MENTERII

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MENTERII

Transkripsi

1 MENTERII<EUANGAN REPUBLlI< INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 118/PMK.Oll/2012 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK DALAM RANGKA ASEAN-KOREA FREE TRADE AREA (AKFTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang a. bahwa dalam rangka meningkatkan kerjasama ekonomi secara menyeluruh antar negara-negara anggota ASEAN dan Republik Korea, Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Kerangka Kerja mengenai Kerjasama Ekonomi Menyeluruh Antar Negara-Negara Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan Republik Korea (Framework Agreement on The Comprehensive Economic Cooperation Among The Government of The Members Countries of The Association of South East Asian Nations and The Republic of Korea) dengan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2007; b. bahwa untuk menindaklanjuti persetujuan kerangka kerja sama sebagaimana dimaksud pada huruf a, Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Perdagangan Barang dalam Persetujuan Kerangka Kerjasama Ekonomi Menyeluruh Antar Pemerintah Negara-Negara Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan Republik Korea (Agreement on Trade in Goods Under the Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation Among The Government of The Members Countries of The Association of South East Asian Nations and The Republic ofkorea) dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2007; c. bahwa berdasarkan modalitas yang termuat dalam persetujuan sebagaimana dimaksud pada huruf b, telah dijadualkan skema penurunan tarif bea masuk dalam rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA); d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c diatas, dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 17 Tahun 2006, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Dalam Rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA); v

2 MENTERIKEUANGAN REPUBLH< INDONESIA Mengingat Memperhatikan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia. Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2007 tentang Pengesahan Framework Agreement on The Comprehensive Economic Cooperation Among The Government of The Members Countries of The Association of South East Asian Nations and The Republic of Korea (Persetujuan Kerangka Kerja Mengenai Kerjasama Ekonomi Menyeluruh Antar Pemerintah Negara-Negara Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan Republik Korea) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 51); 3. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pengesahan Agreement on Trade In Goods Under The Framework Agreement on The Comprehensive Economic Cooperation Among The Government. of The Members Countries of The Association of South East Asian Nations and The Republic of Korea (Persetujuan Perdagangan Barang Dalam Persetujuan Kerangka Kerja Mengenai Kerjasama Ekonomi Menyeluruh Antar Pemerintah Negara-Negara Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan Republik Korea) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 52); 4. Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010; 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213/PMK.Oll/2011 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor; Surat Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 1916/M-DAG/SD/12/2011 tanggal 30 Desember 2011; MEMUTUSKAN : Menetapkan PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK DALAM RANGKA ASEAN-KOREA FREE TRADE AREA (AKFTA).

3 MENTERI IKEUANGAN REPUBUK indonesia Pasal 1 (1) Menetapkan tarif bea masuk atas impor barang dari negara Republik Korea dan negara-negara ASEAN dalam rangka A SEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA), sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (2) Terhadap penetapan tarif bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku ketentuan sebagai berikut: a. Penetapan tarif bea masuk sebagaimana tercantum dalam kolom (5) dan kolom (6) Lampiran, merupakan besaran tarif bea masuk dalam rangka ASEAN- Korea Free Trade Area (AKFTA) atas impor barang dari semua negara-negara anggota. b. Penetapan tarif bea masuk sebagaimana tercantum dalam kolom (5) Lampiran, mulai berlaku pada tanggal Peraturan Menteri ini diundangkan sampai dengan tangga131 Desember c. Penetapan tarif bea masuk sebagaimana tercantum dalam kolom (6) Lampiran, mulai berlaku pada tanggall Januari d. Penetapan besaran tarif bea masuk sebagaimana tercantum dalam kolom (7) Lampiran, merupakan besaran tarif bea masuk dalam rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) atas impor barang dari negara Republik Korea sebagai penerapan asas timbal balik. e. Dalam hal terdapat penetapan tarif bea masuk untuk pos-pos tarif pada kolom (5) dan kolom (6) sebagaimana dimaksud pada huruf a yang juga ditetapkan pada kolom (7), atas impor barang dari negara Republik Korea berlaku besaran tarif bea masuk sebagaimana tercantum pada kolom (7) sebagaimana dimaksud pada huruf d. Pasa12 (1) Pengenaan bea masuk berdasarkan penetapan tarif bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Tarif bea masuk dalam ra;ngka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) yang Iebih rendah dari tarif bea masuk yang berlaku secara umum, hanya diberlakukan terhadap barang impor yang dilengkapi dengan Surat Keterangan Asal (Fonn AK) yang telah ditandatangani oleh pejabat berwenang di negaranegara bersangkutan;

4 MENTERIKEUANGAN REPUBUK indonesia b. Importir wajib mencantumkan nomor referensi Surat Keterangan Asal (Form AK) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan kode fasilitas dalam rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA), pada pemberitahuan impor barang; c. Lembar asli dari Surat Keterangan Asal(Form AK) dalam rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) sebagaimana dimaksud pada huruf a, wajib disampaikan oleh importir pada saat pengajuan pemberitahuan impor barang sebagaimana dimaksud pada huruf b di Kantor Pabean pada pelabuhan pemasukan; dan d. Dalam hal tarif bea masuk yang berlaku secara umum lebih rendah dari tarif bea masuk dalam rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) sebagaimana tercantum dalam Lampiran, tarif yang berlaku adalah tarif bea masuk yang berlaku secara umum. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman teknis untuk melakukan penelitian terhadap Surat Keterangan Asal (Form AK) dalam rangka pelaksanaan ketentuan mengenai Rules of Origin dalam rangka ASEAN-Korea Free Trade Area, diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasa13 Ketentuan dalam Perattlran Menteri ini berlaku terhadap barang impor yang dokumen pemberitahuan impor barangnya telah mendapatkan nomor pendaftaran dari Kantor Pabean pelabuhan pemasukan. Pasa14 Direktur Jenderal Bea dan Cukai diinstruksikan untuk melaksanakan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini. Pasa15 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 236/PMK.Oll/2008 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Dalam Rangka ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200/PMK.Oll/2009, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasa16 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

