ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

Save this PDF as:
Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK"

Transkripsi

1 ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK SKRIPSI EKA PUSPITASARI H DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 i

2 RINGKASAN EKA PUSPITASARI. Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan ANNA FARIYANTI). Indonesia memiliki potensi dan peluang yang sangat baik untuk menjadi salah satu negara eksportir buah-buahan tropis di dunia. Salah satu jenis buah tropis yang sedang dikembangkan dan memiliki prospek yang cukup bagus adalah belimbing. Kota Depok merupakan salah satu wilayah sentra produksi belimbing di Indonesia, khususnya untuk wilayah Jawa Barat. Belimbing di Kota Depok lebih dikenal dengan belimbimg dewa. Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor 718/Kpts/TP.240/8/98, belimbing dewa merupakan salah satu komoditas buah unggulan Kota Depok yang berasal dari varietas dewa baru. Pemerintah Kota Depok pun telah menjadikan belimbing sebagai icon kota sejak tanggal 21 Juli Dalam rangka mengembangkan agribisnis belimbing di Kota Depok serta memanfaatkan peluang pasar yang tercipta karena adanya era perdagangan bebas maka belimbing dewa di Kota Depok mulai dipersiapkan untuk dapat menembus pasar internasional. Namun, untuk dapat menembus pasar internasional maka komoditas belimbing dewa di Kota Depok dituntut untuk memiliki dayasaing agar mampu bertahan dan bersaing dengan produk-produk sejenis yang terdapat di mancanegara. Pemerintah memiliki peran yang strategis dalam membantu kemajuan agribisnis dan peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian mengenai analisis dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing dewa di Kota Depok penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini antara lain (1) menganalisis dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok, (2) menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok, dan (3) menganalisis dampak perubahan harga buah belimbing, upah tenaga kerja, harga pupuk dan jumlah output belimbing yang dihasilkan terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Penelitian ini dilakukan di Kota Depok, tepatnya di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa Kota Depok merupakan salah satu sentra produksi belimbing di Indonesia khususnya untuk wilayah Jawa Barat serta pemilihan Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Pancoran Mas merupakan sentra produksi utama belimbing di Kota Depok dan Kecamatan Cipayung merupakan wilayah hasil pemekaran Kecamatan Pancoran Mas yang juga merupakan sentra produksi belimbing di Kota Depok. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2010 hingga Juni Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan terhadap pedagang input pertanian, kelompok tani, lembaga pemasaran dan lembaga penunjang secara purposive serta pengambilan sampel terhadap petani yang dilakukan dengan teknik simple random sampling. Penelitian ini menggunakan alat analisis Policy Analysis Matrix (PAM) untuk mengukur tingkat dayasaing melalui indikator keunggulan komparatif dan kompetitif serta dampak kebijakan pemerintah pada suatu sistem komoditas. ii

3 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang merupakan indikator dayasaing. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis yang menunjukkan nilai keuntungan privat dan sosial yang bernilai positif yaitu Rp ,00 per hektar dan Rp ,00 per hektar serta nilai Private Cost Ratio (PCR) dan Domestic Resources Cost Ratio (DRC) yang lebih kecil dari satu yaitu sebesar 0,88 dan 0,87. Dengan demikian, komoditas belimbing dewa di Kota Depok diindikasi memiliki peluang ekspor yang cukup besar serta mampu bersaing dengan komoditas sejenis dari produk impor yang ada di dalam negeri maupun komoditas sejenis di mancanegara ketika dilakukan kegiatan ekspor. Kebijakan pemerintah terhadap output mampu mendukung peningkatan keunggulan kompetitif (dayasaing) komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Hal ini terlihat dari nilai transfer output yang positif yaitu Rp ,00 per hektar dan Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 1,74. Namun kebijakan pemerintah terhadap input justru menurunkan keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa, sehingga kebijakan pemerintah terhadap input produksi sejauh ini belum mampu mendorong peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian. Hal ini terlihat dari nilai transfer input dan transfer faktor yang positif yaitu Rp ,00 per hektar dan Rp ,00 per hektar serta Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) lebih dari satu yaitu 1,99. Sedangkan, kebijakan pemerintah terhadap input-output pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok telah dapat melindungi petani belimbing dewa di Kota Depok secara efektif. Sehingga kebijakan pemerintah terhadap input-ouput mampu mendukung pengembangan dan peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Hal ini terlihat dari nilai transfer bersih yang bernilai positif yaitu Rp ,00 per hektar serta Effective Protection Coefficient (EPC) sebesar 1,74, nilai Profitability Coefficient (PC) sebesar 1,70 dan nilai Subsidy Ratio to Produsers (SRP) sebesar 0,05. Jika terjadi penurunan jumlah produksi sebesar 10 persen, peningkatan harga tenaga kerja sebesar 20 persen dan harga pupuk anorganik sebesar 10 persen dapat menurunkan keunggulan komparatif dan kompetitif (dayasaing) komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Sedangkan penurunan harga output sebesar 15 persen dapat membuat komoditas belimbing dewa di Kota Depok tidak lagi memiliki dayasaing. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas belimbing, pemerintah membantu kredit modal kerja kepada Puskop sebagai lembaga pemasaran resmi yang dapat menjaga kestabilan harga belimbing di tingkat petani, menambah personil penyuluh pertanian agar penyuluhan kepada petani dapat dilakukan secara intensif dan efektif, memberi stimulus agar pabrik pengolahan belimbing yang telah dibangun menggunakan dana bantuan Program Pendanaan Kompetisi Akselerasi Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM) dapat segera beroperasi. Selain itu, Puskop sebaiknya memperbaiki sistem pembayaran kepada para petani serta membentuk unit usaha pengadaan input produksi dan memberikan kredit input produksi kepada petani. iii

4 ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK EKA PUSPITASARI H Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 iv

5 Judul Skripsi Nama NIM : Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok : Eka Puspitasari : H Menyetujui, Pembimbing Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si NIP Mengetahui, Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP Tanggal Lulus : v

6 PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Oktober 2011 Eka Puspitasari H vi

7 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Eka Puspitasari, dilahirkan di Cimanggis, Depok pada tanggal 25 Maret Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Supratoyo dan Ibunda Elasji. Penulis menyelesaikan taman kanak-kanak di TK Islam Pondok Duta pada tahun 1994, kemudian menikmati pendidikan dasar di SD Islam Pondok Duta hingga kelas 4 caturwulan pertama, kemudian penulis pindah sekolah dan menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Tugu VI pada tahun 2000 dan semasa SD aktif dalam kepengurusan Dewan Penggalang Pramuka SD Negeri Tugu VI. Pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2003 di SLTP Negeri 8 Depok dan semasa SMP penulis aktif sebagai pengurus OSIS dan paskibra SLTP Negeri 8 Depok. Kemudian pendidikan lanjutan menengah atas diselesaikan di SMA Negeri 106 Jakarta pada tahun 2006 dan semasa SMA aktif dalam kepengurusan OSIS serta Club Green House SMA Negeri 106 Jakarta. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di IPB melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Pada tingkat dua di IPB, penulis diterima di Departemen Agribisnis sebagai program Mayor (S1) dan Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan sebagai program keahlian minor. Selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi, penulis aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Penulis merupakan salah satu pencetus dan pendiri IASI (Ikatan Alumni Seratus Enam-IPB) pada tahun 2006, staf acara Journalistic Fair 2007, sekretaris Banking Goes to Campus Plus 2008, PJAK Orange FEM 2008, sekretaris Green In Action 2008, sekretaris Politik Ceria 2008, Sekretaris Kabinet Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor tahun dan Sekretaris Biro Bisnis dan Kemitraan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor tahun Penulis berkesempatan menerima Beasiswa Indosat tahun 2007, Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik tahun 2009 dan Beasiswa Korea Exchange Bank tahun Pada tahun 2010, penulis bersama rekan-rekan mulai mengembangkan kewirausahaan minuman berbasis kefir dan buah-buahan dengan branding Fruttyfir yang didanai oleh DIKTI melalui Program Kewirausahaan Mahasiswa yang dilaksanakan oleh CDA-DPKHA IPB. vii

8 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala berkah dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. Penelitian ini dilakukan atas dasar keinginan yang besar dari penulis untuk melakukan penelitian di kota kelahiran penulis. Terkait dengan penelitian yang dilakukan, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana tingkat dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah yang telah dilakukan selama ini terhadap komoditas belimbing dewa yang merupakan komoditas unggulan serta icon Kota Depok. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terkait maupun para pembaca sehingga dapat menambah pengetahuan dan cakrawala keilmuan kita. Bogor, Oktober 2011 Eka Puspitasari viii

9 UCAPAN TERIMAKASIH Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. 2. Ibu Karwati, Pak Yoyo, Mas Adam, Mba Lisa, Mba Anis, dan seluruh staf Dinas Pertanian Kota Depok yang telah bersedia memberikan arahan, informasi dan data serta pendampingan selama penulis melakukan penelitian di lapang. 3. Pak Nanang, Bang Darmuji, Pak Marulloh, Pak Yusribal serta seluruh anggota Kelompok Tani Kali Licin dan Layungsari atas kesediaan waktu dan bantuannya dalam penyediaan data dan informasi yang dibutuhkan serta pendampingan selama penulis melakukan penelitian di lapang. 4. Pak Suhaemi, Mas Zainul, Mba Dwi dan seluruh karyawan Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop) atas kesediaan waktu dan bantuannya dalam penyediaan data dan informasi yang dibutuhkan oleh penulis. 5. Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS selaku dosen penguji utama dalam sidang skripsi penulis yang berkenan memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. 6. Etriya, SP, MM selaku dosen penguji wakil komisi pendidikan dalam sidang skripsi penulis yang berkenan memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. 7. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS dan Arif Karyadi, SP, selaku dosen Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, atas kesediaan waktu, bimbingan, sharing dan bantuannya selama penyusunan skripsi ini. 8. Fadhly, A.Md; Novi Nuryanti, SE; Aries Anggriawan, SE; dan Intan Dyah Mastuti, SE atas kesediaan waktu, sharing dan bantuannya selama penyusunan skripsi ini. ix

10 9. Orang tua penulis tercinta, Ibunda Elasji dan Ayahanda Supratoyo serta adik penulis Dhimas Andika Prasetya atas cinta, kasih sayang, semangat, dukungan, motivasi dan doa yang tiada henti-hentinya selama penulis menempuh pendidikan hingga saat ini. 10. Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis atas perhatian, doa dan dukungannya. 11. Teman-teman seperjuangan dan keluarga besar Agribisnis angkatan 43 atas semangat dan sharing selama penulis menempuh pendidikan hingga penyelesaian skripsi ini, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuannya. x

11 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN I II III IV PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah. 1.3 Tujuan Penelitian. 1.4 Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian... TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Metode Analisis untuk Mengukur Dayasaing Suatu Komoditas Tinjauan Mengenai Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok.. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Teori Perdagangan Internasional Konsep Dayasaing Keunggulan Komparatif Keunggulan Kompetitif Kebijakan Pemerintah Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Output Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Input Teori Matrik Kebijakan (Policy Analysis Matrix) Harga Bayangan (Harga Sosial) Analisis Sensitivitas Kerangka Pemikiran Operasional METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Pengambilan Sampel. 4.3 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data. 4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Penentuan Input dan Output Alokasi Biaya ke Dalam Komponen Biaya Asing dan Domestik Penentuan Harga Bayangan (Harga Sosial) Input dan Output... Halaman xiv xvii xviii xi

12 V VI 4.6 Analisis Indikator Matriks Kebijakan Analisis Keuntungan Analisis Efisiensi Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah 4.7 Analisis Sensitivitas. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kondisi Umum, Geografis dan Iklim Kota Depok Kondisi Umum Kecamatan Pancoran Mas Kondisi Umum Kecamatan Cipayung 5.2 Karakteristik Petani Responden Gambaran Umum Usahatani Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Penanaman Tanaman Belimbing Dewa Pemupukan Tanaman Belimbing Dewa Pengairan Tanaman Belimbing Dewa Pemangkasan Tanaman Belimbing Dewa Sanitasi Kebun serta Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Belimbing Dewa Penjarangan dan Pembungkusan Buah Belimbing Dewa Panen Gambaran Umum Pemasaran Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok Pengumpul (Tengkulak) Kegiatan Ekspor Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian 5.5 Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok... ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. 6.2 Analisis Dayasaing Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Dayasaing Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Dampak Kebijakan Terhadap Output Dampak Kebijakan Terhadap Input Dampak Kebijakan Terhadap Input dan Output. 6.4 Analisis Sensitivitas Usahatani Belimbing Dewa di Kota Depok Dampak Penurunan Jumlah Produksi Belimbing Dewa Dampak Peningkatan Upah Tenaga Kerja xii

13 VII Dampak Peningkatan Harga Pupuk Anorganik Dampak Penurunan Harga Output Rekomendasi Kebijakan.. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA.. LAMPIRAN xiii

14 Nomor DAFTAR TABEL Perkiraan Permintaan Buah-Buahan Indonesia Tahun Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Buah di Indonesia Tahun Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Belimbing Indonesia Tahun Klasifikasi Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Komoditi... Produksi Tanaman Belimbing di Sebelas Kecamatan Kota Depok Tahun Kelompok Tani, Jumlah Anggota, Luas Areal, Populasi Tanaman, dan Kapasitas Produksi Belimbing di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Tahun Alokasi Biaya Produksi ke dalam Komponen Domestik dan Asing Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian, Tahun Alokasi Biaya Tataniaga Atas Komponen Biaya Domestik dan Asing pada Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian, Tahun Harga Privat dan Sosial Output Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Harga Privat dan Sosial Bibit Tanaman Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Harga Privat dan Sosial Pupuk Organik (Pupuk Kandang) di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Harga Privat dan Sosial Pupuk Anorganik di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Harga Privat dan Sosial Pestisida di Lokasi Penelitian pada Tahun Harga Privat dan Sosial Peralatan Kebun dan Pengolahan Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun Harga Privat dan Sosial Upah Tenaga Kerja di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Harga Privat dan Sosial Lahan di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Halaman xiv

15 Harga Privat dan Sosial Modal Pengusahaan Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun Harga Privat dan Sosial Biaya Tataniaga Pengusahaan Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Matriks Analisis Kebijakan (PAM) Produk Domestik Regional Daerah (PDRB) Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009 Sebaran Penduduk Kecamatan Pancoran Mas Berdasarkan Jenis Usahanya Tahun Jumlah Penduduk Kecamatan Cipayung Berdasarkan Jenis Usahanya Tahun 2009 Sebaran Responden Berdasarkan Usia di Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cipayung... Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung... Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Luas Lahan Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Keikutsertaan dalam Pelatihan/Penyuluhan. Sebaran Responden Berdasarkan Perlakuan Pascapanen di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung... Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Penggunaan Lembaga Pemasaran Belimbing Dewa. Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Sumber Modal Usahatani Belimbing Dewa... Dosis Pupuk Per Pohon pada Usahatani Belimbing Dewa di Kota Depok Ciri-ciri Indeks Kematangan Buah Belimbing Dewa di Kota Depok. Policy Analysis Matrix (PAM) Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok (Rp/Ha) Nilai Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok xv

16 Indikator-Indikator Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok.. Perubahan Indikator Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok pada Analisis Sensitivitas... Tabulasi PAM Skenario Penurunan Produksi Sebesar 10 persen. Tabulasi PAM Skenario Peningkatan Harga Tenaga Kerja Sebesar 20 persen... Tabulasi PAM Skenario Peningkatan Harga Pupuk Anorganik Sebesar 10 persen. Tabulasi PAM Skenario Penurunan Harga Ouput Belimbing Dewa Sebesar 15 persen xvi

17 Nomor DAFTAR GAMBAR Kurva Perdagangan Internasional.. Dampak Subsidi pada Produsen dan Konsumen Barang Impor.. Hambatan Perdagangan Pada Produsen Untuk Barang Impor... Dampak Pajak dan Subsidi Pada Input Tradable... Dampak Pajak dan Subsidi Pada Input Non-Tradable... Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Mesin Diesel, Power Sprayer dan Selang air yang Digunakan Petani Responden di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Perangkap Lalat Buah Milik Petani yang Belum Dipakai dan Perangkap Lalat Buah yang Telah Terpasang di Kebun Belimbing di Lokasi Penelitian Tahun Tanaman Belimbing yang Terkena Serangan Penyakit Jamur Upas, Batang Belimbing yang Terserang Penyakit Jamur Upas Diolesi Kapur dan Bagian Bawah Tanaman Belimbing yang Terserang Penyakit Jamur Upas Telah Dikerok oleh Petani di Lokasi Penelitian Tahun Belimbing yang Terkena Hama Ulat Penggerek Buah di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Penjarangan Buah Belimbing dan Pembungkusan Buah Belimbing di Lokasi Penelitian Tahun Kegiatan Penjarangan dan Pembungkusan Buah Belimbing Dilakukan dalam Waktu yang Bersamaan. Hasil Panen Belimbing Petani di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Gedung Puskop dan Papan Nama Puskop.. Halaman xvii

18 Nomor DAFTAR LAMPIRAN Produksi Buah-Buahan Indonesia... Luas Panen dan Produksi Belimbing Manis Menurut Pulau di Indonesia Tahun Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Belimbing Manis Menurut Propinsi di Pulau Jawa Pada Tahun 2009 Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Komoditas Belimbing di Indonesia Jumlah Produksi Belimbing Manis Menurut Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Barat Pada Tahun Kandungan Gizi Belimbing (dalam 100 gram buah). Input-Output Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. Budget Privat Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. Budget Sosial Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. Rekapitulasi Budget Privat Terdiskonto pada Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok.. Rekapitulasi Budget Sosial Terdiskonto pada Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok.. Proporsi Biaya Input Terhadap Biaya Input Total Pengusahaan Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Dokumentasi Penelitian.. Halaman xviii

19 1. 1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN Hortikultura merupakan salah satu bagian dari pembangunan sektor pertanian yang terdiri dari komoditas buah-buahan, sayuran, tanaman obat, dan florikultur (bunga dan tanaman hias). Buah-buahan merupakan komoditas hortikultura yang memiliki kontribusi besar dalam pertanian di Indonesia. Pada tahun 2010, nilai PDB komoditas buah-buahan diproyeksikan menempati urutan pertama di atas komoditas hortikultura lainnya yaitu mencapai Rp triliun atau sekitar 52,6 persen dari total PDB hortikultura (PT Media Data Riset 2010). Pengembangan buah-buahan khususnya buah-buahan tropis di Indonesia memiliki prospek yang bagus. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi dan potensi pasar yang besar. Jumlah produksi buah-buahan Indonesia tahun cenderung terus meningkat dengan laju pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 9,30 persen per tahun (Badan Pusat Statistik 2010). Peningkatan produksi tersebut terjadi diduga karena adanya pertambahan luas areal panen dan semakin berkembangnya teknologi produksi yang diterapkan petani serta semakin intensifnya bimbingan dan fasilitas yang diberikan kepada petani dan pelaku usaha, semakin baiknya manajemen yang dilakukan pelaku usaha dan adanya penguatan kelembagaan agribisnis petani. Tingginya produksi buah-buahan juga didukung oleh besarnya peluang atau potensi pasar yang dimiliki. Perkiraan permintaan buah-buahan Indonesia tahun dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perkiraan Permintaan Buah-Buahan Indonesia Tahun Tahun Total Buah Populasi Penduduk Konsumsi per kapita Total konsumsi (Juta) (Kg) (Ribu ton) , , , , , , , ,96 Sumber : Pusat Kajian Buah Tropika, 1998 Berdasarkan Tabel 1, peningkatan jumlah permintaan buah-buahan terjadi akibat adanya pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kecukupan gizi dari buah-buahan yang ditunjukkan oleh meningkatnya konsumsi buah-buahan per kapita. Peluang pemasaran buah- 1

20 buahan Indonesia tidak hanya di dalam negeri, era perdagangan bebas membuat Indonesia memiliki peluang besar untuk dapat memasarkan produk buah-buahan yang dihasilkannya ke mancanegara. Sentuhan perdagangan bebas di Indonesia ditandai dengan dilakukannya beberapa perjanjian internasional. Di tingkat regional, sebut saja ASEAN Free Trade Area (AFTA), Kerjasama Agribisnis Republik Indonesia-Singapura, Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), dan ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA). Adanya perjanjian-perjanjian tersebut menyebabkan akses perdagangan antar negara semakin mudah dan terbuka lebar sehingga produk buah-buahan dari negara lain dengan mudah masuk ke Indonesia dan juga sebaliknya. Namun, peluang pasar yang tercipta melalui kerjasama tersebut belum termanfaatkan secara optimal bagi komoditas buah-buahan Indonesia. Hal ini tercermin dari nilai neraca ekspor dan impor buah-buahan Indonesia yang masih defisit. Perkembangan volume ekspor dan impor buah di Indonesia tahun dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Buah di Indonesia Tahun Tahun Ekspor Impor Laju Laju Volume Nilai Volume Nilai (%) (%) (Kg) (US $) (Kg) (US $) , , , , , , * , ,47 Laju Pertumbuhan Volume Laju Pertumbuhan 5,57 Ekspor Rata-Rata Volume Impor Rata-Rata 12,66 Sumber: Kementerian Pertanian, 2011 (Diolah) Keterangan: * Data Januari Oktober Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa volume dan nilai impor buah di Indonesia masih lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspornya. Komoditas buah-buahan yang dimaksud antara lain adalah pisang, nanas, alpukat, jambu, mangga, manggis, jeruk, belimbing, lemon, semangka, apel, durian, pir, ceri, leci, strawberi, dan rambutan yang diperdagangkan dalam bentuk segar maupun olahan. Rata-rata pertumbuhan impor buah di Indonesia meningkat sebesar 12,66 persen setiap tahun pada tahun 2006 sampai 2010, sedangkan rata-rata 2

21 pertumbuhan ekspor buah di Indonesia hanya sebesar 5,57 persen setiap tahun pada tahun 2006 sampai Sehingga neraca perdagangan buah-buahan Indonesia tahun 2006 sampai 2010 selalu bernilai negatif. Melihat kondisi tersebut, maka Indonesia dituntut untuk dapat meningkatkan dayasaing produk buah-buahan yang dihasilkannya agar mampu bertahan menghadapi persaingan global serta memanfaatkan peluang pasar yang ada dengan meningkatkan volume dan nilai ekspor buah-buahan Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji mengenai kemampuan dayasaing komoditas buah-buahan Indonesia, khususnya buah-buahan tropis. Salah satu jenis buah tropis yang sedang dikembangkan dan memiliki prospek yang cukup bagus ialah belimbing. Berdasarkan Lampiran 1, produksi belimbing di Indonesia dari tahun memiliki trend (kecenderungan) positif dari tahun ke tahun dengan laju pertumbuhan produksi rata-rata sebesar 5,30 persen per tahun. Namun, sampai saat ini volume dan nilai ekspor buah belimbing di Indonesia masih sangat kecil, Indonesia mengekspor belimbing ke Jepang dan Saudi Arabia. Di sisi lain, Indonesia juga masih mengimpor belimbing dari Malaysia dan Taiwan dengan volume dan nilai yang lebih tinggi dibandingkan ekspornya. Perkembangan volume ekspor dan impor belimbing di Indonesia tahun dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Belimbing Indonesia Tahun Tahun Ekspor Impor Laju Laju Volume Nilai Volume Nilai (%) (%) (Kg) (US $) (Kg) (US $) , , , , * , ,42 Sumber: Kementerian Pertanian, 2011 Keterangan: *Data Januari Oktober Sesungguhnya Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk meningkatkan kemampuan ekspor belimbing yang dihasilkannya. Hal tersebut terlihat dari dukungan produksi belimbing yang cenderung terus meningkat dan potensi pasar internasional yang besar. Pengimpor buah tropika terbesar dari 3

22 ekspor buah dunia adalah negara-negara Uni Eropa sebanyak 43 persen, Amerika Serikat sebanyak 16 persen, negara-negara di sekitar Uni Eropa sebanyak 6 persen, Federasi Republik Rusia sebanyak 5 persen, Jepang sebanyak 4 persen, dan negara-negara di Afrika, Asia Barat, Timur Tengah, Kanada, China, dan Amerika Latin sebanyak 24 persen (Kementerian Pertanian 2011). Jika terjadi peningkatan kemampuan ekspor belimbing Indonesia, diharapkan mampu meningkatkan devisa negara dan eksistensi Indonesia di mata dunia sebagai negara agraris yang beriklim tropis. Dilihat dari sisi produsen belimbing, tercatat sebanyak 33 provinsi di seluruh Indonesia merupakan daerah penghasil belimbing yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua. Berdasarkan Lampiran 2, terlihat bahwa Pulau Jawa menempati urutan pertama sebagai penghasil belimbing terbanyak yaitu sebesar 67,66 persen dari total produksi belimbing di Indonesia. Provinsi-provinsi di Pulau Jawa yang menjadi sentra penghasil belimbing terdiri dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Yogyakarta. Pada tahun 2009, Provinsi Jawa Barat menjadi sentra penghasil belimbing di Pulau Jawa karena mampu memberikan kontribusi produksi dan produktivitas tertinggi pertama di Pulau Jawa. Jawa Barat menghasilkan produksi belimbing sebesar 31,91 persen dari total produksi belimbing di Pulau Jawa serta memiliki nilai produktivitas sebesar 451,10 kuintal per hektar (lihat Lampiran 3). Nilai produktivitas ini berada diatas rata-rata nilai produktivitas belimbing secara nasional, dimana nilai produktivitas belimbing nasional hanya sebesar 249,13 kuintal per hektar (lihat Lampiran 4). Provinsi Jawa Barat memiliki 26 wilayah penghasil belimbing yang terdiri dari 17 kabupaten dan 9 kota. Kota Depok menjadi wilayah penghasil belimbing tertinggi pertama di provinsi tersebut, dengan kontribusi produksi sebesar 43,66 persen dari keseluruhan produksi belimbing di Jawa Barat pada tahun 2009 (lihat Lampiran 5). Dengan demikian, Kota Depok merupakan sentra produksi belimbing di wilayah Jawa Barat. Belimbing di Kota Depok lebih dikenal dengan sebutan belimbing dewa. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 718/Kpts/TP.240/8/98, belimbing dewa merupakan salah satu komoditas buah unggulan Kota Depok yang berasal dari varietas dewa baru. Hal ini mendapat sambutan yang sangat baik 4

23 oleh pemerintah daerah Kota Depok. Pemerintah mencoba menjalankan perannya untuk membantu menguatkan citra belimbing dewa di Kota Depok dengan menjadikan belimbing sebagai icon Kota Depok sejak tanggal 21 Juli Pemerintah memiliki peran yang strategis dalam membantu kemajuan agribisnis belimbing dewa di Kota Depok. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan, maka penelitian mengenai analisis dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Depok sebagai salah satu sentra produksi belimbing di Indonesia, khususnya untuk wilayah Jawa Barat. 1.2 Perumusan Masalah Belimbing dewa di Kota Depok telah lama diperdagangkan dalam bentuk buah segar ke beberapa wilayah di Indonesia, di antaranya ke wilayah Bandung dan Jabodetabek. Dalam rangka mengembangkan agribisnis belimbing di Kota Depok, pemerintah dan seluruh stakeholders belimbing dewa di Kota Depok mulai melirik pasar internasional untuk memasarkan produk unggulan serta icon Kota Depok tersebut. Adanya arus globalisasi atau era perdagangan bebas membuat keinginan untuk dapat menembus pasar internasional semakin terbuka lebar. Namun, untuk dapat menembus pasar internasional atau melakukan ekspor maka komoditas belimbing dewa di Kota Depok harus memiliki dayasaing agar mampu bertahan dan bersaing dengan produk-produk sejenis yang ada di mancanegara. Pembangunan dan pengembangan agribisnis belimbing dewa di Kota Depok tidak terlepas dari peran dan kebijakan pemerintah. Beberapa upaya dan kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah di antaranya yaitu melakukan penguatan citra belimbing dengan menjadikan belimbing sebagai icon Kota Depok, meningkatkan produktivitas dan kualitas belimbing dengan memfasilitasi pembuatan Standard Operational Procedure (SOP) dan Good Agriculture Practice (GAP) belimbing dewa Depok serta melakukan pembinaan dan pelatihan kepada petani dalam menerapkan SOP dan GAP tersebut, melakukan pengembangan pasar dan pemasaran belimbing dengan mendukung dan 5

24 memfasilitasi pendirian Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop) serta membantu pengembangan industri olahan belimbing dalam rangka meningkatkan nilai tambah yaitu dengan melakukan pelatihanpelatihan mengenai produk-produk turunan (pengolahan) dari belimbing kepada masyarakat serta memfasilitasi pendirian pabrik pengolahan belimbing. Pemerintah juga telah memberikan insentif input produksi kepada para petani belimbing di Kota Depok berupa pemberian bibit tanaman belimbing dewa, pupuk, pestisida, pembungkus buah belimbing, pompa air serta menyalurkan dana bantuan program Peningkatan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dikelola oleh kelompok tani. Disamping itu, adanya Peraturan Menteri Keuangan No.241/PMK.011/2010 yang menaikkan bea masuk (pajak impor) sebesar lima persen atas produk bahan baku pertanian seperti pupuk dan obat-obatan dapat menyebabkan harga pupuk dan obat-obatan ditingkat petani menjadi lebih tinggi sehingga biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani akan meningkat. Adanya Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2007 mengenai pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar sepuluh persen atas input-input produksi seperti peralatan, pupuk dan obat-obatan juga dapat menyebabkan harga-harga input produksi ditingkat petani menjadi lebih tinggi dan mengakibatkan biaya produksi meningkat. Selain itu, adanya inflasi dapat memengaruhi tingkat suku bunga dan membuat harga yang diterima petani menjadi berbeda dengan harga pada saat kondisi pasar persaingan sempurna (tidak ada distorsi pasar maupun intervensi pemerintah). Semua hal tersebut diduga akan memengaruhi tingkat keuntungan dan efisiensi usahatani belimbing dewa di Kota Depok. Perkembangan komoditas belimbing dewa di Kota Depok juga tidak terlepas dari kondisi pasar. Fluktuasi harga belimbing di pasar lokal dapat terjadi karena kualitas dan kuantitas belimbing yang ada di pasar. Pada saat jumlah belimbing melimpah maka harga belimbing di pasar cenderung akan menurun atau rendah dan sebaliknya ketika jumlah belimbing sedikit maka harga belimbing akan cenderung tinggi. Hal ini akan berpengaruh terhadap perubahan penerimaan dan keuntungan yang diperoleh oleh petani belimbing, termasuk petani belimbing di Kota Depok. 6

25 Input produksi merupakan faktor yang memengaruhi struktur biaya pengusahaan komoditas belimbing dewa. Input produksi yang digunakan dapat menentukan besarnya biaya yang dikeluarkan. Salah satu input produksi yang memiliki proporsi kebutuhan biaya paling tinggi dalam sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok adalah input tenaga kerja. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi penelitian dapat diketahui bahwa proporsi kebutuhan biaya tenaga kerja adalah sebesar 42,92 persen dari keseluruhan input produksi dalam pengusahaan belimbing dewa. Upah tenaga kerja cenderung meningkat setiap tahunnya. Peningkatan upah tenaga kerja tersebut dapat meningkatkan biaya produksi yang dikeluarkan. Besarnya biaya yang dikeluarkan diduga berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh. Selain tenaga kerja, input produksi yang memiliki proporsi kebutuhan yang cukup besar adalah pupuk. Pupuk anorganik (pupuk daun dan NPK) yang digunakan oleh petani di lokasi penelitian adalah pupuk nonsubsidi. Harga pupuk anorganik nonsubsidi cenderung tinggi. Untuk mengendalikan tingginya harga tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) baik untuk pupuk bersubsidi maupun nonsubsidi. Namun, kemungkinan penyelewengan harga yang diberlakukan kepada petani sangat mungkin terjadi. Sehingga harga pupuk anorganik yang dibeli oleh petani menjadi lebih tinggi dari HET. Perubahan harga pupuk anorganik tersebut akan berpengaruh terhadap biaya produksi. Perubahan biaya produksi yang terjadi diduga akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Sulitnya pengendalian organisme pengganggu tanaman belimbing, khususnya hama ulat penggerek buah dapat mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah produksi buah belimbing yang dihasilkan oleh petani belimbing dewa di Kota Depok. Penurunan jumlah produksi ini diduga akan berpengaruh terhadap penerimaan dan keuntungan dari sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Berdasarkan uraian di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Apakah komoditas belimbing dewa di Kota Depok memiliki dayasaing? 7

26 2. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok? 3. Bagaimana dampak perubahan harga buah belimbing, upah tenaga kerja, harga pupuk dan jumlah output belimbing yang dihasilkan terhadap dayasaing belimbing dewa di Kota Depok? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. 2. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. 3. Menganalisis dampak perubahan harga buah belimbing, upah tenaga kerja, harga pupuk dan jumlah output belimbing yang dihasilkan terhadap dayasaing belimbing dewa di Kota Depok. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan seperti : 1. Pemerintah, sebagai bahan masukan serta evaluasi bagi penetapan arah dan prioritas kebijakan pembangunan dayasaing komoditas belimbing dewa sebagai icon dan komoditas unggulan di Kota Depok. 2. Penulis, sebagai pengalaman dan wawasan baru yang berharga sekaligus sebagai media latihan dalam menerapkan ilmu yang diterima selama mengikuti perkuliahan di Departemen Agribisnis (Mayor) dan Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (Minor). 3. Pihak akademis dan pembaca, sebagai informasi dan bahan referensi, baik untuk penelitian selanjutnya maupun bahan bacaan penambah wawasan. 1.5 Ruang Lingkup Mengacu pada permasalahan dan tujuan penelitian serta kendala yang ada, ruang lingkup penelitian ini terdiri dari : (1) analisis yang terbatas pada output belimbing dalam bentuk buah segar, bukan hasil olahannya. Karena di Kota 8

27 Depok, aktivitas pengolahan belimbing menjadi produk turunan masih sangat terbatas atau masih belum banyak dilakukan; (2) orientasi perdagangan yang dianalisis adalah kegiatan perdagangan belimbing pada wilayah lokal yaitu perdagangan belimbing mulai dari petani hingga sampai pada konsumen akhir yang ada di wilayah lokal, sehingga biaya angkut yang dianalisis dalam penelitian ini adalah biaya angkut mulai dari petani hingga konsumen akhir yang berada di wilayah lokal. Hal ini dilakukan mengingat belum adanya kegiatan ekspor belimbing yang dilakukan di lokasi penelitian atau Kota Depok. 9

28 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Dayasaing sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri karena dayasaing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan biaya yang cukup rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi pada pasar internasional kegiatan produksi tersebut tetap dapat menguntungkan (Simanjutak 1992). Dayasaing diterapkan pada pasar yang mengarah pada pasar persaingan sempurna. Konsep dayasaing dapat diterapkan pada suatu komoditas, sektor/bidang, wilayah dan negara. Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur dayasaing suatu komoditas adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditas tersebut. Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi yaitu keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sedangkan, efisiensi pengusahaan komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Dengan menganalisis perbedaan harga-harga finansial dan ekonomi maka dapat diketahui nilai dayasaing suatu komoditas dan bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap penerimaan petani secara ekonomi dan finansial. Jika kebijakan yang ada telah mampu memberikan keunggulan kompetitif bagi suatu sistem usahatani berarti kebijakan tersebut harus tetap dipertahankan, sebaliknya jika suatu kebijakan menghambat atau mengurangi nilai kompetitifnya maka perlu ada penghapusan atau deregulasi kebijakan (Desianti 2002). Faktor-faktor pemicu dayasaing terdiri dari teknologi, produktivitas, harga biaya input, struktur industri, kuantitas permintaan domestik dan ekspor. Faktorfaktor tesebut dapat dibedakan atas: (1) faktor yang dapat dikendalikan oleh unit usaha, seperti strategi produk, teknologi, pelatihan, biaya riset dan pengembangan; (2) faktor yang dapat dikendalikan oleh pemerintah, seperti lingkungan bisnis (pajak, suku bunga, nilai tukar uang), kebijakan perdagangan, kebijakan riset dan pengembangan serta pendidikan, pelatihan dan regulasi; (3) faktor yang semi terkendali, seperti kebijakan harga input dan kuantitas permintaan domestik; dan (4) faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti lingkungan alam (Feryanto 2010). Sementara itu, Handayani (2007) mengutarakan bahwa ada tujuh hal penting yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan dayasaing produk- 10

