BAB I PENDAH ULUAN 1.1.Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAH ULUAN 1.1.Latar Belakang"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Polimer secara umum merupakan bahan dengan kemampuan menghantarkan listrik yang rendah dan tidak memiliki respon terhadap adanya medan magnet dari luar. Tetapi melalui beberapa penelitian yang dilakukan, sebagian bahan polimer ternyata dapat ditingkatkan konduktifitas listriknya dengan menambahkan bahan asam sehingga timbul fasa kedua yang bersifat konduktif. Salah satu bahan polimer yang konduktivitas listriknya dapat ditingkatkan adalah polianilin (PANi). Ketika perta ma kali ditemukan pada tahun 1840 dalam bentuk monomer anilin oleh Fritzsche, polianilin tidak banyak mendapat perhatian para peneliti sampai pada tahun an ketika terjadi perkembangan dalam dunia komponen elektronik, bahan polimer konduktif menjadi perhatian karena sifatnya yang konduktif dapat diaplikasikan sebagai material elektronik seperti kapasitor, sensor ph dan transistor (Asrori, 2000). Polimer konduktif dan elektroaktif adalah material baru yang sangat diminati oleh para peneliti dikarenakan sifat listrik dan magnetnya yang unik serta kemudahan cara sintesisnya.salah satu jenis polimer konduktif yang banyak diteliti adalah polianilin karena mempunyai kestabilan lingkungan yang lebih tinggi dan kemudahan proses sintesis serta pendopingannya, dibandingkan dengan polimer konduktif lainnya. Polianilin dapat disintesis secara elektrokimia menghasilkan produk dalam bentuk film dan sintesis secara kimia biasa akan menghasilkan polianilin dalam bentuk bubuk. Sintesis polianilin secara kimia biasa yang sering dilakukan adalah polimerisasi interfasial(antar muka) karena metode ini relatif mudah dalam pemberian doping. Secara elektrokimia Polianilin dapat disintesis dengan metode galvanostatik dimana proses doping terjadi bersamaan dengan polimerisasi. Pada metode ini terjadi perubahan unsur/senyawa kimia menjadi senyawa yang sesuai dengan yang diinginkan. Penggunaan metode ini oleh para peneliti dalam mensintesis bahan didasarkan oleh berbagai keuntungan yang ditawarkan seperti peralatan yang diperlukan sangat sederhana, yakni terdiri dari dua/tiga batang elektroda yang dihubungkan dengan sumber arus listrik, potensial elektroda dan rapat arusnya dapat 1

2 2 diatur sehingga selektivitas dan kecepatan reaksinya dapat ditempatkan pada batasbatas yang diinginkan melalui pengaturan besarnya potensial listrik serta tingkat polusi sangat rendah dan mudah dikontrol. Dari keuntungan yang ditawarkan menyebabkan teknik elektrosintesis lebih menguntungkan dibandingkan metode sintesis secara konvensional, yang sangat dipengaruhi oleh tekanan, suhu, katalis dan konsentrasi. Selain itu proses elektrosintesis juga dimungkinkan untuk dilakukan pada tekanan atmosfer dan pada suhu antara C terutama untuk sintesis senyawa organik, sehingga memungkinkan penggunaan materi yang murah. Selain sebagai material tunggal, penelitian juga difokuskan pada sintesis film tifis dari polimer konduktif sebagai upaya untuk mendapatkan material baru dengan aplikasi yang lebih luas. Kekurangan polimer konduktif ini adalah sifat magnetiknya yang tidak begitu baik, hal ini dapat diatasi dengan membuat kompositnya dengan bahanmagnetik semisal Fe3O 4. Bahan Fe3O 4 bersifat ferromagnetik yang dalam keadaan murni nilai magnetisasi jenuh dapat mencapai 65 emu/g. Peningkatan konduktivitas listrik dan respon magnetik yang cukup baik, membuat bahan komposit polianilin-fe3o 4 dapat diaplikasikan secara luas baik sebagai electrochromic device, electromagnetic interference shielding dan penyerap gelombang mikro (Putri,dkk,2008). Penelitian komposit berbasis polianilin telah banyak dilakukan, di antaranya oleh Xiao et.al.(2007) melakukan preparasi nanokomposit polianilin - Fe3O 4 dengan metode novel Pickering emulsion route, dan mempelajari sifat listrik, magnetik serta morfologinya. Hasil karakterisasi memperlihatkan bahwa ternyata baik nilai konduktivitas maupun morfologinya tergantung pada rasio volum toluena terhadap air dan jumlah Fe 3 O 4 di dalam sampel. Nilai saturasi magnetisasi menurun sesuai dengan penurunanjumlah Fe 3 O 4 di dalam sampel. Saboktakin et.al. (2008) mensintesis nanokomposit polianilin/poli(p - hidroksianilin)/fe3o4 (PANi/PHAN/Fe3 O 4 dengan metode reaksi kimia. Hasil karakterisasi dengan SEM memperlihatkan bahwa nanokomposit PANi/PHAN/ Fe3O sangat sensitif terhadap suhu, terlihat pula bahwa nanopartikel Fe3O4 terdistribusi homogen di dalam matriks PANi/PHAN.

