KONSEP TEOLOGI HINDU DALAM TEKS BHUANA KOSA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KONSEP TEOLOGI HINDU DALAM TEKS BHUANA KOSA"

Transkripsi

1 KONSEP TEOLOGI HINDU DALAM TEKS BHUANA KOSA Oleh : I Gusti Made Widya Sena * ) ABSTRAK Dalam Kitab Upanga Veda, khususnya Kitab Agama menguraikan secara jelas mengenai konsep teologi Agama Hindu dalam simbol-simbol Siwa sebagai Tuhan Alam Semesta. Selain konsep Siwa sebagai sumber teologi Agama Hindu dalam Kitab Agama, tidak ketinggalan pula implementasi ajaran teologi ketika sampai di Indonesia, khususnya di pulau Bali. Lokal genius yang terdapat di Bali merupakan salah satu implementasi rasa bhakti umat kepada Tuhan secara turun temurun. Hal ini diawali dari kepercayaan-kepercayaan yang muncul dan hidup subur dalam kehidupan masyarakat. Seperti animisme (pemujaan pada roh) dan dinamisme (pemujaan pada benda-benda yang dianggap keramat / gaib), hingga Agama Hindu masuk ke pulau Bali dan memuliakan ajaran-ajaran tersebut. Berawal dari hal inilah mengapa pemahaman yang benar terhadap ajaran-ajarannya, khususnya mengenai ajaran Teologi Agama Hindu, yang tertuang dalam Teks-teks Siwaistik di Bali. Khususnya Teks Bhuana Kosa sangat diperlukan dalam meningkatkan sraddha dan bhakti umat menuju totalitas dan keharmonisan. Konsep Teologi Agama Hindu Dalam Teks Bhuana Kosa adalah memuliakan Sang Hyang Siwa sebagai wujud Tuhan yang tertinggi. Ajaran ini mengajarkan Tuhan yang tak terbatas dan terbatas. Ia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak berkuasa dan bersthana disuatu tempat melainkan hadir di setiap ciptaannya. Key words : Siwa, Kosmologi, Bhuana Kosa * ) I Gusti Made Widya Sena, adalah Dosen pada Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar 1

2 I. PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosio religius. Sebagai makhluk sosio (sosial), manusia tidak dapat melepaskan keberadaannya dari kehidupan dengan manusia lain, adanya rasa saling ketergantungan, latar belakang yang sama, bentuk empati terhadap lainnya adalah salah satu unsur yang menciptakan manusia berada didalam sebuah perkumpulan yang disebut dengan komunitas (masyarakat). Hidup didalam sebuah komunitas selain memberikan rasa aman juga melalui komunitas tersebut manusia dapat mengembangkan sumber daya yang dimilikinya secara maksimal demi mencapai kesejahteraan hidup melalui jalan pertukaran sosial dan tentunya komunikasi yang baik didalamnya, sedangkan sebagai makhluk religius, kehidupan manusia tidak dapat lepas dari hubungannya dengan Tuhan. Berbagai agama telah memberikan jalan yang benar untuk memahami dan mencapai hubungan tersebut. Khususnya Agama Hindu, menurut ajaran Agama Hindu yang tertuang didalam Veda Smrti, khususnya pada ajaran Upanga Veda, membahas bagaimana jalan manusia menghubungkan diri dengan Tuhan, salah satunya melalui jalan memahami secara tepat dan mengimplementasikan secara benar ajaran teologi Agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Kitab Upanga Veda, khususnya Kitab Agama menguraikan secara jelas mengenai konsep teologi Agama Hindu dalam simbol-simbol Siwa sebagai Tuhan Alam Semesta. Selain konsep Siwa sebagai sumber teologi Agama Hindu dalam Kitab Agama, tidak ketinggalan pula implementasi ajaran teologi ketika sampai di Indonesia, khususnya di pulau Bali. Lokal genius yang terdapat di Bali merupakan salah satu implementasi rasa bhakti umat kepada Tuhan secara turun temurun. Hal ini diawali dari kepercayaan-kepercayaan yang muncul dan hidup subur dalam kehidupan masyarakat. Seperti animisme (pemujaan pada roh) dan dinamisme (pemujaan pada benda-benda yang dianggap keramat / gaib), hingga Agama Hindu masuk ke pulau Bali dan memuliakan ajaran-ajaran tersebut. Berawal dari hal inilah mengapa pemahaman yang benar terhadap ajaran-ajarannya, khususnya mengenai ajaran Teologi Agama Hindu, yang tertuang dalam teks-teks Siwaistik di Bali. Khususnya Teks Bhuana Kosa sangat diperlukan dalam meningkatkan sraddha dan bhakti umat menuju totalitas dan keharmonisan. 2

