DEPARTEMEN SOSIOLOGI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DEPARTEMEN SOSIOLOGI"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PERSEPSI MASYARAKAT ACEH TERHADAP PEMBENTUKAN PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH (Studi Deskriptif: Pada Mayarakat Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun NAD) SKRIPSI DIAJUKAN OLEH YULIANTI Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

2 ABSTRAK Desa Lingka Kuta merupakan sebuah desa yang terletak di kawasan pesisir pantai dengan jarak 2 Km dari ibu kota kecamatan Gandapura dan berada dalam wilayah kemukiman Gandapura Timur, Kabupaten Bireun, NAD. Masyarakat di Desa Lingka Kuta merupakan bagian dari masyarakat Aceh yang ikut menghadapi setiap permasalahan sosial-politik yang terjadi di Aceh seperti adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tersebut terhadap adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh. Dimana persepsi masyarakat tersebut dapat terlihat melalui sikap politiknya seperti partisipasi masyarakat tersebut pada pilkada tahun 2007 di Aceh. Penelitian ini dilakukan pada 98 orang responden sebagai sampel penelitian atau 25 % dari 390 orang populasi penelitian. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, dilakukan melalui observasi, kuesioner, wawancara, dokumentasi serta menelaah buku, mengakses internet dan bentuk tulisan lainnya yang berkaitan dengan hal yang diteliti. Data-data dan informasi yang telah diperoleh dari lapangan diinterpretasikan melalui teknik analisa data. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar masyarakat di lokasi penelitian mempunyai persepsi yang baik terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh, hal ini diketahui dengan 90,8 % responden setuju terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh. Masyarakat di lokasi penelitian juga menerima dan mendukung adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh.

3 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... vi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Defenisi Konsep BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Persepsi Partai Politik BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis penelitian Lokasi Penelitian Populasi dan Teknik Penarikan Sampel Teknik Pengumpulan Data... 32

4 3.5. Teknik Analisa Data Jadwal Penelitian KeterbatasanPenelitian BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN 4.1. Deskripsi Lokasi, Sarana dan Prasarana Deskripsi Desa Lingka Kuta Kondisi Iklim dan Letak Giografis Batas-Batas Wilayah Komposisi Penduduk Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa Sarana dan Prasarana Sarana Peribadatan Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan Sarana Ekonomi Sarana Olah Raga Struktur Pemerintahan Desa Lingka Kuta... 52

5 4.2. Hasil Penelitian dan Interpretasi Data Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan Usia Berdasarkan Pendidikan Berdasarkan Agama Berdasarkan Pekerjaan Berdasarkan Status Perkawinan Persepsi Masyarakat Terhadap Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Pemahaman Responden tentang Partai Politik Pengetahuan Responden tentang Partai Politik Pengetahuan Rerponden tentang Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Pengetahuan Responden tentang Pendiri Partai Politik Lokal di Aceh Pengetahuan Responden tentang Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Pengetahuan Responden tentang Tujuan Pemben-

6 tukan Partai Politik Lokal di Aceh Pendapat Responden tentang Manfaat Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Komentar Responden tentang Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Persetujuan Responden terhadap Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Pendapat Responden tentang Kesesuaian Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pendapatan Responden Garis Keturunan Responden Kedudukan Responden di dalam Mayarakat Pengalaman Responden dalam Berpartisipasi dalam Sebuah Partai Politik Pengalaman Responden dalam Menjabat Sebagai Kader Partai Politik Tertentu Sikap Politik Masyarakat Tanggapan Responden terhadap Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh... 82

7 Sikap Responden terhadap Pembentukan Partai Politik Lokal di Aceh Partisipasi Responden dalam Sebuah Kampanye Menjelang Pilkada Partisipasi Responden dalam Pilkada 2007 di Aceh Harapan Masyarakat Aceh Terhadap Adanya Pembentukan Partai Politik Lokal BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

8 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehadiran partai politik lokal di Aceh merupakan suatu bukti perkembangan demokrasi di Indonesia. Dengan hadirnya partai politik lokal merupakan tambahan sarana untuk penyampaian aspirasi politik masyarakat dimana masyarakat merasakan bahwa partai politik nasional yang ada tidak dapat menyampaikan aspirasi politik mereka seutuhnya. Khususnya di Aceh, kehadiran partai politik lokal memberikan harapan hidupnya demokratisasi di Aceh. Saat ini masyarakat Aceh lebih leluasa dalam menunjukkan sikap politiknya melalui partai politik lokal yang terbentuk di Aceh. Masyarakat di lokasi penelitian sangat berantusias terhadap adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh. Pemberitaan tentang partai politik lokal begitu hangat dibicarakan dikalangan masyarakat di lokasi penelitian. Pada saat observasi pralapangan, peneliti melihat pada saat ada surat kabar yang memberitakan tentang partai politik lokal maka masyarakat di lokasi penelitian berebut untuk membaca surat kabar tersebut. Berita tentang partai politik lokal pun menjadi topik utama bahan perbincangan di kalangan masyarakat di lokasi penelitian. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam penyebab antusiasme masyarakat tersebut.

9 Masyarakat yang mempunyai antusiasme terhadap kehadiran partai politik lokal di Aceh tentu mempunyai suatu persepsi tertentu. Hal ini terlihat melalui hasil pemilihan gubernur/wakil gubernur dan pemilihan bupati/wakil bupati pada pilkada tahun 2007 di Aceh, dimana pada saat pilkada 2007 di Aceh terdapat satu pasangan calon kepala daerah yang diusung oleh salah satu partai politik lokal memperoleh suara terbanyak dibandingkan dengan calon-calon kepala daerah yang diusung oleh partai politik nasional dan independen, sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel Hasil perhitungan suara pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur NAD di Desa Lingka Kuta No Nama pasangan calon Parpol pendukung Perolehan suara gubernur/wakil gubernur 1 Ir. H. Iskandar Hoesin, MH/Drs. M. Golongan Karya - Saleh Manaf 2 Letjen TNI (Purn) H. Tamlicha Independen 17 Ali/Drs. Tgk. Harmen Nuriqmar 3 Drs. H. A. Malek Raden, MM/H. Golongan Karya 16 Sayed Fuad Zakaria, SE 4 DR. Ir. H. A. Human Hamid, Independen 38 MA/Drs. H. Hasbi Abdullah M.si 5 H. M. Djali Yusuf/Drs. H. RA. Independen 2 Syauqas Rahmatillah, MA 6 drg. Irwandi Yusuf, Parlok (Partai 264 M.sc/Muhammad Nazar, S.Ag Aceh) 7 Ir. H. Azwar Abubakar, MM/M. PAN 23 NasirDjamil, S.Ag 8 Drs. H. GhazaliAbbas Adan/H. PPP 38 Salahuddin Alfata Jumlah 398 Sumber: Data kantor Desa Lingka Kuta tahun 2007

