MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa)"

Transkripsi

1 1 MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Theologi Islam Disusun Oleh: DHAUATUL MAKIYAH PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007

2 2 MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus dalam Masyarakat Hindu Jawa) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ushuludin dan Filsafat Untuk Memenuhi Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam Oleh: DHAUATUL MAKIYAH NIM: Di bawah bimbingan Drs. Roswen Dja far NIP: PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007

3 3 KATA PENGANTAR بسم االله الر حمن الر حيم Alhamdulillah, segala puji dan rasa syukur Penulis panjatkan kehadirat-nya. Tidak ada kekuatan apapun dalam diri ini selain karena kekuatan-nya. Karena anugrah-nyalah, sehingga Penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul: DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii Persetujuan Pembimbing... iv Pengesahan Panitia Ujian...v Pedoman Transliterasi... vi BAB I PENDAHULUAN...1 A. Latar Belakang Masalah...1 B. Perumusan dan Pembatasan Masalah...7 C. Tujuan Penelitian...7 D. Metode Penulisan...8 E. Sistimatika Penulisan...8 BAB II SEKILAS TENTANG MUHAMMAD AJÂJ AL-KHATÎB DAN JA FAR SUBHANI...10 A. Biografi Muhammad Ajâj al-khatîb dan Ja far Subhani Biografi Muhammad Ajâj al-khatîb Biografi Ja far Subhani..11 B. Karya-Karya Muhammad Ajâj al-khatib dan Ja far Subhani...15

4 4 1. Karya Muhammad Ajâj al-khatîb Karya Ja far Subhani Kitab Pokok Ahl al-sunnah dan Syi ah 19 BAB III KONSEP UMUM HADIS, ADIL DAN DABIT MENURUT AHL AL- SUNNAH DAN SYI AH.27 A. Konsep Hadis Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah Definisi dan Konsep Hadis Menurut Ahl al- Sunnah Definisi dan Konsep Hadis Menurut Syi ah...31 B. Konsep Adil Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah Konsep Adil Menurut Ahl al- Sunnah Konsep Adil Menurut Syi ah Beberapa Pengertian Adil dalam Islam...43 C. Pengertian Dabit Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah Konsep Dabit Menurut Ahl al-sunnah Konsep Dabit Menurut Syi ah...48 D. Analisis Perbandingan Konsep Hadis, Adil, dan Dabit Menurut Ahl al-sunnah dan Syi ah...48

5 5 BAB IV KRITERIA ADIL DAN DABIT MENURUT MUHAMMAD AJÂJ AL-KHATÎB DAN JA FAR SUBHANI DALAM KITAB USÛL AL-HADIS DAN USÛL AL-HADIS WA AHKÂMUHU...52 A. Kriteria Adil dan Dabit Menurut Muhammad Ajâj al-khatîb Kriteria Adil Menurut Muhammad Ajâj al-khâtîb Kriteria Dabit Menurut Muhammad Ajâj al-khatîb...55 B. Kriteria Adil dan Dabit Menurut Ja far Subhani Kriteria Adil Menurut Ja far Subhani Dabit Menurut Ja far Subhani...59 C. Perbandingan Adil dan Dabit Menurut Muhammad Ajâj al-khatîb dan Ja far Subhani...61 BAB V KESIMPULAN...65 DAFTAR PUSTAKA...66, Shalawat dan salam semoga Allah SWT selalu curahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan skripsi ini bukan sematamata dari buah tangan sendiri, akan tetapi dari hamba Allah yang senantiasa mendermakan kemampuannya dengan tulus hati dan meluangkan waktu meski hanya meluangkan aspirasi. Oleh karena itu, tidak berlebihan kirannya jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih, khususnya kepada: 1. Bapak Dr. Amin Nurdin, M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayattullah Jakarta, beserta seluruh staf dan jajarannya.

6 6 2. Dra. Ida Rosyidah, M.A., selaku Ketua Jurusan Perbandingan Agama dan H.Maulana, M.A selaku Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama. 3. Drs.Roswen Dja far, selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan besar hati dan sabar bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, konsultasi dan bimbingan skripsi. 4. Para dosen yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, baik secara langsung maupun tidak. 5. Bapak I Ketut Sudana Rimawan selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Banjar yang telah memberikan waktunya kepada penulis untuk di wawancarai dan keterbukaan yang sangat tinggi telah memberikan informasi dan data yang diperlukan dalam menyelesaikan skripsi. 6. Bapak I Made Biasa, selaku dosen Dharma Nusantara Cinere, yang telah meluangkan waktunya untuk wawancara dan memberikan arahan yang berkaitan dengan tema skripsi ini. 7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Ushuluddin dan Filsafat dan Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Rawamangun yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi kepustakaan. 8. Bapak dan Ibunda tercinta, H.M.Rais Anwar dan Ibunda Chalifah, atas pengorbanan dan cinta kasihnya berupa moril maupun meteril, serta doa yang tidak terhingga sepanjang masa untuk keberhasilan studi anakmu. Segala hormat dan bhakti ananda persembahkan kepada keduanya.

7 7 9. Keluarga besar, kakak-kakakku, Ulfa, Sahlia dan Adik-adikku Asriati, Izzatullah, Nurus Syifa yang telah memberikan motivasi dan memberikan kehangatan dalam keluarga. Tak lupa pula kakanda A.Faqihuddin (alm) semoga amal ibadahnya diterima disisi-nya. Amin. 10. Terima kasih yang spesial tuk Abang Nash atas kesetiaan dan ketulusannya yang telah mendampingi penulis baik suka maupun duka. 11. Semua teman-temanku di Jurusan Perbandingan Agama Angkatan 2002 Puji. Mia, Pei, Parida, Endah, Sahal, Topan, Wahyu, Dadan, Tati, Yeyeh dan semuanya. 12. Semua kawan-kawanku Neneng Munawaroh (TH), Andru, Leo (PA), serta alumni 22 Daarul Rahman terima kasih atas motivasi dan bantuannya. 13. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuannya kepada penulis, sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis hanya dapat memohon kepada Allah SWT, semoga berkenan menerima segala kebaikan dan ketulusan mereka serta memberikan sebaik-baiknya balasan atas amal baik mereka. Terakhir, semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat khazanah keilmuan kita. Amin.

8 8 Jakarta, 8 Mai 2007 Penulis

9 9 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iv BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 5 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Metode Penelitian... 5 E. Sistematika Penulisan... 8 BAB II: PURA DAN SANGGAH SEBAGAI TEMPAT PEMUJAAN DALAM AGAMA HINDU A. Pengertian Pura... 9 B. Pengertian Sanggah/Mrajan C. Jenis Palinggih di Sanggah/Mrajan BAB III : MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH A. Makna Filosofis Sanggah Menuju Moksa B. Fungsi Sanggah/Mrajan C. Sanggah/Mrajan Sebagai Media Tranformasi Ajaran Hindu D. Sanggah/Mrajan Sebagai Media Komunikasi Dengan Leluhu E. Analisis Kritis... 51

10 10 BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran-saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

11 11 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuhan menciptakan manusia dengan segala kebutuhannya berupa alam dan isinya. Namun disisi lain terdapat hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan memandang kebenaran Tuhan secara umum dan menyeluruh. Dalam hal ini beberapa keberadaan agama khususnya agama Hindu dan penganutnya dalam pelaksanaan aktivitas keagamaan yang selalu memanfaatkan sarana dan prasarana. Sarana sebagai media komunikasi antara manusia dengan Tuhannya dan sekaligus sebagai simbol harmonisasi dengan sesama dan alam lingkungannya. Salah satu sarana dan prasarana itu adalah tempat suci dan upakara/bebantennya Sarana dan prasarana yang dimaksud ialah tempat suci yaitu tempat yang dibangun secara khusus pula, tempat suci adalah tempat untuk melakukan ibadah agama, tempat untuk sujud dan menyembah. Tempat untuk sujud secara lahir batin, sujud jiwa raga kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Sujud dalam arti patuh, taat dan bakti secara ikhlas. Siap sedia menjunjung serta menjalankan ajaran dan perintah-perintahnya serta menjauhi laranganlarangannya. 1 1 Anak Agung Gde Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu (Jakarta: Hanoman Sakti, 1997)h. 83