5 MENTErll ICEUAr\lG/\N FlEPUIJUJ, If\lDONE81A Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengull1uluan Peraturan Menteri I{euangan ini dengan penelupatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tal"lgga110 Juli 2012 MENTERIKEUANGAN, ttd. AGUS D.W. MARTOWARDOJO Diundangkan di Jakarta pada tanggal10 Juli 2012 MENTERI HUKUM DAN I-IAK ASASI MANUSIA, ttd. AMIR SYAMSUDIN BERITA NEGARA TAHUN 2012 NOMOR 697 Salinan sesua~anaslinya KEPALA Bj.>"..."tlt,M ~ l'i,.. ~'.". "',.,r',--...iu"o "'- /l.};. ~opr,:!4;,. KEPAL i ~ '\ t:/, ~ '~ T.U. ~~, ENTERIAN.~-..,~.,;..:1' t -._--., '\ ~.is,. ~~''''-_W.l\}~! ' r",~ 1.- / Ci,,, I ' \ \...- _~_/;ir } GIART '\(~~.~,,,? (J ',~, 1'.7:1--. '->...i.~.,. ',/.;f~ A NIP 1959~,~~~~/;fi:~~~' :::::.~::::.:::-~

6 '1EPUBLIK INDONESIA LAMPlRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 118/PMK.Oll/2012 TENTANG PENETAPAN TARIF SEA MASUK DALAM RANOKA ASEAN KOREA FREE TRADE AREA (RPMK AKITA) BEAMASUKATAS Bea Maluk AKFfAI POSISUB POS AKITA Import Duty.. HEADING/ KOREA/IMPORT DUTY (2 (3) (4), Kuda, keledai, Hg.l dan hlnnl., hldup. Live horsa.,..., mulel and hlnnla. - Kuda: - Ho,,"s: Bibit - - Pure-bred breeding animels 0101, L.ln-Iain Ketedai: - Auea: Bibit - Pure-bred breeding anim Lain lain , Lain-lain Other BII'I&U1ng hldup )sinl. I.mbu. Uve bovine.nimals, - Sapi: - Cattle: I ,00 _ Bibit - : Pure-bred breeding animall : Other Sapl jantan (leltt1asuk lembu): Mate celtle (Including oxen): Lembu Oxen. I L.ln-Iain Othar, Kerbau: - Buff.lo: Biblt - - Pure-bred breeding anlmall Lain-laIn Lain-lain: - Other:, , Bibil - Pure-bred br86ding animals ,90,90.00 Lain-lain 01,0) Blbl hldup. Uve.wlns ,00 - Blbit - Pure-bred breeding animals - Lain-lain: - Other: ,91,00, Beral kurang dan 50 kg - - Weighing len than 50 kg, Berat 50 kg atau lebih - - Weighing 50 kg or more 01.M Blrt-birt dan kambing, hidup. Uve.h..p and gostl. 01Q Bin-bin: - Sheep: , Bibit - - Pure-bred breeding animals, 0104,10, Lain laln Kambing: - Goets: " _ Blblt - - Pure-bred breeding animals " " " " , " 0105, , 0105, , , 0105, ,99, , Ung" hld~, y.!tu Iylm dln,pell a.lfu. dam-tlcui, bebllk, Ina", L.lWI poultry, that I, to Ay, fowl, of the spec B.llua domntlcui, kllkun din 'ylm guln... dueo, g..., turkey. and gul.,.. fowls. - Berat lidlk I.blh dan 185 g: - Weighing not more than 185 g: - - Aylm dari spesle. GU$ domestlcus: _ Fowls of th. speele. GUI do,tlcus; Aylrn bib~ dlng fowls Kalkun: - Turkeys: Kalkun bibil - - _. Braeding lurt;,y Laln.J,ln - - Other _ - Sebek: Ducks: Bebek blblt Breeding ducklings - Lain-lain _ Other An"..: - - Geeae; - MgS' bib!! - Breeding goslings Lain-lain Other - Ayllm guinea: Guinea fowls: - - AYlim guinea bibit Breeding guinea fowls LairHaln: - Other. - Ayam dan spesies Gill/uS domesticus: - Fowls of the species Gill/us domesticlis: Ayam bibil, lelain ayam sabung - - Breeding fowll, other than fighting coclls Ayam sabung - - Fighting cocks - : - : - - Berat kurang dan 2 kg Weighing not more than 2 kg Olller Lain-lain: Bebek blblt Breeding ducks - - Bebek lainnya - - Other duckt Mgsa, kalku n dan ayam guinea, bibit Breeding geese, turkeys and guinea fowls Angsa, kalkun dan ayam guinea lalnnya - geese, turkeyl and guinea fowls Blnatang hldup IllnnYI, Other live anlmll. _ Binatlng menyu,ui: _ Mammlls: - - pilmata - Primates - lken paul, lumba-iumba dan porpoise (binatlng menyusui dan ordo - Whales, dolphin. and porpoises (mammels of the order.cetacea): Cetacea): manale dan dugong (binatang menyuaui dan OrdO Sirenia): manatael and dugongs {mammals of the order Sirenia}; lilli" sea lions anjing laut, singalaut dan bel\lang laut (mamalia dan sub OrdO Pinnipedia) and wall\lses (mammals of the suborder Plnnipedia) ,13,00.00 _ - Unta din unta cemalid!alnnya (Came/idlle) , Kelinci dan hare _. Lan-lain Binttang melata (termaluk u!ar dan penyu) - - Camels Ind other cemellds (Came/idee) - - Rabbits Ind hare. - ReptIles (Including snekes.nd turtl..)

