Puji Syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya Profil Kesehatan Kabupaten. Sarolangun Tahun 2014 dapat diterbitkan. Buku ini merupakan salah satu sarana

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Puji Syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya Profil Kesehatan Kabupaten. Sarolangun Tahun 2014 dapat diterbitkan. Buku ini merupakan salah satu sarana"

Transkripsi

1

2 Puji Syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 dapat diterbitkan. Buku ini merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan sebagai pelaporan pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan Kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan Pelayanan Minimal dibidang kesehatan di Kabupaten Sarolangun. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun ini pada intinya berisi berbagai data/informasi yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Sarolangun. Dalam penyusunan Profil Kesehatan ini digunakan data yang bersumber dari unit-unit kerja di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun serta di berbagai sumber lainnya di luar lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan validasi data melalui pemutahiran data dan informasi dibahas dan disepakati penyelesaiannya melalui rapat kerja dengan bidang-bidang terkait. Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun tahun 2014, diharapkan dapat memberikan gambaran dalam pelaksanaan kegiatan Pembangunan Kesehatan tahun 2014, sekaligus memeberikan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan maupun dalam mengevaluasi kegiatan Pembangunan Kesehatan tahun 2014 dengan mengacu kepada SPM dan MDGs tahun Dalam rangka meningkatkan mutu Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun berikutnya, diharapkan saran serta kritik yang sifatnya membangun serta partisipasi dari semua pihak, khususnya dalam upaya mendapatkan data/informasi yang akurat, tepat waktu sesuai kebutuhan.

3 Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya sehingga tersusunnya Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun tahun 2014, kami ucapkan terima kasih. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun H. ADNAN. HS, SE. M.Kes Pembina Utama Muda NIP

4 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 rofil Kesehatan Kabupaten Sarolangun merupakan gambaran tentang situasi kesehatan di Kabupaten Sarolangun yang selalu diterbitkan setiap tahun. Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun memuat berbagai data kesehatan dan pendukung lainnya yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, ekonomi, pendidikan dan keluarga berencana. Data dianalis secara sederhana dengan bentuk tampilan tabel dan grafik serta naratif dan diharapkan nanti dapat memberikan informasi mengenai data-data bidang kesehatan kepada masyarakat luas. Profil Kesehatan Kabupaten berguna sebagai sarana penyedia data dan informasi dalam rangka mendukung manajemen kesehatan. Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun juga dapat digunakan sebagai sarana pembinaan dan pengawasan pelaksanaan upaya kesehatan di Kabupaten. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Sarolangun masih sulit mendapatkan pelayanan kesehatan walau dalam skala minimal. Banyak hal yang menjadi penyebab, yaitu selain faktor teknis juga faktor-faktor geografi, ekonomi dan sosial. Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun merupakan bagian dari Profil Kesehatan Indonesia. kita ketahui bahwa sekarang Profil Kesehatan Indonesia selalu mengalami perubahan-perubahan, oleh sebab itu Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun mengalami berbagai upaya perbaikan, baik dari segi materi maupun dalam bentuk fisiknya. Pada saat ini Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun dibentuk dalam satu buku yang terdiri dari Buku Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun yang berisi tentang analisis dan lampiran yang berisi tabel-tabel mengenai data-data kesehatan yang telah dicapai tahun Pendidikan masyarakat yang relatif tinggi dan akses terhadap informasi tentang segala hal termasuk informasi kesehatan serta kesadaran hukum yang semakin tinggi, menyebabkan semakin bervariasi dan tinggi tuntutan kebutuhan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 1

5 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 kesehatan mereka. Hal ini akan membawa dampak luas dalam pelayanan kesehatan termasuk kesiapan informasi untuk mendesain dan menilai pelayanan kesehatan yang tepat. Dari sisi penyedia, globalisasi membawa dampak persaingan yang lebih terbuka dan persaingan yang lebih efisien. Dalam hal ini organisasi pelayanan kesehatan yang modern, efisien dan efektif adalah yang dipilih oleh konsumen. Desentralisasi adalah kebijakan yang juga mendorong terjadinya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Faktor-faktor diatas menuntut profesionalisme organisasi kesehatan termasuk sistem informasi kesehatannya. Untuk dapat mendukung profesionalisme maka tujuan pembuatan Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun ini adalah : Tujuan Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tujuan Umum Tujuan penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 adalah memberikan informasi kesehatan yang menyeluruh disetiap tingkat administrasi dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. Tujuan Khusus 1. Tersedianya data dan informasi tentang keadaan umum Kabupaten Sarolangun tahun 2014 yang meliputi situasi geografis, demografi serta keadaan lingkungan yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan, upaya kesehatan, dan status kesehatan masyarakat. 2. Tersedianya data dan informasi kesehatan sebagai alat untuk memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan di Kabupaten Sarolangun. 3. Tersedianya data sarana dan prasarana yang dapat memacu perbaikan dan penyempurnaan sistem pencatatan dan pelaporan di semua tingkat. Desentralisasi bidang kesehatan, dalam pencapaian masyarakat Indonesia yang sehat sangat ditentukan oleh pencapaian kabupaten sehat dan kecamatan sehat, oleh karena itu indikator Kabupaten Sehat harus mengacu pada indikator Indonesia Sehat Kendala yang dihadapi dalam melengkapi data dan informasi kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 2

