PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO DENGAN MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA (Theobroma cacao L.) SUPIRMAN NIM

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO DENGAN MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA (Theobroma cacao L.) SUPIRMAN NIM"

Transkripsi

1 1 PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO DENGAN MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA (Theobroma cacao L.) Oleh SUPIRMAN NIM PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA 2011

2 2 PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO DENGAN MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA (Theobroma cacao L.) Oleh SUPIRMAN NIM Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SAMARINDA 2011

3 3 HALAMAN PENGESAHAN Judul Karya Ilmiah : PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO DENGAN MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA (Theobroma cacao L.) Nama : Supirman NIM : Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Manajemen Pertanian Dosen Pembimbing, Dosen Penguji, Jamaluddin, SP, MSi NIP Sri Ngapiyatun, SP, MP NIP Menyetujui Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Mengesahkan Ketua Jurusan Manajemen pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Ir. Syarifuddin, MP NIP Ir. Hasanudin, MP NIP Lulus Ujian padatanggal 3Agustus 2011

4 4 ABSTRAK SUPIRMAN, Pertumbuhan bibit kakao dengan media tumbuh yang berbeda (Theobroma cacao L.) Dibawah bimbingan Jamaluddin. Penelitian ini dilaksanakan di samping ruang kuliah, PS. Budidaya Tanaman Perkebunan Politani selama 3 bulan, mulai dari 20 Februari sampai 15 Mei Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi media tumbuh yang baik terhadap pertumbuhan diameter batang, tinggi tanaman dan jumlah daun (Theobroma cacao L.). Penelitian ini menggunakan perhitungan rataan sederhana yang terdiri dari 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan terdiri dari 10 kali ulangan, perlakuan terdiri dari (P1) 55% Pasir, 5% Tanah liat dan 40% Humus. (P2) 50% Pasir, 10% Tanah liat dan 40% Humus, (P3) 45% Pasir, 15% Tanah liat dan 40% Humus dan (P4) 40% Pasir, 20% Tanah liat dan 40% Humus. Hasil penelitian ini bahwa parameter yang diamati: P2 menunjukkan pertambahan yang lebih baik dengan rata-rata pertambahan diameter batang 3,33 (mm) dan tinggi 7,90 (cm), sedangkan pertambahan diameter dan tinggi bibit kakao yang terendah ditunjukkan pada P4 dengan rata-rata pertambahan diameter batang 2,75 (mm) dan tinggi 6,40 (cm). Untuk P3 dengan rata-rata pertambahan diameter batang bibit kakao 2.76 (mm) dan tinggi 6,86 (cm). Dan untuk P1 dengan rata-rata pertambahan diameter batang bibit kakao 3,00 (mm) dan 6,91 (cm). Dan hasil pengamatan jumlah daun P1 menunjukkan pertambahan yang lebih baik dengan rata-rata pertambahan daun 8,21 (helai), Sedangkan pertambahan daun bibit kakao yang terendah di tunjukkan pada P4 dengan ratarata pertambahan jumlah daun 6,83 (helai). Untuk P3 denga hasil pertambahan jumlah daun 7,83 (helai). Dan untuk P2 dengan rata-rata pertambahan jumlah daun 8,05 (helai).

5 5 RIWAYAT HIDUP SUPIRMAN lahir pada tanggal 12 Desember 1989 di Sei. Nyamuk Sebatik Kecamatan Sebatik Induk Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur. Merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Mabbiritta dan Ibu Norma. Memulai pendidikan formal di Madrasah Ibtidayah Asadiah Sungai nyamuk (MIAS) di Sebatik Induk 1996 dan lulus pada tahun 2002, kemudian melanjutkan Madrasah Tasnawiyah Sebatik (MTS) di Sebatik Induk dan memperoleh ijazah pada tahun Melanjukkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Sebatik induk dan lulus pada tahun 2008, dan pada tahun yang sama melanjukan ke Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. Pada tanggal 02 Maret sampai tanggal 01 Mei 2011 mengikuti Praktek Kerja Lapang (PKL) yang dilaksanakan di Dinas Perkebunan Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

6 6 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulisan karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Karya Ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di samping Ruang Kuliah, Ps. Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Studi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. Dalam kesempatan ini penulis ucapkan banyak terimah kasih atas peran dan bantuan yang telah diberikan kepada : 1. Kedua orang tua tercinta yang telah banyak memberikan motifasi baik secara moril maupun materil dan do a kepada penulis selama ini. 2. Bapak Ir. Hasanudin, MP, selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian. 3. Bapak Ir. Syarifuddin, MP, selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. 4. Bapak Jamaluddin, SP, MSi, selaku dosen pembimbing Karya Ilmiah yang telah membimbing dan mengarahkan penulis 5. Ibu Sri Ngapiyatun, SP, MP, selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis 6. Seluruh Staf Dosen dan Teknisi Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan yang telah banyak memberikan masukan dan motifasi baik itu dalam proses belajar mengajar maupun diluar jam perkuliahan. Penulis menyadari sepenuhya bahwah Karya Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu penulis berharap semoga apa yang terdapat dalam penulisan Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat. Kampus Sei Keledang, 2011 Penulis

7 7 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i iv v vii vii ix I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 2 C. Hasil Yang Diharapkan... 2 II. TINJAUN PUSTAKA... 3 A. Media Tumbuh Bibit Kakao Pasir Tanah Liat Humus... 5 B. Tanaman Kakao Syarat Tumbuh Tanaman Kakao Pembibit Tanaman Kakao Teknik Pemeliharaan Bibit Kakao III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu B. Alat dan Bahan C. Prosedur Penelitian Persiapan bibit Perlakuan Penanaman bibit kakao Pemeliharaan D. Pengamatan dan Pengambilan Data Diameter batang Tinggi tanaman Jumlah daun E. Analisis Data... 16

8 8 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Diameter Batang Tinggi bibit kakao Jumlah daun B. Pembahasan V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 26