7 -2- POS/SUB POS NO. HEADINGI SUBHEADING " ") " (3) Burung: - Burung pemangsa - P$lttacJformes (Iennasuk burung Beo. Parkll, Mac;;aw dan Kakatua) - - Burung unla; emu (Droma/us novaahollandiae) Serangga: - Lebah - - Laln lain - lain-lain 02,01 Diving blnatlng jenls lembu, segar ltau dlngln Karllas dan selengah karllas Polongan daglng lainnya. bertulang Daglng tanpa tulang Oaglng bln_ng jenlslembu, baku. Karkas dan setengah karkas - Poiongan daging lalnnya. bertulang - Oaglng Iinpa tulang (') Birds; - - Birds of prey - - PslttadfofTTles (Inc;;ludlng parrots, parakeets, mac;;aws and c;;oc;;kaloos) - - Oslrlc;;hes: emus (Droma/us novaehollandiae) - Other Insects: - Bees - - Olher Other Meat of bovine Inlmals, fresh or chilled. - Carcasses snd hllf c;;arcasses Other cutswllh bone in - Boneless Meat of bovine anlmll" fronn. Carcasses and half-earcasses - Olher cuts with bone In Boneless BEAMASIlKATAS Bea Masuk AKFTAI lmpor BARANG DARI AKFTA Import DUl}' KORKA I IMPORT DUTY FROM OREA 5, PI 0 11 / Oaglng blbl, Mgar, dlngln atau baku. - Segar alau dlngln: - - Klrkas dan selengah karkas - - Paha, bahu dan polongannya, bertulang Lain-lain - Beku: Karkas dan selengah karkas - - Paha. bahu dan polongannya, bertulang Lain-lain Melt of swine, fresh, chiliad or fronn. - Fresh or c;;hllled: - - Carcasses and half'carcasses - - Hams. shoulders and c;;uts thereof, wllh bone In - Other - Frozen: - - Carcasses and half-carcasses - Hams, shoulders and c;;uls thereof, with bone In - Other , Oaglng blrl blrl etau kamblng, segar, dlngln ltau baku. Karkas dan setengah karkas dan blri bln muda, segar etau dlngln Oaglng lainoya dari blri-biri. segar alau dlngin: Karkas dan setengah karkas - - Potongen daglng lalnnya, berlulang - Daging Ianpa tulang Karkas dan selengah karkas dari blrl-bln muda, beku Daglng lainnya dan biri bln. beku: Karkas dan setengah karkss Potongan daging lainnya. bertulang - Daglng tanpa tulang Daglng k.amblng Daglng kuda, keledal, bagal atau hlnn", aegar, dlngln atau baku. Meat of sheep or goal$;, fre.h, chilled or fronn. - Carcasses and halkarcasses of lamb, fresh or c;;hilled - Other meat of sheep. fresh or c;;hllled: - - Carcasses and Ilalf-earcas.ses cuts with bone In - Boneless - Call:asses and half carcasses of lamb. frozen - Other meat of sheep, frozen: Carcasses and half-carcasses Other cuts with bone in - - Boneless - Meal of goats Meat of hones, asses, mula. or hlnnles, fresh, chilled or frozen SI,a Ylng dlplt dlmakan dlrl blnltang Jenls lembu, blbl, blrl-blrl, Edible offal of bovina animal.,.wlne, sheep, golts, horses, asms, mula. kimbing, kuda, keladll, bagal.tlu hlnnle, Mgar, dlngln atau baku. or hlnn"a, fresh, chilled or frozen. " , Dari blnalang jenis lembu, segar atau dlngln Of bovine animals, fresh or chilled {)% - Dari blnatang jenls lembu, beku: Of bovine animals, frozen: - - Lldall - Tongues - Hat! - - livers - - Laln lain - - Otller - Dari babl, segar atau dlngin Of swine, fresh or Chilled - Dari bebl. boku: Of swlno, frozen: - - Hati - - Livers - lain-lain - Other - Lain-lain, segar atau dlngin - Other. fresh or c;;hilled - Lain-lain. beku Other, frozen " Oaglng dan aillanya 'yang dlplt dlmakan, darl..gar, dlngl" atau beku. - Dan ayam spesles Gallus dof/1fjsllcus: Tidak dlpotong menjadl baglan baglan, segar atau dlngln - - Tidak dlpotong menjadl baglan-baglan, beku - - Potongan dan slsanya, segar atau dlngln - - Potongan dan slsanya, beku: Sayap - Paha - Hall - - lain-lain: Daging yang dlhllangkan lulangnya atau dlplsahkan dengan mesln Laln leln Oari kalkun: - Tldak dlpotong menjadi bagian-baglan, seger etau dingln Tldak dlpotong menjadl baglan-baglan, beku " Potongan dan slsanya, segar atau dlngln " Potongan dan slsanya, beku: - Hall ungga. darl pos 01.05, Meill and edible offal, of the poulb'y of!leldlng 01.05, fresh, chilled or frozen. Of fowls of the spedes Gallus domest/cus: NO\'cut In pieces, fresh or chilled Not cut In pieces, frozen Cuts and offal, fresh or chilled - Cuts and offal, frozen: Wings Thighs - - Livers - : - - Mechanlc;;ally deboned or separaled meat - Other - Of turkeys: - Not Cui In pleo::es. fresh or chilled Not cut In pieces, frozen - Cuts and offal, fresh or cl1ltled - - Cllts and offal, frozen: - - livers 2 5% ~