12 12 Umat Hindu meyakini bahwa kebahagiaan adalah hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara hubungan dengan sesama makhluk, hubungan dengan Tuhan dan segala wujud kuasa-nya, dan hubungan dengan alam lingkungan. Lebih jauh, ketika dihadapkan dengan tujuan agama Hindu yaitu Jagaddhita untuk mencapai moksa. Moksa adalah lepas bebas dari segala ikatan dunia, moksa dapat dicapai pada waktu manusia masih hidup di dunia atau dapat dicapai setelah mati. 2 Untuk kepentingan umat manusia khususnya umat Hindu dalam menyampaikan ungkapan terima kasih dan rasa syukur dibuatlah tempat suci atau Pura sebagai tempat pemujaan, Pura dibangun sebagai sarana untuk lebih menggiring rasa kedekatan diri pada Tuhan. Jika dalam lingkungan masyarakat, tempat suci berupa kahyangan jagat atau Pura-pura pada umumnya, maka dalam rumah tangga/keluarga ada tempat suci yang disebut Sanggah/Mrajan. Sanggah/Mrajan sebagai media komunikasi antara anggota keluarga sebagai percakapan terhadap leluhur (nenek moyang) yang berjasa telah membina keturunannya. Umat Hindu harus memiliki Sanggah/Mrajan dan mampu menggali potensi-potensi yang terkandung dalam makna Sanggah/Mrajan, disamping itu juga memahami dan meyakini bahwa aspek-aspek yang ada dalam sebuah Sanggah/Mrajan. Sanggah/Mrajan merupakan tempat suci untuk memuja Tuhan dan manifestasinya serta leluhur yang telah suci; terletak di areal hulu rumah tangga. 3 2 Mukti Ali, Agama-agama di Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kali Jaga, 1998)h Gde Soeka, Tri Murthi Tatwa, (Denpasar: Kayu Mas, 1993)

13 13 Sanggah/Mrajan juga merupakan tempat pemujaan keluarga sebagai nafas bagi kehidupan keluarga Hindu dalam keseharian, tetapi juga merupakan sumber kehidupan, karena Sanggah/Mrajan merupakan pendukung segala aktivitas umat Hindu. Kata Sanggah ditafsirkan sebagai bahasa Bali kapara atau bahasa lumrah dari tempat pemujaan keluarga, dimana bahasa Bali halus atau dalam bahasa Singgih yaitu Mrajan, 4 sedang Mrajan berasal dari kata Mrty yang artinya mau atau mati, sedang jan artinya lahir, 5 sementara ada yang berpendapat bahwa Sanggah adalah perubahan ucapan dari kata Sanggar yang artinya tempat pemujaan. Kata Sanggah juga berasal dari bahasa sansekerta, yaitu Samga yang artinya persekutuan atau perhimpunan. Selain kata Sanggah ada pula Canggah yang dapat diberikan arti sebagai sumber, oleh karena itu Sanggah adalah sebagai simbol sumber. 6 Sebagai tempat pemujaan keluarga, Sanggah/Mrajan memiliki nilai filosofis yang tinggi yang sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap perjalanan kehidupan manusia Hindu. Oleh karena itu pemahaman tentang Sanggah/Mrajan merupakan suatu keharusan; disamping itu Sanggah/Mrajan merupakan sumber kemakmuran dan kesejahteraan yang merupakan tujuan dari agama Hindu yaitu Moksa. Sanggah/Mrajan merupakan tempat suci bagi keluarga Hindu yang seharusnya mampu berperan sejak dini, karena Sanggah/Mrajan adalah tempat 4 I Ketut Wiana, Palinggih di Pamerajan, (Denpasar: Upada Sastra 1992)h P.J, Zoetmulder, Kamus Jawa Kuno-Indonesia, (Jakarta:2002)h I.B. Putu Sudarsana, Ajaran Agama Hindu/ Uparenga, (Denpasar: 2001)h. 8

14 14 suci untuk praktek beragama yang pertama kali dikenal oleh setiap anggota keluarga sejak lahir. Keberadaan Sanggah/Mrajan sangat berarti bagi umat Hindu yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga. 7 Sanggah/Mrajan bukan hanya untuk bersembahyang tetapi juga merupakan tempat dilaksanakannya berbagai ritual untuk anggota keluarga sejak usia dini. Dengan bertambahnya usia, maka Sanggah/Mrajan biasa dimanfaatkan untuk menjadi media sosialisasi ajaran Hindu untuk seluruh keluarga dari berbagai usia. Selama ini umat Hindu telah berupaya menempatkan Sanggah/Mrajan sebagai tempat suci keluarga, tetapi ketidaktahuan dan ketidakpahaman tentang makna filosofis serta peran tempat suci ini, telah menyebabkan keberadaan Sanggah/Mrajan ini kadang-kadang tidak banyak memberikan arti bagi anggota keluarga terlibat dalam kegiatan di Sanggah/Mrajan. Dengan demikian Sanggah/Mrajan dimengerti sebagai tempat pemujaan leluhur, dan umat Hindu pada umumnya selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik, namun ketidakpahaman telah menyebabkan mereka tidak mengelola Sanggah/Mrajan ini dengan tepat. Untuk dapat memahami secara mendalam maka penulis mengangkatnya dalam skripsi ini dengan topik MAKNA DAN FUNGSI SANGGAH DALAM AGAMA HINDU (Studi Kasus Masyarakat Hindu Jawa) 7 G, Pudja, Pengantar Ilmu Weda, (Jakarta: Mayasari,1998)h. 65

15 15 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka dalam skripsi ini permasalahan yang akan dibahas, yaitu fungsi dan manfaat Sanggah/Mrajan. Permasalahan dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut; Apa makna dan fungsi Sanggah/Mrajan dalam agama Hindu?. C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah untuk mengangkat nilai-nilai religius yang terkandung dalam Sanggah/Mrajan sebagai tempat suci keluarga, sehingga umat hindu memahami bentuk konkrit hubungan manusia dengan Tuhannya. Serta untuk mengetahui fungsi dan peranan Sanggah/Mrajan dalam sosialisasinya sebagai media dalam keluarga Hindu. Penulis berharap melalui tulisan ini, setidaknya penulis memberikan sumbangsih bagi khazanah keilmuan. Selain itu, tulisan ini semoga diharapkan dapat meningkatkan toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama. Tujuan penulisan skripsi ini juga sebagai kontribusi kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan memenuhi tugas akhir perkuliahan untuk meraih gelar kesarjanaan Strata Satu (S1) di jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. D. Metode Penelitian dan Tehnik Penulisan Adapun metode yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) penulisan ini dilakukan dengan membaca literatur-leteratur yang

16 16 ada hubungannya dengan penulisan skripsi ini, yaitu berupa buku-buku, diktat, dan majalah-majalah. Dan juga penulis menggunakan metode lapangan yaitu wawancara langsung kepada nara sumber yang bersangkutan untuk menambah data-data yang terdapat pada nara sumber. Metode yang penulis pergunakan dalam membahas skripsi ini adalah pendekatan fenomenologis. Fenomenologi agama adalah pendekatan sistematis dan komperatif yang mencoba menggambarkan kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam bermacam-macam fenomena raligius. Unsur yang sama ini adalah makna inti yang terdapat di dalamnya. Makna inti ini yang penulis coba gambarkan kemudian menggolongkan fenomena-fenomena religius itu menurut esensialnya dan selanjutnya membuat penilaian-penilaian komperatif dengan menghormati keabsolutan dalam gambaran-gambaran yang dibuat oleh orangorang yang mengimaninya. Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang secara harfiah berarti gejala atau apa yang menampakan diri sehingga nyata bagi kita. Metode fenomenologi dirintis oleh Edmund Husserl ( ) dengan semboyan: Zuruck zu Den Sachen Selbst (kembali kepada hal-hal itu sendiri). 8 Maksudnya, kalau kita ingin memahami sebuah fenomena jangan hanya puas mempelajari pendapat orang tentang hal itu atau memahaminya berdasarkan teori-teori, tetapi kembalikan kepada subyek yang melakukannya secara langsung. 8 Dister Ofm, Nico Syukur, Pengalaman dan Motivasi Beragama, (Yogyakarta: Kanisius,1993)h. 25

