TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP PENEBANGAN HUTAN SECARA LIAR (ILEGAL LOGGING)

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP PENEBANGAN HUTAN SECARA LIAR (ILEGAL LOGGING)"

Transkripsi

1 TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP PENEBANGAN HUTAN SECARA LIAR (ILEGAL LOGGING) ABSTRAK Meningkatkan nilai ekonomi atas hasil hutan semakin memperkuat eksistensi masyarakat dan pengusaha untuk semakin giat melakukan pengololaan atas hasil hutan dengan salah satu alasan pendapatan ekonomi hasil hutan yang sangat besar hal ini dibuktikan dengan ruang lingkup perdagangan hasil hutan keluar negeri melalui proses ekspor yang diperjual belikan kenegara-negara yang sudah berkembang. Namun satu hal yang harus diperhatikan adalah mengenaim ketentuan yang telah diatur dalam pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan, dinyatakan bahwa : setiap orang dilarang menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan didalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang. PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan negara yang berbentuk republik yang terdiri atas beberapa pulau dan daratan yang tersebar dari sabang sampai marauke. Keanekaragaman dan Kemajemukkan satwa dan Penduduk Indonesia membuat bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang heterogen dalam sebuah sistem kemajemukan dalam satu konseptual bineka tunggal ika yang berari berbeda-beda tetapi tetap satu juta. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ikut mempengaruhi berbagai system tatanan masyarakat baik dalam proses, sosial politik, budaya dan ekonomi. Pergeseran tersebut diakibatkan adanya proses perpindahan pola berpikir masyarakat yang lebih kritis dan mengedepankan system peningkatan tarap ekonomi yang berbasis ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan yang diusung Negara pada prinsipnya tidak berjalan maksimal hal ini dibuktikan belum adanya pemerataan pendapatan masyarakat dan hal tersebut diinstrumenkan masih terdapatnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia memberikan dampak psikologis pada masyarakat yang cukup besar sehingga berbagai pola kehidupan masyarakat di terapkan demi suatu tuntutan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu pola yang diterapkan masyarakat adalah melakukan proses penebangan hutan secara liar meskipun terjadi proses pelanggaran hukum demi suatu tujuan ekonomi yang hendak dicapai. Meningkatnya nilai ekonomi atas hasil hutan semakin memperkuat eksistensi masyarakat dan pengusaha untuk semakin giat melakukanh pengelolaan atas hasil hutan dengan salah satu alasan pendapatan ekonomi hasil hutan yang sangat besar hal ini dibuktikan dengan ruang lingkup perdagangan hasil hutan keluar negeri melalui proses ekspor yang diperjualbelikan kenegara-negara yang sudah berkembang seperti Belanda, Jepang, Cina, dan Negara-Negara Eropa Dunia. Luas area hutan di indonesia terdapat pada daerah kepulauan Provinsi kalimantan sedangkan kepulauan sulawesi berada pada urutan ketiga setelah Irian Jaya dan Sulawesi Tenggara khususnya merupakan salah satu penghasil hutan terbanyak di Sulawesi ini membuktikan luasnya area hutan mendorong masyarakat dan pengusaha

