BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan adalah hasil pengindera manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagai besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran dan indera penglihatan. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkatan yaitu: 1.1 Tahu (Know) Yang diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. 1.2 Memahami (Comprehension) Karena memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar objek yang diketahui tersebut. 1.3 Aplikasi (Application) Yang diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunkannya atau aplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

2 1.4 Analisa (Analysis) Yang merupakan kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. 1.5 Sintesis (Synthesis) Yang menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. 1.6 Evaluasi (Evalution) Yang berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Menurut Nasution (2007), adapun faktor - faktor yang mempengaruhi pengetahuan: a.sosialekonomi Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang. Bila ekonomi baik maka tingkat pendidikan akan tinggi dan pengetahuan akan tinggi. b.kultur Budaya akan sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena informasi-informasi yang didapat akan disaring terlebih dahulu apakah sesuai atau

3 tidak dengan budaya / culture atau agama / religius pada masyarakat tersebut. c.pendidikan Semakin tinggi pendidikan seseorang maka seseorang akan mudah menerima halhal yang baru dan akan mudah menyesuaikan hal-hal yang baru tersebut. d.pengalaman Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Pendidikan yang tinggi maka pengalaman yang diperoleh juga akan lebih luas, sedangkan semakin tua seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. 2. Diare 2.1 Pengertian Diare merupakan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, defisiensi dan sebab lain-lain. Diare sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan jumlah penderita dan kematian yang besar, terutama diare akut yang disebabkan infeksi dan keracunan makanan. KLB sering terjadi di daerah dengan sanitasi buruk, tidak tercukupinya air bersih, status gizi buruk (Depkes RI, 2007). Diare adalah suatu keadaan dimana seseorang buang air besar encer, biasanya 4 kali atau lebih dalam 24 jam, kadang-kadang disertai dengan muntah, badan lesu, atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lender dalam kotoran. Namun tidak semua mencret itu diare, misalnya pada bayi kurang dari 1 bulan yang dapat buang air besar lebih dari 5 kali/hari (Arief Mansjoer, 2000).

4 2.2 Penyebab Menurut Ngastih (1997), faktor penyebab diare terbagi atas: a. Faktor Infeksi 1) infeksi enteral: infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak meliputi infeksi enteral sebagai berikut: a) infeksi bakteri: Vibrio, E. Coli, Salmonella, Campilobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya, b) infeksi virus: Enterovirus (Virus Echoi, Coxsackie, Poliomielitis), c) infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyurisi, Strongyloides). 2) infeksi parental ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti : otitis media akut (OMA), tonsillitis/tonsilofaringis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. b. Faktor Malabsorbsi malabsorbsi karbohidrat disakarida. c. Faktor Makanan seperti : makanan basi, beracun, alergi makanan. d. Faktor Psikologi misalnya : rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar). Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare terdiri atas: 1. faktor lingkungan : a) pasokan air tidak memadai, b) air kontaminasi tinja, c) fasilitas kebersihan kurang, d) kebersihan pribadi buruk, misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air besar, e) kebersihan rumah buruk, misalnya tidak

5 membuang tinja anak di WC, f) metode penyiapan dan penyimpanan makanan tidak hygienes, misalnya makanan dimasak tanpa dicuci terlebih dahulu atau tidak menutup makanan yang telah dimasak. 2. pratik penyapihan yang buruk : a) pemberian susu eksklusif dihentikan sebelum bayi berusia 4-6 bulan dan melalui pemberian susu melalui botol, b) berhenti menyusui sebelum anak berusia setahun. 3 faktor individu : a) kurang gizi, b) buruk atau kurangnya mekanisme pertahanan alami tubuh, misalnya diare lebih lazim terjadi pada anak-anak, baik yang mengidap campak atau yang mengalami campak. 4. produksi asam lambung berkurang. 5. gerakan pada usus berkurang yang mepengaruhi aliran makanan yang normal. (Yasir, 2009) 2.3 Gambaran Klinis Menurut Arief Mansjoer (2000), gambaran klinis penyakit diare: a) awalnya anak akan menjadi rewel dan gelisah, b) nafsu makan berkurang, c) demam, d) tinja makin cair, e) warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu, f) anus dan sekitarnya lecet karena tinja menjadi asam, g) bila telah banyak kehilangan cairan dan elektolit terjadinya gejala dehidrasi, h) berat badan menurun, i) tonus dan turgor kulit berkurang, j) selaput lender mulut dan bibir kering.

