BULETIN INFORMASI METEOROLOGI EDISI VIII BULAN AGUSTUS 2018 TIM REDAKSI. Penanggung Jawab : AGUSTINUS BOLILERA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BULETIN INFORMASI METEOROLOGI EDISI VIII BULAN AGUSTUS 2018 TIM REDAKSI. Penanggung Jawab : AGUSTINUS BOLILERA"

Transkripsi

1 BULETIN INFORMASI METEOROLOGI EDISI VIII BULAN AGUSTUS 2018 TIM REDAKSI Penanggung Jawab AGUSTINUS BOLILERA Pemimpin Redaksi ERWIN ANDREW KARIPUI Redaktur PRIMA MARLIAFON AMALO, Ah.Md THOMAS Y. BLEGUR, S.Tr SAMSUL DAKA, S.Tr RICARDA R. LILIANA, A.Md MARGI CANDA W. WICAKSONO, A.Md Alamat Redaksi STASIUN METEOROLOGI MALI - ALOR Jl. Soekarno - Hatta, Bandar Udara Mali - Alor Telp./Fax (0386) ; Website

2 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-nya sehingga Buletin Informasi Meteorologi edisi VIII Bulan Agustus 2018 ini dapat tersusun. Buletin Informasi Meteorologi ini dibuat sebagai salah satu sarana penunjang penyampaian informasi meteorologi dari Stasiun Meteorologi Mali - Alor, baik kepada para pengguna jasa informasi meteorologi penerbangan dan juga kepada masyarakat umum di wilayah Kabupaten Alor. Adapun isi Buletin ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim sepanjang bulan Agustus 2018, dan informasi prakiraan hujan bulan September 2018, serta prakiraan pasang surut dan informasi waktu terbit dan tenggelam matahari masingmasing untuk bulan September dan Oktober 2018 di wilayah Kabupaten Alor. Kami sadar bahwa informasi yang disajikan dalam Buletin ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi maupaun tampilan, untuk itu kami sangat mengharapkan adanya masukan, kritik dan saran yang konstruktif untuk penyempurnaan kedepan. Kalabahi, 03 September 2018 KEPALA STASIUN METEOROLOGI MALI - ALOR AGUSTINUS BOLILERA NIP Page i

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...ii I. RINGKASAN...1 II. PENGERTIAN...2 A. SIFAT HUJAN...2 B. NORMAL CURAH HUJAN...2 C. INTENSITAS CURAH HUJAN (CH)...2 III. ANALISIS CUACA DAN IKLIM...2 A. VARIABILITAS CUACA DAN IKLIM...2 B. DINAMIKA ATMOSFER & LAUTAN BULAN AGUSTUS C. ANALISIS HUJAN BULAN AGUSTUS D. ANALISA UNSUR CUACA DI STASIUN METEOROLOGI MALI - ALOR PENYINARAN MATAHARI SUHU UDARA TEKANAN UDARA PERMUKAAN ANGIN PERMUKAAN PENGUAPAN KELEMBABAN UDARA HUJAN IV. PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN SEPTEMBER 2018 DI WILAYAH KABUPATEN ALOR...19 V. PRAKIRAAN PASANG SURUT (TIDAL) BULAN SEPTEMBER DAN OKTOBER 2018 DI WILAYAH KABUPATEN ALOR...25 VI. INFORMASI WAKTU TERBIT DAN TENGGELAM MATAHARI DI WILAYAH KABUPATEN ALOR BULAN SEPTEMBER & OKTOBER VII. PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN PENERBANGAN LAPORAN PRODUK METEOROLOGI PUBLIK...36 VIII. LAMPIRAN...38 Page ii

4 I. RINGKASAN 1. Berdasarkan data curah hujan yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Mali (Pos Hujan Mali) dan Pos Hujan Kalabahi, yang diasumsikan mewakili daerah-daerah di sekitarnya, maka evaluasi jumlah curah hujan dan sifat hujan pada bulan Agustus 2018 adalah sebagai berikut - Jumlah curah hujan di Mali sebesar 47,9 mm. Hujan yang terjadi pada bulan ini untuk wilayah Mali dan sekitarnya memiliki sifat Atas Normal (AN). - Jumlah curah hujan di Kalabahi sebesar 19,9 mm. Hujan yang terjadi pada bulan ini untuk wilayah Kalabahi dan sekitarnya memiliki sifat Atas Normal (AN). 2. Untuk kondisi atmosfer di bulan Agustus 2018 adalah sebagai berikut - MJO aktif di wilayah Indonesia pada pertengahan Dasarian II hingga akhir Dasarian III bulan ini, sehingga cukup berdampak terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian Barat hingga Timur sebelah Utara Ekuator - Rata-rata nilai OLR umumnya relatif rendah di wilayah Indonesia sekitar Ekuator hingga bagian Utara dibandingkan di wilayah Selatan Indonesia. Nilai OLR di sekitar wilayah Kep. Alor sangat tinggi. - Suhu muka laut (SML) dan Anomali SML di wilayah perairan sekitar Indonesia termasuk wilayah perairan Kepulauan Alor menunjukkan kondisi SML cenderung mendingin. 3. Prakiraan untuk kondisi atmosfer dan sifat hujan bulan September Anomali SST Indonesia umumnya diprediksi netral sampai anomali negatif, kecuali di bagian timur diprediksi pada kondisi anomali positif. Di wilayah Nino 3.4, anomali SST cenderung positif di bagian barat dan tengah - ENSO diprediksi pada kondisi El Nino Lemah hingga Moderate pada periode bulan September 2018 hingga Februari Indeks Dipole Mode diprediksi tetap pada kondisi Normal. - Analisis tanggal 01 Agustus 2018 menunjukkan MJO tidak aktif dan diprediksi aktif pada awal Dasarian II September 2018 di wilayah Afrika Barat (Phase 8). - Hasil prakiraan curah hujan tiap dasarian menunjukkan sifat hujan di wilayah Kab. Alor pada Dasarian I Bawah Normal (AN), Dasarian II Normal (N), dan Dasarian III Bawah Normal (BN) dengan kriteria curah hujan rendah. - Prakiraan sifat hujan Bulanan untuk bulan September 2018 adalah Normal (N). Page 1

