Gizi kurang tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan kenaikan berat badan balita yang tidak cukup. Perubahan berat badan balita dari

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Gizi kurang tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan kenaikan berat badan balita yang tidak cukup. Perubahan berat badan balita dari"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu yang memiliki fisik tangguh, mental kuat, dan kesehatan prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dan status gizi yang baik ditentukan oleh kualitas asupan pangan yang dikonsumsi. Saat ini diperkirakan sekitar 50 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 100 juta jiwa mengalami beraneka masalah kekurangan gizi, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Masalah gizi kurang sering luput dari penglihatan atau pengamatan biasa dan seringkali tidak cepat ditanggulangi, padahal dapat memunculkan masalah besar. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Bappenas, 2006). Prevalensi gizi kurang pada balita menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), (2003) secara nasional mencapai 27,5% dan kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun 1989 yaitu sebesar 37,5%, dalam hal ini terjadi penurunan sebesar 10%. Sedangkan menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, Prevalensi anak balita di propinsi Jawa Tengah dengan status gizi buruk 3,3%, gizi kurang 12.4%, gizi baik 80,4% dan gizi lebih 3,6%. Prevalensi anak balita dengan status gizi sangat pendek 17,8%, pendek 18,6% dan normal 63,5%. Pevalensi anak balita gizi sangat kurus 4,7%, kurus 7,1%, normal 76,8% dan gemuk 11,4%. Prevalensi gizi kronis 36,4% dan prevalensi gizi akut 11,8% (Soendoro Triono, 2008)

2 2 Gizi kurang tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan kenaikan berat badan balita yang tidak cukup. Perubahan berat badan balita dari waktu ke waktu merupakan petunjuk awal perubahan status gizi balita. Dalam periode 6 bulan, bayi yang berat badannya tidak naik dua kali beresiko mengalami gizi kurang 12,6 kali dibandingkan dengan balita yang berat badannya naik terus. Bila frekuensi berat badan tidak naik lebih sering, maka risiko akan semakin besar (Depkes RI, 2005). Gizi kurang jika tidak segera ditangani dikhawatirkan akan berkembang menjadi gizi buruk. Selanjutnya menurut Bank Dunia (2006), dalam rencana aksi pangan dan gizi , (Bappenas, 2006) perbaikan gizi merupakan suatu investasi yang sangat menguntungkan. Setidaknya ada tiga alasan suatu Negara perlu melakukan intervensi di bidang gizi. Pertama, perbaikan gizi memiliki keuntungan ekonomi (economic returns) yang tinggi; kedua, intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi; dan ketiga, perbaikan gizi membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja, pengurangan hari sakit, dan pengurangan biaya pengobatan. Upaya perbaikan gizi di Indonesia secara nasional telah dilaksanakan sejak tiga puluh tahun yang lalu. Upaya yang dilakukan difokuskan untuk mengatasi masalah gizi utama yaitu: Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). Upaya tersebut telah berhasil menurunkan keempat masalah gizi utama namun penurunannya dinilai kurang cepat. Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting, karena dapat mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah serta dapat mencapai target yang diinginkan. Program penanggulangan masalah kesehatan dan gizi ini perlu keterlibatan dari berbagai pihak.

3 3 Keterlibatan dan perhatian pihak LSM di pusat dan daerah terhadap masalah kesehatan dan gizi masyarakat belum memadai. Hal serupa terjadi juga pada peranan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang sebetulnya memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat tetapi belum berperan secara optimal. Demikian pula dengan keterlibatan pihak swasta atau dunia usaha yang seharusnya memiliki potensi besar dalam promosi Untuk mendukung program perbaikan gizi di Indonesia tersebut, salah satu perusahaan terkemuka, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui Persatuan Istri PT PLN, dalam usianya yang ke- 11 memprogramkan memberikan perhatian terhadap 5000 balita gizi kurang secara nasional dengan memberikan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan di Kota Semarang dilakukan oleh Persatuan Istri PT PLN wilayah Jawa Bali. Target sasaran yaitu 50 balita gizi kurang. Data yang didapatkan dari survey awal oleh tim yang telah ditunjuk PT PLN (Persero), di wilayah PKL Banjirkanal Timur, Kel. Pandeanlamper, Kec. Gayamsari, Semarang, terdapat 65 balita dengan kriteria berat badan berdasarkan umur (BB/U) dan berdasarkan KMS berada pada posisi gizi kurang, yaitu berada pada garis kuning ke bawah. Berdasarkan data tersebut maka, PT PLN (Persero) wilayah Jawa-Bali, melalui Persatuan Istri (PI) PT PLN (Persero) melakukan seleksi dan ditetapkan 50 balita gizi kurang di wilayah tersebut di berikan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) kepada 50 balita gizi kurang ini akan dilakukan selama tiga bulan, dimulai sejak bulan Desember Pelaksanaan pemberian makanan tambahan ini melibatkan tim dokter dan perawat sebagai pencari data dan pelaksana evaluasi di lapangan. Evaluasi keberhasilan program PMT ini dilakukan dalam bentuk pengukuran antropometri. Antropometri adalah salah satu indikator penilaian status gizi secara langsung yang dapat dilakukan (Supariasa,IDM.et all. 2002).

