TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI SECARA BASAH

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI SECARA BASAH"

Transkripsi

1 TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOPI SECARA BASAH YUSRON SUGIARTO, STP, MP, MSc. Disampaikan pada: Pertemuan Gelar Teknologi Sarana dan Prasarana Pengolahan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Pujon, 7 Mei 2013 JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2 SEKILAS TENTANG KOPI PENGOLAHAN BASAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN

3 SEKILAS TENTANG KOPI

4 Kopi mentah sangat murah dibanding dengan kopi goreng Kopi goreng Indonesia KAFEIN KARAMEL DAN MINYAK KUALITAS DAN NILAI TAMBAH Pengolahan kopi dengan cara fermentasi akan menghasilkan KAFEIN KARAMEL DAN MINYAK KUALITAS DAN NILAI TAMBAH

5 PENGOLAHAN KERING Pengeringan memiliki resiko sangat tinggi. Kandungan gula dan protein yang tinggi pada daging buah kopi menyebabkan jamur dan bakteri cepat berkembang. KUALITAS BIJI KOPI

6 PENGOLAHAN KERING Kopi yang dihasilkan dari proses kering biasanya unggul dalam body, floral, lebih pahit, acidity rendah

7 PENGOLAHAN BASAH Kopi yang dihasilkan dari proses basah biasanya unggul dalam kopi yang lembut, aroma lebih kuat, body ringan, Aftertaste lebih berkesan acidity lebih tinggi

8 SEKILAS TENTANG KOPI PENGOLAHAN BASAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN

9 PROSES PENGOLAHAN BASAH KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH SORTASI BASAH KOPI HS BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING PENGERINGAN KOPI HS KERING PEREBUSAN BIJI KOPI KERING WP

10 Selama proses pengolahan kopi glondong menjadi kopi biji, digunakan air dan kebutuhan air cukup banyak. Pada cara basah dilakukan pengupasan kulit buah dan daging buah sehingga tinggal biji kopi yang diselimuti kulit tanduk dan kulit ari yang disebut kopi HS basah, sebelum dilakukan pengeringan. PENGOLAHAN BASAH

11 Untuk pengeringannya biasanya menggunakan alat pengering. Buah kopi dipilih yang masak optimum, warnanya merah, tidak terserang hama sehingga disebut buah superior. PENGOLAHAN BASAH

12 MUTU BIJI KOPI PENGOLAHAN BASAH K.a. maksimum 12% b/b Kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda-benda asing lainnya0,5 % (b/b) Bebas serangga hidup Bebas dari biji berbau busuk dan berbau kapang

13 MUTU BIJI KOPI PENGOLAHAN BASAH Syarat mutu khusus kopi robusta pengolahan basah

14 MUTU BIJI KOPI PENGOLAHAN BASAH Syarat mutu khusus kopi arabika pengolahan basah

15 SEKILAS TENTANG KOPI PENGOLAHAN BASAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN

16 PENGOLAHAN BASAH KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH 1 SORTASI BASAH KOPI BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING PENGERINGAN KOPI KERING PEREBUSAN BIJI KOPI KERING

17 Sortasi Basah : dilakukan di pabrik, pemisahan berdasar Berat Jenis SORTASI BASAH 1 Tujuannya : memisahkan buah kopi merah yang tidak terserang hama dari buah kopi merah yang terserang hama, buah kopi hijau dan hitam yang masih terikut dan kotoran yang terikut. buah kopi superior akan melayang buah kopi inferior akan mengapung kotoran (kerikil/tanah) akan turun kebawah

18 BAK SYPHON 1. Pipa pemasukan bahan 2. Saluran air pembantu 3. Pintu pemasukan bahan 4. Saluran kopi superior 5. Bak rambangan (inferior) 6. Pintu kopi inferior 7. Pipa pengeluaran kopi superior 8. Pipa pengeluaran kotoran yang mengendap 9. Kopi superior 10. Kopi inferior

19 PENGOLAHAN BASAH 1 KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH SORTASI BASAH 2 KOPI BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING PENGERINGAN KOPI KERING PEREBUSAN BIJI KOPI KERING

20 2 PULPING Pengupasan epicarp dan mesocarp dengan mesin pulper. Alat digunakan : Disc Pulper (cakram pemecah), Drum pulper, Raung Pulper, Roller pulper dan Vis pulper. Vis pulper -> biji kopi hasil pengupasannya masih ada bagian mesocarp (lendir) yang belum terkupas sehingga perlu dilakukan fermentasi/penghilangan lendir, baru kemudian dilakukan pencucian. Raung pulper -> biji kopi hasil pengupasan tidak perlu dilakukan fermentasi, bisa langsung dicuci