9 9 DAFTAR LAMPIRAN No. Lanjutan dari Tubuh Utama Halaman 1. Tabel 1 pertambahan diameter batang bibit kakao Tabel 2 pertambahan tinggi bibit kakao Tabel 3 pertambahan jumlah daun bibit kakao Lampiran 4. Dokumentasi kegiatan penelitian a. Penimbangan media tanam b. Pencampuran media tanam c. Penimbangan media tanam perpolibag d. Penanaman bibit kakao e. Pengukuran diameter batang (mm) dengan menggunakan mikrokalifer f. Pengukuran tinggi tanaman (cm) g. Media pasir h. Media tanah liat i. Media humus... 35

10 10 DAFTAR TABEL No. Tubuh Utama Halaman 1. Rata-rata pertambahan diameter batang pada bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minngu ke Rata-rata pertambahan tinggi pada bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minngu ke Rata-rata pertambahan jumlah daun pada bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minngu ke DAFTAR GAMBAR No. Tubuh Utama Halaman 1. Diagram rata-rata pertambahan diameter batang (mm) bibit kakao Diagram rata-rata pertambahan tinggi (cm) bibit kakao Diagram rata-rata pertambahan jumlah daun (helai) bibit kakao... 21

11 11 I. PENDAHULUAN Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi perkebunan. Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di amerika selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah dan tumbuh terlindung oleh pohonpohon besar. Oleh karena itu dalam budiday tanaman kakao memerlukan naungan, sebagai daerah tropis yang terletak antara 6 LU 11 LS merupakan merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuaian lahan dengan kondisi tanah kakao dan pengembangan tanaman kakao (Anonim, 2011). Mutu biji sangat dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya tingkat produsen, jenis kakao, keadaan tanah, tinggi tempat, suhu, kelembaban udara dan curah hujan. Namun yang paling menentukan adalah proses permentasi biji kakao sebab kegagalan pada proses permentasi tidak dapat di perbaiki pada proses selanjutnya dan sebagai tanaman yang berumur panjang dan inang dari berbagai macam penyakit maka di anjurkan untuk menggunakan bahan tanaaman unggul yang berproduksi yang tinggi dan tahan terhadap hama-penyakit (Anonim, 2011). Tanah terdapat dimana-mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah berbeda-beda. Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuh tanaman. Tanah berasal dan hasil batuan bercampur dengan sisa-sisa

12 12 bahan organik dan organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau didalamnya. selain itu didalam tanah terdapat pula udara dan air. Di samping didalam tanah terdapat pula udara dan air (Hardjowigeno, 2007). Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi media tumbuh yang baik terhadap pertumbuhan bibit kakao. Hasil yang telah dicapai adalah dengan komposisi media tumbuh yang berbeda 50% pasir, 10% tanah liat dan 40% humus, memberikan pertumbuhan yang lebih baik terhadap pertumbuhan bibit kakao di persemaian. Dan memberikan gambaran yang baik dan informasi kepada peneliti tentang media tumbuh yang baik untuk bibit kakao.

13 13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media Tumbuh Bibit Kakao 1. Pasir Pasir sering kali digunakan sebagai media tanam alternative untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih dan pertumbuhan bibit tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan pengangkatan bibit tanaman kelapangan. Selain itu keunggulan media pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam (Anonim, 2011). Pasir dapat dipilih sebagai media tanam karena mempunyai pori-pori yang lebih banyak, dimana pori-pori tersebut sangat baik untuk aerasi dan draenase serta mempermudah akar menyerap unsur hara. Pori pori pasir yang lebih banyak dibandingkan tanah liat mudah menjadi basah dan cepat pula kering karena proses penguapan dan konsisten (ketahanan partikel terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air dan angin oleh karena itu penggunaan pasir sebagai media tanam jauh lebih baik bila dikombinasikan dengan bahan lain ( Dina, 1994 ). 2. Tanah liat Tanah liat banyak mengandung liat, disebut tanah liat. kandungan liatnya kurang lebih 65%, butiran-butirannya jauh lebih halus, karena halusnya maka susunan butiran-butirannya rapat benar. Air dan udara sukar

14 14 masuk didalamnya, sifat ini di sebut (tidak mampung) artinya sukar nerembeskan air, udara dan air yang telah masuk sukar keluar, maka tanah liat itu sering menjadi asam (Anonim, 1973). a. Sifat-sifat tanah liat Waktu hujan, air masuk kedalam tanah, makan waktu agak lama, bila sudah bash tanah ini becek, melekat pada tangan dan alat-alat, tanah liat sukar dikerjakan, maka disebut tanah berat. Pada musim kemarau tanah liat menjadi keras sekali retak-retak dan mengumpal sukar di hancurkan, yang dapat hancur menjadi debu yang lebih halus dari pada tepung, bila ada angin mudah dibawah terbang. Walaupun demikian, tanah liat itu sesungguhnya mengandung zat makanan, seperti zat kali dan phosphor (Anonim, 1973). Tanah liat dapat disimpulkan: 1). Berat dikerjakan 2). Peredaran air dan udara kurang baik 3). Kalau kering retak-retak dan kalau tergenang air becek Umumnya tanah semacam ini kurang baik untuk usaha pertanian, karena akar tumbuh-tumbuhan sukar menembusnya, apabila akar itu menembus mudah menjadi busuk karena kekurangan udara. Namun demikian tanah liat dapat diperbaiki dengan diberi pasir, kapur dan pupuk-pupuk organik lainnya (Anonim, 1973).

15 15 Pada dasarnya tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan bahan-bahan lain yang kaya unsur hara seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan media penyemaian (Anonim, 2011) 3. Humus Humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat. Humus dikenal sebagai sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang mengalami perombakan oleh organisme dalam tanah, berada dalam keadaan stabil, berwarna coklat kehitaman. Secara kimia humus didefinisikan sebagai satu kompleks organik makromolekular yang mengandung banyak kandungan fenol, asam, karboksilat, dan alifatik hidroksida (Anonim, 2010). a. Ciri-ciri humus Kita dapat mengenali humus dari ciri fisiknya yang terlihat. Lapisan tanah yang berwarna gelap biasanya merupakan humus. Humus memiliki daya serap yang tinggi sehingga sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, humus memiliki kemampuan meningkatkan unsur hara, seperti Ca, Mg, dan K. Warna gelap pada humus merupakan tanda bahwa humus merupakan sumber energi jasad mikro (Anonim, 2010). b. Manfaat humus Tanah yang subur biasanya memiliki komposisi humus yang banyak. Tentu saja hal itu sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Hal itu karena humus merupakan sumber makanan yang berperan pada

