Job Evaluation : Memberi Harga Pekerjaan Anda Secara Fair

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Job Evaluation : Memberi Harga Pekerjaan Anda Secara Fair"

Transkripsi

1 EDISI 49/FEBRUARI-MARET/2011 CAKRAWALA Tour de Terbanggi BUDAYA KERJA Monitoring Pelaksanaan Budaya ProCISE 201, Perkuat Pondasi Menuju Visi PELANGI Pemenang ProCISE dan Innovation Award Benchmarking ke Jepang Job Evaluation : Memberi Harga Pekerjaan Anda Secara Fair

2

3 CAKRAWALA Tour de Terbanggi BUDAYA KERJA Perkuat Budaya Kerja ProCISE, Pondasi Menuju World Class Company PELANGI Monitoring Pelaksanaan Budaya ProCISE 201, Perkuat Pondasi Menuju Visi EDISI 49/FEBRUARI-MARET/2011 MANAJEMENMENYAPA Tidak Pernah Ada Kata Selesai Karyawan adalah kunci dari terbentuknya suatu organisasi dan pusat dari pergerakan organisasi tersebut. Apapun bentuk dan jenis organisasinya, sudah dapat dipastikan bahwa seluruh organisasi dibentuk untuk kepentingan karyawan dan hanya dapat dilaksanakan oleh karyawan. Oleh sebab itu pengembangan nomor satu yang harus diberikan adalah kepada karyawan yang ada pada organisasi tersebut. Bukan kepada segala aset kekayaan yang ada serta segala sistem dan teknologi yang canggih. Dapat dipastikan bahwa tidak ada suatu organisasi apapun yang dapat berkembang apabila tidak ada perhatian khusus yang diberikan kepada sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu pengembangan Sumber Daya Manusia di PGN tidak akan pernah sampai pada kata selesai. Selalu dan harus selalu dicari cara untuk mengembangkannya. Apabila sebuah organisasi atau katakanlah sebuah perusahaan ingin berkembang maka haruslah ada tim yang senantiasa memikirkan pengembangan Sumber Daya Manusia yang ada dari waktu ke waktu. Selain itu PGN juga selalu memperhatikan masalah kompensasi yang diberikan kepada karyawan. Kompensasi ini mengandung arti tidak sekedar hanya dalam bentuk finansial saja. Bentuk finansial langsung berupa upah, gaji, komisi dan bonus. Sementara yang tidak langsung berupa asuransi, bantuan kesehatan, uang cuti, uang pensiun, pelatihan dan sebagainya. Selain itu, bentuk non finansial dapat berupa unsurunsur jenis pekerjaan dan lingkungan pekerjaan. Bentuk unsur pekerjaan meliputi tanggung jawab, perhatian dan penghargaan dari pimpinan, sementara bentuk lingkungan pekerjaan berupa kenyamanan kondisi kerja, distribusi pembagian kerja dan kebijakan perusahaan. Setiap insan PGN diharapkan mampu untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam segala keadaan, sekalipun menghadapi saat-saat krisis. Kita harus mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada tentunya dengan kerjasama yang baik dan memberdayakan kapabilitas kita masing-masing. Kita juga harus terus belajar dan juga harus bersedia mendengarkan masukan dari orang lain. Masingmasing kita diharapkan untuk mampu memancarkan energi positif yang mampu membangkitkan semangat dan menggerakkan rekan kita untuk bersama-sama memajukan perusahaan yang kita cintai ini. Salam dari kami DARIREDAKSI Berbahagia sekali, kami dapat kembali menghadirkan Berita Gas ke hadapan para pembaca sekalian. Berita Gas kali ini adalah edisi yang ke-49. Ini menjadi bukti keseriusan dan komitmen kami untuk menghadirkan sebuah media yang dapat menjadi jembatan informasi dan komunikasi bagi kalangan karyawan PGN Berita Gas berusaha menghadirkan informasi-informasi terbaru di lingkungan perusahaan kita tercinta. Pada edisi kali ini, dikupas perihal Job Evaluation sebagai alat yang digunakan manajemen untuk mengukur nilai setiap posisi di lingkungan PGN. Sosok para karyawan unit kerja di Terbanggi juga ditampilkan untuk menyemangati setiap Insan PGN agar selalu berbuat yang terbaik. Kami terus berharap masukan dari segenap pembaca Berita Gas baik berupa kontribusi artikel atau informasi kegiatan di unit kerja rekan-rekan, ataupun saran dan kritik. Redaksi Job Evaluation : Memberi Harga Pekerjaan Anda Secara Fair Foto: Group of People Indicators Illustration: R.K Susunan Redaksi Pelindung: Direktur Utama Pembina: Direksi & Sekretaris Perusahaan Pengarah: Kepala Divisi Komunikasi Korporat Ketua Penyunting: Manajer Humas & Media Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 3

4 CONTENT 5 Sajian Utama Sistem Pengupahan Baru Job Evaluation : Memberikan Harga Pekerjaan Anda Secara Fair 10 Cakrawala Tour de Terbanggi Inspeksi dan Pemeliharaan SUBSEA VALVE 14 Profil Penjaga Stasiun Gas Terbanggi 18 Budaya Kerja Monitoring Pelaksanaan Budaya ProCISE 201, Perkuat Pondasi Menuju Visi 20 Berita CSR Rumah Kompos Airlangga Tingkatkan Standar Mutu Kehidupan Masyarakat 26 Pelangi Love Your Job Bersikap Ramah Strategi Menuju Sukses Pemenang ProCISE dan Innovation Award Benchmarking ke Jepang Humor 4 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

5 SAJIANUTAMA Sistem Pengupahan Baru Selain lingkungan kerja yang nyaman, faktor gaji atau penghasilan tak pelak merupakan elemen penting untuk memelihara motivasi dan kepuasan kerja karyawan. Melalui pemberian penghasilan yang atraktif dan memenuhi asaz fairness, diharapkan akan terus dapat tumbuh spirit kerja yang kian produktif. Dalam kaitannya dengan hal itulah, maka secara periodik juga perlu dilakukan proses perbaikan terus menerus (continous improvement) atas kebijakan pemberian gaji kepada karyawan, atau juga tentang kebijakan remunerasi. Melalui proses penyempurnaan sistem remunerasi ini, diharapkan akan terbangun win-win synergy : artinya, proses perbaikan kebijakan remunerasi mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan, sehingga dengan demikian juga dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan bisnis perusahaan. Dengan spirit semacam itulah, Perusahaan memutuskan untuk menerapkan sistem pengupahan baru. Dalam proses penyusunan sistem pengupahan yang baru ini, terdapat tiga aspek yang menjadi perhatian utama atau faktor yang mempengaruhi upah yang dibayar Perusahaan kepada Pekerja. Ketiga aspek itu adalah sebagai berikut : 1) bobot jabatan yang diemban seseorang, yang dinilai melalui evaluasi jabatan; 2) nilai yang berlaku di pasar tenaga kerja atau sesuai dengan aturan pemerintah; 3) kemampuan pekerja, yang di antaranya terlihat dari hasil penilaian kinerja dan assessment kompetensi. Nilai Bobot Jabatan Nilai bobot jabatan diperoleh melalui proses job evaluation. Dalam proses ini setiap jabatan dinilai berdasar 8 kriteria/dimensi, yang secara ringkas dapat dikelompokkan dalam 3 faktor yaitu : Accountability (kriteria untuk mengukur wewenang dan tanggung jawab sebuah posisi); Problem Solving (kriteria untuk menilai seberapa rumit proses problem solving yang harus dilakukan oleh posisi tersebut); atau faktor Know How (yakni kriteria yang mengukur seberapa tinggi pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan oleh satu posisi). Dari hasil evaluasi jabatan tersebut kemudian disusunlah job grade atau tingkat jabatan. Job grade ini disusun berdasar bobot nilai setiap jabatan yang diukur dengan tiga faktor diatas. Sejumlah jabatan yang memiliki bobot nilai yang sama atau sebanding kemudian dikelompokkan dalam satu job grade. Setelah melalui proses pengukuran bobot nilai untuk setiap jabatan yang ada di PGN, maka dihasilkan pengelompokkan sebanyak 16 grade (yaitu job grade 8 sampai dengan 23, dimana 8 adalah terendah dan 23 tertinggi). Setiap job grade ini kemudian mendapatkan semacam penyebutan, dimana terdapat nama Staf untuk kelompok paling bawah dan sebutan Vice President untuk kelompok job grade yang paling tinggi. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 5

6 SAJIANUTAMA Dengan adanya sistem baru ini diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi proses pengembangan SDM. Pada arah selanjutnya, sistem pengupahan yang baru ini diharapkan akan mampu mendorong produktivitas segenap Pekerja, dan juga bagi peningkatan kinerja perusahaan. Salary Survey Setelah masing-masing jabatan mendapatkan bobot nilai berdasarkan proses job evaluation, dan kemudian dikelompokkan dalam kelompok job grade yang sesuai, maka tahapan berikutnya adalah menentukan berapa besar penghasilan yang pas untuk setiap job grade yang ada. Disini Perusahaan kemudian melakukan semacam salary survey untuk melihat berapa besar gaji yang diberikan untuk job grade yang sebanding. Misal berapa sih rata-rata gaji untuk grade Vice President di perusahaan lain yang sejenis (atau berada pada industri yang kurang lebih sama). Atau berapa besar gaji Manajer di perusahaan lain. Melalui salary survey diatas maka akan diperoleh informasi pembanding yang dapat dijadikan sebagai referensi. Tentu saja disini Perusahaan berupaya agar rata-rata gaji yang diberikan bisa lebih kompetitif dibanding yang ada di pasar (atau dibanding yang diberikan oleh rata-rata perusahaan lain, untuk grade yang sebanding). Kemampuan Pekerja Selain melalui proses pembobotan nilai jabatan dengan job evaluation dan juga dengan memperhatikan hasil salary survey, maka aspek lain yang menjadi pertimbangan penetapan gaji adalah kemampuan pekerja. Aspek kemampuan pekerja ini diukur berdasar hasil penilaian kinerja dan juga assessment kompetensi. Dalam hal ini, para pekerja yang hasil penilaiannya baik tentu saja bisa mendapatkan penyesuaian upah yang lebih tinggi. 6 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

7 SAJIANUTAMA Komposisi Upah Bulanan Unsur perubahan lain dalam kebijakan upah yang baru ini adalah adanya perubahan komponen upah bulanan. Dalam hal ini, upah bulanan yang tadinya terdiri dari tiga komponen (upah dasar, tunjangan kehadiran dan insentif prestasi) menjadi hanya dua komponen saja (upah dasar dan tunjangan posisi). Dengan hanya dua komponen, maka besaran upah dasar cenderung menjadi lebih besar. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Sebab pemberian uang pensiun seperti Pembayaran Purna Bhakti (PBB), DPLK ataupun Jamsostek akan menggunakan upah dasar sebagai basis untuk menghitung besarnya uang pensiun. Dengan demikian upah dasar yang tinggi akan mampu memberikan efek positif bagi besarnya uang purna bhakti yang kelak akan diterima oleh pekerja. Comparatio Unsur lain yang ada dalam kebijakan upah yang baru ini adalah penggunaan comparatio sebagai dasar kenaikan upah pekerja. Comparatio merupakan perbandingan antara nilai nominal upah dasar yang diterima pekerja dengan nilai tengah skala upah dalam job grade-nya. Comparatio yang rendah artinya upah dasar pekerja saat ini lebih rendah dibanding nilai tengah (median) skala upah untuk job grade-nya. Dengan kata lain, upah pekerja tersebut lebih rendah dibanding rata-rata upah yang diterima rekan-rekannya, meski mereka semua tergolong dalam job grade yang sama. Sebaliknya, angka comparatio yang tinggi menunjukan upah dasar pekerja saat ini lebih tinggi dibanding nilai tengah (median) skala upah untuk job gradenya. Artinya, upah pekerja tersebut relatif lebih tinggi dibanding rata-rata upah yang diterima oleh rekanrekannya, meski mereka semua terkelompokkan dalam job grade yang sebanding. Nah, nanti pada saat konversi dari sistem lama ke dalam sistem pengupahan baru, aspek comparatio ini akan juga digunakan sebagai masukan untuk penyesuaian upah dasar bagi Pekerja. Pekerja yang mempunyai comparatio rendah akan mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan penyesuaian upah dasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pekerja dengan comparatio yang tinggi. Tentu saja usaha perbaikan tidak berhenti pada hal-hal yang telah dibahas di atas, masih banyak hal yang masih harus diperbaiki sehingga sistem pengupahan dapat menjadi lebih baik lagi. Dengan adanya sistem baru ini diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi proses pengembangan SDM. Pada arah selanjutnya, sistem pengupahan yang baru ini diharapkan akan mampu mendorong produktivitas segenap Pekerja dan juga bagi peningkatan kinerja perusahaan. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 7