29 produk pertanian, yaitu kualitas produk, kontinuitas, waktu pengiriman, teknologi, sumberdaya manusia, negara pesaing Indonesia, dan insentif investasi. Apabila pemerintah dapat memperbaiki faktor-faktor pemicu dayasaing tersebut, maka komoditas agribisnis lokal dapat berkembang dan bersaing sehingga mampu meningkatkan ekspor, memenuhi kebutuhan dalam negeri serta sebagai substitusi impor. Hasil penelitian Mudjayani (2008) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi dayasaing buah-buahan tropis Indonesia adalah produktivitas dan nilai ekspor yang berpengaruh positif terhadap dayasaing, sedangkan harga ekspor dan dummy krisis berpengaruh negatif terhadap dayasaing. Salah satu strategi yang dikemukan oleh Mudjayani (2008) untuk meningkatkan dayasaing buahbuahan tropis Indonesia adalah dengan meningkatkan kinerja dan volume ekspor buah-buahan tropis Indonesia yang dapat meningkatkan nilai ekspor sehingga dapat meningkatkan dayasaing buah-buahan tropis Indonesia. Hal senada juga disampaikan oleh Istiqomah (2008) yang mengungkapkan bahwa dayasaing nenas Indonesia dapat meningkat melalui peningkatan volume dan nilai ekspornya. Oleh karena itu, menurut penulis peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok juga dapat dilakukan dengan meningkatkan kinerja ekspor komoditas tersebut. 2.2 Metode Analisis untuk Mengukur Dayasaing Suatu Komoditas Ada banyak metode analisis yang dapat digunakan untuk menghitung maupun menilai dayasaing suatu komoditas. Di antaranya adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Berlian Porter dan Policy Analysis Matrix (PAM). Indeks RCA digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif suatu komoditas dan Berlian Porter dapat digunakan untuk mengukur dan menganalisis keunggulan kompetitif suatu komoditas. Sedangkan PAM dapat digunakan untuk mengukur tiga analisis sekaligus yaitu keuntungan privat dan keuntungan sosial atau ekonomi, analisis dayasaing (keunggulan komparatif dan kompetitif) serta analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas yang sedang menjadi fokus penelitian. Mudjayani (2008) dan Istiqomah (2008) menggunakan metode analisis RCA untuk menjelaskan kekuatan keunggulan komparatif dari komoditas yang 11

30 diteliti. Mudjayani (2008) mengemukakan bahwa buah-buahan tropis Indonesia (manggis, nenas, pepaya, dan pisang) memiliki keunggulan komparatif. Sementara itu, Istiqomah (2008) mengutarakan hasil penelitiannya bahwa keunggulan komparatif nenas Indonesia berada pada urutan kedua setelah Thailand, kemudian diikuti oleh Philipina dan Singapura. Selama tahun , Indonesia mengalami fluktuasi nilai RCA. Pada tahun 2005, Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif terbukti dari nilai RCA kurang dari satu yaitu 0,93. Bahkan pada tahun 2006, Indonesia tidak mengekspor nenas ke Malaysia. Rendahnya nilai RCA diduga terjadi karena nenas Indonesia kalah bersaing dengan Thailand, Philipina dan Singapura baik dalam hal harga maupun kualitas. Selain itu, rendahnya dayasaing disebabkan munculnya pesaing baru di pasar Malaysia yaitu Philipina yang baru muncul pada tahun 2005 dan Singapura yang muncul pada tahun Hal tersebut juga membuktikan bahwa dengan adanya AFTA, Indonesia tidak dapat keuntungan dari diberlakukannya pengurangan tarif, bahkan Indonesia menjadi kalah bersaing dengan negara pengekspor nenas lainnya yang berada di kawasan ASEAN. Penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2008), Hidayat (2009), Pratama (2010), dan Feryanto (2010) memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu pada metode analisis yang digunakan. Keempat penelitian tersebut juga menggunakan analisis PAM dan analisis sensitivitas. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah pada komoditas yang diteliti dan pada skenario yang digunakan pada saat melakukan analisis sensitivitas. Pada penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2008), selain menggunakan metode analisis PAM juga menggunakan analisis Berlian Porter untuk menghitung serta melihat keunggulan kompetitif pada dayasaing komoditas jagung, sedangkan penulis tidak menggunakan metode analisis tersebut didalam penelitian yang dilakukannya. Hal tersebut dikarenakan analisis PAM juga dapat mengidentifikasi keunggulan kompetitif sekaligus keunggulan komparatif sebagai indikator dalam menentukan tingkat dayasaing komoditas sehingga tidak perlu melakukan dua kali penghitungan dengan menggunakan analisis Berlian Porter. Wibowo (2008) mengungkapkan bahwa pengusahaan komoditas jagung di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan menguntungkan secara 12

31 finansial maupun ekonomi serta memiliki dayasaing. Hal tersebut terlihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang positif yaitu sebesar Rp ,79 dan Rp ,69 serta nilai Private Cost Ratio (PCR) dan Domestic Resources Cost Ratio (DRC) lebih kecil dari satu yaitu 0,57 dan 0,55. Hidayat (2009) mengemukakan bahwa pengusahaan kambing dengan skala usaha 80 ekor maupun 400 ekor untuk menghasilkan susu kambing di Kabupaten Bogor ternyata menguntungkan baik secara finansial maupun ekonomi serta memiliki dayasaing. Hal tersebut terlihat dari nilai keuntungan privat yang positif untuk skala usaha 80 ekor dan 400 ekor yaitu sebesar Rp 228,16 juta dan Rp 1.061,80 juta per dua tahun serta keuntungan ekonomi yang juga positif yaitu sebesar Rp 387,72 juta per dua tahun untuk skala usaha 80 ekor dan Rp 2.366,89 juta per dua tahun untuk skala usaha 400 ekor. Nilai PCR dan DRC yang ditunjukkan kurang dari satu yaitu 0,51 dan 0,50 untuk skala usaha 80 ekor serta 0,37 dan 0,30 untuk skala usaha 400 ekor. Hasil penelitian Pratama (2010) menunjukkan bahwa pengusahaan sapi perah untuk menghasilkan susu sapi segar oleh anggota Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) memiliki dayasaing meski dalam kondisi tarif impor susu sebesar nol persen. Hal tersebut terlihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang positif yaitu sebesar Rp 787,9 per liter dan Rp 1.706,5 per liter serta nilai PCR dan DRC yang kurang dari satu yaitu 0,54 dan 0,72. Sementara itu, Feryanto (2010) mengungkapkan bahwa pengusahaan sapi perah untuk menghasilkan produk susu segar di Provinsi Jawa Barat yang ditunjukkan dari hasil penelitian di tiga lokasi, yaitu Kecamatan Lembang (Kabupaten Bandung Barat), Kecamatan Pangalengan (Kabupaten Bandung) dan Kecamatan Cikajang (Kabupaten Garut) secara umum menguntungkan dan efisien secara finansial maupun ekonomi. Hal tersebut terlihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang positif serta nilai PCR dan DRC kurang dari satu untuk ketiga wilayah. Peternak di Kecamatan Lembang memperoleh keuntungan privat dan sosial sebesar Rp 609,90 dan Rp 1.351,60 per liter susu yang dihasilkan serta nilai PCR dan DRC sebesar 0,79 dan 0,63. Peternak di Kecamatan Pangalengan memperoleh keuntungan privat dan sosial sebesar Rp 170,80 dan Rp 930,90 per liter susu yang dihasilkan serta nilai PCR dan DRC sebesar 0,94 dan 0,75. Sedangkan peternak di Kecamatan Cikajang 13

32 memperoleh keuntungan privat dan sosial sebesar Rp 304,40 dan Rp 1.541,00 per liter susu yang dihasilkan serta nilai PCR dan DRC sebesar 0,89 dan 0,58. Koerdianto (2008) juga menggunakan metode analisis PAM untuk menganalisis dayasaing dan dampak kebjakan pemerintah terhadap komoditas sayuran unggulan di Kabupaten Bandung. Komoditas sayuran yang diteliti adalah tomat dan cabe merah. Perhitungan dengan metode PAM yang dilakukan oleh Koerdianto (2008) adalah perhitungan untuk satu musim tanam. Sedangkan, penulis melakukan perhitungan PAM multiperiode (times series sesuai dengan umur ekonomis tanaman dalam menghasilkan output). Hal ini dilakukan karena komoditas yang menjadi fokus penelitian penulis adalah belimbing yang termasuk dalam tanaman tahunan sehingga diperlukan perhitungan PAM multiperiode. Hasil penelitian Koerdianto (2008) menunjukkan bahwa usahatani tomat dan cabe merah di Kecamatan Ciwidey maupun Lembang memiliki dayasaing. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai keuntungan privat dan sosial yang positif yaitu sebesar Rp 16,089 juta dan Rp 69,869 juta per hektar per musim tanam untuk usahatani tomat di Kecamatan Ciwidey, sebesar Rp 18,976 juta dan Rp 67,187 juta per hektar per musim tanam untuk usahatani tomat di Kecamatan Lembang, sebesar Rp 29,274 juta dan Rp 37,727 juta per hektar per musim tanam untuk usahatani cabe merah di Kecamatan Ciwidey, dan sebesar Rp 36,194 juta dan Rp 35,575 juta per hektar per musim tanam untuk usahatani cabe merah di Kecamatan Lembang. Nilai PCR dan DRC yang kurang dari satu untuk seluruh usahatani yang diteliti yaitu sebesar 0,65 dan 0,36 untuk usahatani tomat di Kecamatan Ciwidey, sebesar 0,63 dan 0,39 untuk usahatani tomat di Kecamatan Lembang, sebesar 0,44 dan 0,41 untuk usahatani cabe merah di Kecamatan Ciwidey, dan sebesar 0,45 dan 0,48 untuk usahatani cabe merah di Kecamatan Lembang. 2.3 Tinjauan Mengenai Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Belimbing dewa merupakan salah satu varietas belimbing unggul di Indonesia. Yulistia (2009) mengutarakan bahwa teknik budidaya belimbing yang dilakukan oleh semua petani belimbing di Kota Depok hampir sama. Hal ini dikarenakan teknik budidaya belimbing sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) telah tersosialisasikan kepada para petani belimbing di Kota Depok. Hasil penelitian Zamani (2008) menunjukkan bahwa pendapatan usahatani belimbing 14

33 petani SOP atas biaya tunai dan biaya total untuk satu musim panen lebih besar dibandingkan petani non-sop. Selain itu, penggunaan faktor-faktor produksi (pupuk NPK, insektisida Decis, pupuk Gandasil dan tenaga kerja) pada usahatani belimbing untuk petani SOP dan petani non-sop ternyata masih belum efisien. Sementara itu, Yulistia (2009) mengemukakan bahwa hadirnya Primatani (Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian) di Kota Depok khususnya di Kelurahan Pasir Putih belum memberikan dampak yang terlalu besar terhadap tingkat pendapatan petani peserta Primatani dibandingkan petani non-peserta Primatani. Namun, usahatani belimbing dewa yang dijalankan oleh petani peserta maupun non-peserta Primatani sudah menguntungkan bagi petani. Upaya lain dalam meningkatkan nilai tambah produk belimbing adalah pengolahan produk. Walaupun usaha pengolahan hortikultura di Kota Depok masih minim, kini mulai banyak pengusaha olahan di Kota Depok yang merintis untuk produk buah belimbing. Pengolahan produk belimbing di Kota Depok antara lain adalah sirup belimbing, jus belimbing, keripik belimbing, belimbing instant, dodol belimbing, selai belimbing dan sari buah belimbing (Munigar 2009). Peluang pasar belimbing untuk kawasan Jabodetabek mencapai angka ton per tahun (Nalurita 2006 dan Lubis 2009). Nalurita (2006) menyatakan bahwa ada lima saluran pemasaran belimbing dewa di Kecamatan Pancoran Mas dan Lubis (2009) menyatakan ada empat saluran pemasaran belimbing dewa di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan. Hasil penelitian keduanya menunjukkan bahwa saluran pemasaran belimbing dewa di Kota Depok yang paling efisien adalah saluran pemasaran dari petani ke Puskop kemudian Puskop menjualnya ke pedagang pengecer (toko buah) lalu ke konsumen akhir. Saluran pemasaran tersebut paling efisien karena memiliki nilai marjin pemasaran terendah yaitu sebesar 43,48 persen, farmer s share tertinggi yaitu sebesar 56,52 persen dan juga kegiatan pemasaran yang menguntungkan bagi setiap lembaga pemasaran yang terlibat. Husen (2006) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa sistem penjualan belimbing dewa per kilogram lebih menguntungkan dibandingkan sistem penjualan belimbing dewa per buah. 15

34 Fauzi (2007) mencoba menentukan pilihan komoditas unggulan yang akan dikembangkan di Kota Depok dari enam alternatif komoditas potensial yang terdapat di Kota Depok, yaitu belimbing, anggrek, ikan hias, benih ikan patin, ayam ras pedaging, dan kambing. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa komoditas belimbing merupakan komoditas unggulan pertama yang terpilih. Kemudian disusul oleh ikan hias (neon tetra) dan tanaman hias (anggrek) sebagai komoditas unggulan kedua dan ketiga. Pemilihan komoditas unggulan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dianggap penting yaitu kondisi ekonomi, teknologi dan infrastruktur, agroekosistem, sumberdaya manusia serta sosial dan budaya. Dimana komponen (subfaktor) yang dianggap paling memengaruhi faktor-faktor tersebut adalah kondisi permintaan pasar (pemasaran), teknologi budidaya, produksi dan produktivitas, peran petani serta interaksi sosial dan etos kerja dari para pelaku sistem agribisnis. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh Fuadri (2009) bahwa penetapan komoditas unggulan dalam suatu wilayah harus mempertimbangkan kondisi spesifik daerah yang bersangkutan. Fuadri (2009) juga mengutarakan bahwa penetapan komoditas unggulan merupakan langkah awal yang penting dalam upaya membangun agroindustri unggulan yang memiliki struktur kuat dan tangguh dalam bersaing. Penelitian yang dilakukan oleh Fauzi (2007) membahas mengenai pemilihan komoditas unggulan di Kota Depok dan menghasilkan sembilan alternatif strategi pengembangannya, namun belum membahas mengenai bagaimana kondisi dayasaing komoditas unggulan terpilih tersebut. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Fauzi (2007). Selain itu, penelitian yang dilakukan penulis juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai dampak kebijakan pemerintah yang telah dilakukan selama ini sehingga dapat menjadi bahan evaluasi bagi penetapan kebijakan pembangunan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok guna mempersiapkan kegiatan ekspor belimbing dewa. 16

35 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Teori Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional merupakan teori yang digunakan untuk mengkaji dasar-dasar terjadinya perdagangan internasional serta keuntungan yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Perdagangan internasional terjadi karena adanya perbedaan dalam hal kepemilikan sumberdaya dan cara pengolahannya di tiap-tiap negara. Suatu negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan dengan negara lain apabila negara tersebut berspesialisasi dalam komoditas yang dapat diproduksi dengan lebih efisien (mempunyai keunggulan absolut) dan mengimpor komoditas yang kurang efisien (mengalami kerugian absolut). Smith dengan teorinya mengenai keunggulan absolut menyatakan bahwa sekalipun suatu negara mengalami kerugian atau ketidakunggulan dalam memproduksi kedua komoditas jika dibandingkan dengan negara lain, namun perdagangan yang saling menguntungkan masih dapat berlangsung. Negara yang kurang efisien akan berspesialisasi dalam memproduksi komoditas ekspor pada komoditas yang mempunyai kerugian absolut yang lebih kecil. Sebaliknya, negara tersebut akan mengimpor komoditas yang mempunyai kerugian absolut lebih besar (Salvatore 1997). Dengan demikian, hubungan saling ketergantungan dan peranan perdagangan internasional dari setiap negara akan berkembang dan menjadi penting. Secara teoritis, suatu negara (misal negara 1) akan mengekspor suatu komoditas (komoditas x) ke negara lain (misal negara 2) apabila harga domestik di negara 1 (sebelum terjadi perdagangan) relatif lebih rendah dibandingkan harga domestik di negara 2. Kurva perdagangan internasional dapat dilihat pada Gambar 1. Kondisi awal di negara 1 misalnya berada dalam kondisi keseimbangan dan harga berada pada P 1. Pada kondisi ini tidak terjadi ekspor dari negara 1. Ketika harga berada pada posisi P 2, struktur harga yang relatif lebih tinggi ini menyebabkan terjadinya kelebihan penawaran (excess supply) di negara 1 yaitu sebesar Q A Q A. Dalam hal ini faktor produksi di negara 1 relatif berlimpah, dengan demikian negara 1 mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. 17

36 Sebaliknya di negara 2, pada kondisi harga berada di P 2, negara ini terjadi kekurangan supply karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand) sebesar Q B Q B sehingga harga menjadi lebih tinggi. Pada keadaan ini, negara 2 berkeinginan untuk membeli komoditas dari negara lain dengan harga yang relatif lebih murah. Apabila kemudian terjadi komunikasi antara negara 1 dan 2, maka terjadi perdagangan antar kedua negara tersebut. Supply di pasar internasional akan terjadi jika harga lebih besar dari P 1, sedangkan permintaan di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih rendah dari P 3. Dengan kata lain, besarnya ekspor suatu komoditas perdagangan akan sama besarnya dengan besarnya impor komoditas tersebut. Panel A Panel B Panel C Pasar di negara 1 Hubungan Perdagangan Internasional Pasar di negara 2 untuk komoditas x untuk komoditas x untuk komoditas x P x /P y P x /P y S P x /P y S x P 3 P 2 P 1 B Q A Ekspor A Q A E D x Q A S x Q A* B* C* E* Q P1 D Q P 3 P 2 B Q B A Impor Q B E Q B D x Q Gambar 1. Kurva Perdagangan Internasional (Sumber : Salvatore 1997) Harga yang terjadi di pasar internasional merupakan harga keseimbangan antara permintaan dan penawaran dunia. Perubahan dalam produksi dunia akan memengaruhi penawaran dunia, sedangkan perubahan dalam konsumsi dunia akan memengaruhi permintaan dunia. Kedua perubahan pada akhirnya akan memengaruhi harga dunia. Baga et al. (2009) mengungkapkan bahwa terdapat lima manfaat dibukanya liberalisasi perdagangan atau aktivitas perdagangan internasional. Pertama, akses pasar yang lebih luas sehingga memungkinkan adanya efisiensi yang berasal dari kegiatan yang berskala besar (economic of scale). Hal ini terjadi karena liberalisasi perdagangan cenderung menciptakan pusat-pusat produksi baru yang menjadi lokasi berbagai kegiatan industri yang saling terkait dan menunjang, 18

37 sehingga biaya produksi dapat diturunkan. Kedua, liberalisasi perdagangan menciptakan iklim yang lebih kompetitif sehingga mengurangi kegiatan yang bersifat rent seeking dan mendorong pengusaha untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, bukan mengharapkan untuk mendapat fasilitas dari pemerintah. Ketiga, arus perdagangan dan investasi yang lebih bebas mempermudah proses alih teknologi yang akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Empat, perdagangan yang lebih luas memberikan signal harga yang benar sehingga meningkatkan efisiensi investasi. Lima, dalam perdagangan yang lebih bebas kesejahteraan konsumen meningkat karena terbukanya pilihan-pilihan baru. Namun untuk berjalan dengan lancar, suatu pasar yang kompetitif perlu dukungan perundang-undangan yang mengatur persaingan yang sehat dan melarang pratik monopoli. Kebijakan perdagangan internasional (ekspor dan impor) diartikan sebagai tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu negara, baik secara langsung maupun tidak langsung yang akan memengaruhi struktur, komposisi dan arah perdagangan internasional dari/ke negara tersebut. Menurut Hady (2004), kebijakan perdagangan internasional yang dijalankan oleh suatu negara bertujuan untuk : (1) melindungi kepentingan ekonomi nasional dari pengaruh buruk atau negatif dan dari kondisi ekonomi/perdagangan internasional yang tidak baik atau tidak menguntungkan; (2) melindungi kepentingan industri dalam negeri; (3) melindungi lapangan kerja (employment); (4) menjaga keseimbangan dan stabilitas balance of payment (BOP) atau neraca perdagangan internasional; (5) menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan stabil; dan (6) menjaga stabilitas nilai tukar/kurs valas Konsep Dayasaing Dayasaing merupakan suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan biaya produksi yang cukup rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar, komoditas tersebut dapat diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memperoleh laba yang mencukupi sehingga dapat mempertahankan kelanjutan biaya produksinya (Simanjutak 1992). Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur dayasaing suatu komoditas adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan 19

38 dan efisiensi dalam pengusahaan komoditas tersebut. Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi yaitu keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi pengusahaan komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Kajian tentang dayasaing berawal dari pemikiran Adam Smith mengenai konsep penting tentang spesialisasi dan perdagangan bebas melalui teori keunggulan absolut (absolute advantage). Teori keunggulan absolut menyatakan bahwa sebuah negara dapat melakukan perdagangan jika relatif lebih efisien (memiliki keunggulan absolut) dibanding negara lain, keuntungan akan diperoleh jika negara tersebut melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditas yang memiliki keunggulan absolut tersebut. Selanjutnya pada tahun 1817, David Ricardo menyempurnakan teori keunggulan absolut dengan teori keunggulan komparatif melalui bukunya yang berjudul Principles of Political Economic and Taxation (Salvatore 1997) Keunggulan Komparatif Istilah comparative advantage (keunggulan komparatif) mula-mula dikemukan oleh David Ricardo sewaktu membahas perdagangan antar kedua negara. Ricardo menyatakan bahwa meskipun suatu negara kurang efisien dibandingkan (memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua komoditas, namun masih dapat melakukan perdagangan yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak. Negara pertama harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditas yang mempunyai harga relatif yang lebih murah (kerugian absolut lebih kecil) dan mengimpor komoditas yang memiliki harga relatif lebih mahal (kerugian absolut lebih besar) (Salvatore 1997). Negara atau wilayah yang dapat menghasilkan barang yang memiliki harga relatif yang lebih murah dari negara atau wilayah lain disebut memiliki keunggulan komparatif. Konsep keunggulan komparatif ini bukan saja bermanfaat dalam perdagangan internasional tetapi juga sangat penting diperhatikan dalam ekonomi regional. Ricardo mendasarkan hukum keunggulan komparatif pada sejumlah asumsi yang disederhanakan, yaitu : 1. Hanya terdapat dua negara dan dua komoditas 20

39 2. Perdagangan bersifat bebas 3. Terdapat mobilitas tenaga kerja 4. Biaya produksi konstan 5. Tidak terdapat biaya transportasi 6. Tidak ada perubahan teknologi 7. Menggunakan teori nilai tenaga kerja Keenam asumsi di atas dapat diterima, namum asumsi ketujuh tidak berlaku dan seharusnya tidak digunakan untuk menjelaskan keunggulan komparatif karena teori nilai tenaga kerja ini menyatakan bahwa nilai atau harga sebuah komoditas tergantung dari jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksi. Teori nilai tenaga kerja ini merupakan kelemahan dari model Ricardo karena tenaga kerja bukan satu-satunya faktor produksi dan penggunaannya juga tidak sama untuk setiap komoditas serta tenaga kerja tidak bersifat homogen karena adanya perbedaan pendidikan, produktivitas dan upah yang diterima. Keunggulan komparatif yang dikemukan oleh Ricardo hanya berdasarkan pada penggunaan dan produktivitas tenaga kerja tanpa menjelaskan alasan timbulnya perbedaan produktivitas tenaga kerja di antara berbagai negara. Teori ini juga tidak menjelaskan mengenai pengaruh perdagangan internasional terhadap pendapatan yang diperoleh faktor produksi. Hal ini menyebabkan konsep keunggulan komparatif yang dikemukan oleh David Ricardo disempurnakan oleh Heckscher dan Ohlin pada tahun 1933 (Salvatore 1997). Heckscher dan Ohlin melakukan perbaikan terhadap hukum keunggulan komparatif yang dikemukan oleh David Ricardo. Teori Heckscher dan Ohlin atau teori kelimpahan yang diekspresikan kedalam dua teorema yang saling berhubungan, yaitu teorema Heckscher dan Ohlin serta teorema penyamaan harga faktor. Menurut teorema Heckscher dan Ohlin, sebuah negara akan mengekspor komoditas yang padat faktor produksi yang ketersediaannya di negara tersebut melimpah dan murah, sedangkan disisi lain negara tersebut akan mengimpor komoditas yang padat dengan faktor produksi yang langka dan mahal. Menurut teorema penyamaan harga faktor produksi atau teorema Heckscher-Ohlin- Samuelson, perdagangan internasional cenderung menyamakan harga-harga baik itu secara relatif maupun secara absolut dari berbagai faktor produksi yang 21

40 homogen atau sejenis di antara negara-negara yang terlibat dalam hubungan dagang. Pada intinya teori perdagangan Heckscher dan Ohlin menjelaskan bahwa perdagangan internasional berlangsung atas dasar keunggulan komparatif yang berbeda dari masing-masing negara (Salvatore 1997). Dayasaing suatu komoditas ditentukan oleh keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam produksi dan perdagangan. Ada pendapat dari beberapa kelompok teknokrat mengenai keunggulan komparatif yaitu suatu wilayah dapat memiliki keunggulan komparatif jika kekayaan alam melimpah, tenaga kerja banyak (padat karya), muatan teknologi yang rendah sehingga faktor produksi murah, dan merupakan andalan untuk berkompetisi dalam perdagangan maupun terhadap masuknya barang-barang sejenis dari luar negeri dalam jangka pendek. Lebih lanjut dijelaskan bahwa keunggulan komparatif dibagi dua, yaitu keunggulan komparatif natural (alami) dan keunggulan komparatif buatan (terapan). Sumber keunggulan komparatif alami ditunjukkan dengan kondisi iklim yang cocok, upah tenaga kerja yang murah dan ketersediaan sumberdaya alam. Sedangkan keunggulan komparatif terapan telah diaplikasikan dan telah disesuaikan dengan adanya faktor pendukung seperti teknologi, permintaan skala ekonomi dan struktur pasar. Keunggulan komparatif suatu komoditas diukur berdasarkan harga bayangan (shadow price) atau berdasarkan analisis ekonomi yang akan menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomi sesungguhnya dari unsur biaya maupun hasil. Analisis ekonomi suatu proyek atau aktivitas ekonomi atas manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan tanpa memperhatikan siapa yang menyumbang dan menerima manfaat tersebut. Maka, suatu komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif merupakan ukuran dayasaing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Asumsi perekonomian yang tidak mengalami distorsi atau hambatan sama sekali sulit ditemukan pada dunia nyata. Oleh karena itu, konsep keunggulan komparatif tidak dapat dipakai untuk mengukur dayasaing suatu kegiatan produksi pada kondisi perekonomian aktual. Dari sudut badan atau orang yang berkepentingan langsung dalam suatu proyek, konsep yang lebih cocok digunakan untuk mengukur kelayakan secara finansial adalah keunggulan kompetitif. 22

41 Keunggulan Kompetitif Keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan alat untuk mengukur dayasaing suatu aktivitas berdasarkan pada kondisi perekonomian aktual atau harga pasar, dimana harga yang terjadi telah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang ditujukan oleh suatu negara atau daerah dalam dayasaing produk yang dihasilkan dibandingkan dengan atau negara lain. Misalnya, suatu daerah mempunyai kelebihan dalam komoditas tertentu (mempunyai keunggulan komparatif) namun tidak terlihat dalam prestasi ekspornya maka dapat dikatakan komoditas tersebut tidak mampu bersaing di pasar dunia (tidak memiliki keunggulan kompetitif). Keunggulan kompetitif merupakan perluasan dari keunggulan komparatif yang diajukan oleh Micheal Porter sebagai kesuksesan suatu perusahaan dalam beroperasi pasar. Keunggulan kompetitif merupakan alat untuk mengukur dayasaing komoditas suatu wilayah dengan wilayah lain. Keunggulan ini dapat dihitung berdasarkan harga pasar dan nilai uang yang berlaku atau berdasarkan analisis finansial, sehingga konsep keunggulan kompetitif bukan merupakan suatu konsep yang sifatnya menggantikan atau mensubstitusi terhadap konsep keunggulan komparatif, akan tetapi merupakan konsep yang sifatnya saling melengkapi. Keunggulan kompetitif suatu negara ditentukan oleh empat faktor yang harus dimiliki suatu negara agar mampu bersaing. Keempat faktor tersebut adalah kondisi faktor sumberdaya (factor condition), kondisi permintaan (demand condition), industri terkait dan industri pendukung (related and supporting industry), persaingan, struktur dan strategi perusahaan (firm strategy, structure and rivalry). Keempat faktor penentu tersebut didukung oleh faktor eksternal yang terdiri atas peran pemerintah (government) dan terdapatnya kesempatan (chance events). Secara bersama-sama faktor tersebut membentuk suatu sistem yang berguna dalam peningkatan keunggulan dayasaing, sistem tersebut dikenal dengan The National Diamond. Keunggulan kompetitif dapat diciptakan antara lain melalui implementasi kebijakan pemerintah sehingga dapat tercipta efisiensi penggunaan sumberdaya. Suatu komoditas dapat mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif 23

42 sekaligus, yang berarti komoditas tersebut menguntungkan untuk diproduksi atau diusahakan dan dapat bersaing di pasar internasional. Akan tetapi apabila komoditas yang diproduksi hanya mempunyai keunggulan komparatif namun tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka dapat diasumsikan telah terjadi distorsi pasar atau terdapat hambatan-hambatan yang mengganggu kegiatan produksi sehingga merugikan produsen seperti prosedur administrasi, perpajakan dan lain-lain. Hal sebaliknya juga dapat terjadi bila suatu komoditas hanya memiliki keunggulan kompetitif dan tidak memiliki keunggulan komparatif. Kondisi ini akan terjadi apabila pemerintah memberikan proteksi terhadap komoditas tersebut seperti misalnya melalui stabilitas harga, kemudahan perizinan dan kemudahan berbagai fasilitas lainnya. Keunggulan kompetitif suatu komoditas diukur berdasarkan harga aktual (harga yang sebenarnya terjadi di pasar) atau berdasarkan analisis finansial yang akan menggambarkan manfaat suatu aktivitas dari sudut lembaga atau individu yang melibatkan diri secara langsung dalam aktivitas ekonomi tersebut Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah diharapkan dapat meningkatkan dayasaing komoditas pertanian termasuk produk buah seperti belimbing baik di pasar regional, domestik maupun pasar internasional. Kebijakan pemerintah ditetapkan dengan tujuan untuk melindungi produk dalam negeri. Kebijakan diberlakukan terhadap input dan output yang menyebabkan terjadinya perbedaan harga antara harga input dan output yang diterima produsen (harga aktual) dengan harga yang sebenarnya terjadi jika dalam kondisi persaingan sempurna (harga sosial). Terdapat dua bentuk kebijakan yang bisa ditetapkan pada suatu komoditas, yaitu kebijakan subsidi dan hambatan perdagangan. Kebijakan subsidi terdiri dari subsidi positif dan subsidi negatif (pajak), sedangkan hambatan perdagangan berupa tarif dan kuota. Subsidi adalah pembayaran dari atau untuk pemerintah. Pembayaran dari pemerintah disebut subsidi dan pembayaran untuk pemerintah disebut pajak. Pada dasarnya kebijakan subsidi dan pajak bertujuan untuk melindungi konsumen atau produsen dengan menciptakan harga domestik agar berbeda dengan harga internasional. Subsidi yang diterapkan pada produsen maupun konsumen akan 24

43 membuat harga yang diterima produsen menjadi lebih tinggi dan menjadi lebih rendah bagi konsumen. Kondisi ini lebih baik jika dibandingkan dengan sebelum adanya kebijakan subsidi. Sedangkan, penerapan pajak akan membuat harga yang diterima produsen lebih rendah dan jika diterapkan pada konsumen akan menyebabkan harga menjadi lebih tinggi. Kondisi ini bagi produsen dan konsumen menjadi lebih buruk jika dibandingkan dengan kondisi sebelum diterapkannya pajak. Adapun kebijakan perdagangan merupakan salah satu bentuk pembatasan yang diterapkan pemerintah pada impor atau ekspor suatu komoditas. Pembatasan tersebut dapat diterapkan baik terhadap harga komoditas yang diperdagangkan (dengan suatu pajak perdagangan) maupun terhadap jumlah komoditas (dengan kuota perdagangan) untuk menurunkan jumlah yang diperdagangkan secara internasional dan mengendalikan harga internasional (harga dunia) dan harga domestik (harga dalam negeri). Kebijakan pajak impor (bea masuk) maupun pembatasan kuantitas diberlakukan untuk membatasi kuantitas yang diimpor (kuota impor), sementara pajak ekspor maupun pembatasan jumlah ekspor dimaksudkan untuk membatasi jumlah ekspor. Menurut Monke dan Pearson (1989), tiga aspek yang membedakan kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan antara lain pada anggaran pemerintah, tipe alternatif kebijakan yang dilakukan dan tingkat kemampuan penerapan kebijakannya. Kebijakan subsidi akan mengurangi anggaran pemerintah dan pajak akan menambah anggaran pemerintah, sedangkan kebijakan perdagangan tidak memengaruhi anggaran pemerintah. Implementasi dari kebijakan tersebut dapat memengaruhi kemampuan suatu negara untuk memanfaatkan peluang ekspor suatu komoditas. Delapan tipe alternatif kebijakan harga komoditas untuk produsen dan konsumen pada barang orientasi ekspor dan barang substitusi impor dapat dilihat pada Tabel 4. 25

44 Tabel 4. Klasifikasi Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Komoditas Instrumen Dampak pada Dampak pada Produsen Konsumen 1. Kebijakan Subsidi Subsidi pada Produsen Subsidi pada Konsumen a. Tidak merubah harga a. Pada barang-barang a. Pada barang-barang pasar dalam negeri substitusi impor substitusi impor b. Merubah harga pasar (S+PI; S-PI) (S+CI; S-CI) dalam negeri b. Pada barang-barang b. Pada barang-barang orientasi ekspor orientasi ekspor (S+PE; S-PE) (S+CE; S-CE) 2. Kebijakan perdagangan Hambatan pada barang Hambatan pada barang (merubah harga pasar impor (TPI) ekspor (TCE) dalam negeri) Sumber : Monke dan Pearson, 1989 Keterangan : S+ : Subsidi CE: Konsumen Barang Orientasi Ekspor S- : Pajak CI: Konsumen Barang Substitusi Impor PE : Produsen Barang Orientasi Ekspor TCE : Hambatan Barang Ekspor PI : Produsen Barang Substitusi Impor TPI : Hambatan Barang Impor Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Output P Kebijakan terhadap harga output baik berupa pajak maupun subsidi, dapat diterapkan pada produsen barang impor dan barang ekspor. Kebijakan subsidi pada harga output menyebabkan harga barang, jumlah barang, surplus produsen dan surplus konsumen berubah. Diberlakukan subsidi positif pada produsen barang impor dan konsumen barang-barang impor dapat dilihat secara grafis pada Gambar 2. S P S P A P w A F E G P w C B Q 1 Q 2 Q 3 (a) Kurva Subsidi untuk Produsen Barang Impor D Q P B H Q 2 Q 1 Q 3 Q 4 (b) Kurva Subsidi untuk Konsumen Barang Impor Keterangan : P = Harga di dalam negeri S = Suplai Q = Kuota P w = Harga dunia D = Demand Gambar 2. Dampak Subsidi pada Produsen dan Konsumen Barang Impor (Sumber : Monke dan Pearson 1989) D Q 26

45 Gambar 2(a) adalah subsidi untuk produsen barang impor dimana harga yang diterima produsen lebih tinggi dari harga di pasaran dunia (P w ke P d ). Perubahan harga tersebut menyebabkan output produksi dalam negeri meningkat dari Q 1 ke Q 2, sementara konsumsi tetap di Q 3. Harga yang diterima konsumen tetap sama dengan harga di pasar dunia. Subsidi dapat dilakukan jika produsen dan konsumen dapat dipisahkan berdasarkan wilayah ekonomi yang jauh dari kontrol administrasi yang ketat sehingga perbedaan harga antara produsen (karena diberi subsidi) dan konsumen (tanpa subsidi) dapat terjadi. Subsidi ini menyebabkan jumlah impor turun dari Q 3 -Q 1 menjadi Q 3 -Q 2. Tingkat subsidi per output sebesar (P d - P w ) pada output Q 2, maka transfer total dari pemerintah ke produsen sebesar P d AB P w. Subsidi yang menyebabkan barang yang tadinya diimpor diproduksi sendiri dengan biaya yang dikorbankan sebesar Q 1 CBQ 2, sehingga efisien yang hilang sebesar CAB. Gambar 2(b) menunjukkan subsidi pada konsumen untuk output yang diimpor. Kebijakan subsidi sebesar P d - P w yang menyebabkan produksi turun dari Q 1 ke Q 2 dan konsumsi naik dari Q 3 ke Q 4. Impor meningkat dari Q 3 Q 1 menjadi Q 4 Q 2. Transfer yang terjadi terdiri dari dua yaitu transfer darti pemerintah ke konsumen sebesar ABGH dan transfer dari produsen ke konsumen sebesar P w A P d. Di sisi produksi terjadi penurunan output dari Q 2 ke Q 1 dan terjadi kehilangan pendapatan sebesar Q 2 AFQ 1, sehingga efisiensi ekonomi yang hilang sebesar AFB. Dari sisi konsumsi, opportunity cost dari peningkatan konsumsi adalah sebesar Q 1 EGQ 4, sedangkan kemampuan membayar konsumen sebesar Q 3 EGQ 4 sehingga efisiensi yang hilang sebesar EGH. Selain kebijakan subsidi, kebijakan hambatan perdagangan pun dapat diterapkan pada output. Contoh dari diterapkannya kebijakan hambatan terhadap output adalah hambatan perdagangan terhadap barang impor. Secara grafis dapat dilihat pada Gambar 3. 27