2 untuk menyandarkan kegiatan ekonominya pada hasil hutan sehingga mengakibatkan terjadinya berbagai kejahatan terhadap hasil hutan yang dikenal dengan istilah Illegal Logging. Namun demikian keberadaan hutan jati di beberapa daerah dalam beberapa tahun terakhir ini sedang mengalami proses penurunan kualitas dan kuantitas yang semakin membuat kerisauan. Salah satu permasalahan pokoknya adalah telah terjadi pengrusakan dan perambahan hutan jati yang semakin merajalela dan mengancam punahnya tanaman jati. Yang sangat memprihatinkan saat ini adalah maraknya tindak penebangan liar (Illegal Logging) hutan jati dan sekaligus pencurian kayu jati yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal instrumen hukum dibidang kehutanan sudah cukup jelas mengatur mengenai ketentuan pidana bagi setiap orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum dibidang kehutanan. Pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, dinyatakan bahwa : setiap orang dilarang menebang pohonn atau memanen atau memungut hasil hutan didalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang. Lebih lanjut dipertegas kembali pada Bab XIV mengenai ketentuan pidananya yaitu pasal 78 ayat (5) yang menyatakan bahwa Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan hukum sebagai mana dimaksud dalam pasal 50 ayat (3) e diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp ,00 (lima Miliyar Rupiah). Sedacngkan dari aspek hukum pidananya telah diatur dalam pasal 362 KUH Pidana dinyatakan bahwa Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain,dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah. PENGERTIAN KRIMINOLOGI Disamping ilmu hukum pidana, yang sesungguhnya dapatu dinamakan ilmu tentang hukumnya kejahatan, ada juga ilmu tentang kejahatannya sendiri yang dinamakan kriminologi. Kecuali obyeknya berlainan, tujuannya pun berbeda, kalau obyek ilmu hukum pidana adalah aturan-aturan hukum mengenai kejahatan atau bertalian dengan pidana (hukum pidana positif ), tuhuannya agar dapat dimengerti dan digunakan dengan sebaik-baiknya serta seadil-adilnya. Sedangkan obyek kriminologi adalah orang yang melakukan kejahatan (sipenjahat) itu sendiri, dan tujuannya agar menjadi mengerti apa sebab-sebabnya sehingga berbuat jahat. Apakah memang abakatnya adalah jahat, ataukah didorong oleh keadaan masyarakat disekitarnya baik keadaan sosiologis maupun keadaan ekonomis, ataukah ada sebabsebab lain lagi. Jika sebab-sebab itu sudah diketahui, maka disamping pemidanaan, dapat diadakan tindakan-tindakan yang tepat agar orang lain tidak lagi berbuat demikian, atau agar orang-orang lain tidak akan melakukan hal yang serupa (Moeljatno, 1987;13). Beberapa sarjana memberikan pengertian yang berbeda mengenai kriminologi, Paul Mudigdo Mulyono menyatakan bahwa Kriminologi adalahilmu pengetahuan yang

3 ditunjang oleh berbagai ilmu yang membahas kejahatan sebagai masaal;ah manusia Pengertian Kriminologi sebagaimana yang dikutip oleh Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa (2002;9) : 1) Bonger memberikan definisi kriminologi sebagai (1982:42) menyatakan ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya 2) Sutherland merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan kejahatan sebnagai gejala sosial dan mencakup proses-proses perbuatan hukum, pelanggaran hukum dan reaksi atas pelanggaran hukum 3) Wood berpendirian bahwa istilah kriminologi meliputi keseluruhan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan teori atau pengalaman yang bertalian dengan perbuatan jahat dan penjahat dan,termaksud didalamnya reaksi dari masyarakat terhadap perbuatan jahat dan para penjahat. 4) Noach merumuskan kriminologi sebagai ilmu pengetahuan tentang perbuatan jahat dan perilaku tercela yang menyangkut orang-orang terlibat dalam prilaku jahat dan perbuatan tercela itu. 5) Wolfgang dan Eva Achjani Zulfa,2002;sebagai kumpulan ilmu pengetahun tentang kejahatan yang bertujuan untuk memperoleh pegetahuan dan pengartian tentang gejala kejahatan dengan jalan mempelajari dan menganalisa secara ilmiah keterangan-keterangan,keseragamankeseragaman,pola-pola dan faktor-faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan,pelaku kejahatan serta reaksi masyarakat terhadap keduanya. Berdasarkan pendapat-pendapat para pakar di atas,maka dapat disimpulkan bahwa obyek study kriminologi meliputi : 1. Perbuatan yang disebut sebagai kejahatn 2. Pelaku kejahatan, dan 3. Reaksi masyarakat yang di tujukan baik pada perbuatan maupun terhadap pelakunya. Ketiga hal tersebut di atas tidak dapat dipisah-pisahkan. Suatu perbuatan baru dapat dikatakan sebagai kejahatan bila ia mendapat reaksi dari masyarakat. Setiap orang yang melakukan perbuatan yang menyimpang atau melanggar norma-norma yang ada dalam masyarakat maka secara umum orang tersebut dapat di anggap sebagai penjahat atau perbuatan yang di lakukan itu disebut perbuatan jahat (Hamdan, 1997 ; 42). Dalam ilmu kriminologi dinyatakan bahwa gejala kejahatan merupakan suatu konstruksi soaial, yaitu pada waktu suatu masyarakat menetepkan bahwa sejumlah perilaku dan orang dinyatakan sebagai kejahatan penjahat. Dengan demikian kejahatan dan penjahat bukanlah gejala yang secara obyektif dapat dipelajari oleh ilmuwan, karena gejala ini hanya ada kalau ditentukan demikian oleh masyarakat (Reksodiputro, 1994;86). Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah apa sebabnya orang melakukan perbuatan jahat tersebut. Dengan mengetahui latar belakang orang melakukan perbuaqtan jahat atau latar belakang terjadinya kejahatan ini diharapkan dapat diketahui cara yang tepat untuk mencegah ataupun menanggulangi kejahatan tersebut.