10 Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa masyarakat di Desa Lingka Kuta sebagai bagian dari masyarakat Aceh memberikan suara terbanyak kepada pasangan drg. Irwandi Yusuf, M.sc dan Muhammad Nazar, S. Ag sebagai calon gubernur dan wakil gubernur saat itu. Pasangan tersebut merupakan calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung oleh partai politik lokal yaitu Partai Aceh. Pada saat pilkada tersebut hanya terdapat satu pasangan calon gubernur/wakil gubernur yang diusung oleh partai politik lokal yaitu Partai Aceh. Demikian juga pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bireun, dimana satu pasangan calon bupati dan wakil bupati yang diusung oleh partai politik lokal memperoleh suara terbanyak dalam pilkada tersebut, sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel Hasil perhitungan suara pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireun di Desa Lingka Kuta No Nama pasangan calon bupati/wakil Parpol pendukung Perolehan suara bupati 1 H. Subarni A. Gani/Ir. H. Razuardi, Independen 144 MT 2 Drs. Atqia Abubakar/Fakhrurrazi Independen 2 Yusuf, SE 3 Drs. H. Hamdani Raden/H. A. DPD 20 Ridwan M. Dallah, SE 4 Drs. Nurdin Abdul Parlok (Partai 189 Rahman/Drs.Busmadar Ismail Aceh) 5 Drs. H. Mustafa A. Glanggang/Tgk. PPP 68 M. Nur Budiman 6 Drs. H. Azwar Idris/H. Syahrizal H. PPP 9 Saifuddin Jumlah 432 Sumber: Data kantor Desa Lingka Kuta tahun 2007

11 Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa masyarakat Desa Lingka Kuta sebagai bagian dari masyarakat Aceh memberikan suara terbanyak kepada pasangan Drs. Nurdin Abdul Rahman dan Drs. Busmadar Ismail sebagai calon bupati dan wakil bupati pada saat itu. Pasangan tersebut merupakan calon bupati dan wakil bupati yang diusung oleh partai politik lokal yaitu Partai Aceh. Sedangkan beberapa pasangan calon bupati/wakil bupati lainnya adalah berasal dari partai politik nasional dan independen. Melihat antusiasme masyarakat Aceh terhadap partai politik lokal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui penyebab antusiasme masyarakat tersebut. Masyarakat Aceh yang memiliki antusiasme terhadap partai politik lokal tentu mempunyai persepsi tertentu terhadap partai politik lokal tersebut. Bermula dari persepsi tersebut akan melahirkan suatu bentuk tindakan tertentu. Demikian juga dengan masyarakat Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, yang merupakan bagian dari masyarakat Aceh. Dimana masyarakat Desa Lingka Kuta juga mempunyai persepsi tertentu terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh. Persepsi masyarakat Desa Lingka Kuta juga akan mempengaruhi partisipasi masyarakat yang ditunjukkan melalui tindakan politiknya.

12 1.2. Perumusan Masalah Lincoln dan Guba mendefinisikan masalah sebagai suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda-tanda dan dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sebuah jawaban (Lexy J Maleong, 2006:93). Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap masalah tersebut. Yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana persepsi masyarakat Aceh khususnya masyarakat di Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh? Tujuan Penelitian Mengacu pada pernyataan M Iqbal Hasan (2002:44) bahwa tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya suatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Dengan demikian, pada dasarnya tujuan penelitian memberikan informasi mengenai apa yang akan diperoleh setelah selesai penelitian. Berdasarkan adanya keinginan penulis untuk memperoleh informasi guna menjawab pertanyaan pada perumusan masalah penelitian ini, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui persepsi masyarakat Aceh khususnya masyarakat Desa Lingka Kuta,

13 Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian yang diharapkan melalui penelitian ini adalah: Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini menjadi kajian yang akurat dan memberi sumbangan pemikiran baik dikalangan akademis maupun bagi pemerintah serta pihak terkait lainnya dalam mengambil kebijakan khususnya kebijakan-kebijakan politik di Kabupaten Bireun, NAD Manfaat Praktis. 1. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu sosial. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rangsangan bagi yang berminat pada penelitian sejenis Bagi Penulis Melalui penelitian ini diharapkan dapat meninggkatkan pengetahuan dan menambah wawasan peneliti mengenai masalah yang terkait dan merupakan wadah

14 dalam pembentukan pola pikir ilmiah serta rasional dalam menghadapi persoalan sosial dalam masyarakat Defenisi Konsep Konsep merupakan suatu gagassan yang nyata dalam suatu simbol atau kata. Untuk memperoleh maksud dan pengertian mengenai konsep yang digunakan dalam penelitian ini, maka penulis membatasi konsep-konsep yang digunakan. Pemberian batasan konsep ini diperlukan untuk menuntun peneliti dalam menangani rangkaian proses penelitian bersangkutan serta dalam menginterpretasikan hasil penelitian (Sanapiah Faisal, 1988:107). Adapun konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Persepsi Persepsi ialah pandangan seseorang terhadap suatu objek atau rangsangan tertentu yang menjadi pusat perhatiannya yang selanjutnya diaplikasikan secara nyata maupun tidak nyata dalam bentuk penafsiran maupun tindakan tertentu. Yang menjadi objek dalam hal ini adalah adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh, jadi persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu persepsi masyarakat di Desa Lingka Kuta terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh yang dapat membentuk suatu sikap tertentu pada masyarakat tersebut.

