HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengembangan Alat Ukur Pengetahuan, Sikap dan Praktek Gizi Penelitian tentang pengembangan alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja dilakukan untuk mendapatkan alat ukur atau instrumen yang baku, yaitu alat ukur atau instrumen yang dikembangkan secara teoritik dan empiris melalui beberapa kali pengujian. Proses pengembangan alat ukur terdiri atas: (1) perumusan konsep berdasarkan kajian teori, kalibrasi, analisis kemudian dilakukan revisi; (2) ujicoba kuesioner kepada sejumlah orang sebagai sampel dari populasi; (3) melakukan uji validitas dan reliabilitas (4) membuat petunjuk mengenai pelaksanaan pengisian dan penskoran instrumen (Blood & Budd 1972; Brown & Frederick 1983). Berdasarkan hal di atas, tahapan pengembangan alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja adalah : (1) identifikasi konsep; (2) perumusan kisi-kisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi; (3) mengembangkan item pertanyaan untuk kuesioner yang terstruktur; (4) uji kesahihan dan keterandalan dan (5) evaluasi akhir alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi. Identifikasi Konsep Berdasarkan studi literatur ditemukan beberapa masalah gizi yang sering dialami oleh remaja. Permasalahan gizi yang dialami remaja dikembangkan menjadi faktor penyebab masalah gizi dan kerangka konseptual. Depkes (2006) menemukan prevalensi remaja kurang energi kronis (KEK) pada tahun 2003 dan tahun 2005 masing-masing 35,1% dan 32,5%. Masalah defisiensi zat gizi mikro yang paling banyak dialami remaja adalah anemia. Anemia pada remaja dan wanita usia subur adalah sebesar 28,1% dan remaja usia tahun adalah sebesar 35,6% (Depkes 2006). Gaya hidup remaja yang cenderung memiliki kebiasaan makan yang salah merupakan penyebab munculnya masalah gizi pada remaja (WHO 1995). Kebiasaan makan salah antara lain mengurangi frekuensi makan, mengkonsumsi makanan ringan diantara waktu makan, mengkonsumsi makanan siap saji, rendahnya konsumsi serat dan makanan yang mengandung kalsium tinggi serta

2 kebiasaan merokok terutama pada remaja pria. Terjadinya perubahan perilaku makan di kalangan remaja menyebabkan peningkatan konsumsi fast food. Jika makanan ini sering dikonsumsi secara terus menerus dan berkelebihan akan menimbulkan masalah gizi lebih dan konsekuensi kesehatan lainnya (Muniroh & Sumarmi 2002). Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia menemukan sebanyak 59,0 % remaja merokok pertama kali adalah pada umur tahun dan 22,9 % merokok 10 batang sehari (BPS 2004). BPS (2004) juga menemukan sebesar 12,6 % remaja laki-laki dan 9% remaja perempuan minum-minuman beralkohol. Delisle (1999) dan WHO (2005) mengemukakan bahwa kerangka konseptual dan faktor penyebab masalah gizi pada remaja adalah kurang konsumsi pangan, faktor gaya hidup, penyakit infeksi dan masalah kesehatan lainnya. Kurang konsumsi pangan disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor psikologi dan faktor sosial ekonomi. Faktor psikologi adalah pola makan, kebiasaan makan, gangguan makan dan faktor sosial ekonomi seperti akses terhadap pangan dan ketersediaan pangan. Kurang konsumsi pangan menyebabkan kekurangan zat gizi makro dan mikro serta berbagai penyakit kronik yang menyertainya (WHO 2005). Keinginan yang besar untuk mendapatkan tubuh ideal mendorong remaja melakukan pembatasan makan dan kebiasaan makan yang salah. Akibat dari pembatasan makan yang tidak sesuai dengan aturan yang ada dan melakukan kebiasaan makan yang salah menyebabkan remaja kekurangan zat gizi makro maupun mikro. Berdasarkan permasalahan gizi yang banyak dialami remaja maka dikembangkan kerangka konseptual penyebab masalah gizi yang perlu diketahui oleh remaja. Beberapa peneliti telah menemukan konsep-konsep tersebut. Hasil penelitian Wong et al. (1999) pada remaja Taiwan menemukan konsep pengetahuan gizi pada remaja adalah konsep dasar gizi, sumber zat-zat gizi, hubungan zat gizi dengan penyakit dan pedoman makan. Konsep gizi dari Parmenter dan Wardle (1999) adalah anjuran makan, sumber zat gizi, memilih makanan setiap hari dan hubungan makanan dengan penyakit. Steven (1999) menemukan komponen pengetahuan gizi adalah aktivitas fisik, pola makan, sikap

3 terhadap berat badan dan identitas budaya. Penelitian Whati et al. (2005) menemukan konsep gizi untuk pengembangan kuesioner untuk remaja adalah anjuran hidup sehat berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Afrika Selatan, gaya hidup sehat dengan menjaga kesehatan dan kontrol berat badan, konsumsi makanan yang mengandung zat gizi (karbohidrat, protein, serat, vitamin A, besi, iodium dan kalsium) untuk mencegah kekurangan gizi, pemilihan makanan yang aman untuk dikonsumsi dan gizi selama hamil. Hasil studi literatur dirumuskan dalam bentuk konsep. Hasil identifikasi konsep didiskusikan dengan pakar gizi untuk menetapkan indikator pengetahuan gizi, sikap terhadap gizi dan praktek gizi remaja. Hasil identifikasi konsep berdasarkan studi literatur dan diskusi dengan pakar gizi adalah konsep dasar gizi, hubungan gizi dan penyakit, memilih makanan, gizi ibu hamil dan menyusui serta kebiasaan makan dan gaya hidup. Perumusan Kisi-kisi Pengetahuan, Sikap dan Praktek Gizi Konsep gizi yang diperoleh pada tahap identifikasi konsep, dijabarkan dalam bentuk kisi-kisi. Kisi-kisi terdiri atas variabel, konsep dan indikator. Kisikisi berguna untuk menjamin setiap item yang dibuat mencakup semua konsep secara proporsional (Djaali & Muljono 2004). Tabel 9 menunjukkan kisi-kisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja. Perumusan kisi-kisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi mengembangkan lima konsep gizi dengan indikatornya. Konsep dasar gizi memiliki tiga indikator yaitu jenis zat gizi, sumber zat gizi dan fungsi zat gizi. Konsep hubungan gizi dan penyakit dengan indikator kekurangan dan kelebihan zat gizi, konsep pemilihan makanan dengan indikator pemilihan makanan yang sehat dan aman. Konsep gizi ibu hamil dan menyusui dengan indikator gizi ibu hamil dan gizi ibu menyusui serta konsep kebiasaan makan dan gaya hidup remaja dengan indikator kebiasaan makan dan gaya hidup remaja. Berdasarkan sebaran konsep dan indikator ke dalam variabel, kelima konsep gizi digunakan untuk variabel pengetahuan dan sikap, sedangkan variabel praktek dijabarkan kedalam dua konsep yaitu pemilihan makanan dan kebiasaan makan serta gaya hidup.