8 SAJIANUTAMA Untuk memenuhi elemen fairness yang kokoh, selama ini dikenal sebuah tahapan yang disebut sebagai proses job evaluation : atau sebuah proses untuk memberikan value untuk setiap posisi/ pekerjaan yang ada dalam satu perusahaan. Job Evaluation : Memberikan Harga Pekerjaan Anda Secara Fair 8 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

9 Ditengah dinamika pertumbuhan bisnis yang terus melaju, ada kalanya diperlukan sejumlah perubahan sistem dan proses kerja ke arah yang lebih baik. Disitu dibentangkan sejumlah inisiatif-inisiatif baru yang lebih responsif terhadap pekembangan bisnis terkini. Upaya penyempurnaan proses ini juga seringkali terjadi dalam bidang remunerasi pegawai atau employee remuneration. Pengelolaan dan perbaikan sistem remunerasi selalu diniatkan untuk menjangkau dua unsur penting yakni; kompetitif (tentu saja ini merupakan faktor penting supaya segenap pegawai bisa terus meningkatkan level kesejahteraannya) dan fair (sebuah elemen yang memastikan bahwa setiap posisi diberi harga secarara fair sesuai dengan bobot pekerjaannya). Untuk memenuhi elemen fairness yang kokoh, selama ini dikenal sebuah tahapan yang disebut sebagai proses job evaluation atau sebuah proses untuk memberikan value untuk setiap posisi/pekerjaan yang ada dalam satu perusahaan. Hasil dari proses ini biasanya kemudian muncul dalam bentuk job grade atau level pekerjaan yang bersifat hirarkis sesuai dengan harga atau nilai pekerjaan itu. Pertanyaannya kemudian adalah begini : lalu bagaimana cara untuk menimbang-nimbang dan memberikan bobot untuk setiap posisi yang ada, secara fair? Disini lalu kita dikenalkan dengan compensable factors atau semacam faktor dan kriteria yang sebaiknya digunakan untuk memberikan atau menghargai sebuah pekerjaan. Faktor atau kriteria tersebut sangat penting, sebab dengannya kita lalu bisa menilai sebuah pekerjaan dengan lebih sistematis dan tidak sekedar dengan berdasar perasaan belaka. Lalu faktor apa saja yang lazim digunakan untuk menilai sebuah pekerjaan? Dalam dunia praktek manajemen remunerasi, ada sejumlah faktor yang biasanya digunakan untuk menimbang-nimbang harga/nilai sebuah pekerjaan. Faktor itu antara lain adalah Accountability (kriteria untuk mengukur wewenang dan tanggung jawab sebuah posisi); Problem Solving (kriteria untuk menilai seberapa rumit proses problem solving yang harus dilakukan oleh posisi tersebut); atau faktor Know How (yakni kriteria yang mengukur seberapa tinggi pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan oleh satu posisi). Demikianlah faktor-faktor yang akan digunakan untuk menilai posisi tersebut kemudian dipetakan dalam skala tingkatan dari level rendah sampai yang tertinggi. Misal untuk faktor problem solving, dipetakan dalam lima level, mulai dari level 1 (tingkat problem solving yang dibutuhkan relatif sederhana) sampai level 5 (tingkat problem solving yang membutuhkan analisa yang kompleks dan dalam kondisi yang tidak menentu uncertain condition). Berdasarkan kriteria yang telah dipetakan dalam skala itulah, kemudian setiap posisi dianalisa dan kemudian diberi skala nilai yang sesuai cakupan pekerjaan yang disandangnya. Sebagai misal, seorang operator data entry mungkin akan mendapatkan level satu untuk faktor problem solving (karena pekerjaan dia bersifat repetitif dan tidak banyak memerlukan proses analisa yang kompleks). Sebaliknya seorang analis riset pasar dan industri mungkin akan mendapat skala 4 dalam aspek problem solving (sebab posisi itu membutuhkan daya analisa yang tinggi dan kompleks). Begitulah, berdasar faktor atau kriteria yang disepakati (lengkap dengan beragam tingkatannya), setiap posisi dianalisa dan dinilai harganya. Proses analisa ini tentu saja dengan mengacu pada job descriptioan dan key result areas dari masing-masing posisi. Selain itu, proses perhitungan nilai posisi ini sebaiknya juga melibatkan tim eksternal yang bersifat independen dan memiliki referensi yang kaya dalam area manajemen remunerasi. Mengapa harus independen? Sebab kalau proses ini dilakukan oleh para pemegang posisi saat ini, analisanya barangkali akan menjadi bias. Bisa jadi orang tersebut akan memberikan harga yang relatif tinggi untuk posisinya sendiri, meskipun bobot pekerjaan dan informasi dari common practices (praktek di perusahaan lain yang sejenis) menunjukkan nilai untuk posisi tersebut sebenarnya lebih rendah. SAJIANUTAMA Dengan bantuan tim eksternal yang independen, yang ditopang dengan basis informasi dari beragam industri dan juga praktek di beragam perusahaan sejenis, diharapkan analisa untuk menilai value posisi itu menjadi lebih obyektif dan pas hasilnya. Tentu saja, ada kalanya sejumlah karyawan kurang puas dengan hasil penilaian tersebut dan menggerutu: wah grade saya kok sekarang jadi cuman segini, padahal selama ini saya sudah kerja mati-matian lho. Atau begini : waduh, grade posisi itu kok lebih tinggi dibanding grade saya, padahal perasaan beban pekerjaannya sama aja. Sekali lagi, sebenarnya penilaian harga pekerjaan ini mengacu pada faktor/compensable factors beserta skala tingkatannya yang telah ditetapkan sejak awal. Dan proses analisa harga pekerjaan ini benarbenar mengacu pada job des dan key result areas posisi tersebut. Artinya hasil penilaian pekerjaan yang didapatkan diupayakan semaksimal mungkin merepresentasikan nilai dan grade yang paling pas untuk posisi tersebut. Memang, rasanya manusiawi dan wajar juga jika kita mengharapkan grade yang tinggi (sebab siapa sih yang tidak ingin grade dengan gaji yang lebih tinggi, ya nggak?). Namun ada kalanya perasaan yang bersifat subyektif ini tidak kompatibel dengan kriteria obyektif yang telah dirumuskan dengan beragam pertimbangan yang seksama, berdasar best practices yang lazim di praktekkan. Pada akhirnya, proses job evaluation ini memang kadang akan memberikan percikan ketidakpuasan disana-sini (sebuah proses yang juga lazim terjadi di perusahaan/ organisasi lain). Namun barangkali, ada sekeping sikap bijak yang lebih layak dikedepankan: kita tetap layak bersyukur dengan segenap tantangan yang ada, sembari terus ikhlas menjalankan tugas yang diemban. Sebab dengan itu, mungkin kita bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Juga bagi keluarga kita di rumah. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 9

10 CAKRAWALA Stasiun Transmisi Terbanggi Besar: Unjuk Kerja di Tengah Kebun Nanas Stasiun Penerima dan Penyalur PGN di Terbanggi Besar bisa disebut sebagai sebuah keterpencilan lokasi kerja. Keberadaannya memang cuma berjarak sekitar 4 Km dari keramaian Desa Bandar Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung. Namun, untuk mencapai lokasi Stasiun Transmisi Gas PGN itu sungguh perlu perjuangan tersendiri. Dari pertigaan di samping Masjid Al-Muhajirin yang berada di sisi barat jalan raya yang melintasi Desa Bandar Agung, kita menemui jalan perkampungan yang masih berupa bebatuan sepanjang 1 Km. Setelah itu, kita menemui jalanan tanah yang membelah hamparan perkebunan nanas di kanan jalan dan ladang singkong milik masyarakat di sisi kiri jalan. Hamparan kebun nanas seluas hektar itu milik perusahaan asing (PMA) PT Great Giant Pineapple Corp (GGPC). Selebihnya, penelusuran jalan tanah sepanjang 3 Km harus dilakukan untuk mencapai lokasi Stasiun Terbanggi Besar. Bila tidak sedang diguyur hujan, perjalanan akan diselimuti oleh deru debu. Sebaliknya, jika sedang musim penghujan, jalanan menjadi licin dan di sana-sini tampak kubangan lumpur. Hanya truk serta mobil double gardan dan motor trail yang sedikit leluasa bisa mencapai Stasiun Terbanggi Besar. Kantor dan bangunan Stasiun Terbanggi Besar seluas 2 hektar, dengan luas keseluruhan lahan mencapai 16 hektar. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan nanas. Hanya di sisi selatan area stasiun yang sedikit berdekatan dengan pepohonan bambu yang juga berada di kawasan perkebunan nanas. Pada siang hari, Karyawan yang bertugas di Stasiun Terbanggi berjumlah 34 orang. Empat belas orang di antaranya bertugas di bagian facility, metering dan pemeliharaan jaringan pipa, yang bekerja dalam 2 shift: Siang ( ) dan malam ( ). 10 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

11 CAKRAWALA Sebuah stasiun transmisi yang merupakan bagian penting dari bentangan panjang aliran gas Sumatera- Jawa. Sebuah stasiun yang terletak di antara Stasiun Kompresor Pagardewa di Sumatera Selatan dan Stasiun Transmisi Labuhan Maringgai di pinggiran pantai Lampung Timur. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 11

12 CAKRAWALA 12 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

13 CAKRAWALA yang tampak dari kejauhan hanyalah menara komunikasi stasiun yang menjulang tinggi di atas belantara nanas yang sangat luas. Di malam hari, dengan sorot terang lampunya Stasiun Terbanggi laksana mercusuar di tengah lautan nanas yang diliputi oleh kegelapan malam. Sebuah stasiun transmisi yang merupakan bagian penting dari bentangan panjang aliran gas Sumatera-Jawa. Sebuah stasiun yang terletak di antara Stasiun Kompresor Pagardewa di Sumatera Selatan dan Stasiun Transmisi Labuhan Maringgai di pinggiran pantai Lampung Timur. Sebuah stasiun transmisi yang bekerja nonstop sepanjang tahun sehingga setiap saat prosesnya harus dipastikan stabil dan aman. Di situlah, di tengah kesunyian belantara kebun nanas, segenap insan Stasiun Terbanggi harus berunjuk kerja. Karyawan yang bertugas di Stasiun Terbanggi berjumlah 34 orang. Empat belas orang di antaranya bertugas di bagian facility, metering dan pemeliharaan jaringan pipa, yang bekerja dalam 2 shift: Siang ( ) dan malam ( ). Kemudian 15 orang sekuriti yang bekerja dalam 3 shift per 8 jam: pagi, sore dan malam. Plus 5 orang office boy. Semua karyawan harus bekerja sesuai peran dan fungsinya. Karyawan bagian facility, metering dan pemeliharaan jaringan pipa, bekerja selama dua minggu tanpa libur dengan pembagian seminggu shift siang dan seminggu shift malam. Setelah itu, mereka memperoleh hak libur selama seminggu. Karyawan bagian facility, metering dan pemeliharaan jaringan pipa, bekerja selama dua minggu tanpa libur dengan pembagian seminggu shift siang dan seminggu shift malam. Setelah itu, mereka memperoleh hak libur selama seminggu. Selama bekerja, mereka wajib tinggal di mess karyawan. Dalam hal ini, PGN mengontrak 2 buah rumah untuk dijadikan mess. Satu mess untuk bagian facility berada di Bandar Agung yang jaraknya dengan stasiun sekitar 5 Km, dan satunya lagi untuk bagian maintenance dan pipeline di Bandar Jaya yang berjarak belasan kilometer. Perjalanan dari mess ke stasiun pergipulang menggunakan mobil dinas double gardan. Mereka semua bekerja dalam tim yang solid guna mengontrol segala sesuatu yang ada di stasiun, baik facility, peralatan, aliran gas, tekanan gas dan suhunya serta stabilitas pasokan lisrik. Untuk listrik, stasiun menggunakan generator gas (Senin- Jum at) dan generator diesel (Sabtu-Minggu). Supaya konsentrasi dalam bekerja tidak terganggu, semua karyawan dilayani dengan katering untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Untuk menjaga kesehatan karyawan, setiap hari Kamis dilakukan senan kesegaran jasmani, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan dokter. Di sini, perusahaan berusaha memperhatikan kesehatan dan keamanan kerja para karyawan yang berada di garis depan itu. Mereka bekerja siang-malam di tengah hamparan ribuan hektar kebun nanas, dalam sebuah keterpencilan yang jauh dari hirukpikuk kehidupan masyarakat itu. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 13