15 2. Masyarakat Masyarakat ialah sistem sosial yang swasembada (self subsistent), melebihi hidup individu normal, dan dalam merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya (Talkot Parsons:1963). Masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat di Desa Lingka Kuta baik perempuan maupun laki-laki yang berusia tahun. 3. Pembentukan Pembentukan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lahirnya partai politik lokal di Aceh sebagai salah satu hasil penandatanganan nota kesepakatan damai Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia, pada tanggal 15 Agustus 2005 yang ditandatangani oleh pemerintah Republik indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Berdasarkan pada hasil perundingan MoU tentang UU baru penyelenggaraan pemerintahan Aceh, maka diperbolehkan pembentukan partai politik lokal di Aceh. 4. Partai politik lokal Partai politik lokal adalah partai berbasis di daerah untuk kepentingan daerah, dan terlibat proses politik daerah. Partai politik lokal yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu partai politik lokal yang diperbolehkan didirikan di NAD yang diasumsikan untuk menampung aspirasi politik eks GAM dan masyarakat Aceh pada umumnya yang menganggab bahwa partai politik yang ada tidak cukup untuk menampung aspirasi politiknya.

16

17 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Persepsi Secara sosiologis, adanya persepsi disebabkan oleh faktor rangsangan. Sebagaimana dikemukakan oleh Soerjono Soekanto (1985) di dalam kamus sosiologi bahwa persepsi adalah kesadaran yang dapat tidak ditafsirkan yang timbul dari stimuli. Dalam hal ini persepsi itu lahir karena adanya rangsangan sehingga menimbulkan kesadaran yang tidak dapat ditafsirkan. Kimball Young dalam (Soerjono Soekanto,1985) menyatakan persepsi sebagai suatu yang menunjukkan aktifitas, merasakan, menginterpretasikan dan memahami objek baik fisik maupun bendanya. Hal ini menekankan bahwa persepsi akan timbul setelah seseorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek. Setelah dirasakan kemudian objek tersebut diinterpretasikan. Pembentukan partai politik lokal di Aceh merupakan suatu objek yang dapat dirasakan kehadirannya oleh masyarakat di Aceh. kehadiran partai politik lokal di Aceh merupakan suatu aktifitas yang dapat dirasakan oleh masyarakat di Aceh sehingga masyarakat tersebut dapat menginterpretasikan partai politik lokal sebagai suatu pemahaman tertentu. Dalam pengertian sehari-hari, persepsi sering diartikan sebagai pandangan, tanggapan, respon atau pendapat seseorang terhadap sesuatu hal tertentu. Pada dasarnya tindakan atas seseorang terhadap sesuatu perbuatan (aktifitas) yang didasari

18 bermula dari timbulnya persepsi baik atau tidak menarik, selanjutnya dari hasil persepsi ini akan diwujudkan dalam suatu bentuk tindakan yang nyata. Kehadiran partai politik lokal di Aceh merupakan sesuatu hal yang dapat menimbulkan berbagai macam pandangan, tanggapan, respon atau pendapat dari masyarakat Aceh. Dari hasil persepsi tersebut melahirkan sebuah bentuk tindakan yang nyata yaitu partisipasi politik masyarakat seperti keikutsertaan masyarakat dalam pilkada atau sebaliknya. Jalaludin Rahmat (1988) merumuskan pengertian persepsi sebagai pengalaman tentang objek yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi juga sangat ditentukan oleh faktor penglihatan. Bagaimana mungkin seseorang itu dapat memberikan perhatian terhadap suatu masalah atau objek jika orang tersebut tidak melihat permasalahan atau objek tersebut. Demikian juga halnya pada permasalahan adanya partai politik lokal di Aceh. Masyarakat tentu mempunyai perhatian tertentu terhadap kehadiran partai politik lokal di Aceh sehingga mereka dapat memberikan persepsi tertentu terhadap permasalahan partai politik lokal tersebut. David Kretch dan Richard. S. Crutchfield dalam (Masdaini, 2001:37) menyatakan bahwa persoalan persepsi yang dimiliki oleh seorang individu tidak terlepas dari pengaruh faktor struktural, seperti disebutkan bahwa persepsi itu ditentukan oleh faktor fungsional dan faktor struktural, kedua faktor inilah yang sangat besar pengaruhnya terhadap persepsi seseorang mengenai objek atau peristiwa.

19 Faktor fungsional dari kebutuhan, pengalaman masalah, dan hal-hal lain yang termasuk apa yang disebut faktor-faktor personalia. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa yang menentukan persepsi seseorang terhadap suatu objek tertentu bukan jenis maupun bentuk stimulasi, akan tetapi karakteristik yang memberikan respon stimulasi itu sendiri. Sedangkan faktor struktural berasal dari luar pengalaman masalah, yang disebut faktor-faktor objek. Dalam hal ini yang menentukan persepsi seseorang terhadap suatu objek tertentu berasal dari luar diri orang yang memberikan respon stimulasi itu sendiri. Kretch dan Crutchfield secara bersama-sama merumuskan empat hal pokok tentang dalil persepsi, yaitu: 1. Persepsi bersifat secara fungsional. Dalam pengertian dalil ini, bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam individu yang melakukan persepsi. Yang dimaksud dalam hal ini yaitu pengaruh kebutuhan kesiapan mental/suasana, emosional dan latar belakang budaya. 2. Medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Dalam pengertian dalil ini, orang yang memberikan persepsi mengorgasisasikan stimuli atau ransangan dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang diterima itu tidak lengkap, orang yang memberikan persepsi akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang dipersepsi.