3 II. PEMBAHASAN 2.1 Teologi Hindu Teologi berasal dari kata Theos (Bahasa Yunani) berarti Tuhan dan kata Logos (Bahasa Yunani) berarti ilmu. Jadi Teologi adalah pengetahuan mengenai Tuhan. Ilmu yang mempelajari mengenai Tuhan dalam Veda (kitab suci Hindu) dinamakan Brahma Vidya atau Brahma Tattva Jnaña. Kata Brahma yaitu gelar yang diberikan kepada Tuhan sebagai unsur yang memberi kehidupan pada semua ciptaanya dan juga unsur sabda atau aksara (Yang Maha Kuasa). Vidya atau Jnaña, berarti ilmu, sedangkan Tattva berarti hakikat mengenai Tat (yaitu Tuhan dalam bentuk Nirguna Brahman). Jadi Tattva Jnaña artinya sama dengan ilmu mengenai hakekat, yaitu ilmu mengenai Tuhan (Pudja, 1999: 3). 2.2 Teks Bhuana Kosa Teks Bhuana Kosa menggambarkan ajaran rahasia Siddhanta secara terstruktur tertuang dalam bentuk patalah (bab). Jumlah sloka masing-masing patalah berbeda-beda. Patalah yang slokanya paling sedikit terdapat pada patalah VI, sedangkan patalah yang paling panjang terdapat pada patalah III. Masing-masing patalah (bab) dalam lontar ini membahas mengenai topik-topik tertentu. Bhuana Kosa termasuk jenis tutur yang keadaan sloka Sanskertanya cukup bagus dan jumlahnyapun cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari terjemahannya atau komentarnya dalam bahasa Jawa Kuna. Bhuana Kosa adalah teks tertua yang masih ada sebagai pedoman para Pendeta penganut ajaran Siwa-Siddhanta. Siwa Siddhanta di sini adalah merupakan bentuk baru dari Siwa Paksa yang dalam kurun waktu tertentu menerima / menyerap unsur-unsur dari sekta-sekta lain yang pernah berkembang di Bali. Sehingga antara Siwa Siddhanta yang ada di Bali dengan Siwa Siddhanta yang ada di India adalah berbeda. Bhuana Kosa merupakan lontar tertua yang memuat tentang konsep Siwa Tattwa di Bali, maka ini berarti bahwa ide atau konsep tentang hakekat Bhatara Siwa itu adalah bersumber dari lontar Bhuana Kosa, dengan kata lain teks Bhuwana Kosa adalah merupakan babon (induk) dari teks-teks Siwaistis yang ada di Indonesia. Bhuana Kosa merupakan nama sebuah lontar yang dapat dikatakan atau digolongkan sebagai jenis tattwa atau tutur yang dipandang sebagai lontar tertua, dan merupakan sumber 3

4 lontar-lontar tattwa yang bercorak siwaistik lainnya, seperti: Wrhaspatitattwa, Tattwam Jnana, Sanghyang Maha Jnana, Ganapati Tattwa dan lainnya. Lontar Bhuana Kosa ini terdiri atas 11 bab yang disebut dengan patalah, dengan jumlah sloka sekitar 491 sloka. Setiap bab panjangnya berbeda-beda dan memiliki judul tersendiri. Susunannya berurutan dari patalah I sampai XI, namun patalah VI, VII dan VIII kembali menggunakan istilah Pratamah Patalah dan seterusnya. Patalah IX dan X kembali menggunakan Nawami Patalah dan Dasamah Patalah. Patalah XI hanya berisi nama judul dengan tidak mencantumkana nama urutan patalahnya, sehingga Bhuana Kosa itu seakan-akan terdiri atas 10 patalah. Struktur Teks Bhuana Kosa disusun dalam bentuk dialog antara Resi Bhargawa dan Dewa Mahadewa mengenai kebenaran. Resi Bhargawa sebagai murid sedangkan Dewa (Bhatara) Mahadewa sebagai guru. Dialog yang terjadi antara Dewa dengan Resi Bhargawa berakhir sampai patalah V yang kemudian dilanjutkan dengan dialog antara Bhatara dengan Bhatari sampai patalah XI (terakhir). Dialog antara Resi Bhargawa, Bhatara dan Bhatari menguraikan tentang keberadaan tertinggi Siwa yang harus dicari oleh mereka yang tekun, para pendeta, dan para yogi. Melalui sebuah pengetahuan yang tertuang dalam Siddhantalah orang akan mencapai kelepasan dan menyatu dengan Sang Hyang Siwa. 2.3 Konsep Teologi Hindu Dalam Teks Bhuana Kosa Teologi dalam Hindu disebut Brahma Widya. Di Bali lontar-lontar yang membicarakan tentang Brahman disebut dengan Tattwa. Kata Tattwa berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya hakikat, nyatanya, kesejatiannya (Zoetmulder, 1995: 1223). Secara etimologis kata Tattwa berasal dari kata tat dan twa. Tat berarti hakikat, kebenaran, kenyataan. Kata twa berarti yang bersifat. Dengan demikian kata tattwa berarti yang bersifat hakiki. Arti lainnya adalah unsur atau elemen. 1. Sang Hyang Siwa Teks Bhuana Kosa adalah Teks Siwaistik yang memuliakan Sang Hyang Siwa sebagai wujud Tuhan yang tertinggi. Kata Siwa dalam lontar ini sama artinya dengan dengan kata Brahman dalam Vedanta. Sifat-sifat Tuhan yang tertinggi seperti yang diuraikan dalam kitabkitab Upanisad, Bhagavad Gita, dan Brahma Sutra persis sama dengan sifat-sifat Siwa yang dijelaskan Dalam Teks Bhuana Kosa. Lontar Bhuana Kosa menyebutkan: 4

