PERUMUSAN NILAI-NILAI LUHUR KEBUDAYAAN MINANGKABAU UNTUK GENERASI MUDA BERBASIS TRADISI LISAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERUMUSAN NILAI-NILAI LUHUR KEBUDAYAAN MINANGKABAU UNTUK GENERASI MUDA BERBASIS TRADISI LISAN"

Transkripsi

1 Kode/ Nama Rumpun Ilmu: 511/ Sastra (dan Bahasa) Daerah (Minangkabau) LAPORAN AKHIR PENELITIAN SKIM RISET DASAR PERUMUSAN NILAI-NILAI LUHUR KEBUDAYAAN MINANGKABAU UNTUK GENERASI MUDA BERBASIS TRADISI LISAN TIM PENELITI Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum. ( ) Reno Wulan Sari, S.S., M.Hum. ( Drs. Wasana, M.Hum. ( ) UNIVERSITAS ANDALAS NOVEMBER, 2017

2 HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN RISET DASAR Judul : PERUMUSAN NILAI-NILAI LUHUR BERBASIS KEBUDAYAAN MINANGKABAU DI KALANGAN GENERASI MUDA MELALUI TRADISI LISAN Kode/ Nama Rumpun Ilmu : 511/ Sastra (dan Bahasa) Daerah (Minangkabau) Ketua Peneliti a. Nama Lengkap : Eka Meigalia, S.Hum, M.Hum. b. NIDN : c. Jabatan Fungsional : Lektor d. Program Studi : Bahasa dan Sastra Daerah e. Nomor HP : f. Alamat surel ( ) : Anggota Peneliti (1) a. Nama Lengkap : Reno Wulan Sari, S.S., M.Hum b. NIDN : c. Perguruan Tinggi : Universitas Andalas (UNAND) Anggota Peneliti (2) a. Nama Lengkap : Drs. Wasana, M.Hum. b. NIDN : c. Perguruan Tinggi : Universitas Andalas (UNAND) Lama Penelitian Keseluruhan : 1 tahun Usulan Penelitian Tahun ke- : - Biaya Penelitian Keseluruhan : Rp Mengetahui Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNAND Padang, Ketua Peneliti Dr. Hasanuddin, M.Si. NIP Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum. NIP Menyetujui, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Dr. Ing. Uyung Gatot S. Dinata, MT. NIP

3 DAFTAR ISI Lembar Pengesahan 1 Daftar Isi 2 Ringkasan 3 Bab 1. Pendahuluan 4 Bab 2. Tinjauan Pustaka 7 Bab 3. Metode Penelitian 9 Bab 4. Hasil dan Analisis Tradisi Lisan Salawat Dulang Tradisi Lisan Indang Nilai Luhur Kebudayaan Minangkabau dalam Indang dan SD 19 Bab 5. Penutup 13 Daftar Pustaka 37 Lampiran 1. Transkripsi Salawat Dulang 41 Lampiran 2. Transkripsi Indang 54 2

4 RINGKASAN UNESCO pada konvensinya di Paris tahun 2003 merumuskan bahwa tradisi lisan merupakan bagian dari budaya tak benda yang harus dilindungi. Sejalan dengan itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun telah membuat Rencana Induk Nasional Pembangunan Kebudayaan Tahun berupa upaya untuk menjaga dan melindungi warisan budaya tak benda ini, dan tradisi lisan pun termasuk di dalamnya. Upaya ini dilakukan oleh UNESCO maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena tradisi lisan dapat menjadi kekuatan kultural dan salah satu sumber utama yang penting dalam pembentukan identitas dan membangun peradaban. Bahkan tradisi lisan juga merupakan salah satu deposit kekayaan bangsa untuk dapat menjadi unggul dalam ekonomi kreatif. Terkait dengan itu, etnis Minangkabau merupakan salah satu etnis yang kaya dengan khasanah tradisi lisannya. Bahkan beberapa peneliti pun mengatakan bahwa kesulitan dalam menyusun sejarah Minangkabau di antaranya karena tradisi lisannya lebih menonjol dibanding tulisnya. Dan sesuai dengan rumusan UNESCO maupun Kemendikbud RI, tradisi lisan tersebut tentunya dapat menjadi kekuatan kulturan serta pembentukan identitas, khususnya bagi generasi muda. Hal itu terkait sekali dengan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang terkandung di dalamnya. Melalui penelitian ini akan dilakukan upaya untuk merumuskan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang terkandung dalam tradisi lisan Minangkabau. Secara khusus, tradisi lisan yang dikaji adalah salawat dulang dan indang. Salawat dulang dan indang adalah dua diantara kesusastraan lisan Minangkabau lainnya yang masih mencoba bertahan pada era digital saat sekarang. Namun begitu, perlahan keduanya pun mulai ditinggalkan oleh khalayak fanatiknya. Untuk itu, upaya lainnya yang akan dilakukan adalah berupa pemetaan tradisi indang dan salawat dulang di Minangkabau untuk mendapatkan informasi terkini dari tradisi ini. Hal ini dilakukan karena penelitian terdahulu dilakukan pada tahun 1999 dan Sementara itu, tradisi lisan adalah sesuatu yang selalu berubah. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, perekaman pertunjukan, dan wawancara terhadap para pelaku sastra lisan serta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, dan studi kepustakaan. Kemudian semua data diidentifikasi dan dianalisis data untuk menemukan nilainilai luhur kebudayaan Minangkabau yang terdapat dalam sastra lisan tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, tradisi indang dan salawat dulang masih cukup sering dipertunjukkan di tengah masyarakat Minangkabau. Namun begitu, durasi pertunjukan mulai berkurang dari yang biasanya baru selesai menjelang subuh, namun sekarang paling lama pukul 3 dini hari sudah selesai. Hal itu salah satunya disebabkan oleh semakin berkurangnya penonton yang dapat bertahan di lokasi pertunjukan hingga waktu Subuh tiba. Selain itu, panggilan untuk tampil pun tidak sebanyak dulu. Salah satu narasumber menyebutkan bahwa kemampuan perekonomian masyarakat saat ini pun mempengaruhi banyak atau kurangnya panggilan untuk tampil. Meskipun begitu, pada kedua tradisi ini tetap ditemukan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau. Ada pun nilai luhur yang ditemukan adalah berbuat jasa/budi, menjaga diri dari malu, bekerja keras, menjunjung tinggi nilai egaliter dan kebersamaan, beragama beradat berpengetahuan, dan berdialektika. 3

5 BAB I. PENDAHULUAN UNESCO dalam konvensinya di Paris tahun 2003 menyatakan bahwa tradisi lisan merupakan bagian dari budaya tak benda (intangiable culture). Batasannya adalah keseluruhan kreasi berdasar tradisi dari sebuah komunitas kutural. Produk budaya tersebut juga merupakan cerminan harapan-harapan dari suatu komunitas sehingga mencerminkan identitas sosial budaya mereka. Di dalamnya termasuk bahasa, sastra, musik, tari, permainan dan olah raga, tradisi kuliner, ritual dan mitologi (kepercayaan), pengetahuan dan praktekpraktek sehubungan dengan jagad raya, serta teknik tradisional dalam pembuatan kerajinan tangan. UNESCO juga telah menetapkan bahwa tradisi lisan ini merupakan warisan budaya yang harus dilindungi. Di sisi lain, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun telah membuat beberapa kebijakan terkait dengan penetapan dari UNESCO ini. Di antaranya adalah melalui Rencana Induk Nasional Pembangunan Kebudayaan Tahun Kementerian melakukan pengelolaan data kebudayaan untuk kemudian ditetapkan dalam daftar warisan budaya nasional. Selanjutnya akan dilakukan pelestarian melalui perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan terhadap warisan budaya tersebut. Bahkan, beberapa warisan budaya yang telah didaftarkan tadi juga kemudian didaftarkan ke dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Perlu digarisbawahi di sini bahwa UNESCO dan juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan berbagai upaya untuk menjaga warisan budaya tak benda ini bukan tanpa alasan. Menurut Henri Nurcahyo (2012), pada dasarnya warisan budaya tak benda, yang di dalamnya termasuk tradisi lisan ini, dapat menjadi kekuatan kultural dan salah satu sumber utama yang penting dalam pembentukan identitas dan membangun peradaban. Bahkan tradisi lisan juga merupakan salah satu deposit kekayaan bangsa untuk dapat menjadi unggul dalam ekonomi kreatif. Menariknya, Minangkabau merupakan salah satu etnis di Nusantara yang kaya akan khasanah tradisi lisan tersebut, khususnya yang berbentuk kesusastraan lisan. Bahkan menurut Suryadi (1998), tradisi lisan ini telah mengakar dalam kebudayaan Minangkabau. Orang Minangkabau dalam perjalanan sejarahnya telah terbiasa menurunkan cerita dari mulut ke mulut. Pewarisan budaya Minangkabau dari generasi ke generasi lebih banyak bersifat lisan. Keragaman tradisi lisan di Minangkabau ini salah satunya terlihat pada kesusastraannya yang biasa disebut juga dengan sastra lisan. Kesusastraan lisan di 4

6 Minangkabau juga pernah diteliti oleh Adriyetti Amir, dan kawan-kawan dalam proyek penelitian Asosiasi Tradisi Lisan tahun Penelitian dengan judul "Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau" itu pun telah diterbitkan tahun 2006 dengan judul yang sama. Melalui penelitian tersebut terlihat persebaran tradisi lisan Minangkabau, khususnya sastra lisan yang dapat ditemui di beberapa tempat atau di hampir seluruh wilayah Minangkabau. Di antara sastra lisan yang telah dipetakan pada penelitian tersebut adalah saluang, rabab, sijobang, indang, salawat dulang, dan randai. Dari sekian banyaknya sastra lisan yang dicatat dan dipetakan tersebut, salawat dulang dan indang cukup menarik untuk diamati dan diteliti lebih jauh. Salawat dulang adalah sebuat tradisi penceritaan kehidupan Nabi Muhammad, cerita yang memuji Nabi Muhammad, atau cerita yang berhubungan dengan persoalan agama Islam dengan diiringi irama bunyi ketukan jari pada dulang atau piring logam besar itu (Djamaris, 2002: 150). Sedikit berbeda, indang merupakan teater rakyat Minangkabau yang berbentuk perpaduan antara tarian dan nyanyian. Di dalamnya juga terdapat penyampaian cerita yang berhubungan dengan persoalan agama dari para permainan indang. Biasanya dilakukan sambil duduk berdampingan, berderet-deret antara 9 sampai 25 orang, di mana jumlah pemainnya ganjil. Masing-masing pemain memegang dan memainkan indang atau ripai serta mengiringi gerakannya dengan lagu-lagu secara bersama-sama dan serempak. Kedua tradisi ini menarik karena beberapa alasan. Pertama, kedua tradisi tersebut termasuk pada kategori sastra lisan yang bertema keagamaan. Sastra lisan ini sangat lekat dengan perayaan keagamaan di Minangkabau serta teks yang dilisankan pun sangat kental dengan ajaran agama. Seperti telah disebutkan sebelumnya, salawat dulang maupun indang sama-sama berbentuk pendendangan cerita dan persoalan agama, tentunya juga berkaitan dengan akidah maupun syariat. Artinya, selama perayaan-perayaan keagamaan di Minangkabau masih ada, tradisi ini pun masih akan ada. Kedua, meskipun masih ada, tradisi ini justru mulai terancam punah seperti yang dicatat oleh Suryadi tahun Sastra lisan khususnya indang, dahulunya marak karena adanya khalayak fanatik yang mau tergila-gila dengan kesenian. Namun sekarang orangorang tersebut sudah langka, belum lagi ketika tradisi tersebut berhadapan dengan seni modern. Padahal jika berpedoman pada penelitian Amir dan kawan-kawan tahun 1999, beberapa dari tradisi ini saja tercatat sudah ada yang hampir hilang, dan juga ada yang sudah hilang. Sementara itu hingga saat ini, pemetaan yang dilakukan tahun 1999 tersebut masih menjadi rujukan bagi para pengajar maupun peneliti. Akibatnya, kondisi kekinian dari tradisitradisi tersebut belum lagi terdata dengan jelas. 5

7 Ketiga, salawat dulang maupun indang memiliki nilai-nilai yang dapat menjadi sumber utama dalam pembentukan identitas dan membangun peradaban, khususnya bagi generasi muda. Hal ini sesuai pula dengan falsafah adat Minangkabau, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Artinya nilai-nilai yang disampaikan dalam tradisi salawat dulang dan indang pada dasarnya sejalan dengan adat di Minangkabau. Tentunya hal itu pula yang akan memperkuat identitas etnis Minang secara khusus. Berdasarkan hal itu, penelitian ini berupaya untuk menjawab pertanyaan berikut: 1. Bagaimanakan bentuk tradisi lisan salawat dulang dan indang saat ini? 2. Bagaimanakah nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang terkandung dalam tradisi salawat dulang dan indang yang dapat ditanamkan untuk membangun karakter positif generasi muda. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian tahun pertama ini adalah: 1. Mendata dan memetakan sastra lisan salawat dulang dan indang yang ada di wilayah budaya Minangkabau 2. Mendata dan memetakan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau dalam sastra lisan Minangkabau salawat dulang dan indang. Urgensi (Keutamaan) Penelitian Tradisi lisan adalah sesuatu yang tidak statis, tapi dinamis. Banyak hal yang terjadi di dalamnya sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Menurut Pudentia (2006:3 4), tradisi lisan dalam berbagai situasi dapat mengalami berbagai hal, di antaranya a) terancam punah karena fungsinya sudah berkurang atau berubah dalam kehidupan masyarakatnya; b) mengalami perubahan yang sangat lambat seperti yang terdapat dalam upacara-upacara adat dan seremonial kenegaraan; dan c) berubah cepat sehingga sering tidak dikenali lagi akarnya. Perubahan ini antara lain disebabkan juga oleh perkembangan teknologi dalam media elektronik. Masyarakat saat ini memiliki alternatif hiburan yang banyak selain menonton dan mendengarkan penuturan tradisi lisan. Di sinilah keberadaan tradisi lisan di tengah masyarakat perlahan tergeser bahkan hilang. Secara khusus, sastra lisan Minangkabau menurut penelitian Amir (2006) juga mengalami kepunahan dan perubahan. Beberapa sastra lisan yang saat ini sudah tidak ditemukan lagi di tengah masyarakat Minangkabau di antaranya adalah batintin dan iriak 6

8 onjai. Sementara itu beberapa sastra lisan lainnya diperkirakan juga akan hilang karena sudah tidak ada lagi pewarisnya. Hal itu diantaranya ditemui pada sastra lisan sijobang. Di tengah generasi yang dikenal dengan generasi Z, sastra lisan ini diperkirakan akan mengalami lebih cepat lagi perubahan maupun punahnya. Hal itu antara lain disebabkan oleh semakin majunya teknologi dan semakin bergantungnya generasi sekarang dengan teknologi. Sehingga segala sesuatu yang rumit, lama, dan tidak menghabiskan banyak waktu akan mereka tinggalkan. Padahal sastra lisan itu sendiri adalah sesuatu yang memerlukan waktu lama untuk menyelenggarakan maupun menontonnya. Sastra lisan bahkan bisa dipertunjukkan dalam waktu bermalam-malam. Sementara itu, dalam sastra lisan yang kondisinya saat ini mulai berubah tersebut terkandung nilai-nilai luhur budaya Minangkabau. Nilai-nilai luhur tersebut adalah nilai-nilai positif yang dapat diwariskan kepada generasi muda untuk membangun karakter positif mereka. Oleh karena itu, upaya untuk mencatat serta menggali nilai-nilai luhur yang terdapat dalam sastra lisan ini perlu dilakukan. Hal itu salah satunya bertujuan untuk menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra lisan tersebut kepada generasi muda. Dalam jangka panjang, akan dirasa perlu pula untuk menjaga keberlangsungan sastra lisan ini melalui upaya pengemasan yang dapat menghasilkan produk-produk sastra lisan yang dapat diakses di mana pun, kapan pun, dan dalam bentuk yang semenarik mungkin seperti halnya di Negara Malaysia yang saat ini telah berhasil mengemas berbagai kebudayaannya, salah satunya dalam bentuk film animasi. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Lord (1995:1) mendefinisikan sastra lisan sebagai sesuatu yang dituturkan di dalam masyarakat. Penutur tidak menuliskan apa yang dituturkannya tapi melisankannya, dan penerima tidak membacanya, namun mendengar. Senada dengan itu, Pudentia (2007:27) mendefinisikan sastra lisan sebagai segala wacana yang diucapkan atau disampaikan secara turun-temurun meliputi yang lisan dan yang beraksara, yang semuanya disampaikan secara lisan. Akan tetapi, modus penyampaian sastra lisan ini seringkali tidak hanya berupa katakata, tapi juga gabungan antara kata-kata dan perbuatan-perbuatan tertentu yang menyertai kata-kata (Pudentia, 2007:27). Lebih lanjut, Pudentia dan Tol (1994), menjelaskan bahwa sastra lisan (oral tradition) tidak hanya mencakup teka-teki, peribahasa, nyanyian rakyat, mite, dan legenda saja, tetapi juga berkaitan dengan sistem kognitif kebudayaan, seperti sejarah, hukum, dan pengobatan yang disampaikan dari mulut ke mulut. 7