4 4 B. Rumusan Masalah Masalah pangan dan gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, perilaku dan status kesehatan yang saling berinteraksi secara komplek. Pada saat ini, selain dampak dari krisis ekonomi yang masih terasa, juga keadaan dampak dari bencana nasional mempengaruhi status kesehatan pada umumnya dan status gizi khususnya Gizi, merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumberdaya manusia. Gizi kurang tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan kematian, Masa balita sering dinyatakan sebagai masa kritis dalam rangka mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas, terlebih pada periode 2 tahun pertama merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal. Upaya perbaikan gizi perlu keterlibatan berbagai pihak, baik pemerintah, swasta dan masyarakat. Salah satu upaya perbaikan gizi adalah dengan memberikan makanan tambahan selain ASI kepada balita dari usia 6 bulan keatas. Kegiatan yang dilakukan oleh PT PLN melalui Persatuan Istri PT PLN Wilayah Jawa Bali, dengan memberikan makanan tambahan selama tiga bulan kepada 50 balita gizi kurang di wilayah PKL Banjirkanal Timur tersebut, bertujuan untuk menekan angka kejadian gizi buruk, di Semarang khususnya, dan Nasional umumnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi program pemberian makanan tambahan yang dilakukan oleh persatuan istri PT PLN (Persero) terhadap balita gizi kurang di wilayah PKL Banjirkanal Timur, Kel. Pandeanlamper, Kec. Gayamsari. Semarang. Maka berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang diajukan peneliti adalah : Bagaimanakah Status Gizi pada Balita Gizi Kurang Setelah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Selama Tiga (3) Bulan oleh Persatuan Istri(PI) PT PLN (Persero) Wilayah Jawa-Bali, di Wilayah PKL Banjirkanal Timur, Kel. Pandeanlamper, Kec. Gayamsari, Semarang?

5 5 C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini : 1. Tujuan Umum Mengevaluasi status gizi hasil program pemberian makanan tambahan (PMT) oleh Persatuan Istri (PI) PT PLN (Persero) wilayah Jawa-Bali, kepada balita gizi kurang di wilayah PKL Banjirkanal Timur, Kel. Pandeanlamper, Kec. Gayamsari, Semarang 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan umur balita status gizi kurang di wilayah PKL Banjirkanal Timur Kel. Pandeanlamper, Kec. Gayamsari, Semarang. b. Mendeskripsikan jenis kelamin anak balita dengan gizi kurang di wilayah tersebut. c. Mendeskripsikan berat badan anak balita gizi kurang sebelum pemberian makanan tambahan (PMT) di wilayah tersebut. d. Mendeskripsikan berat badan anak balita gizi kurang setelah pemberian makanan tambahan di wilayah tersebut. e. Mendeskripsikan status gizi balita sebelum pemberian makanan tambahan. f. Mendeskripsikan status gizi balita sesudah pemberian makanan tambahan. g. Menganalisis perbedaan berat badan sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan. h. Menganalisis perbedaan status gizi sebelum dan sesudah pemberian makanan tambahan. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini: 1. Institusi Memberikan masukan tentang hasil program pemberian makanan tambahan kepada pihak penyelenggara program yaitu PT PLN (Persero) wilayah Jawa Bali.

6 6 2. Profesi Memberikan masukan kepada profesi kesehatan utamanya keperawatan komunitas tentang status gizi balita yang sangat perlu mendapatkan perhatian, sehingga dapat mengurangi angka kejadian kekurangan gizi utamanya pada balita. 3. Masyarakat Memberikan wawasan dan pengetahuan tentang status gizi balita khususnya dan pengetahuan tentang sadar gizi masyarakat umumnya, sehingga timbul kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap sesama. E. Bidang Ilmu Proposal penelitian ini masuk dalam bidang Ilmu Keperawatan Komunitas.