5 II.PENGERTIAN A. SIFAT HUJAN Sifat Hujan adalah Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat. Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kriteria, yaitu 1. Di atas normal (AN), jika nilai perbandingannya lebih besar dari 115 %. 2. Normal (N), jika nila perbandingannya antara 85 % %. 3. Di bawah normal (BN), jika nilai perbandingannya kurang dari 85 %. B. NORMAL CURAH HUJAN 1. RATA-RATA CURAH HUJAN BULANAN Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun. 2. NORMAL CURAH HUJAN BULANAN Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun. 3. STANDARD NORMAL CURAH HUJAN BULANAN Nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun dimulai dari 1 Januari 1901 s/d 31 Januari 1930, 1 Januari 1931 s/d 31 Januari 1960, 1 Januari 1961 s/d 31 Januari 1990, dan seterusnya. C. INTENSITAS CURAH HUJAN (CH) Kriteria CH Sangat Lebat Lebat Sedang Ringan CH/hari > 100 mm mm mm 5-20 mm CH/Jam > 20 mm mm 5-10 mm 1-5 mm III.ANALISIS CUACA DAN IKLIM A. VARIABILITAS CUACA DAN IKLIM Wilayah Kabupaten Alor merupakan bagian dari wilayah Indonesia, yang Page 2

6 dilewati oleh garis katulistiwa serta dikelilingi oleh dua samudera dan dua benua. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai daerah pertemuan sirkulasi meridional (UtaraSelatan) yang dikenal sebagai Sirkulasi Hadley dan sirkulasi zonal (Timur-Barat) yang dikenal sebagai Sirkulasi Walker, dua sirkulasi yang sangat mempengaruhi keragaman iklim di Indonesia. Pergerakan matahari yang berpindah dari 23.5o Lintang Utara ke 23.5o Lintang Selatan sepanjang tahun mengakibatkan timbulnya aktivitas monsun yang juga ikut berperan dalam mempengaruhi keragaman iklim. Faktor lain yang diperkirakan ikut berpengaruh terhadap keragaman iklim ialah gangguan siklon tropis. Semua aktivitas dan sistem ini berlangsung secara bersamaan sepanjang tahun akan tetapi besar pengaruh dari masing-masing aktivitas atau sistem tersebut tidak sama dan dapat berubah dari tahun ke tahun. El-Nino dan La-Nina merupakan salah satu akibat dari penyimpangan iklim. Fenomena ini akan menyebabkan penurunan dan peningkatan jumlah curah hujan untuk beberapa daerah di Indonesia. Tercatat sejak tahun 1844 Indonesia telah mengalami kejadian kekeringan atau jumlah curah hujan di bawah rata-rata normal tidak kurang dari 43 kali. Dari 43 kali kejadian tersebut hanya 6 kali kejadiannya tidak bersamaan dengan kejadian fenomena El-Nino, hal ini menunjukkan bahwa keragaman hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh fenomena ini. Pengaruh El-Nino kuat pada daerah yang berpola hujan monsun, lemah pada daerah berpola hujan Ekuatorial dan tidak jelas pada daerah dengan pola hujan lokal, sedangkan IOD hanya berpengaruh jelas pada daerah berpola hujan monsun. Selain akibat pengaruh fluktuasi suhu permukaan laut di samudera pasifik dan Samudera Hindia (ENSO dan IOD), fenomena fase aktif osilasi intra-musiman yg dikenal sebagai MJO (Madden-Jullian Oscillation) juga mempengaruhi variabilitas hujan di Indonesia. MJO adalah osilasi/gelombang tekanan (pola tekanan tinggi-tekanan rendah) dengan periode lebih kurang 48 hari yang menjalar dari barat ke timur. Biasanya berawal di pantai timur Afrika kemudian menjalar ke timur dan menghilang di bagian tengah Pasifik. Menurut Geerts and Wheeler (1998), MJO akan menyebabkan terjadinya variasi pada pola angin, suhu permukaan laut (SPL), awan dan hujan. Fase aktif MJO bila bersamaan waktunya dengan musim hujan (Desember, Januari, dan Februari) atau angin monsun Barat Laut di wilayah kepulauan Alor dapat menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan. Pada umumnya hujan tropis adalah konvektif, dimana puncak awan konvektif sangat dingin (sedikit mengemisi radiasi gelombang panjang), oleh karenanya MJO sangat baik dimonitor dengan memperhatikan variasi Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang dipantau oleh sensor Page 3

7 infra merah pada satelit. Sementara kondisi topografi wilayah Indonesia yang memiliki daerah pegunungan, daerah berlembah, serta banyak pantai, merupakan fitur lokal yang menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu. Berdasarkan hasil analisa data periode 30 tahun terakhir ( ), secara klimatologis wilayah Indonesia terdapat 407 pola iklim, dimana 342 pola merupakan Zona Musim (ZOM) yaitu mempunyai perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau (umumnya pola Monsun), sedangkan 65 pola lainnya adalah Non Zona Musim (Non ZOM). Daerah Non Zom pada umumnya memiliki ciri mempunyai 2 kali puncak hujan dalam setahun (pola Ekuatorial) dan daerah sepanjang tahun curah hujannya tinggi atau rendah. Wilayah Kepulauan Alor (Pulau Alor dan Pantar) secara klimatologis berada pada pola iklim Zona Musim (ZOM) 251. Hal ini nampak dengan adanya perbedaan yang jelas antara periode musim hujan (3 bulan yakni Desember, Januari, dan Februari) dan periode musim kemarau (9 bulan yakni Maret hingga November). B. DINAMIKA ATMOSFER & LAUTAN BULAN AGUSTUS Monsun Pada bulan Agustus, matahari dalam penjalarannya telah bergerak menuju Ekuator dengan pergerakan semu kurang lebih 10,0 yakni dari 18,9 LU menuju 8,9 LU. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan suhu muka laut di daerah sekitar BBU yang memicu terbentuknya pola-pola tekanan udara rendah. Selama bulan Agustus 2018 teramati terjadi beberapa kejadian Siklon (Cyclone) di BBU antara lain Badai Tropis (Tropical Storm, TS) Jongdari (eks Typhon Jongdari), Typhon Shanshan, TS Yagi, TS Leepi, TS Bebinca, TS Hector, TS Rumbia, Typhon Soulik, Typhon Cimaron dan Typhon Jebi. Dari beberapa kejadian siklon tropis tersebut, cukup berdampak signifikan terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia sekitar Ekuator hingga sebelah Utara Ekuator, dan tidak berdampak terhadap kondisi cuaca di sekitar Kepulauan Alor. Kondisi cuaca di sekitar kepulauan Alor pada bulan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal serta fenomena regional lainnya (seperti monsson timuran, daerah tekanan tinggi Australia, dll) dan kondisi lokal. Gbr. 1 Peta Rata-rata Suhu Muka Laut Bulan Agustus 2018 Page 4