6 2.4 Cara Penularan Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui mulut (Orofecal) antara lain melalui makanan/ minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku khusus dapat menyebabkan penyebaran kuman enteric dan meningkatkan resiko terjadinya diare. Perilaku tersebut antara lain: a. Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan. Risiko untuk menderita diare berat beberapa kali besar pada bayi yang tidak diberi ASI daripada bayi yang diberi ASI penuh. Risiko kematian karena diare juga lebih besar. b. Menggunakan botol susu. Penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman yang berasal dari tinja dan sukar dibersihkan. Sewaktu susu dimasukkan ke dalam botol yang tidak bersih, akan terjadi kontaminasi kuman dan bila tidak segera diminum, kuman akan tumbuh. c. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan dimasak dan disimpan untuk digunakan kemudian, keadaan ini memudahkan terjadinya pencemaran, misalnya kontak dengan permukaan alat-alat yang terpapar. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar, kuman dapat berkembangbiak. d. Menggunakan air minum yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja. Air mungkin terpapar di sumbernya atau pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup, atau apabila tangan tercemar kuman mengenai air sewaktu mengambilnya dari tempat penyimpanan.

7 e. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membung tinja atau sebelum memasak makanan. f. Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Sering bahwa tinja bayi tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Tinja binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia. Beberapa faktor pada pejamu dapat meningkatkan insiden, beratnya penyakit dan lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah: a. Tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun. ASI mengandung antibody yang melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab penyakit diare, seperti Shigella dan Vibrio Cholera. b. Kurang gizi. Beratnya penyakit, lamanya dan risiko kematian karena diare meningkat pada anak-anak dengan kurang gizi, apalagi pada yang menderita gizi buruk. c. Campak. Diare dan disentri lebih sering terjadi atau berakibat berat pada anakanak dengan campak atau yang menderita campak dalam 4 minggu terakhir. Hal ini sebagai akibat penurunan kekebalan pada penderita. d. Immunodefisiensi/Immunosupressi. Kemudian ini mungkin hanya berlangsung sementara, misalnya sesudah infeksi virus (seperti campak) atau mungkin yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS. (Depkes RI,2005)

8 2.5 Komplikasi Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut: a. Dehidrasi (ringan, sedang, hiponik, isotonik, atau hipertonik). b. Renjatan hipovolemik (gejala denyut jantung menjadi cepat, nadi cepat, dan kecil sehingga tekanan darah menurun). c. Hipokalemik (dengan gejala meteorimus, hipotomi otot, lemah, brakardia). d. Asidosis metabolic ini bias terjadi karena: 1) kehilangan NaHCO3 melalui tinja diare, 2) ketosis kelaparan, 3) produk-produk metabolik yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (karena oliguri/anuria), 4) berpidahnya ion natrium dari cairan ekstrasel ke cairan intarsel, 5) penimbunan asam laktat (anoksida jaringan). e. Hipoglikemia (penurunan kadar glukosa dalam darah). f. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defesiensi enzim laktase. g. Kejang terjadi pada dehidrasi hipotonik. h. Malnutrisi energy protein (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik). (Ngastiyah, 1997) 2.6 Pengobatan Diare Pemeriksaan etiologi diare secara rutin di laboratorium tidak praktis dan gejala kliniknya juga tidak spesifik. Oleh karenanya, pengobatan penderita diare harus berdasarkan pada gejala utama penyakit dan pengertian dasar tentang mekanisme patogenesisnya.

