MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa)"

Transkripsi

1 1 MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Theologi Islam Disusun Oleh: DHAUATUL MAKIYAH PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007

2 2 MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ushuludin dan Filsafat Untuk Memenuhi Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam Oleh: DHAUATUL MAKIYAH NIM: Di bawah bimbingan Drs. Roswen Dja far NIP: PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007

3 3 KATA PENGANTAR بسم االله الر حمن الر حيم Alhamdulillah, segala puji dan rasa syukur Penulis panjatkan kehadirat-nya. Tidak ada kekuatan apapun dalam diri ini selain karena kekuatan-nya. Karena anugrah-nyalah, sehingga Penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul: DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii Persetujuan Pembimbing... iv Pengesahan Panitia Ujian...v Pedoman Transliterasi... vi BAB I PENDAHULUAN...1 A. Latar Belakang Masalah...1 B. Perumusan dan Pembatasan Masalah...7 C. Tujuan Penelitian...7 D. Metode Penulisan...8 E. Sistimatika Penulisan...8 BAB II SEKILAS TENTANG MUHAMMAD AJÂJ AL-KHATÎB DAN JA FAR SUBHANI...10 A. Biografi Muhammad Ajâj al-khatîb dan Ja far Subhani Biografi Muhammad Ajâj al-khatîb Biografi Ja far Subhani..11 B. Karya-Karya Muhammad Ajâj al-khatib dan Ja far Subhani...15

4 4 1. Karya Muhammad Ajâj al-khatîb Karya Ja far Subhani Kitab Pokok Ahl al-sunnah dan Syi ah 19 BAB III KONSEP UMUM HADIS, ADIL DAN DABIT MENURUT AHL AL- SUNNAH DAN SYI AH.27 A. Konsep Hadis Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah Definisi dan Konsep Hadis Menurut Ahl al- Sunnah Definisi dan Konsep Hadis Menurut Syi ah...31 B. Konsep Adil Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah Konsep Adil Menurut Ahl al- Sunnah Konsep Adil Menurut Syi ah Beberapa Pengertian Adil dalam Islam...43 C. Pengertian Dabit Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah Konsep Dabit Menurut Ahl al-sunnah Konsep Dabit Menurut Syi ah...48 D. Analisis Perbandingan Konsep Hadis, Adil, dan Dabit Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah...48

5 5 BAB IV KRITERIA ADIL DAN DABIT MENURUT MUHAMMAD AJÂJ AL-KHATÎB DAN JA FAR SUBHANI DALAM KITAB USÛL AL-HADIS DAN USÛL AL-HADIS WA AHKÂMUHU...52 A. Kriteria Adil dan Dabit Menurut Muhammad Ajâj al-khatîb Kriteria Adil Menurut Muhammad Ajâj al-khâtîb Kriteria Dabit Menurut Muhammad Ajâj al-khatîb...55 B. Kriteria Adil dan Dabit Menurut Ja far Subhani Kriteria Adil Menurut Ja far Subhani Dabit Menurut Ja far Subhani...59 C. Perbandingan Adil dan Dabit Menurut Muhammad Ajâj al-khatîb dan Ja far Subhani...61 BAB V KESIMPULAN...65 DAFTAR PUSTAKA...66, Shalawat dan salam semoga Allah SWT selalu curahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan skripsi ini bukan sematamata dari buah tangan sendiri, akan tetapi dari hamba Allah yang senantiasa mendermakan kemampuannya dengan tulus hati dan meluangkan waktu meski hanya meluangkan aspirasi. Oleh karena itu, tidak berlebihan kirannya jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih, khususnya kepada: 1. Bapak Dr. Amin Nurdin, M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayattullah Jakarta, beserta seluruh staf dan jajarannya.

6 6 2. Dra. Ida Rosyidah, M.A., selaku Ketua Jurusan Perbandingan Agama dan H.Maulana, M.A selaku Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama. 3. Drs.Roswen Dja far, selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan besar hati dan sabar bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, konsultasi dan bimbingan skripsi. 4. Para dosen yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, baik secara langsung maupun tidak. 5. Bapak I Ketut Sudana Rimawan selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Banjar yang telah memberikan waktunya kepada penulis untuk di wawancarai dan keterbukaan yang sangat tinggi telah memberikan informasi dan data yang diperlukan dalam menyelesaikan skripsi. 6. Bapak I Made Biasa, selaku dosen Dharma Nusantara Cinere, yang telah meluangkan waktunya untuk wawancara dan memberikan arahan yang berkaitan dengan tema skripsi ini. 7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Ushuluddin dan Filsafat dan Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Rawamangun yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan. 8. Bapak dan Ibunda tercinta, H.M.Rais Anwar dan Ibunda Chalifah, atas pengorbanan dan cinta kasihnya berupa moril maupun meteril, serta doa yang tidak terhingga sepanjang masa untuk keberhasilan studi anakmu. Segala hormat dan bhakti ananda persembahkan kepada keduanya.

7 7 9. Keluarga besar, kakak-kakakku, Ulfa, Sahlia dan Adik-adikku Asriati, Izzatullah, Nurus Syifa yang telah memberikan motivasi dan memberikan kehangatan dalam keluarga. Tak lupa pula kakanda A.Faqihuddin (alm) semoga amal ibadahnya diterima disisi-nya. Amin. 10. Terima kasih yang spesial tuk Abang Nash atas kesetiaan dan ketulusannya yang telah mendampingi penulis baik suka maupun duka. 11. Semua teman-temanku di Jurusan Perbandingan Agama Angkatan 2002 Puji. Mia, Pei, Parida, Endah, Sahal, Topan, Wahyu, Dadan, Tati, Yeyeh dan semuanya. 12. Semua kawan-kawanku Neneng Munawaroh (TH), Andru, Leo (PA), serta alumni 22 Daarul Rahman terima kasih atas motivasi dan bantuannya. 13. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuannya kepada penulis, sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis hanya dapat memohon kepada Allah SWT, semoga berkenan menerima segala kebaikan dan ketulusan mereka serta memberikan sebaik-baiknya balasan atas amal baik mereka. Terakhir, semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat khazanah keilmuan kita. Amin.

8 8 Jakarta, 8 Mai 2007 Penulis

9 9 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iv BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 5 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Metode Penelitian... 5 E. Sistematika Penulisan... 8 BAB II: PURA DAN SANGGAH SEBAGAI TEMPAT PEMUJAAN DALAM AGAMA HINDU A. Pengertian Pura... 9 B. Pengertian Sanggah/Mrajan C. Jenis Palinggih di Sanggah/Mrajan BAB III : MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH A. Makna Filosofis Sanggah Menuju Moksa B. Fungsi Sanggah/Mrajan C. Sanggah/Mrajan Sebagai Media Tranformasi Ajaran Hindu D. Sanggah/Mrajan Sebagai Media Komunikasi Dengan Leluhu E. Analisis Kritis... 51

10 10 BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran-saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

11 11 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuhan menciptakan manusia dengan segala kebutuhannya berupa alam dan isinya. Namun disisi lain terdapat hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan memandang kebenaran Tuhan secara umum dan menyeluruh. Dalam hal ini beberapa keberadaan agama khususnya agama Hindu dan penganutnya dalam pelaksanaan aktivitas keagamaan yang selalu memanfaatkan sarana dan prasarana. Sarana sebagai media komunikasi antara manusia dengan Tuhannya dan sekaligus sebagai simbol harmonisasi dengan sesama dan alam lingkungannya. Salah satu sarana dan prasarana itu adalah tempat suci dan upakara/bebantennya Sarana dan prasarana yang dimaksud ialah tempat suci yaitu tempat yang dibangun secara khusus pula, tempat suci adalah tempat untuk melakukan ibadah agama, tempat untuk sujud dan menyembah. Tempat untuk sujud secara lahir batin, sujud jiwa raga kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Sujud dalam arti patuh, taat dan bakti secara ikhlas. Siap sedia menjunjung serta menjalankan ajaran dan perintah-perintahnya serta menjauhi laranganlarangannya. 1 1 Anak Agung Gde Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu (Jakarta: Hanoman Sakti, 1997)h. 83