5 Lwir Bhaṭāra Śiwa sira humunggu ring hati ning sarwwa mawak, tarpadi, tar pamadhya, tar panta, langgeng hana nira, kadi jala cakra rupanira, sira ta katon de sang Yogiswara. (Bhuana Kosa I.4) Terjemahannya : Keberadaan Sang Hyang Siwa bersemayam di hati semua makhluk, tanpa awal, tanpa pertengahan, dan tanpa akhir. Keberadaan beliau kekal, berwujud seperti pusaran air. Demikian beliau tampak oleh sang Yogiswara. Kata Siva berarti yang memberikan keberuntungan, kerahayuan, baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya (Monier dalam Titib, 2000:239). Bhatara Mahadewa Dalam Teks Bhuana Kosa disebutkan sebagai dewanya para dewa. Bhatara Mahadewa merupakan dewa utama yang dipuja dengan banyak nama. Dalam Teks Bhuana Kosa menjelaskan tentang Bhatara Mahadewa sebagai berikut: He, Dewa-dewa, kita dewaning dewata kabeh, he Mahadewa, kita Bhatara Mahadewa ngaranta, he Maheswara, kita Bhatara Maheswara ngaranta, he Sangkara, kita Bhatara Sangkara ngaranta. (Bhuana Kosa, I.1) Terjemahannya Oh para Dewa, engkau adalah Dewa dari semua Dewa, he Mahadewa, engkau bergelar Mahadewa, he Maheswara, engkau bergelar Sang Hyang Maheswara, he Sangkara, engkau bergelar Sang Hyang Sangkara. Dewa Mahadewa adalah Dewa tertinggi yang dipuja oleh semua orang. Mahadewa adalah great god, sebutan untuk mengagungkan nama Rudra-Siwa (Knappert, 1991:158). Mahadewa adalah Siwa sendiri yang dimuliakan oleh pendukungnya. Kata Siwa berarti yang memberikan keberuntungan, yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan lain sebagainya. Siwa yang sangat ditakuti disebut Rudra, sehingga belakangan disebut Rudra-Siwa. Siwa yang belum kena pengaruh maya disebut Parama Siwa. Siwa sebagai aspek pencipta disebut Sankara. Sankara juga berarti damai, Siwa yang memberikan kedamaian kepada pemujanya melalui yoganya. Sankara juga salah satu aspek dari Bhairawa, kadang-kadang ditunjukkan dengan bentuk yang terpisah, seram dan telanjang. Sebagai penguasa, Siwa disebut sebagai Maheswara. Iswara berarti penguasa, yakni Yang Mutlak yang tanpa harus selalu memiliki bentuk, terkecuali diperlukan untuk kepentingan 5

6 bhakti. Iswara dalam pengider-ider di Bali adalah dewa yang menempati penjuru Timur. Iswara adalah aspek Siwa itu sendiri. Siwa adalah Iswara, karena Ia adalah penguasa dan mengatur seluruhnya. Siwa dalam lontar Wrhaspati Tattwa disebut sebagai Paramasiwa, karena Ia transenden, dilukiskan tidak memiliki sifat, karena ia tidak dapat diukur, tidak berciri, tidak dapat dibandingkan, tidak tercemar, tidak tampak, ada dimana-mana, abadi, tetap, tidak berkurang, dan tanpa akhir. Ia tidak berciri karena Ia tidak mempunyai ciri. Ia tidak dapat dibandingkan, karena tidak ada yang lain seperti dia, Ia tidak tercemar, karena Ia tidak ternoda. Ia tidak tampak karena Ia tidak dapat dilihat. Ia ada dimana-mana, karena Ia ada dalam segala benda. Ia abadi karena Ia tanpa bentuk, Ia tetap karena Ia tidak bergerak, Ia tidak berkurang karena Ia tetap utuh. Siwa bersifat tidak dapat dibayangkan (aprameya), karena bersifat ananta yang tak terbatas. Ia tidak dapat diberi batasan (anidesya), karena Ia tidak mempunyai ciri. Ia tidak dapat dibandingkan (anaipamya), karena Ia tidak ada yang menyamainya. Ia tidak kena penyakit (anamaya), karena Ia suci. Ia disebut suksma, karena Ia tidak dapat dilihat. Ia Sarwagata karena Ia ada dalam segalanya, ia memenuhi jagat raya. Ia tetap tenang, karena Ia tidak memiliki asal mula. Ia kokoh (dhruwa), karena Ia tidak bergerak, tetap stabil. Ia tidak pernah berkurang (awyaya), karena Ia selalu utuh. Lontar Bhuana Kosa menjelaskan keberadaan Sang Hyang Mahadewa sebagai berikut: Tan parupa sira, tan pawarna sira, tan parasa sira, tan pagandha sira, tan pasabdha sira, tan kasparsa sira, tan keneng lara sira, tan keneng idep, tan adi, tan madya, tan atambayan, tan anta, tan pawekasan, tan pahinghanan, tan parok, tan pawak, tan karaketing rupa warna, tan hana lumewihana sangkeng siran maha wisesa, tan cala, tan hana linggeri ya, tan pakasurudan, tan palwang, tan pagati, tan panyun, tan kena ring garbha jana maran, tan hana lara ri sira, tan kene kingking, tan pangidep lara, tan pangidep sangsara, tan pamala, tan pakala, tan pakasa, retu, masa horatra, tan patahun, tan paretu tan pawulan, tan parahina wengi, tan pasandyangsa, tan pawela kastra, tan petarayana, tan padaksinayana, tan pawisuwayana, tan hana kedap riya, santa sunya, menget, wisesa, tepet, sunyati sunya, malilang, kewalya, tan pasraya, ya siwa, ya kamoksan, tar elik, ya kamoktan, sira wisesaning Brahma, tan palwir, tar keneng bhaya, tan keneng pati, nahan ta rupanira Brahma pada nga, sira dewa, sira paramarta, siwa Maheswara, sira Paramatma, sira wisesa, tan hana ratindriye sira, sira Brahmanta tapa, sira kamoksan, tan keneng suka duka, tar keneng prihati, sira parama nirbanam, sita tar keneng wikara, wisesaning, wisesa, padam sira pada wisesa, tar ili, sira Mahadewa nga, sira penuh ring rat kabeh, sira wisesaning halit, siratisayaning raya wastu, sira tan pawak, sira niskala, sira nitya, sira ibu, sira bapa, sira kadang, sira warggha, sira mitra, 6