20 3. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Adapun maksud dari dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya. Dalam pengertian lain, bahwa persepsi seseorang terhadap suatu objek, peristiwa atau masalah dapat dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan besar yang melingkupi si individu karena ketertarikan baik secara yuridis maupun formal organisasitoris. Dengan demikian bahwa persepsi suatu kelompok dapat menonjolkan atau melemahkan persepsi individu. Dampak yang timbul dari dasar persepsi yang ketiga ini adalah munculnya dampak asimilasi dan kontras. Dampak asimilasi di sini maksudnya sifat kelompok bisa mempengaruhi kuat lemahnya sifat individu. Sedangkan dampak yang kontras maksudnya seseorang akan cenderung memberikan penilaian yang berlebihan, bila seseorang tersebut melihat sifat-sifat objek persepsi kita bertolak dengan sifat-sifat kelompoknya. 4. Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Pada prinsipnya dalil ini hanya betul-betul bersifat struktural dalam mengelompokkan objek-objek fisik, seperti titik, garis atau balok. Jika ditarik ke arah persepsi sosial, pengelompokan ini tidak murni struktural, sebab apa

21 yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu, tidaklah dianggap sama atau berdekatan oleh individu yang lain. Begitu juga dengan hal kebudayaan dan status sosial juga berperan dalam hal melihat kesamaan. Pada masyarakat yang menitikberatkan pada sisi kekayaan/materi orang akan mambagi masyarakat atas kelompok orang kaya dan orang miskin, demikian juga jika dilihat dari pendidikan orang akan membagi golongan masyarakat atas kelompok terdidik dan kelompok tidak terdidik. Kecenderungan untuk mengelompokkan stimuli berdasarkan kesamaan dan kedekatan adalah hal yang universal sifatnya dalam tatanan masyarakat yang heterogen dengan beraneka ragam persepsi. Demikian juga dengan persepsi masyarakat Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, yang mempunyai beraneka ragam persepsi. Persepsi yang terbentuk pada masyarakat tersebut bisa saja dipengaruhi oleh dalil-dalil diatas Partai Politik Partai politik merupakan lembaga untuk mengemukakan kepentingan, baik secara sosial maupun ekonomi, moril maupun materil. Cara mengemukakan keinginan rakyat melalui partai politik ini mengandung pengertian adanya demokrasi.

22 Dengan demikian, suatu partai politik hanya dapat ada dengan sesungguhnya jika ada sekurang-kurangnya satu kelompok lain yang menyainginya. Max Weber dalam (Faturrahman, 2001:96) mendukung pernyataan di atas dengan mengemukakan demokrasi perwakilan multipartai. Menurut Weber, demokrasi perwakilan multipartai dapat membantu melindungi masyarakat terhadap pengambilan keputusan yang sewenang-wenang oleh pemimpin politis atau oleh kekuasaan berlebihan birokrat. Agar sistem demokrasi efektif, menurud Weber, ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, harus ada partai yang memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda. Jika kebijakan partai-partai yang bersaing mirip satu sama lainnya, pemilih tidak bisa menggunakan hak pilihnya secara efektif. Weber menolak gagasan bahwa sistem satu partai adalah demokratis. Kedua, harus ada pemimpin politis yang memiliki imajinasi dan semangat untuk mengatasi birokrasi yang menjemukan. Ng. Filipus dan Nurul Aini (2004:120), menyatakan bahwa untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi, diperlukan lembaga-lembaga yaitu: 1. Pemerintahan yang bertanggung jawab; 2. DPR yang memiliki golongan-golongan dan kepentingan-kepentingan berdasarkan pemilu, dimana dimungkinkan adanya oposisi sebagai kontrol; 3. Organisasi politik (partai politik) 4. Pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat;

23 5. Untuk peradilan yang bebas untuk menjamin hak-hak asasi dan mempertahankan keadilan. Jadi, organisasi politik (partai politik) merupakan salah satu lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan demokrasi dalam sebuah negara. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi, sebagaimana yang disebutkan Koirudin (2004) bahwa dalam sistem demokrasi, eksistensi partai politik merupakan sebuah keniscayaan, maka negara Indonesia sebagai negara dengan sistem demokrasi tampaknya telah memenuhi syarat untuk menuju demokrasi modern. Hal ini terlihat pada eksistensi partai-partai politik pada saat pelaksanaan pemilu di Indonesia. Dengan hadirnya partai-partai politik yang berbeda dalam pemilu di Indonesia, hal ini paling tidak telah menunjukkan bahwa di Indonesia telah berjalan demokrasi jika ditinjau dari segi kepartaian. Selain itu, demokrasi juga dapat dilihat dari kebebasan dalam berkumpul dan berserikat. Negara Indosesia memiliki Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 amandemen IV, mengamanatkan bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Salah satu sarana untuk mewujutkan kebebasan berserikat dan berkumpul itu adalah dengan membentuk partai politik. Secara konstitusi, tidak ada larangan partai politik lokal muncul. Berhubung dengan kebebasan berserikat dan berkumpul dapat dibangun argumen, partai politik lokal seharusnya dapat berdiri dan tiap aturan yang melarang pendirian partai poitik

24 lokal ditingkat Undang-Undang dapat diajukan Contutional Review ke mahkamah konstitusi. Ada enam keuntungan politik apabila partai politik lokal dibiarkan tumbuh subur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertama, partisipasi politik masyarakat akan tersalurkan dalam wadah dan partai politik yang memiliki warna yang sesuai dengan karakter dan lokalitas daerah dan wilayahnya. Partisipasi politik semacam ini akan makin mendekatkan pemimpin dengan masyarakatnya, sehingga terbangun jembatan politik yang mampu mewujudkan tata kelola kebijakan yang berbasis pada aspirasi politik masyarakat. Kedua, keberadaan partai politik lokal secara substansi memagari keinginan untuk menuntut kemerdekaan dan pemerintahan sendiri. Hal ini dikarenakan masyarakat secara terbuka dan aktif terlibat dalam proses pemiihan pemimpinnya, tanpa campur tangan pemerintah pusat. Karakteristik kepemimpinan politik yang dihasilkan akan mengikuti selera politik masyarakatnya, sehingga peran pemerintah pusat hanya hanya menjadi penegas dari hasil tersebut. Ketiga, rekruitmen politik lebih jelas dan berbasis dari masyarakat sendiri. Rekruitmen tersebut menjadi isu yang signifikan karena kerap kali calon-calon dalam pilkada tidak berbasis di daerah dan wilayahnya, sehingga dapat dilihat sebagai langkah mundur dalam penguatan politik lokal. Rekruitmen politik untuk mengisi posisi-posisi strategis di daerah, akan makin kuat legislatifnya apabila diperoleh dari seleksi yang dilakukan di sejumlah partai politik lokal, dan hasil dari kontestasi