4 KROMINOLOGI DAN KONSEP KEJAHATAN Para ahli mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai ruang lingkup kriminologi, di antaranya yaitu : a. Menurut Soedjono Dirdjosisworo (1984: 11) mengemukakan bahwa yang menjadi ruang lingkup kriminologi adalah : 1) apa yang dirumuskan sebagai kejahatan dan penomenanya yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, kejahatan apa dan siapa penjahatnya 2) faktor-faktor apa yang menjadi penyebab timbulnya atau di lakukannya kejahatan. b. Menurut Edwin H. Sutherland dan Donald R. Cressey (Soerdjono Soekanto, 1985:8) yang bertolak dari pandangan bahwa kriminologi adalah satu kesatuan pengetahuan mengenai kejahatan sebagai gejala sosial, mengemukakan bahwa ruang lingkup kriminologi mencakup proses-proses pembentukan hukum, pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap pelanggaran hukum. c. Menurut Martin L. Haskell dan Lewis Yablonsky (Mulyana W. Kusuma, 1981:5), kriminologi sebagai studi ilmiah tentang kejahatan dan penjahat mencakup analisa tentang : 1) Sifat dan luas kejahatan. 2) Sebab-sebab kejahatan. 3) Perkembangan hukum pidana dan pelaksanaan peradilan pidana. 4) Ciri-ciri penjahat. 5) Pembinaan penjahat. 6) Pola-pola kriminalitas. 7) Akibat kejahatan atas perubahan sosial. Selain daripada pengertian kriminologi yang dijadikan sebagai dasar pemikiran untuk mengetahui kejahatan dari seseorang tersebut, hal yang juga tidak kala penting untuk diketahui juga adalah mengenai kejahatan, sebagaimana yang telah dirumuskan oleh beberapa pakar dibawah ini, antara lain : a. Pengerian kejahatan menurut Sue titus Reid (Mulyana W. Kusuma, 1984: 21) untuk suatu perumusan hukum tentang kejahatan, maka hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain : 1) Kejahatan adalah suatu tindakan sengaja atau ommisi. Dalam pengertian ini seseorang tidak dapat dihukum hanya karena pikirannya, melainkan harus ada sesuatu tindakan atau kealpaan dalam bertindak. Kegagalan dalam bertindak dapat juga merupakan kejahatan, jika terdapat suatu kewajiban hukum untuk bertindak dalam kasus tertentu. Di samping itu pula, harus ada niat jahat (Criminal intent; means rea). 2) Merupakan pelanggaran hukum pidana; 3) Yang dilakukan tanpa adanya suatu pembelaan atau pembenaran yang diakui secara umum; 4) Yang diberi sanksi oleh negara sebagai suatu kejahatan atau pelanggaran.