21 RAUNG PULPER 1. Corong pemasukan 2. Plat pengatur pemasukan bahan 3. Pisau statis 4. Screen plat 5. Lubang pengeluaran air 6. Pipa Air 7. Puli 8. Screw/Ulir 9. Pisau 10. Lubang pengeluaran kulit dan air

22 VIS PULPER 1. Corong pemasukan 2. Klep pengatur bahan 3. Pisau baja pememar 4. Saluran air 5. Pisau karet 6. Silinder pertama/atas 7. Silinder kedua/ bawah 8. Lubang pengeluaran Spesifikasi Vis Pulper Bahan Rangka mesin Kapasitas Tenaga Transmisi Rangka mesin Pelengkap : Tembaga : Baja profil kotak : 4 ton/jam : 11 KW : Pulley dan sabuk karet V : Baja profil kotak : Pipa saluran air pencuci

23 PENGOLAHAN BASAH 1 KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH SORTASI BASAH 3 2 KOPI BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING PENGERINGAN KOPI KERING PEREBUSAN BIJI KOPI KERING

24 3 PENGHILANGAN LENDIR Fermentasi FERMENTASI BASAH Penambahan enzim Menambah zat kimia Secara mekanis FERMENTASI KERING

25 FERMENTASI Fermentasi basah : biji kopi berlendir direndam dalam air dan air diganti untuk setiap waktu tertentu. Perendaman dilakukan selama jam. Tujuan: memberi kesempatan senyawa gula dan pektin di dalam lapisan lendir terurai. Fermentasi kering : biji kopi berlendir dimasukkan suatu wadah kemudian ditutup dengan karung goni/daun pisang. Dilakukan selama 2-3 hari. Fermentasi dua tahap : 24 jam fermentasi secara kering dan 12 jam fermentasi secara basah

26 WAKTU FERMENTASI DIPENGARUHI... Suhu Derajat kemasakan buah Adanya inokulasi dengan sengaja Ketebalan lapisan lendir

27 KERUGIAN AKIBAT FERMENTASI... Fermentasi yang lama over fermented Fermentasi kurang flavor kurang terbentuk Terjadi pengurangan berat karena metabolisme: H 2 O, CO 2, NH 3 meningkat selanjutnya terlarut Bila mikrobia yang tumbuh bukan bakteri asam laktat biji kopi tidak baik

28 PENGHILANGAN LENDIR DENGAN MENAMBAH ENZIM Menambah enzim pektolitik: ultrazyme, pectozyme, cofepec, dll. 2. Menghambat mikroorganisme yang merugikan 3. Meningkatkan kualitas 4. Waktu fermentasi lebih pendek

29 PENGHILANGAN LENDIR DENGAN MENAMBAH ZAT KIMIA Ditambahkan NaOH (3-5%)/kapur/Na 2 CO3 (6-8%) dengan waktu ½ - 1 jam

30 PENGHILANGAN LENDIR SECARA MEKANIS Secara mekanis 1. Raoeng pulper (Jerman) 2. Aqua pulper (Inggris) Secara kombinasi khemis dan mekanis : menggunakan mesin Cafepro dikombinasi dengan kapur atau campuran kapur dengan NaOH, atau KOH atau Na 2 CO 3 atau abu dari kayu. Kepekatan larutan alkali ± 2 %

31 PROSES FERMENTASI Kopi kafein biomassa + asam amino protein + asam amino, unsur N dalam kafein berkurang, shg kadar kafein dalam kopi menurun pati polisakarida sederhana -> biomassa + asam amino serat polisakarida sederhana-> biomassa + asam amino Polisakarida Sederhana Bersifat Degestable (Lebih Mudah Tercerna)

32 PERBADINGAN HASIL KOPI FERMENTASI DENGAN KOPI NON FERMENTASI No. Kondisi Kopi Goreng Kopi Jenis Robusta Kopi Jenis Arabika Fermentasi Non Fermentasi Fermentasi Non Fermentasi 1. Kafein, % 0,65 1,05 0,77 1,19 2. Karamel, % 11,53 4,19 12,18 4,93 3. Minyak, % 9,32 6,44 11,42 7,06 4. Karbon, % 72,33 80,11 70,27 79,53 5. Bulk density 0,79 0,82 0,78 0,85 6. Konversi goreng, % 78,21 62,63 81,44 65,35