6 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 serta yang terkait adalah kelengkapan data terutama yang bersumber dari kecamatan. Dalam perkembangannya sesuai dengan reformasi bidang kesehatan maka judul profil kesehatan disesuaikan dengan periode tahun data yang artinya profil kesehatan kabupaten Sarolangun tahun 2014 menggambarkan periode data tahun Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi Tahun 2014 ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mendukung Manajemen Kesehatan yang lebih baik terutama untuk mendukung pencapaian Indikator SPM dan MDGs A. Sistematika Sistematika penyajian Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun 2014 dapat diuraikan sebagai berikut : Bab I - Pendahuluan. Bab ini berisi tentang maksud dan tujuan penerbitan Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun 2014 dan sistematika penyajian. Bab II - Gambaran Umum dan Perilaku Penduduk. Bab ini berisikan tentang gambaran umum Kabupaten Sarolangun, yang meliputi letak geografis dan informasi umum lainnya yang berkaitan atau berhubungan dengan derajat kesehatan masyarakat serta faktor lain, seperti kependudukan, ekonomi dan pendidikan. Bab III - Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisikan tentang informasi kesehatan, yang meliputi indikator-indokator pencapaian dan besaran target yang ingin dicapai pada tahun Bahasan dilakukan secara sistematis diawali dengan umur harapan hidup (UHH), angka kematian balita (AKABA), dan Angka kematian ibu (AKI). Serta beberapa jumlah penyakit yang ada tahun 2014, serta status gizi bayi dan balita yang ada di Kabupaten Sarolangun. Bab IV - Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini berisikan tentang Visi dan Misi Pembangunan Kesehatan Kabupaten Sarolangun serta sasaran-sasaran yang telah dicapai tahun 2014, dan program-program yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 3

7 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 mengukur keberhasilan pebangunan kesehatannya melalui Indikator Sehat tahun Bab V - Pelaksanaan Standar Minimal Bidang Kesehatan Tahun Bab ini berisikan tentang Pencapaian Pelaksanaan Standar Minimal Bidang Kesehatan Tahun Bab VI - Penutup. Bab ini berisikan tentang kesimpulan pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sarolangun. Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 4

8 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 A. Kondisi Geografis abupaten Sarolangun secara geografis terletak di bagian barat Provinsi Jambi, dengan luas 6.174,43 Km2 dan terletak pada Ketinggian 20 M sampai 600 M dari permukaan laut terdiri dari dataran rendah 5,248 Km (85%) dan dataran tinggi seluas 926 Km (15%) dan berada pada posisi cukup strategis yang merupakan interaksi dari jalan Lintas Sumatera (dari Utara ke Selatan) dan Poros Sarolangun Muara Tembesi. Secara geografis Wilayah Kabupaten Sarolangun berada pada posisi BT sampai BT dan LS sampai LS (Meridian Greenwich) dan Ibukota Kabupaten berada di Kota Sarolangun yang berjarak lebih kurang 179 Km dari Ibukota Provinsi Jambi. Secara Administrasi, Kabupaten Sarolangun terbagi menjadi 10 Kecamatan, 149 Desa dan 9 Kelurahan. Jarak dari ibukota Provinsi Jambi ke ibukota kabupaten Sarolangun sekitar 179 Km dan dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Jumlah penduduk Kabupaten Sarolangun tahun 2014 mencapai 272,203 Jiwa terdiri dari laki-laki Jiwa dan perempuan sebanyak Jiwa. Kabupaten Sarolangun memiliki iklim tropis basah dengan temperatur berkisar antara 20 0 C C dan curah hujan antara mm per tahun. Temperatur udara rata-rata tercatat sebesar 24 0 C dengan suhu tertinggi 32 0 C pada Bulan Agustus dan terendah 20 0 C pada Bulan Desember. Kabupaten Sarolangun merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Sarolangun Bangko dengan batas-batas wilayah Administrasi Kabupaten Sarolangun adalah sebagai berikut : Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 5

9 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatra Selatan. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. B. Kepemerintahan Kabupaten Sarolangun merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jambi yang sebelumnya berada dalam wilayah Kabupaten Merangin. Mengingat bahwa pertumbuhan penduduk di Sarolangun yang semakin meningkat dan tingkat kebutuhan pelayanan masyarakat juga semakin tinggi baik dibidang pelayanan publik maupun di bidang kesehatan maka dibentuklah Kabupaten Sarolangun guna memudahkan pelayanan terhadap masyarakat. Kabupaten Sarolangun keadaan wilayahnya sangat bervariasi antara berbukit, bergelombang dan datar. Wilayah bagian timur dan barat datar bergelombang dan wilayah selatan berbukit bukit. Kabupaten Sarolangun terdiri dari 10 Kecamatan dan 158 Desa dan Kelurahan dengan jumlah penduduk 272,203 Jiwa dan tersebar di 10 Kecamatan yang ada di Kabupaten Sarolangun. C. Kependudukan Berdasarkan data dari kantor BPS Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 jumlah penduduk Kabupaten Sarolangun sebanyak jiwa ( laki-laki dan perempuan), dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 2,5 % per tahun. Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 6

10 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Tabel 2.1. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 No. Kecamatan Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah 1. Batang Asai Limun Cermin Nan Gedang Pelawan Singkut Sarolangun Batin VIII Pauh Air Hitam Mandiangin Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Sumber : BPS Kabupaten Sarolangun dan Estimasi Diskes Kab. Sarolangun Dari tabel di atas Kecamatan yang paling banyak jumlah penduduknya adalah Kecamatan Sarolangun yaitu berjumlah orang dan Kecamatan yang paling sedikit penduduknya adalah Kecamatan Cermin Nan Gedang dengan jumlah penduduk berjumlah orang. Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2014 No. Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah Dari tabel di atas terlihat bahwa di Kabupaten Sarolangun kelompok umur penduduk yang paling banyak adalah pada usia tahun dengan jumlah Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 7

11 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 orang, sedangkan kelompok umur yang paling sedikit adalah pada usia 60+ dengan jumlah orang. Gambar 2.1. Peta Sebaran Penduduk dan Titik Puskesmas Kabupaten Sarolangun Sejalan dengan kebijakan yang akan diambil pemerintah dalam membangun daerah juga memperhatikan jumlah penduduk, sebaran dan laju pertumbuhannya, untuk itu perlu dilakukan proyeksi jumlah penduduk untuk 5 tahun kedepan, dimulai dari tahun 2011 sampai dengan Dimana sebagai tahun dasar digunakan tahun 2008, proyeksi dilakukan untuk setiap Kecamatan, dengan menggunakan angka laju pertumbuhan penduduk setiap Kecamatan, dan untuk proyeksi penduduk Kabupaten Sarolangun didapat dari jumlah total setiap Kecamatan. Proyeksi dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, dari proyeksi yang dilakukan, terlihat pada tahun 2016, penduduk di Kabupaten Sarolangun akan berjumlah jiwa. Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 8

