POLA KOMUNIKASI VERBAL ANTARA MAHASISWA ETNIS MUNA DAN ETNIS GORONTALO

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "POLA KOMUNIKASI VERBAL ANTARA MAHASISWA ETNIS MUNA DAN ETNIS GORONTALO"

Transkripsi

1 POLA KOMUNIKASI VERBAL ANTARA MAHASISWA ETNIS MUNA DAN ETNIS GORONTALO (Studi Asrama Putri Nusantara Universitas Begeri Gorontalo) 1 Wa Ode Saharia, 2 Sumarjo, 3 Zulaeha Laisa 1 Mahasiswa Prodi Komunikasi, 2,3 Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK Wa Ode Saharia, Pola Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Muna Dan Etnis Gorontalo (Studi Kasus Asrama Putri Nusantara Negeri Gorontalo), skripsi, program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Pembimbing I Sumarjo, dan Pembimbing II Zulaeha Laisa. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pikiran atau gagasan, dan saling bertukar perasaan dan pemikiran. Tujuan penelitian ini, yaitu : 1) untuk mengetahui bentuk interaksi antara mahasiswa etnis muna dan etnis gorontalo dalam berkomunikasi; 2) untuk mengetahui evektifitas komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Muna dan etnis Gorontalo. Penelitian ini menggunaka metode penelitian kualitatif, karena sifat data yang diperoleh merupaka deskripsi dari subyek penelitian dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan dan wawancara kepada mahasiswa etnis Muna dan etnis Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) penggunaan bahasa dalam interaksi antara mahasiswa etnis Muna dan etnis Gorontalo menunjukkan sudah mencapai kesalapahaman bersama; 2) komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo dapat terjadi kapan saja. Sebab hampir setiap blok dihuni oleh kedua etnis tersebut. Dengan demikian, komunikasi antara kedua etnis tersebut tercipta secara efektif. Kata kunci : pola, komunikasi, verbal, etnis muna dan etnis gorontalo. ABSTRACT Wa Ode Saharia, The pattern of verbal communication between students of Muna ethnic and students of Gorontalo ethnic (study at Asrama Putri Nusantara Universitas Negeri Gorontalo). ESSAY, communication scence department, social science faculty, state university of Gorontalo. Advisor I Sumarjo, and advisor II Zulaeha Laisa. Verbal communication is communication that use words, both of and written. Through the words, they exspress their feelings, emotion, thinking or ideas, and exchange feeling and thounghts. The aims of this research are : 1) to know both of students of Muna ethnic and Gorontalo ethnic use language in interaction; 2) to know the affectivity of verbal communication between students of Muna ethnic and Gorontalo ethnic. This researchuse qualitative method, bacause with the technique of collecting data are observation from subject of research with the Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 1

2 technique of collecting data are observation and interview to the students of Muna ethnic and students of Gorontalo ethnic. The result of this research shows that : 1) the use of langguage in interaction between students of muna ethnic and students of gorontalo have been reach the understood by each other. Although, at the first time found difficulties. However, along with the development of interaction mhich done by two ethnics, they can undersrood the daily language; 2) verbal communication between students of Muna ethnic and Gorontalo ethnic happen in every time, because almost of every block occupy by both of the ethnics. Thereby, communication between the two ethnics created effectively. Keywords : pattern, communicatien, verbal, Muna ethnic and and Gorontalo ethnic. PENDAHULUAN Bahasa merupakan representasi budaya yang disusun dalam komunikasi bahasa sangat penting untuk kehidupan manusia tanpa adanya bahasa kita susah menyesuaikan diri dari dari budaya lain, karena bahasa merupakan bagaimana cara kita untuk mempengaruhi orang lain, karena berkomunikasi pun bahasa sangat berperan penting karena pada dasarnya bahasalah yang dapatdigunakan untuk menyampaikan apa yang kita inginkan kepada rekan kita, dengan bahasa pula kita meyakinkan apa yang kita inginkan kepada rekan kita, dengan bahasa pula