7 sira guru, sira dewa, sira mahardika, sira sang mangkana kramanira, sira bhatara mahadewa nga. (Bhuana Kosa, II.14) Terjemahannya Ia tanpa rupa, tanpa warna, tanpa rasa, tanpa bau, tanpa suara, tak teraba, tak terkena penyakit, tak terpikirkan, tanpa awal, tanpa pertengahan, tanpa akhir, tanpa batas, tak tercampuri, tanpa wujud, tanpa rupa, dan warna, tak ada melebihi dalam hal unggul, tak goyah tanpa lingga, tidak susut, tidak berkurang, tanpa perbuatan, tanpa keinginan, tidak lahir dari kandungan dan tanpa kematian, tanpa sakit, tanpa susah, tanpa sengsara, tanpa noda, tanpa waktu, tanpa angkasa, tanpa tahun, tanpa musim, tanpa bulan, tanpa siang dan malam, tanpa kurun waktu, tanpa matahari berjalan kearah utara, tanpa matahari berjalan ditengah-tengah, tanpa matahari berjalan ditengah khatulistiwa, tanpa kerdip, tenang, sepi, selalu ingat, utama, setia, sangat sepi dan hampa, tanpa perlindungan, kebebasan yang sejati, tanpa iri hati, ia adalah Brahman tertinggi, tidak dapat diumpamakan, tidak terkena bahaya, tanpa kematian, Ia adalah dewa, disebut Paramarta, ia sangat unggul, tanpa kenikmatan nafsu, ia adalah tapa Brahma, ia kemoksan, tak terkena suka duka, tidak terkena sakit hati, ia adalah parama nirwana, tanpa cela, ia maha utama, ia adalah alam utama, tidak mengalir, ia juga digelari Mahadewa, memenuhi dunia, sangat halus, sangat agung dan mulia, tanpa badan, sangat mulia tetapi tidak tampak, ia yang tanpa kematian selalu suka cita, ia yang suci tanpa noda, ia yang tak terlihat oleh mata, ia kekal, ia adalah ibu, ia bapak, ia adalah marga, ia adalah keluarga, ia sahabat, ia guru, ia dewa, ia arif bijaksana, orang demikian adanya itu adalah Sang Hyang Mahadewa. Demikianlah sifat-sifat Mahadewa yang dijelaskan Dalam Teks Bhuana Kosa yang memberikan pengetahuan yang demikian tinggi kepada sang Resi. Pengetahuan Siddhanta tidak akan diperoleh melalui seseorang karena sifatnya sangat rahasia dan tinggi. Hanya yang sadarlah yang mampu untuk memberikan pengetahuan tentang kesadaran, bukan sebaliknya. Teks ini juga menjelaskan bahwa Tuhan dalam Bhuana Kosa disebut dengan Bhatara Siwa. Beliau Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tidak terpikirkan, tidak tercampur, tidak bergerak, tidak terbatas dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Bhuana Kosa, I. 19, sebagai berikut : Tan karekĕtan mala, tan palwir, tan pagātra, wyāpaka, yonggwan Sang Hyang Aṣṭa Śiwa, tan pacala, wiśeṣa ya. Terjemahannya : Tanpa noda, tanpa wujud, tanpa rupa, tetapi menguasai/memenuhi alam. Itu tempat bersemayam Sang Hyang Asta Siwa, sangat utama tanpa cela. 7