9 Prinsip utama pengobatannya sebagai berikut : a. Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya. b. Makanan harus ditentukan bahkan harus ditingkat selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada gizi. c. Antibiotika dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin, tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan diare dengan panas, kecuali pada: 1) disentri yang harus diobati dengan antimikroba yang efektif untuk shigella. Penderita-penderita yang tidak member respon dengan pengobatan ini harus diteliti lebih lanjut atau diobati untuk kemungkinan amoebiasis. 2) suspect cholera dengan dehidrasi berat. 3) diare persisten, bila ditemukan tropozoit atau kista G lamblia atau tropozoit E. Histolitica ditinja atau cairan usus, atau bila usus pathogen ditemukan dalam kultur tinja. (Depkes RI, 2005) 2.7 Pencegahan Penyakit Diare Menurut Fatchul Mufidah (2012), penyakit diare bisa dikarenakan empat faktor, yaitu: food, feces, fly, dan finger. Oleh karena itu, agar penyakit diare tidak menyebar dan menular, caranya adalah dengan memutuskan rantai penularannya. Faktor kebersihan menjadi faktor penting untuk menghindari anak dari penyakit diare. Oleh karena itu, kebersihan setelah buang air kecil dan buang air besar harus diperhatikan.

10 Beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu: 1) Makanan Yang Hygienis Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat melanjutkan kehidupannya. Hygienis makanan adalah usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kebersihan/kesehatan dan keutuhan makanan itu sendiri. Makanan yang hygienis adalah makan yang tidak mengandung kuman penyakit atau zat yang dapat membahayakan kesehatan (Prima, 2011). Syarat makanan sehat adalah apabila makanan tersebut hygienis, bergizi, dan berkecukupan. Makanan yang higienis adalah makanan yang tidak mengandung kuman penyakit seperti lalat, kutu, lipas, dan lain-lain dan yang tidak dapat membahayakan kesehatan tubuh. Makanan yang bergizi adalah makanan yang cukup mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan vitamin dalam jumlah yang seimbang sesuai kebutuhan. Makanan yang berkecukupan adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh pada usia dan kondisi tertentu. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih makanan yang sehat: a) Jangan makan makanan mentah, kecuali buah-buahan dan sayuran yang dikupas dan dimakan langsung. b) Mencuci tangan dengan bersih dan menggunakan sabun setelah dan sebelum menyiapkan makanan atau makan. c) Makanlah makanan saat itu masih panas, atau panaskan secara menyeluruh sebelum makan.

11 d) Jauhkan makanan yang dimasak dan peralatan bersih secara terpisah dari makanan mentah dan alat-alat yang berpotensi terkontaminasi. e) Lindungi makanan dari lalat, kutu, lipas, dan lain-lain 2) Air Minum Yang Bersih Air merupakan salah satu bahan yang paling penting dalam penyelenggaraan makanan, karena air digunkan untuk berbagai macam keperluan yaitu pencucian, sanitasi lantai, alat, juga keperluan ketel uap dan medium pengantar panas. Jumlah air yang disediakan harus mencukupi untuk semua kegiatan dan tersedia pada setiap kegiatan (Depkes, 2002). Air merupakan sumber pembawa penyakit yang lebih banyak dibandingkan dengan makanan. Pada umumnya air yang digunakan dalam penyelenggaraan makanaan harus memenuhi syarat kesehatan. Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi. Syarat-syarat air bersih adalah: a) air tidak berwarna harus jernih/bening, b) air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa dan kotoran lainnya, c) air tidak berasa, tidak asin, tidak berasa asam, tidak payau, tidak pahit, harus bebas dari bahan kimia beracun, dan d) air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau bau belerang (Depkes, 2009).