12 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 D. Sosial Ekonomi Kinerja pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat merupakan gambaran dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat yang mencakup kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, seni budaya dan olahraga. Hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan pada aspek kesejahteraan masyarakat selama periode adalah sebagai berikut : 1. Ekonomi. Kinerja kesejahteraan dan pemerataan ekonomi Kabupaten Sarolangun selama periode tahun dapat dilihat dari indikator pertumbuhan PDRB, laju inflasi, PDRB per kapita, Garis Kemiskinan, Rasio dan angka kriminalitas yang tertangani. Perkembangan kinerja pembangunan pada kesejahteraan dan pemerataan ekonomi adalah sebagai berikut : a. Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan PDRB merupakan indikator untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro yang mencakup tingkat pertumbuhan sektorsektor ekonomi dan tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah. Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Sarolangun atas dasar harga berlaku selama periode mengalami pertumbuhan yang meningkat, sampai dengan tahun 2011 mencapai sebesar Rp ,- Tabel 2.3. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 s/d 2011 atas Dasar Harga Berlaku (dalam juta rupiah) Kabupaten Sarolangun No. Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian , , , , ,45 2. Pertambangan & Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik,Gas, & Air bersih , , , , , , , , , , , , , , ,31 5. Konstruksi , , , , ,10 6. Perdagangan, , , , , ,47 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun 9

13 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Hotel, & Restoran 7. Pengangkutan & Komunikasi 8. Keuangan, sewa, & Js. Perusahaan , , , , , , , , , ,15 9. Jasa-jasa , , , , ,71 PDRB Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Sarolangun atas dasar harga Konstan Tahun 2000 selama periode juga mengalami pertumbuhan yang meningkat. Rincian PDRB Kabupaten Sarolangun atas dasar harga Konstan Tahun 2000 dapat dilihat pada tabel 2.4. Tabel 2.4. Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2006 s/d 2010 atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 (dalam juta rupiah) Kabupaten Sarolangun No. Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian , , , , , Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, & Air Bersih , , , , , , , , , , , , , , ,35 5. Konstruksi , , , , ,68 Perdagangan, Hotel, & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Sewa, & Js. Perush , , , , , , , , , , , , , , ,01 9. Jasa-jasa , , , , ,72 PDRB Dari tabel tersebut, kontribusi sektor usaha terbesar terhadap PDRB Kabupaten Sarolangun adalah sektor Pertanian dan perdagangan, hotel dan 10 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

14 Laju Pertumbuhan Ekonomi Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 restoran sedangkan kontribusi sektor usaha terkecil terhadap PDRB Kabupaten Sarolangun adalah sektor Listrik, Gas dan Air Bersih. Pada tahun 2011 kontribusi usaha terbesar sektor usaha Pertanian sebesar 45,54 %, dan Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 15,36 %, sedangkan kontribusi sektor usaha terkecil sektor usaha Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar 0,35 %. Peningkatan Laju Pertumbuhan PDRB berimplikasi terhadap kondisi perekonomian Kabupaten secara makro yang ditunjukan dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi selama Tahun mengalami pertumbuhan yang positif. Grafik 2.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun PDRB Jambi PDRB Sarolangun Tahun b. Laju Inflasi Laju inflasi merupakan ukuran yang dapat menggambarkan kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Laju inflasi Kabupaten Sarolangun selama. periode tahun mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dan berada di bawah rata-rata Provinsi Jambi. Pada tahun 2006 rata-rata Laju Inflasi di Kabupaten Sarolangun sebesar 12,20 %, dan tahun 2010 sebesar 11 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

15 Laju Inflasi Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun ,89 %. Sedangkan Laju Inflasi diatas rata-rata Provinsi pada tahun 2010 sebesar 10,52%. Besaran laju inflasi yang terjadi lebih diakibatkan pada permintaan masyarakat akan bahan kebutuhan pokok. Grafik 2.2. Perkembangan Laju Inflasi Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun Tahun Inflasi Jambi Inflasi Sarolangun Inflasi Jambi Inflasi Sarolangun c. PDRB Perkapita Pada tahun 2010 gambaran perekonomian Kabupaten Sarolangun secara makro dapat juga terlihat melalui beberapa indikator makro ekonomi lainnya seperti PDRB perkapita dan pendapatan regional perkapita. PDRB perkapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya PDRB per penduduk, sedangkan PDRB perkapita atas dasar harga konstan berguna untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi riil (nyata) perkapita (perkepala). Pendapatan regional perkapita berguna untuk menentukan besarnya pendapatan bersih yang diperoleh perkapita (perkepala) penduduk Kabupaten Sarolangun. Dengan mencermati perkembangan kedua indikator makro ekonomi ini akan dapat menggambarkan kondisi perekonomian dan perkembangan nilai tambah yang di hasilkan penduduk perkapita (perkepala). PDRB perkapita Kabupaten Sarolangun tahun 2010 sebesar Rp ,94,- setahun, PDRB perkapita Kabupaten Sarolangun tahun 2009 sebesar Rp ,33,-setahun, tahun 2008 hanya mencapai Rp ,00 hal ini berarti telah terjadi kenaikan PDRB perkapita sebesar 12 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

16 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun ,31 % dari tahun sebelumnya. Jika dihitung berdasarkan atas dasar harga konstan 2000, PDRB perkapita Kabupaten Sarolangun tahun 2010 adalah sebesar Rp ,04 setahun dengan mengalami penurunan PDRB perkapita sebesar 5,92 % dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp ,86 Sedangkan besarnya nilai pendapatan regional perkapita Kabupaten Sarolangun tahun 2010 adalah sebesar Rp ,42 angka ini menunjukkan bahwa besarnya pendapatan bersih yang diperoleh penduduk Kabupaten Sarolangun di tahun 2010 perkepala (perkapita adalah sebesar Rp ,42 setahun atau Rp ,78 sebulan, dimana pendapatan bersih ini telah mengalami kenaikan sebesar 3,71 % dari tahun sebelumnya (sama dengan kenaikan PDRB perkapita), sebelumnya di tahun 2009 hanya mencapai Rp ,03 setahun atau Rp ,84 sebulan. Grafik 2.3. Perkembangan PDRB Perkapita Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