9 Sastra lisan ini pada dasarnya disampaikan dalam pertunjukan; khalayak hadir dan bersatu dengan penampil untuk menikmatinya. Sebaliknya, penampil menyampaikan tuturannya untuk menghibur khalayak, juga untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Ini yang oleh David Bauman (dalam Arps, 1992: 31) dinyatakan bahwa pertunjukan adalah: a mode of communication, a way of speaking, the essence of which resides of the assumption of responsibility to an audience for a display a communicative skill, highlighting the way in which communication is carried out, above and beyond its referential content. Secara khusus sastra lisan Minangkabau telah menjadi objek penelitian yang sangat menarik. Upaya untuk mendokumentasikan berbagai bentuk sastra lisan yang ada di Minangkabau telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Amir (2008) yang telah memetakan sastra lisan Minangkabau. Dalam tulisannya ini, sastra lisan yang dipetakan berasal dari data penelitian yang dilakukan pada tahun Pada waktu itu beberapa sastra lisan sudah tidak ditemukan lagi penuturnya. Pertunjukannya pun sudah lama tidak ada. Di antaranya adalah batintin dan iriak onjai. Sementara itu beberapa sastra lisan penuturnya adalah generasi terakhir. Sastra lisan itu tidak ada lagi pewarisnya karena peminatnya pun sudah tidak ada. Di antaranya adalah sijobang dan tupai janjang. Terkait objek penelitian ini yaitu indang dan salawat dulang, beberapa penelitian sebelumnya juga sudah dilakukan oleh peneliti sendiri maupun yang lain. Pada tahun 2006, peneliti telah melakukan analisis terhadap salah satu sastra lisan Minangkabau, yaitu salawat dulang. Di sini penelitian difokuskan kepada teks-nya. Ada pun teks yang dianalisis adalah teks yang dituturkan oleh grup salawat Arjuna Minang dengan grup Langkisau dalam VCD komersil yang berjudul Martabat Diri, produksi Tanama Record. Dalam penelitian ini peneliti menemukan bahwa tradisi salawat dulang secara garis besar menuturkan permasalahan seputar ajaran syariat yang bersumber dari Alquran dan Hadis, serta masalah tasawuf berupa cara untuk mendapakan martabat diri yang tinggi di hadapan Allah SWT. Di sini peneliti tidak melakukan penelitian lapangan, namun hanya terfokus pada teks yang terekam dalam VCD tersebut. Tahun 2009, peneliti melanjutkan penelitian terhadap tradisi salawat dulang ini melalui penelitian lapangan. Di sini peneliti terfokus pada masalah keberlangsungan tradisi salawat dulang ini dengan mengamati dan menelusuri proses pewarisannya, baik yang dilakukan secara formal maupun secara non formal. Secara non formal pewarisan dilakukan oleh tukang salawat itu sendiri di tengah masyarakat tanpa terikat oleh instansi apa pun. Pewarisan dengan cara ini sudah semakin jarang ditemukan, tetapi tetap berhasil dalam 8

10 menghasilkan tukang salawat handal. Sebaliknya, pewarisan secara formal juga telah dilakukan di instansi pendidikan seperti ISI Padang Panjang kepada mahasiswa di Jurusan Karawitan. Pewarisan seperti ini selalu dilakukan setiap semester, akan tetapi hingga saat ini belum menghasilkan tukang salawat yang professional. Tahun 2010, peneliti juga membuat artikel untuk jurnal Wacana Etnik dengan judul Tinjauan Humor dalam Tradisi Salawat Dulang. Pada tulisan ini tradisi lisan salawat dulang secara khusus dianalisis bagian teksnya. Temuannya adalah adanya unsur humor pada teks salawat dulang berupa penggubahan lirik lagu-lagu popular sehingga menimbulkan kelucuan. Berkaitan dengan tradisi lisan, peneliti juga telah melakukan kajian terhadap objek lainnya seperti kaba pada tahun 2011 dan 2012 sebagai upaya untuk menemukan model pewarisan sastra lisan ini kepada anak-anak dalam bentuk cerita bergambar. Tentunya kajian terhadap objek tradisi lisan masih perlu dilanjutkan. Dalam hal ini, peneliti akan memfokuskan kepada indang dan salawat dulang untuk menemukan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang terkandung dalam tradisi tersebut selain untuk memetakan dan mendokumentasikan tradisi ini sesuai dengan kondisinya terkini. BAB III. METODE PENELITIAN Penelitian ini didesain sebagai penelitian kualitatif yang direncanakan untuk masa satu tahun dengan lokasi penelitian di Pariaman dan Tanah Datar. Kedua wilayah ini dipilih karena merupakan wilayah tempat tumbuh dan berkembangnya tradisi salawat dulang dan indang yang ada di Minangkabau. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap: Pertama, tahap pengumpulan data dengan teknik obsevasi, perekaman, wawancara, dan studi kepustakaan. Kedua, tahap identifikasi data dan analisis data. Ketiga, tahap pelaporan. 1. Tahap pengumpulan data Kegiatan penelitian diarahkan untuk menghimpun data yang berkaitan dengan perkembangan sastra lisan yang masih ada di Minangkabau. Dengan mengacu penelitian Amir dan kawankawan (2006), kegiatan ini akan memetakan indang dan salawat dulang berdasarkan data yang terbaru. Hal ini perlu dilakukan karena masih banyak sastra lisan yang belum dimasukkan Amir dalam laporannya dan juga sudah mulai hilangnya beberapa sastra lisan tersebut di masyarakat. 9

11 Selanjutnya dilakukan perekaman terhadap sastra lisan tersebut, serta wawancara terhadap pelaku seni tradisi tersebut mengenai fungsi dan hakikat dari sastra lisan yang mereka lakoni selama ini. Wawancara yang dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ringan deskriptif sampai pada wawancara mendalam (indept interview) dengan pertanyaan-pertanyaan struktural dan kontras. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang luas dan mendalam yang akan dapat menghasilkan deskripsi tebal (thick description). Agar teknik-teknik tersebut dapat diterapkan secara baik, peneliti dibekali dengan pedoman wawancara, buku catatan lapangan dan alat perekam. Pedoman wawancara sifatnya tentatif yang berisikan pertanyaan-pertanyaan pokok, yang kemudian dapat diperkaya dan dikembangkan di lapangan berdasarkan masukan dan hasil wawancara yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan demikian peneliti dapat mengajukan pertanyaanpertanyaan secara lebih leluasa, terbuka dan tidak terikat dengan struktur pertanyaan yang baku. Untuk memperkuat dan melengkapi data di lapang, peneliti juga melakukan studi kepustakaan ke beberapa perpustakaan, seperti Pustaka Daerah, Pustaka UNAND, UNP, ISI, dan Pustaka Bung Hatta. 2. Tahap Identifikasi dan Analisis Data Data-data yang diperoleh pada tahapan ini akan diidentifikasi dan dideskripsikan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara verbal mengenai sastra lisan yang pada dasarnya berbentuk visual. Untuk mendeskripsikan sastra lisan ini, peneliti akan memuatnya melalui uraian yang terperinci dengan menggunakan metode etnografi. Etnografi itu sendiri menurut Spradley (2006) adalah pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Selain mendeskripsikan, tuturan yang ada dalam sastra lisan tersebut akan ditranskipsikan. Transkipsi ini dilakukan dengan memanfaatkan pendekatan filologi. Metode dalam filologi yang dapat dipakai adalah metode untuk menghasilkan edisi diplomatic. Artinya teks yang dihasilkan adalah teks yang secara persis sama dengan teks sumbernya, yaitu tuturan lisan. Penelitian lanjutan adalah melakukan analisis konten terhadap objek. Tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang ada dalam tradisi tersebut. 10

12 3. Tahap Pelaporan Penelitian ini dilaporkan dalam bentuk laporan akhir, serta artikel ilmiah di jurnal terakreditasi SCOPUS. Selain itu, hasil dari penelitian ini juga akan dipublikasikan dalam seminar-seminar local, nasional, maupun internasional. BAB IV. HASIL DAN ANALISIS 4.1 Tradisi Lisan Salawat Dulang Salawat Dulang merupakan salah satu tradisi lisan di Minangkabau yang luas pesebarannya. Artinya, tradisi lisan salawat dulang ini dapat ditemukan baik pertunjukannya maupun penampilnya di hampir seluruh wilayah budaya Minangkabau. Menurut sejarahnya, salawat dulang dikatakan berasal dari wilayah Pariaman, tepatnya di Ulakan. Beberapa sumber lisan menyebut bahwa dulunya Syeh Burhanuddin yang membawa ajaran terakat syatariyah dari Aceh setelah berguru dengan Abdurauf Singkil, mengembangkan ajarannya menggunakan media seni-seni pertunjukan. Salah satunya melalui salawat dulang ini. Semula, salawat dulang hanyalah berupa penceritaan kisah rasul dan pengajaranpengajaran syariat atau pun tarikat yang didendangkan oleh seorang tukang salawat saja. Namun kemudian berkembang menjadi dua orang agar pendendang yang satu dapat dibantu jika kehabisan nafas atau pun lagu. Lebih jauh lagi, tradisi ini pun berkembang menjadi pertunjukan antar dua grup yang masing-masingnya terdiri dari dua orang. Dua grup ini akan saling bertanya dan menjawab pertanyaan seputar ajaran agama pula. Pertunjukan salawat dulang biasanya dilaksanakan pada malam hari setelah salat Isya. Tukang salawat akan datang ke lokasi pertunjukan sebelum pertunjukan berlangsung. Tuan rumah pun akan menyambut dan menjamu mereka sebelum tampil. Selain itu, di lokasi pertunjukan, tuan rumah juga menyiapkan tempat untuk duduk tukang salawat ketika tampil. Biasa disebut pale-pale. Pale-pale ini berbentuk tempat tidur kecil lengkap dengan kasur dan bantal untuk membuat nyaman tukang salawat saat tampil. Jika tidak ada pale-pale, setidaknya tuan rumah menyiapkan kasur kecil sebagai tempat duduk tukang salawat. 11

13 Gambar 1. Satu grup tukang salawat yang duduk di atas pale-pale, panggung kecil untuk pertunjukan salawat dulang Pertunjukan salawat dulang dilakukan bergantian antar dua grup. Masing-masing grup tampil dengan durasi kurang lebih 45 menit hingga 1 jam. Kemudian berganti dengan grup lawan. Dalam satu malam, masing-masing grup dapat tampil 3 4 kali atau biasa disebut 3 tanggak atau 4 tanggak. Dalam penampilannya, tukang salawat akan mendendangkan teks seputar agama Islam dengan diiringi irama tabuhan pada dulang. Dulang merupakan piringan logam besar yang biasanya terbuat dari kuningan berdiameter 35 40cm. Dulang ini diletakkan di atas paha tukang salawat yang selama pertunjukan duduk dengan posisi bersila seperti pada gambar di samping. Perlengkapan lain yang selalu dibawa oleh tukang salawat adalah sarung serta kaus kaki. Sarung dan kaus kaki berfungsi untuk menyangga pinggiran dulang yang 12

14 menempel ke paha agar tukang salawat tetap nyaman selama pertunjukan tanpa perlu menahan sakit di paha dan kaki karena tekanan pinggiran dulang. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap pertunjukan salawat dulang. Ada pun pertunjukan yang diamati, pertama berlangsung dalam rangka hiburan untuk pesta perkawinan pada tanggal 7 Oktober Salawat dulang ini ditampilkan di daerah Gaduik, Padang, di rumah seorang warga di Perumahan Igasar. Menariknya, pemilik hajatan memilih menampilkan pertunjukan salawat dulang dibanding dengan kim atau orgen yang umumnya dipakai oleh warga di berbagai daerah di Sumatera Barat. Memang pertunjukan salawat dulang dalam rangka hajatan ini pun semakin jarang ditemui. Sejauh pengamatan peneliti pun, salawat dulang akan ditanggap oleh orang yang tengah tergabung dalam kelompok-kelompok pengajian. Dan di sini, pemilik hajatan pun memang sedang bergabung mendalami ajaran tarekat syatariah dengan kelompoknya. Dalam pertunjukan tersebut, grup salawat yang tampil adalah Grup Arjuna Minang dari Padang Panjang dengan Grup Talago Zamzam dari Padang. Di sini grup Talago Zamzam menjadi si pangka dan mereka pula yang memulai pertunjukan. Sementara itu, Grup Arjuna Minang merupakan si alek yang tampil setelah grup si pangka. Selama pertunjukan berlangsung, dapat dikatakan penonton tidak terlalu ramai. Pertama karena cuaca yang tidak mendukung. Malam itu hujan turun dengan lebat dan juga dingin. Penonton tidak banyak yang bertahan. Makin malam, penonton juga semakin kurang. Namun yang menarik, di antara penonton terdapat seorang tukang sorak yang selalu berteriak agiah taruih atau tertawa dengan lebih keras untuk memancing penonton lain turut menikmati hiburan dalam pertunjukan tersebut. Terkadang penonton memang tertawa riuh rendah, namun secara umum lebih banyak diam. Para penonton lebih terfokus pada teks yang didendangkan. Bahkan mereka pada dasarnya justru lebih tertarik pada teks pengajian dibanding teks hiburannya yang memang sengaja dibuat banyak humor melalui penggubahan lirik lagu-lagu popular atau melalui pendendangan lagu-lagu popular lainnya. Pertunjukan salawat dulang kedua yang peneliti amati adalah pada tanggal 4 November 2017 di Mesjid Al Anshar, Kampung Pisang Anak Air, Koto Tangah Padang. Pertunjukan salawat dulang di sini diadakan dalam rangka penggalangan dana untuk pembangunan mesjid. Untuk itu pula, dalam pertunjukan tersebut terdapat sesi lelang makanan. Pertunjukan salawat dulang pun diadakan dua malam dengan 2 grup tampil pada malam pertama, dan 2 grup lagi di malam kedua. Ada pun grup yang tampil adalah Langkisau melawan DC 8, dan Arjuna Minang melawan Sinar Barapi. 13

15 Pertunjukan salawat dulang kali itu diselenggarakan di luar mesjid. Panggung atau pale-pale untuk tukang salawat diletakkan di teras mesjid. Sementara itu penonton diberi tempat duduk dan tenda di halaman mesjid. Selain itu, di sekitar mesjid pun suasana menjadi ramai karena banyak pedagang serta pasar malam yang kebetulan juga ada di dekat lokasi pertunjukan. Ketika pertunjukan dimulai sekitar pukul 9, penonton sangat ramai. Wanita, pria, tua, muda, bahkan anak-anak turut menyaksikan pertunjukan. Meskipun hujan juga turun sejak senja, tapi penonton tetap ramai. Bahkan saat lelang pun, panitia mendapatkan dana hingga 16 juta pada malam itu. Namun begitu, pertunjukan salawat dulang pada dasarnya sudah sedikit berubah dibandingkan pada tahun 2008 ketika peneliti melakukan penelitian terhadap salawat dulang juga ketika itu. Jika dulu pertunjukan biasa berlangsung hingga pukul 4 atau 4.30, hanya beberapa saat menjelang Subuh, namun sekarang paling lama hanya sampai pukul 3. Menurut Jon Cakra (Wawancara tanggal 4 November 2017 di Anak Air, Padang), salawat dulang saat ini penontonnya akan semakin berkurang setelah pukul Bahkan jika bertahan menjelang subuh, penonton hanya tinggal beberapa orang. Bisa pula dikatakan yang tinggal hanyalah panitia-panitia. Artinya, pecandu-pecandu tradisi ini memang semakin sedikit. Meskipun tradisi ini masih terus dipertunjukkan, namun tetap butuh penyesuaian juga sesuai kebutuhan dan tanggapan penonton. Para pelaku pun memang mengakui jika dulu dalam sebulan dapat panggilan untuk tampil salawat bisa hingga 20 malam, namun sekarang sudah berkurang. Kadang 10 malam saja, atau bahkan kurang. Meskipun begitu, secara umum pertunjukan salawat dulang tidak mengalami perubahan yang besar. Khususnya pada teks. Bagian hiburan tetap diminati penonton dan tukang salawat pun harus kreatif untuk menampilkan lagu-lagu yang tengah popular, atau bahkan menggubahnya akan lebih menarik dan juga memancing tawa penonton Tradisi Lisan Indang Indang merupakan tradisi lisan surau, sama halnya dengan salawat dulang. Maksudnya, indang semula merupakan tradisi lisan yang berkembang di surau yang fungsinya adalah untuk mengembangkan ajaran Islam. Untuk itu pula, teks indang pada dasarnya berbentuk syair yang berisi pujian kepada Tuhan dan rasul, kutipan ayat Alquran, riwayat nabi, riwayat syeh, dan kajian sifat Tuhan yang dua puluh (Ediwar, 1999:3). Menurut penelitian Ediwar (1999) pula, tradisi Indang disebutkan mulai beralih menjadi pertunjukan yang tidak hanya dilaksanakan di surau. Pertunjukan indang sudah di 14

16 kebangkan di luar surau dan menjadi kesenian rakyat yang dipertunjukkan di laga-laga. Memang, sejauh pengamatan peneliti, tradisi indang saat ini di Pariaman lebih pada mengisi acara alek nagari. Pertunjukan indang pun tidak mesti dilakukan di mesjid atau rumah, namun justru dapat dipertunjukkan di laga-laga. Laga-laga di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Enam Lingkung Di Pariaman, laga-laga merupakan suatu tempat yang dibuat untuk kegiatan seni dan tradisi. Di laga-laga ini dipertunjukkan berbagai tradisi di Pariaman seperti Ulu Ambek, Gandang Tasa, dan juga sebagai tempat untuk latihan. Bahkan laga-laga ini pun akan sengaja dibuat satu dalam suatu nagari untuk keperluan alek nagari juga. Menyinggung alek nagari, di Pariaman rupanya telah menjadi satu rutinitas bagi nagari-nagari yang ada. Secara bergiliran tiap-tiap nagari akan menyelenggarakan alek nagari, meskipun tidak sekali setahun atau sekali dua tahun. Contohnya saja alek nagari yang peneliti amati pada tanggal 20 November 2017 di Limau Puruik. Menurut narasumber, alek nagari di Limau Puruik memang telah lama pula tidak diselenggarakan. Terakhir alek nagari diadakan tahun Kemudian baru diadakan lagi pada tahun 2017 ini. Akan tetapi, alek nagari tetap selalu ada di Pariaman. Indang dan alek nagari memang tidak dapat dipisahkan dengan Pariaman. Indang sendiri merupakan satu tradisi yang tumbuh, hidup, dan berkembang di Pariaman. Indang tidak dapat ditemukan di daerah lain kecuali di Solok. Menurut Pian (wawancara tanggal 30 Oktober 2017) Indang Solok tetap saja merupakan pecahan dari Indang Pariaman. Di daerah Solok pun indang hanya ditemukan di daerah Paninggahan, Muaro Pinggai. Indang Solok ini 15

