PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGENDALIAN PENCEMARAN PERAIRAN WADUK GAJAH MUNGKUR WONOGIRI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGENDALIAN PENCEMARAN PERAIRAN WADUK GAJAH MUNGKUR WONOGIRI"

Transkripsi

1 160 PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGENDALIAN PENCEMARAN PERAIRAN WADUK GAJAH MUNGKUR WONOGIRI Peni Pujiastuti Universitas Setia Budi, Jl.Let.Jen. Sutoyo Mojosongo Surakarta, Telp , Fax Prodi Analis Kimia, Fakultas Teknik USB, Surakarta Abstrak Perairan waduk Gajah Mungkur Wonogiri (WGM) pada beberapa titik sampling inlet waduk dari Sub DAS dan sekitar KJA, mempunyai status tercemar ringan sampai sedang, berdasarkan uji STORET, pada baku mutu air kelas 3 PP no 82/ 2001, yaitu parameter TSS, DO, BOD, COD, N-NO 2, N-NO 3, N-NH 3, P-PO 4. Polutan berasal dari kegiatan masyarakat di luar dan di dalam waduk. Terjadinya Pencemaran diperkirakan terkait dengan peran serta masyarakat. Pengetahuan masyarakat yang tinggal di sekitar perairan waduk mempunyai peranan yang penting dalam proses pengendalian pencemaran di perairan waduk tersebut. Oleh sebab itu, perlu dilakukan analisis persepsi masyarakat dalam hal pengendalian pencemaran perairan WGM. Populasi penelitian ini adalah persepsi partisipasi masyarakat di wilayah DTA Sub-DAS WGM, pengelola KJA, dan Pakar.Titik sampling menggunakan metode multiple stage random sampling. Mengumpulkan data menggunakan kuesioner. Data persepsi masyarakat dilakukan analisis diskriptif menggunakan tabel. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat pada daerah penelitian masih rendah terhadap pengendalian pencemaran perairanwgm. Antara 56,25-82,09% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pencegahan pencemaran; 50-73,63% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya penanggulangan pencemaran, 67,16-71,64% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pemulihan pencemaran, dan 52,24-72,50% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya partisipasi pengendalian pencemaran di perairan WGM. Hal ini disebabkan masyarakat di sekitar WGM mempersepsikan pengelolaan waduk menjadi tanggung jawab pemerintah. Kata Kunci: Persepsi masyarakat, Pencemaran air, WGM Abstract WGM reservoir waters at some sampling points, the inlet reservoir of the sub watersheds and around KJA, have mild to moderate polluted status, STORET based test, the water quality standard Grade 3 PP No. 82/2001, that is, the parameters TSS, DO, BOD, COD, N-NO 2, N-NO 3, N-NH 3, P-PO 4. The pollutants come from community activities outside and inside the reservoir. The estimated pollution related with public participation. Knowledge of the people who live around the waters of the reservoir, has an important role in the control of pollution in the waters of the reservoir. Therefore, it is necessary to analyze public perception, in terms of water pollution control WGM The population of this study, is the perception of public participation, in the area of sub-watershed DTA, manager KJA, and Experts. Sampling point using a multiple stage random sampling method. collect data using questionnaires. Public perception of the data, descriptive analysis using table.

2 161 The results showed, the public perception of the area of research, still low against water pollution control WGM. Between to 82.09% of respondents have a low perception, against prevention of pollution; 50 to 73.63% of respondents have a low perception, against pollution prevention efforts; to 71.64% of the respondents, have a low perception, against recovery effort pollution; and from to 72.50% of the respondents, have a low perception, against attempt participation in WGM water pollution control. This is due, people around the WGM, reservoir management perceives the responsibility of the government. Key Words: Public perception, water pollution, WGM. 1. PENDAHULUAN Pencemaran air merupakan masalah penting yang perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Jenis bahan pencemar utama yang masuk ke perairan waduk antara lain limbah organik dan anorganik, sedimen dan bahan lainnya. Akibat pencemaran, sebagian besar waduk di Indonesia mempunyai status kondisi yang memprihatinkan. Sumber pencemar yang masuk ke perairan berasal dari buangan yang dibedakan menjadi sumber titik (point source/ps) maupun sumber memanjang (non point source/nps). Sumber pencemar PS berasal dari sumber yang dapat diketahui secara pasti, seperti berasal dari kegiatan industri yang membuang air limbahnya. Sumber pencemar NPS berasal dari sumber yang tidak diketahui secara pasti, berasal dari buangan kegiatan pertanian yang mengandung pupuk dan pestisida serta dari limbah cair kegiatan domestik yaitu permukiman, perdagangan, dan perkantoran [1]. Sumber pencemar dapat berasal dari pencemar alamiah (dari alam) dan pencemar antropogenik (kegiatan manusia). Pencemar antropogenik adalah polutan yang masuk ke perairan akibat aktivitas manusia seperti kegiatan domestik (rumah tangga), perkotaan dan industri. Intensitas polutan antropogenik dapat dikendalikan dengan mengontrol aktivitas yang menyebabkan timbulnya pencemar tersebut [1]. Aktivitas domestik memberikan masukan beban cemaran BOD yang lebih besar dibandingkan aktivitas pertanian dan industri. Beban limbah WGM yang berasal dari kegiatan penduduk, seperti KJA, rumah makan, hotel dan permukiman meningkat signifikan dari tahun awal simulasi 2009 sampai akhir tahun simulasi 2029 seiring dengan naiknya populasi penduduk [2]. Kualitas dan kuantitas perairan WGM telah mengalami penurunan [3,4], perairan WGM telah mengalami peningkatan degradasi lingkungan perairan dari tahun ke tahun.sumber timbulan limbah di WGM dari berbagai aktivitas penduduk di sempadan waduk dan kegiatan KJA. Usaha KJA meningkat menjadi 1186 petak pada tahun Limbah pakan ikan yang menumpuk bertahun-tahun, telah menurunkan derajad keasaman air [5], cadangan oksigen terlarut, meningkatkan kandungan N-NO 2 dan N-