8 Gbr. 2 Peta Anomali Suhu Muka Laut bulan Agustus 2018 Secara umum rata-rata suhu muka laut di wilayah perairan sekitar Indonesia pada bulan Agustus 2018 berkisar antara 25,5ºC hingga 29,5ºC. Untuk wilayah perairan di sekitar Kepulauan Alor, suhu muka laut pada kisaran 27,0ºC. Suhu muka laut yang cenderung dingin ini mengindikasikan kandungan uap air yang terkandung di udara pun cenderung sedikit. Kondisi demikian menyebabkan potensi pembentukan awan-awan kurang signifikan dan kondisi cuaca cenderung cerah hingga cerah berawan di wilayah Kepulauan Alor (jika faktor pendukung lain seperti pola angin, indeks labilitas udara dan lainnya diabaikan). Nilai anomali Suhu Muka Laut (SML) pada bulan ini di wilayah perairan Indonesia umumnya cenderung normal hingga lebih dingin (anomali negatif), kecuali Page 5

9 perairan sebelah barat Sumatera Utara, perairan sekitar Nusa Tenggara Timur bagian timur, Laut Banda, perairan sekitar kepulauan Maluku hingga perairan sebelah barat dan utara Papua Barat menunjukkan anomali positif (memanas). Anomali SML di sekitar perairan kepualauan Alor menunjukkan kondisi anomali positif (memanas) namun tidak signifikan, sehingga potensi pembentukan awan-awan tidak signifikan dan kondisi cuaca cenderung cerah hingga cerah berawan di wilayah Kepulauan Alor (jika faktor pendukung lain seperti pola angin, indeks labilitas udara dan lainnya diabaikan). Gbr. 3. Rata-Rata Tekanan Udara Bulan Agustus 2018 Berdasarkan analisa peta rata-rata tekanan udara permukaan laut (Mean Sea Level Pressure / MSLP) di atas, pada bulan Agustus 2018 terlihat wilayah tekanan udara rendah (Low Pressure Area) berada di sepanjang BBU (Afrika hingga Asia), sedangkan wilayah BBS didominasi wilayah terkanan tinggi (High Pressure Area). Hal ini menyebabkan pola pergerakan massa udara bergerak dari wilayah daerah bertekanan tinggi (BBS) ke wilayah-wilayah bertekanan rendah tersebut (BBU), sehingga pola angin pada lapisan 850 mb di sekitar wilayah Indonesia didominasi angin Timuran (di sebelah Selatan Ekuator) dan Baratan (disebelah Utara Ekuator). Khusus di wilayah Kepulauan Alor, aliran massa udara dominan berhembus dari arah Tenggara dengan kecepatan angin rata-rata berkisar antara 8-11 Knot. Terdapat perlambatan kecepatan angin, namun massa udara yang terangkut cenderung dingin dan kering (dari daratan Australia) menyebabkan pertumbuhan awan-awan konvektif tidak/kurang signifikan pada bulan ini. Hal ini dapat diketahui bahwa sepanjang bulan Agustus 2018 Page 6

10 ini didominasi dengan kondisi cuaca yang cenderung cerah hingga cerah berawan. Gbr. 4. Rata-rata Angin lapisan 850 mb Bulan Agustus El Nino - Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) Indeks ENSO ditunjukkan dalam bentuk SOI (Southern Oscillation Index). SOI negatif / positif mengindikasikan adanya perkembangan intensitas fenomena El Nino / La Nina di Samudera Pasifik. Indeks SOI = -10 (negatif) menunjukkan adanya perkembangan fenomena El Nino yang dapat berdampak cukup signifikan terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia. Indeks SOI = +10 (positif) menunjukkan adanya perkembangan fenomena La Nina yang dapat berdampak cukup signifikan terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia. Dampak ENSO di bumi sangat luas, dikaitkan dengan pergeseran sirkulasi tropis skala luas seperti sel Walker dan sel Hadley. Beberapa area di daerah tropis secara langsung dipengaruhi oleh kondisi kekeringan atau banjir bergantung pada kejadian fasa panas ENSO yaitu El Niño, atau fasa dingin ENSO yaitu La Niña jika anomali temperatur permukaan laut di daerah Niño 3 dan Niño 4 positif atau negatif. Daerah kunci interaksi atmosfer ocean dalam ENSO terletak antara Niño 3 dan Niño 4 yang sering disebut daerah Niño 3.4 yaitu daerah 180ºE 120ºW, 5ºN 10ºS (Trenberth, 1996). ENSO menyebabkan variasi iklim tahunan. Ketika tahun ENSO, sirkulasi zonal di atas Indonesia divergen, sehingga terjadi subsidensi udara atas. Divergensi massa udara mengakibatkan awan-awan yang terbentuk bergeser ke Pasifik tengah dan timur, sehingga di atas Indonesia terjadi defisiensi curah hujan bahkan dapat terjadi bencana alam Page 7