12 Manfaat menggunakan air bersih adalah: a) terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera, disentri, thypus, kecacingan, penyakit kulit, atau keracunan, dan b) setiap siswa terpelihara kebersihan dirinya (Depkes, 2009). Menurut Depkes (2009), cara memperoleh air bersih adalah a) mata air, b) air sumur atau sumur pompa, b) air ledeng/perusahaan air minum, c) air hujan, dan d) air dalam kemasan. Cara menjaga kebersihan sumber air bersih adalah: a. Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan sampah, paling sedikit 10 meter. b. Sumber mata air harus dilindungi dari bahan pencemar c. Sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus dijaga bangunanya agar tidak rusak seperti lantai sumur sebaiknya kedap air dan tidak boleh retak, bibir sumur harus diplester dan sumur sebaiknya diberi penutup d. Harus menjaga kebersihan seperti tidak ada genangan air di sekitar sumber air, dan dilengkapi dengan saluran pembungan air, tidak ada bercak-bercak kotoran, tidak berlumut, pada lantai/dinding sumur. Ember/ gayung pengambil air harus tetap bersih dan diletakkan dilantai (ember/gayung digantung di tiang sumur). Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan air bersih adalah: a) Tidak mandi, mencuci, atau buang air besar di dekat sumbernya. WC harus ditempatkan lebih jauh 10 meter. b) Jauhkan binatang dari sumber air.

13 c) Mengumpulkan dan menyimpan air ke dalam wadah yang bersih; kosong dan bilas keluar wadah setiap hari, menjaga penyimpanan dengan wadah tertutup dan tidak membiarkan hewan untuk minum dari tempat tersebut, mengambil air menggunakan gagang yang panjang dengan tujuan agar tangan tidak menyentuh air. d) Masak air yang digunakan untuk membuat makanan atau minuman 3) Menjaga Kebersihan Lingkungan Kebersihan lingkungan merupakan keadaan bebas dari kotoran, termasuk di dalamnya, debu, sampah, dan bau. Di Indonesia, masalah kebersihan lingkungan selalu menjadi perdebatan dan masalah yang berkembang. Kasus-kasus yang menyangkut masalah kebersihan lingkungan setiap tahunnya terus meningkat. Masalah tentang kebersihan lingkungan yang tidak kondusif dikarenakan masyarakat selalu tidak sadar akah hal kebersihan lingkungan. Tempat pembuangan kotoran tidak dipergunakan dan dirawat dengan baik. Akibatnya masalah diare, penyakit kulit, penyakit usus, penyakit pernafasan dan penyakit lain yang disebabkan air dan udara. Cara menjaga kebersihan di lingkungan sekolah: a. Membuang sampah pada tempatnya. b. Jika telah selesai belajar, bersihkan papan tulis setelah bel pergantian jam pelajaran. c. Menyapu ruang kelas jauh sebelum memulai pelajaran, ketika istirahat dan pulang sekolah.

14 d. Membersihkan kaca-kaca kelas seminggu sekali e. Menegur, menasehati dan mengingatkan teman agar tidak lupa untuk melakukan piket kelas. f. Melakukan gotong royong pada saat di adakan jumsih ( Jumat Bersih). 4) Membiasakan Mencuci Tangan Hendaknya tangan selalu dicuci sebelum bekerja, sesudah menangani bahan makanan yang mentah/kotor atau terkontaminasi, setelah dari kamar kecil, setelah tangan digunakan untuk mengaruk, batuk, atau bersin dan setelah makan atau merokok (Afriyeti, 2002). Mencuci tangan pada saat: a) setiap kali tangan kita kotor (setelah memegang uang, memegang binatang, berkebun, dan lain-lain), b) setelah buang air besar, c) sebelum memegang makanan, d) sesudah memegang binatang, d) sesudah berkebun, e) sesudah memegang uang. Manfaat dari mencuci tangan adalah: a. Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan. b. Mencegah penularan penyakit seperti Diare, Kolera Disentri, Typhus, kecacingan, penyakit kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Akut(ISPA), flu burung atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). c. Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman. Cara mencuci tangan yang benar adalah a) cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun, b) bersihkan telapak, pergelangan tangan, sela-sela jari dan punggung tangan dan c) setelah itu keringkan dengan lap bersih.