46 P S P d E A P w G F B C D Q 1 Q 2 Q 4 Q 3 Keterangan : P d = Harga di dalam negeri S = Suplai Q = Kuota P w = Harga dunia D = Demand Gambar 3. Hambatan Perdagangan Pada Produsen untuk Barang Impor (Sumber : Monke dan Pearson 1989) Gambar 3 menunjukkan adanya hambatan pada barang impor dimana terdapat tarif sebesar (P d P w ) sehingga meningkatkan harga di dalam negeri baik untuk produsen maupun konsumen. Output domestik meningkat dari Q 1 ke Q 2 dan konsumsi turun dari Q 3 ke Q 4, sehingga impor turun dari Q 3 Q 1 menjadi Q 4 Q 2. Terjadi transfer pendapatan dari konsumen kepada produsen sebesar P d EFP w dan terjadi transfer dari anggaran pemerintah kepada produsen sebesar FEAB. Efisiensi ekonomi yang hilang dari sisi konsumen adalah perbedaan antara opportunity cost dari perubahan konsumsi Q 4 BCQ 3 dengan willingness to pay Q 4 ACQ 3, sehingga efisiensi yang hilang pada konsumen adalah sebesar daerah ABC dan pada produsen sebesar EFG Kebijakan Pemerintah Terhadap Harga Input Kebijakan pemerintah bisa diterapkan pada input, baik input yang dapat diperdagangkan (tradable) maupun input yang tidak dapat diperdagangkan (nontradable). Intervensi pemerintah berupa hambatan perdagangan tidak akan tampak pada input non-tradable, karena dalam input non-tradable hanya diproduksi dan dikonsumsi di dalam negeri saja. Kebijakan subsidi (positif atau negatif) dan kebijakan hambatan perdagangan dapat diaplikasikan pada input tradable. Kedua kebijakan ini dapat diterapkan karena input tradable yang diproduksi dan dikonsumsi di dalam negeri Q 28

47 maupun di luar negeri. Dampak diterapkannya kebijakan pajak dan kebijakan subsidi dapat dilihat pada Gambar 4. P S P S S C S P w A C P w A B B D Q 1 Q 2 Q Q 1 Q 2 Q (a) Keterangan : P w = Harga dunia S = Supply D = Demand Q = Kuota Gambar 4. Dampak Pajak dan Subsidi Pada Input Tradable (Sumber : Monke dan Pearson 1989) Pada Gambar 4(a), menunjukkan efek pajak terhadap input tradable. Pajak menyebabkan biaya produksi meningkat menyebabkan kurva supply bergeser ke kiri atas, sehingga pada tingkat harga output yang sama, output domestik turun dari Q 2 ke Q 1. ABC adalah besarnya efisiensi ekonomi yang hilang, yang merupakan perbedaan antara nilai output yang hilang (Q 1 CAQ 2 ) dengan biaya produksi output (Q 2 BC Q 1 ). Dampak dari subsidi input tradable dapat dilihat pada Gambar 4(b). Kebijakan subsidi menyebabkan harga input menjadi murah yang berdampak pada penurunan biaya produksi. Penurunan biaya produksi tersebut menyebabkan kurva supply bergeser ke bawah, sehingga output yang dihasilkan akan meningkat dari Q 1 ke Q 2. Besarnya efisiensi ekonomi yang hilang adalah ABC, yang merupakan perbedaan antara nilai output yang hilang (Q 1 ACQ 2 ) dengan biaya produksi output (Q 1 ABQ 2 ). Kebijakan input non-tradable dapat berupa kebijakan pajak dan subsidi. Dampak kebijakan pajak dan subsidi pada input non-tradable dapat dilihat pada Gambar 5. Pada Gambar 5(a), harga yang berlaku sebelum diberlakukannya pajak pada input non-tradable berada pada P d dengan tingkat output Q 1. Adanya pajak (b) 29

48 sebesar P c -P p menyebabkan produksi yang dihasilkan turun menjadi Q 2. Harga ditingkat produsen turun menjadi P p dan harga yang diterima konsumen naik menjadi P c. Besaran efisiensi ekonomi yang hilang dari produsen sebesar BDA dan dari konsumen yang hilang sebesar BCA. P P P c P d S C B A P p P d S C A B P p P p D D P c D D Q 3 Q 2 Q 1 Q Q 2 Q 1 Q (a) Keterangan : P d : Harga domestik sebelum diberlakukan pajak dan subsidi P c : Harga di tingkat konsumen setelah diberlakukan pajak dan subsidi : Harga di tingkat produsen setelah diberlakukan pajak P p Gambar 5. Dampak Pajak dan Subsidi Pada Input Non-Tradable (Sumber : Monke and Pearson 1989) (b) Dampak subsidi pada input non-tradable dapat dilihat pada Gambar 5(b). Sebelum diberlakukannya kebijakan subsidi, tingkat harga keseimbangan yang terjadi adalah pada P d dengan tingkat output keseimbangan Q 1. Subsidi menyebabkan terjadinya perubahan harga di tingkat produsen menjadi P p, sedangkan harga yang dibayarkan konsumen menjadi lebih rendah yaitu P c. Efisiensi yang hilang dari produsen sebesar ACB dan dari konsumen sebesar ABD Teori Matrik Kebijakan (Policy Analysis Matrix) Ada banyak metode analisis yang dapat digunakan untuk menghitung maupun menilai tingkat dayasaing suatu komoditas. Di antaranya adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Berlian Porter dan Policy Analysis Matrix (PAM). Indeks RCA digunakan untuk melihat keunggulan komparatif suatu komoditas. Kelemahan indeks RCA adalah tidak dapat membedakan antara 30

49 peningkatan didalam faktor sumberdaya dan penerapan kebijakan perdagangan serta lemah dalam mengukur keunggulan komparatif dari kinerja ekspor dan mengesampingkan pentingnya permintaan domestik, ukuran pasar domestik dan perkembangannya. Suatu negara tidak dapat lagi hanya menggantungkan keunggulannya pada keunggulan komparatif yang dimiliki sebagai endowment factors, tapi juga harus didukung adanya keunggulan kompetitif yang kuat. Teori Berlian Porter menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keunggulan kompetitif suatu komoditas. Faktor internal mencakup faktor fisik dan manusia, sedangkan faktor eksternal mencakup peluang yang terjadi pada pasar dalam negeri maupun internasional. Policy Analysis Matrix (PAM) atau matrik kebijakan digunakan untuk menganalisis pengaruh intervensi pemerintah dan dampaknya pada sistem komoditas. Sistem komoditas yang dapat dipengaruhi meliputi empat aktivitas, yaitu tingkat usahatani, penyampaian dari usahatani ke pengolahan, pengolahan maupun pemasaran (Monke dan Pearson, 1989). Metode PAM merupakan suatu analisis yang dapat mengidentifikasi tiga analisis yaitu keuntungan privat dan keuntungan sosial atau ekonomi, analisis dayasaing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif) serta analisis dampak kebijakan pemerintah yang memengaruhi sistem komoditas. Sehingga PAM dinilai sebagai metode analisis yang paling efisien karena dalam satu metode dapat mengidentifikasi tiga analisis sekaligus. Namun, kelemahan PAM yaitu bersifat statis (hanya dapat menghitung pada satu tingkat harga), sedangkan dalam kenyataannya harga dapat bervariasi. Metode PAM dapat digunakan pada sistem komoditas dengan berbagai wilayah, tipe usahatani dan teknologi. Matrik ini terdiri dari tiga baris dan empat kolom, dimana baris pertama adalah perhitungan dengan harga privat atau harga aktual untuk mengestimasi keuntungan privat. Keuntungan privat dihitung berdasarkan selisih antara pendapatan dan biaya berdasarkan harga aktual yang mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh semua kebijakan dan kegagalan pasar. Keuntungan privat dalam angka absolut atau rasio merupakan indikator keuntungan atau dayasaing (keunggulan kompetitif) dari usahatani berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada. 31

50 Baris kedua merupakan perhitungan keuntungan ekonomi berdasarkan harga sosial atau harga bayangan yaitu harga yang menggambarkan divergensi. Divergensi akan menggambarkan penyebab perbedaan hasil perhitungan antara perhitungan berdasarkan harga privat dan perhitungan berdasarkan harga sosial, divergensi dapat disebabkan oleh adanya kegagalan pasar atau kebijakan pemerintah. Kegagalan pasar terjadi apabila pasar gagal menciptakan suatu competitive outcome dan harga efisiensi. Jenis kegagalan pasar yang umum adalah monopoli, externality dan pasar faktor produksi domestik yang tidak sempurna. Kebijakan pemerintah adalah intervensi pemerintah yang menyebabkan harga pasar berbeda dengan harga efisiensinya. Kebijakan pemerintah yang dapat menyebabkan divergensi antara lain pajak/subsidi, hambatan perdagangan atau regulasi harga, maka perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan adanya kebijakan pemerintah (Pearson et al 2005). Matrik PAM memiliki empat kolom, kolom pertama merupakan kolom penerimaan, kolom kedua merupakan kolom biaya input asing (tradable), kolom ketiga merupakan kolom biaya input domestik (non-tradable) dan kolom keempat merupakan kolom keuntungan dari selisih antara penerimaan dan biaya. Penggunakan harga privat dan sosial dalam analisis PAM menggambarkan bahwa metode tersebut mengandung analisis finansial dan ekonomi. Dalam analisis ekonomi akan meninjau aktivitas dilihat dari sudut masayarakat secara keseluruhan. Sedangkan analisis finansial dilihat dari individu yang terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi yaitu petani Harga Bayangan (Harga Sosial) Menurut Pearson et al. (2005), penentuan harga bayangan (sosial) hanya bisa dilakukan dengan pendugaan (approximation). Harga bayangan (harga sosial) untuk input maupun output tradable adalah harga internasional untuk barang yang sejenis (comparable), yakni harga impor untuk komoditas impor dan harga ekspor untuk komoditas ekspor. Harga bayangan (sosial opportunity cost) untuk memproduksi satu komoditas impor adalah sama dengan jumlah devisa yang dihemat karena tidak mengimpor komoditas tersebut. Sedangkan harga bayangan (sosial opportunity cost) untuk memproduksi satu komoditas ekspor adalah jumlah devisa yang dapat diperoleh dengan mengekspor komoditas tersebut. 32

51 Menurut Monke dan Pearson (1989), cara untuk menentukan harga internasional dari suatu barang yang tradable yaitu dengan menggunakan harga paritas ekspor atau Free on Board (FOB) untuk barang exportable dan harga paritas impor atau Cost Insurance and Freight (CIF) untuk barang yang importable. FOB merupakan syarat penyerahan barang dimana penjual hanya menanggung biaya pengangkutan sampai pelabuhan muat penjual, sisanya ditanggung oleh pembeli. Sedangkan CIF adalah syarat penyerahan barang dimana penjual harus menanggung biaya pengangkutan dan asuransi atas suatu komoditas. Monke dan Pearson (1989) juga mengemukakan bahwa ada empat cara dalam menentukan harga paritas (harga internasional) dari suatu barang (input/output) yang tradable, yaitu : (1) nilai FOB atau CIF yang implisit, yakni dengan membagi total nilai ekspor/impor dengan total kuantitas. Tetapi nilai ini bias karena perusahaan umumnya tidak akan melaporkan yang sebenarnya untuk meminimalisir pajak; (2) nilai FOB atau CIF di negara tetangga yang sudah diketahui secara jelas; (3) nilai FOB atau CIF berdasarkan informasi yang diperoleh dari industri, agensi pemerintah atau organisasi internasional; dan (4) world price indirectly yakni dengan mengurangkan efek dari kebijakan pemerintah (menambahkan subsidi atau mengurangkan pajak). Sedangkan untuk barang-barang non-tradable, penentuan harga bayangannya ditentukan berdasarkan langkah-langkah berikut (Monke dan Pearson 1989) : (1) mengoreksi ada tidaknya divergensi baik yang disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah atau kegagalan pasar, (2) apabila dampak divergensi tidak dapat diestimasi maka gunakan harga substitusinya, (3) jika langkah tersebut juga sulit untuk dilakukan maka gunakan harga barang/substitusinya di negara tetangga, (4) mendekomposisikan biaya produksi input non-tradable tersebut kedalam unsur input tradable dan non-tradable, (5) menggunakan matriks input-output pendapatan nasional untuk mengalokasikan pangsa tenaga kerja dan modal dari input non-tradable pada tingkat harga privat. Sesuaikan biaya privat untuk mendapatkan nilai sosial, dan (6) apabila tabel input output tidak tersedia maka alokasikan sepertiga biaya non-tradable kedalam biaya modal, tenaga kerja dan input tradable. 33

52 1) Harga Bayangan Tenaga Kerja Menurut Pearson et al. (2005), dalam mengestimasi harga bayangan tenaga kerja adalah dengan melihat apakah ada kegagalan pasar maupun distorsi kebijakan yang terjadi pada pasar tenaga kerja. Ada dua jenis kegagalan pasar yang bisa memengaruhi pasar tenaga kerja pedesaan di negara berkembang, yaitu monopsoni atau oligopsoni (dimana satu atau beberapa pengguna tenaga kerja berkolusi untuk menekan upah) dan kekuatan serikat buruh (ketika kelompok serikat buruh memberikan tekanan yang menyebabkan naiknya upah). Apabila buruh mudah untuk masuk dan keluar dari pasar tenaga kerja, maka hal itu merupakan bukti tidak efektinya kekuatan yang memengaruhi pasar, baik yang dimiliki oleh pengguna tenaga kerja (perusahaan) maupun serikat buruh. Dua jenis distorsi kebijakan yang bisa memengaruhi pasar tenaga kerja pedesaan di negara berkembang adalah peraturan upah minimum serta tunjangan (pajak) pensiun dan kesehatan (dimana pemerintah mengharuskan perusahaan atau pengguna tenaga kerja untuk berkontribusi pada program kesehatan dan pensiun yang dengan sendirinya akan meningkatkan biaya upah tenaga kerja). Kebijakan seperti ini berkembang baik di negara berkembang maupun negara maju, namun umumnya tidak bisa diterapkan di pasar tenaga kerja pertanian kecuali di perkebunan besar dan pabrik pengolahan hasil pertanian. Kebijakan yang tidak memengaruhi biaya tenaga kerja, karena tidak bisa diterapkan adalah kebijakan yang tidak efektif dan dengan sendirinya bisa diabaikan pada analisis PAM. 2) Harga Bayangan Bunga Modal Sebelum mengestimasi harga bayangan bunga modal, terlebih dahulu harus mengetahui mengenai sumber kredit atau sumber modal serta tingkat bunga yang harus dibayar untuk setiap sumber kredit atau sumber modal yang digunakan oleh pelaku usaha dalam sistem komoditas yang diteliti. Menurut Pearson et al. (2005), ada empat sumber kredit dan tingkat bunga yang umum ditemukan di negara berkembang, yaitu : a. Tabungan keluarga, baik yang bersumber dari kegiatan usaha pertanian maupun nonpertanian, umumnya merupakan sumber modal yang paling banyak digunakan karena paling murah biayanya. Tabungan bisa diartikan 34

53 sebagai hilangnya kesempatan untuk mengkonsumsi atau investasi. Opportunity cost yang membiayai sendiri kegiatan usahatani dengan sumber tabungan keluarga adalah bunga tabungan yang hilang. b. Lembaga perkreditan formal, seperti bank pemerintah, bank komersial atau lembaga keuangan lainnya, umumnya menyalurkan kredit kepada petani, usaha kecil dan pedagang dengan tingkat bunga yang moderat. Lembaga seperti ini masih belum banyak berkiprah di pedesaan, serta memerlukan agunan yang besar dan mahal. c. Pemilik kios/toko/warung serta pedagang yang menjual pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya seringkali merupakan sumber kredit yang amat penting bagi petani meskipun dengan tingkat bunga yang cukup tingi. d. Pelepas uang (rentenir) umumnya merupakan sumber kredit dengan tingkat bunga tertinggi. Karena tingkat bunga yang dibebankan bisa diatas 10 persen per bulan, petani umumnya menghindari sumber kredit seperti ini kecuali untuk kebutuhan keluarga yang mendesak. Biaya modal dalam analisis PAM diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu modal kerja dan modal investasi. Modal kerja adalah biaya produksi (tunai) yang harus dibayar petani seperti pembelian input, upah tenaga kerja dan penyimpanan dalam kurun waktu satu tahun produksi. Modal investasi adalah pengeluaran atas aset yang memberikan kegunaan lebih dari satu tahun. Kegagalan pasar finansial atau perkreditan kerap terjadi di negara-negara berkembang dan biasanya karena kurang tersedianya lembaga keuangan (perkreditan) di pedesaan. Pada prinsipnya, pendapatan sosial untuk modal (social return to capital) adalah pendapatan atas investasi public atau privat yang akan dilakukan seandainya ada dana untuk melakukan investasi tersebut. Pada pratiknya, untuk mengestimasi tingkat bunga sosial modal kerja dan modal investasi dapat dilakukan dengan menggunakan pengalaman dari negara berkembang atau negara maju lainnya pada saat negara tersebut berada pada tingkat pembangunan yang sama dengan negara yang sedang menjadi fokus penelitian. 35

54 3) Harga Bayangan Lahan Lahan merupakan faktor produksi atau aset tak bergerak (fixed factor) dalam proses produksi pertanian. Berbeda dengan tenaga kerja dan modal yang bersifat bergerak (mobile) dan bisa berpindah kepada aktivitas lainnya, lahan bersifat tetap atau tak bergerak (immobile). Kecuali lahan tersebut terletak di dekat pusat kota, menjadi pusat perumahan atau perindustrian. Opportunity cost dari lahan yang ditanami satu komoditas adalah pendapatan yang diperoleh dari komoditas alternatif terbaiknya. Nilai lahan di pasar lahan (baik jual lepas maupun sewa-menyewa) bergantung kepada tingkat produktivitas lahan tersebut dan dengan sendirinya juga tingkat keuntungan yang akan diperoleh petani pembeli atau penyewa lahan tersebut. Menurut Pearson et al. (2005), penentuan harga bayangan (sosial) dari lahan mengikuti prinsip-prinsip social opportunity cost. Dilihat dari sudut pandang perekonomian nasional, nilai sosial dari sewa lahan adalah sama dengan keuntungan sosial lahan yang diperoleh dari komoditas alternatif terbaik sebelum dikurangi sewa lahan. Bila cara ini ternyata tidak praktis atau malah mengalihkan perhatian dari komoditas yang semula diteliti, cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan memasukan balas jasa atau pendapatan untuk lahan (return to land). Dengan demikian, keuntungan didefinisikan sebagai pendapatan untuk manajemen dan lahan (return to management and land), bukan hanya pendapatan untuk manajemen. Dengan demikian, biaya lahan dikeluarkan dari harga bayangan (sosial). Karena rumit dan juga mahalnya menganalisis komoditas alternatif terbaik, belum lagi untuk menentukan alternatif komoditas itupun memerlukan penelitian lebih dari satu komoditas, maka banyak peneliti mengadopsi pendekatan ini. Namun, korbanan yang harus dilakukan dengan mengambil cara ini amat besar, karena dugaan nilai (sewa) sosial lahan amat diperlukan dalam menentukan efisiensi. Dengan kata lain, dengan menggabungkan biaya sosial lahan ke dalam keuntungan (return to management and land), kita kehilangan dasar untuk menentukan apakah sistem usahatani yang sedang diteliti menggunakan sumberdaya yang langka ini secara efisien atau tidak. 36

55 3.1.6 Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat bagaimana perubahan hasil analisis suatu kegiatan ekonomi, bila ada suatu kesalahan dalam perhitungan biaya atau manfaat. Analisis sensitivitas merupakan suatu teknik analisa untuk menguji perubahan kelayakan suatu kegiatan ekonomi (proyek) secara sistematis, bila terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang telah dibuat dalam perencanaan. Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara : 1. Mengubah besarnya variabel-variabel yang penting, masing-masing terpisah atau beberapa dalam kombinasi dengan suatu persentase dan menentukan seberapa besar kepekaan hasil perhitungan terhadap perubahan-perubahan tersebut. 2. Menentukan dengan berapa suatu harus berubah sampai hasil perhitungan yang membuat proyek tidak dapat diterima. Analisa sensitivitas membantu menentukan unsur-unsur kritikal yang berperan dalam menentukan hasil dan proyek. Analisis kepekaan dilakukan dengan mengubah suatu unsur atau kombinasi unsur, kemudian menentukan pengaruh dari perubahan tersebut terhadap hasil analisis. Kelemahan analisis sensitivitas adalah : 1. Analisis sensitivitas tidak digunakan untuk pemilihan proyek, karena merupakan analisis parsial yang hanya mengubah satu parameter pada suatu saat tertentu. 2. Analisis sensitivitas hanya mencatatkan apa yang terjadi jika variabel berubah-ubah dan bukan menentukan layak atau tidaknya suatu proyek. Dalam kaitannya dengan PAM, analisis sensitivitas akan mereduksi kelemahan dari metode analisis PAM tersebut. PAM bersifat statis dan tidak dimungkinkannya dilakukan simulasi untuk melihat pengaruh perubahan dari faktor-faktor penting dalam suatu proyek, kaitannya dengan penelitian ini adalah usahatani. 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional Indonesia memiliki potensi dan peluang yang sangat baik untuk menjadi salah satu negara eksportir buah-buahan tropis di dunia. Salah satu jenis buah tropis yang sedang dikembangkan dan memiliki prospek yang cukup bagus adalah 37

56 belimbing. Kota Depok merupakan salah satu wilayah sentra produksi belimbing di Indonesia, khususnya untuk wilayah Jawa Barat. Belimbing di Kota Depok lebih dikenal dengan sebutan belimbing dewa. Dalam rangka mengembangkan agribisnis belimbing di Kota Depok serta memanfaatkan peluang pasar yang tercipta karena adanya era perdagangan bebas maka belimbing dewa di Kota Depok mulai dipersiapkan untuk dapat menembus pasar internasional. Namun, untuk dapat menembus pasar internasional maka komoditas belimbing dewa di Kota Depok dituntut untuk memiliki dayasaing agar mampu bertahan dan bersaing dengan produk sejenis yang terdapat di mancanegara. Adanya penetapan pajak impor (bea masuk) sebesar lima persen atas bahan baku pupuk anorganik dan obat-obatan dan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar sepuluh persen atas input-input produksi seperti peralatan, pupuk dan obat-obatan serta adanya kebijakan terhadap suku bunga dapat membuat harga yang diterima petani berbeda dengan harga pada kondisi pasar persaingan sempurna (tidak ada distorsi pasar maupun intervensi pemerintah). Disamping itu, pemerintah juga telah memberikan insentif input produksi kepada para petani belimbing dewa di Kota Depok. Hal-hal tersebut diduga akan memengaruhi tingkat keuntungan dan efisiensi usahatani belimbing dewa di Kota Depok. Terdapat banyak metode pendekatan dan teori untuk mengestimasi dayasaing komoditas, dimana semua cara pendekatan dan teori tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang memerlukan pemecahan. Salah satu cara pendekatan yang dipandang efisien untuk memecahkan permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hal ini dikarenakan selain dapat digunakan untuk menganalisis dayasaing komoditas belimbing dewa, PAM juga dapat digunakan sekaligus untuk menganalisis dampak/pengaruh dari penerapan kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas belimbing dewa. Dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok dianalisis melalui keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki oleh komoditas tersebut. Keunggulan komparatif diidentifikasi melalui nilai keuntungan sosial dan nilai rasio biaya sumberdaya domestik atau domestic resources cost (DRC) yang dihasilkan. Keunggulan kompetitif dianalisis berdasarkan nilai keuntungan privat 38

57 dan nilai rasio biaya privat atau private cost ratio (PCR) yang dihasilkan. Dampak dari kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing dewa di Kota Depok dianalisis melalui tiga pendekatan yaitu dampak kebijakan terhadap output, kebijakan terhadap input serta kebijakan terhadap input dan output. Dampak kebijakan terhadap output dianalisis berdasarkan nilai output transfer (TO) dan nominal protection coefficient on output (NPCO) yang dihasilkan. Dampak kebijakan input dianalisis berdasarkan nilai transfer input (IT), nominal protection coefficient on input (NPCI) dan factor transfer (TF) yang dihasilkan. Sedangkan dampak kebijakan terhadap input dan output dianalisis berdasarkan nilai effective protection coefficient (EPC), net transfer (TB), profitability coefficient (PC), dan subsidy ratio to produsers (SRP). Sebagai pereduksi kelemahan dari PAM yang bersifat statis, maka setelah melakukan analisis PAM selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui dayasaing komoditas belimbing dewa apabila terjadi perubahan harga input dan output. Perubahan yang dianggap penting dalam penelitian ini dan dapat memengaruhi tingkat keuntungan serta efisiensi usahatani belimbing dewa di Kota Depok adalah penurunan jumlah produksi dan harga output belimbing dewa serta peningkatan upah tenaga kerja dan harga pupuk anorganik. Setelah memperoleh gambaran hasil analisis maka langkah terakhir adalah memberikan rekomendasi kebijakan kepada petani dan pemerintah yang dapat dijadikan sebagai masukan ataupun bahan pertimbangan bagi penetapan kebijakan selanjutnya. Skema kerangka pemikiran yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 6. 39

58 1. Indonesia memiliki potensi sebagai negara eksportir buah-buahan tropis. 2. Potensi Kota Depok sebagai sentra produksi belimbing. 3. Pengembangan agribisnis belimbing dan peluang ekspor. 4. Insentif produksi kepada petani belimbing, adanya bea masuk 5 persen atas bahan baku pupuk anorganik dan obat-obatan, PPN 10 persen atas input produksi serta kebijakan suku bunga 1. Apakah komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok memiliki dayasaing? 2. Bagaimana Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap dayasaing komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok? 3. Bagaimana pengaruh perubahan harga buah belimbing, harga tenaga kerja, harga pupuk dan jumlah output belimbing yang dihasilkan terhadap dayasaing Belimbing Dewa di Kota Depok? Policy Analysis Matrix (PAM) Analisis Dayasaing Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok: 1. Keunggulan Komparatif 2. Keunggulan Kompetitif Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Dayasaing Belimbing Dewa di Kota Depok: 1. Dampak Kebijakan terhadap Output 2. Dampak Kebijakan terhadap Input 3. Dampak Kebijakan terhadap Input-Ouput Analisis Sensitivitas 1. Penurunan Jumlah Poduksi 2. Peningkatan Upah Tenaga Kerja 3. Peningkatan Harga Pupuk Anorganik 4. Penurunan Harga Output 1. Gambaran dayasaing komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok 2. Gambaran dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok. 3. Gambaran pengaruh perubahan jumlah produksi, harga tenaga kerja, harga pupuk anorganik, dan harga output terhadap dayasaing Belimbing Dewa di Kota Depok. Rekomendasi Kebijakan Gambar 6. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok 40

59 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kota Depok tepatnya di Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cipayung. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kota Depok merupakan salah satu sentra produksi belimbing di Indonesia, khususnya untuk wilayah Jawa Barat. Kota Depok telah memberikan kontribusi produksi belimbing sebesar 43,66 persen dari total produksi belimbing di Jawa Barat pada tahun 2009 (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat 2010). Selanjutnya, pemilihan Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung juga dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Pancoran Mas merupakan daerah sentra produksi utama belimbing di Kota Depok. Hal ini dikarenakan Kecamatan Pancoran Mas memberikan kontribusi produksi belimbing terbesar pertama di Kota Depok yaitu sebesar 51,35 persen dari seluruh total produksi belimbing di Kota Depok. Adapun Kecamatan Cipayung terpilih menjadi lokasi penelitian dikarenakan Kecamatan Cipayung merupakan wilayah hasil pemekaran Kecamatan Pancoran Mas pada akhir tahun 2009 yang lalu dan juga menjadi salah satu sentra produksi belimbing di Kota Depok dengan kontribusi produksi sebesar 12,40 persen dari total produksi belimbing di Kota Depok pada tahun Jumlah produksi belimbing di masingmasing kecamatan di Kota Depok pada tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Produksi Tanaman Belimbing di Sebelas Kecamatan di Kota Depok Tahun 2007 Kecamatan Luas Populasi Produksi Produktivitas % Areal Tanaman (ton/tahun) (ton/ha/tahun) Produksi (Ha) (pohon) Pancoran Mas ,44 51,35 Cipayung ,5 12,16 12,40 Cimanggis 8, ,71 13,36 Tapos 11, ,92 4,11 Sawangan 12, ,29 13,19 Bojongsari 1, ,33 0,70 Beji ,80 3,48 Limo dan Cinere ,00 1,41 Sukmajaya dan Cilodong n.a n.a - JUMLAH 119, ,5 169,65 100,00 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok, 2007 (Diolah) 41

60 Dengan demikian, Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cipayung merupakan wilayah sentra produksi belimbing yang dapat dijadikan contoh sebagai daerah yang cocok untuk melakukan analisis dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Adapun penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2010-Juni Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan terhadap kelompok tani, petani, lembaga pemasaran, pedagang input pertanian, dan lembaga penunjang. Pengambilan sampel terhadap kelompok tani dilakukan secara purposive, yaitu teknik pengambilan sampel secara sengaja berdasarkan pertimbangan dari kelompok tani yang memiliki jumlah anggota, luas areal, populasi tanaman, dan kapasitas produksi belimbing yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok tani lainnya di masing-masing kecamatan. Di Kecamatan Pancoran Mas, kelompok tani belimbing yang dipilih adalah Kelompok Tani Kali Licin. Sedangkan di Kecamatan Cipayung, kelompok tani belimbing yang dipilih adalah Kelompok tani Layungsari. Kelompok tani, jumlah anggota, luas areal, populasi tanaman, dan kapasitas produksi belimbing di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Kelompok Tani, Jumlah Anggota, Luas Areal, Populasi Tanaman, dan Kapasitas Produksi Belimbing di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Tahun 2007 Nama Kelompok Tani Jumlah Anggota (Orang) Luas Areal (Hektar) Populasi Tanaman (Pohon) Kapasitas Produksi (Kg per tahun) Kecamatan Pancoran Mas Kali Licin Sarijaya Laris Jaya RJB Rawa Denok Kecamatan Cipayung Makmur Jaya Pondok Jaya Layungsari Cipayung Jaya Persada Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok (2007) 42

61 Petani responden bersifat homogen yang dilihat dari luas areal, proses budidaya, biaya usahatani dan teknologi yang digunakan relatif sama, sehingga pengambilan sampel terhadap petani dalam penelitian ini menggunakan metode simple random sampling terhadap anggota dari kelompok tani yang telah dipilih sebelumnya. Dengan demikian, semua populasi (anggota dari kelompok tani yang telah dipilih, yaitu sebanyak 70 orang) memiliki kesempatan atau probabilitas yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Jumlah petani yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 orang. Penentuan jumlah petani responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung dilakukan secara proporsional yaitu masing-masing kecamatan sebanyak 15 orang. Penentuan sampel terhadap lembaga pemasaran ditentukan secara purposive. Lembaga pemasaran yang dipilih menjadi sampel adalah Puskop dan satu pengumpul (CV. Star Fresh). Puskop dipilih dengan pertimbangan bahwa Puskop adalah lembaga pemasaran resmi yang diakui oleh pemerintah, sedangkan CV. Star Fresh dipilih dengan pertimbangan bahwa sebagian besar petani responden menjualnya kepada pengumpul tersebut dan CV. Star Fresh juga merupakan salah satu pesaing terberat Puskop. Kemudian, pengambilan sampel terhadap pedagang input pertanian juga dilakukan secara purposive. Pedagang input pertanian yang dipilih adalah satu pedagang pupuk dan obat-obatan (kios kelompok) serta satu pedagang peralatan pertanian (Pasar Parung). Pemilihan ini dilakukan dengan pertimbangan kedekatan lokasi pedagang dengan petani responden dan lokasi penelitian. Selanjutnya, pengambilan sampel terhadap lembaga penunjang pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok juga dilakukan secara purposive. Lembaga penunjang yang dipilih adalah Dinas Pertanian Kota Depok. Adapun pemilihan tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa Dinas Pertanian Kota Depok merupakan lembaga yang telah memberikan bantuan secara langsung kepada para petani belimbing di Kota Depok serta mampu berperan strategis dalam mendukung perkembangan agribisnis belimbing dewa di Kota Depok. Penentuan jumlah sampel dan teknik pengambilan data dalam penelitian ini didasarkan pada Pearson at al. (2005) yang menyatakan bahwa budget data 43

62 untuk PAM bisa diambil dari contoh yang tidak terlalu besar, baik terhadap petani, pedagang, pelaku usaha maupun pengolahan. Data yang dimasukkan dalam PAM merupakan modus (central tendency), bukan parameter yang diestimasi melalui model ekonometrika dengan jumlah contoh yang valid secara statistik. 4.3 Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan terhadap aktivitas produksi dan pemasaran belimbing yang dilakukan oleh petani dan lembaga pemasaran belimbing serta wawancara menggunakan kuesioner dengan pertanyaan terbuka terhadap petani, Dinas Pertanian Kota Depok dan Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop) serta wawancara langsung terhadap pengumpul besar dan pedagang input pertanian. Beberapa data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain adalah data mengenai karakteristik petani, kegiatan usahatani belimbing (proses budidaya, kepemilikan lahan, penggunaan faktorfaktor produksi dan output yang diperoleh), perlakuan atau penanganan pascapanen, pemasaran belimbing, sumber modal, kebijakan pemerintah yang telah dan sedang diberlakukan, harga aktual input dan output yang berlaku di lokasi penelitian serta keikutsertaan dalam pelatihan atau penyuluhan pertanian. Pengumpulan data primer dilaksanakan pada bulan Maret-Mei Berikutnya, data sekunder diperoleh dari International Monetary Fund (IMF), Bank Indonesia, Kementerian Pertanian, Badan Pusat Statistik, Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Badan Pusat Statistik Kota Depok, Direktorat Jenderal Hortikultura, Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), Bank Mandiri, Dinas Pertanian Kota Depok, Badan Perencanaan Daerah Kota Depok serta informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang diperoleh dari buku-buku literatur, media massa maupun media elektronik. Pengambilan data sekunder dilakukan pada bulan November 2010-Juni Beberapa data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain berupa data perolehan perkembangan volume dan nilai ekspor-impor buah Indonesia, perkembangan luas areal, produksi serta produktivitas belimbing di seluruh Indonesia dan di Kota 44

63 Depok, Produk Domestik Bruto, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, suku bunga deposito dan kredit, tingkat inflasi, kebijakan pupuk, kebijakan pajak, bea masuk produk pertanian khususnya untuk bahan baku pembuatan pupuk dan pestisida, tingkat pengangguran di Kota Depok, dan Tabel Input Output Indonesia. 4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penghitungan PAM dapat digunakan untuk mengukur tingkat dayasaing (keunggulan komparatif dan kompetitif) serta besarnya pengaruh kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian (Kota Depok). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan software Microsoft Excel. Berikut adalah tahapan yang dilakukan dalam penghitungan dan penyusunan model PAM dalam penelitian ini (Pearson et al. 2005) : 1) Penentuan komponen fisik untuk faktor input dan output secara lengkap dari aktivitas ekonomi (usahatani, pengolahan hasil dan tataniaga) sistem komoditas belimbing dewa selama dua puluh tahun. Dalam penelitian ini, data jumlah komponen fisik untuk faktor input dan output merupakan data rata-rata dari jumlah sampel yang diperoleh. Hasil perhitungan jumlah komponen fisik untuk faktor input dan output yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 7. 2) Penentuan harga privat atas input-output. Harga privat adalah harga yang benar-benar diterima petani dan didalamnya terdapat intervensi pemerintah. Dalam penelitian ini, harga privat yang digunakan adalah harga rata-rata input dan output yang terjadi di lokasi penelitian selama tahun 2010 dan pada saat penelitian dilakukan. 3) Penafsiran harga bayangan (sosial) atas input dan output. Menurut Oktaviani (1991), harga bayangan adalah harga pada pasar persaingan sempurna yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya. Pada komoditas tradable, harga bayangan adalah harga yang terjadi di pasar internasional. 4) Pemisahan seluruh biaya ke dalam komponen domestik dan asing (tradable) berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun ) Penyusunan budget privat dan sosial yang kemudian dipisahkan ke dalam biaya input asing privat, biaya input asing sosial, biaya input domestik privat, 45

64 biaya input domestik asing. Hasil perhitungan budget privat dan sosial dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 8 dan 9. 6) Proses diskonto (discounting) untuk menentukan Net Present Value (NPV) dari masing-masing bagian tersebut. Menurut Pearson et al. (2005), perhitungan untuk komoditas dalam rentang waktu yang panjang, seperti belimbing (20 tahun), memerlukan tabel PAM untuk setiap periode, kemudian menghitung NPV seluruh periode tersebut. Proses diskonto (discounting) diperlukan dalam kasus ini karena nilai penerimaan dan biaya yang akan diterima/dikeluarkan dimasa yang akan datang akan lebih kecil nilainya bila dinilai pada saat ini. Rumus untuk menghitung NPV penerimaan atau biaya menurut Pearson et al. (2005) adalah sebagai berikut : NPV R = Dimana i adalah tingkat suku bunga, Rt adalah penerimaan atau biaya pada tahun ke-t, t adalah periode waktu dan x adalah jumlah periode. Rekapitulasi budget privat dan sosial yang telah terdiskonto yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11. 7) Terakhir, tabulasi dan analisis indikator-indikator yang dihasilkan tabel PAM. Selain itu, beberapa asumsi yang mendasari penyusunan tabel PAM dalam penelitian ini antara lain yaitu : 1) Tanaman belimbing merupakan tanaman tahunan yang dapat berproduksi setelah tanaman memasuki usia tiga tahun dengan frekuensi produksi per tahun sebanyak tiga kali (tiga kali musim panen per tahun). 2) Tingkat kematian tanaman belimbing adalah nol persen. 3) Nilai tukar resmi adalah nilai tukar rata-rata yang berlaku pada tahun 2010 yakni sebesar Rp 9.143,50 per US Dollar (Bank Indonesia 2011). 4) Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga rata-rata tertimbang (weighted average) dengan menggunakan informasi data tingkat suku bunga yang diberlakukan oleh Bank Mandiri, yaitu sebesar 6,25 persen untuk suku bunga deposito dan 11,25 persen untuk suku bunga pinjaman (kredit). 46