3 3 Putri,nugrahani,dkk (2009) melakukan sintesis film nanokomposit PANi/HCl/Fe3O4 telah dilakukan menggunakan metode elektrokimia galvanostat dengan elektroda nikel sebagai katoda dan elektroda karbon sebagai anoda. Sintesis dilakukan dengan arus 4mA selama 30 menit, dengan variasi volume penambahan ferofluida terhadap volume anilin. Keberadaan fasa iron oxide telah dikonfirmasi dengan hasil karakterisasi EDX. Sedangkan morfologi permukaan sampel dapat dilihat dari hasil karakterisasi SEM. Nilai konduktivitas listrik sampel menurun dengan penambahan Fe 3 O 4. ZnO adalah material yang relatif lunak dengan kekerasan perkiraan 4,5 pada skala Mohs. Konstanta elastisnya lebih kecil dari semikonduktor III-V, seperti GaN. Kapasitas panas dan konduktivitas panasnya tinggi, ekspansi termal rendah dan suhu lebur ZnO tinggi yang bermanfaat untuk keramik. Di antara semikonduktor tetrahedral, ZnO memiliki tensor piezoelektrik tertinggi atau setidaknya sebanding dengan GaN dan AlN. Sifat ini membuat bahan ini merupakan teknologi penting bagi banyak aplikasi piezoelektrik, yang membutuhkan elektromekanis dengan kopling yang besar. ZnO memiliki band gap relatif besar dari ~ 3,3 ev pada suhu kamar, karena itu ZnO murni tidak berwarna dan transparan. Keuntungan yang terkait dengan band gap yang besar termasuk tegangan yang tinggi, kemampuan untuk mempertahankan medan listrik yang besar, suara elektronik yang lebih rendah, dan suhu yang tinggi dan tinggnya daya operasi. Celah pita ZnO lebih lanjut dapat disetel dari ~ 3-4 ev oleh paduan dengan magnesium oksida atau oksida kadmium. Kebanyakan ZnO memiliki karakteristik tipe-n, bahkan tanpa adanya pendopingan. Penjelasan alternatif telah diusulkan, berdasarkan teori perhitungan, yang tidak disengaja kotoran substitusi hidrogen bertanggung jawab. Pendopingan tipe-n mudah dicapai dengan menggantikan Zn dengan kelompok unsur golongan III yaitu Al, Ga, In atau menggantikan oksigen dengan kelompok unsur golongan VII yaitu klorin atau yodium. Pendopingan ZnOyang memiliki karakteristik tipe-p sulit dilakukan. Masalah ini berasal dari dopan tipe-p dengan kelarutan yang rendah dan itu adalah tidak hanya berlaku untuk ZnO, tetapi juga untuk senyawa seperti GaN dan ZnSe.