12 12 Umat Hindu meyakini bahwa kebahagiaan adalah hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara hubungan dengan sesama makhluk, hubungan dengan Tuhan dan segala wujud kuasa-nya, dan hubungan dengan alam lingkungan. Lebih jauh, ketika dihadapkan dengan tujuan agama Hindu yaitu Jagaddhita untuk mencapai moksa. Moksa adalah lepas bebas dari segala ikatan dunia, moksa dapat dicapai pada waktu manusia masih hidup di dunia atau dapat dicapai setelah mati. 2 Untuk kepentingan umat manusia khususnya umat Hindu dalam menyampaikan ungkapan terima kasih dan rasa syukur dibuatlah tempat suci atau Pura sebagai tempat pemujaan, Pura dibangun sebagai sarana untuk lebih menggiring rasa kedekatan diri pada Tuhan. Jika dalam lingkungan masyarakat, tempat suci berupa kahyangan jagat atau Pura-pura pada umumnya, maka dalam rumah tangga/keluarga ada tempat suci yang disebut Sanggah/Mrajan. Sanggah/Mrajan sebagai media komunikasi antara anggota keluarga sebagai percakapan terhadap leluhur (nenek moyang) yang berjasa telah membina keturunannya. Umat Hindu harus memiliki Sanggah/Mrajan dan mampu menggali potensi-potensi yang terkandung dalam makna Sanggah/Mrajan, disamping itu juga memahami dan meyakini bahwa aspek-aspek yang ada dalam sebuah Sanggah/Mrajan. Sanggah/Mrajan merupakan tempat suci untuk memuja Tuhan dan manifestasinya serta leluhur yang telah suci; terletak di areal hulu rumah tangga. 3 2 Mukti Ali, Agama-agama di Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kali Jaga, 1998)h Gde Soeka, Tri Murthi Tatwa, (Denpasar: Kayu Mas, 1993)

13 13 Sanggah/Mrajan juga merupakan tempat pemujaan keluarga sebagai nafas bagi kehidupan keluarga Hindu dalam keseharian, tetapi juga merupakan sumber kehidupan, karena Sanggah/Mrajan merupakan pendukung segala aktivitas umat Hindu. Kata Sanggah ditafsirkan sebagai bahasa Bali kapara atau bahasa lumrah dari tempat pemujaan keluarga, dimana bahasa Bali halus atau dalam bahasa Singgih yaitu Mrajan, 4 sedang Mrajan berasal dari kata Mrty yang artinya mau atau mati, sedang jan artinya lahir, 5 sementara ada yang berpendapat bahwa Sanggah adalah perubahan ucapan dari kata Sanggar yang artinya tempat pemujaan. Kata Sanggah juga berasal dari bahasa sansekerta, yaitu Samga yang artinya persekutuan atau perhimpunan. Selain kata Sanggah ada pula Canggah yang dapat diberikan arti sebagai sumber, oleh karena itu Sanggah adalah sebagai simbol sumber. 6 Sebagai tempat pemujaan keluarga, Sanggah/Mrajan memiliki nilai filosofis yang tinggi yang sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap perjalanan kehidupan manusia Hindu. Oleh karena itu pemahaman tentang Sanggah/Mrajan merupakan suatu keharusan; disamping itu Sanggah/Mrajan merupakan sumber kemakmuran dan kesejahteraan yang merupakan tujuan dari agama Hindu yaitu Moksa. Sanggah/Mrajan merupakan tempat suci bagi keluarga Hindu yang seharusnya mampu berperan sejak dini, karena Sanggah/Mrajan adalah tempat 4 I Ketut Wiana, Palinggih di Pamerajan, (Denpasar: Upada Sastra 1992)h P.J, Zoetmulder, Kamus Jawa Kuno-Indonesia, (Jakarta:2002)h I.B. Putu Sudarsana, Ajaran Agama Hindu/ Uparenga, (Denpasar: 2001)h. 8

14 14 suci untuk praktek beragama yang pertama kali dikenal oleh setiap anggota keluarga sejak lahir. Keberadaan Sanggah/Mrajan sangat berarti bagi umat Hindu yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga. 7 Sanggah/Mrajan bukan hanya untuk bersembahyang tetapi juga merupakan tempat dilaksanakannya berbagai ritual untuk anggota keluarga sejak usia dini. Dengan bertambahnya usia, maka Sanggah/Mrajan biasa dimanfaatkan untuk menjadi media sosialisasi ajaran Hindu untuk seluruh keluarga dari berbagai usia. Selama ini umat Hindu telah berupaya menempatkan Sanggah/Mrajan sebagai tempat suci keluarga, tetapi ketidaktahuan dan ketidakpahaman tentang makna filosofis serta peran tempat suci ini, telah menyebabkan keberadaan Sanggah/Mrajan ini kadang-kadang tidak banyak memberikan arti bagi anggota keluarga terlibat dalam kegiatan di Sanggah/Mrajan. Dengan demikian Sanggah/Mrajan dimengerti sebagai tempat pemujaan leluhur, dan umat Hindu pada umumnya selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik, namun ketidakpahaman telah menyebabkan mereka tidak mengelola Sanggah/Mrajan ini dengan tepat. Untuk dapat memahami secara mendalam maka penulis mengangkatnya dalam skripsi ini dengan topik MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus Masyarakat Hindu Jawa) 7 G, Pudja, Pengantar Ilmu Weda, (Jakarta: Mayasari,1998)h. 65

15 15 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka dalam skripsi ini permasalahan yang akan dibahas, yaitu fungsi dan manfaat Sanggah/Mrajan. Permasalahan dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut; Apa makna dan fungsi Sanggah/Mrajan dalam agama Hindu?. C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah untuk mengangkat nilai-nilai religius yang terkandung dalam Sanggah/Mrajan sebagai tempat suci keluarga, sehingga umat hindu memahami bentuk konkrit hubungan manusia dengan Tuhannya. Serta untuk mengetahui fungsi dan peranan Sanggah/Mrajan dalam sosialisasinya sebagai media dalam keluarga Hindu. Penulis berharap melalui tulisan ini, setidaknya penulis memberikan sumbangsih bagi khazanah keilmuan. Selain itu, tulisan ini semoga diharapkan dapat meningkatkan toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama. Tujuan penulisan skripsi ini juga sebagai kontribusi kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan memenuhi tugas akhir perkuliahan untuk meraih gelar kesarjanaan Strata Satu (S1) di jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. D. Metode Penelitian dan Tehnik Penulisan Adapun metode yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) penulisan ini dilakukan dengan membaca literatur-leteratur yang

16 16 ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini, yaitu berupa buku-buku, diktat, dan majalah-majalah. Dan juga penulis menggunakan metode lapangan yaitu wawancara langsung kepada nara sumber yang bersangkutan untuk menambah data-data yang terdapat pada nara sumber. Metode yang penulis pergunakan dalam membahas skripsi ini adalah pendekatan fenomenologis. Fenomenologi agama adalah pendekatan sistematis dan komperatif yang mencoba menggambarkan kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam bermacam-macam fenomena raligius. Unsur yang sama ini adalah makna inti yang terdapat di dalamnya. Makna inti ini yang penulis coba gambarkan kemudian menggolongkan fenomena-fenomena religius itu menurut esensialnya dan selanjutnya membuat penilaian-penilaian komperatif dengan menghormati keabsolutan dalam gambaran-gambaran yang dibuat oleh orangorang yang mengimaninya. Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang secara harfiah berarti gejala atau apa yang menampakan diri sehingga nyata bagi kita. Metode fenomenologi dirintis oleh Edmund Husserl ( ) dengan semboyan: Zuruck zu Den Sachen Selbst (kembali kepada hal-hal itu sendiri). 8 Maksudnya, kalau kita ingin memahami sebuah fenomena jangan hanya puas mempelajari pendapat orang tentang hal itu atau memahaminya berdasarkan teori-teori, tetapi kembalikan kepada subyek yang melakukannya secara langsung. 8 Dister Ofm, Nico Syukur, Pengalaman dan Motivasi Beragama, (Yogyakarta: Kanisius,1993)h. 25