kita meyakinka apa yang kita percayai kepada orang lain. Kesalahan dalam berkomunikasi akan menimbulkan pereselisihan antara kedua pihak jika yang disampaikan menyinggung perasaan dari lawan bicara. Hal itu terjadi karena bahasa yang digunakan antara kedua etnis tersebut berbeda, sehingga tidak memahami apa yang sedang diutarakan. Oleh sebab itu, pentingnya memahami bahasa orang lain. Etnis yang mendiami asrama putri nusantara universitas negeri gorontalo bersal dari berbagai etnis yang ada di indonesia. Etnis tersebut yakni muna, ternate, jawa, gorontalo, dll. Etnis memiliki budaya yang berbeda-beda dalam hal berkomunikasi satu sama lain. perbedaan itu akan menghambat interaksi antara dua etnis yang berbeda, disebabkan tidak bisa memahami bahasa satu sama lain sehingga terjadi kesulitan dalam berkomunikasi. Dalam penelitian ini lebih mengarah ke bahasa antara Etnis Muna dengan Etnis Gorontalo. Gorontalo yang memiliki bahasa yang berbeda dengan Etnis Muna, akan menimbulkan suatu hambatan dalam berkomunikasi. Dalam berdialeg dengan menggunakan bahasa Indonesia, Gorontalo berbeda dengan Etnis Muna. Perbedaan tersebut misalnya kata kamu dalam ucapan masyarakat Gorontalo menjadi ngana, dan ente, sedangkan untuk masyarakat etnis Muna kata kamu tetap kamu, kata kita dalam masyarakat Gorontalo digunakan untuk diri kita sendiri, sedangkan dalam masyarakat etnis Muna kata kita digunakan untuk berbicara kepada lawan bicara atau (orang kedua) yang kita hormati, dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang lainnya. Dalam memahami gaya bahasa pada etnis yang berbeda, tentunya dibutuhkan penelitian yang lebih dalam. Berdasarkan pemaparan tersebut maka penulis berinisiatif melakukan penelitian ilmiah dengan formulasi judul Pola Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 2

3 Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Muna dan Etnis Gorontalo. ( di Asrama Putri Nusantara Universitas Negeri Gorontalo) KAJIAN PUSTAKA Komunikasi Antar Budaya Menurut William (dalam Liliweri, 2013: 9-15), bahwa komunikasi antarbudaya menambah kata budaya ke dalam pernyataan komunikasi antara dua orang atau lebih yang berbeda latar belakang kebudayaan. Komunikasi antarbudaya yang paling sederhana, yakni komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan. Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita mengenal beberapa asumsi, yaitu: 1) komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dan komunikan; 2) dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi; 3) gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi; 4) komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian; 5) komunikasi berpusat pada kebudayaan; 6) efektifitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya. Pembahasan komunikasi antarbudaya hampir pasti melibatkan beberapakonsep atau mungkin istilah yang berulang-ulang.konsep-konsep itu misalnyakomunikasi, budaya, komunikasi antarbudaya, komunikasi lintasbudaya, etnikdan ras, etnosentrisme, dan multikultural. a) Etnik Jones (dalam Liliweri 2007: 14), mengemukakan bahawa : etnik atausering disebut kelompok etnik adalah sebuah himpunan manusia(subkelompok manusia) yang dipersatukan oleh suatu kesadaran ataskesamaan sebuah kultur atau subkultur tertentu, atau karena kesamaanras, agama, asal usul bangsa, bahkan peran dan fungsi tertentu. Anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah,bahasa, sistem nilai, adat istiadat, dan tradisi. Antara satu etnik dengan etnik lainnya kadang-kadang juga terdapatkemiripan bahasa.kesamaan bahasa itu dimungkinkan karena etnik-etnik tersebutmemiliki kesamaan sejarah tradisi kuno yang satu, yang mewariskan tradisi yangmirip dan juga bahasa yang mirip pula. Komunikasi antaretnik adalah komunikasi antaranggota etnik yangberbeda, atau komunikasi antar-anggota etnik yang sama, tetapimempunyai latar belakang kebudayaan/subkultur yang berbeda. Kongkritnya, komunikasi antaretnik adalah proses pemahaman danmemahami antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakangetnis yang berbeda.komunikasi antaretnik merupakan bagian dari komunikasiantarbudaya. Berbicara tentang komunikasi antarbudaya berartimengikutsertakan bagaimana proses komunikasi antaretnik yang terjadidalam suatu kebudayaan. Begitu pun sebaliknya, jika kita membahaskomunikasi antaretnik maka secara tidak langsung pembahasan itumasuk dalam ruang lingkup komunikasi antarbudaya. b) Ras Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 3