11 kekeringan (Tjasyono, B., 2003) Masing-masing kejadian El Nino adalah unik dalam hal kekuatannya sebagaimana dampaknya pada pola turunnya hujan maupun panjang durasinya. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2009), Berdasarkan intensitasnya El Nino dikategorikan sebagai berikut a. El Nino lemah (Weak El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +0.5º C s/d +1,0º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturutturut. b. El Nino sedang (Moderate El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +1,1º C s/d 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut. c. El Nino kuat (Strong El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator > 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut. Pada bulan Agustus 2018, ENSO berada pada kondisi Normal. Hal ini ditunjukkan dengan indeks anomali SST Nino 3.4 pada minggu awal bulan sebesar (+0.27) dan akhir bulan sebesar (+0,29), serta nilai SOI pada awal bulan sebesar (+2,1) dan cenderung turun secara flukutiatif hingga pada akhir bulan sebesar +8,7). Rata-rata indeks ENSO (gabungan antara indeks atmosfer Lautan) sebesar (-0,69). Kondisi demikian tidak berpengaruh signifikan terhadap penambahan atau pengurangan jumlah curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk wilayah kepulauan Alor. Gbr.5. Grafik indeks SST Nino 3.4 Bulan Januari 2014 s/d. September 2018 Gbr. 6. Grafik indeks / SOI Bulan Agustus 2018 Sumber BoMENSO (http// Page 8

12 Sumber Data BoM (http// 3. Madden-Jullian Oscillation (MJO) a. Outgoing Longwave Radiation (OLR) OLR merupakan suatu radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh bumi ke luar angkasa. Tidak semua radiasi gelombang panjang yang terpancar dari bumi sampai ke luar angkasa. Awan-awan konvektif adalah salah satu faktor yang menghalangi perjalanan gelombang panjang. Jika pada suatu wilayah tertutup hamparan awan konvektif, maka nilai OLR akan kecil. Gbr.7. Rata-rata OLR bulan Agustus 2018 Rata-rata nilai OLR pada bulan Agustus 2018 umumnya relatif rendah di wilayah Indonesia sekitar Ekuator hingga bagian Utara dibandingkan di wilayah Selatan Indonesia. Nilai OLR di wilayah Indonesia berkisar antara W/M², sedangkan khusus di Page 9

13 wilayah kepulauan Alor bernilai W/M². Hal ini menunjukan bahwa tutupan awan konvektif relatif sama jika dibandingkan bulan sebelumnya. b. Fase MJO (Madden - Jullian Oscillation) MJO pada bulan Agustus 2018 aktif pada fase 4 hingga 7 (garis hijau) dengan sifat lemah (weak) hingga kuat (strong). MJO aktif di wilayah Indonesia pada pertengahan Dasarian II hingga akhir Dasarian III bulan ini, sehingga cukup berdampak terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian Barat hingga Timur sebelah Utara Ekuator. Gbr. 8. Fase MJO Bulan Agustus 2018 Sumber BoM (http// 4. IOD (Indian Ocean Dipole) Indeks IOD (Indian Ocean Dipole) ditunjukkan dalam bentuk DMI (Dipole Mode Index). DMI negatif mengindikasikan adanya aliran massa udara dari wilayah Samudera Hindia bagian barat ke Wilayah Samudera Hindia bagian timur, sedangkan IOD positif menunjukkan kondisi yang berkebalikan. Indeks IOD 0.5 (negatif) mengindikasikan adanya kontribusi yang cukup signifikan terhadap pembentukan awan di sekitar wilayah Indonesia. Pada bulan Agustus 2018, DMI pada kondisi Normal, dengan nilai DMI pada minggu awal dan akhir bulan masing-masing sebesar (+0,05) dan (-0,17) dengan ratarata sebulan sebesar (+0,30). Hal ini mengindikasikan perpindahan aliran massa udara Page 10

14 dari wilayah bagian barat ke wilayah Samudera Hindia dan/ atau sebaliknya tidak signifikan, sehingga dapat diketahui bahwa selama bulan ini, secara umum IOD tidak signifikan dalam mempengaruhi peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat. Gbr.9. Grafik IOD Bulan Januari 2014 s.d. September 2018 Sumber BoM (http// C. ANALISIS HUJAN BULAN AGUSTUS 2018 Berdasarkan data curah hujan bulan Agustus 2018 yang diperoleh dari Stasiun / pos hujan yang diasumsikan mewakili daerah-daerah di sekitarnya, maka evaluasi jumlah curah hujan dan sifat hujan bulan-bulan tersebut adalah sebagai berikut Tabel 1. Analisis Curah Hujan dan Sifat Hujan Bulan Agustus 2018 Lokasi Total CH (mm) Rata-Rata (mm) Sifat Hujan \ Kriteria Mali 47,9 4 Atas Normal \ Rendah *Kalabahi 19,9 4 Atas Normal \ Rendah * Keterangan Pos Hujan Kalabahi belum memiliki nilai rata-rata (Normal) curah hujan, sehingga nilai Normal yang dipakai adalah Normal CH Mali (Stasiun Meteorologi Mali) Dari tabel di atas tampak bahwa pada bulan Agustus 2018, kriteria sifat hujan untuk wilayah Alor secara umum di Mali memiliki variabilitas sifat hujan Atas Normal (AN) terhadap reratanya, demikian pula di Kalabahi memiliki variabilitas sifat hujan Atas Normal (AN) dengan kriteria (sama-sama) rendah. Page 11