25 pilkada. Dengan berbasis pada dukungan partai politik lokal, seleksi kepemimpinan di wilayah yang bersangkutan akan lebih selektif dan efektif. Hal ini dikarenakan partai politik lokal yang akan menyeleksi calon-calon diasumsikan lebih tahu karakteristik dan potensi daerahnya. Sehingga dengan adanya partai politik lokal, saringan terhadap potensi kepemimpinan daerah yang bersangkutan akan lebih baik lagi. Keempat, partai politik lokal secara prinsip menambah pilihan politik bagi masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. Beragamnya pilihan calon yang diusung dengan berbagai kenderaan politik secara inheren melakukan pendidikan politik masyarakat. Sehingga yang terbangun tidak hanya sekedar sentimen daerah atau lokal saja, tapi juga pembangunan kesadaran dan pendidikan politik bagi masyarakat perihal calon-calon yang ada kepada masyarakat. Sebab, harus diakui salah satu peluang yang harus diminimalisir dalam pembangunan partai politik lokal adalah terbangunnya sentimen kedaerahan yang membabibuta yang pada akhirnya menghilangkan semangat dan tujuan positif dari adanya partai politik lokal. Kelima, tereksploitasinya segenap potensi daerah untuk bersama-sama membangun daerah dan wilayahnya secara konstruktif. Keberadaan potensi daerah yang tidak muncul saat menggunakan sistem kepartaian nasional, karena adanya campur tangan pusat, maupun dewan pimpinan pusat partai bersangkutan dalam pencalonan dan seleksi kandidat akan tereduksi dengan diperbolehkannya partai politik lokal. Hal ini menjadi salah satu peluang bagi potensi lokal yang selama ini

26 tidak terakomodasi untuk membuktikan kapasitasnya lewat kenderaan partai politik lokal. Keenam, dengan adanya partai politik lokal diasumsikan akan memberikan garansi regenerasi kepemimpinan politik di daerah yang berkesinambungan. Regenerasi kepemimpinan politik di daerah tidak lagi terinterupsi oleh kepentingan pemerintah pusat atau pengurus partai di tingkat pusat yang hanya akan memaksakan calon-calon dropping dari dewan pimpinan partai atau rekayasa pemerintah pusat. Regenersi kepemimpinan politik yang berkesinambungan memberikan harapan bagi masyarakat untuk secara bersungguh-sungguh memberikan aspirasi politiknya lebih maju, dengan tetap memperhatikan asas tata kelola pemerintahan yang baik. ( Pemikiran tentang perlunya partai politik lokal didorong oleh beberapa hal. Diranah nasional, karena rendahnya citra partai politik dimata publik, sedangkan secara lokal, karena diadopsinya sistem pemilihan kepala daerah secara langsung (pilkada). Undang-undang dasar No 32 tentang perlunya pembentukan pemerintah kepala daerah menegaskan, kepala dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang diajukan partai politik atau gabungan partai politik. Sebagian pihak berpikir, karena pilkada, seharusnya peluang hidup partai politik lokal lebih tinggi ( /kompas-cetak/0507/19/opini/ htm).

27 Untuk mempermudah pemahaman mengenai partai politik lokal di Aceh, maka perlu diketahui sejarah singkat kelahiran Gerakan Aceh Merdeka (GAM). GAM merupakan sebuah gerakan oposisi bersenjata yang muncul ditengah konjungtur ekonomi politik orde baru. GAM diproklamirkan oleh Teungku Muhammad Hasan Ditiro pada tanggal 4 Desember 1976 didepan 500 orang ulama dan cendekiawan di Aceh. GAM bukan cuma gerakan oposisi bersenjata terhadap pemerintah pusat, tapi ia juga menghidupkan kembali gagasan negara tua atau old state Aceh yang pernah berdaulat sebelum bergabung dengan republik. Defenisi musuh Aceh adalah Indonesia Jawa ini kemudian memancing reaksi keras dari rezim orde baru. Saparatisme adalah bahaya besar bagi orde baru, pertama sekali karena ia mengancam hubungan antara negara dengan modal. Negara orde baru membutuhkan Aceh sebagai sumber modal kapitalisme kroni. Karenanya, tanpa perlu memeriksa lebih jauh asal usul kenapa sebuah gerakan saparatisme muncul di ujung pulau Sumatera itu, tindakan militer yang ofensif adalah jawaban tunggal. Tanpa dialog gerakan itu ditumpas. Tapi GAM tidak sepenuhnya tumpas, walaupun tampak lumpuh ditahun 1982 akibat sejumlah pimpinannya dibunuh dan ditangkap, dipenjara dan pengikutnya dihancurkan oleh operasi militer. Tapi, orde baru tidak merubah caranya dalam memperlakukan Aceh. Eksploitasi, marjinalisasi diramu dengan resepsi militeris terus berlanjut. Hasilnya, ketimpangan sosial ekonomi semakin menganga. Ditambah lagi ekstansi kesenjangan cukup gamblang, para pendatang dikawasan industri di Aceh hidup dalam

28 kemewahan, sementara penduduk lokal hidup dalam kemiskinan. Ladang subur bagi benih nasionalisme keacehan pun tumbuh kembali. Dan, memang gerakan itu ternyata tidak mati (Syamsuddin, 2000: ix-x). Penyelesaian konflik politik di Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) diupayakan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla dengan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia pada tanggal 15 Agustus Diantara butir kesepakatan yang dihasilkan dalam perundingan antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia, ada pemberian amnesti kepada anggota GAM berikut pemulihan hak-hak politik ekonomi dan sosial. Salah satu bentuk pemulihan hak politik yang begitu ramai dibicarakan adalah keinginan GAM membentuk partai politik lokal di Nanggroe Aceh Darussalam. Setidaknya keinginan itu didasari pengalaman kehadiran partai politik lokal dalam pemilihan umum Artinya, dalam perkembangan sejarah ketatanegaraan Indonesia, partai politik lokal bukan sesuatu yang ahistoris. Buktinya, berkaca pada hasil pemilihan umum 1955, Herbert Feith membagi empat kelompok partai politik yang mendapatkan suara di DPR dan konstituante, yakni partai besar, menengah, kelompok kecil yang bercakupan nasional dan kelompok kecil yang bercakupan di daerah. Kelompok terakhir ini, menurut Feith, bisa dikategorikan partai atau kelompok yang bersifat kedaerahan dan kesukuan. Misalnya, munculnya Partai Rakyat Desa, Partai Rakyat Indonesia Merdeka, Gerakan pilihan Sunda, Partai Tani