3 162 NH [6] 3, menaikkan tingkat kerusakan bagian-bagian Pembangkit Listrik Tenaga Air [7], merusak kehidupan biota air [5], maupun merusak tanaman yang dialiri [8]. Berdasarkan baku mutu air kelas 3 PP no 82 tahun 2001, rata-rata status kualitas WGM 100 meter dari muara DAS tercemar ringan sampai sedang dari polutan kegiatan masyarakat disekitar WGM pada parameter TSS, DO, BOD, COD, Nitrogen, pospor [3]. Existing condition perairan WGM Wonogiri berada pada tingkat kesuburan eutroik ringan. Kegiatan masyarakat yang paling dominan terhadap peningkatan kesuburan adalah KJA, selanjutnya diikuti pariwisata, kegiatan masyarakat di Sub- DAS Wiroko dan Keduang [9]. Pencemaran perairan waduk oleh limbah domestik maupun limbah rumah tangga merupakan masalah yang serius yang dapat mengancam keberadaan sumberdaya perairan dan kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk mengendalikan, sehingga dapat meminimalkan dampak berantai terhadap nilainilai manfaat waduk [8]. Terjadinya Pencemaran diperkirakan terkait dengan peran serta masyarakat. Pengetahuan masyarakat yang tinggal di sekitar perairan waduk mempunyai peranan yang penting dalam proses pengendalian pencemaran yang terjadi di perairan waduk tersebut. Oleh sebab itu, perlu dilakukan analisis persepsi masyarakat dalam hal pengendalian pencemaran perairan waduk. Perlu dikaji tingkat persepsi masyarakat di sekitar WGM terhadap pengendalian pencemaran perairan WGM. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana persepsi masyarakat di sekitar lima sub DAS yang bermuara di WGM terhadap pengendalian pencemaran perairan WGM. Pengendalian pencemaran yang menjadi fokus penelitian ini adalah persepsi masyarakat dalam hal pencegahan, penanggulangan, pemulihan dan partisipasi. Partisipasi yang akan digali adalah partisipasi masyarakat dalam hal pencegahan dan penanggulangan pencemaran perairan WGM. 2. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian adalah perairan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri yang memiliki luas 8800 ha. Lokasi berjarak 5 km dari pusat Pemerintahan Kabupaten Wonogiri, mempunyai aliran seluas 1350 km 2 dengan sumber air masuk dari Sub DAS Keduang, Sub DAS Bengawan Solo hulu, Sub DAS Alang-Unggahan, Sub DAS Wiroko, dan Sub DAS Temon. Dari aliran Sub DAS tersebut dapat mencapai luas permukaan perairan waduk sekitar 88 km 2 pada saat air tinggi dan 38 km 2 saat air rendah, kedalaman rata-rata 8,5 m dan kedalaman tertinggi 38 berada diatas

4 163 permukaan DAM. Lokasi penelitian persepsi masyarakat adalah diwilayah sekitar Sub DAS dan sekitar waduk. Populasi dan Sampel Penelitian. Populasi penelitian ini adalah persepsi partisipasi masyarakat a) di wilayah DTA Sub-DAS Keduang, Sub-DAS Bengawan Solo hulu, Sub-DAS Alang-Uunggahan, Sub DAS Wiroko dan Sub-DAS Temon, b) masyarakat pengelola KJA, dan c) Pakar. Titik pengambilan sampel penelitian ini ditentukan menggunakan metode multiple stage random sampling, karena secara geografis populasi menyebar dan meliputi area DTA wilayah Wonogiri yang mempunyai luas km 2. Teknik pengambilan sampel dimulai dengan tahap menentukan secara acak kecamatan terpilih pada masing-masing DTA wilayah Sub DAS. Dari tiap kecamatan terpilih, dipilih desa penelitian secara acak. Pada tiap desa terpilih, akan dipilih secara acak sederhana informan yang mengetahui dan bertanggungjawab terhadap obyek penelitian. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data persepsi masyarakat adalah kuesioner. Data persepsi masyarakat di sekitar WGM terhadap pengendalian pencemaran perairan waduk dalam hal pencegahan, pengendalian dan partisipasi dalam pencegahan dan penanggulangan, diperoleh dengan cara pengisian kuesioner oleh responden. Data primer tentang prospek pengendalian pencemaran di masa depan diperoleh dari hasil kuesioner dari seluruh pelaku dan para pakar. Penentuan responden pada titik sampling terpilih, dilakukan dengan metode purposive sampling. Total responden adalah 370 orang, yang terdiri 15 pakar ilmiah, 75 pedagang, 75 nelayan, 75 petani, 75 peternak, 25 pengusaha penginapan dan 30 industri sebagai penghasil limbah, yang mengalirkan limbahnya melalui Sub DAS dan bermuara di WGM, sehingga mempunyai kontribusi menimbulkan pencemaran di waduk. Sebaran responden disajikan dalam tabel 1. No. Responden WGM Tabel 1. Sebaran Responden DAS 1 DAS 2 Wilayah DAS 3 DAS 4 DAS 5 Jumlah Responden 1. Pakar Ilmiah Pakar dari PT & Pemda Pedagang Nelayan Petani Peternak

5 Pengusaha Penginapan Industri Jumlah 370 Analisis Persepsi Masyarakat, data karakteristik di sekitar perairan waduk dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi. Untuk mengetahui persepsi atau pandangan masyarakat di sekitar waduk terhadap pengendalian pencemaran dilakukan melalui analisis deskriptif menggunakan tabel. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data Wonogiri dalam angka tahun 2009, populasi penduduk Wonogiri pada lima tahun terakhir meningkat setiap tahunnya, dari jiwa (2005) menjadi jiwa (2009) dengan laju pertumbuhan penduduk 1,83%, maka pada tahun akhir simulasi mengalami kecenderungan meningkat menjadi jiwa. Kenaikan jumlah penduduk diikuti dengan kenaikan limbah yang dihasilkan dari berbagai kegiatan yang dilakukan penduduk, yaitu akan menghasilkan limbah dari kegiatan hotel sebesar ,28 m 3 /hari, limbah cair penduduk ton/tahun, limbah pakan dari usaha KJA sebesar e16 ton/tahun dan limbah cair dari rumah makan sebesar ,23 ton/tahun, data selengkapnya disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Populasi penduduk dan limbah kegiatan penduduk Sumber: Data [3]

6 165 Hasil running dengan data dumi menggunakan software powersim constructor 2.5, populasi penduduk, pengujian menunjukkan bahwa beban limbah dari kegiatan masyarakat meningkat signifikan selaras dengan kenaikan populasi. Persepsi Masyarakat Tentang Pengendalian Pencemaran WGM. Persepsi merupakan pandangan individu terhadap suatu objek. Akibat adanya stimulus, individu memberikan reaksi (respon) berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut. Individu tidak hanya merespon suatu objek, tetapi juga memberi makna situasi tersebut menurut kepentingannya. Persepsi masyarakat terhadap lingkungan diperlukan untuk mengoptimalkan kualitas lingkungan sesuai dengan persepsi masyarakat yang menggunakannya. Persepsi mengenai lingkungan yang mencakup harapan, aspirasi ataupun keinginan terhadap suatu kualitas lingkungan tertentu sebaiknya dipahami secara subjektif, yakni dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dan sosio kultur masyarakat. Dengan demikian, kualitas lingkungan harus didefinisikan secara umum sebagai lingkungan yang memenuhi preferensi imajinasi ideal seseorang atau sekelompok orang [10]. Persepsi masyarakat yang tinggal di sekitar waduk Gajah Mungkur Wonogiri mempunyai peran penting untuk keberlanjutan pengelolaan pencemaran perairan. Beberapa usaha yang menjadi mata pencaharian penduduk disekitar waduk antara lain nelayan, rumah makan, hotel/penginapan, pertanian, sarana penunjang pariwisata dan KJA. Kegiatan-kegiatan tersebut membawa dampak aliran limbah masuk ke badan air waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Pengetahuan masyarakat yang tinggal di sekitar perairan waduk Gajah Mungkur mempunyai peranan yang penting dalam proses pengendalian pencemaran yang terjadi di perairan waduk tersebut. Dalam upaya pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan waduk Gajah Mungkur Wonogiri diperlukan peran masyarakat dalam pengendalian pencemaran. Pengendalian pencemaran lingkungan dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengendalian pencemaran lingkungan meliputi: a)pencegahan, b)penanggulangan, c)pemulihan. Pengendalian pencemaran lingkungan dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran dan tanggung jawab masing-masing. (UU ). Namun demikian peran masyarakat sangat diperlukan untuk keberhasilan kegiatan ini. Sampel persepsi masyarakat dikumpulkan dengan bantuan kuesioner yang juga dilengkapi dengan pengamatan, dan wawancara dengan Pakar Ilmiah, Kabid Lingkungan Hidup Wonogiri, Ka Jasa Tirta II, Kepala Desa Sendang Wonogiri, Ka