14 PROFIL JUVINUS SEMBIRING, Kasubsi Operasi dan Pemeliharaan Fasilitas Wilayah Terbanggi Besar SBU Transmisi Walaupun lokasinya terpencil, tapi rasanya nyaman dan aman. Alasannya, pertama, daerah ini memang aman terkendali. Masyarakat sekitar tidak pernah bertindak yang aneh-aneh. Ini merupakan perkampungan transmigran purnawirawan TNI-AD dari Jawa, sehingga faktor keamanan relatif terjamin. Kedua, lokasi stasiun terletak di area perkebunan nanas, sehingga kebisingan dari proses kerja stasiun tidak mengganggu masyarakat. Jarak antara stasiun dengan perkampungan masyarakat cukup jauh. Sejak Mei 2009, saya bertugas di sini. Jam kerja saya sama seperti ketika masih di bertugas Jakarta, Senin-Jum at, dari pukul sampai Sabtu-Minggu libur. Awalnya memang terasa tidak nyaman karena jauh dari keluarga. Namun, saya jalani dan nikmati saja. Dan sekarang nyaman-nyaman saja. Ya, manusiawi sajalah kalau saya sering merasa rindu kepada keluarga dengan anak-anak yang masih kecil. Jarak Jakarta- Lampung tidak terlalu jauh, sehingga keluarga saya yang ada di Cikarang (Jawa Barat) tidak perlu dipindahkan ke Lampung. Setiap Jum at sore saya pulang ke Jakarta dan Senin pagi sudah tiba kembali di Terbanggi. Selama hari kerja saya tinggal di mess karyawan di Bandar Agung. Yang jelas, saya menikmati tugas kerja di lokasi terpencil ini. Saya teringat kampung halaman, sewaktu kecil saya sering bermain dan bekerja di ladang atau sawah, karena saya memang anak seorang petani sayuran di Brastagi, Sumatera Utara. Dan bagi saya, ini bukan hal baru bertugas di daerah terpencil. Sebelum di Terbanggi, saya memang bertugas di Jakarta bertempat di SBU Distribusi Wilayah I. Tapi jauh sebelumnya, saat awal saya bekerja di PGN (1997), saat saya masih kuliah di Medan, saya bertugas di kantor PGN Medan. Tahun 2001, saya disekolahkan ke Cepu (Jawa Tengah). Ketika pembangunan Stasiun Pagardewa, selama 3 bulan saya bertugas di sana. Makanya, saat ditempatkan di Terbanggi ini saya tidak terkejut karena sudah punya pengalaman di Pagardewa yang lebih terpencil lagi. Selama bertugas di Terbanggi, kami pernah mengalami permasalahan krusial. Dua kali (2009 dan 2010) terjadi kebakaran di sekitar area stasiun, akibat musim kemarau panjang. Wilayah sekitar stasiun ini memang ditumbuhi pepohonan bambu dan rerumputan. Panasnya sinar matahari membuat dedaunan kering mudah terbakar. Jadi, kebakaran yang terjadi bukan disebabkan dari Stasiun Terbanggi, melainkan dari luar stasiun. Saat itu, kami sudah siap dengan peralatan yang kami punya. Tapi, karena luasnya area yang terbakar membuat kami kewalahan juga. Beruntung ada bantuan dari PT Great Giant Pineapple Corp (GGPC) dan pemadam kebakaran setempat, sehingga kebakaran dapat dipadamkan. Makanya, untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran terulang kembali di masa datang, kami membuat lahan pembatas beradius aman 10 meter mengelilingi stasiun. Di area pengaman itu diletakkan kerikilkerikil batu. Yang mungkin masih jadi permasalahan jika musim penghujan adalah rekan-rekan kerja kami seperti sekuriti dan office boy. Mereka menghadapi kesulitan menuju ke lokasi stasiun karena jalanan yang licin, rusak, becek dan banjir. Sedangkan untuk karyawan lainnya tidak masalah karena mereka diantar jemput dengan mobil double gardan. Ya, kita berdoa dan bekerja dengan lebih baik agar PGN bertambah bagus sehingga perhatian manajemen terhadap kenyamanan karyawan dalam bekerja bisa menjadi semakin baik. HERSAN ESWANDI, Koordinator Sekuriti Stasiun Terbanggi Besar 14 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

15 PROFIL Sebagai pelaksana facility, kami bertugas memonitor jalannya operasi stasiun gas agar tetap terkendali dan tidak ada gangguan. Kami menjaga seluruh fasilitas yang ada di stasiun, baik instalasi dan jaringan pipa gas maupun fasilitas yang ada di gedung/kantor. Saya lahir dan besar di Jakarta. Lulusan Politeknik Negeri Jakarta tahun Saya masuk PGN tahun 2008 dan diangkat jadi karyawan tahun Ketika ditempatkan di daerah terpencil seperti Terbanggi ini, awalnya memang kaget. Namun, saya coba jalani tugas kerja ini dengan penuh tanggung jawab. Ternyata, saya pun terbiasa. Jadi, dalam hal tugas kerja dan lokasi kerja di Stasiun Terbanggi yang terpencil ini, saya tidak ada masalah. Struktur kerja di sini sudah berjalan sistemik sehingga jika terjadi masalah masing-masing orang dapat berperan sesuai fungsinya. Pengaturan pola kerja juga sudah tertata dengan baik: dua NANDA ADITYA PRADANA, Staff Pemeliharaan Fasilitas Terbanggi Besar SBU Transmisi minggu kerja dan seminggu libur. Kadang saya memang merasa jenuh. Untuk itu, biasanya saya sibukkan diri dengan internet. Di situ saya bisa berkomunikasi dengan sesama insan PGN. Di mess karyawan pun tersedia hiburan TV kabel dan karaoke. Untuk urusan konsumsi juga tidak ada masalah. Kami mendapatkan katering untuk makan pagi, siang dan malam hari. Menunya cukup enak dan bergizi. Ketika sedang libur, saya pulang ke Jakarta. Saya merasa bersyukur dan menikmati pekerjaan ini. Selain bisa dikatakan sejalan dengan latar belakang pendidikan saya di teknik elektro, dalam pekerjaan ini saya juga memperoleh banyak pengalaman baru. Saya berharap kemajuan saya dan teman-teman dalam bekerja bisa memberi manfaat bagi perusahaan agar terus berkembang sebagai perusahaan gas yang lebih bagus. Dengan begitu kami semua juga bisa mendapatkan manfaat kesejahteraan yang lebih baik dari perusahaan. Saya bergabung dengan PGN sejak Maret Untuk sekuiti dipercayakan kepada PT Bima Jaya Security (BJS). Oleh BJS, saya ditugaskan sebagai koordinator sekuriti dengan wilayah tugas mengawasi jaringan pipa mulai dari Kilometer Point (KP) 82 di perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung sampai pinggir pantai di Labuhan Maringgai (KP272). Wilayah kami sejauh 190 Km. Untuk mengamankannya saya dibantu oleh 36 personil, dengan pembagian 15 orang di Stasiun Terbanggi Besar, 15 orang di Stasiun Labuhan Maringgai, dan 6 orang di Kantor Wilayah PGN di Bandar Lampung. Dalam melaksanakan tugas, kami melakukan 3 macam patroli. Pertama, patroli jalur atau patroli ROW. Kedua, patroli deteksi dini atau penyelidikan. Dan ketiga, patroli wilayah. Di daerah ini sering terjadi pencurian papan plang pipa PGN (papan warning) yang ada di beberapa titik jalur pipa gas yang terbuat dari plat besi. Orang mencuri papan itu lalu dijual ke lapak besi rongsokan. Karenanya, kami terus melakukan sosialisasi dengan berbagai pihak, baik tokoh masyarakat, para preman maupun lapak-lapak rongsokan. Syukurlah kejadian pencurian itu sudah berkurang. Dulu hampir setiap bulan papan besi kami hilang dicuri. Perusahaan juga sudah mengantisipasi dengan mengganti papan besi itu dengan papan yang terbuat dari beton cor. Dalam tugas kerja, secara umum tidak ada masalah. Hanya saja, setiap hari kami harus bertempur dengan menggunakan kendaraan pribadi, motor. Jika musim kemarau bertempur dengan deru debu, sedangkan pada musim penghujan bertempur dengan jalanan yang licin, becek dan di sana-sini terdapat kubangan besar. Ini rasanya yang perlu mendapatkan perhatian dari perusahaan. Saya sendiri, selama hari kerja tinggal di mess karyawan Bandar Jaya. Pada Jum at sore pulang ke Bandar Lampung untuk berkumpul dengan keluarga. Senin pagi sudah siap menunaikan tugas kerja lagi. Latar belakang saya adalah personil polisi. Tahun 2005 saya minta pensiun dini. Kemudian saya bekerja di Bank Lampung sebagai koordinator sekuriti. Keberadaan saya di PGN melalui BJS. Saya tidak tahu apakah tahun 2011 saya masih di PGN atau tidak. Sebab, masa kontrak BJS habis Desember Saya berharap, semoga saya tetap diberi kesempatan untuk menjaga Stasiun PGN di Terbanggi Besar ini. Rasanya, saya ini sudah seperti anggota keluarga besar PGN. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 15