4 Tabel 9 Kisi-kisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja sebelum diskusi dengan pakar No Konsep Indikator 1 Konsep dasar gizi - Jenis zat gizi - Sumber zat gizi - Fungsi zat gizi 2 Hubungan gizi dan penyakit Pengetahuan - Kekurangan zat gizi - Kelebihan zat gizi Sikap Prakte k 3 Pemilihan makanan - Pemilihan makanan sehat - Pemilihan makanan aman 4 Gizi ibu hamil dan menyusui 5 Kebiasaan Makan dan Gaya Hidup - Gizi ibu hamil - Gizi ibu menyusui - Kebiasaan makan remaja - Kebiasaan makan tidak baik Kisi-kisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi yang telah dirumuskan, didiskusikan dengan pakar. Diskusi dilakukan untuk menilai indikator-indikator yang dapat menggambarkan masing-masing konsep serta sebaran indikator pada setiap variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi. Tabel 10 menunjukkan kisi-kisi hasil diskusi dengan pakar. Diskusi menghasilkan kisi-kisi sebagai berikut : konsep dasar gizi menjadi dua indikator yaitu jenis dan sumber zat gizi serta fungsi dari zat gizi. Pertanyaan yang akan dikembangkan tentang jenis dan sumber zat gizi serta fungsi zat gizi pada pertumbuhan remaja. Hubungan gizi dan penyakit dengan indikator kekurangan dan kelebihan zat gizi. Pada indikator ini pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan adalah implikasi kekurangan atau kelebihan makanan terhadap kesehatan remaja. Pemilihan makanan dengan indikator memilih makanan yang sehat dan memilih makanan yang aman. Dua indikator tersebut mengembangkan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan, sikap dan praktek remaja dalam memilih makanan yang berbeda untuk mengidentifikasi salah satu makanan yang sehat dan aman. Gizi dan kesehatan reproduksi terdiri dari perkembangan fisik dan kematangan seksual pada masa growth spurt. Indikator terakhir adalah kebiasaan makan dan gaya hidup remaja. Kebiasaan makan yang sehat adalah mengkonsumsi makanan dengan jumlah sesuai kebutuhan remaja serta dengan

5 frekuensi tiga kali sehari. Kebiasaan makan yang tidak baik yaitu mengurangi frekuensi makan, mengkonsumsi makanan ringan diantara waktu makan, mengkonsumsi makanan siap saji, rendahnya konsumsi serat dan kalsium serta kebiasaan merokok. Konsep gizi ibu hamil dan menyusui diganti dengan gizi dan kesehatan reproduksi. Perubahan konsep ini berdasarkan masukan dari pakar bahwa masa remaja merupakan masa pertumbuhan cepat (growth spurt) terutama pada organ reproduksi. Organ reproduksi akan tumbuh dengan sempurna apabila remaja mengkonsumsi makanan dengan zat gizi yang cukup. Namun sebaliknya, apabila pada masa remaja kekurangan gizi, organ reproduksi tidak berkembang sempurna sehingga akan berdampak kesulitan pada masa hamil, melahirkan dan menyusui. Berdasarkan hal tersebut maka konsep gizi dan kesehatan reproduksi dijadikan sebagai salah satu konsep gizi pada remaja dengan indikator perkembangan fisik, kematangan seksual serta gizi dan kesehatan reproduksi pada masa remaja, hamil, dan menyusui. Kelima konsep gizi dijabarkan dalam bentuk item-item untuk variabel pengetahuan dan sikap, sedangkan variabel praktek hanya dapat diisi ke dalam dua konsep yaitu pemilihan makanan dan kebiasaan makan serta gaya hidup (Tabel 10). Tabel 10 Kisi-kisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja setelah diskusi dengan pakar Pengetahuan No Konsep Indikator Sikap 1 Konsep dasar gizi - Jenis dan sumber zat gizi - Fungsi zat gizi 2 Hubungan gizi dan penyakit - Kekurangan zat gizi - Kelebihan zat gizi Praktek 3 Pemilihan makanan - Pemilihan makanan sehat - Pemilihan makanan aman 4 Gizi & Kesehatan Reproduksi 5 Kebiasaan Makan dan Gaya Hidup - Perkembangan fisik & kematangan seksual - Gizi dan kesehatan reproduksi pada masa remaja, hamil dan menyusui - Kebiasaan makan remaja - Kebiasaan makan tidak baik dan gaya hidup

6 Pengembangan Item Pertanyaan untuk Kuesioner yang Terstruktur Pengembangan item-item pertanyaan berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat sebelumnya. Kisi-kisi dikembangkan menjadi item pertanyaan untuk pengetahuan dan praktek gizi, serta pernyataan untuk sikap terhadap gizi. Item yang telah dikembangkan berdasarkan variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi dikumpulkan menjadi suatu kumpulan pertanyaan yang dikenal dengan istilah item pool (Parmenter & Wardle 1999; Wathi et al. 2005). Pada penelitian ini, pengembangan item-item pertanyaan dan pernyataan dilakukan melalui lima tahapan sehingga menghasilkan alat ukur yang standar. Gambar dibawah ini adalah diagram proses pengembangan item-item pertanyaan dan pernyataan pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja yang diawali dengan pengembangan dan pengumpulan item-item pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja (item pool). Item Pool 261 Diskusi Pakar 123 Uji Coba 55 Evaluasi 60 Uji Coba 28 Pengetahuan Sikap Praktek Gambar 5 Diagram proses pengembangan item-item pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja Item-item pengetahuan dibuat berdasarkan indikator pengetahuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Kemudian setiap item pertanyaan dari indikator pengetahuan harus memenuhi salah satu taksonomi Benjamin Bloom (1959) yang terdiri dari pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (application) atau penganalisaan (analysis). Penggunaan taksonomi Bloom hanya sampai pada tahap keempat (analisis) dari enam tahap dengan pertimbangan alat ukur yang dikembangkan digunakan oleh kelompok remaja dengan latar belakang yang beragam. Artinya latar belakang pendidikan dan pengetahuan remaja tentang