17 17 Dalam memahami sesuatu, fenomenologi menghendaki keahlian (dasariah) bukan kesemuan dan kepalsuan. Untuk menemukan makna (kebenaran dasariah) fenomenologi menyarankan dua langkah atau reduction (penjabaran). Pertama, fenomen diselidiki hanya sejauh disadari secara langsung dan spontan sebagai berlainan dengan kesadaran diri. Kedua, fenomen diselidiki hanya sejauh merupakan bagian dari dunia yang dihayati sebagai keseluruhan (live world), tanpa dijadikan obyek ilmu yang terbatas. 9 Dalam bekerja, fenomenologi merupakan metodologi ilmiah dalam meneliti fakta religius yang bersifat subjektif seperti pikiran-pikiran, ide-ide, emosi, mkasud-maksud dan sebagainya dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar (perkataan dan perbuatan). Perlu diingat bahwa dalam fersfektif fenomenologi, masalah objektivitas berarti membiarkan fakta-fakta bicara untuk dirinya sendiri. Untuk mengungkap fakta yang bersifat subjektif menjadi fenomena objektif, Dhavamony menyarankan dua hal epoche 10 dan eiditik, 11 atau emik menurut Pike. 9 Dister Ofm, Nico Syukur, Pengalaman dan Motivasi Beragama,h Epoche adalah penilaian yang dikonsepkan sebelumnya harus ditunda sebelum fenomena itu bicara untuk dirinya. Seorang fenomenolog harus mempertanyakan hakikat yang sebenarnya, tanpa harus terlibat untuk merumuskan baik-buruknya. 11 Eiditik adalah pemahaman makna religius yang diperoleh hanya lewat pemahaman ungkapan-ungkapan. Ungkapan-ungkapan ini meliputi kata-kata dan tanda-tanda, apapun jenisnya. Hanya melalui ekspresilah kita menangkap pikiran-pikiran religius orang lain, dan dengan memikirkan serta mengalaminya kembali, dengan empati atau wawasan imajinatif, kita memasuki pikiran mereka. Pemahaman yang empati berarti memperlihatkan pemahaman terhadap tingka orang lainyang meliputi pengalaman, pikiran, emosi, ide-ide orang lain berdasarkan pengalaman dan tingkah lakunya sendiri. Itulah sebabnya penelitian fenomenologi sangat mengandalkan metode partisipatif agar peneliti dapat memahami tindakan religius dari dalam. Lihat Dhavamony, Mariasusai, Fenomenologi Agama, (Yoyakarta: Kanisius, 1995),h

18 18 Untuk teknik penulisan skripsi ini, penulis berpedoman pada pengetahuanpengetahuan yaitu Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang ditetapkan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, E. Sistematika Penulisan Penulisan skripsi terbagi menjadi beberapa bab dan sub bab dengan rincian sebagai berikut. BAB I :Merupakan pendahuluan, pembahasan dan gambaran umum skripsi. Dalam bab ini dibahas hal tentang latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan tehnik penulisan, serta sistematika penulisan. BAB II : Sebelum membicarakan tentang makna dan fungsi Sanggah/Mrajan, pengertian Pura, yang merupakan bagian tempat pemujaan umat Hindu. Selanjutnya pengertian Sanggah/Mrajan dan jenis palinggih di Sanggah/Mrajan. BAB III : Merupakan bab inti, dimana penulis akan menguraikan makna dan fungsi Sanggah/Mrajan. Pembahasannya meliputi tentang makna filosofis Sanggah/Mrajan dalam menuju moksa, dan fungsi Sanggah/Mrajan sebagai media transformasi ajaran Hindu dan media komunikasi dengan leluhur dan diakhiri dengan analisis kritis. BAB IV : Berisi penutup dan diakhiri dengan rangkuman yang dapat terlihat dari uraian kesimpulan dan saran-saran. Kemudian tak lupa juga diakhiri

19 19 penulisan dicantumkan daftar pustaka yang digunakan sebagai rujukan dan beserta lampiran-lampiran.

20 20 BAB II PURA DAN SANGGAH/MRAJAN SEBAGAI TEMPAT PEMUJAAN DALAM AGAMA HINDU A. Pengertian Pura Tempat suci adalah tempat pemujaan berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur, disamping itu juga pemujaan terhadap kekuatan alam yang maha besar yang telah dikenal sebelum kebudayaan India datang di Indonesia. 1 Tempat umat Hindu bersembahyang dalam istilah bahasa Sansekerta antara lain Mandira, Darmashala, Devalaya, Devagriha, Devabhavana, Sivalaya, Samgha, dan Devawisma. Apabila di Indonesia dikenal dengan nama Pura, Pura sebagai tempat bersembahyang adalah suci karenanya ia juga disebut tempat pemujaan. 2 Tempat suci bagi umat Hindu dari sekian banyak istilah salah satunya adalah Pura, sebenarnya istilah Pura berasal dari kata Pur, yang artinya kota, benteng, atau kota yang berbenteng. Pura berarti suatu tempat yang khusus dipakai untuk dunia kesucian yang dikelilingi dengan tembok. Hampir semua 1 I Made Titib, Veda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan, (Surabaya: Paramita,1996)h Nyoman S, Pendit, Hindu dalam Tafsir Modern, (Denpasar: Dharma Naradha,1995)h.114

21 21 Pura (tempat suci) dikelilingi atau dibentengi dengan tembok atau pagar untuk memisahkan dengan dunia sekitarnya yang dianggap tidak suci. 3 Dalam istilah Pura ialah tempat suci umat Hindu, tempat melaksanakan persembahyangan, tempat ibadah. Pura disebut pula dengan istilah kahyangan, tempat memuja Hyang (Sang Hyang Widhi). Kata Pura sendiri juga memiliki arti benteng. Jelasnya, kata Pura dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata Pur yang berarti kubu, tembok, benteng, kekuatan, daerah atau kota. Dalam bahasa Jawa- Kuno kata ini memiliki arti yang kurang lebih sama. Dalam bahasa Bali, serta dalam bahasa Indonesia, arti kata Pura mengkhususkan sebagai tempat sembahyang umat Hindu. Pura dibangun sebagai sarana untuk lebih menggiring rasa kedekatan diri pada Tuhan, untuk memudahkan konsentrasi pikiran karena di Pura itu simbolsimbol sinar kekuasaan Tuhan akan tersirat. Itu sebabnya Pura dibangun ditempat yang indah, atau dibuat indah agar hati ini pun indah. 4 Istilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya barasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura yang berasal dari Sansekerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa. Sebelum digunakan kata Pura disebut tempat suci/tempat pemujaan 3 Anak Agung Gde Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, (Jakarta: Hanoman Sakti,1997)h Putu Stia, Kebangkitan Hindu Menyongsong Abad 20, (Jakarta: 1993)h. 42

22 22 dipergunakanlah kata Kahyangan atau Hyang. Dalam keterangan lebih lanjut kata Pura disamping kata Kahyangan Parahyangan dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa (dengan segala manifestasinya) dan Bhatara atau Dewa Pitara yaitu suci leluhur. 5 Secara umum, berdasarkan fungsinya sebagai tempat suci untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa dan Bhatara, dapat dikelompokkan menjadi: 1. Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasi-nya (dewata). 2. Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhatara yaitu roh suci leluhur. Sekelompok Pura yang telah disebutkan di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula Pura yang berfungsi ganda, yaitu selain untuk memuja Sang Hyang Widhi dan para dewa, juga untuk memuja bhatara atau leluhur. Hal ini dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tersebut telah mencapai tingkatan Siddhadewata (telah memasuki alam dewata) dan disebut bhatara (raja atau yang dipertuankan/pelindung). 6 Selain yang telah disebutkan diatas berdasarkan ciri-ciri khas tertentu, Pura juga dapat dikelompokkan sebagai berikut: 5 I Made Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, (Jakarta: Paramita,2001)h Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, h. 95

23 23 1. Pura Umum Disebut dengan Pura umum, artinya adalah suatu Pura yang didukung dan disungsung oleh umat Hindu yang ada di seluruh Indonesia pada khususnya dan seluruh umat Hindu pada umumnya. Di Indonesia Pura yang paling besar yang tergolong Kahyangan Jagat ini adalah Pura Besakih. Disamping Pura Besakih, tempat suci yang juga tergolong Kahyangan Jagat, sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar di Bali adalah Pura Batur Pura Teritorial Pura ini mempunyai ciri kesatuan (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat satu desa adat pada dasarnya memiliki tiga buah Pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu Pura Desa (Balai Agung ialah tempat pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-nya), Pura Puseh (tempat pemuja Hyang Widhi dalam manifestasi-nya sebagai Visnu yaitu pemelihara) dan Pura Dalem (tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-nya sebagai Ciwa yang berfungsi sebagai pemralina atau pelebur) 8 yang merupakan tempat pemujaan bersama. 7 Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, h.89 8 Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu,h. 88