29 Indonesia, dan Gerakan Benteng di Jawa Barat. Tidak hanya itu, didaerah lain ada Gerinda di Yogyakarta dan Partai Persatuan Daya di Kalimantan Barat ( Berdasarkan pengalaman pemilihan umum 1955 di Indonesia yang menghadirkan beberapa partai politik lokal, maka adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh bukan merupakan hal baru dalam sejarah pembentukan partai poltik lokal di Indonesia. Pembentukan partai politik lokal di Aceh mengacu pada salah satu poin dari klausul Penyelenggaran Pemerintahan di Aceh dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang ditanda tangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 15 Agustus 2005 yaitu pembentukan undang-undang baru tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh. Berdasarkan amanat MoU, undang-undang ini akan diberlakukan sesegera mungkin dan selambat-lambatnya pada tanggal 31 Maret Undang-undang baru ini nantinya akan menjadi payung hukum bagi Aceh dalam proses penyelenggaraan pemerintahan ke depan, menggantikan Undang-Undang Nomor.18/2001 ( Pembentukan partai politik lokal di Aceh telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20/2007 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 16 Maret 2007, namun PP tersebut berlaku surut pada 15

30 Februari 2007 sesuai bunyi kesepakatan damai (MoU) Helsinki yang ditandatangani Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). PP tersebut merupakan konsekuensi dari UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Ada sejumlah hal pokok mengenai partai politik lokal yang diatur dalam PP tersebut seperti cara pendiriannya, syarat pendaftaran, penyelesaian konflik, serta afiliasi atau kerja sama dalam bentuk lain dan keanggotaan rangkap ( php?option=isi&task= view&id= 2405&Itemid=2). Untuk mengetahui asal usul pembentukan partai politik lokal di Aceh serta tujuan pembentukan partai politik lokal tersebut secara lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar di bawah ini juga merupakan salah satu upaya sosialisasi pembentukan partai politik lokal kepada masyarakat di Aceh.

31 Gambar 1.1 Dilihat Menurut Hukum Perjanjian MoU Helsinki untuk Memahami Partai Politik Likal di Aceh (Point MoU Helsinki) Komite Politik Keamanan CMI Uni Eropa Akhir perjuangan (point 6.1. sub c) dengan senjata di Aceh MoU Helsinki MoU Helsinki 15 Agustus 2005 yang dipertanggungjawab dengan tanda tangan GAM RI Independen (bukan RI bukan GAM) Hanya satu Partai lokal GAM tidak dipertanggungjawabkan dalam hukum perjanjian MoU Helsinki Partai-partai Lokal/Nasional RI PEMILU 2009 Partai- partai Lokal Independent Jika Partai GAM Berdiri Legislatif Legislatif mempunyai hak Menang dalam PEMILU 2009 Di Aceh Menentukan pembentukan Maka akan ada jaminan Point MoU Helsinki hukum di Aceh Self Goverment di Aceh (point MoU Helsinki) Sumber: Kantor KPA Kec. Gandapura, Kab. Bireun NAD

32 Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa pada perundingan damai MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 yang ditandatangani oleh pemerintahan RI dan GAM memberi amnesti kepada GAM termasuk pemulihan hak-hak politik. Berdasarkan amnesti tersebut maka GAM diperbolehkan untuk membentuk partai politik lokal yaitu partai GAM yang sekarang telah berganti nama menjadi partai Aceh. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah website yaitu Partai Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sudah dua kali ganti nama yakni menjadi Partai Gerakan Aceh Mandiri, kini menjadi Partai Aceh. Ganti nama tentu untuk mencari nama yang lebih tepat karena nama sebelumnya yakni Partai GAM sungguh risih bagi yang bukan orang Aceh. Bahkan orang yang berasal dari Aceh yang jiwanya nasionalis, juga risih. Seakan-akan Aceh menjadi merdeka sejajar dengan Republik Indonesia ( Partai politik lokal tersebut akan diikutsertakan dalam pemilu pada tahun Jika partai politik lokal tersebut memperoleh kemenangan pada pemilu 2009, maka direncanakan akan dibentuk pemerintahan sendiri atau self government di Aceh. Saat ini terdapat 12 partai politik lokal yang telah didirikan di Aceh yang terdiri dari: pertama, Partai Aceh (PA) yang diketuai oleh Muzakkir Manaf dengan kantor pusat yang terletak di jalan H. Tgk. Imam Al-Asyi Luengbata, No 48 Banda Aceh. PA merupakan partai politik lokal yang sebagian besar beranggotakan mantan GAM. Kedua, Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS) yang diketuai oleh Ghazali Abbas Adan dengan kantor pusat yang terletak di jalan T. Nyak Arief, No 159, Banda Aceh. Ketiga, Partai Bersatu Aceh (PBA) yang diketuai oleh Ahmad Farhan

33 Hamid dengan kantor pusat yang terletak di jalan Gabus No 6 Bandar Baru, Kuta Alam, Banda Aceh. Keempat, Partai Daulat Aceh (PDA) yang diketuai oleh Nurkalis MY dengan kantor pusat yang terletak di jalan T Iskandar, Desa Lambhuk, Banda Aceh. Kelima, Partai Rakyat Aceh (PRA) yang diketuai oleh Ridwan H. Mukhtar dengan kantor pusat yang terletak di jalan T Iskandar No 174 Desa Lamgeulumpang, Ulee Kareng, Banda Aceh. Keenam, Partai Suara Independen Rakyat Aceh (PSIRA) yang diketuai oleh M. Taufiq Abda dengan kantor pusat di jalan T Nyak Arief No110, Banda Aceh. Ketujuh, Partai Geunerasi Atjeh Beusaboh Tha at dan Taqwa (GABTHAT) yang beranggotakan para ulama di Aceh. Kedelapan, Partai Aliansi Rakyat Aceh Peduli Perempuan (PARA) yang didirikan oleh kaum perempuan di Aceh. Kesembilan, Partai Darussalam (PD). Kesepuluh, Partai Lokal Aceh (PLK). Kesebelas, Partai Aceh Meudaulat (PAM). Keduabelas, Partai Muslimin Pemersatu Aceh (PMPA). Diantara 12 partai politik lokal tersebut, terdapat 6 partai politik lokal yang dinyatakan lulus dalam verifikasi faktual dan dapat dipastikan untuk mengikuti tahapan pemilu legislatif DPR Aceh dan DPR Kabupaten/Kota bersama dengan partai politik nasional (parnas) di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terdiri dari: Partai Aceh (PA), Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS), Partai Bersatu Aceh (PBA), Partai Daulat Aceh (PDA), Partai Rakyat Aceh (PRA) dan Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Partai SIRA).