7 gizi sangat terbatas terutama pada kelompok remaja putus sekolah sehingga penggunaan taksonomi Bloom untuk membuat item-item pertanyaan hanya sampai tingkat analisis. Tujuan setiap item harus memenuhi salah satu taksonomi Bloom agar setiap item memiliki tingkat kesukaran beragam. Selain memperhatikan taksonomi Bloom, penulisan item pada tahapan pengembangan item pertanyaan dan pernyataan yang terstruktur juga memperhatikan beberapa syarat yaitu (1) mengusahakan agar setiap pertanyaan ditulis dalam bahasa yang sederhana dan jelas, (2) menghindari kata-kata atau istilah yang kemungkinan tidak dimengerti oleh responden, (3) menghindari menulis pertanyaan yang dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran, (4) menghindari menulis pertanyaan yang sangat besar kemungkinannya akan disetujui oleh hampir semua orang, (5) pertanyaan atau pernyataan pendek, tidak melebihi dari 20 kata dan (6) setiap pertanyaan atau pernyataan sikap harus berisi hanya satu ide yang lengkap (Azwar 1988). Dengan memperhatikan syarat-syarat penulisan sebuah item dan memenuhi salah satu taksonomi Bloom, item-item pengetahuan gizi yang dibuat berjumlah 124 item. Sebaran indikator dan jumlah item pengetahuan gizi pada remaja dapat dilihat pada Tabel 11. Sama halnya dengan item pengetahuan gizi, item sikap terhadap gizi dikembangkan dari indikator gizi hasil diskusi dengan pakar. Item sikap terhadap gizi dijabarkan ke dalam bentuk pernyataan positif dan pernyataan negatif. Penulisan pernyataan-pernyataan sikap berdasarkan struktur sikap yang terdiri atas tiga komponen yaitu komponen kognisi, afeksi dan konasi (Azwar 1999). Komponen kognisi menunjukkan bagaimana seseorang mengetahui tentang suatu obyek, kejadian, situasi, pemikiran, keyakinan dan ide mengenai sesuatu. Komponen afeksi adalah perasaan dan emosi terhadap obyek aktual, kejadian atau situasi tertentu. Komponen konasi menunjukkan kecenderungan untuk bertindak berkaitan dengan obyek, kejadian atau situasi yang dihadapi. Tabel 12 menunjukkan sebaran indikator dan jumlah item sikap terhadap gizi pada remaja berdasarkan komponen kognisi, afeksi dan konasi.

8 Tabel 11 Sebaran indikator dan item pengetahuan gizi sebelum diskusi dengan pakar Konsep Indikator Sub Indikator Nomor Item Jumlah Konsep dasar gizi Hubungan gizi dan penyakit Pemilihan makanan Gizi dan Kesehatan Reproduksi Kebiasaan makan Jenis dan sumber zat gizi Fungsi zat gizi Kekurangan zat gizi Karbohidrat-makanan pokok 1,2 Protein-lauk pauk hewani Protein-Lauk pauk nabati 3 4,5 Lemak 6,7 Vitamin A 8,9 Zat besi 10,11 Iodium 12,13 Kalsium 14,15 Serat 16 Sumber Zat Tenaga 17,18,19,20 Sumber Zat Pembangun 21 Sumber Zat Pengatur 22,23,24,25,26,27,28 Anemia (Zat besi) 29 Pengeroposan tulang (Kalsium) 30 Kecerdasan (Iodium) 31 Daya tahan tubuh (Vit A) 32 Sembelit (Serat) 33 Kelebihan gizi Kegemukan (Obesitas) 34,35,36,37,38,39, 40,41,42 Pemilihan Menu seimbang 43,44,45 makanan sehat Karbohidrat komplek 46,47 Makanan rendah lemak 48,49,50 Makanan tinggi protein 51 Makanan tinggi serat 52,53,55 Makanan tinggi iodium 54 Makanan tinggi vitamin A 56,57,58 Makanan tinggi kalsium 59,61,62 Pemilihan makanan aman Hubungan gizi dan kesehatan reproduksi, kebutuhan gizi ibu hamil Kebiasaan makan remaja Kebiasaan makan tidak baik dan gaya hidup Makanan tinggi besi 60 Bebas dari bahaya fisik, 63,64,65,66,67,68, kimia dan biologi 69,70 Membaca label makan dikemas 71,72,73 Perbedaan pertumbuhan fisik 74,75,76,77,78,79 remaja putri-putra Kebutuhan gizi : Ibu hamil 81,82,83,84,85,86 Ibu menyusui 87,88,89 Gizi dan kesehatan reproduksi 80,90,91,92 Frekuensi makan : Makan pagi 93,94,95 Makan siang 96,97 Makan malam 96,97,98 Jenis dan jumlah : Makanan Pokok Lauk Pauk Sayur Buah Air , Snacking 105,106,107 Skipping meals 108,109 Fast food 110,111 Masalah makan 112,113,114,115 Merokok, alkohol dan olah raga 116,117,118,119, ,122,123,124 Jumlah

9 Pernyataan-pernyataan sikap yang dibuat mengandung salah satu dari tiga komponen sikap yaitu komponen kognisi (pengetahuan), afeksi (sikap) atau konasi (praktek). Hasil pengembangan item sikap remaja terhadap gizi menghasilkan 111 pernyataan yang terdiri dari 62 pernyataan positif dan 49 pernyataan negatif serta mengandung salah satu dari komponen kognisi, afeksi atau konasi. Tabel 12 Sebaran indikator dan item sikap terhadap gizi sebelum diskusi pakar Konsep Konsep dasar gizi Indikator Jenis dan sumber zat gizi Komponen Kognisi Afeksi Konasi 125,128,131, 132,134,137, 142,143, ,130, ,141, ,129,135, 138,139,140, 144,146,148, 149 Fungsi zat gizi 150, ,152,153 Jumlah 31 Hubungan gizi dan penyakit Kekurangan gizi 156,159,161, 162,163,164, 165, , Kelebihan gizi 167,168, Pemilihan makanan Pemilihan makanan sehat Pemilihan makanan aman 172,173,174, 175,176, ,189,193, 194,195, ,183, ,179,180, 181,184, , ,192, Gizi dan Kesehatan Reproduksi Kesehatan reproduksi 198,199,200, 201,202,203, 205,206,207, 208,209, , , Kebiasaan makan Kebiasaan makan remaja Kebiasaan makan tidak baik dan gaya hidup 217,218,219, ,222 90,91,92,97, 100, ,230, , ,229, ,234 Jumlah Tabel 13 menunjukkan sebaran indikator dan jumlah item praktek gizi pada remaja. Item praktek gizi pada remaja dikembangkan berdasarkan indikator gizi hasil diskusi dengan pakar. Terdapat dua buah konsep untuk praktek gizi yaitu pemilihan makanan dan kebiasaan makan. Pemilihan makanan terdiri dari dua

10 indikator yaitu memilih makanan yang sehat dan indikator kedua memilih makanan yang aman yaitu makanan yang bebas dari berbagai bahaya fisik, kimia dan biologi serta membaca label sebelum membeli makanan yang dikemas. Tabel 13 Sebaran indikator dan item praktek gizi sebelum diskusi pakar Konsep Indikator Sub Indikator Nomor Item Pemilihan Pemilihan Menu seimbang 239 makanan makanan sehat Karbohidrat komplek 236 Makanan rendah lemak 237 Makanan tinggi protein 238 Makanan tinggi serat 240 Makanan tinggi besi 241 Makanan tinggi iodium 242 Makanan tinggi kalsium 243 Pemilihan Bebas bahaya fisik, kimia, makanan aman biologi 244 Baca label pada makanan dikemas 245 Kebiasaan Kebiasaan makan Frekuensi makan : makan sehat Makan pagi 246 Makan siang 247 Makan malam 248 Jenis & jumlah : Makanan Pokok 236 Lauk Pauk 238 Sayur 249,251 Buah 250 Kebiasaan makan tidak sehat dan gaya hidup Air 252 Jumla h 8 253,254 9 Snacking,255,25 6,257 Skipping meals 258 Fast food 259 Masalah makan 260 Merokok 261 Jumlah 26 Konsep kebiasaan makan terdiri atas dua indikator: (1) kebiasaan makan sehat yaitu frekuensi, jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi dan (2) kebiasaan makan tidak sehat yang terdiri dari snacking, skipping meals, fast food dan merokok. Berdasarkan konsep dan indikator, item kemudian dijabarkan dalam bentuk pertanyaan tentang praktek gizi. Hasil pengembangan item praktek gizi pada remaja menghasilkan 26 pertanyaan. Secara keseluruhan, pengembangan item kuesioner dari setiap variabel 2 7