17 justru bentuknya lebih ke model indang lama yang ada di Pariaman. Jumlah pemainnya 21 orang, mengenakan peci dan baju koko serta duduknya diberi alas kasur. Sementara di Pariaman sendiri bentuk indang sudah mengalami banyak perubahan seperti yang dijelaskan di atas. Telah berubah dari tradisi surau ke seni pertunjukan rakyat. Menurut narasumber dan juga beberapa penelitian terdahulu, indang dikatakan dibawa oleh ulama-ulama dari Aceh. Seni tradisi ini kemudian mengalami berbagai penyesuaian dan akulturasi dengan budaya Minang. Namun secara kasat mata, kesenian indang ini dapat dilihat kemiripannya dengan Saman dan Didong di Aceh. Dan salah satu ulama yang menggunakan indang ini sebagai sarana berdakwah yaitu Syeh Burhanuddin. Bermain atau mempertunjukkan indang disebut juga dengan istilah baindang. Baindang menurut Ediwar (1999) berasal dari kata bendang yang artinya terang. Istilah ini semula merupakan sebutan untuk alim ulama dalam menerangkan agama kepada masyarakat setalah Islam masuk dan berkembang di Pariaman. Dalam pertunjukannya, indang saat ini ditampilkan oleh 3 kelompok yang duduk saling bersanding membentuk segitiga. Indang ini dikenal juga dengan istilah tigo sandiang. Masing-masing kelompok bertindak sebagai sipangka (tuan rumah), alek I (tamu pertama), dan alek II (tamu kedua). Setiap kelompok pun biasa disebut dengan nama nagari (mewakili satu nagari). Jumlah pemain indang dalam setiap kelompok berkisar dari 7 hingga 11 orang. Satu di antaranya disebut dengan tukang dikie. Tukang dikie merupakan penutur atau pendendang yang duduk di bagian belakang anak indang. Sementara itu, anak indang duduk berbaris secara bersila di depan tukang dikie. Anak indang yang berjumlah ganjil ini pun kemudian terbagi lagi atas 4 kelompok. Pertama disebut tukang aliah atau tukang karang. Ia mambantu tukang dikie dalam mengarang atau menyusun syair. Biasanya tukang aliah duduk di tengah susunan anak indang. Menurut penelitian Ediwar (1999), dulunya tukang aliah dipilihlah orang yang tampan dan gagah. Ketampanan dan kegagahan ini pula yang menjadi ukuran bagi kehebatan suatu nagari. Selain tukang aliah, ada lagi yang disebut dengan tukang apik dalam deretan anak indang tersebut. Biasanya terdiri dari dua orang yang mengapit tukang aliah. Satu orang tugasnya memberi variasi bunyi rapa i yang ditabuh tukang aliah. Sedangkan yang satu orang lagi bertugas menabuh rapa I dengan pola yang berbeda pula dengan tukang apik pertama. Selanjutnya yang ketiga disebut tukang pangga. Tukang pangga ini terdiri dari dua atau tiga orang yang duduk di sebelah kiri dari tukang apik bagian paling kiri dan di kanan tukang apik sebelah kanan. Tugas mereka adalah mengulang secara bersama nyanyian yang dituturkan tukang aliah, dan menabuh rapai I sesuai pola tabuhan tukang apik kedua. 16

18 Kemudian yang keempat disebut tukang palang yang terdiri dari beberapa orang anak dan duduk di paling ujung dalam bermain indang. Mereka mulanya sebagai pengikut daja dan lama kelamaan meningkat pada tingkatan yang lebih tinggi. Bahkan bisa menjadi tukang dikie jika mereka berminat. Dalam penelitian Ediwar tahun 1999 juga disebutkan ada yang namanya tuo indang dan sipatuang sirah. Tuo indang tugasnya menjaga keselamatan pemain selama pertunjukan berlangsung. Keselamatan lahir maupun batin tentunya karena dulunya dalam pertunjukan indang dapat terjadi saling uji kemampuan batin. Atau juga ada pihak-pihak yang menginginkan kelompok tersebut kalah melalui peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan. Namun dalam perkembangannya, dan dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa hal tersebut tidak lagi terjadi. Oleh karenanya, tugas tuo indang tidak lagi seperti yang disebutkan di atas. Bahkan tuo indang dipilih untuk mengepalai semua kelompok-kelompok indang yang ada di Pariaman. Tugasnya adalah untuk menjaga dan melestarikan agar tradisi indang ini tetap berlanjut dan semarak di Pariaman. Sementara itu, sipatuang siriah adalah orang yang bertugas dan bertanggungjawab membiayai dan mencari biaya untuk memenuhi undangan pertunjukan. Namun saat ini peneliti menemukah bahwa urusan biaya kelompok indang justru disediakan oleh pihak panitia. Atau biaya tersebut pun telah diakomodasi oleh nagari tempat kelompok tersebut berasal. Dalam pertunjukannya, indang biasa dilaksanakan dalam dua malam untuk tiga kelompok. Malam pertama disebut juga indang naiak. Biasanya dimulai kira-kira pukul WIB. Bahkan dalam pengamatan yang peneliti lakukan di Limau Puruik, indang naiak baru dimulai pukul WIB. Pertunjukan indang akan dimulai oleh kelompok yang disebut 17

19 dengan sipangka. Kemudian dilanjutkan oleh si alek I dan kemudian alek II. Masing-masing kelompok tampil dengan durasi kurang lebih 1 jam. Dalam pertunjukan indang yang peneliti ikuti di Limau Puruik tanggal 20 dan 21 November 2017, kelompok yang menjadi sipangka adalah Padang Baru. Kelompok Padang Baru menjadi sipangka karena dari Limau Puruik sendiri tidak ada kelompok indang. Biasanya satu nagari yang menjadi penyelenggara alek nagari akan menunjuk salah satu kelompok indang untuk menjadi sipangka. Selanjutnya si alek adalah Pincuran Sonsang dan Padang Tobo. Pada malam pertama (indang naiak) ini, masing-masing kelompok tampil satu kali atau disebut juga sapanaiak indang. Selanjutnya malam kedua disebut juga dengan lambuang, yaitu sambungan dari malam pertama. Malam kedua ini pertunjukan indang akan dimulai lebih cepat, yaitu sekitar pukul atau WIB. Pertunjukan akan berlangsung hingga pukul pagi. Dalam satu malam itu pula, masing-masing kelompok akan tampil 2 kali. Untuk lokasi pertunjukan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, indang akan lebih sering ditemui dalam rangka alek nagari dan tampil di laga-laga. Sangat jarang ditemui saat ini pertunjukan indang dilakukan di surau atau mesjid. Namun pada kasus alek nagari di Limau Puruik, laga-laga yang mereka miliki bukanlah laga-laga tetap. Alek nagari mereka laksanakan di Pasa Limau Puruik dan saat itu pun bertepatan dengan peresmian Pasa Limau Puruik setelah direhap melalui proyek revitalisasi pasar tradisional. Oleh karenanya, tempat pertunjukan berlangsung juga dibuat di dalam pasar, tepatnya di bangunan yang juga dibuat serupa laga-laga, namun fungsinya pada hari-hari biasa adalah untuk tempat jual beli para pedagang. Sedangkan untuk tempat duduk para pemain indang biasanya adalah tikar pandan atau tikar plastic. Pemain indang biasanya memakai seragam untuk memperlihatkan cirri khas kelompoknya. Namun tidak ada aturan yang ketat dalam hal seragam tersebut. Pada satu waktu, peneliti melihat anak indang memakai baju seragam berbahan sutra mengkilat, warna terang, dan deta bermanik-manik. Namun dilain waktu, peneliti juga menemukan seragam anak indang berupa kemeja berlengan pendek, namun bermotif atau berwarna sama untuk setiap anak indang. Hanya tukang aliah yang sering kali pakainnya berbeda. Pun dengan 18

20 Rapai merupakan instrument pengiring dalam pertunjukan indang. Rapai ini bisa disebut juga dengan rebana. Menurut Ediwar (1999), rebana merupakan jenis instrument yang berfungsi mengiringi pertunjukan kesenian yang bernafaskan Islam. Jenis alat musik ini dapat juga ditemukan dalam pertunjukan qasidah, dikie rabani, dan juga indang. Diameter rapa I ini berkisar antar 17 hingga 23 cm. Anak indang akan memukul rapai dengan pola dan ritme tertentu. Terkadang juga diberi variasi pukulan oleh tukang apik. Selain memukul rapai, anak indang juga akan menggerakkan badan ke kiri, ke depan, ke kanan, dan ke belakang secara serentak atau bervariasi. Saat satu kelompok indang tengah tampil, anak indang dari kelompok yang lain dapat istirahat. Namun khusus tukang dikie dan tukang aliah biasanya akan tetap berada di dekat kelompok yang tampil untuk memperhatikan setiap tuturan yang disampaikan. Juga memperhatikan pertanyaan untuk kemudian menyusun jawaban untuk dituturkan pula saat giliran mereka tampil. 19

21 4.3 Nilai Luhur Kebudayaan Minangkabau pada Indang dan Salawat Dulang Menurut Koentjaraningrat (2004:11), nilai budaya merupakan ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal paling bernilai dalam kehidupan masyarakat. Konsepsi-konsepsi serupa itu biasanya luas dan kabur, namun berakar kuat secara emosional dalam jiwa manusia. Sementara itu, lebih lanjut Koentjraningrat menjelaskan bahwa tingkat yang lebih konkrit dari nilai budaya tersebut di antaranya terwujud sebagai norma. Norma merupakan nilai-nilai budaya yang terkait dengan peranan-peranan tertentu manusia dalam masyarakat. Dan peran seseorang ini akan selalu berubah dari waktu ke waktu. Berdasarkan paparan Kontjaraningrat di atas, merumuskan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau pun pada dasarnya tidak lepas pada ide-ide dan konsep abstrak namun bernilai yang ada dalam masyarakatnya. Berdasarkan beberapa literatur, Minangkabau disebutkan memiliki dasar falsafah adatnya, yaitu alam. Orang Minangkabau mendasari segala segala pandangan hidup dan prinsip-prinsip adatnya pada alam. Hal itu tertuang dalam mamangan: Alam takambang jadi guru (Alam terkembang jadi guru). Orang Minangkabau pun menurut Navis (1984) menamakan wilayahnya sebagai alam Minangkabau. Artinya, alam di sini bagi masyarakat Minang sangat berarti, segala-galanya. Alam adalah tempat untuk hidup, berkembang, dan mati. Begitu pun segala ajaran dan pandangan hidup yang ada dalam petitih, pituah, mamangan, dan lainnya, mengambil sumber dan inspirasi dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam. Hal serupa juga disebutkan oleh Nasreon (1971), bahwa merumuskan falsafah adat Minangkabau itu tidaklah sulit. Orang Minangkabau mendasarkan adatnya pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam ini. Sementara, ketentuan-ketentuan alam itu tidak pula susah dan berbelit-belit, namun sudah nyata, jujur, dan langsung. Menurut Navis (1984), alam dan segenap unsurnya senantiasa terdiri dari empat atau dapat dibagi empat, dan biasa disebut nan ampek. Seperti halnya ada matahari, ada bulan, ada bumi, dan ada bintang. Ada pagi, siang, sore, dan malam. Ada utara, selatan, timur, dan barat. Begitu pun ada api, air, tanah, dan angin. Semua unsur-unsur tersebut saling berhubungan tetapi tidak saling mengikat. Saling berbenturan, tatapi tidak saling melenyapkan. Semua unsur-unsur tersebut hidup dengan eksistensinya dalam suatu harmoni, tetapi dinamis sesuai dengan dialektika alam yang dinamakan bakarano bakajadian (ada sebab, ada akibat). Berdialektika itu pula yang kemudian tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau. Orang Minang terbiasa untuk berdialog dan bermusyawarah dalam 20

22 memecahkan masalah. Bahkan beberapa tradisi pun muncul sehubungan kebiasaan berdialognya orang Minang tersebut. Contohnya pasambahan, pun tradisi salawat dulang dan indang yang menjadi objek dari penelitian ini. Selain berdialektika, dasar-dasar falsafah adat Minangkabau pun telah merumuskan dasar dan aturan bagi individu untuk berperilaku sebagai individu dan juga sebagai bagian dari anggota masyarakat. Ada pun dasarnya menurut Nasoren (1971) adalah dari bersama, oleh bersama, dan untuk bersama. Maka sebuah ungkapan adat pun menyebutkan: Nan rancak di awak itu Katuju dek urang handaknyo Sakik di awak, sakik di urang Lamak di awak, lamak di urang (Yang bagus bagi kita Hendaklah disetujui oleh orang lain Yang sakit bagi kita, juga sakit bagi orang Yang enak untuk kita, juga enak pula bagi orang lain) Ungkapan tersebut mengandung ajaran agar seorang individu itu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun juga harus memiliki tenggang rasa dengan orang lain. Artinya, seorang individu itu harus sadar bahwa mereka adalah bagian dari suatu masyarakat. Untuk itu pula, seorang individu harus menjadi pribadi yang berbudi halus, bertoleransi, tenggang-menenggang, Lebih jelasnya, Nasroen (1971) pun merumuskan dasar-dasar falsafah tentang kepribadian menurut adat Minangkabau. Sebagai dasar umum kepribadian yang harus dimiliki seseorang menurutnya adalah budi dan malu. Budi menurut Nasroen (1971: 174) merupakan kemampuan merasakan perasaan orang lain, yaitu perasaan sesama, saudara. Senang dan sakitnya orang adalah senang dan sakit juga bagi kita. Maka berdasarkan hal itu, hubungan antara sesame anggota masyarakat itu adalah bukan berdasarkan perhitungan laba rugi. Sementara itu, malu juga merupakan sebuah prinsip yang utama menurut adat Minangkabau. Malu ini tidak saja malu dari seorang individu, namun malu itu adalah malu bersama, malu kaum, malu suku, malu nagari, malu alam, dan sebagainya. Seorang individu harus menyadari apa-apa yang dikerjakan akan bersentuhan dengan harga diri dan malu. Maka malu itu harus dimiliki oleh seorang individu berkaitan dengan harga dirinya tersebut. 21

23 Berdasarkan paparan di atas, ada beberapa nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang dapat dirumuskan serta terkandung dalam tradisi lisan salawat dulang serta indang. Ada pun nilai-nilai luhur tersebut adalah sebagai berikut Berbuat Jasa/ Budi Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa hiduik bajaso, mati bapusako. Maksudnya adalah agar orang Minang mau bekerja keras agar dapat meninggalkan pusaka bagi anak kemenakan serta masyarakat. Pusaka yang dimaksud tidak selalu berupa materi, namun juga nilai-nilai adat dan ilmunya. Melalui tradisi lisan indang dan salawat dulang, nilai-nilai berbuat jasa/ budi ini juga dapat ditemukan. Dalam pertunjukan salawat dulang, tukang tutur yang disebut tukang salawat tidaklah sekedar berdendang untuk menghibur penonton. Namun mereka juga menyampaikan ajaran-ajaran agama maupun adat yang berguna bagi masyarakat. Dari keseluruhan teks yang didendangkan, ada bagian yang disebut dengan buah kaji. Pada bagian ini tukang salawat akan menjelaskan ajaran-ajaran agama, baik itu ulasan hadist, ayat Alquran, ataupun kajian tasawuf. Melalui buah kaji ini, tukang salawat telah memberikan ilmu-ilmu agama bagi pendengarnya seperti contoh teks berikut. Ada pun zikir urang murakabat Dalam saminik zikirnyo sudah Limo puluah ampek mambaco kulimah Kulimah Allah Allah Allah Tengoklah nan ka ateh nan sarato nan ka bawah Tukanglah panghubuang idimalah kulimah Bia kulimah nan Allah Allah Ado pun angok dalam saminik Lapan baleh kali bilangan terakhir Tiok-tiok lah dek nyo angok ka kulimah bapacik Lai kulimah Allah Allah yo lai kaik ba kaik (Ada pun zikir orang murakabat Dalam semenit zikirnya selesai Lima puluh empat membaca kalimah Kalimah Allah Allah Allah Tengoklah yang ke atas serta ke bawah Yang menjadi penghubuang adalah kalimah Yaitu kalimah Allah Allah Allah Ada pun nafas dalam semenit Delapan belas kali bilangan terakhir Tiap-tiaplah nafas pada kalimah berpegang 22

24 Kalimah Allah Allah kait-berkait) Kutipan di atas merupakan teks yang dituturkan oleh grup Arjuna Minang. Pada bagian itu terlihat bahwa grup Arjuna Minang menjelaskan cara berzikir yang disebut zikir murakabat. Selain pada bagian buah kaji, tukang salawat juga akan memberikan ilmu dan pengajaran bagi pendengarnya melalui bagian hiburan. Bagian ini sangat disenangi oleh pendengar dan penonton karena tukang salawat sering menyelipkan lawakan-lawakan selain lagu-lagu popular yang liriknya digubah sendiri. Meskipun berupa hiburan serta lawakan, pada bagian ini tetap ada ilmu dan pengajarannya seperti contoh berikut. Uwia-uwia nan mintak gatah Titiriw tiririw Karambia mamanjek karo pow pororo rorow Anak gadih talampau gata Kuciang tagalak mandapek eu eu Lauak dapek kuciang manyuruak Kama badan ka manggapai lai Ayah jo mande lah hiruak pikuak babadan duo Babadan duo (a manga nyo?) Alun ka angku kali (Uwia-uwia yang mintak getah Titiriw tiririw Kelapa memanjat kera pow pororo rorow Anak gadis terlampau genit Kucing tertawa mandapat eu eu Lauk dapat kucing sembunyi Ke mana badan akan manggapai lagi Ayah dengan ibu hiruk pikuk berbadan dua Berbadan dua (a kenapa dia?) Belum ke penghulu) Kutipan di atas adalah teks hiburan yang didendangkan oleh grup Arjuna Minang. Mereka membawakan lagu Uwia-Uwia Mintak Gatah ciptaan Nedi Gampo dengan beberapa gubahan dari tukang salawat. Melalui teks tersebut tukang salawat menceritakan perilaku gadis yang terlalu kegenitan. Akibatnya bisa buruk seperti hamil di luar nikah. Di sini tukang salawat pada dasarnya menyampaikan secara tersirat agar anak gadis menjaga perilaku agar tidak menyusahkan diri sendiri maupun keluarga. Sementara itu dalam Indang pada dasarnya juga berisi ajaran-ajaran seputar agama Islam. Salah satu bagian teks yang didendangkan dalam indang disebut dengan nasib. Pada bagian ini menurut penelitian Ediwar (1999) dapat dibagi menjadi empat. Pertama teks yang 23