24 24 3. Pura Fungsional Yang dimaksud Pura Fungsional disini adalah dimana pemuja, pendukung atau penyungsung dari Pura atau tempat suci tersebut menpunyai suatu kepentingan yang sama dalam hal tertentu. 9 Pura ini mempunyai profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti: bertani, dan berdagang. Kekaryaan karena bertani, dalam mengelola tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Alas Angker, Alas Harum dan lain sebagainya. Berdagang mempunyai ikatan pemujaan dalam wujud Pura Melanting didirikan di areal pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut. 4. Pura Kawitan Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan leluhur berdasarkan garis kalahiran (geneologis). Pura ini sering pula disebut Pura Pedharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari Pura milik warga atau Pura Klen. Dengan demikian, maka Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa 9 Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu,h. 90

25 25 kaluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan dari nenek moyang yang sama. 10 Oleh karena itu Pura-pura yang telah disebutkan diatas ada juga terletak di lingkungan rumah tangga; yaitu disebut juga Pura Keluarga. Yang dipuja (disembah) didalam Pura keluarga ini adalah Hyang widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta segala manifestasi-nya termasuk Dewa dan Pitara yang dianggap telah suci. Palinggih-palinggih pokok yang ada di Pura keluarga ini, antara lain adalah Kamulan, yaitu Palinggih yang beruang tiga merupakan tempat pemujaan Tri Murti dan Dewa Pitara. 11 Pura disebut juga Kahyangan adalah replika atau bentuk tiruan dari Kahyangan tempat/sthana sejati Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi-nya. 12 Pada umumnya struktur atau denah Pura dibagi atas tiga bagian, yaitu Jaba pura (halaman luar), Jaba tengah (halaman tengah ) dan jeroan (halaman dalam). Disamping itu ada juga Pura yang terdiri dari dua halaman yaitu Jaba pura (halaman Luar) dan jeroan (halaman dalam), dan pembagian Pura atas tiga bagian halaman itu adalah lambang dari triloka, yaitu: Bbhurloka (bumi), Bhuvaloka (langit) dan Svahloka (Sorga). Pembagian Pura atas dua halaman/tingkat melambangkan alam atas (urdhah) dan alam bawah (adhah). Pembagian halaman Pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian adalah horizontal, sedangkan pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah 10 Titib, Telogi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu,h Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu,h Titib, Teologi dan simbol-simbol dalam Agama Hindu,h.111

26 26 pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan prakerti (unsur materi alam semesta), sedangkan alam pembagian yang vertikal adalah simbolis purusa (unsur kejiwaan/ spiritual alam semesta). Hal inilah yang menyebabkan orang dapat merasakan getaran spiritual dalam sebuah Pura. 13 Dari pemahaman ini dapat dipahami bahwa kesakralan sebuah Pura ditentukan oleh adanya pertemuan antara prakerti dengan purusa. Artinya, sebuah Pura dikatakan suci apabila energi langit (akasa) bertemu dengan energi bumi (prativi). Getaran spiritual akan dirasakan oleh seseoarang dengan khusyuk menghaturkan bhakti di tempat pemujaan atau bahkan hanya duduk merenung di tempat-tempat yang sakral. 14 Dijeroan (halaman dalam), halaman yang paling disucikan berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-nya. Diantara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan dengan kori agung, sebelum sampai ke halaman dalam (jereoan) melalui kori agung terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar, ke halaman tengah. Candi bentar adalah simbol pecahnya gunung Kailasa tempat bersemedinya Dewa Siva. 15 Di sebelah kiri kanan pintu masuk candi bentar ini biasanya terdapat arca Dvarapala (penjaga pintu) atau pengapit lawang, bewujud raksasa yang berfungsi sebagai pengawal Pura terdepan. Kori agung ini senantiasa tertutup baru dibuka bila ada upacara di Pura. Umat penyungsungan Pura tidak menggunakan jalan kecil yang di sebut bebetelan, terletak disebelah kiri atau kanan kori agung itu Titib, Teologi dan simbol-simbol dalam Agama Hindu,h Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, h Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu,h. 102

27 27 Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala raksasa, Pura atau candi di India disebut Kirttimukha, Pada ambang pintu masuk candi di Jawa Tengah disebut Kala, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali disebut Bhoma. Menurut cerita orang Hindu, penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kirttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam Pura, dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Orang-orang berhati suci yang masuk kedalam Pura akan memperoleh rahmat-nya. 17 B. Pengertian Sanggah/Mrajan Pura penyungsungan khusus yang berukuran kecil terdapat pada tiap-tiap keluarga yang disebut Sanggah/Mrajan. Sanggah/Mrajan tempat untuk melakukan pemujaan. Pamrajan berasal dari kata Praja yang berarti masyarakat, turunan, keluarga. Pengantar pa dan akhiran an mengacu pada tempat. Jadi Sanggah Pamrajan/Mrajan adalah tempat pemujaan keluarga atau turunan. Sanggah Pamrajan adalah suatu istilah, yang dilihat dari kontek arti sesungguhnya tidak boleh dipisahkan. Namun sebutan tersebut di masyarakat sedikit dikacaukan. Pengertian Sanggah dan Pamrajan dipisahkan, masing-masing diacu pada keluarga menurut wangsa (turunan). Sanggah dikhususkan untuk jaba/halaman, sedangkan Pamrajan untuk keluarga turunanan wangsa Ksatrya dan Brahmana. Sesuai dengan arti kata, Sanggah Pamrajan/Mrajan ini dimiliki oleh setiap kelurga atau seturunan. Berdasarkan hasil kajian kata Sanggah juga berasal dari kata 17 Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu,h. 103

28 28 canggah yang dapat diartikan sebagai Sumber. 18 Kata Sanggah juga ditafsirkan sebagai bahasa Bali Kapara atau bahasa lumrah dari tempat pemujaan keluarga, di mana bahasa Bali halus atau dalam bahasa Singgih nya adalah Mrajan. 19 Sementara ada yang berpendapat bahwa Sanggah adalah perubahan ucapan dari kata Sanggar yang artinya tempat pemujaan. Dalam lontar Siwagama lembar 328, ada disebutkan tingkatan-tingkatan tempat pemujaan keluarga sebagai berikut:..bhagawan Manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang Caduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wawang setengah bhaga rwang puluhing Caduluk, sanggar pratiwi mangunen ika, mwang kamulan panunggalannya sowang. Artinya:..Bhagawan manohari pengikut Siva, beliau disuruh oleh sri Gondarapati untuk membangun Sad Kahyangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban semua orang. Lain kewajiban sekelompok orang untuk 40 keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun Sanggah Ibu. Kecilnya 10 keluarga pratiwi harus dibangun, dan kamulan satu-atunya tempat pemujaan (yang harus dibangun) pada masing-masing pekarangan Sanggah Pamrajan/Mrajan (juga jenis kelompok bangunan suci), untuk ikatan jiwa dalam satu famili agar hidup rukun gotong-royong, tenggangmenenggang, seia-sekata dalam menghadapi suka duka gelombang hidup dalam masyarakat, dengan mengisi bangunan-bangunan kecil didalamnya yang disebut 18 I.B. Putu Sudarsana, Ajaran Agama Hindu, (Uparenga), (Denpasar: 2001)h I Ketut Wiana, Palinggih di Pamerajan, (Denpasar: Upada Sastra 1992)H. 20

PENGARUH PEMBELAJARAN BTQ (BACA TULIS Al-QUR AN) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X

PENGARUH PEMBELAJARAN BTQ (BACA TULIS Al-QUR AN) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X PENGARUH PEMBELAJARAN BTQ (BACA TULIS Al-QUR AN) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X (STUDI KASUS DI SMA NEGERI 1 TAMAN SIDOARJO) SKRIPSI Diajukan sebagai persyaratan memperoleh

Lebih terperinci

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN FIQIH POKOK MATERI MAKANAN DAN MINUMAN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA KELAS VIIIA MTs ASY-SYARIFIYAH

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG PENGARUH BAGI HASIL DAN KREDIT MACET TERHADAP PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI BMT NU SEJAHTERA SEMARANG TAHUN 2011-2013 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi SyaratGuna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN TINGKAH LAKU ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG WONOKROMO SURABAYA

PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN TINGKAH LAKU ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG WONOKROMO SURABAYA PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN TINGKAH LAKU ANAK JALANAN DI SANGGAR ALANG-ALANG WONOKROMO SURABAYA SKRIPSI OLEH : SUTRISNO NIM : DO3304065 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL FAKULTAS TARBIYAH