7 166 Bappeda Wonogiri, Ka Desa Petir Wonogiri, Kelompok Nelayan, Pengusaha KJA, Ka Dinas Pertanian, Ka Dinas Perikanan & Kelautan, Ka Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Wonogiri. Jumlah responden ditetapkan sebanyak 370 responden yang meliputi pakar ilmiah 15 responden, pengusaha penginapan 25 responden, pedagang 75 responden, nelayan 75 responden, petani 75 responden, peternak 75 responden dan aktivitas industri 30 responden. Data persepsi masyarakat dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian disajikan pada gambar 1. Gambar 1. Persepsi Masyarakat Sekitar WGM terhadap Pengendalian Pencemaran WGM Masyarakat sekitar WGM meliputi pedagang penunjang pariwisata, pengusaha hotel, pengusaha rumah makan, nelayan, petani, peternak dan pengusaha KJA yang berada di desa Sendang, Wuryorejo, Pokoh Kidul, Gumiwang dan Wuryantoro. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat terhadap pengendalian pencemaran WGM rendah, sebanyak 56,25% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pencegahan pencemaran di perairan WGM, sebesar 50% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya penanggulangan pencemaran di perairan WGM, sebanyak 75,00% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pemulihan pencemaran di perairan WGM dan sebanyak 72,50% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya partisipasi pengendalian pencemaran di perairan WGM. Hal ini disebabkan masyarakat di sekitar WGM mempersepsikan pengelolaan waduk menjadi tanggung jawab pemerintah.

8 167 Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat sekitar Sub DAS Keduang (desa Pondok Sari, Ngadiroyo, Ngadipiro dan Gedang) terhadap pengendalian pencemaran WGM rendah. Sebesar 64,18% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pencegahan pencemaran di perairan WGM, sebesar 56,72% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya penanggulangan pencemaran di perairan WGM, sebesar 82,09% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pemulihan pencemaran di perairan WGM dan sebanyak 59,70% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya partisipasi pengendalian pencemaran di perairan WGM. Hal ini disebabkan masyarakat disekitar Sub DAS Keduang mempersepsikan pengelolaan waduk menjadi tanggung jawab pemerintah. Persepsi masyarakat disekitar Sub DAS Keduang disajikan pada gambar 2. Gambar 2. Persepsi Masyarakat DAS Keduang Beban pencemar yang paling besar masuk keperairan WGM adalah TSS yang berasal dari Sub DAS Keduang dengan sumbangan beban pencemar 291,84 ton/th. Sub DAS membawa sedimen akibat erosi tanah yang ada disekitarnya pada saat hujan dengan total beban pencemaran akibat sedimen ini adalah 891,71 ton/th. Beban

9 168 pencemaran organic yang ditunjukkan dengan pendekatan BOD dan COD menempati urutan kedua sebagai penyumbang pencemar ke perairan WGM [3]. Persepsi masyarakat Sub DAS Wiroko terhadap pengendalian pencemaran disajikan pada gambar 3. Masyarakat sekitar Sub DAS Wiroko yang tinggal di desa Wiroko, Banyak Prodo, Kulurejo dan Boto mempunyai persepsi yang rendah terhadap pengendalian pencemaran WGM. Sebanyak 59,70% s/d 67,16% responden mempunyai persepsi tentang upaya pencegahan, penanggulangan, pemulihan pencemaran WGM rata-rata rendah. Hal ini mungkin terkait latar belakang pendidikan yang masih rendah. Mereka beranggapan upaya pengendalian pencemaran sematamata menjadi tenggung jawab pemerintah saja. Hal ini juga berakibat partisipasi masyarakat disekitar Sub DAS wiroko untuk melakukan pengelolaan limbah pertanian, peternakan dan limbah industry agar tidak dibuang langsung ke sungai masih rendah. Data persepsi masyarakat Sub DAS Wiroko disajikan pada gambar 3. Gambar 3. Persepsi Masyarakat Sub DAS Wiroko Masyarakat disekitar Sub DAS Alang yang tinggal di desa Buleharjo, Tawangharjo dan Glesungrejo rata-rata juga mempunyai persepsi yang rendah terhadap pengendalian pencemaran, yaitu berkisar antara 71,84% s/d 82,09% masyarakat tersebut enggan melakukan upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan pencemaran di WGM. Mereka sebetulnya menyadari bahwa sungai yang mengalir di daerahnya akan bermuara di WGM, namun mereka beranggapan bahwa upaya pengendalian pencemaran di WGM merupakan tanggung jawab Pemerintah.

10 169 Walaupun demikian sebagian masyarakat, sekitar 29,85% mempunyai persepsi sedang dan 17,91% mempunyai persepsi tinggi dalam upaya pengendalian pencemaran WGM, hal ini mereka tunjukkan dengan tidak membuang sampah maupun limbah cair di sungai Alang. Data persepsi masyarakat sekitar Sub DAS Alang disajikan pada gambar 4. Gambar 4. Persepsi Masyarakat Sub DAS Alang Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat terhadap pembangunan secara partisipatif, khususnya dalam pengawasan dan pengendalian pencemaran air waduk masih kurang. Masyarakat disekitar waduk mempersepsikan pengelolaan WGM menjadi tanggung jawab pemerintah. Persepsi industri tentang partisipasi dalam pengawasan dan pengendalian pencemaran air sungai baru sebatas pemenuhan kewajiban terhadap peraturan dan perundangan yang berlaku, sehingga inisiatif pihak perusahaan untuk berpatisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup masih kurang. Sampah organik dari limbah pemukiman sekitar waduk yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut, karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya.penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan. Sedangkan pemakaian pupuk limbah pertanian dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air. Limbah pupuk

11 170 mengandung fosfat yang dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali ini menimbulkan dampak seperti yang diakibatkan pencemaran oleh deterjen. Limbah pestisida mempunyai aktifitas dalam jangka waktu yang lama dan ketika terbawa aliran air keluar dari daerah pertanian, dapat mematikan hewan yang bukan sasaran seperti ikan, udang dan hewan air lainnya. Gambar 5. Rerata persepsi masyarakat terhadap pengendalian pencemaran WGM Rerata persepsi masyarakat sekitar WGM, Sub Keduang (DAS 1), Sub DAS Alang-Unggahan (das 2), Sub DAS Wiroko (DAS 3), Sub DAS Temon dan Sub DAS Bengawan Solo Hulu (DAS 5) terhadap pemanfaatan lahan menunjukkan persepsi tinggi (skor 3) sampai tinggi sekali (skor 4). Hal ini menunjukkan masyarakat di sekitar Sub DAS mempersepsikan keinginan yang tinggi untuk memanfaatkan lahan di sekitar daerah tangkapan air untuk di manfaatkan untuk pertanian, peternakan, restoran, permukiman dan usaha lain. Sedangkan untuk lahan di badan waduk dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membudidayakan ikan dalam karamba jaring apung (KJA). Beban limbah yang berasal dari kegiatan penduduk (KJA, rumah makan, hotel, permukiman) meningkat signifikan dari tahun awal simulasi 2009 sampai akhir tahun simulasi 2029 seiring dengan naiknya populasi penduduk. Hal ini juga berkaitan dengan rendahnya persepsi masyarakat terhadap pengendalian pencemaran di WGM [3]. Kegiatan yang berlangsung di dalam perairan WGM adalah budidaya ikan dalam karamba jaring apung (KJA). Usaha KJA WGM meningkat dari tahun 1997 berjumlah 185 petak menjadi 231 petak [5], menurut pengamatan lapangan jumlah KJA