15 D. ANALISA UNSUR CUACA DI STASIUN METEOROLOGI MALI - ALOR 1. PENYINARAN MATAHARI Penyinaran matahari yang diamati dibagi dalam dua jenis yaitu meliputi lamanya penyinaran matahari (durasi penyinaran matahari) dan Intensitas radiasi matahari. Durasi penyinaran matahari selama periode tertentu adalah jumlah pada periode itu untuk pemancaran radiasi matahari melampaui 120Wm-2 (WMO,2006). Sedangkan intensitas radiasi matahari adalah besarnya energi yang dipancarkan oleh matahari persatuan waktu. Intensitas dan lamanya penyinaran matahari berbanding terbalik terhadap jumlah tutupan awan dan berbanding lurus terhadap suhu udara dan penguapan, dimana makin pendek durasi penyinaran matahari, makin besar jumlah tutupan awan yang menutupi langit maka suhu udara cenderung menurun sehingga makin kecil pula jumlah penguapan yang terjadi atau sebaliknya. Penyinaran matahari diukur untuk mengetahui lama / durasi penyinaran matahari yang terjadi selama 1 (satu) hari (12 jam) yakni jam waktu setempat. Satuan untuk mengukur durasi penyinaran matahari dinyatakan dalam persen (%) dan Jam. Untuk satuan dalam persen (%) digunakan untuk kepentingan Klimatologi dan satuan dalam jam digunakan untuk kepentingan Meteorologi. Alat untuk mengukur durasi penyinaran matahari adalah Campbell Stokes. Gbr.10. Grafik Penyinaran Matahari Bulan Agustus 2018 di Mali Alor Pada bulan Agustus 2018, durasi penyinaran matahari berkisar antara 4,2% hingga 88,3% atau sekitar 0,5 10,6 jam. Durasi terpendek terjadi pada tanggal 06 Agustus 2018, sedangkan durasi terpanjang (terlama) terjadi pada tanggal 02 Agustus Page 12

16 2018, dengan rata-rata durasi penyinaran matahari selama satu bulan sebesar 74,0 % atau ± 8,9 jam per hari. Hal ini mengindikasikan bahwa tutupan awan di wilayah Kabupaten Alor pada bulan ini relatif sama dengan bulan sebelumnya. 2. SUHU UDARA Suhu adalah jumlah fisik yang mencirikan rata-rata gerakan acak dari molekulmolekul pada benda fisik (WMO, 2006). Suhu udara permukaan yang diukur pada ketinggian ,25 m dari permukaan tanah. Suhu udara didefinisikan sebagai keadaan pada pada suatu benda dan atau luasan pada suatu saat dan waktu. Faktor utama yang menjadi penyebab adanya suhu udara adalah sinar matahari terhadap benda/bidang atau luasan tertentu. Satuan suhu udara permukaan dinyatakan dalam derajat Celcius (oc). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur suhu udara permukaan adalah Thermometer. Suhu udara permukaan diukur dengan menggunakan alat Thermometer Bola Kering. Suhu Udara Maximum adalah suhu udara tertinggi yang diamati dan dicatat, yang terjadi pada hari itu. Suhu udara maximum diamati sekali dalam 1 hari. Untuk suhu udara maximum diamati pada jam 1200 UTC (2000 WITA) pada hari itu juga. Alat untuk mengukur suhu udara maximum dipergunakan Thermometer Maximum dan satuannya dinyatakan dalam derajat celcius (oc). Suhu Udara Minimum adalah suhu udara terendah yang diamati dan dicatat, yang terjadi pada 1 hari itu. Suhu udara minimum diamati sekali dalam 1 hari yaitu pada jam 0000 UTC (0800 WITA). Alat yang digunakan untuk mengukur suhu udara minimum adalah Thermometer Minimum dan satuannya dinyatakan dalam derajat Celcius (oc) Pada bulan Agustus 2018, suhu udara rata-rata harian berkisar antara 25,5 C hingga 26,8 C. Suhu udara terendah (minimum absolut) dalam bulan ini sebesar 20,0 C pada tanggal 12 Agustus 2018 pagi hari, sedangkan suhu udara tertinggi (maksimum absolut) sebesar 31,6 C terjadi pada tanggal 12 Agustus 2018 siang hari. Suhu udara rata-rata pada bulan ini tercatat sebesar 26,2 C, rata-rata suhu maksmimum sebesar 30,4 C dan rata-rata suhu minimum sebesar 21,4 C. Page 13

17 Gbr.11 Grafik Suhu Udara Bulan Agustus 2018 di Mali Alor 3. TEKANAN UDARA PERMUKAAN Tekanan udara didefinisikan sebagai gaya persatuan luas yang disebabkan oleh berat udara diatasnya (BMG, 2006). Satuan tekanan udara dinyatakan dalam satuan milibar (mb), 1 milibar (mb) = 1 hektopascal (HPa). Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara permukaan adalah Barometer. Pada bulan Agustus 2018, rata-rata tekanan udara permukaan laut harian berkisar antara 1010,7 hingga 1014,0 mb (hpa). Rata-rata tekanan udara permukaan laut harian terendah tersebut terjadi pada tanggal 16 Agustus 2018, serta tertinggi terjadi pada tanggal 13 Agustus 2018 dengan rata-rata tekanan udara sebulan sebesar 1012,6 mb (hpa). Gbr.12 Grafik Rata-Rata Tekanan Udara Permukaan Bulan Agustus 2018 di Mali Alor Page 14

18 4. ANGIN PERMUKAAN Angin adalah udara yang bergerak horizontal terhadap permukaan bumi (United Kingdom Civil Aviation Authority, 2001). Arah angin adalah dari mana datangnya angin bertiup (BMG, 2006). Kecepatan angin adalah jumlah vector tiga dimensi dalam fluktuasi skala kecil yang acak pada ruang dan waktu yang berpadu pada aliran skala besar yang teratur (WMO, 2006). Arah dan Kecepatan angin permukaan diukur pada ketinggian 10 meter dari permukaan tanah (BMG, 2006). Arah angin diukur dalam satuan derajat yang diukur searah jarum jam mulai dari titik Utara yang sebenarnya (True North). Kecepatan angin dinyatakan dalam Knot (KT), 1 Knot = 1,85 km/jam. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin adalah Anemometer. Gbr.13. Wind Rose Angin Permukaan Bulan Agustus 2018 di Mali Alor Gbr.14. Distribusi Frek. Angin Permukaan Bulan Agustus 2018 di Mali Alor Selama periode bulan Agustus 2018, angin permukaan (10 meter dari permukaan tanah) secara umum didominasi dari arah Timur dengan presentase kejadian sebesar 16,80% (125 jam kejadian) kemudian disusul dari arah Barat dengan presentase kejadian sebesar 15,32% (114 jam kejadian) dan disusul dari arah Timur Laut dengan presentase kejadian sebesar 14,38% (107 jam kejadian). Untuk kategori kecepatan angin, distribusi frekuensi kejadian didominasi oleh angin dengan kecepatan rata-rata antara 1 4 knot (± 1,85 7,4 Km/Jam) sebesar 35,22 % (262 jam kejadian); disusul kategori angin teduh (CALM) sebesar 32,93 % (245 jam kejadian); disusul angin dengan kecepatan antara 7 11 knot (± 12,95 20,35 km/jam) sebesar 18,24% (136 jam kejadian); disusul antara 4 7 knot (± 7,4 12,95 km/jam) sebesar 11,42% (85 jam Page 15