34 BAB III METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau melukiskan realitas sosial yang kompleks yang ada di masyarakat (Ida Bagus Mantra, 2004:38). Adanya pembentukan partai politik lokal di Aceh merupakan sebuah realitas sosial, penelitian deskriptif dilakukan terutama untuk mendeskripsikan atau menggambarkan persepsi masyarakat Aceh khususnya masyarakat Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah sebuah desa yaitu Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun. Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian di Desa Lingka Kuta, karena dari hasil observasi pralapangan peneliti melihat bahwa: 1. Lokasi penelitian merupakan salah satu desa di Aceh, dimana masyarakat di Desa Lingka Kuta merupakan bagian dari masyarakat Aceh. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu penelitian dilakukan untuk menjelaskan persepsi masyarakat Aceh terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh.

35 2. Lokasi penelitian merupakan salah satu desa yang mayoritas masyarakatnya memiliki antusias tinggi terhadap pembentukan partai politik lokal di Aceh. Hal ini terlihat pada saat ada surat kabar yang memberitakan tentang partai politik lokal maka masyarakat Desa Lingka Kuta berebut untuk membaca surat kabar tersebut. 3. Lokasi penelitian merupakan tempat peneliti berdomisili sehingga memudahkan untuk mengakses data yang diperlukan dalam penelitian ini Populasi dan Teknik Penarikan Sampel Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dalam penelitian ini, semua masyarakat di desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi populasi. Populasi dalam penelitian ini disesuaikan dengan teknik pengambilan sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi yang diteliti. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampel (sampel bertujuan) dengan kriteria sebagai berikut: 1. Mempunyai identitas kependudukan atau terdaftar sebagai masyarakat di desa Lingka Kuta, kecamatan Gandapura, kabupaten Bireun. 2. Sampai saat ini masih bermukim di desa Lingka Kuta, kecamatan Gandapura, kabupaten Bireun. 3. Penduduk yang memiliki kriteria usia tahun.

36 4. Penduduk yang dijumpai pada waktu penelitian berlangsung. Dari data yang diperoleh dari kantor Desa Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, diketahui yang memiliki kriteria diatas berjumlah 390 orang. Jadi, sesuai dengan teknik penarikan sampel yaitu purposive sampel (sampel bertujuan) maka ditetapkan yang menjadi populasi dalam penelitian ini berjumlah 390 orang. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini mengacu pada pertanyaan Arikunto (2002:112), yaitu: Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari: a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana. b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data. c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja jika sampel besar hasilnya akan lebih baik. Berdasarkan pada pernyataan Arikunto di atas, maka peneliti menetapkan sampel penelitian yang dikehendaki dari jumlah populasi sebanyak 97, 5 = 98 orang atau 25 % dari 390 orang.

37 3.4. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti menggunakan instrumen penelitian sebagai berikut: 1. Library Research Pengumpulan informasi mengenai hal yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku, mengakses internet dan bentuk tulisan lainnya yang berkaitan dengan hal yang diteliti. 2. Field Research Teknik pengumpulan data dengan cara turun ke lapangan untuk mencari datadata yang diperlukan dengan cara: - Observasi Pengumpulan data dan informasi penelitian dengan jalan melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti, dengan jalan mengumpulkan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian dan pelaksanaannya langsung pada tempat dimana peristiwa atau keadaan dan stituasi yang sedang terjadi.

38 - Kuesioner Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2002:128). - Wawancara Teknik pengumpulan data dengan mengadakan hubungan langsung secara lisan dan tatap muka dengan sumber data melalui sejumlah pertanyaan secara lisan terhadap responden dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara). - Dokumentasi Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh dari suatu dokumen. Dalam penelitian ini, peneliti memerlukan dokumen dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan politik di lokasi penelitian dan dari pihak pendiri partai politik lokal di Aceh Teknik Analisa Data Setiap informasi yang diperoleh di lapangan baik melalui wawancara maupun kuesioner akan dikumpulkan. Untuk data yang diperoleh melalui kuesioner akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Tahap selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dari tabel distribusi dan dianalisis secara deskripstif. Penelitian deskriptif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pemaparan kenyataan yang diperoleh

39 melalui data dan informasi. Jadi, pendekatannya hanya sampai pada tahap mengetahui persentase-persentase dari hasil penelitian dan kemudian mengambil kesimpulan dari tabel yang dikemukakan. Pemilihan teknik persentase ini merupakan teknik analisa data yang lebih akurat dan lebih sistematis untuk menunjang penulisan hasil penelitian Jadwal Penelitian KEGIATAN 1 Seminar Proposal 2 Revisi Proposal BULAN KE ACC Kuesioner 4 Pengurusan Surat Izin 5 Penelitian Lapangan 6 Pengumpulan Data dan Analisis 7 Bimbingan 8 Penyusunan Laporan Akhir 9 Sidang Meja Hijau

40 3.7. Keterbatasan penelitian Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih terdapat kekurangan yang seharusnya menjadi tanggung jawab peneliti untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Adapun penyebab dari kekurangan yang terdapat dalam penelitian ini karena peneliti menghadapi beberapa kendala baik selama masa penelitian di lapangan maupun pada saat penulisan laporan penelitian. Adapun kendala utama yang dihadapi peneliti pada saat penulisan laporan penelitian adalah karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti tentang metodologi penelitian. Kendala lain yang dihadapi peneliti adalah pada saat penelitian di lapangan. Dimana pada saat penyebaran kuesioner kepada responden penelitian, banyak responden yang tidak mengisi suluruh pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner sehingga peneliti harus mendatangi kembali responden-responden tersebut untuk mengkonfirmasi kembali tentang pertanyaan-pertanyaan yang tidak diisinya. Kendala tersulit yang dihadapi oleh peneliti pada saat melakukan penelitian di lapangan adalah ada beberapa responden yang mengembalikan kuesioner penelitian tanpa mengisi satu pertanyaan pun. Mereka tidak mau mengisi kuesioner penelitian dengan alasan bahwa mereka enggan berbicara tentang masalah politik. Walaupun peneliti menghadapi kendala-kendala tersebut di atas, peneliti tetap berusaha dengan sebaik-baiknya untuk dapat menyelesaikan penelitian ini.