8 Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa Tuhan dalam wujudnya sebagai Sang Hyang Siwa memiliki berbagai sifat sebagai pencipta alam semesta ini, salah satu contohnya adalah sifat dalam Cadhu Sakti yaitu Wibhu Sakti. Wibhu Sakti atau yang mengandung pengertian bahwa Tuhan itu Maha Ada, meresapi dan memenuhi alam semesta ini tanpa cela sedikitpun. Siva adalah realitas tertinggi. Ia adalah abadi, tanpa wujud, bebas, ada dimana-mana, Esa adanya, tanpa awal, tanpa sebab, tanpa cacat, selalu bebas, ada sendiri dan murni. Ia tidak dibatasi oleh waktu. Ia adalah kebahagiaan dan kecerdasan tanpa batas. Siva adalah Tuhan Pengasih. KaruniaNya tidak terbatas. Ia adalah penyelamat dan guru, Ia melakukan pembebasan terhadap Jivàtman dari perbudakan duniawi. Ia dianggap sebagai wujud guru yang memiliki kasih terdalam pada umatnya. Ia menginginkan bahwa semuanya seharusnya mengetahui Nya dan memperoleh kebahagiaan Siva pada pembebasan akhir. Ia memperhatikan aktivitas dan membantu jiva seseorang mencapai kemajuan dalam perjalanannya. Siva meresapi seluruh dunia dengan SaktiNya. Ia mempergunakan SaktiNya. Sakti adalah energi kesadaran dari Siva. Sesungguhnya Ia adalah badan dari Siva, Ia adalah penyebab pertama dunia. Sakti adalah alat penyebab. Màyà adalah penyebab material. Màyà meliputi prinsip halus dan kasar. Jivàtman mengalami kesenangan dan duka melalui Vidyà. Siva Tattva adalah dasar dari semua kesadaran dan perbuatan. Ia adalah Niskala Suddha, Màyà dan Sakti Siva memulai kegiatan. Siva menjadi yang mengalami, kemudian berawal dari hal tersebut, Ia disebut Sadà Siva, juga dikenal dengan nama Sadakhya yang sesungguhnya tidak berbeda dengan Siva. Kemudian Siva yang mengalami menjadi pengatur, Ia kemudian adalah Iúvara, yang sesungguhnya tidak terpisah dengan SadàSiva. Suddhavidyà adalah penyebab dari pengetahuan sebenarnya. Kelima aktivitas (Pañca Kritya) dari Tuhan adalah Såûti (penciptaan), Sthiti (memelihara), Saýhara (mengembalikan), Tirobhava (tudung) dan Anugraha (karunia). Di dalam mantra Pañcàkûari Nama Sivaya. Na mengandung pengertian kekuatan memeriksa dengan teliti dari Tuhan yang membuat Jivàtman bergerak di dunia. Ma adalah ikatan yang mengikat Jivàtman di dalam Saýsara roda kelahiran dan kematian. Si adalah simbol Siva, Va 8

9 adalah simbol karunia dan Ya adalah Jivàtman. Jika Jivàtman kembali kepada Na dan Ma, maka ia akan tenggelam dalam duniawi, sedangkan jika Jivàtman mengasosiakan dirinya dengan Ya, maka ia akan bergerak menuju Siva. Untuk menjadi larut di dalam Úivànanda adalah Nista atau Samàdhi. Ia yang mencapai tahap ini disebut dengan Jivanmukta. Dalam pengertian selanjutnya dapat dikatakan bahwa Tuhan sendiri memiliki dua aspek wujud dalam ajaran Hindu, yaitu secara vertikal dan juga horisontal. Konsep pemahaman wujud Tuhan dalam aspek horisontal dijelaskan pada konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), sedangkan pemahaman wujud Tuhan dalam aspek vertikal disimbolkan dengan konsep yang disebut dengan Tri Purusa (Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa). Parama Siva adalah cetana (purusa), kejiwaan / kesadaran yang tertinggi (Tuhan). Suci, murni belum sama sekali tersentuh atau terkena pengaruh Màyà (prakrti / acetana), tenang, tentram, kekal abadi, ada dimana-mana, tidak berawal dan tidak berakhir, Maha tahu, tidak pernah lupa, maka Ia diberi gelar sebagai Nirguna Brahma. Parama Siva adalah dalam keadaan bentuk, tidak bergerak, tidak pergi, tidak ada asal, seluruh alam semesta ini dipenuhinya, diliputi, ada dimana-mana, tidak mengenal masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang (tidak terkekang waktu), Maha gaib, tidak dapat dibayangkan dalam pikiran. Ia adalah Ìsvara, Ìsvara adalah sebagai Raja. Tuhan sebagai Paramasiwa yang nirguna menurut adalah spiritual yang luhur dan sucimurni serta kekal abadi; bukan sifat, bukan materi dan bukan gerak; bebas dari pengaruh segalagalanya. Oleh karena Paramasiwa itu adalah spiritual dan bukan sifat, maka belumlah ada sesuatu keinginan yang sampai dapat mempengaruhinya. Karena bukan materi, maka ia tiada terbatas serta tiada berawal dan tiada berakhir. Karena bukan gerak, maka Ia bukan aktivitas. Karena bebas dari pengaruh waktu, tempat dan keadaan, maka Ia adalah langgeng / kekal-abadi, suci-murni dan serba ada dimana-mana. Kegaiban-Nya Tuhan sebagai Paramasiwa (Nirguna Brahma), sehingga sukarlah dibayangkan dalam pikiran dan perasaan biasa, karena Dia adalah pikiran dari segala perasaan dan parama suksma atau maha-gaib serta suci atau tetap murni tanpa noda apapun. Sadà Siva adalah Saguna Brahma. Artinya disini jika cetana atau Tuhan sudah mulai mengambil atau terkena / terselimuti pengaruh màyà (acetana), dan telah memiliki sifat, fungsi dan aktivitas. 9