12 171 berjumlah 1186 petak. Kepemilikan KJA didominasi oleh PT. Aquafarm, dengan sistem pemberian pakan adalah setiap pagi dan sore hari. Setiap petak KJA berisi ± 100 ekor ikan dengan berat rata-rata 1 1,5 kg/ikan. KJA mengembangkan ikan nila merah dan karper yang mendapat pakan berupa pellet, yang diberikan secara di tabur. Kandungan gisi pellet ikan CP 788 adalah mengandung protein 26-28%, lemak 3 5%, serat 4-6%, abu 5-8% dan kadar air 11-13% (PT Central Pangan Pertiwi). Pada saat survei lapangan jumlah pakan yang diberikan dihitung terlebih dahulu dengan memperhitungkan jumlah populasi yang ada. Dengan padat tebar sebesar 214,4 kg benih yang ditebar, pemberian pakan 3% dari berat total biomass ikan yaitu sebesar 6,4 kg pakan perhari. Frekuensi pemberian pakan setiap hari antara jam WIB, dan sore hari jam WIB [5]. Pola pemberian pakan yang dilakukan selama puluhan tahun ini sedikit banyak dapat merubah kualitas air waduk Gadjah Mungkur Wonogiri. Hasil survai menunjukkan jumlah KJA di perairan WGM sebanyak 1186 petak, dipasang pada seluruh kawasan zona budidaya WGM. Berdasarkan data sekunder pada KJA tersebut dibudidayakan ikan nila merah dan karper dengan padat tebar 214,4 kg benih yang ditebar /unit KJA dan berat ikan rata-rata 100 gram/ekor. Dengan demikian jumlah ikan di dalam KJA tersebut sebanyak ton. Menurut Marganof [10], rata-rata jumlah pakan yang diberikan untuk ikan nila merah dan karper untuk satu unit KJA adalah 50 kg/hari. Jumlah pakan yang dibutuhkan untuk 1 unit KJA selama satu periode pemeliharaan adalah 4,500 ton. Adapun lama waktu untuk satu periode pemeliharaan (saat mulai menebar sampai panen) dibutuhkan waktu tiga bulan. Dengan demikian jumlah pakan yang diberikan untuk 1186 unit KJA di WGM dalam satu kali panen adalah ton atau ton per tahun. Petani KJA menggunakan pakan (pellet) dengan kandungan protein 18%. Untuk menentukan kandungan nitrogen dan fosfor yang terdapat dalam pakan, dilakukan dengan perkalian antara jumlah pakan (JP) yang diberikan dengan konstanta pakan (N = 4,86% dan P = 0,26%) (Nastiti et al., 2001) [10]. Dengan demikian, jumlah nitrogen dan fosfor yang terkandung dalam pakan yang diberikan pada kegiatan KJA di WGM adalah N = ,8 ton dan P= ,8 ton. Dari pakan yang diberikan tersebut hanya 70% yang dimakan oleh ikan, dan sisanya sebanyak 30% akan lepas ke badan perairan waduk sebagai bahan pencemar atau limbah (Rachmansyah, 2004; Syandri, 2006) [10]. Sementara itu,15 30% dari nitrogen (N) dan fosfor (P) dalam pakan akan diretensikan dalam daging ikan dan selebihnya terbuang ke badan perairan danau (Beveridge, 1987; Avnimelech, 2000) [10]. Dengan demikian dapat ditentukan

13 172 jumlah beban limbah nitrogen (N) dan fosfor (P) dari kegiatan KJA yang masuk ke badan perairan WGM yaitu nitrogen sebesar ,1 ton per tahun, dan fosfor sebesar ,79 ton per tahun [3]. Beban limbah yang masuk ke badan perairan waduk tersebut, menurut Midlen dan Redding (2000) dalam [10] yang berada dalam keadaan terlarut adalah 10% fosfor (P) dan 65% nitrogen (N). Beban limbah yang masuk WGM sebesar 4.384,879 ton fosfor dan atau sebesar ,8 ton nitrogen dalam bentuk terlarut. Sementara itu yang berada dalam bentuk partikel adalah 65% fosfor (P) atau sebesar ,71 ton dan 10 % nitrogen (N) atau sebesar ,51 ton. Sisa pakan dalam bentuk partikel ini akan mengendap menjadi sedimen di dasar perairan WGM [2,3]. Rerata persepsi masyarakat pada daerah penelitian terhadap pelestarian waduk masih kurang (skor 1), mereka mempersepsikan bahwa pelestarian waduk bukan menjadi tanggung jawab penduduk. Untuk itu dibutuhkan pendekatan ke masyarakat akan pentingnya peran serta masyarakat untuk ikut serta dalam upayaupaya pelesatrian WGM. Demikian juga terhadap pemeliharaan waduk, masyarakat pada daerah penelitian rata-rata mempunyai persepsi yang kurang (skor 1). Untuk masalah kebersihan lingkungan rata-rata masyarakat daerah penelitian mempunyai persepsi sedang (skor 2). 4. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat pada daerah penelitian masih rendah terhadap pengendalian pencemaran perairanwgm. Antara 56,25-82,09% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pencegahan pencemaran; 50-73,63% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya penanggulangan pencemaran, 67,16-71,64% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya pemulihan pencemaran, dan 52,24-72,50% responden mempunyai persepsi rendah terhadap upaya partisipasi pengendalian pencemaran di perairan WGM. Hal ini disebabkan masyarakat di sekitar WGM mempersepsikan pengelolaan waduk menjadi tanggung jawab pemerintah DAFTAR PUSTAKA [1] Agustiningsih, Dyah, 2012, Kajian Kualitas Air Sungai Blukar Kabupaten Kendal Dalam Upaya Pengendalian Pencemaran Air Sungai, Tesis Prodi Ilmu Lingkungan Undip, Semarang. [2] Pujiastuti, Peni, (2012) Pemodelan sistem pengendalian pencemaran perairan WGM Wonogiri, laporan penelitian HB