41 BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA 4.1. Deskripsi Lokasi, Sarana dan Prasarana di Lokasi Penelitian Deskripsi Desa Lingka Kuta Desa Lingka Kuta secara administratif termasuk salah satu desa di Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, Nanggoe Aceh Darusalam (NAD). Desa Lingka Kuta merupakan sebuah desa yang terletak di kawasan pesisir pantai dengan jarak 2 Km dari ibu kota Kecamatan Gandapura dan berada dalam wilayah kemukiman Gandapura Timur. Desa Lingka Kuta memiliki luas wilayah 65 Ha, dengan jumlah penduduk 787 jiwa dengan 215 kk (kartu keluarga). Desa Lingka Kuta terbagi dalam 3 (tiga) dusun yaitu: Tabel Pembagian dusun di Desa Lingka Kuta No Dusun Luas Penduduk Jumlah *(Ha) *KK *Lk *Pr jiwa 1 Kuta Trieng Pocut Chik H. Panglima Jumlah Sumber: Data kependudukan Desa Lingka Kuta tahun 2008 Keterangan: *Ha : Hektar (ukuran luas lahan) *Lk: Laki-laki *KK: Kartu Keluarga *Pr: Perempuan

42 Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa masyarakat Desa Lingka Kuta tersebar di dalam 3 (tiga) dusun yaitu dusun Kuta Trieng dengan luas lahan 20 Ha, terdapat 81 KK dengan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 127 orang dan penduduk yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 125 orang. Jadi, penduduk yang terdapat di dalam dusun Kuta Trieng berjumlah 279 jiwa. Dusun Pocut Chik dengan luas lahan 30 Ha, terdapat 71 KK dengan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 124 orang dan penduduk yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 129 orang. jadi, penduduk yang terdapat di dalam dusun Kuta Trieng berjumlah 253 jiwa. Dusun yang terakhir adalah dusun H. Panglima dengan luas lahan 15 Ha, terdapat 63 KK dengan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 131 orang dan penduduk yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 124 orang, jadi, penduduk yang terdapat di dalam dusun Kuta Trieng berjumlah255 jiwa. Dengan demikian dapat diketahui bahwa desa Lingka Kuta yang terbagi dalam 3 (tiga) dusun dengan lahan seluas 65 Ha, mempunyai 215 KK dengan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 382 orang dan penduduk yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 405 orang, jadi, jumlah keseluruhan penduduk Desa Lingka Kuta adalah 787 jiwa. Desa Lingka Kuta yang mempunyai luas lahan 65 Ha, terbagi ke dalam beberapa lahan yang terdiri dari tambak, pertanian, kebun dan pemukiman penduduk. Pembagian luas lahan tersebut secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

43 Tabel Pembagian luas lahan di Desa Lingka Kuta No Lahan Luas (Ha) 1 Tambak 12,5 2 Pertanian 15 3 Kebun 15 4 Pemukiman penduduk 22,5 Jumlah 65 Sumber: Data kependudukan Desa Lingka Kuta tahun 2008 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa lahan di Desa Lingka Kuta terbagi atas tambak seluas 12,5 Ha, pertanian seluas 15 Ha, kebun seluas 15 Ha dan pemukiman penduduk seluas 22,5 Ha. Secara keseluruhan luas lahan Desa Lingka Kuta adalah 65 Ha Kondisi Iklim dan Letak Geografis Kondisi iklim di Desa Lingka Kuta pada dasarnya sama dengan kondisi iklim di wilayah Indonesia pada umumnya yaitu beriklim tropis yang terdiri dari dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Dua musim tersebut membawa pengaruh tertentu bagi stabilitas hidup masyarakat Desa Lingka Kuta. Terutama musim hujan, musim hujan biasanya membawa pengaruh yang kurang baik bagi Desa Lingka Kuta karena setiap musim hujan tiba, Desa Lingka Kuta sering mengalami banjir kiriman. Bencana banjir tentu saja dapat mengganggu aktifitas kehidupan masyarakat di Desa Lingka Kuta.

44 Desa Lingka Kuta memiliki kemiringan berkisar 0-4 % dengan ketinggian antara 0 5 dpl (diatas permukaan laut) dengan jenis tanah aluvial dan jenis vegetasi tanaman yang tumbuh pohon kelapa, pandan, cemara laut dan ketapang. Desa Lingka Kuta yang mempunyai letak geografis di atas permukaan laut tersebut sering mengalami gelombang pasang air lait yang berakibat terkikisnya tanah daratan di Desa Lingka Kuta, hal ini tentu semakin memperkecil luas lahan Desa lingka Kuta. Pada tahun 1953 luas Desa Lingka Kuta sekitar 100 ha, dan setiap terjadi gelombang pasang besar desa ini selalu kehilangan tanah daratan menjadi laut sekitar 35 ha. Karena terjadinya gelombang pasang besar tersebut luas lahan Desa Lingka Kuta saat ini tinggal 65 Ha. Kodisi wilayah Desa Lingka Kuta tersebut sangat rawan mengalami ancaman bencana alam. Kejadian bencana alam sering terjadi di Desa Lingka Kuta seperti banjir kiriman, gempa Bumi dan Lain-lain. Desa Lingka Kuta juga salah satu desa yang mengalami bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember Sejak tahun 1960 desa ini sudah mengalami bencana gelombang pasang besar dengan ketinggian 5 hingga 6 meter. Dari rentetan peristiwa bencana yang terjadi daerah ini selalu kehilangan daratan menjadi lautan, dimana pada tahun 1953 luas Desa Lingka Kuta adalah 100 Ha namun pada tahun 2007 luas desa ini menjadi 65 Ha.