15 Tempat mencuci tangan Tempat penyelenggaraan makanan harus disediakan fasilitas pencuci tangan. Tersedia tempat cuci tangan yang bersih dan terpisah dengan tempat cuci peralatan maupun bahan makanan yang dilengkapi dengan kran, saluran pembuangan tertutup, bak penampungan, sabun, dan pengering (Depkes, 2002). Menurut Depkes 2000, penggunaan sabun padat sebaiknya dihindari karena melalui sabun berkali-kali dengan kontak banyak orang akan menyebabkan terjadinya penularan penyakit salah satunya adalah diare. 5) Buang Air Besar Pada Tempatnya Buang air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembungan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (camplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkan (Depkes, 2009). Jenis dari jamban yang dianjurkan adalah menurut Depkes (2009): a. Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran /tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.

16 b. Jamban tangki septik/leher angsa adalah jamban yang berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya. Kegunaan dari jamban adalah a) menjaga lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau, b) tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya, c) tidak mengundang datangnya alat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit diare, kolera, disentri, thypus, kecacingan, penyakit kulit dan keracunan (Depkes, 2009). Syarat jamban yang sehat adalah sebagai berikut: a. Tidak mencemari tanah disekitarnya. b. Mudah dibersihkan dan aman digunakan. c. Dilengkapi dinding dan atap pelindung. d. Peneranangan dan ventilasi cukup. e. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai. f. Tersedia air dan alat pembersih. Cara memelihara jamban sehat adalah a) lantai jamban hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air b) bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan keadaan bersih c) di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat, c) tidak ada serangga (kecoa, lalat), dan tikus yang berkeliaran d) tersedia alat pembersih (sabun, sikat, dan air bersih) dan d) bila ada kerusakan, segera diperbaiki (Depkes, 2009).

17 6) Menyediakan Tempat Pembuangan Sampah Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas (Apria, 2007). Sampah harus ditanggani dengan baik untuk menghindari pencemaran makanan. Tempat pembungan sampah harus dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Tempat pembuangan sampah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a) terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah berkarat, b) mudah dibersihkan dan bagian dalam licin serta bentuknya bulat, c) mudah diangkat dan mempunyai katup, d) kedap air, terutama untuk menampung sampah basah, e) tahan terhadap benda tajam dan runcing (Depkes, 2002). Tempat pembuangan sampah harus tertutup sehingga tidak dapat digunakan sebagai tempat hidup lalat dan binatang lainnya. Pembuangan sampah harus dilakukan secara teratur dan diangkat setiap hari sampai habis sehingga tidak terjadi sampah sisa mengendap selama 24 jam (Depkes, 1998).

18 3. Konsep Anak Sekolah 3.1. Pengertian Anak Menurut UU No. 20 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak dan WHO menyatakan bahwa yang dimaksud dengan usia anak ialah sebelum memasuki usia 18 tahun dan belum menikah. Batasaan usia anak tersebut ditentukan berdasarkan pertumbuhan fisik dan psikososial, perkembangan, dan karakteristik kesehatannya. Usia anak sekolah dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu: usia prasekolah (3-6 tahun), usia sekolah (6-12 tahun), usia remaja (13-18 tahun), awal usia dewasa (18-21 tahun), dan mencapai tahap perkembangan yang sudah lengkap. 3.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah Pertumbuhan berkaitan dengan dengan masalah perubahan seperti: besar, jumlah, ukuran, dan dimensi tingkat sel, jaringan, organ, ataupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat, panjang, dan tulang serta kesetimbangan metabolik. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dan teratur, yang dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan anak. Hal ini berhubungan erat dengan adanya proses diferensiasi sel. Jaringan, organ, dan sistem organ tubuh yang berkembang sedemikian rupa, sehingga mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Perkembangan tersebut terkait faktor emosi, intelektual, dan tingkah laku (sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan).