5 b. Ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kejahatan itu, antara lain : 1. Menurut Soesilo (Bosu, 1982: 19) membagi pengertian kejahatan menjadi dua bagian, yaitu ditinjau dari : a) Aspek yuridis, kejahatan yaitu suatu perbuatan/tingkah laku yang bertentangan dengan Undang-undang. Untuk dapat menilai apakah perbuatan itu bertentangan dengan Undang-undang, maka peraturan atau Undang-undang itu haruslah diciptakan terlebih dahulu sebelum adanya peristiwa pidana. Hal ini selain untuk mencegah adanya tindakan yang sewenang-wenang dari tindak penguasa, juga agar dapat memberikan kepastian hukum. b) Aspek sosiologis, kejahatan yaitu perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan ketentraman dan ketertiban. 2. Menurut Made Darma Weda (1996: 11) melihat pengertian-pengertian kejahatan dari dua segi, yaitu : a) Dari segi yuridis, kejahatan berarti segala tingkah laku manusiaq yang dapat di pidana, yang di atur dalam hukum pidana. b) Dari segi kriminologi, setiap tindakan atau perbuatan tertentu yang tidak disetujui oleh masyarakat diartikan sebagai kejahatan. Ini berarti setiap kejahatan tidak harus dirumuskan terlebih dahulu dalam suatu peraturan hukum pidana. Jadi, setiap perbuatan yang anti sosial, merugikan serta menjengkelkan masyarakat, secara kriminologis dapat dikatakan sebagai kejahatan. KAUSA KEJAHATAN a. Ada empat mazhab yang menjelaskan tentang kausa kejahatan, Yaitu : 1) Mazhab klasik, menurut psikologi hedonistik, setiap perbuatan manusia didasarkan atas pertimbangan rasa senang dan tidak senang. Setiap manusia berhak memilih mana yang baik dan mana yang buruk, perbuatan mana yang mendatangkan kesenangan dan mana yang tidak. Menurut teori ini orang melakukan kejahatan karena perbuatan tersebut lebih banyak mendatangkan kesenangan bagi dirinya sendiri (Made Darma Weda, 1996 : 14). 2) Mazhab kartographik, yang dipentingkan dalam ajaran ini adalah distribusi kejahatan dalam daerah-daerah tertentu, baik secara geografis maupun sosial. Kejahatan dianggap merupakan suatu ekspresi dari kondisi-kondisi sosial (Topo Santoso, 2004 : 29). 3) Mazhab sosialis, yang menjadi pusat perhatian ajaran inim adalah determinisme ekonomi. Ajaran ini menghubungkan kondisi kejahatan dengan kondisi ekonomi dianggap memiliki hubungan sebab akibat. (Topo Santoso, 2004 : 29). 4) Mazhab tipologi, Ada tiga termasuk mazhab ini, yaitu : 1. Aliran Lombroso, menurut Lomroso kejahatan merupakan bakat manusia yang dibawa sejak lahir. Ada beberapa proposisi yang dikemukakan oleh Lombroso, (Made Darma Weda, 1996 : 16), yaitu :

6 a) Penjahat dilahirkan dan mempunyai tipe yang berbedabeda. b) Tipe ini bisa dikenal dari beberapa ciri tertentu seperti tengkorak yang asimetris, rahang bawah yang panjang, hidung yang pesek, rambut janggut yang jarang, dan tahan terhadap rasa sakit. c) Tanda-tanda lahiriah ini bukan merupakan penyebab kejahatan tapi merupakan tanda pengenal kepribadian yang cenderung mempunyai prilaku kriminal. d) Karena adanya kepribadian ini, maka mereka tidak dapat terhindar dari melakukan kejahatan kecuali bila lingkungan dan kesempatan tidak memungkinkan. e) Penganut aliran ini mengemukakan bahwa penjahatpenjahat seperti pencuri, pembunuh, pelanggar seks dapat dibedakan oleh tanda-tanda atau ciri-ciri tertentu. 2. Mental tester, karena ajaran Lombroso mulai mundur, meski logika dan metodologinya tetap dipertahankan, akan tetapi feble mindedness (orang yang berotak lemah) menggantikan tipe fisik, sebagai ciri-ciri penjahat. Menurut ajaran ini feeble mindedness menyebabkan kejahatan karena orang tidak dapat menilai sebab akibat dari perbuatannya atau menangkap serta menilai arti hukum. Ajaran ini mundur karena terbukti bahwa feeble mindedness terdapat pada penjahat dan bukan penjahat (Topo Santoso, 2004 : 30 ). 3. Aliran psikiatrik, aliran ini lebih menekankan pada unsur psikologis. Aliran psikiatrik lebih banyak di pengaruhi oleh teori Sigmund Freud tentang struktur kepribadian. Menurut Freud, kepribadian terdiri dari 3, (Made Darma Weda, 1996 : 19), yaitu : a) Das es/id, yaitu alam tak sadar yang dimiliki oleh setiap mahluk hidup, manusia dan hewan. Segala nafsu dan keinginan, begitu pula naluri, berada di alam tak sadar. b) Das ich/ego, yaitu alam sadar, Das es/id ini kemudian mendesak das ich atau alam sadar untuk memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan desakan tersebut maka das ich melaksanakan hal-hal yang diperlukan bagi pemenuhan das es/id. c) Super ego, adalah bagian yang terpenting. Super ego inilah yang menilai/menentukan bagaimana cara memenuhi keinginan ego, berdasarkan norma-norma atau aturan-aturan yang diketahui. Dengan kata lain, super ego menentukan perbuatan-perbuatan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. 4. Aliran sosiologis, menurut aliran ini proses terjadinya tingkah laku jahat tidak berbeda dengan tingkah laku lainnya, termasuk tingkah laku yang baik. (Made Darma Weda, 1996 : 20). Pokok dari pangkal ini adalah bahwa kelakuan-kelakuan jahat dihasilkan dari proses-proses yang sama seperti kelakuankelakuan sosial lainnya (Topo Santoso, 2004 : 31).