17 17 Dalam memahami sesuatu, fenomenologi menghendaki keahlian (dasariah) bukan kesemuan dan kepalsuan. Untuk menemukan makna (kebenaran dasariah) fenomenologi menyarankan dua langkah atau reduction (penjabaran). Pertama, fenomen diselidiki hanya sejauh disadari secara langsung dan spontan sebagai berlainan dengan kesadaran diri. Kedua, fenomen diselidiki hanya sejauh merupakan bagian dari dunia yang dihayati sebagai keseluruhan (live world), tanpa dijadikan obyek ilmu yang terbatas. 9 Dalam bekerja, fenomenologi merupakan metodologi ilmiah dalam meneliti fakta religius yang bersifat subjektif seperti pikiran-pikiran, ide-ide, emosi, mkasud-maksud dan sebagainya dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar (perkataan dan perbuatan). Perlu diingat bahwa dalam fersfektif fenomenologi, masalah objektivitas berarti membiarkan fakta-fakta bicara untuk dirinya sendiri. Untuk mengungkap fakta yang bersifat subjektif menjadi fenomena objektif, Dhavamony menyarankan dua hal epoche 10 dan eiditik, 11 atau emik menurut Pike. 9 Dister Ofm, Nico Syukur, Pengalaman dan Motivasi Beragama,h Epoche adalah penilaian yang dikonsepkan sebelumnya harus ditunda sebelum fenomena itu bicara untuk dirinya. Seorang fenomenolog harus mempertanyakan hakikat yang sebenarnya, tanpa harus terlibat untuk merumuskan baik-buruknya. 11 Eiditik adalah pemahaman makna religius yang diperoleh hanya lewat pemahaman ungkapan-ungkapan. Ungkapan-ungkapan ini meliputi kata-kata dan tanda-tanda, apapun jenisnya. Hanya melalui ekspresilah kita menangkap pikiran-pikiran religius orang lain, dan dengan memikirkan serta mengalaminya kembali, dengan empati atau wawasan imajinatif, kita memasuki pikiran mereka. Pemahaman yang empati berarti memperlihatkan pemahaman terhadap tingka orang lainyang meliputi pengalaman, pikiran, emosi, ide-ide orang lain berdasarkan pengalaman dan tingkah lakunya sendiri. Itulah sebabnya penelitian fenomenologi sangat mengandalkan metode partisipatif agar peneliti dapat memahami tindakan religius dari dalam. Lihat Dhavamony, Mariasusai, Fenomenologi Agama, (Yoyakarta: Kanisius, 1995),h

18 18 Untuk teknik penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada pengetahuanpengetahuan yaitu Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang ditetapkan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, E. Sistematika Penulisan Penulisan skripsi terbagi menjadi beberapa bab dan sub bab dengan rincian sebagai berikut. BAB I :Merupakan pendahuluan, pembahasan dan gambaran umum skripsi. Dalam bab ini dibahas hal tentang latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan tehnik penulisan, serta sistematika penulisan. BAB II : Sebelum membicarakan tentang makna dan fungsi Sanggah/Mrajan, pengertian Pura, yang merupakan bagian tempat pemujaan umat Hindu. Selanjutnya pengertian Sanggah/Mrajan dan jenis palinggih di Sanggah/Mrajan. BAB III : Merupakan bab inti, dimana penulis akan menguraikan makna dan fungsi Sanggah/Mrajan. Pembahasannya meliputi tentang makna filosofis Sanggah/Mrajan dalam menuju moksa, dan fungsi Sanggah/Mrajan sebagai media transformasi ajaran Hindu dan media komunikasi dengan leluhur dan diakhiri dengan analisis kritis. BAB IV : Berisi penutup dan diakhiri dengan rangkuman yang dapat terlihat dari uraian kesimpulan dan saran-saran. Kemudian tak lupa juga diakhiri

19 19 penulisan dicantumkan daftar pustaka yang digunakan sebagai rujukan dan beserta lampiran-lampiran.

20 20 BAB II PURA DAN SANGGAH/MRAJAN SEBAGAI TEMPAT PEMUJAAN DALAM AGAMA HINDU A. Pengertian Pura Tempat suci adalah tempat pemujaan berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur, disamping itu juga pemujaan terhadap kekuatan alam yang maha besar yang telah dikenal sebelum kebudayaan India datang di Indonesia. 1 Tempat umat Hindu bersembahyang dalam istilah bahasa Sansekerta antara lain Mandira, Darmashala, Devalaya, Devagriha, Devabhavana, Sivalaya, Samgha, dan Devawisma. Apabila di Indonesia dikenal dengan nama Pura, Pura sebagai tempat bersembahyang adalah suci karenanya ia juga disebut tempat pemujaan. 2 Tempat suci bagi umat Hindu dari sekian banyak istilah salah satunya adalah Pura, sebenarnya istilah Pura berasal dari kata Pur, yang artinya kota, benteng, atau kota yang berbenteng. Pura berarti suatu tempat yang khusus dipakai untuk dunia kesucian yang dikelilingi dengan tembok. Hampir semua 1 I Made Titib, Veda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan, (Surabaya: Paramita,1996)h Nyoman S, Pendit, Hindu dalam Tafsir Modern, (Denpasar: Dharma Naradha,1995)h.114

21 21 Pura (tempat suci) dikelilingi atau dibentengi dengan tembok atau pagar untuk memisahkan dengan dunia sekitarnya yang dianggap tidak suci. 3 Dalam istilah Pura ialah tempat suci umat Hindu, tempat melaksanakan persembahyangan, tempat ibadah. Pura disebut pula dengan istilah kahyangan, tempat memuja Hyang (Sang Hyang Widhi). Kata Pura sendiri juga memiliki arti benteng. Jelasnya, kata Pura dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata Pur yang berarti kubu, tembok, benteng, kekuatan, daerah atau kota. Dalam bahasa Jawa- Kuno kata ini memiliki arti yang kurang lebih sama. Dalam bahasa Bali, serta dalam bahasa Indonesia, arti kata Pura mengkhususkan sebagai tempat sembahyang umat Hindu. Pura dibangun sebagai sarana untuk lebih menggiring rasa kedekatan diri pada Tuhan, untuk memudahkan konsentrasi pikiran karena di Pura itu simbolsimbol sinar kekuasaan Tuhan akan tersirat. Itu sebabnya Pura dibangun ditempat yang indah, atau dibuat indah agar hati ini pun indah. 4 Istilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya barasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura yang berasal dari Sansekerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa. Sebelum digunakan kata Pura disebut tempat suci/tempat pemujaan 3 Anak Agung Gde Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, (Jakarta: Hanoman Sakti,1997)h Putu Stia, Kebangkitan Hindu Menyongsong Abad 20, (Jakarta: 1993)h. 42

22 22 dipergunakanlah kata Kahyangan atau Hyang. Dalam keterangan lebih lanjut kata Pura disamping kata Kahyangan Parahyangan dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa (dengan segala manifestasinya) dan Bhatara atau Dewa Pitara yaitu suci leluhur. 5 Secara umum, berdasarkan fungsinya sebagai tempat suci untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa dan Bhatara, dapat dikelompokkan menjadi: 1. Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasi-nya (dewata). 2. Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhatara yaitu roh suci leluhur. Sekelompok Pura yang telah disebutkan di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula Pura yang berfungsi ganda, yaitu selain untuk memuja Sang Hyang Widhi dan para dewa, juga untuk memuja bhatara atau leluhur. Hal ini dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tersebut telah mencapai tingkatan Siddhadewata (telah memasuki alam dewata) dan disebut bhatara (raja atau yang dipertuankan/pelindung). 6 Selain yang telah disebutkan diatas berdasarkan ciri-ciri khas tertentu, Pura juga dapat dikelompokkan sebagai berikut: 5 I Made Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, (Jakarta: Paramita,2001)h Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, h. 95

23 23 1. Pura Umum Disebut dengan Pura umum, artinya adalah suatu Pura yang didukung dan disungsung oleh umat Hindu yang ada di seluruh Indonesia pada khususnya dan seluruh umat Hindu pada umumnya. Di Indonesia Pura yang paling besar yang tergolong Kahyangan Jagat ini adalah Pura Besakih. Disamping Pura Besakih, tempat suci yang juga tergolong Kahyangan Jagat, sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar di Bali adalah Pura Batur Pura Teritorial Pura ini mempunyai ciri kesatuan (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat satu desa adat pada dasarnya memiliki tiga buah Pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu Pura Desa (Balai Agung ialah tempat pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-nya), Pura Puseh (tempat pemuja Hyang Widhi dalam manifestasi-nya sebagai Visnu yaitu pemelihara) dan Pura Dalem (tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Ciwa yang berfungsi sebagai pemralina atau pelebur) 8 yang merupakan tempat pemujaan bersama. 7 Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, h.89 8 Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu,h. 88