19 Prinsip dasar dari pertumbuhan dan perkembangan ialah: a. Perkembangan merupakan hal yang teratur dan memiliki rangkaian tertentu. b. Perkembangan merupakan sesuatu yang terarah dan terus berlangsung. Terdapat tiga arah perkembangan, yaitu cephalokaudal, proximodistal, dan differentiation. 1) Cephalokaudal Pertumbuhan mengarah dari kepala ke bagian bawah tubuh. Kepala anak akan lebih dahulu terkontrol dibandingkan dengan anggota tubuh bagian bawah. 2) Proximodistal Perkembangan mengarah dari daerah yang dekat dengan pusat tubuh ke daerah yang jauh dari pusat tubuh. Contohnya, anak lebih dahulu mengontrol tangannya dibandingkan dengan mengontrol jemarinya. 3) Differentiation Perkembangan berjalan dari hal yang mudah menuju aktivitas dan fungsi yang lebih kompleks. Berdasarkan struktur alami otak laki-laki dan perempuan terlihat perbedaan yang mengakibatkan pola berpikir dan cara belajar antara laki-laki dan perempuan berbeda (Gurian, 2008) Secara umum, pertumbuhan dan perkembangan anak dibagi menjadi dua. Pertama, usia prasekolah dan sekolah dasar dan kedua, usia sekolah menegah dan sekolah lanjutan.

20 a. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Prasekolah dan Sekolah Dasar Pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah dan sekolah dasar terbagi menjadi empat fase berikut: 1) Jasmani Pada fase ini, aspekk fisik dan fungsi organ otak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. 2) Jiwani Pada fase ini, anak mulai menunjukan keinginan tahuannya, sehingga ia banyak bertanya mengenai segala sesuatu, fantasinya berkurang karena menyadari kenyataan dii sekitarnya, ingatannya semakin kuat, daya kritisnya mulai tumbuh, ingin berinisiatif, serta mulai memiliki rasa tanggung jawab. 3) Rohani Pada fase ini, anak mulai memikirkan kons ep pemikiran mengenai Tuhan sekaligus memisahkan konsep pemikiran mengenai Tuhan dan orangtuanya. 4) Sosial Pada fase iini, aktivitas anak mengarah pada sesuatu tujuan. Akan tetapi, ia masih menunjukan egonya yang tinggi, kegiatannya hanya sejenis, dan senang beraktivitas secara berkelompok. b. Pertumbuhan dan perkembangan Anak Usia Sekolah Menegah dan Sekolah Lanjutan Secara umum, pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah menegah dan sekolah lanjutan dibagi menjadi eempat fase berikut ini:

21 1) Jasmani Pada fase ini, anak mengalami perubahan jasmani yang sangat cepat, sehingga terkadang menimbulkan kebingungan dalam dirinya. Secara biologis, ia telah matang dan siap berperan sebagai laki-laki atau perempuan. 2) Jiwani Pada fase ini, kecerdasan anak berkembang secara pesat, cara berpikirnya semkain logis dan lebih kritis, fantasinya semkain kuat, sehingga sering kali menyebabkan konflik dalam dirinya, mempunyai bnayak cita-cita, serta berburu realitas, kebenaran, dan tujuan hidup. 3) Rohani Pada fase ini, kehidupan beragama anak ada di persimpangan jalan. Saat itu, timbul perasaan tidak nyaman karena terjadi perubahan fisik dan emosi, yang turut berpengaruh terhadap kuualitas keimanannya. Terkadang, adanya suatu kepercayaan dianggap mempersempit kebebasan dirinya, pada dasarnya ia selalu ingin keinginannya sendiri (suara hati). 4) Sosial Pada fase ini, kehidupan anak sangat dipengaruhi oleh temanya sebayanya. Perubahan perilakunya berhubungan dengan kebiasaankelompok. Didalam dirinya, ada keinginan untuk diterima dalam kelompok dan masyarakat, membantu orang lain, dan memperhatikan orang lain. (Fatchul Mufidah, 2012)