17 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 d. Garis kemiskinan Garis kemiskinan adalah suatu tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup. Garis kemiskinan Kabupaten Sarolangun lebih tinggi dari rata-rata Provinsi Jambi. tahun 2006 adalah sebesar Rp ,/kapita/bulan, pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp ,-/kapita/bulan. Grafik 2.4. Perkembangan garis kemiskinan Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun Pengukuran kemiskinan yang dilakukan oleh BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach). Menurut pendekatan ini, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Konsep ini tidak hanya digunakan oleh BPS tetapi juga oleh negara-negara lain seperti Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra Leone dan Gambia. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Menurut pendekatan ini, penduduk miskin adalah penduduk yang mempunyai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan (GK). Secara teknis GK dibangun dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non 14 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

18 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Makanan (GKNM). Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan kilokalori perkapita per hari ditambah kebutuhan minimum non makanan yang mencakup perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Di Provinsi Jambi sendiri, jumlah penduduk miskin setiap tahunnya mengalami penurunan, pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi sebesar , tahun 2007 sebesar dan tahun 2009 menurun menjadi jiwa, tahun 2010 menurun menjadi jiwa. Sebagai salah satu kabupaten dalam Provinsi Jambi, Kabupaten Sarolangun memiliki jumlah penduduk miskin yang relative besar. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun sebesar 37,3 ribu, tahun 2007 sebesar 33,7 ribu orang, tahun 2008 sebesar 25,2 ribu orang, tahun 2009 sebesar 21,7 ribu orang. Tahun 2010 jumlah penduduk miskin naik menjadi 23,9 ribu orang. Selama periode Bila dilihat dari laju penurunan jumlah penduduk miskin di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi selama tahun penurunan penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun rata rata 9,67 persen per tahunnya. Tabel 2.5. Jumlah Penduduk Miskin Berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun (dalam ribuan) Kabupaten/Kota Kerinci 38,3 34,8 24,1 22,8 17,9 2. Merangin 38,9 34,2 27,5 25,5 27,2 3. Sarolangun 37,3 33,7 25,2 21,7 23,9 4. Batang Hari 36,4 33,1 23,2 22,8 24,6 5. Muaro Jambi 25,0 21,9 13,7 14,4 18,2 6. Tanjab Timur 28,9 28,3 28,8 26,4 25,4 7. Tanjab Barat 29,8 31,6 34,0 30,2 31,0 8. Tebo 24,7 21,7 16,2 15,9 19,2 9. Bungo 22,3 19,6 13,7 14,6 17,3 10. Kota Jambi 22,9 23,2 54,9 50,7 52,5 Provinsi Jambi 304,6 281,9 261,2 245,0 260,3 15 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

19 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Persentase penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun tahun , Persentase terbesar pada tahun 2006 sebesar 18,23 %, dan terendah pada tahun 2010 sebesar 9,67 %. Tabel 2.6. Persentase Penduduk Miskin berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun Kabupaten/Kota a. Kerinci 12,51 11,30 7,71 7,25 7,83 b. Merangin 14,05 12,10 9,50 8,65 8,08 c. Sarolangun 18,23 16,11 11,69 9,85 9,67 d. Batang Hari 17,20 15,42 10,49 10,11 10,19 e. Muaro Jambi 8,47 7,13 4,35 4,54 5,29 f. Tanjab Timur 13,97 13,44 13,49 12,21 12,41 g. Tanjab Barat 12,48 12,79 13,43 11,65 11,08 h. Tebo 10,05 8,69 6,34 6,10 6,42 i. Bungo 8,92 7,63 5,12 5,32 5,7 j. Kota Jambi 5,18 5,04 11,63 10,54 9,9 Provinsi Jambi 11,37 10,27 9,28 8,55 8,4 Untuk Kabupaten Sarolangun persentase penduduk miskin semakin berkurang setiap tahunnya. Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Kabupaten ini sebesar 18,23 persen artinya dari total jumlah penduduk di Kabupaten Sarolangun 18,23 persen penduduk merupakan penduduk miskin, sedangkan sisanya tergolong penduduk menengah dan kaya. Untuk tahun 2010, persentase penduduk miskin di Kabupaten Sarolangun menurun drastis menjadi 9,67 persen. 2. Pendidikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk melihat upaya dan kinerja pembangunan dengan dimensi yang lebih luas karena memperlihatkan kualitas penduduk dalam hal kelangsungan hidup, intelektualitas dan standar hidup layak. IPM disusun dari tiga komponen yaitu lamanya hidup, yang diukur dengan harapan hidup 16 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

20 Nilai Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 pada saat lahir ; tingkat pendidikan, diukur dengan kombinasi antara melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah ; serta tingkat kehidupan yang layak dengan ukuran pengeluaran perkapita (purchasing power parity). Pada tahun 2009 IPM Kabupaten Sarolangun telah mencapai skor 72,00, angka tersebut masih jauh dibawah angka rata-rata Provinsi Jambi sebesar 72,45. Untuk itu menjadi tugas Pemerintah Kabupaten Sarolangun untuk meningkatkan nilai IPM tersebut, usaha perbaikan secara bertahap dimulai dengan mendorong komponen meningkatkan kehidupan yang layak dan meningkatkan pendidikan sampai dengan 9 tahun serta meningkatkan usia harapan hidup. Selengkapnya IPM Kabupaten Sarolangun dapat dilihat pada Grafik di bawah ini : Grafik 2.5. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun IPM Jambi IPM Sarolangun Tahun IPM Jambi IPM Sarolangun 17 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