25 membicarakan sifat Tuhan yang dua puluh. Kedua teks yang membicarakan riwayat nabi dan rasul. Ketiga, teks yang membicarakan riwayat syekh dalam mengembangkan agama Islam, mulai dari Makkah terus ke Aceh, hingga Ulakan. Keempat membicarakan keadaan sebelum dan sesudah datangnya Islam. Melalui bagian-bagian tersebut terlihat bahwa tukang dikie dan tukang aliah sebagai penutur sekaligus pencipta teks yang dituturkan dalam indang juga memberi pengajaran serta ilmu yang bermanfaat bagi penontonnya. Khususnya ilmu di bidang agama. Berikut contoh teks nasib tentang terjadinya alam. Samaso alun barabalun Samiak sameto juo pun balun Awa balun akhia pun balun Araih kurisi juo pun balun Balun barado langik jo bumi Balun babulan jo matohari Bintang nan banyak damikian lagi Sarik banagari balun barisi Kasimpulannyo kalau dikaji Balunlah ado samo sakali Alahu a lam nan mangatahui Dek alun ado nan manamui Tuhan maliek pado dirinyo Balaku apo nan dikahandakinyo Mulo paratamu tabik cahayo Sagalo arwah sinan asanyo Tolonglah pandang-pandang bakeh ka-inyo Tuhan sagalonyo garakkan Dari pado Muhammad nyato sakalian Assalamualaikum lah mairingkan Alhamdulillah manyudahkan Sakalian karano Muhammad Sinan asa sakalian sifaik Sifaik dari pado Allah datang kujaraik Sinan asa sagalo insan munajaik (sewaktu segala sesuatu belum ada Pendengaran semesta pun belum ada Awal belum akhir pun belum Arasy kursi juga belum Belum ada langit dan bumi Belum berbulan dan matahari Bintang yang banyak begitu juga Sulit bernegeri belum berisi Kesimpulannya kalau dikaji Belum ada sama sekali Allahualam yang mengetahui Karena belum ada yang menamai Tuhan melihat pada dirinya Berlaku apa yang dikehendakinya Mula pertama terbit cahaya Segala arwah di sana berasal Silahkan melihat pada-nya Tuhan segalanya ia gerakkan Dari Muhammad nyata sekalian Assalamualaikum sudah mengiringi Alhamdulillah menyudahi Sekalian karena Muhammad Di sana asal segala sifat Sifat dari Allah datang kekuatan Di sana asal segala insane munajat (sumber: transkripsi Ediwar) Dalam kutipan teks indang di atas terlihat pelajaran dan pengetahuan penting bagi umat mengenai asal muasal alam semesta. Allah dijelaskan menjadi sumber segalanya sehingga kemudian terbentuklah alam semesta. Dari Allah pula segala sifat itu ada (sifat 20) 24

26 dan pada Allah pula semua umat bermohon. Hal itulah yang dijelaskan tukang dikie melalui teks nasib yang dituturkannya. Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa nilai dasar adat Minangkabau untuk berbuat jasa terdapat dalam tradisi salawat dulang serta indang. Tukang salawat pergi ke berbagai tempat, nagari, serta di waktu malam tidaklah sekedar untuk menghibur dan mencari nafkah. Begitu juga dengan pemain indang yang pergi ke berbagai negeri meskipun masih di dalam daerah Pariaman, namun mereka yang diantaranya terdapat anak-anak telah berbuat jasa bagi masyarakat. Mereka telah memberikan pengajaran serta ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Menjaga Harga Diri/ Malu Dalam ungkapan adat disebutkan: cancang pua, tagarak andilau (Puar yang dicencang, andilau yang bergerak). Puar dan andilau adalah sejenis tumbuhan yang ada di dalam hutan, yang hidupnya berdampingan, bahkan terkadang andilau membelit puar. Jika puar ditebang, maka andilau pun turut bergerak karena juga ikut terputus. Hal itu pula yang diumpamakan pada prinsip hidup orang Minang, yaitu malu seseorang dapat menjadi malu bersama, malu kaum, suku, nagari, bahkan alam. Untuk itu, seorang individu diharapkan dapat menjaga harga diri serta martabatnya. Pun seorang individu mestilah berusaha keras agar tidak menanggung malu karena ketertinggalan atau pun keterbelakangan. Dengan begitu, malu pada dasarnya merupakan sesuatu yang positif untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Dalam tradisi indang dan salawat dulang, malu juga merupakan hal yang harus dijaga oleh setiap kelompok. Terutama sekali dalam indang yang mana setiap kelompok itu pada prinsipnya mewakili sebuah nagari. Dalam tradisi salawat dulang maupun indang, bagian untuk mengajukan pertanyaan dan memberi jawaban antar grup atau kelompok dapat saja berakibat malu bagi yang kalah. Di sini kekalahan terjadi bisa saja karena tidak dapat menjawab pertanyaan, atau tidak dapat membuat pertanyaan yang lebih baik untuk grup lawan. Penonton akan dapat menilai mana kelompok yang kalah dan mana yang menang. Jika sudah kalah, maka harga diri grup, bahkan nama nagari yang dibawa ikut menjadi terbawa malu. Untuk itu pula, setiap kelompok atau grup biasanya akan mempersiapkan berbagai hal, ilmu dan wawasan khususnya, agar dalam penampilannya tidak menerima malu. Maka, usaha yang lebih keras dibutuhkan oleh setiap anggota kelompok di sini. Demi menjaga malu pula, dulunya baik dalam indang maupun dalam salawat dulang, para pemainnya dibekali juga ilmu paga diri. Yaitu ilmu untuk menjaga diri dari 25

27 berbagai gangguan fisik maupun bathin ketika pertunjukan berlangsung. Menurut seorang informan, dulunya dalam pertunjukan salawat dulang bisa saja tukang salawat tiba-tiba kehilangan suara, atau tiba-tiba terjatuh dari tempat duduknya sehingga tidak dapat lagi melanjutkan pertunjukan. Dalam indang sendiri dulunya ada seorang yang disebut tuo indang. Tugasnya adalah menjaga kesemalatan anggota pemain secara keseluruhan, baik lahir maupun batin. Ketika pertunjukan indang belangsung dulunya, seringkali terjadi uji kemampuan kebatinan yang tidak dapat dilihat dengan mata. Akibatnya suatu kelompok juga bisa kalah melalui uji kekuatan batin tersebut. Kalau dahulunya pertaruhan kalah dan menang ini menjadi penting dalam pertunjukan indang dan salawat dulang, saat ini hal itu tidak lagi diutamakan. Dalam salawat dulang sendiri, bagian untuk memberi pertanyaan dan menjawab pertanyaan lawan tidak lagi menjadi perhatian penonton. Penonton lebih tertarik pada bagian hiburan yang pada dasarnya lebih banyak menyampaikan lelucon dan gurauan. Namun dalam indang, hingga saat ini antar kelompok indang tetap ada saling menyindir dan membuat malu lawan atau penyelenggara acara. Misalnya saja dalam pertunjukan indang di Limau Puruik tanggal 20 dan 21 November Ketika itu kelompok Padang Toboh menyindir Pasar Limau Puruik yang telah diresmikan setelah sebelumnya direnovasi dengan dana yang cukup besar, namun tidak memiliki wc umum. Sindiran itu memancing tawa dan tentunya juga malu dari pihak Limau Puruik. Dan tentunya saling sindir dan mencari kelemahan lawan tidak lagi dimaksudkan untuk menang atau mengalahkan lawan. Saat ini yang selalu diupayakan dan menjadi focus oleh sebuah kelompok yang tampil, apakah indang atau pun salawat dulang, adalah memberikan hiburan yang menarik hati para penonton. Jika penonton terhibur, kelompok atau grup itu akan disebut dan disanjung. Bahkan namanya akan semakin diingat sehingga panggilan untuk tampil akan semakin sering datang Bekerja Keras Bekerja keras merupakan suatu keharusan bagi masyarakat Minangkabau. Bekerja keras ini diungkapkan dalam ungkapan Kayu hutan bukan andaleh, Elok dibuek ka lamari. Tahan hujan barani bapaneh, Baitu urang mancari rasaki. (Kayu hutan bukan andalas, Baik dibuat untuk lemari. Tahan hujan berani berpanas, Begitu orang mencari rezeki). Bekerja keras ini pun kemudian terwujud dalam tradisi merantau. Anak-anak muda disuruh pergi merantau selain untuk mendapatkan materi, juga untuk mendapatkan ilmu. 26

28 Bekerja keras pun terkandung dalam pertunjukan salawat dulang serta indang. Dalam indang secara khusus bekerja keras perlu sekali dilakukan oleh tukang dikie untuk menghadirkan pantun-pantun yang menarik. Secara khusus dalam indang hingga saat ini tukang dikie harus jeli dan kreatif untuk menyindir serta membalas sindiran dari kelompok lawannya. Tukang dikie dan tukang aliah harus selalu menyimak serta memperhatikan tuturan dari kelompok lawannya selama 2 malam berturut-turut. Tidak ada waktu bagi mereka untuk tidur-tiduran atau merebahkan badan meskipun hanya sebentar. Selain itu, para pemain indang juga dituntut untuk bekerja keras agar dapat tampil 2 malam berturut-turut. Terjaga semalam suntuk bukanlah hal yang mudah, khususnya bagi anak indang yang usianya berkisar antara 7 hingga 12 tahun. Mereka biasanya pergi ke berbagai negeri tempat di mana pertunjukan indang akan diselenggarakan. Tempat tersebut pun seringkali tidak dekat dengan tempat tinggal atau kediaman mereka. Bahkan, dalam satu pertunjukan indang di Korong Balah Aia tanggal 21 Oktober 2017, seorang anak indang mengaku mesti mampu mengelola waktu untuk beristirahat meskipun tengah baindang karena sekolah tidak bisa diliburkan. Mereka tetap esoknya harus pergi ke sekolah. Jadi jika ada waktu jeda, anak indang disilahkan istirahat, bahkan tidur hingga saatnya waktu mereka untuk tampil kembali. Sementara itu dalam pertunjukan salawat dulang pun pada dasarnya dibutuhkan lebih dari sekedar hafalan dari tukang salawat. Mereka juga dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mencipta serta menggubah teks-teks yang akan didendangkan. Sejauh ini, teks salawat dulang sangat lentur pada bagian hiburan. Bagian ini pula yang selalu ditunggu oleh penonton. Seorang tukang salawat jika tidak mampu menghadirkan teks-teks baru yang menghibur akan mengecewakan penonton sebagaimana disampaikan oleh Firdaus (wawancara 7 Oktober 2017 di Gaduik, Padang) bahwa meskipun jumlah grup salawat di Sumatera Barat saat ini cukup banyak, yang aktif dan sering tampil kurang lebih hanya 10 grup. Begitu pun Jon E.Cakra menyampaikan bahwa dalam bersalawat, grup yang mereka temui masih itu-itu juga. Artinya, grup-grup yang mampu bertahan adalah grup-grup yang dapat menghibur dan memenuhi selera penonton. Di sinilah dituntut kerja keras dari tukang salawat untuk terus memperbarui informasi dan wawasan seputar hal-hal yang disukai dan popular di tengah masyarakat. Jika sudah popular dan disenangi, grup-grup salawat tersebut juga harus siap untuk tidak tidur serta pergi memenuhi undangan ke berbagai nagari dan tempat di Sumatera Barat. Misalnya saja grup Sinar Barapi yang berasal dari Padang Panjang. Karena sangat 27

29 popular, grup ini sering menerima undangan yang dalam sebulan sedikitnya ada 10 kali. Mereka tidak saja tampil di daerah Padang Panjang. Justru umumnya mereka ke luar kota seperti pada tanggal 5 November 2017 berada di daerah Kampung Pisang Anak Air, Koto Tangah Padang. Mereka tampil dalam kegiatan penggalangan dana pembangunan mesjid yang diadakan oleh Mushala Al Anshar. Mereka tampil hingga pukul dini hari dan tentunya tidak dapat tidur hingga sampai kembali di rumah, di Padang Panjang. Berdasarkan paparan di atas terlihat bahwa baik dalam indang maupun dalam salawat dulang pada dasarnya terdapat nilai luhur kebudayaan Minangkabau dalam bentuk bekerja keras. Para pelaku tradisi ini sesungguhnya tengah bekerja keras untuk dirinya, kelompok atau grupnya, bahkan nagari yang dibawanya. Segala usaha dan upaya mereka lakukan agar tidak mendapat malu Menjunjung Tinggi Nilai Egaliter atau Kebersamaan Dalam pepatah adat disebutkan Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Artinya masyarakat Minang dalam bermasyarakat dan dalam berurusan dengan kepentingan umum, sifat komunal dan kolektif ditonjolkan melalui musyawarah dan mufakat. Selain itu, setiap anggota masyarakat pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri. Mereka akan saling membutuhkan sehingga digambarkan dalam mamangan adat: Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuat pambaok baban, nan binguang ka disuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang. (Yang buta menghembus lesung, yang tuli penembakkan pistol, yang lumpuh menunggu rumah, yang kuat membawa beban, yang bingung untuk disuruh-suruh, yang cerdik sebagai lawan berunding). Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa setiap individu memiliki fungsi dan peran dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun berbeda, setiap individu harus saling menghargai. Dalam tradisi salawat dulang juga terdapat nilai egaliter dan kebersamaan seperti penjelasan di atas. Pertunjukan salawat dulang pada dasarnya adalah pertunjukan yang diselenggarakan oleh sekelompok masyarakat suatu nagari. Terutama sekali jika pertunjukan itu diselenggarakan dalam rangka alek nagari, menghimpun dana pembangunan nagari. Dalam pelaksanaannya tentu saja tidak satu dua orang yang bekerja. Namun seluruh anggota masyarakat, laki-laki perempuan, tua dan muda, semua bekerja sama sesuai dengan tugas serta kemampuannya. Jika kaum lelaki mengurus tempat serta perlengkapan acara, kaum wanita biasanya sibuk diurusan konsumsi. Dalam kegiatan seperti ini pula akan terlihat individu-individu yang tidak mau bekerja sama atau bergaul dengan masyarakat. Individuindividu seperti itu pun biasanya akan tersisih dengan sendirinya di tengah masyarakat. 28

30 Selain itu, dalam grup salawat itu sendiri yang terdiri dari dua individu pun memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Seperti telah disebutkan sebelumnya, mereka ada yang disebut sopir/ induak dan ada yang disebut stokar/ anak. Sopir/ induak akan mengarahkan dendangan dalam pertunjukan mereka dan stoker/ anak akan mengiringi dan menyambung. Mereka dituntut untuk saling bekerja sama dan saling melengkapi. Pun saling menghargai agar grup tersebut dapat tampil baik dalam setiap pertunjukan. Di dalam teks yang didendangkan pun nilai saling menghargai dan menghormati terdapat pada bagian katubah, yaitu berisi salam dan permohonan izin pada para penonton sebelum mereka memulai pengajian. Berikut kutipan teks bagian katubah tersebut. Assalamu'alaikum sambah ka sidang Mulonyo kami nan jolong datang Di tampat lokasi lah panuh dek urang Sagalo lampu lah sudah dipasang Tirailah di langik nan sudah tarantang Niniak jo mamak nan pandai batenggang Mananam rumbia sarato jo janang Mambari carano siriah jo pinang Tambahan lagi timbakau jo rokok Kok ado nasi lah sadang elok Duduak marokok lah asallah basantok Sagalo pinonton nan telah diarok Baraso ka mandanga buni nan elok Di siko lah kami ka kumari sansai Ka mangaji adaik kami tak pandai Di siko lah lamo adat lah pakai Sabalu nagari lah babalai-balai Tapegang dek pangulu matinyo pegawai Di siko lah kami ka kumari rumik Ka mangaji adaik lah mustahil Di siko nan amuah sagalo kaji Sabalum nagari lah bamusajik Ka pegang tak imbang bilal jo katik Antah kok manukuak aia ka lauik Antah kok ado unto tasapik Di dalam lubang jarum pinjaik Sabuah lai kato panjarang Kok jauah bajalan lah lah banyak nan sanang Lah banyak diagiah di muko panjang Mukasuik hadirin di kami lah tarang Nan dari jauah tamu lah datang Nan dari ampia lah baimpun sekarang Untuak manyaksikan salawaik dulang Antaronyo kami nan duo pasang Sinar Barapi jo Arjuna Minang (Assalamu'alaikum sembah ke sidang Mulanya kami yang awal datang Di tempat lokasi sudah penuh orang Segala lampu sudah dipasang Tirai di langit yang sudah terentang Ninik dengan mamak yang pandai meneggang Menanam rumbia sarta jenang Mamberi cerana sirih dan pinang Tambahan lagi tembakau dan rokok Kalau ada nasi lebih baik Duduk merokok asallah dimakan Semua penonton yang telah diharap Barasa akan mendengar bunyi yang baik Di sinilah kami ke mana susah Kan mangaji adat kami tak pandai Di sinilah lama adat dipakai Sabelum negeri berbalai-balai Terpegang oleh panghulu matinya pegawai Di sinilah kami ke mana rumit Akan mangaji adat sudah mustahil Di sini yang mau semua kajian Sebelum negeri bermesjid Akan pegang tak imbang bilal dan katib Entah mengukur air ke laut Entah ada unta terjepit Di dalam lubang jarum penjahit Sebuah lagi kata memanggil Kalau jauh berjalan sudah banyak yang senang Sudah banyak diberi di muka panjang Maksud hadirin di kami sudah terang Yang dari jauh tamu sudah datang Yang dari dekat sudah berhimpun sekarang Untuk menyaksikan salawat dulang Antaranya kami yang dua pasang Sinar Barapi dan Arjuna Minang 29