10 Pengaruh màyà ini belum besar, hanya berupa guna atau hukum kemahakuasaannya sendiri yang sering disebut dengan Sakti, sehingga kesuciannya masih lebih besar daripada pengaruh màyà. Saguna Brahma yaitu Tuhan serba guna sehingga Ia dapat menentukan dan mengatur Utpatti (penciptaan), Sthiti (pemelihara) dan pralina (kehancuran), yang dikenal dengan sebutan Tri Kona, yakni tiga sudut, evolusi dari bhuwana agung dan bhuwana alit. Sebagai Sadà Siva, Ia memiliki empat kekuatan yakni; wibhùsakti (kekuatan meresap segalanya), prabhusakti (kekuatan berkuasa), jñànasakti (kekuatan ilmu pengetahuan) dan kriyàsakti (kekuatan perbuatan). Selain itu Ia juga dipenuhi oleh sarwajñà (serba tahu) dan sarwa kàryakartà (serba kerja). Sadà Siva adalah Tuhan pada saat aktif, berguna, bersinar, terdiri dari unsur kesadaran, memiliki kedudukan dan sifat-sifat. Ia memenuhi segalanya, Ia dipuja karena tanpa bentuk, Ia Maha Pencipta, pelebur, pengasih, bersinar, abadi, maha tahu dan ada dimana-mana. Oleh karena demikian kesempurnaan dan kemahakuasaannya, maka beliau diberi macam-macam gelar, misalnya: Brahmà (sebagai pencipta), Visnu (sebagai pemelihara) dan Siva-Rudra (sebagai pelebur kembali). Guna, Sakti dan Swabhawa merupakan wujud kemahakuasaan dan kemahasempurnaannya. Guna meliputi tiga sifat mulia, Sakti meliputi empat kekuatan yang disebut dengan cadhu sakti dan Swabhàwa adalah delapan kemakuasaan yang disebut Astaaiswarya. Guna atau sifat mulia dari Tuhan (Sadàsiwa) ada tiga macam, yakni : Dùràsrawana yaitu dapat mendengar yang dekat dan jauh, Dùràsarwajña yaitu berpengertian / berpengetahuan serba sempurna dan Dùràdarsana yaitu dapat melihat atau memandang yang dekat dan jauh serta luas. Dùràsrawana ini maksudnya ialah dapat mendengarkan suara yang dekat dan yang sejauhjauhnya atau suara yang keras dan yang sehalus-halusnya termasuk bisikan-hati sekalipun. Dùràsarwajñà maksudnya ialah dapat mengetahui segala-galanya, baik yang terdekat dan yang sejauh-jauhnya maupun yang dalam keadaan telah lampau (àtita), yang sekarang (wartamàna) dan yang akan datang yang akan terjadi (nàgata). Dùràdarsana maksudnya ialah dapat melihat segala sesuatu yang berwujud ataupun yang semu, baik yang dekat dan yang sejauh-jauhnya maupun segala sesuatu yang telah ada, yang sedang ada dan yang akan ada, dari tingkat yang terbesar sampai dengan yang sekecil-kecilnya. 10

11 Oleh karena Tuhan (Sadàsiwa) adalah Wyàpi-wyàpaka yaitu bersifat kecil sekecilkecilnya, besar sebesar-besarnya; berada dimana-mana serta menjadi telinga dari segala telinga, pikiran dari segala pikiran dan mata dari segala mata, maka beliau serba mendengar, serta tahu dan serba melihat, sehingga beliau maha-kuasa serta menjadi Saksi Agung dari segala aktivitas alam-semesta ini, termasuk amal-dosa dari semua makhluk, maka dari itu sukarlah bagi makhluk ini (khusunya manusia) hendak berbohong kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan (Sadàsiwa / Saguna-Brahma) adalah mempunyai empat macam ke-saktian atau kekuatan yang utama bernama Cadu-Sakti yang terdiri dari: Wibhùsakti, Prabhùsakti, Jñànasakti, dan Kriyàsakti. Keempat macam kekuatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Wibhùsakti Wibhùsakti : berarti maha-ada. Pengertian istilah wibhù-sakti ini sering dihubungkan dengan istilah ùtaprota. Kata ùta adalah istilah ejective dalam bahasa Sanskerta yang berarti : ada dimana-mana / terdapat dalam segala tempat dan benda, misalnya : seperti keadaan minyak dalam santan, minyak itu tak terlihat, tetapi minyak itu pasti ada dalam santan; dan juga bagaikan api yang terdapat dalam kayu yang kering. Dengan demikian, maka istilah ùta ini dekat sekali pengertiannya dengan kata wyàpi yang berarti kecil sekecil-kecilnya serta dapat meresapi segala sesuatu. Dan kata prota adalah juga istilah ejective dalam bahasa Sansekerta yang berarti : rahasia atau suci-murni, bagaikan manik-spatnik (permata-kristal) yang bersih selalu, tiada terpengaruh oleh apa-apa. Jadi istilah wibhù-sakti atau uta-prota itu berarti ada dalam segala-galanya, tetapi keadaannya itu tidak terpengaruh oleh apa-apa, namun tetap suci murni selalu. 2. Prabhùsakti Prabhùsakti artinya maha-kuasa, yakni menguasai segala-galanya, seperti raja diràja dan tidak ada yang memadai kekuasaan Nya; segala sesuatunya tetap ada dibawah perintah-nya. Dalam hal ini beliau sering digelari : Ìswara, atau Maheswara (Mahàràja). 3. Jñànasakti Jñànasakti bermakna maha-tahu dan menjadi : sumber segala wiweka (pertimbangan akal / pikiran) dan kebijaksanaan, sehingga dapat mengetahui segala-galanya, baik yang telah ada (bhàwàtita) dan sedang ada (bhàwawartamàna) maupun yang akan ada (bhàwanàgata). Oleh 11