33 PENGOLAHAN BASAH 1 KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH SORTASI BASAH KOPI BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING PENGERINGAN KOPI KERING PEREBUSAN BIJI KOPI KERING

34 ...PENCUCIAN Menghilangkan lapisan lendir, apabila tidak dihilangkan terjadi fermentasi lanjut asam cuka...penuntasan Mengurangi air permukaan : k.a. dari 60% menjadi % Harus cepat waktunya : supaya tidak terjadi fermentasi lanjut PENGARUH AIR: 1. Ion feri 5 mg/l bau logam (metalic flavor) 2. Ion feri 10 mg/l noda hitam 3. Air kotor bau tanah atau kontaminasi mikrobia

35 PENGOLAHAN BASAH 1 KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH SORTASI BASAH KOPI BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING 5 PENGERINGAN KOPI KERING PEREBUSAN BIJI KOPI KERING

36 Pengeringan Proses pemakaian panas dan pemindahan air dari bahan yang dikeringkan yang berlangsung secera serentak bersamaan Konduksi media Steam contoh Drum dryer Konveksi Radiasi media Udara Pemanas contoh Oven Spray Dryer Rotary dryer media Radiant Energy contoh Alat Pengering Energi Microwave

37 PROSES PENGERINGAN Keberadaan Molekul Air Bound Water (molekul air terikat) : Pada pipa2 kapiler Terserap pd permukaan di dlm dinding2 serat Kadar Air Parameter Air Bebas Tidak Terikat : Biasanya berada di celah2 (voids) di dlm bahan pangan Dimensi Produk Suhu Pemanas Kesetimbangan Kadar Air yg bergantung pd: - Sifat bahan - Kondisi udara pengering Laju Perpindahan Permukaan

38 Laju Pengeringan Laju Pengeringan Sifat Bahan - Bulk Density - Kadar Air awal - Kadar Air kesetimbangan

39 Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Pengeringan : 1. Suhu & kelembaban nisbi udara selama proses pengeringan: suhu rendah, RH tinggi pengeringan lama 2. Kecepatan pergerakan udara yang melalui produk pertanian atau lamanya bahan melalui alat pengering 3. Kadar air produk pertanian yang dikeringkan 4. Varietas dari produk pertanian itu 5. Banyaknya bahan yang dimasukkan dalam alat pengering per menitnya 6. Suhu udara pengering pada awal dan akhir proses (keluar alat pengering)

40 PENGERINGAN PENDAHULUAN DENGAN SINAR MATAHARI PENGERINGAN PENGERINGAN LANJUTAN DENGAN ALAT ATAU TETAP DENGAN SINAR MATAHARI

41 PENGERINGAN PENDAHULUAN DENGAN SINAR MATAHARI Dilakukan dengan sinar matahari selama 48 jam untuk mengeringkan air permukaaan Efisiensi tidak tetap karena tergantung keadaan cuaca, tebal lapisan, frekuensi pembalikan Ketebalan hamparan : 5 10 cm Membantu terbentuknya warna biru muda untuk kopi arabika PENGERINGAN LANJUTAN DENGAN ALAT ATAU TETAP DENGAN SINAR MATAHARI

42 PENGERINGAN DENGAN CAHAYA MATAHARI Coffee drying yards should have Adequate capacity Smooth drying surfaces Adequate provisions for drainage Full exposure to sunlight

43 PENGERINGAN DENGAN CAHAYA MATAHARI Coffee is spread on a support (wire tray, woven mat, etc.) raised off the ground. Air can circulate freely above and below the support Trays might be movable or fixed When raining, trays are moved under a shelter or covered with plastic or any other material

44 ALAT PENGERING SEDERHANA Parabolic solar dryers - the shape of the transparent roof is more or less cylindrical so as to concentrate heat in the drying zone and protect from rain. Heat cumulates between the coffee and the plastic and the air starts to circulate. This dryer is mounted on a pivot so it can be turned towards the sun.

45 ALAT PENGERING SEDERHANA Various solar dryer designs can give faster drying times by Improving airflow and increasing temperature of drying air Participatory approaches are necessary if potential advantages of solar technology are to be matched with farmers needs Capacity, capital cost, running costs, space requirement, ease of management, etc.