19 kejadian); dan antara knot (± 20,35 31,45 km/jam) sebesar 2,15% (16 jam kejadian). Arah dan kecepatan angin maksimum (Gusty) terekam berhembus dengan kecepatan sebesar 20,1 knot (± 37,19 km/jam, 1 kt = 1,85 km/jam) pada tanggal 20 Agustus 2018 jam 0443 UTC (1243 WITA) dari arah Timur (70 ) dan pada tanggal 28 Agustus 2018 jam 0221 UTC (1021 WITA) dari arah Timur Laut (60 ). 5. PENGUAPAN Penguapan atau evaporasi adalah jumlah air yang menguap dari permukaan air yang terbuka atau dari tanah (WMO, 2006). Untuk menghitung jumlah penguapan yang ada maka dapat diperoleh dari jumlah selisih tinggi air hari kemarin dengan hari ini ditambah curah hujan. Pengukuran jumlah penguapan dilakukan satu kali dalam satu hari pada jam 0000 UTC. Satuan penguapan yang digunakan adalah milimeter (mm). Alat yang digunakan untuk mengukur penguapan adalah panci penguapan terbuka (Open Pan Evaporimeter). Pada bulan Agustus 2018, jumlah penguapan yang diukur berkisar antara 2,4 mm hingga 10,8 mm. Jumlah penguapan terendah tersebut terjadi pada tanggal 06 Agustus 2018 dan tertinggi pada tanggal 14 Agustus 2018 dengan total penguapan sebulan sebesar 153,9 mm dan rata-rata penguapan sebesar 5,0 mm per hari. Gbr.15 Grafik Penguapan Bulan Agustus 2018 di Mali Alor 6. KELEMBABAN UDARA Lembab nisbi atau kelembapan relatif adalah perbandingan antara massa uap air yang ada di dalam satu satuan volume dengan massa uap air yang diperlukan untuk menjenuhkan satu aatuan volume udara tersebut pada suhu yang sama (BMG, 2006). Satuan yang digunakan untuk mengukur lembab nisbi dinyatakan dalam Persen (%). Page 16

20 Alat yang digunakan untuk menentukan lembab nisbi adalah Screen Psycrometer / Psycrometer Sangkar Tetap (Thermometer Bola Kering dan Thermometer Bola Basah) Kelembapan nisbi atau kelembapan relatif berubah sesuai dengan tempat dan waktu, dipengaruhi oleh ketinggian tempat, kerapatan udara, tekanan udara dan radiasi matahari. Jika cuaca normal, menjelang tengah hari kelembapan nisbi berangsurangsur turun kemudian pada sore hari sampai menjelang pagi bertambah besar. Pada bulan Agustus 2018, rata-rata kelembaban udara harian berkisar antara %. Kelembaban udara terendah mutlak sebesar 42% terjadi pada tanggal 24 Agustus 2018 jam 0600 UTC (1400 WITA), sedangkan kelembaban udara tertinggi mutlak sebesar 98% terjadi pada tanggal 16 Agustus 2018 jam 2200 dan 2300 UTC (0600 dan 0700 WITA). Rata-rata kelembaban udara sebulan sebesar 75%. Dengan demikian kondisi udara pada bulan ini relatif sama dengan bulan sebelumnya (Juli 2018). Gbr.16. Grafik Rata-Rata Kelembaban Udara Bulan Agustus 2018 di Mali Alor 7. HUJAN Curah hujan adalah ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, dengan asumsi tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir (BMKG, 2009). Satuan curah hujan dinyatakan dalam millimeter (mm). Alat yang digunakan adalah penangkar hujan biasa (Tipe Obs) dan penangkar hujan tipe Helman. 7.1 Curah Hujan Stasiun Meteorologi Mali Alor (Pos Hujan Mali) Berdasarkan hasil pengukuran (penakaran) curah hujan (CH) di Pos Hujan Mali, pada bulan Agustus 2018 diketahui terdapat 7 (tujuh) hari hujan dengan 6 (enam) hari hujan terukur dan 1 (satu) hari hujan Tidak Terukur (TTU). Jumlah curah Page 17

21 hujan sebulan sebanyak 47,9 mm dengan curah hujan tertinggi sebanyak 32,5 mm terjadi pada tanggal 14 Agustus Gbr.17. Grafik Curah Hujan Stasiun Meteorologi Mali Bulan Agustus Pos Hujan Kecamatan Teluk Mutiara (Pos Hujan Kalabahi) Berdasarkan hasil pengukuran (penakaran) curah hujan di Pos Hujan Kalabahi, pada bulan Agustus 2018 diketahui terdapat 4 (empat) hari hujan dengan 3 (tiga) hari hujan terukur dan 1 (satu) hari hujan Tidak Terukur (TTU). Jumlah curah hujan sebulan sebanyak 19,9 mm dengan curah hujan tertinggi sebanyak 13,5 mm terjadi pada tanggal 05 Agustus Gbr.18. Grafik Curah Hujan Pos Hujan Kalabahi Bulan Agustus 2018 Page 18

