BAB I PENDAHULUAN. satu desa wisata yang paling awal dikembangkan di Indonesia. Semenjak

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. satu desa wisata yang paling awal dikembangkan di Indonesia. Semenjak"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desa Wisata Tembi yang berada di Kabupaten Bantul merupakan salah satu desa wisata yang paling awal dikembangkan di Indonesia. Semenjak beroperasinya PT. Out of Asia perlahan Tembi berubah menjadi sentra kerajinan. Masyarakat dibina untuk menjadi pengrajin dan penyuplai kerajinan yang akan diekspor ke pasar luar negeri. Pemerintah pun serius menanggapi semua gerakan yang dirintis oleh Warwick Purser sehingga melalui Kementerian Pariwisata dan Kesenian pada tahun 1999 yang diresmikan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Kesenian, Drs. H Hidayat Jaelani (Febriani dan Sumirat, Telisik Jurnal SKM Bulaksumur, No :5). Pencanangan tersebut juga menjadikan Tembi sebagai pionir dalam pengembangan desa wisata sebagai program nasional pemerintah saat itu, tetapi karena masih lemahnya kesadaran masyarakat serta tidak adanya manajerial yang baik maka program ini tidak dapat mencapai hasil yang diharapkan. Setelah terjadi gempa pada tahun 2006 yang mengakibatkan sebagian wilayah Yogyakarta termasuk Tembi terkena dampaknya. Masyarakat Tembi mulai bangkit kembali dan menggali ide untuk membangun desa wisata kembali, kali ini dengan menggandeng dua objek wisata lainnya yaitu Pasar Seni Gabusan dan Manding menjadi satu kawasan yang diresmikan menjadi kawasan GMT (Gabusan-Manding-Tembi) pada tahun

2 2 Lokasi desa wisata ini terbilang strategis karena dekat dengan pusat kota Yogyakarta serta berada di antara jalur pantai parangtritis yang masih menjadi objek wisata utama dan unggulan DIY. Hal ini menjadi sebuah keunggulan dan peluang untuk lebih mempromosikan Tembi kepada wisatawan baik nusantara dan mancanegara dengan menawarkan wisata pedesaan yang mudah dijangkau. Apalagi melihat tren perkembangan jumlah wisatawan mancanegara dan domestik yang datang ke DIY dari kurun waktu menunjukkan kenaikan rata-rata masing-masing sebesar 15,72 % dan 20,29% tiap tahunnya (Sulistya, 2016). Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2016 tentu sudah banyak perubahan yang terjadi. Penambahan atraksi, akomodasi, fasilitas dan pelayanan tambahan yang ada pasti telah berkembang jumlahnya demi pemenuhan kebutuhan wisatawan yang datang. Tembi pernah mendapatkan bantuan dari dana PNPM Mandiri Pariwisata, guna semakin mempercepat peningkatan infrastruktur desa. Perkembangan Desa Wisata Tembi perlu diikuti dengan analisis pengembangan desa wisata yang selanjutnya dapat digunakan bagi segenap stakeholder sebagai landasan untuk menentukan pengembangan yang dapat dilakukan secara berkesinambungan. Desa wisata merupakan bentuk pengembangan pariwisata yang dapat langsung menyentuh masyarakat sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat melalui pembangunan pariwisata berkelanjutan yang berbasis pemberdayaan masyarakat lokal. Penelitian ini akan menganalisa perkembangan Desa Wisata Tembi berdasarkan 4 aspek penting yang sering disebut 4A yaitu, attraction (atraksi),