24 24 3. Pura Fungsional Yang dimaksud Pura Fungsional disini adalah dimana pemuja, pendukung atau penyungsung dari Pura atau tempat suci tersebut menpunyai suatu kepentingan yang sama dalam hal tertentu. 9 Pura ini mempunyai profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti: bertani, dan berdagang. Kekaryaan karena bertani, dalam mengelola tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Alas Angker, Alas Harum dan lain sebagainya. Berdagang mempunyai ikatan pemujaan dalam wujud Pura Melanting didirikan di areal pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut. 4. Pura Kawitan Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan leluhur berdasarkan garis kalahiran (geneologis). Pura ini sering pula disebut Pura Pedharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari Pura milik warga atau Pura Klen. Dengan demikian, maka Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa 9 Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu,h. 90

25 25 kaluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan dari nenek moyang yang sama. 10 Oleh karena itu Pura-pura yang telah disebutkan diatas ada juga terletak di lingkungan rumah tangga; yaitu disebut juga Pura Keluarga. Yang dipuja (disembah) didalam Pura keluarga ini adalah Hyang widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta segala manifestasi-nya termasuk Dewa dan Pitara yang dianggap telah suci. Palinggih-palinggih pokok yang ada di Pura keluarga ini, antara lain adalah Kamulan, yaitu Palinggih yang beruang tiga merupakan tempat pemujaan Tri Murti dan Dewa Pitara. 11 Pura disebut juga Kahyangan adalah replika atau bentuk tiruan dari Kahyangan tempat/sthana sejati Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi-nya. 12 Pada umumnya struktur atau denah Pura dibagi atas tiga bagian, yaitu Jaba pura (halaman luar), Jaba tengah (halaman tengah ) dan jeroan (halaman dalam). Disamping itu ada juga Pura yang terdiri dari dua halaman yaitu Jaba pura (halaman Luar) dan jeroan (halaman dalam), dan pembagian Pura atas tiga bagian halaman itu adalah lambang dari triloka, yaitu: Bbhurloka (bumi), Bhuvaloka (langit) dan Svahloka (Sorga). Pembagian Pura atas dua halaman/tingkat melambangkan alam atas (urdhah) dan alam bawah (adhah). Pembagian halaman Pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian adalah horizontal, sedangkan pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah 10 Titib, Telogi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu,h Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu,h Titib, Teologi dan simbol-simbol dalam Agama Hindu,h.111

26 26 pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan prakerti (unsur materi alam semesta), sedangkan alam pembagian yang vertikal adalah simbolis purusa (unsur kejiwaan/ spiritual alam semesta). Hal inilah yang menyebabkan orang dapat merasakan getaran spiritual dalam sebuah Pura. 13 Dari pemahaman ini dapat dipahami bahwa kesakralan sebuah Pura ditentukan oleh adanya pertemuan antara prakerti dengan purusa. Artinya, sebuah Pura dikatakan suci apabila energi langit (akasa) bertemu dengan energi bumi (prativi). Getaran spiritual akan dirasakan oleh seseoarang dengan khusyuk menghaturkan bhakti di tempat pemujaan atau bahkan hanya duduk merenung di tempat-tempat yang sakral. 14 Dijeroan (halaman dalam), halaman yang paling disucikan berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-nya. Diantara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan dengan kori agung, sebelum sampai ke halaman dalam (jereoan) melalui kori agung terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar, ke halaman tengah. Candi bentar adalah simbol pecahnya gunung Kailasa tempat bersemedinya Dewa Siva. 15 Di sebelah kiri kanan pintu masuk candi bentar ini biasanya terdapat arca Dvarapala (penjaga pintu) atau pengapit lawang, bewujud raksasa yang berfungsi sebagai pengawal Pura terdepan. Kori agung ini senantiasa tertutup baru dibuka bila ada upacara di Pura. Umat penyungsungan Pura tidak menggunakan jalan kecil yang di sebut bebetelan, terletak disebelah kiri atau kanan kori agung itu Titib, Teologi dan simbol-simbol dalam Agama Hindu,h Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, h Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu,h. 102

27 27 Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala raksasa, Pura atau candi di India disebut Kirttimukha, Pada ambang pintu masuk candi di Jawa Tengah disebut Kala, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali disebut Bhoma. Menurut cerita orang Hindu, penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kirttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam Pura, dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Orang-orang berhati suci yang masuk kedalam Pura akan memperoleh rahmat-nya. 17 B. Pengertian Sanggah/Mrajan Pura penyungsungan khusus yang berukuran kecil terdapat pada tiap-tiap keluarga yang disebut Sanggah/Mrajan. Sanggah/Mrajan tempat untuk melakukan pemujaan. Pamrajan berasal dari kata Praja yang berarti masyarakat, turunan, keluarga. Pengantar pa dan akhiran an mengacu pada tempat. Jadi Sanggah Pamrajan/Mrajan adalah tempat pemujaan keluarga atau turunan. Sanggah Pamrajan adalah suatu istilah, yang dilihat dari kontek arti sesungguhnya tidak boleh dipisahkan. Namun sebutan tersebut di masyarakat sedikit dikacaukan. Pengertian Sanggah dan Pamrajan dipisahkan, masing-masing diacu pada keluarga menurut wangsa (turunan). Sanggah dikhususkan untuk jaba/halaman, sedangkan Pamrajan untuk keluarga turunanan wangsa Ksatrya dan Brahmana. Sesuai dengan arti kata, Sanggah Pamrajan/Mrajan ini dimiliki oleh setiap kelurga atau seturunan. Berdasarkan hasil kajian kata Sanggah juga berasal dari kata 17 Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu,h. 103

28 28 canggah yang dapat diartikan sebagai Sumber. 18 Kata Sanggah juga ditafsirkan sebagai bahasa Bali Kapara atau bahasa lumrah dari tempat pemujaan keluarga, di mana bahasa Bali halus atau dalam bahasa Singgih nya adalah Mrajan. 19 Sementara ada yang berpendapat bahwa Sanggah adalah perubahan ucapan dari kata Sanggar yang artinya tempat pemujaan. Dalam lontar Siwagama lembar 328, ada disebutkan tingkatan-tingkatan tempat pemujaan keluarga sebagai berikut:..bhagawan Manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang Caduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wawang setengah bhaga rwang puluhing Caduluk, sanggar pratiwi mangunen ika, mwang kamulan panunggalannya sowang. Artinya:..Bhagawan manohari pengikut Siva, beliau disuruh oleh sri Gondarapati untuk membangun Sad Kahyangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban semua orang. Lain kewajiban sekelompok orang untuk 40 keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun Sanggah Ibu. Kecilnya 10 keluarga pratiwi harus dibangun, dan kamulan satu-atunya tempat pemujaan (yang harus dibangun) pada masing-masing pekarangan Sanggah Pamrajan/Mrajan (juga jenis kelompok bangunan suci), untuk ikatan jiwa dalam satu famili agar hidup rukun gotong-royong, tenggangmenenggang, seia-sekata dalam menghadapi suka duka gelombang hidup dalam masyarakat, dengan mengisi bangunan-bangunan kecil didalamnya yang disebut 18 I.B. Putu Sudarsana, Ajaran Agama Hindu, (Uparenga), (Denpasar: 2001)h I Ketut Wiana, Palinggih di Pamerajan, (Denpasar: Upada Sastra 1992)H. 20

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di India, ini disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di India, ini disebabkan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama Hindu adalah agama yang telah menciptakan kebudayaan yang sangat kompleks di bidang astronomi, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain-lain sehingga timbul

Lebih terperinci

27. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD

27. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD 27. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan dirumuskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra tradisional yang tersimpan dalam naskah lontar banyak dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi Bersyukur kepada sang pencipta tentang apa yang telah di anugerahkan kepada seluruh umat manusia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan Negara yang penuh dengan keanekaragaman Suku Bangsa, Bahasa, Agama, dan Kebudayaan. Keberagaman budaya bangsa Indonesia bukan berarti untuk

Lebih terperinci

DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA

DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA I GUSTI NGURAH WIRAWAN, S.Sn., M.Sn NIP : 198204012014041001 INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR 2016 ABSTRAK Saradpulagembal, seperti halnya sesajen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali telah terkenal dengan kebudayaannya yang unik, khas, dan tumbuh dari jiwa Agama Hindu, yang tidak dapat dipisahkan dari keseniannya dalam masyarakat yang berciri

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika

1. PENDAHULUAN. berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kasta merupakan suatu sistem pembagian atau pengelompokan masyarakat berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang tersebut bekerja

Lebih terperinci

OLEH : I NENGAH KADI NIM Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Pembimbing I