31 Di maso sekarang Jokok Arjuna Minang dimisalkan urang Baibaraik balai kotamadia Padang Panjang Balainyo rami pagi jo patang Baibaraik bendi jo koreta loyang Nyampang kok ado kawan nan manompang Bia ka pai bia ka pulang Nan babendi rancak kusia nyandang Kusianyo nak baka larinyo kancang Tapi dek Arjuna Minang untuangnyo malang Bendinyo buruak kudo patah pinggang Lari badeku dek panyakiknyo malang Bagitu nan lah tatompang Iyo di kami lah nan malang. Maaf dimintak ka dalam lah nyo sidang Yo di alek lah nan datang Di masa sekarang Jika Arjuna Minang dimisalkan orang Ibarat balai kotamadya Padang Panjang Balainya ramai pagi dan petang Ibarat bendi dan kereta layang Andai ada kawan yang menumpang Hendak pergi atau akan pulang Yang berbendi baik kusir terpandang Kusirnya akan berlari kencang Tapi Arjuna Minang untuangnya malang Bendinya jelek kuda patah pinggang Lari seperti itu karena penyakit Bagitulah yang ditumpangi Di kami yang malang Maaf dipinta ke dalam sidang Kepada tamu yang sudah datang) Teks di atas merupakan bagian untuk menyampaikan salam kepada penonton serta salam kepada grup lawan. Dalam konteks ini, Grup Arjuna Minang melawan Grup Sinar Barapi. Grup Arjuna Minang pun tidak lupa merendahkan diri dihadapan penonton berupa pernyataan bahwa mereka bukanlah orang yang segala pandai dan segala tahu melalui ungkapan Arjuna Minang untungnya malang, Bendinya jelek kuda patah pinggang, Lari seperti itu karena penyakit, Itulah yang ditompangi. Mereka merendah dengan mengumpamakan diri sebagai bendi yang tidak bagus serta berkuda patah pinggang. Artinya Grup tersebut tidak ingin dianggap lebih dari siapa pun, begitu juga dengan lawannya. Hal yang serupa juga dapat ditemui dalam pertunjukan indang. Setelah tukang dikie manyampaikan teks nasib, lagu yang akan dituturkan selanjutnya bersifat bebas. Namun diawali dengan pasambahan yang berisi ungkapan meminta maaf atas segala kekurangan dan kesalahan nantinya. Secara khusus pasambahan ini biasa disampaikan oleh kelompok indang si pangka pada si alek seperti kutipan berikut. Kapado niniak dengan mamak Kapado penonton bakuliliang Maaf dipinta banyak-banyak Juo pado dunsanan nan duo sandiang (kepada ninik dengan mamak Kepada penonton yang berkeliling Maaf dipinta banyak-banyak Juga kepada saudara yang dua sanding) 30

32 Dari kutipan tersebut terlihat bahwa indang si pangka terlebih dahulu sudah merendahkan diri dengan memohon maaf pada penonton, bahkan pada kelompok indang lawannya sebelum memulai pertunjukan. Begitu pula ketika ketika akan memulai sindirmenyindir atau memberi pertanyaan kepada kelompok lawan. Tukang dikie akan tetap merendah, tidak menyombongkan diri atau merasa lebih. Salah satunya terlihat melaluik teks indang yang ditranskrip Ediwar berikut. Panonton dulu kami imbau Sabalun sanak kiri kanan Untuak kaganti ka ceramah Rapa I sadang dilenggokkan Riwayat pasia rang Katapiang Ka sajarah jadi catatan Ikan paus mahampeh surang Sudah garak takadia Tuhan Bulan Mei tahun tujuah puluah Hari Jumaik tanggal limo baleh Untuak riwayat jo sijarah Ditulis dawaik ka karate Rami pasie rang Katapiang Ikan paus sinan mahampeh Mahampeh sorang katapian Bukan dek kaia kanai papeh Bukan dek kaia kanai papeh Ikan paus mangko tapasah Janji katibo di darekkan Nasib tak joa ka diubah Tabariang tibo di darekkan Sabalum sampai ajalullah Dapek dilamun ralun gadang Sampai patah randai sabalah Patah randai sabalah kiri Tak badayo badan lah lamah Ralun mambujuak mambuayan Tak sia raso dipasalah Ikan paus batubuah baiak Aja sampai bilangan sudah Baibo ombak rang Katapiang Nan bak ratok tangih babuah Penonton dulu yang kami panggil Sebelum saudara kiri kanan Sebagai ganti ceramah Rapai sedang dilenggokkan Riwayat pasir orang Katapiang Menjadi sejarah dan catatan Ikan paus menghempas sendiri Sudah menjadi takdir Tuhan Bulan Mei tahun tujuh puluh Hari Jumat tanggal lima belas Menjadi riwayat dan sejarah Ditulis tinta ke atas kertas Ramai pasir orang Katapiang Ikan paus di sana terdampar Terdampar sendiri ke tepian Bukan karena kail dan pancing Bukan karena kail dan pancing Ikan paus sebabnya tersesat Janji akan tiba di daratan Nasib dengan apa hendak diubah Terbaring sampai di daratan Sebelum sampai ajalullah Kena dihempas ombak besar Sampai patah sirip sebelah Patah sirip sebelah kiri Tidak berdaya badan sudah lemah Ombak membujuk membuaikan Entah siapa akan dipersalahkan Ikan paus bertubuh baik Ajal sampai bilangan sudah Berhiba ombak orang Katapiang Seperti ratapan serta tangisan 31

33 Randai takambok tibo babaliak Bantuak gaya potongan sadang Panjang lapan baleh meter Diukua taruih ka balakang Ikan paus main jo ralun Main di dalam bungo karang Potongan jinak marapati Kalau bamain di nan tarang Kalau bamain din an tanang Randai takambek baliak timba Maralun hati rang pangaie Jinak tak dapek ka dipanga Ikan paus pamenan ralun Nan jo karang main nan tata Mati ka sampai ajalullah Apo ka dayo karang tingga Sirip terkembang timbal balik Bentuknya bagus dan sedang Panjang delapan belas meter Diukur terus ke belakang Ikan paus main dengan ombak Main di dalam bunga karang Bentuknya jikan merpati Jika bermain di air tenang Kalau bermain di air tenang Sirip terkembang timbale balik Menggoda hati orang memancing Jinak tidak dapat diperbuat Ikan paus permainan ombak Dengan karan mainan yang kering Mati sudah sampai ajalullah Apa daya karang tinggal Dalam analisisnya, Ediwar menyebutkan bahwa teks di atas merupakan bentuk kiasan yang menganalogikan pertemuan tukang dikie senior dengan tukang dikie junior. Tukang dikie senior pada dasarnya tidak bermaksud berdebat dengan tukang dikie junio. Tukang dikie senior menilai bahwa dirinya sebenarnya tidak memiliki kemampuan dan fisik yang prima untuk berhadapan dengan tukan dikie junior, ibarat paus patah sirip sebelah sehingga tidak ada keseimbangannya. Meskipun begitu, tukang dikie senior tetap akan menyampaikan sindiran-sindiran dengan cara yang baik untuk bermain dengan tukang dikie junior, sekaligus melatih kemampuan berdebat tukang dikie junior. Paparan di atas juga memperlihatkan nilai kebersamaan dalam bermasyarakat. Yang tua tidak lantas merasa paling hebat sehingga selalu meremehkan yang kecil. Namun yang tua tetap merangkul yang muda sekaligus memberi pelajaran dan latihan agar mereka menjadi lebih baik. Jadi, baik dalam indang maupun dalam sawalat dulang, nilai nilai kebersamaan dan bermasyarakat itu dapat ditemukan. Masing-masing saling menghargai dan tidak ada yang merasa lebih dari yang lain Beragama, Beradat, Berpengetahuan Seorang individu di Minangkabau diharapkan menjadi seorang yang sempurna dalam menjalani hidupnya. Maka seorang individu itu hendaklah beragama, beradat dan 32

34 berpengetahuan (Nasroen, 1971:186). Lebih lanjut, adat Minangkabau pun mengutamakan juga kecerdasan bagi seseorang sebagaimana ungkapan adat. Katiadaan ameh buliah dicari Katiadaan aka putuih bicaro Tak barameh putuih tali Tak Baraka taban bumi (tidak ada emas dapat dicari Tidak berakal putus bicara Tidak beremas putus tali Tidak berakal tenggelam bumi) Ungkapan di atas memperlihatkan bahwa akal itu lebih utama dari pada emas (harta). Jika emas tidak ada dapat dicari, namun kalau tidak berakal, tidak akan mampu bicara. Kedudukan orang cerdik dalam masyarakat pun lebih dihargai sebagaimana ungkapan berikut. Nan cadiak tampek batanyo Nan pandai tampek baguru (Yang cerdik tempat bertanya Yang pandai tempat berguru) Dalam tradisi lisan baindang dan bersalawat dulang, beragama, beradat, serta berpengetahuan pun menjadi keharusan bagi para pelakunya. Melalui teks yang mereka tuturkan, ajaran agama menjadi dasarnya. Artinya, selain memberi pengetahuan serta ilmu bagi pendengarnya mengenai agama, mereka pun harus memahami ilmu tersebut terlebih dahulu. Tukang dikia dan tukang salawat pun dalam masyarakat dianggap memiliki pengetahuan yang lebih di bidang agama. Bahkan menurut Firdaus (wawancara tanggal 7 November 2017 di Kasang), kedudukan tukang salawat di tengah masyarakat pun lebih dihargai karena dianggap sebagai orang saleh, setingkat di bawah guru mengaji. Selain beragama, para pelaku tradisi indang dan salawat dulang pun merupakan orang-orang yang beradat. Beradat di sini dalam artian mereka harus tahu mana yang baik dan yang buruk, mana yang patut serta tidak patut sesuai dengan aturan adat di Minangkabau. Dalam adat, dasar serta tujuan hidup adalah bersama. Melalui dasar bersama itu pula kepatutan-kepatutan hidup disusun. Di antaranya saling menghargai, bermufakat, serta berbudi. Dalam indang maupun salawat dulang, nilai-nilai saling menghargai dan bermufakat juga dapat ditemui. Setiap kelompok atau grup yang akan memulai pertunjukan 33

35 diharuskan menyapa, meminta maaf, serta merendahkan diri terhadap penonton maupun lawan. Pun setiap kelompok atau grup akan bermufakat melalui tuturan yang mereka sampaikan mengenai sindiran atau pertanyaan yang akan diberikan. Sebagai contoh pertunjukan indang yang di dalamnya hingga saat ini masih terdapat saling sindir serta mencari kelemahan lawan. Namun rundingan tetap ada melalui bagian teks yang disebut juga rundingan, yaitu bagian dimulainya sindiran-sindiran atau pertanyaan kepada oleh si pangka kepada alek I dan alek II atau bagian untuk menanggapi kajian agama, persembahan, rundingan yang disampaikan si pangka. Ada pun teks yang menjadi mulai rundingan contoh kutipannya sebagai berikut. Diimbau panonton sakuliliang Barundiang kami jo kiri jo kanan Bialah rang gunuang datang dari Garinggiang Bialah urang Sikalagi duduak di supadan Banyak kato alah dari kami Banyak kato alah tajelo Maafkan kami tagak badiri Maklumlah anak mudo-mudo (dipanggil penonton sekeliling Berunding kami dengan kiri dan kanan Biarlah orang guung datang dari Geringging Biarlah orang Sikaladi duduk di Supadan Banyak kata sudah terlepas Banyak gerak sudah terurai Maafkan kami tegak berdiri Maklumlah anak muda-muda) Kutipan di atas pada dasarnya merupakan bentuk perkenalan dan maaf kepada hadirin atas apa yang telah disampaikan dan apa yang akan disampaikan ketika menjawab pertanyaan atau melontarkan sindiran. Di sinilah muncul nilai beradatnya seorang individu atau dalam hal ini kelompok indang dalam memaknai kebersamaan di dalam masyarakat. Jadi tidaklah mereka akan dihargai jika belaku dan bertindak tidak sesuai dengan adat yang berlaku di Minangkabau. Selanjutnya tuntutan untuk berpengetahuan atau memiliki pengetahuan juga terdapat pada tradisi indang dan salawat dulang. Tukang salawat maupun tukang dikie dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas baik mengenai agama maupun mengenai berbagai pengetahuan kemasyarakatan. Tukang sawalat dituntut untuk kreatif mencipta lagu- 34

36 lagu baru, namun tetap mengangkat berbagai permasalahan yang tengah terjadi di masyarakat. Contohnya saja dalam teks berikut. Apolagi sponsor kito ka silawat pado malam nan ko Yaitu dari Buya kito memang gak semok badannyo Dicaliak-caliak Buya kito samakin bakilek juo kaniangnyo Yaitu Buya Aditra bak kato urang siko Kalau dipandang-pandang bana mirip jo Bapak Harmoko Baliau nan lai basisunguik bak cando si Rano Karno Badan nan mirip SBY bana rononyo Kadang-kadang baliau babantuak mandiang nan si Bagio Kadang baliau mirip jo Sukarno bana la rononyo (Apalagi sponsor kita bersalawat pada malam ini Yaitu dari Buya kita yang agak tambun badannya Dilihat-lihat Buya kita semakin berkilat juga keningnya Yaitu Buya Aditra dipanggil orang di sini Kalau dipandang-pandang mirip dengan Bapak Harmoko Beliau berkumis seperti Rano Karno Badan yang mirip SBY wajahnya Kadang-kadang beliau mirip mendiang Bagio Kadang beliau mirip dengan Sukarno) Kutipan tersebut memperlihatkan tukang salawat yang memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh yang ada di Indonesia, bukan hanya di Sumatera Barat. Karena pengetahuan itu pula mereka mampu membandingkan seorang tokoh di daerah, yaitu seorang Buya, dengan Harmoko, Bagio, Rano Karno, bahkan SBY. Artinya di sini terlihat bahwa tukang salawat bukanlah orang biasa yang tidak berpengatahuan. Tapi mereka sudah seharusnya memiliki pengetahuan yang luas dan harus tidak bosan untuk terus belajar Keseimbangan dalam Pertentangan Menurut Nasroen (1971), prinsip hidup berdasarkan nan rancak di awak, katuju dek urang adalah perseimbangan antara kepentingan seseorang dengan kepentingan bersama. Hasanuddin (2013: 16) menjelaskan bahwa dalam adat Minangkabau, konsep harga diri mengharuskan seorang individu untuk bersaing terus menerus, sedangkan konsep harga diri menekankan pentingnya kemampuan menimbang dengan raso (rasa atau perasaan) dan pareso (periksa atau rasio). Keseimbangan implementasi kedua konsep di atas, yang masingmasing berfungsi sebagai factor dinamika (dimotivasi oleh harga diri ) dan factor static (dimotivasi oleh budi ) dari kebudayaan Minangkabau menjadi satu bentuk keharmonisan dalam sebuah pertentangan. 35

37 Dalam kehidupan, pertentangan merupakan hal yang biasa dan normal. Dalam falsafah perimbangan pertentangan ini menurut Nasroen (1971), pertentangan-pertentangan yang ada tidak lenyap. Namun terhadap pertentangan-pertentangan itu diusahakan perimbangan. Diumpamakan dalam memasak gulai. Setiap bahan-bahan yang ada pada dasarnya adalah berbeda seperti bawang, cabe, dan sebagainya. Namun menjadi satu kesatuan gulai yang di dalamnya tetap dapat dirasakan unsur-unsur yang berbeda tadi. Pun jika salah satu bahan tidak ada, maka rasa gulai pun menjadi tidak seimbang. Prinsip perseimbangan pertentangan ini yang selalu hidup dan ada di tengah masyarakat Minangkabau. Sebagai salah satu contoh nyatanya adalah antara adat yang matrilini dengan Islam yang patrilini. Namun adat Minangkabau tetaplah adat basandi syarak. Hidup berdampingan, tidak saling menghilangkan. Bentuk perseimbangan pertentangan ini pun hidup dalam bentuk tradisi indang dan salawat dulang di Minangkabau. Kedua tradisi ini merupakan bentuk berdialektikanya orang Minangkabau. Saling mengajukan pertanyaan untuk menguji pengetahuan, saling menyindir untuk memperlihatkan keunggulan diri, namun diramu dalam sebuah pertunjukan yang tetap menjaga kesopanan, raso dan pareso, tenggang menenggang, dan prinsip-prinsip hidup bermasyarakat. Setelah melalui pertentangan serta perdebatan, dalam kedua tradisi ini pun selalu ada upaya untuk menyeimbangkan kembali suasananya. Salah satunya terlihat pada teks penutup pertunjukan salawat dulang berikut. Baibaraik baladang lah laweh tarambahnyo Baibaraik bajalan lah jauah pulo tarantangnyo Alah panek jo latiah lah kini nan taraso Karano kito lah duo batigo Kaduo lah dapek dibaok baiyo Katigo lah tantulah balega bakato Marilah kandakkan lai ka bakeh si rekan kito Nan ka rekan kami samo tukang curito Tapi iyonyo tolan bagarah iyo nyo pulo Tantu lah kami bagarah pulo Garah-garah ini panjago kan mato Mato nan mangantuak supayo nak jago Pepatah jo petitih kan ado mangato Danga-danga lah dek rekan bana iyo iko bana bunyinyo Hari rabaa ka padang gantiang Ka pulang bali karupuak sanjai Lauak lamak dimakan kuciang Mintuo heboh lah mintak carai Hiyo...A... Ai...ya rasulullah 36

38 (Ibarat berladang sudah luas yang dipangkas Ibarat berjalan sudah jauh pula direntang Sudah capek dan letih kini yang terasa Karena kita dua bertiga Kedua hendaknya dapat dibawa ber-iya Ketiga tentulah berlaga berkata Marilah pintakan kepada rekan kita Yang ke rekan kami sama tukang cerita Tapi tadinya tolan sudah bercanda pula Tentulah kami bercanda pula Canda ini untuk membangunkan mata Mata yang mengantuk supaya terjaga Pepatah dan petitih ada berkata Dengar-dengarlah oleh rekan inilah bunyinya Hari Rabu ke padang gantiang Mau pulang beli kerupuk sanjai Lauk enak sudah dimakan kucing Mertua ribut mintak carai Hiyo...A... Ai...ya rasulullah) Bagian penutup dalam teks salawat dulang di atas menunjukkan upaya dari tukang tutur untuk mendinginkan suasana kembali. Bahwa apa pun yang telah disampaikan sebelumnya hanyalah gurauan, untuk membuat mata tetap terjaga karena sudah semakin larut malam. Pada teks itu juga disebutkan bahwa selain bersepakat (baiyo-iyo), mereka juga beradu kata (balago bakato). Artinya, pertunjukan salawat dulang terdapat unsure pertentangan melalui kata-kata, namun juga ada kesepakatan, juga melalui kata-kata. Di sinilah terlihat unsure keseimbangan dalam pertentangan tersebut. Dalam indang pun terdapat bagian penutup yang menujukkan bahwa setiap pertentangan atau permasalahan yang muncul, akan diselesaikan pada akhirnya. Berikut kutipannya. Rang Pariaman pai ka balai Pai mambali kain ganiah Nan lah pulang pukua duo Kok ado kusuik indak salasai Karuah nan indak tapajaniah Lambuang indang disambuang pulo (Orang Pariaman pergi ke pasar Pergi membeli kain putih Hendak pulang pukul dua Kalau ada masalah yang tidak selesai Keruh yang tidak terjernihkan 37

