BAB I PENDAHULUAN. yang dikatakan oleh Undang-undang, tanpa menggunakan/mempertimbangkan nilai

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. yang dikatakan oleh Undang-undang, tanpa menggunakan/mempertimbangkan nilai"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini hendak mengkritisi praktek ajudikasi atau peradilan oleh hakim yang legisme, dimana hakim yang legisme tidak akan mampu memberikan rasa keadilan dalam putusannya, sebab dalam putusan hakim hanya melihat pada apa yang dikatakan oleh Undang-undang, tanpa menggunakan/mempertimbangkan nilai keadilan. Praktek kehakiman seringkali dipandang oleh masyarakat hanya sebatas penerapan Undang-undang pada perkara konkret secara rasional belaka (legisme). Pada hakekatnya hakim dalam menjatuhkan putusannya dipengaruhi oleh 2 (dua) aliran yakni: a. Aliran Konservatif yaitu putusan hakim yang didasarkan semata-mata ada ketentuan hukum tertulis (Peraturan Perundang-undangan). Karakter ini dipengaruhi oleh aliran legisme. 1 Selanjutnya aliran ini menyatakan pula bahwa Undang-undang (kodifikasi), diadakan untuk membatasi hakim, yang kerena kebebasannya telah menjurus kearah kesewenanganwenangan. 2 Berdasarkan hal tersebut maka hakim dalam menjatuhkan putusannya harus mengikuti apa yang tertulis dalam hukum (Lex dura tamest 1 Legisme yaitu aliran dalam ilmu hukum dan peradilan yang tidak mengakui hukum yang tidak tertulis/undang-undang. Menurut aliran ini hukum identik dengan undang-undang, sedangkan kebiasaan dan ilmu pengetahuan hukum lainnya dapat diakui sebagai hukum apabila undang-undang menunjuknya (Sudikno Mertokusumo & A.Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 1993, hal.10) 2 J.A Pontiner, Penemuan Hukum ( Rechtsvinding). Diterjemahkan oleh Arief Sdharta, Bandung, Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katoloik Parahayangan,

2 suntscripta), biarpun in concreto menurut rasa keadilan masyarakat, putusan hakim tersebut dinilai merupakan suatu ketidakadilan. b. Aliran Progresif yaitu putusan hakim yang tidak semata-mata mendasarkan pada ketentuan hukum tertulis tetapi hakim harus pula mendasarkan pada pengetahuan dan pengalaman empiris. Oleh sebab itu hakim tidak lagi sebagai corong Undang-undang tetapi hakim harus menemukan nilai-nilai keadilan yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini hakim harus menjadi otonom, bukan lagi heteronom. 3 Begitupun juga gagasan tentang hukum Represif yang digagas oleh Philippe Nonet dan Philippe Selzinick, bahwa tertib hukum tentu dapat berupa ketidak-adilan yang benar-benar parah. Keberadaan hukum semata tidak akan menjamin tegaknya keadilan, apalagi keadilan subtantif, sebaliknya tertib hukum memiliki potensi reprasif sebab hingga tingkat tertentu Ia akan selalu terikat pada status quo dan memberikan jubah otoritas pada penguasa, membuat kekuasaan menjadi makin efektif. 4 Rezim represif adalah rezim yang menempatkan seluruh kepentingan dalam bahaya, dan khususnya kepentingan yang tidak dilindungi oleh sistem yang berlaku dalam hak keistimewaan dan kekuasaan. 5 Para penegak hukum (hakim) sendiri dihadapkan oleh dua situasi, yaitu: penerapan hukum beresiko rendah dan penerapan hukum beresiko tinggi. Penerapan hukum berisiko rendah, bahwa hakim sebagai corong Undang-undang, dengan demikian semua putusan yang dibuat hakim, hanya berdasarkan pada pertimbangan undang-undang saja. Penerapan hukum beresiko 3 Van Eikeme Hommes, Logica en Rechtsvinding(reneografie), Vrije Universiteit,1999, hal Philippe Nonet & Philippe Selzinick, Hukum Responsif, Nusa Media, Bandung, 2010, hal Ibid.,hal