11 pengetahuan, sikap dan praktek gizi menghasilkan 261 item (item pool) yang terdiri atas 124 item tentang pengetahuan gizi, 111 item sikap terhadap gizi dan 26 item praktek gizi (Lampiran 1). Hasil pengembangan item ini didiskusikan dengan 8 orang pakar yang terdiri atas pakar gizi (Human Nutrition and Comunity Nutrition), pakar pendidikan gizi, pakar penyuluhan serta pakar pendidikan dan komunikasi. Diskusi dengan pakar merupakan tahapan yang dilakukan sebelum validasi item kepada subjek atau contoh dalam penelitian. Penilaian yang dilakukan pakar meliputi kisi-kisi, kelayakan item dan keterbacaan serta alternatif jawaban yang digunakan. Pakar menilai kisi-kisi yang meliputi kesesuaian konsep gizi dengan indikator dan variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi (construct validity). Dari segi kelayakan item, pakar menilai keterbacaan, kejelasan kalimat dan kesesuaian dengan konsep gizi serta indikator untuk setiap item (content validity). Perbaikan item dilakukan sesuai saran dari pakar baik validasi isi maupun konstruk. Item-item yang memiliki makna ganda diperbaiki atau dibuang. Selain diskusi tentang kisi-kisi dan kelayakan item, diskusi tentang penentuan alternatif jawaban setiap variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi yang sesuai untuk remaja juga dilakukan. Terdapat tiga alternatif jawaban yang ditawarkan dan pakar memilih salah satu alternatif jawaban yang dianggap sesuai untuk kelompok umur remaja dengan latar belakang sosial, ekonomi dan pendidikan yang sangat beragam. Hasil diskusi dengan pakar menemukan bahwa banyak item yang berulang dan memiliki makna ganda. Berdasarkan diskusi ini maka disepakati bahwa kisikisi pengetahuan, sikap dan praktek gizi diganti. Kisi-kisi yang terdiri dari konsep, indikator, sub indikator, jumlah item dan variabel berubah menjadi konsep, dimensi, sub dimensi, indikator, jumlah item dan variabel. Dengan demikian konsep gizi sebelumnya yang terdiri dari konsep dasar gizi, hubungan gizi dan penyakit, memilih makanan, gizi dan kesehatan reproduksi serta kebiasaan makan dan gaya hidup diganti menjadi konsep gizi seimbang dengan dua dimensi yaitu pola makan seimbang dan aman serta pola hidup sehat. Pola makan sehat dan seimbang dijabarkan menjadi tiga sub dimensi dengan 15 indikator sedangkan

12 pola hidup sehat terdiri atas tiga sub dimensi dengan lima indikator (Tabel 14). Tabel 14 Konsep dan Indikator Pengetahuan dan Praktek Gizi pada Remaja Setelah Diskusi dengan Pakar Sub Penge Dimensi Dimensi Indikator tahua Sikap Konsep Gizi Seimbang Pola Makan Sehat dan Seimbang Pola Hidup Sehat Ragam Jumlah Keamanan Pangan Olahraga Rokok & alkohol Kontrol Berat Badan Pra k n tek 1. Makan beranekaragam Menggunakan garam beriodium Memberikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan 4. Setiap hari makan pagi Gizi dan kesehatan reproduksi Mengkonsumsi makanan sumber zat besi Konsumsi makanan berserat Konsumsi makanan sumber kalsium 9. Mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat secukupnya Batasi konsumsi lemak Batasi konsumsi fast food Snacking secukupnya Minum air bersih 8 gelas sehari Mengkonsumsi makanan yang aman Baca label setiap membeli makanan dikemas Jumlah Melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur 17.Tidak merokok dan minuman beralkohol Memantau berat badan secara teratur Body image yang benar Tidak membatasi makan (Skipping meal) Jumlah Total

13 Tahap selanjutnya adalah pemilihan item pertanyaan pengetahuan, sikap dan praktek gizi. Pemilihan item pengetahuan gizi berdasarkan kisi-kisi yang terdiri dari 20 indikator. Setiap indikator terdiri dari item-item pertanyaan yang mengandung konsep dari indikator, hubungan indikator dengan penyakit dan pemilihan makanan sehat (dimensi pola makan seimbang dan aman) dan berperilaku sehat (dimensi pola hidup sehat). Item-item yang tidak memenuhi persyaratan seperi di atas dibuang dengan alasan tidak sesuai dengan konsep. Jika terdapat item-item yang bermakna ganda dan berlebihan (redundant) maka dipilih beberapa item yang tepat menggambarkan indikator, sedangkan lainnya dibuang. Selain itu item dengan kalimat yang sangat akademis tidak digunakan dalam kuesioner ini. Item-item diperbaiki sesuai saran pakar apabila menurut pakar kurang jelas. Berdasarkan hal diatas, terjadi pengurangan dan perbaikan item. Item pool yang telah dikumpulkan sebanyak 261 item, dipilih dan dikelompokkan berdasarkan indikator yang baru sesuai arahan pakar. Proses pemilihan item di atas menyebabkan terjadinya pengurangan item. Jumlah item pada kuesioner awal sebanyak 261 item berkurang menjadi 123 item yang terdiri dari 71 item pengetahuan tentang gizi, 28 item sikap terhadap gizi dan 24 item tentang praktek gizi pada remaja (Tabel 15). Tabel 15 Jumlah item-item pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja setelah diskusi pakar Status Item Pengetahuan Sikap Praktek Jumlah Item yang diterima Item yang diperbaiki Item yang ditambah Item yang dibuang Jumlah item yang dipakai Pada tahap ini, sebanyak 172 item dibuang karena tidak sesuai dengan indikator pengetahuan, sikap dan praktek gizi yang telah ditetapkan, memiliki makna ganda (ambigous) antar item atau pertanyaan sangat akademis sehingga sulit dipahami contoh. Item-item yang diterima tanpa perbaikan sebanyak 39 item, item yang diperbaiki sebanyak 50 item dan item baru sebanyak 34 item. Item-item