4 4 Adanya ZnO tipe-p tidak membatasi aplikasi elektronik dan aplikasi optoelektronik yang biasanya membutuhkan sambungan tipe-n dan material jenis p. Dikenal dopan tipe-p yaitu termasuk kelompok unsur Li, Na, K, kelompok-v unsur N, P dan As; serta tembaga dan perak. Mobilitas elektron ZnO sangat bervariasi terhadap suhu dan memiliki maksimum ~ 2000 cm 2 / (V S) pada~ 80 Kelvin. Data mobilitas lubang dengan nilai dalam kisaran 5-30 cm 2 / (V S). Dari penelitian diatas peneliti akan melakukan penelitian sintesis komposit Polianilin dilakukan dengan pemberian doping ZnO untuk meningkatkan sifat magnetiknya dan konduktivitasnya.untuk mendapatkan Fe 3 O 4 dalam orde nano sangat sulit dilakukan.dari penelitian diharapkan ZnO dapat memberikan nilai konduktivitas yang lebih baik karena sifat ZnO sebagai bahan ferromagnetik. Diharapkan perbandingan hasil yang diperoleh pada sintesis film Polianilin sebelum dan sesudah pemberian ZnO menunjukkan hasil yang baik,sehinngga ZnO dapat digunakan sebagai doping sehingga dapat diaplikasikan untuk device elektronik. 1.2.Batasan Masalah Untuk memberikan ruang lingkup yang jelas, penulis membatasi cakupan masalah sebagai berikut: 1. Sintesis Film tifis PANI/HCl/ZnO digunakan Monomer anilin 25 ml,hcl 75 ml Larutan H 2 O 2 10ml dan 1 gram ZnO di stirer selama 2 jam pada beaker glass dengan Galvanostat selama 30 menit, dan arus polimerisasi 4 ma. 2. Karakterisasi morfologi dan sifat listrik film tifis PANI/HCl/ZnO dengan SEM,XRF untuk mengetahui unsur unsur dalam sampel dan untuk mengetahui konduktivitas digunakan LCR METER.

5 5 1.3.Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana mensintesis Film Tifis PANI/HCl/ZnO dengan metode Galvanostatatik? 2. Bagaimana menentukan nilai konduktivitas Film Tifis PANI/HCl dan Film Tifis PANI/HCl/ZnO dengan alat ukur LCR METER? 3. Bagaimana mengkarakterisasi morfologi film PANI/HCl dan Film Tifis PANI/HCl/ZnO dan mengidentifikasi unsur unsur dalam sampel dengan menggunakan XRF? 1.4.Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui cara mensintesis Film Tifis PANI/HCl/ZnO dengan metode Galvanostatik. 2. Menentukan nilai konduktivitas Film Tifis PANI/HCl dan Film Tifis PANI/HCl/ZnO dengan alat ukur LCR METER. 3. Mengkarakterisasi morfologi film PANI/HCl dan Film Tifis PANI/HCl/ZnO dan mengidentifikasi unsur unsur dalam sampel dengan menggunakan XRF. 1.5.Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: Film tifis PANI/HCl/ZnO sebagai polimer konduktif memiliki konduktivitas yang baik sehingga dapat diaplikasikan sebagai material pada: 1. Mikroelektronik 2. Sensor Gas 3. Sistem optik non linear 4. Semikondukor

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh panca indera manusia oleh karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi

Lebih terperinci

TS.001 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI

TS.001 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI KODE MODUL TS.00 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI Dasar Elektronika Analog dan Digital BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor

BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor BAB II DASAR TEORI 2.1 Alat Penukar Kalor Alat penukar kalor adalah suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Kembali SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 1. Ruang lingkup. 1.1. Standar ini mencakup