OLEH : I NENGAH KADI NIM Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Pembimbing I EKSISTENSI PALINGGIH RATU AYU MAS SUBANDAR DI PURA DALEM BALINGKANG DESA PAKRAMAN PINGGAN KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI (Perspektif Teologi Hindu) OLEH : I NENGAH KADI NIM. 09.1.6.8.1.0150 Email

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pariwisata dunia, salah satu tradisi yang menarik untuk dikupas lebih lanjut adalah

BAB I PENDAHULUAN. pariwisata dunia, salah satu tradisi yang menarik untuk dikupas lebih lanjut adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan beragam tradisi yang dimilikinya. Hal tersebut menjadikan Bali memiliki daya tarik tersendiri di mata pariwisata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Agama Hindu merupakan agama tertua didunia dan masih ada hingga saat ini.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Agama Hindu merupakan agama tertua didunia dan masih ada hingga saat ini. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Agama Hindu merupakan agama tertua didunia dan masih ada hingga saat ini. Agama Hindu merupakan agama yang mempercayai banyak dewa dan dewi yang tersebar menurut fungsinya

Lebih terperinci

MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL

MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Dalam Ilmu Ekonomi Islam Disusun

Lebih terperinci

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) 16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk

Lebih terperinci

STUDI ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG SYARAT WANITA ZINA YANG AKAN MENIKAH

STUDI ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG SYARAT WANITA ZINA YANG AKAN MENIKAH STUDI ANALISIS PENDAPAT IBNU QUDAMAH TENTANG SYARAT WANITA ZINA YANG AKAN MENIKAH SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Syari

Lebih terperinci

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) 16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah BAB V KESIMPULAN 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual Kuningan Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah merupakan seni pertunjukan yang biasa tetapi merupakan pertunjukan

Lebih terperinci

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (SD)

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (SD) 16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA : Balinese Lamak PENCIPTA : Ni Luh Desi In Diana Sari, S.Sn.,M.Sn PAMERAN The Aesthetic Of Prasi 23 rd September 5 th October 2013 Cullity Gallery ALVA

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PAI PESERTA DIDIK DI SDN GEBANGSARI 03 SEMARANG

HUBUNGAN KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PAI PESERTA DIDIK DI SDN GEBANGSARI 03 SEMARANG HUBUNGAN KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PAI PESERTA DIDIK DI SDN GEBANGSARI 03 SEMARANG SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana S1 Pada Program Studi

Lebih terperinci

TIPOLOGI BANGUNAN SUCI PADA KOMPLEK PURA

TIPOLOGI BANGUNAN SUCI PADA KOMPLEK PURA TIPOLOGI BANGUNAN SUCI PADA KOMPLEK PURA Bangunan pura pada umumnya menghadap ke arah barat dan bila memasuki pura menuju ke arah timur, sedangkan persembahyangannya menghadap ke arah timur yaitu ke arah

Lebih terperinci

PEMERTAHANAN BAHASA BALI DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI KOTA DENPASAR

PEMERTAHANAN BAHASA BALI DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI KOTA DENPASAR TESIS PEMERTAHANAN BAHASA BALI DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI KOTA DENPASAR NI MADE MERTI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2010 TESIS PEMERTAHANAN BAHASA BALI DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Lebih terperinci

lambang dan Citra citra Rakyat (PERSETIA. 1992), hlm.27 6 Scn 3, hlm

lambang dan Citra citra Rakyat (PERSETIA. 1992), hlm.27 6 Scn 3, hlm BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia pada hakekatnya adalah makhluk berbudaya, karena itu manusia tidak dapat lepas dari budaya yang dianutnya. Suatu budaya memiliki nilai

Lebih terperinci

HADIAH TETHADAP NASABAH DI BADAN USAHA MILIK DESA MAKMUR SEJAHTERA MENURUT EKONOMI ISLAM SKRIPSI

HADIAH TETHADAP NASABAH DI BADAN USAHA MILIK DESA MAKMUR SEJAHTERA MENURUT EKONOMI ISLAM SKRIPSI HADIAH TETHADAP NASABAH DI BADAN USAHA MILIK DESA MAKMUR SEJAHTERA MENURUT EKONOMI ISLAM SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Studi dan Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Syariah

Lebih terperinci

PERAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN PASIEN RAWAT INAP AKAN HIKMAH SAKIT DI RSI KENDAL SKRIPSI

PERAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN PASIEN RAWAT INAP AKAN HIKMAH SAKIT DI RSI KENDAL SKRIPSI PERAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN PASIEN RAWAT INAP AKAN HIKMAH SAKIT DI RSI KENDAL SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Jurusan Bimbingan

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG ARAH KIBLAT MENURUT ILMU FALAK S K R I P S I

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG ARAH KIBLAT MENURUT ILMU FALAK S K R I P S I FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG ARAH KIBLAT MENURUT ILMU FALAK S K R I P S I Diajukan Untuk Melengkapi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Syari ah (S.Sy) Oleh : NELA ARMALIA NIM.

Lebih terperinci

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DALAM HAL TREND JILBAB PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI ISLAM

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DALAM HAL TREND JILBAB PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI ISLAM ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DALAM HAL TREND JILBAB PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI ISLAM (studi kasus pada mahasiswi Fakultas Syari ah Jurusan Ekonomi Islam angkatan 2009 IAIN Walisongo Semarang) SKRIPSI

Lebih terperinci

MIMAMSA DARSANA. Oleh: IGN. Suardeyasa, S.Ag dkk

MIMAMSA DARSANA. Oleh: IGN. Suardeyasa, S.Ag dkk 1 MIMAMSA DARSANA Oleh: IGN. Suardeyasa, S.Ag dkk 1. Pendahuluan Agama Hindu berkembang ke seluruh dunia dengan kitab sucinya Weda, disesuaikan dengan budaya lokal (local genius). Sebagai payung dalam

Lebih terperinci

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam 40 BAB III PENYAJIAN DATA A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam masyarakat Pujud Data yang disajikan adalah data yang diperoleh dari lapangan yang dihimpun melalui observasi,

Lebih terperinci

PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PAI (STUDI KASUS PADA KELAS 4 DI SD ISLAM SULTAN AGUNG 4 SEMARANG)

PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PAI (STUDI KASUS PADA KELAS 4 DI SD ISLAM SULTAN AGUNG 4 SEMARANG) PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PAI (STUDI KASUS PADA KELAS 4 DI SD ISLAM SULTAN AGUNG 4 SEMARANG) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana S1 Pada

Lebih terperinci

SITI MEGAWATI NIM:

SITI MEGAWATI NIM: PROFIL TOKOH AGAMA ISLAM SEBAGAI TAULADAN BAGI MASYARAKAT MENURUT PANDANGAN MASYARAKAT GAMPONG BLANG SKRIPSI Diajukan Oleh SITI MEGAWATI NIM: 211001355 Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat. I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan

Lebih terperinci

BUPATI KULONPROGO SAMBUTAN PADA ACARA UPACARA BENDERA BULAN JULI 2011 KABUPATEN KULONPROGO Wates, 18 Juli 2011

BUPATI KULONPROGO SAMBUTAN PADA ACARA UPACARA BENDERA BULAN JULI 2011 KABUPATEN KULONPROGO Wates, 18 Juli 2011 BUPATI KULONPROGO SAMBUTAN PADA ACARA UPACARA BENDERA BULAN JULI 2011 KABUPATEN KULONPROGO Wates, 18 Juli 2011 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati, Para Pimpinan

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBELAJARAN BTQ (BACA TULIS Al-QUR AN) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X

PENGARUH PEMBELAJARAN BTQ (BACA TULIS Al-QUR AN) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X PENGARUH PEMBELAJARAN BTQ (BACA TULIS Al-QUR AN) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X (STUDI KASUS DI SMA NEGERI 1 TAMAN SIDOARJO) SKRIPSI Diajukan sebagai persyaratan memperoleh

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN REMAJA DALAM KEPUTUSAN MEMBELI TELEPON GENGGAM MEREK NOKIA DI KOTA DENPASAR

BEBERAPA FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN REMAJA DALAM KEPUTUSAN MEMBELI TELEPON GENGGAM MEREK NOKIA DI KOTA DENPASAR BEBERAPA FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN REMAJA DALAM KEPUTUSAN MEMBELI TELEPON GENGGAM MEREK NOKIA DI KOTA DENPASAR Oleh : I MADE NUGRAHA SANTOSA NIM: 0515251011 PROGRAM EKSTENSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si Art Exhibition Indonesian Institute of the Arts Denpasar Okinawa Prefectural University of Art OPUA

Lebih terperinci

TELAAH CERITA ANAK UPIN DAN IPIN DARI SUDUT PANDANG PENDIDIKAN ISLAM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP ANAK

TELAAH CERITA ANAK UPIN DAN IPIN DARI SUDUT PANDANG PENDIDIKAN ISLAM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP ANAK TELAAH CERITA ANAK UPIN DAN IPIN DARI SUDUT PANDANG PENDIDIKAN ISLAM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP ANAK (Studi Kasus di Desa Kebon Ploso Pacitan tahun 2011) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Tugas

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA TUNAGRAHITA DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING ISLAM

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA TUNAGRAHITA DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING ISLAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA TUNAGRAHITA DALAM PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING ISLAM (Studi Kasus Pengembangan Kepribadian remaja Tunagrahita di Desa Soko Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan). SKRIPSI

Lebih terperinci

17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh : MUNAFIAH

Lebih terperinci

ANALISIS HUKUM ACARA TERHADAP PELAKSANAAN SIDANG KELILING (STUDY KASUS SIDANG KELILING DI PENGADILAN AGAMA TANJUNG BALAI KARIMUN DI KECAMATAN KUNDUR).