21 Nilai Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Grafik 2.6. Perkembangan Komponen Angka Harapan Hidup Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun IPM Jambi IPM Sarolangun Tahun IPM Jambi IPM Sarolangun Untuk komponen lamanya rata-rata hidup, yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir, lamanya hidup di Kabupaten Sarolangun masih lebih tinggi dari Provinsi Jambi, dimana pada tahun 2009 sebesar 69,27 tahun. Peningkatan ini menunjukan arah pembangunan di Kabupaten Sarolangun sudah lebih baik dan diharapkan dapat ditingkatkan menjadi 71,98 tahun pada akhir tahun Angka Melek Huruf Untuk komponen tingkat pendidikan, yang diukur dari kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah, angka melek huruf adalah persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin. Kemampuan baca tulis tercermin dari data Angka Melek Huruf, dalam hal ini merupakan persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin. Penduduk Sarolangun yang sudah mampu membaca dan menulis huruf latin tahun 2007 dan 2008 mencapai 93,70 persen, sisanya sebanyak 18 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

22 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun ,30 persen belum mampu membaca dan menulis huruf latin. Diperkirakan penduduk yang tidak dapat membaca dan menulis di Kabupaten Sarolangun sebagian besar terkonsentrasi pada penduduk usia tua. Tabel 2.7 Perkembangan Angka Melek Huruf Penduduk Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten/Kota Lain di Provinsi Jambi Tahun No. Kabupaten/Kota dan Provinsi/ Angka Melek Huruf (persen) Kerinci ,23 2. Merangin ,39 3. Sarolangun ,82 4. Atanghari ,57 5. Muara Jambi ,90 6. Tanjab Timur ,42 7. Tanjab Barat ,91 8. Tebo ,91 9. Bungo , Kota Jambi , Kota Sungai Penuh ,23 JAMBI ,06 Berdasarkan Tabel 2.7 dapat dilihat bahwa angka melek huruf penduduk Kabupaten Sarolangun baik pada tahun 2007 maupun 2008 adalah 93,70 %. Angka tersebut masih dibawah angka rata-rata melek huruf Provinsi Jambi yang mencapai 96,05% dan 96,06% pada tahun 2007 dan Suatu hal yang sangat menyedihkan lagi adalah bahwa angka melek huruf penduduk Kabupaten Sarolangun adalah nomor 10 dari sebelas Kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan hanya berada diatas kabupaten Tanjung Jabung Timur.Ini adalah tantangan dan tugas berat Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun dimasa mendatang. Rendahnya angka melek huruf tersebut salah satunya disebabkan oleh kondisi wilayah, ekonomi masyarakat dan infra struktur termasuk faktor kultur masyarakat. 19 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

23 Persen Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Grafik 2.7. Perkembangan Angka Melek Huruf Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Tahun Tahun Angka Melek Huruf Jambi Angka Melek Huruf Sarolangun Angka Melek Huruf Jambi Angka Melek Huruf Sarolangun Kemampuan membaca dan menulis atau baca tulis merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk mencapai kesejahteraannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka semakin terbuka pula peluang untuk mencapai tingkat kesejahteraan. Pemerintah Kabupaten Sarolangun telah berupaya untuk meningkatkan kemampuan baca tulis bagi masyarakat Kabupaten Sarolangun dengan berbagai program yang ada seperti penambahan jumlah tenaga guru kontrak agar dapat menjangkau sampai ke daerah terpencil. Dan adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah Pusat sangat membantu terlaksananya berbagai kegiatan pendidikan guna meningkatkan kemampuan membaca dan menulis bagi masyarakat Kabupaten Sarolangun. Pada tahun 2008 Di Kabupaten Sarolangun sudah didirikan perguruan tinggi guna meningkatkan pendidikan masyarakat kabupaten Sarolangun. Sehingga memudahkan bagi siswa yang sudah tamat SMU (sekolah menengah umum) untuk melanjutkan ketingkat perguruan tinggi. Dan diharapakan nanti SDM kabupaten Sarolangun menjadi SDM yang memiliki kemampuan dan keterampilan serta berdaya guna. 20 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

24 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun Lingkungan a. Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan TTU dan TUPM Yang termasuk kategori TTU (tempat-tempat umum) disini adalah Sekolah, Pasar, Hotel, Sarana Ibadah, dan tempat tempat yang banyak dikunjungi masyarakat termasuk pasar dan tempat umum lainnya. Pada tahun 2014 Jumlah TTU (tempat-tempat umum) sebanyak 374, tempat-tempat tersebut telah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sebanyak 226 atau sekitar 87 %. Sedangkan yang termasuk TUPM (tempat umum pengelolaan makanan) adalah makanan jajanan, katering/jasa boga, restoran/rumah makan dan depot air minum (DAM). Jumlah Tempat Umum Pengelolaan Makan (TUPM) Di Kabupaten Sarolangun sebanyak 470. Di Kecamatan Sarolangun jumlah TUPM berjumlah 149, restoran dan rumah makan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat Kecamatan Sarolangun terutama di pusat kota yaitu pada tahun 2014 jumlah restoran dan rumah makan yang ada di Kecamatan Sarolangun adalah sebanyak 63 dan dari 63 restoran dan rumah makan yang telah diperiksa, restoran dan rumah makan yang dinyatakan memenuhi syarat higiene sanitasi sebanyak 57 restoran. Bila dilihat dari wilayah kerja Puskesmas, persentase restoran dan rumah makan sehat tertinggi berada di wilayah Kecamatan Sarolangun yang merupakan ibu kota Kabupaten Sarolangun, Ini disebabkan penduduk diwilayah kerja Puskesmas Sarolangun dekat dengan pusat kota sehingga memudahkan bagi petugas penyuluh kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang hidup bersih dan sehat. Sementara diwilayah kerja Puskesmas Pematang Kabau merupakan daerah yang paling sulit untuk diberikan penyuluhan tentang gaya hidup bersih dan sehat, ini dikarenakan sulitnya merubah perilaku atau kebiasaan penduduk yang sebagian besar adalah suku anak dalam (SAD) yang selalu tergantung kepada hidup yang serba alami dan primitif. Seperti misalnya mereka masih mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak dimasak terlebih dahulu atau makanan yang masih mentah. 21 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

25 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 b. Rumah Sehat Pada Tahun 2014 jumlah rumah yang ada di Kabupaten Sarolangun sebanyak dan telah dilakukan pemeriksaan, dari hari pemeriksaan sebanyak rumah dinyatakan memenuhi syarat atau sekitar 77% bila dibandingkan dengan target sasaran 2013 yakni 70%, maka angka tersebut memenuhi target. Bila dilihat menurut wilayah kerja Puskesmas, persentase rumah sehat tertinggi berada diwilayah kerja Puskesmas Sarolangun yakni sebesar 85% dimana dari jumlah rumah dan yang diperiksa sebanyak rumah dinyatakan memenuhi syarat rumah sehat dan sebanyak 2931 rumah dan rumah sehat terendah berada diwilayah kerja Puskesmas Mersip yakni sebesar 65% Dari 943 jumlah rumah yang ada diperiksa sebanyak 198 memenuhi syarat rumah sehat dan sebanyak 745 rumah belum memenuhi syarat rumah sehat. hal ini disebabkan wilayah Puskesmas Mersip berada jauh dari di pusat kota Kabupaten Sarolangun sehingga menyulitkan bagi petugas penyuluh kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang cara hidup bersih dan sehat. c. Rumah Dengan Sarana Pembuangan Kotoran Manusia (Jamban Sehat) Jumlah seluruh rumah di Kabupaten Sarolangun pada tahun 2014 adalah dan tersebar di 10 Kecamatan yang ada. Jumlah rumah tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Sarolangun yaitu sebanyak sedangkan yang terendah berada di wilayah kerja Puskesmas Mersip yaitu sebanyak 943. Puskesmas Mersip merupakan Puskesmas yang baru berdiri pada akhir 2012 dan merupakan pecahan dari Puskesmas Pulau Pandan Kecamatan Limun, sebagai Puskesmas termuda Puskesmas Mersip masih kecil jumlah keluarganya hal ini dikarenakan kecilnya ruang lingkup wilayah kerja Puskesmas Mersip karena merupakan pecahan dari Puskesmas Pulau Pandan yang masih berada dalam satu Kecamatan dengan Puskesmas Mersip. Puskesmas Singkut merupakan tertinggi kedua yaitu sebanyak 8384 rumah dan dari jumlah yang ada dilakukan pemeriksaan sarana pembuangan kotoron manusia atau jamban sebanyak Penduduk. Dari hasil 22 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

26 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 pemeriksaan yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebanyak penduduk diketahui sebanyak penduduk pengguna memenuhi syarat jamban sehat dan untuk jenis sarana plengsengan jumlah penduduk pengguna yaitu dan dari yang memiliki dapat dinyatakan jamban sehat sebanyak serta untuk pengguna sarana jamban jenis cemplung sebanyak penduduk dan dari penduduk pengguna dinyatakan memenuhi syarat jamban sehat. d. Rumah dengan Sarana Pembuangan Air Limbah Sehat Dari jumlah seluruh rumah yang diperiksa sarana pembuangan air limbahnya (SPAL) di Kabupaten Sarolangun tahun 2014 yang memiliki sebanyak keluarga Sedangkan keluarga yang memiliki sarana pembuangan air limbah sehat dan memenuhi syarat kesehatan sebanyak keluarga atau sekitar 62,12% dari jumlah keluarga yang diperiksa. bila dilihat berdasarkan wilayah kerja Puskesmas, persentase tertinggi rumah yang memiliki sarana pembuangan air limbah sehat serta memenuhi syarat kesehatan berada diwilayah kerja Puskesmas Sarolangun yakni sebesar 68%, hal ini disebabkan wilayah kerja Puskesmas Sarolangun berada di pusat kota Kabupaten Sarolangun, sehingga memudahkan bagi petugas kesehatan untuk memantau dan memberikan penyuluhan tentang cara hidup bersih dan sehat. Sementara persentase terendah keluarga memiliki jamban sehat berada di wilayah kerja Puskesmas Pematang Kabau yakni hanya 45,0% dari jumlah yang memiliki sebanyak keluarga. e. Rumah dengan Sarana Air Bersih Sehat Kabupaten Sarolangun merupakan bagian dari Provinsi Jambi dan menjadi salah satu Kabupaten termuda di Provinsi Jambi dan daerah Kabupaten Sarolangun memiliki salah satu sungai yaitu Batang Tembesi, sebagian besar masyarakat Kabupaten Sarolangun untuk sarana air bersihnya banyak bergantung kepada sungai Batang Tembesi khususnya di daerahdaerah yang jauh dari pusat kota salah satunya adalah Kecamatan Batang 23 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

27 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Asai yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Pekan Gedang. Dari 4777 jumlah seluruh rumah yang ada dilakukan pemeriksaan sumber air bersihnya. Dari hasil pemeriksaan ternyata banyak yang menggunakan sumur gali sebagai sarana air bersih yaitu sebanyak 2844 penduduk yang kriterianya memenuhi syarat dan yang menggunakan perpipaan PDAM sebanyak peduduk dengan kriteria memenuhi syarat. 24 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

28 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun Umur Harapan Hidup eningkatnya umur harapan hidup waktu lahir secara tidak langsung memberikan gambaran tentang adanya kemungkinan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan dalam masyarakat sehingga dapat menurunkan angka kematian. Derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Sarolangun pada umumnya mulai meningkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya Umur Harapan Hidup (UHH) di Kabupaten Sarolangun menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Estimasi umur harapan hidup di Kabupaten Sarolangun pada tahun (rata-rata 2002) adalah 65,36 tahun, meningkat menjadi 66,37 Tahun, pada tahun (rata-rata 2007). Jika dilihat umur harapan hidup Indonesia pada tahun 1990 adalah 59,8 tahun, kemudian pada tahun 1995 meningkat menjadi 63,48 tahun. Menurut BPS, UHH Kabupaten Sarolangun tahun 2009 adalah 69 tahun dan tahun 2012 adalah 70 tahun. 2. Mortalitas Secara umum kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari gangguan proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian pada masyarakat. Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan bidang kesehatan. a. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate) Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Sarolangun cenderung menurun dari tahun Keadaan ini menggambarkan kualitas dan kuantitas 25 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

29 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 pelayanan kesehatan terhadap perinatal semakin membaik. Pada tahun 2014 AKB mengalami peningkatan bila dibandingkan dari data tahun sebelumnya. Angka Kematian Bayi di Kabupaten Sarolangun menunjukkan kecendrungan menurun, pada tahun 2011 angka kematian bayi sebesar 30 per atau 4,8 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2012 angka kematian bayi sebanyak 30 bayi dengan jumlah kematian tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin yaitu dari 492 jumlah kelahiran yang mati sebanyak 6 bayi. Pada tahun 2013 angka kematian bayi menurun menjadi 26 bayi dengan jumlah kematian tertinggi berada diwilayah kerja Puskesmas Batang Asai yaitu dari 355 jumlah kelahiran yang mati sebanyak 7 bayi, sedangkan pada tahun 2014 angka kematian bayi meningkat menjadi 28 bayi dengan jumlah kematian tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin dan Puskesmas Singkut. b. Angka Kematian Balita (AKABA) AKABA (0-5 Tahun) adalah jumlah kematian anak umur 0-5. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor faktor lain yang berpengaruh terhadap anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi, dan kecelakaan. Pada tahun 2012 tercatat jumlah kematian AKABA sebesar 17 kematian per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2013 ini jumlah kematian AKABA menunjukan kenaikan angka dengan jumlah 27 kematian pada proses persalinan atau kematian neonates dan pada tahun 2014 ini jumlah kematian AKABA menunjukkan penurunan angka dengan jumlah 3 kematian per 1000 kelahiran hidup. c. Angka Kematian Ibu Bersalin (AKI) Angka Kematian Ibu atau AKI adalah mencerminkan resiko yang dihadapi ibu- ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh keadaan, sosial ekonomi, keadaan kesehatan, serta kurangnya pengetahuan ibu hamil dalam masalah kesehatan selama proses kehamilan. AKI berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan 26 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

30 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas. Pada tahun 2011 sebesar 112 per kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu hamil 2 orang, kematian ibu bersalin 4 orang dan kematian ibu nifas 1 orang dari kelahiran, dan pada tahun 2012 jumlah kematian ibu tercatat sebesar 7 kematian, pada proses persalinan tercatat 5 kematian, dan kematian ibu nifas sebanyak 2 orang dari kelahiran. Bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebanyak 7 kasus kematian ibu melahirkan, maka pada tahun 2012 tidak mengalami penurunan, pada tahun 2013 jumlah kematian ibu sebanyak 5 kematian dan pada tahun 2014 jumlah kematian ibu sebanyak 5 kematian berarti pada tahun 2014 tidak terjadi penurunan kematian ibu,jumlah kematian ibu tahun 2014 tetap sama dengan jumlah tahun Untuk lebih jelas nya dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3.1 Jumlah Kematian Ibu Hamil, Ibu Bersalin, dan ibu Nifas Tahun 2014 KEMATIAN IBU NO KECAMATAN PUSKESMAS IBU IBU IBU KEMATIAN HAMIL BERSALIN NIFAS IBU 1. Sarolangun Sarolangun 2. BatinVIII Limbur Tembesi Pauh Pauh 4. Pelawan Pelawan Singkut Singkut 6. Mandiangin Mandiangin 2 2 Mandiangin Butang Baru Air Hitam Air Hitam Air Hitam Pematang Kabau 8. Limun Pulau Pandan 9. Cermin Nan Gedang Lubuk Resam 10. Batang Asai Pekan Gedang Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Sarolangun 27 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

31 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 d. Angka Kematian Akibat Diare Pada Balita Penyakit diare merupakan penyakit yang mudah menular dan sering menimbulkan wabah. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi/kekurangan cairan akibat lambatnya mendapatkan pertolongan. Di Kabupaten Sarolangun pada tahun 2012 dan tahun 2013 tidak terdapat kasus diare dan pada tahun 2014 juga tidak terdapat kasus diare pada bayi dan balita. Tidak terdapatnya kasus diare pada balita perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun sebagai motor penggerak sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan ini dapat dibuktikan dengan tidak ditemukannya kasus diare pada bayi dan balita yang dapat menyebabkan kematian. 3. Morbiditas. Angka Kesakitan untuk Kabupaten Sarolangun berasal dari data yang diperoleh dari fasilitas sarana kesehatan melalui sistem pencatatan dan pelaporan rutin dari petugas di Puskesmas. Penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan utama Indonesia dan juga di Kabupaten Sarolangun. Beberapa jenis penyakit menular yang dilaporkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun adalah sebagai berikut : a. Demam Berdarah Penyakit demam berdarah sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga angka kesakitan yang terjadi dianggap sebagai gambaran dari penyakit masyarakat. Kabupaten Sarolangun merupakan daerah endemis demam berdarah, kondisi ini di dukung oleh kebiasaan mayoritas masyarakat Kabupaten sarolangun yang mengkonsumsi air hujan serta tingginya mobilisasi penduduk yang pindah ke daerah endemis. Pada tahun 2010 tidak ditemukan kasus DBD, dan pada tahun 2011 banyak terjadi kasus DBD yaitu sebanyak 67 kasus, dan 30 kasus terjadi diwilayah kerja Puskesmas Sarolangun. pada tahun 2012 terjadi penurunan jumlah kasus DBD jika dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu tercatat sebanyak 29 kasus, dan kasus terbanyak terdapat diwilayah kerja Puskesmas Sarolangun yaitu 8 kasus 28 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