14 173 [3] Pujiastuti, Peni, (2010) The Utmost Capacity Estimation Of Organic Pollution In WGM from The Indigenous And Exogenous Activity, prosiding seminar internasional ICBC, Pascasarjana Magister Lingkungan UNS [4] Himawan Widhi, 2011, Kajian Pencemaran Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, UNS- Pascasarjana Prodi. Ilmu Lingkungan. [5] Pujiastuti, Peni, (2003) Dampak Budidaya Ikan Dalam Karamba Jaring Apung Terhadap Perkembangan Biota Air Lokal di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Prosiding Seminar Nasional Unika Soegijopranoto Semarang, ISBN i [6] Simarmata, A.H. (2007) Kajian Keterkaitan Antara Kemantapan Cadangan Oksigen dengan Beban Masukan Organik di Waduk Ir. H. Juanda Purwakarta Jawa Barat, S.Ps IPB. [7] Sumarna, 2005, Harus Ada Perbaikan Pembangkit (laporan utama), Majalah Bulanan Indonesia Power edisi 3 tahun [8] Pujiastuti, Peni, (2009) Deteksi Dini Dampak Berantai Budidaya Ikan KJA Terhadap Nilai Manfaat Waduk Gajah Mungkur Wonogiri., Fakultas Teknik Universitas Setia Budi Surakarta. [9] Wiryanto, Totok Gunawan, S.D. Tandjung dan Subiyakto (2012), Kajian Kesuburan Perairan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Jurnal EKOSAINS Vol. IV No. 3 November 2012 [10] Marganof, 2007, Model Pengendalian Pencemaran Perairan Di Danau Maninjau Sumatra Barat, Laporan hasil penelitian Sekolah Pasca Sarjana IPB Bogor, [11] Hakim, R., dkk, 2008, Persepsi Masyarakat Terhadap Aspek Perencanaan Ruang Terbuka Hijau Kota Jakarta, Program Studi Arsitektur Lansekap FALTL Universitas Trisakti Jakarta Indonesia,

KUALITAS DAN BEBAN PENCEMARAN PERAIRAN WADUK GAJAH MUNGKUR

KUALITAS DAN BEBAN PENCEMARAN PERAIRAN WADUK GAJAH MUNGKUR KUALITAS DAN BEBAN PENCEMARAN PERAIRAN WADUK GAJAH MUNGKUR 1 Peni Pujiastuti, 2 Bagus Ismail, dan 3 Pranoto 1 Prodi Analis Kimia Fakultas Teknik Universitas Setia Budi 2 Prodi Teknik Industri Fakultas

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 A. PEMANTAUAN KUALITAS AIR DANAU LIMBOTO Pemantauan kualitas air ditujukan untuk mengetahui pengaruh kegiatan yang dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sumber pencemar bagi lingkungan (air, udara dan tanah). Bahan

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sumber pencemar bagi lingkungan (air, udara dan tanah). Bahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas manusia berupa kegiatan industri, rumah tangga, pertanian dan pertambangan menghasilkan buangan limbah yang tidak digunakan kembali yang menjadi sumber

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Danau Maninjau merupakan danau yang terdapat di Sumatera Barat, Kabupaten Agam. Secara geografis wilayah ini terletak pada ketinggian 461,5 m di atas permukaan laut

Lebih terperinci

Jurnal Pencemaran Air ABSTRAK

Jurnal Pencemaran Air ABSTRAK ABSTRAK Masalah pencemaran air yang ada di Indonesia setiap tahun semakin meningkat. Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat-zat atau komponen yang lainnya yang menyebabkan kualitas air terganggu

Lebih terperinci

KAJIAN MUTU AIR DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN PADA SUNGAI KRENGSENG, KOTA SEMARANG

KAJIAN MUTU AIR DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN PADA SUNGAI KRENGSENG, KOTA SEMARANG KAJIAN MUTU AIR DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN PADA SUNGAI KRENGSENG, KOTA SEMARANG Dody Azhar Mutawakkil Manjo, Sudarno, Irawan Wisnu Wardhana*) ABSTRAK Sungai melewati wilayah Kecamatan Banyumanik dan

Lebih terperinci

PENENTUAN STATUS MUTU AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE INDEKS PENCEMARAN (STUDI KASUS: SUNGAI GARANG, SEMARANG)

PENENTUAN STATUS MUTU AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE INDEKS PENCEMARAN (STUDI KASUS: SUNGAI GARANG, SEMARANG) PENENTUAN STATUS MUTU AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE INDEKS PENCEMARAN (STUDI KASUS: SUNGAI GARANG, SEMARANG) Gessy Asocadewi, Wiharyanto Oktiawan, Mochtar Hadiwidodo *) ABSTRACT Segment 5 th in Garang

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Keteguhan, yang

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Keteguhan, yang III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Keteguhan, yang merupakan salah satu DAS pada DAS di Kota Bandar Lampung. Lokasi penelitian

Lebih terperinci

2014 KAJIAN KUALITAS AIR TANAH DI SEKITAR KAWASAN BUDIDAYA IKAN PADA KERAMBA JARING APUNG DI WADUK JATILUHUR KABUPATEN PURWAKARTA

2014 KAJIAN KUALITAS AIR TANAH DI SEKITAR KAWASAN BUDIDAYA IKAN PADA KERAMBA JARING APUNG DI WADUK JATILUHUR KABUPATEN PURWAKARTA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan komponen pokok dan mendasar dalam memenuhi kebutuhan seluruh makhluk hidup di bumi. Menurut Indarto (2012) : Air adalah substansi yang paling melimpah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. budidaya, masyarakat sekitar danau sering melakukan budidaya perikanan jala

BAB I PENDAHULUAN. budidaya, masyarakat sekitar danau sering melakukan budidaya perikanan jala BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perairan danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang ada di permukaan bumi. Secara umum, danau merupakan perairan umum daratan yang memiliki fungsi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Praya merupakan Ibu Kota Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat, berada 30 km sebelah timur Kota Mataram. Secara geografis Kota Praya terletak pada

Lebih terperinci

PENGARUH PENCEMARAN LIMBAH INDUSTRI DAN DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR WADUK DURIANGKANG

PENGARUH PENCEMARAN LIMBAH INDUSTRI DAN DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR WADUK DURIANGKANG J.Tek.Ling Vol. 7 No. 3 Hal. 271-276 Jakarta, Sept. 2006 ISSN 1441 318X PENGARUH PENCEMARAN LIMBAH INDUSTRI DAN DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR WADUK DURIANGKANG Rosyid Hariyadi Peneliti pada Pusat Teknologi

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.. Kondisi Eksisting Perairan Danau 5... Parameter Fisika, Kimia dan Mikrobiologi Perairan Danau Pengetahuan mengenai kondisi kualitas perairan danau yang dicerminkan oleh nilai

Lebih terperinci

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA BAB. II TINJAUAN PUSTAKA A. Keadaan Teluk Youtefa Teluk Youtefa adalah salah satu teluk di Kota Jayapura yang merupakan perairan tertutup. Tanjung Engros dan Tanjung Hamadi serta terdapat pulau Metu Debi

Lebih terperinci

PENGARUH LIMBAH INDUSTRI TAHU TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KABUPATEN KLATEN. Darajatin Diwani Kesuma

PENGARUH LIMBAH INDUSTRI TAHU TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KABUPATEN KLATEN. Darajatin Diwani Kesuma PENGARUH LIMBAH INDUSTRI TAHU TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KABUPATEN KLATEN Darajatin Diwani Kesuma daradeka@gmail.com M.Widyastuti m.widyastuti@geo.ugm.ac.id Abstract The amis of this study are to

Lebih terperinci

PEMBINAAN KELOMPOKTANI MELALUI PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KOMPOS JERAMI PADA TANAMAN PADI SAWAH

PEMBINAAN KELOMPOKTANI MELALUI PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KOMPOS JERAMI PADA TANAMAN PADI SAWAH Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 5 No. 1, Mei PEMBINAAN KELOMPOKTANI MELALUI PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KOMPOS JERAMI PADA TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa.l) DI KECAMATAN JUNTINYUAT KABUPATEN INDRAMAYU

Lebih terperinci

PENCEMARAN LINGKUNGAN

PENCEMARAN LINGKUNGAN KONSEP PENCEMARAN PENCEMARAN LINGKUNGAN Pencemaran : - Masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keadaan ke arah yang lebih baik. Kegiatan pembangunan biasanya selalu