3 3 amenity (amenitas), accessibility (aksesibilitas) dan ancillary (pelayanan tambahan). Keempat aspek tersebut merupakan aspek utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan objek wisata agar menghasilkan hasil yang maksimal yaitu kuantitas dan kepuasan wisatawan. Pengembangannya pun harus memperhatikan faktor daya dukung (carrying capacity) dan keberlangsungan (sustainability) serta pemberdayaan masyarakat yang dapat memberikan manfaat ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat desa dengan tetap memperhatikan keberlanjutan pemberdayaan masyarakat lokal. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada uraian sebelumnya maka dalam penelitian ini ada beberapa rumusan pertanyaan yang akan dijawab sebagai hasil pembahasan penelitian. Berikut ini adalah rumusan masalah yang akan menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini: 1. Bagaimana perkembangan pariwisata menurut aspek 4A (attraction, amenity, accessibility dan ancillary) di Desa Wisata Tembi? 2. Apa saja faktor yang menghambat perkembangan Desa Wisata Tembi? 1.3 Tujuan Penelitian Berikut adalah tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini: 1. Mengetahui perkembangandesa Wisata Tembi dari aspek 4A (attraction, amenity, accessibility dan ancillary service).

4 4 2. Mengetahui apa saja faktor yang menghambat perkembangan Desa Wisata Tembi. 1.4 Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian di atas diharapkan penelitian ini akan memiliki manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan baik dan bahan ilmiah bagi peneliti maupun bagi program studi pariwisata yang berkaitan dengan perkembangan suatu kawasan wisata melalui empat aspek daya tarik wisata pada sebuah desa wisata. 2. Manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai empat aspek utama Desa Wisata Tembi sebagai sebuah destinasi wisata sehingga dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pemangku kepentingan baik masyarakat dan pengelola Desa Wisata Tembi serta Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul untuk membuat perencanaan pengembangan yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan dan terkontrol dengan baik. 1.5 Tinjauan Pustaka Fokus kajian penelitian ini adalah menganalisa perkembangan melalui empat aspek komponen daya tarik Desa Wisata Tembi Sewon, Bantul. Penelitian yang mengambil lokasi di Tembi sudah cukup banyak namun dengan topik bahasan yang berbeda. Penelitian dengan topik bahasan ini belum ada sehingga

5 5 dapat dibuktikan keasliannya. Ada pun beberapa penelitian yang pernah dilakukan di Desa Wisata Tembi antara lain: Joseano Kurniawan Leibo (2010) dalam Tesisnya yang berjudul Peran Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Produk Desa Wisata (Kasus: Desa Wisata Tembi, Bantul, Yogyakarta) mengungkapkan hasil observasi dalam keterlibatan komunitas masyarakat lokal dan pemberdayaannya dalam penyediaan aspek produk sebuah desa wisata di tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan pembagian nilai manfaat dengan prinsip pariwisata berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat cukup besar namun kurang terarah dalam artian sumbangsih ide masih cukup minim, perlu adanya konsultan pariwisata dalam tahap perencanaan. Meskipun demikian pada tahap pelaksanaan semua anggota masyarakat terlibat secara aktif. Perlu adanya monitoring dari pihak Pemerintah Daerah untuk keberlangsungan program desa wisata. Penelitian ini berfokus pada strategi memaksimalkan peran masyarakat lokal dalam pengembangan desa wisata. Model Pengelolaan dan Tingkat Keberhasilan Desa Wisata, Studi Perbandingan: Krebet dan Tembi yang ditulis oleh Irwin Kurniawan ini berusaha membandingkan antara Desa Wisata Krebet dan Desa Wisata Tembi dengan melihat empat indikator yaitu terbukanya lapangan kerja, berkembangnya usahausaha baru, jumlah kunjungan dan lama tinggal wisatawan serta pendapatan masyarakat untuk menentukan tingkat keberhasilan pengelolaan desa wisata. Kesimpulan yang didapatkan yaitu pengelolaan Desa Wisata Tembi lebih baik