ANALISIS HUKUM ACARA TERHADAP PELAKSANAAN SIDANG KELILING (STUDY KASUS SIDANG KELILING DI PENGADILAN AGAMA TANJUNG BALAI KARIMUN DI KECAMATAN KUNDUR). ANALISIS HUKUM ACARA TERHADAP PELAKSANAAN SIDANG KELILING (STUDY KASUS SIDANG KELILING DI PENGADILAN AGAMA TANJUNG BALAI KARIMUN DI KECAMATAN KUNDUR). SKRIPSI Diajukan Kepada Untuk Melengkapi Sebagian

Lebih terperinci

ADAPTASI WANITA ISLAM TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA SUAMI STUDI KASUS PERKAWINAN AMALGAMASI WANITA ISLAM DAN PRIA HINDU DI BALI

ADAPTASI WANITA ISLAM TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA SUAMI STUDI KASUS PERKAWINAN AMALGAMASI WANITA ISLAM DAN PRIA HINDU DI BALI ADAPTASI WANITA ISLAM TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA SUAMI STUDI KASUS PERKAWINAN AMALGAMASI WANITA ISLAM DAN PRIA HINDU DI BALI Oleh: DESAK PUTU DIAH DHARMAPATNI 1001605003 PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam proses penyebarluasan firman Tuhan, pekabaran Injil selalu berlangsung dalam konteks adat-istiadat dan budaya tertentu, seperti halnya Gereja gereja di

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Dalam Ilmu-Ilmu Syari ah

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Dalam Ilmu-Ilmu Syari ah STUDI ANALISIS PENDAPAT IMAM AL-SYAFI I TENTANG KEWARISAN KAKEK BERSAMA SAUDARA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Dalam Ilmu-Ilmu

Lebih terperinci

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG PENGARUH BAGI HASIL DAN KREDIT MACET TERHADAP PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI BMT NU SEJAHTERA SEMARANG TAHUN 2011-2013 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi SyaratGuna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A. SARDJONO

PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A. SARDJONO PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A. SARDJONO SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Melengkapi Gelar Sasrjana Sastra

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB III TINJAUAN KHUSUS BAB III TINJAUAN KHUSUS 3.1 Tinjauan Tema Berikut ini merupakan tinjauan dari tema yang akan diterapkan dalam desain perencanaan dan perancangan hotel dan konvensi. 3.1.1 Arsitektur Heritage Perencanaan

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PANTI ASUHAN SINAR MELATI 25 AL-QAHHAAR YOGYAKARTA

LAPORAN TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PANTI ASUHAN SINAR MELATI 25 AL-QAHHAAR YOGYAKARTA LAPORAN TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PANTI ASUHAN SINAR MELATI 25 AL-QAHHAAR YOGYAKARTA Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Jurusan Teknik Informatika Disusun Oleh:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki beragam adat dan budaya daerah yang masih terjaga kelestariannya. Bali adalah salah satu provinsi yang kental adat dan budayanya.

Lebih terperinci

STRATEGI BANK BRI SYARIAH DALAM MENANGANI PEMBIAYAAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BERMASALAH (Study Kasus Pada Bank BRI Syariah Cabang Pekanbaru)

STRATEGI BANK BRI SYARIAH DALAM MENANGANI PEMBIAYAAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BERMASALAH (Study Kasus Pada Bank BRI Syariah Cabang Pekanbaru) STRATEGI BANK BRI SYARIAH DALAM MENANGANI PEMBIAYAAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BERMASALAH (Study Kasus Pada Bank BRI Syariah Cabang Pekanbaru) LAPORAN AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI CHARACTER BUILDING DI SEKOLAH (Peran Guru Agama Islam Dalam Membudayakan Akhlak Mahmudah Siswa Di SMP Negeri 1 Jenangan)

IMPLEMENTASI CHARACTER BUILDING DI SEKOLAH (Peran Guru Agama Islam Dalam Membudayakan Akhlak Mahmudah Siswa Di SMP Negeri 1 Jenangan) IMPLEMENTASI CHARACTER BUILDING DI SEKOLAH (Peran Guru Agama Islam Dalam Membudayakan Akhlak Mahmudah Siswa Di SMP Negeri 1 Jenangan) SKRIPSI Diajukan Kepadaa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PEER GROUP DAN KONTROL DIRI DENGAN KEPATUHAN TERHADAP NORMA SOSIAL SKRIPSI OLEH: SRI PUJI ASTUTI

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PEER GROUP DAN KONTROL DIRI DENGAN KEPATUHAN TERHADAP NORMA SOSIAL SKRIPSI OLEH: SRI PUJI ASTUTI HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PEER GROUP DAN KONTROL DIRI DENGAN KEPATUHAN TERHADAP NORMA SOSIAL SKRIPSI OLEH: SRI PUJI ASTUTI 10761000060 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

Lebih terperinci

PENERAPAN SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

PENERAPAN SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB PENERAPAN SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB Disusun oleh : Nama : Oky Prasetya Aji P. NIM : 11.11.4984 Program Studi : Pancasila Jurusan : S1 Teknik Informatika Nama Dosen : Drs. Tahajudin Sudibyo

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG MENYEBABKAN MASYARAKAT MEMILIH PEMBIAYAAN MURABAHAH DI PT. BPR SYARI AH BANGUN DRAJAT WARGA YOGYAKARTA SKRIPSI

FAKTOR FAKTOR YANG MENYEBABKAN MASYARAKAT MEMILIH PEMBIAYAAN MURABAHAH DI PT. BPR SYARI AH BANGUN DRAJAT WARGA YOGYAKARTA SKRIPSI FAKTOR FAKTOR YANG MENYEBABKAN MASYARAKAT MEMILIH PEMBIAYAAN MURABAHAH DI PT. BPR SYARI AH BANGUN DRAJAT WARGA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Syari ah

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Syari ah ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP JAMINAN KECELAKAAN KERJA (Studi Implementatif Pasal 9 UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja di PT Abadi Jaya Manunggal Kendal) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Roh Kudus Penolong dan Penghibur GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150, 65304151

Lebih terperinci

EVALUASI PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI RA AL-HIDAYAH DHARMA WANITA PERSATUAN IAIN WALISONGO SEMARANG TAHUN

EVALUASI PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI RA AL-HIDAYAH DHARMA WANITA PERSATUAN IAIN WALISONGO SEMARANG TAHUN EVALUASI PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI RA AL-HIDAYAH DHARMA WANITA PERSATUAN IAIN WALISONGO SEMARANG TAHUN 2011-2012 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program

Lebih terperinci

SKRIPSI CAMPUR KODE DALAM BAHASA INDONESIA PADA ACARA SAMATRA ARTIS BALI DI MEDIA MASSA BALI TV NI PUTU LILIK YUDIASTARI

SKRIPSI CAMPUR KODE DALAM BAHASA INDONESIA PADA ACARA SAMATRA ARTIS BALI DI MEDIA MASSA BALI TV NI PUTU LILIK YUDIASTARI SKRIPSI CAMPUR KODE DALAM BAHASA INDONESIA PADA ACARA SAMATRA ARTIS BALI DI MEDIA MASSA BALI TV NI PUTU LILIK YUDIASTARI 1101105001 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PERAN BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU NEGATIF SISWA KELAS VIII DI SMP BINA BANGSA SURABAYA

PERAN BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU NEGATIF SISWA KELAS VIII DI SMP BINA BANGSA SURABAYA PERAN BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU NEGATIF SISWA KELAS VIII DI SMP BINA BANGSA SURABAYA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Kependidikan Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atas tanah sebagai upacara peniadaan jenazah secara terhormat.