16 16 pembentukan tanaman. Selain itu, humus berfungsi menjaga struktur tanah. Humus berperan dalam pengikatan toksik dalam tanah dan air. Kapasitas kandungan air tanah pun dapat ditingkatkan berkat adanya humus. Si tanah hitam ini juga dapat mencegah penggerusan tanah, menaikkan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Oleh karena itu, humus bisa dijadikan pengganti pupuk sintesis (Anonim, 2010). B. Tanaman Kakao 1. Syarat tumbuh tanaman kakao. Tanaman kakao dapat tumbuh subur dan berbuah banyak juga pada ketinggian m dpl. Tanaman kakao tidak tahan terhadap cendawan air pada musim hujan dan juga kekeringan pada musim kemarau, sifat tanah yang baik untuk tanaman kakao yaitu memiliki unsur hara yang tinggi dan memiliki ph tanah optimum 6,0 7,5 mengandung cukup udara dan air (Susanto, 1994). a. Tanah Tanaman kakao dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asal persyaratan fisik dan kimia tanah yang berperan terhadap pertumbuhan dan produksi kakao terpenuhi. Kemasaman tanah (ph), kadar zat organik, unsur hara, kapasitas absorbsi, dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu diperhatikan, sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi permukaan air tanah, drainase, struktur, dan konsistensi tanah. Selain

17 17 itu kemiringan lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Anonim, 2010). 1). Sifat Kimia Tanah Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada tanaman yang memiliki ph 6-7,5; tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; paling tidak pada kedalaman 1 meter. Hal ini disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada ph tinggi dan efek racun dari Al, Mn, dan Fe pada ph rendah (Anonim, 2010). Disamping faktor keasaman, sifat kimia tanah yang juga turut berperan adalah kadar zat organik. Kadar zat organik yang tinggi akan meningkatkan laju pertumbuhan pada masa sebelum panen. Untuk itu zat organik pada lapisan tanah setebal 0-15 cm sebaiknya lebih dari 3 persen. Kadar tersebut setara dengan 1,75 persen unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air serta struktur tanah yang gembur (Anonim, 2010). Usaha meningkatkan kadar organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan serasah sisa pemangkasan maupun pembenaman kulit buah kakao. Sebanyak kg per ha per tahun daun gliricida yang jatuh memberikan hara nitrogen sebesar 40,8 kg per ha, fosfor 1,6 kg per ha, kalium 25 kg per ha, dan magnesium 9,1 kg per ha. Kulit buah kakao sebagai zat organik sebanyak 900 kg per ha memberikan hara yang setara dengan 29 kg urea, 9 kg RP, 56,6 kg MoP, dan 8 kg kieserit. Sebaiknya tanah-tanah yang hendak ditanami kakao paling tidak juga mengandung

18 18 kalsium lebih besar dari 8 Me per 100 gram contoh tanah dan kalium sebesar 0,24 Me per 100 gram, pada kedalaman 0-15 cm (Anonim, 2010). 2). Sifat fisik tanah Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao adalah lempung liat berpasir dengan komposisi % fraksi liat, 50% pasir, dan % debu. Susunan demikian akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur tanah yang remah dengan agregat yang mantap menciptakan gerakan air dan udara di dalam tanah sehingga menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol dengan fraksi liat yang tinggi ternyata sangat kurang menguntungkan tanaman kakao, sedangkan tanah regosol dengan tekstur lempung berliat walaupun mengandung kerikil masih baik bagi tanaman kakao (Anonim, 2010). Tanaman kakao menginginkan solum tanah menimal 90 cm. Walaupun ketebalan solum tidak selalu mendukung pertumbuhan, tetapi solum tanah setebal itu dapat dijadikan pedoman umum untuk mendukung pertumbuhan kakao (Anonim, 2010). Kedalaman efektif terutama ditentukan oleh sifat tanah, apakah mampu menciptakan kondisi yang menjadikan akar bebas untuk berkembang. Karena itu, kedalaman efektif berkaitan dengan air tanah yang mempengaruhi aerasi dalam rangka pertumbuhan dan serapan hara. Untuk itu kedalaman air tanah disyaratkan minimal 3 meter (Anonim, 2010).

19 19 b. Iklim Sinar matahari merupakan sumber energi tanaman dalam proses fotosintesis, namun keperluan sinar matahari tergantung pada besar kecilnya tanaman. Sedangkan tanaman muda baru memerlukan penyinaran matahari sekitar 25% - 30% dari sinar matahari penuh Daerah produsen kakao umumnya memiliki curah hujan berkisar antara 1250 mm 3000 mm tiap tahunnya. Suhu maksimum untuk kakao sekitar 30 C - 32 C. Sedangkan suhu minimum sekitar 18 C - 21 C dengan kelembaban udara relatif maksimum 100%. Pada malam hari 70% - 80% pada siang hari kelembaban yang rendah akan mempengaruhi evapotranspirasi menjadi lebih cepat, sedangkan kelembaban yang tinggi mengundang perkembangan cendawan patogen (Siregar et. al 2008). 2. Pembibitan tanaman kakao a. Cara pengambilan biji atau benih kakao Buah kakao yang sudah tua dibuka dengan pisau atau dipukul dengan alat pemukul sampai terbelah. Dapat pula dengan memotong buah secara membujur. Pemotongan dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak benih. Kemudian benih dikeluarkan atau diambil. Untuk mendapatkan benih yang baik hanya diambil biij-bijinya yang ada pada bagian poros atau tengah-tengah buah (Anonim, 1959 ). b. Seleksi benih kakao Dari satu buah kakao pada umumnya hanya diambil butir biji, dan dipilh biji-biji yang sehat. Biji yang terpilih kemudian dibersihkan