14 ini tersebar pada setiap variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja. Hasil pengurangan dan penambahan item-item pada setiap variabel dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 14 menunjukkan hasil secara keseluruhan pemilihan item yang tersebar pada indikator setiap variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi. Penjabaran item pengetahuan gizi pada dimensi pola makan sehat dan seimbang menghasilkan tiga sub dimensi, 15 indikator serta 51 item pertanyaan, sedangkan dimensi pola hidup sehat menghasilkan tiga sub dimensi, lima indikator serta 20 pertanyaan tentang pengetahuan gizi. Penjabaran item sikap terhadap gizi pada dimensi pola makan sehat dan seimbang menghasilkan tiga sub dimensi, 15 indikator serta 19 item pernyataan, sedangkan dimensi pola hidup sehat menghasilkan tiga sub dimensi, lima indikator serta sembilan pernyataan sikap terhadap gizi. Penjabaran item praktek gizi pada dimensi pola makan sehat dan seimbang menghasilkan tiga sub dimensi, 15 indikator serta 15 item pertanyaan, sedangkan dimensi pola hidup sehat menghasilkan tiga sub dimensi, lima indikator serta sembilan pertanyaan tentang praktek gizi. Tabel 16 menunjukkan sebaran pernyataan-pernyataan sikap kedalam sub dimensi dan komponen sikap. Tiga komponen sikap yang terdiri dari komponen kognisi, afeksi dan konasi dijabarkan kedalam pernyataan sikap berdasarkan enam sub dimensi. Komponen kognisi, afeksi dan konasi berturut-turut menghasilkan 13, 9 dan 6 pernyataan sikap sehingga menghasilkan 28 item pernyataan sikap. Tabel 16 Indikator dan komponen sikap terhadap gizi pada remaja setelah diskusi dengan pakar Sub Dimensi Komponen Sikap Kognisi Afeksi Konasi Jumlah Ragam Jumlah Keamanan Pangan Olahraga Rokok dan alkohol Kontrol berat badan Jumlah item

15 Alternatif jawaban yang dipilih berdasarkan diskusi dengan pakar, digunakan dalam kuesioner pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja. Alternatif jawaban yang terpilih adalah kelompok alternatif jawaban II yaitu 0, 1 (0 apabila jawaban salah, 1 apabila jawaban benar) dalam hal pengetahuan, 1,2,3 (1= tidak setuju, 2=ragu-ragu, 3=setuju) dalam hal sikap dan 1,2,3 (angka tertinggi melakukan praktek sesuai dengan kaidah ilmu gizi) dalam hal praktek. Alasan pemilihan alternatif jawaban II karena jawaban tersebut lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh remaja. Kesahihan (Validitas) dan Keterandalan (Reliabilitas) Alat Ukur Pengetahuan, Sikap dan Praktek Gizi Kesahihan dan keterandalan alat ukur ini diuji melalui dua kegiatan. Kegiatan pertama adalah uji validitas muka (face validity) dengan melakukan penelitian pendahuluan. Penelitian pendahuluan dilakukan pada 10 orang remaja dengan kegiatan mendiskusikan setiap item pertanyaan pengetahuan, sikap dan praktek gizi. Kegiatan diskusi bertujuan untuk mengetahui keterbacaan dari setiap item dan memaksimalkan kejelasan dari setiap item pertanyaan menurut remaja. Remaja yang dipilih mewakili remaja kota dan desa baik yang masih sekolah maupun yang putus sekolah. Dari 123 item yang didiskusikan, 11 pertanyaan diperbaiki kalimatnya karena item tersebut kurang dimengerti oleh remaja dan 14 item pertanyaan diperbaiki kata-katanya. Tahap kedua dilakukan uji coba secara statistik yaitu kesahihan (validitas) dan keterandalan (reliabilitas) kepada 242 orang contoh. Contoh dalam penelitian ini mempunyai latar belakang sosial ekonomi yang beragam agar alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi yang dibuat dapat dipergunakan untuk semua lapisan remaja. Contoh yang berjumlah 242 orang terdiri dari 129 orang tinggal di kota (53,3%) dan 113 orang tinggal di desa (46,7%). Contoh yang tinggal di kota terdiri dari 80 orang bersekolah (33,1%) dan 49 orang putus sekolah (20,3%). Contoh yang tinggal di desa, sebanyak 64 orang (26,5%) bersekolah dan 49 orang putus sekolah (20,3%). Rata-rata umur contoh dalam penelitian ini adalah 17±1,05 tahun. Dari 242 orang contoh, 43% laki-laki dan 57% perempuan (Tabel 17).

16 Sebanyak 75,6% contoh berada pada status gizi normal. Nilai IMT contoh berkisar antara 15,0 sampai 29,5 dengan rata-rata 19,5. Jumlah anggota keluarga dalam penelitian ini berkisar dari 2-10 orang dengan rata-rata jumlah anggota keluarga 5 orang. Apabila besar keluarga ini dikelompokkan berdasarkan kriteria Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (BKKBN 2002) yaitu yang terdiri dari bapak, ibu dan dua orang anak, hanya 33,9% keluarga (19,8% contoh yang tinggal di kota dan 14,1 tinggal di desa) yang tergolong kelompok tersebut, sedangkan lainnya tergolong keluarga sedang dan keluarga besar. Tabel 17 Sebaran karakteristik contoh dan keluarga Umur Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status Gizi IMT < P ke-5 kurus IMT P ke 5-85 normal IMT > P ke-85 gemuk Besar Keluarga Keluarga kecil Keluarga Sedang Keluarga Besar Pendapatan Perkapita Keluarga Miskin Tidak Miskin Karakteristik Contoh n % ,9 19,4 39,3 25,2 8,3 42,9 57,0 18,2 75,6 6,2 33,9 52,5 13,6 28,1 71,9 Jenis pekerjaan orang tua contoh cukup bervariasi, diantaranya pegawai negeri atau swasta, pedagang atau wiraswasta, petani, buruh dan jasa. Dilihat dari jenis pekerjaan pada setiap kelompok, pekerjaan terbesar orang tua contoh yang tinggal di kota maupun di desa adalah pegawai negeri dan swasta (17,4% dan 14,5%) untuk bapak, mengurus rumah tangga untuk ibu (29,8% dan 27,7%). Rata-rata pendapatan perkapita perbulan orang tua contoh adalah Rp , dengan pendapatan terendah Rp dan tertinggi Rp Berdasarkan data BPS tahun 2005, batas garis kemiskinan di Kota Bogor yang dilihat dari pendapatan per kapita per bulan adalah sebesar Rp dan