16 CAKRAWALA Dalam rangka menjaga kehandalan jaringan, terutama tugas operasional dan pemeliharaan jaringan di SBU Transmisi Sumatera Jawa, khususnya wilayah 3 yang mengoperasikan pipa bawah laut, maka secara rutin tim operasional dan pemeliharaan wilayah 3 melaksanakan pemeliharaan dan inspeksi Subsea Valve di KP. 139,527 jalur transmisi pipa gas Labuhan Maringgai- Muara Bekasi. Kurang lebih sudah 4 tahun sejak dikonstruksi pada tahun 2006 yang lalu, maka sudah waktunya subsea valve ini untuk dibersihkan dari benda-benda yang bisa menghambat kinerja operasionalnya. Adapun bendabenda yang dapat mempengaruhi kinerja valve tersebut adalah jaring nelayan yang tersangkut, banicles atau sejenis karang yang menempel pada body valve, sampah-sampah plastik yang tersangkut, marine growth (tumbuh-tumbuhan laut) yang menempel dan lain sebagainya. Selain itu, pada saat bersamaan dilakukan pengecekan potential proteksi katodik pada jaringan pipa offshore serta pada guard frame subsea valve tersebut. Tujuan dari inspeksi dan pemeliharaan ini adalah memeriksa sejauh mana kondisi fisik dan kinerja atau fungsi subsea valve yang ada, apakah masih bisa dioperasikan dengan baik atau butuh dilakukan perbaikan. Idealnya untuk pembersihan fisik adalah 3 tahun sekali, tetapi untuk inspeksi cukup setahun sekali. Untuk itu, kurang lebih dari 3 tahun sejak pemasangan pada tahun 2006 yang lalu, maka subsea valve ini dilakukan pemeriksaan. Pelaksanaan pemeliharaan dan inspeksi ini dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu PT. Jaya Salvage Indonesia, dimana perusahaan ini menyediakan pelayanan dibidang salvage dan pekerjaan inspeksi di lepas pantai. Pekerjaan inspeksi dan pemeliharaan ini dilakukan dalam 2 hari, yang dilakukan secara bertahap. Hari pertama, inspeksi dan pemeliharaan subsea valve dan hari berikutnya adalah inspeksi crossing pipe BP-PGN. Pada tiap-tiap pelaksanaan pekerjaan, PGN TSJ wilayah III mengikutsertakan 2 personilnya untuk memantau kegiatan ini secara langsung, atau disebut PGN Representative, yang diwakili oleh personil bagian operasi dan pemeliharaan jaringan pipa bawah laut (offshore pipeline) secara bergantian. Sebelum pekerjaan inspeksi dan pemeliharaan subsea valve ini dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan rapat yang membahas mengenai tahapan pekerjaan yang akan dilakukan dan analisa kemungkinan resiko yang terjadi, yang dirangkum dalam laporan berbentuk Standard Operation Procedure dan Job Safety Analysis. Dari sini diketahui segala kemungkinan bahaya yang Inspeksi dan Pemeliharaan SUBSEA VALVE Oleh : Anang Wahyudi, SST (Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Wilayah III SBU Transmisi) bisa timbul sebelum, selama dan sesudah pekerjaan. Untuk itu, segala kemungkinan yang ada diantisipasi dan dilakukan pencegahan sedini mungkin, serta apa saja yang harus dilakukan bila dalam keadaan darurat, semua dicatat dan dijadikan prosedur tetap pekerjaan. Setelah JSA dan Prosedur Standar ini disepakati dan disetujui oleh PGN, maka kontraktor baru boleh melaksanakan pekerjaan tersebut. Tahapan-tahapan yang dilaksanakan sebelum pelaksanaan inspeksi dan pemeliharaan subsea valve ini adalah sebagai berikut : 1.Tim berkumpul di Dermaga Marina Ancol, untuk melakukan koordinasi dan setting alat. Selanjutnya data koordinat subsea valve dicek ulang, untuk memastikan supaya tim bisa langsung datang tepat di sasaran. Data koordinat ini didapat dari hasil survey Side Sonar Scan terakhir. Walaupun pada saat konstruksi awal sudah ada data koordinatnya, tetapi yang lebih meyakinkan adalah data survey terakhir. Hal ini diperlukan guna mengantisipasi perubahan koordinat subsea valve didasar laut akibat arus laut dan perubahan seabed. 16 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

17 Pengecekan dokumen sebelum berangkat (JSA, Prosedur Kerja dll) CAKRAWALA 2. Kemudian persiapan peralatan (setting, fungsi dan kualitas) dan personil yang akan bekerja ke dasar, apakah benar-benar sehat dan siap untuk bekerja, mengingat bekerja dilaut adalah pekerjaan dengan resiko tinggi. Personal yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan ini terdiri dari : o Koordinator pelaksana sebagai komandan regu o Diving supervisor, yang bertugas memantau kegiatan diver dibawah air serta yang mengatur berapa lama diver harus berada dibawah air dan kapan diver harus naik ke permukaan air untuk rekondisi o Diver pelaksana (4 orang) o Teknisi yang mengurusi perlengkapan diving dan komunikasi. o Cableman, yang mengurusi umbilical kabel untuk pernapasan diver o Survival Team, yang bertugas standby di darat, sebagai tim emergency apabila sewaktu-waktu dibutuhkan mengirim bantuan ke tengah laut. Perahu karet untuk keadaan darurat Perlengkapan yang dipakai adalah: o Peralatan selam lengkap dengan helm khusus/kirby o Kompresor o Umbilical / selang pernapasan yang terhubung ke tabungtabung udara o Tabung-tabung udara untuk pernapasan o Kamera bawah air o Layar Monitor untuk memantau kegiatan dibawah air o Genset o Lampu bawah air o Radio Komunikasi bawah air o CP reading, untuk mengecek potensial proteksi pipa dan guard frame subsea valve operlengkapan cleaning subsea valve (pisau, kapi dan lainlain). Foto Manometer Pengatur Udara Pernapasan Diver Genset untuk power supply perlatan elektronik Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 17

18 CAKRAWALA Diver sedang mengenakan master selam (kirby) 3. Setelah peralatan dan perlengkapan siap, tim menuju ke titik koordinat yang ditentukan dengan menggunakan perahu boat, dengan kecepatan sekitar knot/jam dan sampai dilokasi kurang lebih 30 menit (jarak antara Marina Ancol sampai koordinat subsea valve ± 17 km). Setelah sampai pada koordinat tersebut, kapal melepas jangkar, kira-kira sekitar 10 meter disamping subsea valve agar jangkar tidak mengenai valve tersebut. Kemudian diver pelaksana turun ke dasar laut pada titik yang telah ditentukan dengan perlengkapan selam lengkap. Tim dari Jasalindo sedang berangkat dari dermaga Marina Ancol ke lokasi subsea valve Layar monitor untuk memantau pekerjaan dibawah permukaan air 4. Setelah sampai pada lokasi subsea valve, kemudian dilakukan pengambilan gambar awal sebelum dilakukan pembersihan dan perawatan. Kemudian, sampah-sampah yang tersangkut di guard frame subsea valve dibersihkan secara manual. Setelah itu, body valve di bersihkan dari kerang-kerang yang menempel, agar operasional buka tutup valve bisa dilaksanakan dengan lancar. Pada proses pembersihan ini, dilakukan oleh 4 diver yang turun bergantian sesuai perintah diving supervisornya. Rata-rata tiap diver membutuhkan waktu penyelaman kurang lebih 45 menit, setelah itu naik ke permukaan untuk istirahat. Demi keselamatan, waktu-waktu penyelaman ini sudah mengikuti standar internasional dari US Navy, dimana pada kedalaman tertentu, maksimal waktu yang diperbolehkan untuk menyelam sudah ditentukan. 5. Setelah selesai pembersihan, dilakukan pengecekan potensial proteksi katodik pada guard frame dan pada body valve. Dari hasil pemeriksaan, diketahui potencial proteksi pada guard frame adalah (-)1092 mv dan pada body valve sebesar (-)1062 mv. Perlu diketahui pada guard frame subsea valve ini proteksi katodiknya terpisah dari valve yang dilindungi. Untuk guard frame menggunakan anoda tersendiri yang ditempelkan pada konstruksi guard frame-nya. Sedangkan untuk body valve, sistem proteksi katodiknya menggunakan anoda yang di tempelkan pada body pipa. 18 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

19 Diving Supervisor sedang mengamati pekerjaan dari layar monitor CAKRAWALA Setelah semua pekerjaan selesai, selanjutnya kontraktor membuat laporan dalam bentuk tulisan, foto dan video yang berisikan kegiatan-kegiatan selama pelaksanaan pekerjaan inspeksi dan pemeliharaan subsea valve ini. Kondisi Subsea Valve sebelum dibersihkan, penuh dengan jaring nelayan 8. Pada hari kedua, dari dermaga Marina Ancol, tim menuju ke titik koordinat BP crossing pipe. Tidak butuh waktu lama, diver sudah mencapai titik crossing yang dimaksud. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jarak/span antara pipa PGN dan pipa BP masih cukup aman, dimana pipa PGN berada sekitar 75 cm diatas pipa BP. Jarak minimal antara top pipe BP dan bottom pipe PGN adalah 50 cm, sehingga jarak ini masih memenuhi persyaratan yang diminta oleh BP. Setelah dilakukan pengambilan gambar, diver langsung naik ke permukaan. Selanjutnya tim berkemas kembali ke dermaga Marina Ancol dan kembali dengan selamat. Setelah semua pekerjaan selesai, selanjutnya kontraktor membuat laporan dalam bentuk tulisan, foto dan video yang berisikan kegiatankegiatan selama pelaksanaan pekerjaan inspeksi dan pemeliharaan subsea valve ini. 6. Setelah itu, dilakukan pengambilan gambar posisi terakhir setelah pembersihan pada guard frame dan pada body valve-nya. Untuk pengambilan gambar dilakukan oleh diver lain, tetapi dengan peralatan selam independent, dimana tabung pernapasannya dibawa sendiri yang tidak terhubung dengan diver pekerja dan hanya untuk penyelaman sebentar. 7. Setelah selesai dilakukan pengambilan gambar, semua diver langsung naik ke permukaan untuk selanjutnya bergeser ke arah titik koordinat BP crossing pipe. Tetapi karena waktu sudah mulai sore, maka diputuskan keesok harinya pekerjaan inspeksi crossing pipa BP dilakukan. Untuk masa mendatang, apabila perkembangan usaha PGN sudah menangani LNG, tidak menutup kemungkinan diperlukan unit kerja offshore dan marine tersendiri yang khusus menangani seluk beluk di bidang kelautan dan aturan-aturan yang harus dipenuhi sangat komplek, baik itu persyaratan dari Class (IMO, USCG, IGC, Lloyd Register, BV dan lain-lain) atau regulasi pemerintah setempat. Maju terus PGN. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 19

20 BUDAYAKERJA Monitoring Pelaksanaan Budaya ProCISE 2010, Perkuat Pondasi Menuju Visi Tiada hari tanpa sosialisasi (internalisasi) budaya unggul perusahaan modern. Tidak saja dilakukan melalui brosur, baliho, media internal dan spanduk, tapi juga contoh nyata dari para pimpinan manajemen puncak, pimpinan divisi, manajer hingga kepala satuan kerja. Juga sharing forum dan diskusi-diskusi kelompok kecil dalam setiap satuan/unit kerja. Itulah yang dilakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dalam usaha menerapkan budaya kerja ProCISE (Professionalism, Continuous Improvement, Integrity, Safety, Excellent Service). Karena itu, kini, Divisi Organisasi dan Proses Bisnis PGN (OPB) semakin intensif melakukan serangkaian sosialisasi budaya perusahaan ProCISE dalam lingkup internal PGN. Dari lapis atas dan menengah sebagai teladan, hingga para pekerja di level bawah. Tidak saja dalam komunitas karyawan di kantor pusat, tapi juga di kantor-kantor cabang atau SBU (Strategic Business Unit) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kita bertekad menjadi the world class company. Dan, budaya unggul kita dalam bekerja menjadi prasyarat untuk mencapai predikat the world class company itu, ujar Titi Mihartati, Manager Budaya Perusahaan Divisi Organisasi dan Budaya Perusahaan (OPB) PGN. Tentunya, Divisi OPB PGN bukan saja intensif melakukan kampanye budaya perusahaan ProCISE kepada segenap insan dan lingkup kerja PGN. Namun, Divisi OPB juga ingin memastikan bahwa prinsip dan nilai-nilai ProCISE itu telah diterapkan dalam keseharian kerja insan dan lingkup kerja PGN. Tidak saja dalam wacana, tapi nilai-budaya ProCISE yang digulirkan sejak lebih 2 tahun lalu itu diharapkan semakin menyatu dalam benak, sikap, perilaku dan karakter kerja insan PGN sehari-hari. Salah satu ramuan sukses perusahaan kelas dunia memang terletak pada budaya unggul perusahaan. Dari situlah kemudian terbangun nilai perusahaan (corporate value) yang terus meningkat secara berkesinambungan. Pada perusahaan kelas dunia, budaya unggul itu sudah menjadi ruh dan ritme kerja mereka sehari-hari. Tanpa harus dikatakan (action without saying), budaya unggul tadi sudah menjadi bagian integral dalam manajemen-organisasi kerja. Walhasil, mereka tidak sekadar mampu bertahan hidup, tapi juga terus tumbuh dan berkembang dalam kurun waktu yang panjang. Bahkan, mereka dapat terus hidup sepanjang masa (living company). Mereka tidak saja mampu menjadi ikon dan perusahaan kebanggaan karyawan, namun juga mampu berperan sebagai salah satu motor ekonomi masyarakat dan bangsa-negaranya bagi percaturan bisnis-ekonomi dunia. Sekadar contoh, setiap tahun majalah ekonomi-bisnis kenamaan Fortune rutin meliris The Best 500 Companies. Di situ mata kita selalu saja menyaksikan sejumlah perusahaan yang disebutkan sebagai world class company alias multinational company (MNC) bertengger pada ranking puncak. Nama-nama living companies itu sudah demikian akrab di benak kita. Bahkan, produk-produk mereka telah melekat 20 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