7 PENGERTIAN HUTAN Kata hutan merupakan terjemahan dari kata bos (Belanda) dan forrest (Inggris). Forrest merupakan dataran tanah yang bergelombang, dan dapat dikembangkan untuk kepentingan di luar kehutanan, seperti pariwisata. Di dalam hukum Inggris Kuno, forrest (hutan) adalah suatu daerah tertentu yang tanahnya di tumbuhi pepohonan, tempat hidup binatang buas dan burung-burung hutan (Salim, H.S., 2003; 40). Menurut Dengler (Ngandung, 1975: 3), yang diartikan dengan hutan adalah sejumlah pepohonan yang tumbuh pada lapangan yang cukup luas, sehingga suhu, kelembapan, cahaya, angin, dan sebagainya tidak lagi menentukan lingkungannya, akan tetapi di pengaruhi oleh tumbuh-tumbuhan atau pepohonan baru asalkan tumbuh pada tempat yang cukup luas dan tumbuhnya cukup rapat (horizontal dan vertical). Pengertian hutan menurut Pasal 1 ayat (2) UU Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. a. Manfaat Hutan Hutan mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam menunjang pembangunan bangsa dan neraga. Hla ini disebabkan hutan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Menurut Salim, H.S, ada dua manfaat hutan, yaitu : Manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. 1. Manfaat langsung, yang dimaksud manfaat langsung adalah manfaat yang dapat dirasakan /dinikmati secara langsung oleh masyarakat. Yaitu masyrakat dapat menggunakan dan memanfaatkan hasil hutan, antara lain kayu yang merupakan hasil utama hutan ikutan, seperti rotan,getah, buah-buahan,madu dan lainnya. 2. Manfaat tidak langsung, manfaat tidak langsung adalah manfaat yang tidak langsung dinikmaati oleh masyarakat, tetapi yang dapat dirasakan adalh keberadaan hutan itu sendiri. b. Jenis-jenis hutan Untuk lebih memperjelas mengenai pengertian hutan maka penulis merasa perlu untuk menguraikan jenis-jenis hutan berdasarkan Undang-undang nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, ditentukan empat jenis hutan, yaitu berdasarkan statusnya, fungsinya, tujuan khususnya, serta pengaturan iklim mikro, estetika, dan resapan air. c. Keempat Jenis hutan itu dikemukakan sebagai berikut ini : 1. Hutan berdasarkan statusnya ( pasal 5 UU No.41 Tahun 1999), yang dimaksud dengan hutan yang berdasarkan statusnya adalahsuatu pembagian hutan yang didasarkan pada status (kedudukan) antara orang, badan hukum, atau institusi yang melakukan pengelolaan, pemanfaatan, dan perlindungan terhadap hutan tersebut. Hutan berdasarkan statusnya dibagi lima (5) macam, yaitu : a. Hutan hak, adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah (pasal 5 ayat (1) UU No.41 Tahun 1999 ) b. Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah.yang termasuk dalam kualifikasi hutan negara adalah, hutan adat, hutan desa dan hutan pemasyarakatan.