22 IV. PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN SEPTEMBER 2018 DI WILAYAH KABUPATEN ALOR A. DINAMIKA LAUT & ATMOSFER 1. Suhu Muka Laut Pada bulan September 2018, Anomali SST Indonesia umumnya diprediksi netral sampai anomali negatif, kecuali di bagian timur diprediksi pada kondisi anomali positif. Di wilayah Nino 3.4, anomali SST cenderung positif di bagian barat dan tengah, sedangkan di Samudera Hindia pada kisaran netralnya; di wilayah Perairan bagian barat menghangat sedangkan di bagian timur mendingin. Gbr.19. Prediksi Spasial Anomali Suhu Muka Laut Bulan September 2018 Sumber NCEP-NOAA (http// Gbr.20. Prediksi Anomali Suhu Sub Surface Samudera Pasifik Sumber BMKG (http// Page 19

23 Monitoring Suhu bawah Laut Pasifik, menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga April 2018, Sub surface Samudera Pasifik bagian timur didominasi anomali negatif sampai ke lapisan 150 meter dengan luasan yang semakin mengecil dan hilang, sedangkan di bagian barat anomali positif menurun di bulan Januari namun menguat kembali dan terus berkembang dan semakin melebar ke bagian tengah dan timur. Mulai Mei 2018 Anomali Positif mendominasi sub surface Pasifik dan terus menguat mencapai pasifik timur dan sampai pada lapisan 350 meter di bawah permukaan, yang mengindikasikan akan terjadinya El Nino untuk beberapa bulan ke depan. 2. ENSO (El Nino-Southern Oscillation) ENSO merupakan salah satu fenomena cuaca skala global yang mempengaruhi penambahan curah hujan (fase La Nina) maupun pengurangan curah hujan (fase El Nino) di wilayah Indonesia. Analisa ENSO pada bulan Agustus 2018 teramati dalam kondisi Normal, dengan indeks ENSO bernilai (+0,24). Gbr.21. Prediksi ENSO dari NOAA, JAMSTEC, POAMA dan BMKG periode September 2018 Februari 2019 Sumber BMKG (http// Prediksi ENSO menurut institusi Internasional yaitu BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dan BoM/POAMA (Bureau of Meteorology / Predictive Ocean Atmosphere Model for Australia) menyatakan ENSO akan berada pada kondisi El Nino Lemah sepanjang periode bulan September hingga November 2018 dan pada bulan Desember 2018 Februari Page 20

24 2019 berada pada kondisi El Nino Moderate (Sedang); NCEP/NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) menyatakan ENSO akan berada pada kondisi El Nino Lemah pada bulan September 2018 dan pada bulan Oktober 2018 Februari 2019 pada kondisi El Nino Moderate (Sedang); dan JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology) menyatakan ENSO akan konsisten berada pada kondisi El Nino Lemah sepanjang bulan September 2018 hingga Februari Berdasarkan prediksi-prediksi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pada bulan September 2018, ENSO cukup berpengaruh (tidak signifikan) terhadap pengurangan jumlah curah hujan di wilayah Indonesia termasuk di wilayah Kepulauan Alor. 3. MJO (Madden-Julian Oscillation) Salah satu fenomena cuaca global yang juga mempengaruhi jumlah curah hujan di Indonesia, khususnya daerah dekat khatulistiwa adalah osilasi gugusan awan atau disebut MJO. Gbr. 22. Grafik Fase MJO dan Anomali OLR pada Bulan Agustus dan Prakiraan Bulan September 2018 Sumber NCEP-NOAA (http// Analisis tanggal 01 September 2018 menunjukkan MJO tidak aktif di dan diprediksi tetap tidak aktif hingga akhir Dasarian I September, kemudian aktif di awal Dasarian II September di wilayah Afrika Barat (Phase 8). Berdasarkan peta Page 21

25 prediksi spasial anomali OLR, selama Dasarian I hingga pertengahan Dasarian II September 2018, wilayah Indonesia didominasi wilaha subsiden/kering, terutama di bagian utara Indonesia. 4. Dipole Mode / IOD (Indian Ocean Dipole) Fenomena cuaca global terakhir yang juga mempengaruhi peluang hujan di Indonesia, khususnya Indonesia Bagian Barat, adalah Dipole Mode. Rata-rata indeks IOD bulan Agustus 2018 berada pada kondisi Normal dengan nilai (+0,30). Ini berarti perpindahan aliran massa uap air dari wilayah Indonesia bagian barat ke wilayah Samudera Hindia dan/ atau sebaliknya tidak signifikan, sehingga berdampak pada kecilnya peluang pembentukkan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat. Prediksi Indeks Dipole Mode (IDM) oleh BMKG, NASA dan BoM menyatakan pada bulan September 2018 hingga Februari 2019 IDM tetap berada dalam kondisi Normal, sehingga dapat dikatakan bahwa selama periode 6 bulan kedepan, Dipole Mode tidak mempengaruhi penambahan maupun pengurangan jumlah curah hujan di wilayah Indonesia, khususnya wilayah Indonesia bagian Barat. Gbr. 23. Prediksi Indeks Dipole Mode dari BoM, NASA, dan BMKG periode September 2018 Februari 2019 Sumber BMKG (http// Page 22

26 5. Tinjauan Klimatologis Kondisi unsur cuaca bulan September di Alor berdasarkan data klimatologis selama 30 tahun ( ) diketahui sebagai berikut Secara klimatologis, rata-rata curah hujan pada bulan ini menunjukkan bahwa wilayah Kepulauan Alor telah berada pada periode puncak musim kemarau, sehingga peluang terjadinya curah hujan lebih sedikit jika dibandingkan bulan sebelumnya. B. PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN SEPTEMBER 2018 DI WILAYAH KABUPATEN ALOR 1. Prakiraan Hujan Dasarian Berdasarkan keluaran program HyBMG dengan model prediksi ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) yang telah divalidasi dan mempertimbangkan kondisi fisis dinamika atmosfer-lautan sampai dengan akhir Agustus 2018, maka prakiraan curah hujan dan sifat hujan tiap Dasarian untuk bulan September 2018 di wilayah Kabupaten Alor sebagai berikut Tabel 2. Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Hujan Dasarian Bulan September 2018 Curah Hujan (mm) / Kriteria Hujan SifatSifat Hujan Jumlah Curah Hujan Dasarian Pertama Atas Bawah Normal Normal Dasarian Kedua Kedua Normal Dasarian Atas Normal Dasarian Pertama Dasarian Ketiga Ketiga Dasarian Bawah Normal Atas Normal 0-10 / Rendah mm - 10 / Rendah 80.20mm - 10 / Rendah mm Page 23