21 BUDAYAKERJA akrab menyertai keseharian hidup kita. Dari Jepang, misalnya, ada Matsushita, Honda, Toyota, Sony dan Toshiba. Dari Amerika Serikat (AS) ada Exxon, Wal- Mart, General Electric (GE), Citigroup, IBM, DuPont dan Microsoft. Dari Eropa ada Unilever dan Marks Spencer (Inggris); Nokia (Finlandia); Total dan Carrefour (Perancis); Daimler-Chrysler, Siemens dan Allianz (Jerman); Nestle (Swiss); dan lainnya. Dari Korea Selatan, kini Samsung dan LG mulai masuk dalam kelas global. Karena itu, menurut Titi, PGN meneguhkan komitmen dan membulatkan langkahnya untuk menjadikan nilai-nilai utama budaya unggul ProCISE tadi ke dalam aktivitas kerja seluruh insan PGN. Nilai Professionalism berarti setiap insan PGN harus kompeten dan bertanggung-jawab dalam bidang kerjanya. Nilai Continous Improvement bermakna bahwa setiap insan PGN harus kreatif, inovatif dan adaptif dalam setiap bidang kerjanya. Nilai Integrity berarti harus jujur, terbuka dan berpikir positif serta disiplin dan konsisten. Nilai Safety maksudnya harus mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta peduli kepada lingkungan sosial dan alam sekitar. Nilai Excellent Service berarti harus mengutamakan kepuasaan mitra kerja dan stakeholders (internal maupun eksternal perusahaan) serta proaktif dan cepat tanggap. Setelah ProCISE dirumuskan, pemahaman (awareness), sosialisasi dan internalisasi. Setelah berjalan setahun, pada November-Desember 2009, TIB (Tim Implementasi Budaya) melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat sampai sejauh mana budaya kerja ProCISE telah dipahami. Dengan pertimbangan bahwa semua insan PGN sudah cukup memahaminya, maka memasuki tahun 2010 PGN mulai mengimplementasikan ProCISE. Dimulai dari hal-hal kecil seperti Sapa dan Salam, penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Budaya Kerja Industrial 5R (Ringkas, Rapih, Resik/Bersih, Rawat dan Rajin). Dalam membangun budaya unggul perusahaan berkelas dunia, kualitas karyawan tidak hanya ditentukan oleh IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi. Tapi, juga oleh kecerdasan hati (EQ, Emotional Quotient) dan spiritualnya (SQ, Spiritual Quotient). Perumusan nilai-budaya ProCISE dilakukan dengan mengkristalisasi unsur IQ, EQ dan SQ. Bahwa insan PGN harus kompeten, kreatif dan inovatif dalam bekerja, harus berintegritas dan bertanggung-jawab, serta tidak sombong, selalu menjaga kerendahan hati dan memberi hormat kepada sesamanya. Termasuk untuk hal-hal sepele seperti menyapa dan memberi salam kepada orang lain, santun dalam bertindak dan bertutur kata, tidak malas mengangkat telepon yang tengah berdering, menjawab , mau bekerja sama dengan orang lain, dan sebagainya. Begitu pula dengan nilai-nilai K3 dan 5R, harus pula menyatu dalam aktivitas kerja karyawan sehari-hari. Prinsip K3 bermakna bahwa healthy and safety is our life. Sedangkan budaya kerja industrial 5R senafas dengan budaya kerja industri berstandar dunia. Di Jepang, 5R dikenal dengan sebutan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Di Amerika Serikat, disebut 5C (Clear out, Configure, Clean, Conform, Custom). Dan di Jerman dinamakan 5A (Aussortieren Unnotiger Dinge, Auraraumen, Arbeisplatz Sauber Harten, Anordnungen Zur Regelmachen, Alle Punkte Einhalten und Standig Verbesern). Sasaran pokok pengembangan budaya kerja industri modern ini antara lain kualitas diri, kualitas kerja dan keselamatan kerja. Pada tahun 2010, sebagai pemompa semangat sekaligus sebagai contoh keteladanan, TIB dan konsultan independen melakukan implementasi secara langsung di lokasi kerja. Maksudnya adalah untuk menilai unit/satuan kerja serta CA (Change Agent) terbaik berdasarkan usulan Kantor Cabang/ SBU dan Kantor Pusat. Beberapa aspek yang dinilai meliputi: sosialisasi program Budaya Perusahaan (PGN) 2010 pada masing-masing unit/satuan kerja; penerapan program budaya perusahaan; dokumentasi/pelaporan penerapan program budaya perusahaan; program kerja (khusus untuk CA). Hasilnya, untuk lingkungan Kantor Pusat tampil sebagai Satuan Kerja Terbaik adalah Divisi Pembangunan dan Retno Kadarini (Divisi Pembangunan) sebagai CA terbaik. Sementara itu, dari daerah tampil terbaik adalah SBU Distribusi II (Area Sidoarjo, Jawa Timur); disusul SBU Distribusi I (Area Bekasi); dan SBU Transmisi dengan skor. Kemudian, untuk CA terbaik, tercatat nama Bambang Purwanto dari SBU Distibusi I. Disusul oleh Achmat Hidayat (SBU Distibusi II), Iwan Yuli dan Ahmad Cahyadi dari SBU Distribusi I. Lalu, Anisyah R. dari SBU TSJ dan Yudiasni dari SBU Distribusi III. Pendek kata, seiring dengan penerapan budaya perusahaan ProCISE, kinerja dan performa PGN juga terus meningkat dan semakin bagus. Karena itu, untuk meningkatkan kuantitas dan kualitasnya, implementasi budaya kerja ProCISE yang akan dimonitoring pada November-Desember 2011 nanti siap dikembangkan lebih jauh dan lebih komprehensif lagi. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 21

22 BERITACSR Rumah Kompos Airlangga Tumpukan sampah dari kegiatan rumah tangga dan sisa-sisa makanan yang tidak ditangani dengan baik tentu dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain tidak sedap dipandang mata, sampah juga menyebarkan bau busuk, yang lama-kelamaan akan menjadi sarang berbagai sumber penyakit. Dari tumpukan sampah itulah yang kini menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Kota Surabaya. Tidak terkecuali sampah di Kelurahan Airlangga, kawasan yang antara lain menjadi lokasi Universitas Airlangga (Unair) itu. Untuk melengkapi kegiatan Rumah Kompos Airlangga, PGN juga menyediakan 8 unit kendaraan roda tiga Hari demi hari, sampah yang ada di Kelurahan Airlangga semakin menggunung dan mengeluarkan bau tak sedap. Dari sanalah, Laboratorium Pengembangan Bisnis dan Manajemen (LPMB) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair lantas berinisiatif untuk mengolah tumpukan sampah agar bernilai ekonomis melalui penanganan dan pemrosesan menjadi pupuk organik kompos. Sebagai langkah kongkretnya, LPMB mengajak PGN untuk mendirikan rumah kompos. Tentu saja, PGN yang memang peduli pada lingkungan, dengan senang hati menyambut ajakan itu. Pendirian rumah kompos terealisasi pada 4 Oktober 2010, dan diberi nama Rumah Kompos Airlangga. Di sini, PGN memberikan bantuan sebesar Rp 308 juta. Rumah Kompos Airlangga yang dibangun di Jalan Srikana, Kelurahan Airlangga, Surabaya, itu dilengkapi dengan taman umum dan MCK (Mandi Cuci Kakus). Rumah Kompos Airlangga memiliki kapasitas produksi satu ton pupuk organik kompos. Pemrosesan sampah menjadi pupuk organik kompos menggunakan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO) dan Mikro Organisme Lokal (MOL). untuk mengangkut sampah-sampah yang ada di 8 Rukun Warga (RW) Kelurahan Airlangga. Pihak LPMB Unair sendiri telah melatih dan memberdayakan 70 warga masyarakat sekitar guna mengangkut dan memilah-milah sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos, setelah itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong berukuran 10 Kg dan dijual dengan harga Rp per kantong. Kehadiran rumah kompos merupakan buah kerjasama antara Unair-PGN ini benar-benar memberikan manfaat kesehatan dan ekonomis bagi warga masyarakat di Kelurahan Airlangga. 22 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

23 BERITACSR Kehadiran rumah kompos merupakan buah kerjasama antara Unair-PGN ini benar-benar memberikan manfaat kesehatan dan ekonomis bagi warga masyarakat di Kelurahan Airlangga. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 23

24 BERITACSR Tingkatkan Standar Mutu Kehidupan Masyarakat Prinsip peduli dan berbagi untuk peningkatan standar mutu kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar, telah menjadi bagian integral dalam manajemen PGN. Secara tersurat, prinsip peduli dan berbagai itu terwujud nyata dalam organisasi PGN, yakni berupa bagian khusus yang menangani Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility, CSR). Secara nyata, sudah banyak yang telah dilakukan PGN berkenaan dengan penerapan CSR. Di mana dan kapan pun PGN hadir, memang harus memberi kemanfaatan bagi masyarakat dan lingkungannya. Secara legal formal, CSR itu sendiri telah diatur dalam pasal 74 UU No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas (PT). Di situ tegas disebutkan bahwa setiap perseroan wajib mengalokasikan sebagian laba bersihnya untuk melaksanakan tanggung jawab sosial. Perseroan yang tidak melaksanakan akan dikenai sanksi hukum. CSR adalah suatu bentuk kepeduliaan yang wajib dilaksanakan oleh sebuah Direktur Keuangan PGN, M. Riza Pahlevi perusahaan. Makanya, sebagai perusahaan nasional yang bagus dan sehat, PGN selalu patuh hukum. Tidak terkecuali dalam pelaksanaan kewajiban CSR. Berkenaan dengan CSR, PGN telah mewujudkannya dalam tiga program utama. Pertama, pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ini bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan 24 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

25 BERITACSR perekonomian masyarakat kecil. PGN membantu mereka agar mereka bisa mandiri dalam berusaha sehingga mendapatkan penghasilan yang lebih layak. PGN yakin, apabila kehidupan masyarakat kecil sudah mandiri, secara otomatis kehidupan perekonomian nasional juga akan bertambah baik. Kedua, peningkatan taraf kehidupan masyarakat melalui program bantuan dibidang pendidikan dan kesehatan. Sejak dulu, PGN peduli terhadap pendidikan anak-anak agar kelak menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter. Usia anak-anak merupakan masa keemasan (golden age). Pada usia itulah kecerdasan dan karakter anak yang baik harus dibentuk. Jadi, kita memang harus memberikan pendidikan yang tepat serta baik dan benar kepada anak-anak sehingga ketika tumbuh dewasa bisa menjadi manusia yang cerdas dan berkarakter. Secara rutin, PGN juga memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu. Begitu pula bantuan bagi kegiatan pemberdayaan dan pelatihan para pengajar (guru) sehingga mereka memiliki kompetensi dan ketrampilan yang memadai. Para guru adalah semacam perangkat (tools). Bilamana perangkatnya kurang memiliki kompetensi dan ketrampilan yang memadai, tentu standar mutu siswa atau anak didik akan kurang bagus pula. PGN pun sadar bahwa kualitas kesehatan merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan warga masyarakat. Karenanya, dalam rangka meningkatkan standar mutu kesehatan masyarakat, terutama masyarakat lapis bawah, PGN aktif memberikan bantuan kepada Puskesmas, klinik-klinik kesehatan dan pelayanan kesehatan lainnya. PGN selalu berupaya untuk sebisa mungkin mengurangi beban ekonomis dengan memberikan fasilitas kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat, terutama warga masyarakat di sekitar wilayah operasi PGN. Selain itu, PGN juga telah meluncurkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang dioperasikan melalui mobilitas Mobil Sehat PGN lengkap dengan tim medis dan peralatan yang relatif memadai. Layanan Mobil Sehat PGN telah beroperasi hingga daerah-daerah terpencil. Masyarakat secara gratis dapat memanfaatkan layanan Mobil Sehat PGN tersebut. Ketiga, pelestarian lingkungan. Mengingat kondisi bumi yang semakin panas akibat pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change), udara di Tanah Air pun menjadi semakin kotor dan polutif. Di sini, PGN aktif melakukan kegiatan penghijauan untuk membuat udara kita kembali bersih dan segar. Sesuai dengan program dan kebijakan pemerintah tentang gerakan nasional penanaman 1 miliar pohon, misalnya, PGN berusaha ikut andil dalam penanaman pohon di berbagai tempat antara lain bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Perum Perhutani dan lainnya. Jika lingkungan alam Indonesia lestari (Indonesia yang hijau, lingkungan yang bersih dan udaranya yang sehat) bisa terwujud, tentu saja manfaatnya juga akan dinikmati oleh generasi penerus dan anak cucu kita. Sepanjang 2010 PGN sudah banyak melakukan program CSR. Dan nanti memasuki 2011, PGN akan terus berupaya meningkatkan berbagai bantuan program CSR serta berperan aktif bagi ketiga program CSR tadi. Termasuk serangkaian kegiatan CSR yang terkait dengan hari-hari besar nasional dan keagamaan. Harapan PGN, semoga ke depan semakin banyak pihak yang mengikuti dan bekerjasama dalam berbagai program CSR PGN sehingga kemaslahatan yang dirasakan oleh masyarakat bisa bertambah banyak dengan jangkauan yang semakin luas. *** Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 25