8 c. Hutan adat adalah hutan negara yang diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat hukum adat (rehtgemeenschap). d. Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa. e. Hutan pemasyarakatan adalah hutan negara yang pemanfaatannya untuk memberdayakan masyarakat. 2. Hutan berdasarkan Fungsinya (pasal 6 dan pasal 7 UU No.41 Tahun Hutan berdasarkan fungsinya adalah pengelolaan hutan yang didasarkan pada kegunaannya. Hutan ini dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok keawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri atas tiga macam, yaitu kawasan hutan swaka alam, kawasan hutan pelestarian alam dan taman baru. 3. Hutan pengaturan iklim mikro, estatika dan resapan air (pasal 9 UU No.1 tahun 1999 Disetiap kota ditetapkan kawasan tertentu sebagai hutan kota. Hutan kota adalah hutan yang berfungsi untuk pengaturan iklim mikro, estetika dan resapan air, disamping pembagian itu, sebagaimana yang dikutif olh Salim, SH. (1997:42) dikenal juga pembagian lain yang diatur dalam pasal 4 Reglemen 1927 tersebut yaitu hutan yang dipertahankan dan tidak dipertahankan. Yang termasuk golongan hutan yang dipertahankan, yaitu: 1. Hutan jati, yaitu tanahy dan tempat mempunyai ciri seperti berikut : a) Seluruhnya atau sebahagian besar ditentukan oleh mentri kehutanan untuk dipelihara b) Ditumbuhi pepohonan atau tidak, yang oleh pemerintah telah ditunjuk untuk perluasan hutan jati. 2. Hutan belukar yang ditentukan oleh mentri kehutanan untuk dipelihara 3. Hutan kayu belukar, yaitu hutan yang tidak dipertahankan, yang meliputi : a) Hutan belukar yang tumbuh secara alami dan tidak ditunjuk untuk dipelihara b) Hutan jati dan kayu dalam peraturan mengenai batas-batas daerah hutan yang telah dipelihara telah dihapuskan. Alasan untuk mempertahankan hutan adalah karena : 1) Memenuhi akan kayu dan hasil-hasil hutan lainnya 2) Merupakan penata air 3) Merupakan pengatur iklim 4) Mempunyai nilai ekonomi 5) Memenuhi kepentingan umum lainnya. Pembagian menjadi hutan yang dipertahankan dan tidak dipertahankan, semata-mata adalah kewenangan pemerintah, yaitu dalam hal pengaturan, perencanaan dan pengurusan hutan. Untuk hutan yang dipertahankan adalah kewajiban untuk menentukan peruntukan agar hutan dapat berfungsi dengan baik.

9 PENEBANGAN LIAR DAN SANKSI HUKUMANNYA Dalam peristilahan kehutanan sebagaimana yang dikutip oleh Poeworko Soebianto (Kiniwia, 2003) yang di maksud dengan penebangan (logging) adalah suatu aktivitas atau kegiatan penebangan kayu di dalam kawasan hutan yang di lakukan oleh seorang atau sekelompok ataupun atas nama perusahaan berdasarkan izin yang di keluarkan oleh pemerintah atau instansi yang berwenang (kehutanan) sesuai dengan prosedur tata cara penebangan yang di atur dalam peraturan perundang-undangan kehutanan. Pengertian di atas mengandung maksud bahwa logging atau penebangan dapat di benarkan sepanjang mempunyai izin, mengikuti prosedur penebangan yang benar berdasarkan aspek kelestarian lingkungan dan mengikuti prosedur pemanfaatan dan peredaran hasil hutan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Aspek ekologi (kelestarian lingkungan) merupakan suatu prinsip pengelolaan hutan yang berorientasi kepada usaha pemanfaatan hutan yang secara lestari dengan sistem silvilkultur. Sistem ini meliputi proses penanaman, pemeliharaan, penebangan, penggantian suatu yang akan menghasilkan kayu atau hasil hutan lainnya dalam bentuk tertentu. Poerwoko Soebianto (kiniwia, 2003) menyatakan juga memberikan definisi mengenai illegal logging yaitu penebangan liar atau penebangan tanpa izin termaksud kejahatan ekonomi dan lingkungan karena menimbulkan kerugian material bagi negara serta kerusakan lingkungan atau ekosistem hutan dan dapat di kenakan sanksi pidana dengan ancaman kurungan paling lama sepuluh sampai lima belas tahun dan denda paling banyak Rp milyar (Undang-Undang N0. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 78). Lebih lanjut Longgena Ginting menyebut illegal logging sebagai suatu operasi penebangan yang tidak sah karena tidak memiliki izin resmi. Illegal dan legal hanya di bedakan bahwa yang satu mempunyai legalitas surat resmi sementara yang lain tidak. Mengingat pokok bahasan penebangan liar hutan jati merupakan bagian dari kehutanan, maka penulis merasa perlu membahas mengenai penebangan liar berdasarkan ketentuan perundang undangan di bidang kehutanan yaitu Undang- Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1985 yang kemudian akan di kaitkan dengan kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Instrumen hukum di bidang kehutanan yang mengenai ketentuan pidana terhadap praktek penebangan liar atau pencurian kayu (illegal logging) dapat di lihat pada Pasal 50 ayat (3) huruf e UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan yang menyatakan bahwa setiap orang di larang menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak izin dari pejabat yang berwenang. Lebih lanjut di pertegas pada Bab XIV mengenai ketentuan pidananya yaitu barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana di maksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf e di ancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp ,00 (Lima Miliyar Rupiah).