8 - 3- POSISUB POS NO. HEADING! I (2) " (3) - Lain-lain; Oaglng yang dlhilangkan tulangnya atau diplsahkan dengen mesln La.in-Iain Dan bebek: - TIdak dlpotong menjadl blglan-baglan, segar alau dingln - Tidek dipotong menjadl begien-baglan, beku - - Hatl beriemak, segar atau dlngln - - Laln.laln, segar atau dingin - - Laln laln, beku Dan angsa: - - TIdak dlpotong menjadl baglan-baglan. segar alau dingln - - Tidak dlpotong menjadl beglan bagian, beku Hatl beriemek, segar atau dlngin - Laln leln, segar al8u dingin Lain-lain, beku - Oari ayam guin!!e (4) - : - - Me<:hanically d!!boned Of separated meat - - Other - Of ducks: - - Not cut in pieces, fresh or chilled - - Not cut In pieces, fro:!;en - - Fatty livers, fresh or chilled Other, fresh or chilled Other, frozen - Ofgeese: - Not cut in pieces. fresh or chill!!d Not cut In pieces, fro:!;en - - Fatty livers, fresh Dr chilled - Other. fresh orchilled, frozen Of guinea fowls Bell MIsuk AKFTAJ AKFTA Import Duty , 6 0'% BHAMASUKATAS KOREA! IMPORT DUTY Olglng din sl.lnyi ylng dapat dlmakan darl blnatang 11Ilnnya, Muar, Other meat and edible meat offal, fresh, chilled or frozen, dlngln atau beku. Oarl kellnci alau hare - Of rabbits or hares - Oari primala Of primates Oari Ikan paus,lumba-lumba dan porpoise (binatang menyusul darl ordo - Of whales, dolphins and porpoises (mammals of the order Celacell): of Cetacea); manate dan dugong (blnalang menyusui dan ordo Siren!a menatees and dugongs (mammals of the order Sirenle); of seals, sea lions anjlng laut, slnga laut din beruanglaut (mamalla dllri sub ordo P/nnlpedla); and walruses (mammals of the suborder Plnnlpedla): Dar! lkan paus, lumba-iumba dan porpoise (blnatang menyusul derl ordo whales, dolphins and porpoises (mammals of the order Cetacea); of Cetacea): dan menate dan dugong (blnal8ng menyusul darl ordo Siren/a) manatees and dugongs (mammals of the order Siren/a) MO Dan blnal8ng melala (termasuk ular dan penyu) Dan un!a dan camelid lainnya (CameNdae) - Lain-lain: , Paha kodok , ,00,00 Other Of reptiles (including snakes and turtles) - Of camels and other cemelids (Came/idae) Other: - - Frogs' legs - Other Lemak babl tanpa daglng dan lemak ungga., tldak dlcalrkan atau PIg f.t, free of lean meat, and poultry fat, not rendered or otherwise dlekltraksl dangsn cara lain, segar, dlngln, baku, dlaslnken, dalam air axuactad, fresh, chilled, fro:l:ln, lalted,ln brine, dried or smoked. garam, dlkllrlngkan atau dla.apl. - Oarl babl - Lain-lain Ikan hldup. - lken hlas: - Air!swar: Benin ikan - Lain-lain: Ikan koi (Cyprinus carpio) Ikln mas kokl (CarBSs/us auratus ) Ikln cupang eduan (Bata splandens) - - lkan oscar (Astono/us ocel/a/us) - Of pigs Other 02,10 Caging dan al.anya yang dapat dlmakan, dlaalnkan, dalam air garam, Meat and edible meat offal, aalllld, In brine, dried or smoked; edible floul'$ dlkerlngkan atau dlaaapl; tepung dan tapung ka.ar darl daglng dan and mllala of meat or meat offal. alaanya yang dapat dlmakln, Oaglng bab]: Meat of swine: Paha, bahu dan potongannya, bertulang - - Hems, shoulders and cuts thereof, with bone in , Perut (streaky) dan potongannya - _ Bellies (streaky) and cuts thl!lreof La!n-Ialn: Other: Bacon al8u paha,l8npa tulang Bacon or boneless hams Other ,00 - Oaglng blnal8ng fenis lembu - Meat of bovine animals - Lain-lain, termasuk tepung dan tepung kasar dari daging atau slsenya yang - Other, including edible flours and meals of meat or meat offal; dapat dimakan: , Oerl prlmata Of primates Oari Ikan paus,lumba-lumba dan porpoise (binal8ng menyusul dati ordo Of whales, dolphins and porpoises (mammals of the order Cetacea): 01 Cetacea): manate den dugong (blnatang menyusul dar! ordo Sirenia manatees end dugongs (mammals of the order S!renia); of seals, sea anjing laut. slnga laut dan beruang laut (mamalla dari sub ordo lions and walruses (mammals of the suborder Plnnlpl!ldia): Pinnipedla ): Oari Iklln paus, lumba-iumba dan porpoise (blnatang menyusul darl ordo Of whales, dolphins and porpoises (mammals of ttle order Cetacea); of Cetacea): dari menate dan dugong (blnatang m!!nyusul dari ordo manatees end dugongs (mammals of the ordl!lr Sirenia) Siren/a) ,99 - Laln_leln - Oarl blnatang melata (termasuk uler den penyu) - Lain-lain: - Other - Of repwes (Including snakes and turtles) - Other: ,99.10, Daglng ayam dipotong berbentuk kubus, dikeringkan beku Freeze dried chicken dice Kulit babl dlkerlngkan - Oned pork SkIn Lain_lain - 03, ,11, ,11, , , ,11.95, , Ikan l!liwal'\lll (Scleropages formosus): Ikan arwllna merah Live fl.h. Omamenlal fish: - - Freshwater: - - Fry Other: Koi carp (Cyprinus carpio) Goldfish (Carass/us auratus) Siamese flghtlng fl9h (&l/a spjendens) - - Oscers (Astono/us ocella/us) - Arowanas (SclfHOpages formosus): - - Rad Arowanas % 5% 5% 5% ~