26 PELANGI Oleh : Andi Khrisna A - Senior Engineer Proyek Distribusi (PPJPGB) Pemenang ProCISE dan INNOVATION AWARD Benchmarking ke JEPANG Setelah terpilihnya pemenang ProCISE dan Innovation Award di tahun 2010, tibalah saat untuk merealisasikan reward yang dijanjikan, yaitu : Benchmarking ke luar negeri! Tema benchmarking kali ini adalah melakukan kunjungan ke perusahaan gas terkemuka di Jepang, Tokyo Gas, untuk melihat bagaimana mereka menjalankan bisnis gas di Jepang. Selain itu, peserta juga diajak dan diberikan kesempatan untuk jalan-jalan dan melihat keindahan kota-kota di Jepang yang akan dikunjungi. Mengutip statement dari salah satu peserta, Bekerja dengan baik, berinovasi, itu semua adalah kewajiban kita sebagai pekerja. Kalau untuk ini diberikan reward dari perusahaan maka itu adalah hal yang luar biasa. Ya, kegiatan ini menunjukan besarnya komitmen PGN untuk terus mendorong tumbuhnya budaya ProCISE dan Inovasi di perusahaan. Rombongan berjumlah 16 orang termasuk perwakilan panitia dan tour leader. Mereka adalah Arief Djunaedi selaku ketua panitia seleksi ProCISE dan Innovation Award, Agus Diharjo selaku ketua dewan juri dan penilai, Basori dan Agung Arianto yang mewakili SBU II Jabati, Heni Mahmudah yang mewakili Divisi Pembangunan, Suseno, Iqbal Fuady dan Adam Nur Bawono sebagai pemenang ProCISE Award, selain itu juga Ibnu Azka, Andi Irawan, Siti Nurmaya, Andi Krishna dan Adityo Triwinarko 26 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

27 PELANGI sebagai pemenang Innovation Award, serta Titi Mihartati dan Nurwulan Eka Wahyuni selaku perwakilan dari panitia. Apa saja yang dilakukan oleh rombongan saat di sana? mari kita simak bersama ulasannya berikut ini. Briefing! Briefing! Briefing! If you fail to plan, you plan to fail. Sebelum kegiatan benchmarking dijalankan, aura persiapan telah terasa jauh sebelumnya. Mulai dari penyusunan Visa, sosialisasi jadwal kegiatan hingga pengenalan tour agency yang digunakan. Hal yang paling menarik adalah ketika briefing sekilas tentang budaya Jepang oleh tour guide, Di Jepang semua orang-orangnya berjalan dengan cepat, jarang yang berhenti untuk melihat-lihat, dan kalau menggunakan eskalator harus di sisi kiri karena sisi kanan digunakan untuk orang yang menyusul. Hmm, kelihatannya bakal menarik, apalagi perjalanan ini melibatkan kelompok besar berjumlah kurang lebih enam belas orang. Arrival: Welcome to Tokyo Rush.. Rush.. Rush.. Dari mulai mendarat di Narita pukul WBJ (Waktu Bagian Jepang) betapa padatnya jadwal kegiatan ini mulai terasa. Setelah kurang lebih tujuh jam badan dibuat kaku di bangku pesawat, kita langsung menuju first destination: Disneyland. Yup, bukan hotel atau tempat istirahat lainnya, kita langsung mengunjungi salah satu dari tiga international Disneyland di dunia itu. Setelah mendapatkan tiket masuk, dan wow..!! rasa lelah perjalanan seperti hilang seketika. Rasanya seperti masuk ke dalam film kartun Disney yang kita tonton selama ini. Dekorasi bangunan, jalan, hiasannya sangat khas Disney. Tokohtokoh Disney banyak berkeliaran di sepanjang jalan, Donald, Paman Gober, Snir, Snar, Snor si Tiga Babi, Mickey, dan banyak lagi. Khusus untuk Mickey, dia adalah tokoh kartun paling terkenal di Jepang, untuk sekedar berfoto dengannya kita harus antri panjang. Dan begitu banyak anak-anak yang meminta tanda tangan Mickey Mouse, layaknya selebriti. Hanya bedanya, antrian disini sangat tertib. Benchmarking Tokyo Gas Company Hari kedua kita mengunjungi Tokyo Gas Company dalam rangka benchmarking. Ini adalah kegiatan utama dari kunjungan ini. Setelah sarapan hotel yang bernuansa Jepang apalagi kalau bukan ikan-ikan segar yang kita sebut sushi kita langsung meluncur ke Tokyo Gas Company dengan mengenakan setelan jas formal. Jika kita ingin dihargai orang, kita harus menghargai diri sendiri. Begitu ujar Arief Junaidi tentang hal ini. Berkunjung ke Tokyo Gas kita fokus ke dua hal, LNG receiving terminal, dan system SCADA. Tidak henti-hentinya kita dibuat kagum dengan apa yang mereka tunjukan. Sebagai gambaran, panjang pipa distribusi Tokyo Gas Company sepuluh kali panjang pipa distribusi PGN! dan itu semua dapat dikendalikan dengan baik melalui system SCADA (Supervisory Control And Data Acquistion) mereka. Kesiapan mereka menyambut kunjungan PGN terlihat sangat baik. Sempat terlintas bahwa mereka pasti telah melakukan beberapa kali koordinasi dan persiapan untuk ini. Namun ternyata tidak, mereka telah memiliki suatu paket program kunjungan seperti ini. Apa yang ditampilkan dalam presentasi, ruangannya, bis yang digunakan, rute kunjungan Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 27

28 PELANGI hingga souvenir yang diberikan, telah tersusun dalam suatu Standard Operation Prosedur (SOP). Ada satu hal menarik mengenai proses regasifikasi LNG mereka. Sebelum diregasifikasi, LNG yang temperaturnya mencapai -162 C, dimanfaatkan sebagai pendingin ruangan penyimpan ikan tuna, mungkin temperatur ruang penyimpanan tersebut mencapai -80 C. Kita diberikan kesempatan untuk masuk kedalam ruangan pendingin tersebut beberapa saat, hanya beberapa saat. Brr selain suhu yang sangat dingin, nafas terasa agak sesak, pandangan kabur dan kulit terasa kering, membuat tidak terekspresikan sensasinya. Diingatkan juga bagi peserta yang memakai kacamata, untuk menyimpan kacamatanya di dalam tas atau kantong jas, agar tidak beku dan pecah. Setelah itu kita juga dibawa untuk mengunjungi pusat penanggulangan bencana milik Tokyo Gas Company, dimana di tempat ini seluruh jaringan pipa gas milik salah satu perusahaan gas terbesar di Jepang ini dikendalikan. Disaster means earth quake!, tegas salah satu perwakilan Tokyo Gas Company, saat menjelaskan bagaimana sistem tanggap darurat ini dijalankan. Ada yang aneh ketika kita melihat ke bagian Call Center-nya, hampir semua penerima panggilan keluhan pelanggan adalah pria lanjut usia yang sudah melewati usia pensiun. Ketika ditanyakan alasannya, ternyata sederhana, biasanya pria lebih tenang daripada wanita, dan usia yang sudah tidak muda menandakan mereka memiliki pengalaman yang cukup banyak sehingga dapat memberikan respon yang tenang dan tepat. Mobil tanggap darurat yang digunakan pun sangat berteknologi tinggi dengan dilengkapi dengan fasilitas GPS dan CPU sehingga dapat memberikan respon yang cepat dan tepat kepada pelanggan. Selepas dari Tokyo Gas Company rombongan langsung bertolak menuju Yokohama, di malam itulah kita berkesempatan merasakan kereta api listrik super cepat yang begitu terkenal yaitu Shinkansen. Dikenal juga sebagai bullet train, karena bentuknya seperti peluru dan kecepatan maksimumnya mencapai 581 km/jam, sebagaimana yang tercatat di Guinness Book of World Records. Dan mau tahu rasanya naik di dalamnya? Entah apa karena malam hari sehingga pemandangan di luar gelap, atau memang karena kondisi kereta yang nyaman sehingga perjalanan di dalam Shinkansen terasa seperti perjalan kereta biasa. Kiyomizu Temple Lagi-lagi berpindah tempat. Kunjungan ke Jepang ini setiap hari selalu berganti hotel, dan hotel benar-benar hanyalah tempat tidur semata. Jadwal yang cukup padat mengakibatkan rombongan selalu sampai di hotel sudah larut malam dan berangkat ketika masih pagi. Kali ini saatnya mengunjungi daerah wisata. Pilihannya adalah Kiyomizu Temple. Untuk mencapainya, terlebih dahulu kita harus berjalan menanjak lumayan jauh. Cukup membutuhkan perjuangan, namun cuaca dan udara yang segar membuat hal itu menjadi tidak terlalu berat. Kiyomizu dalam bahasa Jepang adalah air suci. Di temple ini, ada sebuah mata air, yang konon katanya, kalau diminum akan memberikan umur panjang. Kitapun sempat meminum air ini, rasanya segar. Awalnya saya sempat ragu karena gelas untuk meminumnya bergantian dengan para pengunjung yang lain. Tapi ternyata tidak perlu khawatir sebab 28 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

29 PELANGI sebelum digunakan gelas tersebut telah terlebih dahulu di sterilkan dengan sinar UV. Di sekitar lokasi temple ini pula kita berkesempatan membeli souvenir khas jepang. Malamnya kita menginap di sekitar Shinsaibashi, area yang katanya shopping center di Jepang. Tadinya saya mengharapkan tempat belanja kaki lima yang menjual berbagai souvenir Jepang. Ternyata yang dimaksud shopping center adalah outlet dari merk yang terkemuka. Tas, Pakaian, Elektronik, semuanya yang bermerk. Hmm.. kelihatannya kesempatan untuk memperoleh souvenir khas Jepang adalah di Kiyomizu Temple tadi. Akhirnya saya pribadi mengakhiri sesi belanja itu dengan agak kecewa. Last Day : Universal Studio. Bagi saya Universal Studio sebagai penutup adalah pilihan yang pas. Memang Universal Studio adalah sebuah wahana permainan yang dibuat dengan tema Hollywood, namun bisa dikatakan aura Jepang masih sangat terasa. Untuk ikut sebuah wahana favorit disini kita harus antri sekitar menit. Sekali lagi saya katakan, antriannya sangat tertib dan tidak perlu khawatir diserobot. Di setiap wahana terdapat penunjuk waktu digital yang menunjukan berapa lama kita harus mengantri. Dan jangan coba-coba anggap remeh wahana disini seperti apapun penampilannya. Hampir semua wahana memicu adrenalin. Hal ini dialami oleh rombongan kita saat menaiki sebuah wahana bernama space fantasy. Suasananya yang sangat childish, penuh warna, dan diikuti oleh sebagian besar anak kecil- membuat kita merasa akan menikmati sebuah kunjungan santai ke ruang angkasa. Namun ternyata, Benar-benar membuat jantung mau copot! ujar Pak Basori yang awalnya iseng mencoba. Saatnya pulang Seeing is believing, kesempatan kunjungan ke Jepang yang diberikan oleh perusahaan adalah sebuah pengalaman yang luar biasa berharga. Sedikit waktu benchmarking mungkin dirasakan tidak akan terlalu signifikan, namun kesempatan kita untuk mengenal budaya, cara hidup, serta aktivitas Jepang yang merupakan salah satu macan Asia adalah modal besar untuk diambil manfaatnya. See you Japan, terima kasih PGN. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 29