17 Kabupaten Bogor sebesar Rp Rata-rata pendapatan perkapita contoh yang tinggal di kota Rp dan tinggal di desa Rp yang berarti berada di atas garis kemiskinan. Hanya sebesar 28,1 % contoh berada di bawah garis kemiskinan Kesukaran Item Pengetahuan Gizi Tabel 18 menunjukkan tingkat kesukaran item pengetahuan gizi yang diperoleh dari jumlah item yang dijawab benar dibagi jumlah contoh (p). Tingkat kesukaran item dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu mudah (<0,25), sedang (0,25-0,75) dan sukar (>0,75) (Kline 2000; Azwar 2006). Tabel 18 Tingkat kesukaran item pengetahuan gizi No Nomor Tingkat Nomor Tingkat Nilai p No Nilai p Item kesukaran Item Kesukaran 1 1 0,849 Mudah ,397 Sedang 2 2 0,726 Sedang ,679 Sedang 3 3 0,849 Mudah ,365 Sedang 4 4 0,552 Sedang ,873 Mudah 5 6 0,226 Sukar ,913 Mudah 6 7 0,933 Mudah ,893 Mudah 7 8 0,151 Sukar ,655 Sedang 8 9 0,611 Sedang ,741 Sedang ,175 Sukar ,917 Mudah ,516 Sedang ,909 Mudah ,309 Sedang ,198 Sukar ,369 Sedang ,897 Mudah ,591 Sedang ,226 Sukar ,198 Sukar ,298 Sedang ,714 Sedang ,413 Sedang ,698 Sedang ,741 Sedang ,734 Sedang ,841 Mudah ,639 Sedang ,798 Mudah ,544 Sedang ,741 Sedang ,774 Mudah ,413 Sedang ,595 Sedang ,571 Sedang ,599 Sedang ,813 Mudah ,833 Mudah ,774 Mudah ,841 Mudah ,452 Sedang ,778 Mudah ,333 Sedang ,913 Mudah ,206 Sukar ,492 Sedang ,433 Sedang ,441 Sedang ,905 Mudah ,897 Mudah ,889 Mudah ,456 Sedang ,841 Mudah ,667 Sedang ,345 Sedang ,877 Mudah ,687 Sedang ,691 Sedang ,706 Sedang ,741 Sedang ,528 Sedang ,861 Mudah ,774 Mudah ,206 Sukar

18 Tabel 19 menunjukkan tingkat kesukaran pengetahuan gizi yang terdiri atas 71 pertanyaan. Hasil analisis menemukan tingkat kesukaran mudah 35%, tingkat kesukaran sedang 54% dan tingkat kesukaran sukar 11%. Dari 71 item yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi dengan tingkat kesukaran sedang sebanyak 38 item. Tabel 19 Sebaran tingkat kesukaran item pengetahuan gizi No Tingkat Kesukaran n % 1 Mudah Sedang Sukar 8 11 Total Validitas Internal Validitas internal menunjukkan sejauhmana item-item pada kuesioner tersebut konsisten dengan item-item lain dalam mengukur suatu konsep atau konstruk yang hendak diukur. Validitas internal diujicobakan pada 71 item pengetahuan gizi. Hasil uji validitas internal menemukan bahwa terdapat 30 item yang dapat digunakan sebagai alat ukur pengetahuan gizi pada remaja. Hal ini disebabkan 30 item tersebut mempunyai korelasi item total terkoreksi (corrected item-total correlation) lebih besar dari 0,3 sebagai batas penerimaan item untuk Korelasi Biserial pada taraf signifikan 0,05. Sedangkan 41 item ditolak karena nilai korelasi kurang dari 0,3 sehingga tidak digunakan sebagai alat ukur pengetahuan gizi pada remaja. Hasil korelasi setiap item dapat dilihat pada Tabel 20. Berdasarkan tingkat kesukaran item, dari 30 item yang memenuhi kriteria validitas, terdapat lima item berada pada tingkat kesukaran mudah (item nomor 43,66,81,90,93), sebanyak 24 item berada pada tingkat kesukaran sedang dan dua item berada pada tingkat kesukaran sukar (nomor item 6 dan 13).

19 Tabel 20 Sebaran korelasi biserial pengetahuan gizi pada remaja No Nomor Nomor r hitung Status No Item Item r hitung Status Gugur Gugur Gugur Valid Gugur Gugur Valid Valid Valid Gugur Gugur Gugur Gugur Gugur Gugur Valid Gugur Valid Valid Gugur Valid Gugur Valid Gugur Gugur Valid Gugur Gugur Valid Gugur Valid Gugur Gugur Valid Valid Gugur Valid Gugur Gugur Valid Valid Gugur Valid Gugur Gugur Valid Gugur Gugur Gugur Valid Gugur Gugur Valid Gugur Gugur Valid Gugur Valid Gugur Gugur Valid Valid Valid Gugur Gugur Valid Valid Valid Gugur Valid Gugur Validitas internal juga dilakukan pada variabel sikap gizi (Tabel 21). Dari 28 item pernyataan sikap tentang gizi yang diuji cobakan terdapat 13 pernyataan sikap yang diterima, dimana skor item tersebut mempunyai korelasi item total terkoreksi (corrected item-total correlation) lebih besar dari 0,3 sebagai batas penerimaan item untuk Korelasi Pearson pada taraf signifikan 0,05. Sedangkan 14 pernyataan ditolak (gugur) karena nilai korelasi kurang dari 0,3 sehingga tidak digunakan sebagai alat ukur sikap gizi pada remaja.

20 Tabel 21 Sebaran korelasi pearson sikap terhadap gizi pada remaja No Nomor r hitung Keterangan ssss Nomor r hitung Keterangan Item No Item 1 5 0,343 Valid ,034 Gugur ,278 Gugur ,379 Valid ,379 Valid ,316 Valid ,143 Gugur ,470 Valid ,138 Gugur ,508 Valid ,159 Gugur ,040 Gugur ,206 Gugur ,229 Gugur ,297 Gugur ,374 Valid ,169 Gugur ,446 Valid ,002 Gugur ,110 Gugur ,405 Valid ,235 Gugur ,429 Valid ,406 Valid ,355 Valid ,188 Gugur ,434 Valid ,179 Gugur Tabel 22 menunjukkan validitas internal pada variabel praktek gizi. Dari 24 pertanyaan praktek yang diuji cobakan terdapat 12 pertanyaan praktek yang diterima, dimana skor item tersebut mempunyai korelasi item total terkoreksi (corrected item-total correlation) lebih besar dari 0,3 sebagai batas penerimaan item untuk Korelasi Pearson pada taraf signifikan 0,05. Sedangkan 12 pertanyaan praktek lainnya ditolak (gugur) karena nilai korelasi kurang dari 0,3 sehingga tidak digunakan sebagai alat ukur praktek gizi pada remaja. Tabel 22 Sebaran korelasi pearson praktek gizi pada remaja No No Item r hitung Keterangan No NoItem r hitung Keterangan ,374 Valid b 0,415 Valid ,489 Valid c 0,139 Gugur ,188 Gugur d 0,299 Gugur ,428 Valid e 0,433 Valid ,546 Valid f 0,181 Gugur ,285 Gugur a -0,227 Gugur ,109 Gugur b 0,256 Gugur ,382 Valid c Gugur ,219 Valid d Gugur ,100 Gugur e Gugur ,197 Gugur Gugur ,252 Gugur a Gugur ,102 Gugur b Valid ,112 Gugur c Gugur a 0,445 Valid d Gugur b 0,354 Valid e Gugur c 0,189 Gugur Valid d 0,435 Valid Valid e 0,369 Valid Valid f 0,221 Gugur Gugur a 0,363 Valid Valid