46 PROBLEM! Bila kadar air awal tidak seragam kecepatan pengeringan berbeda (buahkopi lewat masak k.a %, lewat masak 25-30%) Waktu pengeringan lama, sehingga bisa terjadi kontaminasi mikrobia PENGERINGAN LANJUTAN DENGAN ALAT ATAU TETAP DENGAN SINAR MATAHARI 77 % energi dari sinar matahari dan 23 % energi radiasi secara langsung Energi solar yang sampai kebumi ±45 %, dan 7 13 % yang dapat digunakan untuk menguapkan air Beban pengering kg/m2 Untuk mencapai kadar air 12 % perlu waktu 3 minggu (kopi glondong)& 1 minggu (HS basah)

47 PENGERING MEKANIS Mechanical batch dryers are used in coffee drying - primarily for parchment Horizontal dryers Vertical dryers Fixed-bed type dryers

48 PENGERINGAN LANJUTAN DENGAN ALAT ATAU TETAP DENGAN SINAR MATAHARI PENAMPANG RUMAH PENGERING VIS (VIS DROGER) KETERANGAN: A: Tungku Api (Oven) B: Saluran/Pipa Utama C: Saluran/Pipa Penghubung D: Plat pengering yang berlubang E: Cerobong pembuang udara sisa pemanas F: Ventilasi

49 PENGERINGAN LANJUTAN DENGAN ALAT KEUNTUNGAN : Tidak tergantung cuaca Operasinya mudah Kerusakan lebih kecil Efisiensi penggunaan enersi besar Ruangan yang diperlukan lebih kecil Kebutuhan tenaga kerja sedikit CARA KERJA: Tebal hamparan 8 10 cm atau kg kopi HS basah/m2. Perpindahan panas dari udara panas ke permukaan biji kopi secara konveksi, diteruskan dari permukaan biji ke dalam biji secarakonduksi. Perpindahan masa (air) dari dalam biji kopi ke permukaan bijikopi secara difusi

50 PENGOLAHAN BASAH 1 KOPI GLONDONG SORTASI KEBUN KOPI GLONDONG MERAH SORTASI BASAH KOPI BASAH PENCUCIAN FERMENTASI PULPING PENGERINGAN 5 6 KOPI KERING PENGGERBU SAN BIJI KOPI KERING

51 ...PENGGERBUSAN (HULLING) Tujuannya untuk memisahkan kulit tanduk dan kulit ari dari biji kopi berdasar perbedaan berat jenis Sebelum digerbus k.a. kopi HS kering Robusta 8 10% dan kopi Arabika 10 13%, bila lebih tinggi harus dilakukan redrying * Hal-hal yang perlu diperhatikan : - Penyetelan pisau huller harus tepat - Kecepatan perputaran harus sesuai - Pengaturan pemasukan kopi HS kering - Keadaan kopi HS kering

52 DESAIN HULLER Considerations in the selection of a huller include: Capacity Energy requirement Efficiency of husk removal Extent of physical damage to beans Separation of loose husk Durability Ease of maintenance

53 HULLER 1. Corong pemasukan 2. Klep pengatur pemasukan bahan masuk 3. Pisau berbentuk huruf S 4. Pisau berbentuk balok 5. Pisau berbentuk segitiga 6. Pintu pengeluaran biji kopi 7. Screen plat 8. Kipas 9. Pipa pengeluaran sekam 10. Puli penggerak as 11. Bantalan peluru

54 ...SORTASI KERING Tujuannya memilahkan biji kopi sesuai dengan tingkatan mutu Cara sortasi : - dengan alat: * Catador ->berdasar perbedaan berat jenis * Ayakan ->berdasar perbedaan ukuran - dengan tenaga manusia, berdasar nilai cacat Penentuan Mutu : * sebelum 1982 berdasar : ukuran, warna, cacat * Sesudah 1982 berdasar : ukuran dan nilai cacat

55 KATADOR 1. Motor penggerak 2. Pintu pengatur udara 3. Blower 4. Rantai penghubung 5. Gear 6. Body 7. Elevator 8. Bucket 9. Saluran biji kopi dari huller ke katador 10. Sekat 11. Corong pengeluaran biji kopi 1. Corong pengeluaran untuk jenis L 2. Corong pengeluran untuk jenis M AYAKAN 3. Corong pengeluaran jenis S 4. Kayu penyekat 5. Plat berlubang 7,5 mm 6. Plat penyalur dari katador ke ayakan 7. Plat ezyer 8. Plat berlubang 6,5 mm 9. Pintu kontrol 10. Silinder eksentrik 11. Batang penghubung 12. Hak ban 13. Motor penggerak 14. Tiang penyangga