Lebih terperinci

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL TINGKEPAN DI DUSUN GINTUNGAN DESA BUTUH KEC. TENGARAN KAB. SEMARANG TAHUN 2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh : MUNAFIAH

Lebih terperinci

PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A. SARDJONO

PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A. SARDJONO PANDANGAN TIGA TOKOH UTAMA WANITA TENTANG EMANSIPASI DALAM NOVEL TIGA ORANG PEREMPUAN KARYA MARIA A. SARDJONO SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Melengkapi Gelar Sasrjana Sastra

Lebih terperinci

PENERAPAN BA I BITSAMAN AJIL PADA PRAKTEK JUAL BELI PAKAIAN JADI SECARA KREDIT DI KECAMATAN RUPAT KABUPATEN BENGKALIS DITINJAU DARI EKONOMI ISLAM

PENERAPAN BA I BITSAMAN AJIL PADA PRAKTEK JUAL BELI PAKAIAN JADI SECARA KREDIT DI KECAMATAN RUPAT KABUPATEN BENGKALIS DITINJAU DARI EKONOMI ISLAM PENERAPAN BA I BITSAMAN AJIL PADA PRAKTEK JUAL BELI PAKAIAN JADI SECARA KREDIT DI KECAMATAN RUPAT KABUPATEN BENGKALIS DITINJAU DARI EKONOMI ISLAM SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR PAI PADA ASPEK KOGNITIF ANTARA SISWA YANG IKUT ROHIS DENGAN SISWA YANG TIDAK IKUT ROHIS di SMA NEGERI 3 SEMARANG KELAS XI TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan untuk

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK PROYEK NORMALISASI KALI PUTIH DI DESA JUMOYO KABUPATEN MAGELANG SKRIPSI

PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK PROYEK NORMALISASI KALI PUTIH DI DESA JUMOYO KABUPATEN MAGELANG SKRIPSI 1 PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH UNTUK PROYEK NORMALISASI KALI PUTIH DI DESA JUMOYO KABUPATEN MAGELANG SKRIPSI Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna Memperoleh gelar sarjana pada Fakultas

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DILIHAT DIMENSI KUALITAS JASA DI PUSKEMAS TERAS BOYOLALI

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DILIHAT DIMENSI KUALITAS JASA DI PUSKEMAS TERAS BOYOLALI ANALISIS KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DILIHAT DIMENSI KUALITAS JASA DI PUSKEMAS TERAS BOYOLALI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PENERAPAN HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI MUSEUM SANG NILA UTAMA SKRIPSI

PENERAPAN HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI MUSEUM SANG NILA UTAMA SKRIPSI PENERAPAN HUMAN RELATIONS DALAM MENINGKATKAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI MUSEUM SANG NILA UTAMA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Pada Fakultas Dakwah

Lebih terperinci

MAKNA UPACARA RITUAL SESAJI BAGI MASYARAKAT SEKITAR GUNUNG KELUD THE MEANING OF RITUAL SESAJI OFFERING CEREMONY FOR THE PEOPLE AROUND MOUNT KELUD

MAKNA UPACARA RITUAL SESAJI BAGI MASYARAKAT SEKITAR GUNUNG KELUD THE MEANING OF RITUAL SESAJI OFFERING CEREMONY FOR THE PEOPLE AROUND MOUNT KELUD MAKNA UPACARA RITUAL SESAJI BAGI MASYARAKAT SEKITAR GUNUNG KELUD THE MEANING OF RITUAL SESAJI OFFERING CEREMONY FOR THE PEOPLE AROUND MOUNT KELUD SKRIPSI oleh: ARIS WICAKSONO 070910302095 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU SKRIPSI

IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU SKRIPSI IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU SKRIPSI Oleh Muh. Arif Candra Jaya NIM 070210302105 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

RELEVANSI KONSEP RUJUK ANTARA KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PANDANGAN IMAM EMPAT MADZHAB SKRIPSI. Oleh : MUNAWWAR KHALIL NIM : 06210009

RELEVANSI KONSEP RUJUK ANTARA KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PANDANGAN IMAM EMPAT MADZHAB SKRIPSI. Oleh : MUNAWWAR KHALIL NIM : 06210009 RELEVANSI KONSEP RUJUK ANTARA KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PANDANGAN IMAM EMPAT MADZHAB SKRIPSI Oleh : MUNAWWAR KHALIL NIM : 06210009 JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYYAH FAKULTAS SYARI AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk. Oleh: AH A 310060149

SKRIPSI. Diajukan untuk. Oleh: AH A 310060149 ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI GURU BAHASA INDONESIA DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 7 BANYUDONO BOYOLALI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan

Lebih terperinci

Pertobatan Sejati Suatu Syarat

Pertobatan Sejati Suatu Syarat Pertobatan Sejati Suatu Syarat Agama Menjamin Kebahagiaan Keluarga. Agama keluarga adalah satu kuasa yang ajaib. Tingkah laku suami terhadap istri dan istri terhadap suami akan membuat kehidupan rumah

Lebih terperinci

TRANSPARANSI MANAJEMEN KEUANGAN MADRASAH (Deskripsi di MTs Salafiyah Mrisi Tanggungharjo Grobogan Tahun Pembelajaran 2010/2011)

TRANSPARANSI MANAJEMEN KEUANGAN MADRASAH (Deskripsi di MTs Salafiyah Mrisi Tanggungharjo Grobogan Tahun Pembelajaran 2010/2011) TRANSPARANSI MANAJEMEN KEUANGAN MADRASAH (Deskripsi di MTs Salafiyah Mrisi Tanggungharjo Grobogan Tahun Pembelajaran 2010/2011) SKRIPSI Disusun Guna Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

PERAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM DALAM REHABILITASI SOSIAL KEAGAMAAN PADA LANJUT USIA TERLANTAR DI UNIT REHABILITASI SOSIAL MANDIRI SEMARANG II

PERAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM DALAM REHABILITASI SOSIAL KEAGAMAAN PADA LANJUT USIA TERLANTAR DI UNIT REHABILITASI SOSIAL MANDIRI SEMARANG II PERAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM DALAM REHABILITASI SOSIAL KEAGAMAAN PADA LANJUT USIA TERLANTAR DI UNIT REHABILITASI SOSIAL MANDIRI SEMARANG II SKRIPSI untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN EJAAN PADA SURAT DINAS DI BALAI DESA BUTUH KRAJAN, KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG

ANALISIS KESALAHAN EJAAN PADA SURAT DINAS DI BALAI DESA BUTUH KRAJAN, KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG ANALISIS KESALAHAN EJAAN PADA SURAT DINAS DI BALAI DESA BUTUH KRAJAN, KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan

Lebih terperinci

SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK ANGKAT MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA TENGAH

SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK ANGKAT MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA TENGAH SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK ANGKAT MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA TENGAH THE LEGAL STUDY ON THE ADOPTED CHILDREN STATUTES IN ADATLAW OF INHERITANCE OF CENTRAL JAVA Oleh: AISIYAH AYU SETYOWATI

Lebih terperinci

EKSISTENSI DESA ADAT DAN KELEMBAGAAN LOKAL: KASUS BALI

EKSISTENSI DESA ADAT DAN KELEMBAGAAN LOKAL: KASUS BALI EKSISTENSI DESA ADAT DAN KELEMBAGAAN LOKAL: KASUS BALI Oleh : Agus Purbathin Hadi Yayasan Agribisnis/Pusat Pengembangan Masyarakat Agrikarya (PPMA) Kelembagaan Desa di Bali Bentuk Desa di Bali terutama

Lebih terperinci

MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC

MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC. KEDATON TAHUN PELAJARAN 2012/2013 (SKRIPSI) HARYATI 1013068068

Lebih terperinci

MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD Hj. ISRIATI BAITURRAHMAN 1 SEMARANG SKRIPSI

MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD Hj. ISRIATI BAITURRAHMAN 1 SEMARANG SKRIPSI MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD Hj. ISRIATI BAITURRAHMAN 1 SEMARANG SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Dalam Prodi Kependidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

PEMISAHAN HAK GUNA BANGUNAN INDUK KE HAK GUNA BANGUNAN PERSEORANGAN DALAM JUAL BELI PERUMAHAN DI KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI

PEMISAHAN HAK GUNA BANGUNAN INDUK KE HAK GUNA BANGUNAN PERSEORANGAN DALAM JUAL BELI PERUMAHAN DI KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI PEMISAHAN HAK GUNA BANGUNAN INDUK KE HAK GUNA BANGUNAN PERSEORANGAN DALAM JUAL BELI PERUMAHAN DI KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI Disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana Pada Fakultas