30 PELANGI JOB LOVE YOUR Oleh : Linda Saragih (Kepala Seksi Penyelenggaraan Diklat Divisi SDM) atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (to discharge of fulfill; as vow) ; (3) melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or complete an understaking) ; dan (4) melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what is expected of a person machine). Berikut adalah beberapa pengertian lain mengenai kinerja dari beberapa ahli. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Jika dilihat dari asal katanya, kata Kinerja adalah terjemahan dari kata performance, yang menurut The Scriber-Bantam English Dictionary, berasal dari kata to perform dengan beberapa entries yaitu : (1) melakukan, menjalankan, melaksanakan (to do or to carry out, execute) ; (2) memenuhi 1. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard: 1993). 2. Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donnelly, Gibson and Ivancevich: 1994). 30 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

31 PELANGI 3. Kinerja sebagai kualitas dan kuantitas dari pencapaian tugas-tugas, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun perusahaan (Schermerhorn, Hunt and Obsorn: 1991). 4. Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau ability (A), motivasi atau motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O), yaitu kinerja = f (A x M x O). Artinya kinerja merupakan fungsi dari kemampuan, motivasi dan kesempatan (Robbin; 1996). Dengan demikian, kinerja ditentukan oleh faktor-faktor kemampuan, motivasi dan kesempatan. Kesempatan kinerja adalah tingkat-tingkat kinerja yang tinggi yang sebagian merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-rintangan yang mengendalikan karyawan itu. Meskipun seorang individu mungkin bersedia dan mampu, bisa saja ada rintangan yang menjadi penghambat. Dengan demikian, secara garis besar maka kinerja dapat didefinisikan sebagai sebuah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan. Dan untuk mengukur kinerja dari seseorang atau kelompok orang ini, banyak perusahaan menggunakan penilaian berbasis kompetensi. Kompetensi digunakan sebagai sesuatu yang membedakan dengan jelas antara seseorang yang mempunyai kinerja tinggi dan kinerja yang biasa-biasa saja, atau sesuatu yang membedakan antara karakteristik individu yang memiliki kinerja yang efektif dengan sebaliknya. Bila melihat kegunaannya maka kompetensi sangat berguna bagi perusahaan untuk membantu membedakan mana karyawan yang berkinerja tinggi dan mana yang tidak. Tetapi kompetensi tidak mengukur apakah karyawan tersebut suka atau tidak suka dengan pekerjaan yang dilakukannya, selama ia mampu mengerjakan pekerjaan dengan baik maka karyawan tersebut dinilai telah memenuhi kompetensi yang telah ditetapkan perusahaan. Abah Rama penemu Talents Mapping dalam bukunya Memanfaatkan Bakat untuk Sukses mengatakan bahwa seseorang yang bekerja berdasarkan kompetensi termasuk dalam kategori 3E ( Easy, Excellent dan Earn ). Artinya mereka mudah (easy), sempurna (excellent) dan mendapatkan hasil (earn) tetapi ada satu yang kurang yaitu enjoy. Enjoy yang dimaksud adalah menikmati pekerjaan yang mereka lakukan. Tetapi seseorang karyawan yang bekerja berdasarkan Strength yang dimilikinya, maka mereka masuk dalam kategori 4E (Easy, Excellent,Earn dan Enjoy). Artinya selain mereka kompeten dalam melakukan tugas yang dilakukan mereka menikmati (enjoy) dalam melakukan pekerjaan tersebut. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan Strength itu? Dalam buku Now Discover Your Strength, Marcus Buckingham menjelaskan bahwa Strength adalah suatu hal yang membuat kita merasa bergairah dan berenergi ketika kita melakukannya dan mendekati hasil yang sempurna. Artinya ketika seseorang melakukan pekerjaan berdasarkan Strength yang dimilikinya, maka ia akan bergairah ketika mengerjakannya, berenergi dan hasil yang didapat akan mendekati sempurna. Dan seseorang yang mempunyai passion terhadap apa yang dikerjakannya maka secara otomatis akan menghasilkan kinerja yang tinggi. Warren Buffett orang terkaya no 2 di dunia juga pernah mengatakan If there is any difference between you and me, it may simply be that I get up every day and have a chance to do what I love to do, every day. If you want to learn anything from me, this is the best advice I can give you. Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life. Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 31

32 PELANGI Selamat pagi atau Terimakasih adalah kata-kata yang jarang kita dapatkan dari seorang Bos, sehingga pada akhirnya bayangan kita tentang sikap seorang bos adalah, Tegas? Ya. Disiplin? Ya, Galak? Ya, Dingin? Ya, Ramah? Hmm..Tak heran bila kita ragu menjawab pertanyaan terakhir ini. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kunci menjadi bos yang sukses adalah apabila kita mempunyai kemampuan, kemauan untuk belajar, memiliki jiwa kepemimpinan, dan kriteria lain yang memang diperlukan dalam dunia kerja.sikap ramah bukan dianggap ciri otentik bos yang sukses juga bukan strategi untuk mencapai posisi puncak. Barangkali ada baiknya kita melihat beberapa tips, sebagai salah satu strategi untuk mencapai kesuksesan menjadi bos yang berhasil, sekaligus dicintai oleh anak buah dan orang-orang disekelilingnya. Bisa menghindarkan kita dari kecenderungan mengibarkan bendera perang terhadap rekan kerja atau orang-orang disekitar kita. Bersikap ramah mendorong energi positif dalam diri kita untuk mengerti dan memahami orang lain, bersikap ramah dapat menciptakan suasana gembira, mencairkan ketegangan dan permusuhan. Kata seorang pakar ahli dibidang ketenagakerjaan, bertengkar merupakan cara tercepat untuk menghilangkan kesempatan, karena dengan bertengkar anda bukan mengembangkan sesuatu, melainkan menggunakan energi untuk menjatuhkan orang lain. Daripada bertengkar, tidak ada salahnya kita mencoba mencari cara lain, misalnya dengan mencari tahu sesuatu yang positif tentang rekan kerja yang membuat kesal, mengajak bicara dengan baik dan mencoba mengenali dirinya. Lebih baik kita menunjukkan sikap yang positif, ramah daripada menunjukkan rasa bermusuhan atau menyepelekan. Benar bahwa untuk menjadi sukses dan memenangkan kompetisi, kita harus gesit merebut kesempatan, namun mencari kesempatan bukan berarti kita merebut pekerjaan rekan lain atau mengambil ide atau gagasan milik orang lain atau sebaliknya menyimpan ide itu sendiri. Lebih baik kita mengembangkan ide itu secara bersamasama, karena itu berarti kita menciptakan komunitas yang akan mengembangkan ide dasar tersebut menjadi sesuatu yang lebih besar. Apa salahnya kalau 10 orang menganggap ide itu milik mereka? Hasilnya mungkin 10 kali lebih besar daripada kita menyimpan dan mengembangkannya sendiri. Seperti kata mantan presiden Amerika Serikat Harry Truman yang terkenal rendah hati, Anda dapat mencapai sesuatu yang luar biasa kalau anda tidak peduli siapa yang kelak mendapat pujian Jadi kenapa harus rebutan dengan rekan sekerja atau anak buah? Berterus terang langsung kepada orang yang berbuat salah dengan cara penyampaian yang mudah diterima, ramah dan tidak menyinggung perasaan, sehingga orang tersebut menyadari akan kesalahannya tanpa dipermalukan adalah lebih bijak, dibandingkan apabila kita mendiamkan hal tersebut, sehingga orang akan melakukan kesalahan yang sama karena tidak diberitahu atau menyampaikan kejelekan tersebut kepada rekan kerja lain yang bisa saja menimbulkan kesalahpahaman. Orang ramah biasanya juga rendah hati. Bersikap rendah hati bisa jadi merupakan taktik paling cerdas di dunia bisnis. Memberi kesempatan kepada orang lain untuk menganggap dirinya lebih pandai daripada kita, akan mendorong orang tersebut untuk memberi saran dan berbagi pengetahuan. Dia juga akan mengganggap kita sebagai orang yang layak diajak bekerja sama dan dia akan selalu mendukung kita apabila kita memerlukan bantuannya. Mencoba memahami orang lain dan turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain adalah bentuk empati yang seharusnya kita tunjukkan. Jangan kita tertawa melihat rekan kerja kebingungan karena kesulitan menyelesaikan pekerjaannya, bahkan seringkali cenderung menyalahkan karena ketidakmampuannya, bersikap masa bodoh dan tidak tahu. Namun jangan juga bentuk empati kita hanya sekedar basa-basi supaya terlihat bahwa kita mempunyai perhatian terhadap penderitaan orang lain.empati artinya memahami orang lain dengan sikap tulus dan tidak dibuat-buat. Seberapa pintar kita berempati pada orang lain, maka sejauh itulah kita bisa menjadi kawan yang baik buat orang lain. Demikian juga apabila kita seorang pemimpin, anggaplah temanteman yang kita pimpin sebagai kawan, bukan anak buah apalagi pembantu, hormati mereka dan berikan mereka tugas menurut kemampuan mereka. Itulah 32 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011

33 PELANGI empati seorang pemimpin kepada orang yang dipimpin. Jadi keramahan bisa dimulai dari kehidupan kita sehari-hari, mulai dari mengucapkan selamat pagi dengan senyum mengembang dipagi hari saat kita berada di kantor, mengucapkan terima kasih kepada satpam yang membukakan pintu mobil, kepada office boy yang membawakan minuman, tertawa menanggapi gurauan rekan kerja atau memberi dorongan kepada anak buah yang sedang tidak bersemangat. Nah..siapa bilang bersikap ramah bukan suatu strategi sukses? (dari berbagai sumber) Oleh : Susi Hermawati (Kepala Seksi Kesekretariatan Divisi LUPP) Bersikap Ramah Strategi Menuju SUKSES Edisi 49 I Februari - Maret 2011 I Beritagas I 33

34 PELANGI Internet Sama Khawatirnya Dengan Ibu-Ibu Para ibu-ibu yang mengkhawatirkan perilaku anaknya terhadap pengaruh internet yang dianggap merugikan sebenernya memiliki kesamaan dalam hal ini. Internet juga merasakan hal yang sama dirasakan oleh para ibu-ibu itu. Kalau anak-anak merasa jengkel dengan pertanyaan dari ibu mereka masingmasing seharusnya tidak perlu jengkel. Hal ini dikarenakan anak-anak yang bermain di internet juga ditanya dengan pertanyaan yang sama. Ibu bertanya ketika mencari anaknya: Nak, kamu sedang ada dimana? Pertanyaan yang sama juga ditanyakan oleh Foursquare kepada kalian. Where are you? Ibu bertanya ketika sesuatu telah terjadi pada anaknya yang ngambek : Apa yang terjadi? Di Twitter sering bertanya dan selalu kamu jawab. What s happening? Ibu bertanya ketika anaknya sedang galau dan diajak untuk curhat: Apa yang bikin gelisah di pikiranmu? Facebook : What s on your mind? Jadi, internet itu juga sama-sama rewelnya yang selalu bertanya yang macam-macam seperti ibu-ibu yang khawatir pada anaknya. Tanya-tanya mulu kerjaannya. Fotografer Tersesat Karena asyik memotret sunset dan mengeksplorasi wilayah yang baru pertama kali dia kunjungi, seorang travel fotografer baru menyadari bahwa dia sudah tersesat dan ditinggal oleh rombongannya. Dan tanpa disangka-sangka, hujan badai turun! Spontan fotografer itu bete abis... udah tersesat, gelap, hujan pula... Tapi akhirnya timbul harapan... Di ujung jalan dia melihat lampu mobil perlahan-lahan mendekat. Tidak mau kehilangan kesempatan, dia melambaikan tangannya untuk meminta tumpangan. Ketika mobil tersebut mendekat, tanpa mau membuang waktu, sang fotografer langsung naik ke mobil, duduk dan kaget!!! Karena dia baru menyadari bahwa mobil tersebut tidak ada yang mengemudikan. Tapi daripada bete, fotografer tersebut tetap bertahan berada di dalam mobil, sambil berdoa. Dalam perjalanan di dalam mobil yang berjalan dengan pelan sekali, ketika mobil sepertinya akan menabrak pohon atau jatuh ke jurang, tiba-tiba muncul sebuah tangan dan mengendalikan setir agar mobil tidak menabrak atau jatuh. dan hal tersebut terus terjadi berulang kali. Akhirnya, ketika mobil mendekati sebuah warung kopi, fotografer tersebut buru-buru turun dan memesan secangkir kopi. Sambil menangis terisak-isak, fotografer tersebut menceritakan kejadian seram yang baru saja dia alami. 34 I Beritagas I Edisi 49 I Februari - Maret 2011 Setelah selesai bercerita, fotografer tersebut akhirnya pingsan kelelahan dan juga karena menahan rasa takut. Mendadak, dua orang berpakaian kotor dan basah kuyup masuk ke dalam warung kopi dan melihat sang fotografer yang sedang pingsan. Spontan salah satu dari mereka berkata, Itu dia kampret yang numpang di mobil yang lagi kita dorong!

