Hubungan antara Resiliensi dengan Psychological Well-Being pada Remaja yang mengalami Broken Home. Winda Anggraeni Pratiwi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hubungan antara Resiliensi dengan Psychological Well-Being pada Remaja yang mengalami Broken Home. Winda Anggraeni Pratiwi"

Transkripsi

1 Hubungan antara Resiliensi dengan Psychological Well-Being pada Remaja yang mengalami Broken Home Winda Anggraeni Pratiwi

2 BAB I: Pendahuluan A. Latar Belakang B. Tujuan C. Manfaat Menurut Gunarsa (1993) keluarga sebenarnya mempunyai fungsi yg tidak hanya sebatas selaku penerus keturunan saja. Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yg cukup mendalam terutama remaja, mulai dari tidak bisa menerima kenyataan pada masalah sehari-hari yg dialami oleh remaja itu sendiri (Cole, 2004). untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan psychological well-being pada remaja yang mengalami broken home. 1. Manfaat Teoritis 2. Manfaat Praktis

3 BAB II Tinjauan Pustaka A. Psychological well-being Keadaan dimana individu mampu menghadapi permasalahan yang menimpanya dengan mengandalkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya, sehingga menciptakan suatu keadaan pribadi dan mental yang sehat. Dimensi 1) Kemandirian 2) Penguasaan terhadap lingkungan 3) Pertumbuhan diri 4) Hubungan positif dengan orang lain 5) Tujuan hidup 6) Penerimaan diri Faktor-faktor yg mempengaruhi 1) Usia 2) Tingkat pendidikan 3) Jenis kelamin 4) Faktor status sosial ekonomi 5) Dukungan sosial 6) Kepribadian 7) Spiritualitas

4 B. Resiliensi Interaksi dinamis antara risk factors (faktor-faktor beresiko) dan protective factors (faktor-faktor pelindung) sebagai hasil adaptasi yang diperoleh secara individual maupun dari lingkungan, yang memampukan seseorang untuk mengembangkan diri menuju ke arah yang lebih baik. Aspek-aspek 1) Regulasi emosi 2) Pengendalian impuls 3) Optimisme 4) Causal analysis 5) Empati 6) Self-efficacy 7) Reaching out Faktor yang mempengaruhi 1) Self-esteem 2) Dukungan sosial 3) Spiritualitas 4) Emosi Positif

5 C. Dinamika Dagun (1990) menyatakan bahwa kondisi keluarga broken home yang mengalami perceraian dapat menyebabkan anak mengalami tekanan jiwa, aktivitas fisik menjadi agresif, tidak mempunyai tujuan hidup, kurang menampilkan kegembiraan, emosi tidak terkontrol, dan lebih senang menyendiri. Keadaan ini berbanding terbalik dengan pendapat Ryff dan Singer (2006) tentang psychological wellbeing yang tinggi yaitu positive psychological functioning ditandai dengan enam dimensi yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan sesama, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, serta pertumbuhan pribadi dalam diri individu. Saat ini studi empiris yang meneliti mengenai hubungan resiliensi dengan setiap dimensi psychological well-being masih sangat terbatas (Van Shaick, 2010). Meskipun demikian, terdapat beberapa riset yang mendukung bahwa kedua variabel ini sebenarnya memiliki hubungan yang erat. Dalam menghadapi peristiwa yang berat dan traumatis, resiliensi dinilai penting sebagai daya lenting yang membantu individu untuk bertahan (Siebert, 2005). Namun, perlu diketahui juga bahwa individu dapat mengalami perubahan filosofi hidup, self perception bahkan hubungan interpersonal pasca mengalami fase hidup yang traumatis tersebut (Van Shaick, 2010). Adanya pengalaman perubahan ini dinilai berkorelasi positif dengan psychological well-being (Van Shaick, 2010). D. Hipotesis adanya hubungan yang positif antara resiliensi dengan psychological well-being pada remaja yang mengalami broken home.

6 BAB III METODE PENELITIAN Identifikasi Variabelvariabel Definisi Operasional Subjek Variabel Terikat : Psychological Well-being Variabel Bebas : Resiliensi Psychological Well-being, Psychological well-being pada subjek penelitian ini berdasarkan skor yang diperoleh dari teori Ryff dan Singer (2006) dengan enam dimensi pendukung yaitu kemandirian, penguasaan terhadap lingkungan, pertumbuhan diri, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup, dan penerimaan diri. Resiliensi, Resiliensi pada subjek penelitian ini diketahui berdasarkan skor yang diperoleh dari teori Wolin dan Wolin (1994) dengan tujuh aspek utama yaitu insight, independence, relationships, intiative, creative, humor, dan morality. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja yang mengalami broken home yang berusia 11 hingga 20 tahun. Dengan teknik purposive sampling.

7 Teknik Pengumpulan Data Menggunakan koesioner Skala psychological well-being, adaptasi psychological wellbeing scale (PWBS) dari Ryff (1989 dalam Abbott, dkk., 2010) Skala resiliensi, Skala tingkat resiliensi resiliensi disusun berdasarkan dimensi-dimensi yang dikemukakan oleh Patterson dan Kelleher (Dalam Diah & Prandna, 2012) Validitas dan Reliabilitas Validitas. Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana akurasi suatu tes atau skala dalam menjelaskan fungsi pengukurannya (Azwar, 2012). Reliabilitas. Menurut Azwar (2012) gagasan pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu proses pengukurannya dapat dipercaya Teknik Analisis Data menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment Pearson. Korelasi Product Moment Pearson untuk mengetahui derajat hubungan dan kontribusi variabel bebas dan variabel terikat.