20 20 lendirnya (pulp) dengan cara meremas-remas biji dengan serbuk gergaji. Kemudian biji tersebut dicuci dengan air dan selanjutnya diremas-remas lagi dengan abu dapur yang telah diayak. Dapat pula dicuci dengan fungsida seperti Ziram. Setelah biji-biji tersebut dibersihkan lendirnya, selanjutnya dikeringkan pada panas matahari dengan cara dihamparkan. Biji yang sudah kering berarti sudah siap untuk disalurkan atau disemaikan (Susanto, 1994). c. Pembuatan media pembibitan Media pembibitan disiapkan bersama dengan penyemaian benih. Tempat pembibitan menggunakan kantong plastik (polybag) yang berukuran 20 x 30 cm, tebal 0,08 mm dan pada bagian bawah diberi lubang secukupnya untuk pembuangan air. Polybag-polybag yang sudah berisi media tanam, Kemudian diatur penempatannya pada lokasi pembibitan. Jarak antar polibag yang satu dengan yang lainnya adalah 60 cm dengan pola segitiga sama sisi. Agar polybag tidak bergerak-gerak, perlu dibuat alur sedalam 5 cm untuk meletakkan polybag-polybag, atau di kanan dan kiri polibag ditimbun tanah secukupnya (Susanto, 1994). d. Pemeliharaan bibit Kecambah yang baru ditanam pada polibag pembibitan tidak boleh mengalami kekeringan, Oleh karena itu harus dilakukan penyiraman 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, kecuali jika turun hujan. Agar air siraman atau air hujan itu tidak menggenang pada pemukaan media, maka

21 21 permukaan media perlu dibuat lubang-lubang dengan kayu berdiameter 0,5 cm, agar drainase media pembibitan tetap baik (Susanto, 1994). 3. Teknik pemeliharaan bibit kakao Kecambah yang telah tumbuh menjadi bibit selama pertumbuhannya sampai dipindahkan ke kebun harus dipelihara dengan baik. pekerjaan pemeliharaan bibit yang harus di lakukan adalah sebagai berikut: a. Penyiraman Benih atau kecambah yang telah di tanam apabila kekeringan akan sulit tumbuh. Demikian pula, benih yang tumbuh (bibit) apabila kekeringan air akan mengakibatkan pertumbuhannya terhambat. Untuk mencegah pertumbuhan benih ataupun bibit, penyiraman bibit dilakukan setiap pagi atau sore hari secara teratur. Cara penyiraman dapat menggunakan gembor yang berlubang cukup luas (Cahyono, 2010). b. Pemupukan Selain pupuk kandang atau fosfat alam yang telah diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah, perluh ditambahkan pula pupuk kimia NPK untuk meningkatkan pertumbuhan bibit. Pemupukan dilakukan setelah bibit berumur satu bulan, pemupukan dilakukan dua kali perbulan dengan dosis 2 gram/tanaman (Cahyono, 2010). c. Pengendalian hama penyakit Kemungkinan ada serangan hama dan penyakit terhadap bibit kakao di pembibitan sangat besar. Oleh karena itu, perlu pengamatan

22 22 yang cermat terhadap setiap individu tanaman agar gangguan hama dan penyakit segera diketahui dan di berantas. Pencegahan dan pengendalian serangan hama dan penyakit dapat di lakukan dengan penyemprotan obat-obatan kimia (pestisida) yang sesuai dengan penyebabnya. Untuk mengendalikan penyakit dari golongan cendawan menggunakan fungsida. Sedangkan untuk pengendalian hama kutu menggunakan insektisida seperti Azodrin 15 WSC, Tamaron, atau Sevine 85 S. Dosis dan cara memekai obat-obatan tersebut dapat dilihat pada label yang terdapat pada kemasan masingmasing obat (Cahyono, 2010).

23 23 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di samping ruang kuliah, PS. Budidaya Tanaman Perkebunan Politani selama 3 bulan, mulai dari 20 Februari 2011 sampai 15 Mei B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1. Polybag dengan kapasitas 3 kg ukuran 20x30, ketebalan 0, Cangkul 3. Parang 4. Timbangan 5. Alat tulis 6. Mikrokalifer digital 7. Penggaris Dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : 1. Bibit kakao forestero 2. Pasir 3. Tanah 4. Humus

24 24 C. Prosedur Penelitian 1. Persiapan bibit Bibit yang digunakan dalam penelitian ini bibit tanaman kakao dari perbanyakan generatif yang berumur 3 bulan setelah semai dan dari jenis forestero yang diperoleh dari petani kakao didaerah Bengkuring Kecamatan Sempaja, Kabupaten Samarinda. 2. Perlakuan Penelitian ini disusun dalam 4 perlakuan dimana tiap perlakuan terdiri 10 ulangan jadi jumlah Bibit yang di rawat adalah 40 tanaman. Perlakuan dalam penelitian ini adalah. P1 = 55% Pasir, 5% Tanah liat dan 40% Humus. P2 = 50% Pasir, 10% Tanah liat dan 40% Humus. P3 = 45% Pasir, 15% Tanah liat dan 40% Humus. P4 = 40% Pasir, 20% Tanah liat dan 40% Humus. 3. Penanaman bibit kakao Masing masing polybag yang telah diisi campuran pasir, tanah dan humus akan ditanami 1 bibit kakao kemudian disusun di lapangan. Untuk menghindari terjadinya bias pada perlakuan, maka dilakukan pengukuran pendahuluan untuk mengetahui data awal tanaman sebelum dilakukan pengamatan selanjutnya.

25 25 4. Pemeliharaan a. Penyiraman Penyiraman dilakukan 2 kali sehari sampai umur bibit dua bulan menurut keadaan cuaca. Sselanjut dilakukan sekali sehari sampai umur 6 bulan. Penyiraman dilakukan dengan air yang bersih dan menggunakan gembor atau sprayer dan jangan terlalu banyak. Ada pula yang melakukan penyiraman 2 kali sehari pada pagi hari sekitar jam 7.00 dan jam 11.00, bila tidak selesai diteruskan pada jam atau jam Penyiraman yang terlalu lembab dapat mengundang penyakit Phytophthora dan VSD (Vascular Streak Diebaek) (Susanto, 1994). b. Penyiangan Tempat pembibitan harus dijaga kebersihannya dari gulma, sebab serangga yang makan rumput dapat pula menyerang bibit kakao, misalnya jangkrik, Apogonia, belalang, ulat dan lain- lain. Rumputrumput yang dihilang kan tadak hanya dalam polybag tetapi juga yang ada disekitar polybag (Susanto, 1994). c. Pengendalian hama dan penyakit Hama dan peyakit yang sering menyerang pembibitan adalah ulat kantong, ulat jengkal, kutu putih dan pengerek Zeuzera sp. Sedangkan penyakit yang sering menyerang pembibitan adalah VSD, Phytophthora palmivora, Colletotrichum Gloesporioides, dan Corticium salmonicolor (Susanto, 1994).