39 Di lambung indang disambung pula) Teks di atas merupakan penutup dari satu kelompok sebelum dilanjutkan oleh kelompok berikutnya. Namun tukang dikie menyampaikan bahwa jika ada permasalahan atau sesuatu yang tidak mengenakkan yang belum diselesaikan, akan diselesaikan dalam pertunjukan indang selanjutnya. Artinya, setiap permasalahan atau pertentangan yang ada, tetap akan diselesaikan kembali sehingga keseimbangan kembali dapat tercipta. Meskipun dalam pertunjukan indang dan salawat dulang terdapat pertentangan, perselisihan dalam bentuk kata-kata yang disusun secara estetis, kedua pertunjukan ini tidak lantas memunculkan konflik baru di tengah masyarakat. Apa yang terjadi selama pertunjukan berlangsung, akan selesai pula ketika pertunjukan berlangsung. Masing-masing pihak akan kembali duduk bersama dan pulang pun tanpa beban dendam atau sakit hati. Di sinilah dinamika dialektika di Minangkabau tercermin. BAB V. PENUTUP Salawat dulang dan indang merupakan dua di antara beberapa tradisi lisan di Minangkabau yang masih ada. Masih ada dalam artian ada penuturnya, ada penontonnya, dan masih dipertunjukkan. Pertunjukan salawat dulang hingga saat ini masih dapat ditemui di berbagai daerah di Sumatera Barat. Masih diselenggarakan di mesjid, surau, atau rumah dan dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, penggalangan dana pembangunan mesjid atau mushala, serta helat perkawinan. Grup-grup salawat dulang yang popular seperti Arjuna Minang dan Sinar Marapi mengaku masih belum sepi undangan yang datang kepada mereka untuk bersalawat. Mereka pun pergi bersalawat ke berbagai nagari dan tempat yang ada di Sumatera Barat, kecuali Mentawai. Sedikit berbeda dengan indang, tradisi ini pada dasarnya telah mengalami perubahan dari tradisi surau menjadi pertunjukan rakyat di Pariaman. Pertunjukan indang saat ini lekat pada acara alek nagari yang rutin ada di Pariaman. Tempat pertunjukannya pun bukan lagi di surau, namun di laga-laga tempat alek nagari diselenggarakan. Narasumber menyebutkan bahwa selama alek nagari masih ada di Pariaman, maka pertunjukan indang masih akan ada. Selain karena alek nagari, indang pun masih hidup karena proses pewarisan tradisi ini terus terjadi. Anak indang yang usianya berkisar antara 7 hingga 12 tahun tidak tertutup kemungkinan akan menjadi tukang dikie nantinya. Meskipun masih ada, kedua tradisi ini pada dasarnya mengalami sedikit perubahan. Jika dulunya pertunjukan indang atau pun salawat dulang dilaksanakan mulai dari 38

40 usai waktu Isya hingga beberapa saat menjelang azan Subuh, namun sekarang tidak seperti itu lagi. Pukul 3 dini hari seringkali pertunjukan sudah berakhir. Hal itu salah satunya disebabkan oleh penonton yang semakin sedikit, atau bahkan yang tinggal hanyalah panitia. Penonton yang termasuk pecandu pertunjukan ini sudah semakin berkurang. Maka, pertunjukan pun durasinya mulai berkurang. Berkurangnya peminat serta durasi pertunjukan indang dan salawat dulang tidak membuat nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau yang terkandung dalam tradisi ini menjadi hilang. Peneliti menemukan beberapa nilai yang ada, yaitu berbuat jasa/ budi, menjaga harga diri/ malu, bekerja keras, menjunjung tinggi nilai egaliter dan kebersamaan, beragama beradat berpengetahuan serta keseimbangan dalam pertentangan. Nilai-nilai ini dapat ditemukan baik dalam pelaksanaan pertunjukannya, juga dalam teks yang dituturkan oleh tukang salawat dan tukang dikie. 39

41 DAFTAR PUSTAKA Amir, Adriyetti. l995a. Interaksi diantara Khalayak selama Pertunjukan Sastra lisan. Makalah pada Seminar Internasional Kesusasteraan Melayu V, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia l995b. Keberlanjutan dan Kesirnaan Tradisi Tradisonal. Makalah pada Seminar Bahagian Kesusasteraan, Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, Universiti Sains Malaysia, Pulau Pinang, Malaysia l996b. Tradisi Minangkabau adalah Sastra lisan dalam Jurnal Budaya Puitika, Padang, Juni Bermuara pada kata: Estetika Minangkabau. Makalah pada XI ECIMS The Indonesia and Malay World Milestone of the Second Millenium, Moscow, 29 June-1 July , dkk Pemetaan Sastra lisan Minangkabau. Padang: Andalas University Press. Bakar, Jamil dkk Kaba Minangkabau. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Derks, Will The Feast of Storytelling on Malay Oral Tradition. Jakarta: RUL Djamaris, Edwar Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka. Finnegan, Ruth Oral Poetry. London: CUP Firman, Yandri Bagurau; Deskripsi dan Analisis Teks. Skripsi S1 pada Fakultas Tradisi Univ. Andalas, Padang. Foley, John Miles Introduction dalam John Miles Foley (ed.) Oral Tradition in Literature: Interpretation in Context. Columbia: University of Missouri Press. Hlm Hasanuddin Adat dan Syarak; Sumber Inspirasi dan Rujukan Nilai Dialektika Minangkabau. Padang: PSIKM Hutomo, Suripan Sadi. l99l. Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Sastra lisan. Surabaya: Penerbit HISKI Jawa Timur. Junus, Umar Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Sebuah Problema Sosiologi Tradisi. Jakarta: Balai Pustaka Undang-Undang Minangkabau: Wacana Intelektual dan Wacana Ideologi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. 40

42 Koentjaraningrat Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Marzam Sebuah Transformasi Aktivitas Ritual Majis Menjadi Seni Pertunjukkan Basirompak. Yogyakarta: Kepel Press. Meigalia, Eka. (2006). Tinjauan Amanat dalam Sastra Lisan Minangkabau; Salawat Dulang Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (2009). Keberlanjutan Sastra lisan Mingkabau, Salawat Dulang; Tinjauan terhadap Pewarisannya. Tesis Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Muhardi Kritik dan Edisi Teks Kaba si Tungga. Tesis. Bandung : Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Nasroen, M Dasar Falsafah Adat Minangkabau. Jakarta: Bulan Bintang. Navis, A. A Alam Terkembang Jadi Guru. Jakarta: Grafiti. Ong, Walter J. (1982). Orality & Literacy, The Technological of The Word. New York: Routledge. Opland, Jeff Xhosa Oral Poetry. London : CUP Phillips, Nigel. 198l. Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatera. London: CUP Pudentia MPSS Sekitar Penelitian Sastra lisan. Makalah pada Temu Ilmiah dan Festival Seni Pertunjukan Bernuansa Islam, Padang Panjang, Semptember Hakikat Kelisanan dalam Sastra lisan Melayu, Mak Yong. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia , (ed.). (2008). Metodologi Kajian Sastra lisan. Jakarta: Asosiasi Sastra lisan Satriadi, Firzon Teks Basimalin: Analisis Struktural. Skripsi di Fak. Tradisi Univ. Andalas, Padang. Suryadi Dendang Pauah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia l994. Indang: Seni Bersilat Lidah di Minangkabau dalam Jurnal Seni, Juli The Impact of the West Sumatran Regional Recording Industry on Minangkabau Oral Literature dalam Jurnal Wacana Vol.12 No.1. April 2010, Depok Sweeney, Amin Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Berkeley: Center for South and Southeast Asia Studies, University of California. Teeuw, A Tradisi dan Ilmu Tradisi. Jakarta: Pustaka Jaya. 41

43 Indonesia, antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya, Tim Peneliti Tradisi Selawat Dulang sebagai Media Pendidikan Masyarakat dan Sarana Komunikasi Pembangunan di Sumatera Barat. Laporan Penelitian kepada IKIP Padang, Sumatera Barat. Tuloli, Nani Tanggomo. Salah Satu Ragam Sastra lisan Gorontalo. Jakarta: Intermasa. Udin, Syamsuddin Rabab Pasisia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 42

44 Transkrip Salawat Dulang Aaa...ei...ya... Aaa...ei...ya nabi Allah oi nabi oi... Aaa...ei ya yao... Aaa...ya...ai Aaa...ya...ya oi... Aaa...ya...yo...oi... Aaai...yo...ai... Ai juuun unjuuungan ei Ai ya junjuuuangaaan aoi Allah Allah yo... Yo Allah...Allah... Ai yo juuu unjuangan ei Ai ya junju..angaaan...oi Ei yoi Allah allahurabbi rabi hu rabbi Allahu rabbi batuhan kito Nabi Muhammad pangulu kito Wahai sahabat tolan sudaro Assalamu'alaikum a nan ka dalam sidang O mulonyo kami nan jolong datang Di tampat di rumah lah panuh dek urang Sagalo lapiak alah takambang Sagalo lampu alah manarang Tirailah di langik a iyo alah takambang Ai Niniak jo mamak lah pandai batenggang Mananam rumbia sarato jo janang Manatiangkan siriah carano siriah jo pinang Tambahan lagi timbakau jo rokok Kok adaik pananti lah sadang elok Duduak alahmarapok makan lah basantok Niniak mamak nan telah diarok Ai baraso mandanga aaaaaa buni nan elok Di siko nyo kami sa kumari sansai Ka mangaji adaik kami tak pandai Adaik lah lamo di siko rang pakai Ai..Sabalum ndeeehh banagari lah babalai-balai Tapegang dek pangulu mati jo pegawai Di siko nyo kami mangko ka rumik Ka mangaji syara aleh mutohik Syara lah lamo di siko rang pacik Sabalum nagari ado bamusajik Ka pegang tak imam bilal jo katik Bara manukuak aia ka lauik Antah kok babalik hujan ka langik Ka urang cino manjua pinjaik Antah kok ado unto tasapik Ka dalam lubang jarum pinjaik Sabuah lai ka dalam sidang Mano sagalo alek nan datang 43

45 Alek nan dari jauah Tamu lah datang nan dari dakek Lah bahimpun ka rumah nan gadang Untuak manyaksikan ndeeeh ndeeeh silawaik dulang Antaronyo kami nan duo pasang Talago zamzam jo arjuna minang Ka basilek lidah mano nan kancang Baradu suaro mano nan lantang Di malam kini di malam sekarang Ko Silawaik arjuna minang dimisalkan urang Di Baibaraik balai kotamadia Padang Panjang Balainyo rami pagi jo patang Baibaraik bendi jo koreta loyang Nyampang kok ado urang nan manompang Bia ka pai bia ka pulang Nak babendi rancak nak bakudo gadang Kusianyo nak matah larinyo kancang Tapi dek Arjuna Minang untuangnyo malang Bendinyo buruak kudo patah pinggang Lari manengkuik dek panyakiknyo malang Yo baitu nan lah tatompang Iyo di kami lah nan malang oi...sekarang O maaf dimintak ai yo... Aoi... Ai yo.. Ai yo... Ai ka dalam lah nyo sidang Ai ka dalam lah nyo sidang A oi ai... Ai ya...oi...ya oi... Aaa...i yalah O anallah iyallah Allah inillah alai Quran lah lai Ilallah de yalah Muhammad ala iyo alai wahai Tuhanku rabbi Yo Muhammad itu iyo wahai urang di Makah Ndeh sabana inyo rasul ai kulifah oi Allah Iyo Allah nan badiri lah dengan sendirinyo Qiyamuhu di la binafsihi ya itu sifatnyo Dek barakat la ka sufaat dari junjuangan kito La barakat la nan kudarat dari Tuhan yang pangaso Dek lah dapek oi nyo kami ka manyambuang curito Dek lah mangko lah kami sambuang dek kan ado sababnyo De mangambang la pituah ala kok di muko basamo La tetapi yo sabalum lah di kambang curito La sebalum la kami sabuik apo-apo singajo Iyo kami la ka bamohon ka pinonton basamo Iyo dari si Arjuna Minang la la sekarangnyo nan ko Yamolai Ooo oi... Ilallah...ala iyo...ala iyo...iyo oi... Aaai...Allah la ilallah 44

46 La de nan lai ya ilallah iyo...oi... Yamolai ala eeee O nabi Muhammad yo nde rasulullah iyo oi... Ilallah..ala Allah oi... Ala iyo...oi... Amang oi...oi...engge ei... Onggo oi...ya enggei...ya inni..ai...yo Ai..lah.ka pak lurah o nan mulo paratamu Yamolai ala iyo Ka bapak rw sarato rt nyo Ilallah ala eei..ala iyo... Amang oi...onggo oi... Angga ai...anggo oi... Ya angga oi... ya onggo oi...ya inggi iyo Iyo...oi... Ka niniak jo mamak ka pangulu jo rajo iyo oi... Ai yamolai ai yamolai Ka alim jo ulama la urang saagamo ooo oi... Ilallah ala allah ala iyo...oi... Amang oi...onggo onggo oi... Onggoi...onggo oi onggo oi... Ya onggo oi iyo... Ilallah ala allah ala iyo...oi... Ai... ka panitia o para lah tanago Yamolai ai yamolai O dek indak dipanggia gala disabuik la nak namo Iyooo oi...ilallah Allah allah Allah iyo ooo oi...amang ai...ya nggo oi...onggo oi... Engge ei..ya nggo oi...onggo oi..onggo oi... Ya onggo oi... La ka sidang pinonton nan dipukua rato O lai aluran ayah nan sarato bundo O lai aluran ipa jo urang sumando O ke pemuda pemudi o la generasi mudo O la tuan rumah nan punyo hajatan nan ko O ataulah pak ison nan maundang la nan nyo kito O nan dek alek si marapulai nan jo si anak daro Diresmikan la yo bana o iyo pado malam nan ko O teristimewa bana nan ka rekan kito nan lah sudah bakarajo Yo nan sudah bapituah dek nan lai sabanta ca ko O nde la sambuik la ndek la salam dari kami nan dek baduo O nde assalamu'alaikum lai kato nan partamu O iyo nan lai wa'alaikumsalam yo nde nan la kato lai kaduo Ai nan selamat la nyo datang nan selamat la nyo tibo Alah selamat alah pertemuan pado iyo la malam nan ko Dalam acara baralek Marapulai jo anak daro Iyo nan diundang bana duo pasang tukang curito Yo di malam iyo kini dek kan alah samo nyato Antaro talago zamzam jo arjuna minang nyo Iyo itu akan mahibur yo malam nan ko 45

47 Yo nan sakadar mukadimah yo sakian lah kami baco O nde nyo mari kito ansua baibaraik bakarajo Di sidang pangajian diarak kato-kato O karano pangajian iyo penting bana di kito Pentiang sakali di bidang agamo Agamo Isilam agamo kito Ai suruah jo tagah ado di dalamnyo Ai utang dek kito kan manjalankan sajo Lai o ai sudaro sambah dilapeh Di maso sekarang dangakan jaleh Parakaro nyawa nan ka kito paruleh Kaduduakan nyawa dek lai pandang ndak kameh O baibaraik maindakan ditampih tareh Supayo basisiah yo atah jo bareh Supayo babezo loyang jo ameh Nak nyato bezonyo kaladi jo taleh Disungkuik dungu dek lai diri ndak lapeh Padoman diri lai supayo nak tarang Supayo nak jaleh dek lai ka dipegang Iduik ka dipakai mati kan ditompang (lai mati ditompang) Nyawa jo tubuah nak samo lah samo sanang Nak sanang nan tingga nak sanang nan pulang Danga alasan Alquran mambilang (Al-quran mambilang) Di surek Kasasi Al-Quran mambilang Di akie surek dek lai cubolah pandang Kullu saim dengan halikum ( ee halah dengan halikum) Illa wajhahu andak permaklum Satiok sawatu di alam kuntum Tiok sawatu sagalo nan ado (sagalo nan ado) Satioknyo itu lai akan binaso Ai akan binaso rusak samuonyo Nan tidak rusak nan satu sajo ai Yaitu nyo zat lai Tuhan yang ngaso Lai atau siapo nan lai ka sano Kok lai Balinduang dengan samparono Eloklah lari ka zat samato Nak tarang antaro lalok jo jago Sawakatu lalok siapo nan jago Sawakatu lupo siapo nan tak lupo Dek nan Rohani nan kok lalok siapo nan jago Lai Rohani nan kok lupo siapo nan tak lupo Ei Api kok padam ka mano pulangnyo Ingeklah cakak handaklah timbang Ambiak lah camin yo cubolah pandang Di dalam caramin ado bayang-bayang Keadaan ini kalau ditimbang Hai ampek nan nyo sagi kaji tarantang Karjiyah tsabitah katigo ujua m 2x Sewujud mua'd kaampek bilangan Sarang caramin kalau dipaham 46

48 A yan karajiah a lai urang namokan Tubuah nan kasa lah tibo di insan Di dalam caramin ya yai kalau lah dikana Iyo bayang-bayang di sano bareda Tibo di insan manjadi nyawa Tibo di Tuhan ka manjadi asma Bayang-bayang tadi kalau disabuik Iyo ujua m hei sifatnyo wujud Sifatnyo nan kasa batali lai bakajuik Karano ujua m ya yai ka manjadi sifat Ka manjadi rusia tibo di umat Nde kan rusiakan nyawa mambari alamat Hati-hati bana oi sahabat Urang tak paham kok indak taingek Jalang ka guru lai sampai dapek Kaji jalannyo sarato kafiat Hendak jangan kito buto takilia Buto di hati bukan di mato Lawehnyo langik samato sajo Lah tapinyo langik tak namuah basuo nde nde Nak rasakan ai andak lah pikia Lai pandang ma'rifat supayo lai nak mahia nde nde Supayo basisia batin jo lahia Pandanglah lukah di dalam aia Ka dalam lukah iyo aia mahilia Tetapinyo lukah oi tak ilang dek aia nde nde Lai batinnyo lukah o nde lah hilang dek aia ya ya Ai lukah jo aia andak pandanglah Hanyo pahamnyo ka kito pagilang Di langkah salangkah lai kato sapatah nde nde Di ambu sahambua lai saimbau sudah Nyawa bapulang lah dalam kulimah Di dalam kulimah lailahailallah Batamu jo Tuhan di sarugo jannah A nan soal yo pangajian nde lala nde sanak kian sudah Baeko iyo baeko kami pupuah iyo nan baeko iyo lah nan ditambah Di hadapan kaum ibu jo kaum ayah Kaum lah nan pemudi walau yo kaum nan pemuda Alalah kami sampaikan alalah sado nan dek takana Di hadapan lah nan pemudi walau dihadapan nde nyo ayah Baitu nan nyo bano nan inyo pado nan kini yo saat nan ko Ala sakian yo molah dulu dari Grup la nde Arjuna Iyo nan tasabuik gala iyo nan diimbau namo A nan kapado si pinonton kami umumkan lah nan juo A kok ado nan gak jauah dari tampek acara nan ko Ado nan sadang basegeh-segeh kini nan di rumah tango Atau nan sadang bagaya gaya nde nan lah di muko kaco Talabiah kaum yo perempuan kalau basegeh oi yo agak lamo Rede nan kiri, rede ka kanan sarato rede lah dek ka muko Oi nan sadang mamakai lipstick atau nyo mamakai sedo 47