56 MUTU BIJI KOPI PENGOLAHAN BASAH Syarat mutu khusus kopi robusta pengolahan basah

57 MUTU BIJI KOPI PENGOLAHAN BASAH Syarat mutu khusus kopi arabika pengolahan basah

58 TERIMA KASIH yusronsugiarto.lecturer.ub.ac.id LAB. PENGOLAHAN PANGAN DAN HASIL PERTANIAN JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAHAN SINGKONG, PISANG DAN TALAS. Disusun Oleh : Ir. Sutrisno Koswara, MSi

TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAHAN SINGKONG, PISANG DAN TALAS. Disusun Oleh : Ir. Sutrisno Koswara, MSi TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAHAN SINGKONG, PISANG DAN TALAS Disusun Oleh : Ir. Sutrisno Koswara, MSi Produksi : Ebookpangan.com 2009 1 A. PENGOLAHAN UBI KAYU (SINGKONG) Di Indonesia, singkong merupakan

Lebih terperinci

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR

BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Program Keahlian : TEKNIK ENERGI TERBARUKAN (1.18) Paket Keahlian : TEKNIK ENERGI BIOMASSA (062) Mata Pelajaran : BAHAN BAKAR NABATI BAHAN AJAR SISWA PERALATAN DAN PEMANFAATAN BIOBRIKET DAN ASAP CAIR Disusun:

Lebih terperinci

INDRAYANI G 621 07 054

INDRAYANI G 621 07 054 MODEL PENGERINGAN LAPISAN TIPIS TEMU PUTIH (Curcuma Zedoaria Berg. Rosc) SKRIPSI Oleh INDRAYANI G 621 07 054 PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1G01-02DBK

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1G01-02DBK MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL PENGELOMPOKAN DAN PENYIMPANGAN MUTU HASIL PERTANIAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN TA/TL/2008/0254 TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN PABRIK KELAPA SAWIT SKALA KECIL UNTUK PRODUKSI BAHAN BAKU BAHAN BAKAR NABATI (BBN)

BUKU PANDUAN PABRIK KELAPA SAWIT SKALA KECIL UNTUK PRODUKSI BAHAN BAKU BAHAN BAKAR NABATI (BBN) BUKU PANDUAN PABRIK KELAPA SAWIT SKALA KECIL UNTUK PRODUKSI BAHAN BAKU BAHAN BAKAR NABATI (BBN) SEPTEMBER 2009 This publication was produced by Development Alternatives, Inc. for the United States Agency

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS GENTENG BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT IJUK DAN PENGURANGAN PASIR

ANALISIS KUALITAS GENTENG BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT IJUK DAN PENGURANGAN PASIR ANALISIS KUALITAS GENTENG BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT IJUK DAN PENGURANGAN PASIR PROYEK AKHIR Diajukan kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Guna Memenuhi sebagian Persyaratan Untuk

Lebih terperinci

Gambar 1. Ikan nila (Oreochromis niloticus)

Gambar 1. Ikan nila (Oreochromis niloticus) BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila Ikan nila merupakan spesies yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Bibit ikan nila didatangkan ke Indonesia

Lebih terperinci

LAPORAN MAGANG PROSES PRODUKSI KACANG ATOM, KACANG ATOM PEDAS KACANG BANDUNG, KACANG TELUR DAN PILUS DI UD. BINTANG WALET HANDIKA KLATEN JAWA TENGAH

LAPORAN MAGANG PROSES PRODUKSI KACANG ATOM, KACANG ATOM PEDAS KACANG BANDUNG, KACANG TELUR DAN PILUS DI UD. BINTANG WALET HANDIKA KLATEN JAWA TENGAH LAPORAN MAGANG PROSES PRODUKSI KACANG ATOM, KACANG ATOM PEDAS KACANG BANDUNG, KACANG TELUR DAN PILUS DI UD. BINTANG WALET HANDIKA KLATEN JAWA TENGAH TUGAS AKHIR Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi

Lebih terperinci

Analisis Jumlah Bakteri dan Keberadaan Escherichia coli pada Pengolahan Ikan Teri Nasi di PT. Kelola Mina Laut Unit Sumenep