26 26 D. Pengamatan dan Pengambilan Data Pengamatan pertumbuhan Bibit dilakukan setiap 1 minggu sekali setelah penanaman bibit. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah : 1. Diameter batang Diameter batang diukur menggunakan mikrokalifer digital. Diameter yang diamati pada batang 1 cm dari permukaan tanah 2. Tinggi tanaman Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang 1 cm dari permukaan tanah sampai pada titik tumbuh ujung tunas tertinggi dengan menggunakan penggaris. 3. Jumlah daun Jumlah daun yang diamati adalah pertambahan dari daun tanaman yang telah membuka sempurna E. Analisis Data Pengolahan data menggunakan rataan sederhana untuk mengatahui ratarata parameter yang di amati dari penelitian, (Nugroho dan Harahap, 2001). _ x =? x n _ x = Rata-rata hitung n x? = Banyaknya data = Variasi yang diteliti = Jumlah

27 27 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Diameter batang (mm) Berdasarkan hasil pengamatan pertambahan Diameter Batang bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minggu ke-12 di peroleh hasil sebagai berikut: Tabel 1. Rata-Rata pertambahan diameter batang pada bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minggu ke-12 Rata-Rata Diameter Batang (mm) Perlakuan Minggu Ke- I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII Pertambahan P1 0,12 0,59 1,19 1,76 2, ,29 3,74 4,29 4,86 5,43 6,02 3,00 P2 0,27 0,77 1,20 1,88 2,41 2,94 3,51 4,11 4,71 5,48 6,06 6,58 3,33 P3 0,22 0,62 1,03 1,51 2,01 2,47 2,95 3,43 3,97 4,49 4,98 5,46 2,76 P4 0,15 0,56 1,05 1,47 1,91 2,41 2,93 3,44 4,03 4,55 5,01 5,54 2,75 Pada tabel 1 menunjukkan P2 dengan komposisi media tumbuh, 50% pasir, 10% tanah liat, dan 40%, humus, mempunyai rata-rata pertambahan diameter batang 3,33 mm. Sedangkan diameter batang bibit kakao yang terendah di tunjukkan pada P4 dengan komposisi media tumbuh, 40% pasir, 20% tanah liat dan 40% humus, dengan rata-rata pertambahan diameter batang bibit kakao 2,75 mm. Untuk P1 dengan komposisi media tumbuh, 55% pasir, 5% tanah liat, dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan diameter batang bibit kakao 3,00 mm. Dan untuk P3 dengan komposisi

28 28 media tumbuh, 45% pasir, 15% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil pertambahan diameter batang bibit kakao 2.76 mm. Perbedaan pertambahan diameter batang dari masing perlakuan dapat terlihat jelas seperti diagram berikut: Gambar 1. Diagram rata-rata pertambahan diameter batang (mm) bibit kakao. 2. Tinggi bibit kakao Berdasarkan hasil pengamatan pertambahan tinggi bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minggu ke-12 di peroleh hasil sebagai berikut: Tabel 2. Rata-Rata pertambahan tinggi pada bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minggu ke-12. Tinggi Tanaman (cm) Perlakuan Minggu Ke- Pertambahan I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII P1 0,61 1,96 3,24 4,39 5,49 6,47 7,49 8,47 9,47 10,41 11,71 13,23 6,91 P2 0,66 2,09 3,48 4,86 6,21 7,46 8,63 9,97 11,26 12,25 13,28 14,69 7,90 P3 0,61 1,65 2,58 3,63 4,87 5,35 7,37 8,64 10,01 11,34 12,4 13,92 6,86 P4 0,67 1,79 2,75 3,78 4,8 5,92 7,1 8,14 9,03 9,8 10,82 12,25 6,40

29 29 Pada tabel 2 menunjukkan P2 dengan komposisi media tumbuh, 50% pasir, 10% tanah liat, dan 40%, humus, mempunyai rata-rata pertambahan tinggi bibit kakao 7,90 cm. Sedangkan tinggi bibit kakao yang terendah di tunjukkan pada P4 dengan komposisi media tumbuh, 40% pasir, 20% tanah liat dan 40% humus, dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit kakao 6,60 mm. Untuk P1 dengan komposisi media tumbuh, 55% pasir, 5% tanah liat, dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan tinggi bibit kakao 6,91 mm. Dan untuk P3 dengan komposisi media tumbuh, 45% pasir, 15% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil pertambahan tinggi bibit kakao 6,86 mm. Perbedaan pertambahan tinggi bibit kakao dari masing perlakuan dapat terlihat jelas seperti diagram berikut: Gambar 1. Diagram rata-rata pertambahan tinggi (cm) bibit kakao.

30 30 3. Jumlah daun (helai) Berdasarkan hasil pengamatan pertambahan jumlah daun bibit kakao forester pada minggu ke-1 sampai minggu ke-12 di peroleh hasil sebagai berikut: Tabel 3. Rata-Rata pertambahan jumlah daun pada bibit kakao forestero pada minggu ke-1 sampai minggu ke-12. Jumlah daun (helai) Perlakuan Minggu Ke- I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII Pertambahan P1 1,2 1,9 3,7 5,1 6,2 7,9 8,8 10,3 11,6 12,9 13,7 15,2 8,21 P2 1,4 2,3 3,7 5,2 6,5 7,2 8,9 9,9 11,4 12,2 13,4 14,5 8,05 P3 1,2 2,4 3,8 4,7 6,1 7,6 8,6 9,8 10,6 11, ,5 7,83 P4 1,2 2,2 2,9 4,1 5,1 6,5 7,4 8,7 9,6 10,3 11,4 12,6 6,83 Pada tabel 2 menunjukkan P1 dengan komposisi media tumbuh, 55% pasir, 15% tanah liat, dan 40%, humus, mempunyai rata-rata pertambahan jumlah daun bibit kakao 8,21 helai. Sedangkan jumlah daun bibit kakao yang terendah di tunjukkan pada P3 dengan komposisi media tumbuh, 45% pasir, 15% tanah liat dan 40% humus, dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit kakao 6,83 helai. Untuk P2 dengan komposisi media tumbuh, 50% pasir, 10% tanah liat, dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan jumlah daun bibit kakao 8,05. Dan untuk P4 dengan komposisi media tumbuh, 40% pasir, 20% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil pertambahan jumlah daun bibit kakao 7,83 helai.