3 tinggi, dimana hakim tidak hanya melihat hukum sebagai Undang-undang saja, akan tetapi hukum yang ada diluar Undang-undang juga. Dalam hal ini hukum yang hidup didalam masyarakat. Cicero mengatakan ubi societas ibi ius, dimana ada masyarakat disitu ada hukum.tujuan hukum adalah keadilan, kemanfaatan dan kepastian, idealnya hukum memang harus mengakomodasikan ketiganya.dalam putusan hakim harus mempertimbangkan ketiga hal itu.akan tetapi Bismar Siregar mengatakan, bila untuk menegakan keadilan maka dia akan korbankan kepastian hukumdan tujuannya adalah keadilan. 6 Dalam rangka menyeimbangkan konflik kepentingan dalam masyarakat tersebut maka hukum negara harus berhakekat pada keadilan dan kekuatan moral, sebab tanpa adanya keadilan dan moralitas maka hukum akan kehilangan supremasi dan ciri independennya, sebaliknya ide keadilan dan moralitas akan penghargaan terhadap kemanusiaan hanya akan memiliki nilai dan kemanfaatan jika terwujud dalam hukum formal dan materil serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tersebut sebenarnya merupakan suatu keadaan keseimbangan dan keselarasan yang membawa ketentraman didalam hati orang. Sebuah tatanan yang tidak berakar pada keadilan sama artinya dengan bersandar pada landasan yang tidak aman dan berbahaya. 7 Dengan teknik inferensial Peter Mahmud Marzuki merumuskan esensi dari pengertian keadilan yang berpangkal pada moral manusia yaitu rasa cinta kasih dan kebersamaan. Pandangan tersebut sangat berguna jika 6 Bismar Siregar, Rasa Keadilan, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1995, hal.7. 7 Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum: Sejarah,Aliran dan Pemaknaan, Gadjah Madah University Pres, 2006, hal

4 misalnya, dikaitkan dengan maxim klasik tentang keadilan yang dikemukakan oleh Ulpianus yaitu justitia est perpetua et constansnvoluntas jus suum cuique tribuendi (atau keinginan yang terus menerus dan tetap memberikan kepada orang yang menjadi haknya). 8 Prespektif tersebut seyogianya menjadi sumber inspirasi bagi hakim untuk mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Istilah positive dimaksudkan bahwa hukum itu ditetapkan dengan pasti, tegas dan nyata, dan pengunaan istilah ini juga untuk membedakannya dengan nilai-nilai yang berasal dari Tuhan dan moral yang bersifat abstrak dan tidak nyata. Karena telah begitu dibedakannya maka positivisme sendiri memandang perlunya memisahkan antara hukum dan moral atau antara hukum yang berlaku (das sein) dengan hukum yang seharusnya (das sollen). 9 Dalam kacamata aliran hukum positif, tiada hukum lain kecuali perintah penguasa atau dengan kata lain, inti dari dari aliran positivisme adalahnorma hukum dikatakan sah apabila ia ditetapkan oleh lembaga atau otoritas yang berwewenang dan didasarkan pada aturan yang lebih tinggi, bukan digantungkan pada nilai atau moral. Norma hukum yang ditetapkan itu tidak lain adalah undang-undang yang adalah sumber hukum dan diluar undang-undang tidak dapat dikatakan sebagai hukum. Teori hukum positif mengakui adanya norma hukum yang sebenarnya bertentangan dengan nilai dan moral tetapi tidak mengurangi keabsahan norma hukum tersebut. 8 Krisna Djaya Darumurti, Diskresi, Kajian Teori Hukum, Genta Publishing, Yogyakarta, 2016, hal Erwin Muhamad,Filsafat Hukum Refleksi Kritis Terhadap Hukum dan Hukum Indonesia (dalam Dimensi Ide dan Aplikasi), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011, hal

5 Dalam positivisme hukum, pandangan yang paling berpengaruh adalah Hans Kelsen dengan teori hukum murni. Kelsen mangatakan bahwa hukum dan keadilan adalah dua konsep yang berbeda sehingga keadilan itu harus dipisahkan dari hukum (law and justice are two different). Tidak mungkin memakai keadilan, karena keadilan itu bukan urusan hukum tetapi urusan politik. 10 jika dalam teori hukum murni, adil dipisahkan dari hukum maka hal ini berbanding terbalik dengan tujuan dari hukum itu sendiri, maka sudah pasti keadilan tidak akan dipertimbangkan oleh hakim dalam menegakan hukum. Sebab positivisme itu bebas nilai, keadilan ada didalam nilai, oleh sebab itu keadilan tidak bisa dimasukan ke dalam positivisme sehingga hukum tidak akan membicarakan keadilan itu sendiri.aliran positivisme hukum telah memperkuat pelajaran legisme, yaitu suatu pelajaran yang menyatakan bahwa tidak ada hukum diluar Peundang-undangan.Hakim legisme merupakan hakim yang dipengaruhi oleh mazhab atau aliran positivisme hukum. H. L. A. Hart, yang berpandangan sebagai berikut. 11 a. Hukumadalah perintah. b. Analisis terhadap konsep-konsep hukum berbeda dengan studi sosiologis, historis, dan penilaian kritis. c. Keputusan-keputusan dapat dideduksikan secara logis dari peraturanperaturan yang sudah ada lebih dahulu, tanpa perlu menunjuk kepada tujuan-tujuan sosial, kebijaksanaan dan moralitas. 10 Ibid., hlm Lili Rasdjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal

6 d. Penghukuman secara moral tidak dapat ditegakkan dan dipertahankan oleh penalaran rasional, pembuktian atau pengujian. e. Hukum sebagaimana diundangkan, ditetapkan positum, harus senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakan dan diinginkan. 12 Positivisme hukum berpendapat bahwa satu-satunya sumber hukum adalah Undang-undang, sedangkan peradilan berarti semata-mata penerapan undang-undang pada peristiwa yang konkrit. 13 Undang-undang dan hukum diidentikkan. 14 Hakim positivis juga dapat dikatakan sebagai corong Undang-undang. Hakim yang menganut positivisme hukum sejalan dengan pengutamaan kepastian hukum, yang beranggapan bahwa apabila hakim diberikan wewenang menafsirkan undang-undang atau menemukan hukum sendiri langsung ke masyarakat, maka kepastian hukum akan terganggu. 15 Hakim dalam memutus perkara dapat dianggap tidak perlu memperhatikan tujuan penegakan hukum untuk mewujudkan keadilan dan kemanfaatan. Hakim yang legisme tentu akan menganut ajaran-ajaran positivisme yang selalu mengutamakan bunyi pasal dalam Undang-undang atau dengan kata lain hakim merupakan corong Undang-undang. Sebagai contoh hakim yang legisme, terlihat dalam putusan pencurian tiga biji kaka yang dilakukan oleh Nenek Minah dengan 12 Muhamad Erwin, Op.,Cit, hal Sudikno Mertokusumo dan Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Yogyakarta, 1993, hal Ibid., hal Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia Sapta Artha Jaya, Jakarta,1996, hal

7 nomor perkara 247/PID.B/2009/PN.PWT.dan kasus pencurian 6 piring yang dilakukan oleh Rasmina, Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 1346/Pid.B/2010/PN.TNG menyatakan Rasminah bebas. Akan tetapi Putusan Mahkamah Agung tanggal 31 Mei 2011 mengabulkan kasasi Nomor 653K/Pid.2011 dan menyatakan Rasminah bersalah dan dihukum penjara 4 Bulan 10 hari. kasus pencurian dua ekor ayam atas nama Arman. putusan no K/Pid/2010. Kasus pencurian hasil hutan (kayu) atas nama Doni Setyo Jatmiko. No putusa perkara, 132/Pid.sus/2011/PN.MLG. kasus pencurian kayu bakar dengan putusan no 2615 K/Pid.Sus/201. Atas nama Muhammd Mufid. Contoh-contoh kasus diatas menggambarkan kedudukan hakim yang legisme, dimana hakim memutuskan dengan hanya merujuk berdasarkan pada unsurunsur(formil) perbuatan pidana yang telah tepenuhi. Dalam kasus ini, menurut penulis hakim tidak mencoba menggali nilai keadilan, dimana nilai keadilan itu tidak serta merta melekat pada bunyi Undang-undang, tetapi yang perlu dipahami oleh hakim secara mendalam adalah bahwa keadilan harus dimaknai secara filosofis sehingga tujuan sesungguhnya dari hukum dapat tercapai. Berbicara mengenai keadilan, maka sedang membicarakan mengenai tujuan yang esensi dari hukum 16 yaitu untuk memberikan rasa keadilan, selain kemanfaatan dan kepastian. Keadilan sudah dijamin dan tertuang secara eksplisit dalam Pancasila yang disebut sebagai staats fundamental norm/ rechtsideesekaligus berfungsi sebagai 16 Teguh Prasetyo,Keadilan Bermartabat, Perspektif Teori Hukum, Nusa Media, Bandung, 2015, hal