Analisis Jumlah Bakteri dan Keberadaan Escherichia coli pada Pengolahan Ikan Teri Nasi di PT. Kelola Mina Laut Unit Sumenep Analisis Jumlah Bakteri dan Keberadaan Escherichia coli pada Pengolahan Ikan Teri Nasi di PT. Kelola Mina Laut Unit Sumenep Raden Faridz 1, Hafiluddin 2 dan Mega Anshari 3 1. Dosen Jurusan Teknologi Industri

Lebih terperinci

Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran

Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran Kembali SNI 03-6570-2001 Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran 1 Pendahuluan. 1.1 Ruang Lingkup dan Acuan. 1.1.1 Ruang Lingkup. Standar ini berhubungan dengan pemilihan dan instalasi

Lebih terperinci

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA

SKRIPSI RATNA PATIYANDELA KADAR NH KADAR 3 DAN NH CH 3 4 DAN SERTA CH 4 CO SERTA 2 DARI COPETERNAKAN 2 DARI PETERNAKAN BROILER PADA KONDISI BROILER LINGKUNGAN PADA KONDISI DAN LINGKUNGAN MANAJEMEN YANG PETERNAKAN BERBEDA YANG DI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA No: PER.04/MEN/1985 TENTANG PESAWAT TENAGA DAN PRODUKSI MENTERI TENAGA KERJA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA No: PER.04/MEN/1985 TENTANG PESAWAT TENAGA DAN PRODUKSI MENTERI TENAGA KERJA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA No: PER.04/MEN/1985 TENTANG PESAWAT TENAGA DAN PRODUKSI MENTERI TENAGA KERJA PerMen 04-1985 Ttg Pesawat Tenaga dan Produksi Menimbang : a. bahwa kenyataan

Lebih terperinci

W A D I Y A N A S940907117

W A D I Y A N A S940907117 KAJIAN KARAKTERISTIK BATU ALAM LOKAL KABUPATEN GUNUNGKIDUL SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BATA MERAH PEJAL UNTUK PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI RUMAH SEDERHANA CHARACTERISTIC S STUDY OF NATURAL LOCAL STONE

Lebih terperinci

SARI HASIL PENELITIAN BAMBU Oleh : Krisdianto, Ginuk Sumarni dan Agus Ismanto

SARI HASIL PENELITIAN BAMBU Oleh : Krisdianto, Ginuk Sumarni dan Agus Ismanto SARI HASIL PENELITIAN BAMBU Oleh : Krisdianto, Ginuk Sumarni dan Agus Ismanto I. PENDAHULUAN Dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. DAFTAR ISI... ii. DAFTAR GAMBAR... v. DAFTAR TABEL... vii. PETA KEDUDUKAN BAHAN AJAR... viii. GLOSARIUM...

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. DAFTAR ISI... ii. DAFTAR GAMBAR... v. DAFTAR TABEL... vii. PETA KEDUDUKAN BAHAN AJAR... viii. GLOSARIUM... 1 KATA PENGANTAR Penanganan bahan hasil pertanian dan perikanan adalah ilmu yang mempelajari tentang bahan hasil pertanian dan perikanan yang sangat beragam. Ruang lingkup komoditas hasil pertanian dan

Lebih terperinci

PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA

PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA PAKET KEAHLIAN TEKNIK ENERGI BIOMASSA BAHAN AJAR SISWA PENGUJIAN BAHAN BAKAR NABATI (BBN) Disusun oleh: Niamul Huda, ST., M.Pd Linda Dwinanada, S.Pd., M.Si Didukungi oleh: TEACHING BIOMASS TECHNOLOGIES

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONTAMINASI DETERJEN PADA AIR MINUM ISI ULANG DI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG (DAMIU) DI KABUPATEN KENDAL TAHUN

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONTAMINASI DETERJEN PADA AIR MINUM ISI ULANG DI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG (DAMIU) DI KABUPATEN KENDAL TAHUN FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONTAMINASI DETERJEN PADA AIR MINUM ISI ULANG DI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG (DAMIU) DI KABUPATEN KENDAL TAHUN 2009 TESIS Untuk Memenuhi persyaratan Mencapai derajad

Lebih terperinci

COVER. Teknik Pengukuran Besaran Proses

COVER. Teknik Pengukuran Besaran Proses COVER PENULIS KATA PENGANTAR Era persaingan dimasa sekarang dan masa yang akan datang mensyaratkan bahwa bangsa yang unggul adalah yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang unggul. Keunggulan SDM