9 -4 - fosfsub POS NO. HEADING/, (3) (4) LaIn-lain: Other: lkan botia (Botla macraeantha) Bo~a (Bot/a rrnilcfaean/ha) lkan dlsl;us (Symphlsodon discus) - - Discus (Symphisodon discus) Lsln-Iain Olt1er : - _ Other: Benlh lkan Fry Other - Ikan hidup lainnya: _ Olt1er live fish: lkan trout (Salmo lrot/a, Oncorhynchus mykiss, Oncorhynchus clarki, - Trout (Sa/mo fruita, Oncorhynchus mykiss, Oncorhynchus clarki, Oncorhynchus aguaboni/a, Oncorhynchus g/iae, Oncorhynchus apache Oncorhynchus aguabonlla, Oncorhynchus gilae, Oncorhynchus apache dan Oncorhynchus chtysogaster) and Oncorhynchus cllrysogasfer) Belut (Anguilla spp.) - - Eels (Anguilla spp.) lkan karper (Cyprinus earpio, Carasslus earassius, C/Mopheryngodon - - Carp (Cyprlnus carpio, Carass/us carass/us, Ctanopharyngodon iriel/us, Ida//us, Hypophfha/michlhys spp., Cirrhlnus spp., MyJopharyngorion Hypoph/helmich/hys spp., Cirrhinus spp., Mylopharyngorion piceus): piceus): Blblt, selaln banih ikan - - Breeding, other than fry lkan tuna slrlp biru Atlan~k dan Paslfik (Thunnus thynnus, Thunnus - - Atlantic and Pacific bluefin tunas (Thunnus Ihynnus, Thunnus orianla/is): orian/alls ): lkan tuna ship blru Atlantik (Thunnus fhynnus) Atlantlc bluefin tunas (Thunnus thynnus) Ikan tuna sirlp biru Pasifik (Thunnus orlantall) Pacific bluefln tunas (Thunnus orlan/all) lken tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyli) Southern bluefin tunas (Thunnus maccoyii) : Other: Banlh ikan bandeng atau lapu-iapu: Mllkflsh or lapu-iapll fry: Bibit Breeding lain lain Othar Benlh ikan laionya: Other fish fry: Blbit Breeding lain-lain Other Ikan laut lainnya: Other, marine fish: Ikan bandeng. blblt _ Mllkflsh, breeding Lain lain: Other: Kerapu (Cromlleptes ali/veils; EpiTlfJphalus hen/ochus; Ep/nephelus Kerapu (Cromileptas altivells; Epinaphaius han/ochus; EpiTlfJphalus Merra; Epinephalus /auvina; Caphalophodls Boenack: Merra; EpiTlfJphalus fsuvina; Cephalophod/s BOansclf; Plectropomus Laoparbus) Pleetropomus Leoparbus) Other , Ikan air tawar: - _ Other, freshwater fish: Ikan tllapia (Oraocromis n/iolicus) Tllapia (Oreocromis nilotlcus) Lain-Jain Other 03, Ikan, segar atau dlngln, tldak terma.uk potongan Ikan tanp. tulang dan FI.h, trash or chilled, a.eludlng flah fillets and otl'hlr fish me.t of heading daglng Ikan lalnnya dar! POI Ikan salem (salmonidae).lldak termasuk hati dan telur. _ Salmonidaa. excluding livers and roes: - - [ken trout (Sa/mo lrolts, Oncorhynchus mykiss, Oncorhynchvs cjarlfi, - - Trout (Sa/mo /rulta, OncorhynchUS mykiss, Oncorhynchus clarki, OnCOf1lynchus aguabonils, Oncorhynchus g1188, Oncorhyncus apacha Oncorhynchus aguabonlla, Oncorhynchus g/iea, Oncorhynchus apache dan Oncorhynchus chty8{)gasler) and Oncorhynchus chrysogaster) - - Ikan salem Pacifik (Oncorhynchus nerks, Oncorhynchus gorbuscha, - - Pacific salmon (Oncorhynchus nerka, Oncorhynchus gorbuscha, Oncorhynchus Ifata, Oncorhynchus tschawytscha, Oncorhynchus Iflsufc, Oncorhynchus /(a/a, Oncorhynchus /schawytscha, Oncorhynchus kisutch, oncorhynchusmasou dan Oncorhynchus rhodurus) Oncorhynchus masou and Oncorhynchus rhodurus) Bell Masuk AKFTAI AKFTA Import Duty DEA MAi)UK ATAS IMPOR BARANG DARt KOREA I IMPORT DUTY ON GOODS~~::~TED FROMK % 5%. 5% 5% MfN MfN MfN MfN 1 MfN MfN lkan salem Atlantik (Sa/mo salar) dan Ikan salem Danube (Hucho hucho): - - Atlantic salmon (Sa/mo sa/ar) and Danube salmon (Hucho hucho): ' lkan salem Atlantik (Sa/roo safar) lkan salem Danube (Hucho hucho) Atlantic salmon (Sa/mo safar) Danube salmon (Hucho hucho) - Ikan pipih (P/aurooodldae, Both/rise, Cynoglossldae, So/eldaa, - Flat fish (Plauronectldaa, Bothidaa, Cynoglossidae, Sote/riae, Scophlhatmldaa dan Cltharidsa), tidak termasuk hall dan telur: Scophlhatmldaa and Cilharidaa), excluding livers and roes: - - HlIlibut (Re/nhardtius hippogiossoidas. Hlppoglossus hippoglosus, - Halibut (RfllnharcJllUs hlppoglossoldes, HippoglolSsulS hlppogjossus, Hippoglossus stenolapis ) - - Ikan plaice (Plauronectes pia/essa) - - Iklln sole (Solea spp, ) Hippoglossus stanolepis ) - - Plaice (Pleuronedes ptatessa) - - Sole(Soleaspp.) - - Ikan Turbots (Psat/a maxima) - - Lllin-Illin - lkan tuna (darl genus Thunnus), cakalan9 atau strlpe'bellied (Euthynnus (Kalsuwonus) pelamis), tidak termasuk hati dan telur: - - Ikan albacore atau tuna sirlp panjang (Thunnus alalunga) - - Iklm tuna sirlp kunlng (Thunnus albacares) - - lkan cakalang atau stripe-ballied bonito - - Ikan tuna meta basar (Thunnus obesus) - - Ikan tuna sirip blru Atlantlk dan Pasifik (Thunnus Ihynnus, orlantalls ): - - Turbots (Psetla maxima) bonito - Tunas (of the genus Thunnus). skipjack or strlpe-beillad bonito (Euthynnus (Kalsuwonus) palamis), excluding livers and roes: - - Albacore or longfinned tunas (Thunnus alalungs) - - Yellowfin tunas (Thunnus a/baeares) - - Skipjack or stripe-bellied booito - - Blgeye tunas (Thunnus obesus) Thunnus - - Atlantic and Pacific bluefin tunas (Thunnus Ihynnus, Thunnus orlentalis): lkan tuna sirip biru Attantik (Thunnus thynnus) - - Atlantic bluefin tunas (Thunnuslhynnus) lken tuna slrlp blru Paslfik (Thunnus orianlall) _ _ Pacific bluefin tunas (Thunnus orientalis) - - lken tuna sirip biru Selatan (Thunnus maccoyii) - Southam bluefin tunas (Thunnus maccoyii) Other - Ikan herring (elupea harengus, Clupea pallasii), terl (En9raulls spp.). sarden - Herrings (C/upea harengus, C/upaa pallas/i), anchovies (EngrauiiS spp.), (Ssrdina pilchardus, Sardlnops spp.), Sllrdlnella (Sacdinella spp.j, brisling sardines (Sardina pilcharcjus, SarcJlnops spp.), slirdlnalie (SarcJinf~I/8 spp,). atau sprats (Sprattus sprattus), makaral {Scomber scombrus, Scomber blisling or sprats (Spraltus sprat/us), mackerel (Scombar scombrus, aulslrelnicus. Scomber Japonlcus), makaral jack dan makaral kuda Soombar ausirall!llsiculs, Scomoor japonlcus), jack and hort;e mackerel (Trachurus spp.). cobia (Rachycentron eanadum) dan todak (Xlphias (Trachuros spp.), cobia (Rachycenlron canadum) and swordfish (Xiphias gladlus), tldak termasuk hatl dan telur: gladius), excluding livers and roes: 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% MfN MfN MfN MfN MfN MfN MfN MfN Ikan herring (Clupea harengus, Clupaa pallas/i) Ikan teri (Engraulis spp.) - - Herrings (Clupaa harangus, C/upea pallas/i) - - Anct10vies (Engraulls spp.)