8 norma dasar dalam keseluruhan peraturan hukum yang berlaku sebagai hukum positif di Indonesia. Oleh sebab itu putusan yang dibuat oleh hakim wajib menjiwai nilainilai yang ada dalam Pancasila.Pancasila yang merupakan norma fundamental dalam proses penegakan hukum seharusnya menjadi guiding star dalam setiap putusan hakim, artinya bahwa dalam memutuskan suatu perkara hakim tidak seharusnya hanya melihat pada apa yang dikatakan oleh Undang-undang saja tetapi hakim juga harus menggali nilai-nilai keadilan yang ada dalam Pancasila.Hakekat dari norma dasar adalah syarat bagi berlakunya suatu Kontitusi, norma dasar terlebih dahulu ada sebelum adanya konstitusi atau Undang-undang Dasar. 17 Oleh sebab sebab itu posisi hakim yang positivis tidak akan mampu memberikan rasa keadilan dalam setiap putusannya, sebab dalam pertimbangan hakim hanya menggunakan Undang-undang sebagai tolok ukur saja, tanpa menggunakan moral untuk melihat penyebab seseorang melakukan pencurian. B. Rumusan Masalah. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah; 1. Bagaimana posisi hakim dalam sistem peradilan pidana? 2. Bagaimana hakim menyikapi kasus Mina dan Rasmina dalam rangka mengupayakan keadilan? C. Tujuan Penelitian. 17 Teguh Praseryo, Hukum Dan System Hukum Berdasarkan Pancasila, Media Perkasa, Yogyakarta, 2013, hal

9 Untuk menganalisis posisi hakim dalam sistem peradilan pidana dan, Bagaimana hakim menyikapi kasus Mina dan Rasmina dalam rangka mengupayakan keadilan. D. Manfaat Penelitian Hasil Penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis, yaitu: a. Manfaat teoritis,hasil Penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam kajian pengembangan ilmu hukum, khususnya ilmu hukum pidana. b. Manfaat praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membuka cakrawala pikir dan menjadi bahan sumbangan pemikiran bagi para hakim yang positivis supaya dapat mempertimbangkan keadilan melalui putusannya. E. Kerangka Pemikiran:Peran filsafat hukum dalam putusan pengadilan. Dalam hal ini filsafat hukum berkedudukan sebagai metateori bagi teori interpretasi yuridis secara umum. Fungsionalitas dari beragam teori itu untuk menjembatani antara proses dan produk ajudikasi supaya dihasilkan putusan yang tepat atau benar sehingga finalitasnya tidak diganggu gugat atau dipertanyakan. Teori Adjudikasi Teori Adjudikasisebagai metateori interpretasi.dipengaruhi oleh aliran atau tradisi filsafat hukum tertentu, metateori interpretasi yang ada telah lazim dikategorikan menjadi teori formalisme, teori realisme dan teori normativisme. Teoriteori tersebut pada hakekaknya merupakan bentuk penerapan aliran filsafat hukum tertentu ke dalam ajudikasi sehingga konsekuensi lebih dikenal dengan predikat teori 9

10 ajudikasi yaitu theories of how judges do or should decide cases 18 atau lebih tepatnya tentang how should a judge decide what law governs the case before her? 19 dalam arti demikian maka yang menjadi fokus teori-teori tersebut adalah judicial reasoning sebagai spesies dari legal reasoning.teori-teori tersebut sangat penting dalam rangka fungsionalitas badan yudisial dan hakim terutama hakikak fungsi hakim dan makna atau hakikak hukum di dalamnya. 20 Menurut Thomas, a basic understanding of legal theory is a essential for the complete performance of the judicial function.to fulfil their judicial function, and to be able to assess whether they are fulfilling that function, judge must explore, examine and know the theoretical framework for their judicial thingking. Pernyataan ini sangat tepat sasaran manakala diyakini bahwa ajudikasi dan interpretasi adalah aktivitas intelektual yang sophisticated. 21 Makna atau hakikat dalam fungsi hakim adalah isu teoritis sangat penting dalam rangka membekali hakim ketika melakukan ajudikasi.isu ini merupakan salah satu bidang kajian filsafat hukum maupun teori hukum yang lebih konkrit. Untuk lebih memahami pemahaman isu filsafat hukum tentang makna atau hakekak hukum dapat dikategorikan secara dikotomis dengan mengacu pada Alexy yaitu konsep yang positivistik: there are only two defining elements:that of issuance in accordance with the system, or authoritative issuance, and that of social efficacy.common to 18 Brian Leiter, Legal Formalism and Legal Realism: What is the Issue?, 16 Legal Theory, 2010, hal Robert Justun Lipkin, conventionalism, pragmatism and contutional Revolutions, 21 Uc Davis Law Review, 1988, hal Titon Slamet Kurnia, Kontitusi HAM, Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI), Yogyakarta, 2014, Hlm Ibid. Hlm

11 all of the variations is the notion what law is depends solely on what has been issued and/or is effication. Correctness of content-however achieved-count for nothing dan konsep yang non positivistik defend the connection thesis, which says that the concept of law is to be defined such that moral element are included. No serious nonpositivis is thereby excluding from the concept of law either the element of authoritative issuance or the element of social efficacy. Rather, what distinguishes the non-positivist from the positivist is the view that the concept of law is to be defined such that, alongside these fact-oriented properties, moral elements are also included. 22 Formalisme, realisme dan normativisme pada hakekaknya adalah teori tentang makna atau hakekak hukum dalam ajudikasi, mengandung dimensi penerapan atas study filsafat hukum, yang bertujuan menghasilkan postulat-postulat mengenai makna atau hakikat hukum sebagai pendirian, word view bagi hakim ketika melakukan ajudikasi tentang bagaimana hakim memutuskan atau seyogianya memutus kasus dalam lingkup tugas yudisialnya. Menurut D Amato: the way judges decide a case is informed by their own conception of what the law is-not just what a statute might say, or a previous case might have held, but what the law is in the sense of how they should interpret those statutes or cases. Aliran atau tradisi filsafat hukum tertentu membentuk dan menetukan makna atau hakekak hukum tertentu, dan yang pada analisis akhir menentukan hakim tentang bagaimana mengembannya ketika memeriksa, menggali dan memutuskan Ibid., hal Ibid.,hal

12 a. Formalisme Teori ajudikasi paling dominan dalam praktek ajudikasi. Tentang keampuhan teori ini, Thomas memberikan gambaran At the turn of the twentieth century a basic from of positivism dominated legal thinking. The law was perceived as closed and cloisterd edifice, an independent and authonomous discipline, and a sovereign, selfcontained system of internally rational and predictable rules to which the judge, having no or little discretion, would mechanically apply deductive reasoning. Such dogmatic formalism embraced the declaratory theory of law and fostered the belief that law could be determined with quasi-mathematical precision. Idolatry of certainty and predictabililyin the law displaced the search for justice and relevance. Justice, if justice was to be done, would be systemic-the product ot adhering to rules of form. Secara lebih spesifik Tamanaha menyimpulkan sebagai generalisasi inti dari teori formalisme yaitu: formalism entails rule-bound judging that prohibits considerations of purposes or consequences. Dengan demikian ajudikasi adalah bebas nilai. Teori formalisme hukum dipengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung, atau merupakan penerapan, pemikiran filsafat positivisme yuridis (legal positivism). Obsesi utama positivme yuridis adalah konsepsi hukum yang benarbenar hukum dan validitas sumber-sumbernya. Atas dasar premis tersebut maka positivisme yuridis membedakan secara tegas antara law as it dan law as it ought to be, antara hukum dan nilai atau moral. Konsisten dengan itu, pembuktian utama eksistensi hukum adalah pada sumbernya, yaitu sumber-sumber hukum positif dari negara, dengan demikian pengaruhnya ke dalam ajudikasi, yang disebut formalisme 12

13 adalah semata-mata penerapan sumber-sumber hukum positif (law as it is) secara subtantif. b. Realisme Secara genelogis, teori realism sebagai teori ajudikasi merupakan reaksi terhadap teori formalisme, Formalism offers us right and wrong answers, it encourages rigidity and a dismissive attitude to any analysis of the impact of nonlegal factors on the law, in other word it treats law as an isoled, closed an logical system. dengan kata lain, kritik terhadap formalisme adalah kritik terhadap terhadap doktrin separation thesis dari teori positivisme yuridis yang menghasilkan regiditas terhadap konsep hukum (khusus menyangkut teori sumber hukum yang dimonopoli oleh produk-produk hukum positif atau hukum yang ditetapkan oleh penguasa) dalam ajudikasi. Teori realisme pada hakikatnya masih teramasuk dalam bilangan positivisme, seperti halnya teori formalisme sebagai teori ajudikasi dari filsafat legal positivism. Teori realisme merupakan kritikan atas kelemahan pendirian dari teori formalisme yang memiliki kecenderungan kuat pada rule application tanpa dibantu interpretasi. Menurut pandangan realisme hal tidak mungkin terjadi pada situasi hard cases dimana existing rules mengandung pengertian atau makna panubra. Tanpa referensi pada pertimbangan-pertimbangan factual, judicial reesoning berdasarkan formalisme akan berubah menjadi legalistik,legisme. Dalam kaca mata realisme, isu 13