BAB I PENDAHULUAN. keadaan ke arah yang lebih baik. Kegiatan pembangunan biasanya selalu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan kegiatan terencana dalam upaya merubah suatu keadaan ke arah yang lebih baik. Kegiatan pembangunan biasanya selalu membawa dampak positif dan

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi Persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Proses ini yang memungkinkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerusakan hutan dan lahan di Indonesia telah banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Salah satunya adalah kritisnya sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang semakin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA

PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA PENGELOLAAN DAN KELESTARIAN KEBERADAAN SUMBER AIR SEBAGAI SALAH SATU UNSUR PENTING KEBUTUHAN MANUSIA Disampaikan dalam Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Dosen: PELATIHAN DAN SOSIALISASI PEMBUATAN

Lebih terperinci

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock) SNI : 01-6483.3-2000 Standar Nasional Indonesia Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock) DAFTAR ISI Halaman Pendahuluan 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan... 1

Lebih terperinci

Aplikasi QUAL2Kw sebagai Alat Bantu Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Kali Madiun (Segmen Kota Madiun)

Aplikasi QUAL2Kw sebagai Alat Bantu Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Kali Madiun (Segmen Kota Madiun) SCIENTIFIC CONFERENCE OF ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY IX - 2012 Aplikasi QUAL2Kw sebagai Alat Bantu Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Kali Madiun (Segmen Kota Madiun) Adam Rusnugroho *, Ali Masduqi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini sudah merupakan salah satu masalah serius yang sering ditemui di lapangan.

BAB I PENDAHULUAN. ini sudah merupakan salah satu masalah serius yang sering ditemui di lapangan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencemaran sungai di Yogyakarta yang terjadi beberapa tahun belakangan ini sudah merupakan salah satu masalah serius yang sering ditemui di lapangan. Adanya masukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehingga kualitas airnya harus tetap terjaga. Menurut Widianto

Lebih terperinci

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN PESISIR KOTA TEGAL

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN PESISIR KOTA TEGAL , Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana UNDIP JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume, Issue : () ISSN ANALISIS PEMANFAATAN RUANG YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN PESISIR KOTA TEGAL Dzati Utomo

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Komoditi hortikultura merupakan produk yang berpeluang, baik untuk

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Komoditi hortikultura merupakan produk yang berpeluang, baik untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komoditi hortikultura merupakan produk yang berpeluang, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Permintaan yang tinggi baik pasar di dalam maupun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Air Kualitas air secara biologis ditentukan oleh banyak parameter, yaitu parameter mikroba pencemar, patogen dan penghasil toksin. Banyak mikroba yang sering bercampur

Lebih terperinci

Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Mangrove di Beberapa Desa Pesisir Kabupaten Rembang: Tinjauan Berdasarkan Tahap Perencanaan

Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Mangrove di Beberapa Desa Pesisir Kabupaten Rembang: Tinjauan Berdasarkan Tahap Perencanaan Maspari Journal, 2014, 6 (1), 13-19 http://masparijournal.blogspot.com Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Mangrove di Beberapa Pesisir Kabupaten Rembang: Tinjauan Berdasarkan Tahap Perencanaan Diah

Lebih terperinci

ll. TINJAUAN PUSTAKA cepat. Hal ini dikarenakan tahu merupakan makanan tradisional yang dikonsumsi

ll. TINJAUAN PUSTAKA cepat. Hal ini dikarenakan tahu merupakan makanan tradisional yang dikonsumsi ll. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Industri Tahu Industri tahu di Indonesia merupakan salah satu industri yang berkembang cepat. Hal ini dikarenakan tahu merupakan makanan tradisional yang dikonsumsi setiap hari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010). BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Air merupakan salah satu komponen penting untuk kehidupan semua makhluk hidup di bumi. Air juga merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kebutuhan

Lebih terperinci

Standart Kompetensi Kompetensi Dasar

Standart Kompetensi Kompetensi Dasar POLUSI Standart Kompetensi : Memahami polusi dan dampaknya pada manusia dan lingkungan Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi jenis polusi pada lingkungan kerja 2. Polusi Air Polusi Air Terjadinya polusi

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KOMPOS KULIT KAKAO (Theobroma cacao) UNTUK BUDIDAYA Daphnia sp. ABSTRAK

PEMANFAATAN KOMPOS KULIT KAKAO (Theobroma cacao) UNTUK BUDIDAYA Daphnia sp. ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume II No 2 Februari 2014 ISSN: 2302-3600 PEMANFAATAN KOMPOS KULIT KAKAO (Theobroma cacao) UNTUK BUDIDAYA Daphnia sp. Arif Wibowo *, Henni Wijayanti

Lebih terperinci

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG PERANCANGAN PABRIK PENGOLAHAN LIMBAH Oleh: KELOMPOK 2 M. Husain Kamaluddin 105100200111013 Rezal Dwi Permana Putra 105100201111015 Tri Priyo Utomo 105100201111005 Defanty Nurillamadhan 105100200111010

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berwarna hitam merupakan salah satu jenis plastik yang paling banyak beredar di

BAB I PENDAHULUAN. berwarna hitam merupakan salah satu jenis plastik yang paling banyak beredar di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dan memberikan pengaruh satu sama lain, mulai dari keturunan, lingkungan, perilaku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencuci, air untuk pengairan pertanian, air untuk kolam perikanan, air untuk

BAB I PENDAHULUAN. mencuci, air untuk pengairan pertanian, air untuk kolam perikanan, air untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia di bumi ini. Sesuai dengan kegunaannya, air dipakai sebagai air minum, air untuk mandi dan mencuci, air untuk

Lebih terperinci

BEBAN PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK DAN PERTANIAN DI DAS CITARUM HULU

BEBAN PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK DAN PERTANIAN DI DAS CITARUM HULU BEBAN PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK DAN PERTANIAN DI DAS CITARUM HULU Oleh : Hilmi Salim* ) Abstrak Daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang merupakan DAS terbesar di Jawa Barat yang mengalami tekanan yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Waduk Cirata merupakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terbesar di Pulau Jawa yang dibangun di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Air waduk diperoleh dari pasokan Sungai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 06 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 06 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 06 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - September Tahapan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - September Tahapan III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - September 2014. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian terdiri dari peninjauan lokasi penelitian pada

Lebih terperinci

Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi Etnik Toraja di Pulau Tarakan

Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi Etnik Toraja di Pulau Tarakan Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 24 Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah

I. PENDAHULUAN. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah sekitarnya. Oleh karena

Lebih terperinci

ANALISIS PROYEKSI SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI MALUKU UTARA. Abstract

ANALISIS PROYEKSI SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI MALUKU UTARA. Abstract ANALISIS PROYEKSI SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI MALUKU UTARA Disusun oleh : Karmila Ibrahim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Khairun Abstract Analisis LQ Sektor pertanian, subsektor tanaman pangan,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Organik Cair Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan sebagian unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Peran pupuk sangat dibutuhkan oleh tanaman

Lebih terperinci

PERUBAHAN KONDISI TUBUH IKAN PAYANGKA (Ophieleotris aporos Bleeker) DI DANAU TONDANO