MENTER' KEllANGAH IlEPlAlllK INDONESIA SAUNAN. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20B/PMK.Oll/2012 TENTANG

MENTER' KEllANGAH IlEPlAlllK INDONESIA SAUNAN. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20B/PMK.Oll/2012 TENTANG ~, MENTER' KEllANGAH IlEPlAlllK INDONESIA SAUNAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20B/PMK.Oll/2012 TENTANG PENETAPAN TARIF' SEA MA$UK DALAM RANGKA ASEAN TRADE IN GOODS AGREEMENT (ATIGAI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG TINDAKAN KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN TERHADAP PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA PENYAKIT HEWAN KARANTINA DAN ORGANISME

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN

SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN Sumber informasi di presentasi ini: A Field Guide to the Indo-Pacific Billfishes Julian Pepperell and Peter Grewe (1999) Beberapa

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PMK.010/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PMK.010/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PMK.010/2015 TENTANG PENGENAAN BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN TERHADAP IMPOR PRODUK I DAN H SECTION DARI

Lebih terperinci

SALINAN MENTERI NOMOR DENGAN. Pembuatan. elektronika. barang. terhadap. impor. c. bahwa. telah memenuhi. Komponen. dan bahan. Bea Masuk.

SALINAN MENTERI NOMOR DENGAN. Pembuatan. elektronika. barang. terhadap. impor. c. bahwa. telah memenuhi. Komponen. dan bahan. Bea Masuk. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58/PMK. 011/2013 TENTANG BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN GUNA PEMBUATAN KOMPONEN

Lebih terperinci

KATEGORISASI TINGKAT RISIKO MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA (HPIK)

KATEGORISASI TINGKAT RISIKO MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA (HPIK) KATEGORISASI TINGKAT RISIKO MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA (HPIK) Kementerian Kelautan dan Perikanan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Pusat Karantina

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/PMK.010/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/PMK.010/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/PMK.010/2015 TENTANG PENGENAAN BEA MASUK ANTI DUMPING TERHADAP IMPOR PRODUK SPIN DRAWN YARN (SDY) DARI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK. 011/2012 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK. 011/2012 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK. 011/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 176/PMK. 011/2009 TENTANG PEMBEBASAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44/PMK.04/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44/PMK.04/2012 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 44/PMK.04/2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 147/PMK.04/2011 TENTANG KAWASAN BERIKAT SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN MENTERI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/PMK.010/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/PMK.010/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/PMK.010/2015 TENTANG PENGENAAN BEA MASUK ANTI DUMPING TERHADAP IMPOR PRODUK PARTIALLY ORIENTED YARN (POY)

Lebih terperinci

TENT ANG TATA LAKSANA IMPOR BARANG DARI NORTHERN TERRITORY AUSTRALIA KE DAERAH PABEAN INDONESIA SELAIN PULAU JAW A DAN SUMATERA

TENT ANG TATA LAKSANA IMPOR BARANG DARI NORTHERN TERRITORY AUSTRALIA KE DAERAH PABEAN INDONESIA SELAIN PULAU JAW A DAN SUMATERA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 177/PMK.04/2010 TENT ANG TATA LAKSANA IMPOR BARANG DARI NORTHERN TERRITORY AUSTRALIA KE DAERAH PABEAN INDONESIA SELAIN PULAU JAW A DAN SUMATERA DENGAN RAHMA T TUHAN

Lebih terperinci

SALINAN TENTANG PERATURAN. cukai yang. Nomor 2007 MENTERI KEUANGANN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN TENTANG PERATURAN. cukai yang. Nomor 2007 MENTERI KEUANGANN REPUBLIK INDONESIA, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 156/PMK.04/ /2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 111/PMK.04/2008 TENTANG PEMBERITAHUAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 188/PMK.04/2010 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 188/PMK.04/2010 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 188/PMK.04/2010 TENTANG IMPOR BARANG YANG DIBAWA OLEH PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS, DAN BARANG KIRIMAN

Lebih terperinci

PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR Oleh: M.Husni Amarullah Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Wikipedia: free encyclopedia (2012) Launching Program Kuliah Umum Ma had Aliy - Ponpes Madinatunnajah, Tangerang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 139/Permentan/PD.410/12/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 139/Permentan/PD.410/12/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 139/Permentan/PD.410/12/2014 TENTANG PEMASUKAN KARKAS, DAGING, DAN/ATAU OLAHANNYA KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Fisheries Resources Laboratory Jakarta Fisheries Univ.

Fisheries Resources Laboratory Jakarta Fisheries Univ. METODE PENETAPAN JUMLAH TANGKAPAN YANG DIPERBOLEHKAN (JTB) UNTUK BERBAGAI JENIS SUMBERDAYA IKAN DI WPP-NRI 1 Oleh : Heri Triyono 2 TOTAL ALLOWABLE CATCH (TAC) METHOD FOR MARINE FISHERIES RESOURCES IN FISHERIES

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2035

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2035 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2035 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 162/PMK.03/2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 162/PMK.03/2014 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 162/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT KETERANGAN BEBAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERLAKUAN KEPABEANAN, PERPAJAKAN, DAN CUKAI SERTA TATA LAKSANA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI SERTA BERADA DI KAWASAN YANG

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Tuna (Thunnus sp.) Menurut Saanin (1984), ikan tuna berdasarkan taksonominya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Filum : Chordata Subfilum

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN Produk perikanan merupakan salah satu jenis pangan yang perlu mendapat perhatian terkait dengan keamanan pangan. Mengingat di satu sisi, Indonesia merupakan negara maritim

Lebih terperinci

PENGATURAN PERDAGANGAN BEBAS DALAM ASEAN-CHINA FREE TRADE AREAL (ACFTA) DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA

PENGATURAN PERDAGANGAN BEBAS DALAM ASEAN-CHINA FREE TRADE AREAL (ACFTA) DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA PENGATURAN PERDAGANGAN BEBAS DALAM ASEAN-CHINA FREE TRADE AREAL (ACFTA) DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh: SRI OKTAVIANI

Lebih terperinci

MARKET BRIEF PRODUK OLAHAN IKAN (PREPARED & PRESERVED FISH) DI BOSNIA HERZEGOVINA

MARKET BRIEF PRODUK OLAHAN IKAN (PREPARED & PRESERVED FISH) DI BOSNIA HERZEGOVINA MARKET BRIEF PRODUK OLAHAN IKAN (PREPARED & PRESERVED FISH) DI BOSNIA HERZEGOVINA INDONESIAN TRADE PROMOTION CENTER BUDAPEST - HUNGARY 2014 H-1051 Budapest, Bajcsy Zsilinszky Út. 12, 1st Floor No. 101