4 Ras adalah suatu himpunan manusia (subkelompok orang) dari suatu masyarakat yang dicirikan oleh kombinasi karakteristik fisik, genetika keturunan, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut yang memudahkan kita untuk membedakan subkelompok itu dengan kelompok lainnya. c) Etnosentrisme/Rasisme Konsep etnosentrisme seringkali dipakai secara bersamaan dengan rasisme. Konsep ini mewakili suatu pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat dan ideologi untuk menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior dari daripada kelompok etnik atau ras lain. d) Prasangka Prasangka adalah sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi tidak luwes yang diekspresikan sebagai perasaan.prasangka juga dapat diarahkan kepada sebuah kelompok secara keseluruhan atau kepada seseorang hanya karena orang itu adalah anggota kelompok tersebut. Efek prasangka adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran prasangka misalnya mengkambinghitamkan mereka melalui stereotip, diskriminasi, dan penciptaan jarak sosial. e) Multikulturalisme Multikulturalisme merupakan suatu paham atau situasi atau kondisi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan.multikulturalisme sering merupakan perasaan nyaman yang dibentuk oleh pengetahuan. Pengetahuan itu dibangun oleh keterampilan yang mendukung suatu proses komunikasi yang efektif, dengan setiap orang dari setiap kebudayaan yang ditemui, dalam setiap situasi yang melibatkan sekelompok orang yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Yang dimaksudkan dengan perasaan nyaman adalah suasana tanpa kecemasan, tanpa mekanisme pertahanan diri dalam pengalaman dan perjumpaan antarbudaya. f) Keragaman Budaya Banyak budaya hidup di daerah-daerah perbatasan antarnegara, antar-suku bangsa, antaretnik, antarras, dan antargeografis.disinilah muncul situasi dan kondisi masyarakat yang memiliki keragaman budaya. Kita menggunakan istilah metaphors (metafora) untuk menggambarkan kebudayaan campuran (mixed culture) bagi suku bangsa yang berbatasandengan suku bangsa lain. Pola Komunikasi Antarbudaya Pola komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengirim cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami, (Djamarah, 2004: 1). a) Bahasa Verbal Bahasa merupakan alat utama yang digunakan oleh budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi dengan orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir. Bahasa mempengaruhi persepsi, menyalurkan dan turut membentuk pikiran. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu lambang yang terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunitas budaya. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 4

5 b) Pola Pikir Salah satu unsur dari pola-pola budaya adalah cara berpikir yang menunjukkan cara suatu budaya atau suatu kelompok memandang keputusan yang akan anda ambil. Setiap kebudayaan mengajarkan sistem berpikir logis, kebenaran dan kebijaksanaan. (dalam Liliweri, 2013: ).Pola komunikasi atau hubungan itu dapat dicirikan oleh ; komplementaris atau simetris. Dalam hubungan komlomenter suatu bentuk perilaku dominan dari satu partisipan mendatangkan perilaku tunduk dan lainya. Dari penjelasan diatas peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa pola komunikasi adalah bentuk yang menimbulkan atau memiliki pesan yang terlampir didalamnya antara dua orang atau lebih sehingga pesan tersebut dapat dipahami. Pola komunikasi antar etnik adalah bentuk komunikasi yang memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Melalui perbedaan tersebut dapat menciptakan dorongan untuk memahami budaya orang lain, khususnya bahasa. Komunikasi Verbal Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan.komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan,emosi, pikiran atau gagasan, menyampaikan fakta, data dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar. Dalam komunikasi verbal bahasa memiliki peranan yang sangat penting, (Hardjana, 2003: 22). Hardjana, (2003: 22-24), unsur penting dalam komunikasi verbal yaitu : 1. Bahasa. Pada dasaranya bahasa adalah suatu sistem lambang yang memungkinkan orang dalam berbagai makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa verbal baik lisan, tertulis pada kertas, maupun yang tertulis melalui media teknologi. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain. Bahasa memiliki banyak fungsi, Namun sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Ketiga fungsi itu adalah : a) untuk mempelajari dunia sekeliling kita; b) untuk membina hubungan yang baik diantara sesama manusia; c) untuk menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia. Kata.Kata merupaka inti lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah suatu lambang yang menjelaskan sesuatu hal, baik orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Adapun tujuan menggunakan komunikasi verbal antara lain: a) penyampaian penjelasan, penjelasan, pemberitahuan, arahan dan lain sebagainya; b) presentasi penjualan dihadapan para audience; c) Penyelenggara rapat; d) wawancara dengan orang lain dan sebagainya. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 5

6 METODE PENELITIAN Metode penelitian juga merupakan merupakan seperangkat cara yang sistematik, logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan, mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan (Hamidi, 2010:22). Berdasarkan pendapat diatas, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif.penelitian ini digunakan oleh peneliti karena dengan metode ini permasalahan dapat digambarkan dengan jelas dan terperinci mengenai Pola Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Muna dan Etnis Gorontalo di Asrama Nusantara Universitas Negeri Gorontalo.Pendekatan dalam penelitian ini merujuk kepada tujuan penelitian yaitu memberikan gambaran yang komprehensif tentang Pola Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Muna dan Etnis Gorontalo di Asrama Nusantara Universitas Negeri Gorontalo. Sumber data yang dikumpulkan adalah data yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya terdiri dari data primer yaitu peneliti mendapatkan informasi dari para informan yang berkompeten dalam penelitian ini khususnya mahasiswa etnis Muna dan etnisgorontalo di Asrama Nusantara dan data sekunder yaitu segala literatur yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN 1) Bentuk Interaksi Mahasiswa Etnis Muna Dan Etnis Gorontalodalam Berkomunikasi Kedatangan mahasiswa etnis Muna untuk tinggal di Asrama Putri Nusantara UNG menambah keberagaman etnis yang ada Asrama Putri Nusantara UNG. Mereka dituntut untuk melakukan interaksi dengan mahasiswa etnis lainnya, khususnya dengan mahasiswa etnis Gorontalo yang tinggal di Asrama Nusantara. Penggunanaan bahasa dalam interaksi antara mahasiswa etnis Muna dengan Mahasiswa etnis Gorontalo dapat terjadi kapan saja untuk membangun hubungan komunikasi antara keduanya. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan yang disampaikan oleh beberapa informan mahasiswa etnis Muna, bahwa komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Muna dengan mahasiswa etnis Gorontalo dapat terjadi kapan saja. Penghuni Asrama Putri Nusantara UNG terdiri dari beberapa etnis, diantaranya : Muna, Gorontalo, Ternate, Buol, Luwuk, Bangkep, Bitung, Papua, Buton, Bali, Bolmong, dan etnis lainnya. Dengan keberagaman etnis tersebut, dapat memperkaya budaya satu sama lainnya. Selanjutnya masing-masing blok dihuni oleh beberapa etnis yang ada, khusunya mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo. Dengan demikian penggunaan bahasa dalam interaksi antara mahasiswa etnis Muna dengan Gorontalo dapat terjadi setiap saat, baik melalui diskusi, cerita biasa, gosip, serta makan bersama. Lebih lanjut, komunikasi verbal antara mahasiswa Muna dengan Gorontalo dapat juga terjadi melalui silaturahmi, kegiatan keolahragaan, Orkam dan lain-lain. Dengan demikian penggunaan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 6