65 5) Output bersifat tradable sedangkan input dapat dipisahkan dalam komponen tradable (asing) dan non-tradable (domestik). 6) Eksternalitas positif dan negatif dianggap saling meniadakan, sehingga eksternalitas dianggap sama dengan nol. Selanjutnya, analisis sensitivitas dilakukan untuk mengatasi kelemahan PAM yang dalam analisisnya hanya memberlakukan satu tingkat harga padahal dalam keadaan sebenarnya harga dapat bervariasi. Selain itu, analisis ini juga digunakan untuk melihat pengaruh perubahan kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing di Kota Depok. Dalam penelitian ini, analisis sensitivitas dilakukan dengan empat skenario yaitu jika terjadi penurunan produksi sebesar 10 persen, jika terjadi peningkatan harga input domestik yaitu harga tenaga kerja sebesar 20 persen, jika terjadi peningkatan harga input tradable yaitu harga pupuk anorganik sebesar 10 persen, dan jika terjadi penurunan harga output belimbing dewa sebesar 15 persen. Kemudian, setelah seluruh pengolahan data dengan metode kuantitatif selesai maka langkah terakhir adalah menginterpretasikan dan mendeskripsikan angka-angka yang diperoleh dengan metode kualitatif. 4.5 Penentuan Input dan Output Input yang dimaksud dalam penelitian ini adalah input untuk usahatani, pengolahan dan proses pemasaran belimbing dewa, seperti bibit tanaman belimbing, pupuk anorganik (NPK dan pupuk cair), pupuk organik (pupuk kandang), pestisida (curacron, gandasil A dan gandasil B), lahan, tenaga kerja, peralatan kebun, peralatan pengolahan, dan tataniaga. Sedang yang dimaksud output adalah buah belimbing segar yang diklasifikasikan dalam grade A (belimbing dengan berat 250 gram per buah), grade B (belimbing dengan berat gram per buah) dan grade C (belimbing dengan berat < 200 gram per buah) Alokasi Biaya ke Dalam Komponen Biaya Domestik dan Asing Menurut Pearson et al. (2005), ada dua pendekatan yang digunakan untuk mengalokasikan biaya ke dalam komponen domestik dan asing, yaitu pendekatan total (total approach) dan pendekatan langsung (direct approach). Pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input yang dapat diperdagangkan 47

66 (input tradeable), baik diimpor maupun produksi domestik dinilai sebagai komponen biaya asing. Pendekatan ini digunakan apabila tambahan permintaan input tradable tersebut dapat dipenuhi dari perdagangan internasional. Pendekatan total mengasumsikan bahwa setiap biaya dari input yang dapat diperdagangkan (input tradable) dibagi ke dalam komponen biaya domestik dan asing, dan penambahan input tradable dapat dipenuhi dari produksi domestik jika input itu memiliki kemungkinan untuk diproduksi di dalam negeri. Pendekatan ini lebih tepat digunakan dalam analisis dampak kebijakan pemerintah atau untuk memperkirakan biaya sosial dari struktur proteksi yang dilakukan oleh pemerintah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan total dalam mengalokasikan biaya ke dalam komponen biaya domestik dan asing. 1) Alokasi Biaya Produksi Biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan secara tunai maupun yang diperhitungkan untuk menghasilkan komoditas akhir yang siap dipasarkan atau dikonsumsi. Penentuan alokasi biaya produksi ke dalam komponen asing (tradable) dan domestik (non-tradable) didasarkan pada tabel Input-Output tahun Secara rinci alokasi biaya produksi ke dalam komponen domestik dan asing disajikan dalam Tabel 7. Tabel 7. Alokasi Biaya Produksi ke dalam Komponen Domestik dan Asing Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian, Tahun 2011 No Jenis Biaya Domestik (%) Asing (%) 1 Bibit Tanaman Belimbing Pupuk NPK Pupuk daun (cair) Pupuk Organik Pestisida Tenaga Kerja Penyusutan Peralatan Kebun Penyusutan Peralatan Pengolahan Bunga Modal Sewa Lahan Sumber : Tabel Input Ouput Indonesia tahun 2008 (Diolah) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa input produksi yang mengandung komponen asing (tradable) dalam usahatani belimbing pada penelitian ini adalah bibit tanaman belimbing, pupuk NPK, pupuk daun (cair), dan pestisida. 48

67 Sedangkan input yang tidak mengandung komponen asing dalam penelitian ini adalah pupuk organik, tenaga kerja, penyusutan peralatan, bunga modal, dan sewa lahan. Metode perhitungan komponen domestik-asing dengan Tabel Input Output tahun 2008 adalah sebagai berikut : Keterangan: Tabel 2 Tabel 4 Kolom Baris : Transaksi Total Atas Dasar Produsen mencari komponen asing (nilai total nilai domestik) : Transaksi Domestik Atas Dasar Produsen mencari komponen domestik : Input yang digunakan dalam usahatani : Bidang Usahatani 2) Alokasi Biaya Tataniaga Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan untuk menambah nilai atau kegunaan suatu barang, yaitu kegunaan tempat, bentuk dan waktu. Biaya tataniaga dihitung dari seluruh biaya tataniaga dari daerah produsen sampai ke konsumen atau dari daerah produsen sampai ke pelabuhan ekspor atau dari daerah pelabuhan impor sampai ke konsumen. Dalam penelitian ini, biaya tataniaga didekati dengan menghitung seluruh biaya tataniaga di daerah produsen sampai ke konsumen. Biaya tataniaga terbagi atas biaya pengangkutan dan biaya penanganan. Biaya pengangkutan dalam penelitian ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut buah belimbing dari petani sampai ke konsumen akhir, sedangkan biaya penanganan meliputi kegiatan sortasi, grading, pelabelan, dan pengemasan. Alokasi biaya tataniaga ke dalam komponen biaya domestik dan asing disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Alokasi Biaya Tataniaga Atas Komponen Biaya Domestik dan Asing pada Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian, Tahun 2011 No Jenis Biaya Domestik (%) Asing (%) 1 Penanganan Biaya Pengangkutan Sumber : Tabel Input Output Indonesia tahun 2008 (Diolah) 49

68 4.5.2 Penentuan Harga Bayangan (Harga Sosial) Input dan Output 1) Harga Bayangan Output Harga bayangan output buah belimbing dalam penelitian ini diasumsikan sama dengan harga privatnya. Hal ini dikarenakan pertimbangan bahwa tidak ada kebijakan pemerintah yang mengintervensi perdagangan output buah belimbing tersebut secara langsung sehingga distorsi pasar yang terjadi sangat kecil dan mendekati pasar persaingan sempurna. Berdasarkan perhitungan diperoleh harga bayangan output buah belimbing sama dengan harga privatnya yaitu untuk buah belimbing grade A senilai Rp 5.800,00 per kilogram, grade B senilai Rp 4.000,00 per kilogram dan grade C senilai Rp 1.900,00 per kilogram. Harga privat dan bayangan output buah belimbing dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Harga Privat dan Sosial Output Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Output Satuan Harga Privat Harga Sosial Buah Belimbing Dewa grade A Rp/kg 5.800, ,00 Buah Belimbing Dewa grade B Rp/kg 4.000, ,00 Buah Belimbing Dewa grade C Rp/kg 1.900, ,00 2) Harga Bayangan Input a) Harga Bayangan Bibit Tanaman Belimbing Harga bayangan bibit tanaman belimbing dalam penelitian ini diasumsikan sama dengan harga pasarnya. Hal ini dikarenakan pertimbangan bahwa tidak ada kebijakan pemerintah yang mengintervensi produksi dan perdagangan bibit tanaman tersebut secara langsung sehingga distorsi pasar yang terjadi sangat kecil dan mendekati pasar persaingan sempurna. Namun, berdasarkan keterangan dari petani serta penelusuran informasi di lokasi penelitian, diketahui bahwa bibit tanaman belimbing yang dikembangkan di lokasi penelitian tidak semua berasal dari pribadi petani, ada sekitar 10,83 persen bibit tanaman belimbing petani responden berasal dari bantuan pemerintah (subsidi). Berdasarkan hal tersebut, maka analisis finansial untuk bibit tanaman belimbing diasumsikan sebanyak 10,83 persen dari jumlah bibit tanaman yang dikembangkan berasal dari bantuan pemerintah, sehingga bibit tanaman yang diperhitungkan dalam analisis finansial atau budget privat hanya sebanyak 89,17 persen dari analisis ekonomi atau budget sosial. Sedangkan analisis ekonomi untuk bibit tanaman belimbing di lokasi 50

69 penelitian adalah keseluruhan jumlah bibit tanaman yang dikuasai/dimiliki oleh petani (jumlah bibit tanaman belimbing yang dibeli sendiri ditambah jumlah bibit tanaman belimbing dari pemerintah) dikalikan dengan harga bayangannya. Harga privat dan bayangan (sosial) bibit tanaman belimbing dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Harga Privat dan Sosial Bibit Tanaman Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Uraian Satuan Nilai Harga Privat Rp/unit ,00 Harga Bayangan (Sosial) Rp/unit ,00 b) Harga Bayangan Pupuk Organik Pupuk organik yang biasa digunakan dalam usahatani belimbing di lokasi penelitian adalah pupuk kandang. Harga bayangan pupuk kandang dalam penelitian ini diasumsikan sama dengan harga pasarnya. Hal ini dikarenakan pertimbangan bahwa tidak ada kebijakan pemerintah yang mengintervensi produksi dan perdagangan bibit tanaman tersebut secara langsung sehingga distorsi pasar yang terjadi sangat kecil dan mendekati pasar persaingan sempurna. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa harga bayangan pupuk kandang di lokasi penelitian adalah Rp 300,00 per kilogram. Harga privat dan bayangan pupuk kandang (pupuk organik) yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Harga Privat dan Sosial Pupuk Organik (Pupuk Kandang) di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Uraian Satuan Nilai Harga Privat Rp/kg 300,00 Harga Bayangan (Sosial) Rp/kg 300,00 c) Harga Bayangan Pupuk Anorganik Beberapa jenis pupuk anorganik yang digunakan dalam usahatani belimbing di lokasi penelitian antara lain pupuk NPK dan pupuk daun (cair). Bahan-bahan baku untuk pembuatan produk pupuk anorganik biasanya berasal dari impor, sehingga border price untuk pupuk anorganik hanya mencakup harga bahan-bahan baku. Karena besarnya penggunaan bahan-bahan baku serta tingkat konversinya terhadap produk pupuk anorganik tersebut tidak diketahui secara 51

70 pasti menyebabkan penentuan harga bayangan pupuk anorganik didasarkan pada harga rata-rata aktual di lokasi penelitian dikurangi dengan bea masuk produk pertanian sebesar 5 persen 1 dan PPN sebesar 10 persen 2. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa harga bayangan pupuk NPK di lokasi penelitian adalah Rp 8.208,00 per kilogram dan harga bayangan pupuk daun (cair) di lokasi penelitian adalah sebesar Rp ,50 per liter. Harga privat dan bayangan pupuk anorganik yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Harga Privat dan Sosial Pupuk Anorganik di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Input Satuan Harga Privat Harga Sosial NPK Rp/kg 9.600, ,00 Daun (Cair) Rp/liter , ,50 d) Harga Bayangan Pestisida Pestisida yang umum digunakan dalam budidaya belimbing di lokasi penelitian adalah curacron, gandasil A dan gandasil B. Border price untuk pestisida hanya mencakup harga bahan-bahan baku untuk pembuatan produk tersebut (Mantau 2009). Namun, karena besarnya penggunaan bahan-bahan baku serta tingkat konversinya terhadap produk pestisida tersebut tidak diketahui secara pasti menyebabkan penentuan harga bayangan pestisida didasarkan pada harga rata-rata aktual di lokasi penelitian dikurangi dengan bea masuk (pajak impor) produk pertanian sebesar 5 persen dan PPN sebesar 10 persen. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa harga bayangan pestisida curacron di lokasi penelitian adalah Rp ,50 per liter, gandasil A sebesar Rp ,00 per kg dan gandasil B sebesar Rp ,00 per kg. Harga privat dan bayangan (sosial) pestisida yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Harga Privat dan Sosial Pestisida di Lokasi Penelitian pada Tahun 2011 Input Satuan Harga Privat Harga Sosial Curacron Rp/liter , ,50 Gandasil A Rp/kg , ,00 Gandasil B Rp/kg , ,00 1 Peraturan Menteri Keuangan No.241/PMK.011/ Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun

71 e) Harga Bayangan Peralatan Kebun dan Pengolahan Peralatan kebun yang digunakan dalam usahatani belimbing di lokasi penelitian terdiri dari parang, golok, cangkul, cangkul garpu, gerobak dorong, pengki pikul, pisau, pisau okulasi, gembor, hand sprayer, power sprayer, selang air, pompa pantek, gunting pangkas, stek dan panen, gergaji, tangga, drum/bak, dan sapu lidi. Peralatan pengolahan belimbing yang digunakan di lokasi penelitian terdiri dari keranjang plastik (troy), timbangan dan mesin wrapping. Harga privat peralatan dihitung berdasarkan harga penyusutan peralatan selama satu tahun dengan menggunakan metode garis lurus dengan formulasi sebagai berikut : Tabel 14. Harga Privat dan Sosial Peralatan Kebun dan Pengolahan Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Input Satuan Harga Privat Harga Sosial Peralatan Kebun Parang Rp/unit , ,00 Golok Rp/unit , ,00 Cangkul Rp/unit , ,00 Cangkul garpu Rp/unit , ,00 Gerobak dorong Rp/unit , ,00 Pengki Pikul Rp/unit , ,00 pisau Rp/unit , ,00 pisau okulasi Rp/unit , ,00 gembor Rp/unit , ,00 Hand Sprayer Rp/unit , ,00 power sprayer Rp/unit , ,00 Selang Air/Power Sprayer Rp/meter 5.000, ,00 pompa pantek Rp/unit , ,00 Gunting Pangkas Rp/unit , ,00 Gunting Panen Rp/unit , ,00 Gergaji Rp/unit , ,00 Tangga Rp/unit , ,00 Drum/Bak Rp/unit , ,00 Sapu Lidi Rp/unit 6.250, ,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp/unit , ,00 Timbangan Rp/unit , ,00 Mesin Wraping Rp/unit , ,00 53

72 Harga bayangan peralatan kebun dan pengolahan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan harga finansial (privat) dikurangi dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa tidak ada kebijakan pemerintah yang mengintervensi produksi dan perdagangan alat-alat tersebut secara langsung, kecuali beban biaya PPN terhadap peralatan tersebut. Oleh karena itu, harga bayangan peralatan dihitung dengan mengurangi harga finasial dengan biaya PPN sebesar 10 persen. Harga privat dan bayangan (sosial) peralatan kebun dan pengolahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 14. f) Harga Bayangan Tenaga Kerja Tenaga kerja termasuk dalam input non-tradable. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani belimbing di lokasi penelitian umumnya adalah tenaga kerja pria tidak terdidik. Tidak ada tenaga kerja wanita yang digunakan dalam proses budidaya belimbing di lokasi penelitian. Tenaga kerja wanita hanya digunakan dalam kegiatan pengolahan belimbing menjadi produk turunan (dodol dan jus belimbing). Namun, dikarenakan kegiatan pengolahan buah belimbing menjadi produk turunan masih sangat sedikit/terbatas maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi hanya pada buah belimbing segar. Kegiatan pascapanen yang dilakukan terhadap buah belimbing segar tersebut adalah kegiatan sortasi, grading, pelabelan, dan pengemasan saja. Kegiatan pascapanen tersebut pun umumnya dilakukan hanya oleh tenaga kerja pria tidak terdidik. Oleh karena itu, tenaga kerja yang digunakan dalam proses budidaya dan pascapanen belimbing di lokasi penelitian umumnya hanya menggunakan tenaga kerja pria tidak terdidik. Oktaviani (1991) menyatakan bahwa apabila pasar tenaga kerja bersaing sempurna dan tenaga kerja termasuk faktor yang langka maka penentuan harga bayangan upah tenaga kerja tidak terdidik ditentukan oleh produk marjinal tenaga kerja. Akan tetapi, di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tenaga kerja bukan merupakan faktor yang langka sehingga upah tenaga kerja yang berlaku tidak mencerminkan nilai produk marjinal tenaga kerja. Dalam penelitian ini, penentuan harga bayangan upah tenaga kerja mengacu pada penelitian Wahyudi (1989), Septiyorini (2009) dan Nuryanti (2010). Septiyorini (2009) menyatakan bahwa jika di suatu daerah terdapat 54

73 banyak pengangguran (unemployment) maka harga bayangan tenaga kerjanya sama dengan nol. Hal ini terjadi karena opportunity cost untuk tenaga kerja yang menganggur atau pengangguran tidak kentara adalah nol. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa tingkat pengangguran di lokasi penelitian (Jawa Barat) adalah sebesar 12,08 persen. Oleh sebab itu, harga bayangan tenaga kerja di Jawa Barat ditentukan sebesar 97,92 persen dari nilai upah aktualnya. Perhitungan serupa juga dilakukan oleh Wahyudi (1989) dan Nuryanti (2010) yang menetapkan harga bayangan tenaga kerja sebesar 70 persen dan 89,43 persen dari upah finansialnya karena besarnya tingkat pengangguran di lokasi penelitian mereka adalah sebesar 30 persen dan 10,57 persen. Secara umum, penentuan upah bayangan tenaga kerja yang dilakukan oleh Wahyudi (1989), Septiyorini (2009) dan Nuryanti (2010) didasarkan pada formulasi sebagai berikut : dimana, HB HA : Harga Bayangan : Harga Aktual Berdasarkan data yang diperoleh dari BAPPEDA Kota Depok, diketahui bahwa pada tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka dan tidak kentara untuk penduduk usia 15 tahun ke atas di Kota Depok adalah sebesar 9,83 persen. Oleh sebab itu, harga bayangan upah tenaga kerja tidak terdidik di lokasi penelitian sebesar 90,17 persen dari upah finansialnya. Harga privat dan bayangan upah tenaga kerja yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Harga Privat dan Sosial Upah Tenaga Kerja di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Input Satuan Harga Privat Harga Sosial Pria Rp/HOK , ,00 Wanita Rp/HOK - - g) Harga Bayangan Lahan Lahan merupakan faktor produksi yang termasuk dalam input nontradable (faktor domestik) dalam usahatani belimbing. Menurut Pearson et al. (2005), harga bayangan lahan dapat ditentukan berdasarkan pendapatan bersih dari usahatani komoditas alternatif terbaik yang dapat diusahakan pada lahan tersebut. Pendapatan bersih ini diperoleh dari penerimaan usahatani alternatif 55

74 dikurangi dengan biaya produksi dan pendapatan dari usahatani sebelumnya. Asumsi dasar yang diperlukan untuk harga bayangan ini yaitu tidak ada perubahan dalam kepemilikan atau pola pengelolaannya, kecuali pengusahaan dalam usahataninya. Dalam penelitian ini, informasi mengenai penerimaan dan biaya dari usahatani komoditas alternatif terbaik tidak diperoleh. Berdasarkan kondisi tersebut, penentuan harga bayangan lahan ditentukan berdasarkan pendapat Gittinger (1986), yaitu salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam menentukan harga bayangan lahan adalah nilai sewa lahan yang berlaku di masing-masing wilayah yang diperhitungkan setiap tahun. Dalam penelitian ini, pendekatan nilai sewa lahan memungkinkan untuk dilakukan karena sebagian besar petani belimbing di lokasi penelitian telah umum melakukan aktivitas sewa menyewa lahan tersebut. Rata-rata biaya sewa lahan per hektar di lokasi penelitian tergolong tinggi yaitu sebesar Rp ,00 per tahun. Hal ini dikarenakan sempitnya luasan lahan untuk pertanian di Kota Depok karena sebagian besar lahan di Kota Depok telah dikonversi menjadi pemukiman penduduk, jalan dan bangunan lainnya. Sempitnya luasan lahan untuk pertanian ini menyebabkan tingginya harga sewa lahan untuk pertanian di lokasi penelitian karena adanya kelangkaan atau keterbatasan. Harga privat dan bayangan (sosial) lahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16. Harga Privat dan Sosial Lahan di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Uraian Satuan Nilai Harga Privat Rp/ha ,00 Harga Bayangan (Sosial) Rp/ha ,00 h) Harga Bayangan Modal Menurut Pearson et al. (2005), biaya modal dalam analisis PAM dikelompokkan dalam dua kategori yaitu modal kerja dan modal investasi. Modal kerja adalah biaya produksi (tunai) yang harus dibayar petani seperti pembelian input dan upah tenaga kerja dalam kurun waktu satu tahun produksi. Sedangkan modal investasi adalah pengeluaran atas asset yang memberikan kegunaan lebih dari satu tahun, namun manfaat (benefit) diterima untuk periode yang panjang. Berdasarkan hasil penelusuran informasi di lokasi penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani belimbing menggunakan sumber modal untuk membiayai kegiatan usahataninya dari kombinasi modal pribadi dan pinjaman 56

75 (lihat Tabel 29). Dengan demikian penentuan harga privat bunga modal dalam penelitian ini adalah menggunakan nilai suku bunga rata-rata tertimbang (weighted average). Berdasarkan data yang diperoleh di lokasi penelitian, proporsi sumber modal yang digunakan oleh petani responden untuk membiayai kegiatan usahataninya adalah sebesar 87,75 persen bersumber dari modal pribadi dan 12,25 persen bersumber dari pinjaman. Tingkat suku bunga deposito dan kredit yang digunakan dalam perhitungan suku bunga rata-rata tertimbang adalah tingkat suku bunga deposito dan kredit yang diberlakukan di Bank Mandiri. Bank Mandiri adalah bank yang memberikan pinjaman kepada sebagian besar petani responden. Tingkat suku bunga deposito Bank Mandiri adalah 6,25 persen dan tingkat suku bunga kredit Bank Mandiri sebesar 11,25 persen. Berdasarkan data-data tersebut maka ditemukan nilai suku bunga rata-rata tertimbang adalah sebesar 6,86 persen. harga privat bunga modal kerja dan investasi dalam penelitian ini diasumsikan sama karena sumber modal yang digunakan untuk modal kerja dan investasi dalam penelitian ini diasumsikan berasal dari sumber dan proporsi modal yang sama. Dengan demikian, tingkat suku bunga privat untuk modal kerja dan investasi dalam penelitian ini adalah sebesar 6,86 persen. Selanjutnya, penentuan harga bayangan bunga sosial dilakukan dengan menambahkan harga privat bunga modal dengan tingkat inflasi. Inflasi merupakan faktor koreksi terhadap suku bunga. Suku bunga sendiri sebenarnya sudah menghitung nilai inflasi, namun masih nilai inflasi perkiraan sehingga suku bunga tersebut harus dikoreksi. Nilai suku bunga yang sudah dikoreksi merupakan cerminan korbanan biaya bunga sosial. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bank Indonesia, tingkat inflasi Indonesia tahun 2011 adalah sebesar 5,98 persen. Sehingga harga bayangan bunga modal dalam penelitian ini adalah sebesar 12,84 persen. Harga privat dan bayangan (sosial) bunga modal yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Harga Privat dan Sosial Modal Pengusahaan Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Input Satuan Harga Privat Harga Sosial Modal Kerja % 6,86 12,84 Modal Investasi % 6,86 12,84 57

76 i) Harga Bayangan Tataniaga Biaya tataniaga yang digunakan dalam penelitian ini adalah biaya penanganan dan biaya angkut. Biaya penanganan yang dimaksud adalah biaya pascapanen buah belimbing yang meliputi biaya sortasi, grading, pengemasan dan pelabelan belimbing yang akan dipasarkan. Biaya angkut adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut buah belimbing dari petani sampai ke konsumen akhir. Harga bayangan tataniaga dalam penelitian ini diasumsikan sama dengan harga privatnya. Hal ini dikarenakan pertimbangan bahwa tidak ada kebijakan pemerintah yang mengintervensi proses penanganan dan pengangkutan buah belimbing tersebut secara langsung sehingga distorsi pasar yang terjadi sangat kecil dan mendekati pasar persaingan sempurna. Berdasarkan perhitungan diperoleh harga bayangan penanganan dan biaya angkut belimbing sama dengan harga privatnya yaitu Rp 570,00 per kilogram untuk penanganan dan Rp 595,00 per kilogram untuk biaya angkut. Harga privat dan bayangan (sosial) biaya tataniaga yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Harga Privat dan Sosial Biaya Tataniaga Pengusahaan Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Input Satuan Harga Privat Harga Sosial Penanganan Rp/kg 570,00 570,00 Biaya Angkut Rp/kg 595,00 595,00 j) Harga Bayangan Nilai Tukar Penetapan nilai tukar rupiah didasarkan atas perkembangan nilai tukar mata uang asing yang menjadi acuan (UD Dollar) pada tahun Untuk menentukan harga bayangan nilai tukar digunakan formula yang dirumuskan oleh Squire Van de Tak (1975) yang diacu dalam Gittinger (1986), bahwa penentuan harga bayangan nilai tukar mata uang ditentukan dengan menggunakan rumus berikut : dimana, SERt OERt SCFt : Nilai tukar bayangan (Rp/US$) pada tahun t : Nilai tukar resmi (Rp/US$) pada tahunt : Faktor konversi standar 58

77 Menurut Rosegrant et al. (1987), nilai faktor konversi standar merupakan rasio dari nilai impor dan ekspor ditambah pajaknya dan dituliskan dalam rumus sebagai berikut : dimana, SCFt Xt Mt Txt Tmt : Faktor konversi standar untuk yahun ke-t : Nilai ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp) : Nilai impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp) : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp) : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp) Nilai ekspor Indonesia untuk tahun 2010 (Xt) adalah sebesar Rp ,00, nilai impor Indonesia tahun 2010 (Mt) sebesar Rp ,00, penerimaan pemerintah dari pajak ekspor (Txt) untuk tahun 2010 sebesar Rp ,00 dan penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun 2010 adalah sebesar Rp ,00 (Badan Pusat Statistik 2011). Nilai tukar resmi rata-rata mata uang Rupiah terhadap US Dollar pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 9.143,50. Berdasarkan data tersebut dan perhitungan dengan metode Squire Van de Tak, maka dapat diketahui nilai tukar bayangan mata uang Rupiah terhadap US Dollar (SER) adalah sebesar Rp 9.183, Analisis Indikator Matriks Kebijakan Kelebihan model PAM adalah selain diperoleh koefisien DRCR (Domestic Resources Cost Ratio) sebagai indikator keunggulan komparatif, analisis ini juga dapat menghasilkan beberapa indikator lain yang berkaitan dengan variabel dayasaing, seperti PCR (Private Cost Ratio) untuk menilai keunggulan kompetitif, NPCO (Nominal Protection Coefficient on tradable Inputs), EPC (Effective Protection Coefficient), PC (Profitability Coeffisient), dan SRP (Subsidy Ratio to Producers). Untuk mendapatkan nilai-nilai koefisien tersebut, setiap unit biaya (input), output, dan keuntungan dikelompokkan ke dalam harga pasar (harga privat) dan harga sosial. Dari selisih perhitungan berdasarkan kedua kelompok harga tersebut diperoleh angka transfer untuk menilai dampak dari penerapan kebijakan pemerintah yang berlaku pada komoditas belimbing dewa dan 59

78 mengukur dampak dari adanya kegagalan pasar. Tabulasi matriks analisis kebijakan dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) Biaya Keterangan Penerimaan Input tradable Input nontradable Keuntungan Harga Privat A B C D Harga Sosial E F G H Efek Divergensi I J K L Sumber : Monke dan Pearson, 1989 Keterangan : Keuntungan Privat (D) = A (B+C) Keuntungan Sosial (H) = E (F+G) Transfer Output (I) = A E Transfer Input (J) = B F Transfer Faktor (K) = C G Transfer Bersih (L) = D H = I (J+K) Rasio Biaya Privat (PCR) = C/(A B) Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRCR) = G / (E F) Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) = A/E Keofesien Proteksi Input Nominal (NPCI) = B/F Koefisien Proteksi Efektif (EPC) = (A B)/(E F) Koefisien Keuntungan (PC) = D/H Analisis Keuntungan Keuntungan adalah selisih antara penerimaan (nilai penjualan komoditas yang diterima) dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Analisis keuntungan terdiri dari keuntungan privat dan keuntungan sosial. Keuntungan privat (KP) menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang sesungguhnya diterima atau dibayarkan petani. Nilai KP yang lebih besar dari nol berarti secara finansial menguntungkan, yaitu kondisi adanya kebijakan pemerintah atau komoditas menguntungkan untuk diusahakan. Jika nilai KP kurang atau sama dengan nol maka yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kegiatan usaha tidak menguntungkan pada kondisi adanya intervensi pemerintah terhadap input dan output. KP dirumuskan oleh Monke dan Pearson (1989) sebagai berikut : Private Profitability (PP); D = A (B+C) Social Profitability (SP); H = E (F+G) Keuntungan Sosial (KS) menunjukkan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dihitung dengan harga sosial (harga bayangan). Jika nilai KS lebih 60

79 besar dari nol maka secara ekonomi, yaitu pada kondisi pasar persaingan sempurna, kegiatan pengusahaan komoditas dapat dilanjutkan karena menguntungkan atau komoditas tersebut memiliki keunggulan komparatif. Jika nilai KS kurang dari atau sama dengan nol maka kegiatan usaha tidak menguntungkan secara ekonomi atau pada kondisi pasar persaingan sempurna Analisis Efisiensi Tingkat efisiensi pengusahaan suatu komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Privat (Private Cost Ratio atau PCR) yaitu rasio antara biaya input domestik privat dengan nilai tambah privat. Jika nilai PCR lebih kecil dari satu, artinya untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya faktor domestik lebih kecil dari satu satuan. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan komoditas tersebut efisien secara finansial atau memiliki keunggulan kompetitif pada saat ada kebijakan pemerintah. Jika nilai PCR lebih besar atau sama dengan satu maka yang terjadi adalah sebaliknya. Private Cost Ratio (PCR) = C/ (A B) Keunggulan komparatif suatu komoditas juga dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (Domestic Resources Cost atau DRC). Jika nilai DRC lebih kecil dari satu, maka pengusahaan komoditas efisien secara ekonomi atau memiliki keunggulan komparatif pada kondisi tanpa ada kebijakan. Hal ini sebaliknya berlaku jika nilai DRC lebih dari satu. Domestic Resources Cost Ratio (DRC) = G/ (E F) Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Dampak kebijakan pemerintah yang diidentifikasikan dari analisis PAM meliputi dampak kebijkan pemerintah terhadap output, input dan dampak kebijakan terhadap input-output. hasil matriks kebijakan yaitu baris ketiga akan menunjukan divergensi dimana apabila terdapat perbedaan nilai dari baris pertama dan baris kedua mengindikasikan adanya intervensi atau kebijakan pemerintah sehingga pasar terdistorsi. 61

80 1. Dampak Kebijakan terhadap Output Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan oleh nilai Transfer Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (Nominal Protection Coefficient on Output atau NPCO). Nilai TO merupakan selisih antara penerimaan privat dengan penerimaan sosial dari aktivitas produksi. Nilai transfer output yang positif menunjukan bahwa masyarakat membeli produk dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya diterima. Jika transfer output bernilai negative, berarti terdapat kebijakan subsidi negatif yang membuat harga privat lebih rendah dari harga sosialnya. Untuk output ekspor, angka negatif menunjukan bahwa kebijakan menyebabkan harga output yang diterima produsen di dalam negeri lebih kecil dari harga pasar dunia. Berdasarkan matriks PAM, nilai TO yang dirumuskan dihitung sebagai berikut : Output Transfer (OT) = A E NPCO menunjukan dampak insentif pemerintah yang menyebabkan terjadinya perbedaan nilai output yang diukur dengan harga privat dan sosial. Nilai NPCO negatif menunjukan bahwa akibat kebijakan pemerintah, harga privat lebih kecildari harga dunia sehingga dapat dikatakan bahwa produsen output memberikan nilai transfer kepada pemerintah (TO). Kebijakan ini dapat berupa subsidi negatif kepada produsen untuk barang ekspor. Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) = A/E Sumber : Monke dan Pearson (1989). 2. Dampak Kebijakan terhadap Input Dampak kebijakan pemerintah terhadap input tradable dijelaskan dengan Transfer Input (TI) dan Koefisien Proteksi Input Nominal (Nominal Protection Coefficient on Input atau NPCI), sedangkan dampak kebijakan input domestik dijelaskan oleh Transfer Faktor (TF). Nilai TI menunjukan kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input tradable yang mengakibatkan terjadinya perbedaan input tradable privat dan sosial. Nilai transfer input positif menunjukan kebijakan pemerintah pada input tradable menyebabkan keuntungan yang diterima secara privat lebih besar dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Nilai transfer input negatif menunjukan kebijaka pemerintah menyebabkan keuntungan yang diterima secara finansial lebih kecil dibandingkan tanpa adanya kebijakan. 62

81 Transfer Input (IT) = B F Niali NPCI lebih kecil dari satu menunjukan adanya proteksi terhadap produsen input, sementara sektor yang menggunakan input akan dirugikan dengan tingginya biaya produksi. Nilai NPCI lebih kecil dari satu menunjukan adanya hambatan ekspor input sehingga produksi menggunakan input lokal. Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B/F Sumber : Monke dan Pearson (1989). Nilai Transfer Faktor (TF) menujukan pengaruh kebijakan pemerintah terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan pada input tradable. Nilai TF menujukan besarnya subsidi terhadap input non-tradable. Bila nilai transfer faktor negatif berarti terdapat subsidi positif pada input nontradable. Factor Transfer (FT) = C G 3. Dampak Kebijakan terhadap Input-Output Pengaruh kebijakan input-output dapat dijelaskan melalui analisis Koefisien Proteksi Efektif (Effective Protection Coefficient atau EPC), Transfer Bersih (TB), Koefisien Keuntungan (PC) dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). Koefisien proteksi efektif (EPC) merupakan indikator dari dampak keseluruhan kebijakan input dan output terhadap sistem produksi komoditas dalam negeri. Nilai EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik. EPC dihitung berdasarkan rumus : Effective Protection Coefficient (EPC) = (A B)/(E F) Nilai EPC lebih besar dari satu menunjukan bahwa dampak kebijakan pemerintah memberikan dukungan terhadap aktivitas produksi dalam negeri, misalnya dengan cara menaikkan harga output atau input asing (tradable) di atas harga dunia (harga efisiennya). Artinya terdapat kebijakan pemerintah yang bertujuan melindungi produksi dalam negeri telah berjalan efektif. Sebaliknya, jika nilai EPC kurang dari satu menunjukan bahwa kebijkan tersebut tidak berjalan secara efektif. Transfer Bersih (TB) adalah selisih antara keuntungan bersih yang benarbenar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Nilai TB juga 63

82 mencerminkan dampak kebijakan pemerintah secara keseluruhan terhadap penerimaan petani apakah merugikan petani atau sebaliknya. Jika nilai TB lebih besar dari satu, hal ini menunjukan terdapat tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input dan output. Net Transfer (NT) = D H Koefisien Keuntungan (Profitability Coefficient atau PC) adalah perbandingan antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosial. Koefisien keuntungan merupakan indikator yang menunjukan dampak insentif dari semua kebijakan output, kebijakan input asing dan input domestik. Nilai PC yang lebih dari satu menunjukan bahwa secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen. Sebaliknya, jika nilai PC kurang dari satu maka berarti kebijakan pemerintah mengakibatkan keuntungan yang diterima produsen lebih kecil dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Profitability Coefficient (PC) = D/H Rasio subsidi bagi produsen (Subsidy Ratio to Produsers atau SRP) menunjukkan proporsi penerimaan produsen pada harga sosial yang dapat menutupi subsidi dan pajak sehingga melalui nilai SRP memungkinkan membuat perbandingan tentang besarnya subsidi perekonomian bagi suatu sistem komoditas. Subsidy Ratio to Produsers (SRP) = L/(A B) Jika nilai SRP negatif, maka hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangan untuk berproduksi. Jika nilai SRP positif maka yang terjadi adalah sebaliknya. 4.7 Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui perubahan perhitungan biaya dan manfaat dari perubahan input atau output dari hasil analisis suatu efektivitas perekonomian. Kelenturan usaha terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam perekonomian nasional dan internasional dapat dilakukan analisis untuk menguji secara sistematis apa yang terjadi pada komponen penerimaan suatu usaha jika terjadi perubahan variabel teknis maupun variabel ekonomis. 64