Lebih terperinci

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1C03-04DBK

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1C03-04DBK MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL 04DBK KUALITAS AIR DAN KEGUNAANNYA DI BIDANG PERTANIAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBUATAN ALAT PERAGA KIMIA SEDERHANA UNTUK SMA

PEDOMAN PEMBUATAN ALAT PERAGA KIMIA SEDERHANA UNTUK SMA PEDOMAN PEMBUATAN ALAT PERAGA KIMIA SEDERHANA UNTUK SMA DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2011 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

DIKTAT KULIAH PROSES PRODUKSI

DIKTAT KULIAH PROSES PRODUKSI DIKTAT KULIAH PROSES PRODUKSI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DARMA PERSADA 2008 DIKTAT KULIAH PROSES PRODUKSI Disusun : ASYARI DARYUS Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Darma Persada Jakarta.

Lebih terperinci

Oleh : DR.HM.HATTA DAHLAN, M.Eng

Oleh : DR.HM.HATTA DAHLAN, M.Eng PROTOTIPE ALAT PENYARING AIR PAYAU (SUNGAI SUGIHAN) MENJADI SUMBER AIR BERSIH MENGGUNAKAN TABUNG FILTER BAGI MASYARAKAT PANGKALAN SAKTI KECAMATAN AIR SUGIHAN KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR SUMSEL Oleh :

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan

Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan 3.1 Pendahuluan 3.1.1 Proteksi untuk keselamatan menentukan persyaratan terpenting untuk melindungi manusia, ternak dan harta benda. Proteksi untuk keselamatan selengkapnya

Lebih terperinci

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL

BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN FUNDAMENTAL JUDUL PENELITIAN UJI LABORATORIUM SIFAT-SIFAT LIMBAH ORGANIK DAN MEKANISME REMEDIASI AIR ASAM TAMBANG OLEH DR. IR. RIWANDI, MS. IR. ALI MUNAWAR,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung pada

Lebih terperinci

Sifat Sifat Material

Sifat Sifat Material Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam

Lebih terperinci

Naahidi,et.al., 2013)

Naahidi,et.al., 2013) A.TIPE-TIPE NANOPARTIKEL PADA KOSMETIK Nanopartikel dapat dibedakan menjadi tipe-tipe berbeda berdasarkan perbedaan pada ukuran, bentuk, material, sifat kimia dan permukaan yang beragam. Nanopartikel bersifat

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin Diesel

BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin Diesel 5 BB II DSR TEORI. Mesin Diesel Salah satu penggerak mula yang banyak dipakai adalah mesin kalor, yaitu mesin yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik atau yang mengubah energi termal

Lebih terperinci

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80

EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 EKSTRAKSI Fe(II)-1,10-FENANTROLIN MENGGUNAKAN METODE CLOUD POINT DENGAN SURFAKTAN TWEEN 80 Disusun oleh FERIA TIA AGUSTINA M0301024 SKRIPSI Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Disusun Oleh : YOGIK DWI MUSTOPO NIM. I 1404033

SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Disusun Oleh : YOGIK DWI MUSTOPO NIM. I 1404033 digilib.uns.ac.id PENGARUH WAKTU TERHADAP KETEBALAN DAN ADHESIVITAS LAPISAN PADA PROSES ELEKTROPLATING KHROM DEKORATIF TANPA LAPISAN DASAR, DENGAN LAPISAN DASAR TEMBAGA DAN TEMBAGA-NIKEL SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK

BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK BAB 8 ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK Daftar Isi : 8.1. Alat Ukur Listrik... 8-2 8.2. Sistem Satuan... 8-3 8.3. Ukuran Standar Kelistrikan... 8-4 8.4. Sistem Pengukuran... 8-4 8.5. Alat Ukur Listrik Analog...