BAB I PENDAHULUAN. atas tanah sebagai upacara peniadaan jenazah secara terhormat. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kematian adalah akhir dari kehidupan. Dalam kematian manusia ada ritual kematian yang disebut dengan pemakaman. Pemakaman dianggap sebagai akhir dari ritual kematian.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan nenek moyang. Sejak dulu berkesenian sudah menjadi kebiasaan yang membudaya, secara turun temurun

Lebih terperinci

KONSEP KEADILAN MENURUT IBNU KHALDUN DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL MODERN SKRIPSI

KONSEP KEADILAN MENURUT IBNU KHALDUN DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL MODERN SKRIPSI KONSEP KEADILAN MENURUT IBNU KHALDUN DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL MODERN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud) Dalam Ilmu Aqidah

Lebih terperinci

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN FIQIH POKOK MATERI MAKANAN DAN MINUMAN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA KELAS VIIIA MTs ASY-SYARIFIYAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi terhadap semua ciptaan-nya baik dari segi yang terkecil hingga ciptaan-

BAB I PENDAHULUAN. terjadi terhadap semua ciptaan-nya baik dari segi yang terkecil hingga ciptaan- 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latarbelakang Alam semesta jagat raya dengan seisinya bergerak berputar tiada hentinya dengan perputaran yang teratur sesuai dengan hukumnya. Hukum perputaran terjadi terhadap semua

Lebih terperinci

PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB)

PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB) PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB) Diajukan Kepada Fakultas Teologi Sebagai Salah Satu Persyaratan Uji Kelayakan

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AKHLAK YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL-MAIDAH AYAT 8-11

PENDIDIKAN AKHLAK YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL-MAIDAH AYAT 8-11 PENDIDIKAN AKHLAK YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL-MAIDAH AYAT 8-11 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi) Fakultas Agama Islam Universitas

Lebih terperinci

EVALUASI PENGAWASAN KUALITAS PRODUK KAYU LAPIS PADA PERUSAHAAN CANDI AGUNG TEMANGGUNG SKRIPSI

EVALUASI PENGAWASAN KUALITAS PRODUK KAYU LAPIS PADA PERUSAHAAN CANDI AGUNG TEMANGGUNG SKRIPSI EVALUASI PENGAWASAN KUALITAS PRODUK KAYU LAPIS PADA PERUSAHAAN CANDI AGUNG TEMANGGUNG SKRIPSI Ditulis dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Ujian Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Di Jurusan Manajemen,

Lebih terperinci

Assalaamu alaikum Wr. Wb. Selamat Pagi, Salam Sejahtera bagi kita semua.

Assalaamu alaikum Wr. Wb. Selamat Pagi, Salam Sejahtera bagi kita semua. SAMBUTAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL RI PADA UPACARA HARI ULANG TAHUN KE-66 REPUBLIK INDONESIA RABU, 17 AGUSTUS 2011 Assalaamu alaikum Wr. Wb. Selamat Pagi, Salam Sejahtera bagi kita semua. Saudara-saudara

Lebih terperinci

KAWIN MIS-YAR MENURUT HUKUM ISLAM (Kajian Fatwa Kontemporer Yusuf Qardhawi)

KAWIN MIS-YAR MENURUT HUKUM ISLAM (Kajian Fatwa Kontemporer Yusuf Qardhawi) KAWIN MIS-YAR MENURUT HUKUM ISLAM (Kajian Fatwa Kontemporer Yusuf Qardhawi) SKRIPSI Diajukan Oleh: NABILAH BINTI ISMAIL Mahasiswi Fakultas Syariah Jurusan: Ahwal Syahsiyah Nim: 110 807 796 FAKULTAS SYARI

Lebih terperinci

NUMERALIA BAHASA JAWA KUNO OLEH DEWA AYU CARMA MIRADAYANTI NIM

NUMERALIA BAHASA JAWA KUNO OLEH DEWA AYU CARMA MIRADAYANTI NIM NUMERALIA BAHASA JAWA KUNO OLEH DEWA AYU CARMA MIRADAYANTI NIM 0901225006 PROGRAM STUDI SASTRA JAWA KUNO FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS UDAYANA 2013 i Halaman Prasyarat Gelar Sarjana NUMERALIA BAHASA JAWA

Lebih terperinci

BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN BANJARMASIN BARAT KOTA BANJARMASIN

BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN BANJARMASIN BARAT KOTA BANJARMASIN BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN BANJARMASIN BARAT KOTA BANJARMASIN OLEH: MIRAWATI NIM.0901340663 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2015M/1436H i ii BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Perayaan Hari Raya Nyepi tahun Baru Saka 1935, Jakarta, 7 April 2013 Minggu, 07 April 2013

Sambutan Presiden RI pada Perayaan Hari Raya Nyepi tahun Baru Saka 1935, Jakarta, 7 April 2013 Minggu, 07 April 2013 Sambutan Presiden RI pada Perayaan Hari Raya Nyepi tahun Baru Saka 1935, Jakarta, 7 April 2013 Minggu, 07 April 2013 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERAYAAN DHARMA SHANTI NASIONAL HARI RAYA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kehidupan dan kematian merupakan dua hal yang harus dihadapi oleh setiap manusia termasuk orang Toraja, karena ini merupakan hukum kehidupan menurut adat Toraja. Sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR 3 TAHUN 1991 T E N T A N G PARIWISATA BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR 3 TAHUN 1991 T E N T A N G PARIWISATA BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR 3 TAHUN 1991 T E N T A N G PARIWISATA BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI, Menimbang : a. bahwa kepariwisataan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam mempelajari suatu agama, aspek yang pertama dipertimbangkan sekaligus harus dikaji ialah konsep ketuhanannya. Dari konsep ketuhanan, akan diketahui

Lebih terperinci

Mengenai mayat Musa ini iblis sempat berdebat dengan malaikat Tuhan yang bernama Mikhael (Yudas 1 : 9).

Mengenai mayat Musa ini iblis sempat berdebat dengan malaikat Tuhan yang bernama Mikhael (Yudas 1 : 9). Berbahagialah Orang yang Mati dalam Tuhan (Wahyu 14 : 13) Alkitab mencatat Henokh adalah orang yang hidupnya bergaul dengan Tuhan selama ± 365 Tahun (Kejadian 5 : 23-24). Henokh tidak melalui proses kematian

Lebih terperinci

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008 DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008 Oleh: I Gede Oka Surya Negara, SST.,MSn JURUSAN SENI TARI

Lebih terperinci

PENGARUH INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA DAN PERTUMBUHAN PDB TERHADAP UANG BEREDAR DI INDONESIA PERIODE TRIWULAN I 2003 S/D TRIWULAN I 2008.

PENGARUH INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA DAN PERTUMBUHAN PDB TERHADAP UANG BEREDAR DI INDONESIA PERIODE TRIWULAN I 2003 S/D TRIWULAN I 2008. PENGARUH INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA DAN PERTUMBUHAN PDB TERHADAP UANG BEREDAR DI INDONESIA PERIODE TRIWULAN I 2003 S/D TRIWULAN I 2008 Skripsi Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan manusia yang dapat didokumentasikan atau dilestarikan, dipublikasikan dan dikembangkan sebagai salah salah satu upaya

Lebih terperinci

RIA HAYATI NIM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU 1435 H/2014 M

RIA HAYATI NIM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU 1435 H/2014 M PENERAPAN TEKNIK TES OPSI RELATIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 111 Oleh ISTIQOMAH RIA HAYATI NIM. 10918006027 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa, tarian dan adat istiadat yang dimiliki oleh setiap suku bangsa juga sangat beragam. Keanekaragaman

Lebih terperinci

HALAMAN PERSEMBAHAN. Tugas akhir ini Ku persembahkan untuk :

HALAMAN PERSEMBAHAN. Tugas akhir ini Ku persembahkan untuk : HALAMAN PERSEMBAHAN Tugas akhir ini Ku persembahkan untuk : Kedua orang tua Tercinta (Suyudi dan Endang Suwanti) Langkah kaki & ketegaran dalam mendidik dan membimbingku bukanlah hitungan hari, minggu