83 Dalam penelitian ini, analisis sensitivitas yang digunakan untuk menyimulasikan kebijakan yang dilakukan dengan mengubah suatu variabel yang dianggap berpengaruh di antaranya adalah penurunan jumlah produksi, peningkatan harga input domestik yaitu harga tenaga kerja, peningkatan harga input tradable yaitu harga pupuk anorganik (pupuk daun dan NPK), dan penurunan harga ouput. Skenario pertama yaitu adanya penurunan jumlah produksi sebesar 10 persen akibat adanya serangan organisme pengganggu tanaman yaitu ulat penggerek buah. Skenario kedua adalah adanya peningkatan harga input domestik yaitu harga tenaga kerja meningkat sebesar 20 persen dikarenakan upah tenaga kerja cenderung meningkat setiap tahunnya. Skenario ketiga adalah adanya peningkatan harga input tradable yaitu harga pupuk anorganik (pupuk daun dan NPK) sebesar 10 persen karena diasumsikan ada peningkatan persentase kebijakan bea masuk bahan baku pembuatan pupuk dan pajak pertambahan nilai (PPN). Skenario keempat adalah adanya penurunan harga output belimbing dewa akibat mekanisme pasar. 65

84 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kondisi Umum, Geografis dan Iklim Kota Depok Kota Depok resmi berdiri menjadi suatu daerah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah beserta dengan perangkat kelengkapannya sejak penerbitan UU Republik Indonesia No. 15 tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6,19º - 6,28º Lintang Selatan dan 106,43º - 106,55º Bujur Timur. Kondisi iklim di daerah Depok relatif sama. Kota Depok beriklim tropis dengan perbedaan curah hujan cukup kecil yang dipengaruhi oleh angin muson. Musim kemarau jatuh pada periode April September dan musim penghujan jatuh pada periode Oktober Maret. Temperatur rata-rata adalah 24, C, kelembaban udara rata-rata 82 persen, penguapan udara rata-rata 3,9 mm/th, kecepatan angin rata-rata 3,3 knot dan penyinaran matahari rata-rata 49,8 persen. Tingkat keasaman (ph) tanah rata-rata 6 dan jenis tanahnya merupakan campuran lempung dan tanah liat. Curah hujan rata-rata bulanan di Kota Depok sebesar 327 milimeter dan banyaknya hari hujan dalam satu bulan berkisar 10 sampai 20 hari. Kondisi iklim Depok yang tropis dan kadar hujan yang kontinu sepanjang tahun, mendukung pemanfaatan lahan di Kota Depok sebagai lahan pertanian. Secara umum topografi wilayah Kota Depok di bagian utara merupakan dataran rendah dengan elevasi antara m, meliputi kelurahan-kelurahan yang ada di bagian tengah dan utara, sedangkan di bagian selatan perbukitan bergelombang lemah dengan elevasi m meliputi kelurahan-kelurahan yang berada dalam wilayah Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas, Sukmajaya dan Cimanggis. Kota Depok mempunyai luas wilayah sekitar 200,29 km 2 atau Ha dengan luas penggunaan lahan sawah tahun 2010 adalah 932 Ha dan luas penggunaan lahan bukan sawah adalah Ha. Kota Depok beribukota di Kecamatan Pancoran Mas. Pada akhir tahun 2009, Kota Depok melakukan pemekaran wilayah kecamatan yang semula enam kecamatan menjadi sebelas kecamatan. Adapun pemekaran ini dituangkan dalam Perda Kota Depok No. 8 Tahun 2007 dengan implementasi mulai dilaksanakan tahun Wilayah yang 66

85 mengalami pemekaran ada lima kecamatan, terdiri atas Kecamatan Tapos merupakan pemekaran dari Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Bojongsari pemekaran dari Kecamatan Sawangan, Kecamatan Cilodong pemekaran dari Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Cipayung pemekaran dari kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cinere pemekaran dari kecamatan Limo. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kota Depok mencapai jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki jiwa dan penduduk perempuan jiwa, dengan kepadatan penduduk mencapai jiwa/km². Berdasarkan hasil survei Angkatan Kerja Nasional tahun 2009, sebanyak orang penduduk Kota Depok bekerja di bidang pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan. Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB Kota Depok sebesar Rp ,22 atau 2,21 persen dari total PDRB Kota Depok tahun Meskipun angka ini tergolong kecil, namun sektor pertanian masih memegang peranan yang cukup penting dalam rangka pemerataan kesejahteraan rakyat/penduduk Kota Depok, mengingat masih ada banyak penduduk Kota Depok yang bermata pencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, pemerintah masih harus memberikan perhatian yang cukup untuk sektor ini agar kesejahteraan penduduk di Kota Depok dapat dirasakan oleh seluruh golongan. Data mengenai PDRB Kota Depok atas harga berlaku tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Produk Domestik Regional Daerah (PDRB) Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009 No Lapangan Usaha Nilai Persentase (Rp) (%) 1 Pertanian ,22 2,21 2 Pertambangan dan Penggalian 0,00 0,00 3 Industri Pengolahan ,02 36,27 4 Listrik,Gas dan Air Minum ,11 4,14 5 Bangunan/Konstruksi ,14 4,61 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran ,68 35,55 7 Angkutan dan Komunikas ,36 6,55 8 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya ,09 3,31 9 Jasa-Jasa ,50 7,31 Produk Domestik Regional Bruto ,12 100,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Depok (2011) 67

86 Beberapa komoditas unggulan Kota Depok yang potensial untuk dikembangkan antara lain adalah : 1) Subsektor tanaman pangan dan perkebunan : belimbing dan tanaman hias 2) Subsektor perikanan : ikan hias dan ikan patin 3) Subsektor peternakan : ayam ras pedaging dan kambing Kondisi Umum Kecamatan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas merupakan salah satu sentra produksi belimbing dewa di Kota Depok. Kecamatan ini juga merupakan Ibukota Depok. Luas wilayah Kecamatan Pancoran Mas adalah 18,17 km 2 yang terdiri dari 6 kelurahan, 104 Rukun Warga (RW) dan 608 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk Kecamatan Pancoran Mas pada tahun 2010 mencapai jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Kepadatan penduduknya sebanyak jiwa/km². Pada tahun 2009, sebagian besar penduduk Kecamatan Pancoran Mas bermata pencaharian utama di bidang industri yaitu sebanyak orang atau 28,43 persen dari total angkatan kerja di Kecamatan Pancoran Mas yang bekerja. Penduduk yang memiliki mata pencaharian utama di bidang pertanian sebanyak orang atau 3,23 persen dari total angkatan kerja di Kecamatan Pancoran Mas yang bekerja. Sebaran penduduk Kecamatan Pancoran Mas berdasarkan jenis usahanya dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21. Sebaran Penduduk Kecamatan Pancoran Mas Berdasarkan Jenis Usahanya Tahun 2009 No. Jenis Usaha Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 Pertanian ,23 2 Pertambangan dan penggalian 346 1,01 3 Industri ,43 4 Listrik, gas dan air ,37 5 Konstrusi/bangunan 972 2,83 6 Perdagangan, hotel dan restoran ,21 7 Angkutan ,26 8 Lembaga keuangan ,78 9 Jasa-jasa ,44 10 Lainnya ,44 Jumlah ,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Depok (2011) 68

87 Berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2009, terdapat orang yang menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, sedangkan 918 dan orang lainnya tidak tamat SD dan belum sekolah. Selain itu, terdapat dan orang tamat pendidikan SMP dan SMA, orang tamat Akademi, serta orang tamat Perguruan Tinggi Kondisi Umum Kecamatan Cipayung Kecamatan Cipayung merupakan pemekaran Kecamatan Pancoran Mas, dimana sebelum terjadi pemekaran wilayah kecamatan, wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Pancoran Mas yang merupakan salah satu sentra produksi belimbing dewa di Kota Depok. Luas wilayah Kecamatan Cipayung adalah 11,66 km 2. Kecamatan Cipayung terdiri dari 5 kelurahan, 52 RW dan 321 RT. Jumlah penduduk Kecamatan Cipayung pada tahun 2010 mencapai jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Kepadatan penduduknya sebanyak jiwa/km². Pada tahun 2009 sebagian besar penduduk Kecamatan Cipayung bermata pencaharian di bidang jasa yaitu sebanyak orang. Penduduk yang memiliki mata pencaharian utama di bidang pertanian sebanyak orang atau 7,21 persen dari total penduduk Kecamatan Cipayung. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah petani di Kecamatan Cipayung lebih banyak dibandingkan di Kecamatan Pancoran Mas. Sebaran penduduk Kecamatan Cipayung berdasarkan jenis usahanya di sektor pertanian dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22. Jumlah Penduduk Kecamatan Cipayung Berdasarkan Jenis Usahanya Tahun 2009 No. Jenis Usaha Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Pertanian ,21 2. Pertambangan dan penggalian 258 1,59 3. Industri ,33 4. Listrik, gas dan air 325 2,00 5. Konstrusi/bangunan 495 3,04 6. Perdagangan, hotel dan restoran ,20 7. Angkutan 434 2,67 8. Lembaga keuangan 392 2,41 9. Jasa-jasa , Lainnya ,93 Jumlah ,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Depok (2011) 69

88 Berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2009, terdapat orang yang menamatkan pendidikan sekolah dasarnya. Sedangkan 842 dan orang lainnya tidak tamat SD dan belum sekolah. Selain itu, terdapat dan orang yang tamat pendidikan SMP dan SMA, orang tamat Akademi, dan 497 orang tamat Perguruan Tinggi. 5.2 Karakteristik Petani Responden Karakteristik petani responden yang dianggap penting dalam penelitian ini meliputi usia, tingkat pendidikan, luas lahan, keikutsertaan dalam pelatihan/penyuluhan, perlakuan pascapanen, lembaga pemasaran, dan sumber modal. Karakteristik tersebut dianggap penting karena memengaruhi produktivitas serta efisiensi usahatani belimbing dewa di lokasi penelitian. 1) Aspek Usia Usia seringkali memengaruhi tingkat produktivitas dan semangat seseorang untuk mengembangkan usaha. Biasanya pada usia muda tingkat produktivitas serta semangat seseorang relatif lebih tinggi dibandingkan ketika usianya telah tua. Hal ini terjadi dikarenakan pada usia muda, fisik seseorang/petani cenderung masih kuat dan sehat serta memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi serta memenuhi kebutuhan keluarga. Berdasarkan data di lapangan diketahui bahwa sebagian besar petani responden di lokasi penelitian berusia tahun (36,67 persen) serta berusia tahun (33,33 persen). Sebanyak 16,67 dan 10 persen berusia tahun dan tahun. Selain itu, terdapat 3,33 persen petani responden berusia muda tahun, sedangkan petani yang berusia tua (55-64 tahun) dan sangat tua (lebih dari 75 tahun) berjumlah 0 persen. Kondisi ini menggambarkan bahwa generasi muda di lokasi penelitian cukup tertarik terhadap usahatani belimbing dewa. Berdasarkan Tabel 23, usia petani responden yang paling dominan di Kecamatan Pancoran Mas adalah tahun (66,66 persen), sedangkan di Kecamatan Cipayung lebih didominasi oleh petani responden yang berusia tahun (53,33 persen). Data ini mengindikasikan bahwa usahatani belimbing dewa di Kecamatan Pancoran Mas umumnya di usahakan oleh petani yang relatif lebih muda dibandingkan di Kecamatan Cipayung. 70

89 Tabel 23 Usia (Tahun) Sebaran Responden Berdasarkan Usia di Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cipayung Kecamatan Kecamatan Total Responden Pancoran Mas Cipayung (n=30) Jumlah Jumlah Jumlah petani % petani % petani % (Orang) (Orang) (Orang) ,67 0 0,00 1 3, ,66 1 6, , , , , , , , ,00 0 0,00 0 0, , , , ,00 0 0,00 0 0,00 Total , , ,00 2) Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan responden akan berpengaruh terhadap tingkat penyerapan teknologi baru dan ilmu pengetahuan. Seluruh petani yang menjadi responden pernah mengikuti pendidikan formal. Tingkat pendidikan responden rata-rata masih rendah. Tabel 24 menunjukkan bahwa sebanyak 40 persen petani responden merupakan lulusan Sekolah Dasar atau sederajat, 23,33 persen lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau sederajat, 33,34 persen lulusan Sekolah Menengah Lanjutan Atas (SLTA) atau sederajat, dan 3,33 persen lulusan Sarjana. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Kecamatan Pancoran Mas Kecamatan Cipayung Total Responden (n=30) Tingkat Pendidikan Jumlah Jumlah Jumlah petani % petani % petani % (Orang) (Orang) (Orang) SD atau sederajat 4 26, , ,00 SLTP atau sederajat 2 13, , ,33 SLTA atau sederajat 8 53, , ,34 S1 1 6,67 0 0,00 1 3,33 Total , , ,00 Tabel 24 menunjukkan bahwa persentase petani responden terbesar di Kecamatan Pancoran Mas merupakan lulusan SLTA atau sederajat (53,33 persen) 71

90 sedangkan di Kecamatan Cipayung merupakan lulusan SD (40 persen). Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan petani di Kecamatan Pancoran Mas relatif lebih tinggi dibandingkan di Kecamatan Cipayung. Oleh sebab itu, petani belimbing di Kecamatan Pancoran Mas diduga lebih mampu mengaplikasikan teknologi baru dan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya dalam pelatihan/penyuluhan. 3) Luas Lahan Luas lahan dapat menjadi indikator terhadap jumlah tanaman belimbing yang diusahakan yang pada akhirnya memengaruhi hasil penerimaan petani. Semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani, maka kemungkinan akan semakin banyak jumlah pohon belimbing yang dapat ditanam sehingga memungkinkan petani untuk menghasilkan buah belimbing yang lebih banyak. Luas lahan yang dimiliki juga menggambarkan besarnya skala usahatani yang dijalankan. Petani responden di lokasi penelitian sebagian besar memiliki lahan yang sempit yaitu kurang dari 0,5 hektar (90 persen). Terdapat 10 persen petani responden yang berlahan sedang yaitu sebesar 0,5 2,0 hektar dan tidak ada petani responden yang memiliki lahan yang luas yaitu lebih dari 2 hektar. Kondisi ini menggambarkan bahwa sebagian besar petani responden melakukan usahatani belimbing dewa pada lahan yang masih relatif sempit. Hal ini mungkin dikarenakan adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi wilayah perumahan, gedung-gedung bertingkat, jalan raya, jalan tol, dan lain-lain yang menyebabkan lahan pertanian menjadi berkurang. Data sebaran petani responden berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel 25. Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Luas Lahan Luas Kecamatan Pancoran Mas Kecamatan Cipayung Total Responden (n=30) Lahan Jumlah Jumlah Jumlah (Ha) petani % petani % petani % (Orang) (Orang) (Orang) < 0, , , ,00 0,5 2,0 2 13,33 1 6, ,00 > 2,0 0 0,00 0 0,00 0 0,00 Total , , ,00 72

91 Tabel 25 menunjukkan bahwa petani responden di Kecamatan Pancoran Mas maupun Cipayung, sama-sama mengusahakan belimbing pada lahan yang relatif sempit yaitu kurang dari 0,5 hektar. Data tersebut mengindikasikan bahwa dalam hal penguasaan lahan, petani belimbing di Kecamatan Pancoran Mas maupun Cipayung memiliki karakter yang sama yaitu rata-rata pengusahaan belimbing masih berskala kecil. 4) Keikutsertaan dalam Pelatihan/Penyuluhan Pelatihan/penyuluhan merupakan sarana bagi para petani untuk memperoleh informasi khususnya mengenai cara budidaya belimbing dewa yang baik. Berdasarkan data responden diketahui bahwa 83,33 persen petani responden sudah mengikuti pelatihan/penyuluhan yang dikenal pula dengan istilah Sekolah Lapang (SL). Topik Sekolah Lapang yang telah diikuti oleh para petani antara lain mengenai SOP (Standard Operasional Procedure) belimbing dewa pada tahun 2007 serta SOP GAP (Standard Operasional Procedure and Good Agriculture Practise) belimbing dewa tahun Selain itu, petani juga telah mengikuti pelatihan mengenai kewirausahaan serta mengikuti penyuluhan rutin hampir setiap satu bulan sekali dengan para penyuluh pertanian Dinas Pertanian Kota Depok. Sebaran responden berdasarkan keikutsertaannya dalam pelatihan/penyuluhan dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Keikutsertaan dalam Pelatihan/Penyuluhan Kecamatan Kecamatan Total Responden Keikutsertaan Pancoran Mas Cipayung (n=30) dalam Jumlah Jumlah Jumlah Pelatihan/ petani % petani % petani % Penyuluhan (Orang) (Orang) (Orang) Sudah 12 80, , ,33 Belum 3 20, , ,67 Total , , ,00 Tabel 26 menunjukkan bahwa jumlah petani yang sudah mengikuti pelatihan/penyuluhan dari Kecamatan Cipayung (86,67 persen) lebih banyak dibandingkan petani dari Kecamatan Pancoran Mas (80 persen). Hal ini mengindikasikan bahwa petani di Kecamatan Cipayung yang memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai teknis budidaya lebih banyak jika 73

92 dibandingkan dengan petani di Kecamatan Pancoran Mas. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan diketahui pula bahwa dua orang petani dari Kecamatan Pancoran Mas (13,33 persen) mendapatkan beasiswa untuk pelatihan/magang ke Jepang dari Departemen Pertanian Republik Indonesia selama satu tahun. Satu orang memperoleh beasiswa tersebut pada tahun dan satu orang lagi memperoleh beasiswa tersebut pada tahun ) Perlakuan Pascapanen Perlakuan pascapanen produk belimbing dewa terdiri dari sortasi, grading dan pengolahan buah. Pengolahan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah melakukan pengolahan terhadap buah belimbing yang dihasilkan menjadi suatu produk turunan tertentu. Sedangkan belimbing dewa yang tidak diolah artinya buah belimbing dijual dalam bentuk buah segar (tidak ada proses pengolahan), hanya mendapat penanganan pada kemasan serta kontrol pada mutu dan bobot buah (sortasi dan grading). Berdasarkan data responden diketahui bahwa sebanyak 96,67 persen petani responden tidak melakukan proses pengolahan terhadap buah belimbing yang dihasilkan. Mereka menjual langsung buah belimbing dalam bentuk buah segar. Hanya 3,33 persen yang melakukan pengolahan buah belimbing. Sebagian besar alasan petani responden tidak melakukan pengolahan belimbing adalah waktu yang tidak mencukupi untuk melakukan proses pengolahan karena sudah sibuk dan lelah dengan proses produksi belimbing di kebun. Selain itu, para petani juga memiliki alasan karena tidak memiliki alat-alat proses pengolahan, tidak mengetahui cara membuat produk turunan belimbing serta adanya tambahan biaya jika melakukan proses pengolahan sedangkan petani memiliki keterbatasan modal. Data mengenai sebaran petani responden berdasarkan perlakukan pascapanen dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27 memperlihatkan bahwa seluruh petani di Kecamatan Cipayung tidak melakukan proses pengolahan buah belimbing. Selain alasan yang telah disebutkan di atas, hal ini juga dikarenakan proses pengolahan buah belimbing di Kecamatan Cipayung dikerjakan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) dibawah bimbingan penyuluh Dinas Pertanian Kota Depok. Sedangkan di Kecamatan 74

93 Pancoran Mas, ada satu orang petani (6,67 persen) yang melakukan proses pengolahan buah belimbing menjadi dodol belimbing. Tabel 27. Perlakuan Pascapanen Melakukan Pengolahan (Menjadi Produk Turunan) Tidak Melakukan Pengolahan (Buah Segar) Sebaran Responden Berdasarkan Perlakuan Pascapanen di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Kecamatan Kecamatan Total Responden Pancoran Mas Cipayung (n=30) Jumlah Jumlah Jumlah petani % petani % petani % (Orang) (Orang) (Orang) 1 6,67 0 0,00 1 3, , , ,67 Total , , ,00 6) Lembaga Pemasaran Petani Responden Lembaga pemasaran merupakan salah satu faktor yang memengaruhi tingkat penerimaan petani responden. Hal ini terjadi karena tingkat harga yang berlaku pada masing-masing lembaga relatif berbeda. Berdasarkan penelusuran informasi di lapangan, ada lima lembaga pemasaran belimbing yang umumnya digunakan oleh para petani responden. Hampir setiap petani responden menyalurkan belimbing yang dihasilkannya ke lebih dari satu lembaga pemasaran. Tabel 28 menunjukkan banyaknya penggunaan lembaga pemasaran yang digunakan oleh petani belimbing di lokasi penelitian. Tabel 28. Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Penggunaan Lembaga Pemasaran Belimbing Dewa Kecamatan Kecamatan Pancoran Mas Cipayung Total Lembaga Pemasaran Jumlah Jumlah Jumlah Pemakai % Pemakai % Pemakai % (Orang) (Orang) (Orang) Puskop 4 15, , ,85 Pengumpul/Tengkulak 19 73, , ,77 Pedagang Besar 1 3, ,92 Pedagang Pengecer 1 3, ,54 4 7,69 Konsumen 1 3,85 2 7,69 3 5,77 75

94 Berdasarkan informasi yang tertera pada Tabel 28 terlihat bahwa sebanyak 55,77 persen petani responden di lokasi penelitian menjual hasil panennya melalui pengumpul/tengkulak. Hal ini terjadi dikarenakan adanya ikatan emosional (persaudaraan, pertemanan dan kekerabatan lainnya) ataupun karena adanya hutang budi karena petani mendapatkan pinjaman modal dari pengumpul/tengkulak sehingga mengikat petani untuk menjual hasil panennya kepada pengumpul/tengkulak tersebut. Selain itu, alasan petani responden menjual hasil panennya kepada pengumpul/tengkulak adalah karena sistem pembayarannya cash (lebih cepat) meskipun harga yang diberikan tidak terlalu bagus. Sebanyak 28,85 persen petani responden menjual hasil panennya melalui Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop), 7,92 persen melalui pedagang pengecer (toko buah dan pasar tradisional), 5,77 persen langsung menjualnya kepada konsumen akhir serta 1,92 persen menjualnya kepada pedagang besar (supermarket, pasar induk dan swalayan). Lembaga pemasaran yang dominan di Kecamatan Pancoran Mas adalah melalui pengumpul/tengkulak. Alasan petani responden menjual belimbingnya kepada pengumpul/tengkulak adalah karena jaraknya lebih dekat dan pembayarannya lebih cepat (cash). Selain itu, pengumpul/tengkulak juga telah banyak membantu petani dalam peminjaman modal dan saprodi serta petani merasa lebih nyaman karena sudah kenal sehingga mengurangi risiko penipuan. Sedangkan lembaga pemasaran yang lebih dominan di Kecamatan Cipayung adalah melalui Puskop. Alasan petani responden menjual hasil panennya kepada Puskop di antaranya karena memiliki ikatan emosional atau rasa tanggung jawab moral (karena yang menginisiasi pembentukan Puskop adalah mereka/para petani belimbing), harga yang diberikan Puskop lebih baik dan karena petani memiliki hutang dengan Puskop (PKBL Bank Mandiri). 7) Sumber Modal Modal merupakan salah satu faktor produksi yang cukup penting. Modal seringkali menjadi kendala bagi petani responden di lokasi penelitian sehingga membuat para petani melakukan peminjaman untuk mengatasi kendala tersebut. Tabel 29 memperlihatkan sumber modal usahatani belimbing dewa yang dijalankan oleh para petani responden di lokasi penelitian. 76

95 Tabel 29. Sebaran Responden di Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung Berdasarkan Sumber Modal Usahatani Belimbing Dewa Kecamatan Pancoran Mas Kecamatan Cipayung Total Responden (n=30) Sumber Modal Jumlah Jumlah Jumlah petani % petani % petani % (Orang) (Orang) (Orang) Sendiri 5 33,33 1 6, ,00 Pinjaman 0 0,00 0 0,00 0 0,00 Sendiri dan Pinjaman 10 66, , ,00 Total , , ,00 Tabel 29 menunjukkan bahwa sumber modal dominan yang digunakan oleh petani belimbing di lokasi penelitian adalah kombinasi dari modal pribadi dan pinjaman (80 persen). Kondisi ini mengindikasikan bahwa petani kekurangan modal dalam menjalankan usahatani belimbingnya sehingga untuk mengatasi kekurangan modal tersebut ataupun dalam rangka meningkatkan skala usahanya, petani melakukan pinjaman. Ada pula petani yang hanya mengandalkan modal pribadinya (20 persen) dalam menjalankan usahatani belimbing yang dimilikinya. Hal tersebut bukan dikarenakan petani telah memiliki modal yang cukup tetapi lebih dikarenakan petani merasa takut untuk berhutang. Tidak ada satupun petani responden yang menjalankan usahatani belimbing dengan hanya mengandalkan pinjaman dari pihak lain. 5.3 Gambaran Umum Usahatani Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Budidaya belimbing di Kota Depok telah dilakukan sejak tahun 1970 hingga sekarang. Belimbing Depok dikenal dengan belimbing dewa, hasil buah karya petani penangkar Depok Bapak H. Usman Mubin. Buah berwarna kuningorange keemasan, mengandung vitamin A dan C yang cukup tinggi (lihat Lampiran 6), besar buah dapat mencapai 0,8 kg per buah. Keragaan kebun belimbing di Kota Depok tersebar di sebelas kecamatan. Selain ditanam di lahan sendiri, tanaman belimbing juga ditanam di pekarangan rumah. Keberadaan lahan untuk tanaman belimbing di lokasi penelitian terletak tidak jauh dari pemukiman penduduk. Usahatani belimbing pada awalnya dilakukan secara tradisional dengan pemeliharaan seadanya. Namun, seiring dengan berkembangnya potensi usahatani belimbing dan besarnya keuntungan yang diperoleh, usahatani belimbing mulai 77

96 mendapat perhatian. Terbukanya potensi dari usahatani belimbing ini, mendorong pemerintah Kota Depok untuk menjadikan belimbing dengan varietas unggul Dewa sebagai icon Kota Depok. Kegiatan usahatani dan teknik budidaya belimbing yang dilakukan oleh petani belimbing di Kota Depok sebenarnya hampir sama antara petani belimbing satu dengan lainnya. Hal ini dikarenakan hampir sebagian besar petani belimbing di Kota Depok telah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) belimbing dewa yang disusun oleh Dinas Pertanian Kota Depok tahun SOP belimbing ini merupakan panduan teknik budidaya belimbing yang dilakukan untuk meningkatkan mutu buah belimbing yang dihasilkan petani. Teknik budidaya belimbing sesuai SOP telah tersosialisasikan kepada para petani belimbing di Kota Depok termasuk di wilayah Kecamatan Pancoran Mas dan Cipayung melalui fasilitas Sekolah Lapang (SL) SOP belimbing dewa pada tahun 2007 yang diikuti oleh para petani responden. Di lokasi penelitian, ada petani yang telah menerapkan semua kegiatan budidayanya sesuai dengan SOP dan ada pula petani yang tidak sepenuhnya menjalankan budidaya belimbing sesuai SOP bahkan ada pula yang belum. Namun, sebagian besar telah melakukan budidaya belimbing sesuai dengan SOP Penanaman Tanaman Belimbing Dewa Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, kegiatan penanaman diawali dengan kegiatan penyiapan lahan yaitu pembersihan lahan dan pembuatan lubang tanam. Pembersihan lahan dilakukan dengan maksud untuk memperoleh lahan yang siap ditanami dan terbebas dari gangguan fisik seperti batu-batuan besar dan gangguan biologis seperti gulma atau sisa-sisa tanaman. Kegiatan pembersihan lahan yang dilakukan antara lain adalah membersihkan semak, pohon kecil, cabang dan ranting pohon besar yang menghalangi pertumbuhan tanaman muda. Persiapan lahan yang harus dilakukan setelah melakukan pembersihan lahan adalah pembuatan lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan pada kebun belimbing yang sesuai dengan SOP adalah (7 x 7) meter. Namun, sebagian besar petani responden yang ada di lokasi penelitian menggunakan jarak tanam yang lebih rapat yaitu (5 x 5) meter sebanyak 36,37 persen dari total petani responden. Hanya sekitar 6,67 persen 78

97 petani responden yang menggunakan jarak tanam yang sesuai dengan SOP. Selain itu, ada pula yang menggunakan jarak tanam sebesar (3 x 3) dan (4 x 5) meter sebanyak 3,33 persen, (4 x 4) dan (6 x 6) meter sebanyak 10 persen, (5 x 6) meter sebanyak 6,67 persen dan (6 x 7) meter sebanyak 23,33 persen. Hal ini dikarenakan tanaman belimbing sudah tertanam sejak lama sebelum diterbitkannya SOP oleh Dinas Pertanian Kota Depok. Para petani ingin mengoptimalkan lahan yang dimilikinya dengan menanam pohon belimbing dengan jarak tanam yang lebih rapat, padahal semakin jauh jarak tanam belimbing akan menyebabkan cabang-cabang semakin menyamping dan menghasilkan buah yang lebih banyak Pemupukan Tanaman Belimbing Dewa Pemupukan dilakukan guna untuk menyediakan kebutuhan hara (nutrisi) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman belimbing. Pupuk yang diberikan pada tanaman belimbing adalah pupuk organik (pupuk kandang), pupuk anorganik (pupuk NPK) dan pupuk daun (pupuk cair). Pupuk kandang dan NPK digunakan untuk menambah dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk daun digunakan untuk merangsang pembungaan dan mendukung pertumbuhan daun. Curacron dan Dusban digunakan sebagai pestisida serta Gandasil B sebagai perangsang bunga. Kegiatan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dan NPK dilakukan setiap empat bulan sekali. Dosis pupuk kandang dan NPK per pohon belimbing berdasarkan SOP dapat dilihat pada Tabel 30. Tabel 30. Dosis Pupuk Per Pohon pada Usahatani Belimbing Dewa di Kota Depok Jenis dan Dosis Pupuk Waktu Pemupukan Pupuk Kandang (Kg) NPK (15:15:15) (Kg) 3 12 bulan setelah tanam ,2-0,3 1 3 tahun setelah tanam ,4-0,6 > 3 tahun setelah tanam ,7-1,0 3 4 minggu sekali pada tanaman produktif Pupuk Daun Sesuai Dosis Anjuran Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok (2007) 79

98 Prosedur pelaksanaan pemberian pupuk di antaranya yaitu (1) Menyiapkan alur lubang pupuk di bawah lingkaran tajuk sedalam 20 sentimeter dan selebar cangkul; (2) Menyiapkan pupuk sesuai jenis dan dosis yang akan digunakan; dan (3) Memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam kemudian menutupnya. Apabila pupuk daun yang akan diberikan, maka harus membuat larutan pupuk terlebih dahulu, kemudian pupuk disemprotkan ke tanaman dengan menggunakan hand sprayer atau power sprayer. Dari hasil wawancara dengan petani responden di lokasi penelitian, pemberian pupuk pada tanaman belimbing ada kalanya tidak mengikuti dosis anjuran yang terdapat pada SOP belimbing dewa. Petani responden biasanya mendapatkan pupuk kandang dengan membeli di rumah potong hewan (RPH), ada pula yang memelihara ternak sendiri untuk kemudian diambil kotorannya dan ada pula yang memfermentasi sendiri pupuk kandang yang akan digunakan (mol). Cara membuat mol yaitu dengan menggiling buah belimbing busuk dan mencampurnya dengan gula merah, air kelapa dan air beras kemudian difermentasi selama ± 2 minggu. Air ekstraknyalah yang akan menjadi pupuk Pengairan Tanaman Belimbing Dewa Pengairan dilakukan untuk menyediakan kebutuhan air bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman belimbing. Sebelum kegiatan pengairan dilakukan, hal yang harus diperhatikan adalah melihat kondisi tanaman dan buah. Pengairan harus dihentikan jika kondisi tanah telah cukup lembab. Selain air hujan, air yang digunakan sebagai sumber pengairan oleh para petani responden berasal dari irigasi teknis (70 persen) dan air sumur (26,67 persen). Ada satu orang petani (3,33 persen) yang hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan untuk tanaman belimbing yang dimilikinya. Pada umumnya petani responden melakukan kegiatan pengairan hanya pada musim panas/kemarau. Peralatan yang diperlukan saat pengairan antara lain adalah air, ember/selang air/pompa pantek/power sprayer dan cangkul. 80

99 Gambar 7. Mesin Diesel (kiri), Power Sprayer (tengah) dan Selang air (kanan) yang Digunakan Petani Responden di Lokasi Penelitian Tahun Pemangkasan Tanaman Belimbing Dewa Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, kegiatan pemangkasan tanaman belimbing dibagi menjadi dua jenis yaitu kegiatan pemangkasan bentuk dan kegiatan pemangkasan pemeliharaan. Kegiatan pemangkasan bentuk adalah kegiatan membentuk cabang atau ranting tanaman agar mempunyai tajuk yang diharapkan dan dengan tujuan agar lebih memudahkan petani dalam melakukan kegiatan pengelolaan, perawatan dan pemanenan. Sedangkan pemangkasan pemeliharaan adalah memotong cabang atau ranting tanaman yang tidak produktif dan tidak dikehendaki. Hal ini bertujuan untuk merangsang pembungaan, membuang ranting atau cabang yang mati, tunas air maupun cabang yang tidak produktif serta untuk memudahkan sinar matahari masuk sampai cabang-cabang terbawah. Kegiatan pemangkasan dilakukan pada saat setelah panen. Peralatan yang dibutuhkan saat pemangkasan antara lain adalah gunting, karung/keranjang, tali, dan patok Sanitasi Kebun serta Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Belimbing Dewa Petani responden umumnya melakukan kegiatan sanitasi kebun pada awal musim atau setelah musim panen sebelumnya selesai. Sanitasi kebun merupakan kegiatan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan kebun. Sanitasi kebun dilakukan untuk memberikan lingkungn tumbuh yang baik bagi pertumbuhan tanaman serta memutus siklus hidup organisme pengganggu tanaman (OPT). Kegiatan ini antara lain membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dan 81

100 membuang buah yang rontok pada saat proses pembesaran buah, pembungkusan maupun pada saat pemanenan serta buah rontok yang tersangkut di pohon. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain adalah sabit, cangkul, pengki/karung sampah, dan sapu lidi. Pengendalian OPT adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman belimbing seperti penurunan mutu dan produksi buah belimbing yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tanaman, dengan cara memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan. Sebelum melakukan kegiatan pengendalian OPT, petani harus melakukan pengamatan terhadap OPT di kebun secara teratur dan berkala guna mengenali OPT yang menyerang dan gejala serangannya agar petani dapat melakukan tindakan atau cara yang tepat untuk mengatasinya. Organisme pengganggu tanaman yang sering menyerang pohon belimbing di lokasi penelitian antara lain adalah : 1) Lalat Buah (Batrocero carambolae atau Batrocero dorsalis) Lalat buah dewasa bertelur di dalam buah, kemudian larva yang menetas akan memakan isi buah dan akhirnya membuat buah menjadi busuk dan gugur. Untuk menghindari serangan lalat buah, petani dianjurkan agar membungkus buah pada saat tiga sampai empat minggu setelah buah terbentuk. Buah yang terserang OPT jenis ini harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantung plastik, lalu dibenamkan ke dalam tanah sedalam 30 sentimeter atau dibakar. Pengendalian OPT jenis ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang digunakan adalah insektisida sistemik atau kontak dengan bahan aktif dimethoate, malathion, fenthion atau maldison. Selain itu, pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap lalat buah dengan memakai zat yang disebut feromon yaitu methyl eugenol yang biasa ditemukan dengan merk dagang Petrogenol 800 L. Gambar 8 memperlihatkan alat perangkap lalat buah di lokasi penelitian. Seluruh petani responden di lokasi penelitian telah menggunakan perangkap lalat buah untuk mengatasi serangan lalat buah yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas buah belimbing yang dihasilkan. 82

101 Gambar 8. Perangkap Lalat Buah Milik Petani yang Belum Dipakai (kiri) dan Perangkap Lalat Buah yang Telah Terpasang di Kebun Belimbing (kanan) di Lokasi Penelitian Tahun ) Jamur Upas (Upasita salminicolor, Corticium salminicolor, Pellicularia salminicolor) Penyakit ini menyerang bagian batang atau cabang tanaman. Jika serangan sudah berat maka dapat mengakibatkan batang mengering dan lapuk. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara menyemprot atau mengoleskan cabang yang sakit dengan fungisida Bubur Bordeaux satu persen atau Calixin lima persen. Selain itu dapat pula menggunakan Topsin dengan Kapur maupun fungisida Benlate. Gambar 9 menunjukkan tanaman belimbing yang terserang penyakit jamur upas di lokasi penelitian. Gambar 9. Tanaman Belimbing yang Terkena Serangan Penyakit Jamur Upas (kiri), Batang Belimbing yang Terserang Penyakit Jamur Upas Diolesi Kapur (tengah) dan Bagian Bawah Tanaman Belimbing yang Terserang Penyakit Jamur Upas Telah Dikerok oleh Petani (kanan) di Lokasi Penelitian Tahun

102 3) Bercak Daun Cercospora Bercak daun ini disebabkan oleh jamur Cercospora averrhoae. Penyakit ini menyerang daun, tangkai daun dan batang muda. Penyakit ini menyebabkan terjadinya bercak-bercak pada daun dengan tepi daun berwarna cokelat tua atau ungu. Serangan yang hebat dapat menyebabkan daun kuning hingga rontok. Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan fungisida Kaptafol atau fungisida Difolatan. 4) Ulat Penggerek Buah Ulat penggerek buah merupakan organisme pengganggu tanaman belimbing yang masih sulit untuk diberantas/dikendalikan oleh para petani belimbing di lokasi penelitian. Petani masih belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasi OPT jenis ini, oleh karena itu bantuan dari pihak-pihak yang mengetahui dan mengerti cara penanganan OPT jenis ini sangat diperlukan petani belimbing dewa di Kota Depok guna meningkatkan mutu dan produktivitas belimbing yang mereka usahakan. Gambar 10 memperlihatkan buah belimbing di kebun petani responden yang terserang hama ulat penggerek buah ketika belimbing belum dibungkus. Karena telah terserang hama ulat penggerek buah maka belimbing tidak dapat dibungkus dan harus dibuang. Gambar 10. Belimbing yang Terkena Hama Ulat Penggerek Buah di Lokasi Penelitian Tahun Penjarangan dan Pembungkusan Buah Belimbing Dewa Penjarangan buah merupakan kegiatan mengurangi jumlah buah pada tanaman belimbing guna meningkatkan ukuran dan mutu buah yang akan dihasilkan. Kegiatan ini dilakukan pada saat buah berukuran 2-3 cm atau saat 84

103 buah berumur hari sejak bunga mekar. Buah yang dibuang adalah buah yang bentuk dan ukurannya tidak normal, buah yang terserang OPT, buah yang terdapat diujung ranting/cabang serta buah yang memiliki tangkai buah kurus. Buah yang tidak sesuai dengan kriteria akan dibuang dan dilakukan penjarangan. Buah hasil penjarangan ditimbun ke dalam tanah atau sebagai pakan ternak. Gambar 11. Penjarangan Buah Belimbing (kiri) dan Pembungkusan Buah Belimbing (kanan) di Lokasi Penelitian Tahun 2011 Pembungkusan buah dilakukan pada buah muda yang telah berukuran tiga sentimeter (buah yang telah dijarangkan kemudian dibungkus) guna mencegah buah dari gangguan organisme pengganggu tanaman, menghindari buah dari pencemaran pestisida serta meningkatkan mutu buah yaitu buah cepat besar, bersih dan berpenampilan menarik. Bahan pembungkus buah yang digunakan oleh petani responden di lokasi penelitian adalah karbon dan plastik hitam perak. Namun, karena keberadaan karbon yang mulai langka di pasaran maka petani lebih beralih ke pembungkus berbahan plastik hitam perak. Kegiatan penjarangan dan pembungkusan buah ini biasanya dilakukan dalam satu waktu yang bersamaan. Gambar 12. Kegiatan Penjarangan dan Pembungkusan Buah Belimbing Dilakukan dalam Waktu yang Bersamaan 85

104 5.3.7 Panen Sebelum melakukan kegiatan pemanenan, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pengamatan pada buah yang akan dipanen. Hal ini dilakukan untuk memperoleh buah yang sesuai tingkat kematangan dan waktu pemetikan yang tepat. Pemanenan buah di lokasi penelitian, biasanya dilakukan oleh para petani setelah hari dari masa pembungkusan buah. Buah sudah bisa dipanen saat telah memasuki indeks kematangan buah IV. Indeks kematangan IV dipilih dengan tujuan agar buah tidak cepat busuk dalam proses penyimpanan. Ciri indeks kematangan buah dapat dilhat pada Tabel 31. Hasil panen buah belimbing dibagi menjadi tiga kelas (grade). Tabel 31. Ciri-ciri Indeks Kematangan Buah Belimbing Dewa di Kota Depok Indeks Kematangan Buah Ciri-Ciri Buah Belimbing Dewa Indeks I Buah berwarna hijau keputihan Indeks II Buah berwarna putih kekuningan Indeks III Buah berwarna kuning kehijauan Indeks IV Buah berwarna kuning tua kehijauan Indeks V Buah berwarna kuning kemerahan Indeks VI Buah berwarna oranye kemerahan Indeks VII Buah berwarna oranye kemerahan, buah terlalu matang Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok (2007) Target hasil panen buah belimbing yang diharapkan dicapai dari penerapan SOP belimbing dewa Kota Depok menyangkut tiga aspek yaitu (1) Produktivitas setiap pohon per tahun (tiga kali panen), untuk tanaman yang berumur 2 4 tahun memiliki 500 buah/pohon/tahun, tanaman berumur 5 9 tahun sebanyak buah/pohon/tahun dan tanaman yang berumur > 15 tahun sebanyak buah/pohon/tahun; (2) Mutu buah hasil panen yaitu tidak cacat, bebas cemaran fisik (burik, kotoran dan tanah), ukuran buah seragam sesuai kelas/grade, tidak memar atau bonyok, bebas cemaran organisme pengganggu tanaman dan pestisida, dan warna serta bentuk buah seragam (sesuai dengan umur panen dan varietas); dan (3) Proporsi kelas buah hasil panen berdasarkan berat buah atau jumlah buah per kilogram dari setiap pohon yaitu grade A (berat buah lebih dari 250 gram/buah) sebanyak 40 persen, grade B (berat buah di antara 200 sampai 86

105 250 gram/buah) sebanyak 50 persen dan grade C (berat buah kurang dari 200 gram/buah) sebanyak 10 persen. Pemetikan buah pada saat panen dilakukan dengan menggunakan gunting stek dan alat bantu berupa tangga yang bertujuan untuk menjangkau buah belimbing yang terdapat pada ujung cabang. Buah yang telah dipetik, kemudian diletakkan diatas keranjang bambu atau keranjang plastik. Kertas karbon yang digunakan sebagai pembungkus buah tersebut kemudian dikumpulkan pada kantong plastik untuk digunakan pada periode selanjutnya. Gambar 13. Hasil Panen Belimbing Petani di Lokasi Penelitian Tahun Gambaran Umum Pemasaran Komoditas Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Berdasarkan penelusuran informasi di lokasi penelitian, petani responden menjual hasil panen belimbingnya kepada Puskop, pengumpul (tengkulak), pedagang besar, pedagang pengecer, dan konsumen langsung. Namun sebagian besar petani responden menjualnya ke Puskop (28,85 persen) dan pengumpul/tengkulak (55,77 persen) Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok Dari segi pemasaran, pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pertanian Kota Depok telah memfasilitasi terbentuknya Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop) yang bertugas untuk memasarkan hasil buah dan olahan belimbing dari para petani Kota Depok. Sesungguhnya, Puskop dibentuk berdasarkan inisiasi dan kesepakatan bersama para petani belimbing di Kota Depok serta seluruh stakeholders lainnya (Dinas Pertanian Kota Depok, 87

106 KTNA, APEBEDE, dan lain-lain). Puskop resmi didirikan pada tanggal 30 Oktober 2007 dan mulai beroperasi pada Januari Selama bulan November- Desember 2007, Puskop melakukan persiapan manajerial yaitu dengan mengadakan recruitment sumberdaya manusia (tenaga kerja). Pengoperasian Puskop dilakukan pada saat yang sangat tepat karena pada saat itu merupakan masa panen raya belimbing Kota Depok yang hanya terjadi setiap 2-3 tahun sekali. Sehingga pada saat itu Puskop dapat langsung berperan dalam upaya mengakomodasi pemasaran hasil panen petani belimbing, yang sebelumnya sangat bergantung kepada para tengkulak. Gambar 14. Gedung Puskop (kiri) dan Papan Nama Puskop (kanan) Puskop dibentuk guna membuat pemasaran belimbing di Kota Depok menjadi satu pintu. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan pendapatan petani belimbing sekaligus menjadikan Kota Depok sebagai sentra produksi belimbing sehingga belimbing dapat menjadi icon Kota Depok. Namun, petani responden di lokasi penelitian yang menjual hasil panennya kepada Puskop hanya sebanyak 28,85 persen. Sebagian besar petani responden masih menjual hasil panennya kepada para tengkulak (55,77 persen). Hal ini menunjukkan bahwa tujuan dari pembentukan Puskop untuk menjadikan pemasaran belimbing di Kota Depok menjadi satu pintu masih belum tercapai. Sebagian besar alasan petani menjual hasil panennya kepada pihak selain Puskop adalah karena sistem pembayaran yang lebih cepat atau kontan (cash). Sistem pembayaran yang dilakukan oleh Puskop yaitu dengan menyerahkan faktur pembayaran kepada petani dan faktur tersebut dicairkan setelah 3 7 hari kemudian. Kondisi ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Puskop agar memperbaiki sistem pembayarannya. Jika Puskop tidak dapat melakukan pembayaran kontan secara 88

107 langsung, sebaiknya Puskop dapat memberikan down payment (DP) sebesar persen pada saat petani menyerahkan hasil panennya dan melunasinya sesuai dengan sistem yang telah diterapkan oleh Puskop yaitu melunasi setelah 3 7 hari kemudian. Puskop merupakan mitra binaan bagi petani. Puskop tidak hanya membeli belimbing dari petani tetapi juga memperhatikan kebutuhan usahatani belimbing petani di antaranya yaitu dengan memberikan bantuan berupa alat-alat produksi (bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kota Depok), membantu pemasaran serta membantu permodalan bagi petani (bekerjasama dengan Bank Mandiri). Selain itu, Puskop juga berfungsi untuk menguatkan bargaining position petani belimbing, khususnya dalam menghadapi pasar. Saat ini, Puskop memiliki anggota sebanyak 300 petani belimbing, namun petani yang loyal dan mendapat bantuan pinjaman Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri hanya sebanyak ± 150 orang dari semua kecamatan di Kota Depok. Ratarata hasil panen petani sebanyak 2-3 ton per minggu. Pada saat hasil produksi belimbing petani lemah/sedikit, Puskop tidak memberi batasan pemetikan atau pengiriman belimbing dari petani ke Puskop. Tetapi jika sedang panen raya/produksi melimpah, Puskop membatasi pemetikan/pengiriman belimbing maksimal 3 ton per hari. Perlakuan lanjutan yang dilakukan Puskop terhadap belimbing yang dihasilkan petani adalah sortasi, grading, pelabelan, dan packaging. Kemudian, Puskop menjualnya kepada Carefour, Makro (Lottemart), Alfa Retailindo, Total Buah, Yogya Bandung, outlet buah (Greenfield Cibubur, All Fresh, Frutterry, Papaho) dan Pasar-pasar Tradisional. Namun, saat ini Puskop hanya memiliki tiga pelanggan tetap yaitu carefour, toko total buah dan pasar induk Kramat Jati. Harga belimbing yang dijual oleh petani dihargai oleh Puskop dengan kisaran harga untuk masing-masing grade yaitu grade A adalah Rp per kg, grade B Rp per kg, dan grade C Rp per kg. Harga ini jauh lebih baik/tinggi dibandingkan dengan harga yang diberikan oleh tengkulak. Tengkulak biasanya membeli belimbing kepada petani dengan sistem borongan (membeli per keranjang dan tidak diklasifikasikan), dimana untuk grade A dan B dihargai sama yaitu Rp Rp per kg dan untuk grade C 89

108 merupakan bonus (dibawa saja oleh tengkulak atau jika dihargai sangat murah, misal Rp per keranjang). Sehingga harga yang diberikan oleh Puskop lebih tinggi dibandingkan oleh tengkulak, dengan perbedaan harga berkisar antara Rp Rp per kg. Sedangkan untuk grade C, tengkulak tidak menghargai sama sekali (dianggap bonus) sedangkan Puskop masih mau menghargai Rp Rp per kg. Puskop memiliki kendala dalam permodalan dan pengembalian pinjaman PKBL Bank Mandiri yang diberikan kepada petani melalui Puskop (sebagai penjamin) karena adanya kredit macet petani. Hal ini terjadi karena adanya moral hazard yang dilakukan salah satu oknum pada saat pendataan petani yang mendapatkan bantuan pinjaman, sehingga banyak data petani fiktif. Oleh karena itu, pada saat pembayaran pinjaman banyak petani yang tidak membayar pinjaman dikarenakan fiktif. Oknum tersebut kini sudah tidak menjadi bagian dari Puskop. Saldo Puskop yang telah tertarik ke rekening Bank Mandiri untuk membayar kredit macet petani adalah sebanyak Rp 160 juta selama dua tahun terakhir ini. Selain itu, pembayaran cicilan kredit ke Bank Mandiri adalah setiap bulan, sedangkan Puskop menerima pembayaran dari petani (menggunakan belimbing yang diserahkan kepada Puskop) setiap tiga bulan sekali sehingga Puskop juga sering menalangi terlebih dahulu cicilan tersebut setiap bulannya. Sehingga lamakelamaan modal Puskop menjadi berkurang dan menyebabkan kondisi keuangan Puskop melemah. Adapun solusi yang diharapkan dari pemerintah untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh Puskop tersebut antara lain adalah (1) Pemerintah membantu membuatkan surat sakti pemasaran untuk semua pasar retail di Kota Depok agar bersedia membeli belimbing dari Puskop; (2) Melakukan penyuluhan yang intensif kepada petani agar dapat memproduksi belimbing yang baik; (3) Mendorong masyarakat Depok untuk lebih mengerti, mengenal dan mengkonsumsi belimbing; (4) Membuat Belimbing Center; (5) Memberikan bantuan kredit modal kepada Puskop untuk kelancaran proses produksi; dan (6) Mendorong seluruh jajaran pemerintahan untuk turut mendukung belimbing sebagai icon kota, tidak hanya Dinas Pertanian tetapi seluruh dinas yang ada di 90

109 Kota Depok saling bahu-membahu membantu penguatan citra belimbing sebagai icon Kota Depok Pengumpul (Tengkulak) Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, sebanyak 55,77 persen petani responden menjual hasil panennya kepada para pengumpul/tengkulak. Ada banyak pengumpul/tengkulak yang menjadi tempat penyaluran belimbing yang dihasilkan oleh para petani di Kota Depok. Namun, hanya ada enam orang yang termasuk pengumpul/tengkulak besar yaitu berasal dari Kecamatan Pancoran Mas sebanyak tiga orang, Kecamatan Sawangan sebanyak satu orang, Kecamatan Beji sebanyak satu orang dan Kelurahan Kelapa dua sebanyak satu orang. Para pengumpul/tengkulak besar ini biasanya menjual kembali belimbing yang telah dibelinya kepada para pedagang besar, pedagang pengecer maupun langsung kepada konsumen akhir. Umumnya harga yang diberikan oleh pengumpul/tengkulak kepada petani tidak terlalu tinggi sehingga petani cukup dirugikan. Namun petani masih sering dan suka menjual belimbing yang dihasilkannnya kepada pengumpul/tengkulak karena sistem pembayaran yang dilakukan oleh pengumpul/tengkulak lebih cepat (cash). Selain itu, jika petani kesulitan dalam hal permodalan untuk usahataninya, petani dapat meminjam dengan cepat kepada para pengumpul/tengkulak langganannya. Petani responden di Kecamatan Cipayung yang menjual hasil panennya kepada pengumpul/tengkulak sebanyak 38,46 persen. Biasanya mereka menjual kepada pengumpul/tengkulak yang berasal dari berbagai wilayah yang berada di Kota Depok yang telah menjadi langganan mereka sebelum didirikannya Puskop. Sedangkan, petani responden dari Kecamatan Pancoran Mas yang menjual belimbingnya kepada pengumpul/tengkulak adalah sebanyak 73,07 persen. Petani responden tersebut sebagian besar menjualnya kepada satu orang pengumpul/tengkulak besar yang berasal dari wilayah yang sama yaitu Kecamatan Pancoran Mas. Pengumpul ini memiliki branding Star Fresh untuk belimbing yang dijualnya ke pasaran. Biasanya pengumpul tersebut akan mendistribusikan kembali belimbing yang diperolehnya kepada pedagang besar (Carefour dan pasar induk) dan pedagang pengecer (pasar-pasar tradisional serta toko-toko buah yang berada di wilayah jabodetabek). Hal ini menunjukkan pengumpul tersebut telah 91

110 memiliki manajemen yang cukup baik karena telah memiliki branding dan saluran pemasaran yang kontinu serta petani yang cukup loyal Kegiatan Ekspor Belimbing Dewa di Lokasi Penelitian Kegiatan ekspor belimbing di Kota Depok sejauh ini masih dalam bentuk penjajakan ke Arab Saudi dan Singapura. Puskop sendiri pernah mendapatkan tawaran dari Negara Jepang untuk mengekspor belimbingnya, namun Puskop menolaknya mengingat belum adanya kontinuitas belimbing dari para petani serta belum siapnya perlengkapan logistik yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan ekspor seperti mobil kontainer dan lain-lain. Dinas Pertanian Kota Depok juga mengemukakan bahwa saat ini Dinas Pertanian sedang melakukan persiapan untuk membuat SOP Ekspor belimbing dewa Kota Depok. Selama di lokasi penelitian, dirasakan pula bahwa para petani belimbing pun belum memiliki kesiapan penuh. Hal ini terlihat dari sertifikasi kebun yang belum dimiliki petani serta penggunaan pestisida kimia yang masih cukup tinggi (akan memengaruhi kadar residu pada buah belimbing yang akan diekspor). Keterangan dari penyuluh pertanian di Kota Depok, dari 320 orang petani belimbing di Kota Depok baru sekitar 18 orang petani yang mulai menerapkan sistem organik dalam usahatani belimbing yang dijalankannya. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi penelitian, dapat disimpulkan kegiatan Ekspor belimbing dewa di Kota Depok sejauh ini masih belum berjalan. Namun, ke depannya seluruh stakeholders agribisnis belimbing dewa di Kota Depok (petani, pemerintah, koperasi, pengusaha dan lain-lain) berharap dapat melakukan kegiatan tersebut. Oleh karena itu, saat ini seluruh stakeholders masih dalam masa persiapan dan pembenahan diri. Penelitian ini pun diharapkan dapat membantu persiapan kegiatan ekspor tersebut dengan menunjukkan gambaran mengenai dayasaing belimbing dewa di Kota Depok. Sehingga kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat dayasaing belimbing dewa di Kota Depok, mampukah bersaing jika dilakukan kegiatan ekspor serta mengetahui apakah kebijakan pemerintah selama ini telah memberikan dukungan atau justru menghambat dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. 92

111 5.5 Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Perkembangan dan pembangunan agribisnis belimbing dewa di Kota Depok tidak terlepas dari sentuhan peran pemerintah. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah diindikasi dapat memengaruhi kondisi dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Kebijakan pemerintah yang diindikasi dapat memengaruhi kondisi dayasaing sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok, di antaranya adalah sebagai berikut : a) Intervensi Pemerintah Daerah Kota Depok Sebelum diluncurkannya program belimbing sebagai icon Kota Depok, pemerintah daerah Kota Depok telah lama melakukan persiapan agar belimbing dapat menjadi icon kota. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 2007 dalam upaya mempersiapkan belimbing sebagai icon kota adalah memfasilitasi pembuatan Standard Operational Procedure (SOP) dan Good Agriculture Practice (GAP) belimbing dewa Depok serta melakukan pembinaan dan pelatihan kepada petani dalam menerapkan SOP dan GAP tersebut guna mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas belimbing yang dihasilkan oleh petani, melakukan pengembangan pasar dan pemasaran belimbing dengan mendukung dan memfasilitasi pendirian Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop) serta membantu pengembangan industri olahan belimbing dalam rangka meningkatkan nilai tambah yaitu dengan melakukan pelatihan-pelatihan mengenai produk-produk turunan (pengolahan) dari belimbing kepada masyarakat serta memfasilitasi pendirian pabrik pengolahan belimbing. Pemerintah Kota Depok secara resmi mengumumkan bahwa belimbing ditetapkan menjadi icon Kota Depok pada tanggal 21 Juli Pencanangan tersebut dilakukan bertepatan pada diselenggarakannya Peringatan Hari Krida Pertanian ke-37 Tingkat Provinsi Jawa Barat, dimana Kota Depok menjadi tuan rumah pada saat itu. Dalam perjalanannya, pemerintah Kota Depok juga telah memberikan insentif input produksi kepada para petani belimbing di Kota Depok berupa pemberian bibit tanaman belimbing dewa, pupuk, pestisida, pembungkus buah belimbing, pompa air serta menyalurkan dana bantuan program Peningkatan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dikelola oleh kelompok tani. 93

112 b) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 241/PMK.011/2010 Pada tanggal 22 Desember 2010, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.241/PMK.011/2010 yang menjadi dasar kebijakan kenaikan bea masuk atas impor barang. PMK No.241/PMK.011/2010 merupakan perubahan keempat dari PMK Nomor 110/2006 tentang penetapan sistem klasifikasi barang dan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor. Perubahan ini terjadi dalam rangka melaksanakan program harmonisasi tarif bea masuk Indonesia tahun sebagaimana ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 591/KMK.010/2004 tentang program harmonisasi Tarif bea masuk untuk produk-produk pertanian, perikanan, pertambangan, farmasi, keramik, dan besi baja. Berdasarkan peraturan tersebut, produk bahan baku yang diimpor seperti pupuk dan obat-obatan mengalami kenaikan bea masuk (pajak impor) sehingga akan berdampak terhadap naiknya harga pupuk dan obat-obatan. Adanya peningkatan harga pupuk dan obat-obatan akan meningkatkan biaya produksi pengusahaan belimbing dewa di Kota Depok, yang akhirnya akan memengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh petani. c) Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2007 Produk primer pertanian yang merupakan kebutuhan pokok seperti beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, dan garam bukan merupakan Barang Kena Pajak (non BKP) sehingga tidak pernah dan tidak akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Produk primer pertanian selain itu termasuk dalam pengertian Barang Kena Pajak (BKP) yang atas penyerahan dan atau impornya terutang PPN. Apabila produk primer pertanian seperti buah-buahan tidak dikenakan PPN maka atas impor produk yang sama juga tidak dapat dikenakan PPN. Hal ini sesuai dengan aturan internasional, dalam hal suatu negara tidak mengenakan PPN atas suatu komoditas, maka ketentuan tersebut harus diberlakukan sama terhadap komoditas dalam negeri maupun impornya. Menurut pemerintah kondisi seperti itu akan melemahkan dayasaing produk primer pertanian dalam negeri, karena atas produk primer pertanian yang diimpor tidak dikenakan PPN, sedangkan produk primer pertanian dalam negeri masih terdapat unsur PPN yaitu yang dibayar pada saat membeli pupuk dan atau peralatan pertanian. 94

113 Dengan demikian, input-input produksi yang dibutuhkan dalam pengusahaan belimbing dewa di Kota Depok seperti peralatan pertanian, pupuk dan obat-obatan yang digunakan oleh petani diindikasi terkena PPN. Hal tersebut akan berdampak pada harga-harga input produksi ditingkat petani menjadi lebih tinggi dari kondisi tanpa adanya kebijakan tersebut (pada saat kondisi pasar persaingan sempurna atau tanpa adanya intervensi pemerintah maupun distorsi pasar). Hal ini akan menyebabkan biaya produksi menjadi lebih tinggi dan akan memengaruhi tingkat keuntungan yang diterima petani. 95

114 VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan serta prospek dan kemampuan ekspor buah belimbing dalam bersaing dan memanfaatkan peluang pasar internasional. Alat analisis yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM) berdasarkan data penerimaan, biaya produksi dan biaya tataniaga selama 20 tahun. Masing-masing data tersebut dihitung berdasarkan harga privat dan harga sosial (bayangan). Selain itu, masingmasing biaya produksi pada harga privat dan sosial dibagi kedalam biaya input tradable dan faktor domestik. Proses diskonto (discounting) diperlukan dalam kasus ini untuk menentukan Net Present Value (NPV) dari masing-masing bagian tersebut. Hasil perhitungan penerimaan, biaya produksi dan tataniaga tersebut dapat dilihat pada Lampiran 8, 9, 10 dan 11. Setelah perhitungan dilakukan, maka disusunlah Tabel PAM yang dapat dilihat pada Tabel 32. Data penerimaan, biaya dan keuntungan pada tabel tersebut selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai-nilai yang menjadi indikator dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Tabel 32. Policy Analysis Matrix (PAM) Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok (Rp/Ha) Biaya Uraian Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Harga Privat Harga Sosial Efek Divergensi Berdasarkan Tabel 32 diketahui bahwa efek divergensi yang dihasilkan seluruhnya bernilai positif. Divergensi penerimaan bernilai Rp 1,775 miliar per hektar. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tingkat bunga modal pada struktur harga privat dan sosial yang digunakan pada saat proses discounting. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya penambahan nilai inflasi pada struktur harga sosial. Inflasi sebagai faktor koreksi terhadap suku bunga. Nilai suku bunga yang sudah dikoreksi merupakan cerminan korbanan biaya bunga sosial. Tingkat suku bunga 96

115 pada struktur harga privat adalah 6,86 persen dan pada struktur harga sosial adalah 12,84 persen. Hal ini dikarenakan nilai inflasi yang terjadi sebesar 5,98 persen (Bank Indonesia 2011). Sehingga pada perhitungan Net Present Value (NPV) atau proses discounting, nilai penerimaan output belimbing dewa di Kota Depok pada struktur harga privat lebih tinggi dibandingkan pada struktur harga sosial karena adanya inflasi tersebut. Divergensi pada biaya input tradable bernilai positif. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah, pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok harus membayar harga yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayar. Kebijakan yang dimaksud adalah adanya bea masuk serta pengenaan pajak pertambahan nilai atas input tradable yaitu pupuk anorganik (pupuk cair dan NPK) dan obat-obatan (curacron, gandasil A dan B). Divergensi yang terjadi pada faktor domestik juga bernilai positif. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah, pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok harus mengeluarkan biaya atas faktor domestik yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga ekonominya. Kebijakan tersebut yaitu pajak pertambahan nilai atas faktor domestik. Komponen biaya yang dikeluarkan dalam proporsi paling besar pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok adalah input faktor domestik yaitu tenaga kerja yang rata-rata mencapai 42,92 persen dari total biaya secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena pada budidaya belimbing dewa di Kota Depok memerlukan kegiatan pemeliharaan yang intensif dan tenaga kerja yang cukup banyak, khususnya pada saat proses penjarangan dan pembungkusan buah. Proporsi biaya input terhadap biaya total dalam pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat dilihat pada Lampiran 12. Keuntungan privat yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga berlaku yang mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh semua kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Berdasarkan Tabel 32 dapat diketahui bahwa keuntungan privat yang diperoleh dari sistem komoditas Bellimbing Dewa adalah sebesar Rp 494,5 juta per hektar (hasil selisih dari total penerimaan dan total biaya tradable dan domestik). Sehingga secara finansial, kegiatan 97

116 pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok layak untuk dijalankan karena mampu memberikan keuntungan yang positif dan cukup besar. Adapun perhitungan budget privat komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat dilihat pada Lampiran 8 dan rekapitulasi dari budget privat yang telah terdiskonto dapat dilihat pada Lampiran 10. Keuntungan sosial yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga pada pasar persaingan sempurna yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya, dimana harga ini tidak mengandung nilai-nilai kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Pada komoditas tradable, harga bayangan (sosial) adalah harga yang terjadi di pasar internasional. Berdasarkan Tabel 32 dapat diketahui bahwa keuntungan sosial yang diperoleh dari pengusahaan komoditas belimbing dewa adalah sebesar Rp 290,3 juta per hektar. Hal ini menggambarkan bahwa tanpa adanya kebijakan pemerintah, pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok masih menguntungkan karena masih memberikan keuntungan yang positif dan cukup besar. Namun, keuntungan yang diperoleh menjadi lebih kecil dibandingkan pada kondisi adanya kebijakan atau intervensi pemerintah. Secara ekonomi kegiatan tersebut tetap layak untuk dijalankan. Perhitungan budget sosial komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat dilihat pada Lampiran 9 dan rekapitulasi dari budget sosial yang telah terdiskonto dapat dilihat pada Lampiran 11. Berdasarkan rekapitulasi budget privat dan budget sosial yang telah terdiskonto tersebut, kemudian diperoleh tabel PAM belimbing dewa di Kota Depok secara keseluruhan. Berdasarkan hasil analisis keuntungan, maka dapat disimpulkan bahwa pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok menguntungkan secara finansial maupun ekonomi. Sehingga pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok layak untuk dijalankan baik secara finansial maupun ekonomi. Selanjutnya, hasil dari tabel PAM yang telah diperoleh digunakan untuk melihat tingkat dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing dewa di Kota Depok. 6.2 Analisis Dayasaing Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan kompetitif. Analisis keunggulan komparatif dapat 98

117 diukur dengan indikator Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) dan Keuntungan Sosial (SP). Nilai DRC di lokasi penelitian adalah 0,87. Nilai ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan nilai tambah output belimbing dewa di Kota Depok sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar 0,87 satuan. Dengan demikian, pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok menunjukkan penggunaan sumberdaya yang efisien secara ekonomi sehingga memiliki keunggulan komparatif. Nilai DRC ini juga menggambarkan bahwa komoditas belimbing dewa di Kota Depok mampu hidup tanpa bantuan pemerintah dan memiliki peluang ekspor yang besar. Indikator keunggulan komparatif lainnya adalah nilai keuntungan sosial yang diperoleh dari sistem komoditas yang diteliti. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa penerimaan dari pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok secara ekonomi bernilai positif. Hal ini mengindikasikan bahwa pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok masih menguntungkan dan efisien secara ekonomi pada kondisi tanpa adanya intervensi dari pemerintah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat menjalankan usahanya dengan mandiri tanpa bantuan atau intervensi dari pemerintah. Analisis keunggulan kompetitif belimbing dewa di Kota Depok dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Privat (PCR) dan Keuntungan Privat (PP). Nilai PCR dan PP dalam analisis keunggulan kompetitif merupakan indikator yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan sumberdaya dan tingkat keuntungan pengusahaan belimbing dewa secara finansial. Adapun nilai PCR yang diperoleh dari komoditas belimbing dewa di Kota Depok adalah sebesar 0,88. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan nilai tambah output belimbing dewa sebesar satu satuan, diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar 0,88 satuan. Dengan demikian, pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok menunjukkan penggunaan sumberdaya yang efisien secara finansial sehingga memiliki keunggulan kompetitif. Hal ini juga dapat menggambarkan bahwa komoditas belimbing dewa di Kota Depok mampu bersaing dengan komoditas sejenis dari produk impor yang ada di dalam negeri maupun komoditas sejenis di mancanegara ketika dilakukan kegiatan ekspor. 99

118 Selain itu, keunggulan kompetitif juga dapat dilihat dari nilai keuntungan privat. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa nilai keuntungan privat yang diperoleh dari sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok bernilai positif. Hal ini menunjukkan bahwa secara finansial, yaitu pada kondisi adanya intervensi dari pemerintah, komoditas belimbing dewa di Kota Depok menguntungkan untuk diusahakan. Nilai dari indikator keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 33. Tabel 33. Nilai Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Uraian Nilai Keunggulan Komparatif Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) 0,87 Keuntungan Sosial (SP) Keunggulan Kompetitif Rasio Biaya Privat (PCR) 0,88 Keuntungan Privat (PP) Perbandingan antara keunggulan komparatif dan kompetitif dapat dilihat dari nilai DRC yang lebih kecil dibandingkan nilai PCR. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kebijakan pemerintah yang kurang mendukung peningkatan efisiensi dalam berproduksi pada pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Kebijakan tersebut berupa pajak terhadap input-input produksi, sehingga harga yang harus dibayar oleh para pelaku usaha sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok lebih tinggi dibandingkan harga yang seharusnya dibayarkan. Perbandingan selanjutnya yang dapat disimpulkan adalah nilai keuntungan sosial yang lebih kecil dibandingkan keuntungan privatnya. Hal ini berarti pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok lebih menguntungkan saat adanya intervensi dari pemerintah terhadap input yang dikeluarkan dan output yang dihasilkan. Perbedaan keuntungan yang terjadi yaitu sebesar Rp 204,2 juta per hektar. Hal ini diduga disebabkan karena adanya bantuan pemerintah terhadap input produksi yang dibutuhkan seperti bantuan pemberian bibit tanaman belimbing dewa, pupuk, pestisida, pembungkus buah belimbing, pompa air serta dana bantuan dari program Peningkatan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dikelola oleh kelompok tani, sehingga pelaku usaha pada sistem komoditas 100

119 belimbing dewa tidak mengeluarkan biaya yang seharusnya dikeluarkan serta tambahan modal karena adanya subsidi/bantuan tersebut. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika tidak ada bantuan (intervensi) dari pemerintah. Hal tersebut menyebabkan keuntungan privat menjadi lebih tinggi dibandingkan keuntungan sosialnya. 6.3 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Dayasaing Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Suatu kebijakan pemerintah dalam suatu aktivitas ekonomi dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap pelaku dari sistem tersebut. Kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dapat menentukan keberhasilan pengembangan usaha dalam rangka meningkatkan devisa. Kebijakan dapat memengaruhi keuntungan maupun produktivitas suatu kegiatan ekonomi. Berdasarkan hal tersebut, kebijakan pemerintah diduga mampu memengaruhi kondisi dayasaing suatu komoditas. Dampak kebijakan pemerintah dapat dilihat dari analisis matriks PAM melalui beberapa indikator, yaitu kebijakan terhadap output (transfer output dan koefisien proteksi output nominal), kebijakan terhadap input (transfer input, transfer faktor dan koefisien proteksi input nominal) dan kebijakan terhadap input dan output (koefisien proteksi efektif, transfer bersih, koefisien keuntungan dan rasio subsidi produsen). Indikator-indikator dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Indikator-Indikator Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok INDIKATOR NILAI Dampak Kebijakan Terhadap Output Transfer Output (TO) ,00 Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) 1,74 Dampak Kebijakan Terhadap Input Transfer Input (TI) ,00 Transfer Faktor (TF) ,00 Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) 1,99 Dampak Kebijakan Terhadap Input-Output Koefisien Proteksi Efektif (EPC) 1,74 Transfer Bersih (TB) ,00 Keofisien Keuntungan (PC) 1,70 Rasio Subsidi Produsen (SRP) 0,05 101

120 6.3.1 Dampak Kebijakan Terhadap Output Pemberlakuan kebijakan pemerintah terhadap output menyebabkan harga output yang diterima petani pada harga privat berbeda dengan harga pada pasar persaingan sempurna (tidak ada intervensi pemerintah dan distorsi pasar). Kebijakan pemerintah tersebut dapat berupa kebijakan subsidi/pajak, hambatan perdagangan atau regulasi lainnya yang dapat menimbulkan divergensi antara harga output aktual dan output bayangan (sosial). Dampak kebijakan pemerintah terhadap output dapat dilihat dari dua indikator yaitu transfer output (TO) dan koefisien proteksi output nominal (NPCO). Nilai transfer output yang dihasilkan pada pengusahaan belimbing dewa di Kota Depok adalah sebesar Rp 1,775 miliar per hektar. Pada penelitian ini, sesungguhnya tidak terdapat perbedaan harga output pada struktur harga privat dan sosial karena diduga tidak terdapat kebijakan pemerintah terhadap output secara langsung, sehingga divergensi atau nilai transfer output yang terjadi akibat adanya perbedaan tingkat suku bunga pada struktur harga privat dan sosial yang disebabkan oleh nilai inflasi yang digunakan pada saat proses discounting. Berdasarkan nilai transfer output yang diperoleh maka secara implisit terdapat transfer (intensif) dari konsumen kepada produsen belimbing dewa di Kota Depok. Analisis dampak kebijakan terhadap output juga dapat dilihat dari nilai Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO). Nilai NPCO adalah nilai rasio antara penerimaan berdasarkan harga privat dengan penerimaan berdasarkan harga sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPCO pengusahaan belimbing dewa di Kota Depok sebesar 1,74. Hal ini berarti bahwa pemerintah memberikan proteksi pada pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok dengan cara menjaga kestabilan perkembangan sistem perekonomian nasional. Secara keseluruhan, analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap output belimbing dewa di Kota Depok mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah terhadap output mampu mendorong terbentuknya kestabilan perekonomian nasional sehingga akibat adanya intervensi tersebut penerimaan yang diperoleh petani/pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan penerimaan tanpa adanya intervensi tersebut. Hal ini berpengaruh terhadap semakin besarnya keuntungan privat yang 102

121 diperoleh pada sistem komoditas tersebut. Peningkatan keuntungan privat menunjukkan peningkatan keunggulan kompetitif komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Dengan kata lain, kebijakan pemerintah terhadap output yang ada mampu mendukung peningkatan keunggulan kompetitif komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian Dampak Kebijakan Terhadap Input Pemerintah menetapkan kebijakan terhadap input seperti subsidi/pajak dan hambatan perdagangan terhadap input pertanian bertujuan agar produsen dapat menggunakan sumberdaya secara optimal. Besarnya dampak kebijakan pemerintah terhadap input produksi belimbing dewa di Kota Depok ditunjukkan oleh nilai transfer input (TI), transfer faktor (TF) dan koefisien proteksi input nominal (NPCI). Berdasarkan hasil analisis, nilai TI yang diperoleh adalah sebesar Rp 70,222 juta per hektar. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok, harga input tradable pada struktur harga privat lebih tinggi dibandingkan pada struktur harga sosial. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan pemerintah berupa bea masuk (pajak impor) sebesar lima persen atas bahan baku input tradable serta pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar sepuluh persen atas input tradable yaitu pupuk anorganik (pupuk cair dan NPK) dan obat-obatan (curacron, gandasil A dan B). Sehingga harga sosial input tradable lebih rendah daripada harga privatnya. Dengan demikian, petani/pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok harus membayar input lebih besar Rp 70,222 juta per hektar dari kondisi seharusnya akibat intervensi pemerintah tersebut. Selain input tradable, input lain yang digunakan dalam proses produksi adalah input domestik (faktor domestik). Harga atas input tersebut ditentukan oleh mekanisme pasar lokal atau di dalam negeri. Transfer faktor (TF) merupakan indikator dampak kebijakan pemerintah terhadap input produksi tersebut. TF merupakan selisih antara biaya input domestik yang dihitung pada harga privat dengan biaya input produksi pada harga bayangan (sosial). Kebijakan pemerintah untuk input domestik dilakukan dalam bentuk kebijakan subsidi (positif atau negatif). Berdasarkan hasil analisis, nilai TF komoditas belimbing dewa di Kota Depok bernilai positif, yaitu sebesar Rp 1,5 miliar per hektar. Nilai tersebut 103

122 menunjukkan bahwa terdapat implisit pajak atau transfer (insentif) dari petani belimbing dewa di Kota Depok kepada produsen input domestik sehingga petani belimbing dewa harus membayar input domestik tersebut lebih mahal dari harga sosialnya. Beberapa bentuk kebijakan yang menyebabkan timbulnya implisit pajak tersebut antara lain adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas seluruh komponen peralatan yang digunakan petani/pelaku usaha sehingga harga peralatan yang dibayarkan oleh petani/pelaku usaha (harga privat) menjadi lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayarkan (harga sosial). Kemudian, adanya perbedaan penilaian harga tenaga kerja pada struktur harga sosial akibat adanya pengangguran terbuka dan tidak kentara di wilayah penelitian sehingga harga bayangan (sosial) tenaga kerja tersebut adalah sebesar 90,17 persen dari harga privatnya. Selain itu, dikarenakan pula adanya perbedaan penilaian harga bunga modal pada struktur harga sosial akibat adanya inflasi, sehingga harga bayangan bunga modal menjadi lebih tinggi 5,98 persen dari harga privatnya. Untuk menunjukkan tingkat proteksi atau distorsi yang dibebankan pemerintah pada input tradable apabila dibandingkan tanpa adanya kebijakan pemerintah, dapat dilihat dari besarnya nilai Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI). NPCI merupakan rasio antara biaya input tradable privat dengan biaya input tradable sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPCI pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok adalah 1,99. Nilai ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input tidak mendorong peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian. NPCI yang lebih dari satu menunjukkan adanya proteksi pemerintah terhadap produsen input tradable di pasar domestik. Secara keseluruhan, adanya bea masuk (pajak impor) sebesar lima persen atas bahan baku input tradable serta PPN sebesar sepuluh persen atas pupuk anorganik (pupuk cair dan NPK) dan obat-obatan (curacron, gandasil A dan B) diindikasi dapat menurunkan keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Dengan kata lain, kebijakan pemerintah terhadap input produksi sejauh ini belum mampu mendorong peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian. 104

123 6.3.3 Dampak Kebijakan Terhadap Input dan Output Analisis kebijakan pemerintah terhadap input-ouput adalah analisis gabungan antara kebijakan input dan kebijakan output. Dampak kebijakan gabungan tersebut dapat dilihat melalui indikator Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Transfer Bersih (TB), Keofisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi Produsen (SRP). Nilai EPC merupakan rasio antara selisih penerimaan dan biaya input tradable pada harga privat (aktual) dengan selisih penerimaan dan biaya input tradable pada harga sosial (bayangan). Nilai EPC tersebut menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah dalam melindungi atau menghambat produksi domestik secara efektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai EPC pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok adalah sebesar 1,74. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input-output yang berlaku telah melindungi petani belimbing dewa di Kota Depok dalam melakukan aktivitas produksi komoditas tersebut secara efektif. Dengan kata lain, petani belimbing di lokasi penelitian mendapatkan fasilitas proteksi dari pemerintah. Indikator lain yang menunjukkan adanya dukungan (proteksi) dari pemerintah terhadap petani belimbing dewa di Kota Depok adalah transfer bersih (TB). TB merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima petani dengan keuntungan bersih sosial (pada kondisi pasar bersaing sempurna). Hasil analisis menunjukkan nilai TB di lokasi penelitian bernilai positif. Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat penambahan keuntungan untuk sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Nilai TB tersebut juga menggambarkan bahwa dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output akan meningkatkan surplus petani/pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa sebesar Rp 204,2 juta per hektar. Nilai koefisien keuntungan (PC) juga menunjukkan adanya proteksi atau dukungan dari pemerintah terhadap petani/pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok. PC merupakan rasio atau perbandingan antara keuntungan privat dengan keuntungan sosial. Nilai PC dapat menjadi indikator yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan output, kebijakan input asing dan input domestik (net policy transfer). Nilai PC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 1,70. Nilai tersebut menunjukkan keuntungan privat yang 105

124 diterima oleh petani belimbing dewa di lokasi penelitian lebih besar dari keuntungan sosialnya sebesar 70 persen. Artinya kebijakan pemerintah yang ada telah efektif meningkatkan produksi belimbing dewa di lokasi penelitian. Berikutnya, rasio subsidi bagi produsen (SRP) adalah rasio antara TB dengan penerimaan berdasarkan harga sosial (bayangan). Nilai SRP menunjukkan proporsi penerimaan pada harga sosial usahatani belimbing dewa di Kota Depok yang dapat menutupi subsidi dan pajak sehingga melalui SRP dapat memungkinkan membuat perbandingan tentang besarnya subsidi perekonomian bagi sistem komoditas belimbing dewa. Hasil analisis menunjukkan nilai SRP di lokasi penelitian adalah 0,05 yang berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan petani/pelaku usaha pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok mengeluarkan biaya lebih rendah 5 persen dari biaya opportunity cost untuk berproduksi. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input-output yang ada selama ini telah melindungi petani belimbing dewa di Kota Depok secara efektif. Hal ini terlihat dari adanya kestabilan harga belimbing yang disebabkan kestabilan perekonomian nasional, peningkatan surplus petani serta keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tinggi dibandingkan tanpa adanya intervensi pemerintah. Dengan demikian, kondisi tersebut dapat menguntungkan bagi pengembangan dan peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. 6.4 Analisis Sensitivitas Usahatani Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis sensitivitas dilakukan untuk mereduksi kelemahan matriks analisis kebijakan (PAM) yang bersifat statis yaitu hanya memberlakukan satu tingkat harga dimana pada kenyataannya harga dapat bervariasi atau berfluktuatif. Oleh karena itu, diperlukan simulasi untuk mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi dalam sistem ekonomi yang dinamis. Pada penelitian ini digunakan empat skenario analisis sensitivitas. Empat skenario tersebut adalah jika terjadi penurunan jumlah produksi, peningkatan harga tenaga kerja, peningkatan harga pupuk anorganik dan penurunan harga output belimbing dewa. Keempat skenario tersebut bersifat cateris paribus, yaitu jika terjadi perubahan pada satu variabel, maka variabel lainnya dianggap tetap. Adanya perubahan terhadap jumlah 106

125 produksi serta harga input dan output tersebut menyebabkan perubahan tingkat keuntungan dan efisiensi usahatani belimbing dewa di Kota Depok. Hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Perubahan indikator dayasaing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas belimbing dewa di Kota Depok atas skenario yang diterapkan dalam analisis sensitivitas yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 35. Tabel 35. Perubahan Indikator Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok pada Analisis Sensitivitas Skenario Indikator DRC PCR NPCO NPCI EPC PC SRP Normal 0,87 0,88 1,74 1,99 1,74 1,70 0,05 Produksi turun 10 persen 0,94 0,95 1,74 1,99 1,74 1,60 0,02 Kenaikan harga tenaga kerja sebesar 20 persen Kenaikan harga pupuk anorganik sebesar 10 persen Penurunan harga belimbing dewa sebesar 15 persen 0,95 0,96 1,74 1,99 1,74 1,57 0,01 0,88 0,88 1,74 1,98 1,74 1,70 0,05 1,03 1,04 1,74 1,99 1,74 1,92-0, Dampak Penurunan Jumlah Produksi Belimbing Dewa Analisis pertama yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif bila terjadi penurunan jumlah produksi (output) buah belimbing dewa di Kota Depok sebesar sepuluh persen. Skenario penurunan jumlah produksi ini ditetapkan karena adanya fakta yang pernah dialami oleh petani belimbing dewa. Hal tersebut terjadi karena kendala sulitnya mengendalikan organisme pengganggu tanaman, khususnya ulat penggerek buah serta kondisi cuaca ekstrim yang menyebabkan banyak buah belimbing yang tidak dapat dipanen. Tabel 36 menunjukkan tabulasi PAM saat terjadi penurunan produksi belimbing dewa sebesar sepuluh persen. 107

126 Tabel 36. Tabulasi PAM Skenario Penurunan Produksi Sebesar 10 persen Biaya Uraian Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Privat Sosial Efek Divergensi Hasil yang diperoleh dengan penetapan skenario ini adalah komoditas belimbing dewa masih tetap memiliki dayasaing baik dari sisi keunggulan komparatif dan kompetitifnya. Hal ini dapat dilihat dari nilai DRC dan PCR yang masih kurang dari satu yaitu 0,94 dan 0,95 (Tabel 35). Hal ini juga dapat dilihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang diperoleh masih bernilai positif. Dengan demikian, jika skenario ini terjadi maka komoditas belimbing dewa di Kota Depok masih layak untuk dijalankan. Secara universal, kebutuhan belimbing Indonesia masih lebih baik dipenuhi dengan cara memproduksi di dalam negeri dibandingkan dengan cara impor karena jika diupayakan di dalam negeri, pengusahaan komoditas belimbing (khususnya belimbing dewa) hanya membutuhkan biaya sumberdaya domestik sebesar 94 persen terhadap biaya impor yang dibutuhkan. Dengan demikian, Indonesia dapat menghemat devisa negara. Dayasaing yang dimiliki pada skenario ini masih lebih rendah dibandingkan pada kondisi normal. Oleh karena itu, penting untuk dapat mengantisipasi terjadinya penurunan jumlah produksi belimbing dewa di Kota Depok. Salah satu caranya adalah dengan memberikan penyuluhan yang intensif khususnya mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman serta memberikan subsidi pestisida (obat-obatan) yang saat ini justru dikenakan pajak. Kebijakan pemerintah terhadap pestisida ini penting mengingat pestisida merupakan salah satu faktor yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman tersebut sehingga penurunan produksi dapat diantisipasi. Selain itu, upaya yang dapat ditempuh untuk mencapai peningkatan produktivitas tanaman adalah dengan melakukan peremajaan tanaman belimbing dewa yang telah berumur lebih dari 20 tahun serta pemberian subsidi pupuk oleh pemerintah, dimana pupuk yang digunakan saat ini justru dikenakan pajak. Kebijakan pemerintah terhadap pupuk ini penting mengingat pupuk merupakan salah satu faktor yang dapat 108

127 meningkatkan produktivitas tanaman belimbing dewa dari segi kualitas dan kuantitas Dampak Peningkatan Upah Tenaga Kerja Analisis kedua yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa di Kota Depok bila terjadi peningkatan harga input domestik yaitu tenaga kerja, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap (cateris paribus). Hal ini didasari karena di lokasi penelitian upah tenaga kerja cenderung meningkat setiap tahunnya serta proporsi komponen biaya terbesar pada biaya input produksi belimbing dewa di Kota Depok adalah komponen biaya tenaga kerja. Oleh karena itu, penting untuk dilihat dampak peningkatan harga tenaga kerja terhadap dayasaing belimbing dewa di Kota Depok. Adapun besarnya peningkatan upah tenaga kerja yang pernah terjadi di lokasi penelitian adalah sebesar 20 persen yaitu dari Rp ,00 per HOK menjadi Rp ,00 per HOK. Hasil tabulasi PAM pada saat terjadi kenaikan upah tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 37. Tabel 37. Tabulasi PAM Skenario Peningkatan Upah Tenaga Kerja Sebesar 20 persen Biaya Uraian Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Privat Sosial Efek Divergensi Hasil yang diperoleh dengan penetapan skenario ini yaitu adanya peningkatan harga tenaga kerja sebesar 20 persen menyebabkan meningkatnya biaya produksi, khususnya biaya input domestik baik privat maupun sosial. Peningkatan biaya input domestik tersebut akan menurunkan tingkat keuntungan yang diperoleh. Keuntungan privat diperkirakan menurun sebesar Rp 330,9 juta per hektar. Penurunan keuntungan privat dan sosial tersebut diikuti dengan peningkatan nilai PCR dan DRC yaitu untuk nilai PCR dari 0,88 menjadi 0,96 dan nilai DRC dari 0,87 menjadi 0,95. Berdasarkan hasil analisis tersebut, pengusahaan belimbing dewa di Kota Depok bila terjadi kenaikan harga upah tenaga kerja sebesar 20 persen masih memberikan keuntungan secara finansial 109

128 maupun ekonomi dan masih layak untuk dijalankan. Namun, peningkatan harga tenaga kerja dapat menurunkan keunggulan komparatif dan kompetitif (dayasaing) komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Hal tersebut terlihat dari adanya penurunan keuntungan privat dan sosial serta peningkatan nilai PCR dan DRC dibandingkan pada kondisi semula (normal) Dampak Peningkatan Harga Pupuk Anorganik Analisis ketiga yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa di Kota Depok bila terjadi peningkatan harga pupuk anorganik (NPK dan pupuk daun) yang merupakan input tradable sebesar 10 persen. Skenario peningkatan harga pupuk anorganik ini ditetapkan untuk melihat kondisi dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok apabila suatu saat pemerintah mengeluarkan kebijakan bea masuk bahan baku pertanian meningkat sebesar lima persen dan pajak pertambahan nilai juga meningkat sebesar lima persen terhadap produk pupuk anorganik tersebut. Hasil tabulasi PAM pada saat terjadi kenaikan harga pupuk anorganik sebesar 10 persen dapat dilihat pada Tabel 38. Tabel 38. Tabulasi PAM Skenario Peningkatan Harga Pupuk Anorganik Sebesar 10 persen Biaya Uraian Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Privat Sosial Efek Divergensi Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dengan penetapan skenario ini adalah komoditas belimbing dewa di Kota Depok masih memiliki dayasaing baik dari sisi keunggulan komparatif dan kompetitifnya. Hal ini dapat dilihat dari nilai DRC dan PCR yang masih kurang dari satu yaitu 0,88 (Tabel 35). Hal ini juga dapat dilihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang bernilai positif. Sehingga pengusahaan belimbing dewa di Kota Depok bila terjadi kenaikan harga pupuk (khususnya pupuk anorganik) sebesar 10 persen masih memberikan keuntungan secara finansial maupun ekonomi dan layak untuk dijalankan. Jadi, pada harga 110

129 finansial, setiap kenaikan harga pupuk sebesar 10 persen, maka keuntungan yang diperoleh dalam pengusahaan komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian berubah (menurun) sebesar Rp 18,9 juta per hektar dengan asumsi faktor lain tetap (cateris paribus). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika terjadi peningkatan harga pupuk akibat adanya intervensi pemerintah dapat menurunkan tingkat dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok Dampak Penurunan Harga Output Analisis keempat yang dilakukan adalah menguji kepekaan keuntungan privat dan ekonomi serta keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa di Kota Depok bila terjadi penurunan harga output belimbing dewa sebesar 15 persen karena mekanisme pasar. Hasil tabulasi PAM pada saat terjadi penurunan harga output belimbing dewa sebesar 15 persen dapat dilihat pada Tabel 39. Tabel 39. Tabulasi PAM Skenario Penurunan Harga Ouput Belimbing Dewa Sebesar 15 persen Biaya Uraian Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Privat ( ) Sosial ( ) Efek Divergensi ( ) Hasil yang diperoleh dengan penetapan skenario ini menunjukkan bahwa komoditas belimbing dewa di Kota Depok menjadi tidak memiliki dayasaing baik dari sisi keunggulan komparatif dan kompetitifnya. Hal ini dapat dilihat dari nilai DRC dan PCR yang diperoleh yaitu sebesar 1,03 dan 1,04 (Tabel 35). Hal ini juga terlihat dari nilai keuntungan privat dan sosial yang menjadi bernilai negatif yaitu mengalami kerugian sebesar Rp 129,3 juta per hektar dan Rp 67,3 juta per hektar. Sehingga pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok bila terjadi penurunan harga output sebesar 15 persen akan menjadi tidak layak untuk diusahakan. Oleh karena itu, jika skenario ini terjadi, secara universal kebutuhan domestik belimbing Indonesia akan lebih baik dipenuhi dengan cara impor dibandingkan dengan memproduksi di dalam negeri karena jika diupayakan di dalam negeri, pengusahaan belimbing (khususnya belimbing dewa) akan 111

130 membutuhkan biaya sumberdaya domestik sebesar 104 persen terhadap biaya impor yang dibutuhkan. Pemerintah dapat memberikan peran dan kebijakan untuk dapat mengantisipasi terjadinya distorsi pasar tersebut yaitu dengan menjaga kestabilan harga belimbing dewa, terutama di tingkat petani. Salah satu cara menjaga kestabilan harga belimbing dewa adalah dengan membentuk sebuah lembaga yang dapat menjaga kestabilan harga tersebut. Di lokasi penelitian, kebijakan tersebut telah dilaksanakan yaitu dengan didirikannya Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa Depok (Puskop) yang bertujuan menjadikan pemasaran belimbing dewa di Kota Depok menjadi satu pintu sehingga bargaining position petani belimbing dewa di Kota Depok meningkat dan pemasaran satu pintu tersebut diharapkan mampu menjaga kestabilan harga belimbing di lokasi penelitian. Pemerintah juga berperan untuk melakukan controlling terhadap lembaga tersebut sehingga apabila lembaga tersebut menyimpang atau mengalami kendala, pemerintah dapat meluruskan atau membantu lembaga tersebut agar dapat menjalani peran dan fungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan harga output belimbing dewa adalah dengan meningkatkan kualitas belimbing dewa yang dihasilkan. Hal tersebut mungkin dapat dicapai ketika petani belimbing dewa di Kota Depok telah menerapkan secara keseluruhan atau sempurna SOP dan GAP belimbing dewa di Kota Depok yang telah dibuat oleh Dinas Pertanian Kota Depok dan mulai menerapkan usahatani belimbing organik untuk mengurangi tingkat residu pada buah belimbing yang dihasilkan sehingga meningkatkan kualitas buah belimbing tersebut. 6.5 Rekomendasi Kebijakan Dari hasil analisis diketahui bahwa adanya kebijakan pemerintah dapat memengaruhi keunggulan komparatif dan kompetitif yang merupakan indikator dari dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Oleh karena itu, penulis mencoba memberikan rekomendasi kebijakan yang mendukung peningkatan dayasaing pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok yang didasari dari informasi dan hasil analisis yang diperoleh. Adapun rekomendasi kebijakan yang diajukan adalah : 112

131 1. Pemerintah dapat memanfaatkan dayasaing belimbing domestik untuk mengurangi jumlah impor belimbing dan mulai memperhatikan kegiatan ekspor dengan menstimulus peningkatan produktivitas belimbing dewa. Dengan dayasaing yang dimiliki, berarti Indonesia lebih baik memproduksi sendiri dibandingkan dengan mengimpornya, karena Indonesia mampu memproduksinya dengan efisien. Dengan demikian, pemerintah harus menggali potensi atau memberikan stimulus kepada para petani belimbing untuk meningkatkan produktivitasnya sehingga Indonesia dapat memenuhi kebutuhan belimbing dalam negeri dan melakukan ekspansi pasar dengan melakukan kegiatan ekspor belimbing. Sehingga, Indonesia dapat menghemat pengeluaran dan meningkatkan devisa negara. 2. Harga output belimbing memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan kontribusi terhadap keuntungan usahatani, sehingga pemerintah perlu melakukan proteksi terhadap harga output belimbing dengan menjaga stabilitas harga belimbing domestik serta menjaga volume impor belimbing. Stabilitas harga output belimbing di lokasi penelitian dilaksanakan oleh Puskop. Berdasarkan informasi di lokasi penelitian, diketahui bahwa Puskop sedang mengalami masalah/kendala seperti yang telah diuraikan dalam gambaran umum pemasaran komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat medukung dan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Sehingga Puskop dapat kembali menjalani peran dan fungsi sebagaimana mestinya 3. Biaya input produksi belimbing dapat memengaruhi tingkat keuntungan usahatani. Biaya input produksi yang besar membuat para petani belimbing melakukan peminjaman modal untuk membeli input produksi yang dibutuhkan atau bahkan ketika modal yang diperoleh tidak mencukupi atau petani tidak mendapat pinjaman maka petani akan mengurangi penggunaan input produksi yang dibutuhkan sehingga kualitas belimbing menjadi menurun atau rendah. Melihat kondisi tersebut, untuk membantu penyediaan input produksi dan mengatasi kendala yang dihadapi petani dalam pengadaan input produksi maka diharapkan pemerintah melalui Puskop dapat membentuk sebuah unit bisnis pengadaan input produksi yang memberikan 113

132 kredit input produksi kepada petani anggota. Sehingga petani tidak perlu lagi melakukan pinjaman uang kepada tengkulak ataupun lembaga keuangan lainnya yang mengenakan tingkat bunga yang cukup tinggi untuk membeli input produksi yang dibutuhkan. Petani akan membayar kredit setelah panen. 4. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi penelitian, sebagian besar petani responden menjual hasil panennya kepada tengkulak (55,77 persen). Hal ini dikarenakan adanya ikatan emosional (balas jasa atas peminjaman modal) dan sistem pembayaran yang lebih cepat (cash) dibandingkan di Puskop. Oleh karena itu, Puskop diharapkan dapat memperbaiki sistem pembayaran yang dilakukan, yaitu jika tidak mampu membayar secara cash, Puskop dapat memberikan pembayaran dimuka (down payment) sebesar persen pada saat petani menyerahkan belimbingnya dan melunasinya setelah 3-7 hari dari penyerahan belimbing tersebut. Sehingga petani masih dapat menikmati atau menyambung hidup atau melanjutkan pembiayaan produksi belimbing dari uang hasil panennya. Setelah adanya unit bisnis yang memberikan kredit input produksi, ikatan emosional petani terhadap Puskop diharapkan dapat terbentuk. Dikarenakan Puskop merupakan lembaga pemasaran resmi yang didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani belimbing maka Puskop tidak akan (tidak boleh) menekan harga beli belimbing terhadap petani meskipun petani memiliki hutang budi (karena Puskop didirikan memang untuk menyejahterakan petani belimbing di Kota Depok). Ikatan emosional yang terbentuk dan perbaikan sistem pembayaran diharapkan dapat menciptakan loyalitas sehingga petani akan selalu menjual hasil panennya kepada Puskop. 5. Kualitas belimbing dapat menentukan harga output belimbing yang akan memberikan kontribusi terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh petani. Oleh karena itu, petani diharapkan dapat terus meningkatkan atau mempertahankan kualitas belimbing yang dihasilkannya. Pemerintah diharapkan juga dapat mendukung petani untuk menghasilkan belimbing yang berkualitas dengan cara memberikan pelatihan, pembinaan dan penyuluhan yang intensif dan efektif. Namun saat ini, pembinaan dan penyuluhan yang diterima oleh petani belimbing di lokasi penelitian dirasa 114

133 masih belum intensif. Kurang intensifnya penyuluhan pertanian yang didapat oleh para petani belimbing dewa di Kota Depok dikarenakan kurangnya personil penyuluh pertanian yang ada di Kota Depok. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah Kota Depok dapat menambah personil penyuluh pertanian agar penyuluhan dapat dilakukan lebih intensif, optimal dan efektif sehingga para petani dapat memperoleh bimbingan atau pemecahan masalah/kendala yang dihadapi di lapangan. Dengan demikian, petani belimbing dewa dapat menghasilkan kuantitas dan kualitas belimbing sesuai yang diharapkan. 6. Industri pengolahan merupakan suatu bagian yang sangat penting didalam pengusahaan komoditas belimbing dewa sehingga dapat meningkatkan nilai tambah yang menguntungkan bagi petani. Namun, industri seperti ini belum cukup berkembang di Kota Depok. Pabrik pengolahan belimbing yang telah dibangun menggunakan dana bantuan Program Pendanaan Kompetisi Akselerasi Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM) pada kenyataannya sampai saat ini masih belum beroperasi. Oleh karena itu, pemerintah Kota Depok diharapkan dapat menstimulasi agar pabrik pengolahan belimbing yang telah dibangun dapat segera beroperasi sehingga dapat meningkatkan keuntungan serta dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan pelatihanpelatihan mengenai pembuatan produk turunan belimbing serta workshop kewirausahaan kepada masyarakat agar masyarakat dapat terdorong untuk membuka usaha yang bergerak di bidang hasil pengolahan (produk turunan) belimbing, baik skala rumah tangga atau industri bagi yang memiliki modal besar. 7. Pemerintah, petani dan seluruh stakeholders komoditas belimbing dewa di Kota Depok diharapkan tidak akan pernah menyerah untuk terus melakukan perbaikan sistem dan sumberdaya manusia hingga tujuan akhir dari adanya komoditas unggulan daerah dan program belimbing sebagai icon kota dapat tercapai. 115

134 VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain : 1. Pengusahaan komoditas belimbing dewa di Kota Depok memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang merupakan indikator dayasaing. Sehingga komoditas belimbing dewa di Kota Depok memiliki dayasaing dan peluang ekspor yang besar serta diindikasi mampu bersaing dengan komoditas sejenis baik dari produk impor yang ada di dalam negeri maupun komoditas sejenis di mancanegara. 2. Kebijakan pemerintah terhadap output mendukung peningkatan keunggulan kompetitif. Dengan kata lain, kebijakan pemerintah terhadap output mampu mendukung peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Namun kebijakan pemerintah terhadap input justru menurunkan keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas belimbing dewa, sehingga kebijakan pemerintah terhadap input produksi belum mampu mendorong peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di lokasi penelitian. Secara keseluruhan kebijakan pemerintah terhadap input-output pada sistem komoditas belimbing dewa di Kota Depok telah melindungi petani belimbing dewa di Kota Depok secara efektif. Dengan demikian, kondisi tersebut dapat mendukung dan menguntungkan bagi pengembangan serta peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. 3. Perubahan jumlah produksi, upah tenaga kerja, harga pupuk, dan harga buah belimbing dewa akan berpengaruh terhadap jumlah penerimaan ataupun biaya produksi yang dikeluarkan sehingga akan berpengaruh pula terhadap tingkat dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Penurunan jumlah produksi sebesar 10 persen, peningkatan harga tenaga kerja sebesar 20 persen serta peningkatan harga pupuk sebesar 10 persen dapat menurunkan keunggulan komparatif dan kompetitif (dayasaing) komoditas belimbing dewa di Kota Depok. Sedangkan penurunan harga output sebesar 15 persen membuat komoditas belimbing dewa di Kota Depok tidak lagi 116

135 memiliki dayasaing. Harga output belimbing dewa menjadi komponen yang paling sensitif terhadap perubahan. 7.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas dan hasil analisis yang diperoleh maka dapat dirumuskan beberapa saran, antara lain adalah : 1. Bagi pemerintah, peningkatan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok dapat ditempuh melalui pemberian stimulus untuk peningkatan produktivitas belimbing, membantu memecahkan kendala yang dihadapi Puskop sebagai lembaga pemasaran yang dapat menjaga kestabilan harga belimbing di tingkat petani, memperbaiki infrastruktur jalan kebun, menambah personil penyuluh pertanian agar penyuluhan kepada petani lebih intensif dan efektif serta memberi stimulus agar pabrik pengolahan yang telah dibangun menggunakan dana bantuan PPK-IPM dapat segera beroperasi. 2. Bagi petani, meningkatkan atau mempertahankan kualitas belimbing yang dihasilkan dengan menerapkan SOP dan GAP belimbing dewa secara keseluruhan serta aktif dalam kelompok tani dan mengikuti pelatihan, pembinaan dan penyuluhan. Karena kualitas belimbing dapat menentukan harga output belimbing yang memberikan kontribusi terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh petani yang pada akhirnya dapat meningkatkan dayasaing komoditas belimbing dewa di Kota Depok 3. Bagi lembaga pemasaran, khususnya Puskop yaitu memperbaiki kinerja sumberdaya manusia, memperbaiki sistem pembayaran kepada para petani serta membentuk unit usaha pengadaan input produksi dan memberikan kredit input produksi kepada petani guna menciptakan loyalitas petani sehingga petani akan selalu menjual hasil panennya kepada Puskop. Dengan demikian, Puskop dapat mengendalikan harga belimbing di tingkat petani agar stabil dan menguntungkan bagi petani. 4. Bagi pihak akademisi yang tertarik untuk melakukan penelitian lanjutan, dapat membahas mengenai manajemen rantai pasok komoditas belimbing dewa di Kota Depok atau strategi pengembangan industri pengolahan belimbing dewa di Kota Depok dalam rangka peningkatan dayasaing. 117

136 DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik Tabel Input Output Indonesia Updating. Jakarta : Badan Pusat Statistik. Baga LM, Yanuar R, Feryanto WK, Aziz K Revitalisasi Peran Koperasi Persusuan Nasional (Studi Kasus pada Daya Saing Koperasi Persusuan di Provinsi Jawa Barat). Departemen Pertanian Republik Indonesia. Cahya IN Analisis Dayasaing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Desianti LC Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Profitabilitas dan Dayasaing Kopi Robusta Indonesia [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. [Distan] Dinas Pertanian Kota Depok Profil Belimbing: potensi investasi hortikultura Kota Depok. Depok : Dinas Pertanian Kota Depok. [Distan] Dinas Pertanian Kota Depok Standar Operasional Prosedur Belimbing Dewa Kota Depok. Depok : Dinas Pertanian Kota Depok. Fauzi HA Analisis Strategik Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan di Kota Depok [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Feryanto Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Susu Sapi Lokal di Jawa Barat [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Fuadri Strategi Pengembangan Agroindustri Komoditas Unggulan Kabupaten Aceh Barat [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Gittinger JP Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Edisi II. Jakarta : UI Press. Hady H Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Jakarta : Ghalia Indonesia. Handayani D Simulasi Kebijakan Dayasaing Kedelai Lokal pada Pasar Domestik [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Hidayat M Dayasaing Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Susu Kambing di Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Husen HA Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Buah Belimbing Depok Varietas Dewa-Dewi [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 118

137 Istiqomah A Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Nenas Indonesia ke Malaysia dan Keunggulan Komparatif Nenas Indonesia di Pasar Malaysia [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Koerdianto EZ Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Sayuran Unggulan (Studi kasus : Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung dan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat) [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Lubis HU Analisis Sistem Pemasaran Belimbing Dewa (Studi Kasus : Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Depok) [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Mantau, Z Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usahatani Jagung dan Padi di Kabupaten Bilalang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara [Tesis]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Monke AE, Pearson SR Policy Analysis Matrix for Agricultural Development. New York : Cornell University Press. Mudjayani WY Analisis Dayasaing Buah-Buahan Tropis Indonesia [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Munigar ES Peran Koperasi dalam Pengembangan Sistem Agribisnis Belimbing Dewa (Studi Kasus Pusat Koperasi Pemasaran Belimbing Dewa Depok, Jawa Barat) [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Nalurita S Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok Jawa Barat [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Nuryanti N Analisis Pengaruh Intensifikasi Usahatani Terhadap Dayasaing Kakao (Theobroma cacao L.) di Kabupaten Ciamis Jawa Barat [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Oktaviani R Efisiensi Ekonomi dan Dampak Kebijaksanaan Insentif Pertanian pada Produksi Komoditas Pangan di Indonesia [Tesis]. Bogor : Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Pratama P Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Susu Segar Sapi Perah : studi kasus anggota koperasi peternak Garut Selatan Jawa Barat [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Pearson S, Carl G, Bahri S Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor. 119

138 Rosegrant MW, Kasryno F, Gonzales LA, Rasahan C, Saefudin Y Price Investment Policies in the Indonesia Food Crop Sector. International Policy Reseacrh Institute, Center for Agro-Economic Reseacrh, Indonesia. Salvatore D Ekonomi Internasional. Jakarta : Erlangga. Septiyorini N Analisis Daya Saing Beras Pandan Wangi di Kabupaten Cianjur [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Simanjutak S Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tim Penulis Penebar Swadaya Jenis Belimbing Manis. Jakarta : Penebar Swadaya. Wahyudi A Analisis Keunggulan Komparatif Usahatani Lada Hitam Lampung dan Lada Putih Muntok dengan Usahatani Karet, Kopi dan Kakao [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Wibowo A Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Pengusahaan Komoditas Jagung di Kabupaten Grobogan [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Yulistia N Analisis Pendapatan dan Efisiensi Produksi Usahatani Belimbing Dewa Peserta Primatani di Kota Depok Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Zamani A Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Usahatani Belimbing Depok Varietas Dewa-Dewi [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 120

139 LAMPIRAN 121

140 Lampiran 1. Produksi Buah-Buahan Indonesia Tahun Buah-Buahan (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) (ton/tahun) Mangga 876, ,294 1,402,906 1,526,474 1,437,665 1,412,884 1,621,997 1,818,619 2,013,121 2,243,440 Jeruk 644, , ,132 1,529,824 2,071,084 2,214,019 2,565,543 2,625,884 2,311,581 2,131,768 Pepaya 429, , , , , , , , , ,844 Pisang 3,746,962 4,300,422 4,384,384 4,177,155 4,901,567 5,177,607 5,037,472 5,454,226 5,741,351 6,373,533 Nanas 393, , , , , ,082 1,427,781 2,237,858 1,272,761 1,558,196 Durian 236, , , , , , , , , ,798 Manggis 26,400 25,812 62,055 79,073 62,117 64,711 72, ,722 65, ,558 Alpukat 145, , , , , , , , , ,642 Belimbing 48,252 53,157 56,753 67,261 78,117 65,967 70,298 59,984 66,700 72,397 Duku/Langsat 111, , , , , , , , , ,364 Jambu Biji 128, , , , , , , , , ,202 Jambu Air 63,302 73,061 97, , , , ,648 94, , ,885 Nangka/Cempedak 369, , , , , , , , , ,444 Salak 423, , , , , , , , ,014 Rambutan 296, , , , , , , , , ,841 Sawo 53,275 63,011 69,479 83,877 88,031 83, , , , ,876 Sirsak 40,115 46,951 52,974 68,426 82,338 75,767 84,373 55,798 49,158 65,359 Markisa ,899 59,435 82, , , , ,796 Sukun 35,435 41,036 47,549 62,432 66,994 73,637 88,339 92, , ,923 Belinjo 141, , , , , , , , , ,097 Sumber : Badan Pusat Statistik,

141 Lampiran 2. Luas Panen dan Produksi Belimbing Manis Menurut Pulau di Indonesia Tahun 2009 Pulau Luas Panen Produksi Total Produksi (Ha) (Ton) (%) Sumatera ,82 Jawa ,66 Bali dan Nusa Tenggara ,36 Kalimantan ,07 Sulawesi ,51 Maluku dan Papua ,58 Jumlah Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010 (Diolah) Lampiran 3. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Belimbing Manis Menurut Provinsi di Pulau Jawa Pada Tahun 2009 Provinsi Luas Panen Produksi Total Produksi Produktivitas (Ha) (Ton) (%) (Kuital/Ha) DKI Jakarta ,87 126,00 Jawa Barat ,91 451,10 Jawa Tengah ,61 224,10 Jawa Timur ,70 231,80 Banten ,44 221,50 Yogyakarta ,47 138,50 Jumlah ,00 252,25 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010 (Diolah) Lampiran 4. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Komoditas Belimbing di Indonesia Indikator Satuan Luas Panen Ha 2,351 2,537 3,085 2,718 2,554 2,590 2,439 2,690 2,906 Produksi Ton 53,157 56,753 67,261 78,117 65,966 70,298 59,984 66,700 72,397 Produktivitas Kuintal/Ha Sumber : Badan Pusat Statistik,

142 Lampiran 5. Jumlah Produksi Belimbing Manis Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Pada Tahun 2009 No Kapubaten/Kota Jumlah Produksi Jumlah Produksi (Kuintal) (%) Kabupaten 1 Bogor ,65 2 Sukabumi ,33 3 Cianjur ,17 4 Bandung ,41 5 Garut ,62 6 Tasikmalaya ,53 7 Ciamis ,39 8 Kuningan 616 0,46 9 Cirebon ,03 10 Majalengka ,18 11 Sumedang ,10 12 Indramayu ,88 13 Subang ,84 14 Purwakarta ,85 15 Karawang ,92 16 Bekasi ,16 17 Bandung Barat ,48 Kota 18 Bogor ,42 19 Sukabumi 169 0,13 20 Bandung 29 0,02 21 Cirebon 253 0,19 22 Bekasi ,06 23 Depok ,66 24 Cimahi 532 0,40 25 Tasikmalaya 109 0,08 26 Banjar 47 0,04 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat,

143 Lampiran 6. Kandungan Gizi Belimbing (dalam 100 gram buah) Kandungan Satuan Komposisi Kalori kalori 36,00 Protein gram 0,40 Lemak gram 0,40 Karbohidrat gram 8,80 Kalsium milligram 4,00 Fosfor milligram 4,00 Besi milligram 1,1 Vitamin A SI 170,00 Vitamanin B1 milligram 0,03 Vitamin C milligram 35,00 Air gram 90,00 Bagian yang dimakan persen 86,00 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok,

144 Lampiran 7. Input-Output Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 NPK kg 0,00 450,00 750, ,00 Daun (Cair) liter 0,00 0,00 0,00 0,00 Pupuk Organik Pupuk Kandang kg 8.000, , , ,00 Obat-Obatan Curacron liter 0,00 24,00 24,00 36,00 Gandasil A kg 0,00 60,00 60,00 60,00 Gandasil B kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Bibit Tanaman Belimbing Dewa unit 400,00 Peralatan Kebun Parang unit 2,00 0,00 0,00 0,00 Golok unit 2,00 0,00 0,00 0,00 Cangkul unit 3,00 0,00 0,00 0,00 Cangkul garpu unit 2,00 0,00 0,00 0,00 Gerobak dorong unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Pengki Pikul unit 1,00 1,00 1,00 1,00 Pisau unit 3,00 0,00 0,00 0,00 pisau okulasi unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Gembor unit 1,00 0,00 0,00 1,00 Hand Sprayer unit 1,00 0,00 0,00 0,00 power sprayer unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Selang Air/Power Sprayer meter 100,00 0,00 0,00 0,00 pompa pantek unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Gunting Pangkas unit 2,00 0,00 0,00 0,00 Gunting Panen unit 0,00 0,00 0,00 1,00 Gergaji unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Tangga unit 0,00 0,00 0,00 1,00 Drum/Bak unit 3,00 0,00 0,00 0,00 Sapu Lidi unit 3,00 0,00 1,00 0,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) unit 0,00 0,00 0,00 20,00 Timbangan unit 0,00 0,00 0,00 2,00 Mesin Wraping unit 0,00 0,00 0,00 2,00 Tenaga Kerja Persiapan Lahan HOK 20,00 0,00 0,00 0,00 Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar HOK 32,00 0,00 0,00 0,00 Penanaman belimbing HOK 9,60 0,00 0,00 0,00 Pembuatan Saluran Air HOK 2,00 0,00 0,00 0,00 126

145 Lampiran 7. Lanjutan INPUT Satuan Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 Pemupukan HOK 72,00 76,80 76,80 76,80 Pengairan HOK 6,00 6,00 6,00 6,00 Pemangkasan Bentuk HOK 0,00 0,00 8,00 8,00 Pemangkasan Pemeliharaan HOK 0,00 48,00 48,00 48,00 Pengendalian Hama dan Penyakit HOK 96,00 96,00 96,00 96,00 Pemeliharaan/Sanitasi Kebun HOK 24,00 48,00 48,00 48,00 Penjarangan dan Pembungkusan Buah HOK 0,00 0,00 0, ,00 Panen/Pemetikan Buah HOK 0,00 0,00 0,00 76,80 Sortasi dan Grading HOK 0,00 0,00 0,00 48,00 Pengemasan dan Pelabelan HOK 0,00 0,00 0,00 48,00 Tataniaga : Penanganan Biaya Angkut Rp Rp Sewa Lahan ha 1,00 1,00 1,00 1,00 OUTPUT Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 Buah Belimbing Dewa grade A kg 0,00 0,00 0, ,00 Buah Belimbing Dewa grade B kg 0,00 0,00 0, ,00 Buah Belimbing Dewa grade C kg 0,00 0,00 0, ,00 127

146 Lampiran 7. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-4 Th-5 Th-5 Th-7 NPK kg 1.500, , , ,00 Daun (Cair) liter 60,00 60,00 60,00 120,00 Pupuk Organik Pupuk Kandang kg , , , ,00 Obat-Obatan Curacron liter 60,00 60,00 72,00 72,00 Gandasil A kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Gandasil B kg 60,00 60,00 72,00 72,00 Bibit Tanaman Belimbing Dewa Peralatan Kebun unit Parang unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Golok unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Cangkul unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Cangkul garpu unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Gerobak dorong unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Pengki Pikul unit 1,00 1,00 1,00 1,00 Pisau unit 0,00 1,00 0,00 0,00 pisau okulasi unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gembor unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Hand Sprayer unit 0,00 1,00 0,00 0,00 power sprayer unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Selang Air/Power Sprayer meter 0,00 100,00 0,00 0,00 pompa pantek unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Gunting Pangkas unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Gunting Panen unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gergaji unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Tangga unit 0,00 1,00 0,00 1,00 Drum/Bak unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Sapu Lidi unit 1,00 0,00 1,00 0,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Timbangan unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Mesin Wraping unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Tenaga Kerja Persiapan Lahan HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pengajiran, Pelubangan dan HOK Pemupukan Dasar 0,00 0,00 0,00 0,00 Penanaman belimbing HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pembuatan Saluran Air HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pemupukan HOK 220,80 220,80 220,80 220,80 128

147 Lampiran 7. Lanjutan INPUT Satuan Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 Pengairan HOK 6,00 6,00 6,00 6,00 Pemangkasan Bentuk HOK 0,00 0,00 8,00 8,00 Pemangkasan Pemeliharaan HOK 0,00 48,00 48,00 48,00 Pengendalian Hama dan Penyakit HOK 96,00 96,00 96,00 96,00 Pemeliharaan/Sanitasi Kebun HOK 24,00 48,00 48,00 48,00 Penjarangan dan Pembungkusan Buah HOK 0,00 0,00 0, ,00 Panen/Pemetikan Buah HOK 0,00 0,00 0,00 76,80 Sortasi dan Grading HOK 0,00 0,00 0,00 48,00 Pengemasan dan Pelabelan HOK 0,00 0,00 0,00 48,00 Tataniaga : Penanganan Biaya Angkut Rp Rp Sewa Lahan ha 1,00 1,00 1,00 1,00 OUTPUT Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 Buah Belimbing Dewa grade A kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade B kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade C kg 6.000, , , ,00 129

148 Lampiran 7. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 NPK kg 1.680, , , ,00 Daun (Cair) liter 96,00 96,00 120,00 120,00 Pupuk Organik Pupuk Kandang kg , , , ,00 Obat-Obatan Curacron liter 84,00 84,00 96,00 96,00 Gandasil A kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Gandasil B kg 84,00 84,00 96,00 96,00 Bibit Tanaman Belimbing Dewa Peralatan Kebun unit Parang unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Golok unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Cangkul unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Cangkul garpu unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Gerobak dorong unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Pengki Pikul unit 1,00 1,00 1,00 1,00 Pisau unit 0,00 0,00 1,00 0,00 pisau okulasi unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Gembor unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Hand Sprayer unit 0,00 0,00 1,00 0,00 power sprayer unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Selang Air/Power Sprayer meter 0,00 0,00 100,00 0,00 pompa pantek unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Gunting Pangkas unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Gunting Panen unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Gergaji unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Tangga unit 0,00 1,00 0,00 1,00 Drum/Bak unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Sapu Lidi unit 1,00 0,00 1,00 0,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) unit 20,00 0,00 0,00 0,00 Timbangan unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Mesin Wraping unit 1,00 0,00 0,00 0,00 Tenaga Kerja Persiapan Lahan HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pengajiran, Pelubangan dan HOK Pemupukan Dasar 0,00 0,00 0,00 0,00 Penanaman belimbing HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pembuatan Saluran Air HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pemupukan HOK 220,80 220,80 220,80 220,80 130

149 Lampiran 7. Lanjutan INPUT Satuan Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 Pengairan HOK 6,00 6,00 6,00 6,00 Pemangkasan Bentuk HOK 8,00 8,00 8,00 8,00 Pemangkasan Pemeliharaan HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Pengendalian Hama dan Penyakit HOK 96,00 96,00 96,00 96,00 Pemeliharaan/Sanitasi Kebun HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Penjarangan dan HOK Pembungkusan Buah 2.472, , , ,00 Panen/Pemetikan Buah HOK 192,00 192,00 288,00 288,00 Sortasi dan Grading HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Pengemasan dan Pelabelan HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Tataniaga : Penanganan Biaya Angkut Rp Rp Sewa Lahan ha 1,00 1,00 1,00 1,00 OUTPUT Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 Buah Belimbing Dewa grade A kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade B kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade C kg , , , ,00 131

150 Lampiran 7. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* NPK kg 1.800, , , ,00 Daun (Cair) liter 120,00 120,00 120,00 120,00 Pupuk Organik Pupuk Kandang kg , , , ,00 Obat-Obatan Curacron liter 120,00 120,00 120,00 120,00 Gandasil A kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Gandasil B kg 120,00 120,00 120,00 120,00 Bibit Tanaman Belimbing Dewa Peralatan Kebun unit Parang unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Golok unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Cangkul unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Cangkul garpu unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gerobak dorong unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Pengki Pikul unit 1,00 1,00 1,00 1,00 Pisau unit 0,00 0,00 0,00 0,00 pisau okulasi unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gembor unit 1,00 0,00 0,00 1,00 Hand Sprayer unit 0,00 0,00 0,00 0,00 power sprayer unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Selang Air/Power Sprayer meter 0,00 0,00 0,00 0,00 pompa pantek unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gunting Pangkas unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gunting Panen unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Gergaji unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Tangga unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Drum/Bak unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Sapu Lidi unit 1,00 0,00 1,00 1,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) unit 0,00 20,00 0,00 0,00 Timbangan unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Mesin Wraping unit 0,00 1,00 0,00 0,00 Tenaga Kerja Persiapan Lahan HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pengajiran, Pelubangan dan HOK Pemupukan Dasar 0,00 0,00 0,00 0,00 Penanaman belimbing HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pembuatan Saluran Air HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pemupukan HOK 220,80 220,80 220,80 220,80 132

151 Lampiran 7. Lanjutan INPUT Satuan Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* Pengairan HOK 6,00 6,00 6,00 6,00 Pemangkasan Bentuk HOK 8,00 8,00 8,00 8,00 Pemangkasan Pemeliharaan HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Pengendalian Hama dan Penyakit HOK 96,00 96,00 96,00 96,00 Pemeliharaan/Sanitasi Kebun HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Penjarangan dan HOK Pembungkusan Buah 3.672, , , ,00 Panen/Pemetikan Buah HOK 288,00 288,00 288,00 288,00 Sortasi dan Grading HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Pengemasan dan Pelabelan HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Tataniaga : Penanganan Biaya Angkut Rp Rp Sewa Lahan ha 1,00 1,00 1,00 1,00 OUTPUT Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* Buah Belimbing Dewa grade A kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade B kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade C kg , , , ,00 * Angka Prediksi 133

152 Lampiran 7. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* NPK kg 1.800, , , ,00 Daun (Cair) liter 120,00 120,00 120,00 120,00 Pupuk Organik Pupuk Kandang kg , , , ,00 Obat-Obatan Curacron liter 120,00 120,00 120,00 120,00 Gandasil A kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Gandasil B kg 120,00 120,00 120,00 120,00 Bibit Tanaman Belimbing Dewa Peralatan Kebun unit Parang unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Golok unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Cangkul unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Cangkul garpu unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gerobak dorong unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Pengki Pikul unit 1,00 1,00 1,00 1,00 Pisau unit 0,00 0,00 0,00 0,00 pisau okulasi unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gembor unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Hand Sprayer unit 0,00 0,00 0,00 0,00 power sprayer unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Selang Air/Power Sprayer meter 0,00 0,00 0,00 0,00 pompa pantek unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gunting Pangkas unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Gunting Panen unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Gergaji unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Tangga unit 0,00 1,00 0,00 1,00 Drum/Bak unit 0,00 0,00 0,00 0,00 Sapu Lidi unit 1,00 0,00 1,00 0,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) unit 0,00 0,00 20,00 0,00 Timbangan unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Mesin Wraping unit 0,00 0,00 1,00 0,00 Tenaga Kerja Persiapan Lahan HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pengajiran, Pelubangan dan HOK Pemupukan Dasar 0,00 0,00 0,00 0,00 Penanaman belimbing HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pembuatan Saluran Air HOK 0,00 0,00 0,00 0,00 Pemupukan HOK 220,80 220,80 220,80 220,80 134

153 Lampiran 7. Lanjutan INPUT Satuan Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* Pengairan HOK 6,00 6,00 6,00 6,00 Pemangkasan Bentuk HOK 8,00 8,00 8,00 8,00 Pemangkasan Pemeliharaan HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Pengendalian Hama dan Penyakit HOK 96,00 96,00 96,00 96,00 Pemeliharaan/Sanitasi Kebun HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Penjarangan dan HOK Pembungkusan Buah 3.672, , , ,00 Panen/Pemetikan Buah HOK 288,00 288,00 288,00 288,00 Sortasi dan Grading HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Pengemasan dan Pelabelan HOK 48,00 48,00 48,00 48,00 Tataniaga : Penanganan Biaya Angkut Rp Rp Sewa Lahan ha 1,00 1,00 1,00 1,00 OUTPUT Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* Buah Belimbing Dewa grade A kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade B kg , , , ,00 Buah Belimbing Dewa grade C kg , , , ,00 * Angka Prediksi 135

154 Lampiran 7. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-20* NPK kg 1.800,00 Daun (Cair) liter 120,00 Pupuk Organik Pupuk Kandang kg ,00 Obat-Obatan Curacron liter 120,00 Gandasil A kg 0,00 Gandasil B kg 120,00 Bibit Tanaman Belimbing Dewa Peralatan Kebun unit Parang unit 1,00 Golok unit 1,00 Cangkul unit 1,00 Cangkul garpu unit 1,00 Gerobak dorong unit 1,00 Pengki Pikul unit 1,00 Pisau unit 1,00 pisau okulasi unit 1,00 Gembor unit 0,00 Hand Sprayer unit 1,00 power sprayer unit 1,00 Selang Air/Power Sprayer meter 100,00 pompa pantek unit 1,00 Gunting Pangkas unit 1,00 Gunting Panen unit 0,00 Gergaji unit 1,00 Tangga unit 0,00 Drum/Bak unit 1,00 Sapu Lidi unit 1,00 Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) unit 0,00 Timbangan unit 0,00 Mesin Wraping unit 0,00 Tenaga Kerja Persiapan Lahan HOK 0,00 Pengajiran, Pelubangan dan HOK Pemupukan Dasar 0,00 Penanaman belimbing HOK 0,00 Pembuatan Saluran Air HOK 0,00 Pemupukan HOK 220,80 136

155 Lampiran 7. Lanjutan INPUT Satuan Th-20* Pengairan HOK 6,00 Pemangkasan Bentuk HOK 8,00 Pemangkasan Pemeliharaan HOK 48,00 Pengendalian Hama dan Penyakit HOK 96,00 Pemeliharaan/Sanitasi Kebun HOK 48,00 Penjarangan dan HOK Pembungkusan Buah 3.672,00 Panen/Pemetikan Buah HOK 288,00 Sortasi dan Grading HOK 48,00 Pengemasan dan Pelabelan HOK 48,00 Tataniaga : Penanganan Biaya Angkut Sewa Lahan ha 1,00 OUTPUT Rp Rp Th-20* Buah Belimbing Dewa grade A kg ,00 Buah Belimbing Dewa grade B kg ,00 Buah Belimbing Dewa grade C kg ,00 * Angka Prediksi 137

156 Lampiran 8. Budget Privat Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Rp Penyusutan Peralatan Kebun Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Modal Investasi Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp

157 Lampiran 8. Lanjutan INPUT Satuan Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar Rp Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp

158 Lampiran 8. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp pisau Rp pisau okulasi Rp gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Modal Investasi Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar Rp

159 Lampiran 8. Lanjutan INPUT Satuan Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp

160 Lampiran 8. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp pisau Rp pisau okulasi Rp gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Modal Investasi Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar Rp

161 Lampiran 8. Lanjutan INPUT Satuan Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp

162 Lampiran 8. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp pisau Rp pisau okulasi Rp gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Modal Investasi Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar Rp

163 Lampiran 8. Lanjutan INPUT Satuan Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-12 Th-13 Th-14 Th-15 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp * Angka Prediksi 145

164 Lampiran 8. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp pisau Rp pisau okulasi Rp gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Modal Investasi Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar Rp

165 Lampiran 8. Lanjutan INPUT Satuan Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp * Angka Prediksi 147

166 Lampiran 8. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-20* NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp - Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp pisau Rp pisau okulasi Rp gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Modal Investasi Tenaga Kerja Rp Persiapan Lahan Rp - Pengajiran, Pelubangan dan Pemupukan Dasar Rp - 148

167 Lampiran 8. Lanjutan INPUT Satuan Th-20* Penanaman belimbing Rp - Pembuatan Saluran Air Rp - Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-20* Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp * Angka Prediksi 149

168 Lampiran 9. Budget Sosial Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Rp Penyusutan Peralatan Kebun Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Rp Modal Investasi Rp Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp

169 Lampiran 9. Lanjutan INPUT Satuan Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 Pengajiran, Pelubangan Pemupukan Dasar Rp Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-0 Th-1 Th-2 Th-3 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp

170 Lampiran 9. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Rp Modal Investasi Rp Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan Pemupukan Dasar Rp

171 Lampiran 9. Lanjutan INPUT Satuan Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Rp Buah Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-4 Th-5 Th-6 Th-7 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp

172 Lampiran 9. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Rp Modal Investasi Rp Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan Pemupukan Dasar Rp

173 Lampiran 9. Lanjutan INPUT Satuan Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-8 Th-9 Th-10 Th-11 Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp

174 Lampiran 9. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Rp Modal Investasi Rp Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan Pemupukan Dasar Rp

175 Lampiran 9. Lanjutan INPUT Satuan Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-12 Th-13 Th-14* Th-15* Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp * Angka Prediksi 157

176 Lampiran 9. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Rp Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Rp Modal Investasi Rp Tenaga Kerja Persiapan Lahan Rp Pengajiran, Pelubangan Pemupukan Dasar Rp

177 Lampiran 9. Lanjutan INPUT Satuan Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* Penanaman belimbing Rp Pembuatan Saluran Air Rp Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-16* Th-17* Th-18* Th-19* Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp * Angka Prediksi 159

178 Lampiran 9. Lanjutan Pupuk Anorganik INPUT Satuan Th-20* NPK Rp Daun (Cair) Rp Pupuk Organik Pupuk Kandang Rp Obat-Obatan Curacron Rp Gandasil A Rp - Gandasil B Rp Bibit Tanaman Belimbing Dewa Penyusutan Peralatan Kebun Parang Rp Golok Rp Cangkul Rp Cangkul garpu Rp Gerobak dorong Rp Pengki Pikul Rp Pisau Rp pisau okulasi Rp Gembor Rp Hand Sprayer Rp power sprayer Rp Selang Air/Power Sprayer Rp pompa pantek Rp Gunting Pangkas Rp Gunting Panen Rp Gergaji Rp Tangga Rp Drum/Bak Rp Sapu Lidi Rp Penyusutan Peralatan Pengolahan Keranjang Plastik (Troy) Rp Timbangan Rp Mesin Wraping Rp Modal Modal Kerja Rp Modal Investasi Rp Tenaga Kerja Rp Persiapan Lahan Rp - Pengajiran, Pelubangan Pemupukan Dasar Rp - 160

179 Lampiran 9. Lanjutan INPUT Satuan Th-20* Penanaman belimbing Rp - Pembuatan Saluran Air Rp - Pemupukan Rp Pengairan Rp Pemangkasan Bentuk Rp Pemangkasan Pemeliharaan Rp Pengendalian Hama dan Penyakit Rp Pemeliharaan/Sanitasi Kebun Rp Penjarangan dan Pembungkusan Buah Rp Panen/Pemetikan Buah Rp Sortasi dan Grading Rp Pengemasan dan Pelabelan Rp Tataniaga : Penanganan Rp Biaya Angkut Rp Sewa Lahan Rp OUTPUT Th-20* Buah Belimbing Dewa grade A Rp Buah Belimbing Dewa grade B Rp Buah Belimbing Dewa grade C Rp * Angka Prediksi 161

180 Lampiran 10. Rekapitulasi Budget Privat Terdiskonto pada Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Tahun Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan DR Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Tingkat Bunga 6,86% ( ) 1, ( ) ( ) 0, ( ) ( ) 0, ( ) , , , , , , , , , , , , , , , , , , NPV

181 Lampiran 11. Rekapitulasi Budget Sosial Terdiskonto pada Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Tahun Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan DR Penerimaan Input Tradable Faktor Domestik Keuntungan Tingkat Bunga 12,84% ( ) 1, ( ) ( ) 0, ( ) ( ) 0, ( ) , , , , , , , , , , , , , , , , , , NPV

182 Lampiran 12. Proporsi Biaya Input Terhadap Biaya Input Total Pengusahaan Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok INPUT Proporsi pada Budget Privat (%) Proporsi pada Budget Sosial (%) Pupuk (Anorganik dan Organik) 12,86 12,23 Obat-Obatan 6,40 5,55 Bibit Belimbing Dewa 0,69 0,74 Peralatan Kebun 0,32 0,60 Peralatan Pengolahan 0,03 0,05 Tenaga Kerja 42,92 39,05 Modal Kerja 6,00 10,58 Modal Investasi 0,09 0,25 Lahan 5,36 5,36 Tataniaga (Penanganan dan Biaya Angkut) 25,32 25,59 Total 100,00 100,00 Sumber : Data Primer (Diolah) 164

183 Lampiran 13. Dokumentasi Penelitian Perkebunan Belimbing Dewa Milik Salah Seorang Petani Responden Tahun 2011 Kegiatan Puskop (Melakukan Pengemasan Belimbing Dewa untuk Dipasarkan) Pabrik Pengolahan Belimbing (Belum Beroperasi) Gedung Pabrik Pengolahan Belimbing Indeks Kematangan Buah Belimbing 165

184 Lampiran 13. Lanjutan Patung Belimbing Blangko Pencatatan SOP untuk Petani Kumpul Bersama Anggota Kelompok Tani Layungsari Produk-Produk Puskop (Pesanan dari Sekolah Taman Kanak-Kanak) Packaging Belimbing untuk Carefour Packaging Belimbing untuk Toko Buah 166

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkiraan Permintaan Buah-Buahan Indonesia Tahun

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkiraan Permintaan Buah-Buahan Indonesia Tahun 1. 1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN Hortikultura merupakan salah satu bagian dari pembangunan sektor pertanian yang terdiri dari komoditas buah-buahan, sayuran, tanaman obat, dan florikultur (bunga dan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Dayasaing sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri karena dayasaing merupakan kemampuan suatu

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS SUSU SEGAR SAPI PERAH

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS SUSU SEGAR SAPI PERAH ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS SUSU SEGAR SAPI PERAH (Studi Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat) SKRIPSI Oleh : PANJI PRATAMA H34076119 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING BERAS PANDAN WANGI DAN VARIETAS UNGGUL BARU

ANALISIS DAYA SAING BERAS PANDAN WANGI DAN VARIETAS UNGGUL BARU ANALISIS DAYA SAING BERAS PANDAN WANGI DAN VARIETAS UNGGUL BARU (Oryza sativa) (Kasus Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat) Oleh RESTU EDIANUR ROHMAN A14105594 PROGRAM

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA PESERTA PRIMATANI DI KOTA DEPOK JAWA BARAT

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA PESERTA PRIMATANI DI KOTA DEPOK JAWA BARAT ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEWA PESERTA PRIMATANI DI KOTA DEPOK JAWA BARAT SKRIPSI NUR YULISTIA H34066095 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. IV. GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Wilayah Penelitian... 49

DAFTAR ISI. IV. GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Wilayah Penelitian... 49 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi INTISARI... xiii ABSTRACT... xiv

Lebih terperinci

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010

Volume 12, Nomor 1, Hal ISSN Januari - Juni 2010 Volume 12, Nomor 1, Hal. 55-62 ISSN 0852-8349 Januari - Juni 2010 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI SERTA KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF USAHA TERNAK SAPI RAKYAT DI KAWASAN

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan. Sektor pertanian di lndonesia dalam masa krisis ekonomi tumbuh positif,

Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan. Sektor pertanian di lndonesia dalam masa krisis ekonomi tumbuh positif, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan Juli 1997 mempunyai dampak yang besar terhadap perekonomian negara. Sektor pertanian di lndonesia dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kontribusi besar dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Dalam beberapa

I. PENDAHULUAN. kontribusi besar dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Dalam beberapa I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Buah-buahan merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, PDB komoditi

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang dibudidayakan dalam hortikultura meliputi buah-buahan, sayur-sayuran,

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR PISANG INDONESIA SKRIPSI. Oleh : DEVI KUNTARI NPM :

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR PISANG INDONESIA SKRIPSI. Oleh : DEVI KUNTARI NPM : ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR PISANG INDONESIA SKRIPSI Oleh : DEVI KUNTARI NPM : 0824010021 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JATIM

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: mardianto.anto69@gmail.com ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan daya saing produk pertanian menjadi perhatian utama karena Indonesia dihadapkan pada kondisi pasar yang semakin liberal. Liberalisasi perdagangan telah

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendekatan Penelitian Sistem Usaha Pertanian dan Agribisnis Pada awalnya penelitian tentang sistem pertanian hanya terbatas pada tahap budidaya atau pola tanam, tetapi pada tahun

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI PEPAYA CALIFORNIA (Kasus :Desa Cikopo Mayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

ANALISIS USAHATANI PEPAYA CALIFORNIA (Kasus :Desa Cikopo Mayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) ANALISIS USAHATANI PEPAYA CALIFORNIA (Kasus :Desa Cikopo Mayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) SKRIPSI RINA CHAERNINGRUM H34076127 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN

Lebih terperinci

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

VI HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN Pengusahaan ubi jalar di Kabupaten Sumedang dipusatkan di daerah pengembangan yaitu di Desa Cilembu (Pamulihan) sebagai penghasil ubi Cilembu dan Desa Nagarawangi (Rancakalong)

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Komoditas hortikultura (tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias dan tanaman biofarmaka) menjanjinkan prospek yang besar untuk dikembangkan. Hal ini terkait dengan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAMBU BIJI (Studi Kasus: Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat) FITRIA ASTRIANA

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAMBU BIJI (Studi Kasus: Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat) FITRIA ASTRIANA ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAMBU BIJI (Studi Kasus: Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat) FITRIA ASTRIANA DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Usaha Sapi Potong di Kabupaten Indrgiri Hulu 5.1.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Usaha Sapi Potong Usaha peternakan sapi

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEPOK VARIETAS DEWA-DEWI (Averrhoa carambola L)

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEPOK VARIETAS DEWA-DEWI (Averrhoa carambola L) ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI BELIMBING DEPOK VARIETAS DEWA-DEWI (Averrhoa carambola L) Oleh : AKBAR ZAMANI A. 14105507 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kota Depok tepatnya di Kecamatan Pancoran Mas dan Kecamatan Cipayung. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Neraca Ekspor Impor Hortikultura, (US $) Pertumbuhan Tahun ( % )

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Neraca Ekspor Impor Hortikultura, (US $) Pertumbuhan Tahun ( % ) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian Indonesia terdiri dari enam sub sektor yaitu sub sektor tanaman Pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Hortikultura terutama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan kondisi alam yang subur untuk pertanian. Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor pertanian Indonesia memiliki peranan penting dalam pembangunan

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor pertanian Indonesia memiliki peranan penting dalam pembangunan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian Indonesia memiliki peranan penting dalam pembangunan perekonomian. Ekspor negara Indonesia banyak dihasilkan dari sektor pertanian, salah satunya hortikultura

Lebih terperinci

VI. DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN TERHADAP PENGUSAHAAN SUSU SAPI LOKAL

VI. DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN TERHADAP PENGUSAHAAN SUSU SAPI LOKAL VI. DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN TERHADAP PENGUSAHAAN SUSU SAPI LOKAL 6. 1. Efisiensi dan Daya Saing Pengusahaan Susu Sapi Lokal Efisiensi dan daya saing susu sapi perah lokal di ketiga lokasi penelitian

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Oleh : MAYA ANDINI KARTIKASARI NRP. A14105684 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris memiliki hasil pertanian yang sangat berlimpah. Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki posisi penting di Indonesia. Data Product

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai iklim tropis, berpeluang besar bagi pengembangan budidaya tanaman buah-buahan, terutama buah-buahan tropika.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang beraneka ragam dan memiliki wilayah yang cukup luas. Hal ini yang membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI JAMUR TIRAM PUTIH (Kasus : Kelompok Wanita Tani Hanjuang, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)

ANALISIS USAHATANI JAMUR TIRAM PUTIH (Kasus : Kelompok Wanita Tani Hanjuang, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) ANALISIS USAHATANI JAMUR TIRAM PUTIH (Kasus : Kelompok Wanita Tani Hanjuang, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) Skripsi SRI ROSMAYANTI H 34076143 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A !. KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI KAKAO (Kasus di Perkebunan Rajamandala, P1P X1~ Kabupaten 8andung, Jawa Barat) FANNYTA YUDHISTIRA A 29.1599 JURUSAN ILMU-ILMU

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan ragam buah-buahan. Agribinis buah-buahan menjadi salah satu sektor produksi strategis yang mempunyai potensi yang sangat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis, oleh karena itu Indonesia memiliki keanekaragaman buah-buahan tropis. Banyak buah yang dapat tumbuh di Indonesia namun tidak dapat tumbuh

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009 Uraian Jumlah (Rp) Total Ekspor (Xt) 1,211,049,484,895,820.00 Total Impor (Mt) 1,006,479,967,445,610.00 Penerimaan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan hortikuktura diharapkan mampu menambah pangsa pasar serta berdaya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Perumusan Masalah Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima tahun ke depan (2010-2014), Kementerian Pertanian akan lebih fokus pada

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk Studi mengenai jeruk telah dilakukan oleh banyak pihak, salah satunya oleh Sinuhaji (2001) yang melakukan penelitian mengenai Pengembangan Usahatani

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pelestarian keseimbangan lingkungan. Namun pada masa yang akan datang,

I. PENDAHULUAN. pelestarian keseimbangan lingkungan. Namun pada masa yang akan datang, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sub sektor pertanian tanaman pangan, merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan telah terbukti memberikan peranan penting bagi pembangunan nasional,

Lebih terperinci

: NUSRAT NADHWATUNNAJA A

: NUSRAT NADHWATUNNAJA A ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PAPRIKA HIDROPONIK DI DESA PASIR LANGU, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BANDUNG Oleh : NUSRAT NADHWATUNNAJA A14105586 PROGRAM SARJANA

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR RAMBUTAN INDONESIA. Oleh : OTIK IRWAN MARGONO A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR RAMBUTAN INDONESIA. Oleh : OTIK IRWAN MARGONO A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR RAMBUTAN INDONESIA Oleh : OTIK IRWAN MARGONO A07400606 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI GULA PADA PABRIK GULA DJATIROTO SKRIPSI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI GULA PADA PABRIK GULA DJATIROTO SKRIPSI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI GULA PADA PABRIK GULA DJATIROTO SKRIPSI Oleh Farina Fauzi NIM. 021510201206 JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukaresmi dan Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purpossive

Lebih terperinci

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih 1.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA Kustiawati Ningsih Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Madura, Kompleks Ponpes Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia

V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia 58 V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH 5.1. Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia Bawang merah sebagai sayuran dataran rendah telah banyak diusahakan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 20. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja di Desa Sukasari Kaler per Musim Tanam pada Tahun 2011... 67 21. Pendugaan Parameter dengan Metode MLE untuk Fungsi Produksi Cobb-Douglas Stochastic Frontier di Desa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani yaitu sebesar 43,029 persen pada pertengahan tahun

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI DALAM PENGEMBANGAN SISTEM AGRIBISNIS BELIMBING DEWA (Studi Kasus Pusat Koperasi Pemasaran Belimbing Dewa Depok, Jawa Barat)

PERAN KOPERASI DALAM PENGEMBANGAN SISTEM AGRIBISNIS BELIMBING DEWA (Studi Kasus Pusat Koperasi Pemasaran Belimbing Dewa Depok, Jawa Barat) PERAN KOPERASI DALAM PENGEMBANGAN SISTEM AGRIBISNIS BELIMBING DEWA (Studi Kasus Pusat Koperasi Pemasaran Belimbing Dewa Depok, Jawa Barat) SKRIPSI ERNI SITI MUNIGAR H34066041 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Ekonomi Internasional III KERANGKA PEMIKIRAN Keunggulan komparatif maupun kompetitif berawal dari adanya hubungan ekonomi antar satu negara dengan negara yang lain.

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

ANALISIS STRATEGI BISNIS DI PERUSAHAAN INKOPAS SEJAHTERA, KOTA BOGOR, JAWA BARAT

ANALISIS STRATEGI BISNIS DI PERUSAHAAN INKOPAS SEJAHTERA, KOTA BOGOR, JAWA BARAT ANALISIS STRATEGI BISNIS DI PERUSAHAAN INKOPAS SEJAHTERA, KOTA BOGOR, JAWA BARAT SKRIPSI OTO DJUARSA H 34076117 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Pendapatan Domestik Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Triwulan I Tahun (triliun rupiah)

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Pendapatan Domestik Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Triwulan I Tahun (triliun rupiah) I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki banyak peran dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut antara lain adalah pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), sumber

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian...

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian... DAFTAR ISI RIWAYAT HIDUP... i ABSTRAK... ii ABSTRACT... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...

Lebih terperinci

ANALISIS BISNIS JAGUNG LOKAL MADURA DALAM PERSPEKTIF SISTEM AGRIBISNIS

ANALISIS BISNIS JAGUNG LOKAL MADURA DALAM PERSPEKTIF SISTEM AGRIBISNIS ANALISIS BISNIS JAGUNG LOKAL MADURA DALAM PERSPEKTIF SISTEM AGRIBISNIS Purwati Ratna W. Fakultas, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menganalisis bisnis jagung lokal

Lebih terperinci

Perkembangan luas panen buah-buahan di Indonesia dalam. lain disebabkan terjadinya peremajaan tanaman tua yang tidak produktif

Perkembangan luas panen buah-buahan di Indonesia dalam. lain disebabkan terjadinya peremajaan tanaman tua yang tidak produktif A. LATAR BELAKANG Perkembangan luas panen buah-buahan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini cenderung mengalami penman, yang antara lain disebabkan terjadinya peremajaan tanaman tua yang tidak

Lebih terperinci

DAN PEMASARAN NENAS BOGOR BOGOR SNIS SKRIPSI H

DAN PEMASARAN NENAS BOGOR BOGOR SNIS SKRIPSI H ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN PEMASARAN NENAS BOGOR Di Desa Sukaluyu, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor SKRIPSI ERIK LAKSAMANA SIREGAR H 34076059 DEPARTEMEN AGRIBIS SNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

Lebih terperinci

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA INDUSTRI KECIL OLAHAN CARICA

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA INDUSTRI KECIL OLAHAN CARICA ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA INDUSTRI KECIL OLAHAN CARICA (Studi Kasus pada Industri Kecil Olahan Carica di Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo) SKRIPSI SHINTA KARTIKA DEWI H34050442 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU (Studi Kasus Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor) ALFIAN NUR AMRI

ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU (Studi Kasus Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor) ALFIAN NUR AMRI ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU (Studi Kasus Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor) ALFIAN NUR AMRI DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI

Lebih terperinci

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur Krisna Setiawan* Haryati M. Sengadji* Program Studi Manajemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN PEMASARAN TALAS DI KELURAHAN SITUGEDE, KECAMATAN BOGOR BARAT, KOTA BOGOR

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN PEMASARAN TALAS DI KELURAHAN SITUGEDE, KECAMATAN BOGOR BARAT, KOTA BOGOR ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN PEMASARAN TALAS DI KELURAHAN SITUGEDE, KECAMATAN BOGOR BARAT, KOTA BOGOR SKRIPSI HOTNAULI BR SILALAHI H341066061 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR (Kasus : Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup) Oleh: MERIKA SONDANG SINAGA A14304029 PROGRAM

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PRODUKSI KAIN TENUN SUTERA PADA CV BATU GEDE DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOGOR

OPTIMALISASI PRODUKSI KAIN TENUN SUTERA PADA CV BATU GEDE DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOGOR OPTIMALISASI PRODUKSI KAIN TENUN SUTERA PADA CV BATU GEDE DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOGOR SKRIPSI MAULANA YUSUP H34066080 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma baru pembangunan pertanian adalah adanya perubahan dari orientasi produksi kearah orientasi bisnis untuk peningkatan nilai tambah. Paradigma baru tersebut mengarahkan

Lebih terperinci

ANALISIS BOGOR SISTEM SNIS SIHOMBING

ANALISIS BOGOR SISTEM SNIS SIHOMBING ANALISIS SISTEM TATANIAGA NENAS BOGOR (Studi kasus: di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor) Skripsi AGUS SUTRISNO SIHOMBING H34076011 DEPARTEMEN AGRIBIS SNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki berbagai macam potensi sumber daya alam yang melimpah serta didukung dengan kondisi lingkungan, iklim, dan cuaca yang

Lebih terperinci

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM ( Studi Kasus : Perusahaan Deddy Fish Farm) BELUM PERNAH

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING KOMODITAS DAGING AYAM RAS INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL. Oleh : IRMA KURNIASARI A

ANALISIS DAYASAING KOMODITAS DAGING AYAM RAS INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL. Oleh : IRMA KURNIASARI A ANALISIS DAYASAING KOMODITAS DAGING AYAM RAS INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Oleh : IRMA KURNIASARI A 14105674 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini BAB VII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini diperoleh beberapa simpulan, implikasi kebijakan dan saran-saran seperti berikut. 7.1 Simpulan 1. Dari

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.a. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata/signifikan terhadap produksi usahatani jagung

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) SKRIPSI

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) SKRIPSI ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) SKRIPSI Oleh : AYUNDA PRATIWI 090304107 AGRIBISNIS PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

Lebih terperinci