22 3.3 Pertumbuhan Fisik, Perkembangan Kognitif, Sosial dan Mental pada Anak Usia Sekolah Dasar a) Pertumbuhan fisik Perkembangan fisik meliputi perubahan tinggi dan berat badan, perubahan sistem kardiovaskuler dan neuromuskular, nutrisi, dan perubahan lain. Kebanyakan anak usia 6 (enam) tahun mahir menggunakan pensil dan menuliskan huruf dan kata. Pada usia 12 tahun anak dapat membuat gambar dengan rinci dan menuliskan kalimat dalam bentuk naskah. b) Perkembangan kognitif Perubahan kognitif pada anak usia sekolah pada kemampuan untuk berpikir dengan logis tentang here and now dan bukan tentang abstraksi (Potter dan Perry, 1997). Salah satu bentuk perkembangan bahasa. Rata-rata anak usia 6 tahun memiliki kosa kata 3000 kata yang cepat berkembang dengan meluasnya teman sebaya pergaulan dengan teman dan orang dewasa serta kemampuan bacanya. Menurut Golonka (2007) mayoritas anak-anak memiliki kosa kata yang luas yaitu sekitar kata saat usia 6 tahun. Di usia sekolah, terjadi perkembangan bahasa secara serentak dan dilanjutkan dengan perluasan kalimat melalui elaborasi atau frase kata benda dan kata kerja. Dimasa perkembangan kognitif, anak dengan usia 6-10 tahun mampu berpikir kompleks. Anak yang memiliki kemampuan memahami kalimat sederhana akan

23 mampu mengartikan kalimat yang lebih rumit dalam paragraf dan menulis beberapa kata untuk menyusun laporan dan cerita yang kompleks. (Golonka, 2007) Akan tetapi, kemampuan bahasa masih terbatas pada hal yang konkrit dan fokus pada kejadian here and now. Sebelum berusia 9 tahun, kebanyakan anak memahami bahasa dengan harafiah. Sekitar usia 10 tahun, anak mampu memahami makna ganda dan hubungan antar kalimat. (Golonka, 2007) c) Perkembangan Psikososial Erikson membagi tahapan tumbuh kembang anak berdasarkan perkembangan psikososialnya. Berdasarkan klasifikasi dari Erikson, anak usia setelah berada dalam tahap perkembangan psikososial yang disebut industry vs inferiority. Erikson menterjemahkan industry sebgai tahapan tumbuh kembang dimana anak mulai menyadari bahwa tidak selamanya mereka akan tinggal bersama dengan orangtua. Pada tahap tumbuh kembang ini anak mulai mengatur apa yang dibutuhkan bagi kehidupannya. Rasa percaya akan kemampuan diri dalam mengatur hidup didorong oleh orangtua dan guru atau lingkungan keluarga dan sekolah. Kurang atau tidak adanya dorongan dari orangtua, guru, atau peer group kepada anak akan menimbulkan keraguan terhadap kemampuan mereka dalam mencapai kesuksesan. Erikson menyebut keadaan ini sebagai inferiority, yaitu lawan dari industry. Rungap adiachy (1999) menyebutkan bahwa anak yang tidak berhasil dalam mencapai suatau tujuan akan muncul perasaan kecewa.

24 d) Perkembangan moral Anak mulai memahami adanya peraturan dan berpikir secara logis berdasarkan pengalaman mereka dengan peer group. Pada usia 12 tahun, anak mampu mempertimbangkan hal yang akan terjadi jika masyarakat hidup tanpa memiliki hidup memiliki aturan (Potter dan Perry, 1997). Tingkatan kepatuhan terhadap peraturan tinggi, namun pada perkembangan berikutnya anak menjadi lebih fleksibel dalam menjalankan peratuaran. 1) Hubungan teman sebaya Pada usia 6-7 tahun anak bermain denagn teman yang berjenis kelamin sama. Saat berusia 8 tahun anak mulai membentuk kelompok denagn lawan jenis. Kecocokan terlihat pada perilaku, gaya berpakaian, pola bicara yang didorong dan dipengaruhi oleh adanya kontak dengan teman sebaya (Potter dan Perry, 1997). Hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting dan mempengaruhi anak selama proses melewati masa sekolah (Hockenberry dan Wilson, 2009). 2) Identitas seksual Menurut teori psikoseksusl Freud, anak usia sekolah (6 tahun sampai pubertas) berada pada tahapan latensi, yaitu periode dimana anak memiliki sedikit ketertarikan dengan seksualitasnya. 3) Konsep diri dan kesehatan Anak berpikir bahwa harga diri dinilai dari kemampuan seseorang dalam menyelesaikan tugas dan sejauh mana ia mengusai tugas tersebut. Keluarga