6 6 daripada Desa Wisata Krebet walaupun sama-sama menggunakan model partisipasi masyarakat. Astrid Ishi Bhinardyah dengan penelitiannya yang berjudul Perubahan Fisik dan Spasial Dusun Tembi sebagai Kawasan Strategis Pengembangan Desa Wisata ini berfokus pada perubahan fisik (sarana dan tipologi bangunan) dan spasial (guna lahan dan kepadatan bangunan). Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa perubahan fisik dan spasial di Desa Wisata Tembi terbagi menjadi empat fase: fase eksplorasi, fase peningkatan kualitas sumber daya manusia, fase regenerasi, dan fase pembangunan sarana dan prasarana. Faktor yang diindikasikan paling berpengaruh terhadap perubahan fisik dan spasial di Desa Wisata Tembi adalah faktor motif ekonomi dan faktor pengaruh dari luar seperti (bencana alam dan penetapan Desa Wisata Tembi). Perubahan fisik dan spasial juga diiringi dengan perubahan pola pikir masyarakat dan perubahan aktivitas terutama pergeseran kegiatan ekonomi primer menjadi tersier. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat fase stagnasi perkembangan desa wisata. Made Sudarte dengan penelitiannya yang berjudul Pengembangan Kawasan Pariwisata Terpadu sebagai Strategi Pertumbuhan Pusat Kegiatan Pariwisata di Yogyakarta: Studi Kasus Kawasan Segitiga Gabusan Manding Tembi mengamati perkembangan klaster pariwisata GMT yang tidak mengalami perkembangan signifikan bahkan beberapa pihak menilai GMT tidak atau kurang berhasil. Penelitian ini berfokus pada faktor-faktor yang menyebabkan kawasan ini kurang berkembang antara lain terbatasnya anggaran dari pemerintah daerah,

7 7 minimnya sumberdaya yang terlibat, dan rendahnya antusiasme dari para pelaku usaha/masyarakat yang cenderung hanya menunggu program dan fasilitasi dari pemerintah. Fokus penelitian ini lebih kepada potensi pengembagan produk dan pasar GMT. Dhiajeng AG dengan penelitiannya yang berjudul Dampak Ekonomi Pariwisata Desa Wisata Tembi Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta Terhadap Masyarakat Lokal penelitian ini membahas mengenai pemberdayaan masyarakat yang ada di Desa Wisata Tembi. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dampak ekonomi pariwisata yang ditimbulkan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat desa wisata tembi yang ikut terjun lanngsung dalam kegiatan pariwisata, walaupun belum menyentuh seluruh masyarakatnya. Emi Rohana dalam penelitiannya yang berjudul Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Desa Wisata Tembi berfokus pada pembahasan proses pemberdayaan ekonomi Desa Wisata Tembi dengan melibatkan masyarakat Tembi dari kegiatan pariwisata untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mampu menjangkau sumber produktif dan berpartisipasi dalam pembangunan dan keputusan yang mempengaruhi mereka. 1.6 Landasan Teori Desa Wisata merupakan salah satu bentuk destinasi wisata, Nuryanti (1993) memberikan pengertian bahwa desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu

8 8 struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Desa wisata merupakan sebuah bentuk destinasi wisata yang dikelola oleh sebuah manajemen yang melingkupi aspek-aspek pengembangan wisata pada umumnya serta dikemas untuk menjadi tujuan wisata. Desa Wisata Tembi termasuk ke dalam pengertian ini dimana kegiatan wisata di desa dikelola oleh manajemen Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk kemudian dikemas dan ditawarkan kepada wisatawan. Dalam mengembangkan suatu destinasi pariwisata terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan agar dapat menghasilan sebuah destinasi wisata yang unggul. Cooper dkk (1995: 103) mengemukakan bahwa terdapat empat aspek yang harus dimiliki oleh sebuah destinasi, yaitu: 1. Atraksi (attraction). 2. Amenitas atau fasilitas (amenities), yaitu dalam bentuk akomodasi, restoran, dan berbagai layanan lainnya. 3. Aksesibitas (accessibilities), seperti transportasi lokal dan transportasi terminal. 4. Ancillary service, dalam bentuk organisasi lokal. Atraksi merupakan daya tarik utama yang bagi wisatawan untuk datang ke sebuah destinasi wisata. Menurut UU No 10/2009 tentang kepariwisataan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Ditambahkan oleh Yoeti (1997) terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi dalam pengembangan suatu