Lebih terperinci

POLA KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP ANAK PENDERITA AUTISME

POLA KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP ANAK PENDERITA AUTISME POLA KOMUNIKASI ORANG TUA TERHADAP ANAK PENDERITA AUTISME (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Antarpribadi Orangtua Terhadap Anak Penderita Autisme di SDLBN Bangunharjo, Pulisen, Boyolali) SKRIPSI

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA OPERASI HITUNG PERKALIAN DENGAN METODE BERMAIN KARTU PADA SISWA KELAS III MI DADAPAYAM II KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Tarbiyah Program Studi

Lebih terperinci

ANALISIS PENYIMPANGAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM ACARA SENTILAN SENTILUN DI METRO TV

ANALISIS PENYIMPANGAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM ACARA SENTILAN SENTILUN DI METRO TV ANALISIS PENYIMPANGAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM ACARA SENTILAN SENTILUN DI METRO TV SKRIPSI Oleh Windy Estiningrum NIM 070110201079 JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Oleh: GALUH TRI DAMAYANTI F. 100 030 007 FAKULTAS

Lebih terperinci

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DI KELAS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI IPS SMA MTA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Oleh: TRI MASRIFAH NIM: 083911010

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Oleh: TRI MASRIFAH NIM: 083911010 PENGARUH KONSEP DIRI DAN MINAT TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS IV DAN V SD NEGERI SELOMARTO II KECAMATAN GIRIWOYO, KABUPATEN WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP. landasan untuk masuk dalam bagian pembahasan yang disajikan dalam Bab IV.

BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP. landasan untuk masuk dalam bagian pembahasan yang disajikan dalam Bab IV. BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP 4.1. PENDAHULUAN Bertolak dari uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian yang terdapat dalam Bab I, yang dilanjutkan dengan pembahasan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN REDAKSI DALAM PENENTUAN HEADLINE HALAMAN UTAMA PADA SURAT KABAR PEKANBARU POS

ANALISIS KEBIJAKAN REDAKSI DALAM PENENTUAN HEADLINE HALAMAN UTAMA PADA SURAT KABAR PEKANBARU POS 1764/KOM-D/SD-S1/2014 ANALISIS KEBIJAKAN REDAKSI DALAM PENENTUAN HEADLINE HALAMAN UTAMA PADA SURAT KABAR PEKANBARU POS SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi

Lebih terperinci

MAKNA PERAYAAN LIMBE DALAM MASYARAKAT DENGKA DULU DAN SEKARANG

MAKNA PERAYAAN LIMBE DALAM MASYARAKAT DENGKA DULU DAN SEKARANG MAKNA PERAYAAN LIMBE DALAM MASYARAKAT DENGKA DULU DAN SEKARANG [Sebuah Penjelajahan Sosio-Antropologi Terhadap Perayaan Limbe di Nusak Dengka, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur] TESIS Diajukan kepada Program

Lebih terperinci

ANALISIS TEKSTUAL PENYAJIAN ANDUNG DALAM KEMATIAN PADA MASYARAKAT TOBA DESA SIGUMPAR KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

ANALISIS TEKSTUAL PENYAJIAN ANDUNG DALAM KEMATIAN PADA MASYARAKAT TOBA DESA SIGUMPAR KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN ANALISIS TEKSTUAL PENYAJIAN ANDUNG DALAM KEMATIAN PADA MASYARAKAT TOBA DESA SIGUMPAR KECAMATAN LINTONG NIHUTA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN Skripsi Sarjana Dikerjakan O l e h MEDINA HUTASOIT NIM : 080707012

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN PATI JAGUNG DAN UBI KAYU HASIL MODIFIKASI DENGAN ENZIM PULLULANASE TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR (Rattus novergicus)

PENGARUH PEMBERIAN PATI JAGUNG DAN UBI KAYU HASIL MODIFIKASI DENGAN ENZIM PULLULANASE TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR (Rattus novergicus) PENGARUH PEMBERIAN PATI JAGUNG DAN UBI KAYU HASIL MODIFIKASI DENGAN ENZIM PULLULANASE TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR (Rattus novergicus) SKRIPSI Oleh: AHMAD NASRURRIDLO NIM. 06520018 JURUSAN

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GALLERY WALK

UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GALLERY WALK UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GALLERY WALK DENGAN BANTUAN ALAT PERAGA PADA MATERI POKOK SEGI EMPAT KELAS VII A MTs MU`ALLIMIN MU`ALLIMAT

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi PENGARUH PROMOSI DAN CITRA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI TERHADAP MINAT MASUK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI PADA MAHASISWA FKIP AKUNTANSI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA ANGKATAN 2012 SKRIPSI

Lebih terperinci

PENGARUH RASA SYUKUR DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP STRES PADA LANJUT USIA SKRIPSI OLEH : NANING SAFITRI

PENGARUH RASA SYUKUR DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP STRES PADA LANJUT USIA SKRIPSI OLEH : NANING SAFITRI PENGARUH RASA SYUKUR DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP STRES PADA LANJUT USIA SKRIPSI OLEH : NANING SAFITRI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU 2014 PENGARUH RASA

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Sinta Ambar Husada NIM. 100210204169

SKRIPSI. Oleh: Sinta Ambar Husada NIM. 100210204169 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV-A SDN PATRANG 01 JEMBER PADA MATA PELAJARAN IPA POKOK BAHASAN GAYA MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR AND SHARE (TPS) SKRIPSI

Lebih terperinci

Surakarta) SKRIPSI. Diajukan Untuk

Surakarta) SKRIPSI. Diajukan Untuk ANALISIS PENGARUH DESAIN, KUALITAS PRODUK DAN HARGA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN HANDPHONE SAMSUNG (Studi Pada Mahasiswa FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025 PENINGKATAN MINAT BACA ANAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DI KELOMPOK B4 TAMAN KANAK-KANAK (TK) AL-AMIEN KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh :

Lebih terperinci

FAJAR NOVA EFENDI B 100 020 445

FAJAR NOVA EFENDI B 100 020 445 ANALISIS PENGARUH DIMENSI KUALITAS TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN DI BIDANG JASA TELEKOMUNIKASI SELULER (Studi Kasus Konsumen Pengguna Simcard Indosat IM3 di Kotamadya Surakarta) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN SIMPAN PINJAM TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA KOPERASI NUSANTARA

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN SIMPAN PINJAM TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA KOPERASI NUSANTARA 1 PENGARUH KUALITAS PELAYANAN SIMPAN PINJAM TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA KOPERASI NUSANTARA SKRIPSI Program Studi Manajemen Nama : KAMJA NIM : 03103-114 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

Lebih terperinci

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan

Lebih terperinci

BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN

BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN Bagian Satu 11 Kompendium Katekismus Gereja Katolik *************************************************************** BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN 12 Kompendium 14 Kompendium Lukisan ini menggambarkan tindakan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR PADA BADAN KEPEGAWAIAN KABUPATEN JEMBER LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA

PELAKSANAAN PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR PADA BADAN KEPEGAWAIAN KABUPATEN JEMBER LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA PELAKSANAAN PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR PADA BADAN KEPEGAWAIAN KABUPATEN JEMBER LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA Oleh Firdatul Isfironi NIM 090803103001 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEKRETARIATAN

Lebih terperinci

PENGGUNAAN CAMPUR KODE DALAM WACANA SKRIPSI

PENGGUNAAN CAMPUR KODE DALAM WACANA SKRIPSI PENGGUNAAN CAMPUR KODE DALAM WACANA KOLOM OLAHRAGA KORAN KOMPAS EDISI MEI 2012 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR MUHAMMADIYAH

ANGGARAN DASAR MUHAMMADIYAH KEPUTUSAN MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-45 TENTANG ANGGARAN DASAR MUHAMMADIYAH ANGGARAN DASAR MUHAMMADIYAH MUQADDIMAH Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang. Segala puji bagi Allah yang mengasuh

Lebih terperinci

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta)

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta) UPAYA MENINGKATKAN MINAT DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN QUESTION STUDENT HAVE PADA POKOKK BAHASAN LINGKARAN (PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta)

Lebih terperinci

Jiwa yang sukses adalah jiwa yang selalu siap menghadapi semua hal yang akan menghadangnya di dalam belantara kehidupannya.