PERUBAHAN KONDISI TUBUH IKAN PAYANGKA (Ophieleotris aporos Bleeker) DI DANAU TONDANO Jurnal Amanisal PSP FPIK Unpatti-Ambon. Vol. 1. No.1, Mei 2010. Hal 51 55. ISSN.2085-5109 PERUBAHAN KONDISI TUBUH IKAN PAYANGKA (Ophieleotris aporos Bleeker) DI DANAU TONDANO Friesland Tuapetel*) *)Staf

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Sungai.. ' Sungai merupakan Perairan Umum yang airnya mengalir secara terus

II. TINJAUAN PUSTAKA Sungai.. ' Sungai merupakan Perairan Umum yang airnya mengalir secara terus II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sungai.. ' Sungai merupakan Perairan Umum yang airnya mengalir secara terus menerus pada arah tertentu, berasal dari air tanah, air hujan dan air permukaan yang akhirnya bermuara

Lebih terperinci

Jailani, AK., Thamrin., Firdaus 2014:8 (1)

Jailani, AK., Thamrin., Firdaus 2014:8 (1) ISSN 1978-5283 Jailani, AK., Thamrin., Firdaus 2014:8 (1) PENGARUH PENGETAHUAN, PERSEPSI, PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PERAN SERTA PEMERINTAH TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN SUNGAI SAIL KOTA PEKANBARU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran logam berat merupakan salah satu masalah penting yang sering terjadi di perairan Indonesia, khususnya di perairan yang berada dekat dengan kawasan industri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan zaman, membuat masyarakat terpacu memberikan kontribusi untuk membangun. Pembangunan yang terjadi tidak hanya dari satu sektor, tetapi banyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan (demand) yaitu dengan. menggunakan metode empat tahap (four stage method).

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan (demand) yaitu dengan. menggunakan metode empat tahap (four stage method). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan transportasi merupakan rangkaian kegiatan persiapan pengadaan atau penyediaan sistem transportasi agar sesuai dengan tingkat kebutuhan (demand) pada setiap

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan dan lain - lain merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Penurunan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Gambar 7 Lokasi penelitian di perairan dangkal Semak Daun.

METODE PENELITIAN. Gambar 7 Lokasi penelitian di perairan dangkal Semak Daun. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Perairan Semak Daun, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (KAKS) Daerah Khusus bukota Jakarta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Industri tahu di Indonesia telah berkontribusi secara nyata dalam

I. PENDAHULUAN. Industri tahu di Indonesia telah berkontribusi secara nyata dalam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri tahu di Indonesia telah berkontribusi secara nyata dalam penyediaan pangan bergizi karena kandungan proteinnya setara dengan protein hewan (Sarwono dan Saragih,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI INDUSTRI GULA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI INDUSTRI GULA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI INDUSTRI GULA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelestarian fungsi

Lebih terperinci

VALUASI EKONOMI EROSI LAHAN PERTANIAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI

VALUASI EKONOMI EROSI LAHAN PERTANIAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI SEPA : Vol. 8 No.2 Pebruari 2012 : 154 161 ISSN : 1829-9946 VALUASI EKONOMI EROSI LAHAN PERTANIAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI JOKO SUTRISNO 1, BUNASOR SANIM 2, ASEP SAEFUDDIN

Lebih terperinci

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir BAB V ANALISIS Bab ini berisi analisis terhadap bahasan-bahasan pada bab-bab sebelumnya, yaitu analisis mengenai komponen-komponen utama dalam pembangunan wilayah pesisir, analisis mengenai pemetaan entitas-entitas

Lebih terperinci

UJI KADAR MERKURI (Hg) PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI TULABOLO KECAMATAN SUWAWA TIMUR TAHUN 2013 SUMMARY. Fitrianti Palinto NIM

UJI KADAR MERKURI (Hg) PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI TULABOLO KECAMATAN SUWAWA TIMUR TAHUN 2013 SUMMARY. Fitrianti Palinto NIM UJI KADAR MERKURI PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI TULABOLO KECAMATAN SUWAWA TIMUR TAHUN 2013 SUMMARY Fitrianti Palinto NIM 811409073 Dian Saraswati, S.Pd,. M.Kes Ekawaty Prasetya, S.Si., M.Kes JURUSAN KESEHATAN

Lebih terperinci

Bencana Baru di Kali Porong

Bencana Baru di Kali Porong Bencana Baru di Kali Porong Pembuangan air dan Lumpur ke Kali Porong menebarkan bencana baru, air dengan salinitas 38/mil - 40/mil akan mengancam kualitas perikanan di Pesisir Porong. Lapindo Brantas Inc

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu

BAB I PENDAHULUAN. Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu senggangnya (leisure time), dengan melakukan aktifitas wisata (Mulyaningrum, 2005). Lebih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai

I. PENDAHULUAN. di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kebutuhan semua makhluk yang ada di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup juga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan latar belakang studi, rumusan masalah, tujuan dan sasaran yang akan dicapai, metoda penelitian (meliputi ruang lingkup, pendekatan, sumber dan cara mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. resiko toksikologi juga akan meningkat. terbentuk secara alami dilingkungan. Semua benda yang ada disekitar kita

BAB I PENDAHULUAN. resiko toksikologi juga akan meningkat. terbentuk secara alami dilingkungan. Semua benda yang ada disekitar kita BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di era modern ini, proses modernisasi akan menaikkan konsumsi sejalan dengan berkembangnya proses industrialisasi. Dengan peningkatan industrialisasi tersebut maka

Lebih terperinci

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG POLI-TEKNOLOGI VOL.11 NO.1, JANUARI 2012 PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG Wahyuni Susilowati, Budi Damianto, Achmad Nadjam, dan Ida Nurhayati

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian adalah suatu rancangan tentang cara mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan salah satu unsur alam yang sama pentingnya dengan air dan udara. Tanah adalah suatu benda alami, bagian dari permukaan bumi yang dapat ditumbuhi oleh

Lebih terperinci

Pemanfaatan Sampah Sayuran Hijau Dan Limbah Cair Urea Sebagai Pupuk Cair

Pemanfaatan Sampah Sayuran Hijau Dan Limbah Cair Urea Sebagai Pupuk Cair C-14 Prosiding Seminar Nasional Teknologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman II 211 Makalah No. 19 Pemanfaatan Sampah Sayuran Hijau Dan Limbah Cair Urea Sebagai Pupuk Cair Novy Pralisa Putri, Abdul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. JDIH Kementerian PUPR

BAB I PENDAHULUAN. JDIH Kementerian PUPR LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 28/PRT/M/2015 TANGGAL : 20 Mei 2015 TENTANG PENETAPAN GARIS SEMPADAN SUNGAI DAN GARIS SEMPADAN DANAU BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

PERSYARATAN PENGAMBILAN. Kuliah Teknologi Pengelolaan Limbah Suhartini Jurdik Biologi FMIPA UNY

PERSYARATAN PENGAMBILAN. Kuliah Teknologi Pengelolaan Limbah Suhartini Jurdik Biologi FMIPA UNY PERSYARATAN PENGAMBILAN SAMPEL Kuliah Teknologi Pengelolaan Limbah Suhartini Jurdik Biologi FMIPA UNY Pengambilan sampel lingkungan harus menghasilkan data yang bersifat : 1. Obyektif : data yg dihasilkan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PERUNTUKAN AIR DAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR SUNGAI TUNTANG DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

KLASIFIKASI LIMBAH. Oleh: Tim pengampu mata kuliah Sanitasi dan Pengolahan Limbah