21 Secara keseluruhan dari hasil uji validitas internal, sebanyak 55 item yang terdiri dari 30 item pengetahuan, 13 item sikap dan 12 item praktek gizi yang memenuhi syarat diterima, dimana item-item tersebut mempunyai korelasi item total terkoreksi lebih besar dari 0,3 (Tabel 23). Tabel 23 Sebaran kesahihan item pengetahuan, sikap dan praktek gizi Diterima Ditolak Variabel Jumlah Item (r>0,3) (r>0,3) Pengetahuan Sikap Praktek Jumlah Reliabilitas Reliabilitas Konsistensi Gabungan Item (Internal Consistency Reliability) Reliabilitas konsistensi gabungan item (Internal Consistency Reliability) berkaitan dengan konsistensi antara item dalam sebuah kuesioner. Kuder- Richardson 20 (KR-20) digunakan untuk item yang mempunyai skor item nominal. Reliabilitas suatu kuesioner dianggap baik apabila nilai Alpha (α Cronbach) lebih dari 0,7 (Kline 2000). Hasil uji coba yang dilakukan pada kuesioner pengetahuan gizi menghasilkan nilai koefisien reliabilitas 0,828. Pengukuran reliabilitas konsistensi gabungan item juga dilakukan pada sikap terhadap gizi dan praktek gizi pada remaja. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan korelasi Pearson diketahui bahwa kuesioner tentang sikap terhadap gizi dan praktek gizi mempunyai reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai Alpha (α Cronbach) masing-masing sebesar 0,721 dan 0,749. Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Parmenter dan Wardle (1999) serta Whati et al. (2005), bahwa nilai Alpha (α Cronbach) untuk uji Reliabilitas konsistensi gabungan item (Internal Consistency Reliability) lebih besar dari 0,7. Nilai Alpha (α Cronbach) lebih besar dari 0,7 mencerminkan bahwa masing-masing item konsisten mengukur konsep yang digunakan dalam sebuah alat ukur (Azwar 2006).

22 Reliabilitas Konsistensi Tanggapan (Test-Retest Reliability) Dalam penelitian ini, reliabilitas konsistensi tanggapan menggunakan teknik test retest yaitu pengetesan dua kali menggunakan kuesioner yang sama pada contoh yang sama dengan waktu yang berbeda. Tabel 24 menunjukkan hasil perhitungan reliabilitas kuesioner ini mempunyai reliabilitas tes retest yang ditunjukkan dengan nilai Alpha (α Cronbach) sebesar 0,824 untuk pengetahuan gizi, 0,809 untuk sikap terhadap gizi dan 0,783 untuk praktek gizi. Tabel 24 Nilai reliabilitas pengetahuan, sikap dan praktek gizi No Peubah Reliabilitas Internal Test- retest 1 Pengetahuan 0,828 0, Sikap 0,721 0, Praktek 0,749 0,783 Reliabilitas suatu kuesioner dianggap baik apabila nilai Alpha (α Cronbach) lebih dari 0,7 (Kline, 2000). Hasil uji reliabilitas konsistensi gabungan item (Internal Consistency Reliability) dan reliabilitas konsistensi tanggapan (test retest reliability) dalam penelitian ini lebih besar dari 0,7 sehingga memenuhi syarat reliabilitas sebuah kuesioner. Hal ini menunjukkan bahwa alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi yang dihasilkan dalam penelitian ini mampu mencerminkan stabilitas hasil meskipun digunakan pada waktu yang berbeda (Azwar 2006; Djaali & Muljono 2004). Evaluasi Akhir Alat Ukur Pengetahuan, Sikap dan Praktek Gizi Meskipun telah dilakukan uji kesahihan dan keterandalan, evaluasi akhir dari alat ukur sangat diperlukan untuk meninjau kembali setiap tahapan pengembangan alat ukur terutama hasil uji kesahihan dan keterandalan (Whati et al. 2005). Evaluasi akhir dilakukan oleh empat orang pakar yang terdiri dari pakar gizi (Human Nutrition and Comunity Nutrition), pakar pendidikan gizi dan pakar penyuluhan.

23 Setelah dilakukan diskusi akhir dengan pakar, terdapat tujuh item (lima item pertanyaan pengetahuan gizi dan dua item sikap) yang dimasukkan kembali ke dalam kuesioner. Selain itu ada satu item pengetahuan gizi dan satu item sikap yang dianggap tidak perlu sehingga dibuang. Pertimbangan memasukkan lima item pertanyaan dan dua item pernyataan tersebut kedalam kuesioner karena item tersebut sangat diperlukan untuk melihat kemampuan dasar atau kompetisi dasar pengetahuan dan sikap gizi remaja menurut pakar (concept validity dan construct validity), dan sebaliknya dua item yang terdiri dari satu item pertanyaan dan satu item pernyataan dibuang karena tidak dapat mengukur kemampuan dasar pengetahuan dan sikap gizi remaja. Sedangkan variabel praktek gizi tidak ada penambahan atau pengurangan item. Tabel 25 dan 26 menunjukkan proses pengurangan dan penambahan item-item pertanyaan pengetahuan dan sikap terhadap gizi. Dari proses ini, jumlah item pertanyaan dan pernyataan pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja yang semula berjumlah 55 item bertambah menjadi 60 item yang terdiri dari 34 item pengetahuan gizi, 14 item sikap terhadap gizi dan 12 item praktek gizi. Tabel 27 menunjukkan sebaran item sikap gizi kedalam sub dimensi dan komponen sikap terhadap gizi. Dari 14 item sikap, delapan item terdapat pada komponen kognisi, tiga item masing-masing komponen afeksi dan konasi. Tabel 27 Sebaran konsep, dimensi, indikator dan variabel sikap terhadap gizi pada remaja Sub Dimensi Komponen Jumlah Olahraga alkohol BB Rokok Kontrol Sikap Keragaman Jumlah Keamanan item Kognisi Afeksi Konasi Jumlah

24 Ada di lanscape tabel 14Tabel 25 Proses Pengurangan Item Pengetahuan Gizi Sebelum Uji Coba Nomor Jum- Item lah (123) Setelah Uji Coba Nomor Jum- Item lah (123) Setelah Evaluasi Akhir Indikator Nomor Nomor Item Item Jum- (123) (60) lah 1. Makan 1,2,3, beranekaragam 2. Menggunakan garam 21,22, , ,23 39,9 2 beriodium 3. Memberikan ASI saja 29,30, pada bayi sampai 32,33 umur 6 bulan 4. Setiap hari makan pagi 36,37, ,38** 22, Gizi dan kesehatan 97,98, , ,98 18,35 2 reproduksi 6. Konsumsi makanan 25,26, , ,26** 12,42 3 sumber zat besi Konsumsi makanan 83,84, , ,87 13,44 2 berserat 86,87 8. Konsumsi makanan 93,94, , ,94** 27,38 3 sumber kalsium Konsumsi makanan 11,12, , ,13 5,32 2 sumber karbohidrat secukupnya 10.Batasi konsumsi 15,16, , ,18 2,34 2 lemak Batasi konsumsi fast 71, food 12. Snacking secukupnya 79,80, Minum air bersih 8 41,42, , ,43 20,31 2 gelas sehari Mengkonsumsi 56,57, makanan yang aman Baca label setiap membeli makanan dikemas 61, Melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur 47,48, Tidak merokok dan 52,53, *, ,90 8,30 2 minuman beralkohol 90, Memantau beratbadan 6,7,8, secara teratur 19.Body image yang 64,65, **65** 28,41 3 benar 67, Tidak membatasi 74,75, makan (Skipping meal) Jumlah item Keterangan : * nomor item yang dibuang ** nomor item yang dimasukkan kembali