35

transformasi untuk pertumbuhan masa depan

transformasi untuk pertumbuhan masa depan 2011 Laporan Tahunan transformasi untuk pertumbuhan masa depan tarik tersedia materi dalam USB Flash Disk IDX : PGAS PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk transformasi untuk pertumbuhan masa depan transformasi

Lebih terperinci

- Kesejahteraan Pegawai - Reformasi Birokrasi... Siapkah Kita Menghadapinya? 32 INFO PELAYANAN PUBLIK - Pelayanan Publik di Ditjen SDPPI

- Kesejahteraan Pegawai - Reformasi Birokrasi... Siapkah Kita Menghadapinya? 32 INFO PELAYANAN PUBLIK - Pelayanan Publik di Ditjen SDPPI Daftar isi 10 12 14 50 46 03 SALAM REDAKSI 06 INFO MENEJEMEN - Struktur Organisasi Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Dalam setiap terjadinya restrukturisasi organisasi (perubahan

Lebih terperinci

Bukan hanya laba. Prinsip-prinsip bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial

Bukan hanya laba. Prinsip-prinsip bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial Bukan hanya laba Prinsip-prinsip bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial Penulis Godwin Limberg Ramses Iwan Moira Moeliono Yayan Indriatmoko Agus Mulyana Nugroho Adi Utomo Bukan hanya

Lebih terperinci

Etika Bisnis dan Etika Kerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Etika Bisnis dan Etika Kerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Tinjauan umum kebijakan dan pengarahan etika, memandu hubungan kerja di antara kita, dan hubungan bisnis dengan Pemangku Kepentingan. Edisi 2 10 Februari 2011 Daftar Isi 2 Sambutan Komisaris Utama 4 Sambutan

Lebih terperinci

Bab 2 KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK. Strategic Governance Policy. Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik

Bab 2 KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK. Strategic Governance Policy. Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Bab 2 KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 7 Bagian Kedua KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK II.1. Kebijakan GCG ANTARA ANTARA

Lebih terperinci

Pertamina hadir bantu korban bencana

Pertamina hadir bantu korban bencana BONUS Terbit Setiap Senin 8 November 2010 NO. 45 TAHUN XLVI 12 Halaman www.pertamina.com 2Pojok Manajemen : Suara PEOPLE MANAGEMENT MENCETAK SDM KELAS DUNIA Lugas dan Informatif Pekerja : 3SINERGI satu

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR Penerapan service excellent terhadap pelayanan digaleri indosat cabang solo

TUGAS AKHIR Penerapan service excellent terhadap pelayanan digaleri indosat cabang solo TUGAS AKHIR Penerapan service excellent terhadap pelayanan digaleri indosat cabang solo Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Sebutan Ahli Madya Manajemen Pemasaran Disusun Oleh : LYNDA SILVIANI

Lebih terperinci

Utama: yang membikin (HATI)

Utama: yang membikin (HATI) Terbit Setiap Senin 16 April 2012 NO. 16 TAHUN XLVIII 12 Halaman Lugas dan Informatif Pojok Manajemen : hsse operation 2excelence 3Opini Pekerja : distribusi normal Utama: yang membikin (HATI) ekspor pertamina

Lebih terperinci

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber Daya Manusia International Labour Organization Jakarta Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Kerjasama dan Usaha yang Sukses Pedoman pelatihan untuk manajer dan pekerja Modul EMPAT SC RE Kesinambungan Daya Saing dan

Lebih terperinci

Sebuah Wawancara Dengan GE dan Citi

Sebuah Wawancara Dengan GE dan Citi Juni 2008 tema : Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam edisi ini : 3 5 7 8 Sebuah Wawancara Dengan GE dan Citi Dua perusahaan yang telah dikenal dengan kegiatan CSR-nya menawarkan masukan dan pembelajaran

Lebih terperinci

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP ii PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP Buku Ajar MKU By Tim MKU PLH Editor: Dewi Liesnoor Setyowati Sunarko Rudatin Sri Mantini Rahayu Sedyawati UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FEBRUARI 2014 iii Kata Pengantar Saat

Lebih terperinci

Manajemen Usaha Kecil - MODUL 3

Manajemen Usaha Kecil - MODUL 3 i MANAJEMEN USAHA KECIL Modul 3 Bahan Pelatihan Untuk Calon Wirausahawan i DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN KELEMBAGAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA MANUSIA

SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA MANUSIA SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA MANUSIA Pengertian Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh,

Lebih terperinci

GAMBARAN KEMISKINAN DAN ACTION PLAN PENANGANANNYA

GAMBARAN KEMISKINAN DAN ACTION PLAN PENANGANANNYA GAMBARAN KEMISKINAN DAN ACTION PLAN PENANGANANNYA Oleh: Makmun 1 Abstraksi Dalam rangka penanggulangan masalah kemiskinan diperlukan adanya penanganan secara sungguh-sungguh. Seiring dengan dinamika masyarakat

Lebih terperinci

Mengelola Kesetaraan di Tempat Kerja

Mengelola Kesetaraan di Tempat Kerja Asosiasi Pengusaha Indonesia International Labour Organization Panduan Praktis bagi Pengusaha untuk Mempromosikan dan Mencegah Diskriminasi di Tempat Kerja di Indonesia Buku Mengelola Kesetaraan di Tempat

Lebih terperinci

Cara Kerja Kita. Praktik Usaha BT. Bulan Oktober 2013. Halaman 1

Cara Kerja Kita. Praktik Usaha BT. Bulan Oktober 2013. Halaman 1 Cara Kerja Kita Praktik Usaha BT Bulan Oktober 2013 Halaman 1 Cara Kerja Kita: Praktik Usaha Kita Nilai-Nilai Kita: Cara Kerja Kita menjabarkan praktik usaha dan nilai-nilai kita perilaku yang kita harapkan

Lebih terperinci

Maksimalkan TP PKK untuk Kelola Posyandu

Maksimalkan TP PKK untuk Kelola Posyandu Maksimalkan TP PKK untuk Kelola Posyandu Reportase Majalah Gemari Edisi 56/VI/2005 MASALAH pos pelayanan terpadu atau dikenal dengan Posyandu, kembali menyeruak. Padahal sebelum era reformasi kegiatan

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pembuka Pesan Utama Pembahasan Rencana & Strategi Laporan Bisnis Tinjauan Pendukung Bisnis & Manajemen Risiko Pasar Terapung Muara Kuin Pasar terapung tradisional yang berada di atas Sungai Barito, di

Lebih terperinci

4.9.4. Penjelasan... 139 4.9.5. Cara Penilaian Kesehatan KSP/USP... 141 4.9.6. Penetapan Kesehatan KSP/USP... 164

4.9.4. Penjelasan... 139 4.9.5. Cara Penilaian Kesehatan KSP/USP... 141 4.9.6. Penetapan Kesehatan KSP/USP... 164 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...i BAB I...1 PENDAHULUAN...1 1.1. LATAR BELAKANG...1 1.2. TUJUAN...1 1.3. SASARAN...2 1.4. RUANG LINGKUP...2 1.5. DEFINISI DAN KONSEPSI...2 1.6. LANDASAN KERJA KSP/USP KOPERASI...3

Lebih terperinci

TANGGUH LNG PROGRAM INVESTASI KOMUNITAS 2011-2015

TANGGUH LNG PROGRAM INVESTASI KOMUNITAS 2011-2015 TANGGUH LNG PROGRAM INVESTASI KOMUNITAS 2011-2015 mewujudkan Operasi Yang BertanggungJawab & Berkelanjutan dicetak di atas kertas daur ulang Daftar Isi Daftar Gambar...7 Daftar Tabel...9 Akronim...11 Rangkuman

Lebih terperinci

Efisiensi Energi Pencahayaan Jalan Umum

Efisiensi Energi Pencahayaan Jalan Umum BUKU PEDOMAN : Efisiensi Energi Pencahayaan Jalan Umum Buku I : Pengelolaan Sistem PJU Efisien Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya

Lebih terperinci

PEDOMAN ETIKA DAN PERILAKU CODE OF CONDUCT. PT Jasa Marga (Persero) Tbk

PEDOMAN ETIKA DAN PERILAKU CODE OF CONDUCT. PT Jasa Marga (Persero) Tbk PEDOMAN ETIKA DAN PERILAKU CODE OF CONDUCT 2011 0 Daftar Isi Bab I. 2 PENDAHULUAN 2 Latar Belakang 2 Landasan Penyusunan Code of Conduct... 3 Visi dan Misi Perusahaan... 3 Tata Nilai Perusahaan... 3 Maksud,

Lebih terperinci

Karena Kita Hanya Punya Satu RUMAH Earth provides enough to satisfy every man s needs, but not every man s greed. Mahatma

Karena Kita Hanya Punya Satu RUMAH Earth provides enough to satisfy every man s needs, but not every man s greed. Mahatma Majalah Edisi 28 Karena Kita Hanya Punya Satu RUMAH Earth provides enough to satisfy every man s needs, but not every man s greed. Mahatma Gandhi Juli 2007 di Morowali Sulawesi Tengah, Indonesia, terjadi

Lebih terperinci

Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta

Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta September 2006 Volume 18 No. 10(C) Ringkasan Laporan Human Rights Watch, Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta Versi lengkap laporan ini terdapat dalam Bahasa Inggris. Ringkasan... 1 Standar

Lebih terperinci

Etika Kerja & Bisnis. Menggapai PERTAMINA EP World Class dengan Semangat Berkobar. pertamina ep etika kerja & bisnis

Etika Kerja & Bisnis. Menggapai PERTAMINA EP World Class dengan Semangat Berkobar. pertamina ep etika kerja & bisnis Etika Kerja & Bisnis Menggapai PERTAMINA EP World Class dengan Semangat Berkobar pertamina ep etika kerja & bisnis Menggapai PERTAMINA EP World Class dengan Semangat Berkobar Etika Kerja & Bisnis (EKB)

Lebih terperinci

http://bse.kemdikbud.go.id Diunduh dari Benda-benda di Lingkungan Sekitar Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Buku Siswa SD/MI Kelas V Tema 1

http://bse.kemdikbud.go.id Diunduh dari Benda-benda di Lingkungan Sekitar Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Buku Siswa SD/MI Kelas V Tema 1 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2014 K U R IKU L M U 2013 Benda-benda di Lingkungan Sekitar Tema 1 Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Buku Siswa SD/MI Kelas V Hak Cipta 2014 pada

Lebih terperinci

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE)

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE) PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE) BAB I, PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penerapan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik/Good Corporate Governance (GCG), tetap memperhatikan

Lebih terperinci