KLASIFIKASI LIMBAH. Oleh: Tim pengampu mata kuliah Sanitasi dan Pengolahan Limbah KLASIFIKASI LIMBAH Oleh: Tim pengampu mata kuliah Sanitasi dan Pengolahan Limbah 1 Pengertian Limbah Limbah: "Zat atau bahan yang dibuang atau dimaksudkan untuk dibuang atau diperlukan untuk dibuang oleh

Lebih terperinci

PEDOMAN PENERAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN PADA SUMBER AIR

PEDOMAN PENERAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN PADA SUMBER AIR Lampiran II Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2010 Tanggal : 14 Januari 2010 PEDOMAN PENERAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN PADA SUMBER AIR I. LATAR BELAKANG Daya tampung beban

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Sembung Cianjur merupakan satu-satunya TPA yang dimiliki oleh Kabupaten Cianjur.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis

TINJAUAN PUSTAKA. bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis TINJAUAN PUSTAKA Perairan Sungai Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis (tergenang)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat besar dan beragam, mulai dari sumberdaya yang dapat diperbaharui

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat besar dan beragam, mulai dari sumberdaya yang dapat diperbaharui 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan yang sangat besar dan beragam, mulai dari sumberdaya yang dapat diperbaharui seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Biogas merupakan salah satu energi berupa gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Biogas merupakan salah satu energi terbarukan. Bahanbahan yang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. air limbah. Air limbah domestik ini mengandung kotoran manusia, bahan sisa

BAB I PENDAHULUAN. air limbah. Air limbah domestik ini mengandung kotoran manusia, bahan sisa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekitar 80% air minum yang digunakan oleh manusia dibuang atau menjadi air limbah. Air limbah domestik ini mengandung kotoran manusia, bahan sisa pencucian barang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN NOMOR.TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN NOMOR.TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN NOMOR.TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAMEKASAN Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBANGUNAN DAN PENANGANANNYA PADA SUMBERDAYA AIR

DAMPAK PEMBANGUNAN DAN PENANGANANNYA PADA SUMBERDAYA AIR ISBN 978-602-9092-54-7 P3AI UNLAM P 3 A I Penulis : Editor : Dr. rer. nat. Ir. H. Wahyuni Ilham, MP Cetakan ke 1, Desember 2012 Peringatan Dilarang memproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

VALUASI EKONOMI EROSI LAHAN PERTANIAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI ABSTRACT

VALUASI EKONOMI EROSI LAHAN PERTANIAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI ABSTRACT SEPA : Vol. 8 No. 2 Pebruari 2012 : 51 182 ISSN : 1829-9946 VALUASI EKONOMI EROSI LAHAN PERTANIAN DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI JOKO SUTRISNO 1, BUNASOR SANIM 2, ASEP SAEFUDDIN

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN POSFAT DAN NITRAT DI BEBERAPA SUB DAS KALIMANTAN SELATAN

ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN POSFAT DAN NITRAT DI BEBERAPA SUB DAS KALIMANTAN SELATAN ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN POSFAT DAN NITRAT DI BEBERAPA SUB DAS KALIMANTAN SELATAN ANALYSIS OF PHOSPHATE AND NITRATE POLLUTION IN SOME WATERSHED IN SOUTH KALIMANTAN-INDONESIA 1) Siti Hasnah, 2) Mijani

Lebih terperinci

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI KABUPATEN KENDAL

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI KABUPATEN KENDAL PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI KABUPATEN KENDAL Febriana Yogyasari, Dedy Kurnia Sunaryo, ST.,MT., Ir. Leo Pantimena, MSc. Program Studi

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG 1 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN SUMBER DANA BLU FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN SUMBER DANA BLU FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN SUMBER DANA BLU FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN ENZIM EKSOGEN SEBAGAI STIMULAN PENINGKATAN PERFORMAN IKAN NILA (TILAPIA NILOTICA) DAN PENGURANGAN EUTROFIKASI DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air laut merupakan suatu medium yang unik. Sebagai suatu sistem, terdapat hubungan erat antara faktor biotik dan faktor abiotik, karena satu komponen dapat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi,

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi, BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi, Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Analisis parameter kimia air laut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. peternakan semakin pesat. Daging yang merupakan salah satu produk

BAB I PENDAHULUAN UKDW. peternakan semakin pesat. Daging yang merupakan salah satu produk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dekade terakhir ini kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk peternakan semakin pesat. Daging yang merupakan salah satu produk peternakan dihasilkan dari usaha

Lebih terperinci

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA BY: Ai Setiadi 021202503125002 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA Dalam budidaya ikan ada 3 faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan budidaya, karena hasil

Lebih terperinci

MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh: DINA WAHYU OCTAVIANI L2D 002 396 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daerah Aliran Sungai dan Permasalahannya Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak

Lebih terperinci

PENELITIAN KUANTITAS DAN KUALITAS AIR LIMBAH PADA DUA PUSAT PERTOKOAN DI KOTA SURABAYA

PENELITIAN KUANTITAS DAN KUALITAS AIR LIMBAH PADA DUA PUSAT PERTOKOAN DI KOTA SURABAYA PENELITIAN KUANTITAS DAN KUALITAS AIR LIMBAH PADA DUA PUSAT PERTOKOAN DI KOTA SURABAYA THE STUDY COMPARITY OF WASTEWATER QUANTITY AND QUALITY ON TWO SHOPPING CENTER IN SURABAYA Mohammad Razif 1) dan Firdaus

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Hubungan antara manusia dengan lingkungan adalah sirkuler. Perubahan pada lingkungan pada gilirannya akan mempengaruhi manusia. Interaksi antara manusia dengan lingkungannya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini pandangan perkembangan pertanian organik sebagai salah satu teknologi alternatif untuk menanggulangi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini pandangan perkembangan pertanian organik sebagai salah satu teknologi alternatif untuk menanggulangi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini pandangan perkembangan pertanian organik sebagai salah satu teknologi alternatif untuk menanggulangi persoalan lingkungan sangat diperlukan. Selain itu, permasalahan

Lebih terperinci

ANALISIS DAMPAK LAHAN PERMUKIMAN TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI BENGAWAN SOLO KABUPATEN LAMONGAN ABSTRAK

ANALISIS DAMPAK LAHAN PERMUKIMAN TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI BENGAWAN SOLO KABUPATEN LAMONGAN ABSTRAK ANALISIS DAMPAK LAHAN PERMUKIMAN TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI BENGAWAN SOLO KABUPATEN LAMONGAN Dwi Sukma Donoriyanto Program Pasca Sarjana Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya sukmadewi@yahoo.com

Lebih terperinci

PENENTUAN KONDUKTIVITAS LISTRIK DAN KAJIAN KUALITAS AIR SUNGAI SIAK MENGGUNAKAN METODE JEMBATAN WHEATSTONE

PENENTUAN KONDUKTIVITAS LISTRIK DAN KAJIAN KUALITAS AIR SUNGAI SIAK MENGGUNAKAN METODE JEMBATAN WHEATSTONE PENENTUAN KONDUKTIVITAS LISTRIK DAN KAJIAN KUALITAS AIR SUNGAI SIAK MENGGUNAKAN METODE JEMBATAN WHEATSTONE Alan Perdana Aritonang, Riad Syech, Walfred Tambunan Mahasiswa Program S1 Fisika Bidang Fisika

Lebih terperinci