32 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 dikuti oleh Puskesmas Pelawan 7 Kasus dan Puskesmas Singkut 6 kasus. Walaupun terjadi penurunan jumlah kasus pada tahun 2012, namun kasus DBD tahun 2012 terdapat korban meninggal dunia sebanyak 2 orang meninggal, dan korban meninggal ini berada diwilayah kerja Pukesmas Sarolangun 1 orang dan Puskesmas Pelawan 1 orang, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gejala awal DBD, sehingga mereka tidak memeriksakan ke sarana kesehatan yang ada sehingga kasus DBD yang meninggal tidak teridentifikasi oleh petugas kesehatan sementara 27 kasus DBD lainnya dapat tertangani dengan baik dan pada tahun 2013 tidak ditemukan kasus DBD, Pada tahun 2014 ditemukan kasus DBD sebanyak 52 kasus tetapi tidak ada korban meninggal dunia. b. Rabies. Penyakit rabies merupakan penyakit yang diakibatkan bekas gigitan hewan penular Rabies/HPR seperti anjing, kucing, dan kera. Pada Tahun 2014 di Kabupaten Sarolangun tidak ditemukan kasus rabies. c. Malaria Penyakit malaria merupakan penyakit menular yang bisa menimbulkan kematian dan kejadian luar biasa. Kabupaten Sarolangun merupakan daerah low endemisitas malaria, pada tahun 2010 tercatat kasus malaria sebanyak kasus sedangkan tahun 2011 terjadi penurunan jumlah kasus malaria sebesar kasus. pada tahun 2012 terjadi kenaikan jumlah kasus malaria sebesar kasus tanpa pemeriksaan sediaan darah dan 533 kasus dengan pemeriksaan sediaan darah. Walaupun terjadi kenaikan jumlah kasus malaria pada tahun 2012 namun tidak ditemukan kasus malaria yang menimbulkan kematian dan pada tahun 2013 kasus malaria mengalami kenaikan sebesar kasus tanpa pemeriksaan sediaan darah dan 934 kasus dengan pemeriksaan sediaan darah. Dan tidak ditemukan kasus kematian akibat dari kasus malaria ini. Pada tahun 2014 terjadi penurunan yang sangat signifikan pada kasus malaria yaitu 156 dari tahun sebelumnya sebanyak 934 kasus. 29 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

33 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 Berdasarkan wilayah kerja Puskesmas, kasus malaria tertinggi ditemukan diwilayah kerja Puskesmas Pauh sebesar 83 kasus. sedangkan kasus malaria yang terendah ditemukan diwilayah kerja Puskesmas Sungai Baung, Singkut v, Butang Baru, Air Hitam, Mersip, Lubuk Resam dan Pekan Gedang yaitu sebanyak 0 kasus. d. Diare Penyakit diare merupakan penyakit yang mudah menular dan sering menimbulkan wabah serta penyebab kematian. Walaupun penyakit diare bukan Penyebab utama kematian pada semua golongan umur, tetapi penyakit diare merupakan penyakit yang harus di waspadai, artinya penanganan yang tepat di rumah sakit dan Puskesmas sangat penting agar jangan sampai kasus diare tersebut dapat menimbulkan kematian. Di Kabupaten Sarolangun pada tahun 2011 kasus diare semakin meningkat yaitu sebanyak jumlah kasus diare. Dan pada tahun 2012 sedikit penurunan jumlah kasus penderita diare yaitu sebanyak kasus dan semuanya ditangani dengan baik disetiap klinik kesehatan yang ada dikabupaten Sarolangun. Sedangkan pada tahun 2013 kasus diare mengalami penurunan sebanyak kasus. Kasus diare tertinggi banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Sarolangun yaitu sebanyak kasus dan kasus diare terendah berada di wilayah kerja Puskesmas mersip yaitu sebanyak 141 kasus. Minimnya sarana sanitasi yang bersih dan sehat merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya kasus diare di Kabupaten Sarolangun serta kurang kesadaran masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat terutama masyarakat yang tinggal dipinggiran sungai yang ada di Kabupaten Sarolangun yang masih menjadikan sungai sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus (MCK) e. Kusta Pada tahun 2011 Angka penderita kasus baru kusta yang tercatat di Kabupaten Sarolangun tercatat sebanyak 4 orang penderita kasus baru kusta, 2 orang termasuk kedalam golongan umur 0-14 tahun dan 2 orang lagi masuk 30 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun

34 Profil Kesehatan Kabupaten Sarolangun Tahun 2014 kedalam golongan umur diatas 15 tahun. Kasus kusta terbanyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Butang baru yaitu sebanyak 3 orang penderita kusta, dan 1 orang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Singkut dimana jumlah penderita terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 3 orang. Pada 2012 tidak ditemukan penderita kusta. Pada tahun 2013 angka penderita kusta tercatat sebanyak 4 kasus, yang terdapat di wilayah kerja 4 Puskesmas yaitu Puskesmas Pauh,Butang Baru,Air Hitam dan Pulau Pandan. Sedangkan pada tahun 2014 Angka penderita kasus baru kusta yang tercatat di Kabupaten Sarolangun tercatat sebanyak 4 orang penderita kasus baru kusta, 4 orang termasuk kedalam golongan umur 0-14 tahun yang terdapat di wilayah kerja 4 Puskesmas yaitu Puskesmas Pelawan, Pematang Kabau dan Mersip. f. TB Paru Penyakit TB paru merupakan penyakit menular yang dapat menyerang segala kelompok umur. Penyakit TB paru atau TBC masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Kabupaten Sarolangun. Pada tahun 2010 terdapat 165 kasus dan yang di obati sebanyak 144 kasus dan dinyatakan sembuh. Pada tahun 2011 terjadi peningkatan jumlah kasus TBC di Kabupaten Sarolangun yaitu sebanyak 303 kasus TB Paru Klinis dan 280 TB Paru BTA positif dan diobati sebanyak 165 penderita TB Paru BTA positif dan dinyatakan sembuh sebanyak 144 penderita TB Paru BTA positif. dan pada tahun 2012 ditemukan jumlah kasus TB Paru sebanyak 316 kasus dan ini tidak jauh berbeda dengan penemuan jumlah kasus pada tahun 2011, dan penderita TB Paru positif diobati sebanyak 121 penderita dan dinyatakan sembuh sebanyak 96 penderita TB Paru Positif, pada tahun 2013 ditemukan jumlah kasus TB Paru meningkat menjadi 322 kasus, dan penderita TB Paru diobati sebanyak 322 penderita dan dinyatakan sembuh sebanyak 102 penderita TB Paru Positif. Sedangkan pada tahun 2014 terjadi peningkatan jumlah kasus BTA+ menjadi 338 kasus dan 31 Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun