini ditentukan oleh karena jadwal bus yang sarat dengan deretan angka, maka dianggap bahwa mayoritas penumpang akan lebih mudah membaca jadwal dengan bantuan tangan. Asumsi jarak genggaman tangan ke punggung menggunakan persentil 5 wanita yaitu 58 cm (Tabel 4.4). Tabel 4.4 Jarak Genggaman Tangan ke Punggung pada Posisi Tangan ke Depan (Dalam cm) Sumber: Nurmianto (2003:60) Persentil Pria Wanita ,5 63, Tinggi mata menggunakan rata-rata dari persentil 50 pria dan wanita. Persentil yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak digunakan. Persentil yang tinggi akan menyebabkan mayoritas orang menengadah ketika melihat jadwal dan persentil yang rendah akan menyebabkan mayoritas orang terlalu menunduk. Berdasarkan Tabel 4.5 dapat ditentukan bahwa tinggi mata yang digunakan adalah 149 cm ((155,5 cm + 142,5 cm)/2). Tabel 4.5 Tinggi Mata (Dalam cm) Sumber: Nurmianto (2003:60) Persentil Pria Wanita ,5 142, Sehingga didapatkan ketinggian pemasangan jadwal adalah 154 cm dari pijakan kaki atau lantai (Gambar 4.12). Sedangkan batas bawahnya adalah 115,5 cm dari lantai. Dengan menggunakan asumsi jarak 1 cm untuk laminating jadwal, maka papan pengumuman dirancang dengan tinggi 114,5 cm dari lantai.

11 23 Gambar 4.12 Ketinggian Jadwal (Dalam cm) Lebar untuk melihat jadwal atau papan pengumuman sebesar 95 cm dengan memberi jarak untuk kaitan antara tiang dengan papan, masing-masing 2,5 cm. Sehingga lebar papan menjadi 100 cm. Allowance pada sisi kiri dan kanan halte masing-masing sebesar sebesar 40 cm untuk dapat memberikan ruang bebas gerak dan dapat memberikan area lebih untuk dapat dipergunakan satu mahasiswa dengan posisi berdiri sehingga total panjang halte adalah 720 cm. Sehingga, panjang (p) halte = 540 cm cm + (40 cm x 2) = 720 cm atau 7,2 m. 2. Lebar halte, dengan rincian sebagai berikut: Allowance pada sisi belakang halte = 20 cm. Diameter tiang penyangga = 15 cm. Kenyamanan orang duduk menghadap depan = 90 cm (sudah termasuk jarak bebas = 30 cm). Jarak nyaman untuk orang berdiri = 60 cm. Allowance sisi depan halte = 25 cm. Sehingga, lebar (l) halte = 20 cm + 15 cm + 90 cm + 60 cm + 25 cm = 210 cm atau 2,10 m. 3. Tinggi halte, dengan rincian sebagai berikut: Tinggi conblock = 10 cm, dimana 2 cm conblock ditanam ke dalam tanah. Tinggi tiang (Departemen Perhubungan, 1996:24) = 240 cm, belum termasuk kanopi. 4. Ukuran kanopi halte, dengan rincian sebagai berikut: Panjang kanopi = 760 cm, dimana pada sisi kanan dan kiri ditambahkan 20 cm dari panjang alas halte. Dengan asumsi kemiringan air hujan 15 dan tinggi halte 240 cm maka air akan masuk berkisar 65 cm (Lampiran 12). Sedangkan allowance kanan

12 dan kiri pada alas halte adalah 40 cm maka pada kanopi diberikan penambahan panjang 20 cm pada masing-masing sisi untuk dapat mengurangi area yang terkena hujan. Lebar kanopi = 250 cm. Dimana pada sisi depan ditambahkan 40 cm dari lebar alas halte. Allowance yang diberikan pada alas sisi depan adalah 25 cm sehingga untuk dapat mengurangi area yang terkena hujan pada sisi depan, panjang kanopi ditambah 40 cm. Apabila divisualisasikan dalam bentuk gambar akan terlihat seperti pada Gambar 4.13 sampai Gambar 4.13 Bentuk Halte Keseluruhan dari Bawah Gambar 4.14 Bentuk Halte Keseluruhan dari Atas

13 25 Gambar 4.15 Tampak Depan Rancangan Halte Gambar 4.16 Tampak Samping Rancangan Halte 4.3 Estimasi Biaya Pembangunan Halte di Binus Square Perhitungan biaya pembangunan halte: 1. Biaya untuk rangka halte dengan bahan baja Tabel 4.6 Keterangan Rangka Halte No. Keterangan Diameter tiang Panjang tiang Banyak tiang 1 Rangka kanopi utama 0,10 m 2,07 m 4 2 Rangka miring kanopi 0,05 m 2,46 m 6 3 Rangka tegak kanopi 0,10 m 0,21 m 4 4 Rangka depan dan 0,10 m 7,60 m 2 belakang kanopi 5 Rangka tambahan kanopi 0,05 m 7,60 m 2 6 Rangka penyangga utama 0,15 m 3,00 m 4 7 Rangka penyangga kursi 0,10 m 2,55 m 2

14 Perhitungan berat total rangka halte: 1. Berat rangka kanopi utama (w 1 ) 2. Berat rangka miring kanopi (w 2 ) 3. Berat rangka tegak kanopi (w 3 ) 4. Berat rangka depan dan belakang kanopi (w 4 ) 5. Berat rangka tambahan kanopi (w 5 ) 6. Berat rangka penyangga utama (w 6 ) 7. Berat rangka penyangga kursi (w 7 ) Rangka menggunakan bahan baja dengan berat jenis baja Berat per meter: w berat jenis luas alas w 1 w 3 w 4 w ( w 2 w ( w ( Total berat rangka baja halte: w 1 4 tiang ( 2,07 m) / tiang 510,2136 kg w 2 6 tiang ( 2,46 m) / tiang 227,4516 kg w 3 4 tiang ( 0,21 m) / tiang 51,7608 kg w 4 2 tiang ( 7,60 m) / tiang 936,624 kg w 5 2 tiang ( 7,60 m) / tiang 234,232 kg w 6 4 tiang ( 3 m) / tiang 1663,8 kg w 7 2 tiang ( 2,55 m) / tiang 314,262 kg Total berat rangka halte (w total ) w total w 1 + w 2 + w 3 + w 4 + w 5 + w 6 + w ,344 kg Harga baja per kg = Rp ,00 Biaya rangka halte = 3938,344 kg Rp ,00/kg = Rp ,00 2. Biaya untuk kanopi dengan bahan polycarbonate Harga polycarbonate per m 2 = Rp ,00 Luas kanopi 7,6 m (0,50 + 2,11) m 19,836 m 2 Biaya kanopi 19,836 m 2 Rp ,00/m 2 Rp ,00 3. Biaya untuk alas halte (conblock merah) Harga conblock per m 2 Rp ,00 Luas area conblock 7,2 m 2,1 m 15,12 m 2 Biaya alas halte 15,12 m 2 Rp ,00/m 2 = Rp ,00 4. Biaya untuk pondasi bawah tanah Biaya pondasi terdiri dari biaya: a. Batu kali berbentuk prisma trapesium Dengan sisi sejajar 70 cm dan 25 cm, tinggi prisma 70 cm, dan tinggi prisma 720 cm. Volume batu kali jumlah sisi sejajar tinggi trapesium tinggi prisma : 2 26

15 ( ) cm 70 cm 720 cm : cm 3 2,394 m 3 Harga batu kali per m 3 Rp ,00 Total biaya batu kali 2,394 m 3 Rp ,00/m 3 Rp ,00 b. Jangkar besi Jangkar besi dipasang setiap 1 m Jumlah jangkar besi yang dibutuhkan 7,2 m : 1 m 7 jangkar Harga satuan jangkar Rp ,00 Total biaya batu kali 7 jangkar Rp ,00/jangkar Rp ,00 c. Biaya sloof beton Rp ,00 d. Pasir urug Pasir urug sebagai alas batu kali dengan ukuran 5 cm 80 cm 720 cm. Volume pasir urug yang dibutuhkan cm 3 0,288 m 3 Harga pasir urug per m 3 Rp ,00 Total biaya pasir urug 0,288 m 3 Rp ,00/m 3 Rp ,00 e. Tanah urug Dengan volume tanah urug volume ruang pondasi volume batu kali Volume tanah urug ( ) cm cm cm cm cm 3 4,806 m 3 Harga tanah urug per m 3 Rp ,00 Total biaya tanah urug 4,806 m 3 Rp ,00/m 3 Rp ,00 Total biaya untuk pondasi Rp ,00 + Rp ,00 + Rp ,00 + Rp ,00 + Rp ,00 Rp ,00 5. Biaya papan pengumuman Luas papan pengumuman 2 2,35 m 0,6 m + 0,95 m 0,8 m 3,58 m 2 Harga papan pengumuman per m 2 Rp ,00 Total biaya untuk papan pengumuman 3,58 m 2 Rp ,00/m 2 Rp ,00 6. Biaya tukang bangunan Jumlah tukang yang dipekerjakan 2 orang dengan asumsi waktu 7 hari. Harga jasa tukang per hari Rp ,00 Total biaya tukang 2 orang Rp ,00/hari.orang 7 hari Rp ,00 27

16 28 7. Biaya lampu Harga kap lampu Rp ,00 Harga lampu 36 W Rp ,00 Total biaya lampu 3 (harga kap lampu harga lampu 36 W) 3 (Rp ,00 Rp ,00) Rp ,00 8. Biaya kursi Volume kursi panjang lebar tebal 2 2,7 m 0,385 m 0,003 m 0, m 3 Berat kursi 7850 kg/m 3 0, m 3 48,96 kg Harga plat baja per kg Rp ,00 Total biaya kursi 48,96 kg Rp ,00 Rp ,00 Estimasi total biaya yang dikeluarkan untuk mendirikan sebuah halte di Binus Square dapat dilihat pada Tabel 4.7. Tabel 4.7 Estimasi Total Biaya Rancangan Halte Binus Square No. Keterangan Total Biaya 1 Rangka halte Rp ,00 2 Kanopi (polycarbonate) Rp ,00 3 Alas halte (conblock) Rp ,00 4 Pondasi bawah tanah Rp ,00 5 Papan pengumuman Rp ,00 6 Tukang bangunan Rp ,00 7 Lampu Rp ,00 8 Kursi Rp ,00 Total keseluruhan Rp ,00