25 Indikator Tabel 26 Proses Pengurangan Item Sikap terhadap Gizi Sebelum Uji Coba Nomor Jumlah Item (123) Setelah Uji Coba Nomor Item (123) Nomor Item (60) Jumlah Setelah Evaluasi Akhir Nomor Jum- Item lah (60) 1. Makan beranekaragam Menggunakan garam beriodium 3. Memberikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan 4. Setiap hari makan pagi 39, Gizi dan kesehatan ** 1 reproduksi 6. Konsumsi makanan sumber zat besi 7.Konsumsi makanan berserat 88, Konsumsi makanan sumber kalsium 9. Konsumsi makanan sumber karbohidrat secukupnya 10. Batasi konsumsi lemak 19, Batasi konsumsi fast food Snacking secukupnya ** 1 13.Minum air bersih 8 gelas 45, ,46* sehari 14.Mengkonsumsi makanan yang aman 15.Baca label setiap membeli makanan dikemas 16.Melakukan aktivitas fisik 50, atau olahraga secara teratur 17.Tidak merokok dan 55, minuman beralkohol 18.Memantau berat badan secara teratur 19.Body image yang benar 69, Tidak membatasi makan 77, ,78 42, ,23 2 (Skipping meal) Jumlah Item Keterangan : * nomor item yang dibuang ** nomor item yang dimasukkan kembali

26 Uji Kesahihan (Validitas) dan Keterandalan (Reliabilitas) Alat Ukur Pengetahuan, Sikap dan Praktek Gizi untuk Kompetisi Dasar Untuk mendapatkan suatu kuesioner yang dapat mengukur kompetisi dasar pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja maka dilakukan kembali uji coba dengan validitas (r>0,4) dan reliabilitas (Alpha Cronbach >0,7). Untuk itu dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada 60 item. Validitas Internal Tabel 28 menunjukkan hasil uji validitas pada variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja. Validitas internal diujicobakan pada 60 item yang terdiri dari 34 item pengetahuan gizi, 14 item sikap terhadap gizi dan 12 item praktek gizi. Hasil uji validitas internal menggunakan korelasi Biserial menemukan bahwa terdapat 13 item pengetahuan gizi yang dapat digunakan sebagai alat ukur pengetahuan gizi pada remaja. Hal ini disebabkan 13 item tersebut mempunyai korelasi item total terkoreksi (corrected item-total correlation) lebih besar dari 0,4 sebagai batas penerimaan item untuk Korelasi Biserial pada taraf signifikan 0,05. Hasil uji validitas internal untuk sikap dan praktek gizi menggunakan korelasi Pearson menemukan bahwa terdapat 8 item sikap gizi dan 7 item praktek gizi yang dapat digunakan sebagai alat ukur sikap dan praktek gizi pada remaja. Hal ini disebabkan 8 item sikap dan 7 item praktek tersebut mempunyai korelasi item total terkoreksi (corrected item-total correlation) lebih besar dari 0,4 sebagai batas penerimaan item untuk Korelasi Pearson pada taraf signifikan 0,05. Reliabilitas Reliabilitas Konsistensi Gabungan Item (Internal Consistency Reliability) Reliabilitas konsistensi gabungan item (Internal Consistency Reliability) berkaitan dengan konsistensi antara item dalam sebuah kuesioner. Kuder- Richardson 20 (KR-20) digunakan untuk item yang mempunyai skor item nominal. Reliabilitas suatu kuesioner dianggap baik apabila nilai Alpha (α Cronbach) lebih dari 0,7 (Kline 2000).

27 Hasil uji coba yang dilakukan pada kuesioner pengetahuan gizi menghasilkan nilai koefisien reliabilitas 0,792. Pengukuran reliabilitas konsistensi gabungan item juga dilakukan pada sikap terhadap gizi dan praktek gizi pada remaja. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan korelasi Pearson diketahui bahwa kuesioner tentang sikap terhadap gizi dan praktek gizi mempunyai reliabilitas yang ditunjukkan dengan nilai Alpha (α Cronbach) masing-masing sebesar 0,767 dan 0,776. Nilai Alpha (α Cronbach) lebih besar dari 0,7 mencerminkan bahwa masing-masing item konsisten mengukur konsep yang digunakan dalam sebuah alat ukur (Azwar 2006). Tabel 28 Sebaran korelasi biserial dan korelasi pearson untuk variabel pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja Pengetahuan Sikap Praktek No Item r hitung No Item r hitung No Item r hitung 4 0, , , , , , , , , , , , , , , , , a 0, , , b 0, , , d 0, , , e 0, , , a 0, , , b 0, , , e 0, , , b 0, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,401 Jumlah

28 Reliabilitas Konsistensi Tanggapan (Test-Retest Reliability) Dalam penelitian ini, reliabilitas konsistensi tanggapan menggunakan teknik test retest yaitu pengetesan dua kali menggunakan kuesioner yang sama pada contoh yang sama dengan waktu yang berbeda. Tabel 29 menunjukkan hasil perhitungan reliabilitas kuesioner ini mempunyai reliabilitas tes retest yang ditunjukkan dengan nilai Alpha (α Cronbach) sebesar 0,882 untuk pengetahuan gizi, 0,732 untuk sikap terhadap gizi dan 0,886 untuk praktek gizi. Tabel 29 Nilai reliabilitas pengetahuan, sikap dan praktek gizi No Peubah Reliabilitas Internal Test- retest 1 Pengetahuan 0,792 0, Sikap 0,767 0, Praktek 0,776 0,886 Reliabilitas suatu kuesioner dianggap baik apabila nilai Alpha (α Cronbach) lebih dari 0,7 (Kline, 2000). Hasil uji reliabilitas konsistensi gabungan item (Internal Consistency Reliability) dan reliabilitas konsistensi tanggapan (test retest reliability) dalam penelitian ini lebih besar dari 0,7 sehingga memenuhi syarat reliabilitas sebuah kuesioner. Hal ini menunjukkan bahwa alat ukur pengetahuan, sikap dan praktek gizi yang dihasilkan dalam penelitian ini mampu mencerminkan stabilitas hasil meskipun digunakan pada waktu yang berbeda (Azwar 2006; Djaali & Muljono 2004). Tabel 30 menunjukkan tahapan pengembangan dan pengurangan item pengetahuan, sikap dan praktek gizi pada remaja. Secara keseluruhan, hasil analisis kualitatif dan kuantitatif melalui empat tahapan pengembangan kuesioner pengetahuan, sikap dan praktek gizi ditemukan pengurangan item terjadi tiga kali yaitu pertama dari item pool sebanyak 261 menjadi 123 item melalui diskusi pakar. Kedua melalui hasil uji coba secara statistik yaitu uji kesahihan dan keterandalan berkurang dari 123 item menjadi 55 item. Ketiga melalui evaluasi akhir kuesioner bertambah dari 55 item menjadi 60 item. Untuk mendapatkan alat ukur yang dapat mengukur kompetisi dasar dilakukan uji coba. Hasil uji coba secara statistik jumlah item berkurang dari 60 item menjadi 28 item.