31 31 Perbedaan pertambahan diameter batang dari masing-masing perlakuan dapat terlihat jelas seperti diagram berikut: Gambar 1. Diagram rata-rata pertambahan jumlah daun (helai) bibit kakao. B. Pembahasan Dari hasil pengamatan dengan komposisi media tumbuh yang berbeda, terhadap pertambahan diameter batang (mm), tinggi bibit (cm) dan jumlah daun (helai) bibit kakao (Theobroma cacao L). Menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan bibit kakao forastero di polybag menunjukkan perbedaan dalam hal pertumbuhan dari masing-masing perlakuan. Dari hasil pengamatan diameter batang dan tinggi P2 menunjukkan pertambahan yang lebih baik dengan komposisi media tumbuh, 50% pasir, 10% tanah liat, dan 40%, humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan diameter batang 3,33 mm dan tinggi 7,90 cm, lebih baik dari pada perlakuan lainnya, hal tersebut diduga karena Pasir, tanah liat dan humus yang menjadi

32 32 media tanam bibit kakao cukup baik komposisi perbandingannya dari pada perbandingan perlakuan lainnya. Menurut Dina (1994) pasir dapat dipilih sebagai media tanam karena mempunyai pori-pori yang lebih banyak, dimana pori-pori tersebut sangat baik untuk aerasi dan draenase serta mempermudah akar menyerap unsur hara. mudah menjadi basah dan cepat pula kering karena proses penguapan dan konsistensi (ketahanan partikel terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air dan angin oleh karena itu penggunaan pasir sebagai media tanam jauh lebih baik bila dikombinasikan dengan bahan lain. Menurut Anonim (2011) pada dasarnya tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan bahan-bahan lain yang kaya unsur hara seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan media penyemaian. Sedangkan pertambahan diameter dan tinggi bibit kakao yang terendah ditunjukkan pada P4 dengan komposisi media tumbuh, 40% pasir, 20% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan diameter batang 2,75 mm dan tinggi 6,40 cm. Untuk P3 dengan komposisi media tumbuh, 45% pasir, 15% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil pertambahan diameter batang bibit kakao 2.76 mm dan tinggi 6,86 cm. Dan untuk P1 dengan komposisi media tumbuh, 55% pasir, 5% tanah liat, dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan diameter batang bibit kakao 3,00 mm dan 6,91 cm. Hal ini diduga karena perbandingan komposisi media tanam yang diberikan masing-masing perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata dilihat dari hasil pengamatan diameter dan tinggi pada bibit

33 33 kakao. Dari hasil pengamatan jumlah daun P1 menunjukkan pertambahan yang lebih baik dengan komposisi media tumbuh, 55% pasir, 5% tanah liat, dan 40%, humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan daun 8,21 (helai), lebih baik dari pada perlakuan lainnya, hal tersebut diduga karena P1 lebih banyak mendapatkan sinar matahari pagi sehingga dapat memicu pertambahan jumlah daun yang maksimal. Sedangkan pertambahan jumlah daun bibit kakao yang terendah di tunjukkan pada P4 dengan komposisi media tumbuh, 40% pasir, 20% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan jumlah daun 6,83 (helai). Untuk P3 dengan komposisi media tumbuh, 45% pasir, 15% tanah liat dan 40% humus, menunjukkan hasil pertambahan jumlah daun 7,83 (helai). Dan untuk P2 dengan komposisi media tumbuh, 50% pasir, 10% tanah liat, dan 40% humus, menunjukkan hasil rata-rata pertambahan jumlah daun 8,05 (helai).

34 34 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Komposisi media yang baik untuk pertumbuhan bibit kakao adalah pada perlakuan P2 dilihat dari pertumbuhan diameter batang dan tinggi tanaman. 2. Dan untuk jumlah daun (helai) P1 menunjukkan hasil yang lebih baik dengan komposisi media 55% pasir, 5% tanah liat dan 40% humus, hal ini diduga karena faktor lingkungan dan terjadi gugur daun. 3. Adanya perbedaan nyata pertumbuhan bibit kakao dengan masing-masing perlakuaan. B. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil pengamatan ini adalah: 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan media yang sama pada tanaman yang berbeda. 2. Pada pembibitan kakao sebaiknya menggunakan media tumbuh dengan komposisi 50% pasir, 10% tanah liat, dan 40% humus.

35 35 DAFTAR PUSTAKA Anonim Anonim Anonim Pedoman Pelaksanaan proyek Peningkatan Produksi Perkebunan Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta Anonim Anonim Anonim Anonim Tanah dan Pertanian. Kanisius, Yogyakarta. Cahyono, B Buku terlengkap sukses bertanam coklat. Pustaka Mina, Kelompok Penerbit Papar Sinar Sinanti, Anggota Ikapi Jakarta. Dina Agoes S, Aneka Jenis Media Tanah dan Penggunaanya. PT. Pemberswadaya, Jakarta. Hardjowigeno, S Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta. Nugroho dan Harahap Stastik Teori dan Aplikasinya. Erlangga. Jakarta. Siregar T.H.S, S. Riyadi dan L. Nurani Budidaya Pengolahan dan Pemasaran Kakao dan Tuntunan Pratikum. Rineka Cipta. Jakarta. Susanto, FX Tanaman Kakao, Budidaya dan Pengolahan Hasil, Kanasius. Yogyakarta.