25 mempengaruhi kriteria yang digunakan anak dalam mengevaluasi kemampuannya (Hockenberry dan Wilson, 2009). Selama usia sekolah, identitas dan konsep diri menjadi lebih kaut dan individual (Potter dan Perry, 1997). 3.4 Gangguan Pertumbuhan Menurut (Fatchul Mufidah, 2012), gangguan pertumbuhan atau sering kali disebut gagal tumbuh bukanlah suatu diagnosis, melainkan terminologi yang digunakan untuk menyatakan masalah khusus pada anak. Istilah gagal tumbuh banyak dipakai untuk mengungkapkan adanya kegagalan dalam mendapatkan keenaikan berat badan, meskipun pada kasus tertentu juga disertai terjadinya gangguan pertumbuhan linear dan lingkar kepala dibandingkan anak lain seusianya atau yang sama jenis kelaminya. 3.5 Gangguan Perkembangan dan Perilaku Anak Sekolah Menurut (Fatchul Mufidah, 2012), gangguan perkembangan dan perilaku pada anak sangat luas dan bervariasi. Biasanya, gangguan yang bisa terjadi pada anak sekolah adalah gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan bicara, gangguan emosi, hiperaktif, ADHD (attention, defecit, hyperactive, adnd disorders) dan autisme. 3.6 Permasalahan kesehatan Anak Usia Sekolah Menurut Fatchul Mufidah (2012), secara epidemiologis penyebaran penyakit berbasis lingkungan di kalangan anak sekolah di Indonesia tergolong sangat tinggi. Terjadinya infeksi, seperti deman berdarah dengue, diare, dan cacingan, serta

26 berbagai dampak negatif akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan, masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan kesehatan pada anak juga disebabkan oleh pencemaran lingkungan lingkungan yang berasal dari beberapa kegiatan pembangunan yang terus meningkat. Misalnya, semakin meluasnya gangguan akibat paparan asap, emisi gas buang sarana transportasi, kebisingan, limbah industri dan rumah tangga, serta gangguan kesehatan lantaran bencana alam. Selain faktor lingkungan yang menjadi faktor utama, masalah yang harus diperhatikan juga adalah membentuk perilaku sehat pada anak sekolah sekaligus membangun pemahaman yang benar terhadap penyakit bagi para orang tua. Biasanya, permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD sangat berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan, seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, kebersihan mencuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga kebersihan diri. Permasalahan kesehatan anak usia sekolah bisa berupa penyakit menular, penyakit noninfeksi, serta gangguan pertumbuhan, perkembangan, dan perilaku. Penyakit yang cukup menggangu dan menjadi persoalan utama sekaligus berpotensi mengakibatkan keadaan bahaya (mengacam jiwa) adalah penyakit menular pada anak sekolah. Sekolah merupakan sumber penularan penyakit pada anak sekolah. Sebab, dalam interaksi antar anak, banyak maupun tidak langsung, yang menyebabkan terjadinya penyebaran dan penularan penyakit. Berbagai penyakit yang menular di lingkungan sekolah antara lain demam berdarah, campak, rubela, cacar air, dan

27 gondongan. Sedangkan, salah satu penyakit noninfeksi yang tidak menular ialah cacingan.