Jiwa yang sukses adalah jiwa yang selalu siap menghadapi semua hal yang akan menghadangnya di dalam belantara kehidupannya. Yang Penting Punya Nyali (Berani Bersama Allah) Sanksi Pelanggaran Pasal 72: Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan

Lebih terperinci

UPAYA PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN PENERIMAAN RETRIBUSI PARKIR GUNA MENUNJANG PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA PEKANBARU SKRIPSI

UPAYA PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN PENERIMAAN RETRIBUSI PARKIR GUNA MENUNJANG PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA PEKANBARU SKRIPSI UPAYA PEMERINTAH DAERAH DALAM PENINGKATAN PENERIMAAN RETRIBUSI PARKIR GUNA MENUNJANG PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA PEKANBARU SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mengikuti Ujian Oral Comprehensive

Lebih terperinci

Derajat Strata 1 pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik. Disusun Oleh : Neva Anggraini

Derajat Strata 1 pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik. Disusun Oleh : Neva Anggraini TUGAS AKHIR PERANCANGAN ULANG STRUKTUR PORTAL GEDUNG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan untuk Memperoleh Derajat Strata

Lebih terperinci

yang berhubungan dengan aturan agama Islam. Hal yang wajib dilakukan secara tertib adalah melaksanakan shalat. Shalat merupakan tiang agama Islam

yang berhubungan dengan aturan agama Islam. Hal yang wajib dilakukan secara tertib adalah melaksanakan shalat. Shalat merupakan tiang agama Islam 1 NYAI AHMAD DAHLAN Bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya keluarga besar Muhammadiyah dan Aisiyah di manapun berada, selayaknyalah menyambut gembira Surat Keputusan Republik Indonesia, Jenderal Soeharto

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR MEKANISME PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 BADAN PADA CV.ANEKA NIAGA MEDAN O L E H

LAPORAN TUGAS AKHIR MEKANISME PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 BADAN PADA CV.ANEKA NIAGA MEDAN O L E H LAPORAN TUGAS AKHIR MEKANISME PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 BADAN PADA CV.ANEKA NIAGA MEDAN O L E H NAMA : HAFIZA ULFANI NIM : 102600119 Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BELUM MEMILIKI HAK PILIH DALAM KEGIATAN KAMPANYE

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BELUM MEMILIKI HAK PILIH DALAM KEGIATAN KAMPANYE PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BELUM MEMILIKI HAK PILIH DALAM KEGIATAN KAMPANYE Disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

STUDI KASUS MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR RENDAH DENGAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA KELAS X1 IPA 3 SMA I MEJOBO KUDUS TAHUN PELAJARAN

STUDI KASUS MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR RENDAH DENGAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA KELAS X1 IPA 3 SMA I MEJOBO KUDUS TAHUN PELAJARAN STUDI KASUS MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR RENDAH DENGAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA KELAS X1 IPA 3 SMA I MEJOBO KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Disusun Oleh : Nining Nurhayatun 2008-31-028

Lebih terperinci

D:~~:::E~:::mtr~::u:i;;il;t~~i!!~~r;::~::n~~:r

D:~~:::E~:::mtr~::u:i;;il;t~~i!!~~r;::~::n~~:r SISTEM AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI MAT PENGENDALIAN BIAYA STUDI KASUS PADA PT. TEXMACO JAYA PEMAlANG.... "::::::;:;:;:'; S:::.. ::::;:::::::::;:::::;:::::::::::::;:::::;:::;::::::::::::::::::::::;:::::::\;::;::

Lebih terperinci

KAJIAN YURIDIS TENTANG RUMAH SUSUN DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN

KAJIAN YURIDIS TENTANG RUMAH SUSUN DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN KAJIAN YURIDIS TENTANG RUMAH SUSUN DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN JURIDICAL STUDY OF CONDOMINIUM IN INDONESIA BASED ON CONDOMINIUM ACT NUMBER 20 OF 2011

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN MAHASISWA SEMESTER DAN UPAYA SOLUSINYA (TINJAUAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM)

BAB IV ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN MAHASISWA SEMESTER DAN UPAYA SOLUSINYA (TINJAUAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM) 46 BAB IV ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN MAHASISWA SEMESTER DAN UPAYA SOLUSINYA (TINJAUAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM) 4.1. Faktor Penyebab Kecemasan Mahasiswa Semester Akhir Fakultas Dakwah IAIN

Lebih terperinci

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK GANTI RUGI DALAM JUAL BELI TEBASAN

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK GANTI RUGI DALAM JUAL BELI TEBASAN ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK GANTI RUGI DALAM JUAL BELI TEBASAN (Studi Kasus Ganti Rugi Pada Jual Beli Padi Tebasan di Desa Brangsong Kec. Brangsong Kab. Kendal) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Hari Sabat. Hari Perhentian yang Kudus HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Hari Sabat. Hari Perhentian yang Kudus HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Hari Sabat Hari Perhentian yang Kudus GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150,

Lebih terperinci

PERBANDINGAN BIAYA PERCEPATAN ANTARA KERJA LEMBUR DENGAN PENAMBAHAN TENAGA KERJA ( Studi Kasus Proyek Pembangunan Irigasi Di Jaban Klaten )

PERBANDINGAN BIAYA PERCEPATAN ANTARA KERJA LEMBUR DENGAN PENAMBAHAN TENAGA KERJA ( Studi Kasus Proyek Pembangunan Irigasi Di Jaban Klaten ) TUGAS AKHIR PERBANDINGAN BIAYA PERCEPATAN ANTARA KERJA LEMBUR DENGAN PENAMBAHAN TENAGA KERJA ( Studi Kasus Proyek Pembangunan Irigasi Di Jaban Klaten ) Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Lebih terperinci

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI KABUPATEN KUDUS

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI KABUPATEN KUDUS SKRIPSI PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI KABUPATEN KUDUS Diajukan untuk memenuhi dan melengkapi tugas Dalam menyelesaikan Jenjang Strata I (S1) Ilmu Hukum dengan kekhususan

Lebih terperinci

Dalam-pelajaran ini saudara akan mempelajari...

Dalam-pelajaran ini saudara akan mempelajari... Yohanes 17 Dalam-pelajaran ini saudara akan mempelajari... Yesus Berdoa untuk murid-muridnya Semua Orang yang Engkau Berikan Kepadaku Peliharalah.Mereka Supaya Mereka Menjadi Satu Berada Bersama-sama dengan

Lebih terperinci

Saudara-saudara yang saya hormati dan banggakan,

Saudara-saudara yang saya hormati dan banggakan, SAMBUTAN KEPALA KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PADA ACARA SYUKURAN HAB KE 67 TAHUN 2013 SEKALIGUS LEPAS SAMBUTAN KEPELA KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN TAPIN SELASA, 18 DESEMBER

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH PADA BNI SYARIAH SKRIPSI

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH PADA BNI SYARIAH SKRIPSI ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH PADA BNI SYARIAH SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 Dalam Ilmu

Lebih terperinci

UPAYA PEMBINAAN REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PANTI SOSIAL BINA REMAJA (PSBR) MARDI KARYA UTAMA JOMBANG SKRIPSI

UPAYA PEMBINAAN REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PANTI SOSIAL BINA REMAJA (PSBR) MARDI KARYA UTAMA JOMBANG SKRIPSI UPAYA PEMBINAAN REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PANTI SOSIAL BINA REMAJA (PSBR) MARDI KARYA UTAMA JOMBANG SKRIPSI Diajukan guna melengkapi tugasakhir dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan Program Studi

Lebih terperinci

PENGARUH DIMENSI KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PT. NUANSA WISATA PRIMA NUSANTARA TOURS & TRAVEL DI KOTA JEMBER

PENGARUH DIMENSI KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PT. NUANSA WISATA PRIMA NUSANTARA TOURS & TRAVEL DI KOTA JEMBER ib unej ib unej ib unej ib unej ib unej PENGARUH DIMENSI KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PT. NUANSA WISATA PRIMA NUSANTARA TOURS & TRAVEL DI KOTA JEMBER SKRIPSI oleh : Erina Angga Kusuma NIM.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang mimpi dalam al- Qur an dan as-sunnah Studi Komparasi atas Pemikiran Ibnu Sirin dengan

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang mimpi dalam al- Qur an dan as-sunnah Studi Komparasi atas Pemikiran Ibnu Sirin dengan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang mimpi dalam al- Qur an dan as-sunnah Studi Komparasi atas Pemikiran Ibnu Sirin dengan Ibnu Hajar al-asqalani, maka dapat disimpulkan