49 Mungkin sadang nan babadak oi mamakai tifa nde nomor limo Mungkin nan sadang mamakai parfum kasablangka jo Marlboro Bia sadang mamasang jilbab walau mamakai tu kacomato A nan atau nan sadang maota-ota jo calon iyo lah nan mintuo Baiak sadang nan di lapau maminum kopi nan bagulo Walau nan maminum nan teh talua tesar kok ado pulo Bia minum lah kopi ginseng walau itu capucinno Walau sadang mamakan sate walau mamakan si gado-gado Oi bia sadang mamakan lotek walau mamakan lah dek nyo bakso Walau lah sadang mambali rokok walau mambali si gulo-gulo Bia lah yo sedang main remi walau yo main batu domino Oi nan sasudah ndak nyo itu ai nde capek datang yo ka siko Nan gaek e nan gaek datang batungkek nan tuo-tuo pakailah sebo Nan gaek-gaek mandanga lah nan silawaik nan mudo-mudo nak mancari jodoh Kalau lah dapek nak nyo jodoh baralek gadang sarupo iko Jangan nan iyo lah dilewatkan acara iyo sarupo iko A basinilawaik nan iyo dulang antaro kami nan iyo duo pasang nan ko Iyo lah dek arjuna minang jo talago zamzam sabanta cako Ai kalau nak basinilawat malam kini juara dunia kaduo nyo algojo algojo tukang silawat ka duo pasang lah kini nan ko Kalau tibo di main bola argentina melwan nde jerman yo Kok tibo nan iyolah di petinju hollifield melawan McTyson nyo A Kalau diingek-ingek Tyson manggigik pangka talingo Kalau yo Tyson taingek ingek yo bisa kanai tinju KO Kalau nan tibo di pilem kartun ipin dan upin nan botak-botak nan kapalonyo Atau lah nunung jo si dudung, nde bapak somad lah manyalek pulo Kalau lah tibo nan di sinetron iko nan wali yo wali songo Ibarat iyo si jaka tingkir jo jaka geledek inyo balago Oi kadang-kadang si jaka sembung, jaka umbaran raden kian santang manyalek pulo Tigo hari nan tigo malam bacakak lah nan diateh nan udaro Antah nan dek kana baa-baa Antah nan kabana apo-apo iiiiii iiiii Mungkin ka ujun-baujun, iyo bapuyuah lago Tegang-bategang bacakak iyo lah jo jando Mungkin tundo batundo, bagarobak lah nan nyo baro Antah badakak-badakak, iyo bunyi lah kambiang lago Mungkinkah unyuik baunyik, bak urang makan gajebo Marilah samo kito caliak lah samalam nan inyo nan ko Iyo ka pinonton lah dek mandanga lah dek nak sanang lah dek hatinyo Iyo gadang nan jo ketek sarato tuo jo mudo Oi lah silawaik zaman kini ado talawi nan yo dikiro Bamacam-macam yo dek irama, bamacam macam yo dek lagunyo Ado nan bana lagu minang yo lagu dangdut kan ado juo Karano iyo nan si pinonton banyak nan tuo rami nan mudo Ai nan iyo nan ketek-ketek lai yo dek kan ado pulo Kandak kok kandak nan tuo tuo ado pangajian lah nan dibaco Api kandak nan mudo-mudo sansai yo main irama sajo Tapi kok yo nan ketek-ketek jo tapiak dulang geleang kapalo Samo nan samo nan kito agiah kandak iyo lah katigonyo 48

50 Ay samo nak samolah kito agiah Dek kandak io lah katigonyo Adaik nak guno dek irama Aa panjago iolah dek kamato Eeh manolah de sihaik diri Oh sidang dek basamo Iko nan dek hiburan Kapananjagolah dengan mato Kok mato nan mangantuak Nak supayo dek nan jago Supayolah dek nak nyalang Dek sagalolah incek mato Ba a lo malam kini, malam iyo bajago-jago Malamlah dek yo panjang iyolah dengan jadi juo Oi mak Jono lagu Jambi, Jambi nan cubo nan dek mambaok Lagu rang dekek Kinci, walau daerah yo Angso Duo Kisah nan dek nyo sadiah, iyo ba baibo-ibo (hahahaha) Ramalah urang Sungai Lilin (haa tua) walau ii ramahlah rang Sungai Bangko Kisahlah nak nyo ini, diambiak dari kisah nyato Saorang perempuan kininyo hiduik yo dek manjado Oi hiduik ditinggal mati Iyo nan dek... nan suaminyonyo Tinggaleh nan jok dek anak Oi leh yo banyak nan deh nyo limo Oh nan ba nan tigo jantan, nan ba nan duo yo batino Ai tioklah-tiok anak balain pulolah kahandaknyo Anak nan paratamo mintak kuliahyo ka Kairo (hahahah) Anak nan nomor duo, Mintak mambali ndeh honda mio E, anak nan ka tigo mamintak pulo yo hape mito Anak nan e ka ampek, agak balain nan dek kandaknyo Mamintak apak baru, ondeh ka bakek ondeh mandehnyo Anak paliang ketek, balain pulo lah kandaknyo Satiok dek manangih gilo mamintak e gulo-gulo Sabana nyo lah sadiah, jatuah badarai e yo si ayia mato Anakku ku ditinggal ayahnyo, Emak ditinggal bapak Hidup di tengah dusun, rumah balampu indak baminyak Hidup di tengah dusun, rumah balampu indak baminyak Ee pagi-agi pegi ke ladang Ndeh siang turunlah ke sawah Malam makan merewang, Rumah tergenang di maso susah Bilo anak menangis, hatiku raso ibo Terkenang maso dulu, samaso ayah e lai ado Terkenang maso dulu, samaso ayah kan lai ado Mamintak kapado Tuhan dek tabahkanlah hati kami Menjelang anak gedang, rumah mintak murah rezeki 49

51 Menjelang anak godang, amak capeklah dapek laki Kini mancari gantinyo, hatiku lamah nian Anaklah lagi menggenyong, lumak lum tahu salah dan benar Anaklah lagi menggenyong, lumak lum tahu salah dan benar Alah itu lagu Jambi, e dari kamo nan baduo Ai supayo nak berkah, acara samalaman ko Yo marilah kito... mari badih tambah duo... padang pasir lai deh lasuah nan kasero Karano nan la Padang pasir kesayangan nan tuo-tuo Karano padang pasir ba macam-macam lah bahasanyo Ado bahasao Minang, ado bahaso Jowo Ado bahaso Arab, ado bahaso Bulando Iyo ado lincungai, ado bahasonyo Cino Gandang pasir lah di India Lain pulo lah sigonyek nyo...pasi Adam Maya lah den nan dibujuak nan karajo Iyo tu Putri Sinta, iyo degan lai pulo Kadang-kadang Si Rahul Khan lai nan mambaok pulo Mambaok si Mita Bachan, Tuan Takur lah ikuik pulo Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai.. Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai Meredil tu meredil ka hee.. Meredil tu meredil ka hee.. Acene hi batehe Acene mi kitahe Jan nataaaan hooo woo hooo oo Bararagahem baragehem 4x Widowabigodobabagidegege dogodogdogdogem Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai.. Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai Yazame jeb nate, ya jaha jab nata ha.. Yazame jeb nate, ya jaha jab nata ha.. Janje suret samey ya asma, jab nata.. Janje suret samey ya asma, jab nata.. Kasih abih kisi berhaya jab nata ha.. Kasih abih kisi berhaya jab nata ha.. E jan a takut ya haa E jan a takut ya haa E tadebel tuh ritu.. Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai.. Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai Cayya cayya cayya cayya 4x A merredhil cayya cayya A merredhil cayya cayya 50

52 Cayya cayya cayya cayya 4x Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai.. Allahu.. Allahu.. alah dek Allahu.. Allahu.. Allah.. Allahu, ahai Padang pasirlah dari India Itu nan namo lagu Nan ka kami haratinyo Nan dek kami tidak tahu Karanyo iyonyo kami, bisa nan lah maniru-niru... Arjuna Minang lah India nan palsu Supayo iyo ndak jaleh artinyo dek ayah nan jo ibu...nyo Minang bahasonyo mancirutu Iyo dangalah danga bana nan dek sida nan jamu Marapalam campua garam, manih-manihlah masam Buruang balam barkatintam di dalam lah golam Marapalam campua garam, manih-manih masam Buruang balam barkatintam di dalam lah golam Ayam taluaaaa, ayam maram Masuaaak sumuaa, lah tarandam Angek kapalooo, lah mandamam Lampu matiiii, lah kalam-kalam Marapalam campua garam, manih-manihlah masam Buruang balam barkatintam di dalam lah golam Marapalam campua garam, manih-manihlah masam Buruang balam barkatintam di dalam lah golam Bahaso India jo Minang, sa lah macam ragam Bahaso India jo Minang, sa lah macam ragam eeh India jo Minang samacam ragam ba a lo ko, Da? mirip, saroman oo sarupo, kicek urang Piaman, mah ndak kalau kicek urang kadai ada persamaan ada persamaan jalehan ciek-ciek contohnyo, kalau ayam bataluah, Bahaso Indianyo, maredel nekahe ayam baparam aa kalau mangga nan ketek-ketek tu ha mangga nan ketek-ketek, Mahabatain iki marapalam, campua garam manih- manih masam kalau anak gadih jo anak bujang sadang kasmaran karehan saketek! Anak gadih jo anak bujang sadang kasmaran, bacewek-cewek, tu mahasiswa jaleh na dek nyo tu mah, itu contohnyo, mahabat neki nehi-nehi, suko maesek-esek di nan kalam-kalam Haaa kalau ndak tahu ciek juo, allahwallam Haa itu nan pakai lam, kalau nan pakai me? Nan pakai me? Aaa batu nan ketek-ketek, tua? Karekehe Haa, kalau makan nan bulek, nan snek tua? 51

53 ondeh-ondeh he Kalau induak-induak bacakak? Garumeh-garumehe Hahahah Agiah taruiih Marapalam campua garam, manih-manihlah masam Buruang balam barkatintam di dalam lah golam Bahaso India jo Minang samacamlah ragam Bahaso India jo Minang samacamlah ragam Eeeeeeee koce-koce, koce-koce coco kuch tahee Eeeee coce conde, cora tahe miradaneee Tummeree tumeree, dil haam Tummeree tumeree, dil haam... Sagitu lah dulunyo, dari kami baduo Balai bauah yo dingin, siang basamo Gadang jo ketek jo ketek Tuo jo mudo Ajo pandang pasir Jawa, nak kami arak pulo Maalok pinonton dari rantau banyak pulo Aaii tiok, tiok pilosok, mungkinnyo lah ado Ado dari Medan, Palembang, Tanjuang Karang, Lampuang Ado puloo hoooo Hoo kok nan dari di Bali di Tangerang kan ado juo.. Kalau di daerah Jowo, ado nan Ciligon, Cikini, Cipayung, Ciberan, Ciliwung ado pulo.. Ado nan di Bekasi, di Cimahi, kan adoo juo.. Ado nan di Cibubur, Cilontong, di Cimoso, Cibakwan ado pulooo Ado di Cigoreang, di Cilotek, kan ado juoo Aduh nyaik, a tantu a saleronyo eneng kene, eh neng kono Aduh kang mas irama ini, irama Minarni jo Si Minarno Oo saiki yo Mas, dewek-dewekan Oo saiki yo Mas, dewek-dewekan Ojo lalilah pie-pie, ojo lalilah pie-pie, Ora polom, ora opo-opoo Saking jawi yo mas nandi-nandi aa A sakik jawan yo mas, mlampoong-mlampoong mawon Ojok lali, ojo piwo lanang, iyo mledo asyik-asyikan Ojo lali ojo walanang aay dewek-dewekan Aduu nyaik mingkar mingkuring ukoro krompo baneng tanah Jowo Tum..tum..tum.. Yohgagiroh Kang Pruprenih ahpreni Sang Prabu Deuh uni cerita ane Haduh kang Mas, haduh nyaik melsembuyu gredekake yo kang mas Grodokkonco sontoloyo Oh, jangan bikin kecewa yo kang mas Oo saiki yo Mas, dewek-dewekan Oo saiki yo Mas, dewek-dewekan Ojo lalilah pie-pie, ojo lalilah pie-pie, Ora polom, ora opo-opoo Lintuah bana pasia Jowo 52

54 A lah dari kami nan lah baduo..... nan saketek lah dek kan panjago e nan ka mato Iyo mato kito mangantuak, supayo iyolah dek nak jago Tinggih ba a nan ka rancak, ba a bana nan lah ka sero Di...nyo lagu Minang, iyo le kan jadih juo Eh nan karano lah nyo Minang, lain pulo galeteknyo Sagalonyo io saketek mari iyo lah ka dibaok Dek mano hadirin sidang basambuah Jo lagu jo dendang di arak pulo Irama rang Minang iko namonyo Si Misramolay ndeh punyo karajo Dangakan bana ey iko bunyi nyo Den timbang, den timbang den pikia-pikia Lai den inok denai manuangkan Lai den inok, lai den manunangkan Den tanai den tanai jo gatah cayia Di dalam iyo, adiak indakkan Di dalam iyo, adiak indakkan Lah habih pikia den dibueknyo Apo sabana nyo banda di hati Den pinang bana, nyo hagak pulo Bacarai sahari raso ka mati Den pinang bana, nyo hagak pulo Bacarai sahari raso ka mati Hai pusiang den, pusiang den nan mamikiahannyo Bak cando banang kusuik tak salasai Bak cando banang kusuik tak salasai Ujuang jo pangka nan indak basuo Bilo masonyo mukasuik sampai Bilo masonyo mukasuik sampai Lah habih pikia den dibueknyo Apo sabana nyo banda di hati Den pinang bana, nyo hagak pulo Sahari raso ka mati Den pinang bana, nyo hagak pulo Bacarai sahari raso ka mati Kok lagak, kok lagak raso ka lai Ditanyo bana, baholak baliak Ditanyo bana baholak baliak Den liek, den liek manduo hati Bak cando tabali si kain cabiak Bak cando tabali si kain cabiak Itu hanyo lagu Minang dari kamilah baduo Te lili lili lili liliii lililili Te lili lili lili liliii lililili Ten dendindin teridindin tindirindindinri ririririndin ooooo oooo yeee 2x Terimalah salam yang terakhir Kuharapkan engkau tak kecewa Karena eew kita, sampai di sini 2x 53

55 Ini semua bukan kehendakku, tapi karena pilihan orangtua Sungguahku tak berdaya, lawan kehendaknya 2x oooh hooo ooo 2x ya ya yaai 2x Ternyata manusia cuma hanya bisa berencana Tetapi Tuhanlah yang maha penentu segalanya Sabarlah kasihku, Semoga dalam surga kita bertemu 2x Alah itu hiburannyo, dari kami baduo Mano hadirin sidang basamo barumuang Harilah laruik juo Lah laruik malam, yo malam Sekarang nangko nyo nan tuo, Mari ditukuak, lah ditambah juo Lai tukuak ditambah, aneka perainyo sajo Dangakan bana lah induak bunyi nyo Si Sramolai lah Molai, punyo karajo, karajo Dangakan bana lah ibo bunyinyo Timbang sabatang layua palapah iduikmarangiak indak badaun Musim pa bilo, pa bilo Lah ka babuah mamak oii, babungo indak lah sakali balun Musim pa bilo, pa bilo Lah ka babuah mamak oii, babungo indak lah sakali balun Harok maalakok ka daun siriah nak samo, masuaknyo lah ka carano Kok lai kasiah lah kasiah, lah ka balabiah mamak oii Dapeklah jantuang lah di ujuang bungo Kok lai kasiah lah kasiah, lah ka balabiah mamak oii Dapeklah jantuang lah di ujuang bungo Rusuah hati alang ka palang Patang baputiak musim bak kini Kamalah hiduik nak ka manompang Badanlah lorek lah nagari Kamalah hiduik nak ka manompang Badanlah lorek lah nagari Salah dek ayah nan punyo anak Umpamo urang mambalah batuang Sajadi kanduang dek mandeh Basilau indak mamak oii Badanlah gadang di dalam pambaduang Sajadi kanduang dek mandeh Basilau indak mamak oii Badanlah gadang di dalam pambaduang Andaleh anak rang Kudu Ka Padang basikolah lah agamo Ulah dek zaman samakin maju Tabaliak suntianglah di kapalo Ulah dek zaman samakin maju Tabaliak suntianglah di kapalo Tambusaik tambaro tampuruang dek Buyuang Alah ba lah colak abih 54

56 Lah bantuak bule masuak kampuang Labiah bacando induak dubilih Lah bantuak bule masuak kampuang Labiah bacando induak dubilih Samaso hiduik Tuangku Saliah Kepeang tindik baluabang tigo Mudo jo gaya dicari buliah Masuak di aka ditarimo Mudo jo gaya dicari buliah Masuak di aka ditarimo Rambuik nan panjang kinilah tagerai Hilang kapalo guntianglah palokaah Kadang kurenah mambaok sansai Hongoklah tibo cadiaklah tajua Kadang kurenah mambaok sansai Hongoklah tibo cadiaklah tajua...iyo baladang Palak laweh lah jarambahnyo... haaa... haa... Lah bagilo, lah nak nyo gilo Onggok padiiyo jan nyo nak labiah Nan kamulai iyo taraso Kok nan indak, nan lah panek Nan lah lapeh, ka kapalo Nan kok kaki kapocongan, nan dek duduak, lah nan baselo Nan kook lah paluah nan baciciran Lah kalapiklah iyo di dado Oy lah mari dikandakkan, aaa Ay karekahkan lah nyolah kito Nan pitangga jo pitinggia lah kan ado nan bamato... menemani... jo pamenan mato..... Padang Panjang Ah manih badan dibaok mati Kini nan tingga didamar urang woooy heee alaahh Aaaa haaa ngge e e e ek 55

57 Transkrip Indang Hidup tanpa cinta Bagai kumbang tak berbunga Hai, begitulah katanya para pujangga Hai, begitulah katanya para pujangga Ada yang dicinta, giat bekerja Entah apa, entah siapa Karena cinta, hidup sengsara Tanpa cinta hidup pun hampa Ternyata amat utama adanya cinta Hai, begitulah katanya para pujangga Hai, begitulah katanya para pujangga Bak kato murai ndeh malang yo jo lah barabah Panek bapiyuah lah bapiyuah ndeh nan jo bapilin Bak kato murai iyo lah jo barabah Panek bapiyuah lah bapiyuah ndeh malang nan jo bapilin Murai yo manampak yo manampak si kaki ula nde malang Kato barabah o ayaik indak ka mungkin Mere man ki gangga E mere man ki jonaka Kato barabah nan kanduang indak ka mungkin Alah basorak-sorak dakek oi urang banyak Batanyo-tanyo ondeh ka pandan oh bubuah lambiak Batanyo-tanyo ondeh ka pandan oh bubuah lambiak Sajak kapatang do lai patang kami lah tau Baso umua sapandan duo nan tabaliak Mere man ki gangga E mere man ki jonaka Baso umua sapandan duo nan tabaliak Patuik tampuo indak ka namuah Tagak deh puyuah yo kurang malin Patuik tampuo indak ka namuah Tagak deh puyuah si kurang malin Dijapuik bundo nde kanduang yo pi mandoa nde malang Buruang banyak e tu banyak ka tukang amin Mukadimah tak guno lai dipapanjang dek kami Diulang-ulang nan rancak curito lain Oi bak kato.? dek ayah rueh jo buku Rang pinang gadang ndo gadang..? dek adiak Rang pinang gadang ndo gadang..? dek adiak???? Kalau rang karek nyo pinang kok nyo tacakiak Mere man ki jangga E mere man ki janaka Kalau nan kareh rang pinang nyo tacakiak 56

58 (musik) Olai bareh nan putiah nde malang kan lah batampih Ndak baa atah kini lai ka diisiak Ndak baa atah kini lai ka diisiak O lai badarok bantuak e rang pauah kamba Lunak basudu bunyi e kareh batukiak Mere man ki jangga E mere man ki janaka Lunak basudu ka kawek kareh batukiak Diulang-ulang baliak carito rang anduriang nan kanduang Kami baduo jak malam badogarah-garah Diulang-ulang baliak carito yo rang anduriang ndi malang Kami baduo jak malam badogarah-garah Sadobalun ayaik turun ka nabi Muhammaik kato e Sabalun tuhan nan kanduang badonamo Allah Sabalun langik nan kanduang baduhantam kateh nde malang Sabalun bumi buni mahantam ka bawah Apo tonggak e ko lah bumi nan baagiah Mangko kini e tu bumi indak barubah Mungkin sairiang kato kami tungkek jo tugah Itu di dalam baru ka ado limu Allah Ndak baa tu doh nan kanduang rang pinang gadang Kok nyampang iyo pukamba tinggi badariak Kok nyampang iyo pukamba tinggi badariak Olai nan bedo lalok kubang bungkuak tiado badendangkan Tapi babuaian beko jo kain cabiak Mere man ki jangga E mere man ki janaka Lamo babuaian beko jo kain cabiak Kasiah kami ka urang di kubang bungkuak nde malang Mungkin di dalam baru ka ilimu Allah Kasiah kami ka urang di kubang bungkuak nde malang Mungkin di dalam ka ado ilmu Allah Oalah tapi tuangku nde malang iko nan manyabuik kakak oi Antah tambo tu ko lah antah tambo tulah sejarah Olah Kaba barito barito nan kami dapek Kaba-kaba e tonggak e iyo kulimah Supayo ndak tau bana kakak ilalang gadang nan kanduang Kana-kana je do angok kateh ka bawah Oalah nan ka ateh kecek urang yang manyabuik hu kak kanduang Nan ka bawah gaati mado manyabuik Allah Olai nan bedo lalok tetapi tido badendangan Tapi babuaian beko jo do kain cabiak heeei Tapi babuaian beko jo kain cabiak Lah duo malam ndo lah kami di dobalah aia Raso taambuih nde suliang indak badiriak heeeee Mere man ki jangga E mere man ki janaka 57

59 Raso baambuih nde suliang indak badiriak Jadi sawindu lah itu dulu Jo rang anduriang bagarah garah Jadi sawindu lah itu dulu Jo rang anduriang bagarah garah Olah kalau diwinok diwinok ko dimanuangan nan kanduang Dek kubang bungkuak ado lo nan manyosa Kok bagandiang gunuang nde kakak oi samo gunuang Nan takuik nampak lah randah e si domungu sawah Alah dari dahulu dahulu di pinang gadang Ndak diimbau e anduriang sabalah diri ooii Ndak diimbau e anduriang sabalah diri Lah bakumpua-kumpua nde kito di dokubang bungkuak Baramulo e disiko alek tajadi heeeee Mere man ki jangga E mere man ki janaka Baramulo e disiko alek tajadi Jadi dahulu kek kakak ilalang gadang Dialiah carito lu kek nan lain Alah jadih dahulu kek kakak ilalang gadang Dialiah lo dek kami cadorito lain Kek rang pauah kamba kami ado batanyo dek malam Nan jo rundiang nan malam tu do kami kirin Olah Sajak tolongan kato kami tu do di sam pulau pauah kamba Li baa juo ko lah ko batang ombilin Alai mangko diimbau dolah bana ilalang gadang Rumah gadang kubang do bungkuak nyolong baunyi Rumah gadang kubang do bungkuak nyolong baunyi Olai antah malapehan kolah niaik jo naza Kapalo mudo tu kini lah sanang hati heeeeei Mere man ki jangga E mere man ki janaka Kapalo mudo lah kini lah sanang hati Lah sajak tolongan puah kamba oi di sampulau Li baa juo tu ko lah batang umbilin Lah sajak tolongan puah kamba oi di sampulau ndi malang Li baa juo ko lah batang umbilin Kato bajawok dek malang dek pinang gadang Ka kubang bungkuak di e tu rundiang bakirin Tiok nan kalam kecek e lah sudah tarang Sajak di singkarak buni baputa masin Elai mangko dijapuik yo lai bana urang anduriang Kubang bungkuak e alek di???? Kubang bungkuak e alek di???? Olai nan malang nasib do lah nasib urang ulakan Ilalang gadang yo gadang nan barajaki heeeeei Mere man si jangga 58

60 Hola mere man ki janaka Ilalang gadang nde gadang nan barajaki Nan kalam iyo kini ko sudah taranag Sajak di singkarak baputa masin Kok nan kalam e yo memang lah sudah tarang di puah kamba Sajak di singkarak baputa masin Oalah tapi nan takuik kami tu rang kubang bungkuak Kek puah kamba jo rundiangan jo do kami kirin Oalah kok nyampang lubuak baeko jadi talatak puah kamba Kama ikan bilih lai pai bamain Oalah kok tibo bana gaati di batang kuantan puah kamba Mungkin habih baunyuikje dek ikan patin Oalai kami batanyo batanyo kek ilalang gadang Li baa juo tu kini tu jua bali ooi Li baa juo tu kini tu jua bali ooi Ola dapek pagi je nyo jo ilang patang Disinan bana anduriang baibo hati heeei Mere man si jangga E mere man ki janaka Disinan bana anduriang baibo hati Kok nyampang tibo ikan bilih di batang kuantan puah kamba Mungkin habih baunyuik je dek ikan patin Kok tibo yo ikan bilih di batang kuantan puah kamba Mungkin habih baunyuik je dek ikan patin Oalah kok lalu pulo misa e ka batang anai puahkamba Mungkin batamu pulo e tu aia asin Li ndak ka baa gaati dek pinang gadang Alamaik ikan manjadi si lauak asin Oala nan elok nasib kato e rang kubang bungkuak Kalau dipatuik kato e.?? heeeiii Kalau dipatuik yo patuik kato e.??. O lain pulo e carito rang pinang gadang Rang kubang bungkuak nyo sabuik salero tinggi heeeei Mere man si jangga E mere man ki janaka Rang kubang bungkuak nyo sabuik salero tinggi Yo jadi sawindu lah itu dulu Di aliah-aliah lai parundiangan Lah jadi sahinggo nde kanduang la itu dulu Oalah dialiah aliah dek kami lai parundiangan Diagiah baliak tembak tu bailamaik Suatu pandang dibari lai batujuan Batanang tanang panonton rang koto tinggi Disambuang balik carito keri jo kanan Oalai itu nan nampak gaati dek dibaliak timba Badan kami e dek la kami rang koto tinggi heeei Badan kami e dek kami rang koto tinggi 59

61 Kok ndak tau bana nan kanduang baliak batimba Kubang bungkuak e dek pandai mambaokan diri heeeeiii Mere man ki jangga E mere man ki janaka Kubang bungkuak e dek pandai mambaokan diri Basaba hati karek an rang pinang gadang Ka induriang baliak e diengongan Basaba hati nan kanduang pauah kamba Ka ilalang gadang tu baliak kami engongan Kok didanga nasib e yo rang anduriang Tamanuang-manuang je kami rang sapangkalan Dek indak dapek kecek e siriah di dado Mangko barangguik an je tu siriah di laban Oalah lah ko nak tau na rahasio e di baliak timba Danga dangalah carito rang koto tinggi heeeei Danga dangalah carito rang koto tinggi Olah kok manjamua e do lai tantu wakatu paneh Kok mambukak e kan lah jaleh tu di nan rami heeeeeei Mere man ti jangga Hola mere man ti janaka Kok mambukak e kan lah jaleh tu di nan rami Barangguik an je kecek e siriah dilaban buni e Dek yolah indak do dapek siriah di dado Olah barangguik an je buni e siriah di laban kecek e Dek indak dapek buni e siriah di dado Jaik jalujua dek anduriang bakaoan kato e Pado e cabiak ndeh malang indak batumbok Kakak kanduang kami dimalang ilalalang gadang Kalali mancunto juo ka o dokek nan elok Kok rugi bana rang dokubang di do buah cingkeh kakak oi Dek kulik manih kan lai kadulua apoko Tapi nan malang tu puyuah indak bajangkia nampak e Kadahan bana gak sulik kadotampek inggok (musik) Kok dikana nde malang tu paruntuangan yak uhu uik Aia mato e dek kami jatuah mancucue Olah aia mato e ndeh malang jatuah mancucue Ancua luluah yo luluah dagiang jo tulang Mandanga ombak do yo ombak sipasia-pasia sunua Oi lah mandanga ombak do yo ombak sipasia sunua Alah kana dikana ndeh malang Dunsanak lah... Aia mato e ndeh malang mako jatuah badarai oooii Aia mato e ndeh malang jatuah badarai Pastilah putiah uban ondeh malang 60

62 23:47 23:50 Mukasuik indak la indak yo kunjuang sampai La ola mukasuik indak balaindak yo kunjuang sampai Lalok sakalok nan kanduang tut buliah mimpi yak uhuhuui Ta dosentak- sentak la kami nan ndo jago tidua Tasentak-sentak ndo kami nan do jago tidua Digumam-gumam aia di daguik alun Musin pabilo tu kok lah ka dodagang lulua Kok winok-diwinok la dimanuangan yak uhuhuii.. Pikiran bana dek kami bacampua baua 24:55 25:12 Mangko kadapek yo lah dapek yo lai kami pakai Mangko ka dapek yo lah dapek yolaikami pakai (alat musik) Kalamu kadipahee..tu indak Tu di padang panjang oogowooguwoou Di doayun lenggang do lai baliak diasak jalan Di di doayun lenggang do lai baliak diasak jalan Alah batanag-tanang panonton Amanahlah aia douwouwoou Lah dijapuik e carito kiri jo kanan Aai lah dijapuik e carito kiri jo kanan Ooo risaulaiii.. Didalam pasa lubuak aluang jalan kurita tujuah lampih Disinan tatagun oto sabab bapakai ampang-ampang Dilaman kantua mak oi..oii..rang nagari O cubolah pikia o dek nan kanduang iyouuiii...gajai Oi siang malam rintang jo tangih Daulu kami cameh kayo Kini lah payah salang tenggang oi Oiyulah...takabua..oiyulah.. Takabua modal lah mati oi Gadih sawindu dikami yoduwitu dulu yak ooii Diulang baliak dek kami bado lambok-lambok Diulang baliak dek kami bado lambok-lambok Ndak disambuang oi carito baliak batimbang dimalam Urang nan banyak sabanta di domintak anok Bak a namuah e dak mulai kami turuikan tu baliak Asali manuju do juo ko dokek nan elok Alah kan dijapuik e carito baliak pasimpang iyo Lai acara pokok ndeh malang rang sapangkalan Ooi acara pokok ndeh malang rang sapangkalan Alai sawah laweh e dolai lai di dokubang bungkuak Iyolai bajak tasabuik tasabuik dek rang sapadan Aii bajak tasabuik tasabuik dek rang sapadan Ilalang gadang manyabuik untuang parasaian Dek malam ka bakek kito nde malang nan duo yo nggok 61

63 Kabakek kito nde malang nan duo yo nggok Kok disabuik kecek e yo untuang anduriang buni e Antah buruek e kecek e antah mo elok Dek indak dapek ndeh malang siriah di laban Rang rangguik an je bunie siriah di dado Alai sawah laweh e do lai laweh dek rang sapangka Iyolah badan tasabuik-tasabuik lai sapadan Oii badan tasabuik-tasabuik lai sapadan Lai bantiang gapuak e lai gapuak ilalang gadang iyo lai Sabana banyak lai banyak tu kapandaian Oii sabana banyak lai banyak tu kapandaian Kato bajaok di nan kanduang urang di pukamba Dek tadi kami mandanga-mandanga sambia manonggok Kami mandanga tu tadi sambia manonggok Ilalang gadang kan pato sadiang ditangan kecek e Intai-intailah sipaku tu do nan tacogok Kato bajaok dek kakak ilalang gadang Urang anduriang takuik sipaku dokok nyo bengkok Alah dipanan rusuak dolai kami rang kubang bungkuak iyolai Sawah nan alun juo lai tu balapean Oii sawah nan alun dolai juo alah palapean Alai antah kok dima jikok lah silang siliek e iyolai Antah kok bajak dek bantiang ndak taeloan Antah dek bajak dek bantiang ndak taeloan Anggak kurang namuah nampak e ilalang gadang kecek e Nan takuik buni sipaku ko kok e bengkok Nan takuik buni sipaku ko kok e bengkok Manga ragu lo lai kakak ilalang gadang Nan kareh kan ado kakak oi si paku tembok Mambana pokok tu kami urang dikubang Nan ndak buliah ditokok kak oi si paku atok Olai dima ko lah e do lai do lah silang siliek e iyolai Antah ko kamba karajo tu agak anggan Oii antah ko kamba karajo tu agak anggan Ola nan rusuah kami do lai kami rang balang arie iyolai Kok nyampang tuo do lai baniah dipanyamaian Oii kok nyampang tuo do lai baniah dipanyamaian Ado juo lai carito rang pinang gadang Dek tadi tamanuang-manuang je kami dimanyimak an Tamanuang-manuang dek kami dek manyimak an Olah tasamo tadanga gak ati dek rang banyak nde malang Tantang pakaro di sampulau ado torongan Alah turun gai kecek e aia dari singkarak kecek e Libak a kluo ko lah ampang ando lah sikayan Olah jan ragu-ragu pak lambuang rang pitan gatan iyolai Ragu jo caro oi beko tu diduduak an 62

64 Oii ragu jo caro le beko tu diduduak an Ola sungkuik-sungkuiklah dolah bantiang yo urang anduriang iyolai Baok kasawah dolai kami rang sapangkalan Oii baok kasawah dolai kami rang sapangkalan Nan kanduang kami nde malang rang pauah kamba Lai ndak bak ado ampang-ampangan do di singkayan Lai ndak bak ado ampang-ampangan di do sikayan Batanyolah pauh kamba tu yo urang kayu rang ndeh malang Lai manjadi juo tinih nyo pataunan Kan samo nampak di nan kanduang rang pauah kamba Padi rang pasia laweh ditokoh kacok bakadaian Olai katidahlu-dahulu ditandan itu tiok lai Kalain pulo lah pulo lai ka dibilang Oii nan lain pulo ka lapulo tu nan ka dibilang Olanan kanduang kami dola kami baliak batimba iyolai Bia sapadan-sapadan jo alek datang Oii bia sapadan-sapadan jo alek datang Lai ndk barubah ampang-ampangan do di sakaeh pukamba Lai mandapek juo disinan do pembangunan Lai mandapek juo disinan pataunan Rang pauah kamba nde malang ka do mungkin tau Ado ampek duo padi e ado lo sokan Dima-dima e kini lai kadai tabukak Ola ka bungo galeh tu dek yo urang tu balatakan Ala nan kanduang kami dola kami baliak batimba iyo lai Rang pauah kamba la kamba ilalalang gadang Oii rang pauah kamba oi kamba ilalang gadang Ondeh lah duo malam dola kito di dokumbang bungkuak iyolai Samo dia ajak lai ajak pangka basilang Oii samo diajak lai ajak pangka basilang Kalo nan padi nde malang lai manjadi Ado ampek duo nan kanduang ado lo sokan Ado ampek duo nde malang adolo sokan Dima-dima kini ko kadai nan rami nde malang Kado bungo galeh dek yo urang tu do balatakan Kok lai butuh lo misae do pauah kamba nde malang Rang kumbang bungkuak mungkin namuah lo maagiahan Oi lai samo diaagak yolai agak rang do balah aia olah lah layia Kubang bungkuak e dobungkuak tolong ditenggang Oii kubang bungkuak e dobungkuak tolong ditenggang Ola jan ragu-ragu bak etong baliak batimba iyolai Salagi dapek disiko bakain panjang Oii salagi dapek disiko bakain panjang Sambuang-sambuanglah dek nan kanduang rang pauah kamba Ola nan kok duduak e nde malang tu la disapadan Nan kok duduak kok duduak ko do disapadan Ndak sanang bana hati e rang koto tinggi 63

65 Olah yo to baa namuah beko tolong kaoan Sabab lah gak banyak pukamba o jo buah jatuah Olah nama nan nampak bak e ko tolong kampuangan 64

66 65

67 66

68 67

69 68

70 69

71 70