Lebih terperinci

DAMPAK PENETAPAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA TERHADAP KEBUTUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI PROVINSI JAWA TENGAH

DAMPAK PENETAPAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA TERHADAP KEBUTUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI PROVINSI JAWA TENGAH 885 Dampak penetapan target peningkatan produksi... (Erlania) DAMPAK PENETAPAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA TERHADAP KEBUTUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI PROVINSI JAWA TENGAH

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG JENIS DAN ATAS YANG BERLAKU PADA KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI S A L I N A N KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP - 61 /BC/2000 TENTANG TATACARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-50/BC/2009 TENTANG TATALAKSANA PEMBAYARAN PENERIMAAN NEGARA DALAM RANGKA

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perairan Indonesia merupakan perairan yang sangat unik karena memiliki keanekaragaman Cetacea (paus, lumba-lumba dan dugong) yang tinggi. Lebih dari sepertiga jenis paus

Lebih terperinci

SALINAN /2013 NOMOR TENTANG NOMOR. Penerimaan. Penyetorann. administrasi. mendukung. dalam. negara, perlu tentang 30/PMK.04/ Negaraa. Denda.

SALINAN /2013 NOMOR TENTANG NOMOR. Penerimaan. Penyetorann. administrasi. mendukung. dalam. negara, perlu tentang 30/PMK.04/ Negaraa. Denda. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30/PMK.04/ /2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 213/PMK.04/2008 TENTANG TATA CARA

Lebih terperinci

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/M-DAG/PER/7/2011 TENTANG

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/M-DAG/PER/7/2011 TENTANG MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/M-DAG/PER/7/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 45/M-DAG/PER/9/2009

Lebih terperinci

HANDLING SEAFOOD 1 DARI 10. 2003, IGA Institute DOCUMENT NUMBER: 07-04-01 SECTION: PENANGANAN SEAFOOD DAN SANITASI DEPARTEMEN SEAFOOD

HANDLING SEAFOOD 1 DARI 10. 2003, IGA Institute DOCUMENT NUMBER: 07-04-01 SECTION: PENANGANAN SEAFOOD DAN SANITASI DEPARTEMEN SEAFOOD DAN SANITASI HANDLING SEAFOOD Kontrol penanganan dan suhu yang tepat sangat penting dari saat pertama panen sampai saat penyiapannya, untuk meminimalkan turunnya kualitas ataupun rusak. Praktek penanganan

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMESANAN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU DIREKTUR

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) atau skipjack tuna menurut taksonominya diklasifikasikan sebagai berikut (Saanin

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.15/MEN/2011 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU KEPUTUSAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memperkaya jenis dan varietas serta menambah sumber plasma nutfah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Lampiran I Jalan Jenderal A. Yani Telepon : 4890308 Jakarta - 13230 Faksimili : 4890871 Kotak Pos 108 Jakarta - 10002 E-Mail :.. Nomor : SR- /BC/. Tgl, bln, thn Hal : Pemblokiran Perusahaan Kepala Kantor

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN, SALINANN TENTANG. telah diubah PERATURAN BAB I. Pasal 1

MENTERI KEUANGAN, SALINANN TENTANG. telah diubah PERATURAN BAB I. Pasal 1 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINANN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMORR 160/PMK.04/2010 TENTANG NILAI PABEAN UNTUK PENGHITUNGANN BEA MASUK DENGANN RAHMATT TUHAN YANG MAHA ESAA MENTERI KEUANGAN,

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, SAUNAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/PMK.06/2013 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, SAUNAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/PMK.06/2013 TENTANG SAUNAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 1/PMK.06/2013 TENTANG PENYUSUTAN BARANG MILIK NEGARA BERUPA ASET TETAP PADA ENTITAS PEMERINTAH PUSAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 132/PMK.011/2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 132/PMK.011/2014 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 132/PMK.011/2014 TENTANG BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN GUNA PEMBUATAN PERALATAN

Lebih terperinci

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /11/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /11/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /11/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU, CAKRAM OPTIK KOSONG, DAN CAKRAM OPTIK ISI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG MENTERI KEUANGAN SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 238/PMK.03/2012 TENTANG SAAT LAIN SEBAGAI SAAT PEMBUATAN FAKTUR PAJAK ATAS PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DENGAN KARAKTERISTIK TERTENTU DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P- 35/BC/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.30/MEN/2012 TENTANG USAHA PERIKANAN TANGKAP

Lebih terperinci

KONDISI PERIKANAN TANGKAP DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN (WPP) INDONESIA. Rinda Noviyanti 1 Universitas Terbuka, Jakarta. rinda@ut.ac.

KONDISI PERIKANAN TANGKAP DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN (WPP) INDONESIA. Rinda Noviyanti 1 Universitas Terbuka, Jakarta. rinda@ut.ac. KONDISI PERIKANAN TANGKAP DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN (WPP) INDONESIA Rinda Noviyanti 1 Universitas Terbuka, Jakarta rinda@ut.ac.id ABSTRAK Aktivitas usaha perikanan tangkap umumnya tumbuh dikawasan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, bahwa Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-08/BC/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 38/PJ/2009 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 38/PJ/2009 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DIREKTUR JENDERAL PAJAK, PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 38/PJ/2009 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DIREKTUR JENDERAL PAJAK, Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan adanya penyempurnaan Bagan Perkiraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGANREPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDARBIAYATAHUN ANGGARAN2013 DENGAN RAHMATTUHANYANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEUANGANREPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDARBIAYATAHUN ANGGARAN2013 DENGAN RAHMATTUHANYANG MAHA ESA \ ~ENTERIKEUANGAN IEPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGANREPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 /PMK. 02/2012 TENTANG STANDARBIAYATAHUN ANGGARAN2013 DENGAN RAHMATTUHANYANG MAHA ESA MENTERI KEUANGANREPUBLIK

Lebih terperinci

- 2 - Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2013 MENTERl KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO

- 2 - Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2013 MENTERl KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2013 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN HIU PAUS (Rhincodon typus) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. DIREKTUR JENDERAL ttd. DR.RB PERMANA AGUNG D. MSc. NIP. 060044475

Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. DIREKTUR JENDERAL ttd. DR.RB PERMANA AGUNG D. MSc. NIP. 060044475 PETUNJUK PELAKSANAAN PEMUNGUTAN BEA MASUK ANTI DUMPING TERHADAP IMPOR SORBITOL CAIR (D-GLUCITOL) DARI UNI EROPA (Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai No.SE-12/BC/2001 tanggal 20 April 2001) 1.Sdr.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BATAS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA DI BAGIAN BARAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF ACTS OF NUCLEAR TERRORISM (KONVENSI INTERNASIONAL PENANGGULANGAN TINDAKAN TERORISME

Lebih terperinci

-1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-5 /BC/2011

-1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-5 /BC/2011 -1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-5 /BC/2011 TENTANG TATA LAKSANA PEMBERITAHUAN MANIFES KEDATANGAN SARANA

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PENGHITUNGAN DASAR PENGENAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN

Lebih terperinci

BAB III PRASARANA DAN SARANA Pasal 7

BAB III PRASARANA DAN SARANA Pasal 7 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PERMEN-KP/2013 TENTANG SISTEM PEMANTAUAN KAPAL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN,

TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.011/2008 TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PENGENAAN BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN SEMENTARA TERHADAP IMPOR TEPUNG GANDUM

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PENGENAAN BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN SEMENTARA TERHADAP IMPOR TEPUNG GANDUM MENTERIKEUANGAN REPUBlIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 193/PMKOll/2012 TENTANG PENGENAAN BEA MASUK TINDAKAN PENGAMANAN SEMENTARA TERHADAP IMPOR TEPUNG GANDUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER ATAU DOKTER GIGI DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER -17 /BC/2012 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER -17 /BC/2012 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER -17 /BC/2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN

Lebih terperinci

KEMUNDURAN MUTU IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PENYIMPANAN SUHU RENDAH DENGAN PERLAKUAN CARA KEMATIAN DAN PENYIANGAN

KEMUNDURAN MUTU IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PENYIMPANAN SUHU RENDAH DENGAN PERLAKUAN CARA KEMATIAN DAN PENYIANGAN KEMUNDURAN MUTU IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PENYIMPANAN SUHU RENDAH DENGAN PERLAKUAN CARA KEMATIAN DAN PENYIANGAN Quality Changes of Tilapia Fish (O. niloticus) by Killing Techniques and Gutting

Lebih terperinci

25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL. Variasi. Risoles. Indriani

25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL. Variasi. Risoles. Indriani 25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL Variasi Risoles Indriani 25 RESEP KUE PALING LAKU DIJUAL Variasi Risoles Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama, Jaka 25 RESEP KUE PALING LAKU

Lebih terperinci

Fasilitas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone)

Fasilitas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone) Fasilitas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Batam OUTLINE PEMAPARAN 1 2 PENGANTAR PEMASUKAN DAN PENGELUARAN

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG PELIMPAHAN KEWENANGAN PENERBITAN PERIZINAN DI BIDANG PERDAGANGAN LUAR NEGERI KEPADA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/PMK.04/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/PMK.04/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/PMK.04/2015 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 69/PMK.04/2009 TENTANG PENUNDAAN

Lebih terperinci

ASEAN CHINA FREE TRADE AREA

ASEAN CHINA FREE TRADE AREA ASEAN CHINA FREE TRADE AREA A. PENDAHULUAN ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) merupakan kesepakatan antara negaranegara anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan

Lebih terperinci

-1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN

-1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN -1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN Menimbang DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Dengan ini mengajukan permohonan Izin Praktik untuk dapat melakukan pekerjaan sebagai Konsultan Pajak.

Dengan ini mengajukan permohonan Izin Praktik untuk dapat melakukan pekerjaan sebagai Konsultan Pajak. LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/PMK.03/2014 TENTANG : KONSULTAN PAJAK FORMAT SURAT PERMOHONAN IZIN PRAKTIK KONSULTAN PAJAK : Nomor :... (1)... Perihal : Permohonan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 45 /BC/2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENELITIAN ULANG TARIF

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 19/Permentan/OT.140/4/2009 TENTANG SYARAT DAN TATACARA PENDAFTARAN PAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 19/Permentan/OT.140/4/2009 TENTANG SYARAT DAN TATACARA PENDAFTARAN PAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 19/Permentan/OT.140/4/2009 TENTANG SYARAT DAN TATACARA PENDAFTARAN PAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa dengan Keputusan Menteri

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF BAGI TENAGA KESEHATAN, PENYELENGGARA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN, PENYELENGGARA SATUAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA 17/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA 17/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 45/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.276, 2012 KEMENTERIAN PERTANIAN. Persyaratan. Karantina. Tumbuhan. Perubahan PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/Permentan/OT.140/3/2012 TENTANG

Lebih terperinci

Irin Iriana Kusmini, Rudy Gustiano, dan Mulyasari. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Jl. Raya Sempur No. 1, Bogor E-mail: brpbat@yahoo.

Irin Iriana Kusmini, Rudy Gustiano, dan Mulyasari. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Jl. Raya Sempur No. 1, Bogor E-mail: brpbat@yahoo. 507 Karakteristik truss morfometrik... (Irin Iriana Kusmini) KARAKTERISASI TRUSS MORFOMETRIK IKAN TENGADAK (Barbonymus schwanenfeldii) ASAL KALIMANTAN BARAT DENGAN IKAN TENGADAK ALBINO DAN IKAN TAWES ASAL

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 07 /BC/2007 TENTANG PEMERIKSAAN FISIK BARANG IMPOR DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan hubungan Negara Republik Indonesia dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH )

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 30/BC/2009 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 30/BC/2009 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 30/BC/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 21/ PER/M.KOMINFO/10/ 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA SERTIFIKASI DAN PERMOHONAN PENGUJIAN ALAT/PERANGKAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: 1. bahwa berdasarkan kenyataan sejarah dan cara pandang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI JANGKA PANJANG TAHUN 2012-2025 DAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2012-2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menteri Perindustrian Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 114/M- IND/PER/l0/2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA SEPEDA RODA DUA SECARA WAJIB DENGAN

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG NOMOR 25/BC/2009 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG NOMOR 25/BC/2009 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 25/BC/2009 TENTANG BENTUK DAN ISI SURAT PENETAPAN, SURAT KEPUTUSAN, SURAT TEGURAN,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2000 TANGGAL 21 DESEMBER 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2000 TANGGAL 21 DESEMBER 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2000 TANGGAL 21 DESEMBER 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN

Lebih terperinci