Lebih terperinci

PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. informasi/data yang ingin kita teliti. Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. informasi/data yang ingin kita teliti. Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka yang Relevan Kepustakaan yang relevan atau sering juga disebut tinjauan pustaka ialah salah satu cara untuk mendapatkan referensi yang lebih tepat dan sempurna

Lebih terperinci

PERANAN POLRI DALAM MENANGGULANGI UNJUK RASA YANG DILAKUKAN SECARA ANARKIS (Studi di Poltabes Yogyakarta) SKRIPSI

PERANAN POLRI DALAM MENANGGULANGI UNJUK RASA YANG DILAKUKAN SECARA ANARKIS (Studi di Poltabes Yogyakarta) SKRIPSI PERANAN POLRI DALAM MENANGGULANGI UNJUK RASA YANG DILAKUKAN SECARA ANARKIS (Studi di Poltabes Yogyakarta) SKRIPSI Disusun untuk memenuhi salahsatu syarat guna memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Hukum

Lebih terperinci

REFLEKSI SOSIAL BUDAYA BALI DALAM NOVEL ILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA SKRIPSI

REFLEKSI SOSIAL BUDAYA BALI DALAM NOVEL ILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA SKRIPSI REFLEKSI SOSIAL BUDAYA BALI DALAM NOVEL ILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA SKRIPSI Oleh: Rina Yuastri NIM 090210402039 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Lebih terperinci

ASAL MULA NAMA PANTARAN

ASAL MULA NAMA PANTARAN ASAL MULA NAMA PANTARAN Suatu daearah di kaki Lereng Gunung Merbabu sebelah timur tanahnya berbukit-bukit serta hawanya dingin. Tanahnya yang gembur sehingga subur tanaman yang ada terbentang luas menyelimuti

Lebih terperinci

POLA PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN DESA TENGANAN BALI

POLA PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN DESA TENGANAN BALI Jurnal Sabua Vol.1, No.1: 1-7, Mei 2009 ISSN 2085-7020 HASIL PENELITIAN POLA PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN DESA TENGANAN BALI Veronica A. Kumurur 1 & Setia Damayanti 2 1 Staf Pengajar Jurusan Arsitektur, Fakultas

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan

Lebih terperinci

[ ] E٣٢٧ J٣١٩ W F : : Al- HAYA' (Sifat PEMALU) "al Haya' ( Rasa malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan." Sesungguhnya di antara fenomena keseimbangan dan tanda-tanda kesempurnaan dalam tarbiyah bahwa

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA

LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA PROSES ADMINISTRASI PENGGAJIAN PADA KANTOR BIDANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM WILAYAH III JEMBER LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A. Md)

Lebih terperinci

Hari Raya Natal tahun 2014 bagi narapidana dan anak pidana yang

Hari Raya Natal tahun 2014 bagi narapidana dan anak pidana yang MENTERI IIUKUM DAN HAKASASI MANUSIA REPTIBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI HUKUM DAN HAM RI PADA ACARA PEMBERIAN REMISI KHUSUS KEPADA NARAPIDANA DAN ANAK PIDANA PADA PERINGATAN HARI RAYA NATAL TANGGAL 25

Lebih terperinci

TAHUN B - Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf 28 Desember 2015

TAHUN B - Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf 28 Desember 2015 TAHN B - Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf 28 Desember 2015 LTRG SABDA Bacaan pertama (Kej. 15 :1-6; 21:1-3) Anak kandungmulah yang akan menjadi ahli warismu. Bacaan diambil dari Kitab Kejadian:

Lebih terperinci

STRATEGI REKRUTMEN CALON JAMA AH HAJI DI KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH) AROFAH KALIWUNGU-KENDAL TAHUN 2013-2014

STRATEGI REKRUTMEN CALON JAMA AH HAJI DI KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH) AROFAH KALIWUNGU-KENDAL TAHUN 2013-2014 STRATEGI REKRUTMEN CALON JAMA AH HAJI DI KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH) AROFAH KALIWUNGU-KENDAL TAHUN 2013-2014 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sajana Sosial Islam (S.Sos.I)

Lebih terperinci

Kebaikan Palsu (riya )

Kebaikan Palsu (riya ) Kiat-kiat melawan sifat riya Penderita penyakit parah ini (riya) biasanya tidak sadar bahwa ia tertekan karenanya, sehingga membuat segala perbuatan baiknya tidak bearti. Godaan iblis dan egonya sedemikian

Lebih terperinci

PERAN PEMERINTAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN NUSUKAN KECAMATAN BANJARSARI, SURAKARTA SKRIPSI. Guna mencapai derajat Sarjana S-1

PERAN PEMERINTAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN NUSUKAN KECAMATAN BANJARSARI, SURAKARTA SKRIPSI. Guna mencapai derajat Sarjana S-1 PERAN PEMERINTAH DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN NUSUKAN KECAMATAN BANJARSARI, SURAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK SABUN MUKA PADA PRIA SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK SABUN MUKA PADA PRIA SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK SABUN MUKA PADA PRIA SKRIPSI Oleh : Muhammad Arief Budiman NIM : 109070000067 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : ADUKA 10927005468

SKRIPSI OLEH : ADUKA 10927005468 PROBLEMATIKA PROSES PENYUSUNAN TAPAL BATAS WILAYAH ANTARA KEPENGHULUAN SUNGAI MANASIB DAN KEPENGHULUAN BANGKO KANAN BERDASARKAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 27 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN DAN

Lebih terperinci

SKRIPSI. persyaratan. Disusun oleh: IRINA A 410 090 195

SKRIPSI. persyaratan. Disusun oleh: IRINA A 410 090 195 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI LINGKARAN MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING (PTK Pembelajaran Matematikaa Kelas VIIII F Semester Genap SMP

Lebih terperinci

MAKALAH HAKIKAT DAN MAKNA SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI BAGIMANUSIA. Di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dan.

MAKALAH HAKIKAT DAN MAKNA SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI BAGIMANUSIA. Di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dan. MAKALAH HAKIKAT DAN MAKNA SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI BAGIMANUSIA Di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar Oleh : Ivan Wahyuman ( ) SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana S.1 Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Guru Kelas MI.

SKRIPSI. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana S.1 Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Guru Kelas MI. MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEAKTIFAN PESERTA DIDIK PADA MATERI PECAHAN SEDERHANA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) DI KELAS IV MI BANGUNREJO PATEBON KENDAL TAHUN

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Oleh:

S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Oleh: EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN INQUIRY DAN DISCOVERY BERBANTUAN ALAT PERAGA JARING- JARING BALOK DAN KUBUS TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS IV MI AL KHOIRIYYAH 2 SEMARANG SEMESTER GENAP TAHUN

Lebih terperinci

PERWATAKAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL GARUDA PUTIH KARYA SUPARTO BRATA SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA

PERWATAKAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL GARUDA PUTIH KARYA SUPARTO BRATA SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA PERWATAKAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL GARUDA PUTIH KARYA SUPARTO BRATA SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

Asal Usul Alam Semesta

Asal Usul Alam Semesta Kontroversi Islam dan Sains? Asal Usul Alam Semesta Pernahkah Anda merenung tentang asal usul alam semesta, bagaimanakah alam semesta dapat terbentuk. Pertanyaan tersebut yang mendorong ilmuwan di setiap

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE HALAQAH DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN DI PESANTREN (Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang) SKRIPSI

PENERAPAN METODE HALAQAH DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN DI PESANTREN (Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang) SKRIPSI PENERAPAN METODE HALAQAH DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN DI PESANTREN (Studi Kasus di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang) SKRIPSI Oleh: Abdul Choliq 07110155 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN

Lebih terperinci

PERANAN MUSTAFA KEMAL ATATURK DALAM MODERNISASI TURKI TAHUN 1923-1938

PERANAN MUSTAFA KEMAL ATATURK DALAM MODERNISASI TURKI TAHUN 1923-1938 PERANAN MUSTAFA KEMAL ATATURK DALAM MODERNISASI TURKI TAHUN 1923-1938 SKRIPSI Oleh : KAMILAH NIM. 0602103023222 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

KEPRIBADIAN DAN ETIKA PROFESI

KEPRIBADIAN DAN ETIKA PROFESI Daftar Isi ~ ii ~ Kepribadian dan Etika Profesi Daftar Isi ~ iii KEPRIBADIAN DAN ETIKA PROFESI Oleh : Rismawaty Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2008 Hak Cipta 2008 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Lebih terperinci