10 Unsur-unsur dari Pasal 50 ayat (3) huruf e UU No. 41 Tahun 1999 di atas (Salim, SH, 2003: 155) yaitu : 1. Barang siapa 2. Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan 3. Di dalam hutan 4. Tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang Sedangkan dalam PP. No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan hutan, dapat dilihat pada Pasal 9 ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap orang di larang melakukan penebangan pohon-pohon dalam hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang. Unsur-unsur dari pasal tersebut adalah : 1. Barang siapa 2. Melakukan penebangan pohon-pohon 3. Dalam hutan 4. Tanpa izin dari pejabat yang berwenang Berdasarkan unsur-unsur Pasal 50 ayat (3) huruf e UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dan Pasal 9 ayat (2) PP. No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan diatas, dapat dilihat adanya persamaan dengan Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pencurian yang menyebutkan bahwa Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh ribu rupiah. Unsur-unsur Pasal 362 KUH Pidana Yaitu : 1. Perbuatan mengambil 2. Yang di ambil sesuatu barang 3. Barang itu harus seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain. 4. Pengambilan itu harus dilakukan dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum (Soesilo. R.1991 : 763). KESIMPULAN Masalah penegakan hukum dapat dibahas dari segi peraturan perundang-undangan, segi aparat penegak hukum dan segi kesadaran masyarakat yang terkena peraturan itu. Kajian terhadap UUPLH dan perangkat peraturan perundang-undangan lingkungan mengungkapkan banyak kelemahan dan kerancuan perumusan yang memerlukan pemahaman secara proporsional, khususnya dalam menerapkan sanksi pidana yang bertujuan untuk menjerakan para pelanggar hukum lingkungan supaya tidak mengulangi kesalahannya. Lingkungan hidup adalah Anugrah Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat merupakan Karunia dan Rahmat-Nya wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan masyarakat serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Oleh karena itu, hakikat sanksi pidana adalah sarana atau alat untuk memidana (menghukum) secara fisik dan materiil para pencemar lingkungan yang terbukti bersalah melanggar hukum. Akan tetapi sanksi pidana dalam hukum lingkungan adalah sebagai alternatif sanksi terakhir (ultimum remedium) dan bukan pula sanksi utama (premium remedium) setelah sanksi administratif dan sanksi perdata tidak mampu diterapkan dan menjerakan para pencemar lingkungan hidup. Penanggulangan atau penyembuhan yang dilakukan oleh hukum pidana merupakan

11 penyembuhan/pengobatan simptomatis bukan pengobatan kausatif sehingga pemidanaan (pengobatan) terhadap para pelanggar hukum bersifat individual/personal dan tidak bersifat fungsional/struktural (Arif, 1998 :49). Sebab, pemanfaatan lingkungan untuk pembangunan adalah sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat, baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. Oleh karena itu, penggunaan sumber daya alam harus selaras, serasi dan seimbang dengan fungsi lingkungan hidup. Makna hakiki penegakan hukum (law enforcement) adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. Keinginan hukum di sini adalah pemikiran-pemikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum yang bakal diterapkan dalam segenap aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Rahardjo, 1983:15). Penegakan hukum memuat aspek legalitas dari suatu peraturan atau undang-undang yang diterapkan pada setiap orang dan atau badan hukum dengan adanya perintah, larangan dan sanksi yang dapat dikenakan terhadap para pelanggarnya yang terbukti bersalah berdasarkan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam rangka penegakan hukum lingkungan yang berkaitan erat dengan kemampuan petugas penegak hukum dan keputusan warga masyarakat terhadap peraturan hukum lingkungan yang berlaku (ius constitutum) dalam pelaksanaannya di lapangan (ius operatum) dan meliputi tiga bidang hukum, yaitu administrasi, perdata dan pidana pada perusakan/pencemaran lingkungan. Upaya penyelematan lingkungan yang asri tergantung pada kesadaran bersama, baik pemerintah, pengusaha dan dunia usaha maupun masyarakat setempat yang peduli dengan lingkungan hijau sebagai warisan dan titipan anak cucu kelak.