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 Proses Permesinan

BAB II DASAR TEORI 2.1 Proses Permesinan BAB II DASAR TEORI 2.1 Proses Permesinan Dalam industri manufaktur proses permesinan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan produk dalam jumlah banyak dengan waktu relatif singkat. Banyak sekali

Lebih terperinci

ANALISA SIFAT MEKANIK KOMPOSIT BAHAN KAMPAS REM DENGAN PENGUAT FLY ASH BATUBARA

ANALISA SIFAT MEKANIK KOMPOSIT BAHAN KAMPAS REM DENGAN PENGUAT FLY ASH BATUBARA i TUGAS AKHIR ANALISA SIFAT MEKANIK KOMPOSIT BAHAN KAMPAS REM DENGAN PENGUAT FLY ASH BATUBARA OLEH: PRATAMA D21105069 JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011 ii LEMBAR PENGESAHAN

Lebih terperinci

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Program Keahlian : TEKNIK ENERGI TERBARUKAN (1.18) Paket Keahlian : TEKNIK ENERGI BIOMASSA (062) Mata Pelajaran : BAHAN BAKAR NABATI BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Disusun:

Lebih terperinci

ALAT UKUR TINGGI DAN BERAT BADAN DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLLER

ALAT UKUR TINGGI DAN BERAT BADAN DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLLER ALAT UKUR TINGGI DAN BERAT BADAN DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLLER Rizki Mulia Utama (Rizkimuliautama@gmail.com), Rhenza Syasepta (Rhenza24.rir@gmail.com) Rachmansyah, S.Kom (Rachmansyah@stmik-mdp.net)

Lebih terperinci

BBM 11 LISTRIK DINAMIS PENDAHULUAN

BBM 11 LISTRIK DINAMIS PENDAHULUAN BBM 11 LISTRIK DINAMIS PENDAHULUAN Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini merupakan BBM kesebelas dari mata kuliah Konsep Dasar Fisika untuk SD yang menjelaskan tentang konsep arus listrik dan rangkaian listrik.

Lebih terperinci

Alat Proteksi Radiasi

Alat Proteksi Radiasi Alat Proteksi Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh manusia secara langsung, seberapapun besarnya. Agar pekerja radiasi tidak mendapat paparan radiasi yang melebihi batas yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberhasilan pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN INDUSTRI (PKLI)

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN INDUSTRI (PKLI) LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN INDUSTRI (PKLI) PEMBUATAN HANGER BEARING C/W BRONZE BUSHING UNTUK SCREW CONVEYOR PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN PROSES PENGECORAN LOGAM DI CV. KINABALU Oleh: AKFADITA DIKA PARIRA

Lebih terperinci

LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON RINGAN DENGAN BERBAGAI VARIASI KAIT SKRIPSI

LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON RINGAN DENGAN BERBAGAI VARIASI KAIT SKRIPSI KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON RINGAN DENGAN BERBAGAI VARIASI KAIT The Bond Strength and Development Length Observation of Bar Reinforcement of Lightweight Concrete with Various

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KEKUATAN TRANSVERSA DARI TIGA JENIS RESIN BASIS GIGITIRUAN PADA BEBERAPA KETEBALAN SKRIPSI IDA AYU SARI PUTRI J 111 10 144

PERBANDINGAN KEKUATAN TRANSVERSA DARI TIGA JENIS RESIN BASIS GIGITIRUAN PADA BEBERAPA KETEBALAN SKRIPSI IDA AYU SARI PUTRI J 111 10 144 PERBANDINGAN KEKUATAN TRANSVERSA DARI TIGA JENIS RESIN BASIS GIGITIRUAN PADA BEBERAPA KETEBALAN SKRIPSI Diajukan Kepada Universitas Hasanuddin Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA (Untuk Kelas VIII SMP N 1 Tirtomoyo Semester Genap Pokok Bahasan Prisma) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1

TUJUAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I 1 TUJUAN 1. Mahasiswa mengenal alat-alat sederhana yang umum dipergunakan dalam laboratorium kimia. 2. Mahasiswa memahami kegunaan serta cara menggunakan secara benar alat-alat laboratorium kimia. Beberapa

Lebih terperinci