12 karena itu, Jñàna-sakti ini dekat hubungannya dengan pengertian dùràsarwajñà seperti tersebut di atas. 4. Kriyàsakti Kriyàsakti; maksudnya maha-karya yakni dapat mengerjakan segala-galanya dengan sukses dan penuh sempurna. Demikianlah yang disebut Cadu-Sakti sebagai kemaha kuasaan Tuhan (Sadàsiwa / Saguna-Brahman). Jika direnungkan tentang kemaha-kuasaan-nya itu tentu akan menimbulkan keheranan yang tak terhingga pada diri kita, karena tidak ada sesuatupun yang dapat menyamai- Nya; sehingga hanya pada beliau sajalah satu tempat kita mohon perlindungan yang sebaikbaiknya, khususnya dalam hal kesempurnaan mental dan spiritual beserta aspek relitas kesejahteraan yang lain-lainnya. Beliau juga disebut Immanent dan Trancendent, Immanent artinya ia meresapi segala, hadir pada segala termasuk meresap pada pikiran dan indriya (sira wyapaka). Transcendent artinya beliau meliputi segala tetapi ia berada di luar batas pikiran dan indriya. Pengertian selanjutnya mengenai paham Transendent ini adalah keyakinan yang memandang Tuhan maha luhur, tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Bhuana Kosa I. 10, yang menyatakan: Lwir Bhaṭāra Śiwa hane ri ya, wyāpaka nitya, mengĕt sira tan cala, mewĕh sira kawruhana dening nina jñana, sira tamar cala irikang jagat kabeh, sthāwara janggāmawaknya. Terjemahannya : Keberadaan Sang Hyang Siwa di sana, selalu menyusupi segala, selalu sadar dan tak bergerak, sulit diketahui oleh orang yang tidak berilmu pengetahuan, beliaulah yang menggerakkan seluruh dunia baik tumbuh-tumbuhan maupun binatang. Dalam terjemahan sloka tersebut dapat dijelaskan bahwa Tuhan dalam wujud Siwa memiliki sifat wyapi wyapaka nirwikara (ada meresapi seluruh alam semesta, tetapi tidak dapat dilihat, hanya mampu untuk dirasakan keberadaannya). Sloka tersebut juga menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang memiliki pengetahuan tinggilah, yang mampu untuk dapat melihat beliau dalam wujud Sang Hyang Siwa. 12

13 Selain dari pengertian Tuhan dalam konsep Transendent, terdapat juga pengertian Tuhan dalam konsep Immanent. Pengertian paham Immanent memiliki pengertian Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya, tetapi Tuhan itu berada di luar dan sekaligus di dalam ciptaan-nya. Meskipun beliau dikatakan Transcendent dan Immanent pada semua makhluk, tetapi beliau tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, karena beliau bersifat sangat rahasia, abstrak. Karena kerahasiaannya, beliau sering digambarkan bagaikan api dalam kayu, minyak dalam santan. Beliau ada dimana-mana, pada semua yang ada ini, beliau tidak tampak, tetapi beliau ada. Sungguh sangat rahasia adanya. Bhatara Siwa bersifat immnanent dan juga trancendent. Immanent artinya bahwa beliau hadir di mana-mana, sedangkan trancendent artinya bahwa beliau mengatasi pikiran dan indriya manusia. Hal ini dengan jelas tampak dalam sloka berikut : Sivas sarvagata sukûmah, Bhūtānām antarikûavat, Acintya mahāgåhyante, Naindriyam parigåhyante. Bhatāra Śiwa sira wyāpaka, sira sūkûma tar kneng angěn-angěn, kadyangganing ākaûa sira, tan kagrhita dening manah mwang indriya. (Bhuwanakosa II.16) Terjemahan: Bhatara Siwa meresapi segala, Ia gaib dan dapat dipikirkan, seperti angkasalah Ia, tak terjangkau oleh pikiran dan indriya. Berdasarkan bunyi kutipan di atas dengan jelas dikatakan bahwa Bhatara Siwa meresapi segala, berarti beliau hadir pada segala, hadir di mana-mana (immanent), berarti pula ada dalam pikiran dan indriya manusia. Akan tetapi juga tak terjangkau oleh pikiran maupun indriya itu sendiri. Ini berarti bahwa beliau mengatasi pikiran dan indriya itu sendiri (trancendent). Bhatara Siwa juga bersifat berpribadi (personal) dan tak berpribadi (impersonal). Dalam aspeknya yang personal, beliau adalah ayah (sah pita), ibu (sah matah), saudara (sah mitra), keluarga (sah vanduh), guru (sah guruh), dan sebagainya. Sedangkan dalam aspeknya yang impersonal, beliau bersifat tak terpikirkan (acintya), tak berawal, tengah dan akhir (anandi madhyantan), tak terbatas (amita), tak berbadan (agatram) dan sebagainya. 13