7 bahasa dalam interaksi antara mahasiswa Muna dengan Gorontalo terjalin secara efektif. Selanjutnya,kehadiran mahasiswa etnis Muna di Asrama Putri Nusantara UNG tentu akan mendapati kendala dalam melakukan proses interaksi, khususnya dalam pemaknaan bahasa. Menurut Samovar, (1981:135), bentuk yang paling umum dari bahasa verbal manusia ialah : bahasaterucapkan. Bahasa tertulis adalah sekedar cara untuk merekam bahasa terucapkandengan membuat tanda-tanda pada kertas maupun pada lembaran tembaga danlain-lain.selanjutnya Samovar mengemukakan beberapa proses verbal, salah satunya adalah bahasa dan makna, bahasa asing dan Masalah penerjemahan. Proses bahasa verbal dalam interaksi antara mahasiswa etnis Muna dengan Gorontalo awalnya terdapat kendala, diantaranya adalah Masiswa Muna merasa minder untuk membangun komunikasi dengan mahasiswa Gorontalo. Selanjutnya mahasiswa Muna susah untuk memaknai bahasa verbal mahasiswa Gorontalo. Namun seiring dengan berjalannya pergaulan antara mahasiswa etnis Muna dengan Gorontalo, proses komunikasi dapat terjalin dengan baik dan harmonis. Keduanya telah memahami budaya satu sama lain. Sehingga pesan yang disampaikan berdasarkan pemilihan kata. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan penafsiran kata. Saat ini, Penggunaan bahasa dalam interaksi antara mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo sangat baik. Proses sosial yang bersifat asosiatif dapat diwujudkan dalam hubungan sosial antara keduanya. Hal ini dipicu karena adanya kesadaran dari keduanya atas pencapaian atas hasil yang baik dari sebuah proses komunikasi jika keduanya saling memahami budaya masing-masing. Cara memahami budaya masing-masing adalah dengan melihat dan memahami bagaimana ia berkomunikasi. Teori konvergensi budaya sering pula disebut sebagai model konvergensi atau model interaktif. Model komunikasi menurut pendekatan konvergensi menetapkan satu fokus utama yaitu hubungan timbal balik antara partisipan komunikasi karena mereka saling membutuhkan. Komunikasi disini dilihat tidak sebagai komunikasi yang berlangsung secara linear dari sumber kepada penerima, melainkan sebagai sirkum atau melingkar. Yaitu proses dimana sumber dan penerimaan berganti-ganti peran sampai akhirnya mencapai tujuan, kepentingan, dan pembauran. Ada tiga model yang termasuk dalam teori konvergensi budaya, yaitu (1) model tumpang tindih (Overlapping of interest); (2) model spiral (Helikas); dan (3) model zigzag. Penggunaan bahasa verbal yang terjadi antara mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo dapat dijelaskan dalam model tumpang tindih berikut ini : Gambar 4 A AB Pengertian Bersama B Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 7

8 Gambar 4: Model tumpang tindih saat proses komunikasi Mahasiswa etnis Muna dan Gorontalosudah mencapai tahap pengertian dan pemahaman bersama. Gambar di atas merupakan keadaan komunikasi antara mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo. Awalnya ruang tumpang tindih itu kecil saat pertemuan pertama antara pendatang (Muna) dan mahasiswa pribumi (Gorontalo). Namun seiring berjalannya waktu, ruang tumpang tindih itu semakin besar. Ruang tumpang tindih yang makin besar manandakan makin banyaknya pengalaman yang sama diantara keduanya dan komunikasi berjalan semakin efektif. Hal ini ditandai dengan hubungan keduanya, mahasiswa etnis Muna (pendatang) dan Gorontalo (pribumi) yang saling memahami cara berkomunikasi masing-masing sehingga tercipta rasa saling menghargai dan menghormati antar sesama. Model tumpang tindih ini menjelaskan bahwa baik ruang A maupun ruang B, masing-masing memiliki makna mereka sendiri untuk simbol-simbol yang mereka pergunakan bersama. Ruang AB, dimana kedua lingkaran bertumpukan, merupakan makna yang sama antara kedua pelaku komunikasi tersebut untuk simbol-simbol yang dipergunakan bersama. Kadang-kadang bagian yang bertumpukan (makna yang sama) sangat besar pada saat orang berkomunikasi, tetapi ada kalanya hampir-hampir tidak ada bagian yang bertumpukan. Model ini menekankan pada komunikasi sebagai suatu proses penciptaan dan pembagian bersama informasi untuk tujuan mencapai saling pengertian bersama (mutual understanding) antara para pelakunya. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi barganti-ganti peran sebagai sumber atau pun penerima, yang diistilahkan sebagai transceivers, sampai akhirnya mencapai tujuan, kepentingan atau pun pengertian bersama. Hal ini dapat dilihat dari budaya ngana atau torang dapat diadopsi oleh mahasiswa etnis Muna (pendatang) dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari Sejalan dengan Gudykunst, dalam Liliweri (2007: 227) yaitu jika dua orang atau lebih berkomunikasi antarbudaya secara efektif maka mereka akan berurusan dengan satu atau lebih pesan yang ditukar (dikirim dan diterima). Mereka harus bisa memberikan makna yang sama atas pesan. Singkat kata, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman. Bahasa merupakan proses pertukaran pesan untuk mencapai pemahaman bersama. Bahasa dapat melaui bahasa verbal dan nonverbal. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan,emosi, pikiran atau gagasan, menyampaikan fakta, data dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar. Penghuni Asrama Putri Nusantara UNG berasal dari beberapa etnis yang ada, diantaranya : Gorontalo, Muna, Buol, Buton, Bolmong, Bangkep, Luwuk, Papua dan lain-lain. Dari masing-masing blok yang ada di Asrama Putri Nusantara UNG dihuni oleh beberpa etnis yang ada, sehingga pertukaran pesan antar etnis terjalin setiap saat. Selanjutnya, Kehadiran mahasiswa etnis Gorontalo di Asrama Putri Nusantara UNG menambah keragaman serta memeperkaya budaya di Asrama Putri Nusantara UNG. Masing-masing etnis dituntut untuk membangun komunikasi antara satu sama lainnya. Khususnya mahasiswa etnis Gorontalo dan Muna. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 8

9 Penggunaan bahasa dalam interaksi antara mahasiswa etnis Gorontalo dengam Muna dapat terjadi kapan saja. Komunikasi tersebut dapat melalui diskusi, gosip, di saat makan bersama dan lain-lain. Selanjutnya, komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Gorontalo dan Muna dapat terjalin melalui silaturahmi antar blok, kegiatan keolahragaan, bersih-bersih asrama, serta kegiatan yang digagas oleh pengurus asrama seperti penerimaan penghuni asrama baru yang biasa dikenali dengan istilah Orkam. Selanjutnya, proses komunikasi merupakan salah satu indikator keberhasilan komunikasi verbal. Bentuk yang paling umum dari bahasa verbal manusia ialah : bahasaterucapkan. Bahasa tertulis adalah sekedar cara untuk merekam bahasa terucapkandengan membuat tanda-tanda pada kertas maupun pada lembaran tembaga danlain-lain. Sebagai Mahasiswa yang kental dengan budayanya, tentu mengalami kesulitan untuk beradaptasi atau membangun hubungan dengan mahasiswa yang berbeda budaya. Hal tersebut juga dialami oleh Mahasiswa etnis Gorontalo yang tinggal di Asrama Putri Nusantara. Mahasiswa etnis Gorontalo merasa kesulitan untuk membangun komunikasi serta merasa sulit memaknai bahasa sehari-hari mahasiswa etnis Muna. Namun seiring dengan perkembangan jalinan komunikasi kedua etnis tersebut menjadikan mahasiswa etnis Gorontalo mampu menyesuaikan diri dengan mahasiswa Muna serta. Dengan demikian hubungan komunikasi antara mahasiswa Gorontalo dan Muna terjalin secara efektik dan harmonis. Efektifitas Komunikasi Verbal 1. Efektifitas Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Muna Dan Gorontalo Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman. Perbedaan bahasa merupakan hambatan yang sangat vatal dalam komunikasi. Dengan perbedaan bahasa, masing-masing etnis akan merasa kesulitan untuk memahami bahasa orang lain. Mahasiswa Muna dan Gorontalo merupakan dua etnis yang berbeda, baik secara budaya, bahasa maupun dialeg. Hambatan tersebut dialamai oleh mahasiswa etnis Muna. Mahasiswa Muna sebagai etnis yang kental dengan budayanya akan merasa kesulitan menyesuaikan bahasa dan dialeg dengan etnis lainnya, khususnya dengan mahasiswa etnis Gorontalo di Asrama Putri Nusantara. Mahasisiswa Muna merasa kesulitan