9 9 daerah untuk menjadi tujuan wisata agar menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan yaitu something to see, something to do, dan something to buy. Sebuah destinasi harus menawarkan sesuatu yang unik dan berbeda dengan destinasi lainnya agar mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Fasilitas pelayanan atau amenitas mempunyai cakupan yang luas dan merupakan fasilitas yang mendukung pelayanan bagi wisatawan termasuk didalamnya kebutuhan dasar seperti akomodasi, informasi wisata, restoran atau rumah makan, pemandu, dan toko suvenir (WTO, 2007). Kemudian ditambahkan oleh Yoeti (1997) yaitu dengan keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan, bank dan kantor pos. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi sangat penting karena akan mempengaruhi kenyamanan, kemudahan serta persepsi wisatawan secara keseluruhan terhadap sebuah destinasi. Untuk mengunjungi sebuah destinasi, wisatawan akan mempertimbangkan aspek selanjutnya yaitu aksesibilitas atau transportasi. Menurut Yoeti (2003: 56) aksesibilitas adalah unsur-unsur kemudahan yang disediakan bagi wisatawan untuk berkunjung dan untuk itu dia harus membayar dengan harga yang wajar, diantaranya adalah infrastruktur, perlengkapan, faktor-faktor operasi dan regulasi pemerintah yang terkait. Menurut Cooper dkk (1995: 107) ancillary service adalah pelayanan tambahan yang disediakan oleh kelembagaan organisasi lokal baik untuk wisatawan dan pelaku industri pariwisata. Organisasi ini bisa berada di sektor publik atau privat. Pelayanan tambahan juga terkait dengan regulasi pemerintah daerah maupun pusat yang mengatur destinasi pariwisata. Beberapa layanan

10 10 utama yang disediakan oleh organisasi lokal antara lain (1) promosi destinasi, (2) koordinasi dan kontrol pengembangan, (3) penyediaan informasi dan reservasi, (4) himbauan dan koordinasi dengan bisnis lokal, (5) penyediaan beberapa fasilitas, (6) ketetapan kepemimpinan. Pelayanan tambahan sangat berkaitan erat dengan kelembagaan, Inskeep (1991) berpendapat bahwa unsur kelembagaan berfungsi untuk mengembangkan dan mengelola pariwisata, termasuk tenaga kerja dan program pendidikan dan pelatihan, strategi pemasaran dan program promosi. Kelembagaan yang ada bersifat pemerintah maupun swasta, penerbitan peraturan undang-undang yang berkaitan dengan pariwisata dan peraturan, kebijakan investasi sektor publik dan swasta, program kebudayaan, lingkungan, dan sosial, serta pengendalian dampak pariwisata merupakan tanggung jawab kelembagaan yang ada. 1.7 Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis mengingat rumusan masalah yang ingin diteliti adalah perkembangan Desa Wisata Tembi melalui aspek 4A (attraction, amenity, accessibility dan ancillary services). Penelitian kualitatif menurut Moleong (2007: 6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu

11 11 konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Metode penelitian deskriptif adalah untuk memaparkan dan menggambarkan data secara jelas dan terinci, sedangkan analitis adalah menguraikan pokok permasalahan dari berbagai macam bagian dan penelaahan untuk masing-masing bagian, mencari hubungan antar bagian sehingga diperoleh sesuatu pengertian yang tepat dan pemahaman arti secara keseluruhan (Sugiyono, 2010:1) Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini dibutuhkan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pencatatan hasil wawancara dengan tatap muka langsung dengan para responden. Responden adalah dari pihak pengelola, pelaku jasa wisata, pelaku kesenian dan masyarakat lokal. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kajian literatur, seperti buku, jurnal, media cetak, dan sebagainya. 1. Penentuan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Dusun Tembi, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Tembi memiliki luas 81 hektar dan berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota. Lingkungannya yang masih asri serta masih cukup banyak rumah-rumah lama dengan arsitektur Jawa yang asli membuat desa wisata ini memiliki daya tariknya tersendiri. Dusun ini dicanangkan menjadi desa wisata pada tahun 2008 sebagai bagian integral kawasan GMT.