27 Sesuai dengan kriteria sifat hujan dalam dasarian, maka hasil prakiraan menunjukkan sifat hujan pada Dasarian I adalah Bawah Normal (BN) dengan kriteria hujan rendah (jumlah curah hujan 0 10 mm), Dasarian II adalah Normal (N) dengan kriteria rendah (jumlah curah hujan 0 10 mm), dan Dasarian III adalah Bawah Normal (BN) dengan kriteria hujan rendah (jumlah curah hujan 0 10 mm). 2. Prakiraan Hujan Bulanan Berdasarkan keluaran program HyBMG dengan model prediksi ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) yang telah divalidasi dan mempertimbangkan kondisi fisis dinamika atmosfer-lautan sampai dengan akhir Agustus 2018, maka prakiraan curah hujan dan sifat hujan untuk bulan September 2018 di wilayah Kabupaten Alor sebagai berikut Tabel 3. Prakiraan Curah Hujan (CH) dan Sifat Hujan Bulanan Bulan September 2018 Wilayah Prediksi CH (mm) / Kriteria Normal CH (mm) Sifat Hujan Mali, Alor 0-20 / Rendah 5 Normal Sesuai dengan kriteria sifat hujan bulanan, maka hasil prakiraan menunjukkan sifat hujan pada bulan September 2018 adalah Normal (N) dengan kriteria hujan rendah (jumlah curah hujan 0 20 mm). Page 24

28 V. PRAKIRAAN PASANG SURUT (TIDAL) BULAN SEPTEMBER DAN OKTOBER 2018 DI WILAYAH KABUPATEN ALOR 1. Pendahuluan Pasang surut air adalah gelombang yang mirip dengan gelombang air yang terjadi akibat tiupan angin. Pasang surut memiliki panjang gelombang yang panjang, seperti yang terdapat pada laut dalam namun terjadi untuk air dangkal, ini berarti pasang surut dibiaskan oleh keadaan topografi kedalaman bawah air. Periodenya pun cukup panjang, dalam orde jam. Pasang surut air terjadi disebabkan oleh gaya gravitasi dan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gerakan bumi, bulan, dan matahari. 2. Pola Pasang Surut Di seluruh dunia pasang surut berbeda baik ketinggian paras air maupun waktu kejadiannya. Area pantai yang hanya punya satu pasang surut tertinggi dan terendah setiap hari disebut diurnal tide (air pasang harian). Wilayah yang mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari disebut mempunyai semi-diurnal tide. Jika semi-diurnal tide mempunyai ketinggian air pasang yang dicapai berbeda dan saat surut juga level air tidak sama disebut semi-diurnal mixed tide. Pola pasang surut dapat dijelaskan secara gelombang dengan grafik yang menunjukkan paras air untuk sumbu vertikal dan sumbu horisontal menyatakan waktu hari. Pengamatan pasang surut dalam jangka waktu yang lama digunakan untuk menghitung rata-rata ketinggian pasang. Dengan nilai rata-rata ini dapat dihitung anomali pasang naik dan pasang surut air. 3. Paras Pasang Surut. Ketinggian air tertinggi yang dicapai permukaan air setiap hari disebut High Water (HW) / Higt Tide (Ht). Titik terendah dimana permukaan air surut disebut Low Water (LW) / Low Tide. Mengingat Kabupaten Kepulauan Alor sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan maka fenomena pasang surut air laut sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan yang berhubungan dengan kelautan seperti bongkar muat di Pelabuhan Laut, kegiatan para nelayan dan lain sebagainya. Untuk itu dalam buletin ini kami sajikan prediksi pasang surut di wilayah Kepulauan Alor yang meliputi 2 (dua) lokasi sebagai berikut Page 25

29 a. Wilayah Pelabuhan Kalabahi Alor Keterangan Time (waktu) WITA Page 26

30 Keterangan Time (waktu) WITA Page 27

31 b. Wilayah Pelabuhan Kabir Alor Keterangan Time (waktu) WITA Page 28

32 Keterangan Time (waktu) WITA Page 29

33 VI. INFORMASI WAKTU TERBIT DAN TENGGELAM MATAHARI DI WILAYAH KABUPATEN ALOR Data waktu terbit dan tenggelam Matahari di wilayah Kabupaten Alor untuk bulan September dan Oktober 2018 dengan menggunakan software SunCalculator Version 5.1, sebagai berikut 1. Stasiun Meteorologi Mali (Koordinat LS & BT) SEPTEMBER 2018 Sunrise Sunset Date WITA WITA 01 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September OKTOBER 2018 Sunrise Date WITA 01 Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Sunset WITA Page 30

34 2. Kota Kalabahi (Koordinat LS & BT) SEPTEMBER 2018 Sunrise Sunset Date WITA WITA 01 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September OKTOBER 2018 Sunrise Date WITA 01 Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Sunset WITA Page 31

35 3. Alor Kecil (Koordinat LS & BT) SEPTEMBER 2018 Sunrise Sunset Date WITA WITA 01 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September OKTOBER 2018 Sunrise Date WITA 01 Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Sunset WITA Page 32

36 4. Kabir (Koordinat LS & BT) SEPTEMBER 2018 Sunrise Sunset Date WITA WITA 01 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September OKTOBER 2018 Sunrise Date WITA 01 Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Sunset WITA Page 33

37 5. Baranusa (Koordinat LS & BT) SEPTEMBER 2018 Sunrise Sunset Date WITA WITA 01 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September OKTOBER 2018 Sunrise Date WITA 01 Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Sunset WITA Page 34

38 6. Maritaing (Koordinat LS & BT) SEPTEMBER 2018 Sunrise Sunset Date WITA WITA 01 September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September September OKTOBER 2018 Sunrise Date WITA 01 Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Sunset WITA Page 35