dalam mempersepsikan bahasa sehari-hari Gorontalo, karena bahasa sehari-hari Gorontalo merupakan perpaduan antara bahasa baku Indonesia dan bahasa daerah. Contoh, kata kita bagi orang Muna diartikan sebagai kata jamak, atau biasa digunakan sebagai kata sopan untuk mengajak orang lain. Contoh, kita mo kemana?, maksudnya anda mau kemana?. Sedangkan bagi orang Gorontalo merasa bingung ketika mendengar ajakan tersebut. Orang Gorontalo kata kita lebih banyak dimaknai sebagai kata tunggal atau sering dipersepsikan sebagai diri sendiri. Contoh, kita pe kost, maksudnya saya punya kost. Bagi orang Muna kalimat tersebut dipertanyakan untuk dirinya. Sedangkan bagi orang Gorontalo, menerangkan tepat kostnya sendiri. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 9

10 Untuk memahami istilah atau bahasa sehari-sehari antar etnis membutuhkan waktu yang lama. Sehingga membutuhkan pergaulan yang intensif serta adaptasi dengan etnis yang berbeda. Hal terebut juga dilakukan oleh mahasiswa etnis Muna yang ada di Asrama Putri Nusantara.Seiring dengan intensitas komunikasi yang dilakukan menjadikan mahasiswa etnis Muna memahami bahasa sehari-hari mahasiswa etnis Gorontalo. Oleh karena disetiap blok yang ada di Asrama Putri Nusantara UNG dihuni oleh beberapa etnis yang ada, maka dengan demikian mahasiswa etnis Muna mampu menyesuaikan bahasa dan dialeg dengan mahasiswa etnis Gorontalo. S Tabel 5 Pola Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Muna dan Etnis Gorontalo di Asrama Putri Nusantara UNG Pesan verbal Mahasisw etnis Muna Mahasiswa etnis Gorontalo Sesama blok 1) Tahap Perkenalan Sapa namamu? 2) Setalah tahap perkenalan Mempelajari bahasa verbal Penyesuai bahasa dan dialeg diskusi, gosip, makan bareng, dll. 1) Tahap Perkenalan Ngana pe nama sapa? 2) Setalah tahap perkenalan Mempelajari bahasa verbal Penyesuai bahasa dan dialeg diskusi, gosip, makan bareng, dll. 1. Tahap Perkenalan Siapa Namamu? 2. Saling mengunjungi 3. Diskusi, gosip, 4. Kegiatan asrama 5. silahturahmi Di luar blok 1. Tahap Perkenalan Ngana pe nama sapa? 2. Saling mengunjungi 3. Diskusi, gosip, 4. Kegiatan asrama 5. silaturahmi Fakultas Efek yang Ilmu ditimbulkan Sosial Universitas : Negeri gorontalo 10 Menciptakan hubungan yang baik dan harmonis, serta saling memahami budaya, bahasa dan dialeg masing-masing.

11 Berangkat dari uraiyan di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan bahasa dan dilaleg merupakan salah satu hambatan komunikasi verbal. Dengan perbedaan bahasa bahasa dan dialeg dapat menghambat efektifitas komunikasi. Namun seiring dengan dengan intensitas pergaulan yang dilakukan oleh mahasiswa etnis muna, hambatan tersebut tidak ada. Akhirnya dengan demikian hubungan komunikasi antara mahasiswa etnis muna dan etnis gorontalo sejauh ini terjalin dengan baik dan harmonis. 2. Efektifitas Komunikasi Verbal Antara Mahasiswa Etnis Gorontalo Dan Etnis Muna Di Asrama Putri Nusantara UNG Penghuni Asrama Putri Nusantara UNG terdiri dari berbagai etnis yang ada seperti, Gorontalo, Muna, Buol, Bolmong, Ternate, Sulteng, Bangkep, Luwuk, Bali, Papua serta etnis lainnya. Beberapa etnis tersebut tersebar dibeberapa blok yang ada. Dengan keberagaman etnis tersebut dapat memperkaya pengetahuan budaya bagi masing-masing etnis. Namun disisi lain, dengan keberagaman etnis tersebut dapat menjadi hambatan dari masing-masing etnis untuk memahami bahasa dan dialeg antara satu dengan lainnya. Berdasarkan fokus penelitian ini, maka yang akan dibahas pada penlitian ini adalah hambatan komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Gorontalo dan mahasiswa etnis Muna di Asrama Putri Nusantara UNG. Komunikasi verbal merupakan proses komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal (lisan dan tulisan). Salah satu hambatan komunikasi verbal adalah bahasa dan dialeg. Mahasiswa etnis Gorontalo yang tinggal di Asrama Putri Nusantara UNG tentu saja dituntut untuk membangun komunikasi satu dengan lainnya, khususnya dengan mahasiswa etnis Muna. Namun pada kenyataannya membangun komunikasi dengan etnis yang berbeda bukan merupakan hal yang mudah untuk saling memahami bahasa dan dialeg. Begitu halnya yang dialami antara mahasiswa etnis Gorontalo dan Muna di Asrama Putri Nusantara UNG. Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa informan, seluruhnya mengungkapkan terjadi hambatan komunikasi verbal yang dialami oleh mahasiswa etnis Gorontalo ketika melalukan komunikasi dengan mahasiswa etnis Muna. Hambatan yang diungkapkan oleh informan diantaranya : pertama, mahasiswa etnis Gorontalo merasa minder untuk membangun komunikasi dengan Mahasiswa etnis Muna. Hambatan tersebut dialamai pada saat mahasiswa etnis Gorontalo ingin membangun pertemanan dengan mahasiswa etnis Muna. Namun karena disetiap blok yang dihuni oleh mahasiswa etnis Gorontalo, disitu pula dihuni oleh mahasiswa etnis Muna. Sehingga demikian, kedua etnis tersebut dituntut untuk melakukan komunikasi. Apalagi kedua etnis tersebut menghuni kamar yang sama. Dengan demikian proses komunikasi tidak dapat dielakan; kedua, mahasiswa etnis Gorontalo merasa kesulitan untuk memahami bahasa sehari-hari mahasiswa etnis Muna. Karena mahasiswa Muna terbiasa dengan bahasa indonesia baku ketika berkomunikasi dengan mahasiswa etnis lainnya, khususnya kepada mahasiswa etnis Gorontalo, baik secara formal maupun informal. Contoh, kata kita bagi etnis Muna sering diartikan sebagai kata jamak dan kata sopan untuk menghargai lawan bicara. Misalnya, kita dari mana?, bagi etnis Muna merupakan kalimat tersebut merupakan kalimat sapaan menghargai, maksudnya anda dari mana. Namun bagi etnis Gorontalo diartikan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 11

12 sebagai kalimat yang menanyakan diri sendiri. Dengan perbedaan persepsi tersebut komunikasi antara etnis Gorontalo dan Muna sering terjadi biasa. Namun seiring dengan intensitas komunikasi yang terjalin antara mahasiswa etnis Gorontalo dan Muna, keduanya mampu menyesuaikan bahasa. Sehingga pada pemilihan kata dalam setiap pesan sangat teliti. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman makna. KESIMPULAN Dari hasil pembahasan dalam penelitian ini yang telah dikemukakan tersebut, maka peneliti memberikan simpulan tentang pola komunikasi verbal mahasiswa etnis Muna dan mahasiswa etnis Gorontalo di Asrama Putri Nusantara UNG sebagai berikut : 1) Penggunaan bahasa dalam interaksi antara mahasiswa Muna dan Gorontalo menunjukkan sudah mencapai kesepahaman bersama. Walaupun pada awalnya sedikit mendapat kesulitan. Namun seiring dengan perkembangan interaksi yang dilaukan kedua etnis tersebut dapat memahami bahasa yang digunakan sehari-hari. Dan bahkan mahasiswa etnis Muna di Asrama Nusantara UNG, telah menunjukkan kemampuannya untuk menyesuaikan dengan bahasa keseharian yang digunakan oleh etnis Gorontalo. Hal ini dibuktikan dengan penggunakan kata ngana atau kata torang. 2) Komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo dapat terjadi kapan saja. Karena hampir setiap blok yang ada di Asrama Putri Nusantara UNG telah dihuni oleh kedua etnis tersebut. Komunikasi verbal antara kedua etnis tersebut juga tidak hanya terjadi di masing-masing blok, melainkan komunikasi juga dapat terjadi di luar ruangan, seperti pada kegiatan-kegiatan asrama dan silaturahmi yang dilakukan oleh keduanya. Dengan intensitas komunikasi yang dilakukan oleh kedua etnis tersebut, dapat menciptakan hubungan komunikasi yang efektif dan harmonis. Efektifitas komunikasi verbal antara mahasiswa etnis Muna dan Gorontalo, telah menunjukkan hubungan yang harmonis. DAFTAR PUSTAKA Djamara,2004. Pola komunikasi Orang Tua dan Anak Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta Hamidi MetodePenelitiandan Teori komunikasi. Pendekatan Praktis Penulisan Proposal dan Laporan Penelitian.Bandung: RemajaRosdaKarya. Hardjana, Agus, M Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius Liliweri,Alo2013. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2007.Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset Samovar dan Poter, Understanding Intercultural Communication. Belmont California :Wodsworth Publishing Company. Di terjemahkan oleh Liliweri Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri gorontalo 12