12 12 2. Pemilihan Informan Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2013: ) purposive sampling adalah teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu, semisal orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai pemangku kepentingan sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek atau situasi sosial yang diteliti. Secara khusus informan yang dipilih dalam penelitian ini dilakukan secara terbatas karena berfokus dengan pengembangan yang dilakukan oleh pengelola serta hubungan-hubungan dengan masyarakat, pelaku usaha dan dinas terkait sehingga penelitian ini akan fokus dengan keempat kelompok narasumber tersebut. 3. Observasi Langsung Perolehan data dengan menyaksikan dan mengamati langsung keadaan Desa Wisata Tembi untuk mendapatkan pengalaman langsung mengenai objek yang diteliti. Aspek-aspek lingkungan, pola kehidupan masyarakat dan fenomena tertentu diselidiki dan dicatat secara sistematis. 4. Wawancara Informasi yang diperoleh penulis dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan kepada sejumlah narasumber yang telah ditentukan yaitu salah satunya manajemen pengelola Desa Wisata Tembi. Pada pihak manajemen ditanyakan tentang komponen daya tarik wisata, potensi, dan pengelolaannya. Sedangkan untuk masyarakat lokal akan ditanyakan bagaimana persepsi mereka terhadap kegiatan pariwisata lingkungan desa mereka meliputi pengaruh-pengaruh kegiatan

13 13 pariwisata terhadap kehidupan sosial budaya desa mereka. Keterangan pelaku usaha setempat diperlukan dalam upaya melihat Desa Wisata Tembi secara lebih utuh dan keseluruhan sedangkan dinas akan ditanyakan peranan dalam pengembangan kepariwisataan di Desa Wisata Tembi secara khusus dan kepariwisataan Kabupaten Bantul secara umum. 5. Studi Pustaka Penelitian ini menggunakan sumber-sumber dari buku-buku, skripsi dan arsip. Untuk sumber buku, penulis mencari di Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Perpustakaan Kota Yogyakarta, Perpustakaan Pusat UGM maupun Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Arsip dan koran didapatkan dari sumber internet, serta dokumen-dokumen yang terdapat pada Pengelola Desa Wisata Tembi dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bantul Metode Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk mengkaji Desa Wisata Tembi dengan melihat aspek atraksi, amenitas, aksesibilitas dan pelayanan tambahan. Setelah semua data tentang kepariwisataan Desa Wisata Tembi dan yang berkaitan dengan empat aspek tersebut telah terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif dengan melakukan penyajian data di lapangan, komparasi dengan data terdahulu dan kemudian diikuti dengan penarikan kesimpulan. Semua data yang terdiri dari catatan lapangan, gambar, foto, hasil wawancara, dan lain-lain dianalisis sesuai kebutuhan penelitian.

14 14 Studi kepustakaan diperlukan sebagai acuan untuk menganalisis data lama dengan kenyataan yang ada di lapangan. Penyajian data menggunakan bagan dapat digunakan oleh peneliti dalam membuat kerangka data yang ada di lapangan berdasarkan kerangka berfikir penelitian. Selain itu penyajian data berupa gambar juga digunakan untuk mempermudah dalam mendeskripsikan kondisi di lokasi penelitian. 1.8 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan akhir ini dikemukakan dalam bentuk bab masing-masing, yaitu sebagai berikut: Bab I merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II berisi pemaparan mengenai gambaran umum, sejarah, demografi, kondisi sosial budaya, komponen daya tarik wisata, profil wisatawan dan promosi Desa Wisata Tembi. Bab III membahas analisis Desa Wisata Tembi berdasarkan 4A (attraction, amenitiy, accessibility, dan ancillary services) meliputi perkembangan dan keunggulan serta kelemahan Desa Wisata Tembi. Bab IV merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.