12 DAFTAR PUSTAKA Abdussalam Kriminologi. Restu Agung : Jakarta Bonger, W. A Pengantar Tentang Kriminologi. PT.Pembangunan : Jakarta. Bosu, B Sendi-sendi Kriminologi. Usaha Nasional : Surabaya. Hamdan, M Politik Hukum Pidana. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Made Darma Weda Kriminologi. Rajawali Pers : Jakarta. Mulyana W. Kusuma Aneka Permasalahan Dalam Ruang Lingkup Kriminologi. Alumni : Bandung., Kriminologi dan Masalah Kejahatan (Suatu Pengantar Ringkas). Armico : Bandung. Moeljatno Azas-azas Hukum Pidana. Jakarta : Bina Aksara Ngandung, I. B Ketentuan Umum Pengantar Kehutanan di Indonesia, Ujung Pandang : Pusat Latihan Kehutanan. Salim, H. S Dasar-dasar Hukum Kehutanan. Jakarta : Sinar Grafika.

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 23 TAHUN 1997 (23/1997) Tanggal : 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/68; TLN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 5 TAHUN 1990 (5/1990) Tanggal : 10 AGUSTUS 1990 (JAKARTA) Sumber :

Lebih terperinci

Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak

Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Gasti Ratnawati PENDAHULUAN Dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas, anak sebagai generasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, Copyright 2002 BPHN UU 24/1992, PENATAAN RUANG *8375 Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 24 TAHUN 1992 (24/1992) Tanggal: 13 OKTOBER 1992 (JAKARTA) Sumber: LN 1992/115;

Lebih terperinci

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

Undang Undang No. 16 Tahun 1985 Tentang : Rumah Susun

Undang Undang No. 16 Tahun 1985 Tentang : Rumah Susun Undang Undang No. 16 Tahun 1985 Tentang : Rumah Susun Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 16 TAHUN 1985 (16/1985) Tanggal : 31 DESEMBER 1985 (JAKARTA) Sumber : LN 1985/75; TLN NO. 3318 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak

Lebih terperinci

Intisari. Kata Kunci : Pengakuan dan perlindungan hukum hak ulayat, otonomi daerah. Pendahuluan

Intisari. Kata Kunci : Pengakuan dan perlindungan hukum hak ulayat, otonomi daerah. Pendahuluan PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK ULAYAT ATAS TANAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DI DESA COLOL KECAMATAN POCORANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR (STUDI KASUS) Intisari

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a b c d e bahwa manusia, sebagai makhluk ciptaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebenarnya bukan merupakan persoalan baru, karena aktivitas perekonomian sangat

BAB I PENDAHULUAN. sebenarnya bukan merupakan persoalan baru, karena aktivitas perekonomian sangat BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Pembangunan di bidang hukum merupakan salah satu bidang yang sangat menentukan bagi terlaksananya pembangunan bidang lainnya. Salah satu bidang yang berdampak luas adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa setiap orang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG PENGAIRAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG PENGAIRAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG PENGAIRAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa air beserta sumber-sumbernya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian Sejak terjadinya krisis ekonomi pada bulan Juli 1977 yang berlanjut menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG P E N G A I R A N DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG P E N G A I R A N DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG P E N G A I R A N DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : Mengingat : 1. Bahwa air beserta sumber-sumbernya,

Lebih terperinci

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM BAHAN AJAR HUKUM LINGKUNGAN Mata Kuliah Prasyarat Wajib Program Sarjana HKU 1123 Koordinator: Abdullah Abdul Patah, S.H., LL.M. Pengampu:

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.207, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Hak Guna Air. Hak Guna Pakai. Hak Guna Usaha. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5578) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci