Hubungan Pembangunan Kesehatan dengan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hubungan Pembangunan Kesehatan dengan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi"

Transkripsi

1 Hubungan Pembangunan Kesehatan dengan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Oleh. Prijono Tjiptoherijanto ^? ' I /ftft'' >'''l --if - ' i Summary ' ^ I Relationship between the development in the fields of health and economics can be considered from two aspects. The improvement in health contributes to economic growth while the development of economic conditions of a society, which is usually indicated by an increase in income per capita, affects the conditions of health in the society. Empirical studies, however, show that many other factors should also be considered if we are going to investigate more closely on the relationship. For the development of the human quality or the quality of human resources, to improve health conditions of a society is a mpst. Through the programs to improve nutrition, the healthier society can be achieved in future. EKI. Vol. X X X l V N o. 1,

2 Pendahuluan GNP merupakan ukuran yang umum dipakai untuk mengukur nilai dari seluruh barang-barang dan jasa yang dihasilkan daiam suatu perekonomian. Pertumbuhan GNP dapat terjadi baik karena semakin banyak barangbarang dan jasa-jasa yang dihasilkan atau karena nilai dari apa yang dihasilkan tersebut meningkat. Saiah satu kesulitan daiam pengukuran GNP karena penekanan diberikan hanya kepada aspek kuantitas dari barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan. Aspek kualitas agak teriupakan karena kesulitan toiok-ukurnya. Sementara program-program di bidang kesehatan dan pendidikan iebih berhubungan dengan peningkatan kualitas dari sumberdaya manusia. Hai ini periu mendapat perhatian khusus karena GNP merupakan ukuran keadaan ekonomi suatu negara, khususnya yang menyangkut kemajuan ekonominya. Oieh karena itu, secara teoritis, dapat dikemukakan semakin tinggi GNP suatu negara, akan semakin terpenuhi kebutuhan dasar masyarakat daiam negara tersebut. Modal dasar yang digunakan ekonom untuk menjciaskan GNP daiam bentuk suatu fungsi produksi di mana output merupakan fungsi dari beberapa input yang seringkali untuk beberapa keperluan dianggap given, sehingga dalam banyak kesenq>atan hanya dibatus dua inputs utama, yaitu tenaga kerja dan modal. Sudah barang tentu terdapat berbagai macam kualitas tenaga kerja dan modal, tetapi hal ini sering teriupakan daiam model yang membahas pertumbuhan ekonomi disebabkan kesulitan pengukurannya tersebut. Daiam hubungan ini yang penting adalah sejauh mana pertambahan modal, yang ditunjukkan oieh perkembangan modal meiaiui investasi, atau pertambahan tenaga kerja, yang disebabkan oieh pertambahan penduduk, menyebabkan pertambahan dari GNP. Namun demikian, penelitian atas pertumbuhan ekonomi, khususnya di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa perubahan daiam GNP bukan ditunjukkan semata-mata oieh adanya perkembangan dalam tenaga kerja atau modal, tetapi oieh faktor residual, yang kemudian ternyata merupakan peningkatan kualitas dari faktor-faktor produksi. Daiam hubungan inflah peranan kesehatan dan pendidikan yang mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia menjadi penting dan periu dikaji. Penelitian yang dilakukan oleh Schultz (i960) dan Denison (1962) menunjukkan bajiwa sekitar 20% dari pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat untuk beberapa dasawarsa disebabkan oleh perbaikan daiam tingkat pendidikan. Sementara itu kesehatan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi meiaiui beberapa cara seperti misalnya: perbaikan kesehatan seseorang akan menyebabkan pertambahan daiam partisipasi tenaga kerja, perbaikan kesehatan dapat puia membawa perbaikan daiam tingkat pendidikan 122 E K I. V o L X X X I V N d. 1,1986

3 yang pada kemudiannya menyumbang terhadap pertumbuhan ekonomi, ataupun perbaikan kesehatan menyebabkan bertambahnya penduduk yang akan membawa tingkat partisipasi angkatan keija. Penelitian yang dilakukan Mushkin misalnya, (1962) memperkirakan bahwa penurunan tingkat kematian pada tahun 1900 di Amerika Serikat telah membawa peningkatan GNP sebesar 60 milyar dollar AS pada tahun 1960 yang disebabkan oleh pertambahan pekerja sebanyak 13 juta jiwa. Sedangkan, menurut perhitungannya, penurunan tingkat kematian sejak 1920 yang menyebabkan pertambahan tenaga kerja, telah menyebabkan GNP Amerika Serikat bertambah dengan 28 milyar dollar AS didalam tahun Hubungan Output dengan Tingkat Kesehatan Pada negara-negara sedang membangun, yang kebanyakan masih bersifat agraris, perkembangan output disektor pertanian memegang peranan yang penting. Berbagai cara dicari untuk meningkatkan output sektor pertanian ini. Revolusi hijau yang ditandai oleh pemakaian teknoiogi baru untuk sektor pertariian, merupakan salah satu usaha ke arah itu. Oleh karenanya melihat perkembangan output sektor pertanian dalam hubungannya dengan perbaikan di bidang kesehatan menjadi sangat relevan dalam pembahasan ini. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas sumberdaya manusia terletak pada keadaan kesehataimya sendiri Rendahnya tingkat gizi dan kalori bagi penduduk usia muda di pedesaan akan menghasilkan pekerjapekeija yang kurang produktif dengan tingkat mental yang agak terbelakang. Pada kelanjutarmya hal ini akan menyebabkan produktivitas yang kurang tinggi dan mengakibatkan tingkat outpuf yang rendah. Malenbaum (1970) mencoba meneliti gejala rendahnya output disektor pertanian melalui analisa makro ekonomi bagi 22 negara miskin dan juga secara khusus untuk negara-negara India, Muangthai dan Meksiko. Dalam analisa ini, output sektor pertanian dianggap sebagai variabel tidak bebas ( dependent variable), sedangkan ukuran-ukuran kesehatan, ekonomi dan sosial dipergunakan sebagai variabel bebas (independent variable). Melalui persamaan regressi, didapat suatu hasil, dengan data yang mencakup seluruh negara, sebagai berikut: X i = ,344X2 + 0,038X3 +0,13X4-0,00095X5-0,024Xe (2,2) (0,73) (2,7) (3.8) (0,25) EKI. Vol. X X X I V No. 1,

4 di mana X j = output pertanian, X2 = tenaga keija disektor pertanian, X 3 = pupuk komersil, X 4 = tingkat kematian bayi, X5 = perbandingan antara jumlah dokter dengan jumlah penduduk, dan Xg = tingkat buta huruf. Sementara angka-angka di dalam kurung menunjukkan elastisitas yang dihitung pada means dari setiap variabel. Sedangkan dalam hal ini sebesar 0,62. Dari angka R ' ini sekitar seperlima datang dari variabel-variabel pertanian, hampir 4/5 berasal dari variabel-variabel kesehatan dan kurang dari 2% yang merupakan sumbangan tingkat melek huruf. Hasil di atas menunjukkan hubungan yang cukup baik. antara tingkat produksi dengan tingkat kesehatan yang tampak dari besarnya pengaruh vsriahel-variabel ini. Terlebih lagi derajat saling keterhubungan antara variabelvariabel bebas cukup kecil. Gambaran yang lebih lengkap dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini. Tabell. ' - Faktor-faktor Penentu Outout dalam Sektor Pertanian Persentase dari covariance yang berhubungan dengan Input Negara Output r ' Ekonomi Kesehatan Lainnya Negara-negara Perubahan dalam output 0, berkembang: sektor pertanian 22 negara Mexico : Output per pekerja 0, dalam sektor pertanian 0, Muangthai : Output per pekerja ft.-''«l ftftft: 50 provinsi dalam sektor pertanit. X ft- ft an 0,62 85 ' Hi.....ft.-' A.. India : Output sektor 0, Blok pertanijin Sumber: Wilfred Malenbaum, "Health and Productivity in Poor Areas" daiam Herbert E. Kiarman (ed,) Empirical Studies in Health Economics (Baltimore, Maryland: The John Hopkins Press, 1970) hal EKI. Vol. X X X I V No. 1, 1986 gis'-i-pkl

5 Dari tabel di atas jelas ada hubungan antara tingkat kesehatan dan output di sektor pertanian. Tampak bahwa derajat kesehatan sangat mempengaruhi output sektor pertanian, khususnya dalam regresi yang dilakukan untuk 22 negara-negara berkembang dan Meksiko. Perlu pula diingat, penelitian ini dilakukan di negara-negara yang memiliki tenaga kerja berlimpah ruah. Oieh karenanya hubungan antara tingkat kesehatan, masukan daiam proses produksi dan hasil dari sektor pertanian menunjukkan puia pengaruh daiam perubahan keinginan dan sikap. Dengan lain perkataan tingkat kesehatan yang cukup baik akan merangsang keinginan meningkatkan produktivitas dan merubah sikap ke arah aktivitas yang iebih bersifat kewiraswastaan atau bersikap produktif. Sehingga implikasi kebijaksanaan yang terkandung menjadi jeias. Bila jangkauan kesehatan masyarakat diperiuas, yang berarti puia penambahan jumlah tenaga kesehatan, kemungkinan besar hasil (output) akan bertambah besar dan perekonomian bertambah baik. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada penelitian yang sempurna. Hasil penelitian Malenbaum tersebut dikritik banyak orang, diantaranya Weisbrod (et ai., 1971) yang menyatakan: pertama, persamaan regressi ini tidak dispesifikasi secara benar karena indikator-indikator atau rasio-rasio daiam bidang kesehatan dianggap masukan sedang variabel bebas yang lain daiam bentuk output (jumlahnya). Jadi sulit ditentukan variabel bebas mana yang mempunyai pengaruh terbesar daiam produktivitas ataupun output disektor pertanian. Kedua, ukuran yang dipakai untuk tenaga kerja merupakan prosentase dari angkatan kerja di sektor pertanian yang tentu saja bukan ukuran yang tepat. Akan iebih baik bila yang dipakai jumlah tenaga kerja dan bukan prosentasenya. Sumbangan Sektor Kesehatan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Dengan melihat hasil di atas, tampaknya ada semacam persetujuan dikaiangan para peneliti bahwa timbuinya kekurangan gizi serta derajat kesehatan masyarakat erat hubungannya dengan kemiskinan. Sehingga sangat dimungkinkan sekali apabila derajat kesehatan dlperbaiki, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi juga akan dinikmati. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi sudah barang tentu disebabkan puia oieh semakin produktifnya sumberdaya manusia yang merupakan masukan bagi perkembangan perekonomian tersebut. Pengaruh dari program gizi terhadap produktivitas, yang pada kemudiannya juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dikemukakan secara jeias oieh Cesario, Simon dan Kinne (1980). Dengan mengikuti jaian berfikir ketiga EKI. Vol. XXXIV No. 1,

6 peneliti tersbut, gambar berikut ini mencoba melihat pengaruh dari programprogram kesehatan dan gizi terhadap produktivitas serta pertumbuhan ekonomi melalui berbagai cara. Gambar 1. Hubungan antara Program Gizi dan Kesehatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Sesuai dengan gambar 1 terlihat bahwa perbaikan di dalam status gizi akan menurunkan tingkat kematian dan kesakitan, khususnya bagi penduduk usia kerja, sehingga dapat meningkatkan partisipasi bagi yang belum bekerja dan meningkatkan hari kerja bagi yang sedang melakukan kegiatan kerja. Selain itu, perbaikan dalam gizi dan kesehatan tenaga kerja akan meningkatkan efisiensi kerja melalui peningkatan kemampuan individualnya. Pengaruh dari program kesehatan serta gizi terhadap penduduk usia muda akan 126 EKI. Vol. X X X l V N o. 1, 1986

7 terlihat pada peningkatan GNP dimasa depan yang teijadi sebagai akibat perubahan-perubahan dalam pendidikan: Penurunan dalam morbiditas dan mortalitas akan meningkatkan kehadiran dan hasil (performance) di dalam lembaga-lembaga pendidikan. Sedangkan program-program gizi dan kesehatan juga akan mempengaruhi GNP melalui pertumbuhan ekonomi, yakni dengan bertambahnya tingkat partisipasi angkatan keija dan secara tidak langsung label 2. Sumbangan Konsumsi Kalori dan Pertumbuhan Ekonomi di Beberapa Negara. Negara Tingkat pertumbuhan Ekonomi Prosentase sumbangan dari Konsumsi Kalori Prosentase sumbangan dari Pendidikan Amerika Latin Rata-rata 5,13 4,6 5,4 Argentina 3,19 0,0 16,5 Brazil 5,43 4,2 3,3 Chili 4,20 1,2 4,8 Colombia 4,79 6,4 4,1 Ekuador 4,72 0,0 4,9 Honduras 4,52 9,1 6,5 Meksiko 5,97 10,1 0,8 Peru 5,63 7,6 Venezuela 7,74 2,4 2.4 Eropa dan Amerika Serikat Rata-rata 4,18 0,8 7,9 Belgia 3,20 0,6 13,4 Denmark, ,0 4,0 Perancis 4,92 1,0 5,9 Jerman 7, ,5 Italia 5,96 2,7 6,7 Belanda 4,73 0,0 5.1 Norwegia 3,45 0,0 0,0 Inggris 2,29 0,4 12,7 Amerika Serikat 3,32 0,0 14,8 Sumber: Correa and Cummins (1970) (American Journal of Chemical Nutrition 23, 1970, pp ). EKI. Vol. X X X I V No. 1,