14 Bila di dalam Veda, Tuhan disebut sebagai Sat, dalam Upanisad, Tuhan disebut sebagai Brahman, maka didalam ajaran Teologi Hindu Lontar Bhuana Kosa, Tuhan disebut sebagai Siva. Ia Esa, namun meliputi segalanya, dan mempunyai banyak nama. Ciri-ciri Siwa ialah Esa. Esa berarti bahwa oleh akal budi ditangkap sebagai sesuatu yang cirinya ialah kodrat Siwa yang sejati (Siwa-tat-twa). Dan Ia di pandang sebagai Yang Esa (Eka), bukan dua atau tiga. Satu-satunya ciri ialah sebab Siwa (Siwa Karana) saja, tanpa adanya perbedaan. Aneka berarti bahwa Ia dipandang sewbagai bercirikan empat. Bercirikan empat berarti : stula, suksma, para, sunya. antara lain : Bhatara Siwa Yang Esa itu dalam hal menjadi Hyang memiliki nama-nama yang berbeda, Prthīvyā sarvva ekāyam, salile bhava samsmrtah, agno paśupati jñeyam, bāyva iśānam eva ca. Nihan wibhaga Bhatara munggwing rikang tattwa kabeh, sarwajña ngaranira, yan umanděl ing prthiwi, bhawa ngaranira yan umanděl ing toya, paśupati ngaranira yan umanděl ing Sanghyang Agni, Iśāna ngaranira yan umanděl ing Bāyu. (Bhuanakosa III. 9) Terjemahan: Inilah perincian Bhatara berada pada semua tattwa, sarwajna namanya bila berada pada tanah, bhawa namanya bila berada pada air, Pasupati bila berada pada api, Isana bila berada pada angin. Ākāse bhagavān bhimah mahādevopi manasi, tan mātrasthe ca ugroyah, tejase rudra ucyate. Bhīma ngaranira yan haneng ākāsa, kinahanan ta sira dening asta guna, Māhadeva ngaranira yan haneng manah, tan pāwak, Ugra ngaranira yan haneng pañca tan matra, Rudra ngaranira yan haneng teja, makāwak ahangkāra. (Bhuanakosa III.10) Terjemahan: Bhima namanya bila berada di angkasa, dipenuhi Ia oleh astaguna, Mahadewa namanya bila berada pada pikiran, Ugra namanya nila berada pada Panca Tan Matra, Rudra namanya bila berada pada cahaya berbadan ahangkara. 14

15 Demikianlah nama nama Bhatara Siwa yang tunggal itu, ketika berada pada Panca Maha Bhuta, Panca Tan Matra, Manah dan Ahangkara. Sedangkan nama-nama Bhatara Siwa bila berada pada penjuru dunia ini adalah sebagai berikut: Sanghyang Iswara di Timur, Sanghyang Maheswara di Tenggara, Sanghyang Brahma di Selatan, Sanghyang Rudra di Barat Daya, Sanghyang Mahadewa di Barat, Sanghyang Sangkara di Barat Laut, Sanghyang Wisnu di Utara, Sanghyang Sambhu di Timur laut, Sanghyang Siwa di Tengah. Kesembilan perwujudan Bhatara Siwa ini disebut Dewata Nawa Sanga. Sanghyang Iswara, Sanghyang Brahma, Sanghyang Mahadewa, Sanghyang Wisnu dan Sanghyang Siwa disebut Panca Dewata. Pada Dewata Nawa Sanga ini Bhatara Siwa berada di tengah sebagai inti, pusat semua dewa, pusat semua yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa Beliau memiliki Kemahakuasaan sebagaimana keyakinan umat Hindu pada pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu yaitu Panca Srāddhā suatu kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan berkuasa atas segala yang ada di alam. Umat Hindu percaya dan memuja Tuhan yang wujudnya gaib tidak kuasa dijangkau oleh pikiran manusia, dibayangkan dengan bermacam-macam sesuai dengan kemampuan manusia, sehingga panggilannya bermacam-macam pula. Dalam kitab suci Agama Hindu dinyatakan bahwa yang satu itulah yang banyak disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Walaupun disebutkan dengan nama yang berbeda-beda namun tidaklah berarti bahwa Ia lain dari pada yang lain. Dalam teks Bhuanakosa dikatakan bahwa semua yang ada ini muncul dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-nya juga. Dengan demikian maka Bhatara Siwa adalah sumber segala yang ada, sama halnya dengan Brahman dalam Upanisad. III. SIMPULAN Konsep Teologi Agama Hindu Dalam Teks Bhuana Kosa adalah memuliakan Sang Hyang Siwa sebagai wujud Tuhan yang tertinggi. Ajaran ini mengajarkan Tuhan yang tak terbatas dan terbatas. Ia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan hadir di setiap ciptaannya. 15

16 DAFTAR PUSTAKA Apte, Vaman Shivram The Student Sanskrit English Dictionary. New Delhi: Motilal Banarsidass. Dunia, I Wayan Kumpulan Ringkasan Lontar. Surabaya : Paramita. Donder, I Ketut Brahma Vidya:Teologi Kasih Semesta. Surabaya:Paramita. Endarswara, Suwandi Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Fananie, Z, Telaah Sastra. Yogyakarta: Muhammadiah University Press. Kamajaya, Gede Yoga Kundalini. Surabaya: Paramitha. Kinten, Gede Konsep Ketuhanan Dalam Teks Ganapati Tattwa. Tesis. Program Pasca Sarjana IHDN Denpasar. Maswinara, I Wayan Sistem Filsafat Hindu Sarva Darsana Samgraha. Surabaya: Paramita. Maswinara, I Wayan Deva-Devi Hindu. Surabaya : Paramita. Pudja, Gede Teologi Hindu (Brahma Widya). Surabaya: Paramita. Suhardana, Komang Tri Murti Tiga Perwujudan Utama Tuhan. Surabaya : Paramita. Tagel, I Dewa Putu. Teologi Hindu Dalam Teks Siwagama Dan Implementasinya Di Kota Denpasar Disertasi. Program Pascasarjana IHDN Denpasar. Teeuw, A, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. Titib, I Made Teologi Veda. Surabaya: Paramitha. Zimmer, Heinrich Sejarah Filsafat India. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 16