36 Lampiran 36

37 37 Lampiran 1. Tabel Pertambahan Diameter Batang Bibit Kakao. Minggu ke- Perlakuan P1 Ulangan ke Jumlah 1 0,47 0,12 0,1 0,28 0,03 0,12 0,07 0,05 0,07 0,05 1,24 0,12 2 0,87 0,36 1 0,59 0,61 0,33 1 0,39 0,36 0,34 5,85 0,59 3 1,15 0,57 2,78 1,1 1,45 0,6 1,21 0,82 1,07 1,06 11,9 1,19 4 1,99 0,88 3,2 1,63 2,44 1 1,83 1,37 1,58 1,64 17,56 1,76 5 2,14 1,28 3,62 2,05 2,96 1,16 1,29 2,04 2,01 2,12 20,67 2,07 6 3,36 1,47 4,1 2,76 3,3 1,55 2,47 2,52 2,6 2,7 26, ,11 2,96 4,69 3,08 3,99 1,97 2,78 3,01 3,12 3,19 32,9 3,29 8 4,48 3,47 5,01 3,55 4,38 2,59 3,17 3,59 3,36 3,8 37,4 3,74 9 4,9 4,34 5,54 4,03 4,83 2,92 3,68 4,08 4,34 4,21 42,87 4, ,14 4,74 5,94 4,48 5,44 3,3 4,15 4,75 5 4,62 48,56 4, ,06 5,22 6,21 5 5,79 3,98 4,83 5,41 5,6 5,23 54,33 5, ,66 5,89 6,88 5,53 6,27 4,66 5,23 6,02 6,26 5,81 60,21 6,02 Minggu ke- Perlakuan P2 Ulangan ke Jumlah Ratarata Ratarata 1 0,54 0,25 0,23 0,4 0,2 0,12 0,17 0,26 0,33 0,17 2,67 0,27 2 0,92 0,59 0,64 0,95 0,76 0,78 0,65 0,84 0,93 0,61 7,67 0,77 3 1,41 0,99 0,19 1,4 1,46 1,31 1,13 1,32 1,47 1,31 11,99 1,20 4 2,06 1,42 1,59 2,1 1,85 1,75 1,73 2,01 1,98 2,32 18,81 1,88 5 2,46 2,11 2,29 2,71 2,49 2,31 2,39 2,5 2,43 2,45 24,14 2,41 6 2,85 2,77 2,84 3,16 3,04 2,86 3 3,05 2,94 2,92 29,43 2,94 7 3,35 3,3 3,5 3,77 3,51 3,56 3,55 3,6 3,52 3,46 35,12 3,51 8 3,82 3,79 4,16 4,42 4,06 4,25 4,21 4,29 4,2 3,97 41,17 4,11 9 4,49 4,25 4,74 4,93 4,76 4,85 4,76 4,97 4,77 4,54 47,06 4, ,2 6,6 5,27 5,51 5,31 5,43 5,49 5,44 5,41 5,1 54,76 5, ,71 7,11 5,9 6,06 6,01 6,04 5,9 6,1 5,96 5,76 60,55 6, ,31 7,11 6,2 6,61 6,67 6,7 6,56 6,8 6,42 6,4 65,78 6,58

38 38 Lanjutan... Minggu ke- Perlakuan P3 Ulangan ke Jumlah 1 0,34 0,11 0,14 0,29 0,12 0,25 0,22 0,18 0,12 0,45 2,22 0,22 2 0,74 0,49 0,55 0,67 0,42 0,6 0,57 0,72 0,47 0,94 6,17 0,62 3 1,24 0,9 1,08 1,05 0,81 0,92 1,13 1,11 0,77 1,33 10,34 1,03 4 1,71 1,37 1,63 1,52 1,2 1,53 1,55 1,61 1,18 1,84 15,14 1,51 5 2,21 1,76 2,14 2,01 1,65 2,04 2,02 2,14 1,63 2,45 20,05 2,01 6 2,6 2,2 2,54 2,43 2,08 2,51 2,57 2,65 2,14 2,99 24,71 2,47 7 3,02 2,73 2,85 3,09 2,49 2,93 3,18 3,13 2,59 3,45 29,46 2,95 8 3,53 3,18 3,32 3,64 2,87 3,46 3,7 3,58 2,98 4,08 34,34 3, ,79 3,83 4,15 3,44 3,97 4,31 4 3,49 4,68 39,66 3, ,55 4,28 4,38 4,61 4,08 4,4 4,88 4,48 3,96 5,26 44,88 4, ,01 4,75 4,92 5 4,62 4,87 5,44 4,88 4,42 5,84 49,75 4, ,21 5,3 5,37 5,44 5,17 5,33 6,07 5,31 4,86 6,5 54,56 5,46 Minggu ke- Perlakuan P4 Ulangan ke Jumlah Ratarata Ratarata 1 0,12 0,17 0,13 0,15 0,15 0,12 0,08 0,2 0,2 0,2 1,52 0,15 2 0,65 0,6 0,52 0,71 0,54 0,45 0,55 0,63 0,52 0,41 5,58 0,56 3 1,4 1,06 0,91 1,19 1,2 0,75 0,98 1,03 1,06 0,9 10,48 1,05 4 1,59 1,6 1,45 1,72 1,54 1,1 1,52 1,46 1,55 1,21 14,74 1,47 5 1,96 2,04 1,9 2,15 2,13 1,57 2 1,84 2,14 1,41 19,14 1,91 6 2,44 2,64 2,33 2,54 2,76 1,92 2,43 2,45 2,69 1,87 24,07 2,41 7 3,05 3,18 2,87 3,09 3,23 2,32 2,97 2,92 3,19 2,43 29,25 2,93 8 3,54 3,66 3,23 3,8 3,73 2,7 3,58 3,34 3,88 2,92 34,38 3,44 9 4,07 4,81 3,9 4,46 4,29 3,06 4,07 3,83 4,38 3,43 40,3 4, ,54 5,09 4,52 5,01 4,89 3,53 4,67 4,3 4,92 3,99 45,46 4, ,05 5,32 4,93 5,62 5,4 3,97 5,23 4,75 5,45 4,37 50,09 5, ,59 5,93 5,48 6,2 6,01 4,43 5,78 5,22 6 4,71 55,35 5,54