14 utama teori formalisme adalah kegagalan untuk menjembatangi pengunaan kata-kata dalam ketentuan hukum sebagai premis mayor tersebut berlaku secara presisi. 24 c. Teori Normativisme. Pada teori normativisme, bahwa memutus menurut lex dengan memutus menurut ius tidak selalu sama maknanya. Sehingga, legal reasoning serta judical reasoning yang lebih dari sekedar merujuk pada peraturan perundang-undangan (formalism) adalah esensi yang menjadikan teori normativisme khas, termasuk dengan realism (memutus dengan mempertimbngkan social demands). Normativisme berbeda dengan formalisme menyangkut isu hubungan antara hukum dengan moral: although we do separate law and morals, we do not separate them entirely. Normtivisme juga berbeda dengan realisme walaupun sama-sama bertolak dari tesis indeterminate legas rules. Normativisme lebih berorientasi pada nilai (morality, justice, fairns) namun realism kebalikannya, lebih berorientasi pada fakta.normativisme hadir sebagai kritik terhadap formalisme maupun realisme, formalisme dikritik karena penderian bebas nilainnya.sementara realisme dikritik karena kecendurungan metamtis dan prakmatisnya.pendiri normativisme kontenporer adalah Ronald Dworkin.Filsuf hukum yang teorinya secara khusus beroperasi di ranah ajudikasi.pemikiran Dworkin sangat penting kontribusinya bagi pengembangan teori norvativisme dalam ajudikasi, kontribusi utamanya adalah menunjukan bahwa ajudikasi merupakan interpretasi dan interpretasi tersebut memiliki landasan moralitas yang kuat.dengan demikian maka Dworkin menggugurkan tesis positivisme yuridis dan formalism yaitu separation of law and morals dan unsure 24 Ibid.,hal

15 ajudikasi yang semata-mata adalah penerapan sumber-sumber hukum positif secara bebas nilai. 25 Jadi dapat disimpulkan bahwa ketiga teori ini beranjak dari hukum itu norma, akan tetapi ketiga teori ini melihat sumber dari norma itu berbeda-beda. Orang yang berbicara hukum mempunyai keyakinan tentang filsafat hukum.oleh peran filsafat hukum sebagai dasar berpikirnya hakim dalam pengambilan keputusan. Menurut penulis, hakim yang positivis tidak akan mampu memberikan rasa keadilan melalui putusannya. 25 Ibid., 15

16 F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian hukum (legal research) yaitu untuk mencari dan menemukan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang mengatur status, yang hendak dikemukakan adalah kecocokan antara aturan hukum dengan norma hukum. 26 Dengan demikian penelitian ini hendak mencari, menemukan dan menjelaskan kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip berkaitan dengan keadilan dalam ruang-ruang pengadilan. 2. Jenis pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan perundang-undangan (statute approach) karena akan menelaah dan melihat kembali fungsi dan kewenangan hakim dalam memutuskan perkara pidana, serta pendekatan konsep (conceptual approach) teoritis karena akan mengkaji konsep keadilan dalam putusan hakim, berdasarkan konsep maupun teori yang ada dalam praktek adjudikasi. Dan pendekatan kasus (case approach) G. Bahan Hukum a. Bahan hukum Primer, yakni bahan-bahan hukum yang mengikat yang terdapat dalam unit amatan, yaitu: 1) Pancasila 26 Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum (Edisi Revisi), Kencana Prenanda Media Grup, Jakarta, 2013, hal

17 2) UUD ) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman 4) Putusan Mahkamah Agung Nomor 247/PID.B/2009/PN.PWT 5) Putusan Mahkama Agung Nomor 1346/Pid.B/2010/PN.TNG b. Bahan hukum sekunder, yakni yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum perimer. Misalnya hasil-hasil penelitian dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. H. Unit Analisa Yang menjadi unit analis dalam penelitian ini adalah kedudukan hakim dalam sistem peradilan pidana dan hakim dalam hal menyikapi kasus Mina dan Rasmina. 17