Lebih terperinci

NILAI-NILAI DAN NORMA BERAKAR DARI BUDAYA BANGSA INDONESIA

NILAI-NILAI DAN NORMA BERAKAR DARI BUDAYA BANGSA INDONESIA NILAI-NILAI DAN NORMA BERAKAR DARI BUDAYA BANGSA INDONESIA Diajukan oleh: Muhammad choirul mustain 11.11.4897 Kelompok D(S1-TI) Dosen: Tahajudin S, Drs Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Akhir Mata Kuliah

Lebih terperinci

PENERIMAAN OPINI AUDIT DENGAN MODIFIKASI GOING CONCERN DAN FAKTOR-FAKTOR PREDIKTORNYA (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA)

PENERIMAAN OPINI AUDIT DENGAN MODIFIKASI GOING CONCERN DAN FAKTOR-FAKTOR PREDIKTORNYA (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA) PENERIMAAN OPINI AUDIT DENGAN MODIFIKASI GOING CONCERN DAN FAKTOR-FAKTOR PREDIKTORNYA (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA) SKRIPSI Oleh : I GUSTI PUTU OKA SURYA UTAMA NIM : 1206305032

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai upacara ritual yang bersifat magis, adat istiadat maupun hiburan.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai upacara ritual yang bersifat magis, adat istiadat maupun hiburan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan salah satu sarana bagi manusia untuk berkreasi dan berkarya. Manusia berkarya melalui cara dan media yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan

Lebih terperinci

UPAYA PELESTARIAN BABUSSALAM SEBAGAI OBJEK WISATA RELIGI DI KABUPATEN LANGKAT

UPAYA PELESTARIAN BABUSSALAM SEBAGAI OBJEK WISATA RELIGI DI KABUPATEN LANGKAT UPAYA PELESTARIAN BABUSSALAM SEBAGAI OBJEK WISATA RELIGI DI KABUPATEN LANGKAT KERTAS KARYA Dikerjakan O L E H ARIF KURNIAGUNG NIM 072204008 FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PROGRAM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Strata 1 dalam Ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam.

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Strata 1 dalam Ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam. IMPLEMENTASI SPP (SIMPAN PINJAM KELOMPOK PEREMPUAN) DALAM PROGRAM PNPM-MP TERHADAP PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT MUSLIM DI DESA TUNGU KECAMATAN GODONG KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

PROBLEM KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PERSELISIHAN HASIL PILKADA. (Studi Pemikiran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD)

PROBLEM KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PERSELISIHAN HASIL PILKADA. (Studi Pemikiran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD) PROBLEM KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PERSELISIHAN HASIL PILKADA (Studi Pemikiran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD) SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nenek moyang yang memiliki nilai-nilai luhur budaya. Bali bukan hanya sebagai

BAB I PENDAHULUAN. nenek moyang yang memiliki nilai-nilai luhur budaya. Bali bukan hanya sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali dikenal sebagai salah satu penyimpanan naskah-naskah kuna warisan nenek moyang yang memiliki nilai-nilai luhur budaya. Bali bukan hanya sebagai penyimpanan naskah-naskah

Lebih terperinci

PELAKSANAAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU

PELAKSANAAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU PELAKSANAAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU Skripsi Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Oleh IVO ULTRAYANA NIM. 10913005293

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu. Hal ini didukung oleh penjelasan Ghazali (2011:63) bahwa dalam

BAB I PENDAHULUAN. hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu. Hal ini didukung oleh penjelasan Ghazali (2011:63) bahwa dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya, seluruh umat beragama memiliki hari suci. Makna hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu memperingati suatu kejadian yang sangat

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN TABUNGAN HARI TUA TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BANK PEMBANGUNAN DAERAH BALI KANTOR CABANG RENON

PENGARUH PERTUMBUHAN TABUNGAN HARI TUA TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BANK PEMBANGUNAN DAERAH BALI KANTOR CABANG RENON PENGARUH PERTUMBUHAN TABUNGAN HARI TUA TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BANK PEMBANGUNAN DAERAH BALI KANTOR CABANG RENON Oleh: NI PUTU ARIE SARI DEWI NIM : 1306013057 PROGRAM STUDI DIPLOMA III AKUNTANSI

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: IDA BAGUS MEINDRA JAYA NIM :

SKRIPSI. Oleh: IDA BAGUS MEINDRA JAYA NIM : PENGARUH KESADARAN WAJIB PAJAK, KUALITAS PELAYANAN, PEMERIKSAAN PAJAK DAN SANKSI PERPAJAKAN PADA KEPATUHAN WAJIB PAJAK MEMBAYAR PAJAK RESTORAN DI DINAS PENDAPATAN KOTA DENPASAR SKRIPSI Oleh: IDA BAGUS

Lebih terperinci

TARI SERAMPANG DUA BELAS WARISAN ASLI BUDAYA MELAYU SEBAGAI SALAH SATU ATRAKSI WISATA DI SUMATERA UTARA

TARI SERAMPANG DUA BELAS WARISAN ASLI BUDAYA MELAYU SEBAGAI SALAH SATU ATRAKSI WISATA DI SUMATERA UTARA TARI SERAMPANG DUA BELAS WARISAN ASLI BUDAYA MELAYU SEBAGAI SALAH SATU ATRAKSI WISATA DI SUMATERA UTARA KERTAS KARYA DIKERJAKAN O L E H WINNY DWI ASTARI SANTOSA NIM : 072204046 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

Skripsi Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam.

Skripsi Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam. STUDI KOMPARASI KEMAMPUAN MENGHAFALKAN DOA SEHARI HARI ANTARA ANAK ANAK DI RA AL HIDAYAH DHARMA WANITA PERSATUAN IAIN WALISONGO DAN ANAK ANAK DI TK AL HIDAYAH IX NGALIYAN SEMARANG Skripsi Diajukan untuk

Lebih terperinci

GPIB Immanuel Depok Minggu, 18 Oktober 2015 TATA IBADAH HARI MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA

GPIB Immanuel Depok Minggu, 18 Oktober 2015 TATA IBADAH HARI MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA PERSIAPAN : TATA IBADAH HARI MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA Doa Pribadi Latihan Lagu-lagu baru Doa para Presbiter di Konsistori (P.1.) UCAPAN SELAMAT DATANG P.2. Selamat pagi/sore dan selamat beribadah

Lebih terperinci

USAHA KOPERASI UNIT DESA DALAM MENINGKATKAN EKONOMI KELOMPOK TANI KELAPA SAWIT DI DESA GUNUNG MALELO KECAMATAN KOTO KAMPAR HULU KABUPATEN KAMPAR

USAHA KOPERASI UNIT DESA DALAM MENINGKATKAN EKONOMI KELOMPOK TANI KELAPA SAWIT DI DESA GUNUNG MALELO KECAMATAN KOTO KAMPAR HULU KABUPATEN KAMPAR USAHA KOPERASI UNIT DESA DALAM MENINGKATKAN EKONOMI KELOMPOK TANI KELAPA SAWIT DI DESA GUNUNG MALELO KECAMATAN KOTO KAMPAR HULU KABUPATEN KAMPAR SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-syarat

Lebih terperinci

PEMBUKAAN MUSABAQAH TILAWATIL QURAN TINGKAT NASIONAL XXII, 17 JUNI 2008, DI SERANG, PROPINSI BANTEN Selasa, 17 Juni 2008

PEMBUKAAN MUSABAQAH TILAWATIL QURAN TINGKAT NASIONAL XXII, 17 JUNI 2008, DI SERANG, PROPINSI BANTEN Selasa, 17 Juni 2008 PEMBUKAAN MUSABAQAH TILAWATIL QURAN TINGKAT NASIONAL XXII, 17 JUNI 2008, DI SERANG, PROPINSI BANTEN Selasa, 17 Juni 2008 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PEMBUKAAN MUSABAQAH TILAWATIL QURAN

Lebih terperinci

PENERAPAN SILA PERTAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

PENERAPAN SILA PERTAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PENERAPAN SILA PERTAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah pendidikan pancasila Dosen: Drs. Tahajudin Sudibyo DISUSUN OLEH: Nama : NIKA NUR ANINDA Nim : 11.11.5142 Kelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia hidup juga berbeda. Kemajemukan suku bangsa yang berjumlah. 300 suku hidup di wilayah Indonesia membawa konsekuensi pada

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia hidup juga berbeda. Kemajemukan suku bangsa yang berjumlah. 300 suku hidup di wilayah Indonesia membawa konsekuensi pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berbhineka, baik suku bangsa, ras, agama, dan budaya. Selain itu, kondisi geografis dimana bangsa Indonesia hidup juga

Lebih terperinci