39 39 Lampiran 2. Tabel Pertambahan Tinggi Bibit Kakao. Minggu ke- Perlakuan P1 Ulangan ke Jumlah 1 1 1,1 0,6 0,5 0,6 0,5 0,5 0,5 0,5 0,8 6,1 0, ,1 2,2 2 1,3 1 1, ,3 19,6 1, ,1 3,4 3,4 2,3 2,1 2,5 3,8 3,5 5,3 32,4 3,24 4 3,7 4,1 4,4 5 3,4 3,2 3,2 6,5 4,1 6,3 43,9 4, ,9 5,4 6 5,3 4 4,5 7,5 4,7 7,6 54,9 5,49 6 5,5 6,1 6,3 7 6,1 5,5 5,5 8,5 5,9 8,3 64,7 6,47 7 6,7 7,1 7,4 8,2 7,3 6,5 6,1 9,5 6,7 9,4 74,9 7,49 8 7,2 7,6 8,4 9,8 8,3 7,5 6,9 10,3 8,1 10,6 84,7 8, ,4 9,4 11 9,3 8,7 7,8 11,5 8,7 11,9 94,7 9, ,1 9, ,3 10 8,5 12,5 10,3 12,5 104,1 10, ,8 10,3 11,4 13,8 10, ,5 13,2 11,5 13,8 117,1 11, ,7 13, ,8 12,5 11,8 14, ,3 132,3 13,23 Minggu ke- Perlakuan P2 Ulangan ke Jumlah Ratarata Ratarata 1 0,5 0,7 0,4 0,6 0,9 0,7 0,9 0,8 0,3 0,8 6,6 0,66 2 1,9 2,4 1,4 1,6 3 1,7 2,3 2,5 2,1 2 20,9 2,09 3 3,7 3,9 2, ,3 3,9 3,8 3,1 3,7 34,8 3,48 4 5,5 4,9 3,9 4,6 5,1 4,7 4,9 5,3 4,7 5 48,6 4, ,7 5,4 6,1 7 6,4 5,9 6,5 6,1 6 62,1 6,21 6 8,5 7,1 6,9 7,6 8 7,7 6,9 7,8 7,1 7 74,6 7, ,1 8,7 8,4 8,6 9 8,7 7,9 8,8 8,1 8 86,3 8, ,5 10,7 9,4 10,1 10,3 10,2 9,6 9,8 9,1 9 99,7 9, ,4 10,4 11,2 11,9 11,7 10,9 10,8 10,2 10,1 112,6 11, ,2 11, ,7 11,9 11,8 11,3 11,2 122,5 12, ,7 12,1 13,1 13,5 14,2 12,9 13,3 12,1 12,9 132,8 13, ,7 14,4 15,2 14,2 15,7 14,4 14,8 13,1 14,4 146,9 14,69

40 40 Lanjutan... Minggu ke- Perlakuan P3 Ulangan ke Jumlah 1 0,5 0,7 0,7 0,5 0,6 1 0,5 0,4 0,5 0,8 6,1 0,61 2 1,5 2,2 2,2 1,5 1,4 2 1,3 1,9 1 1,5 16,5 1, ,7 3,7 2,2 2 3,5 2,1 2,1 1,5 3 25,8 2,58 4 2,5 5,2 4,7 3,5 2,6 4,5 3,5 3,5 2,3 4 36,3 3,63 5 3,6 6,4 5, , ,5 48,7 4,87 6 4,8 7,6 6,7 6,5 5, ,5 3,5 7 53,5 5, ,2 8,2 7, ,5 7,5 4,3 8,5 73,7 7,37 8 7,5 10,5 9, ,5 8, ,4 8,64 9 8,5 11,5 10,7 10,5 9, ,3 10,5 6, ,1 10, ,7 11,7 11, ,5 11,5 12,5 8 12,1 113,4 11, ,5 13,2 13,7 12, ,5 12,3 13,5 9, , ,6 14,7 15,7 13,5 13,4 15,8 13,5 14,5 14, ,2 13,92 Minggu ke- Perlakuan P4 Ulangan ke Jumlah Ratarata Ratarata 1 0,7 0,7 0,5 0,8 0,7 0,7 0,6 0,4 0,8 0,8 6,7 0,67 2 1,4 2,5 1,5 1,8 1,5 2,2 2,2 1 1,8 2 17,9 1,79 3 1,9 3,5 2,5 2,8 2,5 2,7 3 2,4 3,2 3 27,5 2,75 4 2,7 4,5 4 4,2 3,6 3,7 4,2 3 4,4 3,5 37,8 37,8 5 3,4 5,5 5,5 5,8 5 4,2 5,2 3,6 5, ,8 6 4,4 6,7 6,9 6,8 6 5,7 6,9 4,4 6,8 4,6 59,2 5,92 7 5,2 8,5 8,5 7,8 7,1 6,3 7,7 5, ,1 8 6,4 9,4 9, ,2 7,4 8,8 6,5 81,4 8,14 9 7, ,5 9,8 8,7 7,7 10,2 7,9 9,3 8 90,3 9, ,7 12,9 11,1 10,6 9,5 8,7 10,8 8,4 9,8 8,5 98 9,8 11 8,4 14,5 11,8 11,8 10,5 9,3 11,7 9,4 10, ,2 10, , ,5 12,8 12,5 10,7 13,4 10,9 11, ,5 12,25

41 41 Lampiran 3. Tabel Pertambahan Jumlah Daun Bibit Kakao. Minggu ke- Perlakuan P1 Ulangan ke Jumlah , , , , , , , , , , , ,2 Minggu ke- Perlakuan P2 Ulangan ke Jumlah , , , , , , , ,9 Ratarata Ratarata , , , ,5

42 42 Lanjutan... Minggu ke- Perlakuan P3 Ulangan ke Jumlah , , , , , , , , , , , ,5 Minggu ke- Perlakuan P4 Ulangan ke Jumlah , , , , , , , , ,6 Ratarata Ratarata , , ,6

43 43 Lampiran 4. Dokumentasi kegiatan penelitian Gambar 1. Penimbangan media tanam. Gambar 2. Pencampuran media tanam. Gambar 3. Penimbangan media tanam.

44 44 Lanjutan... Gambar 4. Penanaman bibit kakao. Gambar 5. Pengukuran diameter batang (mm) dengan mikrokalifer digital. Gambar 6. Pngukuran tinggi (cm) dengan menggunakan penggaris.

45 45 Lanjutan... Gambar 7. Media pasir. Gambar 8. Media tanah liat. Gambar 9. Media humus.