8 melalui tingkat partisipasi daiam dunia pendidikan. Namun demikian, periu diingat puia akibat negatif dari pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap perkembangan GNP. Sumbangan sektor kesehatan pada peningkatan GNP tersebut mendapat perhatian dari banyak peneliti. Pada umumnya mereka ingin melihat hubungan antara banyaknya kalori yang dikonsumsi, tingkat pendidikan dan laju pertumbuhan ekonomi. Saiah satu penelitian yang dilakukan untuk beberapa negara di Amerika Latin dan Amerika Serikat seiama periode , diiaporkan oieh Correa dan Cummins (1970) seperti terlihat daiam tabel 2. Dari tabel 2 terlihat kenyataan rendahnya tingkat nutrisi dan gizi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, khususnya di negara-negara berkembang. Selain itu studi yang diartikan daiam tabel 2 tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kesehatan anak-anak yang diharapkan dapat meningkatkan pendidikan mereka. Hai ini penting diperhatikan karena pendidikan itu sendiri memegang peranan yang cukup penting daiam peningkatan konsumsi kalori. Dengan pendidikan yang terarah dapat ditanamkan pentingnya "hidup sehat" sejak dini. Gaya "hidup sehat" ini yang pada kelanjutannya akan menentukan kemampuan mental serta fisik daiam menuntut pendidikan yang iebih tinggi. Jadi, untuk mendapatkan "bibit unggul" daiam dunia pendidikan, tingkat kecukupan gizi dan kalori seiama umur BALiTA harus diperhatikan. if: > * Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi pada Derajat Kesehatan /. i 6 J.- Seperti terlihat dalam gambar i, peningkatan GNP akan membawa pengaruh pada penurunan tingkat kesakitan dan tingkat kematian serta perbaikan dalam status gizi, baik bagi masyarakat secara keseluruhan maupun untuk individu tertentu. Penelitian yang dilakukan oieh Amin (1983) mencoba melihat hubungan antara tingkat kematian bayi (infant mortality rate atau IMR) dengan pertumbuhan GNP di Indonesia. Dengan menggunakan data time-series seiama 14 tahun mulai 1969, penelitian ini menemukan hubungan antara kedua variabel tersebut sebagai berikut: IMR = 175,6098-0,9965 GNP '. / rw (10,8300) r2 = 0,93... ' = i' Angka di daiam kurung adaiah t-statistic. Hubungan tersebut cukup menarik untuk dikaji. Dengan menggunakan GNP menurut harga konstan 1973 terlihat bahwa pengaruh kenaikan GNP terhadap penurunan IMR tersebut cukup 128 / ft;-,«ft. EKI. Vol. XXXlVNo. 1, 1986

9 kuat, hanya mempunyai koeffisien yang sangat rendah. Sehingga bila pada tahun 1988 GNP Indonesia diharapkan meningkat menjadi Rp milyar, dengan asumsi laju pertumbuhan ekonomi selama Repelita IV mencapai rata-rata 5% setahun. maka IMR diperkirakan akan turun menjadi 70 ±4,38. Jadi IMR pada tahun tersebut akan berkisar antara 65,62 s/d 74,38 per lahir hidup. Sementara itu, Tjiptoherijanto (1981) melakukan pengamatan secara analisa cross-sectiuml mengenai hubungan antara tingkat kesakitan dan tingkat kematian akibat penyakit tuberkulosa (TB) dengan GNP per kepala di 18 negara untuk tahun Negara yang dipilih bervariasi mulai dari negara-negara industri yang sudah maju sampai dengan negara-negara sedang membangun. Dari negara-negara yang beriklim tropis sampai dengan sub tropis. Juga dari negara yang mempunyai tingkat kematian yang rendah (0,8 per penduduk di Negeri Belanda) sampai pada negara dengan tingkat kematian yang tinggi (77,5 per penduduk di Filipina) dan dari negara dengan tingkat kesakitan yang rendah (15,0 per penduduk di Jepang) sampai dengan negara yang memiliki tingkat kesakitan yang cukup tinggi (369,2 per penduduk di Filipina). Hasil yang didapat dalam penelitian tersebut sebagai berikut: (i) TB Mortality = 28,89-0,009 GNP per capita (4,83) (3,00) R^ = 0,34 (ii) TB Morbidity = 154,88-0,041 GNP per capita (4,76) (2,41) R ' = 0,28 Regressi di atas secara statistik significant dalam tingkat 5% dan angka dalam tanda kurung adafah t-statistic. Dari angka koeffisiennya, jelas bahwa hasil di atas tidak cukup kuat untuk menunjukkan pengaruh dari pembangunan ekonomi terhadap pemberantasan penyakit tuberkulosa. Apabila dihubungkan dengan keadaan Indonesia, tingkat kematian akibat TB di Indonesia pada tahun 1970 diperkirakan sebesar 36,8 per penduduk dengan GNP per kepala sebesar 73 dollar AS. Sementara itu pada tahun yang sama tingkat kematian akibat TB di Amerika Serikat hanya setinggi 2,0 per penduduk dengan GNP per kepala sebanyak 4,289 dollar AS. Apabila Indonesia ingin mencapai tingkat kematian seperti di Amerika Serikat tersebut, akan diperlukan waktu sekitar 59 tahun dengan catatan negara ini mampu meningkatkan GNP per kepalanya dua kali lipat per tahun selama waktu tersebut. Apalagi bila laju pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5% per tahun EKI. Vol. XXXlVNo. 1,