Lebih terperinci

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM OLEH : KELOMPOK I Oleh : Kelompok 1 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MATARAN MATARAM 2012 2 3 KATA

Lebih terperinci

KOPI. Budidaya. Konservasi. Panduan Sekolah Lapangan BERBAGI PENGALAMAN DARI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA. M. Candra Wirawan Arief dkk

KOPI. Budidaya. Konservasi. Panduan Sekolah Lapangan BERBAGI PENGALAMAN DARI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA. M. Candra Wirawan Arief dkk Panduan Sekolah Lapangan Budidaya KOPI Konservasi BERBAGI PENGALAMAN DARI KABUPATEN DAIRI PROVINSI SUMATERA UTARA M. Candra Wirawan Arief dkk Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Panduan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bakteri Kerusakan bahan pangan dapat disebabkan oleh faktor faktor sebagai berikut : pertumbuhan dan aktivitas mikroba terutama bakteri, kapang, khamir, aktivitas enzim enzim

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYANGRAIAN TERHADAP SIFAT FISIK-MEKANIS BIJI KOPI ROBUSTA Joko Nugroho W.K. 1), Juliaty Lumbanbatu 2), Sri Rahayoe 3)

PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYANGRAIAN TERHADAP SIFAT FISIK-MEKANIS BIJI KOPI ROBUSTA Joko Nugroho W.K. 1), Juliaty Lumbanbatu 2), Sri Rahayoe 3) PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYANGRAIAN TERHADAP SIFAT FISIK-MEKANIS BIJI KOPI ROBUSTA Joko Nugroho W.K. 1), Juliaty Lumbanbatu 2), Sri Rahayoe 3) 1) Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

WORLD COAL INSTITUTE SUMBER DAYA BATU BARA TINJAUAN LENGKAP MENGENAI BATU BARA

WORLD COAL INSTITUTE SUMBER DAYA BATU BARA TINJAUAN LENGKAP MENGENAI BATU BARA WORLD COAL INSTITUTE SUMBER DAYA BATU BARA TINJAUAN LENGKAP MENGENAI BATU BARA SUMBER DAYA BATU BARA DARI MANA ASAL BATU BARA? APA KEGUNAANNYA? APAKAH BATU BARA MASIH DIGUNAKAN? Batu Bara adalah salah

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING USAHA TANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG

ANALISIS DAYA SAING USAHA TANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG ANALISIS DAYA SAING USAHA TANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG TESIS Oleh : Fery Murtiningrum NPM. E2D011108 PROGRAM STUDI PASCASARJANA MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

LAPORAN MAGANG DI PT. TIGA PILAR SEJAHTERA FOOD, TBK SRAGEN INDONESIA (QUALITY CONTROL MIE INSTANT)

LAPORAN MAGANG DI PT. TIGA PILAR SEJAHTERA FOOD, TBK SRAGEN INDONESIA (QUALITY CONTROL MIE INSTANT) LAPORAN MAGANG DI PT. TIGA PILAR SEJAHTERA FOOD, TBK SRAGEN INDONESIA (QUALITY CONTROL MIE INSTANT) Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Ahli Madya Universitas Sebelas Maret DISUSUN

Lebih terperinci

MADU : JENIS DAN PENGUNAANNYA

MADU : JENIS DAN PENGUNAANNYA MADU : JENIS DAN PENGUNAANNYA Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3545-1994, madu adalah cairan manis yang dihasilkan oleh lebah madu berasal dari berbagai sumber nectar. Nektar adalah semacam

Lebih terperinci

Training Modules on Food Safety Practices for Aquaculture. Penerapan Keamanan Pangan pada Perikanan Budidaya

Training Modules on Food Safety Practices for Aquaculture. Penerapan Keamanan Pangan pada Perikanan Budidaya Training Modules on Food Safety Practices for Aquaculture Penerapan Keamanan Pangan pada Perikanan Budidaya Pengantar Modul ini adalah bagian dari program pelatihan penerapan keamanan pangan untuk Industri

Lebih terperinci

Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan

Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan Budi Tangendjaja dan Elizabeth Wina Balai Penelitian Ternak, Bogor PENDAHULUAN Tiga puluh tahun yang lalu, penggunaan jagung umumnya masih

Lebih terperinci