10 dengan perkembangan penduduk sekitar 2,3% per tahun, maka akan diperlukan waktu lebih dari seratus tahun sebelum Indonesia mencapai tingkat kematian akibat TB yang telah dijangkau oleh Amerika Serikat pada tahun 1970 tersebut. Oleh karenanya, menghubungkan laju pertumbuhan ekonomi semata-mata dengan pembangunan sektor kesehatan harus berhati-hati. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi derajat kesehatan. Mungkin bukan pertumbuhannya yang penting, tetapi distribusi dari pendapatan atau kekayaan menurut golongan-golongan ekonomi di masyarakat yang lebih relevan untuk melihat pengaruhnya terhadap pembangunan disektor kesehatan. Penutup Pembangunan sektor kesehatan memang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dibeberapa bidang. Namun, tidak bisa dilupakan pula bahwa perubahan-perubahan dalam derajat kesehatan malah menyebabkan hambatan dalam pembangunan ekonomi. Khususnya bilamana perkembangan disektor kesehatan menyebabkan tingkat kesakitan dan tingkat kematian menurun yang pada kemudiannya akan menyebabkan pertambahan jumlah penduduk. Sementara itu perbaikan dibidang ekonomi yang sering ditunjukkan dengan meningkatnya GNP atapun GNP per kepala, tidak secara langsung meningkatkan pembangunan sektor kesehatan. Masih banyak. faktor lain yang perlu dikaji sehubungan dengan pengaruh terhadap perkembangan sektor kesehatan ini. Dari pembahasan yang singkat ini tampaknya program-program di bidang gizi yang diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga bila masalah kualitas sumberdaya manusia yang dipentingkan, program-program dibidang ini tidak boleh dilupakan. 130 EKI. Vol. X X X l V N o. 1, 1986

11 Daftar Rujukan 1. Amin, Abdul Choliq, Pendekatan IMR sebagai Indikator Pembangunan Sektor Kesehatan. Jakarta : PPN-LPEM-FEUI. 2. Ce Sario, F. J.; S.R. Simon, and I. L. Kinne, Hie Economics of Mainutrition. Colombus, Ohio: Betelle Memorial Institute. 3. Correa, H.; and G. Cummins, "Contribution Nutrition to Economic Gro-wth", American Journal of Oiemicai Nutrition. 23 : Denison, E.F The Source of Economic Growth in the United States, Washington, D.C. : Committee for Economic Development. 5. Malenbaum, Wilfred, "Health and Productivity in Poor Areas" in Herbert E. Kiarman (ed.) Empirical Studies in Health Economics. Baltimore, Maryland: The John Hopkins University Press. 6. Mushkin, S " Health as anlmestmeai". Journal of Poiiticai Economy 70 : Schultz, T.W., 196a, "Capital Formation by Education". Journal of Political Economy 68 : Tjiptoherijanto, Prijono, ie Economic Benefits from a Tuberculosis Control Program in Indonesia: Effects of Chemotherapy. Unpublished Ph.D. dissertation. University of Hawaii, USA. 9. Weisbrod, B.A.; R.L. Andreano, R.E. Baldwin, E.H. Epstein, and A.C. Kelly, Disease and Economic Development: The Impact of Parasitic Diseases in St. Lucia, Unpublished manuscript. LD-FEUl, 11 Desember 1984 Prijono Tjiptoherijanto. i EKI. Vol. X X X T V No. 1,